Sei sulla pagina 1di 17

PENDAHULUAN

Otore adalah sekret/cairan yang keluar dali liang telinga. Cairan yang
keluar dari telinga harus diperhatikan sifat-sifatnya karena dapat mendukung
diagnosis, misal jernih atau purulen, mengandung darah atau tidak, berbaukah,
pulasatil atau non-pulsasi. Gejala penyerta yang lain juga harus di perhatikan,
seperti adanya ganguan pendengaran, tinitus dan otalgia (nyeri telinga).sekret
yang keluar dapat purulen, mukoid atau mukopurulen, sekres seperti ini menandai
adanya infeksi pada telinga. sekret dapat pula jernih yang bisa disebabkan oleh
berbagai jenis dermatosis meatus akustikus externa atau mungkin sekret yang
jernih itu berasal dari cairan otak (serebrospinalis). semua tipe otore ini dapat
mengandung darah, bisa masif karena trauma dan berbagai neoplasma. sekret
dapat tidak berbau dan berbau sangat busuk (biasanya pada kolesteatoma).
Biasanya sekret ini non-pulsatil, tetapi bila berada di bawah tekanan hebat di
celah ruang telinga tengah, maka ia akan berpulsasi.

Telinga yang berair dan bau biasanya disebabkan infeksi. Infeksi liang
telinga sering disertai telinga bengkak dan sakit. Penyebab infeksi liang telinga
biasanya karena luka trauma akibat kebiasaan mengorek liang telinga.

Di Asia Tenggara, Indonesia termasuk keempat negara dengan prevalensi


gangguan telinga tertinggi (4,6%). Tiga negara lainnya adalah Sri Lanka (8,8%),
Myanmar (8,4%), dan India (6,3%). Walaupun bukan yang tertinggi tetapi
prevalensi 4,6% merupakan angka yang cukup tinggi untuk menimbulkan
masalah sosial di masyarakat. Berdasarkan Survei Kesehatan Indera Penglihatan
dan Pendengaran yang dilaksanakan di tujuh provinsi di Indonesia menunjukkan
morbiditas telinga adalah 18,5%, prevalensi gangguan pendengaran adalah 16,8%,
dimana otitis media menempati angka yang cukup tinggi di banding dengan
penyakit gangguan pendengaran lainnya dan prevalensi morbiditas paling tinggi
terdapat pada kelompok usia sekolah (7-18 tahun).
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Telinga

2.1.1 Anatomi Telinga

Telinga merupakan indera mekanoreseptor karena memberikan respon


terhadap getaran mekanik gelombang suara yang terdapat di udara. Telinga
menerima gelombang suara, diskriminasi frekuensinya dan penghantaran
informasi di bawa kesusunan saraf pusat (Syaifuddin, 2012).

Telinga adalah organ pendengaran dan keseimbangan.Secara anatomi


telinga dibagi menjadi tiga bagian, yaitu: telinga luar, telinga tengah, dan telinga
dalam. Telinga tengah dan luar berkembang dari alat brankial. Telinga dalam
seluruhnya berasal dari plakoda otika (Adams, 2015).

2.1.2 Telinga Luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membrana
tympanica. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga
berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada dua pertiga bagian dalam
rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2½-3 cm. Pada sepertiga
bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Pada
dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen (Soepardi et
al., 2014 ).

Suplai arterial yang menuju auricular terutama berasal dari arteria


temporalis superficialis dan arteria-arteria auricularis posterior. Saraf-saraf utama
yang menuju ke kulit auricular adalah N.auriculotemporalis dan auricularis
magnus. Nervus auricularis magnus mempersarafi permukaan cranial (medial)
dan pars posterior ( helix, antehelix, dan lobul) permukaan lateral (depan). Nervus
auriculotemporalis , suatu cabang N V3, mempersarafi kulit auricular di anterior
meatus acusticus externus (Moore L, 2013).

Membrana tympanica berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah
liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut
pars plaksida (membran shrapnell), sedangkan bagian bawah disebut pars tensa
(membran propia). Membrana tympanica dibagi dalam empat kuadran, dengan
menarik garis searah prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada
garis itu di umbo sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-
depan , serta bawah-belakang (Soepardi et al., 2014 ) .

Gambar 2.1 Membrana tympanica, sisi kanan; dilihat dari lateral ; citra
otoskopik.Sumber : (F. Paulsen & J. Waschke 2013).
2.1.3 Telinga Tengah

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas luar adalah membrana


tympanica, batas depan adalah tuba Eustachius, batas bawah adalah vena jugularis
(bulbus jugularis), batas belakang adalah aditus ad antrum, kanalis fasialis pars
vertikalis, batas atas adalah tegmen tympani, dan batas dalam adalah berturut-
turut dari atas ke bawah kanalis semi sirkularis horizontal, kanalis fasialis, tinkap
lonjong (oval window), tingkap bundar (round window), dan promontorium
(Soepardi et al., 2014).

Cavitas auris media (rongga telinga tengah) atau cavitas tympani adalah
ruang berisi udara sempit pada pars petrosa ossis temporalis. Cavitas memiliki
dua bagian, yaitu cavitas tympani propria, ruang yang mengarah ke sebelah dalam
membran tympanica, dan recessus epitympanicus, ruang di superior membran.
Cavitas tympani dihubungkan di anteromedial dengan nasopharynx melalui tuba
auditiva dan di posterosuperior dengan sel-sel mastoid melalui antrum
mastoideum (Moore L, 2013).

2.1.4 Telinga Dalam

Telinga dalam terdapat di dalam os petrosum. Telinga dalam terbagi


menjadi labirin tulang dan labirin membran. Komponen labirin tulang terisi oleh
perilimfe (filtrate serum: sedikit kalium kaya akan natrium). Bagian ini terdiri atas
vestibulum, cochlea, dan tiga canal semisircularis. Di dalam sistem berongga ini
terdapat labirin membran yang terisi endolimfe ( mirip dengan carian intrasel kaya
akan kalium,miskin natrium). Labirin membran terentang melewati foramen ovale
yang ditutupi oleh stapes dan fenestra cochlea yang langsung berhubungan dengan
telinga tengah dan berakhir di saccus endolymphaticus. Di rumah siput, bagian
membran membentuk scala media (ductus cochlearis) dengan organ Corti. Scala
media ini memisahkan bagian cochlea lainnya menjadi scala vestibuli dan scala
tympani yang saling bertemu di helicotrema (puncak rumahsiput).Organ Corti itu
sendiri terhubung dengan batang otak melalui saraf-saraf pendengaran (Suwono
JW dan Suyono JY , 2012 ).

2.1.5 Fisiologi Pendengaran

Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun


telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang choclea.
Getaran tersebut menggetarkan membrana tympanica diteruskan ke telinga tengah
melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan mengamplifikasi getaran melalui
daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian perbandingan luas membrana
tympanica dan tingkap lonjong. Energi getar yang telah di amplifikasi ini akan
diteruskan ke stapes yang menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada
skala vestibuli bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang
mendorong endolimfa kemudian, mendorong endolimfa sehingga menimbulkan
gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini
merupakan rangsangan mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi streosilia
sel-sel rambut sehingga kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan
listrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut
sehingga melepaskan neurotransmitter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan
potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nucleus auditorius sampai
ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus temporalis (Soepardi et al., 2014).

2.1.6 Defenisi Otore

Otore adalah sekret/cairan yang keluar dali liang telinga. Cairan yang
keluar dari telinga harus diperhatikan sifat-sifatnya karena dapat mendukung
diagnosis, misal jernih atau purulen, mengandung darah atau tidak, berbaukah,
pulasatil atau non-pulsasi.
2.1.7 Mekanisme patofisiologi otorrhea

Saluran telinga bisa membersihkan dirinya sendiri dengan cara membuang


sel-sel kulit yang mati dari gendang telinga melalui saluran telinga.
Membersihkan saluran telinga dengan cotton bud bisa mengganggu mekanisme
pembersihan ini dan bisa mendorong sel-sel kulit yang mati ke arah gendang
telinga sehingga kotoran menumpuk disana.

Penimbunan sel-sel kulit yang mati dan serumen akan menyebabkan


penimbunan air yang masuk ke dalam saluran ketika mandi atau berenang. Kulit
yang basah dan lembut pada saluran telinga lebih mudah terinfeksi oleh bakteri
atau jamur. Apabila sudah terjadi infeksi telinga akan semakin lembab dan sekret
akan berbau busuk.

Sekret yang serosa (cair) biasanya timbul karena otitis eksterna difusa dan
sering menimbulkan krusta pada orifisium liang telinga luar. Selain otitis
eksterna, keluarnya cairan jernih melalui telinga bisa jadi adalah cairan
serebrospinal yang bocor karena adanya fraktur pada tulang tengkorak.

Sekret yang mukopurulen berasal dari telinga bagian tengah yaitu otitis media
supuratif akut dan otitis media supuratif kronik yang jinak. Warnanya kuning
pucat, lengket dan tidak berbau. Proses infeksi dan inflamasi yang terjadi
pada telinga tengah berkaitan dengan inflamasi yang terjadi pada tuba eustachius.
Keadaan yang paling sering terjadi adalah infeksi saluran atas yang melibatkan
nasofaring. Manifestasi inflamasi dalam hal ini akan menjalar dari nasofaring
hingga mencapai ujung medial tuba Eustachius atau secara langsung terjadi di
tuba Eustachius, sehingga memicu stasis sehingga mengubah tekanan di dalam
telinga tengah. Di sisi lain, stasis juga akan memicu infeksi bakteri patogenik
yang berasal dari nasofaring dan masuk ke dalam telinga tengah dengan cara
refluks, aspirasi, atau insuflasi aktif. Akibatnya akan terjadi reaksi inflamasi akut
yang ditandai dengan vasodilatasi, eksudasi, invasi leukosit, fagositosis, dan
respon imun lokal yang terjadi di telinga tengah. Eksudasi ini semakin lama akan
semakin banyak produksinya sehingga suatu saat cairan akan mendesak membran
timpani yang akhirnya akan membuat membran timpani perforasi dan pasien akan
mengeluh keluarnya cairan kental yang berwarna kuning atau hijau dengan bau
yang busuk.
2.7 Anamnesis, Pemeriksaan Fisik, dan Pemeriksaan Penunjang pada
Otorrhea

Untuk mendiagnosis pasien dengan otorrhea diperlukan anamnesis,


pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang baik.
a. Anamnesis
Anamnesis adalah hal yang sangat membantu dalam penegakan
diagnosis otorrhea. Dalam anamnesis banyak sekali hal yang perlu
ditanyakan, diantaranya:
1) Kapan otorrhea mulai terjadi, bagaimana pasien mulai menyadari
terdapat discharge dari telinga.
2) Lokasi keluarnya cairan, kualitas, serta kuantitasnya.
3) Deskripsi discharge, mulai dari warna, konsistensi, dan bau. Kemudian
juga ditanyakan mengenai kejernihannya, apakah jernih, purulen, atau
mengandung darah. Apakah terjadi di satu sisi telinga atau keduanya,
serta apakah terus-menerus keluar atau hilang timbul.
4) Keluhan penyerta seperti nyeri, berdenging, berkurangnya
pendengaran, rasa penuh di telinga, bengkak, trauma, benda asing, dan
vertigo.
5) Riwayat terdahulu, misalnya apakah pernah mengalami pembedahan
hidung.
6) Kebiasaan pasien, seperti bagaimana cara membersihkan telinga,
apakah sering berenang, dan bagaimana juga cara pasien mengganti
tampon/kapas untuk menyerap cairan yang keluar dari telinga dan
seberapa sering pasien menggantinya.
7) Tanyakan juga apakah ada riwayat infeksi saluran nafas atas, trauma
kepala, kanker, dan terapi imunosupresan.
b. Pemeriksaan Fisik

Jika gejala otorrhea pasien unilateral, periksalah telinga pasien yang


sehat terlebih dahulu.
1) Inspeksi telinga luar, lakukan penekanan pada mastoid dan tragus.
2) Pasang otoskop dengan menggunakan spekulum. Bila perlu bersihkan
serumen, pus, dan kotoran lain dari canal untuk memperjelas inspeksi.
Periksa tanda edema, eritema, krusta, atau polip.
3) Inspeksi membran timpani. Amati perubahan warna, perforasi,
bulging, dan reflek cahaya (cone of light).
4) Periksa kemampuan pendengaran dengan menggunakan pemeriksaan
garpu tala yang terdiri dari tes Rinne, tes Webber, dan tes Swabbach.
5) Palpasi leher dari prearikula, kelenjar parotis, dan area mastoid untuk
mengetahui adanya limfadenopati.

c. Pemeriksaan Penunjang
1) Audiometri
Jika EAC mengalami obstruksi dan pemeriksaan garpu tala
menunjukkan tuli konduksi, maka audiometric perlu dilakukan.
2) Tympanometri
Pemeriksaan ini tidak dilakukan pada suspek otorrhea LCS,
karena dapat menimbulkan pneumocephalus. Pemeriksaan ini akan
menjadi sangat menyakitkan pada penderita otitis eksterna.
3) Kultur dan Sensitivitas
a) Yang harus diperhatikan
i. Antibiotik topical harus dihentikan sebelum pengambilan
sampel kultur dan sensitivitas, karena akan mempengaruhi
hasil.
ii. Pada otorrhea infektif yang tidak kunjung sembuh, sampel
harus diambil lebih kedalam atau dari sumber perforasi.
b) Mikroorganisme
i. Mikroorganisme yang paling umum menyebabkan otitis
eksterna adalah Pseudomonas aeruginosa (OE maligna dan
nekrotik) dan Staphylococcus aureus.
ii. Actinomyces israelli. Ini merupakan bakteri gram positif
anaerob yang dapat menyebabkan OE dari infeksi primer gigi
dan parotis. OE yang tidak kunjung sembuh biasanya sudah
terjadi granulasi pada canalis auricularis eksterna dan discharge
kuning tebal dan memerlukan debridement operasi dan terapi
antibiotik jangka panjang.
4) Pemeriksaan imunodefisiensi dan alergi
5) CT Scan
CT Scan sebelum operasi sangatlah penting pada kasus stenosis
canalis auricularis eksterna dengan kolesteatoma.
6) Biopsi
Diperlukan untuk mengetahui stadium neoplasma.

Anamnesis : Pemeriksaan Fisik : Pemeriksaan


1. Inspeksi (telinga Penunjang:
1. Kapan terjadinya, luar dan membrane 1. Audiometri
awal mula terjadinya tympani) dengan
2. Lokasi 2. Tympanometri
otoskop
3. Kualitas dan 3.Kultur dan
kuantitas 2. Pemeriksaan
Sensitivitas
4. Faktor memperingan dengan garputala
5. Faktor memperberat 4. Pemeriksaan
3. Palpasi leher imunodefisiensi dan
6. Keluhan lain yang
menyertai alergi
7. Riwayat sebelumnya
dan keluarga 5. CT Scan
8. Kebiasaan 6. Biopsi
4. Diagnosis Banding Otorrhea
a. Kelainan Telinga Luar
1) Otitis Eksterna Difusa
Otitis eksterna difus biasanya mengenai kulit liang telinga dua
pertiga dalam. Kulit liang telinga hiperemis dan edem dengan batas
yang tidak jelas serta tidak terdapat furunkel. Kadang-kadang terdapat
sekret yang berbau. Sekret ini tidak mengandung lendir (mucin) seperti
sekret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media.
2) Otitis Eksterna Sirkumskripta
Otitis eksterna sirkumskripta adalah infeksi di sepertiga luar
liang telinga yang mengandung adneksa kulit, seperti folikel rambut,
kelenjar sebasea dan kelenjar serumen, maka di tempat itu dapat terjadi
infeksi pada polisebasea, sehingga dapat membentuk furunkel. Kuman
penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus atau Staphylococcus
albus. Gejala klinisnya berupa perdarahan dari telinga, telinga tersa
terbakar, otalgi dengan membrane timpani normal, nyeri hebat pada
telinga luar, otorrhea/draining ear, tragus pain, penurunan
pendengaran, dan telinga terasa tersumbat
3) Otitis Eksterna Maligna
Otitis eksterna maligna adalah infeksi akut difus di liang telinga
luar dan struktur lain di sekitarnya. Biasanya terjadi pada orang tua
dengan penyakit diabetes militus. Gejala klinisnya berupa rasa gatal di
liang telinga yang dengan cepat diikuti oleh rasa nyeri hebat, sekret
yang banyak, pembengkakan liang telinga.Rasa nyeri tersebut akan
semakin hebat, kemudian liang telinga tertutup jaringan granulasi yang
cepat tumbuhnya, sehingga menimbulkan paresis atau paralisis
fascial.
b. Kelainan Telinga Tengah
1) Otitis Media Supuratif Akut (OMA)
OMA merupakan peradangan akut sebagian atau seluruh
periostium telinga tengah. OMA biasanya diawali dengan terjadinya
infeksi akut saluran napas atas (ISPA). Mukosa saluran pernapasan
atas mengalami inflamasi akut berupa hiperemi dan odem, termasuk
juga pada mukosa tuba eustachius sehingga terjadi penyumbatan
ostiumnya yang akan diikuti dengan gangguan fungsi drainase dan
ventilasi tuba eustachius. Kavum timpani menjadi vakum dan disusul
dengan terbentuknya transudat hydrops ex vacuo. Infliltrasi kuman
pathogen ke dalam mukosa kavum timpani yang berasal dari hidung
atau faring menimbulkan supurasi.
Gejala otitis media dapat bervariasi menurut beratnya infeksi.
Keadaan ini biasanya unilateral pada orang dewasa, dan mungkin
terdapat otalgia. Nyeri akan hilang secara spontan bila terjadi perforasi
spontan membrana timpani atau setelah dilakukan miringotomi. Gejala
lain yaitu keluarnya cairan/sekret dari telinga yang biasanya berupa
nanah, demam, kehilangan pendengaran, dan tinitus. Pada
pemeriksaan otoskopis, kanalis auditorius eksternus sering tampak
normal, dan tidak terjadi nyeri bila aurikula digerakan. Membrana
timpani tampak merah dan sering menggelembung.
OMA dapat dibagi atas 5 stadium :
a) Stadium oklusi tube eustachius
Ditandai dengan adanya gambaran retraksi membran timpani
akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah, karena
adanya absorbsi udara
b) Stadium hiperemis
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani
atau seluruh membran timpani tampak hiperemis
c) Stadium supurasi
Tampak edema hebat pada mukosa telinga tengah serta
terbentuknya eksudat yang purulen di cavum timpani
menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang
telinga luar.
d) Stadium perforasi
Tampak ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir
dari telinga tengah ke liang telinga
e) Stadium resolusi
Membran timpani tampak berangsur normal kembali, sekret
tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup.

2) Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK)


OMSK merupakan infeksi kronis di telinga tengah dengan
perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah
terus menerus atau hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental,
bening atau berupa nanah. Otitis media akut dengan perforasi
membran timpani menjadi otitis media supuratif kronis apabila
prosesnya sudah lebih dari 8 minggu/2 bulan. Beberapa faktor yang
menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang terlambat
diberikan, virulensi kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah atau
higiene buruk.
OMSK terbagi atas 2 jenis yaitu OMSK tipe Benigna dan OMSK
tipe Maligna. Sedangkan berdasarkan aktivitas sekret yang keluar
dikenal juga OMSK aktif (sekret yang masih keluar dari kavim
timpani secara aktif) dan OMSK tenang (keadaan kavum timpani
terlihat basah atau kering).
a) OMSK Tipe Benigna
Proses peradangan pada OMSK tipe ini terbatas pada mukosa
saja dan biasanya tidak mengenai tulang. Perforasi terletak di
sentral. Pada OMSK ini tidak terdapat kolesteatoma. Gejalanya
berupa discharge mukoid yang tidak terlalu berbau busuk, ketika
pertama kali ditemukan bau busuk mungkin ada tetapi dengan
pembersihan dan penggunaan antibiotik lokal biasanya cepat
menghilang, discharge mukoid dapat konstan atau intermitten.
Discharge terlihat berasal dari rongga timpani dan orifisium tuba
eustachius yang mukoid dan setelah satu atau dua kali pengobatan
local bau busuk berkurang
b) OMSK Tipe Maligna
OMSK tipe ini disertai adanya kolesteatoma. Perforasi
membran timpani biasanya tipe atik atau marginal. Sekret pada
infeksi dengan kolesteatom beraroma khas, sekret yang sangat bau
dan berwarna kuning abu-abu, kotor purulen dapat juga terlihat
keping-keping kecil, berwarna putih mengkilat.
3) Otitis Media Serosa Akut
Otitis media serosa adalah keadaan terdapatnya sekret yang non
purulen di telinga tengah, sedangkan membran timpani utuh. Otitis
media serosa akut, adalah keadaan terbentuknya sekret di dalam
telinga tengah secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi
tuba. Keadaan akut ini dapat disebabkan antara lain karena sumbatan
tuba, virus, alergi dan idiopatik. Gejala klinisnya berupa pendengaran
berkurang, rasa tersumbat pada telinga, suara sendiri terdengar lebih
nyaring atau berbeda pada telinga yang sakit, terasa ada cairan yang
bergerak di dalam telinga ketika mengubah posisi kepala. Pada
otoskopi terlihat membran timpani retraksi. Kadang-kadang tampak
gelembung udara atau permukaan cairan dalam kavum timpani.
4) Otitis Media Serosa Kronik
Batasan antara kondisi otitis media serosa akut dengan otitis
media serosa kronis hanya pada cara terbentuknya sekret. Pada otitis
media serosa akut sekret terjadi secara tiba-tiba di telinga tengah
dengan disertai rasa nyeri. Sedangkan pada otitis media serosa kronik
(glue ear), sekret terbentuk secara bertahap tanpa rasa nyeri dengan
gejala-gejala pada telinga yang berlanngsung lama. Sekretnya dapat
kental seperti lem, maka disebut glue ear.
5) Barotrauma (Aerotitis)
Barotrauma adalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan
yang tiba-tiba di luar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau
menyelam, yang menyebabkan tuba gagal untuk membuka. Pada
keadaan ini terjadi tekanan negatif di rongga telinga tengah, sehingga
cairan keluar dari pembuluh darah kapiler mukosa dan kadang-kadang
disertai dengan ruptur pembuluh darah, sehingga cairan di telinga
tengah dan rongga mastoid tercampur darah.

c. Mastoiditis
Mastoiditis adalah segala proses peradangan pada sel- sel mastoid
yang terletak pada tulang temporal. Gejala klinisnya berupa nyeri otot
leher, penurunan daya pengecapan/Hypoguesia, abnormalitas nervus
kranialis, pusing, paralise nervus fascialis, kelemahan otot wajah unilatral,
sakit kepala, vertigo, demam, malaise, otalgi dengan membrane timpani
normal, pembengkakan daerah mastoid, kehilangan pendengaran, mastoid
tenderness/ nyreri tekan mastoid, otorrhea/draining eardan Postauricular
Swelling Edema

d. Penyebab lain
1) Fraktur Basis Kranii
Fraktur yang terjadi sepanjang dasar tengkorak, biasanya
termasuk tulang petrous dapat ditemukan Battle's sign, cranial
neuropati, trauma, fistula sinus carotid-cavernous, serta otorrhea.
2) Kebocoran cairan serebrospinal: discharge berupa cairan jernih
3) Osteomyelitis: discharge telinga yang berbau busuk
5. Terapi pada Ottorrhea

Penatalaksanaan otorrhea bergantung pada penyebabnya. Pada otitis


eksterna difusa, pengobatannya adalah memasukkan tampon antibiotika
kedalam liang telinga, sedangkan otitis eksterna sirkumskripta terapinya
tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses dilakukan
aspirasi. Bila dinding furunkel tebal, dilakukan insisi kemudian drainase. Pada
otitis ekterna maligna penatalaksanaannya adalah pemberian antibiotika dosis
tinggi terhadap pseudomonas selama enam minggu. Bila perlu dialakukan
debridement pada jaringan nekrotik di liang telinga dan cavum timpani, yang
terpenting gula darah harus dikontrol.
Pada otitis media supuratif akut (OMA) pengobatannya tergantung
stadium penyakitnya. Pada stadium oklusi diberikan obat tetes hidung dan
pemberian antibiotika. Pada stadium hiperemis diberikan antibiotik, obat tetes
hidung, analgetik dan sebaiknya dilakukan miringotomi. Pada stadium
supuratif diberikan antibiotika dan miringotomi. Pada stadium perforasi
diberikan obat cuci telinga dan antibiotik adekuat.
Prinsip terapi OMSK tipe benigna adalah konservatif dan
medikamentosa. Bila sekret keluar terus menerus diberi obat pencuci telinga,
antibiotika dan kortikosteroid. Bila sekret telah kering dapat dilakukan
miringoplasti atau timpanoplasti. Sedangkan prinsip terapi OMSK tipe
maligna adalah pembedahan yaitu mastoidektomi.
Pada otitis media serosa akut penatalaksanaannya adalah pemberian
vasokontriktor local, antihistamin, peratsat valsava bila tidak ada tanda-tanda
infeksi di jalan napas atas. Bila lebih dari 2 minggu gejala masih menetap,
maka dilakukan miringotomi dan bila masih belum sembuh maka dilakukan
miringotomi dan pemasangan pipa ventilasi.
Pada otitis media serosa kronik penatalaksanaannya adalah
mengeluarkan sekret dengan miringotomi dan memasang pipa ventilasi. Pada
kasus awal dapat diberi dekongestan. Bila medikamentosa tidak berhasil baru
dilakukan tindakan operasi. Bila terdapat tanda-tanda infeksi maka dapat
diterapi dengan antibiotika serta obat tetes telinga. Antibiotika yang
dianjurkan adalah golongan penisilin atau ampisilin, bila pasien alergi
terhadap golongan ampisilin dapat diberikan eritomisin.
Pengobatan barotrauma biasanya cukup dengan cara konservatif saja
yaitu memberikan dekongestan lokal atau dengan menggunakan perasat
valsava selama tidak terjadi infeksi di jalan napas atas. Apabila cairan atau
cairan yang bercampur darah menetap di telinga tengah sampai beberapa
minggu, maka dianjurkan untuk tindakan miringotomi dan bila perlu
memasang pipa ventilasi.
Bila infeksi jamur maka penatalaksanaan adalah liang telinga
dibersihkan secara teratur. Dapat diberi larutan asam asetat 2-5 % dalam
alkohol yang diteteskan ke liang telinga, atau salep anti jamur seperti nistatin
dan klotrimazol.
DAFTAR PUSTAKA

1. Arif M., Kuspuji T., Rakhmi S., Wahyu I.W., Wiwiwk S. Kapita Selekta
Kedokteran. Jilid 1. Edisi ketiga. Jakarta : Media Aesculapius. 2016.

2. Efiaty A.S., Nurbaiti I., Jenny B., Ratna D.R. Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga Hidung Tengggorokan Kepala & Leher. Edisi keenam. Jakarta :
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2007.

3. George Krucik, MD. Ear Discharge. 2013 available from :


http://www.EarDischarg.Causes.Treatment.Prevention.htm.,diunduh tanggal 17
Juli 2017.

4. Kim SW, Choi JH. 2012. Cerebrospinal fluid otorrhea caused by arachnoiud
granulations. Korean J audiol : 152-155.

5. SMF Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Pedoman Diagnosis dan


Terapi. Edisi ketiga. Surabaya : Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo
Surabaya. 2005.