Sei sulla pagina 1di 60

PENGERTIAN POLICY :

H. LASSWELL dan A KAPLAN : a projected program of


goals, values and practices.

CARL J. FREDERICK : a proposed course of action of a


person, group or government within a given environment
providing obstacles and opportunities which the policy was
proposed to utilize and overcome in an effort to reach a
goal or realize an objective or a purpose.
(serangkaian tindakan yang diusulkan seorang,
kelompok atau pemerintah dalam suatu lingkungan
tertentu dengan menunjukkan hambatan-hambatan dan
kesempatan-kesempatan terhadap pelaksanaan usulan
kebijakan tersebut dalam rangka mencapai tujuan
tertentu).
AMARA RAKSASATAYA : suatu taktik dan strategi yang
diarahkan untuk mencapai suatu tujuan. Karena itu suatu
kebijakan memuat tiga elemen:

a. Identifikasi dari tujuan yang


ingin dicapai Taktik dan
strategi
b. Taktik atau strategi dari
berbagai langkah untuk
mencapai tujuan yang
diinginkan
c. Penyediaan berbagai input
untuk memungkinkan
pelaksanaan secara nyata
taktik atau strategi
5. DEFINISI PUBLIC POLICY

A. THOMAS DYE : pp: “anything a government chooses


to do or not to do”

B. WILLIAM JENKINS : pp: a set of interrelated


decisions taken by a political actor or groups of actors
concerning the “selection of goals and the means of
achieving them within a specified situation where those
decisions should, in principle, be within the power of
those actors to achieve”

C. JAMES ANDERSON : pp.:”a purposive course of


action followed by an actor or set of actors in dealing
with a problem or matter of concern”
WHAT IS PUBLIC POLICY ?

Public policy is whatever governments choose to do or


not to do . (Thomas Dye)
Carl Friederich policy :
a proposed course of action of a person, group, or
government within a given environment providing
obsta-cles and oppurtunities which the policy was
proposed to utilize and overcome in an effort to reach a
goal or realize an objective or a purpose.

A purposive course of action followed by an actor or


set of actors in dealing with a problem or matter of
concern.
Public policies are those policies developed by
governmental bodies and officials.
David Easton : Authorities in political system (elders,
paramount chiefs, executives, legislators, judges,
administrators, councilors, monarchs, etc)

7. WHY STUDY PUBLIC POLICY ?

Scientific Reasons. Public


Policy can be studied in order
to gain greater knowledge
about its origins, the prosesses
by which it is developed, and
its consequences for society.
Professional Reasons. Don K. Price makes a distiction
between the “Scientific estate” which seeks only to discover
knowledge, and “professional estate” which strives to apply
scientific knowledge to the solution of pratical social
problems.
Political Reasons. The study of public policy should be
directed toward ensuring that governments adopt
appropriate policies to attain the” right” goals.

8. POLICY

Policy demands are those demands or claims made upon


public officials by other actors, private or official, in the
political system for action or inaction on some
percieved problem.
Policy decisions are decisions made by public officials that
authorize or given direction and content to public
policy actions.

Policy statements are the formal expressions or


articulations of public policy.

Policy outputs are the “tangible manifestations” of public


policies, the thing actually done in pursuance of policy
decision and statements.

Policy outcomes are the consequences for society,


intended or unintended, that flow from action or
inactions by government.
1. PP itu merupakan penetapan tindakan-
tindakan pemerintah
2. PP tidak hanya dinyatakan tetapi
dilaksanakan
3. PP baik untuk melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu itu mempunyai dan
dilandasi dengan maksud dan tujuan tertentu
4. PP harus senantiasa ditujukan untuk
kepentingan masyarakat
DECISION-MAKING AND POLICY-
MAKING

WILLIAM R. DILL : a decision is a choice among


alternatives

BINTORO TJOKROAMIDJOJO :pengambilan keputusan


adalah pengambilan pilihan suatu alternatif dari berbagai
alternatif yang bersaing mengenai sesuatu hal dan selesai.
Sedang policy-making meliputi banyak pengambilan
keputusan. Jadi menurut BT, apabila pemilihan alternatif
itu sekali dilakukan dan selesai, maka itu adalah decision-
making, sebaliknya pemilihan alternatif itu terus menerus
dan tidak pernah selesai, maka kegiatan tersebut adalah
policy-making.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PEMBUATAN KEBIJAKAN :
1. Adanya pengaruh tekanan-tekanan dari luar
2. Pengaruh kebiasaan lama (konservatisme)
3. Pengaruh sifat-sifat pribadi
4. Pengaruh keadaan masa lalu
5. Sulit memperoleh informasi yang cukup
MASALAH KEBIJAKAN

1. Didasarkan pada orang atau aktor yang terlibat dalam


isu tersebut :
• private problems (melibatkan sedikit orang)
• public problems (melibatkan banyak orang)
2. Didasarkan pada lokusnya :
• procedural problems (masalah pengorganisasian
dan bekerjanya birokrasi pemerintah dalam
mengimplementasikan kebijakan yang lebih tinggi)
• substantive problems (masalah tentang isi dan
tujuan kebijakan itu sendiri)
3. Didasarkan pada kebaruan masalah :
• Rutin (masalah lama)
• Krisis (masalah baru)

4. Didasarkan pada cara artikulasinya :


• selected problems (masalah yang ditentukan sendiri
oleh pembuat kebijakan)
• pressing problems (masalah yang didesakkan oleh
pelaku lain)
5. Didasarkan pada sifat kebijakan yang akan
dirumuskan untuk memecahkan masalah :
• distributive problems (dapat diselesaikan satu per
satu, melibatkan sedikit orang)
• Redistributive problems (pentransferan sumber
daya antar kelompok masyarakat, bersifat
konfliktif)
Implication of concepts of public policy :

First : purposive or goal-oriented action rather than


random or chance behavior.
Second: policy concists of courses or patterns of action by
governmental officials rather than their separate
discrete decisions.
Third : policy is what governments actually do.
Fourth : public policy may be either positive or negative in
form.
Fifth: public policy at least in its positive form, is based on
law and is authoritative.
ABOUT PROBLEMS

1. Events in society are


interpreted in different
ways by different people
at different times.
2. Many problems may
result from the same
event.
3. Not all public problems are acted on in
government.
4. Many private problems are acted on in
government.
5. Many private problems are acted on in
government as though they were public problems.
6. Most problems are not solved by government,
though many are acted on there.
7. “Policy makers are not faced with a given
problem”.
8. Most people do not maintain interest in other
people’s problems.
9. Public problems may lack a supporting public
among those directly affected.
ABOUT POLICY DECISION MAKING

1. Many policy actors proceed


as if goals were
unambiguous.
2. Most decisions making is
based on little information
and poor communication.
3. Problems and demands are constantly being
defined and redefined in the policy process.
4. Policy makers sometimes define problems for
people who have not defined problems for
themselves.
5. Most people do not prefer large change.
6. Most people can not identify a public policy.
7. All policy systems have a bias.
8. No ideal policy systems exists apart from the
preferences of the architect of that system.
9. Most decision making is incremental in nature.
10. People have varying degrees of access to the policy
process in government.
ABOUT PROGRAMS

1. Programs requiring intergovernmental and public


participation invite variable interpretation of purpose.
2. Inconsistent interpretations of program purposes are
often not resolved.
3. Programs may be implemented without provisions for
learning about failure.
4. Programs often reflect an attainable consensus rather
than a substantive conviction.
5. Many programs are developed and implemented
without the problemsever having been clearly difined.
POLICY SCIENCE AND POLITICAL
SCIENCE
 Muncul di AS dan UK setelah PD II

 Ilmu Politik Tradisional : aspek normative atau dimensi


moral dari pemerintah dan aspek operational dari
lembaga politik  bersifat deskriptip

 Mereka yang menaruh minat pada institusi pemerintah


menekankan pada penyelidikan empiris dan rinci dari
legislatif, judikatif dan birokrasi, sementara melupakan
aspek normatif dari institusi-institusi tersebut 
deskriptip

 Setelah PD II muncul beberapa pendekatan baru :


Yang bersifat Micro-Level : human behavior dan psikologi
dari WN, pemilih, pemimpin maupun yang dipimpin.

Yang lain : karakteristik dari kehidupan nasional dan


budaya. Dikenal sebagai behaviorism, elite studies, political
cybernetics, political culture dan sebagainya.

Policy Science : what governments actually do  John


Dewey dan Harold Lasswell
Integrasi antara teori politik dan praktek politik.

Lasswell : Policy science mempunyai tiga karakteristik :


multi-disciplinary, problem-solving dan explicitly
normative. Normative : tidak terpaku pada scientific
objectivity, tetapi memahami bahwa tidak mungkin
memisahkan antara “Goals and Means”, “Values and
Techniques” dalam tindakan pemerintah.
MODEL DALAM PUBLIC POLICY

A model is an abstraction of reality


YEHEZKEL DROR : 7 MODEL
PEMBUATAN KEBIJAKAN :

1. Pure Rationality Model :


Didasarkan pada rationalitas murni dalam pembuatan
keputusan.
2. Economically Rational Model :
Penekanan pada efesiensi dan ekonomis.
3. Sequential-Decision Model :
Pembuatan eksperimen untuk penentuan alternatif
sehingga tercapai keputusan yang paling efektif.
4. Incremental Model :
Charles Lindblom : Science Of Muddling Through :
keputusan berubah sedikit demi sedikit.
5. Satisfycing Model :
Herbert Simon; Bounded Rationality, keputusan pada
alternatif pertama yang paling “memuaskan”.
6. Extra-Rational Model :
Paling rational, paling optimal.
7. Optimal Model :
Model integratif  identifikasi nilai-nilai, kegunaan
praktis, dengan memperhatikan alokasi sumber-
sumber, penentuan tujuan yang akan dicapai,
pemilihan alternatif program, peramalan hasil dan
pengevaluasian alternatif terbaik.
THE POLICY PROCESS MODEL:
The Framework for Analisys From Charles O. Jones

Functional Catagorized With A Potential


Activities In Government Product
Perception/definition Problems to Problem
Aggregation government
Organization Demand
Representation
Agenda Setting Access Priorities

Formulation Action in Proposal


Legitimation government Program
Budgeting Budget (resource)

Implementation Government to Varies (services,


Problems payments, facilities,
controls)

Evaluation Program to Varies (justification,


Adjusment / government recommendation,
termination change, solution)
Activities Questions
1. Perception / What is the problem to which this proposal
definition is directed ?
2. Aggregation How many people think it is an important
problem ?
3. Organization How well organized are these people?

4. Representation How is access to decision makers


maintained ?
5. Agenda setting How is agenda status achieved ?

6. Formulation What is the proposed solution ?


Who developed it and how ?
7. Legitimation Who supports it and how is majority
support maintained ?
Activities Questions
8. Budgeting How much money is provided ?
Is it perceived as sufficient ?
9. Implementation Who administers it and how do they
maintain support ?
10. Evaluation Who judges its achievements and by what
methods ?
11. Adjustment / What adjusment have been made and how
termination did they come about ?
Harold Lasswell membagi proses policy-making dalam
tujuh phase : (bersifat normatip)

1. Intelligence : collection, processing and dissemination


of information
2. Promotion : particular action
3. Prescription :actually prescribed a course of action
4. Invocation : dimohonkan persetujuan, dibuat sanksi
5. Application : diimplementasikan
6. Termination : berakhir
7. Appraisal : dievaluasi terhadap tujuan yang
ditetapkan
Gary Brewer :

1. Invention / Initiation
2. Estimation
3. Selection
4. Implementation
5. Evaluation
6. Termination
THE AMERICAN WAY OF MAKING POLICY

Problem identified

Proposal developed

Decision-making process
Incremental
Analogizing
Segmented
Differential access
Policy networks
Bargaining / compromise
Short-run

Program results : obtuse, indirect, circuitous, unintegrated

Implementation
(Gradual unfolding of the problem and the effect of the program)

Evaluation : Justification and expansion


5 Stages of Policy Cycles And Their Relationship To
Applied Problem-Solving

PHASES OF APPLIED STAGES IN POLICY


PROBLEM-SOLVING CYCLE
1. Problem recognition 1. Agenda-setting
2. Proposal of solution 2. Policy formulation
3. Choice of solution 3. Decision-making
4. Putting solution into 4. Policy implement
effect 5. Policy evaluation
5. Monitoring results
MODEL INSTITUSIONAL : POLICY AS
INSTITUTIONAL ACTIVITY

Hubungan antara PP dengan institusi pemerintah sangat


dekat. Suatu kebijakan tidak akan menjadi PP kecuali jika
diformulasi, implementasi dan di “enforced” oleh lembaga
pemerintah. Thomas Dye : lembaga pemerintahan
memberikan PP tiga ciri utama :
1. Legitimacy
2. Universality
3. Coercion

PP adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga


pemerintah seperti Legislatif, Eksekutif, Judikatif,
Pemerintah Daerah dan sebagainya. Masyarakat harus
patuh, karena ada Legitimasi Politik dan berhak
memaksakan PP tersebut.
MODEL ELITE - MASSA

Elite
Policy Direction

Officials and
Administrators

Policy Execution

Mass
Model ini merupakan abstraksi dari suatu pembuatan
PP yang boleh dikatakan identik dengan perspektif elite
politik.

Kehidupan sosial terlihat terdiri atas dua lapisan yakni


lapisan atas dengan jumlah yang sangat kecil (elit) yang
selalu mengatur; dan lapisan bawah (mass) dengan
jumlah yang sangat besar sebagai yang diatur, PP
mencerminkan kehendak atau nilai-nilai elit yang
berkuasa.

Isu kebijakan yang akan masuk agenda perumusan


kebijakan merupakan lesepakatan dan juga hasil
konflik yang terjadi di antara elit politik sendiri.
Masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk
mempengaruhi dan menciptakan opini tentang isu
kebijakan yang seharusnya menjadi agenda
politik di tingkat atas.

Sementara birokrat atau


administrator hanya menjadi
mediator bagi jalannya
informasi yang mengalir dari
atas ke bawah.
Elit politik selalu ingin mempertahankan status quo,
maka kebijakannya menjadi konservatip. Perubahan
kebijakan bersifat inkremental maupun trial and error
yang hanya mengubah atau memperbaiki kebijakan
sebelumnya.

Tidak berarti bahwa kebijakan yang dibuat tidak


mementingkan aspirasi masyarakat. Sampai level
tertentu, mereka tetap membutuhkan dukungan massa,
sehingga mereka juga harus memuaskan sebagian
kepentingan masyarakat. Namun demikian tanggung
jawab untuk mensejahterakan masyarakat dianggap
terletak di tangan elit, dan bukannya di tangan
masyarakat sendiri.
Di Indonesia peranan elit dalam kehidupan politik
cukup menonjol. Model ini dapat menjadi salah satu
alat analisis untuk mengupas proses perumusan PP.

Thomas Dye dan Harmon Zeigler : The Irony Of


Democracy : Summary Of Elite Theory.

1. Society is divided into the few who have power and the
many who do not; only a small number of persons
allocate values for society; the masses do not decide PP.
2. The few who are governed are nod typical of the masses
who are governed. Elites are drawn disproportionately
fron the upper socioeconomic strata of society.
3. The movement of non-elites to the elite positions must
be slow and continuous to maintain stability and
avoid revolution. Only non-elites who have accepted
the basic elite consessus can be admitted to governing
circles.
4. Elites share a consensus on the basic values of the
social system. E.G. in the us the elite consensus
includes private enterprise, private property, limited
government and individual liberty.
5. PP does not reflect demands of the masses but rather
the prevailing values of elite. Change in PP will be
incremental than revolutionary.
6. Active elites are subject to relatively little direct
influence from aphatetic masses.
Model Inkremental : Policy As Variations On
The Past

Charles Lindblom : PP as a
continuation of past
government activities with
only incremental
modifications 
merupakan kritik pada
model rasional.
Para pembuat kebijakan pada dasarnya tidak mau
melakukan peninjauan secara ajeg terhadap seluruh
kebijakan yang dibuatnya. Mengapa ..?
1. Tidak punya waktu, intelektualitas, maupun biaya
untuk penelitian tehadap nilai-nilai sosial masyarakat
yang merupakan landasan bagi perumusan tujuan
kebijakan.
2. Adanya kekhawatiran tentang bakal munculnya
dampak yang tak diinginkan sebagai akibat dari
kebijakan yang belum pernah dibuat sebelumnya.
3. Adanya hasil-hasil program dari kebijakan sebelumnya
yang harus dipertahankan demi kepentingan tertentu.
4. Menghindari konflik jika harus melakukan proses
negosiasi yang melelahkan bagi kebijakan baru.
INCREMENTALISM :

1. Tidak menilai secara komprehensip semua alternatif


tapi memusatkan perhatian hanya pada kebijakan
yang berbeda secara inkremental.
2. Hanya sejumlah kecil alternatip kebijakan yang
dipertimbangkan.
3. Setiap alternatip kebijakan, hanya sejumlah kecil
konsekuensi akibat-akibat kebijakan penting yang
terbatas saja yang dinilai.
4. Setiap masalah yang menantang pembuat kebijakan
secara terus menerus diredefinisikan.
5. There is no single decision or “right” solution for a
problem.
6. Incremantal decision-making is essentially remedial
.
and is geared more to the amelioration of present,
concrete social imperfections that to the promotion of
future social goals.

Policy
Increment

Past Policy
Commitments

1930 1940 1950 1960 1970 1980 1990 2000


GROUP THEORY :
POLICY AS GROUP EQUILIBRIUM

Model kelompok merupakan abstraksi dari proses


pembuatan kebijakan yang di dalamnya beberapa
kelompok kepentingan berusaha untuk mempengaruhi isi
dan bentuk kebijakan secara interaktif. Dengan demikian
pembuatan kebijakan terlihat sebagai upaya untuk
menanggapi tuntutan dari berbagai kelompok kepentingan
dengan cara bargaining, negoisasi dan kompromi.
Tuntutan-tuntutan yang saling bersaing di antara
kelompok-kelompok yang berpengaruh dikelola dengan
cara ini. Sebagai hasil persaingan antara berbagai
kelompok kepentingan kebijakan negara, pada hakikatnya
adalah keseimbangan yang tercapai dalam pertarungan
antar kelompok dalam memperjuangkan kepentingan
masing-masing pada suatu waktu. Agar supaya
pertarungan ini tidak bersifat merusak, maka sistem
politik berkewajiban untuk mengarahkan konflik
kelompok. Caranya :
1. Establishing rules of the game in the group struggle
2. Arranging compromises and balancing interests
3. Enacting compromises in the form of public policy
4. Enforcing these compromises
THE GROUP MODEL :

Added Influence Influence of Group A

Influence of
Group B Public
Policy

Alternative Policy
Policy Position Change
Equilibrium
Kelompok kepentingan yang berpengaruh diharapkan
dapat mempengaruhi perubahan kebijakan negara.
Tingkat pengaruh kelompok kepentingan tersebut
ditentukan oleh jumlah anggotanya, harta kekayaannya,
kekuatan dan kebaikan organisasinya, kepemimpinannya,
hubungan yang erat dengan para pembuat keputusan,
kohesi intern para anggotanya dan sebagainya.

Model kelompok dapat dipergunakan untuk menganalisis


proses pembuatan kebijakan negara, model ini dapat
digunakan untuk menelaah kelompok-kelompok apakah
yang saling berkompetisi untuk mempengaruhi pembuatan
kebijakan negara dan siapa yang memiliki pengaruh
paling kuat terhadap keputusan yang dibuat. Pada tingkat
implementasi, kompetisi antar kelompok juga merupakan
salah satu faktor yang menentukan efektifitas kebijakan
dalam mencapai tujuan.
MODEL SYSTEM THEORY : POLICY AS
SYSTEM…OUTPUT

Pendekatan system diperkenalkan oleh David Easton


yang melakukan analogi dengan sistem biologi. Pada
dasarnya sistem biologi merupakan proses interaksi
antara organisme dengan lingkungannya, yang
akhirnya menciptakan kelangsungan dan perubahan
hidup yang relatif stabil. Ini kemudian dianalogikan
dengan kehidupan sistem politik.
Pada dasarnya terdapat tiga komponen utama dalam
pendekatan sistem, yaitu input, proses, output. Input
terdiri dari tuntutan individu maupun kelompok
masyarakat,
Input : tuntutan, dukungan, sumber daya
Proses :formulasi terdiri, perumusan masalah, agenda
setting, legitimasi
Output : peraturan, SK, Hukum
Feed Back : dampak

And the character of the political system ?


Nilai utama dari systems model terhadap analisis
kebijakan adalah pada pertanyaan-pertanyaan yang
dikemukakannya, antara lain :
1. What are the significant dimensions of the environment
that generate demands upon the political systems ?
2. What are the significant characteristics of the political
systems that enable it to transform demands into public
policy and to preserve itself overtime ?
3. How do environmental inputs affect the character of
the political system ?
4. How do characteristics of political system affect the
content of public policy
5. How do environmental inputs affect the content of
public policy ?
6. How does public policy affect, through feedback, the
environment
Demikian pula dukungan-dukungan serta sumber daya
yang artinya akan mempengaruhi proses pengalokasian
nilai-nilai oleh pihak penguasa.

Pada tingkat selanjutnya, sistem politik akan menyerap


berbagai macam demands dan support untuk dikonversi
menjadi keluaran-keluaran yang berupa keputusan-
keputusan atau kebijakan-kebijakan.
Proses tidak berakhir di sini karena setiap hasil keputusan
yang merupakan keluaran sistem politik akan
mempengaruhi lingkungan. Dan selanjutnya perubahan
lingkungan inilah yang selanjutnya akan mempengaruhi
demands dan support dari masyarakat.

Salah satu kelemahan dari model ini adalah terpusatnya


perhatian pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh
pemerintah. Seringkali terjadi bahwa apa yang diputuskan
oleh pemerintah memberi kesan telah dilakukannya suatu
tindakan, yang sebenarnya hanya untuk memelihara
ketenangan.

Persoalan yang muncul dari pendekatan ini adalah dalam


menentukan tujuan itu sendiri.
MODEL RATIONAL KOMPREHENSIP :
RATIONALISM : POLICY AS EFFICIENT
GOAL ACHIEVEMENT

A Rational Policy is one that is correctly designed to


maximize “Net Value Achievement”  all relevant
values of a society are known, and that any sacrifice
in one or more values that is required by a policy is
more than compensated for by the attainment of other
values  between the value it achieves and the value
it sacrifices is positive and higher than any other
policy alternative.
To select a rational policy, policy makers must :
1. Know all the society’s value preferences and their
relative weight
2. Know all the policy alternatives available
3. Know all the consequences of each policy alternatives
4. Calculate the ratio of achieved to sacrificed societal
values for each policy alternative
5. Select the most efficient policy alternative

This rationality assumes that the values preferences of


society as a whole can be known and weighted. It is not
enough to know and weigh the values of some groups and
not others. There must be a complete understanding of
societal values.
This rationality assumes that the values preferences of
society as a whole can be known and weighted. It is not
enough to know and weigh the values of some groups and
not others. There must be a complete understanding of
societal values. Information about alternative policies, and
the intelligence to calculate correctly the ratio of costs to
benefit. Finally, rational policy making requires a decision-
making system that facilitates rationality in policy
formation.

Sistem yang ada dari pada sebagai alat pemecahan


masalah masyarakat. Pada akhirnya kita kehilangan
perhatian terhadap apa yang tidak pernah dilakukan oleh
pemerintah.
Pada dasarnya nilai dan kecenderungan yang
berkembang dalam masyarakat tidak dapat terdeteksi
secara menyeluruh, sehingga menyulitkan bagi
pembuat kebijakan untuk menentukan arah
kebijakan yang akan dibuat.

Rasionalkah melarang becak beroperasi di gang-gang


di Jakarta? Bagaimanakah membandingkan antara
korban ekonomis tukang becak dan keluarganya –
maupun masyarakat penerima jasa becak yang
akhirnya mengalami kesulitan mencari sarana
transportasi – dengan nilai keindahan kota Jakarta?
Pada akhirnya pendekatan
rasional ini cukup problematis
dalam hal siapa yang berhak
menilai suatu kebijakan bersifat
rasional atau tidak.
POLICY IMPLEMENTATION

What are the conditions for successful policy


implementation or what are primary obstacles to
successful policy implementation ?
GEORGE EDWARDS III :
1. COMMUNICATION
A. Transmission : accuracy policy decisions and
implementation orders; agreement from
implementors, direct, channel of communication.
B. Clarity : lack of clarity, vague directives and
specific implementation communications, the lack
of consensus.
C. Consistency : inconsistent instructions – the
complexity of public policy, the problems of starting
up new programs, the multiple objectives of
policies.

2. RESOURCES
A. Staff : size – lack of staff, skill – poorly trained
staff, shortage of people with management skills;
new programs.
B. Information : knowledge to carry out policies esp.,
innovative or highly technical; monitoring the
compliance – demands information.
C. Authority : lack of authority, formal authority but
constrained in their exercised, inappropriate
authority.
D. Facilities : building, equipments, supplies or land,
budgetary limitations, intricate government
regulations, citizen opposition.

3. DISPOSITIONS
A. Effects Of Dispositions : attitude of
implementors – desire to carry out policies, exercise
considerable discretions, because their
independence from their nominal superiors who
formulate the policies per se and how they see the
policies affecting their organizational and personal
interests.
B. Staffing Of Bureaucracy : demands for
“balance” the nesessity of pleasing constituencies
and a desire not to alienate persons already
occupying public office; most bureucrats are
covered by civil service protection, are immune
from removal; transferring personne; to other
positions within the civil service.
C. Incentives : rewards, “sweeteners” in the form of
funds or lax regulations and tax breaks; negative
sanctions.

4. BUREAUCRATIC STRUCTURE
A. Standard Operating Procedures : developed
SOPs to handle the routine situations. SOPs are
often inappropriate for new policies and may cause
resistance to change, delay, waste or unwanted
actions.
B. Fragmentation : hindering coordination. The
obstacles to effective policy implementation are
exacerbated when the structure of government is
fragmented. In general, the more coordination that
is nacessary to implement a policy, the less the
chances of its succeding.
A Spectrum Of Policy Instruments

• Family and Community


• Voluntary Organization
• Private Markets

Low High

Voluntary Mixed Compulsory


Instruments Instruments Instruments