Sei sulla pagina 1di 162

dr.

Gandi A Febryanto
dr. Anindya K Zahra
dr. Yuniantika
dr. Denise Utami P
dr. Yunanda Mutiara
dr. Helsi Rismiati
Batch Mei 2018
CONTENT :

Tropik
Perinatologi Kardiologi Respirologi Imunologi Neurologi
Infeksi
Diagnosis neonatus-Kurva Lubchenco
UK 34 minggu = TBJ 1500-2800 gram
Setiap +/-1 minggu, +/-200 gram!

Kategori Berat badan


Berat lahir besar >4000 gr
Berat lahir cukup 2500-4000 gr
Berat lahir rendah <2500 gr
Berat lahir sangat rendah <1500 gr
Berat lahir ekstrim rendah ≤1000 gr
How to differentiate?
Characteristic Preterm At Term
Posture More relaxed, limbs more extended, More subcutaneous fat
body size smaller, head larger in tissues, rest in a more
proportion, lanugo is abundant flexed attitude
Ear Cartilages are poorly developed Cartilage well formed
Sole More rigid, fine wrinkles Deeply creased
Female genital Clitoris prominent, labia major gaping Fully developed
Male genital Scrotum less pendulous, minimal Testes both in scrotal sac,
ruggae, may develop UDT well developed
Scarf sign + Resisting attempt
Reflex response Sluggish or incomplete Well developed
Apgar Score

Asfiksia berat 0-3


Asfiksia ringan-sedang 4-6
Algoritma
Resusitasi
Neonatus
IDAI 2015

Observasi LDJ dan usaha


napas tiap 60 detik
Setiap 60 detik
Tindakan koreksi Ventilasi
SRI BTA MR. SOPA
• Sungkup melekat rapat • Mask adjustment
• Reposisi • Reposition airway
• Isap mulut dan hidung • Suction Mouth and nose
OR
• Buka mulut • Open mouth
• Tekanan dinaikkan • Pressure increase
• Alternatif jalan napas • Alternative Airway

American Academy of Pediatric, NRP 7 2017


PENCEGAHAN PERDARAHAN

• sistem pembekuan darah pada bayi baru lahir


belum sempurna, maka semua bayi akan
berisiko untuk mengalami perdarahan

• Untuk mencegah kejadian diatas, diberikan


suntikan vitamin K1 (Phytomenadione)
sebanyak 1 mg dosis tunggal, intra muskular
pada antero lateral paha kiri
Tachypnea in Newborns
Hyalin Membrane Diseases
Radiographic features
Patophysiology Treatment
on plain Xray
• Neonatal respiratory • Diffuse ground glass • Surfactant
distress syndrome lungs with low intratracheal
(RDS), lung disease of volumes, bell shaped • Antenatal
prematurity, thorax kortikosteroid
surfactant deficiency • Bilateral and (prophylactic preterm
• Risk Factors: symmetrical air baby)
• Maternal diabetes bronchograms
• Greater • Hyperventilation if
prematurity patient is intubated
(<34 weeks)  in a non ventilated
• Prenatal asphyxia patients,
hyperventilation
• Multiple gestations
excludes diagnosis
Grading HMD
• Grade1: bercak
retikulogranuler
dengan - air
brochogram
• Grade 2: gr. 1 +
airbronchogram, yang
overlaps dengan
jantung
• Grade3: batas
jantung tidak dapat
ditentukan
• Grade 4: konsolidasi
paru bilateral (White
Lung)
PPM IDAI jilid 2
White Lung
Transient Tachypnea of Newborn
• respiratory disorder seen shortly after delivery in full-term or late
preterm babies
• Transient tachypnea of the newborn (TTN) is a self-limited disease,
but need supplemental oxygen or CPAP.
• Transient tachypnea is more likely to occur in babies who were:
1. Born before 39 weeks gestation
2. Delivered by C-section, especially if labor has not already
started
3. Born to a mother with diabetes
4. Partus presipitatus, fetal distress
• Newborns with transient tachypnea have breathing problems soon
after birth, most often within 1 - 2 hours and persist for 24-72 hours
• Symptoms include: cyanosis, rapid breathing, which may occur with
noises such as grunting and flaring nostrils or retractions.
Hyalin Membrane Transient Tachypneu of
Disease (HMD) Newborn (TTN)
• Defisiensi surfaktan • Wet lung, retained lung fluid
• Faktor risiko: prematur, ibu • Faktor risiko:
DM, prenatal asphyxia, prematur/aterm, SC, ibu DM
multiple gestasi • Xray: volume thorax
• Xray: bell-shaped thorax normal/↑, garis perihiler
(small volume), granular, prominent, cairan di fisura
retikular, air bronkogram (+) minor.
•Umumnya bayi post term, kecil
masa kehamilan dengan kuku
panjang dan kulit terwarnai oleh
MAS mekonium menjadi kuning
kehijauan dan terdapat
mekonium pada cairan ketuban.
•Cairan amnion berwarna
kehijauan dapat jernih maupun
kental
•Tanda sindrom gangguan
pernafasan mulai tampak dalam
24 jam pertama setelah lahir.
•Kadang-kadang terdengar
ronchi pada kedua paru dan
mungkin terlihat empishema
atau atelektasis.
•Kesulitan benafas saat lahir
•Retraksi
•Takhipnea
•Sianosis
•Frekuensi denyut jantung rendah
sebelum dilahirkan
Lesi External Increases Cross Blood Specific Treatment
swelling Suture Loss

Caput Soft, pitting No Yes No No  Resolve within 1st week.


succadeneum
Subgaleal Firm, Yes Yes Yes monitored for coagulopathy,
hematome fluctuant hypotension, anemia, and
hyperbilirubinemia.
Cephal Firm, tense Yes No No No  Resolve within 2wk-3mo,
hematoma (may calcify treat hyperbilirubinemia.
and later
liquefy)
Sepsis Neonatorum
• Sindrom klinik penyakit sistemik akibat infeksi
yang terjadi pada satu bulan pertama kehidupan.
Mortalitas mencapai 13-25%
• Jenis :
– Early Onset = Dalam 3 hari pertama, awitan tiba-tiba,
cepat berkembang menjadi syok septik
– Late Onset = setelah usia 3 hari, sering diatas 1
minggu, ada fokus infeksi, sering disertai meningitis
• Tanda awal sepsis pada bayi baru lahir tidak
spesifik → diperlukan skrining dan pengelolaan
faktor risiko

Sepsis Neonatal. Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010.
Risk Factor

• Maternal fever (≥38oC saat persalinan)


• KPD > 24jam
• Foul smelling amnion

Diagnosis

• Klinis: 4 sistem @ >1 gejala


• KU: Tampak sakit, letargi, tak mau minum,
hipotermi/demam, sklerema/skleredema
• SCV: takikardia, edema, dehidrasi
• S. Resp.: dispnea, takipnea, sianosis
• SGI: muntah, diare, kembung, hepatomegali
• SSP: Letargi, iritabel, kejang, fontanele bulging (meningitis)
• Hematologi: ikterus, splenomegali, perdarahan,
leukopenia/leukositosis, rasio neutrofil imatur:total > 0,2 (IT rasio)
• Hasil kultur positif
• Darah, urin, CSF bila suspek meningitis -> lakukan LP pada anak < 12
bulan
Tata Laksana
Stabilisasi ABC

Antibiotik

• Ampicilin 50mg/kgBB tiap 6 jam + Gentamisin 7,5 mg/kgBB/hari


(sekali sehari), atau
• Ceftriaxon IV 80-100 mg/kgBB per hari selama 30-60 menit
• Jika tidak membaik lakukan kultur dan berikan antibiotik yg sesuai

Tangani penyakit penyerta/ komplikasi (kejang, gangguan


metabolik, gangguan hematologi, hiperbilirubin, dll)
Tetanus Neonatorum
Cause : bacterium Clostridium tetani.

Manifestasi Klinis tetanus


neonatorum:
 Kontraksi otot tidak
terkendali .
 Bayi tetap sadar, sering
menangis kesakitan
 Trismus ,bibir
mencucu (seperti mulut
ikan).
 Opistotonus (kekakuan
pada ekstremitas, perut)
 Gerakan tangan seperti
meninju dan mengepal
Management of Neonatal Tetanus
• Intravenous fluids
• Enteric feeding
• Temperature control
• Respiratory support, including mechanical ventilation and
neuromuscular blockade
• Sedation and muscle relaxation, especially with high-dose
diazepam (20 to 40 mg/kg/day)
• Tetanus immune globulin 500 units, i.m, in divided doses
• Penicillin G 10,000 units/kg/day for 10 days
• Initial tetanus vaksin postponed 4-6 weeks after antitoksin
Children with Down syndrome have multiple
malformations, medical conditions, and
Down Syndrome cognitive impairment because of the presence
of extra genetic material from chromosome 21
(trisomy 21)
Incidence 1:733
Spina
Bifida
Kurangnya asupan asam folat

Tubuh bagian bawah dapat


terkena dampaknya terutama
kaki, bladder, dan usus.

Gejala lain dapat berupa:


orthopedic deformities,
Hydrocephalus, Chiari II
malformation (structural
defects in the part of
the brain that controls
balance)

Biasanya di setinggi Lumbal

295
Necrotizing Enterocolitis
Faktor risiko

• Preterm (<28 minggu)


• BBLSR atau BBLER
• Susu formula
Sign and Symptom
Sistemik

• Letargis, toleransi minum buruk


• Hipotermi/hipertermi
• Apneu / distress respirasi

Gastrointestinal

• Distensi abdomen
• Darah pada feses
• Vomit (bilous) dan diare
• Eritema dinding abdomen
Hallmark of NEC :
pneumatosis intestinalis
Management :
1. Nil per os
2. Total parenteral nutrition
3. Broad spectrum antibiotics
- 3 days for mild symptoms
- 7-10 days if present with ileus symptom and abdominal tenderness
- 14 days if present with abdominal cellulitis and ascites. Usually
cardiorespiratory and metabolic disturbance also present.
4. Cardiorespiratory support
5. Stage III-B (bowel perforation) : Surgery
6. Probiotic prophylaxis in LBW infant
Omphalitis

Infeksi tali pusat lokal/terbatas


• Kemerahan dan bengkak terbatas
pada daerah <1cm sekitar
• Treatment : bersihkan dengan larutan
antiseptik

Infeksi tali pusat berat/meluas


• Kemerahan dan bengkak >1cm; kulit
sekitar tali pusat mengeras dan
memerah
• Treatment : perawatan seperti infeksi
tali pusat lokal, periksa tanda sepsis,
dapat diberikan antibiotik sistemik.
NEONATAL JAUNDICE
Bilirubin:
Tidak terkonjugasi /
Terkonjugasi / Direct Bil
Indirect Bil
• Tidak larut dalam air • Larut dalam air
• Berikatan dengan • Tidak larut dalam lemak
albumin untuk transport • Tidak toksik untuk otak
• Komponen bebas larut
dalam lemak
• Komponen bebas
bersifat toksik untuk
otak
Mengapa bayi mengalami ikterus pada minggu
pertama kehidupan?
• Meningkatnya produksi bilirubin
– Turnover sel darah merah yang lebih tinggi
– Penurunan umur sel darah merah
• Penurunan ekskresi bilirubin
– Penurunan uptake dalam hati
– Penurunan konjugasi oleh hati
– Peningkatan sirkulasi bilirubin enterohepatik

Ekskresi bilirubin membaik setelah 1 minggu


IKTERUS NON FISIOLOGIS

• Awitan terjadi sebelum usia 24 jam TOO EARLY


• Tingkat kenaikan > 5 mg/dl/24 jam
• Tingkat cutoff indirect
TOO HIGH
> 12 mg/dl pada bayi cukup bulan
> 14 mg/dl pada bayi prematur
• Ikterus bertahan 10-14 hari TOO LONG
• Direct bilirubin > 2 mg/dL
• Kramer 4-5
• Tanda-tanda penyakit lain
Complication  bilirubin  bilirubin ensefalopati

Acute

• Lethargy, poor feeding


• Irritability, high-pitched cry
• retrocollis and opisthotonos
• Apnea, seizures, coma

Chronic (Kernicterus)

• choreoathetoid cerebral palsy


• Gaze abnormality
• Auditory disturbances
• Dysplasia of the enamel of the
deciduous teeth
• MRI shows abnormalities of
globus pallidus or the
subthalamic nuclei, or both.

Kernicterus
Conjugated –

- Biliary atresia
- Neonatal hepatic
syndrome
Hemolytic disease as a cause of jaundice?
• Family history of hemolytic disease
• Bilirubin rise of >0.5 mg/dL/h
• Failure of phototherapy to lower serum bilirubin levels
• Ethnicity suggestive of inherited disease (e.g., glucose 6-
phosphate dehydrogenase deficiency)
• Onset of jaundice before 24 hours of age
• Reticulocytosis (>8% at birth, >5% during first 2-3 days,
>2% after first week)
• Changes in peripheral smear (microspherocytosis,
anisocytosis, target cells)
• Significant decrease in hemoglobin
• Pallor and hepatosplenomegaly
Definisi Inkompatibilitas
• Terjadi pada bayi golongan darah A
atau B dengan ibu O
ABO
• Isoantibodi pada golongan O
merupakan IgG yang dapat
menembus plasenta

Klinis
• Hemolisis signifikan terjadi <1%
• Jaundice, anemia,
hepatosplenomegaly (jarang)
• Sering muncul 24 jam pertama

Laboratorium
• Peningkatan retikulosit, eritroblast
• Coombs test direct  newborn
• Coombs test indirect  ibu
Hyperbilirubinemia in breast-fed infants
Breast-feeding Jaundice Breast-milk Jaundice
Onset During the first week of life After the first week of life
(early onset) (late onset)
Etiology Poor caloric intake and/or increased enterohepatic circulation of
dehydration  bilirubin as a result of the presence of
Weight loss >8-10% beta-glucuronidase in human milk and/or
Wet diapers<6x/day by day to the inhibition of the hepatic
3-4 glucuronosyl transferase by a factor such
Stool<4x/day by day 3-4 as free fatty acids in some human milk
Nursing<8x/day
Usual time of 3-6 days 5-15 days
peak bilirubin
Peak TSB >12 mg/dl >10mg/dl
Incidence 12-13% 2-4%
Temporary interruption of breastfeeding is rarely needed and is not recommended unless
serum bilirubin levels reach 20 mg/dL (340 µmol/L)
Kolestasis
Manifestasi
Bilirubin direk >1mg/dl bila bil.total • Ikterus tidak menghilang usia >3 minggu
<5mg/dl ; atau bilirubin direk >20% (bayi kurang bulan); atau >2 minggu
bila bil.total >5mg/dl (bayi cukup bulan)
• Urin berwarna lebih gelap
• Tinja pucat atau warna dempul (acholik)

Intrahepatik Ekstrahepatik

• Peningkatan • Peningkatan
SGOT/SGPT >10 kali, SGOT/SGPT <5 kali,
dengan peningkatan dengan peningkatan
gamma GT <5 kali gamma GT >5 kali
• Penyebab : proses • Penyebab tersering :
infeksi hepatoseluler, atresia bilier
kelainan
metabolik/endokrin
Jenis
• Fetal embryonic/Syndromic (10-35%)
• Post/Peri-natal/Non syndromic (65-90%)
Penunjang
• USG 2 fase
• Kolangiografi
Treatment
• Prosedur Kasai sebelum usia 8 minggu
Guideline for Intensive Phototherapy
Guideline for Exchange Transfusion
Penatalaksanaan
Terapi sinar Transfusi Tukar
Usia Bayi sehat Faktor Risiko* Bayi sehat Faktor Risiko*

mg/dL  mol/L mg/dL mol/L mg/dL  mol/L mg/dL mol/L

Hari 1 Setiap ikterus yang terlihat 15 260 13 220

Hari 2 15 260 13 220 25 425 15 260

Hari 3 18 310 16 270 30 510 20 340

Hari 4 20 340 17 290 30 510 20 340


dst

* (American Academy of Pediatrics, Subcommittee on hyperbilirubinemia, Management of


hyperbil in NB, 2004)
PEDIATRIC CARDIOLOGY
Rheumatic Fever (Jones Criteria)
Required Major Criteria
Minor Criteria
Criteria (CaPoCES)
Carditis Fever

Evidence of Polyarthritis migratory Arthralgia


antecedent Strep
infection: ASO / Strep
Chorea Previous RF or RHD
antibodies / Strep
group A throat culture
(GABHS) Acute phase reactants:
Erythema marginatum
ESR / CRP

Subcutaneous Nodules Prolonged PR interval

1 Required Criteria + 2 Major Criteria + 0 Minor Criteria


1 Required Criteria + 1 Major Criteria + 2 Minor Criteria
Subcutaneous nodule

Erythema Marginatum
Penyakit Jantung Bawaan –Tanda Gejala
Acyanotic vs Cyanotic
Heart auscultation sites –punctum
maximum?
Congenital Heart Typical Heart Sounds
Disease
ASD S1 normal/mengeras, S2 split lebar dan menetap. Daerah
pulmonal terdengar murmur ejeksi sistolik akibat stenosis
pulmonal relatif
VSD Pansistolik murmur, bisa didahului early systolic click.
Punctum maximum di SIC III-IV LPS sinistra.
PDA Murmur kontinu pada SIC II-III LPS sinistra
ToF S1 normal, S2 tunggal. Murmur ejeksi sistolik di daerah
pulmonal akibat stenosis pulmonal.
Coarctasio Aorta
• Right to left shunt (cyanosis)
Hypoxemic spell  hallmark severe TOF “Tet Spell”
Muncul usia 4-6 bulan
Bayi  muncul saat menangis atau menetek
Anak  muncul saat bermain

Tanda :

• Sianosis/sianosis memburuk
• Sesak nafas
• Iritabel/syncope
• Murmur sistolik berkurang/hilang

Sianosis menghilang dengan jongkok/kneechest


position atau pemberian oksigen
Chest radiograph will show
oligaemic lung fields. The
cardiac silhouette may be normal
size, or enlarged (in the case
above, this was from right atrial
enlargement due to poor
communication between right
and left atria via a restricted
foramen ovale). Fistulae from the
right ventricle to the coronary
circulation may be present,
particularly if the right ventricle
and tricuspid valve are small.
GAGAL
JANTUNG
GAGAL JANTUNG
PEDIATRIC RESPIROLOGY
Sistem Skoring TB Anak

klinis

• Cut-off point: > 6  TERAPI


• Adanya skrofuloderma langsung didiagnosis TB
• Cara : Suntikkan
0,1 ml PPD
intrakutan di
bagian volar
lengan bawah.
Pembacaan 48-72
jam setelah
penyuntikan

 0 - 5 mm : negatif
 5 - 9 mm :
meragukan
 > 10 mm : positif

Bila Negatif:
1. Tidak ada infeksi TB
2. Masa inkubasi
3. Anergi
Diagnosis TB
Anak

©Bimbel UKDI MANTAP


Prinsip Pengobatan TB Anak

©Bimbel UKDI MANTAP


Terapi
• Fase Intensif : Kombinasi 3-5 OAT selama 2 bulan awal (2 RHZ)
• Fase Lanjutan : Kombinasi 2 OAT selama 4 bulan (4 RH)
TB secara 2 bulan gejala ↓  6 bulan  klinis baik (dan foto
skoring lanjut terapi thorax baik)  terapi selesai

Evaluasi

Evaluasi BTA sputum akhir fase intensif


TB BTA (+)
(2 bulan) seperti dewasa

Tidak
teratur Pemantauan TB
minum obat Tidak minum obat > 2 minggu
Fase Intensif atau > 2 bulan Fase
Lanjutan dan Gejala TB 
Anak
pengobatan ulang

Tidak minum obat < 2 minggu Fase


Intensif atau < 2 bulan Fase
Lanjutan dan Gejala TB 
pengobatan lanjut
©Bimbel UKDI MANTAP
Profilaksis Primer
• Mencegah Infeksi TB
• Kontak (+), Infeksi (-)  uji tuberkulin negatif
• Obat: INH 5 - 10 mg/kgBB/hari
• Selama kontak ada: kontak harus diobati
• 3-6 bulan
• Ulang uji tuberkulin:
– Negatif: berhasil, stop INH
– Positif: gagal, lacak apakah infeksi atau sakit ??
Profilaksis sekunder
• Mencegah sakit TB: paparan (?), infeksi (+), sakit (-)
• Uji tuberkulin positif
• Populasi risiko tinggi
– BALITA, Pubertas
– Penggunaan steroid yang lama
– Keganasan
– Infeksi khusus: campak, pertusis
• Obat: INH 5 - 10 mg/kgBB/hari
• Lama: 6-12 bulan
Pencegahan penularan ibu-bayi
Derajat Keparahan Klasifikasi Asma
PNAA 2015:
•Intermitent Level Kontrol
•Persisten ringan
•Terkendali penuh
•Persisten sedang
•Persisten Berat •Terkendali sebagian
•Tidak terkendali

Derajat Serangan
•Ringan-sedang
•Berat
•Serangan asma dengan ancaman henti nafas
Derajat Keparahan Serangan Asma
ancaman henti
ringan sedang berat nafas
• Bicara dalam • Bicara dalam kata • Mengantuk
kalimat • Duduk bertopang • Letargi
• Lebih senang lengan • Suara nafas tidak
duduk daripada • Gelisah terdengar
berbaring
• Retraksi jelas
• Tidak gelisah
• SpO2 <90%
• Retraksi minimal • PEF ≤50% prediksi
• SpO2 90-95% atau terbaik
• PEF >50% prediksi
atau terbaik
Derajat asma menurut kekerapan
(PNAA 2015)
• Episode <6x/tahun atau
Intermiten Jarak ≥6 minggu

Persisten • Episode >1x/bulan,


ringan <1x/minggu

Persisten • Episode >1x/minggu,


sedang namun tidak setiap hari

Persisten • Episode hampir


berat setiap hari
Asma serangan ringan sedang
• SABA (inhalasi/oral) setiap 4-6 jam
• Penambahan ipratropium bromida pada SABA dapat diberikan apabila pasien
dapat diedukasi untuk serangan yang lebih berat
• Steroid oral: prednison/prednisolon 1-2 mg/kgBB/ hari selama 3-5 hari, tanpa
tappering off, max. 1x/bulan

Asma serangan berat


• Rawat inap
• Nebu pertama SABA+ipratropium bromida, sesuai algoritma, selanjutnya bisa
diberikan setiap 1-2 jam, bila terjadi perbaikan setiap 4-6 jam
• O2 2-4 lpm, termasuk saat nebulisasi
• Steroid parenteral, dilanjutkan dosis 0,5-1 mg/kgBB/hari diberikan setiap 6-8
jam
• Ro thorax
• Dapat diberikan aminofilin intravena dosis awal: 6-8 mg/kgBB diencerkan
sebanyak 20 ml diberikan dalam 30 menit, bisa dilanjutkan dosis rumatan:
0,5- 1 mg/kgBB/jam
Pneumonia Fast breathing

Etiologi : Streptococcus pneumonia (tersering), 2-11mo RR≥50


1-5yr RR≥40
Staphylococcus aureus (perburukan cepat)
Klasifikasi Klinis Terapi
Pneumonia Batuk atau sulit bernafas ditambah Amoxicillin oral 40
adanya nafas cepat atau tarikan mg/kgBB/12 jam (3 atau 5
dinding dada bawah hari)
Rawat jalan, kontrol 3 hari
Pneumonia Batuk atau sulit bernafas dengan:  Ampicillin 50 mg/kgBB atau
berat ■ Saturasi oksigen <90% atau central benzylpenicillin 50 000
cyanosis U/kgBB IM/IV per 6 jam (5
■ Distres pernafasan (merintih, tarikan hari), ditambah
dinding dada berat)  Gentamicin 7.5 mg/kgBB IM
■ Tanda pneumonia dengan tanda /IV per 24 jam (5 hari); atau
bahaya umum (tidak mau menetek,  Ceftriaxon (80 mg/kgBB per
letargi/penurunan kesadaran, kejang) 24 jam) sebagai lini kedua
Rawat inap, O2 bila
SaO2<90%, manajemen
WHO Pocket Book of Hospital Care for Children, 2013 airway dan demam
S. pneumonia Klebsiella pneumoniae

gram-positive cocci, lancet-shaped,


elongated cocci. Alpha -hemolytic on
Gram negative bacteria, bacilli,
blood agar. non-motile, lactose fementinge

Pseudomonas aeruginosa Haemophilus influenza

Gram negative, coccobacill, facultative


Gram negative, aerobic, coccobacillus bacterium anaerobic bacterium
with unipolar motility
it can be isolated as clear colonies onMacConkey
Media isolasi chocolate agar  varian agar
agar, positive oxidase test, non ferment lactosa darah yg dilisiskan mll pemanasan
Diagnosis Banding Stridor
 a sign of upper airway obstruction.
 Inspiratory stridor suggests airway obstruction above the glottis while an
expiratory stridor is indicative of obstruction in the lower trachea.
A biphasic stridor suggests a glottic or subglottic lesion.

Diagnosis Gejala
Croup - Batuk Menggonggong, Low grade fever
- Suara Serak, Distress pernafasan
Benda Asing - Riwayat tiba-tiba tersedak
- Distres Pernafasan
Difteri - Imunisasi DPT tidak ada/tidak lengkap
- Bull neck
- Tenggorokan merah / faringitis
- Membran putih keabuan di faring/tonsil -> pseudomembran
Laryngomalacia Chronic stridor, anak usia < 2 tahun
Tx:
• Anti Difteri Serum 40.000
IU im/iv Tonsillitis Akut Membranosa:
• Penicillin Prokain 50.000 IU
/ kgBB / im (7 hari); atau
Eritromisin
mg/kgBB/hari tiap enam
40-50 Diphteria
jam (14 hari)
• Tanda tarikan dinding dada
bagian bawah ke dalam
yang berat dan gelisah
merupakan indikasi
dilakukan trakeostomi (atau
intubasi)

Tonsilitis membranosa: difteri Bull neck


Laryngomalacia
Supraglotis Epiglotitis

Infeksi Saluran Pernafasan Atas


Laringitis-Laringotrakeitis-
Subglotis Laringotrakeobronkitis (Viral
Croup)
Croup
Cause: Most commonly Parainfluenza Virus
Dexamethasone dose:
0,6 mg/kgBB single dose, PO/IM/IV
Croup
Klasifikasi Penanganan
Croup Ringan: Corticosteroid (Dexamethasone)
-Demam
-Suara Serak Edukasi, bila membaik -> rawat jalan
-Batuk Menggonggong
-Stridor Terdengar hanya jika anak gelisah
Croup Sedang: Corticosteroid (Dexamethasone)
-Batuk menggonggong lebih sering Monitor dalam 4 jam
-Stridor terdengar walaupun anak tenang Membaik -> Edukasi, rawat jalan
-Nafas cepat dan tarikan dinding dada bagian Jika tidak membaik, tangani sebagai Croup
bawah ke dalam Berat

Croup Berat: - Corticosteroid (Dexamethasone)


-Batuk menggonggong lebih sering - Epinefrin rasemik. 2ml adrenalin 1/1000
-Stridor terdengar jelas dalam 2-3 ml NaCl, dengan nebulizer
-Nafas cepat dan tarikan dinding dada bagian selama 20 menit, ulangi bila perlu
bawah ke dalam - Oksigenasi
-Anak agitasi dan stressed Antibiotik tidak seharusnya diberikan
EPIGLOTITIS : infeksi pada epiglotis/supraglotis
Epiglotitis hampir selalu disebabkan oleh bakteri haemophilus influenza tipe b
Gejala
3D: drooling (air liur keluar berlebihan), dysphagia (sulit menelan), dysphonia (suara serak) +
stridor.

Normal Epiglotis : Halloween Sign

Thumb sign
Epiglotitis: Halloween Sign (-)
Epiglotitis

Haemophilus influenza tipe B

Kondisi Pasien Terapi/Penanganan


Stable (no airway compromise, respiratory Broad-spectrum antibiotic. Immediate tx.
difficulty, stridor, or drooling, and who have Should not wait for the blood and tissue
only mild swelling on laryngoscopy) culture result.
More targeted antibiotic. The drug may be
changed later, depending on what's causing
the epiglottitis.
Unstable (respiratory distress, airway Jaga patensi jalan nafas:
compromise on examination, stridor, -Awasi ketat
inability to swallow, drooling, sitting erect, Jika diperlukan: intubasi/tracheostomy/
and deterioration within 8-12 hours) cricothyrotomy/percutaneous transtracheal
jet ventilation (PTJV)
Epiglotitis & Croup
Intubasi dan trakeostomi:
Jika terdapat tanda obstruksi saluran respiratorik
seperti tarikan dinding dada bagian bawah ke
dalam yang berat dan anak gelisah, lakukan intubasi
sedini mungkin.
Pertusis
• Causa: Bordetella Pertusis
• Batuk Berat lebih dari 2 minggu
• Batuk Paroksismal diikuti suara whoop saat inspirasi
“whooping cough”
• Perdarahan Subkonjungtiva
• Anak tidak tahu atau belum lengkap imunisasi terhadap
pertusis
• Bayi muda mungkin tidak disertai whoop, tetapi batuk
yang diikuti oleh berhentinya napas atau sianosis, atau
napas berhenti tanpa batuk (apneic spell)
• Tx: ERITROMISIN 40-50 mg/kgBB/hari terbagi 4 dosis selama 14 hari
PEDIATRIC TROPIK INFEKSI
DENGUE
CLINICAL COURSE
(WHO, 2011)
Normal hematocrit levels
• Newborns: 55%-68%
• One (1) week of age: 47%-65%
• One (1) month of age: 37%-49%
• Three (3) months of age: 30%-36%
• One (1) year of age: 29%-41%
• Ten (10) years of age: 36%-40%
• Adult males: 42%-54%
• Adult women: 38%-46%
• Adult pregnant women: about 30% - 34% lower limits and
46% upper limits
Diseases With Rash
Fever With Rash
Laboratorium

• Serologis IgM campak (3 hari setelah muncul ruam)


• Deteksi langsung antigen campak dari swab nasopharyng
Pemberian Vit A
• 50.000 IU pada < 6 bulan (1/2 kap biru) diberikan 2x:
• 100.000 IU pada 6-11 bulan (1 kap biru) hari 1 dan hari 2
• 200.000 pada 12 bulan hingga 5 tahun (1 kap merah)

• Pada gizi buruk diberikan 3 kali:


hari 1, hari 2, dan 2-4 minggu setelah pemberian
kedua

• Komplikasi campak:
– Pneumonia
– Dehidrasi
– Gizi buruk
– Ensefalitis
– OMA
TRIAS RUBELLA CONGENITAL
1. Sensory neural deafness (58% of
patients)
2. Eye abnormalities—
especially retinopathy, cataract and
microphtalmia (43% of patients)
3. Congenital heart disease
Scarlet Fever
Group A Streptococcus

Strawberry tongue
Sandpaper texture,
pastia line

Antibiotik : Golongan Penisilin


selama 10 hari atau cephalosporin
Erythema Infectiosum

“Slapped cheek”

Parvovirus B19
Mumps: paramyxovirus
Mumps is the classic virus known to cause parotitis. Mumps
parotitis is bilateral in 70% of cases and usually follows a 1-2 day
prodrome of fever, headache, emesis, and myalgias

These diseases spread from person to


person through the air. One can
easily catch them by being around
someone who is already infected.

Complications:
Deafness (SNHL), meningitis and/or
encephalitis, painful swelling of the
testicles or ovaries, and rarely sterility.
Mumps
treatment
• Penatalaksanaan Parotitis mumps
• a. Nonmedikamentosa
– Pasien perlu cukup beristirahat
– Hidrasi yang cukup
– Asupan nutrisi yang bergizi
• b. Medikamentosa
– Pengobatan bersifat simptomatik (antipiretik,
analgetik)
PEDIATRIK IMMUNOLOGY
Reaksi Hipersensitivitas
“Non-Toxic Adverse Food Reactions”
• Food Allergy
– Ingestion of food results in hypersensitivity
reactions mediated most commonly by IgE
• Food Intolerance
– Ingestion of food results in symptoms not
immunologically mediated, e.g: digestive and
absorptive limitations of host (e.g., lactase
deficiency)
Food Allergy
Acute
Alergi Susu Sapi
IgE mediated

• kadar IgE susu sapi yang positif (uji tusuk kulit atau uji
IgE RAST).
• timbul dalam waktu 30 menit sampai 1 jam.
• urtikaria, angioedema, ruam kulit, dermatitis atopik,
muntah, nyeri perut, diare,bronkospasme, dan
anafilaksis.

Non IgE mediated

• diperantarai oleh IgG dan IgM.


• klinis timbul lebih lambat (1-3 jam)
• allergic eosinophilic gastroenteropathy, kolik,
enterokolitis, anemia, dan gagal tumbuh.
• Dapat dilakukan pemeriksaan Uji eliminasi dan
provokasi  Double Blind Placebo Controlled Food
Challenge (DBPCFC) atau Pemeriksaan darah pada tinja
Bayi ASI Eksklusif
Bayi Susu Formula
Lactose Intolerance
• Inability to digest lactose
• Deficiency of the intestinal enzyme lactase
that splits lactose into two smaller
sugars, glucose and galactose
• Symptoms: diarrhea, flatulence, abdominal
pain, abdominal bloating, nausea
Type of Lactose Intolerance
Primer
• Developmental  aktivitas laktase meningkat
puncak pada saat lahir, defisiensi sering nampak
pada bayi prematur
• Kongenital  tidak dijumpai/berkurangnya enzim

Sekunder
• Akibat kerusakan pada saluran pencernaan yang
menyebabkan rusaknya vili
PEDIATRIC NEUROLOGI
Kejang Demam
bangkitan kejang yang terjadi pada anak berumur 6
bulan sampai 5 tahun yang mengalami kenaikan suhu
tubuh (suhu di atas 38 C), yang tidak disebabkan oleh
proses intrakranial

Kejang demam sederhana (KDS)


• Durasi <15 menit
• Sifat umum tonik-klonik
• Kejang tidak berulang dalam 24 jam

Kejang demam kompleks (KDK)


•Durasi >15 menit
•Sifat fokal, atau fokal jadi umum
•Kejang berulang dalam 24 jam
Anti kejang pada neonatus
Fenobarbital 20 mg/kgBB IV dlm 10-15
menit, ulang dengan dosis 10 mg/kgBB
sebanyak 2x dengan jarak 30 menit

Fenitoin 20 mg/kgBB IV dalam garam


fisiologis dengan kecepatan 1
mg/kgBB/menit

Midazolam bolus 0,2 mg/kgBB lanjut


titrasi 0,1-0,4 mg/kgBB/jam IV
Dilakukan untuk menyingkirkan
Pungsi lumbal atau menegakkan diagnosis
meningitis
• Dilakukan apabila :
• Terdapat tanda dan gejala rangsang
meningeal.
• Terdapat kecurigaan adanya infeksi
SSP berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan klinis.
• Dipertimbangkan pada anak dengan
kejang disertai demam yang
sebelumnya telah mendapat
antibiotik dan pemberian antibiotik
tersebut dapat mengaburkan tanda
dan gejala meningitis.
Faktor risiko berulangnya kejang demam

• Riwayat kejang demam atau epilepsi dalam keluarga


• Usia kurang dari 12 bulan
• Suhu badan saat kejang <39 C
• Interval waktu yang singkat antara awitan demam
dengan kejang
• Kejang demam pertama KDK
* Bila ada semua faktor  kemungkinan
berulang 80%
* Bila tidak ada faktor  10-15%
* Kemungkinan berulang paling besar pada
tahun pertama setelah awitan kejang
Indikasi Profilaksis
Kejang Demam
Intermitten
• Kelainan neurologis berat, misal CP
• Berulang 4 kali atau lebih dalam 1 tahun
• Usia <6 bulan
• Kejang pada suhu < 39 C
• Kejang demam sebelumnya suhu meningkat dengan cepat

Jangka panjang/Rumatan
• KDK dengan kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah
kejang (paresis Tod’s, CP, hidrosefalus); Kejang lama > 15 menit;
Kejang fokal
Profilaksis Jangka Panjang/Rumatan

Obat yang biasa digunakan:


- Fenobarbital 3-5 mg / kg BB/hari dibagi 2
dosis
- Asam Valproat 15-40 mg/kg BB/hari dibagi 2
dosis
- Fenitoin & carbamazepin tidak efektif
untuk pencegahan kejang demam

Selama 1 tahun bebas kejang


Febrile Seizures: Clinical Practice Guideline for the Long-term Management
of the Child With Simple Febrile Seizures – AAP Guidelines 2008
(PERDOSSI)

OAE Lini Pertama


Tipe Kejang OAE Lini Pertama Dewasa OAE Lini Pertama Anak

Lena VPA VPA


LTG ETX
Mioklonik VPA VPA

Tonik Klonik VPA VPA


CBZ CBZ
PHT PB
PB
Atonik VPA
Parsial CBZ CBZ
PHT PHT
PB PB
OXC OXC
LTG LTG
TPM TPM
GBP GBP
Tidak Terklasifikasi VPA VPA
Treatment Recommendation –Epilepsy

“If complete seizure control is accomplished by an


anticonvulsant, a minimum of 2 seizure-free years is
an adequate and safe period of treatment for a
patient with no risk factors”

“When the decision is made to discontinue the drug,


the weaning process should occur for 3–6 mo,
because abrupt withdrawal may cause status
epilepticus”

National Institute of Health and Clinical Excellence. The diagnosis and management of the epilepsies in adults and
children in primary and secondary care. 2012.
Cerebrospinal Fluid
Appearance Opening Leukosit Dominansi Protein Glucose
Pressure leukosit
NORMAL Clear <18 cmH2O 0-3 (-) 15-45 45-80
sel/mm3
Pyogenic Yellowish,   PMN  
bacterial turbid
Meningitis
Viral Clear N  Limfosit N/ N/
Meningitis
Tuberculous Yellowish N  Limfosit  
Menigitis and viscous
(N/slightly
cloudy)
Fungal Yellowish   Limfosit  N/ 
Meningitis and viscous
(fibrin web)
Acute Bacterial Meningitis
• A number of strains of bacteria can cause
acute bacterial meningitis. The most common
include:
– Streptococcus pneumoniae (pneumococcus)*
– Neisseria meningitidis (meningococcus)*
– Haemophilus influenzae (haemophilus)*
– Listeria monocytogenes (listeria)

*)tersedia vaksin
Meningeal Signs
Nuchal Rigidity

Kernig’s Sign
Brudzinski’s Contralateral Sign

Brudzinski’s Neck Sign


Superior Trunk (C5-C6) Injury:
Antara leher dgn bahu teregang →
Erb-Duchenne Palsy (Waiter’s Tip)
→ Paralisis m. deltoid, biceps, brachialis,
dan brachioradialis.
→ Adduksi bahu, rotasi medial lengan, dan
ekstensi siku. Parestesia lateral upper limb .
Inferior Trunk (C8-T1) Injury:
Tarikan mendadak dan keras upper limb →
Klumpke Palsy → Claw hand  Refleks Genggam (-)
Cerebral palsy
• nonspecific term used to describe a chronic,
static impairment of muscle tone, strength,
coordination, or movements.
• originated from some type of cerebral insult or
injury before birth, during delivery, or in the
perinatal period.