Sei sulla pagina 1di 13

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA SEBAGAI

PENJAGA KONSITUSI DAN IDEOLOGI NEGARA.1

Oleh: Dr. Wahju Prijo Djatmiko, S.H., M.Hum., M.Sc.

Abstract
The Constitutional Court (MK) is one of the judicial power institutions in the
Indonesian constitutional system whose constitutional authority is recognized after the
amendment to the 1945 Constitution of the Republic of Indonesia (UUD 1945). The MK’s
authority as regulated in Article 24C of the 1945 Amendment, conducts a judicial review of
the Constitution (constutional review), both covering material and formal aspects in the spirit
of protecting public interests from arbitrary power and misuse of power from the legislators.
The functions of MK to build a democratic rule of law state can be carried out in four
functions, namely as the interpreter of the constitution, the guardian of human rights and the
constitution and as the enforcer of democracy.
The possibility of authority’s conflicts in carrying out the mandate of the law in the
state institutions is a problem that may occur. Due to the above condition, the MK has the
constitutional authority to resolve conflicts of interest between state institutions whose
solutions are based on the legal process and not on the political one. Because of there are
rapid and unpredictable changes due to the internal conditions and the global influences,
besides being the guardian of the constitution, the MK is also expected to stand firmly as the
guardian of the state’s ideology (Pancasila). The ability of the MK to fully understand the
importance of Pancasila towards UUD 1945 is an obligation to maintain Pancasila as the state
ideology and legal ideals (rechtsidée).
Key words: constitutional review, state ideology, constitutional court.

A. Pendahuluan Konstitusi Negara melalui peradilan

MK Republik Indonesia (RI) dalam modern dan terpercaya, sedangkan misinya

mengemban tugas dan kewenangan yang membangun sistem peradilan konstitusi

dimilikinya berdasar pada UUD 1945 dan yang mampu mendukung penegakan

UU No 8 Tahun 2011 tentang Perubahan konstitusi serta meningkatkan pemahaman

atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun masyarakat mengenai hak konstitusional

2003 tentang MK serta UU Nomor 48 warga negara.

Tahun 2009 tentang Kekuasaan Sebagai salah satu pelaksana

Kehakiman. Visi MK mengawal tegaknya kekuasaan kehakiman di samping

1
Makalah diajukan sebagai materi uji seleksi Hakim Konstitusi yang diajukan oleh Presiden Republik
Indonesia, November 2019 di Jakarta.

1
Mahkamah Agung (MA), MK terikat pada publik dari kekuasaan yang sewenang-

prinsip umum penyelenggaraan kekuasaan wenang (arbitrary power) maupun

kehakiman yang merdeka, bebas dari penyalahgunaan wewenang (misuse of

pengaruh kekuasaan lembaga negara power), pengawasan kekuasaan menjadi

lainnya (independence and impartiality of persoalan yang serius dan strategis. Hal

judiciary) dalam menegakkan hukum dan tersebut sejalan dengan prinsip fundamental

keadilan. Kewenangan review yang mele- dari doktrin negara hukum yakni

kat pada MK adalah constitutional review pengawasan terhadap kekuasaan pihak

yang berbeda secara konseptual dengan yang berkuasa (memerintah). Pengawasan

kewenangan judicial review yang dimiliki konstitusionalitas yang dilakukan oleh MK

oleh MA. Pengujian konstitusionalitas merupakan wujud dari pengawasan yang

hanya menyangkut pengujian UU terhadap pengaruhnya dapat tercermin melalui

UUD 1945. Adapun pengujian UU terwujudnya supremasi hukum pada

terhadap Konstitusi akan mencakup kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan

pengujian secara formil dan materiil. bernegara dan ditaatinya hierarki tata

Pengujian secara formil adalah menelaah perundang-undangan yang ada.

apakah pembentukan UU telah memenuhi Terwujudnya supremasi hukum

prosedur pembentukan berdasarkan akan berpengaruh terhadap sikap para

ketentuan UUD 1945. Sedangkan pengu- pembentuk UU agar tidak membuat tata

jian UU secara materiil adalah memeriksa perundang-undangan yang bertentangan

apakah materi muatan dalam ayat, pasal, dengan Konstitusi dan melawan hak asasi

dan/atau bagian UU dianggap bertentangan manusia (HAM). Disamping itu untuk

dengan UUD 1945. memastikan bahwa tidak akan pernah ada

Dalam negara hukum yang demo- lembaga negara yang memiliki kekuasaan

kratis dan demi melindungi kepentingan mutlak walaupun itu Majelis

2
Permusyawaratan Rakyat (MPR) sekalipun. yang menjadi hak-hak dasar manusia atau

MPR harus tunduk pada Konstitusi seba- fungsinya sebagai penjaga hak asasi

gaimana amar Pasal 1 ayat (2) Perubahan manusia (HAM), menjamin tegaknya

Ketiga UUD 1945. Konstitusilah yang konsitusi atau fungsinya sebagai penegak

mengatur kehidupan berbangsa dan konstitusi serta fungsinya sebagai penegak

bernegara (ruled by law). demokrasi. Dengan demikian secara

Wade dan Phillips2 memberikan fundamental, MK berkiprah melaksanakan

pengertian konsitusi sebagai sebuah 4 (empat) fungsi kekuasaannya tersebut

dokumen yang menjadi kerangka dasar demi mencapai kesehjahteraan sosial yang

yang berisi sanksi hukum khusus dan berkeadilan dan menjamin terseleng-

prinsip dari fungsi-fungsi lembaga-lembaga garanya tata pemerintahan negara yang

pemerintahan negara dan yang juga tertib dan stabil sesuai dengan kehendak

menyatakan prinsip-prinsip yang mengatur rakyat dan cita hukum negara (Pancasila).

cara kerja lembaga-lembaga tersebut. Fungsi konstitusional MK dalam

Pengertian ini tentunya mengikat makna sistem ketatanegaraan Indonesia tidak

dari istilah mahkamah konsitusi. Adapun hanya sebagai pengaman Konstitusi (the

bagi NKRI, Konstitusi adalah UUD 1945. Guardian of the Indonesian Constitution)3

MK dalam mengemban kekuasaan tetapi secara riil juga sebagai penjaga

konstitusionalnya melakukan pengujian UU Pancasila (the Guardian of the State’s

terhadap Konstitusi negara atau fungsinya Idiology). Pancasila dan UUD 1945

sebagai penafsir Konstitusi (the ultimate merupakan kesatuan dua entitas yang erat

interpreter of the constitution). Di samping yang tidak dapat dipisahkan satu sama

itu, dalam melaksanakan kewenangan lainnya. Hubungan keduanya merupakan


3
Sudirman, Memurnikan Kewenangan
lainnya juga tidak boleh melanggar dari apa Mahkamah Konstitusi sebagai Lembaga Pengawal
Konstitusi (The Guardian of The Constitution),
Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan
2
E.C.S. Wade and G. Phillips, Constitutional Kewarganegaraan, Th. 1, No 1, 2016, hlm. 54.
Law, London, Longman, 1970, hlm. 1.

3
rangkaian kesatuan sistem nilai dan norma fungsi tersebut dijalankan melalui

yang sangat terpadu. Oleh karenanya di pelaksanaan empat kewenangan dan satu

samping berperan mengamankan Konstitusi kewajiban yang juga dapat dianggap

negara, MK juga mutlak harus menjaga sebagai kewenangan sebagaimana diatur

ekistensi ideologi negara yakni Pancasila. dalam Pasal 24, ayat (1) dan ayat (2) UUD

B. Permasalahan 1945.

Berdasarkan latar belakang yang


C.1.1. Fungsi MK sebagai Penafsir
dipaparkan pada pendahuluan di atas,
Konstitusi
terdapat dua (2) permasalahan yang penting
Dalam kajian negara hukum
yang akan dikaji dalam makalah ini yakni:
(rechtsstaat), puncak dari kekuasaan dalam
1. Bagaimana peran MK dalam
negara adalah hukum. Hukum merupakan
mewujudkan negara hukum yang
institusi sosial yang paling tinggi yang
demokratis?
mengatur perikehidupan bermasyarakat,
2. Mengapa MK wajib menjaga
berbangsa dan bernegara. Hukumlah
Pancasila sebagai ideologi negara?
panglimanya dan sama sekali bukan si

C. Pembahasan manusia/penguasa. Negara diatur oleh

C.1. Peran MK Mewujudkan Negara hukum (ruled by law) dan bukan

Hukum yang Demokratis dikendalikan oleh manusia (not ruled by

Peran MK dalam mewujudkan man).

negara hukum yang demokratis Konstitusi membentuk institusi-

(democratische rechtsstaat) dapat terwujud institusi negara dan sekaligus membatasi

apabila MK dapat melaksanakan empat kekuasaan institusi yang dibentuknya.

fungsinya yakni sebagai lembaga penafsir Hukum Konstitusi harus bersifat supreme

konstitusi, pengawal konstitusi, penegak untuk mengendalikan kekuasaan negara. Di

demokrasi dan penjaga HAM. Keempat sinilah fungsi pengawasan (review) akan

4
senantiasa diperlukan dan sangat strategis dengan benar. MK dalam melaksanakan

dalam proses checks and balances. Bila tanggung jawab konstitusionalnya menem-

proses pengawasan ini tidak berjalan patkan kedudukan lembaga-lembaga negara

dengan baik maka demokrasi yang yang lain setara dan sederajat. MK

dijalankan bersifat semu dan bisa mengarah berkiprah hanya dalam ranah kekuasaan

ke otoritarianisme. Dalam fungsi inilah MK yudisial sehingga tidak saling mendominasi

perlu memiliki kemampuan menterjemah- antara satu terhadap yang lain termasuk

kan Konstitusi secara moral (moral reading dengan MA sekalipun. Dalam negara

on the constitution) bukan tekstual. hukum demokrasi konstitusional yang

Sebagai konsekuensi negara dianut oleh NKRI semua lembaga negara

berdasarkan konstitusi maka UUD 1945 pada posisi setara dan sederajat.4

merupakan hukum yang paling tinggi (the Dalam rangka mewujudkan negara

highest law) dan hukum negara yang paling hukum yang demokratis, MK berperan

fundamental (the most fundamental law). tunggal dan sentral sebagai penegak

Akibat dari Konstitusi sebagai kaidah konstitusi. Di tangan kekuasaan MK–lah,

hukum yang tertinggi dan dasar, maka demokrasi konstistusional bergerak tetap

semua kaidah hukum yang dibuat oleh pada kodratnya yakni adanya kedaulatan

lembaga-lembaga negara harus dibuat yang menyeluruh di tangan rakyat yang

berdasarkan dan tidak boleh bertentangan direpresentasikan melalui lembaga-lembaga

dengan asas dan kaidah tata urutan negara selaku penyelenggara negara.

perundang–undangan (stufenbau theory). Adanya sengketa dalam pelaksanaan

aplikasi kedaulatan rakyat melalui sistem


C.1.2. Fungsi MK sebagai Penegak
perwakilan rakyat (pemilu legislatif, pemi-
Konstitusi
lihan presiden dan wakil presiden)
Demokrasi akan berjalan dengan
4
Abdul Latif, Fungsi Mahkamah Konstitusi,
baik apabila konsep rule of law berjalan Yogjakarta, Total Media, 2009, hlm. 33.

5
merupakan tanggung jawab MK dalam mengukur apakah UU yang dibuat oleh

memutus sengketa secara adil, jujur dan lembaga legislatif dan eksekutif tidak

bertanggung jawab. bertentangan dengan konstitusi negara.

Negara hukum yang demokratis MK sebagai penegak konstitusi

senantiasa berjalan pada konsep pemberian selayaknya melaksanakan penegakan

kekuasaan kepada lembaga-lembaga negara konstitusi yang adil dan benar yakni yang

dengan pengawasan. Lembaga-lembaga memberikan perlindungan dan manfaat

negara harus tunduk pada hukum. kepada masyarakat dalam rangka

Pemusatan kekuasaan pada lembaga negara menjunjung tinggi supremasi konstitusi

tertentu merupakan sesuatu yang sangat sebagai hukum dasar tertinggi negara.

bertentangan dengan kaidah-kaidah Konstitusi tidak akan pernah bermakna

Konstitusi. Penegakan Konstitusi melalui apa-apa bagi masyarakat kalau tidak

fungsi judicial review yang dilakukan oleh dijalankan (ditegakkan) secara adil dan

MK merupakan manifestasi dari penerapan benar. Inilah tugas utama MK dalam

asas supremasi hukum dalam negara mengemban kewajiban konstitusionalnya.

demokrasi. Dalam penegakan konsitusi, Kemampuan MK dalam menjalankan dan

MK harus memiliki kemampuan dan menegakkan konstitusi merupakan

kesanggupan untuk mempertahankan manifestasi terwujudnya negara hukum

Konstitusi sebagai rujukan dalam yang demokratis. Sebaliknya gagalnya MK

pembuatan tata perundang-undangan di dalam menegakkan kostitusi merupakan

bawahnya. Kegagalan MK memper- wujud dari gagalnya sistem negara

tahankan ekistensi Konstitusi merupakan demokrasi hukum yang dianut oleh NKRI.

mimpi buruk dalam penegakan konstitusi.


C.1.3. Fungsi MK sebagai Penjaga HAM
Apapun dalihnya, Konsitusi merupakan
Konsep rechtsstaat ditandai dengan
tolok ukur yang harus diperjuangkan dalam
terciptanya ketaatan seluruh warga negara

6
terhadap kaedah-kaedah hukum yang selalu sesuai dengan aspirasi masyarakat

dibuat oleh lembaga legislatif, eksekutif yang dijamin oleh Konstitusi negara.

dan yudikatif. Adapun kaedah-kaedah Faktanya muatan - muatan yang terkandung

hukum yang dianut tersebut semestinya pada produk hukum tersebut tidak dapat

selaras dan tidak bertentangan dengan hak dilepaskan dari kekuatan politik yang ada

kodrati manusia (HAM). Negara dalam di dalam lembaga legislatif. Produk hukum

mewujudkan kesejahteraan yang yang dirumuskan secara demokratis,

berkeadilan wajib mendorong terwujudnya tentunya dalam proses penyusunannya

penghargaan terhadap martabat manusia. selalu melihat kehendak dan aspirasi yang

Untuk itu negara wajib melindungi segenap tumbuh di masyarakat sehingga produk

warga masyarakat dalam mendapatkan hukum yang nantinya dihasilkan itu sesuai

keadilan jika penguasa (pemerintah) dengan keinginan hati nurani mereka.

melakukan tindakan yang semena-mena. Apabila produk hukum yang

Dalam upaya melindungi kepentingan dihasilkan tersebut menjadikan masyarakat

hukum masyarakat inilah konsep negara resah, melawan dan cenderung tidak

hukum memerlukan hadirnya institusi mematuhi ketentuan hukum (civil dis-

yudikatif yang mandiri, bebas dan merdeka obidient) menandakan bahwa produk

yang mampu memperbaiki bila ada hukum tersebut ‘cacat’ dan tidak mampu

tindakan semena-mena dari institusi memberikan kontribusi pada tercapainya

eksekutif dan legislatif yang melawan dan keselarasan, kedamaian, ketertiban dan

melanggar hak kodrati hidup setiap warga kemaslahatan sosial. Bila kondisi ini

negara. terjadi sangat dimungkinkan bahwa produk

Dari sudud pandang penerapan hukum tersebut bertentangan dengan

hukum, Konstitusi menghendaki tindakan Konstitusi negara. Kenyataannya masih

pemerintah (dalam format produk hukum) banyak produk hukum dalam arti

7
perundang-undangan yang tidak dapat sesuai asas-asas Pemilu. Bila Pemilu tidak

menciptakan ketertiban dan kemaslahatan terselenggara sesuai dengan ketentuan

dalam kehidupan masyarakat (merugikan hukum yang berlaku demi tegaknya prinsip

HAM). Bahkan, hukum yang baru dibentuk demokrasi berarti negara telah mengarah

saja telah menimbulkan ketidaktertiban pada prinsip otoritarianisme. MK semes-

dalam masyarakat. Sehingga tidak heran tinya waspada (alert) terhadap fenomena

jika ada produk hukum yang baru disahkan tersebut.

dan diundangkan oleh Negara kemudian Sebagai penegak demokrasi, MK

diajukan judicial review ke MK. harus mampu tidak hanya mengamankan

aplikasi dari sistem demokrasi namun juga


C.1.4. Fungsi MK sebagai Penegak
bagaimana MK bisa sekaligus mewujudkan
Demokrasi
legal justice dan social justice pada
Kewenangan MK dalam mene-
kehidupan berdemokrasi. Tentunya hal ini
gakkan demokrasi nampak jelas pada
bukan merupakan hal yang mudah. Sikap
bagamana lembaga ini berdiri di tengah,
non-partisan, bebas, mandiri dan tegak dari
bersifat mandiri dan berlaku adil dalam
MK (hakim MK) merupakan indikator-
memutus sengketa pemilihan umum
indikator mampunya MK menjadi ‘wasit’
(Pemilu). Pemilu, baik itu untuk memilih
dan sekaligus penegak demokrasi.
wakil rakyat maupun memilih presiden dan
Masih maraknya demokrasi semu
wakil presiden merupakan satu mekanisme
dan cacat dalam berdemokrasi (flaw
yang menjamin terwujudnya prinsip-
democracy) bisa menjadi salah satu bukti
prinsip kedaulatan rakyat. Dalam ajang
belum tegaknya demokrasi. Di sini peran
kontestasi Pemilu, perbuatan tidak jujur,
MK masih terbuka lebar dalam
maladministrasi, ketidakadilan sangat
mekampanyekan bagaimana demokrasi
mungkin terjadi. Padahal di sisi lain Pemilu
selayaknya diaplikasikan dalam kontestasi
wajib terselenggara secara jujur dan adil

8
Pemilu. MK kedepan senantiasa proaktif norma yang sekaligus menjadi sumber bagi

mewarnai (coloring) dan mempengaruhi semua asas hukum, norma hukum, dan

(influencing) institusi negara yang lain hukum yang berlaku di Indonesia.7 Karena

yang terlibat dalam pesta Pemilu untuk itulah bagi bangsa Indonesia, Pancasila

menegakkan demokrasi sebagai sarana berfungsi sebagai pandangan hidup,

dalam berpolitik. Keberhasilan MK dalam ideologi bangsa dan juga sebagai dasar

penegakkan demokrasi semestinya tidak negara.

saja diukur dari kemampuannya memutus Pancasila menurut pandangan

sengketa Pemilu (hard output) tapi juga Notonagoro8 merupakan pokok kaidah yang

dari upaya MK ikut serta dalam men- sangat fundamental dari suatu negara yang

dewasakan kehidupan berdemokrasi berdaulat (staatsfundamentalnorm)9 yang

masyarakat (soft output) . mempunyai kekuatan sebagai grundnorm.10

C2. MK sebagai Penjaga Ideologi Negara Pancasila yang ada di dalam pembukaan

Pancasila telah disepakati sebagai UUD 1945 merupakan bagian dari

core of philosophy yang merupakan local


7

Pendapat Paton, sebagaimana dikutip oleh


genius dan local wisdom5 bagi bangsa Moempoeni Moelatingsih, Pidato Pengukuhan
Guru Besar Hukum Tata Negara pada Fakultas
Indonesia. Posisi Pancasila yang Hukum Undip, Semarang, 16 Desember 2003, hlm.
14-16.
8
Notonagoro dalam As’ad Said Ali, Negara
sedemikian strategisnya inilah yang
Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa, cetakan
ketiga, Jakarta, Pustaka LP3ES, 2010, hlm. 62.
menegaskan Pancasila sebagai grundnorm 9
Staatsfundamentalnorm atau norma
fundamental negara adalah konsep yang
atau basic norm6 (norma tertinggi) bagi diperkenalkan oleh Hans Nawiasky yang
menyatakan bahwa grundnorm yang digunakan
untuk hukum dasar atau Konstitusi itu masih bisa
bangsa Indonesia. Pancasila adalah asas berubah-ubah. Atas argumentasi inilah Nawiasky
menggunakan istilah staatsfundamentalnorm, yakni
5
Bandingkan persoalan local genius ini dengan norma yang tidak dapat diubah dan yang
pendapatnya FX. Adji Samekto, Kajian Studi berkedudukan lebih tinggi dari grundnorm. Lihat,
Hukum Kritis: Implikasi Yuridis “Ketidak- Anthon F Sutanto, Ilmu Hukum Non Sistematik
Ilmiahan” Pengetahuan Tradisional dalam (Fondasi Filsafat Pengembangan Ilmu Hukum
Pengelolaan Keanekaragaman Hayati:, Jurnal Indonesia), Yogyakarta,Genta Publising,2010, hlm.
Hukum Pro Justitia Tahun XIII No. 1 Januari 2005 78.
FH Unpar Bandung, hlm. 1-7. 10
Groundnorm atau norma dasar adalah konsep
6
Hans Kelsen menyatakan bahwa “basic norm is yang dicetuskan oleh Hans Kelsen. General Theory
as the source of validity and as the source of unity of Law and State, New York, Russel & Russel,
of legal systems”. 1961. hlm.125.

9
staatsfundamentalnorm.11. Kedudukan konstitusi. Sedangkan Konstitusi

Pancasila adalah sebagai national guide- menentukan isi dan bentuk berbagai

lines, sebagai national standard, norm and peraturan perundang-undangan yang lebih

principles yang sekaligus memuat human rendah yang seluruhnya tersusun secara

rights and human responsibilities.12 Nilai- hierarkis. Jika norma hukum yang lebih

nilai Pancasila sebagaimana pernah rendah ini bertentangan atau tidak sesuai

dituangkan dalam ketetapan MPRS dengan Pancasila maka terjadi

No.XX/MPRS/1966, pada hakekatnya inkonstitusional dan ketidaklegalan

merupakan pandangan hidup, kesadaran, (illegality) dan karenanya norma hukum

dan cita hukum serta cita-cita moral luhur yang lebih rendah itu menjadi batal dan

bangsa Indonesia. Dipandang dari harus dibatalkan demi hukum.13

kedudukannya sebagai sumber hukum yang Konstitusi sebagai kerangka utama

tertinggi, memiliki makna bahwa Pancasila (main back bone) sistem hukum nasional

digunakan sebagai ukuran dalam menilai adalah cita-cita hukum negara. Konstitusi-

tata hukum yang ada. Aturan-aturan hukum lah yang kemudian melahirkan hukum yang

yang diterapkan dalam masyarakat harus menjadi pijakan cabang kekuasaan negara

mencerminkan nilai-nilai Pancasila serta lainnya dalam menjalankan pemerintahan.

adanya rasa keadilan bagi bangsa Dengan demikian terdapat hubungan

Indonesia. falsafatis dan hierarkhis antara Pancasila,

Pancasila adalah Konstitusi dan hukum dibawah Konstitusi.

staatsfundamental-norm yang menciptakan Pancasila menjelaskan serta

menegaskan karakter rakyat Indonesia


11
Moh. Mahfud MD, Membangun Politik
Hukum, Menegakkan Konstitusi, Jakarta, Rajawali sebagai bangsa yang beradab,
Press, 2012, hlm. 54.
12
Muladi, Pancasila sebagai Margin of
Appreciation dalam Hukum yang Hidup di berkebudayaan, yang menginsafi keluhuran
Indonesia, Ahmad Gunawan BS dan Mu’ammar
Ramadhan (ed), Menggagas Hukum Progresif dan kehalusan hidup manusia, serta
Indonesia, Yogjakarta, Pustaka Pelajar, 2012, hlm.
200. 13
Moh. Mahfud MD, op.cit., hlm. 55.

10
sanggup menyesuaikan hidup tidak dapat diubah. Pancasila senantiasa

kebangsaannya dengan dasar peri- terlekat pada kelangsungan hidup NKRI.

kemanusian yang universal. Pancasila Dengan demikian kedudukannya yang

selalu mengusahakan diri ikut serta dalam bersifat formal yuridis dalam Pembukaan

mewarnai arah pembangunan masyarakat UUD 1945, sehingga baik rumusan maupun

dan negara.14 Berangkat dari pemahaman yuridiksinya sebagai dasar negara adalah

Ki Hajar Dewantara tersebut, Pancasila sebagaimana terdapat  dalam UUD 1945.

dapat dipilah menjadi dua kelompok, yakni: Bila perumusannya  yang menyimpang dari

(1) Kelompok material, yaitu Pancasila Pembukaan tersebut, maka halnya dengan

merupakan filsafat hidup bangsa Indonesia mengubah secara tidak sah Pembukaan 

yang dapat dihayati sebagai jiwa, UUD 1945. Pancasila dan UUD 1945

kepribadian, sarana tujuan hidup, merupakan kesatuan yang erat yang tidak

pandangan serta pedoman hidup bangsa; dapat dipisahkan satu sama lainnya.

dan (2) Kelompok formal, yakni Pancasila Hubungan keduanya merupakan rangkaian

sebagai sumber dari segala sumber hukum kesatuan  falsafatis, historis dan sistemis.

negara Indonesia dan juga perjanjian luhur Oleh karenanya disamping berperan

bangsa Indonesia dalam bernegara.15 menjaga Konstitusi Negara, MK juga

Sebagai staatsfundamentalnorm, mutlak harus menjaga ideologi negara

Pancasila merupakan norma tertinggi yang yakni Pancasila.

melahirkan dan mewarnai Kostitusi.

Pancasila merupakan inti dari Pembukaan D. Kesimpulan.

UUD 1945, dengan demikian Peran MK dalam sistem

kedudukannya sangat kuat dan tetap serta ketatanegaraan NKRI sangat strategis yakni

bagaimana mewujudkan Indonesia sebagai


14
Notonagoro, Pancasila: Dasar falsafah
Negara, Jakarta, Bina Aksara, 1998, hlm. 12. negara hukum yang demokratis. Peran
15
Noor Ms Bakry, Pancasila: Yuridis
Kenegaraan, Yogyakarta, Liberty, 1994, hlm. 66.

11
tersebut akan dapat terealisasikan jika dan mengganti ideologi negara, maka MK

hanya jika bila MK dapat melaksanakan merupakan banteng terakhir yang

empat fungsi konstitusionalitasnya yakni menyelamatkan Pancasila agar tetap berdiri

sebagai lembaga penafsir konstitusi, kokoh menaungi hidup bermasyarakat,

pengawal konstitusi, penegak demokrasi berbangsa dan bernegara.

dan penjaga HAM.

Bahwa disamping secara konsti- E. Daftar Kepustakaan.

tusional MK berperan sebagai the Ali, As’ad Said, 2010, Negara Pancasila:
Jalan Kemaslahatan Berbangsa,
Guardian of the Indonesia’s Constitution, cetakan ketiga, Jakarta, Pustaka :
LP3ES.
ada peran MK yang jauh lebih hakiki yakni
Bakry, Noor Ms, 1994, Pancasila: Yuridis
sebagai the Guardian of the State’s Kenegaraan, Yogyakarta : Liberty.

Idiology, yakni Pancasila. Seandainya ada Gunawan BS, Ahmad dan Mu’ammar
Ramadhan (ed), 2012, Menggagas
peristiwa politik besar (mudah-mudan tidak Hukum Progresif Indonesia,
Yogjakarta : Pustaka Pelajar.
akan pernah terjadi) yang mencoba

Kelsen, Hans, 1961, General Theory of Samekto, FX. Adji, Kajian Studi Hukum
Law and State, New York: Russel Kritis: Implikasi Yuridis
& Russel. “KetidakIlmiahan” Pengetahuan
Tradisional dalam Pengelolaan
Latif, Abdul, 2009, Fungsi Mahkamah Keanekaragaman Hayati, Jurnal
Konstitusi, Yogjakarta: Total Media. Hukum Pro Justitia Tahun XIII No.
1 Januari 2005.
Mahfud MD, Moh, 2012, Membangun
Politik Hukum, Menegakkan Sudirman, Memurnikan Kewenangan
Konstitusi, Jakarta: Rajawali Press. Mahkamah Konstitusi sebagai
Lembaga Pengawal Konstitusi
Moelatingsih, Moempoeni, Pidato (The Guardian Of The
Pengukuhan Guru Besar Hukum Constitution), Jurnal Ilmiah
Tata Negara pada Fakultas Hukum Pendidikan Pancasila dan
Undip, Semarang, 16 Desember, Kewarganegaraan, Th. 1, No 1.
2003. 2016.

Notonagoro, 1998, Pancasila: Dasar Sutanto, Anton F, 2010, Ilmu Hukum Non
falsafah Negara, Jakarta : Bina Sistematik (Fondasi Filsafat
Aksara. Pengembangan Ilmu Hukum
Indonesia), Yogyakarta : Genta
Publising.

12
Wade, E.C.S. and G. Phillips, 1970,
Constitutional Law, London :
Longman.

13