Sei sulla pagina 1di 12

Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

HUMANIORA
VOLUME 27 No. 1 Februari 2015 Halaman 107-118

UNSUR-UNSUR PARAGRAF NARASI


DALAM BAHASA JAWA

Sri Nardiati*

ABSTRACT
Every human being involves in story activity. Therefore, the elements of NP (narrative
paragraph) in Javanese should be investigated. The aim of investigation is to describe every
element based on the character and the chronological event, its direct utterance, and the writer’s
point of view. The scope of narrative paragraph study covers lingual unit of paragraph, sentence,
clause, phrase, and word. The approach used is structural descriptive. The data is obtained by using
listening and noting technique. The analysis uses orthografic method and distributional method, by
using direct element division technique and then omission, substitution, insertion, and reversion.
Narrative paragraph (NP) elements are participant and event. Participant element is filled with a
character or more. Event element comprises of act, process, or state verb that relates to each other
as stimulus-responsse. NP usually has direct utterance that is unmarked and marked. The mark is
located in the beginning, middle, and the ending. NP is written based on the point of view, both the
first and third person. In the first point of view, the character is central character or an observer,
which is marked by using I (aku, saya) pronoun; meanwhile, in the third person point of view is
marked by he/ she (ia/dia/dheweke) pronoun.

Keywords: event, narrative paragraph, paragraph, participant, topic/main idea

ABSTRAK
Setiap manusia terlibat dalam aktivitas cerita. Untuk itu, unsur-unsur paragraf narasi (PN)
dalam bahasa Jawa perlu diteliti. Tujuannya ialah mendeskripsikan berbagai unsur berdasarkan
tokoh dan urutan peristiwanya, tuturan langsungnya, dan sudut pandang penulisnya. Ruang lingkup
kajian PN ini mencakupi satuan lingual paragraf, kalimat, klausa, frasa, dan kata. Pendekatan
yang digunakan ialah deskriptif struktural. Data dikumpulkan dengan metode simak, teknik catat.
Analisisnya menggunakan metode padan ortografis dan metode agih dengan teknik bagi unsur
langsung dilanjutkan dengan teknik lesap, ganti, sisip, dan balik. Unsur PN berupa partisipan dan
peristiwa. Unsur partisipan diisi dengan satu tokoh atau lebih. Unsur peristiwa diisi dengan verba
aksi, proses, dan keadaan yang berhubungan sebagai stimulus-respons. PN cenderung bertuturan
langsung, baik yang tidak berpenanda maupun yang berpenanda. Penanda ini berposisi di awal,
tengah, dan akhir. PN ditulis berdasarkan sudut pandang, baik orang pertama maupun orang ketiga.
Dalam sudut pandang orang pertama, tokoh menjadi sentral atau pengamat yang ditandai dengan
penggunaan pronomina aku ‘saya, aku’, sedangkan di dalam sudut pandang orang ketiga ditandai
dengan pronomina ‘dheweke’ ia/dia.

Kata Kunci: paragraf, paragraf narasi, partisipan, peristiwa, topik/gagasan pokok

* Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

107
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

PENGANTAR 1979:135). Wacana diwujudkan ke dalam


karangan yang utuh.
Di dalam tulisan ini dikaji masalah unsur-
unsur paragraf narasi (PN) dalam bahasa Jawa. Konsep wacana tersebut berbeda dengan
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian konsep paragraf. Paragraf adalah satuan
yang berjudul “Paragraf dalam Bahasa Jawa: kebahasaan berupa kelompok kalimat yang
Konstruksi dan Permasalahannya” oleh Nardiati menjadi bagian dari karangan, bersifat satu, padu,
dkk. (2013). Terkait dengan hal itu, ada dua istilah logis, dan sistematis. Setiap satu paragraf hanya
penting yang perlu diketahui konsepnya, yakni terdapat satu gagasan pokok. Hubungan antara
istilah paragraf dan narasi. Paragraf merupakan pernyataan yang satu dan yang lainnya harus padu
satuan kebahasaan terkecil dari karangan (Tarigan, dan logis. Gagasan pada paragraf dikemukakan
1986). Adapun yang dimaksud dengan narasi secara sistematis. Dengan demikian, jelas bahwa
adalah suatu bentuk karangan yang berusaha lingkup kajian wacana narasi berbeda dengan
mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa, paragraf narasi. Untuk itu, penelitian yang terkait
seolah-olah pembaca melihat atau mengalami dengan paragraf narasi dalam bahasa Jawa perlu
sendiri peristiwa itu (Keraf, 1982:136). Jadi, dilakukan.
yang dimaksud paragraf narasi adalah satuan Hasil penelitian ini bermanfaat, baik secara
kebahasaan berupa kelompok kalimat yang berisi teoretis maupun secara praktis. Secara teoretis,
kisah atau cerita suatu kejadian atau peristiwa. hasil penelitian ini dapat melengkapi teori tentang
Setiap manusia pasti terlibat dalam aktivitas paragraf dalam bahasa Jawa, sedangkan secara
bercerita, baik lisan secara langsung maupun praktis, hasil penelitian ini dapat digunakan
tulis secara tidak langsung atau sebagai pelaku sebagai bahan penyusunan buku pembinaan atau
atau sebagai penerima atau penikmat. Tentu saja, pembelajaran bahasa Jawa.
satuan lingual yang berupa PN ini penting dalam Paragraf merupakan kumpulan kalimat yang
komunikasi karena aktivitas cerita dibangun dari membangun gugus proposisi. Setiap paragraf
rangkaian kalimat atau kelompok kalimat berupa terdiri atas satu gagasan pokok yang diwujudkan
paragraf. Untuk itu, berbagai aspek yang terdapat ke dalam kalimat topik sebagai proposisi inti
pada paragraf narasi dalam bahasa Jawa perlu dan gagasan penjelas yang diwujudkan ke dalam
dideskripsikan. kalimat penjelas sebagai proposisi bawahan
Sepanjang pengetahuan penulis, hasil (Montolalu, 1988:5). Selanjutnya, Ramlan (1993)
penelitian sebelumnya yang terkait dengan menyebutkan bahwa dalam paragraf ada dua aspek
paragraf narasi belum dilakukan. Namun, sudah yang harus diperhatikan, yaitu (1) alur pikiran
dilakukan penelitian yang terkait dengan wacana dan (2) kepaduan paragraf (kepaduan bentuk dan
narasi dalam bahasa Jawa. Penelitian pertama makna).
dilakukan oleh Sumadi dkk. (1998) dengan judul Kisahan atau narasi merupakan jenis
Kohesi dan Koherensi dalam Wacana Naratif paragraf penceritaan atas dasar pengamatan
Bahasa Jawa. Penelitian kedua dilakukan oleh atau perekaan (Moeliono, 1989:124). Narasi
Indiyastini dkk. (2003) dengan judul “Wacana berciri (1) berorientasi pada tokoh (Grimes,
Naratif dalam Bahasa Jawa”. Penelitian ketiga 1975:261). Rangkaian perbuatan bersifat logis,
dilakukan oleh Wedhawati dkk. (2008) dengan melahirkan kausalitas atau sebab-akibat. Tuturan-
judul “Wacana Narasi Bahasa Jawa”. Objek tuturan atau pernyataan di dalamnya memiliki
penelitian dari ketiga penelitian tersebut berupa hubungan khronologis, berstruktur stimulus-
wacana, yaitu satuan kebahasaan terbesar responss (Montolalu, 1988:21). Tuturan-tuturan
atau tertinggi yang disusun berdasarkan pola itu mempunyai hubungan rangkaian waktu atau
pengorganisasian beruntun (horizontal) dan time sequence (Peter, 1977:73). Narasi berisi kisah
hierarkis (vertikal) (Hinds dalam Givon (ed.), kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam suatu

108
Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

rangkaian waktu (Keraf, 1992:136). 1982:7; 1986, 1992:57 dalam Kesuma, 2009:16).
Dalam narasi, partisipan atau tokoh menjadi Pengumpulan data pada penelitian ini digunakan
satu kesatuan dengan tuturan yang menyatakan metode simak terhadap satuan lingual yang
peristiwa (Grimes, 1975:43-50). Unsur tokoh tergolong paragraf narasi dalam bahasa Jawa.
merupakan faktor yang perlu diperhitungkan Teknik yang digunakan ialah teknik simak bebas
dalam suatu perbuatan (Keraf, 1996:157). Unsur libat cakap. Teknik ini dilanjutkan dengan teknik
yang menonjol dalam teks narasi ialah mempunyai catat, yaitu dilakukannya pencatatan sebagai hasil
hubungan logis, berstruktur stimulus-respons penyimakan (Kesuma, 2009:18).
(Montolalu, 1988:21). Konstituen yang berfungsi Di dalam tahap analisis digunakan metode
sebagai stimulus berada pada urutan sebelah kiri padan ortografis (Kesuma, 2009:19). Dengan
dan konstituen perespons berada di sebelah kanan. metode ini peneliti berusaha mengidentifikasi
Dalam narasi yang perlu diperhitungkan ialah data berupa paragraf narasi dari sumber kisahan
unsur atau faktor (karakter) tokoh, perbuatan, dan yang berjenis fiksi. Selain itu, pada analisis data
sudut pandang. Rangkaian perbuatan atau tindakan digunakan metode agih (Sudaryanto, 1993:15)
oleh tokoh membangun kesatuan makna paragraf. karena semua alat penentunya berada dalam
Hal tertentu selalu mengakibatkan hal yang lebih bahasa yang diteliti. Sebagai contoh, data yang
besar, semuanya bersama-sama menunjang titik berbahasa Jawa ini ditentukan dengan bahasa Jawa
sentral perbuatan (Keraf, 1992:159). itu sendiri.
Wacana narasi biasanya bertopik persona Dalam analisis digunakan teknik dasar dan
yang dapat disubstitusi dengan pronomina persona lanjutan. Teknik dasar diwujudkan melalui teknik
(ia, dia, mereka, dan sebagainya) (Baryadi, bagi unsur langsung, sedangkan teknik lanjutan
1993:13). Dalam narasi, topik nonpersona akan diwujudkan melalui teknik lesap, teknik ganti,
mengalami personifikasi (Baryadi, 1993:14). teknik perluas, teknik sisip, teknik balik, teknik
Topik persona dalam narasi akan menghadirkan ubah wujud, teknik ulang, teknik baca markah,
komen yang berwujud verba aksi, keadaan, atau dan teknik pemerkuat (Kesuma, 2009:21).
proses (Tampubolon, 1979). Akhirnya, hasil analisis data itu disusun menjadi
laporan hasil penelitian dengan metode penyajian
Keberadaan sebuah topik pada narasi
informal, yaitu perumusan dengan kata-kata
sangatlah penting. Satuan lingual yang menjadi
sebagai mana lazimnya.
topik berposisi pada awal kalimat pertama dan
satuan lingual yang menjadi komen mengikutinya Data dalam penelitian ini ialah bahasa Jawa
(Baryadi, 2002:57). Dalam keadaan netral, ngoko dan krama beragam umum yang digunakan
satuan lingual yang menjadi topik sebagai dalam berbagai media massa cetak, misalnya,
subjek. Posisinya mendahului kata kerja pengisi majalah dan novel berbahasa Jawa: Penjebar
predikat dalam kalimat (Poedjosoedarmo dkk., Semangat (PS), Jaya Baya (JB), Jaka Lodang
1981:31). Dalam kaitannya dengan pola organisasi (JL), novel Kinanti (K), Kembang Kanthil (KK),
informasi, topik merupakan suatu informasi Mungsuh Mungging Cangklakan (MMC), dan
yang lebih penting. Kenyataan ini sejalan dengan Kumpule Balung Pisah (KBP). Dari salah satu
gagasan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa sumber tersebut terdapat data paragraf narasi
penampil topik (topic prominent language) sebagai berikut.
(Sukesti, 2004:221). (1) (a) Kawiwitan saka pabrik papanku digawe
Sebagaimana lazimnya, sebuah penelitian nganti tekan titi wanci iki, sewu pengalaman
wis dakliwati. (b) Bener, aku pancen mung
menggunakan tiga tahapan proses, yakni cara atau sepatu, mung sepatu. (c) Nanging aku kalebu
metode penyediaan data, cara atau metode analisis sepatu eksklusif. (d) Aku digawe saka kulit
atau pengolahan data, cara atau metode pemaparan pinilih lan diwangun kanthi caklrik elegant
hasil analisis atau pengolahan data (Sudaryanto, lan gagah. (Panjebar Semangat, No. 33, 15

109
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

Agustus 1998:28) hanya diisi dengan satu tokoh, partisipan itu


‘(a) Dimulai dari pabrik tempat pembuatanku biasanya berstatus sebagai gagasan pokok,
sampai dengan saat sekarang ini, seribu yaitu sesuatu yang dibicarakan. Partisipan
pengalaman sudah kulalui. (b) Benar, aku ini melakukan serangkaian perbuatan logis-
memang hanya sepatu, hanya sepatu. (c) sistematis seperti yang tertera pada P kalimat
Namun, aku tergolong sepatu eksklusif. (d)
Aku dibuat dari kulit terpilih dan dibentuk sehingga tersusun paragraf yang maknanya padu.
dengan model elegan dan gagah.’ Contohnya sebagai berikut.
(2) (a) Watik mlebu ngomah terus nguncalake
PN (paragraf narasi) tersebut dibangun tase. (b) Dheweke banjur nggloso ing dhipan
atas empat kalimat dari (a)-(d) sebagai proposi- sing kasure empuk lan sepreine rupa ijo
proposisinya dengan ide pokok atau gagasan rinoncen gambar kembang. (PS, No. 40, 1
pokok berupa kalimat (b) aku pancen mung Oktober 1994:38)
sepatu. ‘Aku memang hanya sepatu.’ sebagai ‘(a) Watik masuk rumah lalu melemparkan
pernyataan umum yang berada di tengah paragraf. tasnya. (b) Ia terus merebahkan dirinya di
Gagasan pokok tersebut dikembangkan dengan atas dipan yang berkasur empuk dan berseprei
warna hijau bergambar rangkaian bunga.’
gagasan-gagasan penjelas yang berada pada urutan
sebelah kiri dan kanannya melalui kalimat-kalimat (3) (a) Dina Minggu esuk katon ana sedhan
biru metu saka kutha Sala. (b) Lakune alon,
penjelas (a), (c), dan (d). mesine prasasat tanpa swara, nlusur dalan
Setiap proposisi PN tersebut terdiri atas unsur mangetan ngener Gunung Lawu. (c) Jurug,
tokoh sebagai partisipan dan unsur perbuatan Palur, Tasikmadu, Karanganyar, munggah
sebagai peristiwanya. Unsur partisipannya berupa terus. (Panjebar Semangat 33, 15 Agustus.
1998:28)
satuan lingual aku ‘saya’ yang dipersonifikasi
menjadi sepatu. Unsur yang lain berupa urutan ‘(a) Hari Minggu pagi tampak ada sedan biru
keluar dari kota Sala. (b) Jalannya pelan,
peristiwa yang terjadi dalam satu rangkaian waktu. mesinnya hampir tidak bersuara, menyusuri
Peristiwa yang satu dan yang lainnya berhubungan jalan ke arah timur menuju Gunung Lawu. (c)
sebagai stimulus-respons. Jurug, Palur, Tasikmadu, Karanganyar, naik
Berdasarkan sudut pandang yang terus.’
digunakannya, PN (1) bersudut pandang O1 (4) (a) Pak Jamil gegancangan menyang mobil,
sebagai tokoh utama atau sentral. Sudut pandang Ø mbukakake lawang kanggo eyang Pana.
(b) Aku lungguh ing mburi lan Ø ngawasake
ini ditandai dengan hadirnya satuan lingual mobile Bu Aminoto kang disopiri dening
pronomina aku ‘saya’ yang sering diwujudkan wong lanang lemu isih enom. (Kinanti:204)
dengan klitika –ku atau prefiks dak-. Dalam ‘(a) Pak Jamil bergegas menuju mobil, Ø
penceritaannya, PN cenderung berunsur tuturan membukakan pintu untuk eyang Pana. (b)
langsung. Namun, pada contoh yang ditampilkan Saya duduk di belakang dan Ø memandangi
tersebut tidak terdapat tuturan langsung. mobil Bu Aminoto yang disopiri oleh pria
gemuk masih muda.’
Berdasarkan contoh (1) tersebut, pembahasan
pada tulisan ini meliputi unsur pembangun Dalam contoh (2) terdapat satu tokoh sebagai
paragraf narasi (PN), unsur penanda tuturan partisipannya. Unsur tersebut berkategori nomina
langsung paragraf narasi, dan unsur yang berupa Watik ‘nama wanita’ sebagai pengisi gagasan
sudut pandang penulis paragraf narasi. Berikut ini utama. Begitu pula pada contoh (3) terdapat satu
ketiga pokok soal tersebut dipaparkan. tokoh yang dipersonifikasi berkategori frasa
nominal sedhan biru ‘sedan biru’ sebagai pengisi
gagasan pokok. Nomina insani Watik dan nomina
UNSUR PARTISIPAN PARAGRAF NARASI
noninsani sedhan biru yang berstatus sebagai topik
Dalam PN terdapat satu tokoh atau lebih itu dipertahankan melalui penggantian, pelesapan,
sebagai partisipannya. Jika ada partisipan yang dan penunjukan. Hal itu berbeda dengan

110
Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

contoh (4) yang terdapat lima tokoh sebagai bersuara, sedan biru menyusuri jalan ke arah
partisipannya. Kelima tokoh itu ialah Pak Jamil timur menuju Gunung Lawu. (c) Jurug, Palur,
dan eyang Pana pada (4a); aku ‘saya’, mobile Bu Tasikmadu, Karanganyar, sedan biru naik
terus.’
Aminoto ‘mobil Bu Aminoto’, dan wong lanang
lemu isih enom ‘orang laki-laki gemuk masih (4a) (a) Pak Jamil gegancangan menyang mobil,
Pak Jamil mbukakake lawang kanggo
muda’ pada (4b) sebagai partisipannya. eyang Pana. (b) Aku lungguh ing mburi lan
Dalam contoh (2)-(4) terdapat proses aku ngawasake mobile Bu Aminoto kang
penggantian, perujukan, dan pelesapan. disopiri dening wong lanang lemu isih enom.
Penggantian tampak pada pronominal dheweke (Kinanti:204)
(2b) yang bereferen sama dengan Watik (2a). ‘(a) Pak Jamil bergegas menuju mobil,
Pelesapan unsur Watik tampak di antara unsur Pak Jamil membukakan pintu untuk eyang
Pana. (b) Saya duduk di belakang dan saya
terus ‘terus’ dan nguncalake ‘melemparkan’ memandangi mobil Bu Aminoto yang disopiri
(2a). Pelesapan unsur sedhan biru ‘sedan biru’ oleh pria gemuk masih muda.’
tampak pada urutan sebelah kiri unsur nlusur
‘menelusur’ (3b) dan urutan sebelah kiri unsur Uraian tersebut menguatkan bahwa
munggah ‘naik’ (3c). Pelesapan unsur Pak Jamil unsur tokoh sangatlah penting karena kebera­
terjadi pada urutan sebelah kiri unsur mbukakake daannya berinisiasi untuk melakukan perbuatan
‘membukakan’ (4a) dan unsur aku ‘saya’ di sebagai peristiwanya. Kehadiran unsur tersebut
sebelah kiri ngawasake ‘memandangi’ pada 4b). dipertahankan pada kalimat-kalimat penjelas
dengan pelesapan, penunjukan, penggantian,
Penunjukan tampak pada penggunaan satuan
dan pengulangan. Dengan menggunakan teknik
lingual –e pada tase ‘tasnya’ (2a) dan lakune
tersebut, tingkat kekohesifan dan kekoherensifan
‘jalannya’ yang merujuk pada unsur Watik.
menjadi tinggi.
Penunjukan yang menggunakan unsur –e tampak
pula pada mesine (3b) yang merujuk pada sedhan
biru (3a). Unsur-unsur tersebut dapat dimunculkan UNSUR PERISTIWA PARAGRAF NARASI
ke permukaan sehingga kepaduan makna paragraf Unsur peristiwa pada PN diisi dengan
semakin nyata, seperti berikut. kategori verba, baik verba keadaan, perbutan,
(2a) (a) Watik mlebu ngomah terus Watik maupun verba proses. Semua peristiwa itu
nguncalake tase. (b) Dheweke banjur nggloso dilakukan dan dialami oleh tokoh yang menjadi
ing dhipan sing kasure empuk lan sepreine partisipannya. Perbuatan yang dilakukan dan
rupa ijo rinoncen gambar kembang. dialami ini bersifat logis dalam satu rangkaian
‘(a) Watik masuk rumah lalu Watik waktu. Semua perbuatan dan keadaan itu sebagai
melemparkan tasnya. (b) Ia terus merebahkan
pengisi P klausa induk atau proposisi utama
dirinya di atas dipan yang berkasur empuk
dan berseprei warna hijau bergambar kalimat yang bersangkutan. Contohnya sebagai
rangkaian bunga.’ berikut.
(3a) (a) Dina Minggu esuk katon ana sedhan biru (5) (a) Mbok Arja terus metu ing ruwang tamu
metu saka kutha Sala. (b) Lakune sedhan sing swasanane peteng jalaran lampune
biru alon, mesine sedhan biru prasasat tanpa dipateni. (b) Karo miyak kordhen Mbok Arja
swara, sedhan biru nlusur dalan mangetan nginjen sapa tamune. (c) Bareng wis ngerti
ngener Gunung Lawu. (c) Jurug, Palur, yen sing teka wong wadon lemu kathokan
dawa, dheweke banjur nuju nyang kamare
Tasikmadu, Karanganyar, sedhan biru ndarane. (Penjebar Semangat 40 1 Okt.
munggah terus. (Penjebar Semangat, No. 33, 1994:38)
15 Agustus 1998:28)
‘(a) Bok Arja terus keluar menuju ruang
‘(a) Hari Minggu pagi tampak ada sedan tamu yang suasananya gelap karena lampunya
biru keluar dari kota Sala. (b) Jalannya sedan mati. (b) Sambil membuka gorden Bok
biru pelan, mesinnya sedan biru hampir tidak Arja mengintip siapa tamunya. (c) Setelah

111
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

mengerti kalau yang datang wanita gemuk kabeh ‘semua’ pada (6b), Lurah Darmin pada
bercelana panjang, ia lalu menuju kamar (6c), Harjita pada (6d), dan Mripate Supini
majikannya.’
‘mata supini’ (6e). Tokoh wong-wong (6a) dalam
(6) (a) Wong-wong padha megeng napas. (b)
Pak Amat Usup nggrayang otot ketege, keadaan padha megeng napas ‘bersama-sama
kabeh wis padha siyaga ambiyantu. (c) menahan nafas’. Tokoh Pak Amat Usup pada
Lurah Darmin ora bisa ngucap, mapane (6b) melakukan perbuatan nggrayang ‘meraba’.
lungguh ana penere sirah. (d) Harjita kaya Partisipan kabeh ‘semua orang’ melakukan
tugu. (e) Mripate Supini melek maneh
tumenga kaya ana sing dipandeng lan perbuatan siyaga ambiyantu ‘siap membantu’.
lambene umak-umik kaya lagi ana sing Tokoh Lurah Darmin pada (6c) dalam keadaan
diucapake, wusana banjur les … merem. ora bisa ngucap ‘tidak dapat berkata’ dan ana
(Kembang Kanthil, 1957) ‘berada’. Tokoh Harjito pada (6d) dalam keadaan
‘(a) Semua orang menahan nafas. (b) Pak kaya tugu ‘menyerupai tugu’. Tokoh Supini
Amat Usup meraba urat nadinya, semua
sudah siaga membantu. (c) Lurah Darmin ‘Supini’ pada (6e) dalam keadaan melek maneh
tidak dapat mengucap, tempat duduknya tumenga ‘terbuka (mata) lagi menengadah’,
tepat lurus dengan kepala. (d) Harjita diam umak-umik ‘berkomat-kamit’, dan les …merem
bagai tugu. (e) Mata Supini terbuka lagi
menengadah seperti ada yang dipandang ‘terpejam’. Semua keadaan yang dialami dan
dan bibirnya komat-kamit seperti ada yang perbuatan yang dilakukan tokoh yang menjadi
diucapkan, akhirnya terus … terpejam.’ partisipan itu bersifat logis berdasarkan satu
(7) (a) Partadikrama kekah nampik, rangkaian waktu.
Sumardi boten purun ngawon, malah ing
wekasanipun lajeng adora-cara, ngaken Dalam PN (7) terdapat dua tokoh sebagai
bilih arta sampun katampekaken dhateng partisipannya, yaitu Partadikrama dan Sumardi.
Abdulsukur sadaya. (b) Partadikrama … Tokoh Partadikrama melakukan perbuatan kekah
sangsaya judheg. (Mungsuh Mungging nampik ‘kukuh menolak’ yang dinyatakan
Cangklakan, 1929: ...)
(a) Partadikrama tetap menolak, Sumardi pada (7a). Tokoh Sumardi melakukan perbuatan
tidak mau mengalah, malahan pada akhirnya boten purun ngawon ‘tidak mau mengalah’
berbohong, mengaku kalau uang sudah dan lajeng adora-cara ‘bertipu muslihat’ dan
diterimakan kepada Abdulsukur semua. (b) ngaken bilih arta sampun katampekaken ‘terus
Partadikrama …semakin sedih.’ berdusta bahwa uang sudah diterimakan’
Dalam PN (5) digunakan dua tokoh sebagai yang dinyatakan pada (7a). Akhirnya, tokoh
partisipannya, yaitu Bok Arja ‘Bu Arja’ pada Partadikrama dalam keadaan sangsaya judheg
(5a) dan (5b), serta wong wadon lemu kathokan ‘semakin sedih’ yang dinyatakan pada (7b).
dawa ‘wanita gemuk bercelana panjang’ pada Peristiwa tersebut terjadi secara logis dalam satu
(5c). Dari kedua partisipan ini yang membangun rangkaian waktu.
inisiasi hanya satu, ialah Bok Arja ‘Bu Arja’.
Tokoh tersebut dalam keadaan terus metu ‘terus SUDUT PANDANG PENGARANG DALAM
keluar’ pada (5a), melakukan perbuatan nginjen PARAGRAF NARASI
‘mengintip’ pada (5b), dan banjur nuju ‘terus Sudut pandang pengarang pada PN ada dua,
menuju’ pada (5c). Keadaan dan perbuatan itu yaitu sudut pandang pengarang sebagai orang
terjadi secara kronologis dan dilakukan oleh tokoh pertama dan sudut pandang orang ketiga. Sudut
yang menjadi partisipannya dalam satu rangkaian pandang pengarang dalam PN dibedakan menjadi
waktu. dua, yaitu sudut pandang pengarang sebagai tokoh
Dalam PN (6) terdapat lima tokoh yang sentral yang lazim disebut sudut pandang orang
menjadi partisipannya, yaitu wong-wong ‘semua pertama dan sudut pandang pengarang sebagai
orang’ pada (6a), Pak Amat Usup pada (6b), pengamat.

112
Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

Sudut Pandang Orang Pertama (O1) (8) digunakan sudut pandang orang pertama aku
Sebagaimana sudah disebutkan bahwa di sebagai tokoh sentral.
dalam PN yang bersudut pandang orang pertama Sudut Pandang Orang Pertama sebagai
dapat dipilah menjadi dua. Pertama, pengarang Pengamat
atau narator menyatukan diri dengan karyanya Di dalam paragraf narasi ini sang pengarang
sebagai tokoh sentral dengan tokoh utama yang atau narator sebagai pengamat. Ia berada di luar
lazim menggunakan pronomina aku. Kedua, teks mengamati berbagai peristiwa yang dilakukan
pengarang atau narator berada di luar, ia berstatus atau keadaan yang dialami oleh tokoh sebagai
sebagai pengamat sehingga namanya tidak partisipannya. Oleh karena itu, satuan lingual
tergambar di dalam karangan. yang merujuk pada pengarang atau narator tidak
Sudut Pandang Orang Pertama sebagai Tokoh tergambar dalam proses penceritaan. Contohnya
Sentral sebagai berikut.
Dalam hal ini, seorang pengarang atau narator (9) (a) Ana kantor sing katon mung Mbak Nur
melibatkan diri sebagai tokoh sentral dengan nama karo Mbak Vina lagi ngadhep komputer. (b)
aku. Kata ganti orang pertama aku dapat berwujud Wiwit anane BOS, BOPDA, sarta sertifikasi
iki, karyawan TU loro iku kaya ora kober
klitik –ku pada satuan lingual lain. Contohnya
leren. … (e) Amarga swasana kang semanak
sebagai berikut. ing pamulangan iki, karyawan loro kang
(8) (a) Sapa wae ora kena nyepelekake aku. (b) isih honorer iku betah, mulih nganti sore.
Pancen aku mung sepatu. (c) Mung sepatu. (Penjebar Semangat No. 42-16 Okt. 2010:24)
(d) Nanging eling, sepisan maneh eling. ‘(a) Di kantor yang ada hanya mbak Nur
(e) Senajan mung sepatu, aku dudu sepatu dan mbak Vina sedang menghadap ke
murahan. (f) Aku sepatu eksklusif. (g) Regane komputer. (b) Sejak adanya BOS, BOPDA,
seprapat yuta. (h) Bendaraku sawijine serta sertifikasi, karyawan TU dua itu
manajer ing perusahaan kondhang. (i) Mula seakan tak sempat lagi beristirahat. … (e)
sabaku ing hotel-hotel, rumah-rumah makan, Karena suasana yang familier di sekolah ini,
lan ing papan-papan sing sarwa resik. karyawan dua yang masih honorer itu betah,
(Penjebar Semangat 33-15 Agst. 1998:29) kerasan sampai sore.’
‘(a) Semua orang tidak boleh menyepelekan
aku. (b) Memang aku hanyalah sepatu. (c) Pada paragraf narasi (9) digunakan dua nama
Hanya sepatu. (d) Tapi ingat, sekali lagi tokoh, yaitu Mbak Nur dan Mbak Vina sebagai
ingat. (e) Meski hanya sepatu, aku bukan partisipannya. Kedua nama tokoh ini digunakan
sepatu murahan. (f) Aku sepatu eksklusif. sebagai pelaku atau pengalam dalam penceritaan
(g) Harganya seperempat juta. (h) Majikanku oleh pengarang. Dalam proses penceritaan, kedua
seorang manajer di perusahaan yang terkenal.
nama tokoh itu menjalankan perbuatan sebagai
(i) Makanya keberadaanku di hotel-hotel,
rumah-rumah makan, dan di tempat-tempat peristiwa atau mengalami keadaan seperti yang
yang bersih.’ tersebut pada predikat klausa induk setiap kalimat
yang bersangkutan. Pada paragraf (9), pengarang
Tokoh sentral paragraf (8) tersebut ialah berada di luar proses penceritaan. Ia hanya
pronomina orang pertama aku. Satuan lingual berstatus sebagai pengamat, tidak terlibat sebagai
aku ‘saya’ tampak pada (8a) Sapa wae ora kena tokoh baik sentral maupun bawahan.
nyepelekake aku, pada (8b) Pancen aku mung
sepatu, pada (8e) Aku dudu sepatu murahan, Sudut Pandang Orang Ketiga (O3)
dan pada (8f) Aku sepatu eksklusif. Selain itu, Dalam hal ini pengarang atau narator
tokoh aku tampak sebagai klitik–ku pada (8h) memusatkan perhatiannya pada karakter orang
Bendaraku sawijine manajer ing perusahaan ketiga sebagai tokoh sentral. Paragraf narasi
kondhang dan (8i) Mula sabaku ing hotel-hotel. bersudut pandang orang ketiga ini ditandai dengan
Dari uraian tersebut, jelas bahwa pada paragraf penggunaan kata ganti orang ketiga dheweke.

113
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

Perhatikan contoh berikut. menggunakan tuturan langsung dan tidak


(10) (a) Saben arep nulis jenenge dhewe, tangane langsung. Tuturan langsung adalah ungkapan atau
mesthi kesleo lan sing katulis tembung ekspresi batin yang disampaikan atau diungkapkan
“babi”. (b) Dheweke dadi mangkel banget. secara langsung oleh tokoh dalam cerita. Dalam
(c) Wis tau dheweke nekani salah sawijing menceritakan sebuah kisah, seorang pengarang
ahli ilmu jiwa, nanging ora oleh asil. (d) sering melukiskan komunikasi para tokoh
Dheweke uga wis tau menyang sawenehing
dengan menggunakan tuturan langsung. Dengan
alim ulama, nanging dheweke mung dituturi
supaya istirahat. (Penjebar Semangat Crita kelangsungan tuturan itu, proses penceritaan
Cekak “Babi”:28) menjadi hidup, berkekuatan tinggi dalam memikat
‘(a) Setiap akan menulis namanya, tanganya perhatian pembaca. Selain itu, penceritaan sebuah
pasti terkilir dan yang tertulis kata “babi”. (b) kisah diciptakan oleh sang pengarang, bukan
Ia menjadi mengkal sekali. (c) Sudah pernah secara langsung dari para tokoh sebagai pemegang
ia mendatangi salah seorang ahli ilmu jiwa, peran.
tetapi tidak mendapatkan hasil. (d) Ia juga
sudah pernah ke salah seorang ulama, tetapi ia Paragraf Narasi Tidak Bertuturan Langsung
hanya diberi saran agar beristirahat.’ Paragraf narasi tidak selalu bertuturan
langsung. Maksudnya, semua proposisi di dalam
Di dalam paragraf narasi (10) pengarang paragraf tersebut merupakan ekspresi pengarang
atau narator memfokuskan perhatiannya pada yang menceritakan segala keadaan dan peristiwa
karakter orang ketiga dengan menggunakan kata yang dialami tokoh sebagai partisipannya. Dalam
ganti dheweke ‘ia’. Satuan lingual kata ganti hal ini seorang pengarang atau penulis tidak
orang ketiga dheweke ‘ia’ dipilih pengarang membutuhkan deskripsi tuturan peristiwa yang
menjadi partisipan untuk melakukan perbuatan dialami atau dilakukan partisipannya. Contohnya
atau mengalami keadaan seperti yang tersebut sebagai berikut.
pada predikat klausa induk pada kalimat yang
(11) (a) Pasien iku nuduhake tangan kiwane. (b)
bersangkutan. Kategori verba atau frasa verbal
Dhokter iku ujug-ujug ngguyu lakak-lakak. (c)
dadi mangkel ‘menjadi mengkal’ pada (10b), Dheweke ujug-ujug nyekel tanganne pasiene
menyang sawenehing alim ulama ‘ke seorang kanthi kebak semangat. (d) Kanthi cepet
ulama’ pada (10c), mung dituturi ‘hanya dhokter naleni tangan iku banjur enggal-
disarankan’ pada (10d), dan verba nekani enggal njupuk piranti. (Penjebar Semangat,
‘mendatangi’ pada (10c) merupakan perbuatan 1996:28)
atau aktivitas yang dilakukan oleh dheweke ‘(a) Pasien itu menunjukkan tangan kanannya.
sebagai pelakunya yang disebutkan pada (10b) (b) Dokter itu tiba-tiba tertawa terbahak-
bahak. (c) Ia tiba-tiba memegangi tangan
dan (10c). Pronomina ini mempunyai rujukan pasiennya dengan penuh semangat. (d)
yang sama dengan satuan lingual jenenge dhewe Dengan cepat dokter mengikat tangan itu lalu
‘namanya sendiri’ dan tangane ‘tangannya’ pada segera mengambil perabot.’
(10a). Penggunaan satuan lingual –e pada jenenge (12) (a) Inspektur Achmadi menyat ngadeg,
‘namanya’, tangane ‘tangannya’ merujuk pada marani kamare Kandar. (b) Kandar ditakoni
pronominal ketiga sebagai pemiliknya. Dari uraian lan diajak mlebu ngomah. (c) Wangsulane,
itu, jelas bahwa di dalam paragraf narasi (10) mundhak karanta-ranta atine kelingan
wong tuwane, amarga wiwit umur nem taun
digunakan sudut pandang orang ketiga.
dheweke ora ngerti jenenge, mung fotone
kang isih disimpen. (Kumpule Balung Pisah,
PENGUNGKAPAN TUTURAN DALAM PARAGRAF 1966:160)
NARASI ‘(a) Inspektur Achmadi segera berdiri,
mendatangi kamar Kandar. (b) Kandar
Dalam penceritaan sebuah kisah, sang ditanya dan diajak masuk rumah. (c)
pengarang menggunakan dua cara, yaitu Jawabannya, nanti malahan semakin bersedih

114
Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

hatinya teringat pada orang tuanya, lantaran disentuh juga.


sejak usia enam tahun ia tidak mengerti “Ini kan sepatu yang membeli saat itu ta,
namanya, hanyalah fotonya yang masih Pak?”
tersimpan.’ “Ya.”
Dalam PN (11) dan (12) dimuat kumpulan “Tepat sekali lo Pak.”
cerita yang pada setiap proposisinya tidak “Habis … yang memilihkan orangnya pintar
menggunakan tuturan langsung. Pengarang tidak sih.”
secara langsung mendeskripsikan keadaan dan “Bukan yang memilihkan yang pintar, tetapi
peristiwa yang dialami atau yang dilakukan tokoh yang memakai yang memang benar-benar
sebagai partisipannya. Semua proposisi tentang gagah.”
keadaan dan peristiwa tokoh itu diceritakan Tuturan langsung pada (13) tersebut ditandai
melalui bahasa pengarang. dengan tanda apit petik ganda. Tuturan tersebut
Paragraf Narasi Bertuturan Langsung menggambarkan secara langsung keadaan yang
dialami atau peristiwa yang dijalani tokoh sebagai
Dalam paragraf narasi yang bertuturan
partisipannya. Tuturan langsung itu berada pada
langsung terjadi kombinasi antara tuturan
urutan sebelah kanan sesudah tuturan penceritaan
pengarang yang diungkapkan secara tidak
pengarang. Tuturan langsung tersebut tidak
langsung dan ungkapan tokoh yang dituturkan
berpenanda.
secara langsung. Tuturan tidak langsung ini
dihasilkan oleh pengarang, sedangkan tuturan Paragraf Narasi Bertuturan Langsung
langsung dihasilkan oleh tokoh yang menjadi Berpenanda
partisipannya. Tuturan langsung dalam paragraf Paragraf narasi ini menggunakan tuturan
narasi ini ada yang berpenanda dan tidak langsung berpenanda. Penanda tuturan langsung
berpenanda. Untuk itu, perhatikan uraian berikut. itu berada di depan, di tengah, dan di belakang
Paragraf Narasi Bertuturan Langsung tidak tuturan penceritaan pengarang. Penanda tuturan
Berpenanda langsung ini biasanya menyatakan makna ‘siar’,
misalnya kandha ‘berkata’, takon ‘bertanya’, alok
Paragraf narasi berikut menggunakan tuturan
‘menginformasikan’, saruwe ‘menyarankan’,
langsung tidak berpenanda. Contohnya sebagai
celathu ‘berkata’, dan sebagainya.
berikut.
(13) (a) Wong wadon ing ngarepe bendaraku Tuturan Langsung Berpenanda di Depan
mesem. (b) Banjur kanthi trampil tangane Penanda tuturan langsung (PTL) pada
sing alus mbenerake dhasi, krah jas, lan paragraf ini berada di antara tuturan pengarang
clana sisih ngisor. (c) Aku kober disenggol dan tuturan tokoh sebagai partisipannya. PTL
uga. ini berada pada urutan sebelah kiri atau di depan
“Menika rak sepatu ingkang mundhut kala tuturan langsung. Untuk itu, perhatikan contoh
emben ta, Pak?” berikut.
“Hiya.”
(14) … (d) Aku mesam-mesem, Daliman tanggap.
“Pas sanget lho Pak.” (e) Mula sopir trek iki banjur celathu,
“Lha witikna sing milihake bae pinter kok.” “Jakarta nggih Bu?”(f) Aku gedheg. Daliman
“Sanes ingkang milihaken ingkang pinter, sajak gela, pikirane mbok menawa bakal
nanging ingkang ngagem ingkang pancen ngeterake barang ing Jakarta, nanging jebul
saestu sembada.” (Penjebar Semangat No. ora. (Djaka Lodang No. 52, 1999:41)
33-15 Agustus 1998:29) … (d) Saya tersenyum, Daliman mengerti.
‘(a) Wanita yang berada di depan majikanku (e) Oleh karena itu, sopir truk ini
itu tersenyum. (b) Lalu dengan terampil terus berkata, “Jakarta ya Bu?” (f) Aku
tangannya yang halus menata dasi, krah jas, menggelengkan kepala. Daliman sedikit
dan celana bagian bawah. (c) Aku sempat kecewa, dia berpikir, siapa tahu disuruh

115
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

mengantar barang ke Jakarta, ternyata tidak.’ aja sambat marang aku” kandhane bapak
bareng sumurup menawa aku isih rokokan.
Penanda tuturan langsung pada (14) berupa (Penjebar Semangat, 1990:56)
kalimat Mula sopir trek iki banjur celathu ‘Maka ‘(a) “Pam, Pamungkas, Kalau dinasihati orang
sopir truk ini terus berkata’ yang berada di depan tua itu mbok ya mau. … (f) Kalau tidak mau
tuturan langsung Jakarta nggih Bu? ‘Jakarta nggih berhenti merokok, besok kalau ada apa-apa
Bu?’. Tuturan langsung tersebut berisi gambaran jangan mengeluh kepadaku” kata bapak
keadaan atau peristiwa sebagai kelengkapan dari setelah mengetahui bahwa saya masih
penceritaan pengarang sebelumnya. merokok.’
(18) (a) Wengine lumingsir sansaya sepi. (b)
Tuturan Langsung Berpenanda di Tengah Langite katon peteng kinemulan mendhung
Penanda tuturan langsung ada yang berada di ireng. (c) Ora sawetara suwe udan grimis
tengah kalimat, diapit tuturan langsung. Untuk itu, riwis-riwis wiwit tumiba. Saeler rokok dak
dudut saka bungkuse banjur dak templekke
perhatikan contoh berikut.
ing lambeku.
(15) (a) Wusana dheweke menyang nggone ahli “Aku aja disumet dhisik,” kandhane rokok
bedhah. “Dhokter,” kumecape kanthi kang dakakep iku bareng ngerti yen aku wus
swara gemeter, “aku wis mutusake kepengin ngempakake erek.
pisahan karo tanganku iki. … (e) Mula, ”Kena apa kowe duwa kekarepanku. Awit
daksuwun Pak Dhokter kersa nugel tanganku awan mau geniku wus kepengin ngobong
iki.” (Penjebar Semangat 1996:28) awakmu,” sambungku kalem. (Penjebar
‘(a) Akhirnya ia ke tempat ahli bedah. Semangat, 1990:57)
“Dokter,” ungkapnya dengan suara merintih, ‘ (a) Malam semakin sepi. (b) Langit tampak
“Saya memutuskan berniat berpisah dengan gelap tertutup mendung. (c) Tidak lama hujan
tanganku. … (e) Oleh sebab itu, saya mohon gerimis rintik-rintik mulai turun. Sebatang
Pak Dokter bersedia memotong tanganku ini.’ rokok saya ambil dari bungkusnya lalu saya
(16) (a) “Aja kesusu dhisik,” panyaruwe letakkan di bibirku.’
Dhokter, “awake dhewe aja nganti “Aku jangan dinyalakan dulu,” kata rokok
nglakokake prakara-prakara liyane. … (c) yang saya isap itu ketika melihat saya
Aku kuwatir yen iku kabeh mung saderma sudah menyalakan korek.”
pancingan.”(Penjebar Semangat 1996:28)
”Kenapa kamu menolak keinginanku. Dari
‘“(a) Jangan terburu-buru,” kata Dokter, siang tadi apiku sudah ingin membakar
“kita jangan sampai melaksanakan hal-hal tubuhmu,” sambungku tenang.’
yang bukan pada tempatnya.” … (c) Saya
khawatir kalau semua itu sebagai umpan.”’ Penanda tuturan langsung paragraf (17)
tersebut berupa kalimat Kandhane Bapak bareng
Satuan kebahasaan yang berstatus sebagai
sumurup menawa aku isih rokokan. ‘Kata Bapak
penanda tuturan langsung pada paragraf (15)
setelah melihat bahwa saya masih merokok’.
berupa kalimat Kumecape kanthi swara gumeter
Adapun penanda tuturan langsung paragraf (18)
‘Ucapnya dengan suara gemetar’, sedangkan
berupa frasa sambungku kalem ‘kataku tenang’.
penanda tuturan langsung pada (16) berupa frasa
Kedua penanda tuturan langsung tersebut berada
panyaruwe dhokter ‘saran dokter’. Kedua penanda
di belakang tuturan langsung.
tuturan langsung itu berada di tengah-tengah atau
diapit tuturan langsung. Dari uraian tersebut jelas bahwa di dalam
paragraf narasi ada yang menggunakan tuturan
Tuturan Langsung Berpenanda di Belakang langsung dan ada yang tidak menggunakan
Penanda tuturan langsung pada bagian ini tuturan langsung. Tuturan langsung itu ada yang
berada di belakang. Contohnya sebagai berikut. berpenanda dan ada yang tidak berpenanda. Bagi
(17) (a) “Pam, Pamungkas, yen dikandhani wong paragraf yang bertuturan langsung berpenanda,
tuwa iku mbok ya nggugu. … (f) Yen ora prei penanda itu dapat berposisi di depan, di tengah,
olehmu ngrokok, mbesuk yen ana apa-apa dan di belakang.

116
Sri Nardiati - Unsur-unsur Paragraf Narasi dalam Bahasa Jawa

SIMPULAN Grimes, Joseph E. (1975). The Thread of Discourse. The


Hague: Mouton.
Data menunjukkan bahwa paragraf narasi
dalam bahasa Jawa dapat dikaji, sekurang- Indiyastini, Titik dkk. (2003). “Wacana Naratif dalam
kurangnya, berdasarkan tiga substansi, yaitu Bahasa Jawa. Yogyakarta: Departemen Pendidikan
berdasarkan unsur yang membangunnya, Nasional, Bagian Proyek Bahasa dan Sastra
kehadiran unsur penanda tuturan langsungnya, Indonesia dan daerah, Daerah Istimewa Yogyakarta.
dan unsur yang menyatakan sudut pandang Keraf, Gorys. (1982). Argumentasi dan Narasi. Jakarta:
pengarangnya. Berdasarkan unsur yang Gramedia Pustaka Utama.
membangunnya, paragraf narasi terdiri atas unsur Kesuma, Tri Mastoyo Jati. (2009). “Metode Linguistik
partisipan dan unsur peristiwa. Di dalam unsur Menurut Perspektif Dr. Sudaryanto” dalam P.
partisipan diisi dengan nomina persona atau yang Ari Subagyo (ed.) Peneroka Hakikat Bahasa.
dipersonifikasi yang berperan sebagai tokohnya. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.
Unsur peristiwa diisi dengan serangkaian aktivitas Moeliono, Anton M. (1989). Kembara Bahasa:
yang biasanya dinyatakan dengan kategori verba, Kumpulan Karangan Tersebar. Jakarta: Penerbit
baik verba aksi, proses, maupun keadaan. PT Gramedia.
Sebagian besar paragraf narasi mengandung Montolalu, Lucy R. (1988). “Makna Hubungan Proposisi
tuturan langsung, baik yang berpenanda maupun dalam Teks Bahasa Indonesia” dalam Kongres
yang tidak berpenanda. Penanda tuturan langsung Bahasa Indonesia V 28 Oktober-2 November 1988.
itu dapat berada di depan, di tengah, dan di akhir. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Berdasarkan sudut pandangnya, paragraf narasi
Nardiati, Sri dkk. (2013). “Paragraf dalam Bahasa Jawa:
dibedakan atas sudut pandang orang pertama dan
Konstruksi dan Permasalahannya”. Yogyakarta:
sudut pandang orang ketiga. Pada sudut pandang
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa
orang pertama (O1), pencerita dapat berperan
Yogyakarta.
sebagai tokoh sentral atau tokoh utama, dapat juga
sebagai pengamat. Di dalam paragraf narasi yang Peter dan Sheryl Silzer. (1977). “Discourse
bertokoh sentral O1 lazim digunakan kata ganti Considerations in Bahasa Indonesia” dalam
aku ‘aku, saya’ atau klitika –ku atau prefix tak- Indonesia Quarterly. Vol. V. Nomor 3. CSIS.
yang merujuk pada tokoh aku ‘saya’. Selanjutnya, Halaman 72-110.
di dalam paragraf narasi yang bertokoh sentral Poedjosoedarmo, Gloria dkk. (1981). Beberapa Masalah
O3 sering digunakan kata ganti dheweke ‘ia, dia’ Sintaksis Bahasa Jawa. Jakarta: Departemen
atau klitika –e atau -ne yang merujuk pada tokoh Pendidikan dan Kebudayaan.
dheweke ‘ia, dia’. Ramlan, M. (1993). Paragraf: Alur Pikiran dan
Kepaduannya dalam Bahasa Indonesia.
Yogyakarta: Penerbit Andi Offset.
DAFTAR RUJUKAN Sudaryanto. (1982). Metode Linguistik. Yogyakarta:
Fakultas sastra dan Kebudayaan, Universitas
Baryadi, I. Praptomo. (1993). “Kesatuan Topik dalam
Gadjah Mada.
Wacana Eksposisi, Wacana Deskripsi, dan
____. (1993). Metode dan Teknik Analisis Bahasa:
Wacana Narasi” dalam Penyelidikan Bahasa dan
Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara
Perkembangan Wawasannya. Jakarta: Masyarakat
Linguistis. Yogyakarta: Duta Wacana University
Linguistik Indonesia.
Press.
____. (2002). Dasar-Dasar Analisis Wacana dalam Ilmu
Sukesti, Restu. (2011). Tema-Rema dalam Bahasa
Bahasa. Yogyakarta: Pustaka Gondho Suli.
Jawa Ngoko Dialek Banyumas: Kajian Penataan
Givon, Talmy (ed.) (1979). Sintax and Semantics Organisasi Informasi. Jurnal Humaniora, 23, 219-
Volume 12. New York: Academic Press. 228.

117
Humaniora, Vol. 27, No. 1 Februari 2015: 107-118

Sumadi dkk. (1998). Kohesi dan Koherensi dalam Tampubolon, D.P. (1979). Tipe-Tipe Semantik Kata
Wacana Naratif Bahasa Jawa. Jakarta: Pusat Kerja Bahasa Indonesia Kontemporer. Jakarta:
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa,
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Tarigan, Djago. (1986). Membina Keterampilan Menulis Wedhawati dkk. (2008). “Wacana Narasi Bahasa Jawa”.
Paragraf dan Pengembangannya. Bandung: Yogyakarta: Balai Bahasa Yogyakarta.
Penerbit Angkasa.

118