Sei sulla pagina 1di 45

JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No.

1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

MENJAGA EKSISTENSI PANCASILA DAN PENERAPANNYA BAGI


MASYARAKAT DI ERA GLOBALISASI

Ambiro Puji Asmaroini, M.Pd


Universitas Muhammadiyah Ponorogo
ambirop@gmail.com

ABSTRACT

Pancasila is the basis of the state and outlook of the nation Indonesia.
As the foundation of the State, Pancasila used as the basis to build the
Unitary Republic of Indonesia. As an ideology of nation and state of
Indonesia, Pancasila is the crystallization of the customs value, the
value of cultural and religious values contained in the view of life in
Indonesia.
Pancasila is the official philosophical foundation and nation’s view of
life. As the foundation of thr State, Pancasila is used as the basis to
build the Unitary Republic of Indonesia. As an ideology of nation and
state of Indonesia, Pancasila is the crystalization of the custom value,
cultural and religious values in the view of lifr in Indonesia
The value in Pancasila has a set of values, namely divinity,ŕ humanity,
unity, democracy, and justice. The condition of Indonesia today can
be identified by looking at the behavior and personality of Indonesian
society, as reflected in daily behavior.
Globalization is not inevitable. Globalization makes all countries
seemed limitless. For that we need Pancasila as the filter of
globalization. The necessity of civilizing values of Pancasila is not
just understanding, but must be lived and embodied in experiences by
each individual and the whole society that foster awareness and the
need to implement social, civic, and state based on Pancasila

Keywords: ideology, Pancasila, Globalization

PENDAHULUAN
Latar Belakang semesta, dan penciptanya. Kesadaran
Berdasarkan falsafah ini menumbuhkan cipta, karsa, dan
Pancasila, manusia Indonesia adalah karya untuk mempertahankan
makhluk ciptaan Tuhan yang eksistensi dan kelangsungan
mempunyai naluri, akhlak, daya hidupnya dari generasi ke generasi
piker, dan sadar akan keberadaannya (Sumarsono dkk 2007).
yang serba terhubung dengan Pancasila merupakan dasar
sesamanya, lingkungannya, alam Negara bagi Negara kita. Sebagai
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

dasar Negara, Pancasila lahir seharusnya. Namun masih ada upaya


berdasarkan nilai-nilai budaya yang pelurusan kembali terhadap nilai-nilai
terkandung sejak zaman nenek Pancasila.
moyang kita dahulu. Nilai-nilai Kelangsungan hidup negara
tersebut lahir dan melekat secara dan bangsa Indonesia di era
tidak sengaja pada nenek moyang globlalisasi, mengharuskan kita
kita. untuk melestarikan nilai-nilai
Pancasila itu terdiri dari Pancasila, agar generasi penerus
Panca dan Sila. Nama Panca bangsa tetap dapat menghayati dan
diusulkan oleh Ir. Soekarno mengamalkannya dan agar intisari
sedangkan nama Sila diusulkan oleh nilai-nilai yang luhur itu tetap terjaga
salah seorang ahli bahasa. Pancasila dan menjadi pedoman bangsa
dirasakan sudah sempurna dan Indonesia sepanjang masa.
mencakup segala aspek pada Bangsa
Indonesia.
Setelah puluhan tahun lahirnya PEMBAHASAN
Pancasila dari tahun 1945 hingga saat 1. Ideologi Pancasila dalam
ini, Negara di dunia mengalami pemikiran radikal dan
pengembangan yang pesat dalam revolusioner
berbagai bidang kehidupan. Masuknya Perlu kita renungkan,
era globalisasi menjadikan bangsa Pancasila sebagai dasar Negara
dunia hampir tidak memiliki batas. diwarnai oleh ketegangan, konflik,
Dambak baik dan buruknya globalisasi dan consensus bersama. Kondisi
tentunya mari kita kaji bersama dengan bangsa Indonesia yang dimasa
melandaskan Pancasila sebagai kolonial selalu menempatkan warga
pedoman hidup masyarakat Idonesia Nusantara sebagai pihak yang
dalam menghadapi segala terkalahkan banyak menginspirasi
permasalahan seiring perkembangan perumusan Pancasila. Para pendiri
zaman. Kondisi bangsa saat ini bangsa berhasil keluar dari rutinitas
mencerminkan adanya penyimpangan pandangan hidup bangsanya melalui
dari Pancasila tidak sesuai dengan nilai
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

penalaran dan kontemplasi yang kemanusiaan dan keadilan


brilyan (Hariyono, 2014). bertentangan dengan prinsip
Kelemahan bangsa Indonesia Pancasila. Di alam prinsip Pancasila
yang nampak dalam menghadapi tidak membeda-bedakankan manusia
penguasa kolonial adalah lemahnya berdasarkan agama, ras, warna kulit
persatuan bangsa Indonesia. atau budaya. Pandangan Pancasila
Perbedaan yang ada pada masyarakat mengakui adanya pluralism yang
sering dijadikan media pecah belah memungkinkan berkembangnya
oleh penguasa kolonial. Warga suatu nasionalisme yang inklusif.
pribumi di nusantara belum merasa Kehidupan masyarakat yang
dan menyadari dirinya sebagai cukup memprihatinkan dari
sesama bangsa yang senasib dan masyarakat pribumi akibat
seperjuangan. Sehingga beberapa pemiskinan dan pembodohan oleh
tokoh pergerakan nasional, mulai sistem kolonialisme, imperialisme,
dari Tan Malaka, Hatta dan dan kapitalisme. Hanya melalui
Soekarno, melihat bahwa rasa sistem yang humanis dan adil
senasib dan sepenanggungan sebagai masyarakat Indonesia berpeluang
bangsa inilah yang harus untuk memperoleh kemakmuran.
dikembangkan. Masyarakat yang adil dan makmur
Perlakuan ketidakadilan yang bukanlah suatu mimpi yang
diterima masyarakat nusantara diwujudkan tanpa dasar. Pancasila
menginspirasi adanya penghormatan dirintis untuk menggapai tatanan
terhadap ketidakadilan masyarakat masyarakat yan adil dan makmur.
pribumi yang diperlakukan tidak Untuk mewujudkan
manusawi menuntut adanya masyarakat yang adil dan
penghargaan terhadap nilai-nilai makmurakan terwujud jika
kemanusiaan dan keadilan. Secara masyarakat Indonesia terus mewarisi
kodratnya manusia memiliki hak dan dan mengembangnkan nilai-nilai
martabat yang sama. Setiap bentuk luhur yang digali dari dari sumber
pemikiran, sistem hingga tindakan religioitas. Eksisitensi Tuhan sudah
yang tidak menghargai dimensi dikenal oleh masyarakat nusantara
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

dengan segala istilah dan ajaran. Prinsip-prinsip yang ada


Toleransi terhadap perbedaan sikap dalam Pancasila tidak semuanya
banyak dijunjung oleh nenek berasal dari asing. Pancasila juga
moyang nusantara. tidak semuanya berasal dari warisan
Berbagai nilai-nilai dasar nusantara. Para pendiri Negara
tersebu mulai dirintis oleh tokoh- mengolah kembali warisan nusantara
tokoh pergerakan nasional. Pada saat dan memperkaya dengan warisan
Soekarno menyebutkan dan dunia sehingga muncul suatu
merumuskan dasar Negara yang rumusan Pancasila yang sangat
ditawarkan dalam siding BPUPKI cerdas dan visioner. Dari perpaduan
tidak ada hadirin yang menolak. budaya global dan warisan budaya
Berbagai nilai luhur tersebut sudah yang luhur itulah berhasil
sudah ada dan hidup di masyarakat dirumuskan Pancasila sebagai suatu
nusantara serta diperkaya dengan dasar Negara sekaligus pandangan
pemikiran dunia yang modern. hidup.
Hariyono (2014) mengatakan Kita semua menyadari bahwa
bahwa kepentingan bangsa dan Pancasila sebagai
Negara selalu menempati posisi yang Grundnorm/Staatsfundamentalnorm,
dominan dalam perumusan Pancasila yaitu pokok kaidah fundamental
sebagai dasar Negara maupun Negara masih berada dalam tataran
sebagai pandangan hidup bangsa. normative. Pokok fikiran Pancasila
Sejak 1 Juni 1945 hingga 18 Agustus kemudian dijabarkan dalam Undang-
1945 para pendiri Negara sedang Undang Dasar1945 yang diharapkan
berdiskusi mendalam tentang dapat menjadi pijakan dalam
platform kehidupan berbangsa dan membuat tatanan kehidupan dan
bernegara. Persatuan bangsa menjadi kebijakan dalam kehidupan
pertimbangan utama. Berkat berbangsa dan bernegara.
penggalian nilai-nilai luhur itulah Tujuan mulia pemerintahan
Pancasila hingga kini masih relevan Negara Indonesia didasari oleh
dan cocok bagi bangsa Indonesia. empat hal yang tercantum di dalam
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

pembukaan UUD 1945 alenia 2.1 Pancasila Sebagai Ideologi


keempat, yaitu: Ideologi memainkan peranan
1) Melindungi segenap bangsa yang penting dalam proses dan
Indonesia dan seluruh tumpah memeliara integrasi nasiona,
darah Indonesia, terutama di Negara-negara yang
2) Memajukan kesejahteraan umum, sedang berkembang seperti Indonesia
3) Mencerdaskan kehidupan bangsa, (Ubaidillah, 2000). Istilah ideologi
dan berasal dari kata ‘idea’ berarti
4) Ikut melaksanakan ketertiban gagasan, konsep, pengertian dasar,
dunia yang berdasarkan cita-cita, dan ‘logos’ berarti ilmu.
kemerdekaan, perdamaian abadi Kata idea sendiri berasal dari bahasa
dan keadilan sosial. Yunani ‘eidos’ yang artinya bentuk.
Selanjutnya ada kata ‘idein’ yang
2. Ideologi Pancasila dalam artinya melihat. Dengan demikian
Perspektif Global secara harfiah ideologi berarti ilmu
Pancasila merupakan dasar pengertian-pengertian dasar, cita-cita
Negara dan pandangan hidup bangsa yang bersifat tetap yang harus
Indoesia. Sebagai dasar Negara, dicapai, sehingga cita-ita yang
Pancasila dijadikan sebagai dasar bersifat tetap itu yang harus dicapai,
dalam membangun Negara Kesatuan sehingga cita-cita yang bersifat tetap
Republik Indonesia. Pancasila itu sekaligus merupakan dasar,
sebagai dasar Negara diwujudkan pandangan atau faham (Kaelan,
dalam hukum nasional Indonesia, 2005).
dimana Pancasila menjadi sumber Kaelan (2005) menyatakan
dari segala sumber hukum yang ada bahwa ideologi sebagai pandangan
di Negara Indonesia. Sedangkan masyarakat memiliki karakteristik:
sebagai pandangan hidup bangsa, (a) ideologi sering muncul dan
Pancasila dijadikan sebagai tuntunan berkembang alam situasi kritis; (b)
bagi seluruh masyarakat Indonesia ideologi memiliki jangkauan yang
dalam menjalani kehidupan sehari- luas, beragam, dan terprogram; (c)
hari. ideologi mencakup beberapa strata
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

pemikiran dan panutan; (d) ideologi Pancasila (Kaelan dan Achmad


memiliki pola pemikiran yang Zubaidi, 2007).
sistematis; (e) ideologi cenderung Ideologi berkaitan dengan
eksklusif, absolute dan universal; (f) tertib sosial, dan tertib politik yang
ideologi memiliki sifat empiris dan ada, berupaya untuk secara sadar
normatif; (g) ideologi dapat sisteatis mengubah, mempertahankan
dioperasionalkan dan tertib masyarakat. Suatu pemikiran
didokumentasikan mendalam, menyeluruh, menjadi
konseptualisasinya; (h) ideologi ideologi apabila pemikiran, gagasan-
bisanya terjadi dalam gerakan- gagasan tersebut secara praktis
gerakan politik. difungsikan ke dalam lembaga-
Sebagai suatu ideologi lembaga politik suatu masyarakat,
bangsa dan Negara Indonesia maka suatu bangsa, suatu Negara
Pancasila pada hakikatnya bukan (Suparlan, 2012).
hanya merupakan suatu hasil Pancasila sebagai ideologi
perenungan atau pemikiran nasional mengatasi faham
seseorang atau kelompok orang perseorangan, golongan, suku
sebagaimana idelogi-ideologi lain di bangsa, dan agama. Sehingga
dunia, namun Pancasila diangkat dari semboyan ‘Bhineka Tungga Ika’
nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai diterapkan bagi segala masyarakat
kebudayaan serta nilai religius yang Indonesia dalam kesatuan yang utuh
terdapat dalam pandangan hidup Negara Kesatuan Republik
masyarakat Indonesia sebelum Indonesia. Pancasila sebagai ideologi
membentuk Negara, dengan lain nasional berupaya meletakkan
perkatan unsur-unsur yang kepentingan bangsa dan Negara
merupakan materi (bahan) Pancasila Indonesia ditempatkan dalam
tidak lain diangkat dari pandangan kedudukan utama di atas
hidup masyarakat Indonesia sendiri, kepentingan yang lainnya.
sehingga bangsa ini merupakan Kedudukan Pancasila sebagai
kausa materialis (asal bahan) ideologi bangsa dan Negara
Indonesia, tercantum di dalam
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

pembukaan UUD 1945 sebagai dasar Arus globalisasi tidak


Negara Kesatuan Republik Indonesia mungkin dihentikan. Berjalannya
(NKRI) yang haus dilaksanakan globalisasi tidak terlepas dari
secara berkesinambungan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
kehidupan berbangsa dan bernegara. teknologi sebagai penyebabnya.
Dengan demikian, Pancasila sebagai Dampaknya juga tidak bisa
ideologi bangsa adalah sebagai dihindarkan. Bagi masyarakat,
keseluruhan pandangan, cita-cita, bangsa dan Negara Indonesi,
keyakinan, dan nilai-nilai bangsa globalisasi memiliki dampak positif
Indonesia yang harus dan negative.
diimplementasikandalam kehidupan, Adapun dampak negative dan
bermasyarakat, berbangsa dan dampak positif globalisasi menurut
bernegara. Suparlan (2012) antara lain:
2.2 Globalisasi a. Dampak Positif Globalisasi
Globalisasi merupakan gejala bagi Indonesia
mengglobalnya sosio-cultural antar (1) Semangat kompetitif
bangsa sehingga kultur antar bangsa Untuk mengikuti arus
di dunia seolah-olah melebur globalisasi suatu Negara
menjadi kultur dunia (global). dituntut mampu bersaing di
Akibatnya hubungan antar bangsa dunia internasional.
semakin dekat. (2) Kemudahan dan kenyamanan
Globalisasi biasa dikait- hidup
kaitkan dengan kemajuan teknologi Globalisasi dengan kemajuan
informasi, spekulasi dalam pasar di bidang informasi,
uang, meningkatnya arus modal komunikasi dan transportasi
lintas Negara, pemasaran massal, telah memberi kemudahan
peanasan global, era perusahaan dan kenyamanan masyarakat.
multinasional hilangnya batas-batas (3) Sikap toleransi dan solidaritas
antar Negara dan kian melemahnya kemanusiaan
kekuasaan Negara (Budiono, dalam Informasi mengenai
Suparlan 2012). keprihatinan dan penderitaan
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

sejumlah manusia di suatu luasnya melalui jaringan


Negara, memotivasi internet
pemerintah di Negara lain (7) Terbukanya mobilitas sosial
untuk ikut membantu Kemajuan transportasi
meringankan penderitaan mendorong mobilitas sosial
yang dirasakan sesamanya. yang semakin terbuka dimana
(4) Kesadaran dalam jarak tidak lagi menjadi
kebersamaan permasalahan.
Toleransi dan solidaritas
antar bangsa berkembang b. Dampak Negatif Gobalisasi
menjadi kesadaran dalam bagi Bangsa Indonesia
kebersamaan untuk (1) Pergeseran nilai
mengatasi berbagai masalah, Sesuatu yang baru (nilai,
dimana ancaman dan bencana teknologi, budaya, dan
bagi keselamatan dunia lainnya) dari asing secara
sebagai satu-satunya planet tidak otomatis dapat
tempa tinggal bagi umat diintegrasikan ke dalam
manusia. kondisi individu atau
(5) Menumbuhkan sikap terbuka masyarakat yang
Sikap terbuka ini untuk menerimanya.
mengenal dan menghormati (2) Pertentangan nilai
perbedaan, kelebihan, dalam Masuknya nilai-nilai baru dan
kehidupan manusia sebagai asing yang tidak sejalan atau
individu maupun bangsa yang bahkan bertentangan dengan
hidup di wilayah Negara lain. nilai-nilai luhur dari
(6) Globalisasi memberi tawaran pandangan hidup masyarakat.
baru (3) Perubahan gaya hidup (Life
Globalisasi memberikan style)
tawaran baru barupa (4) Berkurangnya kedaulatan
kesematan untuk mengakses Negara
ilmu pengetahuan seluas-
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

Pemerintah harus mengakui Makna persatuan hakikatnya adalah


dan bekerja di suatu satu, yang artinya bulat tidak
lingkungn dimana sebagian terpecah.
besar penyelesaian masalah Kerakyatan yang Dipimpin oleh
harus dirumuskan dengan Hikmat Kebijaksanaan dalam
memperhatikan dunia global. Permusyawaratan/Perwakilan
Dalam sila ini menjelaskan tentang
3. Nilai-Nilai yang terkandung demokrasi, adanya kebersamaan
dalam Pancasila dalam mengambil keputusan dan
Berikut ini adalah nilai-nilai penanganannya, dan kejujuran
dalam lima sila Pancasila bersama.
Ketuhanan Yang Maha Esa Keadilan Sosial Bagi Seluruh
Nilai-nilai yang terkandung dalam Rakyat Indonesia
sila pertama ini adalah dimana kita Makna dalam sila ini adalah adanya
sebagai manusia yang diciptakan kemakmuran yang merata bagi
wajib menjalankan perintah Tuhan seluruh rakyat, seluruh kekayaan dan
dan menjauhi laranganNya. sebagainya dipergunakan untuk
Masyarakat Indonesia berhak untuk kebahagiaan bersama, dan
memeluk agama dan kepercayaannya melindungi yang lemah.
masing-masing dan wajib Pancasila sebagai dasar Negara,
menjalankan apa yang diperintahkan pandanga hidup bangsa Indonesia,
dalam agama masing-masing dan dan sebagai ideologi bangsa,
menjauhi apa yang dilarang. menurut Suko Wiyono (2013)
Kemanusiaan Yang Adil dan memuat nilai-nilai/karakter bangsa
Beradab Indonesia yang tercermin dalam sila-
Sila kedua ini menjelaskan bahwa sila Pancasilasebagai berikut:
kita sesama manusia mempunyai 1. Nilai-nilai Ketuhanan Yang
derajat yang sama dihadapan hukum. Maha Esa: terkandung di
dalamnya prinsip asasi (1)
Kepercayaan dan Ketaqwaan
Persatuan Indonesia kepada Tuhn Yang Maha Esa; (2)
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

kebebasan beragama dan asasi (1) Kerakyatan; (2)


berkepercayaan paa Tuhan Yang Musyawarah mufakat; (3)
Maha Esa sebagai hak yang Demokrasi; (4) Hikmat
paling asasi bagi manusia; (3) kebijaksanaan, dan (Perwakilan).
toleransi di antara umat 5. Nilai-nilai Keadilan Sosial bagi
beragama dan berkepercayaan Seluruh Rakyat Indonesia:
kepada Tuhan Yang Maha Esa; terkandung di dalamnya prinsip
dan (4) Kecintaan pada semua asasi (1)
makhluk ciptaan Tuhan,
khususnya makhluk manusia. 4. Kondisi Masyarakat Indonesia
2. Nilai-nilai Kemanusiaan yang saat ini dalam Menerapkan
Adil dan Beradab: terkandun di Nilai-Nilai Pancasila
dalamnya prinsip asasi (1) Kondisi bangsa Indonesia
Kecintaan kepada sesama saat ini dapat dikaji dan identifikasi
manusia sesuai dengan prinsip dengan melihat prilaku dan
bahwa kemanusiaan adalah satu kepribadian masyarakat Indonesia
adanya; (2) Kejujuran; (3) tercermin pada tingkah laku
Kesamaderajatan manusia; (4) masyarakat Indonesia sehari-hari.
Keadilan; dan (5) Keadaban. Perilaku masyarakat Indonesia saat
3. Nilai-nilai Persatua Indonesia: ini yang tidak sesuai dengan nilai-
terkandung di dalamnya prinsip nilai Pancasila yaitu:
asasi (1) Persatuan; (2) Penyimpangan sila pertama
Kebersamaan; (3) Kecintaan Saat ini kita menjumpai
pada bangsa; (4) Kecintaan pada generasi muda yang tidak bertaqwa
tanah air; dan (5) Bhineka kepada Tuhan YME. Misalnya:
Tunggal Ika. meninggalkan ibadah, melanggar
4. Nilai-nilai Kerakyatan yang peraturan agama, menganggap
Dipimpin oleh Hikmat dirinya sebagai Tuhan atau Rasul,
Kebijaksanaan dalam dan lain sebagainya.
Permusyawaratan/Perwakilan: Penyimpangan sila kedua
terkandung di dalamnya prinsip
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

Sekarang ini kita temui diantara misalnya, tugas PPKN membuat


pemuda Indonesia yang tidak makalah secara kelompok ketidak
memanusiakan manusia lain sebagai adilan selalu kita rasakan. Hal
mana mestinya. Misalnya: kasus tersebut karena sebenarnya yang
pembunuhan, perampokan, mengerjakan tugas kelompok dari 8
pemerkosaan, dan lain sebagainya. anggota kelompok, hanya 3 orang
Penyimpangan sila ketiga saja dan yang lainnya tinggal nitip
Memudarnya rasa persatuan dan nama. Padahal ia menginginkan
kesatuan yang terjadi pada mendapatkan nilai yang sama.
masyarakat Indonesia saat ini. Sungguh ini adalah contoh kecil
Misalnya: tawuran antar pelajar, yang berada pada kehidupan para
bentrok antar warga seperti perang pelajar sehari-hari.
sampit, bentrok antar suku seperti
kisah perang sampit, dan lain 5. Upaya yang dilakukan
sebagainya. Masyarakat Indonesia dalam
Penyimpangan sila keempat Membudayakan Nilai-Nilai
Demokrasi selayaknya dilaksanakan Pancasila
dengan sehat. Fenomena yang terjadi Sebelum memasuki upaya
saat ini masih adanya money politic masyarakat Indonesia dalam
di kalangan masyarakat yang biasa membudayakan nilai-nilai Pancasila
dijumpai pada saat pemilihan kepala maka perlu kita tahu fungsi dari
desa, pemilihan bupati atau walikota. Pancasila. Sri Untari (2012)
Penyimpangan sila kelima menjabarkan fungsi Pancasila antara
Selanjutnya mengenai keadilan, lain:
banyak fakta-fakta mengenai (1) Pancasila sebagai identitas dan
ketidakadilan yang di lakukan oleh kepribadian bangsa
generasi muda bangsa Indonesia saat Pancasila adalah kepribadian
ini. Tidak perlu jauh-jauh, saat ini bangsa yang digali dari nilai-nilai
dapat kita lihat pada kelompok yang telah tumbuh dan
belajar kita saja sebagai faktanya. berkembang dalam masyarakat
Dalam kelompok belajar PPKN dan budaya bangsa Indonesia.
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

(2) Pancasila sebagai sistem filsafat Secara etimologis, istilah


Pancasila bersifat obyektif ilmiah kebudayaan berasal dari bahasa
karena uraiannya bersifat logis sansekerta budhayah yang
dan dapat diterima oleh paham merupakan bentuk jamak dari kata
yang lain. budhi yang berarti budi atau akal,
(3) Pancasila sebagai sumber nilai dengan demikian budaya
Nilai dasar Pancasila adalah nilai berhubungan dengan budi atau akal
ketuanan, nilai kemanusiaan, (Suko Wiyono, 2013). Menurut
nilai persatuan, nilai kerakyatan, Kamus Besar Bahasa Indonesia
dan nilai keadilan. (2008) budaya adalah (1) pikiran;
(4) Pancasila sebagai sistem etika akal budi; (2) adat-istiadat; (3)
Secara sederhana dapat sesuatu mengenai kebudayaan yang
dijelaskan bahwa yang dimaksud sudah berkembang (beradab, maju);
etika Pancasila adalah etika yang (4) sesuatu yang sudah menjadi
mengacu dan bersumber pada kebiasaan yang sukar diubah.
nilai-nilai, norma Pancasila Sedangkan menurut
sebagai dasar Negara dan Koentjaraningrat dalam Suko
pandangan hidup bangsa (Sri Wiyono (2013) kebudayaan ialah
Untari, 2012). keseluruhan sistem gagasan,
(5) Pancasila sebagai paradigma tindakan dan hasil karya manusia
keilmuan ekonomi, politik, dalam rangka kehidupan masyarakat
hukum, dan pendidikan yang dijadikan milik diri manusia
(6) Pancasila sebagai ideologi dengan melalui belajar. Dalam artian
terbuka seperti tersebut di atas maka
Menurut Winarno dalam Sri dibedakan wujud kebudayaan itu
Untari (2012) disebut terbuka sebagai berikut: (1) wujud
sebab ideologi Pancasila kebudayaan sebagai suatu kompleks
bersumber pada kondisi obyektif, gagasan, nilai, norma peraturan dan
konsep, prinsip, dan nilai-nilai sebagainya, (2) wujud kebudayaan
orisinal masyarakat Indonesia sebagai suatu kompleks aktivitas
sendiri. serta tndakan berpola dari manusia
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

dalam masyarakat, (3) wujud Sejalan dengan upaya


kebudayaan sebagai benda-benda sedemikian rupa, diharapkan terdapat
hasil karya manusia. penghayatan dan pengalaman nilai-
Berdasarkan pengertian di nilai luhur Pancasila di berbagai
atas maka pembudayaan nilai-nilai bidang kehidupan bagi seluruh
Pancasila yang merupakan sumber masyarakat. Berkaitan dengan upaya
dari karakter bangsa Indonesia, pembudayaan karakter bangsa yang
berarti perwujudan nilai-nilai bersumber dari nilai-nilai luhur
Pancasila itu dalam: (1) agasan, nilai, Pancasila, maka pendapat Suko
norma, dan peraturan, (2) aktivitas Wiyono (2013) berpendapat bahwa
serta tindakan terpola dar manusia, hal yang ingin dicapai dalam
dan (3) wujud hasil cipta manusia. pembudayaan adalah sebagai berikut:
Pembudayaan nilai-nilai 1) Masyarakat yang memiliki
Pancasila tidak sekedar memahami kesadaran yang tinggi akan hak
saja, namun harus dihayati dan dan kewajiban sebagai pribadi,
diwujudkan dalam pengalamannya anggota keluarga/masyarakat,
oleh setiap diri pribadi dan seluruh dan sebagai warga Negara.
lapisan masyarakat sehingga 2) Sebagai pribadi ia dapat bersikap
menumbuhkan kesadaran dan dan bertingkah laku sebagai
kebutuhan, mempertajam perasaan, insan hmba Tuhan, yang mampu
meningkatkan daya tahan, daya menggunakan cipta, rasa, dan
tangkal dan daya saing bangsa yang karsa secara tepat, sehingga dapat
semuanya tercermin pada sikap bersikap adil. Ia adalah seorang
tanggap dan perilaku masyarakat. yang beriman dan bertaqwa
Pembudayaan nilai-nilai terhadap Tuhan Yang Maha Esa
luhur Pancasila perlu diupayakan sesua dengan agama dan
pada berbagai kelompok masyarakat kepercayaan masing-masing.
baik kelompok profesi seperti tenaga 3) Sebagai anggota keluarga dan
kerja, notaris, guru dan pengacara, masyarakat ia mampu
kelompok fungsional seperti wanita, mendudukkan dirinya secara
pemuda, dan lain sebagainya. tepat sesuai dengan fungsi dan
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

tugasnya. Ia faham dan mampu Pancasila dijadikan sebagai dasar


menempatkan hak dan kewajiban dalam membangun Negara Kesatuan
dalam hidup bersama. Republik Indonesia.
4) Sebagai warga Negara ia Arus globalisasi tidak
diharapkan faham akan hak dan mungkin dihentikan. Berjalannya
kewajibannya sesuai dengan globalisasi tidak terlepas dari
peraturan perundang-undangan perkembangan ilmu pengetahuan dan
yang berlaku, patuh teknologi sebagai penyebabnya.
melaksanakan segal ketentuan Dampaknya juga tidak bisa
perundang-undangan yang dihindarkan. Bagi masyarakat,
didasarkan atas kesadaran. bangsa dan Negara Indonesi,
Sebagai warga Negara mampu globalisasi memiliki dampak positif
membawa diri secara tepat dalam dan negative.
behubungan dengan sesama Pembudayaan nilai-nilai
warga Negara, dan dengan luhur Pancasila perlu diupayakan.
lembaga-lembaga kenegaraan. Diharapkan terdapat penghayatan
5) Sebagai tenaga pembangunan dan pengalaman nilai-nilai luhur
maka ia memahami prinsip- Pancasila di berbagai bidang
prinsip dasar program dan kehidupan bagi seluruh masyarakat.
peaksanaan pembangunan, baik
pembangunan di daerah maupun DAFTAR PUSTAKA
pembangunan nasional. Ia faham Al-Hakim, Suparlan, dkk. 2012.
Pendidikan
kegiatan apa yang selayaknya
Kewarganegaraan dalam
dikerjakan dan diutamakan dalam Konteks Indonesia. Malang:
Universitas Negeri Malang
menciptakan masyarakat yang
adil, sejahtera, dan bahagia. Hariyono. 2014. Ideologi Pancasila
Roh Progresif Nasionalisme
Indonesia. Malang: Intans
KESIMPULAN Publishing
Pancasila merupakan dasar
Kaelan, & Zubaidi, Ahmad. 2007.
Negara dan pandangan hidup bangsa Pendidikan
Indoesia. Sebagai dasar Negara,
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683
Kewarganegaraan.
Yogyakarta: Paradigma

Kaelan. 2005. Pendidikan Pancasila.


Yogyakarta: Universitas Gajah Mada

Departemen Pendidikan
Nasional. 2008. Kamus
Besar Bahasa Indonesia
Pusat Bahasa.
Jakarta: PT
Gramedia Pustaka
Utama

Sri Untari. 2012. “Pancasila


dalam Kehidupan
Berasyarakat,
Berbangsa, dan Bernegara”
dalam Margono (Ed).
Pendidikan Pancasila
Topik Aktual Kenegaraan
dan Kebangsaan. Malang:
Universitas Negeri
Malang (UM Press)

Sumarsono, dkk. 2007.


Pendidikan
Kewarganegaraan.
Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama

Ubaidiah, A, dkk. 2000.


Pendidikan
kewarganegaraan (Civic
Education), DEmokrasi,
HAM, & Masyarakat
Madani. Jakarta: IAIN
Jakarta Press

Wiyono, Suko. 2013.


Reaktualisasi Pancasila
dalam Kehidupan
Berbangsa dan
Bernegara. Malang:
Universitas
Wisnuwardhana Malang
Press
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

Aktualisasi Nilai-nilai Pancasila sebagai Dasar Falsafah Negara dan


Implementasinya Dalam Pembangunan Karater Bangsa

Sutan Syahrir Zabda


Dosen PPKN-FKIP UMS
e-mail:
ssz196@ums.ac.id

Abstract
The problems discussed in this paper were; 1) why the Pancasila (the five
Indonesian National Principles) values had not been fully understood and acted in
the Indonesian, 2) how Pancasila Values could be revitalised so that it could be
characteristically internalised in the daily society activities. Based on the deep
review from some theories, the conclusions were: 1) the tentative manners were
the main problems of unimplemented Pancasila values in the most Indonesian. 2)
The Pancasila values must be revitalised trough seriously dissemination process
with the appropriate strategies and scientifically instead of doctrine. Every effort
of Pancasila values internalisations must use persuasion approach.
Keywords : Pancasila values, Philosophy, Nation

PENDAHULUAN yang menjerat para remaja didorong


Ada yang salah dalam kehidupan untuk menjual tubuh mereka dengan
masyarakat modern kita saat ini, imbalan obat-obatan/narkoba.
halmana gejala menunjukkan bahwa Di sisi lain orang tua sudah
kita sebagai penghuni bumi ini banyak yang kehilangan kontrol
seharusnya menjadi khalifah bumi terhdap putera-putera mereka atau
yang tugasnya mengelola dan keturunan mereka. Sudah sudah
memelihara, namun justru manusia menjadi pengetahuan kita bersama
menjadi penghancur rumah bumi kita bahwa pertikaian antar remaja hanya
sendiri. Perilaku kebiasaan tersebut karena perkara sepele, anak saling
berkontribusi terhadap degradasi atau mangsa satu sama lain. Terlalu
kerusakan lingkungan fisik dan banyak bayi yang lahir dari ibu
lenyapnya bentuk kehidupan yang menikah usia remaja bahkan di luar
sangat berharga / bernilai. nikah akibat pergaulan bebas, seks
Penyalahgunaan narkoba sudah bebas yang mengabaikan nilai-nilai
menjadi perilaku banyak orang dari kehidupan yang berharga. Terlalu
semua lapisan masyarakat bahkan banyak anak muda yang menipu dan
semakin merajalela dan sulit melanggar hukum tanpa penyesalan.
mengontrolnya. Di jalan-jalan telah Terlalu banyak media berita kita
banyak menjadi tempat-tempat justru mengajarkan generasi muda
berbahaya di mana predator atau menjadi pahlawan pahlawan maya
pemangsa berkeliaran mengintai yang dimplementasikan dalam
remaja dan terjebak dalam telikungan perilaku kekerasan, pragmatis,
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

berpikir pendek, sikat dulu urusan Permasalahan yang muncul dalam


belakang, mereka menjadi budak tulisan ini adalah:
industri dunia maya, sehingga para Mengapa nilai-nilai Pancasila
remaja asik dengan dirinya sendiri belum sepenuhnya dapat diamalkan
dalam permainan games on line, dalam kehidupan bermasyarakat,
pornografi dan lain sebagainya. Hal berbangsa dan bernegara Indonesia?
ini membuat generasi muda pasif, Bagaimana Nilai-nilai Pancasila
reksioner negatif, dan tidak kreatif dapat direvitalisasi agar dapat
positif. diamalkan dalam kehidupan
Terlalu banyak para pemimpin bermasyarakat, berbangsa dan
atau tokoh politik, para profesional bernegara yang berkarakter?
dan bisnis telah meninggalkan etika,
menghalalkan cara demi tujuan. ARGUMEN TEORITIS
Banyak fakta yang membuktikan Gejala dalam masyarakat di atas
perilaku pemimpin kita yang menurut Pat Duffy Hutcheon
mengabaikan nilai dan etika disegala sebagaimana dinyatakaannya di
bidang seperti: bidang politik para bawah ini:
politisi kita banyak yang There is a dawning
mengabaikan etika berpolitik, dalam recognition among ordinary
bidang ekonomi, sudah bukan people that something is
rahasia lagi para pembisnis dreadfully wrong in modern
melanggar etika bisnis; dalam bidang industrial society. We are
sosial sudah terlalu banyak para destroying our earthly home.
tokoh, para remaja, bahkan awam Too many of our habitual
yang mengabaikan etika sosial, tidak behaviors contribute to the
ada lagi sopan dan santun dalam degradation of our physical
pergaulan sehari-hari, semua surroundings and the
dihitung pada keuntungan materi disappearance of valuable forms
semata. of life. We are losing control of
Gejala di atas melahirkan our lives. Too many people from
pertanyaan, bahwa Apakah gejala all walks of life are abusing
perilaku masyarakat mengisyaratkan drugs. We are losing control of
nilai-nilai kehidupan yang menjadi our cities. Too many of our
landasan moral etik sudah tidak ada. streets have become dangerous
Secara sosiologis, setiap masyarakat places where predators lurk in
memiliki tata nilai mereka sendiri. the dark and pre-adolescents are
Secara kebangsaan, Indonesia masih encouraged to sell their
tetap berlandaskan nilai-nilai unformed bodies in return for
Pancasila sebagai dasar falsafah drugs. We are losing control of
bangsa, sebagai way of life , namun our offspring. Too many
kenyataannya nilai-nilai Pancasila children prey on one another,
belum mencerminkan karakter dan with guns and knives. Too many
perilaku kehidupan bermasyarakat babies are being born to unwed
dan berbangsa tidak sesuai antara teen-aged mothers. We are
dass sollen dan dass sein antara losing the precious core of
idealisnya dengan kenyataannya. values necessary for keeping any
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

society workable. Too many Gejala tersebut di atas


youngsters cheat and break the sebenarnya dapat berpangkal pada
law without compunction. Too kegagalan dalam proses
many of our news media make pembangunan karakter banga.
heroes of ruthless commercial Hutcheon,1999) menyatakan:
exploiters and serial murderers. “In the face of all this it may
Too many of our political seem trite to say that it all comes
leaders and professional and down to a matter of character,
business people have abandoned and how that character is
ethics (Hutcheon,1999:1). formed, and to a matter of
culture, and how that culture is
Eric Fromm menyatakan bahwa formed. But it is true. Character
perkembangan Eropa sebagai and culture are what it is all
perkembangan peradaban modern, about. Until we understand what
yang berpangkal pada timbulnya it means to be a human being
kebebasan (freedom) yang terjadi capable of acquiring a character
pada level individu maupun and participating in and
masyarakat (Budimansyah,2010:14). contributing to a culture, ”
Lebih lanjut From menyatakan
bahwa pada level individu kebebasan Pernyatan Hutcheon di atas
itu diawali timbulnya “diri” (self) walau mungkin pernyataan klise,
dalam proses individuasi sejak lahir,
bahwa itu semua bermuara pada soal
sedang pada level masyarakat, kebe- karakter, dan bagaimana karakter
basan menentukan perkembangan yang terbentuk, dan masalah budaya,
kepribadian melalui proses dan bagaimana budaya terbentuk.
individuasi sepanjang sejarah, seperti Tapi itu memang benar, itulah
yang dialami masyarakat Barat kenyataannya. Semua tentang
sebagai hasil perjuangan kebebasan Karakter dan budaya sehingga kita
individu Budiman,201). Kebebasan
memahami apa artinya menjadi
Individu dalam dimensi masyarakat manusia yang cakap memiliki
mengakibatkan lepasnya ikatan- karakter dalam/dan berpartisipasi
ikatan nilai dalam masyarakat atau dalam dan memberikan kontribusi
kelompok. Lepasnya individu den- untuk berbudaya. Penulis sependapat
gan nilai-nilai kemasyarakatannya
bahwa persoalan yang dihadapi
berakibat pada munculnya pribadi bangsa Indonesia dalam kontek krisis
anggota masyarakat yang mengalami peradaban di atas lebih karena
gangguan kejiwaan seperti: bangsa Indonesia sudah atau sedang
kegelisaan (anxiety), perasaan mengalami krisis atau degradasi
kesendirian (aloneness). Perasaan karakter bangsa.
tercabut dari akar kemasyarakat,
berkembangnya perasaan saling
Membangun Karakter Bangsa
curiga, negative prejudice dengan
Indonesia
orang lain atau kelompok lain yang
Membangun karakter bangsa
berujung pada saling permusuhan
sebenarnya sudah terpikirkan oleh
(hostility).
bangsa Indonesia melalui para the
founding father nya jauh sebelum
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

bangsa Indoensia merdeka. Bung atau character. Pengetahuan


Karno amat sering menyampaikan kewarganegaraan berkenaan dengan
pentingnya membangun karakter apa yang seharusnya diketahui oleh
bangsa (nation character building). seorang warganegara mengenai
Awal rintisan membangun bangsa negaranya seperti kehidupan politik,
Indonesia sebelum sumpah pemuda undang-undang kewarganegaraan,
28 Oktober 1928 dalam lagu pemerintahan, konstitusi dan
kebangsaan hasil gubahan WR seterusnya. Kecakapan kewarga-
Supratman Indonesia raya negaraan berkenaan dengan
menyatakan bahwa Indonesia Raya kecakapan intelektual, kecakapan
dapat dibangun melalui membangun emosional dan kecakapan spiritual.
jiwanya. Simaklah bunyi syair lagu Sedang watak kewarganegaraan atau
Indonesia Raya “bangunlah jiwanya, karakter kewarganegaraan/ bangsa
bangunlah badannya untuk Indonesia berkenaan dengan nilai-nilai unik
Raya”. Syair lagu kebangsaan yang terinternalisasi dan terintegrasi
Indonesia Raya tersebut tidak cukup dalam diri seseorang yang melandasi
cuma dinyanyikaan melainkan dan mengarahkan sikap dan
ditindak lanjuti dengan aksi tindakannya sehingga termini-
membangun bangsa ini mulai dari festasikan dalam perilaku seseorang
membangun Jiwa atau karakter warganegara. Nilai-nilai unik
Bangsanya. Namun, yang terjadi tersebut dari berasal dari nilai
pada bangsa Indonesia dalam budaya, ajaran agama, atau dasar
pembangunannya justru dimulai dan filsafat yang dimiliki dan disepakati
menitik beratkan pada aspek fisik oleh bangsa tersebut.
material. Dan tidak aneh kalau Furqon (2010:12-13), menulis
hasilnya adalah lahirnya anak-anak dalam bukunya Pendidikan Karakter
bangsa yang berorientasi pada faktor membangun peradaban bangsa
fisik material, individualistis. Hal ini bahwa karakter adalah kualitas
tercermin dalam kurikulum mental atau moral, kekuatan moral,
Pendidikan Nasional, bahkan dalam nam, reputasi; sifat-sifat kejiwaan,
Ujian Nasionalnya. Artinya, walau akhlak atau budi pekerti yang
amanat para pendiri bangsa membedakan dari orang lain; watak,
mengedepankan pembangunan tabi’at, mempunyai kepribadian.
karakter bangsa, namun yang Lebih lanjut menurut Furqon,
dilakukan bangsa ini justru aspek seseorang berkarakter jika telah
fisik material. berhasil menyerap nilai dan
keyakinan yang dikehendaki
Pengertian dan Konsep Mem- masyaarakat serta digunakan sebagai
bangun Karakter Bangsa kekuatan moral dalam hidupnya
Berdasarkan perspektif (Furqon,2010). Dalam kontek
pendidikan kewarganegaraan dikenal karakter bangsa, maka kualitas
tiga kompetensi yaitu: pengetahuan mental atau moral, kekuatan moral
kewarganegaraan (civic knowledge), seseorang warga bangsa mampu
kecakapan kewarganegaraan (civic berperilaku berbasis nilai dasar
skill), dan watak kewarganegaraan / bangsa dalam wujud kegiatan hidup
civic disposition(Budimansyah,2010) dan kehidupan bermasyarakat,
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

berbangsa dan bernegara Indonesia Berkenaan dengan tema atau


di segala bidang.. topik di atas, sudah barang tentu
Oleh karena itu membangun sasaran pembahasan di sini adalah
karakter bangsa merupakan proses Pancasila sebagai dasar falsafah
internalisasi nilai-nilai kehidupan bangsa dan negara Indonesia sebagai
luhur bangsa indonesia ke dalam acuan yang akan direvitalisasi untuk
jiwa setiap warga bangsa Indonesia membangun karakter bangsa.
sehingga nilai-nilai tersebut Namun, persoalannya adalah
terwejantahkan / termanifestasi bagaimana Pancasila di derivasi
dalam perilaku bagi pribadi masing- dalam implementasinya bagi
masing dan dan bagi kehidupan pembentukan karakter bangsa
bersama bermasyarakat, berbangsa, tersebut. Banyak pendapat dan
dan bernegara Indonesia. Dalam hal pemahaman dikalangan para tokoh
ini, Hutcheon menyatakan: bangsa ini mengenai Pancasila. Baik
‘‘Where does character come dari aspek sejarah, politik, yuridis,
from?’’ The search for answers maupun aspek kultural. Oleh karena
takes us into the sources of menyepakati lebih dahulu konsep
popular beliefs about whether or revitalisasi Pancasila sebagai dasar
not people learn to be sinners or falsafah negara Indonesia harus
saints. Religious and dilakukan secara terbuka namun
philosophical world views that berada dalam koridor staatsside yang
imply an ethical role for humans digagas oleh para pendiri negara
in the yang menginginkan Dasar falsafah
universe ................ (Hutcheon,19 Pancasila sebagai dasar pemikiran
99) (Dari mana karakter berasal? filsafati dalam membangun
Mencari jawaban membawa kita masyarakat, bangsa dan negara
ke dalam sumber keyakinan Indonesia baik untuk kekinian
populer tentang apakah atau maupun untuk masa depan bangsa
tidak orang belajar untuk dan negara Indonesia.
menjadi orang berdosa atau
orang-orang suci Pandangan Mencari jabaran Pancasila dan
dunia keagamaan dan filosofis Implementasinya.
yang menyiratkan peran etis
untuk manusia di alam Menjabarkan Pancasila ke dalam
semesta ) implementasinya untuk membangun
karakter bangsa adalah bagian upaya
Sedang menurut Dasim, karakter merevitalisasi Pancasila ke dalam
secara koheren memancar dari hasil bentuk fungsional dalam membentuk
olah pikir, olah hati, olah rasa, dan karakter bangsa Indonesia. Dengan
oleh karsa, serta olah raga yang kata lain menjadikan Pancasila
mengandung nilai, kemampuan, sebagai paradigma karakter bangsa.
kapasitas moral, dan ketegaran dalam Keberadaan Pancasila dapat dilihat
menghadapi kesulitan dan tantangan dari dua sudut, pertama secara hitoris
(Budimansyah,1999). dan secara kultural. Kaelan yang
mengutip pendapat Notonagoro
menyatakan bahwa “Secara historis
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

Pancasila adalah merupakan suatu Ralp Linton, dan Abraham Kardiner


pandangan hidup bangsa yang nilai- dalam Anthropology to Day, disebut
nilainya sudah ada sebelum secara sebagai National Character.
yuridis bangsa Indonesia membentuk Selanjutnya Linton lebih condong
negara. Bangsa Indonesia secara dengan istilah Peoples Character,
historis ditakdirkan oleh Tuhan atau dalam suatu negara disebut
YME, berkembang melalui suatu sebagai National Identity
proses dan menemukan bentuknya (Kaelan,2011) , sehingga nilai-nilai
sebagai suatu bangsa dengan jati- kebudayaan dan nilai religius yang
dirinya sendiri. Secara kultural telah ada pada bangsa Indonesia,
dasar-dasar pemikiran tentang kemudian dibahas dan dirumuskan
Pancasila dan nilai-nilai Pancasila oleh the founding fathers bangsa
berakar pada nilai-nilai kebudayaan Indonesia, yang kemudian disepakati
dan nilai-nilai religius yang dimiliki dalam suatu konsensus sebagai dasar
oleh bangsa Indonesia sendiri hidup bersama dalam suatu negara
sebelum mendirikan negara” Indonesia.
(Kaelan,2011:8).
Nilai-nilai Pancasila sebelum Sebagai dasar falsafah,
terbentuknya negara dan bangsa Pancasila yang merupakan suatu
Indonesia pada dasarnya terdapat pilihan bangsa Indonesia melalui The
secara sporadis dan fragmentaris Founding Fathers adalah core
dalam kebudayaan bangsa yang philosophy bangsa Indonesia, bahwa
tersebar di seluruh kepaulauan dalam hidup kenegaraan dan
nusantara baik pada abad kedua kebangsaan Pancasila sebagai dasar
puluh maupun sebelumnya, di mana filsafat negara yang secara yuridis
masyarakat Indonesia telah tercantum dalam tertib hukum
mendapatkan kesempatan untuk Indonesia, yaitu dalam Pembukaan
berkomunikasi dan berakulturasi UUD 1945. Oleh karena itu nilai-
dengan kebudayaan lain. Nilai-nilai nilai Pancasila adalah sebagai
tersebut merupakan suatu local sumber nilai dalam realisasi normatif
genius dan sekaligus sebagai suatu dan praksis dalam kehidupan
local wisdom bangsa kenegaraan dan kebangsaan. Dalam
Indonesia(Kaelan,2011) yang pengertian seperti ini nilai-nilai
kemudian disintesiskan secara Pancasila merupakan das sollen bagi
dialektis kemudian dituangkan ke bangsa Indonesia, sehingga seluruh
dalam sebuah dasar negara yang derivasi normatif dan praksis
sering disebut sebagai dasar falsafah berbasis pada nilai-nilai
negara (staats philosofiche Pancasila(Kaelan,2007:10). Dalam
grondslag). kedudukannya yang demikian ini,
maka Pancasila sebagai dasar negara
Pancasila yang sebab yang tercantum dalam Pembukaan
materialnya (causa materialis) UUD 1945, adalah merupakan suatu
bersumber pada bersumber pada cita-cita hukum (Rechtsidee), yang
nilai-nilai budaya bangsa ini, menguasai hukum dasar, baik hukum
menurut Kaelan yang meminjam dasar tertulis maupun hukum dasar
meminjam istilah Margareth Mead, tidak tertulis. Sebagai cita-cita
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

hukum Pancasila merupakan Dengan demikian membangun


konstruksi pikir yang merupakan karakter bangsa berbasis falsafah
suatu keharusan untuk mengarahkan Pancasila adalah menjadikan nilai-
hukum dan perilaku masyarakat nilai Pancasila tercermin dalam
kepada cita-cita yang diinginkan perilaku hidup dan kehidupan setiap
masyarakat. Oleh karena itu, orang anggota masyarakat. Jika nilai
integritas Pancasila sebagai sistem Pancasila telah terimplementasi
filsafat menjadi asas kerohanian dalam karater setiap orang, secara
bangsa harus dijadikan basis dan inti outmatif membudaya dalam perilaku
dalam membangun karakter bangsa masyarakat bangsa, dan
(nation and haracter building) yang penyelenggara negara.
sinergi dengan sistem pembangunan
nasional(Syam,2009). Persoalannya adalah,
bagaimana wujud kongrit nilai-moral
Mengngingat pembangunan Pancasila tersebut yang secara
karakter harus bersifat berlanjut terus universal dapat dilaksanakan. Lima
menerus (sustainable), maka nilai Sila dari Pancasila diderivasikan ke
yang dijadikan paradigma karakter dalam bentuk nilai operasional yang
haruslah nilai (values) yang bersifat secara aplikatif dapat dilaksanakan.
berlanjut. Membangunan karakter Dulu di zaman orba, ada eka persetya
merupakan pembangunan manusia,, pancasikarsa pernah dirinci menjadi
maka sustainable values merupakan tiga puluh enam butir; bahkan juga
core dari pembangunan adalah pernah dirinci menjadi 45 butir.
Pancasila sebagai nillai-nila Secara tentatif, rumusan operasional
kemanusia yang dapat dirumuskan nilai Pancasila dapat saja disusun dan
sebagai debatable.
berikut(Sastraprateja,1998:72):
Sila Ketuhanan Yang Mahaesa,
1. Hormat menghormati dapat dioperasionalkan seperti: setiap
terhadap keyakinan regius orang Indonesia seharusnya beriman
orang lain kepada Tuhan Yang Mahaesa, yang
2. Hormat terhadap martabat wujud perilakunya adalah
manusia sebagai pribadi atau menjalankan perintah ajaran
subyek yang tidak boleh agamanya masing, bertoleransi
direduksi sebagai obyek. terhadap orang lain yang menjalani
3. Kesatuan sebagai bangsa ajarannya agamanya. Kemudian
yang mengatasi segala mengamalkaan ajaran agama betul
sektarianisme memberi manfaat baagi kepentingan
4. Nilai-nilai terkait dengan orang lain/banyak. Sila Kemanusian
demokrasi konstitusional yang adil dan beradab, diwujudkan
5. Keadilan sosial persamaan dalam bentuk perilaku yang saling
(equlity) dan (equity) menghargai harkat dan martabat
manusia, kesamaan dalam
Dalam kontek revitalisasi kemasyarakatan dan hukum, saling
Pancasila tersebut, akan lebih efektif mengasihi, dan menyayangi satu
jika terimplementasikan dalam sama lain hingga mewujudkan
bentuk budaya perilaku masyarakat. kondisi yang serasi selaras dalam
JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, Vol. 2, No. 1, Januari 2017
E-ISSN 2527-7057, P-ISSN 2545-2683

masyarakat. Sila Persatuan dalam implementasi manusia sebagai


Indonesia, diwujudkan tiadanya indidu dan masyarakat. Nilai-nilai
diskriminasi individu dan antar Pancasila tersebut perlu
golongan, kesedian bekerjsasama direvitalisasikan melalui proses
untuk kepentingan bersama, deseminasi secara serius dan
bergotong royong, rela berkorban, menggunak strategi metode pendekat
senantiasa sama berupaya yang tepat dan rasional ilmiah, bukan
menciptakan kerukunan, mencitai indoktrinasi. Jangan pernah ada
tanah air dengan cara mencintai unsur pemaksaan, melalinkan
karya bangsa sendiri, dan lain-lain. pendekatan persuasive educkatif
Sila Kerakyatan yang dipimpin leh
hikmat kebijaksanaan dalam Disamping itu, praktek
permusyawaratan/perwakilan. Sila kehidupan dalam segala bidang
itu diwujud ke dalam menyelesaikan tercerminkan dalam etika setiap
masalah dengan musyawarah, orang dan kelompok. Misal nilai
demokrasi substansial, dan tidak kejujuran adalah selaras dengan Nilai
memaksakan kehendak, dan Pancasila. Oleh karena itu dalam
seterusnya. Sila keadilan sosial bagi bidang politik, maka etika politik
seluruh rakyat Indonesia, diwujudkan melahirkan perilaku politik yang
dalam bentuk perilaku menghargai jujur. Dalam bidang ekonomi, jujur
hak orang lain, karya cipta orang dalam berbisnis, dalam sosial jujur
lain, mengedepankan kewajiban sehingga dapat dipercai oleh sesama,
kemudian hak yang dilaksanakan dalam bidang hukum, jujur dalam
secara seimbang. penegaakan hukum, maka tercegah
mafia hukum, dalam bidang hankam,
Sekali lagi bentuk perilaku di bahwa jujur melahirkan kepercayaan
atas masih bersifat tentatif, dan dapat masyarakat pada penegak hukum,
dirinci lebih detil lagi sehingga betul- dan seterusnya.
betul menjadi pedoman perilaku
sebagai kaarakter setiap anak bangsa. Tuntunan operasional tersebut
Dalam implementasinya, pedoman di atas perlu dikaji secara bersama
tersebut harus bersifat penuntun dan terbuka sehingga hasil rumusan
perilaku bukan perilaku paksaan, operasional nilai Pancsila dapat
harus bersifat manusia, sesuai diterima oleh semua laapisan
dengan kodrat manusia, serta selaras masyarakat bangsa Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Budimansyah, Dasim, 2010, Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan untuk
Membangun Karakter Bangsa, Bandung: Widya Aksara Press.,
Furqon Hidayatullah, 2010, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban
Bangsa,Surakarta: UNS Press.
Hutcheon, Pat Duffy, 1999, Building Character dan Culture, London:
Greenwood Publishing Group, Inc.
Kaelan, 2011, Fungsi ancasila sebagai Paradigma Hukum dalam Menegakkan
Konstitusionalitas Indonesia, Yogyakarta: Sarasehan Nasional Pancasila,
Mahkamah Konstitusi RI dan Universitas Gajah Mada, 2-3 Mei 2011
Kaelan, 2007, Pendidikan Kewarganegaraan, Paradigma, Yogyakarta.
Sastraprateja, M., 1998, Pancasila sebagai Etos Pembangunan Nasional, Jurnal
Filsafat Pancasila: Nasionalisme dala m Perspektif Historis, Politis,
Yuridis, dan Filosofis, Yogyakarta:Pusat Studi Pancasila Univesitas Gajah
Mada
Syam, Mohammad Noor, 2009, Sistem Filsafat Pancasila (Tegak sebagai sistem
Kenegaraan Pancasila-UUD Proklamasi 1945, dalam Kongres Pancasila:
Pancasila dalam berbagai Perspektif, Jakarta: Setjend MK RI
PANCASILA SEBAGAI DASAR NEGARA
Deskripsi

Dalam Bab ini Anda akan mempelajari mengenaipengetahuan tentang hubungan


Pancasila dengan Pembukaan UUD Tahun 1945, Penjabaran Pancasila dalam
Batang Tubuh UUD tahun 1945, dan Implementasi Pancasila dalam pembuatan
kebijakan negara dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan serta
keamanan.

1. PENDAHULUAN

Dasar negara Indonesia, dalam pengertian historisnya merupakan hasil pergumulan


pemikiran para pendiri negara (The Founding Fathers) untuk menemukan landasan
atau pijakan yang kokoh untuk di atasnya didirikan negara Indonesia merdeka.
Walaupun rumusan dasar negara itu baru mengemuka pada masa persidangan
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),
namun bahan-bahannya telah dipersiapkan sejak awal pergerakan kebangsaan
Indonesia. Latif (2002: 5) menyebutkan bahwa setidaknya sejak dekade 1920-an
pelbagai kreativitas intelektual mulai digagas sebagai usaha mensintesiskan aneka
ideologi dan gugus pergerakan dalam rangka membentuk “blok historis” (blok
nasional) bersama demi mencapai kemerdekaan.
BPUPKI yang selanjutnya disebut dalam bahasa Jepang sebagai Dokuritsu Zyunbi
Tyoosakai (Badan Persiapan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan) dibentuk
pada 29 April 1945 sebagai realisasi janji kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus
1945 dari pemerintah Jepang. Anggota BPUPKI berjumlah 63 orang, termasuk Dr.
KRT. Radjiman Wedyodiningrat sebagai ketua, Itibangase Yosio (anggota luar
biasa yang berkebangsaan Jepang) dan R. Pandji Soeroso (merangkap Tata Usaha)
masing-masing sebagai wakil ketua. Pembicaraan mengenai rumusan dasar negara
Indonesia melalui sidang-sidang BPUPKI berlangsung dalam dua babak, yaitu:
pertama, mulai 29 Mei sampai 1 Juni 1945; dan kedua, mulai 10 Juli sampai 17 Juli
1945.
Pergumulan pemikiran dalam sejarah perumusan dasar negara Indonesia bermula
dari permintaan Dr. KRT. Radjiman Wedyodiningrat, selaku Ketua BPUPKI pada
29 Mei 1945 kepada anggota sidang untuk mengemukakan dasar (negara)
Indonesia merdeka. Untuk merespon permintaan Ketua BPUPKI, maka dalam masa
sidang pertama, yaitu 29 Mei sampai 1 Juni 1945, Muhammad Yamin dan
Soekarno mengajukan usul berhubungan dengan dasar negara. Soepomo juga
menyampaikan pandangannya dalam masa sidang ini namun hal yang dibicarakan
terkait aliran atau paham kenegaraan, bukan mengenai dasar negara.
Dalam pidato 1 Juni 1945, Soekarno menyebut dasar negara dengan menggunakan
bahasa Belanda,philosophische grondslag bagi Indonesia merdeka.
Philosophische grondslag itulah fundamen, filsafat, pikiran yang sedalam-
dalamnya, jiwa, hasrat yang sedalam-dalamnya untuk di atasnya didirikan gedung
Indonesia merdeka. Soekarno juga menyebut dasar negara dengan
istilah ‘weltanschauung’ atau pandangan hidup(Saafroedin Bahar, Ananda B.
Kusuma, dan Nannie Hudawati (peny.), 1995: 63, 69, 81, dan RM. A.B. Kusuma,
2004: 117, 121, 128-129).
Susunan nilai atau prinsip yang menjadi fundamen atau dasar negara pada masa
sidang pertama BPUPKI tersebut berbeda-beda. Usul Soekarno mengenai dasar
negara yang disampaikan dalam pidato 1 Juni 1945 terdiri atas lima dasar. Menurut
Ismaun, sebagaimana dikutip oleh Bakry (2010: 31), setelah mendapatkan masukan
dari seorang ahli bahasa, yaitu Muhammad Yamin yang pada waktu persidangan
duduk di samping Soekarno, lima dasar tersebut dinamakan oleh Soekarno sebagai
‘Pancasila’.
Untuk menampung usulan-usulan yang bersifat perorangan, dibentuklah panitia
kecil yang diketuai oleh Soekarno dan dikenal sebagai “Panitia Sembilan”.
Darirumusan usulan-usulan itu, Panitia Sembilan berhasil merumuskan
Rancangan Mukadimah (Pembukaan) Hukum Dasar yang dinamakan
“Piagam Jakarta” atauJakarta Charter oleh Muhammad Yamin pada 22 Juni
1945
Rumusan dasar negara yang secara sistematik tercantum dalam alinea keempat,
bagian terakhir pada rancangan Mukadimah tersebut adalah sebagai berikut:
1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-
pemeluknya
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sidang BPUPKI kedua, yaitu 10 Juli sampai 17 Juli 1945 merupakan masa
penentuan dasar negara Indonesia merdeka. Selain menerima Piagam Jakarta
sebagai hasil rumusan Panitia Sembilan, dalam masa sidang BPUPKI kedua juga
dibentuk panitia-panitia Hukum Dasar yang dikelompokkan menjadi tiga kelompok
Panitia Perancang Hukum Dasar. Sidang lengkap BPUPKI pada 14 Juli 1945
mengesahkan naskah rumusan Panitia Sembilan berupa Piagam Jakarta sebagai
Rancangan Mukadimah Hukum Dasar (RMHD) dan menerima seluruh Rancangan
Hukum Dasar (RHD) pada hari berikutnya, yaitu 16 Agustus 1945 yang sudah
selesai dirumuskan dan di dalamnya termuat Piagam Jakarta sebagai Mukadimah.
Setelah sidang BPUPKI berakhir pada 17 Juli 1945, maka pada 9 Agustus 1945
badan tersebut dibubarkan oleh pemerintah Jepang dan dibentuklah Panitia
Persiapan Kemerdekaan atau dalam bahasa Jepang disebutDokuritsu Zyunbi
Inkai yang kemudian dikenal sebagai“Panitia Persiapan Kemerdekaan
Indonesia” (PPKI) dengan mengangkat Soekarno sebagai ketua dan Moh.
Hatta sebagai wakil ketua. Panitia ini memiliki peranan yang sangat penting bagi
pengesahan dasar negara dan berdirinya negara Indonesia yang merdeka. Panitia
yang semula dikenal sebagai ‘Buatan Jepang’ untuk menerima “hadiah”
kemerdekaan dari Jepang tersebut, setelah takluknya Jepang di bawah tentara
Sekutu pada 14 Agustus 1945 dan proklamasi kemerdekaan negara Indonesia,
berubah sifat menjadi “Badan NasionalIndonesia” yang merupakan jelmaan
seluruh bangsa Indonesia.
Dalam sidang pertama PPKI, yaitu pada 18 Agustus 1945, berhasil disahkan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD NRI) yang disertai
dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.
Sebelum pengesahan, terlebih dahulu dilakukan perubahan atas Piagam Jakarta atau
Rancangan Mukadimah Hukum Dasar (RMHD) dan Rancangan Hukum Dasar
(RHD). Pengesahan dan penetapan setelah dilakukan perubahan atas Piagam
Jakarta tersebut tetap mencantumkan lima dasar yang diberi nama Pancasila. Atas
prakarsa Moh, Hatta, sila “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan
syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, dalam Piagam Jakarta sebagai
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tersebut
diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Dengan demikian, Pancasila
menurut Pembukaan UUD 1945 adalah sebagai berikut:
1) Ketuhanan Yang Maha Esa
2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
3) Persatuan Indonesia
4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan
5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia,
sebagaimana dikatakan oleh Soekarno (1960: 42) bahwa dalam mengadakan
Negara Indonesia merdeka itu “harus dapat meletakkan negara itu atas suatu meja
statis yang dapat mempersatukan segenap elemen di dalam bangsa itu, tetapi juga
harus mempunyai tuntunan dinamis ke arah mana kita gerakkan rakyat, bangsa
dan negara ini.” Selanjutnya Soekarno menegaskan dengan berkata, “Saya beri
uraian itu tadi agar saudara-saudara mengerti bahwa bagi Republik Indonesia,
kita memerlukan satu dasar yang bisa menjadi dasar statis dan yang bisa
menjadi leitstar dinamis. Leitstar adalah istilah dari bahasa Jerman yang berarti
‘bintang pimpinan’. Lebih lanjut, Soekarno mengatakan,“Kalau kita mencari satu
dasar yang statis yang dapat mengumpulkan semua, dan jikalau kita mencari suatu
leitstar dinamis yang dapat menjadi arah perjalanan, kita harus menggali
sedalam-dalamnya di dalam jiwa masyarakat kita sendiri…Kalau kita mau
memasukkan elemen-elemen yang tidak ada di dalam jiwa Indonesia, tidak
mungkin dijadikan dasar untuk duduk di atasnya.”

2.
PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI BANGSA DAN NEGARA

Dasar artinya landasan atau pondasi. Jika kita melihat orang membuat bangunan
rumah yang pertama dibuat adalah pondasi. Pondasi itu berasal dari batu kali, besi
cakar ayam dan adukan semen dengan pasir. Tujuannya agar kuat dan kokoh
sehingga dapat menahan bangunan yang berada di atasnya. Dasar negara adalah
suatu pondasi yang terdiri dari unsur yang kuat dan kokoh untuk mendirikan suatu
negara sehingga negara nantinya tidak runtuh dan bubar. Bagi kita dasar negara
kita adalah Pancasila yang telah terbukti mampu menjaga dan menahan negara kita
tidak runtuh dan bubar.
1. Pancasila sebagai ideologi terbuka
Ideologi adalah gabungan dari dua kata majemuk idea danlogos, yang berasal dari
bahasa Yunani eidos dan logos.Secara sederhana artinya suatu gagasan yang
berdasarkan pemikiran yang sedalam-dalamnya dan merupakan pemikiran filsafat.
Dalam arti kata luas adalah keseluruhan cita-cita, nilai-nilai dasar dan keyakinan-
keyakinan yang mau dijunjung tinggi sebagai pedoman normatif. Dalam arti ini
ideologi disebut terbuka. Dalam arti sempit ideologi adalah gagasan dan teori
yang menyeluruh tentang makna hidup dan nilai-nilai yang menyeluruh
tentang makna hidup dan nilai-nilai yang mau menentukan dengan mutlak
bagaimana manusia harus hidup dan bertindak.
Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia dapat diartikan sebagai suatu pemikiran
yang memuat pandangan dasar dan cita-cita mengenai sejarah, manusia,
masyarakat, hukum dan negara Indonesia yang bersumber dari kebudayaan
Indonesia. Pancasila sebagai ideologi nasional mengandung nilai-nilai budaya
bangsa Indonesia, yaitu cara berpikir dan cara kerja perjuangan.
Ciri khas ideolgi terbuka adalah nilai-nilai dan cita-citanya tidak dipaksakan
dari luar, melainkan digali dan diambil dari kekayaan rohani, moral dan
budaya masyarakatnya sendiri. Dasarnya dari konsensus (kesepakatan)
masyarakat, tidak diciptakan oleh negara, melainkan ditemukan dalam masyarakat
sendiri. Oleh sebab itu, ideologi terbuka adalah milik dari semua rakyat, masyarakat
dapat menemukan dirinya di dalamnya. Nilai-nilai dasar menurut pandangan negara
modern bahwa negara modern hidup dari nilai-nilai dan sikap-sikap dasarnya.
Ideologi terbuka adalah ideologi yang dapat berinteraksi dengan perkembangan
jaman dan adanya dinamika secara internal. Sumber semangat ideologi terbuka itu,
sebenarnya terdapat dalam penjelasan umum UUD 1945, yang menyatakan, “…
Terutama bagi negara baru dan negara muda, lebih baik hukum dasar yang tertulis
itu hanya memuat aturan-aturan pokok, sedangkan aturan-aturan yang
menyelenggarakan aturan pokok itu diserahkan kepada undang-undang yang lebih
mudah caramembuatnya, mengubahnya dan mencabutnya.”
Selanjutnya dinyatakan, “… Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam
hidupnya bernegara ialah semangat, semangat para penyelenggara negara,
semangat para pemimpin pemerintahan.”
Suatu ideologi yang wajar ialah bersumber atau berakar pada pandangan hidup
bangsa dan falsafah hidup bangsa. Dengan demikian, ideologi tersebut akan dapat
berkembang sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kecerdasan kehidupan
bangsa. Hal ini adalah suatu prasyarat bagi suatu ideologi. Berbeda halnya dengan
ideologi yang diimpor (dari luar negara), yang akan bersifat tidak wajar dan sedikit
banyak memerlukan pemaksaan oleh kelompok kecil manusia yang mengimpor
ideologi tersebut. Dengan demikian, ideologi tersebut bersifat tertutup. Kenyataan
ini telah terjadi dalam ideologi komunis yang diimpor ke berbagai negara, sehingga
ideologi ini tidak dapat bertahan lama, terbukti bubarnya negara Uni Soviet yang
paling ekstrim melaksanakan komunisme.
Pancasila berakar pada pandangan hidup bangsa dan falsafah bangsa,
sehingga memenuhi prasyarat suatu ideologi terbuka. Sekalipun ideologi ini
bersifat terbuka, tidak berarti bahwa keterbukaannya adalah sebegitu rupa sehingga
dapat memusnahkan atau meniadakan ieologi itu sendiri, hal mana merupakan suatu
yang tidak logis atau nalar. Suatu ideologi sebagai rangkuman gagasan-gagasan
dasar yang terpadu dan bulat tanpa kontradisi atau saling bertentangan dalam aspek-
aspeknya, pada hakekatnya berupa suatu tata nilai, di mana nilai dapat kita
rumuskan sebagai hal ikhwal buruk baiknya sesuatu, yang dalam hal ini ialah apa
yang dicita-citakan.

Faktor yang mendorong keterbukaan ideologi Pancasila adalah sebagai berikut:


a.
Kenyataan dalam proses pembangunan nasional dan dinamika msyarakat yang
berkembang secara cepat.
b.
Kenyataan menunjukkan bahwa bangkrutnya ideologiyang tertutup dan beku
cenderung meredupkan perkembangan dirinya, seperti bagaimana komunisme
ditinggalkan oleh sebagian besar negara-negara Eropa Timur dan Rusia.
c.
Pengalaman sejarah politik masa lampau, seperti dominasi pemerintah Orde Baru
untuk melaksanakan penataran Pedoman Penghayatan Pengalaman Pancasila
(P4), yang mana materi penataran P4 itu sesuatu yang dirumuskan oleh kemauan
pemerintah, bukan atas keinginan dari segenapkomponen masyarakat Indonesia,
sehingga hasilnya jauh dari harapan yang diinginkan.
d.
Tekad untuk memperkokoh kesadaran akan nilai-nilai dasar Pancasila yang bersifat
abadi dan hasrat mengembangkan secara kreatif dan dinamis dalam rangka
mencapai tujuan nasional.

Keterbukaan ideologi Pancasila ditujukan dalam penerapannya yang berbentuk


pola pikir yang dinamis dan konseptual dalam dunia modern. Kita mengenal
ada tiga tingkat nilai, yaitu nilai dasar yang tidak berubah, nilai
instrumental sebagai sarana mewujudkan nilai dasar yang dapat berubah
sesuai dengan keadaan, dan nilai praksis berupa pelaksanaan secara nyata
yang sesungguhnya. Nilai-nilai Pancasila dijabarkan dalam norma-norma dasar
Pancasila yang terkandung dan tercermin dalam Pembukaan UUD 1945. Nilai
atau norma dasar yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 ini tidak boleh
berubah atau diubah, karena itu adalah pilihan dan hasil kesepakatan (konsensus)
bangsa. Perwujudan dan pelaksanaan nilai-nilai instrumental adalah pasal-pasal
dari UUD 1945 yang dapat mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan jaman,
seperti yang telah dilaksanakan oleh MPR dengan melakukan Amandemen UUD
1945 di Era Reformasi ini. Contoh dari perubahan instrumental itu adalah
pemilihan Presiden yang berubah dari MPR kepada rakyat yang langsung
memilih. Sedangkan nilai-nilai praksis tercermin dalam undang-undang,
peraturan pemerintah dan seterusnya yang berhubungan dengan kenyataan
kehidupan dalam masyarakat. Baik nilai-nilai instrumental maupun nilai
praksis harus tetap mengandung jiwa dan semangat yang sama dengan nilai
dasarnya, yaitu Pancasila atau Pembukaan UUD 1945.

2. Batas-batas Keterbukaan Ideologi Pancasila


Sekalipun Pancasila memiliki sifat keterbukaan, namun ada batas-batas
keterbukaan itu yang tidak boleh dilanggar, yaitu sebagai berikut:
a.
Stabilitas nasional yang dinamis,
b.
Larangan terhadap ideologi Marxisme, Lenninisme dan Komunisme.
c.
Mencegah berkembangnya paham Liberalisme.
d.
Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan
bermasyarakat.
e.
Penciptaan norma-norma baru harus melalui konsensus.

3. HUBUNGAN PANCASILA DENGAN PEMBUKAAN UUD 1945

Berdasarkan ajaran Stuffen Theory dari Hans Kelsen, menurut Abdullah (1984:
71), hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 dapat
digambarkan sebagai berikut:
Gambar yang berbentuk piramida di atas menunjukkan Pancasila sebagai suatu cita-
cita hukum yang berada di puncak segi tiga. Pancasila menjiwai seluruh bidang
kehidupan bangsa Indonesia. Dengan kata lain, gambar piramida tersebut
mengandung pengertian bahwaPancasila adalah cerminan dari jiwa dan cita-cita
hukum bangsa Indonesia.
Pancasila sebagai cerminan dari jiwa dan cita-cita hukum bangsa Indonesia tersebut
merupakan norma dasar dalam penyelenggaraan bernegara dan yang menjadi
sumber dari segala sumber hukum sekaligus sebagai cita hukum (recht-idee), baik
tertulis maupun tidak tertulis di Indonesia. Citahukum inilah yang mengarahkan
hukum pada cita-cita bersama bangsa Indonesia. Cita-cita ini secara langsung
merupakan cerminan kesamaan-kesamaan kepentingan di antara sesama warga
bangsa. Dalam pengertian yang bersifat yuridis kenegaraan, Pancasila yang
berfungsi sebagai dasar negara tercantum dalam Alinea Keempat Pembukaan UUD
NRI Tahun 1945, yang dengan jelas menyatakan, “...maka disusunlah Kemerdekaan
Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia,
yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Indonesia yang berkedaulatan rakyat
dengan berdasar kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil
beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan
suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Sesuai dengan tempat keberadaan Pancasila yaitu pada Pembukaan UUD NRI
Tahun 1945, maka fungsi pokok Pancasila sebagai dasar negara pada hakekatnya
adalahsumber dari segala sumber hukum atau sumber tertib hukum di
Indonesia, sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 (Jo.
Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978). Hal ini mengandung konsekuensi yuridis, yaitu
bahwa seluruh peraturan perundang-undangan Republik Indonesia (Ketetapan MPR,
Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden dan Peraturan-
peraturan Pelaksanaan lainnya yang dikeluarkan oleh negara dan pemerintah
Republik Indonesia) harus sejiwa dan sejalan dengan Pancasila. Dengan kata
lain, isi dan tujuan Peraturan Perundang-undangan RI tidak boleh
menyimpang dari jiwa Pancasila.
Berdasarkan penjelasan di atas, hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD NRI
tahun 1945 dapat dipahami sebagai hubungan yang bersifat formal dan material.
Hubungan secara formal, seperti dijelaskan oleh Kaelan (2000: 90-91), menunjuk
pada tercantumnya Pancasila secara formal di dalam Pembukaan yang mengandung
pengertian bahwa tata kehidupan bernegara tidak hanya bertopang pada asas sosial,
ekonomi, politik, akan tetapi dalam perpaduannya dengan keseluruhan asas yang
melekat padanya, yaitu perpaduan asas-asas kultural, religius dan asas-asas
kenegaraan yang unsur-unsurnya terdapat dalam Pancasila. Dalam hubungan yang
bersifat formal antara Pancasila dengan Pembukaan UUD NRI tahun 1945 dapat
ditegaskan bahwa rumusan Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia
adalah sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD NRI tahun 1945 alinea
keempat. Menurut Kaelan (2000: 91), Pembukaan UUD NRI tahun 1945 merupakan
Pokok Kaedah Negara yang Fundamental sehingga terhadaptertib hukum
Indonesia mempunyai dua macam kedudukan, yaitu: 1) sebagai dasarnya, karena
Pembukaan itulah yang memberikan faktor-faktor mutlak bagi adanya tertib hukum
Indonesia; 2) memasukkan dirinya di dalam tertib hukum tersebut sebagai tertib
hukum tertinggi.

Pembukaan yang berintikan Pancasila merupakan sumber bagi batang tubuh UUD
NRI tahun 1945. Hal ini disebabkan karena kedudukan hukum Pembukaan berbeda
dengan pasal-pasal atau batang tubuh UUD NRI tahun 1945, yaitu bahwa selain
sebagai Mukadimah, Pembukaan UUD NRI tahun 1945 mempunyai kedudukan atau
eksistensi sendiri. Akibat hukum dari kedudukan Pembukaan ini adalah memperkuat
kedudukan Pancasila sebagai norma dasar hukum tertinggi yang tidak dapat diubah
dengan jalan hukum dan melekat pada kelangsungan hidup Negara Republik
Indonesia. Lebih lanjut, Kaelan (2000: 91-92) menyatakan bahwa Pancasila adalah
substansi esensial yang mendapatkan kedudukan formal yuridis dalam Pembukaan
UUD NRI tahun 1945. Oleh karena itu, rumusan dan yuridiksi Pancasila sebagai
dasar negara adalah sebagaimana terdapat dalam Pembukaan UUD NRI tahun 1945.
Perumusan Pancasila yang menyimpang dari Pembukaan secara jelas merupakan
perubahan secara tidak sah atas Pembukaan UUD NRI tahun 1945.
Adapun hubungan Pancasila dengan Pembukaan UUD NRI tahun 1945 secara
material adalah menunjuk pada materi pokok atau isi Pembukaan yang tidak lain
adalah Pancasila. Oleh karena kandungan material Pembukaan UUD NRI tahun
1945 yang demikian itulah maka Pembukaan UUD NRI tahun 1945 dapat disebut
sebagai Pokok Kaedah Negara yang Fundamental, sebagaimana dinyatakan oleh
Notonagoro (tt.: 40), esensi atau inti sari Pokok Kaedah Negara yang Fundamental
secara material tidak lain adalah Pancasila.
Menurut pandangan Kaelan (2000: 92), bilamana proses perumusan Pancasila dan
Pembukaan ditinjau kembali maka secara kronologis materi yang dibahas oleh
BPUPKI yang pertama-tama adalah dasar filsafat Pancasila, baru kemudian
Pembukaan. Setelah sidang pertama selesai, BPUPKI membicarakan Dasar Filsafat
Negara Pancasila dan berikutnya tersusunlah Piagam Jakarta yang disusun oleh
Panitia Sembilan yang merupakan wujud pertama Pembukaan UUD NRI tahun
1945.
Dalam tertib hukum Indonesia diadakan pembagian yang hirarkis. Undang-Undang
Dasar bukanlah peraturan hukum yang tertinggi. Di atasnya masih ada dasar
pokok bagi Undang-Undang Dasar, yaitu Pembukaan sebagai Pokok Kaedah
Negara yang Fundamental yang di dalamnya termuat materi Pancasila. Walaupun
Undang-Undang Dasar itu merupakan hukum dasar Negara Indonesia yang tertulis
atau konstitusi, namun kedudukannya bukanlah sebagai landasan hukum yang
terpokok.
Menurut teori dan keadaan, sebagaimana ditunjukkan oleh Bakry (2010: 222),
Pokok Kaedah Negara yang Fundamental dapat tertulis dan juga tidak tertulis.
Pokok Kaedah yang tertulis mengandung kelemahan, yaitu sebagai hukum positif,
dengan kekuasaan yang ada dapat diubah walaupun sebenarnya tidak sah. Walaupun
demikian, Pokok Kaedah yang tertulis juga memiliki kekuatan, yaitu memiliki
formulasi yang tegas dan sebagai hukum positif mempunyai sifat imperatif yang
dapat dipaksakan.
Pokok Kaedah yang tertulis bagi negara Indonesia pada saat ini diharapkan tetap
berupa Pembukaan UUD NRI tahun 1945. Pembukaan UUD NRI tahun 1945 tidak
dapat diubah karena menurut Bakry (2010: 222), fakta sejarah yang terjadi hanya
satu kali tidak dapat diubah. Pembukaan UUD NRI tahun 1945 dapat juga tidak
digunakan sebagai Pokok Kaedah tertulis yang dapat diubah oleh kekuasaan yang
ada, sebagaimana perubahan ketatanegaraan yang pernah terjadi saat berlakunya
Mukadimah Konstitusi RIS 1949 dan Mukadimah UUDS 1950.
Sementara itu, Pokok Kaedah yang tidak tertulis memiliki kelemahan, yaitu karena
tidak tertulis maka formulasinya tidak tertentu dan tidak jelas sehingga mudah tidak
diketahui atau tidak diingat. Walaupun demikian, Pokok Kaedah yang tidak tertulis
juga memiliki kekuatan, yaitu tidak dapat diubah dan dihilangkan oleh kekuasaan
karena bersifat imperatif moral dan terdapat dalam jiwa bangsa Indonesia (Bakry,
2010: 223).
Pokok Kaedah yang tidak tertulis mencakup hukum Tuhan, hukum kodrat,
dan hukum etis. Pokok Kaidah yang tidak tertulis adalah fundamen moral
negara, yaitu ‘Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang
adil dan beradab.

4. PENJABARAN PANCASILA DALAM BATANG TUBUH UUD 1945

.
Pengakuan Demokrasi Dalam Pancasila
Indonesia merupakan sebuah negara kesatuan yang berbentuk Republik Indonesia,
hal ini sesuai dengan pasal 1 UUD 1945, negara kita ialah negara kesatuan yang
berbentuk Republik. Dengan berbentuk negara kesatuan Republik Indonesia maka
negara kita bernafaskan sistem pemerintahan yang Demokrasi yaitu Demokrasi
mengacu pada nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yang dijadikan sebagai
landasan idiil oleh masyarakat Indonesia. Melalui sistem demokrasi ini,
rakyat memiliki kebebasan dalam menentukan keinginan dan pelaksanaannya.
Sebagai negara kesatuan Republik Indonesia yang bernafaskan demokrasi.
Indonesia telah menjadikan demokrasi sebagai suatu sistem alternatif dalam
berbagai tatanan aktivitas bermasyarakat dan bernegara di beberapa negara. Seperti
diakui oleh Moh. Mahfud MD, ada dua alasan dipilihnya demokrasi sebagai
sistem bermasyarakat dan bernegara. Pertama, hampir semua negara di dunia ini
telah menjadikan demokrasi sebagai asas yang fundamental. Kedua, demokrasi
sebagai asas kenegaraan secara esensial telah memberikan arah bagi peranan
masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertingginya. Karena
itu diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang benar pada warga masyarakat
tentang demokrasi. (Mahfud MD, Moh, 1999, hlm. 111)
Hakekat demokrasi sebagai suatu sistem bermasyarakat dan bernegara serta
pemerintahan memberikan penekanan pada keberadaan kekuasaan di tangan rakyat
baik dalam penyelenggaraan negara maupun pemerintahan (Widjaja, 2002,
hlm.197)

B. Pengakuan Hak Asasi Manusia Dalam Negara Pancasila.


1. Hak Asasi Manusia Dalam Perundang-undangan
Pengaturan HAM dalam ketatanegaraan RI terdapat dalam perundang- undangan
yang dijadikan acuan normatif dalam pemajuan dan perlindungan HAM. Dalam
perundang-undangan RI paling tidak ada empat bentuk hukum tertulis yang memuat
aturan tentang HAM. Pertama, dalam konstitusi (Undang-undang Dasar
Negara). Kedua, dalam ketetapan MPR (TAP MPR). Ketiga, dalam Undang-
Undang. Keempat, dalam peraturan pelaksanaan perundang-undangan seperti
Peraturan Pemerintah, Keputusan Presiden, dan peraturan pelaksanaan lainnya.
(Tim ICCE UIN Jakarta, 2003, hlm. 221)
2. Hubungan Pancasila dengan UUD 1945
Pancasila dasar negara kita dirumuskan dari nilai-nilaikehidupan masyarakat
Indonesia yang berasal dari pandangan hidup bangsa yang merupakan
kepribadianbangsa, perjanjian luhur serta tujuan yang hendak diwujudkan. Karena
itu Pancasila dijadikan ideologi negara.
Pancasila merupakan kesadaran cita-cita hukum serta cita-cita moral luhur yang
memiliki suasana kejiwaan serta watak bangsa Indonesia, melandasi Prolamasi
Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945.
Untuk mewujudkan tujuan Proklamasi Kemerdekaan maka Panitia Persiapan
Kemerdekaan Indonesia (PPKI) telah menetapkan UUD 1945 merupakan hukum
dasar yang tertulis yang mengikat pemerintah, setiap lembaga/masyarakat,
warga negara dan penduduk RIpada tanggal 18 Agustus 1945. Dalam
Pembukaannya terdapat pokok-pokok pikiran tentang kehidupan bermasyarakat,
bernegara yang tiada lain adalah Pancasila pokok-pokok pikiran tersebut yang
diwujudkan dalam pasal-pasal batang tubuh UUD 1945 yang merupakan aturan
aturan pokok dalam garis-garis besar sebagai instruksi kepada pemerintah dan lain-
lain penyelenggara negara untuk melaksanakan tugasnya.
Jadi pancasila itu di samping termuat dalam pembukaan UUD 1945 (rumusannya
dan pokok-pokok pikiran yang terkandung di dalamnya) dijabarkan secara pokok
dalam wujud pasal-pasal Batang Tubuh UUD 1945.
UUD bukanlah hukum dasar biasa, melainkan hukum dasar yang merupakan
sumber hukum. Setiap produk hukum misalnya undang-undang, peraturan
pemerintah atau keputusan pemerintah, bahkan setiap kebijaksanaan pemerintah
haruslah berlandaskan atau bersumberkan pada peraturan yang lebih tinggi, yang
pada akhirnya dapat dipertanggungjawabkan pada ketentuan UUD 1945.
Di samping UUD, masih ada hukum dasar yang tidak tertulis yang juga merupakan
sumber hukum, yang menurut Penjelasan UUD 1945 merupakan “aturan-aturan
dasar yang timbul dan terpelihara dalam praktek penyelengaraannegara, meskipun
tidak tertulis”. Inilah yang dimaksudkan dengan konvensi atau kebiasaan
ketatanegaraan sebagai pelengkap atau pengisi kekosongan yang timbul dari
praktek kenegaraan, karena aturan tersebut tidak terdapat dalam UUD.
UUD 1945 yang hanya terdiri dari 37 pasal ditambah dengan 3 pasal Aturan
Peralihan dan 2 pasal Aturan Tambahan, maka UUD 1945 termasuk singkat
dan bersifat supel atau fleksibel. Dalam hubungan ini penjelasan UUD 1945
mengemukakan bahwa telah cukuplah kalau UUD hanya memuat aturan-aturan
pokok garis-garis besar sebagai intruksi kepada Pemerintah pusatdan lain-lain
penyelengaraan negara untuk menyelenggarakan kehidupan negara. Jadi kita harus
menjadikan supaya sistem UUD jangan sampai ketinggalan jaman ialah semangat
para pemimpin pemerintahan, yaitu semangat yang dinamis, positif dan konstruktif
seperti yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945.

Pancasila, UUD 1945 dan Proklamasi 17 Agustus 1945 mempunyai hubungan


dalam dua aspek, yaitu aspek kesejarahan, dan aspek kemakmuran. Hubungan
aspek kesejarahan, yaitu bahwa riwayat singkat perumusan dan kesepakatan
Pancasila bersama dengan perumusan naskah Proklamasi dan UUD, yang dilakukan
oleh para tokoh perjuangan kemerdekaan dan pendiri negara RI yang tergabung
dalam BPUPKI dan PPKI dari tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 18
Agustus 1945. Hubungan aspek kemakmuran, yaitu bahwa rumusan Pancasila
tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang merupakan pokok kaedah negara
fundamental, dengan demikian Pancasila mempunyai hakekat, sifat dan kedudukan
serta fungsi sebagai pokok kaedah negara fundamental, sebagai dasar kelangsungan
hidup negara RI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
NKRI yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dengan Pancasila
sebagai dasar Negaranya dan UUD 1945 sebagai hukum dasar tersebut,
merupakanpuncak perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia.Corak
pergerakan perjuangan kemerdekaan tersebut dapat dibagi atas tiga corak, yaitu ada
yang bercorak kebangsaan, ada yang bercorak religius dan ada yang bercorak
sosiolistik.
Pergerakan perjuangan yang bercorak kebangsaan yaitu pergerakan yang bertujuan
untuk mendirikan negara merdeka yang menjadi milik semua orang dan golongan
dalam masyarakat, urusan agama tidak termasuk urusan negara.
Pergerakan perjuangan yang bercorak religius, yaitu pergerakan yang bertujuan
untuk mendirikan negara merdeka dengan agama Islam sebagai dasarnya.
Pergerakan perjuangan yang bercorak sosiolistik, negara merdeka dengan dasar
sosiolistik, negara merdeka dengan dasar sosiolisme dan komunisme.

5. IMPLEMENTASI PANCASILA DALAM PEMBUATAN KEBIJAKAN


NEGARA DALAM BIDANG POLITIK, EKONOMI, SOSIAL BUDAYA,
DAN HANKAM

Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem


nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir atau jelasnya
sebagaisistem nilai yang dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan
sekaligus kerangka arah/tujuan bagi “yang menyandangnya”.
Yang menyandangnya itu di antaranya:
1.
Bidang Politik
2.
Bidang Ekonomi
3.
Bidang Sosial Budaya
4.
Bidang Hankam

1. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Politik


Manusia Indonesia selaku warga negara harus ditempatkan sebagai subyek atau
pelaku politik bukansekadar obyek politik. Pancasila bertolak dari kodrat manusia
maka pembangunan politik harus dapat meningkatkan harkat dan martabat
manusia. Sistem politik Indonesia yang bertolak dari manusia sebagai subyek
harus mampu menempatkan kekuasaan tertinggi pada rakyat. Kekuasaan
adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Sistem politik Indonesia yang
sesuai Pancasila sebagai paradigma adalah sistem politik demokrasi bukan
otoriter.
Berdasar hal itu, sistem politik Indonesia harus dikembangkan atas asas
kerakyatan (sila keempatPancasila). Pengembangan selanjutnya adalah sistem
politik didasarkan pada asas-asas moral daripada sila-sila pada Pancasila.
Perilaku politik, baik dari warga negara maupun penyelenggara negara
dikembangkan atas dasar moral tersebut sehingga menghasilkan perilaku politik
yang santun dan bermoral.
Pancasila sebagai paradigma pengembangan sosial politik diartikan bahwa
Pancasila bersifat sosial-politik bangsa dalam cita-cita bersama yang ingin
diwujudkan dengan menggunakan nilai-nilai dalam Pancasila. Pemahaman
untuk implementasinya dapat dilihat secara berurutan-terbalik:
• Penerapan dan pelaksanaan keadilan sosial mencakup keadilan politik, budaya,
agama, dan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari;
•Mementingkan kepentingan rakyat (demokrasi) bilamana dalam pengambilan
keputusan;
• Melaksanakan keadilan sosial dan penentuan prioritas kerakyatan berdasarkan
konsep mempertahankan persatuan;
• Dalam pencapaian tujuan keadilan menggunakan pendekatan kemanusiaan
yang adil dan beradab;
• Tidak dapat tidak; nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, persatuan, dan
kemanusiaan (keadilan-keberadaban) tersebut bersumber pada nilai Ketuhanan
Yang Maha Esa.

Di era globalisasi informasi seperti sekarang ini, implementasi tersebut perlu


direkonstruksi kedalam perwujudan masyarakat-warga (civil society) yang
mencakup masyarakat tradisional (berbagai asal etnik, agama, dan golongan),
masyarakat industrial, dan masyarakat purna industrial. Dengan demikian, nilai-
nilai sosial politik yang dijadikan moral baru masyarakat informasi adalah:
~ nilai toleransi;
~ nilai transparansi hukum dan kelembagaan;
~ nilai kejujuran dan komitmen (tindakan sesuai dengan kata);
~ bermoral berdasarkan konsensus (Fukuyama dalam Astrid: 2000:3).
2. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi
Sesuai dengan paradigma Pancasila dalam pembangunan ekonomi maka sistem dan
pembangunan ekonomi berpijak pada nilai moral daripada Pancasila. Secara
khusus, sistem ekonomi harus mendasarkan pada dasar moralitas Ketuhanan
(sila kesatu Pancasila) dan Kemanusiaan ( sila kedua Pancasila). Sistem
ekonomi yang mendasarkan pada moralitas dan humanistis akan
menghasilkan sistem ekonomi yang berperikemanusiaan. Sistem ekonomi yang
menghargai hakekat manusia, baik selaku makhluk individu, sosial,makhluk pribadi
maupun makhluk Tuhan.
Sistem ekonomi yang berdasar Pancasila berbeda dengan sistem ekonomi liberal
yang hanya menguntungkan individu-individu tanpa perhatian pada manusia lain.
Sistem ekonomi demikian juga berbeda dengan sistem ekonomi dalam sistem
sosialis yang tidak mengakui kepemilikan individu.
Pancasila bertolak dari manusia sebagai totalitas dan manusia sebagai
subyek. Oleh karena itu, sistem ekonomi harus dikembangkan menjadi sistem dan
pembangunan ekonomi yang bertujuan pada kesejahteraan rakyat secara
keseluruhan. Sistem ekonomi yang berdasar Pancasila adalah sistem ekonomi
kerakyatan yang berasaskan kekeluargaan. Sistem ekonomi Indonesia juga tidak
dapat dipisahkan dari nilai-nilai moral kemanusiaan.
Pembangunan ekonomi harus mampu menghindarkan diri dari bentuk-bentuk
persaingan bebas, monopoli dan bentuk lainnya yang hanya akan menimbulkan
penindasan, ketidakadilan, penderitaan, dan kesengsaraan warga negara.
Dalam Ekonomi Kerakyatan, politik/kebijakan ekonomi harus untuk sebesar-
besar kemakmuran/kesejahteraan rakyat, yang harus mampu mewujudkan
perekonomian nasional yang lebih berkeadilan bagi seluruh warga masyarakat
(tidak lagi yang seperti selama Orde Baru yang telah berpihak pada ekonomi
besar/konglomerat). Politik Ekonomi Kerakyatan yang lebih memberikan
kesempatan, dukungan, dan pengembangan ekonomi rakyat yangmencakup
koperasi, usaha kecil, dan usaha menengah sebagai pilar utama pembangunan
ekonomi nasional.
Dengan demikian, Ekonomi Kerakyatan akan mampu memberdayakan
daerah/rakyat dalam berekonomi, sehingga lebih adil, demokratis, transparan, dan
partisipatif. Dalam Ekonomi Kerakyatan, Pemerintah Pusat (Negara) yang
demokratis berperan memaksakan pematuhan peraturan-peraturan yang bersifat
melindungi warga atau meningkatkan kepastian hukum.

3. Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Sosial Budaya


Pancasila pada hakekatnya bersifat humanistik karena memang Pancasila bertolak
dari hakekat dan kedudukan kodrat manusia itu sendiri. Hal ini sebagaimana
tertuang dalam sila Kemanusiaan yang adil dan beradab. Oleh karena itu,
pembangunan sosial budaya harus mampu meningkatkan harkat dan martabat
manusia, yaitu menjadi manusia yang berbudaya dan beradab. Pembangunan
sosial budaya yang menghasilkan manusia-manusia biadab, kejam, brutal dan
bersifat anarkis jelas bertentangan dengan cita-cita menjadi manusia adil dan
beradab.
Manusia tidak cukup sebagai manusia secara fisik, tetapi harus mampu
meningkatkan derajat kemanusiaannya. Manusia harus dapat mengembangkan
dirinya dari tingkat homo
menjadi human. Berdasar sila Persatuan Indonesia, pembangunan sosial budaya
dikembangkan atas dasar penghargaan terhadap nilai sosial dan budaya-
budaya yang beragam di seluruh wilayah Nusantara menuju pada tercapainya
rasa persatuan sebagai bangsa.
Perlu ada pengakuan dan penghargaan terhadap budaya dan kehidupan sosial
berbagai kelompok bangsa Indonesia sehingga mereka merasa dihargai dan diterima
sebagai warga bangsa. Dengan demikian, pembangunan sosial budaya tidak
menciptakan kesenjangan, kecemburuan, diskriminasi, dan ketidakadilan sosial.
Paradigma-baru dalam pembangunan nasional berupa paradigma pembangunan
berkelanjutan, yang dalam perencanaan dan pelaksanaannya perlu diselenggarakan
denganmenghormati hak budaya komuniti-komuniti yang terlibat, di samping
hak negara untuk mengatur kehidupan berbangsa dan hak asasi individu
secara berimbang (Sila Kedua).
Hak budaya komuniti dapat sebagai perantara/penghubung/penengah antara hak
negara dan hak asasi individu. Paradigma ini dapat mengatasi sistem perencanaan
yang sentralistik dan yang mengabaikan kemajemukan masyarakat dan
keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Dengan demikian, era Otonomi Daerah
tidak akan mengarah pada otonomi suku bangsa tetapi justru akan memadukan
pembangunan lokal/daerah dengan pembangunan regional dan pembangunan
nasional (Sila Keempat), sehingga ia akan menjamin keseimbangan dan pemerataan
(Sila Kelima) dalam rangka memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa yang akan
sanggup menegakkan kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI (Sila Ketiga).
Apabila dicermati, sesungguhnya nilai-nilai Pancasila itu memenuhi kriteria sebagai
puncak-puncak kebudayaan, sebagai kerangka-acuan-bersama, bagi kebudayaan -
kebudayaan di daerah:
(1)
Sila Pertama, menunjukan tidak satu pun sukubangsa ataupun golongan sosial dan
komuniti setempat di Indonesia yang tidak mengenal kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa;
(2) Sila Kedua, merupakan nilai budaya yang dijunjungtinggi oleh segenap
WNI tanpa membedakan asal-usul kesukubangsaan, kedaerahan, maupun
golongannya;
(3) Sila Ketiga, mencerminkan nilai budaya yang menjadi kebulatan tekad
masyarakat majemuk di kepulauan nusantara untuk mempersatukan diri
sebagai satu bangsa yang berdaulat;
(4) Sila Keempat, merupakan nilai budaya yang luas persebarannya di
kalangan masyarakat majemuk Indonesia untuk melakukan kesepakatan
melalui musyawarah. Sila ini sangat relevan untuk mengendalikan nilai-nilai
budaya yang mendahulukan kepentingan perorangan;
(5) Sila Kelima, betapa nilai-nilai keadilan sosial itu menjadi landasan yang
membangkitkan semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam memajukan
kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikutserta
melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian
abadi, dan keadilan sosial.

3. Pancasila Sebagai Paradigma Dalam Kebijakan Hankam


Dasar-dasar kemanusiaan yang beradab merupakan basis moralitas pertahanan
dan keamanan negara. Maka dari itu pertahanan dan keamanan negara harus
mendasarkan pada tujuan demi terjaminnya harkat dan martabat manusia,
terutama secara rinci terjaminnya hak-hak asasi manusia. Dengan adanya tujuan
tersebut maka pertahanan dan keamanan negara harus dikembangkan
berdasarkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, guna mencapai tujuan
yaitu demi tercapainya kesejahteraan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan
YME (sila kedua), Pancasila juga harus mendasarkan pada tujuan demi
kepentingan warga sebagai warga negara (sila ketiga), pertahanan keamanan
harus mampu menjamin hak-hak dasar, persamaan derajat serta kebebasan
kemanusiaan (sila keempat) dan akhirnya pertahanan keamanan haruslah
diperuntukkan demi terwujudnya keadilan dalam hidup masyarakat atau
terwujudnya suatu keadilan sosial (sila kelima) dan diharapkan negara benar-
benar meletakkan pada fungsi yang sebenarnya sebagai negara hukum dan
bukannya suatu negara yang berdasarkan atas kekuasaan sehingga
mengakibatkan suatu pelanggaran terhadap hak asasi manusia.

Pengembangan Hankam negara tetap bertumpu dan berpegang pada pendekatan


historis Sishankamrata. Sishankamrata yang kita anut selama ini adalah sistem
pertahanan dan keamanan negara yang hakekatnya adalah perlawanan rakyat
semesta. Dalam arti bahwa kemampuan penangkalan yang diwujudkan oleh sistem
ini, sepenuhnya disandarkan kepada partisipasi, semangat dan tekad rakyat yang
diwujudkan dengan kemampuan bela negara yang dapat diandalkan. Kesemestaan
harus dibina sehingga seluruh kemampuan nasional dimungkinkan untuk dilibatkan
guna menanggulangi setiap bentuk ancaman, baik yang datang dari dalam maupun
luar negeri. .

Seluruh wilayah merupakan tumpuan perlawanan dan segenap lingkungan harus


dapat didayagunakan untuk mendukung setiap bentuk dan kesemestaan, memang
menuntut pemanduan upaya lintas sektoral serta pemahaman dari semua pihak, baik
yang berada di suprastruktur politik maupun di infrastruktur politik. Corak
perlawanan rakyat semesta tersebut dengan sendirinya merupakan kebutuhan, baik
konteks kesiapan menghadapi pengaruh sosial yang setiap saat bisa terjadi, maupun
menghadapi pengaruh bidang hankam. Di samping itu TNI juga mendapat tugas
bantuan yang meliputi : Pertama, membantu penyelenggaraan kegiatan
kemanusiaan. Kedua, memberikan bantuan kepada kepolisian atas
permintaan. Ketiga, membantu tugas pemeliharaan perdamaian
Presiden memegang kekuasaan yang tertinggi atas AD, AL dan AU, apapun
namanya dapat dimaknakan bahwa Presiden adalah Panglima Tertinggi TNI.
Hanya saja untuk kepentingan apa kewenangan tersebut digunakan dapat kita
lihat yaitu dalam fungsi TNI sebagai alat pertahanan ketika negara dalam
keadaan perang dan dalam pengerahan TNI untuk tugas penegak
kedaulatan dan penjaga keutuhan wilayah nasional ketika negara dalam
keadaan bahaya sebagaimana ditetapkan dengan Undang Undang dalam
keadaan darurat militer. Sebaliknya hal ini dapat diartikan bahwakewenangan
Panglima Tertinggi tidak dapat digunakan untuk bidang lain di luar fungsi
pertahanan negara, seperti untuk kepentingan sosial politik. Apabila
kewenangan ini digunakan dalam bidang sosial politik maka akan terjadi
penyalahgunaan TNI untuk mendukung kekuasaan Presiden. Kewenangan inipun
diharapkan untuk tidak digunakan untuk mencampuri manajemen internal TNI,
sesuai dengan kriteria hubungan sipil-militer yang sehat. Dalam alur hubungan
sipil-militer yang sehat, alasan dan tujuan penggunaan militer senantiasa
merupakan keputusan politik, namun penentuan penyiapan kekuatan dan cara
untuk mencapai tujuan tersebut akan merupakan domain manajemen internal
TNI. Harus jelas dan dipatuhi batas yang membedakan kewenangan politik dan
kewenangan profesional.
Dalam melaksanakan pengelolaan pertahanan keamanan negara, Presiden
dibantu seorang Menteri untuk fungsi pembinaan kemampuan pertahanan
keamanan negara dan upaya pendayagunaan sumber daya nasional untuk
kepentingan pertahanan keamanan negara, dan Panglima Angkatan Bersenjata
dalam fungsi pembinaan dan penggunaan setiap komponen kekuatan pertahanan
keamanan negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Daftar Pustaka

Latif, Yudi, 2011, Negara Paripurna (Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas


Pancasila), PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Pancasila Sebagai Paradigma Pembangunan Pertahanan dan
Keamanan, :http://www.harypr.com/
PSP UGM dan Yayasan TIFA, Pancasila Dasar Negara Kursus Presiden
Soekarno tentang Pancasila, Edisi ke 1, Cetakan ke 1, Aditya Media
bekerjasama dengan Pusat Studi Pancasila (PSP), Yogyakarta dan Yayasan
TIFA Jakarta
Saksono. Ign. Gatut, 2007, Pancasila Soekarno (Ideologi Alternatif Terhadap
Globalisasi dan Syariat Islam), CV Urna Cipta Media Jaya
Syarbaini, Syahrial, 2012, Pendidikan Pancasila (Implementasi Nilai-Nilai
Karakter Bangsa) di Perguruan Tinggi, Ghalia Indonesia, Bogor.
Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi
Prosiding Seminar Nasional Tahunan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Medan Tahun 2017 http://semnasfis.unimed.ac.id e-
ISSN: 2549-5976 p-ISSN: 2549-435X 430

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI NEGARA DAN


RELEVANSINYA SAAT INI
Citra Magdalena Butar-Butar Sekolah Dasar Negeri 030277
Sidikalang Corresponding author: magdalena_citra@gmail.com

Abstrak
Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia dimaksudkan bahwa
Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan suatu hasil perenungan atau
pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana ideologi –ideologi lain di
dunia, namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat, nilai-nilai kebudayaan
serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia
sebelum membentuk negara.
Kata kunci : Pancasila, ideology Negara, relevansinya

PENDAHULUAN
Pancasila sebagai ideologi bangsa artinya setiap warga negara Republik Indonesia
terikat oleh ketentuan-ketentuan yang sangat mendasar yang tertuang dalam sila yang
lima. Kadang-kadang kedua istilah tersebut, disatukan menjadi Pancasila sebagai
Ideologi Bangsa dan Negara Indonesia. Pancasila sebagai Ideologi Bangsa dan Negara
Indonesia dimaksudkan bahwa Pancasila pada hakikatnya bukan hanya merupakan
suatu hasil perenungan atau pemikiran seseorang atau kelompok orang sebagaimana
ideologi –ideologi lain di dunia, namun Pancasila diangkat dari nilai-nilai adat-istiadat,
nilai-nilai kebudayaan serta nilai-nilai religius yang terdapat dalam pandangan hidup
masyarakat Indonesia sebelum membentuk negara. Dengan perkataan lain unsur-unsur
yang merupakan materi (bahan) Pancasila tidak lain diangkat dari pandangan hidup
masyarakat Indonesia sendiri, sehingga bangsa ini merupakan kausa materialis
Pancasila.
PEMBAHASAN
Pancasila merupakan Dasar Falsafah Negara atau Ideologi Negara, karena memuat
norma-norma yang paling mendasar untuk mengukur dan menentukan keabsahan
bentuk-bentuk penyelenggaraan negara serta kebijaksanaankebijaksanaan penting yang
diambil dalam proses pemerintahan (Soerjanto Poespowardojo, 1991:44). Pancasila
sebagai ideologi negara berarti Pancasila merupakan ajaran, doktrin, teori dan/atau
ilmu tentang cita-cita (ide) bangsa Indonesia yang diyakini kebenarannya, disusun
secara sistematis serta diberi petunjuk dengan pelaksanaan yang jelas. Namun dengan
kenyataan saat ini dalam pengimplementasian pancasila saat ini sudah banyak terjadi
permasalahannya karena ulah manusia yang tidak sesuai melaksanakan makna dan
tujuan dari pancasila tersebut sehingga banyak penyelewengan yang terjadi di negara
kita ini dan dalam kasusnya tentang hal dalm menghargai satu sama lain masih juga
banyak permasalahan yang terjadi dan banyak hal lainnya yaitu seperti dalam budaya
juga dalam negara ini masih banyak permasalahan yang terjadi maka dari itu
diperlukan kesadaran bangsa Indonesia dalam pengimplementasian nilai – nilai
pancasila dalam kehidupan sehari – harinya. Susunan hierarkhis dan berbentuk
piramidal, intinya bahwa urut-urutan lima sila menunjukkan suatu rangkaian tingkat
dalam luasnya dan isi-sifatnya, merupakan pengkhususan dari sila-sila yang
dimukanya. Dalam susunan hierarkhis dan berbentuk piramidal, maka Ketuhanan yang
Maha Esa menjadi basis kemanusiaan, persatuan Indonesia, kerakyatan dan keadilan
sosial. Sebaliknya Ketuhanan yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan,
yang membangun, memelihara dan mengembangkan persatuan Indonesia, yang
berkerakyatan dan berkeadilan sosial, demikian selanjutnya, sehingga tiap-tiap sila di
dalamnya mengandung sila-sila yang lain. Kemudian susunan Pancasila dalam
hierarkhis pyramidal dapat dirumuskan dalam hubungannya saling mengisi dan saling
mengkualifikasi. Tiap-tiap sila mengandung empat sila lainnya, dikualifikasi oleh
empat sila lainnya. Rumusannya sebagai berikut:

Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Ketuhanan yang berkemanusiaan yang
adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusywaratan/perwakilan, yang berkeadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia.

Sila kedua Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang
berketuhanan Yang Maha Esa, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang
dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang
berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sila ketiga Persatuan Indonesia adalah persatuan yang berketuhanan Yang Maha Esa,
yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, yang berkeadilan bagi
seluruh rakyat Indonesia.

Sila keempat Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam


permusyawaratan/perwakilan adalah kerakyatan berketuhanan Yang Maha Esa, yang
berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia yang berkeadilan
bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sila kelima Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan yang berketuhanan
Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan
Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan.
Secara bertepatan, pendiri bangsa, dengan keragaman garis ideologisnya, memiliki
pertautan dalam idealisasi terhadap nilai kekeluargaan. Dengan demikian, semangat
gotong royong merupakan cetakan dasar (archetype) dan karakter ideal keindonesiaan.
Ia bukan saja dasar statis yang mempersatukan, melainkan juga dasar dinamis yang
menuntun ke arah mana bangsa ini harus berjalan, karena pada dasarnya pancasila
digunakan sebagai ideologi bangsa indonesia yang memiliki nilai – nilai terpenting
bagi negara Indonesia. Dalam istilah Soekarno, kekeluargaan adalah "meja statis" dan
"leitstar dinamis" yang mempersatukan dan memandukan. Karena kekeluargaan
merupakan jantung keindonesiaan, kehilangan semangat kekeluargaan dalam
kehidupan kenegaraan dan kebangsaan Indonesia merupakan kehilangan segala-
galanya. Filsafat Pancasila merupakan renungan jiwa yang dalam, berlandaskan pada
ilmu pengetahuan dan pengalaman yang luas yang harmonis sebagai satu kesatuan
yang bulat dan utuh. Landasan Etimologis Secara etimologis Pancasila berasal dari
bahasa Sansakerta yang ditulis dalam huruf Dewa Nagari . Makna dari Pancasila ada
2(dua). Pertama panca artinya lima dan Syila (huruf I pendek) artinya baru sendi, Jadi
Pancasyila berarti berbatu sendi yang bersendi lima. Kedua Panca artinya lima Syiila
(huruf I panjang) artinya perbuatan yang senonoh/ normatif Pancasyiila berarti lima
perbuatan yang senonoh/normatif, perilaku yang sesuai dengan norma kesusilaan.
(Saidus Syahar 1975). Landasan historis Secara historis Pancasila dikenal secara
tertulis oleh bangsa Indonesia sejak abad ke XIV pada zaman Majapahit yang tertulis
pada 2 (dua) buku yaitu Sutasoma dan Nagara Kertagama. Buku Sutasoma yang ditulis
oleh Mpu Tantular tercantum dalam Panca Syiila Krama yang merupakan 5 (lima)
pedoman yaitu : (1) Tidak boleh melakukan kekerasan; (2) Tidak boleh mencuri; (3)
Tidak boleh dengki; (4) Tidak boleh berbohong; dan (5) Tidak boleh mabuk.
Perubahan pemerintahan maupun bentuk Negara. Sifat Konsistensi mempertahankan
Pancasila sebagai Dasar Negara. Sifat kesadaran dari bangsa Indonesia akan pentingya
Pancasila sebagai norma dasar/fundamental norm/grund norma bagi kokohnya NKRI.
Landasan Yuridis Secara yudridis butir-butir Pancasila tercantum pada pembukaan
UUD’45 alinea ke IV, yang diejawantahkan dalam pasal-pasal UUD’45. Dalam TAP
MPR RI No. XVIII/MPR/’98 dikukuhkan Pancasila sebagai dasar Negara harus
konsisten dalam kehidupan bernegara. Dalam TAP MPR RI No. IV/MPR/’99
diamanatkan agar visi bangsa Indonesia tetap berlandaskan pada Pancasila. Landasan
Kultural Pancasila yang bersumber dari nilai agama dan nilai budaya bangsa Indonesia
tercermin dari keyakinan akan Kemahakuasaan Tuhan YME dan kehidupan budaya
berbagai suku bangsa Indonesia yang saat kini masih terpelihara, seperti : Tiap upacara
selalu memohon perlindungan Tuhan YME, gotong royong, asas Musyawarah
mufakat. Pada masyarakat Padang dalam perilaku kehidupan bermasyarakat erat terkait
dengan nilai agama yang tercermin pada konsep: “Adat basandi syara dan syara
basandi kitabbullah.” Yang berarti hukum adat bersendikan syara dan syara
bersendikan Al-Quran. Kekeluargaan adalah "meja statis" dan "leitstar dinamis" yang
mempersatukan dan memandukan. Karena kekeluargaan merupakan jantung
keindonesiaan, kehilangan semangat kekeluargaan dalam kehidupan kenegaraan dan
kebangsaan Indonesia merupakan kehilangan segala-galanya. Kehilangan yang
membuat biduk kebangsaan limbung, terombang-ambing gelombang perubahan tanpa
jangkar dan arah tujuan. Jika demokrasi Indonesia kian diragukan kemaslahatannya,
tak lain karena perkembangan demokrasi itu cenderung tercerabut dari jiwa
kekeluargaan. Peraturan daerah berbasis eksklusivisme keagamaan bersitumbuh
menikam jiwa ketuhanan yang berkebudayaan. Lembaga-lembaga finansial dan
korporasi internasional dibiarkan mengintervensi perundang-undangan dengan
mengorbankan kemanusiaan yang adil dan beradab. Tribalisme, nepotisme, dan
pemujaan putra daerah yang menguat dalam pemilu kepala daerah melemahkan
persatuan kebangsaan. Anggota parlemen bergotong royong menjarah keuangan
rakyat, memperjuangkan "dana aspirasi" seraya mengabaikan aspirasi rakyat,
melupakan kegotongroyongan berdasarkan hikmah kebijaksanaan. Ekspansi
neoliberalisme, kesenjangan sosial, dan tindak korupsi melebar, menjegal keadilan
sosial. Pancasila dirumuskan oleh pendiri bangsa sebagai dasar dan tuntutan bernegara
dengan mempertimbangkan aspek-aspek itu, lewat usaha penggalian, penyerapan,
kontekstualisasi, rasionalisasi, dan aktualisasinya dalam rangka menopang
keberlangsungan dan kejayaan bangsa. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar
ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan kita
merawat warisan terbaik dari masa lalu. ota parlemen bergotong royong menjarah
keuangan rakyat, memperjuangkan "dana aspirasi" seraya mengabaikan aspirasi rakyat,
melupakan kegotongroyongan berdasarkan hikmah kebijaksanaan. Ekspansi
neoliberalisme, kesenjangan sosial, dan tindak korupsi melebar, menjegal keadilan
sosial. Demokrasi yang dijalankan justru memutar jarum jam ke belakang, membawa
kembali rakyat pada periode prapolitik, ketika terkungkung dalam hukum besi sejarah
survival of the fittest dan idol of the tribe. Ada jarak yang lebar antara voices dan
choices, antara apa yang diargumentasikan dengan pilihan institusi dan kebijakan yang
diambil. Demokrasi yang diidealkan sebagai wahana untuk memperjuangkan
kesetaraan dan persaudaraan lewat pengorganisasian kepentingan kolektif justru
menjadi instrumen bagi kepentingan privat. Demokrasi yang dikembangkan tanpa
mempertimbangkan sistem pencernaan kebudayaan dan karakter keindonesiaan seperti
biduk yang limbung.
REFERENSI
Abdurahman Wahid.1991. Pancasila Sebagai Ideologi dalam Kaitannya Dengan
Kehidupan Beragama dan Berkepercayaan Terhadap Tuhan YME, dalam Alfian &
Oetojo Oesman, eds. 1991. Pancasila Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang
Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Jakarta : BP-7 Pusat. Anas
Salahudin. 2010. Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa. Pustaka Setia Satori,
Djam’an, dkk, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Toleransi Hidup Beragama.
Jakarta: Universitas Terbuka. Senjaya, Wina., 2006. Strategi Pembelajaran;
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Soerjanto Poespowardojo.1991. Pancasila Sebagai Ideology Ditinjau Dari Segi
Pandangan Hisup Bersama, dalam Alfian & Oetojo Oesman, eds. 1991. Pancasila
Sebagai Ideologi Dalam Berbagai Bidang Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan
Bernegara, Jakarta : BP-7 Pusat. Soetjipto dan Raflis Kosasi, 2011. Pancasila Sebagai
Dasar Negara Dan Pandangan Hidup Bangsa. Jakarta. Rineka Cipta Surya, M. dan
Rochman Natawidjaja. 1986. Pengantar Pancasila Sebagai Pandangan Hidup Bangsa.
Jakarta: Universitas Terbuka. Willis, Sofyan S., 2004. Pancasila Sebagai Ideologi
Bangsa; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta.