Sei sulla pagina 1di 7

Model Hygiene Sanitasi...

( Bambang S & Anwar M)

MODEL PENINGKATAN HYGIENE SANITASI


PONDOK PESANTREN DI KABLTPATEN TANGERANG

Hygiene Sanitation Improvement Model For


Pondok Pesantren In Tangerang Distric

Bambang Sukana* dan D. Anwar Musadad *

Abstract. Pondok pesantren is one of the educational institutions in Indonesia which all students live
together in boarding. Almost 80% of 40.000 pondok pesantren in Indonesia are still vulnerable in terms of
providing the hygienic water and the sound sanitaties. In the research done 2004, the number of cases
among other things were: Tb. Paru Klinis (1,3%), ISPA (44,1%), Diare (10,5%), Scabies (12,3%), Tinea
versicolor (4,0%), Tlnea Cruris (16,0%), other Dermatitis (18,5%), Morbus Hansen (0,6%). It is also
showed that the respondent knowledge about the communicable disease in terms of its symptoms, its
spreading pattern and prevention measweswere still umproper, besides their bad individual hygiene
attitude. The observation result showed that the environment condition was not sound. The hygiene
sanitation development of Pondok Pesantren in Kabupaten Tangerang is the effort to develop the
healthiness' level of santri, it was done through giving the guidance book to establish Pos Pesantren -
Health Force Institution of Pondok Pesantren (UKP). This research was done in 6 pondok pesantren over
the Puskesmas Jayanti area, Kabupaten Tangerang which divided into 3 groups of treatment with different
stages of UKP establishment. The full stage includes i.e. (1) Across segment's meeting in kecamatan, (2)
Internal Meeting in Pondok Pesantren, (3) Training for Santri Husada's Cadre, (4) Arranging the planning
of activities, (5) Activities' execution, (6) Evaluation. The first treatment was dont 6 stages, the second
treatment 5 stages (without across segment's meeting in kecamatan), the third treatment 4 stages (without
across segment's meeting in kecamatan and Internal Meeting in Pondok Pesantren). The result showed
across segment's meeting in Kecamatan agree to support the establishment of UKP Institution as a
coordination support since Camat is not the regional head any more. Kantor Urusan Agama (KUA) support
these activities as well but cannot interfere directly to pondok pesantren's compulsary. Internal meeting in
4 pondok pesantren showed that the support from the management/teacher/Kiai of Pondok pesantren is
absolutely needed. Full stage model is needed in all kecamatan. The second model (with 5 stages) should
be done in every pondok pesantren. The activities of Santri Husada's cadre need sustainable guidance from
the health official in Kabupaten Tangerang.

Keywords: Hygiene sanition model, pondok pesantren, tangerang

PENDAHULUAN Untuk menunjang misi tersebut telah


Sejak dicanakannya Visi Indonesia dikeluarkan Surat Keputusan Menteri
Sehat 2010 pada tahun 2010 telah banyak kesehatan RI no. 867/Menkes/SK/XI/2006
kemajuan yang dicapai. Akan tetapi tanggal 1 November 2006 tentang Pedoman
kemajuan-kemajuan itu tampaknya masih Penyelenggaraan dan Pembinaan Pos
jauh dari target yang ingin dicapai pada tahun Kesehatan Pesantren. Dimana pemberdayaan
2010. Untuk menunjang percepatan masyarakat di pondok pesanten adalah
pencapaian visi tersebut, Departemen merupakan upaya fasilitasi, agar warga
Kesehatan telah pondok pesantren mengenal masalah yang
merumuskan Visi
Departemen Kesehatan dalam rangka dihadapi, merencanakan dan melakukan
mencapai Visi Indonesia Sehat. Adapun Visi upaya pemecahannya dengan memanfaatkan
Departemen potensi setempat sesuai situasi, kondisi dan
Kesehatan itu adalah
"Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup kebutuhan setempat.Upaya fasilitasi tersebut,
Sehat", dengan misi "Membuat Masyarakat diharapkan pula dapat mengembangkan
kemampuan warga pondok pesantren untuk
senaC. Salah satu strategi uniuk mencapai
visi tersebut adalah menggerakan dan menjadi perintis/pelaku dan pemimpin yang
dapat menggerakan masyarakat dalam
memberdayakan masyarakat untuk hidup
menumbuh-kembangkan upaya kesehatan
sehat, termasuk masyarakat di lingkungan
bersumberdaya masyarakat, berdasarkan azas
pondok pesantren.
kemandirian dan kebersamaan.

* Peneliti pada Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan


1132
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 9 No 1, Maret 2010: 1132 — 1138

Pondok Pesantren adalah salah satu (1,3%), ISPA (44,1%), diare (10,5%), scabies
tempat pendidikan di Indonesia dimana (12,3%), Tinea versicolor (4,0%), Tinea
murid tinggal bersama. Hampir di semua cruris (16,0%), dermatitis lain (18,5%),
kota dapat ditemukan pondok pesantren Morbus hansen (0,6%). Pengetahuan
dengan berbagai permasalahannya. Di responden tentang gejala, cara penularan, dan
Indonesia saat ini terdapat kurang lebih bagaimana cara mencegah penyakit menular
40.000 pondok pesantren dan 80% (Tb paru, diare dan penyakit kulit) masih
diantaranya masih rawan dalam penyediaan rendah, perilaku hygiene perorangan
air bersih dan sanitasi lingkungan. Penyakit responden masih kurang baik. Hasil
menular merupakan masalah kesehatan yang observasi kondisi lingkungan secara umum
sering dijumpai di pondok pesantren, disini masih belum baik.
berkumpul banyak anak dari berbagai
Dengan mengetahui kondisi
kelompok usia dan latar belakang social
lingkungan pondok pesantren dan prevalensi
ekonomi dengan perilaku yang berbeda-beda
beberapa penyakit menular tersebut diatas
sehingga secara potensial dapat djumpai
dan perilaku hygiene perorangan santri dapat
berbagai penyakit menular antara lain
dijadikan dasar untuk melakukan
penyakit kulit, Tb paru, ISPA dan diare.
intervensi/perlakuan di pondok pesantren.
Di Kabupaten Tangerang terdapat
318 pondok pesantren yang memiliki kriteria
pesantren sehat 32,4%. Dari 318 pesantren BAHAN DAN CARA
kurang lebih ada 100 pondok pesantren Penelitian ini dilaksanakan pada
tradisional. Data dari Dinas Kesehatan bulan Maret 2005 sampai dengan Desember
Kabupaten Tangerang menunjukkan angka 2005 di enam pondok pesantren yang berada
kunjungan yang cukup tinggi untuk penyakit diwilayah Kecamatan Jayanti Kabupaten
scabies diberbagai puskesmas kecamatan Tangerang. Pemilihan lokasi penelitian dan
yang ada pesantrennya antara lain Puskesmas pondok pesantren dilakukan berdasarkan
Cikupa, Jayanti, Tigaraksa dan Gembong, prioritas Dinas Kesehatan Kabupaten
namun berapa prevalensinya di lingkungan Tangerang dan sample pondok pesantren
pesantren belum ada data yang akurat, dilakukan secara purposif dengan
demikian pula untuk penyakit menular lain memperhatikan prinsip kecukupan
seperti Tb paru, ISPA, dan diare. (adequacy) dan kesesuaian (appropriatness).
Hasil penelitian Kondisi Lingkungan Mengacu hasil penelitian yang telah
dan Kesehatan Pondok pesantren di dilakukan Heryanto dkk maka kejadian
Kabupaten Tangerang yang dilakukan oleh penyakit menular yang terjadi di pondok
Heryanto dkk pada tahun 2004 menunjukkan pesantren dapat digambarkan sebagai berikut.
bahwa angka kesakitan Tb paru klinis

1133
Model Hygiene Sanitasi...( Bambang S & Anwar M)

Peri laku
Santri Tidak
Sehat

Pelayanan
Kesehatan
Belum Angka Kejadian
Pondok
Penyakit Menular
Maksimal Pesantren
Cukup Tinggi

Li ngkungan
PONPES
Kurang Bersih

Dari gambar di atas terlihat bahwa Azman dan Al Falahiyah dengan perlakuan
dengan perilaku santri yang kurang baik, hanya empat tahapan (tanpa pertemuan lintas
lingkungan ponpes yang belum baik, dan sektor tingkat kecamatan, dan pertemuan
upaya pelayanan kesehatan yang belum internal di pondok pesantren).
maksimal menjadikan angka kejadian
penyakit menular masih cukup tinggi di
lingkungan pondok pesantren. Maka untuk Tujuan penelitian :
menurunkan angka kejadian penyakit
I. terbentuknya Pos UKP di enam pondok
menular dilakukan beberapa
pesantren.
intervensi/perlakuan kepada beberapa
pondok pesantren yang terpilih sebagai 2. menjadikan lingkungan pondok
obyek penelitian. pesantren sehat,
Intervensi/perlakuan dilakukan 3. terjadinya perbaikan perilaku hidup sehat
dengan Pembentukan Pos Upaya Kesehatan dan bersih para santri, berupa tidak
Pesantren (UKP) di enam pondok pesentren menggantung baju, kebiasaan membuka
dengan menggunakan Buku Panduan jendela pada pagi hari, dan pengelolaan
Pembentukan Pos Upaya Kesehatan sampah dengan baik
Pesantren dan proses pembentukannya 4. terjadinya penambahan sarana untuk
dengan melakukan tiga model uji coba
sanitasi berupa penambahan jamban,
kelompok perlakuan. Adapun perlakuan I
tempat pembuangan sampah dan sarana
dilakukan pada Pondok Pesantren Al Amin
air bersih di lingkungan pondok
Putra Putri dan Pondok Pesantren Al Aminah
pesantren.
dengan tahap perlakuan meliputi (1)
pertemuan lintas sektor tingkat kecamatan,(2) Sasaran kegiatan, untuk tingkat
pertemuan internal di pondok pesantren, (3) kecamatan (Camat, Kantor Urusan Agama,
pelatihan kader santri husada,(4) penyusunan Puskesmas), untuk tingkat desa (Kepala
rencana kegiatan,(5) pelaksanaan kegiatan desa/perangkat desa) sedangkan untuk
dan (6) evaluasi. Untuk perlakuan II Pondok Pesantren adalah para kader santri
dilakukan pada Pondok Pesantren Hidayatul husada dipilih 10 orang santri setiap pondok
Ummah dan Pondok Pesantren Nurul pesantren dari kelompok umur 10 — 20 tahun.
Hikmah dengan perlakuan lima tahapan
(tanpa pertemuan lintas sektor tingkat
kecamatan), sedangkan untuk Perlakuan III
dilakukan pada Pondok Pesantren Nurul

* Peneliti pada Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan

1134
Jurnal Ekologi Kesehatan Vol. 9 No 1, Maret 2010: 1132 — 1138

HASIL husada secara rutin, yang direncanakan


dilakukan setiap bulan. Peran puskesmas
Peran dinas kesehatan kabupaten
sangat penting, keberhasilan operasional Pos
masih bersifat insentil mengingat banyaknya
UKP sangat tergantung pada perhatian yang
pondok pesantren yang tersebar diwilayah
diberikan untuk pembinaan secara tents
Kabupaten Tangerang. Sudah ada upaya
menerus oleh pihak puskesmas. Demikian
untuk memadukan kegiatan dari beberapa
pula dukungan Kantor Departemen Agama
seksi di dinas kesehatan seperti pemberian
Kabupaten dan kantor Urusan Agama
tempat sampah, jamban, pompa air dan
kecamatan untuk pembentukan Pos UKP
buku/leaflet promosi kesehatan dan
sangat besar, walaupun secara kurikuler tidak
dukungan uji coba pembentukan Pos UKP
ada pedoman khusus untuk pondok pesantren
dan penyebar luasan informasi ke seluruh
tradisional.
puskesmas diwilayah Kabupaten Tangerang
mengenai Panduan Pembentukan Pos UKP. Dan perlakuan yang telah dilakukan,
maka dilakukan wawancara kepada para
Kegiatan upaya kesehatan di pondok
kader ponpes kegiatan-kegiatan yang telah
pesantren mendapat dukungan penuh dokter
dilakukan berdasarkan hasil pertemuan yang
puskesmas dengan ikut langsung setiap
telah dilakukan. Adapun kegiatan yang telah
kegiatan langkah pertemuan pembentukan
dilakukan dapat dilihat pada tabel 1.
Pos UKP hingga pembinaan kader santri

Tabel 1 Kegiatan Yang dilakukan para Kader Pondok Pesantren Kabupaten Tangerang

Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III


Ponpes Ponpes
Kegiatan yang Ponpes Ponpes Ponpes Ponpes
No Hidayatu Al
dilakukan Al Amin Al Nurul Nurul
lummah Fallah
Aminah Hikmah Azam
1. Penyuluhan
- kelompok Ya Ya Ya Ya Ya Ya
- Konseling Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak

2. Rujukan Tidak Ya Tidak Tidak Tidak Tidak


3. Pertemuan rutin Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
4. Gerakan Jum'at Ya Ya Ya Ya Ya Ya
bersih
5. Pemeliharaan Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
lingkungan
6. Rencana kegiatan Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Dad tabel 1 terlihat pada semua rencana kegiatan telah dibuat oleh semua
ponpes melakukan kegiatan penyuluhan ponpes.
kelompok, gerakan Jum'at bersih, sedangkan
Hasil kegiatan yang telah dilakukan
kegiatan rujukan hanya dilakukan oleh
di 6 enam pondok pesantren mencakup
ponpes Al Aminah. Untuk kegiatan konseling terjadinya lingkungan bersih, penambahan
dan pertemuan rutin semua ponpes tidak sarana sanitasi dan perbaikan perilaku hidup
melakukan kegiatan juga pemeliharaan sehat dan bersih dapat dilihat pada tabel 2.
lingkungan belum dilakukan, walaupun

1135
Model Hygiene Sanitasi...( Bambang S & Anwar M)

Tabel 2. Hasil perlakuan/intervensi di enam Pondok Pesantren


di Kabupaten Tangerang th.2005

Perlakuan I Perlakuan II Perlakuan III


Hasil perlakuan/ Ponpes Ponpes Ponpes Ponpes
No Hidayatu Ponpes Ponpes
intervensi berupa Al Amin Al Al
lummah Nurul Nurul
Aminah Hikmah FaIlah
Azam
1. Lingkungan . bersih
Tidak Tidak Ya Tidak Tidak Ya
2. Penambahan sarana Tidak Tidak Tidak Tidak
sanitasi Tidak Tidak
3. Perbaikan perilaku Ya Ya Ya Tidak Tidak Ya
hidup sehat dan
bersih

Hasil kegiatan tersebut tampak Pondok Pesantren tradisional. Walaupun


terjadinya lingkungan pondok pesantren yang Camat dan Kantor Urusan Agama
bersih pada ponpes Hidayatulummah Kecamatan tidak dapat mengadakan
(perlakuan II) dan Nurul Azam (perlakuan intervensi terlalu dalam pada kegiatan di
III), untuk penambahan sarana sanitasi di Pondok Pesantren, namun pertemuan tingkat
enam ponpes tidak mengalami penambahan, kecamatan ini penting untuk dilaksanakan
sedangkan perbaikan perilaku hidup sehat minimal satu kali di setiap kecamatan agar
dan bersih terjadi pada ponpes Al Amin dan semua lintas sektor dapat memahami apa
ponpes Al Aminah (perlakuan I) dan ponpes yang ingin dicapai melalui pembentukan Pos
Hidayatulummah (perlakuan II), serta ponpes UKP. Demikian juga dengan upaya
Nurul Azam (perlakuan III). melibatkan pihak swasta untuk kemitraan
dengan Pondok Pesantren perlu digalakkan
karena pondok pesantren dan santrinya
PEMBAHASAN merupakan sumber daya yang besar untuk
Pembentukan Pos UKP dengan mendukung kegiatan swasta di semua bidang
menggunakan Buku Panduan Pembentukan kehidupan perekonomian seperti pertanian,
Pos Upaya Kesehatan Pesantren dilakukan peternakan, industri kecil dan sebagainya.
pada enam ponpes dengan tahapan berbeda. Hal tersebut dengan sendirinya akan
Pada setiap tahapan yang dilaksanakan memberikan implikasi yang positif bagi
dilihat bagaimana effektifitasnya dan pendanaan kegiatan pondok pesantren.
effisiensi apa yang dapat dilakukan untuk Dalam uji coba ini dukungan pihak swasta
setiap kegiatan. yang diharapkan dapat membantu dari segi
penyerapan tenaga kerja dan pendanaan sulit
Pertemuan lintas sektor yang untuk diwujudkan karena ketidak hadiran
dilaksanakan di tingkat kecamatan pada pihak swasta yang diundang.
dasarnya adalah untuk sosialiasasi dan
mendapat dukungan dari berbagai pihak yang Pertemuan internal di Pondok
terkait. Walaupun tahap ini hanya diwakili Pesantren dilakukan pada pondok pesantren
oleh dua pondok pesantren perlakuan 1 perlakuan 1 dan pondok pesantren perlakuan
namun semua lintas yang terkait khususnya II, selain sosialisasi juga untuk mendapatkan
perwakilan kecamatan, kantor Urusan dukungan dari pengelola untuk pembentukan
Agama, Puskesmas dan Pondok Pesantren Pos UKP. Pengelola/guru/kiai di Pondok
mendukung dan sepakat untuk membentuk Pesantren mendukung dilakukannya
Pos UKP. Dukungan Camat hanya terbatas pembentukan Pos UKP, menyiapkan kader
pada koordinatif saja karena Camat bukan santri husada yang akan dilatih, menyiapkan
lagi sebagai kepala wilayah, demikian juga guru yang akan mendampingi kader.
Kantor Urusan Agama Kecamatan tidak Pertemuan tahap ini harus dilaksanakan pada
dapat melakukan intervensi langsung dalam setiap pondok pesantren, karena dukungan
kurikulum kegiatan belajar mengajar di pengelola/kiai/guru pondok pesantren adalah
mutlalc untuk mendukung semua kegiatan

* Peneliti pada Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan

1136
Jumal Ekologi Kesehatan Vol. 9 No 1, Maret 2010: 1132 — 1138

upaya kesehatan yang akan dilakukan di Evaluasi yang melibatkan lintas


pondok pesantren. sektor dan unsur pondok pesantren harus
dilakukan untuk melihat kemajuan dan
Pelatihan kader untuk menjadi kader perkembangan kegiatan kesehatan di pondok
santri husada dilakukan pada ke enam pesantren dan dalam upaya untuk
Pondok Pesantren termasuk pondok
memperluas cakupan pondok pesantren yang
pesantren perlakuan III, masing-masing melaksanakan kegiatan Pos UKP, pertemuan
pondok pesantren menyiapkan 10 orang minimal dilaksanakan satu kali dalam
kader untuk dilatih. Materi pelatihan yang setahun. Evaluasi untuk melihat terjadinya
diberikan sulit untuk diserap oleh kader, penurunan angka kejadian penyakit menular
karena latar belakang tingkat pendidikan dan di pondok pesantren belum dilakukan, karena
usia yang berbeda, sehingga diperlukan keterbatasan waktu dan biaya dan akan
pembinaan yang terus menerus oleh pihak dilakukan penelitian lanjutan pada tahun
puskesmas.Dokter dan staf puskesmas berikutnya.
mendukung upaya pembinaan rutin, yang
akan dilakukan setiap bulan.
Penyusunan rencana kegiatan santri KESIMPULAN
meliputi observasi lingkungan dan sanitasi, Pelaksanaan pembentukan pos UKP
membuat urutan prioritas masalah dan telah mengikuti rencana kegiatan santri
rencana pemecahan masalah. Rencana kerja husada namun realisasinya baru sebahagian
yang umumnya dibuat adalah penyuluhan karena kendala waktu, sehingga sulit untuk
dan membersihkan lingkungan. Hal ini melihat perbedaan hasil antara ketiga
terkait dengan masalah penyediaan sumber kelompok perlakuan.
dana. Pihak pondok pesantren umumnya
tetap mengharapkan bantuan dari Dinas Kegiatan pemeliharaan kebersihan
Kesehatan Kabupaten, Departemen Agama lingkungan dan penyuluhan melalui kegiatan
Kabupaten atau dari Pemerintah daerah "Jum'at bersih" sudah berjalan baik, namun
dalam hal penyediaan sarana sanitasi baik air yang menampaknya hasilnya dari enam
bersih, jamban, pompa air dan lainnya. ponpes hanya 2 ponpes yang terlihat
Pondok pesantren tidak mampu kebersihan lingkungannya sudah bersih.
menyediakan dana baik dari pengelola atau Perbaikan perilaku hidup sehat baru
bersumber dari orang tua santri karena dilakukan oleh empat ponpes dan dua ponpes
umumnya santri yang mondok di pondok belum melakukan perbaikan perilaku hidup
pesantren umumnya dari keluarga kurang sehat.. Pembuatan sarana baru sanitasi dan
mampu. Dana amal/dana sehat juga sulit pemeliharaannya terhambat pada sumber
untuk diwujudkan. dana, sedangkan peran pendukung yang
Pelaksanaan kegiatan umumnya diharapkan dari pihak swasta sulit
dilakukan kader menyesuaikan dengan diwujudkan.
rencana kerja yang telah dibuat, namun Tahap pertemuan internal pondok
pelaksanaannya sedikit terhambat dengan pesantren tidak dilakukan.
bulan Ramadhan dan libur iedhul fitri. Hanya Pengelola/kiai/guru adalah panutan santri dan
dua pondok pesanten yang terlihat pendukung penting kegiatan yang dilakukan
lingkungan sekitar pondok pesantren cukup oleh santri husada. Dinas Kesehatan
bersih, selokan dibersihkan, air limbah dari Kabupaten dan Puskesmas mempunyai peran
kamar mandi telah dibuat seluruhnya, penting pada pembinaan kegiatan
sampah ditimbun/dibakar. Penambahan membangun kemandirian pondok pesantren
sarana tidak ada, perilaku hidup bersih dan dalam upaya kesehatan.
sehat menunjukkan perubahan, jendela kamar
dan pintu pondokan dibuka, pakaian
tergantung di kamar sudah berkurang sudah SARAN
dilakukan oleh empat ponpes. Sulit untuk
menyatakan adanya perbedaan hasil pada Memperluas wilayah uji coba
berbagai kelompok perlakuan karena pemanfaatan pembentukan pos UKP pada
terbatasnya waktu pelaksanaan kegiatan. pondok pesantren tradisional.

1137
Model Hygiene Sanitasi...( Bambang S & Anwar M)

Dinas kesehatan kabupaten agar DAFTAR PUSTAKA


menyusun rencana kerja untuk pembinaan Abdul Fattah al-Husseini al-Sheikh, Water and
yang menjangkau semua pondok pesantren sanitation in Islam, WHO regional Office for
dalam upaya membangun kemandirian the Eastern Mediterranean Alexandria, Egypt,
pondok dalam meningkatkan derajat 1996; 11-12
Depkes RI Pedoman Teknis Perbaikan Kualitas Air di
kesehatan santri.
tempat Pendidikan Agama/Pondok Pesantren,
Kantor Departemen Agama dan 1996; 2.
Depkes RI, Pedoman Pelaksanaan Budaya Bersih
Dinas Kesehatan kabupaten dapat menyusun dalam rangka Gerakan Disiplin Nasional,
tambahan kurikulum untuk pondok pesantren 1995, 11.
tradisional dalam bidang sanitasi lingkungan Depkes RI, Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional,
dan perilaku hidup bersih dan sehat. 2001, 74
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Profil
kesehatan Kabupaten Tangerang 2002; tabel
VII.4.
UCAPAN TERIMA KASIH Heryanto dkk, Laporan Model Peningkatan Hygiene
Sanitasi Pondok Pesantren di Kabupaten
Ucapan terima kasih disampaikan Tangerang tahun 2004, Puslitbang Ekologi
kepada Kepala Puslitbang Ekologi dan Status dan Status Kesehatan Badan Litbangkes
Kesehatan, Badan Litbangkes yang telah Dep.kes. 2004.
memberikan kesempatan pada peneliti untuk Surat Keputusan Menteri kesehatan RI no.
867/Menkes/SK/XU2006 tanggal 1
melakukan penelitian ini. Demikian pula
November 2006 tentang Pedoman
untuk kepada Kepala Dinas Kesehatan Penyelenggaraan dan Pembinaan Pos
Kabupaten Tangerang, Kepala kantor Kesehatan Pesantren.
Departemen Agama Kabupaten Tangerang
yang telah membantu terlaksananya
penelitian ini.
Terima kasih juga kami ucapkan
kepada pengelola Pondok Pesantren yang
telah ikut berpartisipasi dalam penelitian.

* Peneliti pada Puslitbang Ekologi & Status Kesehatan


1138