Sei sulla pagina 1di 10

Implementasi Konsep Penta Helix

MATRA dalam Pengembangan Potensi Desa


PEMBARUAN melalui Model Lumbung Ekonomi
Jurnal Inovasi Kebijakan
Desa di Provinsi Jawa Timur
jurnal.kemendagri.go.id/index.php/mp

e-ISSN: 2549-5283
p-ISSN: 2549-5151
Novy Setia Yunas*
Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46 Program Studi Ilmu Politik, FISIP Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran, Ketawanggede, Malang, Jawa Timur 65145

DOI: Dikirim: 1 Maret 2019; Direvisi: 29 April 2019;


10.21787/mp.3.1.2019.37-46 Disetujui: 6 Mei 2019

Keywords: Social Empowerment,


Abstract
Rural Development, Penta Helix,
The welfare gap, the high number of poor people, the lack of access
Community Welfare to information and the poor infrastructure in rural areas are at the root
of the problem of poverty. BPS noted, in 2018 approximately 1,035 villages
Kata Kunci: Pemberdayaan Sosial, were able to optimize the potential of their villages from 8,496 village-
Pembangunan Desa, Penta Helix, level areas in East Java. The problem is expected to be reduced through the
Kesejahteraan Masyarakat birth of Law No. 6 of 2014 which gives authority to villages to develop their
existing potential. Villages are encouraged to be able to develop various
Korespondensi
* innovations and synergize with academics, the private sector, government,
Phone : +62 85233357928 and the media (penta helix). This paper will explain the innovation model
for the development of village potential as an effort to improve the welfare
Email : novysetiayunas@gmail.
of rural communities in East Java Province in the form of Village Economic
com Barn with the concept of penta helix, ranging from mapping and training to
managing village potential to rural economic digitalization for young people
in managed potential marketing. (e-nomakaryo is read: enary makaryo).
The method used is descriptive qualitative. The research was conducted
in three villages including Panglungan Village, Wonosalam, Jombang
with the potential of excelsa coffee and tourism; Kebonagung, Sawahan,
Nganjuk village with the potential of cashew nuts and Made Village, Kudu,
Jombang with Gadung potential. Through this model it is expected that the
development of village potential will have an impact on the welfare and
independence of the village community.

Intisari
Kesenjangan kesejahteraan, tingginya jumlah penduduk miskin,
minimnya akses informasi dan buruknya sarana infrastruktur di
perdesaan menjadi akar permasalahan kemiskinan. BPS mencatat, pada
2018 sekira 1.035 desa mampu mengoptimalkan potensi desanya dari
BADAN PENELITIAN 8.496 wilayah setingkat desa di Jawa Timur. Problem tersebut diharapkan
DAN PENGEMBANGAN dapat direduksi melalui lahirnya UU No 6 tahun 2014 yang memberikan
(BPP) KEMENTERIAN kewenangan kepada desa untuk mengembangkan potensi yang ada. Desa
DALAM NEGERI didorong agar mampu mengembangkan berbagai inovasi dan bersinergi
dengan akademisi, sektor swasta, pemerintah, dan media (penta helix).
Jl. Kramat Raya No 132, Jakarta Pusat,
10450
Tulisan ini akan menjelaskan model inovasi bagi pengembangan potensi
desa sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa di
Provinsi Jawa Timur berupa Lumbung Ekonomi Desa dengan konsep penta
helix, mulai dari pemetaan dan pelatihan pengelolaan potensi desa hingga
© Novy Setia Yunas digitalisasi ekonomi perdesaan bagi generasi muda dalam pemasaran
potensi yang telah dikelola (e-nomakaryo dibaca: enom makaryo). Metode
yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di tiga
desa antara lain Desa Panglungan, Wonosalam, Jombang dengan potensi
This work is licensed under the kopi excelsa dan wisata; Desa Kebonagung, Sawahan, Nganjuk dengan
Creative Commons Attribution potensi kacang mente dan Desa Made, Kudu, Jombang dengan potensi
Non Commercial Share Alike 4.0
International License. Gadung. Melalui model ini diharapkan pengembangan potensi desa akan
berdampak pada kesejahteraan dan kemandirian masyarakat desa.

37
I. Pendahuluan dan strategi untuk mengatasi kemiskinan melalui
Kemiskinan masih menjadi persoalan klasik pembangunan yang merata baik di desa maupun
hampir bagi seluruh masyarakat di belahan dunia perkotaan. Selama ini, memang kemiskinan banyak
ini. Persoalan kemiskinan kini tak hanya menjadi terfokus di pedesaan, memang tak menutup
permasalahan negara yang sedang berkembang, kemungkinan di perkotaan angka kemiskinan juga
melainkan di negara maju pun mengalami cukup tinggi. Sehingga saat ini pemerintah tengah
persoalan yang sama. Persoalannya sama namun menggalakkan banyak program dan mengucurkan
dimensinya berbeda. Persoalan kemiskinan di banyak dana pembangunan maupun kesejahteraan
negara maju hanya menjadi sebuah bagian terkecil masyarakat di desa
dalam komponen masyarakat mereka tetapi bagi Selain itu, pendekatan pembangunan
negara berkembang persoalan tersebut menjadi yang selama ini digunakan haruslah diubah.
lebih kompleks karena jumlah penduduk miskin Pendekatan pembangunan berbasis masalah,
biasanya hampir mencapai setengah dari jumlah dengan menganggap kemiskinan sebagai masalah,
penduduk. Bahkan ada negara-negara sangat miskin pengangguran sebagai masalah, infrastruktur
mempunyai jumlah penduduk miskin melebihi dua rusak sebagai masalah, kenakalan remaja sebagai
pertiga dari penduduknya (Komansilan, 2014, p. 2). masalah, minimnya lahan sebagai masalah, pupuk
Sebagai salah satu negara yang sedang mahal sebagai masalah, hanya akan menghasilkan
berkembang, Indonesia memang tidak dapat sebuah program kerja yang berbasis kebutuhan.
terlepas dari persoalan kemiskinan. Di Indonesia, Fokus utama dari apa yang dilakukan adalah untuk
berdasarkan data BPS tentang jumlah penduduk mengidentifikasi dan mencari akar masalahnya,
miskin yang ada di Indonesia saat ini mencapai kemudian dicari solusi terbaiknya, dan pada
9,66 persen (25,67 juta jiwa) dengan prosentase akhirnya ketika masalah satu selesai, akan ada upaya
13,1 persen tingkat kemiskinan di perdesaan (BPS, untuk mencari masalah-masalah yang lain. dari situ
2018). Hal ini selaras pula dengan hasil temuan PBB kita tidak akan pernah mengetahui, potensi besar
dalam World Urbanization Prospect (2018) yang apa yang bisa dikembangkan dari desa tersebut
menyebutkan, lebih dari separuh penduduk dunia (Solikatun, Supono, & Yulia Masruroh, 2014, p. 72).
sudah berpindah ke kota. Populasi penduduk kota Dalam penelitian sebelumnya, pendekatan
diramalkan akan terus meningkat sampai 66 persen pembangunan berbasis masalah, selama ini selalu
dari populasi dunia pada tahun 2050 (Zamroni, dipakai pemerintah untuk membuat sebuah
Anwar, & Yulianto, 2015, p. 3). Badan Perencanaan program kerja, baik secara nasional maupun skala
Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam sebuah lokal. Salah satu contoh pendekatan berbasis
paparannya, membuat proyeksi yang menurut masalah dalam kebijakan pengentasan kemiskinan
penulis cukup berani dengan memberikan prediksi seperti yang dijelaskan oleh Shohibuddin (2017),
bahwa pada 2045, 82,37% penduduk Indonesia akan bahwa pendekatan yang dipakai pemerintah dalam
tinggal di kota. Dengan asumsi pada 2015 penduduk menilai angka kemiskinan dengan katagorisasi
yang sudah tinggal di kota sebesar 59,35%, serta seperti “Keluarga Pra Sejahtera, Sejahtera I, Sejahtera
tingkat pertumbuhan penduduk kota sebesar 2,75% II, Sejahtera III, dan Sejahtera III Plus,” adalah
pertahun, lebih besar dari pertumbuhan nasional cara pandang yang non-relasional. Cara pandang
sebesar 1,17 persen per tahun (Bappenas, 2015). semacam itu justru dijadikan “pegangan baku” para
Data statistik tersebut tentunya menimbulkan perencana kebijakan dan aparat penyelenggara
konsekuensi pasang surut (zero sum game) bahwa pembangunan di lembaga pemerintah maupun
dengan berkembangnya penduduk kota, tentunya donor internasional. lebih lanjut, Shohibuddin
akan diikuti berkurangnya populasi penduduk di (2017) menjelaskan, hal ini terjadi karena fokus
desa. Dan bisa saja dimungkinkan suatu hari nanti, yang mereka gunakan bukanlah upaya pengentasan
desa dan penduduk desa akan tinggal sejarah, kemiskinan secara spesifik, melainkan bagaimana
karena tidak ada lagi penduduk yang tinggal di desa, program-program intervensi jangka panjang dan
atau sudah tidak ada lagi wilayah yang bernama bersifat generik dalam pengentasan kemiskinan
desa. bisa tercapai, sehingga indikator-indikator makro
Hal ini harusnya menjadi perhatian bagi tentang kesejahteraan dan pembangunan manusia
pemangku kebijakan, pemerintah sadar bahwa dapat dicapai (misalnya, pendapatan per kapita,
persoalan kemiskinan harus menjadi fokus utama partisipasi sekolah, pelayanan dasar, pelayanan
karena persoalan ini jika gagal diselesaikan kesehatan dan lain-lain). Sehingga kekeliruan
oleh pemerintah akan menyebabkan munculnya dalam memandang kemiskinan di desa tersebut
berbagai persoalan sosial, ekonomi dan politik di menjadikan beberapa program yang dikeluarkan
tengah- tengah masyarakat. Dengan kesadaran pemerintah menjadi tidak efektif (Shohibuddin,
yang cukup tinggi dari pemerintah akan usaha 2017, p. 23).
pengurangan kemiskinan di Indonesia, maka Sebagaimana yang dimaksud di atas bahwa
pemerintah membuat berbagai macam kebijakan Desa dan kemiskinan diibaratkan seperti dua sisi

Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46


38
mata uang yang seakan tidak dapat dipisahkan. Di Kabupaten Jombang, terdapat dua desa yang
Kesenjangan kesejahteraan, tingginya jumlah sedang mengembangkan potensi desanya untuk
penduduk miskin, minimnya akses informasi dan peningkatan kesejahteraan dan kemandirian
buruknya sarana infrastruktur di pedesaan menjadi masyarakat. Pertama di Desa Panglungan,
akar permasalahan kemiskinan. Namun lahirnya Kecamatan Wonosalam terdapat potensi kopi
UU No 6 Tahun 2014 memberikan semangat Excelsa yang cukup besar. Tidak hanya itu, potensi
dan kewenangan yang besar kepada desa untuk wisata juga sangat potensial dikembangkan di Desa
mengembangkan potensi yang ada. Panglungan, Kecamatan Wonosalam tersebut. Kedua
UU No 6 Tahun 2014 tentang Desa di Desa Made, Kecamatan Kudu, selain terkenal
mengkonstruksi kewenangan desa dalam dengan petilasan Prabu Airlangga yakni Sendang
pasal 18, yang meliputi kewenangan di bidang Made, desa ini pun memiliki potensi cukup besar
penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan dalam hal pengolahan industri Keripik Gadung.
Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Di Desa Made, potensi umbi-umbian cukup besar
Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa diantaranya adalah umbi gadung (30 ton/tahun),
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal ganyong (15 ton/tahun), dan garut (20 ton/tahun).
usul, dan adat istiadat Desa. Adapun di pasal Umbi-umbian tersebut salah satunya gadung selama
19 Kewenangan Desa meliputi: a. kewenangan ini banyak dinilai sebagai tanaman liar yang beracun
berdasarkan hak asal usul; b. kewenangan lokal dan sangat sulit dalam pengelolaannya. Padahal
berskala Desa; c. kewenangan yang ditugaskan gadung merupakan salah satu sumber alternatif
oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, karbohdirat, yang dapat dijadikan peningkatan
atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan d. diversifikaasi pangan dengan mendayagunakan
kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, pangan lokal (Yunas & Huda, 2018, p. 110).
Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Tak hanya di Kabupaten Jombang saja,
Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan Kabupaten Nganjuk sebagai salah satu kabupaten
peraturan perundang-undangan (Kushandajani, terdekat dengan Kabupaten Jombang ini pun kaya
2015, p. 73). akan potensi. Salah satunya di Desa Kebonagung,
Sejalan Senyampang dengan semangat UU No Kecamatan Sawahan. Di desa ini, terdapat potensi
6 tahun 2014 tersebut maka Desa didorong untuk jambu mente yang sangat besar dan mulai
mampu mengembangkan berbagai inovasi dalam dimanfaatkan untuk usaha kecil kacang mente.
pengelolaan potensi desa guna meningkatkan Usaha ini tentunya sangat menjanjikan, khususnya
kesejahteraan serta kemandirian masyarakat. bagi ekonomi mikro dan rumah tangga masyarakat
Seperti yang diamanahkan dalam UU No 6 Tahun di desa tersebut.
2014, setidaknya terdapat lima hal penting tentang Beranjak dari studi wilayah dan potensi
pembangunan masyarakat antara lain, Pertama, tersebut, maka untuk memaksimalkan potensi
mendorong prakarsa, gerakan, dan partisipasi yang ada dibutuhkan sebuah model inovatif
masyarakat desa untuk pengembangan potensi berupa lumbung ekonomi desa. Pada tulisan ini,
dan aset desa guna kesejahteraan bersama; Kedua, lumbung ekonomi desa diproyeksikan seperti pusat
membentuk pemerintahan desa yang profesional, pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan
efisien dan efektif, terbuka, serta bertanggung berbasis potensi desa, mulai dari pemetaan potensi
jawab; Ketiga, meningkatkan pelayanan publik desa, pelatihan pengelolaan potensi desa hingga
bagi warga masyarakat Desa guna mempercepat digitalisasi ekonomi pedesaan bagi pemuda desa
perwujudan kesejahteraan umum; Keempat, dalam pemasaran potensi yang telah dikelola.
Meningkatkan ketahanan sosial budaya masyarakat Selain itu, model lumbung ekonomi desa akan dapat
desa guna mewujudkan masyarakat desa yang berjalan dengan baik jika disinergikan bersama
mampu memelihara kesatuan sosial sebagai bagian masyarakat, akademisi, pemerintah, media dan
dari ketahanan nasional; Kelima, memperkuat sektor swasta dalam kerangka konsep penta helix.
masyarakat Desa sebagai subjek pembangunan Menariknya penelitian ini adalah penulis melakukan
(Wardiyanto, Aminah, & Ucu Martanto, 2014). kajian mendalam untuk mendesain sebuah model
Berbicara mengenai potensi desa, di beberapa optimalisasi potensi desa yang bersumber dari
wilayah Provinsi Jawa Timur memiliki potensi masyarakat dengan ditopang empat sektor lain.
maupun sumber daya alam yang melimpah Setelah diimplementasikannya UU No
dan dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi 6 tahun 2014, Desa kini tak lagi menjadi sub
kesejahteraan masyarakat. Meski demikian, divisi dari pemerintah kabupaten, desa kini
berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa 2018, adalah pemerintahan masyarakat (self governing
BPS mencatat hanya ada 1.035 desa mandiri yang community). Jika dahulu prinsip yang ada adalah
mampu mengoptimalkan potensi desanya dari desentralisasi dan residualitas, kini berlaku
8.496 wilayah setingkat desa seluruh Jawa Timur, prinsip rekognisi dan subsidiaritas. Kedua prinsip
sisanya masih tahap desa berkembang. Sedangkan, ini memberikan mandat sekaligus kewenangan

Model Inovatif Pengembangan Potensi Desa melalui Lumbung Potensi Desa di


Provinsi Jawa Timur
Novy Setia Yunas 39
terbatas dan strategis kepada desa untuk mengatur mete yang sangat besar dan dikembangkan oleh
serta mengurus urusan desa sendiri. Membumikan usaha kecil masyarakat sekitar. Keberadaan peneliti
makna desa sebagai subjek paska UU Desa bukanlah di tengah masyarakat tersebut, menjadikan peneliti
sesuatu yang mudah dilakukan (Eko, 2014, p. 34). memahami dan mendengar langsung percakapan
Desa membangun dilihat dari sisi makna dan cerita dari masyarakat, melakukan wawancara
pembangunan desa. Dalam konteks ini desa engan kepala desa, ketua kelompok usaha sebagai
membangun berbeda dengan membangun desa informan kunci, membaca pemberitaan media,
(Chambers, 1988). Meskipun membangun desa serta memverifikasi data- data dan informasi
bermakna pembangunan perdesaan (antardesa) pendahulu kepada stakeholder yang ada. Untuk
yang berada di luar domain desa, namun praktik mempermudah melihat hasil rangkuman, maka
selama ini adalah negara membangun desa, yang dibuat matriks. Dalam pola bentuk matriks tersebut
ditempuh dengan cara intervensi dan imposisi dapat dilihat gambaran seluruhnya atas bagian-
negara ke dalam desa, yang justru melemahkan bagian tertentu dari hasil penelitian. Atas dasar pola
eksistensi desa. Jika membangun desa bermakna yang tampak pada display data, ditarik kesimpulan
negara hadir di depan, sebagai aktor utama yang sehingga data yang dikumpulkan memunyai
membangun desa, maka desa membangun berarti makna, yang pada awalnya bersifat sangat tentatif
pembangunan desa yang dimulai dari belakang. atau kabur. Agar kesimpulan lebih grounded maka
Negara seharusnya berdiri di belakang desa untuk verifikasi dilakukan sepanjang penelitian. Hal ini
memberikan dorongan dan support (Eko, 2014, p. dimaksudkan untuk menjamin tingkat kepercayaan
29). hasil penelitian yang dilakukan selama 1 bulan
Posisi dan kedudukan desa yang selama tersebut, sehingga prosesnya berlangsung sejalan
ini dianggap lemah karena beberapa hal seperti dengan member check, triangulasi dan audit trail
keterbatasan wilayah, luas lahan, sumber daya yang (Sugiyono, 2008, p. 40).
dimiliki dan lain sebagainya (Maschab, 2013). Seperti
kurang memungkinkan desa dalam melakukan III. Hasil dan Pembahasan
pembangunan yang mampu meningkatkan
kesejahteraan masyarakatnya. Sehingga kini desa
A. Pengembangan potensi Kopi Excelsa
dituntut untuk lebih memaksimalkan asset dan
potensi yang ada. dan Desa Wisata di Desa Panglungan,
Kec. Wonosalam, Kabupaten Jombang
Kabupaten Jombang memiliki kopi jenis excelsa
II. Metode yang tidak dipunyai oleh daerah lain. Di Indonesia,
Penelitian ini menggunakan pendekatan kopi jenis excelsa hanya berada di Jombang tepatnya
kualitatif dengan metode penelitian deskriptif. di kawasan pegunungan Anjasmoro dan Tanjung
Penggunaan metode tersebut diharapkan mampu Jabung Barat Jambi, di Kecamatan Wonosalam,
menghasilkan uraian secara mendalam tentang Kabupaten Jombang, kendati ada juga jenis kopi
ucapan, tulisan, atau perilaku yang dapat robusta. Pada hamparan seluas 2.000 hektar, jenis
diamati dari individu, kelompok, masyarakat kopi di perkebunan Wonosalam sangat lengkap,
maupun organisasi tertentu. Untuk memperoleh mulai dari jenis arabika, robusta, dan excelsa.
data, peneliti menggunakan instrumen berupa Ketiga jenis itu tumbuh subur bersama-sama,
wawancara mendalam (indepth interview) dan dalam satu hamparan. Lebih istimewa lagi, kopi
observasi lapangan serta dianalisis dengan cara tumbuh di antara beragam jenis tanaman buah
non statistik sesuai dengan sifat metode penelitian dan kayu keras. Tanaman kopi yang kini tengah
deskriptif dimana peneliti akan membuat deskripsi mekar bunganya adalah jenis excelsa dan robusta.
secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta Setelah buahnya dipanen awal tahun depan, yang
dari lokasi penelitian yang ada di Desa Panglungan, berbunga berikutnya giliran tanaman kopi arabika.
Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang; Desa Beragamnya jenis kopi ini membawa keuntungan
Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang dan tersendiri bagi petani karena dengan demikian
Desa Kebonagung, Kecamatan Sawahan, Kabupaten mereka dapat memanen kopi hampir sepanjang
Nganjuk. Penentuan lokasi tersebut didasarkan pada tahun.
lokasi yang memiliki potensi cukup besar dan telah Kopi ekselsa dari Wonosalam yang terkenal
memulai untuk dikembangkan. Di Desa Panglungan dengan daerah penghasil kopi. Walaupun sekitar 90
misalnya terdapat potensi Wisata dan perkebunan persen dari pasar kopi di dunia dikuasai oleh robusta
(agrowisata) yang kini mulai dikembangkan dan arabika, lalu selebihnya kopi liberika dan
oleh Pokdarwis. Di Desa Made pun terdapat ekselsa. Namun, daerah wonosalam yang memiliki
potensi Gadung yang diolah menjadi keripik dan ketinggian 1000mdpl lereng Gunung Anjasmoro,
dikembangkan oleh usaha kecil masyarakat sekitar. Kabupaten Jombang yang hampir setiap desanya
Di Desa Kebonagung juga terdapat potensi kacang memiliki pohon kopi ekselsa. Di Wonosalam, kopi

Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46


40
ekselsa lebih dikenal dengan sebutan kopi asisa. Perkebunan Panglungan. Kawasan perkebunan
Daerah Wonosalam dapat menjadi salah satu dengan topografi pegunungan yang berada di Desa
daerah penghasil kopi, karena hal tersebut berawal Panglungan, Kecamatan Wonosalam ini berfungsi
dari kolonial belanda yang telah membangun sebagai daerah resapan air dan kawasan konservasi
kebun-kebun kopi Wonosalam pada tahun 1800- lahan. Saat ini Panglungan tengah dikembangkan
an. Walaupun demikian, yang membuat kopi ini sebagai agrowisata dengan tanaman utama kakao,
tetap eksis adalah rasa yang dimilikinya sangat unik cengkeh, melinjo, dan kopi; b) Air Terjun Tretes
juga khas. Karakteristik rasanya lebih kepada pahit merupakan air terjun dengan ketinggian 158 meter,
yang paling mendominasi, namun juga memiliki dan terletak di ketinggian 1250 meter di atas
rasa yang manis, asam dan juga sepat dengan tidak permukaan air laut. Terletak di Dusun Pengajaran,
menghilangkan rasa gurihnya.  Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam; c) Makam
Kelebihan yang dimiliki dari kopi jenis Pangeran Benowo: makam ini terletak di Desa
ekselsa adalah selain dari segi rasa yang khas dan Wonomerto, Kecamatan Wonosalam; d) Goa Sigolo-
cenderung unik, aroma yang dimilikinya juga kuat, golo, terletak di Dusun Sranten, Desa Panglungan,
serta dengan ciri fisik yang lebih besar dari pada Kecamatan Wonosalam. Merupakan Goa di wilayah
kopi robusta maupun kopi arabika, juga dapat Jombang yang menyuguhkan pemandangan alam
berbuah sepanjang tahun, dan yang paling penting yang indah; e) Goa Sriti: terletak di Desa Sumberejo
adalah sangat mudah membudidayakannya karena Kecamatan Wonosalam. Untuk mencapai goa ini
memiliki kemampuan dalam hal beradaptasi pengunjung harus melalui jalan setapak yang
terhadap iklim dan juga perubahan cuaca secara sangat panjang berliku, tetapi goa sriti relatif mudah
ekstrim dan kelebihan yang paling menonjol adalah karena pengunjung harus berjalan kebawah dengan
kopi ekselsa sangat tahan dari serangan hama. jalan yang dilalui tidak begitu panjang dengan
Dalam pengembangannya, penanaman pohon pemandangan kawaan hutan yang hijau alami dan
kopi ini dilakukan secara organik sehingga dapat sesekali melewati pematang sawah penduduk yang
menghasilkan rasa yang berkualitas dengan aroma banyak ditumbuhi pohon jati maupun pisang; f)
yang kuat dan harum. Salah satu petani kopi yang Makam Gunung Kuncung, terletak di lereng gunung
sedang mengembangkan kopi excelsa organic di di Desa Wonorejo Kecamatan Wonosalam yakni di
Dusun Mendiro, Desa Panglungan, Kecamatan perbatasan dengan Kabupaten Kediri (Novitasari,
Wonosalam ini, menjelaskan bahwa ada perbedaan 2014, p. 3).
dalam melakukan perawatan pohon kopi excelsa Namun dalam mengembangkan pariwisata,
organik tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil Kecamatan Wonosalam juga masih banyak
penelitian di lapangan yang dikemukakan oleh menghadapi kendala. Masalah yang paling utama
ketua komunitas kopi wonosalam menyatakan adalah infrastruktur, media promosi/informasi
bahwa masih banyak persoalan yang perlu dicarikan dan transportasi. Selain itu, usaha pengelolaan
solusinya untuk pengembangan potensi kopi Excelsa daya tarik wisata yang masih belum berkembang
ke depan yakni branding dan pemasaran kopi sesuai dengan keinginan wisatawan. Dilihat dari
tersebut agar mampu bersaing dengan jenis kopi pembangunan pariwisata sebagaimana diatur
lainnya. Selain itu, masih banyak persoalan yang dalam UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan
perlu dicarikan solusinya untuk pengembangan yang masih menitikberatkan pada usaha pariwisata,
potensi kopi Excelsa ke depan yakni branding dan pembangunan pariwisata di Kecamatan Wonosalam
pemasaran kopi tersebut agar mampu bersaing masih belum optimal dilaksanakan. Belum adanya
dengan jenis kopi lainnya. rencana induk pengembangan kawasan pariwisata
Berdasarkan hasil pemetaan potensi Kabupaten juga menjadi salah satu penyebab pengembangan
Jombang tahun 2018, Kecamatan Wonosalam pariwisata di Wonosalam belum maksimal. Untuk
memiliki potensi sumber daya alam yang luar biasa mereduksi persoalan tersebut maka diperlukan
berupa potensi wisata, pertanian, perkebunan, pengembangan melalui kelompok sadar wisata
peternakan, dan produk unggulan hasil kreativitas (Pokdarwis) dan hal ini telah terbukti memberikan
warga masyarakat Kecamatan Wonosalam. Selain dampak signifikan bagi pendapatan maupun
menyimpan keanekaragaman hayati, Kecamatan perekonomian masyarakat, seperti Air terjun
Wonosalam juga menyimpan 48 titik mata air yang Selo Lapis, Bukit Selo Ringgit dan Goa Sigolo-golo.
sangat penting bagi warga Wonosalam dan Kali Pengelolaan tersebut tentunya membutuhkan
Brantas. Kepala Desa Panglungan menjelaskan sinergi dan kemitraan banyak pihak seperti
bahwa terdapat beberapa potensi sumber daya Pemerintah, pihak swasta, Perhutani hingga
potensial yang belum dioptimalkan yang ada di kontribusi perguruan tinggi di dalamnya.
Kecamatan Wonosalam, antara lain: a) Wisata Agro

Model Inovatif Pengembangan Potensi Desa melalui Lumbung Potensi Desa di


Provinsi Jawa Timur
Novy Setia Yunas 41
B. Pengembangan potensi Keripik Gadung Dari segi ekonomi, kondisi perekonomian di
di Desa Made, Kec. Kudu, Kabupaten Desa Made Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang
Jombang pada 2017 adalah didominasi pada sektor pertanian
Salah satu daerah di Kabupaten Jombang sebesar 80% berdasarkan data desa jumlah buruh
yang masih mengalami kendala dalam peningkatan tani sebanyak 368 jiwa dan petani 483 jiwa.
kesejahteraan masyarakat adalah Desa Made, Sedangkan lainnya bekerja di sektor perdagangan,
Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. Desa Made Wiraswasta, PNS/ABRI/POLRI dan Pensiunan
terletak di utara Sungai Brantas dan salah satu sebesar 20%.
desa yang aksesnya sangat jauh dari pusat kota Selain banyaknya persoalan yang ada di Desa
Jombang melainkan dekat dengan pusat kota Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang
Mojokerto. Sebagian besar penduduknya adalah tersebut, banyak pula potensi yang sekiranya dapat
petani dan masih dalam taraf ekonomi yang dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan tersebut.
memperihatinkan. Secara administrasi Desa Made Seperti potensi di sektor ekonomi, banyak terdapat
terdiri dari 4 (empat) dusun yaitu, Dusun Tawang, usaha pemberdayaan usaha ekonomi kecil anyaman
Dusun Waru, Dusun Ngembak dan Dusun Made. pandan. Anyaman pandan di Desa Made ini
Akses antar dusun maupun desa di Desa Made yang merupakan usaha turun temurun yang masih dijaga
cukup sulit memberikan dampak tersendiri bagi sampai saat ini oleh para generasi penerus. Potensi
berbagai sektor seperti pendidikan, ekonomi dan tanaman pandan yang sangat besar menjadikan
kesehatan. Misalnya saja dalam bidang pendidikan, usaha ini tetap lestari hingga saat ini bahkan telah
untuk mencari pendidikan informal atau bimbingan didistribusikan ke luar kota. Namun, persoalannya
belajar, peserta didik harus menempuh jarak antara adalah usaha anyaman pandan ini tidak digarap
7-10 kilometer dengan akses infrastruktur jalan dengan serius, dalam artian masyarakat hanya
yang tidak mudah. Selain itu, biaya yang tidak membuat anyaman pandan sekadarnya tanpa
murah menyebabkan keengganan bagi orang tua ada inovasi dan minimnya pengetahuan dalam
untuk memberikan fasilitas pendidikan tambahan pemasaran. Selain anyaman pandan, ada pula usaha
bagi anaknya mengingat kondisi ekonomi mereka pembuatan kripik gadung.
yang juga memprihatinkan (Yunas & Isbahi, 2018, Salah satu potensi Desa Made adalah salah
p. 108). Adapun kondisi masyarakat Desa Made, satu desa yang memiliki umbi-umbian cukup besar
Kecamatan Kudu diuraikan sebagai berikut: diantaranya adalah umbi gadung (30 ton/tahun),
ganyong (15 ton/tahun), dan garut (20 ton/tahun).
Tabel 1. Umbi-umbian tersebut salah satunya gadung selama
Kondisi Masyarakat Desa Made, Kecamatan Kudu ini banyak dinilai sebagai tanaman liar yang beracun
dan sangat sulit dalam pengelolaannya. Padahal
Komponen Jumlah gadung merupakan salah satu sumber alternatif
karbohdirat, yang dapat dijadikan peningkatan
Jumlah Penduduk 1974 jiwa diversifikaasi pangan dengan mendayagunakan
Jumlah Penduduk
pangan lokal. Kandungan karbohidrat pada gadung
394 jiwa sekitar 29,7 gram dalam setiap 100 gram gadung
Prasejahtera
segar. Kandungan gizi umbi gadung terdiri dari
Jumlah Penduduk Sejahtera 1 287 jiwa karbohidrat, protein serta mengandung unsur
mineral kalsium, fosfor, besi, vitamin A, B dan C.
Jumlah Penduduk Sejahtera 2 77 jiwa Gadung memang mengandung zat beracun, yaitu
asam sianida atau yang sering dikenal dengan HCN.
Jumlah Penduduk Sejahtera 3 28 jiwa Namun dapat diatasi dengan cara pengolahan yang
tepat dapat menurunkan kadar sianida hingga
Pendidikan Prasekolah ambang batas yang aman untuk dikonsumsi (Yunas,
146 jiwa
Play Group/TK/RA 2018: 110).
Di Desa Made umbi-umbian tersebut terutama
Pendidikan Dasar
547 jiwa Gadung dimanfaatkan secara optimal sehingga
tingkat SD/SMP/MTS
mampu meningkatkan nilai ekonomis bagi
Pendidikan Lanjutan masyarakat. Jika dijual, dalam bentuk umbi segar
112 jiwa
Tingkat SLTA harganya relatif murah sedangkan pengolahan
produknya hanya direbus atau digoreng bahkan
Pendidikan Perguruan Tinggi 15 jiwa jika panen berlimpah karena tidak punya nilai jual
yang tinggi, maka hasil panen umbi-umbian akan
Droup Out 45 jiwa
dibiarkan di lahan. Setidaknya terdapat 15 unit
Sumber: Pemerintah Desa Made, Kecamatan Kudu usaha pemberdayaan keripik gadung di Desa Made

Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46


42
yang setiap produksinya mampu menghasilkan desa. Hal itu bermakna bahwa desa juga harus
kurang lebih 30 kuintal keripik gadung yang siap melaksanakan pembangunan sarana dan prasarana
dipasarkan ke berbagai kota. Selama ini, hasil usaha secara partisipatif dan mandiri dalam rangka
keripik Gadung Desa Made dipasarkan ke berbagai memenuhi kebutuhan masyarakat dengan tetap
kota besar seperti Surabaya, Malang, Batu, Mojokerto memperhatikan aspek pemberdayaan berbasis
hingga Banyuwangi. Usaha pemberdayaan keripik potensi, sumber daya, dan kearifan lokal. Dalam
gadung tersebut membuktikan bahwa umbi- umbian konteks yang lebih teknokratis, pembangunan
yang selama ini dipandang sebagai tanaman liar dan sarana dan prasarana desa merupakan
beracun oleh sebagaian masyarakat mampu diolah pengejawantahan dari Nawa Kerja Menteri Desa dan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Program Unggulan Kerja Mengabdi Desa yang
terdiri atas Jaring Komunitas Wiradesa (JKWD),
C. Pengembangan potensi Kacang Mente Lumbung Ekonomi Desa (LED), dan Lingkar Budaya
di Desa Kebonagung, Kec. Sawahan, Desa (LBD). Sasaran prioritas yang harus dipenuhi
Kabupaten Nganjuk dari program unggulan tersebut adalah 15.000
Di Kabupaten Nganjuk, Kecamatan Sawahan desa yang telah ditetapkan di dalam lndeks Desa
Desa Kebonagung, pengolahan kacang mete menjadi Membangun (IDM) (Kementerian PDT RI, 2014).
salah satu tumpuan ekonomi untuk menopang Dalam upaya membangun desa maka hal yang
kesejahteraan masyarakat. Dengan menilik potensi perlu dilakukan adalah melakukan pembangunan
kacang mete secara nasional, masyarakat Desa dengan mempertimbangkan link and macth
Kebonagung terus meningkatkan kualitas dan merupakan kunci utama tercapainya pembangunan
produksi kacang mete untuk lebih dipasarkan di yang baik. Artinya keterkaitan/sinergisitas
Nganjuk dan sekitarnya lebih-lebih di luar Jawa kebijakan pembangunan dari pemerintah
Timur. Desa Kebon agung memiliki luas wilayah pusat (top down planing) dan pemerintah desa
783 Hektar yang 709 diantaranya merupakan (bottom up Planing) sangat diperlukan. Adapun
lahan produktif kebun dan persawahan. Penduduk dasar strategi pembangunan nasional adalah
di desa Kebonagung ini mayoritas bekerja sebagai sebagai berikut, Pertama, membangun tanpa
petani atau buruh tani. Sedangkan kondisi topografi meningkatkan ketimpangan wilayah. Kedua,
desa Kebonagung cenderung berbukit-bukit Memanfaatkan sumberdaya alam untuk sebesar-
dengan ketinggian rata-rata desa ini adalah 222 besarnya kemakmuran rakyat. Ketiga, Membangun
meter diatas permukaan laut. Sedagkan kondisi dari pinggiran dan dari desa. Keempat, Ekonomi
demografinya, desa ini termasuk desa yang padat harus berorientasi dan berbasiskan pada sektor
kedua dari seluruh desa di kecamatan Sawahan dan jenis usaha yang memasukkan nilai tambah
(Yunas & Isbahi, 2018: 20). sebesar-besarnya dangan SDM berkualitas, inovasi,
Potensi kacang mete telah dikembangkan kreatifitas dan penerapan teknologi yang tepat.
hingga memasuki sebuah pasar mikro hingga makro. Dan kelima, Pembangunan nasional sebagian
Dimana didalam pasar mikro, telah diselenggarakan besar adalah hasil agregasi dari pembangunan
secara rutin festival stand bazar kecamatan Sawahan daerah yang berkualitas. Dengan berdasarkan
dan gelar potensi Jawa Timur yang diselenggarakan pembangunan yang sudah ditetapkan oleh
oleh Dinas UMKM dan Koperasi Jawa timur sejak pemerintah pusat maka hal yang perlu dilakukan
tahun 2015. Tidak hanya itu, industri kacang mete dalam mencapai sinergisitas pembangunan adalah
yang dilakukan oleh usaha kecil mikro ini telah dengan pembangunan dari daerah/desa dari bawah
menjangkau beberapa daerah seperti Surabaya, (Bottom up Planing) atau yang dikenal dengan
Malang, Kediri hingga Bandung. Keterlibatan membangun dari pembangunan, dan kondisi sosial
industri kacang mete di desa Kebonagung ini telah ekonomi yang terjadi (Soleh, 2017, p. 43).
menarik perhatian berbagai lembaga penelitian, Maka, berdasarkan hasil penelitian di atas,
investasi dan kerjasama kampus dalam bidang penulis mendorong sebuah model inovatif bagi
pengabdian masyarakat. pengembangan potensi desa melalui Lumbung
Ekonomi Desa. Lumbung Ekonomi Desa sendiri
D. Implementasi Konsep Penta Helix secara umum akan menjadi pusat pemberdayaan
ekonomi masyarakat pedesaan berbasis potensi
Dalam Pengembangan Potensi Desa
desa untuk mendorong terwujudnya kemandirian
Melalui Model Lumbung Ekonomi Desa masyarakat Desa/Kelurahan mulai dari pemetaan
di Provinsi Jawa Timur potensi desa, pelatihan pengelolaan potensi desa
UU No 6 tahun 2014 secara langsung hingga digitalisasi ekonomi pedesaan bagi generasi
menegaskan bahwa Pemerintah telah muda dalam pemasaran potensi yang telah dikelola
mendelegasikan kewenangan untuk mengatur dan (e-nomakaryo dibaca: enom makaryo) yaitu dengan
mengurus pembangunan secara langsung kepada cara: 1) Meningkatkan peran aktif masyarakat

Model Inovatif Pengembangan Potensi Desa melalui Lumbung Potensi Desa di


Provinsi Jawa Timur
Novy Setia Yunas 43
dalam pengambilan keputusan pembangunan maksud pengembangan potensi desa, langkah-
secara terbuka, demokratis dan bertanggung jawab langkah yang perlu ditempuh, dan tugas serta
(bottom up planning); 2) Melakukan asessmen peran masing-masing.
terhadap potensi yang ada di desa tersebut; 3) 3) Pendataan potensi desa dan kebutuhan
Melakukan pemberdayaan masyarakat berdasarkan masyarakat oleh masing-masing RT,
potensi yang ada. Seperti melakukan pelatihan selanjutnya dihimpun dalam rapat RW untuk
dan sebagainya; 4) Menjalankan sebuah formulasi dikirim ke pemerintah desa.
berbasis digital untuk digitalisasi ekonomi 4) Pemerintah desa menghimpun dan mendata
pedesaan bagi generasi muda dalam rangka potensi desa dan kebutuhan masyarakat dari
melibatkan sumber daya pemuda untuk aktif setiap RT/RW serta masukan dari lembaga.
dalam pengembangan potensi desa melalui wadah/ 5) Musyawarah desa untuk merumuskan potensi
platform digital yaitu e-nomkaryo. desa yang akan dikembangkan berdasarkan
Untuk mengintegrasikan potensi ekonomi desa kebutuhan, biaya dan manfaat dari hasil
dengan mengembangkan kemampuan usaha dan pengembangan. Dalam musyawarah ini
peluang berusaha demi peningkatan pendapatan juga dibentuk Tim-tim pengembang sesuai
dan kesejahteraan Rumah Tangga Miskin. kebutuhan dan keahliannya.
Pengembangan e-nomakaryo tersebut memerlukan 6) Masing-masing tim pengembang melakukan
dukungan dari pihak swasta (provider) dan juga survey lapangan serta pengkajian untuk
perguruan tinggi untuk memberikan pelatihan merumuskan skala prioritas pengembangan
bagi generasi muda di desa. E- nomakaryo ini agar benar-benar bisa dilaksanakan secara
dibuat dengan tujuan untuk memasarkan secara efektif dan efisien.
online produk hasil potensi desa; 5) Membentuk 7) Hasil survey dan pengkajian disampaikan
dan mengoptimalkan fungsi dan peran Unit dalam musyawarah desa, untuk disepakati
Pengelola Keuangan dan Usaha (UPKu) sebagai sebagai program pembangunan desa dan
Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat; dimasukkan dalam dokumen Rencana
6) Membentuk, memfasilitasi dan memberikan Pembangunan Jangka Menengah dan Program
pembinaan Pokmas UEP terutama pada aspek Tahunan. Implementasi pengembangan
kelembagaan dan pengembangan usaha; 7) potensi desa dilaksanakan oleh tim yang
Mengembangkan potensi ekonomi unggulan Desa/ dibentuk dalam musyawarah desa dengan
Kelurahan yang disesuaikan dengan karateristik melibatkan masyarakat.
tipologi Desa/Kelurahan; dan 8) Mendorong Hal tersebut kemudian dapat berjalan secara
terwujudnya keterpaduan peran dan kemitraan maksimal jika dilakukan dengan sinergi berbagai
antar Dinas/Instansi Provinsi dan Kabupaten/Kota aktor seperti akademisi, pemerintah, media massa
maupun stakeholders lainnya sebagai pelaku dan dan sektor swasta, atau dengan kata lain penta helix.
fasilitator program. Kolaborasi Penta Helix yang merupakan kegiatan
Model Pengembangan tersebut tentunya kerja sama antar lini/bidang Academic, Business,
harus diwujudkan secara sinergis dengan Community, Government, dan Media, atau dikenal
seluruh pihak, baik pemerintah, OPD terkait, sebagai ABCGM diketahui akan mempercepat
masyarakat, pihak swasta hingga perguruan tinggi. pengembangan potensi di pedesaan yang cukup
Untuk mewujudkannya, diperlukan agar setiap besar. Unsur Penta Helix ini semula berupa Triple
program pengembangan mendapatkan dukungan Helix dengan unsur-unsur Academics, Business
penuh dari masyarakat, mulai dari pendataan, Sector, Government, yang kemudian ditambahkan
pengkajian, pengerjaan proyek, pemanfaatan dengan satu unsur, Civil Society (atau Communities
hingga pemeliharaan. Dengan mengembangkan dalam penelitian ini), menjadi Quadruple Helix,
partisipasi masyarakat maka pembangunan akan untuk mengakomodasi perspektif masyarakat,
lebih efektif dan efisien karena masyarakat akan dalam hal ini merupakan “masyarakat berbasis
lebih bertanggungjawab terhadap keberlangsungan media dan budaya” yang juga telah menjadi
pembangunan, mereka merasa ikut memiliki bagian menyeluruh dari inovasi di Abad-21 kini.
setiap hasil pembangunan desa. Untuk mendukung Lebih jauh lagi, unsur Communities membuka
pelaksanaan pengembangan potensi desa diatas peluang konfigurasi dan jejaring lintas disiplin,
dapat dilakukan melalui beberapa cara diantaranya: serta membebaskan konsep “inovasi” dari sekedar
1) Sosialisasi pengembangan potensi melalui pertimbangan dan tujuan ekonomi, melainkan juga
musyawarah desa yang dihadiri perangkat melibatkan kreativitas sebagai bagian dari proses
desa, Badan Permusyawaratan Desa, Lembaga produksi pengetahuan dan inovasi (Muhyi, Chan,
Pemberdayaan Masyarakat Desa, Pimpinan Sukoco, & Herawaty, 2017, p. 417). Sebab penelitian
RW, Pimpinan RT, dan inovasi berbasis seni memungkinkan terjadinya
2) Lembaga-lembaga desa dan tokoh masyarakat. pemikiran atau permodelan ulang terhadap model-
Dalam sosialisasi ini perlu disampaikan model pengembangan ekonomi dan pasar yang

Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46


44
sedang tercipta. Quadruple Helix ini kemudian dalam mendukung publikasi dalam promosi dan
ditambahkan satu unsur lagi, yaitu Media, karena membuat brand image.
dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif di
Indonesia, Media (baik media konvensional maupun IV. Kesimpulan
media sosial) memegang peran signifikan, meskipun Disahkannya undang- undang nomor 6 tahun
tetap merupakan elemen yang independen atau 2014 memberikan angin segar bagi pembangunan
tidak langsung terpengaruh oleh unsur-unsur yang masyarakat di pedesaan. Desa didorong untuk
lainnya dalam melaksanakan bagian atau fungsinya mampu mengembangkan berbagai inovasi dalam
(Satari & Asad, 2016, p. 9). pengelolaan potensi desa guna meningkatkan
Konkretnya, beberapa sektor dalam model kesejahteraan serta kemandirian masyarakat.
Lumbung ekonomi desa tersebut memiliki peran Sebagaimana hasil penelitian di tiga desa yakni
dan tugas masing- masing yang bersinergi satu Desa Panglungan, Wonosalam, Jombang dengan
dengan yang lain. Pertama, Akademisi pada model potensi kopi excelsa dan wisata; Desa Kebonagung,
Penta Helix berperan sebagai konseptor. Seperti Sawahan, Nganjuk dengan potensi kacang mente dan
melakukan identifikasi potensi serta sertifikasi Desa Made, Kudu, Jombang dengan potensi Gadung.
produk dan ketrampilan sumber daya manusia yang Untuk mengembangkan potensi desa secara ideal,
mendukung peningkatan potensi desa tersebut. diperlukan sebuah model inovatif berupa Lumbung
Akademisi dalam hal ini merupakan sumber Ekonomi Desa.
pengetahuan dengan konsep, teori-teori terbaru Lumbung Ekonomi Desa akan menjadi pusat
dan relevan dengan kondisi pengembangan potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat pedesaan
desa. Kedua, Sektor swasta pada model Penta Helix berbasis potensi desa, mulai dari pemetaan potensi
berperan sebagai enabler. Sektor swasta merupakan desa, pelatihan pengelolaan potensi desa hingga
entitas yang melakukan proses bisnis dalam digitalisasi ekonomi pedesaan bagi generasi muda
menciptakan nilai tambah dan mempertahankan dalam pemasaran potensi yang telah dikelola
pertumbuhan yang berkelanjutan. Sektor Swasta (e-nomakaryo dibaca: enom makaryo). Lumbung
dapat berperan sebagai enabler menghadirkan Ekonomi desa tersebut dikembangkan melalui peran
infrastruktur teknologi dan modal. Dengan adanya aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan
perubahan ke era digital maka dapat membantu pembangunan secara terbuka, demokratis dan
pengembangan potensi desa menjadi lebih efektif, bertanggung jawab (bottom up planning). Setelah
efisien, dan produktif. itu, diperlukan asessmen terhadap potensi yang
Ketiga, Komunitas pada model Penta Helix ada dan melakukan pemberdayaan masyarakat
berperan sebagai akselerator. Dalam hal ini berdasarkan potensi yang ada, seperti melakukan
komunitas merupakan orang-orang yang memiliki pelatihan dan sebagainya. Setelah produk hasil
minat yang sama dan relevan dengan pengembangan pengembangan potensi tersebut dibuat maka
potensi yang akan dikembangkan. Bertindak sebagai langkah selanjutnya adalah menjalankan sebuah
perantara atau menjadi penghubung antar pemangku formulasi berbasis digital untuk digitalisasi
kepentingan untuk membantu masyarakat dalam ekonomi pedesaan bagi generasi muda dalam
keseluruhan proses dan memperlancar adopsi rangka melibatkan sumber daya pemuda untuk aktif
proses ekonomi. Selain itu, komunitas juga dalam pengembangan potensi desa melalui wadah/
memiliki peran untuk mempromosikan produk platform digital yaitu e-nomkaryo.
atau layanan yang dimiliki oleh lumbung ekonomi Untuk mewujudkan model pengembangan
desa. Keempat, Pemerintah harus berperan sebagai tersebut tentunya harus diwujudkan secara sinergis
regulator sekaligus berperan sebagai kontroler dengan seluruh pihak, khususnya dalam bentuk
yang memiliki peraturan dan tanggung jawab dalam kolaborasi Penta Helix, baik pemerintah, Organisasi
mengembangkan usaha. Dalam hal ini melibatkan Perangkat Daerah (OPD) terkait, masyarakat
semua jenis kegiatan seperti perencanaan, (komunitas), pihak swasta hingga perguruan tinggi
pelaksanaan, pemantauan, pengendalian, promosi, maupun media. Kemitraan tersebut dibangun
alokasi keuangan, perizinan, program, Undang- sesuai tupoksi yang ada dengan menghilangkan
Undang, pengembangan dan pengetahuan, ego sektoral diantara masing-masing sektor.
kebijakan inovasi publik, dukungan untuk jaringan Selain itu, diperlukan political will dan karakter
inovasi dan kemitraan publik-swasta. Pemerintah kepemimpinan yang kuat di tingkat desa untuk
juga memiliki peran dalam mengkoordinasi para bersama-sama menggerakkan masyarakat maupun
pemangku kepentingan yang berkontribusi pada mengembangkan potensi yang ada melalui
pengembangan potensi desa. Terakhir, Media harus kebijakan inovatif seperti Lumbung Ekonomi desa
bisa bertindak sebagai expender. Media berperan tersebut.

Model Inovatif Pengembangan Potensi Desa melalui Lumbung Potensi Desa di


Provinsi Jawa Timur
Novy Setia Yunas 45
Ucapan Terima Kasih matan-wonosalam-kabupaten-jombang-arti-
Penulis mengucapkan terima kasih kepada cle-6535-media-138-category-8.html
Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Pemerintah Satari, F. C., & Asad, N. (2016). Model Strategi Pengem-
Kabupaten Jombang, Pemerintah Kabupaten bangan Wirausaha & Ekonomi Kreatif di Ting-
Nganjuk, Komunitas Kopi Excelsa Wonosalam dan kat Kota (Pemetaan Per-Kecamatan) di Band-
Pokdarwis di Wonosalam yang telah memberikan ung, dengan Pendekatan Ekosistem Ekonomi
data dan inspirasi bagi tulisan ini agar kedepan Kreatif, SWOT, Identifikasi Peran (Pentahelix)
dapat memberikan masukkan bagi inovasi di desa. Stakeholders dan Rencana Aksi Implementasin-
ya. Bandung. Retrieved from http://www.feb.
unpad.ac.id/dokumen/files/01-Laporan-ke-
V. Daftar Pustaka majuan_RFU_FINAL.pdf
Chambers, R. (1988). Pembangunan Desa: Mulai Shohibuddin, M. (2017). Peluang dan Tantangan
Dari Belakang. Jakarta: LP3ES. Undang-undang Desa dalam Upaya Demokra-
Eko, S. (2014). Desa Membangun Indonesia. Yogya- tisasi Tata Kelola Sumber Daya Alam Desa: Per-
karta: FPPD. spektif Agraria Kritis. MASYARAKAT: Jurnal So-
Indonesia, K. P. R. (2014). Indeks Desa Membangun, siologi, 21(1), 1–33. https://doi.org/10.7454/
6–8. mjs.v21i1.5021
Komansilan, N. A. (2014). Analisa Kebijakan Pen- Soleh, A. (2017). Strategi Pengembangan Potensi
anggulangan Kemiskinan di Bantaran Rel Desa. Jurnal Sungkai, 5(1), 32–52. https://doi.
Kereta Api Senen Jakarta (Studi Dampak Kebi- org/http://dx.doi.org/10.30606/js.v5i1.1181
jakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Ja- Solikatun, Supono, & Yulia Masruroh. (2014). Kemi-
karta di Bantaran Rel Kereta Api Senen Jakar- skinan Dalam Pembangunan. Jurnal Analisa So-
ta). Jurnal JI@P Unisri, 01(01). Retrieved from siologi, 3(1), 14–15. https://doi.org/10.20961/
https://ejurnal.unisri.ac.id/index.php/MAP/ jas.v3i1.17450
search/authors/view?firstName=Nouke&mid- Sugiyono. (2008). Metode Penelitian Pendidikan:
dleName=A&lastName=Komansilan&affilia- Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
tion=&country=ID Bandung: Alfabeta.
Kushandajani. (2015). Implikasi UU No. 6 Tahun Wardiyanto, B., Aminah, S., & Ucu Martanto. (2014).
2014 tentang Desa terhadap Kewenangan Percikan Pemikiran Tata Kelola dan Pemban-
Desa. JIIP, Jurnal Ilmiah Ilmu Pemerintahan, gunan Desa. Surabaya: Airlangga University
4(2), 76–94. https://doi.org/10.14710/jiip. Press. Retrieved from http://csws.fisip.unair.
v2i1.1635 ac.id/publikasi/
Maschab, M. (2013). Politik Pemerintahan Desa di Yunas, N. S., & Huda, M. (2018). Pengembangan Po-
Indonesia. Yogyakarta: PolGov UGM. tensi Desa Made, Kecamatan Kudu, Kabupaten
Muhyi, H. A., Chan, A., Sukoco, I., & Herawaty, T. Jombang, Dalam Meningkatkan Kemandirian
(2017). The Penta Helix Collaboration Mod- Masyarakat. Mitra Pengabdian Masyarakat
el in Developing Centers of Flagship Industry Unika Atmajaya, 02(02), 104–113. https://doi.
in Bandung City. Review of Integrative Busi- org/https://doi.org/10.25170/mitra.v2i2.104
ness and Economics Research, 6(1), 412–417. Yunas, N. S., & Isbahi, B. (2018). Lumbung Potensi
Retrieved from https://sibresearch.org/ Desa: Model Inovatif Pengembangan Potensi
uploads/3/4/0/9/34097180/riber_th16- Desa Sebagai Upaya Meningkatkan Kesejahter-
131_412-417.pdf aan Masyarakat di Provinsi Jawa Timur (01 No.
Novitasari, D. (2014). Analisa Kebijakan Terha- 01). Jawa Timur. Retrieved from https://jakad-
dap Pengembangan Pariwisata di Kecamatan publisher.org/wp-content/uploads/2019/02/
Wonosalam Jombang. Jurnal Kebijakan Dan NOVY-SETIA-YUNAS.pdf
Manajemen Publik Universitas Airlangga, Zamroni, S., Anwar, Z., & Yulianto, S. (2015). Desa
01(01), 1–8. Retrieved from http://journal. Mengembangkan Penghidupan Berkelanjutan
unair.ac.id/KMP@analisis-kebijakan-terh- (1st ed.). Yogyakarta: Penerbit IRE.
adap-pengembangan-pariwisata-di-keca-

Matra Pembaruan 3 (1) (2019): 37-46


46