Sei sulla pagina 1di 9

KAJIAN ASPEK ERGONOMI MIKRO

PADA SISTEM KERJA AGRO INDUSTRI


(Studi Kasus Pabrik Gula Pada Proses Tebang Angkut Dan Giling)
Lamto Widodo1), Bambang Pramudya2), Sam Herodian2), M. Faiz Syu’aib2)
1
) Mahasiswa Program Doktoral Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
Staf Pengajar Program Studi Teknik Industri – Jurusan Teknik Mesin – UNTAR Jakarta
2
) Staf Pengajar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT
Agro-industrial work system, especially the sugar industry is a very complex work
systems. In the approach to ergonomics, system components can be divided into human
(workers), equipment and materials, physical environment and organizational environment.
Each component interacts with the pattern of interrelation in the principle of autopoeisis (self-
organizing system). Ergonomics analysis of the each component are needed in order to design
or redesign the system, to ensure that work system can be sustainabe. This paper discusses
some of the ergonomic aspects of work systems, among others, physical workload of manual
harvesting, manual transporting of sugarcane and physical environmental conditions in the
factory include vibration, temperature, noise, and lighting, as well as employee perceptions of
work facing the system. Based on the comparison value IRHR (increase ratio of heart rate) for
each job, the workload of manual harvesting categorized in moderate and severe categories
(IRHR between 1.27 to 1.66) and manual transporting categorized in heavy and very heavy
(IRHR between 1.43 to 1, 93). The physical condition of the factory there are some of the data
beyond the allowed limit, for example, the highest temperature reached 37 0C, very low
illumination of 7.5 lux, and the noise reached 93.2 dB. While the boiler operator workload is
very heavy category (IRHR 1.67). From some of these results, it can be concluded that
conditions are less ergonomic work systems, and requires some improvement in
microergonomics aspects.
Keywords : Agro-industrial work system, microergonomics, manual harvesting, manual
transporting, factory conditions, workload.

1. PENDAHULUAN1 meningkatnya efektifitas dan efisiensi


industri. Dampak lainnya adalah sedikitnya
Sebagai suatu sistem kerja yang besar
absensi karyawan, kualitas produk
dan bersifat sangat komplek, industri agro
meningkat, kecelakaan kerja berkurang,
khususnya industri gula harus dirancang
biaya kesehatan dan asuransi berkurang
dengan memperhatikan seluruh pihak-pihak
dan tingkat keluar masuk karyawan (turn-
yang terlibat. Pihak-pihak tersebut antara
over) juga berkurang. Hasil akhir dari
lain pemilik/pengelola, pegawai, pasar dan
sistem yang ergonomis adalah
regulator. Masing-masing pihak secara
meningkatnya pendapatan perusahan dan
mendasar memiliki kepentingan yang
mengurangi pengeluaran (walaupun pada
berbeda, bahkan kadang-kadang saling
awalnya perlu investasi ergonomi). Dengan
bertentangan.
demikian rancangan sistem kerja dengan
Sesuai dengan definisi ergonomi,
tingkat ergonomi yang baik berarti juga
sebuah sistem kerja harus dapat menjamin
memiliki aspek ekonomi yang baik.
keamanan, kesehatan dan keselamatan
Untuk mendukung proses perancangan
kerja, serta mampu memenuhi kebutuhan
sistem kerja industri agro sehingga
hidup mendasar. Sistem kerja yang
menghasilkan sistem industri yang
ergonomis akan memberikan dampak
berkelanjutan, diperlukan suatu studi
terhadap hasil kerja tersebut, yaitu
kondisi riil pekerjaan terutama yang terkait
dengan beban kerja yang akan diterima
Korespondensi :
operator atau manusia. Tulisan ini
Lamto Widodo
E-mail : lamto-mesin@tarumanagara.ac.id memaparkan beberapa temuan lapangan

Kajian Aspek Ergonomi Mikro (Lamto Widodo) 29


dari kondisi kerja mulai proses batas kemampuan baik dalam jangka
penebanganan tebu, pengangkutan ke truk pendek maupun jangka panjang pada saat
serta kondisi di pabrik pengolahan. berhadapan dengan lingkungan
pekerjaannya yang berupa perangkat keras
Tempat dan Waktu Penelitian (mesin, peralatan kerja, dsb.) dan perangkat
Penelitian ini dilaksanakan di dua lunak (metode kerja, sistem dan prosedur).
pabrik gula yaitu di PG Bunga Mayang (PG Pada bulan Agustus 2000 IEA Council
BM) Lampung dan PG Jati Tujuh (PG JT) (International Ergonomics Association)
Cirebon. Pemilihan dua pabrik tersebut mendefinisikan bahwa Ergonomics (or
dengan pertimbangan satu di pulau Jawa human factors) is the scientific discipline
(lahan basah) dan satu di luar jawa (lahan concerned with the understanding of
kering). Waktu penelitian keseluruhan interactions among humans and other
dimulai pada bulan September 2007 sampai elements of a system, and the profession
dengan November 2008. that applies theory, principles, data and
methods to design in order to optimize
Obyek Penelitian human well-being and overall system
Obyek yang akan dikaji dalam performance. Dengan demikian ergonomi
penelitian ini adalah : adalah multidisiplin ilmu mencakup human
1. Sistem kerja di lahan budidaya pada science, engineering science dan economic
saat pemanenan/tebang and social science.
Penelitian difokuskan pada jumlah dan Dalam membahas penerapan ergonomi,
kondisi pekerja karyawan, serta kondisi Schmidtke (1993) menyatakan bahwa
beban fisik yang harus diterima. tujuan ergonomi adalah untuk
2. Sistem kerja di tempat pabrikasi meningkatkan performansi seluruh sistem
Penelitian difokuskan pada jumlah dan kerja dan pada waktu yang sama
komposisi karyawan, shift kerja, mengurangi ketegangan pekerja selama
alat/mesin yang ditangani, lingkungan melaksanakan pekerjaan tersebut dengan
kerja dan persepsi subyektif pekerja. cara menganalisa pekerjaan, lingkungan
kerja dan interaksi manusia mesin. Menurut
Bridger (1995) sistem kerja terdiri dari
beberapa sub sistem yaitu sub sistem
2. LANDASAN TEORITIS
manusia, alat dan lingkungan. Masing-
Ergonomi berasal dari bahasa Latin masing sub sistem saling terkait dan saling
yaitu ergos yang berarti kerja dan nomos mempengaruhi sehingga jika dikehendaki
yang berarti hukum, sehingga dapat hasil yang maksimum dari sistem tersebut
didefinisikan sebagai studi tentang aspek- harus dilakukan optimalisasi potensi sub
aspek manusia dalam lingkungan kerjanya sistem. Sub sistem manusia mencakup
yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, efektor, panca indra dan proses pendukung.
psikologi, engineering, manajemen dan Sub sistem alat meliputi mekanisme alat,
desain atau perancangan. Di dalam pengendali dan display. Sedangkan sub
ergonomi dibutuhkan studi tentang sistem sistem lingkungan mencakup ruang kerja,
dimana manusia, fasilitas kerja dan lingkungan fisik dan lingkungan organisasi.
lingkungannya saling berinteraksi dengan Beban kerja merupakan suatu masalah
tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana penting dalam analisa ergonomi karena
kerja dengan manusianya (Nurmianto, akan diterima langsung oleh
2004). Dengan demikian ergonomi pekerja/manusia. Beban kerja yang amat
dimaksudkan sebagai disiplin keilmuan berat akan mengakibatkan kinerja manusia
yang mempelajari manusia dalam kaitannya menurun dengan drastis, dengan resiko
dengan pekerjaanya. Disiplin ini akan kelelaan dan kecelakaan kerja yang besar.
secara khusus mempelajari kemampuan dan Beban kerja terdiri dari beban kerja fisik
keterbatasan manusia dalam berinteraksi dan non fisik dan secara akumulatif
dengan teknologi dan produk-produk diterima oleh tubuh manusia. Pengukuran
buatannya. Disiplin ini berangkat dari beban kerja fisik dapat dilakukan dengan
kenyataan bahwa manusia memiliki batas-

30 Jurnal Teknik Industri, ISSN:1411-6340


memperhatikan empat parameter fisiologis Untuk menghindari subyektifitas nilai
sebagai berikut (Zanders, 1972): denyut jantung yang umumnya sangat
1. Suhu Tubuh dipengaruhi faktor-faktor personal,
Peningkatan beban kerja akan psikologis, dan lingkungan, maka
menaikkan suhu tubuh, sehingga suhu perhitungan nilai denyut jantung harus
tubuh dapat dijadikan parameter dinormalisasi agar diperoleh nilai denyut
pengukuran beban kerja fisik. Pada jantung yang lebih obyektif (Syuaib, 2003).
pekerja yang bekerja pada suhu udara Normalisasi nilai denyut jantung dilakukan
tinggi, peningkatan suhu tubuh tidak dengan cara perbandingan denyut jantung
proporsional dengan laju konsumsi O2, relatif saat kerja terhadap denyut jantung
sifat ini dapat dijadikan indikasi saat istirahat. Nilai perbandingan HR
pengukuran heat stress. tersebut dinamakan IRHR (Increase Ratio
2. Konsumsi Oksigen (O2) of Heart Rate) atau dengan persamaan :
Perubahan karbohidrat, lemak, dan HRwork
protein menjadi energi memerlukan O2, IRHR 
HRrest ...................(1)
dengan demikian konsumsi O2 dapat
dijadikan parameter untuk pengukuran Pengukuran beban kerja fisik termudah
benda kerja, dengan mengequivalenkan untuk dilakukan pada kondisi lapang adalah
antara kebutuhan energi dan kebutuhan menggunakan pengukuran denyut jantung.
O2 diperoleh hubungan yang nyata Akan tetapi pengukuran ini memiliki
antara keduanya. Konsumsi energi kelemahan, karena hasil pengukuran tidak
bersih per kegiatan dapat diukur dengan hanya dipengaruhi oleh usaha-usaha fisik,
cara menguranginya dengan energi yang melainkan juga oleh kondisi dan tekanan
diperlukan untuk metabolisme basal. mental. Kelemahan lainnya adalah
3. Laju Paru-Paru dan Frekwensi bervariasinya karakter denyut jantung pada
Pernafasan setiap orang, dan dapat pula terjadi
Laju paru-paru dan frekwensi penyimpangan (Hayashi dalam Amelia
pernafasan seimbang dengan konsumsi 2003).
O2, sehingga dengan mengetahui laju Salah satu metode yang dipergunakan
paru-paru dan frekwensi pernafasan untuk kalibrasi pengukuran denyut jantung
dapat dihitung besarnya konsumsi O2 ini adalah dengan mempergunakan metode
dan dapat diketahui besarnya beban step test atau metode langkah, selain dari
kerja. sepeda ergometer. Dengan metode step test,
4. Denyut Jantung dapat diusahakan suatu selang yang pasti
Kerja jantung akan meningkat jika tubuh dari beban kerja dengan hanya mengubah
melakukan tenaga mekanis. Laju denyut tinggi bangku step test dan intensitas
jantung yang tinggi akan diikuti oleh langkah. Metode ini juga lebih mudah,
konsumsi O2 yang rendah, biasanya karena dapat dilakukan dimana-mana,
menunjukkan kelelahan otot, terutama terutama di lapang, dibandingkan dengan
untuk pekerjaan statis (Zander, 1972 dan menggunakan sepeda ergometer (Hayashi
Sanders, 1987). dalam Amelia 2003).
Indikator-indikator fisiologis beban Menurut (Hayashi dalam Amelia 2003),
kerja dapat menentukan berapa lama denyut jantung sebanding dengan konsumsi
seseorang dapat bekerja, sesuai dengan oksigen. Beban kerja yang pasti dapat
kapasitas kerjanya. Metode denyut jantung diketahui dengan mengkalibrasi antara
mempunyai kelemahan, yaitu sering kurva denyut jantung saat bekerja dengan
diperolehnya hubungan yang tidak mantap beban kerja (denyut jantung) yang
antara hasil pengukuran dengan ditetapkan sebelum bekerja (metode step
pengeluaran energi (Netty, 2003). Pada test).
dasarnya ada dua hal pokok yang dapat Step test mempunyai komponen
mempengaruhi kemampuan kerja fisik pengukuran yang mudah, bisa dilakukan
manusia dalam setiap aktivitasnya, yaitu dimana saja dan kapan saja, sehingga
faktor personal dan faktor lingkungan dengan demikian dengan metode ini
(Bridger, 1995). ketidakstabilan denyut jantung seseorang
dapat dengan mudah dianalisa (Hayashi

Kajian Aspek Ergonomi Mikro (Lamto Widodo) 31


dalam Amelia 2003). Dengan metode ini berbeda tingkat kelelahan yang dapat
beberapa faktor individual seperti umur, ditimbulkan, yaitu :
jenis kelamin, berat dan tinggi badan, harus a) Pada saat melakukan penebangan
diperhatikan sebagai faktor penting untuk b) Pada saat melakukan pengangkutan
menentukan karakteristik individu yang c) Pada saat melakukan step test
diukur (Herodian dalam Amelia 2003). d) Pada saat pekerja beristirahat
Faktor lingkungan kerja juga Sebelum melakukan pengukuran
merupakan hal yang harus diperhatikan denyut jantung pekerja pada saat
dalam rancangan sistem kerja. Lingkungan melakukan penebangan dan pengangkutan,
terdiri dari dimensi dan lingkungan fisik, terlebih dahulu dilakukan pengukuran
serta lingkungan organisasi pada umumnya. denyut jantung pada saat melakukan step
Lingkungan fisik meliputi temperatur, test. Step test dilakukan dengan cara
pencahayaan, kebisingan, getaran, melangkah naik turun bangku step test
kelembaban, polusi, dan kondisi cuaca pada setinggi 30 cm dengan ritme kecepatan
umumnya. Sedangkan faktor lingkungan langkah yang berbeda. Ritme kecepatan
organisasi adalah sistem manajemen yang langkah yang diukur yaitu 25 siklus/menit,
diterapkan pada sistem tersebut dalam 30 siklus/menit, dan 35 siklus/menit. Setiap
mengatur hubungan manusia, alat, sistem, ulangan masing-masing ritme dilakukan
material, informasi dan modal. Kepedulian selama 3 menit dengan diselingi istirahat
manajemen terhadap kondisi kerja termasuk selama ±5 menit. Pengukuran denyut
masalah K3 (kesehatan dan keselamatan jantung pada saat tebang angkut dilakukan
kerja) sangat diperhatikan dalam kajian sebanyak 4 kali ulangan untuk
ergonomi. meminimalkan kesalahan dalam
pengambilan data.

Data Responden
3. PENGUMPULAN DAN
Pengukuran denyut jantung dilakukan
PENGOLAHAN DATA
kepada tenaga tebang dan tenaga angkut
a. Beban kerja tebang angkut sebanyak 3 orang yang berpengalaman dan
Beban kerja tebang angkut dihitung 3 orang tidak berpengalaman dengan jenis
dengan menganalisa pola denyut jantung kelamin pria. Adapun spesifikasi pekerja
dari pekerja. Pengukuran denyut jantung yang menjadi subyek penelitian dapat
dilakukan pada beberapa aktivitas yang dilihat dari tabel 1 dan tabel 2.

Tabel 1. Spesifikasi subyek tenaga yang berpengalaman


Umur Berat badan Tinggi badan Pengalaman kerja
Subyek
(tahun) (kg) (cm) (tahun)
1 31 54.7 163 20
2 32 59.2 162 16
3 50 48.7 152 20

Tabel 2. Spesifikasi subyek tenaga yang tidak berpengalaman


Umur Berat badan Tinggi badan Pengalaman kerja
Subyek
(tahun) (kg) (cm) (tahun)
1 17 48.5 153 3
2 19 53.1 172 1
3 21 45.4 169 1

Pengukuran denyut jantung dilakukan istirahat terlebih dahulu untuk mengetahui


saat pekerja melakukan penebangan, nilai denyut jantungnya (HRrest).
pengangkutan, istirahat dan step test. Pengukuran denyut jantung masing-masing
Sebelum melakukan penebangan, pekerja pekerja yang pengalaman dan tidak

32 Jurnal Teknik Industri, ISSN:1411-6340


pengalaman saat penebangan dilakukan 160
A
dengan 4 kali ulangan. Pengukuran 150

Denyut jantung
dilakukan pada pagi dan siang hari.

(denyut/menit)
140
Beberapa contoh hasil pengukuran dapat 130
dilihat pada Gambar 1 sampai dengan
120
Gambar 4.
110

100

0:38:25
0:40:55
0:43:25
0:45:55
0:48:25
0:50:55
0:53:25
0:55:55
0:58:25
1:00:55
1:03:25
1:05:55
1:08:25
1:10:55
1:13:25
180
R ST1 R ST2 R ST3 R
160
Waktu (detik)
Denyut jantung
(denyut/menit)

140
Keterangan:
120 A : Angkut

100 Gambar 3. Grafik denyut jantung pekerja


80 tiga berpengalaman saat angkut pagi
60
0:00:00
0:02:00
0:04:00
0:06:00
0:08:00
0:10:00
0:12:00
0:14:00
0:16:00
0:18:00
0:20:00
0:22:00
0:24:00
0:26:00
0:28:00
0:30:00
0:32:00
0:34:00
150
R ST1 R T
140
Waktu (detik) 130

Denyut jantung
(denyut/menit)
120
110
Keterangan : 100
R : Istirahat ST2 : Step test 25 siklus/menit 90
ST1 : Step test 20 siklus/menit ST3 : Step test 30 siklus/menit 80
70
Gambar 1. Grafik denyut jantung pekerja 60
0:00:00
0:02:30
0:05:00
0:07:30
0:10:00
0:12:30
0:15:00
0:17:30
0:20:00
0:22:30
0:25:00
0:27:30
0:30:00
tiga berpengalaman saat step test
Waktu (detik)

130
R ST1 R T Keterangan :
120 R : Istirahat T : tebang
ST1 : Step test 20 siklus/menit
Denyut jantung
(denyut/menit)

110
Gambar 4. Grafik denyut jantung pekerja
100
berpengalaman saat tebang siang
90
80
Setelah melakukan step test,
70 didapatkan nilai perbandingan antara
60 HRwork dan HRrest (IRHR) pada tabel 3
0:00:00
0:02:30
0:05:00
0:07:30
0:10:00
0:12:30
0:15:00
0:17:30
0:20:00
0:22:30
0:25:00
0:27:30
0:30:00
0:32:30
0:35:00
0:37:30

dan tabel 4 yang menunjukkan kategori dari


pekerjaan tebang dan angkut untuk masing-
Waktu (detik)
Keterangan :
masing pekerja. Untuk pekerja yang
R : Istirahat T : tebang berpengalaman pada pekerjaan tebang
ST1 : Step test 20 siklus/menit termasuk kategori sedang, sedangkan
Gambar 2. Grafik denyut jantung pekerja pekerja yang tidak berpengalaman termasuk
kategori sedang dan berat. Untuk pekerjaan
tiga berpengalaman saat tebang pagi
mengangkut pekerja yang berpengalaman
termasuk kategori sedang dan berat,
sedangkan pekerja tidak berpengalaman
termasuk kategori berat dan sangat berat
dengan nilai IRHR yang lebih besar.

Tabel 3. Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja berpengalaman


Tebang Pagi Tebang Siang Angkut Pagi Angkut Siang
Subyek
IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori IRHR Kategori
1 1.30 sedang 1.44 sedang 1.64 berat 1.44 sedang
2 1.45 sedang 1.66 berat 1.33 sedang 1.58 berat
3 1.28 sedang 1.27 sedang 1.61 berat 1.43 sedang

Kajian Aspek Ergonomi Mikro (Lamto Widodo) 33


Tabel 4. Kategori pekerjaan berdasarkan IRHR pekerja tidak berpengalaman
Tebang Pagi Tebang Siang Angkut Pagi Angkut Siang
Subyek
IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi
1 1.50 berat 1.57 berat 1.73 berat 1.93 sangat berat
2 1.40 sedang 1.52 berat 1.50 berat 1.65 berat
3 1.26 sedang 1.49 sedang 1.61 berat 1.63 berat

Pekerjaan tebang ataupun angkut dapat b. Kondisi lingkungan fisik dan beban
diketahui klasifikasinya berdasarkan kerja di unit pabrikasi
perbandingan nilai IRHR untuk masing- Kondisi fisik di pabrik meliputi
masing pekerjaan termasuk kategori sedang pencahayaan, temperatur (suhu),
dan berat, sedangkan mengangkut termasuk kelembaban, kebisingan dan getaran
kategori berat dan sangat berat. disampaikan pada Tabel 5 sampai dengan
tabel 8. Sedangkan kondisi beban kerja
ditampilkan pada Tabel 9 dan Tabel 10.

Tabel 5. Kondisi Fisik Stasiun Gilingan


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Ambang Batas PG BM PG JT PG BM PG JT PG BM PG JT
2.000-100.000 (sun)
Illuminasi (lux) 3598,1 4526,2 6863,3 5492,8 73,4 1871,8
50-500 (light) 1)
0 0 2)
Suhu ( C) 25-30 C 30,1 36,9 35,7 35,9 29,9 30,0
Kelembaban (%) 50-70 3) 67,1 51,5 36,3 52,1 72,6 74,6
Kebisingan (dB) 85 2) 85,8 87,7 85,4 87,9 81,8 86,0
Getaran (m/s2) 4 2) 1,1 3,9 1,6 3,9 1,2 3,8
1)
Grandjean (1988) 2) Menaker (1999) 3) Sulistyadi (2003)

Tabel 6. Kondisi Fisik Stasiun Pemurnian


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Ambang Batas PG BM PG JT PG BM PG JT PG BM PG JT
2.000-100.000 (sun)
Illuminasi (lux) 214,3 30,3 169,1 7,5 11,0 12,0
50-500 (light) 1)
0 2)
Suhu (0C) 25-30 C 33,0 37,0 35,2 29,5 31,8 30,3
Kelembaban (%) 50-70 3) 51,1 42,3 39,0 65,2 63,8 68,0
2)
Kebisingan (dB) 85 86,3 88,7 87,8 87,4 87,1 86,7
2 2)
Getaran (m/s ) 4 1,3 1,0 0,9 0,7 0,9 0,8
1)
Grandjean (1988) 2) Menaker (1999) 3) Sulistyadi (2003)

Tabel 7. Kondisi Fisik Stasiun Penguapan


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Ambang Batas PG BM PG JT PG BM PG JT PG BM PG JT
2.000-100.000 (sun)
Illuminasi (lux) 214,3 30,3 169,1 7,5 11,0 12,0
50-500 (light) 1)
0 0 2)
Suhu ( C) 25-30 C 33,0 37,0 35,2 29,5 31,8 30,3
Kelembaban (%) 50-70 3) 51,1 42,3 39,0 65,2 63,8 68,0
2)
Kebisingan (dB) 85 86,3 88,7 87,8 87,4 87,1 86,7
2 2)
Getaran (m/s ) 4 1,3 1,0 0,9 0,7 0,9 0,8
1)
Grandjean (1988) 2) Menaker (1999) 3) Sulistyadi (2003)

Tabel 8. Kondisi Fisik Stasiun Boiler


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Ambang Batas PG BM PG JT PG BM PG JT PG BM PG JT
2.000-100.000 (sun)
Illuminasi (lux) 239,3 296,2 55,3 10,5 19,6 17,2
50-500 (light) 1)
0 0 2)
Suhu ( C) 25-30 C 31,8 31,2 34,8 28,3 29,8 28,5
Kelembaban (%) 50-70 3) 45,9 62,0 31,7 63,3 57,9 64,7
2)
Kebisingan (dB) 85 90,1 93,2 90,3 93,1 91,6 92,9
Getaran (m/s )
2
4 2) 1,0 0,3 0,9 0,3 0,5 0,3
1)
Grandjean (1988) 2) Menaker (1999) 3) Sulistyadi (2003)

34 Jurnal Teknik Industri, ISSN:1411-6340


c. Beban kerja operator Stasiun Bolier operator) atau berkeliling mengawasi
Beban kerja operator di dalam pabrik, kondisi stasiun secara berkala.
hanya diambil sampel pekerja stasiun boiler Sampel pengukuran dilakukan untuk 2
kerja sebanyak 2 (dua) operator. Pemilihan orang operator boiler di PG Jatitujuh dan 2
ini didasarkan pada kondisi lapangan bahwa orang operator boiler di PG Bunga Mayang.
hanya pekerja di stasiun ini yang Metode pengukuran dengan cara yang sama
melakukan pekerjaan manual secara rutin untuk pekerja tebang angkut, yaitu dengan
yaitu mengaduk bagas yang digunakan melakukan step test dan dilanjutkan
untuk bahan bakar di tungku boiler. Pekerja pengukuran denyut jantung saat bekerja.
ladi stasiun lebih banyak bekerja Hasil dari pengukuran tersebut ditampilkan
mengawasi panel kendali (di ruang pada Tabel 9 dan Tabel 10.

Tabel 9. Kategori beban kerja di Stasiun Boiler PG Jati Tujuh


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Subyek IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi
1 1.46 Sedang 1.33 Sedang 1.42 Sedang
2 1.52 Berat 1.46 Sedang 1.55 Berat

Tabel 10. Kategori beban kerja di Stasiun Boiler PG Bunga Mayang


Shift Pagi Shift Siang Shift Malam
Subyek IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi IRHR Klasifikasi
1 1.42 Sedang 1.67 Berat 1.39 Sedang
2 1.33 Sedang 1.42 Sedang 1.48 Sedang

Dari hasil pengolahan data kondisi fisik d. Hasil kuisioner persepsi karyawan
pabrik ada beberapa yang melewati batas Sebagai kelengkapan penelitian aspek
rekomendasi yang diijinkan, misalnya ergonomi, dilakukan survey persepsi
temperatur tertinggi mencapai 37 0C, dengan pemberian kuisioner yang diisi
illuuminasi sangat rendah 7,5 lux , serta langsung oleh karyawan pabrikasi. Hasil
kebisingan mencapai 93,2 dB. Sedangkan kuisioner mencerminkan pandangan
beban kerja operator boiler ada yang subyektif dari pekerja dan ditampikan pada
mencapai kategori sangat berat yaitu IRHR Tabel 11.
1,67.

Tabel 11. Hasil Kuisioner di PG Bunga Mayang dan PG Jati Tujuh

Kajian Aspek Ergonomi Mikro (Lamto Widodo) 35


Dari tabel kuisioner yang diberikan 330T. Skripsi. Jurusan Teknik
kepada seluruh pekerja pabrik, sebagaian Pertanian. IPB, Bogor.
besar menyatakan bahwa manajemen [3] Bridger, R. S. 1995. Introduction to
sangat peduli dengan kesehatan dan Ergonomics. McGraw Hill. Singapore
keselamatan kerja. Namun hal ini perlu [4] Hayashi, N., S. Moriizumi, dan H. Jin.
penelitian lebih lanjut karena terdapat 1997. The step test as a new type of
kontradiksi dengan persepsi karyawan ergometer using both oxygen
terhadap beban kerja, kelelahan dan consumption and heart rate.
kecelakaan kerja, dengan menyatakan Proceeding. XXVII CIOSTA CIGR V
beberapa parameter beban kerja dan Congress, Kaposvar, Hungary. 25-27
kelelahan dalam kategori berat. Jika benar August 1997.
perusahaan sudah peduli seharusnya ketiga [5] Hendrawansyah. 1998. Penentuan
parameter tersebut akan dipersepsikan Koefisien Tenaga Manusia Dengan
ringan atau maksimum sedang oleh pekerja. Metode Step Test. Skripsi. Jurusan
Teknik Pertanian. IPB, Bogor.
[6] Herodian, S. 1997. Workload
calibration by using step test method.
4. KESIMPULAN
Proceeding. XXVII CIOSTA CIGR V
Kategori pekerjaan berdasarkan nilai Congress, Kaposvar, Hungary. 25-27
IRHR pekerjaan menebang termasuk August 1997.
sedang untuk pekerja berpengalaman, [7] Manuaba, Adnyana, 2002, ‘SHIP’
sedang dan berat untuk pekerja tidak Approach Workshop On Democracy
berpengalaman. Sedangkan pekerja And Human Rights, Prosiding
berpengalaman maupun yang tidak International Seminar On Egonomics
berpengalaman termasuk kategori berat and Sport Physiology, Denpasar, 14-17
untuk pekerjaan mengangkut. Oktober 2002, ISBN : 979-8286-54-5
Hasil penelitian menunjukkan [8] Manuaba, Adnyana, 2005, Pendekatan
pekerjaan tebang ataupun angkut dapat Total Perlu Untuk Adanya Proses
diketahui klasifikasinya berdasarkan Produksi Dan Produk Yang
perbandingan nilai IRHR untuk masing- Manusiawi, Kompetitif dan Lestari,
masing pekerjaan termasuk kategori sedang Prosiding Seminar Nasional 2005-
dan berat, sedangkan mengangkut termasuk Perancangan Produk – Collaborative
kategori berat dan sangat berat. Sedangkan Product Design, Atmajaya Yogyakarta,
kondisi fisik pabrik ada beberapa yang 16-17 Februari 2005, ISBN : 979-
melewati batas rekomendasi yang 9243-57-2
diijinkan, misalnya temperatur tertinggi [9] Nagamachi, Mitsuo, 1996,
mencapai 37 0C, ilmuminasi sangat rendah Relationship Between Job Design,
7,5 lux , serta kebisingan mencapai 93,2 Macroergonomics, And Productivity,
dB. Sedangkan beban kerja operator boiler Abstract, International Journal Of
ada yang mencapai kategori sangat berat Human Factor In Manufacturing, 1996
yaitu IRHR 1,67. Pandangan subyektif John Wiley and Sons, Volume 6 Issue
karyawan bervariasi dari perasaan ringan 4, Pages 309 – 322, (published online
sampai dengan berat. 7 Dec 1998), downloaded 18 October
2005.
(http://www3.interscience.wiley.com/c
gi-bin/jissue)
5. DAFTAR PUSTAKA
[10] Netty, F. 2003. Modifikasi dan Uji
[1] __________, L.Saulia, dan K. Morgan. Performansi Alat Pemanen Buah
1999. Pedoman Praktikum Rambutan (Paraserianthes falcataria
Ergonomika. JICA-DGHE/IPB (L) NIELSEN) Secara Manual.
Project/ ADAET. Bogor. Skripsi. Jurusan Mekanisasi Pertanian.
[2] Amelia, Tasia. 2003. Tingkat Beban IPB. Bogor.
Kerja Operator Dan Antropometri
Traktor Roda Empat Yanmar Tipe YM

36 Jurnal Teknik Industri, ISSN:1411-6340


[11] Nurmianto, Eko. 2004. Ergonomi [17] Syuaib, M. F. 2003. Ergonomic Study
Konsep Dasar dan Aplikasinya Edisi on the Process of Mastering Tractor
Kedua. Guna Widya. Surabaya. Operation. Desertasi. Tokyo
[12] Pulat, Babur Mustafa dan David C. University of Agriculture and
Alexander (Editors), 1991, Industrial Technology. Tokyo. Japan
Ergonomics – Case Study, Mc Graw [18] Wignjosoebroto, Sritomo. Ergonomi,
Hill, Inc. New York, Pages: 6 – 11, Studi Gerak Dan Waktu. Surabaya:
Pages:275-285 Guna Widya, 1995.
[13] Rasyani, L. 2001. Pengukuran Beban [19] Zander, J. 1972. Ergonomics In
Kerja Lokal Pada Otot Lengan dengan Machine Design, N. V. Veeman and
Menggunakan Elektromiografi Pada Zonen, Wageningen.
Operator Penggiling Jagung Semi
Mekanis, Skripsi. Jurusan Teknik
Pertanian. IPB, Bogor.
[14] Sanders, S. M. And Mc Cormick, E. J.
1982. Human Factior In Engineering
and Design Fifth Edition. McGraw
Hill. New Delhi.
[15] Stevenson, M. G. 1999. Notes On The
Principles Of Ergonomics. Australia
[16] Susanto, Haryadi. Kajian Tentang
Kondisi Penerangan. Jakarta : Institut
Teknologi Bandung, 1996.

Kajian Aspek Ergonomi Mikro (Lamto Widodo) 37