Sei sulla pagina 1di 67

DINAMIKA LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA

PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)

(Skripsi)

Oleh

Ratna Sari

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2016
ABSTRACT

DYNAMICS OF THE INSTITUTIONS FOR REGIONAL CHIEF


ELECTION DISPUTE SETTLEMENT

By
RATNA SARI

The regional chief election was potential to bring a dispute on its every
execution. The existence of an institution for resolving the regional chief election
dispute is indispensable to settle the dispute. The institution was established since
the citizenry have to directly elect the regional chief, it was on 2004. On this
context the purpose of this writings are to know the dynamics of the institutions
for regional chief election dispute settlement in Indonesia and to evaluate judicial
institution for regional chief election dispute ever, so it can be a basic
consideration for establishment of a special election court in the future. This study
uses a juridical normative approach (doctrinal) the study will be carried out by
inventorying and reviewing some legal documents and other papers. The result of
this study shows that there is a change in the dynamics of the institution for
regional chief election dispute settlement, the change is on the authority of
regional chief election dispute that have been occurred in the Supreme Court is
turning to the Constitutional Court. Such provisions have been amended several
times, while this time the authority has been restored to the Constitutional Court
until the special election court established as mandated by the law.

Keywords: Dynamics, Justice Institute, Election Dispute


ABSTRAK

DINAMIKA LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA PEMILIHAN


KEPALA DAERAH (PILKADA)

Oleh

RATNA SARI

Penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada) berpotensi


memunculkan adanya sengketa pada setiap pelaksanaannya. Keberadaan lembaga
penyelesaian sengketa pilkada sangat diperlukan untuk menyelesaikan sengketa
pilkada tersebut. Lembaga penyelesaian sengketa pilkada dibentuk sejak
pelaksanaan pilkada secara langsung oleh rakyat yaitu pada tahun 2004. Dalam
konsteks ini tujuan penulisan adalah untuk mengetahui dinamika lembaga
penyelesaian sengketa pilkada yang ada di Indonesia dan mengevaluasi lembaga
peradilan pilkada yang pernah ada sehingga dapat menjadi dasar pertimbangan
pembentukan peradilan khusus pilkada dimasa yang akan datang. Penelitian ini
menggunakan metode pendekatan yang bersifat yuridis normatif (doctrinal) yaitu
penelitian akan dilakukan dengan menginventaris dan mengkaji dokumen-
dokumen hukum dan karya tulis lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
telah terjadi dinamika perubahan lembaga penyelesaian sengketa pilkada,
perubahan kewenangan penyelesaian sengketa pilkada telah terjadi di Mahkamah
Agung yang beralih kepada Mahkamah Konstitusi. Ketentuan perubahan tersebut
telah beberapa kali mengalami perubahan, sementara untuk saat ini kewenangan
tersebut telah dikembalikan kepada Mahkamah Konstitusi sampai terbentuknya
peradilan khusus pilkada sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang.

Kata Kunci: Dinamika, Lembaga Peradilan, Sengketa Pilkada.


DINAMIKA LEMBAGA PENYELESAIAN SENGKETA
PEMILIHAN KEPALA DAERAH (PILKADA)

Oleh

Ratna Sari

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar

SARJANA HUKUM

Pada

Bagian Hukum Tata Negara


Fakultas Hukum Universitas Lampung

BAGIAN HUKUM TATA NEGARA

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2016
RIWAYAT HIDUP

Penulis berasal dari desa Bandar Agung di Kecamatan Bandar

Sribhawono Kabupaten Lampung Timur. Terlahir dari sepasang

suami istri yang bernama Bapak Sholeh dan Ibu Suparni.

Penulis dilahirkan pada tanggal 22 Juli tahun 1994 dan

merupakan anak dari satu bersaudara. Dibesarkan dilingkungan keluarga jawa

yang sederhana, menjadikan penulis dituntut untuk tumbuh menjadi sosok yang

tidak boleh manja.

Penulis menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya di SD Negeri 1 Bandar

Agung pada tahun 2006, kemudian melanjutkan pendidikan menegah pertama di

SMP Negeri 1 Bandar Sribhawono dan lulus pada tahun 2009. Di Sekolah

menegah pertama inilah penulis memulai aktifitas ektrakulikuler pramuka yang

telah mengajarinya untuk bisa lebih mandiri dan semangat dalam meraih prestasi

akademik. Setelah menyelesaiakan pendidikan menengah pertama, pada tahun

2009 penulis melanjutkan pendidikan menengah atasnya di SMA Negeri 1 Way

Jepara Lampung Timur dan mengambil program kehususan Ilmu Pengetahuan

Sosial (IPS), di tingkat Sekolah Menangah Atas (SMA) inilah penulis telah

meraih beberapa prestasi antara lain Juara 1 Olimpiade Kebumian Tingkat

Kabupaten yang telah diraihnya pada tahun 2010 dan pada tahun 2011, selain itu

penulis juga telah beberapa kali mengikuti lomba antara lain lomba Matematika

Geofisika di IPB pada tahun 2011, lomba LCT TAP MPR pada tahun 2010,

lomba KIR, dan Lomba LCT Unila. Selain itu, penulis juga aktif dalam bidang
organisasi dengan Menjadi Ketua Olimpiade Kebumian dan Ketua LCT TAP

MPR.

Penulis telah menyelesaikan pendidikan menengah atasnya pada tahun

2012. Pada tahun 2012 tersebut, penulis melanjutkan pendidikan di Fakultas

Hukum Universitas Lampung melalui jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk

Perguruan Tinggi Negeri) tertulis dengan mengemban beasiswa Bidikmisi.

Selama berstatus sebagai mahasiswa penulis aktif diberbagai unit kegiatan

mahasiswa dibeberapa organisasi internal maupun eksternal kampus. Pada tahun

2012, penulis terdaftar sebagai Anggota Muda MAHKAMAH (Mahasiswa

Pengkaji Masalah Hukum). Ditahun selanjutnya, penulis mendaftar UKMF FOSSI

(Forum Silaturrahmi dan Studi Islam) FH Unila periode 2013-2014 dan

mendapatkan amanah menjadi Sekretaris bidang Humas dan Olah Raga UKMF

FOSSI (Forum Silaturrahmi dan Studi Islam) FH Unila periode 2013-2014.

Tahun 2014, penulis kembali dititipkan amanah sebagai Sekretaris Divisi

Humas dan Olah Raga UKMF FOSSI periode 2014-2015 dan menjadi anggota

muda Himpunan Mahasiswa Hukum Tata Negara (Hima HTN) FH Unila, dan

pada tahun 2014 tersebut penulis juga diamanatkan sebagai Kepala divisi Debat

MAHKAMAH (Mahasiswa Pengkaji Masalah Hukum) Periode 2014/2015. Pada

tahun 2015 penulis telah tergabung menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam

(HMI) Komisariat Hukum Unila, dan pada tahun 2015 penulis juga telah

tergabung menjadi anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa Fakultas Hukum Unila

Periode 2015/2016 dan diamanatkan sebagai Ketua Komisi A yaitu Komisi

Perundang-undangan. Selama menjadi mahasiswa penulis banyak mengikuti

kegiatan diantaranya mengadakan acara baik itu kajian maupun acara debat pada
tingkat Fakultas Hukum Unila serta peserta juga telah mengikuti Debat

Mahkamah Konstitusi Regional Barat pada tahun 2015 di Universitas Jambi.


MOTTO

“Keadilan Hakim Merupakan Penentu Bagi Lahirnya Pemimpin Harapan


Bangsa”

-Ratna Sari-

“Kebahagiaan Dalam Hidup Adalah Ketika Kita Mampu Bersykur Pada Apa
Yang Diberikan Tuhan Kepada Kita, Serta Dapat Memberi Manfaat Bagi
Orang Lain”

-Ratna Sari-

“Man Jadda Wa Jadda”

Barang Siapa Yang Bersungguh-Sungguh Maka Dia Akan Berhasil


PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya ini untuk:

“Ibu dan Ayahku Tersayang”

Terimakasih atas semua kasih sayang, doa, pengorbanan, bimbingan


agama, serta kerja keras yang telah dilakukan demi anakmu sehingga
anakmu bisa menjadi seperti saat ini. Terimakasih untuk semua proses
hidup yang telah ibu dan ayah berikan kepadaku. Semoga Allah SWT
selalu memberikan nikmat kesehatan, iman dan kebahagian untuk
keluarga kecil kita

&

Terimakasih untuk semua saudara, sahabat serta teman-teman atas


bantuan dan. motivasi untuk terus berjuang. Saya akan melakukan
yang terbaik.
KATA PENGANTAR

Puji Syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT karena limpahan rahmat

dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Dinamika

Lembaga Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)”, sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum

Universitas Lampung.

Skripsi ini dapat diselesaikan dengan bantuan dari banyak pihak baik berupa

bimbingan, dukungan, motivasi, kritik serta saran yang berarti. Sehingga pada

kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Bapak Dr. Budiyono, S.H., M.H., selaku pembimbing utama yang telah

memberikan masukan, kritikan, motivasi serta batuan kepada penulis dalam

menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Ahmad Saleh, S.H., M.H., selaku pembimbing kedua yang telah

memberikan semangat, bantuan, serta kritik dan saran kepada penulis dalam

menyelesaiakan skripsi ini.

3. Ibu Dr. Yusnani Hasyim Zum, S.H., M.Hum. selaku pembahas utama yang

telah menjadi inspirasi dan telah meberikan masukan kritik dan saran

kepada penulis guna hasil yang lebih baik.

4. Bapak Rudy, S.H., LL.M., LL.D selaku pembahas kedua dan sebagai Ketua

Bagian Hukum Tata Negara terimakasih atas motivasi serta masukan


sehingga memberikan banyak pelajaran hidup kepada penulis untuk bisa

menjadi lebih baik.

5. Bapak M. Iwan Satriawan, S.H., M.H., selaku Pembimbing Akademik atas

bantuan, motivasi serta masukan kepada penulis sehingga penulis dapat

terus berproses untuk menjadi lebih baik.

6. Bapak dan Ibu Dosen Hukum Tata Negara, Ibu Martha Riananda, S.H.,

M.H., Ibu Siti Khoiriah, S.Hi.,M.H., Ibu Yulia Netta, S.H.,M.H., Bapak

Armen Yasir, S.H., M.Hum. Bapak Ade Arief F, S.H., M.H., Bapak

Muhatadi, S.H., M.H., Seluruh Civitas Akademika Fakultas Hukum

Universitas Lampung yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

memberikan bantuan, pemikiran serta ilmu pengetahuan kepada penulis

selama menjalani proses studi.

7. Bapak Marjiyono, Bapak Sujarwo, Bapak Supendi, Bapak Hadi dan Mas

Nur yang telah banyak direpotkan oleh penulis dan telah membantu banyak

hal terhadap penulis yang tidak akan mampu untuk disampaikan

seluruhnya, hanya Allah SWT yang mampu membalas semuanya.

8. Ibuku tersayang Suparni, terimakasih karena telah menjaga dan

menyayangiku dengan sepenuh hati, tanpa doa dan kasih sayang tulusmu

aku bukankan apa-apa. Banyak hal yang telah ibu ajarkan kepadaku

sehingga aku bisa menjadi sosok seperti saat ini. Aku percaya bahwa semua

pengorbanan yang telah ibu lakukan adalah untuk kebaikanku, ibu adalah

motivasi terbesarku untuk selalu menjadi insan yang lebih baik, semoga

Allah SWT senantiasa meberikan kebahagiaan kepada ibu.


9. Bapakku tersayang Sholeh, terimakasih karena telah menjagaku selama ini,

karena telah mendidikku hingga menjadi seperti saat ini, bapak adalah

bapak yang terbaik untukku. Semoga Allah SWT senantiasa meberikan

kebahagiaan kepada bapak.

10. Kepada keluarga kecilku, Abang Hardiansyah, S.H., Abang Dani Amran

Hakim, S.H., M.H., Abang Rindi Purnama, S.H., Kak Herra Destriana, S.H.,

Julia Silviana, S.H., terimakasih karena kalian bukan hanya mengajariku arti

persahabatan tapi lebih dari itu yaitu hubungan persaudaraan.

11. Untuk sahabatku tersayang, Nazyra Yossea Putri, Novita Denty, Nova

Zolica Putri, yang telah menemaniku baik dalam susah maupun senang

selama menjalani proses studi. Semoga kita bisa selalu menjaga tali

silaturahmi.

12. Saudara, kakak dan adik-adikku seperjuangan di HIMA HTN (Himpunan

Mahasiswa Hukum Tata Negara) FH Unila 2011: Kak Maryanto, Kak Elsa,

Kak Virgi, Bang Ridho, Bang Agung, Bang Very, Bang Daniel, Bang

David, 2012: Dwi Zaen Prastyo, Shabrina Duliyan Firda, M. Husen Rifa’I,

Utiya Meylina, Pipin Lestari, Dewi Nurhalimah, James Reinaldo, Deka

Nanda Prakoso, Anastasia Resti, Sumaindra Jarwadi. 2013: Hendi

Gustarianda, Ridwan Saleh, Edius Pratama, Tia Nurhawa, Afrintina,

Sarinah, Havez Annamir, Royzal Annurrahman, Suhendri, Rudi Wijaya.

Terimakasih atas semua dukungan Saudara, kakak dan adik-adikku dan

mohon maaf atas kehilafan yang telah dilakakukan. Tetaplah berjuang

untuk membangun HIMA HTN FH Unila.


13. Sahabatku tersayang yang selalu mendukungku, Yuyun Dani Salvestri,

Indah Prihartini, serta teman-teman kos yang telah membantu dan

menemaniku Fenny Diah, Maulida Purnama, Dwi Risma, Ani Widiawati,

Ukhti Wasis, Sartika Panji, Aulina, Intan, Nadia, Pani, Ayu, Brenda, mba

Tuti.

14. Teman-teman dan adik-adikku seperjuangan di UKMF Mahkamah

(Mahasiswa Pengkaji Masalah Hukum) FH Unila Ketum Indra, Kujang,

Silvi, Danny, Bang Mamat, Bang Kodri, Ridwan, Wanda, Hendi, Lay,

Dede, Prima, Astrid, Gyka, Alief, Evi, Iren, Niken, Dhea, Rara, Uyup,

Nuril, Risa, Fuad, Melky, Ibnu, Hadi, Julpa, Ika, Sila, Popy, Juan dan masih

banyak hingga tidak mampu untuk diucapkan satu persatu. Terimakasih

atas semua dukungan Saudara dan adik-adikku dan mohon maaf atas

khilafan yang telah dilakakukan. Penulis akan merindukan masa-masa

kekeluargaan kita

15. Teman-teman seperjuangan Rahmi Yuniarti, Ni Made Ayu Sumerti, Oktavia

Veronika, Ratu Dibyandini, Yose Trimiarti, Gito, Fikri, Mira, Tia, Vera,

Senang, Vivi, Putri, Riky, Prasetya, RB Pratama, Ragiel, Vicky, Ratna

Juwita, serta adikku tersayang Anggun Ariena Rahman, Desi, dan seluruh

teman Fakultas Hukum Unila 2012 yang tidak dapat saya sebutkan satu

persatu.

16. Keluarga Bapak Subari yang telah memberikan tempat tinggal kepada

penulis pada saat menjalani program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan sudah

menganggap penulis seperti anak sendiri serta kepada teman-teman KKN

Desa Sumber Agung Kecamatan Rawa Pitu Rico R Nanda, Aziz Prija
Juniansyah, Martini, Andini AF yang telah memberiakn banyak

pembelajaran hidup kepada penulis.

17. Kanda, Yunda, teman-teman, dan Adinda di HMI Komisariat Hukum Unila.

18. Almamater tercintaku, semangatku untuk terus dapat menjaga dan

membawa nama baik Unila seperti aku menjaga harga diriku.

Untuk semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, penulis

mengucapkan terimakasih atas doa dan dukungannya selama penulis menempuh

perkuliahan sampai penulis menyelesaikan skripsi ini. Semoga Allah SWT

membalas kebaikan atas semua bantuan, dukungan yang diberikan kepada

penulis. Dalam hal ini penulis berharap skripsi ini dapat memeberi manfaat bagi

setiap yang membaca, Amin.

Bandar Lampung, 13 April 2016


Penulis

Ratna Sari
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL
ABSTRAK
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
PERNYATAAN
RIWAYAT HIDUP
MOTO
PERSEMBAHAN
SANWACANA
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang......................................................................................1
B. Rumusan Masalah ................................................................................6
C. Ruang Lingkup Penelitian ....................................................................6
D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian .........................................................7
a. Tujuan Penulisan..............................................................................7
b. Kegunaan Penelitian ........................................................................7

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Kepala Daerah Dan Wakil Kepala Daerah ...........................................9
B. Pemilihan Kepala Daerah .....................................................................12
C. Sengketa Pemilihan Kepala Daerah .....................................................21
D. Lembaga Peradilan Pilkada Di Indonesia.............................................24
a. Mahkamah Agung ..........................................................................27
b. Mahkamah Konstitusi.....................................................................32

III. METODE PENELITIAN


A. Jenis Penelitian .......................................................................................36
B. Pendekatan Masalah................................................................................36
C. Sumber Data............................................................................................36
D. Metode Pengumpulan Data.....................................................................38
E. Metode Pengelolaan Data........................................................................39
F. Analisis Data ...........................................................................................39
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Lembaga Penyelesaian Sengketa Piemilihan Kepala Daerah di
Indonesia...............................................................................................40
a. Pemilihan Kepala Daerah Pasca Orde Baru ....................................40
b. Peraturan Lembaga Penyelesaian Sengketa Pemilihan Kepla
Daerah Di Indonesia ........................................................................45
a) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah................................................................45
b) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah...............................49
c) Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013 ........55
d) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati, dan Walikota ...............................................60
e) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan
Perppu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur,
Bupati, dan Walikota ................................................................63
f) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati,
dan Walikota Menjadi Undang-Undang ...................................80
c. Dinamika Lembaga Penyelesaian Sengketa Pilkada .......................86

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan .............................................................................................92
B. Saran ......................................................................................................93

DAFTAR PUSTAKA
Daftar Tabel

Halaman

Tabel.1. Bentuk Sengketa Pilkada dan Mekanisme Penyelesaiannya


Berdasarkan Ketentuan Perppu Nomor 1 Tahun 2014 ...........................75

Tabel 2. Dimamika Lembaga Penyelesaian Sengketa Pilkada Berdasarkan


Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 sampai Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2015 ..............................................................................84
Daftar Gambar

Halaman

Gambar.1 Dimamika Lembaga Penyelesaian Sengketa Pilkada ..........................91


1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara demokrasi telah menjadi arus utama bagi negara-negara

modern.1Demokrasi berdiri berdasarkan prinsip persamaan, yaitu bahwa setiap

warga negara memiliki kesamaan hak dan kedudukan di dalam pemerintahan,

dalam hal ini rakyat diberi kekuasaan untuk turut serta menentukan pemerintahan

yakni kewenangan yang dimiliki oleh penguasa berasal dari legitimasi

rakyat.2Salah satu sarana untuk menyalurkan demokrasi adalah melalui pemilihan

umum.Secara umum pemilu merupakan media dan alat perwujudan kedaulatan

rakyat baik secara langsung (direct democracy) atau tidak langsung (indirect

democracy) untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.

Perkembangan ketatanegaraan telah membawa beberapa fase dalam

perkembangan pemilihan umum yang ada di Indonesia, hal tersebut kemudian

diwujudkan bukan hanya untuk memilihan presiden dan wakil presiden tetapi juga

untuk memilih kepala daerah baik secara langsung maupun tidak langsung.

Lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

telah mengatur pemilihan kepala daerah secara langsung sebagaimana

tercantumdalam ketentuan Pasal 18 Angka (1) huruf a yaitu pemilihan kepala

daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Pemilihan kepala

daerah oleh DPRD dalam praktiknya ternyata telah menjauh dari tujuan dari

1
Janedri M Gaffar, Demokrasi Dan Pemilu Di Indonesia, Jakarta: Konstitusi Press, 2013,
hlm. 1
2
Ibid, hlm. 14.
2

pemilu itu sendiri, banyak terjadi pelanggaran seperti politik uang dalam

menggalang dukungan internal DPRD sehingga kepala daerah yang terpilih tidak

kapabel menjadi seorang pemimpin, pencalonan maupun proses pemilihan

sepenuhnya menjadi otoritas partai politik yang mempunyai wakilnya di DPRD

sehingga dapat dipastikan bahwa partai politik yang berkuasa di DPRD secara

politik mempunyai legitimasi dan kekuatan untuk mencalonkan kadernya.3

Perubahan kedua Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

1945 (selanjutnya disebut UUD RI Tahun 1945) Pasal 18 ayat (4) telah mengatur

bahwa “Gubernur, Bupati, dan Walikota masing-masing sebagai kepala

pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”,

ketentuan tersebut telah mendorong adanya semangat berdemokrasi pada level

daerah4 (Provinsi, Kabupaten, Kota) agar kepala daerah dapat dipilih secara

langsung oleh rakyat atau tidak langsung melalui Dewan Perwakilan Rakyat

Daerah (DPRD), tetapi tetap kedaulatan ada di tangan rakyat.

Ketentuan tentang pemilihan kepala daerah (yang selanjutnya disebut

pilkada) tersebut kemudian diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 15

Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilu, Undang-Undang Nomor 32 tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah yang telah dirubah dalam Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32

Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Lebih lanjut peraturan terbaru yang

ditetapkan untuk mengatur tentang pilkada adalah Undang-Undang Nomor 23

3
Sri Hastuti Puspita Sari, Mahkamah Konstitusi Dan Penegakan Demokrasi Konstitusional
dalam Jurnal Konstitusi Volume 8 Nomor 3, Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia,
2011, hlm. 378
4
Hamdan Zoelva, Problematika Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilukada oleh Mahkamah
Konstitusi dalam Jurnal Konstitusi Volume 10 Nomor 3, Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia, 2013, hlm. 378.
3

Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 8 tahun

2015 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang

Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

Penyelenggaraan pilkada dalam perjalanannya tidak selalu berjalan seperti

yang diharapkan, disetiap penyelenggaraannya selalu muncul adanya sengketa

atau perselisihan pemilu. Data yang tercatat bahwa sengketa Perselisihan Hasil

Pemilihan Umum (PHPU) kepala daerah yang muncul pada tahun 2008 sampai

dengan tahun 2013 adalah sebanyak 524 kasus, yakni pada tahun 2008 sebanyak

27 perkara, tahun 2009 sebanyak 3 perkara ditambah 12 perkara yang belum

terselesaikan pada tahun sebelumnya, tahun 2010 sebanyak 230 perkara, tahun

2011 sebanyak 132 perkara, tahun 2012 sebanyak 105 perkara ditambah 7 perkara

yang belum terselesaikan pada tahun sebelumnya, tahun 2013 sebanyak 27

perkara di tambah 8 perkara yang belum terselesaikan pada tahun sebelumnya. 5

Perubahan sistem pemilu pasca amandemen UUD RI Tahun 1945 adalah

pemberian kewenangan lembaga pelaksana Kekuasaan Kehakiman6 untuk

menyelesaiakan perselisihan hasil pemilu, baik pemilu legislatif maupun

eksekutif. Kewenangan penyelesaian Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU)

anggota DPR, anggota DPD, dan anggota DPRD, serta Presiden dan Wakil

Presiden diberikan kepada Mahkamah Konstitusi, sedangkan kewenangan

penyelesaian sengketa pemilihan umum kepala daerah diberikan kepada


5
Mahkamah Konstitusi Repubik Indonesia “Rekapitulasi Perkara Perselisihan Hasil
Pemilihan Umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah” di download dari website
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.RekapPHPUD diakses pada 2
Desember 2015 pukul 14:07 WIB
6
Kekuasaan kehakiman yang merupakan kekuasan yang merdeka untuk menyelenggarakan
peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan untuk lebih jelasnya lihat ketentuan 24 ayat (1)
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
4

Mahkamah Agung dan kewenangan pengadilan tinggi untuk pemilihan

Bupati/Walikota.7

Perjalanan panjang sejarah ketatanegaraan Indonesia telah membuat

terjadinya dualisme kewenangan dalam hal penyelesaian sengketa pemilihan

kepala daerah. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengatur bahwa

kewenangan penyelesaian sengketa pemilihan kepala daerah merupakan

kewenangan Mahkamah Agung dan kewenangan pengadilan tinggi untuk

pemilihan bupati/walikota hal tersebut yang putusannya bersifat final dan

mengikat sebagaimana tercantum dalam ketentuan pasal 106. Setelah

diterbitkannya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua

Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,

kewenangan penyelesaian sengketa hasil pilkada dialihkan kepada Mahkamah

Konstitusi sejak tanggal 1 November 2008 berdasarkan berita acara pengalihan

wewenang mengadili dari Mahkamah Agung ke Mahkamah Konstitusi pada 29

Oktober 2008. Ketentuan pengalihan tersebut diatur dalam pasal 236C yang

menyebutkan bahwa ”Penanganan sengketa hasil penghitungan suara pemilihan

kepala daerah dan wakil kepala daerah oleh Mahkamah Agung dialihkan kepada

Mahkamah Konstitusi paling lama 18 (delapan belas) bulan sejak undang-undang

ini diundangkan”.

Pengalihan kewenangan penyelesaian sengketa pilkada dari Mahkamah

Agung kepada Mahkamah Konstitusi tersebut telah menimbulkan problematika

tersendiri sejalan setelah dikeluarkannya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

97/PUU/XI/2013 yang menyatakan bahwa pemilihan kepala daerah bukan

7
Op. Cit, hlm. 379
5

merupakan bagian dari rezim pemilu. Berdasarkan pertimbangan yang ada

ketentuan putusan ini menyatakan bahwa pasal 236C Undang-Undang Nomor 12

Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun

2004 tentang Pemerintahan Daerah dan pasal 29 ayat (1) huruf e Undang-Undang

Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman dinyatakan bertentangan

dengan UUD RI Tahun 1945 Pasal 1 ayat (1), 22E (2) dan Pasal 24C ayat (1).8

Perpindahan kewenangan penyelesaian sengketa pilkada antara Mahkamah

Agung dan Mahkamah Konstitusi ini terjadi karena masih dibutuhkannya

pembahasan lebih lanjut mengenai lembaga peradilan manakah yang paling tepat

untuk menyelesaikan sengketa pilkada mengingat bahwa permasalahan mengenai

sengketa pilkada ini beragam sebagaimana tercantum pada Bab XX Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan

Walikota Menjadi Undang-Undangyakni mulai dari pelanggaran kode etik

penyelenggara pemilihan, pelanggaran administrasi pemilihan, sengketa

antarpeserta pemilihan dan sengketa antara peserta dengan penyelenggara

pemilihan, tindak pidana pemilihan, sengketa tata usaha negara, perselisihan hasil

pemilihan. Pengembalian kewenangan penyelesaian sengketa pilkada kepada

Mahkamah Konstitusi saat ini masih menjadi solusi sementara yang dapat

dilakukan sampai benar-benar dibentuknya lembaga peradilan yang berhak untuk

menangani permasalahan sengketa pemilihan kepala daerah.

Undang-undang terbaru yang dilahirkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat

yakni Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang

8
Untuk lebih jelas baca uraian Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU/XI/2013
6

Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota

Menjadi Undang-Undang hanya mengamanatkan adanya pembentukan sebuah

peradilan khusus untuk menangani perkara perselisihan penetapan perolehan suara

hasil pilkada tetapi sampai dengan batas waktu yang belum ditentukan dalam

undang-undang.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan sebelumnya maka permasalahan

utama yang akan menjadi fokus penelitian adalah dinamika lembaga penyelesaian

sengketa pilkada dalam kekuasaan Kehakiman di Indonesia, dan oleh karena

masih minimnya penelitian tentang dinamika lembaga penyelesaian sengketa

pilkada maka hal ini menarik minat penulis untuk meneliti dan menuangkannya

dalam bentuk tulisan skripsi dengan judul ”Dinamika Lembaga Penyelesaian

Sengketa Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, masalah yang akan dikaji

pada penelitian ini adalah bagaimanakah dinamika lembaga penyelesaian sengketa

pilkada di Indonesia?

C. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah kajian Hukum Tata Negara pada

umumnya yang membahas tentang dinamika lembaga penyelesaian sengketa

pilkada yang ada di Indonesia sejak pemilihan kepala daerah tahun 1999 sampai

dengan pembentukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan


7

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah

Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentangPemilihan Gubernur,

Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

D. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian

a. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah disusun penelitian ini dilakukan

dengan tujuan yaitu untuk mengetahui dinamika lembaga penyelesaian sengketa

pilkada yang ada di Indonesia mulai dari tahun tahun 1999 sampai dengan

pembentukan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan

Walikota Menjadi Undang-Undang.

b. Keguanaan penelitian

a) Keguanaan Teoretis

Diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu

pengetahuan, khususnya dalam bidang ilmu Hukum Tata Negara yang berkaitan

dengan dinamika lembaga penyelesaian sengketa pilkada dalam Kekuasaan

Kehakiman di Indonesia serta dapat menjadi referensi bagi penelitian-penelitian

sejenis pada masa yang akan datang.


8

b) Kegunaan Praktis

a. Bagi pembaca dan masyarakat pada umumnya, diharapkan dengan adanya

penelitian ini dapat menambah pengetahuan pembaca tentang dinamika

lembaga penyelesaian sengketa pilkada yang ada di Indonesia.

b. Bagi pembentuk undang-undang, dapat menjadi bahan evaluasi dalam

pembentukan regulasi peradilan khusus pilkada di masa yang akan datang.


9

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah

Kepala daerah adalah bagian dari pemerintah daerah yang merupakan unsur

penyelenggara pemerintahan daerah yang memimpin pelaksanaan urusan

pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom. Pemerintahan daerah

adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan

perwakilan rakyat daerah menurut asas otonomi9 dan tugas pembantuan dengan

prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan

Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD RI Tahun 1945.10

Menurut ketentuan pasal 59 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang

Pemerintahan Daerah menyebutkan bahwa setiap daerah harus dipimpin oleh

seorang kepala pemerintahan daerah yang disebut sebagai kepala daerah. Kepala

daerah dibagi menjadi kepala daerah provinsi yang disebut sebagai gubernur,

untuk daerah kabupaten disebut bupati dan untuk daerah kota disebut dengan

walikota. Kepala dearah dalam menjalankan tugasnya juga dibantu oleh seorang

wakil kepala daerah, untuk daerah provinsi disebut wakil gubernur, untuk daerah

9
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “otonomi” diartika sebagai
“pemerintahan sendiri” dalam Pusat Bahasa Dan Departemen Nasional, Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI), Jakarta: Pusat Bahasa, 2008, hlm. 1025.
10
Prinsip otonomi seluas-luasnya merupakan penjabaran dari otonomi daerah yaitu hak,
wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri sesuai
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Lebih lanjut M.A. Muthalib dan Mohn Akbar
Ali Khan dalam Theory of Local Government menjelaskan bahwa otonomi daerah pada dasarnya
dapat diartikan sebagai demokrasi tingkat local. Dalam hal ini, kepentingan dan kebutuhan
masyarakat di daerah dikelola oleh suatu institusi pemerintahan yang dibentuk oleh masyarakat
setempat melalaui proses pemilihan umum. Dalam Rudy, Hukum Pemerintahn Daerah, Bandar
Lampung: Pusat Kajian dan Peraturan Perundang-undangan Fakultas Hukum Universitas
Lampung. 2013, hlm. 8-9.
10

kabupaten disebut wakil bupati, dan untuk daerah kota disebut wakil wali kota.

Masa jabatan untuk kepala daerah dan wakil kepala daerah adalah 5 (lima) tahun

terhitung sejak pelantikan dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan

yang sama hanya untuk satu kali masa jabatan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 65 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 kepala daerah mempunyai tugas:

a. memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan


daerah berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dan
kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD;
b. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat;
c. menyusun dan mengajukan rancangan perda tentang RPJPD dan
rancangan perda tentang RPJMD kepada DPRD untuk dibahas bersama
DPRD, serta menyusun dan menetapkan RKPD;
d. menyusun dan mengajukan rancangan perda tentang APBD, rancangan
perda tentang perubahan APBD, dan rancangan perda tentang
pertanggungjawaban pelaksanaan APBD kepada DPRD untuk dibahas
bersama;
e. mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan, dan dapat menunjuk
kuasa hukum untuk mewakilinya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan;
f. mengusulkan pengangkatan wakil kepala daerah; dan
g. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 65 ayat (2) Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada kepala daerah

berwenang:

a. mengajukan rancangan perda;


b. menetapkan perda yang telah mendapat persetujuan bersama DPRD;
c. menetapkan perkada dan keputusan kepala daerah;
d. mengambil tindakan tertentu dalam keadaan mendesak yang sangat
dibutuhkan oleh daerah dan/atau masyarakat;
e. melaksanakan wewenang lain sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
11

Berdasarkan ketentuan Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 wakil kepala daerah mempunyai tugas membantu kepala daerah dalam:

a. memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan


daerah;
b. mengoordinasikan kegiatan perangkat daerah dan menindaklanjuti laporan
dan/atau temuan hasil pengawasan aparat pengawasan;
c. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah yang
dilaksanakan oleh perangkat daerah provinsi bagi wakil gubernur; dan
d. memantau dan mengevaluasi penyelenggaraan pemerintahan yang
dilaksanakan oleh perangkat daerah kabupaten/kota, kelurahan, dan/atau
desa bagi wakil bupati/wali kota;
e. memberikan saran dan pertimbangan kepada kepala daerah dalam
pelaksanaan pemerintahan daerah;
f. melaksanakan tugas dan wewenang kepala daerah apabila kepala daerah
menjalani masa tahanan atau berhalangan sementara; dan
g. melaksanakan tugas lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Berdasarkan ketentuan Pasal 67 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

selain tugas dan wewenang, kepala daerah dan wakil kepala daerah mempunyai

kewajiban yang meliputi:

a. memegang teguh dan mengamalkan Pancasila, melaksanakan Undang-


Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta
mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik
Indonesia;
b. menaati seluruh ketentuan peraturan perundang-undangan;
c. mengembangkan kehidupan demokrasi;
d. menjaga etika dan norma dalam pelaksanaan urusan pemerintahan yang
menjadi kewenangan daerah;
e. menerapkan prinsip tata pemerintahan yang bersih dan baik;
f. melaksanakan program strategis nasional; dan
g. menjalin hubungan kerja dengan seluruh instansi vertikal di daerah dan
semua perangkat daerah.

Kepala daerah mempunyai kewajiban untuk memberikan laporan

penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada pemerintah, memberikan laporan

keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD, serta menginformasikan laporan


12

penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat. Laporan

penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada pemerintah disampaikan kepada

presiden melalui Menteri Dalam Negeri untuk gubernur, dan kepada Menteri

Dalam Negeri melalui gubernur untuk bupati/walikota 1 (satu) kali dalam 1 (satu)

tahun. Laporan tersebut digunakan pemerintah sebagai dasar melakukan evaluasi

penyelenggaraan pemerintahan daerah dan sebagai bahan pembinaan lebih lanjut

sesuai dengan peraturan perundang-undangan, sementara wakil kepala daerah

dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepaada kepala daerah.11

B. Pemilihan Kepala Derah

Pergeseran bentuk pemerintahan dari sentralisasi ke desentralisasi di ikuti

dengan diaplikasikannya nilai-nilai demokrasi dalam penyelenggaraan

pemerintahan. Pelaksanaan demokrasi di Indonesia untuk tataran nasional

dilaksanakan bersamaan dengan yang berada pada tatanan lokal (daerah), hal ini

merupakan konsekuensi dari pelaksanaan desentralisasi politik. Salah satu

manifestasi dari proses tersebut adalah dilaksanakannya pemilihan kepala daerah

(pilkada) untuk memilih gubernur, bupati/wakil bupati dan walikota/wakil

walikota sebagai amanat dari undang-undang pemerintahan daerah.12

Sepanjang sejarah kemerdekaan, ketentuan mengenai pemerintah daerah

(termasuk di dalamnya mekanisme pemilihan kepala daerah) diatur dalam

sejumlah undang-undang,13 yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945, Undang-

11
Op.Cit. Rudy, Hukum pemerintahan Daerah…, hlm. 50-51.
12
Gamawan Fauzi, Sengketa Pemilukada, Putusan MK, dan Pelaksanaan Putusan MK,
dalam Demokrasi Lokal, Evaluasi Pemilukada di Indonesia, Op.Cit, hlm.31
13
Pemilukada, Regulasi, Dinamika Dan Konsep Mendatang, Jakarta: PT RajaGarafindo,
2011, hlm. 15.
13

Undang 22 Tahun 1948, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957, Undang-undang

Nomor 18 Tahun 1986, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974, Undang-Undang

Nomor 22 Tahun 1999, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, Undang-Undang

Nomor 22 Tahun 2007, Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008, Undang-Undang

15 Tahun 2011, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014, Perppu Nomor 1 Tahun

2014, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2014, Undng-Undang Nomor 1 Tahun

2015, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1945, pemilihan kepala

daerah dilakukan Dewan. Sementara menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun

1948 kepala derah dipilih oleh pemerintah pusat dari calon-calon yang diajukan

oleh DPRD, dalam hal ini DPRD berhak mengusulkan pemberhentian seorang

kepala daerah kepada pemerintah pusat. Setelah pembentukan Undang-Undang

Nomor 1 Tahun 1957 hingga Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974, Ketentuan

pilkada belum mengalami perubahan yang signifikan, antara lain sebagai

berikut:14

1. Kepala daerah dipilih oleh DPRD;

2. Kepala Derah Tingkat I diangkat dan diberhentikan oleh Presiden;

3. Kepala Daerah Tingkat II diangkat dan diberhentikan oleh Menteri Dalam

Negeri dan otonomi daerah, dari calon-calon yang diajukan oleh DPRD

yang bersangkutan.

Setelah era reformasi, berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 22

Tahun 1999 pemilihan kepala daerah dilakukan dengan menggunakan sistem

14
Ibid. hlm. 16.
14

demokrasi tidak langsung dimana Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih

oleh DPRD dengan penegasan asas desentralisasi yang kuat, 15 sementara

pemerintah hanya menetapkan dan melantik kepala daerah berdasarkan hasil

pemilu yang dilakukan oleh DPRD.

Pelaksanaan kedaulatan rakyat dengan sistem perwakilan atau demokrasi

biasa juga disebut sebagai sistem demokrasi perwakilan (representative

democracy) atau demokrasi tidak langsung (indirect democracy). Pelaksanaan

demokrasi perwakilan ini yang menjalankan kedaulatan rakyat adalah para wakil-

wakil rakyat yang duduk di dalam lembaga perwakilan rakyat atau biasa juga

disebut parlemen. Para wakil-wakil rakyat tersebut bertindak atas nama rakyat dan

merekalah yang kemudian menentukan corak dan jalannya pemerintahan suatu

negara, serta tujuan apa yang hendak dicapai baik dalam jangka waktu yang

pendek maupun dalam waktu yang panjang. Hal seperti yang dikatakan Rousseau

sebagai pelaksanaan kedaulatan rakyat melalui kehendak hukum (volunte

generale).16

Hasil perubahan UUD RI Tahun 1945 telah membawa pengaruh besar pada

sistem ketatanegaraan17 Indonesia. Perubahan tersebut memberikan jaminan

15
Secara etimologi istilah desentralisasi berasal dari Bahasa Latin, yaitu “de”= lepas dan
“centrum”= pusat jadi menurut perkataannya desentralisasi adalah melepaskan dari pusat. Lebih
lanjut Piliang dalam Peni Chalid mengatakan bahwa desentralisasi dan otonomi daerah merupakan
bentuk sistem penyerahan urusan pemerintahan dan pelimpahan wewenang kepada daerah yang
berada dibawahnya. Pada dasarnya desentarlisasi merupakan perwujudan dari otonomi daerah
dalam Juanda, Hukum Pemerintahan Daerah, “Pasang Surut Hubungan Kewenangan Antara
DPRD dan Kepala Daerah. Bandung; PT. Alumni.2004, hlm.115.
16
Jean Jacques Rousseau, Du Contract Social (Perjanjian Sosial), Jakarta: Visimedia,2009,
hlm. 46.
17
Sistem ketatanegaraan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang bekenaan dengan
organisasi negara baik itu susunan, bentuk, kedudukan, wewenang maupun hubungan antar organ
Negara.
15

konstitusional yang kuat bagi penyelenggaraan pemilu di Indonesia, yaitu

bahwa:18

a. Pemilu harus diselenggarakan secara berkala (periodik) setiap lima

tahun sekali berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahsia, jujur, dan

adil [Pasal 22E ayat (1) UUD RI 1945];

b. Semua lembaga perwakilan, yaitu MPR, DPR, DPD dan DPRD

keanggotaannya harus direkrut melalui pemilu [Pasal 2 ayat (1); Pasal

19 ayat (1) jo Pasal 22E ayat (2); Pasal 22C ayat (1) jo Pasal 22E ayat

(2); Pasal 18 ayat (3) jo Pasal 22E ayat (2) UUD RI Tahun 1945];

c. Presiden dan Wakil Presiden dipilih secara langsung oleh rakyat melalui

pemilu [pasal 6A ayat (1) jo Pasal 22E ayat (2) UUD RI Tahun 1945];

d. Gubernur, bupati, dan walikota sebagai kepala daerah pemerintahan

daerah provinsi, kabuten dan kota dipilih secara demokratis [ Pasal 18

ayat (4) UUD RI Tahun 1945 yang implementasinya dapat dilakukan

secara langsung oleh rakyat atau dilakukan secara tidak langsung oleh

DPRD;

e. Peserta pemilu anggota DPR dan DPRD adalah partai politik, peserta

pemilihihan umum anggota DPD adalah perseorangan, peserta pemilu

presiden dan wakil presiden adalah pasangan calon yang diusulkan oleh

partai politik atau gabungan partai politik, dan peserta pemilu/ pemilihan

kepala daerah adalah pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik

atau gabungan partai politik;

18
A. Mukhtie Fadjar, Pemilu “ Perselisihan Hasil Pemilu, dan Demokrasi”, Malang: Setara
Press,2013, hlm. 10-11.
16

f. Pemilu diselenggarakan oleh satu komisi pemilihan umum yang bersifat

nasional, tetap, dan mandiri;

g. Disediakan mekanisme penyelesaian perselisihan hasil pemilu di

forumMahkamah Konstitusi.

Berdasarkan jaminan kosntitusonal tersebut di atas, maka sesudah

perubahan UUD Tahun 1945 dikenal ada tiga macam pemilu, yaitu:

a. Pemilu legislatif, yaitu pemilu untuk memilih anggota DPR, DPD,

dan DPRD;

b. Pemilu presiden, yaitu pemilihan untuk memilih presiden dan wakil

presiden;

c. Pemilihan kepala daerah, yaitu pemilihan untuk memilih kepala

daerah dan wakil kepala daerah.

Terhadap beberapa perubahan yang dicantumkan dalam UUD RI Tahun

1945, Pengisian jabatan Kepala Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18

ayat (4) UUD RI 1945 menyatakan bahwa”Gubernur, Bupati dan Walikota

masing-masing sebagai kepala pemerintahan provinsi, kabupaten dan kota dipilih

secara demokratis” adalah salah satu bentuk perubahan yang paling nyata yang

dapat dirasakan karena masyarakat mendapat kesempatan untuk turut serta

mmelaksanaan kedaulatan rakyat di wilayah provinsi dan kabupaten/kota untuk

memilih gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati, serta walikota dan

wakil walikota secara langsung dan demokratis.19

19
Lihat pasal 1 angka (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentangPerubahan Atas
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentangPenetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentangPemilihan Gubernur, Bupati, Da Walikota Menjadi
Undang-Undang
17

Terhadap pasal di atas Jimly Asshiddiqie20 menyatakan bahwa:

“Di setiap unit pemerintahan daerah itu, ada pejabat yang disebut gubernur,
bupati, dan walikota sebagai kepala pemerintahan daerah yang dipilih secara
demokratis. Ada dua hal yang penting disini yaitu Pertama, pasal 18 ayat
(4) ini hanya menyebutkan adanya gubernur, bupati, dan walikota, tidak
menyebutkan adanya wakil gubernur, wakil bupati,dan wakil walikota,
diadakannya tindakan jabatan wakil ini diserahkan kepada pertimbangan
kebutuhan yang penting harus diatur dalam undang-undang. Kedua,
ketentuan pemilihan secara demokratis dalam ayat (4) ini dapat
dilaksanakan, baik melalui cara langsung oleh rakyat atau dengan cara tidak
langsung melalui DPRD. Dewasa ini, ketentuan ini dijabarkan lebih lanjut
dalam undang-undang, yaitu bahwa dalam pemilihan itu dilakukan memalui
pemilihan umum kepala daerah atau disingkat pilkada”.

Frasa “dipilih secara demokratis” bersifat luwes, sehingga mencakup

pengertian pemilihan kepala daerah langsung oleh rakyat ataupun oleh DPRD

seperti pada umumnya pernah dipraktikkan di daerah-daerah berdasarkan

ketentuan perundang-undangan yang berlaku.21 Lahirnya Undang-Undang Nomor

32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah membawa perubahan yang

besar dalam pelaksanaan pemilu di Indoneia yaitu adanya perubahan mekanisme

pemilihan kepala daerah secara langsung.22

Pilkada dapat dikatakan demokratis jika memenuhi beberapa syarat,

diantaranya syarat sebagaimana juga diberlakukan untuk pemilu legislatif secara

umum yaitu:23

a. Adanya pengakuan hak pilih universal. Semua warga yang berhak


memilih tidak boleh didiskriminasi atas dasar ideologi dan politik;
b. Adanya wadah bagi pluralitas aspirasi masyarakat pemilih sehingga
masyarakat memiliki alternative pilihan saluran aspirasi politiknya;
c. Tersedia mekanisme rekruitmen politik yang demokratis;
d. Adanya kebebasan pemilih untuk menentukan pilihannya;

20
Jimly Asshidiqie, Komentar Atas Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945, Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 58-59.
21
Jimly Asshiddiqie, konsolidasi Naskah Undang-Undang Dasar 1945 Setelah perubahan
Keempat, Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara UI, 2002, hlm.22.
22
Suharizal, Op. Cit, hlm. 36.
23
Op. Cit. Sri Hastuti Puspita Sari,.., hlm.383.
18

e. Adanya panitia pemilih yang independent;


f. Adanya keleluasaan kontestan untuk berkompetisi secara sehat;
g. Penghitungan suara yang jujur;
h. Netralitas birokrasi.

Menurut Sartono,24 ada 4 (empat) tujuan pilkada, antara lain yakni:

a. Pilkada sebagaimana pemilu merupakan institusi pelembagaan publik.


Dengan pilkada masyarakat lokal mengintegrasikan kepentingannya dalam
prosedur yang etis dan damai. Pilkada didesain untuk meredam konflik-
konflik apalagi yang berbau kekerasan, guna mencapai tujuan demokrasi
dan pengisian jabatan politik daerah.
b. Pilkada sebagai sarana pencerdasan dan penyadaran politik warga. Sikap
partisipatif lambat laut akan mendorong masyarakat untuk dapat berfikir
politik secara bijaksana. Ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemimpin
karena omong kosong janji yang bertebaran dimana-mana, memberikan
bahan-bahan pemikiran bagi masyarakat untuk bersikap atau tidak
bersikap sesuatu politik.
c. Mencari sosok pemimpin yang kompeten dan komunikatif. Idealnya,
mereka yang terpilih adalah orang yang profesional, berjiwa
kepemimpinan yang membela nasib rakyat.
d. Menyususn kontrak sosial baru, artinya tidak hanya untuk mendapatkan
pemimpin yang baru, melainkan sirkulasi komunikasi yang membuat
perjanjian-perjanjian calon pemimpin sebelum menjadi pemenang dituntut
untuk merealisasikannya secara nyata.

Semangat dilaksanakannya pilkada langsung adalah koreksi terhadap sistem

demokrasi tidak langsung (perwakilan) di era sebelumnya yakni pemilihan kepala

daerah oleh DPRD menjadi demokrasi yang berakar langsung pada pilihan rakyat,

oleh karena itu keputusan politik untuk menyelenggarakan pilkada secara

langsung adalah langkah strategis dalam rangka memperluas, memperdalam, dan

meningkatkan kualitas demokrasi. Ketentuan ini juga sejalan dengan semangat

otonomi yaitu pengakuan terhadap aspirasi dan inisiatif masyarakat untuk

menetukan nasib daerahnya sendiri.

24
Sartono Sahlan dan Awaludin Marwan, Nasib Demokrasi Lokal di Negeri
Barbar.Yogyakarta: Thafa Media, hlm. 78-83.
19

Menurut Sarundajang, perubahan-perubahan ketentuan mengenai pemilihan

kepala daerah dan wakil kepala daerah in merupakan konsekuensi dari tuntutan

demokratisasi yang tentunya akan berpengaruh pada kegiatan pemerintah di

tingkat lokal (local goverment). Diakui bahwa sejak lama rakyat telah

menghendaki pilkada dilakukan secara langsung.25 Dengan perubahan itu, pada

dasarnya pilkada langsung merupakan kelanjutan dari institutional arrangement

menuju demokrasi, khususnya bagi peningkatan demokrasi di daerah.

Bagaimanapun, pemimpin yang terpilih melalui proses pemilihan langsung akan

mendapat mandate dan dukungan yang lebih riil dari rakyat sebgai wujud kontrak

sosial antara pemilih dengan tokoh yang dipilih, oleh karennya kemauan orang-

orang yang memilih (volunte generale) akan menjadi pegangan bagi pemimpin

dalam melaksanakan kekuasaanya.26

Lebih lanjut AA GN Ari Dwipayana menyebutkan bahwa setidaknya ada

beberapa kondisi yang mendorong pilkada dilakukan secara langsung yaitu: 27

a. Pengaturan pilkada langsung menawarkan sejumlah manfaat dan sekaligus


harapan bagi pertumbuhan, pendalaman dan perluasan demokrasi lokal.
Demokrasi langsung melalui pilkada akan membuka ruang partisipasi
yang lebih luas bagi warga dalam prosoes demokasi dan menentukan
kepemimpinann politik ditingkat lokal dibandingkan sistemdemokrasi
perwakilan yang lebih banyak meletakkan kuasa untuk
menentukanrekruitmen di tangan segelintir orang di DPRD.
b. Dari sisi kompetisi politik, pilkada langsung memungkinkan munculnya
secara lebih besar preferensi kandidat-kandidat yang bersaing serta
memungkinkan masing-masing kandidat berkompetisi dalam ruang yang
lebih terbuka dibandingkan ketertutupan yang sering terjadi dalam
demokrasi perwakilan. Pilkada langsung bias memberikan sejumlah
harapan pada upaya pembalikan syndrome dalam demokrasi perwakilan

25
Sarundajang, Pilkada Langsung, Problem dan Prospek, Katahasta Pustaka, 2005 dalan
Op.Cit. Suharizal, Pemilukada, Regulasi,…,hlm. 6.
26
Saldi Isra, Hubungan Eksekutif-Legislatif Pasca Pemilihan Kepala Daerah Secara
Langsung, Pidato Ilmiah disampaikan pada Dies Natalis ke-49 Universitas Andalas, 13 September
2005.
27
Suharizal, Op. Cit, hlm. 38.
20

yang ditandai dengan model kompetisi yang tidak fair, seperti politik uang
(money politic).
c. Sistem pemilihan langsung akan memberi peluang bagi warga untuk
mengaktualisasikan hak-hak politiknya seperti yang kasat mata muncul
dalam demokrasi perwakilan, setidaknya melalui demokrasi langsung,
warga ditingkatan lokal akan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh
semacam pendidikan politik dan sekaligus mempunyai posisi yang setara
untuk terlibat dalampengambilan keputusan.
d. Pilkada langsung memperbesar harapan untuk mendapatkan figure
pemimpin yang aspiratif, kompeten, dan legitimate. Melalui pilkada
langsung, kepala daerah yang tepilih akan lebih berorientasi pada warga
dibandingkan pada segelintir elit di DPR. Dengan demikian pilkada
langsung dapat lebih bermanfaat karena dapat meningkatkan kualitas
tanggung jawab pemerintah daerah pada warganya yang akhirnya
mendekatkan kepala daerah dengan masyarakat.
e. Kepala daerah yang terpilih melalui pilkada langsung akan memiliki
legitimasi politik yang kuat sehingga akan terbangun perimbangan
kekuatan (check and ballace) di daerah antara kepala daerah dengn DPRD.

Ketentuan tentang pemilihan kepala daerah secara langsung tersebut

kemudian telah diakomodir dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah dan kemudian dirubah kedalam Undang-Undang

Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32

Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, seiring perkembangan ketatanegaraan

Undang-Undang Pemerintah Daerah telah diubah kembali kedalam Undang-

Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

Perkembangan ketatanegaraan telah memunculkan adanya tarik ulur

kepentingan dalam pemilihan kepala daerah, pembentukan Undang-Unadang

Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota yang

mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah oleh DPRD telah mewarnai

proses pemilihan Kepala Daerah sebelum dikeluarkan Peraturan Pemerintah

pengganti Undang-Undang (Perrpu) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan

Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-Undang yang dikeluarkan oleh


21

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono28 yang sekaligus membatalkan Undang-

Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan

Walikota dan mengembalikan mekanisme pemilihan Kepala Daerah secara

langsung oleh rakyat. Lebih lanjut kemudian pada tanggal 2 Februari tahun 2015

Presiden Joko Widodo telah mengesahkan pembentukan Undang- Undang Nomor

1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota

Menjadi Undang-Undang. Sementara pengaturan terbaru tentang pemilihan

Kepala Daerah saat ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015 tentang

Perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan

Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

C. Sengketa Pemilihan Kepala Daerah

Sepanjang sejarah pelaksanaan pemilu khususnya pemilihan kepala daerah

memang tidak selalu seperti yang diharapkan Banyak permasalahan yang muncul

mulai dari permasalahan administratif sebelum penyelenggaraan pemilu sampai

permasalah sengketa pemilihan kepala daerah setelah pemilihan itu berlangsung.

Sengketa atau perselisihan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (1) sengketa dalam

proses pemilu (khususnya yang terjadi antar-peserta pemilu atau antar peserta

pemilu); dan (2) sengketa antara peserta pemilihan danpenyelenggara pemilihan

28
Presiden ke-6 Negara Kesatuan Republik Indonesia yang menjabat pada periode 2004-
2009 dan 2009-2014.
22

sebagai akibat dikeluarkannya keputusan KPU provinsi dan KPU

kabupaten/kota.29

Adapun jenis pelanggaran dalam pilkada yang seringkali dijadikan

argumentasi pemohon dalam sengketa perselisihan hasil pilkada antara lain:

praktik politik uang (money politic), mobilisasi PNS dan aparat desa,

penyalahgunaan wewenang, pencoblosan lebih satu kali, diwakilinya hak pilih

oleh orang lain, kampanye terselubung, pengangkatan pegawai tidak tetap untuk

pemenangan pemilukada, pemberhentian kepala sekolah karena tidak mendukung

calon incumbent, dan sebagainya.30

Menurut Dr. Azkari bahwa permasalahan sengketa pemilihan kepala daerah

disebabkan oleh beberapa hal antara lain:31

a. Regulasi: bahwa dari aspek regulasi belum memberikan suatu solusi


hukum secara komprehensif, sebab hanya mengatur aspek yuridis semata,
tanpa memperhatikan aspek-aspek soaial yang ada dalam masyarakat
sebagai suatu kenyataan.
b. Institusi penyelenggara pilkada: bahwa terdapat kecenderungan dalam
setiap penyelenggaraan pilkada, KPUD dan Panwas melakukan
keberpihakan kepada calon-calon tertentu (peserta pilkada), sehingga
dalam melaksanakan tugasnya tidak jarang berlaku subjektif (bahkan
institusi tersebut kerapkali menjadi tempat jual beli suara);
c. Parpol: sebagai pengusung calon juga belum berfungsi secara baik dan
benar dalam memberikan pendidikan politik terhadap rakyat, bahkan
cenderung hanya memikirkan kepentingannya secara sepihak, misalnya
dengan menentukan sejumlah tarif tertentu kepada calon-calon yang
hendak “mengendarai” partainya;
d. Peserta pilkada (para calon): bahwa pada umumnya peserta pemilukada
tidak berangkat dari niat yang benar, memang dalam penyampaian visi
misinya seakan-akan mereka tampil untuk dan atas nama kepentingan

29
Lihat pasal 142 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-
Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentangPenetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2014 tentangPemilihan Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-
Undang.
30
Iwan Satriawan, Helmi Kasim, Siswantana Putri Rachmatika, Alia Harumdani Widjaja,
Studi Efektifitas Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilukada oleh Mahkamah Konstitusi, Jakrta:
Pusat Penelitian dan Pengkajian Perkara, Pengelolaan Teknologi Informasi dan Komunikasi
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, 2012, hlm. 6.
31
Ibid, hlm.6-7. Untuk lebih jelasnya lihat Hasil penelitian Septi Nur Wijayanti, Efektifitas
…, 2010, hlm. 44-45
23

rakyat, padahal ujung-ujungnya yang lebih dominan dalam hitung-


hitungannya adalah penumpukan kekuasaan;32
e. Masyarakat: psikologi masyarakat juga masih menunjukkan belum
dimilikinya kematangan emosional dalam mengikuti suatu
penyelenggaraan pemilukada, oleh karena itu diperlukan sosialisasi khusus
untuk hal ini.

Menurut perspektif Huefner33 penyebab timbulnya permasalahan hasil


pemilu dapat disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, fraud yaitu
kecurangan hasil suara dapat disebabkan dari para kandidat yang curang,
dimana mereka memilikikeinginan dan kesempatan untuk melakukan
kecurangan tersebut. Hal ini juga dapat dilakukan oleh penghitung suaran
dan petugas-petugas pemilu lainnya yang memiliki kesempatan yang
memudahkan mereka melakukannya. Kedua,Mistake yaitukekhilafan yang
dilakukan oleh petugas pemilu. kesalahan dari petugas tersebut tidak akan
menjadi permasalahan besar apabila dapat dibenahi sebelum pemilu atau
melalui proses perhitungan sementara atau melalui sebuah proses
perhitungan ulang. Ketiga, Non-Fraundulent misconduct yaituperbuatan ini
merupakan kecurangan dalam pemilu, melainkan tindakan yang dapat
menimbulkan turunnya kepercayaan publik kepada hasil pemilu. Keempat,
Extrinsic event or acts of God yaitu penyebab lain timbulnya permasalahan
dalam hasil pemilu adalah terdapatnya peristiwa alamiah (act of God) di luar
kemampuan manuasiawi petugas administrasi pemilu.

Adapun bentuk sengketa pemilihan kepala daerah dapat di bagi menjadi

beberapa jenis anata lain:

a. Pelanggaran kode etik penyelenggara pemilihan, yaitu pelanggaran


terhadap etika penyelenggara Pemilihan yang berpedoman pada sumpah
dan/atau janji sebelum menjalankan tugas sebagai penyelenggara
pemilihan.
b. Pelanggaran administrasi pemilu adalah meliputi pelanggaran terhadap tata
cara yang berkaitan dengan administrasi pelaksanaan pemilihan dalam
setiap tahapan pemilihan.
c. Sengketa antar peserta pemilihan dan sengketa antara peserta dengan
penyelenggara pemilihan
a. Tindak pidana pemilu adalah tindak pidana pelanggaran dan/atau
kejahatan terhadap ketentuan pemilihan sebagaimana diatur dalam
undang-undang pemilu. Dalam pelaksanaan pemilihan kepala daerah,
penyelesaian tindak pidana pemilukada harus diselesaikan secara cepat

32
Hasil penelitian Septi Nur Wijayanti, Efektifitas Penyelesaian Perselisihan Pemilihan
Kepala Daerah Secara Langsung Oleh Mahkamah Konstitusi (Ditinjau Aspek Yuridis Dan
Politis), 2010, hlm. 44-457
33
Mahkamah Konstitusi, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Sekretariat Jenderal
MK RI, 2010, hlm.218.
24

oleh aparat hukum terkait sebelum masa penghitungan suara berlangsung


atau paling lambat sebelum ditetapkannya pemenang pemilukada;
b. Sengketa tata usaha negara pemilu adalah sengketa yang timbul dalam
bidang tata usaha negara Pemilihan antara calon gubernur, calon bupati,
dan calon walikota dengan KPU, KPU provinsi, dan KPU kabupaten/kota
sebagai akibat dikeluarkannya keputusan KPU, KPU Provinsi, dan KPU
kabupaten/kota.
c. Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU), adalah perselisihan antara
KPU provinsi dan/atau KPU kabupaten/kota dan peserta pemilihan
mengenai penetapan perolehan suara hasil pemilihan.Sengketa ini harus
diselesaikan secara efektif dan cepat, sehingga tidak menimbulkan
gangguan terhadap stabilitas pemerintahan daerah.

D. Lembaga Peradilan Sengketa Pilkada

Berdasarkan prinsip “negara hukum demokratis” dan “negara demokratis

berdasarkan atas hukum” menjadi satu alasan perlunya suatu lembaga negara yang

berfungsi menangani suatu perkara tertentu dibidang ketatanegaraan dalam rangka

menjaga konstitusi negara dilaksanakan sesuai dengan kehendak rakyat. 34 Pasal 1

ayat (3) UUD RI Tahun 1945 menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum.

Kepastian hukum adalah bagian dari ciri negara hukum, negara hukum seperti

yang kita ketahui adalah negara yang setiap kebijaksanaan baik yang sementara

berjalan atau yang akan dilaksanakan oleh pemerintah harus berdasarkan

hukum.35

Upaya yang dilakukan untuk menindaklanjuti hal tersebut adalah dengan

membentuk lembaga peradilan. Lembaga peradilan (pengadilan) ini bertugas

untuk memberikan sanksi terhadap pelanggaran hukum, termasuk memberikan

dan memulihkan hak-hak dari pihak yang dirugikan guna mewujudkan rasa

keadilan bagi setiap orang (equality before the law). Ketentuan tersebut sesuai

34
Maruarar Siahaan, Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, Jakarta:
Sinar Garafika, 2011, hlm. 7.
35
Satjipto Raharjdjo, Hukum dan Masyarakat, Bandung: Bandung Aksara, 1980, hlm. 81.
25

dengan teori kompetensi pengadilan bahwa sebuah kewenangan atau kekuasaan

untuk menentukan atau memutus sesuatu, maka dalam hal ini kompetensi dari

pengadilan adalah untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara

berkaitan dengan jenis dan tingkatan pengadilan yang ada berdasarkan peraturan

perundang-undanagn yang berlaku.36

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk mengetahui konpetensi pengadilan

dalam hal memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara yaitu, pertama,

melihat dari pokok sengketanya (geschilpunt, fundamnetum petedi),37 kedua,

dengan melakukan pembedaan atas atribusi (absolute competentie atau attributie

van rechtsmacht) dan delegasi (relative competentie atai distributie van

rechmacht).38Atribusi merupakan wewenang yang diberikan oleh pemerintah

oleh pembuat undang-undang kepada organ pemerintahan dan delegasi

merupakan suatu hal yang berkaitan dengan pembagian kewenangannya, yang

bersifat terinci (relatif) diantara badan-badan sejenis yang mengenai wilayah

hukum yaitu pelimpaham wewenang pemerintah dari satu organ pemerintahan

kepada organ pemerintahan lainnya.39 Ketiga, dengan melakukan perbedaan atas

Kompetensi absolut dan kompetesi relatif yaitu kompetensi absolut berkenaan

dengan kewenangan badan peradilan apa yang berwenang untuk memeriksa,

mengadili, dan memutus suatu perkara, sedangkan kompetensi relatif adalah

36
Sadjijono, Bab-Bab pokok Hukum Administrasi, Yogyakarta: LaksBang PRESSindo,
2008, hlm. 132.
37
E. Utrrecht, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Surabaya: Tinta Emas, hlm, 252.
38
Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT RajaGrafindo
Persada, 2010,hlm, 28.
39
Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Jakarta:PT RajaGrafindo Persada, 2002, hlm.
102
26

kewenangan dari pengadilan sejenis mana yang berwenang untuk memeriksa,

mengadili, dan memutus perkara yang bersangkutan.40

Prinsip negara hukum menghendaki adanya bentuk penyelenggaraan

kekuasaan kehakiman yang merdeka bebas dari pengaruh pihak manapu. Pasal 24

ayat (1) UUD RI Tahun 1945 menegaskan bahwa “Kekuasaan Kehakiman

merupakan kekuasaan yang merdeka untuk menyelenggarakan peradilan guna

menegakkan hukum dan keadilan”. Kekuasaan kehakiman yang merdeka

merupakan salah satu prinsip penting bagi Indonesia sebagai suatu negara hukum.

Prinsip ini menghendaki kekuasaan kehakiman yang bebas dari campur tangan

pihak manapun dan dalam bentuk apapun, sehingga dalam menjalankan tugas dan

kewajibannya ada jaminan ketidakberpihakan kekuasaan kehakiman kecuali

terhadap hukum dan keadilan.

Adapun asas yang digunakan dalam penyelenggaran kekuasaan kehakiman

tersebut anatara lain adalah :41

a. Peradilan dilakukan demi keadilan berdasarkan ketuhanan Yang Maha


Esa;
b. Peradilan negara menerapkan dan menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan pancasila;
c. Semua peradilan di seluruh wilayah neraga Republik Indonesia adalah
peradilan negara yang diatur dengan undang-undang; dan
d. Peradilan dilakukan dengan sederhana, cepat , dan biaya ringan.

Salah satu fungsi dari lembaga kekuasaan kehakiman adalah untuk

mengawal pelaksanaan demokrasi, Mahkamah Agung dan Mahkamah Konstitusi

adalah lembaga kekuasaan kehakiman yang berwenang untuk menangani perkara

40
Muhammad Alim, Asas-Asas Negara Hukum Modern Dalam Islam, Yogyakarta: PT
LKiS Printing Cemerlang, 2010, hlm. 321.
41
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
27

sengketa pilkada yang merupakan bentuk dari pelaksanaan demokrasi pada level

lokal. Adapun uraian tentang lembaga peradilan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Mahkamah Agung

Berdasarkan ketentuan pasal 24A ayat (1) Undang-UUD RI Tahun 1945

menyebutkan “Mahkamah Agung, berwenang mengadili pada tingkat kasasi,

menguji peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap

undang-undang, dan mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-

undang. Lebih lanjut pasal 24 ayat (2) menyebutkan bahwa ”Kekuasaan

Kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang

berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan

agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara, dan

ole sebuah Mahkamah Konstitusi”.

Berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang

Pemerintahan Daerah, Mahkamah Agung memiliki kewenangan lain yang

diberikan oleh undang-undang yaitu kewenangan untuk menangani perkara

sengketa pilkada. Ketentuan tersebut diatur dalam pasal 106 ayat (1) Undang-

Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa “keberatan terhadap penetapan

hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah hanya dapat diajukan oleh

pasangan calon kepada Mahkamah Agung dalam waktu paling lambat 3 (tiga) hari

setelah penetapan hasil pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah”.

Keberatan tersebut berkenaan dengan hasil penghitungan suara yang

mempengaruhi terpilihnya pasangan calon. Pengajuan keberatan kepada

Mahkamah Agung disampaikan kepada pengadilan tinggi untuk pemilihan kepala


28

daerah dan wakil kepala daerah provinsi dan kepada pengadilan negeri untuk

pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah kabupaten/kota.

Mahkamah Agung memutus sengketa hasil penghitungan suara

sebagaimana paling lambat 14 (empat belas) hari sejak diterimanya permohonan

keberatan oleh pengadilan negeri/pengadilan tinggi/Mahkamah Agung yang

bersifat final dan mengikat, dalam hal ini Mahkamah Agung dalam melaksanakan

kewenangannya dapat mendelegasikan kepada pengadilan tinggi untuk memutus

sengketa hasil penghitungan suara pemilihan kepala daerah dan wakil kepala

daerah kabupaten dan kota dengan ketentuan putusan bersifat final. Kewenangan

penyelesaian sengketa pilkada diberikan kepada Mahkamah Agung, karena

pilkada oleh pembentuk undang-undang dikategorikan sebagai rezim hukum

pemerintahan daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 18 UUD RI 1945 dan bukan

sebagai rezim hukum pemilihan umum yang diatur dalam pasal 22E UUD RI

1945, sebagaimana pemilu presiden dan pemilu legislatif.42

Salah satu bentuk sengketa pilkada adalah sengketa administratif, dimana

sengketa administratif ini muncul pada saat pelaksanan pilkada berlangsung.

Sengketa administrasi pilkada dapat terjadi karena penyelenggaraan pilkada

dilakasanakan oleh KPUD sebagai penyelenggara pemilu ditingkat daerah,

sebagaimana ditegaskan dalam pasal 22E ayat (5) UUD RI Tahun 1945 dan Pasal

1 angka 7 dan angka 8 Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 tentang

Penyelenggaraan Pemilu yang menjelaskan bahwa “Komisi Pemilihan Umum

provinsi dan Komisi Pemilihan Umum kabupaten/kota, selanjutnya disebut KPU

provinsi dan KPU kabupaten/kota, adalah penyelenggara pemilu di provinsi dan

42
Maria Farida, Sengketa Pemilukada,Putusan Mahkamah Konstitusi dan Pelaksanaan
Putusan Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Konstitusi Press, 2013, hlm. 51-52.
29

kabupaten/kota. Berdasarkan ketentuan tersebut maka keberadaan KPU sebagai

penyelenggara pemilu secara konstitusional dalam UUD RI Tahun 1945, dan

kedudukannya dianggap sederajat dengan lembaga-lembaga negara lain yang

dibentuk dengan undang-undang.43

KPUD mempunyai tugas dan wewenang berdasarkan Undang-Undang

Nomor 15 Tahun 2011 diantaranya adalah mengeluarkan keputusan administrasi,

keputusan mengenai penetapan jadwal pilkada, keputusan penetapan calon,

penetapan hasil rekapitulasi hasil perhitungan, serta keputusan yang berkaitan

dengan pilkada, sehingga keputusan tersebut telah memenuhi unsur sebagai

Keputusan Administrasi Negara atau Keputusan Tata Usaha Negara. Pasal 1

angaka 9 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang perubahan atas Undang-

Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Paradilan Tata Usaha Negara menjelaskan

bahwa “Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang

dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum

tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,

yang bersifat konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi

seseorang atau badan hukum perdata”.

Sengketa pilkada yang muncul karena adanya keputusan yang dikeluarkan

oleh KPUD juga merupakan bagian dari keputusan administrasi negara dan

keputusan tersebut adalah keputusan tata usaha negara. Oleh karenanya keputusan

yang dikeluarkan oleh KPUD memungkinkan terjadinya, pertama, pertentangan

dengan peraturan perudang-undangan yang berlaku. Kedua, KPUD pada waktu

mengeluarkan keputusan telah menggunakan wewenangnya untuk tujuan lain atau

43
Jimly Assiddiqie, Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca Reformasi,
Jakarta: Konstitusi Press, 2006, hlm. 234.
30

penyelahgunaan wewenang. Ketiga, keputusan KPUD mengandung perbuatan

atau tindakan sewenang-wenang (willekuer).44

Semua sengketa pilkada berpotensi menjadi obyek sengketa dalam

Pengadilan Tata Usaha Negara, kecuali keputusan KPUD yang terkait dengan

hasil pilkada. Ketentuan tersebut tercantum dalam Undang-Undang Nomor 9

Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986

tentang Peradilan Tata Usaha Negara Pasal 2 huruf g yang menyebutkan bahwa

Tidak termasuk dalam Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN) menurut undang-

undang ini adalah “Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di

daerah mengenai hasil pemilihan umum”. Artinya selain perhitungan suara, semua

tahapan pemilu memiliki peluang untuk digugat melalui mekanisme hukum. Hal

ini dikarenakan semua tahapan pemilu memiliki tahaan hukum seperti Surat

Keputusan (SK) KPU, dan SK KPU itulah yang berpotensi untuk dijadikan obyek

perkara dalam PTUN.

Kompetensi PTUN dalam penanganan perkara pilkada juga didasarkan pada

paragraph 2 Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 7 Tahun 2010

tentang Petunjuk Teknis Sengketa Mengenai Pilkada bahwa pelaksanaan

penyelenggaraan pilkada di lapangan, sebelum meningkat pada tahap pemungutan

suara dan perhitungan suara, telah dilakukan berbagai tahapan, misalnya tahap

pendaftaran, tahap pencalonan peserta, tahap masa kampanye, dan lain sebaginya.

Setiap tahap-tahap tersebut di atas, sudah ada keputusannya yang diterbitkan oleh

Pejabat Tata Usah Negara (beschikking, yaitu pada keputusan Komisi Pemilihan

Umum Pusat dan Dareah).

44
Philipus M. Hadjon, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan Pertama,
Yogyakarta: Gaja Mada University Press, 1993, hlm. 319-320.
31

Berdasarkan ketentuan paragraph 4-5 SEMA Nomor 7 Tahun 2010

menyebutkan bahwa pada paragraph 4 berbunyi “keputusan-keputusan tersebut

yang belum ada atau tidak merupakan hasil pemilihan umum dapat digilongkan

sebagai keputusan dibidang urusan pemerintahan, dan oleh sebab itu, maka

apabila keputusan tersebut memenuhi unsur dan criteria pasal 1 butir 3 Undang-

Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang PTUN, maka menjadi kewenangan PTUN

dalam hal mengadilinya. Hal ini terjadi karena keputusan tersebut berada di luar

jangkauan pengecualian pasal 2 huruf g Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004

yang menyatakan “keputusan-keputusan yang berisi mengenai hasil pemilihan

umum adalah pengecualian yang dimaksud oleh Pasal 2 huruf g sehingga tidak

menjadi kewenangan PTUN.

Berdasarkan ketentuan SEMA Nomor 7 Tahun 2010 tersebut maka

kepastian Kompetensi PTUN sebagai salah satu lingkungan peradilan yang berada

di bawah Mahkamah Agung merupakan bentuk kewenangan yang bersifat absolut

dalam hal memeriksa, mengadili, dan memutus sengketa yang timbul dalam

bidang tata usaha negara antara seorang calon kepala daerah dan calon wakil

kepala daerah yang merasa haknya dirugikan atau badan hukum perdata yang

dalam hal ini adalah partai politik dengan pejabat tata usaha negara, dimana

pejabat tata usaha negara disini yang dimaksud adalah KPUD baik provinsi atau

kabupaten/kota.45

45
Ketentuan yang diatur dalam Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 4 tahun 2009
tentang Peradilan Tata Usaha Negara menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan sengketa tata
usaha negara terdiri dari beberapa unsur anata lain yaitu: a. sengkete yang timbul dalam bidang
tata usaha negara; b. sengketa tersebut antara orang ataau badan hukum perdata dengan badan atau
pejabat tata usah negara; c. sengketa yang dimaksud sebgai akibat dikeluarkannya keputusan tata
usaha negara. Dalam R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Edisi Kedua,
Jakarta: 2009, hlm. 6.
32

Dalam konsteks ini PTUN merupakan salah satu lembaga peradilan yang

berada di bawah Mahkamah Agung, yang berarti bahwa apabila PTUN

menangani perkara pilkada hal tersebut juga merupakan bagian dari kewenangan

Mahkamah Agung. Oleh karena itu, hal tesebut menunjukkan bahwa Mahkamah

Agung merupakan lembaga yang telah memiliki kewenangan absolut untuk

menangani sengketa administif pilkada yakni melalui Peradilan Tata Usaha

Negara.

b. Mahkamah Konstitusi

Pemilu yang demokratis tercermin dalam pemilihan hukum (electoral laws)

dan proses pemilihannya (electoral process) dan dalam hal ini Mahkamah

Konstitusi mempunyai peranan penting untuk menentukan apakah suatu ketentuan

mengenai electoral laws demokratis atau tidak melalui uji konstitusional undang-

undang pemilu terhadap UUD RI Tahun 1945, sedangkan mengenai electoral

process Mahkamah Konstitusi berperan melalui peradilan perselisihan hasil

pemilu yang akan menilai benar tidaknya hasil perhitungann suara yang dilakukan

oleh KPU.46 Oleh karena itu, Mahkamah Konstitusi selain sebagai pengawal

konstitusi, penafsir konstitusi, juga sebagai pengawal demokrasi konstitusi (the

guardian and the sole interpreter of the constitution,as well as the guardian of the

process of democratization).47

46
A.Mukthie Fadjar, Pemilu yang Demokratis dan Berkualitas; Penyelesaian Hukum
Penyelesaian Pemiludan PHPU, Jurnal Konstitusi Vol 6 Nomor 1, April 2009, Jakarta: Mahkamah
Konstitusi Republik Indonesia,2009, hlm. 23.
47
Jimly Asshidiqie, Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negaara, Jakarta :
Konstitusi Press,2009, hlm. 95
33

Ketentuan pasal 24 ayat (2) perubahan ketiga UUD RI Tahun 1945 telah

mempertegas keberadaan Mahkamah Konstitusi sebagai salah satu lembaga

peradilan yang ada di Indonesia. Rumusan pasal tersebut juga menegaskan bahwa

kekuasaan kehakiman menganut sistem bifurkasi (bifurcation system), dimana

kekuasaan kehakiman terbagi dalam 2 (dua) cabang, yaitu cabang peradilan biasa

(ordinary court) yang berpuncak pada Mahkamah Agung dan cabang peradilan

konstitusi yang mempunyai wewenang untuk melakukan constitutional review

atas produk perundang-undangan yang dijalankan oleh Mahkamah Konstititusi.48

Sebagai pelaku kekuasan kehakiman, fungsi konstitusional yang dimiliki

oleh Mahkamah Kontitusi adalah fungsi peradilan guna menegakkan hukum dan

keadilan. Fungsi Mahkamah Konstitusi dapat ditelusuri dari latar belakang

pembentukannya, yaitu untuk menegakkan supremasi konstiusi, oleh karenanya

ukuran keadilan dan hukum yang ditegakkan dalam peradilan Mahkamah

Konstitusi adalah konstitusi itu sendiri yang dimaknai tidak hanya sekedar sebagai

kumpulan norma dasar, melainkan juga dari prinsip dan moral konstitusi, antara

lain prinsip Negara hukum dan demokrasi, prinsip perlindungan hak asasi

manusia, serta perlindungan hak konstitusional warga negara.49

Setelah Perubahan Ketiga UUD RI Tahun 1945, kewenangan Mahkamah

Konstitusi yang dirumuskan dalam pasal 24C adalah sebagai berikut:

1) Mahkamah Konstitusi, berwenang mengadili pada tingkat pertama dan


terakhir yang putusannya bersifat final, menguji undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar, memutus sengketa kewenangan
lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang

48
Abdul Hakim G Nusantara da.lam Fakhturohman, Dian Aminudin, Sirajuddin,
Memahami keberadaan Mahkamah Konstitusi Di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti Bakti,
2004, hlm. 4.
49
Op. Cit., Mahkamah Konstitusi, Hukum Acara…, hlm. 10.
34

dasar, memutus pembubaran partai politik dan memutus perselisihan


tentang hasil pemilihan umum.
2) Mahkamahh Konstitusi wajib memberikan putusan atas pendapat
Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan pelanggaran oleh
Presiden dan/atau Wakil Presiden menurut Undang-Undang Dasar.
3) Mahkamah Konstitusi mempunyai Sembilan orang anggota hakim
konstitusi yang ditetapkan oleh presiden, yang diajukan masing-
masing 3 orang oleh Mahkamah Agung, 3 orang oleh Dewan
Perwakilan Rakyat, dan 3 orang oleh presiden.
4) Ketua dan Wakil Ketuan Mahakamh konstitusi dipilih dari dan oleh
hakim konstitusi.
5) Hakim konstitusi harus memiliki integritas dan kepribadian yang tidak
tercela,adil, negaarawan yang menguasai konstitusi dan
ketatanegaraan, serta tidak merangkap sebagai pejabat Negara.
6) Pengangkatan dan pemberhentian hakim konstitusi, hukum acara serta
ketentuan lainnya tentang Mahkamah Konstitusi diatur dengan
undang-undang.

Oleh karena itu, dengan diberlakukannya ketentuan dalam UUD RI Tahun

1945 tersebut, maka Mahkamah Konstitusi memiliki beberapa kewenangan

sebagai berikut:50

1. Menguji undang-undng terhadap Undang-Undang Dasar;


2. Memutus sengketa kewenangan lembaga Negara yang kewenangannya
diberikan oleh Undang-Undang Dasar;
3. Memutus pembubaran partai politik; dan
4. Memutus perselisihan tentang hasil pemilihan umum;
5. Memutus pendapat Dewan Perwakilan Rakyat mengenai dugaan
pelanggaran oleh presiden dan/atau wakil presiden berupa penghianatan
terhadap Negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya, atau
perbuatan tercela;
6. Memutus pendapaat Dewan Perwakilan Rakyat bahwa presiden dan/atau
wakil presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau
wakil presiden.

Berkenaan dengan kewenangan memutus perselisihan hasil pemilu, maka

dalam hal ini berdasarkan ketentuan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004

tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah dirubah dengan Undang-Undang

50
Jimly Asshiddqie, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, Jakarta: PT Bhuana Ilmu
Poluler kelompok Gramedia, 2009, hlm. 306.
35

Nomor 8 Tahun 2011 (LN RI Nomor 70 Tahun 2011, TLN RI Nomor 5226)

tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang

Mahkamah Konstitusi, dan dalam undang-undang lain yang terkait seperti

Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang

menjelaskan bahwa Mahkamah Konstitusi memiliki kewenangan dalam hal

menangani sengketa pemilu anggota DPR, DPD, DPRD, presiden dan wakil

presiden, serta pemilihan kepala daerah dan wakil kepal daerah.

Bahwa pengaturan kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam menangani

sengketa pemilihan kepala daerah saat ini telah diatur dalam Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 2015 tentang Peubahan atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun

2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota menjadi Undang-Undang

Pasal 157 ayat (3) yang menyatakan bahwa “Perkara perselisihan penetapan

perolehan suara hasil pemilihan diperiksa dan diadili oleh Mahkamah Konstitusi

sampai dibentuknya badan peradilan khusus”. Berkenaan dengan mekanisme

penangannaya telah ditegaskan dalam Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 07

Tahun 2015 tentang Perubahan atas Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 2

Tahun 2015 tentang tahapan, Kegiatan, dan Jadual Penanganan Perselisihan Hasil

Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, serta Peraturan Mahkamah Konstitusi

Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Perubahan atas Peraturan Mahkamah Konstitusi

Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pedoman Beracara Dalam Perkara Perselisihan

Hasil Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota Satu Pasangan Calon, dan

Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 5 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas

Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 1 Tahun 2015 tentang pedoman Beracara

dalam Perkara Perselisihan Gubernur, Bupati dan Walikota.


36

III. METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian hukum normatif, atau

sering dikenal dengan istilah pendekatan yuridis normatif.51 Penelitian hukum

yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara mengkaji dan meneliti bahan-bahan

pustaka berupa bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.

B. Pendekatan Masalah

Pendekatan yang digunakan terhadap permasalahan yang ada dalam

penelitian ini adalah dengan menggunakan metode studi kepustakaan, dengan

metode pendekatan yang bersifat normatif (doctrinal) ini, penelitian akan

dilakukan dengan menginventaris dan mengkaji dokumen-dokumen hukum dan

karya tulis lainnya. Pencatatan terhadap bahan-bahan temuan dalam studi

kepustakaan ini dilakukan secara teliti dan jelas, serta menyeluruh terhadap

bahan-bahan yang ada relevansinya dengan penelitian.52

C. Sumber Data

Data yang digunakan adalah data sekunder, yang meliputi bahan hukum

primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier sebagi berikut:

51
Lebih lanjut, pengertian hukum normatif dapat dibaca di Suratman dan H. Philips Dillah
dalam Metode Penelitian Hukum , Bandung: Alfabeta, 2013, hlm. 54.
52
Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: RajaGrafindo Persada,
Cetakan ke -12, 2012, hlm. 98.
37

1. Bahan hukum primer (primary law material) , yaitu bahan hukum yang

memiliki kekuatan hukum mengikat secara umum (perundang-undangan)

atau mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak yang berkepentingan

yang bersumber dari dokumen hukum, dan putusan hakim53 yang

digunakan antara lain:

a. Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia

Tahun1945;

b. Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah;

c. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua

Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan

Daerah;

d. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 Mahkamah Konstitusi;

e. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung;

f. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan

Kehakiman;

g. Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan

Pemilihan Umum;

h. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur,

Bupati, dan Walikota;

i. Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;

j. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan

Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang

Pemilihan Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-Undang

53
Abdulkadir Muhammad, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung: PT. Citra Aditya
Bakti, 2004,hlm. 2.
38

k. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-

Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah

Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan

Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-Undang;

l. Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1

Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota

Menjadi Undang-Undang;

m. Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2

Tahun 2014 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014

tentang Pemerintahan Daerah.

2. Bahan hukum sekunder (secunder law material) yang digunakan antara

lain:

a. Doktrin atau pendapat ahli hukum ketatanegaraan yang terdapat pada

buku, jurnal, hasil riset; dan

b. Bahan hukum tersier yang digunakan adalah berupa Kamus Besar

Bahasa Indonesia.

D. Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan studi

kepustakaan (library research) dengan cara membaca, mempelajari, menafsirkan

dan menganalisis peraturan perundang-undangan, studi dokumen baik dokumen

hukum yang dipublikasikan melalui media cetak maupun media elektronik serta
39

studi catatan hukum berupa buku-buku literatur hukum atau bahan tertulis lainnya

yang berkaitan dengan permasalahan yang dibahas.

E. Metode Pengolahan Data

1. Pemeriksaan data, yaitu mengoreksi apakah data-data yang diperlukan

telah terkumpul dan cukup lengkap, sudah benar, dan sudah

sesuai/relevan dengan masalah.54

2. Klasifikasi data, yaitu menempatkan data berdasarkan penggolongan

bidang atau pokok bahasan agar mempermudah dalam

menganalisisnya.

3. Sistematika data, yaitu menempatkan data-data menurut kerangka

sistematik bahasan urutan masalah agar lebih mudah dipahami.

F. Analisis Data

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis kualitatif.

Analisis secara kualitatif dilakukan dengan cara pengolahan data dengan

mempelajari hasil yang diperoleh pada saat penelitian kemudian membuat

rangkuman yang berhubungan dengan penelitian ini yang tidak dapat diwujudkan

dengan angka-angka atau tidak dapat dihitung dengan menguraikan data secara

sistematis, sehingga diperoleh arti dan kesimpulan. Dalam hal pengambilan

kesimpulan dan hasil analisis tersebut berpedoman pada cara berfikir induktif,

yaitu cara berfikir dalam mengambil kesimpulan atas fakta-fakta yang bersifat

khusus, lalu diambil secara umum.

54
Op. Cit, Abdul Kadir Muhammad, Hukum Dan Penelitian…, hlm. 126.
93

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Bahwa penyelenggaraan pilkada dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia

mulai dari Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah

telah memunculkan adanya dinamika. Hal ini terjadi karena dalam

pelaksanaannya telah terjadi sengketa pilkada, dinamika penyelenggaraan pilkada

ini ditandai dengan terus terjadinya perubahan terhadap lembaga penyelesaian

sengketa pilkada, berawal dari Mahkamah Agung kemudian kewenangan

peradilan pilkada dialihkan kepada Makamah Konstitusi dan setelah ada putusan

Mahkamah Konstitusi dan pengaturan baru kewenangan tersebut dikembalikan

kepada Mahkamah Agung. Bahwa setelah keluar pengaturan pilkada terbaru

tentang penyelenggaraan pilkada, kewenangan penyelesaian sengketa pilkada saat

ini telah dikembalikan lagi kepada Mahkamah Konstitusi sampai terbentuknya

lembaga peradilan khusus sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang-Undang

Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun

2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor

1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi

Undang-Undang. Berdasarkan kajian yang dilakukan dari aspek sejarah proses

terbentuknya lembaga penyelesaian sengketa pilkada yang syarat dengan

kepentingan pada pembentukan regulasi yang mengatur ketentuan tersebut, maka


93

kemungkinan-kemungkinan dimasa yang akan datang dinamika lembaga

penyelesaian sengketa pilkada akan terus terjadi.

B. Saran

Bahwa pembentukan lembaga peradilan khusus pilkada harus segera

dilaksanakan dengan tetap memperhatikan dan menyerap perkembangan hukum

yang terjadi di masyarakat, serta tetap pada upaya memberikan sebuah kepastian

hukum dan keadilan yang tidak memihak. Hasil evaluasi lembaga penyelesaiaan

sengketa pilkada dapat menjadi rujukan bagi pembuat undang-undang untuk

melakukan pembentukan lembaga peradilan khusus pilkada, misalnya saja bentuk

peradilan yang dimunculkan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015

merupakan salah satu bentuk peradilan yang dapat dijadikan bahan pertimbangan

dalam pembentukan peradilan khusus pilkada. Rekruitmen pengisian jabatan pada

lembaga peradilan khusus pilkada harus memperhatikan syarat-syarat pemenuhan

individu yang mempunyai keahlian dibidangnya, khususnya tentang pemilu.


DAFTAR PUSTAKA

a. Sumber Literatur Buku:

Alim, Muhammad. 2010. Asas-Asas Negara Hukum Modern Dalam Islam,


Yogyakarta: PT LKiS Printing Cemerlang.
Asshiddqie, Jimly. 2009. Menuju Negara Hukum yang Demokratis, Jakarta: PT
Bhuana Ilmu Poluler kelompok Gramedia.
_____________. 2009. Sengketa Kewenangan Konstitusional Lembaga Negaara,
Jakarta : Konstitusi Press.

_____________. Komentar Atas Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 1945, Jakarta: Sinar Grafika.
_____________. 2006. Perkembangan dan Konsolidasi Lembaga Negara Pasca
Reformasi, Jakarta: Konstitusi Press.
_____________. 2002. Konsolidasi Naskah Undang-Undang Dasar 1945 Setelah
perubahan Keempat, Jakarta: Pusat Studi Hukum Tata Negara UI.
Budiardjo, Miriam. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Politik, Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Fadjan, A. Mukhtie. 2013. Pemilu, Perselisihan Hasil Pemilu, dan Demokrasi,
Malang: Setara Press.
Fahmi, Khairul. 2011. Pemilihan Umum dan Kedaulatan Rakyat, Jakarta:
RajaGrafindo Persada.
Fakhturoh Muhammad, Abdulkadir. 2004. Hukum dan Penelitian Hukum,
Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Fakhturohman, Dian Aminudin, Sirajuddin, 2004. Memahami keberadaan
Mahkamah Konstitusi Di Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bakti Bakti.
Farida, Maria. 2013. Sengketa Pemilukada, Putusan Mahkamah Konstitusi dan
Pelaksanaan Putusan Mahkamah Konstitusi, Jakarta: Konstitusi Press.
Fauzi, Gamawan, 2013. Sengketa Pemilukada, Putusan MK, dan Pelaksanaan
Putusan MK, dalam Demokrasi Lokal, Evaluasi Pemilukada di Indonesia.
Jakarta: Konstitusi Press.
H. Philips Dillah dan Suratman. 2013. Metode Penelitian Hukum , Bandung:
Alfabeta.

Hadjon, Philipus M. 1993. Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Cetakan


Pertama, Yogyakarta: Gaja Mada University Press.
Harahap, Zairin. 2010. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Hertanto. 2006. Teori-Teori Politik dan Pemikiran Politik di Indonesia,
Bandarlampung: Universitas Lampung.
Huda, Ni’matul. 2011. Ilmu Negara, Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Irmansyah ,Rizky Ariestandi. Hukum, Hak Asasi Manusia dan Demokrasi,


Yogyakarta: Graha Ilmu.
Isra, Saldi. 2005. Hubungan Eksekutif-Legislatif Pasca Pemilihan Kepala Daerah
Secara Langsung, Pidato Ilmiah disampaikan pada Dies Natalis ke-49
Universitas Andalas.
Juanda. 2004. Hukum Pemerintahan Daerah, “Pasang Surut Hubungan
Kewenangan Antara DPRD dan Kepala Daerah. Bandung; PT. Alumni.
M Gaffar, Janedri. 2013. Demokrasi Dan Pemilu Di Indonesia. Jakarta: Konstitusi
Press.

M. Rusli, 2004. Pengantar Ilmu Hukum, Jakarta: Sinar Grafika.

Mahkamah Konstitusi, 2010. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Jakarta:


Sekretariat Jenderal MK RI.
Manan, Bagir (Editor), 1996. Kedaulatan rakyat, Hak Asasi Manusia, dan Negara
Hukum, Jakarta: Gaya Media Pratama.
Muhammad , Abdul Kadir. 2004. Hukum Dan Penelitian Hukum, Bandung: PT
Citra Aditya Bakti.
Muntoha. 2009. Demokrasi dan Negara Hukum, Jurnal Hukum Fakultas Hukum
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta No. 3 Vol. 16 Juli.
Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 194, Latar Belakang, Proses dan Hasil Pemahasan 1999-
2002,Buku V,Pemilihan Umum, Jakarta :Sekjen dan Kepaniteraan MKRI.
2008.
Nurtjahjo, Hendra. 2006. Filsafat Demokrasi. Jakarta. Sinar Grafika.
Pusat Bahasa Dan Departemen Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI), Jakarta: Pusat Bahasa.
R. Wiyono, 2009. Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Edisi Kedua,
Jakarta: 2009.
Raharjdjo, Satjipto.1980. Hukum dan Masyarakat, Bandung: Bandung Aksara.

Ridwan HR, 2002. Hukum Administrasi Negara, Jakarta:PT RajaGrafindo


Persada.

Riyanto, Astin. 2009. Teori Konstitusi Cetakan Keempat, Bandung: Lembaga


Penerbit yayasan Pembangunan Indonesia (Yapendo),
Rousseau, Jean Jacques. 2009 Du Contract Social (Perjanjian Sosial), Jakarta:
Visimedia.
Rudy. 2013. Hukum Pemerintahn Daerah, Bandar Lampung: Pusat Kajian dan
Peraturan Perundang-undangan Fakultas Hukum Universitas Lampung.
Sadjijono, 2008. Bab-Bab pokok Hukum Administrasi, Yogyakarta: LaksBang
PRESSindo.
Samidjo,1986. Ilmu Negara, Bandung: CV Armico

Sarundajang, 2005. Pilkada Langsung, Problem dan Prospek, Katahasta Pustaka.

Siahaan, Maruarar. 2011. Hukum Acara Mahkamah Konstitusi Republik


Indonesia. Jakarta: Sinar Garafika.

Sratman dkk, 2013. Metode Penelitian Hukum, Bandung: Alfabeta.

Sri Mamudji dan Soerjono Soekamto. 2012. Penelitian Hukum Normatif Suatu
Tinjauan Singkat, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suharizal, 2011. Pemilukada, Regulasi, Dinamika Dan Konsep Mendatang,
Jakarta: PT RajaGarafindo.
Sunggono, Bambang. 2012. Metodologi Penelitian Hukum, Jakarta: RajaGrafindo
Persada, Cetakan ke -12.

Suratman dan H. Philips Dillah, 2013. Metode Penelitian Hukum , Bandung:


Alfabeta
b. Sumber Lain (jurnal, artikel, makalah, dll)

Ali, M. Mahrus Irfan, Nur Rachman, Winda Wijayanti, Rio Tri Juli Putranto, Titis
Anindyajati, Putria Gusti Asih, 2012. Tafsir Konstitusional Pelanggaran
Pemilukada Yang Bersifat Sistematis, Terstruktur Dan Masif dalam Jurnal
Konstitusi, Volume 9, Nomor 1 bulan Maret, Jakarta: Pusat Penelitian dan
Pengkajian Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Alia Harumdani Widjaja, Iwan Satriawan, Helmi Kasim, Siswantana Putri


Rachmatika, Alia Harumdani Widjaja, 2012. Studi Efektifitas Penyelesaian
Sengketa Hasil Pemilukada oleh Mahkamah Konstitusi, Jakrta: Pusat
Penelitian dan Pengkajian Perkara, Pengelolaan Teknologi Informasi dan
Komunikasi Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Fadjar, A.Mukthie. 2009. Pemilu yang Demokratis dan Berkualitas; Penyelesaian


Hukum Penyelesaian Pemiludan PHPU, Jurnal Konstitusi Vol 6 Nomor 1,
April 2009, Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Naskah Komprehensif Perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik


Indonesia Tahun 194, Latar Belakang, Proses dan Hasil Pemahasan 1999-
2002,Buku V,Pemilihan Umum, Jakarta :Sekjen dan Kepaniteraan MKRI.
2008

Sari, Sri Hastuti Puspita. 2011. Mahkamah Konstitusi Dan Penegakan Demokrasi
Konstitusional dalam Jurnal Konstitusi Volume 8 Nomor 3, Jakarta:
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.Wijayanti, Septi Nur. 2010,
Efektifitas Penyelesaian Perselisihan Pemilihan Kepala Daerah Secara
Langsung Oleh Mahkamah Konstitusi (Ditinjau Aspek Yuridis Dan Politis.
Zoelva, Hamdan. 2013. Problematika Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilukada
oleh Mahkamah Konstitusi dalam Jurnal Konstitusi Volume 10 Nomor 3,
Jakarta: Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia.

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU/XI/2013.

Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Perkara Nomor: 072- 073


/PUU-II/2004
c. Peraturan Perundang-Undangan :

Undang- Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia Tahun1945;


Undang-Undang 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan daerah
Undang-Undang nomor 8 Tahun 2011 Mahkamah Konstitusi
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan
Umum.
Undang-Undang Nomor 15 tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pemilihan
Umum.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan
Walikota.
Undang-Undang 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan
Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-Undang.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati
, dan Walikota Menjadi Undang-Undang.
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014
tentang Pemilihan Gubernur, Bupati , dan Walikota Menjadi Undang-
Undang.
Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah

d. Website:
http://news.detik.com/berita/396837/alzier-minta-segera-dilantik-jadi-gubernur-
lampung diakses pada 29 Januari 2016pukul 14:00 WIB.

http://pn-ypgyakarta.go.id/pnyk/info-peradila/pengertian -peradilan.html (diakses


pada tanggal 3 september pukul 22.05 WIB.