Sei sulla pagina 1di 10

1

Perencanaan Pembangunan Desa Wisata Nongkosawit


Kecamatan Gunungpati Kota Semarang

Oleh:

Restyani Ayu Putri, Diah Hariani, Susi Sulandari

Jurusan Administrasi Publik


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Diponegoro
Jalan Profesor Haji Soedarto, Sarjana Hukum Tembalang Semarang Kotak Pos 1269

Telepon (024) 7465407 Faksimile (024) 7465405

Laman : http://www.fisip.undip.ac.id email fisip@undipac.id

ABSTRACT
According to Law No 32 of 2004 (Local Government) and Law No 25 of 2004
(National Development Planning System), regional development planning must be done
in a participatory and starting from the bottom (bottom-up planning) that begins from
the village. Similarly with The Planning of Development Nongkosawit Tourism Village,
which apply the development plans through a bottom-up planning to be a Tourism
Village. The research was conducted in the Village/Urban Village the District of
Nongkosawit in Gunungpati of Semarang City. The method used is disqualitative-
descriptive method. This research aims to: (1) describe the implementation of
development planning (bottom-up planning) Nongkosawit Tourism Village, (2) describe
the planning phase of the Nongkosawit Tourism Village, (3) determine the supporting
and inhibiting factor on the successful implementation of development planning in
Nongkosawit Tourism Village.
The results showed that: (1) implementation of development planning (bottom-up
planning) Nongkosawit Tourism Village produces 7 priority proposal of tourism village
in Musrenbang on the Nongkosawit urban village level, and 3 priority proposal of
tourism village in Musrenbang on the Gunungpati district level. (2) Some of the
implementation phase of development planning of Nongkosawit Tourism Village has not
been done which is determined the structure and manpower requirements, assessed
feasibility of projects, developed the input project, feasibility studies, and monitoring
and evaluation, the rest of the implementation development has been done well. (3)
There are 4 factors that determine the successfull of the implementation of development
planning in Nongkosawit Tourism Village. Because every factor has elements that
support and inhibit the successful of the implementation of development planning
2

Nongkosawit Tourism Village, so every factor is rated as supporting and inhibiting


factors.
It can be concluded that the implementation of development planning in
Nongkosawit Tourism Village running smoothly either in regulatory or technical
implementation. However, to get an maximum results the author gives some
recommendations, there are: (1) Nongkosawit must have the high commitment and
optimism for being a tourism village (2) The role of village government should be
maximized (3) Planners should immediately follow up several stages of the
implementation of the plan which has not been implemented (4) People need to be given
the regular socialization about tourism village.
Keywords: Development Planning, Bottom-Up Planning, Tourism Village

PENDAHULUAN Saat ini Pemerintah Kota


Semarang sedang menggalakan
A. LATAR BELAKANG Program Desa Wisata sebagai salah satu
Kota Semarang sebagai Ibu Kota program pendukung "Ayo Wisata ke
Provinsi Jawa Tengah kini tengah Semarang" dan juga menjadi bagian
berbenah memperbaiki infrastruktur, dari "Visit Jateng 2013". Program ini
tata kota, sarana dan prasarana agar mendapat apresiasi yang tinggi dari
setara dengan kota metropolitan lain di seluruh pemangku kepentingan dan
Indonesia. Sebuah motto “Waktunya masyarakat Kota Semarang. Dukungan
Semarang Setara” merupakan wujud dari pemerintah dibuktikan dengan
implementasi Visi dan Misi Kota digelontorkannya dana sebesar Rp 7,5
Semarang tahun 2010-2015. Motto ini juta untuk desa-desa yang sedang dibina
bertujuan untuk membangun motivasi maupun yang sudah menjadi desa
guna mengoptimalkan potensi Kota wisata. (Suara Merdeka, 23 Juni 2012)
Semarang melalui komitmen seluruh Desa/Kelurahan Nongkosawit
pemangku kepentingan (Pemerintah– Kecamatan Gunungpati Kota Semarang,
masyarakat–swasta) untuk bersama adalah salah satu Desa yang ikut
membangun dan mensejajarkan Kota berpartisipasi dalam rangka
Semarang dengan kota metropolitan lain menjalankan program “Ayo Wisata ke
di Indonesia. Semarang” dengan mengembangkan
(http://semarangkota.go.id/portal/index. potensi-potensi yang dimiliki, baik
php/article/details/visi-dan-misi) potensi sumber daya alam maupun
Dukungan untuk berjalannya sumber daya manusianya. Di dalam
motto “Waktunya Semarang Setara”, kaitannya dengan pembangunan
pemerintah Kota Semarang mengambil umumnya dan pembangunan desa
bidang pariwisata sebagai salah satu khususnya, maka penerapan
pendukung berjalannya program perencanaan di bidang pembangunan
pembangunan Kota Semarang dengan desa memegang peranan penting.
me-launching Program “Ayo Wisata ke Menurut UU No. 32 Tahun 2004
Semarang” pada tanggal 11 November (Pemerintah Daerah) dan UU No. 25
tahun 2011 silam. Program ini Tahun 2004 (Sistem Perencanaan
diharapkan menjadi penggugah Pembangunan Nasional), perencanaan
masyarakat khususnya Kota Semarang daerah itu harus di tempuh secara
untuk mengangkat potensi wisata yang partisipatif dan berasal dari bawah
ada di daerah tinggal mereka. (bottom up planning) yaitu bermula dari
3

desa. Perencanaan pembangunan saat diperuntukkan bagi warga desa usia


ini terlihat lebih desentralistik dan produktif yang belum bisa membaca
partisipatif, yang memungkinkan dan menulis dengan tujuan untuk
pemerintah daerah menghasilkan memperbaiki kualitas dan kuantitas
perencanaan daerah yang sesuai dengan pendidikan warga desa. Kelompok
konteks lokal serta proses perencanaan belajar ini berjalan dengan efektif,
pembangunan daerah partisipatif dan semakin banyak warga desa yang
berangkat dari desa. berminat dan ikut dalam pembelajaran
Kemiskinan yang melanda ini, karena mereka sadar akan
sebagian masyarakat Indonesia menjadi pentingnya kualitas diri dalam
tantangan dan semangat bagi berwirausaha. Selanjutnya, peserta
pemerintah untuk mencarikan solusi diberdayakan dengan cara diberi
terciptanya lapangan pekerjaan seluas- pelatihan-pelatihan khusus agar bisa
luasnya demi penurunan jumlah memiliki keahlian dalam bidang-bidang
pengangguran di Indonesia. Kemiskinan tertentu seperti menjahit, beternak,
di Kota Semarang sendiri meningkat, bertukang, dan berinovasi dalam bidang
terlihat dari hasil verifikasi Bappeda kuliner.
didapatkan angka kemiskinan naik Kelompok belajar ini menjadikan
sebesar 0,86 persen. Di tahun 2009 Desa Nongkosawit sebagai Desa Vokasi
(warga miskin) di Kota Semarang yang mewakili Kecamatan Gunungpati
tercatat sebanyak 111.588 KK atau sejak tahun 2009. Tidak puas hanya
398.009 jiwa, sedangkan tahun 2011 dengan menjadi desa vokasi, kemudian
meningkat menjadi 401.442 jiwa atau aparatur dan masyarakat desa
110.006 KK (Sumber: Suara Merdeka, mengusulkan agar Desa Nongkosawit
31 Oktober 2011). Dari realita yang ada, menjadi desa binaan yang nantinya akan
kemiskinan banyak tersebar pada dijadikan sebagai desa wisata.
daerah-daerah pedesaan, sehingga Pembentukan desa wisata dilandasi
mayoritas masyarakat desa melakukan pada Perda Nomor 14 Tahun 2011
urbanisasi demi mendapatkan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
kehidupan yang lebih layak. Tidak (RTRW) Kota Semarang Tahun 2011-
terkecuali masyarakat Desa 2031. Pada pasal 86 disebutkan bahwa
Nongkosawit Kecamatan Gunungpati, rencana pengembangan dan
mereka lebih menyukai pergi ke peningkatan wisata pertanian
Semarang atau kota-kota sekitar (agrowisata) berada pada Kecamatan
Semarang untuk mendapatkan Banyumanik, Kecamatan Tembalang,
pekerjaan padahal tidak mudah Kecamatan Gunungpati dan Kecamatan
mendapatkan pekerjaan di kota terlebih Mijen, sehingga pembentukan desa
masyarakat Desa memiliki keterbatasan wisata Nongkosawit sangat sesuai
dalam ilmu pengetahuan. dengan RTRW kawasan wisata di Kota
Dari faktor kemiskinan itulah Semarang. Dukungan yang kuat juga
aparatur Desa Nongkosawit mengajak dibuktikan dengan diturunkannya SK
masyarakat Desa untuk mandiri dan Walikota Nomor 556/407 tentang
mengupayakan potensi yang ada di Penetapan Kelurahan Kandri dan
daerahnya untuk dikembangkan Nongkosawit Kecamatan Gunungpati
menjadi lapangan pekerjaan bagi dan Kelurahan Wonolopo Kecamatan
mereka sendiri yakni masyarakat Desa Mijen sebagai Desa Wisata Kota
Nongkosawit. Awalnya mereka Semarang. Dukungan dari masyarakat
membuat kelompok belajar yang terlihat dari keikutsertaan masyarakat
4

dalam merancang konsep pembangunan baik, kearifan lokal yang masih dijaga
Desa Wisata Nongkosawit. dan partisipasi masyarakat dalam
Untuk menjadi sebuah desa perencanaan pembangunan akan
wisata, Desa Nongkosawit harus mempermudah terwujudnya
memiliki: pembangunan Desa Wisata
1. Aksesbilitas yang baik. Nongkosawit. Sedangkan kurangnya
2. Memiliki obyek-obyek alam, seni keberadaan sarana dan prasarana tidak
budaya, legenda, makanan lokal, dan menjadi hambatan yang berarti bagi
sebagainya. Nongkosawit untuk tetap melaksanakan
3. Dukungan yang tinggi dari perencanaan pembangunan desa wisata.
masyarakat dan aparat desa terhadap Oleh karena itu sangat relevan apabila
desa wisata. penulis mengkaji mengenai
4. Keamanan desa yang baik. perencanaan pembangunan desa
5. Akomodasi, telekomunikasi, dan khususnya Desa Nongkosawit yang
tenaga kerja yang memadai. menerapkan perencanaan melalui
6. Iklim yang sejuk. pendekatan bottom-up planning untuk
7. Berhubungan dengan obyek wisata menjadi sebuah Desa Wisata dalam
lain. tulisan.
Menurut observasi dan tinjauan B. TUJUAN
penulis ke Desa Nongkosawit, penulis 1. Mendeskripsikan pelaksanaan
menemukan kendala yang muncul perencanaan pembangunan desa
dalam kelengkapan sarana dan wisata melalui pendekatan bottom
prasarana Nongkosawit untuk menjadi up planning di Desa Nongkosawit
desa wisata yaitu aksesbilitas yang Kecamatan Gunungpati Kota
kurang baik, karena transportasi umum Semarang.
yang tersedia untuk menuju ke Desa 2. Mendeskripsikan tahapan
Nongkosawit dari jalan utama pelaksanaan perencanaan
Gunungpati hanya menggunakan ojek, pembangunan desa wisata di Desa
kemudian kondisi jalan menuju Desa Nongkosawit Kecamatan
Nongkosawit sudah beraspal namun Gunungpati Kota Semarang.
sedikit berlubang sehingga 3. Mengetahui faktor-faktor yang
menimbulkan ke tidak nyamanan mendukung dan menghambat
berkendara. Kemudian belum tersedia keberhasilan pelaksanaan
papan penunjuk arah yang berfungsi perencanaan pembangunan desa
untuk kemudahan pencarian alamat- wisata di Desa Nongkosawit
alamat penting seperti letak Kantor Kecamatan Gunungpati Kota
Kelurahan/Desa Nongkosawit dan Semarang.
papan penunjuk arah untuk kemudahan C. TEORI
pencarian alamat pelaku usaha, tujuan Teori pelaksanaan perencanaan
lokasi wisata ataupun rumah-rumah pembangunan desa wisata melalui
warga. Selebihnya mengenai jarak pendekatan bottom up planning di Desa
tempuh, atraksi wisata, luas lahan desa Nongkosawit diambil dari pendapat
dan budaya yang dimiliki sudah masuk Kunarjo dalam Mudrajad Kuncoro
dalam kriteria dan persyaratan sebuah (2004:57) yang menyebutkan tahap
desa wisata. yang paling bawah dalam rapat
Potensi-potensi yang dimiliki koordinasi pembangunan daerah yang
seperti wilayah yang luas, perkebunan akan diusulkan pada tingkat yang lebih
dan peternakan yang dikelola dengan tinggi dimulai dari Musrenbang Desa,
5

Musrenbang Kecamatan, Rakorbang Kel tahun 2013 menghasilkan 7 usulan,


Kota dan Rakorbang Provinsi. dan (4) Bantuan Pelatihan Kelurahan
Untuk mendeskripsikan tahapan menghasilkan 4 usulan.
peaksanaan perencanaan pembangunan Sedangkan untuk Musrenbang
Desa Wisata Nongkosawit digunakan Kecamatan Gunungpati menghasilkan 3
teori tahapan perencanaan daftar usulan prioritas, yaitu: (1)
pembangunan ekonomi daerah milik Kegiatan Sarpras Fasilitasi Musrenbang
Blakely dalam Mudrajad Kuncoro Kecamatan Gunungpati tahun 2014
(2002:48). Sedangkan untuk untuk Kelurahan Nongkosawit ada 2
mengetahui faktor-faktor yang usulan, (2) Kegiatan SKPD Kecamatan
mendukung dan menghambat Gunungpati tahun 2014 untuk
pelaksanaan perencanaan pembangunan Kelurahan Nongkosawit ada 1 usulan,
Desa Wisata Nongkosawit diambil dari dan (3) Bantuan Kegiatan Pembanguna
persyaratan dan kriteria yang harus Sarpras melalui Dana Hibah juga 1
dimiliki sebuah desa untuk menjadi usulan.
desa wisata yang disebutkan dalam Pelaksanaan perencanaan
konsep desa wisata pembangunan Desa Wisata
(http://id.wikipedia.org/wiki/Desa_wisat Nongkosawit terdiri dari 6 tahap sesuai
a). dengan teori milik Blakely dalam
D. METODE Mudrajad Kuncoro (2002:48).
Metode yang digunakan dalam Pertama, pengumpulan dan analisis
penelitian ini adalah metode kualitatif- data. Kegiatan yang sudah dilakukan
deskriptif. Untuk mendapatkan meliputi penentuan basis ekonomi
narasumber yang tepat dan sesuai masyarakat Nongkosawit, melihat
tujuan, teknik pengambilan sampel pada peluang dan kendala, dan menentukan
penelitian ini menggunakan sistem kapasitas kelembagaan. Sedangkan
purposive sample. Pengumpulan data untuk menyusun kebutuhan tenaga kerja
dilakukan dengan meggunakan teknik baru sebatas bayangan dan perkiraan
wawancara, dokumentasi, studi pustaka saja. Kedua, pemilihan strategi
dan observasi. pembangunan. Semua kegiatan sudah
dilakukan seperti menentukan tujuan
PEMBAHASAN dari pembangunan desa wisata,
menyusun strategi dan target
A. HASIL PENELITIAN
pembangunan desa wisata. Ketiga,
Pelaksanaan perencanaan
pemilihanproyek-proyek pembangunan.
pembangunan (bottom-up planning)
Terdiri dari 2 kegiatan, dimana kegiatan
Desa Wisata Nongkosawit pada
mengidentifikasi proyek sudah
penelitian ini hanya diambil dari
dilakukan namun belum melakukan
Musrenbang Kelurahan dan
penilaian terhadap kelayakan proyek
Musrenbang Kecamatan saja.
pembangunan desa wisata.
Musrenbang Kelurahan Nongkosawit
Keempat, pembuatan rencana
menghasilkan 4 daftar usulan prioritas
tindakan. Tahap ini terdiri dari
yang terdiri dari: (1) Dokumen RKA
menentukan dan mengembangkan input
Pembangunan Kelurahan Nongkosawit
yang menjadi masukan untuk proses
tahun 2013 menghasilkan 4 usulan, (2)
pembangunan desa wisata, tahap ini
Bantuan Pembangunan Sarpras
sudah dilakukan namun hanya sebatas
Desa/Kel melalui keg. SKPD
menentukan inputnya saja. Kegiatan
Kecamatan menghasilkan 8 usulan, (3)
selanjutnya perencana telah membuat
Bantuan untuk Kelompok Masyarakat
6

alternatif sumber pembiayaan dan yaitu: merehab kantor kelurahan,


mengidentifikasi struktur pembangunan pengaspalan dan pengerasan sayap
desa wisata dengan membuat rincian jalan, pavingisasi, perbaikan talud dan
paket kegiatan wisata dan rincian harga gorong-gorong, pelatihan membatik dan
setiap paket wisata. Kelima, Penentuan pelatihan tour guide. Pada Musrenbang
rincian proyek. Pada tahap ini Kecamatan Gunungpati ada 4 usulan
perencana telah membuat rencana bisnis yang berasal dari Kelurahan
dan pengembangan desa wisata yang Nongkosawit, namun dari ke empat
dikelola dengan sistem satu pintu. usulan tersebut hanya ada 3 usulan
Kemudian kegiatan studi kelayakan paling prioritas untuk perencanaan
secara rinci direncanakan pada bulan pembangunan Desa Wisata
Juni hingga Agustus. Selanjutnya Nongkosawit yaitu: merehab kantor
pemantauan dan evaluasi akan kelurahan, pelatihan membatik dan
dilakukan jika kegiatan desa wisata pelatihan tour guide.
sudah berjalan. Keenam, persiapan Untuk tahapan pelaksanaan
rencana secara keseluruhan. Pada tahap perencanaan pembangunan terdiri dari 6
ini perencana telah menyiapkan jadwal tahap yang menghasilkan: pertama,
implementasi desa wisata mulai dari pengumpulan dan analisis data.
soft opening sampai grand opening. Kegiatan ini telah menentukan bahwa
Kemudian perencana telah menyusun desa wisata dalam jangka panjang bisa
perencanaan secara keseluruhan melalui menjadi basis bagi perekonomian
DED (Detail Engineering Design). masyarakat Nongkosawit. kemudian
Keberhasilan sebuah melihat peluang dan kendala, dimana
pembangunan tidak lepas dari faktor- ada 2 kendala yang dihadapi
faktor yang mempengaruhi. Faktor- Nongkosawit yaitu kurangnya
faktor keberhasilan pelaksanaan masyarakat sadar wisata dan kurangnya
perencanaan pembangunan desa wisata pendanaan. Terlepas dari kendala,
ini nantinya akan terbagi menjadi Nongkosawit memiliki 4 peluang
faktor-faktor yang mendukung dan seperti ketersediaan SDA, beragamnya
menghambat proses pelaksanaan, terdiri aktivitas masyarakat, memiliki kesenian
dari sarana dan prasarana, lokal dan predikat Desa Vokasi.
pembangunan sumber daya manusia, Kapasitas kelembagaan Kelurahan
kemitraan dan kerjasama, dan Nongkosawit dinilai hanya sebagai
partisipasi masyarakat. pendukung saja. Untuk memenuhi
B. ANALISIS kebutuhan tenaga kerja terdiri dari
Pelaksanaan perencanaan tenaga kantor pengelola, tenaker setiap
pembangunan (bottom-up planning) obyek, pasar seni, tour guide, ticketing
Desa Wisata Nongkosawit terdiri dari 2 dan parkir.
kegiatan Musrenbang yaitu Musrenbang Kedua, pemilihan strategi
Kelurahan Nongkosawit dan pembangunan. Ada 3 tujuan dari
Musrenbang Kecamatan Gunungpati. perencanaan pembangunan Desa Wisata
Musrenbang Kelurahan Nongkosawit Nongkosawit yaitu pelestarian
menghasilkan beberapa usulan yang lingkungan, pelestarian budaya dan
terbagi dalam masing-masing dokumen pemberdayaan masyarakat. Dari
daftar usulan. Dari berbagai usulan masing-masing tujuan perencana telah
tersebut terdapat 7 usulan paling membuat strategi dan menentukan
prioritas untuk perencanaan target dari masing-masing tujuan
pembangunanDesa Wisata Nongkosawit tersebut. Ketiga, pemilihanproyek-
7

proyek pembangunan. Terdiri dari 2 dinilai bisa menghimpun dan memenuhi


kegiatan, dimana kegiatan pertama kebutuhan masyarakat lokal. Kemudian
mengidentifikasi proyek telah kegiatan studi kelayakan secara rinci
menemukan isyu yang berkembang di direncanakan pada bulan Juni hingga
masyarakat yakni keresahan masyarakat Agustus dengan menyelenggarakan test
Gunungpati terhadap pembangunan tour yang diikuti oleh wisatawan asing
waduk Jatibarang, maka solusi yang dan wisatawan lokal. Selanjutnya
diberikan adalah merencanakan pemantauan program desa wisata akan
pembangunan desa wisata. Kegiatan diawasi oleh pemerintah dan
menilai kelayakan proyek pembangunan masyarakat sendiri. Dari pemerintah
desa wisata terdiri dari menilai daerah, pengawasan dilakukan oleh
kebutuhan yang perlu dilengkapi desa SKPD terkait yaitu Dinas Kebudayaan
wisata berupa sarana prasarana dan dan Pariwisata kota Semarang,
peran serta masyarakat. Kemudian sedangkan pengawasan lain akan
menilai kapasitas untuk menilai dilakukan oleh masyarakat
seberapa besar kapasitas dari aset-aset Nongkosawit sendiri. Evaluasi
yang dimiliki Nongkosawit untuk dilakukan oleh Kementerian Pariwisata
menjadi desa wisata seperti SDM, SDA, PNPM Mandiri yang menurunkan dana
sosial, fisik dan perekonomian desa. sebesar 75 juta rupiah per tahun selama
Keempat, pembuatan rencana 3 tahun berturut-turut.
tindakan. Tahap ini terdiri dari Keenam, persiapan rencana
menentukan input yang menjadi secara keseluruhan. Pada tahap ini
masukan untuk proses pembangunan perencana telah menyiapkan jadwal
desa wisata, 4 input tersebut adalah implementasi desa wisata mulai dari
potensi alam, potensi budaya, SDM dan soft opening pada bulan Maret 2013,
pendanaan. Ke empat input ini belum penyusunan paket wisata pada bulan
seluruhnya terlaksana. Kegiatan Maret sampai Mei 2013, test tour pada
selanjutnya adalah membuat alternatif bulan Juni-Agustus 2013 dan grand
sumber pembiayaan untuk jangka opening pada bulan September 2013.
pendek yaitu menggandeng kerjasama Kemudian perencana telah menyusun
dengan pihak swasta, sedangkan untuk perencanaan secara keseluruhan melalui
jangka panjang perencana berupaya DED (Detail Engineering Design) untuk
untuk membangun sebuah yayasan yang rencana pengembangan pintu gerbang,
bergerak di bidang sosial dan desa ticketing, shelter transportasi, kantor
wisata. Kegiatan mengidentifikasi pengelola, pendopo seni budaya, tribun
struktur pembangunan desa wisata dan TIC (Tourism Information Center).
sudah dilakukan dengan membuat Faktor-faktor keberhasilan
rincian kegiatan dan akumulasi waktu pelaksanaan perencanaan pembangunan
kegiatan wisata dan rincian harga setiap Desa Wisata Nongkosawit terdiri dari:
paket wisata. 1. Sarana dan prasarana
Kelima, Penentuan rincian - Aksesbilitas dan jarak tempuh:
proyek. Pada tahap ini perencana telah aksesbilitas dan jarak tempuh
membuat rencana bisnis dan mudah dijangkau.
pengembangan desa wisata yang - Ketersediaan infrastruktur:
dikelola dengan sistem satu pintu. memiliki obyek agrikultural,
Pengelola desa wisata adalah Koperasi obyek peternakan, kerajinan
Gunungpati Sarana Mitratama, alasan rakyat, atraksi wisata dan
memilih koperasi karena koperasi homastay. Ketersediaan jalan dan
8

listrik belum memenuhi namun - Masyarakat dan swasta:


ketersediaan air bersih cukup Kerjasama antara masyarakat dan
baik. swasta lebih terlihat, karena pada
- Keamanan dan kenyamanan: intinya kerjasama antara
keamanan desa terjamin sehingga pemerintah, masyarakat dan
menciptakan suasana yang swasta terjalin secara bersamaan
nyaman bagi wisatawan yang dan tidak berdiri sendiri-sendiri.
berkunjung ke Desa Wisata 4. Partisipasi masyarakat. Partisipasi
Nongkosawit. masyarakat bisa diukur melalui
2. Pembangunan sumber daya manusia: masyarakat sadar wisata yang
berupa pelatihan-pelatihan dan ditandai oleh Sapta Pesona. Sapta
pemberian ketrampilan kepada Pesona terdiri dari 7 unsur, yaitu:
penduduk desa agar mereka lebih - Keamanan: baik
terlatih dalam memberikan - Ketertiban: kurang
pelayanan yang ramah tamah kepada - Kebersihan: kurang
wisatawan. Pelatihan yang akan - Kesejukan: baik
diberikan untuk masyarakat adalah - Keindahan: baik
pelatihan yang bersifat ketrampilan - Keramah-tamahan: baik
baru bagi warga Nongkosawit seperti - Kenangan: baik
pelatihan pemandu wisata (tour 2 dari 7 Sapta Pesona kurang
guide), pelatihan membatik dan menjadi perhatian masyarakat yakni
handycraft, pelatihan inovasi kuliner ketertiban masyarakat dan
serta mensosialisasikan gerakan kebersihan lingkungan. Ketertiban
masyarakat sadar wisata. masyarakat berhubungan dengan
3. Kemitraan dan kerjasama kebersihan lingkungan, karena
- Pemerintah dan masyarakat: kurangnya kebersihan ligkungan
diturunkannya SK Walikota desa yang tersebar di beberapa titik
Nomor 556/407 tentang wilayah desa disebabkan oleh
Penetapan Kelurahan Kandri dan kurangnya ketertiban masyarakat
Nongkosawit Kecamatan untuk menjaga kebersihan
Gunungpati dan Kelurahan lingkungannya.
Wonolopo Kecamatan Mijen
sebagai Desa Wisata Kota PENUTUP
Semarang pada tanggal 21
A. SIMPULAN
Desember 2012 adalah pertanda
Pelaksanaan perencanaan
dukungan Pemerintah terhadap
pembangunan (bottom-up planning)
perencanaan pembangunan Desa
Desa Wisata Nongkosawit pada tingkat
Wisata Nongkosawit.
Musrenbang Kelurahan Nongkosawit
- Pemerintah dan swasta:
menghasilkan 7 usulan paling prioritas
Kerjasama antara pemerintah dan
untuk perencanaan pembangunan Desa
pihak swasta dalam pelaksanaan
Wisata Nongkosawit, yaitu rehab kantor
perencanaan pembangunan Desa
kelurahan, pengerasan sayap jalan,
Wisata Nongkosawit dilakukan
pengaspalan jalan, pavingisasi,
secara tidak langsung dan
perbaikan saluran air, pelatihan
ditengahi oleh panitia
membatik dan pelatihan pemandu
perencanaan pembangunan desa wisata. Sedangkan Musrenbang
wisata dan masyarakat
Kecamatan Gunungpati menghasilkan 3
Nongkosawit sendiri. usulan paling prioritas Terdapat 3 usulan
9

paling prioritas untuk perencanaan perencanaan desa wisata di tempat


pembangunan Desa Wisata Nongkosawit tinggalnya.
yaitu pelatihan pemandu wisata, rehab - Partisipasi masyarakat: kurangnya
kantor kelurahan dan pelatihan membatik. ketertiban masyarakat desa untuk
Ke enam tahap pelaksanaan menjaga kebersihan lingkungan.
perencanaan pembangunan Desa Wisata B. REKOMENDASI
Nongkosawit sudah berjalan dengan baik, 1. Nongkosawit harus tetap
namun masih ada beberapa tahap yang berkomitmen dan memiliki
belum terlaksana seperti menyusun struktur
optimisme yang tinggi bahwa
dan kebutuhan tenaga kerja, menilai
kelayakan proyek pembangunan desa Nongkosawit mau dan mampu
wisata, mengembangkan input proyek, studi menjadi desa wisata.
kelayakan secara rinci dan pemantauan dan 2. Peran pemerintah desa harus
evaluasi. dilibatkan dalam pelaksanaan
Faktor-faktor keberhasilan terdiri perencanaan pembangunan desa
dari: wisata. Sehingga komitmen yang
1. Faktor pendukung muncul untuk mewujudkan desa
- Sarana dan prasarana: akses dan jarak wisata tidak hanya dari
tempuh, memiliki obyek agrowisata, masyarakat saja tetapi juga dari
budaya, peternakan, dan homestay.
pemerintah desanya.
- Pembangunan SDM: pelatihan
3. Ke-6 tahap perencanaan menurut
khusus pemandu wisata dan pelatihan
ketrampilan. Blakely belum semua terwujud,
- Kemitraan dan kerjasama: sehingga perlu ada tindak
pemerintah menurunkan SK Walkot lanjutnya. Pertama, perencana
No 556/407, pihak swasta harus segera mulai menganalisis
berperan dalam promosi wisata. kebutuhan tenaga kerja untuk desa
- Partisipasi masyarakat: menjaga wisata. Kedua, perencana harus
keamanan, keindahan, kesejukan, memaksimalkan peran pemerintah
keramah tamahan dan kenangan. desa. Ketiga, perencana dan
2. Faktor penghambat pemerintah desa segera memulai
- Sarana dan prasarana: kurangnya pengembangan input-input proyek
fasilitasi jalan dan penerangan jalan. desa wisata, seperti
- Pembangunan SDM: untuk mengembangkan potensi alam,
melaksanakan pelatihan perlu adanya budaya, sumber daya manusia dan
pendanaan, sedangkan hambatan pendanaannya. Dan yang
muncul dikala usulan baru keempat, perencana hendaknya
dicanangkan pada Musrenbang tahun membuat daftar penilaian untuk
ini dan implementasinya baru akan mengukur kualitas pelayanan
berjalan pada tahun berikutnya. kegiatan desa wisata dan
Artinya, dana yang diturunnkan kemampuan tour guide dalam
untuk keperluan berbagai pelatihan memandu wisatawan. Penilaian
kegiatan desa wisata menjadi ini dilakukan setelah wisatawan
tersendat. uji coba melakukan test tour pada
- Kemitraan dan kerjasama: Peran yang kegiatan Desa Wisata
paling mendasar untuk kegiatan desa Nongkosawit.
wisata adalah dari partisipasi 4. Masyarakat Nongkosawit banyak
masyarakat, sedangkan masyarakat yang belum memahami apa itu
Nongkosawit sendiri dinilai kurang desa wisata, sehingga masyarakat
peka terhadap pelaksanaan perlu diberikan sosialisasi secara
10

rutin perihal desa wisata dan http://www.suaramerdeka.tv/view/video/


kegiatan desa wisata. 32375/nongkosawit-menuju-desa-
wisata
DAFTAR PUSTAKA
http://pariwisata-
Kuncoro, Mudrajad. 2004. Otonomi dan dunia.blogspot.com/2012/04/sapt
Pembangunan Daerah. Jakarta : a-pesona-pariwisata.html
Erlangga http://id.wikipedia.org/wiki/Desa_wisat
a
Rozaki Abdur, Sabtoni Anang, Sujito http://www.bkreatif.co.id/semarangseta
Arie, dkk. 2005. Prakarsa ra/?q=node/12
Desentralisasi & Otonomi Desa.
Yogyakarta : IRE Press

Randy R. Wrihatnolo & Riant Nugroho


Dwidjowijoto. 2006. Manajemen
Pembangunan Indonesia. Jakarta :
Gramedia

Moleong, Prof. Dr. Lexy J. M.A. 2007.


Metodologi Penelitian Kualitatif
Edisi Revisi. Bandung : PT
RemajamRosdakarya

Sugiyono. 2008. Metode Penelitian


Kuantitatif Kualitatif dan R & D.
Bandung : Alfabeta.

Perda Nomor 14 Tahun 2011 tentang


Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW) Kota Semarang Tahun
2011-2031

Surat Keputusan Walikota Semarang


No. 556/407 Tahun 2013 Tentang
Penetapan Kelurahan Kandri dan
Kelurahan Nongkosawit
Kecamatan Gunungpati,
Kelurahan Wonolopo Kecamatan
Mijen Sebagai Desa Wisata Kota
Semarang

Internet :
http://desavokasi-
nongkosawit.blogspot.com/2012/0
5/gallery-d.html