Sei sulla pagina 1di 22

Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual...

147

Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia


Volume 12 Nomor 2, Desember 2015

PERILAKU ANOMALI PASAR ATAS AKRUAL KONFORMITAS


AKUNTANSI-PAJAK DALAM KONTEKS MODERNISASI
SISTEM PERPAJAKAN DI INDONESIA
(The Market Anomaly of Book-Tax Accruals Conformity in the Context of
Indonesian Tax System Modernization)

Sigit Wahyu Kartiko


Kementerian Keuangan
sigit.wahyu@kemenkeu.go.id, gsigit@gmail.com

Hilda Rossieta
Universitas Indonesia
hilda.rosieta@ui.ac.id

Ratna Wardhani
Universitas Indonesia
ratnawardhani@yahoo.com

Abstract

This study aims to analyze the impact of modernization of taxation system and amendment of income
tax law on the components of the book-tax conformity accruals, whether there are any differences
in the earnings persistence of book-tax conformity accruals (which have higher tax conformity) and
book-only accruals (which have lower tax conformity). This study also demonstrates whether the
market anomalies occur on those accruals component in the context of taxation in Indonesia. By
using 1.729 observations over the years of 2002-2014, this study shows that strategy in book-tax
conformity accruals is generally income increasing, while strategy in book-only accruals is income
decreasing. The company’s policy on accrual components has different characteristics before and
after the implementation of this phase. Governance improvement of taxation authority can increase
corporate book-tax conformity accruals. However, when corporate is facing changes in tax laws
such as simplification and lower tax rate, they decrease book-tax conformity accruals. Therefore,
discretionary book-tax conformity accruals are mispriced by market.

Keywords: accrual mispricing, book-tax conformity accruals, discretionary accruals, Indonesian


taxation

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak diberlakukannya modernisasi dan perubahan
peraturan perpajakan terhadap komponen akrual konformitas akuntansi-pajak, apakah terdapat
perbedaan persistensi laba dalam komponen akrual konformitas akuntansi-pajak dengan akrual
akuntansi-saja. Studi ini juga menunjukkan apakah terjadi anomali pasar atas komponen akrual tersebut
dalam konteks perpajakan di Indonesia. Anomali pasar atas komponen akrual konformitas akuntansi-
pajak ditunjukkan apabila pasar gagal menilai efek dari diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak
dalam menentukan imbal hasil saham mendatang. Dengan menggunakan 1,729 observasi selama
tahun 2002-2014, strategi perpajakan perusahaan dalam mengelola akrual konformitas akuntansi-
148 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

pajak secara umum adalah menaikkan laba, sedangkan strategi pengelolaan akrual akuntansi-saja
adalah menurunkan laba. Kebijakan perusahaan atas komponen akrual memiliki karakteristik
yang berbeda sebelum dan sesudah pemberlakuan fase tersebut. Perbaikan tata kelola pada
otoritas perpajakan mampu meningkatkan akrual konformitas akuntansi-pajak perusahaan. Namun
demikian, ketika perusahaan menghadapi perubahan peraturan perpajakan berupa penyederhanaan
dan penurunan tarif pajak, mereka menurunkan akrual konformitas akuntansi-pajak. Oleh sebab itu,
strategi pengelolaan komponen diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak tersebut dinilai keliru
oleh pasar.

Kata kunci: kekeliruan penilaian akrual, konformitas akuntansi-pajak, diskresi akrual, perpajakan
Indonesia

PENDAHULUAN akuntansi-pajak (book-tax conformity


accruals) yang memiliki kesesuaian antara
Studi sebelumnya mengenai kom- standar akuntansi dengan peraturan perpajakan
ponen informasi laporan keuangan yang dan akrual akuntansi-saja (book-only accruals)
memengaruhi laba di masa mendatang telah telah dimodelkan secara matematis oleh
menunjukkan bahwa komponen arus kas lebih Calegari (2000) dan Plesko (2007). Masing-
persisten dibandingkan komponen akrual masing akrual tersebut dibagi menjadi dua
(Collins dan Hribar 2000; Sloan 1996). Sloan komponen, yaitu non diskresi dan diskresi
(1996) menemukan bahwa komponen arus kas akrual, seperti halnya model modifikasi
memiliki kemampuan prediksi lebih tinggi Jones (1991). Secara empiris, Báez-Díaz
dalam menentukan laba tahun berikutnya dan Alam (2013) menguji rasionalitas pasar
dibandingkan komponen akrual. Namun, pasar atas dekomposisi dari total akrual terhadap
berperilaku overprice terhadap komponen persistensi laba masa mendatang. Hasil studi
akrual, yaitu memberikan apresiasi yang tersebut menyatakan bahwa akrual konformitas
terlalu tinggi atas komponen akrual yang di akuntansi-pajak menimbulkan kekeliruan
dalamnya kurang persisten dan terlalu terpaku penilaian bagi pasar lebih tinggi dari akrual
(fixate) pada laba (Sloan 1996). Collins dan akuntansi-saja.
Hribar (2000) menemukan bahwa perilaku Strategi divergensi laba pajak dengan
overprice pasar atas persistensi akrual terhadap akuntansi telah diteliti sebelumnya oleh Frank
informasi laba kuartalan juga terjadi. et al. (2009) bahwa perusahaan tetap dapat
Riset tentang pengukuran diskresi menaikkan laba akuntansi melalui akrual tanpa
akrual (Dechow et al. 1995; Jones 1991; mengalami kondisi trade off dengan perilaku
Subramanyam 1996) dan perilaku kekeliruan penghindaran pajak. Pengelolaan pajak secara
penilaian akrual memberi kontribusi pada riset agresif dilakukan melalui perilaku diskresi
selanjutnya mengenai komponen akrual yang perbedaan permanen yang diyakini mengarah
menyebabkan pasar overpricing yaitu akrual pada tax shelter. Sejalan dengan hal itu, Báez-
abnormal (Xie 2001). Xie (2001) menyatakan Díaz dan Alam (2013) menemukan bahwa
bahwa pasar overpricing atas persistensi akrual perilaku agresivitas pajak diantaranya juga
normal dan akrual abnormal dibandingkan dijalankan dengan cara melakukan penurunan
dengan komponen arus kas. Studi tersebut akrual konformitas akuntansi-pajak lebih besar
menghasilkan kesimpulan yang konsisten dibandingkan dengan akrual akuntansi-saja.
mengenai perilaku pasar yang anomali atas Pengelolaan akrual konformitas akuntansi-
informasi akrual seperti di Tunisia (Khanchel pajak sebagai indikasi dari agresivitas
El Mehdi 2011), di Indonesia (Ratmono penghindaran pajak tersebut justru sangat
dan Cahyonowati 2005; Siregar 2005), dan diapresiasi oleh pasar dibandingkan dengan
Australia (Clinch et al. 2012). akrual akuntansi-saja.
Dekomposisi komponen akrual yang Penelitian yang menguji keterkaitan akrual
membedakan antara akrual konformitas konformitas akuntansi-pajak dengan kekeliruan
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 149

penilaian sepengetahuan penulis belum pernah penghasilan tahunan. Dengan adanya pajak
dilakukan di Indonesia. Penelitian sebelumnya final tersebut, maka diskresi manajer dalam
dalam konteks kekeliruan penilaian mengaitkan pengelolaan perpajakan menjadi bertambah
akrual abnormal dengan apresiasi pasar pada karena perencanaan pajak meliputi pula
imbal hasil saham mendatang (Siregar 2005) strategi pemilihan operasi perusahaan mana
dan imbal hasil saham abnormal (Ratmono dan yang lebih menguntungkan antara penghasilan
Cahyonowati 2005). Sementara itu, penelitian yang dikenakan secara final ataukah non final
dalam konteks pajak terkait perilaku agresivitas (Suandy 2008). Dengan demikian, adanya
penghindaran pajak (Kamila dan Martani 2014) diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak di
belum pernah dikaitkan dengan pengujian Indonesia tidak harus dikaitkan dengan perilaku
anomali di pasar. penggelapan pajak seperti yang terjadi di
Penelitian ini memberikan beberapa Amerika, melainkan adanya perbedaan konteks
kontribusi pada literatur perpajakan dan pasar peraturan perpajakan.
modal. Pertama, penelitian ini melakukan Penelitian ini bertujuan untuk menguji
pengujian dengan memperhatikan konteks bagaimana dampak diberlakukannya
dan modernisasi administrasi perpajakan dan modernisasi perpajakan terhadap komponen
perubahan peraturan perpajakan Indonesia. akrual konformitas akuntansi-pajak, apakah
Berbeda dengan yang dilakukan oleh Báez- terdapat perbedaan persistensi laba dalam
Díaz dan Alam (2013) yang mengambil komponen akrual konformitas akuntansi-
sampel perusahaan setelah reformasi pajak dengan akrual akuntansi-saja, dan
perpajakan di Amerika sejak tahun 1986, apakah terjadi anomali pasar atas komponen
studi ini memperhatikan perubahan peraturan akrual konformitas akuntansi-pajak dalam
perpajakan yang turut membentuk strategi konteks perpajakan di Indonesia. Dengan kata
perusahaan melalui pengelolaan akrual di lain, dalam konteks Indonesia, apakah pasar
Indonesia. Pengaruh periode modernisasi mengalami kekeliruan penilaian atas informasi
administrasi (misalnya peningkatan kepatuhan akrual konformitas akuntansi-pajak?
dan kolektabilitas pajak) dan perubahan Studi ini ditulis ke dalam 5 bagian, yaitu
peraturan perpajakan (misalnya insentif dan pertama adalah latar belakang dan diteruskan
simplifikasi tarif pajak) diperhatikan ke dalam dengan tinjauan pustaka dan perumusan
model rasionalitas pasar atas komponen akrual hipotesis di bagian kedua. Pada bagian
dalam membedakan pola akrual konformitas ketiga, dipaparkan tentang metode penelitian,
akuntansi-pajak dan akrual akuntansi-saja kemudian dilanjutkan dengan bagian empat
sebelum dengan sesudah kedua periode yang mendiskusikan hasil dan pembahasan.
tersebut. Pada bagian terakhir, ditutup dengan simpulan,
Kedua, terdapat beberapa perbedaan implikasi, keterbatasan, dan saran untuk
konteks perpajakan antara penelitian penelitian berikutnya.
sebelumnya dengan konteks perpajakan di
Indonesia yang dapat memengaruhi perilaku
TELAAH LITERATUR DAN
perusahaan dalam mengelola pajak. Dalam
PENGEMBANGAN HIPOTESIS
konteks perpajakan Indonesia, penerapan
kewajiban pajak penghasilan berdasarkan
Hipotesis Efisiensi Pasar, Informasi
sifatnya dibagi menjadi dua, yaitu dikenakan
Asimetris, dan Anomali Akrual
secara final dan nonfinal. Beban pajak yang
dikenakan secara final meliputi penghasilan- Hipotesis pasar efisien menyatakan
penghasilan tertentu yang berdasarkan bahwa harga saham perusahaan di pasar
peraturan perundangan dikenakan tarif mencerminkan semua informasi yang ada
final dan dasar pengenaan pajak tertentu pada perusahaan (Malkiel dan Fama 1970).
yang di akhir tahun tidak dapat mengurangi Informasi yang meliputi komponen informasi
(tidak dapat dikreditkan) perhitungan pajak akuntansi, keuangan, nonkeuangan, dan tata
kelola perusahaan oleh investor dijadikan
150 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

pertimbangan dalam transaksi di pasar saham. komponen arus kas. Penghitungan laba melalui
Selama ada informasi baru yang terdapat di sistem akrual dihitung berdasarkan pengakuan
pasar, maka terjadi reaksi di dalam pasar yang di depan, tangguhan, alokasi dan pengukuran
dapat diobservasi/dilihat melalui pergerakan berdasarkan professional judgment yang
dan perdagangan saham. Asumsi ini yang dimiliki manajemen. Meskipun demikian,
mendasari riset-riset awal di bidang akuntansi pasar menilai terlalu tinggi informasi
bahwa informasi dalam laporan keuangan yang terkandung dalam akrual sehingga
memiliki keterkaitan dengan pergerakan menimbulkan kekeliruan penilaian pada harga
saham di saham (Ball dan Brown 1968; Beaver saham (Sloan 1996).
1968). Xie (2001) menambahkan bahwa
Regulasi terkait pengungkapan dalam informasi dalam akrual yang menyebabkan
pelaporan keuangan menghendaki agar anomali bagi pasar adalah akrual abnormal.
informasi yang diungkapkan oleh perusahaan Ditemukan bahwa persistensi laba pada akrual
menyajikan fakta akuntansi yang tidak abnormal lebih rendah dibandingkan normal
berbeda dengan kenyataan. Hal ini memiliki akrual. Dengan demikian, kekeliruan pasar
tujuan untuk mengurangi biaya transaksi yang dalam mengapresiasi persistensi laba pada
ditanggung oleh perusahaan dan pelaku pasar akrual disebabkan juga kurang cermatnya
dalam menilai kinerja perusahaan. Berdasarkan pasar atas informasi persistensi laba pada
teori agensi, kecenderungan manajemen untuk akrual abnormal.
melakukan tindakan adverse selection dapat
meningkatkan biaya agensi bagi pemilik Perumusan Hipotesis
modal.
Untuk mengurangi biaya agensi Konteks Perpajakan di Indonesia
tersebut, maka perusahaan harus membuat Peraturan perpajakan di Indonesia
laporan keuangan yang didasarkan pada mengalami serangkaian gelombang reformasi
standar akuntansi yang berlaku umum. Standar perundang-undangan perpajakan sejak
akuntansi tersebut disusun agar perusahaan tahun 1983 hingga tahun 2008. Direktorat
dapat menggunakan kebijakan-kebijakan Jenderal Pajak (DJP) ditugaskan oleh
akuntansi yang sesuai dan menghasilkan peraturan perundang-undangan Indonesia
laporan keuangan yang berkualitas sehingga untuk memungut dan mengadministrasikan
dapat meningkatkan keterinformasian pendapatan pajak ke dalam kas negara
pemegang saham. kemudian melakukan penyempurnaan
Lebih lanjut, berdasarkan laporan peraturan dengan tujuan “...[m]enciptakan
keuangan yang dikeluarkan oleh perusahaan, suatu sistem perpajakan yang sehat dan
Sloan (1996) menyatakan bahwa pasar kompetitif... melalui amandemen Undang-
cenderung terpaku pada informasi akuntansi Undang Perpajakan yang meliputi Undang-
yang sifatnya umum yaitu laba (earnings). Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Laba yang terdiri dari komponen arus kas dan Perpajakan (UU KUP), Undang-Undang
akrual memiliki derajat persistensi laba yang Pajak Penghasilan (UU PPh), Undang-Undang
berbeda-beda. Studi Sloan (1996) menemukan Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
bahwa arus kas lebih persisten dibandingkan Atas Barang Mewah (UU PPN dan PPnBM)”
dengan akrual dalam memprediksi laba masa (Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia
depan. 2007).
Terdapat pengaruh yang berbeda Terdapat karakteristik yang membedakan
antara komponen akrual dan komponen arus perpajakan di Indonesia dengan perpajakan
kas dalam memprediksi nilai perusahaan. negara lain khususnya tentang sifat beban pajak
Perbedaan tersebut dikarenakan bahwa penghasilan, yaitu pajak penghasilan final
komponen akrual memiliki unsur subjektivitas dan nonfinal. Beban pajak penghasilan yang
yang lebih tinggi dibandingkan dengan dikenakan secara final meliputi penghasilan-
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 151

penghasilan tertentu yang berdasarkan Reform Act 1986 atau TRA86). Mendukung
peraturan perundangan dikenakan tarif final temuan tersebut, Guenther (1994) menjelaskan
dan dasar pengenaan pajak tertentu. Beban bahwa manajemen pada perusahaan besar
pajak final dikenakan pada penghasilan yang menggunakan diskresi akrual untuk merespon
diperoleh diantaranya dari transaksi di bursa perubahan tarif pajak menurut undang-undang
efek, bunga deposito dan tabungan, bunga dan (statutory tax rate) yang turun setelah TRA86.
diskonto obligasi yang dipasarkan di bursa, Implikasinya, Gupta dan Newberry (1997)
jasa konstruksi, sewa tanah dan bangunan, secara statistik menemukan bahwa pola rata-
revaluasi aset tetap, dan sebagainya. Beban rata tarif pajak efektif pada perusahaan yang
pajak final tersebut bukan merupakan bagian berbeda sebelum dengan sesudah TRA86.
dari pembayaran angsuran pajak penghasilan Dengan beberapa temuan empiris tersebut,
bulanan dan pada saat penghitungan pajak maka perubahan pola komponen akrual
tahunan beban pajak final tidak dapat dijadikan dipengaruhi oleh konteks perubahan peraturan
pengurang (kredit) pembayaran beban pajak perpajakan khususnya tarif pajak menurut
penghasilan tahunan (Republik Indonesia undang-undang.
2008). H1: Terdapat perbedaan rata-rata
Selain itu, perpajakan di Indonesia juga komponen akrual sebelum dan sesudah
mengalami beberapa perubahan peraturan yang pemberlakuan perubahan UU PPh
dapat memengaruhi perilaku pajak perusahaan. Nomor 36 Tahun 2008.
Pertama, perubahan tarif yang terjadi sejak
tahun 2008 hingga tahun 2010 mengarah Selain perubahan tarif, DJP juga
pada penggunaan tarif tunggal dan pemberian melakukan berbagai inisiatif modernisasi
insentif pajak. Sebelum tahun 2008, tarif pajak administrasi perpajakan sejak tahun 2002/2003.
badan bersifat progresif ke dalam lapisan Program modernisasi administrasi perpajakan
penghasilan dengan tarif tertinggi sebesar 30%. yang bertujuan untuk mengamankan dan
Sejak penerapan perubahan UU PPh Nomor mengoptimalkan penerimaan negara dengan
36 Tahun 2008 tersebut, terjadi perubahan menerapkan prinsip good governance
tarif pajak dengan tujuan kesederhanaan dilakukan melalui: (1) restrukturisasi
administratif, insentif perekonomian, dan organisasi, (2) penyempurnaan proses bisnis,
memberikan rasa keadilan dan kepastian (3) penyempurnaan sistem sumber daya
hukum (Direktorat Jenderal Pajak Republik manusia, dan (4) penerapan kode etik pegawai.
Indonesia 2007; Republik Indonesia 2008). Terbentuknya Kantor Pelayanan Pajak (KPP)
Penerapan tarif pajak tersebut berlangsung berdasarkan skala pembayaran pajak (large
secara bertahap, yaitu tahun pembukuan 2009 tax officer, LTO; medium tax officer, MTO;
yang masih menggunakan tarif pajak progresif dan small tax officer, STO), adanya konsultan
dengan lapisan penghasilan tertinggi sebesar pajak di setiap kantor pelayanan pajak
28%. Berikutnya tahun 2010, perubahan tarif (account representative), dan perbaikan sistem
mengarah pada tarif tunggal yaitu sebesar pelayanan secara elektronik dan terpadu adalah
25% dan insentif pajak berupa pengurangan ciri-ciri modernisasi administrasi perpajakan
tarif menjadi sebesar 20% apabila wajib (Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia
pajak perusahaan dalam negeri yang terdaftar 2007).
di bursa efek Indonesia memiliki “...paling Tujuan dari modernisasi perpajakan
sedikit 40% (empat puluh persen) dari jumlah diantaranya adalah: (1) meningkatkan
keseluruhan saham yang disetor” (Republik kepatuhan pajak (tax compliance), (2)
Indonesia 2008). meningkatkan kepercayaan (trust), dan (3)
Gramlich (1991) menemukan bahwa meningkatkan produktivitas pegawai pajak
terjadi perilaku penurunan pola akrual oleh (Pandiangan dan Toruan 2008). Oleh sebab
perusahaan menjelang perubahan reformasi itu, selama kurun waktu 2001-2005, strategi
administrasi perpajakan di Amerika (Tax yang ditempuh DJP mampu secara signifikan
152 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

meningkatkan kolektabilitas penerimaan pajak dan akuntansi yang akan terekonsiliasi seiring
pelayanan terhadap produk domestik bruto berjalannya waktu perbedaan tersebut menjadi
(PDB) dari 1,5 persen di tahun 2001 menjadi 2,34 hilang. Sebagai contoh penyusutan aset
persen di tahun 2005 (Le Borgne et al. 2008). tetap, metode penyusutan berdasarkan aturan
Bahkan, sejak dibentuk di tahun 2002, LTO perpajakan menetapkan masa penyusutan yang
yang menangani 200 perusahaan besar dan 300 dapat saja berbeda dengan kebijakan akuntansi
cabang berkontribusi terhadap 23 persen total perusahaan. Dengan perbedaan tersebut, maka
penerimaan nasional pajak. Melalui program biaya depresiasi dalam perhitungan pajak
intensifikasi dan ekstensifikasi perpajakan berbeda dengan perhitungan laba akuntansi.
yang didukung dengan program audit pajak Namun demikian, perbedaan tersebut
untuk menggali penghasilan yang belum akan hilang pada saat asset tetap tersebut
dilaporkan, kontribusi ini terus meningkat terdepresiasikan secara penuh.
hingga 27 persen dari total penerimaan sampai Frank et al. (2009) mendokumentasikan
dengan tahun 2004 (Le Borgne et al. 2008). bahwa sejak awal 1990-an perusahaan
Dengan demikian, simplifikasi administrasi di Amerika melaporkan peningkatan
perpajakan, monitoring secara intensif laporan perbedaan laba akuntansi dan laba (book-
kewajiban pajak, dan penegakan hukum pajak tax gap) untuk kepentingan pelaporan pajak.
turut mendorong kepatuhan pelaporan dan Perilaku pengelolaan laba oleh manajer
penghitungan laba kena pajak perusahaan. tidak menghentikan upaya perusahaan untuk
H2: Peningkatan laba sebelum pajak mengelola kewajiban perpajakan dengan
setelah modernisasi pajak lebih tinggi memanfaatkan beda laba buku dengan pajak.
dibandingkan periode sebelumnya. Tindakan menaikkan laba untuk kepentingan
pemegang saham melalui pengelolaan
Kekeliruan Penilaian Akrual Konformitas komponen diskresi akrual tidak menimbulkan
Akuntansi-Pajak (Book-Tax Conformity kenaikan beban pajak yang ditanggung
Accruals) perusahaan. Dengan kalimat lain, tidak terjadi
Perbedaan sistem pembukuan menurut trade-off antara peningkatan laba akuntansi
standar akuntansi dan perpajakan merupakan dengan penurunan beban pajak perusahaan.
celah bagi perusahaan untuk mengelola Hal ini mengandung arti bahwa terdapat
beban pajak. Perhitungan laba berdasarkan pemanfaatan book-tax gap yang mengarah
pembukuan berbeda dengan perhitungan pada upaya perusahaan dalam mengeksploitasi
laba untuk kepentingan aparatur pajak. Beda celah peraturan perpajakan. Dalam beberapa
buku dan pajak atas laba (book-tax difference) kasus di Amerika, perencanaan pajak yang
tersebut merupakan salah satu indikator dari sangat agresif berelasi dengan tax shelter, yaitu
perilaku perusahaan untuk menghindari pajak penghindaran pajak yang berisiko melawan
dengan cara-cara yang tidak bertentangan hukum (Frank et al. 2009).
dengan peraturan pajak. Studi di Amerika mengenai perencanaan
Beda buku dan pajak terjadi karena pajak menemukan bahwa perusahaan
dua hal, yaitu beda permanen (permanent melakukan upaya untuk menjaga konformitas
difference) dan beda waktu (temporary antara pembukuan pajak dan pembukuan
difference). Beda permanen terjadi ketika akuntansi untuk menghindari pemeriksaan
terdapat perbedaan antara aturan akuntansi dan aparatur pajak (Cloyd et al. 1996). Selain
perpajakan dalam memperlakukan penghasilan mengurangi assessment oleh aparat pajak,
dan beban, dimana ada penghasilan/beban yang hal tersebut mampu meningkatkan peluang
menurut aturan akuntansi diakui/perkenankan, menang ketika perusahaan menghadapi
tetapi dalam pajak tidak diakui dalam hal tuntutan dari otoritas pajak. Menurut Calegari
perhitungan laba kena pajak. Sementara itu, (2000), mengelola kesesuaian standar
beda waktu terjadi karena adanya perbedaan akuntansi dengan peraturan perpajakan
metode pencatatan antara peraturan perpajakan merupakan sarana untuk mencapai tujuan
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 153

perencanaan pajak. Bersamaan dengan didekomposisikan, ternyata diskresi akrual


perilaku tersebut, pengelolaan keleluasaan konformitas akuntansi-pajak memiliki
akrual yang kesesuaiannya rendah dengan relevansi nilai yang lebih tinggi dalam
peraturan perpajakan mencerminkan upaya menentukan imbal hasil saham di periode
untuk memenuhi tujuan pelaporan keuangan berikutnya (Báez-Díaz dan Alam 2013).
Guenther (1994). Blaylock et al. (2012) berargumen
Tujuan perencanaan perpajakan akan bahwa terdapat keterkaitan antara koefisien
tetap tercapai dengan mengendalikan diskresi respon baik laba (earnings response coefficent)
akrual yang menjaga konformitas akuntansi- maupun akrual (accruals response coefficent)
pajak. Sementara itu, tujuan pembukuan pada perusahaan yang perbedaan laba menurut
berdasarkan akuntansi juga akan tetap terpenuhi akuntansi dan pajak bernilai positif serta
dengan cara mengelola diskresi akrual pada besar (large positive book-tax difference).
akun-akun yang memiliki konformitas rendah Ditemukan dalam studi tersebut bahwa perilaku
atas peraturan pajak yang disebut sebagai pengelolaan laba direspon secara negatif oleh
akrual akuntansi-saja (book-only accruals) investor yang terlihat dari penurunan koefisien
(Báez-Díaz dan Alam 2013). Pengelolaan respon laba dan akrual. Dengan demikian,
diskresi akrual akuntansi-pajak dan diskresi peningkatan nilai akrual termasuk di dalamnya
akrual akuntansi-saja memunculkan peluang komponen akrual konformitas akuntansi-pajak
riset manakah dari kedua komponen diskresi dapat diartikan sebagai penurunan persistensi
akrual tersebut yang memiliki persistensi laba (semakin tinggi akrual semakin rendah
laba lebih tinggi di periode berikutnya (Báez- persistensi laba) (Hanlon 2005). Padahal,
Díaz dan Alam 2013). Hasil empiris tersebut dalam jangka panjang, perilaku berisiko atas
menunjukkan bahwa diskresi akrual akuntansi- pengelolaan akrual konformitas akuntansi-
pajak yang konformitasnya tinggi memiliki pajak yang dilakukan oleh perusahaan
persistensi laba lebih rendah dari diskresi memiliki dampak penurunan arus kas di masa
akrual menurut akuntansi. Meskipun memiliki mendatang apabila terjadi sengketa perpajakan
kesesuaian peraturan antara pencatatan akrual (Báez-Díaz dan Alam 2013).
berdasarkan akuntansi dengan pajak, hal H4: Pasar menilai lebih rendah persistensi
tersebut tidak menghalangi perusahaan untuk laba dikresi akrual konformitas
merencanakan kewajiban pajak. Dengan akuntansi-pajak.
demikian, tindakan perencanaan pajak secara
agresif dengan mengelola diskresi akrual
agar laba sebelum kena pajak sesuai dengan METODE PENELITIAN
standar akuntansi dan perpajakan memiliki
potensi resiko akan tuntutan hukum sehingga Model Penelitian
menimbulkan koreksi laba di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan uji beda
H3: Komponen diskresi akrual konformitas rata-rata untuk menguji Hipotesis 1, sedangkan
akuntansi-pajak memiliki persistensi untuk menguji Hipotesis 2 dan 3 penelitian
laba lebih rendah dibandingkan ini menggunakan regresi linear berganda.
diskresi akrual akuntansi-saja. Pengujian anomali pasar menggunakan
pendekatan seperti yang dilakukan oleh
Pasar memiliki interpretasi yang Miskhin (1983), yaitu estimasi generalized
berbeda atas kualitas informasi diskresi akrual least square model. Uji yang dilakukan
konformitas akuntansi-pajak. Berdasarkan Miskhin (1983) ditujukan untuk mengetahui
pengujian Miskhin (1983), ditemukan bahwa koefisien persistensi komponen akrual dan
pasar tidak mengetahui bahwa sebenarnya arus kas atas laba mendatang pada persamaan
diskresi akrual konformitas-pajak memiliki forecast, apakah memiliki konsistensi ketika
persistensi yang rendah dalam membentuk masuk ke dalam persamaan valuations. Apabila
laba mendatang. Pada saat komponen akrual koefisien tidak berbeda secara signifikan, maka
154 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

artinya pasar tidak over/under valued pada Persamaan Valuation


arus kas dan komponen akrual. Sementara itu,
apabila koefisien berbeda secara signifikan, RETi,t+1 = β0 + β1(EARNi,t+1 – β0* – β1 *
maka terjadi kekeliruan penilaian oleh pasar CFOi,t – B2*DTAi,t – B3*NDTAi,t
atas komponen laporan keuangan. – B4*DBAi,t – B5*NDBAi,t)
+ εi,t+1 ………… (2)
Uji Beda Rata-rata Kelompok dan Grafik Keterangan:
Perubahan Komponen Laba EARNi,t+1 = arus kas dari operasi
Pengujian beda rata-rata kelompok RETi,t = imbal hasil abnormal berdasarkan
ditujukan untuk mengamati perbedaan rata- market-adjusted
rata kelompok sampel sebelum dan sesudah CFOi,t = arus kas dari operasi
perubahan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008. DTAi,t = diskresi akrual konformitas akun-
Pengujian H1 didukung apabila kedua kelompok tansi-pajak
sampel berbeda signifikan berdasarkan NDTAi,t = non diskresi akrual pajak
komponen laba. Apabila terdapat perbedaan DBAi,t = diskresi akrual konformitas akun-
yang signifikan pada komponen akrual sebelum tansi-saja
dan sesudah perubahan peraturan perpajakan, NDBAi,t = non diskresi akrual akuntansi-saja
maka konteks perubahan peraturan termasuk εi,t+1 = error
modernisasi perpajakan memiliki pengaruh
pada model pengujian. Dengan demikian, Dalam penelitian ini, diuji terlebih
model forecast (Persamaan 1) dan valuations dahulu apakah modernisasi perpajakan yang
(Persamaan 2) perlu dimodifikasi dengan tertuang dalam UU PPh Nomor 36 Tahun 2008
memperhatikan perubahan peraturan dalam dapat mengubah perilaku pengelolaan pajak
pengujian rasionalitas pasar yang selanjutnya perusahaan seperti yang dilakukan dalam
menjadi Persamaan 3 dan Persamaan 4. pengujian H1. Apabila H1 terbukti, artinya
Analisis visual melalui grafik diperlukan terdapat perilaku pengelolaan pajak yang
untuk melengkapi pengujian. Tujuannya adalah berbeda antara periode sebelum adanya UU
untuk mengidentifikasi strategi keseluruhan tersebut dengan setelah UU tersebut sehingga
perusahaan secara rata-rata berdasarkan adanya perubahan tersebut harus diakomodasi
latar belakang dan kontekstual perpajakan di dalam menguji H3 dan H4. Hal ini dilakukan
Indonesia, seperti perubahan peraturan dan untuk memastikan bahwa perilaku kekeliruan
penilaian atas akrual konformitas akuntansi-
modernisasi administrasi perpajakan.
pajak tidak disebabkan oleh adanya perubahan
peraturan perpajakan, tetapi karena adanya
Model Generalized Non-Linear Least Square
kegagalan pasar dalam menilai persistensi laba
Model awal generalized non-linear least
atas diskresi akrual konformitas akuntansi-
square untuk uji yang dilakukan Miskhin
pajak. Oleh sebab itu, untuk mengontrol
(1983) yang digunakan untuk menguji adanya pengaruh modernisasi perpajakan
hipotesis H3 dan H4 adalah sebagai berikut: tersebut, dilakukan modifikasi atas Persamaan
1 dan 2 menjadi sebagai berikut:
Persamaan Forecast
EARNi,t+1 = β0 + β1CFOi,t + β2DTAi,t Persamaan Forecast
+ β3NDTAi,t + β4DBAi,t + EARNi,t+1 = β0 + β1CFOi,t + β2DTAi,t
β5NDBAi,t + εi,t+1 ………… (1) + β3NDTAi,t + β4DBAi,t +
β5NDBAi,t + β6postY2009i,t +
β7postY2003i,t + εi,t+1 …..… (3)
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 155

Persamaan Valuation sehingga menyebabkan permasalahan hetero-


skedastisitas.
RETi,t+1 =
β0 + β1(EARNi,t+1 – β0*
Komponen Akrual Konformitas Akuntansi-
– β1* CFOi,t – B2*DTAi,t –
Pajak (Total Tax Accruals, TTA)
B3*NDTAi,t – B4*DBAi,t – Gambar 1 menjelaskan dekomposisi
B5*NDBAi,t – B6*postY2009i,t akrual yang menunjukkan komponen dari
– B7*postY2003i,t) + εi,t+1 … (4) akrual. Berdasarkan Gambar 1, dapat dilihat
bahwa total akrual dapat dibagi menjadi
Keterangan: total akrual konformitas akuntansi-pajak
postY2009 = dummy variable 1 jika sejak dan total akrual akuntansi-saja. Definisi total
penerapan perubahan UU PPh akrual konformitas akuntansi-pajak (TTA)
Nomor 36 Tahun 2008 dan 0 jika adalah komponen akrual yang memiliki
sebelum perubahan konformitas tinggi dengan peraturan pajak.
postY2003 = dummy variable 1 jika sejak TTA ini terdiri dari diskresi akrual konformitas
modernisasi administrasi per- akuntansi-pajak (DTA) dan non diskresi
pajakan dan 0 jika sebelum akrual konformitas akuntansi-pajak (NDTA).
modernisasi
Sementara itu, total akrual akuntansi-saja
dapat diklasifikasikan menjadi diskresi akrual
Definisi Operasional Variabel akuntansi-saja (DBA) dan non diskresi akrual
akuntansi-saja (NDBA).
Laba (EARN)
Berdasarkan Calegari (2000) dan Plesko
EARN dalam Persamaan 1-4 diformula-
(2007), total akrual konformitas akuntansi-
sikan sebagai operating income atau laba
pajak (TTA) dihitung berdasarkan formula
operasi yang diskalakan dengan lag total aset
berikut ini:
(Sloan 1996) dengan formula sebagai berikut:

TTAi,t = TACi,t – TBAi,t


............. (5) TTAi,t = TACi,t – ∆OCAi,t – ∆TAXRECi,t
+ ∆OCLi,t + ∆TAXPAYi,t
Komponen Arus Kas (CFO)
+ DEPi,t …….................…… (8)
CFO dalam Persamaan 1-4 diformula-
sikan sebagai arus kas dari aktivitas operasi
Keterangan:
dibagi dengan lag total aset. ∆OCAi,t = perubahan atas other current
assets
∆TAXRECi,t = perubahan atas piutang pajak
∆OCLi,t = perubahan atas other current
………… (6) liabilities
∆TAXPAYi,t = perubahan atas hutang pajak
Komponen Total Akrual (TAC) DEP = beban depresiasi
TAC dalam Persamaan 1-4 difor-
mulasikan sebagai laba (EARN) dikurangi Persamaan 8 mendekomposisi total
dengan arus kas (CFO). akrual (TAC) menjadi total akrual konformitas
akuntansi-pajak (TTA) dengan total akrual
TACi,t = EARNi,t – CFOi,t ........………… (7)
akuntansi saja (TBA). Untuk mencari TTA,
TAC dikeluarkan dari perubahan piutang pajak
TAC, EARN, dan CFO dibagi dengan (∆TAXREC), perubahan aset lancar lainnya
lag total aset dengan tujuan untuk menghindari (∆OCA), perubahan utang pajak (∆TAXPAY),
variasi angka variabel yang terlalu tinggi perubahan liabilitas lancar lainnya (∆OCL),
156 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

dan depresiasi (DEP). Dengan demikian, konformitas akuntansi-pajak (NDTA) sendiri


TTA secara umum merupakan akrual-akrual diperoleh dari TTA dikurangi DTA. Semua
dari penghasilan dan beban atas aktivitas komponen diskalakan dengan lag total aset.
utama operasi perusahaan konsolidasian
TTAi,t = β0 + β1∆ADJREVi,t + β2CFOi,t
yang berdasarkan peraturan perpajakan dapat
diperhitungkan dalam menghitung beban + μi,t …..........................… (9)
pajak (conform). Selain itu, TTA sudah Keterangan:
mengeluarkan berbagai akrual terkait dengan
TTAi,t = total akrual akrual konformitas
hak dan kewajiban perpajakan termasuk skema akuntansi-pajak
withholding tax (pemotongan dan pemungutan ∆ADJREVi,t = perubahan atas penjualan di-
pajak oleh pihak ketiga). Sementara itu, kurangi perubahan atas piutang
penghasilan dan beban memiliki konformitas usaha
rendah dalam menghitung laba kena pajak, CFOi,t = arus kas dari operasi
yaitu TBA didapatkan dari TAC dikurangi μi,t = diskresi akrual konformitas
dengan TTA. akuntansi-pajak (DTA)
NDTAi,t = non diskresi konformitas
Komponen Diskresi Akrual Konformitas akuntansi-pajak, TTAi,t – DTAi,t
Akuntansi-Pajak (DTA)
Diskresi akrual konformitas akuntansi- Komponen Diskresi Akrual Akuntansi-Saja
pajak diperoleh dari residu hasil regresi (DBA)
perubahan penjualan setelah dikurangi dengan Diskresi akrual akuntansi-saja
perubahan piutang usaha (∆ADJREV) dan (NDBA) diperoleh dari residu hasil regresi
arus kas dari operasi (CFO) terhadap total perubahan penjualan setelah dikurangi dengan
akrual konformitas akuntansi-pajak yang perubahan piutang usaha (∆ADJREV), arus
kesemuanya diskalakan dengan total aset kas dari operasi (CFO), dan aset tetap bruto
tahun sebelumnya (TAi,t-1). Regresi dilakukan (PPE) terhadap total akrual akuntansi yang
per tahun atas cross-section berdasarkan kesemuanya diskalakan dengan total aset tahun
jenis industri, sedangkan non diskresi akrual sebelumnya (TAi,t-1). Seperti halnya komponen

Gambar 1
Dekomposisi Akrual menurut Calegari (2000), Plesko (2007), dan Báez-Díaz dan Alam (2013)
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 157

diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak, RETi,t = Ri,t – Rmt ..........………… (12)


regresi untuk mendapatkan diskresi akrual
akuntansi dilakukan per tahun atas cross- Keterangan:
section berdasarkan jenis industri dengan Ri,t = imbal hasil saham perusahaan
mengeluarkan sektor keuangan, migas, dan dihitung dengan formula:
konstruksi. Sementara itu, non diskresi akrual
akuntansi-saja (NDBA) merupakan TBA
dikurangi DBA. Semua komponen diskalakan Rmt = imbal hasil saham IHSG dihitung
dengan lag total aset. dengan formula:


TBAi,t = β0 + β1∆ADJREVi,t + β2CFOi,t
+ β3PPEi,t + μi,t ..…………(11) Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam riset
Keterangan: ini adalah perusahaan yang terdaftar di Bursa
TBAi,t = total akrual akuntansi Efek Indonesia sejak tahun pembukuan 2001-
∆ADJREVi,t = perubahan atas penjualan 2014 untuk sektor industri non keuangan.
dikurang perubahan atas Pengecualian industri keuangan dalam
piutang usaha sampel dilakukan karena industri keuangan
CFOi,t = arus kas dari operasi memiliki perhitungan yang spesifik dalam
PPEi,t = aset tetap sebelum akumulasi mengukur tingkat diskresi akrual dan industri
penyusutan ini merupakan industri yang sangat teregulasi
μi,t = diskresi akrual akuntansi- sehingga dapat menimbulkan perbedaan
saja konteks penelitian dengan industri lainnya.
NDBAi,t = n o n d i s k r e s i a k r u a l Sampel yang dipilih bersifat purposive dengan
akuntansi-saja, TBAi,t – cara mengeluarkan perusahaan di bidang
NDBAi,t migas dan konstruksi dikarenakan pengaturan
perpajakannya ditetapkan secara spesifik
Imbal Hasil Saham (RET) (misalnya: pengenaan PPh final dalam jasa
Pengukuran imbal hasil saham konstruksi). Selain itu, sampel dipilih untuk
menggunakan market-adjusted model perusahaan yang tidak mengalami delisting,
berdasarkan Kothari dan Warner (1997). merger, dan akuisisi pada periode tersebut.
Pengamatan imbal hasil saham adalah selama Sumber data berupa angka-angka akuntansi
periode 12 bulan yang berakhir 3 bulan setelah dan informasi pasar diperoleh dari datastream
akhir tahun fiskal (Sloan 1996). Sebagai Thompson Reuters dengan mengutamakan
contoh, imbal hasil saham untuk tahun 2013 ketersediaan dan kelengkapan data berdasarkan
merupakan imbal hasil bulanan yang dihitung kriteria yang telah disebutkan sebelumnya.
secara kumulatif dari akhir bulan Maret 2013
sampai dengan akhir bulan Maret 2014. Dalam HASIL PENELITIAN
analisis sensitivitas pengukuran imbal hasil DAN PEMBAHASAN
saham dilakukan selama periode 13 bulan
sampai dengan bulan April yang merupakan Statistik Deskriptif Data Sampel
batas waktu pelaporan SPT tahunan perusahaan. Berdasarkan hasil statistik deskriptif
(Tabel 2), terlihat bahwa rasio laba perusahaan
Hal ini didasari pada pemikiran bahwa tingkat
terhadap total aset awal tahun memiliki
penghindaran pajak turut menentukan jangka
kecenderungan meningkat dari tahun
waktu informasi perpajakan melalui penerbitan
sebelumnya. Terlihat bahwa besaran rata-rata
laporan keuangan tahunan (Crabtree dan
laba pada observasi lebih banyak berada di
Kubick 2014). antara median dengan kuantil ke-4. Komponen
158 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

Tabel 1
Prosedur Pemilihan Sampel
Perusahaan-
No Proses Pemilihan Sampel Perusahaan
Tahun
1 Data yang diperoleh dari Datastream Thompson Reuters, 403 6,447
industri non-keuangan periode 2001-2014
2 Data setelah mengeluarkan perusahaan yang: 285 2,599
• Bergerak di bidang migas dan konstruksi
• Delisting dari indikator ketidaktersediaan data
keuangan perusahaan di periode-periode selanjutnya
• Merger dan akuisisi dari indikator lonjakan kenaikan/
penurunan total aset
3 Data ketersediaan abnormal akrual (akrual konformitas 265 2,333
akuntansi-pajak dan akrual akuntansi-saja) mengakibatkan
periode observasi menyusut menjadi 2002-2014
berdasarkan hasil regresi dengan langkah-langkah:
• Regresi cross-section per tahun
• Memperhatikan klasifikasi 2 digit kode industri yang
ada pada bursa efek Indonesia, untuk melakukan
klasifikasi antar industri
4 Data setelah perhitungan abnormal return, mengeluarkan 253 1,729
observasi imbal hasil saham yang terlalu tinggi (persentil
ke-99%) dan terlalu rendah (persentil ke-1%)

arus kas (CFO) secara umum memiliki proporsi Tanpa memperhatikan perubahan
yang lebih besar daripada total akrual dalam peraturan perpajakan, dalam jangka panjang
membentuk komponen laba dan sebarannya strategi pembukuan akrual secara umum yang
relatif normal/merata. dilakukan oleh perusahaan dalam perencanaan
Berikutnya, dekomposisi komponen pajak adalah akrual konformitas akuntansi-
akrual (TAC) memperlihatkan bahwa diskresi pajak positif dilihat dari angka diskresi akrual
akrual (DAC) memiliki rasio lebih besar tersebut. Sementara itu, dalam pengelolaan
daripada akrual normal (NDAC) terhadap total laba adalah melakukan penurunan akrual yang
aset awal tahun. Ditambah lagi sebaran diskresi didapat dari diskresi akrual akuntansi-saja.
akrual total dan akrual normal pada observasi
cenderung berada di antara nilai maksimum Uji Beda Rata-rata Kelompok dan Grafik
dan median dan memiliki nilai akrual abnormal Perubahan Rata-rata Komponen Laba
dengan sebaran relatif normal. Perubahan UU PPh Nomor 36 Tahun
Rasio akrual konformitas akuntansi- 2008 yang berlaku efektif sejak tahun 2009
pajak terhadap total aset awal tahun bernilai menunjukkan kenaikan/penurunan yang
rata-rata positif yang terdiri dari diskresi dan berbeda pada laba dan komponen akrual.
non diskresi masing-masing sebesar 0,024 dan Sejak tahun 2009, terlihat bahwa rata-rata
0,043. Berbeda dengan akrual konformitas laba, arus kas, dan total akrual konformitas
akuntansi-pajak, akrual akuntansi-saja akuntansi-pajak lebih tinggi secara signifikan
memiliki rata-rata rasio negatif terhadap total dibandingkan dengan sebelum tahun 2009.
aset di awal tahun yang terdiri dari diskresi Indikator awal ini menunjukkan bahwa
dan non diskresi akrual akuntansi-saja masing- ada pengaruh perilaku perusahaan terkait
masing sebesar -0,021 dan -0,030. Sementara perencanaan pajak khususnya melalui akrual
itu, imbal hasil periode berikutnya memiliki konformitas akuntansi-pajak sejak berlakunya
kecenderungan rata-rata yang negatif dengan tarif baru PPh badan.
sebaran relatif normal.
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 159

Tabel 2
Statistik Deskriptif Variabel Penelitian
Kuantil
Variabel Rata-Rata Std. Dev. Skewness
Minimum 25% Median 75% Maksimum
EARNi,t 0,085 0,124 -0,816 0,015 0,072 0,137 0,845 0,88
EARNi,t+1 0,084 0,126 -0,816 0,014 0,071 0,135 0,845 0,81
CFOi,t 0,07 0,129 -0,726 0,003 0,059 0,134 0,755 0,073
TACi,t 0,015 0,118 -1,23 -0,046 0,003 0,065 0,815 0,614
DACi,t -0,001 0,103 -0,499 -0,056 -0,008 0,044 0,728 1,108
NDACi,t 0,016 0,061 -1,229 -0,007 0,011 0,038 0,438 -4,146
DTAi,t 0,024 0,151 -2,542 -0,026 0,025 0,081 1,712 -2,685
NDTAi,t 0,043 0,1 -0,583 -0,001 0,031 0,076 1,473 2,452
DBAi,t -0,021 0,126 -1,316 -0,06 -0,025 0,01 2,663 6,772
NDBAi,t -0,03 0,071 -1,038 -0,048 -0,021 -0,004 0,583 -3,579
RETi,t+1 -0,134 0,582 -1,889 -0,504 -0,197 0,149 1,988 0,732

Nilai positif pada komponen akrual signifikan, setelah diklasifikasikan menjadi


konformitas akuntansi-pajak (TTA) menun- diskresi (DBA) dan non diskresi (NDBA)
jukkan bahwa strategi perencanaan pajak terlihat memiliki perbedaan. Nilai rata-rata
yang digunakan oleh perusahaan secara diskresi akrual akuntansi (DBA) sebelum
umum adalah meningkatkan laba (income 2009 lebih rendah dibandingkan sesudah
increasing). Peningkatan laba dapat dilakukan 2009, sedangkan nilai rata-rata non diskresi
dengan cara mempercepat pengakuan akrual akuntansi (NDBA) sesudah 2009 lebih
pendapatan operasional perusahaan atau tinggi dibanding sebelum tahun 2009. Dengan
menunda pengakuan beban. Sementara demikian, adanya perubahan peraturan
itu, akrual akuntansi-saja (TBA) yang PPh Nomor 36 Tahun 2008 menghasilkan
memiliki konformitas rendah dengan perbedaan strategi perpajakan melalui akrual
peraturan perpajakan umum bagi perusahaan konformitas akuntansi-pajak dan akrual
dimanfaatkan untuk melakukan strategi konformitas akuntansi-pajak (H1 diterima).
penurunan laba (income decreasing). Perubahan pola tersebut secara visual
Setelah klasifikasi akrual konformitas akan dijelaskan lebih lanjut melalui grafik
akuntansi-pajak didekomposisi menjadi perubahan akrual konformitas akuntansi-
diskresi (DTA) dan non diskresi (NDTA), pajak dan akrual akuntansi secara rata-rata
hasil penghitungan ini menemukan adanya untuk semua perusahaan sepanjang tahun
perbedaan rata-rata sebelum dengan sesudah fiskal 2002-2014. Secara grafik, terlihat bahwa
perubahan UU PPh. Sebelum tahun 2009, pola perubahan rata-rata akrual konformitas
diperoleh bahwa rata-rata diskresi akrual akuntansi-pajak dan akrual akuntansi-saja
konformitas akuntansi-pajak (DTA) secara perusahaan terlihat memiliki arah yang sama
signifikan lebih tinggi dibanding diskresi (konvergen) maupun berlawanan (divergen)
sesudah tahun 2009. Namun, non diskresi terutama pada tahun fiskal 2003, 2005, 2009,
akrual konformitas akuntansi-pajak (NDTA) 2010, dan 2013 (Gambar 2). Strategi perusahaan
sebelum tahun 2009 memiliki rata-rata yang dalam mengelola akrual konformitas akuntansi-
secara signifikan lebih rendah dibanding pajak sejalan akrual akuntansi-saja ditujukan
dengan sesudah tahun 2009. untuk mengatur laba agar sesuai dengan
Sementara itu, rata-rata akrual akuntansi yang diharapkan manajemen. Dikaitkan
yang sebelumnya tidak ada perbedaan dengan konteks modernisasi administrasi
160 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

Tabel 3
Uji Beda Rata-rata Laba dan Komponen Akrual Sebelum dan Sesudah Perubahan UU PPh
Nomor 36 Tahun 2008
Rata-rata Perbedaan t-value
< Tahun 2009 ≥ Tahun 2009
EARN 0,086896 0,103409 -0,0165 ** -2,95
CFO 0,067047 0,084740 -0,0177 ** -3,18
TAC 0,017128 0,020921 -0,0038 -0,78
TTA 0,062163 0,068414 -0,0063 -0,83
TBA -0,045035 -0,047493 0,0025 0,4
DTA 0,024891 -0,001736 0,0266 *** 4,69
NDTA 0,037272 0,070150 -0,0329 *** -6,36
DBA -0,013635 -0,000195 -0,0134 ** -3,03
NDBA -0,031400 -0,047298 0,0159 *** 3,78
N 869 860 1729
* p < 0,05; ** p < 0,01; *** p < 0,001

perpajakan dan perubahan peraturan pajak perilaku seperti ini juga dianggap sebagai
tentang tarif PPh badan terlihat bahwa strategi momentum melakukan strategi “taking a
penurunan (perlambatan) akrual konformitas bath” perusahaan untuk mengatur peningkatan
akuntansi-pajak berada pada tahun 2002 kinerja di tahun-tahun mendatang. Padahal, di
yaitu momentum pertama modernisasi pajak. sisi lain, pola rata-rata akrual akuntansi-saja
Perbaikan pelayanan, pengawasan, dan tetap mengalami percepatan dari tahun ke-
monitoring oleh aparat pajak terhadap wajib tahun seperti halnya tren rata-rata laba.
pajak telah menginsentif perusahaan untuk Hal yang cukup mengejutkan adalah
memperbaiki kualitas akrual konformitas perubahan rata-rata arus kas perusahaan
akuntansi-pajak yang tadinya turun (lambat) yang secara tren mengalami perlambatan dari
di tahun 2003 menjadi melonjak di tahun 2004 tahun ke tahun. Padahal, tren rata-rata laba
sehingga sejalan dengan akrual akuntansi-saja secara umum mengalami kenaikan (Tabel
(H2 diterima). 2). Meningkatnya akrual yang tidak disertai
Peningkatan kualitas akrual konformitas dengan percepatan arus kas memperlihatkan
akuntansi-pajak secara rata-rata terus bahwa secara rata-rata, perusahaan mengalami
mengalami kenaikan sampai pada akhirnya permasalahan dalam merealisasikan arus kas di
menghadapi tahun transisi perubahan tarif masa mendatang. Perlambatan perekonomian,
PPh badan yang berlaku di tahun 2009 dan deindustrialisasi dan menurunnya daya saing
2010. Menjelang tahun 2009, terlihat bahwa secara makro ekonomi diantaranya dapat
perusahaan menggunakan strategi penurunan menjadi alasan mengapa hal ini terjadi.
(perlambatan) akrual pajak sampai ke tingkat
yang paling rendah setelah tahun 2003. Mengontrol Konteks Perubahan Peraturan
Diyakini bahwa manajemen memiliki sifat dan Modernisasi Administrasi Perpajakan
oportunistik dengan cara menahan pendapatan pada Model Persamaan Forecast dan
dan beban sebelum tahun 2009 agar dapat Valuations
digeser di tahun pemberlakuan tarif yang Berdasarkan pengujian hipotesis H1,
lebih rendah pada periode berikutnya sehingga faktor perubahan peraturan perpajakan
kewajiban perpajakannya turun di tahun 2009. memberi pola pada laba, arus kas dan
Selain itu, terkait dengan insentif manajemen, komponen akrual konformitas akuntansi-
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 161

Gambar 2
Perubahan Rata-rata Arus Kas, Akrual Konformitas Akuntansi-pajak, dan Akrual akuntansi-Saja
yang Diskalakan dengan Rata-rata Lag Total Aset Periode Tahun Fiskal 2002-2014
pajak, dan komponen akrual akuntansi-saja. menunjukkan semua koefisien dummy tahun
Perbedaan tarif dan insentif pajak sejak implementasi modernisasi pajak (postY2009)
berlakunya perubahan UU PPh Nomor 36 secara statistik signifikan positif (Tabel 4
Tahun 2008 memengaruhi perilaku perusahaan panel A kolom forecast). Modernisasi sistem
yang terlihat dalam strategi kenaikan rata-rata perpajakan mampu menggali potensi pajak
komponen akrual konformitas akuntansi-pajak perusahaan yang belum dilaporkan sehingga
dan penurunan rata-rata akrual akuntansi- mampu mendorong pelaporan angka-angka
saja. Strategi tersebut efektif membentuk laba kena pajak baik secara sukarela maupun
laba di tahun depan. Sebagaimana Báez- penegakan hukum oleh pemeriksa DJP melalui
Díaz dan Alam (2013) yang menambahkan program audit pajak (Le Borgne et al. 2008)
variabel kontrol growth ke dalam persamaan (H2 diterima). Hal ini memperjelas penyajian
forecast dan valuations merupakan determinan visual yang ditunjukkan pada Gambar 2.
pembentukan laba periode berikutnya. Dengan Hasil pengujian Miskhin (1983)
demikian, persamaan forecast dan valuation menunjukkan bahwa pada persamaan forecast
akrual konformitas akuntansi-pajak pada komponen laba arus kas (CFO) memiliki
konteks Indonesia menggunakan variabel koefisien lebih tinggi (0,872) dibandingkan
kontrol perubahan peraturan pajak yang dengan komponen-komponen akrual (Tabel
berlaku sejak tahun 2009 dan modernisasi 4 panel A kolom forecast). Artinya, arus
administrasi perpajakan sejak tahun 2003 kas memiliki pengaruh lebih tinggi dalam
berupa dummy variable. Oleh karena itu, membentuk laba tahun depan. Sementara itu,
untuk pengujian H3 dan H4, penelitian ini akan persistensi komponen akrual terhadap laba
menggunakan Persamaan 3 dan 4. tahun depan mulai dari persistensi tinggi ke
rendah berturut turut adalah diskresi akrual
Pengujian Miskhin (1983) atas Komponen non diskresi akrual akuntansi-saja (NDBA),
Laba non diskresi akrual konformitas akuntansi-
Persamaan 4 yang menguji persistensi pajak (NDTA), akuntansi-saja (DBA) dan
laba masa depan berdasarkan komponen akrual diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak
162 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

Tabel 4
Hasil Uji Miskhin (1983) Penilaian Pasar atas Arus Kas, Akrual Konformitas Akuntansi-Pajak,
dan Akrual Akuntansi-Saja terhadap Laba Tahun Depan Periode 2001-2014 dengan Mengontrol
Perubahan Peraturan Perpajakan Indonesia dan Modernisasi Administrasi Perpajakan
Persamaan Forecast:
EARNt+1 = β0 + β1CFOt + β2DTAt + β3NDTAt + β4DBAt + β5NDBAt + β6postY2009t + β7postY2003t + εt+1
Persamaan Valuations:
RETt+1 = β0 + β1(EARNt+1 – β0* – β1*CFOt – β2*DTAt – β3*NDTAt – β4*DBAt – β5*NDBAt – β6*postY2009t –
β7*postY2003t) + εt+1
Panel A: Penilaian Pasar atas Persistensi Komponen Laba terhadap Laba dan Saham 1 Tahun Mendatang
Koefisien Koefisien
Parameter t-value Parameter t-value Penilaian Pasar
Forecast Valuations
N=1,729
β1 (CFO) 0,872 *** 62,00 β1* (CFO) 0,390 *** 4,82 -0.48 lebih rendah
β2 (DTA) 0,777 *** 40,95 β2* (DTA) 0,552 *** 6,33 -0.22 lebih rendah
β3 (NDTA) 0,833 *** 36,31 β3* (NDTA) 0,340 *** 2,98 -0.49 lebih rendah
β4 (DBA) 0,813 *** 36,52 β4* (DBA) 0,565 *** 5,55 -0.24 lebih rendah
β5 (NDBA) 0,845 *** 28,47 β5* (NDBA) 0,368 *** 2,62 -0.47 lebih rendah
β6 (postY2009) -0,006 ** -1,99 β6* (postY2009) -0,080 *** -4,81 -0.07 lebih rendah
β7 (postY2003) 0,016 *** 2,66 β7* (postY2003) -0,068 ** -2,38 -0.08 lebih rendah
Panel B: Rasionalitas Penilaian Pasar atas Komponen Laba

Hipotesis Nol Rasio Likelihood Level Signifikansi Marginal


β1 = β1* dan β2 = β2* dan β3 =
CFO, DAC, NDAC 59,26*** <0,0001
β3* dan β4 = β4* dan β5 = β5*
β1 = β1* CFO 57,23*** <0,0001
β2 = β2* DTA 6,87*** 0,0088
β3 = β3* NDTA 22,51*** <0,0001
β4 = β4* DBA 6,04** 0,0140
β5 = β5* NDBA 12,61*** 0,0004
β2 = β3 dan β2* = β3* DTA, NDTA 7,36** 0,0252
β2 = β4 dan β2* = β4* DTA, DBA 7,85** 0,0197
β3 = β4 dan β3* = β4* NDTA, DBA 3,47 0,1765
β3 = β5 dan β3* = β5* NDTA, NDBA 0,68 0,7106
Β6 = β6* postY2009 23,97*** <0,0001
Β7 = β7* postY2003 9,20*** 0,0024

(DTA). Diskresi akrual konformitas akuntansi- konformitas akuntansi-pajak di Indonesia


pajak memiliki persistensi terendah di antara disebabkan karena perbedaan peraturan
komponen akrual lain (H3 diterima). perundangan. Konformitas pembukuan dengan
Sejalan dengan temuan Báez-Díaz peraturan perpajakan Indonesia untuk aktivitas
dan Alam (2013), diskresi akrual konformitas normal perusahaan secara umum memiliki
akuntansi-pajak tahun ini memiliki persistensi kesamaan dengan peraturan perpajakan di
terendah terhadap laba tahun depan. Berbeda negara-negara lain. Pengakuan piutang usaha,
konteks dengan di Amerika, diskresi akrual utang usaha, dan persediaan pada umumnya
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 163

diakui sebagai akrual konformitas akuntansi- berlipat akibat aktivitas ini. Akibatnya,
pajak yang tidak menimbulkan perbedaan pemegang saham yang tidak memperoleh
permanen dan temporer antara laba pajak dan informasi perpajakan perusahaan akan
laba akuntansi (Báez-Díaz dan Alam 2013). dirugikan di kemudian hari.
Perbedaan diskresi akrual konformitas Berdasarkan persamaan valuations
akuntansi-pajak antar perusahaan terjadi yaitu penilaian pasar terhadap komponen arus
ketika perusahaan menggunakan berbagai kas dan akrual, pasar melakukan kekeliruan
strategi pengelolaan pajak yang masih dalam penilaian. Arus kas (CFO) secara umum
koridor peraturan pajak (tax avoidance), memiliki koefisien rendah (0,39) dibandingkan
berpotensi melanggar aturan pajak (tax dengan komponen diskresi akrual (DTA dan
shelter), bahkan penggelapan pajak yang DBA) (Tabel 4 panel A kolom valuations).
bertentangan aturan (tax evasion) (Báez- Pasar menilai terlalu rendah (undervalue)
Díaz dan Alam 2013). Dengan pemahaman atas komponen arus kas di masa kini, padahal
peraturan pajak yang memadai, manajemen di masa mendatang memiliki peranan yang
dapat melakukan strategi perencanaan pajak besar dalam membentuk laba (0,872) daripada
atas penghasilan-penghasilan yang bersifat komponen akrual. Demikian pula persistensi
final. Penghasilan yang bersifat final akan komponen akrual terhadap laba tahun depan
dikeluarkan dari penyusunan pembukuan yang secara umum dinilai lebih rendah
pajak sehingga menurunkan pendapatan kena (undervalue) di masa kini, padahal komponen-
pajak. Pertimbangan pilihan diskresi akrual komponen akrual memiliki peran (baik
konformitas akuntansi-pajak yang tergolong kecil maupun besar) dalam membentuk laba
tax avoidance biasanya bukan merupakan mendatang (Tabel 4 panel B).
aktivitas normal perusahaan. Namun demikian, Komponen diskresi akrual konformitas
tidak menutup kemungkinan transaksi akuntansi-pajak seharusnya diapresisasi pasar
akrual tersebut bersifat aktivitas normal oleh paling rendah dari arus kas (0,777). Namun
perusahaan afiliasi dalam satu konsolidasian demikian, potensi adanya pengeluaran arus
laporan keuangan. Diskresi akrual konformitas kas di masa mendatang akibat perencanaan
akuntansi-pajak yang berkaitan dengan pajak (melalui diskresi akrual) yang tidak
pengakuan piutang pendapatan yang tergolong hati-hati oleh perusahaan bukan merupakan
dalam pajak final misalnya: pengakuan piutang perhatian dari investor. Investor terlalu terpaku
pendapatan bunga deposito, tabungan, giro, pada informasi laba (fixate) (Sloan 1996; Xie
obligasi yang memiliki pasar aktif. Selain itu, 2001) tanpa melihat lebih mendalam tentang
piutang pendapatan lain yang diperoleh dari kewajiban perpajakan perusahaan yang
sewa misalnya: sewa mesin, alat berat, gedung dapat memengaruhi laba mendatang dalam
perkantoran dan sebagainya. Sementara itu, mengharapkan imbal hasil saham tahun depan.
dari sisi beban, diskresi akrual konformitas Dengan demikian, pengujian ini didukung oleh
akuntansi-pajak yang dapat dilakukan adalah sampel (H4 ditolak) bahwa pasar gagal menilai
seperti menunda atau mempercepat misalnya persistensi laba diskresi akrual konformitas
pengakuan kerugian kurs valuta asing. akuntansi-pajak yang memiliki persistensi
Pilihan strategi tax shelter dan tax terendah dalam mengharapkan imbal hasil
evasion memiliki risiko terhadap pengeluaran saham mendatang.
arus kas di masa mendatang. Aktivitas transfer Secara umum, rasio likelihood sebesar
pricing dengan memanfaatkan hubungan 34,97 atas koefisien komponen laba yang
afiliasi dan anak perusahaan melalui penjualan nilainya sangat signifikan (Tabel 4 panel B)
dan pembelian merupakan bagian dari diskresi menunjukkan bahwa pasar bersifat semi kuat
akrual konformitas akuntansi-pajak. Apabila (semi strong). Apresiasi pasar yang kurang
diketahui melanggar peraturan perpajakan, terhadap komponen akrual juga menunjukkan
maka perusahaan akan menghadapi tuntutan bahwa risiko kehilangan arus kas di periode
hukum dan pembayaran denda pajak yang berikutnya tidak menjadi perhatian bagi
164 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

Tabel 5
Hasil Uji Miskhin (1983) Penilaian Pasar atas Arus Kas, Akrual Konformitas Akuntansi-Pajak,
dan Akrual Akuntansi-Saja terhadap Laba Tahun Depan Periode 2008-2014 Sampai dengan Batas
Akhir Penyampaian SPT Tahunan
Persamaan Forecast:
EARNt+1 = β0 + β1CFOt + β2DTAt + β3NDTAt + β4DBAt + β5NDBAt + εt+1

Persamaan Valuations:
RETt+1 = β0 + β1(EARNt+1 – β1*CFOt – β2*DTAt – β3*NDTAt – β4*DBAt – β5*NDBAt) + εt+1
Panel A: Penilaian Pasar atas Persistensi Komponen Laba terhadap Laba dan Saham 1 Tahun
Mendatang
Koefisien Koefisien
Parameter t-value Parameter t-value Penilaian Pasar
Forecast Valuations
N=717
β1 (CFO) 0,898 *** 46,24 β1* (CFO) 0,604 *** 8,26 -0.29 lebih rendah
β2 (DTA) 0,842 *** 31,40 β2* (DTA) 0,611 *** 6,65 -0.23 lebih rendah
β3 (NDTA) 0,873 *** 25,65 β3* (NDTA) 0,573 *** 4,90 -0.30 lebih rendah
β4 (DBA) 0,843 *** 23,22 β4* (DBA) 0,655 *** 5,43 -0.18 lebih rendah
β5 (NDBA) 0,945 *** 16,92 β5* (NDBA) 0,519 *** 2,74 -0.42 lebih rendah
Panel B: Rasionalitas Penilaian Pasar atas Komponen Laba

Hipotesis Nol Rasio Likelihood Level Signifikansi Marginal


β1 = β1* dan β2 = β2* dan β3 =
CFO, DAC, NDAC 23,07*** 0,0001
β3* dan β4 = β4* dan β5 = β5*
β1 = β1* CFO 19,62*** <0,0001
β2 = β2* DTA 6,35*** 0,0117
β3 = β3* NDTA 6,68*** 0,0098
β4 = β4* DBA 2,31 0,1287
β5 = β5* NDBA 5,01** 0,0252
β2 = β3 dan β2* = β3* DTA, NDTA 0,68 0,7103
β2 = β4 dan β2* = β4* DTA, DBA 0,26 0,8779
β3 = β4 dan β3* = β4* NDTA, DBA 0,70 0,7042
β3 = β5 dan β3* = β5* NDTA, NDBA 3,39 0,1836

investor. Terlihat bahwa komponen arus kas restatement kewajiban perpajakan. Namun
dan masing-masing komponen akrual yang demikian, sangat sulit untuk mengetahui
memiliki rasio likelihood yang signifikan. seberapa sering dan kapan perusahaan
melakukan pembetulan. Diasumsikan bahwa
Analisis Sensitivitas dengan Waktu pembetulan SPT tahunan sebelum batas
Pengamatan Sampai dengan Jatuh Tempo waktu penyampaian memiliki keterkaitan
Penyampaian SPT Tahunan PPh Badan erat dengan pengumuman laba dalam laporan
Tujuan dari pengujian ini adalah untuk keuangan sehingga informasi privat tersebut
mengetahui perilaku pasar apakah pada saat sangat bermakna bagi investor. Hal ini
batas akhir penyerahan SPT (bulan April) didasari pada argumentasi bahwa periode
merupakan informasi baru bagi pasar. Sampai penyampaian kewajiban perpajakan sangat
dengan batas penyampaian SPT tahunan masih erat kaitannya dengan perencanaan pajak
memungkinkan bagi perusahaan melakukan (Crabtree dan Kubick 2014) termasuk dalam
hal ini restatement laporan pajak.
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 165

Berdasarkan peraturan, sebelum increasing). Hal ini dapat dilakukan dengan


perubahan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, cara mempercepat pengakuan pendapatan
batas waktu penyampaian SPT Tahunan atau menunda pengakuan beban. Sementara
adalah bulan Maret setelah berakhirnya tahun itu, akrual akuntansi-saja yang memiliki
fiskal. Setelah perubahan peraturan, batas konformitas rendah dengan pembukuan
waktu penyampaian SPT PPh Badan adalah menggunakan strategi menurunkan laba
akhir bulan April setelah berakhirnya tahun (income decreasing).
fiskal. Dengan demikian, rentang pengamatan Peningkatan kualitas akrual konformitas
tersebut bergeser sampai dengan bulan April akuntansi-pajak secara rata-rata terus
setelah tahun buku perusahaan. konsisten sampai pada akhirnya menghadapi
Melalui pengujian Miskhin (1983), tahun transisi perubahan tarif PPh badan yang
persistensi diskresi akrual konformitas berlaku di tahun 2009 dan 2010. Pada tahun
akuntansi-pajak (DTA) terhadap laba masa 2009, terlihat bahwa perusahaan menggunakan
depan pada persamaan forecast tidak jauh strategi penurunan (perlambatan) akrual
berbeda dengan hasil pengujian sebelumnya konformitas akuntansi-pajak sampai ke tingkat
(Tabel 5 panel A kolom forecast). Persistensi yang paling rendah sejak tahun 2003. Diyakini
komponen diskresi akrual konformitas bahwa manajemen memiliki sifat oportunistik
akuntansi-pajak (DTA) setelah pemberlakuan dengan cara menahan pendapatan dan beban
UU PPh yang baru relatif tidak mengalami sebelum tahun 2009 agar dapat digeser di tahun
perubahan yaitu terendah dibandingkan arus pemberlakuan tarif yang lebih rendah sehingga
kas dan komponen akrual lainnya. Sementara kewajiban perpajakannya turun di tahun 2009.
itu, non diskresi akrual akuntansi-saja (NDBA) Selain itu, terkait dengan insentif manajemen,
memiliki persistensi paling tinggi di antara perilaku tersebut juga dianggap sebagai
komponen akrual lain. momentum melakukan strategi “taking a
Dalam mengharapkan imbal hasil tahun bath” perusahaan untuk mengatur peningkatan
berikutnya, pasar terlihat masih mengapresiasi kinerja di tahun-tahun mendatang. Padahal,
komponen non diskresi akrual akuntansi-saja di sisi lain, pola rata-rata perubahan akrual
(NDBA) (Tabel 5 panel A kolom valuations). akuntansi-saja tetap mengalami peningkatan
Pengujian rasionalitas pasar (Tabel 5 panel B) dari tahun ke tahun seperti halnya tren rata-
menunjukkan bahwa persistensi komponen rata laba.
diskresi akrual konformitas akuntansi-pajak Berdasarkan pengujian Miskhin (1983),
(DTA) dan diskresi akrual akuntansi-saja pasar di Indonesia menunjukkan sifat semi kuat
(DBA) tidak dinilai oleh investor menjelang (Siregar 2005). Komponen laba berupa arus
batas waktu penyampaian SPT Tahunan. kas memiliki persistensi lebih tinggi dalam
membentuk laba tahun depan. Sementara itu,
SIMPULAN pada komponen akrual, terlihat bahwa diskresi
akrual konformitas akuntansi-pajak memiliki
Perubahan UU PPh Nomor 36 Tahun persistensi paling rendah terhadap laba tahun
2008 yang berlaku efektif sejak tahun 2009 depan di antara komponen akrual lain.
menunjukkan kenaikan/penurunan yang Namun demikian, penilaian pasar
berbeda pada laba dan komponen akrual. Sejak terhadap komponen arus kas dan akrual
tahun 2009, terlihat bahwa rata-rata laba, arus menunjukkan adanya kekeliruan penilaian.
kas dan total akrual konformitas akuntansi-pajak Arus kas memiliki koefisien terendah
lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dibandingkan dengan komponen akrual
dengan sebelum tahun 2009. Nilai positif pada lainnya. Pasar menilai terlalu rendah
komponen akrual konformitas akuntansi-pajak (undervalue) atas komponen arus kas, padahal
menunjukkan bahwa strategi perencanaan di masa mendatang memiliki peranan yang
pajak yang digunakan oleh perusahaan adalah besar dalam membentuk laba. Pasar menilai
secara umum meningkatkan laba (income persistensi komponen diskresi akrual pada
166 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

saat ini tidak memiliki arti di mata investor Alpha, seperti pada studi-studi sebelumnya.
dibandingkan arus kas dalam mengharap imbal Hal tersebut juga dengan pertimbangan
hasil saham periode berikutnya. Pengujian asumsi bahwa strategi portofolio investor
tambahan menunjukkan bahwa rentang di Indonesia tidak serumit di Amerika yang
pengamatan yang diperpanjang sampai dengan mengelompokkan perusahaan berdasarkan
batas waktu penyampaian SPT Tahunan market capitalization. Sebagai saran, penelitian
secara umum masih menimbulkan kekeliruan di masa mendatang dapat ditambahkan analisis
penilaian komponen akrual oleh pasar. trading strategy sehingga akan melengkapi
Penelitian ini membuktikan bahwa rangkaian cerita kekeliruan penilaian akrual
pemberlakuan peraturan perpajakan akan oleh pasar sebagaimana studi-studi mispricing
mengubah strategi perpajakan perusahaan sebelumnya. Selain itu, pengukuran imbal
sebelum dan sesudah peraturan tersebut hasil saham abnormal juga dapat diperkaya
efektif berlaku. Studi ini menunjukkan bahwa dengan alternatif pengukuran yang lain.
strategi perusahaan menjelang pemberlakuan
perubahan UU PPh adalah mengelola akrual DAFTAR PUSTAKA
yang konformitasnya tinggi terhadap peraturan
pajak secara menurun terhadap laba (income Báez-Díaz, A. and P. Alam. 2013. Tax
decreasing). Conformity of Earnings and the Pricing
Pengambil kebijakan perlu memper- of Accruals. Review of Quantitative
timbangkan masa transisi pemberlakuan Finance and Accounting, 40 (3), 509-
peraturan sebagai upaya untuk meminimalisasi 538.
perilaku tersebut sehingga tetap terwujud prinsip Ball, R. and P. Brown. 1968. An Empirical
ekualisasi antar periode tahun fiskal sekaligus Evaluation of Accounting Income
matching costs against revenues perusahaan Numbers. Journal of Accounting
dalam konteks kebijakan perpajakan. Research, 6 (2), 159-178.
Misalnya, kebijakan pengungkapan kewajiban Beaver, W. H. 1968. The Information Content
perpajakan yang lebih lengkap di masa transisi of Annual Earnings Announcements.
peraturan perpajakan menjadi penting untuk Journal of Accounting Research, 6, 67-
ditambahkan dalam laporan keuangan. 92.
Selain itu, bagi investor, pengungkapan Blaylock, B., T. Shevlin, and R. J. Wilson.
kewajiban perpajakan pada masa transisi 2012. Tax Avoidance, Large Positive
akan membantu penilaian laba dan arus kas Temporary Book-Tax Differences, and
mendatang. Strategi “taking a bath” sebagai Earnings Persistence. The Accounting
informasi privat yang dimiliki oleh perusahaan Review, 87 (1), 91-120.
seharusnya diimbangi dengan informasi Calegari, M. J. 2000. The Effect of Tax
pengungkapan yang memadai atas kewajiban Accounting Rules on Capital Structure
perpajakan. and Discretionary Accruals. Journal of
Beberapa poin keterbatasan yang Accounting and Economics, 30 (1), 1-31.
menjadi perhatian dalam penelitian ini antara Clinch, G., D. Fuller, B. Govendir, and P. Wells.
lain adalah tidak menambahkan analisis trading 2012. The Accrual Anomaly: Australian
strategy, seperti pada penelitian Sloan (1996), Evidence. Accounting and Finance, 52
Xie (2001), dan Báez-Díaz dan Alam (2013) (2), 377-394.
yang menunjukkan kekeliruan penilaian pasar Cloyd, C. B., J. Pratt, and T. Stock. 1996. The
atas komponen akrual dengan pertimbangan Use of Financial Accounting Choice
dan asumsi bahwa investor di Indonesia tidak to Support Aggressive Tax Positions:
masuk dalam kategori sophisticated investor. Public and Private Firms. Journal of
Keterbatasan berikutnya terkait pengukuran Accounting Research, 34 (1), 23-43.
imbal hasil saham abnormal yang tidak Collins, D. W. and P. Hribar. 2000. Earnings-
menggunakan alternatif lain, seperti Jensen Based and Accrual-Based Market
Sigit Wahyu Kartiko, Hilda Rossieta, dan Ratna Wardhani, Perilaku Anomali Pasar atas Akrual... 167

Anomalies: One Effect or Two? Journal dipresentasikan pada acara Simposium


of Accounting and Economics, 29 (1), Nasional Akuntansi XVII, Mataram.
101-123. Khanchel El Mehdi, I. 2011. An Examination
Crabtree, A. D. and T. R. Kubick. 2014. of the Naive-Investor Hypothesis in
Corporate Tax Avoidance and the Accruals Mispricing in Tunisian Firms.
Timeliness of Annual Earnings Journal of International Financial
Announcements. Review of Quantitative Management and Accounting, 22 (2),
Finance and Accounting, 42 (1), 51-67. 131-164.
Dechow, P. M., R. G. Sloan, and A. P. Sweeney. Kothari, S. P. and J. B. Warner. 1997.
1995. Detecting Earnings Management. Measuring Long-Horizon Security Price
The Accounting Review, 70 (2), 193-225. Performance. Journal of Financial
Direktorat Jenderal Pajak Republik Indonesia. Economics, 43 (3), 301-339.
2007. Laporan Tahunan 2007 Direktorat Le Borgne, E., J. Brondolo, F. Bosch, and
Jenderal Pajak. Jakarta: Direktorat C. Silvani. 2008. Tax Administration
Jenderal Pajak Republik Indonesia. Reform and Fiscal Adjustment: The Case
Diunduh tanggal 24 Februari 2016, of Indonesia (2001-07). Working Papers,
International Monetary Fund, 1-70.
http://www.pajak.go.id/ sites/default/
Malkiel, B. G. and E. F. Fama. 1970. Efficient
files/Annual_Report.
Capital Markets: A Review of Theory
Frank, M. M., L. J. Lynch, and S. O. Rego.
and Empirical Work. The Journal of
2009. Tax Reporting Aggressiveness
Finance, 25 (2), 383-417.
and Its Relation to Aggressive Financial
Miskhin, F. 1983. A Rational Expectations
Reporting. The Accounting Review, 84 Approach to Macro Econometrics:
(2), 467-496. Testing Policy Ineffectiveness and
Gramlich, J. 1991. The Effect of the Alternative Efficient-Markets Models. Chicago: The
Minimum Tax Book Income Adjustment University of Chicago Press.
on Accrual Decisions. Journal of the Pandiangan, L. dan R. L. Toruan. 2008.
American Taxation Association, 13 (1), Modernisasi & Reformasi Pelayanan
36-56. Perpajakan: Berdasarkan UU Terbaru.
Guenther, D. A. 1994. Earnings Management Jakarta: Elex Media Komputindo.
in Response to corporate Tax Rate Plesko, G. A. 2007. Estimates of the Magnitude
Changes: Evidence from the 1986 Tax of Financial and Tax Reporting Conflicts.
Reform Act. The Accounting Review, 69 Working Paper, The National Bureau of
(1), 230-243. Economic Research. Diunduh tanggal
Gupta, S. and K. Newberry. 1997. Determinants 25 Februari 2016, http://www.nber.org/
of the Variability in Corporate Effective papers/w13295.
Tax Rates: Evidence from Longitudinal Ratmono, D. dan N. Cahyonowati. 2005.
Data. Journal of Accounting and Public Anomali Pasar Berbasis Earnings dan
Policy, 16 (1), 1-34. Persistensi Abnormal Akrual. Paper
Hanlon, M. 2005. The Persistence and Pricing dipresentasikan pada acara Simposium
of Earnings, Accruals, and Cash Flows Nasional Akuntansi VIII, Solo.
When Firms Have Large Book-Tax Republik Indonesia. 2008. Undang-Undang
Differences. The Accounting Review, 80 Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
(1), 137-166. Penghasilan. Jakarta: Republik
Jones, J. J. 1991. Earnings Management during Indonesia.
Import Relief Investigations. Journal of Siregar, S. N. P. V. 2005. Pengaruh Struktur
Accounting Research, 29 (2), 193-228. Kepemilikan, Ukuran Perusahaan,
Kamila, P. A. dan D. Martani. 2014. Analisis dan Praktek Corporate Governance
Hubungan Agresivitas Pelaporan terhadap Pengelolaan Laba (Earnings
Keuangan dan Agresivitas Pajak. Paper
168 Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Desember 2015, Vol. 12, No. 2, hal 147 - 168

Management) dan Kekeliruan Pasar.


Disertasi, Universitas Indonesia.
Sloan, R. G. 1996. Do Stock Prices Fully
Reflect Information in Accruals and
Cash Flows about Future Earnings? The
Accounting Review, 71 (3), 289-315.
Suandy, E. 2008. Perencanaan Pajak Edisi 4.
Jakarta: Salemba Empat.
Subramanyam, K. R. 1996. The Pricing of
Discretionary Accruals. Journal of
Accounting and Economics, 22 (1-3),
249-281.
Xie, H. 2001. The Mispricing of Abnormal
Accruals. The Accounting Review, 76
(3), 357-373.