Sei sulla pagina 1di 15

Bioscience

BIOSCIENCE
Volume 2 Number 1, 2019, pp. .. http://ejournal.unp.ac.id/index.php/bioscience

ISSN: Print 1412-9760 – Online 2541-5948

DOI:

Analysis of Vegetation and Mangrove Community Structure in the Teluk Buo, Bungus
Teluk Kabung Sub-District, Padang Regency, Sumatera Barat

Desi fitria1*

1 Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri PadangJl. Prof. Dr. Hamka Air Tawar Barat
Padang, 25131

Email: desifitria29@gmail.com

Abstract.Mangrove forest is one of the natural resources that has a value and meaning that
is very important both in terms of physical, biological and socioeconomic. Due to the
increasing needs of life some humans have intervened in the ecosystem. This can be seen
from the conversion of mangrove land into ponds, settlements, industrial areas and so on.
The purpose of this research is to determine the structure and vegetation and the dominant
types of mangroves in the Teluk-Buo mangrove forest. The method used in this research is
sample survey method or field survey. At each observation station along the transect line, a
plot of 10 meters x 10 meters is made. Furthermore, in each plot observations and counts of
the number of mangrove individuals per species were found. For the purposes of data
analysis, each individual tree, sapling and seedling are recorded the name of the species
and the circumference of the trunk, while for strata seedling vegetation the species name and
number of individuals are recorded. There are 6 species of mangrove vegetation, namely
Rhizophora apiculata, Dolicandrone falcata, Ceriops tagal, Burguiera Sp. Rhizophora
apiculata species are the most dominating species of the others, this is seen from the
amount of INP which is 165.99% followed by Burguiera Sp. 55,6681%, then Dolicandrone
falcata with INP 53.8843% and the fewest species, Ceriops tagal with INP 24.4179%

Keywords: Vegetation Analysis, Community Structure, Mangroves, Teluk Buo

This is an open access article distributed under the Creative Commons 4.0 Attribution License, which permits
unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original work is properly cited.
©2017 by author.
1. Pendahuluan

Hutan mangrove adalah sekelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis
pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang
mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah anaerob.
Secara ringkas hutan mangrove dapat didefinisikan sebagai suatu tipe hutan yang
tumbuh di daerah pasang surut ( terutama di pantai yang terlindungi, laguna, muara
sungai) yang tergenang pasang dan bebas dari genangan pada saat surut yang
komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam ( Santono, et al. 2005 ). Tumbuhan
di hutan mangrove bersifat unik karena merupakan gabungan dari ciri-ciri tumbuhan yang
hidup di darat dan di laut(Harahap, 2010).

Wilayah Propinsi Sumatera Barat mempunyai potensi hutan mangrove yang cukup
luas yaitu sekitar 39.832 ha. Sebagian besar potensi hutan bakau (mangrove) di
Sumatera Barat telah rusak. Menurut Suardi (2006) tingkat kerusakan hutan mangrove di
Sumatera Barat mencapai 22,67 % dari 39.832 ha luasnya.Teluk Buo merupakan salah
satu daerah yang terdapat di Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Teluk Buo
merupakan daerah yang terdapat di daratan pesisir Kota Padang dimana lokasi ini
mempunyai potensi mangrove yang cukup luas. Menurut Laporan Dinas Perikanan dan
Kelautan Kota Padang (2004), luas hutan mangrove di Teluk Buo dulunya sekitar 120 ha
dan saat ini hanya tersisa ± 10 ha dengan persentase tutupan hingga 100% Jenis
mangrove yang terdapat dilokasi ini adalah; Rhizopora apiculata, Sonneratia caseolaris,
Brugueira gymnorrhiza, Aegiceras corniculatum dan Acanthus ilicifolius (Elva et al., 2013).

Ekosistem mangrove di Teluk Buo saat ini telah mengalami degradasi. Hal ini
disebabkan oleh masyarakat yang memanfaatkan hutan mangrove sekitar sebagai lahan
pemukiman, pariwisata dan penambatan kapal serta adanya aktivitas penebangan hutan
mangrove secara liar. Aktivitas manusia di area pesisir telah menyebabkan gangguan dan
kerusakan dan penyempitan lahan mangrove yang berdampak menurunkan
keanekaragaman jenis mangrove (Arisandi, 2001)Penggunaan lahan di sekitar mangrove
secara nyata telah mempengaruhi kelestarian ekosistem mangrove (Setyawan et al.,
2003, 2006; Nursal et al., 2005; Hinricks, et al. 2008 dan Yudha, 2007).

2. Bahan dan Metode

Penelitian ini telah dilaksanakan Pada 9 November 2019 diTelukBuo,Kecamatan


Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, Sumatera Barat. Analisis data mangrove dan
sampel dilakukan di Laboratorium Ekologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam,Universitas Negeri Padang.

2.1 Metode Penelitian

Metode penelitian menggunakan metode survei di lapangan. Pengamatan mangrove


menggunakan metode transek plot garis (Onrizal dan Kusmana, 2006).Identifikasi jenis
mangrove dilakukan menurut petunjuk Noor et al.,1999.

Prosedur Penelitian

1. Membuat transek menggunakan tali rapia, dimulai dari garis tepi pantai sampai
kedaratan (hutan mangrove terluar.Prosedur pengambilan data dan pengamatan vegetasi
mangrove sesuai dengan metode yang telah dipublikasikan oleh Bengen (2001). Adapun
prosedur lengkap dari pengamatan ekosistem hutan mangrove adalah sebagai berikut:
Pada setiap stasiun pengamatan, tentukan petak-petak pengamatan/plot berukuran 10 m
x 10 m sebanyak minimal 3 plot. Untuk pohon ukuran transek nya adalah 10 m x 10 m,
untuk anakan ukuran transek nya adalah 5 m x 5 m, sedangakn untuk semai ukuran
transeknya adalah 2 m x 2 m.

Kriteria pertumbuhan yang digunakan dalam kegiatan analisis vegetasi kali ini
adalah :

1. Semai (Seedling) adalah anakan pohon mulai kecambah sampai setinggi <1.5 cm.

2. Pancang ( Sapling ) adalah anakan pohon yang tingginya > 1.5 cm dan diameter <

3. Pohon ( Tree) merupakan pohon dewasa yang memiliki diameter > 4 cm

2.2 Alat dan Bahan


1. Alat
a. Tali Transek
b. Meteran
c. Kompas
d. Plastik
e. Label
f. Parang
g. Kamera
h. Alat Tulis

2. Bahan
a. Mangrove
b. Tanah

2. Hasil dan Pembahasan


3.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1. Pengolahan data identifikasi mangrove 10x10

N Juml

o Nama ah hadi ∆Keliling FR


DBH F D DR% BA Do DoR INP%
spesies indiv r (m) % %
idu

1 Rhizoph 100 9 0,22542 0,07178 0,75 75 0,1 65,35 0,0040 0,000004 25,6 165,99
4
ora
apiculat
a
2 Dolicand 4 1 0,29225 0,09307 0,083 8,33 o,oo4 2,6143 0,0067 0,000006 42,9 53,8843
7 4
rone
falcata

3 Ceriops 5 1 0,162 0,05159 0,083 8,33 0,005 3,2679 0,0020 0,000002 12,8 24,4179
2
tagal
4 Burguier 44 1 0,19097 0,06082 0,083 8,33 0,044 28,7581 0,0029 0,000002 18,5 55,6681
9 8
a Sp.

99,99 0,153 99,99 100 299,96

Tabel 2. Pengolahan data identifikasi mangrove 5x5


N Juml

o Nama ah hadi ∆Keliling FR


DBH F D DR% BA Do DoR INP%
spesies indiv r (m) % %
idu

1 Rhizoph 40 6 4,64 1,447 0,6 75 0,16 83,33 1,712 0,0468 25,6 165,99
4
ora
apiculat
a
2 Ceriops 1 1 0,05 0,015 0,1 12,5 o,oo4 2,083 0,0001 0,000007 42,9 53,8843
7 6 4
tagal

3 Bruguire 7 1 1,498 0,477 0,1 12,5 0,028 14,583 0,1786 0,0071 12,8 24,4179
2
ra
gymnorji
za
0,8 100 0,192 99,99 0,0539 100, 300,01
01

Tabel 2. Pengolahan data plot 2x2


No Nama Jumlah Hadir Cover % F FR D DR% INP
spesies individu

1 Rhizopora 12 5 226 0,5 55,55 0,3 75 130,55


apiculata
2 Acanyhus 1 1 1 0,1 11,11 0,025 6,25 17,36
ilocifolius
3 Bruguiera 1 1 1 0,1 11,11 0,025 6,25 17,36
gymnorjiza
4 Nypa 1 1 1 0,1 11,11 0,025 6,25 17,36
fruticans
5 Lumnitzera 1 1 1 0,1 11,11 0,025 6,25 17,36
littorea
0,9 99,99 0,4 100 199,99
5.Tabel indeks keanekaragaman

No Nama spesies Indeks keanekaragaman

1 Rhizophora apiculata 0,277953

2 Dolicandrone falcata 0,095272

3 Ceriops tagal 0,111797

4 Burguiera Sp. 0,358398

Analisis Data Struktur Komunitas

Luas Area = luas plot X jumlah plot


DBH = keliling/ 3,14
Frekuensi = Jumlah hadirnya suatu jenis/ jumlah seluruh plot
FR = frekuensi suatu jenis/ total frekuensi X 100%
Densitas(D) = jumlah individu suatu jenis/luas area sampel
DR = densitas suatu jenis/ total densitas X 100%
BA = ¼ x 3,14 x DBH2
Dominansi(Do) = BA suatu jenis/ luas area sampel
DoR = dominansi suatu jenis/ total dominansi X 100%
INP = FR% + DR% + DoR%

4.Tabel Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener

No. Nama Plot H‘

1. Plot 1 0,227685

2. Plot 2 0,127007

3. Plot 3 0,189268
. Plot 4 0,095272

5. Plot 5 0,19965
Indeks Keanekaragaman
Shannon-Wiener
6. Plot 6 0,244136

H’ = - ∑(𝐧𝐢/𝐍) 𝐈𝐧 (𝐧𝐢/𝐍)
7 Plot 7 0,189268
Keterangan:
8 Plot 8 0,259046 H’ = Indeks
keanekaragaman
9 Plot 9 0,218819
ni = Jumlah
individu/spesies
10 Plot 10 0,358398
N = Jumlah individu
keseluruhan

3.2 Pembahasan

Kuliah lapangan ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi vegetasi


magrove yang ada di Taluak Buo,Bungus.Berdasarkan hasil analisis vegetasi dari plot 1
sampai plot 10 dijumpai 6 jenis vegetasi dan vegetasi yang dijumpai tidak semuanya
merata dalam plot yang kami buat. Ada beberapa jenis vegetasi yang hanya kami
dapatkan dalam beberapa plot saja. Menurut Bengen (2001) bahwa penyebaran dan
zonasi hutan mangrove dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Zonasi mangrove juga dapat
terbentuk oleh adanya kisaran ekologi yang tersendiri dari niche ( Relung) yang khusus
dari masing-masing jenis. Pembagian zonasi hutan mangrove dapat disebabkan oleh
adanya hasil kompetisi diantara spesies mangrove, dimana akan semakin banyak jumlah
spesies mangrove maka semakin rumit pula bentuk kompetisinya, yang selanjutnya
dipengaruhi oleh faktor lokasi. Selain itu kondisi lingkungan dalam suatu komunitas
sangat penting karena dapat mempengaruhi kehidupan organisme yang ada di dalamnya.
Faktor lingkungan tersebut dapat berupa ketersediaan hara, intensitas cahaya dan
kandungan air. Adanya faktor-faktor lingkungan tersebut, menyebutkan organisme dalam
suatu komunitas dapat saling berinteraksi.Nilai rata-rata pengukuran parameter
lingkungan abiotik pada parameter fisika suhu udara berkisar 28-29 C, suhu tanah
berkisar 28-29 C. Kondisi suhu ini dapat dikatakan baik untuk pertumbuhan mangrove.
Menurut Aksornkoae dalam Sadat (2004), tumbuhan mangrove umumnya berada di
daerah tropis yang suhunya diatas 20 C.

Struktur komunitas plot 1

Plot satu yang merupakan plot yang paling dekat dengan laut dimana pada bagian
tanahnya berlumpur dan terdapat substrat didalamnya. Berdasarkan hasil pengamatan
pada plot ini vegetasi yang ditemukan hanya Rhizophora apiculata.pada plot ini kami
menjumpai 15 pohon yang hadir.Hal ini sesuai dengan zonasi mangrove pada umumnya
dimana jenis tanaman ini mampu tumbuh di daerah dengan substrat yang mengalami
fluktuasi salinitas dan juga tingginya kadar garam pada saat pasang tertinggi.Kint (1934)
dalam Rusila et al. (1999) juga menambahkan bahwa di Indonesia, substrat berlumpur
sangat baik untuk tegakan Rhizophora apiculata dan Avicennia marina. Rhizophora
apiculata memiliki akar tunjang yang merupakan akar udara yang tumbuh di atas
permukaan tanah, mencuat dari batang pohon dan dahan paling bawah serta memanjang
ke luar dan menuju ke permukaan.Struktur akarnya yang mencuat dari batang merupakan
bentuk yang cocok baginya dalam penyesuaian diri terhadap kondisi pantai yang deras
dengan terpaan ombak. Sesuai dengan fugsi perakarannya yang mampu menahan
terpaan ombak sehingga tanaman ini mampu bertahan dan tidak tebawa arus.Istiyanto,
Utomo dan Suranto (2003) menyimpulkan bahwa rumpun bakau (Rhizophora spp.)
memantulkan, meneruskan, dan menyerap energi gelombang tsunami yang diwujudkan
dalam perubahan tinggi gelombang tsunami ketika menjalar melalui rumpun tersebut.
Hasil pengujian tersebut dapat digunakan dalam pertimbangan awal bagi perencanaan
penanaman hutan mangrove bagi perendaman penjalaran gelombang tsunami di pantai.
Struktur komunitas pada plot 2 sampai dengan 6 itu dikuasai oleh Rhizophora
apiculata.spesies ini dari plot 1 sampai dengan plot 9 merupakan tanaman yang paling
mendominasi dan yang paling sering kami temui dalam setiap plot.Total spesies ini yang
kami jumpai dalam 10 plot pengamatan mencapai 100 spesies.Pada plot kedua dijumpai
sebanyak 6 pohon,pada plot 3 (11 pohon),pada plot 4(4 pohon) pada plot 5(12 pohon)
dan pada plot 6 (17 pohon).
Pada plot 7 spesies yang kami jumpai adalah Rhizophora apiculata sebanyak 7
pohon dan Dolicandrone falcata 4 pohon. Dolicandrone falcata merupakan tanaman yang
langak di Thailand namun banyak ditemukan di Indonesia.Sedangkan pada plot 8 kami
menjumpai Rhizophora apiculata dan Ceriops tagal.Ceriops tagal memiliki akar banir yang
memiliki struktur seperti papan, memanjang secara radial dari pangkal batang.Untuk
struktur tanah dari plot 7 sampai 9 memiliki struktur tanah percampuran antara tanah dan
pasir.
Pada plot sepuluh kami hanya menjumpai Burguiera Sp. Sebanyak 44 pohon.spesies
ini hanya dijumpai pada plot 10 saja.hal ini dipengaruhi oleh tekstur tanah pada plot 10 itu
berbeda dengan plot lainnya.struktur tanah pada daerah plot 10 sudah berupa tanah.
Untuk menentukan jenis vegetasi apakah yang mendominasi daerah hutan mangrove
pada daerah ini dapat diketahui melalui perhitungan Indeks Nilai Penting. Suzana (2011)
dalam penelitiannya memaparkan bahwa “kondisi ekologis hutan mangrove dapat
diketahui dengan menggunakan beberapa jenis perhitungan, yaitu kerapatan jenis,
frekuensi jenis, luas area penutupan, dan Indeks Nilai Penting (INP) dari tiap jenis. Untuk
mencari nilai INP digunakan tiga perhitungan, yaitu nilai kerapatan tiap jenis, nilai
frekuensi tiap jenis, dan nilai dari penutupan tiap jenis.. Rhizophora apiculata dikatakan
sebagi pendominasi pada vegetasi ini ditandai dengan Indeks Nilai Penting (INP) sebesar
165,99.Indeks ini menunjukkan tingkat penguasaan suatu jenis terhadap jenis yang
lainnya, sehingga Rhizophora apiculata merupakan vegetasi mangrove yang mempunyai
pengaruh paling besar di kawasan hutan mangrove ini,spesies ini dapat dijumpai disetiap
plot kecuali plot 10.Sedangkan spesies dengan INP terendah adalah Ceriops tagal
dengan INP sebesar 24,4179.
Sedangkan untuk plot 5 x 5 meter untuk pancang (sapling).pada plot ini sapling
hanya dilakukan perhitungan kerapatan dan frekuensi relatif saja berdasarkan hasil
perhitungan, didapatkan nilai INP ( Indeks Nilai Penting) tertinggi terdapat pada jenis
Rhizophora apiculata sebesar 246,16% sedangkan untuk jenis Ceriops tagel sebesar
14,597% dan untuk jenis Bruguiera gymnorjiza 40,255%.pada plot 2x2 kami mengamati
semai.Disini kami menggambil data tentang cover.Berdasarkan hasil pengamatan untuk
cover terluas itu adalah Rhizophora apiculata dengan cover 226 % sedangkan untuk jenis
lainnya itu merata yaitu 1%.

Berdasarkan dari hasil pengamatan, indeks keanekaragaman Shannon-Wiener


menunjukkan bahwa semua memiliki nilai 1>H’<3 Angka ini menunjukkan
keanekaragaman jenisnya yg sedikit , kondisi ekosistem tidak seimbang, kondisi perairan
kurang stabil, dan tekanan ekologisnya rendah.menunjukkan bahwa vegetasi yang
tumbuh pada plot ini sangat sedikit dan tidak beragam.Setyawan et al. (2005)
menyatakan sedikitnya jumlah spesies mangrove disebabkan besarnya pengaruh
antropogenik yang mengubah habitat mangrove untuk kepentingan lain seperti
pembukaan lahan untuk pertambakan dan pemukiman. Heddy dan Kurniaty (1996) dalam
Suwondo (2006), menambahkan bahwa rendahnya keanekaragaman menandakan
ekosistem mengalami tekanan atau kondisinya mengalami penurunan. Hal ini bisa
disebabkan karena mangrove hidup pada lingkungan ekstrim seperti kadar garam yang
tinggi serta substrat yang berlumpur, oleh karena itu untuk dapat hidup harus melalui
seleksi yang sangat ketat dan daya adaptasi yang tinggi. Selain itu rendahnya nilai indeks
keanekaragaman mangrove bisa disebabkan karena aktifitas manusia. Hal ini bisa dilihat
dari aktifitas penebangan, pemanfaatan lokasi sekitar mangrove sebagai dermaga perahu
nelayan dan reklamasi pantai. Untuk mempertahankan keragaman yang tinggi, komunitas
memerlukan gangguan secara teratur dan acak. Komunitas yang sangat stabil, meluas
secara regional, dan homogen, memperlihatkan keragaman jenis lebih rendah daripada
yang terdiri dari hutan bentuk mosaik atau secara regional diganggu pada waktu tertentu
baik oleh api, angin, banjir,penyakit, dan intervensi manusia.

Mendominasinya tumbuhan Rhizophora capiculata. di area ini menunjukkan bahwa


spesies ini memang lebih mampu beradaptasi dengan baik dan umumnya memang
terdapat pada zone terdepan dari barisan mangrove yang menghadap langsung ke laut.
Pada sebagian besar hutan mangrove yang sudah dipengaruhi kegiatan manusia
(antropogenik) pada umumnya zonasi sulit ditentukan, selain itu zonasi mangrove juga
bisa dipengaruhi tingginya sedimentasi dan perubahan habitat. Dalam hal ini ketersediaan
propagul diduga lebih berpengaruh dalam proses reproduksi, mangrove akan
bereproduksi apabila kondisi lingkungan cocok atau sesuai. Hal ini berkaitan dengan daya
adaptasi mangrove terhadap kondisi yang ekstrim dimana beting lumpur baru akan
didominasi tumbuhan yang propagulnya paling banyak sampai di tempat tersebut
(Djohan, 2001 dalam Setyawan, 2008). Dalam hal ini daya adaptasi yang tinggi
ditunjukkan oleh Rhizophora capiculata.
3. Kesimpulan

Pada lokasi pengamaatan di Kawasan mangrove Teluk Buo terdapat 4 spesies yaitu ,
Rhizophora apiculata, Dolicandrone falcata, Burguiera Sp.dan Ceriops tagal.

1. Pada lokasi pengamatan jenis tanaman yang mendominasi adalah Rhizophora


apiculata dengan nilai INP 165,99 %, Rhizophora apiculata memiliki akar yang
mampu menahan terpaan ombak sehingga banyak tumbuh dan mendominasi lokasi
pengamatan yang berada pada bibir pantai
2. Struktur tanah lokasi pengamatan adalah berpasir dengan campuran lumpur dan
serasah.
3. Berdasarkan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener semua memiliki tingkat
keanekaragaman rendah.

Daftar Pustaka

Arisandi, P. 2001. Mangrove Jawa Timur, hutan pantai yang terlupakan.


Gresik:Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON).

Bengen, D.G. (20000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir.Bogor.Pusat


kajian Sumberdaya Pesisir dan lautanInstitut Pertanian Bogor.

Bengen, D.G (2001). Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.
Bogor .Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir Lautan – Institut Pertanian Bogor.

Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Padang, 2004. Monitoring Ekosistem Pesisir Kawasan Teluk
Bungus, Padang. Sumatera Barat.

Elva, N. M., I. L. E. Putri dan Rizki. 2013. Profil Hutan Mangrove Teluk Buo
Kecamatan Bungus Teluk Kabung Kota Padang. Program Studi Pendidikan Biologi STKIP
PGRI Sumatera Barat. Jurnal. 3(2): 1-5.

Harahab, N. 2006. Pengaruh Ekosistem Hutan Mangrove terhadap Produksi

Perikanan Tangkap (Studi Kasus di Kabupaten Pasuruan Jawa Timur). Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan. Universitas Brawijaya Malang. Jurnal Perikanan. 11(1):

100-106.

Hinricks, S., Nordhaus, I. and Geist, S.J. 2008. Status, diversity, and distribution patterns
of mangrove vegetation in the Segara Anakan lagoon, Java, Indonesia. Reg. Environ
Change 9: 275-289.

Noor, Y. R., M. Khazali dan I. N. N. Suryadiputra, 1999. Panduan Pengenalan Mangrove


di Indonesia. Wetlends Internasional

Indonesia Programe. Bogor. 220

hal.

Onrizal, dan C. Kusmana. 2006. Komposisi Jenis dan Struktur Hutan Mangrove di Suaka
Margasatwa Pulau Rambut Teluk Jakarta. Departemen Kehutanan. Fakultas Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Peronema Forestry Science Journal. 2(2): (1-7).

Onrizal, dan C. Kusmana. 2008. Studi Ekologi Hutan Mangrove di Pantai Timur Sumatera
Utara. Departemen Kehutanan. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera

Utara. Jurnal Biodiversitas. 9(1): (25-29).


Sadat, A. 2004. Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indikator Kualitas Lingkungan
dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Panet Kabupaten Lampung

Timur Provinsi Lampung. Skripsi. Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Setyawan, A. D., K. Winarno, dan P. C. Purnama. 2003. REVIEW: Ekosistem

mangrove di Jawa: 1. Kondisi Terkini. Biodiversitas. 4 (2): 130-142.

Setyawan, A. D., Indrowuryatno, Wiryanto, K. Winarno, & A. Susilowati. 2005.

Tumbuhan mangrove di pesisir Jawa Tengah: 1. Keanekaragaman Jenis.

Biodiversitas. 6 (2): 90-94.

Suardi. 2006. Hutan Mangrove di Sumbar Mulai Rusak. Sumbar.antaranews.com

(http://www.antara news.com). dikunjungi 14 Oktober 2019

Suwondo., E. Febrita, dan F. Sumanti. 2006.

Struktur komunitas gastropoda di hutan mangrove di Pulau Sipora.

Jurnal Biogenesis. Vol. 2(1):25-29.

Yudha, I. G. 2007. Kerusakan wilayah pesisir Pantai Timur Lampung. Laporan Status
Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Lampung 2007. Program Studi Budidaya Perairan FP
Universitas Lampung. Lampung