Sei sulla pagina 1di 20

TINDAK PIDANA PENGHINAAN

TERHADAP PRESIDEN ATAU WAKIL PRESIDEN:


PERLUKAH DIATUR KEMBALI DALAM KUHP?

DEFAMATION AGAINST THE PRESIDENT OR VICE PRESIDENT:


SHOULD IT BE REGULATED IN THE CRIMINAL CODE?

Lidya Suryani Widayati


Pusat Penelitian Badan Keahlian DPR RI, Gedung Nusantara 1 Lantai 2,
Jalan Jendral Gatot Subroto, Jakarta Pusat 10270,
email: lidyadhi@yahoo.com, lidya.widayati@dpr.go.id.

Naskah diterima: 15 Agustus 2017


Naskah direvisi: 18 September 2017
Naskah diterbitkan: 30 November 2017

Abstract
Decision of the Constitutional Court No. 013-022/PUU-IV/2006, stated that Article 134, Article 136 bis, and
Article 137 of the Criminal Code on the defamation against the President or Vice President do not have binding
power or in other are not valid. The Court considered that these Articles may create legal uncertainty, inhibit the
right to freedom of expression of mind, spoken, written, and any expression and may also irrelevant to apply in
Indonesia which upholds human rights. However, the Criminal Code Bill, of 2015, has re-set (criminalization)
the act as a criminal offense that sparing off intense debate. This study does not examine the pros and cons debate
on the re-setting issue of defamation against the President or Vice President as criminal offense in the Criminal
Code Bill, but examines the issue from the point of criminalization policy. The analysis of the criminalization
policy concludes that this crime need not be regulated. It is in contradictory to the Constitution, especially
regarding the protection of human rights for every citizen. The explanation of this Article does not clearly state
the logic and reason behind the article on defamation against the President or Vice President.
Keywords: criminalization, defamation, Criminal Code Bill

Abstrak
Putusan Mahkamah Konstitusi No. 013-022/PUU-IV/2006, menyatakan bahwa Pasal 134, Pasal
136 bis, dan Pasal 137 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) tentang tindak pidana
penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden tidak lagi mempunyai kekuatan mengikat atau
dengan kata lain sudah tidak berlaku lagi. Dalam pertimbangannya, Mahkamah Konstitusi (MK)
menilai bahwa Pasal-Pasal ini dapat menimbulkan ketidakpastian hukum, menghambat hak atas
kebebasan menyatakan pikiran, dengan lisan, tulisan, dan ekspresi, dan sudah tidak relevan lagi
untuk diterapkan di Indonesia yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Namun, Rancangan
Undang-Undang (RUU) KUHP tahun 2015, mengatur kembali perbuatan tersebut sebagai tindak
pidana sehingga menimbulkan perdebatan berbagai pihak. Tulisan ini tidak mengkaji mengenai
perdebatan pro dan kontra atas dirumuskannya kembali substansi tentang penghinaan terhadap
Presiden atau Wakil Presiden dalam RUU KUHP, melainkan mengkajinya dari sudut kebijakan
kriminalisasi. Analisis dari kebijakan kriminalisasi menyimpulkan bahwa tindak pidana ini tidak perlu
diatur lagi karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD NRI Tahun 1945), terutama dalam hal jaminan atas Hak Asasi Manusia (HAM) bagi
setiap warga negara. Penjelasan Pasal RUU KUHP yang merumuskan tindak pidana penghinaan
terhadap Presiden atau Wakil Presiden tersebut tidak menyebutkan secara jelas kepentingan apa
yang ada di balik pengaturan penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden.
Kata kunci: kriminalisasi, penghinaan, RUU KUHP

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 215


I. PENDAHULUAN negara merdeka, atau tidak mempunyai arti
MK melalui Putusannya No. 013-022/ lagi, harus dianggap seluruhnya atau sebagian
PUU-IV/2006 menyatakan bahwa Pasal sementara tidak berlaku.” Terkait ketentuan
“penghinaan terhadap Presiden” (Pasal 134, Pasal V tersebut, Sahetapy memandang bahwa
Pasal 136 bis, dan Pasal 137 KUHP) tidak lagi Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 KUHP
mempunyai kekuatan mengikat atau dengan dalam era demokrasi reformasi tidak lagi relevan
kata lain sudah tidak berlaku lagi. MK menilai dan hilang raison d’etre-nya.2
bahwa pasal-pasal ini dapat menimbulkan Dengan dibatalkannya pasal-pasal
ketidakpastian hukum (rechtsonzekerheid) penghinaan terhadap presiden atau wakil
karena rentan akan multitafsir serta berpeluang presiden maka sesungguhnya saat ini pasal-
menghambat hak atas kebebasan menyatakan pasal tersebut telah hilang dari KUHP.
pikiran dengan lisan, tulisan dan ekspresi. Namun dalam perkembangannya, terdapat
Dalam pertimbangannya, MK juga menilai kriminalisasi penghinaan terhadap presiden
bahwa Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 atau wakil presiden dalam RUU KUHP.
KUHP juga dirasa tidak relevan lagi untuk Meskipun Presiden Joko Widodo menjamin
diterapkan di Indonesia yang menjunjung tinggi niat ”menghidupkan” kembali pasal tentang
hak asasi manusia sebagaimana secara tegas penghinaan terhadap presiden atau wakil
telah ditentukan dalam UUD NRI Tahun 1945. presiden bukan untuk membungkam rakyat
Dua orang ahli yang dihadirkan dalam namun justru untuk melindungi mereka yang
persidangan MK, Mardjono Reksodiputro kerap mengkritik pemerintah lewat cara
dan J.E. Sahetapy memandang bahwa pasal- yang baik demi kepentingan umum. Namun,
pasal tentang penghinaan terhadap presiden diaturnya kembali tindak pidana ini telah
dan wakil presiden tidak perlu diberlakukan menimbulkan perdebatan.3
lagi. Mardjono berpendapat bahwa dalam Beberapa pihak yang setuju antara lain
hal penegakan pasal-pasal tersebut, arti Pakar Hukum Universitas Islam Sumatera
penghinaan harus mempergunakan pengertian Utara, Zulfirman, yang berpendapat bahwa
yang berkembang dalam masyarakat tentang presiden adalah kepala negara sekaligus kepala
Pasal 310-Pasal 321 KUHP (mutatis mutandis). pemerintahan, juga menjadi simbol Negara
Menurut Mardjono, tidak perlu lagi ada tindak Indonesia yang berdaulat. Di sisi lain, presiden
pidana penghinaan khusus terhadap presiden juga lekat dengan kepentingan dan kekuasaan
atau wakil presiden, dan cukup dengan negara sehingga perlu norma hukum yang
adanya Pasal 310-Pasal 321 KUHP. Mardjono mengatur tentang martabat dan kehormatannya
juga menegaskan bahwa dalam suatu negara agar tetap terjaga dengan baik. Pakar lain yang
republik, kepentingan negara tidak dapat setuju adalah Pakar Hukum Pidana Universitas
dikaitkan dengan pribadi presiden atau wakil Krisnadwipayana, Indriyanto Seno Adji, yang
presiden, seperti yang berlaku untuk pribadi berpendapat bahwa pasal tentang penghinaan
raja dalam suatu negara kerajaan. 1 terhadap presiden atau wakil presiden dalam
Sahetapy juga berpendapat bahwa perlu RUU KUHP tidak perlu dicabut dan harus tetap
diingat Pasal V Oendang-Oendang No. 1 Tahun dipertahankan karena secara universal aturan
1946 yang merupakan toets steen (batu penguji) tentang penghinaan terhadap kepala negara
tentang relevansi dan raison d’etre pasal-pasal ataupun simbol-simbol kenegaraan hingga kini
KUHP. Pasal V Oendang-Oendang No. 1 masih tetap dipertahankan. Menurut Indriyanto,
Tahun 1946 dimaksud menyatakan, “Peraturan 2
Ibid.
hukum pidana yang seluruhnya atau sebagian 3
Gunoto Saparie, “Pasal Penghinaan terhadap Presiden”,
sekarang tidak dapat dijalankan, atau bertentangan http://www.solopos.com/2015/08/11/gagasan-pasal-
dengan kedudukan Republik Indonesia sebagai penghinaan-terhadap-Presiden-631927, Selasa, 11
Agustus 2015 | 15:27 WIB, diakses tanggal 11 Januari
1
Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006. 2017.

216 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


Pemerintah juga telah melaksanakan amanat dibuat untuk melindungi dan menjaga martabat
putusan MK karena telah mengubah delik pasal Raja dan Ratu Belanda yang berfungsi sebagai
penghinaan terhadap presiden dan wakil presiden lambang negara atau simbol negara. Sementara
yang semula delik formil menjadi delik materiil.4 Indonesia merupakan negara dengan sistem
Sementara pihak yang tidak setuju di presidensil di mana presiden berlaku sebagai kepala
antaranya adalah Ketua Presidium Indonesia negara dan kepala pemerintahan dengan simbol
Police Watch (IPW) Neta S. Pane, berpendapat Negara Indonesia adalah Garuda Pancasila.7
bahwa pencantuman pasal penghinaan kepada Menurut Arsil, Indonesia menganut sistem
presiden atau wakil presiden dalam RUU berbeda, presiden bukan lambang negara,
KUHP dianggap telah melanggar konstitusi melainkan kepala negara dan kepala pemerintahan.
dan legalitasnya dipertanyakan karena MK Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang
telah mencabut pasal serupa dalam KUHP. tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara
Selain Neta S. Pane, beberapa Anggota serta Lagu Kebangsaan jelas menyebut lambang
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga tidak negara ialah Garuda Pancasila, bukan presiden.
sependapat jika pasal penghinaan terhadap Dalam sistem presidensial, sulit dibedakan
presiden dan wakil presiden dimasukkan antara murni tindakan penghinaan terhadap
dalam RUU KUHP, di antaranya Eva Kusuma presiden dengan bentuk kekecewaan terhadap
Sundari, Anggota DPR dari F-PDIP yang pemerintah. Oleh karena itu, Arsil menilai pasal
menilai pasal penghinaan kepada presiden akan penghinaan terhada presiden berbahaya karena
menghidupkan politisi “penjilat” selain juga berpotensi digunakan rezim berkuasa ketika
dapat menurunkan kualitas demokrasi.5 diserang kritikan. Selain itu, menurut Arsil yang
Terkait dengan pendapat bahwa presiden menjadi pokok permasalahan adalah ancaman
sebagai simbol negara juga tidak dapat diterima hukuman yang diatur dalam pasal penghinaan
oleh berbagai pihak. Wakil Ketua Komisi III tersebut, yakni lima tahun penjara bagi orang
DPR, Desmond J Mahesa misalnya menyatakan yang menghina presiden.8
bahwa simbol negara Indonesia adalah Garuda Jimly, ketua majelis hakim yang menghapus
Pancasila. Menurut Desmond, pasal-pasal pasal-pasal penghinaan terhadap presiden atau
tentang penghinaan terhadap presiden atau wakil presiden menyebutkan bahwa tindak
wakil presiden sudah dibatalkan MK. Selain pidana tersebut bagian dari sistem feodal yang
itu, pasal-pasal ini merupakan pengadopsian sudah tidak relevan lagi digunakan. Selain itu,
produk hukum negara Belanda yang dibentuk simbol negara menurut UUD NRI Tahun 1945
untuk menjaga martabat raja dan ratu dalam adalah Garuda Pancasila. Jimly juga menegaskan
pemerintahan parlementer. 6 bahwa presiden sebagai institusi negara yang
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian dan tidak memiliki perasaan maka tidak dapat
Advokasi untuk Independensi Peradilan (LeIP), terhina. Hal tersebut berbeda dengan presiden
Arsil, menyatakan bahwa dalam sistem parlementer secara pribadi yang sama seperti warga lainnya.9
Belanda, raja dan ratu merupakan simbol negara,
sedangkan pemerintahannya dipimpin oleh 7
Pan Mohamad Faiz, “Pencabutan Pasal Penghinaan
perdana menteri. Pasal penghinaan di negara ini Presiden, Presiden Tanpa Perisai?, http://jurnalhukum.
blogspot.co.id/2006/12/pencabutan-pasal-penghinaan-
4
Butje Tampi, “Kontroversi Pencantuman Pasal Presiden.html, diakses tanggal 11 Januari 2017.
Penghinaan Terhadap Presiden Dan Wakil presiden 8
Pan Mohamad Faiz, “Pencabutan Pasal Penghinaan
Dalam Kuhpidana Yang Akan Datang”, Jurnal Ilmu Presiden, Presiden Tanpa Perisai?, http://jurnalhukum.
Hukum, Vol. III, No.9, Agustus 2016, hal. 20-30. blogspot.co.id/2006/12/pencabutan-pasal-penghinaan-
5
Ibid. Presiden.html, diakses tanggal 11 Januari 2017.
6
Christie Stefanie, CNN Indonesia, “Pakar Hukum: Presiden 9
Christie Stefanie, CNN Indonesia, “Pakar Hukum: Presiden
Bukan Simbol Negara, Tak Perlu Pasal, http://www. Bukan Simbol Negara, Tak Perlu Pasal, http://www.
cnnindonesia.com/politik/20150806185919-32-70561/ cnnindonesia.com/politik/20150806185919-32-70561/
pakar-hukum-Presiden-bukan-simbol-negara-tak-perlu- pakar-hukum-Presiden-bukan-simbol-negara-tak-perlu-
pasal/, diakses tanggal 11 Januari 2017. pasal/, diakses tanggal 11 Januari 2017.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 217


Selain Jimly, Ahli Hukum Tata Negara mengurangi kebebasan mengekspresikan pikiran
Irmanputra Sidin, merujuk ketentuan dalam dan pendapat, kebebasan akan informasi, dan
Pasal 35 - Pasal 36B BAB XV UUD NRI Tahun prinsip kepastian hukum. Dengan demikian,
1945. Dalam BAB XV UUD NRI Tahun 1945 dalam RUU KUHP juga harus tidak lagi
disebutkan bahwa bendera negara Indonesia memuat pasal-pasal yang isinya sama atau mirip
ialah Sang Merah Putih, bahasa negara ialah dengan Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal
Bahasa Indonesia, lambang negara ialah Garuda 137 KUHP. Terlebih lagi, ancaman pidana
Pancasila dengan semboyan Bhineka Tunggal terhadap pelanggaran Pasal 134 paling lama
Ika, dan lagu kebangsaan ialah Indonesia Raya. enam tahun penjara dapat dipergunakan untuk
Selain itu, simbol negara juga diatur lebih menghambat proses demokrasi, khususnya
lanjut dalam UU No. 24 Tahun 2009 tentang akses bagi jabatan-jabatan publik yang
Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta mensyaratkan seseorang tidak pernah dihukum
Lagu Kebangsaaan. UUD NRI Tahun 1945 karena melakukan tindak pidana yang diancam
tidak disebutkan jika presiden atau wakil dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.12
presiden adalah bagian dari simbol negara.10 Menurut MK, pasal penghinaan
Pengaturan kembali tindak pidana presiden akan dapat menjadi hambatan bagi
penghinaan terhadap presiden atau kemungkinan untuk mengklarifikasi apakah
wakil presiden juga dikhawatirkan akan presiden atau wakil presiden telah melakukan
mengkerdilkan kebebasan berpendapat pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam
sebagai bagian dari HAM dan pengembangan Pasal 7A UUD NRI Tahun 194513 karena
demokrasi-demokratisasi. Menurut Yohanes upaya-upaya melakukan klarifikasi tersebut
tindak pidana penghinaan tersebut berpotensi dapat ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap
dijadikan ”senjata” oleh pemerintah menghadapi presiden atau wakil presiden.
penggunaan kebebasan berpendapat melalui MK dalam pertimbangannya juga
pers, mimbar umum, ataupun mimbar menegaskan bahwa tindak pidana penghinaan
akademik.11 terhadap presiden atau wakil presiden
Berdasarkan Putusan MK maka perintah seharusnya diberlakukan Pasal 310-Pasal 321
pembatalan pasal-pasal penghinaan terhadap KUHP manakala penghinaan (beleediging)
presiden atau wakil presiden tidak hanya ditujukan dalam kualitas pribadinya, dan Pasal
yang terdapat dalam KUHP melainkan juga 207 KUHP dalam hal penghinaan ditujukan
yang terdapat dalam RUU KUHP. Dalam kepada presiden atau wakil presiden selaku
pertimbangannya, MK berpendapat, Indonesia pejabat (als ambtsdrager).14 Dengan demikian,
sebagai suatu negara hukum yang demokratis, dibatalkannya Pasal 134, Pasal 136 bis, dan
berbentuk republik, dan berkedaulatan rakyat, Pasal 137 tidak berarti bahwa penghinaan
serta menjunjung tinggi hak asasi manusia kepada presiden atau wakil presiden menjadi
sebagaimana telah ditentukan dalam UUD dilegalkan. Pasal 310-Pasal 312 KUHP dapat
NRI Tahun 1945, tidak relevan lagi jika dalam diterapkan bagi setiap orang yang melakukan
KUHP-nya masih memuat pasal-pasal seperti penghinaan kepada presiden atau wakil presiden
Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Pasal 137 yang sebagai kualitas pribadi. Namun perbedaannya,
menegasi prinsip persamaan di depan hukum,
12
Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006.
10
Andi Saputra, “Soal Pasal Penghinaan Presiden, Apakah 13
Pasal 7A UUD NRI Tahun 1945 berbunyi, ”Presiden
Presiden Simbol Negara?”, http://news.detik.com/ dan/atau Wakil Presiden dapat diberhentikan dalam
berita/2986411/soal-pasal-penghinaan-Presiden-apakah- masa jabatannya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat
Presiden-simbol-negara, diakses tanggal 14 Agustus 2017. atas usul DPR, baik apabila terbukti telah melakukan
11
Usfunan, Yohanes., Kodifikasi RUU KUHP Dari Perspektif pelanggaran hukum berupa pengkhianatan terhadap
Legislative Drafting, Disampaikan Dalam Seminar Yang negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lainnya,
Diselenggarakan oleh Komisi III DPR RI Berkaitan atau perbuatan tercela maupun apabila terbukti tidak lagi
Dengan Pembahasan RUU KUHP (Buku II), Jakarta: 23- memenuhi syarat sebagai Presiden atau Wakil presiden”,
24 Agustus 2016. 14
Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006.

218 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


selain pidana yang diancam tidak seberat antara lain Jepang, penghinaan terhadap
ancaman pidana dalam Pasal 134, Pasal 136 kaisar, ratu, nenek suri, ibu suri, atau ahli
bis, dan Pasal 137, Pasal 310-Pasal 312 KUHP waris kekaisaran hanya dapat dituntut atas
merupakan “delik aduan” bukan “delik biasa”. dasar pengaduan. Article 232 (2) The Penal
Terkait dengan konstitusionalitas Pasal Code of Japan menentukan bahwa perdana
310-Pasal 321, dan Pasal 207 KUHP terhadap menteri akan membuatkan pengaduan atas
UUD NRI Tahun 1945, pada tahun 2008 para nama kaisar, ratu, nenek suri, ibu suri guna
Pemohon judicial review (Risang Bima Wijaya pengajuan penuntutan, dan apabila penghinaan
dan Bersihar Lubis), mendalilkan bahwa Pasal dimaksud dilakukan terhadap seorang raja atau
310 ayat (1), Pasal 310 ayat (2), Pasal 311 ayat presiden suatu negeri asing, maka wakil negeri
(1) KUHP tersebut bertentangan dengan Pasal yang berkepentingan itu yang akan membuat
28E ayat (2), Pasal 28E ayat (3), dan Pasal 28F pengaduan atas namanya. Penuntutan terhadap
UUD NRI Tahun 1945. Sedangkan, Pasal 207 pelaku pelanggaran atas Pasal 207 KUHP oleh
dan Pasal 316 KUHP didalilkan bertentangan aparat penyelenggara negara memerlukan
dengan Pasal 27 ayat (1), Pasal 28E ayat (2), penyesuaian di masa depan sejalan dengan
Pasal 28E ayat (3), dan Pasal 28F UUD NRI pertimbangan MK mengenai Pasal 134, Pasal
Tahun 1945.15 Namun melalui Putusan MK No. 136 bis, dan Pasal 137 KUHP tersebut.17
14/PUU-VI/2008, MK menolak permohonan Dengan adanya pengaturan kembali
judicial review tersebut dengan pertimbangan penghinaan terhadap presiden atau wakil
bahwa nama baik, martabat, atau kehormatan presiden dalam RUU KUHP maka mendorong
seseorang adalah salah satu kepentingan hukum penulis untuk mengkaji kebijakan tersebut
yang dilindungi oleh hukum pidana karena dari sisi kriminalisasi. Melalui kajian dari sisi
merupakan bagian dari hak konstitusional kriminalisasi maka penulisan ini pada akhirnya
warga negara yang dijamin baik oleh UUD NRI bertujuan untuk memberikan masukan kepada
Tahun 1945 maupun hukum internasional.16 pembentuk undang-undang mengenai perlu
Dalam kaitan dengan pemberlakuan Pasal atau tidaknya pasal penghinaan terhadap
207 KUHP bagi tindak pidana penghinaan Presiden atau Wakil Presiden diatur kembali
terhadap presiden atau wakil presiden dalam KUHP.
sebagaimana halnya dengan penghinaan Terdapat beberapa hasil penelitian ataupun
terhadap penguasa atau badan publik lainnya, kajian yang telah dilakukan oleh peneliti
seharusnya penuntutan terhadapnya dilakukan ataupun penulis lainnya yang khususnya
atas dasar pengaduan. Di beberapa negara berkaitan dengan penghinaan terhadap
presiden atau wakil presiden atau yang secara
15
Pasal 27 ayat (1) UUD RI Tahun 1945 menentukan
umum terkait dengan masalah penghinaan, baik
bahwa segala warga negara bersamaan kedudukannya di
dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung berupa penistaan, pencemaran nama baik, dan
hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada sebagainya. Butje Tampi misalnya, mengkaji
kecualinya. Selanjutnya Pasal 28E ayat (2) UUD RI masalah penghinaan terhadap presiden atau
Tahun 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak atas
wakil presiden dari perspektif politik dan sosial.
kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran
dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya. Pasal 28E ayat Dalam kajiannya tersebut, Butje menyatakan
(3) UUD RI Tahun 1945 menentukan bahwa setiap bahwa Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006
orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan selayaknya dikaji ulang dalam perspektif politik
mengeluarkan pendapat. Sedangkan Pasal 28F UUD RI
dan sosial, tidak hanya mengandalkan teori-
Tahun 1945 menentukan bahwa setiap orang berhak
untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk teori tentang HAM dalam kerangka individual.
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, Tampi menyimpulkan dalam tulisannya bahwa
serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, pasal penghinaan terhadap presiden atau wakil
menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi
presiden tetap perlu dicantumkan dalam RUU
dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
16
Putusan MK No. 14/PUU-VI/2008 17
Putusan MK No. 013-022/PUU-IV/2006.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 219


KUHP. Namun, harus menjadi delik materiil tindak pidana pencemaran nama baik dan
dan harus jelas perbuatan atau tindakan apa pertimbangan hakim dalam menjatuhkan sanksi
yang dapat dikategorikan sebagai penghinaan pidana terhadap pelaku tindak pidana tersebut.
terhadap presiden atau wakil presiden.18 Wildan juga menyebutkan bahwa pencemaran
Selanjutnya tulisan Zaqiu Rahman nama baik merupakan hasil dari penghinaan
menggambarkan kembali bagaimana perspektif yang merupakan character assassination dan
MK dalam memutuskan uji materi pasal-pasal pelanggaran hak asasi manusia.21
penghinaan terhadap presiden atau wakil Yulia Kurniaty, dkk, mengkaji tentang
presiden. Zaqiu merekomendasikan agar pasal- unsur-unsur apa saja yang harus terpenuhi agar
pasal penghinaan terhadap presiden atau wakil pelaku pencemaran nama baik melalui media
presiden dihapus di dalam RUU KUHP, karena online dapat dijatuhi sanksi pidana. Berdasarkan
mengingat putusan MK yang bersifat final dan hasil penelitian para penulis, pelaku pencemaran
mengikat. Namun apabila wacana pengaturan nama baik melalui media online dapat dipidana
pasal-pasal tersebut tetap dilanjutkan maka apabila memenuhi unsur objektif yang diatur
menurut Zaqiu “penghinaan” harus dirumuskan dalam Pasal 27 ayat 3 UU No. 11 Tahun 2008
secara lugas, tegas, dan tidak interpretatif, tentang Informasi dan Transaksi Elektronik jo.
sehingga akan meminimalisasi interpretasi di UU No. 19 Tahun 2016 tentang Perubahan
luar apa yang dimaksud di dalam UU dan tidak Atas UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi
berpotensi melangar HAM.19 dan Transaksi Elektronik, yaitu melakukan
Aditya Septian Wicaksono, dkk, dalam perbuatan mendistribusikan, mentransmisikan,
law review tentang “Kebijakan Hukum Pidana membuat dapat diaksesnya informasi elektronik
Terhadap Formulasi Perbuatan Pencemaran dan/atau dokumen elektronik yang memuat
Nama Baik Presiden Sebagai Perlindungan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.22
Simbol Negara” menyimpulkan bahwa pasal- Beberapa tulisan tersebut, meskipun juga
pasal pencemaran nama baik masih perlu secara khusus mengkaji mengenai pasal-pasal
dipertahankan. Sesuai dengan nilai budaya yang penghinaan terhadap presiden atau wakil
menganut ketimuran dan memandang bahwa presiden atau yang secara umum terkait dengan
presiden sebagai simbol negara maka pasal- “penghinaan”, namun tulisan-tulisan tersebut
pasal tentang pencemaran nama baik terhadap belum mengkajinya dari sudut pandang
presiden atau wakil presiden tetap harus ada kriminalisasi. Sementara dalam tulisan ini
terlebih lagi masih tetap dipertahankannya penulis memandang perlu mengkaji pasal-pasal
pasal-pasal penghinaan terhadap kepala negara tentang penghinaan terhadap presiden atau
sahabat.20 wakil presiden berdasarkan sudut pandang
Sedangkan Wildan Muchladun dalam kriminalisasi karena pertanyaan yang muncul
tulisannya menyampaikan mengenai terkait dengan apakah suatu perbuatan
bagaimana penerapan hukum pidana terhadap (penghinaan terhadap presiden atau wakil
presiden) layak ditetapkan atau tidak sebagai
18
Butje Tampi, “Kontroversi Pencantuman Pasal
tindak pidana adalah menyangkut kebijakan
Penghinaan Terhadap Presiden Dan Wakil presiden
Dalam Kuhpidana Yang Akan Datang”, Jurnal Ilmu kriminalisasi.
Hukum, Vol. III, No.9, Agustus 2016, hal. 20-30.
19
Zaqiu Rahman, “Wacana Pasal Penghinaan Presiden atau
Wakil presiden dalam RUU KUHP”, Jurnal Rechts Vinding
21

Wildan Muchladun, “Tinjauan Yuridis Terhadap Tindak
Online. Media Pembinaan Hukum Nasional. Pidana Pencemaran Nama Baik”, Jurnal Ilmu Hukum Legal
20
Aditya Septian Wicaksono, Sularto, dan Hasyim Asy’ari, Opinion, Edisi 6, Volume 3, Tahun 2015, hal. 1-8.
“Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Formulasi Perbuatan
22
Yulia Kurniaty, Agna Susila, dan Heni Hendrawati,
Pencemaran Nama Baik Presiden Sebagai Perlindungan “Unsur-Unsur Pidana Dalam Tindak Pidana Pencemaran
Simbol Negara”, Diponegoro Law Review, Vol. 5, No. 2 Nama Baik Melalui Media Online (Kajian Putusan Perkara
Tahun 2016, http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index. Dengan Terdakwa Florence Saulina Sihombing)”, The
php./dir/ 5th Urecol Proceeding, ISBN 978-979-3812-42-7, hal.
328-334.

220 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


II. TINDAK PIDANA PENGHINAAN dalam Memorie van Toelichting (MvT) dari pasal
TERHADAP PRESIDEN ATAU padanannya (berdasarkan asas konkordansi)
WAKIL PRESIDEN DALAM KUHP di Belanda, yaitu Pasal 111 WvS Belanda,
Tindak pidana penghinaan terhadap yang perumusannya serupa. Menurut W.A.M.
presiden atau wakil presiden diatur dalam Cremers (1980) pengertian ”penghinaan”
Bab II Buku II KUHP tentang Kejahatan- (belediging) mempunyai arti yang sama dengan
Kejahatan terhadap Martabat Presiden dan Pasal 261 WvS Belanda (Pasal 310 KUHP).
Wakil Presiden. Semula bab ini terdiri dari 11 Selanjutnya menurut C.P.M. Cleiren (1994)
pasal, namun berdasarkan Pasal VIII UU No. 1 mengatakan bahwa Pasal 111 WvS Belanda
Tahun 1946, 6 pasal dihapus karena mengatur (Pasal 134 KUHP) merupakan kekhususan
mengenai keluarga raja, yang di Indonesia tidak dari tindak pidana-tindak pidana dalam Bab
ada. Dengan demikian hanya terdapat 5 (lima) XVI WvS Belanda tentang Penghinaan (Bab
pasal, yaitu Pasal 131, Pasal 134, Pasal 136 bis, XVI KUHP tentang Penghinaan). Jadi arti
Pasal 137 dan Pasal 139.23 Sedangkan pasal- penghinaan Pasal 134 KUHP berkaitan dengan
pasal tentang penghinaan terhadap presiden arti penghinaan dalam Pasal 310 – Pasal 321
atau wakil presiden terdapat dalam Pasal 134, KUHP.26
Pasal 136 bis, dan Pasal 137. Terkait dengan masalah tafsiran atas
Menurut Cleiren, dikatakan terdapat “penghinaan”, Mardjono Reksodiputro
penghinaan (belediging; slander; defamation), mengemukakan bahwa dalam hal penegakan
apabila kehormatan (eer; honor) atau nama Pasal 134 KUHP dan Pasal 136 bis KUHP, arti
baik (goede naam; reputation) seseorang diserang “penghinaan” harus mempergunakan pengertian
(aanggerand; impugns). Sedangkan pengertian yang berkembang dalam masyarakat tentang
”kehormatan” merujuk kepada ”respect” (rasa Pasal 310 – Pasal 321 (mutatis mutandis).27 Arti
hormat) yang merupakan hak seseorang penghinaan dalam Pasal 134 KUHP yang dinilai
sebagai manusia. Selanjutnya pengertian ”nama berkaitan dengan arti penghinaan dalam Pasal
baik” merujuk pada ”mengurangi kehormatan 310 – Pasal 321 KUHP ini juga merupakan
seseorang di mata orang lain”. Mengenai apa penilaian dari beberapa Penulis lainnya,
yang merupakan ”sifat menghina” (beledigend R. Soesilo dan Sianturi misalnya. Menurut
karakter) tergantung pada norma-norma Soesilo, yang diartikan dengan penghinaan
masyarakat pada saat itu.24 adalah perbuatan-perbuatan macam apapun
Sedangkan mengenai masalah ”abscuur” juga yang menyerang nama baik, martabat
(kabur)25 arti ”penghinaan” dalam Pasal 134, atau keagungan presiden atau wakil presiden,
menurut Mardjono Reksodiputro, karena KUHP termasuk segala macam penghinaan yang
(terjemahan WvS Hindia Belanda 1918) tidak tersebut dalam bab XVI buku ke II KUHP,
mempunyai penjelasan otentik maka penjelasan yaitu Pasal 310 – Pasal 321.28 Sedangkan
Pasal 134 dan Pasal 136 bis KUHP harus dilihat Sianturi menyatakan bahwa karena pengertian
penghinaan atau bagaimana cara-caranya tidak
23

Wirjono Prodjodikoro, Tindak-Tindak Pidana Tertentu Di
disebutkan maka penghinaan yang dimaksud
Indonesia, Bandung: Refika Aditama, 2002, hal. 207.
24
Mardjono Reksodiputro, Tentang Penghinaan Terhadap dalam Pasal 134 harus diartikan sama dengan
Presiden Dan Wakil presiden Serta Kebebasan Memperoleh penghinaan yang diatur dalam Bab XVI Buku
Informasi, dalam Buku Menyelaraskan Pembaruan Hukum, ke II KUHP tentang Penghinaan.29
Jakarta: Komisi Hukum Nasional, 2009, hal. 57.
25
Menurut Mardjono, pengertian ”kabur” diukur
berdasarkan 2 patokan, yaitu: (1) bahwa seseorang
26
Ibid.
tidak dapat memastikan apakah perbuatannya dilarang
27
Ibid.
oleh undang-undang; dan (2) bahwa ”kekaburan”
28
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
peraturan tersebut menimbulkan penegakan hukum yang Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal,
sewenang-wenang (arbitrary enforcement). Baca Mardjono Bogor: Politeia Bogor, 1996, hal. 120.
Reksodiputro, ibid.
29
S.R. Sianturi, Tindak Pidana di KUHP Berikut Uraiannya,
Jakarta: tanpa nama penerbit, 2016, hal. 12.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 221


Mardjono Reksodiputro juga menegaskan agar tidak disalahgunakan, maka diperlukan
bahwa dengan mempertimbangkan perbaikan-perbaikan yaitu dirumuskan sebagai
perkembangan nilai-nilai sosial dasar delik materiil atau formil-materiil yang jelas
(fundamental social values) dalam masyarakat parameternya. Selain itu, agar tidak terjadi
demokratik yang modern maka tindak pidana disparitas putusan pengadilan perlu adanya
penghinaan tidak boleh lagi digunakan untuk harmonisasi antara KUHP dengan UU ITE
menghambat “kritik” dan “protes” terhadap terkait dengan bobot pidana yang diancamkan.32
kebijakan pemerintah pusat ataupun daerah Terdapat perbedaan antara Pasal 134
dan pejabat-pejabat pemerintah pusat ataupun dengan Pasal 310 KUHP yaitu bahwa Pasal
daerah. Dengan merujuk pada nilai-nilai sosial 310 merupakan pasal tentang penghinaan biasa
dasar dalam masyarakat demokratik yang yang dapat ditujukan kepada setiap orang dan
modern ini pula maka tidak perlu lagi ada tindak merupakan tindak pidana aduan. Sedangkan
pidana penghinaan khusus terhadap presiden Pasal 134 merupakan pasal tentang penghinaan
atau wakil presiden. Menurut Mardjono, dalam terhadap presiden atau wakil presiden dan
suatu negara republik maka kepentingan negara merupakan tindak pidana biasa. Menurut
tidak dapat dikaitkan dengan kepentingan Cleiren, pengaturan tersebut adalah karena
presiden atau wakil presiden, seperti yang ”...martabat Raja tidak membenarkan pribadi
berlaku untuk pribadi raja dalam suatu negara Raja bertindak sebagai pengadu (aanklager)”.
kerajaan. 30 Cleiren menyebutkan bahwa pribadi raja begitu
Selain yang dikemukakan Mardjono, dekat terkait (verweven) dengan kepentingan
“kritik” ataupun “protes” terhadap kebijakan negara (staatsbelang) sehingga martabat raja
pemerintah pusat ataupun daerah dan pejabat- memerlukan perlindungan khusus. Hal inilah
pejabat pemerintah pusat ataupun daerah yang merupakan alasan mengapa ada bab
tidak hanya rentan terhadap tafsir apakah dan pasal khusus untuk penghinaan terhadap
“kritik” ataupun “protes” tersebut merupakan raja. Tidak ditemukan rujukan, apakah alasan
penghinaan terhadap presiden atau wakil serupa dapat diterima di Indonesia, yang
presiden tetapi juga berpeluang menghambat mengganti kata ”raja” dengan presiden atau
hak atas kebebasan menyatakan pikiran dengan wakil presiden.33
lisan, tulisan dan ekspresi sebagaimana dijamin Dalam praktik, terjadi penyalahgunaan
Pasal 28D ayat (1), Pasal 28E ayat (2), dan ayat penerapan pasal-pasal tentang tindak pidana
(3), dan Pasal 28F UUD NRI Tahun 1945. penghinaan ataupun pasal-pasal tentang tindak
Mengenai penghinaan yang dapat ditujukan pidana penghinaan terhadap presiden atau wakil
kepada setiap orang sebagaimana diatur dalam presiden ini, yaitu untuk melindungi kepentingan
Pasal 310 – Pasal 321 KUHP terdapat 5 pemerintah yang diwakili oleh presiden atau
kualifikasi sebagai penghinaan, yaitu: menista wakil presiden. Konsep melindungi martabat
(smaad) baik menista secara lisan dan/atau presiden atau wakil presiden dalam pasal-pasal
secara tulisan; memfitnah (laster); penghinaan ini diartikan juga untuk melindungi kebijakan
ringan (eenvoudige belediging); mengadu secara pemerintah dari kritik. Oleh karena itu, setiap
memfitnah (lasterlijke aanklacht); dan tuduhan orang yang melakukan kritik dan demonstrasi
secara memfitnah (lasterlijke verdachtmaking). terhadap pemerintah akan dianggap melakukan
Kelima bentuk penghinaan tersebut adalah penghinaan terhadap presiden sekaligus
delik aduan yang secara eksplisit dinyatakan dianggap sebagai antipemerintah.34 Oleh
dalam Pasal 319 KUHP.31 Terkait dengan pasal-
32
Ari Wibowo, “Kebijakan Kriminalisasi Delik Pencemaran
pasal penghinaan ini, Ari Wibowo menyatakan
Nama Baik di Indonesia”, Pandecta, -Research Law Journal,
Vol. 7 No. 1, Januari 2012, hal. 1 – 12.
30
Mardjono Reksodiputro, Tentang Penghinaan…, hal. 58. 33
Mardjono Reksodiputro, Tentang Penghinaan…, hal. 58.
31
Eddy O.S. Hiariej, Prinsip-Prinsip Hukum Pidana, 34
Ignatius Haryanto, Kejahatan Negara, Jakarta: Elsam,
Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka, 2014, hal. 111.
2003, hal. 102-103.

222 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


karena itu, pasal-pasal ini sering disebut dengan pertimbangan hukum yang digunakan oleh MK
pasal-pasal lese majeste. Sesuai dengan praktik untuk mencabut Pasal 154 dan Pasal 155 KUHP
dan penggunaannya, lese majeste diartikan ini, antara lain yaitu pertama, bahwa kualifikasi
sebagai hukum yang bermaksud menempatkan tindak pidana dalam Pasal 154 dan Pasal 155
pemimpin negara tidak bisa diganggu gugat, KUHP adalah delik formil yang cukup hanya
atau tidak boleh dikritik.35 Pada masa Orde mensyaratkan terpenuhinya unsur adanya
Baru misalnya, pasal-pasal tentang penghinaan perbuatan yang dilarang tanpa mengaitkan
tersebut sering dijadikan jerat bagi warga dengan akibat dari suatu perbuatan. Akibatnya,
negara baik individu maupun kelompok yang rumusan kedua pasal ini menimbulkan
berseberangan dengan pemerintah.36 kecenderungan penyalahgunaan kekuasaan
Sejak Putusan MK tahun 2006 dan Putusan karena secara mudah dapat ditafsirkan menurut
MK tahun 2007, tindak pidana penghinaan selera penguasa. Selain itu, penuntut umum
terhadap presiden atau wakil presiden tidak perlu membuktikan apakah pernyataan
sebagaimana diatur dalam Pasal 134, Pasal 136 atau pendapat yang disampaikan oleh seseorang
bis dan Pasal 137 KUHP dan tindak pidana itu benar-benar telah menimbulkan akibat
menyatakan perasaan permusuhan, kebencian berupa tersebar atau bangkitnya kebencian
atau merendahkan terhadap Pemerintah atau permusuhan di kalangan khalayak ramai.
Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal Kedua, mengacu pada Wetboek van Strafecth
154 dan Pasal 155 KUHP dinyatakan “tidak di Belanda, yang merupakan sumber dari
mempunyai kekuatan mengikat”. KUHP, tidak terdapat ketentuan sebagaimana
Berdasarkan putusan MK tahun 2006 dirumuskan dalam Pasal 154 dan Pasal 155
maka penghinaan terhadap presiden apabila KUHP. Bahkan pada saat munculnya ide untuk
ditujukan pada pribadinya akan diterapkan merumuskan ketentuan demikian ke dalam
pasal-pasal penghinaan yang dimuat dalam KUHP Belanda pada abad ke-19, Menteri
Bab XVI Buku II KUHP. Namun, apabila Kehakiman Belanda ketika itu menyatakan
penghinaan terhadap presiden atau wakil bahwa pasal-pasal tersebut hanya berlaku
presiden bukan ditujukan kepada pribadinya sebagai kebutuhan masyarakat kolonial.
tetapi kepada kedudukannya sebagai penguasa, Sedangkan di Belanda sendiri, ketentuan
maka dapat diterapkan penghinaan terhadap tersebut dipandang tidak demokratis karena
penguasa yang diatur dalam Pasal 207 KUHP. bertentangan dengan ketentuan gagasan freedom
Selanjutnya hal-hal yang terkait dengan hak of expression and opinion. Dengan demikian,
mengemukakan atau menyampaikan pendapat menurut MK, nyatalah bahwa ketentuan Pasal
baik secara lisan maupun tulisan diperkuat 154 dan Pasal 155 KUHP menurut sejarahnya
dengan adanya Keputusan MK No. 6/ PUU/- memang dimaksudkan untuk menjerat tokoh-
5/2007 yang memutuskan untuk mencabut tokoh pergerakan kemerdekaan di Hindia
Pasal 154 dan Pasal 155 KUHP.37 Beberapa Belanda, sehingga telah nyata pula bahwa
kedua ketentuan tersebut bertentangan dengan
35
Human Rigths Watch, Kembali Ke Orde Baru Tahanan
Politik Di Bawah Kepemimpinan Megawati, 2003, dalam kedudukan Indonesia sebagai negara merdeka
Supriyadi Widodo Eddyono, Memutus Jerat Pasal-Pasal
Sang Ratu, Jurnal Konstitusi, Vol. 4, No. 1, Maret 2007, permusuhan, kebencian atau merendahkan terhadap
hal. 38. Pemerintah Indonesia, dengan maksud supaya isinya
36
Ignatius Haryanto, Kejahatan…, hal. 31. diketahui oleh umum, diancam dengan pidana penjara
37
Pasal 154 KUHP berbunyi: “Barangsiapa di muka umum paling lama empat tahun enam bulan atau pidana
menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”. (2)
merendahkan terhadap Pemerintah Indonesia, diancam “Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut pada
dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun atau waktu menjalankan pencaharian dan pada saat itu belum
pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.” lewat lima tahun sejak pemidanaannya menjadi tetap
Pasal 155 KUHP berbunyi: (1) “Barangsiapa menyiarkan, karena melakukan kejahatan semacam itu juga, yang
mempertunjukkan atau menempelkan tulisan atau lukisan bersangkutan dapat dilarang menjalankan pencaharian
dimuka umum yang mengandung pernyataan perasaan tersebut”.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 223


dan berdaulat, sebagaimana Pasal 5 UU No. 1 by criminal law”.40 Kriminalisasi juga diartikan
Tahun 1946. sebagai suatu proses untuk menjadikan
Dalam putusannya, MK juga suatu perbuatan sebagai kejahatan, sehingga
mengemukakan bahwa Pasal 154 dan Pasal dapat dituntut dan menentukan bagaimana
155 KUHP dapat dikatakan tidak rasional, sanksinya.41
karena seorang warga negara dari sebuah Menurut Soerjono Soekanto kriminalisasi42
negara merdeka dan berdaulat tidak mungkin adalah tindakan atau penetapan penguasa
memusuhi negara dan pemerintahannya sendiri mengenai perbuatan-perbuatan tertentu yang
yang merdeka dan berdaulat, kecuali dalam oleh masyarakat atau golongan-golongan
hal makar. Namun, ketentuan tentang makar masyarakat dianggap sebagai perbuatan yang
sudah diatur tersendiri dalam pasal lain dan dapat dipidana menjadi perbuatan pidana43 atau
bukan dalam Pasal 154 dan Pasal 155 KUHP. menurut Soedarto kriminalisasi merupakan
suatu proses penetapan suatu perbuatan yang
III. KEBIJAKAN KRIMINALISASI semula bukan tindak pidana menjadi tindak
PENGHINAAN TERHADAP pidana. Proses ini diakhiri dengan terbentuknya
PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN undang-undang di mana perbuatan tersebut
DALAM RUU KUHP diancam dengan sanksi pidana.44 Dari beberapa
Dengan dibatalkannya pasal-pasal
penghinaan terhadap presiden atau wakil Ted Honderich, dalam Yenti Garnasih, Kriminalisasi
40

Pencucian Uang, Jakarta: Fakultas Hukum Pasca Sarjana


presiden melalui Putusan MK No. 013-022/ Universitas Indonesia, 2003, hal. 23.
PUU-IV/2006 maka dengan demikian pasal- 41 “There are three critical stages in the criminalization process.
pasal tersebut telah hilang dari KUHP. Namun, In the first, a determination is made as to what should be made
dalam perkembangannya, terdapat kriminalisasi criminal. Criminal law constrains an individuals freedom of
action; to do what is criminal invites a prosecution and, upon
penghinaan terhadap presiden dan wakil conviction, punishment in the second or grading stage, offices
presiden dalam RUU KUHP. RUU KUHP yang a fitted within a general scheme of crimes that indicate their
masuk ke DPR RI pada tahun 2015 memuat relative seriousness. The generally involves setting a punishment
kembali substansi tentang penghinaan terhadap for violation of the law. The severity of the penalty that is
attached to the crime indicates the seriousness that parliament or
presiden atau wakil presiden dalam Pasal 263 the courts have attached to the offence. Lastly, the criminal law
dan Pasal 264. will be applied in individual cases, with the particular sanction
Pada hakikatnya kebijakan kriminalisasi in each case, should the defendant be convicted, determined by
merupakan bagian dari kebijakan kriminal the particular fact and circumstances of the case, sebagaimana
Janet Dine & James Gobert, Cases & Materials on Criminal
dengan menggunakan sarana hukum pidana Law, dikutip dalam Yenti Ganarsih, ibid., hal. 23.
(penal) dan oleh karena itu termasuk bagian 42 Berlawanan dengan kriminalisasi adalah dekriminalisasi,
dari “kebijakan hukum pidana” (penal policy).38 yaitu suatu proses penghapusan sama sekali sifat dapat
Sedangkan mengenai pengertian kriminalisasi, dipidananya suatu perbuatan yang semula merupakan
tindak pidana. Pengertian dekriminalisasi harus
dalam Black’s Law Dictionary disebutkan dibedakan dengan pengertian depenalisasi, yaitu suatu
bahwa criminalization is the act or an instance of proses penghapusan ancaman pidana terhadap perbuatan
making a previously lawful act criminal, usually by yang semula merupakan tindak pidana, akan tetapi masih
passing a statute. Sedangkan Ted Honderich
39 dimungkinkan adanya penuntutan dengan cara lain yaitu
dengan melalui hukum perdata atau hukum administrasi.
mendefinisikan criminalization yaitu“making Soedarto, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung: Alumni,
a given behavior and the attendant formal and 2007, hal. 31-32.
informal processes and effect no longer punishable 43 Soerjono Soekanto, Kriminologi Suatu Pengantar, Jakarta,
Ghalia Indonesia, Cetakan Pertama, 1981, hal. 62.
44
Soedarto, Hukum dan Hukum Pidana, Bandung:
38
Barda Nawawi, Kapita Selekta Hukum Pidana, Bandung: Alumni, 2007, hal. 32 dan hal. 151. Baca Soedjono,
Citra Aditya Bakti, 2003, hal. 240. Pertanggungjawaban Dalam Hukum Pidana, Bandung:
39
Bryan A. Garner (Ed), Black’s Law Dictionary, Ninth Alumni, 1981, hal. 22. Muladi, Demokratisasi, Hak Asasi
Edition, USA: West. A. Thomson Reuters Business, Manusia, dan Reformasi Hukum di Indonesia, Jakarta: The
2009, hal. 431. Habibie Center, 2002, hal. 255.

224 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


pengertian mengenai kriminalisasi tersebut memaksimalkan kemanfaatan kepada negara
maka pengertian kriminalisasi dapat diartikan dan masyarakat.47
sebagai kebijakan penentuan suatu perbuatan Selanjutnya kecenderungan munculnya
sebagai tindak pidana dengan ancaman sanksi kebijakan paternalistik48 juga turut mempengaruhi
pidana. kebijakan kriminalisasi. Paternalisme adalah
Beberapa teori kriminalisasi telah lahir kebijakan pemerintah untuk bertanggung jawab
untuk menjawab persoalan tentang dasar terhadap urusan-urusan individu rakyatnya,
pembenaran kebijakan kriminalisasi. Teori- yaitu dengan cara menyalurkan kebutuhan-
teori kriminalisasi lahir sesuai dengan konteks kebutuhan mereka atau mengatur tingkah laku
sosialnya, artinya teori tersebut berusaha mereka secara paksa terutama melalui hukum
menjawab masalah-masalah yang dihadapi pidana.49 Paternalisme merupakan kebijakan
masyarakat sesuai dengan pemikiran dominan yang membatasi kebebasan individu untuk
yang hidup pada zamannya. kebaikan mereka sendiri.50
Ketika keberadaan hukum pidana Beberapa teori kriminalisasi lainnya seperti
sangat dipengaruhi oleh doktrin agama dan antara lain teori “analisis ekonomi dalam
moral, maka teori moral mempengaruhi hukum” (the economic analysis of law) dari
pemikiran hukum pidana, termasuk pemikiran Richard A. Posner,51 teori “kerugian” (harm)
mengenai kriminalisasi. Edmundson misalnya, dari John Stuart Mill dan Joel Feinberg,52
menyatakan bahwa sebuah tindakan dianggap 47

Douglas Husak, Overcriminalization-The Limits of The
salah bila tindakan itu bertentangan dengan Criminal Law, Oxford University Press, 2008, hal. 188.
tuntutan moral. Semua orang memiliki 48
Paternalisme adalah kebijakan pemerintah untuk
kewajiban moral untuk tidak melakukan bertanggungjawab terhadap urusan individu rakyatnya,
yang secara moral (dianggap) salah. Pendapat yaitu dengan cara menyalurkan kebutuhan-kebutuhan
mereka atau mengatur tingkah laku mereka secara paksa
ini mendeskripsikan hubungan logis antara terutama melalui hukum pidana. A government’s policy or
konsep-konsep kebersalahan secara moral, practice of taking responsibility for the individual affairs of
tuntutan moral, dan kewajiban moral dan its citizens, esp. by supplying their needs or regulating their
bisa dianggap sebagai kebenaran kecil (trivial) conduct in a heavyhanded manner, Bryan A. Garner (Ed),
Black’s Law Dictionary, Ninth Edition, USA: West. A.
atau sebagai ketetapan.45 Devlin beragumen Thomson Reuters Business, 2009, hal. 1241.
bahwa pengendalian terhadap perilaku amoral 49
A government’s policy or practice of taking responsibility for
adalah urusan hukum sepenuhnya dan dapat the individual affairs of its citizens, esp. by supplying their needs
dibenarkan berdasarkan alasan seperti yang or regulating their conduct in a heavyhanded manner, dalam
Bryan A. Garner (Ed), Black’s Law Dictionary, Ninth Edition,
digunakan dalam pengaturan terhadap tindakan USA: West. A. Thomson Reuters Business, 2009, hal. 1241.
subversif.46 50
Christian Coons and Michael Weber (eds.), Paternalism:
Munculnya ide rasionalisme dan Theory and Practice, Cambridge University Press, 2013,
utilitarianisme yang dimotori oleh Beccaria 283 pp., ISBN 9781107691964, Reviewed by Edward
Erwin, University of Miami.
dan Bentham juga menguasai pemikiran 51
Teori ekonomi dari Richard A. Posner menyatakan bahwa
hukum pidana saat itu, termasuk pemikiran larangan-larangan dasar dalam hukum pidana seharusnya
mengenai kriminalisasi. Teori Bentham diletakkan pada konsep-konsep efisiensi. Sebaliknya apa
misalnya, mengajarkan bahwa suatu tindakan yang seharusnya dilarang dalam hukum pidana adalah
perbuatan atau tindakan yang inefisien. Baca Richard A.
kriminalisasi adalah baik jika hal itu dapat Posner, An Economic Theory of the Criminal Law, dalam
Douglas Husak, Overcriminalization…, hal. 180.
45
William A. Edmundson, Privacy, Chapter 16 Part III 52
Menurut Mill, satu-satunya dasar pembenaran
Perennial Topics dalam buku Martin P. Golding and kriminalisasi adalah perbuatan seseorang yang merugikan
William A. Edmundson (Ed), The Blackwell Guide to the orang lain. Sedangkan Feinberg menyebutkan adanya dua
Philosophy of Law and Legal Theory, USA, UK, Australia: dasar pembenaran kriminalisasi, yakni untuk mencegah
Blackwell Publishing Ltd, 2005, hal. 274. atau mengurangi kerugian kepada orang lain dan untuk
46
H.L.A. Hart, Law, Liberty, and Morality, diterjemahkan mencegah serangan-serangan serius terhadap orang lain.
oleh Ani Mualifatul Maisah, Hukum, Kebebasan, dan Baca C.M.V. Clarkson, Understanding Criminal Law,
Moralitas, Yogyakarta: Genta Publishing, 2009, hal. vi. Suveat and Maxwell, London, 1998, hal 208.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 225


dan teori pelanggaran dari Feinberg (offence dari luar hukum (external constraint). Husak
principle)53 juga mempengaruhi pembentuk menegaskan bahwa kebijakan kriminalisasi
undang-undang dalam menentukan kebijakan harus memenuhi internal constraints antara lain
kriminalisasi. yaitu: perbuatan yang dilarang harus bersifat
Dari beberapa pemikiran mengenai jahat, ada kerugian nontrivial atau kerugian yang
teori-teori kriminalisasi maka ada beberapa tidak sepele, yang berat (the nontrivial harm or evil
kriteria yang dapat menjadi acuan dalam constraint); pembatasan karena kesalahan (the
menentukan kriminalisasi, antara lain, yaitu: wrongfulness constraint), pertanggungjawaban
perbuatan tersebut immoral (bertentangan pidana hanya dapat diberikan sesuai dengan
dengan tuntutan moral), perbuatan tersebut kesalahan yang dilakukan pelaku (prinsip
menimbulkan kerugian bagi orang lain, pemberian hukuman yang adil); adanya
perbuatan yang dilarang tersebut bertujuan perimbangan antara kesalahan dan sanksi
untuk melindungi orang-orang termasuk anak- pidana (proporsionalitas dalam pemidanaan);
anak dari kerugian potensial yang akan muncul dan kejahatan tersebut harus dapat dibuktikan
jika mereka melakukan perbuatan tersebut, (the burden of proof constraint).54
dan perbuatan tersebut tidak dimaafkan Husak juga mengemukakan mengenai
oleh sebagian besar masyarakat. Selain itu pentingnya memperhatikan kriteria-kriteria
prinsip ultimum remedium yaitu bahwa tidak di luar hukum pidana yang disebutnya
ada alternatif lain selain sanksi pidana untuk sebagai external constraint. Husak menegaskan
menghadapi tingkah laku yang ada juga bahwa pembentuk undang-undang harus
harus menjadi pertimbangan bagi pembentuk memperhatikan constraints mengenai dasar
undang-undang dalam menentukan kebijakan pembenaran pidana yang berasal dari Undang-
kriminalisasi. Undang Dasar yaitu pertama, mengenai hak
Berbeda dengan para ahli hukum pidana atau kebebasan yang fundamental, baik yang
yang sebagian menggali teori-teori kriminalisasi berasal dari Undang-Undang Dasar seperti
yang bersumber dari hukum pidana itu sendiri, hak menyatakan pendapat maupun hak yang
Husak juga mendasarkan teori kriminalisasi dari mendasar yang sudah mendarah daging dalam
luar hukum pidana. Menurut Husak, kekuasaan kebudayaan bangsa seperti pernikahan. Kedua,
negara dalam membuat aturan pidana tidak kebebasan yang non fundamental.55
hanya dibatasi oleh beberapa kriteria yang Terkait dengan pengaturan kembali pasal-
bersumber dari hukum pidana (yang disebut pasal penghinaan terhadap presiden atau wakil
Husak internal constraints) melainkan juga presiden maka dengan demikian juga dapat
dibatasi oleh kriteria-kriteria yang bersumber dianalisis berdasarkan external constraint dari
Husak terutama mengenai keharusan pembentuk
53
Dalam formulasi Feinberg tentang offense principle,
undang-undang memperhatikan UUD NRI
pelanggaran terdiri dari menyebabkan ketergangguan
pada perasaan orang lain (meskipun kepentingan mereka Tahun 1945. Dalam praktik, penerapan pasal-
tidak terganggu dengan cara sedemikian rupa sehingga 54
Ukuran untuk menimbang besar kecilnya kesalahan
menimbulkan kerugian). Gangguan terhadap perasaan
sangat erat kaitannya dengan jenis tindak pidana. Untuk
orang lain menjadi landasan prima facie untuk menegakkan
menyatakan suatu tindak pidana masuk dalam kategori
hukum pidana, asalkan ada orang dalam jumlah yang
berat atau ringan bergantung kepada 2 hal yaitu: nilai
memadai yang cukup terganggu. Kriminalisasi harus
kerugian materiil yang ditimbulkan sebagai akibat dari
didasarkan pada intensitas dan keluasan gangguan itu,
tindak pidana yang terjadi atau pandangan atau penilaian
pada apakah perilaku itu terjadi dalam keadaan dimana
masyarakat terhadap suatu perbuatan pada satu waktu
orang lain tidak selalu siap menghindari ketergangguan
tertentu. Oleh karena itu, para pembuat kebijakan
dari tindakan itu, dan pada nilai sosial dimana perilaku
selayaknya dapat merekam setiap perubahan yang terjadi
itu berada. Baca Andrew Von Hirsch And AP
dalam masyarakat sehingga dapat menakar jenis dan
Simester, Penalising Offensive Behaviour: Constitutive
ukuran sanksi yang selayaknya diancamkan atas suatu
And MediatingPrinciples, dalam Chapter 4, Andrew Von
tindak pidana tertentu. Keempat, A. Douglas Husak,
Hirsch And AP Simester, Incivilities: Regulating Offensive
Overcriminalization..., hal. 55 – 102.
Behaviour, Oxford and Portland, Oregon, 2006, hal. 117. 55
Ibid., hal. 99.

226 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


pasal tentang penghinaan terhadap presiden atau Mengacu pada ketentuan Pasal 19 para
wakil presiden lebih ditujukan untuk melindungi 3 Konvenan tersebut, Romli menyatakan
kepentingan atau kebijakan pemerintah yang bahwa ketentuan mengenai hak untuk bebas
diwakili oleh presiden atau wakil presiden dari menyatakan pendapat sebagaimana dalam
kritik. Dalam hal ini, setiap orang yang melakukan Pasal 28E UUD NRI Tahun 1945 tidak merujuk
kritik terhadap pemerintah akan dianggap kepada Pasal 19 International Covenant on Civil
melakukan penghinaan terhadap presiden atau and Political Rights (ICCPR) melainkan kepada
wakil presiden sehingga masyarakat tidak dapat Universal Declaration of Human Rights (UDHR)
menggunakan haknya untuk menyampaikan 1948. Sedangkan ICCPR itu sendiri merupakan
pendapat. derivatif dari UDHR. Hal ini memberikan
Sementara hak berekspresi ataupun hak peluang untuk dapat menimbulkan perbedaan
menyampaikan pendapat merupakan HAM tafsir yang cukup signifikan dalam implementasi
yang dijamin UUD NRI Tahun 1945. Menurut hak untuk bebas menyampaikan pendapat
Mardjono Reksodiputro, karena sifat HAM terutama terhadap arti dan makna kalimat
melekat pada martabat sebagai manusia “hak dan kebebasan” di dalam UUD NRI
(inherent dignity of men) maka hak-hak ini tidak Tahun 1945 yang diadopsi dari UDHR tanpa
dapat dihapuskan atau dicabut (inalienable memberikan rambu-rambu yang jelas sejalan
rights) dan karena itu pula tidak boleh dilanggar dengan Pasal 19 para 3 Konvenan.58 Dengan
(inviolable).56 Romli Atmasasmita menegaskan kata lain bahwa restriksi (pelarangan atau
bahwa hak untuk bebas menyampaikan pembatasan) terhadap kebebasan menyatakan
pendapat dengan lisan, tulisan dan ekspresi pendapat hanya dapat dilakukan berdasarkan
(the right to freedom of expression sebagaimana undang-undang demi menghormati hak-hak
ketentuan Pasal 19 para 2 Konvenan dan Pasal dan reputasi orang lain dalam rangka melindungi
29E UUD NRI Tahun 1945) merupakan hak keamanan nasional atau ketertiban umum
dasar yang memerlukan perhatian dan sangat (public order) atau kesehatan atau kesusilaan
krusial dalam perkembangan politik dan umum. Bagaimana dengan ketentuan tentang
praktik hukum di Indonesia. Namun demikian, penghinaan terhadap presiden atau wakil
Romli menyatakan bahwa hak tersebut presiden sebagaimana diatur dalam Pasal 263
tidak dielaborasi lebih dalam sehingga telah dan Pasal 264 RUU KUHP, apakah memenuhi
diabaikan substansi ketentuan Pasal 19 para 3 pembatasan tersebut.
3 Konvenan. Sedangkan ketentuan Pasal 19 Pasal 263 ayat (1) RUU KUHP
para 3 merupakan kunci solusi bagi banyaknya menyebutkan bahwa setiap orang yang di muka
perbedaan tafsir atas hak dasar ini. Pasal 19 umum menghina Presiden atau Wakil Presiden,
para 3 menegaskan: dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
“the exercise of the rights…carries with it special (lima) tahun atau pidana denda paling banyak
duties and responsibilities. It may therefore be subject Kategori IV. Selanjutnya pada ayat (2) Pasal
to certain restrictions, but these shall only be such ini menentukan bahwa tidak merupakan
as are provided by law and are necessary: (a) for penghinaan jika perbuatan sebagaimana
respect of the rights or reputations of others; (b) for dimaksud pada ayat (1) jelas dilakukan untuk
the protection of national security or of public order kepentingan umum atau pembelaan diri.
(ordre public), or of public health or morals.” 57 Selanjutnya Pasal 264 RUU KUHP memuat
rumusan bahwa setiap orang yang menyiarkan,
56
Mardjono Reksodiputro, Bunga Rampai Permasalahan mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan
Dalam Sistem Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan atau gambar sehingga terlihat oleh umum,
Buku Kelima, Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan
atau memperdengarkan rekaman sehingga
Pengabdian Hukum Universitas Indonesia, 1987, hal.
161. terdengar oleh umum, yang berisi penghinaan
57
Romli Atmasasmita, Pengantar Hukum Pidana Internasional. 58
Ibid., hal. 6.
Bagian II, Jakarta: Hecca Mitra Utama, 2004, hal. 5.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 227


terhadap presiden atau wakil presiden dengan yang dimaksud “menghina” adalah perbuatan
maksud agar isi penghinaan diketahui atau apapun yang menyerang nama baik atau
lebih diketahui umum, dipidana dengan pidana martabat presiden atau wakil presiden di
penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana muka umum. Penjelasan yang tidak jelas ini
denda paling banyak Kategori IV. akan mengakibatkan tidak adanya kepastian
Jika mengacu pada penjelasan tentang hukum serta akan mengakibatkan tindakan
penghinaan dalam penjelasan Pasal 263 sewenang-wenang dari aparat penegak hukum
RUU KUHP59 maka yang dimaksud dengan karena tafsir atas “perbuatan apapun” menjadi
“menghina” dalam pasal ini dapat dikatakan tergantung kepada tafsir dan interpretasi aparat
kabur (obscur). Dalam hal ini, tidak ada penegak hukum.
penyebutan secara tegas, pasti dan limitatif Dalam konteks negara demokrasi, penting
tentang perbuatan apa yang diklasifikasikan mempertanyakan relevansi pemberian sanksi
sebagai penghinaan. Penjelasan Pasal 263 pidana terhadap kasus-kasus pencemaran
RUU KUHP hanya menyebutkan bahwa nama baik ataupun penghinaan. Di negara-
negara yang secara konsisten menerapkan
59
Penjelasan Pasal 263 RUU KUHP menyebutkan bahwa
yang dimaksud dengan “menghina” adalah perbuatan demokrasi, pasal-pasal pencemaran nama
apapun yang menyerang nama baik atau martabat baik dalam hukum pidana dianggap sebagai
Presiden atau Wakil Presiden di muka umum. Dalam ancaman terhadap kebebasan berekspresi. Oleh
penjelasan pasal ini juga disebutkan bahwa termasuk
sebab itu, tindakan yang dianggap merugikan
penghinaan adalah menista dengan surat, memfitnah,
dan menghina dengan tujuan memfitnah. Penghinaan reputasi seseorang, biasanya akan dimintai
terhadap orang biasanya merupakan tindak pidana pertanggungjawaban melalui hukum perdata,
aduan, akan tetapi penghinaan terhadap presiden bukan pidana. Di Amerika Serikat (AS)
atau wakil presiden dapat dituntut dengan tidak perlu
misalnya, tidak dikenal pertanggungjawaban
ada pengaduan. Pasal ini tidak dimaksudkan untuk
meniadakan atau mengurangi kebebasan mengajukan pidana untuk tindakan pencemaran nama baik
kritik ataupun pendapat yang berbeda dengan yang atau penghinaan, karena dianggap bertentangan
dianut presiden atau wakil presiden. Penjelasan pasal ini dengan First Amandement dalam Konstitusi AS
juga menegaskan bahwa penghinaan pada hakikatnya
yang menjamin kebebasan berpendapat dan
merupakan perbuatan yang sangat tercela (dilihat dari
berbagai aspek: moral, agama, nilai-nilai kemasyarakatan kebebasan pers. Hal ini semakin tegas setelah
dan nilai-nilai HAM/kemanusiaan), karena “menyerang/ muncul putusan Mahkamah Agung AS dalam
merendahkan martabat kemanusiaan” (menyerang nilai- kasus New York Times v. Sullivan pada 1964.60
universal); oleh karena itu, secara teoritik dipandang
Putusan Mahkamah Agung AS
sebagai “rechtsdelict”, “intrinsically wrong”, “mala per se”
dan oleh karena itu pula dilarang (dikriminalisasi) di menyebutkan bahwa pejabat pemerintah, hanya
berbagai negara. Selanjutnya penjelasan Pasal 263 RUU dapat meminta pertanggungjawaban media
KUHP juga memuat penjelasan bahwa dirasakan janggal atau mereka yang melontarkan pernyataan, jika
atau tidak sepadan jika penghinaan terhadap orang
mereka dapat membuktikan secara meyakinkan
biasa, orang yang sudah mati, bendera/lagu kebangsaan,
lambang kenegaraan, petugas/pejabat umum, dan kepala dan jelas bahwa yang dikatakan terhadap
negara sahabat saja dijadikan tindak pidana; sedangkan mereka secara faktual salah. Selain itu, pada
penghinaan terhadap presiden tidak; terlebih status/ saat hal itu dikatakan atau dipublikasikan,
posisi/kedudukan/fungsi/tugas presiden berbeda dengan
yang menyatakan atau mempublikasikan telah
orang biasa, dilihat dari sudut sosiologis, hukum dan
ketata-negaraan. Karena status/posisi presiden berbeda mengetahui bahwa hal itu kemungkinan salah.
dengan orang biasa pada umumnya, maka tidak pada Sejak keluarnya putusan tersebut, gugatan
tempatnya hal ini dihadapkan/dipermasalahkan dengan perdata pun sangat jarang diajukan terhadap
prinsip “equality before the law”. Apabila dipermasalahkan
kasus pencemaran nama baik. Sebab, penggugat
demikian, semua perbedaan jenis tindak pidana yang
didasarkan pada status/kualifikasi yang berbeda (seperti harus membuktikan apa yang disampaikan itu
terdapat dalam jenis-jenis penghinaan, pembunuhan, salah dan ada kesengajaan untuk menyatakan
penganiayaan, dsb.) juga berarti harus ditiadakan karena
dipandang bertentangan dengan prinsip “equality before 60
M. Halim, dkk, Menggugat Pasal-Pasal Pencemaran Nama
the law”. Baik, Jakarta: LBH Pers, 2009, hal. 27.

228 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


atau mempublikasikan hal itu walau telah cenderung menyebabkan kerugian finansial
diketahui bahwa itu salah.61 yang serius bagi suatu badan tersebut.65
Hal yang sama terjadi di Belanda, ketentuan Di Indonesia, melalui Putusan MK No. 013-
pencemaran nama baik dalam KUHP Belanda 022/PUU-IV/2006, MK menegaskan bahwa
telah berubah sejak 1978.62 Sebagian besar pasal-pasal mengenai penghinaan terhadap
negara maju lainnya juga telah menghapus presiden atau wakil presiden tidak relevan
tuntutan pidana karena penghinaan, karena lagi untuk diterapkan pada negara Indonesia
kekhawatiran bahwa pemerintah incumbent yang menjunjung tinggi hak asasi manusia
atau individu kuat lainnya dapat mempengaruhi sebagaimana secara tegas telah ditentukan
jaksa penuntut untuk menekan oposisi atau dalam UUD NRI Tahun 1945. Pasal-pasal
kritik mereka.63 mengenai penghinaan terhadap presiden atau
Norma hukum pidana terkait dengan wakil presiden menegasi prinsip persamaan
penghinaan, misalnya pencemaran nama baik, di depan hukum, mengurangi kebebasan
terutama berkaitan dengan perlindungan mengekspresikan pikiran dan pendapat,
reputasi. Reputasi yang baik sangat penting kebebasan akan informasi, dan prinsip kepastian
untuk rasa harga diri manusia, dan juga hukum. Dengan demikian, sebagaimana
merupakan hal berharga dalam bisnis. Norma Putusan MK maka RUU KUHP juga tidak
hukum ini, tidak hanya melindungi nama perlu lagi memuat pasal-pasal yang isinya
baik seseorang dan memperbaiki kerusakan, sama atau mirip dengan Pasal 134, Pasal 136
tetapi juga menghalangi publikasi pernyataan bis, dan Pasal 137 KUHP tentang penghinaan
penghinaan.64 Terkait dengan penghinaan, terhadap Presiden atau Wakil Presiden. Selama
mayoritas the Defamation Act 2013 yang kita masih menganut UUD NRI Tahun 1945
berkaitan dengan Inggris dan Wales dan yang memberikan jaminan hak atas kebebasan
beberapa ketentuan yang berkaitan dengan menyatakan pikiran/pendapat dengan lisan,
Skotlandia pada Bagian 1 the Defamation Act tulisan dan ekspresi maka selama itu pula tidak
2013 menetapkan bahwa sebuah pernyataan boleh ada pengaturan mengenai penghinaan
tidak memfitnah kecuali publikasi tersebut terhadap presiden atau wakil presiden.
telah menyebabkan atau kemungkinan akan Penegasan Putusan MK agar RUU
menyebabkan ‘bahaya yang serius’ terhadap KUHP tidak lagi memuat pasal-pasal tentang
reputasi penggugat. Selain itu, merusak penghinaan terhadap presiden atau wakil
reputasi suatu badan yang memperdagangkan presiden juga terkait dengan ketentuan Pasal
keuntungan tidak dianggap sebagai ‘bahaya 24C UUD NRI Tahun 1945 yang menentukan
serius’ kecuali jika telah menyebabkan atau bahwa pengujian MK atas undang-undang
terhadap Undang-Undang Dasar adalah
61
Ibid. bersifat final. Ketentuan ini ditegaskan kembali
62
Ibid.
63
Park Kyung Sin & You Jong-Sung, “Criminal Prosecutions
dalam Pasal 10 UU No. 24 Tahun 2003 tentang
For Defamation And Insult In South Korea With A MK bahwa pengujian MK atas undang-undang
Leflarian Study In Election Contexts”, Copyright (c) terhadap UUD NRI Tahun 1945 adalah bersifat
2017 East Asian Legal Studies Association, University final. Penjelasan Pasal 10 UU No. 24 Tahun
of Pennsylvania Law School, All Rights Reserved,
University of Pennsylvania Asian Law Review Spring,
2003 menyebutkan bahwa Putusan MK bersifat
2017, University of Pennsylvania Asian Law Review, 12 final artinya putusan MK langsung memperoleh
U. Pa. Asian L. Rev. 463 kekuatan hukum tetap sejak diucapkan dan
64
Ellyn Tracy Marcus, “Group Defamation and Individual
Actions: A New Look at an Old Rule”, 71 Cal. L. Rev. 65
Frank Cranmer, Fellow, St Chad’s College, Durham,
1532, California Law Review September (Approx. 32 Honorary Research Fellow, Centre for Law and Religion,
pages), 1983 Comment Ellyn Tracy Marcusa Copyright Cardiff University, Parliamentary Report, October 2013 -
1983 by the California Law Review, Inc.; Ellyn Tracy January 2014, COPYRIGHT © Ecclesiastical Law Society
Marcus. 2014, Ecclesiastical Law Journal (UK), 1 May 2014,
Ecclesiastical Law Journal, 16, 211-214.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 229


tidak ada upaya hukum yang dapat ditempuh. terhadap peraturan perundang-undangan
Selanjutnya Penjelasan Pasal 10 UU No. 8 tingkat tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar.67
Tahun 2011 tentang Perubahan Atas UU No. Dengan demikian, putusan judicial review atas
24 Tahun 2003 tentang MK menjelaskan lebih pasal-pasal penghinaan terhadap presiden
lanjut bahwa sifat final dalam putusan MK atau wakil presiden adalah demi menjaga agar
mencakup pula kekuatan hukum mengikat ketentuan pasal-pasal tersebut tidak melanggar
(final and binding). Dengan demikian, putusan prinsip hirarki dalam pembentukan norma
MK No. 013-022/PUU-IV/2006 yang telah hukum.
menyatakan bahwa Pasal 134, Pasal 136 bis, dan Sebagai hukum yang lebih tinggi atau
Pasal 137 KUHP bertentangan dengan UUD bahkan lebih tinggi serta paling fundamental
NRI Tahun 1945 harus dianggap tetap berlaku sifatnya, konstitusi itu sendiri merupakan
dan mengikat seluruh warga negara sepanjang sumber legitimasi atau landasan otorisasi
UUD NRI Tahun 1945 sebagai hukum dasar bentuk-bentuk hukum atau peraturan
(konstitusi) tidak mengalami perubahan. perundang-undangan lainnya. Sesuai dengan
Dalam suatu negara hukum, mengharuskan prinsip hukum yang berlaku universal, maka
adanya pengakuan normatif terhadap prinsip agar peraturan-peraturan yang tingkatannya di
supremasi hukum, yaitu bahwa semua masalah bawah Undang-Undang Dasar dapat berlaku
diselesaikan dengan hukum sebagai pedoman dan diberlakukan, peraturan-peraturan itu
tertinggi. Pengakuan normatif mengenai tidak boleh bertentangan dengan hukum yang
supremasi hukum terwujud dalam pembentukan lebih tinggi tersebut.68 Dengan demikian maka
norma hukum secara hirarki yang berpuncak norma hukum pidana yang diatur dalam KUHP
pada supremasi konstitusi. Dalam hal ini, sebagai bagian dari sistem hukum nasional
hukum dimaknai sebagai kesatuan hirarki harus bersifat hierarki dan memiliki jalinan
tatanan norma hukum yang berpuncak pada nilai sehingga membentuk sistem norma atau
konstitusi. Selain merupakan konsekuensi dari sistem nilai yang tidak terpisahkan dengan
konsep negara hukum, supremasi konstitusi sistem norma yang paling tinggi yaitu UUD
juga merupakan pelaksanaan demokrasi NRI Tahun 1945. Dalam hal ini, UUD NRI
karena konstitusi adalah wujud perjanjian Tahun 1945 menjadi sumber materiil dalam
sosial tertinggi. Oleh karena itu, aturan-aturan pembentukan norma-norma hukum termasuk
dasar konstitusional harus menjadi dasar dan pula norma-norma hukum pidana.
dilaksanakan melalui peraturan perundang- Selanjutnya sifat hukum pidana sebagai
undangan yang mengatur penyelengaraan ultimum remedium harus menjadi pertimbangan
negara dan kehidupan masyarakat.66 bagi pembentuk undang-undang. Jika ada
Selanjutnya, konsekuensi dari adanya sarana lainnya untuk mencapai tujuan maka
prinsip hirarki dalam pembentukan norma tidak perlu menggunakan hukum pidana
hukum adalah harus ada mekanisme yang sebagai sarana. Pada akhirnya jika hukum
menjaga dan menjamin agar prinsip tersebut pidana (kebijakan kriminalisasi) dipilih untuk
ditaati, tidak disimpangi atau dilanggar. mencapai tujuan maka pembentuk UU selain
Mekanisme untuk menjaga dan menjamin agar harus memperhatikan norma-norma dasar
prinsip hirarki tersebut ditaati yaitu dengan dalam konstitusi juga harus mempertimbangkan
adanya sistem pengujian secara judisial (judicial prinsip-prinsip dan kriteria dalam kebijakan
review) atas setiap peraturan perundang- kriminalisasi.
undangan terhadap peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi tingkatannya atau
67
Widayati, “Problem Ketidakpatuhan Terhadap Putusan
66
Jimly Asshiddiqie, Membangun Budaya Sadar Berkonstitusi, Mahkamah Konstitusi Tentang Pengujian Undang-
dalam Satya Arinanto dan Ninuk Triyanti (Editor), Undang”, Jurnal Pembaharuan Hukum, Vol. IV No. 1, hal.
Memahami Hukum. Dari Konstruksi sampai Implementasi, 1 – 14.
Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2011, hal. 222. 68
Jimly Asshiddiqie, Membangun Budaya …, hal. 218.

230 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


Mengacu pada UUD NRI Tahun 1945 mencegah orang ketiga bergaul atau berurusan
yang menjunjung tinggi hak asasi manusia dengannya.69 Kerusakan pada reputasi terletak
maka pengaturan kembali pasal-pasal pada efek pernyataan penghinaan tersebut di
mengenai penghinaan terhadap presiden benak orang-orang yang mendengar.70
atau wakil presiden akan menegasi prinsip Selanjutnya, terkait dengan pertimbangan
persamaan di depan hukum, mengurangi MK dalam Putusan MK No. 013-022/PUU-
kebebasan berpendapat dan mengemukakan IV/2006 yang membatalkan Pasal 134, Pasal
pikiran. Hukum pidana pada dasarnya 136 bis, dan Pasal 137 KUHP tentang tindak
telah memberikan perlindungan terhadap pidana penghinaan terhadap presiden atau
kehormatan dan nama baik setiap orang, wakil presiden sayangnya tidak memperhatikan
apa pun statusnya, dan kehormatan jabatan dan menilai pasal-pasal lain yang terkait,
publik atau penyelenggara negara dengan cara misalnya: ketentuan mengenai penghinaan
melarang melakukan perbuatan penghinaan, kepala negara sahabat dan wakil negara asing di
dengan segala bentuknya, yang menyerang Indonesia sebagaimana diatur dalam Pasal 142
kehormatan dan nama baiknya sebagaimana dan Pasal 143 KUHP. Dengan mengacu pada
selama ini diatur dalam Pasal 310 – Pasal 321 UUD NRI Tahun 1945 dan prinsip-prinsip
dan Pasal 207 KUHP. Substansi dalam Pasal dalam kebijakan kriminalisasi maka seharusnya
310 – Pasal 321 dan Pasal 207 KUHP juga ketentuan mengenai penghinaan kepala negara
telah dimuat kembali dalam RUU KUHP, sahabat dan wakil negara asing di Indonesia
yaitu dalam Bab XIX tentang Tindak Pidana juga tidak perlu lagi diatur dalam KUHP.
Penghinaan yang memuat larangan tindak Selain itu, perbuatan yang menyerang atau
pidana pencemaran (Pasal 540), fitnah (Pasal merusak integritas kepala negara sahabat dan
541, Pasal 542), penghinaan ringan (Pasal wakil negara asing di Indonesia sebagaimana
543, Pasal 544), pengaduan fitnah (Pasal 545, pula larangan terhadap pencemaran nama baik,
Pasal 546), persangkaan palsu (Pasal 547), dan penghinaan, hingga fitnah atau menista juga
pencemaran orang yang sudah meninggal (Pasal bertujuan untuk melindungi atau menegakkan
548, Pasal 549, Pasal 550). kehormatan dan nama baik setiap orang.
RUU KUHP juga telah memuat definisi
penghinaan yaitu bahwa yang dimaksud dengan IV. PENUTUP
perbuatan “penghinaan” adalah menyerang Tindak pidana penghinaan terhadap
kehormatan atau nama baik orang lain. Sifat dari presiden atau wakil presiden tidak perlu lagi
perbuatan pencemaran adalah jika perbuatan diatur dalam KUHP. Pasal-pasal yang mengatur
penghinaan yang dilakukan dengan cara tindak pidana ini pada dasarnya memuat
menuduh, baik secara lisan, tulisan, maupun substansi yang sama sebagaimana pasal-pasal
dengan gambar yang menyerang kehormatan penghinaan yang diatur dalam KUHP yang
dan nama baik seseorang, sehingga merugikan telah dibatalkan oleh MK karena dinilai
orang tersebut. Perbuatan yang dituduhkan bertentangan dengan UUD NRI Tahun 1945.
tidak perlu harus suatu tindak pidana. Dengan demikian juga berkaitan dengan arti
Pada kenyataannya definisi dari 69
Patrice S. Arend, “Defamation In An Age Of Political
“penghinaan” banyak bergantung pada Correctness: Should A False Public Statement That
temperamen zaman, pendapat kontemporer, A Person Is Gay Be Defamatory?”, 18 N. Ill. U. L. Rev.
moral dan kondisi sosial serta pandangan 99, Northern Illinois University Law Review Fall 1997,
masyarakat yang berbeda pula. Namun pada Copyright (C) 1997 Board Of Regents For Northern
Illinois University.
umumnya, penghinaan didefinisikan sebagai 70
Rodney A. Smola, Law of Defamation. Four common-
perbuatan yang merugikan reputasi orang law slander per se categories—Imputations of criminal
lain sehingga dapat menurunkan pandangan/ conduct—In general, November 2017 Update, Westlaw.
pendapat masyarakat terhadapnya atau © 2017 Thomson Reuters. No Claim to Orig. U.S. Govt.
Works.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 231


penghinaan dalam Pasal 310 – Pasal 321 KUHP. Cranmer, Frank. Fellow. St Chad’s College.
Pada dasarnya RUU KUHP juga memuat pasal- Durham. Honorary Research Fellow.
pasal penghinaan sebagaimana substansi dalam Centre for Law and Religion. Cardiff
Pasal 310-Pasal 321 KUHP. University. Parliamentary Report. October
Kebijakan kriminalisasi selain harus 2013 - January 2014. COPYRIGHT
memperhatikan kriteria mengenai layak atau © Ecclesiastical Law Society 2014.
tidaknya suatu perbuatan dirumuskan sebagai Ecclesiastical Law Journal (UK). 1 May
tindak pidana juga tidak boleh bertentangan 2014. Ecclesiastical Law Journal. 16.
dengan UUD NRI Tahun 1945 terutama Eddyono, Supriyadi Widodo. Memutus Jerat
dalam hal ini jaminan atas HAM bagi setiap Pasal-Pasal Sang Ratu. Jurnal Konstitusi.
warga negara. Jika konsensus yang disepakati Vol. 4. No. 1. Maret 2007.
dalam UUD NRI Tahun 1945 untuk menjamin
HAM tersebut runtuh karena diabaikan maka Kurniaty, Yulia. Agna Susila., dan Heni
runtuh pula legitimasi kekuasaan negara yang Hendrawati., “Unsur-Unsur Pidana Dalam
bersangkutan. Tindak Pidana Pencemaran Nama Baik
Pembentuk undang-undang pada dasarnya Melalui Media Online (Kajian Putusan
juga harus dapat membuktikan bahwa Perkara Dengan Terdakwa Florence
kriminalisasi penghinaan terhadap presiden Saulina Sihombing)”. The 5th Urecol
atau wakil presiden yang dirumuskan dalam Proceeding. ISBN 978-979-3812-42-7.
RUU KUHP juga harus memenuhi kepentingan Marcus, Ellyn Tracy. “Group Defamation and
negara (pemerintahan yang sah). Namun Individual Actions: A New Look at an Old
penjelasan pasal yang merumuskan tindak Rule”. 71 Cal. L. Rev. 1532. California Law
pidana tersebut tidak menyebutkan secara jelas Review September (Approx. 32 pages).
kepentingan apa yang ada di balik pengaturan 1983 Comment Ellyn Tracy Marcusa
penghinaan terhadap presiden atau wakil Copyright 1983 by the California Law
presiden. Review. Inc.; Ellyn Tracy Marcus.
Muchladun, Wildan. “Tinjauan Yuridis
Terhadap Tindak Pidana Pencemaran
Nama Baik”. Jurnal Ilmu Hukum Legal
DAFTAR PUSTAKA
Opinion. Edisi 6. Vol. 3. Tahun 2015.
Rahman, Zaqiu. “Wacana Pasal Penghinaan
Presiden atau Wakil presiden dalam RUU
Jurnal KUHP”. Jurnal Rechts Vinding Online. Media
Arend, Patrice S. “Defamation In An Age Pembinaan Hukum Nasional.
Of Political Correctness: Should A False Sin, Park Kyung. & You Jong-Sung. “Criminal
Public Statement That A Person Is Gay Prosecutions For Defamation And Insult
Be Defamatory?”. 18 N. Ill. U. L. Rev. 99. In South Korea With A Leflarian Study
Northern Illinois University Law Review In Election Contexts”. Copyright (c) 2017
Fall 1997. Copyright (C) 1997 Board Of East Asian Legal Studies Association.
Regents For Northern Illinois University. University of Pennsylvania Law School. All
Butje, Tampi. Kontroversi Pencantuman Pasal Rights Reserved. University of Pennsylvania
Penghinaan Terhadap Presiden Dan Wakil Asian Law Review Spring. 2017. University
presiden Dalam KUHPidana Yang Akan of Pennsylvania Asian Law Review. 12 U.
Datang. Jurnal Ilmu Hukum. Vol. 3. No. 9. Pa. Asian L. Rev. 463.
Agustus 2016.

232 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017


Smolla, Rodney A, Law of Defamation. Four Halim, M., dkk, Menggugat Pasal-Pasal
common-law slander per se categories— Pencemaran Nama Baik. Jakarta: LBH Pers.
Imputations of criminal conduct—In 2009
general. November 2017 Update. Westlaw. Hart, H.L.A. Law, Liberty, and Morality,
© 2017 Thomson Reuters. No Claim to diterjemahkan oleh Ani Mualifatul
Orig. U.S. Govt. Works. Maisah. Hukum. Kebebasan. dan Moralitas.
Wibowo, Ari. “Kebijakan Kriminalisasi Delik Yogyakarta: Genta Publishing. 2009.
Pencemaran Nama Baik di Indonesia”. Hiariej, Eddy O.S. Prinsip-Prinsip Hukum Pidana.
Pandecta-Research Law Journal. Vol. 7 No. Yogyakarta: Cahaya Atma Pustaka. 2014
1.
Hirsch, Andrew Von. and AP Simester.
Wicaksono, Aditya Septian, Sularto, dan Incivilities: Regulating Offensive Behaviour.
Hasyim Asy’ari. “Kebijakan Hukum Oxford and Portland. Oregon. 2006.
Pidana Terhadap Formulasi Perbuatan
Pencemaran Nama Baik Presiden Sebagai Husak, A. Douglas. Overcriminalization-
Perlindungan Simbol Negara”. Diponegoro The Limits of The Criminal Law. Oxford
Law Review. Vol. 5. No. 2 Tahun 2016. University Press. 2008.
http://www.ejournal-s1.undip.ac.id/index. Muladi. Demokratisasi, Hak Asasi Manusia, dan
php./dir/ Reformasi Hukum di Indonesia, Jakarta: The
Widayati. “Problem Ketidakpatuhan Terhadap Habibie Center, 2002.
Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Prodjodikoro, Wirjono. Tindak-Tindak Pidana
Pengujian Undang-Undang”. Jurnal Tertentu di Indonesia, Bandung: Refika
Pembaharuan Hukum. Vol. IV No. 1. Aditama, 2002.
Reksodiputro, Mardjono. Menyelaraskan
Buku Pembaruan Hukum, Jakarta: Komisi Hukum
Arif, Barda Nawawi. Kapita Selekta Hukum Nasional, 2009.
Pidana. Bandung: Citra Aditya Bakti. 2003.
Reksodiputro, Mardjono. Bunga Rampai
Arinanto, Satya. dan Ninuk Triyanti (Editor). Permasalahan Dalam Sistem Peradilan
Memahami Hukum. Dari Konstruksi sampai Pidana, Kumpulan Karangan Buku Kelima,
Implementasi. Jakarta: RajaGrafindo Jakarta: Pusat Pelayanan Keadilan dan
Persada. 2011. Pengabdian Hukum Universitas Indonesia,
Atmasasmita, Romli. Pengantar Hukum Pidana 1987.
Internasional. Bagian II. Jakarta: Hecca Soesilo, R. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Mitra Utama. 2004. (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya
C.M.V. Clarkson. Understanding Criminal Law. Lengkap Pasal Demi Pasal. Bogor: Politeia
Suveat and Maxwell. London. 1998. Bogor. 1996.

Garnasih, Yenti. Kriminalisasi Pencucian Uang. Sianturi, S.R. Tindak Pidana di KUHP Berikut
Jakarta: Fakultas Hukum Pasca Sarjana Uraiannya. Jakarta: tanpa nama penerbit.
Universitas Indonesia. 2003. 2016.

Golding, Martin P, and William A. Edmundson Soedarto. Hukum dan Hukum Pidana. Bandung:
(Ed). The Blackwell Guide to the Philosophy of Alumni. 2007.
Law and Legal Theory. USA. UK. Australia: Soekanto, Soerjono. Kriminologi Suatu
Blackwell Publishing Ltd. 2005. Pengantar. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Haryanto, Ignatius. Kejahatan Negara. Jakarta: Cetakan Pertama. 1981.
Elsam. 2003.

LIDYA SURYANI WIDAYATI: Tindak Pidana Penghinaan terhadap Presiden... 233


Soedjono. Pertanggungjawaban Dalam Hukum Supriyadi Widodo Eddyono dan Fajrimei
Pidana. Bandung: Alumni. 1981. A. Gofar. Menelisik Pasal-Pasal Proteksi
Negara dalam RUU KUHP: Catatan Kritis
Makalah terhadap Pasal-Pasal Tindak Pidana Ideologi.
Usfunan, Yohanes. Kodifikasi RUU KUHP Dari Penghinaan terhadap Matabat Presiden dan
Perspektif Legislative Drafting. disampaikan Wakil Presiden dan Penghinaan terhadap
dalam Seminar yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Jakarta: ELSAM dan Aliansi
Komisi III DPR RI Berkaitan Dengan Nasional Reformasi KUHP. 2007.
Pembahasan RUU KUHP. Jakarta: 23-24
Agustus 2016.

234 NEGARA HUKUM: Vol. 8, No. 2, November 2017