Sei sulla pagina 1di 9

PERANCANGAN ULANG TURBIN KAPLAN POROS VERTIKAL

DI PLTM PLUMBUNGAN

Rudi Saputra 1 , Taff Liichan 2


1, 2
Program Studi Teknik Mesin, Institut Sains dan Teknologi Nasional, Jakarta Selatan
Email: rudisaputra@yahoo.com

Abstract

Hydroelectric Power Plants (PLTA) in Indonesia have been around since 1926, and are
still operating today. The Indonesian government represented by PT. PLN (State Electricity
Company) will continue to maintain, operate and maintain old hydropower plants. So far, the
development and development of PLTMH in Indonesia still uses consultants / contractors and
its manufacturing is from overseas, even components (spare parts) are also still dependent on
the technology producers themselves, the majority of which are foreign countries. Imports
cannot be avoided, this results in us being vulnerable to several things, fluctuations in foreign
exchange rates, and dependence on foreign producers. But with the increasing understanding of
national resilience, especially in terms of national industrial independence, several national
companies began to carry out reconstruction and fabrication for hydroelectric power plants.
This is encouraging the author to learn to know, understand, how to plan the main parts of the
Kaplan Turbine which include: runner, shaft, spiral casing, stacker, draft tube. In this plan the
author focuses on calculating the main dimensions of the Kaplan Turbine. From the results of
the design and calculation, the appropriate type of turbine is Kaplan Turbine as an electric
generator drive in Plumbungan PLTM with installed power of 1.2 MW, maximum head of 21.16
meters and water discharge requirement of 7.68 m3 / sec. Plumbungan PLTM installation
consists of turbines, turbine supporting equipment, and turbine operation aids. The turbine
installation component consists of: suction pipe (penstock), turbine house (spiral casing),
runner, runner shaft, shaft support bearing and draft tube.

Keywords: Kaplan Turbine, Head, Power Turbine, Runner, Plumbungan PLTM Turbine
Caplane

PENDAHULUAN setempat, atau tidak masuk ke dalam jaringan listrik


Latar Belakang Masalah Jawa-Bali, sekarang ini baru tiga lokasi yang mulai
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di digarap untuk pembangunan PLTMH, yakni di
Indonesia sudah ada sejak tahun 1926, dan sampai Banjarnegara dan Banyumas. Selebihnya, ada
saat ini masih tetap beroperasi. Pemerintah delapan lokasi yang masih dalam uji kelayakan.
Republik Indonesia yang di wakili PT. PLN Selama ini pembangunan dan pengembangan
(Perusahaan Listrik Negara) masih akan terus PLTMH di Indonesia masih menggunakan
merawat, mengoperasikan dan mempertahankan konsultan / kontraktor dan pabrikasinya berasal dari
PLTA yang sudah tua, jika dilihat dari sisi masa luarnegri, bahkan komponen-komponen (spare
pengoperasiannya. Selain untuk memanfaatkan parts) juga masih tergantung dari produsen
secara optimal ketersedian potensi energi baru teknologi itu sendiri yang mayoritas adalah negara-
terbarukan yang murah dan ramah lingkungan, yaitu negara asing. Impor tidak dapat dihindari, hal ini
air yang begitu melimpah di Indonesia, juga sebagai mengakibatkan kita rentan terhadap beberapa hal,
salah satu upaya nyata dari PLN untuk fluktuasi nilai tukar mata uang asing, dan
meningkatkan rasio energy feul mix. ketergantungan terhadap produsen luar negeri. Akan
Dalam upaya menambah kapasitas produksi tetapi dengan semakin meningkatnya pemahaman
energi listrik di Indonesia khususnya Jawa Tengah, mengenai ketahanan nasional, khususnya dalam hal
PT Indonesia Power Unit Pembangkit Bisnis Mrica kemandirian industry nasional, beberapa perusahaan
mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro nasional mulai melakukan rekonstruksi dan
Hidro (PLTMH). Listrik yang dihasilkan juga dapat pabrikasi untuk pembangkit listrik tenaga air. Hal
langsung digunakan untuk memenuhi kebutuhan ini lah mendorong penulis untuk mengetahui,
listrik di setiap jaringan distribusi listrik PT PLN memahami, mempelajari bagaimana merencanakan

153 BINA TEKNIKA, Volume 14 Nomor 2, Edisi Desember 2018, 153-161


bagian-bagian utama Turbin Kaplan yang antara dapat memberikan daya yang lebih besar pada
lain: runner, poros, spiral casing, penstok, draft komponen yang lebih kecil. Turbin dapat
tube. Dalam perencanaan ini penulis menitik memanfaatkan air dengan putaran yang lebih
beratkan pada perhitungan dimensi utama pada cepat dan dapat memanfaatkan head yang lebih
Turbin Kaplan.
tinggi.
Pokok Masalah
Jenis-jenis turbin yang digunakan
Berdasarkan latar belakang diatas, dapat
dirumuskan permasalahan yang dijadikan kajian hidroelektrik pada saat ini adalah:
studi atau penelitian ini adalah “Perencanaan 1. Turbin Francis (1849)
Ulang Turbin Kaplan Poros Vertikal di PLTM 2. Turbin Pelton (1889)
Plumbungan”, hal ini sangat perlu dilakukan 3. Turbin Baling-baling dan Kaplan (1913)
mengingat di daerah tersebut masih perlu 4. Turbin Deriaz (1945)
pengembangan dari yang sudah ada, dan data-data Secara umum komponen-komponen yang
pendukung yang diperoleh sangat terbatas. terdapat pada turbin pada turbin air hampir sama,
Batasan Masalah hanya saja yang membedakan adalah
Perencanaan Turbin Kaplan Poros Vertikal pengeraknya saja.
sangat luas, pada kesempatan ini agar tidak bias
maka penulis membatasinya pada perhitungan-
perhitungan:
1. Perhitungan dimensi utama turbin Kaplan
poros vertical dengan Ketinggian (head)
maksimal 21,16 meter.
2. Perhitungan Pipa pesat (Penstok).
3. Perhitungan Rumah Siput (spiral cashing).
4. Perhitungan Pipa isap (draft tube).
5. Perhitungan Poros dan Bantalan.
Tujuan dan Manfaat
Pembahasan masalah pada skripsi ini adalah
merencanakan ulang turbin Kaplan poros vertical di Gambar 1. Pengerak-Pengerak Pada Turbin
PLTM Plumbungan yang bertujuan untuk
meningkatkan efisiensi dari turbin tersebut.
Perancangan dan pengujian turbin Kaplan ini Pada turbin baling-baling (propeller)
diharapkan akan memberikan manfaat diantaranya dengan turbin Kaplan, kedua turbin tersebut
adalah sebagai berikut : mempunyai kesamaan secara hidrolik. Terkecuali
1. Memperluas pengetahuan bahwa waduk turbin Kaplan yang mempunyai susunan
Plumbungan dapat dimanfaatkan untuk tambahan guna disesuaikan dengan kecondongan
pembangkit energi listrik. bilah penggerak (runner) atau baling-baling. Hal
2. Memperluas pengetahuan khususnya ini secara koperatif akan memberikan efisiensi
masyarakat sekitar waduk Plumbungan yang tinggi bahkan dalam kondisi beban
tentang bagaimana perancangan jenis Turbin sebagian.
Kaplan yang dapat diterapkan di waduk
tersebut.
3. Menambah suplai pasokan energi listrik untuk
daerah sekitar waduk.

LANDASAN TEORI
Dasar Teori Turbin Air
Kata “Turbine” dikemukakan oleh
seorang insinyur dari Perancis yang bernama
Claude Bourdin pada awal abad ke 19, yang
diambil dari terjemahan bahasa latin dari kata Penggerak (runner) secara geometris berbeda
“Whirling” (putaran) atau “Vortex” (pusaran air). setiap jenis turbinya. Penggerak dilindungin oleh
Perbedaan dasar antara turbin awal dengan kincir kerangka yang juga memuat mekanisme pengatur
air adalah komponen putaran air yang yang mengatur air dari batang pipa ke penggerak.
memberiakan energi pada poros yang berputar. Mekanisme pengatur ini juga tergantung dari
Komponen tambahan ini memungkinkan turbin jenis turbin, terkecuali turbin Pelton yang yang

Perancangan Ulang Turbin Kaplan Poros Vertikal ..... (Saputra, Liichan) 154
2 2
pada semua turbin kerangkanya berfungsi Vr 2 V
 r 1  hL
hidrolik dan desainnya sama penting dengan 2.g 2.g
desain penggerak. atau
Bagian – Bagian Turbin Kaplan
Turbin Kaplan yang ada di PLTM Plumbungan Keterangan K adalah faktor koreksi dari kehilangan
dilaksanakan dengan poros vertikal. Turbin dikopel geseran dari dayung dan mempunyai harga dari
ke rotor generator oleh sebuah poros. Putaran poros 0,90-0,95.
turbin searah jarum jam jika dilihat dari atas. Semua Persamaan Momentum
masa turbin berputar ditopang sepenuhnya oleh Persamaan momentum merupakan kunci
bantalan aksial generator. persamaan turbin, juga terkenal sebagai
Bagian – bagian utama turbin terdiri dari: persamaan turbin dari Euler. Sehubungan hal itu :
1. Rumah turbin (Casing)  Tenaga Putaran = rata-rata perubahan
2. Sudu Hantar (Guide vane) momentum dari aliran zat cair.
3. Sudu jalan (Runner)  Tenaga kerja = tenaga putaran x
4. Poros utama ( main shaft ) perubahan sudut.
5. Bantalan (Guide bearing)  Kerja perdetik = tenaga putara x
6. Batalan Aksial (Thrust bearing) kecepatan angular.
7. Pipa isap ( draft tube ) Bagaimanapun juga jika tenaga putaran
Persamaan Energi dapat dihitung kerja yang dilakukan oleh air
Persamaan energi pada titik pemasukan dan dalam turbin dapat dinyatakan oleh sebuah
pengeluaran dapat dinyatakan sebagai berikut formula. Sekarang, masa dari yang mengalir
(Sumber: Dandekar & Sharman, 1979, hal: 430): adalah (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979,
2 2 2 2
P1 Vr1 P V u u hal: 432):
  z1  2  r 2  z2  1  2  hL
 2.g  2.g 2.g 2.g  .Q
Ada dua buah perubahan dalam persamaan ini Perdetik = g
seperti dibandingkan dengan persamaan Jadi, momentum dari air yang mengalir masuk
konvensional Bernouli. Pertama, kecepatan relative dalam arah tangensial perdetik, adalah
dipergunakan pada tempat kecepatan mutlak kedua. (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979, hal:
Ada suatu batas energi sehubungan dengan tinggi 432):
 .Q
2 2
tekan sentrifugal u1  u 2 ditambah mengoreksi .Vu1
2.g 2.g g
putasan batas. HL menyatakan kehilangan tinggi Momen dari momentum adalah
tekan sehubungan dengan gesekan dayung. (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979, hal: 432):
Umumnya (z1 – z2) adalah bersifat tidak berarti dan  .Q
.V .r1
oleh sebab itu diabaikan, jadi setelah penulisan g
u1

kembali (Sumber: Dandekar & Sharman, 1979, hal: Sesuai dengan itu, momentum dari aliran air yang
430): keluar dari dalam arah tangensial
P1  P2 Vr 1  Vr 2 u  u2
2 2 2 2

  1  hL (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979, hal:


 2.g 2.g
432):
Yang dapat dinyatakan sebagai:  .Q
.V u2
P1  P2 Vr1  Vr 2 Vr1  Vr 2 u1  u 2 Vr 2  Vr1
2 2 2 2 2 2 2 2 g
h      hL
 2.g 2.g 2.g 2.g Dan momen dari momentum ini
Merupakan pernyataan untuk penekanan berlebih (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979, hal: 432):
(over pressure) dalam turbin-turbin Francis. Untuk  .Q
.Vu1 .r2
turbin Kaplan ada penyederhanaan lebih lanjut untuk g
memberikan kemampuan u1 = u2. Selajutnya Sekarang, rata-rata perubahan dari momentum
persamaannya menjadi: angular = perubahan momen dari momentum /
P1  P2 Vr 2  Vr 1
2 2

  hL detik (Sumber:Dandekar & Sharman, 1979, hal:


 2.g
433).
Untuk membandingkan dua persamaan, jumlah dari  .Q
.Vu1 .r1  Vu 2 .r2 
tekanan lebih pada turbin-turbin Kaplan kurang dari g
nol. Untuk turbin Pelton, tekanan lebih adalah nol, Tenaga putar
selanjutnya persamaan berubah menjadi (Sumber:  .Q
 .Vu1.r1  Vu 2 .r2 
Dandekar & Sharman, 1979, hal: 431): g

155 BINA TEKNIKA, Volume 14 Nomor 2, Edisi Desember 2018, 153-161


Keterangan w adalah kecepatan angular, tetapi w. entrance, elbow, valve, dan akibat
r 1 = u1 dan w. r2 = u2 penyempitan pipa dan gesekan jadi:
Efisiensi tinggi tekan = Head losstotal = Htr  Hv  Hb  H f  Hc  He
Vu1.r1  Vu 2 .r2  H total  0,805 m
g Menghitung Kecepatan Spesifik Dan Ukuran
Atau kerja yang dilakukan / kg = Utama Turbin Kaplan
Vu1 .r1  Vu 2 .r2  i. Menghitung Kecepatan Spesifik
g Untuk menghitung kecepatan spesifik
Persamaan ini adalah persamaan umum turbin digunakan persamaan (Sumber:
untuk semua turbin. Dandekar & Sharman, 1979, hal: 397)
sebagai berikut:
N Q
METODE DAN PENGOLAHAN DATA Ns 
h3 / 4
Diagram Alir Perancangan N s  144,6 rpm
START ii. Menghitung Ukuran Utama Dari
Runner
Dari diagram harga informatif untuk
Studi Literatur menentukan ukuran-ukuran utama
turbin kaplan, didapat:
Studi Lapangan U1* = 1,58
UN* = 0,62
Data Cm* = 0,22
Lapangan Harga ini harus dikalikan dengan
2.g.h yaitu dengan:
Perhitungan-perhitungan Sehingga didapat:
Dimensi Utama Tubin
U1 * = 32,18 m/detik
Kaplan Poros Vertikal
D1 = 1,230 m
Tidak UN* = 13,12 m/detik
Pemeriksaan hasil DLeher Poros (Runner Bos)
Perhitungan
DN = 60  U N = 0,501 m
 .N
Aman Cm* = 4,66 m/detik
Jadi, dari perhitungan diatas diketahui:
Ya Diameter runner
Stop D1 = 1,230 m = 1230 mm
Diameter runner bos
Gambar 3. Diagram alir perancangan Dn = 0,501 m = 501 mm

Panjang penstock dapat diukur dengan mengunakan


pendekatan empiris, karena sudut elevasinya sekitar
15,180, maka:
Q
L
tan 15,18
75 m
Perhitungan Head Losses Penstock
Kerugian ketinggian (head losses) pada Gambar 4. Dimensi Utama Runner
Penstock antara lain:
1. Head loss pada trash rach Menghitung Bagian Segitiga Kecepatan
2. Head loss pada entrance Total head loss adalah 0,805 m sehingga
3. Head loss akibat penyempitan pipa: besarnya head bersih adalah sebagai berikut:
4. Head loss akibat friction H = 21,16 – 0,805
5. Head loss pada elbow = 20,35 m
6. Head loss pada katup Segitiga kecepatan didapat dari:
Total Head loss adalah hasil penjumlahan η0 . g . H = u . (Vu1 – Vu2)
dari head loss yang terjadi pada trash rach, Dengan Vu2 = 0, karena V2 adalah pengeluaran
yang tegak lurus maka:

Perancangan Ulang Turbin Kaplan Poros Vertikal ..... (Saputra, Liichan) 156
Vu1 =8,05 m/det Vr2 = 14,47
Dengan demikian segitiga kecepatan dapat  2  arc. sin
6,1
digambar: 14,47
1. Section II (Bagian Tengah Sudu) β2 = 24,90

b) Segitiga kecepatan aliran masuk


Vu1 = 13,89 m/det
Vr 1  c2 m2  Vu1  u N 2
Vr1 = 6,15 m/det
V1  c2 m 2  Vu1 
2

V1 = 15,17 m/det
1,26
Gambar 5. Segitiga Kecepatan Pada Bagian 1  90  arcsin
6,1
Tengah Sudu β1 = 101,70
a) Bagian kecepatan aliran keluar 3. Section I (Bagian Ujung Luar)
Dari urata-rata = 19,84 m/det dan
Q
V2  c 2 m  c 2 
A
V2 = c2m = 6,10 m/det
Maka,
Vr2 = 20,76 m/det
6,1
 2  arc. sin
20,76
= 17,10
Gambar 7. Segitiga Kecepatan Pada Bagian
b) Segitiga kecepatan aliran masuk Ujung Luar
Dengan melalui ujung V2 dibuat garis
sejajar dengan u1 dan kemudian a) Segitiga kecepatan aliran keluar
diukurkan harga Vu1 = 8,05 m/ det, maka
didapat: Vr 2  c 2 m 2  u1 

Vr1 = c2 m 2  u ratarata  Vu1 2 Vr2 = 32,75 m/det


6,1
Vr1 = 13,3 m/det  2  arcsin
32,18
V1  c2 m 2  Vu1 
2
β2 = 10,730
V1 = 10,10 m/det b) Segitiga kecepatan aliran masuk
6,1 Vu1 = 5,66 m/det
1  arc. sin
10,1 Vr 1  c2 m 2  u1  Vu1 
2

0
= 37,15 Vr1 = 27,21 m/det
2. Section III (Bagian Lebar Poros) V1  c2 m 2  Vu1 2
V1 = 8,32 m/det
6,1
1  arcsin
27,21
β1= 130

Prosedur Pengambilan Data


Gambar 6. Segitiga Kecepatan Pada Bagian Adapun prosedur pengumpulan data antara lain:
Lebar Poros  Wawancara dengan Kepala PLTM
a) Segitiga kecepatan aliran keluar Plumbungan tentang optimasi instalasi
Dari uN = 13,12 m/det yang nantinya akan dianalisa oleh
c2m = 6,10 m/det penulis.
Maka:  Studi kasus head dan debit air yang terus
Vr 2  c2 m 2  u N 2 menurun.

Vr 2  c 2 m 2  u N 2

157 BINA TEKNIKA, Volume 14 Nomor 2, Edisi Desember 2018, 153-161


 Memahami data-data tentang sudu jalan, Sedangkan, ketebalan dari pipa ditentukan dari
spiral casing, draft tube, pipa pesat, persamaan (Sumber: Warnick, 1984, hal: 127)
poros, bantalan. dibawah ini:
Spesifikasi Data D p  20
t min 
Dari hasil wawancara data yang diperoleh 400
dokumen data yang sangat minim sekali, antara t min = 55 mm
lain:
- Debit Q = 7,68 m3 /s Rumah Keong (Spiral Casing)
- Head H = 21,16 m Dalam hal ini yang digunakan dalam
perencanaan spiral casing dianggap sama dengan
- Berat Jenis Air (ρ) = 1000 kg.m 3
yang digunakan pada PLTM Plumbungan yaitu
dengan plat baja tebal 12-20 mm Baja Siemens
Perhitungan Konstruksi Turbin Kaplan Martin S55C (Sumber: PLTA PB. Soedirman) yang
Perancangan ulang turbin air Kaplan di sudah ada dipabrikan, dilas satu sama lain sehingga
PLTM Plumbungan meliputi sudu jalan, spiral berbentuk spiral.
casing, draft tube, pipa pesat, poros, bantalan. Selubung scroll terdiri dari 2 x 21 buah plat
Karena sebab itu perencanaan kali ini baja dengan tebal 12 – 20 mm bahannya adalah Baja
menghitung ulang ukuran-ukuran utama turbin Siemens Martin S55C. Merencanakan ukuran-
jenis Kaplan yang bekerja pada head dan debit ukuran dari rumah keong dalam hal ini D = 1230
yang ada dilapangan yaitu pada head 21,16 m dan mm dan kecepatan spesifiknya Ns = 144,62 rpm.
debit 7,68 m 3/detik Skema perencanaan adalah
sebagai berikut:
a) Menghitung daya turbin
b) Perhitungan penstock
c) Menghitung kecepatan sinkronisasi.
d) Menetukan kecepatan spesifik, dan
ukuran-ukuran diameter runner dan
runner bos, serta tinggi sudu penggerak.
e) Perhitungan rumah keong
f) Perhitungan draft tube
g) Perhitungan poros
h) Perhitungan bantalan
i) Perhitungan kavitasi
Gambar 8. Pandangan Atas Spiral Casing
Daya Turbin
Untuk menghitung output turbin, dipakai rumus
sebagai berikut :
 . . Q . H
Pt 
75
Dimana :
Pt = Daya output (HP)
Gambar 9. Pandangan Samping Spiral Casing
η = Efisiensi turbin
= 84% - 94% diambil 94%) Karena penampang spiral casing berbentuk
Jadi lingkaran, maka untuk mempermudah perhitungan
Pt  1,2 Mw maka digunakan pendekatan dengan rumus empiris
yang terdapat pada literatur yang penulis miliki.
Perhitungan Penstock a). Spiral Casing Dari Pandangan Atas:
Penggunaannya Penstock berdasarkan pada Ukuran pada bagian A (m) spiral casing
kebutuhan lapangan. Ukuran diameter pipa (Sumber: Warnick, 1984, hal; 136) yaitu:
A 19,5 
penstock dapat ditentukan dengan persamaan  1,2   
D  Ns 
(Sumber: Warnick, 1984, hal; 127) sebagai
A = 1,310 m
berikut:
A = 1310 mm
Dp  0,72  7,680,5
Ukuran pada bagian B (m) spiral casing:
D p  1,995
m

Perancangan Ulang Turbin Kaplan Poros Vertikal ..... (Saputra, Liichan) 158
B  54,8  puntiran yang bekerja sendiri-sendiri atau gabungan
 1,1   
D  Ns 
satu dengan lainnya.
B = 1,819 m Pada turbin Kaplan poros berfungsi sebagai
B = 1819 mm penerus putaran runner ke generator. Diambil data:
P = 1,2 MW
Ukuran pada bagian C (m) spiral casing:
N1 = 500 rpm
C  49,25 
 1,32    Apabila P adalah daya nominal output dari
D  Ns  turbin maka berbagai macam faktor keamanan
B = 2042 mm biasanya dapat diambil dalam perencanaan.
Ukuran pada bagian D (m) spiral casing: Sehingga koreksi pertama dapat diambil kecil.
D  48,8  Faktor koreksi fc dapat dilihat pada tabel Faktor
 1,50   
D  Ns  Koreksi Daya Yang Ditransmisikan. Perhitungan
D = 1,746 m untuk daya rencana (Sumber: Sularso & Kiyokatsu,
D = 1746 mm 1995, hal: 7) adalah sebagai berikut:
Ukuran pada bagian E (m) spiral casing: Pd = fc . P
E  63,60  Pd = 2800 kW
 0,98   
D  Ns  1. Momen Puntir (Torsi)
E = 1,746 m Momen puntir yang bekerja pada
E = 1746 mm poros adalah T (kg.mm), maka:
Ukuran pada bagian F (m) spiral casing: P
T  9,74 10 5 d
F 131,4  N1
 1  
D  Ns  T  5454400 kg/mm
E = 2,348 m Bahan poros yang direncanakan adalah baja
B = 2348 mm paduan yaitu baja khrom nikel (JIS G 4102), SN
Ukuran pada bagian G (m) spiral casing: C21 dengan perlakuan panas (pengerasan kulit),
G  96,5  memiliki kekuatan tarik σB = 80 kg/mm2 diperoleh
 0,89   
D  Ns  dari tabel Bahan Baja Paduan Untuk Poros. Faktor
G = 1,915 m keamanan pada poros:
G = 1915 mm Sf1 = 6.0
Ukuran pada bagian H (m) spiral casing: Sf2 = 1.3 – 3.0
 81,75 
2. Momen Lengkung Pada Poros
H
 0,79   
D  Ns 
H = 1,667 m = 1667 mm
b). Spiral Casing Pandangan Samping
Ukuran pada bagian I (m) spiral casing:
 0,1  0,00065  N s 
I
D
I = 0,239 m Gambar 12. Gaya Pada Poros
I = 239 mm
Ukuran pada bagian M (m) spiral casing:
Vin Vout
 0,60  0,000015  N s 
M
D Vx = Vin Vy = Vout
M = 1,170 m Vy = 0 Vx = 0
M = 1170 mm Vz = 0 Vz = 0
Ukuran pada bagian L (m) spiral casing: Terjadi perubahan momentum yaitu:
 0,88  0,00049  N s 
L
F.t = Δ(m.V)
D F.t = m.ΔV
L = 1,170 m F = Q . (Vout – Vin)
L = 1170 mm Karena perubahan kecepatan pada sumbu Z
Perhitungan Poros tidak ada maka Fz = 0, jadi:
Poros merupakan salah satu bagian terpenting F = Q . (0 – Vin)
dari setiap mesin yang berfungsi untuk meneruskan F = 7,68 . (0 – 8,32)
tenaga bersama-sama dengan putaran. Poros bisa F = - 63,9 (reaksi terhadap arah aliran
menerima beban berupa lenturan, tarikan, tekan, atau air)

159 BINA TEKNIKA, Volume 14 Nomor 2, Edisi Desember 2018, 153-161


Momen lengkung pada poros adalah: Analisa Kecepatan Singkron
PLTM Plumbungan mempunyai generator
dengan 12 kutub (6 pasang kutub) dan digunakan
untuk mensuplai jaringan dengan frekuensi 50 Hz.
Sehingga putaran singkron generator dan turbin
adalah: n = 500 rpm
Kecepatan aliran turbin kaplan di PLTM
Plumbungan tertera pada name plate sebesar 1400
rpm, dan bila dibandingkan dengan kecepatan
Gambar 13. Momen Lengkung Pada Poros normalnya maka terjadi kenaikan sebesar 280 %,
M=F.L sesuai dengan tabel dari kecepatan liar harga ini
M = 383400 kg.mm masih dapat diterima untuk turbin Kaplan.
3. Tegangan Geser Pada Poros KESIMPULAN
Tegangan geser yang diijinkan Kesimpulan yang didapat dari hasil perencanaan
(Sumber: Sularso & Kiyokatsu, 1978, hal: ini adalah
7), yaitu: 1. Turbin Kaplan mempunyai keistimewaan
B yaitu sudut sudu geraknya (runner) bisa diatur
a 
Sf1  Sf2  dengan (adjustable blade) untuk
 a  4,4444 kg/m2 menyesuaikan dengan aliran saat itu, yaitu
perubahan debit air.
4. Diameter Poros 2. Pada dasarnya pemilihan tipe turbin untuk
Maka diameter porosnya ds (mm) Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro
(Sumber: Sularso & Kiyokatsu, 1995, hal: (PLTM) sama dengan pada turbin PLTA
8), adalah sebagai berikut: konvensional. Dasar tipe turbin adalah
 5,1 
 Km . M  2  Kt .T  2  besaran head (meter), debit air (m3/detik), dan
1
ds    3

 a   besarnya kecepatan putar turbin (n).


Dalam hal ini, 3. Kecepatan putaran rencanakan setinggi
Kt = Faktor koreksi yang bernilai: mungkin, karena dengan kecepatan putar yang
1,0 – 1,5 (sedikit kejutan) tinggi akan didapat momen punter yang kecil,
Km = Faktor pembebanan lentur: poros yang kecil, dan diameter rodaturbin
1,5 - 2,0 (sedikit kejutan) yang kecil juga, sehingga akan membuat
Jadi, diameter minimum poros: ukuran generator lebih kecil.
d s = 250 mm
DAFTAR PUSTAKA
ANALISA DAN PEMBAHASAN Banga & Sharma., Hydraulik Machines, Khuaum
Dari hasil pengolahan data serta perhitungan- Publisher, Delhi, India.
perhitungan diatas, daya terpasang sebesar 1,2 Mw, Dake JMK., 1985, Hydraulika Teknik, Erlangga,
head maksimal 21,16 meter dan kebutuhan debit air Jakarta.
sebesar 7,68 m3/detik, dengan kondisi lokasi ketika Dandekar& Sharma, 1979 “Water Power
maksimal 8 m3/detik, normal 7,89 m3/detik, dan Engineering”, Viskositas Publishing PVT
minimal 7,34 m3/detik. Turbin dapat beroperasi Ltd., New Delhi.
secara maksimal. Fritz Dietsel, 1996, Turbin, Pompa dan
Analisa Head Loss Kompresor, Penerbit Erlangga, Jakarta
Adanya alir melalui pipa penyalur (penstock) J.K.Gupta,1995, Machine Design, Eurasia
akan mengakibatkan terjadinya kerugian pada Publishing House (Pvt) LTD Ram Nagar, New
ketinggian (head losses). Delhi.
 Head loss pada trash rach Joseph E Shigley, 2001, Mechanical Engineering
 Head loss pada entrance Design, Sixth Edition, Penerbit McGraw-Hill,
 Head loss akibat penyempitan pipa New York.
 Head loss akibat friction Kamimoto Goro & Hisashi Ando & Akamatsu
 Head loss pada elbow Teruaki, 2001 “Analisis Aliran Dalam Turbin
 Head loss pada katup Air Tipe Aliran Aksial”termuat di:
Total Head loss yang terjadi: www.educepedia.be/education/physicsenergyh
Head losstotal = 0,805 m ydro.htm diakses 23 Juni 2010.
Lal Jagdish., 1975, Hydraulic Machine, McGraw-
Hill, Delhi, India.

Perancangan Ulang Turbin Kaplan Poros Vertikal ..... (Saputra, Liichan) 160
G. Niemann, 1990, Desain dan Kalkulasi dari
Sambungan, Bantalan, dan Poros, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
PLN Sektor Mrica, PLTA PB. Soedirman,
"Petunjuk Operasi dan Pemeliharaan Turbin,
Katup dan Peralatan Bantu", Bogor.
Rifai, 2000, Perancangan Turbin Air Kaplan, IST
Akprind, Yogyakarta.
Rubianto, 2006, Perancangan Ulang Runner
Turbin Air Jenis Kaplan Dengan Daya 6,5
MW Pada PLTA Wonogiri, IST Akprind,
Yogyakarta.
S, Radler Prof. Dr., 1981, “Desaign Runner Of
Kaplan Turbin”, Intitute for Water
Management, University for Soil Culture,
Vienna.
Subhan Nafis. 2005. “Dasar Perencanaan
PLTMH”. Jurnal Institut Teknologi Surabaya,
Surabaya termuat di: www.wikipedia.com
diakses 21 Juni 2010.
Sularso & Kyokatsu, 1995, Dasar-Dasar
Perencanaan Mesin, Cetakan ke-sembilan,
Penerbit Pradnya Paramita, Jakarta.
Sujatmika & Denny Agung, 2008, “Perencanaan
Turbin Kaplan”, Jurnal Institut Teknologi
Surabaya, Surabaya termuat di:
www.wikipedia.com diakses 23 Juni 2010.
W. Arismunandar, Penggerak Mula Turbin,
Penerbit Erlangga, Jakarta
Warnick C.C., 1984, Hydropower Engineering,
Professor of Civil Engineering, University of
Indaho Moscow, Indaho.

161 BINA TEKNIKA, Volume 14 Nomor 2, Edisi Desember 2018, 153-161