Sei sulla pagina 1di 5

Journal of Marine and Aquatic Sciences, 1-5 (2019)

1 Rapatan dan Tutupan Padang Lamun di Pantai Samuh, Nusa


2 Dua
3 Sartika Ritama Silitongaa*, Riska Purwantoa, Muhammad Muhida, Mohammad Adri
4 Ismawaddina, I Gede Adittya Griya Anwina, Dyah Adhe Saputria

5 aProgram Studi Ilmu Kelautan, Fakultas Kelautan dan Perikanan, Universitas Udayana, Bukit Jimbaran, Kabupaten Badung,
6 Bali-indonesia

7 *Penulis. Tel.: +6282165194195


8 Alamat e-mail: sartikasilitonga8008@gmail.com
9 Diterima 26 September 2019

10
11
12 Abstract
13
14 The distribution of seagrass in Bali is in the Coastal region, one of the Nusa Dua area, Samuh beach. In the samuh
15 beach area there are 6 types of seagrasses, but in the research activities carried out are 5 species of seagrass identified.
16 The purpose of this practicum is to find out the condition of seagrass based on the level of density and seagrass cover
17 at samuh beach, Badung regency. This practicum is done by Line transect method by finding or determining the
18 density once every 20 meters. Then find or determine the cover every 10 meters once using a PVC pipe based transect
19 tool determine 50x50 cm by dividing the four spaces of the transect tool using thread or rope. When conducting this
20 research, it is very necessary to show directions or directions that will be used to determine the point or position
21 where we conduct practicum activities or seagrass transects. The direction indicator used is called the GPS (Global
22 Positioning System) which is predetermined point to be determined seagrass transect. With some supporting tools for
23 seagrass types and density and cover that will be calculated with a table and will be calculated percent of seagrass
24 species. From the results of research that has been conducted on several types of seagrass found, including: Enhalus
25 accoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Sryngodium isoetifolium and Halophila ovalis. The five
26 types of seagrass obtained based on the provisions of the value of cover and density. From these provisions it can be
27 denied that the highest cover value at the 20m and 70m points is 100% and the lowest at the 100m point is 25%. While
28 the highest density values in Thalassia hemprichii and Sryngodium isoetifolium species reached 240 stands / m2 and
29 the lowest was Halophila ovalis which only reached 100 stands / m2.

30 Keywords: seagrass; density; covered percentage; samuh beach.

31 Abstrak

32

33 Penyebaran lamun di Bali terdapat di wilayah pesisir, salah satu perairan daerah Nusa Dua, pantai Samuh. Di daerah
34 pantai samuh tersebut terdapat 6 jenis lamun, namun pada kegiatan penelitian yang telah dilakukan terdapat 5 jenis
35 lamun yang teridentifikasi. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kondisi padang lamun berdasarkan
36 tingkat kerapatan dan tutupan lamun di pantai samuh, kabupaten Badung. Praktikum ini dilakukan dengan metode
37 Line transect lamun dengan mencari atau menentukan kerapatan setiap 20 meter sekali. Kemudian mencari atau
38 menentukan tutupan setiap 10 meter sekali dengan menggunakan alat transek berbahan dasar pipa PVC berukuran
39 50x50 cm dengan membagi empat ruang pada alat transek menggunakan benang atau tali. Pada saat melakukan
40 penelitian ini sangat dibutuhkan panunjuk arah atau acuan arah yang akan digunakan untuk menentukan titik atau
41 posisi dimana kita melakukan kegiatan praktikum atau transek lamun. Untuk alat penunjuk arah yang digunakan
42 disebut dengan GPS (Global Positioning System) yang telah ditentukan sebelumnya titik yang akan dilakukannya
43 transek lamun. Dengan beberapa alat pendukung untuk mengidentifikasi jenis lamun serta kerapatan dan tutupan
44 yang akan di kalkulasikan dengan tabel dan akan dilakukan penghitungan persenan dari jenis lamun. Dari hasil
45 penelitian yang telah dilakukan terdapat beberapa jenis lamun yang ditemukan, antara lain : Enhalus accoroides,
46 Thalassia hemprichii, Cymodocea rotundata, Sryngodium isoetifolium dan Halophila ovalis. Kelima jenis lamun didapat
47 berdasarkan ketentuan nilai tutupan dan kerapatan. Dari ketentuan tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai tutupan

J. Mar. Aquat. Sci. X: 1-5 (2019)


S.R. Silitonga dkk. 2

48 tertinggi berada pada titik 20m dan 70m sebanyak 100% dan terendah berada pada titik 100 m sebanyak 25%.
49 Sedangkan nilai kerapatan tertinggi berada pada spesies Thalassia hemprichii dan Sryngodium isoetifolium yang
50 mencapai 240 tegakan/m2 dan yang terendah adalah Halophila ovalis hanya mencapai 100 tegakan/m2.

51 Kata Kunci: Lamun; rapatan; persentase tututan; pantai samuh


52

53
54 1. Pendahuluan 99 dugong. Dan Pertumbuhan lamun dibatasi oleh
100 suplai nutrien antara lain partikulat nitrogen dan
55 Perairan pantai Samuh, Nusa Dua Bali memiliki101 fosfor yang berfungsi sebagai energi untuk
56 substrat berpasir disepanjang garis pantai,102 melangsungkan fotosintesis (Short, 1987; Benny,
57 sedangkan substrat yang mengarah kelaut103 2012). Kedalaman air dan pengaruh pasang surut,
58 kondisinya sebagian besar adalah substrat lumpur104 serta struktur substrat mempengaruhi zonasi
59 barpasir, pasir berlumpur dan pasir berbatu.105 sebaran jenis-jenis lamun dan bentuk
60 Pantai samuh menjadi salah satu tempat yang106 pertumbuhannya (Nontji, 1987; Benny, 2012). Oleh
61 strategis untuk melakukan kegiatan praktikum107 karena itu perlu dilakukannya penelitian untuk
62 karena perairannya yang tenang pada saat surut108 mengetahui nilai dari kerapatan dan tutupan
63 dan memiliki beberapa jenis lamun didalamnya,109 lamun yang berada di Pantai Samuh, karena
64 sehingga kita dapat dengan mudah mengambil110 pentingnya keberadaan lamun dalam ekosistem
65 atau mengidentifikasi data lamun. Dengan kata111 laut.
66 lain pantai samuh adalah area subtidal (daerah
67 pasang surut). Salah satu tumbuhan berbunga112 2. Metode Penelitian
68 (Angiospermae) yang mampu beradaptasi secara
69 penuh di perairan yang salinitasnya cukup tinggi113 2.1 Waktu dan Tempat
70 atau hidup terbenam di dalam air. Lamun adalah114
71 satu-satunya kelompok tumbuhan berbunga yang115 Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya
72 terdapat di lingkungan laut. Tumbuh-tumbuhan116 penelitian ini pada hari kamis, 19 september 2019,
73 ini hidup di habitat perairan pantai yang dangkal.117 di Pantai Samuh Nusa Dua, Kecematan Kuta
74 Berbeda dengan tumbuh-tumbuhan laut lainnya118 Selatan, Kabupaten Badung, Provinsi Bali,
75 (alga dan rumput laut), lamun berbunga, berbuah119 Indonesia. Pratikum ini dilakukan selama satu hari
76 dan menghasilkan biji (Hemminga, 2002; Waycott,120 dari pukul 16.00 WITA hingga 18.00 WITA.
77 2004). 121 Dengan Titik Koordinat Awal -8.78773S dan
78 Lamun yang terdapat di dunia berkisar122 115.229E dan titik Koordonat Akhir -8.78734S
79 antara 50 jenis, sedangkan di Indonesia terdapat 7123 dan 115.23073E.
80 marga, yaitu Enhalus, Thalassia, Halophila,124
81 Halodule, Cymodocea, Syrongidium, dan
82 Thalssodendron, dan terdiri dari 12 jenis, yaitu
83 Halodule uninervis, Halodule pinifolia, Cymodocea
84 rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium
85 isoetifolium, Thalassodendron ciliatum, Enhalus
86 acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis,
87 Halophila minor, Halophila decipiens, dan Halophila
88 spiulosa (Hutomo,1985). Komposisi jenis lamun125
89 yang didapatkan di Pantai terdapat 6 jenis lamun,126 Gambar 1. Peta Bali
90 Enhalus acoroides, Thalassia hempricii, Cymodocea127
91 rotundata, Halophila ovalis, Halodule uninervis dan
92 Halodule penifolia (Faiqoh,E.,dkk 2016)
93 Padang lamun merupakan sumber daya
94 laut yang cukup potensial untuk dimanfaatkan,
95 dan secara ekologi, padang lamun mempunyai
96 beberapa fungsi yang sangat penting di daerah
97 pesisir seperti sebagai tempat pemijahan, tempat
128
98 mencari makan dan sebagai bahan makanan dari129 Gambar 2. Peta Pantai Samuh
3 Journal of Marine and Aquatic Sciences

130 2.2 Alat dan bahan 180 2.4 Analisis Data

131 Adapun alat yang digunakan selama berjalannya181 2.4.1 Tutupan Lamun
132 praktikum antara lain : Transek Kuadran182 Adapun tutupan lamun dapat dihitung dengan
133 berukuran 50x50 cm berbahan dasar pipa PVC yang183 menggunakan persamaan sebagai berikut
134 dibagi menjadi empat kotak kecil dengan184 (Waycott, 2004)
135 menggunakan benang atau tali digunakan untuk
𝒋𝒖𝒎𝒍𝒂𝒉 𝒕𝒖𝒕𝒖𝒑𝒂𝒏 𝒍𝒂𝒎𝒖𝒏 (𝟒 𝒌𝒐𝒕𝒂𝒌)
136 mengukur tutupan dan kerapatan lamun, ADS185 Tutupan lamun (%) =
𝟒
137 (Alat Dasar Selam) seperti snorkel, masker, fins dan
138 booties digunakan untuk membantu menuju ke186 2.4.2 Kerapatan Lamun
139 tempat yang telah ditentukan jaraknya, ember187 Adapun kerapatan Lamun dapat dihitung dengan
140 digunakan sebagai wadah penyimpanan barang-188 menggunakan persamaan sebagai berikut
141 barang bawaan ke tempat tujuan, ban sepeda189 (waycott,2004).
142 motor digunakan untuk mengapungkan ember,
143 tali rafia digunakan untuk mengikat ember pada190 ∑ 𝑵𝒊
D=
144 tubuh orang, papan jalan digunakan sebagai 𝑨

145 media menulis, kertas anti air digunakan untuk


191 Keterangan :
146 menulis didalam air, alat tulis digunakan untuk
192 D = Kerapatan Jenis (tegakan/m2)
147 menulis, roll meter digunakan untuk mengukur
193 Ni = Jumlah Tegakan Jenis (tegakan)
148 jarak awal (0 m) hingga titik akhir (100 m), GPS
194 A = Luar Derah yang Disamping (m2)
149 (Global Positioning System) digunakan sebagai
150 penunjuk arah, handphone digunakan untuk195 3. Hasil dan Pembahasan
151 mendokumentasikan kegiatan selama praktikum,
152 waterproof digunakan untuk melindungi196 3.1 Tutupan Lamun
153 handphone air, gunting digunakan untuk
154 memotong lamun agar dapat diidentifikasi jenis Meter Kotak
155 spesiesnya. Bahan yang digunakan saat ke- ke-
156 melakukan kegiatan praktikum adalah lamun. 1 2 3 4
0 100 % 100 % 100 % 75 %
157 2.3 Metode Kerja 10 75 % 90 % 100 % 100 %
20 100 % 100 % 100 % 100 %
158 Adapun metode kerja yang dilakukan saat 30 100 % 100 % 100 % 75 %
159 praktikum yaitu metode Line transect dengan alat 40 75 % 75 % 75 % 75 %
160 transek berukuran 50x50 cm yang diambil dari sebelah 50 75 % 50 % 50 % 50 %
161 kiri dan menyilang, agar data yang didapat lebih efisien. 60 50 % 50 % 75 % 75 %
162 Line transect merupakan metode yang dilakukan untuk 70 100 % 100 % 100 % 100 %
163 mengukur atau mengamati kerapatan jenis dan 80 100 % 90 % 100 % 100 %
164 biomassa lamun yang dilakukan pada transek-transek 90 75 % 75 % 75 % 75 %
165 yang diltetapkan. Transek dilakukan tegak lurus dari 100 25 % 25 5 25 % 25 %
166 pinggir pantai sampai ke daerah yang ditetapkan jarak
167 titik awal dan titik akhir atau titik lainnya dan pada197 Tabel. 1 Data tutupan lamun
168 jarak satu transek dengan transek lainnya yang
169 tergantung pada luas yang diamati atau diteliti. Meter ke- % Hasil Substrat
170 Membentangkan roll meter sepanjang 100 m yang 0 93,75 % Pasir
171 di mulai dari padang lamun pertama, kemudian berlumpur
172 mulai mengukur dari pasang ke surut, setelah itu 10 91,25 % Pasir
173 mulai mengukur kerapatan yang dimulai dari titik berlumpur
174 0 pada setiap jarak 20 m sekali dan mengukur 20 100 % Pasir
175 tutupan yang dimulai dari titik 0 pada setiap 10 m berlumpur
176 sekali, kemudian menulis setiap data berdasarkan 30 93,75 % Pasir
177 tutupan dan kerapatan yang didapat sesuai jenis berlumpur
178 lamun. 40 75 % pasir

50 56,25 % pasir
179

J. Mar. Aquat. Sci. X: 1-5 (2019)


S.R. Silitonga dkk. 4

60 62,50 % pasir 1 7 12 - - -
70 100 % Pasir 60 2 8 14 - - -
berlumpur
3 2 15 - - -
80 97,50 % Pasir
4 5 16 - - -
berlumur
1 10 - - 14 -
90 75 % Pasir
80 2 12 - - 10 -
100 25 % Lumpur
berpasir 3 10 - - 10 -
198 Tabel 2. Hasil dari data tutupan Lamun 4 11 - - 12 -

1 14 14 - - -
199 Dari hasil data tutupan Lamun didapatkan pada
100 2 10 10 - - -
200 (Tabel 1. dan Tabel 2.) tutupan lamun pertama
201 dicari dengan membentangkan roll meter 3 11 10 - - -
202 sepanjang 100 m dari pasang ke surut. Pengukuran 4 12 12 - - -
203 yang dilakukan untuk pengambilan nilai tutupan223 Tabel 3. Data kerapatan lamun
204 pada lamun ialah metode Line transect tepatnya224
205 disebelah kiri dan tidak menyilang agar data yang
GRAFIK KERAPATAN LAMUN
206 didapat lebih akurat. Pengungukuran dilakukan
207 dari titik ke- 0 m dan didapatkan hasil data 93,75% EA TH CR SI HO
208 dengan, titik ke- 10 m adalah 91,25% , pada titik
209 ke- 20 m adalah 100%, pada titik ke- 30 m adalah
240

228

228
210 93,75%, dari titik 0-30 meter bersubstrat pasir
212

192

188
188
211 berlumpur. Pada titik ke- 40 m adalah 75%, pada

184
172
212 titik ke- 50 m adalah 56,25%, pada titik ke- 60 m
213 adalah 62,50%, dari titik 40-60 m bersubstrta pasir.
100

214 Pada titik ke- 70 adalah 100%, pada titik ke- 80 m


88

88
84

adalah 97,50%, pada titik 70 dan 80 m bersubstrat


64

64

215
52

216 pasir berlumpur. Pada titik ke- 90 m adalah 75%,


217 bersubstrat pasir dan pada titik ke- 100 m adalah
0
0

0
0

0
0
0

0
0
0

0
0
0
218 25% bersubstrat lumpur berpasir. Pada titik 20 m 0 20 40 60 80 100
219 dan 70 m memiliki persentase tutupan tertinggi225
220 yaitu 100% sedangkan pada titik 100 m memiliki226 Gambar 1. Hasil data Kerapatan Lamun
221 persentase tutupan terendah yaitu 25%.
227 Dari hasil data kerapatan lamun yang didapatkan

222 3.2 Kerapatan Lamun 228 berdasarkan (Tabel 3. dan Gambar 1.) kerapatan
229 pada lamun pertama, dibentangkan roll meter

Met K. Ea Th Cr Si Ho 230 sepanjang 100 m dari pasang ke surut. Pengukuran


er ke- 231 yang dilakukan untuk pengambilan nilai
1 - - 5 14 8 232 kerapatan pada lamun ialah metode Line transect

0 233 tepat di sebelah kiri dan tidak menyilang agar data


2 - - 6 16 7
234 yang didapat lebih akurat. Pada praktikum yang
3 - - 6 16 5
235 dilakukan di Pantai Samuh terdapat 5 jenis lamun
4 - - 4 14 5 236 samapai jarak 100 m. Pengungukuran dilakukan
1 5 - 4 14 6 237 dari titik ke- 0 m dan didapatkan hasil data spesies
20 2 4 - 5 12 8 238 Cymodocea rotundata sebanyak 84 tegakan/m2,
239 Syringodium isoetifolium sebanyak 240 tegakan/m2
3 5 - 5 12 3
240 dan Halophila ovalis sebanyak 100 tegakan/m2. Pada
4 2 - 8 15 0
241 titik ke-20 m didapatkan hasil data spesies Enhalus
1 1 10 - 16 - 242 acoroides sebanyak 64 tegakan/m2, spesies
40 2 3 12 - 14 - 243 Cymodocea rotundata sebanyak 88 tegakan/m2,

3 5 12 - 14 - 244 spesies Syringodium isoetifolium sebanyak 212


245 tegakan/m2, spesies Halophila ovalis sebanyak 68
4 4 14 - 13 -

J. Mar. Aquat. Sci. X: 1-5 (2019)


5 Journal of Marine and Aquatic Sciences

246 tegakan/m2. Pada titik ke-40 m didapatkan hasil267 tutupan tertinggi yaitu 100% sedangkan pada titik
247 data spesies Enhalus acoroides sebanyak 52268 100 m memiliki persentase tutupan terendah yaitu
248 tegakan/m2, spesies Thalasia hemprichii sebanyak269 25%.
249 192 tegakan/m2, spesies Syringodium isoetifolium
250 sebanyak 228 tegakan/m2. Pada titik ke-60 m270 Daftar Pustaka
251 didapatkan hasil data spesies Enhalus acoroides
252 sebanyak 88 tegakan/m2 dan spesies Thalasia271 Benny, A.J dan Haris, A. 2012. Study Kerapatan dan
272 Penutupan jenis Lamun di Kepulauan Spermonde.
253 hemprichii sebanyak 228 tegakan/m2.
273 Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas
274 Hassanudin. Vol.22 (3).
254 4. Kesimpulan
275 Faiqoh, E., Budi, W.D., dan Astawa, I.G.B., 2016. Peranan
276 Padang Lamun Selatan Bali sebagai Pendukung
255 Pada praktikum kali ini dapat disimpukan bahwa
277 Kelimpahan Ikan di Perairan Bali. Jurnal of Marine
256 dalam mencari kerapatan dan tutupan pada
278 and Aquatic Sciences. Fakultas Kelautan dan
257 padang lamun dapat dilakukan dengan279 Perikanan Universitas Udayana.
258 menggunakan alat transek dengan metode Line
280 Hutomo, M., 1985. Telaah Ekologik Komunitas Ikan
259 transect. Untuk menentukan nilai kerapatan dapat281 pada Padang Lamun (Seagrass, Anthophyta) di
260 dilakukan dengan membentangkan roll meter dari282 Perairan Teluk Banten. Disertasi. Fakultas Pasca
261 titik 0 m pada padang lamun pertama sejauh 100283 Sarjana Institut Pertanian Bogor.
262 meter dan pengambilan data dilakukan setiap 20284 Waycott, M., K. McMahon, J. Mellors, A. Calladine, and
263 m sekali. Spesies yang didapat pada titik tersebut285 D. Kleine, 2004 A Guide to Tropical Seagrasses of
264 ialah Enhalus accoroides, Thalassia hemprichii, Cymodocea286 the Indo-West Pacific. James Cook University,
265 rotundata, Sryngodium isoetifolium dan Halophila ovalis.287 Townsville-QueenslandAustralia
266 Pada titik 20 m dan 70 m memiliki persentase
288
289 © 2018 by the authors; licensee Udayana University, Indonesia. This article is an open access article distributed under
290 the terms and conditions of the Creative Commons Attribution license (http://creativecommons.org/licenses/by/3.0/).

J. Mar. Aquat. Sci. X: 1-5 (2019)