Sei sulla pagina 1di 5

Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

PENGGUNAAN BAHAN PAKAN LOKAL SEBAGAI UPAYA


EFISIENSI PADA USAHA PEMBIBITAN SAPI POTONG
KOMERSIAL: Studi Kasus di CV Bukit Indah Lumajang
(Efficiency of Commercial Cattle Production Effectively by Using Local
Feedstuffs: A Case Study on CV Bukit Indah Lumajang)
UUM UMIYASIH1, GUNAWAN1, DIDIK EKO WAHYONO1, YENNY NUR ANGGRAENY1 dan I WAYAN MATHIUS2

Loka Penelitian Sapi Potong, Grati, Pasuruan 67184


Balai Penelitian Ternak, PO Box 221, Bogor 16002

ABSTRACT

Developing commercial beef cattle to be a chalange for livestock entepreneur; because this effort was
belived as unbenefical effort. This research was done with CV. Bukit Indah Commercial beef cattle at
Lumajang Regency. The purpose of this research was to find out an alternative models of efficient
management by optimalization of local feedstuffs. Feed treatment was a modification feed that used 15 heads
of beef cow (± 300 kg of average body weight) that devided into 3 groups of treatments. The feed treatments
were (A) basal feed + 2,3 kg of rice bran; (B) basal feed + rice bran + prebiotic; and (C) basal feed + rice bran
+ coffee hulls + prebiotic. The basal feed consisted of 10 kg of rice straw + 7,5 kg of corn stover + 1,5 kg of
gamblong. The ratio of rice bran and coffee hulls was 3 : 2. Prebiotic was given consist of vitamin A, with
mineral Ca, Na and Cl. The of gamblong and rice bran that offered to the livestock was suitable to meet the
standard requirement for 0,6 kg/heads/day of ADG (NRC, 1984). This research used randomized completely
design and the parameter observed were ADG, intake, feed efficiency, and BC ratio. The result showed that
feed modification increased ADG, feed efficiency, and BC ratio. The ADG value was 0,47 (A), 0,63 (B), and
0,60 (C). feed efficiency was from 3,67% (A) to 4,10% (B), and 4,00% (C). BC ratio was from 1,23 (A), to
1,41 (B), and 1,34 (C). It was concluded that the suitable of feedstuffs could increase efficiency.
Key words: Beef cattle, breeding, local feed raw material, efficiency

ABSTRAK

Mengembangkan usaha pembibitan secara komersial adalah suatu tantangan bagi pengusaha peternakan;
karena usaha ini dianggap kurang ekonomis bahkan ada yang menganggapnya sebagai usaha yang “merugi”.
Penelitian dilakukan bekerja sama dengan usaha peternakan komersial CV Bukit Indah - Lumajang dengan
tujuan untuk memperoleh model alternatif pemberian pakan sebagai upaya effisiensi pada usaha pembibitan
komersial melalui optimalisasi penggunaan biomass lokal. Pengujian pakan yang merupakan modifikasi dari
pakan peternak dilakukan menggunakan 15 ekor sapi betina muda dengan rata-rata berat badan 300 kg, yang
dibedakan menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu pakan pola peternak sebagai kontrol (A) terdiri atas 10 kg
jerami padi + 7,5 kg jerami jagung + 1,5 kg gamblong dan 2,3 kg dedak, perlakuan B terdiri atas jerami padi
+ jerami jagung + gamblong + dedak + prebiotik dan perlakuan C terdiri atas jerami padi + jerami jagung +
gamblong + dedak + kulit kopi + prebiotik, perbandingan dedak: kulit kopi adalah 3 : 2. Prebiotik yang
diberikan terdiri atas vitamin A dan sumber mineral Ca, Na dan Cl. Jumlah gamblong dan dedak yang
diberikan disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan standar PBBH 0,6 kg/ekor/hari (NRC, 1984). Penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pengamatan parameter meliputi PBBH, konsumsi,
efisiensi ransum dan BC ratio. Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan modifikasi meningkatkan PBBH,
effisiensi pakan dan nilai BC ratio. Nilai PBBH adalah sebesar 0,47 kg/ekor/hari (perlakuan A) menjadi 0,63
kg/ekor/hari (perlakuan B) dan 0,6 kg/ekor/hari (perlakuan C). Efisiensi pakan dari 3,67 (perlakuan A)
menjadi 4,1 (perlakuan B) dan 4,00 (perlakuan C). Nilai BC dari 1, 23 (A) menjadi 1,41 (perlakuan B) dan
1,34 (perlakuan C). Disimpulkan bahwa penggunaan bahan pakan lokal secara tepat sesuai dengan kebutuhan
status fisiologis ternak akan mampu meningkatkan effisiensi usaha pembibitan.
Kata kunci: Sapi potong, pembibitan, pakan lokal dan efisiensi

86
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

PENDAHULUAN mengoptimalkan energi yang diserap untuk


kebutuhan produksi.
Pengembangan usaha peternakan sapi Atas dasar pertimbangan hal–hal tersebut
potong melalui pola agribisnis yang diatas, penelitian dilaksanakan bekerja sama
berwawasan lingkungan, merupakan alternatif dengan usaha pembibitan CV Bukit Indah
yang harus dilakukan dalam upaya Lumajang dengan tujuan untuk menemukan
mempercepat peningkatan produksi nasional. pakan alternatif yang efisien yang mampu
Sejak tahun 1988 perkembangan usaha sapi meningkatkan prduktivitas usaha pembibitan
potong komersial terlihat cukup pesat; sampai sapi potong.
tahun 1996 diperkirakan telah tercatat
sebanyak 39 perusahaan pembesaran pejantan
MATERI DAN METODE
(APFINDO, 1996) yang terfokus di Lampung,
Jawa dan Sulawesi Selatan. Penelitian dilaksanakan bekerja sama
Meskipun peluang pasar cukup prospektif, dengan CV Bukit Indah di Lumajang yang
namun usaha semacam ini menghadapi kendala mengusahakan penyediaan bibit secara
yang cukup serius yakni sulitnya memperoleh komersial, diawali dengan: 1). Wawancara
sapi bakalan. Diperkirakan sekitar 80% dari untuk mengetahui faktor internal/eksternal
perusahaan yang ada mengandalkan sapi yang mempengaruhi usaha, terutama yang
bakalan impor. Hal ini antara lain disebabkan terkait dengan masalah tatalaksana pakan.
karena langkanya usaha komersial dalam Wawancara ditindak lanjuti dengan penentuan
penyediaan sapi bakalan. strategi pemecahan masalah berupa pengujian
Mengembangkan usaha pembibitan beberapa alternatif pakan atau modifikasi
penghasil bakalan secara komersial adalah formula ransum peternak yang sudah ada
suatu tantangan bagi pengusaha peternakan, sebagai upaya menemukan tatalaksana pakan
karena usaha ini dianggap kurang ekonomis; yang lebih efisien, lebih aplikabel serta
bahkan ada yang menganggapnya sebagai menguntungkan peternak. 2). Beberapa macam
usaha yang “ merugi”. Usaha komersial dinilai perlakuan pakan yang diujikan meliputi
mempunyai kinerja yang baik apabila usaha perlakuan pakan pola peternak sebagai kontrol
tersebut mampu menghasilkan produk secara yang terdiri dari jerami padi, jerami jagung,
efektif, efisien dan berkelanjutan, dedak dan gamblong serta 2 (dua) perlakuan
Dalam usaha pembibitan, produktivitas pakan modifikasi dengan bahan penyusun
induk yang optimal adalah kunci utama ransum yang sama dengan kontrol namun
keberhasilan usaha. Kurang lebih 95% variasi dilakukan penggantian sebagian dedak dengan
internal kelahiran dan reproduksi ditentukan kulit kopi dan penambahan prebiotik. Secara
oleh faktor non genetik, faktor lingkungan rinci adalah sebagai berikut: perlakuan A
terutama manajemen dan pemberian pakan terdiri atas 10 kg jerami padi + 7,5 kg jerami
serta peranan dokter hewan dalam jagung + dedak 2,3 kg + gamblong 1,5 kg/
menanggulangi penyakit–penyakit reproduksi ekor/hari; perlakuan B terdiri atas 10 kg jerami
(TOELIHERE, 1983). Disamping pengaruhnya padi + 7,5 kg jerami jagung + dedak +
yang besar terhadap reproduksi ternak, pakan gamblong + prebiotik dan perlakuan C terdiri
juga merupakan biaya produksi terbesar dalam atas 10 kg jerami padi + 7,5 kg jerami jagung +
usaha peternakan,yaitu mencapai sekitar 60– dedak + gamblong + dedak padi + kulit kopi +
80% dari seluruh biaya produksi (HARDIANTO prebiotik. Perbandingan dedak: kulit kopi
et al., 2002). adalah 3 : 2. Jumlah gamblong dan dedak yang
Mengefisienkan penggunaan pakan dalam diberikan pada perlakuan B dan C disesuaikan
upaya memaksimalkan produktivitas antara untuk memenuhi kebutuhan standart PBBH 0,6
lain dapat dilakukan melalui pengaturan kg/ekor/hari (NRC, 1984), sedangkan prebiotik
perbandingan antara pakan hijauan dengan yang diberikan berupa vitamin A dan sumber
pakan konsentrat. Perbandingan yang tepat mineral Na, Cl dan Ca berupa garam dapur dan
mengakibatkan kandungan asam asetat, asam CaCO3.
propionat dan asam butirat dalam komposisi Formula pakan yang sudah disepakati
yang optimal sehingga diharapkan dapat dengan peternak tersebut diuji dengan
menggunakan 16 ekor sapi bunting antara 4-6

87
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

bulan. Penelitian dilaksanakan selama 14 sapi bunting dengan sapi yang tidak bunting
minggu terdiri atas 2 minggu masa adaptasi akan memperoleh jumlah pakan yang sama.
dan 12 minggu masa pengumpulan data; Pakan yang diberikan untuk setiap ekor/hari
menggunakan Rancangan Acak Lengkap terdiri atas jerami jagung sebesar 10 kg, jerami
(RAL) dengan berat badan awal sebagai satu padi 7,5 kg, gamblong 1,5 kg dan dedak
covariate. sebanyak 2,3 kg. Selama hampir 10 tahun
Data teknis dianalisis menggunakan melakukan usaha ini, peternak merasa masih
ANOVA dan data ekonomi dengan B/C. belum memperoleh keuntungan yang optimal;
Sedangkan parameter yang diamati meliputi : sehingga alternatif pakan yang mampu
konsumsi zat-zat nutrien ransum yang terdiri meningkatkan efisiensi sangat diperlukan.
dari konsumsi BK, konsumsi PK dan konsumsi Usaha efisiensi dilakukan antara lain dengan
total digestible nutrient (TDN); pertambahan mengganti sebagian (40%) dedak dengan kulit
bobot badan harian (PBBH) setiap bulan, kopi yang lebih murah; dikombinasikan
efisiensi penggunaan ransum dan analisis dengan prebiotik.
ekonomi.
Konsumsi zat nutrien ransum
HASIL DAN PEMBAHASAN
Usaha pembibitan sangat erat kaitannya
Faktor internal/eksternal yang mempengaruhi dengan masalah efisiensi reproduksi yang 95%
usaha nya dipengaruhi oleh pakan, kesehatan dan
lingkungan (TOELIHERE, 1983). Perkembangan
Usaha pembibitan sebagaimana yang organ reproduksi selama kebuntingan harus
sedang dikembangkan oleh perusahaan ini agar mendapatkan perhatian dengan pemberian
lebih baik dimasa yang akan datang perlu pakan yang tepat sesuai dengan kebutuhan sapi.
memperhatikan bangsa yang akan dipilih, Hasil pengamatan terhadap konsumsi zat-
kondisi lingkungan, pakan dan menejemennya zat nutrisi ransum menunjukkan bahwa
karena adanya faktor interaksi genetik dan pemberian pakan yang berbeda mengakibatkan
lingkungan (DIWYANTO et al, 1996) disamping terjadinya perbedaan konsumsi zat nutrien.
aspek ekonomi, strategi dan ekologis. Namun Konsumsi BK berbeda nyata (P<0,05) diantara
demikian pemilihan sapi PO; PO-Simmental perlakuan; konsumsi BK yang terendah adalah
dan PO Limousin yang dilakukan adalah dalam pada perlakuan pakan menurut pola peternak
rangka memenuhi selera konsumen/pasar. (perlakuan A) sebesar 12,83 kg/ekor/hari dan
Sebagian besar konsumen pembeli sapi yang tertinggi pada perlakuan B, sebesar 15,38
bakalan untuk digemukkan lebih menyukai kg/ekor/hari.
sapi turunan daripada sapi lokal. Hal ini antara Konsumsi PK maupun TDN sejalan dengan
lain disebabkan tampilan PBBH sapi hasil konsumsi BK. Konsumsi PK terendah yakni
persilangan lebih tinggi daripada sapi lokal sebesar 0,81 kg/ekor/hari adalah konsumsi
sebagaimana hasil penelitian yang dilaporkan yang dicapai oleh perlakuan A dan tertinggi
oleh TALIB (1991). yakni sebesar 1,00 oleh perlakuan B dengan
Pengamatan terhadap tatalaksana pakan konsumsi TDN masing-masing sebesar 5,81
menunjukkan bahwa jumlah pemberian pakan kg/hari dan 7,05 kg/hari. Konsumsi BK, PK
didasarkan pada besarnya sapi tidak dan TDN pada masing-masing perlakuan
berdasarkan status fisiologis sapi; sehingga (Tabel 1).

Tabel 1. Konsumsi nutrien ransum(kg/ekor/hari) pada masing-masing perlakuan

Perlakuan
Konsumsi nutrien ransum
A B C
Konsumsi BK 12,83a 15,38bc 15,00ab
Konsumsi PK 0,81a 1,00bc 0,94b
Konsumsi TDN 5,81a 7,05bc 6,85b
a, b, c, d
Notasi yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan beda nyata (P<0,05)

88
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

PBBH yang dicapai, konversi dan nilai tercukupi, namun konsumsi TDN masih lebih
efisiensi pakan rendah dari standar kebutuhan (Tabel 3).

Hasil penimbangan bobot badan yang


Analisis ekonomi
dilakukan setiap bulan menunjukkan bahwa
perlakuan pakan yang berbeda tidak
menyebabkan perbedaan nilai PBBH. PBBH Pendekatan terhadap analisis input-output
yang dicapai pada kelompok perlakuan A didasarkan pada nilai pakan dan pendapatan,
diprediksikan dari harga dan PBBH yang
adalah sebesar 0,47 kg; B sebesar 0,63 kg; C
sebesar 0,60 kg. dicapai, secara rinci dapat dilihat pada Tabel 4
Hasil perhitungan terhadap nilai konversi berikut. Nilai B/C yang merupakan rasio out
put dengan biaya usaha berkisar antara 1,23-
dan efisiensi pakan menunjukkan bahwa
perlakuan pakan pola peternak lebih jelek dari 1,34 lebih tinggi daripada nilai BEP; yang
perlakuan pakan yang lain; terlihat dari berarti semua perlakuan pakan mampu
tingginya nilai konversi pakan (27,29%) dan memberikan keuntungan.
Upaya efisiensi pada perlakuan C dengan
terendahnya nilai efisiensi pakan (3,67%)
mengganti 50% dedak dengan kulit kopi tidak
(Tabel 2).
Dengan pencapaian PBBH antara 0,57-0,63 ekonomis karena meskipun harganya lebih
murah namun nilai manfaat nutrisinya lebih
kg/ekor/hari berarti bahwa perlakuan pakan B
rendah; ditunjukkan dengan capaian nilai
dan C telah dapat memenuhi target yang
ditentukan yakni sebesar 0,6 kg/ekor/hari. Pada PBBH perlakuan C yang lebih rendah dari
perlakuan B.
perlakuan A (pakan pola peternak) target 0,6
Ditinjau dari nilai B/C nya maka perlakuan
kg/ekor/hari tidak dapat dicapai; PBBH hanya
tercapai 0,47 kg/ekor/hari atau sebesar 78,33% B yang berupa perlakuan pakan dengan bahan
yang sama dengan pola pakan peternak
dari target. Hal ini disebabkan perlakuan pakan
ditambah dengan prebiotik adalah yang paling
B dan C telah mencukupi kebutuhan nutrisi
yang diperlukan. Sementara itu, pada dianjurkan karena memberikan keuntungan
perlakuan A, konsumsi BK dan PK sudah yang paling besar.

Tabel 2. PBBH, konversi dan nilai efisiensi pakan pada masing-masing perlakuan

Perlakuan
Uraian
A B C
PBBH (kg/ekor/hari) 0,47 0,63 0,60
Konversi pakan 27,29 24,41 25,00
Efisiensi pakan (%) 3,67 4,10 4,00

Tabel 3. Perbandingan antara kebutuhan dengan konsumsi nutrisi masing-masing perlakuan

Perlakuan
Uraian
A B C
BK (kg/ekor/hari)
Standar 8,96 9,00 9,12
Konsumsi 12,83 15,38 15,00
Selisih + 3,87 + 6,38 + 5,88
PK (kg/ekor/hari)
Standar 0,74 0,75 0,76
Konsumsi 0,81 1,00 0,94
Selisih 0,07 + 0,25 + 0,18
TDN (kg/ekor/hari)
Standar 5,24 5,27 5,34
Konsumsi 5,18 7,05 6,85
Selisih 0,06 + 1,78 + 1,51

89
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2004

Tabel 4. Analisis ekonomi pendapatan pada masing-masing perlakuan

Uraian Perlakuan
A B C
Input (Rp/ekor/hari)
Jerami 750,00 1212,50 1177,50
Tebon 2500,00 2500,00 2500,00
Gamblong 150,00 192,50 187,50
Dedak 805,00 840,50 532,25
Kulit kopi 0 0 380,25
prebiotik 0 150,00 150,00
Total 4205,00 4895,50 4927,50
Out put (Rp/ekor/hari)
Nilai jual PBBH 5170,00 6930,00 6600
Nilai B/C 1,23 1,41 1,34

Harga jerami = Rp 100/kg Harga tebon = Rp 250/kg


Harga gamblong = Rp 100/kg Harga dedak = Rp 350/kg
Harga kulit kopi = Rp 250/kg Harga prebiotik = Rp 1.750/kg
Harga PBBH = Rp 11.000/kg

KESIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA

Tatalaksana pakan pada usaha pembibitan APFINDO, 1996. Daftar Usulan Impor Sapi Bakalan
CV Bukit Indah, Lumajang perlu diperbaiki. dari Perusahaan.
Jumlah pakan yang diberikan harus DIWYANTO, K., A PRIYANTI dan D. ZAINUDDIN 1996.
disesuaikan dengan bobot sapi status fisiologis Pengembangan ternak berwawasan agribisnis
dan target PBBH yang diinginkan. Pemberian dipedesaan dengan memanfaatkan limbah
pakan berdasarkan besar sapi merupakan satu- pertanian dan pemilihan bbit yang tepat.
satu penghambat dicapainya produktivitas yang Jurnal Litbang Pertanian, XV(1): 6−15.
optimal. Strategi pakan alternatif berupa HARDIANTO, R., D.E WAHYONO, C. ANAM,
pemenuhan zat nutrien sesuai status fisiologis SURYANTO, G. KARTONO dan S.R.
ditambah dengan prebiotik ternyata mampu SOEMARSONO. 2002. Kajian teknologi pakan
meningkatkan efisiensi ransum dari 3,66% lengkap (complete feed) sebagai peluang
menjadi >4% pada perlakuan B, dan C serta angribisnis bernilai komersial di pedesaan.
peningkatan keuntungan dengan meningkatnya Makalah Seminar dan Ekspose Teknologi
B/C dari 1,23 menjadi ≥1,41. Spesifik lokasi, Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.
Disarankan bahwa pada usaha pembibitan,
selain perbaikan tatalaksana pakan, perlu NRC. 1984. Nutrient Requirement of Beef Cattle.
segera dilakukan pencatatan aktivitas National Academy of Sci. Washington, D.C.
reproduksi yang tertib untuk memudahkan TOELIHERE. M. 1983. Fisiologi Reproduksi pada
pelaksanaan usaha selanjutnya misalnya bila Ternak. Angkasa Bandung.
harus melaksanakan culling.
TALIB, C. 1991. Produktivitas sapi PO dan
silangannya dengan Brahman dan Limousin:
Pertumbuhan pada umur 205 hari sampai 365
hari. Ilmu Peternakan (4)4: 384−368.

90