Sei sulla pagina 1di 11

JURNAL IPTEK

MEDIA KOMUNIKASI TEKNOLOGI


homepage URL : ejurnal.itats.ac.id/index.php/iptek

Pembuatan Antifoam Agent dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati


Menggunakan Pemanas Microwave
Achmad Ferdiansyah P. P., S.T., M.T., Inti Rohmania, dan Firman Maulana
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
INFORMASI ARTIKEL ABSTRACT

Jurnal IPTEK – Volume 1 Industrial growth in East Java continues to increase. In the process of
Nomer 1, Juli 2019 industrial operation is widely used liquid phase is at risk for the formation of foam
that infer the negative impact for the industry. The solution of this problem is to
Halaman: add an antifoam. Unfortunately the antifoam that is on the market today is rare
1 – 10 because imported products so that have a relatively expensive price and contains
Tanggal Terbit : surfactants that are difficult to describe in nature. Therefore, an effective and
5 Juli 2019 environmentally friendly antifoam is required. One of them is from methyl ester
which is widely contained in vegetable oil. Type of vegetable oil that has not been
DOI: widely used is waste cooking oil (WCO), ‘nyampung’ oil, and ‘jarak’ oil. In this
10.31284/j.iptek.2017.v21i2.91 research, vegetable oil is processed by combined with methanol and NaOH using
microwave at 60°C during 6 minutes. The analysis of antifoam is yield calculation,
high tested of foam and compared with import and commercial antifoam agent
also GCMS analysis. The result, it is found that the best variation of antifoam is
from WCO with yield (gr antifoam/gr methanol) 99,87%. Also, WCO antifoam is
the best capable to decrease the foam until 0,124 cm/s and compared with
antifoam agent “Buckman” reach 28,57%.

Key words: antifoam, microwave, waste cooking oil.


EMAIL ABSTRAK

cakferdian@gmail.com Jumlah industri di Jawa Timur kini semakin mengalami kenaikan.


introhmania09@gmail.com Seringkali pada sebuah industri yang dalam operasi prosesnya menggunakan fase
firmanmaulaana4@gmail.com liquid, terbentuknya foam atau buih sangat tidak dikehendaki. Solusi dari
permasalahan ini adalah dengan menambahkan antifoam. Sayangnya antifoam
yang ada dipasaran terbilang cukup mahal karena merupakan produk impor dari
luar negeri dan terbuat dari bahan kimia yang tidak aman bagi lingkungan,
PENERBIT sehingga dibutuhkan antifoam yang bersifat biodegradable. Salah satunya adalah
antifoam dari minyak nabati. Beberapa minyak nabati yang belum banyak
LPPM- Institut Teknologi dimanfaatkan adalah minyak jelantah, minyak nyamplung, dan minyak jarak.
Adhi Tama Surabaya Pada penelitian ini dilakukan proses pencampuran minyak dengan metanol dan
Alamat: NaOH menggunakan pemanas microwave pada suhu 60°C selama 6 menit. Tahap
Jl. Arief Rachman Hakim analisis antifoam yaitu perhitungan yield, uji penurunan ketinggian foam dan
No.100, Surabaya 60117, membandingkannya dengan antifoam impor dan komersial serta uji GCMS. Dari
Telp/Fax: 031-5997244 hasil penelitian didapatkan bahwa yield antifoam paling tinggi adalah antifoam
dari minyak jelantah sebesar 99,87% dengan kecepatan penurunan busa sebesar
Jurnal IPTEK by LPPM-ITATS 0,124 cm/s. Antifoam minyak jelantah selanjutnya dibandingkan dengan antifoam
is licensed under a Creative agent merk dagang “Buckman” didapatkan bahwa antifoam minyak jelantah
Commons Attribution- mampu menurunkan busa lebih cepat yaitu mencapai 28,57%.
ShareAlike 4.0 International
License. Kata kunci: antifoam, microwave, minyak jelantah

INTRODUCTION
The increase in the number of industries in East Java Province reached 12% over 6
years starting from 2010 to 2016 and is predicted to increase every year. Of the 813,140
industrial units, 121,319 units in East Java use the liquid phase in the process [1]. Often in
an industry that in its process operations uses a liquid phase, the formation of foam or foam
is very undesirable, for example in the pulp and paper industry, pharmaceuticals,
1
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

fermentation, food, and chemistry. As a result of the presence of foam or foam is reducing
the efficiency of the process, increasing pump capacity in the storage tank, measuring the
height of the liquid that is not accurate, and causes pollution both for the process and the
environment [2]. That condition is an obstacle in the industrial world so that additional
substances are needed which can reduce the process of forming foam or foam called
antifoam.
Antifoam products in the market today are quite expensive because they are imported
products from abroad. Most antifoam products on the market are also made of chemicals
that are not safe for the environment. Antifoam is a mixture of surfactants that become
voltage stabilizers that occur on the surface of liquids that have chemical chains that are
difficult to degrade (decomposed) in nature [3]. This is what can cause environmental
pollution. Seeing from the shortcomings above, antifoam is needed which does not cause
any side effects either on the process itself or on the environment and its handling must be
easy and biodegradable.
Making antifoam which is biodegradable has now begun to be developed. Various
methods and methods have been carried out to obtain antifoam made from methyl ester
from vegetable oil. In the previous study using the esterification and transesterification
method to make antifoam from jatropha vegetable oil (Jatropha curcas L.) and compare it
with used cooking oil with conventional heating. This method is a simple method of
making antifoam but has a disadvantage which requires a long time for the esterification
and transesterification process, which is for 105 minutes [4]. Then the development of
research on the innovation of making antifoam agent from bintaro oil (Carbera manghas
L.) with the transesterification method using modified microwave heaters was developed.
The transesterification method using microwave heaters has a faster time because it can
synthesize pores from the raw material. However, the bintaro oil antifoam product
produced also has a disadvantage, which is a lower foam drop time compared to the
antifoam trademark "Struktol" and "Buckman", so it needs further development to get
antifoam which can reduce foam with a fast time. On the other hand, if the bintaro
antifoam oil is produced on a macro-industrial scale, of course it is difficult to provide raw
materials because of the limited availability of bintaro [5].
Therefore, to solve the problem of limited bintaro oil antifoam raw materials and the
low speed of foam height reduction, further research is needed to make a variety of
vegetable oil raw materials to obtain antifoam which has abundant raw material availability
and has a high speed of foam drop.

TINJAUAN PUSTAKA
Minyak Jelantah (Waste Cooking Oil)
Minyak jelantah merupakan sisa pemakaian Crude Palm Oil (CPO) yang digunakan untuk
memasak yang dapat ditemui dengan mudah di pengusaha makanan, restoran, kafetaria hingga
dapur rumah tangga [6]. Komponen penyusun minyak jelantah didominasi oleh asam lemak oleat
(55,68%) dan palmitat (35,22%) [7].

Minyak Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.)


Minyak nyamplung adalah minyak hasil ekstraksi dari biji nyamplung menggunakan mesin
pres [8]. Minyak nyamplung bersifat non pangan (non-edible oil) sehingga tidak bersaing dengan
kebutuhan pangan [9]. Komposisi penyusun minyak nyamplung terbesar didominasi oleh asam
lemak monounsaturated yaitu asam oleat C18:1 (39,1 ±1,4%). Dilanjutkan dengan asam lemak
polyunsaturated yaitu asam linoleat C18:2 (31,1 ± 1,4%) [10, 11].

Minyak Jarak (Jatropha curcas L.)

2
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

Minyak jarak dapat digunakan sebagai pengganti minyak tanah untuk memasak dan
menggantikan tenaga uap di industri [12]. Minyak jarak kasar juga dapat digunakan sebagai bahan
baku pembuatan biodiesel dan diolah lebih lanjut menjadi surfaktan. Komponen penyusun minyak
jarak terbesar didominasi oleh asam lemak oleat (34,3 – 45,8%) dan linoleat (29,0 – 44,2%) [13].

Microwave
Microwave atau gelombang mikro adalah gelombang elektromagnetik dengan frekuensi
super tinggi (Super High Frequency), yaitu memiliki rentang dari 10 8 Hz hingga 1012 Hz atau 10
THz. Microwave memiliki rentang panjang gelombang dari 1 mm hingga 1 m. Radiasi gelombang
mikro berbeda dengan metode pemanasan konvensional. Radiasi gelombang mikro memberikan
pemanasan yang merata pada campuran reaksi. Pada pemanasan konvensional dinding oil bath atau
heating mantle dipanaskan terlebih dahulu, kemudian pelarutnya. Akibat distribusi panas seperti ini
selalu terjadi perbedaan suhu antara dinding dan pelarut [14]. Keunggulan dalam pemilihan
microwave sebagai media pemanas karena microwave bisa bekerja cepat dan efisien. Hal ini
dikarenakan adanya gelombang elektromagnetik yang bisa menembus bahan dan mengeksitasi
molekul-molekul bahan secara merata [15]. Tidak hanya itu, pemanasan dengan microwave tidak
mengubah komposisi asam lemak yang ada pada lemak atau minyak [16]. Teknologi tersebut cocok
bagi pengambilan senyawa yang bersifat termolabil karena memiliki kontrol terhadap suhu yang
lebih baik dibandingkan proses pemanasan konvensional, waktu ekstraksi lebih singkat, konsumsi
energi dan solvent yang lebih sedikit, yield lebih tinggi, akurasi dan presisi lebih tinggi, serta
adanya proses pengadukan sehingga meningkatkan fenomena transfer massa [17].

Antifoam dan Defoamer


Antifoam atau inhibitor busa biasanya ditambahkan ke larutan berbusa sebelum
pembentukan busa dan bertindak untuk mencegah pembentukan busa berlebihan. Di sisi lain,
defoamers atau pemecah busa merupakan zat yang ditambahkan pada busa dengan tujuan utama
untuk menginduksi runtuhnya busa dengan cepat. Antifoam atau defoamers mengandung minyak,
partikel padat hidrofobik atau campuran keduanya. Minyak nonpolar (minyak mineral, minyak
silikon) dan minyak polar (alkohol lemak dan asam, amina alkil, amida alkil, tributil fosfat (TBP),
dan yang lainnya). Partikel padatnya merupakan senyawa anorganik contohnya (silika, Al 2O3,
TiO2), lilin (Mg stearat) atau senyawa polimer (poly amides, poly propylene) [18].

METODE

The variables used in this study:


1. Variations in raw materials for vegetable oils include used cooking oil, nyamplung oil,
and castor oil
2. The volume ratio of oil and methanol is 1: 5, 1: 7, 1: 9, 1:11, and 1:13
3. Antifoam trademark "Buckman", "Defo", and "Starslab"
4. The dose of antifoam added to the test for decreasing the foam height in sugar cane
drops is 1 mL / L, 2 mL / L, 3 mL / L, 4 mL / L, and 5 mL / L

Keterangan :
(e) (f) (a) Microwave
(b) Labu leher tiga
(d) (c) Thermocouple
(d) Electric stirrer
(e) Kondensor
(f) Statif dan klem
(b) (c)
(a)

(a) (b)

3
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

Gambar 1. (a) Rangkaian Peralatan Menggunakan Pemanas Microwave (b) Alat Uji Antifoam
Procedure
Pre-Treatment Stage
The pre-treatment stage is carried out on used cooking oil by filtering using filter paper.
The goal is to remove impurities in waste cooking oil.

Product Manufacturing Process


The manufacturing process begins with weighing 2% NaOH catalyst from the oil mass. To
know 2% of the mass of oil, first, weigh oil as much as 20 mL. Then mash NaOH using mortar and
pestle and dissolve it into methanol according to the volume ratio of oil and methanol (1: 5, 1: 7, 1:
9, 1:11, and 1:13). Furthermore, NaOH which has dissolved into methanol is put into a three-neck
flask and adds as much as 20 mL of oil according to the research variables of waste cooking oil,
nyamplung oil, and castor oil. Then put the three-neck squash into the microwave and arrange the
tools including the condenser, thermocouple, and electric stirrer as shown in Figure 1 (a). The
mixing process is carried out at a temperature of 60 ° C for 6 minutes. Furthermore, antifoam is
obtained which still contains impurities, which need a separation process to get pure antifoam. The
antifoam separation process from this impurity uses a separating funnel followed by filter paper so
that antifoam is free of impurities. Then weigh antifoam to find out the mass.

Analysis Stage
Yield Calculation Analysis is the ratio of antifoam mass and mass of raw material. The yield
calculation formula is as follows:
Antifoam mass (gr)
Yield = x 100%
Mass of raw material (gr)

Antifoam Testing Analysis


Antifoam analyzed for the rate of decrease in foam height is antifoam from used cooking
oil, nyamplung oil, castor oil, and trademarks "Defo" and "Starslab". Antifoam testing method is
carried out by reference to the testing standard from Momentive which was published by 22
Corporate Woods Boulevard USA in 2012. The testing process is carried out according to Figure 1
a. Methods of Testing the Speed of Decreasing Antifoam
The method of testing the speed of antifoam reduction begins with making a sugar cane drop
waste solution with a ratio of 100 mL of sugar cane drops to sugar mills and 400 mL of water.
Enter sugar mill sugar cane waste solution into a 500 mL glass tube. The pump is turned on and let
the waste flow continuously for 5 minutes until the foam is formed. Measuring foam height from
the surface of the waste. Adding antifoam from a variety of vegetable oil raw materials made in the
process of mixing oil and methanol using microwave heaters at a temperature of 60 ° C with the
addition of antifoam as much as 1 mL / L, 2 mL / L, 3 mL / L, 4 mL / L, and 5 mL / L. Count the
time needed until the foam reaches a height of 1 cm from the surface of the waste. Calculate the
speed of antifoam decrease. Blowdown and clean the equipment.
b. Antifoam Testing Methods in Industry
Antifoam analyzed is antifoam from used cooking oil, antifoam from nyamplung oil, antifoam
from castor oil, and antifoam trademark "Buckman". Antifoam testing methods in the industry are
carried out at the Energy Agro Nusantara (Enero) Laboratory, PT Perkebunan Nusantara X
(Persero). The test method is 300 mL of the sample from the fermentor station and then put into a
600 mL beaker glass. The sample in a glass beaker is aerated using an aerator until the foam is
formed until it reaches a height of 7 cm from the surface of the sample. Entering the antifoam
variable into the beaker glass which has formed foam with an additional dose of 1.2 mL. Calculate
and record the length of time needed to reduce the knockdown and increase the re-foam
(persistence) of each antifoam. Blowdown and clean the glass beaker and aerator.

GCMS Testing Analysis

4
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

Antifoam testing using GCMS was carried out to determine the content of the compounds present
in antifoam from used cooking oil, antifoam from nyamplung oil, antifoam from castor oil, and
impurities. Antifoam samples prepared for GCMS testing. This test was conducted at the Unit
Layanan Pengujian, Airlangga University.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Analisis Pengaruh Variasi Bahan Baku Minyak Nabati terhadap Yield Antifoam
Pada penelitian ini dilakukan proses pembuatan antifoam dari proses pencampuran bahan
baku minyak nabati dan metanol menggunakan pemanas microwave dengan variabel rasio volume
minyak dan metanol 1:5, 1:7, 1:9, 1:11, dan 1:13 serta penambahan katalis NaOH sebanyak 2%
dari massa minyak. Variasi bahan baku minyak nabati yang digunakan adalah minyak jelantah,
minyak nyamplung, dan minyak jarak. Berikut merupakan grafik hasil percobaan pengaruh variasi
bahan baku minyak nabati terhadap yield antifoam.
Berdasarkan Gambar 2. didapatkan hasil bahwa antifoam dari minyak jelantah memiliki
yield paling tinggi apabila dibandingkan dengan antifoam dari minyak nyamplung dan antifoam
dari minyak jarak. Yield antifoam tersebut berturut-turut adalah 99,87%; 77,28%; dan 86,65%. Hal
tersebut dikarenakan tidak semua minyak dan metanol akan terkonversi sempurna menjadi
antifoam, tetapi ada pengotor yang terbentuk selama proses pembuatan antifoam. Dimana dalam
proses pembuatan tersebut terdapat dua lapisan, yaitu lapisan atas yang berwarna kuning terang dan
lapisan bawah yang lebih keruh dan gelap. Lapisan bawah tersebut merupakan pengotor yang
terbentuk setelah proses pembuatan antifoam berlangsung.
Zat pengotor yang dimaksud tertera pada Tabel 1., yang merupakan residu setelah proses
pemisahan dengan antifoam. Pengotor yang dipisahkan dari produk antifoam dari minyak
nyamplung dan antifoam dari minyak jarak lebih banyak daripada pengotor yang dipisahkan dari
produk antifoam dari minyak jelantah. Dengan bertambahnya zat pengotor tersebut akan
mengurangi massa produk antifoam, sehingga berpengaruh terhadap rendahnya yield antifoam.
Dari ketiga variasi bahan baku minyak nabati didapatkan bahwa yield antifoam yang paling tinggi
adalah antifoam dari minyak jelantah.

Gambar 2. Grafik Pengaruh Variasi Bahan Baku Minyak Nabati terhadap Yield Antifoam

Tabel 1. Hasil Analisis Kandungan Zat Pengotor Menggunakan GCMS


(%)
No Komponen / Nama Senyawa
Normalisasi
1. Methyl miristate 1,46
2. Methyl ester hexadecenoic acid 37,06
3. Methyl ester heptadecanoic acid 0,42
4. Methyl ester octadecenoic acid 53,61

5
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

5. Methyl ester eicosanoic acid 3,29


Diethyl ester perhydro-7-oxo-
6. 0,37
perhydrobenzo(a)cycloheptene-6, 8-dicarboxylic acid
7. Methyl ester docosanoic acid 0,51
8. Methyl ester tricosanoic acid 0,11
9. Squalene 0,32
10. Cholesterol 0,24

Adanya kandungan zat pengotor tersebut diketahui berdasarkan pengujian menggunakan


GC-MS (Gas Cromatography-Mass Spectrometry). Kromatografi gas spektrometri massa (GCMS)
merupakan instrumen analisis hasil kombinasi antara kromatografi gas dan spektrometri massa.
Kromatografi gas memiliki kemampuan yang baik dalam hal pemisahan kuantitatif komponen
sedangkan spektrometri massa memiliki kemampuan yang baik dalam hal analisis kualitatif
komponen [19]. Dari hasil pengujian yang dilakukan didapatkan persentase kandungan zat
pengotor menggunakan uji GC-MS yang disajikan pada Tabel 1, dapat diketahui bahwa zat
pengotor yang terdapat pada lapisan bawah memiliki komponen yang sangat beragam yaitu
sebanyak 10 zat, sementara pada produk antifoam yang terdapat pada Tabel 2. hanya terdapat 8 zat.
Hal tersebut terlihat jelas bahwa pada lapisan bawah merupakan zat pengotor, sedangkan pada
lapisan atas merupakan produk antifoam yang lebih murni.

Analisis Pengaruh Variasi Bahan Baku Minyak Nabati pada Pembuatan Antifoam terhadap
Kecepatan Penurunan Ketinggian Busa
Produk antifoam dari variasi bahan baku minyak nabati yang telah didapatkan selanjutnya
dilakukan uji penurunan ketinggian busa. Limbah yang digunakan sebagai media pengujian adalah
limbah tetes tebu pabrik gula dengan menerapkan metode standar pengujian dari Momentive yang
diterbitkan oleh 22 Corporate Woods Boulevard USA pada tahun 2012.
Untuk menentukan kecepatan penurunan ketinggian busa digunakan persamaan berikut ini:

tinggi busa akhir (cm) - tinggi busa awal (cm)


Kecepatan Penurunan Busa (cm/s) = x 100%
waktu penurunan busa (t)

H awal merupakan ketinggian busa awal dan H akhir merupakan ketinggian busa akhir setelah
ditambahkan antifoam dari variasi bahan baku minyak nabati sesuai dosis, kemudian dibagi dengan
waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan busa.
Data percobaan pengaruh antifoam dari variasi bahan baku minyak nabati terhadap
kecepatan penurunan ketinggian busa dapat ditunjukkan dengan Gambar 3(a)(b)(c). Berdasarkan
grafik dapat diketahui bahwa pada rasio volume 1:5 dan 1:7 dengan penambahan antifoam sesuai
dosis berada di rentang bawah, sementara rasio volume 1:9, 1:11, dan 1:13 berada pada rentang
atas. Kecepatan penurunan ketinggian busa pada rasio volume 1:9 mampu melebihi rasio volume
1:11 dan 1:13. Dapat disimpulkan bahwa kecepatan penurunan ketinggian busa paling tinggi
didapat dari penambahan antifoam dari minyak jelantah, antifoam dari minyak nyamplung,
dan antifoam dari minyak jarak rasio volume minyak dan metanol 1:9. Dari ketiga grafik
tersebut selanjutnya akan dibandingkan variasi bahan baku minyak nabati yang paling baik untuk
menurunkan ketinggian busa seperti yang terlihat pada Gambar 3(d). Dari ketiga variasi bahan
baku minyak nabati tersebut, antifoam dari minyak jelantah dengan rasio volume minyak dan
metanol 1:9 memiliki kecepatan penurunan ketinggian busa paling tinggi dibandingkan
dengan antifoam dari minyak nyamplung dan antifoam dari minyak jarak.

(b)
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

(a)

(c) (d)

Gambar 3. Grafik Pengaruh (a) Antifoam dari Minyak Jelantah (b) Antifoam dari Minyak Nyamplung (c)
Antifoam dari Minyak Jarak (d) Pengaruh Dosis Penambahan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak
Nabati terhadap Kecepatan Penurunan Ketinggian Busa

Pernyataan tersebut diperkuat oleh hasil pengujian presentase kandungan antifoam dari
minyak jelantah, antifoam dari minyak nyamplung, dan antifoam dari minyak jarak menggunakan
uji GC-MS yang tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil Analisis Kandungan Antifoam dari Minyak Jelantah, Antifoam dari Minyak Nyamplung, dan
Antifoam dari Minyak Jarak Menggunakan GCMS
% Normalisasi
No. Komponen / Nama Senyawa Antifoam Antifoam Antifoam
Minyak Jelantah Minyak Nyamplung Minyak Jarak
1. Methyl laurate 0,44 - -
2. Methyl myristate 1,55 - -
3. Palmitic acid 3,93 2,66 -
4. Methyl ester octadecanoic acid 43,50 13,58 -
4-(3,4-dimethoxybenzylidine)1-(4-
5. 1,87 - -
nitrophenyl)-3-phenyl-2-pyrazolin-5-one
6. Methyl ricinoleate - 5,60 65,00
7. Methyl ester hexadecenoic acid 33,36 3,37 2,08
8. (z)-9-octadecanamide 6,00 1,44 -
9. 2-butyl - 2,06 -
10. Epicrinamidine - 8,07 -
11. Methyl linoleat - - 17,61
12. 2-hydroxy-cyclopentadecanone - - 0,40
13. .beta.-sitosterol - - 0,52
14. Methyl ester eicosanoic acid 1,26 - -

Berdasarkan Tabel 2. dapat diketahui terdapat suatu senyawa yang dinamakan methyl ester
pada ketiga antifoam dari variasi minyak nabati. Kandungan methyl ester octadecanoic acid dan
methyl ester hexadecenoic acid pada antifoam dari minyak jelantah, antifoam dari minyak
nyamplung, dan antifoam dari minyak jarak berturut-turut adalah 76,86%, 16,95%, dan 2,08%. Hal
tersebut menunjukkan bahwa persentase kandungan methyl ester terbanyak terdapat pada antifoam
minyak jelantah. Pernyataan tersebut diperkuat oleh Gambar 6. adanya kandungan methyl ester
mempengaruhi kecepatan penurunan ketinggian busa. Semakin banyak kandungan methyl ester-nya
maka kemampuan penurunan busa juga akan semakin cepat. Antifoam minyak jelantah memiliki
kecepatan penurunan busa paling tinggi dibandingkan kedua antifoam yang lain. Methyl ester dapat

7
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

berfungsi sebagai antifoam yang menyapu permukaan busa, mengeringkan dinding-dinding


gelembung dengan melakukan transportasi pada permukaan. Selain itu, methyl ester mampu
mengadsorpsi partikel pendispersi pada permukaannya [20].
Dari tabel tersebut juga dapat diketahui bahwa terdapat suatu senyawa yang dinamakan
methyl myristate (C5H30O2). Senyawa tersebut merupakan senyawa yang memiliki kelarutan pada
alkohol, dipropylene glycol, dan fixed oils. Senyawa tersebut merupakan salah satu komponen
penyusun pada pembuatan defoamers [21]. Dari ketiga antifoam tersebut hanya antifoam dari
minyak jelantah yang terdapat senyawa methyl myristate sebanyak 1,55%. Hal tersebut mendukung
bahwa antifoam dari minyak jelantah mampu menurunkan busa lebih cepat dibandingkan
antifoam minyak nyamplung dan antifoam minyak jarak.

Analisis Dosis Optimum Penambahan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati
terhadap Kecepatan Penurunan Ketinggian Busa
Berdasarkan kesimpulan dari sub bab sebelumnya yaitu antifoam dari minyak
jelantah dengan rasio volume minyak dan metanol 1:9 merupakan rasio yang paling
optimum untuk menurunkan ketinggian busa, selanjutnya akan ditentukan mengenai dosis
optimum penambahan antifoam dari minyak jelantah yang ditunjukkan pada Gambar 4(a).
dapat diketahui bahwa penambahan dosis antifoam dari minyak jelantah terhadap
kecepatan penurunan ketinggian busa terus mengalami kenaikan seiring dengan
bertambahnya dosis penambahan antifoam. Penambahan dosis antifoam dari minyak
jelantah sebanyak 4 mL/L mampu menyamai kecepatan penurunan ketinggian busa dengan
penambahan dosis sebanyak 5 mL/L. Maka dapat disimpulkan bahwa dosis optimum
penambahan antifoam pada uji kecepatan penurunan ketinggian busa adalah sebanyak 4
mL/L.

(b) (a)

Gambar 4. Grafik Analisis (a) Dosis Optimum Penambahan Antifoam Minyak Jelantah Rasio Volume 1:9
(b) Perbandingan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati dan Antifoam Agent Merk Dagang
terhadap Kecepatan Penurunan Ketinggian Busa

Analisis Perbandingan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati dan Antifoam
Agent Merk Dagang
Produk antifoam dari variasi bahan baku minyak nabati dilakukan proses pengujian dengan
metode berbeda untuk membandingkan dengan antifoam agent merk dagang. Pengujian yang
pertama dilakukan di Laboratorium Lantai II Departemen Teknik Kimia Industri dengan
menerapkan metode standar pengujian dari Momentive yang diterbitkan oleh 22 Corporate Woods
Boulevard USA pada tahun 2012. Antifoam agent merk dagang yang digunakan sebagai
pembanding adalah produk market bebas yaitu “Defo” dan “Starslab” dengan meenggunakan
limbah tetes tebu pabrik gula sebagai media pengujiannya. Pengujian yang kedua dilakukan di
Laboratorium Energi Agro Nusantara (Enero), PT Perkebunan Nusantara X (Persero). Antifoam

8
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

agent merk dagang yang digunakan sebagai pembanding adalah produk antifoam impor yaitu
“Buckman” dengan menggunakan sampel fermentor berupa nira sebagai media pengujiannya.

Analisis Perbandingan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati dan Antifoam
Agent Merk Dagang “Defo” dan “Starslab”
Berdasarkan Gambar 4(b). dapat diketahui bahwa penambahan minyak jelantah yang
digunakan sebagai kontrol tidak dapat menurunkan busa. Hal berbeda ditunjukkan dengan
penambahan minyak jelantah yang telah diproses menjadi antifoam Pada grafik tersebut terlihat
jelas bahwa antifoam dari minyak jelantah memiliki kecepatan penurunan busa paling tinggi yaitu
mencapai 0,127 cm/s dengan dosis penambahan sebanyak 5 mL/L. Antifoam dari minyak jelantah
selanjutnya akan dibandingkan dengan antifoam agent merk dagang “Defo” dan “Starslab”.
Kecepatan penurunan ketinggian busa tertinggi ada pada dosis penambahan antifoam sebanyak 5
mL/L, dimana kecepatan penurunannya berturut-turut sebesar 0,117 cm/s (Defo) dan 0,022 cm/s
(Starslab). Hal ini menunjukkan bahwa antifoam dari minyak jelantah mampu menurunkan
busa lebih cepat dibandingkan antifoam agent merk dagang “Defo” dan “Starslab”.

Analisis Perbandingan Antifoam dari Variasi Bahan Baku Minyak Nabati dan Antifoam
Agent Merk Dagang “Buckman” dan Antifoam Bintaro
Antifoam dari minyak jelantah akan dibandingkan dengan antifoam agent merk dagang
“Buckman” dan antifoam bintaro untuk menganalisis efektivitas dalam hal kecepatan penurunan
ketinggian busa. Data hasil analisis keefektifan kecepatan penurunan ketinggian busa dapat dilihat
pada Tabel 3. bahwa terdapat data knockdown (waktu yang dibutuhkan antifoam untuk
menurunkan busa) dan persistence (waktu yang dibutuhkan untuk memunculkan busa hingga batas
konstan setelah adanya penambahan antifoam). Antifoam dikatakan baik apabila nilai knockdown
dan persistence-nya lebih cepat.
Pada penelitian sebelumnya, antifoam dibuat dari minyak bintaro. Permasalahan dari
produk antifoam minyak bintaro memiliki kelemahan yaitu kecepatan waktu penurunan busa yang
lebih rendah jika dibandingkan dengan antifoam agent merk dagang “Buckman”. Pada Tabel 3.
menunjukkan bahwa dari aspek penurunan busa (knockdown), antifoam minyak jelantah hanya
selama 5 detik sementara antifoam bintaro selama 10 detik dengan penambahan 1,2 mL/300 mL.
Apabila dilihat dari aspek persistence-nya, terdapat perbedaan nilai cukup jauh yaitu 9 detik
(antifoam dari minyak jelantah) dan 15 detik (antifoam minyak bintaro). Dari kedua pernyataan
tersebut jelas bahwa antifoam dari minyak jelantah memiliki kemampuan penurunan busa
(knockdown) dan persistence lebih cepat dibandingkan antifoam bintaro.
Antifoam minyak jelantah selanjutnya dibandingkan dengan antifoam agent merk dagang
“Buckman”. Dari kedua jenis antifoam tersebut, antifoam minyak jelantah dapat menurunkan busa
(knockdown) selama 5 detik, sementara pada antifoam agent merk dagang “Buckman” selama 7
detik dengan penambahan 1,2 mL/300 mL. Hal ini dapat diindikasikan bahwa antifoam dari
minyak jelantah dapat menurunkan busa lebih cepat dibandingkan antifoam agent merk
dagang “Buckman”. Dari aspek persistence-nya, antifoam dari minyak jelantah dapat
memunculkan busa kembali hingga batas konstan setelah penambahan antifoam selama 9 detik,
sementara antifoam agent merk dagang “Buckman” selama 10 detik. Hal tersebut menunjukkan
bahwa antifoam dari minyak jelantah memiliki kemampuan persistence lebih cepat
dibandingkan antifoam agent merk dagang “Buckman”. Antifoam dari minyak jelantah
mampu menurunkan busa lebih cepat mencapai 28,57% daripada antifoam agent merk
dagang “Buckman”.

Merk Dagang
Tabel 3. Analisis Dosis Penambahan Antifoam dari Minyak Jelantah, Antifoam Agent
“Buckman”, dan Antifoam Bintaro terhadap Kecepatan Penurunan Ketinggian
Busa
No Antifoam Pengulangan Knockdown Persistence

9
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

(detik) (detik)
1 5 9
1. Minyak Jelantah 1:9
2 5 9
1 10 15
2. Bintaro
2 10 15
1 7 10
3. Buckman
2 7 10

Dari kedua aspek uji keefektifan busa, antifoam dari minyak jelantah memiliki nilai
knockdown dan persistence yang paling cepat dibandingkan kedua antifoam yang lain yaitu
mencapai 28,57% lebih cepat daripada antifoam agent merk dagang “Buckman”. Berdasarkan
analisis tersebut, terlihat jelas bahwa permasalahan pada penelitian sebelumnya yaitu produk
antifoam minyak bintaro memiliki kelemahan (kecepatan waktu penurunan busa yang lebih rendah)
jika dibandingkan dengan antifoam agent merk dagang “Buckman” dapat teratasi dengan adanya
inovasi pembuatan antifoam dari minyak jelantah.

KESIMPULAN
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1. Variasi bahan baku minyak nabati sangat berpengaruh terhadap yield antifoam. Dari ketiga
variasi bahan baku minyak nabati, yield antifoam yang paling tinggi adalah antifoam dari
minyak jelantah yakni sebesar 99,87%. Sementara yield antifoam dari minyak nyamplung dan
antifoam dari minyak jarak berturut-turut adalah 77,28% dan 86,65%.
2. Rasio volume minyak dan metanol 1:9 merupakan rasio optimum pada pembuatan antifoam.
Dari ketiga antifoam tersebut, antifoam dari minyak jelantah dengan rasio volume minyak dan
metanol 1:9 memiliki kecepatan penurunan ketinggian busa paling tinggi.
3. Dosis optimum penambahan antifoam pada uji penurunan ketinggian busa yaitu 4 mL/L dengan
kecepatan penurunan ketinggian busa oleh antifoam dari minyak jelantah sebesar 0,124 cm/s
4. Antifoam dari minyak jelantah mampu menurunkan busa lebih cepat mencapai 28,57% daripada
antifoam agent merk dagang “Buckman”.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Badan Pusat Statistik Jawa Timur dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur.
(2016). Jumlah Industri di Jawa Timur.
[2] Chen. (2018). Foaming of Crude Oil: Effect of acidic components and saturation gas. Journal
Colloids and Surfaces 423-438.
[3] Karakashev (2012). Foams and Antifoam. Journal Advances in Colloid and Interface Science
176-177.
[4] Fauzia. (2017). Pembuatan Metyl Ester Menggunakan Metode Esterifikasi dan
Transesterifikasi Sebagai Antifoam Agent. Institut Teknologi Sepuluh Nopember.
[5] Priyanto. (2018). Inovasi Antifoam Agent dari Minyak Bintaro (Carbera Manghas L) dengan
Metode Transesterifikasi Menggunakan Modifikasi Pemanas Gelombang Mikro. Institut
Teknologi Sepuluh Nopember.
[6] Yandri, V. R. (2012). Pemanfaatan Minyak Jelantah Sebagai Biodiesel untuk Bahan Bakar
Bus Kampus Unand di Padang. Jurnal Aplikasi Ipteks untuk Masyarakat. Vol. 2, No. 2. (199-
125).
[7] GCMS. (2019). Komposisi Asam Lemak Minyak Jelantah.
[8] Muhammad et al. (2015). The Potential of Nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) Seed Oil
as Biodiesel Feedstock: Effect of Seed Moisture Content and Particle Size on Oil Yield. Energy
Procedia. 177-185.
[9] Ong, H. C., Mahlia, T. M. L., Masjuki, H. H., Norhasyima, R. S. (2011). Comparison of Palm
Oil: Jatropha curcas and Calophyllum inophyllum for Biodiesel: A Review. Renewable
Sustainable Energy Rev. 1. 3501-3515.
[10] Atabani, A. E., Cesar, A. D. S. (2014). Calophyllum inopyllum L. – a Prospective Non-Edible
Biodiesel Feedstock. Study of Biodiesel Production Properties, Fatty Acid Composition,
Blending and Engine Performance. Renew. Sustain. Energy Rev. 37, 644-655.

10
ISSN:1411-7010 Jurnal IPTEK
e-ISSN:2477-507X Vol.xx No.xx, Mei 20xx

[11] Crane, S., Aurore, G., Joseph, H., Mouloungui, Z., Bourgeois, P. (2005). Composition of Fatty
Acids Triacylglycerols and Unsaponifiable Matter in Calophyllum calaba L. Oil from
Guadeloupe. Phytochemistry 66 (15). 1825-1831.
[12] Prihandana, R., Hendroko, R. (2006). Petunjuk Budidaya Jarak Pagar. Agromedia Pustaka.
Jakarta. 84
[13] Gubitz et al. (1999). Exploitation of the Tropical Oil Seed Plant Jatropha curcas L.
Bioresource Technology. 67: 73-82.
[14] Taylor. (2005). Granulation Characterization, In: Parikh, D. M. (Ed.). Handbook of
Pharmaceutical Granulation Technology, Second Edition, 526. USA.
[15] Daniswara. (2017). Ekstraksi Minyak Akar Wangi dengan Metode Microwave
Hydrodistillation dan Soxhlet Extraction. Jurnal Teknik ITS Vol. 6, No. 2.
[16] Mai, J. H. Tsai, G. Armbuster, P. Chu, and J. E. Kinsella. (1980). Effect of Microwave Cooking
on Food Fatty Acids: No Evidence of Alteratiom or Isomeration. J. Food Sci. 45: 645-652.
[17] Setiawan. (2017). Pengembangan Teknologi Microwave Assisted Extraction (MAE) Sebagai
Alternatif Peningkatan Kadar Zingiberen Ginger Oil dari Limbah Ampas Jahe Industri Jamu.
Jurnal Ilmiah Cendekia Eksakta. Universitas Diponegoro.
[18] Abdolahi. (2005). The Mechanism of Action of Antifoams. Journal of Applied Sciences 5 (6):
1122-1129.
[19] Karwati. 2009. Degragasi Hidrokarbon pada Tanah Tercemari Minyak Bumi dengan Isolat
A10 dan D8.
[20] Adamson A. W, J. a. (1990). Physical Chemistry of Surface. New York: Leiden University
Press.
[21] NIST. (2018). NIST Standard Reference Data Act. SRD Number 69.

11