Sei sulla pagina 1di 14

GANGGUAN PRESEPSI SENSORI SEBAGAI DASAR PERANCANGAN PANTI

REHABILITASI ANAK AUTIS DI SURAKARTA

Ganis Ratna Satyawati 1*, Edi Pramono Singgih 2, Ofita Purwani 3


Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret1
ganisganis7@gmail,com*
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret 2
Program Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret 3

Abstract
Autism is one delay in child development. It is the result of complex and varied brain
development disorders, one of them is disturbance in sensory system (sensory integration) in
children. The disturbance causes the children to be unable to adapt optimally, thus, it affects
behavioral and psychological responses of children with autism in their environment. The
number of children with autism increases from year to year, including in Surakarta. A
rehabilitation centre is therefore needed in this city. This rehabilitation centre for children with
autism is uses a functional recovery for behavior, occupation, and nervous system (neurons),
and sensory systems of children who experienced the disorder to regenerate its form or function.
This rehabilitation centre will accommodate medical, therapeutic, and educational activities by
using special environmental designs planned according to the sensory needs and specific stimuli
needs for each different autistic child. The design concept of this rehabilitation centre focuses
on the sensory needs of children with aurism. It will be applied through building physical
elements in the form of inside and outside spatial elements. Both elements will be designed with
various considerations of the choice of attributes or architectural elements, such as: design
principles, shapes, scales, colors, building materials. These considerations will create specific
effects for each individual with different levels of sensory perception disorder. This
rehabilitation favility will provide 5 special zones for autistic children which are categorized
based on the level of disturbance and condition of the children. The categorization is expected
to play a major role in accelerating the process of healing and development of children
physically, psychologically, intellectually, and socially. Consequently, it can establish a child
with autism into an independent, creative, exist, and skilled human as other normal children.

Keywords: children with autism, rehabilitation, sensory system, the building physical elements

1. PENDAHULUAN satu per 500 anak. Diperkirakan tahun 2010


satu per 300 anak. Sedangkan tahun 2015
Autisme merupakan salah satu fenomena
diperkirakan satu per 250 anak (Dokter
keterlambatan dan hambatan dalam proses
Indonesia, 2015). Namun, belum ditemukan
perkembangan anak pada umumnya, yang
data akurat tentang jumlah penyandang autisme
terjadi akibat adanya gangguan perkembangan
yang sesungguhnya di kota Surakarta. Hal
fungsi otak yang kompleks dan bervariasi
tersebut disebabkan karena rendahnya
(Singgih, 2015:3). Secara umum, anak autistik
sosisalisasi pemerintah terhadap masyarakat
memiliki gangguan dalam hal: komunikasi,
tentang dunia autisme, dan budaya masyarakat
interaksi sosial, imajinasi, pola perilaku
Indonesia yang sering menyembunyikan
berulang, dan tidak mudah menyesuaikan
keberadaan anak autisnya karena rasa malu.
terhadap perubahan (Mulyadi dan Sutadi,
2014). Menurut Dr Widodo Judawanto (2015)
Anak yang telah terdeteksi menyandang
bahwa seperti di belahan dunia lainnya,
autisme harus segera ditangani sedini mungkin
prediksi jumlah penderita autis dari tahun ke
dengan dilakukannya intervensi dini. Intervensi
tahun semakin meningkat. Sepuluh tahun lalu
dini merupakan terapi atau tata laksana yang
jumlah penyandang autisme diperkirakan satu
dilakukan anak yang mengalami keterlambatan
per 5.000 anak, tahun 2000 meningkat menjadi
perkembangan pada massa pertumbuhannya
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

(Mulyadi dan Sutadi, 2014). Menurut Dr. Konsep perancangan bangunan panti
Hardiono D Pusponegoro SPA (K), rehabilitasi akan diaplikasikan ke dalam elemen
mengatakan bahwa sistem pendidikan khusus pembentuk fisik bangunan, yaitu berupa elemen
dibentuk bagi anak berkebutuhan khusus tata ruang dalam dan elemen tata ruang luar
lengkap dengan terapi, medis, dan edukasi bangunan. Kedua elemen tersebut akan
memberikan perubahan besar terhadap dirancang dengan berbagai pertimbangan
perkembangan anak, terutama bagi anak autis. arsitektur, seperti: prinsip desain, bentuk,
Program terapi, edukasi, dan medis akan ukuran, tekstur, warna, dan material bangunan.
dikoordinir menjadi sebuah proses yang Elemem-elemen tersebut nantinya akan
berkelanjutan dan terpadu di dalam sebuah memberikan efek spesifik bagi anak autis,
wadah, yaitu panti rehabilitasi. seperti: efek menenangkan bagi anak dengan
hiper-reaktif dan reaktif yang normal, serta efek
Panti rehabilitasi anak autis berfungsi sebagai yang menstimulasi bagi anak autis dengan hipo-
wadah pemulihan fungsional baik perilaku, reaktifitas. Efek spesifikasi tersebut akan
okupasi, sistem syaraf, serta sistem sensori diproyeksikan ke dalam lima zona di dalam
(sensori integrasi) yang sebelumnya mengalami panti rehabilitasi, serta dipetakan berdasarkan
gangguan untuk menuju ke bentuk atau fungsi gangguan sensori dan kondisi anak autis. Oleh
kembali. Layananan rehabilitasi ini merupakan karena itu, diharapkan terbentuknya interaksi
salah satu upaya untuk membentuk dan anak autis dengan lingkungannya secara tepat,
mencapai tingkat kemandirian (dalam segi serta dapat membentuk kondisi atau suasana
mental, fisik, dan sosial), kreativitas, keeksisan, kondusif dan optimal di dalam pelaksanaan
dan keterampilan seperi anak-anak lain pada kegiatan rehabilitasi.
umumnya. Program layanan panti rehabilitasi
akan dibagi menjadi tiga tahap penanganan, 2. METODE
yaitu: tahap pra-rehabilitasi, pelaksanaan
rehabilitasi, dan pembinaan hasil rehabilitasi. Metode desain yang dilakukan untuk
Program tersebut akan didukung oleh fasilitas- menyelesaikan permasalahan desain adalah
fasilitas kesehatan, pendidikan, penyembuhan, sebagai berikut:
dan pengasuhan yang nantinya akan 2.1. Menyusun kelayakan objek dengan
disesuaikan dengan klasifikasi gangguan menemukan sumber permasalahan dan
(kondisi) dan tingkat kebutuhan dari masing- fenomena secara arsitektur maupun non
masing individu penyandang autisme. arsitektur, serta keterkaitan antara kota
surakarta, fasilitas anak autis, dan anak
Konsep perancangan panti rehabilitasi ini akan autis.
mengacu pada kebutuhan sistem sensori anak 2.2. Mengumpulkan, menyusun dan
autis terhadap lingkungannya yang memiliki menganalisis bahan ataupun data,
tingkat sensitifitas dan reaktifitas yang berbeda. meliputi:
anak autis membutuhkan lingkungan khusus  Panti rehabilitasi berperan dalam
yang disiapkan untuk kebutuhan neurologisnya. menentukan dan membatasi program
Hal tersebut dilakukan karena penyandang autis kegiatan dan fasilitas yang akan
mengalami gangguan sensory integration yang diberikan di dalam objek perancangan.
menyebabkan anak tidak dapat beradaptasi Batasan dan runtutan desain didasarkan
secara optimal, sehingga menyebabkan sistem pada pedoman buku Rehabilitasi dan
neurologisnya tidak dapat mengembangkan Pekerjaan Sosial oleh Haryanto, serta
proses untuk mengintegrasikan input sensorik dipadukan dengan Buku Pedoman
dari lingkungannya (Ayres dalam Gunandi, Penanganan dan Pendidikan Autisme
2008). Panti rehablitasi dengan lingkungan YPAC.
khusus ini diharapkan dapat membantu anak  Anak Autis memiliki karakteristik dan
autis dalam mengintegrasikan input sensori, kebutuhan sensori yang bervariasi,
sehingga dapat mempengaruhi respon perilaku, dibagi menjadi tiga golongan yaitu:
kondisi psikologis, dan perkembangan otak anak dengan gangguan, hipersensitif,
anak autis. dan hiposensitif. Penggolongan
tersebut berperan dalam menentukan

415
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

kriteria desain di dalam lima zona dalam bentuk fisik bangunan Panti
perancangan. Dasar penentuan dan Rehabilitasi Anak Autis di Surakarta.
penggolongan anak autis di dapatkan
melalui Buku Pedoman Penanganan 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
dan Pendidikan YPAC, Rekayasa Hasil dan pembahasan yang dimaksud meliputi
Arsitektural Ruang Mandiri Bagi Anak konsep peruangan, kosep lokasi, konsep
Autisme di Tengah Keluarga dari Strata pencapaian, konsep tampilan dan gubahan
Sosial Ekonomi Menengah ke Bawah massa.
oleh Edi Pramono Singgih, Autisme is 3.1. Konsep Ruang
Curable Oleh Dr. Kresno Mulyadi dan Konsep ruang didapat melalui analisis
Dr. Rudi Sutadi, Autisme dan Peran pelaku dan analisis kelompok kegiatan.
Pangan oleh Prof. Dr. F. G Winarno,
Kelompok kegiatan terdiri dari beberapa
dan jurnal penelitian berjudul “ An
macam, yaitu
Architecture for Autism: Concept of
Design Intervention for Autistic User”  Kegiatan klinik serta kegiatan terapi
oleh Magda Mostafa dan edukasi sebagai kegiatan utama,
 Pedoman desain khusus anak autis,  Kegiatan apotek, penelitian dan
sumber: jurnal penelitian tentang “ An pengembangan, perpustakaan,
Architecture for Autism: Concept of daycare, penyelenggaraan event
Design Intervention for Autistic User” sebagai kegiatan pendukung
oleh Magda Mostafa. Berikut  Kelompok kegiatan pengelola,
merupakan atribut desain sebagai  Kelompok kegiatan servis.
bahan pertimbangan dalam pengolahan
fisik bangunan, yaitu: penutup Tabel 1. Macam Pelaku, Aktivitas, dan Peruangan
(closure), proporsi, skala, orientasi, pada Panti Rehabilitasi Anak Autis
fokus, simetris, ritme/ irama, harmoni,
Pelaku Aktifitas Peruangan
keseimbangan, warna, sistem
A Keg. Parkir Area parkir
pencahayaan, akustik, teksur, ventilasi, Memngambil ATM Center
sekuen, kedekatan (proximity), dan uang
rutinitas (routine). Metabolisme Toilet
2.3. Kota Surakarta sebagai lokasi objek yang Makan dan minum Kantin
direncanakan akan dikaitkan dengan Menyusui, dll Nursing Room
Beribadah Mushola
karakteristik anak autis yang memiliki E, J, M Menyimpan Gudang
kebutuhan khusus terhadap lingkungan. barang
Sehingga, akan menghasilkan ketentuan Drop off barang Loading dock
atau dasar-dasar pertimbangan dalam B Mengambil nomer Loket Antrian
pemilihan tapak. Setelah itu, maka akan antrian
memunculkan alternatif tapak yang akan B, E Kegiatan Loket
dipilih menjadi tapak yang terpilih. Administrasi Administrasi
A Menunggu R. Tunggu
2.4. Data – data yang telah dikumpulkan (poin B, C Bermain R. Bermain
Kegiatan Utama

b dan c), akan dianalisis dan D, E Mengganti R. Ganti


dikembangkan sesuai permasalahan dan pakaian
persoalan yang ada, serta dikelompokkan D, E, F, Menyimpan R. Loker
menurut pemograman fungsional dan G barang dan
absensi
arsitektural, untuk kemudian disintesiskan E Menyimpan arsip R. Arsip
sebagai bahan penyusunan konsep D Beristirahat R. Istirahat
perencanaan dan perancangan. Proses D, B, C Pemeriksaan, R. Praktik
sintesis arsitektural, akan menghasilkan diagnosa, Dokter
beberapa konsep perencanaan dan konsultasi
C Menenangkan diri R. Tantrum
perancangan yaitu konsep ruang, konsep
Pelaku Aktifitas Peruangan
massa, konsep tapak, dan komplemeter. B, C, F, Konsultasi, R. Konsultasi
Kegi

Konsep – konsep tersebut akan disatukan,


atan
Uta
ma

G assesment Psikologi dan


dikembangkan, dan di tranformasikan ke Gizi

416
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

E Mengelola R. pengelola Beristirahat R. Istirahat


program terapi Membuat makanan- Pantry
H Membuat laporan R. Terapis minuman
I dan evaluasi R. Guru Tempat sampah Instalasi
D, E, F, Rapat R. Rapat medik-non medik pembuangan
G, H, I, sampah
J Menjaga dan Pos Keamanan
C, H Kegiatan terapi R. Terapi, R. mengawasi Ruang CCTV
dan edukasi Bermain keamanan
C, I Kegiatan Edukasi R. Kelas O Mengontrol suplly R. Genset
C, H Makan- minum R. Makan listrik
AC, H Berinteraksi, Area Mengontrol sistem R. Utilitas
bersosialisasi Bersosialisasi utilitas
E, B Keg. Administrasi Loket Admin Keterangan:
E Menyimpan resep R. Arsip resep A Semua Pengguna I Guru
B Pengunjung J Pengelola
K Meracik resep R. Peracikan
C Anak Binaan K Apoteker
A Menunggu R. Tunggu D Dokter & Assisten L Pembicara, Pengisi Acara
Mendisplay R. Display E Staff M Panitia
barang F Ahli Gizi N Pengasuh
Berdiskusi R. Diskusi G Psikiater O ME
E, J Menyimpan buku R. Arsip Buku H Terapis dan Assisten
A Menyimpan R. Loker Zona Publik Zona Privat
barang Zona Semi Publik Zona Servis
Mencari letak Katalog digital
referensi 3.2. TAPAK YANG TERPILIH
Membaca, R. Baca Tapak yang terpilih sebagai lokasi panti
Kegiatan Penunjang

menulis
Istirahart R. Santai rehabilitasi anak autis dipilih berdasarkan
Mencari referensi R. display pertimbangan-pertimbangan tertentu,
buku sehingga mampu mendukung ataupun
L Berinteraksi, R. Pembicara menunjang kegiatan yang terlaksana
istirahat secara aman, nyaman, dan kondusif.
B Menghadiri acara Auditorium
E, L, M Menyiapkan acara Backstage
Berikut merupakan pertimbangan-
L Menampilkan Panggung pertimbangan yang telah dipenuhi oleh
acara tapak yang terpilih, yaitu:
A Bersosialisasi, Lobby  luas lahan minimal 2,13 ha
menunggu  RTRW, berada di kecamatan
C, N Bermain, hiburan R. Bermain
Kegiatan belajar R. Belajar
banjarsari ataupun jebres
Beristirahat R. Tidur  Memiliki topografi yang datar
Makan-minum R. Makan  Dilalui oleh jaringan utilitas kota
N Menyiapakan Dapur  Memiliki tingkat kebisingan rendah
makan-minum, dll
Mencuci, R. Cuci
 Lokasi lahan tidak berada di samping
menyetrika jalan besar atau dengan tingkat
J Pengawasan, R. Kepala keramaian jalan yang tinggi
korrdinasi, rapat  Tidak adanya polusi udara (tingkat
sedang-tinggi)
Mengolah data R. Kerja
Keg. Pengelola

Menyimpan arsip R. Loker dan  Memiliki aksesibilitas yang baik,


dan barang pribadi Arsip dapat dilalui oleh kendaraan umum,
J Menyimpan uang R. Brankas kendaraan pribadi, ataupun dengan
Berdiskusi R. Rapat pejalan kaki.
Beribadah Mushola
 Lokasi mudah dikenali dan
Bersosialisasi R. Santai
A Menerima tamu R. Tamu komunikatif terhadap masyarat.
E, B Layanan informasi Front Desk  Memiliki akses yang mudah dan
Pelaku Aktifitas Peruangan dekat dengan fasilitas-fasilitas umum
E, J Menyiapkan jamuan Pantry lainnya.
E, J Menyimpan alat R. Janitor
Se
iat
eg

an

rv
K

is

kebersihan

417
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

Dasar pertimbangan tersebut disesuaikan dalam bangunan lebih terkendali dam


dengan kondisi dan karakteristik anak lebih mudah.
autis yang membutuhkan sebuah suasana
yang tenang dan rendah akan distraksi
lingkungan.

Tapak yang terpilih merupakan sawah


yang luas dengan luasan 3 ha, dan terletak
di tengah pemukiman warga dengan
suasana yang tenang. Tapak tersebut
berlokasi di jalan sekunder, yaitu jalan
Kahuripan Utara Raya, Sumber,
Kecamatan Banjarsari, dan terhubung
dengan jalan primer kota yaitu jalan
Letjend Suprapto.
3.3. KONSEP PENCAPAIAN DAN
SIRKULASI
Konsep pencapaian menuju tapak dibagi
menjadi dua macam, yaitu main entrance Gambar 1. Pencapaian dan Sirkulasi di dalam
(ME) dan side entrance (SE). ME Tapak Panti Rehabilitasi Anak Autis
merupakan pencapaian yang ditujukan
untuk semua pelaku di dalam bangunan, Dalam satu zona pencapaian, dibagi
khususnya untuk masyarakat umum atau menjadi 2 sirkulasi masuk dan keluar
pengunjung bangunan, sedangkan SE menuju bangunan, untuk kenyamanan
merupakan pencapaian yang lebih privat sirkulasi pengguna dan kemudahan
dan ditujukan untuk pengelola dan operasionalnya. Selain itu, jalur
kegiatan servis. Pembagian zona pencapaian masuk dan keluar dibagi
pencapaian bertujuan untuk mencapai menjadi 3 jalur khusus kendaraan, yaitu
kemudahan dalam pengaturan sirkulasi jalur sepeda motor dan jalur kendaraan
dan keamananan operasional di dalam ringan yang dikhususkan untuk semua
bangunan, serta sebagai salah satu upaya pengguna atau sebagai sirkulasi umum
dalam pengendalian kebisingan di dalam (garis warna merah pada gambar 1), dan
kawasan bangunan. sirkulasi kendaraan skala sedang (truk,
mobil, dsb) yang ditujukan untuk
Dapat dilihat pada gambar 1, ME dan SE pengelola ataupun kegiatan servis (garis
terletak di jalan yang sama, yaitu jl. merah pada gambar 1).
Kahuripan Utara Raya. Jalan tersebut
merupakan satu-satunya jalan yang Pola sirkulasi kendaraan difokuskan di
memungkinkan untuk dijadikan bagian depan tapak, untuk menghindari
pencapaian menuju tapak. Jalan tersebut timbulnya kebisingan yang dihasilkan oleh
memiliki kondisi jalan yang baik, banyak kendaraan (sebagai distraksi yang
dilalui kendaraan (daya kenal baik), dan mengganggu pelaksanaan kegiatan
dapat dilalui oleh berbagai jenis rehabilitasi). Sehingga, area parkir utama
kendaraan, kendaraan tidak bermotor, diletakkan di bagian depan dan samping
sepeda motor, maupun truk pemadam depan tapak.
kebakaran ataupun truk barang berukuran
3.4. PEMBAGIAN ZONA DAN TATA
sedang. Selain akses yang baik baik,
MASSA
penentuan satu zona sebagai pencapaian
Pebagian zona di dalam tapak merupakan
menuju bagunan lebih menguntungkan
kesimpulan atau zona akhir hasil dari
dikarenakan pengontrolan terhadap
beberapa pertimbangan, yaitu pola atau
sirkulasi dan operasional keamanan di
alur kegiatan, kebutuhan dan fungsi ruang
(persyaratan ruang), dan hasil akhir dari
418
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

proses analisis tapak (analisis pencapaian, rehabilitasi (zona transisi terapi dan
view dan orientasi, kebisingan, dan edukasi intensif). Jembatan dan asrama
klimatologi). Pembagian zona ini (daycare) dirancang berdasarkan pedoman
berfungsi untuk memudahkan pengguna desain anak autis dengan gangguan (akan
dalam mengakses bangunan, persyaratan dibahas pada poin 3.6). Sedangkan untuk
dan kebutuhan masing-masing ruang zona pengelola yaitu kantor pengelola,
terpenuhi, dan sebagai pengendalian dirancang dengan pertimbangan dalam
terhadap distraksi yang mengganggu memaksimalkan fungsi ruang dan tidak
dalam pelaksanaan rehabilitasi (seperti: terlalu dominan terhadap bangunan
kebisingan dan pencahayaan langsung disekitarnya, serta tidak menggunakan
matahari). pedoman desain khusus.
Zona C merupakan zona privat atau zona
B C
G pelaksanaan program rehabilitasi. Zona ini
K diletakkan pada bagian belakang tapak,
D P
H L dikarenakan posisi tersebut merupakan
A zona yang paling tenang (tidak ada
M
E I J Q aktivitas kendaraan atau aktivitas yang
N meimbulkan kebisingan). Zona C
F A merupakan zona khusus yang dirancang
S O R
C
G
sesuai dengan klasifikasi dan kebutuhan
anak autis. Strategi perancangan pada zona
ZONA A ZONA B ZONA C
ini akan didasarkan pada gangguan
persepsi sensoris anak autis (pedoman
Keterangan:
A Area parkir B Pos C Area parkir khusus anak autis, akan dibahas pada 3.5).
(mobil) keamanan (motor) Terdapat beberapa massa di dalam zona ini
D Auditorium E Klinik F apotek
G Utilitas H Kantor I Kantin dengan didasarkan pada kebutuhan
pengelola stimulasi sensori anak, yaitu: massa
J Mushola K Sekolah L Perpustakaan
(hiposensitif) dengan stimulasi tinggi untuk anak
M Zona
transisi
N Hidroterapi
dan area
O Sekolah
(hipersensitif)
hiposensitif, massa dengan stimulasi
sosialisasi sedang untuk anak gangguan, dan massa
P Terapi, zona Q Terapi, zona R Terapi Zona dengan stimulasi rendah atau tenang untuk
B C A
S Arsrama dan penitipan anak (daycare) anak hipersensitif. Masing-masing massa
Gambar 2. Pembagian Zona Akhir Panti akan dihubungkan dengan jembatan yang
Rehabilitasi Anak Autis dirancang dengan mempertimbangkan
Zona A merupakan zona publik, zona faktor keamanan.
publik, zona penerimaan, zona parkir, zona Pola tata masa bangunan dan sirkulasi
ra-rehabilitasi, dan zona penyelenggaraan yang menghubungkan antar bangunan di
event. Zona A tersebut tidak memiliki dalam tapak panti rehabilitasi anak autis
pertimbangan desain khusus, namun lebih akan menggunakan organisasi terklaster.
memfokuskan pada daya tarik bangunan Organisasi ini merupakan organisasi yang
terhadap masyarakat, penanda identitas paling fleksibel dibandingkan dengan
bangunan dan memberikan kesan informal organisasi lainnya serta dapat menciptakan
(hangat, terbuka, kesan ceria dan menarik sebuah tatanan massa yang dinamis sesuai
terhadap anak-anak). dengan kedekatan fungsi dan karakteristik
Zona B merupakan zona transisi, zona massa sesuai dengan karakteristik anak
pengelola, zona evaluasi kegiatan, dan autis (dinamis dan unik). Selain itu,
zona pengasuhan (asrama dan daycare). organisasi ini dapat mengatur dan
Zona transisi pada zona ini diproyeksikan mengorganisir tuntutan program
dalam bentuk jembatan yang bangunan, seperti: kedekatan, kebutuhan
menghubungkan antara bangunan klinik dimensional, klasifikasi ruang maupun
medis) dengan bangunan pelaksanaan massa yang hirarkis, serta kebutuhan akan

419
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

akses, cahaya, pemandangan, dan peran besar (tidak langsung) dalam proses
ketenangan di dalam bangunan. penyembuhan dan pengembangan pribadi
anak autis, sehingga bangunan ini
3.5. KONSEP BENTUK DAN TAMPILAN memiliki kriteria khusus yang didasarkan
TATA RUANG LUAR BANGUNAN pada pedoman khusus desain anak autis.
(EKSTERIOR)
Pengolahan bentuk dan tampilan pada BENTUK DASAR

bangunan panti rehabilitasi anak autis


bertujuan untuk mendapatkan sebuah
PENGOLAHAN GUBAHAN MASSA
ekspresi bangunan yang menunjukkan
fungsi bangunan (medis, terapi, dan
edukasi) dan menghasilkan sebuah kesan
visual bangunan terhadap pengguna,
sehingga menimbulkan ketertarikan dan
Gambar 3. Pengolahan Gubahan Massa Bangunan
kenyamanan. Pada proses pengolahan Klinik dan Apotek
bentuk dan tampilan eksterior bangunan
akan menggunakan strategi desain (telah Bangunan klinik sebagai bangunan
dijelaskan pada 3.4) yang disesuaikan perdagangan dan jasa memiliki bentuk
dengan orientasi, konsep tapak, fungsi dan dasar yang didominasi bentuk bujur
peran masing-masing massa bangunan. sangkar sebagai pemaksimalan fungsi
ruang, sedangkan lingkaran yang
Konsep gubahan massa didapat dari berfungsi menambah estetika bangunan
bentuk dasar yang diolah dan dan aspek keamanan (dapat dilihat pada
ditranformasikan menjadi sebuah bentuk gambar 3). Terdapat beberapa kriteria atau
bangunan sesuai dengan kebutuhan prinsip desain dalam merancang bangunan
pengguna dan kegiatan didalamnya, tersebut, yaitu:
sehingga massa yang didapat dapat  Skala: open scale (skala terbuka)
mewadahi program kegiatan panti  Kesimbangan: asimetris
rehabilitasi anak autis secara efektif dan  Menggunakan tititk penekanan atau
optimal. Bentuk dasar yang dipakai dalam empasis yang diaplikasikan pada titik
perancangan bangunan adalah bentuk
tertentu bangunan dan dengan fungsi
dasar bujur sangkar dan lingkaran. Bentuk tertentu.
bujur sangkar berfungsi sebagai penentuan
 Harmonis secara visual
modul utama bangunan (memaksimalkan
 Warna: hangat, sejuk, dan netral.
fungsi ruang), sedangkan bentuk lingkaran
berfungsi untuk mencipakan bentuk yang  Menggunakan pola jelas dan tegas
dinamis dan untuk mengkondisikan atau  Terdapat permainan bentuk, warna,
menciptakan aspek keamanan di dalam dan pola  dinamis
bangunan.  Menggunakan jendela dengan
proporsi yang lebar dan besar dengan
Pada tulisan ini, hanya bangunan utama orientasi pemandangan yang menarik
(bangunan klinik, terapi, dan edukasi) Kriteria desain tersebut nantinya akan
yang akan dipaparkan dan dibahas lebih mempengaruhi pengolahan tampilan
mendalam mengenai pengolahan bentuk bangunan klinik dan apotek.
dan tampilannya. Bangunan klinik
merupakan bangunan paling depan yang Dapat dilihat pada gambar 4, pengolahan
terdapat pada tapak, sedangkan bangunan tampilan bangunan diaplikasikan dengan
terapi dan edukasi terletak di bagian menggunakan permainan material, atap,
belakang tapak. Sebagai bangunan yang vegetasi, bentuk, dan warna pada
paling depan, bangunan klinik memiliki bangunan. Bangunan menggunakan atap
bebrapa peran penting yaitu sebagai point datar dan permainan sudut kemiringan
of interest bangunan dan penanda bagi pada atap, yang bertujuan untuk
identitas bangunan rehabilitasi. Sedangkan memberikan kesan ceria dan non formal.
bangunan terapi dan edukasi memiliki Masing-masing bukaan jendela ditutup

420
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

dengan overhang yang bertujuan untuk Zona A-1 Zona A-2


mereduksi sinar dan radiasi matahari. lantai. Menghindari
pencahayaan langsung
Meterial kaca pada bukaan yang lebar Tekstur: - Tekstur: halus
menggunakan kaca reflektif sebagai hasil Warna netral Warna netral, hangat,
dari analisis klimatologi tapak dan sebagai sejuk
orientasi bangunan terhadap pemandangan Zona B-1 Zona B-2
luar. Material finishing dinding pada Pelaku: hiposensitif Pelaku: hiposensitif
(indra pendengaran, (indra peraba dan
bangunan ini menggunakan material batu
pengelihatan, dan propioseptif)
alam, kayu dan cat dinding dengan basic pembauan)
warna abu-abu. Warna cerah yang terdapat Open Scale Skala intim
di main entrance bangunan digunakan Membutuhkan -
sebagai point of interest dari bangunan. stimulasi pencahayaan
Sebagai hasil dari analisis klimatologi dan Konsep jendela: Konsep jendela:
jendela mati (besar) jendela mati dengan
kebisingan, berbagai macam vegetasi dengan bouven bouven
(perdu, pohon rindang, tanaman rambat, (jendela hidup)
tanaman hias) berperan dalam mendukung Tekstur: - Tekstur: kasar
estetika pada tampilan bangunan klinik. Warna cerah Warna hangat
Bentuk asimetris
Zona C
Pelaku: gangguan (indra pendengaran,
pengelihatan, pembauan, peraba, dan
propioseptif)
Skala intim , bentuk simetris
Konsep jendela: jendela hidup dengan ketinggian
1,22 m dari lantai
Orientasi terhadap pemandangan luar dan elemen
yang menarik
Gambar 4. Tampilan Bangunan Klinik Panti
Warna netral, hangat, dan sejuk
Rehabilitasi Anak Autis di Surakarta
Masing-masing zona A, B, dan C menggunakan
ketebalan dinding 20 cm, menggunakan material
Pengolahan bentuk dan tampilan pada kaca double glass, dikelilingi vegetasi, dan
bangunan terapi dan edukasi dipengaruhi terletak terpisah, sebagai pengendalian terhadap
oleh pedoman khusus yang terdiri dari kebisingan .
Ketiga massa tersebut menggunakan atap miring.
lima zona khusus dan satu zona transisi.
Zona khusus terdiri dari dua zona
Pengolahan gubahan massa pada zona A
hipersensitif (zona A), dua zona
dapat dilihat pada gambar 5. Pada
hiposensitif (zona B), dan satu zona
bangunan zona A menggunakan sirkulasi
gangguan (zona C). Masing-masing zona
linier dan menghindari dalam penggunaan
memberikan tingkat stimulasi yang
koridor yang panjang.
berbeda untuk setiap pribadi anak autis.
Kriteria desain dalam pengolahan bentuk
dan tampilan bangunan terapi dan edukasi
dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Kriteria Desain Gubahan Massa dan
Tampilan Eksterior Bangunan

Zona A-1 Zona A-2


Pelaku: hipersensitif Pelaku: hipersensitif Gambar 5. Pengolahan Gubahan Massa Zona A
(indra pendengaran, (indra peraba dan
pengelihatan, dan propioseptif) Berikut merupakan spesifikasi dan
pembauan) elemen-elemen arsitektur yang
Skala intim Open scale diaplikasikan pada zona A-1 (dapat dilihat
Bentuk simeris, harmonis secara visual pada gambar 6) sebagai pengolahan
Konsep jendela: Konsep jendela:
bouvent light, bentuk jendela hidup,
tampilan bangunan, yaitu:
jendela hidup, ketinggian 1,22 m dari  Ketinggian plafon dari lantai: 2,7 – 3
ketinggian 2,1 dari lantai m.

421
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

 Elemen bangunan: kusen kayu putih  Finishing lantai: parkit kayu (di
(warna netral) dengan kaca double dalam bangunan), keramik (pada
glass, overhang dengan lebar ± 1,7 m teras).
(warna warm grey dan rose)
 Peletakkan jendela 2,1 m dari lantai
dan penggunaan jendela
bounventlight digunakan untuk
mengindari distraksi yang berasal dari
lingkungan luar, namun tetap
memenuhi kebutuhan ruang terhadap
sirkulasi silang. Gambar 7. Tampilan Bangunan Terapi Zona A-2
 Finishing dinding: batu alam (batu
candi, batu kali, batu andesit, dan batu Pada prinsipnya pengolahan bentuk massa
palimanan), permainan cat dinding pada zona b sama dengan zona a (dapat
(basic warna: warm grey) dengan dilihat pada gambar 5), hanya berbeda
permainan kecerahan warna. pada ukuran atau dimensionalnya saja.
 Jenis vegetasi dan lensekap: tanaman Pada pengolahan bentuk massa zona B
hias, pohon hias, dan rumput jepang. menggunakan bentuk simetris dikarenakan
 Finishing lantai: keramik, karpet kondisi tapak yang terbatas dan
tebal, dan beton bertekstur anti slip pertimbangan keseimbangan atau
(ramp) kesatauan antar bangunan sekitar. Oleh
karena itu, untuk memenuhi kebutuhan
anak autis dengan hiposensitifitas, maka
pola interior di dalam bangunan dirancang
lebih dinamis dan asimetris (akan
dijelaskan pada 3.6).
Berikut merupakan spesifikasi dan
Gambar 6. Tampilan Banguna Terapi Zona A-1 elemen-elemen arsitektur yang
diaplikasikan pada zona B-1 (dapat dilihat
Berikut merupakan spesifikasi dan pada gambar 8) sebagai pengolahan
elemen-elemen arsitektur yang tampilan bangunan, yaitu:
diaplikasikan pada zona A-2 (dapat dilihat  Ketinggian plafon 3,7-4 m dari lantai.
pada gambar 7) sebagai pengolahan  Pada prinsipnya elemen bangunan
tampilan bangunan, yaitu:
sama dengan zona A, bedanya
 Elemen bangunan, finishing dinding, peletakkan jendela, dimensi dan
dan jenis vegetasi-lansekap sama desain jendela, serta modifikasi antara
seperti zona A-1. overhang dan skylight. Terdapat
 Desain dan posisi jendela berbeda beberapa jendela dengan material
dengan A-1, berada di ketinggian 1,22 kaca warna untuk stimulasi visual
m dari lantai. Hal tersebut anak hiposensitif yang terletak pada
direncanakan dikarenakan kebutuhan area sosialisi bangunan.
anak autis akan pemandangan yang  Finishing dinding: sama seperti zona
menarik, namun tetap dapat A, namun terdapat permainan zat
mengendalikan distraksi yang tidak dinding dengan warna cerah (light
diinginkan. coral dan maroon).
 Ketinggian plafon 3,7 – 4 m dari  Jenis vegetasi dan lansekap: sama
lantai. dengan zona A.
 Menggunakan bouven yang lebar  Finishing lantai: parkit kayu dan
diatas jendela sebagai strategi desain beton bertekstur anti slip (ramp).
dalam menciptakan suasana open  Pemberian jendela mati dalam
scale. perancangan bangunan bertujuan

422
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

untuk menahan aroma terapi pada saat terhadap distraksi dan memberikan efek
pelaksanaan proses terapi. stimulasi yang menenangkan bagi anak
autis.

Gambar10. Pengolahan Gubahan Massa Zona C

Berikut merupakan spesifikasi dan


elemen-elemen arsitektur yang
diaplikasikan pada zona C (dapat dilihat
pada gambar 11) sebagai pengolahan
tampilan bangunan, yaitu:
Gambar 8. Tampilan Bangunan Terapi Zona B-1
 Ketinggian plafon 2,7 - 3 m dari lantai
Berikut merupakan spesifikasi dan  Elemen bangunan: jendela dengan
elemen-elemen arsitektur yang ketinggian 1,22 m dari lantai (pada
diaplikasikan pada zona B-2 (dapat dilihat ruang terapi), overhang masif pada
pada gambar 9) sebagai pengolahan masing-masing bukaan sebagai
tampilan bangunan, yaitu: penangkal sinar matahari langsung,
 Ketinggian plafon 2,7 - 3 m dari dan overhang dengan skylight untuk
lantai. stimulasi pada titik (area) tertentu.
 Pemilihan letak dan desain jendela
 Elemen bangunan: pada prinsipnya
sebagai pengaplikasian terhadap
sama dengan zona B-1, namun
kebutuhan anak autis akan orientasi
bedanya tidak terdapat bouvenlight
pemandangan luar atau elemen yang
diatas jendela bangunan (dikarenakan
menarik.
skala intim pada bangunan).
 Finishing dinding: sama seperti zona
 Finishing dinding, jenis vegetasi –
A, namun permainan cat dindingnya
lansekap: sama dengan zona B-1.
menggunakan basic warna cool grey.
 Finishing lantai: parkir kayu, lantai  Jenis vegetasi dan lansekap: sama
kerikil buatan, dan beton bertekstur seperti zona lainnya, bedanya
anti slip (ramp) menggunakan jenis tanaman vertikal
dan batu alam untuk menciptakan
pemandangan yang menarik.
 Finishing lantai: karpet tile, keramik,
dan beton bertekstur anti slip.
 Kolam berperan secara tidak
langsung dalam menciptakan
stimulasi yang menenangkan.

Gambar 9. Tampilan Bangunan Terapi Zona B-2

Pengolahan gubahan massa pada zona C


dapat dilihat pada gambar 10. Zona c
memiliki pengolahan massa yang lebih
Gambar 11. Tampilan Bangunan Terapi Zona C
sederhana dibandingkan dengan zona
lainnya, dikarenakan pelaku pada zona ini
adalah anak autis dengan gangguan.
Sehingga, zona ini hanya memiliki peran
dalam mengkondisikan perilaku anak autis

423
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

Zona A-1 Zona A-2


Pengendalian akustik -
ruang
Struktur penutup: Struktur penutup:
pagar penahan yang rendah dan terbuka
tinggi
Material jendela: kaca reflektif
Finishing lantai: Finishing lantai: karpet
karpet tebal, matras (r. tebal, matras (r.
Terapi), material Terapi), material lantai
Gambar 12. Tampilan Keseluruhan Bangunan Panti lantai anti slip anti slip, parket
Rehabilitasi Anak Autis di Surakarta laminasi, keramik.
Finishing dinding dengan bahan lunak, seperti:
3.6. KONSEP TAMPILAN TATA RUANG acoustik tile, soft board, karpet, gipsum, matras.
Menggunakan visual cue
DALAM BANGUNAN (INTERIOR)
Konsep pengolahan tampilan bangunan
Tabel 3 menjelaskan kriteria desain yang
bertujuan untuk mengolah tampilan harus dipenuhi masing-masing ruang
bangunan pani rehabilitasi sesuai dengan (terutama ruang terapi dan edukasi)
kebutuhan masing-masing pengguna, dengan didasarkan pada gangguan
fungsional ruang ataupun bangunan. persepsi sensori yang dialami oleh anak
Kebutuhan pengguna yang dimaksud autis. Pada kegiatan edukasi anak autis,
adalah kebutuhan akan stimulasi sensori kriteria desain ruang akan disesuaikan
yang berbeda setiap individunya. Oleh dengan kriteria desain pada zona A-1,
karena itu, pengolahan tampilan bangunan dimana zona tersebut memberikan
yang akan dibahas akan dibagi menjadi 5 stimulasi yang menenangkan dan
zona, yaitu zona A-1, zona A-2, zona B-1, meminimalisir distraksi yang ada. Berikut
zona B-2, dan zona C. Masing-masing merupakan tabel tentang pengaplikasian
kriteria desain pada salah satu ruang di
zona memiliki kriteria desain yang berbeda
masing-masing zona (tabel 4).
(dapat dilihat pada tabel 3,5, dan 7).
Tabel 3. Kriteria Desain Tampilan Interior Tabel 4. Aplikasi Tampilan Interior Bangunan
Bangunan Panti Rehabilitasi Anak Autis Panti Rehabilitasi Anak Autis pada Zona A
Zona A-1 Zona A-2 Layout Ruang Prespektif
Pelaku: anak autis Pelaku: anak autis R. Kelas, anak autis dengan hipersensitif
dengan hipersensiif dengan hipersensitif
(indra pendengaran, (indra peraba dan
pengelihatan, dan propioseptif)
pembauan)
Skala intim Open scale
Warna: netral, teknik Warna: netral, sejuk,
warna monokromatik teknik monokromatik
dan analog
Menggunakan pola dan prinsip desain yang A: lemari tanam, B: partisi, C: Papan tulis, D:
mengacu pada prinsip keseimbangan yang Area floor time (karpet tebal dan bean bag), E:
dinamis (secara visual). area belajar dengan kapasitas 2 orang.
Menggunakan pola yang tegas dan berukuran - Pemberian partisi dan lemari tanam berguna
besar (tidak detail). untuk menciptakan suasana yang lebih intim
Meminimalisir penggunaan bentuk atau wujud dan membantu anak fokus dalam menjalani
yang bersudut lancip. kelompok kegiatan yang berbeda.
Ventiasi silang yaitu Ventilasi silang yaitu - Dinding dilapisi matras setinggi 1,5 m
dengan jendela hidup jendela hidup dan - Inderect lighing, lantai: keramik dan karpet
dan desain sederhana. desain sederhana. tebal, plafon: gypsum.
Posisi: tidak dapat Posisi: dapat dijangkau R Terapi Okupasi, Zona A-1
dijangkau anak anak ketika berdiri. A, C, G: tirai, digunakan untuk memisahkan
Mereduksi sinar matahari dengan shading antar kelompok kagiatan dan menciptakan
device. suasana yang intim di setiap kelompok kegiatan.
Sistem pencahayaan langsung tidak langsung B. area bermain rumah-rumahan, meliputi: 1 set
mengenai mata  diproyeksikan terlebih dahulu. dapur masak-masakan, children cookie desk, 1

424
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

Layout Ruang Prespektif Zona B-1 Zona B-2


set rumah, meja rias, perosotan, ayunan, ring Menggunakan titik penekanan dengan permainan
basket, motor-motoran. warna, tekstur, bentuk, pola, perabot, dimensi
D: meja terapi, F: floor time dengan bean bag dan meterial.
E: Area Softplay, meliputi: physioball, ayunan Menggunaka pola yang dinamis dan bervariasi
platform, area mandi bola struktur penutup: Struktur penutup:
- Area softplay dan bermain rumah-rumahan rendah dan terbuka pagar penahan yang
memakain lantai matras, sedangkan area tinggi
lainnya memakain karpet tebal. Pola tata ruang yang teratur dengan desain
- Pemisahan warna lantai setiap kelompok interior yang dinamis (tidak harmonis ecara
kegiatan. visual)
- Dinding dilapisi dengan matras. Menggunakan visual cues (isyarat gambar)
- Bahan perabot memakai bahan lunak. Akustik ruang -
Material dengan Material bertekstur
tekstur halus atau licin kasar sebagai media
dan rapat (masih terapi
aman)
Variasi material kaca -
dan desain jendela

Zona B merupakan zona yang


R. Sensori Integrasi, Zona A-2 menciptakan stimulasi yang tinggi bagi
anak autis dengan kelainan hiposensitif
terhadap sistem sensorinya. Berikut
merupaka pengaplikasian kriteria desain
ruang interior pada zona B (tabel 6):

Tabel 6. Aplikasi Tampilan Interior Bangunan


Panti Rehabilitasi Anak Autis pada Zona B
A: hammock, monkey bar, wall climbing, papan Layout Ruang Prespektif
titian dengan lantai matras R. Okupasi, Zona B-1
B: tramboline, area softplay (bolster, barrel,
airex, balance beam, two way fisio ball), ayunan
(flexidisc, platform, ayunan lingkaran) dengan
lantai matras
C: floor time dengan lantai matras
D: meja terapi dengan lemari tanam,
menggunakan karpet tebal
E: stepbar/ tangga dengan material mats,
prosotan, dan matras denga tinggi 1,2 m dari
lantai, dengan lantai matras tebal A: area main rumah-rumahan (perabot sama
- Dinding dikelilingi dengan matras tebal. seperti zona A-1), dengan lantai karpet tebal.
Semua zona memakai pintu geser untuk B: Meja terapi dengan lantai karpet tebal.
keselamatan dan kenyamanan anak autis. C: mandi bola, dengan matras
D: area softplayI (perabot sama dengan A-1),
lantai matras tebal (hijau), karpet (abu-abu).
Berikut merupakan kriteria desain pada E: area floor time dengan karpet tebal
zona B, yaitu: - Tidak ada pembatas tirai, dinding dikelilingi
Tabel 5. Kriteria Desain Tampilan Interior matras
pada Zona B-1 dan B-2 - Konsep desain: kampung desa buatan
Zona B-1 Zona B-2 R. Sensori Integrasi, Zona B-2
Pelaku: hiposensitif Pelaku: hiposensitif
(indra pendengaran, (indra peraba dan
pengelihatan, dan propioseptif)
pembauan)
Open Scale Skala intim
Warna: cerah, dengan Warna: hangat
teknik komplemeter (dominan), netral,
dan analog netral
Pada prinsipnya desain layout perabot ruang pada
zona ini sama dengan zona A-2.

425
Ganis Ratna S, Edi Pramono S, Ofita P, Gangguan Persepsi Sensori…

Layout Ruang Prespektif Kriteria Desain


A: kerikil buatan yang berfungsi sebagai media G: area softplay, meliputi: physioball, ayunan
terapi anak autis platform, bolster, bean bag, barrel (mats & pats),
B: tirai yang berfungsi untuk menciptakan suasan barre; insert, gymnastic mat wedges
yang intim. H: climbing wall, palyground (dilengkapi: rings,
Semua zona memakai pintu geser untuk rope, crago net, trapezebar)
keselamatan dan kenyamanan anak autis. - Pemberian partisi berguna untuk
mengelompokan kegiatan dan membentuk
Zona C merupakan zona yang suasana yang intim di setiap kelompok
kegiatan.
menciptakan stimulasi yang cenderung - Warna: sejuk (dominan), netral, dan
menenangkan bagi anak autis dengan hangat,sehingga dapat memberikan efek yang
gangguan presepsi sensori (semua indra). menenagkan bagi anak
Pada prinsipnya kriteria desain pada zona - Di sekeliling area bermain diberikan matras
disekeliling dinding.
ini hampir sama dengan zona A, namun
zona C lebih fleksibel atau lebih dinamis
(tidak kaku) dibandingkan dengan zona A. 4. KESIMPULAN
Berikut merupakan kriteria desain dan Berikut merupakan kesimpulan yang dapat
pengaplikasian tampilan bangunan interior diambil dari serangkaian tahap perancangan
pada zona C (akan dijelaskan pada tabel 7). Panti Rehabilitasi Anak Autis di Surakarta
dengan gangguan persepsi sensori sebagai
Tabel 7. Kriteria Desain dan Pengaplikasian acuan desain:
Tampilan Interior pada Zona C  Dalam mendesain sebuah wadah yang
Kriteria Desain berfungsi sebagai media penyembuhan
Pengguna: anak autis dengan gangguan presepsi
sensori (semua indra)
dan pengembangan anak autis harus
Skala intim, warna: tidak ada tuntutan khusus memiliki kriteria desain khusus yang
Menggunakan titik penekanan dengan permainan sesuai dengan karakteristik, kondisi,
warna, tekstur, bentuk, pola, perabot, dimensi, dan kebutuhan anak autis.
dan material  Kebutuhan stimulasi sensori anak autis
Menggunakan pola tegas dan berukuran besar
Meminimalisir penggunaan bentuk dengan sudut
merupakan kunci desain dalam
yang lancip menciptakan lingkungan khusus yang
Menggunakan jenis jendela hidup, dapat memudahkan anak autis untuk
dijangkau anak ketika posisinya berdiri beradaptasi dengan cepat dan tepat
Mereduksi sinar matahari langsung, dengan lingkungannya, sehingga
menggunakan inderect lighting
Menggunakan akustik ruang
menghasilkan respon perilaku dan
Struktur penutup: pagar penahan yang tinggi psikologi anak yang tepat dan positif.
Pola tata ruang yang teratur dengan desain  Terdapat 5 zona khusus, hasil dari
interior yang dinamis analisis dan pemetaan gangguan
Menggunakan gambar isyarat (visual cues) persepsi sensori anak autis, yaitu zona
Finsihing jendela, lantai, dan langit sama sepeti
zona A
hipersensitif (zona A-1 dan A-2), zona
Pengaplikasian, R fisioterapi hiposensitif (zona B-1 dan B-2, dan
zona gangguan (zona C)
 Kelima zona khusus menghasilkan
kriteria desain yang berbeda dan
diaplikasikan ke dalam pemilihan
atribut atau elemen arsitektur, seperti:
prinsip desain, material, pemilihan
pagar penutup (closure), proporsi,
skala, orientasi, fokus, simetris, ritme/
A: Lemari penyimpanan barang-barang medis irama, harmoni, keseimbangan, warna,
dengan model tanam di dalam tembok.
B: pararel bar sistem pencahayaan, akustik, teksur,
C: tempat tidur periksa beserta peralatan medis ventilasi, sekuen, kedekatan
D: material lantai menggunakan karpet tile tebal (proximity), dan rutinitas (routine), dsb.
E: modifikasi material kayu dan kaca
F: material lantai menggunakan matras tebal

426
Arsitektura, Vol. 15, No.2, Oktober 2017: 414-427

REFERENSI
Dokter Anak Indonesia. “Jumlah Penderita
Autis di Indonesia,” September 6, 2015.
https://klinikautis.com/2015/09/06/jumlah
-penderita-autis-di-indonesia.
Gunadi, Tri. “Terapi Sensori Integrasi Up Date
Mostafa, Magda. “An Architecture for Autism:
Concepts of Design Intervention for The
Autistic User.” ARCHNET-I JAE,
International Jurnal of Architectural
Research 1, no. 1 (March 2008): 209–
2011.
Mulyadi, Kresno, and Rudi Sutadi. Autism is
Curable. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo, 2014.
Singgih, Edi Pramono. Rekayasa Arsitektural
Ruang Mandiri Bagi Anak Autisme Di
Tengah Keluarga Dari Strata Sosial
Ekonomi Menengah Ke Bawah. 1st ed.
Surakarta: UPT. Penerbitan dan
Percetakan UNS Press, 2015.

427