Sei sulla pagina 1di 12

Tsunami Disaster

It is 12 years after the tsunami destroyed almost the

entire my hometown in Aceh, Sumatra island, Indonesia. It

ruined many houses and buildings. Many people lost their lives,

homes and families. Furthermore, tsunami disaster leaving

sadness and deep sorrow.

I live in the suburbs area, which is located quite far from

the beach. When the 8.9 magnitude earthquake occurs on

December 26th, 2004, I was sweeping my house. I felt the

ground shaking. Then my family and the neighbors were

running out from the houses. Numerous trees were just swayed

slightly. Being the paranoid, anxiety-filled individual that I am.

My head was immediately filled with irrational fears – it is that

an earthquake?

I realized something, for the first time in my life. The

reality was far worse than my paranoid. That was the first time

that i felt a very big one and scary earthquake. I’d experience

an earthquake for the first time while I was a child and it was

not a big earthquake. I continued to pray, hoping that

something bad does not happen.


At that time, my niece was staying at my house. She was

a first grade student at Junior High school. She said to me.”

Aunty, I learned from my geography teacher, when a big

earthquake happens like this, there will be a tsunami. Last

week, I practiced how tsunami is formed in my classroom with

my teacher and friends. We use of media in the form of a table

of plywood boards and sand as land of the coastal area with

various of miniature houses and little dolls. After that, we shook

the table as a metaphor of the earthquake. Lot of miniatures

was falling. Then, my teacher flushes the media that we

created with coke water. She said this is the tsunami process

and the wave will sweep the land near the beach.

Tsunami? The sound is not familiar for me. I never heard

that before. Is that a kind of catastrophe? Earthquake

continues, the electricity and phone are not working anymore. I

tried to call my other family, but it’s failed. I begin to feel a little

worried.

After that, my brother came to my house I instantly

reached for him. “Brother! What’s happening? What’s going

on?! What do we do? What’s–” … I heard countless people

yelling and run, and then I realized.


There’s a Ie Beuna. In Aceh, we called tsunami with Ie

Beuna. Our great-grandmother once said, in the past, if a big

earthquake, just flee to place higher, like a mountain. That is Ie

Beuna (Tsunami) coming.

“There has been a very big earthquake. Big aftershocks.

Ie Beuna is coming. I stood motionless for a minute, unable to

move, unable to think. Unable to process what was happening.

As I came to my senses, all I knew was that I had to find what’s

happened out of there.

Then I asked my brother to accompany me, I want to see

what is going on. Firstly, we went to the bridge near my house

and saw a lot of trash such as wood and the bridge seems like

almost broke. Everything looks really chaotic and depressing, I

saw many people escape from the coastal area, they were

hysterical. So many people were injured and bleeding. So many

dead bodies alongside of the bridge and road. I just cried. I

don’t know what was passing through my mind.

I asked a soldier who is next to me about what’s

happening, he said there was a big wave that destroys many

things and lives. I was very shocked. Then, I told him that I

want to go to city center, he said no because it really


dangerous. I don’t know how to describe that moment. It really

hurt me.

Now, after almost 12 years Tsunami that causes lots of

victims in the modern historical nation of Aceh, Indonesia. Many

things have changed from Aceh after the tsunami disaster, our

city has become better, development increased day by day.

Many schools and houses were destroyed by tsunami, was built

one by one.

Every year anyway in some areas, particularly in Province

Aceh, Indonesia. The incident is commemorated on a

momentum boost preparedness against potential similar

incidents in the future. The early warning is required for two

things. First, the evaluation of the things that have been done

in the post-disaster reconstruction and (most importantly) the

extent of post-disaster conditions was better in the disaster

mitigation context compared to pre-disaster conditions. Second

is the way to proceed and convey learning of the disaster

occurrence to the next generation. If you see a class in the

tsunami Japan in 2011, we certainly want to know how the

Japanese people prepare for a disaster especially tsunami.


How can a tsunami which is counted as the largest in the

history of Japan's 'only' claimed lives ~ 20,000 people or less

than 10% of the total death toll from the tsunami in Aceh in

2004 which reached ~ 250,000 lives?

If Japan had 'Inamura no Hi' Indonesia also has a tsunami

evacuation success stories rooted in the knowledge that is

transmitted across generations. That is Smong. Despite being

at a location very close to the epicenter of the earthquake and

tsunami hit in less than half an hour, only 6 people were killed

on Simeulue Island of a total of some 8,000 actual residents

potentially affected by the tsunami.

Finally, I would like to say thank you very much for the

government and people of Japan that have helped Aceh in

many ways, particularly in terms of infrastructure that

damaged by the tsunami and various other aid.

Some source from:

http://sains.kompas.com/read/2015/12/26/11092271/Memaknai

.11.Tahun.Tsunami.Aceh.
Terjemahan Bahasa Indonesia

Bencana Tsunami

Hampir 12 tahun setelah tsunami menghancurkan hampir

seluruh kampung halaman saya di Aceh, Pulau Sumatra,

Indonesia. Ia merusak banyak rumah dan bangunan. Banyak

orang kehilangan nyawa mereka, rumah dan keluarga.

Selanjutnya, bencana tsunami meninggalkan kesedihan dan

duka yang mendalam.

Saya tinggal di daerah pinggiran kota, yang terletak

cukup jauh dari pantai. Ketika gempa berkekuatan 8,9 terjadi


pada tanggal 26 Desember 2004 saya sedang menyapu rumah

saya. Saya merasakan tanah bergetar, semakin ketat.

Kemudian keluarga saya dan tetangga berjalan keluar dari

rumah. Banyak pohon hanya bergoyang sedikit. Menjadi

paranoid, saya merasa diri saya semakin cemas. Kepalaku

segera dipenuhi dengan ketakutan yang irasional – Inikah

gempa bumi?

Saya menyadari sesuatu, untuk pertama kalinya dalam

hidup saya. kenyataannya adalah jauh lebih buruk daripada

paranoid saya. Itu adalah pertama kalinya bahwa saya merasa

salah satu yang sangat besar dan gempa yang menakutkan.

Saya pernah mengalami gempa bumi untuk pertama kalinya

ketika saya masih kecil dan itu bukanlah gempa yang besar.

Saya terus berdoa, berharap bahwa sesuatu yang buruk tidak

terjadi.

Pada saat itu, keponakan saya sedang tinggal di rumah

saya. Dia adalah siswa kelas pertama di sekolah SMP. Dia

berkata kepada saya. "Bibi, saya belajar dari guru geografi

saya, ketika gempa besar terjadi seperti ini, akan ada tsunami.

Minggu lalu, saya berlatih bagaimana tsunami terbentuk di

kelas saya dengan guru dan teman-teman. Kami menggunakan


media dalam bentuk meja papan dari kayu tripleks dan pasir

sebagai ibarat tanah dari daerah pesisir dengan berbagai

miniatur rumah dan boneka kecil. Setelah itu, kami

menggoyangkan meja sebagai metafora dari gempa. Banyak

miniatur jatuh. Kemudian, guru saya menyiram media yang

telah kita buat tersebut dengan air Coca Cola. Dia mengatakan

ini adalah proses tsunami dan gelombang akan menyapu

daratan dekat pantai.

Tsunami? Istilahnya terdengar asing bagi saya. Saya tidak

pernah mendengar itu sebelumnya. Apakah itu semacam

bencana? Gempa terus terjadi, listrik dan telepon tidak bekerja

lagi. Saya mencoba menelepon keluarga saya yang lain, tapi

tidak tersambung. Saya mulai merasa sedikit khawatir.

Setelah itu, adik saya datang ke rumah saya, saya

langsung meraih dia. "Dik! Apa yang terjadi? Apa yang sedang

terjadi?! Apa yang kita lakukan? Apa- "... Kemudian, saya

mendengar banyak orang berteriak dan lari, dan setelahnya

saya menyadari sesuatu.

Ada “Ie Beuna”. Di Aceh, kita disebut tsunami dengan Ie

Beuna. Nenek buyut kami pernah berkata, di masa lalu, jika


terjadi gempa yang besar, larikan dirimu ke tempat yang lebih

tinggi, seperti gunung. Karena Ie Beuna (Tsunami) akan datang.

"Ada gempa yang sangat besar, gempa susulan yang

besar. Ie Beuna akan datang kak.” Begitu kata adikku. Aku

berdiri tak bergerak selama satu menit, tidak bisa bergerak,

tidak bisa berpikir. Tidak dapat memproses apa yang terjadi.

Saat saya mecoba berpikir, saya merasa bahwa saya harus

menemukan apa yang terjadi keluar dari sana.

Lalu saya meminta pada adik saya untuk menemani

saya, saya ingin melihat apa yang sedang terjadi. Pertama,

kami pergi ke jembatan dekat rumah saya dan melihat banyak

sampah seperti kayu dan jembatan sepertinya hampir patah.

Semuanya tampak benar-benar kacau dan menyedihkan, saya

melihat banyak orang melarikan diri dari arah pesisir pantai,

mereka histeris. Begitu banyak orang terluka dan berdarah.

Begitu banyak mayat di samping jembatan dan jalan. Saya

hanya bisa menangis. Saya tidak tahu apa yang sedang ada

didalam pikiran saya.

Saya bertanya seorang tentara yang berada di samping

saya tentang apa yang terjadi, dia mengatakan ada gelombang

besar yang menghancurkan banyak hal dan kehidupan. Saya


sangat terkejut. Lalu, saya mengatakan kepadanya bahwa saya

ingin pergi ke pusat kota, ia mengatakan tidak karena itu benar-

benar akan berbahaya. Saya tidak tahu bagaimana

menggambarkan saat itu. Sungguh menyakitkan.

Sekarang setelah hampir 12 tahun setelah tsunami yang

menyebabkan banyak korban di dalam sejarah terkini di daerah

Aceh, Indonesia. Banyak hal telah berubah dari Aceh setelah

bencana tsunami, kota kami kini telah menjadi lebih baik,

pembangunan meningkat dari hari ke hari. Banyak sekolah dan

rumah yang hancur oleh tsunami, dibangun satu per satu.

Setiap tahun pula di beberapa daerah, terutama di

Provinsi Aceh, Indonesia. Bencana itu diperingati pada

momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap

potensi pada bencana serupa di masa mendatang. Peringatan

dini diperlukan untuk dua hal. Pertama, evaluasi mengenai hal-

hal yang telah dilakukan dalam rekonstruksi pasca-bencana

dan (yang paling penting) tingkat kondisi pasca-bencana

menjadi lebih baik lagi dalam konteks mitigasi bencana

dibandingkan dengan kondisi pra-bencana. Kedua adalah cara

untuk melanjutkan dan menyampaikan pembelajaran

terjadinya bencana untuk generasi yang berikutnya. Jika kamu


melihat bagaimana terjadinya tsunami di Jepang pada tahun

2011, kita pasti ingin tahu bagaimana orang-orang Jepang

mempersiapkan bencana terutama pada tsunami.

Bagaimana bisa tsunami yang terhitung sebagai yang

terbesar dalam sejarah Jepang 'hanya' menelan korban jiwa ~

20.000 orang atau kurang dari 10% dari total korban tewas dari

bencana tsunami di Aceh pada tahun 2004 yang mencapai ~

250.000 jiwa?

Jika Jepang memiliki 'Inamura no Hi' Indonesia juga

memiliki pengetahuan bagaimana kisah sukses evakuasi

tsunami yang diturunkan turun temurun dari generasi ke

generasi. Disebut dengan Smong. Meskipun lokasinya yang

sangat dekat dengan episentrum gempa dan tsunami yang

melanda dalam waktu kurang dari setengah jam, hanya 6

orang tewas di Pulau Simeulue dari total sekitar 8.000 warga

yang sebenarnya berpotensi terkena tsunami.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak

untuk pemerintah dan rakyat Jepang yang telah membantu

Aceh dalam banyak hal, terutama dalam hal infrastruktur yang

rusak akibat tsunami dan berbagai bantuan lainnya.