Sei sulla pagina 1di 230

Adolf Hitler

Führer dan Kanselir Reich Jerman, dan


Pemimpin Partai Nazi

Adolf Hitler (bahasa Jerman: [ˈadɔlf


ˈhɪtlɐ]; lahir di Braunau am Inn, Austria-
Hongaria, 20 April 1889 – meninggal di
Berlin, Jerman, 30 April 1945 pada umur
56 tahun) adalah seorang politisi Jerman
dan ketua Partai Nazi (bahasa Jerman:
Nationalsozialistische Deutsche
Arbeiterpartei (NSDAP); Partai Pekerja
Jerman Sosialis Nasional) kelahiran
Austria. Ia menjabat sebagai Kanselir
Jerman sejak 1933 sampai 1945 dan
diktator Jerman Nazi (bergelar Führer
und Reichskanzler) mulai tahun 1934
sampai 1945. Hitler menjadi tokoh utama
Jerman Nazi, Perang Dunia II di Eropa,
dan Holocaust.
Adolf Hitler

Hitler pada tahun 1937

Führer Jerman

Masa jabatan
2 Agustus 1934 – 30 April 1945

Pendahulu Paul von Hindenburg


(sebagai Presiden)

Pengganti Karl Dönitz


(sebagai Presiden)

Kanselir Jerman
Masa jabatan
30 Januari 1933 – 30 April 1945

Presiden Paul von Hindenburg

Wakil Franz von Papen


Kosong

Pendahulu Kurt von Schleicher

Pengganti Joseph Goebbels

Reichsstatthalter Prusia

Masa jabatan
30 Januari 1933 – 30 Januari 1935

Perdana Menteri Franz von Papen


Hermann Göring

Pendahulu Jabatan dibentuk

Pengganti Jabatan dihapus

Informasi pribadi

Lahir 20 April 1889


Braunau am Inn,
Austria-Hongaria

Meninggal dunia 30 April 1945


(umur 56)
Berlin, Jerman

Sebab kematian Bunuh diri

Kebangsaan Warga negara


Austria sampai 7
April 1925[1]
Warga negara
Jerman sampai 25
Februari 1932

Partai politik Partai Pekerja Jerman


Sosialis Nasional
(1921–1945)

Afiliasi Partai Pekerja Jerman


politik lain (1920–1921)

Pasangan Eva Braun


(29–30 April 1945)
Pekerjaan Politikus, tentara,
seniman, penulis

Penghargaan sipil Iron Cross First


Class
Iron Cross Second
Class
Wound Badge

Tanda tangan

Dinas militer

Pihak  Kekaisaran Jerman

Dinas/cabang Reichsheer

Masa dinas 1914–1918

Pangkat Gefreiter

Satuan Resimen Cadangan


Bavaria ke-16

Pertempuran/perang Perang Dunia I


Hitler adalah veteran Perang Dunia I
dengan banyak gelar. Ia bergabung
dengan Partai Pekerja Jerman
(pendahulu NSDAP) pada tahun 1919,
dan menjadi ketua NSDAP tahun 1921.
Tahun 1923, ia melancarkan kudeta di
Munich yang dikenal dengan peristiwa
Beer Hall Putsch. Kudeta yang gagal
tersebut berujung dengan ditahannya
Hitler. Di penjara, Hitler menulis
memoarnya, Mein Kampf (Perjuanganku).
Setelah bebas tahun 1924, Hitler
mendapat dukungan rakyat dengan
mengecam Perjanjian Versailles dan
menjunjung Pan-Jermanisme,
antisemitisme, dan anti-komunisme
melalui pidatonya yang karismatik dan
propaganda Nazi. Setelah ditunjuk
sebagai kanselir pada tahun 1933, ia
mengubah Republik Weimar menjadi
Reich Ketiga, sebuah kediktatoran satu
partai yang didasarkan pada ideologi
Nazisme yang totalitarian dan otokratik.

Tujuan Hitler adalah mendirikan Orde


Baru hegemoni Jerman Nazi yang
absolut di daratan Eropa. Sampai saat
itu, kebijakan luar dan dalam negerinya
bertujuan mencapai Lebensraum ("ruang
hidup") bagi kaum Jermanik. Ia
memerintahkan Jerman dipersenjatai
kembali dan Wehrmacht menginvasi
Polandia pada bulan September 1939,
menyebabkan pecahnya Perang Dunia II
di Eropa. Di bawah pemerintahan Hitler,
pada tahun 1941 pasukan Jerman dan
sekutu Eropanya menduduki sebagian
besar Eropa dan Afrika Utara. Tahun
1943, Jerman harus mempertahankan
wilayahnya dan mengalami serangkaian
kekalahan dalam pertempuran. Pada
hari-hari terakhir perang, saat
Pertempuran Berlin berlangsung tahun
1945, Hitler menikahi kekasih lamanya,
Eva Braun. Tanggal 30 April 1945, kurang
dari dua hari kemudian, keduanya bunuh
diri agar tidak ditangkap Angkatan Darat
Merah, lalu mayat mereka dibakar.

Kebijakan Hitler yang supremasis dan


termotivasi oleh ras mengakibatkan
kematian sekitar 50 juta orang selama
Perang Dunia II, termasuk 6 juta kaum
Yahudi dan 5 juta etnis "non-Arya" yang
pemusnahan sistematisnya
diperintahkan oleh Hitler dan rekan-rekan
terdekatnya.

Tahun-tahun pertama
Nenek moyang

Ayah Hitler, Alois Hitler (1837–1903),


adalah anak tidak sah dari Maria Anna
Schicklgruber. Catatan baptis tidak
menyebutkan nama ayah Alois, sehingga
Alois memakai nama belakang ibunya.
Pada tahun 1842, Johann Georg Hiedler
menikahi Anna. Setelah Anna meninggal
dunia tahun 1847 dan Johann tahun
1856, Alois dibesarkan di keluarga adik
Hiedler, Johann Nepomuk Hiedler.[2]
Pada tahun 1876, Alois disahkan dan
catatan baptisnya diubah oleh seorang
pendeta di hadapan tiga saksi mata.[3]
Saat diadili di Nuremberg tahun 1945,
pejabat Nazi Hans Frank menyebut
keberadaan surat-surat yang mengklaim
bahwa ibu Alois bekerja sebagai
pembantu rumah tanga untuk sebuah
keluarga Yahudi di Graz dan bahwa putra
keluarga tersebut yang berusia 19 tahun,
Leopold Frankenberger, merupakan ayah
Alois.[4] Akan tetapi, tidak ada nama
Frankenberger yang tercatat di Graz pada
masa itu dan catatan keluarga Leopold
Frankenberger tidak pernah dibuat.[5]
Para sejarawan meragukan klaim bahwa
ayah Alois adalah seorang Yahudi.[6][7]

Pada usia 39 tahun, Alois memilih nama


belakang "Hitler", bisa dieja "Hiedler",
"Hüttler", atau "Huettler". Asal kata
namanya adalah "seseorang yang tinggal
di rumah" (Jerman Standar Hütte),
"penggembala" (Jerman Standar hüten
"menjaga", Inggris "heed"), atau dari
bahasa Slavik Hidlar dan Hidlarcek.[8]

Masa kanak-kanak dan pendidikan


Adolf Hitler saat masih bayi (c. 1889–1890)

Adolf Hitler lahir tanggal 20 April 1889 di


Gasthof zum Pommer, sebuah
penginapan di Salzburger Vorstadt 15,
Braunau am Inn, Austria-Hongaria.[9] Ia
adalah anak keempat dari enam
bersaudara dari pasangan Alois Hitler
dan Klara Pölzl (1860–1907). Abang dan
kakak Hitler – Gustav, Ida, dan Otto –
meninggal saat masih bayi.[10] Saat Hitler
berusia tiga tahun, keluarga mereka
pindah ke Passau, Jerman.[11] Di sana ia
mempelajari dialek Bayern Hilir
(bukannya bahasa Jerman Austria), dan
dialek ini menjadi ciri khas gaya
bicaranya seumur hidup.[12][13][14] Tahun
1894, keluarga mereka pindah lagi ke
Leonding (dekat Linz), dan pada Juni
1895, Alois menetap di sebuah lahan
kecil di Hafeld, dekat Lambach, tempat ia
bertani dan beternak lebah. Adolf
bersekolah di kota tetangga, Fischlham.
Hitler mulai suka mempelajari perang
setelah menemukan buku bergambar
tentang Perang Prancis-Prusia milik
ayahnya.[15][16]
Perpindahan mereka ke Hafeld
merupakan awal dari konflik ayah-anak
yang intens akibat Adolf menolak
mematuhi peraturan ketat di
sekolahnya.[17] Usaha pertanian Alois
Hitler di Hafeld gagal dan pada tahun
1897 mereka pindah ke Lambach. Hitler
yang masih berusia 8 tahun mengikuti
les menyanyi, bernyanyi dengan paduan
suara gereja, dan bahkan sempat
mempertimbangkan diri untuk menjadi
pendeta.[18] Tahun 1898, keluarga
mereka pindah permanen ke Leonding.
Kematian adiknya, Edmund, akibat cacar
pada 2 Februari 1900 sangat
mempengaruhi kehidupan Hitler. Ia
berubah dari sosok yang percaya diri,
mudah bergaul, dan pintar, menjadi
bocah yang murung, menarik diri, dan
cemberut yang sering bertengkar dengan
ayah dan gurunya.[19]

Ibu Hitler, Klara

Alois memiliki karier yang sukses di biro


bea cukai dan ingin anaknya mengikuti
jejaknya.[20] Hitler kemudian
mendramatisir sebuah peristiwa ketika
ayah Hitler membawanya berkunjung ke
kantor bea cukai, menyebutnya sebagai
peristiwa yang membangkitkan
antagonisme tanpa ampun antara ayah
dan anak, yang keduanya sama-sama
berkeinginan kuat.[21][22][23] Mengabaikan
keinginan putranya untuk masuk SMA
klasik dan menjadi seorang seniman,
Alois mengirim Adolf ke Realschule di
Linz pada bulan September 1900.[24] (Ini
adalah SMA yang sama yang kelak
dimasuki Adolf Eichmann 17 tahun
kemudian.)[25] Hitler menolak keputusan
ini, dan dalam buku Mein Kampf, Hitler
mengungkapkan bahwa ia berprestasi
buruk di sekolah, sambil berharap bahwa
setelah ayahnya melihat "kemajuan kecil
yang aku buat di sekolah teknik, ia akan
membiarkanku mengejar mimpiku."[26]

Hitler terobsesi dengan nasionalisme


Jerman sejak masih muda.[27] Ia
menunjukkan kesetiaannya terhadap
Jerman, membenci monarki Habsburg
yang semakin kacau dan
pemerintahannya di kekaisaran yang
dihuni berbagai etnis.[28][29] Hitler dan
teman-temannya memakai kata
sambutan Jerman "Heil", dan
menyanyikan lagu kebangsaan Jerman
"Deutschland Über Alles" alih-alih lagu
kebangsaan Kekaisaran Austria.[30]
Setelah kematian mendadak Alois
tanggal 3 Januari 1903, prestasi Hitler di
sekolah memburuk. Ibunya mengizinkan
Hitler berhenti sekolah pada musim
gugur 1905.[31] Ia bersekolah di
Realschule di Steyr pada September
1904; perilaku dan prestasinya
membaik.[32] Pada musim gugur 1905,
setelah lulus ujian susulan dan ujian
akhir, Hitler berhenti sekolah tanpa
keinginan apapun untuk melanjutkan
sekolah atau membina karier.[33]

Masa remaja di Wina dan Munich


Rumah di Leonding tempat Hitler menghabiskan
masa remaja awalnya (c.1984)

Sejak 1905, Hitler menjalani kehidupan


bohemia di Wina yang didanai oleh
tunjangan anak yatim dan bantuan dari
ibunya. Ia bekerja sebagai buruh biasa,
lalu seorang pelukis yang menjual
lukisan cat air. Akademi Seni Rupa Wina
dua kali menolak Hitler, yaitu tahun 1907
dan 1908, dikarenakan "tidak cocok
melukis". Direktur akademi menyarankan
agar Hitler mempelajari arsitektur,[34]
namun ia tidak memenuhi persyaratan
akademik.[35] Pada tanggal 21 Desember
1907, ibunya meninggal dunia pada usia
47 tahun. Setelah ditolak Akademi untuk
kedua kalinya, Hitler kehabisan uang.
Tahun 1909, ia tinggal di tempat
penampungan tunawisma, dan pada
tahun 1910, ia menetap di sebuah rumah
pekerja miskin di Meldemannstraße.[36]
Saat Hitler tinggal di sana, Wina adalah
tempat penuh prasangka agama dan
rasisme.[37] Kekhawatiran bahwa Wina
akan dipenuhi imigran dari Timur meluas,
dan wali kotanya yang populis, Karl
Lueger, mengeksploitasi retorika
antisemitisme untuk kepentingan
politiknya. Antisemitisme pan-Jermanik
Georg Schönerer mendapat dukungan
kuat di distrik Mariahilf, tempat Hitler
tinggal.[38] Hitler membaca koran-koran
setempat, seperti Deutsches Volksblatt,
yang mengompori prasangka dan
membakar ketakutan umat Kristen yang
khawatir akan terusir oleh membanjirnya
pendatang Yahudi dari timur.[39] Menolak
apa yang disebutnya sebagai
"Jermanofobia" Katolik, ia mulai
menyukai Martin Luther.[40]

The Alter Hof in Munich. Lukisan cat air karya Adolf


Hitler, 1914
Asal usul dan kapan Hitler menunjukkan
antisemitismenya sulit dilacak.[41] Hitler
menyebutkan dalam Mein Kampf bahwa
berubah menjadi seorang antisemit di
Wina.[42] Sahabatnya, August Kubizek,
mengaku bahwa Hilter adalah seorang
"antisemit resmi" sebelum meninggalkan
Linz.[43] Kesaksian Kubizek ditentang
oleh sejarawan Brigitte Hamann, yang
menulis bahwa Kubizek adalah satu-
satunya orang yang mengatakan bahwa
Hitler muda adalah seorang antisemit.[44]
Hamann juga menulis bahwa belum ada
pernyataan antisemit yang keluar dari
mulut Hitler pada masa itu.[45] Sejarawan
Ian Kershaw berpendapat bahwa jika
Hitler pernah berkata seperti itu,
perkataannya tidak diketahui karena
antisemitisme di Wina sudah biasa pada
saat itu.[46] Sejumlah sumber
memberikan bukti kuat bahwa Hitler
memiliki teman-teman Yahudi di
penginapannya dan tempat-tempat lain
di Wina.[47][48] Sejarawan Richard J.
Evans menyatakan bahwa "para
sejarawan sekarang setuju bahwa anti-
Semitismenya yang terkenal baru muncul
setelah kekalahan Jerman [dalam Perang
Dunia I], sebagai efek samping dari
jawaban paranoid 'pengkhianatan'
terhadap peristiwa ini".[49]
Hitler mewarisi bagian terakhir dari harta
ayahnya pada bulan Mei 1913 dan
pindah ke Munich.[50] Para sejarawan
yakin ia keluar dari Wina untuk
menghindari wajib militer ke Angkatan
Darat Austria.[51] Hitler kemudian
mengklaim bahwa ia tidak mau berdinas
di Kekaisaran Habsburg karena
percampuran "ras" di dalam tubuh AD.[50]
Setelah ia dinyatakan tidak cocok
berdinas—karena gagal tes fisik di
Salzburg tanggal 5 Februari 1914—ia
pulang ke Munich.[52]

Perang Dunia I
Saat Perang Dunia I pecah, Hitler adalah
penduduk kota Munich dan dengan
sukarela berdinas di Angkatan Darat
Bayern sebagai warga negara Austria.[53]
Ditempatkan di Resimen Infanteri
Cadangan Bayern 16 (Kelompok Resimen
ke-1),[54][53] Hitler berperan sebagai
pengirim berita di Front Barat di Prancis
dan Belgia,[55] menghabiskan nyaris
separuh waktunya di belakang garis
depan.[56][57] Ia terlibat dalam
Pertempuran Ypres Pertama,
Pertempuran Somme, Pertempuran
Arras, dan Pertempuran Passchendaele,
dan sempat terluka di Somme.[58]
Hitler bersama rekan tentaranya dari Resimen
Infanteri Cadangan Bayern 16 (c. 1914–1918)

Ia diberi penghargaan Iron Cross, Second


Class, pada tahun 1914 atas
keberaniannya.[58] Karena disarankan
Hugo Gutmann, Hitler menerima Iron
Cross, First Class, pada tanggal 4
Agustus 1918,[59] sebuah penghargaan
yang jarang disematkan pada seseorang
berpangkat seperti Hitler (Gefreiter).
Pekerjaan Hitler di kantor pusat resimen,
yaitu berinteraksi penuh dengan perwira
senior, mungkin membantu dirinya
mendapatkan penghargaan ini.[60] Meski
aksinya dianggap berani, namun tetap
tidak dapat disebut sangat terpuji.[61]
Hitler juga menerima Black Wound
Badge pada 18 Mei 1918.[62]

Selama berdinas di kantor pusat, Hitler


mengembangkan bakat seninya dengan
menggambar kartun dan instruksi untuk
surat kabar angkatan darat. Pada
Pertempuran Somme bulan Oktober
1916, ia terluka di bagian paha[63] atau
betis kiri oleh granat yang meledak di
parit pengirim berita.[64] Hitler
menghabiskan hampir dua bulan di
rumah sakit Palang Merah di Beelitz, lalu
kembali ke resimennya pada 5 Maret
1917.[65] Pada 15 Oktober 1918, Hitler
buta sementara akibat serangan gas
mustar dan terpaksa diinapkan di rumah
sakit Pasewalk.[66] Di sana, Hitler
mengetahui kekalahan Jerman,[67] dan
setelah mendapatkan berita tersebut, ia
mengaku buta kembali.[68]

Adolf Hitler menjadi tentara pada Perang Dunia


Pertama (1914–1918)

Hitler menjadi jengkel karena upaya


perang Jerman gagal dan karena itu pula
perkembangan ideologinya perlahan
terbentuk.[69] Ia menyebut Perang Dunia I
sebagai "pengalaman terhebat seumur
hidup" dan ia dipuji oleh para
komandannya atas keberaniannya.[70]
Pengalaman ini memperkuat
patriotismenya terhadap Jerman dan ia
terkejut oleh penyerahan diri Jerman
pada bulan November 1918.[71] Seperti
para nasionalis Jerman lainnya, ia
percaya terhadap Dolchstoßlegende
(legenda pengkhianatan) yang
mengklaim bahwa Angkatan Darat
Jerman yang "tak terkalahkan di
lapangan" telah "ditusuk dari belakang" di
front dalam negeri oleh para pemimpin
warga sipil dan kaum Marxis, yang
kemudian dijuluki "para kriminal
November".[72]

Perjanjian Versailles menekankan bahwa


Jerman harus mengembalikan sejumlah
wilayah yang diduduki dan
mendemiliterisasi Rhineland. Perjanjian
ini memberlakukan sanksi ekonomi dan
reparasi berat terhadap Jerman. Banyak
warga Jerman memandang perjanjian ini
—khususnya Artikel 231 yang menyebut
Jerman bertanggung jawab atas semua
akibat perang—sebagai suatu upaya
mempermalukan Jerman.[73] Perjanjian
Versailles dan kondisi ekonomi, sosial,
dan politik di Jerman pascaperang
kemudian dieksploitasi oleh Hitler untuk
kepentingan politiknya.[74]

Kancah politik
Setelah Perang Dunia I, Hitler pulang ke
Munich.[75] Tanpa pendidikan formal dan
prospek karier, ia mencoba bertahan di
AD selama mungkin.[76] Pada Juli 1919,
ia ditunjuk sebagai Verbindungsmann
(agen intelijen) untuk sebuah
Aufklärungskommando (komando mata-
mata) milik Reichswehr untuk
mempengaruhi tentara lain dan
menyusup ke Partai Pekerja Jerman
(DAP). Saat mengawasi aktivitas DAP,
Hitler tertarik pada pemikiran sang
pendiri partai, Anton Drexler, yang
antisemit, nasionalis, antikapitalis, dan
anti-Marxis.[77] Drexler menyukai
pemerintahan aktif yang kuat, versi
sosialisme non-Yahudi, dan solidaritas
kalangan masyarakat. Terpukau oleh
kemampuan pidato Hitler, Drexler
mengundangnya untuk bergabung
dengan DAP. Hitler menerima tawaran
tersebut pada 12 September 1919[78] dan
menjadi anggota partai ke-55.[79]
Salinan kartu keanggotaan Partai Pekerja Jerman
(DAP) Adolf Hitler

Di DAP, Hitler bertemu dengan Dietrich


Eckart, salah seorang pendiri partai dan
anggota kelompok rahasia Thule
Society.[80] Eckart menjadi guru Hitler,
sempat bertukar pikiran dengannya dan
memperkenalkannya dengan berbagai
macam tokoh masyarakat Munich.[81]
Demi meningkatkan daya tariknya, DAP
mengubah namanya menjadi
Nationalsozialistische Deutsche
Arbeiterpartei (Partai Pekerja Jerman
Sosialis Nasional – NSDAP).[82] Hitler
merancang bendera swastika di dalam
lingkaran putih berlatar belakang merah
untuk partai ini.[83]

Hitler keluar dari AD pada Maret 1920


dan mulai bekerja purnawaktu untuk
NSDAP. Pada Februari 1921—saat sudah
cakap berpidato di hadapan kerumunan
besar—ia berpidato di hadapan 6.000
orang di Munich.[84] Untuk
mempublikasikan pertemuan tersebut,
dua truk pendukung partai berkeliling
kota sambil mengibarkan bendera
swastika dan menyebar brosur.
Popularitas Hitler segera naik gara-gara
pidato polemiknya yang kasar terhadap
Perjanjian Versailles, pesaing politik, dan
kaum Marxis dan Yahudi.[85] Pada waktu
itu, NSDAP berkantor pusat di Munich,
lahan subur bagi kaum nasionalis
Jerman antipemerintah yang ingin
menghancurkan Marxisme dan
melecehkan Republik Weimar.[86]

Pada bulan Juni 1921, saat Hitler dan


Eckart sedang dalam perjalanan
penggalangan dana ke Berlin, sebuah
pemberontakan terjadi di dalam tubuh
NSDAP di Munich. Sejumlah anggota
komite eksekutif, beberapa di antaranya
menganggap Hitler terlalu sombong,
ingin bergabung dengan pesaing mereka,
Partai Sosialis Jerman (DSP).[87] Hitler
pulang ke Munich tanggal 11 Juli dan
mempertegas pengunduran dirinya.
Anggota komite kemudian menyadari
pengunduran diri Hitler berarti partai
bubar.[88] Hitler mengumumkan akan
bergabung kembali dengan syarat ia
menggantikan Drexler sebagai ketua
partai dan kantor pusat partai harus
tetap berada di Munich.[89] Komite setuju;
Hitler bergabung kembali dengan partai
sebagai anggota ke-3.680. Ia masih
mendapat sejumlah pertentangan di
internal NSDAP: Hermann Esser dan
sekutunya menerbitkan 3.000 pamflet
yang menyerang Hitler sebagai
pengkhianat partai.[89][a] Pada hari-hari
berikutnya, Hitler berbicara di hadapan
kerumunan mempertahankan dirinya dan
mendapat sambutan luar biasa.
Strateginya terbukti berhasil: pada rapat
anggota umum, ia diberi kekuasaan
absolut sebagai ketua partai dengan satu
suara menentang.[90]

Pidato Hitler yang bersemangat di aula


bir mulai menarik para pendengar setia.
Ia mulai terbiasa memakai tema populis
yang ditargetkan pada pendengarnya,
termasuk pemakaian kambing hitam
yang bisa disalahkan atas kesulitan
ekonomi para pendengarnya.[91][92][93]
Sejarawan mencatat dampak hipnotis
dari kata-katanya terhadap kerumunan
besar, dan matanya terhadap kerumunan
kecil. Kessel menulis, "Dengan luar biasa
... warga Jerman berbicara dengan
mistifikasi pesona 'hipnotis' Hitler. Kata
itu muncul lagi dan lagi; Hitler dikatakan
berhasil memukau bangsa ini, membawa
mereka ke dalam keadaan trans di mana
mereka tidak bisa melepaskan diri."[94]
Sejarawan Hugh Trevor-Roper
mendeskripsikan "pesona pandangannya
yang menyihir banyak orang yang masih
waras."[95] Ia memakai magnetisme
pribadinya dan pemahaman terhadap
psikologi kerumunan untuk mendapat
keunggulan saat berpidato di hadapan
publik.[96][97] Alfons Heck, mantan
anggota Pemuda Hitler, mendeskripsikan
reaksi terhadap pidato Hitler: "Kami
terbakar dengan kebanggaan nasionalis
yang sudah mencapai tingkat histeria.
Pada menit-menit terakhir, kami berteriak
sekencang mungkin dengan derai air
mata: Sieg Heil, Sieg Heil, Sieg Heil! Sejak
saat itu, diri saya adalah milik tubuh dan
jiwa Adolf Hitler".[98] Meski kemampuan
pidato dan kepribadiannya dapat
diterima secara baik oleh kerumunan
besar dan acara-acara resmi, sejumlah
orang yang pernah bertemu Hitler secara
pribadi mengatkan bahwa penampilan
dan perilakunya gagal memberi pesona
yang bertahan lama.[99][100]

Para pengikut pertamanya meliputi


Rudolf Hess, mantan pilot AU Hermann
Göring, dan kapten AD Ernst Röhm.
Röhm menjadi kepala organisasi
paramiliter Nazi, Sturmabteilung (SA,
"Tentara Penyerbu"), yang bertugas
melindungi rapat dan sering menyerang
pesaing politik. Pengaruh kritis terhadap
pemikirannya pada masa itu adalah
Aufbau Vereinigung,[101] sebuah
kelompok konspirasi para pengungsi
Rusia Putih dan Sosialis Nasional awal.
Kelompok yang didanai sejumlah tokoh
industrialis kaya seperti Henry Ford ini
memperkenalkan Hitler dengan ide
konspirasi Yahudi yang mengaitkan
keuangan internasional dengan
Bolshevisme.[102]
Bierkeller Putsch

Gambar wajah Hitler (30 Oktober 1923)

Hitler meminta bantuan Jenderal Perang


Dunia I Erich Ludendorff untuk
melakukan kudeta bernama "Bierkeller
Putsch". Partai Nazi memakai Fasisme
Italia sebagai model penampilan dan
kebijakan mereka. Hitler ingin meniru
"Pawai ke Roma"-nya Benito Mussolini
(1922) dengan membuat kudetanya
sendiri di Bayern, lalu diikuti dengan
melawan pemerintahan di Berlin. Hitler
dan Ludendorff mencari dukungan
Staatskommissar (komisaris negara)
Gustav von Kahr, pemimpin de facto
Bayern. Namun Kahr dan Kepala Polisi
Hans Ritter von Seisser (Seißer) dan
Jenderal Reichswehr Otto von Lossow
ingin mendirikan kediktatoran nasionalis
tanpa keterlibatan Hitler.[103]

Hitler hendak merengkuh momen kritis


ini demi meraih dukungan luas dari
rakyat.[104] Pada tanggal 8 November
1923, ia dan SA menyerbu rapat umum
3.000 orang yang diselenggarakan Kahr
di Bürgerbräukeller, sebuah aula bir besar
di Munich. Hitler menyerobot pidato Kahr
dan mengumumkan bahwa revolusi
nasional telah dimulai dan
mendeklarasikan pembentukan
pemerintahan baru bersama
Ludendorff.[105] Mundur ke ruang
belakang, Hitler, dengan pistol
genggamnya, menuntut dan mendapat
dukungan Kahr, Seisser, dan Lossow.[105]
Pasukan Hitler awalnya berhasil
menduduki Reichswehr dan markas
polisi setempat; sayangnya, Kahr dan
rekan-rekannya menarik dukungan
mereka dan baik AD maupun polisi
negara tidak bergabung dengan
Hitler.[106] Keesokan harinya, Hitler dan
para pengikutnya berpawai dari aula bir
ke Kementerian Perang Bayern untuk
menggulingkan pemerintahan Bayern,
tetapi berhasil dibubarkan polisi.[107] 16
anggota NSDAP dan 4 polisi tewas
dalam kudeta gagal ini.[108]

Hitler kabur ke rumah Ernst Hanfstaengl


dan menurut sejumlah orang ia sempat
mempertimbangkan bunuh diri.[109] Ia
depresi namun tenang saat ditahan
tanggal 11 November 1923 akibat
pengkhianatan tingkat tinggi.[110]
Pengadilannya dimulai bulan Februari
1924 di hadapan Pengadilan Rakyat
istimewa di Munich,[111] dan Alfred
Rosenberg menjadi ketua sementara
NSDAP. Pada tanggal 1 April, Hitler
dihukum lima tahun penjara di Penjara
Landsberg.[112] Ia ditangani secara baik
oleh para penjaga; ia diizinkan menerima
surat dari para pendukungnya dan
kunjungan rutin oleh rekan-rekan partai.
Mahkamah Agung Bayern mengeluarkan
pengampunan dan Hitler dibebaskan dari
penjara pada tanggal 20 Desember 1924,
bertentangan dengan keberatan jaksa
negara.[113] Jika dihitung secara
keseluruhan, Hitler hanya mendekam
selama satu tahun lebih di penjara.[114]
Sampul debu Mein Kampf (1926–1927)

Di Landsberg, Hitler mendiktekan


sebagian besar volume pertama Mein
Kampf (Perjuanganku; awalnya berjudul
Empat Setengah Tahun Perjuangan
Melawan Kebohongan, Kebodohan, dan
Kepengecutan) kepada wakilnya, Rudolf
Hess.[114] Buku tersebut, didedikasikan
kepada anggota Thule Society Dietrich
Eckart, adalah sebuah otobiografi
sekaligus pemaparan ideologinya. Mein
Kampf dipengaruhi oleh The Passing of
the Great Race karya Madison Grant,
yang Hitler anggap "Injilku".[115] Buku
tersebut menjadi dasar rencana Hitler
untuk mengubah masyarakat Jerman
menjadi satu berdasarkan ras. Sejumlah
kalimat di dalamnya menekankan
genosida.[116] Diterbitkan dalam dua
volume tahun 1925 dan 1926, buku ini
terjual sebanyak 228.000 eksemplar
antara 1925 dan 1932. Satu juga
eksemplar terjual pada 1933, tahun
pertama Hitler menjabat. [117]

Membangun kembali NSDAP


Hitler (kiri), berdiri di belakang Hermann Göring pada
rapat Nazi di Nuremberg (c. 1928)

Setelah Hitler dibebaskan dari penjara,


politik di Jerman sudah kurang bersaing
dan ekonomi membaik, sehingga
membatasi kesempatan Hitler memenuhi
tujuan politiknya. Akibat Bierkeller Putsch
yang gagal tersebut, NSDAP dan
organisasi terkait dilarang berdiri di
Bayern. Dalam pertemuan dengan
Perdana Menteri Bayern Heinrich Held
tanggal 4 Januari 1925, Hitler setuju
menghormati kewenangan negara: ia
hanya akan mengejar kekuasaan politik
melalui proses demokratis. Pertemuan
ini berhasil mencabut larangan terhadap
NSDAP.[118] Akan tetapi, Hitler dilarang
berpidato di hadapan publik, [119] sebuah
larangan yang tetap berlaku sampai
1927.[120] Untuk memajukan ambisi
politiknya meski dilarang, Hitler
menunjuk Gregor Strasser, Otto Strasser,
dan Joseph Goebbels untuk mendirikan
dan mengembangkan NSDAP di Jerman
utara. Seorang strategiwan berbakat,
Gregor Strasser, membuat jalur politik
yang lebih independen dengan
menekankan elemen sosialis dari
program partai ini.[121]

Bursa saham di Amerika Serikat jatuh


pada tanggal 24 Oktober 1929.
Dampaknya di Jerman begitu parah:
jutaan orang di-PHK dan sejumlah bank
besar bangkrut. Hitler dan NSDAP
bersiap untuk memanfaatkan peristiwa
ini demi mendulang dukungan bagi partai
mereka. Mereka berjanji menghapus
Perjanjian Versailles, memperkuat
ekonomi, dan menyediakan lapangan
kerja.[122]
Masa pemerintahan
Hasil pemilu Partai Nazi[123]
% Kursi
Pemilu Total suara Catatan
suara Reichstag

Mei 1924 1.918.300 65 32 Hitler dipenjara

Desember
907.300 30 14 Hitler bebas
1924

1928 810.100 26 12  

1930 6.409.600 183 107 Setelah krisis keuangan

Setelah Hitler dicalonkan jadi


1932 13.745.000 373 230
presiden

1932 11.737.000 331 196  

1933 17.277.180 439 288 Hitler saat menjadi Kanselir Jerman

Pemerintahan Brüning

Hitler dan bendahara NSDAP Franz Xaver Schwarz


pada acara renovasi Palais Barlow di Brienner Straße
di Munich di dalam kantor pusat Brown House,
Desember 1930
Depresi Besar di Jerman memberi
kesempatan politik bagi Hitler. Penduduk
Jerman setengah mendukung setengah
menentang republik parlementer, yang
menghadapi tekanan besar dari kaum
ekstremis sayap kanan dan kiri. Partai
politik moderat tidak mampu
membendung gelombang ekstremisme,
dan referendum Jerman 1929 berhasil
membawa ideologi Nazi ke
permukaan.[124] Pemilihan umum
September 1930 berakhir dengan
terpecahnya koalisi besar dan digantikan
oleh kabinet minoritas. Ketuanya,
kanselir Heinrich Brüning dari Partai
Tengah, memerintah menggunakan
dekret darurat dari presiden Paul von
Hindenburg. Pemerintahaan
menggunakan dekret akan menjadi
norma baru dan membuka jalan bagi
pemerintahan otoriter.[125] NSDAP
bangkit dari ketidakjelasan menjadi
pemenang 18,3% suara dan 107 kursi
parlemen dalam pemilu tahun 1930,
menjadikannya partai terbesar kedua di
parlemen.[126]

Hitler hadir pada pengadilan dua perwira


Reichswehr, Letnan Richard Scheringer
dan Hans Ludin, pada musim gugur
1930. Keduanya dituduh memiliki
keanggotaan di NSDAP yang pada waktu
itu tidak diperbolehkan untuk personel
Reichswehr.[127] Hakim berpendapat
bahwa NSDAP adalah partai ekstremis,
sehingga pengacara terdakwa Hans
Frank terpaksa memanggil Hitler untuk
bersaksi di pengadilan.[128] Pada tanggal
25 September 1930 Hitler bersaksi
bahwa partainya hanya mengejar
kekuasaan politik melalui pemilihan
umum yang dmeokratis,[129] sebuah
kesaksian yang memberinya dukungan
dari korps Reichswehr.[130]

Tindakan Brüning yang keras membawa


sedikit perbaikan terhadap ekonomi dan
sangat tidak merakyat.[131] Hitler
memanfaatkannya dengan menargetkan
pesan-pesan politiknya khusus kepada
orang-orang yang terkena dampak inflasi
1920-an dan Depresi Besar, seperti
petani, veteran perang, dan kelas
menengah.[132]

Hitler secara resmi melepaskan


kewarganegaraan Austrianya pada 7
April 1925, tetapi belum memperoleh
kewarganegaraan Jerman. Nyaris
selama 7 tahun ia adalah orang tanpa
negara, tidak bisa menduduki jabatan
publik, dan terancam dideportasi.[133]
Pada tanggal 25 Februari 1932, menteri
dalam negeri Brunswick, anggota NSDAP
juga, menunjuk Hitler sebagai pengurus
delegasi negara untuk Reichsrat di Berlin.
Karena itu pula, Hitler otomatis menjadi
warga negara Brunswick,[134] sekaligus
Jerman.[135]

Tahun 1932, Hitler berkampanye


melawan von Hindenburg dalam pemilu
presiden. Kelangsungan pencalonannya
ditegaskan oleh pidato tanggal 27
Januari 1932 di Industry Club di
Düsseldorf, yang memberinya dukungan
dari sebagian besar industrialis paling
berpengaruh di Jerman.[136] Namun
Hindenburg sudah didukung oleh
berbagai partai nasionalis, monarkis,
Katolik, dan republikan, dan sejumlah
kaum demokrat sosial. Hitler memakai
slogan kampanye "Hitler über
Deutschland" ("Hitler di atas Jerman"),
merujuk pada ambisi politik sekaligus
kampanyenya yang menggunakan
pesawat terbang.[137] Hitler menempati
peringkat kedua di dua putaran pemilu
dengan lebih dari 35% suara pada pemilu
terakhir. Meski ia kalah, pemilihan umum
ini menjadikan Hitler kekuatan dalam
perpolitikan Jerman.[138]

Penunjukan sebagai kanselir

Ketiadaan pemerintahan yang efektif


memaksa dua politikus berpengaruh,
Franz von Papen dan Alfred Hugenberg,
bersama sejumlah industrialis dan
pebisnis lainnya, menyurati von
Hindenburg. Para penandatangan
memaksa Hindenburg menunjuk Hitler
sebagai kepala pemerintahan "bebas dari
partai parlemen", yang akan berubah
menjadi gerakan yang mampu
"memukau jutaan orang".[139][140]

Hitler, di jendela Reichskanzlei, menerima sambutan


pada malam pelantikannya sebagai kanselir, 30
Januari 1933

Hindenburg dengan setengah hati setuju


menunjuk Hitler sebagai kanselir setelah
dua pemilihan umum parlemen—bulan
Juli dan November 1932—tidak
menghasilkan pembentukan
pemerintahan mayoritas. Hitler akan
memimpin pemerintahan koalisi berusia
pendek yang dibentuk oleh NSDAP dan
partai Hugenberg, yaitu Partai Rakyat
Nasional Jerman (DNVP). Pada 30
Januari 1933, kabinet baru disumpah
dalam upacara singkat di kantor
Hindenburg. NSDAP memperoleh tiga
jabatan penting, Hitler menjadi Kanselir,
Wilhelm Frick Menteri Dalam Negeri, dan
Hermann Göring Menteri Dalam Negeri
untuk Prusia.[141] Hitler sebelumnya
menuntut jabatan menteri sebagai upaya
mengendalikan polisi di sebagian besar
wilayah Jerman.[142]
Kebakaran Reichstag dan pemilu
Maret

Sebagai kanselir, Hitler berupaya


melawan balik tindakan-tindakan para
pesaing NSDAP untuk membuat
pemerintahan mayoritas. Karena
kebuntuan politik, ia meminta Presiden
Hindenburg membubarkan Reichstag lagi
dan menjadwalkan pemilu pada awal
Maret. Pada 27 Februari 1933, gedung
Reichstag terbakar. Göring menyebut hal
ini sebagai plot komunis, karena seorang
komunis Belanda Marinus van der Lubbe
terbukti memperburuk keadaan di dalam
gedung yang terbakar itu.[143] Atas
permintaan Hitler, Hindenburg
menanggapinya dengan mengeluarkan
Dekret Kebakaran Reichstag tanggal 28
Februari, yang menghapus hak-hak dasar
dan mengizinkan penahanan tanpa
diadili terlebih dahulu. Aktivitas Partai
Komunis Jerman ditekan dan sekitar
4.000 anggota partai komunis
ditahan.[144] Para peneliti, termasuk
William L. Shirer dan Alan Bullock,
berpendapat bahwa NSDAP sendiri yang
memulai kebakaran tersebut.[145][146]

Selain kampanye politik, NSDAP terlibat


dalam kekerasan paramiliter dan
penyebaran propaganda anti-komunis
beberapa hari menjelang pemilu. Pada
hari-H, 6 Maret 1933, jumlah suara
NSDAP meningkat menjadi 43,9% dan
partai ini memperoleh jumlah kursi
terbanyak di parlemen. Akan tetapi,
partai Hitler gagal mengamankan
mayoritas absolut, sehingga mereka
harus berkoalisi dengan DNVP.[147]

Hari Potsdam dan UU Pemberian


Kuasa

Tanggal 21 Maret 1933, Reichstag baru


dibentuk melalui upacara pembukaan di
Gereja Garnisun di Potsdam. "Hari
Potsdam" ini diadakan untuk
menunjukkan persatuan antara gerakan
Nazi dan kaum elit dan militer Prusia
lama. Hitler tampil dengan mantel pagi
dan dengan ramah menyambut Presiden
von Hindenburg.[148][149]

Paul von Hindenburg dan Adolf Hitler pada Hari


Potsdam, 21 Maret 1933

Demi mencapai kendali politik penuh


meski gagal memeroleh mayoritas
absolut di parlemen, pemerintahan Hitler
meminta rancangan
Ermächtigungsgesetz (Undang-Undang
Pemberian Kuasa) untuk menjalani
pemungutan suara di Reichstag yang
baru terbentuk ini. RUU ini memberikan
kabinet Hitler kekuasaan legislatif penuh
selama empat tahun dan (dengan
sejumlah pengecualian) mengizinkan
penyimpangan dari konstitusi.[150] RUU
tersebut membutuhkan mayoritas dua
per tiga agar bisa disahkan. Tanpa
menyiakan kesempatan, Nazi memakai
persyaratan Dekret Kebakaran Reichstag
untuk mencegah sejumlah deputi
Demokrat Sosial hadir; Partai Komunis
resmi dilarang.[151]

Pada 23 Maret, Reichstag bersidang di


Kroll Opera House di bawah suasana
yang kacau balau. Sejumlah anggota SA
menjadi penjaga di dalam gedung,
sementara kerumunan besar di luar yang
menentang RUU meneriakkan slogan dan
ancaman terhadap anggota parlemen
yang baru datang.[152] Posisi Partai
Tengah, partai terbesar ketiga di
Reichstag, adalah mutlak. Setelah Hitler
berjanji langsung kepada ketua partai
Ludwig Kaas bahwa Presiden von
Hindenburg akan mempertahankan hak
vetonya, Kaas mengumumkan Partai
Tengah kan mendukung RUU Pemberian
Kuasa. Akhirnya, UU Pemberian Kuasa
disahkan dengan suara 441–84; semua
partai kecuali Demokrat Sosial memberi
suara setuju. UU Pemberian Kuasa,
bersama Dekret Kebakaran Reichstag,
mengubah pemerintahan Hitler menjadi
kediktatoran de facto yang sah secara
hukum.[153]

Penghapusan batasan lain

Meski tampak seperti omong


kosong, aku beritahu kalian
bahwa gerakan Sosialis
Nasional akan berlanjut
sampai 1.000 tahun! ...
Jangan lupa bagaimana
orang-orang
menertawakanku 15 tahun
yang lalu saat kukatakan
bahwa suatu hari aku akan
memimpin Jerman. Mereka
sekarang tertawa, sama
bodohnya, saat aku
menyatakan akan terus
berkuasa!
— Adolf Hitler kepada
seorang koresponden
Britania di Berlin, Juni
1934[154]

Setelah berhasil mengendalikan penuh


cabang pemerintahan legislatif dan
eksekutif, Hitler dan sekutu politiknya
mulai menekan oposisi politik yang
tersisa secara sistematis. Partai
Demokratik Sosial dilarang berdiri dan
semua asetnya disita.[155] Saat delegasi
serikat dagang berkumpul di Berlin untuk
aktivitas May Day, tentara SA
merobohkan kantor-kantor serikat di
seluruh Jerman. Pada tanggal 2 Mei
1933, semua serikat dagang terpaksa
bubar dan ketua-ketuanya ditahan;
beberapa di antaranya dikirim ke kamp
konsentrasi.[156] Front Buruh Jerman
dibentuk sebagai organisasi yang
memayungi semua pekerja, pengurus,
dan pemilik perusahaan, sehingga
merefleksikan konsep sosialisme
nasional dengan semangat
Volksgemeinschaft Hitler (komunitas
rasial Jerman; secara harafiah berarti
"komunitas rakyat").[157]
Pada tahun 1934, Hitler menjadi kepala negara
Jerman dengan gelar Führer und Reichskanzler
(pemimpin dan kanselir Reich).

Pada akhir Juni, partai-partai lain


diintimidasi agar bubar. Dengan bantuan
SA, Hitler menekan rekan koalisinya,
Hugenberg, supaya mundur. Tanggal 14
Juli 1933, NSDAP dinyatakan sebagai
satu-satunya partai politik yang sah di
Jerman.[157][155] Tuntutan SA untuk
kekuasaan politik dan militer yang lebih
besar memunculkan kegelisahan di
kalangan pimpinan militer, industri, dan
politik. Hitler menanggapinya dengan
menghapus seluruh kepemimpinan SA
dalam Malam Pisau-Pisau Panjang yang
dilancarkan pada 30 Juni sampai 2 Juli
1934.[158] Hitler menargetkan Ernst Röhm
dan pimpinan SA lainnya, bersama
sejumlah lawan politik Hitler (seperti
Gregor Strasser dan mantan kanselir Kurt
von Schleicher), yang kemudian
dikumpulkan, ditahan, dan ditembak
mati.[159] Saat komunitas internasional
dan sejumlah masyarakat Jerman
terkejut akibat pembunuhan itu, banyak
kalangan di Jerman melihat Hitler
sedang menegakkan ketertiban.[160]

Tanggal 2 Agustus 1934, Presiden von


Hindenburg meninggal dunia. Sehari
sebelumnya, kabinet telah mengesahkan
"Hukum Jabatan Negara Tertinggi
Reich".[161] Hukum ini menyatakan bahwa
setelah Hindenburg meninggal dunia,
jabatan presiden akan dihapus dan
kekuasaannya digabung dengan
kekuasaan kanselir. Hitler lantas menjadi
kepala negara sekaligus kepala
pemerintahan, dan secara formal diberi
nama Führer und Reichskanzler
(pemimpin dan kanselir).[162] Hukum ini
melanggar Undang-Undang Pemberian
Kuasa. Meski mengizinkan Hitler
menyimpang dari konstitusi, UU ini
secara eksplisit melarangnya menerobos
hukum apapun yang berkaitan dengan
jabatan presiden. Pada tahun 1932,
konstitusi tersebut diamendemen untuk
menjadikan presiden Mahkamah Agung,
bukan kanselir, sebagai presiden
sementara sambil menunggu pemilihan
umum baru.[163] Dengan hukum ini, Hitler
menghapus alternatif hukum terakhir
yang dapat menurunkannya dari tampuk
kekuasaan.

Sebagai kepala negara, Hitler menjadi


Komandan Tertinggi angkatan
bersenjata. Sumpah setia tentara yang
biasa diganti menjadi sumpah setia
kepada diri Hitler, bukannya jabatan
komandan tertinggi atau negara.[164]
Pada 19 Agustus, penggabungan
kepresidenan dengan kekanseliran
disetujui oleh 90% suara dalam sebuah
plebisit.[165]

Bendera pribadi Hitler

Pada awal 1938, Hitler memakai taktik


pemfitnahan untuk mengonsolidasikan
kekuasaan militernya dengan
mencetuskan Skandal Blomberg–Fritsch.
Hitler memaksa Menteri Perang,
Marsekal Lapangan Werner von
Blomberg mengundurkan diri dengan
menunjukkan laporan polisi bahwa istri
baru Blomberg pernah terlibat dalam
prostitusi.[166][167] Komandan Angkatan
Darat Kolonel-Jenderal Werner von
Fritsch disingkirkan dengan cara yang
sama setelah Schutzstaffel (SS)
membuat tuduhan bahwa ia terlibat
dalam hubungan homoseksual.[168]
Keduanya menjadi sosok yang tidak
disukai setelah mereka keberatan
terhadpa permintaan Hitler agar
Wehrmacht dipersiapkan untuk perang
setidaknya tahun 1938.[169] Hitler
mengambil alih jabatan Komandan
Bertugas Blomberg, sehingga ia bisa
mengendalikan angkatan bersenjata
secara pribadi. Ia mengganti
Kementerian Perang dengan
Oberkommando der Wehrmacht
(Komando Tinggi Angkatan Bersenjata,
atau OKW), dipimpin Jenderal Wilhelm
Keitel. Pada hari yang sama, 16 jenderal
dipecat dan 44 lainnya dipindahtugaskan;
semuanya diduga tidak pro-Nazi. [170]
Pada awal Februari 1938, 12 jenderal
dipecat.[171]

Setelah mengonsolidasikan kekuatan


politiknya, Hitler menekan atau
menyingkirkan oposisinya melalui proses
Gleichschaltung. Ia berupaya mendapat
tambahan dukungan publik dengan
berjanji memutarbalikkan dampak
Depresi Besar dan Perjanjian Versailles.

Banyak dekret Hitler didasarkan pada


Dekret Kebakaran Reichstag, sesuai
Artikel 48 Konstitusi Weimar. Dekret ini
memberi presiden kekuasaan mengambil
tindakan darurat untuk melindungi
keselamatan dan ketertiban masyarakat.
Karena itu, Hitler bisa berkuasa di bawah
darurat militer yang sah. Reichstag dua
kali memperbaiki UU Pemberian Kuasa
sebagai formalitas karena semua partai
selain Nazi dilarang berdiri.[172]
Reich Ketiga
Ekonomi dan budaya

Upacara penghormatan korban meninggal


(Totenehrung) di teras depan Aula Kehormatan
(Ehrenhalle) di lapangan rapat partai Nazi,
Nuremberg, September 1934

Pada bulan Agustus 1934, Hitler


menunjuk presiden Reichsbank Hjalmar
Schacht sebagai Menteri Ekonomi, dan
pada tahun selanjutnya, sebagai Menteri
Ekonomi Perang Berkuasa Penuh yang
bertugas mempersiapkan ekonomi
negara untuk perang.[173] Rekonstruksi
dan persenjataan kembali didanai oleh
surat Mefo, pencetakan uang, dan
penyitaan aset orang-orang yang ditahan
sebagai musuh negara, termasuk kaum
Yahudi.[174] Pengangguran menurun dari
enam juta orang pada tahun 1932
menjadi satu juta orang pada tahun
1936.[175] Hitler mengoperasikan salah
satu kampanye perbaikan infrastruktur
terbesar sepanjang sejarah Jerman,
termasuk pembangunan bendungan,
jalan bebas hambatan, rel kereta, dan
pekerjaan umum lainnya. Upah agak
rendah pada pertengahan sampai akhir
1930-an jika dibandingkan dengan upah
pada masa Republik Weimar, sementara
biaya hidup naik 25%.[176] Minggu kerja
rata-rata bertambah saat peralihan ke
ekonomi perang; pada 1939, rata-rata
orang Jerman bekerja antara 47 sampai
50 jam seminggu.[177]

Pemerintah Hitler mensponsori arsitektur


dalam skala besar. Albert Speer, terkenal
karena mengimplementasikan
reinterpretasi klasik Hitler terhadap
budaya Jerman, ditugaskan membuat
rencana renovasi arsitektur Berlin.[178]
Tahun 1936, Hitler membuka Olimpiade
Musim Panas di Berlin.

Persenjataan kembali dan aliansi


baru

Dalam pertemuan dengan para


pemimpin militer Jerman tanggal 3
Februari 1933, Hitler membicarakan
"penaklukan untuk memperoleh
Lebensraum di Timur dan Jermanisasi-
nya yang kejam" sebagai tujuan utama
kebijakan luar negerinya.[179] Pada bulan
Maret, Pangeran Bernhard Wilhelm von
Bülow, sekretaris di Auswärtiges Amt
(Kementerian Luar Negeri),
mengeluarkan pernyataan berupa tujuan-
tujuan utama kebijakan luar negeri:
Anschluss dengan Austria, pengembalian
perbatasan nasional Jerman tahun 1914,
penolakan pembatasan militer Perjanjian
Versailles, pengembalian bekas koloni
Jerman di Afrika, dan zona pengaruh
Jerman di Eropa Timur. Hitler melihat
tujuan-tujuan yang dibuat Bülow terlalu
sederhana.[180] Dalam beberapa pidato
selanjutnya, ia menekankan tujuan damai
dari kebijakannya dan kemauan untuk
bekerja sama dengan perjanjian
internasional.[181] Pada pertemuan
pertama Kabinetnya tahun 1933, Hitler
memprioritaskan anggaran militer
ketimbang pembuatan lapangan
kerja.[182]
Pada 25 Oktober 1936, sebuah Poros resmi dibentuk
antara Italia dan Jerman.

Jerman keluar dari Liga Bangsa-Bangsa


dan Konferensi Pelucutan Senjata Dunia
pada Oktober 1933.[183] Bulan Maret
1935, Hitler mengumumkan perluasan
Wehrmacht menjadi 600.000 anggota—
enam kali lebih besar daripada yang
diizinkan Perjanjian Versailles—termasuk
pembentukan angkatan udara
(Luftwaffe) dan perluasan ukuran
angkatan laut (Kriegsmarine). Britania,
Prancis, Italia, dan Liga Bangsa-Bangsa
mengutuk pelanggaran perjanjian
tersebut.[184] Perjanjian Laut Inggris-
Jerman (AGNA) tanggal 18 Juni 1935
mengizinkan peningkatan tonase Jerman
menjadi 35%-nya AL Britania Raya. Hitler
menyebut penandatanganan AGNA
sebagai "hari paling membahagiakan
dalam hidupnya," percaya bahwa
perjanjian tersebut menandakan awal
dari aliansi Inggris-Jerman yang ia
prediksikan di Mein Kampf.[185] Prancis
dan Italia tidak diikutsertakan sebelum
penandatanganan, sehingga secara
langsung mengabaikan LBB dan
menjadikan Perjanjian Versailles tidak
berlaku lagi.[186]

Hitler bersama Arthur Seyss-Inquart, Martin


Bormann, Heinrich Himmler, dan Reinhard Heydrich
di Wina, 1938
Jerman menduduki kembali zona
demiliterisasi Rhineland pada bulan
Maret 1936, melanggar Perjanjian
Versailles. Hitler juga mengirim tentara
ke Spanyol untuk membantu Jenderal
Franco setelah menerima permintaan
bantuan pada bulan Juli 1936. Pada saat
yang sama, Hitler melanjutkan upayanya
membentuk aliansi Inggris-Jerman.[187]
Pada Agustus 1936, menanggapi krisis
ekonomi yang semakin besar akibat
upaya persenjataan kembali, Hitler
meminta Göring memberlakukan
Rencana Empat Tahun demi menyiapkan
Jerman untuk perang dalam kurun empat
tahun selanjutnya.[188] Rencana ini
merupakan perjuangan habis-habisan
antara "Judeo-Bolshevisme" dan
sosialisme nasional Jerman, yang dalam
pandangan Hitler membutuhkan upaya
persenjataan kembali tanpa memikirkan
risiko ekonomi.[189]

Conti Galeazzo Ciano, menteri luar negeri


untuk pemerintahan Benito Mussolini,
mengumumkan pembentukan aliansi
antara Jerman dan Italia, dan pada 25
November, Jerman menandatangani
Pakta Anti-Komintern dengan Jepang.
Britania, Cina, Italia, dan Polandia juga
diundang untuk bergabung dengan Pakta
Anti-Komintern, namun hanya Italia yang
menandatanganinya pada tahun 1937.
Hitler membatalkan rencana aliansi
Inggris-Jermannya dan menyalahkan
pemerintah Britania yang "tidak pas".[190]
Pada pertemuan di Reichskanzlei dengan
menteri luar negeri dan pimpinan
militernya November itu, Hitler
menyatakan kembali keinginannya
mengejar Lebensraum untuk bangsa
Jerman. Ia memerintahkan persiapan
perang di wilayah timur dimulai
setidaknya tahun 1938 dan tidak
melewati tahun 1943. Menjelang
kematiannya, menit-menit konferensi
yang direkam sebagai Hossbach
Memorandum tersebut dianggap sebagai
"pernyataan politik"-nya.[191] Ia merasa
penurunan tajam standar hidup di
Jerman diakibatkan oleh krisis ekonomi
yang hanya bisa dihentikan oleh agresi
militer terhadap Austria dan
Cekoslowakia.[192][193] Hitler
menginginkan aksi cepat sebelum
Britania dan Prancis unggul permanen
dalam perlombaan senjata.[192] Pada
awal 1938, setelah Skandal Blomberg–
Fritsch, Hitler mengambil alih kendali
instrumen militer-kebijakan luar negeri,
memecat Neurath sebagai Menteri Luar
Negeri dan menunjuk dirinya sendiri
sebagai Oberster Befehlshaber der
Wehrmacht (komandan tertinggi
angkatan bersenjata).[188] Sejak awal
1938 sampai seterusnya, Hitler
menerapkan kebijakan luar negeri
dengan tujuan perang.[194]
Perang Dunia II
Kesuksesan diplomatik pertama

Aliansi dengan Jepang

Hitler dan Menteri Luar Negeri Jepang, Yōsuke


Matsuoka, pada pertemuan di Berlin bulan Maret
1941. Di belakangnya adalah Joachim von
Ribbentrop.

Pada Februari 1938, atas nasihat Menteri


Luar Negeri yang baru ditunjuk, Joachim
von Ribbentrop yang sangat pro-Jepang,
Hitler mengakhiri aliansi Cina-Jerman
dengan Republik Tiongkok demi
membentuk aliansi dengan Jepang yang
lebih modern dan kuat. Hitler
mengumumkan pemerintahannya
mengakui Manchukuo, negara dudukan
Jepang di Manchuria, dan menarik klaim
Jerman terhadap bekas koloni mereka di
Pasifik yang dimiliki Jepang.[195] Hitler
menyatakan berakhirnya pengiriman
senjata ke Cina dan memulangkan
semua pejabat Jerman yang bekerja di
Angkatan Darat Cina.[195] Sebagai tindak
balasan, Jenderal Cina Chiang Kai-shek
membatalkan semua perjanjian ekonomi
Cina-Jerman, sehingga bahan mentah
Cina tidak lagi masuk ke Jerman.[196]

Austria dan Cekoslowakia

Pada tanggal 12 Maret 1938, Hitler


mengumumkan penyatuan Austria
dengan Jerman Nazi dalam program
Anschluss.[197][198] Hitler kemudian
mengalihkan perhatiannya ke populasi
etnis Jerman di distrik Sudetenland di
Cekoslowakia.[199]

Tanggal 28–29 Maret 1938, Hitler


mengadakan serangkaian pertemuan
rahasia di Berlin bersama Konrad Henlein
dari Heimfront (Front Dalam Negeri)
Sudeten, partai etnis Jerman di
Sudetenland. Mereka setuju agar Henlein
meminta otonomi yang lebih besar bagi
penduduk Jerman Sudeten ke
pemerintah Cekoslowakia, sehingga
memberi legitimasi atas aksi militer
Jerman ke Cekoslowakia. Pada April
1938, Henlein memberitahu menteri luar
negeri Hongaria bahwa "apapun yang
ditawarkan pemerintah Ceko, ia akan
selalu meminta lebih tinggi lagi ... ia ingin
menyabotase pemahaman dengan artian
apapun karena inilah satu-satunya cara
memecah Cekoslowakia dengan
cepat".[200] Secara pribadi, Hitler
menganggap masalah Sudeten tidak
penting; keinginan sebenarnya adalah
melancarkan perang penaklukan
terhadap Cekoslowakia.[201]

Oktober 1938: Hitler (berdiri di Mercedes)


berkendara melalui kerumunan di Cheb (bahasa
Jerman: Eger), bagian dari wilayah berpenduduk
Jerman Sudetenland di Cekoslowakia, yang
dianeksasi ke Jerman Nazi akibat Perjanjian Munich

Pada bulan April, Hitler meminta OKW


bersiap-siap untuk Fall Grün ("Kasus
Hijau"), kode invasi ke Cekoslowakia.[202]
Karena tekanan diplomatik bertubi-tubi
dari Prancis dan Britania, pada tanggal 5
September Presiden Cekoslowakia
Edvard Beneš meluncurkan "Rencana
Keempat" untuk reorganisasi
konstitusional negaranya yang
menyetujui sebagian besar permintaan
Henlein untuk otonomi Sudeten.[203]
Heimfront Henlein menanggapi tawaran
Beneš dengan serangkaian kerusuhan
melawan polisi Cekoslowakia dan
berujung pada penerapan darurat militer
di sejumlah distrik di Sudeten.[204][205]

Jerman bergantung pada minyak impor;


konfrontasi dengan Britania atas
sengketa Cekoslowakia akan
mengurangi suplai minyak Jerman. Hitler
membatalkan Fall Grün yang awalnya
direncanakan dilaksanakan tanggal 1
Oktober 1938.[206] Pada 29 September,
Hitler, Neville Chamberlain, Édouard
Daladier, dan Benito Mussolini
mengadakan konferensi satu hari di
Munich dan menghasilkan Perjanjian
Munich yang berisi penyerahan distrik
Sudetenland ke Jerman.[207][208]

Toko-toko Yahudi hancur di Magdeburg pasca-


Kristallnacht (November 1938)
Chamberlain puas dengan konferensi
Munich dan menyebutnya "perdamaian
untuk masa kini", sementara Hitler marah
karena kehilangan kesempatan
berperang pada tahun 1938;[209][210] ia
menyatakan ketidakpuasannya dalam
sebuah pidato tanggal 9 Oktober di
Saarbrücken.[211] Dalam pandangan
Hitler, perdamaian yang dibantu Britania
ini, meski memenuhi permintaan Jerman,
adalah kekalahan diplomatik yang
menggagalkan keinginannya membatasi
kekuasaan Britania untuk membuka jalan
ekspansi Jerman ke timur.[212][213]
Karena pertemuan itu pula Hitler terpilih
sebagai Man of the Year versi majalah
Time tahun 1938.[214]

Pada akhir 1938 dan awal 1939, krisis


ekonomi yang berlanjut akibat
persenjataan kembali memaksa Hitler
memotong anggaran besar-besaran.[215]
Dalam pidato "Ekspor atau mati" tanggal
30 JAnuari 1939, ia meminta serangan
ekonomi demi meningkatkan
kepemilikan valuta asing Jerman untuk
membeli bahan mentah seperti besi
berkualitas tinggi untuk senjata-senjata
militernya.[215]

Pada tanggal 15 Maret 1939, melanggar


Perjanjian Munich dan mungkin akibat
krisis ekonomi yang menekankan
perlunya aset tambahan,[216] Hitler
memerintahkan Wehrmacht menyerbu
Praha dan memproklamasikan Bohemia
dan Moravia sebagai protektorat Jerman
dari Kastil Praha.[217]

Pecahnya Perang Dunia II

Dalam diskusi pribadi tahun 1939, Hitler


menyatakan Britania sebagai musuh
utama yang perlu dikalahkan dan
pemusnahan Polandia adalah prasyarat
yang diperlukan demi mencapai tujuan
tersebut. Sisi timur akan diamankan dan
daratannya dimasukkan dalam
Lebensraum Jerman.[218] Tersinggung
oleh "jaminan" kemerdekaan Polandia
oleh Britania pada 31 Maret 1939, Hitler
berkata, "Aku harus membuatkan
minuman iblis untuk mereka."[219] Dalam
sebuah pidato di Wilhelmshaven pada
acara peluncuran kapal perang Tirpitz
tanggal 1 April, ia mengancam akan
membatalkan Perjanjian Laut Inggris-
Jerman jika Britania terus menjamin
kemerdekaan Polandia, yang ia pandang
sebagai kebijakan "pengepungan".[219]
Polandia akan menjadi negara satelit
Jerman atau dinetralisasi untuk
mengamankan sisi timur Reich dan
mencegah kemungkinan blokade
Britania.[220] Hitler awalnya memilih ide
negara satelit, tetapi karena ditolak
pemerintah Polandia, ia memutuskan
menginvasi Polandia dan menjadikannya
tujuan utama kebijakan luar negerinya
tahun 1939.[221] Pada tanggal 3 April,
Hitler memerintahkan pihak militer
bersiap untuk Fall Weiss ("Kasus Putih"),
yaitu rencana penyerbuan ke Polandia
tanggal 25 Agustus.[221] Dalam pidato di
Reichstag tanggal 28 April, Hitler
membatalkan Perjanjian Laut Inggris-
Jerman dan Pakta Non-Agresi Jerman–
Polandia. Pada bulan Agustus, Hitler
memberitahu jenderal-jenderalnya bahwa
rencana awalnya untuk tahun 1939
adalah "...membentuk hubungan baik
dengan Polandia demi memerangi
Barat."[222] Sejumlah sejarawan seperti
William Carr, Gerhard Weinberg, dan Ian
Kershaw berpendapat bahwa alasan
ketergesaan Hitler melancarkan perang
adalah ia takut keburu meninggal
duluan.[223][224][225]

Hitler di prangko 42 pfennig tahun 1944. Istilah


Grossdeutsches Reich (Reich Jerman Raya) pertama
dipakai tahun 1943 untuk menyebut wilayah
ekspansi Jerman di bawah kekuasaannya.

Hitler khawatir serangan militernya ke


Polandia akan menciptakan perang lebih
awal terhadap Britania.[220][226] Akan
tetapi, menteri luar negeri Hitler—dan
mantan Duta Besar untuk London—
Joachim von Ribbentrop menjamin
bahwa baik Britania maupun Prancis
tidak akan menghormati komitmen
mereka ke Polandia.[227][228] Karena
dijamin seperti itu, pada tanggal 22
Agustus 1939 Hitler memerintahkan
mobilisasi militer ke Polandia.[229]

Rencana ini memerlukan bantuan rahasia


dari Soviet[230] dan pakta non-agresi
(Pakta Molotov-Ribbentrop) antara
Jerman dan Uni Soviet, dipimpin Joseph
Stalin, termasuk perjanjian rahasia
pembelahan Polandia untuk kedua
negara tersebut.[231] Menanggapi pakta
yang baru terbentuk ini—dan berbeda
dengan prediksi Ribbentrop bahwa aksi
ini akan memperburuk hubungan Inggris-
Polandia—Britania dan Polandia
membentuk aliansi Inggris-Polandia pada
25 Agustus 1939. Manuver ini,
bersamaan dengan berita dari Italia
bahwa Mussolini tidak akan
menghormati Pakta Baja, memaksa
Hitler menunda serbuan ke Polandia dari
25 Agustus menjadi 1 September.[232]
Hitler gagal mengalihkan Britania ke
posisi netral dengan menawarkan
jaminan non-agresi ke Imperium Britania
tanggal 25 Agustus; ia kemudian
menginstruksikan Ribbentrop agar
mengungkapkan rencana perdamaian
menit-menit terakhir dengan batasan
waktu yang sangat pendek agar bisa
menyalahkan perang yang akan terjadi
pada ketidaksigapan Britania dan
Polandia.[233][234]

Meski gelisah akan intevensi Britania,


Hitler melanjutkan rencana invasi
Polandia.[235] Pada tanggal 1 September
1939, Jerman menyerbu Polandia barat
dengan alasan klaimnya terhadap Kota
Bebas Danzig dan haknya atas jalan
ekstrateritorial melintasi Koridor
Polandia ditolak, yang telah diserahkan
Jerman sesuai Perjanjian Versailles.[236]
Merespon tindakan ini, Britania Raya dan
Prancis menyatakan perang terhadap
Jerman pada tanggal 3 September,
mengejutkan Hitler dan memaksanya
bertanya dengan nada marah kepada
Ribbentrop, "Sekarang apa lagi?"[237]
Prancis dan Britania segera bertindak
sesuai pernyataan mereka, dan pada 17
September, pasukan Soviet menyerbu
Polandia timur.[238]

Polandia takkan pernah


bangkit lagi dalam bentuk
Perjanjian Versailles. Ini
dijamin tidak hanya oleh
Jerman, tetapi juga ...
Rusia.[239]
— Adolf Hitler, pidato umum
di Danzig pada akhir
September 1939

Anggota Reichstag menghormati Hitler di Kroll


Opera House tanggal 6 Oktober 1939, pada akhir
Invasi Polandia

Jatuhnya Polandia diikuti oleh apa yang


disebut sejumlah wartawan sebagai
"Perang Palsu" atau Sitzkrieg ("perang
duduk"). Hitler menginstruksikan dua
Gauletier Polandia barat laut yang baru
ditunjuk, Albert Forster dari Reichsgau
Danzig-Prusia Barat dan Arthur Greiser
dari Reichsgau Wartheland, untuk
"menjermanisasikan" daerah mereka
"tanpa pertanyaan" tentang bagaimana
caranya.[240] Ketika penduduk Polandia di
daerah Forster harus menandatangani
pernyataan bahwa mereka memiliki
darah Jerman,[241] Greiser melakukan
kampanye pembersihan etnis brutal
terhadap penduduk Polandia di
daerahnya.[240] Greiser mengeluh Forster
mengizinkan ribuan orang Polandia
diterima sebagai "ras" Jerman sehingga
mengancam "kemurnian ras" Jerman.
Hitler menolak terlibat,[240] karena ingin
menjadikannya contoh dari teori "bekerja
untuk Führer": Hitler mengeluarkan
instruksi yang tidak jelas dan
mengharapkan semua bawahannya
menjalankan kebijakan mereka sendiri.

Sengketa lain muncul tentang metode


Himmler dan Greiser, yang memilih
pembersihan etnis di Polandia, melawan
metode Göring dan Hans Frank, Gubernur
Jenderal teritori Pemerintah Umum
Polandia, yang ingin mengubah Polandia
menjadi "lumbung padi" Reich.[242] Pada
tanggal 12 Februari 1940, sengketa ini
awalnya selesai melalui pelaksanaan
metode Göring–Frank, yang mengakhiri
pengusiran massal yang mengganggu
arus ekonomi.[242] Akan tetapi, pada 15
Mei 1940, Himmler menulis memo
berjudul "Pemikiran tentang Penanganan
Penduduk Asing di Timur" yang
mengusulkan pengusiran seluruh
penduduk Yahudi di Eropa ke Afrika dan
mengucilkan penduduk Polandia menjadi
"kelas buruh tanpa pemimpin."[242] Hitler
menyebut memo Himmler "bagus dan
tepat,"[242] lalu menerapkan kebijakan
Himmler–Greiser di Polandia, sambil
mengabaikan Göring dan Frank.
Hitler mengunjungi Paris bersama arsitek Albert
Speer (kiri) dan pemahat Arno Breker (kanan),
23 Juni 1940

Hitler mulai memusatkan militernya di


perbatasan barat Jerman, dan pada April
1940, pasukan Jerman menyerbu
Denmark dan Norwegia. Tanggal 9 April,
Hitler mengumumkan kelahiran "Reich
Jerman Raya", yaitu visinya akan sebuah
imperium bangsa-bangsa Jermanik di
Eropa yang bersatu, tempat orang
Belanda, Flandria, dan Skandinavia
bergabung dalam pemerintahan "ras
murni" di bawah kepemimpinan
Jerman.[243] Bulan Mei 1940, Jerman
menyerang Prancis, dan menduduki
Luksemburg, Belanda, dan Belgia.
Kemenangan tersebut memaksa
Mussolini membawa Italia bergabung
dengan Hitler pada 10 Juni. Prancis
menyerah tanggal 22 Juni.[244]

Britania, yang tentaranya dipaksa


meninggalkan Prancis melalui laut dari
Dunkirk,[245] terus berperang bersama
jajahan Britania yang lain pada
Pertempuran Atlantik. Hitler menawarkan
perdamaian kepada pemimpin Britania
Raya yang baru, Winston Churchill, dan
setelah ditolak ia memerintahkan
serangan pengeboman ke Britania Raya.
Rencana invasi Hitler ke Britania Raya
dimulai dengan serangkaian serangan
udara pada Pertempuran Britania
terhadap sejumlah pangkalan udara dan
stasiun radar Angkatan Udara Kerajaan
(RAF) di Inggris Tenggara. Sayangnya,
Luftwaffe Jerman tidak mampu
mengalahkan Angkatan Udara
Kerajaan.[246] Pada akhir Oktober, Hitler
menyadari bahwa superioritas udara
untuk invasi Britania—Operasi Sea Lion—
tidak dapat diraih, lalu ia melancarkan
serangan udara malam terhadap kota-
kota di Britania, termasuk London,
Plymouth, dan Coventry.[247]

Pada tanggal 27 September 1940, Pakta


Tiga Pihak ditandatangani di Berlin oleh
Saburō Kurusu dari Kekaisaran Jepang,
Hitler, dan menteri luar negeri Italia
Ciano,[248] kemudian meluas hingga
Hongaria, Rumania, dan Bulgaria,
sehingga memperkuat kekuatan Poros.
Upaya Hitler dalam mengintegrasikan Uni
Soviet dengan blok anti-Britania gagal
pasca pertemuan buntu antara Hitler dan
Molotov di Berlin pada bulan November,
kemudian ia meminta semua pihak
bersiap untuk invasi besar-besaran ke
Uni Soviet.[249]
Pada musim semi 1941, aktivitas militer
di Afrika Utara, Balkan, dan Timur Tengah
mengalihkan Hitler dari rencananya di
kawasan timur. Bulan Februari, pasukan
Jerman tiba di Libya untuk memperkuat
keberadaan pasukan Italia di sana. Bulan
April, Hitler melancarkan invasi
Yugoslavia, yang tidak lama kemudian
diikuti dengan invasi Yunani.[250] Bulan
Mei, pasukan Jerman dikirim untuk
membantu pasukan pemberontak Irak
memerangi Britania dan menyerbu Kreta.
Pada tanggal 23 Mei, Hitler
mengeluarkan Surat Perintah Führer No.
30.[251]

Menjelang kekalahan
Tanggal 22 Juni 1941, melawan pakta
non-agresi Hitler–Stalin tahun 1939, 5,5
juta tentara Poros menyerbu Uni Soviet.
Tujuan dari serangan berskala besar ini
(Operasi Barbarossa) adalah
penghancuran total Uni Soviet dan
perebutan semua sumber daya alamnya
untuk upaya agresi masa depan terhadap
negara-negara Barat.[252][253] Dalam
invasi ini, Jerman berhasil mencaplok
wilayah yang sangat luas, termasuk
beberapa republik Baltik, Belarus, dan
Ukraina Barat. Setelah keberhasilan
Pertempuran Smolensk, Hitler
memerintahkan Grup Angkatan Darat
Tengah menghentikan lajunya ke
Moskwa dan sementara mengalihkan
grup Panzernya ke utara dan selatan
untuk membantu pengepungan
Leningrad dan Kiev.[254] Keputusan Hitler
ini menciptakan krisis besar di kalangan
petinggi militer, karena para jenderal
tidak setuju dengan perubahan target
tersebut.[255][256] Jeda yang diambil Hitler
pada akhir musim panas memberikan
Angkatan Darat Merah kesempatam
memobilisasi cadangan-cadangan baru;
sejarawan Russel Stolfi menganggap hal
ini sebagai salah satu faktor utama yang
menyebabkan kegagalan serangan
Moskwa, yang baru dilanjutkan bulan
Oktober 1941 dan berakhir dengan
kegagalan besar pada bulan
Desember.[254]

Bersama Jenderal Keitel, Paulus, dan von


Brauchitsch, Hitler membicarakan situasi di Front
Timur pada Oktober 1941

Pada tanggal 7 Desember 1941, Jepang


menyerang Pearl Harbor, Hawaii. Empat
hari kemudian, Hitler secara resmi
menyatakan perang melawan Amerika
Serikat.[257]
Hitler saat berpidato di Reichstag, menyerang
Presiden Amerika Serikat Franklin D. Roosevelt,
11 Desember 1941

Tanggal 18 Desember 1941, Himmler


menanyai Hitler, "Apa yang perlu
dilakukan terhadap kaum Yahudi Rusia?"
Hitler menjawab, "als Partisanen
auszurotten" ("musnahkan mereka
sebagai partisan").[258] Sejarawan Israel
Yehuda Bauer berkomentar bahwa
pernyataan tersebut bisa jadi tanda-
tanda yang hampir bisa dikatakan para
sejarawan sebagai perintah langsung
dari Hitler untuk melaksanakan genosida
saat Holocaust.[258]

Pada akhir 1942, pasukan Jerman kalah


dalam pertempuran El Alamein
kedua,[259] menggagalkan rencana Hitler
merebut Terusan Suez dan Timur
Tengah. Kelewat yakin atas kemampuan
militernya sendiri pasca kemenangan
awal tahun 1940, Hitler menjadi tidak
percaya terhadap Komando Tinggi
Angkatan Darat dan mulai ikut campur
dalam militer dan perencanaan taktis
dengan akibat yang menghancurkan.[260]
Pada bulan Februari 1943, penolakan
Hitler yang berulang-ulang terhadap
penarikan mereka dari Pertempuran
Stalingrad mengakibatkan kehancuran
total Angkatan Darat ke-6. Lebih dari
200.000 tentara Poros gugur dan
235.000 lainnya ditawan, hanya 6.000 di
antaranya yang pulang ke Jerman
setelah perang.[261] Setelah itu, terjadi
kekalahan mutlak pada Pertempuran
Kursk.[262] Pendapat militer Hitler mulai
tidak jelas, dan posisi militer dan
ekonomi Jerman ikut jatuh seiring
memburuknya kesehatan Hitler. Kershaw
dan sejarawan lain percaya Hitler
mengalami penyakit Parkinson.[263]

Pasca invasi Sekutu ke Sisilia tahun


1943, Mussolini digulingkan oleh Pietro
Badoglio,[264] yang menyerah kepada
Sekutu. Sepanjang tahun 1943 dan 1944,
Uni Soviet pelan-pelan memaksa
pasukan Hitler mundur di sepanjang
Front Timur. Tanggal 6 Juni 1944,
pasukan Sekutu Barat mendarat di
Prancis utara dalam salah satu operasi
amfibi terbesar sepanjang sejarah,
Operasi Overlord.[265] Akibat serangkaian
kemunduran besar yang dialami
Angkatan Darat Jerman, banyak
petingginya berkesimpulan bahwa
kekalahan tak dapat dielakkan dan
kesalahan perhitungan atau penolakan
Hitler akan membawa perang ke dalam
negeri dan menyebabkan Jerman hancur
total.[266]
Ruang peta yang hancur di 'Wolf's Lair' setelah
rencana 20 Juli

Antara 1939 dan 1945, ada banyak


rencana untuk membunuh Hitler,
beberapa di antaranya berlanjut sampai
tingkatan tertentu.[267] Upaya paling
terkenal justru berasal dari Jerman
sendiri dan didorong oleh kemungkinan
bahwa Jerman akan kalah perang.[268]
Pada Juli 1944, rencana 20 Juli, bagian
dari Operasi Valkyrie, dijalankan. Claus
von Stauffenberg meletakkan sebuah
bom di salah satu bangunan markas
Hitler, Wolf's Lair di Rastenburg. Hitler
nyaris terbunuh karena seseorang tidak
sengaja mendorong kopor bom tersebut
ke belakang kaki meja konferensi yang
tebal. Saat bom meledak, meja itu
memantulkan ledakan menjauhi Hitler.
Setelah itu, Hitler memerintahkan balas
dendam yang kejam yang berujung pada
eksekusi lebih dari 4.900 orang.[269]

Kekalahan dan kematian


Halaman depan koran Angkatan Bersenjata A.S.,
Stars and Stripes, 2 Mei 1945

Pada akhir 1944, baik Angkatan Darat


Merah dan Sekutu Barat sedang
menyerbu masuk Jerman. Mengetahui
kekuatan dan kegigihan Angkatan Darat
Merah, Hitler memutuskan memakai sisa
tentara cadangannya untuk melawan
tentara Amerika Serikat dan Britania yang
ia anggap lebih lemah.[270] Pada 16
December, ia melancarkan serangan di
Ardennes untuk memecah belah Sekutu
Barat dan mungkin meyakinkan mereka
ikut berpeang melawan Soviet.[271]
Setelah serangan tersebut gagal, Hitler
sadar bahwa Jerman akan kalah perang.
Harapan terakhirnya untuk
menegosiasikan damai dengan Amerika
Serikat dan Britania dibantu oleh
kematian Franklin D. Roosevelt tanggal
12 April 1945; namun, berbeda dengan
harapannya, Sekutu tetap tidak
gentar.[272][271] Bertindak dengan
pandangannya bahwa kegagalan militer
Jerman turut menghilangkan haknya
untuk berdiri sebagai suatu bangsa,
Hitler memerintahkan penghancuran
semua infrastruktur industri Jerman
sebelum jatuh ke tangan Sekutu.[273]
Menteri Persenjataan Albert Speer
dipercaya untuk mengeksekusi rencana
bumi hangus ini, namun diam-diam ia
tolak.[273]

Pada tanggal 20 April, ulang tahun Hitler


ke-56, Hitler melakukan perjalanan
terakhir dari Führerbunker ("perlindungan
Führer") ke permukaan. Di kebun
Reichskanzlei yang hancur, ia
menyematkan Iron Cross kepada
sejumlah tentara Pemuda Hitler.[274]
Pada 21 April, Front Belorusia ke-1
pimpinan Georgy Zhukov berhasil
menembus pertahanan Grup Angkatan
Darat Vistula Jerman pimpinan Jenderal
Gotthard Heinrici pada Pertempuran
Dataran Tinggi Seelow dan melaju hingga
pinggiran kota Berlin.[275] Menolak situasi
tersebut, Hitler menggantungkan
harapannya pada pasukan Waffen SS
pimpinan Jenderal Felix Steiner,
Armeeabteilung Steiner ("Detasemen
Angkatan Darat Steiner"). Hitler meminta
Steiner menyerang sisi utara bukit dan
Angkatan Darat Kesembilan Jerman
diperintahkan menyerang ke utara dalam
bentuk serangan jepit.[276]

Pada konferensi militer tanggal 22 April,


Hitler mempertanyakan serangan Steiner.
Ia diberitahu bahwa serangan tersebut
tak pernah dilancarkan dan pasukan
Rusia sudah memasuki Berlin. Jawaban
tersebut memaksa Hitler meminta
semua orang selain Wilhelm Keitel, Alfred
Jodl, Hans Krebs, dan Wilhelm Burgdorf
keluar ruangan.[277] Hitler kemudian
marah besar-besaran atas
pengkhianatan dan ketidakmampuan
para komandannya yang diakhiri dengan
pernyataannya—untuk pertama kali—
bahwa Jerman kalah perang. Hitler
mengumumkan bahwa ia akan tetap
berada di Berlin sampai perang berakhir,
lalu bunuh diri.[278]
Pada 23 April, Angkatan Darat Merah
mengepung seluruh Berlin[279] dan
Goebbels membuat pernyataan yang
meminta warga kota ikut
mempertahankan Berlin.[277] Pada hari
itu pula, Göring mengirim telegram dari
Berchtesgaden yang berisi pendapat
bahwa karena Hitler terisolasi di Berlin,
ia, Göring, harus mengambil alih
pemerintahan Jerman. Göring
menetapkan batas waktu, lewat dari itu
ia menganggap Hitler tidak berkuasa
lagi.[280] Hitler menanggapinya dengan
menahan Göring dan dalam surat
wasiatnya yang ditulis 29 April, Hitler
menyatakan Göring dipecat dari semua
jabatan pemerintahan yang
dipegangnya.[281][282] Tanggal 28 April,
Hitler mengetahui bahwa Himmler, yang
meninggalkan Berlin tanggal 20 April,[283]
sedang mencoba membahas penyerahan
diri dengan Sekutu Barat.[284] Ia
memerintahkan Himmler ditahan dan
Hermann Fegelein (perwakilan SS
Himmler di kantor pusat Hitler di Berlin)
dieksekusi.[285]

Setelah tengah malam 29 April, Hitler


menikahi Eva Braun dalam sebuah
upacara pernikahan kecil di ruang peta di
Führerbunker. Setelah sarapan
sederhana bersama istri barunya, ia
membawa sekretaris Traudl Junge ke
ruangan lain dan mendiktekan wasiat
dan kata-kata terakhir.[286][b] Peristiwa ini
disaksikan dan dokumennya
ditandatangani oleh Hans Krebs, Wilhelm
Burgdorf, Joseph Goebbels, dan Martin
Bormann.[287] Sore itu, Hitler diberitahu
tentang pembunuhan diktator Italia
Benito Mussolini, yang mungkin
mempertegas keinginannya untuk
menolak ditangkap.[288]

Tanggal 30 April 1945, setelah


pertempuran jalanan yang sengit, ketika
tentara Soviet berada satu atau dua blok
dari Reichskanzlei, Hitler dan Braun
bunuh diri; Braun menggigit kapsul
sianida[289] dan Hitler menembak
dirinya.[290] Jasad mereka dibawa naik
melalui pintu keluar darurat bunker ke
kebun belakang Reichskanzlei yang
sudah hancur, kemudian ditempatkan di
sebuah kawah bom[291] dan disiram
bensin. Kedua jasad kemudian
dibakar[292] diiringi suasana pengeboman
oleh Angkatan Darat Merah.[293]

Berlin menyerah pada tanggal 2 Mei.


Catatan arsip Soviet—dirilis setelah
jatuhnya Uni Soviet—memperlihatkan
bahwa sisa-sisa jenazah Hitler, Braun,
Joseph dan Magda Goebbels, enam anak
Goebbels, Jenderal Hans Krebs, dan
anjing-anjing Hitler berkali-kali dikubur
dan diangkat.[294] Pada tanggal 4 April
1970, sebuah tim KGB Soviet memakai
peta pemakaman terperinci untuk
mengangkat lima kotak kayu di fasilitas
SMERSH di Magdeburg. Sisa-sisa
jenazah dari kotak tersebut dibakar,
dihancurkan, dan disebarkan di sungai
Biederitz, anak sungai Elbe.[295]

Holocaust

Jika para hartawan Yahudi di


luar Eropa berhasil
membawa bangsa ini sekali
lagi ke kancah perang,
akibatnya bukanlah
bolshevisasi Bumi yang
menguntungkan kaum
Yahudi, namun pemusnahan
ras Yahudi di Eropa![296]
— Adolf Hitler berpidato di
Reichstag Jerman, 30 Januari
1939

Holocaust dan perang Jerman di timur


didasarkan pada pandangan lama Hitler
bahwa kaum Yahudi adalah musuh besar
bangsa Jerman dan bahwa Lebensraum
perlu diciptakan demi perluasan Jerman.
Ia berfokus ke Eropa Timur untuk upaya
perluasan tersebut dengan mengalahkan
Polandia dan Uni Soviet dan
menyingkirkan atau membantai kaum
Yahudi dan Slavia.[297] Generalplan Ost
("Rencana Umum untuk Timur") berisikan
deportasi penduduk Eropa Timur dan Uni
Soviet yang diduduki ke Siberia Barat
untuk dimanfaatkan sebagai buruh atau
dibunuh;[298] wilayah dudukan akan
dikolonisasi oleh penduduk Jerman atau
yang "dijermanisasi".[299] Tujuannya
adalah menerapkan rencana ini setelah
menaklukkan Uni Soviet, tetapi jika gagal,
Hitler tetap melanjutkannya.[298][300] Pada
Januari 1942, Hitler memutuskan untuk
membunuh semua kaum Yahudi, Slavia,
dan penduduk terdeportasi lain yang
ingin disingkirkan.[301][c]
Sebuah gerbong penuh jenazah di luar krematorium
di kamp konsentrasi Buchenwald yang telah
dibebaskan (April 1945)

Holocaust ("Endlösung der Judenfrage"


atau "Solusi Akhir Pertanyaan Yahudi")
diperintahkan oleh Hitler dan disusun
dan dilaksanakan oleh Heinrich Himmler
dan Reinhard Heydrich. Catatan
Konferensi Wannsee—diselenggarakan
tanggal 20 Januari 1942, dipimpin
Heydrich dan dihadiri 15 pejabat senior
Nazi—memberikan bukti jelas tentang
rencana sistematis Holocaust. Tanggal
22 Februari, Hitler mengatakan, "kita
harus mendapatkan kembali kesehatan
kita dengan memusnahkan kaum
Yahudi."[302] Sekitar 30 kamp konsentrasi
dan kamp pemusnahan dipakai untuk
melaksanakan rencana ini.[303] Pada
musim panas 1942, kamp konsentrasi
Auschwitz dengan cepat diperluas untuk
menampung sejumlah besar penduduk
deportasi untuk dibunuh atau
diperbudak.[304]

Meski tidak ada perintah khusus dari


Hitler yang mengizinkan pembunuhan
massal yang dipublikasikan,[305] ia
menyetujui pembentukan Einsatzgruppen
—regu pembunuh yang mengikuti jalur
AD Jerman melintasi Polandia, Baltik,
dan Uni Soviet[306]—dan ia sangat
mengetahui aktivitas mereka.[307] Dalam
rekaman interograsi oleh pejabat intelijen
Soviet yang dipublikasikan 50 tahun
kemudian, sopir Hitler, Heinz Linge, dan
ajudannya, Otto Günsche, menyatakan
bahwa Hitler punya ketertarikan
langsung terhadap pengembangan
kamar gas.[308]

Antara 1939 dan 1945, Schutzstaffel


(SS), dibantu pemerintah Kolaborasi
dengan Kekuatan Poros pada Perang
Dunia IIkolaborasionis dan rekrutan dari
negara-negara dudukan, bertanggung
jawab atas kematian 11 hingga 14 juta
orang, termasuk 6 juta kaum Yahudi yang
mewakili dua per tiga populasi Yahudi di
Eropa,[309][310] serta antara 500.000 dan
1.500.000 etnis Roma.[311] Kematian
terjadi di kamp konsentrasi dan kamp
pemusnahan, ghetto, dan eksekusi
massal. Banyak korban Holocaust digas
sampai mati, sementara lainnya
meninggal karena kelaparan atau
penyakit saat bekerja sebagai buruh
paksa.[312]

Kebijakan Hitler juga mengakibatkan


pembunuhan bangsa Polandia[313] dan
tahanan perang Soviet, kaum komunis
dan pesaing politik lain, homoseksual,
orang yang cacat fisik dan
mental,[314][315] Saksi-Saksi Yehuwa,
Adventis, dan anggota serikat dagang.
Hitler tidak pernah mengunjungi kamp
konsentrasi dan membicarakan
pembunuhan tersebut di hadapan publik.
[316]

Konsep Nazi yang lain adalah arti dari


kemurnian ras. Pada tanggal 15
September 1935, Hitler memperkenalkan
dua hukum—disebut Hukum-Hukum
Nuremberg—ke Reichstag. Hukum-
hukum tersebut melarang pernikahan
antara warga Jerman non-Yahudi dan
Yahudi, serta melarang mempekerjakan
wanita non-Yahudi di bawah usia 45
tahun di keluarga Yahudi. Hukum ini juga
menghapus hak-hak kewarganegaraan
Jerman yang dipegang orang-orang "non-
Arya".[317] Kebijakan eugenika pertama
Hitler menargetkan anak-anak dengan
cacat fisik dan mental dalam sebuah
program bernama Action Brandt, lalu
mengizinkan program eutanasia untuk
orang dewasa dengan cacat fisik dan
mental yang sekarang bernama Action
T4.[318]

Gaya kepemimpinan
Hitler memimpin NSDAP secara otokratik
dengan menerapkan Führerprinzip
("prinsip pemimpin"). Prinsip ini
bergantung pada kepatuhan absolut
semua bawahannya kepada pimpinan
mereka; sehingga ia melihat struktur
pemerintahan sebagai sebuah piramida,
dengan dirinya—pemimpin mutlak—di
puncak. Pangkat dalam partai tidak
ditentukan oleh pemilihan umum—
jabatan diisi melalui penunjukkan oleh
pangkat yang lebih tinggi, yang menuntut
kepatuhan tanpa pernyataan terhadap
keinginan sang pemimpin.[319] Gaya
kepemimpinan Hitler adalah memberikan
perintah berlawanan terhadap
bawahannya dan menempatkan mereka
pada jabatan-jabatan tempat tugas dan
tanggung jawab mereka saling
bertindihan agar "orang yang lebih kuat
menjalankan pekerjaannya".[320] Dengan
cara ini, Hitler mendorong saling tidak
percaya, persaingan, dan perkelahian di
antara bawahannya demi
mengonsolidasi dan memaksimalkan
kekuasaannya. Kabinetnya tidak pernah
rapat setelah tahun 1938, dan ia
meminta para menterinya tidak bertemu
secara pribadi.[321][322] Hitler biasanya
tidak memberi perintah tertulis; ia
memberitahunya secara verbal atau
disampaikan melalui rekan dekatnya,
Martin Bormann.[323] Ia memercayakan
semua dokumennya, penunjukannya, dan
kekayaan pribadinya ke Bormann dan
Bormann memanfaatkan jabatannya
untuk mengendalikan arus informasi dan
akses ke Hitler.[324]
Hitler secara pribadi membuat semua
keputusan militer besar. Sejarawan yang
menilai kinerjanya setuju bahwa setelah
awal yang kuat, ia semakin tidak fleksibel
setelah 1941 sehingga ia menyia-nyiakan
kekuatan militer yang dimiliki Jerman.
Sejarawan Antony Beevor berpendapat
bahwa saat perang pecah, "Hitler adalah
pemimpin yang terinspirasi, karena
kejeniusannya terletak pada menilai
kelemahan orang lain dan
memanfaatkan kelemahan tersebut."
Akan tetapi, sejak 1941 sampai
seterusnya, "ia menjadi sangat sklerotik.
Ia tidak mengizinkan kemunduran atau
fleksibilitas dalam bentuk apapun di
antara komandan lapangannya, dan hal
tersebut sangat menghancurkan."[325]

Warisan

Di luar bangunan di Braunau am Inn, Austria, tempat


Hitler lahir, terdapat sebuah batu peringatan sebagai
pengingat Perang Dunia II yang menakutkan.
Tulisannya:
Untuk perdamaian, kebebasan
dan demokrasi
jangan lagi fasisme
jutaan korban mengingatkan [kita]
Peristiwa bunuh diri Hitler dianggap para
sejarawan kontemporer sebagai "mantra"
yang dipatahkan.[326][327] Menurut
sejarawan John Toland, tanpa
pemimpinnya, Sosialisme Nasional
"meledak bagaikan gelembung."[328]

Aksi Hitler dan ideologi Nazi hampir


dianggap secara universal sebagai
sesuatu yang sangat imoral;[329] menurut
sejarawan Ian Kershaw, "Belum pernah
terjadi dalam sejarah kerusakan
semacam itu—secara fisik dan moral—
dikaitkan dengan nama satu orang
saja."[330] Program politik Hitler
mengakibatkan pecahnya perang dunia,
meninggalkan Eropa Timur dan Tengah
yang hancur dan miskin. Jerman sendiri
mengalami kehancuran menyeluruh yang
dijuluki "Jam Nol".[331] Kebijakan Hitler
mengakibatkan penderitaan manusia
dalam skala yang luar biasa;[332] menurut
R.J. Rummel, rezim Nazi bertanggung
jawab atas pembunuhan demosida
terhadap sekitar 21 warga sipil dan
tahanan perang.[333] Selain itu, 29 juta
tentara dan warga sipil tewas akibat aksi
militer di teater Eropa pada Perang Dunia
II,[333] dan peran Hitler dideskripsikan
sebagai, "... perancang utama perang
yang mengakibatkan 50 juta orang tewas
dan jutaan lainnya meratapi kematian
mereka ..."[330] Para sejarawan, filsuf, dan
politikus sering memakai kata "iblis"
untuk menyebut rezim Nazi.[334] Banyak
negara Eropa mengkriminalisasikan
dukungan terhadap Nazisme dan
penolakan Holocaust.[335]

Sejarawan Friedrich Meinecke menyebut


Hitler sebagai "salah satu contoh
terhebat kekuatan tunggal dan luar biasa
seseorang sepanjang kehidupan
sejarah".[336] Sejarawan Inggris Hugh
Trevor-Roper memandangnya sebagai
"salah seorang 'penyederhana sejarah
yang buruk', sosok penakluk dunia yang
paling sistematis, paling bersejarah,
paling filosofis, tetapi paling kasar, paling
kejam, paling tidak murah hati yang
pernah diketahui umat manusia."[337]
Bagi sejarawan John M. Roberts,
kekalahan Hitler menandakan akhir fase
sejarah Eropa yang didominasi
Jerman.[338] Sebagai penggantinya,
muncullah Perang Dingin, sebuah
konfrontasi global antara Uni Soviet dan
Amerika Serikat.[339]

Pandangan agama
Hitler melihat gereja penting secara
politik, sebagai suatu pengaruh
konservatif terhadap masyarakat. Ia
merasa jika gereja dihancurkan, umat
beragama akan beralih ke mistisisme,
yang ia anggap sebagai kemunduran
politik dan budaya. Meski ia tidak pernah
meninggalkan Gereja Katolik secara
resmi, ia tidak punya kedekatan sejati
dengan gereja.[340] Setelah meninggalkan
kampung halaman, ia tidak pernah lagi
menghadiri misa atau menerima
sakramen.[341] Ia lebih menyukai aspek
Protestantisme yang pas dengan
pandangan-pandangannya dan
mengadopsi sebagian elemen organisasi
hierarkis, liturgi, dan fraseologi Gereja
Katolik dalam politiknya.[342][343]

Secara publik, Hitler sering memuji


warisan Kristen dan budaya Kristen
Jerman, dan memilih kepercayaan
terhadap Yesus Kristus "Arya"—seorang
Yesus yang memerangi umat Yahudi.[344]
Ia berbicara tentang interpretasinya
terhadap Kristen sebagai motivasi utama
antisemitismenya, sambil berkata,
"Sebagai seorang Kristen aku tidak
berhak mengizinkan diriku dibohongi,
namun aku berhak menjadi seorang
pejuang kebenaran dan keadilan."[345][346]
Secara pribadi, ia lebih kritis terhadap
Kristen tradisional, menganggapnya
sebuah agama yang pas dianut para
budak; ia menyukai kekuatan Roma,
tetapi kasar terhadap ajarannya.[347]
Sejarawan John S. Conway menyebutkan
bahwa Hitler memiliki "antagonisme
mendasar" terhadap gereja-gereja
Kristen.[348]
Dalam hubungan politik dengan gereja,
Hitler mengambil strategi "yang pas
dengan tujuan-tujuan politiknya".[348]
Menurut laporan US Office of Strategic
Services, Hitler memiliki sebuah rencana
umum, bahkan sebelum berkuasa, untuk
menghancurkan pengaruh gereja Kristen
di dalam Reich.[349][350] Laporan berjudul
"The Nazi Master Plan" itu menyatakan
bahwa penghancuran gereja adalah
tujuan gerakan tersebut sejak awal,
namun tidak cukup untuk
mengekspresikan posisinya yang
ekstrem secara publik.[351] Tujuannya,
menurut Bullock, adalah menunggu
sampai perang berakhir, lalu
menghancurkan pengaruh Kristen.[347]
Hitler menyukai tradisi militer Muslim,
namun tetap menganggap bangsa Arab
sebagai "ras inferior".[352] Ia percaya
bahwa bangsa Jerman, seperti umat
Islam, bisa menguasai sebagian besar
dunia pada Abad Pertengahan.[353] Meski
Hitler tertarik pada hal-hal gaib,
penerjemahan sajak, dan melacak akar
prasejarah bangsa Jermanik, Hitler justru
lebih pragmatis dan ideologinya terpusat
pada hal-hal yang lebih praktis.[354][355]

Kesehatan
Banyak peneliti berpendapat bahwa
Hitler menderita sindrom usus mudah
iritasi, luka kulit, detak jantung tidak
tetap, penyakit Parkinson,[356][263]
sifilis,[356] dan tinnitus.[357] Dalam sebuah
laporan untuk Office of Strategic Services
tahun 1943, Walter C. Langer dari
Universitas Harvard menyebut Hitler
sebagai seorang "psikopat neurotik."[358]
Sejumlah teori seputar kondisi medis
Hitler sulit dibuktikan, dan menurut
mereka terlalu banyak bebannya jika
mengaitkan sejumlah peristiwa dan
akibat Reich Ketiga dengan kesehatan
fisik seseorang yang mungkin buruk.[359]
Kershaw merasa lebih baik mengambil
pandangan yang lebih luas terhadap
sejarah Jerman dengan menilai
dorongan sosial apa yang menciptakan
Reich Ketiga dan kebijakan-kebijakannya,
alih-alih mencari penjelasan sempit
tentang Holocaust dan Perang Dunia II
dari satu orang saja.[360]

Hitler mengikuti pola makan


vegetarian.[361] Pada acara-acara sosial
ia kadang mengutarakan pernyataan
menjijikkan tentang penyembelihan
hewan agar tamu-tamunya menghindari
daging.[362] Ketakutan terserang kanker
(penyebab ibunya meninggal dunia)[363]
adalah alasan pola makan Hitler yang
paling terkenal. Selaku seorang
antipembedahan, Hitler mungkin memilih
pola makan selektif karena masih
menghargai hewan.[364] Bormann
memiliki sebuah rumah kaca di dekat
Berghof (dekat Berchtesgaden) untuk
menjamin suplai stabil buah-buahan dan
sayuran segar untuk Hitler sepanjang
perang. Hitler menjauhi alkohol[365] dan
bukan perokok. Ia mempromosikan
kampanye anti-merokok yang agresif di
seluruh Jerman.[366] Hitler mulai sering
memakai amfetamin setelah 1937 dan
menjadi pecandu pada musim gugur
1942.[367] Albert Speer mengaitkan
pemakaian amfetamin ini dengan
keputusan Hitler yang semakin tidak
fleksibel (misalnya, tidak pernah
mengizinkan militer mundur dari medan
perang).[368]
Dengan 90 jenis obat-obatan sepanjang
perang, Hitler mengonsumsi banyak pil
setiap hari karena masalah lambung
kronis dan penyakit lain.[369] Ia menderita
kerusakan gendang telinga akibat
ledakan bom 20 Juli 1944 dan 200
serpihan kayu harus diangkat dari
kakinya.[370] Rekaman berita Hitler
memperlihatkan getaran pada tangannya
dan gaya jalannya yang pincang, yang
sudah ada sejak sebelum perang dan
memburuk sampai akhir hayatnya.
Dokter pribadi Hitler, Theodor Morell,
merawat Hitler dengan sebuah obat yang
sering dipakai untuk menangani penyakit
Parkinson pada tahun 1945. Ernst-
Günther Schenck dan beberapa dokter
lain yang bertemu Hitler pada minggu-
minggu terakhir hidupnya juga
menyimpulkan Hitler menderita penyakit
Parkinson.[369][371]

Keluarga

Hitler bersama kekasih lamanya, Eva Braun, yang ia


nikahi 29 April 1945

Hitler menciptakan citra publik sebagai


sosok selibat tanpa kehidupan rumah
tangga, mendedikasikan seluruh
hidupnya untuk misi politik dan
bangsanya.[133][372] Ia bertemu
kekasihnya, Eva Braun, pada tahun
1929,[373] dan menikahinya pada April
1945.[374] Pada bulan September 1931,
keponakan tirinya, Geli Raubal, bunuh diri
dengan pistol Hitler di apartemennya di
Munich. Tersebar rumor bahwa Geli
terlibat dalam hubungan romantis
dengan Hitler dan kematiannya menjadi
sumber kesedihan mendalam yang
bertahan lama.[375] Paula Hitler, anggota
keluarga terakhir yang masih hidup,
meninggal dunia tahun 1960.[376]

Hitler di media
Putar media
Film Hitler di Berchtesgaden (c. 1941)

Hitler memakai film dokumenter sebagai


alat propaganda. Ia terlibat dan muncul
dalam serangkaian film karya pembuat
film Leni Riefenstahl via Universum Film
AG (UFA):[377]

Der Sieg des Glaubens (Victory of Faith,


1933)
Triumph des Willens (Triumph of the
Will, 1934), kerja sama produksi
dengan Hitler
Tag der Freiheit: Unsere Wehrmacht
(Day of Freedom: Our Armed Forces,
1935)
Olympia (1938)

Lihat pula
Führermuseum
Hitler: A Film from Germany
Julius Schaub – chief aide
Karl Mayr – pimpinan Hitler di Intelijen
AD 1919–1920
Karl Wilhelm Krause – sopir pribadi
Daftar buku karya atau tentang Adolf
Hitler
Mein Kampf (versi daring)
Poison Kitchen
Jalan yang diberi nama Adolf Hitler
Vorbunker

Catatan kaki
1. ^ hitler also won settlement from a libel
suit against the socialist paper the
Münchener Post, which had questioned
his lifestyle and income. Kershaw 2008,
hlm. 99.
2. ^ MI5, Hitler's Last Days: "Hitler's will
and marriage" on the website of MI5,
using the sources available to Trevor
Roper (a WWII MI5 agent and
historian/author of The Last Days of
Hitler), records the marriage as taking
place after Hitler had dictated his last will
and testament.
3. ^ for a summary of recent scholarship
on Hitler's central role in the Holocaust,
see McMillan 2012.

Referensi
1. ^ NS-Archiv, 7 April 1925.
2. ^ Maser 1973, hlm. 4.
3. ^ Maser 1973, hlm. 15.
4. ^ Rosenbaum 1999.
5. ^ Hamann 2010, hlm. 50.
6. ^ Toland 1992, hlm. 246–47.
7. ^ Kershaw 1999, hlm. 8–9.
8. ^ Jetzinger 1976, hlm. 32.
9. ^ House of Responsibility.
10. ^ Shirer 1960, hlm. 6–9.
11. ^ Rosmus 2004, hlm. 33.
12. ^ Keller 2010, hlm. 15.
13. ^ Hamann 2010, hlm. 7–8.
14. ^ Kubizek 2006, hlm. 37.
15. ^ Kubizek 2006, hlm. 92.
16. ^ Hitler 1999, hlm. 6.
17. ^ Fromm 1977, hlm. 493–498.
18. ^ Shirer 1960, hlm. 10–11.
19. ^ Payne 1990, hlm. 22.
20. ^ Kershaw 2008, hlm. 9.
21. ^ Hitler 1999, hlm. 8.
22. ^ Keller 2010, hlm. 33–34.
23. ^ Fest 1977, hlm. 32.
24. ^ Kershaw 2008, hlm. 8.
25. ^ Lipstadt 2011, hlm. 272.
26. ^ Hitler 1999, hlm. 10.
27. ^ Evans 2003, hlm. 163–164.
28. ^ Bendersky 2000, hlm. 26.
29. ^ Ryschka 2008, hlm. 35.
30. ^ Hamann 2010, hlm. 13.
31. ^ Kershaw 2008, hlm. 10.
32. ^ Kershaw 1999, hlm. 19.
33. ^ Kershaw 1999, hlm. 20.
34. ^ Bullock 1962, hlm. 30–31.
35. ^ Hitler 1999, hlm. 20.
36. ^ Bullock 1999, hlm. 30–33.
37. ^ Shirer 1960, hlm. 26.
38. ^ Hamann 2010, hlm. 243–246.
39. ^ Hamann 2010, hlm. 341–345.
40. ^ Hamann 2010, hlm. 350.
41. ^ Kershaw 1999, hlm. 60–67.
42. ^ Hitler 1999, hlm. 52.
43. ^ Shirer 1960, hlm. 25.
44. ^ Hamann 1999, hlm. 176.
45. ^ Hamann 2010, hlm. 348.
46. ^ Kershaw 1999, hlm. 66.
47. ^ Hamann 2010, hlm. 347–359.
48. ^ Kershaw 1999, hlm. 64.
49. ^ Evans 2011.
50. ^ a b Shirer 1960, hlm. 27.
51. ^ Weber 2010, hlm. 13.
52. ^ Shirer 1960, hlm. 27, footnote.
53. ^ a b Kershaw 1999, hlm. 90.
54. ^ Weber 2010, hlm. 12–13.
55. ^ Kershaw 2008, hlm. 53.
56. ^ Kershaw 2008, hlm. 54.
57. ^ Weber 2010, hlm. 100.
58. ^ a b Shirer 1960, hlm. 30.
59. ^ Kershaw 2008, hlm. 59.
60. ^ Bullock 1962, hlm. 52.
61. ^ Kershaw 1999, hlm. 96.
62. ^ Steiner 1976, hlm. 392.
63. ^ Jamieson 2008.
64. ^ Kershaw 2008, hlm. 57.
65. ^ Kershaw 2008, hlm. 58.
66. ^ Kershaw 2008, hlm. 59, 60.
67. ^ Kershaw 1999, hlm. 97.
68. ^ Kershaw 1999, hlm. 102.
69. ^ Kershaw 2008, hlm. 61, 62.
70. ^ Keegan 1987, hlm. 238–240.
71. ^ Bullock 1962, hlm. 60.
72. ^ Kershaw 2008, hlm. 61–63.
73. ^ Kershaw 2008, hlm. 96.
74. ^ Kershaw 2008, hlm. 80, 90, 92.
75. ^ Bullock 1999, hlm. 61.
76. ^ Kershaw 1999, hlm. 109.
77. ^ Kershaw 2008, hlm. 82.
78. ^ Stackelberg 2007, hlm. 9.
79. ^ Mitcham 1996, hlm. 67.
80. ^ Fest 1970, hlm. 21.
81. ^ Kershaw 2008, hlm. 94, 95, 100.
82. ^ Kershaw 2008, hlm. 87.
83. ^ Kershaw 2008, hlm. 88.
84. ^ Kershaw 2008, hlm. 89.
85. ^ Kershaw 2008, hlm. 89–92.
86. ^ Kershaw 2008, hlm. 81.
87. ^ Kershaw 2008, hlm. 100, 101.
88. ^ Kershaw 2008, hlm. 102.
89. ^ a b Kershaw 2008, hlm. 103.
90. ^ Kershaw 2008, hlm. 83, 103.
91. ^ Bullock 1999, hlm. 376.
92. ^ Frauenfeld 1937.
93. ^ Goebbels 1936.
94. ^ Kressel 2002, hlm. 121.
95. ^ Trevor-Roper 1987, hlm. 116.
96. ^ Kershaw 2008, hlm. 105–106.
97. ^ Bullock 1999, hlm. 377.
98. ^ Heck 2001, hlm. 23.
99. ^ Larson 2011, hlm. 157.
100. ^ Kershaw 1999, hlm. 367.
101. ^ Kellogg 2005, hlm. 275.
102. ^ Kellogg 2005, hlm. 203.
103. ^ Kershaw 2008, hlm. 126.
104. ^ Kershaw 2008, hlm. 125.
105. ^ a b Kershaw 2008, hlm. 128.
106. ^ Kershaw 2008, hlm. 129.
107. ^ Kershaw 2008, hlm. 130–131.
108. ^ Shirer 1960, hlm. 73–74.
109. ^ Kershaw 2008, hlm. 132.
110. ^ Kershaw 2008, hlm. 131.
111. ^ Munich Court, 1924.
112. ^ Fulda 2009, hlm. 68–69.
113. ^ Kershaw 1999, hlm. 239.
114. ^ a b Bullock 1962, hlm. 121.
115. ^ Spiro 2008.
116. ^ Kershaw 2008, hlm. 148–149.
117. ^ Shirer 1960, hlm. 80–81.
118. ^ Kershaw 2008, hlm. 158, 161, 162.
119. ^ Kershaw 2008, hlm. 162, 166.
120. ^ Shirer 1960, hlm. 129.
121. ^ Kershaw 2008, hlm. 166, 167.
122. ^ Shirer 1960, hlm. 136–137.
123. ^ Kolb 2005, hlm. 224–225.
124. ^ Kolb 1988, hlm. 105.
125. ^ Halperin 1965, hlm. 403 et. seq.
126. ^ Halperin 1965, hlm. 434–446 et.
seq.
127. ^ Wheeler-Bennett 1967, hlm. 218.
128. ^ Wheeler-Bennett 1967, hlm. 216.
129. ^ Wheeler-Bennett 1967, hlm. 218–
219.
130. ^ Wheeler-Bennett 1967, hlm. 222.
131. ^ Halperin 1965, hlm. 449 et. seq.
132. ^ Halperin 1965, hlm. 434–436, 471.
133. ^ a b Shirer 1960, hlm. 130.
134. ^ Hinrichs 2007.
135. ^ Halperin 1965, hlm. 476.
136. ^ Halperin 1965, hlm. 468–471.
137. ^ Bullock 1962, hlm. 201.
138. ^ Halperin 1965, hlm. 477–479.
139. ^ Letter to Hindenburg, 1932.
140. ^ Fox News, 2003.
141. ^ Shirer 1960, hlm. 184.
142. ^ Evans 2003, hlm. 307.
143. ^ Bullock 1962, hlm. 262.
144. ^ Shirer 1960, hlm. 194.
145. ^ Shirer 1960, hlm. 192.
146. ^ Bullock 1999, hlm. 262.
147. ^ Bullock 1962, hlm. 265.
148. ^ City of Potsdam.
149. ^ Shirer 1960, hlm. 196–197.
150. ^ Shirer 1960, hlm. 198.
151. ^ Shirer 1960, hlm. 196.
152. ^ Bullock 1999, hlm. 269.
153. ^ Shirer 1960, hlm. 199.
154. ^ Time, 1934.
155. ^ a b Shirer 1960, hlm. 201.
156. ^ Shirer 1960, hlm. 202.
157. ^ a b Evans 2003, hlm. 350–374.
158. ^ Kershaw 2008, hlm. 309–314.
159. ^ Tames 2008, hlm. 4–5.
160. ^ Kershaw 2008, hlm. 313–315.
161. ^ Overy 2005, hlm. 63.
162. ^ Shirer 1960, hlm. 226–227.
163. ^ Shirer 1960, hlm. 229.
164. ^ Bullock 1962, hlm. 309.
165. ^ Shirer 1960, hlm. 230.
166. ^ Kershaw 2008, hlm. 392, 393.
167. ^ Shirer 1960, hlm. 312.
168. ^ Kershaw 2008, hlm. 393–397.
169. ^ Shirer 1960, hlm. 308.
170. ^ Shirer 1960, hlm. 318–319.
171. ^ Kershaw 2008, hlm. 397–398.
172. ^ Shirer 1960, hlm. 274.
173. ^ McNab 2009, hlm. 54.
174. ^ Shirer 1960, hlm. 259–260.
175. ^ Shirer 1960, hlm. 258.
176. ^ Shirer 1960, hlm. 262.
177. ^ McNab 2009, hlm. 54–57.
178. ^ Speer 1971, hlm. 118–119.
179. ^ Weinberg 1970, hlm. 26–27.
180. ^ Kershaw 1999, hlm. 490–491.
181. ^ Kershaw 1999, hlm. 492, 555–556,
586–587.
182. ^ Carr 1972, hlm. 23.
183. ^ Kershaw 2008, hlm. 297.
184. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 601–
602.
185. ^ Hildebrand 1973, hlm. 39.
186. ^ Roberts 1975.
187. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 630–
631.
188. ^ a b Overy, Origins of WWII
Reconsidered 1999.
189. ^ Carr 1972, hlm. 56–57.
190. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 642.
191. ^ Aigner 1985, hlm. 264.
192. ^ a b Messerschmidt 1990, hlm. 636–
637.
193. ^ Carr 1972, hlm. 73–78.
194. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 638.
195. ^ a b Bloch 1992, hlm. 178–179.
196. ^ Plating 2011, hlm. 21.
197. ^ Butler & Young 1989, hlm. 159.
198. ^ Bullock 1962, hlm. 434.
199. ^ Overy 2005, hlm. 425.
200. ^ Weinberg 1980, hlm. 334–335.
201. ^ Weinberg 1980, hlm. 338–340.
202. ^ Weinberg 1980, hlm. 366.
203. ^ Weinberg 1980, hlm. 418–419.
204. ^ Kee 1988, hlm. 149–150.
205. ^ Weinberg 1980, hlm. 419.
206. ^ Murray 1984, hlm. 256–260.
207. ^ Bullock 1962, hlm. 469.
208. ^ Overy, The Munich Crisis 1999,
hlm. 207.
209. ^ Kee 1988, hlm. 202–203.
210. ^ Weinberg 1980, hlm. 462–463.
211. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 672.
212. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 671,
682–683.
213. ^ Rothwell 2001, hlm. 90–91.
214. ^ Time, January 1939.
215. ^ a b Murray 1984, hlm. 268.
216. ^ Murray 1984, hlm. 268–269.
217. ^ Shirer 1960, hlm. 448.
218. ^ Weinberg 1980, hlm. 579–581.
219. ^ a b Maiolo 1998, hlm. 178.
220. ^ a b Messerschmidt 1990, hlm. 688–
690.
221. ^ a b Weinberg 1980, hlm. 537–539,
557–560.
222. ^ Weinberg 1980, hlm. 558.
223. ^ Carr 1972, hlm. 76–77.
224. ^ Kershaw 2000b, hlm. 36–37, 92.
225. ^ Weinberg 1955.
226. ^ Robertson 1985, hlm. 212.
227. ^ Bloch 1992, hlm. 228.
228. ^ Overy & Wheatcroft 1989, hlm. 56.
229. ^ Kershaw 2008, hlm. 497.
230. ^ Robertson 1963, hlm. 181–187.
231. ^ Evans 2005, hlm. 693.
232. ^ Bloch 1992, hlm. 252–253.
233. ^ Weinberg 1995, hlm. 85–94.
234. ^ Bloch 1992, hlm. 255–257.
235. ^ Messerschmidt 1990, hlm. 714.
236. ^ Weinberg 1980, hlm. 561–562,
583–584.
237. ^ Bloch 1992, hlm. 260.
238. ^ Hakim 1995.
239. ^ Time, October 1939.
240. ^ a b c Rees 1997, hlm. 141–145.
241. ^ Kershaw 2008, hlm. 527.
242. ^ a b c d Rees 1997, hlm. 148–149.
243. ^ Winkler 2007, hlm. 74.
244. ^ Shirer 1960, hlm. 696–730.
245. ^ Shirer 1960, hlm. 731–737.
246. ^ Shirer 1960, hlm. 774–782.
247. ^ Kershaw 2008, hlm. 570.
248. ^ Kershaw 2008, hlm. 580.
249. ^ Roberts 2006, hlm. 58-60.
250. ^ Kershaw 2008, hlm. 604–605.
251. ^ Kurowski 2005, hlm. 141–142.
252. ^ Glantz 2001, hlm. 9.
253. ^ Koch 1988.
254. ^ a b Stolfi 1982.
255. ^ Wilt 1981.
256. ^ Evans 2008, hlm. 202.
257. ^ Shirer 1960, hlm. 900–901.
258. ^ a b Bauer 2000, hlm. 5.
259. ^ Shirer 1960, hlm. 921.
260. ^ Kershaw 2000b, hlm. 417.
261. ^ Evans 2008, hlm. 419–420.
262. ^ Shirer 1960, hlm. 1006.
263. ^ a b BBC News, 1999.
264. ^ Shirer 1960, hlm. 997.
265. ^ Shirer 1960, hlm. 1036.
266. ^ Speer 1971, hlm. 513–514.
267. ^ Kershaw 2008, hlm. 544–547, 821–
822, 827–828.
268. ^ Kershaw 2008, hlm. 816–818.
269. ^ Shirer 1960, §29.
270. ^ Weinberg 1964.
271. ^ a b Crandell 1987.
272. ^ Bullock 1962, hlm. 753, 763, 778,
780–781.
273. ^ a b Bullock 1962, hlm. 774–775.
274. ^ Beevor 2002, hlm. 251.
275. ^ Beevor 2002, hlm. 255–256.
276. ^ Le Tissier 2010, hlm. 45.
277. ^ a b Dollinger 1995, hlm. 231.
278. ^ Beevor 2002, hlm. 275.
279. ^ Ziemke 1969, hlm. 92.
280. ^ Bullock 1962, hlm. 787.
281. ^ Bullock 1962, hlm. 787, 795.
282. ^ Butler & Young 1989, hlm. 227–
228.
283. ^ Kershaw 2008, hlm. 923–925, 943.
284. ^ Bullock 1962, hlm. 791.
285. ^ Bullock 1962, hlm. 792, 795.
286. ^ Beevor 2002, hlm. 343.
287. ^ Bullock 1962, hlm. 795.
288. ^ Bullock 1962, hlm. 798.
289. ^ Linge 2009, hlm. 199.
290. ^ Joachimsthaler 1999, hlm. 160–
180.
291. ^ Joachimsthaler 1999, hlm. 217–
220.
292. ^ Linge 2009, hlm. 200.
293. ^ Bullock 1962, hlm. 799–800.
294. ^ Vinogradov 2005, hlm. 111, 333.
295. ^ Vinogradov 2005, hlm. 333–336.
296. ^ Marrus 2000, hlm. 37.
297. ^ Gellately 1996.
298. ^ a b Snyder 2010, hlm. 416.
299. ^ Steinberg 1995.
300. ^ Kershaw 2008, hlm. 683.
301. ^ Shirer 1960, hlm. 965.
302. ^ Naimark 2002, hlm. 81.
303. ^ Shirer 1960, hlm. 967.
304. ^ Kershaw 2008, hlm. 687.
305. ^ Megargee 2007, hlm. 146.
306. ^ Kershaw 2008, hlm. 670–675.
307. ^ Megargee 2007, hlm. 144.
308. ^ Yad Vashem, 2006.
309. ^ Yad Vashem, 2008.
310. ^ Holocaust Memorial Museum.
311. ^ Hancock 2004, hlm. 383–396.
312. ^ Shirer 1960, hlm. 946.
313. ^ US Holocaust Memorial Museum.
314. ^ Niewyk & Nicosia 2000, hlm. 45.
315. ^ Goldhagen 1996, hlm. 290.
316. ^ Downing 2005, hlm. 33.
317. ^ Kershaw 1999, hlm. 567–568.
318. ^ Overy 2005, hlm. 252.
319. ^ Kershaw 2008, hlm. 170, 172, 181.
320. ^ Speer 1971, hlm. 210.
321. ^ Manvell & Fraenkel 2007, hlm. 29.
322. ^ Kershaw 2008, hlm. 323.
323. ^ Kershaw 2008, hlm. 377.
324. ^ Speer 1971, hlm. 333.
325. ^ Beevor & Attar 2012.
326. ^ Fest 1974, hlm. 753.
327. ^ Speer 1971, hlm. 617.
328. ^ Toland 1977, hlm. 892.
329. ^ Kershaw 2000a, hlm. 1–6.
330. ^ a b Kershaw 2000b, hlm. 841.
331. ^ Fischer 1995, hlm. 569.
332. ^ Del Testa, Lemoine & Strickland
2003, hlm. 83.
333. ^ a b Rummel 1994, hlm. 112.
334. ^ Welch 2001, hlm. 2.
335. ^ Bazyler 2006, hlm. 1.
336. ^ Shirer 1960, hlm. 6.
337. ^ Hitler & Trevor-Roper 1988,
hlm. xxxv.
338. ^ Roberts 1996, hlm. 501.
339. ^ Lichtheim 1974, hlm. 366.
340. ^ Speer 1971, hlm. 141–142.
341. ^ Rißmann 2001, hlm. 94–96.
342. ^ Rißmann 2001, hlm. 96.
343. ^ Bullock 1962, hlm. 219.
344. ^ Steigmann-Gall 2003, hlm. 27, 108.
345. ^ Hitler 1942, hlm. 20.
346. ^ Hitler 1973, hlm. 23.
347. ^ a b Bullock 1962, hlm. 219, 389.
348. ^ a b Conway 1968, hlm. 3.
349. ^ Sharkey 2002.
350. ^ Bonney 2001.
351. ^ Office of Strategic Services, 1945.
352. ^ Speer 1971, hlm. 142–143.
353. ^ Payne 2008, hlm. 171.
354. ^ Speer 1971, hlm. 171, 174.
355. ^ Bullock 1999, hlm. 729.
356. ^ a b Bullock 1962, hlm. 717.
357. ^ Redlich 2000, hlm. 129–190.
358. ^ Langer 1972, hlm. 126.
359. ^ Kershaw 2000a, hlm. 72.
360. ^ Kershaw 2008, hlm. xxxv–xxxvi.
361. ^ Bullock 1999, hlm. 388.
362. ^ Wilson 1998.
363. ^ Kershaw 2008, hlm. 380.
364. ^ Dietrich 2010, hlm. 172.
365. ^ Dietrich 2010, hlm. 171.
366. ^ Toland 1992, hlm. 741.
367. ^ Heston & Heston 1980, hlm. 125–
142.
368. ^ Heston & Heston 1980, hlm. 11–
20.
369. ^ a b Kershaw 2008, hlm. 782.
370. ^ Linge 2009, hlm. 156.
371. ^ O'Donnell 2001, hlm. 37.
372. ^ Bullock 1999, hlm. 563.
373. ^ Kershaw 2008, hlm. 378.
374. ^ Kershaw 2008, hlm. 947–948.
375. ^ Bullock 1962, hlm. 393–394.
376. ^ Kershaw 2008, hlm. 4.
377. ^ The Daily Telegraph, 2003.

Sumber
Aigner, Dietrich (1985). "Hitler's ultimate
aims – a programme of world dominion?".
Dalam Koch, H.W. Aspects of the Third
Reich. London: MacMillan. ISBN 978-0-312-
05726-8.
Bauer, Yehuda (2000). Rethinking the
Holocaust. Yale University Press. hlm. 5.
ISBN 978-0-300-08256-2.
Beevor, Antony (2002). Berlin: The Downfall
1945. London: Viking-Penguin Books.
ISBN 978-0-670-03041-5.
Beevor, Antony; Attar, Rob (June 2012).
"The World in Flames". BBC History
Magazine. 13 (6).
Bendersky, Joseph W (2000). A History of
Nazi Germany: 1919–1945. Rowman &
Littlefield. ISBN 978-1-4422-1003-5.
Bloch, Michael (1992). Ribbentrop. New
York: Crown Publishing. ISBN 978-0-517-
59310-3.
Bonney, Richard (2001). "The Nazi Master
Plan, Annex 4: The Persecution of the
Christian Churches" (PDF). Rutgers Journal
of Law and Religion. Diakses tanggal 7 June
2011.
Bullock, Alan (1962) [1952]. Hitler: A Study
in Tyranny. London: Penguin Books.
ISBN 978-0-14-013564-0.
Bullock, Alan (1999) [1952]. Hitler: A Study
in Tyranny. New York: Konecky & Konecky.
ISBN 978-1-56852-036-0.
Butler, Ewan; Young, Gordon (1989). The
Life and Death of Hermann Göring. Newton
Abbot, Devon: David & Charles. ISBN 978-0-
7153-9455-7.
Carr, William (1972). Arms, Autarky and
Aggression. London: Edward Arnold.
ISBN 978-0-7131-5668-3.
Conway, John S. (1968). The Nazi
Persecution of the Churches 1933–45.
London: Weidenfeld & Nicolson. ISBN 978-
0-297-76315-4.
Crandell, William F. (1987). "Eisenhower the
Strategist: The Battle of the Bulge and the
Censure of Joe McCarthy". Presidential
Studies Quarterly. 17 (3): 487–501.
JSTOR 27550441 .
Del Testa, David W; Lemoine, Florence;
Strickland, John (2003). Government
Leaders, Military Rulers, and Political
Activists. Greenwood Publishing Group.
hlm. 83. ISBN 978-1-57356-153-2.
Dietrich, Otto (2010). The Hitler I Knew:
Memoirs of the Third Reich's Press Chief.
New York: Skyhorse. ISBN 978-1-60239-
972-3.
Dollinger, Hans (1995) [1965]. The Decline
and Fall of Nazi Germany and Imperial
Japan: A Pictorial History of the Final Days
of World War II. New York: Gramercy.
ISBN 978-0-517-12399-7.
Downing, David (2005). The Nazi Death
Camps. World Almanac Library of the
Holocaust. Gareth Stevens. ISBN 978-0-
8368-5947-8.
Evans, Richard J. (2003). The Coming of the
Third Reich. Penguin Group. ISBN 978-0-14-
303469-8.
Evans, Richard J. (2005). The Third Reich in
Power. New York: Penguin Group.
ISBN 978-0-14-303790-3.
Evans, Richard J. (2008). The Third Reich At
War. New York: Penguin Group. ISBN 978-0-
14-311671-4.
Fest, Joachim C. (1970). The Face of the
Third Reich. London: Weidenfeld &
Nicolson. ISBN 978-0-297-17949-8.
Fest, Joachim C. (1974) [1973]. Hitler.
London: Weidenfeld & Nicolson. ISBN 978-
0-297-76755-8.
Fest, Joachim C. (1977) [1973]. Hitler.
Harmondsworth: Penguin. ISBN 978-0-14-
021983-8.
Fischer, Klaus P. (1995). Nazi Germany: A
New History. London: Constable and
Company. ISBN 978-0-09-474910-8.
Fromm, Erich (1977) [1973]. The Anatomy
of Human Destructiveness. London:
Penguin Books. ISBN 978-0-14-004258-0.
Fulda, Bernhard (2009). Press and Politics
in the Weimar Republic. Oxford University
Press. ISBN 978-0-19-954778-4.
Gellately, Robert (1996). "Reviewed work(s):
Vom Generalplan Ost zum
Generalsiedlungsplan by Czeslaw
Madajczyk. Der "Generalplan Ost."
Hauptlinien der nationalsozialistischen
Planungs- und Vernichtungspolitik by
Mechtild Rössler; Sabine Schleiermacher".
Central European History. 29 (2): 270–274.
doi:10.1017/S0008938900013170 .
Goldhagen, Daniel (1996). Hitler's Willing
Executioners: Ordinary Germans and the
Holocaust. New York: Knopf. ISBN 978-0-
679-44695-8.
Hakim, Joy (1995). War, Peace, and All That
Jazz. A History of US. 9. New York: Oxford
University Press. ISBN 978-0-19-509514-2.
Halperin, Samuel William (1965) [1946].
Germany Tried Democracy: A Political
History of the Reich from 1918 to 1933. New
York: W.W. Norton. ISBN 978-0-393-00280-
5.
Hamann, Brigitte (1999). Hitler's Vienna: A
Dictator's Apprenticeship. Trans. Thomas
Thornton. New York: Oxford University
Press. ISBN 978-0-19-512537-5.
Hamann, Brigitte (2010) [1999]. Hitler's
Vienna: A Portrait of the Tyrant as a Young
Man. Trans. Thomas Thornton. London;
New York: Tauris Parke Paperbacks.
ISBN 978-1-84885-277-8.
Hancock, Ian (2004). "Romanies and the
Holocaust: A Reevaluation and an
Overview". Dalam Stone, Dan. The
Historiography of the Holocaust. New York;
Basingstoke: Palgrave Macmillan.
ISBN 978-0-333-99745-1.
Heck, Alfons (2001) [1985]. A Child of Hitler:
Germany In The Days When God Wore A
Swastika. Phoenix, AZ: Renaissance House.
ISBN 978-0-939650-44-6.
Heston, Leonard L.; Heston, Renate (1980)
[1979]. The Medical Casebook of Adolf
Hitler: His Illnesses, Doctors, and Drugs.
New York: Stein and Day. ISBN 978-0-8128-
2718-7.
Hildebrand, Klaus (1973). The Foreign
Policy of the Third Reich. London: Batsford.
ISBN 978-0-7134-1126-3.
Hitler, Adolf (1999) [1925]. Mein Kampf.
Trans. Ralph Manheim. Boston: Houghton
Mifflin. ISBN 978-0-395-92503-4.
Hitler, Adolf (1973) [1941]. Roussy de Sales,
Raoul de, ed. My New Order. New York:
Octagon Books. ISBN 978-0-374-93918-2.
Hitler, Adolf (1942). Baynes, Norman H., ed.
The Speeches of Adolf Hitler, April 1922 –
August 1939. London: Oxford University
Press. ISBN 978-0-86527-493-8.
Hitler, Adolf; Trevor-Roper, Hugh (1988)
[1953]. Hitler's Table-Talk, 1941–1945:
Hitler's Conversations Recorded by Martin
Bormann. Oxford: Oxford University Press.
ISBN 978-0-19-285180-2.
Jamieson, Alastair (19 November 2008).
"Nazi leader Hitler really did have only one
ball" . The Daily Telegraph. Diakses tanggal
27 May 2011.
Jetzinger, Franz (1976) [1956]. Hitler's
Youth. Westport, Conn: Greenwood Press.
ISBN 978-0-8371-8617-7.
Joachimsthaler, Anton (1999) [1995]. The
Last Days of Hitler: The Legends, the
Evidence, the Truth. Trans. Helmut Bögler.
London: Brockhampton Press. ISBN 978-1-
86019-902-8.
Kee, Robert (1988). Munich: The Eleventh
Hour. London: Hamish Hamilton. ISBN 978-
0-241-12537-3.
Keegan, John (1987). The Mask of
Command: A Study of Generalship. London:
Pimlico. ISBN 978-0-7126-6526-1.
Keller, Gustav (2010). Der Schüler Adolf
Hitler: die Geschichte eines lebenslangen
Amoklaufs (dalam bahasa German).
Münster: LIT. ISBN 978-3-643-10948-4.
Kellogg, Michael (2005). The Russian Roots
of Nazism White Émigrés and the Making of
National Socialism, 1917–1945. Cambridge
University Press. ISBN 978-0-521-84512-0.
Kershaw, Ian (1999) [1998]. Hitler: 1889–
1936: Hubris. New York: W. W. Norton &
Company. ISBN 978-0-393-04671-7.
Kershaw, Ian (2000a) [1985]. The Nazi
Dictatorship: Problems and Perspectives of
Interpretation (edisi ke-4th). London:
Arnold. ISBN 978-0-340-76028-4.
Kershaw, Ian (2000b). Hitler, 1936–1945:
Nemesis. New York; London: W. W. Norton
& Company. ISBN 978-0-393-32252-1.
Kershaw, Ian (2008). Hitler: A Biography.
New York: W. W. Norton & Company.
ISBN 978-0-393-06757-6.
Koch, H. W (1988). "Operation Barbarossa –
The Current State of the Debate". The
Historical Journal. 31 (2): 377–390.
doi:10.1017/S0018246X00012930 .
Kolb, Eberhard (2005) [1984]. The Weimar
Republic. London; New York: Routledge.
ISBN 978-0-415-34441-8.
Kolb, Eberhard (1988) [1984]. The Weimar
Republic. New York: Routledge. ISBN 978-0-
415-09077-3.
Kressel, Neil J. (2002). Mass Hate: The
Global Rise Of Genocide And Terror.
Boulder: Basic Books. ISBN 978-0-8133-
3951-1.
Kubizek, August (2006) [1953]. The Young
Hitler I Knew. St. Paul, MN: MBI. ISBN 978-
1-85367-694-9.
Kurowski, Franz (2005). The Brandenburger
Commandos: Germany's Elite Warrior Spies
in World War II. Stackpole Military History
series. Mechanicsburg, PA: Stackpole
Books. ISBN 978-0-8117-3250-5.
Langer, Walter C. (1972) [1943]. The Mind of
Adolf Hitler: The Secret Wartime Report.
New York: Basic Books. ISBN 978-0-465-
04620-1.
Larson, Erik (2011). In the Garden of Beasts:
Love, Terror, and an American Family in
Hitler's Berlin. New York, NY: Random
House/Crown Publishing Group. ISBN 978-
0-307-40884-6.
Lichtheim, George (1974). Europe In The
Twentieth Century. London: Sphere Books.
ISBN 978-0-351-17192-5.
Linge, Heinz (2009) [1980]. With Hitler to
the End: The Memoirs of Adolf Hitler's Valet.
Intro. Roger Moorhouse. New York:
Skyhorse Publishing. ISBN 978-1-60239-
804-7.
Lipstadt, Deborah E. (2011). The Eichmann
Trial. New York: Random House. ISBN 978-
0-8052-4260-7.
Maiolo, Joseph (1998). The Royal Navy and
Nazi Germany 1933–39: Appeasement and
the Origins of the Second World War.
London: Macmillan Press. ISBN 978-0-333-
72007-3.
Manvell, Roger; Fraenkel, Heinrich (2007)
[1965]. Heinrich Himmler: The Sinister Life
of the Head of the SS and Gestapo. London;
New York: Greenhill; Skyhorse. ISBN 978-1-
60239-178-9.
Maser, Werner (1973). Hitler: Legend, Myth,
Reality. London: Allen Lane. ISBN 978-0-
7139-0473-4.
Marrus, Michael (2000). The Holocaust in
History. Toronto: Key Porter. ISBN 978-0-
299-23404-1.
McNab, Chris (2009). The Third Reich.
Amber Books Ltd. ISBN 978-1-906626-51-8.
Megargee, Geoffrey P. (2007). War of
Annihilation: Combat and Genocide on the
Eastern Front, 1941. Lanham, Md: Rowman
& Littlefield. ISBN 978-0-7425-4482-6.
Messerschmidt, Manfred (1990). "Foreign
Policy and Preparation for War". Dalam
Deist, Wilhelm. Germany and the Second
World War. 1. Oxford: Clarendon Press.
ISBN 978-0-19-822866-0.
Mitcham, Samuel W. (1996). Why Hitler?:
The Genesis of the Nazi Reich. Westport,
Conn: Praeger. ISBN 978-0-275-95485-7.
Murray, Williamson (1984). The Change in
the European Balance of Power. Princeton:
Princeton University Press. ISBN 978-0-691-
05413-1.
Naimark, Norman M. (2002). Fires of
Hatred: Ethnic Cleansing in Twentieth-
Century Europe. Harvard University Press.
ISBN 978-0-674-00994-3.
Niewyk, Donald L.; Nicosia, Francis R.
(2000). The Columbia Guide to the
Holocaust. New York: Columbia University
Press. ISBN 978-0-231-11200-0.
O'Donnell, James P. (2001) [1978]. The
Bunker. New York: Da Capo Press.
ISBN 978-0-306-80958-3.
Overy, Richard; Wheatcroft, Andrew (1989).
The Road To War. London: Macmillan.
ISBN 978-0-14-028530-7.
Overy, Richard (1999). "Germany and the
Munich Crisis: A Mutilated Victory?". Dalam
Lukes, Igor; Goldstein, Erik. The Munich
Crisis, 1938: Prelude to World War II.
London; Portland, OR: Frank Cass.
OCLC 40862187 .
Overy, Richard (1999). "Misjudging Hitler".
Dalam Martel, Gordon. The Origins of the
Second World War Reconsidered. London:
Routledge. hlm. 93–115. ISBN 978-0-415-
16324-8.
Overy, Richard (2005). The Dictators: Hitler's
Germany, Stalin's Russia. Penguin Books.
ISBN 978-0-393-02030-4.
Payne, Robert (1990) [1973]. The Life and
Death of Adolf Hitler. New York, New York:
Hippocrene Books. ISBN 978-0-88029-402-
7.
Payne, Stanley G. (2008). Franco and Hitler:
Spain, Germany, and World War II. New
Haven: Yale University Press. ISBN 978-0-
300-12282-4.
Plating, John D. (2011). The Hump:
America's Strategy for Keeping China in
World War II. Williams-Ford Texas A&M
University military history series, no. 134.
College Station: Texas A&M University
Press. ISBN 978-1-60344-238-1.
Redlich, Fritz R. (2000). Hitler: Diagnosis of
a Destructive Prophet. Oxford University
Press. ISBN 978-0-19-513631-9.
Rees, Laurence (1997). The Nazis: A
Warning From History. New York: New
Press. ISBN 978-0-563-38704-6.
Rißmann, Michael (2001). Hitlers Gott.
Vorsehungsglaube und
Sendungsbewußtsein des deutschen
Diktators (dalam bahasa German). Zürich
München: Pendo. ISBN 978-3-85842-421-1.
Roberts, G. (2006). Stalin's Wars: From
World War to Cold War, 1939–1953. New
Haven: Yale University Press. ISBN 0-300-
11204-1.
Roberts, J. M. (1996). A History of Europe.
Oxford: Helicon. ISBN 978-1-85986-178-3.
Roberts, Martin (1975). The New
Barbarism – A Portrait of Europe 1900–
1973. Oxford University Press. ISBN 978-0-
19-913225-6.
Robertson, Esmonde M. (1963). Hitler's Pre-
War Policy and Military Plans: 1933–1939.
London: Longmans. OCLC 300011871 .
Robertson, E. M. (1985). "Hitler Planning for
War and the Response of the Great
Powers". Dalam H.W, Koch. Aspects of the
Third Reich. London: Macmillan. ISBN 978-
0-312-05726-8.
Rosenbaum, Ron (1999). Explaining Hitler:
The Search for the Origins of His Evil.
Harper Perennial. ISBN 978-0-06-095339-3.
Rosmus, Anna Elisabeth (2004). Out of
Passau: Leaving a City Hitler Called Home.
Columbia, S.C: University of South Carolina
Press. ISBN 978-1-57003-508-1.
Rothwell, Victor (2001). The Origins of the
Second World War. Manchester:
Manchester University Press. ISBN 978-0-
7190-5957-5.
Rummel, Rudolph (1994). Death by
Government. New Brunswick, NJ:
Transaction. ISBN 978-1-56000-145-4.
Ryschka, Birgit (29 September 2008).
Constructing and Deconstructing National
Identity: Dramatic Discourse in Tom
Murphy's the Patriot Game and Felix
Mitterer's in Der Löwengrube. Peter Lang.
ISBN 978-3-631-58111-7.
Shirer, William L. (1960). The Rise and Fall
of the Third Reich. New York: Simon &
Schuster. ISBN 978-0-671-62420-0.
Snyder, Timothy (2010). Bloodlands: Europe
Between Hitler and Stalin. New York: Basic
Books. ISBN 978-0-465-00239-9.
Speer, Albert (1971) [1969]. Inside the Third
Reich. New York: Avon. ISBN 978-0-380-
00071-5.
Spiro, Jonathan Peter (2008). Defending the
Master Race: Conservation, Eugenics, and
the Legacy of Madison Grant. Lebanon, NH:
University Press of Vermont. ISBN 978-1-
58465-715-6.
Stackelberg, Roderick (2007). The
Routledge Companion to Nazi Germany.
New Yor: Routledge. ISBN 978-0-415-
30860-1.
Steigmann-Gall, Richard (2003). The Holy
Reich: Nazi Conceptions of Christianity,
1919–1945. Cambridge; New York:
Cambridge University Press.
doi:10.2277/978-0-521-82371-5 .
ISBN 978-0-521-82371-5.
Steinberg, Jonathan (1995). "The Third
Reich Reflected: German Civil
Administration in the Occupied Soviet
Union, 1941-4". The English Historical
Review. 110 (437): 620–651.
doi:10.1093/ehr/CX.437.620 .
OCLC 83655937 .
Steiner, John Michael (1976). Power Politics
and Social Change in National Socialist
Germany: A Process of Escalation into Mass
Destruction. The Hague: Mouton. ISBN 978-
90-279-7651-2.
Stolfi, Russel (1982). "Barbarossa Revisited:
A Critical Reappraisal of the Opening
Stages of the Russo-German Campaign
(June–December 1941)". Journal of
Modern History. 54 (1): 27–46.
doi:10.1086/244076 .
Tames, Richard (2008). Dictatorship.
Chicago: Heinemann Library. ISBN 978-1-
4329-0234-6.
Le Tissier, Tony (2010) [1999]. Race for the
Reichstag. Pen & Sword. ISBN 978-1-84884-
230-4.
Toland, John (1977) [1976]. Adolf Hitler:
The Definitive Biography. London: Book Club
Associates.
Toland, John (1992) [1976]. Adolf Hitler:
The Definitive Biography. Doubleday.
ISBN 978-0-385-42053-2.
Trevor-Roper, Hugh (1987) [1947]. The Last
Days of Hitler. Chicago: University of
Chicago Press. ISBN 978-0-226-81224-3.
Vinogradov, V. K. (2005). Hitler's Death:
Russia's Last Great Secret from the Files of
the KGB. Chaucer Press. ISBN 978-1-
904449-13-3.
Weber, Thomas (2010). Hitler's First War:
Adolf Hitler, The Men of the List Regiment,
and the First World War. Oxford; New York:
Oxford University Press. ISBN 978-0-19-
923320-5.
Weinberg, Gerhard (December 1955).
"Hitler's Private Testament of 2 May 1938".
The Journal of Modern History. 27 (4): 415–
419. doi:10.1086/237831 .
OCLC 482752575 .
Weinberg, Gerhard (December 1964).
"Hitler's Image of the United States". The
American Historical Review. 69 (4): 1006–
1021. doi:10.2307/1842933 .
Weinberg, Gerhard (1970). The Foreign
Policy of Hitler's Germany Diplomatic
Revolution in Europe 1933–1936. Chicago,
Illinois: University of Chicago Press.
ISBN 978-0-226-88509-4.
Weinberg, Gerhard (1980). The Foreign
Policy of Hitler's Germany Starting World
War II. Chicago, Illinois: University of
Chicago Press. ISBN 978-0-226-88511-7.
Weinberg, Gerhard (1995). "Hitler and
England, 1933–1945: Pretense and Reality".
Germany, Hitler, and World War II: Essays in
Modern German and World History.
Cambridge: Cambridge University Press.
ISBN 978-0-521-47407-8.
Welch, David (2001). Hitler: Profile of a
Dictator. Routledge. ISBN 978-0-415-25075-
7.
Wheeler-Bennett, John (1967). The
Nemesis of Power. London: Macmillan.
ISBN 978-1-4039-1812-3.
Wilt, Alan (December 1981). "Hitler's Late
Summer Pause in 1941". Military Affairs. 45
(4): 187–191. doi:10.2307/1987464 .
JSTOR 1987464 .
Winkler (2007). Germany: The Long Road
West. Vol. 2, 1933–1990. Sager, Alexander
(trans.). New York: Oxford University Press.
ISBN 978-0-19-926598-5.
Ziemke, Earl F. (1969). Battle for Berlin: End
of the Third Reich. Ballantine's Illustrated
History of World War II. Battle Book #6.
Ballantine Books. OCLC 23899 .

Online
Bazyler, Michael J. (25 December 2006).
"Holocaust Denial Laws and Other
Legislation Criminalizing Promotion of
Nazism" (PDF). Yad Vashem. Diakses
tanggal 7 January 2013.
"Parkinson's part in Hitler's downfall" . BBC
News. 29 July 1999. Diakses tanggal 13
June 2011.
"1933 – Day of Potsdam" . City of Potsdam.
Diakses tanggal 13 June 2011.
"Documents: Bush's Grandfather Directed
Bank Tied to Man Who Funded Hitler" . Fox
News. 17 October 2003. Diakses tanggal 16
October 2011.
"Hitler's Last Days" . mi5.gov.uk. MI5
Security Service. Diakses tanggal 5 January
2012.
Evans, Richard J. (22 June 2011). "How the
First World War shaped Hitler" . The Globe
and Mail. Phillip Crawley. Diakses tanggal
23 September 2012.
Frauenfeld, A. E (August 1937). "The Power
of Speech" . Calvin College. Diakses
tanggal 19 October 2011.
Glantz, David (11 October 2001). "The
Soviet‐German War 1941–45: Myths and
Realities: A Survey Essay" (pdf). Clemson,
SC: Strom Thurmond Institute of
Government and Public Affairs, Clemson
University. Diakses tanggal 12 December
2012.
Goebbels, Joseph (1936). "The Führer as a
Speaker" . Calvin College. Diakses tanggal
19 October 2011.
Hinrichs, Per (10 March 2007). "Des Führers
Pass: Hitlers Einbürgerung" (dalam bahasa
German). Spiegel Online. Diakses tanggal
16 October 2011.
Kotanko, Florian. "House of
Responsibility" . Diakses tanggal 08
January 2013.
"Introduction to the Holocaust" . United
States Holocaust Memorial Museum.
Diakses tanggal 17 October 2011.
"Eingabe der Industriellen an Hindenburg
vom November 1932" . Glasnost–Archiv.
Diakses tanggal 16 October 2011.
McMillan, Dan (2012). "Review of Fritz,
Stephen G., Ostkrieg: Hitler's War of
Extermination in the East" . H-Genocide, H-
Net Reviews. Diakses tanggal 16 October
2012.
"Der Hitler-Prozeß vor dem Volksgericht in
München" (dalam bahasa German). 1924.
Office of Strategic Services (1945). "The
Nazi Master Plan: The Persecution of the
Christian Churches" . Rutgers Journal of
Law and Religion. Ithaca, NY: Cornell Law
Library: 6–7. OCLC 320083040 .
"Hitler ersucht um Entlassung aus der
österreichischen Staatsangehörigkeit"
(dalam bahasa German). NS-Archiv. 7 April
1925. Diakses tanggal 13 April 2012.
Sharkey, Joe (13 January 2002). "Word for
Word/The Case Against the Nazis; How
Hitler's Forces Planned To Destroy German
Christianity" . The New York Times. Diakses
tanggal 7 June 2011.
"Leni Riefenstahl" . The Daily Telegraph.
London: TMG. 10 September 2003.
ISSN 0307-1235 . OCLC 49632006 .
Diakses tanggal 14 December 2011-12-14.
"Man of the Year" . Time Magazine. Time. 2
January 1939. Diarsipkan dari versi asli
tanggal 7 June 2008. Diakses tanggal 22
May 2008.
"Seven Years War?" . Time Magazine. Time.
2 October 1939. Diakses tanggal 30 August
2008.
"Germany: Second Revolution?" . Time
Magazine. Time. 2 July 1934. Diakses
tanggal 17 October 2011.
"Poles: Victims of the Nazi Era: The
Invasion and Occupation of Poland" .
ushmm.org. United States Holocaust
Memorial Museum. Diakses tanggal 15
December 2011.
Wilson, Bee (9 October 1998). "Mein Diat –
Adolf Hitler's diet" . New Statesman. UK:
Questia. Diakses tanggal 22 May 2008.
(perlu berlangganan)
Yad Vashem Martyrs' and Heroes'
Remembrance Authority (2006). Yad
Vashem Studies. 34. Jerusalem: Yad
Vashem. OCLC 610688434 .
"How many Jews were murdered in the
Holocaust? How do we know? Do we have
their names?" . Yad Vashem. Diakses
tanggal 10 January 2013.

Pranala luar
Cari tahu mengenai Adolf Hitler pada
proyek-proyek Wikimedia lainnya:
Definisi dan terjemahan dari Wiktionary
Gambar dan media dari Commons
Berita dari Wikinews
Kutipan dari Wikiquote
Teks sumber dari Wikisource
Buku dari Wikibuku

(Inggris) Karya atau profil mengenai


Adolf Hitler di perpustakaan (katalog
WorldCat)
(Inggris) Adolf Hitler di Internet Movie
Database – real life footage in
documentaries
(Inggris) Adolf Hitler (Character) pada
Internet Movie Database – as
portrayed in film and TV
"Adolf Hitler" . The Vault. FBI Records.
"Hitler and his officers" . World War II
Movies in Color. WW2inColor.
Jabatan politik

Didahului
Reichsstatthalter Diteruskan 
oleh:
Prusia Jabatan
Jabatan
1933–1935 dihapus
dibentuk

Didahului
Kanselir Diteruskan 
oleh:
Jerman(1) Joseph
Kurt von
1933–1945 Goebbe
Schleicher

Didahului
oleh: Diteruskan 
Paul von Führer Jerman(1) Karl Döni
Hindenburg 1934–1945 sebaga
sebagai Preside
Presiden

Jabatan partai politik


Didahului Ketua NSDAP Diteruskan 
oleh: 1921–1945 Martin
Anton Borman
Drexler

Jabatan militer

Didahului
oleh:
Ketua SA Diteruskan 
Franz
1930–1945 Dihapus
Pfeffer von
Salomon

Didahului Oberbefehlshaber
Diteruskan 
oleh: des Heeres
Ferdinan
Walther von (Komandan AD)
Schörne
Brauchitsch 1941–1945

Gelar kehormatan

Didahului Time Person of Diteruskan 


oleh: the Year Joseph St
Chiang Kai- 1938
shek dan
Soong
May-ling

Catatan dan referensi

1. Jabatan Kepala Negara dan Pemerintaha


digabung pada 1934–1945 untuk jabatan
Führer dan Kanselir Jerman

Diperoleh dari
"https://id.wikipedia.org/w/index.php?
title=Adolf_Hitler&oldid=14791770"
Terakhir disunting 3 bulan yang lal…

Konten tersedia di bawah CC BY-SA 3.0 kecuali


dinyatakan lain.