Sei sulla pagina 1di 30

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


Sampai saat ini penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan dunia terutama di negara
berkembang.Besarnya masalah tersebut terlihat dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat
diare (Salwan, 2008). Dari tahun ke tahun diare tetap menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan
mortalitas dan malnutrisi pada anak
Diare atau dikenal dengan sebutan mencret memang merupakan penyakit yang masih banyak
terjadi pada masa kanak dan bahkan menjadi salah satu penyakit yang banyak menjadi penyebab
kematian anak yang berusia di bawah lima tahun (balita). Karenanya, kekhawatiran orang tua terhadap
penyakit diare adalah hal yang wajar dan harus dimengerti. Justru yang menjadi masalah adalah
apabila ada orang tua yang bersikap tidak acuh atau kurang waspada terhadap anak yang mengalami
diare.
Menurut data World Health Organization(WHO) pada tahun 2009, diare adalah penyebab
kematian kedua pada anak dibawah 5 tahun.Secara global setiap tahunnya ada sekitar 2 miliar kasus
diare dengan angka kematian 1.5 juta pertahun. Pada negara berkembang, anak-anak usia dibawah 3
tahun rata-rata mengalami 3 episode diare pertahun. Setiap episodenya diare akan menyebabkan
kehilangan nutrisi yang dibutuhkan anak untuk tumbuh, sehingga diare merupakan penyebab utama
malnutrisi pada anak (WHO, 2009).
Untuk skala nasional berdasarkan data dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2008, penderita
diare pada tahun tersebut adalah 8.443 orang dengan angka kematian akibat diare adalah 2.5%.Angka
ini meningkat dari tahun sebelumnya, yaitu 1.7% dengan jumlah penderita diare adalah 3.661
orang.Untuk tahun 2006, penderita diare di Indonesia adalah 10.280 orang dengan angka kematian
2.5%.
Berbagai faktor mempengaruhi terjadinya kematian, malnutrisi, ataupun kesembuhan pada
pasien penderita diare.Diare disebabkan faktor cuaca, lingkungan, dan makanan.Perubahan iklim,
kondisi lingkungan kotor, dan kurang memerhatikan kebersihan makanan merupakan faktor utamanya.
Penularan diare umumnya melalui 4F, yaitu Food, Fly , Feces, dan Finger. Pada balita, kejadian diare
lebih berbahaya dibanding pada orang dewasa dikarenakan komposisi tubuh balita yang lebih banyak
mengandung air dibanding dewasa.Jika terjadi diare, balita lebih rentan mengalami dehidrasi dan
komplikasi lainnya yang dapat merujuk pada malnutrisi ataupun kematian.

1
Oleh karena itu, upaya pencegahan diare yang praktis adalah dengan memutus rantai
penularan tersebut. Sesuai data UNICEF awal Juni 2010, ditemukan salah satu pemicu diare baru,
yaitu bakteri Clostridium difficile yang dapat menyebabkan infeksi mematikan di
saluranpencernaan..Bakteri ini hidup di udara dan dapat dibawa oleh lalat yang hinggap di makanan.

1.2TUJUAN PENULISAN
1.2.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan pada anak dengan diare
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui Pengertian Diare
b. Untuk mengetahui Etiologi Diare
c. Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Diare
d. Untuk Mengetahui Pemeriksaan Diagnostik
e. Untuk mengetahui Pengobatan Diare
f. Untuk mengetahui Komplikasi Diare

1.3 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian diare anak
2. Apa etiologi diare anak
3. Apa manifestasi klinis diare anak
4. Apa saja pemeriksaan diagnostic pada diare anak
5. Bagaimana pengobatan diare pada anak
6. Apa saja komplikasi diare pada anak

1.4 Metode Penulisan


Metode yang dipakai dalam makalah ini adalah metode pustaka, yaitu metode yang dilakukan
dengan mempelajari dan mengumpulkan data dari internet yang berhubungan dengan penyakit diare,
baik berupa buku maupun informasi di internet.

1.5 Manfaat Penulisan

1. Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan pada anak diare


2. Mahasiswa dapat menggunakannya sebagai bahan pengajaran di bidang pendidikan
kesehatan maupun dibidang penelitian-penelitian.

2
BAB II

TINJUAN TEORITIS

2.1 Konsep Kasus


a. Definisi
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih banyak dari biasanya
(normal 100-200 cc/jam tinja), dengan tinja berbentuk cair atau setengah padat, dapat disertai
frekuensi yang meningkat (Markum, 2008). Menurut WHO (2014), diare adalah buang air besar
encer lebih dari 3 x sehari dan diare terbagi 2 berdasarkan mula dan lamanya , yaitu diare akut
dan kronis.
Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal atau tidak seperti
biasanya, dimulai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi lebih dari 3 kali sehari
dan pada neonatus lebih dari 4 kali sehari dengan atau tanpa lendir dan darah (Alimul H, 2006).
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali
pada anak, konsistensi feces encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan
darah atau lendir saja (Potter & Perry. 2006)
Diare adalah kondisi yang didefinisikan oleh peningkatan frekwensi defekasi (lebih dari 3kali
sehari), peningkatan jumlah feses (lebih dari 200g per hari) dan perubahan konsistensi (cair)
(Brunner&Suddart, 2014).
Dapat disimpulkan diare akut adalah inflamasi lambung dan usus yang disebabkan oleh
berbagai bakteri, virus, dan pathogen,yang di tandai dengan bertambahnya frekuensi defekasi
lebih dari biasanya (> 3 kali/hari) disertai perubahan konsistensi tinja (menjadi cair), Diare juga
dapat terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat dan pada neonatus lebih dari 4 kali
sehari dengan atau tanpa lendir dan darah.
b. Etiologi
Etilogi diare menurut Brunner & Suddart (2014):
1. Faktor infeksi : Bakteri (Shigella, Shalmonella, Vibrio kholera), Virus (Enterovirus), parasit
(cacing), Kandida (Candida Albicans).
2. Faktor parentral : Infeksi dibagian tubuh lain (OMA sering terjadi pada anak-anak).
3. Faktor malabsorbsi : Karbihidrat, lemak, protein.
4. Faktor makanan : Makanan basi, beracun, terlampau banyak lemak, sayuran dimasak kutang
matang.

3
5. Faktor Psikologis : Rasa takut, cemas.
6. Medikasi tertentu, formula untuk pemberian makanan melalui selang, gangguan metabolisme
dan endokrin, deficit sfingter anal, sindrom Zollinger-Ellison, ileus paralitik, AIDS, dan obstruksi
usus.

c. Tanda dan Gejala


Tanda dan Gelaja diare menurut Brunner & Suddart (2014):
1. Peningkatan frekwensi defekasi dan kandungan cairan dalam feses
2. Kram abdomen, distensi, gemuruh di usus (borborigmus), anoreksia dan rasa haus, kontraksi
anus dan nyeri serta mengejan yang tidak efektif (tenemus) setiap kali defekasi.
3. Feses cair, yang mengindikasikan penyakit pada usus kecil
4. Feses semi padat, lunak yang disebakan oleh gangguan pada usus besar
5. Terdapat lender, darah, dan nanah dalam feses, yang menunjukan kolitis atau inflamasi
6. Cipratan minyak pada cairan toilet, yang merupakan diagnosis insufisiensi pancreas dan diare
nokturnal, yang merupakan manifestasi neuropatik diabetik.
d. Anatomi Fisiologi Terkait Kasus
Sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari mulut sampai anus) adalah
sistem organ dalam manusia yang berfungsi untuk menerima makanan, mencernanya menjadi
zat-zat gizi dan energi, menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut dari tubuh. Saluran
pencernaan terdiri dari mulut, tenggorokan (faring), kerongkongan, lambung, usus halus, usus
besar, rektum dan anus.Sistem pencernaan juga meliputi organ-organ yang terletak diluar
saluran pencernaan, yaitu pankreas, hati dan kandung empedu. Adapun sistem organ
pencernaan atau sistem gastrointestinal yaitu :
a. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air pada manusia dan
hewan.Mulut biasanya terletak di kepala dan umumnya merupakan bagian awal dari
sistem pencernaan lengkap yang berakhir di anus.
b. Tenggorokan (Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan.
c. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan
mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung.

4
d. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar dan berbentuk seperti kandang keledai.
Terdiri dari 3 bagian yaitu :kardia, fundus, antrum. Makanan masuk ke dalam lambung
dari kerongkongan melalui otot berbentuk cincin (sfinter), yang bisa membuka dan
menutup.Dalam keadaan normal, sfinter menghalangi masuknya kembali isi lambung ke
dalam kerongkongan.Lambung berfungsi sebagai gudang makanan, yang berkontraksi
secara ritmik untuk mencampur makanan dengan enzim-enzim.
e. Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang terletak di
antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh darah yang
mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui vena porta. Usus halus terdiri dari tiga
bagian yaitu usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus
penyerapan (ileum).
1) Usus dua belas jari (duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus yang terletak
setelah lambung dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
2) Usus kosong (jejenum)
Usus kosong atau jejunum (terkadang sering ditulis yeyunum) adalah bagian kedua
dari usus halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan (ileum).
3) Usus Penyerapan (illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus.
f. Usus Besar (colon)
Usus besar atau colon dalam anatomi adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum.Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses.Usus besar terdiri dari
Kolon asendens (kanan), Kolon transversum, Kolon desendens (kiri) dan Kolon sigmoid
(berhubungan dengan rektum).
g. Usus Buntu (sekum)
Usus buntu atau sekum dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung
pada usus penyerapan serta bagian colon menanjak dari usus besar.
h. Umbai Cacing (appendix)
Umbai cacing atau appendix adalah organ tambahan pada usus buntu.Infeksi pada
organ ini disebut apendisitis atau radang umbai cacing.

5
i. Anus (rektum)
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah colon
sigmoid) dan berakhir di anus.Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan
sementara feses.Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini,
tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB.Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan,
dimana bahan limbah keluar dari tubuh.Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh
(kulit) dan sebagian lannya dari usus.Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot
springter.Feses dibuang dari tubuh melalui proses buang air besar ( defekasi) yang
merupakan fungsi utama anus.

3. Patofisiologi
Diare sekresi merupakan diare dengan volume banyak yang disebabkan oleh peningkatan
produksi dan sekresi air serta elektrolit oleh mukosa usus ke dalam lumen usus. Diare osmotik
terjadi bila air terdorong ke dalam lumen usus oleh tekanan osmotik dari partikel yang tidak dapat
diabsorpsi, sehingga reabsorpsi air menjadi lambat.Sebagai akibat dari diare baik akut maupun
kronik akan terjadi :
1. Kehilangan air (dehidrasi) terjadi akibat pengeluaran air lebih banyak dari pemasukan air, hal
ini merupakan penyebab kematian pada diare.
2. Gangguan keseimbangan asam basa (asidosis metabolik), terjadi karena kehilangan natrium
bikarbonat bersama tinja, penimbunan asam laktat karena anoksia jaringan, produk
metabolisme yang bersifat asam meningkat karena tidak dapat dikeluarkan ginjal
(oligouria/anuria), pemindahan ion natrium dari ekstrasel ke dalam intrasel. Secara klinis
asidosis dapat dilihat dari pernapasan kussmaul.
3. Gangguan sirkulasi terjadi sebagai akibat diare dengan atau tanpa muntah, dapat terjadi
gangguan sirkulasi berupa renjatan (syok) hipovolemik. Akibatnya perfusi jaringan berkurang
dan terjadi hipoksia, asidosis bertambah berat dan dapat mengakibatkan perdarahan otak,
kesadaran menurun dan bila tidak ditangani segera akan terjadi kematian.
4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium :
- feses kultur : Bakteri, virus, parasit, candida
- Serum elektrolit : Hipo natremi, Hipernatremi, hipokalemi
- AGD : asidosis metabolic ( Ph menurun, pO2 meningkat, pcO2 meningkat, HCO3

6
menurun)
- Faal ginjal : UC meningkat (GGA)
b. Radiologi : mungkin ditemukan bronchopemoni

5. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis menurut Brunner & Suddart (2014):
a. Penatalaksanaan medis primer diarahkan pada upaya mengontrol gejala, mencegah
komplikasi, dan menyingkirkan atau mengatasi penyakit penyebab
b. Medikasi tertentu (misalkan pemberian antibiotic, agens anti-imflamasi) dan antidiare
(misalkan pemberian loperamida (imodium)), defiknosilit (limotil) dapat mengurangi tingkat
keparahan diare.
c. Menambah cairan oral, larutan elektrolit dan glukosa oral dapat diprogramkan
d. Antimikroba diprogramkan ketika agens infeksius telah teridentifikasi atau diare tergolong
berat
e. Terapi IV digunakan untuk tindakan hidrasi cepat pada pasien yang sangat muda atau pasien
lansia.
f. Terapi obat menurut Markum (2008):
- obat anti sekresi : Asetosal, 25 mg/hari dengan dosis minimal 30 mg klorpromazine 0,5 –
1 mg / kg BB/hari
- obat anti spasmotik : Papaverin, opium, loperamide
- antibiotik : bila penyebab jelas, ada penyakit penyerta

h. Komplikasi
1. Dehidrasi( ringan, sedang, berat, hipotnik, isotonik, hipertonik).
2. Renjatan Hipovolemik
3. Hipokalemia(meteorismus,hipotoniotot,lemah,bradikardi,perubahan elektrokardiogram)
4. Hipoglikemia
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.
6. Kejang terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi energy protein, (akibat muntah dan diare jika lama atau kronik)

7
i. Pencegahan primer, sekunder dan tersier
1. Pencegahan primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada faktor penyebab, lingkungan dan
faktor pejamu.Untuk faktor penyebab dilakukan berbagai upaya agar mikroorganisme penyebab
diare dihilangkan.Peningkatan air bersih dan sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis
dilakukan untuk memodifikasi lingkungan.Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari pejamu
maka dapat dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi.
2. Pencegahan sekunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah menderita diare atau yang
terancam akan menderita yaitu dengan menentukan diagnosa dini dan pengobatan yang cepat
dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping dan komplikasi. Prinsip pengobatan
diare adalah mencegah dehidrasi dengan pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab
diare.Diare dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai
radang.Pengobatan yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien.Obat diare dibagi
menjadi tiga, pertama kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri atau
parasit, obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang membantu
menghilangkan kejang perut yang tidak menyenangkan.Sebaiknya jangan mengkonsumsi
golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan menentukan obat yang disesuaikan
dengan penyebab diarenya misal bakteri, parasit. Pemberian kemoterapeutika memiliki efek
samping dan sebaiknya diminum sesuai petunjuk dokter (Fahrial Syam, 2006).
3. Pencegahan tersier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami kecatatan dan
kematian akibat dehidrasi. Jadi pada tahap ini penderita diare diusahakan pengembalian fungsi
fisik, psikologis semaksimal mungkin.Pada tingkat ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk
mencegah terjadinya akibat samping dari penyakit diare.Usaha yang dapat dilakukan yaitu
dengan terus mengkonsumsi makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan.Rehabilitasi
juga dilakukan terhadap mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut
memberikan dukungan secara mental kepada anak.Anak yang menderita diare selain
diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan kebutuhan sosial
dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman sepermainan.

8
3.2 Konsep Asuhan Keperawatan Terkait Kasus (Berbasis NANDA NIC NOC)
a. Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah pertama dari prioritas keperawatan dengan
pengumpulan data-data yang akurat dari klien sehingga akan diketahui berbagai
permasalahan yang ada. (Hidayat, 2004 : 98)

Adapun hal-hal yang dikaji meliputi :

1. Identitas Klien
- Data umum meliputi : ruang rawat, kamar, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor
medical record.
- Identitas klien
Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan
gaya hidup.

2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Bab cair lebih dari 3x.

b. Riwayat Keperawatan Sekarang


Pada umumnya anak masuk rumah sakit dengan keluhan BAB cair berkali-
kali baik desertai atau tanpa dengan muntah, tinja dapat bercampur lendir dan atau
darah. Keluhan lain yang mungkin didapatkan adalah napsu makan menurun, suhu
badan meningkat, volume diuresis menurun dan gejala penurunan kesadaran.
c. Riwayat Keperawatan Dahulu
Pernah mengalami diare sebelumnya, pemakian antibiotik atau
kortikosteroid jangka panjang (perubahan candida albicans dari saprofit menjadi
parasit), alergi makanan, dll.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi pengkajian pengkajian komposisi keluarga, lingkungan rumah dan
komunitas, pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga, fungsi dan hubungan angota
keluarga, kultur dan kepercayaan, perilaku yang dapat mempengaruhi kesehatan,
persepsi keluarga tentang penyakit klien dan lain-lain.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum : klien lemah, lesu, gelisah, kesadaran turun

9
b. Pengukuran tanda vital meliputi : Tekanan Darah, Nadi, Respirasi dan suhu tubuh.
c. Keadaan sistem tubuh
- Mata : cekung, kering, sangat cekung
- Sistem pencernaan : mukosa mulut kering, distensi abdomen, peristaltic
meningkat > 35 x/mnt, nafsu makan menurun, mual muntah, minum normal atau
tidak haus, minum lahap dan kelihatan haus, minum sedikit atau kelihatan tidak
bisa minum
- Sistem Pernafasan : dispnea, pernafasan cepat > 40 x/mnt karena asidosis
metabolic (kontraksi otot pernafasan)
- Sistem kardiovaskuler : nadi cepat > 120 x/mnt dan lemah, tensi menurun pada
diare sedang .
- Sistem integumen : warna kulit pucat, turgor menurun > 2 detik, suhu
meningkat > 375 0 c, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary refill
time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
- Sistem perkemihan : oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam).

b. Perumusan Diagnosa Keperawatan


1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
skunder terhadap diare.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare / output
berlebih dan intake yang kurang.
3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi sekunder terhadap
diare
4. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan peningkatan frekuensi diare.

c. Perencanaan Keperawatan
1. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan kehilangan cairan
skunder terhadap diare
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam keseimbangan dan
elektrolit dipertahankan secara maksimal

10
Kriteria hasil :

o Tanda vital dalam batas normal (N: 120-60 x/mnt, S; 36-37,50 c, RR : <24x/mnt)
o Turgor elastik , membran mukosa bibir basah, mata tidak cekung, UUB tidak
cekung.
o Konsistensi BAB lembek, frekwensi 1 kali perhari.
Intervensi :

a. Pantau tanda dan gejala kekurangan cairan dan elektrolit


R/ Penurunan sisrkulasi volume cairan menyebabkan kekeringan mukosa dan
pemekataj urin. Deteksi dini memungkinkan terapi pergantian cairan
segera untuk memperbaiki defisit

b. Pantau intake dan output


R/ Dehidrasi dapat meningkatkan laju filtrasi glomerulus membuat keluaran tak
aadekuat untuk membersihkan sisa metabolisme.

c. Timbang berat badan setiap hari


R/ Mendeteksi kehilangan cairan , penurunan 1 kg BB sama dengan kehilangan
cairan 1 lt.

d. Anjurkan keluarga untuk memberi minum banyak pada klien, 2-3 lt/hr
R/ Mengganti cairan dan elektrolit yang hilang secara oral

e. Kolaborasi :
1. Pemeriksaan laboratorium serum elektrolit (Na, K,Ca, BUN)
R/ Koreksi keseimbang cairan dan elektrolit, BUN untuk mengetahui faal
ginjal (kompensasi).

2. Cairan parenteral ( IV line ) sesuai dengan umur


R/ Mengganti cairan dan elektrolit secara adekuat dan cepat.

3. Obat-obatan : (antisekresin, antispasmolitik, antibiotik)


R/ Anti sekresi untuk menurunkan sekresi cairan dan elektrolit agar seimbang,
antispasmolitik untuk proses absorbsi normal, antibiotik sebagai anti
bakteri berspektrum luas untuk menghambat endotoksin.

11
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan diare/output
berlebih dan tidak adekuatnya intake.
Tujuan :Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x24 jam di RS kebutuhan
nutrisi terpenuhi

Kriteria :

- Nafsu makan meningkat


- BB meningkat atau normal sesuai umur
Intervensi :

1) Diskusikan dan jelaskan tentang pembatasan diet (makanan berserat tinggi,


berlemak dan air terlalu panas atau dingin)
R/ Serat tinggi, lemak,air terlalu panas / dingin dapat merangsang mengiritasi
lambung dan sluran usus.

2) Ciptakan lingkungan yang bersih, jauh dari bau yang tak sedap atau sampah,
sajikan makanan dalam keadaan hangat
R/ situasi yang nyaman, rileks akan merangsang nafsu makan.

3) Berikan jam istirahat (tidur) serta kurangi kegiatan yang berlebihan


R/ Mengurangi pemakaian energi yang berlebihan

4) Monitor intake dan out put dalam 24 jam


R/ Mengetahui jumlah output dapat merencenakan jumlah makanan.

5) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :


- terapi gizi : Diet TKTP rendah serat
- obat-obatan atau vitamin
R/ Mengandung zat yang diperlukan oleh tubuh

3. Resiko peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi dampak sekunder
dari diare
Tujuan : Stelah dilakukan tindakan perawatan selama 3x 24 jam tidak terjadi
peningkatan suhu tubuh

Kriteria hasil :

12
- Suhu tubuh dalam batas normal ( 36-37,5 C)
- Tidak terdapat tanda infeksi (rubur, dolor, kalor, tumor, fungtio laesa)
Intervensi :

1) Monitor suhu tubuh setiap 2 jam


R/ Deteksi dini terjadinya perubahan abnormal fungsi tubuh ( adanya infeksi)

2) Berikan kompres hangat


R/ Merangsang pusat pengatur panas untuk menurunkan produksi panas tubuh

3) Kolaborasi pemberian antipirektik


R/ Merangsang pusat pengatur panas di otak

4. Resiko gangguan integritas kulit perianal berhubungan denganpeningkatan frekuensi


BAB (diare)
Tujuan :Setelah dilakukan tindaka keperawatan selama 3 x 24 jam integritas kulit tidak
terganggu

Kriteria hasil :

- Tidak terjadi iritasi : kemerahan, lecet, kebersihan terjaga


- Keluarga mampu mendemontrasikan perawatan perianal dengan baik dan benar
Intervensi :

1) Diskusikan dan jelaskan pentingnya menjaga tempat tidur


R/ Kebersihan mencegah perkembang biakan kuman

2) Demontrasikan serta libatkan keluarga dalam merawat perianal (bila basah dan
mengganti pakaian bawah serta alasnya)
R/ Mencegah terjadinya iritassi kulit yang tak diharapkan oleh karena kelebaban
dan keasaman feces

3) Atur posisi tidur atau duduk dengan selang waktu 2-3 jam
R/ Melancarkan vaskulerisasi, mengurangi penekanan yang lama sehingga tak
terjadi iskemi dan iritasi .

13
BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kasus
Seorang anak laki-laki bernama An. R berusia 11 bulan ditemani ibunya datang ke RS
Kuningan dengan keluhan utama BAB cair. Pasien mengalami muntah sebanyak 2x. Ibu pasien
mengatakan sejak semalam anaknya mencret lebih dari 3x dengan konsistensi cair sehingga
anak rewel, gelisah dan suka menangis, sebelumnya anak lincah suka bermain dan anaknya
pernah menderita mencret sepeti ini, pengobatannya pun hanya menggunakan obat warung saja.
Dari hasil pengkajian ibu pasien mengatakan anaknya hanya mau minum asi sedikit.

Hasil pemeriksaan fisik didapatkan frekuensi nafas 30x/menit, nadi 115x/menit, BB 6,8 kg ,
suhu 36°C, mukosa bibir tampak kering dan daerah anoginetal tampak kemerahan. Menurut
dokter saat ini pasien di diagnosa diare.

14
3.2 Pembahasan Kasus
A. Pengkajian
1. Biodata
a. IdentitasKlien
Nama : An. R

Jeniskelamin : laki-laki

Umur : 11 bulan

Agama : tidak ada data

Pekerjaan : tidak ada data

Pend. Terakhir : tidak ada data

Suku/bangsa : tidak ada data

Gol. Darah : tidak ada data

Alamat : tidak ada data

Diagnosa mendis : tidak ada data

Tanggalmasukrs : tidak ada data

Tgl. Pengkajian : tidak ada data

b. Identitaspenanggungjawab
Nama : tidak ada data
Umur : tidak ada data
Alamat : tidak ada data
Pekerjaan : tidak ada data
Hubungan : tidak ada data
2. Keluhan Utama :
Bab cair lebih dari 3x
3. Riwayat Kesehatan Saat Ini :
Sejak semalam anak mencret lebih dari 3x dengan konsistensi cair sehingga anak rewel

15
4. Riwayat Kesehatan Masa Lalu :
Ibu pasien mengatakan anaknya pernah menderita mencret seperti ini, dan pengobatannya
hanya menggunakan obat warung saja
5. Riwayat Kesehatan Keluarga :
Tidak ada data -.
6. Kedaaan Umum
a. Penampilan Umum : compos mentis
b. Tanda-Tanda Vital
1) Nadi : 115x/menit
2) Suhu : 36 oc
3) RR : 30x/menit
4) BB : 6,8 kg
7. Riwayat Psikososial
a. Kemampuan mengenal masalah kesehatan
Tidak ada data
b. Konsepdiri
Tidak ada data
c. Sumber stress
Tidak ada data
d. Mekanisme koping
Tidak ada data
e. Kebiasaandanpengaruhbudaya
Sebelumnya anak lincah suka bermain, namun pada saat ini anak rewel gelisah dan suka
menangis
8. Dukunganemosional
a. Emosional
Tidak ada data
b. Finansial
Tidak ada data

16
9. Pola aktifitas
No JenisAktivitas Saat di Rumah Di RS

1. Nutrisi :
a. Frekuensi dan porsi Tidak ada data Tidak ada data
b. Jenis makanan Tidak ada data Tidak ada data
c. Pola makan Tidak ada data Tidak ada data
d. Nafsu makan Tidak ada data Tidak ada data
e. Pantangan Tidak ada data Tidak ada data
f. Alergi Tidak ada data Tidak ada data
g. Kesulitan/hambatan Tidak ada data Tidak ada data

2. Minum :
a. Jenis air minum asi Asi
b. Frekuensi dan porsi Tidak ada data Tidak ada data
c. Kesulitan Tidak ada data Tidak ada data

3. Personal hygine :
a. Frekuensi mandi Tidak ada data Tidak ada data
b. Frekuensi keramas Tidak ada data Tidak ada data
c. oral hygine Tidak ada data Tidak ada data

4. Eliminasi :
a. Eliminasi fecal
1) Frekuensi BAB 2-3x sehari ±3x sehari
2) Warna feces Tidak ada data Tidak ada data
3) Konsistensi normal cair
b. EliminasiUrin :
1) Frekuensi BAK Tidak ada data Tidak ada data
2) Warnaurin Tidak ada data Tidak ada data
3) Konsistensi Tidak ada data Tidak ada data

5. Istirahat/tidur :
a. Kualitas Tidak ada Tidak ada data
b. Kuantitas Tidak ada data

17
tidak ada data

6. Latihan/olah raga
a. Jeniskegiatan Tidak ada data Tidak ada data
b. Sikap Tidak ada data Tidak ada data

1. Pemeriksaan Head to toe


No Jenis Inspeksi Palpasi Auskultasi Perkusi

1 Kepala Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

2 Wajah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

Mata Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

Lidah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

3 Leher Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

4 Dada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada


data data data data

5 Abdomen Tidak ada Turgor Bising usus Timpani


data elastic 25x/menit
6 Eksremitas
a. Atas Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

18
data data data data
b. Bawah
7 Kulit Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada
data data data data

8 Anugenital Terlihat Tidak ada Tidak ada Tidak ada


kemerahan data data data

2. PemeriksaanPenunjang
a. PemeriksaanLaboratorium
No Jenis Pemeriksaan Nilai Hasil Nilai Normal Interpretasi

1 HB Tidak ada data Tidak ada data Tidak ada data


2 HT Tidak ada data Tidak ada data Tidak ada data
3 LEUKOSIT Tidak ada data Tidak ada data Tidak ada data

b. Radiologi
Tidak ada data
c. Terapi Obat - obatan
- Tidak ada data

d. Terapi Lain
- Tidakada data

19
B. Diagnosa Keperawatan
12. Analisa Data
No Data Etiologi Masalah

1. DS : Diare Kekurangan volume cairan

- Ibu mengatakan
Frekuensi BAB meningkat
anaknya mencret lebih
dari 3x dengan Hilang cairan dan elektrolit
konsentrasi cair berlebihan
- Ibu klien mengatakan
Gangguan keseimbangan cairan
klien hanya minum ASI
dan elektrolit
DO :
Dehidrasi
- Mukosa bibir kering
Kekurangan volume cairan

2. DS : Diare Kerusakan Integritas kulit

- Ibu klien mengatakan


Frekuensi BAB meningkat
bahwa anaknya
mencret lebih dari 3x Hilang cairan dan elektrolit
cair berlebihan

DO : Kerusakan integritas kulit

- Daerah anogenital
tampak kemerahan

20
3. DS : Ketidak seimbangan
Diare nutrisi
- ibu pasien
mengatakan
Distesi Abdomen
anaknya hanya
mau minum asi
Mual muntah
sedikit

DO : Ketidakseimbangan nutrisi

- BB 6,8 kg

1. Diagnosa Keperawatan (NANDA)


1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif
2) kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan ekskresi/BAB sering
3) ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan intake makanan

C. Perencanaan Keperawatan
No. DIAGNOSA NOC NIC

1 Kekurangan volume Tujuan; 1. Monitor status


cairan berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan dehidrasi
dengan kehilangan selama 2x24 jam (kelembaban
cairan aktif Kriteria hasil : membrane mukosa,
DS : nadi adekuat,
- mempertahankan urine output sesuai
tekanan darah
- Ibu mengatakan dengan usia dan BB, BJ urine normal, HTa
ortostatik), jika
anaknya mencret normal
diperlukan
lebih dari 3x - tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam
2. Pertahankan catatan
dengan konsentrasi batas normal
intake dan output

21
cair - tidak ada tanda dehidrasi, elastisitas yang akurat
- Ibu pasien turgor kulit baik, membrane mukosa 3. Kolaborasi dengan
mengatakan lembab, tidak adarasa haus yang berlebih dokter
anaknya hanya berlebih
mau minum asi
sedikit

DO :
- tampak mukosa
bibir kering

2 kerusakan intergritas Tujuan; 1. Jaga kebersihan


kulit berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan kulit agar tetap
dengan ekskresi/BAB selama 2x24 jam diharapkan daerah bersih dan kering
sering anogenital tidak tampak merah 2. Monitor kulit akan
- DS: Ibu klien Kriteria hasil: adanya kemerahan
mengatakan bahwa - Intergritas kulit yang baik bisa 3. Monitor adanya
anaknya mencret dipertahankan (sensasi elastistatis, kesembuhan area
lebih dari 3x cair temperature, hidrasi, pegmentasi) anogenital
- Tidak ada luka/lesi pada kulit
DO:
- Perfusi jaringan baik
- Daerah anogenital - Menunjukan pemahaman dalam proses
tampak perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
kemerahan sedera berulang
- Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami
3 Ketidakseimbangan Tujuan; 1. Berikan informasi
nutrisi kurang dari Setelah dilakukan tindakan keperawatan tentang
kebutuhan tubuh selama 2x24 jam diharapkan kebutuhan kebutuhan nutrisi
berhubuungan nutrisi pasien seimbang 2. Monitor adanya
dengan penurunan Kriteria hasil: penurunan berat
intake makanan - Adanya peningkatan berat badan sesuai badan

22
DS : dengan tujuan 3. Berikan makanan
- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi yang terpilih
- ibu pasien
badan (sudang
mengatakan
- Tidak ada tanda tanda malnutrisi dikonsultasikan
anaknya hanya
- Menunjukan peningkatan fungsi dengan ahli gizi)
mau minum asi
pengecapan dalam menelan
sedikit
- Tidak terjadi penurunan berat badan
DO : yang berarti

- BB 6,8 kg

B. Catatan Keperawatan
HARI NO DX TINDAKAN & RESPON NAMA JELAS

TANGGAL PARAF

1 T: Memonitor status dehidrasi (kelembaban


membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan
darah ortostatik), jika diperlukan
R: ibu pasien mau anaknya dimonitor status
dehirasi

T: mempertahankan catatan intake dan output


R: ibu pasien mampu mempertahankan
intake dan output sesuai anjuran perawat

T: Kolaborasi dengan dokter dalam


pemberian obat
R: ibu pasien mau diberikan obat sesuai
dengan anjuran dokter

2 T : Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih


dan kering

23
R : ibu pasien mampu menjaga kulit anaknya
agar tetap bersih dan kering

T : Memonitor kulit akan adanya kemerahan


R : ibu pasien bersedia anaknya dimonitor
kulitnya

T: Memonitor adanya kesembuhan area


anogenital
R: ibu pasien bersedia anaknya dimonitor di
area insisi

3 T : memberikan informasi tentang kebutuhan


nutrisi
R : ibu pasien mengerti informasi yang telah
dijelaskan perawat tentang kebutuhan
nutrisi yang diberikan

T : Memonitor adanya penurunan berat badan


R : ibu pasien bersedia anaknya dimonitor
berat badannya

T : memberikan makanan yang terpilih (sudah


dikonsultasikan dengan ahli gizi)
R : ibu pasien mau diberikan makanan yang
terpilih yg sudah dikonsultasikan dengan
ahli gizi

C. Catatan Perkembangan
HARI NO DX CATATAN PERKEMBANGAN NAMA JELAS

TANGGAL PARAF

24
1 S:

- Ibu mengatakan anaknya mencret lebih


dari 3x dengan konsentrasi cair
- Ibu pasien mengatakan anaknya hanya
mau minum asi sedikit

O : Mukosa bibir kering

A : masalah belum teratasi


P:
- mempertahankan urine output sesuai dengan
usia dan BB, BJ urine normal, HTa normal
- tekanan darah, nadi suhu tubuh dalam batas
normal
- tidak ada tanda dehidrasi, elastisitas turgor
kulit baik, membrane mukosa lembab, tidak
adarasa haus yang berlebih berlebih
I:

- Monitor status dehidrasi (kelembaban


membrane mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
- Pertahankan catatan intake dan output
yang akurat
- Kolaborasi dengan dokter
E : Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan kehilangan cairan aktif
R : intervensi dilanjutkan
S:

- Ibu pasien mengatakan anaknya sudah


tidak mencret lagi
- Ibu pasien mengatakan anaknnya sudah

25
mau minum asi secara teratur

O : mukosa bibir lembab


A : masalah sudah teratasi
P : intervensi dihentikan
2 S : Ibu klien mengatakan bahwa anaknya
mencret lebih dari 3x dengan konsistensi
cair

O : Daerah anogenital tampak kemerahan

A : masalah belum teratasi

P:

- Intergritas kulit yang baik bias dipertahankan


(sensasi elastistatis, temperature, hidrasi,
pegmentasi)
- Tidak ada luka/lesi pada kulit
- Perfusi jaringan baik
- Menunjukan pemahaman dalam proses
perbaikan kulit dan mencegah terjadinya
sedera berulang
- Mampu melindungi kulit dan
mempertahankan kelembaban kulit dan
perawatan alami
I:

- Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih


dan kering
- Monitor kulit akan adanya kemerahan
- Monitor adanya kesembuhan area
insisi
E : kerusakan intergritas kulit berhubungan

26
dengan ekskresi/BAB sering
R: intervensi dilanjutkan

S: Ibu klien mengatakan bahwa anaknya sudah


tidak mencret lagi

O: daerah anogenital tampak sudah tidak


kemerahan

A: masalah sudah teratasi


P: intervensi di berhentikan

3 S : ibu pasien mengatakan anaknya hanya mau


minum asi sedikit

O: BB 6,8 kg

A: Masalah belum teratasi

P:

- Adanya peningkatan berat badan sesuai


dengan tujuan
- Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
- Tidak ada tanda tanda malnutrisi
- Menunjukan peningkatan fungsi pengecapan
dalam menelan
- Tidak terjadi penurunan berat badan yang
berarti
I:

- Berikan informasi tentang kebutuhan


nutrisi
- Monitor adanya penurunan berat
badan

27
- Berikan makanan yang terpilih (sudang
dikonsultasikan dengan ahli gizi)
E: ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan intake makanan
R: intervensi dilanjutkan

S: ibu pasien mengatakan anaknya sudah mau


minum asi secara teratur

O: BB 7 kg

A: masalah teratasi

P: intervensi dihentikan

28
BAB IV
PENUTUP

4.1 SIMPULAN
Di era globalisasi ini penyakit diare semakin meningkat, hal ini dikarenakan masyarakat
kurang menjaga kebersihan lingkungan dan kebiasaan makan makanan yang hygiennya kurang
serta kurangnya pengetahuan masyarakat tentang diare dan pencegahannya.

Dampak dari penyakit diare dapat menyebabkan berbagai masalah pada anak seperti
aktivitas anak berkurang, kebutuhan nutrisi tidak seimbang sehingga menyebabkan tumbuh
kembang anak terganggu.

Diare terjadi pada balita dan sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kematian karena
kekurangan cairan.

4.2 SARAN

- Diharapkan orang tua mengetahui tentang diare dan cara mengatasinya.


- Hendaknya orang tua mengajarkan cara personal hygiene yang baik pada anak.
- Apabila anak mengalami diare, penanganan pertama yang dilakukan adalah dengan
memberikan oralit.
- Mahasiswa diharapkan mampu memberikan pendidikan kesehatan kepada klien, keluarga dan
masyarakat bagaimana cara mencegah dan mengatasi diare.

29
DAFTAR PUSTAKA

Dian F.2010. “Asuhan Keperawatan Anak Dengan Gangguan Diare”. (Http: Natajutena.Blogspot.Com
13/11/2011)
Suparyanto, M.Kes.2010. “Asuhan Keperawatan Pada Anak”.(http:Intech. blogspot.com 19/05/2011)
Suriadi, Skp. MSN & Rita Yuliani, Skp. M.Psi. (2010) ”Asuhan Keperawatan Pada Anak” , Edisi 2.
Jakarta : EGC
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F. & Geissler, A. C. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”, Jakarta :
EGC.
Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”, Jakarta : AGC.
http://martha-diana-pizyoko.blogspot.com/2012/03/phlebotomi-wing-needle.html
https://nurkayat.wordpress.com/ratna/menghitung-balance-cairan/
https://rikayuhelmi116.wordpress.com/2012/10/12/asuhan-keperawatan-pada-anak-dengan-gangguan-
diare/

30