Sei sulla pagina 1di 14

ADPTASI FISIOLOGIS FETUS

Sejak konsepsi perkembangan konseptus terjadi sangat cepat yaitu zigot mengalami
pembelahan menjadi morula (terdiri atas 16 sel blastomer), kemudian menjadi blastokis
(terdapat cairan di tengah) yang mencapai uterus, dan kemudian sel-sel mengelompok,
berkembang menjadi embrio (sampai minggu ke-27). Setelah minggu ke-10 hasil konsepsi
disebut janin. Dengan demikian adaptasi fetus sudah terjadi secara fisiologis.
Bayi baru lahir normal adalah bayi yang baru lahir dengan kehamilan atau masa
gestasinya dinyatakan cukup bulan (aterm) yaitu 36 – 40 minggu. Bayi baru lahir normal
harus menjalani proses adaptasi dari kehidupan di dalam rahim (intrauterine) ke kehidupan di
luar rahim (ekstrauterin).

2.2 Perubahan Pernafasan

1) Perubahan Pernafasan Intrauterine


Gerakan nafas janin telah dapat dilihat sejak kehamilan 12 minggu dan pada 34 minggu
secara reguler gerak nafas ialah 40-60/menit dan di antara jeda adalah periode apnea. Cairan
ketuban akan masuk sampai bronkioli, sementara di dalam alveolus terdapat cairan alveoli.
Gerakan nafas janin dirangsang oleh kondisi hiperkapnia dan peningkatan kadar glukosa.
Sebaliknya, kondisi hipoksia akan menurunkan frekuensi nafas. Pada aterm normal, gerak
nafas akan berkurang dan dapat apnea selama 2 jam.
Alveoli terdiri atas dua lapis sel epitel yang mengandung sel tipe I dan II. Sel tipe II
membuat sekresi fosfolipid suatu surfaktan yang penting untuk fungsi pengembangan nafas.
Surfaktan yang utama ialah sfingomielin dan lesitin serta fosfatidil gliserol. Produksi
sfingomielin dan fosfatidil gliserol akan memuncak pada 32 minggu, sekalipun sudah
dihasilkan sejak 24 minggu. Pada kondisi tertentu, misalnya diabetes, produksi surfaktan ini
kurang; juga pada pretrem ternyata dapat dirangsang untuk meningkat dengan cara pemberian
kortikosteroid pada ibunya. Steroid dan faktor pertumbuhan terbukti merangsang pematangan
paru melalui suatu penekanan protein yang sama (HoxB5)11. Pemeriksaan kadar L/S rasio
pada air ketuban merupakan cara untuk mengukur tingkat kematangan paru, di mana rasio
L/S > 2 menandakan paru sudah matang.
Tidak saja fosfolipid yang berperan pada proses pematangan selular. Ternyata gerakan
nafas juga merangsang gen untuk aktif mematangkan sel alveoli. (Sarwono, Prawirohardjo.,
(2010,) Hal 161 ).
Janin dalam kandungan sudah mengadakan gerakan-gerakan pernafasan, namun air
ketuban tidak masuk ke dalam alveoli paru-parunya. Pusat pernapasan ini di pengaruhi oleh
kadar O2 dan CO2 di dalam tubuh janin. Keadaan ini dipengaruhi oleh sirkulasi plasenter
(pengaliran darah antara uterus dan plasenta). Apabila terdapat gangguan pada sirkulasi
utero-plasenter sehingga satu rasi oksigen lebih menurun, misalnya pada kontraksi uterus
yang tidak sempurna, eklampsia dan sebagainya, maka dapatlah gangguan dalam
keseimbangan asam dan basa pada janin tersebut, dengan akibat dapat melumpuhkan pusat
pernafasan janin.
Pada permukaan paru-paru yang telah matur ditemukan lipoprotein yang berfungsi untuk
mengurangi tahanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada
penarikan nafas pertama pada janin. Ketika partus, uterus berkontraksi dalam keadaan ini
darah didalam sirkulasi utero plasenter seolah-olah diperas ke dalam vena umbilicus dan
sirkulasi janin sehingga jantung janin terutama serambi kanan berdilatasi. Akibatnya apabila
diperhatikan bunyi jantung janin segera setelah kontraksi uterus hilang akan terdengar
terlambat. Dalam keadaan ini fisiologi bukan patologi.

2) Perubahan Pernafasan Ekstrauterin


Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta.
Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru.
A. Perkembangan paru-paru
Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan
kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus
berlanjut sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolus akan sepenuhnya
berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II
dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum
usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus,
ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan.
B. Awal adanya napas
Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah :
1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang
pusat pernafasan di otak.
2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru -paru selama persalinan,
yang merangsang masuknya udara ke dalam paru-paru secara mekanis. Interaksi antara
system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang
teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan.
3) Penimbunan karbondioksida (CO2). Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah
dan akan merangsang pernafasan. Berkurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan
janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan
pernapasan janin.
4) Perubahan suhu. Keadaan dingin akan merangsang pernapasan.

C. Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas


Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk :
a) Mengeluarkan cairan dalam paru-paru
b) Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali.
Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan (lemak lesitin /sfingomielin) yang
cukup dan aliran darah ke paru – paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu
kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu
kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan
membantu untuk menstabilkan dinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan.
Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang
menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih
banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang
sebelumnya sudah terganggu.
D. Dari cairan menuju udara
Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan lahir
selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi
yang dilahirkan secara sectio cesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan
dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali
tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di
paru-paru dikeluarkan dari paru-paru dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah.

2.3 Perubahan Sirkulasi

1) Perubahan Sirkulasi Intrauterine


Mula-mula darah yang kaya oksigen dan nutrisi yang berasal dari plasenta, melalui vena
umbilicalis, masuk kedalam tubuh janin. Sebagian besar darah melalui ductus venosus arantii
akan mengalir ke vena cava inferior. Dalam atrium dekstra sebagian besar darah akan
mengalir secara fisiologi ke atrium sinistra, melalui voramen oval yang terletak diantara
atrium dekstra dan atrium sinistra. Dari atrium sinistra darah mengalir ke ventricle kiri
kemudian dipompakan ke aorta. Hanya sebagian kecil darah dari atrium kanan mengalir ke
ventricle kanan bersama-sama dengan darah yang berasal dari vena cava superior.
Karena tekanan dari paru-paru yang belum berkembang, sebagian darah dari ventricle
kanan yang seharusnya mengalir melalui arteri pulmonalis ke paru-paru, akan mengalir
melalui ductus Botalii ke aorta. Sebagian kecil akan mengalir ke paru-paru dan selanjutnya ke
atrium sinistra melalui vena pulmonalis. Darah dari sel-sel tubuh yang miskin oksigen penuh
dengan sisa pembakaran dan sebagiannya akan dialirkan ke plasenta melalui dua ateriol
umbikalis. Seterusnya akan diedarkan ke pembuluh darah di kotiledon dan jonjot-jonjot dan
kembali melalui vena umbilikalis ke janin.
Demikian seterusnya, sirkulasi janin ini berlangsung ketika berada dalam uterus. Ketika
janin dilahirkan segera bayi menghisap udara dan menangis kuat, dengan demikian paru-
parunya berkembang.
2) Perubahan Sirkulasi Ekstrauterin
Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan
sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.

Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar :
a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung
b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta.
Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh.
Oksigen menyebabkan sistem pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi
/meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah.
Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi
A. sirkulasi darah fetus
1. Struktur tambahan pada sirkulasi fetus
1) Vena umbulicalis : membawa darah yang telah mengalami deoksigenasi dari plasenta ke
permukaan dalam hepar
2) Ductus venosus : meninggalkan vena umbilicalis sebelum mencapai hepar dan mengalirkan
sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.
3) Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium dextra ke dalam
ventriculus sinistra
4) Ductus arteriosus : merupakan bypass yang terbentang dari venrtriculuc dexter dan aorta
desendens
5) Arteri hypogastrica : dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari fetus ke plasenta.
Pada feniculus umbulicalis, arteri ini dikenal sebagai ateri umbilicalis. Di dalam tubuh fetus
arteri tersebut dikenal sebagai arteri hypogastica.

2. Sistem sirkulasi fetus


1) Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta ke permukaan dalam
hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior.
2) Ductus venosus : adalah cabang – cabang dari vena umbilicalis dan mengalirkan sejumlah
besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.
3) Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam ekstremitas inferior
dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan ductus venosus dan membawanya ke
atrium dextrum.
4) Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang mengalami oksigenasi
dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra, dari sini darah melewati valvula
mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian melaui aorta masuk kedalam cabang
ascendensnya untuk memasok darah bagi kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian
hepar, jantung dan serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi.
5) Vena cava superior : mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior ke atrium
dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh vena cava inferior melewati valvula
tricuspidallis masuk ke dalam venriculus dexter.
6) Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran ke paru - paru yang nonfungsional,
yanghanya memerlukan nutrien sedikit.
7) Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam
aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior.
8) Arteria hypogastrica : merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah
kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari
peredaran darah maternal.

B. Perubahan pada saat lahir


1). Penghentian pasokan darah dari plasenta.
2). Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru.
3). Penutupan foramen ovale.
4). Fibrosis
a). Vena umbilicalis.
b). Ductus venosus.
c). Arteriae hypogastrica.
d). Ductus arteriosus.
Sirkulasi pulmonari: vena umbilikus, duktus venosus, foramen ovale, dan duktus arteriosus.
Perbedaan sirkulasi fetus dan sirkulasi neonatal
No Perbedaan Sirkulasi Fetus Sirkulasi Neonatal
1 Sirkulasi pulmonal Aktif, kurang berkembang Aktif, perkembangan meningkat
2 Foramen ovale Terbuka Tertutup
3 Duktus arteriosus botali Terbuka Tertutup
4 Duktus venosus arantii Terbuka Tertutup
5 Sirkulasi sistemik Aktif engan resisten rendah Aktif, dengan meningkatkan
resistensi.

2.4 Termoregulasi dan Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme

A. Termoregulasi
Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami “Stress
Dingin” atau Cold Stress terutama karena perubahan lingkungan dari dalam rahim ke dunia
luar yang jauh lebih dingin.
Secara fisiologis, tubuh bayi akan menggunakan timbunan lemak coklat (Brown Fat)
untuk menghasilkan panas. Namun cadangan lemak coklat ini akan habis dan bayi akan
mudah mengalami hipoglisemia, hipoksia dan asidosis.
Untuk itu, pencegahan kehilangan panas sangatlah diperlukan. Perubahan kondisi terjadi
pada neonatus yang baru lahir. Di dalam tubuh induknya, suhu tubuh fetus selalu terjaga,
begitu lahir maka hubungan dengan induk sudah terputus dan neonatus harus
mempertahankan suhu tubuhnya sendiri melalui aktifitas metabolismenya.
Semakin kecil tubuh neonatus, semakin sedikit cadangan lemaknya. Semakin kecil tubuh
neonatus juga semakin tinggi rasio permukaan tubuh dengan massanya.
Suhu permukaan kulit meningkat atau turun sejalan dengan perubahan suhu lingkungan.
Sedangkan suhu inti tubuh diatur oleh hipotalamus. Namun pada pediatrik, pengaturan
tersebut masih belum matang dan belum efisien. Oleh sebab itu pada pediatrik ada lapisan
yang penting yang dapat membantu untuk mempertahankan suhu tubuhnya serta mencegah
kehilangan panas tubuh yaitu rambut, kulit dan lapisan lemak bawah kulit.
Ketiga lapisan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan efisien atau tidak bergantung pada
ketebalannya. Sayangnya sebagian besar pediatrik tidak mempunyai lapisan yang tebal pada
ketiga unsur tersebut. Transfer panas melalui lapisan pelindung tersebut dengan lingkungan
berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama panas inti tubuh disalurkan menuju kulit. Tahap
kedua panas tubuh hilang melalui radiasi, konduksi, konveksi atau evaporasi.
B. Adaptasi Fisiologi Sistem Metabolisme
Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan
penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan
kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu
cepat (1 sampai 2 jam).

Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :


1) Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk menyusu ASI secepat
mungkin setelah lahir).
2) Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis)
3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan
membuat glukosa dari glikogen (glikogenolisis). Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai
persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai
glikogen, terutama dalam hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang
bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan
menggunakan persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa
sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan hangat. Perhatikan bahwa keseimbangan
glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang
sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam pertama maka otak bayi dalam keadaan
beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, hambatan pertumbuhan dalam rahim dan
distress janin merupakan resiko utama, karena simpanan energi berkurang atau digunakan
sebelum lahir.
2.4.1 Bayi Rentan Kehilangan Panas

Pada dasarnya turunnya suhu tubuh ini dapat terjadi akibat penurunan produksi panas,
peningkatan panas yang hilang atau gangguan pada pengatur suhu tubuh termoregulasi). Ahli
kesehatan anak menerangkan bahwa penurunan produksi panas dapat berhubungan dengan
sistem endokrin, seperti gangguan hormon tiroid atau pituitary. Peningkatan panas yang
hilang dapat terjadi akibat berpindahnya panas tubuh ke lingkungan sekitar. Sedangkan
gangguan termoregulasi dapat terjadi akibat gangguan di hipotalamus yaitu suatu bagian otak
yang Salah Satu fungsinya mengatur suhu tubuh.

2.4.2 Mekanisme Kehilangan Panas Pada Neonatus

Pengaturan suhu pada neonatus masih belum baik selama beberapa saat. Karena
hipotalamus bayi masih belum matur, dan bayi masih rentan terhadap hipotermia, terutama
jika terpapar dingin atau aliran udara dingin, saat basah, sulit bergerak bebas, atau saat
kekurangan nutrisi. Bayi memasuki suasana yang jauh lebih dingin dari pada saat kelahiran,
dengan suhu kamar bersalin 210 C yang sangat berbeda dengan suhu dalam kandungan, yaitu
37,70 C. Pada saat lahir, faktor yang berperan dalam kehilangan panas pada bayi baru lahir
meliputi area permukaan tubuh bayi baru lahir, berbagai tingkat insulasi lemak subkutan, dan
derajat fleksi otot.
Ini menyebabkan pendinginan cepat pada bayi saat amnion menguap dari kulit. Setiap
milimeter penguapan tersebut memindahkan 500 kalori panas (Rutter 1992). Bayi kehilangan
panas melalui empat cara, yaitu:
1) Konduksi
Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi dengan
permukaan yang dingin.
Contoh: Bayi yang diletakkan di atas meja, tempat tidur atau timbangan yang dingin akan
cepat mengalami kehilangan panas tubuh akibat proses konduksi.
2) Konveksi
Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi pada saat bayi terpapar dengan udara sekitar
yang lebih dingin.
Contoh: Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan dalam ruangan yang dingin akan cepat
mengalami panas. Kehilangan panas juga dapat terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran
udara atau penyejuk ruangan.
Suhu udara di kamar bersalin tidak boleh kurang dari 200 C dan sebaiknya tidak
berangin. Tidak boleh ada pintu dan jendela yang terbuka. Kipas angin dan AC yang kuat
harus cukup jauh dari area resusitasi. Troli resusitasi harus mempunyai sisi untuk
meminimalkan konveksi udara sekitar bayi.
3) Evaporasi
Evaporasi adalah kehilangan panas akibat bayi tidak segera dikeringkan.
Contoh: Kehilangan panas terjadi karena meguapnya cairan ketuban pada permukaan tubuh
setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan. Hal yang sama dapat terjadi
setelah bayi dimandikan. Karena itu bayi harus dikeringkan seluruhnya, termasuk kepala dan
rambut, sesegera mungkin setelah dilahirkan. Lebih baik lagi menggunakan handuk hangat
untuk mencegah kehilangan panas secara konduksi.
4) Radiasi
Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi yang di tempatkan dekat benda yang
mempunyai tempratur tubuh lebih rendah dari tempratur tubuh bayi.
Contoh: Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang lebih
dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi.
Upaya Mencegah Kehilangan Panas :
1. Keringkan bayi secara seksama
2. Selimuti bayi dengan selimut bersih, kering dan hangat
3. Tutupi kepala bayi
4. Anjurkan ibu memeluk dan memberikan ASI
5. Jangan segera menimbang atau memandikan bayi
6. Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat

2.5 Perubahan Sistem Hematologi

Aliran darah fetal bermula dari vena umbilikalis, akibat tahanan pembuluh paru yang
besar ( lebih tinggi dibandingkan tahanan vaskuler sistemik=SWR) hanya 10% dari keluaran
ventrikel kanan yang sampai paru, sedangkan sisanya (90%) terjadi shunting kanan ke kiri
melalui duktus arteriosus Bottali.
Pada waktu bayi lahir, terjadi pelepasan dari plasenta secara mendadak (saat umbilical
cord dipotong/dijepit), tekanan atrium kanan menjadi rendah, tahanan pembuluh darah
sistemik (SVR) naik dan pada saat yang sama paru-paru mengembang, tahanan vaskuler paru
menyebabkan penutupan foramen ovale (menutup setelah berberapa minggu), aliran darah
dari duktus arteriosus Bottali berbalik dari kiri ke kanan. Kejadian ini tersebut sirkulasi
transisi. Penutupan duktus arteriosus secara fisiologis terjadi pada umur bayi 10-15 jam yang
disebabkan kontraksi otot polos pada akhir arteri pulmonalis dan secara anatomis pada usia 2-
3 minggu.
Pada neonatus, reaksi pembuluh darah masih sangat kurang sehingga keadaan kehilangan
darah, dehidrasi, dan kelebihan volume juga sangat kurang untuk ditoleransi. Manajemen
cairan pada neonatus harus dilakukan dengan cermat dan teliti. Tekanan sistolik merupakan
indikator yang baik untuk menilai sirkulasi volume darah dan dipergunakan sebagai
parameter yang adekuat terhadap penggantian volume. Oteregulasi aliran darah otak pada
bayi baru lahir tetap dipelihara normal pada tekanan sistemik antara 60-130 mmHg.
Frekuensi nadi bayi rata-rata 120 kali/menit dengan tekanan darah sekitar 80/60 mmHg.

2.6 Perubahan Sistem Gastrointestinal

1) Perubahan Sistem Gastrointestinal Intrauterine


Perkembangan dapat dilihat di atas 12 minggu di mana akan nyata pada pemeriksaan
USG. Pada 26 minggu enzim sudah terbentuk meskipun amilase baru nyata pada periode
neonatal. Janin meminum air ketuban dan akan tampak gerakan peristaltik usus. Protein dan
cairan amnion yang ditelan akan menghasilkan mekonium di dalam usus. Mekonium ini akan
tetap tersimpan sampai partus, kecuali pada kondisi hipoksia dan stres, akan tampak cairan
amnion bercampur mekonium. (Sarwono, Prawirohardjo., (2010,) Hal 161 ).
2) Perubahan Sistem Gastrointestinal Ekstrauterin
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan
reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lahir.

Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain
susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna
yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih
terbatas kurang dari 30 cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan
bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan
yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand.

2.7 Perubahan Sistem Imunitas


1) Perubahan Sistem Imunitas Intrauterine
Pada kehamilan minggu ke-8 telah ada gelaja terjadinya kekebalan dengan adanya
limfosit-limfosit disekitar tempat timus kelak. Dengan semakin tuanya usia kehamilan jumlah
limfosit dalam darah perifer meningkat dan mulai terbentuk pula folikel-folikel limfe. Jumlah
lomfosit-limfosit limfe yang terbanyak terdapat pada akhir kehamilan misalnya di limfa
memperlihatkan jaringan warna merah.
Tuanya kehamilan juga ditemukan sarang selimfoit yang makin lama makin besar.
Penangkis humoral dibentuk oleh sel limfoit, terdiri dari pasangan polipeptin simetrik. Gama-
G ditemukan pada orang dewasa, sedikit pada janin akhir kehamilan dan dibentuk pada bulan
kedua sesudah bayi lahir. Gama-Glabulin berasal dari ibu yang disalurkan melalui palsenta
dengan cara pinositosis disebut kekebalan pasif.
Penyaluran gama-G imunoglobin dari ibu ke janin tidak selalu menguntungkan bagi janin,
pada Rh resus isoimunisasi. Gama-G imunoglobin ibu melintasi plasenta dan merusak
eritrosit janin mengasilkan eritroblastosis retails. Janin mengandung unsur ayahnya dan
tempat implantasi plasenta. Dikenal sebagai allograft rejection.
Pembentukan benda penangkis ditemukan pada kehamilan 5 bulan. Produksi gama-M
imunoglobin meningkat setelah bayi lahir.
Kelemahan bayi baru lahir adalah hanya dilindungi oleh gama-G imunoglobin ibu hingga
terbatas kadarnya dan kurang gama-A imunoglobin.
2) Perubahan Sistem Imunitas Ekstrauterin
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus
rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan
kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan
tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi.
Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
a. perlindungan oleh kulit membran mukosa
b. fungsi saringan saluran napas
c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus
d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu
BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum
matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara
efisien.
Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif
mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen
asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama
selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh.
Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi
bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti
pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi
dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.

2.8 Perubahan Sistem Ginjal

1) Perubahan Sistem Ginjal Intrauterine


Pada 22 minggu akan tampak pembentukan korpuskel ginjal di zona jukstaglomerularis
yang berfungsi filtrasi. Ginjal terbentuk sempurna pada minggu ke-36. Pada janin hanya 2 %
dari curah jantung mengalir ke ginjal, mengingat sebagian besar sisa metabolisme dialirkan
ke plasenta. Sementara itu, tubuli juga mampu filtrasi sebelum glomerulus berfungsi penuh.
Urin janin menyumbang cukup banyak pada volume cairan amnion. Bila terdapat kondisi
oligohidramnion itu merupakan pertanda penurunan fungsi ginjal atau kelainan sirkulasi.
(Sarwono, Prawirohardjo., (2010,) Hal 162 ).
Janin muda mengandung sekitar 90% air. Sistem urinasi mulai pada bulan
pertama. Produksi urin pada janin dimulai antara masa gestasi 9 dan 11 minggu kehidupan
intrauterin.

2) Perubahan Sistem Ginjal Ekstrauterin

Bayi ginjalnya relatif banyak mengandung air dan natrium. Fungsi ginjal belum
sempurna.
Peranan ginjal janin dalam menjaga homeostasis tubuh sampai saat ini masih
dipertanyakan, ditemukan adanya kemampuan ginjal fetus untuk memekatkan dan
mengencerkan urin, mengabsorbsi fosfat dan mengadakan transportasi zat organik.
Fungsi eksresi janin dilakukan melalui plasenta. Hal ini terbukti dengan ditemukannya
hasil pemeriksaan komposisi cairan tubuh fetus yang normal, termasuk angka plasma
kreatinin dan ureum pada neonatus saat lahir, meskipun terdapat agenesis kedua ginjal.
2.9 Ikterus Neonatorum Fisiologis

Ikterus sendiri sebenarnya adalah perubahan warna kuning akibat deposisi bilirubin
berlebihan pada jaringan; misalkan yang tersering terlihat adalah pada kulit dan konjungtiva
mata.
Sedangkan definisi ikterus neonatorum adalah keadaan ikterus yang terjadi pada bayi baru
lahir dengan keadaan meningginya kadar bilirubun di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga
kulit, konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya berwarna kucing.
Ikterus juga disebut sebagai keadaan hiperbilirubinemia (kadar bilirubin dalam darah lebih
dari 12 mg/dl). Keadaan hiperbilirubinemia merupakan salah satu kegawatan pada BBL
karena bilirubin bersifat toksik pada semua jaringan terutama otak yang menyebabkan
penyakit kern icterus (ensefalopati bilirubin) yang pada akhirnya dapat mengganggu tumbuh
kembang bayi.

Ikterus neonatorum dibedakan menjadi 2, yaitu :


1) Neonatorum Fisiologis
Neonatorum Fisiologis Adalah keadaan hiperbirirubin karena faktor fisiologis merupakan
gejala normal dan sering dialami bayi baru lahir.
Ikterus fisiologis adalah Ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut (Hanifa, 1987):
1. Timbul pada hari ke-2 atau ke-3.
2. Kadar Biluirubin Indirek setelah 2 x 24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus cukup
bulan dan 10 mg % pada kurang bulan.
3. Kecepatan peningkatan kadar Bilirubin tak melebihi 5 mg % per hari.
4. Kadar Bilirubin direk kurang dari 1 mg %.
5. Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
6. Bayi tampak biasa, minum baik dan berat badan naik biasa.
7. Tidak terbukti mempunyai hubungan dengan keadan patologis tertentu.
Penyebab ikterus neonatorum fisiologis diantaranya adalah organ hati yang belum
“matang” dalam memproses bilirubin, kurang protein Y dan Z dan enzim glukoronyl
tranferase yang belum cukup jumlahnya. Meskipun merupakan gejala fisiologis, orang tua
bayi harus tetap waspada karena keadaan fisiologis ini sewaktu-waktu bisa berubah menjadi
patologis terutama pada keadaan ikterus yang disebabkan oleh karena penyakit atau infeks.
2) Neonatorum Patologis
Neonatorum Patologis adalah suatu keadaan dimana kadar Bilirubin dalam darah
mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk menimbulkan Kern Ikterus kalau tidak
ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai hubungan dengan keadaan yang patologis.
Brown menetapkan Hiperbilirubinemia bila kadar Bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup
bulan, dan 15 mg % pada bayi kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.
Karakteristik ikterus patologis (Ngastiyah,1997 ) sebagai berikut :
1. Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama kehidupan. Ikterus menetap sesudah bayi berumur 10
hari ( pada bayi cukup bulan) dan lebih dari 14 hari pada bayi baru lahir BBLR.
2. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg % pada bayi kurang bulan (BBLR) dan 12,5
mg% pada bayi cukup bulan.
3. Bilirubin direk lebih dari 1mg%.
4. Peningkatan bilirubin 5 mg% atau lebih dalam 24 jam.
5. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G-6-PD, dan
sepsis).