Sei sulla pagina 1di 12

JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)

Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)


http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

FAKTOR RISIKO KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6-24 BULAN DI DAERAH NELAYAN
(Studi Case-Control di Kampung Tambak Lorok, Kecamatan Tanjung Mas, Kota Semarang)

Isninda Priska Syabandini*, Siti Fatimah Pradigdo**, Suyatno**, Dina Rahayuning Pangestuti
)
* Mahasiswa Peminatan Gizi Kesehatan Masyarakat, FKM UNDIP Semarang
)
** Dosen Bagian Gizi Kesehatan Masyarakat, FKM UNDIP Semarang
Email : Isnindapriskas29.undip@gmail.com

Abstract: Stunting is the indicator of chronic malnutrition. Prevalence of stunting in Indonesia is


high (>30%). Fishermen in Semarang City mostly located in North Semarang (70%) which in
that area, there is a fishing village called Kampung Tambak Lorok. Prevalence of stunting in
Tambak Lorok is medium (11,1%). The aim of this study was to analyze risk factors for the
incidence of stunting among children under two years old in fisheries village. The type of this
study was observational with case-control design. Samples were 30 cases and 30 controls
selected using quota sampling. Samples were obtained through interview of questionnaire
and recall 24 hours for two non-consecutive days. Data were analyzed to know p value, odds
ratio, and convidence interval. This study found that risk factors of stunting among children
aged 6 – 24 months were low birth weight (OR = 19,33; CI95%: 2,313-161,565; p= 0,01),
history of infection (OR = 9, CI95%: 2,239-36,171; p=0,001), and low protein adequate level
(OR= 4; CI9%: 1,27-12,6; p= 0,015). Risk factors that were not influenced the incidence of
stunting among children 6 – 24 months were low maternal education level, low maternal
knowledge, low family income, inadequate nutritional caring pattern, non-exclusive
breastfeeding practice, low energy adequate level, This study suggest that public health
center and public health officer to monitor pregnant women health status until their children
reach two years old regularly. Hence, the increasing of stunting incidence can be prevented

Keywords : Stunting, fisherman, toddler, risk factors


Literature : 97, 2000-2017

PENDAHULUAN berkembang diperkirakan mengalami


Pendek dan sangat pendek stunting. Hal ini dikarenakan stunting
adalah status gizi yang didasarkan pada merupakan gangguan pertumbuhan linier
indeks panjang badan menurut umur yang berlangsung cukup lama, bahkan
(PB/U) atau tinggi badan menurut umur sejak anak masih dalam kandungan
3
(TB/U) yang merupakan padanan istilah hingga 1000 hari pertama kelahiran.
stunting (pendek) dan severely stunting Sedangkan balita merupakan salah satu
(sangat pendek). Balita stunting dapat kelompok yang rentan terhadap masalah
4
diketahui apabila seorang balita diukur kesehatan, terutama masalah gizi.
panjang atau tinggi badannya, lalu Data Riskesdas menunjukkan
dibandingkan dengan standar WHO bahwa Indonesia masih memiliki
antro 2005 dan hasilnya berada pada masalah stunting yang tinggi.
1
bawah garis normal . Stunting juga Kecenderungan prevalensi balita pendek
merupakan defisiensi zat gizi yang (stunting) pada tahun 2007 sebesar
berlangsung lama bahkan dapat terjadi 36,8%, menjadi 35,6% pada tahun 2010,
sejak anak masih dalam kandungan. dan meningkat menjadi 37,2% di tahun
Stunting menjadi indikator malnutrisi 2013. Berdasarkan pengelompokan
kronik yang menggambarkan riwayat menurut WHO Indonesia termasuk
kurang gizi anak dalam jangka waktu kelompok yang sangat tinggi dimana
2
yang lama. dalam Riskesdas tahun 2013 terdapat
Sebanyak 39% anak usia masalah balita gizi kurang (pendek)
1,5
dibawah lima tahun di negara sebesar 37,2% ( tinggi apabila > 30%) .

496
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Kondisi geografis negara kasus (10%). Hasil uji chi-square


Indonesia adalah negara kepulauan yang didapatkan p-value = 1 yang dapat
terdiri atas 70% laut, maka wajar apabila disimpulkan bahwa tidak ada
sebagian besar penduduk pesisir hubungan antara pendapatan dengan
bermata pencaharian sebagai nelayan.
kejadian stunting. keluarga dengan
Kampung Tambak Lorok merupakan
wilayah nelayan yang berada Kecamatan pendapatan perkapita cukup/ tinggi
6
Tanjung Mas, Kota Semarang . Menurut risiko anaknya mengalami stunting
data puskesmas Bandarharjo tahun dan tidak stunting hampir sama
2016, Prevalensi gizi kurang (stunting) besar, serta nilai CI yang berada
pada balita di kampung Tambak Lorok pada rentang 0,147-3,545 dengan
tahun 2016 sebanyak 11,1% yang artinya OR> 1 menunjukkan bahwa variabel
kasus stunting tergolong sedang (10- yang diteliti cenderung merupakan
19%). Dengan demikian dilakukan faktor risiko, namun belum cukup
adanya kajian mengenai apa saja faktor bukti dinyatakan sebagai faktor risiko.
risiko yang berhubungan dengan
Tingkat pendapatan tidak
kejadian stunting pada anak usia 6-24
bulan di daerah nelayan, Kampung berhubungan dengan kejadian
Tambak Lorok, Kelurahan Tanjung Mas, stunting di daerah nelayan, Kampung
Semarang Utara, Kota Semarang. Tambak Lorok dapat disebabkan
karena harga pangan protein
tergolong murah jika di beli di wilayah
METODE PENELITIAN ini. Hal ini disebabkan karena
Jenis penelitian yang akan bilamana keluarga tersebut
dilakukan merupakan penelitian berpendapatan rendah, pangan
observasional dengan menggunakan hewani masih mampu dijangkau
metode penelitian kuantitatif, jenis dengan cara dibeli/ dicari dengan
deskriptif analitik dan desain case melaut sehingga kebutuhan pangan
control. Penelitian ini dilaksanakan di keluarga yang berpendapatan tinggi
Kampung Tambak Lorok, Kelurahan maupun rendah dapat menjangkau
Tanjung Mas, Kecamatan Semarang pangan tersebut, sehingga
Utara, Kota Semarang pada bulan pendapatan bukan merupakan faktor
Februari hingga bulan Agustus 2017. risiko kejadian stunting.
Populasi penelitian ini adalah Penelitian serupa dilakukan
sebanyak 194 anak sedangkan oleh Rukman dkk di Kota Bogor yang
sampel pada penelitian ini sebanyak menemukan bahwa pendapatan
60 anak, yaitu 30 pada masing- keluarga tidak bermakna dengan
masing kelompok kasus maupun kejadian stunting pada usia 6-24
kontrol. Teknik pengambilan sampel bulan, akan tetapi persentase
dengan menggunakan quota stunting lebih besar pada pendapatan
sampling sesuai dengan kriteria keluarga dengan kuantil terendah
inklusi dan eksklusi. dibandingkan dengan kuantil tertinggi
artinya penelitian tersebut
HASIL DAN PEMBAHASAN menunjukkan bahwa pendapatan
keluarga yang tinggi berkemungkinan
Faktor Risiko Pendapatan yang mendapatkan pangan yang bagus
rendah dengan Kejadian Stunting untuk memenuhi kebutuhannya.7
pada Anak Usia 6-24 Bulan
Pendapaan keluarga yang Faktor Risiko Pendidikan yang
rendah ditemukan lebih banyak pada rendah terhadap Kejadian Stunting
kelompok kontrol (13,3%) pada Anak Usia 6-24 Bulan
dibandingkan dengan kelompok

497
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Pendidikan Respondn yang Faktor Risiko Pengetahuan yang


rendah ditemukan lebih banyak pada kurang Terhadap Kejadian
kelompok kasus (56,3%) Stunting pada Anak Usia 6-24
dibandingkan dengan kelompok Bulan
kontrol (43,8%). Hasi uji chi-square
didapatkan p-value= 0,438 yang Pengetahuan responden yang
menandakan tidak ada hubungan kurang ditemukan lebih banyak pada
antara pendidikan ibu dengan kelompok kasus (30%) dibandingkan
kejadian stunting pada anak usia 6- dengan kelompok kontrol (10%).
24 bulan. Ibu dengan pendidikan Hasil uji chi-square
yang cukup/ tinggi risiko anaknya didapatkan nilai p-value = 0,107 yang
mengalami stunting dan tidak artinya tidak ada hubungan antara
stunting sama besarnya, serta CI pengetahuan ibu dengan kejadian
yang berada pada rentang 0,147- stunting di daerah nelayan Kampung
3,543 dengan OR< 1 menunjukkan Tambak Lorok Semarang. Ibu
variabel yang diteliti cenderung dengan pengetahuan yang cukup/
merupakan faktor protektif, namun baik risiko anaknya mengalami
belum ada cukup bukti untuk stunting dan tidak stunting sama
dinyatakan sebagai faktor protektif. besarnya, sedangkan nilai CI
Seseorang yang memiliki didapatkan rentang 0,927-16,048 dan
tingkat pendidikan yang rendah OR> 1 yang menunjukkan bahwa
namun selalu mengikuti kegiatan variabel pengetahuan cenderung
penyuluhan dari puskesmas/ kader merupakan faktor risiko, namun
menyebabkan tingkat pengetahuan belum cukup bukti untuk dinyatakan
terkait gizinya bertambah. Walaupun sebagai faktor risiko.
tingkat pendidikan ibu rendah, belum Pada penelitian ini masih
tentu memiliki pengetahuan yang terdapat ibu dengan pengetahuan
rendah pula, begitupun sebaliknya. yang baik tetapi tidak menjamin
Sehingga lamanya masa pendidikan status gizi anaknya menjadi baik
formal ibu tidak dapat pula. Hal ini dapat disebabkan karena
menggambarkan pengetahuan dan pengetahuan tidak diketahui secara
kesadaran ibu terkait kebutuhan gizi mendalam oleh sang ibu. Sebagai
anak-anaknya. contoh, ibu mengetahui bahwa
Penelitian ini serupa dilakukan pendek merupakan ciri-ciri
oleh Oktarina di Sumatera pada kekurangan gizi, namun ibu tidak
kelompok balita dan oleh Eunice di mengetahui dampak yang akan
Sarawak, Malaysia yang terjadi di masa depan apabila sang
menunjukkan bahwa pendidikan ayah anak mengalami kekurangan gizi
dan pendidikan ibu tidak secara terus menerus. Seperti contoh
menunjukkan hasil yang bermakna lain, ibu mengetahui bahwa zat gizi
terhadap kejadian stunting karena ASI lebih baik dibandingkan susu
pada penelitian ini akses dalam formula, namun kenyataannya
mendapatkan informasi tergolong banyak ibu yang memberikan susu
mudah.8 Namun, penelitian ini formula disebabkan karena ibu lebih
bertentangan dengan penelitian yang memilih bekerja.
dilakukan oleh Paramitha di Depok Pengetahuan ibu yang kurang
yang menunjukkan bahwa rendahnya mendalam inilah yang menyebabkan
pendidikan merupakan faktor risiko pola asuh keluarga menjadi kurang
terjadinya kejadian stunting pada baik. Berdasarkan penelitian yang
balita. dilakukan, pengetahuan ibu diukur
dari jawaban ibu dalam mengisi

498
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

kuesioner pengetahuan yang balita dengan masalah stunting yang


memuat mengenai informasi gizi, lebih kecil daripada ibu dengan pola
seperti kandungan gizi yang terdapat asuh yang kurang. Hal ini dapat
pada makanan sumber energi dan terjadi karena meskipun pola asuh
protein, manfaat zat gizi pada anak, ibu baik, pada keluarga miskin
ciri-ciri anak yang kekurangan gizi, terdapat keterbatasan dalam
dan pengetahuan terkait gizi anak. memenuhi kebutuhan sehari-hari
Penelitian ini sesuai dengan sehingga pola asuh ibu tidak memiliki
penelitian yang dilakukan oleh pengaruh yang signifikan terhadap
Cholifatun dan Lailatun di Kabupaten terjadinya masalah stunting.
Bojonegoro pada balita di keluarga Namun, meski dalam
miskin yang menyatakan bahwa tidak penelitian ini didapatkan bahwa pola
ada hubungan yang signifikan antara asuh ibu tidak berhubungan dengan
pengetahuan ibu dengan kejadian kejadian stunting, akan tetapi
wasting dan stunting, disebutkan persentase pola asuh ibu yang
bahwa tingginya pengetahuan ibu kurang baik lebih banyak terdapat
tidak menjamin memiliki balita pada kelompok stunting (46,7%)
dengan status gizi yang normal9 dibandingkan dengan kelompok yang
tidak stunting (30%), artinya pola
Faktor Risiko Pola Asuh yang asuh ibu yang baik berkemungkinan
Kurang Baik Terhadap Kejadian untuk meningkatkan status gizi yang
Stunting pada Anak Usia 6-24 baik, begitupun sebaliknya. Pola
Bulan asuh gizi dalam penelitian ini
diantaranya adalah prakti pemberian
Pola asuh ibu yang kurang ASI, praktik pemberiam MP-ASI,
baik ditemukan lebih banyak pada rangsangan psiko sosial, praktik
kelompok kasus (53,3%) kebersihan dan sanitasi, dan
dibandingkan dengan kelompok perawatan kesehatan pada anak.
kontrol (33,3%). Penelitian ini didukung oleh
Hasil uji chi-square penelitian yang dilakukan oleh
didapatkan nilai p-value= 0,193 yang Cholifatun dan Lailatun di Kabupaten
dapat disimpulkan bahwa Bojonegoro pada balita di keluarga
pengetahuan tidak memiliki miskin menyatakan bahwa pola asuh
hubungan dengan kejadian stunting. tidak memiliki hubungan yang
Ibu dengan pola asuh yang baik bermakna denga kejadian stunting9.
risiko anaknya mengalami stunting Namun, pada penelitian yang
dan tidak stunting hampir sama bertentangan yaitu pada dilakukan
besar, sedangkan nilai CI yang oleh Wanda Lestari, dkk di Kota
berada pada rentang 0,804-6,495 Subulusan, Aceh yang menunjukkan
dan OR> 1 menunjukkan bahwa pola bahwa pola asuh yang kurang baik
asuh cenderung merupakan faktor merupakan faktor risiko stunting pada
risiko, namun belum cukup bukti anak usia 6-24 bulan
untuk dinyatakan sebagai faktor
risiko. Faktor Risiko Pemberian ASI yang
Pada dasarnya ibu dengan Tidak Eksklusif terhadap Kejadian
pola asuh baik akan cenderung Stunting pada Anak Usia 6-24
memiliki balita dengan status gizi Bulan
yang lebih baik daripada ibu dengan
pola asuh yang kurang. Namun Anak yang tidak diberikan ASI
dalam penelitian ini ibu dengan pola eksklusif ditemukan lebih banyak
asuh yang baik belum tentu memiliki pada kelompok kontrol (60%)

499
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

dibandingkan dengan kelompok didukung oleh hasil dari beberapa


kasus (40%). penelitian bahwa pemberian ASI
Hasil uji chi-square eksklusif selama enam bulan
didapatkan nilai p-value= 1 yang pertama dan MPASI yang tepat
dapat disimpulkan bahwa riwayat ASI merupakan upaya yang mampu
eksklusif tidak memiliki hubungan menurunkan angka stunting dan
dengan kejadian stunting. Anak yang meningkatkan kelangsungan hidup
melakukan ASI eksklusif memiliki anak10. Ditambah lagi, bayi BBLR
risiko stunting dan tidak stunting yang dan anak stunting akan mempunyai
sama besar, sedangkan nilai CI yang kesempatan untuk mengejar
berada pada rentang 0, 257-2,89 dan pertumbuhan apabila diberikan ASI
OR= 1 yang menunjukkan bahwa eksklusif yang adekuat11.
variabel yang diteliti bersifat netral. Penelitian ini sesuai dengan
Pada penelitian ini penelitian yang dilakukan oleh
menunjukkan bahwa sebagian besar Bunga dkk yang menyimpulkan
balita yang berada di Tambak Lorok bahwa ASI eksklusif bukanlah satu-
tidak melakukan praktik ASI eksklusif satunya faktor yang berkontribusi
hingga usia 6 bulan. Masyarakat di terhadap kejadian stunting pada
kampung Tambak Lorok sebagian anak. Pemberian ASI eksklusif pada
besar tidak mengetahui bahwa penelitian ini memberikan hasil yang
pemberian ASI saja diberikan hingga tidak signifikan, baik untuk ASI
bayi berusia 6 bulan. Kebanyakan eksklusif ≥ 6 bulan, maupun ASI
kegagalan ini disebabkan karena eksklusif 4 ≤ 6 bulan12. Penelitian ini
pengetahuan terkait ASI eksklusif juga didukung pada penelitian yang
yang rendah, biasanya para ibu dilakukan delapan dinegara di Afrika
memberikan makanan selain ASI dan Asia yang menunjukkan bahwa
sejak usianya ± 3-4 bulan hanya dua negara (Ethopia dan
dikarenakan anak sering menagis Kenya) yang menunjukkan hasil
dan merasa kekurangan ASI pada signifikan pada hubungan antara
umur tersebut. Selain itu ada stunting dan ASI eksklusif13
beberapa ibu yang sengaja
memberikan susu formula agar sang Faktor Risiko Berat Badan Bayi
bayi terbiasa tidak meminum ASI Lahir Rendah terhadap Kejadian
dikarenakan ibu berencana bekerja Stunting pada Anak Usia 6-24
menjadi buruh pabrik, jika anak tidak Bulan
terjadi apa-apa dalam pemberian Anak yang memiliki berat
susu formula (tidak diare/ alergi), badan lahir rendah ditemukan lebih
maka pemberian susu formula tetap banyak pada kelompok kasus (40%)
diberikan dan ibu akan bekerja. dibandngkan dengan kelompok
Sedangkan bila bayi mengalami kontrol (60%).
diare/ alergi saat diberikan susu Hasil uji chi-square
formula, maka ibu memprioritaskan didapatkan nilai p-value= 0,002 yang
memberi ASI pada sang anak. artinya ada hubungan antara BBLR
Rendahnya pengetahuan terkait dengan kejadian stunting di daerah
pentingnya ASI merupakan foktor nelayan. Anak yang memiliki riwayat
terbesar dalam pemberian ASI BBLR memiliki risiko lebih besar
eksklusif. terhadap kejadian stunting yang
ASI eksklusif sangat kuat ditandai dengan nilai CI berada pada
dihubungkan dengan penurunan rentang 2,323-161,595 yang berarti
risiko stunting. Pernyataan ini BBLR merupakan faktor risiko

500
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

terjadinya stunting di daerah nelayan, Anak yang memiliki riwayat


Kampung Tambak Lorok, Semarang. infeksi lebih banyak ditemukan pada
Dengan OR= 19 yang menunjukkan kelompok kasus (50%) dibandingkan
bahwa pada anak yang BBLR dengan kelompok kontrol (10%).Hasil
memiliki risiko sebesar 19 kali lipat uji chi-square didapatkan nilai p-
terjadinya stunting dibandingkan value= 0,002 sehingga dapat
dengan anak yang tidak BBLR. disimpulkan ada hubungan yang
Bayi dengan berat badan lahir bermakna antara riwayat infeksi
rendah di Tambak Lorok dapat dengan kejadian stunting di daerah
disebabkan karena rendahnya nelayan, Kampung Tambak Lorok,
pengetahuan ibu saat kehamilan Semarang. Anak yang memiliki
sehingga zat gizi yang dikonsumsi riwayat infeksi memiliki risiko stunting
oleh ibu cenderung rendah. Dampak lebih besar yang ditandai dengan
dari bayi yang memiliki berat lahir nilai CI berada pada rentang 2,239-
rendah akan berlangsung antar 36,171 yang menandakan adanya
generasi ke generasi selanjutnya riwayat infeksi merupakan faktor
(lingkar setan). Anak yang memiliki risiko terjadinya stunting di daerah
BBLR akan memiliki ukuran nelayan dengan OR=9 yang
antropometri yang kurang di masa menunjukkan bahwa pada anak yang
dewasa. Sebenarnya, apabila bayi memiliki riwayat infeksi memiliki risiko
yang mengalami BBLR diberikan ASI sebesar 9 kali lipat terjadinya stunting
eksklusif hingga usia 6 bulan dengan dibandingkan dengan anak yang
baik, maka sang bayi dapat tidak memiliki riwayat infeksi.
melakukan percepatan pertumbuhan
bayi yang memiiki kemungkinan Faktor Risiko Tingkat Kecukupan
dapat tumbuh dengan tinggi badan Energi yang Rendah terhadap
normal14 Akan tetapi, kebanyakan ibu Kejadian Stunting pada Anak Usia
di Tambak Lorok tidak memberikan 6-24 Bulan
ASI eksklusif kepada anaknya
sehingga pada anak yang BBLR sulit Anak yang memiliki tingkat
untuk mengejar pertumbuhan pada kecukupan energi yang kurang
ukuran yang normal. ditemukan lebih banyak pada
Penelitian ini sesuai dengan kelompok kasus (73,3%)
penelitian yang dilakukan di dibandingkan dengan kolompok
Banglades15 dan Sarawak, kontrol (56,7%). Hasil uji chi square
Malaysia16 yang menemukan bahwa didapatkan nilai p-value = 0,279 yang
BBLR memiliki hubungan yang artinya tidak terdapat hubungan
signifikan terhadap kejadian stunting. antara tingkat kecukupan energi
serta penelitian lain yang dilakukan dengan kejadian stunting di daerah
oleh Fahmi Hafid dan Nasrul pada nelayan, Kampung Tambak Lorok,
baduta di Kabupaten Jenoponto17 Semarang. Anak dengan tingkat
dan Fitri pada balita usia 12-59 bulan kecukupan energi yang cukup risiko
di Sumatera18 menemukan bahwa anaknya mengalami stunting dan
faktor BBLR merupakan faktor risiko tidak stunting hampir sama besar,
stunting yang paling dominan dalam serta nilai CI pada rentang 0.71-6,22
penelitiannya. dan OR> 1 menunjukkan bahwa
variabel yang diteliti cenderung
Faktor Risiko Adanya Riwayat merupakan faktor risiko, namun
Infeksi terhadap Kejadian Stunting belum cukup bukti untuk dinyatakan
pada Anak Usia 6-24 Bulan. sebagai faktor risiko.

501
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Hasil penelitian ini dalam sehari menyebabkan adanya


menunjukkan bahwa sebagian besar penurunan risiko kejadian stunting
anak usia 6-24 bulan di Tambak pada anak usia 2-24 bulan20.
Lorok dalam mengkonsumsi MP-ASI
masih kurang dari angka kebutuhan Faktor Risiko Tingkat Kecukupan
gizi. Hal ini dapat disebabkan karena Protein yang Rendah terhadap
masa peralihan makanan anak yang Kejadian Stunting pada Anak Usia
semula hanya mengkonsumsi ASI 6-24 Bulan
menjadi mengkonsumsi makanan
pendamping ASI. Sebagian anak Anak yang memiliki tingkat
yang berada di Tambak Lorok kecukupan protein yang kurang
banyak yang tidak menyukai ditemukan pada kelompok kasus
mengkonsumsi MP-ASI sehingga ibu (80%) dibandingkan dengan
hanya memberikan susu saja, baik kolompok kontrol (50%). Hasil uji chi-
ASI maupun susu formual, padahal square didapatkan niali p-value= 0,03
pada usia ini kebutuhan akan gizinya yang artinya ada hubungan antara
meningkat dan tidak dapat dipenuhi tingkat kecukupan protein dengan
hanya dari susu saja. Selain itu pada kejadian stunting di daerah nelayan,
usia ini memasuki usia 1000 hari Kampung Tambak Lorok, Semarang.
pertama kehidupan yang apabila Anak yang memiliki tingkat
kekurangan gizi secara terus kecukupan protein yang rendah
menerus akan menyebabkan dampak memiliki isiko lebih besar terhadap
kekurangan gizi kronis lainnya di kejadian stunting yang ditandai
kemudian hari. Meskipun dalam dengan nilai CI berada pada rentang
penelitian ini energi tidak 1,27-12,6 yang berarti kurangnya
berhubungan dengan stunting, tingkat kecukupan protein merupakan
namun pada penelitian ini dapatkan faktor risiko terjadinya stunting di
kelompok stunting memiliki daerah nelayan dengan nilai OR= 4
kecukupan energi yang lebih rendah yang menunjukkan bahwa pada anak
(73,3%) dibandingkan dengan dengan tingkat kecukupan protein
kelompok yang tidak stunting (56,7) yang rendah memiliki risiko 4 kali
artinya, seseorang yang tingkat lebih besar terjadinya stunting
kecukupan energinya rendah akan dibandingkan dengan anak yang
memiliki kecenderungan terhadap tingkat kecukupan proteinnya
stunting. Pengkategorian kecukupan tinggi/terpenuhi.
energi ini dibagi menjadi dua, yaitu Walaupun penelitian ini
tingkat kecukupan energi yang dilakukan di daerah nelayan yang
rendah (TKE < 70% dari AKE) dan sebagian besar pekerjaan
tingkat kecukupan energi terpenuhi keluarganya menjadi nelayan, namun
(TKE ≥ 70% dari AKE).19 konsumsi anak yang stunting masih
Penelitian ini sejalan dengan tergolong rendah. Hal ini disebabkan
penelitian yang dilakukan oleh karena terdapat anak yang tidak suka
Hildagardis pada baduta usia 6-24 memakan ikan/ lauk lainnya.
bulan yang menunjukkah bahwa tidak Kebanyakan anak lebih sering
ada hubungan yang signifikan diberikan nasi bersama kuah sop
terhadap pemberian MP-ASI akan atau kuah mie agar anak mau
tetapi penelitian ini menunjukkan tren makan. Kejadian ini dibiarkan oleh
linier yang mana dengan adanya sang ibu karena rendahnya
jumlah peningktan jumlah kelompok pengetahuan ibu terkait dengan zat
makanan yang dikonsumsi anak gizi dalam makanan tersebut dan
juga ibu beranggapan bahwa hal ini

502
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

lebih baik daripada anak tidak mau


makan sama sekali. Apabila hal ini
dibiarkan secara berkala, maka akan
berdampak lebih besar seiring
dengan laju pertumbuhan anak.
Pasalnya protein merupakan faktor
utama dalam jaringan tubuh yang
fungsinya untuk membangun,
memelihara, dan memulihkan
jaringan di dalam tubuh. Pada anak
usia ini protein adalah gizi yang
sangat diperlukan untuk memberikan
pertumbuhan yang optimal.
Pengkategorian tingkat kecukupan
protein ini dibagi menjadi dua, yaitu
tingkat kecukupan protein kurang
apabila TKP < 80% dari AKP dan
tingkat kecukupan protein cukup
apabila TKP ≥ 80% dari AKP19.
Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian yang dilakukan
oleh Stephenson dkk yang
menemukan bahwa usia balita di
Kenya dan Ngeria memiliki tingkat
kecukupan protein yang
berhubungan dengan kejadian
stunting. Penelitian lain juga
dilakukan oleh Fitri dan Hidayah
mengemukakan bahwa berdasarkan
analisis data RISKESDAS 2010 di
provinsi yang berbeda, terdapat
hubungan yang sigifikan antara
konsumsi protein dengan kejadian
stunting pada balita.18

503
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Tabel 1. Hasil Analisis Variabel Penelitian Menggunakan Chi-Square


.
Kasus Kontrol
Variabel P OR (95% CI)
n % n %
Jenis Kelamin
Laki-laki 12 40 18 60 - -
Perempuan 18 80 12 40 - -
Pendapatan Per Kapita
Rendah 3 10 4 13 1 0,722 (0,147-3,545)
Tinggi 27 90 26 87
Tingkat Pendidikan
Rendah 18 60 14 46,7 0,428 1,714 (0,616-477)
Tinggi 12 40 16 53,3
Tingkat Pengetahuan
Kurang 9 30 3 10 0,107 3,57 (0,927-16.0)
Cukup/ Baik 21 70 27 90
Pola Asuh Gizi
Kurang Baik 16 53,3 10 33,3 0,193 2,286 (0,8-6,49)
Baik 14 46,7 20 66,7
Riwayat ASI
Tidak ASI Eksklusif 25 83,3 25 83,3 1 1 (0,257-3,9)
ASI eksklusif 5 16,7 5 16,7
Riwayat BBLR
BBLR 12 40 9 3,3 0,002 19,33 (2,31-161,5)
Normal 18 60 21 96,7
Riwayat Infeksi
Adanya Riwayat Infeksi 15 50 3 10 0,002 9 (2,2-36,171)
Tidak Ada Riwayat 50 90
15 27
Infeksi
Tingkat Kecukupan
Energi
Kurang 22 73,3 17 56,7 0,273 2,1 (0,71-6,22)
Cukup 8 26,7 13 43,3
Tingkat Kecukupan
Protein
Kurang 24 80 15 50 0,03 4(1,27-12,6)
20 50
Cukup 6 15

504
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Keterbatasan Penelitian kejadian stunting dengan nilai


Beberapa keterbatasan dalam p=0,688
penelitian ini baik karena faktor 4. Pendidikan ibu yang rendah bukan
kemampuan dari peneliti maupun merupakan faktor risiko kejadian
kesulitan situasi pada saat stunting dengan nilai p= 0,301
dilapangan. Adapun yang menjadi 5. Pengetahuan ibu yang rendah
keterbatasan penelitian , yaitu bukan merupakan faktor risiko
Pengumpulan data konsumsi energi kejadian stunting dengan nilai p=
dan protein 0,107
6. Pola Asuh gizi ibu yang tidak baik
menggunakan metode recall 24 jam merupakan bukan merupakan
selama dua hari secara tidak faktor risiko kejadian stunting
berurutan dimana dalam hal ini dengan nilai p= 0,193
dipengaruhi oleh ketelitian peneliti dan 7. Anak yang memiliki Berat Badan
kejujuran responden serta daya ingat Lahir Rendah (BBLR) merupakan
responden dalam mengingkapkan faktor risiko kejadian stunting lebih
makanan dan minuman yang besar 19 kali lipat diabandingkan
dikonsumsi, baik pada saat recall, denga anak yang memiliki berat
maupun pada saat badan lahir normal dengan p=
pengisian kuesioner. Namun, peneliti 0,01
berupaya meminimalkan keterbatasan 8. Pemberian ASI yang tidak
yang mana dengan membantu eksklusif bukan merupakan fartor
responden untuk mengingat dan risiko kejadian stunting dengan
menanyakan kembali waktu makan nilai p= 1
dan minum agar mendapatkan data 9. Anak yang memiliki riwayat Infeksi
yang lebih valid serta penelitian ini merupakan faktor risiko terhadap
tidak membahas semua faktor yang kejadian stunting lebih besar 9 kali
menyebabkan stunting, seperti tinggi lipat dibandingkan dengan anak
badan ibu dan tinggi badan ayah yang tidak memiliki riwayat infeksi
dengan p=0,001
KESIMPULAN 10. Anak yang memiliki tingkat
1. Jumlah sampel kelompok kasus kecukupan energi yang rendah
lebih banyak berjenis kelamin bukan merupakan faktor risiko
perempuan, yaitu sebanyak 18 kejadian stunting dengan nilai p=1
(60%) anak. Sedangkan pada 11. Anak yang memiliki tingkat
kelompok kontrol lebih banyak kecukupan protein yang rendah
berjenis kelamin laki-laki, yaitu merupakan faktor risiko kejadian
sebanyak 18 (60%) anak. stunting lebih besar 4 kali lipat
2. Tingkat pendidikan ibu pada dibandingkan dengan anak yang
kelompok kasus sebagian besar memiliki tingkat kecukupan
berpendidikan hingga jenjang SMP proteinnya terpenuhi dengan nilai
(33,3%) dan pada kelompok p=0,015
kontrol berpendidikan hingga SARAN
jenjang SMA (42,3%) 1. Pada penelitian selanjutnya
3. Pendapatan keluarga yang rendah diharapkan melakukan
bukan merupakan faktor risiko pengukuran konsumsi asupan

505
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

makanan dengan menggunakan Jakarta; 2016.


metode recall dan penggunaan 6. Mudzakir A. Dampak
kuesioner FFQ agar dapat Pengembangan Perikanan
dibandingkan dengan hasil asupan Budidaya terhadap Penurunan
makannya. Kemiskinan, Peningkatan
2. Perlu dilakukan penelitian lebih pendapatan dan Penyerapan
lanjut, yaitu penelitian kohort untuk Tenaga Kerja di Jawa Tengah.
mengetahui pengaruh variabel Universitas Diponegoro; 2011.
terhadap kejadian stunting pada 7. Rukmana E, Briawan D, Ekayanti
anak usia 6-24 bulan di daerah I. Faktor resiko Stunting pada
nelayan Anak Usia 6-24 Bulan di Kota
3. Perlu dilakukan penelitian Bogor. J MKMI2. 2016;12(3):192–
mengenai faktor lain, seperti tinggi 9.
badan ibu, tinggi badan ayah, dan 8. Amin NA, Julia M. Faktor
asupan zat gizi mikro pada pada Sosiodemografi dan Tinggi Badan
penelitian selanjutnya. Orang Tua serta Hubungannya
dengan Kejadian Stunting pada
DAFTAR PUSTAKA Balita Usia 6-23 Bulan. Junal Gizi
1. Pusat Data dan Informasi. Situasi dan Diet Indones. 2014;Vol.2, No.
Balita Pendek. Infodatin. 2016; 9. Ni’mah C, Muniroh L. Hubungan
2. Clinton HR. Proyek kesehatan Tingkat Pendidikan, Tingkat
dan Gizi Berbasis Masyarakat Pengetahuan, dan Pola Asuh Ibu
untuk Mengurangi Stunting dengan Wasting dan Stunting
[Internet]. MCA-Indonesia. 2014 pada Balita Keluarga Miskin.
[cited 2017 Jun 3]. Available from: Universitas Airlangga; 2016.
www.mca-Indonesia.go.id 10. Agrasada G, Ewald U KE.
3. Kinyoki DK, Berkley JA, Moloney Exclusive Breastfeeding of Low
GM, Odundo EO, Kandala N, Birth Weight Infants for the First
Noor AM. Environmental Six Months: Infant Morbiduty and
Predictors of Stunting among Maternal and Infant
Children under-Five in Somalia : Anthoropometry. Asia Pacific J
Cross-Sectional Studies from Clin Nutr. 2011;20(1).
2007 to 2010. 2016;1–10. 11. UNICEF. Gizi Ibu dan Anak.
4. Kementerian Kesehatan RI. UNICEF Indones. 2012;1–6.
Panduan Penyelenggaraan 12. Paramashanti BA, Hadi H,
Pemberian Makanan Tambahan Gunawan IMA. Pemberian ASI
Pemulihan bagi Balita Gizi Eksklusif Tidak Berhubungan
Kurang (Bantuan Operasional dengan Stunting pada Anak Usia
Kesehatan). Ditjen Bina Gizi dan 6 – 23 Bulan di Indonesia. J Gizi
Kesehatan Ibu dan Anak dan Diet Indones. 2015;Vol.3,
Kementerian Kesehatan RI. No.(1):162–74.
2011;1–40. 13. Bove I, Miranda T, Campoy C,
5. Direktorat Gizi Masyarakat. Uauy R NM. Stunting,
Pemantauan Status Gizi dan Overweight, and Child
Indikator Kinerja Gizi. In: RI KK, Development Impairement Go
editor. Buku Saku. Direktoral. Hand in Hand as key Problems of

506
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT (e-Journal)
Volume 6, Nomor 1, Januari 2018 (ISSN: 2356-3346)
http://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jkm

Early Infancy: Uruguayan Case.


Early Hum Dev. 2012;
14. Yulidasari F. Makanan
Pendamping air susu ibu (MP-
ASI) Sebagai Faktor Risiko
Kejadian Stunting pada Anak
Usia 6-24 Bulan di Kota
Yogyakarta. Universitas Gajah
Mada; 2013.
15. Amin R. Factors Associated
with Stunting Among 0-23
Months-Old Children in Rural
Bangladesh. J Nutr Educ Behav
[Internet]. 2017;49(7):S21.
Available from:
http://dx.doi.org/10.1016/j.jneb.20
17.05.061
16. Mj E, Cheah WL, Lee PY.
Factors Influencing Malnutrition
among Young Children in a Rural
Community of Sarawak.
2014;20(2).
17. Hafid F, Gizi S. Faktor Resiko
Stunting pada Anak Usia 6-23
Bulan di Kabupaten Jeneponto.
Indones J Hum Nutr.
2016;3(1)(1):42–53.
18. Fitri. Berat Lahir Sebagai
Faktor Dominan Terjadinya
Stunting pada Balita (12-59
bulan) di Sumatera (analisis
Riskesdas 2010). Universitas
Indonesia; 2012.
19. D H. Kecukupan Energi,
Protein, Lemak, dan
Koarbohidrat. In: Widyakarya
Nasional Pangan dan Gizi
(WNPG). Jakarta: Lembanga Ilmu
Pengetahuan Indonesia; 2012.
20. Nurwanti E. Praktik pemberian
makanan pendamping ASI ( MP-
ASI ) bukan faktor risiko kejadian
stunting pada anak usia 6-23
bulan. J Gizi dan Diet Indones.
2014;2(3)(1):126–39.

507