Sei sulla pagina 1di 7

Jurnal Tanah dan Lingkungan, Vol. 9 No.

I, April 2007:20-26 ISSN 1410-7333

PERMODELAN KESESUAIAN LABAN TANAMAN KUNYIT

Land Suitability Model for Curry

Atang Sutandi dan Baba Barus


Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Laban, Faperta, IPB
Jln. Meranti Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
Telp.: (0251) 8629360, Fax.: (0251) 8629358

ABSTRACT

Agribusiness ofherbal medicine is more important in the future due to raw material pharmaceutical industry tends to use
materials naturally produced To develop herbal medicine with high quality requires the criteria of land suitability based on
yield quality, which is represented by active compounds. The compounds are resulted from secondary metabolite that is
related to environmental conditions. The purpose of this study was to generate the land suitability criteria for curry with
curcuma production base. A total of 49 curry plantation sites were sampled for plant age, productivity, and land
characteristics, as well as soil and rhizome samples for laboratory analysis. Age-adjusted curcuma production was used as
the yield response, which were plotted against land characteristics. Boundary lines confining the resultant scatter ofpoints
were then mathematically described. The boundary lines defined curcuma yields that may occur under a given set of
conditions and could be used to determine land suitability criteria. The criteria were done by using projection of line
intersection between boundary line and yield cut off. Land characteristic and curcuma yield relationships had similar pattern,
the scalier data were more skewness with higher yields and the scalier confined by boundary lines. By using the lines, every
land characteristics that were studied, could be determine to establish land suitability criteria for curry, except for water
availability and aluminum saturation.

Key words: boundary line, Curry, land characteristic, land suitability criteria

PENDAHULUAN Tujuan dari penelitian ini adalah mengeksplorasi


hubungan kualitas lahan dengan produksi untuk
Usahatani tanaman obat semakin penting di masa membangun kriteria kesesuaian lahan tanaman kunyit.
depan dengan kecenderungan pemakaian bahan obat yang
kembali ke bahan alami. Agribisnis kunyit adalah salah
satunya. Untuk membuat sistim agribisnis tanaman kunyit BAHAN DAN METODE
yang handaL perlu mendapatkan kualitas hasil yang tinggi,
dimana sistim pengusahaan tidak saja diarahkan kepada Kerangka Berpikir Model Kesesuaian Laban
produksi rimpang yang tinggi tapi juga kepada produksi Sudah banyak penelitian dilakukan untuk melihat
bahan aktif yang tinggi. Telah diketahui bahwa kualitas korelasi antara pertumbuhan /produksi dengan babagai
rimpang ditentukan oleh senyawa bahan aktif yang faktor. Alasannya adalah jika hubungan yang khas antara
merupakan hasil metabolit sekunder. satu faktor tumbuh dengan respon tanaman dapat
Hasil metabolit sekunder sangat ditentukan oleh sifat didefmisikan maka pertumbuhanlproduksi maksimum dapat
genetik, teknik budidaya dan faktor lingkungan biofisik diperoleh dengan mengoptimasikan faktor tumbuh tersebut.
dimana tanaman tersebut tumbuh. Dengan demikian Hubungan tersebut seringkali ditetapkan untuk kepeduan
evaluasi kesesuaian lahan hendaknya berhubungan dengan berbagai model diagnostik (Escano et al., 1981).
korelasi antara sifat-sifat lingkungan dengan produksi Sayangnya hubungan tersebut ditetapkan dibawah kondisi
bahan aktifyang dibuat secara empiris. tertentu, dimana hanya salah satu faktor peubah yang
Evaluasi kesesuaian lahan berdasarkan faktor divariasikan dan faktor lainnya dikondisikan tetap.
pembatas minimum, merupakan sistim penilaian tunggal Konsekuensinya hubungan tersebut hanya khas dan spesifik
kualitas lahan, yaitu menyipat kualitas lahan satu persatu pada kondisi dimana percobaan dilakukan. Padahal
tanpa melihat interaksi dari dua atau lebih kualitas ataupun pengaruh faktor tumbuh akan berubah dengan kondisi yang
karakteristik lahan. Jika korelasi setiap kualitas atau sifat berubah, akibat dari interaksi dengan faktor lainnya.
lahan dengan produksi dibangun dari set percobaan, maka Dengan demikian model hubungan yang diperoleh menjadi
ini akan memakan waktu yang lama dan biaya yang besar, tidak dapat digunakan secara luas.
sehingga harns dicari dengan pendekatan yang lebih cepat, Altematifnya adalah membangun model empirik
murah dan akurat. dimana data dikumpulkan dari lokasi dengan zone tanah-
iklim yang lebar. Apabila kumpulan data tersebut diplat

20 Atang Sutandi dan Baba Barus. 2007. Permodelan kesesuaian lahan tanaman kunyit. J. Tanah Lingk., 9(1):20-26
Jumal Tanah dan Lingkungan, Vol. 9 No.1, April 2007:20-26

dalam suatu hubungan antara salah satu faktor tumbuh tanam, umur tanaman dan karakteristik laban, seperti
dengan produksi atau kualitas hasil, hasilnya adalah drainase, kedalaman efektif, batuan permukaan, lereng.
produksi rendah akan berada pada selang faktor tumbuh Setelah diamati diambil sample tanah dari kedalaman 20
yang lebar, karena semakin banyak faktor pembatas lain em untuk analisis sifat kimia tanah, serta diambil eontoh
yang berpengaruh. Semakin tinggi produksi makin rimpang minimal 1 kg untuk ditetapkan kadar air dan
mengerueut bentuk sebaran data, yang menunjukkan kandungan kurkumin pada rimpang. Karena di lapangan
semakin sedikit faktor pembatas yang bekerja (Sumner dan sangat sulit untuk memperoleh. pada umur yang sama,
Farina, 1986). Pola tersebut mengikuti hukum minimum sehingga umur tanaman pada setiap sample berbeda
J.V. Liebig. Pola sebaran data dibungkus oleh garis batas sedangkan produksi satu sample dan laionya akan
(boundary line), yang memisahkan data yang real dari yang diperbandingkan. Dengan demikian pengaruh umur harus
tidak real. Artinya kecil kemungkinan diperolehnya data dihilangkan yaitu dengan menera produksi terbadap umur
diluar garis batas tersebut (Walworth and Sumner, 1986). dengan persamaan sebagai berikut (Rathfon dan Burger,
Dari perpotongan garis batas dengan sekat produksi 1991)
kelas kesesuaian lahan, dan proyeksi titik potong tersebut Y I = Y i + (Y - Y)
pada sumbu x (karakteristik lahan) maka dapat diperoleh Dimana Y I = produksi teraan, Yi = produksi aktual
kriteria klasifikasi kesesuaian lahan. Sekat produksi antara dari pengamatan, Y = rataan umum, dan Y = produksi
S 1 dan S2, antara S2 dan S3, berturut-turut adalah 80 dan dugaan tergantung umur; yaitu produksi sebagai fungsi dari
60 % dari produksi maksimum, sedangkan sekat produksi umur, Y= f(u)
antara S3 dan N adalah didasarkan kepada titik impas Data produksi yang sudah ditera dengan umur diplot
(break event point) dari pengusahaan tanaman tersebut. dengan setiap karakteristik lahan dalam suatu diagram sebar
dan dibuat garis batas (boundary line). Garis batas dan
Metode persamaannya dibuat dari titik-titik terluar sehingga garis
tersebut membungkus seluruh data. Model persamaan garis
Penelitian yang dilakukan dengan eara mendatangi
batas dipilih yang paling eoeok (fit) dengan data yang
areal pertanaman kunyit di kabupaten Banyuwangi,
bersangkutan. Sekat produksi yang membatasi kelas S 1
Lamongan Ngawi (Jawa Timur), Karanganyar (Jawa
dan S2 adalah 80 % dari produksi maksimum, dan batas
Tengah), kabupaten Bogor, Cianjur, Sukabumi (Jawa Barat),
kelas S2 dan S3 adalah 60 % dari produksi maksimum.
kabupaten Sambas (Kalimantan Barat), kabupaten
Sedangkan batas produksi kelas S3 dan N adaIah tingkat
Lampung Selatan (Lampung), kabupaten Baturaja
produksi pada break event point produksi kurkumin yaitu
(Sumatera Selatan) dan kabupaten Simalungun (Sumatera
sebesar 23% dari produksi maksmimum. Proyeksi
Utara) dari tahun 2004-2006. Seluruh lokasi pertanaman
perpotongan garis batas dan sekat produksi pada setiap
kunyit yang diamati adalah berjumlah 49 sample.
kelasnya merupakan kriteria klasifikasi kesesuaian lahan
Pada setiap lokasi sample dieatat produksi rimpang
pada kelas yang bersangkutan.
yang diambil dari 5 sampai 10 rumpun dan dieatat jarak

HASIL DAN PEMBAHASN

Hubungan Produksi dan Umur pembatas lain selain drainase. Dengan memproyeksinya
perpotongan sekat produksi dengan garis batas pada sumbu
Karena sampel tanaman di lapang tidak sama umumya
X (kualitas lahan), atau dengan mensubtitusi persamaan
maka setiap komponen produksi apakah itu biomasa atau
garis batas dengan sekat produksi kelas kesusuaian laban,
kandungan bahan aktif, maka terlebih dahulu ditera dengan
maka kelas S 1 jatuh pada berdrainase baik dan kedalaman
umur (Gambar 1) agar sampel yang satu dengan lainnya
efektif> 104 em.
dapat diperbandingkan. Untuk produksi teraan kurkumin
Untuk kriteria tekstur dibangun dari model kadar liat
diperoleh dengan mengkalikan kadar kurkumin dengan
dan pasir. Model ini mempunyai dua garis batas sebelah
produksi rimpang (berat kering), kemudian ditera dengan
kiri dan kanan. Karena semakin tinggi kadar liat atau pasir
umumya. Dari gambar tersebut terlihat bahwa produksi
produksi meningkat dan menurun kembali semakin tinggi
kurkumin ataupun produksi rimpang berkaitan dengan
kadar liat atau pasir Dengan eara mensubtitusi sekat
umur walaupun nilai koefisien determinasi (R2) sangat keeil.
produksi terhadap kedua garis batas pada kadar liat dan
Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan dimana
pasir, maka diperoleh untuk kelas S I kadar liat berkisar dari
tanaman tumbuh sangat bervariasi, sehingga keragaman
40-64 % dan kadar pasir berkisar pada 16-38"0, ataujatuh
tidak saja disebabkan oleh umur tanaman.
pada kelas tekstur Hat dan Iiat berdebu. Untuk kelas S2
dengan kadar Hat antara 28 sampai 69% dan kadar pasir 7
Model Hubungan Karaktristik Lahan dengan Produksi
sampai 50 % diluar kelas tekstur S I, maka tekstur untuk
Kurkumin
kelas S2 adalah lempung, lempung berliat, dan lempung liat
Hubungan kondisi daerah perakaran, drainase, berdebu. Sementara itu, kelas S3 dengan dengan batas
kedalaman efektif, dan tekstur dengan produksi disajikan kadar Iiat 15 sampai 86 % dan kadar pasir 2 sampai 82 %
pada Gambar 2. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa diluar kelas tekstur S I dan S2, maka kelas tekstur S3 adalah
produksi kurkumin terkait dengan drainase tanah, semakin liat berat, Jempung Iiat, lempung Hat berpasir, debu,
buruk drainase semakin tidak ditemukan produksi yang lempung berdebu, Jempung berpasir. Sedangkan untuk
tinggi. Namun pada drainase baik diterriukan produksi kelas N kelas tekstur jatuh pada pasir berlempung dan pasir.
kurkumin yang rendah, hal ini akibat pengaruh faktor

21
Pennodelan kesesuaian lahan tanaman kunyit (Atang Sutandi dan Baba Barus)

50 2400 Y = 662.02Ln(x) - 954.02


Y = 15.57Ln(x) - 26.108
R2 = 0.2385 • ..-.2000
R2 = 0.1509 •
'ii' 40
~ • nI

i~ 1600 •
CD •
! 30 • • ·ec • ••
E
a:
i 20
..
~ 1200
~
::J
••
::J

"e 10 i::J 800

Q.
"e
Q. 400

0 0
0 10 20 30 0 10 20 30
Umur (bulan) Umur (bulan)

Gambar I. Hubungan umur tanaman dengan produksi rimpang kunyit (kiri) dan produksi kurkumin (kanan)

'ii'2000 Produksi Kurkumin (kglha)


.eCD y = 469.28x - 79.108 0
~
-;;-1600 RZ = 0.9964 2000
-30
nI

I!
III
I- 1200
c
•• ....
-60
-90
E • ~
::J
of 800 •• ifj-120

~
::J

i::J
• •i fa
E
-150

400

• •
.!! -180
nI..-.
••• • •
"e
Q. • I "i 510
~-
0 -240 y = 4E-05i - 0.1402x + 14.674
0 2 3 4 5 RZ = 0.9849
-270
Drainase (4=baik, 3=sedang, 2=agak
buruk,1=buruk-terhambat) -300 ••
_2000 ..-.2000
nI nI y =435.47Ln(x) + 190.86
i-;;- 1600 =7E+10x-4·2588
i
-;;- 1600
R2 =0.9645·

i
I- 1200
R2 =0.8702
~c 1200
• • •
y =-1306.6Ln( 6168.9
.c
E E R2=0.8~43
~ . •
~::J • •
• •
800

.:, .. .:..
800
:2
i::J
~

i::J • •
400 400
~ "e •
• I· •• •
Q. Q.
• •
0
o 100 0 20 40 60
Kadar Pasir (0/0)

Gambar 2. Diagram. sebar hubungan antara kondisi daerah perakaran, Drainase (kiri atas),
kedalaman efektif (kanan atas) dan kadar Hat dan pasir (bawah) dengan produksi
kurkumin.

22
Jurnal Tanah dan Lingkungan, Vol. 9 No.1, April 2007:20-26

2000 2400
y = ·262.1x 2 + 3707.5x ·11188
Ii y = 3806i - 3824.1 x + 1437.4 Ii
.e R2 = 0.9126

~e 1600 • ~ = 0.5018 ~2000


e
ca ca
I!
~ 1200
•• I! 1600
~
e
'E
•• e
'E 1200
:::I
i!: 800 • • :::I
i!:
:::I • ~ 800
• •• ••
. ... . ...
~

~ 400 ~
:::I
'C # • -6 400
~ ..
e • • e
a..
0 • • a..
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 4.00
C-organik ("!o)

Ii 2000
.e
CI
y = 1289.2ln(x) - 2004.5

~ R2 =0.9161
e 1600
ca
••
I!
CD
l- •
e 1200
'E
..
:::I •• •
.II:
:::I 800 •• •
~
'iii
.II:
.:
....,., •
:::I
400
• • •••
'C
e
a..
0
•• • • •••• ..
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00
KTK (me/100g)

Gambar 3. Diagram sebar hubungan antara retensi hara, C organik (kiri atas), pH tanah (kanan
atas) dan KTK (bawah), dengan produksi kurkumin.

Retensi hara, yaitu C organik, pH tanah dan KTK tingkat kejenuhan AI tinggi masih sedikit. sehingga model
hubungannya dengan produksi kurkumin disajikan pada yang ada tidak dapat membangun kriteria tingkat toksisitas.
Gambar 3. Model garis batas pada hubungan C organik Peningkatan produksi kurkumin relatif lebih tajam
dengan produksi kurkumin sangat tajam, ini menunjukan dengan perubahan N total tanah dan P tersedia
bahwa produksi rimpang sangat peka dengan kenaikan dibandingkan dengan Kctd. Dengan mensubtitusi sekat
bahan organik pada tanah-tanah dengan kadar bahan produksi terhadap persaman garis batas pada setiap kelas
organik rendah. Produksi kurkumin mencapai optimum kesesuaian lahan, maka kriteria ketersediaan hara untuk S I
pada pH agak masam mendekati netral, serta pada tanah- berada pada N >0.07 %, P >4.2 ppm, dan Kdd > 0.6
tanah dengan KTK sedang. Dengan mensubtitusi sekat me/100g, kelas S2 berada pada N 0.05-0.07 0/0, P tersedia
produksi terhadap perSamaan garis batas maka diperoleh 3.0-4.2 % dan K dd 0.4-0.6 me/100g, sedangkan S3 jatuh
kriteria kelas S I untuk C organik, pH tanah dan KTK pada N total < 0.5 %, P tersedia < 3.0 ppm, dan K dd <0.4
berturut-turut adalah >1.0 %, 5.7-7.3 dan> 14.1 me/lOOg. me/lOOg.
Kelas S2 jatuh pada C organik 0.9-1.0%, pH tanah 5.3-7.5, Hubungan kondisi terrain, kemiringan lereng dan
dan KTK 10.8-14.1 me/lOOg. Kelas S3 jatuh pada C persentase penutupan batuan permukaan, dengan produksi
organik <0.9%, pH tanah 4.7-7.8, dan KTK <10.8 mellOOg, kurkumin disajikan pada idagram sebar pada Gambar 5.
sedangkan kelas N jatuh pada pH <4.7 atau >7.8, dimana Produksi kurkumin menurun tajam dengan semakin
untuk kadar C organik dan KTK tidak dipersyaratkan miringnya lereng dan semakin tingginya penutupan batuan
sebagai faktor pembatas untuk kelas tidak sesuai, N. permukaan. Model garis batas dari kedua kondisi terrain
Model hubungan ketersediaan hara, N total, P tersedia mengikuti pola kuadratik. Dengan mensubtitusi persamaan
dan K dapat dipertukarkan (Kctd) dan kejenuhan Al dengan garis batas dengan sekat produksi untuk setiap kelas
produksi kurkumin disajikan pada Gambar 4. Walaupun kesesuaian lahan, maka diperoleh kriteria untuk kondisi
ada keterkaitan semakin tinggi kejenuhan Al diikuti dengan terrain adalah sebagai berikut; Kelas S I jatuh pada lereng
produksi menurun, namun sebaran data kejenuhan Al masih <18 % dan penutupan batuan permukaan < 100/0, Kelas S2
sempit, dimana hubungan produksi kurkumin dengan jatuh pada lereng 18-30 % dan batuan permukaan 10-16 %,
Kelas S3 jatuh pada lereng 31-51 % dan batuan pennukaan

23
Permodelan kesesuaian lahan tanaman kunyit (Atang Sutandi dan Baba Barus)

17-25%, sedangkan Kelas N jatuh pada lereng >51% dan hitungkan peningkatan biaya akibat peningkatan enersi dan
batuan permukaan >25%. Kriteria kondisi terrain kesulitan pengolahan tanah dengan peningkatan kemiringan
didasarkan hanya kepada produksi semata. tanpa memper- lereng dan penutupan batuan permukaan.

2000 2000
'ii'
.e =
Y 1E+07i"9805 'ii'
5t + 555.19x - 255.38
~ 1600 • =
R2 0.8347 .e
~ 1600
~ =0.9694
c C
1\1
•• 1\1

~c 1200
• •• ~ 1200

E
c •
..
:::J
~ 800
• •
E
.
:::J
~
800 •
••
:::J
~ :::J

~:::J 400
~
•• •
'iii 400 ••
'C
~
:::J ••
e
Q, ~ • • •• • •
0 Q,
0
0.0 0.1 0.2 0.3 0.4 0 5 10 15 20
N-total (%) P tersedia (ppm)

2400 2000
1\1 =
Y -1152t + 2999.6x - 35.657 'ii'
~2000 R2 0.7704 = i~ 1600
c c
1\1 1\1
; 1600 I!
I- ~ 1200
E
c
1200
• c
E:::J

~
:::J
~ 800 •
~
:::J
800 • ~
:::J

t
~:::J
'C
e
400 .. •
•: , • •
• • •• ••
~ 400
:::J
'C
e
• •
Q,
0 • •• • Q,
0
0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0 0 10 20 30 40 50
K dapat ditukar (mel100g) Kejenuhan AI (%)

Gambar 4. Diagram sebar hubungan antara ketersediaan hara, N total (kiri atas), P tersedia
(kanan atas) dan K dapat dipertukarkan (kiri bawah), dan kejenuhan AI (kanan
bawah) dengan produksi kurkumin.

2000 2000

i
'~1600
y = -O.0325,(l- 28.821x + 1951.2
~ =0.9168
'ii'
i~ 1600 y = -1.2661,(l - 20.553x + 1753.6
~=0.9668
c
1\1
I!
•• C
1\1
I!
CD
~ 1200
•• CD
I- 1200

•• • •
c
E 's •
:::J
~
~
:::J 800 • t
..
R
~
:::J 800

~:::J
400
.:
••• ••

•• ~:::J
400 •
'C
e • • ~ • •
••
Q,

0
••• • t •
Q,

0

0 20 40 60 0 10 20 30
Lereng (%) Batuan Permukaan (%)

Gambar 5. Diagram sebar hubungan antara kondisi terrain, kemiringan lereng (kiri) dan
penutupan batuan permukaan (kanan) dengan produksi kurkumin.

24
'umal Tanah dan Lingkungan, Vol. 9 No.1, April 2007:20-26

Kriteria Kesesuaian Lahan berhasil bagi kondisi iklim, ketersediaan air, dan toksisitas.
Penelitian ini masih terus dilakukan untuk mendapatkan
Berdasarkan pengembangan model garis batas pada
sebaran iklim-tanab yang lebih lebar.
setiap karakteristik laban, maka dapat dihasilkan kriteria
kesesuaian laban untuk tanaman kunyit seperti yang
disajikan pada Tabel 1. Pengembangan kriteria belum

Tabel 1. Kriteria kesesuaian laban untuk tanaman kunyit


SI S2 S3 N
Daerah perakaran
Drainase baik sedang Agak buruk Buruk-terhambat
Kedalaman efektif (cm) >104 89-104 36-88 <36
lempung liat,
lempung, lempung lempung liat
Tekstur pasir berlempung
liat, liat berdebu berliat, lempung berpasir, debu,
dan pasir
liat berdebu lempung berdebu,
lempung berpasi
Retensi Hara
C organik (%) > 1.0 0.9 - 1.0 <0.9
KTK (me/IOOg) 14.1 10.8 6.5
pHtanab 5.7 -7.3 5.3-5.7; 7.3-7.5 4.7-5.3; 7.5-7.8 <4.7;>7.8
Ketersediaan Hara
N >0.07 0.05-0.07 <0.05
P >4.2 3.0-4.2 <1.3
K 0.6 0.4 0.2
Kondisi Terrain
Lereng(%) <18 18-30 31-51 >51
Batuan Permukaan (%) <10 10-16 17-25 >25

KESIMPULAN DAFTAR PUSTAKA

Hubungan karakterisk laban dengan produksi Escano, C.R., C.A. Jones, and G uehara, 1981. Nutrient
kurkumin mengikuti pola yang hampir sama, yaitu semakin diagnosis in com grown on Hydric Dyatrandepts: I.
mengerucut dengan produksi yang semakin tinggi. Sebaran Optimum nutrient tissue concentrations. Soil Sci. Soc.
data hubungan karakteristik lahan dengan prooduksi Am. J. 45: 1135-1139.
kurkumin dibatasi oleh garis batas. Melalui substitusi sekat
produksi terhadap persamaan garis batas dapat dibuat Rathfon, R.A. and J.A. Burger, 1991. The diagnosis and
kriteria kesesuaian laban untuk tanaman kunyit dari seluruh recommendation integrated system for Christmas trees.
karateristik laban kecuali untuk ketersediaan air dan Soil Sci. Soc. Am. J. 55: 1026-1031.
kejenuhan AI. Walworth, J.L. and M.E. Sumner, 1986. Use boundary
lines in establishing diagnostic norms. Soil Sci. Soc.
Am. J. 50:123-128.
UCAPAN TERIMA KASIH
Sumner, M.E. and P.M.W. Farina, 1986. Phousphorous
Ucapan terimaksih ditujukan yang pertama adalab interactions with nutrients and lime in field cropping
untuk Badan Pengawasan Obat dan Makanan yang telab systems. In Advance in Soil Sci. V: 201-236.
membiayai penelitian ini. Yang kedua adalab Pusat Studi
Tim Pusat Studi Biofarmaka IPB, 2004. Penelitian
Biofarmaka IPB yang telab melibatkan penulis dalam
penelitian ini. Pemetaan Tllnaman Obat, ketjasama antara Badan
POM dengan pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB,
Bogor.

25
Permodelan kesesuaian lahan tanaman kunyit (Atang Sutandi dan Baba Barus)

Tim Pusat Studi Biofarmaka IPB, 2005. Penelitian Tim Pusat Studi Biofarmaka IPB, 2006. Penelitian
Pemetaan Tanaman Ohat, kedasama antara Badan Pemetaan Tanaman Ohat, kerjasama antara Badan
POM dengan pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB, POM dengan pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB,
Bogor. Bogor.

26