Sei sulla pagina 1di 14

ANALISIS TERHADAP HAK PILIH TNI DAN POLRI

DALAM PEMILIHAN UMUM*


Setiajeng Kadarsih dan Tedi Sudrajat
Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
E-mail: Setiajeng.kadarsih@unsoed.ac.id dan t_sudrajat@yahoo.com

Abstract

In this reformation era, there were discourses on the recovery of the right to vote for members of
the Indonesian National Army (TNI) and Indonesian National Police (Polri) in the General Election.
The willingness of those recovery based on the development of democratization and human rights,
that places the right to vote as a fundamental right that cannot be infringed by the state. The
problem that arises are how the arrangement of the right to vote for the TNI and Polri in the
Indonesian General Election when it viewed from the perspective of the political history and how
the legal synchronization between the right to vote for TNI and Polri when it viewed from the
conception of human rights in the context of a democratic society in Indonesia. Based on the results,
it known that there are setback in the arrangement of the right to vote for armed forces and police
in three periods. In old order, armed forces and police were given the right to vote in the election.
In the new order, the Armed Forces were not entitled to vote, but the presence of armed forces in
the realm of regulated political sphere in particular through the lifting mechanism in the
legislature. While in reformation era, the right to vote and vote for members of the military and
police were removed, so the military and police only carry out the state tasks without any political
rights inherent in that institution. This indicates that the legal arrangements concerning the right to
vote according to the perspective of human rights in the context of a democratic society is not yet
in sync with each other.

Key words : Human rights, democratic society and legal synchronization

Abstrak

Pada era reformasi ini, terdapat wacana tentang pemulihan hak pilih bagi anggota Tentara Nasional
Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) pada Pemilihan Umum. Adapun
keinginan pemulihan hak tersebut didasarkan pada perkembangan proses demokratisasi dan Hak Asasi
Manusia yang menempatkan hak pilih sebagai hak dasar yang tidak dapat disimpangi/dilanggar oleh
negara.Permasalahan yang timbul adalah bagaimanakah pengaturan tentang hak pilih bagi TNI dan
Polri dalam Pemilihan Umum di Indonesia apabila dilihat dari perspektif sejarah dan politk hukum
serta bagaimanakah sinkronisasi hukum terhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dengan konsepsi Hak
Asasi Manusia dalam konteks masyarakat demokratis di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian dapat
diketahui bahwa pengaturan pada tiga periode kekuasaan mengalami kemunduran. Pada masa Orde
Lama, angkatan bersenjata dan polisi diberikan hak memilih dalam Pemilu. Pada Orde baru, ABRI
tidak diberikan hak untuk memilih, namun keberadaan ABRI dalam ranah ranah politik diatur secara
khusus melalui mekanisme pengangkatan dalam lembaga legislatif. Sedangkan pada era reformasi,
hak pilih dan memilih bagi anggota TNI dan Polri dihilangkan sehingga TNI dan Polri hanya
melaksanakan tugas negara tanpa adanya hak politik yang melekat dalam diri instansi tersebut. Hal
tersebut mengindikasikan bahwa pengaturan hukum tentang hak pilih menurut perspektif Hak Asasi
Manusia dalam konteks masyarakat demokratis belumlah sinkron satu dengan lainnya. Hal ini
dikarenakan kriteria partisipasi dan keterwakilan sebagaimana termaktub dalam nilai-nilai ideal
demokrasi belumlah terwujud.

Kata kunci : Hak asasi manusia, masyarakat demokratis dan sinkronisasi hukum

*
Artikel merupakan artikel hasil penelitian yang didanai oleh DIPA Universitas Jenderal Soedirman Tahun 2010
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 49

Pendahuluan merupakan persoalan relasi kekuasaan atau


Membicarakan masalah hak asasi dalam relasi ekonomi-politik antara negara (state) dan
perkembangan masyarakat demokratis, maka masyarakat (society). Negara adalah pusat ke-
ini memiliki korelasi yang erat dengan ke- kuasaan, kewenangan dan kebijakan untuk me-
butuhan dan keinginan manusia untuk ber- ngatur (mengelola) alokasi barang-barang (sum-
interaksi dengan sesama guna menunjukan berdaya) publik pada masyarakat, sedangkan di
eksistensi dan upaya pencapaian tujuan. Hak dalam masyarakat sendiri terdapat hak sipil dan
asasi tersebut kemudian menjelma tatkala politik, kekuatan massa, kebutuhan hidup, dan
Tuhan Yang Maha Esa menciptakan seperangkat lain-lain. Dengan demikian, peran serta dijadi-
hak yang menjamin derajatnya sebagai kan sebagai jembatan penghubung antara
manusia. Hak-hak inilah yang kemudian disebut negara dan masyarakat agar dapat menyeleng-
dengan Hak Asasi Manusia (HAM). Secara nor- garakan pemerintahan yang demokratis dan
matif, HAM didefinisikan sebagai seperangkat membuahkan kesejahteraan serta human well
hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan being.
setiap manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Mencermati perjalanannya, konsep demo-
Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang krasi kemudian memberikan gambaran tentang
wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan di- peran serta sebagai unsur yang sangat dibutuh-
lindungi oleh Negara, Hukum, Pemerintahan, kan untuk membangun pemerintahan yang
dan setiap orang, demi kehormatan serta per- bertanggungjawab (accountability), transparan
lindungan harkat dan martabat manusia (Pasal (transparency), dan responsif (responsibility)
1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak terhadap kebutuhan masyarakat. Tiadanya pe-
Asasi Manusia, dan UU No. 26 Tahun 2000 ran serta masyarakat akan membuahkan pe-
tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia). Hal ini merintahan yang otoriter dan korup. Dari sisi
berarti bahwa yang dimaksud sebagai HAM masyarakat, peran serta dimaksudkan sebagai
adalah hak yang melekat pada diri setiap pri- kunci pemberdayaan (empowerment). Peran
badi manusia dan oleh karena itu setiap manu- serta memberikan ruang dan kapasitas bagi
sia diciptakan kedudukannya sederajat dengan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dan
hak-hak yang sama sehingga prinsip persamaan hak-haknya, mengembangkan potensi dan pra-
dan kesederajatan telah menjadi hal utama karsa lokal, mengaktifkan peran masyarakat
dalam interaksi sosial. 1 serta membangun kemandirian masyarakat. Hal
HAM selalu terkait dengan sistem politik ini berarti bahwa keberadaan dari peran serta
demokrasi dalam suatu negara. Demokrasi me- merupakan penjabaran dari demokrasi yang
rupakan sarana guna terciptanya peran serta bertautan dengan nomokrasi yang terjelma
politik masyarakat secara luas dengan instru- dalam bentuk hak politik.
men pokoknya adalah partai politik (parpol). Berdasarkan hal di atas, maka demokrasi
Dalam kaitan ini, peran serta masyarakat men- dilihat dari bentuknya telah diwarnai oleh pan-
jadi satu kunci dalam mengidentifikasi kualitas dangan hidup/ideologi bangsa, di mana sub-
kiprah dari lembaga-lembaga sosial politik yang stansinya adalah sama yaitu menunjukan ada-
hidup di masyarakat. Dengan meluasnya gagas- nya peran serta/partisipasi aktif rakyat di
an bahwa rakyat harus diikutsertakan dalam dalam pemerintahan yang dilandasi persamaan
proses politik, maka parpol lahir dan ber- dan kemerdekaan/ kebebasan. Partisipasi aktif
kembang menjadi penghubung penting antara atau partisipasi politik merupakan ukuran ten-
rakyat dan pemerintah, bahkan parpol dianggap tang betapa pentingnya kedudukan dan hu-
sebagai perwujudan atau lambang negara bungan individu dalam negara. Hal tersebut
modern. Hal ini bermakna bahwa peran serta bermakna bahwa pengakuan kebebasan dalam
sistem politik merupakan konsekuensi logis atas
1
Hesti Armiwulan, “Hak Asasi Manusia dan Hukum”, Jur- hak-hak sipil dan politik sebagaimana ter-
nal Yustika, Vol. 7 No. 2, Desember 2004, Surabaya: Fa-
maktub dalam konsepsi hak asasi manusia me-
kultas Hukum Universitas Surabaya, hlm. 313.
50 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

lalui kehidupan kenegaraan dan kegiatan pe- kumpul dan mengeluarkan pikiran. Sedangkan
merintahan. Hak-hak sipil dan politik adalah jaminan yang sifatnya diakui secara Inter-
hak yang bersumber dari martabat dan melekat nasional diatur dalam ketentuan article 20,
pada setiap manusia yang dijamin dan di Declaration of Human Right. Di dalam ketentu-
hormati keberadaannya oleh negara agar manu- an pasal ini dinyatakan bahwa :
sia bebas menikmati hak-hak dan kebebasannya “everyone has the right to freedom of
dalam bidang sipil dan politik. Adapun yang peacefull assembly and asociation and no
berkewajiban untuk melindungi hak-hak sipil one may be compilled to belong an
association”.
dan politik warga negara adalah pemerintah
sesuai dengan Pasal 8 Undang-undang No. 39 Analog isi pasal tersebut adalah pertama,
tahun 1999 tentang HAM yang menegaskan setiap orang mempunyai hak atas kebebasan
bahwa perlindungan, pemajuan, penegakan dan berkumpul dan berpendapat; dan kedua, Tiada
pemenuhan HAM terutama menjadi tanggung seorang juapun dapat dipaksa memasuki salah
jawab pemerintah.2 satu perkumpulan. Kebebasan seperti diuraikan
Bentuk implementasi dari pemenuhan dalam article 20 tersebut bersifat universal na-
HAM menurut perspektif politik adalah ke- mun yang tidak universal adalah implementasi-
bebasan untuk berserikat, berkumpul dan nya dalam produk perundang-undangan. Hal
mengeluarkan pikiran.3 Hak tersebut merupa- inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan
kan indikator bahwa suatu negara telah me- bagi Pegawai negeri,4 khususnya Tentara Nasio-
laksanakan demokrasi. Setiap negara yang nal Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Repu-
mengaku sebagai negara hukum yang demokra- blik Indonesia (Polri) terhadap hak politik be-
tis harus memasukan aspek peran serta aktif rupa hak pilih yang seharusnya melekat dalam
rakyat di dalam konstitusinya yang dilandasi statusnya.
persamaan dan kemerdekaan/kebebasan. Ber- Pada awalnya, wacana tentang hak pilih
dasarkan hal tersebut, maka setiap warga TNI disampaikan oleh mantan Panglima TNI
negara dijamin oleh konstitusi untuk dapat ber- Jenderal Endriartono Sutarto agar anggota TNI
peran serta aktif dalam proses politik sebagai menggunakan hak pilihnya, karena dalam Pe-
sarana untuk mencapai tujuannya dalam rangka milu 2004 TNI dan Polri tidak berhak mengguna-
merealisasikan kebebasan berserikat, berkum- kan hak pilihnya.5 Saat ini, terdapat 2 (dua)
pul dan mengeluarkan pikiran bagi warganegara kelompok yang saling memberikan argumentasi-
dalam kehidupan kenegaraan. Di Indonesia, nya. Kelompok pro adalah aktivis prodemokrasi
jaminan warganegara terhadap kebebasan ber- dan HAM yang menilai bahwa hak politik per-
serikat, berkumpul dan mengeluarkan pikiran orangan merupakan hak asasi manusia yang
diatur pasal 28E UUD Negara Republik Indonesia harus diberikan kepada siapa pun, termasuk
Tahun 1945 yang menyatakan bahwa setiap anggota militer. Kedua, kelompok politikus
orang berhak atas kebebasan berserikat, ber- yang menilai dari sisi idealisme demokrasi dan
TNI sudah cukup dewasa untuk melakukannya.
2
Syamsiar Julia, “Pelanggaran HAM dan Peranan Polri Da- Sedangkan mereka yang belum setuju pada
lam Penegakan Hukum di Indonesia”, Jurnal Equality umumnya datang dari kelompok profesional
Vol. 11 No. 2, Agustus 2006, Medan: Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara, hlm.116.
3
Hak-hak yang diakui sebagai Hak-Hak Sipil dan Politik
4
sebagaimana dilansir di Departemen Hukum dan HAM Mengenai jenis pegawai negeri didasarkan pada Pasal 2
Republik Indonesia adalah 1. Hak hidup; 2. Hak bebas ayat (1) UU No. 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok
dari penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi; 3. Hak Kepegawaian yang menyatakan bahwa Pegawai Negeri
bebas dari perbudakan dan kerja paksa; 4. Hak atas dibagi menjadi Pegawai Negeri Sipil, Anggota Tentara
kebebasan dan keamanan pribadi; 5. Hak atas ke- Nasional Indonesia, dan Anggota Kepolisian Negara
bebasan bergerak dan berpindah; 6. Hak atas pengaku- Republik Indonesia.
5
an dan perlakuan yang sama dihadapan hukum; 7. Hak Hal tersebut dituangkan dalam Ketetapan Majelis
untuk bebas berfikir, berkeyakinan dan beragama; Permusyawaratan Rakyat (Tap MPR) Nomor VII/MPR/
8. Hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi; 2000 tentang Pemisahan TNI dan Polri dan juga
9. Hak untuk berkumpul dan berserikat; 10. Hak untuk ditegaskan kembali dalam Undang-Undang (UU) Nomor
turut serta dalam pemerintahan. 12 Tahun 2003 tentang Pemilu.
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 51

yang mengedepankan realisme. Kelompok kon- hukum, pengertian hukum, norma hukum, serta
tra memandang realitas kondisi sosial-ekonomi konsep yang berkaitan dengan pokok per-
yang belum memadai dan kultur politik masalahan. Analisisnya dilakukan secara de-
(terutama elite) yang belum baik, harus diper- duktif yaitu menarik kesimpulan dari suatu per-
timbangkan. 6 masalahan yang bersifat umum terhadap per-
masalahan yang dihadapi. Dalam menganalisis
Permasalahan bahan hukum berupa peraturan perundang-un-
Ada dua permasalahan yang hendak di dangan digunakan beberapa jenis interpretasi
bahas pada artikel ini. Pertama, bagaimanakah yang meliputi interpretasi gramatikal, inter-
pengaturan tentang hak pilih bagi TNI dan Polri pretasi sistematis dan interpretasi menurut pe-
dalam Pemilihan Umum di Indonesia?; dan netapan suatu ketentuan perundang-undangan
keduan, bagaimanakah sinkronisasi hukum (wet historische-interpretatie).
terhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dengan
konsepsi Hak Asasi Manusia dalam konteks Pembahasan
masyarakat demokratis di Indonesia? Pengaturan tentang hak pilih bagi TNI dan
Polri dalam Pemilihan Umum di Indonesia
Metode Penelitian Pengaturan tentang hak pilih Tentara Na-
Penelitian ini merupakan penelitian nor- sional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Republik
matif dengan menggunakan beberapa pende- Indonesia (Polri) pada dasarnya dipengaruhi
katan masalah yang meliputi pendekatan Un- oleh perkembangan demokratisasi di Indonesia
dang-Undang (statute approach), pendekatan dan sejarah hukum dari masing-masing lembaga
konseptual (conceptual approach) dan pende- tersebut. Dalam pembahasan ini, perspektif
katan sejarah (historical approach). Dalam sejarah digunakan dalam rangka penelaahan
menganalisis permasalahan pertama digunakan sejumlah peristiwa-peristiwa yuridis dari zaman
penelitian terhadap asas-asas hukum. Dalam dahulu yang disusun secara kronologis. Dalam
tingkatan ini dilakukan penelitian terhadap hal ini, hukum sebagai gejala sejarah berarti
kaidah-kaidah hukum yang merupakan patokan tunduk pada pertumbuhan yang terus menerus.
bersikap dan berperilaku bagi manusia. Ke- Pengertian tumbuh membuat dua arti yaitu
mudian pada tingkatan kedua, penelitian ini perubahan dan stabilitas. Hukum tumbuh, ber-
difokuskan pada sinkronisasi hukum, baik arti bahwa terdapat hubungan yang erat,
secara vertikal mampun horizontal yang ber- sambung-menyambung atau hubungan yang tak
tujuan untuk mengungkapkan kenyataan, sam- terputus-putus antara hukum pada masa kini
pai sejauh mana perundang-undangan tertentu dan hukum pada masa lampau. Hukum pada
serasi secara vertikal dan horizontal. Hak pilih masa kini dan hukum pada masa lampau me-
TNI dan Polri dalam Pemilu kemudian di rupakan satu kesatuan. Ini berarti bahwa kita
korelasikan dengan materi muatan dalam dapat mengerti hukum kita pada masa kini,
hukum administrasi dan hak asasi manusia hanya dengan penyelidikan sejarah, bahwa
untuk mengetahui pasangan nilai serta mempelajari hukum secara ilmu pengetahuan
kesesuaian makna dalam pengaturannya. harus bersifat juga mempelajari sejarah. Dalam
Metode metode analisis yang digunakan kaitan ini, sejarah pengaturan hukum mem-
adalah normatif kualitatif. Metode analisis ter- punyai arti penting dalam rangka pembinaan
sebut dilakukan dengan cara menginterpretasi- hukum nasional, oleh karena usaha pembinaan
kan dan mendiskusikan bahan hasil penelitian hukum tidak saja memerlukan bahan-bahan
berdasarkan pada asas-asas hukum, teori-teori tentang perkembangan hukum masa kini saja,
akan tetapi juga bahan-bahan mengenai per-
6
Departemen Pertahanan dan Keamanan, 24 Juni 2010,
kembangan dari masa lampau. Melalui pers-
Hak Pilih TNI, Bagai Pedang Bermata Dua, dapat diakses pektif sejarah, diharapkan mampu menjajaki
dalam http://www.dephan.go.id/modules.php?name=
berbagai aspek politik hukum Indonesia pada
News&file=-article&sid=7514
52 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

masa yang lalu, hal mana akan dapat mem- gota Dewan Perwakilan Rakyat. Pemilu multi-
berikan bantuan untuk memahami kaidah- partai secara nasional disepakati dilaksanakan
kaidah serta institusi-institusi hukum yang ada pada 29 September 1955 (untuk pemilihan par-
dewasa ini dalam masyarakat bangsa kita.7 lemen) dan 15 Desember 1955 (untuk pemilihan
Berdasarkan perspektif tersebut, sifat anggota konstituante).9
dan arah hukum mengenai hak pilih TNI dan Mencermati aspek kesejarahannya, Pe-
Polri selalu diwarnai oleh kepentingan politik milihan Umum Indonesia 1955 adalah pemilihan
penguasa. Perjalanan politik bangsa menunju- umum pertama di Indonesia dan diadakan pada
kan kecenderungan yang sangat kuats bahwa tahun 1955. Pemilu ini dapat dikatakan sebagai
militer merupakan instrumen politik yang sa- pemilu Indonesia yang paling demokratis.
ngat efektif yang dibangun oleh sebuah rezim Bahkan Indonesianis seperti Herbert Feith me-
guna membesarkan dan mempertahankan ke- nilai bahwa Pemilu 1955 adalah yang paling
kuasaan yang ada.8 Hal itu sebenarnya bukanlah demokratis dibandingkan pemilu sepanjang
sesuatu yang baru, karena pola-pola peman- pemerintahan Orde Baru. Walapun Pemilu 1955
faatan militer sebagai instrumen politik rezim dilaksanakan saat keamanan negara masih
terjadi sejak pemerintahan kolonial. Untuk kurang kondusif,10 namun anggota angkatan
memperjelas perjalanan demokrasi dalam bersenjata dan polisi diikutsertakan untuk
perspektif sejarah dan politik hukum terkait memilih. Mereka yang bertugas di daerah
dengan hak pilih angkatan bersenjata (TNI) dan rawan kemudian diberikan kesempatan untuk
Polri dapat dicermati dengan penelaahan ter- datang ke tempat pemilihan dan pada akhirnya
hadap 3 (tiga) periode kekuasaan di Indonesia Pemilu berlangsung dalam situasi yang aman.
yang meliputi Orde Lama, Orde baru dan Pengaturan tentang hak memilih bagi
reformasi. anggota angkatan bersenjata dan Polri ditegas-
kan dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1953
Pengaturan hak Pilih Angkatan Bersenjata tentang Pemilihan Anggota Konstituante dan
dan Polri pada masa Orde Lama Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Pada Pasal
Momentum historis perkembangan demo- 1 ayat (1) ditentukan bahwa :
krasi setelah kemerdekaan ditandai dengan Anggota Konstituante dan anggota Dewan
keluarnya Maklumat No. X pada 3 November Perwakilan Rakyat dipilih oleh warga
1945 yang ditandatangani oleh Muhammad negara Indonesia, yang dalam tahun pe-
milihan berumur genap 18 tahun atau
Hatta. Dalam maklumat tersebut dinyatakan yang sudah kawin lebih dahulu.
bahwa perlunya berdirinya partai-partai politik
sebagai bagian dari demokrasi, serta rencana Pasal 3 ayat (1) menentukan bahwa
pemerintah menyelenggarakan pemilu pada
Januari 1946. Maklumat Muhammad Hatta ber- Pemerintah mengadakan ketentuan-ke-
tentuan khusus untuk memungkinkan pe-
dampak sangat luas, melegitimasi partai-partai laksanaan hak-pilih bagi anggota-anggota
politik yang telah terbentuk sebelumnya dan Angkatan Perang dan Polisi, yang pada
mendorong terus lahirnya partai-partai politik hari dilakukan pemungutan suara sedang
baru. Pada tahun 1953, Kabinet Wilopo berhasil
menyelesaikan regulasi pemilu dengan ditetap- 9
Pemilu ini bertujuan untuk memilih anggota-anggota
kannya Undang-Undang No. 7 tahun 1953 ten- DPR dan Konstituante. Jumlah kursi DPR yang dipere-
tang Pemilihan Anggota Konstituante dan Ang- butkan berjumlah 260, sedangkan kursi Konstituante
berjumlah 520 (dua kali lipat kursi DPR) ditambah 14
wakil golongan minoritas yang diangkat pemerintah.
7
Lihat dan bandingkan dengan Hasnati, “Pertautan Ke- Pemilu ini dipersiapkan di bawah pemerintahan Perdana
kuasaan Politik dan Negara Hukum”, Jurnal Hukum Res- Menteri Ali Sastroamidjojo. Namun, Ali Sastroamidjojo
publica, Vol. 3 No. 1, Tahun 2003, Pekanbaru: Fakultas mengundurkan diri dan pada saat pemungutan suara,
Hukum Universitas Lancang Kuning, hlm. 102-113. kepala pemerintahan telah dipegang oleh Perdana
8
Nurhasan, “Pasang Surut Penegakan HAM dan Demo- Menter Burhanuddin Harahap.
10
krasi di Indonesia”, Jurnal Ilmu Hukum Litigasi, Vol. 6 Keadaan ini disebabkan karena beberapa daerah
No. 2, Juni 2005, Bandung: Fakultas Hukum Universitas dirundung kekacauan oleh DI/TII (Darul Islam/Tentara
Pasundan, hlm. 215. Islam Indonesia) khususnya pimpinan Kartosuwiryo.
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 53

dalam menjalankan tugas operasi atau ekonomi yang punya akses berlebih untuk
tugas biasa di luar tempat kedudukannya mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara
dan apabila perlu dengan mengadakan melalui format dwifungsi ABRI.
dalam waktu sependek-pendeknya pemu-
ngutan suara susulan untuk mereka itu. Adapun pengaturan pada masa Orde baru
yang menegaskan terdapatnya upaya politisasi
Mencermati hal diatas, maka pada era
lembaga militer termaktub dalam Ketetapan
Orde Lama anggota angkatan bersenjata dan
No. XXIV/MPRS/1966 tentang Kebijaksanaan
Polri diberikan hak yang sama sebagai warga
Dalam Bidang Pertahanan dan Keamanan yang
negara dalam ranah politik. Hal ini dikarenakan
menyatakan bahwa dibentuknya suatu integrasi
pada era revolusi kemerdekaan, angkatan ber-
tiga angkatan dan kepolisian dalam ABRI dan
senjata dan Polri senantiasa menghadapi per-
Dephankam. Penegasan terhadap Ketetapan
masalahan sosial, politik, dan ekonomi sehingga
tersebut dituangkan kembali dalam Keputusan
mereka memiliki kedewasaan dalam pelaksana-
Presiden No. 132 tahun 1967 pada tanggal 24
an tugasnya dan tidak memiliki tendensi ke-
Agustus 1967 tentang pokok-pokok organisasi
kuasaan. Perlu dicermati bahwa walau mereka
departemen Hankam yang menyatakan bahwa
memilih beragam partai, namun institusi ang-
ABRI terdiri atas tiga angkatan dan kepolisian,
katan bersenjata dan Polri tetap utuh. Adapun
semuanya di bawah Dephankam.
mengenai politisasi angkatan bersenjata dan
Adapun mengenai keberadaan ABRI dalam
Polri tidaklah hadir pada saat pemilu, melain-
proses politik ditegaskan dalam Undang-Undang
kan ketika terjadi persoalan dalam hubungan
No. 15 tahun 1969 tentang Pemilihan Umum
antara pemerintah pusat dan daerah.11.
Anggota-Anggota Badan Permusyawaratan/Per-
Hal diatas bermakna bahwa Pemilihan
wakilan Rakyat. Khususnya Pasal 11 yang me-
Umum pertama nasional di Indonesia pada 1955
nyatakan bahwa Anggota Angkatan Bersenjata
telah mendekati kriteria demokratis, sebab
Republik Indonesia tidak menggunakan hak
selain jumlah parpol tidak dibatasi, ber-
memilih serta Pasal 14 yang menyatakan bahwa
langsung dengan langsung umum bebas rahasia
Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indo-
(luber), serta mencerminkan pluralisme dan
nesia tidak menggunakan hak dipilih.
representativeness karena melibatkan seluruh
Dasar dari tidak diberikannya hak pilih
elemen masyarakat, termasuk didalamnya
dan memilih bagi anggota ABRI dikarenakan
adalah anggota angkatan bersenjata dan
Mengingat dwifungsi ABRI sebagai alat
kepolisian. negara dan kekuatan sosial yang harus
kompak bersatu dan merupakan kesatuan
Pengaturan Hak Pilih Angkatan Bersenjata untuk dapat menjadi pengawal dan peng-
Republik Indonesia (ABRI) pada masa Orde aman Panca Sila dan Undang-undang Da-
sar 1945 yang kuat dan sentosa, maka
Baru
bagi ABRI diadakan ketentuan tersendiri.
Pada masa Orde Baru, lembaga TNI dan Fungsi dan tujuan ABRI seperti tersebut
Polri dijadikan sebagai alat untuk memper- di atas tidak akan tercapai jika anggota
tahankan rezim pemerintahan yang dipimpin ABRI ikut serta dalam pemilihan umum,
oleh Presiden Soeharto yang notabene dari ka- yang berarti bahwa anggota ABRI ber-
kelompok-kelompok, berlain-lainan pilih-
langan militer. Untuk mempertahankan ke-
an dan pendukungnya terhadap golongan-
kuasaannya, Presiden Soeharto tidak hanya golongan dalam masyarakat. Karena itu
menjadikan TNI dan Polri sebagai alat per- maka anggota-anggota ABRI tidak meng-
tahanan dan keamanan, tetapi juga menjadi- gunakan hak memilih dan hak dipilih,
kannya sebagai kekuatan sosial, politik, dan tetapi mempunyai wakil-wakilnya dalam
lembaga-lembaga permusyawaratan/ per-
wakilan rakyat dengan melalui pengang-
11
Saat itu masih banyak sekali komandan daerah yang katan. Duduknya ABRI dalam lembaga-
yang tidak tunduk pada komando TNI di Jakarta. Poli-
lembaga permusyawartan/ perwakilan
tisasi semakin kental pada era Demokrasi Terpimpin sa-
at terjadi permasalahan internal antara Presiden Soe- melalui pengangkatan dimungkinkan oleh
karno,TNI AD,dan PKI. demokrasi Panca Sila yang menghendaki
54 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

ikut sertanya segala kekuatan dalam 2000 tentang Peran TNI dan Polri. Adapun
masyarakat representatif dalam lembaga- peraturan yang mengatur hak pilih anggota TNI
lembaga tersebut. tertuang dalam pasal 5 ayat (2) dan (4) Tap
MPR No VII/MPR/2000 yang menentukan
Hal diatas menegaskan bahwa memang
TNI bersikap netral dalam kehidupan po-
ABRI tidak diberikan hak untuk memilih dan litik dan tidak melibatkan diri dalam
dipilih, namun didalam wadah ABRI tetap kehidupan politik praktis. Anggota TNI ti-
diberikan kewenangan dalam proses politik me- dak menggunakan hak memilih dan di
lalui proses pengangkatan guna menjadi ang- pilih. Keikutsertaan TNI dalam menentu-
gota legislatif. Adapun hal tersebut ditegaskan kan arah kebijakan nasional disalurkan
melalui MPR paling lama sampai dengan
dalam Pasal 10, 14 dan 24 Undang-Undang No. tahun 2009.
16 tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan
Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Per- Peraturan yang mengatur hak pilih ang-
wakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat gota Polri tertuang dalam pasal 10 ayat (1) dan
Daerah. (2) Tap MPR No VII/MPR/2000 yang menentukan
Mencermati pengaturan di atas, maka Polri bersikap netral dalam kehidupan
dalam kurun waktu orde baru, dapat dikatakan politik dan tidak melibatkan diri dalam
bahwa militer turut mendominasi kehidupan kehidupan politik praktis. anggota Polri
tidak menggunakan hak memilih dan
sosial-politik nasional dengan menggunakan dipilih. Keikutsertaan Polri dalam menen-
berbagai justifikasi, seperti konsep dwifungsi tukan arah kebijakan nasional disalurkan
ABRI melalui mekanisme pengangkatan dalam melalui MPR paling lama sampai dengan
lembaga legislatif, bukan melalui pemilihan tahun 2009.
umum. Hal ini memiliki makna bahwa hak pilih
Peraturan-peraturan tersebut pada prin-
yang melekat pada anggota ABRI mulai digerus
sipnya bertujuan agar tercipta sikap profesional
dan dipolitisir oleh penguasa. Hal ini kemudian
dari kedua institusi ini dalam menjalankan
berdampak pada pencitraan negatif dalam diri
tugas dan wewenangnya. Hal ini senada dengan
ABRI karena diberi akses masuk ke dalam lem-
pernyataan Prof Dr. B.J Habibie dalam Rapat
baga legislatif dan eksekutif melalui mekanisme
Paripurna Sidang Umum ke-8 MPR-RI tanggal 14
yang tidak demokratis, serta dianggap me-
Oktober 1999 yang menyatakan bahwa bahwa
nyalahgunakan kekuasaannya untuk kepenting-
Untuk menghilangkan campur tangan pe-
an penguasa. merintah dalam proses pemilu, pemerin-
tah mengatur tentang netralitas POLRI,
Pengaturan hak Pilih TNI dan Polri pada Era TNI serta PNS. Demikian juga dalam hal
Reformasi pelaksanaan dan pengawasan pemilu, pe-
Posisi istimewa ABRI dalam kehidupan merintah menyerahkan sebagian besar
wewenangnya kepada partai politik pe-
ber-bangsa dan bernegara berakhir pada tahun serta pemilu, sedangkan pemerintah
1998, setelah terjadinya gerakan reformasi lebih menempatkan diri sebagai fasili-
yang berhasil meruntuhkan rezim yang telah tator.... selain dari itu, dalam rangka
memberinya tempat istimewa yaitu Rezim Orde menghapuskan KKN dikalangan PNS, maka
Baru. Reformasi di tubuh ABRI kemudian dedikasi dan profesionalisme pegawai
negri sipil perlu ditingkatkan, seiring de-
memecahkan TNI dan Polri kedalam dua wadah ngan perbaikan imbalan yang mereka
yang berbeda, dengan mengubah paradigma, terima. Kita menginginkan birokrasi yang
peran dan fungsi, serta tugas TNI dan Polri. bersih, netral dan profesional. Pengatur-
Ditinjau dari aspek normanya, reformasi an tentang PNS tidak boleh menjadi
TNI dan Polri terkait dengan hak memilih dan anggota dan pengurus partai politik d
maksudkan untuk menjaga netralitas ter-
dipilih dalam proses politik diawali dengan sebut. Dengan demikian, PNS dapat mem-
dikeluarkannya Tap MPR No.VI/2000 tentang berikan pelayanan kepada masyarakat se-
Pemisahan TNI dan Polri serta Tap MPR No.VII/ cara profesional, optimal, adil dan mera-
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 55

ta tanpa mempertimbangkan golongan kum pada awalnya dikemukakan oleh Plato


maupun aliran politik yang ada.12 melalui konsepsi nomoi yaitu suatu negara di
mana semua orang tunduk kepada hukum, ter-
Mencermati konsepsi tentang netralitas
masuk juga penguasa atau raja untuk mencegah
politik di atas, maka pemerintah kemudian
agar mereka tidak bertindak secara sewenang-
melakukan perubahan mendasar terhadap hak
wenang. Gagasan bahwa kekuasaan harus di
pilih dari kepolisian Tentara Nasional Indonesia
batasi dikemukakan juga oleh Lord Acton yang
sebagaimana di atur dalam Pasal 28 Undang-
mengingatkan bahwa pemerintahan selalu di
Undang No.2 tahun 2002 tentang Kepolisian
selenggarakan oleh manusia dan bahwa pada
Republik Indonesia dan Pasal 39 Undang-Un-
manusia itu tanpa kecuali melekat banyak
dang No.34 tahun 2004 tentang Tentara
kelemahan. Dalilnya yang kemudian menjadi
Nasional Indonesia.
termasyur adalah “manusia yang mempunyai
Melihat sejarah dari pengaturan bagi TNI
kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan
dan Polri di bidang perpolitikan, maka terdapat
kekuasaan itu, tetapi manusia yang mempunyai
makna bahwa pemerintah telah menghilangkan
kekuasaan tak terbatas pasti akan menyalah-
hak dasar berupa hak memilih dan dipilih bagi
gunakan secara tak terbatas pula (Power tends
anggota TNI dan Polri guna menciptakan situasi
to corrupt, but absolute power corrupt ab-
yang diinginkan oleh negara. Namun apabila
solutely).”
dalam perkembangan demokratisasi di Indo-
Berdasarkan hal di atas, maka pembatas-
nesia, maka pengaturan pada era reformasi
an kekuasaan memiliki korelasi yang erat de-
mengalami kemunduran yang signifikan karena
ngan upaya membatasi perilaku dari penguasa,
pada masa Orde Lama, angkatan bersenjata
dan untuk dapat menegaskan aspek kepastian
dan polisi diberikan hak memilih sebagaimana
hukumnya, maka didalam setiap peraturan
termaktub dalam Undang-Undang No. 7 Tahun
memiliki pembatasan terhadap keberlakuan-
1953. Pada Orde baru, ABRI tidak diberikan hak
nya. Artinya tidak ada satupun peraturan yang
untuk memilih, namun keberadaan ABRI dalam
keberlakuannya sepanjang zaman dan me-
ranah ranah politik diatur secara khusus melalui
menuhi kebutuhan realitas sosial yang terus
mekanisme pengangkatan dalam lembaga legis-
berubah, sehingga setiap perubahan pada haki-
latif. Sedangkan pada era reformasi, hak pilih
katnya merupakan konsekuansi logis bagi setiap
dan memilih bagi anggota TNI dan Polri di
keinginan untuk memenuhi tuntutan zaman.
hilangkan sehingga TNI dan Polri hanya melak-
Terkait dengan pembatasan tersebut, maka di
sanakan tugas negara tanpa adanya hak politik
dalam hubungan hukum antara negara dengan
yang melekat dalam diri instansi tersebut.
pegawai negeri (TNI dan Polri) terdapat ke-
tentuan pembatasan perilaku bagi pegawai
Sinkronisasi hukum terhadap hak pilih bagi
yang bekerja dalam instansi negeri. Hubungan
TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Ma-
ini disebut dengan hubungan dinas publik yang
nusia dalam konteks masyarakat demokratis
menurut Logemann, hubungan ini terjadi bila-
di Indonesia
mana seseorang mengikatkan dirinya untuk
Pengaturan tentang hak pilih dalam pers-
tunduk pada suatu perintah dari pemerintah
pektif pemerintah, pada hakikatnya merupakan
untuk melakukan sesuatu atau beberapa ma-
upaya untuk memperoleh kepastian hukum gu-
cam jabatan negeri yang dalam melakukan sua-
na membatasi kekuasaan terhadap kemungkin-
tu atau beberapa macam jabatan itu di hargai
an bergeraknya kekuasaan atas nalurinya sen-
dengan pemberian gaji dan beberapa keuntung-
diri, yang pada akhirnya mengarah pada
an lain. Hal ini berarti bahwa inti dari hubung-
penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).
an dinas publik adalah kewajiban bagi pegawai
Konsep pembatasan dalam konteks negara hu-
yang bersangkutan untuk tunduk pada pengang-
katan dalam beberapa macam jabatan tertentu
12
Risalah Rapat Paripurna Sidang Umum ke-8 MPR-RI tang-
yang berakibat bahwa pegawai yang bersang-
gal 14 Oktober 1999
56 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

kutan tidak menolak (menerima tanpa syarat) mungkinkan terjadi. Akan tetapi, perlu ditegas-
pengangkatannya dalam satu jabatan yang te- kan bahwa pembatasan haruslah ditentukan
lah ditentukan oleh pemerintah di mana se- dengan hukum semata-mata untuk tujuan
baliknya pemerintah berhak mengangkat sese- kesejahteraan umum dalam suatu masyarakat
orang pegawai dalam jabatan tertentu tanpa yang demokratik. Universal Declaration of Hu-
harus adanya penyesuaian kehendak dari yang man Right (UDHR) Pasal 29 ayat (2) menentu-
bersangkutan.13 kan bahwa
Hubungan dinas publik ini dalam pene- In the exercise of his rights and free-
rapannya berkaitan dengan segi pengangkatan doms, everyone shall be subject only to
Pegawai Negeri yang dikenal dengan teori Con- such limitations as are determined by
law solely for the purpose of securing
trac Suigeneris. Teori ini dikemukakan oleh due recognition and respect for the
Buys bahwa dalam Contrac Suigeneris men- rights and freedoms of others and of
syaratkan pegawai negeri harus setia dan taat meeting the just requirements of mo-
selama menjadi Pegawai Negeri, meskipun dia rality, public order and the general
setiap saat dapat mengundurkan diri. Dari pen- welfare in a democratic society.
dapat Buys ini dapat disimpulkan bahwa selama The International Covenant on Economic,
menjadi Pegawai Negeri, mereka tidak dapat Social and Cultural Rights (ICESCR)15 menentu-
melaksanakan hak-hak asasinya secara penuh. kan bahwa hak-hak yang ada di dalam kovenan
Karena itu, apabila Pegawai Negeri akan melak- bisa dibatasi oleh hukum sejauh berkesesuaian
sanakan hak-hak asasinya secara penuh, peme- dengan sifat dari hak itu dan semata-mata
rintah dapat menyatakan yang bersangkutan untuk mencapai kesejahteraan umum dalam
bukanlah orang yang diperlukan bantuannya suatu masyarakat yang demokratik. Pasal 4
oleh pemerintah. ICESCR menentukan bahwa
Makna pemberlakuan hubungan dinas The States parties to the present Cove-
publik adalah timbulnya pembatasan terhadap nant recognize that, in the enjoyment of
diri Pegawai Negeri melalui peraturan yang those rights provided by the State in
dikenakan kepadanya, termasuk didalamnya conformity with the present Covenant,
adalah hak-hak yang bersifat asasi. Dalam the State may subject such rights only to
such limitations as are determined by
kaitan ini, walaupun hak asasi manusia diakui law only in so far as this may be com-
sebagai hak yang pada dasarnya tak dapat di patible with the nature of these rights
kurangi, dirampas sedikitpun oleh siapapun, and solely for the purpose of promoting
namun demikian hak asasi manusia bukanlah the general welfare in a democratic
sesuatu yang bisa dinikmati tanpa batas. Ter- society.
dapat adagium dalam hukum bahwa penikmat- Sedikit berbeda dengan UDHR dan
an hak seseorang dibatasi yakni oleh penikmat- ICESCR, dalam The International Covenant on
an hak orang lain. Hal ini memiliki makna Civil and Political Rights (ICCPR)16 tidak di
bahwa suatu perbuatan (penikmatan hak) tidak jumpai ketentuan pembatasan yang berlaku
menimbulkan kerugian pada orang lain, maka umum atas setiap pasal di dalam konvensi.
tidak ada legitimasi bagi negara untuk me- ICCPR memungkinkan suatu negara peserta un-
represi suatu penikmatan hak.14 Sebaliknya jika tuk membatasi (to limit) atau menunda (sus-
memang penikmatan hak akan mengganggu
orang lain, maka pembatasan terhadapnya di 15
The International Covenant on Economic, Social and
Cultural Rights (ICESCR) was adopted by the General
13
Tedi Sudrajat, “Problematika Penegakan Hukuman Assembly in December 1966 and entered into force in
Disiplin Kepegawaian”, Jurnal Dinamika Hukum, Vol. 8 1976. It elaborates the principles laid out in UDHR and
No. 3, September 2008, Purwokerto: Fakultas Hukum is legally binding on all states who have signed and
Universitas Jenderal Soedirman, hlm. 214. ratified its provisions.
14 16
Lihat dan bandingkan dengan M. Nur Hasan, “Tantangan The International Covenant on Civil and Political Rights
Demokrasi di Indonesia”, Jurnal Aspirasi Vol. 16 No. 1, (ICCPR) was adopted in 1966 elaborates the principles
Juli 2006, Jakarta: Magister Ilmu Hukum Trisakti,hlm. laid out in UDHR and is legally binding on all states
33-40. who have signed and ratified its provisions.
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 57

pend) penikmatan hak dalam hal secara resmi waratan Rakyat No. XVII/MPR/1998 Pasal 34
dinyatakan bahwa negara dalam keadaan yang menentukan bahwa setiap orang wajib
darurat yang mengancam kelangsungan hidup meng-hormati hak asasi manusia orang lain
suatu bangsa. Pasal 4 ayat (1) ICCPR menentu- dalam tertib kehidupan bermasyarakat, ber-
kan bahwa bangsa, bernegara. Piagam Hak Asasi Manusia
In time of public emergency which threa- juga menegaskan bahwa penikmatan hak asasi
tens the life of the nation and the exis- manusia bisa dibatasi oleh hukum. Ditentukan
tence of which is officially proclaimed, oleh Pasal 36 dari Ketetapan MPR tersebut
the States Parties to the present Cove-
nant may take measures derogating from bahwa
their obligations under the present Cove- Di dalam menjalankan hak dan kebebas-
nant to the extent strictly required by annya setiap orang wajib tunduk kepada
the exigencies of the situation, provided pembatasan-pembatasan yang ditetapkan
that such measures are not inconsistent oleh Undang-Undang dengan maksud
with their other obligations under semata-mata untuk menjamin pengakuan
international law and do not involve serta penghormatan atas hak dan ke-
discrimination solely on the ground of bebasan orang lain, dan untuk memenuhi
race, colour, sex, language, religion or tuntutan yang adil sesuai dengan per-
social origin. timbangan moral, keamanan, dan keter-
tiban umum dalam suatu masyarakat
Sebagaimana ditentukan dalam Pasal 4 di demokratis.
atas, kemungkinan untuk itu (membatasi dan Sementara itu Pasal 70 Undang-Undang
menunda) hanya diijinkan dalam hal sangat No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
diperlukan dalam situasi yang amat genting juga mengatur limitasi hak asasi manusia de-
yang mengancam kehidupan bangsa, serta tak ngan menentukan bahwa
boleh diskriminatif semata pada ras, warna Dalam menjalankan hak dan kebebasan-
kulit, jenis kelamin, bahasa, agama atau asal nya, setiap orang wajib tunduk kepada
sosial. pembatasan yang ditetapkan Undang-
Undang dengan maksud untuk menjamin
Pada level perundangan nasional, UUD
pengakuan serta penghormatan atas hak
1945 hasil amandemen memberikan pembatas- dan kebebasan orang lain dan untuk me-
an dan kewajiban hak asasi manusia dengan menuhi tuntutan yang adil sesuai dengan
menyatakan: setiap orang wajib menghormati pertimbangan moral, keamanan, dan ke-
hak asasi manusia orang lain dalam tertib tertiban umum dalam suatu masyarakat
demokratis.
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan ber-
negara (Pasal 28 J ayat (1) UUD 1945). Hal di atas bermakna bahwa pembatasan
Lebih lanjut Pasal 28 J ayat (2) menentu- terhadap hak pilih bagi TNI dan Polri dimaksud-
kan kan agar penyelenggaraan tugas pemerintah
Dalam menjalankan hak dan kebebas- berupa pertahanan dan keamanan dilaksanakan
annya, setiap orang wajib tunduk kepada secara penuh oleh anggota TNI dan Polri. Na-
pembatasan yang ditetapkan dengan mun permasalahannya adalah perkembangan
Undang-Undang dengan maksud semata- masyarakat demokratis di Indonesia semakin
mata untuk menjamin pengakuan serta
penghormatan atas hak dan kebebasan mengarah pada konsolidasi politik dalam hal
orang lain dan untuk memenuhi tuntutan pemberian hak yang sama pada setiap warga
yang adil sesuai dengan pertimbangan negara. 17
moral, nilai-nilai agama, keamanan dan Konsolidasi demokrasi adalah suatu pro-
ketertiban umum dalam suatu masya- ses pemapanan sistem demokrasi, untuk me-
rakat demokratis.
nuju pada sistem politik yang stabil dan mapan.
Pembatasan hak asasi manusia dijumpai
17
dalam Piagam Hak Asasi Manusia yang ter- Sumali, “Urgensi TNI di Bingkai Konstitusi Dalam Pers-
pektif Yuridis Politis”, Jurnal Hukum Respublica, Vol. 3
cantum dalam Ketetapan Majelis Permusya- No. 1, Tahun 2003, Pekanbaru: Fakultas Hukum Univer-
sitas Lancang Kuning, hlm. 61.
58 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

Konsolidasi demokrasi memerlukan tiga hal, politik.19 Hal ini terlihat secara tegas dalam
yaitu: pertama, pendalaman demokrasi (demo- Pasal 5 ayat (2) dan (4) Tap MPR No
cratic deepenning), yakni struktur-struktur VII/MPR/2000 yang menentukan bahwa
politik menjadi semakin terbuka (liberal), (2) TNI bersikap netral dalam kehidupan
akuntabel, representatif dan aksesibel. Ini ber- politik dan tidak melibatkan diri da-
arti kebebasan politik dijamin tetapi sekaligus lam kehidupan politik praktis.
(4) Anggota TNI tidak menggunakan hak
juga tunduk pada hukum; kedua, pelembagaan memilih dan dipilih. Keikutsertaan
politik (political institutionalization), yaitu TNI dalam menentukan arah kebijak-
terbangun dan tertatanya struktur-struktur po- an nasional disalurkan melalui MPR
litik dan pemerintahan untuk menjamin ter- paling lama sampai dengan tahun
selenggaranya birokrasi yang melayani kebutuh- 2009.
Hak pilih anggota Polri diatur dalam pasal 10
an publik, pemerintahan perwakilan yang ma-
ayat (1) dan (2) Tap MPR No VII/MPR/2000 yang
pan dan bertanggungjawab (partai politik,
menentukan bahwa
pemilu, badan-badan pemerintahan) yang men-
Polri bersikap netral dalam kehidupan
cerminkan pluralitas kepentingan masyarakat. politik dan tidak melibatkan diri dalam
Artinya, demokrasi akan dijadikan sebagai mo- kehidupan politik praktis. anggota Polri
del dan aturan main bersama untuk menyele- tidak menggunakan hak memilih dan di
saikan berbagai persoalan yang dihadapi baik pilih. Keikutsertaan Polri dalam menentu-
secara sosial, politik, ekonomi dan budaya. kan arah kebijakan nasional disalurkan
melalui MPR paling lama sampai dengan
Oleh karena itu, salah satu ciri dari konsolidasi tahun 2009.
demokrasi adalah semakin kuatnya nilai-nilai
Nilai-nilai demokratis tersebut dapat di
demokrasi, khususnya jaminan kebebasan untuk
cermati pula melalui konsepsi demokrasi per-
berserikat dan berkumpul serta berorganisasi
wakilan yang dikemukakan oleh Henry B. Mayo
dan tidak adanya tekanan-tekanan politik oleh
dalam karyanya yang berjudul “An Introduction
rezim menjadi salah satu dari sekian indikator.
to Democratic Theory” yang menegaskan
Konsolidasi demokrasi juga dicirikan oleh kuat-
bahwa :
nya pemahaman elit politik bahwa model
“A Democratic political system is one in
demokrasi (sistem demokrasi) adalah pilihan
which public policies are made on a ma-
satu-satunya bagi pelaksanaan dan mekanisme jority basis, by representatives subject
untuk melaksanakan pemerintahan.18 to effective popular control at periodic
Mencermati relevansi dari substansi peng- elections which are conductet on the
aturan tentang pembatasan penikmatan hak principle of political equality and under
conditions of political freedom”20
asasi manusia karena pertimbangan moral,
nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat
umum dalam suatu masyarakat demokratis dikatakan bahwa unsur keterlibatan atau par-
apabila dikaitkan dengan hak pilih bagi anggota tisipasi setiap warga masyarakat dalam proses
TNI dan Polri, maka pengaturan tersebut masih penyelenggaraan pemerintahan adalah sesuatu
perlu untuk dievaluasi dengan pemikiran bahwa yang mutlak, terlepas apakah keterlibatan itu
konsep demokrasi tersebut telah mencederai secara langsung maupun tidak langsung melalui
nilai-nilai ideal demokratis dengan adanya wakil-wakilnya yang duduk dalam lembaga-
penghapusan hak asasi dan dihilangkannya ke- lembaga perwakilan. Kesahan atau legitimasi
terwakilan lembaga TNI dan Polri dalam ranah

18 19
T. Hari Prihatono, 2008, “Departemen Pertahanan-TNI- Lihat dan Bandingkan dengan Albert Hasibuan, “Politik
Masyarakat Sipil : Relasi dalam Formulasi Kebijakan Hak Asasi Manusia (HAM) Dan UUD 1945”, Law Review
dan Transparansi Implementasi,” dalam diskusi untuk Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan, Vol. 8 No.
simposium “10 Tahun Reformasi Sektor Keamanan di 1, Juli 2008, hlm. 43-62.
20
Indonesia” dengan tema ”Reformasi TNI dan Depar- Lihat dalam I Gede Pantja Astawa, 2000, Hak Angket
temen Pertahanan RI Pasca Orde Baru di Indonesia”, Dalam Sistem Ketatanegaraan Indonesia Menurut
yang diselenggarakan atas kerja sama Lesperssi-HRWG- Undang Undang Dasar 1945, Disertasi, Bandung UNPAD,
IDSPS-DCAF, Hotel Sultan - Jakarta 28-29 Mei 2008. hlm. 77.
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 59

suatu pemerintahan dalam perspektif demo- attempt to influnce the government by


krasi dapat dilihat sampai seberapa besar par- competing in elections and by other peaceful
tisipasi rakyat dalam pemerintahan. Tingginya means. (Pada akhirnya mereka mempunyai hak-
partisipasi politik menunjukan bahwa rakyat hak yang diperjuangkan secara efektif untuk
mengikuti dan memahami masalah politik dan membentuk dan bergabung pada sosiasi
ingin melibatkan diri dalam kegitan itu. Jadi otonom, termasuk kelompok kpentingan partai
partisipasi politik merupakan pengejawantahan politik, yang mencoba mempengaruhi
kekuasaan politik yang absah. Dalam kaitan ini, pemerintah dengan berkompetisi dalam
konsep keterwakilan menunjukan hubungan pemilihan dan melakui sarana-sarana damai
antara orang-orang, yakni pihak yang mewakili lainnya).21
dan diwakili, dimana orang yang mewakili Kriteria ideal yang disampaikan oleh
mempunyai sederet kewenangan sesuai dengan Robert Dahl tidak selaras dengan pengaturan
kesepakatan antar keduanya. Perwakilan me- negara terhadap pembatasan hak anggota TNI
rupakan suatu konsep bahwa seseorang atau dan Polri dalam proses politik, karena tidak
suatu kelompok mempunyai kemampuan atau diberikannya akses perwakilan di lembaga
kewajiban untuk berbicara atau bertindak atas legislatif dan tidak diberikan hak untuk dipilih
nama suatu kelompok yang lebih besar. Per- dalam Pemilihan Umum. Hal ini mengindikasi-
wakilan ini disebut perwakilan politik. Per- kan bahwa tidak terdapatnya sinkronisasi
wakilan politik menggambarkan hubungan per- hukum antara pembatasan hak pilih bagi TNI
wakilan (yang tersusun dalam lembaga atau dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manusia
badan perwakilan) di mana si wakil bertindak dalam konteks masyarakat demokratis di
sebagai wakil rakyat yang diwakilinya. Indonesia.
Robert Dahl, dalam kaitan ini menge- Konsep hak (right) dengan ajektif ma-
mukakan tujuh kriteria demokrasi untuk meng- nusia (human) mempunyai implikasi instrinsik
amati ada tidaknya demokrasi yang diwujudkan bahwa hak-hak itu dimiliki oleh laki-laki mau
dalam suatu pemerintahan negara. Pertama, pun perempuan (men and women) secara sama.
Control over government decicions about Seluruh manusia dimanapun dan kapanpun
policy is constitusionally vested in elected karena kemanusiaannya (humanity) tanpa me-
officials; kedua, Elected officials are chosen mandang jenis kelamin, ras, usia, kelas sosial,
and peacfully removed in relatively frequent, kewarganegaraan, etnis atau afiliasi kesukuan,
fair and free elections in which coercion is kekayaan, jabatan, keahlian, agama, ideologi,
quite limited; ketiga, Practically all adults dan komitmen-komitmen lainnya. Dengan ke-
have the right in vote in these elections; seluruhan pemikiran di atas, maka tepat yang
keempat, Most adults have the rigth to run for dikatakan oleh Todung Mulya Lubis, bahwa
public officer for which candidates run in menelaah HAM sesungguhnya adalah menelaah
these elections; kelima, Citizens have an totalitas kehidupan, sejauh mana kehidupan
effectifly enforced right to freedom of kita memberi tempat yang wajar kepada
expression, particulary political expression, kemanusiaan.22 Hal inilah yang kemudian me-
including criticsm of of the officials, the ngantar pada eksistensi hukum dalam negara
conduct of the government, the prevalling yang seharusnya memberikan tempat dan hak
political, economic, and social system, and the politik bagi anggota TNI dan Polri ke dalam
dominants idiology; keenam, These olso have kategori inalienable, tidak dapat dialihkan,
acces of alternative sources of information dirampas, atau diganggu gugat; dan impre-
that are not monopolized by the government
or any other single group; dan ketujuh, Finally 21
Afan Gaffar, 2000, Politik Indonesia: Transisi Menuju
Demokrasi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, hlm. 6-7.
the have and effectively enforced right to 22
Todung Mulya Lubis, “Menegakan Hak Asasi Manusia,
form and join autonomous associations, Menggugat Diskriminasi”, Jurnal Hukum dan Pemba-
ngunan, Vol. 39 No. 1, Januari–Maret 2009, Jakarta: Fa-
including political parties interest groups, that
kultas Hukum Universitas Indonesia, hlm. 61.
60 Jurnal Dinamika Hukum
Vol. 11 No. 1 Januari 2011

scriptible, tidak dapat hilang, betapapun telah mengalami kemunduran. Hal ini dikarenakan
digerogoti atau gagal dalam pemenuhannya. pada masa Orde Lama, angkatan bersenjata
Perlu dicermati bahwa keberadaan dari dan polisi diberikan hak memilih sebagaimana
HAM memberikan kewajiban kepada negara, termaktub dalam Undang-Undang No. 7 Tahun
yakni kewajiban untuk menghormati (to res- 1953 tentang Pemilihan Anggota Konstituante
pect), kewajiban untuk melindungi (to pro- dan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Pada
tect), dan kewajiban untuk memenuhi (to Orde Baru, ABRI tidak diberikan hak untuk
fulfil) HAM. Jika suatu negara gagal dalam memilih, namun keberadaan ABRI dalam ranah
memenuhi satu dari kewajiban itu maka suatu ranah politik diatur secara khusus melalui
negara bisa dikatakan telah melanggar HAM. mekanisme pengangkatan dalam lembaga legis-
Kewajiban untuk menghormati HAM mensyarat- latif dan diatur dalam Undang-Undang No. 15
kan negara untuk mencegah atau menahan dari tahun 1969 tentang Pemilihan Umum Anggota-
melanggar atau mengurangi penikmatan hak Anggota Badan Permusyawaratan/Perwakilan
asasi warga. Kewajiban untuk melindungi men- Rakyat. Pada era reformasi, hak pilih dan
syaratkan negara untuk melindungi warga dari memilih bagi anggota TNI dan Polri dihilangkan
pelanggaran hak asasi oleh pihak ketiga. Se- sebagaimana diamanatkan oleh Tap MPR No.
dangkan kewajiban untuk memenuhi HAM men- VII/2000 tentang Peran TNI dan Polri, Undang-
syaratkan negara untuk mengambil langkah- Undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
langkah legislasi, administrasi, keuangan, per- Negara Republik Indonesia dan Undang-Undang
adilan dan upaya-upaya lain untuk mewujudkan No.34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional In-
hak tersebut. Dengan demikian, hak politik WNI donesia, sehingga TNI dan Polri hanya melak-
yang kebetulan jadi anggota TNI dan Polri tidak sanakan tugas negara tanpa adanya hak politik
dapat dihapuskan oleh siapapun, kecuali jika yang melekat dalam diri instansi tersebut.
mereka tak bersedia menggunakannya. Pro- Hak memilih adalah hak yang bersifat
blematika dalam meletakkan supremasi hukum personal dan bukan institusional, oleh karena
sebagai landasan utama berdemokrasi dan itu negara mempunyai kewajiban untuk meng-
upaya penegakan keadilan tidak semata-mata hormati hak asasi manusia dan mencegah atau
terletak pada halangan struktural atas lemah- menahan dari melanggar atau mengurangi pe-
nya political will penegak hukum dalam pene- nikmatan hak asasi dari warga negaranya.
gakan prinsip justice for all, tetapi juga pada Dengan demikian, hak politik WNI yang menjadi
sangat mudahnya norma hukum tidak saja anggota TNI dan Polri tidak dapat dihapuskan
belum terisi oleh nilai-nilai keadilan, tetapi oleh siapapun, kecuali jika mereka tak bersedia
hukum juga sering kali mengabdikan diri se- menggunakannya. Hal ini bermakna bahwa pa-
bagai instrumen kekuasaan.23 Perlu ditegaskan da era reformasi ini belum terdapatnya sin-
bahwa hak pilih anggota TNI dan Polri pernah kronisasi hukum, baik secara vertikal maupun
dilaksanakan pada Pemilu 1955 tanpa menim- horizontal antara penghapusan hak pilih bagi
bulkan polarisasi atau gangguan keamanan se- TNI dan Polri dengan konsepsi Hak Asasi Manu-
bagaimana dikhawatirkan sementara kalangan sia dalam konteks masyarakat demokratis. Hal
dewasa ini. ini dikarenakan kriteria partisipasi dan keter-
wakilan sebagimana termaktub dalam nilai-
Penutup nilai ideal demokrasi belumlah terwujud.
Simpulan
Pengaturan tentang hak pilih bagi ang- Saran
gota TNI dan Polri dalam tiga periode terakhir Perlu adanya perubahan pengaturan ter-
hadap hak pilih TNI dan Polri di Indonesia. Me-
23
Marcus Priyo Gunarto, “Perlindungan Hak Asasi Manusia
ngacu pada kaidah demokrasi universal, sese-
Dalam Dinamika Global”, Jurnal Mimbar Hukum, Vol. orang yang memiliki profesi tertentu tidak
19 No. 2, Juni 2007, Fakultas Hukum Universitas Gadjah
kehilangan hak-hak politiknya, khususnya hak
Mada, hlm. 259
Analisis Terhadap Hak Pilih TNI dan Polri dalam Pemilihan Umum 61

memilih dalam pemilu. Semua warga negara Gunarto, Marcus Priyo. “Perlindungan Hak Asasi
pada prinsipnya mempunyai hak dan kewajiban Manusia Dalam Dinamika Global”. Jurnal
sama. Mimbar Hukum Vol. 19 No. 2. Juni 2007.
Yogyakarta: Fakultas Hukum Universitas
Upaya-upaya preventif yang dapat dilaku- Gadjah Mada;
kan pemerintah dalam rangka pemulihan hak
Hasan, M. Nur. “Tantangan Demokrasi di
pilih bagi anggota TNI dan Polri dapat berupa Indonesia”, Jurnal Aspirasi. Vol. 16 No.
Pertama, menumbuhkan sikap profesional pada 1. Juli 2006. Jakarta: Magister Ilmu Hu-
anggota TNI dan Polri dalam menjalankan tu- kum Trisakti;
gasnya.. Selain itu, anggota TNI dan Polri harus Hasibuan, Albert “Politik Hak Asasi Manusia
merespon perkembangan eksternal, guna di (HAM) Dan UUD 1945”, Law Review. Vol.
jadikan pertimbangan dalam menjalankan re- 8 No. 1. Juli 2008. Jakarta: Fakultas Hu-
kum Universitas Pelita Harapan;
formasi internalnya. Kedua, memperbaiki kese-
jahteraan anggotanya utamanya yang berpang- Hasnati. “Pertautan Kekuasaan Politik dan
Negara Hukum”. Jurnal Hukum Respubli-
kat rendah. Kesejahteraan dapat menghindar-
ca. Vol. 3 No. 1. Tahun 2003. Pekanbaru:
kan anggota TNI dan Polri dari kemungkinan Fakultas Hukum Universitas Lancang Ku-
pemanfaatan jasa mereka oleh pihak tertentu ning;
untuk meraih kepentingan pribadi atau go- Julia, Syamsiar. “Pelanggaran HAM dan Peranan
longannya dalam bidang politik, khususnya Polri Dalam Penegakan Hukum di Indo-
pada saat pemilu. Peningkatan kesejahteraan nesia”. Jurnal Equality. Vol. 11 No. 2.
ini salah satunya dapat dilakukan dengan cara Agustus 2006. Medan: Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara;
mengurangi perekrutan anggota TNI dan Polri
Lubis, Todung Mulya. “Menegakan Hak Asasi
karena dalam perkembangan dunia pertahanan
Manusia, Menggugat Diskriminasi”. Jurnal
keamanan, jumlah anggota militer tak lagi hukum dan Pembangunan. Vol. 39 No. 1.
menjadi penentu utama, tetapi tergantikan Januari–Maret 2009. Jakarta: Fakultas
oleh teknologi. Dengan pengurangan rekrutmen Hukum Universitas Indonesia;
anggota TNI dan Polri, maka anggaran yang ti- Nurhasan. “Pasang Surut Penegaka;n HAM dan
dak terpakai dapat dialihkan pengalokasiannya Demokrasi di Indonesia”. Jurnal Ilmu
untuk teknologi pertahanan keamanan serta Hukum Litigasi. Vol. 6 No. 2. Juni 2005.
Bandung: Fakultas Hukum Universitas
untuk meningkatkan kesejahteraan anggota-
Pasundan;
nya.
Prihatono, T. Hari. 2008. “Departemen Perta-
hanan-TNI-Masyarakat Sipil: Relasi dalam
Daftar Pustaka Formulasi Kebijakan dan Transparansi
Armiwulan, Hesti. “Hak Asasi Manusia dan Hu- Implementasi,” dalam diskusi untuk sim-
kum”. Jurnal Yustika. Vol. 7 No. 2. De- posium “10 Tahun Reformasi Sektor Kea-
sember 2004. Surabaya: Fakultas Hukum manan di Indonesia” dengan tema ”Re-
Universitas Surabaya; formasi TNI dan Departemen Pertahanan
RI Pasca Orde Baru di Indonesia”, yang
Astawa, I Gede Pantja. 2000. Hak Angket Da- diselenggarakan atas kerja sama Les-
lam Sistem Ketatanegaraan Indonesia perssi-HRWG-IDSPS-DCAF, Hotel Sultan,
Menurut Undang Undang Dasar 1945. Di- Jakarta 28-29 Mei 2008;
sertasi. Bandung: UNPAD;
Sudrajat, Tedi “Problematika Penegakan Hu-
Departemen Pertahanan dan Keamanan, 24 kuman Disiplin Kepegawaian”, Jurnal
Juni 2010, Hak Pilih TNI, Bagai Pedang Dinamika Hukum. Vol. 8 No. 3. Septem-
Bermata Dua, dapat diakses dalam ber 2008. Purwokerto: Fakultas Hukum
http://www.dephan.go.id/modules.php? Universitas Jenderal Soedirman;
name= News&file=-article&sid=7514;
Sumali. “Urgensi TNI di Bingkai Konstitusi Da-
Gaffar, Afan. 2000. Politik Indonesia: Transisi lam Perspektif Yuridis Politis”. Jurnal
Menuju Demokrasi. Yogyakarta: Pustaka Hukum Respublica. Vol. 3 No. 1. Tahun
Pelajar; 2003. Pekanbaru: Fakultas Hukum Uni-
versitas Lancang Kuning.