Sei sulla pagina 1di 13

HUMANITAS Vol. 11-1.

19-32 ISSN : 1693-7236

Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam


Meningkatkan Perilaku Prososial Anak Pra Sekolah

Evi Sri Restuwati 1 dan Amitya Kumara 2


SMP IT Nurul Ilmi Cibarurusah. Perum Puri Persada Indah Blok AZ, Sindangmulya, Cibarusah,
Bekasi. & Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Jl. Sosio-Humaniora No. 1
Bulaksumur, Yogyakarta evi.congming@yahoo.co.id / amikumara@yahoo.com

ABSTRACT

Prosocial behavior made unique contributions to the prediction of educational achievement,


sociability in the early years. Prosocial behavior was defined as acting that is either beneficial to or
intended to benefit other people. Prosocial behavior could be expressed as helping, supporting,
physical affection, or sharing. The “Temanku Sahabatku” program was adopted from a large themes
from the book of The Anti-Bullying and Teasing Program for Preschool by Sprung, et al (2005),
friendship theme. The “Temanku Sahabatku” program was the program which was designed as an
effort to avoid bullying at school by improved children prosocial behavior. Teachers and students of
two preschools in Sleman was going to involve in this study. This study was going to use quasi-
experiment design, the untreated control group design with pre-test and post-test. Teachers were
asked to implement the program which was trained before into first year preschoolers classroom in
experiment group. The result of this study was the implementation of “Temanku Sahabatku” program
was effective to improve the prosocial behavior of preschool children in experiment group rather
than control group (F=26,506; MD= -2,200; p<0,05).

Keywords: Program Anti-Bullying, friendship theme, prosocial behavior.

ABSTRAK

Perilaku prososial diketahui memiliki kontribusi terhadap prediksi prestasi akademik dan
kemampuan sosial di awal masa anak-anak. Perilaku prososial merupakan tindakan sukarela dengan
niat untuk membantu orang lain yang dapat diekspresikan dalam bentuk perilaku membantu,
mendukung, kasih sayang fisik, ataupun berbagi. Program “Temanku Sahabatku” merupakan adaptasi
sebuah tema besar dari buku The Anti Bullying and Teasing Program for Preschool karya Sprung,
dkk (2005), yaitu tema Persahabatan. Program “Temanku Sahabatku” merupakan program yang
dirancang sebagai upaya pencegahan terhadap perilaku bullying dengan meningkatkan perilaku
prososial anak. Guru dan siswa di dua Taman Kanak-kanak di Sleman, Yogyakarta akan dilibatkan
dalam penelitian ini. Penelitian ini akan menggunakan desain eksperimen kuasi untreated control
group design with pre-test and post-test. Guru diminta untuk mengimplementasikan program yang
telah dilatihkan sebelumnya ke dalam proses belajar mengajar di kelas sebagai perlakuan pada
siswa tahun pertama di TK kelompok eksperimen. Hasil penelitian ini adalah perilaku prososial
anak prasekolah pada kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan implementasi program
20

“Temanku Sahabatku” oleh guru meningkat secara signifikan daripada perilaku prososial anak
prasekolah di kelompok kontrol (F=26,506; MD= -2,200; p<0,05).

Kata kunci: Program Anti-Bullying, Tema Persahabatan, Perilaku Prososial.

PENDAHULUAN yang kedua adalah perilaku prososial yang


muncul berdasarkan permintaan teman sebaya.
Perilaku prososial diketahui memiliki Misalnya, ada anak yang kehilangan pensil dan
kontribusi terhadap prediksi prestasi akademik menanyakan kepada temannya, kemudian
dan kemampuan sosial di awal masa anak-anak, temannya mencarikan pensil tersebut.
serta dapat menjadi prediktor yang signifikan dan Perilaku prososial dapat diajarkan kepada
reliabel untuk penyesuaian sosio-emosional anak anak-anak sejak dini sebelum usia dua tahun,
selanjutnya (Chen, Liu, Rubin, dkk, 2002). misalnya dengan membantu orang lain, berbagi
Perilaku prososial merupakan tindakan sukarela kasih sayang dan makanan, serta menawarkan
dengan niat untuk membantu orang lain (Papalia, kenyamanan (Zahn-Waxler, Radke-Yellow,
Old, & Feldman, 2004). Menurut Eisenberg & Wagner & Chapman, dalam Papalia, Old,
Mussen (1989), perilaku prososial adalah Feldman, 2004). Berdasarkan Milestone of
tindakan sukarela dengan maksud membantu dan Child Development (2008), anak-anak pada
memberikan manfaat kepada orang lain, yaitu usia 4 tahun atau lebih mulai mempelajari untuk
berbagi (memberikan barang atau cerita), menunjukkan empati dan kepedulian terhadap
menolong (melakukan sesuatu untuk orang lain, bekerjasama dengan orang lain,
memudahkan pihak kedua), menunjukkan kasih menunjukkan peningkatan kemampuan dalam
sayang secara fisik agar pihak kedua merasa lebih memecahkan masalah, serta dengan mudah
nyaman dan tenang, memberikan dukungan berinteraksi baik dengan anak-anak maupun
(memberikan semangat atau kesempatan kepada orang dewasa. Dengan demikian, anak-anak usia
orang lain), serta kerjasama. 4 tahun atau lebih sudah mampu menunjukkan
1. Peneliti empati, kepedulian, dan kerjasama dengan teman
2. Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas sebayanya.
Gadjah Mada Hasil survei tahun 2012 terhadap 302 guru
Eisenberg & Mussen (1989) membagi dari 79 Taman Kanak-kanak di Kabupaten
perilaku prososial menjadi dua kategori, yaitu Sleman menunjukkan bahwa 91% guru
perilaku prososial spontan dan perilaku prososial menyatakan perilaku agresif di lingkungan siswa
berdasarkan permintaan. Kategori tersebut prasekolah masih banyak terjadi. Perilaku agresif
didasarkan pada motivasi yang mendasari verbal ditunjukkan dengan menertawai teman
munculnya perilaku prososial. Perilaku prososial ditemukan sebanyak 83,44%, mengatakan hal
spontan berhubungan dengan orientasi anak yang buruk pada teman 32,45% dan
terhadap orang lain, penjelasan empati untuk membungkam teman 13,25%. Perilaku agresif
keputusan moral, serta tingginya tingkat yang dihubungkan dengan kepemilikan barang
kemampuan untuk bersosialisasi dengan teman ditunjukkan dalam perilaku merebut barang milik
sebayanya. Misalnya ketika ada teman sebaya teman ditemukan sebanyak 35,1%, merusak
yang menangis, maka anak-anak berusaha barang teman 15,56%, dan menyembunyikan
menenangkan teman tersebut. Perilaku prososial barang milik teman 55,3%. Agresi fisik juga
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 21
Anak Pra Sekolah

terjadi seperti menarik rambut teman ditemukan diperlukan suatu program yang diharapkan dapat
sebanyak 28,4%, memukul teman 74,17%, meningkatkan perilaku prososial siswa
menggigit teman 21,2% dan menendang teman prasekolah. Program tersebut adalah The Anti-
74,17%. Begitu pula agresi secara psikologis Bullying and Teasing for Preschool Classroom
misalnya, tidak mengizinkan teman untuk ikut (Sprung, 2005). Program ini merupakan suatu
bermain ditemukan sebanyak 65,23% dan tidak program yang menciptakan lingkungan yang
memperbolehkan teman untuk duduk didekatnya saling menyayangi dan bersahabat. Cara yang
48,34% (Hakim, Ismayasari, Pratistita, & ditempuh seperti dengan membuat aturan
Restuwati, 2012). Data tersebut didukung bersama, menjalankan aturan tersebut, serta
pernyataan Stratton dan Reid (2004), yang belajar untuk memahami perasaaan diri sendiri
menyatakan bahwa prevalensi masalah perilaku dan orang lain. Program ini memiliki 4 tema besar
agresif anak prasekolah adalah sekitar 10% yaitu komunitas, perasaan, persahabatan dan
hingga dapat mencapai 25% pada anak-anak teasing and bullying.
yang secara sosial-ekonomi kurang beruntung. Penelitian kali ini mengadaptasi tema
Anak yang agresif sering ditolak oleh persahabatan dan menuangkannya ke dalam
teman-teman mereka, meskipun agresifitas tidak program “Temanku Sahabatku”. Aktivitas dalam
selalu menghalangi penerimaan teman sebaya. tema persahabatan ini mendukung anak-anak
Resiko bagi anak-anak yang memiliki masalah menyesuaikan diri di sekolah dan akan
emosi dan perilaku sejak dini diperparah dengan mengajarkan kepada anak-anak mengenai
penolakan teman sebaya. Sebaliknya, konsep empati, berbagi, bekerjasama dan
persahabatan dan relasi yang positif sejak dini bersahabat (Sprung, Froschl, dan Hinitz, 2005).
dengan teman sebaya dapat melindungi anak dari Aktivitas ini memungkinkan anak-anak belajar
masalah-masalah psikologis ke depannya (Hay, tentang diri mereka sendiri dan menjalin
2005). Menurut Nelson dan Crick (dalam persahabatan dengan lingkungan sosialnya.
Damon, Lerner, & Eisenberg, 2006), anak-anak Dukungan persahabatan secara positif
yang menunjukkan perilaku agresif yang tinggi, berhubungan dengan perilaku prososial,
cenderung menunjukkan rendahnya tingkat sedangkan konflik persahabatan secara positif
kemunculan perilaku prososial. berhubungan dengan tindakan agresif dan
Pencegahan terhadap kekerasan dan penolakan teman sebaya (Sebanc, 2003).
agresivitas perlu untuk dilatihkan sejak dini, Teman sebaya dapat menyediakan
karena perilaku awal kekerasan dan agresivitas persahabatan dan dukungan sebaik belajar
merupakan indikator munculnya masalah perilaku berdasarkan pengalaman dalam bekerjasama
di masa yang akan datang (Hahn, dkk, 2007). dan bermain peran. Keluarga juga merupakan
Hasil penelitian Houbre, Tarquinio, Thuillier, dan lingkungan sosialisasi anak yang memberikan
Hergott (2006) menjelaskan bahwa masalah dampak yang signifikan terhadap perkembangan
emosi, sosial, dan perilaku pada anak-anak anak. Begitu pula dengan sekolah, merupakan
memiliki dampak negatif, misalnya memicu tempat dimana anak-anak secara formal belajar
timbulnya masalah akademis, masalah perilaku, mengenai lingkungan sosial mereka. Para guru
emosi, sosial, dan psikosomatis, serta dampak mendorong perkembangan berbagai macam
negatif jangka panjang yang berkaitan dengan keahlian dan perilaku dengan menjadi role model
interaksi personal dan profesional setelah dan dengan memberikan motivasi bagi anak-anak
dewasa, sehingga dibutuhkan penanganan dini untuk sukses dalam belajar (Berns, 2007).
atas permasalahan-permasalahan tersebut. Langkah nyata yang dapat membantu
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka orangtua dan guru dalam meningkatkan perilaku
22

prososial anak adalah dengan menciptakan situasi modeling (Bandura, 1986). Proses berpikir dan
yang saling menyayangi dan hangat baik di belajar yang terjadi dalam modelling (Bandura,
sekolah maupun di rumah. Guru di sekolah dapat 1986) meliputi atensi, retensi, produksi, dan
menjelaskan dan menjalankan aturan bagi anak- motivasi.
anak, mendorong anak-anak untuk saling Teori sosial kognitif menjelaskan bahwa
membantu, menghubungkan perilaku prososial seseorang dapat belajar melalui modelling, yaitu
ke dalam kualitas internal anak, serta meniru orang lain yang diamati, sehingga terdapat
memberikan contoh pemikiran positif dan suatu bentuk perilaku untuk ditiru oleh seseorang
perilaku dermawan (Ulutas & Aksoy, 2009). untuk memulai terjadinya suatu proses belajar.
Teman sebaya dan guru dapat menjadi model Guru merupakan pemegang posisi sentral di
dan menguatkan perilaku prososial (Eisenberg sekolah sebagai model bagi siswa-siswa dalam
& Fabes, dalam Papalia, Old, & Feldman, 2004). melaksanakan aktivitas di sekolah. Seorang
Pada penelitian ini, guru diminta untuk siswa dapat belajar mengubah perilakunya sendiri
mengimplementasikan program “Temanku dengan menyaksikan orang atau sekelompok
Sahabatku” yang sebelumnya telah dilatihkan oleh orang merespon sebuah stimulus tertentu. Siswa
Hakim (2013). Penelitian Hakim (2013) juga dapat mempelajari respon-respon baru
menunjukkan bahwa pelatihan program dengan cara pengamatan terhadap perilaku
“Temanku Sahabatku” untuk menciptakan kelas contoh dari orang lain, misalnya guru atau
bersahabat secara signifikan meningkatkan orangtua.
pengetahuan, pemahaman, dan performansi guru, Teori sosial kognitif juga menjelaskan
sehingga guru-guru layak untuk bahwa anak akan dapat menginternalisasi aturan
mengimplementasikan program “Temanku dengan cara meniru serta memahami penjelasan
Sahabatku” di kelas. Program tersebut berupa dari para socializer atau orang yang
aktivitas-aktivitas kelas yang terdiri dari 4 teladan mensosialisasikan. Socializer ini memiliki peran
guru, 6 strategi kelas, 7 aktivitas tema komunitas, penting bagi anak dalam mempelajari nilai-nilai
dan 8 aktivitas tema persahabatan. serta perilaku. Salah satu socializer bagi anak
Implementasi program yang dilakukan adalah guru (Eisenberg & Mussen, 1989). Pada
oleh guru memberikan pandangan bahwa siswa penelitian ini guru mengimplementasikan guru
dapat menunjukkan perilaku prososial dapat tidak hanya memberikan contoh perilaku, akan
digambarkan dengan menggunakan teori belajar tetapi juga mengajak anak untuk mendiskusikan
sosial-kognitif. Teori sosial kognitif hal-hal yang berhubungan dengan pertemanan,
menggambarkan manusia sebagai makhluk yang seperti bagaimana konsep pertemanan,
unik, dinamis, serta belajar dengan melibatkan berperilaku terhadap teman, aspek-aspek positif
semua proses yang saling mempengaruhi antara dan negatif dari suatu pertemanan, kosakata baru
kegiatan kognitif dalam memproses informasi, yang berhubungan dengan pertemanan, serta
adanya motivasi kegiatan dari dalam diri, serta pentingnya kebaikan di kelas, sekolah, dan
adanya stimulus dari luar. Manusia akan selalu masyarakat. Setelah anak-anak memahami
mengembangkan proses belajarnya yang konsep pertemanan dan bagaimana
melibatkan proses kognitif serta standar penilaian memperlakukan teman, diharapkan perilaku
perilaku oleh lingkungan. Salah satu bentuk proses prososial anak akan meningkat.
belajar adalah observational learning, dimana Hipotesis yang diajukan dalam penelitian
di dalamnya terdapat modelling. Sebagian besar ini adalah perilaku prososial anak prasekolah
yang dipelajari manusia terjadi melalui peniruan pada kelompok eksperimen yang diberikan
atau imitation dan penyajian contoh atau perlakuan implementasi program “Temanku
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 23
Anak Pra Sekolah

Sahabatku” oleh guru akan meningkat daripada barang atau cerita), menolong (melakukan
perilaku prososial anak prasekolah di kelompok sesuatu untuk memudahkan pihak kedua),
kontrol. menunjukkan kasih sayang secara fisik agar
Penelitian ini bertujuan untuk melihat pihak kedua merasa lebih nyaman dan tenang,
efektivitas implementasi Program “Temanku memberikan dukungan (memberikan semangat
Sahabatku” oleh guru dalam meningkatkan atau kesempatan kepada orang lain), serta
perilaku prososial anak-anak prasekolah. kerjasama (Eisenberg & Mussen, 1989).
Implikasi penelitian ini secara teoretis diharapkan Manipulasi yang diberikan kepada
dapat memberikan kontribusi pada keilmuan kelompok eksperimen berupa implementasi
psikologi pendidikan. Sedangkan implikasi program “Temanku Sahabatku” yang dilakukan
penelitian secara praktis diharapkan dapat oleh guru. Program tersebut diadaptasi dari tema
menjadi salah satu alternatif pencegahan Persahabatan dari bukuThe Anti-Bullying and
terjadinya bullying pada anak-anak. Teasing Program for Preschool karya Sprung,
dkk (2005). Hal yang dilakukan untuk menjaga
METODE PENELITIAN supaya guru patuh dalam melaksanakan langkah-
langkah implementasi adalah dengan melakukan
Subjek penelitian ini adalah siswa Taman monitoring dan melalui pengisian panduan
Kanak-Kanak yang diampu oleh guru yang telah observasi proses implementasi program
mendapatkan pelatihan program “Temanku Temanku Sahabatku.
Sahabatku”. Siswa Taman Kanak-Kanak ini Desain penelitian yang digunakan dalam
berasal dari dua Taman Kanak-Kanak di penelitian ini adalah desain eksperimen kuasi,
Kabupaten Sleman, dimana TK pertama sebagai untreated control group design with pre-test
kelompok eksperimen perlakuan program and post-test (Shadish, Cook, Campbell, 2002).
“Temanku Sahabatku”, dan TK yang kedua Desain ini memuat satu kelompok eksperimen
sebagai kelompok kontrol. Subjek pada dan satu kelompok kontrol, dimana kelompok
kelompok eksperimen berjumlah 25 anak, eksperimen nantinya akan diberikan perlakuan
sedangkan pada kelompok kontrol berjumlah 24 berupa implementasi program “Temanku
anak. Subjek penelitian ini merupakan siswa Sahabatku” oleh guru. Berikut adalah desain
prasekolah yang berusia 4-5 tahun.Pemilihan eksperimen kuasi dari penelitian ini:
subjek berdasarkan usia tersebut didasarkan
pernyataan dari Milestone of Child
KE : NR O1 X O2
Development (2008), dimana anak-anak pada
usia 4 tahun atau lebih mulai mempelajari untuk KK : NR O1 - O2
menunjukkan empati dan kepedulian terhadap
orang lain, bekerjasama dengan orang lain, Gambar 1. Desain Eksperimen
menunjukkan peningkatan kemampuan dalam
memecahkan masalah, serta dengan mudah Keterangan:
berinteraksi dengan satu atau lebih anak-anak NR : Non Randomized
dan orang dewasa. KE : Kelompok Eksperimen
Variabel tergantung pada penelitian ini KK : Kelompok Kontrol
adalah perilaku prososial. Perilaku X : Implementasi program “Temanku
prososial merupakan tindakan sukarela Sahabatku” oleh guru
untuk membantu dan memberikan manfaat O 1 : Pengukuran perilaku prososial siswa
kepada orang lain, meliputi berbagi (memberikan sebelum pemberian perlakuan
24

implementasi program “Temanku dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan


Sahabatku” analisis varian campuran yang akan digunakan
O 2 : Pengukuran perilaku prososial siswa untuk menguji perbedaan skor antar kelompok
setelah pemberian perlakuan perlakuan yang dihasilkan dari data pretest dan posttest
implementasi program “Temanku (Gravetter & Wallnau, 2002), yaitu data yang
Sahabatku” berasal dari kelompok eksperimen, serta data
Perilaku Prososial dilihat dengan observasi. dari kelompok kontrol.
Panduan observasi yang digunakan adalah
panduan observasi perilaku prososial yang HASIL DAN PEMBAHASAN
disusun oleh Dara (2010). Panduan observasi
tersebut disusun berdasarkan pengertian perilaku Uji hipotesis pada penelitian ini
prososial dari Eisenberg dan Mussen (1989)yang menggunakan teknik analisis data Anova mixed
meliputi: design dengan bantuan SPSS 15.0 for Windows
1. Mendukung, misalnya memberikan dan diperoleh hasil sebagai berikut. Informasi
semangat, memberikan pujian, serta statistik deskriptif menunjukkan padaTabel
memberi kesempatan untuk aktif kepada 1pretest diperoleh rerata skor perilaku prososial
teman. kelompok eksperimen sebesar 2,16 dengan
2. Kasih sayang fisik, misalnya memeluk, deviasi standar 2,15 dan rerata skor perilaku
mengusap atau membelai anggota badan prososial kelompok kontrol sebesar 2,87 dengan
teman supaya teman merasa lebih tenang dan deviasi standar 3,21. Di sisi lain pada posttest
nyaman. didapatkan rerata skor perilaku prososial
3. Berbagi, misalnya membagikan barang atau kelompok eksperimen 4,36 dengan deviasi
gagasan. standar 2,89 dan rerata skor perilaku prososial
4. Kerjasama, misalnya membereskan mainan, kelompok kontrol 1,08 dengan deviasi standar
menyusun balok, menempel, membuat 1,28. Hal ini menunjukkan bahwa skor perilaku
poster aturan, dengan dua orang atau lebih. prososial sebelum dan sesudah implementasi
5. Membantu/menolong, misalnya perilaku program “Temanku Sahabatku” pada kelompok
anak yang satu terhadap anak yang lain untuk eksperimen mengalami kenaikan. Sedangkan
memudahkan kedua belah pihak. skor perilaku prososial pada kelompok kontrol
Observasi dilakukan dalam waktu satu mengalami penurunan.
minggu sebelum dan sesudah implementasi
program. Observasi dilakukan oleh dua observer Tabel 1. Statistik Deskriptif Perilaku Prososial
dengan durasi 30 menit setiap harinya. Observasi Siswa pada Kelompok Eksperimen dan Kontrol
dilaksanakan pada saat pelajaran inti pada saat Kelompok Rerata Deviasi Standar N
anak-anak sudah mulai beraktivitas bersama
dengan teman-temannya di kelas. Perilaku Pre EKS 2,1600 2,15407 25

prososial diobservasi kemunculannya di kelas KON 2,8750 3,20750 24


melalui metode observasi dengan cara
Total 2,5102 2,71663 49
melakukan rating. Data yang diperoleh diolah
dengan mencari angka kesepakatan atau Post EKS 4,3600 2,89943 25
konsistensi pencatatan informasi pengamatan KON 1,0833 1,28255 24
untuk memperoleh reliabilitasnya.
Total 2,7551 2,78037 49
Metode analisis data yang digunakan
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 25
Anak Pra Sekolah

Tabel 2. Ringkasan Uji Hipotesis Within-Subjects Perilaku Prososial Siswa

Type III Partial


Mean
Source Sum of df F Sig. Eta
Square
Squares Squared

Time*Group Sphericity Assumed 97,551 1 97,551 26,506 0,000 0,361


Greenhou se-Geisser 97,551 1,000 97,551 26,506 0,000 0,361
Huynh-Feld t 97,551 1,000 97,551 26,506 0,000 0,361
Lower-bound 97,551 1,000 97,551 26,506 0,000 0,361

Analisis uji hipotesis Within- pada kelompok kontrol selisih rerata pre dan post
Subjects(Tabel 2) perilaku prososial siswa menunjukkan mengalami penurunan (MD=
menunjukkan interaksi perubahan skor perilaku 1,792; p<0,05). Nilai MD yang positif
prososial antara kelompok eksperimen dan menunjukkan bahwa rerata posttest pada
kelompok kontrol. Hasil time*group pada baris kelompok kontrol lebih rendah daripada rerata
Greenhouse-Geisser (Tabel 3) menunjukkan F= pretest, yang artinya siswa mengalami penurunan
26,506 (p<0,05), ini berarti terdapat perbedaan skor perilaku prososial. Hal tersebut
yang signifikan perubahan skor pre menuju post menunjukkan bahwa perlakuan implementasi
pada kedua kelompok (eksperimen dan kontrol). program “Temanku Sahabatku” yang diberikan
Interaksi atau perubahan skor pre menuju post oleh guru kepada siswa dapat meningkatkan
tersebut menunjukkan bahwa peningkatan skor perilaku prososial siswa.
cukup tinggi terjadi pada kelompok eksperimen, Ringkasan sumbangan efektivitas
sedangkan pada kelompok kontrol mengalami implementasi program “Temanku Sahabatku”
penurunan. pada kolom Wilks’ Lambda menunjukkan

Tabel 3. Uji Lanjutan Selisih Rerata Perilaku Prososial Siswa

95% Confidence Interval for


Difference(a)
TK (I) time (J) time
Mean Upper Lower
Difference (I-J) Std. Error Sig.(a) Bound Bound
EKS 1 2 -2,200(*) 0 ,543 0,000 -3,292 -1,108
2 1 2,200(*) 0 ,543 0,000 1,108 3,292
KON 1 2 1,792(*) 0 ,554 0,002 0,678 2,906
2 1 -1,792(*) 0 ,554 0,002 -2,906 -0,678
 
Uji selisih rerata perilaku prososial siswa Partial Eta Squared sebesar 0, 259. Hal ini
(Tabel 3) menunjukkan bahwa perubahan berarti bahwa implementasi program “Temanku
perilaku prososial anak prasekolah pada Sahabatku” yang dilakukan oleh guru di kelas
kelompok eksperimen adalah signifikan (MD= meningkatkan perilaku prososial anak sebesar
-2,200; p<0,05). Nilai selisih rerata (MD) yang 25,9%.
negatif menunjukkan bahwa rerata posttest pada Berdasarkan hasil analisis dengan
kelompok eksperimen lebih tinggi daripada rerata menggunakan anava campuran ditemukan bahwa
pretest, yang artinya siswa mengalami kondisi perilaku prososial kelompok kontrol
peningkatan skor perilaku prososial. Sedangkan menurun secara signifikan akibat adanya
26

ancaman validitas internal berupa history mengimplementasikan program Temanku


(sejarah) yaitu adanya pergantian guru pada saat Sahabatku yang terdiri dari Empat Teladan Guru,
pengambilan data posttest perilaku prososial yaitu Periksa, Ajak Main, Katakan, dan Berhenti;
siswa, maka peneliti melakukan uji tambahan Enam Strategi Kelas, yaitu, Sudut “Tenangkan
untuk mengukur kondisi perilaku prososial Diri”, Meja “Mari Kita Selesaikan”, Area
kelompok eksperimen tanpa dibandingkan Bermain Drama, Area Bermain Balok, dan Area
dengan kelompok kontrol dengan menggunakan Bermain Luar Ruangan; Tujuh Aktivitas Tema
t-test. Hasil paired-sample t-test menunjukkan Komunitas; dan Delapan Aktivitas Tema
nilai t sebesar -3,973 dan nilai p sebesar 0,001 Persahabatan. Sebelum mengimplementasikan
(p<0,05), artinya ada perbedaan signifikan program, guru diberikan pelatihan program
antara skor perilaku prososial sebelum dan Temanku Sahabatku dan telah terbukti
sesudah diberikan perlakuan implementasi mengalami peningkatan secara signifikan dalam
program Temanku Sahabatku oleh guru. Selisih hal pengetahuan, pemahaman, dan performansi
rerata skor perilaku prososial antara sebelum dan (Hakim, 2013). Untuk memastikan bahwa guru
sesudah diberikan perlakuan sebesar -2,200, mengimplementasikan program sesuai dengan
artinya skor perilaku prososial sesudah diberikan modul yang dilatihkan sebelumnya, maka
perlakuan mengalami peningkatan. dilakukan monitoring menggunakan panduan

Tabel 4. Ringkasan Sumbangan Efektivitas Implementasi Program “Temanku Sahabatku

Dengan demikian, berdasarkan dua hasil observasi proses implementasi program


analisis tersebut di atas, maka dapat disimpulkan “Temanku Sahabatku”. Berdasarkan data hasil
bahwa implementasi program Temanku monitoring pelaksanaan implementasi program
Sahabatku terbukti dapat meningkatkan skor “Temanku Sahabatku” yang dilaksanakan guru
perilaku prososial secara signifikan pada siswa dengan menggunakan panduan observasi
kelompok eksperimen. pelaksanaan program diperoleh kesesuaian
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebesar 81,2%. Hal ini menunjukkan bahwa guru
hipotesis penelitian terbukti, yaitu perilaku mengimplementasikan program “Temanku
prososial anak prasekolah pada kelompok Sahabatku” sesuai dengan yang telah dilatihkan
eksperimen yang diberikan perlakuan oleh peneliti sebelumnya.
implementasi program “Temanku Sahabatku” Selama pelaksanaan implementasi, guru
oleh guru meningkat daripada perilaku prososial berperan sebagai socializer (Eisenberg &
anak prasekolah di kelompok kontrol. Mussen, 1989), guru tidak hanya memberikan
Langkah nyata yang dapat membantu guru contoh perilaku, akan tetapi juga mengajak anak
dalam meningkatkan perilaku prososial anak untuk mendiskusikan hal-hal yang berhubungan
adalah dengan menciptakan situasi yang saling dengan pertemanan, seperti bagaimana konsep
menyayangi dan hangat di sekolah (Ulutas & pertemanan, berperilaku terhadap teman, aspek-
Aksoy, 2009). Untuk menciptakan situasi aspek positif dan negatif dari suatu pertemanan,
tersebut, guru-guru diminta untuk kosakata baru yang berhubungan dengan
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 27
Anak Pra Sekolah

pertemanan, serta pentingnya kebaikan di kelas, guru akan mengajak siswa untuk
sekolah, dan masyarakat. Selama implementasi mempraktikkan perilaku yang diajarkan,
program, selain berperan sebagai socializer, juga misalnya berbagi, memeluk, dan membantu
berperan sebagai model bagi siswa dalam temannya.
melaksanakan aktivitas. Seorang siswa dapat 4. Motivasi, yaitu tahap dimana seseorang
belajar mengubah perilakunya sendiri dengan termotivasi untuk menunjukkan perilaku atau
menyaksikan orang atau sekelompok orang hasil belajar tertentu jika orang bersangkutan
merespon sebuah stimulus tertentu. Siswa juga merasa akan mendapatkan keuntungan dari
dapat mempelajari respon-respon baru dengan perilakunya tersebut. Implementasi pada
cara pengamatan terhadap perilaku contoh dari tahap ini dilakukan dengan memberikan
orang lain (Bandura, 1986). reward berupa pujian kepada anak yang
Teori sosial kognitif dapat menjelaskan dapat menerapkan atau meniru perilaku
mengenai proses siswa dalam mempelajari yang diajarkan, sehingga anak akan
perilaku prososial. Seseorang dapat belajar mengulang perilaku tersebut.
melalui modelling, yaitu meniru orang lain yang Siswa memperoleh berbagai macam
diamati, sehingga terdapat suatu bentuk perilaku bentuk perilaku dengan mengamati dan meniru
untuk ditiru oleh seseorang untuk memulai orangtua, guru, teman, dan oranglain
terjadinya suatu proses belajar. Proses berpikir (Sundel&Sundel, 2005). Perilaku prososial pada
dan belajar yang terjadi pada penelitian ini anak di sekolah sangat dipengaruhi oleh teman
berdasarkan teori modelling (Bandura, 1986) sebaya serta guru dan program sekolah
adalah : (Eisenberg & Mussen, 2003).
1. Atensi, yaitu tahap dimana seseorang Guru diharapkan dapat senantiasa
memperhatikan atau mengamati orang yang mendukung perkembangan perilaku prososial
dianggapnya lebih atau istimewa. Pada anak untuk memastikan bahwa anak-anak dapat
tahap ini siswa memperhatikan bagaimana menyesuaikan diri dan memiliki hubungan yang
guru menjelaskan dan memberikan contoh. lebih baik dengan teman sebaya mereka. Guru
Pada proses implementasi program, guru di sekolah dapat menjelaskan dan menjalankan
dapat menggunakan cerita, boneka tangan, aturan bagi anak-anak, mendorong anak-anak
ataupun roleplay dengan alat dan bahan untuk saling membantu, menghubungkan perilaku
yang menarik untuk menjelaskan materi, prososial ke dalam kualitas internal anak, serta
sehingga siswa tertarik untuk menyimak. memberikan contoh pemikiran positif dan
2. Retensi, yaitu tahap dimana informasi yang perilaku dermawan (Ulutas & Aksoy, 2009).
diperoleh kemudian disimpan di otak serta Penelitian ini selain melibatkan kelompok
dapat disimbolkan secara imajinatif ataupun eksperimen yang diberikan perlakuan
verbal untuk dapat digunakan sewaktu- implementasi program Temanku Sahabatku oleh
waktu. Pada tahap ini kognitif siswa bekerja guru, juga melibatkan kelompok kontrol sebagai
menyimpan dan mengingat aktivitas dan kelompok pembanding. Berdasarkan hasil
perilaku yang diajarkan dan dicontohkan penelitian diketahui bahwa skor perilaku
oleh guru di kelas. prososial pada kelompok kontrol mengalami
3. Produksi, yaitu tahap dimana seseorang penurunan secara signifikan. Hal ini disebabkan
menerjemahkan informasi yang diperoleh ke adanya pergantian guru yang mengajar di kelas.
dalam perilaku. Pada tahap ini siswa akan Berdasarkan hasil wawancara dengan observer
menunjukkan perilaku sebagaimana yang yang mengamati kelas tersebut, diketahui bahwa
dicontohkan oleh guru. Pada implementasi, guru yang sebelumnya mengajar di kelas tersebut
28

tidak bekerja lagi di sekolah tersebut dan prososial pada kelompok kontrol secara
digantikan oleh guru baru. Guru baru tersebut signifikan akibat munculnya ancaman terhadap
diketahui kurang mampu dalam mengkondisikan validitas internal berupa history.Perilaku
kelas, serta terkesan kaku dalam mengajar. prososial anak prasekolah pada kelompok
Kondisi pergantian guru di sekolah kelompok eksperimen tetap meningkat secara signifikan
kontrol dibenarkan oleh Kepala Sekolah. setelah guru mengimplementasikan program
Berdasarkan wawancara dengan Kepala “Temanku Sahabatku”. Harapan peneliti
Sekolah pada tanggal 29 Januari 2013 diketahui Implementasi program “Temanku Sahabatku”
bahwa guru baru yang mengajar di kelas A latar diharapkan dapat terus diterapkan dan
belakang pendidikannya bukan dari PGTK diintegrasikan dengan kegiatan pembelajaran di
ataupun PAUD serta belum memiliki pengalaman sekolah,. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
mengajar di Taman Kanak-kanak. Kondisi yang melakukan pengukuran follow up supaya dapat
terjadi pada kelompok kontrol ini tidak dapat melihat sejauh mana skor perilaku prososial siswa
dikontrol oleh peneliti, karena di awal penelitian yang telah meningkat dapat bertahan setelah
pihak sekolah tidak mengemukakan adanya diberikannya implementasi program “Temanku
kemungkinan pergantian guru sebagaimana yang Sahabatku” oleh guru. Peneliti selanjutnya
terjadi di pertengahan penelitian. diharapkan dapat menguji tema ke-empat, yaitu
Peristiwa yang terjadi pada kelompok teasing and bullying.
kontrol tersebut termasuk ke dalam ancaman
terhadap validitas internal, yaitu sejarah (history). DAFTAR PUSTAKA
Menurut Shadish, Cook, dan Campbell (2002),
sejarah (history)merupakan kejadian yang
Azwar, S. (2007). Dasar-Dasar Psikometri.
berlangsung pada saat bersamaan dengan
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
perlakuan yang dapat menghasilkan efek yang
teramati. Bandura, A. (1986). Social Foundations of
Keunggulan dari penelitian ini adalah Thought and Action: A Social
penyajian aktivitas-aktivitas kelas yang kreatif Cognitive Theory. New Jersey:
dan menarik untuk siswa prasekolah, sehingga Prentice Hall, Inc.
siswa antusias dalam mengikuti setiap
implementasi aktivitas di kelas. Selain itu, Barboza, G.E., Schiamberg, L.B., Oehmke, J.,
aktivitas-aktivitas tersebut juga mudah untuk Korzeniewski, S.J., Post, L.Al,
diterapkan oleh guru. Heraux, C.G. (2009). Individual
Characteristics and the Multiple
SIMPULAN Contexts of Adolescent Bullying: An
Ecological Perspective. J Youth
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Adolescence, 38: 101 - 121. Volume
perilaku prososial anak prasekolah pada 38, Number 1 (2009), 101-121, DOI:
kelompok eksperimen meningkat secara 10.1007/s10964-008-9271-1.
signifikan setelah guru mengimplementasikan Berns, R.M. (2007). Child, Family, School,
program “Temanku Sahabatku”. Meskipun Community : Socialization and
demikian, perlu dicermati bahwa peningkatan Support 7th Edition. Canada :
skor perilaku prososial tersebut tidak hanya Thomson Learning, Inc.
dipengaruhi oleh implementasi program, akan
tetapi juga dipengaruhi oleh menurunnya skor Carlo, G. & Randall, B.A. (2002). The
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 29
Anak Pra Sekolah

Development of a Measure of Program Menciptakan Kelas


Prosocial Behaviors for Late Bersahabat oleh Guru dalam
Adolescents.Journal of Youth and Menurunkan Agresivitas di Kelas
Adolescence, 31(1), 31-44. DOI: Taman Kanak-Kanak. Tesis.
10.1023/A:1014033032440. Yogyakarta : Fakultas Psikologi
Universitas Gadjah Mada.Belum
Chen, X., Liu, M., Rubin, K.H., Cen, G., G, X.,
Diterbitkan.
& Li, D. (2002). Sociability and
Prosocial Orientation as Predictors of Gravetter, F. J. & Wallnau, L. B. (2002).
Youth Adjustmen: a Seven-Year Essentials of Statistics for the
Longitudinal Study in a Chinese Behavioral Sciences 4th Edition.
Sample. International Journal of Canada: Wadsworth.
Behavioral Development, 26(2),
Hahn, R., Whitley, D.F., Wethington, H., Lowy,
128-136. DOI: 10.80/
J., Crosby, A., Fullilove, M., ..., &
01650250042000690.
Dahlberg, L. (2007). Effectiveness of
Dara, Y.P. (2011). Pengaruh Impelementasi The Universal School-Based Programs to
Anti-Bullying and Teasing Program for Prevent Violent and Aggressive
Preschool Classroom Tema Behavior: A Systematic
Komunitas oleh Guru dalam Review.American Journal of
Meningkatkan Perilaku Prososial Preventive Medicine, 33 (2S), 114-
Anak Usia 4-5 Tahun di Kelas Taman 129
Kanak-Kanak. Tesis. Yogyakarta :
Hakim, Z. A. (2013). Pelatihan Program
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah
“Temanku Sahabatku” dan Penerapan
Mada. Belum Diterbitkan.
Strategi Serta Teladan Guru dalam
Damon, W & Eisenberg, N. (2006). Handbook Membentuk Kelas yang Bersahabat.
of Child Psychology: Vol.3. Social, Tesis. Yogyakarta : Fakultas Psikologi
Emotional and Personality Universitas Gadjah Mada.Belum
Development (5th ed., pp. 701-778). Diterbitkan.
New York: John Willey.
Hay, D. F. (2005). Early Peer Relations and Their
Eisenberg,N. & Fabes, R.A. (1989). Prosocial Impact on Children’s Development.
Development. In W. Damon (Series Encyclopedia on Early Childhood
Ed.) and N. Eisenberg (Ed.), Development. Wales: Center od
Handbook of Child Psychology: Excellence for Early Childhood
Vol.3. Social, Emotional and Development.
Personality Development (5th ed.,
Honig, A.S. (2009). Understanding and Working
pp. 701-778). Newyork: John Willey.
with Non-Compliant and Aggressive
Eisenberg, N. & Mussen, P. H. (1989). The Young Children.Journal of Early
Roots of Prosocial Behavior in Child Development and Care,
Children. NewYork: Cambridge 179(8), 1007-1023.
University Press.
Houbre, B., Tarquinio, C., Thuillier, I., &
Febriyanti, D. A. (2011). Pengaruh Implementasi Hergott, E. (2006). Bullying Among
30

Students and Its Consequences on H.I.P. (2011). Program Kelas


Health.European Journal of Bersahabat dan Pengelolaan Kelas.
Psychology of Education, 21(2), Naskah Publikasi. Tidak Diterbitkan.
183-208. Fakultas Psikologi Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta.
Irwin, D. M. & Bushnell, M. M. (1980).
Observational Strategies for Child LeBreton, J. M. & Senter, J. L. (2008). Answers
Study. New York: Holt, Rinerhart, and to 20 Questions about Interrater
Winston. Reliability and Interrater
Agreement.Journal of
Jennings, P. A. & Greenberg, M. T. (2009). The
Organizational Research Methods,
Prosocial Classroom: Teacher Social
11(4), 815-852.
and Emotional Competence in Relation
to Student and Classroom Outcomes. Office of Early Childhood Development Virginia
Journal of Review of Educational Department of Social Services.
Research, 79(1), 491-525.41 (2008). Milestones of Child
Development A Guide to Young
Keanne, S.P. & Calkins, S.D. (2004). Predicting
Children’s Learning and
Kindergarten Peer Social Status from
Development from Birth to
Toddler and Preschool Problem
Kindergarten Virginia’s Early
Behavior. Journal of Abnormal Child
Childhood Development Alignment
Psychology, 32(4), 409-423.
Project.
Knafo, A. & Plomin, R. (2006). Parental
Papalia, D. E, Olds, S. W, Feldman, R. D.
Discipline and Affection and Children’s
(2004). Human Development Ninth
Prosocial Behavior: Genetic and
Edition. New York:McGraw Hill.
Environmental Links. Journal of
Personality and Social Psychology, Persson, G. E. B. (2005). Developmental
90(1), 147-164. Perspective on Prosocial and
Aggressive Motives in Preschoolers’
Knafo, A., Israel, S., & Ebstein, R.P. (2011).
Peer Interaction.International
Heritability of Children’s Prosocial
Journal of Behavioral
Behavior and Differential Susceptibility
Development, 29(1), 80-91. DOI:
to Parenting by Variation in the
10.1080/01650250444000423l
Dopamine Receptor D4
Gene.Journal of Development and Persson, G. E. B. (2005). Young Children’s
Psychopathology, 23,53-67. Prosocial and Aggressive Behaviors
and Their Experiences of Being
Kumara, A., Dinardinata, A., Winahyu, G.P,
Targeted for Similar Behavior by
Dara, Y.P. (2010). Efektivitas Program
Peers. Social Development, 14, 2.
The Anti Bullying and Teasing
Program for Preschool Classroom Ramaswamy, V dan Bergin, C. (2009). Do
Dalam Meningkatkan Kualitas Iklim reinforcement and induction increase
Kelas di Taman Kanak-Kanak. prosocial behavior? results of a
Naskah Publikasi (in process). teacher-based interventions in
preschools.Journal of Research in
Kumara, A., Febriyanti, D.A., Sari, B.N., Sari,
Pengaruh Implementasi Program “Temanku Sahabatku” dalam Meningkatkan Perilaku Prososial 31
Anak Pra Sekolah

Childhood Education; Summer Social Development. NY: Blackwell


2009; 23, 4; ProQuest Research Publishers.
Library pg. 527.
Sprung, B., Froschl, M., & Hinitz, B. (2005).
Rushton, J. P. (2004). Genetic and Environmental The Anti-Bullying and Teasing Book
Contributions to Pro-Social Attitude: for Preschool Classrooms. Beltsville:
A Twin Study of Social Gryphon House, Inc.
Responsibility.The Royal Society
Stratton, W. C., & Reid, M. J. (2004).
Journal, 271, 2583-2583.
Strengthening Social and Emotional
Sari, B.N. (2011).Pengaruh Pelatihan Program Competence In Young Children – The
Menciptakan Kelas Bersahabat dalam Foundation For Early School
Meningkatkan Kompetensi Guru Readiness And Success: Incredible
Menciptakan Kelas yang Aman dan Years Classroom Social Skills And
Nyaman Bagi Siswa Taman Kanak- Problem-Solving Curriculum.Journal
Kanak. Tesis. Yogyakarta : Fakultas of Infants and Young Children,
Psikologi Universitas Gadjah Mada. 17(2), 96-113.
Belum Diterbitkan.
Steedly, K.M., Schwartz, A., Levin, M., Luke,
Sari, H.I.P. (2011). Pengaruh Implementasi S.D. (2008). Social Skills and
Program “Menciptakan Kelas Academic Achievement.Evidence for
Bersahabat” dalam Peningkatan Education Journal, 3(2).
Perilaku Prososial pada Siswa Taman
Sundel, M., Sundel, S. S. (2005). Behavior
Kanak-Kanak. Tesis. Yogyakarta :
Change in The Human Services:
Fakultas Psikologi Universitas Gadjah
Behavioral and Cognitive Principles
Mada. Belum Diterbitkan.
and Applications, Fifth Edition.
Santrock, J. W. (2002). Life-Span London: Sage Publication.
Development: Perkembangan
Twenge, J.M., Ciarocco, N.J., Baumeister, R.F.,
Masa Hidup, Edisi 5, Jilid 1. Jakarta:
DeWall, C.N., & Bartels, J.M.
Erlangga.
(2007). Social Exclusion Decreases
Sebanc, A.M. (2003). The Friendship Features Prosocial Behavior.Journal of
of Preescool Children: Links with Personality and Social Psychology,
Prosocial behavior and Aggression. 92(1), 56-66.
Social Development, 12 (20, 245-
Ulutas, I. & Aksoy, A. (2009). Learning with Play:
268.
How Play Activities Program Improve
Shadish, W.R., Cook, T.D., & Campbell, D.T. Pro-Social Behaviour of Six Year Old
(2002). Experimental and Quasi- Children? Humanity and Social
Experimental Design for Sciences Journal, 49(1), 39-44.
Generalized Causal Inference.
Zimmer-Gembeck, M.J., Geiger, T.C., & Crick,
Boston: Houghton Mifflin Company.
N.R. (2005). Relational and Physical
Smith, P. K & Hart, C.H. (2011). The Wiley- Aggression, Prosocial Behavior, Peer
Blackwell Handbook of Childhood Relations. Journal of Early
Adolescence,25(4), 421-452.23