Sei sulla pagina 1di 10

Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287

Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373


Juni 2018

Strategi Pengembangan Industri Rotan di Kota Palu Sulawesi Tengah


Studi Kasus Cv. Bone Layana Jaya

Rasdiyanah1), Syukur Umar2), Sustri2)


Forestry Department, Forestry Faculty, Tadulako University
Jl. Soekarno – Hatta Km. 9 Palu, Central Sulawesi 994118
1)
Student of Forestry Faculty of Tadulako University
Correspondence: rasdiyanah2010@gmail.com
2)
Lecturers of Forestry Faculty of Tadulako University

Abstract
Forest product in Indonesia especially in Central Sulawesi has a very important role in the effort
of national and regional development evenly, because it will improve the state income and also
provide job opportunity. In case that rattan is the most important nonwood forest product in
Indonesia and one of superior commodity of Central Sulawesi. Since seventies, Indonesia has
known as the biggest exporter country of rattan raw material in the world. The aim of the
research was to find out the development strategy of rattan industry in Palu City of Central
Sulawesi, case study of CV. Bone Layana Jaya. The reasearch was conducted in Bone Layana
Jaya Palu Central Suawesi Province, it was from March up to the month of May 2015. The
analysis method that used in the resaerch was SWOT analysis with 2 strategy formulas, they
were Internal and External (IE) strategies then SWOT matrix could be decided. Based on Grand
Matrix Internal Strategic Factors Analysis Summary (IFAS) was on the point of 3.49 and
analysis External Strategic Factors Analysis Summary (EFAS) was on the point of 3.27, the
obtained rate on Matrix SWOT showed the strategy used in the industry more emphasized to
WO (Weaknesse-oppurtunities) strategy, it was Government Contribution in Industry
Development. Therefore, in the curve of Grand Matrix Strategy, the position of enterprise
industry was on quadrant I, it showed that the industry faced the environment that relatively had
a bigger opportunity to handle its weakness.
Keywords : Sulawesi Forest (Rattan), Internal/External Strategy, SWOT matrix.

PENDAHULUAN tinggi. Dalam klasifikasi tumbuhan, rotan


termasuk anak suku Calamoideae yang terdiri
Latar Belakang atas sembilan marga (Tellu A, 2006). Rotan
Hutan merupakan sumber daya alam yang merupakan salah satu tumbuhan hutan yang
memberikan berbagai manfaat bagi mempunyai nilai komersil cukup tinggi,
kesejahteraan manusia baik manfaat yang selain itu sebagai sumber devisa negara yang
dapat dirasakan secara langsung maupun pemanfaatannya banyak melibatkan petani
tidak langsung oleh manusia. Seiring dengan dan menjadi sumber kehidupan masyarakat di
pertambahan penduduk, ekonomi dan sekitarnya. Untuk itu, hutan dan rotan sebagai
industrialisasi menyebabkan tekanan terhadap salah satu spesies flora di dalamnya, perlu
sumber daya hutan semakin meningkat, baik dikembangkan dalam rangka meningkatkan
secara kualitas maupun kuantitasnya. Untuk pelestarian, pemanfaatan, dan konservasi
melestarikan dan mengupayakan pemanfaatan sumber genetiknya (Kalima dan Jasni, 2010).
hutan dilakukan secara berkelanjutan, Rotan merupakan produk hasil hutan
pemerintah membuat kebijakan dengan bukan kayu (HHBK) yang memiliki nilai
menetapkan berbagai kawasan tertentu untuk ekonomi sangat tinggi. Dengan nilai ekonomi
dijadikan kawasan hutan produksi, hutan rotan yang sangat tinggi dan permintaan
lindung, atau hutan konservasi (Sadono, bahan baku rotan yang terus meningkat, maka
2013). volume perdagangan rotan makin meningkat,
Rotan merupakan salah satu kelompok sehingga keberadaan tumbuhan rotan juga
tumbuhan yang memiliki jumlah spesies yang makin terancam akibat banyak yang dipanen.
cukup besar dengan tingkat variasi yang Saat ini kebutuhan bahan baku rotan

10
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

diperoleh dari hutan alam dan budidaya rotan pengolahaan data hingga pelaporan hasil
masyarakat. Sementara untuk memenuhi penelitian.
kebutuhan rotan dimasa akan datang yang Bahan dan Alat
terus meningkat diperkirakan dua sumber Bahan yang digunakan dalam penelitian
rotan tersebut tidak mampu menyediakan ini meliputi data-data mentah yang diperoleh
dalam jumlah cukup dan lestari. Kondisi ini dari industri rotan Kota Palu (CV. Bone
tak akan dapat diatasi, kecuali dengan Layana Jaya).
melakukan pengembangan rotan secara besar- Alat yang digunakan dalam penelitan ini
besaran melalui perbanyakan rotan (Kalima yaitu alat tulis-menulis, kalkulator dan
dan Sumarhani, 2015). komputer.
Sulawesi Tengah merupakan daerah yang Sumber Data
memiliki hutan alam yang cukup luas dan Data Primer dilakukan dengan cara
ditumbuhi berbagai jenis rotan, dengan nilai pengamatan langsung dilapangan dan
ekonomi yang cukup tinggi, dan Kota Palu melakukan wawancara terhadap pihak
khususnya merupakan Pusat Industri Rotan, perusahaan. Berdasarkan pedoman pernyataan
yakni perdagangan rotan Sulawesi Tengah. yang telah disiapkan (kuesioner).
Hal ini disebabkan karena permintaan pasar Data Sekunder diperoleh dari
terhadap rotan cukup besar. kantor/instansi terkait dan literatur serta
Dari hal tersebut di atas, penulis laporan-laporan yang berhubungan dengan
melakukan penelitian guna memberikan penelitian ini.
kontribusi strategi pengembangan pada sektor Metode Pengumpulan Data
Industri Rotan Kota Palu Propinsi Sulawesi Penelitian ini menggunakan metode
Tengah. Rotan dengan nilai ekonomi yang kualitatif dan deskriptif. Menurut (Nawawi
cukup tinggi dan Kota Palu khususnya 2006 dalam Setiyaningsih F, 2013) berupa
merupakan pusat industri rotan, yakni data yang dinyatakan dalam keadaan yang
perdagangan rotan Sulawesi Tengah. Hal ini sebenarnya serta tentang sifat suatu keadaan
disebabkan karena permintaan pasar terhadap yang sementara berjalan pada saat penelitian.
rotan cukup besar. Data penelitian yang dikumpulkan, baik
Rumusan Masalah melalui observasi, maupun dengan interview
Rumusan masalah yang akan ditarik yaitu (wawancara), pengambilan data primer
bagaimana strategi pengembangan industri dilakukan dengan teknik pendekatan secara
rotan di Kota Palu khususnya secara proporsif, dimana pengambilan data/jumlah
keseluruhan dapat memberikan peningkatan sampel respondennya yaitu berupa individu
volume produksi baik mentah maupun perorangan yang mana merupakan data
setengah jadi ? kuisioner keterwakilan terhadap seluruh ruang
Tujuan dan Kegunaan lingkup perusahaan tersebut, misalnya
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk direktur perusahaan ataupun staf-staf yang
mengetahui strategi pengembangan industri diberikan kuasa oleh pimpinan perusahaan
rotan di Kota Palu Sulawesi Tengah Studi setempat. Hal ini dimaksudkan agar
kasus CV. Bone Layana Jaya pengambilan sampel dapat terwakilkan pada
Kegunaan dari penelitian ini adalah perusahaan tersebut.
diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi Analisis Data
Pemerintah Daerah Kota Palu dalam Analisis data yang digunakan berupa
meningkatkan pengembangan industri rotan. analisis SWOT. Dimana terdiri dari
Kekuatan, Kelemahan (IFAS) Peluang dan
METODE PENELITIAN Ancaman (EFAS). Yang mana IFAS dan
EFAS sendiri sudah memiliki penilaian
Tempat dan Waktu pembobotan (Rangkuti, 2012 dalam Setri
Penelitian ini akan dilaksanakan di CV. Marhaini, 2014) sebagai berikut:
Bone Layana Jaya Palu Provinsi Sulawesi 0,20 = Sangat Kuat
Tengah, dari bulan Maret - Mei 2015, yang 0,15 = Diatas Rata-Rata
terdiri atas persiapan, pengumpulan dan 0,10 = Rata-Rata
0,05 = Dibawah Rata-rata

2
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

Penggunaan Matriks Grand Strategy


Adapun penggunaan matriks Grand Penggunaan matriks SWOT juga
Strategy dapat dilihat pada gambar 1 berikut menentukan dengan 4 alternatif yaitu :
ini : 1. Strategi SO ialah membuat strategi dengan
cara menggunakan kekuatan.
2. Strategi WO ialah membuat strategi
dengan cara meminimalkan kelemahan
untuk peluang.
3. Strategi ST ialah membuat strategi dengan
cara menggunakan kekuatan untuk
mengatasi ancaman
4. Strategi WT ialah membuat strategi
dengan cara meminimalkan kelemahan
dan menghindari ancaman.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Gambar 1. Matriks Grand Strategy
Penggunaan matriks Grand Strategy Hasil
merupakan suatu upaya dari perusahaan untuk Berdasarkan hasil penelitian dari data yang
memanfaatkan posisinya yang kuat ataupun didapatkan dilapangan yaitu dengan melalui
dalam mengatasi kendala yang ada, dalam identifikasi berbagai faktor secara sistematik
kondisi (Kuadran I, II, III dan IV). Berikut terhadap indikator yang sangat berperan
penjelasan kemungkinan posisi perusahaan penting dalam penentuan perumusan suatu
berdasarkan kuadran: usaha/perusahaan. Berupa indikator dari
Kuadran I : analisis lingkungan internal dan analisis
Dimana perusahaan menghadapi lingkungan eksternal yang merupakan input
lingkungan yang secara relatif berpeluang bagi Analisis SWOT. Adapun indikator-
lebih besar dibandingkan dengan indikator yang dimaksud tersebut adalah
ancamannya. sebagai berikut :
Kuadran II :
Posisi ini mengartikan bahwa perusahaan Analisis Lingkungan Internal (ALI)
menghadapi lingkungan yang secara relatif Pada analisis lingkungan internal terhadap
berpeluang lebih besar dibandingkan dengan strategi pemasaran pada CV. Bone Layana
ancamannya. Jaya, arah identifikasinya menjurus pada
Kuadran III : faktor kekuatan (Strenghts) dan kelemahan
Pada kuadran ini, posisi perusahaan sangat (Weaknesses) yang meliputi Modal, Tenaga
lemah, baik karena keunggulan intern maupun Kerja, Bahan Baku dan Proses Produksi.
karena ancaman dari lingkungannya. Modal
Kuadran IV : Pada umumnya perusahaan CV. Bone
Pada kuadran ini perusahaan ada pada Layana Jaya sendiri mempunyai pengolahan
posisi dimana keunggulan intern perusahaan dan proses pelaporan keuangan yang cukup
relatif dominan dibandingkan kelemahannya. baik, namun dalam proses pemenuhan
Penggunaan Matriks SWOT produksi industri perusahaan ini masih
Tabel 1. Matriks SWOT merasakan kesulitan pembiayaan, yang
dikarenakan pembiayaan industi rotan
memiliki modal yang sangat tinggi dengan
kisaran antara 100.000.000 – 150.000.000
(Kegiatan meubel rotan dengan tenaga kerja
sebanyak 15 orang).
Pendapatan masyarakat sangat tergantung
dari lapangan usaha, pangkat dan jabatan
pekerjaan, tingkat pendidikan umum,
produktivitas, prospek usaha, permodalan dan

3
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

lain-lain. Faktor-faktor tersebut menjadi Adapun pekerja yang memiliki pengalaman


penyebab perbedaan tingkat pendapatan kerja yang otodidat sudah bernilai positif,
penduduk (Irawati et al, 2013). namun bila ditinjau dari segi pengembangan
Berdasarkan data tersebut, nampak bahwa agribisnis, kesiapan SDM perusahaan tetap
kemampuan modal yang dimiliki oleh masih kurang, khususnya dalam hal
perusahaan pada prinsipnya sangat penguasaan teknologi, pemasaran, kebijakan,
membutuhkan pinjaman kreditur dari pihak dan pengembangan produk.
Bank sesuai dengan kebutuhan devisit modal Bahan Baku
perusahaan dalam pemenuhan bahan baku. Kelancaran kegiatan perusahaan sangatlah
Namun meski penggunaan kredit dari ditentukan oleh ketersediaan bahan baku.
Bank sangat membantu terhadap pembiayaan Bahan baku merupakan masalah yang cukup
perusahan, akan tetapi pengkreditan dari Bank dominan, dimana perusahaan selalu
juga berdampak terhadap proses menginginkan bahan baku selalu tersedia
pelunasannya yang memiliki waktu jangka disetiap proses produksinya. Namun yang
pendek dan disertai dengan suku bunga yang terjadi pada industri rotan ditempat penelitian
tinggi. berbanding terbalik dengan keinginan
Tenaga Kerja perusahaan, dikarenakan proses
Berdasarkan hasil yang didapatkan dari pendistribusian sering mengalami
perusahaan yang diteliti melalui wawancara keterlambatan akibat bahan baku yang
terhadap individu perorangan (sampel data kurang, ini terjadi karena tidak adanya
keterwakilan), menyatakan bahwa daya serap kepastian harga yang didapatkan oleh
tenaga kerja pada perusahaan industri rotan pengempul dan petani rotan yang
ini sebanyak 15 orang dan juga termaksud menimbulkan kecenderungan pengempul dan
didalamnya adalah pimpinan perusahaan petani rotan beralih dan hanya fokus mencari
sendiri, dengan tingkat pendidikan rata-rata rotan mentah apabila harga kembali stabil.
20% Sekolah Dasar, 75% Sekolah Menengah Oleh karena itu kelangkaan bahan baku
Atas, dan 5% Putus Sekolah. bukan dikarenakan kurangnya vegetasi rotan,
Umur merupakan salah satu faktor yang karena berdasarkan hasil pengamatan latar
dapat mempengaruhi pola fikir dan belakang pendahuluan bahwa tanaman rotan
kemampuan fisik bekerja, mencerminkan memiliki jumlah yang sangat banyak dan
pengalaman dan kemampuan seseorang. status sebagai komoditi Sulawesi Tengah.
Umur masyarakat yang memanfaatkan hutan Proses Produksi
produksi, sebagian besar berada pada umur Perusahaan dalam melaksanakan proses
produktif (Moyo et al., 2013). Usia yang produksi pada umumnya menjadikan kualitas
produktif merupakan sumber daya manusia produksi sebagai acuan dalam meraih prospek
yang potensial. Usia yang produktif berkisar pasar. Keadaan ini menyebabkan tingkat
antara 15-64 tahun, kurang produktif >64 kepercayaan konsumen dalam memberikan
tahun, dan tidak produktif <15 tahun respon positif terhadap hasil produknya.
(Ramadon et al. 2013 dalam Larasati et al., Strategi produksi merupakan strategi yang
2015). yang menitikberatkan pada proses produksi
Dengan demikian mengindikasikan bahwa guna meningkatkan pemanfaatan atas nilai
kondisi sumberdaya manusia yang dimiliki produk yang mereka buat, sekaligus sebagai
tenaga kerja pada perusahaan relatif sangat bentuk usaha untuk dapat mempertahankan
rendah. Berkenaan dengan hal tersebut kelangsungan usaha mereka. Kegiatan
perusahaan juga masih sangat minim dalam produksi sebenarnya berkenaan dengan
melaksanakan training pendidikan dan pemilihan proses produksi alternatif, seperti
pelatihan khusus kepada tenaga kerjanya pemilihan usaha dan alokasi sumber daya
sendiri sebagai upaya untuk meningkatkan secara optimal, yang mana merupakan
sumberdaya manusia. masalah pokok dalam produksi (Rahayu P,
Sehingga bila dilihat dari kemampuan 2011).
tenaga kerja terhadap jumlah persentase Pihak perusahaan pada dasarnya
tersebut, untuk memberikan keterampilan memberikan proses pelayanan bagi karyawan
dukungan pada perusahaan sangat masih jauh. dalam melaksanakan proses produksi ini

4
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

terlihat dengan pengaturan tata letak sarana Pemanasan


dan prasarana dalam perusahaan cukup baik Setelah melalui tahapan pemotongan,
sehingga pekerjaan yang terlibat langsung maka bahan baku dilanjutkan dengan
dalam lingkup mendapatkan kenyamanan dan pemanasan guna untuk memudahkan proses
efektifitas kerja yang memadai dalam proses pembentukan yang dalam kapasitas besar
produksi. yaitu mendekati 1 paket (10 Set).
Secara garis besar proses produksi industri Acisting
rotan pada CV. Bone Layana Jaya Sulawesi Tahap ini dimaksudkan untuk melakukan
Tengah, dapat dilihat pada gambar 2 berikut pembengkokan guna mendapatkan model
ini : yang akan dibuat, agar perusahaan lebih
mengedepankan kualitas dibanding kuantitas.
Penganyaman
Pada tahap ini, pekerja sangatlah dituntut
untuk berhati-hati dalam pengerjaannya
karena proses ini merupakan langkah penentu
terhadap kualitas hasil produksi kita, sehingga
kepercayaan konsumen terhadap yang
dihasilkan oleh perusahaan dapat
dipertahankan.
Finising
Pada tahapan tersebut, dimaksudkan
melakukan evaluasi menyeluruh terhadap
tahapan proses produksi sebelum dimasukkan
kedalam gudang.
Pemasaran
Gambar 2. Proses Produksi Industri Rotan
Tahapan pemasaran ini merupakan
CV. Bone Layana Jaya. kombinasi berbagai input untuk menghasilkan
Berdasarkan gambar di atas, secara garis output terhadap proses fungsi produksi pada
besarnya dapat dikategorikan kedalam perusahaan industri.
beberapa tahapan sebagai berikut : Hampir seluruh bagian rotan dapat
Sifat fisik rotan merupakan sifat khas yang digunakan baik sebagai konstruksi kursi,
dimiliki oleh suatu jenis rotan secara alamiah. pengikat, maupun komponen desainnya
Sebagai bahan alami, rotan sudah sejak lama (Kusnaedi dan Pramudita, 2013).
dikenal oleh masyarakat Indonesia dan dapat Namun dalam pemasaran ini perusahaan
digunakan dalam berbagai keperluan hidup lebih menitiberatkan metode pendekatan,
sehari-hari (Jamaludin et al., 2013). sehingga konsumen lebih mengenal kualitas
Bahan baku barang dan keterbukaan bahan baku untuk
Merupakan tahap dasar bahan baku rotan menentukan harga jual barang.
asalan yang diinput keperusahaan industri Berdasarkan uraian terhadap kondisi
rotan yang menjadi kebutuhan dalam Internal Industri Rotan CV. Bone Layana
melakukan proses produksi, yang selanjutnya Jaya Sulawesi Tengah di atas, dapat
melalui tahapan proses. diidentifikasi kekuatan dan kelemahan
Pemilihan sebagai berikut :
Pada tahap ini, pasokan bahan baku a. Kekuatan
terlebih dahulu dilakukan proses pemilihan, - Keuangan perusahaan industri rotan yang
guna mendapat mutu kualitas produksi yang mendukung
efektif. - Memiliki tenaga kerja yang cukup baik
Pemotongan - Kualitas produksi pada umumnya
Bahan baku yang telah dipilih (sortir), mendapat respon positif dari konsumen
dilanjutkan dengan proses pemotongan, agar - Penempatan sarana dan prasarana yang
bahan baku yang diolah dapat menghasilkan memadai sehingga mendukung efektifitas
mutu dan kualitas produksi yang diinginkan. kerja

5
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

- Ketersedian bahan baku guna mendukung Layana Jaya, arah identifikasi dalam
cadangan permintaan pasar pengembangannya lebih menjurus pada faktor
b. Kelemahan peluang (Opportunities) dan ancaman
- Penggunaan kredit jangka pendek dalam (Threats) seperti kebijakan pemerintah,
jumlah besar pemasaran, pesaing potensial, fluktuasi harga
- Rendahnya tingkat pendidikan tenaga dan kondisi alam.
kerja Identifikasi terhadap faktor eksternal yang
- Sulitnya mendapat bahan baku yang dimaksud dapat dilihat pada penjelasan
diakibatkan ketidakpastian harga sebagai berikut :
- Peralatan yang kurang memadai Kebijakan pemerintah terhadap
- Lambatnya proses dalam memproduksi perkembangan industri rotan.
produk industri Realisasi terhadap kebijakan pemerintah
Berdasarkan hal tersebut di atas, faktor memberikan respon positif untuk mendukung
internal terhadap kerangka kekuatan dan tumbuh dan berkembangnya usaha mikro,
kelemahan dapat kita diidentifikasi dengan kecil dan menengah. Hal ini bisa kita lihat
cara penyusunan didalam tabel IFAS indikasi adanya ketentuan Undang-undang
(Internal Strategic Factors Analysis No. 3 tahun 2003 tentang Otonomi Daerah,
Summary) sebagai berikut : yang memberikan kebebasan penuh terhadap
daerah untuk mengolah dan mengembangkan
Tabel 2. Internal Strategic Factors Analysis daerahnya.
Summary (IFAS) CV. Bone Layana Pemasaran
Jaya. Dibidang pemasaran, produk industri rotan
masih mengalami peningkatan yaitu dengan
melihat tingginya permintaan/daya beli
masyarakat terhadap furniture, serta
permintaan pasar dalam dan luar negeri yang
memberikan indikator positif terhadap
prospek pasarnya serta dukungan pemerintah
yang mana hal ini juga masih berkaitan
dengan kebijaakan berupa terobosan-
terobosan baru salah satu contohnya ialah
dengan sering melakukan Expo berupa
pameran industri rotan.
Tingginya permintaan rotan sebagai bahan
baku industri pengolahan rotan setiap
tahunnya, menyebabkan terjadinya
pemanenan yang tak terkendali. Potensi rotan
semakin menurun karena pemanenan rotan
dilakukan secara besar-besaran tanpa upaya
budidaya rotan. Akibatnya, keberadaan rotan
di dalam hutan semakin sulit ditemukan
terutama yang dekat dengan pemukiman
(Sanusi, 2012).
Namun pada dasarnya perusahaan industri
rotan juga tidak terlepas dari penggunaan
berbagai tingkat teknologi yang cukup
memadai yang perbandingan (1 x 1) alat dan
tenaga kerja. Sehingga hal ini juga
menjadikan hambatan bagi perusahaan sendiri
karena penggunaan teknologi tersebut sangat
Analisis Lingkungan Ekstrenal (ALE) membutuhkan pendanaan yang cukup serius
Untuk analisis lingkungan eksternal sehingga inplikasi dilapangan berbanding
terhadap strategi pemasaran pada CV. Bone terbalik dengan keadaan modal perusahaan.

6
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

Pesaing potensial (perusahaan sejenis) - Adanya peraturan pemerintah yang


Pada dasarnya produk yang dihasilkan mendukung perkembangan perusahaan
oleh CV. Bone Layana Jaya sangat diminati industri rotan
oleh pasaran, melihat hal tersebut menjadikan - Tingginya daya beli/permintaan pasar
banyaknya pengusaha-pengusaha baru mulai - Potensi daerah yang mendukung dalam
malakukan usaha yang sama dibidang industri pelaksanaan kegiatan
rotan. Pesaing baru tersebut merupakan - Tingginya kepercayaan konsumen dengan
ancaman serius bahkan dapat merebut pangsa produk yang kita miliki
pasarnya yang mungkin saja perusahaan baru - Pelaksanaan kegiatan Expo (promosi
ini memiliki strategi yang ragamnya variatif, terhadap produksi rotan)
yang mengakibatkan konsumen akan memilih b. Ancaman
barang produk lain yang dijual oleh - kebijakan pemerintah yang tidak
perusahaan pesaing. signifikan (sering berubah-ubah)
Fluktuasi harga - Terjadinya tingkat Inflasi serta nilai tukar
Pada fluktuasi harga, dalam persoalan ini rupiah yang menurun
banyak sekali kendala yang dihadapi oleh - Adanya industri sejenis (pesaing baru)
industri rotan sendiri terutama terjadinya - Penggunaan teknologi dengan harga yang
inflasi yang diakibatkan keadaan ekonomi relativ mahal
dunia yang kurang stabil, yang salah satunya - Ketergantunagn kondisi alam
mengakibatkan biaya transportasi cenderung Berdasarkan uraian di atas, faktor
meningkat (hight cost), dimana jarak eksternal terhadap kerangka peluang dan
merupakan penentu waktu dan transaksi. ancaman dapat kita identifikasi dengan cara
Waktu berarti biaya, dengan kondisi akan penyusunan didalam tabel EFAS dari CV.
infalasi tersebut mengakibatkan Bone Layana Jaya (Eksternal Strategic
ketidakpastian dan resiko yang harus Factors Analysis Summary) sebagai berikut :
dipertimbangkan kedalam harga karena kita Tabel 3. Eksternal Strategic Factors Analysis
ketahui pengangkutan merupakan fasilitas Summary (EFAS) CV. Bone Layana
yang penting untuk menjaga kualitas bahan Jaya.
industri terhadap penurunan kualitasnya.
Serta ditambah lagi dengan adanya
produk sejenis yang dapat membuat harga
barang menurun sehingga tingkat pendapatan
berkurang, ini adalah merupakan ancaman
bagi perusahaan CV. Bone Layana Jaya
Sulawesi Tengah.
Kondisi alam
Dalam melakukan proses produksi hasil
hutan non kayu berupa rotan ini, kebutuhan
bahan baku menjadi kunci awal dari
pelaksanaannya, namun hal ini kadangkala
menjadi kendala oleh faktor alam. hal ini
dikarenakan rotan yang digunakan untuk
industri rotan (furniture) harus dalam kondisi
yang baik untuk menghasilkan produk
unggulan artinya bahan baku tersebut dengan
keadaan kering, tidak busuk dan tidak rapuk.
Dari hasil uraian di atas, dapat
memberikan identifikasi terhadap kondisi
peluang dan ancaman dari CV. Bone Layana
Jaya Sulawesi Tengah secara umum sebagai
berikut:
a. Peluang Secara kompleks menunjukkan bahwa
hasil dari anailisis lingkungan internal (IFAS)

7
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

dan ekternal ((EFAS) dimana pemasarannya lingkungan yang secara relatif berpeluang
sangat tinggi berdasarkan pada permintaan lebih besar untuk mengatasi kelemahannya.
konsumen baik dalam bentuk pemasaran lokal Dengan demikaian industri ini mempunyai
maupun ekspor barang yang dalam bentuk kemampuan untuk mempergunakan potensi /
setenga jadi, hal ini juga sangat di dukung kesempatan menjadi suatu hasil atau prestasi
dengan adanya kreatifitas produsen serta dengan baik.
dukungan pemerintah. Berdasarkan hal Secara grafik, posisi industri rotan CV.
tersebut, memberikan pengaruh yang sangat Bone Layana Jaya dapat dilihat pada grafik
baik terhadap produsen furniture rotan sampai berikut ini :
kepada pengempul/petani rotan yang
mengakibatkan harga jua rotan menjadi
menentu atau tetap.
Diperkirakan lebih dari 516 jenis rotan
terdapat di Asia Tenggara, yang berasal dari 8
genera, yaitu untuk genus Calamus 333 jenis,
Daemonorops 122 jenis, Khorthalsia 30 jenis,
Plectocomia 10 jenis, Plectocomiopsis 10
jenis, Calopspatha 2 jenis, Bejaudia 1 jenis
dan Ceratolobus 6 jenis. Dari 8 genera
tersebut dua genera rotan yang bernilai
ekonomi tinggi adalah Calamus dan
Daemonorops (Herliyana, 2009).
Pembahasan
Pemanfaatan hasil hutan non-kayu di
Indonesia sudah sejak lama dilakukan oleh Gambar 3. Posisi dan Strategi Matriks Grand
penduduk di sekitar hutan untuk memenuhi Strategy CV. Bone Layana Jaya.
kebutuhan hidup sehari-hari. Kegiatan
pemungutan dan pengusahaan hasil hutan Matriks Grand Strategy dari peluang serta
non-kayu mempunyai peranan yang cukup ancaman dan kekuatan serta kelemahan,
besar dalam mengurangi pengangguran dan kemudian kita masuk ketahap mempetakan
sebagai sumber mata pencaharian. Salah satu hasil kedalam diagram matriks SWOT (Tabel
hasil hutan non-kayu yang dikenal oleh 4), sebagai mana terlihat pada diagram yang
masyarakat di sekitar hutan adalah rotan. ada di bawah berikut ini :
Rotan digunakan masyarakat dalam berbagai
keperluan hidup sehari-hari, bahkan di
beberapa tempat telah menjadi pendukung
perkembangan budaya masyarakat setempat
(Muhdi, 2008).
Berdasarkan dari apa yang sudah diketahui
terhadap uraian di atas mengenai nilai Internal
Strategic Factors Analysis Summary (IFAS)
dan Eksnternal Strategic Factors Analysis
Summary (EFAS) pada perusahaan Industri
Rotan CV. Bone Layana Jaya, selanjutnya
kita memetakan hasil dari internal IFAS dan
EFAS kedalam Matriks Grand Strategy. Yang
mana untuk nilai (IFAS) berada pada titik
3.49 sedangkan untuk nilai (EFAS) berada
pada titik nilai 3.27.
Berdasarkan hal tersebut, memberikan
makna bahwa posisi Industri CV. Bone
Layana Jaya berada pada kuadran I yang
menunjukkan bahwa industri ini menghadapi

8
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

Strategi S-T merupakan strategi untuk dimaksudkan dalam upaya memberikan


menggunakan kekuatan yang dimiliki peningkatan kemampuan pada karyawan serta
dengan cara menghindari ancaman. Untuk dalam upaya mengantisipasi munculnya
pengembangan industri rotan di Kota Palu berbagai macam teknologi moderen.
terdapat alternatif strategi yang diterapkan Berdasarkan uraian di atas yang berada
dalam tabel 4, menunjukkan bahwa strategi
yaitu dengan adanya pengalaman usaha
yang hendak dilaksanakan oleh Industri
dan Badan Hukum yang jelas dapat adalah lebih menitikberatkan terhadap
mengatasi persaingan dengan industry Strategi WO (Weaknesse-oppurtunities) yaitu
ilegal yang menghasilkan produk subtitusi adanya Kontribusi Pemerintah Dalam
(Pribadi, 2016) Pembangunan Industri. Realitas ini diambil
Berdasarkan penetapan Matriks SWOT di karena melihat kondisi yang ada saat ini
atas dapat ditemukan strategi yang akan bahwa banyaknya persoalan yang dihadapi
diterapkan pada Industri rotan di CV. Bone oleh industri yang rata-rata berhubungan
Layana Jaya sebagai berikut: langsung dengan kebijakan-kebijakan
1. Strategi SO pemerintah.
Efisiensi biaya operasional dimaksudkan Hal ini bisa dilihat dari persoalan yang
untuk menekan penggunaan pendanaan yang dialami industri rotan seperti dengan
berlebihan sehingga dapat menekan penggunaan kredit dalam jumlah yang besar,
pembiayaan dan implikasinya dapat bunga Bank yang cukup tinggi, rendahnya
mengurangi penggunaan kredit dalam jumlah tingkat pendidikan dan minimnya
yang besar dikarenakan oleh suku bunga yang peningkatan keterampilan tenaga kerja ini
relativ tinggi. merupakan hambatan yang dapat diselesaikan
Mempercepat dan meningkatkan kualitas dengan cara keikutsertaan pemerintah secara
hasil produksi dimaksudkan guna memasuki berkesinambungan.
persaingan yang ketat sehingga perlu
kecepatan dalam peningkatan kualitas KESIMPULAN
produksi.
2. Strategi ST Berdasarkan hasil pembahasan yang
Konsisten pemerintah dalam penerapan dikemukakan di atas, maka penelitian ini
kebijakan merupakan suatu upaya yang memberikan kesimpulan bahwa strategi
seharusnya diambil oleh pemerintah guna pengembangan industri rotan yang diterapkan
memberikan respon positif terhadap industri pada CV. Bone Layana Jaya adalah berupa
tanpa adanya tumpa tindih kebijakan yang penerapan teori pertumbuhan yang agresif
justru merugikan industri. dengan pemakaian strategi WO (Weaknesse-
Meningkatkan kualitas produk dengan oppurtunities) diantaranya :
cepat mengikuti perkembangan pasar guna 1. Adanya Kontribusi Pemerintah Dalam
memasuki segmen persaingan pasar yang Pembangunan Industri Rotan dengan
lebih besar. melihat persoalan yang dihadapi industri
3. Strategi WO seperti dengan penggunaan kredit dalam
Konstribusi pemerintah dalam jumlah yang besar, bunga Bank yang
pengembangan industri merupakan suatu cukup tinggi, rendahnya tingkat
upaya dari pemerintah yang terstruktur dan pendidikan dan minimnya peningkatan
berkesinambungan terhadap keikutsertaannya keterampilan tenaga kerja.
dalam mengembangkan industri. 2. Memaksimalkan kinerja karyawan yang
4. Strategi WT berpengalaman, tidak hanya dari segi
Bantuan pendanaan yang mudah dan keterampilan pembuatan industri rotan
bunga murah dari pemerintah merupakan tetapi juga berupa skill dalam hal
suatu upaya untuk menghindari minimnya pemasaran.
keuntungan yang didapatkan oleh pelaku 3. Serta Hendaknya industri rotan
industri. mempercepat kualitas produksi dalam
Peningkatan sumberdaya manusia dalam rangka menghadapi persaingan pasar
proses produksi yang berkualitas untuk mempertahankan kepercayaan

9
Jurnal Warta Rimba E-ISSN : 2579-6287
Volume 6. Nomor 2. P-ISSN : 2406-8373
Juni 2018

konsumen akan hasil output industri kita Nomor 1 Desember 2013. Fakultas
dengan hasil dari industri lain (perusahaan Kehutanan Universitas Tadulako. Palu
sejenis). Muhdi. 2008. Prospek, Pemasaran Hasi
Hutan Bukan Kayu Rotan. Karya Tulis.
DAFTAR PUSTAKA Universitas Sumatera Utara.
Pribadi, H. (2016). KAJIAN EKONOMI
Herliyana E N, 2009. Identifikasi Jamur Mold PENGEMBANGAN USAHA INDUSTRI
dan Blue Stain Pada Rotan. Jurnal Ilmu MEBEL ROTAN DI KOTA PALU
dan Teknologi Hasil Hutan. (2) 1 hal 21- PROVINSI SULAWESI TENGAH
26. Bogor. (Pendekatan Analitikal SWOT dan
Irawati, Hamzah, Syechalad, 2013. Liniear Programming). Jurnal Hutan
Pengaruh Program Nasional Tropis, 13(2).
Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Rahayu Pramudita, 2011. Strategi
Perkotaan (pnpm-mp) Terhadap Kelangsungan Usah Industri Rotan.
Peningkatan Pendapatan Masyarakat SKRIPSI. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu
Miskin di Kota Banda Aceh. Jurnal Ilmu Politik. Universitas Sebelas Maret.
Ekonomi. Universitas Syiah Kuala Surakarta.
1(1):1-10. Aceh. Sadono, 2013. Peran Serta Masyarakat
Jamaludin, Fitriany D, Adani I, 2013. Desain dalam Pengelolaan Taman Nasional
Kursi Berbahan Baku Rotan Dari Masa Gunung Merbabu di Desa Jeruk
Ke masa. Jurnal Rekajiva. (1) 1 Hal 1-13 Kecamatan Selo Kabupaten Boyolali.
Bandung. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota.
Kalima dan Jasni, 2010. Tingkat Kelimpahan Biro Penerbit Planologi Undip.
Populasi Spesies Rotan di Hutan Sanusi, 2012. Perlakuan Kimia dan Fisik
Lindung Batu Kapar, Gorontalo Utara. Empat Jenis Rotan Sesudah
Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Penebangan. Jurnal.Fakultas Kehutanan
Alam. Bogor. Universitas Hasanudin. Makassar.
Kalima dan Sumarhani, 2015. Identifikasi Setianingsih F, 2013. Peningkatan
Jenis-Jenis Rotan Pad Hutan Rakyat di Kemampuan Belajar Menulis Tegak
Katingan, Kalimantan Tengah dan Bersambung Melalui Model
Upaya Pengemangan. Pusat Litbang Pembelajaran Kontekstual Pada Siswa
Konservasi dan Rehabilitasi. ISSN:2407- Kelas Awal SD Negeri Karangputat 02.
8050. SKRIPSI. Program Studi Pendidikan
Kusnaedi I, Pramudita A S, 2013. Sistem Guru Sekolah Dasar. FKIP. Universitas
Bending Pada Proses Pengolahan Kursi Negeri Yogyakarta.
Rotan di Cirebon. Jurnal Rekajiva. 1 (2) Setri dan Marhani, 2014. Strategi
Cirebon. Pengembangan Industri Kecil Produk
Larasati, Qurniati, Herwanti. 2015. Peran Rotan di Kota Medan. Jurnal Ekonomi
Penyuluh Kehutanan Swadaya Vol. 17. No. 1. Dosen Fakultas Ekonomi
Masyarakat (PKSM) dalam Membantu USU.
Masyarakat Mendapatkan Izin Hutan Tellu, 2006. Kladistik Beberapa Jenis Rotan
Kemasyarakatan (HKm) di Kecamatan Calamus spp. Asal Sulawesi Tengah
Sendang Agung Kabupaten Lampung Berdasarkan Karakter Fisik dan
Tengah. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. Mekanik Batang. Pend. MIPA UNTAD.
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Vol 7, Nomor 3 Halaman 225-229.
Universitas Lampung. ISSN: 1412-033X. Palu.
Moyo M.I.D., Golar., dan Rukmi. 2013.
Potensi Sosial Budaya Masyarakat Bagi
Pembangunan Kesatuan Pengelolaan
Hutan (KPH) pada Wilayah KPH Model
Sintuwu Maroso di Desa Tambarana
Kecamatan Poso Pesisir Utara.
JURNAL WARTA RIMBA Volume 1,

10