Sei sulla pagina 1di 10

ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN DENGAN PERKUATAN WIREMESH DAN

ROCKBOLT MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA

Dias Dwi Hatmoko1, dan Hanindya Kusuma Artati2


1
Mahasiswa Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam
Indonesia
Email : hatmokodiaz@gmail.com
2
Staf Pengajar Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, Universitas Islam
Indonesia
Email : hanindya_artati@yahoo.com

Abstract: Tunnels are an option in the development of railroads for land routes and cities with
dense settlements. Ministry of Transportation of the Republic of Indonesia through the
Directorate General of Railways made efforts to support railway infrastructure by build the
Notog tunnel as an alternative to the development of tunnels at the hills area. This research is
intended to analyze the stability of the tunnel by looking for the value of safety factor that occurs
at the log drill point 3 of the Notog tunnel using finite element method in Plaxis v8.2 program.
Tunnel stability analysis was computed mathematically by Mohr-Coloumb method and analyzed
by Plaxis v8.2 program by providing reinforcement of wiremesh and rockbolts. The analysis
determines the value of the safety factor and deformation that occurs in the tunnel, the result of
this research is expected to obtain the value of safety factor and representate the tunnel condition
due to deformation that occurred. The result of Notog tunnel modeling at log drill point 3 got the
result of safety factor value without reinforcement 2,3769 with Mohr-Coloumb method and 2,352
with Plaxis v8.2 program. By adding the seismic loads to this analysis, the safety factor values
for each of the reinforcements are 2,428 with wiremesh reinforcement, 3,022 with reinforcement
wiremesh and 1 rockbolt, 3,541 with reinforcement wiremesh and 2 rockbolts, 4,303 with
reinforcement wiremesh and 3 rockbolts, 4,324 with reinforcement wiremesh and 4 rockbolts,
and 4,647 with reinforcement wiremesh and 5 rockbolts. The results obtained an alternative use
of reinforcement wiremesh and 3 rockbolt are more effective and efficient because the difference
in the value of safety factor obtained was not quite big with the addition of the amount of rockbolt.

Keywords: Tunnel, safety factor, deformation, wiremesh, rockbolt, Plaxis v8.2 Program

1. PENDAHULUAN
Terowongan merupakan pilihan dalam demikian dibutuhkan terowongan sebagai
pengembangan jalan kereta api untuk jalur alternatif pembangunan insfrastruktur di
darat dan kota – kota yang padat pemukiman. permukaan. Pembangunan terowongan di
Di kota – kota besar di negara maju, alternatif Indonesia memang belum banyak tetapi
ini telah dilakukan sehingga penataan usasha ke arah tersebut pasti akan dilakukan
permukaan kota dapat lebih mudah karena seiring dengan perkembangan pembangunan
transportasi darat banyak dilakukan dengan di Indonesia.
terowongan bawah tanah (underground Kementerian Perhubungan Republik
tunneling). Indonesia sebagai negara yang Indonesia melalui Direktorat Jenderal
sedang membangun mempunyai berbagai Perkeretaapian melakukan upaya untuk
macam topografi pada sebagian wilayahnya menunjang insfrastruktur perkeretaapian
dan kota – kota besar mulai padat. Dengan dengan membuat terowongan sebagai
alternatif daerah perbukitan. Dengan adanya Ryan Ahmad (2016) melakukan
jalur ganda Cirebon-Kroya, maka dibuatlah penelitian tentang analisis geoteknik
Proyek Pembangunan Terowongan Notog terowongan batuan Geurutee Aceh
BH 1440 dengan panjang terowongan 550 menggunakan metode elemen hingga. Dalam
meter. Perencanaan pengeboran terowongan penelitian tersebut bertujuan agar dapat
dibagi menjadi dua yaitu pada portal inlet dan menambah pengetahuan untuk menganalisis
portal outlet sehingga akan meminimalkan dan mengolah data tanah dan batuan di suatu
waktu pekerjaan yang ada di proyek tempat juga dapat mendesain terowongan
Pada penelitian ini dimaksudkan untuk untuk jalan raya pada kondisi batuan tertentu.
menganalisis stabilitas terowongan dengan Dari penelitian tersebut didapat hasil yaitu
mencari nilai safety factor yang terjadi pada besarnya deformasi yang terjadi pada
titik bor log 3 terowongan Notog. Analisis terowongan tanpa perkuatan dan dengan
stabilitas terowongan yang akan dilakukan perkuatan didapat nilai deformasi yang tidak
menggunakan program Plaxis v8.2. Program jauh berbeda dikarenakan kondisi massa
Plaxis v8.2 adalah salah satu program batuan pegunungan Geurutee terbilang
komputer yang dapat menganalisis stabilitas mantap. Selain itu, kedua model memiliki
dan deformasi terowongan atau bidang nilai safety factor yang diatas batas aman
geoteknik lainnya berdasarkan metode selama panjang terowongan tersebut 19,5 m
elemen hingga. tetapi, pemodelan tanpa perkuatan sementara
Rumusan masalah yang akan dianalis diperkirakan akan mengalami penurunan
yaitu mencari nilai safety factor pada nilai safety factor sampai < 2 pada
terowongan tanpa perkuatan dengan metode penggalian selanjutnya, sehingga pemodelan
Mohr-Coloumb dan program Plaxis v8.2, terowongan tanpa perkuatan sementara tidak
nilai safety factor terowongan dengan dianjurkan. Pada metode konstruksi
perkuatan wiremesh, wiremesh+1 rockbolt, sesungguhnya di lapangan terowongan tanpa
sampai dengan wiremesh+5 rockbolt. perkuatan tidak dianjurkan karena dari faktor
akibat blasting yang memungkinkan
2. TINJAUAN PUSTAKA
terjadinya keruntuhan pada tahap penggalian
Penelitian yang terkait dengan analisis
terowongan tersebut.
stabilitas terowongan dengan suatu perkuatan
Selanjutnya dilakukan penelitian
pernah dilakukan Anwar Apriyono (2010)
tentang analisis stabilitas terowongan dengan
dan Ryan Ahmad (2016).
perkuatan wiremesh dan rockbolt
Anwar Apriyono (2010) melakukan
menggunakan metode elemen hingga yaitu
penelitian tinjauan kekuatan sistem
program Plaxis v8.2. Analisis ini akan
penyangga terowongan dengan
mencari tahu seberapa besar pengaruh
menggunakan metode elemen hingga. Dalam
perkuatan terhadap nilai safety factor dan
penelitian tersebut bertujuan untuk
deformasi yang terjadi pada konstruksi
mempelajari metode elemen hingga dan
terowongan yang ada di Notog, Purwokerto,
menentukan desain metode perkuatan
Jawa Tengah.
terowongan yang tepat untuk antisipasi
keruntuhan terowongan. Dari penelitian yang 3. LANDASAN TEORI
dilakukan, hasil penelitian pemasangan
sistem penyangga mengakibatkan penurunan 3.1 Pengertian Terowongan
nilai displacement di sekitar terowongan, Menurut Paulus P Raharjo (2004) bahwa
penurunan nilai displacement rerata sebesar terowongan transportasi bawah kota
12,5 mm. Selain itu, sistem penyangga merupakan grup tersendiri diantara
berdasarkan Q sistem mengurangi nilai terowongan lalu lintas, dapat berupa
displacement terowongan secara signifikan terowongan kereta api maupun terowongan
sehingga pantas untuk dipertimbangkan jalan raya. Dalam tahap konstruksinya,
dalam perencanaan. terowongan memerlukan pengawasan yang
lebih, karena adanya sedikit kesalahan Tabel 1 Nilai Faktor Aman Terhadap Bidang
metode dapat mengakibatkan keruntuhan. Longsor
3.2 Kriteria Keruntuhan Mohr-Coloumb Faktor Aman Kejadian
Mohr (1910) mencetuskan sebuah teori SF ≤ 1,07 Longsor sering terjadi
yang menyatakan bahwa kondisi keruntuhan
suatu bahan terjadi oleh akibat adanya (lereng labil)
kombinasi keadaan kritis dari tegangan 1,07 ≤ SF ≤ Longsor dapat terjadi
normal dan tegangan geser. Hubungan fungsi
antara tegangan normal dan tegangan geser 1,25 (lereng kritis)
pada bidang runtuhnya dinyatakan oleh
SF ≥ 1,25 Longsor jarang terjadi
persamaan (3.1).
 = 𝑓 ( ) (3.1) (lereng relatif stabil)
 = tegangan geser pada saat terjadinya (Sumber: Bowles, 1984)
keruntuhan atau kegagalan (failure) 3.3 Sistem Penyangga Terowongan
 = tegangan normal pada saat terjadinya Sistem penyangga dalam pembuatan
keruntuhan atau kegagalan (failure) terowongan Notog, Purwokerto ada beberapa
Kuat geser tanah adalah gaya jenis, antara lain sebagai berikut :
perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir 1. Shotcrete
tanah terhadap desakan atau tarikan. Dengan Shotcrete diterapkan untuk menutup
dasar pengertian ini, bila tanah mengalami permukaan yang terbuka akibat pengeboran dan
pembebanan akan ditahan oleh kohesi tanah untuk mendukung rongga pada bukaan
yang bergantung pada jenis tanah dan terowongan. Beton yang digunakan sebagai
kepadatannya, serta gesekan antara butir- shotcrete memiliki karakteristik yang hampir
butir tanah yang besarnya berbanding lurus sama dengan beton biasa, hanya saja modulus
dengan tegangan normal pada bidang elastisitasnya lebih rendah dari beton biasa.
gesernya. Coloumb (1776) mendefinisikan Kekakuan shotcrete bertambah seiring dengan
𝑓 ( ) pada persamaan (3.2). pertambahan umur shotcrete. Ketebalan shotcrete
 = 𝑐 +  𝑡𝑎𝑛  (3.2) pada konstruksi terowongan tergantung dari luas
 = kuat geser tanah (kN/m2) bukaan terowongan dan sesuai dari perjanjian
𝑐 = kohesi tanah (kN/m2) kontrak.
 = tegangan normal pada bidang runtuh (°) 2. Wiremesh
 = sudut gesek tanah (kN/m2) Mesh kawat yang sering digunakan adalah
Menurut Rai (2013) dalam buku chailink mesh dan weld mesh. Chailink mesh
Mekanika Batuan, kriteria runtuh kuat geser digunakan pada permukaan karena kuat dan
pada batuan jenuh air didefinisikan pada fleksibel, sedangkan weld mesh terdiri atas kabel
persamaan (3.3). baja yang diatur dengan pola segiempat atau bujur
 runtuh =  tan 23 +16,72 (3.3) sangkar dan disambung dengan cara dipatri pada
Safety factor didefenisikan sebagai nilai titik- titik perpotongnya, serta memperkuat beton
banding antara gaya yang menahan dan gaya tembak dan lebih kaku. Dalam hal ini, mesh kawat
yang menggerakkan, atau disajikan pada yang digunakan di terowongan notog adalah jenis
Persamaan 3.4. weld mesh. Hal itu disebabkan untuk memenuhi

𝑆𝐹 =  (3.4) fungsinya untuk memperkuat beton tembak agar
𝑑
Dimana  adalah tahanan geser yang lebih kaku, selain itu untuk mengikat material
batuan yang kecil dan menahannya agar tidak
dapat dikerahkan oleh tanah, d adalah
jatuh.
tegangan geser yang terjadi akibat gaya berat
3. Steel Rib
tanah yang akan longsor atau kuat geser
Steel rib merupakan salah satu jenis
longsor, dan SF adalah faktor aman.
penyangga konstruksi terowongan yang terbuat
dari baja. Tipe steel rib dapat dilihat dalam
Gambar 1 (Singh dan Rajnish, 2006).
Gaya Lateral Ekivalen (Equivalent Lateral
Force Methode). Pada metode ini
diasumsikan bahwa gaya horizontal akibat
gempa yang bekerja pada suatu elemen
struktur, besarnya ditentukan berdasarkan
hasil perkalian antara suatu konstanta berat
atau massa dari elemen struktur tersebut.
(SNI 03-1726-2000)
4. METODE PENELITIAN
Gambar 1 Tipe Steel Rib
(Sumber: Singh dan Rajnish, 2006) 4.1 Lokasi Penelitian
4. Rockbolt Penelitian ini berlokasi di Proyek
Menurut Singh, 2006, rockbolt adalah Pembangunan Jalur Ganda Kereta Api
bahan batang yang terbuat dari baja, Notog, Purwokerto yang sedang dikerjakan
berpenampang bulat yang digunakan untuk oleh PT. PP Persero. Adapun letaknya ada
menyangga massa batuan. Kekuatan pada Gambar 2 dan 3.
rockbolt, biasanya diukur dengan
melaksanakan uji tarik (pull test) di lapangan.
Berdasarkan Handbook of Road Power,
2006, kekuatan perkuatan ini ditentukan oleh
beberapa parameter diantaranya diameter,
panjang, dan jarak antar rockbolt.
3.4 Metode Elemen Hingga Program
Plaxis
Plaxis adalah program elemen hingga
yang dikembangkan untuk analisis
deformasi, stabilitas dan aliran air tanah Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian
(Sumber : Arsip PT. PP, 2017)
dalam rekayasa geoteknik. Perkembangan
plaxis dimulai pada tahun 1987 di Delft
University of Technology sebagai inisiatif
Kementerian Pekerjaan Umum dan
Pengelolaan Air (Rijkswarerstaat) Belanda.
Tujuan semula adalah untuk
mengembangkan kode elemen hingga 2D
yang mudah digunakan untuk analisis
tanggul sungai di tanah lunak dari dataran
rendah Belanda. Dalam beberapa tahun Gambar 3 Peta Rencana Terowongan dan
berikutnya, plaxis diperluas untuk mencakup Terowongan Eksisting
sebagian besar wilayah lain untuk rekayasa (Sumber : Arsip PT. PP, 2017)
geoteknik. Karena terus berkembang, 4.2 Tahapan
perusahaan plaxis (Plaxis bv) dibentuk pada Langkah-langkah atau tahapan yang
tahun 1993. sistematis untuk mencapai tujuan
3.5 Beban Gempa Statis penyelesaian tugas akhir dalam metode
Analisis perancangan struktur bangunan penelitian harus dibuat rinci disertai
terhadap pengaruh beban gempa secara statis, dengan bagan alir yang dapat
pada prinsipnya adalah menggantikan gaya- memberikan gambaran spesifik, adapun
gaya horizontal yang bekerja pada struktur bagan alir dapat dilihat pada Gambar 4.
akibat pergerakan tanah dengan gaya-gaya
statis yang ekivalen, dengan tujuan
penyederhanaan dan kemudahan di dalam
perhitungan. Metode ini disebut Metode
B-N dengan menggunakan program Plaxis
v8.2.
5.2 Analisis Stabilitas Terowongan
Terowongan yang akan di analisis untuk
penelitian ini ditinjau pada titik Bor Log 3
yang dapat dilihat pada Gambar 5.4 serta
dengan kriteria runtuh Mohr-Coloumb yang
terlebih dahulu mencari nilai tegangan tanah
vertikal yang bekerja di atas terowongan
tersebut (Rai, 2013).

Gambar 5 Diagram Gaya yang Bekerja Pada


Dinding Penahan Tanah
Hitungan tekanan vertikal pada
terowongan dari muka tanah sampai dengan
bagian atas terowongan dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2 Hitungan Tekanan Vertikal Pada
Terowongan
Gambar 4 Bagan Alir Metode No Tegangan  x h v
Penelitian Vertikal m
5. ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1 1 16,18 x 2 32,36
5.1 Gambaran Umum Proyek
2 2 (16,57 x 3) + 82,07
Kondisi proyek terowongan yang ada di
32,36
Notog, Purwokerto, Jawa Tengah memiliki
panjang terowongan 550 meter dengan 3 3 (15,93 x 7) + 193,58
diameter 10 m. Dengan kondisi tanah / batuan 82,07
yang bermacam-macam maka diperlukan 4 4 ((19,97-9,81) x 234,22
beberapa tipe perkuatan terowongan yang 4) + 193,58
berbeda. Perbedaan perkuatan terowongan 5 5 ((19,53-9,81) x 321,7
terletak di jumlah penggunaan rockbolt yang 9) + 234,22
berbeda berdasarkan tipe batuan / tanah yang
berada di dalam terowongan. Perkuatan  = c +  tan 
untuk lining terowongan menggunakan  = 199,2 + 321,7 tan 27,17
wiremesh, steel rib, shotcrete dan rockbolt.
Pada tugas akhir ini untuk mengetahui  = 364,318 m
nilai stabilitas terowongan, peneliti hanya
meneliti pada titik bor 3 dengan tipe batuan Kriteria runtuh Mohr-Coloumb (jenuh)
 runtuh =  tan 23 +16,72
 runtuh = 321,7 tan 23 +16,72
 runtuh = 153,273 m
Maka nilai safety factor nya adalah

SF = 
runtuh

364,318
SF = 153,273

SF = 2,3769
Gambar 8 Daerah Potensial Keruntuhan Saat
5.3 Analisis Stabilitas Terowongan Pengeboran
Menggunakan Program Plaxis v8.2 Untuk hasil nilai safety factor
Analisis yang dilakukan dalam terowongan dengan tanpa perkuatan
penelitian meliputi analisis stabilitas (pengeboran) pada titik bor 3 yang diperoleh
terowongan tanpa perkuatan, dengan dari beban gempa setelah adanya pekerjaan
perkuatan wiremesh, dengan wiremesh dan 1 konstruksi dapat dilihat pada Gambar 9
rockbolt, dengan wiremesh dan 2 rockbolt, sedangkan untuk daerah keruntuhan pada
dengan wiremesh dan 3 rockbolt, dengan gambar 10.
wiremesh dan 4 rockbolt, dengan wiremesh
dan 5 rockbolt. Dengan analisis pemodelan
tersebut akan diperoleh hasil safety factor dan
deformasi yang berbeda pastinya.
Nilai safety factor diperoleh dari hasil
kalkulasi dan bentuk deformasi didapatkan
dari nilai total displacement. Berikut
dibawah ini analisis stabilitas terowongan Gambar 10 Nilai Safety Factor Dengan Beban
Gempa Setelah Pengeboran
menggunakan program Plaxis v8.2.
5.4 Hasil Perhitungan Program Plaxis
v8.2
1. Analisis Stabilitas Terowongan Tanpa
Perkuatan (Bor)
Untuk hasil nilai safety factor
terowongan dengan tanpa perkuatan pada
titik bor log 3 yang diperoleh dari pengeboran
sendiri dapat dilihat pada Gambar 6
sedangkan daerah keruntuhan pada gambar 7.

Gambar 10 Daerah Potensial Keruntuhan


Dengan Beban Gempa Setelah Pengeboran
Besarnya nilai safety factor dan total
displacement pada terowongan saat adanya
pengeboran dan pada saat adanya beban
Gambar 6 Nilai Safety Factor Saat gempa mempunyai perbedaan nilai yang
Pengeboran cukup besar. Perbandingan nilai safety factor
dan total displacement dapat dilihat pada
Tabel 3.
Tabel 3 Perbandingan Nilai Safety Factor dan Total
Displacement Saat Tanpa Perkuatan
Nilai Total
Safety Displacement
Step Factor (m)
Konstruksi
(Bor) 3,2291 0,0109
Konstruksi +
Beban Gempa 2,352 0,02065
2. Analisis Stabilitas Terowongan Gambar 14 Daerah Potensial Keruntuhan
Menggunakan Wiremesh Dengan Beban Gempa Setelah Adanya
Untuk hasil nilai safety factor Perkuatan Wiremesh
terowongan dengan perkuatan wiremesh pada Besarnya nilai safety factor dan total
titik bor log 3 dapat dilihat pada Gambar 11 displacement pada terowongan saat adanya
sedangkan untuk daerah keruntuhan pada perkuatan wiremesh dan pada saat adanya
gambar 12. beban gempa mempunyai perbedaan nilai
yang cukup besar. Perbandingan nilai safety
factor dan total displacement dapat dilihat
pada Tabel 4.
Tabel 4 Perbandingan Nilai Safety Factor dan
Total Displacement Dengan Perkuatan
Wiremesh
Gambar 11 Nilai Safety Factor Dengan Nilai Total
Perkuatan Wiremesh Safety Displacement
Step Factor (m)
Konstruksi
(Wiremesh) 3,38 0,01229
Konstruksi +
Beban Gempa 2,428 0,01831
3. Analisis Stabilitas Terowongan
Menggunakan Wiremesh dan 1 Rockbolt
Untuk hasil nilai safety factor
terowongan dengan perkuatan wiremesh dan
Gambar 12 Daerah Potensial Keruntuhan 1 rockbolt pada titik bor log 3 dapat dilihat
Dengan Perkuatan Wiremesh
pada Gambar 15 sedangkan untuk daerah
Untuk hasil nilai safety factor
keruntuhan pada gambar 16.
terowongan dengan perkuatan wiremesh pada
titik bor 3 yang diperoleh dari beban gempa
setelah adanya pekerjaan konstruksi dapat
dilihat pada Gambar 13 sedangkan untuk
daerah keruntuhan pada Gambar 14.

Gambar 15 Nilai Safety Factor Dengan


Perkuatan Wiremesh dan 1 Rockbolt

Gambar 13 Nilai Safety Factor Dengan


Beban Gempa Setelah Adanya Perkuatan
Wiremesh
Tabel 5 Perbandingan Nilai Safety Factor dan
Total Displacement Dengan Perkuatan
Wiremesh + 1 Rockbolt
Nilai Total
Safety Displacemen
Step Factor t (m)
Konstruksi
(Wm + 1 Rb) 4,352 0,01229
Konstruksi +
Beban Gempa 3,0217 0,01709
Gambar 16 Daerah Potensial Keruntuhan 4. Analisis Stabilitas Terowongan
Dengan Perkuatan Wiremesh + 1 Rockbolt Menggunakan Wiremesh dan 2 Rockbolt
Untuk hasil nilai safety factor Untuk hasil nilai safety factor
terowongan dengan perkuatan wiremesh dan terowongan dengan perkuatan wiremesh dan
1 rockbolt pada titik bor 3 yang diperoleh dari 2 rockbolt pada titik bor log 3 dapat dilihat
beban gempa setelah adanya pekerjaan pada Gambar 19 sedangkan untuk daerah
konstruksi dapat dilihat pada Gambar 17 keruntuhan pada Gambar 20.
sedangkan untuk daerah keruntuhan pada
gambar 18.

Gambar 19 Nilai Safety Factor Dengan


Gambar 17 Nilai Safety Factor Dengan Beban Perkuatan Wiremesh dan 2 Rockbolt
Gempa Setelah Adanya Perkuatan Wiremesh
dan 1 Rockbolt

Gambar 20 Daerah Potensial Keruntuhan


Dengan Perkuatan Wiremesh dan 2 Rockbolt
Untuk hasil nilai safety factor
terowongan dengan perkuatan wiremesh dan
Gambar 18 Daerah Potensial Keruntuhan 2 rockbolt pada titik bor 3 yang diperoleh dari
Dengan Beban Gempa Setelah Adanya beban gempa setelah adanya pekerjaan
Perkuatan Wiremesh dan 1 Rockbolt konstruksi dapat dilihat pada Gambar 21
Besarnya nilai safety factor dan total sedangkan untuk daerah keruntuhan pada
displacement pada terowongan saat adanya Gambar 22.
perkuatan wiremesh dan 1 rockbolt dengan
saat adanya beban gempa mempunyai
perbedaan nilai yang cukup besar.
Perbandingan nilai safety factor dan total
displacement dapat dilihat pada Tabel 5.

Gambar 21 Nilai Safety Factor Dengan Beban


Gempa Setelah Adanya Perkuatan Wiremesh
dan 2 Rockbolt
Untuk hasil nilai safety factor
terowongan dengan perkuatan wiremesh dan
3 rockbolt pada titik bor 3 yang diperoleh dari
beban gempa setelah adanya pekerjaan
konstruksi dapat dilihat pada Gambar 25
sedangkan untuk daerah keruntuhan pada
gambar 26.
Gambar 22 Daerah Potensial Keruntuhan
Dengan Beban Gempa Setelah Adanya
Perkuatan Wiremesh dan 2 Rockbolt
Besarnya nilai safety factor dan total
displacement pada terowongan saat adanya
perkuatan wiremesh dan 2 rockbolt dengan
Gambar 25 Nilai Safety Factor Dengan Beban
saat adanya beban gempa mempunyai
Gempa Setelah Adanya Perkuatan Wiremesh
perbedaan nilai yang cukup besar. dan 3 Rockbolt
Perbandingan nilai safety factor dan total
displacement dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6 Perbandingan Nilai Safety Factor dan
Total Displacement Dengan Perkuatan
Wiremesh + 2 Rockbolt
Nilai Total
Safety Displacemen
Step Factor t (m)
Konstruksi
Gambar 26 Daerah Potensial Keruntuhan
(Wm + 2 Rb) 5,342 0,01229
Dengan Beban Gempa Setelah Adanya
Konstruksi + Perkuatan Wiremesh dan 3 Rockbolt
Beban Gempa 3,541 0,01516 Besarnya nilai safety factor dan total
5. Analisis Stabilitas Terowongan displacement pada terowongan saat adanya
Menggunakan Wiremesh dan 3 Rockbolt perkuatan wiremesh dan 3 rockbolt dengan
Untuk hasil nilai safety factor saat adanya beban gempa mempunyai
terowongan dengan perkuatan wiremesh dan perbedaan nilai yang cukup besar.
3 rockbolt pada titik bor log 3 dapat dilihat Perbandingan nilai safety factor dan total
pada Gambar 23 sedangkan untuk daerah displacement dapat dilihat pada Tabel 7.
keruntuhan pada Gambar 24.
Tabel 7 Perbandingan Nilai Safety Factor dan
Total Displacement Dengan Perkuatan
Wiremesh + 3 Rockbolt
Nilai Total
Safety Displacement
Gambar 23 Nilai Safety Factor Dengan Step Factor (m)
Perkuatan Wiremesh dan 3 Rockbolt Konstruksi
(Wm + 3 Rb) 6,551 0,0123
Konstruksi +
Beban Gempa 4,303 0,01551
5.5 Hasil Analisis dan Pembahasan
Untuk mempersingkat maka
perhitungan cukup sampai perkuatan
wiremesh dan 3 rockbolt, selebihnya
menggunakan rekapitulasi nilai grafik safety
Gambar 24 Daerah Potensial Keruntuhan factor dan deformasi dapat dilihat pada
Dengan Perkuatan Wiremesh dan 3 Rockbolt Gambar 27 dan 28.
10 NILAI SAFETY FACTOR

0
BOR W I R E M E S HW M + R B 1W M + R B 2W M + R B 3W M + R B 4W M + R B 5
SF Konstruksi SF Gempa

Gambar 27 Grafik Nilai Safety Factor Pada Tahap Konstruksi dan Penambahan Beban Gempa
NILAI DISPLACEMENT
0.04
0.02
0
BOR WIREMESH
W M + R B 1W M + R B 2W M + R B 3W M + R B 4W M + R B 5

Konstruksi (m) Kons+Gempa (m)

Gambar 28 Nilai Deformasi Pada Tahap Konstruksi dan Penambahan Beban Gempa
6. KESIMPULAN DAN SARAN menggunakan beban gempa yang
6.1 Kesimpulan dinamis dikarenakan pada penelitian
1. Nilai safety factor dari perhitungan ini penulis menggunakan beban
manual maupun dengan program Plaxis gempa statis.
v8.2 > 1,5 yang dapat dikatakan aman. 3. Pada pekerjaan proyek terowongan
Namun jika kita lihat kenyataan yang notog ini menggunakan metode NATM
terjadi banyak sekali proyek terowongan (New Austrian Tunneling Methode)
yang runtuh padahal sudah di prediksi yang berbeda dengan proyek MRT di
akan aman namun nyatanya runtuh juga, Jakarta yang menggunakan metode
maka penulis menyimpulkan walaupun TBM (Tunneling Boring Mechine) yang
tidak adanya perkuatan nilai safety mana terdapat perbedaan dari segi
factor masih aman tetapi jika metode dan biaya yang dapat di teliti lagi
menggunakan perkuatan akan jauh lebih lebih dalam.
aman lagi. DAFTAR PUSTAKA
2. Dengan hasil grafik yang dapat kita lihat Apriyono, Anwar, 2012, “Tinjauan Kekuatan
diatas, penulis menyimpulkan jika Sistem Penyangga Terowongan dengan
penggunaan perkuatan lebih baik Menggunakan Metode Elemen Hingga”,
menggunakan wiremesh + 3 rockbolt Purwokerto.
yang mana hasil safety factor dan Fadhillah, Ryan Achmad, 2016, “Analisis
deformasi hanya selisih sedikit sekali Geoteknik Terowongan Batuan
dengan perkuatan wiremesh + 4 rockbolt Geurutee Aceh Menggunakan Metode
dan 5 rockbolt. Elemen Hingga”, Bandung.
6.2 Saran Rai, Made Astawa, 2013, “Mekanika
1. Analisis stabilitas terowongan Batuan”, ITB, Bandung.
sebaiknya ditinjau dari semua tipe Kolymbas, D, 2005, “Tunneling and Tunnel
batuan atau semua titik bor log yang Mechanic”, Spinger, Berlin.
ada di proyek terowongan notog agar Singh, B, 2006, “Tunneling in Weak Rock”,
mendapatkan variasi hasil yang dapat Elsevier Ltd, London.
di pertimbangkan.
2. Untuk lebih spesifik lagi dalam
menganalisis beban gempa yang
terjadi, penulis menyarankan agar