Sei sulla pagina 1di 219

-PROLOGUE-

Central City, 11 Januari 862


08:15

Suasana di Central City terlihat lebih ramai dibanding biasanya. Kota ini memang tidak
pernah sepi, namun hari ini merupakan hari spesial bagi The Great One beserta Twelve
Councils. Pada musim semi ini, penerimaan murid kesepuluh telah resmi dibuka. Siapa
tidak mengenal tempat ini? Iya, L'escollit escola merupakan tempat dimana siswa
berumur 16 sampai 25 tahun melatih kekuatan mereka untuk membela umat manusia
jika Erebus bangkit kembali. Mereka bagaikan mata pedang yang bisa membelah dua
musuhnya, perisai bagi kaum lemah serta cahaya di tengah kegelapan. Tidak hanya itu
saja para tentara L'escollit escola mempunyai tempat luar biasa di mata seluruh
kerajaan. Merekalah yang kita sebut sebagai The Chosen One (TCO) yang merupakan
kelompok tentara spesial dan tidak sembarang orang bisa masuk kecuali dengan
perijinan Red Orbs.

"Tuan Alexander," sahut seorang berambut biru panjang dengan jubah putih khas
Central City, "Mungkin sudah saatnya kita membuka gerbang bagi calon TCO untuk
masuk."

Lelaki yang disebut sebagai Alexander hanya tertawa dan menepuk pundak lawan
bicaranya, "Belum saatnya, Jansen. Kau tahu kan bahwa di L'escollit escola sangat
mematuhi peraturan?" Kemudian Alexander berjalan kearah jendela dari lantai 20,
melihat ratusan orang hadir di luar gerbang dan bekata, "Gerbang hanya boleh dibuka
pukul 9 pagi tanpa kecuali."

Jansen menghela nafas sambil memerhatikan jam dinding di kantor kepala sekolah.
Waktu menunjukkan 08.15 pagi, tetapi hampir semua calon TCO sudah hadir. Ia tidak
menyangka bahwa calon TCO yang akan terdaftar kali ini datang jauh lebih pagi
dibandingkan dahulu. Ia teringat pada saat dia masuk ujian pertama kali, dirinya telat
lebih dari lima belas menit untuk ujian tertulis. Bahkan, dia lupa membawa penghapus
sehingga jawaban yang dipilih tidak bisa diganti. Bagi Jansen, sekarang dia lulus
menjadi TCO serta menjabat sebagai wakil kepala sekolah merupakan berkat yang luar
biasa. Dia tidak menyangka bahwa dia akan menjadi tangan kanan dari seorang Noble
sekaligus sahabatnya yang terkenal, Alexander Aceline.
"Tapi tuan..." bisik Jansen ragu-ragu, "Tahun ini ada sekitar dua ratus pendaftar, aku
tidak yakin jembatan utama akan bisa menahan mereka lebih lama lagi."

"Cukup Jansen!" balas Alexander sambil mengacungkan jarinya, "Kita tidak boleh
menurunkan kualitas institusi hanya untuk hal sekecil itu. Lagipula dari dua ratus
orang ini, aku berani jamin hanya lima puluh orang yang bisa masuk ke L'escollit
escola."

Jansen mendesah kembali. Pikirannya kembali melayang pada kejadian tiga hari yang
lalu. Memang betul, kualitas TCO semakin tahun harus semakin ditingkatkan. Para
Twelve Councils sudah memberikan peringatan baik kepada calon TCO ataupun TCO
untuk terus berlatih serta meningkatkan kekuatan mereka karena sudah bertahun-
tahun semenjak segel Erebus dibuat makin melemah. Ditambah, beban TCO akan
semakin berat dalam akhir tahun ini. Jika tidak dilakukan secara cepat, bisa-bisa kaum
manusia akan punah dan menjadi budak Erebus di dunia, "Aku tahu, tuan. Kau pasti
memikirkan tentang kemarin bukan?"

Alexander terdiam setelah mendengar perkataan Jansen. Tatapannya berubah menjadi


sinis mengingat hasil rapat kemarin, "Tch, aku tidak peduli apa kata Twelve Councils.
Itu urusan mereka dengan kelompok psikopat rendahan itu. Kami para nobles hanya
menjaga tiga kerajaan hidup dalam keharmonisan dan itulah alasan kenapa L'escollit
escola didirikan."

"Sekelompok psikopat itu masih manusia, Alexander," bisik Jansen melipat tangannya.

Alexander tertawa pelan, "Dengar Jansen, aku lagi tidak ingin beradu pendapat
denganmu. Kita sudah bersahabat lebih dari tujuh tahun dan aku tahu kau itu keras
kepala. Jadi-" Lelaki noble itu menyandarkan punggungnya di jendela dan menatap
Jansen tajam, "Lebih baik aku yang mengalah, benar?"

Jansen memberikan ekspresi datar lalu memalingkan wajahnya ke kanan, "Terserah


kau, Alex."
"Baiklah kalau begitu," Alexander mengambil jubah putihnya dan mempersiapkan
dirinya untuk keluar dari kantor, "Aku harus mengurus beberapa hal, jadilah wakilku
yang baik untuk diam disini tanpa mengacak ruanganku, okay?"

"Hn, untuk apa aku mengacak ruanganmu?" Jansen duduk di sofa tamu, "Aku bukan
kucing peliharaanmu."

Alexander mengacungkan jempolnya ke Jansen dan langsung pergi keluar untuk


mengurus penerimaan TCO baru. Jansen melepas jubah panjangnya serta kedua sarung
tangannya. Ia melempar seluruh benda itu asal-asalan sehingga berserakan di lantai.
Setelah selesai, matanya tertuju kepada amplop coklat besar di meja kerja Alexander.
Karena rasa penasaran, ia mengambil serta melihat isi amplop tersebut yang
merupakan berkas-berkas calon TCO yang terdaftar pada L'escollit escola.

Lelaki itu memberikan senyuman misterius dan bergumam....

"Siapakah dari kalian yang akan selamat?"

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------

Central City, 11 Januari 862


08:4

Sangat berbeda dengan keadaan di kota Lamia yang sepi, Central City merupakan kota
yang sangat ramai dengan gaya hidup yang lebih modern. Bangunan-bangunan jauh
lebih tinggi dari rumah-rumah kota Lamia dan orang-orangnya semua tampak
berpakaian lebih cantik. Bagi seorang gadis desa VC, semua ini masih bagaikan mimpi.
VC yang baru saja datang kemarin dikawal petugas resmi L'escolit Escola masih takjub
akan kehebatan tempat ini. Baginya ini merupakan kesempatan besar untuk memulai
hidup baru. Beruntung karena kebiasaannya untuk bangun pagi dan VC yang tidak
mau telat untuk mengikuti tes, VC bangun sedari pagi dan pergi ke jembatan utama
satu jam lebih awal. Sudah berkali-kali ia mengecek kelengkapan barang bawaannya
untuk menenangkan rasa gugupnya karena ia tidak ingin mengagalkan kesempatan
besar ini. Sesekali ia memerhatikan calon TCO lainnya. Saking gugupnya VC sekarang,
ia hanya bersyukur sarapan yang ia makan tidak keluar kembali.

"Minggir kalian! Menyingkir dari situ! Minggir! Sekarang!" Entah dari mana tiba-tiba
muncul suara keras.

Suara tersebut menarik VC dari pemikirannya. VC menengok dengan bingung dan


sigap ke arah suara tersebut, yang tepat ada di atas kepalanya. Merasa suara tersebut
semakin mengeras memberikan ide pada VC bahwa berdiri di posisi itu bukanlah hal
yang baik. Dengan cepat VC langsung lompat menyingkir dari tempat dimana ia
berdiri sebelumnya dan sesuatu mendarat dengan kepulan debu yang tebal. "Apa yang
baru saja terjadi? Bahaya? Benda hijau apa ini?" pikir VC.

"Fiuhh.. hampir.. saja aku.. terlambat! Sudah.. kuduga Noble itu.. berbohong... tidak...
mungkin ujian.. dilaksanakan... sepagi.. itu!" YL bersandar di atas robotnya dan
berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Ia mengambil botol di sampingnya,
lalu meneguk banyak-banyak air jeruk di dalamnya sambil menatap gedung tinggi
L'escollit escola. Setelah ia berhasil mengumpulkan oksigen, ia mulai mendengar caci
maki dari orang-orang di sekelilingnya. Yah, sebuah reaksi yang wajar dari orang yang
nyaris gepeng di pagi hari yang tenang. Kemarin seseorang dari faksi Noble
mengingatkannya untuk datang ke jembatan utama pukul 7 tepat. Namun lagi-lagi YL
lupa menyalakan alarmnya, dan lupa mempersiapkan barang bawaan untuk ujian yang
baginya kurang penting ini -ujian penerimaan murid baru yang jika gagal bisa diulang
lagi tahun depan. Setelah sadar ia sudah terlambat, langsung ia memasukkan segala
sesuatu lalu mengendarai robot kesayangannya menuju jembatan utama. Sejak awal ia
tidak terlalu serius dengan ujian ini. Lebih menarik baginya mengamati sistem sekuriti
yang berhasil melumpuhkan misil terbarunya. Dengan tidak mempedulikan sumpah
serapah orang-orang di kanan-kirinya, YL melanjutkan menikmati air jeruknya sambil
menganalisis.

VC hanya berdiri terbengong dengan mata melotot menatap ke arah benda kotak hijau
yang ada dihadapannya ini. Ia menganalisa dari bawah ke atas benda asing
dihadapnnya ini untuk menentukan apakah hal ini akan mendatangkan bahaya atau
tidak. Di bagian atas ia menemukan seorang perempuan berambut hitam hijau dengan
penutup mata besarnya. Dipenuhi kebingungan dan sedikit kaget VC hanya bisa
menatap ke arah perempuan tersebut dengan tercengang selagi perempuan itu
meminum sesuatu. Seketika pencerahan datang ke diri VC bahwa ini ia akan tinggal di
Central City untuk waktu yang lama dan hal-hal aneh seperti inilah yang akan ia
hadapi di hidupnya kedepan. Tanpa VC sadari selagi ia tercengang akan pandangan di
depannya ia sedang menginjak suatu kain merah.

Seorang lelaki berdiri di tengah kerumunan sambil membetulkan jubah merahnya. Ia


tidak menyangka bahwa dirinya harus mengikuti tes menyebalkan ini. Satu hal yang
dia benci adalah saat dirinya diminta kakaknya untuk mengikuti tes bagi calon TCO
demi masuk L'escollit escola. Pada awalnya, dia tidak ingin peduli dengan
lingkungannya. Dia hanya berkutik dengan rubik kesayangannya sampai melihat
kejadian yang luar biasa. Seorang wanita berambut hitam hijau baru saja mendarat dari
udara dengan robot anehnya. Ditambah ada seorang wanita di depannya persis
tercengang tidak jelas secara bersamaan menginjak jubah kesayangan dia. Langsung
saja, lelaki ini menatap wanita itu dengan tajam karena bootsnya sudah mengotori
jubahnya, "Hei kau! Apa yang kau lakukan?"

Belajar dari pengalaman sebelumnya setelah VC mendengar suara tersebut ia langsung


menengok ke belakang dan dengan cepat memindahkan pijakannya. Dengan
memindahkan kakinya ia tanpa sadar dengan bersamaan menyeret kain merah di
kakinya. Ia pun melihat seorang pria dengan rambut pirang dengan wajah yang tidak
enak.

Pria itu tersadar bahwa jubah merahnya tertarik dengan kaki wanita tersebut. Dengan
sigap dia langsung melepas jubahnya dan menariknya lebih paksa tanpa
mempedulikan wanita berambut silver yang terjatuh karenanya, "Aku tidak punya
waktu untukmu. Kau membuat hariku menjadi lebih buruk dibandingkan
sebelumnya." Kemudian pria itu berjalan dan melewati wanita itu begitu saja.

VC yang terjatuh dekat kaki robot hijau ini hanya bisa menatap saja pria pirang yang
baru saja lewat. Terlalu banyak hal terjadi di pagi hari ini dalam waktu yang singkat.
"Orang gila" gumam VC dengan suara pelan sambil menatap orang tersebut. VC tidak
akan bisa melupakan penampilan pria tersebut.

Setelah berjalan melewati wanita itu, pria tersebut menghampiri si gadis berambut
hijau dengan robot anehnya itu. Dia sempat terkagum dengan segala detail yang dibuat
dalam satu robot. Dan tidak hanya itu saja, baru pertama kali ia melihat seorang wanita
mempunyai robot sebagus itu. Di Valkyrie, ia tidak pernah menemukan sebuah robot
yang bisa dipakai untuk berkendara. Saking penasarannya, ia mulai memegang bagian-
bagian robot tersebut dan menyentuh beberapa tombol.

"... di sana, di sana, di sana..." Tanpa menyadari ada yang mengutak-atik robotnya, YL
tetap menganalisis sistem yang baru pertama kali dilihatnya. Tak lama kemudian ia
menyadari mesin jus jeruk otomatisnya luber membasahi sepatunya. "Kamu! Hei,
pangeran penasaran di bawah sana! Hati-hati dengan apa yang kamu sentuh!"
Pria itu menatapnya dengan datar dan melihat dibawah sepatu wanita aneh tersebut
terdapat air jeruk yang menggenang, "Oh.. jadi begitu ya," sahut pria tersebut sambil
mengelus dagu. Kemudian, dirinya langsung menyingkirkan tangannya dari tombol
tersebut dan menunjuk orang yang baru saja sampai berjalan di samping dinding
jembatan, "Bukan aku yang menekan tombolnya, tapi dia!"

"Ternyata aku masih belum terlambat," gumam laki-laki berambut pirang platinum.
Pria ini berinisial LA. Ia memulai harinya dengan bangun pagi dan sarapan roti
gandum dengan susu segar kesukaannya. Setelah itu, ia mempersiapkan dirinya untuk
ujian masuk. Cuaca pagi itu terasa nyaman, oleh karena itu ia menikmati suasana
sambil berjalan santai ke tempat tujuannya. Namun, baru saja ia sampai di depan pintu
gerbang, sudah banyak keributan yang terjadi. Ia menerobos kerumunan orang banyak
tersebut dan untung baginya bahwa tubuhnya bisa dibilang tidak gemuk, sehingga ia
dapat menerobos kerumunan tersebut. Di hadapannya terdapat sebuah robot dengan
seorang wanita berambut hijau hitam didekatnya. "Wah.. Robot.." ini pertama kalinya
LA melihat robot. Ia ingin menyentuhnya tapi tidak mau mengambil resiko. Ia melihat
seorang pria yang hampir sama tingginya dengan dia mengutak-atik beberapa tombol
di robot tersebut. Ia tidak ingin terlambat, karena itu ia mulai meneruskan
perjalanannya untuk masuk ke dalam gerbang. Tetapi, semua itu terhambat karena pria
pirang tersebut menunjuknya sambil menuduh. "Aku...?" LA menunjuk dirinya sendiri
dengan wajah kebingungan. "Aku baru saja sampai. Bagaimana caranya aku bisa
menyentuh robotmu dengan jarak ini?" LA menghela nafas.

Dengan alis berkerut YL melihat lelaki pirang lain yang ditunjuk pangeran penasaran
tadi, kali ini dengan kemeja hitam, rambut gondrong, dan kancing yang terlalu lebar
dibuka. "Setelah pangeran, sekarang preman.." gumamnya. Beberapa meter di
sampingnya sekarang terlihat laki-laki yang tampak kebingungan oleh tuduhan
pangeran penasaran di depannya, "Tampaknya kamu harus mencoba berbohong
dengan cara yang lebih baik. Aku beri kau satu kesempatan lagi," katanya dengan
tatapan sinis.

"Tidak perlu," balas pria ini sambil mengibaskan tangannya, "Orang bodoh pun pasti
tahu aku berbohong." Kemudian JA menengok ke arah lelaki dengan kemeja hitam dan
menepuk pundaknya, "Maafkan aku, tadi aku hanya mengetesmu. Aku tahu kau
tertarik dengan robot itu dari tatapan matamu." JA lalu mengambil rubik
kesayangannya dan memainkannya kembali sambil berjalan ke dekat gerbang tanpa
mempedulikan kejadian yang baru saja dialaminya.

Melihat pemandangan di hadapannya "Central City memang unik..." pikir VC dengan


pasrah. Ia pun berdiri dari posisinya dan berjalan memberi jarak antara dirinya dengan
benda kotak raksasa tersebut tersebut. Bentuk benda kotak raksasa ini mengingatkan
dirinya akan sesuatu yang pernah ia baca di buku. Mendengar perbincangan dari
kedua pria pirang tersebut, VC yakin bahwa benda yang dihadapannya ini adalah salah
satu dari robot yang ada di buku mengenai kerajaan Ozark. Dengan semangat VC
memanggil wanita berambut hijau tersebut "Hei! Halo! Kau yang diatas!!".

YL bergumam, "Memang mustahil berpikir dengan tenang di keramaian seperti ini." Ia


akhirnya memutuskan untuk menunda analisisnya dan meladeni pengganggu
berikutnya, "Ada apa?" sahutnya.

"Apa benar ini adalah salah satu robot bikinan kerajaan Ozark?" balas VC dengan
penasaran.

"Benar." Jawab YL dengan singkat. Jawaban itu tidak sepenuhnya benar. Ia hanya ingin
perempuan berambut silver itu tidak mengganggunya lebih lama lagi. Selain itu ia
tidak suka membicarakan robotnya.

"Dari mana kau dapat benda ini?" tanya VC sekali lagi

"Ini buatanku." Tanpa ekspresi, YL menatap mata hijau yang mirip seperti miliknya itu.
"Kenapa kau ingin tahu?" Demi kewarasan dirinya, ia mencoba menikmati
pembicaraan ini.

"Ini pertama kalinya aku melihat robot." jawab VC sambil mengamati robot tersebut.
"Aku pernah melihat robot sebelumnya, tapi hanya di buku. Dan dari ingatanku mesin-
mesin seperti ini merupakan ciri khas dari kerajaan Ozark."

"Oh, begitu." Balas YL sambil melemparkan senyum pamit. Ia senang pembicaraan ini
bisa berakhir.

LA melihat wanita berambut hitam hijau tersebut berbicara dengan wanita lain
berambut silver. Ia tidak ingin mendengar pembicaraan mereka, tetapi suara mereka
cukup keras sehingga ia tidak bisa untuk tidak mendengar pembicaraan mereka. 'Eh?
Buatan sendiri?' pikirnya. Ia menatap wanita berambut hitam hijau tersebut dengan
sedikit kagum. "Mungkin aku bisa memintanya membuatkan mesin pemerah susu
nantinya. Mungkin suatu saat nanti -" LA bergumam pelan. Tetapi, gumamnya tersebut
dihentikan oleh suara keras.

"Perhatian-perhatian!" tiba-tiba suara keras dari lantai atas terdengar oleh seluruh
peserta, "Untuk para calon TCO, diberitahukan bahwa tahap awal ujian akan segera
dimulai. Diharapkan untuk semua yang ingin berpartisipasi untuk merapat ke gerbang
utama karena gerbang akan mulai dibuka secara perlahan-lahan. Terima kasih."

Mendadak sadar bahwa sebentar lagi akan dilaksanakan ujian yang akan menentukan
nasibnya VC sehingga dirinya mulai panik dan melihat ke sekelilingnya. Seketika ia
sadar bahwa disampingnya masih ada robot milik perempuan berambut hijau tersebut.
"Hei, apa kau akan membawa robot ini ke dalam?" tanya VC.

"Tentu saja, ini milikku yang berharga," jawabnya. "Seandainya mereka melarangnya
untuk ujian, akan kutemukan cara untuk memastikan dia aman, berhentilah penasaran
dengan robotku," lanjutnya. "Ngomong-ngomong, apa saja yang kita perlukan untuk
ujian nanti?" YL berusaha mengubah topik pembicaraan.

"Entahlah, mereka hanya memberitau aku salah satunya ujian tertulis. Jadi yah... alat
tulis mungkin?" jawab VC. "Apa menurutmu kita boleh membawa senjata kita sendiri
karena kau saja membawa robot ini?"

"Tidak tahu. Aku kan belum masuk." 'Jelas saja aku tidak tahu, apa wanita ini sedang
mempermainkanku?'. pikir YL.

'Tidak adanya gunanya aku bertanya pada orang ini,' pikir VC. "Hei kau, aku akan bersiap-
siap di dekat gerbang. Sampai jumpa." VC berpamitan dengan YL. VC pun bergabung
dengan para calon TCO lainnya di depan gerbang. 'Huh..... bila mereka membiarkan robot
itu masuk, seharusnya aku juga membawa senjata lainnya...' pikir VC. 'Bila ada hal aneh,
semoga saja pensil tajamku ini bisa menyelamatkanku.'

LA menghela nafasnya perlahan. Ujian yang akan menentukan nasibnya akan dimulai.
Ia tidak menyangka kalau ia mau mengikuti ujian tersebut. LA melihat ke
sekelilingnya. Banyak orang yang gugup, takut, senang, dan bahkan percaya diri.
"Semoga semuanya cepat selesai," LA menghela nafas kembali dan memeriksa kembali
barang-barang yang diharuskan untuk dibawa. Setelah ia merasa semuanya sudah
lengkap, LA berjalan lebih mendekat lagi ke depan

'Akhirnya dia pergi,' pikir YL. Sekarang ia bisa melanjutkan analisisnya. Kerumunan
orang berjalan menuju gerbang, sedang ia di sana duduk santai dan mengamati
beberapa pemancar dengan senyum puas. "Tempat yang menarik, kurasa aku akan
betah di sini," gumamnya. Sembari meminum jus jeruknya, dalam beberapa menit ia
sudah tenggelam dalam susunan pola sekuriti yang baru saja diamatinya. Hingga
kerumunan terakhir sudah jauh di depannya, barulah ia bangun dari lamunannya dan
bergerak ke barisan paling belakang. Menunggu gerbang -tanda kisah barunya
dimulai- dibuka.

JA:
- Blonde jabrik
- Tinggi 181 cm
- Mata cokelat terang
- Kulit putih terang (caucasian)
- Memakai jubah merah, yang dipadu dengan baju kemeja putih dengan celana dan
boots hitam
- Suka membawa rubik
- Suka memakai hoodie dari jubah merahnya

VC:
-cewe 156 cm
- silver hair panjang
- green eyes
- pink shirt
- brown skirt
- brown boots

YL:
-Gadis berkulit putih pucat
-mata besar berwarna hijau terang
-rambut ombre hijau-hitam sepunggung pendek dikit
-pakai google dan winter hat, sarung tangan
-baju biru, celana biru, boots hijau

LA :
- Laki" tinggi 180cm
- kulit putih krem (asian)
- Rambut platinum blonde
- Mata merah gelap
- Pakai kemeja hitam
- 2 kancing paling atas kebuka
- Jeans biru donker
- Boots hitam
- Kalung dengan pendant moonstone kecil

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
--------------------------------------------------------------------------------

First Test
Ujian tertulis
09.20

"Selamat datang kepada kalian hai calon-calon TCO!" sambut seorang gadis cantik
pirang perawakan tinggi dibalut dengan gaun abu-abu formal serta high heels 7 cm
yang menawan di panggung, "Kami senang sekali menerima kalian di lobi gedung
utama." Semua calon TCO bertepuk tangan dengan meriah dan menggema sampai ke
atap atas. Lobi ini terkenal memiliki langit-langit yang berbentuk kubah sehingga
disebut "Lobby Dome". Setidaknya itulah yang diketahui oleh masyarakat awam
disana.

"Kami selalu menerima para murid disini dan ini sudah merupakan tradisi turun-
menurun. Kalian tahu, semenjak institusi ini didirikan tidak banyak desain gedung
yang berubah dan diharapkan kalian menghormati hal ini sebagai bagian dari sejarah,"
sahut wanita itu kembali sambil memegang mic gugup, "Oh Tuhan! Aku hampir lupa.
Perkenalkan namaku Michele Beaufort, seorang Noble dari Luxenberg yang bertugas
untuk mengetes kalian dalam tahap pertama ini. Mohon kerjasamanya ya!"

Para TCO langsung takjub mengetahui bahwa wanita yang berdiri di depan adalah
seorang noble. Jarang sekali Noble ingin memperlihatkan wajah mereka di depan faksi
lain. Tidak hanya itu saja, keluarga Beaufort memang terkenal dengan persona mereka
yang bisa membuat lawan jenis tertarik. Jadi, janganlah heran jika semua orang disana
terpana akan kecantikannya.

"Aku tahu kalian sudah jauh-jauh datang kesini demi masuk institusi, namun ingatlah -
ehm- kami tidak akan mengasihani kalian," cengir Michele dengan anggunnya, "Kami
tidak menerima TCO yang lemah, tidak bertalenta, bodoh dan mental rendahan untuk
masuk L'escollit escola. Jadi jangan harap ini akan mudah."

Suasana diatas langsung tegang dan semua calon TCO terdiam. Mereka tidak
menyangka bahwa menjadi pilihan Red Orbs harus melewati beban sebesar ini. Masuk
dalam institusi saja harus melewati tiga tahap ujian yang terdiri dari ujian tertulis, ujian
fisik dan wawancara. Para pengajar di institusi tidak bermain-main dalam memilihkan
soal untuk para calon. Dan tak hanya itu saja, penguji yang sedari tadi duduk di
belakang Michele sudah berjalan ke ruangan masing-masing.

"Baiklah, kita akan mulai tes pertama yaitu Ujian Tertulis," kata Michele, "Di sisi kanan
dan kiri dinding ini sudah disediakan 3 mangkuk besar yang berisi kertas lotere dari
nomor 1 sampai 35. Kami ingin kalian mengantri dengan rapi dan mengambil
kertasnya satu persatu."

LA perlahan maju mengikuti antriannya. Ia melihat beberapa orang mengeluh dan


beberapa bersorak gembira melihat nomor lotere mereka. Setelah mengantri cukup
lama, LA sampai kepada gilirannya. Ia memasukkan tangannya kedalam mangkuk
ketiga dan mengambil kertas pertama yang tersentuh jarinya. Ia mengambil kertas yang
digulung tersebut dan membukanya. 'Nomor 2.. Hmm' pikirnya. LA menggulung
kembali kertas tersebut dan pergi ke tempat yang kosong untuk menunggu instruksi
selanjutnya.
Ketika gilirannya tiba VC dengan sedikit gugup maju ke mangkuk besar kedua di
kanan tersebut dan mengambil lotere. Membuka gulungan lotere VC membaca angka
29 tertulis di kertas tersebut. '29....' pikir VC sambil menyimpan gulungan lotere
tersebut dan memandang ke sekeliling ruangan mengamati respon orang lain.

Setelah menitipkan robotnya di Noble kenalannya, YL masuk ke dalam Lobby Dome.


Walau masuk paling akhir, entah kenapa YL beruntung mendapat antrian terdepan.
"Ups, terambil dua," sahutnya refleks, diikuti oleh desisan "jangan berisik" peserta
lainnya. Dengan lidah terjulur tanda kekonyolan, YL mengembalikan salah satu kertas
dan keluar dari antrian. "Hmm.. aku dapat nomor.. 34. Bukan nomor
keberuntunganku," gumamnya.

JA membiarkan orang lain mengantri di depannya duluan. Sejujurnya, dia sangat malas
mengikuti ujian seperti ini. Dari dulu sampai sekarang, ia tidak pernah suka ujian.
Baginya, hal ini hanya membuang waktunya. Apalagi ini bukan keinginannya untuk
berpartisipasi dalam "acara" seperti ini. Setelah menunggu beberapa menit, dia sampai
di depan mangkuk besar tersebut. Ia menoleh ke kanan dan melihat wanita berambut
hijau dengan baju biru itu berdesis mengambil dua gulungan, 'Wanita itu selalu saja
membuat heboh satu gerombolan,' gumamnya di dalam hati. Tangan besarnya mulai
merogoh dasar mangkuk besar dan mengambil satu gulungan kecil. Di kertas itu
tertanda nomor 4 yang merupakan angka favoritnya.

Michele Beaufort tersenyum dan mulai mengetuk mic untuk meminta perhatian,
"Sepertinya, kalian semua sudah mengambil satu lotere yang berisikan angka. Aku
harap kalian menghapal nomor kalian masing-masing karena itu adalah nomor pintu
yang harus kalian masuki!"

VC dengan seksama hanya memerhatikan peserta lainnya dengan sambil


menyembunyikan rasa gugupnya sendiri. 'Apapun yang ada di balik pintu itu aku harus
bisa menghadapinya! Ini adalah kesempatan besar bagiku untuk mengubah hidupku' pikir VC
untuk menguatkan dirinya.

"Pintu?" Lelaki ini mulai memandangi Michele Beaufort curiga. Ia mengerti bahwa
keluarga Beaufort merupakan orang yang tepat untuk menjaga tahap pertama, tapi apa
perlu sampai seperti ini? Sangat tidak masuk akal. Namun, JA tidak peduli akan hal ini.
Yang pasti dirinya hanya ingin semua ini selesai dan kembali berbaring di padang
rumput favoritnya.

LA melihat ke sekelilingnya. Ia mendapati sebuah lorong besar di sebelah kanan


panggung, tempat dimana Michele berdiri. Tidak tahu kenapa, LA memiliki firasat
kalau semuanya tidak akan berjalan dengan cepat sesuai dengan harapannya. 'Aku jadi
ingin pulang dan tidur... Semoga tidak ada hal merepotkan terjadi,' pikirnya.
"Apa ada pertanyaan?" tanya Michele sambil mengibaskan rambutnya, "Kami tidak
akan memberikan instruksi yang jelas ke kalian karena kami pelit dalam kata-kata. Jika
tidak ada yang bertanya, maka kalianlah yang menanggung konsekuensi dibalik pintu
tersebut. Satu peraturan yang harus kalian ketahui adalah jangan sentuh benda apapun
disana."

"Kalau tidak boleh menyentuh apapun, bagaimana cara kami mengerjakan ujian?" LA
mengacungkan tangannya. 'Apa mungkin ia ingin kami menggunakan kekuatan? Sepertinya
tidak. Pilihan lainnya adalah dengan lisan. Tapi.. Apakah mungkin?'

Michele tersenyum manis melihat lelaki muda bertanya kepadanya, "Hmm, itu urusan
kalian. Semua disini adalah calon The Chosen One yang dipilih oleh Red Orbs. Tidak
mungkin kalau kalian bukan anak yang kreatif bukan?" Setelah itu, perempuan cantik
itu membenarkan letak micnya dan berkata, "Patuhilah peraturan, jangan sentuh benda
apapun disana."

VC hanya mendengarkan dengan seksama perkataan Michele. 'Jangan sentuh apapun?


Ini pasti salah satu petunjuk ujian di dalam,' pikir VC sambil mengamati Michele dan pria
pirang platinum. 'Mungkin memang tidak ada gunanya membawa alat tulis hari ini.... huh.....
Aku seharusnya membawa sedikit senjata.'

JA mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Terdengar suara bising dari para


TCO, saat mendengar jawaban Michele kepada lelaki yang dia jadikan kambing hitam
di luar gerbang. Lalu, JA mulai menyentuh dagunya untuk berpikir dan akhirnya ia
bertanya, "Jadi kesimpulannya, apa yang akan kami lakukan disana?"

Michele memandang pria pirang itu dengan seksama dan merasa dirinya mengenal
pria itu. Namun karena waktu yang diberikan sangatlah terbatas, ia tidak ingin
membuang waktunya untuk berpikir, "Kalian akan menemukan instruksi selanjutnya
di dalam pintu kalian. Jadi, setiap pintu berisi soal-soal yang berbeda dan kalian harus
menjawab itu sebaik mungkin. Ada lagi yang ingin bertanya?"

'Huh.... ternyata Noble di Luxenberg dan di Central City semua sama saja. Sombong dan
arogan. Apa boleh buat, mungkin bila aku bersikap sesuai dengan yang diinginkannya maka ia
akan memberikan lebih banyak bocoran.' pikir VC. "Um...... Nyonya Michele yang
terhormat. Nyonya Michele sudah sangat baik hati untuk memberi kami petunjuk demi
membantu kami dalam mengerjakan ujian. Bila anda berkenan apakah ada petunjuk
lain yang bisa kami dapatkan dari nyonya Michele?" VC bertanya kepada Michele
dengan nada sopan yang dipalsukannya.

"Bukankah sudah kubilang tadi?" Michele melipat tangannya melihat gadis di depan,
"Instruksi selanjutnya akan diberikan di dalam pintu kalian. Apakah ada yang ingin
bertanya lagi?"
'Sepertinya pemikiranku benar. Ada kemungkinan kalau tes ini dijawab lisan. Namun, mereka
bilang kalau ini ujian tertulis. Tidak mungkin hal tersebut dirubah pada detik terakhir, jangan-
jangan...' LA mengacungkan tangannya lagi dan bertanya, "Aku hanya ingin
konfirmasi. Ujian ini benar ujian tertulis, bukan?"

"Betul anak muda," sahut Michele sambil menjetikkan jarinya sebagai salah satu
kebiasaan keluarga Beaufort, "Kalian hanya perlu bawa alat tulis, satu pensil dan satu
penghapus. Jika kalian tidak membawanya, kalian bisa meminta ke petugas di luar
pintu kalian. Mereka akan berdiri disana dari awal sampai ujian berlangsung."

LA mengangguk mengerti. 'Kalau begitu, peluang bagi kecurigaanku menjadi besar. Mereka
akan meminta kami menuliskan jawaban di kertas yang diberikan lalu menunjukkannya kepada
mereka. Tidak. Itu terlalu mudah. Mereka terlihat seperti orang yang tidak ingin orang lain
hidup dengan mudah. Tapi, kalau ternyata benar...' LA menghela nafas untuk ke sekian
kalinya. Ia benar-benar harus mengurangi kebiasaannya untuk menghela nafas.

"Baiklah, apakah ada yang ingin bertanya lagi?" tanya Michele. "Aku membuka
pertanyaan terakhir sebelum ujian ini dimulai."

Setelah mempertimbangkan banyak hal, YL akhirnya memberanikan diri


mengacungkan tangan. Ini bukan gayanya, namun ada hal lain yang membuatnya
penasaran, jika tebakannya benar.... "Saya ingin bertanya, bolehkah?"

"Tentu saja," jawab Michele.

"Asalkan tidak menyentuh apapun, kita boleh melakukan apapun di dalam?" tanya YL.

"Tergantung dari pintu kalian masuk," jawab Michele tegas. "Kalian akan mendapat
instruksi selanjutnya. Tapi dariku sekarang hanyalah jangan sentuh benda apapun
disana."

"Baiklah." balas YL sambil bertopang dagu. 'Ugh, bukan ini jawaban yang kuinginkan.
Dasar Noble nggak jelas' pikir YL.

JA mendapati situasi semakin tidak jelas dan pertanyaan makin banyak. Padahal
baginya, instruksi ini terlihat jelas. Kakaknya sudah mengatakan bahwa keluarga
Beaufort selalu membawa kekacauan dalam ujian. Sejak kapan Beaufort peduli
peraturan? Mereka hanya kumpulan sosialita tidak jelas yang memikirkan penampilan,
"Tolong nyonya cantik, bisakah kalian percepat waktunya? Kami sudah menunggu
lama disini?"
Kemudian Michele melihat anak laki-laki itu makin sinis. 'Siapakah anak laki-laki itu? Aku
pernah melihatnya di suatu tempat,' pikirnya. Namun, Michele tetap saja tidak ingin
memusingkan hal tersebut. Ia lebih ingin tugasnya selesai lebih dahulu baru
menelusuri anak tersebut, "Baiklah, kalian semua! Silahkan pergi ke lorong kanan ini
dan cari pintu sesuai dengan nomor lotere kalian!"

VC berjalan menelusuri lorong bersama dengan gerombolan orang tersebut. 'Akhirnya


ujian ini dimulai juga. Dasar tukang jaga ujian yang tidak berguna, dia hanya seorang Noble
yang bodoh dan malas.' pikir VC dengan kesal.

Setelah melihat gerombolan murid hampir memenuhi lorong. Beberapa penguji mulai
memberikan sinyal kepada penguji lain untuk memberitahukan sesuatu. "Perhatian-
perhatian! Disini terdapat tiga lorong yang menunjukkan pintu kalian," teriak seorang
lelaki memakai topeng. "Bagi kalian yang merasa bingung dengan lorong ini, silahkan
lihat pada papan pengumuman disana!" Kemudian semua calon TCO pergi kearah sana
dan mendapati pengumuman sebagai berikut:

---

PENGUMUMAN UJIAN TERTULIS

ANGKA GENAP NOMOR 1-10 PINTUNYA BERSEBELAHAN DENGAN ANGKA


GANJIL 20-35 : LORONG PERTAMA
ANGKA GENAP NOMOR 11-20 PINTUNYA BERSEBELAHAN DENGAN ANGKA
GANJIL 1-10 : KEDUA
ANGKA GENAP NOMOR 21-35 PINTUNYA BERSEBELAHAN DENGAN ANGKA
GANJIL 11-20 : LORONG KETIGA

2 21 4 23 6 25 8 27 10 29 (lorong 1)
12 1 14 3 16 5 18 7 20 9 (lorong 2
22 11 24 13 26 15 28 17 30 19 31 (lorong 3)

Jika kalian masih bingung, bisa tanyakan kepada penguji terdekat yang berada di ujung
lorong.
Terima kasih
Semoga berhasil

---

Jantung YL berdebar-debar. Ia tidak pernah mengikuti ujian apapun seumur hidupnya.


'Semoga ini tidak merepotkan' katanya dalam hati. Setelah menanyakan jalan pada
penguji, sekarang ia tengah berjalan menuju pintunya. Melihat wajah pucat para
peserta di lorong, ia tahu bukan hanya dirinya yang gugup. Setelah sampai di depan
pintu nomor 34, kedua tangannya yang dingin dan basah ia masukkan ke dalam
kantung. Ia berharap menghangatkan tangan bisa menenangkan jantungnya, dan
ternyata berhasil! Sekarang ia menatap pintu kayu bertuliskan "34" di hadapannya.
"Hey, door. Wish me luck..." katanya kepada pintu itu dengan senyum khawatir. Seiring
waktu berjalan, ia mendapat kepercayaan dirinya lagi. 'Kurasa sedikit ujian bukan
masalah' pikirnya. Lalu ia bersandar di pintu dan mengecek isi kantungnya. "Hmm,
syukurlah peralatan ini tidak pernah lupa kubawa. Semoga bisa berguna." gumamnya.
Ia menghabiskan waktu sebelum ujian dimulai dengan memainkan peralatannya.

LA mengikuti gerombolan masuk ke dalam lorong tersebut. Untung baginya mendapat


nomor awal. Baru saja ia masuk ke dalam lorong, pintu dengan angka 2 sudah
menyambutnya di depan lorong pertama dari lorong lainnya yang terdapat di dalam
lorong besar tersebut. LA pun langsung masuk ke lorong tersebut dan menunggu di
depan pintu bersama para peserta lainnya.

JA juga mengikuti rombongan orang-orang ke lorong dan mengikuti arus. Ia hanya


menuruti instruksi yang diberikan oleh Michele serta para penguji. Dirinya langsung
pergi membaca isi dari pengumuman kemudian berjalan sesuai dengan petunjuk.
Tanpa sengaja, dia melihat laki-laki yang ia temui di depan gerbang. Ternyata lelaki itu
pergi ke lorong yang sama dengannya. Sebenarnya, JA sangat penasaran dengan orang
itu karena entah mengapa dia bisa merasakan keunikan darinya. Tapi dia
mengurungkan niatnya untuk bertanya dan hanya menatap laki-laki itu sampai dia
menyadari keberadaannya.

LA merasakan tatapan dari seseorang. Ia tidak merasakan niat buruk atau apapun dari
tatapan tersebut. Pertamanya ia memutuskan untuk mengabaikannya, namun lama
kelamaan tatapan tersebut membuatnya tidak nyaman, akhirnya ia melihat ke
sekelilingnya untuk mencari pelaku tersebut sampai matanya menangkap laki-laki
pirang yang tadi pagi menuduhnya sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak
dapat dibaca oleh LA.

JA tersentak saat lelaki itu menatapnya kembali. Entah apa yang ia pikirkan, JA
langsung menghampiri LA dan menyapanya canggung, "Hai, kau tadi yang di gerbang
kan? Maafkan aku menuduhmu, ya. Sebenarnya aku hanya iseng karena aku penasaran
dengan semua orang disini."

LA menganggukkan kepalanya dan menatap JA, "Tidak masalah. Seperti yang kau
bilang, orang bodoh pun akan tahu kalau kau berbohong tadi."

JA tersenyum canggung, "Hahahaha.. Tentu saja!" JA langsung mengambil benda


kesayangan dari kantong celana hitamnya dan menunjukkannya kepada lelaki
disebelahnya, "Kau tahu benda apa ini?"
LA mengamati benda berbentuk kubus dengan berbagai macam warna didalamnya
tersebut. Ia pun menggelengkan kepalanya, "Ini pertama kalinya aku melihat benda itu.
Apa namanya?"

'Pintuku ada di ujung lorong??? Kesialan macam apa yang aku dapatkan hari ini?' pikir VC
sambil berjalan menuju ujung lorong setelah tadi ia membaca papan pengumuman.
Ketika berjalan VC mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya namun
mengingatkan akan suatu hal yang tidak enak. Tanpa melihat sumber ia langsung
melihat ke arah suara tersebut berbicara dan menemukan seorang pria yang tadi pagi ia
lihat pula. Karena penasaran akan pria berambut pirang platinum tersebut, VC pun
memerhatikan pria tersebut sambil berjalan sedikit lebih cepat menuju ujung lorong
tanpa memerhatikan sekitarnya. Mendadak ia menabrak seseorang pria di depannya
hingga benda yang pria tersebut pegang terjatuh.

"Well, benda yang kupegang ini adalah..., " Sebelum JA melanjutkan perkataannya,
tiba-tiba ada seseorang yang menyenggol dirinya dari belakang sehingga benda
kesayangannya jatuh ke lantai. Tidak hanya itu saja, dua kotak di ujung benda itu
terlempat entah kemana. JA menggeram dan menengok ke si pengacau dari belakang
sambil berbicara, "Hei! Kalau jalan lihat a-" Sontak, dirinya terdiam melihat wanita
yang sama seperti di gerbang yang menabrak dirinya tadi. "Kau lagi?"

Sadar akan siapa yang ia tabrak VC langsung memasang muka tidak enak. 'Dia lagi?
Mengapa hari ini aku mendapatkan banyak sekali masalah dari pagi?' pikir VC. "Kau lagi...
Sekarang kau mau apa lagi dari ku?" tanya VC dengan nada yang malas meladeni
orang tersebut.

"Justru aku yang harusnya bertanya itu," balas JA menahan emosi. "Kau sudah
menabrakku dua kali sampai aku bingung apa maumu? Apa kau jatuh cinta padaku,
hah?"

'Sikap sombong seperti ini... pasti salah satu anak noble atau anak orang kaya,' pikir VC
dengan cepat setelah mendengar pria tersebut. "Maaf saja ya, tapi aku sibuk dan tidak
punya waktu untuk orang yang terlalu percaya diri sepertimu. Ada ujian yang harus
kukerjakan!" balas VC sambil membalikkan badannya dan melanjutkan perjalanannya
ke ujung lorong yang masih jauh. VC pun menambah kecepatan jalannya dan secara
tidak sengaja menemukan dua buah kotak kecil yang merupakan ujung pecahan benda
pria tadi. 'Mungkin tadi aku sedikit kasar pada orang yang tidak dikenal. Lebih baik aku
berdamai dengannya dan mengembalikan pecahan ini nanti bila bertemu lagi' pikir VC sambil
memungut pecahan tersebut dan menyimpannya di dalam tas.

LA hanya menatap kedua orang tersebut dengan diam. 'Lain kali jika aku melihat mereka
berdua, lebih baik aku menyingkir saja. Lain kali jika ada kesempatan..' pikir LA. Ia melihat
pecahan kecil kubus tersebut tidak jauh dari mereka. Belum sempat ia berjalan untuk
memungutnya, perempuan berambut silver tersebut sudah memungut kedua pecahan
tersebut terlebih dahulu dan memasukkannya kedalam tas lalu pergi.

JA memperhatikan rubiknya yang sudah tidak bagus lagi yang membuat dirinya
menghela nafas dalam, "Ya sudahlah, setidaknya rubikku tidak sepenuhnya rusak."
Sesudah kejadian itu selesai, JA kembali menengok ke arah LA dan berkata, "Benda ini
namanya rubik dan sangat bagus melatih otakmu. Tapi maafkan aku, kondisinya tidak
sebagus tadi. Jadi ya.... itulah namanya," JA memasukkan rubik itu ke dalam kantong
celananya dan menepuk pundak LA, "Semoga kau lulus di ujian pertama, aku harus
pergi ke pintu nomor 4." Akhirnya, JA bersiap-siap untuk pergi ke arah pintu yang
dituju.

Penjelasan lelaki pirang tersebut membuat LA semakin penasaran untuk mencoba


benda bernama rubik tersebut. Sebelum JA pergi ke pintunya, LA menggenggam
lengan JA untuk mencegahnya agar tidak pergi terlebih dahulu. "Pecahan rubikmu tadi
dibawa oleh wanita silver tadi dan semoga beruntung di ujian pertamamu," kata LA.

JA berhenti sejenak dan menengok ke arah LA, "Oh tenang saja, aku tahu. Terima kasih
atas informasinya!" JA kemudian melambaikan tangan dan pergi ke pintu nomor 4.
Setelah JA sampai di depan pintu, dia melihat wanita silver itu berjalan cepat menjauhi
dirinya dan berpikir, 'Aku merasa pernah melihat dia. Tapi dimana ya?'

"Perhatian untuk semua peserta ujian!" suara Michele terdengar menggema di lorong-
lorong. Seluruh peserta "Diharapkan untuk semua calon TCO sudah berada di depan
pintu masing-masing. Ingat peraturannya, jangan sentuh benda apapun disana!
Sesudah itu kalian akan mendapat peraturan selanjutnya."

JA mempersiapkan alat tulis dan penghapus dari kantong jubah yang ia pegang. Ia
ingat pesan kakaknya untuk membawa benda penting ini untuk ujian. Tidak disangka
bahwa semua nasihatnya berguna. Tapi tetap, JA tidak peduli. Ia hanya ingin ini cepat
selesai, "Ayo Beaufort, apa yang akan kau berikan di soal ujian masuk...."

'Ini dia saatnya di mana aku bisa mengubah nasib hidupku! Aku harus bisa mengerjakan soal
ujian apapun yang ada di balik pintu ini!' pikir VC dengan tegas sambil memegang tasnya
yang berisi alat tulis.

Dengan wajah datar YL menggenggam gagang pintu dengan erat. Firasatnya


mengatakan ini bukan ujian tulis biasa, ada hawa membunuh yang besar di dalam.
Tangan kanannya membuka pintu perlahan, sementara tangan kirinya siap dengan
stun gun. Ia mengintip sedikit ke dalam ruangan gelap itu dan menggunakan stun
gunnya sebagai sumber cahaya. Walau cahaya stun gun tidak terlalu membantu, ia
dapat memastikan tidak ada yang akan menyerangnya tiba-tiba. 'Oke, sekarang saatnya'
kemudian ia masuk ke dalam.

LA menyiapkan alat tulisnya dan menghela nafas panjang. 'ini dia...' pikirnya.

***

PINTU NOMOR 2
(LA's First Test)

LA membuka pintu dan masuk kedalam ruangan ujian.Entah kenapa dari banyaknya
orang yang mengantri di luar, ia yang masuk pertama dan sendirian.Ruangan tersebut
gelap gulita dan sumber cahaya yang terdapat disana hanyalah cahaya dari lorong
yang masuk melalui pintu yang masih terbuka. "Halo..?" LA memanggil sambil
menutup pintu di belakangnya, membuat lingkungannya menjadi gelap total tanpa
sedikitpun cahaya.

"Selamat datang calon TCO," suara seseorang menggema di ruangan tersebut. Jika
dilihat dari gema suara, kemungkinan ruangan itu berbentuk kubus dan tidak terlalu
besar. Para calon TCO lain kaget mendengarnya, namun entah mengapa tiba-tiba
semua peserta tidak terdengar suaranya seperti hilang tanpa jejak, "Sebelumnya aku
meminta maaf karena kau tidak bisa melihat diriku karena ini adalah peraturan dari
Michele Beaufort," lanjut laki-laki itu sambil berjalan ke arah yang tidak diketahuinya
dan menyalakan saklar di ruangan itu. Setelah itu, ruangannya menjadi terang serta
terlihatlah seorang pria berpostur tegap dengan rambut berwarna hitam, mata sapphire
dengan goresan wajah di pipi yang mencolok. Di pinggang kanannya terdapat pedang
berwarna silver serta baju tentara L'escollit escola yaitu putih. Di dadanya juga terdapat
lencana pangkat yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang bekerja disana, "Aku
akan mengidentifikasi datamu dahulu. Apakah engkau Leo Achashverosh?"

LA, atau yang dikenal sebagai Leo Achashverosh mengedipkan matanya karena
perbedaan cahaya mendadak. Ia menatap pria tegap dengan goresan diwajahnya
tersebut dengan hati-hati. "Iya, benar," jawabnya.

Pria itu tersenyum dan meminta Leo untuk duduk di kursi yang berada di sebelah
kanannya, "Baiklah, silahkan duduk Leo."

Leo menatap pria itu tajam. "Seingatku, Nona Michele bilang kalau kami tidak boleh
menyentuh apapun di ruangan ini. Jika aku duduk, berarti aku sudah menyentuh kursi
di ruangan ini," katanya.
"Hahahahaha!" pria itu tertawa tidak jelas dan kemudian duduk di kursi tersebut,
"Betul Leo, kau sangat mematuhi peraturan Michele Beaufort. Kau pasti akan lulus dari
tes ini." Pria itu kemudian melihat ke ujung langit-langit dan memberikan tanda
jentikan jari tiga kali. Lelaki ini menatap Leo dengan senyum misterius, "Kau berhasil
untuk cobaan pertama. Sekarang, bersiap-siaplah untuk ujian yang sebenarnya."

Leo menganggukkan kepalanya kepada pria tersebut. "Aku sudah siap, tuan..." Leo
menaikkan alis kanannya sebagai kode untuk pria tersebut memperkenalkan dirinya.
Tidak adil baginya jika pria tersebut mengetahui identitasnya, sedangkan ia tidak
mengetahui bahkan nama pria itu.

"Anderson Flinch," kata pria itu sambil mengeluarkan pedangnya. "Panggil aku
Anderson saja," Noble dari keluarga Flinch itu mengeluarkan pedangnya dan
menaruhnya tegak persis di depannya. "Sekarang, aku akan memberikanmu peraturan
kedua sebelum ujian. Untuk peraturan tambahan di pintu nomor 2, hayati arti kata
sentuhan dari Michele Beaufort. Itu saja dariku. Apakah ada pertanyaan?"

'Sentuhan, ya..' pikir Leo. "Baiklah. Aku mengerti, tuan Anderson," jawab Leo.

Sesudah Leo berkata mengerti, dinding di belakang Anderson terbuka satu pintu
rahasia. Lalu ada seorang tentara memakai topeng mengeluarkan kertas dan
menempelkannya di papan kanan dekat Leo. Setelah itu, Anderson memerintahkan
tentara itu pergi serta berkata, "Aku ingin kau menjawab pertanyaanku di kertas itu
memakai pensil. Jika kau merasa jawabanmu ada yang salah, kau boleh
menghapusnya. Apakah kau mengerti?"

"Tunggu. Jika aku menulis jawaban dengan pensil, itu sama saja aku menyentuh benda
tersebut melalui pensil, bukan?" Leo mengernyitkan dahinya sambil ia berjalan menuju
papan tersebut.

"Benarkah?" tanya Anderson memastikan. "Tapi kau tahu bahwa ini ujian tertulis, tidak
mungkin kami menerima jawaban tanpa tulisan di kertas bukan?"

"Kalau begitu.. Aku tidak boleh menyentuh apapun disini tetapi hal tersebut tidak
berlaku terhadapmu, bukan?" Leo tersenyum kecil.

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Anderson melipat tangannya.

"Karena peraturannya hanya diberikan untuk kami jika aku tidak salah ingat, tuan
Anderson," jawab Leo.

Anderson Flinch mengerutkan dahinya, "Jadi, apa maksudmu?"


"Aku akan menyerahkan alat-alat tulis ini kepadamu dan tuan Anderson, kau yang
akan menuliskan jawabanku di kertas tersebut," jawab Leo dengan percaya diri.

Anderson kemudian tertawa lepas dan mengakui cara berpikir calon TCO di depannya.
"Kau? Mau memintaku menulis?" sahutnya sambil berdiri dan menghampiri Leo,
"Berikan aku alasan mengapa aku harus menuliskan jawaban untukmu?"

Leo tersenyum kecil, "Pertama, aku tidak boleh menyentuh benda apapun di ruangan
ini. Kedua, peraturan sentuhan berlaku hanya untukku dan jika aku menggunakan
benda yang kumiliki untuk menjawab, sama saja aku menyentuh benda di ruangan ini
walaupun secara tidak langsung. Ketiga, ini ujian tertulis dan jika aku tidak bisa
menulis, aku tidak lulus. Keempat, aku masih ingin lulus jadi aku meminta tolong
padamu, tuan Anderson untuk menggantikanku menulis."

Anderson terdiam sambil memandangi Leo dalam-dalam. Ia mulai berjalan mengitari


Leo untuk melihat lelaki itu secara keseluruhan dari kepala sampai ujung kaki, "Dari
faksi mana kamu nak?

"Aku? Aku hanya seorang Normal, tuan. Bukankah kau sudah memiliki dataku?" Leo
tersenyum sinis.

"Betul, tapi-," jawab Anderson masih mengitari Leo yang akhirnya Anderson berhenti
di kiri Leo dan mendecih, "Seorang Normal menyuruh Noble menuliskan jawabannya
hanya untuk lulus ujian? Kau harus memberiku alasan lebih dibanding itu Tuan
Achashverosh."

"Hmm.. Aku tidak dapat memikirkan alasan lain. Namun, sayang sekali jika aku gagal
hanya karena kau tidak bersedia membantuku menyentuh kertas ujian. Selain itu, tuan
Anderson, aku sangat yakin dapat lulus. Sangat disayangkan bukan kalau aku gagal
karena peraturan ini? Anggap saja aku berhutang satu padamu," jawab Leo.

Lelaki ini mulai berpikir tentang apa yang dikatakan Leo, "Kau mau berhutang pada
Noble? Apa kau yakin?" Tangan Anderson mulai bergerak untuk mengambil pensil,
namun tiba-tiba gerakannya berhenti mendadak, "Apa yang akan kau berikan
kepadaku di L'escollit escola?"

Leo berpikir sejenak lalu menjawab, "Aku hanyalah faksi Normal, jadi aku tidak bisa
memberikan hal yang berlebihan. Tapi, karena kau seorang Noble, aku yakin kau
sudah memiliki semuanya. Bagaimana kalau kau saja yang menentukan apa yang harus
kulakukan untukmu di L'escollit escola?"

"Bersumpahlah," balas Anderson tegas. "Bersumpah kalau kau akan menyerahkan


hidupmu demi membunuh Erebus jika dia bangkit kembali. Berikan tubuhmu untuk
mati!" Laki-laki itu berjalan kembali dan berdiri di hadapan Leo, "Aku tidak peduli
alasan mengapa kau masuk ke institusi ini, tapi jika kau bersumpah disini sekarang
maka aku akan mengambil pensil dari tanganmu." Anderson menunjuk ke ujung
langit-langit, "Dan jangan main-main dengan sumpahmu karena semua orang
melihatmu lewat kamera itu."

Leo mengangkat tangan kanannya, lalu meletakkan tangannya tersebut ke dada kirinya
dan mengepalkan tangannya. "Aku bersumpah," kata Leo tegas dengan tatapan tajam
menuju Anderson. "Alasanku untuk masuk sekolah ini hanyalah untuk membunuh
Erebus. Aku sudah siap dengan apapun yang harus kuhadapi untuk melaksanakan hal
tersebut," lanjut Leo sambil menatap tajam kamera pengawas di belakangnya dan
Anderson secara bergantian.

Anderson terdiam menatap Leo. Awalnya, dia ragu dengan anak ini karena terlalu
mudah untuk dipercaya. Tapi jika dia tidak layak di L'escollit escola, pasti di tes lainnya
dia akan keluar. Setidaknya, untuk sekali ini saja seorang Noble membantu faksi
Normal untuk bisa berlatih. Lagipula jarang sekali faksi Normal untuk bisa masuk dan
dari data yang ia terima, Leo mempunyai kekuatan yang menarik. "Baiklah, aku akan
menurutimu sekali ini." Akhirnya, Anderson mengambil pensil dari tangan Leo dan
membantunya menuliskan jawaban.

"Terima kasih atas bantuanmu, tuan Anderson," Leo membungkukkan badannya


kepada Anderson. Setelah ia kembali berdiri tegap, ia membalikkan badannya lalu
mulai menjawab seluruh pertanyaan yang tertulis di lembar pertanyaan tersebut secara
lisan agar Anderson dapat menuliskannya.

"Pertanyaan terakhir...," lanjut Anderson memberikan pertanyaan terakhir, "Siapakah


nama The Great One kita di Central City sekarang?"

"Setahuku, identitas The Great One dirahasiakan dari masyarakat. Yang aku tahu
hanyalah The Great One yang memimpin sekarang merupakan The Great One generasi
keenam," jawab Leo.

"Betul sekali pernyataanmu," Anderson menuliskan jawaban Leo ke kertas dan


mencabutnya dari papan pengumuman. Lalu Anderson mengeluarkan pena merah dan
menilai hasil Leo di tempat. "Sekarang kau boleh keluar Leo, mudah-mudahan kau
lulus." Anderson mempersilahkan Leo ke pintu yang sudah dibuka oleh si tentara tadi
untuk keluar.

Leo membungkuk untuk terakhir kalinya kepada Anderson, "Terima kasih untuk
bantuanmu dan ujiannya hari ini. Sampai bertemu," Leo menegakkan badannya lalu
berjalan keluar dari ruangan melalui pintu yang ditunjuk Anderson.
PINTU NOMOR 4
(JA's First Test)

JA masuk ke dalam pintu nomor 4 dengan santai. Sesaat pintunya dibuka, JA


mempersilahkan peserta lain untuk masuk dahulu dan mengikuti mereka dari
belakang. JA tidak bisa melihat apa-apa karena di dalam sana gelap gulita. Belum saat
semua peserta masuk, pintu tertutup secara otomatis membuat keadaan menjadi lebih
buruk, "Hm, sudah kuduga akan seperti ini," gumamnya.

JA bisa mendengar suara derap kaki yang lumayan banyak. "Suara langkah kaki ini..., "
lelaki penyuka rubik ini terdiam sejenak dan berbisik, "... tidak mungkin. Suara langkah
kaki ini lebih dari jumlah peserta. Ini seperti suara satu pasukan." Tidak hanya itu saja,
peserta lain semua saling bersahutan satu dengan yang lain seperti "Hei ada apa ini?"
atau "Siapa disana?" Tapi tetap saja, langkah kaki itu justru terdengar makin nyaring
dan membuat keadaan jadi mencekam.

Setelah beberapa waktu, suara itu makin kencang sehingga membuat satu peserta
melonjak emosinya, "Jika kalian tidak menjawab kami, akan kubunuh semuanya!"

Berdasarkan pendengaran JA, dia bisa mendengar orang tersebut mengeluarkan


pedang. Bagaimana JA bisa tahu? Tentu saja karena dia sudah sering memainkan benda
tersebut. Bahkan, dia memiliki dua pedang favorit yang ia tinggal di rumahnya. Iya,
kakaknya meminta dia untuk tidak membawa kedua pedangnya. Karena pesan
kakaknya, semua senjata akan dilucuti saat ujian tahap kedua.

"Kenapa kalian tidak menjawab? HEI!" JA tersentak sedikit mendengar teriakan peserta
itu. Sampai akhirnya, ada seseorang dari kejauhan entah dimana membalasnya,
"Apakah itu sikap yang pantas dimiliki oleh seorang TCO?"

Mendengar itu, JA mengangkat jubah yang ia bawa di tangan, merogoh kantong itu
dan mengambil kedua sarung tangan hitamnya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan bagi
JA jika ingin bertarung. JA berasumsi bahwa tesnya sudah dimodifikasi oleh si keluarga
Beaufort, "Huff....Tahu begitu aku membawa pedangku. Sangat merepotkan," desis JA
sembari memakai sarung tangannya. JA sedikit menyesal mengikuti nasihat kakaknya,
tapi apa daya? Ia sudah terlanjur masuk disini dan tidak ada kata kembali.

"Apa maksudmu, hah?" teriak seseorang. Tiba-tiba, seseorang menekan saklar yang
berada di dekat orang itu. Kemudian setelah semuanya terlihat jelas karena lampu
menyala, seluruh isi ruangan terlihat jelas. Ternyata terdapat banyak sekali boneka
tentara di depan lima peserta termasuk JA. Di belakangnya, terlihat bayang-bayang
seorang wanita berambut ungu panjang dengan kepang kecil di sampingnya. Dia
memakai baju tentara L'escollit escola dengan jubah putih yang dimodifikasi dengan
renda putih, layaknya seorang putri.

"Selamat datang, para calon TCO. Senang bertemu dengan kalian!" sahut wanita itu
ceria. Wanita itu berjalan ke depan sambil menarik tali-tali dari tangannya sehingga
boneka tentara tersebut membuka jalan baginya. Tinggi wanita itu sekitar 168 cm dan
dia lebih pendek dibandingkan peserta TCO lainnya. Lalu, wanita itu memandang JA
dengan seksama dari atas sampai bawah dan berkomentar, "Wow, lihat siapa yang ada
disini.."

JA membungkuk untuk memberikan hormat, "Senang bertemu denganmu, Jennifer."


Sontak, semua peserta memandang JA dan wanita yang bernama Jennifer itu secara
bergantian. Ada beberapa peserta yang berbisik sinis mengetahui ada peserta yang
kenal dengan pengujinya.

"Jennifer De Montage," kata wanita menyambutnya ramah. "Tidak kusangka aku akan
bertemu denganmu..... Jake Aceline!"

Mendengar namanya disebut, Jake tersenyum sopan menyapa teman keluarganya.


Namun para peserta lain justru makin banyak yang berkomentar, ada dari mereka
memandang aneh Jake, ada yang merasa terintimadasi olehnya, ada yang merasa takut
karena mengetahui keluarga Aceline berada dalam ruangan tes ini bahkan ada juga
yang tidak menyangka seorang Noble ikut ujian masuk dengan 'jujur'. "Aku tidak tahu
kau berada disini, Nona Jennifer. Aku pikir kau sudah keluar dari daerah ini?"

Jennifer menjawab, "Aku memang tidak bekerja lagi di Valkyrie, tapi bukan berarti aku
keluar." Jennifer berjalan mengitari seluruh peserta sambil memainkan tali-tali di
jarinya sehingga boneka tentaranya sedikit bergerak. "Jake... Kau tidak
memandangku......gila bukan?"

Peserta lain merinding mendengar perkataan wanita itu sedangkan Jake masih
tersenyum sopan, "Sejak kapan kau peduli dengan pendapat seorang Aceline? Kau
tahu, beritanya adalah keluarga De Montage sedikit punya isu dengan keluarga
Aceline."

Wanita itu terus memainkan rambut ungunya dengan jari-jarinya yang penuh dengan
tali, "Benar.... Makanya itu, aku ingin selesaikan ini.... SEKARANG!"

Seketika itu, badan boneka-boneka tentara itu terbuka. Di dalamnya terdapat tali-tali
kusut yang bisa dikontrol oleh Jennifer. Jake yang tadinya hanya tersenyum sopan
berubah menjadi wajah serius. Tali-tali di dalam boneka itu menarik seluruh peserta
kecuali Jake. Jennifer tertawa senang melihat peserta berteriak ketakutan saat seluruh
tali mengikat badan mereka. Sesudah terikat, badan peserta dibawa masuk ke dalam
tubuh boneka tentara dan ditutup rapat-rapat. Jennifer sengaja melakukan itu agar dia
bisa berurusan dengan Jake seorang.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jake.

"Hmm, apa ya?" balas Jennifer menghampiri salah satu boneka tentaranya. Tangan
lentiknya memainkan tali di dekat boneka itu yang berisi peserta lain, "Aku hanya ingin
mengetesmu, Jake."

Jake mulai merasakan ancaman dari Jennifer. Saat ini, ia seratus persen menyesal tidak
membawa pedangnya. Kalau saja ia membawanya, mungkin dirinya sudah memotong
jari Jennifer dan melepaskan peserta lain, "Ini tidak adil nona De Montage. Sebagai
penguji, kau harus memperlakukan semua peserta sama. Aku tahu bahwa keluargaku
sedikit bermasalah denganmu tapi..."

"Oh berhentilah Aceline!" suara Jennifer meninggi, "Aku tidak ingin membahas itu!
Lagipula, kau juga tidak bisa menyandang nama Nobles dengan baik seperti kakakmu
disini."

Jake mendecih saat dirinya dihina, "Memang kau lebih baik dibanding aku? Kau hanya
seorang Lolita tidak jelas yang maniak boneka kayu dan hobi mempermainkan
manusia. Kau bahkan membuat boneka dari manusia!"

Jennifer tertawa, "Hahaha, benar Jake. Kau sekarang lebih.... ekspresif dibandingkan
dulu..." Jeniffer kemudian berjalan ke depan Jake serta melingkarkan tangannya ke
pundak lelaki itu, "Kau lelaki menarik Jake... dari kau kecil sampai besar... kau seperti
bunga yang mekar. Kau terlalu indah sampai aku ingin membuat bonekamu."

"Menyingkirlah Jennifer, aku ingin lulus ujian dan selesai," Jake mendorong wanita
boneka itu keras sehingga badannya terhempas hampir menyenggol boneka tentara
dibelakangnya.

"Aku hanya mempermainkanmu Jake," bisik Jennifer menggigit jarinya. "Baiklah,


karena kau bersikeras, aku memberikanmu tawaran. Kau harus menjawab dua
pertanyaan dariku demi membebaskan mereka. Jika kau berhasil menjawab dua benar,
aku akan melepaskan semua. Tapi jika kau ada yang menjawab pertanyaan salah maka
aku memberikan 2 pertanyaan lagi. Jika masih tetap salah, aku akan membunuh
mereka semua di dalam bonekaku.

"Tch!" Jake melipat tangannya dan menatap Jennifer sinis, "Aku tidak mengerti kenapa
Beaufort memintamu menjaga ujian."
"Well, koneksi membuatnya jadi mungkin Jake," seringai Jennifer. "Aku sudah
mendapat ijin Michele dan penguji lain untuk melakukan ini asalkan aku bisa bertemu
denganmu, Aceline."

"Kau tergila-gila padaku hah?" goda Jake malas. "Terserahlah, aku tidak peduli. Berikan
aku pertanyaannya."

"Pertanyaan pertama," Jennifer menyandarkan bahunya ke salah satu boneka


tentaranya, "Apa yang terjadi jika raja meninggal, siapa yang harus menggantikannya?"

Jake menjawab, "Semua orang bisa menggantikannya asalkan layak. Faksi apapun kami
terima."

"Benarkah?" Jennifer memastikan, "Pertanyaan kedua, bagaimana praktek kerajaan di


Valkyrie?"

Tangan Jake mengepal erat. Rasanya, ia ingin meninju wanita ini dan melemparnya ke
angkasa. De Montage, keluarga boneka perang memang suka permainan. Mereka selalu
menggunakan orang sebagai boneka, bahkan saat seperti ini pun Jake merasa seperti
boneka yang dimainkan untuk kesenangannya, "Kau dari Valkyrie bukan? Kau
harusnya tahu. Tidak ada yang adil di dunia ini. Valkyrie memiliki pemerintahan yang
kotor."

Jennifer tertawa puas mendengar Jake mengatakan sesuatu yang "hampir" benar, "Betul
sekali Jake! Sudah kuduga, kau ini masih saja berbicara tentang fakta. Sebagai orang
yang punya darah Noble, aku bangga kau bisa menjawab hal itu jujur." Wanita itu
mengambil suatu kertas dari belakang punggung tentara dan baru menuliskan jawaban
Jake, "Kau sudah menjawab dua pertanyaan dengan benar. Sekarang untuk pertanyaan
terakhir, aku ingin kau-"

"Berhenti nona Jennifer," sela Jake. "Kau hanya menawarkanku dua pertanyaan dan aku
sudah menjawab semuanya."

"Oh benarkah?" Jennifer pura-pura berpikir, "Aku tidak yakin kalau aku hanya
memberimu dua. Tapi... sesuai dengan apa yang diajarkan oleh tetua kita, tidak boleh
menjilat ludah sendiri bukan?"

'Dia mempermainkanku lagi,' geram Jake di hatinya. "Dengar, lepaskan mereka sekarang
dan biarkan kami lulus. Aku ingin kembali ke rumahku sekarang."

Jennifer awalnya enggan melepas peserta lain. Tetapi karena dia sudah berjanji kepada
Jake, ia harus menepatinya. Dia melonggarkan tali-tali dengan merenggangkan jarinya
dan saat itu juga semua peserta keluar sesak nafas. Boneka tentara itu tidak mempunyai
celah untuk bernafas sehingga ada beberapa dari mereka yang hampir pingsan namun
untungnya tidak jadai sehingga mereka tidak menyentuh apapun, "Sudah kulepaskan."

"Tunggu sebentar," Jake memastikan apakah semua peserta sudah keluar dari boneka
itu lalu ia menunjuk kertas yang dipenggang Jennifer. "Aku ingin melihat kertas
jawabanku. Aku tidak percaya dengan apa yang kau tulis."

Jennifer tersenyum misterius lalu memasang wajah memelas, "Aku sedih sekali kau
tidak percaya denganku." Lalu Jennifer memberikannya di hadapan Jake dan berharap
ia mengambil kertas itu.

Jake hanya mengangkat alisnya sambil tertawa sinis, "Aku tidak sebodoh itu, nona.
Aku tidak boleh menyentuh benda apapun disini, jadi taruh saja kertas itu di lantai dan
aku akan membacanya dari sini."

"Yahhh... Padahal aku berharap kau memegangnya," cemberut Jennifer menaruh


kertasnya di lantai.

Jake membungkukkan dirinya dan membaca kertas itu dengan seksama. Ia bisa melihat
apa yang ditulis Jennifer adalah jawabannya persis, "Bagus juga kerjamu, nona.
Sekarang ambil kertas itu dan terima kasih atas kerja samanya."

Jennifer memasang ekspresi datar berkata pelan, "Sama-sama Jake." Wanita itu
kemudian menekan tombol di kantongnya dan pintu rahasia itu terbuka dan
mempersilahkan semua peserta keluar, "Dari ruangan 4, semua peserta selamat karena
Jake Aceline. Dan tidak ada peraturan kedua di sini, jadi hanya peraturan pertama yang
berlaku. Yang aku lihat, kalian mentaati semua peraturan sehingga semua aku jamin
kalian semua lulus. Silahkan keluar."

Seluruh peserta masih berusaha mengontrol nafasnya bersiap-siap keluar ke pintu


rahasia ini. Saat berjalan, ada beberapa peserta yang berterima kasih kepada Jake. Laki-
laki berambut pirang itu tersenyum membalas mereka dan membiarkan mereka keluar
duluan. Setelah semuanya keluar, tersisa Jake dan Jennifer di dalam ruangan. Dia
melihat wajah Jennifer sedikit murung, sepertinya kesempatan dia untuk membalaskan
perbuatan Aceline telah musnah.

"Jennifer," panggil Jake sebelum keluar dari pintu. "Seharusnya kau tidak disini."

Wanita itu hanya menghela nafas sambil mengelus boneka tentaranya, "Iya, aku tahu."

Jake lalu menatap Jennifer dalam-dalam dan tersenyum manis. Lalu, yang tadinya Jake
berdiri di pintu keluar mendekati Jennifer kembali dan membungkukan hormat,
"Maafkan ayahku yang telah menyakiti keluarga De Montage. Aku sebagai anggota
keluarga Aceline meminta maaf atas kejadian yang terjadi."

Jennifer menggeleng. Matanya berkaca-kaca, berusaha untuk tidak meneteskan air


mata. Pikirannya sempat melayang mengingat kejadian menyeramkan itu, "Oh Jake,
aku berharap semua Noble mempunyai sifat sepertimu. Valkyrie pasti akan menjadi
tempat yang damai."

PINTU NOMOR 29
(VC's First Test)

VC masuk ke dalam ruang ujian dengan bingung karena tidak ada penerangan
sedikitpun dalam ruangan. Secara spontan ia langsung menutup mata kanannya dan
membiarkan mata kirinya terbuka sebagai trik yang ia pelajari untuk dapat melihat
dalam gelap. Ia membiarkan peserta lainnya masuk terlebih dahulu untuk mengetahui
ada apa di dalam ruangan. Ketika semua terlihat aman ia pun masuk ke dalam ruangan
berhati-hati dan waspada untuk menghindari serangan mendadak ataupun menabrak
benda sekitar. Dengan diam pula ia memerhatikan peserta lainnya yang beberapa
kebingungan ataupun hanya diam saja.

Terdengar suara kaki yang menggema di seluruh ruangan. Dari suara ini, peserta bisa
memastikan bahwa sebenarnya di dalam ruangan ini terdapat banyak ruangan-
ruangan lainnya karena suara yang tersebar kemana-mana. Setelah itu, terlihat
beberapa peserta masuk ke ruang-ruang lain sehingga tidak bisa dilihat oleh siapapun
kecuali penguji. Kemudian seorang wanita berteriak keras-keras sambil bertepuk
tangan, "SIAPA YANG BISA MENEMUIKU TANPA MENYENTUH, HANYA
KALIAN YANG BOLEH IKUT UJIAN!"

Setelah mendengar suara dan perintah tersebut VC mulai untuk hanya berdiam di
tengah ruangan gelap dan menutup telinganya secara bergantian untuk mencoba
mencari dimana sumber suara tersebut.

Wanita itu terus menepuk tangannya berkali-kali, berharap ada calon TCO yang
berhadapan dengannya, "AYO! KALIAN INGIN MENJADI TENTARA L'ESCOLLIT
ESCOLA BUKAN? IKUTI SUARAKU!"

Setelah berdiam beberapa menit dan menemukan sumber suara tersebut VC mulai
membuka mata kanannya yang tadi ia tutup untuk membantunya berjalan dalam gelap
ke arah sumber suara tersebut. Ia berjalan berhati-hati untuk tidak menabrak apapun
yang ada didepannya. Setelah ia merasa sudah dekat dengan sumber suara tersebut VC
berkata "Nyonya?".
"Kau wanita yang berdiri di ujung dinding!" teriak wanita itu lebih lemah
dibandingkan sebelumnya, "Ikuti instruksiku sebelum aku menyalakan lampu dari
ruangan ini!" Derap kaki wanita itu terdengar memenuhi seluruh ruangan dan dirinya
bisa merasakan seorang gadis muda berdiam disana. Ia berusaha menjaga jarak
dengannya dengan bersandar di sisi dinding, "Peraturan kedua untuk pintu nomor 29,
sentuhan yang kuminta hanya punya satu arti. Apakah kau mengerti?

Belajar dri pengalaman dengan Michele tadi untuk bertanya sebanyak-banyaknnya VC


memutuskan untuk bertanya, "Aku tidak mengerti, tolong berikan kami definisi
sentuhan."

"Sentuhan mempunyai banyak arti," gumam wanita itu mendekati VC, "Jika kau
berhasil menebak apa definisi dari sentuhanku, kau lulus ujian walaupun kau
menjawab pertanyaan di kertas salah."

'Banyak arti huh?', pikir VC. Lalu VC memutuskan untuk mendekat sedikit dan meniup
ke arah wanita yang berbicara tersebut dan berkata, "Nyonya, aku baru saja
menyentuhmu secara tidak langsung dengan udara, namun aku tetap tidak melanggar
peraturan dari Michele Beaufort untuk tidak menyentuh apapun."

"Apa kau mengerti instruksiku nona muda?" tanya wanita itu tidak menghiraukan
pernyataan VC.

"Tentu saja aku mengerti intruksimu, kau meminta sebuah sentuhan tanpa penjelasan
rinci lain. Jadi secara tidak langsung aku boleh memberikanmu sentuhan apapun."
jawab VC. "Apa mungkin anda mau aku sentuh hatinya dengan kisah sedih hidupku?"
tanya VC.

'Gadis pintar, dia pasti sudah berpengalaman....' pikir wanita itu sembari mengingat data
wanita ini saat penguji di kamera memberitahukan sesuatu dari alat bantu pendengar.
Kemudian, wanita itu memutuskan untuk menekan tombol saklar di kirinya dan
seketika ruangan itu menyala. Di saat yang bersamaan juga, lima pintu yang terletak di
sekitar wanita muda itu tertutup rapat-rapat. Saat itu terdengar teriakan dari beberapa
calon TCO dari setiap ruangan, "Selamat datang di ruang ujian, wanita muda."

VC melihat sekeliling, mengetahui bahwa penguji di depannya dapat melihatnya


dengan jelas membuat VC teringat kembali untuk lebih waspada. Pemikiran bahwa
orang di hadapannya tidak mengetahui posisi dan tampak dari dirinya membuat VC
merasa lebih aman dan dapat lebih leluasa bermain lebih lugas. Sekilas VC merasa
terintimidasi dengan penampilan penguji yang ada dihadapannya ditambah dengan
penguji tersebut membawa cambuk di belakang ikat pinggangnya. "Umm.... terima
kasih ibu penguji...... apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya VC dengan
berusaha untuk tetap tenang.

Wanita itu mengencangkan kunciran yang hampir lepas dan berkata, "Pertama, aku
harus menanyakan biodatamu. Apakah namamu Vanessa Cortaz?" Lalu, dia
mengambil kertas sobekan dan melihat contekannya, "Kau sepertinya jauh-jauh datang
kesini bukan? Dan faksimu adalah Normal. Benar?"

"Benar," jawab Vanessa dengan sedikit pelan dan terus menatap ke arah penguji.

"Perkenalkan namaku Jesslyn Somerset," balas wanita itu membenarkan ikat


pinggangnya, "Maaf, aku tidak sopan dihadapanmu. Kau tahu aku sudah berhasil
menurunkan berat badan lebih dari lima kilogram dan aku bangga -" Tiba-tiba suara
entah dimana berteriak keras, "JESSLYN, FOKUS BODOH!" Lalu Jesslyn menatap ujung
langit-langit sambil tertawa canggung dan dia berdeham, "Okay, jadi hmmm..
Prinsipnya adalah aku akan memberikan pertanyaan kepadamu dan harus kau jawab
di lembar kertas di lantai itu. Sejauh ini kau mengerti?

Setelah mendengar nama penguji tersebut Vanessa menjadi lebih tenang karena tau ia
adalah seorang Noble dari Luxenberg. Namun ketenangan Vanessa tidak bertahan
lama ketika ada suara keras secara tiba-tiba yang membuatnya sedikit terloncat. Setelah
mendengar intruksi dari Jesslyn, Vanessa mencari kertas tersebut dan menemukannya
di lantai. "Baiklah, saya mengerti. Oh ya... selamat atas penurunan berat badannya yah
Ibu Jesslyn." jawab Vanessa sambil sedikit berusaha membuat situasi menjadi lebih
santai. "Apa saya boleh mulai menjawab soal tersebut?" tanya Vanessa.

"Hahahahaha terima kasih!" cengir Jesslyn sambil berkacak pinggang, "Aku senang ada
calon TCO baru memujiku di hari pertama ujian!" Lalu Jesslyn tadinya
mempertahankan cengirannya jadi terdiam serius menatap Vanessa, "Tapi ingat! Kau
harus mematuhi peraturan pertama dan kedua. Entah bagaimana caranya harus ada
tulisan di kertas itu."

"Baiklah." jawab Vanessa. Ia pun mulai berjalan ke arah kertas tersebut dan secara
spontan ia menarik lengan bajunya untuk menutup tangannya agar tidak bersentuhan
dengan kertas. Secara berhati-hati ia pun mulai menulis dengan posisi pensil vertikal.
"Oh ya, apakah sentuhan yang anda minta dari saya sudah saya dapatkan? Tapi saya
tidak yakin anda akan tersentuh dengan kisah hidup saya, seharusnya saya membawa
biola untuk memainkan lagu sedih." kata Vanessa kepada Jesslyn untuk memastikan
tidak ada yang tertinggal sebelum ia mulai menuliskan namanya di bagian ujung
kertas.

"Mengapa kau harus menceritakan kisah sedihmu?" tanya Jesslyn. "Aku ingin tahu apa
yang kau pikirkan tentang peraturan keduaku. Maukah kau bercerita sedikit, Vanessa?"
"Apa anda yakin masih ada waktu untuk itu? Masih banyak peserta lain yang belum
kebagian kertas dan waktu untuk ujian ini tidak banyak" tanya Vanessa sambil masih
pada posisi berlutut untuk menulis di kertas.

"Tentu saja," senyum Jesslyn senang, "Memang masih ada peserta lain? Hanya kau
seorang diri disini."

Vanessa yang mendengar pernyataan tersebut lansung melihat ke arah sekeliling dan
mendapati dirinya hanya sendirian dengan penguji tersebut. 'Kemana yang lain? Tadi
ada sekitar 5 atau 6 orang? Apa yang terjadi pada mereka? Apa mereka baik-baik saja?' pikir
Vanessa dengan sedikit panik dan waspada. Menyadari bahwa ujian ini merupakan hal
yang serius dan tidak main-main ia memutuskan untuk menjawab pertanyaan Jesslyn
dahulu dengan hati-hati. "Peraturan kedua yah? Apa yang kau ingin tahu?" tanya
Vanessa.

"Aku ingin tahu mengapa kau sangat percaya diri untuk menuliskan jawaban di kertas,
padahal sudah ada larangan menyentuh." Jesslyn mendekat ke arah VC dan ikut
berlutut disebelahnya, "Jika kau bisa menjelaskan alasanmu tepat sasaran dan sesuai
dengan peraturan kedua, aku akan meluluskanmu tanpa kau harus menjawab kertas
itu. Well, tentu saja aku akan tetap memberikan pertanyaan -tapi- khusus ruangan
nomor 29 ini para penguji memintaku untuk memberikan opsi ini ke calon TCO. Jadi....
apakah kau ingin menjelaskan perbuatanmu atau menjawab pertanyaan saja di
kertas?"

Posisi Jesslyn yang sangat dekat dengan Vanessa membuatnya terpaku dan
megeluarkan keringat dingin. Dengan perlahan dan memberanikan diri ia menjawab,
"Peraturan keduamu... Kau mengatakan hanya satu sentuhan yang kau minta.... Jadi......
Tapi.... Tapi peraturan pertama menyatakan bahwa kita tidak boleh menyentuh
apapun. Kedua peraturan sudah dicoba untuk diperjelas. Namun keduanya hanya
berkata menyentuh tanpa penjelasan lain dan kau berkata sentuhan dapat menjadi
banyak arti....... Maka....... peserta bebas untuk menentukan mana yang merupakan
sentuhan ataupun tidak. Apa yang kulakukan sekarang ini bukanlah sebuah
sentuhan...... Karena pertama aku tidak menyentuh kertas ini dan kedua........ sekali lagi
tidak ada arti ketentuan khusus dari sentuhan tersebut." jawab Vanessa denggan sedikit
terhambat-hambat dan tidak berani bergerak.

Jesslyn memincingkan matanya ke arah Vanessa, "Kau yakin dengan jawabanmu?


Jesslyn mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Vanessa dan berbisik, "Jawaban ini aku
terima dengan serius. Jika tidak, kau dengar teriakan teman-temanmu tadi bukan?
Berhati-hatilah.. Kau tidak ingin memperberat kerjaan kami untuk mengangkat
jenazah..." Jesslyn berdiri, berkeliling dan menyentuh pintu sambil tertawa sadis, "Aku
tidak ingin kau menjadi salah satu mereka. Apalagi kau dari Luxenberg, kota
kelahiranku. Aku tidak mau ruangan ini dikotori dengan darah orang dari sana,
walaupun... aku senang melihat darah berceceran tapi... aku Noble dari Luxenberg dan
aku harus menghormati rakyat dari sana."

Vanessa yang merasakan horror diseluruh tubuhnya yang membuat dirinya tidak bisa
bergerak sedikitpun saat itu. Namun sesaat ia melihat ke arah pensilnya yang sudah
mulai membolongi kertas karena ditekan terus menerus dan memutuskan untuk
berusaha melindungi dirinya. Ia langsung melompat berdiri dan mengacungkan
pensilnya ke arah Jesslyn selayaknya sebuah pedang dengan posisi siap menyerang dan
mata terfokus pada Jesslyn. "Ya aku yakin dengan jawabanku." jawab Vanessa dengan
serius tanpa memalingkan pandangannya dari Jesslyn. Baginya ini bukanlah lagi
urusan lulus atau tidak namun hidup atau mati.

Jesslyn terpana melihat ekspresi dan tingkah laku Vanessa. Awalnya, wanita ini hanya
terdiam. Namun lama-kelamaan, dia geli sendiri dengan sikap calon TCO ini sehingga
ia tertawa terbahak-bahak, "HAHAHAHAHA! KAU INI LUCU SEKALI!" Jesslyn
menghapus air matanya karena ia tidak tahan dengan kepolosan gadis ini, "Vanessa
sayang, kau percaya kami membunuh teman-temanmu disana? Kau ini -haha- aneh
sekali -hahaha-!" Jesslyn kemudian membenarkan bajunya yang sedikit longgar dan
mendekati Vanessa sambil menurunkan todongan pensil calon TCO itu, "Jawabanmu
itu benar sekali Vanessa, aku sangat kagum denganmu. Di sini, kau bisa memilih arti
sentuhanmu sendiri jadi kau diperbolehkan untuk menulis kertas itu. Well, bisa
kunyatakan kau lulus sekarang tapi.. penguji lain tidak akan meminta kertas kosong.
Jadi, aku akan memberikanmu soal mudah. Sebutkan tiga nama Nobles yang berasal
dari Luxenberg!"

Awalnya Vanessa merasa bahwa orang dihadapannya adalah orang gila dan sesaat ia
merasa dipermainkan. Ketika Jesslyn mendekat Vanessa sudah siap untuk menyerang
tetapi setelah Jesslyn menyatakan pernyataan Vanessa benar ia sudah mulai merasa
lega walaupun ketegangan yang ada pada tubuhnya tidak hilang seketika. Setelah
mendengar pertanyaan yang diajukan tadi, dengan hening Vanessa langsung menuju
ke arah kertasnya dan menatap ke arah bolongan kertas tersebut. Mengingat ia baru
saja hampir mati, Vanessa kembali ke posisi berlututnya dengan tangan di dalam
lengan bajunya untuk menghindari tambahan masalah. '1.Wood, 2. Nicolay, 3. Taylour'
tulisnya. Ia memutuskan untuk tidak menjawab Beaufort ataupun Somerset di kertas
tersebut karena pengalaman horornya yang baru saja ia jalani dan perasaan sedikit
kesal akan keduanya. Setelah ia selesai ia mengangkatnya dengan tangan yang masih
didalam lengan bajunya dan menyerahkannya pada Jesslyn tanpa sepatah katapun dan
sedikit canggung.

"Selamat Vanessa Cortaz, silahkan keluar lewat pintu ini!" Jesslyn mengarahkan pintu
rahasia di samping kanannya. Ia mengantar Vanessa keluar dan berkata, "Semoga kau
beruntung di ujian selanjutnya. Dan oh ya, fakta soalku, aku memang suka melihat
darah berceceran makanya aku memilih cambuk ini. Jadi saat kau nanti menjadi
muridku, jangan main-main denganku ya!" tawanya yang lama-lama menjadi sadis.

Vanessa yang setelah mendengarnya mulai tertawa memutuskan untuk mempercepat


langkahnya melewati pintu tersebut. Wajah dan nama dari penguji itu tidak akan lupa
dari ingatannya. Fakta bahwa ia menyukai darah dan cambuk akan Vanessa ingat
sebagai salah satu data untuk menyelamatkan dirinya di kemudian hari bila berurusan
dengan orang tersebut lagi.

"Vanessa ya... Anak yang menarik," gumam Jesslyn sambil melihat lubang kertas yang
dibuat Vanessa. "Aku penasaran denganmu, kau memegang banyak rahasia dari yang
kudengar dari atasanku."

PINTU NOMOR 34
(OC yang merasa nomor 34 bisa masuk)

YL memasuki ruangan dengan perlahan. Ia menutup kedua matanya agar lebih peka
jika ada sesuatu yang mendekatinya. Ia menutup pintu perlahan di belakangnya dan
bersandar tak bergerak di pintu itu.

"Psst, kau tidak boleh menyentuh bukan!" teriak salah satu peserta yang ikut masuk
dengannya.

"Dan kau menyentuh lantai. Jangan mengajakku bicara," jawab YL.

"Tapi kan kita semua memakai alas kaki, kita tidak bisa bilang itu menyentuh," balas
peserta lainnya.

YL tidak menjawab pertanyaan apapun itu lagi. Ia memakai baju dan sarung tangan,
secara teknis ia tak menyentuh apapun.

Peserta lain hanya berjalan tanpa arah karena mereka tidak tahu apa yang mereka
harus lakukan. Kemudian ada seorang peserta hanya berdiri diam di dekat YL dan
memanggilnya, "Hei kau! Aku lihat robotmu bagus dan berguna. Mengapa kau tidak
pakai dia untuk menyalakan lampu disini. Biar kita lulus bersama-sama di ujian ini!"

'Hmm.. Aku meninggalkan robotku pada Noble di luar. Lagipula mana mungkin robotku muat
masuk pintu kecil ini... Yah, setidaknya orang bodoh ini tidak akan lulus ujian bersama
denganku,' pikirnya. Lagi-lagi tanpa menjawab perkataan peserta lain itu.
"Dengar, ia tidak akan menjawabmu!" jawab peserta dengan suara kecil karena sudah
terlalu jauh, "Wanita hijau aneh ini tidak bisa berbicara, dia kan hanya seorang yang
sibuk dengan robot. Tidak pernah bersosialisasi dengan manusia." Lalu ada seorang
peserta lain dari arah lain bersuara lebih kencang dan dari pendengaran semua orang,
peserta ini adalah seorang wanita, "Ehm, bisakah kita fokus saja tanpa peduli peserta
lain! Aku tidak bisa konsentr- AHHHHHHHH!"

'? Ada apa disana..' pikirnya dalam hati. Sekarang ia menegakkan badannya, tidak lagi
bersandar pada pintu. Dengan mata tetap tertutup dan memasang kuda-kuda, YL
memasukkan tangan kirinya ke kantung dan menggenggam stun gun untuk jaga-jaga.

"Apa yang terjadi?!" teriak peserta dari jauh. "Kita... tunggu... Bau apa ini? Seperti bau
menye- AHHHHHHHHH!!"

Sudah dua orang yang berteriak dan YL masih tidak mendapat ide apa yang
sebenarnya terjadi. 'Tadi ada yang mengatakan bau... bau menyengat? Apa maksudnya...
Kuharap itu bukan bom busuk atau sejenisnya...' Setelah beberapa saat tanpa suara, YL
memasukkan tangan kanannya ke kantung kanannya dan berpikir 'baiklah, kuputuskan
aku akan bertindak. Ini keterlaluan.' Ia lalu mengambil shock gun dan menembakkannya
ke sekelilingnya, 360 derajat. 'Dengan begini seharusnya semua orang yang menyentuh lantai
ini pingsan. Jika ruangan ini ukurannya pas...'

Tiba-tiba, terdengar suara tepukan tangan dua kali dan seketika itu juga lampunya
menyala. Disana terlihat beberapa calon TCO sudah terkapar dan dua diantaranya
memang menghilang. Tepat di depan YL ada seorang lelaki memakai kacamata hitam
dengan rambut putih kemerahan duduk di kursi berserta kedua serigala di samping
kanan kirinya. Tangannya mengelus kepala serigala itu yang sedang memakan daging
mentah. Di ujung kanan ruangan kecil itu terdapat daging-daging mentah dan bisa
dilihat ada tangan manusia keluar dari tumpukan itu. Tidak hanya itu saja, serigala itu
mengeluarkan air liur banyak sekali saat melihat banyak calon TCO pingsan di
dekatnya. "Kau bahkan membuat pingsan peserta lain karena tembakanmu, gadis
muda," jawab pria bersuara berat itu.

Dengan senyum manis YL sedikit mengangguk untuk menyapa lelaki itu. "Ya, maafkan
aku," katanya sambil memasukkan senjatanya kembali ke dalam kantung, namun tidak
dilepas untuk jaga-jaga. "Apakah Anda yang bertanggung jawab untuk ujian di
ruangan dengan pintu nomor 34?" Tanyanya.

Lelaki itu tersenyum saat melihat ekspresi YL, "Benar, perkenalkan namaku Blake
Egerton. Aku adalah seorang Noble dari Ozark." Pria bernama Blake kemudian
memperkenalkan kedua serigalanya, "Dan ini adalah peliharaanku, yang di kanan
bernama Whiskie karena warna bulunya mengingatkanku akan itu dan yang dikiri
bernama Choco karena -well- dia seperti cokelat." Blake berdiri dari kursi dan
menghampiri YL, "Sebelumnya pekenalkan dirimu kepadaku agar aku tahu dengan
siapa aku berbicara."

"Senang berkenalan dengan Anda Tuan Egerton, namaku... Oh, sebelumnya biarkan
aku menyapa kedua serigala Anda. Whiskie dan... Choco. Hai wolfie, aku suka serigala,
tapi untuk dimakan," balas YL sambil tersenyum dan sedikit membungkukkan badan,
"... Dan namaku adalah Yera. Yera Lograr, perkenalkan," katanya memperkenalkan diri.

Blake Egerton tertawa kecil, "Kau polos sekali Yera. Sebentar, aku tanya penguji dari
balik layar tentang datamu." Blake menyentuh alat pendengar di telinga beberapa saat
dan kembali menatap Yera, "Kau berasal dari Ozark ya?"

"Benar, Tuan," balasnya.

"Tidak kusangka, aku akan menguji seorang dari Ozark," pria ini lalu membungkukkan
badannya dan memberikan hormat kepada Yera. Lalu, dia meminta serigalanya untuk
memberikan salam juga, "Senang juga berkenalan denganmu. Sekarang, aku akan
mulai tesnya apakah kau siap?"

"Siap. Mulailah kapanpun Anda mau, Tuan," jawab Yera. Matanya mengarah pada
Tuan Blake Egerton namun konsentrasinya menyapu seluruh ruangan, ia takut ada
sesuatu yang muncul tiba-tiba.

"Okay," jawab Blake kembali membelakangi Yera, berjalan ke arah kursi ditemani
dengan kedua serigalanya, "Peraturan kedua yang aku berikan adalah....," Blake
mengacungkan tangannya sambil kembali memandang Yera, "Pembatalan dari
peraturan pertama dan diganti dengan peraturan baru. Dari sini kau mengerti?"

"Sampai sini saya paham, Tuan Egerton," balasnya mencoba lebih sopan. 'Noble ini baik
sekali... tidak kukira ada orang sepertinya... Apa... jangan-jangan ia bukan orang?' katanya
dalam hati.

"Kalau begitu aku lanjuti," Blake berdeham sebentar dan melanjutkan pembicaraannya,
"Karena peraturan pertamamu diganti dengan pembatalan. Maka secara langsung kau
boleh menyentuh segalanya tapi... Aku akan memberimu batasan sentuh." Blake
mengambil remote dengan tombol hijau dan menekannya. Kemudian dinding di
belakangnya berputar dan disana terdapat tiga lingkaran dart berjejer satu baris. Di
dekat Yera, terbuka satu pintu dan keluar seorang tentara bertopeng membawakan
panah dart untuknya. "Kau pernah bermain dart, Yera?"

"Sekarang kuharap aku pernah, Tuan," jawabnya. Tidak pernah ia main dart seumur
hidupnya. Ia melirik panah dart di sampingnya sebentar lalu kembali menatap Blake
Egerton.
"Tenang saja, aku tidak memintamu untuk menjadi pemain terbaik." Pria bermata
emerald itu mengelus Whiskie dan tersenyum, "Di setiap dart terdapat lingkaran besar
sampai ke kecil. Semakin kau bisa memanahkan dart-mu ke lingkaran kecil, semakin
mudah pertanyaanmu." Lalu, Blake mengambil kertas dari sampingnya dan pensil
untuk menuliskan jawaban Yera. "Kau lihat ada tiga lingkaran dart, berarti ada tiga
pertanyaan. Kau harus bisa menjawab semua pertanyaanku untuk lulus tanpa salah
sedikit pun. Aku tidak akan memberikanmu nilai setengah dalam penilaian. Karena
yang aku butuhkan dalam ruangan ini adalah intelektual. Dan -oh ya- tidak semua
pertanyaan menyangkut L'escollit escola atau kerajaan, jadilah orang kreatif!
Mengerti?"

"Saya mengerti. Jadi sekarang saya hanya perlu menembakkan dart ke sasaran,
menerima soal, dan menjawab pertanyaan, apakah saya benar?" balas Yera dengan alis
terangkat.

"Benar," jawab Blake. "Silahkan ambil dartnya dan panahkan ke lingkaran dari kanan ke
kiri. Semoga kau beruntung, Yera."

Yera mengambil ketiga dart dari tentara bertopeng di sampingnya, lalu mulai merogoh
isi kantungnya. 'Hmm, syukurlah aku membawa peralatan cukup banyak' katanya dalam
hati. Dengan cekatan ia membongkar pengendali booby trap dan shock gunnya. Dalam
waktu singkat ia sudah membuat sebuah bowgun mini, yang tentu saja menaikkan
akurasi tembakkannya, ditambah lagi ia memasang penyeimbang di badan dart. Salah
satu dart ia letakkan di bowgun, perlahan ia membidiknya ke arah tengah sasaran 'Ini...
pasti kena.' Yera menarik pelatuknya dan ctak! dart pertama berhasil mengenai sasaran
tepat di tengah.

"Nice one!" Blake mengambil secarik kertas dan memilih pertanyaan yang mudah
sesuai janjinya. "Pertanyaan pertama, atas ramalan siapakah yang menggambarkan
kejadian perang dengan Erebus?"

'Ini pertanyaan paling tidak penting yang pernah aku dengar. Apa dengan mengetahuinya
mereka bisa membunuh Erebus? Andai saja,' pikirnya. "Saya tidak yakin, namun saya rasa
Red Orbs yang meramalkannya." Jawab Yera asal.

"Whoops! Maaf Yera," Blake menatap Yera sambil tersenyum sedih, "Kau salah,
jawabannya adalah The Great One generasi pertama. Dialah yang telah meramalkan
kegelapan Erebus memenuhi seluruh bumi sampai TCO didirikan." Blake kemudian
menuliskan sesuatu di kertas jawaban lalu berkata, "Silahkan Yera, kau boleh panah
lingkaran kedua."

Panah kedua ditembakkan. Lagi-lagi kena tepat sasaran.


"Baik pertanyaan kedua!" Lelaki itu membenarkan posisi duduknya sambil memikirkan
pertanyaan lagi, "L'escollit escola didirikan demi menjaga kedamaian dari tiga kerajaan
atas dasar dari perjanjian...?"

"Perjanjian Council XII," Yera menjawab. 'Huff, syukurlah aku pernah mendengarnya... Dari
mana ya?'

"Selamat, kau benar Yera!" Lelaki itu bertepuk tangan merayakan jawaban Yera yang
benar. Tidak hanya itu saja, Whiskie dan Choco juga ikut menggonggong senang.
"Baiklah, pertanyaan terakhir. Silahkan lemparkan dartnya!"

'Pria ini mengagumkan. Dia baik sekali padaku. Blake Egerton...' Yera membidikkan
bowgunnya ke arah sasaran. 'Bowgun ini... mirip dengan yang Ayah buatkan untukku. Waktu
itu...' ctak! Selagi Yera melamun, ia tak sengaja menekan pelatuk. Paling tidak, dartnya
tidak menancap di ujung sasaran, walau tidak tepat sasaran juga. Dart terakhir
menancap di tengah jari-jari lingkaran. 'Sial, aku tidak fokus'.

Blake melihat panah dart Yera melenceng, "Sangat disayangkan, kau tidak kena sasaran
ditengah. Pertanyaan terakhir, ini agak sulit tapi aku yakin kau bisa menjawabnya.
Apakah tes yang harus dilalui seseorang untuk menjadi anggota Twelve Councils dan
berapa persentase kelulusan yang harus didapat?"

"Triple test, dengan persentase kelulusan 85%" Yera menjawab pertanyaan terakhir.
'Paling tidak pertanyaan ini lebih berguna dari pertanyaan pertama,' pikirnya.

Blake kemudian bertepuk tangan lagi untuk terakhir kali dan memberikan selamat
kepada Yera, "Akhirnya selesai juga ya... Hahahaha," Blake mulai memegang pensilnya
dengan benar dan menuliskan jawaban yang diberikan. "Dari jawaban yang kuterima,
kau hanya bisa menjawab dua dari tiga pertanyaan. Padahal untuk lulus kau harus
menjawab pertanyaan dengan benar." Blake berdiri dan melipat kertas itu, dimasukkan
kedalam jubah putihnya, serta membenarkan sarung tangannya. Blake tersenyum
sambil memandang Yera, "Aku memberikanmu pilihan, kau ingin menjawab
pertanyaan secara acak atau..," Blake memandang peliharaannya, "Kau bertarung
dengan kedua peliharaanku di tempat dengan syarat kau harus membuat mereka
berada di lantai selama sepuluh detik. Bagaimana?"

"Aku terima tantangan kedua." Jawab Yera dengan yakin.

"Baik kau boleh melakukan apapun kepada serigalaku, asalkan jangan membunuhnya."
Blake mengelus kedua serigalanya dan memberi mereka daging mentah untuk
dimakan, "Ini pertanyaanku yang terakhir, kau tidak ingin memilih pilihan pertama?"
"Tidak, Tuan. Saya rasa pilihan kedua lebih menjanjikan untuk saya," jawab Yera.

"Ya sudah kalau begitu," Pria itu memeluk kedua serigalanya dan membisikkan sesuatu
di telinga mereka. Seketika itu juga, Whiskie dan Choco berubah menjadi hewan yang
haus akan darah dan air liur yang menetes menandakan kelaparan yang luar biasa,
"Pergi Whiskie dan Choco! Kalian tahu apa yang harus kalian lakukan!"

Yera terkejut dengan perubahan mereka yang mendadak. Whiskie dan Choco berlari ke
arahnya dengan kecepatan yang mengerikan, namun Yera sudah mempertimbangkan
keputusannya dan tentu saja sudah membuat strategi menghadapi hal-hal semacam ini.
Ia duduk, menunggu kedua serigala itu cukup dekat dengannya. Jantungnya berdebar
kencang, seandainya ia salah perhitungan nyawanya dalam bahaya. Beberapa saat
kemudian, Whiskie dan Choco melompat ke arahnya dengan taring-taring tajam yang
siap mencabiknya. Saat itu juga Yera langsung menendang mulut kedua serigala itu
dengan sepatu bootnya yang keras. Sebagai 'teknisi' ia selalu memakai sepatu yang
lapisan atasnya keras. Dengan cepat tangan kirinya yang menggenggam stun gun
dipukulkan ke kepala Whiskie dan Choco, melumpuhkan kedua serigala itu.
'BERHASIL!' teriaknya dalam hati. Senyumnya melebar puas dan bangga, jantungnya
masih berdebar kencang mengingat wajah mengerikan kedua serigala itu barusan.
Melihat Whiskie dan Choco yang terkapar di dekat kakinya, Yera ingat hal berikutnya
yang harus ia lakukan. Ia mulai menghitung, "1... 2...3... 10"

Blake melihat kedua serigalanya pingsan dan beralih ke perempuan itu. Ia menopang
dagu dengan salah satu tangannya, terlihat berpikir melihat muka puas Yera. Lalu,
Blake berjalan menghampiri serigala kesayangannya. Tangannya mengelus kepala
mereka berdua selama satu menit dan berkata, "Whiskie dan Choco, bangunlah!"
Setelah Blake berkata begitu, kedua serigala itu terbangun seperti habis tidur dan tidak
merasakan kesakitan apapun. Blake pun berdiri dan tersenyum ke arah Yera, "Lihat,
serigalaku sudah sehat sekarang. Stun gunmu tidak menyakiti mereka sama sekali."

"Yes, Tuan Egerton. Serigala Anda sangat kuat," jawab Yera, ia tulus mengucapkannya.
"Whiskie dan Choco, kalian melakukan pekerjaan dengan baik. Good job," tambah
Yera.

Whiskie dan Choco tiba-tiba langsung berwajah 'angelic' kembali dan mulai menjilati
boots Yera, "Hahahaha, sebenarnya mereka dilatih hebat sekali olehku. Makanya
mereka bisa seperti ini. Kau tahu, mempunyai peliharaan itu sangat menyenangkan."
Blake memerintahkan Whiskie dan Choco untuk menekan dua tombol di dinding.
Pintu rahasia kemudian terbuka serta bisa terdengar suara- suara bising dari luar sana.
'Sepertinya banyak peserta yang sudah selesai' pikir Blake. "Sesuai dengan janjiku, karena
kau sudah mengalahkan serigalaku ini. Kau boleh keluar sekarang! Tapi ada hal yang
ingin aku sampaikan sebelum kau keluar...."
Mata Yera melebar dan alisnya terangkat. "Apakah itu, Tuan Egerton?" Tanyanya

"Tidak selamanya kau bisa mengandalkan alat," jawab Blake Egerton menganalisa apa
yang baru saja Yera lakukan dalam pertarungan. "Kau beruntung aku tidak
mengendalikan Whiskie dan Choco secara penuh dan kau membawa alat banyak untuk
persiapan ujian. Aku hargai itu. Namun, ada kalanya kau harus melatih ototmu itu
untuk bertarung." Sesudah itu, Blake mendorong pundak Yera untuk keluar melalui
pintu tersebut, "Selamat atas kelulusanmu Yera. Semoga kau berhasil di ujian kedua."

"Terima kasih banyak atas saran dan masukan Anda, Tuan Egerton. Saya sangat
menghargainya, namun saya ingin Anda tahu bahwa saya tidak membawa banyak alat
hanya untuk ujian... Saya selalu membawanya kemanapun saya pergi. Alat-alat ini
adalah hartaku yang paling berharga," balas Yera, "...Dan akan saya pastikan saya
melatih otot-otot saya" tambahnya sambil tersenyum menyengir. "Sekali lagi, terima
kasih banyak Tuan Egerton, selamat tinggal," Yera membungkuk hormat sekaligus
pamit, kemudian ia membalikkan badannya dan melangkah keluar untuk bergabung
bersama peserta lain yang lulus ujian pertama.

"Selamat tinggal Yera!" teriak Blake sambil melambaikan tangannya. Setelah Yera
keluar, Blake memanggil kedua serigalanya itu untuk mendekat kepadanya. Blake
menikmati bulu-bulu halus mereka sampai diganggu oleh suara seseorang dari
telinganya, "Blake, kau terlalu baik tadi."

Lelaki berambut putih kemerahan itu tertawa kecil membalasnya, "Benar, aku terlalu
baik. Aku bisa saja meminta salah satunya entah Whiskie atau Choco untuk
menyerangnya dari arah berbeda dan diriku bisa mengambil semua peralatannya
dengan cepat. Tapi aku memilih untuk tidak, karena aku melihat potensi dari dia."

Kemudian, suara itu mendecih dan mulai meremehkan Blake, "Kau ini... Apa yang bisa
kau lihat dari orang?" Tetapi Blake hanya terdiam, tidak menghiraukan perkataan
orang itu sambil membereskan semua daging mentah yang ia butuhkan untuk
makanan serigalanya (karena ia berpikir bahwa ujian akan memakan waktu lama serta
membuat hewan peliharaannya kelaparan).

***

Setelah semua peserta keluar, ternyata dari dua ratus hanya keluar seratusan. Beberapa
peserta memiliki ekspresi yang berbeda-beda saat mereka keluar. Jake mengedarkan
pandangan di sekelilingnya dan hanya mendesah. Ruangan itu berbentuk aula besar
dengan banyak tumbuhan merambat di dindingnya. Disana terdapat banyak tempat
duduk yang tidak dirawat. Sepertinya tempat ini merupakan tempat yang ditinggalkan
atau bagian dari gedung lama. Jake berjalan mengitari dinding tinggi itu sambil
menyentuh dedaunan disana. Kurang kerjaan? Iya, Jake mengakui itu. Sejujurnya Jake
sedikit bosan berada disini. Harusnya sembari menunggu dia bisa memainkan
rubiknya. Namun, karena benda kesayangannya rusak yang bisa ia lakukan hanya
melangkah tanpa arah hingga akhirnya ia berhenti di dekat pintu keluar.

"Lima menit lagi, kalian akan pindah ke tempat berikutnya untuk memulai ujian kedua!
Mohon tunggu sebentar," suara keras menggema di aula tersebut.

Vanessa datang ke ruangan tersebut dengan berjalan pelan. Wajahnya masih sedikit
pucat akibat dari kejadian sebelumnya. 'Aku hampir saja mati' pikirnya sambil mencoba
untuk menghilangkan ketegangan dari tubuhnya dan menghangatkan ujung jarinya
yang tanpa ia sadari sudah sedikit dingin. 'Akhirnya aku di sini. Aku telah lulus ujian
pertama' pikir Vanessa untuk mengevaluasi lagi keadaannya sambil mencoba untuk
relaks. Ia pun memandang ke sekeliling ruangan dan menyadari bahwa lumayan
banyak anak yang tidak lulus ujian pertama. Mendadak ia teringat akan pecahan rubik
yang ada di tasnya dan lalu ia mencoba untuk mencari pria pirang tadi untuk
mengetahui apakah pria itu ada di ruangan yang menandakan pria tersebut lulus atau
tidak. Vanessa tidak berhasil menemukan pria pirang tersebut namun ia mendapati
pria dengan kemeja hitam yang tadi mengobrol dengan pria pirang tersebut di tengah
ruangan. 'Dia kan yang tadi pagi mengobrol dengan pria pirang itu. Kelihatannya mereka
cukup dekat. Ah... mungkin aku bisa menanyakan kepadanya apakah pria pirang tersebut ada di
ruangan ini atau tidak,' pikir Vanessa sambil berjalan menuju pria berkemeja hitam
tersebut.

Setelah keluar dari ruang ujian, Leo berdiri di tengah ruangan lalu melihat
sekellilingnya. Ia dapat melihat wanita berambut silver yang sempat berkelahi dengan
pria rubik, wanita berambut hitam-hijau yang dapat membuat robot, dan pria rubik itu
sendiri, berdiri dengan posisi yang berjauhan satu dengan lainnya ditengah kerumunan
orang banyak. 'Jadi mereka juga lulus..' pikir Leo. Ia kembali mengalihkan
pandangannya untuk mencari tempat kosong agar ia bisa menunggu dengan tenang.
Leo merasa belum pernah mengetahui wanita tersebut ataupun berbicara dengannya,
karena itu ia tidak menghiraukan wanita yang berjalan ke arahnya tersebut.

"Permisi, hai." sapa Vanessa sambil menepuk pundak pria berkemeja hitam tersebut
dari belakang.

Leo mengalihkan pandangannya ke arah wanita silver yang berdiri di belakangnya.


'Ternyata ia mau menghampiriku,' pikir Leo. "Halo.." jawab Leo dengan ekspresi datar.

"Ya, hai... Tadi pagi aku melihatmu mengobrol dengan seorang pria pirang. Apa kau
tahu di mana ia sekarang?" tanya Vanessa kepadanya.
"Dia disana, tadi dia di dekat pintu. Tapi sepertinya ia berjalan ke arah tembok itu" Leo
menunjuk tempat dimana pria rubik tersebut sebelumnya berdiri dan mengarahkan
jarinya menuju lokasi pria rubik itu pindah.

"Oh, ok. Terima kasih atas bantuannya." Vanessa pun pergi menuju ke pria pirang
tersebut dan meninggalkannya sendirian.

Leo menatap wanita silver tersebut langsung pergi meninggalkannya tanpa mendengar
responnya terlebih dahulu. 'Bukan manner yang terlalu baik menurutku, tapi paling tidak ia
berterima kasih,' pikir Leo. Ia menemukan tempat yang kosong disekitar sebuah tempat
duduk yang rusak dan berjalan kesana.

'Pria berkemeja hitam tadi.... dari ekspresinya ia tampak tidak semangat dalam mengikuti ujian
ini. Dan... sedikit terlihat mengantuk.' pikir Vanessa sambil mengingat ekspresi orang
tersebut yang hanya datar saja. 'Ada ya orang yang bisa tertidur sambil menunggu ujian.
Lebih baik tidak usah mengganggu orang seperti itu. Tidak ada gunanya menghabiskan waktu
lama-lama dengannya. Aku ada urusan lain yang lebih penting' pikirnya. Setelah Vanessa
dapat melihat pria pirang tersebut dari jauh ia pun mempercepat langkahnya.

Setelah ujian yang melelahkan, Yera berbaur dengan gerombolan peserta yang lain. Ia
menepuk-nepuk celananya untuk membersihkan debu yang menempel. Baginya ujian
yang baru dilaluinya sudah cukup sulit, dan ia terlalu lelah untuk memikirkan ujian
kedua yang akan dihadapinya setelah ini. Berbagai pikiran campur aduk di kepalanya,
ia merasa hal yang sangat buruk sedang mendatanginya. Setelah merasa terintimidasi
oleh pikirannya sendiri, akhirnya Yera memutuskan untuk mengalihkan pikirannya
dengan mengobrol dengan peserta lain. Matanya menangkap sesosok orang yang
familiar, berambut pirang platinum dan berkemeja hitam dengan kancing yang terlalu
lebar dibuka... 'itu Preman tadi!' Ia mendekati orang yang sedang berdiri di sebelah kursi
yang rusak tersebut dan mencoba untuk ramah. "Hai, perkenalkan namaku Yera. Kita
sudah bertemu sebelumnya, jika kamu ingat. Siapa namamu?" Kata Yera sambil
mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Leo mendengar langkah kaki yang bergerak menuju tempatnya berdiri dan mencari
pemilik langkah kaki tersebut. Ia melihat wanita berambut hitam-hijau yang tadinya
berada di sisi ruangan sedang menghampirinya. Ia menganalisa ekspresi ramah wanita
yang menyebut dirinya Yera tersebut untuk mencari apakah ada maksud tertentu dari
ajakannya untuk berkenalan. Setelah memutuskan kalau ia tidak memiliki alasan
tersembunyi, dengan hati-hati Leo menggenggam tangan Yera untuk bersalaman,
"Namaku Leo Achashverosh. Panggil saja Leo."

"Senang berkenalan denganmu, Leo," Balas Yera sambil menarik kembali tangannya.
"Ayo sedikit mengobrol untuk menghabiskan waktu. Aku ingin tahu, kenapa kamu
ingin masuk ke L'escollit escola?" Tanyanya.
Leo menaikkan alisnya terhadap pertanyaan Yera. Tipikal pertanyaan untuk basa basi.
"Membunuh Erebus," jawab Leo singkat.

'Kenapa membunuh Erebus? Dia bahkan tidak pernah bertemu dengannya,' pikir Yera.
"Erebus, ya." Sahutnya dengan senyum menyengir, ia meliipat kedua tangannya dan
melanjutkan perkataannya "Kau membuatku penasaran, aku punya beberapa
pertanyaan untukmu. Pertama, apa hubunganmu dengan Erebus sampai kamu
mengikuti ujian gila ini hanya demi membunuhnya?" Tanya Yera. Leo membangkitkan
jiwa penasarannya.

Leo menghela nafasnya. "Aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Apa
untungnya bagimu dari mengetahui alasanku?" tanya Leo.

Setelah Yera mendengar jawaban Leo, sepertinya ia tidak menyukai pertanyaannya. Ia


akhirnya mengurungkan niatnya untuk menanyakan pertanyaan kedua. "Ngomong-
ngomong, apakah kamu berasal dari Central City? Aku berasal dari Ozark dan butuh
informasi" Katanya mengalihkan pembicaraan.

"Kau sepertinya memiliki rencana tersembunyi untuk masuk ke sekolah ini. Dan untuk
menjawabmu, aku berasal dari Luxenberg," jawab Leo. Wanita ini perlu membuat Leo
percaya kepadanya untuk mau memberikan informasi tentang dirinya sendiri.
Lagipula, belum tentu ia akan bertemu Yera nantinya.

"Tidak, tidak, aku ikut ujian dengan jujur, kok," balasnya. Beberapa saat kemudian ia
hanya terdiam menatap Leo, ia berkata dalam hati, 'Ugh, aku kehabisan bahan
pembicaraan... Hmm...' Beberapa saat berlalu hingga akhirnya ia berkata "Kurasa
sebentar lagi sudah waktunya pindah tempat, sebaiknya kita bersiap-siap. Ngomong-
ngomong terima kasih telah meladeniku, semoga kita bertemu lagi di lain waktu."
Katanya mengakhiri pembicaraan sambil berbalik badan dan melambaikan tangan
kanannya. 'Satu kenalan. Cukup untuk mengalihkan pikiranku dari ujian gila ini,' pikirnya.

"Semoga beruntung," balas Leo sebelum Yera berjalan menjauhinya. 'Sepertinya wanita
ini dapat dipercaya. Ia sangat polos dan ia tidak menyadari kalau jawabannya tidak sesuai
dengan pertanyaanku tadi. Yah.. Kalau ia lulus, aku bisa berteman dengannya.'

Jake berdiri sambil berpikir, 'Sebenarnya, aku bingung... Mengapa Jennifer menjadi penguji
disini? Setahuku dia sudah dikeluarkan dari daerah ini. Ia termasuk seorang yang telah
mencemarkan nama keluarga De Montage dan sudah dieksekusi dari tahun lalu. Tapi...
Bagaimana bisa?' Lelaki postur tinggi itu memakai jubahnya yang kotor karena kejadian
pagi tadi dan terus berkutat dengan pikirannya. Ia menyandarkan punggungnya ke
dinding dan memandang pintu menuju ujian kedua dengan kosong. Pertanyaan demi
pertanyaan bermunculan dalam otaknya membuat dirinya tidak menyadari bahwa ada
seseorang yang mendekatinya.

Vanessa menemukan pria pirang tersebut sedang bersandar ke dinding. Ia tampak


sedang terserap dalam pikirannya. Mencoba untuk tidak membuat masalah lagi
Vanessa jalan perlahan mendekati pria tersebut dan berkata, "Um... hai."

Jake tersentak mendengar seseorang menyapa dari samping. Ia kembali dari dunianya
saat menyadari bahwa yang mengajaknya berbicara adalah wanita di gerbang tadi,
"Oh, hai juga!"

"Um... ya, aku ingin mengembalikan ini" Vanessa berkata sambil merogoh tasnya dan
mengambil pecahan rubik milik pria tersebut. "Aku minta maaf buat kejadian tadi, aku
tidak sengaja menabrakmu. Dan maaf kalau tadi aku sedikit marah-marah. Aku tadi
sedikit tegang sebelum ujian." Vanessa berkata sambil menyodorkan pecahan rubik
tersebut ke pria tersebut.

Jake mengambil pecahan rubik yang disodorkan oleh wanita itu sambil tersenyum
manis, "Tidak apa-apa, terima kasih karena sudah memungutnya untukku," Lalu Jake
mengeluarkan rubiknya yang rusak dan menyatukan pecahan-pecahannya ke tempat
semula. "Akhirnya, rubikku jadi sempurna lagi. Aku tidak perlu membelinya lagi,"
gumam lelaki ini sambil menatapnya sopan.

Vanessa awalnya hanya menatap saja, ia masih tidak yakin apa orang ini dapat
dipercaya sebagai teman atau tidak. Ujian sekolah ini yang bisa tergolong tidak mudah
dan penyaringannya ketat sehingga banyak kemungkinan peserta bisa saling menusuk
dari belakang demi lulus ujian. Namun bila dilihat dari orang ini yang murah senyum
dan lumayan terbuka akhirnya Vanessa memutuskan untuk menjadi ikut lebih terbuka
dan berkata, "Oh ya, selamat atas kelulusannya pada ujian pertama."

"Para peserta yang terhormat, sekarang pintu untuk ujian kedua sudah dibuka. Bagi
kalian yang berdiri di depan, harap untuk masuk terlebih dahulu agar tidak
menghalangi peserta di belakangnya," suara entah dari mana meminta semua peserta
untuk masuk dan melanjutkan ujian pada tahap kedua, "Ikuti arah dan petunjuk dari
tentara-tentara bertopeng maka kalian akan sampai tujuan."

Jake mendapati pintu sudah terbuka. Jake dan wanita itu sekarang berada di dekat
pintu sehingga mereka harus berjalan duluan seperti yang diinstruksikan. "Selamat
untukmu juga, aku harap kau selamat di ujian kedua," balas Jake menepuk pundak
wanita itu dan melanjutkan perkataannya, "Aku berhutang budi padamu."
"Hutang atas apa ya?" tanya Vanessa dengan polos sambil sedikit mendongak karena
tinggi mereka yang berbeda. "Sebaiknya kita mulai berjalan sekarang ke ruangan
selanjutnya." kata Vanessa sambil mengajak pria tersebut berjalan ke ruang selanjutnya.

"Hutang budi atas benda ini," cengir Jake menggoyangkan rubik kesayangannya tepat
di depan wajah wanita itu. "Ini benda favoritku dari kecil, aku akan sedih jika benda ini
rusak. Tapi karena kau membawakan pecahan-pecahan yang hilang, kau
mengembalikannya sempurna." Jake memasukkan rubik ke kantong jubahnya dan
mulai berjalan bersama wanita itu. Sembari berjalan bersama wanita itu, Jake kembali
terdiam dengan pikiran yang memutar kembali kejadian Jennifer.

"Bukannya tadi kau berkata akan membeli yang baru? Lagi pula kalau itu memang
benda kesayangan mu seharusnya tidak di bawa ke ujian ini bukan?" tanya Vanessa
dengan sedikit sarkastik sambil teringat bahwa ia sendiri tidak membawa biola
kesayangannya ke ujian ini.

"Hahaha betul, aku akan membeli rubik baru jika yang ini rusak. Tapi aku lebih
memilih untuk tidak menghamburkan uangku demi ini," tawa Jake canggung.
Kemudian, Jake mengedarkan pandangan ke arah lain sambil berkata, "Dan benar juga,
harusnya aku tidak membawa benda ini kesini. Hanya saja, ini sudah menjadi
kebiasaanku membawanya kemana-mana jadi... maklumi saja." Jalan yang dilewati
semakin sempit dan sesak karena barisan dari belakang mulai masuk. Jake
menginspeksi semua orang di sekitarnya lalu mendapati banyak tentara bertopeng
menunjuk arah ke kanan sehingga lelaki ini mengarahkan wanita itu kesana. Entah
mengapa, Jake merasa curiga dengan mereka karena mereka membawa senjata lengkap
seakan siap untuk menyerang peserta kapan saja. Setelah selesai menilai, Jake
melanjutkan pembicaraannya dengan memuji, "Aku senang kau mengkritisi
perkataanku, itu tandanya kau orang yang perhatian. Jarang ada orang sepertimu!"

"Um... terima kasih atas pujiannya..? Sepertinya..." kata Vanessa dengan nada bingung.
"Kau sedang mencari apa?" tanyanya lagi.

"Aku tidak mencari apa-apa," balas Jake. "Aku sedang menginspeksi gedung ini." Jake
kemudian melihat pintu besar di depan yang tidak jauh darinya dan terdapat banyak
sekali tentara-tentara yang berdiri menjaga pintu-pintu tersebut. "Aku sebenarnya..
sedikit curiga dengan tentara-tentara bertopeng ini."

"Hmm... topeng yah. Mungkin selanjutnya kita harus melawan sesuatu atau
bersembunyi dari sesuatu. Apa menurutmu itu topeng biasa atau bukan?" balas
Vanessa sambil ikut memerhatikan topeng para tentara. "kalau bukan... Oh ya! Kau bisa
memanggilku Vanessa. Aku sebaiknya memanggilmu apa?" tanya Vanessa.
"Jake. Panggil aku Jake," jawab lelaki penyuka rubik ini. "Dan soal topeng ini, aku yakin
ini hanya topeng biasa. Kau tahu, penguji L'escollit escola tidak mungkin akan
membunuh calon TCO disini. Salah satu peraturan dari Central City untuk institusi
adalah menjaga nyawa calon TCO selama ujian berlangsung, jika hal ini tidak diikuti
mereka akan dituntut habis-habisan." Jake membenarkan sarung tangannya lalu
menatap mata Vanessa, "Namun, walaupun aku tahu mereka tidak akan membunuh
kita. Tetap saja... aku curiga mereka akan melakukan hal yang aneh-aneh berhubung
ujian L'escollit escola sekarang diperketat."

'Bunuh yah....heh.' pikir Vanessa dengan sarkastik mengingat penguji sadis penyuka
darah yang sebelumnya. "Tidak ada yang normal untuk ujian L'escolit menurutku.
Apapun itu yang pasti akan berhubungan dengan tempat terbuka karena udara di sini
sudah mulai sedikit dingin dan lembab." Vanessa berkata sambil melihat langit-langit
lorong.

Jake tersenyum miris, "Benar, tidak ada yang normal disini." Jake dan Vanessa berhenti
di depan para tentara yang berdiri dekat pintu. Jake sudah bersiap-siap jika ada
serangan tiba-tiba dari mereka, "Kau.. bisa bertarung tangan kosong kan?"

"Dari mana kau tahu?!" tanya Vanessa dengan sedikit kaget sambil mencoba untuk
menutupi luka-luka kecil yang ada ditangannya. "Yah, sedikit bisa. Sebenarnya alasan
aku di sini sedikit karena itu. Yah..... Memang kenapa?" tanya Vanessa.

"Bagus," balas Jake sambil membenarkan jubahnya tanpa peduli gerakan yang
dilakukan Vanessa. "Aku senang mendengar kau bisa bertarung tanpa alat perang.
Berita baiknya adalah kau akan selamat di ujian kedua nanti."

"Dan terlihat dari badanmu yang lumayan berotot aku jamin kau juga pasti bisa
bertarung dengan tangan kosong. Lagi pula untuk seorang peserta yang akan saling
bersaing kau cukup perhatian denganku. Memang kau ini berasal dari keluarga mana?"
tanya Vanessa dengan sedikit bercanda.

"Well, terima kasih atas pujiannya," Jake sedikit tersipu saat Vanessa berkomentar.
"Aku berasal dari keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan kakak laki-lakiku di
Valkyrie." Jake menanggapi candaan Vanessa sambil tertawa lepas. Setelah beberapa
waktu bercakap-cakap dengan Vanessa, para tentara di depan mulai berpaling dan
mendorong pintu itu. "Dengar, aku tidak pernah menganggap orang sebagai
sainganku. Aku hanya peduli akan keberhasilan diriku sendiri, Vanessa. Lagipula, aku
bukan orang ambisius yang rela melakukan apapun demi diterima di sini."

"Ah.... keluarga kecil yang bahagia." komentar Vanessa dengan tatapan yang sedikit
sedih mengingat keluarganya sendiri yang tidak terlalu harmonis di Lamia. Setelah
lama berbincang akhirnya mereka mendapat giliran melewati pintu dan di balik pintu
tampak banyak pepohonan dengan seorang pria berdiri di hadapan mereka. "Kita
sampai." Vanessa berkata sambil memasang kembali wajah seriusnya.

Jake mengangguk, "Iya." Lelaki ini kemudian melihat ke seluruh ruangan. Yang
tadinya terdapat tanaman rambat yang sedikit, sekarang di ruangan ini terdapat
banyak sekali tumbuhan dan di hadapan mereka pun sudah terlihat pohon-pohon yang
tinggi dengan daun yang lebat. Lalu, ia juga melihat si pria berambut platinum blonde
masuk duluan sebelum si wanita robot hijau itu mengikutinya. "Semoga kau
beruntung, Vanessa."

Setelah pintu dibuka, Leo mengikuti gerombolan peserta ujian masuk ke lorong melalu
pintu yang baru dibuka. Ia melihat ke sekelilingnya dan mulai meningkatkan
kewaspadaannya setelah melihat banyaknya orang bertopeng disana. Tapi untungnya
tidak ada yang terjadi sampai ia masuk ke dalam ruangan lain yang terdapat pohon-
pohon di suatu bagian ruangan tersebut. Ia melihat pria rubik berdiri bersama dengan
wanita silver dan memutuskkan untuk bergabung dengan mereka. 'Paling tidak, mereka
terlihat lebih baik dibanding dengan peserta lain' pikir Leo. Ia pun berjalan ke arah pria
rubik dan wanita silver tersebut.

Di balik pintu ujian kedua tampak ada ruangan yang sangat besar, ujung ruangan tidak
terlihat karena tertutupi pepohonan yang sangat lebat. Pandangan Yera menyusuri
ruangan itu, dan lagi-lagi firasatnya tidak enak. 'Oke, sekarang aku hanya ingin segera
menyelesaikan ujian ini. Lulus atau tidak lulus,' pikirnya. Daripada ia mati oleh rasa
takutnya sebelum ujian dimulai, ia mulai mengamati struktur gedung L'escollit escola
yang mengagumkan. Saat mengamati, matanya menangkap sosok gadis berambut
silver yang tadi mengajaknya ngobrol. Ia bukan orang yang sensitif, namun ujian yang
berat baginya ini melunakkan hatinya. Yera teringat kejadian tadi pagi dan merasa
terlalu cuek pada gadis yang seperti orang desa itu. 'Mungkin aku harus mengajaknya
sedikit ngobrol, in case jika ia tersinggung dengan sikap -jangan-dekati-aku- nya tadi pagi,'
dengan canggung ia mendatanginya, gadis itu sedang mengobrol dengan pangeran
penasaran yang mengganggunya tadi pagi.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------
Second Test
Ujian Fisik

"Selamat bagi kalian yang berhasil masuk ujian kedua," teriak seorang lelaki gagah
dengan kumisnya yang panjang, "Perkenalkan saya adalah Aron Lammington akan
menjadi penguji kalian dalam tahap kedua."
Para TCO yang berhasil hanya bisa mengehela nafas setelah keberhasilan mereka di
tahap pertama. Tidak disangka, dari dua ratus orang hanya tersisa seratus sebelas.
Entah apa yang terjadi pada mereka di ujian tahap pertama, tapi yang pasti di awal
mereka memasuki ujian sudah banyak sekali jebakan yang mungkin saja bisa
membunuh mereka. Seluruh calon hanya berharap mereka bisa selamat di tes kedua
ini.

'Huh. Beaufort. Somerset. Satu Noble tidak berguna yang malas dan satu lagi Noble gila yang
hanya suka main-main saja. Mereka seharusnya lebih serius dalam pekerjaan mereka. Pasti enak
menjadi salah satu penguji di tempat ini. Hanya perlu bersantai-santai dan bisa memainkan
orang seenaknya.' pikir Vanessa.

'Akhirnya selesai juga ujian pertama. Ternyata ada noble yang unik seperti Anderson. Kukira ia
akan memintaku menjadi murid teladan. Masih ada juga orang yang memikirkan manusia lain.
Jika aku benar-benar lulus, pasti kehidupanku disini akan sangat menarik. Dan masih ada lagi 3
orang tadi..'pikir Leo.

Yera khawatir memikirkan ujian kedua. Bukan mengenai kelulusan, tetapi khawatir
akan keselamatan nyawanya. 'Ternyata mereka sadis juga. Huff... Aku beruntung, mendapat
penguji seperti Blake Egerton. Aku tak akan melupakan pesonanya, ia bijak, berkharisma, dan
sepertinya sangat pintar. Kalau bertemu dengannya lagi, aku ingin banyak mengobrol
dengannya. Mungkin ia akan memberiku beberapa tips untuk keluar dari sini hidup-hidup.'
pikirnya.

"Dengar kalian semua!" teriak Aron tegap sambil memegang pedang di depannya,
"Kalian lihat ada apa dibelakang saya?"

Para TCO hanya bergumam satu dengan yang lain sedangkan Aron beserta tentara di
depannya hanya menatap mereka tajam, "Di belakang ini disebut 'Forest of Punishment'
atau Hutan Hukuman. Hutan ini sengaja kami buat untuk menilai fisik, kekuatan serta
ketaatan kalian dalam melakukan misi."

Jake menggelengkan kepalanya mengingat bahwa tes ini sama seperti dahulu, "Mereka
ternyata tidak jera membuat calon TCO menderita di hutan lagi."

"Memang dulu ada ujian di hutan juga? Apa yang terjadi?" tanya Vanessa sambil
melihat seorang pria bekemeja hitam datang mendekat.

"Iya, ini ujian yang sudah diadakan semenjak L'escollit escola didirikan pertama kali,"
jawab Jake melipat tangannya sambil memfokuskan dirinya ke Aron. "Aku tidak tahu
apa yang terjadi, tapi hutan itu merupakan tempat kematian bagi calon TCO." Jake lalu
terdiam mengingat cerita kakaknya tentang banyak peserta yang masuk rumah sakit
karena ujian ini. Jake tidak boleh menganggap informasi ini dengan sepele.
Leo mendengarkan Aron sambil berusaha untuk mendekati pria rubik dan wanita
silver. Ia beruntung tinggal di tempat dengan banyak hewan yang berisik, jadi ia sudah
terbiasa fokus dengan apa yang dikatakan ayahnya di tengah kericuhan hewan ternak.
Setelah lumayan dekat, ia menyapa mereka, "Hai kalian!"

Vanessa terus memandang dengan curiga pria berkemeja hitam ini. Orang ini terlihat
sedang menguping pembicaraan dirinya dengan Jake. "Hey Jake, lihat ke arah jam 2.
Ada seorang pria berkemeja hitam sedang menguping kita. Dari tadi ia memerhatikan
kita." bisik Vanessa kepada Jake.

Jake yang masih memandangi Aron mulai tersenyum, "Aku tahu. Dari tadi aku sudah
merasakan gerak-geriknya." Jake mengisyaratkan Vanessa untuk bersikap biasa saja
dan menoleh ke lelaki yang ia temui sebelum ujian sambil membalas sapaannya ramah,
"Hai juga! Kau berhasil lulus ternyata."

"Kau juga. Maaf tadi aku tidak sengaja mendengar sedikit dalam perjalananku kemari.
Bisa kau jelaskan kenapa tempat ini merupakan tempat kematian TCO?" Tanya Leo.
Memang benar, ia tidak sengaja sedikit mendengar pembicaraan kedua orang tersebut.
Selain itu, wanita silver tersebut sudah memandanginya dengan curiga dari tadi.

Yera yang bermaksud mengobrol dengan gadis berambut silver tak sengaja mendengar
pertanyaan Leo. Merasa itu pertanyaan yang konyol, tanpa ragu-ragu ia bergabung
dengan ketiga orang itu, menepuk pundak Leo dan berkata "Kamu bercanda, Leo? Aku
sudah hampir mati di ujian pertama. Apa hal itu masih perlu dipertanyakan?" Yera
menyambung pembicaraan seenaknya. Lagipula ia sempat berinteraksi dengan gadis
desa dan pangeran penasaran itu tadi pagi.

Leo menatap Yera dengan tatapan aneh, "Aku tidak bercanda. Aku tidak sengaja
mendengar pembicaraan mereka. Lagipula, bagaimana caranya kau bisa hampir mati di
ujian pertama?" tanya Leo tanpa menghiraukan kedatangan Yera yang mendadak.

Heran dengan pertanyaan Leo, Yera kembali bertanya "Memangnya kau tidak?" Tanpa
menunggu jawaban Leo, ia menoleh ke arah pria berjubah merah kemudian menyadari
dirinya sudah mengganggu pembicaraan orang lain. Seolah-olah tidak terjadi apaun, ia
menyambung pembicaraan mereka, "Silakan jawab pertanyaan Leo tadi, maafkan aku
menyela pembicaraan kalian," katanya.

Jake menggaruk kepalanya melihat dua orang yang membuat masalah tadi pagi
menghampiri mereka, "Aku tidak tahu jelasnya. Tapi rumor mengatakan bahwa dari
sini kemungkinan kurang dari seratus yang akan selamat." Lelaki ini kemudian kembali
fokus kepada Aron dan kembali berkutat dengan pikirannya sendiri.
Leo mendengar informasi yang diterimanya dan mengangguk, "Berarti, jika ingin
selamat kita harus menggunakan kekuatan di ujian ini dan kemampuan apapun yang
kita miliki? Merepotkan. Dan untuk menjawab pertanyaanmu, Yera, aku melewati ujian
tertulis dengan biasa saja. Tidak ada ancaman sedikit pun. Tidak tahu yang lain
bagaimana, karena aku masuk ruangan hanya sendirian."

Keadaan yang mendadak ramai ini membuat Vanessa menjadi sedikit tidak nyaman. Ia
tidak tau mana yang dapat ia percaya dan mana yang tidak. Vanessa saat ini hanya
lebih memilih untuk berdiam dan mengamati kedua pendatang baru ini. Sambil
mendengarkan pembicaraan mereka dan sedikit mengamati arena ini, ia
mempertimbangkan strategi apakah yang akan ia jalani. Melihat arena baru ini
merupakan hutan, Vanessa menjadi sedikit lebih tenang karena ia sudah terbiasa
dengan suasana hutan di dekat rumahnya.

"Benar, memang itulah faktanya," jawab Jake singkat dan sedikit asal-asalan.

"Aku hampir lupa. Namaku Leo Achashverosh. Panggil saja Leo. Dan kalian?" tanya
Leo. Sebenarnya ia tidak ingin memperkenalkan dirinya. Tetapi sesuai ajaran orang
tuanya, jika ia ingin mengetahui identitas orang lain, ia harus memperkenalkan dirinya
sendiri terlebih dahulu.

"Aku Jake. Senang bertemu denganmu Leo," balas Jake. Memang Jake lebih memilih
untuk diam karena dirinya fokus dengan apa yang akan diujikan nanti. Ditambah, ia
lebih ingin mengetahui mengapa L'escollit escola harus melakukan tes yang rumit.
Sejak kapan keluarga Nobles mempunyai niat untuk membuat ujian seperti ini? Ia tidak
menyangka mereka rela mengeluarkan biaya sebanyak ini demi TCO. Banyak Nobles,
bahkan ayahnya sendiri, tidak mau membuang kekayaannya demi institusi ini. Namun,
apapun yang terjadi dan alasannya, Jake harus lulus di ujian kedua ini karena kakaknya
berharap banyak darinya (walaupun dia enggan).

Untuk kedua kalinya ia tidak peka dan menyambung pembicaraan seenaknya. "Dan
aku Yera, Jake," kamudian Yera menoleh kepada wanita berambut silver di depannya
dan bertanya, "Dan siapa namamu? Maaf aku tidak sempat menanyakannya tadi pagi,"
setelah menanyakan nama wanita itu, Yera merasa lega. Ia yakin hal itu sudah cukup
untuk membuat wanita itu melupakan sifat cueknya tadi pagi.

"Apa? Oh, namaku Vanessa. Hai Leo, hai Yera." Vanessa yang tadinya sedang
terpendam di dalam pemikirannya menjawab kedua pendatang baru ini.

Jake menengok ke samping dan melihat ketiga orang tersebut secara bergantian,
"Senang bertemu kalian semua. Dari kau yang pertama bernama Leo, lalu Yera dan
Vanessa yang sudah kukenal dari tadi." Jake menundukkan sedikit kepalanya dan
berkata, "Maaf, tadi aku tidak begitu memperhatikan kalian semua karena aku sedang
berpikir untuk ujian kedua ini."

"Aku hanya ingin memberitahu kalian. Aku tidak peduli dengan orang lain kecuali
diriku sendiri. Lagipula aku yakin kalau aku akan lulus. Jadi, aku tidak akan
membuang waktuku untuk menyerang siapapun. Dan aku mengatakan ini karena aku
tadi melihat tatapan curiga yang diarahkan kepadaku," kata Leo sambil menatap
Vanessa yang sedang memandang arena.

Jake bisa mengerti orang yang dimaksud Leo adalah Vanessa, tapi ia tidak ingin ambil
pusing dan berkata kepada mereka, "Lupakan masalah kalian sejenak. Lebih baik kita
dengarkan apa yang akan Aron katakan karena ia sudah menunggu semua orang diam
dari tadi dan aku merasa kasihan kepadanya."

Aron memberikan penjelasan lagi setelah para TCO mulai tenang kembali, "Disini
hanya ada satu misi dan satu peraturan!" Aron kemudian membuka gulungan kertas
dengan cap L'escollit Escola sebagai tanda bahwa isinya sangatlah rahasia, "Misi kalian
hanya satu. Temukan jalan keluar dari hutan tersebut!"

Seorang perempuan berpostur tinggi dengan rambut bergelombang berwarna cokelat


mengangkat tangannya dan bertanya, "Bagaimana kita tahu kalau itu adalah jalan
keluar? Kau tidak memberikan kami petunjuk apa-apa?"

"Tentu saja tidak," balas Aron, "Kami tidak akan memberikan kalian petunjuk ataupun
peta dari area tersebut karena kami mau melihat keahlian kalian dalam bertahan.
Ditambah kalian tidak tahu apa saja yang terjadi disana. Tahun lalu sudah banyak
calon TCO dilarikan ke rumah sakit karena tes ini."

Para TCO mulai berbisik-bisik dan suasana menjadi kacau. Kemudian ada seorang laki-
laki berkulit hitam dengan bola hitam mengangkat tangannya dan bertanya, "Lalu, apa
yang terjadi dengan mereka?"

"Hmm... Beberapa dari mereka ada yang meninggal tentunya," jawab Aron yang
membuat semua TCO menjadi merinding, "Tapi banyak juga yang selamat. Tenang,
asalkan kalian bisa menemukan jalan keluar dan mematuhi peraturan. Aku berani
jamin keselamatan kalian semua!"

"Apakah kami bisa membunuh peserta lain?" tanya seorang calon TCO mengangkat
tombaknya memberikan senyum sadis.

Aron menatap TCO itu serius, "Kalian tidak akan bisa membunuh peserta lain dengan
tangan kosong. Aku tidak yakin kalian bisa melakukan itu karena semua peralatan
akan kami sita sebelum masuk ke hutan."
Seluruh TCO langsung mengeluh dan meracau tidak jelas mendengar barang-barang
mereka akan disita. Ruangan penuh dengan suara-suara calon TCO karena kebanyakan
dari mereka tidak rela untuk memberikan alat perang mereka ke tangan orang lain.

'Luar biasa. Aku akan mati di sini,' keluh Yera dalam hati. Seumur hidupnya ia selalu
mengandalkan alat, dan ia belum sempat untuk melatih ototnya seperti saran Blake
Egerton. Sekarang tiba-tiba ia harus melepas semua peralatan di tempat yang risiko
kematiannya tinggi, 'haruskah aku mengangkat tangan dan meminta izin untuk menulis surat
wasiat?' pikirnya. Entah mengapa ia tidak takut mati, walau sekarang ia kehabisan akal
untuk melewati ujian ini.

Leo mengangkat tangannya, "Apakah boleh untuk membentuk tim dalam ujian ini?"

"Itu tergantung dari kalian," Aron mengatakannya sambil mengibaskan jubahnya


sedikit, "Kalian mungkin boleh membentuk tim, tapi ada satu hal yang harus
kuberitahu. Semakin banyak orang yang berkumpul, maka semakin tinggi bahaya yang
akan menimpa kalian."

'Semakin banyak orang maka semakin berbahaya?' pikir Jake. Karena penasaran, lelaki ini
mengangkat tangannya, "Apa yang akan terjadi jika banyak orang berkumpul?"

Aron tersenyum misterius, "Kita mempunyai banyak mata disini dan kita mengontrol
hutan ini dengan baik. Bahaya apapun bisa terjadi, nak."

Jake mendecih sambil berbisik dalam hati, 'Ia tidak menjawab pertanyaanku, aku harus hati-
hati.'

Leo mengangkat tangannya lagi, "Bagaimana kita bisa tahu kalau itu adalah pintu
keluarnya?"

"Kalau kau bisa membukanya, berarti itu adalah pintu keluarnya," singkat Aron.
"Apakah ada pertanyaan lagi?"

Vanessa yang dari tadi hanya mengamati sekitar memutuskan untuk bertanya, "Apa
ada peraturan lain lagi?"

"Oh ya, untuk peraturan lain yang kalian harus patuhi," Aron meminta salah satu
tentara di belakang untuk mengambil tombol merah besar dan menekannya di hadapan
para calon TCO. Seketika itu juga, terdengar suara sirine kencang yang membuat
burung-burung terbang meninggalkan pepohonan, "Jika kalian mendengar sirine ini,
kalian harus menemukan tempat untuk bersembunyi. Jangan sampai wajah kalian
terlihat di hadapan para monster ciptaan kami. Kalau hal itu sampai terjadi.... ucapkan
selamat tinggal dari institusi ini."

"Jadi, untuk menyambung pertanyaanku tadi. Apakah kalian ingin bekerjasama?" tanya
Leo kepada Jake, Vanessa, dan Yera.

"Jika kau bekerja sama denganku, kemungkinan besar kau akan mati bersamaku," balas
Yera tanpa ekspresi.

Jake menoleh kearah Yera, "Mengapa kau berkata seperti itu?"

"Yah, terus terang saja. Tanpa peralatanku, aku tidak memiliki kekuatan apapun..."
balas Yera. Lalu ia menunjuk pelipisnya dan melanjutkan jawabannya, "..... kecuali ini."

Jake tersenyum lalu menjawab santai, "Menurutku, itu lebih dari cukup. Misi kita
hanya menemukan jalan keluar bukan?"

"Yup, bersama monster," balas Yera sambil berkacak pinggang. "Abaikan saja perkataan
pesimisku," lanjutnya, lalu menatap Vanessa dan berkata "Kurasa sebaiknya kita
menjawab ajakan Leo. Bagaimana denganmu?" tanya Yera kepada Vanessa.

'Aku belum mengenal dengan dalam. Aku tahu aku bisa percaya dengan Jake. Yera tampaknya
blak-blakan, ia pasti lebih memilih jujur dan tidak akan berbohong. Tapi aku harus
mengawasinya karena bisa saja ia menjadi penghambat. Tapi memang benar ia sepintar itu maka
ia dapat menjadi aset berharga dalam menyelsaikan ujian ini. Leo. Hmmm. Aku tidak yakin
dapat bekerja sama dengan baik bersamanya. Hubunganku dengannya dari awal sudah tidak
baik.' Vanessa berpikir dan ia pun menatap Jake. 'Jake bukan seorang yang bodoh dan ia tau
lebih banyak mengenai ujian ini dari padaku. Lebih baik aku mengikuti penilaiannya akan
mereka berdua. Hutan merupakan tempat keunggulanku, aku masih harus mengamatinya lebih
lanjut.' "Maaf. Aku belum dapat menentukannya, aku masih perlu mengamati hutan ini
lebih lanjut." jawab Vanessa kepada Yera.

Yera mengangguk sedikit tanda mengerti. Kemudian ia menoleh dan mengangkat


dagunya ke arah Jake, "Dan kau?" tanyanya.

Jake mulai terdiam dan mengingat masa lalunya. Ia tidak masalah membentuk tim dan
bekerja sama dengan anggota lain, tetapi... masa lalunya membuat dia sedikit enggan
bekerja sama. Bisa dikatakan ia belum siap bekerja sebagai tim, "Entahlah, aku sendiri
juga belum memutuskan," Jake lalu memandang Aron datar dan otaknya mulai
mengingat perkataan lelaki itu, "Aron bilang kalau semakin banyak orang maka akan
semakin berbahaya. Jika kita membentuk tim, apakah kalian siap menghadapi bahaya
itu? Aku punya firasat buruk."
Leo mencerna semua perkataan Yera, Jake, dan Vanessa lalu berkata, "Aku
menyerahkan keputusan di tangan kalian. Arena ini memberiku keuntungan. Kalau
mau jujur, aku tinggal di tempat yang banyak hutannya dan aku terbiasa main di
hutan. Selain itu, kemampuanku sangat membantu di arena seperti ini."

"Kalau kau tidak keberatan mati bersamaku, let's team up." Kata Yera sedikit ragu-ragu.
'Ini risiko yang besar, Tuan Aron tadi sudah memperingatkan kita bahwa semakin banyak orang
semakin bahaya. Tapi aku akan mencoba sedikit berharap padanya' pikir Yera. "Ngomong-
ngomong, kekuatan spesial apa yang kamu punya?" tanya Yera kepada Leo.

Jake mengamati Yera dan Leo bercakap-cakap soal tim. Sebenarnya ia ingin mengikut
mereka karena memang benar pernyataannya tentang semakin banyak peserta
berkumpul memang bahaya semakin besar. Tetapi jika kekuatan peserta jauh lebih
tinggi dibanding bahaya tersebut, kemungkinan mereka kalah akan kecil. Sebenarnya,
Jake mengerti apa yang akan dihadapinya di hutan jika mereka tidak mengubah tesnya.
Dia hanya berharap mereka baik-baik saja dan berkata, "Kalian berdua hati-hati, ya. Di
hutan ini banyak hal yang akan kalian temui dan juga buat telinga kalian siaga
terhadap sirine." Akhirnya Jake melangkahkan kakinya dan meninggalkan mereka
semua untuk pergi ke barisan, "Selamat tinggal semuanya. Entah mengapa, aku punya
perasaan bahwa aku akan bertemu dengan kalian lagi di dalam sana. Dan oh ya! Hati-
hati dengan hewan ganas disana. Kau tidak tahu kapan peliharaan L'escollit escola
akan menyerang kalian!"

Leo melambaikan tangannya kepada Jake, "Sampai jumpa di ujian ketiga Jake,
Vanessa." Lalu Leo membungkukkan badannya untuk berbisik kepada Yera, "Aku
bisa...."

"Kau tahu kan nanti di dalam hutan pasti kita akan saling bertemu lagi? Yah, apa pun
yang akan terjadi di dalam hutan nantinya semoga beruntung." Vanessa berkata kepada
mereka bertiga.

Dengan mata besarnya, Yera melambaikan tangan kepada Jake. Pikirannya tidak fokus
sehingga ia tidak mendengar apa yang barusan Jake katakan. Melihat Leo melambaikan
tangan, refleks ia ikut melakukannya.

Aron bahagia melihat wajah peserta yang ketakutan. Lebih baik seperti itu memang
karena mereka sudah mempersiapkan banyak hal untuk calon epeserta TCO. Aron
tidak akan membiarkan mereka lulus semudah itu. "Saya akan membagi kalian menjadi
empat baris panjang dan kalian akan masuk secara acak. Jadi, dimohon untuk kalian
berbaris memanjang sesuai dengan tentara di depan ini," jelas Aron sambil menunjuk
ke empat tentara bertopeng berdiri di depannya.
Jake kemudian memilih untuk berada di barisan tentara nomor dua, ia lebih memilih
jalan tengah agar dirinya tidak merasa terpojok jika diserang musuh. Ia mengingat
pelajarannya waktu kecil mengenai cara bertahan di hutan. Jake memang seorang yang
suka belajar dan sekarang dia bangga apa yang dipelajarinya berguna.

Vanessa memilih untuk mengambil jalur tengah yaitu nomor 3. 'Aku harus ke tengah
hutan dulu untuk dapat mengamati arena ini lebih baik.' pikirnya.

Leo dan Yera memilih jalur 1. 'Misi utama kami adalah menemukan jalan keluar, seharusnya
dengan menelusuri bagian pinggir kami dapat menemukan pintunya. Kecuali jika pintu keluar
itu... sebenarnya bukan pintu... Jika itu terjadi, saatnya aku mengandalkan Leo,' pikir Yera.

'Aku harap kami bisa menggabungkan otak dan kemampuan kami. Jika berhasil, semuanya akan
berjalan lancar sesuai perkiraanku. Kalau tidak.. Akan kulihat nanti,' pikir Leo

"Baiklah.. tanpa basa-basi! Mari kita mulai ujian tahap kedua!" teriak Aron sambil
mengacungkan pedangnya, "Batas kalian di hutan maksimal 3 hari, jika kalian tidak
bisa keluar dalam 3 hari maka kalian akan didiskualifikasi!"

Vanessa melihat sekeliling dan menemukan Jake di baris ke dua di kirinya dan Leo
bersama Yera di baris 1 di ujung. 'Vanessa ingat, kau harus menemukan jalan keluar. Itu
saja.' Vanessa berkata pada dirinya sendiri untuk mengingatkannya akan tujuan utama
dari ujian.

Tanpa berlama-lama, tentara-tentara tersebut meminta peserta untuk mengikuti mereka


dan membawa mereka tepat di depan hutan. Tentara satu memberikan kode kepada
tentara lainnya untuk memberikan jalan bagi peserta. Dari barisan depan, peserta
masuk satu persatu dan mereka mulai mencari jalan sendiri.

Setelah orang di depannya maju dan menghilang tanpa jejak, Jake bergerak maju dan
menunggu gilirannya untuk dipersilahkan masuk oleh tentara. Jake mengehela nafas
sambil membenarkan sarung tangan hitamnya dan berbisik dalam hati, 'Aku tidak ingin
menggunakan kekuatanku selama disini. Aku harap tanganku ini lebih dari cukup untuk
selamat.'

Masih menunggu gilirannya untuk masuk ke dalam hutan, Vanessa mendapati Jake
pada barisan kedua masuk ke dalam hutan. Ia pun memerhatikan dengan seksama ke
mana arah Jake pergi sampai jubah merahnya dengan cap boot dari Vanessa tidak
dapat terlihat lagi. Menurutnya Jake adalah satu-satunya peserta yang mempunyai
bocoran akan ujian ini. Akan berguna untuk mengamati gerak-gerik Jake demi bertahan
dalam hutan. Ketika gilirannya untuk masuk hutan tiba, Vanessa langsung berlari
kencang ke tengah hutan.
Leo dan Yera menunggu giliran mereka. Mereka melihat Jake masuk kedalam hutan
dan kemudian disusul dengan Vanessa. Setelah menunggu giliran mereka dengan
cukup lama, akhirnya mereka diperbolehkan masuk hutan bersama setelah Leo
memberitahu tentara tersebut bahwa mereka adalah tim.

'Kurasa memberitahu tentara itu bahwa kita membentuk tim bukanlah ide bagus. Tapi baiklah,
toh mereka tak akan terlalu peduli pada peserta biasa seperti kami,' pikir Yera. Ia menatap Leo
dengan alis berkerut 'Tapi kalau dipikir-pikir, anak ini polos sekali. Apa ia tidak merasa
terancam memberitahu tentara itu begitu saja?'. Mendadak Yera merasa agak takut, ia
berharap keputusannya bekerja sama dengan Leo bukanlah sebuah kesalahan. Namun,
ia melupakan perasaan itu dengan cepat ketika melihat pepohonan rimbun di
hadapannya dan tanah becek, hutan buatan yang mengagumkan. Setelah kagum
beberapa saat, Yera menyusul Leo yang sudah berada beberapa langkah di depannya
dan mengajaknya menjauh dari peserta lain. "Jadi, akan kujelaskan rencana pertamaku.
Hutan ini sangat luas, jika kita mengeksplorasinya dulu kita akan kehabisan waktu
untuk menemukan pintu keluar," ujar Yera sambil menggambar sebuah lingkaran.
"Karena itu kita telusuri pinggir hutan buatan ini," lanjutnya sambil menunjuk garis
yang ia buat. "Kemungkinan besar kita bisa menemukan pintu keluarnya, kalaupun
tidak ketemu, paling tidak kita tidak akan tersesat dan berputar-putar di tengah hutan."

***

DAY 1
12.00 AM
FOREST OF PUNISHMENT pt 1

Jake's PoV

Jake mengambil langkah santai ke depan. Di sekitarnya, terdapat pepohonan yang


tinggi membuat sinar matahari tidak begitu terlihat. Tanahnya sedikit lembab dan
becek membuat boots hitam nya ternodai. "Aku tidak menyangka kalau tanahnya akan
seperti ini," komentar Jake mengangkat kakinya yang dipenuhi dengan tanah basah.
Jake merasa hal ini sangat aneh karena dari tadi cuaca diluar itu sangat cerah dan ujian
pertama hanya memakan waktu satu jam. Bahkan, Harvey pun berkata kalau tidak
akan ada hujan selama ujian L'escollit escola berlangsung. "Apakah kekuatan Harvey
dalam memprediksi sesuatu menurun?" Jake bergumam dan mendesah pelan,
"Entahlah... Aku ingin semua ini cepat selesai dan menemui kakakku."

Jake tetap berjalan ke depan dengan tangan yang dimasukan ke kantongnya. Entah
mengapa, ia sedikit bernostalgia sedikit bagaimana Andrew, salah satu jenderal TCO
yang bertugas di Valkyrie melatih dia. Iya, ayahnya meminta Andrew untuk melatih
Jake terutama dalam mengontrol kekuatannya. Saat masih berumur 2 tahun, Jake
memang sudah mengetahui kekuatannya. Namun, Andrew dan ayahnya sendiri
melarang Jake untuk menggunakan kekuatannya kecuali dalam keadaan terdesak.
Maka dari itu, dia dilatih fisiknya seperti tentara untuk bertarung menggunakan
pedang serta hand-in-hand combat. Hal itu sudah dipersiapkan hingga sekarang Jake
sampai disini karena permintaan keluarga Aceline, lebih tepat kakak tercintanya.

Jake menginspeksi seluruh keadaan disana, berharap tidak ada yang mengikuti
jalurnya ataupun menyerangnya secara mendadak. Entah mengapa, walaupun tidak
ada tanda-tanda kehidupan di sekitarnya, ia merasa dirinya sedang dimata-matai oleh
seseorang. Jake mengerti bahwa tidak semua peserta langsung mencari jalan keluar.
Setiap tahun pasti ada saja peserta psikopat yang hanya ingin menguji adrenalin
mereka dalam bertarung.

'Jangan sampai ada yang bertarung denganku karena aku tidak ingin terlibat hal-hal yang aneh,'
pikir Jake.

Setelah beberapa menit lewat, Jake tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Dari
atas, kanan, kiri dan bawah, semuanya telihat aman. Dia tidak bisa memainkan
rubiknya karena disita oleh tentara di depan. Tadinya, sarung tangan dan jubah
merahnya pun harus dilepas sebelum masuk ke hutan. Namun untung Jake seorang
yang pintar dalam bernegosiasi sehingga tentara itu memperbolehkannya untuk
membawa jubah serta sarung tangannya.

"Aku rindu rubikku," Jake meracau tidak jelas sambil melihat tangannya. Lelaki itu
terus saja berjalan ke depan dan berharap tentara itu akan menjaga rubiknya dengan
baik.

Tiba-tiba saat Jake ingin melangkahkan kaki kanannya, ia merasakan pijakannya sedikit
bergerak membuat dia meloncat ke belakang untuk menghindarinya, "Apa? Mengapa
aku merasa tanahnya bergerak?" Jake mengedarkan pandangan 360 derajat, tapi ia
tidak menemui perubahan dari tempat ia berdiri.

'Apakah hanya perasanku saja?' bisik Jake dalam hati.

Jake terdiam sejenak, memandang tanah dibawahnya lekat-lekat untuk melihat apakah
ada pergerakan lagi. Ia menunggu lama baru memberanikan diri untuk melangkahkan
kaki kedepan. Saat kaki Jake terangkat, tiba-tiba tanah bergeser lebih keras membuat
lelaki pirang ini terjatuh.

Semak-semak mulai berbising, suara burung berterbangan, pohon-pohon bergoyang


serta tanah perlahan-lahan retak terbelah dua seakan ada gempa bumi. Dari kejauhan,
bisa terlihat pohon yang tinggi tumbang beriringan dengan suara teriakan peserta lain.
Jake memandang sekitarnya mulai bergoncang dan tempat dihadapannya persis tanah
terbelah jadi empat dan bergeser ke kanan. Tidak hanya itu saja, reruntuhan dinding
ikut bergeser sampai di hadapan Jake. Peserta lain ada yang terdorong dari serpihan
dinding dan tertimpa pohon.

"Apa yang terjadi?" Jake menganalisa lingkungannya yang sudah berhenti dari
pergerakan tadi.

Jake lalu berdiri, membenarkan jubah serta membersihkan noda-noda tanah yang
masih basah. Untuk sesaat, Jake memegang dagunya sambil berpikir apa yang baru saja
terjadi. Mendadak Jake teringat satu informasi yang ia dapatkan sebelum ujian
membuat mata Jake membesar saat mendapatkan jawabannya.

"Aku lupa bahwa tempat ini bukan hutan...," bisik Jake mulai berjalan kaki secara cepat
dan mulai berlari cepat. "Seperti tahun lalu, tempat ini adalah labirin."

***

Setelah sampai kira-kira di tengah hutan Vanessa lansung melihat sekeliling apakah
ada bukit atau dataran tinggi di sekitarnya. Tampaknya hutan ini memiliki tanah yang
datar. 'Tentu saja, ini kan hutan buatan' pikir Vanessa. Tidak menemukan bukit, ia mulai
memilih pohon yang paling tinggi yang bisa ia temukan. Ketika sudah menemukannya
ia mulai menginspeksi keadaan sekitar. Semua tampak hening. Melihat sekeliling ia
hanya sendirian di tengah hutan teringatlah Vanessa akan kebiasaannya balik di kota
Lamia dulu. Hanya sendirian di tengah hutan yang lebat. Entah hal itu merupakan
sebuah kebebasan atau kesepian. Setelah ia larut dalam perasaannya langsung ia
kembali lagi fokus pada ujian.

Setelah yakin benar bahwa area sekelilingnya aman dan tidak ada siapa-siapa maka ia
mulai memanjat pohon tersebut sampai atas. Sedari awal Aron mengatakan bahwa
akan ada monster yang berkeliaran, dengan melihat bentuk arena ini yang tidak
mempunyai atap Vanessa sudah dapat memperkirakan bahwa monster ini bukanlah
tipe monster yang bisa terbang. Kalaupun bisa terbang pasti tidak terlalu tinggi, maka
salah satu tempat yang aman adalah di atas pohon. 'Untung aku sering memanjat pohon di
dekat rumah' pikirnya sambil bersyukur bahwa dirinya tidak seperti kebanyakan anak
yang hanya terlatih namun sudah terbiasa melakukannya sehari-hari.

'Pintar sekali Vanessa. Kau memakai rok untuk pergi ke ujian yang berbahaya ini.' pikirnya
sambil menyesali keputusannya tadi pagi untuk mengenakan rok demi memberikan
kesan rapi bagi para penguji.

"Mestinya aku mengenakan celana saja." gerutu Vanessa sambil memanjat pohon
tersebut. "Tidak ada penguji yang perlu diberikan kesan baik." Vanessa berkata pada
dirinya sendiri mengingat sejauh ini hanya ada dua penguji perempuan bikin susah
dan sekarang monster.
Sesampainya di puncak pohon ia memilih sebuah dahan yang cukup kuat untuk ia
berdiri dan lalu ia mengintip dari balik daun-daun. Udara segar langsung mencapai
wajah Vanessa dan sesaat semua tampak indah dan damai. Ia pun langsung mencoba
untuk menginspeksi arena hutan ini dari atas. Ke mana arah Jake pergi kira-kira dan
apakah ada gerak-gerik dari pepohonan sekitar. Satu hal aneh yang ditemukan Vanessa
adalah jarak dari tembok ke tembok ternyata lumayan dekat seakan-akan hutan ini
berbentuk seperti persegi panjang yang sangat panjang.

'Kenapa hutan ini sangat sempit? Bukannya akan terlalu mudah bagi peserta untuk menemukan
pintu keluar? Pasti ada hal lain dibalik bentuk hutan ini.' pikirnya sambil mencoba untuk
memperkirakan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi di dalam kepalanya.

Saat semua peserta di barisan 3 berlari masuk, tiba-tiba tanah yang mereka pijak
bergetar dan mulai bergerak ke arah kanan. Pepohonan yang disana mulai berguncang
dan berjatuhan di sekitarnya. Terdengar suara dedaunan yang berjatuhan, pohon yang
tumbang dan beberapa hewan-hewan kecil juga ikut berlarian.

Mendadak ia merasakan adanya sebuah goyangan dari tanah yang membuat dirinya
kaget dan secara refleks memegang erat pada pohon. 'Apa itu barusan?' pikirnya sekali
lagi sambil melihat ke bawah dan ke sekeliling arena. Di bawah ia tidak menemukan
apapun dan ketika melihat ke arah kanan di kejauhan ia melihat banyak segrombolan
burung terbang dari pohon secara bersamaan.

'Monster?' belum sempat berpikir lebih jauh lagi mendadak ada guncangan hebat dari
tanah yang membuat Vanesssa tergelincir dari batang pohon yang ia tempati. Hanya
bergantung setengah badan dan dilanda dengan guncangan kuat Vanessa hanya bisa
mencoba untuk mengangkat kembali tubuhnya. Perlahan ia mencoba mengangkat
tubuhnya dan memindahkan pegangan tangannya pada pohon yang erat secara
perlahan-lahan. Dari atasnya ada beberapa pohon yang tumbang seperti terjadinya
tanah longsor sepanjang area tertentu membuat garisan. Tubuhnya menempel erat
pada badan pohon dan tangannya dengan kuat melingkari pohon demi nyawanya.
Tidak lama kemudian beberapa pohon kecil di sekitar Vanessa mulai ikutan tumbang
dan berjatuhan. Dengan horor ia melihat semua kejadian ini terjadi di depan matanya.

Untung pohon yang dipilih Vanessa merupakan pohon tua yang bebadan tebal dan
berakar kuat. Namun keberuntungan Vanessa berakhir dan tanah tempat pohon ini
berdiri juga mulai bergoyang. Pohon yang diduduki Vanessa mulai miring dan Vanessa
pun serentak berpegangan pada sisi pohon yang lebih tinggi. Nafasnya bertambah
cepat dan adrenalin mengalir di seluruh tubuh Vanessa. Ia tidak lagi sadar akan beban
tubuhnya yang harus ia tarik ataupun beberapa luka kecil yang ia dapat. Masih
merapatkan badannya pada badan pohon dengan tangan berpegangan erat pada badan
pohon, pohon tersebut pun mulai tumbang. Vanessa hanya bisa menutup mata dan
menunggu badannya terhempaskan ke tanah.

Beberapa saat kemudian pergerakkan pohon tersebut berhenti. Vanessa membuka


matanya secara perlahan dan mulai melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Pohon
tempat Vanessa sudah miring hampir 45 derajat dan disekitarnya banyak pohon yang
sudah jatuh ke tanah. Ia berpegangan dengan tangan dan setengah badannya pada
badan pohon dan kakinya di bergelantungan tidak menapak apapun. Nafasnya masih
cepat dan ia tidak berani melepaskan pengangan tangannya pada pohon tersebut.
Perlahan ia mulai menarik seluruh tubuhnya ke atas. Seluruh tubuhnya sudah kotor
dengan debu tanah dan banyak baret yang dapat terlihat pada tangan Vanessa. Kemeja
lengan panjang, rok panjang, dan boots yang dikenakan Vanessa melindungi dirinya
dari luka.

Ketika sudah berhasil mengangkat tubuhnya Vanessa mencoba untuk


mengistirahatkan dirinya sedikit dan kembali melihat apa saja yang terjadi. Di bawah ia
melihat banyak calon TCO yang tertimpa pohon ataupun terjerumus dalam tanah.
Tidak dapat dibedakan apakah beberapa dari mereka sudah mati atau belum. Banyak
teriakan minta tolong terdengar dari berbagai arah. Satu hal yang membuat Vanessa
kaget adalah lubang besar yang ada pada dinding. Dibaliknya terlihat hutan lain lagi,
namun di seberangnya terdapat tembok lain lagi yang sama persis.

"Aku tahu tempat ini.... Ini sebuah labirin..." Vanessa berkata pada dirinya sendiri
dengan syok serentak teringat akan sebuah kisah sejarah yang pernah ia baca di
perpustakaan menceritakan mengenai labirin.

***
Leo and Yera's PoV

Setelah Leo dan Yera sampai ke pinggir tembok, Leo mulai memberitahukan
rencananya setelah memastikan kalau tidak ada orang di sekitar mereka, "Sesuai
rencanamu, kita akan menyusuri tembok ini. Tapi, untuk jaga-jaga kalau pintu yang
dimaksud tidak menempel di tembok, aku ingin kau menyusuri tembok itu lewat hutan
dengan jarak kira-kira 20 meter. Lalu, aku akan berpisah darimu sejarak 480 meter.
Tenang saja, aku tetap akan mengetahui keberadaanmu. Ini supaya area jangkauan kita
luas. Tapi, aku ingin memberitahu sesuatu. Saat angin bertiup kencang, kita akan lari,"
Leo menarik nafas dalam-dalam setelah memberitahukan instruksinya tersebut. Tidak
disangka ia akan berbicara sebanyak ini, terlebih lagi bekerja sama dengan orang yang
baru pertama kali ia temui.

"Baiklah, aku mengerti. Setelah sirene berbunyi atau terjadi apa-apa, kembalilah ke
tempatku. Jangan kubur aku di sini jika kau menemukan mayatku," kata Yera setengah
serius, lalu ia melanjutkan perkataannya "Langsung saja kita berpencar, jangan buang-
buang waktu," kata Yera sambil merapikan sarung tangannya. Yera mulai berjalan
menyusuri dinding sambil memperhatikan sekelilingnya, sementara Leo juga menjauh
ke arah tengah hutan.

Setelah berpisah dengan Yera, Leo berlari ke dalam hutan sambil mengawasi
pergerakan Yera. Belum sampai 400 meter jaraknya, ia sudah mendengar Yera berjalan
menyusuri tembok. 'Pilihan yang tepat di situasi ini. Lebih cepat bergerak, lebih baik,' Leo
mengubah arah larinya dan berjalan mengikuti arah Yera bergerak sambil membuat
jarak mereka lebih jauh. Ia dapat mendengar keberadaan peserta lainnya, namun
mereka tidak berada di jarak yang patut dikhawatirkan.

"Sepertinya jarak ini sudah cukup," gumam Leo setelah kira-kira jaraknya dengan Yera
sudah terpisah 480 meter. Ia mengikuti Yera yang bergerak cepat sambil mendengarkan
kondisi area di sekitarnya. Entah ia memang beruntung atau bagaimana, angin mulai
berhembus dengan kencang. Ia pun mendengar langkah kaki Yera yang tadinya
berjalan cepat perlahan berubah menjadi berlari. Leo pun mengikuti kecepatan berlari
Yera sambil mendengar perbedaan suara angin di area pendengarannya. Hembusan
angin ini benar-benar membantunya dalam menganalisa lingkungannya.

Saat peserta lain berlari masuk, tiba-tiba tanah yang mereka pijak bergetar dan mulai
bergerak ke arah kanan. Pepohonan yang disana mulai berguncang dan berjatuhan di
sekitarnya. Beberapa peserta ada yang terjatuh dan terhimpit di tanah membuat mereka
tidak bisa bergerak. Dinding-dinding yang berada di kanan dan kiri mulai runtuh
sedikit demi sedikit karena adanya pergeseran tanah. Peserta-peserta yang tadinya
menyusuri dinding mulai berlari menyingkir dari bongkahan dinding. Lalu ada satu
peserta wanita membawa pisau kecilnya terjatuh dan melihat apa yang ada di balik
dinding itu. Di belakang sana terdapat hutan yang jauh lebih luas dan rimbun lagi
membuat mata peserta terbelalak tidak percaya. Selama ini, dinding yang mereka
telusuri itu bukan batas dari hutan tersebut melainkan sebagai sekat antara satu hutan
dengan hutan yang lain.

Disaat ia berlari, Leo mendengar kepakan sayap burung-burung diikuti dengan tanah
yang bergetar. Ia pun mendengar langkah kaki Yera yang tetap berlari. Namun,
bukannya ia mengikuti arah Yera berlari, Leo berlari mendekati Yera. Ia dapat melihat
tanah yang dipijaknya bergeser, serta pohon-pohon berjatuhan. Ia juga sempat
melewati peserta yang tertimpa pohon dan terperosok masuk kedalam tanah. Leo
berlari sekuatnya untuk mencapai Yera sambil menghindari pohon-pohon yang
berjatuhan dan tanah yang tidak stabil. Ia merasa beruntung karena sejak kecil ia
terbiasa main di tengah hutan, sehingga ia dapat dengan mudah beradaptasi dengan
suasana ekstrim ini. Ia dapat mendengar langkah kaki Yera berhenti dan berharap
kalau wanita tersebut baik-baik saja. "Yera!" panggil Leo setelah kira-kira ia berjarak 2
meter dari lokasi terakhir Yera saat ia berhenti bergerak.
Yera berjalan cepat melewati pepohonan dengan tidak melepas pandangannya dari
dinding di sampingnya, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah keluar dari hutan ini
secepatnya. Ia merindukan peralatannya, 'Kalau saja robotku ada di sini, aku tak perlu
susah-susah berjalan,' keluhnya. Beberapa menit berlalu dan ia tidak menemukan tanda-
tanda adanya pintu. Sambil berjalan, Yera memunguti batu-batu yang cukup tajam
untuk dijadikan alat memotong ranting dan sulur yang mengganggu. Jika perlu, batu
itu bisa juga jadi senjata. Ia juga memunguti sulur pohon yang cukup panjang dan
masih kuat. Beberapa saat kemudian angin berhembus kencang, tiba-tiba ia ingat
perkataan Leo untuk lari di saat seperti ini. Yera memasukkan batu-batu ke kantung,
menggulung sulur dan menyelempangkannya ke bahunya. Lalu ia mempercepat
langkahnya dan berlari.

Beberapa saat setelah berlari, Yera sudah kelelahan. Ia sangat jarang berlari dan tiba-
tiba sekarang otot kakinya harus bekerja keras seperti ini. Mungkin otot lengannya
memang kuat karena mesin-mesin yang ia rakit, tetapi berlari seperti ini benar-benar
membuatnya kelelahan. Sebentar kemudian ia merasakan getaran di tanah tempatnya
berlari. Awalnya Yera berpikir itu hanya ilusinya saja karena kelelahan, tetapi saat
melihat pohon di depannya tiba-tiba tumbang ke arahnya, refleks ia menghindar dan
berlari lebih cepat lagi sambil menghindari pohon-pohon yang mulai berjatuhan. 'Apa
yang terjadi? Gempa?'. Setelah diperhatikan, Yera melihat pohon-pohon itu tak hanya
tumbang, tapi juga bergerak dan bertabrakan satu sama lain. 'Tanahnya bergerak!' Yera
terus berlari sambil menghindari pohon-pohon yang jatuh. Di sekelilingnya ada
pemandangan mengerikan, peserta lain saling mendorong dan banyak yang tertimpa
pohon. Ada juga yang masuk ke celah-celah tanah. Selagi repot menghindari pohon
dan celah-celah tanah, tembok setinggi ratusan meter di sampingnya juga mulai
runtuh. Tidak pernah Yera berhadapan dengan situasi seaneh ini, ia masuk ke ruang di
antara pohon-pohon tumbang yang besar dan berlindung di sana. "BRAAAK!," suara
keras mengikuti jatuhnya tembok tinggi itu, kemudian hening. Yera tidak mendengar
apapun lagi, sepertinya tanah sudah berhenti bergerak, hanya terlihat sedikit cahaya
yang menampakkan debu-debu yang berterbangan. Sekarang ia terjebak di antara
pohon-pohon besar itu, walau terjebak di dalam reruntuhan tembok, untungnya
pohon-pohon besar itu melindunginya. Ruang di antara pohon-pohon itu tidak terlalu
besar, mungkin hanya setinggi bahu Yera dan luasnya sekitar 2 meter, sehingga Yera
harus menunduk di sana. Ia memakai googlenya agar matanya tidak kemasukan debu,
lalu berusaha mencari cara untuk keluar dari sana. Sementara mencari cara untuk
membuka jalan keluar, Yera mendengar suara Leo yang memanggilnya.

Leo berdiri di tempat Yera berada terakhir kali. "Apa-apaan ini.. Mereka benar-benar
tidak ingin kami hidup dengan mudah" gerutu Leo. Ia pun teringat akan Yera dan
mencoba untuk memanggilnya lagi. Tidak akan ia biarkan anggota timnya gugur
karena ia tinggal sebentar saja. 'Tenang.. Berpikir..' Leo menutup matanya dan
berkonsentrasi untuk mendapatkan tanda-tanda keberadaan Yera. "Krrsh, krrsh, krak-"
Leo mengikuti arah suara tersebut dan sampai di depan reruntuhan tembok dan pohon.
"Yera, kau di bawah sana?" Panggil Leo.

"Iya, Leo! Bisakah kau mengeluarkanku dari sini?" Balas Yera

'Paling tidak aku tidak perlu menggunakan kekuatanku untuk ini,' Leo menggeser puing-
puing dan menarik batang pohon sekuat tenaga. "Kau juga ikut dorong dari dalam
sana," kata Leo sambil mencoba untuk menarik batang pohon yang lumayan besar.

Dengan sekuat tenaga Yera mendorong batang kayu di atasnya tersebut. "Aku sedang
mencoba! Apa kau sedang menariknya?"

"Iya," jawab Leo. Setelah kira-kira 5 menit menyingkirkan batang pohon dan sisa puing-
puing, akhirnya terlihat lubang yang cukup besar.

Yera menaiki sebuah batu yang berukuran selututnya, sehingga ia dapat mengeluarkan
kepala hingga pinggangnya. Dengan kedua tangannya ia mendorong sisa badannya
yang masih di dalam lubang. Setelah keluar, Yera menepuk-nepuk tangannya yang
penuh debu lalu menatap Leo "Terima kasih, aku senang melihatmu selamat dari hal
aneh yang berusan terjadi," ucapnya. Kemudian ia menunjuk bagian dinding yang
runtuh sehingga terlihat hutan lebat di belakangnya, "Seperti yang kau lihat, rencana
pertama kurang berhasil," katanya sambil meletakkan googlenya kembali ke dahinya.
"Sekarang aku memberikanmu pilihan; mau mencoba ke tengah hutan hingga ke
ujungnya, atau tetap menelusuri bagian pinggir hutan? Karena... aku tidak yakin waktu
kita akan cukup untuk melakukan keduanya."

"Aku juga senang kau tidak mati," Leo menghela nafasnya setelah melihat Yera baik-
baik saja. "Kita tidak tahu apakah hal seperti ini akan terjadi lagi atau tidak. Menurutku
kita ke tengah hutan saja. Atau mungkin lebih baik jika kita menelusurinya dengan zig
zag atau acak, karena akan lebih banyak daerah yang bisa dilewati," jawab Leo. "Itu jika
kau setuju tentunya."

***

Setelah berhasil turun dari pohon Vanessa mulai mencoba berjalan dengan hati-hati
kearah tembok yang baru saja runtuh tersebut. Perlahan ia mulai memanjat dan
melewati batang pohon yang sudah tumbang. Di sekeliling ia melihat berbagai calon
TCO terkena dampak dari gempa tersebut. Ada dari mereka yang penuh luka-luka dan
beberapa tidak bergerak entah pingsan atau mati. Di tengah-tengah perjalanannya
Vanessa mendengar suara seorang wanita meminta tolong.
“Tolong! Kumohon tolong aku!” rintih wanita itu. Awalnya Vanessa hanya
membiarkannya saja dan melewati sumber suara itu karena baginya tidak ada gunanya
membuang-buang waktu. “Kau, yang berambut putih. Kumohon tolong aku.” panggil
wanita itu kepada Vanessa. Awalnya Vanesssa berniat mengabaikannya namun wanita
itu berkata lagi, “Kumohon… tolong. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku tahu kau orang
baik.” Dengan sedikit tidak niat akhirnya Vanessa memutuskan untuk membalikkan
arahnya dan berjalan ke arah wanita itu. Tampaklah seorang wanita yang badannya
tertimpa sebuah batang pohon yang lumayan besar. Ia memiliki rambut hitam panjang
lurus dengan poni rata dan mata yang sangat biru. Wajahnya sangat cantik dengan
kulit porselen yang tidak ternoda namun masih sedikit tertutup debu tanah. Dari fisik
wanita ini yang kurus terlihat ia pasti tidak kuat memindahkan batang pohon yang
menimpanya ini. “Ah. Terima kasih kamu mau datang membantuku. Kau orang yang
sangat baik.” kata wanita ini kepada Vanessa.

“Apa kau terluka? Bisakah kau menggerakkan kakimu?” tanya Vanessa sambil
mencoba menginspeksi keadaan wanita ini.

“Ya, aku masih bisa menggerakkan mereka. Aku rasa aku tidak mengalami luka lain.
Tapi aku tidak bisa mengangkat batang pohon yang menimpaku ini.” jawab wanita
tersebut.

“Tunggu sebentar, aku akan mencoba mencari cara untuk mengangkat kayu ini.” balas
Vanessa sambil mencari batang kayu lain yang cukup tebal untuk digunakan sebagai
pengungkit. Setelah menemukannya ia lalu menancapkan batang kayu tersebut di
bawah batang kayu yang besar ini dan berkata, “Pada hitungan ke 3 aku akan
mengangkat kayu ini, ketika sudah terangkat kau harus langsung berpindah.
Mengerti?”

“Baik.” balas wanita itu.

“Baiklah. Satu. Dua. Tiga!” dengan seluruh kekuatannya Vannesa menarik batang
pohon tersebut agar batang pohon yang besar dapat terangkat. Ketika sudah terangkat
wanita tersebut langsung keluar dan setelahnya Vanessa melepaskan tarikkannya.

“Ah… Terima kasih, kau baik sekali. Aku tidak akan bisa melakukan apapun bila tidak
ada kau,” wanita itu berkata sambil mencoba untuk mengontrol nafasnya. Wanita ini
seluruh bajunya merupakan dari bahan kulit, dimulai dari sepatu bootnya yang selutut
hingga celana hitamnya dan baju putih tanpa lengan dengan risleting dan kerah yang
dipakainya.

“Sudahlah, itu bukan apa-apa.” balas Vanessa sambil mengambil nafas dalam setelah
tenaganya sedikit terkuras. Tampak dari wanita ini sedikit familiar baginya. Serasa ia
pernah melihatnya.

“Namaku Eliza Vanderbilt. Kamu?” tanya Eliza sambil mengukurkan tangan.

“Vanessa Cortaz.” balas Vanessa sambil memandang Eliza dengan sedikit bingung dan
menjabat tangan Eliza. ‘Vanderbilt yah… seorang Noble. Pantas rasanya aku pernah ingat
dengan wajahnya. Eliza Vanderbilt… dia bukan seseorang yang dapat dianggap enteng. Aku
harus berhati-hati dengannya.’ pikir Vannessa mengingat apa yang telah dilakukan
wanita ini. Vanessa pun mulai membalikkan badan dan melanjutkan perjalanannya.

“Ah Vanessa, nama yang cantik. Aku belum pernah mendengar nama Cortaz. Kamu
berasal dari mana? Aku berasal dari Ozark. Senang bertemu denganmu. Aku tadi takut
sekali akan mati terperangkap di bawah pohon. Apa lagi ada monster buas yang
sedang berkeliaran. Untung ada kamu yang datang menolongku. Kamu bagaikan
malaikat telah menyelamatkan nyawaku.” rentet Eliza sambil berjalan mendekati
Vanessa.

“Oh ya… terima kasih.” jawab Vanessa dengan sedikit bingung dan tidak niat. Vanessa
berharap agar Eliza cepat-cepat pergi darinya agar ia dapat menjelajahi arena ini
sendiri. Vanessa pun mulai berjalan menuju ke arah reruntuhan dinding.

Eliza dengan cepat mengikuti Vanessa dan berjalan di sampingnya dengan jarak yang
dekat. “Apa kau sendiri di sini? Aku juga sendirian. Mengerikan berada di hutan ini
sendiri. Apalagi aku tidak terlalu handal dalam mencari arah di dalam hutan. Aku
belum pernah masuh ke dalam hutan sebelumnya. Dan mengingat ada monster… Aku
takut.” Eliza terus berkata sampai Vanessa berhenti di jalannya dan menatap Eliza
dengan tampak datar sehingga mereka hanya saling tatap-tatapan.

“Kau juga sendirian kan? Maukah kau menemaniku? Kita bisa bekerja sama. Kita akan
akan saling menjaga punggung satu dengan yang lain. Kita bisa membagi tugas, kau
jaga malam dan aku jaga pagi, dan nanti akan kita tukar lagi. Mungkin kita juga bisa
saling bekerja sama menemukan jalan keluar dari tempat ini bersama. Kamu kan pintar
dan kuat. Buktinya tadi kamu bisa dengan mudah mengangkat batang pohon yang
menimpaku. Tidak sepertiku yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Aku berharap bisa
sepertimu, kuat dan pintar.” Eliza berkata setelah Vanessa melepaskan tatapannya
mengekorinya.

‘Ya ampun! Ternyata ada peserta yang lebih parah dari wanita yang bernama Yera tadi. Kalau
saja aku bisa wanita ini dengan Yera, pasti akan aku tukar. Tapi lagi-lagi, dia seorang noble.
Dan Eliza Vanderbilt…’ pikir Vanessa sambil menghela nafas dan mengabaikan Eliza.

“Sebentar lagi sore, kita harus membuat api. Di sekitar sini banyak. Kita bisa membuat
obor sekarang, atau mungkin kita bisa membuat api unggun untuk kita beristirahat –
sambil melihat pohon-pohon yang tumbang-. Aku akan mengumpulkan kayunya dan
kamu menyalakan apinya. Kau bisa kan menyalakan api? Pasti kamu bisa, kamu kan
pintar.” Eliza berkata sambil memegang salah satu dahan pohon yang sudah tumbang.

Mendengar kata-kata Eliza, Vanessa langsung kaget dan menggenggam tangan Eliza.
“Jangan nyalakan api!” Vanessa berkata kepada Eliza dengan tatapan serius ke wajah
Eliza.

“Kenapa?” tanya Eliza dengan pelan dan tatapan polosnya.

“Kita belum tahu monster ini terpicu oleh apa. Asap dan cahaya dapat mengundang
monster dan bahaya lainnya. Kita belum tahu apa saja yang ada di hutan ini.” Vanessa
memperingati Eliza dengan tatapan serius. Lalu ia melepaskan tangan Eliza dan mulai
kembali berjalan ke reruntuhan tembok. ‘Tembok yang runtuh ini. Haruskah aku masuk ke
dalamnya atau tidak? Bisa saja mereka menyimpan monster di balik tembok ini dan mereka baru
saja melepaskannya.” pikir Vanessa sambil melihat ke arah mulut lobang di dinding
tersebut.

Pemikiran Vanessa terpotong dengan suara keras Eliza yang berbicara di dekatnya
berkata, “Kau pintar sekali, kau pasti akan lulus ujian ini. Aku juga ingin lulus ujian ini,
tapi aku tidak tahu harus melakukan apa. Bolehkah aku ikut denganmu?”

Dengan tampang kesal Vanessa membalas perkatan Eliza, “Lakukan apapun yang kau
mau!”
Dengan wajah yang cerah Eliza berkata, “Terima kasih! Kamu baik sekali! Aku senang
bisa memiliki teman sepertimu. Kamu teman yang sangat baik.”

‘Semoga aku tidak mati karena orang ini. Eliza Vanderbilt. Kenapa hari ini aku sial sekali harus
bertemu dengannya,’ pikir Vanessa sambil memutuskan untuk menginspeksi mulut dari
lobang di dinding ini untuk memutuskan apakah dirinya perlu masuk atau tidak.
Tampak tidak ada bulu hewan ataupun bekas tapak kaki di dekat reruntuhan tembok
tersebut. Hal ini membuat Vanessa sedikit tenang karena hal ini berarti tidak ada
monster atau hewan buas apapun yang melewati dinding ini. Setelah itu Vanessa
memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya dengan menyusuri dinding untuk
menemukan jalan keluar sambil diekori oleh Eliza.

***
Day 1
14.25
FOREST OF PUNISHMENT pt. 2

Seketika itu juga, suara sirine menggema di seluruh hutan. Seluruh peserta mulai
mencari tempat persembunyian sesuai peraturan yang diberikan Aron

Mendengar sirine berbunyi Vanessa langsung menjadi waspada dan melihat ke


sekeliling. Ia langsung teringat harus mencari tempat persembunyian dan langsung
melihat ke sekeliling. Di sekitar tempat itu terdapat beberapa semak-semak dan
pepohonan yang sudah tumbang. Daun-daunnya lebat menjadi tempat yang bagus
untuk bersembunyi. Serentak Vanessa lansung berlari ke arah daun-daun tersebut.
Namun menoleh ke belakang ia melihat Eliza hanya berdiri diam saja dengan tampang
biasa seperti masih mencerna apa yang terjadi. 'Orang ini!' pikir Vanessa dengan kesal.
Langsung Vanessa berputar, menarik tangan Eliza, dan menyeretnya masuk ke dalam
daun-daun. Dengan posisi Vanessa tertidur di antara semak-semak dan Eliza di
sampingnya, Vanessa menarik dahan pohon yang sudah tumbang untuk menutupi
wajah mereka berdua.

"Sirinenya telah berbunyi! Monsternya akan datang. Vanessa, monster L'escollit Escola
akan datang!" Eliza berkata kepada Vanessa.

"Diam!' bisik Vanessa kepada Eliza sambil menaruh jarinya di depan mulutnya. Tidak
lama setelahnya tanah mulai bergetar. Namun getaran ini berbeda dengan yang
sebelumnya. Getaran ini terasa seperti langkah kaki seekor mahluk raksasa.
"Ah iya, maaf. Hah -kaget dengan menarik nafas-. Vanessa! Tanahnya bergetar!
Monsternya sedang berjalan ke arah kita. Ia sudah dekat. Apa yang harus kita
lakukan?! Aku tidak mau dimakan." bisik Eliza ke arah Vanessa. Langsung Vanessa
menutup mulut Eliza dengan tangannya dan memegang tubuhnya agar Eliza tidak
melakukan gerakan sedikitpun.

Tidak lama setelahnya memang benar telihat di antara semak-semak kaki besar seekor
monster. Kakinya berbulu abu dan memiliki cakar yang besar dan panjang. Monster
tersebut berhenti sebentar tidak jauh dari tempat persembunyian Vanessa dan Eliza.
Terlihat pula monster ini memiliki tangan yang mirip dengan manusia tetapi juga
tertutup bulu abu-abu dan memiliki cakar yang panjang. Makhluk tersebut mulai
melihat-lihat dan mencium daerah sekitar mencari mangsanya. Di dadanya terdapat
sedikit warna hijau. Kepala mahluk tersebut serupa dengan serigala dengan giginya
yang panjang. Vanessa hanya bisa terbaring di antara daun-daunan tidak bergerak
sedikitpun berharap mahluk ini tidak menyadari keberadaan mereka. Kalaupun iya,
maka Vanessa hanya mempunyai rencana lain yaitu lari ke tempat yang lebih tinggi
atau memanjat pohon lainnya.

Untungnya setelah beberapa saat ada bunyi patahan dahan dari tempat lain. Langsung
monster tersebut memalingkan kepalanya ke arah sumber suara dan berlari ke
arahnya.

'Itu pasti calon TCO lainnya, sial sekali mereka.' pikir Vanessa sambil menghela nafas.
Tanpa disadari ia telah menahan nafasnya untuk beberapa waktu. 'Monster itu mirip
dengan seekor manusia serigala yang pernah aku baca di buku dulu. L'escollit Escola tidak ada
kerjaan membuat mahluk seperti itu. Tapi bagaimana cara mereka membuatnya ya? Sudahlah,
lagipula hijau-hijau bersinar apa yang ada dadanya itu?' pikir Vanessa sambil keluar dan
membantu Eliza berdiri dari semak-semak.

"Apa itu tadi?! Mengerikan sekali! Ujian ini benar-benar menyeramkan. Bagaimana
kalau mereka datang malam-malam? Huh. Aku ingin ujian ini cepat selesai." gerutu
Eliza sambil membersihkan dirinya dari noda tanah.

"Sudahlah, lebih baik cepat menemukan pintu keluar. Aku akan menyusuri dinding
untuk mencari jalan keluar. Aku ingin dapat berjalan lumayan jauh sebelum gelap
tiba." Vanessa berkata kepada Eliza sambil mulai berjalan menyusuri dinding tersebut.

"Ah! Tunggu! Aku ikut. Jangan tinggalkan aku" Eliza berkata sambil berlari ke arah
Vanessa. Mereka pun melanjutkan perjalanannya dengan Eliza sedikit-sedikit
mengeluh atau mulai menceritakan berbagai hal seperti dirinya, makanan yang enak di
Central City, festival-festival mewah yang ada di Central City, baju-baju dan fashion
terbaru sekarang yang salah satunya adalah baju yang khusus ia kenakan karena
modelnya mirip dengan seragam penguji L'escolit Escola, dan masih banyak lagi.

'Apa aku tinggalkan saja orang ini. Kalau aku tinggalkan orang ini, dia bisa mati. Kalau mati,
kalau hidup bisa-bisa aku kena masalah. Susah kalau sudah berurusan dengan Noble.' pikir
Vanessa sambil mengingat sosok Eliza Vanderbilt ini.

***

Sementara Leo dan Yera membicarakan strategi mereka yang berikutnya, tiba-tiba
suara sirene berdengung keras. Mereka yang pada dasarnya cekatan -tanpa banyak
bicara- langsung masuk ke dalam lubang tempat Yera terjebak tadi. Sebelum masuk,
Leo mematahkan ranting pohon yang berdaun cukup lebat untuk menutupi lubang itu
agar keberadaan mereka tidak terlihat.

Saat sudah di dalam lubang, Leo baru menyadari kalau lubang tersebut cukup besar
untuk memuat dua orang dewasa. Yera benar-benar beruntung karena selamat dari
reruntuhan dan mendapat tempat yang cukup luas. Setelah menutup lubang dengan
dedaunan, Yera mengintip melalui sela-sela yang terbentuk dari dedaunan dan ranting
sementara Leo duduk membelakangi tembok dan berkonsentrasi dengan sekitarnya.

Beberapa menit berlalu, tapi tidak ada satu langkah pun yang masuk kedalam area
pendengaran Leo. Baru saja ia mau memberitahu Yera, sebuah langkah kaki dari arah
diagonal di kiri belakangnya memasuki areanya. Langkah kaki tersebut lebih berat dan
bergerak pelan, namun berbeda dari manusia biasanya. Bahkan manusia yang memiliki
bobot besar pun memiliki suara yang berbeda dengan langkah kaki ini. Pemilik langkah
kaki ini bergerak semakin mendekati mereka. Leo juga dapat mendengar geraman dari
arah yang sama dengan langkah kaki tersebut.

"Yera, 5 meter dari arah jam 7. Jarak kita dengan monster," bisik Leo sambil memberi
catatan di kepalaya mengenai arah kemunculan monster tersebut.

Setelah mendengar bisikan Leo, Yera melanjutkan mengintip di balik dedaunan,


memastikan bahwa tidak ada monster di hadapan mereka. Mengingat bahwa
bersembunyi bukanlah sebuah pilihan, tetapi keharusan -karena dijadikan peraturan-
membuatnya takut. Bisa jadi pelanggaran peraturan ini menyebabkan kefatalan, seperti
mati dicabik monster, atau diculik, atau disihir, atau...., berbagai asumsi merasuki
otaknya sehingga ia semakin penasaran untuk melihat monster itu. 'Sekuat itukah
monster itu hingga TCO pun tidak dapat menanganinya? Ataukah ada maksud lain dari
peraturan itu?' pikirnya.

Beberapa saat kemudian, dari arah kiri ia mendengar suara sesuatu yang lewat di
sebelah kirinya. Seperti langkah kaki yang diseret-seret, semakin dekat, menjauh lalu
mendekat lagi. Mungkin monster itu mengitari batang pohon besar yang menjadi
tempat berlindung Yera dan Leo sekarang. Bayang-bayang monster itu mulai terlihat di
depan Yera, sekilas terlihat seperti bayangan seekor anjing. Sedikit demi sedikit bentuk
monster tersebut mulai terjangkau jarak pandang mata. Yera melihat bagian kepala
monster tersebut, persis seperti seekor serigala. Berwarna abu-abu kecoklatan, bermata
hijau terang menyala, dan tampak sangat beringas seolah-olah sedang berhadapan
dengan sesuatu yang mengancam nyawanya. 'Semoga dia tidak menyadari keberadaan
kami,' pikir Yera, dilanjutkan oleh refleks tangannya menggoyangkan pundak Leo,
untuk ikut melihat monster di hadapannya sekarang.

Leo menepis tangan Yera yang tidak berhenti menggoyangkan pundaknya. Ia pun ikut
mengintip melalui celah tersebut. Monster yang masuk ke area mereka berbentuk
seperti gabungan manusia dan serigala hasil eksperimen yang gagal dengan bulu abu-
abu dan mata hijau menyala. Di bagian tengah dadanya terlihat sesuatu seperti
bongkahan batu yang berwarna hijau menyala, seperti mata monster tersebut. Leo
mengamati pergerakan monster itu, kalau-kalau ia memutuskan untuk menghancurkan
tempat persembunyian mereka untuk memeriksa apakah ada TCO di area ini.

Mata Leo terbelalak ketika melihat monster serigala itu mengendus udara di sekitarnya
dan mengarahkan kepalanya perlahan ke arah mereka. 'Ini gawat. Kenapa hal ini tidak
terpikir sebelumnya! Mau tidak mau...' Leo menutup matanya dan menenangkan
pikirannya. Ia menggunakan kekuatannya untuk membuat seakan-akan ada orang
yang lari masuk ke dalam hutan di belakang monster tersebut. Tidak lupa ia
menggunakan kekuatannya untuk menutup pergerakan udara yang keluar membawa
baunya dan Yera dari tempat persembunyian. Dengan segera monster tersebut
menggeram dan berlari menjauh dari mereka, mengejar suara rusuh dari daun-daun
dan ranting pepohonan yang bergerak karena kekuatannya. Setelah monster tersebut
berlari keluar dari areanya, Leo menghela nafas dan membuka matanya untuk melihat
Yera yang masih menatap keluar.

Wajah Yera pucat, ia masih ketakutan pasca nyaris ketahuan oleh monster tadi, monster
yang tingginya sekitar 2 meter itu tadi sempat mendekati mereka. Jelas-jelas hidung
monster itu sedang mengendus sesuatu, namun entah beruntung atau bagaimana tiba-
tiba ada suara rusuh yang mengalihkan perhatian monster itu sehingga dia pergi
menjauhi mereka.

Monster yang mirip serigala itu jelas bukan tandingan mereka. Selain menang tinggi,
badan monster itu seperti badan manusia yang sangat kekar. Walau tertutupi bulu abu-
abu kecoklatan, lekukan-lekukan otot makhluk itu sangat menonjol. Ditambah lagi
tangan dan kakinya memiliki cakar berwarna hitam yang terlihat tajam. Kedekatan
Yera dengan monster tadi dengan Yera menyisakan ingatan buruk baginya, yaitu
bayangan betapa mengerikannya jika tercabik cakar itu, ia tak akan mungkin tinggal
hidup.
Setelah beberapa kali menelan ludah, ia mulai tenang dan menghela nafas. Lalu Ia
melihat Leo yang tetap diam saja di sebelahnya beberapa menit setelah nyawa mereka
di ambang kematian. 'Bagaimana dia bisa tetap tenang?' pikirnya, dengan alis berkerut
melihat Leo yang tenang. Sesaat kemudian tiba-tiba ia ingat kekuatan Leo, Yera lebih
mengerutkan alisnya dan berkedip beberapa kali, ia berpikir dan kaget menyadari
bahwa sepertinya kejadian tadi bukan keberuntungan, tetapi Leo menggunakan
kekuatannya untuk mengalihkan monster tersebut. "Terima kasih Leo," katanya.

'Dia lupa dengan kekuatanku.. Aku tidak tahu mau tertawa atau kasihan mengetahui kapasitas
memori yang dimiliki anak ini,' Leo hanya mengangguk kepada Yera. Setelah 5 menit
tidak ada tanda-tanda dari monster tersebut, Leo mendorong ranting-ranting dan
dedaunan, lalu mendorong tubuhnya keluar dari lubang itu. Ia meregangkan tubuhnya
dan membantu Yera untuk keluar dari lubang.

"Bagaimana kalau kita mulai penyusuran dari arah monster itu muncul?" Tanya Leo
sambil mengambil tiga bongkah batu yang tajam.

Setelah berpikir sebentar, Yera setuju dengan usul Leo, "Baiklah, mungkin di sana ada
petunjuk untuk menemukan pintu keluarnya."

***

Jake berlari terus tanpa arah sambil mencari-cari tembok runtuh. Wajahnya tersenyum
senang saat menemukan tembok persis seperti yang ia harapkan. Lelaki Noble ini
menelusuri tembok tersebut berharap menemukan petunjuk, walaupun tidak mungkin.
Kakaknya tidak memberitahu bagaimana cara untuk mencari pintu dari ujian kedua
karena setiap tahun semua petunjuk dibuat berbeda. Jake benar-benar tanpa arah
sekarang, dia tidak tahu dimana letak semua pintu keluar. Bisa dibilang, informasi
yang didapat tidak sempurna.

Perlahan, Jake berjongkok terus menyusuri tembok tersebut berharap adanya petunjuk,
karena ia tahu bahwa L’escollit escola pasti tidak akan membuat para calon TCO
kebingungan dalam hutan labirin ini. ‘Ayo Aceline! Kau pasti bisa!’ bisiknya
menyemangati diri sendiri.

“Hei kau!” panggil seseorang.

Spontan, pria rubik ini menengok ke belakang dan mendapati seorang lelaki berkulit
putih berdiri sambil berkacak pinggang. Wajahnya berbentuk oval dengan hiasan
janggut halus di dagunya, bola mata hitam, bibir merah merona dipadu dengan rambut
warna caramel. Postur badannya tidak jauh berbeda dengan Jake serta baju yang dia
kenakan tidaklah mencolok, hanya baju katun merah dengan celana panjang cokelat
yang lusuh. Dari sini, Jake berasumsi dia bukan dari keluarga Noble.

Lalu, Jake berdiri dan membalikkan badannya ke orang tersebut, “Hai, apakah ada
masalah?”

Orang itu diam sejenak, menginspeksi Jake dari kepala sampai kaki. Wajahnya mulai
menunjukkan seringai yang membuat pria Noble ini curiga. Ia tahu bahwa orang ini
akan mencari gara-gara dengannya, “Kau… Noble bukan?”

“Apa urusanmu?” Jake mulai merasa curiga dengannya. Tanpa sadar, ia langsung
menggenggam tangannya untuk bersiap dalam pertarungan.

Lelaki asing itu tertawa seperti psikopat yang menemukan mangsanya. Dia merogoh
kantong celana dan mengeluarkan pisau kecil barunya. Melihat benda yang dibawa,
Jake spontan mengerutkan dahinya, “Pisau? Bagaimana bisa kau membawa–“

“Itu bukan urusanmu, ACELINE!” Genggaman pisau lelaki ini mengerat sambil
menodongkannya ke wajah Jake, “Dari jubahmu, sarung tanganmu, kulit wajahmu
yang mulus. Aku tahu kau dari Valkyrie! Dan aku akan senang bisa membunuh
NOBLE sepertimu disini!”

‘Oh tidak…. Aku bertemu dengan orang gila,’ komentar Jake dalam hati.

Satu langkah... Dua langkah.... Pria itu mendekati Jake perlahan-lahan. Matanya
berkilat seakan-akan ingin merobek tubuh Jake dan membunuhnya sekarang. Jilatan di
bibirnya membuat lelaki Noble ini merinding dan bahkan ia sekarang bergumam tidak
jelas, “Aku…. Ingin sekali melumuri kemeja itu dengan darahmu. Aku…. Aku…. Aku..
Tidak ak–“

Tiba-tiba, sirine berbunyi membuat daun-daun pepohonan bergerak. Mendengar itu,


kedua lelaki ini langsung berlari untuk sembunyi. Dengan cepat, Jake melangkahkan
kakinya ke belakang reruntuhan tembok yang ia telusuri tadi. Ia tidak tahu kemana dan
dimana lelaki itu bersembunyi. Jake hanya ingin dirinya tidak dimakan oleh para
monster.

Tidak lama kemudian, terdengar suara derap kaki hewan yang cukup membuat tanah
di dekatnya sedikit bergetar. Ia bisa mendengar suara endusan berat dari monster tepat
dibalik tembok. Jake langsung menutup mulut dan hidungnya, berharap monster
tersebut tidak mengetahui keberadaan Jake. Suara geraman serta tetesan air liur
terdengar jelas di telinganya membuat Jake makin menahan nafas. 'Jangan sampai
monster ini tahu aku disini,' bisiknya dalam hati.
“Hei manusia serigala!” suara lelaki psikopat itu dari kejauhan membuat Jake kaget.
Penasaran, lelaki ini mengintip dari samping dan menatap kaki besar monster tersebut
berbalik arah. Di depan sana, terlihat orang psikopat tersebut berdiri tegak berhadapan
dengan monster itu. Saat itu hewan itu menggeram kasar sambil menghentakkan
kakinya. Jake tidak bisa melihat dengan jelas bentuk monster tersebut, tapi karena ia
mendengar lelaki itu memanggilnya manusia serigala, ia mulai teringat sesuatu.

‘Manusia serigala?’ pikir Jake dengan mata membesar. Pria ini sekarang benar-benar
panik. Ia tahu bahwa L’escollit escola suka memelihara hewan untuk menguji peserta
baik saat ujian ataupun latihan nanti. Tapi untuk manusia serigala? Itu sangat aneh!
Sejak kapan serigala berbentuk manusia ditemukan di hutan asli?

Jake menggelengkan kepalanya lalu kembali mengintip. Matanya tertuju pada cengiran
lelaki itu sambil memutar-mutar pisau di tangan kanannya. Serigala itu terus
menggeram berjalan mengikuti arah pisau itu dikibaskan. Psikopat itu tertawa
mendapati reaksi hewan itu, "Ayo kesini kalau kau berani! Aku benar-benar "

‘Apa yang dipikirkan orang itu? Dia ingin cari mati saja…. Entahlah, aku tidak akan
menyelamatkan psikopat itu jika dia diterkam. Aku akan menunggu di sini sampai serigala itu
lewat sehingga aku tidak perlu melawannya,’ desah Jake berharap makhluk itu cepat pergi.

***
Day 1
15.00
Forest Of Punishment pt. 3

Sirine kemudian berhenti dan membuat semua peserta keluar dari tempat
persembunyiannya. Aron yang berada di ruangan kesayangannya hanya mengetukkan
jarinya di meja kerja sambil memainkan kumisnya. Setelah itu, para tentara datang ke
dalam memberikan laporan tentang apa saja kejadian di hutan, "Tuan, kami mau
melaporkan bahwa tinggal tersisa 98 calon TCO yang masih selamat. Beberapa dari
mereka yang gagal, sudah kami bawa keluar dari labirin."

Aron membenarkan posisi duduknya, "Bagus. Sekarang, tolong bawakan aku


microphone-nya."

Tentara yang lain mulai membuka lemari kecil dari pojok ruangan dan membawakan
benda yang diminta Aron. Aron mengambil gagangnya dan mulai berbicara keras agar
terdengar di seluruh arena, "Sekarang hanya ada 98 orang yang tersisa! Bagi kalian
yang masih berada di hutan, aku akan memberikan petunjuk yang jelas. Pintu keluar
tidak terletak di dinding, tetapi di tanah yang kalian pijak! Tapi, tanah yang mana?
Kalian harus mencari tahunya sebelum tiga hari berakhir atau menunggu sirine
selanjutnya. Semoga kalian selamat!"

Leo dan Yera yang sedang menyusuri arah datangnya monster serigala berhenti ketika
mendengar suara Aron. '98 orang tersisa... Yang penting kami termasuk di dalamnya.
Sekarang aku tinggal memfokuskan suara dari tanah saja,' pikir Leo. Ia pun mulai berjalan
mendahului Yera. Tidak ada gunanya berpisah sekarang, kecuali jika ia mau Yera salah
mengikuti jalur monster tadi.

"Ini tempatnya. Tempat pertama kali monster itu masuk ke radarku," kata Leo. Ia tidak
menunggu respon Yera dan langsung memanjat pohon yang lumayan tinggi untuk
melihat keadaan sekitar. Ia dapat mendengar langkah kaki kelinci tidak jauh dari
mereka dan informasi tersebut sudah cukup memberitahu Leo kalau mereka tidak akan
kelaparan di hutan tersebut. Namun yang dicari Leo dan tentunya juga dibutuhkan
oleh Yera adalah mata air. Mereka perlu menemukan sungai, danau, buah-buahan, atau
apapun itu sebagai sumber air. Kalau tidak, mereka akan dehidrasi suatu saat nanti.
Selain itu, waktu sudah semakin sore dan mereka harus mencari tempat untuk
beristirahat disamping mencari pintu keluar.

Sesampainya di tempat munculnya monster itu, Yera tidak menemukan tanda-tanda


pintu keluar atau petunjuk apapun. Ia terus mencoba mencarinya, 'Mungkin tertutupi
lumpur,' pikirnya. Lalu dengan sepatunya Yera mencoba mencari tombol, gagang pintu,
atau apapun itu. Sementara itu Leo yang berada di atas pohon masih menutup
matanya, sepertinya ia sedang -secara tidak langsung- mengeksplorasi hutan ini
dengan kekuatan mendengarnya. Yera tidak ingin mengganggu Leo, jadi ia
memutuskan untuk mendiamkannya saja dan melanjutkan pencariannya. Beberapa
lama kemudian ia lelah mencari dan ingin menyusul Leo ke atas pohon. 'Tetapi aku tidak
bisa memanjat pohon seperti Leo tadi' pikirnya.

Leo membuka matanya. Ia tidak mendengar suara air sedikitpun. Selain itu, ia tidak
dapat melihat tanda-tanda adanya sungai ataupun danau buatan. "Mereka pasti sudah
gila," gumamnya kesal. Ia melihat ke sekelilingnya lagi, kini lebih pelan dari
sebelumnya dan melihat pohon yang berbeda. Bukannya pohon pinus ataupun cemara
yang hanya berwarna hijau dan coklat, pohon tersebut memiliki sedikit bintik merah.
Dengan hati-hati Leo turun dari pohon dan menatap Yera yang sedang berusaha
memanjat pohon yang sama. "Aku akan coba melihat keadaan di sebelah sana, kau
tunggu disini saja," lagi-lagi Leo meninggalkan Yera tanpa menunggu balasannya.
Menurutnya, waktu adalah hal yang perlu digunakan semaksimal mungkin, bukan
untuk menunggu apapun di arena ini.

Setelah Leo pergi, tiba-tiba Yera mendapat ide. Ia mengikatkan sebuah batu pada sulur
yang sedari tadi diselempangkan di bahunya. Dengan batu tersebut sebagai pemberat,
ia melemparkan sulur ke dahan pohon terdekat dan menggantungkan sulur tersebut di
sana. Setelah itu ia melepaskan batunya dan menggunakan sulur yang tergantung itu
untuk memanjat pohon. “Hup!” Yera memijakkan kakinya di pohon, sementara
tangannya terus menarik tubuhnya ke atas. Setelah sampai di dahan itu, ia sudah bisa
memanjat karena jarak antar rantingnya sudah tidak terlalu jauh lagi.

Beberapa dahan kemudian, dan ia berada di sekitar 20 meter dari atas tanah. "Kurasa di
sini sudah cukup tinggi," ia berbicara sendiri. ia menyilangkan sulur pohon di antara
dahan-dahan dengan cekatan, untungnya banyak sulur pohon di sekitarnya, sehingga
ia tidak kesulitan mencari bahan membuat tempat istirahat malam ini. "Jadi!" katanya
senang. Dengan setengah tersenyum ia membaringkan diri di hammock buatannya itu
dan melihat langit di antara dedaunan hijau di atasnya. Langit sudah berwarna oranye
dan sebentar lagi gelap. 'Kuharap Leo kembali membawa sesuatu untuk dimakan. Aku lapar.'

Sambil menyusuri hutan, Leo juga mendengarkan daerah sekitarnya, terutama suara
yang berasal dari permukaan tanah. Namun tetap saja belum membuahkan hasil.
Sesampainya di bawah pohon yang ia lihat sebelumnya, Leo menyadari kalau pohon
tersebut merupakan pohon apel. Bukan hanya itu saja yang ia temukan. Ia juga melihat
5 pohon apel lainnya berdiri berdekatan dengan pohon tersebut, serta banyak semak
beri liar di daerah itu. Ia juga tidak mendengar langkah kaki manusia lain kecuali suara
yang berasal dari tempatnya dan Yera sebelumnya. Entah apa yang dilakukan wanita
itu di atas pohon sekarang.

Leo tidak membuang waktu lagi dan menumpuk dedaunan kering di sekitar pohon.
Setelah menurutnya tumpukan tersebut sudah cukup tebal dan aman untuk dijatuhi
buah, ia langsung memanjat pohon apel tersebut. Sebenarnya, pekerjaannya akan lebih
efektif jika Yera juga ikut membantu. Tapi, ia sendiri yang menyuruh wanita itu untuk
diam disana. Sekarang ia sedikit menyesali perbuatannya tersebut. Dengan sigap ia
memetik satu buah apel yang matang dan melemparnya ke tumpukan daun yang ia
kumpulkan tadi. Lemparan pertamanya berhasil dan apel tersebut tidak pecah.
Selanjutnya ia memetik sisa apel matang di pohon tersebut dan melemparnya ke
tumpukan daun yang sama. Setelah itu, ia turun dari pohon dan menghitung jumlah
apel yang ia dapatkan, "... 4.... 5... 6.." dengan jumlah tersebut, seharusnya sudah cukup
untuk mengisi perut mereka berdua. Namun, ia tidak tahu seberapa besar nafsu makan
Yera. Oleh karena itu, ia membawa apel-apel tersebut ke bawah pohon kedua dan
memindahkan tumpukan daun tersebut ke bawah pohon yang lain.

Ia memanjat pohon tersebut dan memetik apel matang lainnya. Setelah memetik 7
buah, Leo pun turun dari pohon. Ia membuka kancing dan melepas kemejanya lalu
menebar pakaiannya tersebut di atas tumpukan daun agar pakaiannya tidak begitu
kotor. Ia menaruh 13 buah apel tersebut diatas hamparan kain tersebut. Ia juga pergi
memetik buah beri liar dan menggabungkannya dengan apel-apel tersebut. Setelah
menurutnya cukup, Leo melipat ujung-ujung kemejanya, tidak lupa dengan lengan
panjang kemejanya, lalu mengangkatnya dari tanah. Setelah itu, ia berjalan kembali ke
tempat Yera.

Sesampainya di tempat Yera menunggu, Leo melihat keatas pohon yang tadi dipanjat
Yera. Ia mengernyitkan dahinya melihat tempat Yera berbaring. Di rumahnya, mereka
langsung berbaring di batang pohon, karena itulah ini pertama kalinya Leo melihat
benda yang dibangun Yera tersebut. "Aku menemukan pohon apel dan semak beri
disana. Apa yang kau bangun di atas sana, Yera?" tanya Leo sambil mengangkat buah-
buahan yang dibungkus kemejanya.

Yera yang masih asyik berbaring menikmati langit langsung bangun begitu mendengar
suara Leo. Ia melihat jauh ke bawah, 'Leo membawa makanan!' teriaknya dalam hati
dengan kegirangan. "Naiklah sini!" teriaknya kepada Leo di bawah.

Leo menggantungkan kemejanya yang berisi buah lalu memanjat pohon tersebut.
Sesampainya di tempat Yera berbaring, ia duduk dan meletakkan kemeja berisi buah-
buahan di dasar papan tersebut. Setelah meletakkan seluruh isinya ke atas papan, ia
menggunakan kembali kemejanya dan menggigit sebuah apel. "Disana terdapat
banyak. Kalau kurang kau bisa pergi petik sendiri."

***

Vanessa dengan Eliza yang sedang menyusuri tembok terdiam mendengar


pengumuman tersebut. "Wah tinggal setengah!! Berarti kita termasuk yang kuat bisa
selamat. Yay! Aku hebat." kata Eliza sambil kegirangan dan menunjuk dirinya sendiri.
'98! Berarti tinggal setengah yah. Ujian ini benar-benar bukan main-main' pikir Vanessa
sambil mengabaikan Eliza. Namun mendengarkan lanjutan dari penggumuman
mereka terdiam. Beberapa saat mereka hanya melihat ke arah tembok dan lalu ke arah
hutan mendengar pintu yang mereka cari bukan berada di dinding.

"Pintunya bukan di dinding. Kita butuh rencana lain." Vanessa sambil menghela nafas
dan bermuka serius berbicara kepada Eliza.

"Kau benar." Eliza membalas dengan singkat.

'Ujian ini ternyata lebih susah dari yang aku bayangkan. Sudah kuduga, tidak mungkin
semudah itu untuk menemukan pintu keluarnya.' pikir Vanessa.

"Tidak mungkin kita bisa mengcover seluruh tanah hutan ini dengan hanya berdua
dalam waktu 3 hari untuk mencari pintu keluar." Vanessa berkata kepada Eliza. Saat ini
mereka berdua serius berdiskusi. Eliza untuk pertama kalinya fokus ke dalam topik
pembicaraan. 'Khusus untuk ujian ini kurasa akan membutuhkan tenaga manusia yang lebih
banyak. 2 orang tidak akan cukup. Kita butuh bekerja sama dengan orang lain lagi.' pikir
Vanessa sambil menimbang-nimbang langkah selanjutnya apa yang harus diambil.
"Kita butuh lebih banyak orang lagi. Kita perlu bekerja sama dengan orang lain lagi."
Vanessa berkata.

"Mencari orang lain yah? Bukannya kita berdua sudah termasuk tim yang cukup kuat,
apalagi kita termasuk setengah peserta yang berhasil selamat." keluh Eliza kepada
Vanessa seakan tidak ingin ada orang lain lagi bekerja sama dengan mereka.

"Kita hanya berdua Eliza. Tidak mungkin kita bisa memeriksa seluruh luas hutan ini.
Entah bagaimana caranya menurut pertimbanganku pilihan terbaik kita bila mau
berhasil mencari pintu keluar adalah bekerja sama dengan orang lain. Dan semoga saja
orang lain tersebut mau bekerja sama dengan kita." Vanessa membalasnya berusaha
meyakinkan Eliza.

"Tapi bukankah dari awal sudah dikatakan bahwa semakin banyak orang maka juga
akan semakin berbahaya? Lagi pula bagaimana kita tahu mereka adalah orang yang
dapat dipercaya?" tanya Eliza dengan sedikkit panik dan protes.

"Ya memang, tapi seharusnya peserta lain juga sadar bahwa ujian ini tidak akan
diselesaikan dengan jumlah orang yang sedikit. Entah bagaimana caranya semoga saja
orang lain yang akan kita temui mau bekerja sama dengan baik." jawab Vanessa dengan
nada yang pasrah. Dirinya pun tidak tahu apakah ada orang lain yang mau bekerja
sama dengan mereka berdua. Tapi ia juga tahu tidak mungkin ujian ini dapat
diselesaikan dengan hanya berdua. Satu-satunya harapan yang Vanessa miliki adalah
beberapa orang yang ia kenal sebelum ujian mau bekerja sama dengannya. Yaitu Jake,
Leo, dan Yera. Mereka berdua pun melanjutkan perjalanannya dengan masuk lebih ke
dalam hutan dan mencoba untuk mencari pintu keluar sambil mencari tanda-tanda
peserta lain.

Setelah beberapa jam mereka berjalan gelap mulai tiba.

"Aku mulai lapar dan haus. Hutan ini panas sekali, dan lembab pula. Rambutku terasa
basah. Mungkin akan lebih baik kita kembali ke dekat dinding. Di situ lebih sejuk dan
banyak angin bertiup." keluh Eliza kepada Vanessa.

"Sabarlah sedikit Eliza. Kalau kita kembali ke dinding kita tidak akan jadi jauh dari
pintu keluar. Aku akan mencoba untuk memanjat pohon untuk mencari sungai. Kita
bisa mencari ikan dan meminum air di situ. Kita juga bisa beristirahat di situ." jawab
Vanessa sambil melihat ke langit dan mecari-cari pohon sekitar untuk di panjat.Ia pun
memanjat salah satu pohon namun sayang sekali ia tidak menemukan sungai ataupun
danau sama sekali.
'Apakah penguji L'escolit Escola gila? bagaimana aku akan mendapatkan sumber air sekarang. -
Vanessa melihat ke langit- Langitnya sudah mulai gelap, mungkin aku bisa meminum air
hujan. Semoga sebentar lagi hujan.’ pikir Vanessa turun dari pohon dengan tangan
hampa.

“Aku tidak menemukan sumber air, namun mungkin kita bisa mencari hewan liar
untuk dimakan. Hewan liar itu juga akan menuntun kita ke sumber air terdekat.”
Vanessa berkata kepada Eliza.

“Hewan liar?! Ah, mereka kan kotor” oceh Eliza kepada Vanessa yang tidak
dipedulikan. Setelah berjalan beberapa lama Vanessa mulai menemukan tapak kaki
kecil yang ia kenali sebagai tapak kaki kelinci. Setelah melacaknya lebih jauh
merekapun mulai masuk ke bagian hutan dengan pohon-pohon yang lebih berbeda.
Pohon-pohon ini merupakan pohon menjalar. Pohon-pohon ini sangatlah lebat dengan
dahan-dahan mereka melilit kesana kemari membentuk berbagai macam jaring-jaring.
Jalanan yang mereka lalui pun sudah mulai tambah berlumpur.

“Vanessa, bisakah kita mengambil jalan lain. Tempat ini sangat berlumpur. Sepatu
bootku sudah mulai kotor. Apalagi aku datang ujian dengan menggunakan baju putih.
Baju ini special khusus aku beli untuk mengambil perhatian para penguji karena mirip
dengan seragam mereka. Kalau kotor bisa gawat.” Oceh Eliza sekali lagi.

Vanessa tidak membalas sedikitpun malah ketika ia mulai menyadari tanah berlumpur
ia malah senang. Tanah yang berlumpur merupakan tanda bahwa sumber air tidak
jauh dari tempat itu. Dengan senang ia terus masuk ke dalam hutan sambil mengikuti
tanda jejak kaki kelinci tersebut di tanah yang sudah semakin berlumpur. Ketika
melihat pohon merambah ini ia malah tersenyum lebar dan mulai berlari ke salah satu
dahan merambat yang bisa ia raih. Ia tahu jenis pohon ini karena ia mengenalinya dari
buku yang pernah ia baca di perpustakaan, dan ia pun juga tahu bahwa pohon jenis
merambat ini merupakan sumber air yang berharga. Untuk berjaga-jaga dan
memastikan pohon ini tidak beracun, Vanessa merobek sepanjang ujung roknya
sehingga dan melilitkannya di tanggannya sehingga tangannya tidak mengalami
kontak dengan kulit pohon tersebut menghindari iritasi kulit. Setelahnya ia
mematahkan batang tersebut dan menunggu apakah getah putih akan keluar atau
tidak. Tampaknya tidak yang menandakan pohon ini tidak beracun. Ia pun mulai
mengarahkan dahan tersebut ke bawah sehingga air dalam pohon tersebut turun
mengalir dari patahan lansung ke dalam mulut Vanessa. Eliza yang awalnya hanya
terdiam lansung kaget dan menghampiri Vanessa.

“Vanessa! Air! Kau hebat sekali. Bagi airnya ke aku juga.” Eliza langsung berkata
kepada Vanessa dengan semangat dan sedikit memohon. Setelah Vanessa selesai
minum ia mengahkan dahan tersebut kepada Eliza. Eliza hamper saja memegang
dahan pohon tersebut namun lansung dilarang Vanessa karena bisa menimbulkan
iritasi bila terkena kulit. “Tak apa-apa. Biar aku yang pegang.” jawab Vanessa yang
disambut dengan jutaan terima kasih dan senyum lebar dari Eliza. Setelah meminum
air sepuasnya mereka melanjutkan perjalanan mereka mangikuti jejak binatang. Setelah
menemukan air tersebut Vanessa merasa menjadi lebih optimis dan mulai mengangkat
2 batu. Satu bulat untuk mengasah dan satu lagi lebih tipis untuk diasah dijadikan
pisau kecil, Setelah yakin bahwa mereka menemukan sarang kelinci, Vanessa mulai
membuat jebakan hewan menggunakan sulur dan ranting dari tempat sekitar dan
membiarkannya di situ. Mereka pergi mencari tempat untuk bermalam dan mulai
mengumpulkan kayu dan menyalakan api.

“Aku lapar… dan kakiku sudah sakit. Kita belum mendapatkan makanan apapun. Kita
akan makan apa malam ini Vanessa?” Keluh Eliza kepada Vanessa sambil melepaskan
sepatu bootnya. Sepatu boot kulit seutut yang tadinya mengkilat sekarang sudah
tertutup lumpur. Dan benar sekali kaki Eliza mulai merah-merah yang menandakan ia
jarang berjalan jauh dan sepatu tersebut walaupun termasuk merek mahal yang dengan
kualitas yang bagus untuk digunakan di hutan tapi barulah dibeli karena masih
memakan kaki pemakainya.

“Sabarlah. Semoga saja jebakan yang tadi aku pasang sudah menjerat sebuah hewan.
Kau di sini saja menjaga api. Aku akan pergi ke tempat aku memasang jebakan tadi.”
Vanessa berkata sambil mulai berdiri dan berjalan kearah tempat tadi. Suasana hatinya
sudah mulai senang karena dapat menemukan air dan makanan untuk mala mini
sehingga ia mulai lebih sering membalas perkataan-perkataan Eliza. Setelah ia
mengambil kelinci yang sudah mati terjerat lehernya tersebut karena perangkap ia
membawanya balik ke tempat Eliza. Sesampaimya Eliza langsung memandang kelinci
mati terbut dengan wajah jijik. Ketika Vanessa mulai mengkuliti kelinci tersebut
menggunakan pisau batu kecil yang ia buat Eliza lansung memasang muka tidak enak
dan memutar badannya hampir muntah.

“Wah… dagingnya sudah matang” Eliza berkata sambil melihat kelinci yang di bakar
sudah matang. Rasa jijik yang dirasakan Eliza tadi sudah dikuasai oleh rasa laparnya.
“Aku belum pernah makan kelinci lansung hasil bakaran seperti ini sebelumnya. Biasa
kelinci ada di Ozark untuk untuk dipelihara dan mereka terlihat terlalu kotor untuk
dimakan. Biasa aku makan daging sapi segar khusus hasil import dari peternakan
tingkat atas Luxemberd dan dimasak oleh tukang masak keluargaku. Aku merasa jijik
melihat kelinci dipotong. Tukang masakku akan menyediakan daging yang sudah
dipotong rapih dan dibersihkan. Kami hanya menerima dagingnya sudah termasak dan
tinggal makan saja. Dan kalau dagingnya keras pasti akan kami kirim kembali ke
dapur. Makanan seperti itu tidak layak dimakan.” oceh Eliza sambil mencubiti sedikit
demi sedikit daging yang ada pada kelinci tersebut dengan muka yang sedikit tidak
enak.
“Sudahlah makan saja. Setelah ini aku akan mematikan apinya supaya tidak ada hewan
yang datang kepada kita.” Vanessa berkata tanpa melihat Eliza sambil menyantap
kelinci bakarnya. Tinggal di keluarga yang dengan uang yang secukupnya membuat
Vanessa belajar untuk bersyukur masih ada makanan di hadapan mereka.
Kebiasaannya bermain di hutan dan memakan hewan apa saja yang ada di hutan ketika
ia masih lapar karena hanya mendapatkan porsi sedikit di rumah membuatnya terbiasa
akan semua ini.

Setelah mereka selesai, Vanessa mengubur sisah makanan mereka di dalam tanah agar
tidak ada hewan liar lain yang mencari sisah makanan tersebut. Tampak perbandingan
jelas dari sisah makanan mereka dari Vanessa yang memakan dagingnya bersih hingga
ke tulang dan Eliza yang masih menyisahkan banyak daging. ‘Aku heran, anak ini makan
apa? Apa yang dia makan cukup? Huh, kalau besok ia tidak punya tenaga jangan salahkan aku.
Lebih baik ditinggal saja. Besok aku harus bisa berjalan lebih jauh lagi untuk mencari pintu atau
menemukan tanda-tanda peserta lain.’ Pikir Vanessa sambil mengubur dan mamtikan api
yang ada.

Untuk tugas jaga malam Eliza langsung meminta agar Vanessa melakukan yang
pertama dan nanti ia bisa membangunkan Eliza tengah malam untuk bertukar jaga.
Eliza meminta hal tersebut karena ia mengatakan bahwa dirinya sudah sangat lelah
dan butuh istirahat. Vanessa tidak banyak memperdebatkan hal tersebut karena ia
masih ingin melakukan beberapa hal lain saat itu. Eliza pun dengan senang langsung
mengampil posisi tidurnya dan tertidur lelap. Mendapat giliran jaga pertama ia
menggunakan kesempatan ini untuk mengamati seperti apakah malam yang akan
disediakan oleh penguji L’escollit Escola. Sambil mengamati situasi sekitar Vanessa
juga membuat tombak ikan berujung dua dengan menggunakan batang pohon yang
ada dibentuk menggunakan pisau batu yang ia bikin sebelumnya.

***

‘Tinggal 98 peserta lagi? Banyak juga..,’ Jake berkata dalam hati yang masih bersembunyi
di balik tembok. Entah sudah berapa lama dia berada di situ tapi demi keselamatannya
sendiri, Jake tidak mengambil resiko untuk keluar dari tempat ‘aman’ itu dan bertarung
dengan manusia serigala serta psikopat itu. Ia memang sudah tidak mendengar adanya
tanda tanda ‘pergulatan’ di daerahnya. Hanya saja, Jake memilih untuk tidak
berpindah posisi sampai matahari turun.

Jake kembali memutar otaknya. Kebiasaan Jake mengetukkan dagunya saat berpikir
tidak pernah hilang. Tatapan matanya melihat ke depan, mendapati tatanan pohon
yang tidak beraturan. Kemungkinan ini adalah akibat dari perpindahan labirin tadi.

‘Aron bilang kalau pintu berada di tanah. Jika itu memang benar, pintu itu bisa dimana saja dan
bahkan bisa berubah lokasinya karena tempat ini merupakan labirin.’ Jake mengerutkan
dahinya, ‘Untuk menyelesaikan rubik, kau perlu mengubahnya menjadi pola tertentu agar
setiap sisi mempunyai warna yang sama. Mungkin, prinsip ini bisa diterapkan dalam ujian ini.
Tidak mungkin labirin ini bergerak secara acak, pasti ada pola tertentu. L’escollit escola tidak
ingin merepotkan diri mereka untuk ujian masuk.’

Saat Jake masih tidak bergeming, matahari perlahan-lahan mulai turun. Jake menatap
seberkas sinar oranye di hadapannya dan keluar dari tembok. Mata lelaki rubik ini
menyipit saat mengetahui tanah di tempat psikopat itu bertarung terdapat darah
bercipratan. Ia tidak tahu darah itu milik siapa dan berharap tidak ada yang mati
karena pertarungan tadi.

Jake memutuskan untuk berjalan ke depan. Dirinya tidak ingin mengambil jalur
pinggir karena perasaan dia mengatakan bahwa disana berbahaya. Pria ini selalu
percaya akan firasatnya dan selalu tepat. Sambil melangkahkan kakinya, dia mencari
pohon berbatang kuat dan besar sebagai tempat istirahatnya malam ini. Sesudah
menemukannya, Jake mengambil beberapa ranting pohon berukuran sedang serta
sepuluh batu kecil untuk senjata. Tak lupa juga, ia mencari sesuatu untuk dimakan. Ia
berkeliling di sekitar pohon pilihannya, dan mendapati pohon mangga dengan buah
matang. Jake menjijitkan kakinya, memetik dua buah untuk makan malam.

Saat Jake ingin memanjat pohon, penglihatannya tertuju pada sulur tebal menjulur
kebawah. Mendadak Jake mendapat ide untuk membuatnya sebagai senjata juga.
Tanpa berlama-lama, lelaki itu berlari mendekati sulur itu dan menariknya keras ke
bawah sampai terjatuh. Ia menggulung sulur tersebut, dikalungkan di sekitar badannya
dan mulai kembali memanjat pohon. Jake akui, hutan ini tidak terlalu buruk –di
samping manusia serigala dan psikopat tadi–, tidak seperti hutan yang pernah menjadi
tempat latihannya. Saat Jake berumur 12 tahun, ia disuruh tinggal di hutan selama 4
hari tanpa senjata dan makanan. Keluarga Noble memang mendidik anaknya dengan
keras, apalagi keluarga dari Valkyrie.

Malam pun akhirnya datang. Lelaki ini menghabiskan seluruh makanan lalu
merebahkan tubuhnya. Lelaki itu membungkus dirinya dengan jubah merah sambil
memejamkan mata. Ia berusaha untuk tidur di batang besar itu sambil mencari posisi
yang enak. Berbalik ke kanan… kiri… terlentang…. tengkurap…. Namun tetap saja,
Jake tidak menemukan posisinya. Jake kemudian menggeram frustasi dan merubah
posisinya menjadi duduk, ‘Oh tidak, ini akibat dari hibernasiku kemarin. Sudah kubilang
pada kakakku untuk tidak mendorongku sampai batas saat latihan. Sekarang, aku benar-benar
tidak bisa tidur.’

***

Tepat pukul 19.25, tanah-tanah mulai bergeser ke kanan kembali. Jika dilihat dari atas,
terdapat banyak sekali retakan tanah memenuhi satu ruangan. Pada bagian utara ke
timur, getaran menyebabkan peserta terganggu aktivitasnya sedangkan pada bagian
barat dan selatan, getaran yang terjadi lebih hebat sehingga menyebabkan tanah
terpecah sedikit dan diantaranya ada yang berbentuk jurang. Di setiap ujung arena,
para tentara L’escollit escola membuka seluruh jeruji besi besar dan melepaskan hewan-
hewan pengganggu untuk menerkam peserta.

Mata Jake terpejam saat tanah mulai bergetar. Awalnya, Jake tidak menghiraukan
getaran tersebut sampai akhirnya ranting pohon yang ia duduki berguncang. Dengan
sigap, Jake merangkak ke batang pohon dan memegangnya sangat erat.

“Ada apa ini?” sahut Jake.

Pohon mangga yang diambil buahnya oleh Jake bergeser ke arah kanan bersama
dengan tumbuh-tumbuhan yang lain. Beberapa sulur putus dan terjatuh ke tanah
bersamaan dengan beberapa pohon lainnya membuat dia tersadar bahwa tanah
bergeser kembali. Jake menggelengkan kepalanya karena tidak disangka L’escollit
escola rela mengganti arena di malam hari.

“Ugh! Mereka apa tidak lelah menggeser labirin dua kali dalam sehari!” Jake
menggerutu sambil memeluk erat batang pohon.

Semakin lama, getaran yang ditimbulkan semakin menggila. Bahkan, menurut


penilaian Jake, getaran kedua lebih hebat dibandingkan yang pertama. Hampir sepuluh
menit, pohon-pohon berguncang dan berjatuhan di sekitar Jake membuat dirinya kesal.
Dengan cepat, lelaki Noble ini melepaskan kalungan sulur dari badannya. Ia memutar
sulur itu lalu melemparkannya ke ranting pohon lain agar tergantung. Rencana Jake
adalah menggunakan sulur itu sebagai tali dan mengayunkan dirinya ke pohon
seberang yang lebih kokoh.

Saat sulur sudah menyangkut, Jake berusaha menenangkan dirinya, “Baiklah, sama
seperti dulu. Kau hanya perlu loncat dan me– AHH!!“

Mendadak ranting tempat lelaki ini berdiri terlepas sehingga membuat Jake terjatuh
dari atas. Dengan sigap, Jake menangkap sulur yang terikat tadi dan mengayunkan
badannya sampai ia mendarat dengan selamat. Untung lelaki rubik ini cekatan, jika
tidak? Dia sudah terkapar tidak berdaya di tanah dan pohon besar itu menimpanya.

“Fiuh,” Jake mengelap dahinya dan menepuk sulurnya, “Terima kasih sulur, tanpa kau
aku sudah mati.”

Detik di saat Jake menapakkan kaki di tanah, getaran makin berkurang dan akhirnya
menghilang. Lelaki ini menghela nafasnya. Ia harus mencari tempat istirahat lagi untuk
malam ini. Walaupun ia tidak bisa tertidur, tapi tubuhnya perlu istirahat. Tanpa
berlama-lama, Jake berinisiatif untuk berkelana di dalam kegelapan. Ia langsung
memberi tanda garis pada pohon dengan batu tajam lalu berjalan ke samping meraba
pohon lain. Jake sengaja tidak membuat obor api karena ia tidak ingin menarik
perhatian peserta lain.

‘kresek’ kresek’

Jake mendengar suara bising tidak jauh dari sana. Ekspresi Jake berubah menjadi
serius, mempersiapkan dirinya untuk keadaan yang lebih buruk. Apakah itu manusia?
Hewan? Monster lain? Tidak ada yang pasti. Apalagi cahaya rembulan dari hutan tidak
begitu terang sehingga membuat penglihatannya tidak jelas.

Kakinya terus berjalan dari satu pohon ke pohon lain sambil menandainya. Ada
kalanya dia menghindari tanah rentan agar tidak terjatuh ataupun tempat dimana
gelap sekali. Dia tetap menjaga dirinya untuk tidak terlihat musuh, namun tidak buta
arah jika diserang. Saat berjalan, bunyi bising tadi terdengar terus seakan mengikuti
Jake dari belakang. Lelaki ini menyadari hal itu dan memutuskan untuk diam sejenak.
Matanya memincing ke kiri, berusaha melihat siapa yang mengikuti dia dari belakang
tanpa menengok.

‘Apapun itu, aku harus kabur. Aku tetap memilih untuk tidak bertarung,’ kata Jake dalam
hati.

Kemudian, Jake melangkah kembali ke pohon selanjutnya. Perlahan-lahan dia


menggambarkan garis di batang pohon menunggu suara bising itu mendekat. Saat Jake
selesai, ia langsung berlari kencang ke jalan yang tidak gelap. Suara bising itu memang
benar mengikuti lelaki ini. Dia bisa merasakan tanah sedikit berguncang saat berlari.

“Pohon!” teriak Jake mendapati pohon yang bisa ia panjat dengan aman.

Jake berlari cepat ke arah pohon itu lalu bersiap untuk memanjatnya, Saat dia mulai
mengangkat kaki kirinya, ada yang melemparkan sesuatu tepat di atas kepala Jake.
Sontak, ia menjauhkan diri dari batang itu dan mendapati sebuah benda berbentuk
jarum besar dengan aliran berwarna putih mengucur ke bawah. Bulu kuduk Jake
berdiri seketika dan memberanikan dirinya untuk menengok ke belakang.
Di depannya, ada seorang monster berbentuk kalajengking besar menggerakkan kedua
capitnya. Air liur dari mulut menetes ke tanah membuat Jake makin merinding. Ia
kemudian mencari arah lain untuk tempat yang aman. Namun saat si pemilik kaki
berusaha kabur, kalajengking lain berdatangan sehingga membuat Jake terpojok.

‘Oh tidak! Apa yang harus kulakukan,’ Jake mengangkat kepalanya ke segala arah, ‘Tidak
ada jalan keluar… Sepertinya, aku memang tidak bisa menghindari pertarungan.’
Dia mengepalkan tangannya dan masih berharap agar dirinya tidak bertarung. Tetapi,
Jake tahu bahwa tidak ada jalan lain selain menggunakan kekuatannya. Kalajengking
besar itu mulai semakin ganas dan air liur yang di produksi makin banyak
menggenangi tanah. Melihat itu, Jake memejamkan matanya sambil membenarkan
sarung tangannya, “Karena kalian, aku jadi harus menggunakan kekuatanku. Jadi….,“
Jake membuka matanya dan terjadi perubahan pada irisnya menjadi kuning menyala,
”Jangan harap kalian selamat!”

Seketika itu juga, kalajengking mulai beringas dan menyerang Jake. Saat kedua capit
mulai bergerak, Jake sudah siap mengangkat tangannya untuk menangkisnya sampai
tiba-tiba monster aneh itu berhenti bergerak seperti dibekukan.

"Ow.. Ow ow.. Benda ini keras sekali," seorang laki-laki dengan rambut berwarna
pirang platinum menggosok dahinya yang terbentur kaki monster kalajengking
didepannya saat ia berlari. Tanpa disengaja, ia menggunakan kekuatannya terhadap
benda tersebut. Ketika melihat wujud benda yang ia tabrak, yakni kaki yang tinggi dan
besar, ia membelalakkan matanya, "Oops.. Sepertinya ketidak sengajaanku ini
menyelamatkanku..."

Setelah mengelilingi dan mengidentifikasi benda tersebut sebagai seekor kalajengking


raksasa, ia melihat Jake yang sedang menatap monster tersebut dengan ekspresi yang
tidak dapat ia baca. "Woah.. Baru kali ini aku melihat ada kalajengking sebesar ini!
Bagaimana denganmu?" pria itu tersenyum lebar dengan mata berbinar ketika ia
berjalan dengan santai menghampiri Jake.

Jake tidak bisa berkata apa-apa saat lelaki berambut pirang platinum itu bertanya
kepadanya. Mata menyalanya memandang pria itu dari atas sampai bawah. Wajahnya
terlihat familiar seperti salah satu peserta di TCO, tetapi Jake tidak bisa berpikir secara
jernih karena monster di sekitarnya akan menyerangnya, "Ehm, tidak pernah." Lalu,
ada satu kalajengking besar siap menyerang mereka dengan ekor beracunnya. Ujung
lancipnya siap mengenai mereka berdua membuat Jake berteriak, "Awas!" Dengan
cekatan, Jake mendorong lelaki itu ke belakang lalu melompat ke arah yang berlawanan
untuk menghindari serangan.

Tidak menyangka kalau akan didorong, pria tersebut terjatuh ke tanah. "Ow.. Ada apa
denganmu..?" pria tersebut bergegas untuk berdiri, "Oops..." katanya setelah melihat
alasan Jake mendorongnya. Terdapat seekor kalajengking raksasa di hadapan mereka,
dengan ekor yang berayun dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukan hanya itu saja,
kalajengking raksasa lainnya juga mulai mengepung mereka.

"Kau ini fokuslah! Kita sedang dikepung!" Jake menunduk untuk menghindari gerakan
capit dari kalajengking lain dan menghampiri lelaki itu. Dia memejamkan matanya
sebentar sambil memegang tangan pria bodoh ini. “Kita harus kabur,” ajak Jake
membuka matanya menjadi normal kembali dan berlari cepat. ‘Untung aku hanya
mengaktifkan kekuatanku tadi’ bisik Jake di hati. Saat berlari, Jake menengok ke belakang
mendapati banyak kalajengking mengejar dan siap membunuh mereka kapan saja.
"Kau? Ada ide untuk ini?"

"Serang saja mereka semua. Kau memiliki kekuatan juga, kan?" pria itu menaikkan alis
kirinya. "Atau.. Jangan bilang imbalan setelah menggunakan kekuatanmu sangat berat
sehingga kau tidak mau menggubakannya?" pria ini tersenyum seakan-akan mereka
sedang tidak berlari sambil dikejar oleh banyak kalajengking raksasa yang siap untuk
membunuh mereka.

"Bisa dibilang begitu," Jake menjawab asal-asalan sambil mencari tempat yang aman.
"Tapi jika tidak ada tempat untuk bersembunyi, maka mau tidak mau kita harus
bertarung."

"Oh begitu.." pria pirang platinum tersebut tertawa lalu menghentikan langkahnya
yang menyebabkan Jake juga ikut berhenti. Ia mengangkat tangannya ke udara dan
terbentuk bongkahan-bongkahan es tajam di atas telapak tangannya. Lalu ia
melemparkan bongkahan-bongkahan tersebut ke kalajengking raksasa yang mengejar
mereka. Seketika itu juga, kalajengking tersebut membeku. Begitu pula selanjutnya ia
lakukan ke beberapa kalajengking lain yang mengejar mereka.

"Seharusnya kau bilang dari tadi.. Tidak usah malu-malu begitu" pria itu tertawa
sambil menepuk pundak Jake.

"Ya ampun," keluh Jake menggaruk kepalanya. Ia meloncat dari satu kalajengking yang
hampir mendorongnya sambil memalingkan wajahnya ke arah pria itu. Jake
memastikan bahwa pria itu tidak mengalami cedera apapun. Iya, untuk seorang Noble,
lelaki rubik ini termasuk orang yang peduli pada orang lain. Dirinya sering kali
melindungi orang lain terutama saat bertarung. "Kau tidak apa-apa? Lebih baik kita
pergi dari sini. Aku tidak ingin ada yang terluka."

'Apalagi menggunakan kekuatanku,' tambah Jake dalam hati.

"Baik~" pria itu tersenyum dan membekukan kalajengking yang menyerang Jake. "Ini
hanya aku atau memang jumlah mereka semakin banyak?" tanya pria itu.

Jake memperhatikan banyak kalajengking yang berdatangan dari dalam hutan. Jake
mendecih kesal karena kalajengking ini tidak membiarkan mereka pergi. Ia tahu pada
akhirnya kekuatannya harus diaktifkan demi keselamatan mereka berdua. Tapi, Jake
tetap keras kepala tidak ingin menggunakannya, kecuali jika mereka sampai di detik-
detik dimana mereka akan mati. “Jumlah mereka memang semakin banyak, berhentilah
bermain dan bantu aku melawan mereka.”
"Aku hanya ingin meringankan suasana," pria itu menghela nafasnya. "Baiklah kalau
begitu. Aku akan serius." Seketika itu juga, pilar es dengan ujung yang runcing
bermunculan dari tanah dan menusuk monster-monster kalajengking di sekeliling
mereka. "Aku sarankan kita pergi dari sini sekarang. Kau terlihat sangat tidak ingin
menggunakan kekuatanmu"

Satu kalajengking menyerang gesit ke arah mereka berdua. Jake melihat pilar runcing
es pria itu menusuk lawan-lawannya. Darah kehijauan berceceran dimana-mana dan
mengeluarkan asap. Semak-semak serta batang kayu yang terkena cipratan hangus
seketika. 'Woah, lebih baik bagi kita untuk tidak terkena darah mereka', pria Noble ini
kemudian memandang es runcing itu dan terdiam, ‘Jadi kekuatan dia adalah es. Lumayan
juga.’ Belum sempat mereka berdua kabur, tiba-tiba kalajengking dari dalam hutan
mulai berdatangan kembali dan jumlahnya dua kali lipat dibandingkan sebelumnya.
Jake menggaruk kepalanya kencang dan berteriak dalam kekesalan, “Mau sampai
kapan kalian datang?” Dengan cepat, pria pencinta rubik ini membenarkan kedua
sarung tangannya sambil memejamkan mata untuk mengaktifkan kekuatannya. “Hei,
lelaki es. Benar aku tidak ingin menggunakan kekuatanku–“ Jake membuka matanya
dan memalingkan wajahnya ke arah pria pengendali es itu dengan iris kuning
menyalanya, “Tapi, sepertinya tidak ada kata kabur lagi. Lihatlah ke depan, sudah ada
dua belas monster. Aku jamin mereka akan terus mengejar kita sampai besok pagi.”

"Woah! Iris mu menjadi kuning!!! Keren sekali!" sahut pria itu dengan mata berbinar.
"Sepertinya jika kita membunuh mereka, kalajengking lainnya akan mengetahui
keberadaan kita dan menyerang. Kita menjadi seperti magnet bagi mereka sekarang,"
pria itu menghela nafasnya. "Bagaimana kalau kita serang sambil berlari? Kekuatanmu
itu tipe jarak jauh atau dekat?" tanyanya.

"Ide bagus," balas Jake merogoh kantong celana hitamnya dan mengeluarkan
stopwatch berbentuk jam tangan buatannya sendiri. Ia berbicara sambal
mengenakannya di pergelangan tangan kirinya, “Kekuatanku bisa dari jarak manapun.
Jadi tidak ada masalah aku masuk dalam tipe apa,” Jake memutar lingkaran luar dari
stopwatch tersebut dan memasang waktu selama 15 menit. “Aku memiliki rencana.
Sesuai katamu, kita akan berlari sambil menyerang. Aku akan mengarahkan semua
musuh ke arahmu dan kau gunakan kekuatan esmu untuk menusuk mereka.” Pria
Noble ini kemudian berlari dan berharap pria es itu mengikutinya dari belakang,
“Karena kau yang paling beresiko terkena serangan, mohonlah hati-hati. Dan, hindari
cipratan darah mereka. Kau lihat bukan apa yang terjadi tadi? Oh satu lagi… Waktu
kita hanya 15 menit melawan mereka. Sesudah itu, kita kabur naik ke atas pohon tinggi
dan bersembunyi disana sampai pagi besok. Apa kau bisa?”

Pria pirang platinum tersebut menghela nafas dan berlari mengikuti Jake. "Aku
memang suka bermain-main, tapi bukan berarti aku paling beresiko. Hei! Kau dengar,
kan? Dan untuk pertanyaan terakhirmu, tentu saja aku bisa. Aku sudah sepuluh tahun
bermain di hutan." Pria tersebut membentuk sebuah pedang es dan menggenggamya di
tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya membentuk banyak bongkahan es yang
menyerang monster-monster yang bermunculan dari belakang mereka.

"Bukan maksudku meragukanmu, anak kecil,” Jake berlari sambal mencari jalan yang
agak terang. Ia berpikir untuk membawa hewan-hewan ini ke tempat yang terbuka
dimana ia bias melihat mereka dengan jelas. “Tapi aku mengkhawatirkanmu bodoh!”
lanjut Jake tetap berada di depan pria itu lalu mendapati pohon yang cukup tinggi,
cocok dengan kriteria tempat persembunyian. Dan untungnya, di dekat pohon itu
terdapat lapangan bebas yang tidak terlalu luas. Langkah kaki Jake makin cepat dan
sampailah mereka disana. Cahaya rembulan menerangi Tanah kosong itu membuat
kedua pria ini melihat lebih jelas lawan mereka. Jujur, Jake merinding saat mendapati
kalajengking itu jauh lebih besar dan menyeramkan. Jake memasang posisi kuda-kuda
lalu memeriksa stopwatchnya, “Dua belas menit lagi! Kita habisi mereka sesuai
rencana.

"Anak kecil?? Aku sudah dewasa! Kau hanya sedikit lebih tinggi dariku. Memangnya
berapa usiamu?" cibir pria tersebut. Ia menghirup nafas panjang dan membuangnya.
Kini ia dapat melihat wujud kalajengking raksasa tersebut dengan jelas, "ugh..
Menjijikkan. Kalajengking normal jauh lebih enak dilihat." Pria tersebut membentuk
sebuah pedang es lagi dan digenggamnya di tangan kirinya. "Ayo habisi mereka, pak
tua!"

"Aku tidak tua!” balas Jake singkat. Pikirannya lebih fokus untuk bertarung dibanding
menanggapi lelaki ini. Dua kalajengking dihadapan Jake meloncat sambil
menggerakkan ekornya seperti ingin melempar mereka. Jake kembali berdiri tegap
sambil mengulurkan tangannya ke atas. Seketika itu juga, dua kalajengking itu
terhempas tepat di depan kaki rekannya. “Tusuk mereka!” teriak Jake lalu kembali
melakukan hal yang sama terhadap serangan lain.

"Tidak peduli!" pria tersebut mengulurkan lidahnya dan menusuk kedua kalajengking
tersebut dengan dua pedangnya. Seketika itu juga, kedua kalajengking tersebut
membeku. Pria tersebut melepas kedua pedangnya dan dua pedang es baru terbentuk
di telapak tangannya. Ia melakukan hal yang sama terhadap monster lain yang
dilemparkan oleh Jake. Sejujurnya, ia sangat ingin menggunakan kekuatannya untuk
menghabisi monster-monster tersebut. Jika ia melakukannya, hal ini akan berjalan lebih
cepat dan mereka akan memiliki waktu lebih banyak untuk memanjat pohon. Tapi,
tidak adil jika ia sendiri yang melindungi mereka berdua. "Awas, pak tua!" Pria tersebut
membentuk bongkahan es dan melemparkannya ke monster yang melompat ke arah
Jake. Seketika itu juga, monster tersebut membeku dan pecah berkeping-keping ketika
tubuhnya jatuh ke tanah.
Jake menghindar dari beberapa pecahan es dari pria itu. Tinggal tersisa tiga
kalajengking di lapangan membuat pria Noble ini ingin cepat menyelesaikan
pertarungan ini. "Delapan menit lagi. Ini yang terakhir!" Monster tersebut segera berlari
kearah Jake dan siap untuk menimpanya. Lelaki ini kembali fokus dan menggunakan
kekuatannya lebih lagi sehingga ketiga monster itu terlempar ke arah berlawanan. "Hei
anak kecil, tikam mereka sekarang!" sahut Jake kemudian berlari dan memanjat ke atas
pohon.

"Curang!! Jangan tinggalkan aku!!" pria itu mencibir dan dengan cekatan melemparkan
pedang-pedang es yang digenggamnya ke dua ekor kalajengking yang terjatuh dekat
darinya. Lalu, ia membuat pisau-pisau es dan melemparkannya ke kalajengking
terakhir. Segera setelah es pria tersebut tertancap, kalajengking-kalajengking tersebut
membeku secara perlahan. Setelah mengamati sekelilingnya untuk memastikan tidak
ada kalajengking lagi, pria tersebut menyusul Jake untuk memanjat pohon yang sama.

Dari atas, Jake bisa melihat setiap tikaman es menembus badan kalajengking yang
akhirnya menjadi beku. Pria Noble ini tersenyum lalu menghela nafas lega. Ia yang
tadinya berdiri di ranting besar langsung duduk melemas dan mengecek jam
tangannya. 'Syukurlah hanya sepuluh menit. Aku masih bisa memakai kekuatanku besok,'
pikir Jake sambil mengelap dahinya. Iris Jake yang berwarna kuning kembali ke warna
normal. Kemudian, ia teringat akan keberadaan pria es yang baru saja sampai di atas
pohon. Untung saja Jake bertemu dengan orang ini. Jika tidak, mungkin Jake harus
melakukan hibernasi lagi dan tidak akan bisa melanjutkan ujiannya. Karena Jake orang
yang perhatian, dirinya memeriksa keadaan partnernya dengan seksama, "Hei, kau ada
yang terluka?"

Pria tersebut tersenyum kepada Jake, 'Pak tua ini perhatian juga.. Tapi sedikit...' pria
tersebut menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu pak
tua?" ia tersenyum jahil. Ia tidak menyangkan akan menemukan orang yang bisa diajak
bekerjasama di ujian ini. Pria pirang tersebut terlihat kuat dan tulus dalam
perkataannya. Yah.. Kalaupun pria pirang tersebut mau menusuknya dari belakang, ia
bisa membekukannya. "Ngomong-ngomong, tadi kau hebat sekali!" kata pria tersebut
dengan ekspresi kagum.

"Sudah berapa kali kubilang bahwa aku tidak tua!" Jake mengeluh sambil menggaruk
kepalanya keras, "Aku tidak apa-apa. Aku lebih mengkhawatirkanmu karena kaulah
yang harus berhadapan dan membunuh mereka langsung." Jake mengambil posisi
nyaman dan mulai bersandar ke batang pohon itu. Ia melepas dan memasukkan jam
tangannya di kantong tempat semula. Pria pencinta rubik ini menghela nafas dan
kembali berkata, "Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Lagipula, semua TCO
mempunyai kekuatan unik masing-masing bukan? Jadi bisa dibilang semua orang
disini hebat, bahkan dirimu."
"Kau orang luar pertama yang mengatakan aku hebat! Pak tua, siapa namamu?
Memanggilmu pak tua terlalu panjang. Aku Rio Achashverosh, panggil saja aku Rio!
Dan umurku.. Umm.. Aku lupa.. Seingatku 18 tahun. Jadi, aku bukan anak kecil. Aku
tahu, aku ini tampan dan memiliki wajah awet muda, tapi memanggilku anak kecil
membuatku merasa terlalu muda," Pria yang menyebut dirinya Rio ini membusungkan
dadanya dengan cengiran.

Jake memutar matanya mengetahui pria bernama Rio ini memuji dirinya sendiri. Tapi,
Jake tidak ambil pusing hal tersebut sehingga dia hanya tersenyum dan mengulurkan
tangannya, "Namaku Jake. Senang bertemu denganmu Rio!"

Rio menggenggam tangan Jake untuk bersalaman. "Aku memang suka memuji diriku
sendiri, kakakku sering memberitahuku. Tapi, yang aku katakan merupakan
kenyataan. Hahaha" tawanya. Ia melepaskan tangan Jake dan menepuk pundaknya.
"Ekspresimu barusan sangat mirip dengan kakakku!"

"Kakakmu?" tanya Jake kembali bersandar pada pohon. "Kau punya kakak?"

"Iya. Dia kakak terbaik! Akan kukenalkan padamu nanti! Kalian pasti cocok," jawab Rio
bersemangat. 'Tunggu,' pikirnya tiba-tiba. Ia baru menyadari bahwa perkataannya
berarti ambigu dan segera meralatnya, "bukan cocok berarti kau bisa memiliki
hubungan dengannya! Kalian bisa cocok untuk menjadi sahabat! Seharusnya, sih..."

"Hmm, benarkah?" Jake mempersiapkan dirinya untuk berbaring di ranting, "Aku akan
merasa terhormat bisa bertemu dengan kakakmu."

"Terima kasih. Kalian pasti akan bertemu! Karena aku yakin kita akan lulus. Walaupun
sebenarnya aku berharap untuk tidak bertemu kakakku dalam waktu dekat," Rio
menggumamkan kalimat terakhirnya sambil merebahkan tubuhnya di dahan sebelah
Jake.

***

"Tsk. Lagi-lagi," Leo bergegas untuk melompat turun dari pohon. Sialnya jarak hammock
dengan tanah sangat jauh. Ia pun mengurungkan niatnya untuk melompat ke tanah
dan memilih untuk melompat turun dari dahan ke dahan pohon. Sesampainya ditanah,
ia menunggu Yera untuk turun dari pohon. "Lompat sekarang!" sahut Leo. Tentu saja ia
merasakan panik sekarang. Getaran yang terjadi lebih hebat dari sebelumnya. Ia dapat
mendengar suara tanah yang terbelah serta pohon-pohon bertumbangan lama-
kelamaan mendekati mereka dari arah Barat. Tanah yang dipijaknya sekarang juga
sudah mulai retak.
‘Baru saja kami mengisi tenaga, dan sekarang energi itu harus terkuras lagi!’ kata Yera
dalam hati. Yera segera menelan potongan apelnya, dan entah mengapa mendadak ia
menjadi lebih lincah dari seharusnya. Ia menuruni dahan-dahan pohon dengan cepat,
dan dengan bantuan sulur ia meluncur ke bawah tepat ke hadapan Leo.

Setelah Yera sudah mendarat di hadapannya, dengan tangan kanannya Leo langsung
menggenggam lengan kiri Yera dan berlari menjauhi tempat tersebut, masuk lebih
dalam ke hutan di arah berlawanan runtuhnya tanah tersebut. Ia dapat mendengar
tanah di belakang mereka terbelah dan bersamaan dengan getaran yang hebat, ia dapat
mendengar suara tanah dan pepohonan seperti jatuh kedalam jurang.

'Tunggu. Tidak ada jurang disana,' Leo pun menengok ke belakang. Memang tidak ada
jurang. Tapi fakta itu tidak berlaku lagi jika tanah dan pepohonan berjatuhan
membentuk jurang yang semakin lama mendekati mereka.

"Yera. Jangan melihat ke belakang dan lari sekuat tenaga!" sahut Leo. Ia pun kembali
memandang ke depan dan mempercepat larinya, sekaligus menarik Yera yang ikut
mempercepat gerakannya.

Segera setelah Leo menariknya berlari ke tengah hutan, ia merasa suasana sangat kacau
dan ricuh, banyak pohon besar tumbang, termasuk pohon tempat hammock buatannya
tadi. Hewan-hewan juga berlarian dan berebut jalan. Mereka berlari makin dalam ke
tengah hutan, Yera mengamati langit yang cerah di atas, mereka berlari ke arah rasi
bintang scorpio yang berarti mereka sedang menuju ke arah timur. Timur terletak di
sebelah kanan dari pintu masuk mereka tadi. “Leo! Ke arah kiri! Sebaiknya kita ke
tengah hutan agar jalan kabur kita lebih luas!” teriak Yera, mengarahkan mereka ke
tengah hutan. Ia khawatir jika terlalu dekat ke pinggir hutan mereka akan kehabisan
ruang untuk lari.

Leo mendengar instruksi dari Yera dan mengubah arah larinya. Ia dapat merasakan
getaran di daerah yang dipijaknya sekarang lebih ringan dari sebelumnya dan tidak
banyak pohon tumbang di daerah ini.

Beberapa lama kemudian gempa berhenti, banyak jurang di sekitar mereka. Sejenak
mereka berhenti untuk beristirahat di tengah hutan. Suasana sunyi, hanya terdengar
suara hewan-hewan nokturnal dan suara nafas mereka yang masih terengah-engah.

"Aku punya firasat buruk.." Leo melihat keadaan di sekitar mereka. Memang, mereka
berhasil kabur ke dalam hutan. Tetapi gempa hebat yang baru saja terjadi telah
membentuk jurang di beberapa bagian di sekitar mereka, termasuk di tempat mereka
beristirahat sebelumnya. 'Aku harus siap untuk menggunakan kekuatanku lagi.'
Yera baru saja terduduk karena sangat kelelahan, tiba-tiba dari jurang di sekitar mereka
bermunculan monster sejumlah 2, 6, 9... -sangat banyak-. Monster kali ini berbentuk
seperti kalajengking raksasa, mungkin lebih besar dari manusia biasa, berwarna hitam
pekat dan berjalan cukup cepat. Sembari berlari, monster itu sesekali menghantam-
hantam tanah dengan ekornya yang berujung besar. Ekor monster itu tajam, mungkin
ia bisa menyuntikkan racun dengan itu, layaknya kalajengking biasa, sekaligus
mengoyak mangsanya.

Dari jauh Yera dapat merasakan tatapan bernafsu dari kalajengking raksasa itu, tajam
menatapnya dan Leo. Yera merasa ngeri dan jijik melihat capit dan badannya yang
seperti diukir dan bertekstur kasar. Dengan segera ia tahu bahwa kesempatannya
untuk kabur hanya tinggal beberapa detik lagi. Tangannya langsung menyambar
pohon di belakangnya, -satu-satunya tempat untuk kabur- sementara kalajengking
raksasa yang mengelilingi mereka berlari semakin cepat. Ia sudah setengah jalan
menuju dahan terdekat yang berjarak kira-kira 10 meter dari tanah dan ia sudah
kehabisan tenaga. Yera berusaha memanjat pohon dengan segala kemampuannya,
karena bisa jadi ini adalah akhir dari kisah hidupnya.

'Ugh! Ini menyebalkan! Mereka menjijikkan,' pikir Leo kesal. Ia melihat Yera yang
ketakutan memanjat pohon. Ekor dari monster-monster kalajengking tersebut
mengeluarkan cairan berwarna putih yang tentunya merupakan racun mereka.
'Siapapun, ingatkan aku kenapa aku mau menerima tawaran masuk sekolah ini.'

Leo menutup matanya dan mendengarkan area sekitarnya. Kurang lebih terdapat 14
kalajengking di sekitar mereka. Ia mendengar suara angin di sekitar kalajengking
tersebut. Seekor yang terdekat dengannya mengayunkan ekornya dan Leo
menggunakan kekuatannya untuk memotong ekor tersebut sambil berlari menuju
pohon yang dipanjat Yera. Kemampuannya untuk mendengar suara di sekitarnya
sangat membantu di saat seperti ini. Paling tidak, ia tidak menabrak pohon lain atau
salah arah dalam meraih pohon yang ia tuju.

Sembari ia memanjat pohon, ia menggunakan kekuatannya untuk membentuk pisau-


pisau angin dan memotong tubuh kalajengking di dekatnya. "Pssh-" Leo membuka
matanya untuk melihat penyebab terbentuknya suara tersebut. Rumput di sekitar
mereka menguap setelah terkena cipratan darah monster kalajengking. Leo
mempercepat gerakannya dalam memanjat pohon. Ia dapat mendengar Yera sudah
berada 50 meter di atasnya dan mulai bersembunyi di balik dedaunan, sedangkan ia
sendiri baru memanjat sekitar 10 meter.

Tanpa disadarinya, Yera sudah memanjat sangat jauh dari permukaan tanah. Ia
mengamati Leo yang sedang memanjat pohon, dan di hatinya yang terdalam ia
bersyukur kalajengking itu sepertinya tidak bisa memanjat pohon. Kalajengking
menjijikkan itu mengeluarkan darah hijau yang menghanguskan rumput, seperti
kembang gula yang disiram air! Yera bergidik, 'Pasti itu mengandung asam yang sangat
kuat. keras sekali'. Yera ingin melakukan sesuatu agar monster itu menjauh dari bawah
mereka sehingga mereka bisa tidur nyenyak malam ini. Tetapi ia lelah dengan semua
ini dan memutuskan untuk tidur dan bergantian jaga malam dengan Leo. Lagipula
monster itu kelihatannya tidak akan mengganggu mereka lagi.

"Krak-" Leo menghindar dari ekor kalajengking yang tertancap di batang pohon dan
memotong ekor tersebut dengan kekuatannya. Kalajengking yang dipotong ekornya
tersebut mengeluarkan suara nyaring tanda kesakitan. Namun, nasib Leo tidak
seberuntung itu. Lengan kiri kemejanya robek. Ia kurang yakin penyebabnya. Bisa
karena tergores ekor kalajengking atau terkena pecahan batang pohon saat menghindar
tadi.

'Coba saja ini tidak di pohon,' gerutunya. Ia tidak tahu sudah memanjat seberapa jauh
karena ia menutup matanya, namun ia dapat mendengar suara dedaunan yang
bergerak karena Yera. 'Sedikit lagi,' Leo tidak dapat merasakan kalajengking tersebut
menyerangnya lagi. Leo membuka matanya dan melihat ke arah monster-monster
kalajengking di bawahnya. Mereka hanya menatap mereka dan pergi mencari mangsa
lain. Leo menghela nafas lega. Beruntung sekali mereka karena kalajengking raksasa
tersebut tidak bisa memanjat pohon.

'Yera, kamu pasti memiliki kekuatan lain, keberuntungan besar,' pikir Leo. Sesampainya
di dahan yang sama dengan Yera, Ia melihat lengan kemejanya yang robek dan
menginspeksi kulitnya. Hanya terdapat goresan kecil. Apapun itu penyebabnya, ia
tidak peduli. Racun kalajengking sendiri tidak akan melumpuhkannya jika ekornya
hanya memberi goresan kecil.

***

Dengan bangga Vanessa melihat tombak ikan berujung dua yang baru saja ia buat dan
melilitkan sedikit kain coklat roknya untuk mencegah ujung tombak tersebut patah.
Biasanya balik di Lamia dia jarang membuat benda ini karena lebih efektif
menggunakan tombak yang ia punya. Namun tak disangka ternyata akan berguna juga
di situasi seperti ini. Sambil memandang tombak ikan yang baru ia bikin dengan
bangga mendadak ia merasakan adanya getaran dari tanah. Kali ini ia berada di tanah
dan getaran yang ia rasakan tidak terlalu terasa sepeti gempa yang sebelumnya.
Namun untuk berjaga-jaga ia lansung berada di posisi setengah berdiri siap berlari jika
ada sesuatu. Di saat inipun Eliza sudah terbangun dan mulai melihat ke arah Eliza.

“Vanessa? Apa yang baru saja terjadi?” tanya Eliza dengan mata mengantuk.

“Aku tidak tahu, tapi tanah baru saja bergetar. Bangun Eliza. Kita harus bersiap-siap
bila ada sesuatu.” jawab Vanessa sambil tidak melepaskan pandangannya yang
mengamati hutan kegelapan di sekeliling mereka. Getaran yang tidak terlalu besar ini
memberikan mereka kesempatan untuk beridir dan membuat Vanessa dapat berpikir
lebih jernih dari gempa sebelumnya. Ia lalu melihat kearah langit dan menyadari
bahwa bintang dan bulan bergeser walaupun mereka diam saja. Maka disadarailah
bahwa ini bukanlah gempa melainkan tanah yang bergerak. Getaran lambat laun
berhenti dan tidak lama kemudian terdengarlah sesuatu bergerak di semak-semak
bagian kiri mereka. Serentak Vanessa dan Eliza memalingkan pandangan mereka ke
kiri. Tidak ada satupun dari mereka yang berani bicara.

‘Tanah bergetar, lalu monster? Apa sama seperti sebelumnya? Tapi tidak ada sirine. Artinya
kami tidak perlu bersembunyi. Ada kesempatan untuk melawan.’ pikir Vanessa sambil
menghunuskan tombaknya bersiap-siap dan pisau batunya tersimpan di pinggangnya.
Ia pun melihat ke arah Eliza yang bersembunyi di punggungnya sambil mencengkram
dan menarik kemejanya. ‘Ganggu sekali. Aku tidak akan bisa melawan monster bila dia terus
menarik-narik seperti. Calon TCO macam apa dia. Kujadikan umpan monster saja mungkin
lebih baik. Jangan sampai kemejaku robek.’ pikir Vanessa kesal karena ia tidak bisa bergerak
dengan bebas. Selanjutnya dari semak-semak di belakang mereka mulai terdengar ada
yang lewat. Dan tak lama di kiri mereka lagi. Berkali-kali mereka melihat kearah
semak-semak dan tidak menemukan apapun. Namun lama kelamaan jarak antar suara
semakin cepat dan datang dari berbagai arah.

‘Monster kali ini dapat berjalan dengan cepat. Berapa jumlah mereka? Apa mereka sudah
mengepung kita? –Eliza mulai menarik-narik baju Vanessa dengan lebih kencang- Sialan!
Orang ini benar-benar akan membuatku mati. Kita benar-benar sudah seperti umpan yang siap
dimakan karena adanya noble satu ini.’ pikir Vanessa. Mendadak suara di semak semakin
besar dan semakin cepat menandakan mereka sudah dekat.

Lalu mendadak semua hening. Tiba-tiba di depan mereka mucul dua mahluk raksasa
keluar dari semak-semak. Mahluk itu tidak bergerak dan begitupun mereka tidak
berani bergerak. Pelan-pelan awan yang menutupi sinar bulan bergeser dan terlihatlah
sosok monster itu. Mereka merupajan kalajengking hitam raksasa dengan ekor
penyengat bergerak naik turun seakan-akan sedang menargetkan mangsanya. Mata
kecil kedua pasang kalajengking ini saling bertatapan dengan Vanessa dan Eliza.

‘Kalajengking mempunyai mata dengan pandangan yang tidak bagus yang hanya bisa
mendeteksi cahaya dan gerakan. Tapi dalam hal ini sangat efektif di malam hari. Lari ke hutan
gelap tidak akan bermanfaat banyak. Capitnya! Aku harus menghindari mereka. Capit
kalajengking sangat kuat sampai kadang mereka dapat membunuh lawannya hanya dengan capit
mereka. Alat penyengat, mungkin itu adalah kesempatanku membunuh mereka.’ pikir Vanessa
sambil mengamati monster di depannya dan mencoba menarik ilmu yang ia dapat dari
perpustakaan untuk menilainya. Mendadak kedua monster kalajengking itu melompat
ke arah mereka berdua dengan capit mereka berusaha mencengkram mereka.
***
Day 2
07.00
Forest Of Punishment pt. 4

Aron meneguk kopi hitam dari meja kerjanya. Ia menggesek kedua tangannya lalu
memegang erat-erat sarung tangannya. Padahal sekarang Central City sudah masuk
dalam musim panas, namun entah mengapa lelaki berkumis ini merasa kedinginan.
Mungkin kondisi tubuhnya menurun karena harus berjaga semalaman untuk
memantau peserta dalam hutan. Menjadi penjaga ujian kedua memang paling
merepotkan dibandingkan ujian lainnya. Awalnya Aron tidak ingin menjadi penjaga
ujian, tapi karena tidak ada orang yang bersedia sehingga ia harus mengorbankan
dirinya untuk dipilih.

"Kopi ini enak sekali," Aron menyeruput kopi untuk kedua kalinya. Karena tidak ada
kerjaan, Aron berseru memanggil para tentara untuk masuk ke dalam ruangannya.
Seketika itu juga, dua tentara masuk memberi hormat dan berdiri tegak di hadapannya.
"Aku penasaran, ada berapa peserta yang selamat sehabis penyerangan?"

Salah satu tentara berbicara, "Kami belum menghitungnya, pak. Karena kebanyakan
dari mereka bersembunyi di antara pepohonan dan beristirahat."

Aron mengangguk paham mendengar penjelasan tentara tersebut. Aron kemudian


berdiri dan menarik laci kayu paling atas dari meja kerjanya. Diambilnya secarik kertas
berisi peta dan pintu keluar yang ditandai silang olehnya. Tepat di pojok bawah
terdapat catatan kecil tentang arena ujian beserta daftar monster-monster yang akan
dilepaskan secara detail. Lelaki ini menghela nafas sambil menunjuk salah satu nama
monster, "Menurut kalian, apakah aku terlalu jahat untuk mengeluarkan yang ini?"

Kedua tentara itu sedikit menunduk dan melihat nama monster itu. Salah satu tentara
menelan ludahnya karena ia tahu bahwa monster ini lumayan berbahaya bagi peserta,
"Pak, kau yakin? Dewan bilang monster ini masih dalam masa percobaan. Hanya bisa
dilepaskan jika memang sudah tidak ada monster lain yang dilepas."

"Aku yakin," jawab Aron meyakinkan, "Kemarin saja, peserta yang selamat lebih
banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa kualitas mereka
lebih hebat. Kita juga harus meningkatkan kesulitan dari ujian ini."

Tentara di depannya saling berpandangan satu dengan yang lain seakan mereka
meragukan keputusannya. Aron tidak menghiraukan mereka dan melanjutkan
perkataannya, "Kebanyakan dari mereka tahu bahwa ini adalah labirin. Dan beberapa
peserta sudah tahu bahwa mereka harus membentuk tim untuk selamat dan mencari
pintu bersama-sama. Mereka tidak boleh dianggap enteng." Aron melipat kertas itu lalu
dimasukkan ke dalam kantongnya, "Tenang saja, lepaskan saja monster itu sesuai
instruksi."

"Ba-Baik pak!" Kedua tentara itu memberi hormat kepada Aron kemudian berjalan
keluar dari ruangan itu.

Sesudah pintu tertutup, Aron membuka lemari kecil dan mengambil mikrofonnya. Ia
mengetukkan jarinya untuk mengecek apakah suaranya cukup terdengar ke seluruh
hutan. "Selamat pagi para peserta! Bagi kalian yang selamat ini adalah hari kedua
dalam ujian. Aku sarankan kalian cepat menemukan pintunya sekarang dan segera
keluar dari hutan. Jika tidak.... Kalian akan tahu nanti.." Aron berdeham sejenak
membersihkan tenggorokkannya dan menjelaskan kembali, "Bagi kalian yang terluka,
kami akan memberikan kalian penawar racunnya. Pemakaiannya simple, balurkan saja
obat ke luka kalian dan dalam satu jam kalian akan membaik. Oh ya, dalam 15 menit
lagi hujan akan turun diikuti dengan sirine berbunyi serta pemberitahuan petunjuk
kedua. Pastikan kalian mengambil air untuk persediaan kalian dan semoga kalian
selamat!"

Jake sudah terbangun dari pagi sebelum matahari terbit. Tidurnya tergolong nyenyak.
Walaupun hanya sekitar lima jam ia tertidur, tetap saja ia merasa tidurnya sangat
tenang tanpa ada pengganggu. Mungkin ini akibat dari serangan kemarin malam
cukup menguras tenaganya. Apalagi dirinya memakai kekuatan disaat kondisi yang
tidak tepat karena kakaknya. Pria bernama Rio disebelahnya masih berada di alam
mimpinya. Ia melihat Rio dengan seksama dan mengingat kejadian semalam. Ia
bersyukur ada pemuda yang membantunya dalam pertarungan. Sejujurnya, Jake bisa
saja membunuh semua monster itu. Tapi jika hal itu memang terjadi, Jake
membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit dan bahkan melebihi batas
maksimalnya. Tentu ini akan menjadi masalah besar kalau pria Noble ini memaksa
dirinya.

"Tertarik padaku? Sayang sekali aku masih menyukai wanita," Rio membuka mata
kirinya untuk menatap Jake dengan senyuman isengnya. Memang pria jahil yang satu
ini terbiasa bangun pagi. Ia sudah terbangun beberapa menit sebelum Jake, namun
karena pertarungan dengan monster semalam, ia merasa membutuhkan beberapa
menit untuk menutup mata. Namun, ia dapat merasakan Jake bergerak di sebelahnya
beserta tatapannya. Natur jahilnya mulai aktif dan ia tidak bisa menghentikan dirinya
sendiri untuk menggoda Jake.sssss

Jake kembali memutar matanya seperti yang dilakukan semalam. "Dengar, aku ini
lelaki normal dan wanita banyak yang tergila-gila denganku. Buat apa aku tertarik
denganmu?" Pria itu merogoh kantong daun yang ia buat tadi pagi dan sudah diisi
dengan buah beri. Sebelum Rio bangun, Jake sudah turun kebawah dan mengambil
beberapa benda penting seperti batu kecil, sulur serta makanan seperti beri dan apel.
Hal ini dilakukan sebagai persiapan perjalanan untuk hari kedua. Jake menyodorkan
beberapa beri ke lelaki es, "Kau mau? Aku baru memetiknya tadi."

"Ternyata kau sudah bangun lebih pagi. Kau hebat!" kata Rio sambil mengambil beri
dari tangan Jake. "Terima kasih, Jake!" pria es tersebut tersenyum. "Aku hanya bercanda
tadi. Tapi, pada kenyataannya kakakku itu sering menjadi korban pria abnormal diluar
sana."

"Benarkah?" pria Nobel itu mengambil dua buah beri dan memakannya cepat. Jake
mempersiapkan kantung daun itu kemudian berdiri. Ia memakai jubah merahnya,
menenteng kantung itu di tangan kanannya bersiap untuk pergi, "Kakakmu adalah
seorang perempuan cantik?"

Rio tertawa terbahak-bahak atas pertanyaan Jake. "Duh. Kalau ia perempuan, aku tidak
akan bilang laki-laki yang menyukainya abnormal!" Rio menghapus air matanya yang
keluar karena tertawa.

"Maksudmu apa? Ia sebenarnya laki-laki?" tanya Jake kebingungan.

Rio mengangguk, "ia laki-laki. Tapi, wajahnya feminim. Jika dilihat sekilas, ia terlihat
seperti perempuan."

Jake mengangguk seakan ia mengerti maksud Rio. Ia tidak pernah membayangkan


bagaimana lelaki bisa mirip dengan wanita. Apakah pria bisa secantik itu bahkan
sampai mengalahkan wanita? Entahlah. Sepertinya ia tidak pernah bertemu orang
seperti itu. Kalau mungkin bertemu, mungkin Jake tidak memperhatikan orang itu
dengan jelas. Terlalu banyak peserta disini sehingga ia tidak mau ambil pusing
menghapal semua peserta. Parahnya adalah wajah-wajah yang ia temui sebelum ujian
saja sudah tidak terbayang lagi. Ini memang kelemahan Jake, ia sering berbicara sopan
dan ramah ke semua orang tapi tidak ingat siapa saja yang disapa. "Oh begitu, aku
harap kakakmu tidak ada kelainan seksual ya," balas Jake polos. Kemudian dia
meluncur dari atas dan mendarat dengan sempurna lalu menunggu Rio untuk turun
dari atas.

"Enak saja! Kakakku itu masih normal!" sahut Rio. Kemudian ia mengikuti Jake untuk
turun dari pohon. "Lagipula ia tidak secantik itu. Mereka saja yang bodoh, mengira
kakakku perempuan," gerutunya.

Jake berjalan ke depan sambil menenteng tasnya santai. Dia tidak menghiraukan gerutu
Rio tentang kakaknya dari belakang karena ia merasa lelah menanggapi orang ini. Tiba-
tiba, Jake teringat sesuatu tentang pengumuman yang diberikan Aron. Hujan akan
segera datang dan dia belum ada wadah untuk menampung air untuk kebutuhan
minum mereka, "Rio, kau ada ide untuk tempat air? Kita butuh yang besar untuk
selamat."

Rio menghela nafasnya. Ia tahu kalau Jake tidak menghiraukan gerutuannya. 'Mereka
sangat mirip.' Rio melihat ke sekitarnya untuk mencari apakah ada daun besar yang bisa
ia manfaatkan ataupun sesuatu apapun. "Mau kubuatkan mangkuk es? Aku tidak
jamin airnya tidak dingin dan tanganmu tidak kedinginan, sih," jawabnya asal sambil
terus melihat ke sekelilingnya.

"Ide bagus Rio," balas Jake berhenti dan menengok ke arah lelaki es itu. Tangannya
mengambil satu apel lalu dimakannya dengan lahap sembari memandang langit. Ia
berharap hujan cepat datang karena dirinya sudah kehausan sekarang. "Lebih baik kita
mencari tempat teduh agar kita tidak kena hujan. Sesudah itu kau boleh membuat
benda dari es untuk menampung air. Oh ya, mungkin lebih baik kau buat botol besar
dibandingkan mangkuk karena kita harus mencari pintu keluar secepatnya."

Dengan cepat Rio mengalihkan pandangannya kearah Jake yang berjalan di depannya.
'Orang ini benar-benar...' Ia menghela nafas. Lebih baik ia membuat kedua barang
tersebut. Tidak ada barang yang bisa digunakan untuk menampung air di sekitar
mereka. Kalau ada bambu lebih baik, tapi tidak ada bambu di sepanjang jalan yang ia
lewati selama dua hari ini.

Rio mengambil sebuah cincin dari kantung celana jeansnya. Setelah menggunakannya,
ia kembali memperingatkan Jake, "Aku tidak bercanda. Airnya akan menjadi sangat
dingin. Jangan menyesal nantinya." Lalu, ia membuka telapak tangannya dan perlahan
terbentuk mangkuk besar yang terbuat dari es. Rio meletakkan mangkuk tersebut di
tanah dan mengambil beberapa lembar daun yang cukup lebar, lalu menggunakannya
sebagai alas untuk membawa mangkuk es besar tersebut. Setelah itu, ia berlari
mengejar Jake yang tidak berhenti untuk menunggunya.

Saat ini jarak Jake tidak begitu jauh dengan Rio. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Rio
sudah membuat mangkuk besar dan diletakkannya ditanah. Padahal ia sudah bilang
bahwa lebih baik dia membentuk botol dibandingkan mangkuk. Tapi entahlah, Jake
tidak mengerti apakah Rio tidak mendengar perkataannya atau tidak. Lalu, Jake
mendapati ada satu kalajengking yang sudah mati dan hampir membusuk. Ia langsung
mendapat ide untuk mengambil bagian-bagian yang penting. Ia langsung
menghabiskan apelnya lalu berlari menghampiri mayat itu. Dengan sekuat tenaga, dia
menarik salah satu kaki monster itu untuk pengganti pedangnya. Ia juga mengambil
dua cangkang kecil yang bentuknya hampir menyerupai botol untuk cadangan air.
Setelah semua selesai, Jake menghampiri Rio menyodorkan cangkang kecil itu, "Ambil
benda ini dan isi juga dengan air hujan. Jaga-jaga kalau air yang kita tampung tumpah,
karena aku berani jamin penguji akan pelit memberi hujan."
"Hmph. Bawalah sendiri. Aku sedang membawa mangkuk ini. Kalau masalah botol,
nanti akan kubuat setelah air hujan tertampung di mangkuk. Jangan lupa nanti berikan
itu padaku, aku akan membersihkannya. Nanti. Saat kita menemukan tempat
berteduh," kata Rio.

"Baiklah, aku akan mengisikannya untukmu saat hujan nanti. Ayo kita cari tempat
berteduh," Jake menyimpan cangkang itu dan berjalan kembali.

"Sebelum aku lupa, ayo kita bekerja sama!" ajak Rio dengan senyum kekanakannya.
***

Leo melihat ke langit dan menguap. Pagi sudah datang dan Aron sudah
mengumumkan pengumumannya. Gilirannya untuk jaga juga sudah selesai. Sekarang
ia bisa naik pohon dan mendapat tidurnya yang terpotong karena giliran jaga.

Leo memanjat pohon yang ia dan Yera tempati semalam. Saat melewati bekas tempat
dimana ekor kalajengking tersebut tertancap, ia merinding. Ternyata ia cukup
beruntung untuk tidak tertusuk benda tersebut. Peristiwa tersebut menyebabkan
batang pohon itu memiliki lubang yang lumayan besar dan dalam. Sesampainya di
atas, Leo menepuk pundak Yera, "bangunlah. Giliranmu. Oh, jangan lupa buat sesuatu
untuk menampung air hujan. Aron bilang kalau sebentar lagi hujan," katanya sebelum
menyandarkan tubuhnya di batang pohon.

Yera terbangun dari tidurnya dengan kesakitan. Tadi malam ia sudah terlalu lelah
sehingga tidak peduli lagi pada tempat tidurnya yang tidak nyaman itu. Sinar matahari
yang silau membuat matanya menyipit, ia lalu berdiri sambil memegangi
punggungnya dengan sebelah tangan dan melakukan sedikit peregangan. Dengan
malas ia turun dari pohon dengan hati-hati lalu memikirkan cara membuat barang
permintaan Leo dalam 15 menit. 'Apakah aku harus memahat batu?' dengan cemberut
Yera mulai mencari-cari batu yang cukup besar untuk menampung air. Sembari
mencari batu, ia juga mengaduk-aduk tanah berlumpur di sekitarnya 'Mungkin
kebetulan pintu keluarnya ada di bawah sini' harapnya.

Sebentar kemudian, ia menemukan sesuatu yang agak tajam pinggirannya. Mata Yera
terbelalak, berharap bahwa itulah pintu keluarnya. Namun harapannya segera runtuh
ketika melihat bahwa itu adalah cangkang ekor kalajengking raksasa yang Leo potong
tadi malam. Di ujung cangkang itu masih menempel kulit pohon tempatnya tersangkut
kemarin. 'Mengecewakan, tapi ini sempurna untuk menampung air! Mungkin sekitar 2 liter...'
seketika wajah masamnya berubah agak cerah, lalu mencari sesuatu untuk memotong
bagian sengatnya yang tajam.
Yera sedang duduk di bawah pohon, menunggu Leo sementara memainkan cangkang
kalajengking yang ia pasangkan gagang dari akar pohon. Ia sedang bertopang dagu
dan menikmati pemandangan hutan yang menyegarkan.

Mendadak dari semak-semak bergoyang dan dari situ melompat keluarlah seorang
wanita berambut hitam lurus dan mata biru bernama Eliza. Ia tampak baru saja berlari
melintasi hutan. Baju tanpa lengan yang tadinya bewarna putih sekarang sudah
bernoda tanah dan lumpur. Beberapa dahan pohon dan daun-daun menempel di celana
kulitnya dan tersangkut di rambutnya. Badannya kurus seperti layaknya seorang super
model dan tampak tidak cocok dengan keadaan hutan ini. Di tangannya terdapat
sebuah tombak kayu berujung dua berlilitkan kain coklat sebagai penguat. Tombak
tersebut tampaknya sudah sedikit rusak karena ujungnya sudah sedikit meleleh. Eliza
langsung berhenti di hadapan wanita yang bernama Yera. Ia menatap wanita di
depannya dengan sedikit melotot seperti baru saja menemukan sesuatu yang dicari-cari
sambil mencoba mengatur nafasnya.

Yera mengamati wanita yang tiba-tiba muncul tersebut dari ujung rambut sampai
ujung kaki. 'Muncul! Orang asing bersenjata!' dengan kaget Yera melompat berdiri dan
memasang ancang-ancang, memegangi sengat kalajengking yang ia simpan untuk
senjata. 'Orang yang mengerikan, ia menatapku seolah menginginkanku, jangan bilang
sebenarnya ia monster'. Yera melirik tombak kayu berujung dua di genggaman wanita
berambut hitam itu dengan ngeri, kalau-kalau wanita itu menyerangnya tiba-tiba.

Eliza masih menatap Yera dengan ekspresi yang tidak berubah. Ia mengamati Yera
seluruhnya dari atas sampai bawah seperti mencoba untuk mengetahui siapakah sosok
yang ada di hadapannya. terlihat dari ekspresi wanita dihadapannya bahwa ia adalah
orang baik yang tidak macam-macam. Mendadak Eliza menjadi relaks dan matanya
mulai berkaca-kaca. Ia pun mulai terjatuh ke lututnya sambil mengeluarkan suara
seperti mau menangis dan menutup mukanya. Tombaknya terjatuh di sampingnya.
Terlihat ia sangat bahagia menemukan seseorang yang bermuka bersahabat dimana
ia bisa berlindung setelah kejadian yang baru dilaluinya.

Dengan kebingungan, Yera mulai melupakan kepanikannya namun masih dalam posisi
ancang-ancang. Wanita yang terisak-isak di hadapannya tampak seperti orang gila
baginya. 'Sementara ia tidak melihatku, aku harus kabur! Leo pasti bisa menemukanku nanti.'
Yera menjauhi wanita yang berlutut itu perlahan-lahan, ia mengitari pohon dan
bemaksud kabur dengan lari sekencang mungkin.

Eliza menyadari ketika Yera mulai berjalan menjauhi. Serentak ia lansung mengangkat
wajahnya dan berteriak, "Tunggu! Tolong aku. Kumohon jangan tinggalkan aku.
Seseorang ingin membunuhku."
'Lebih buruk dari dugaanku! Jadi dia lemah dan seseorang ingin membunuhnya.' alis Yera
berkerut membayangkan betapa melelahkannya hal yang akan dihadapinya sebentar
lagi. Hanya saja tidak mungkin ia membiarkan seseorang yang meminta tolong. ia
mulai berpikir seandainya ia kabur lebih cepat, ia tidak akan sempat mendengar
permintaan tolongnya. Sambil mengintip dari belakang pohon, Yera mencoba mencari
tahu apa yang terjadi, "Memangnya ada apa? Dan kenapa kamu duduk saja di sana
sementara ada yang mau membunuhmu?" tanya Yera dengan waspada.

Eliza yang awalnya pasrah melihat dirinya sekali lagi ditinggal hanya memeluk dirinya
dengan wajah kebingungan. Setelah mendengar pertanyaan Yera, wajah Eliza langsung
mendapatkan sedikit kecerahan. Ia menjawab, "Aku bingung harus tidak tahu harus
melakukan apa. Aku baru saja dikhianati temanku sendiri. Awalnya kami berjalan
bersama, namun ketika ada serangan monster kalajengking semalam aku hampir
dibunuh olehnya." Eliza sedikit menggigit bibirnya yang sudah mulai bergetar dan
memalingkan wajahnya dari Yera dengan kepala tertunduk. Ia hanya bisa memeluk
dirinya yang sekarang terlihat seperti lebih kecil lagi.

Leo menghela nafas kesal. Baru saja ia tertidur beberapa menit, ia sudah mendengar
langkah kaki seseorang menghampiri Yera. Terlebih lagi, ia dapat mendengar
percakapan Yera dan orang asing yang ternyata merupakan seorang wanita. Ia hanya
berharap wanita asing tersebut bukanlah ancaman atau ia harus membuka matanya
dan mengucapkan selamat tinggal kepada waktu istirahatnya.

Setelah menguping pembicaraan mereka dan mendengar permintaan wanita tersebut,


Leo membuka matanya. 'Wanita ini menyebalkan. Mudah sekali menangis,' Leo berdiri di
batang pohon yang ia duduki dan meregangkan tubuhnya, lalu ia menuruni pohon
tersebut dengan perlahan. Sesampainya di tanah, ia berjalan menghampiri Yera dan
menatap wanita asing yang terlihat terlalu lemah untuk mengikuti ujian tersebut.

"Katakan apa maumu," balas Yera kepada Eliza.

Eliza sambil menatap wajah Yera menjawab, "Bolehkah kita bekerja sama
menyelesaikan ujian ini? Tolong jangan tinggalkan aku sendiri. Aku bisa bantu kalian.
Sejauh ini aku sudah selamat dari ancaman kematian yang ada." Eliza menjawab sambil
memperlihatkan tombak ikannya kepada Yera.

"Siapa kau?" Leo tidak ingin wanita asing tersebut mengetahui kekuatan ataupun
kemampuannya. Yera adalah pengecualian karena mereka bekerja sama dan ia dapat
dipercaya. Namun Leo tidak yakin dengan wanita yang satu ini. Ada sesuatu yang
membuatnya tidak yakin dengan wanita tersebut.

Eliza yang tadinya sedang menatap Yera memalingkan pandangannya ke pria di


sebelahnya dengan pandangan sedikit kaget. Lalu ia mulai menjawab, "Um, namaku
Eliza. Eliza Vanderbilt." Eliza terus memandang pria tersebut. Yera yang tenang saja
dengan kedatangan mendadak pria ini memberinya petunjuk bahwa pria tersebut
adalah teman Yera. Wajah pria ini yang tampak kelelahan dan sedikit kesal
membuatnya merasa sedikit merasa bersalah karena mengganggunya. Eliza pun mulai
menjelaskan, "Aku di sini tidak bermaksud untuk bermusuhan dengan kalian.
Percayalah, aku bukan ancaman. Aku hanya sedang sedikit sedih tadi karena suatu
hal."

Leo menatap tajam wanita tersebut lalu menghela nafasnya. "Aku tidak peduli. Kau
saja yang tentukan, Yera." Leo membalikkan tubuhnya dan kembali memanjat pohon.
Namun, ia hanya naik sampai dahan pertama dan bersandar disana.

Yera berkacak pinggang, mempertimbangkan banyak hal. Ia tidak mungkin


meninggalkan seseorang yang memohon-mohon seperti ini, di sisi lain tentu wanita ini
bisa jadi penghalang mereka. 'Sepertinya tidak ada pilihan lain, lagipula ia tidak tampak
berbahaya,'. "Baiklah. Yuk, berteduhlah bersama kami. Hujan sudah mulai turun."

"Terima kasih banyak. Bila ada yang harus aku lakukan katakan saja. Oh ya, bila tadi
aku dengar dari temanmu namamu Yera ya? Salam kenal." ucap Eliza sambil
menjulurkan tangannya.

"Salam kenal juga," balas Yera sambil menyengir terpaksa. Hujan sudah turun dan ia
pun mulai minum, sepuasnya, walau cuma 10 menit. Yera menadahkan wadah airnya
untuk menampung hujan, lalu berbalik untuk berteduh dan melanjutkan istirahatnya.

***

"Kita bisa berteduh disana," Rio menunjuk sebuah goa yang terletak kira-kita 50 meter
di arah kiri mereka. "Apa kau pernah memakan daging beruang? Enak, loh!" Rio
menjilat bibirnya dan bergegas menghampiri goa tersebut. Langit sudah semakin gelap
dan suara petir sudah mulai terdengar di kejauhan.

"Benarkah?" tanya Jake mengikuti Rio ke goa masih mengunyah beri. Hujan mulai
turun membuat Jake menelan cepat makanannya lalu menyiapkan dua cangkang di
depan goa sambil melanjutkan pembicaraannya, "Aku tidak pernah memakan beruang,
lagipula dimasak dengan cara apa?"

"Dibakar. Sebenarnya lebih enak jika dibumbui, tapi tanpa bumbu juga enak," jawab
Rio. Ia tidak boleh sampai terkena hujan. Terlebih lagi ketika ia tidak membawa syal
atau barang penghangat apapun. Rio pun mempercepat larinya menuju goa tersebut.

"Begitu ya, akan kucoba. Aku mungkin akan memberitahukan ibuku untuk
memasaknya," Jake yang dari tadi sudah berada di dalam goa menyandarkan
punggunanya di dinding. Hujan yang diberikan oleh L'escollit escola tergolong deras
membuat Jake berpikir berapa banyak air yang mereka buang hanya untuk ini.

Baru saja Rio memasuki goa, hujan turun dengan deras. Ia menaruh mangkuk es di atas
tanah, di depan mulut goa tersebut. Kemudian, ia membentuk sebuah mangkuk es lagi
yang berukuran lebih besar dari sebelumnya, serta sebuah botol dan meletakkan
mereka di dekat mangkuk es yang pertama. "Kalau begitu, aku akan memburu beruang
di goa ini. Itupun kalau ada beruang di dalam sini." Rio membentuk sebuah pedang es
yang ia genggam di tangan kanannya dan meregangkan tubuhnya. "Jake, boleh aku
minta tolong untuk membuatkan api? Sampai jumpa!" setelah mengatakan
permintaannya, Rio berlari masuk lebih dalam kedalam goa dengan harapan
menemukan seekor beruang untuk dimakan.

'Memang disini ada beruang ya,' pikir Jake sambil bangkit berdiri. Tanpa berkomentar, ia
mulai melaksanakan apa yang Rio suruh. Ia menulusuri pinggiran goa, mencari
beberapa benda yang ia bisa pakai untuk membuat api. Namun, hasilnya nihil. Goa itu
tidak memiliki banyak barang dan Jake tidak ingin pergi lebih dalam karena takut
tersesat. Lelaki rubik ini mulai kebingungan dan berjalan mondar-mandir di dekat
mulut goa sambil memikirkan caranya. Di seberang persis tempat mereka berteduh,
ada satu pohon hampir tumbang yang tidak terlalu besar dengan daun yang
menggantung di udara. Segera Jake memakai sarung tangannya, menutup mata dan
membukanya. Iris kuningnya menatap benda itu yang tiba-tiba membengkok lalu
melayang terbang ke arah Jake. "Lebih baik menunggu pohon ini agak kering baru
membuat api. Aku harap anak itu tidak kembali dengan cepat," gumam Jake sambil
melepas ranting-ranting dari pohon

Sementara itu, Rio berjalan lebih dalam lagi kedalam goa. "Ah tidak.. Aku tidak
membawa api. Gelap sekali~" keluhnya. Udara di dalam sana sangat dingin dan
lembab. Mungkin karena hujan diluar dan jarang terkena sinar matahari. Ia
menempelkan tangannya ke dinding goa untuk menuntunnya maju. Sepanjang ini
tidak ditemukannya tanda-tanda adanya beruang disana. "Apa aku kembali saja?" Rio
menghela nafas setelah berjalan 50 meter lebih dalam. 'tidak! Tidak ada beruang,
kelelawar pun jadi!' Rio pun melanjutkan perjalanannya hingga akhirnya ia menabrak
sesuatu karena ia tidak bisa melihat dengan jelas. Ia mengelus dahinya dan meraba
benda yang ditabraknya. "jalan buntu? Menyebalkan!! Aku lapaaaar!!" keluhnya. Ia
membalikkan tubuhnya dan berjalan menyusuri dinding goa untuk kembali ke tempat
Jake menunggu.

Jake melepas sarung tangannya sambil menghempas badannya ke tanah. Hujan sudah
berhenti dari tadi sehingga mangkuk dan cangkang sudah penuh dengan air. Selama
beberapa waktu, pohon dan ranting itu menjadi kering dan dia sudah berhasil
membuat api unggun di depan goa. "Akhirnya selesai juga tugasku," kata lelaki pirang
ini. Jake menengok ke dalam goa lalu mendapati betapa gelapnya di sana. Sebenarnya,
dia penasaran keadaan Rio. Apakah memang betul ada beruang yang bisa dimakan?
Apakah ini hanya ucapan jahil Rio saja? Ia tidak tahu. Jake hanya bisa menunggu anak
es itu kembali dan melihat hasilnya.

"Ooh!!! Sudah dekat!!!" Rio tersenyum. "Oi! Jake! Aku dapat makan siang kita!!!" ia pun
mempercepat langkahnya, menghampiri Jake yang sedang melihat keluar. "Beruang~
daging beruang~" nyanyinya lagi. Ia sudah tidak dapat mendengar suara hujan dan
cuaca sudah terlihat lebih terang. Ia hanya dapat menyimpulkan bahwa hujan sudah
berhenti ketika ia memburu beruang tersebut. Sesampainya di mulut goa, Rio
membentuk pisau dari es dan mulai menguliti beruang hasil buruannya. "Jake, boleh
tolong bantu aku? Apa yang sedang kau pikirkan? Kita pasti akan selamat. Tenang saja,
kau bisa keluar dan menikah, lalu menghasilkan anak-anak yang lucu! Dengan
ketampananmu juga aku jamin kau bisa mendapat istri yang cantik! Jadi santai saja dan
bantu aku. Kita makan daging beruang~" kata Rio jahil sambil menepuk pundak Jake

Jake mendesah mendengar perkataan anak ini. Ia hanya menatap Rio diam dan bangkit
dari tidurnya. Ia merangkak kearah beruang itu dan mengeluarkan pedang yang ia
ambil dari kaki kalajengking. Tangannya dengan lihai menguliti kulit binatang itu
tanpa kesulitan apapun. Dia sudah terbiasa untuk melakukan semua hal dengan benda
tajam. Dia sangat menyukai benda tajam mulai dari pisau kecil sampai pedang besar.
Karena tuntutannya sebagai Noble, dirinya sudah dilatih sedemikian rupa demi nama
keluarganya. Ditambah, Jake termasuk lelaki yang cepat dalam belajar membuat
kakaknya ingin sekali dirinya masuk sebagai TCO. Sesudah semua kulit terlepas, Jake
berdiri sambil mengangkat pedangnya untuk membagi daging hewan itu menjadi dua,
"Hei lelaki es, minggirlah! Aku akan memotongnya."

Rio hanya bisa menatap Jake diam dengan ekspresi kagum, "kau bahkan lebih cepat
dari ibuku... Noble memang hebat" Rio bergeser dari tempatnya dan berdiri di samping
kiri Jake.

Jake memotong beruang itu menjadi dua dengan pedang kalajengkingnya kemudian
menatap Rio kebingungan. Memang dari baju dan jubah Jake terbuat dari bahan bagus
dan terlihat seperti seorang dari kaum tinggi, namun ia tidak pernah menyebut nama
keluarga Aceline kepada semua orang yang ia jumpai. Mengapa? Karena Jake bukan
tipikal orang yang membanggakan nama Noble di hidupnya. Lagipula, lebih baik Jake
merahasiakan dirinya agar orang memandangnya normal. Namun entah mengapa,
lelaki es ini bisa mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Noble. "Kau menyebutku
Noble? Bagaimana bisa?"

"Hanya menebak," Rio menjulurkan lidahnya. "Tapi, apa itu benar? Reaksimu cukup
menarik," Rio tersenyum polos.
"Oh begitu, kau bisa tebak aku Noble dari mana?" balas Jake menahan kegelisahannya
sambil memandang Rio penasaran.

Rio tersenyum lebar. Untung saja ia dapat membaca orang lain. Ia dapat melihat Jake
sudah mulai panik. Kalau dugaannya benar, ia bisa mendapatkan sesuatu yang
menambah nilai positif dirinya. "Dari pakaianmu. Juga sepatumu, jubahmu, tasmu.
Semua terbuat dari bahan kualitas tinggi. Jangan terlalu diambil pusing. Aku hanya
menebak. Benar atau tidaknya aku tidak tahu" Rio melepas cincinnya dan
memasukkannya kedalam kantung celananya. Setelah itu, ia mengambil beberapa sisa
ranting yang diambil Jake untuk menusuk daging beruang yang sudah dipotong.

Jake menaikkan alisnya sedikit dan mengangguk, "Hm baiklah. Memang benar aku dari
Noble." Jake menusuk daging dengan ranting untuk dimasak. Selama menunggu
daging matang, Jake mulai merasa bosan. Untuk mengatasi hal itu, pria rubik ini
membuka pembicaraan kepada lelaki es ini, "Kalau kau? Kau berasal dari faksi mana?"

Mendadak dikejauhan semak-semak bergoyang. terlihat sesuatu yang putih dengan


sedikit warna pink berjalan dengan sangat cepat. Dengan gesit sesuatu ini bersembunyi
dari pohon ke pohon.

Jake yang tadinya ingin menggigit daging tiba-tiba berhenti saat melihat seseorang
melintas diantara pepohonan. Pria itu diam-diam memegang pedang kalajengkingnya
di balik jubahnya, mempersiapkan diri untuk bertarung. Ia berjalan mendekati
bayangan tersebut perlahan-lahan sambil berbisik kepada partnernya, "Rio, sepertinya
kita kedatangan tamu."

'Asap api. Seseorang di situ.' pikirnya sambil mencoba melirik dari balik pohon di
jejauhan. 'Jubah merah, itu pasti Jake. Satu orang lagi...' pikirnya sambil terus mengamati
kedua orang tersebut. Ia mencoba untuk menilai bagaimana orang tersebut.

"Siapa disana?" Jake mulai menarik pedang tanpa mempedulikan Rio yang ada di
belakangnya. Ia tidak tahu siapa di balik pepohonan dan berharap tidak bertemu
dengan peserta psikopat lagi. Walaupun sebenarnya, ada lelaki es yang menemaninya
tetapi tetap saja, ia tidak mau masuk dalam masalah. "Kami tidak ingin mencari gara-
gara dengan siapapun dirimu. Keluarlah dan apapun itu kita bisa bicarakan!"

Baru saja Rio ingin menjawab, Jake sudah memberikan tanda untuk siaga. "Eeh..
Kenapa harus saat aku lapar? Semoga saja itu makanan dan bukan peserta," keluhnya.
Rio memasukkan tangannya kedalam kantung celana dan menggenggam cincinnya. Ia
siap kapanpun harus menggunakan kekuatannya.

Tidak yakin orang yang belum dikenalnya akan nantinya perlu dibunuh atau tidak, ia
hanya tetap di balik pohon. Ia hanya mengamati dengan diam.
Langkah kaki Jake makin pelan menelusuri setiap pohon. 'Aku harus terlihat seperti orang
baik agar tidak terjadi pertarungan,' pikir pria Noble itu sembari memeriksa keadaan
sekitarnya. "Dengar, kami tidak akan menyakitimu. Tapi tolong keluarlah dan katakan
apa yang kau mau."

Orang yang tak dikenalnya memasukkan tangan ke dalam kantongnya yang membuat
dirinya waspada bahwa apapun bisa keluar dari kantong tersebut dan lebih baik untuk
menjauhinya. Namun memang ia perlu bertemu dengan Jake untuk berbicara sedikit, Ia
pun berjalan lebih jauh dan dengan sengaja sedikit menongolkan tombak
kalajengkingnya di balik pepohonan dimana hanya bisa dilihat Jake.

Mata pria pirang ini tertuju pada tombak yang berada jauh dari tempat ia berdiri. Jake
memandang Rio bergantian sambil memberikan kode untuk mendekati tombak itu.
Saat ia berjalan kembali, Jake melepas genggaman dari pedangnya serta mengangkat
tangannya diatas, "Namaku Jake dan ini adalah temanku Rio. Sekarang aku tidak
mengambil senjataku dan begitupun dengan Rio. Aku harap kita bisa lakukan hal ini
tanpa adanya pertarungan."

Tombak kalajengking tersebut masih tidak bergerak.

Jake menghela nafas karena tidak ada respon yang diberikan. Sepertinya orang ini tidak
percaya dengan mereka berdua. Ditambah lagi, Jake lebih memilih jalan damai dengan
membiarkan orang itu bersembunyi disana. Maka dari itu, pria Noble ini menengok ke
arah Rio dan berkata, "Hei anak es, sepertinya kita pergi saja. Tidak ada gunanya
disini." Jake mulai berjalan cepat menjauhi tempat itu namun tetap siaga jika ada yang
menyerangnya dari belakang.

"Hei! Namaku Rio! Aku kan sudah tidak memanggilmu pak tua. Paling tidak panggil
namaku dengan benar," Rio menggaruk kepalanya dan menghela nafas.

Dirinya hanya mengamati dari jauh dan sedikit mengehela nafas tanda kecewa. Setelah
melihat bahwa seseorang yang dipanggil Jake anak es itu menurunkan penjagaannya
dan dengan santai balik ke api unggun, ia berjalan mendeka kepada Jake namun masih
dalam persembunyiaannya. Lalu ia berkata kepada Jake dengan nada serius, "Aku tahu
kamu dan kamu tahu aku Jake. Aku sedikit kecewa kau tidak datang mendekat. Akan
lebih mudah bagi kita untuk berbicara sedikit."

'Suara itu... Aku rasa aku mengenalinya..,' bisik Jake dalam hati. Jake yang tadinya ingin
duduk langsung berhenti dan menengok ke arah tombak itu. "Benarkah? Sepertinya
kita pernah bertemu ya. Kalau begitu tunjukkan dirimu."
Tombak tersebut hanya berdiri di sana tidak bergerak sedikit pun. "Kecilkan suaramu
Jake. Aku hanya ingin berbicara kepadamu. Kau lihat senjataku ada di sana. Itu adalah
bukti bahwa aku tidak bermaksud bertarung. Aku akan kasih tahu di mana posisiku
tapi jangan kau memutar badanmu ke arahku. Aku tidak ingin bertemu dengan pria es
tersebut untuk sekarang." bisiknya kepada Jake sambil memastikan pria es tersebut
tidak mendengar.

Setelah masuk kembali kedalam goa, Rio mengambil sebuah ranting, berjongkok dan
memainkan api unggun di depannya. Ia butuh api unggun tersebut untuk
menghangatkan tubuhnya. Hujan tadi membuat udara menjadi dingin.

Jake memutar matanya sambil mendesah karena mendengar permintaan orang ini. Pria
rubik ini kemudian memeriksa apa yang dilakukan Rio sekarang dan sepertinya ia
tidak peduli lagi dengan orang yang bersembunyi ini. "Baiklah.... Aku percaya padamu.
Kau ingin bicara apa?"

"Jangan putar badanmu. Aku berada di jam tujuhmu. Aku Vanessa, kita sempat
berbicara sebelum ujian kedua ini dimulai. Aku kira kau tidak terlalu berminat dalam
bekerja sama dalam sebuah tim. Kenapa sekarang kau bekerja sama dengan orang itu?
Dari awal ujian menurutku orang itu tampak sedikit asing." tanyanya sambil masih
dengan suara yang tidak terlalu keras hanya terdengar oleh Jake. Dengan
diberitahukannya posisnya, tampak dari tadi ia berada di tempat yang berebeda
dengan tombak itu dan itu hanya digunakan untuk menarik perhatian Jake agar ia
dapat berbicara hanya berdua dengan Jake. Hal ini dilakukan karena kondisi di hutan
ini memunculkan banyak sifat asli seseorang. Dengan dihadapkannya mereka dengan
bahaya akan hidup mereka dan kesempatan untuk membunuh, seseorang dapat
dengan bebas melakukan apapun yang mereka mau termasuk membunuh seseorang.
Walaupun orang yang ada dihadapannya ini merupakan salah satu orang pertama
yang ia percaya tapi ia tahu betul kemampuan seseorang dalam memakai topeng.
Jake mulai memfokuskan pendengarannya ke arah jam tujuh. Mendengar nama
Vanessa disebut, pria Noble ini langsung teringat kepada wanita yang ia temui di ujian
pertama. Wanita itu yang telah memberikan potongan rubik kepada Jake dan sempat
mengadakan percakapan dengannya. "Wow, tidak kusangka di hutan seluas ini kita
bertemu kembali," Jake menjawab suara itu dengan nada menggoda. Dia kemudian
menatap Rio yang masih saja bermain dengan api. Ia berharap anak itu tidak
melakukan hal yang aneh-aneh selama mereka berbicara. "Awalnya aku memang tidak
ingin punya tim, Vanessa. Tapi...," Jake mengerutkan dahinya saat ia mendapati Rio
bertingkah usil dengan kayu di api unggun, "Hahh... Entahlah, orang ini tiba-tiba
muncul dihadapanku kemarin malam."

'Kemarin malam berati sekitar waktu ada serangan kalajengking. Kalau Jake membiarkan orang
ini hidup dan masih bersamanya berarti orang itu dapat dipercaya dan Jake juga dapat diajak
bekerja sama. Apalagi makan bersama....' pikir Vanessa. "Baiklah... putar badanmu. Maaf
aku harus melakukan ini, aku harap kau tidak tersinggung. Aku percaya padamu."
Vanessa berkata dengan santai sambil berjalan mendekati Jake dan melewatinya untuk
mengambil tombaknya di balik pohon. Rok yang tadinya pada awal ujian mencapai di
bawah lutut sekarang sudah menjadi pendek karena kainnya dipakai untuk mengikat
beberapa hal seperti senjatanya dan pelindungnya di lengan. "Dan, untuk ujian ini
bagaimana menurutmu? Apa kau berminat untuk bekerja sama? Aku rasa pintu di
tanah hutan yang luas ini akan lebih mudah ditemukan bila kita bekerja sama. Dan soal
monster... kurasa kita bisa menanganinya." lanjut Vanessa sambil mengambil
tombaknya dan berjalan kembali ke arah Jake dengan santai untuk berbicara tidak
peduli bila pria es tersebut melihat dirinya atau tidak.

"Pak tua! Aku ingin mencoba sesua- Woah! ternyata orang asing tersebut perempuan!
Kau benar-benar memanfaatkan ketampananmu dengan baik!" Rio menyengir setelah
melihat wanita yang baru saja dilihat olehnya menghampiri Jake. "Tunggu. Sepertinya
aku pernah melihatmu. Tapi dimana, ya?" Rio melempar ranting yang dipengangnya
ke api unggun lalu berdiri dan berjalan menghampiri mereka untuk mengamati wanita
tersebut lebih lanjut.

Jake melonjak kaget saat Rio berkomentar tidak jelas melihat wanita itu. Kemudian,
pria Noble itu menuruti kata Vanessa sambil memutar balik badannya dan berkata,
"Akhirnya kau keluar juga... Tentu saja, aku tidak masalah untuk bekerja sama."

Sirine mulai berbunyi membuat seluruh peserta menghentikan aktivitasnya. Kali ini
sirine berbunyi lebih kencang dibandingkan sebelumnya membuat beberapa calon TCO
menutup telinganya kesakitan karena nadanya yang melengking. Terdengar suara
mikrofon diketuk dilanjutkan dengan Aron berbicara, "Sirine kali ini berbeda dibanding
sebelumnya. Tetap patuhi perintah pertama, cari tempat persembunyian. Tapi, berhati-
hatilah! Apalagi.... di tanah yang kalian pijak."

"Kawan-kawan kurasa kita harus berpindah, kalian ada tempat bersembunyi yang
aman?" tanya Vanessa kepada mereka berdua.

"Bagaimana kalau aku bekukan saja tanahnya? Biar tidak ada yang bisa keluar dari
tanah," canda Rio sambil menggunakan cincinnya.

Jake memincingkan matanya ke Rio dan protes, " Rio.. Ini ide terburuk yang pernah
kudengar. Kau ingin kita tergelincir dan jatuh tak berdaya?" Pria pecinta rubik ini
menghela nafas sambil melihat Vanessa, "Aku tidak tahu tempat mana yang bagus
untuk sembunyi. Kau ada ide?"

"Hehehe," cengir Rio.


"Gua kalian, lantainya batu bukan? Kalau iya kurasa kita akan aman." Vanessa berkata
kepada mereka sambil megarahkan kepalanya ke arah gua mereka.

"Boleh, ayo kita kesana!" Jake berlari kesana diikuti dengan kedua temannya. Jake
masuk ke dalam goa dan mencari tempat persembunyian agar tidak terlihat oleh
monster atau apapun yang akan muncul sesudah sirine. "Teman-teman, aku
bersembunyi disini ya!" Jake berlutut serta bersandar pada batu di belakangnya sambil
melihat keadaan di luar goa lewat sela-sela batu.

Setelah Vanessa melihat apa yang dilakukan Jake diapun juga mulai mencari tempat
persembunyian. Ia menemukan celah di dinding yang bisa ia masuki namun
sedikit harus memanjat. Vanessa pun mulai memanjatnya namun saat ia menggunakan
kaki kirinya ia terpeleset yang mengakibatkan sedikit kerikil berjatuhan dan
menimbulkan suara di seluruh gua. Boot kirinya sedikit terbuka dan terlihat kaki
kirinya terdapat luka bekas lelehan yang sedikit diolesi obat-obatan dari daun. Ia pun
kembali mengambil pijakannya dan masuk ke dalam celah tersebut duduk dengan
diam.

Rio melihat mereka berdua secara bergantian. "Aku harus bersembunyi dimana?"
tanyanya. Karena tidak ada jawaban dari mereka, Rio memilih untuk meringkuk dan
menyembunyikan wajahnya, lalu membentuk dinding es di sekelilingnya, membuatnya
terlihat seperti berada di dalam sebuah bola es. Namun, ia tidak sengaja melihat luka di
kaki kiri wanita tersebut saat ia sedang memanjat. "Kau tidak apa-apa, nona?
Bagaimana kalau aku aku bekukan? Eh tidak deh.. Jangan. Nanti sel tubuhmu yang
membeku akan mati. Bagaimana menurutmu, Jake? Tidak baik kalau kaki seorang
wanita memiliki bekas luka," kata Rio sambil mengamati luka di kaki wanita berambut
silver itu dari kejauhan.

Vanessa hanya mengintip dan kembali bersembunyi.

Jake mendesah kembali sambil memberikan ekspresi datar ke arah Rio. Entah sampai
berapa lama dia harus bersama anak es ini, karena belum sampai sehari Jake sudah
tidak tahan mendengar ocehan Rio. "Terserah, lakukan apa yang kau mau."

"Aku tidak bisa apapun tentang luka, jadi aku tidak akan melakukan apapun," kata Rio.
Ia melihat ekpresi Jake dan memutuskan untuk berhenti berbicara.

'Aku akan mati tidak ya dengan mereka?' pikir Vanessa. Mendadak gua yang mereka
tempati bergetar lumayan hebat. Getaran pada gua tersebut lumayan hebat sehingga
beberapa stalaktit di atap gua jatuh dan beberapa menghantam bola es Rio. Vanessa
memperkuat pegangannya pada sisi celah. Setelah beberapa lama terjadi getaran, gua
tersebut terasa seperti melayang. Gerakan ini mengakibat bola es Rio bergelinding ke
bagian dalam goa. Vanessa melihat bola es Rio menggelinding dari tempatnya. 'Rio...
Aku tidak percaya ini.' pikir Vanessa dengan ekspresi sweat drop.

'Ini lebih serius dari yang kukira. Aku tidak mau, tapi aku harus berhenti bermain-
main. Membosankan~' pikir Rio. Ia pun membuat bola es di sekelilingnya menghilang
setelah bola es nya berhenti karena membentur sesuatu. Rio menemukan
keseimbangannya kembali dan memutuskan untuk diam di dalam sampai ada tada-
tanda Jake atau wanita asing itu bergerak.

Jake memandang mereka berdua sambil berpikir, 'Hahhh.. Jika keadaan makin parah, lebih
baik aku pergi sendiri saja.' Goa yang mereka tempati bergetar semakin hebat membuat
beberapa batu kecil dari langit-langit berjatuhan. Jake mengintip melalui sela batu
untuk melihat situasi dan hasilnya kosong. Ia tidak mengerti mengapa tempat ini
bergetar, padahal tidak ada monster atau benda apapun yang berkeliaran. Saat Jake
ingin memeriksa situasi untuk kedua kalinya, tiba-tiba mulut goa terlihat bergerak
seakan-akan maju. Pria ini menggosok kedua matanya berharap apa yang dilihatnya itu
salah. Namun, tetap saja mulut goa itu justru makin bergerak maju dan kecepatannya
pun makin meningkat. "Hei, ada apa ini?" sahut Jake kebingungan.

"Kurasa goa ini sedang sedang bergerak! Tunggulah nanti setelah sirine berhenti.
Jangan keluar dulu sekarang." Vanessa berkata.

"Oh tidak, " Jake berpegangan erat dengan batu dibelakangnya. "Hati-hati kalian
semua! Jangan sampai kalian terhempas keluar goa!" teriak Jake.

Rio mendengar teriakan Jake dan membentuk dinding dari es di sekelilingnya untuk
melindunginya dari jatuhan batu dan stalaktit. 'Semoga saja sirine ini cepat selesai. Kalau
tidak, aku bisa cepat mati di dalam tempat ini.'

Sedikit demi sedikit bunyi sirine semakin mengecil dan akhirnya mati. Namun goa
tersebut masih terus bergerak. Karena terlihat aman akhirnya Vanessa memutuskan
untuk keluar dari celah dan melihat ke luar gua. Pemandangan yang ia lihat sangat
menakjubkan. Ternyata monster kali ini memiliki tubuh terdiri dari pepohonan dan goa
tempat mereka bersembunyi adalah bagian dari tubuh monster tersebut. Dari mulut
goa tersebut yang terletak di punggung monster Vanessa dapat melihat seluruh hutan.
Namun yang menarik perhatiannnya adalah suatu area yang tidak memiliki pohon dan
untungnya monster ini berjalan ke arah area tersebut. Semakin dekat dengan area
tersebut Vanessa dapat melihat ada sesuatu yang berbeda dari tanah di sekitarnya
mirip dengan papan kayu. "Kawan-kawan, kalian harus melihat ini." Vanessa
memanggil Jake dan Rio menunjuk ke papan kayu tersebut.

Suara sirine sudah mati, namun tanah yang dipijaknya masih sedikit bergetar. Namun,
getaran yang sekarang ini tidak menyebabkan batu-batu berjatuhan. Rio dengan segera
menghilangkan dinding es di sekelilingnya. "Ouch. Sangat menyebalkan.." Rio
mengamati punggung tangannya yang memerah dan terasa sedikit gatal. Rio berlari
keluar dari goa dan melihat ke sekelilingnya. Setelah beberapa waktu, ia menemukan
apa yang ditunjuk oleh wanita asing tersebut. "pintu!!!" bisik Rio. "Hei monst-" belum
sempat Rio menyelesaikan teriakannya, mulutnya sidah dibekap oleh wanita tersebut.

Vanessa yang tadinya sedang menunjuk ke arah papan kayu tersebut lansung memutar
badannya ke arah Rio dengan kaget. "Rio! apa yang kau lakukan?! Tutup mulutmu!"
bisik Vanessa kepada Rio dengan suara tegas sambil berusaha menutup mulut Rio.
Namun disayangkan Vanessa yang lebih pendek dan tangannya yang jauh lebih kecil
membuatnya kesusahan untuk menutup mulut Rio. Mereka berdua pun sedikit
bergulat dengan Rio mengeluarkan suara-suara aneh melalui mulutnya yang terbekap.

Jake berlari keluar saat Rio mulai berteriak tidak jelas. Tangan pria itu mulai menutup
mulut anak es yang awalnya sudah dihalangi Vanessa sambil berkata, "Rio, jangan
memanggil siapapun!" Tanah yang mereka pijak semakin berguncang hebat. Karena
tidak bisa menjaga keseimbangan, mereka bertiga terjatuh dan menggelinding ke
dalam goa sampai punggung Jake terantuk batu besar. Saat Jake meringis kesakitan,
datanglah tubuh Rio dan Vanessa meluncur ke arah pria ini lalu menimpa seluruh
tubuhnya sampai udara di paru-parunya keluar. Ditambah ikatan jubah merah Jake
mencekik lehernya sehingga membuat dirinya sesak nafas dan memerah, "Ka-Kawan,
ba-ba-bangun kali-li-lian! A-Aku hahhh..ti-tidak...bi-"

Vanessa yang masih menutup matanya kemudian baru menyadari bahwa ia mendarat
di sesuatu yang empuk. Hal pertama yang ia sadari adalah suara Rio sudah tidak
terdengar lagi yang berarti merupakan hal yang bagus. Namun suara lain terdengar
seperti suara seseorang yang sedang tercekik. Masih pada posisinya Vanessa mulai
mencari sumber suara tersebut ke kanan dan kiri. Ternyata suara tersebut berasal dari
bawahnya dan ia baru sadar bahwa dirinya dan Rio mendarat di atas Jake. Jubahnya
terbelit yang mengakibatkan lehernya tercekik. Muka Jake sudah memerah karena
tercekik dan kehabisan nafas. "Jake!" Vanessa berkata sambil berdiri.

Rio membuka matanya yang tertutup secara refleks karena terjatuh. Ia mendengar
suara Jake yang seperti kehabisan nafas. Ia pun melihat ke sampingnya dan melihat
Vanessa yang sedang berdiri lalu melihat ke bawahnya dimana Jake dengan wajahnya
yang memerah sedang berusah mengambil nafas. Ia pun segera berdiri, "Pak tua!! Kau
tidak apa-apa?? Bisa bernafas?"

Pria Noble ini berusaha bangun sambil menarik nafas dalam. Wajahnya yang semula
memerah lambat laun kembali normal, namun ia masih tidak bisa mengontrol
nafasnya. Jujur, ia sedikit kesal dengan Rio karena perkataannya yang tidak masuk
akal. Ia langsung memincingkan matanya ke arah pria itu sambil berseru, "Ka-kau
pikir.. Hah... Aku.. terlihat hah... hah.. bisa bernafas?! A- hah... hah... Apa hah... kau
gila!"

"Sudahlah kalian berdua, ayo ikut denganku. Aku melihat sesuatu seperti papan kayu
di tengah-tengah lapangan kosong. Bisa jadi itu pintunya." Vanessa berkata kepada
mereka berdua sambil mengajak mereka keluar goa. "Dan kali ini tolong jangan ada
yang berteriak. Kurasa lebih baik monster seukuran ini tidak tahu akan keberadaan kita
di punggungnya." Vanessa berkata kepada mereka berdua sambil melotot dan
menekankannya kepada Rio. Untung mereka belum berpindah terlalu jauh dari tempat
tadi dan lapangan kosong terebut masih dapat terlihat. Vanessa pun sedikit berlutut
sambil menunjuk ke arah papan kayu tersebut sambil memberikan kode kepada
mereka berdua. Ketika akan berlutut Vanessa sedikit mengalami kesusahan pada kaki
kirinya karena luka lelehan tersebut yang campuran daun-daunnya sudah mulai
terhapus sudah sedikit memerah terlihat di balik bootsnya.

Saat deru nafasnya kembali normal, Jake menggangguk mendengar perkataan Vanessa.
Ketika ia mulai berdiri, kepalanya sedikit berputar serta punggungnya terasa sakit saat
ia ingin menegakkan badannya. Perlahan-lahan, ia keluar goa menghampiri wanita itu
sebelum ia berhasil menekuk lututnya total. Ia menepuk pundak Vanessa dan berkata,
"Kakimu terluka, Vanessa. Lebih baik aku atau anak es ini saja yang mengecek
keadaannya." Jake kemudian menengok ke belakang dan memanggil teman satunya
memberikan kode untuk datang, "Ayo kesini Rio!"

"Oh, a... um..." balas Vanessa kepada Jake sedikit bingung. Ini pertama kalinya
seseorang khawatir akan keadaan dirinya sehingga ia sedikit bingung akan apa yang
harus dilakukannya. Namun dengan Rio mendekat ia kembali mengalihkan
perhatiannya kepada papan kayu tersebut yang sudah semakin dekat. Terlihat ada
seperti besi papan kayu terebut seperti untuk mengangkatnya. "Kawan, aku rasa itu
pintunya. Kita harus mengecek tempat itu. Kita bisa turun di sini lewat belakang
monster ini supaya ia tidak sadar." Vanessa berkata kepada mereka berdua sambil
berdiri dan mengarah ke belakang monster itu hendak berjalan berharap agar mereka
setuju mengikuti. Walaupun belum pasti benar itu pintunya namun tidak ada salahnya
untuk mengecek tempat itu.

Sudah dari beberapa jam lalu, Aron menguap dan meminum kopi kelimanya. Lelaki
berkumis ini sudah tidak tahan untuk tetap terbangun dalam ujian ini. Air matanya
sudah mengalir berkali-kali, ditambah dengan ingus yang keluar cair setiap saat. Entah
sudah berapa tisu yang ia korbankan demi membersihkan hidungnya. Istrinya tadi
sudah meneleponnya dan membawakan obat agar dia sehat kembali. Namun, ia tidak
ingin meminumnya karena ia tahu pasti obat itu akan membuatnya tertidur dalam
ujian.
Aron membenarkan posisi duduknya, berusaha untuk menegakkan dirinya. Cairan
dari pelupuk mata mulai berjatuhan lagi, diikuti dengan kelopak yang hampir
menutup. Tanpa sadar, cangkir yang dipegang Aron terjatuh membuat dirinya
terbangun lagi. 'Sial aku tidak boleh tertidur!' bisik Aron dalam hati. Ia lalu merapikan
sampahnya itu sebentar dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Setelah itu,
duduklah dirinya kembali di kursi dan erasa kantuknya melanda. Khusus kali ini, Aron
benar-benar tidak berdaya. Kepala lelaki itu langsung tergeletak di meja diikuti dengan
suara dengkuran kencang. Tangan kanan Aron bergeser ke arah tombol sirine perlahan-
lahan sampai akhirnya... sirine itu berbunyi lagi.

Suara sirine tiba-tiba berbunyi membuat mereka bertiga kebingungan. 'Ada apa ini?'
pikir Jake lalu memandang Vanessa dan Rio bergantian.

Vanessa yang kaget mendengar sirine lansung menatap kedua pria dibelakangnya. Ia
yang tadinya berencana untuk berjalan ke belakang monster tersebut ketika mendengar
sirine lansung berhenti di posisinya sambil celingukan kanan kiri mencari tempat yang
cocok. Lalu langsung ia menarik kedua pria tersebut ke mulut goa yang masih tertutup
dari cahaya dan menarik batang daun-daun besar di dekatnya untuk menutupi mereka
bertiga. Pandangannya tidak lepas dari lapangan tersebut untuk menghafalkan
lokasinya.

Jake mengikuti tarikan Vanessa tanpa diberi kesempatan untuk mencari tempat
persembunyian lain. Bersama dengan dua temannya, Jake berhimpitan sambil
memandang wajah Vanessa secara dekat. Sebenarnya, dia merasa canggung karena ia
harus berdekatan dengan wanita. Tapi, Jake tidak bisa berbuat apa-apa sehingga ia
hanya membuang muka dan mengintip dari celah antara daun-daun agar ia tahu apa
yang terjadi diluar sana

Aron melonjak kaget dari tidurnya. Ia panik saat mendengar sirine yang sudah lama
berbunyi. Ia langsung mematikan sirine lalu mengusap wajahnya kasar. "Aron kau
bodoh sekali! Jangan tertidur di saat seperti ini!" gerutunya sambil memukul pelan
kedua pipinya bergantian.

Setelah tidak mendengar suara sirine lagi, Jake melonggarkan himpitannya lalu
menatap Vanessa dan Rio memberi kode kalau tidak ada bunyi sirine. Saat Jake ingin
berbicara kepada Vanessa, ia terdiam sejenak. Untuk pertama kalinya, Jake dapat
memandang wajah gadis itu dalam jarak dekat. Mata hijau gelapnya cukup menarik
perhatian pria Noble ini sehingga ia hanya mengatupkan bibirnya, tidak memulai
pembicaraan sama sekali.

Setelah beberapa lama sirine berhenti, Vanessa melemaskan pegangannya pada batang-
batang tersebut. "Kawan-kawan kurasa-" belum sempat ia menyelsaikan kata-katanya
tiba-tiba.
Aron kembali mengantuk dan tertidur. Kepalanya kembali terjatuh di atas meja dan
kali ini dengan posisi miring sehingga tombol sirine di dekatnya terpencet.

Vanessa kembali menarik batang daun itu lagi dan sedikit membenarkan posisinya
duduknya. Tadinya ia hanya asal bersembunyi, namun ternyata ini akan berlangsung
lebih lama dari yang ia bayangkan. Untuk melihat lebih baik kemana mereka harus
pergi untuk mencapai pintu tersebut ia sedikit memajukan kepalanya ke depan Jake.

Jake mendengar bunyi itu kembali membuat dirinya tersadar. Ia mendongak ke atas
langit karena melihat burung-burung berterbangan dan sedikit bingung mengapa Aron
menekan tombol sirine terus. Lalu, pria Noble ini menghela nafas sambil
mengembalikan wajahnya ke arah semula. Mendadak wajah Jake sedikit memerah
karena wajah Vanessa sangat dekat dengannya.

Terlihat dari pantauan Vanessa bahwa mereka baru saja melewati reruntuhan tembok.
Vanessa memutar kepalanya ke arah Jake dan berkata, "Jake, Rio -memutar ke arah Rio
dan kembali menatap mereka berdua-. Setelah ini kita harus cepat-cepat turun, kita
baru saja melewati reruntuhan tembok dan jarak kita ke lapangan itu sudah semakin
jauh."

"Apakah penjaga bel nya ingin menjadi jahil sepertiku? Ini tidak lucu sama sekali," kata
Rio kesal. "Tentu. Segera setelah penjaga tersebut berhenti membuat keributan, kita
akan turun," jawabnya serius.

Kali ini Aron tidak bangun sama sekali. Ia masih saja tergeletak di mejanya dengan air
liur yang menggenang. Leher Aron terasa sakit dengan posisi miring seperti ini
sehingga tubuhnya reflek membenarkan posisinya menjadi lurus. Seketika itu juga,
sirine berhenti berbunyi.

"Ayo kawan-kawan! Sekarang!" Vanessa memberikan aba-aba kepada mereka berdua


sambil melompat berdiri dan melepaskan pegangannya pada dahan pohon sehingga
dahan itu kembali ke posisi semula.

Jake menggelengkan kepalanya berharap dirinya tidak membayangkan hal aneh-aneh


tentang Vanessa. Ia menuruti kata gadis ini dan melesat pergi mengikutinya dari
belakang. Pria ini memanggil seorang di belakangnya supaya tidak tertinggal, "Rio
cepatlah!"

Segera setelah sirine selesai berbunyi, Jake dan Vanessa bergegas turun dari punggung
monster tersebut. Rio pun dengan cekatan mengikuti mereka dari belakang. Ia tidak
ingin berlama-lama lagi di tempat ini jika penjaga ujian sudah mulai berpikir untuk
menjahili mereka. “Tenang! Aku dibelakang kalian!”
Wajah Aron terlihat damai seperti putri tidur. Awalnya, mulutnya sedikit menganga
dengan suara dengkuran yang cukup keras. Namun, lambat laun dengkuran makin
menghalus dan berhenti. Nafas Aron kembali melembut diikuti dengan senyuman di
bibirnya. "Hm... kue stroberi enak... Istriku, kau ini memang pintar memasak... Hmm...
Rasanya.." gumam Aron tambah mengeluarkan air liurnya. Tangannya tiba-tiba
terangkat dan tanpa sengaja menekan tombol sirine dengan keras.

“Sial! Siapapun itu sebaiknya hentikan!! Entah kau berbuat usil ataupun tertidur di pos
mu, aku tidak mau berurusan dengan sirine menyebalkan ini lagi! Siapapun kau
sebaiknya berhenti sebelum aku mengutukmu jadi botak!” sahut Rio geram. Tanpa
segaja, karena kemarahannya, mulai dari sekeliling mereka bertiga, pilar-pilar es
bermunculan keluar dari tubuh monster tersebut. Monster yang baru saja mulai
bergerak akhirnya berhenti.

Jake mendapati seklilingnya dipenuhi dengan pilar es. Dari tempat Jake berdiri, ada
satu pilar es yang tumbuh membuat pria Noble ini melompat untuk menghindarinya.
Jake tahu bahwa ini pasti disebabkan oleh Rio yang tidak bisa mengontrol
kekuatannya. “Rio, apa yang kau lakukan?!” protes Jake menepuk dahinya.

“Hal ini sangat menyebalkan. Seharusnya kulakukan ini dari tadi agar monster
menyebalkan ini tidak bergerak lagi. Maafkan aku soal ini, Jake. Kekuatanku tidak
terkontrol saat aku kesal,” Rio membungkuk kepada Jake sebagai tanda penyesalannya.
‘Ugh. Kalau bisa, aku tidak mau berurusan dengan monster ini lagi!!!’ pikir Rio.

Jake mendesah pasrah dan menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti.” Pria Noble ini
kemudian mendapati monster ini menggeram kesakitan karena serangan es dari Rio.
Jari-jari besar monster itu mulai meraba-raba bagian belakang dan berusaha untuk
menarik pilar-pilar es tersebut, “Awas semuanya! Kita akan menghadapi serangan!”

“Kalian! Ayo ikuti aku, sirinenya masih berbunyi.” Vanessa berkata lagi sambil
menarik lengan kedua orang ini. Ia menarik mereka kembali ke tempat persembunyian
mereka sebelumnya sambil menghindari pilar es dan berusaha menjaga keseimbangan.
Akhirnya mereka bertiga kembali dan Vanessa sedikit menjatuhkan badannya karena
ketidak seimbangan pijakan mereka. Badannya sedikit menghantam Jake. Dengan, asal-
asalan ia menarik batang pohon tadi lagi. Namun monster ini tampaknya sedikit kesal
karena tidak bisa meraih pilar es di punggungnya sehingga Ia mulai memutar
kepalanya ke punggungnya sambil berteriak keras.
Badan Jake menegang saat Vanessa sedikit menghantamnya. Hal ini membuat Jake
canggung kembali. Namun, ia tidak mau menghiraukannya karena ada yang lebih
penting saat ini. Jake membenarkan sarung tangannya serta jubahnya, menyiapkan
dirinya jika kondisi semakin memburuk.
“Aku tidak tahu apa yang membuatmu canggung. Tapi jangan sampai hal itu
mengganggu keahlianmu dalam bertarung,” bisik Rio. Pria yang biasanya jahil ini
menunjukkan sifat seriusnya yang jarang muncul. Biasanya, dalam hal sesulit apapun
pria jahil ini akan tetap bercanda, namun perbuatan yang tidak disengaja oleh Aron ini
membuatnya kesal dan kehilangan mood untuk mengatakan candaannya.

Tampaknya monster tersebut tidak menemukan apa-apa, namun ketika ia melihat ke


pilar es di punggungnya monster tersebut terlihat sedikit bangga akan penampilannya
sekarang. Monster tersebut kembali melanjutkan perjalanannya dengan santai. Vanessa
yang tadinya tidak bergerak sedikit pun mulai bisa melemaskan badannya karena
monster tersebut sudah kembali tenang. Tangannya masih tetap memegang batang
pohon untuk menutupi mereka karena sirine masih belum berhenti, Tampaknya sirine
kali ini lebih panjang dari dua yang sebelumnya. Dari posisinya ie melihat ke arah Rio
yang tadinya kesal dan berkata, “Sudahlah Rio, mungkin ini salah satu ujian gila
L’escolit Escola.” Lalu ia memutar wajahnya ke arah jake yang lumayan dekat.
Mengingat tadi ia mendapat bisikan peringatan dari Rio ia pun bertanya, “Ada yang
salah Jake?”

Jake menggelengkan kepalanya cepat dan tersenyum canggung, “Ti-Tidak ada apa-apa.
Hanya saja…,” pria itu menggaruk wajahnya yang tidak gatal, “Kau terlalu dekat
denganku dari tadi… Dan rasanya sedikit… Kau tahu.. aneh?” Pria Noble itu kemudian
mengangkat bahunya dan memberikan cengiran khas pada Vanessa, “Tapi aku tidak
masalah. Semua wanita suka berdekatan denganku, bahkan kalau dirimu ingin selalu
bersentuhan denganku pun aku tidak kaget.”

Vanessa sedikit merinding ketika mendengar perkataan Jake. Ia pun mulai


membenarkan posisinya sehingga ia di sebelah Jake dan sedikit memberikan celah di
antara mereka. “Simpan kegenitanmu Jake! Aku berdekatan agar dapat menutupi kita
dengan daun ini. Sirine ini tampaknya lebih lama dan kita akan stuck pada posisi ini.
Jangan macam-macam. Playboy!” Vanessa berkata keras kepada Jake sambil kembali
melihat keluar dan menunggu sirine selesai berbunyi.

Rio melihat Jake dan Vanessa secara bergantian. Sekarang ia mengerti apa yang
menyebabkan kecanggungan Jake dan memilih untuk diam.

Jake tertawa keras melihat ekspresi Vanessa dan Rio. Setidaknya, rasa canggung yang
dirasa Jake berkurang. Lalu dia mengibaskan tangannya sambil berkata, “Tenang saja,
aku hanya bercanda, kok.” Pria Noble ini berjinjit untuk melihat situasi dari atas mulai
menunjukkan ekspresi serius, “Aku punya firasat sirine ini harusnya tidak berbunyi
sebanyak ini. Kita harus menyiapkan diri kita untuk kondisi yang lebih parah.”

Tampak seorang pria tua berambut putih dengan badan yang kuat layaknya seorang
tentara berjalan cepat menyusuri lorong. Baju yang ia pakai menandakan bahwa ia
salah satu pengurus sekolah L’escolit Escola. Ekspresinya kesal menghiasi wajah
seriusnya yang memiliki banyak bekas luka hasil peperangan. ‘Aron! Apa
yang dilakukan orang bodoh ini!’ pikirnya sambil menekan pin untuk membuka pintu
menuju ruang monitor ujian ke dua. Ketika pintu dibuka ia tidak percaya akan apa
yang ia lihat dan menjadi semakin kesal.

Aron mendengkur dengan suara keras dan sedikit menjiplakkan lidahnya. “Sayang…
Jangan habiskan kuenya…. Aku masih mau….” bisik Aron menggeserkan kepalanya
menjauhi genangan air liur.

Ia menggenggam tangannya yang sudah mulai bergetar karena kesal. Awalnya ia tidak
memerhatikan bagaimana proses ujian ini berjalan sekarang dengan teliti. Tapi ia masih
membutuhkan datanya untuk melihat potensi-potensi yang calon TCO miliki. Ketika ia
melihat ujian tersebut ia menyadari ada yang aneh yaitu sirine yang menyala dan mati
terus menerus. Sudah mulai sedikit kesal dan curiga bahwa Aron bermain-main
dengan barang-barang di ruang monitor membuatnya lansung berjalan ke ruangan
tersebut. Melihat kondisi Aron sekarang ia lansung mengambil kotak tisu yang isinya
tinggal setengah dengan bukusan kain renda dan bordir nama Aron yang jelas-jelas
dijahit oleh istrinya. Di pukulkannya kotak tisu tersebut ke kepala Aron.

Aron terbangun dan meloncat dari kursi kerjanya. Tangannya mengusap kepalanya
sambil meringis kesakitan. Ia tidak tahu mengapa ada orang yang mengganggu
tidurnya. Sudah tahu dia sedang capek dan sakit, ada saja yang membangunkan dia
dengan ‘kasar’. Aron sejenak lupa alasan mengapa dia berada disini. Egonya muncul di
permukaan sehingga ia lebih memilih untuk memprioritaskan dirinya sendiri
dibandingkan ujiannya. Dengan amarah yang memuncak, ia memandang orang itu dan
berkata. “Hei! Apa yang kau laku-” Mata Aron membulat saat mendapati wajah senior
dia berdiri sambil mencengkram kotak tisunya. “Eh- anu… Aku…”

Pria ini hanya memandangi Aron dengan tatapan mengerikan. Badannya yang
lumayan tinggi dan tegap menjulang tinggi mendominasi Aron. Setelah beberapa
lama ia menatapinya dengan tampang yang sangat kesal, ia pun mulai berkata dengan
suara kesal dan menekankan setiap perkataannya, “Kau. Tahu. Apa. Yang. Kau.
Lakukan?” Cengkramannya pada kotak tisu cantik Aron sudah mulai bergetar lagi
karena amarah.

Aron mengetukkan jarinya satu dengan yang lain berusaha menetralisirkan detak
jantung yang meningkat. Udara di sekitar Aron jadi mendingin cukup membuat Aron
tambah merinding melihatnya. Lelaki berkumis ini memberikan cengiran aneh ke pria
itu dan membalasnya, “Hehehe.. Saya.. Anu….” Bola mata Aron memandangi tombol
sirine dan wajah lawan bicaranya secara bergantian. Keringat dingin yang berasal dari
pelipisnya menurun kearah pipi dan ini merupakan pertahanan akhir darinya. Lelaki
ini langsung berdiri dan membungkukkan badannya, “MAAFKAN AKU PAK! AKU
TERTIDUR DAN SIRINE BERBUNYI TERUS.” Aron kembali berdiri tegap dan
memelas, “Aku sedang sakit dan aku tidak bisa menahan rasa kantukku. Padahal aku
tidak meminum obat dari istriku, tapi tetap saja aku tak berdaya.”

“Kalau bagitu cepat matikan bodoh!” perintah pria tua ini sambil menaruh kotak tisu
cantik Aron kembali ke tempatnya dengan sangat keras sehingga membuat suara di
seluruh ruangan. Membiarkan kotak tisu itu berdiri dengan damai ditempatnya, ia
kembali terus memandangi Aron dan mengawasi setiap gerakan kecil yang dilakukan
Aron sambil melipat tangannya di depan dadanya.

Dengan gemetar dan cepat, Aron menekan tombol sirine kencang. Ia memandang
atasannya itu sambil memberikan senyum aneh penuh ketakutan, “Su...Sudah, pak!”

Pria ini melotot ke arah Aron untuk beberapa detik dan lalu menghembuskan nafas
sebagai tanda kesal. Kemudian ia berbalik ke arah monitor dan mulai menekan
beberapa tombol sambil berkata dengan nada marah, “Ayo kita lihat apa yang
kekacauan apa yang terjadi di arena ujian akibat tindakan bodohmu.” Ketika ia hendak
menekan beberapa tombol yang ada di keyboard ia melihat bekas liur Aron dan
kemudian memberikan pandangan jijik dan kesal kepada Aron.

Aron hanya tertawa canggung lalu menghampiri pria itu dari belakang. Ia mengelap
dahi dan menghembuskan nafasnya berkali-kali untuk mengatasi rasa gugupnya.

Pria ini kemudian berpasrah bahwa ini adalah tindakan Aron dan mengeluarkan
sarung tangan dari kantong jasnya. Ia pun mulai menekan beberapa tombol untuk
melihat kamera yang berbeda-beda di beberapa tempat. Tampak beberapa peserta
sudah mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Sedikit mengecewakan bahwa
hasil ujian sejauh ini hanya sedikit yang selamat. Apa lagi setelah mereka
menggunakan beberapa monster unggulan mereka. Ia berharap para calon TCO banyak
yang lebih hebat dibanding dengan yang dulu. Lalu layar berganti ke segerombolan
peserta yang berada di punggung monster yang baru dikeluarkan. Ia tampak tertarik
dengan mereka bertiga. Ia pun menaruh mereka pada layar utama dan
mengamatinya dengan seksama mencoba menghafal tampang mereka bertiga dan
mengenalinya.

Aron hanya diam di belakang dan berusaha untuk tidak menganggu atasannya.

Tanpa melepaskan pandangannya dari monitor kemudian pria ini berkata, “Aron.”

Aron sedikit melonjak mendengar namanya dipanggil, “Iya pak?”

“Kau tahu siapa ketiga orang ini?” tanya pria tersebut sambil memandang Aron.
“Oh itu!” Aron berjalan ke meja kerjanya, membuka satu laci di tengah yang berisikan
kertas-kertas data dari setiap orang yang selamat. Ia menaruhnya di atas kursi dan
mengeceknya satu persatu. Tanpa butuh waktu lama, Aron berhasil menemukan data
tiga orang tersebut. Aron kembali mendekati pria itu dan menjelaskan isi dari kertas
satu persatu, “Wanita satu-satunya disana bernama Vanessa Cortaz yang berasal dari
Lamia. Lalu, pria yang memakai sweater itu bernama Rio Achashverosh yang
bersaudara dengan Leo Achashverosh. Yang terakhir, kau pasti mengenalnya, Jake
Aceline salah satu keluarga Nobel dan kau tahu dia seperti apa.”

Pria ini kemudian meminjam kertas data ketiga orang tersebut. Tidak pernah ia melihat
calon TCO memanfaatkan monster yang mereka buat, dan untuk selamat berada di
punggung monster tersebut merupakan hal yang istimewa. Dilihat dari barang-barang
bawaan mereka yang merupakan persenjataan dan pelindung yang digunakan wanita
tersebut terbuat dari monster sebelumnya memberikan petunjuk pada pria ini bahwa
mereka memiliki potensi yang besar untuk menjadi TCO yang baik. Melihat kertas
pertama yang merupakan data Rio Achashverosh memberikan ia kesan bahwa orang
ini tidak bisa terlalu serius namun memiliki kekuatan yang istimewa dimana bila
dilatih bisa akan menjadi TCO yang baik. Kertas kedua, Jake Aceline, ia bergumam,
”Adik dari Alexander.” Ia mengingat bahwa kakaknya merupakan salah satu TCO
yang pintar dan bisa diandalkan ketika TCO lainnya tidak mampu. Tetapi adiknya
tidak berniat menjadi seorang TCO. Kalau anak itu berada di ujian ini dan masih
selamat sampai sekarang berarti anak ini lumayan serius. Ia berharap anak ini tidak
akan mengecewakannya dan nantinya dapat dilatih menjadi salah satu TCO terhebat di
institusi seperti Alexander. Kertas terakhir, Vanessa Cortaz, ketika melihat wajahnya
entah kenapa pria ini merasakan sedikit perasaan aneh seperti ketakutan. Untuk
beberapa lama ia memandangi wajah peserta TCO ini. Setelahnya ia melihat bahwa
anak ini memiliki data yang biasa-biasa saja. Namun tetap saja dilihat dari
perlengkapan dan kemampuannya, anak tini ampak masih mempunyai banyak potensi
terpendam. Kemudian dia pun menyerahkan kembali kertas ini kepada Aron sambil
berkata, “Pastikan kau membuat laporan lengkap mengenai ketiga orang ini nantinya.
Aku ingin tahu lebih banyak mengenai mereka.”

“Tentu pak, akan kucari!” jawab Aron mengambil kertasnya lalu memberi hormat.

Pria ini kemudian meninggalkan ruangan itu. Sambil berjalan keluar ruangan ia
membuat sarung tanganya ke atas tumpukkan tisu bekas Aron di tong sampah. Ia
kembali menuju ruangan kerjanya dimana ia juga bisa memonitor ujian. Identitas
ketiga orang tersebut tidak akan pernah ia lupakan. Ia sedikit puas bahwa ada tiga
calon TCO yang memiiki potensi bagus dan berharap bahwa ketiga orang ini tidak
mengecewakan. Sedikit melonggarkan kerah lehernya, pria ini mencoba untuk
memberikan dirinya lebih banyak angin dan mencoba untuk sedikit menenangkan
dirinya dari perasaan aneh yang baru saja ia rasakan. Tidak seperti biasanya ia merasa
seperti ini dan apapun itu sebaiknya ia cepat-cepat mengembalikan dirinya ke normal
lagi.

Aron menunggu atasannya keluar dari ruangan ini. Setelah pintunya tertutup, lelaki ini
langsung duduk melemas di lantai sambil memukul kepalanya pelan. “UNTUNG AKU
TIDAK DIBUNUH! AKU BISA SAJA MATI!” teriak kebebasan Aron dengan
mengangkat tangannya di udara, “Terima kasih Aceline! Cortaz! Acha- ehm….
Maksudku.. Achaef ehm-! Bukan bukan Achashivering? Acha- AH SUDAHLAH!
Siapapun namamu hai lelaki aku berterima kasih.”
***

Setelah hujan berhenti, Leo dan Yera, ditambah dengan Eliza yang baru bergabung
dengan mereka melanjutkan perjalanan. Tadi ia sempat mendapatkan tidur yang
cukup, paling tidak ia sudah merasa lebih segar sekarang. Terlebih lagi ia sudah tidak
merasakan haus. "Yera, kau mau kita berpisah seperti sebelumnya atau tidak?" Tanya
Leo tiba-tiba.

Eliza yang tadinya berjalan di belakang mulai maju kesamping Yera dan berkata,
"Kalian ingin beristirahat lagi? Apa tidak sebaiknya kita lanjutkan saja perjalanan kita?
Hutan ini lumayan luas dan untuk mencari pintu di tanah kurasa akan lebih baik bila
kita terus berjalan."

Leo menatap Eliza dengan tatapan aneh, "Nona, berpisah bukan berarti beristirahat.
Seorang noble sepertimu seharusnya mengerti hal itu." Leo mulai berpikir kalau noble
yang satu ini bahkan lebih bodoh dari kesan pertamanya terhadap Yera. Paling tidak, ia
sudah selamat sampai sekarang bisa berarti bahwa wanita itu antara memiliki kekuatan
yang berguna, memiliki otak seperti rubah, atau memiliki keberuntungan tinggi seperti
Yera.

"Kurasa sebaiknya tidak, bahaya di hutan ini tidak main-main," jawab Yera pada Leo.
"Dengan berkelompok, kita bisa saling menjaga.". Sambil tetap berjalan, ia berbalik ke
arah Eliza dan berkata kepadanya, "Sekalipun kami akan membantumu, kami bukan
dewa yang menjamin nyawamu tidak melayang. Jaga dirimu sendiri.". Tanpa sadar,
Yera mengkhawatirkan anak baru itu. Ia sadar kemungkinannya bertahan hidup lebih
rendah dari Eliza, dan khawatir Eliza berharap terlalu besar pada mereka. 'Bagaimana
pun, aku tidak mau ada yang terluka karena aku.'

"Baiklah kalau begitu," kata Leo. "Namaku Leo. Sebaiknya kau bisa membela dirimu
sendiri karena aku bukan pengurusmu. Nyawamu, urusanmu," katanya sambil
menatap Eliza.
'Tampaknya mereka sedikit khawatir aku tidak akan bisa bertarung.' pikir Eliza sambil
menatap ke arah mereka berdua. Eliza pun memainkan tombaknya untuk
memperlihatkan kemampuannya dalam menggunakan tombak. Gerakannya lincah dan
lumayan beragam. Ia mengakhirinya dengan memegang kembali tombaknya dalam
posisi siap sambil melihat ke arah mereka. "Salam kenal Leo. Terima kasih telah
menghawatirkanku, yera. Aku bisa bertarung, kok." Eliza berkata kepada mereka
berdua sambil tersenyum ramah. "Oh ya, bagaimana kau tahu aku seorang noble, Leo?"
Eliza bertanya kepada Leo dengan tatapan bingung campur penasaran.

Leo memutar matanya, "Kau tidak perlu menunjukkan apapun. Kau bisa selamat
sampai sekarang sudah cukup memberitahuku informasi yang aku butuhkan. Nona,
aku ragu dengan otakmu. Nama keluargamu adalah keluarga Noble. bahan pakaian
dan sepatumu juga berkualitas."

Eliza pun menatap sepatu boot dan celana kulit hitamnya. "Hahaha, baiklah. Aku tidak
mengira nama Vanderbilt lumayan terkenal. Jangan kuatir, aku tidak akan membebani
kalian." balas Eliza dengan ramah.

Leo menghela nafas dan berjalan mendahului mereka sambil mengamati daerah
sekitarnya. Ia menggenggam lengan kirinya yang terasa mulai kaku. 'Sial. Apa yang
terjadi? Apa karena luka ini? Sial sial sial. Jangan-jangan aku terkena racun kalajengking!
Seharusnya aku mengantisipasi ini dengan mengambil penawar racun! Benar-benar bodoh!.
Aku harus bertahan. Apalagi sekarang kita mendapat tambahan satu orang,' pikirnya.

Sirine mulai berbunyi membuat seluruh peserta menghentikan aktivitasnya. Kali ini
sirine berbunyi lebih kencang dibandingkan sebelumnya membuat beberapa calon TCO
menutup telinganya kesakitan karena nadanya yang melengking. Terdengar suara
mikrofon diketuk dilanjutkan dengan Aron berbicara, "Sirine kali ini berbeda dibanding
sebelumnya. Tetap patuhi perintah pertama, cari tempat persembunyian. Tapi, berhati-
hatilah! Apalagi.... di tanah yang kalian pijak."

"Kawan-kawan! Sirine!" Eliza berteriak kepada mereka berdua. Ia tampak panik namun
tidak bergerak kemana-mana.

Eliza melihat Leo tampak seperti kesakitan dan dalam masalah. "Leo, kau tidak apa-
apa? Kau tampak seperti dalam masalah?" tanya Eliza dengan wajah khawatir menatap
Leo sambil memegang pundaknya dengan halus karena takut Leo dapat jatuh kapan
saja.

"Aku tidak apa-apa. Terima kasih. Ayo kita lanjutkan perjalanan," jawab Leo sambil
menghela nafasnya.
Yera melihat bekas luka di lengan kiri Leo, yang barusan digenggamnya, ia teringat
tadi malam luka itu disebabkan oleh ekor kalajengking raksasa yang menyerang Leo.
'Mungkin racunnya sudah bereaksi,' pikirnya. "Leo, lukamu itu tidak boleh dibiarkan,"
katanya sambil melepas lilitan perban hitam di lengan kanan -yang sebenarnya, untuk
fashion-, lalu melilitkannya di pangkal lengan Leo untuk memperlambat racunnya
menyebar. Kemudian ia mengambil beberapa ranting kering, mengatur googlenya
semaksimal mungkin sehingga menjadi kaca pembesar, lalu membakar ranting-ranting
itu. Beberapa saat kemudian, ranting di tangannya sudah menjadi arang. "Kudengar
dari daerahku, arang yang masih hangat seperti ini bisa untuk menawarkan bisa ular.
Mungkin bisa bekerja juga untuk monster kalajengking... Sementara..." katanya ragu-
ragu, namun ia langsung membuka luka Leo kembali dengan pisau dan dengan cepat
menaburkan sejumput bubuk arang di sana.

"Teman-teman, tadi penguji bilang akan ada obat penawar bukan? Kurasa kita harus
mencari itu." Eliza berkata kepada mereka berdua.

"Kau benar. Tapi dimana?" Balas Yera.

"Um... aku juga tidak tahu." balas Eliza dengan polos. "Tapi dimana pun itu aku akan
menemukannya untuk menyelamatkan kamu Leo." Eliza berkata dengan tampang
semangat dan yakin.

Leo menatap Yera dan kemudian Eliza, lalu tersenyum ramah, "Terima kasih kalian
berdua. Hal kecil seperti ini tidak akan membunuhku."

Sirine mulai berbunyi membuat seluruh peserta menghentikan aktivitasnya. Kali ini
sirine berbunyi lebih kencang dibandingkan sebelumnya membuat beberapa calon TCO
menutup telinganya kesakitan karena nadanya yang melengking. Terdengar suara
mikrofon diketuk dilanjutkan dengan Aron berbicara, "Sirine kali ini berbeda dibanding
sebelumnya. Tetap patuhi perintah pertama, cari tempat persembunyian. Tapi, berhati-
hatilah! Apalagi.... di tanah yang kalian pijak."

"Kawan-kawan! Sirine!" Eliza berteriak kepada mereka berdua. Ia tampak panik namun
tidak bergerak kemana-mana.

'Harus sembunyi,' pikir Yera spontan. Yera menemukan sebuah batang pohon tumbang
yang bagian tengahnya sudah kosong karena sudah membusuk beberapa meter di
sebelah kirinya. Ia segera berlari dan masuk ke dalamnya. 'Hebat! Bagian dalamnya cukup
luas untuk kami bertiga! Sesuai yang diharapkan dari sebuah pohon setinggi 100 meter…’ Yera
menengok ke arah Eliza dan Leo sambil memiringkan kepalanya sedikit, sebagai kode
bahwa ia akan masuk dan bersembunyi di sana. Ia masuk sedalam mungkin, lalu
duduk menekuk lututnya. Diameter pohon itu kira-kira 2 meter.
Leo mengamati Yera yang masuk kedalam lubang di sebuah pohon dan mengikutinya.
Leo masuk kedalam lubang tersebut lalu memilih untuk berjongkok. Tidak ada yang
tahu apa yang akan terjadi. Terlebih lagi Aron sudah mengatakan untuk berhati-hati
dengan tanah yang dipijak. Ia harus tetap siaga demi dirinya sendiri dan dua wanita
tersebut.

Eliza mengikuti mereka berdua dari belakang. Awalnya ia sedikit merinding harus
masuk ke dalam batang pohon namun ini demi keselamatannya. Ia pun duduk
bersama-sama dengan mereka sambil terus memandang mereka berdua akan rencana
apa yang akan mereka laksanakan.

Yera memeluk lututnya dengan erat sambil melihat ke arah luar lubang. Suasana sunyi
senyap, lalu tiba-tiba muncul getaran yang hebat sehingga ia kehilangan keseimbangan.
Pemandangan di luar lubang itu seketika berubah, dari semak-semak hijau menjadi
ujung batang-batang pohon dan langit biru muda. Yera menganga, ‘apakah tanahnya
terangkat?’ Yera masih diam, berusaha menjaga keseimbangannya sambil tetap tak
melepas pandangannya ke luar lubang.

Eliza merasa sedikit ketakutan karena ia berada di paling pinggir dan dekat dengan
mulut lubang kayu. Namun dari tempatnya ia dapat melihat keluar apa yang terjadi.
Ternyata bukit kecil di mana batang kayu mereka bersandarlah yang membuat batang
kayu mereka sedikit terangkat. Lama kelamaan keseimbangan batang kayu tersebut
oleng dan meluncur ke tanah. Hal ini membuat Eliza sedikit berpegangan pada Yera
dan dinding batang pohon sambil menutup matanya kencang-kencang.

Leo menutup matanya dan seketika itu juga, angin berhembus dengan kencang di
sekeliling pohon yang mereka tempati. Paling tidak, ia dapat menghentikan pohon
tersebut untuk terjatuh ke tanah dan membunuh mereka saat pohon tersebut hancur.
“Cepatlah keluar,” katanya sambil melompat keluar dari lubang pohon tersebut.
Setelah ia mendengar tapak kaki Yera dan Eliza yang menyentuh tanah, ia langsung
membuka matanya dan seketika itu juga angin yang menahan pohon tersebut
menghilang.

Yera segera melompat keluar dari lubang itu. ‘Rupanya bersembunyi di situ bukan ide yang
bagus,’ ia mendaratkan kakinya ke tanah diikuti oleh suara keras batang pohon yang
hancur dan jatuh.

Suara keras yang ditimbulkan batang pohon itu ternyata menarik perhatian monster
yang berbentuk seperti pohon raksasa itu. Yera berharap monster itu tidak menyadari
kehadiran mereka, namun ia segera menghilangkan pikirannya itu saat monster itu
berbalik arah dan mulai mengejar mereka. “Lari!” teriak Yera.
Eliza saat ini benar-benar menjadi takut sampai-sampai ia tidak menggunakan
tombaknya dengan benar. Ia hanya bisa memandang dengan tatapan ngeri ke arah
monster tersebut. Setelah mendengar teriakkan Yera, Eliza langsung berlari tepat di
belakang Yera. Ia tidak sanggup berkata apapun hanya bernafas dengan sangat panik.

Leo menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya. Racunnya sudah mulai bekerja. Ia
berharap kalau arang yang ditaburkan oleh Yera dapat membantu untuk
memperlambat reaksi racunnya sampai obat penawar diberikan. 'Kalau saja aku tidak
terkena racun, monster itu sudah hancur berkeping-keping sekarang!' geramnya dalam hati
sembari berlari mengikuti Yera dan Eliza. Racun tersebut sudah mulai mempengaruhi
otot-otot kakinya namun ia tetap memaksakan otot-ototnya untuk bekerja. Jika tidak, ia
bisa mati disini dan ia tidak menginginkan hal itu.

Yera berlari dengan sangat panik, ia tak berani melihat ke belakang sama sekali. Tidak
dipedulikannya air yang tumpah dari “ember” di tangan kanannya, yang
dipikirkannya hanyalah lari. Lari sejauh mungkin. Sempat terpikir olehnya untuk
mengecek keadaan Leo dan Eliza, namun ketakutannya mengalahkan niat tersebut.
‘Aku percaya Leo bisa menyelamatkan dirinya sendiri, dan sudah memperingatkan
Eliza untuk menyelamatkan dirinya sendiri… Sekarang aku harus menemukan cara
untuk kabur dari monster itu sebelum kehabisan energi,’ Yera terus berlari sekencang
mungkin sambil mencari-cari apapun yang dapat digunakan untuk kabur.

Eliza hanya bisa terus berlari, untung saja sirine sudah berhenti berbunyi lumayan lama
tanpa mereka sadari. Monster tersebut mulai mengeluarkan suara yang mengglegar
ke seluruh hutan. Denan lehernya yang panjang monster tersebut mulai mencoba
menangkap Eliza dengan tentakelnya yang ada di mulutnya. Beberapa kali Eliza
menghindar ke kanan dan kiri. Ia pun mulai mempercepat langkahnya dan tanpa di
sadari ia sudah melewati Yera di sampingnya.

Monster pohon bermata putih terang itu terus mengejar mereka. Mulut besarnya
mengeluarkan suara mendengung yang mengerikan, seperti sangkakala raksasa.
Menyadari bahwa Eliza sudah melewatinya, Yera makin keras berpikir. Energinya
sudah habis terkuras dan mau tidak mau ia harus segera menemukan cara untuk
selamat. ‘Aku harus melakukan strategi lain, lari saja tidak cukup,’ dengan panik dan
setengah sadar Yera berlari menyimpang ke kanan dari jalur yang dilewati Eliza, jalur
itu lebih sulit karena banyak semak-semak. ‘Berlari ke jalur yang terbuka dalam keadaan
lelah begini hanya akan membuatku mati lebih cepat. Aku akan bertaruh dengan analisisku,
seharusnya monster tak berotak itu akan lebih tertarik pada Eliza.’ Yera berlari menembus
semak-semak beri secepat yang ia bisa, suara monster dan sirene yang berisik makin
membuat kepalanya terasa melayang. Saat kelelahannya memuncak mendadak ia
terperosok ke dalam lubang yang tidak terlalu dalam, seperti bekas pohon yang
dicabut. Dengan gemetaran dan nafas yang terengah-engah Yera memandang ke arah
luar dan memeluk erat-erat cangkang tempat airnya. ‘...Mungkin lubang ini hasil
perbuatan peserta lain.…’ itu adalah pikiran terakhir Yera sebelum ia akhirnya tertidur di
dalam lubang itu.

Karena racun tersebut, ia tidak bisa berlari secepat biasanya. Leo tahu kalau ia sudah
mulai tertinggal dari Yera dan Eliza. Entah ia tertular keberuntungan Yera atau tidak,
monster itu tidak melihat keberadaannya dan mencoba untuk menggigit Eliza
walaupun sirine sudah tidak berbunyi lagi. 'Kalau seperti ini terus, aku tidak akan bisa
bertahan lama!' Leo pun berkonsentrasi dan menutup matanya. Ia beruntung memiliki
kemampuan yang sangat berguna disaat ia menggunakan kekuatannya. Kalau tidak, ia
sudah berlari ke arah lain ataupun terbentur. Raungan monster tersebut mulai
melemah. Ia tidak menghabiskan banyak waktu dan mengerahkan kekuatannya untuk
membuat pisau angin yang besar lalu mengarahkannya ke leher monster tersebut.
"Brak-" Leo berhenti berlari dan membuka matanya untuk melihat tubuh monster itu
perlahan jatuh ke tanah, diikuti kepalanya yang terlepas karena pisau angin
buatannya.

Eliza melihat Leo berhenti berlari dan ia pun menghentikan larinya di samping leo.
Mengikuti leo melihat ke belakang ia menemukan bahwa monster tersebut sudah mati
dengan kepala terpenggal. Untuk sementara ia mencoba untuk mengatur kembali
nafasnya. Kakinya sudah mulai sakit karena berlari terlalu lama. Mendadak ia
menyadari bahwa ada satu orang kurang di antara mereka. Ia pun mulai memandang
Leo dengan dengan pandangan khawatir di mana Yera. Mengingat kejadian
sebelumnya ketika ia melewati Yera, ia berharap Yera tidak dimakan oleh monster
tersebut. Namun ia ingat melihat dari ujung pandangan matanya Yera berjalan
meninggalkan mereka ke arah yang lain. Berharap ini bukan pengkhianatan lainnya Ia
pun mengajak Leo untuk mencoba berjalan ke arah Yera memastikan keadaannya.
Ketika mulai berjalan ia melihat Leo hanya diam saja dan tidak banyak bicara, padahal
ia mengira Leo akan sangat mengkhawatirkan keadaan Yera. Gerak-gerik Leo pun juga
mulai sedikit kaku dan tampaknya ia sedikit mengalami kesusahan. ”Kau tidak apa-apa
Leo? Kau terlihat kesakitan.” tanya Eliza sekali lagi dengan khawatir kepada Leo.

Leo bernafas dengan terengah-engah. Ia dapat mendengar langkah kaki Yera sebelum
terjadi semacam keributan dan suara langkahnya menghilang. "Aku tidak apa-apa.
Terjadi sesuatu kepada Yera. Kita lurus saja dari sini," katanya datar kepada Eliza dan
menunjuk ke arah hutan di sebelah kanan mereka. Setelah Eliza mulai berjalan masuk
ke hutan, Leo mengikutinya dari belakang sambil memaksakan ototnya yang sudah
makin kaku.

Sudah dari beberapa jam lalu, Aron menguap dan meminum kopi kelimanya. Lelaki
berkumis ini sudah tidak tahan untuk tetap terbangun dalam ujian ini. Air matanya
sudah mengalir berkali-kali, ditambah dengan ingus yang keluar cair setiap saat. Entah
sudah berapa tisu yang ia korbankan demi membersihkan hidungnya. Istrinya tadi
sudah meneleponnya dan membawakan obat agar dia sehat kembali. Namun, ia tidak
ingin meminumnya karena ia tahu pasti obat itu akan membuatnya tertidur dalam
ujian.

Aron membenarkan posisi duduknya, berusaha untuk menegakkan dirinya. Cairan


dari pelupuk mata mulai berjatuhan lagi, diikuti dengan kelopak yang hampir
menutup. Tanpa sadar, cangkir yang dipegang Aron terjatuh membuat dirinya
terbangun lagi. 'Sial aku tidak boleh tertidur!' bisik Aron dalam hati. Ia lalu merapikan
sampahnya itu sebentar dan membuangnya ke tempat sampah terdekat. Setelah itu,
duduklah dirinya kembali di kursi dan erasa kantuknya melanda. Khusus kali ini, Aron
benar-benar tidak berdaya. Kepala lelaki itu langsung tergeletak di meja diikuti dengan
suara dengkuran kencang. Tangan kanan Aron bergeser ke arah tombol sirine perlahan-
lahan sampai akhirnya... sirine itu berbunyi lagi.

Mendengar jawaban Leo yang dingin seperti biasanya Eliza memutuskan untuk
melanjutkan terus perjalanannya ke dalam hutan. Memang Leo mengatakan bahwa ia
tidak apa-apa namun yang anehnya adalah ia berjalan lebih pelan dari Eliza. Sesekali ia
melihat ke belakang untuk memastikan keadaan Leo. Tanpa disadari sirine berbunyi
sekali lagi.

Aron kembali mengantuk dan tertidur. Kepalanya kembali terjatuh di atas meja dan
kali ini dengan posisi miring sehingga tombol sirine di dekatnya terpencet.

Sirine berbunyi lagi. Leo kembali memfokuskan pendengarannya ke daerah


jangkauannya dan tersenyum kecil. “Yera benar-benar membawa keberuntungan,”
katanya setelah tidak mendengar adanya langkah kaki monster di areanya. Mata Leo
bertemu dengan mata Eliza yang menatapnya dengan ekspresi khawatir. ‘Kesimpulan,
wanita ini lebih bodoh dari Yera. Kenapa ia harus sekhawatir itu kepada orang yang baru ia
temui? Aneh,’ Leo menghela nafasnya dan kembali fokus untuk memaksakan ototnya.
“Sementara kita disini.”

Eliza melihat ke area yang dimaksud oleh Leo. Kemudian ia mengerti apa yang
dimaksud oleh Leo bahwa mereka sekarang harus bersembunyi karena sirine. Eliza
pun mencari semak-semak dimana mereka bisa bersembunyi. Setelah menemukannya
ia pun mulai mulai mengajak Leo dan sedikit membantu Leo ketika melihatnya sedikit
mengalami kesusahan untuk duduk di antara semak-semak. Namun anehnya dari
sirine kali ini hanya berbunyi sebentar.

Baru saja Leo duduk dan mencoba untuk meregangkan ototnya, sirine sudah kembali
berhenti. 'Ada apa sebenarnya? Apa ini termasuk dalam tes? Kalau iya, ini sangat
menyebalkan' Leo berusaha untuk berdiri, namun ia kembali terjatuh. 'Ayo! Jangan
menyerah sekarang kakiku!!' Ia menyemangati dirinya sendiri dan menggunakan pohon
di sebelahnya untuk membantunya berdiri.
Eliza pun kembali berdiri dan tidak melepaskan pandangannya dari Leo yang berusaha
untuk berdiri sendiri. Setelah melihat kesekeliling ia pun memutuskan untuk lanjut
berjalan ke dalam hutan sambil berteriak, "Yera! Yera...! Kau dimana?!"

Leo mendengar Eliza memanggil Yera. Namun, karena ia tidak dapan mendengar
respon apapun beserta suara langkah kakinya, Leo menyimpulkan bahwa antara Yera
tidak sadarkan diri atau sudah meninggal. Ia hanya berharap kalau Yera hanya tidak
sadarkan diri. Namun, belum jauh dari tempat mereka duduk sebelumnya, sirine
berbunyi lagi. 'Menyebalkan! Kita masih 20 meter dari tempat Yera!'

Tidak jauh berpindah dari posisi mereka sebelumnya Sirine berbunyi lagi. Kali ini
sungguh aneh dan membuat Eliza sedikit kesal. Dengan tatapan lelah ia mengajak Leo
untuk kembali mencari tempat persembunyian. Kali ini ia duduk ke semak-semak
dengan asal-salan dan hanya setengah hati saja, namun masih berusaha untuk
menutupi mereka berdua.

Leo kembali memfokuskan pendengarannya. Memang terdapat getaran di tanah karena


langkah kaki monster, namun ia tidak mendengar monster tersebut di areanya.
Seharusnya jika mereka melanjutkan perjalanan ke tempat Yera terakhir berada, tidak
akan ada masalah. "Kita lanjutkan saja. Monster itu memiliki kemungkinan kecil untuk
menemukan kita disini. Kalaupun ia menemukan kita, aku bisa memenggal kepalanya
lagi," katanya kepada Eliza. 'Itupun sebelum aku kehilangan kesadaran,' lanjutnya dalam
hati. Namun untuk saat ini, tidak ada salahnya berhenti sebentar untuk mengumpulkan
tenaga.

Segera setelah sirine selesai berbunyi Eliza langsung bangkit berdiri dan berjalan cepat
ke arah kira-kira tempat Yera berada. Kali ini mereka lumayan berhasil berjalan jauh
dan terlihatlah sebuah lubang yang tidak terlalu dalam di antara semak-semak. Tanpa
berpikir panjang Eliza lansung berteriak ke arah lubang tersebut, "Yera!!!! Kau ada di
dalam lubang?"

Suara keras yang menggema di lubang itu membuat Yera tersentak. Saat tersadar, ia
masih dalam keadaan setengah tidur dan masih memeluk cangkang kalajengking
raksasa yang airnya tinggal setengah. Sambil menahan sakit di kedua otot kakinya,
Yera bangkit dan menjawab panggilan dari luar barusan, "Iya! Aku akan keluar
sekarang." Yera mendaki gundukan-gundukan tanah di lubang itu dengan terhuyung-
huyung. Setelah keluar, ia melihat Eliza, dan Leo yang dalam keadaan pucat pasi. Tidak
lama setelah itu, sirene berbunyi lagi, membuat mata Yera lebih terang dari
sebelumnya.

Setelah melihat Yera keluar dari lubang, Leo menghela nafas lega. Wanita yang sudah
bisa ia anggap sebagai teman pertamanya tersebut ternyata masih hidup. Sirine
berbunyi lagi. Namun, ia sudah tidak bisa memaksakan otot-otot tubuhnya untuk
bergerak lebih lanjut. 'Tidak mungkin! Aku yang menyuruh mereka menjaga diri sendiri, tapi
sekarang aku yang tidak bisa apa-apa?' "Sebaiknya kalian tinggalkan aku sendiri atau
kalian bisa mati," bisiknya. Kaki Leo tidak dapat menahan tubuhnya lagi dan ia pun
berlutut di tanah dengan nafas terengah-engah.

Wajah Aron terlihat damai seperti putri tidur. Awalnya, mulutnya sedikit menganga
dengan suara dengkuran yang cukup keras. Namun, lambat laun dengkuran makin
menghalus dan berhenti. Nafas Aron kembali melembut diikuti dengan senyuman di
bibirnya. "Hm... kue stroberi enak... Istriku, kau ini memang pintar memasak... Hmm...
Rasanya.." gumam Aron tambah mengeluarkan air liurnya. Tangannya tiba-tiba
terangkat dan tanpa sengaja menekan tombol sirine dengan keras.

Bunyi sirine ketiga ini sedikit membuat Eliza terpaku. Ia mengecek sebentar apakah
benar yang ia dengar adalah sirine. Di tengah-tengah keadaan mereka yang khawatir
akan keadaan Leo yang sekarang makin memucat, ia pun berkata, "Yera, apa kau tahu
tempat yang dapat kita gunakan untuk bersembunyi di sekitar sini?"

Yera mengingat-ingat, memiringkan kepalanya sedikit, belum sepenuhnya ia sadar dari


tidurnya. Ia melihat lubang tempatnya tertidur tadi, dan langsung menengok ke arah
Eliza sambil menunjuk lubang itu. 'Walau sempit, lubang ini cukup untuk kita bersembunyi,'
pikirnya, lalu masuk ke dalamnya.

Melihat Yera masuk ke dalam lubang itu Eliza pun turut mengikutinya. Pertama ia
membantu Leo dengan membantunya turun perlahan sehingga Yera bisa
membantunya dari bawah. Tubuh pria ini sudah sangat pucat dan dingin, terlihat dari
gerakannya yang sulit sebagian besar tubuhnya sudah mulai kaku. Setelahnya Eliza
pun ikut turun dan duduk bersama mereka di dasar lubang.

Setelah Aron selesai membereskan semua kertas data dan berurusan dengan bosnya.
Aron mengambil mikrofon dan memberikan pengumuman, "Ehm... Aku berani jamin
racun itu sudah bekerja di dalam tubuh kalian dan kemungkinan untuk selamat.... kecil.
Jadi, kami memberikan kalian obat penawar berbentuk balsem yang disembunyikan di
pohon tanda "X" merah. Pohon itu ada dimana saja? Kalian yang harus cari tahu itu
sendiri. Kami hanya menyediakan 25 balsem di lapangan. Siapa yang cepat dia yang
dapat!"

Setelah bunyi sirene berhenti, Yera memutuskan untuk mencari penawar racun itu
secepat mungkin, sebelum keadaan Leo bertambah parah. "Aku titip air ini. El, kau
jagalah Leo di sini," katanya kepada Eliza dengan sedikit buru-buru. Leo benar-benar
terlihat sakit. Sebelum memberikan cangkang tersebut kepada Eliza, Yera meminum
beberapa teguk dengan cepat lalu berjalan cepat ke tengah hutan dan menghilang dari
pandangan Eliza dan Leo.
Melihat Yera berlari sangat cepat ia hanya bisa berkata, "Yera, temukanlah penawar
itu..." Ia pun mulai memandang ke arah Leo yang terbaring dan sekarang nafasnya
sudah berat. Dengan sedikit panik ia bertanya, "Leo? Kau masih bangun? Kalau kau
masih bisa bicara katakanlah kepadaku, apa yang bisa kubantu?"

Setelah masuk kedalam lubang, Leo berbaring dan otot-ototnya terasa sangat kaku. Ia
tidak bisa menggerakkan seujung jarinya sedikitpun. Ia dapat mendengar suara Eliza
yang memanggilnya, namun kesadarannya semakin memudar. Untung saja ia masih
bisa bernafas dan jantungnya masih bisa bekerja. Kalau tidak, ia sudah mati sekarang.
'Semoga mereka mau menguburku di tempat yang layak kalau aku meninggal nanti. Hal
terakhir yang kuinginkan adalah menjadi makanan monster,' pikirnya sebelum kehilangan
kesadaran. 'Disaat seperti inipun aku tidak akan protes kalau Eliza membunuhku.'

Tidak mendapat jawaban dari Leo, Eliza hanya mengambil tombaknya dan mendekat
kepada Leo.

***

Yera membetulkan letak googlenya dan mengatur filternya sehingga semua hal dalam
jarak pandangnya hanya warna merah yang terlihat, sedangkan sisanya menjadi warna
monochrome. Ia berlari kecil dengan nafas yang sudah berat. Alis Yera berkerut,
mencari tanda silang yang disebutkan penguji tadi. 'Bunga, daun, capung... Bukan,
bukan, bukan juga,' tanda silang merah yang dicarinya cukup sulit ditemukan. Di
hutan yang sangat luas ini cukup sulit menemukan obat penawar yang hanya tersedia
25 buah. 'Aku harus cepat, sebelum habis diambil peserta lain,' pikirnya.

Semakin Yera masuk ke dalam hutan, semakin kecil jalan setapak yang dilalui Yera.
Akhirnya Yera sampai di sebuah jalan buntu, di depannya terhampar semak-semak
bunga sepatu merah yang lebat, sampai-sampai jauh lebih tinggi darinya. 'Tak ada
waktu untuk mencari jalan lain, akan kutembus hingga jalan setapak berikutnya,'
pikirnya. Yera mulai menyelipkan tubuhnya di antara batang-batang kembang sepatu.

Beberapa menit berlalu, dan di celah-celah semak ia dapat melihat cahaya putih yang
menyeruak. 'Akhirnya ada jalan lagi di depan!'

Setelah sirine berhenti berbunyi, monster yang ditumpangi Rio, Jake, dan wanita silver
perlahan-lahan berhenti bergerak. Rio segera mengikuti Jake dan wanita silver yang
bergegas menuruni punggung monster tersebut. Sesampainya di tanah, ia
meregangkan tubuhnya. Entah kenapa ia memiliki perasaan yang mengganggunya,
namun ia tidak mengetahui apa yang kemungkinan menjadi penyebabnya. Mereka pun
melanjutkan perjalanan mereka yang dipimpin oleh wanita silver yang telah menghafal
jalan menuju pintu tersebut.
"Vanessa," panggil Jake yang berada di belakang wanita itu, "Kita pergi kemana?"

Melihat monster tersebut kembali tidur dengan penuh kebanggaan akan penampilan
pilar es barunya, Vanessa mulai melihat ke arah sekitar. Ia pun berkata, "Kita harus
berjalan sedikit ke arah selatan dan nanti melewati reruntuhan tembok." Vanessa pun
mulai berjalan beberapa langkah untuk memimpin mereka. Belum jauh berjalan ia
mendengar semak-semak bergesekkan tanda seseorang berjalan mendekati mereka. Ia
pun mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk mereka berhenti dan memerhatikan
kondisi sekitar.

Jake berhenti mengikuti isyarat Vanessa dan berbisik, "Ada apa?"

Vanessa menggerakkan kepalanya ke arah bunyi semak-semak yang semakin dekat.


"Ada seseorang mendekat." kata Vanessa singkat sambil memegang tombaknya untuk
siap menyerang.

Melihat ke arah semak-semak, Rio menarik nafas dalam dan membuangnya. Ia


memasang kuda-kuda untuk bertarung.'Waktuku hanya tinggal sedikit lagi. Hal ini
harus cepat selesai.'

Jake mengambil stopwatch jam dari kantungnya lalu memakaikannya. Pria Noble ini
juga membenarkan kedua sarung tangannya bersiap untuk bertarung.

Tampak dari jauh Vanessa melihat sosok seorang wanita berambut hitam. Dirinya
sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk bertemu dengan seseorang yang sangat
tidak diharapkannya. Namun setelah melihat sedikit warna hijau pada rambutnya dan
baju mekanik yang ia kenal, Vanessa lansung menurunkan penjagaannya. Wanita
tersebut mengenakan googlenya melihat ke segala arah yang Vanessa duga pasti sedang
mencari tanda X untuk menemukan penawar. Melihat gerak-gerik wanita itu yang
panik ia pun menatap ke arah Jake dan Rio. "Jake, kau ingat wanita bernama Yera yang
tadi kita temui sebelum ujian ke dua? Ia berada di situ. Dan kelihatannya dia sedikit
panik. Kurasa terjadi sesuatu dengannya. Haruskah kita menghampirinya?" Vanessa
bertanya.

"Yera?" Jake mengerutkan dahinya sembari otaknya berpikir. Setelah beberapa menit,
pria itu mulai teringat akan wanita robot itu dan membalas, "Oh, aku tahu. Kalau
begitu, mengapa kita tidak menghampiri dia?"

Dengan diputuskannya langkah mereka selanjutnya, Vanessa pun melangkah sedikit


mendekati Yera tanpa melepaskan pegangannya pada senjatanya. "Hey! Kau! Yera!
Ada apa?" Vanessa berteriak ke arah Yera.
Rio melihat Jake dan wanita tersebut secara bergantian. Sepertinya mereka mengenal
wanita asing dengan rambut hitam hijau di depan mereka. Ia pun mengikuti mereka
tanpa berkomentar apapun.

'Suara familiar ini... Siapa yang memanggilku, ya?' Di antara celah itu Yera melihat peserta
lain, memang tidak begitu jelas karena filter google yang dipakainya, tapi ia sangat
mengenali jubah merah yang terlihat sangat mencolok di filternya sekarang, 'Jake!
Syukurlah aku bertemu teman,' pikirnya senang. Ia keluar dengan tersenyum senang dan
menyapa Jake, juga Vanessa yang baru dikenalinya setelah keluar dari semak bunga
sepatu. "Hai kalian!"

Jake berjalan mendekati Yera bersama Vanessa dan Rio, "Hai Yera! Aku tidak
menyangka kita akan bertemu lagi."

Dengan wajah santainya, Yera menganggukkan kepalanya pada Jake untuk membalas
sapaannya. Ia kemudian menolehkan kepalanya ke arah pria dengan sweater yang
warnanya tertangkap oleh googlenya. 'Oh iya, google ini mengganggu,' ia menyandarkan
googlenya ke dahinya kembali, dan memperbaiki letak winter hatnya yang sempat
tersangkut ranting di semak-semak. "Hai! Perkenalkan aku Yera..." ucapan Yera terhenti
mendadak. 'Orang ini mirip Leo!' Namun pikiran spontannya itu segera hilang, ia
kembali teringat pada partnernya yang sekarat. "By the way, aku sedang terburu-buru
mencari penawar. Maukah kalian membantuku? Jika tidak, aku akan segera
melanjutkan pencarianku." katanya pada Jake, Vanessa, dan seorang asing di
hadapannya.

"Memang ada apa?" tanya Jake kepada Yera yang tiba-tiba kebingungan.

"Penawar, penawar..." Ujar Yera sambil menggoreskan kukunya di tangan lainnya,


menirukan bentuk seperti luka di lengan Leo. "Leo membutuhkannya, ia sudah
merasakan efek racunnya sekarang." jawab Yera.

Mengingat dirinya yang sudah mencoba menusukkan racun tersebut pada hewan
buruannya ia mengerti bahwa racun tersebut bersifat merusak sistem saraf yang dapat
mematikan organ penderitanya. Dengan sigap ia langsung bertanya kepada Yera,
"Yera, apa Leo jauh dari sini? Boleh kita mengecek keadaannya sebentar? Aku takut
kita akan terlalu telat menolong Leo ketika kita sudah menemukan penawarnya."

Rio melonjak kaget setelah mendengar nama yang wanita tersebut ucapkan, "Leo? Leo
katamu? Apa namanya Leo Achashverosh?" tanyanya dengan ekspresi khawatir dan
mulai panik.

Walau sedikit bingung bagaimana bisa orang di depannya ini mengucapkan nama yang
begitu sulit dengan lancar, Yera menganggukkan kepalanya pada pria bersweater,
membenarkan ucapannya. Ia kembali menghadap ke Vanessa, "Tidak begitu jauh, lurus
saja dan kau akan menemukan wanita berambut hitam," katanya kepada Vanessa.
"Bilang saja kau mengenalku."

Mendengar nama Leo disebut, Jake sedikit khawatir karena dia merupakan orang yang
paling diingatnya selama ujian ini karena entah kenapa dirinya sangat unik. Apalagi,
pria Noble ini yang memperkenalkannya pada rubik. Kemudian, ia menatap Rio
dengan curiga karena wajah anak itu sekarang pucat, namun ia lebih peduli dengan
apa yang dikatakan Yera, "Lebih baik kita cepat kesana."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi? Leo bodoh! Awas saja kalau kau mati! Dan untuk
informasimu, aku adiknya, Rio. Terima kasih kau mau berusaha untuk kakakku! Aku
berhutang padamu!" Rio membungkukkan badannya kepada Yera. lalu berlari
menyusul Vanessa.

"Kau benar! Leo memang bodoh!" kata Yera kesal. "Bagaimana bisa dia menyulitkan
ujian yang sudah susah ini... Ah sudahlah, aku pergi!" setelah Yera menyelesaikan
kalimatnya, ia memasang kembali googlenya dan melanjutkan mencari tanda silang
merah, yang entah dimana.

Ketika Vanessa mendapatkan arahan yang diberikan Yera ia langsung berlari ke tempat
tersebut meninggalkan ketiga orang itu di belakang. Meskipun ia ragu Leo akan
menyambut kedatangannya dengan ramah tapi Leo bukan orang sembarangan. Dan
tetap saja ia harus lakukan apa yang harus ia lakukan selagi masih ada waktu.

Yera sampai di sebuah lembah, di hadapannya sekarang terhampar daratan luas yang
lebih rendah dari tempatnya berdiri. Ia berhenti sejenak dan matanya menyapu seluruh
dataran yang cukup terbuka itu, yang hanya diselingi oleh beberapa pohon. Pada
awalnya ia hanya melihat hamparan padang monokrom di googlenya, kecuali beberapa
semak frambos. Namun setelah ia mengeksplorasi sekali lagi, terlihat sebuah titik kecil
merah di belakang pohon yang kira-kira 100 meter jauhnya. 'Semoga itu letak
penawarnya!' Yera segera berlari ke arah pohon itu, ia sudah lupa akan sakit di kakinya,
namun nafasnya masih tetap berat.

Sesampainya di pohon itu, yang ternyata benar adalah tempat obat penawarnya, Yera
menggali sekuat tenaga dengan sengat kalajengking tadi malam. Bagian atas tanahnya
memang keras, tapi berlumpur di bagian bawahnya. Tangannya ia celupkan ke dalam
lumpur itu dan mencari-cari sesuatu yang mungkin adalah obatnya. 'Dapat!' Yera
mengeluarkan tangan berlumpurnya yang menggenggam sesuatu. Segera setelah itu, ia
berdiri dan berlari ke tempat Leo dan Eliza. Dibersihkannya sesuatu di
cengkeramannya itu, yang setelahnya baru terlihat sebuah botol bening berisi cairan
berwarna merah muda. Yera mempercepat larinya. 'Leo, kau tidak boleh mati!'
***

Eliza yang hanya duduk di samping Leo mencoba untuk mengguncangkan pundaknya.
"Leo? kau masih bisa dengar aku? Bagaimana keadaanmu?" Eliza bertanya.

"Diamlah, aku masih hidup," jawab Leo dengan suara serak. Ini gawat. Ia sudah mulai
kesulitan bernafas. Apalagi ia masih belum percaya dengan Eliza. Ia memiliki perasaan
ganjal terhadap wanita tersebut. Sementara ini, ia harus mengumpulkan kekuatan
untuk membela diri di saat yang diperlukan.

Eliza melihat Leo sudah sangat pucat dan sudah mulai serak. Ia pun meletakkan
tangannya ke dahi Leo untuk mengukur suhunya.

Leo membuka matanya untuk melihat Eliza yang sedang meletakkan tangannya ke
dahinya, "Aku tidak suka disentuh orang yang baru kuketahui," katanya dingin.

Eliza sedikit tersinggung dan merasa sedih. Namun karena kekhawatirannya kepada
kondisi Leo dan keinginannya untuk membantu ia pun bertanya, "Hey, apa tanganmu
masih bisa digerakkan? Kalau pegal aku bisa memijitnya untukmu. Aku hanya
mencoba untuk membantumu."

Leo menghela nafasnya, "Tidak usah, terima kasih. Sebaiknya kau meninggalkanku
disini sendiri. Aku sendiri yang bilang pada kalian untuk menjaga diri masing-masing,
kan?" Leo menarik nafas dalam-dalam setelah ia selesai berbicara. Dadanya terasa
semakin sesak dan sulit untuk bernafas. Ia pun mulai batuk dan bernafas pelan, namun
dalam untuk mendapat udara lebih ke sistemnya.

Eliza terlihat semakin khawatir, ia merasa sangat prihatin dengan kondisi Leo. Satu-
satunya hal yang bisa ia lakukan adalah menaruh tangannya di pundak Leo sambil
mengusapnya ketika Leo mulai sesak nafas.

Leo menutup matanya dan menghela nafas. Semakin lama, ia semakin susah untuk
bernafas. Ia dapat merasakan Eliza mengusap pundaknya. Namun, caranya mengusap
berbeda dengan yang biasanya ibunya lakukan untuknya. 'Apa mungkin karena ia Noble
dan tidak tahu cara mengusap yang benar?'

***

Vanessa melihat Eliza di dekat Leo melakukan sesuatu. Melihat Eliza berada di tempat
itu ia langsung menjadi siap siaga dan mengerahkan seluruh tenaganya. Meskipun ia
mempunyai urusan khusus dengan Eliza namun ia lansung melempar Eliza ke samping
sampai ia berteriak. Melihat Leo kesulitan bernafas dan tidak bisa bergerak, ia tahu ini
waktu yang tepat. Vanessa lansung mendekatkan diri ke samping Leo. Ia mencengkram
wajah Leo dengan keras. Setelahnya ia pun mengambil pisau taring yang ada di
pingganggnya dan menusukkannya ke arah leher Leo.

Jake berlari ke arah yang Yera beritahukan dan menemukan Vanessa sedang
melakukan hal yang cukup mengerikan dengan gadis yang tidak dikenalnya terjatuh
jauh. Melihat itu, Jake berpikir bahwa Vanessa ingin membunuhnya, "Vanessa apa yang
kau lakukan?!" Pria Noble itu menambah kecepatannya mendekati Vanessa dan Leo.
Jake memutar stopwatchnya selama 5 menit, menutup matanya dan membukanya
dengan iris berwarna kuning. Dengan sigap, ia langsung menarik pundak wanita itu
dan menghempaskannya ke tanah. Ia memberikan tatapan tajam ke arah Vanessa untuk
tidak mendekati posisi Leo sama sekali.

"Leo ka-" Rio membelalakkan matanya saat melihat apa yang dilakukan wanita silver
tersebut. Ia sampai disana tepat saat wanita tersebut mendorong wanita lain berambut
hitam yang sebelumnya melakukan sesuatu terhadap pundak kakaknya. Yang lebih
membuat ia naik darah, wanita silver tersebut menusukkan pisau ke leher kakaknya.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN?!" sadar ia tidak bisa menggunakan kekuatannya
untuk sementara, Rio segera mencengkram kerah baju wanita yang dilempar Jake ke
tanah tersebut. "Apa kau mau membunuh kakakku?? Aku sudah percaya padamu!!"
geram Rio dengan tatapan penuh kemarahan. Ia siap untuk membunuh siapapun yang
mengancam nyawa kakaknya.

Leo yang merasa semakin sesak pun akhirnya menyadari apa yang dilakukan Eliza.
'Sial! Kecurigaanku benar! Ia ingin membunuhku!' Leo membuka matanya untuk
menatap tajam Eliza yang tersenyum licik terhadapnya. Namun, karena tubuhnya tidak
bisa bergerak dan belum memiliki cukup tenaga untuk menggunakan kekuatannya. Ia
dapat mendengar langkah kaki dua orang mendekati mereka dan salah satunya sangat
ia kenal. Dengan cepat, seseorang mendorong Eliza dari tubuhnya dan mencengkram
wajahnya. Ia membelalakkan matanya setelah melihat wajah serius Vanessa yang
menusukkan sesuatu ke lehernya. 'Apa dia juga mau membunuhku? Benar-benar mereka ini!
Tunggu...' Leo mengedipkan matanya karena segera setelah Vanessa menusuk lehernya,
ia tidak merasa terlalu sesak lagi.

Vanessa sedikit terkejut ketika dirinya ditarik dengan paksa, terlempar ke tanah, dan
sekarang kerahnya di tarik oleh Rio yang tepat dihadapannya dengan wajah yang
kesal. Tangannya masih penuh dengan darah memegang tangan Rio. Ia masih
memegang erat pisau yang sudah berlumuran darah Leo. Dengan nada yang keras
Vanessa berkata, "Minggir kalian! Biarkan aku melakukan tugasku! Jangan ganggu
aku!" Ia pun langsung memotong bagian kain bajunya yang dipegang oleh Rio. Dengan
cepat ia menunduk untuk menghindari Rio dan berlari ke arah Leo. Dengan tangannya
yang penuh darah ia berusaha menggeser Jake dengan kasar. Dengan cepat ia kembali
menusukkan pisaunya ke arah leher Leo.
Jake hampir terjatuh saat Vanessa mendorongnya kasar ke samping. Dengan sigap,
tangan kanan Jake menapak di tanah untuk menahan keseimbangannya dan
memfokuskan dirinya ke arah Vanessa menggunakan kekuatannya. Iris kuningnya
sedikit melebar membuat Vanessa terlempar kencang sampai bagian belakang
tubuhnya tertabrak pohon di belakangnya. Pisau yang ada di leher Leo pun segera
dirubah posisinya oleh Jake dengan mengubah arah tancapannya ke batang pohon
yang lainnya. "Diamlah di situ Vanessa!"

Rio menggeram dan menahan tubuh Vanessa di pohon. Dengan lengan kirinya ia
menekan leher Vanessa dan dengan lengan kanannya ia menekan tubuh Vanessa ke
pohon. Ia tidak bisa memaafkan perbuatan wanita yang mengancam nyawa kakaknya
tersebut, "Katakan pesan terakhirmu sebelum kau mati," Rio memberikan senyum sinis
kepada Vanessa. Walaupun ia sudah menganggap wanita ini temannya, ia tetap
mengutamakan kakaknya lebih dari siapapun. Jika Vanessa tidak memberikan
alasannya dengan cepat, ia tidak akan segan-segan membunuh teman barunya tersebut.

Leo menatap Rio yang sudah mulai kehilangan kendali terhadap emosinya dengan
ekspresi melemas. Sedikit lagi tenaganya cukup. Hanya tinggal sedikit lagi. Ia pun
menatap Jake yang sedang mengamati keadaan mereka dan memberikan tatapan
penuh amarah kepada Eliza yang memasang wajah dombanya. Leo benar-benar
membenci wanita itu. Kalau saja ia tidak terkena bisa kalajengking, hal ini tidak akan
terjadi.

Eliza yang dari tadi hanya melihat peristiwa tersebut berputar di depan matanya mulai
mengerti apa yang terjadi. Awalnya ia merasa sedikit ketakutan melihat Vanessa
berada di dekatnya, apa lagi setelah kejadian semalam. Namun sekarang ia melihat Leo
pasti sudah mati dengan kondisi leher penuh darah seperti itu. Ditambah lagi yang
membuat dirinya senang adalah kehadiran seorang pria hampir mematahkan leher
Vanessa dan seorang Noble bernama Jake Aceline incaran banyak wanita juga hendak
membunuh Vanessa. Eliza pun berteriak dari jauh, "Bunuh dia! Dia hampir saja
membunuhku! Dia seorang pengkhianat!"

Vanessa merasa lehernya mulai sesak. Melihat wajah Rio yang sudah tidak marah
besar, ia tahu dirinya dalam posisi bahaya. Merasa Rio akan mematahkan lehernya,
Vanessa mencoba untuk menendang tubuh Rio sekuat tenaga sambil menahan lengan
Rio dari menekan lehernya agar ia bisa sedikit bernafas.

Rio mundur beberapa langkah karena Vanessa menendang tubuhnya. Ia tertawa sadis
kepada Vanessa dan dengan segera mengayunkan kepalan tangannya untuk memukul
wanita tersebut.

Leo menatap Jake. Hanya ialah satu-satunya yang bisa ia harapkan sekarang. "Jake!
Hentikan mereka! Vanessa tidak bersalah!" Leo hanya berharap Jake mengerti
tatapannya yang ingin menunjukkan kepadanya kalau Eliza lah yang mau
membunuhnya.

Saat Rio dan Vanessa sedang mengalami pergulatan hebat, Jake langsung berdiri dan
berlari menghampiri Leo dengan cepat. Pria Noble ini berlutut disamping Leo,
memeriksa keadaan leher yang ditusuk oleh wanita silver itu. Mata Jake sedikit
menyipit saat mendapati sayatan tepat di tengah leher Leo. Ia mulai teringat akan
pelajaran yang diberikan selama dia masih kecil. Pamannya seorang tenaga medis yang
cukup pintar sempat mengajarkannya tentang pertolongan pertama untuk
menyelamatkan nyawa seseorang. Jake kemudian memeriksa jalur nafas Leo, alhasil
ditemukan bahwa salurannya tertutup. 'Prosedur medis ya...Tidak salah lagi, ini
tracheostomy,' bisik Jake dalam hati sambil menatap Vanessa. Setelah selesai memeriksa,
pria ini mendapati ekspresi Leo seperti ingin memberitahukan sesuatu. Namun, Jake
tidak mengerti apa yang ingin disampaikannya sehingga ia tidak mempedulikannya. Ia
berpaling ke arah Vanessa dan Rio sambil berkata, "Rio, lepaskan Vanessa. Dia
melakukan hal yang benar."

Setelah merasa energinya sudah cukup, Leo menutup matanya dan menggunakan
kemampuannya untuk mendengar lokasi Rio dan Vanessa karena ia tidak bisa
menggerakkan lehernya. Ia menggunakan kekuatannya untuk menghasilkan angin
yang cukup kencang untuk mendorong tubuh Rio dari Vanessa. Ia pun membuka
matanya dan menatap Jake tajam lalu mengarahkan tatapannya kepada Eliza. Berharap
kalau Jake mengerti tatapan matanya kali ini.

"Tidak akan!" jawab Rio. Belum sempat pukulannya mengenai Vanessa, angin yang
cukup kencang mendorongnya dari wanita tersebut. Rio pun berhenti dan memutar
tubuhnya untuk melihat Leo dengan tatapan kaget.

Vanessa yang sudah terjatuh ke tanah sekarang dihadapkan oleh pukulan dari Rio.
Sebelum pukulan itu mengenai dirinya Vanessa merasa kaget karena adanya hembusan
angin aneh yang cukup kuat dari belakang dirinya. Angin ini mendorong Rio sehingga
pukulannya tidak mengenai dirinya. Angin ini entah kenapa terasa seperti melindungi
dirinya. Merasa sumber angin datang dari Leo, Vanessa pun merasa sedikit lebih
tenang dan mulai menatap Leo dengan lembut, lega bahwa orang itu masih hidup.

"RIO, PERCAYALAH PADAKU!" Jake berseru kencang dan tegas. Di saat genting
seperti ini, Jake memang biasa mengeluarkan sifat kerasnya. Dia melanjutkan
seruannya, "LEPASKAN VANESSA ATAU KAKAKMU BISA MATI!" Lalu, ia melihat
Leo kembali yang memberikan ekspresi aneh ditambah dengan angin kencang
membuat Jake makin penasaran. Pria rubik ini bertanya pelan kepada pria pirang itu,
"Ada apa Leo? Vanessa telah menyelamatkan nyawamu. Ia membuka saluran nafasmu
supaya kau tidak mati. Janganlah takut!"
Leo memutar matanya terhadap perkataan Jake. Tentu saja ia mengerti hal itu. Kalau
tidak, ia sudah mati sekarang. Leo kembali mencoba untuk memberikan kode kepada
Jake menggunakan tatapan matanya. Setelah menurutnya Jake sudah mulai mengerti,
ia mengarahkan tatapannya kepada Eliza.

Rio mengalihkan tatapannya dari Leo ke Jake. Ia kaget karena ini pertama kalinya ia
mendengar Jake berteriak seperti itu selama ia bersama dengannya. Rio mengamati
tatapan yang diberikan Leo kepada Jake. Kemudian ia pun mengerti maksud dari apa
yang dilakukan oleh Leo. "Leo melindunginya.. Aku.." air mata Rio mulai menggenang
di pelupuk matanya. Ia berjalan mendekati Vanessa dan membungkuk dihadapannya,
"Maafkan aku."

Vanessa membalas Rio dengan tatapan lembut dan berkata dengan halus, "Tidak apa-
apa." Dari awal ia tahu mengenai Leo, kakak dari Rio, mengalami bahaya yang
mungkin membunuhnya, Vanessa langsung merasakan sesuatu dorongan bahwa ia
harus melakukan sesuatu. Melihat Rio yang sangat khawatir akan kakaknya
menandakan mereka memiliki hubungan keluarga yang istimewa dan berharga.
Karena kurangnya hubungan keluarga yang hangat dikeluarganya sendiri, Vanessa
merasa bahwa ini adalah sesuatu yang harus dipertahankan. Ia pun berdiri dan berjalan
mendekati Leo bersama Rio. Sekali lagi ia memeriksa bekas luka yang ia buat dan
mengecek kondisi Leo. "Sekarang ia masih bisa bertahan hidup. Namun tidak akan
lama sampai paru-parunya berhenti bekerja. Kita tetap harus mencari penawar
tersebut." Vanessa berkata kepada Rio dan Jake dengan halus namun tegas.

Rio menghela nafasnya dengan lembut. Ia dapat melihat tatapan bingung kakaknya
yang ditunjukkan kepadanya, "Wanita tadi.. Yang berambut hitam hijaulah yang
mengarahkan kami kemari. Bertahanlah!" Rio mengamati respon Leo yang hanya
mengedipkan matanya, tetap dengan ekspresi kebingungan, namun memutar matanya
dan kembali menatap tajam ke arah wanita kurus berambut hitam.

Jake menghela nafas saat mengetahui semua keadaan lebih baik. Pria ini mematikan
stopwatchnya yang kurang dari lima menit dan menonaktifkan kekuatannya sehingga
matanya kembali normal. Ia lalu memeriksa Leo lagi yang memberikan tatapan tajam
ke seseorang. Ia kemudian mengikuti bola matanya dan mendapati seorang wanita
berambut hitam yang bersama Leo sebelumnya. Ia merasa pernah melihat wanita itu di
suatu tempat. Sesudah mengingatnya, Jake membelalakkan matanya karena ia tahu
bahwa wanita itu adalah seorang Noble sama sepertinya. Pria rubik ini terlalu sibuk
bermain drama sampai tidak memperhatikan seseorang dari kerajaan Ozark berada
disini. Namun yang pasti, Jake yakin bahwa dia dari si keluarga 'terkenal' Vanderbilt
dilihat dari wajah, tubuh, pakaiannya dan cara bicaranya. Ia kembali melihat tatapan
Leo makin seram ke arah wanita itu. Jake langsung mengambil kesimpulan bahwa ada
sesuatu yang salah sehingga dirinya mulai mencurigai orang sesama Noblenya.
Dari jauh Yera dapat melihat kerumunan orang-orang yang dikenalnya. Ia
mempercepat langkahnya, mencari sosok Leo di kerumunan itu dan memberikan obat
penawar pada Vanessa yang berada di sebelah Leo. "Vanessa, ini." katanya sambil
membuka tutup gabus botol tersebut. Yera merasa lega melihat Leo yang masih
bernyawa.

Lama kemudian, ia baru menyadari darah yang berceceran di sekitar Leo dan beberapa
keanehan lain. 'Ada bekas sayatan di tengah lehernya, dan suasana tegang yang aneh...' ia
penasaran dan ingin bertanya, tapi melihat situasi yang tidak memungkinkan, pada
akhirnya ia memutuskan untuk diam saja dan mengamati. 'Lagipula sepertinya
merepotkan kalau aku mengganggu fokus mereka.'

Vanessa pun menerima balsem itu dari tangan Yera. Setelah mendapat petunjuk dari
Yera dimana luka yang diderita Leo, ia pun mulai menggosokkan balsem tersebut
dengan selembut yang ia bisa. Setelah beberapa lama kemudian Leo terlihat menjadi
lebih baik. Orang tersebut sudah tidak pucat lagi dan ia mulai sedikit menggerakkan
jarinya. Setelah yakin leo tidak apa-apa ia mengalihkan perhatiannya kepada Eliza. Ia
pun mulai berdiri dan memegang tombaknya. "Eliza, tampaknya kita bertemu lagi..." ia
berkata dengan nada yang sedikit gelap.

Leo menghela nafas lega. Ia sudah mulai dapat menggerakkan otot-ototnya. 'Aku harus
berterima kasih kepada mereka nanti. Well.. Walaupun dengan leher seperti ini aku
tidak mungkin bisa berbicara untuk sementara waktu.' Leo mengangkat tangannya
yang sudah bisa digerakkan ke depan wajahnya. Ia tersenyum kecil, 'Aku tidak salah
mempercayai orang.'

Rio melihat kakaknya tersenyum saat menatap tangannya. Air matanya kembali
meleleh karena terharu. "Syukurlah! Kalau kau sampai mati, aku pasti sudah
membunuh orang tang tak bersalah sekarang. Jangan lakukan hal bodoh lagi, mengerti?
Untung kau bertemu dengan kami!" Rio menggenggam kedua tangan Leo. Setelah
yakin kakaknya sudah tidak apa-apa, Rio menatap wanita asing tersebut. Ia dapat
melihat kalau wanita tersebut sudah mulai gugup. Selain itu, Rio dapat melihat
kelicikan di matanya, "tsk. Ular," bisiknya.

'Sial! Ternyata orang ini masih hidup.' pikir Eliza dalam hati. Ia hampir saja akan kabur
namun mendengar namanya dipanggil oleh Vanessa ia sedikit melompat ketakutan.
"Ah.... Ehem... Hai Vanessa.... Yahhh... Kita bertemu lagi.... Ehem.... Aku senang kau
masih hidup...." Eliza berkata sambil dengan gugup. Ia pun melihat ke arah Jake dan
langsung berlari ke arahnya. Ia memeluk lengan Jake dengan sangat erat dan dengan
sengaja menurunkan ritsleting bajunya sehingga menampilkan sedikit dadanya. "Oh...
Jake. Tolong lindungi aku. Kita sesama Noble tentunya saling memiliki hubungan yang
istimewa bukan? Tolong lindungi aku Jake. Wanita ini mencoba membunuhku tadi."
Eliza berkata dengan wajah yang hampir akan menangis dan memeluk lengan Jake
semakin erat ke dadanya.

Jake memandang Eliza datar. Ia memang bisa merasakan dadanya menekan lengannya,
tapi itu justru membuatnya jijik dengan wanita ini. Keluarga Vanderbilt tidak bisa
dipercaya, itulah rumor yang beredar. Walaupun Jake tidak pernah berhubungan
langsung dengan keluarga itu, tetap saja ia harus berhati-hati. Jake kemudian membalas
wanita ini sambil tersenyum paksa demi menjaga nama sesama Noble, "Nyonya, tolong
lepaskan aku. Lagipula aku lupa namamu karena saking banyaknya keluarga Noble
yang kukenal jadi bisa dibilang kita tidak punya hubungan apa-apa."

Eliza terkejut mendengar perkataan Jake. Ia langsung marah besar karena dirinya baru
saja ditolak oleh Jake dan serasa ingin mencekik pria di hadapannya seperti yang ia
lakukan kepada Leo. Ia langsung menghadapkan ke depan Jake dan sambil memegang
pundaknya berkata dengan nada manis palsu, "Jake. Namaku Eliza Vanderbit, putri
dari keluarga Noble kerajaan Ozark. Aku bisa saja memberikan apa saja yang kau mau.
Sekarang aku sedikit membutuhkan bantuanmu. Tidakkah kamu mau membantuku
sedikit Jake. Sebagai gantinya aku akan mengabulkan apapun permintaanmu. Apa.
Pun." Eliza pun mulai mengusap sedikit rambut Jake dan mengelus dagu pria tersebut
dengan harapan ia dapat keluar dari posisi ini.

Jake merasa canggung saat Eliza berusaha menggodanya. Ia mengerti bahwa ini semua
hanyalah tipuan dan tidak boleh termakan dengan omongannya. Di satu sisi, ia
penasaran apa tujuan wanita ini sampai dia melakukan semua ini. Sifatnya membuat
faksi Noble terlihat bodoh di hadapan semua orang. Jake mendesah keras dan menahan
tangan Eliza agar tidak menyentuhnya lebih lagi, "Senang bertemu denganmu Eliza
dari Ozark, " Jake melepas tangan wanita itu, membungkukkan badannya lalu berdiri
tegap kembali, "Aku tidak ada permintaan apapun, tapi aku mungkin bisa
memberikanmu bantuan jika yang kau minta tidak aneh-aneh. Lagipula, bagaimana
kau bisa mengenalku? Noble jumlahnya cukup banyak dan aku pun tidak bisa
menghafal semuanya."

Pundak Yera tidak berhenti tersentak setiap kali Jake atau Eliza mengucapkan sesuatu.
Baru saja ia datang, lalu tiba-tiba menyaksikan hal paling menjijikkan dan memualkan
yang pernah ia lihat di dunia nyata. Mengetahui fakta bahwa kedua orang di
hadapannya ini berasal dari faksi Noble memang cukup mengejutkan, namun terlepas
dari semua itu ia tak menyangka bahwa tingkah Noble ternyata tidak semuanya
terhormat seperti yang ia kira selama ini. 'Jadi ada juga tipikal keluarga kerajaan yang manja
dan tidak berpendidikan,' pikirnya. 'Semoga orang-orang seperti itu hanya minoritas...
bagaimanapun juga mereka berpengaruh di Kerajaan Ozark'. Ia biasanya cepat menyela dan
menurunkan ketegangan dalam keadaan seperti ini, tapi pemandangan di hadapannya
ini benar-benar di luar batas kecerdasan emosinya. Ia hanya diam mengamati mereka.
Pikirannya buntu, ia tidak tahu harus berbuat apa. 'Rasanya aku ingin menarik Leo dan
segera pergi dari sini.' Yera memasang wajah masam, dahinya berkerut dan mulutnya
terkatup rapat-rapat.

Mulut Rio menganga. Apakah ia baru saja melihat tindakan yang tidak pantas? 'Mataku
yang murni!!! Wanita ular itu sudah mencemarinya!! Tidaaak!! Lebih baik melihat kakakku
menghajar semua lelaki yang melamarnya dibanding melihat hal ini!!!'

Leo mencoba untuk duduk dengan dibantu oleh Rio. Namun, pemandangan di
hadapannya merupakan sesuatu yang sangat menjijikkan. 'Apakah dia tidak memiliki
harga diri sebagai seorang wanita? Aku tidak tahu ada Noble yang bersikap seperti hewan dalam
musim menikah.' Leo melihat ke sekelilingnya dan mengetahui, paling tidak bukan ia
sendiri yang merasakan hal tersebut. 'Tunggu. Jake adalah Noble? Hahh.. Aku tahu dia pasti
berasal dari keluarga kaya, tapi Noble? Aku tidak percaya ini. Paling tidak, ia tidak mudah
termakan kata-kata rubah betina itu.'

Vanessa kaget ketika mendengar bahwa Jake adalah seorang Noble. Ia langsung merasa
tidak enak kepada Jake karena dari awal dirinya tidak terlalu suka kepada orang-orang
dari faksi Noble yang menurutnya sombong-sombong. Namun dirinya sedikit kaget
juga ketika menemukan Noble seperti Jake yang ternyata rendah hati dan masih punya
hati yang baik. Melihat kelakuan Eliza ia menjadi tambah kesal. 'Wanita jalang ini!
Ternyata itu fungsi baju putihnya!' pikirnya ketika mulai berdrama lagi sambil dengan
sengaja menekan dan menampilkan dadanya. Namun melihat kelakuan Eliza yang
bersedia melakukan apapun demi Jake menuruti kemauannya, ia tidak kaget. Terbiasa
dengan kebanyakan sifat Noble yang kotor, ia menanggapi hal yang terjadi di
depannya biasa saja. Kehabisan kesabaran dengan tingkah laku Eliza dirinya pun mulai
berjalan ke arah Eliza dan Jake. Ia pun menaruh ujung tombaknya di antara mereka dan
menekan ujung tombaknya untuk mendorong Eliza menjauhi Jake. "Kesabaranku
sudah habis sampai di sini Eliza." Vanessa berkata dengan wajah yang kesal dan gelap
kearah Eliza.

Eliza takut dan mulai panik merasakan ujung tombak Vanessa yang tajam menekan
lehernya. Dirinya yang merupakan ratu sosialita dan sering berpesta tentu tahu banyak
orang,terutama beberapa Noble tampan yang usianya sekitar dengannya. Saat ini Eliza
tidak berani berbicara sedikitpun, namun mendengar perkataan Jake bahwa ia tertarik
akan permintaannya ia pun berkata dengan nada yang sedikit memerintah, "Wanita ini!
Selamatkan aku dari orang ini! Bunuh dia Jake! Bunuh mereka semua! Mereka mencoba
menyakitiku." Eliza tidak berani melepaskan pandangannya dari Vanessa namun
sedikit-sedikit ia menatap Jake dengan harapan bantuan.

Jake mengangkat alisnya merasa bingung dengan apa yang Eliza katakan. 'Vanessa..
Membunuhnya?' pikir Jake sembari memandang Vanessa seksama. Tidak mungkin
Vanessa ingin membunuh Eliza. Tapi kalau keadaannya seperti ini, pasti ada alasan
mengapa ia melakukan ini sama seperti yang dilakukannya terhadap Leo. "Memang
apa yang Vanessa dan yang lain lakukan terhadapmu?" tanya pria Noble ini curiga.

Leo menonton mereka dengan ekspresi kesal. 'Hei! Ada korbannya disini! Kenapa tidak
tanya aku?' Leo mengetuk lengan Rio yang berada di dadanya untuk menahannya
dalam posisi duduk. Lalu, menuliskan kata-kata di tanah. "Wanita itu yang ingin
membunuhku. Jangan pernah percaya dia," tulisnya.

Rio menggeram setelah membaca tulisan Leo. Ia berdiri, membiarkan Leo untuk duduk
dengan usahanya sendiri, lalu berlari untuk memukul wanita asing tersebut.

"Dia-dia.... Dia mencoba...-" Eliza berkata dengan gugup sambil mencoba mencari alibi
yang kuat selagi tombak Vanesssa masih berada di lehernya. Namun ditengah-tengah
perkataannya mendadak ia melihat Rio akan memukulnya. Eliza pun lantas langsung
berteriak.

Vanessa yang sedikit kaget melihat hal ini langsung menyelengkat kaki Rio agar ia
terjatuh ke tanah dan gagal memukul Eliza.

Melihat Vanessa melakukan hal itu Eliza langsung tersenyum lebar dan berkata,
"Vanessa! Aku tahu kamu masih merupakan temanku! Aku-."

Ditengah-tengah Eliza berbicara Vanessa memutuskan untuk memukul kepala Eliza


dengan tombaknya sampai ia pingsan dan terjatuh di tanah.

Jake melongo saat melihat Eliza terjatuh pingsan di tanah karena pukulan wanita silver
itu. Ia hanya terdiam lalu memandang semua orang disana. Ada rasa tidak enak
menyelimuti Jake karena tingkah Eliza yang sangat tidak menunjukkan kualitasnya
sebagai Noble. Ia mengambil nafas dalam lalu berkata, "Maafkan aku mewakili Noble
seperti dia. Aku tahu kelakuannya tidak pantas dan harus kuakui, faktanya adalah
banyak Noble yang menyebalkan. Jadi... tolong untuk tidak mengambilnya dalam
hati."

Leo menatap ekspresi tulus Jake, "Aku tidak mau memikirkannya," tulisnya. Rio
membaca tulisan Leo di tanah, "Kami tidak memikirkannya. Tenang saja. Semua ini
salah wanita rubah itu."

Vanessa sedang tidak ingin menatap ke arah Jake karena tahu ia adalah salah satu dari
Noble. Dirinya tidak mempedulikan permohonan maaf Jake karena secara personal ia
tahu apa saja yang dapat dilakukan oleh orang-orang dari faksi Noble. Dengan dingin
dia menatap Jake lalu menatap Rio yang sudah mulai kesal. Dengan nada datar ia pun
menjelaskan kepada Rio sambil menyinggung secara tidak langsung faksi Noble
dengan berkata, "Jangan salah paham Rio. Aku juga ingin menutup mulutnya tapi
kalau kau menyakiti orang dari faksi Noble bisa panjang urusannya. Mereka bisa saja
mengadu dan membuat kita dalam masalah semau-mau mereka. Pikirkanlah baik-baik
Rio. Ini demi keselamatan kakakmu juga yang juga sudah terlibat." Sambil mengatakan
hal ini Vanessa berjalan ke arah hutan untuk mencari sesuatu dan tidak menoleh
kebelakang kecuali ketika mengucapkan nama Rio dan kakaknya.

Segera melupakan hal menjijikkan yang baru saja terjadi di hadapannya, Yera menatap
dan tersenyum kecil kepada Jake yang meminta maaf. Dalam hatinya ia menghargai
perbuatan Jake, lagipula ia tidak terlibat di permasalahan mereka.

Pria ini membenarkan jubahnya sambil memandang Eliza yang masih tidak sadarkan
diri. Ia bisa merasakan teman-teman seperjuangannya menerima permintaan maafnya
kecuali Vanessa. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya yang tiba-tiba menghilang
tidak jelas. Entah apa yang diperbuat Eliza kepadanya atau memang ia mempunyai
masalah pribadi. Namun, Jake tidak ingin mengurusi hal tersebut karena ia tidak ada
hak untuk menanyakan hal tersebut. Ia lebih memilih diam dan membiarkan wanita
bermata hijau gelap itu pergi. Tanpa buang waktu pria ini menatap setiap teman-
temannya dan menunjuk Eliza, "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengannya.
Ada saran?"

Entah sejak kapan ia menonton drama di depannya sambil bersandar pada pohon. Yera
mendelik pada Jake dan sambil melipat tangannya ia berkata, "Tentu ada. Tinggalkan
dia di sini lalu pergi secepat mungkin." jawab Yera asal, walau sebenarnya ia serius.

"Kalau aku tidak boleh membunuhnya, aku ingin memukulnya sekali saja. Ia hampir
membunuh kakakku. Selain itu, ia mau memfitnah temanku," kata Rio santai setelah ia
kembali duduk disamping Leo. Tidak ada nada bercanda di kalimatnya. Namun, Leo
menyikut pinggangnya dengan senyum kecil, "Aku setuju dengan Yera," tulis Leo.

Vanessa kemudian keluar dari semak-semak kembali lagi ke tempat keempat orang
tersebut. Kali ini ditangannya ia memegang beberapa tanaman. Ia terus memandang
tanaman yang ada di tangannya sambil mencabuti daun-daunnya. Ia pun berjalan
mendekat ke samping Leo. Mamandang Leo dan Rio, ia berkata, "Ini untukmu.
Kombinasi dari daun-daun ini bisa mempercepat penyembuhan lukamu dan mencegah
terjadinya infeksi. Kau harus membalutnya di lehermu. Maaf atas apa yang kulakukan
pada lehermu."

Leo tersenyum lebar kepada Vanessa. Senyuman tersebut membuatnya terlihat lebih
muda dari umurnya dan menghilangkan segala kesan tidak ramah terhadap dirinya.
"Aku berhutang nyawaku padamu. Terima kasih. Dan tolong maafkan perbuatan Rio,"
tulisnya.
"Leo tersenyum pada wanita!!! Leo! Apa kau menyukainya? Katakan padaku!!!" sahut
Rio yang menghasilkan sebuah pukulan di kepalanya oleh Leo

Jake mengangguk mendengar semua pendapat. "Bagaimana kalau kita ikat saja?" tanya
Jake. 'Sebenarnya, aku ingin sekali menyingkirkan wanita itu dari hadapanku. Dari dulu, aku
tidak pernah suka wanita dari faksiku,' protes Jake dalam hati.

Walaupun masih dendam dengan wanita ini namun wanita ini masih tetap manusia.
Melihat Eliza pingsan dengan sangat lelap Vanessa memutuskan untuk berkata dengan
setengah hati dan masih tanpa melihat Jake, "Biarkan saja, dia pasti bisa selamat."

"Baiklah," jawab Jake singkat.

Aron mengetuk mikrofon kembali untuk memberikan pengumuman, "Obat penawar di


hutan sudah dinyatakan habis. Bagi kalian yang tidak mendapat obat penawarnya,
sayang sekali kalian harus didiskualifikasi." Kemudian, hidung Aron terasa gatal dan
bersin di depan mikrofon sehingga terdengar di satu hutan. "Ehm, maaf.... Dan inilah
petunjuk kedua, pintu hanya berada di bagian paling timur dan barat. Ada berapa
pintu? Totalnya ada 4. Dan letak persisnya dimana? Kalian harus cari tahu sendiri.
Semoga beruntung!"

Jake dengan diam mendengar petunjuk Aron yang kedua. Ia tidak menyangka bahwa
mencari pintunya semudah itu. Dan untungnya, disaat Jake bersama Rio dan Vanessa,
mereka menemukan pintu yang mungkin saja menjadi akses keluar. Pria rubik ini
mempunyai firasat baik bahwa mereka akan lulus dari ujian ini. "Baiklah, kalian dengar
petunjuknya bukan? Tadi Vanessa menemukan sebuah pintu yang kemungkinan besar
adalah jalan keluarnya. Kita bisa pergi kesana besok pagi." Jake tersenyum senang
memberitakan informasi tersebut kepada semua orang. Sesudah itu, ia berjalan ke
antara pepohonan, meminum seteguk air dengan cepat sambil berkata, "Aku akan
mencari ranting untuk membuat api, ya.. Sampai jumpa!"

***
Day 2
17.25
Forest Of Punishment pt. 5

Aron membuang lendir dari hidungnya berkali-kali. Tisu cantik yang dibanting oleh
atasannya sudah hampir habis dalam kotak. Pria berkumis ini tidak bisa menahan
cairan yang keluar. Ia hanya bisa berharap sudah ada peserta yang menemukan jalan
keluarnya karena ia sudah memberikan petunjuk yang jelas. Aron mengambil
mikrofonnya untuk memberitahukan sesuatu, "Disini waktu menunjukkan pukul 17.25,
dalam hitungan dua jam lagi malam akan tiba dengan langit yang gelap. Berhati-
hatilah, karena kami akan mengeluarkan sesuatu di akhir hari kedua ini. Gunakan
kemampuan kalian untuk selamat!"

Yera menghela nafas dengan pelan. 'Dua jam, masih banyak waktu.' Ia segera beranjak
dari sandarannya di pohon dan hal pertama yang dilakukannya adalah mencari
cangkang kalajengking tempatnya menyimpan air. 'Seharusnya masih ada di sekitar
lubang.' dan memang ada di sana, setelah meminum beberapa teguk ia
mengistirahatkan sebentar tubuhnya yang diforsir seharian ini. 'Aku merindukan Chiffon.'
katanya dalam hati.

Walau sebenarnya ingin istirahat lebih lama lagi, Yera mengkhawatirkan perkataan
penguji di pengeras suara tentang monster -lagi-. Setelah merasa agak pulih, Yera
bangkit dan merakit beberapa senjata untuk melawan monster apapun nanti malam.
'Berhasillah. Dan berguna' katanya dalam hati. Sambil membetulkan letak sarung tangan
merahnya, Yera kembali ke bawah pohon dengan membawa airnya lalu meminumnya
pelan-pelan.

Jake kembali setelah menghabiskan waktunya mencari ranting kering. Ia menggotong


dua tumpuk ranting dan menaruhnya ditengah-tengah. Tanpa banyak bicara, ia
memutar ranting itu di ranting yang lebih besar dengan kencang sampai muncul
percikan api. Dengan keahlian yang ada, Jake berhasil menyalakan api dengan sukses.
Pria ini melempar beberapa ranting supaya api menjadi lebih besar. Setelah semuanya
selesai, lelaki pecinta rubik ini duduk beristirahat, menaruh pedang kalajengkingnya
disamping dan menghabiskan berinya sebelum menjadi busuk.

Api yang dibuat Jake mengundang Yera untuk lebih mendekat ke sana. Dibawanya
cangkang air dipelukannya, lalu ia duduk bersandar di pohon terdekat di belakang
Jake. 'Kapan aku bisa bersantai dengan tenang seperti biasanya?' tanyanya dalam hati
kepada dirinya sendiri. Ia memejamkan matanya dan beristirahat.

"Leo, kau terlalu percaya diri. Kau tahu itu, kan?" tanya Rio setelah membaca tulisan
Leo yang mengatakan kalau ia masih bisa bertarung. Rio menghela nafasnya dan
menghancurkan daun-daun yang diberikan Vanessa di dalam mangkuk es buatannya
dengan menggunakan es yang dibentuk menyerupai tumbukan. Setelah hancur, Rio
membubuhkan dedaunan tersebut ke luka di leher Leo dan membalutnya dengan
potongan kain yang diberikan oleh Yera kepada Leo sebelumnya. "Yang pasti, kau
harus istirahat. Aku tidak peduli dengan harga dirimu. Aku hanya ingin kau selamat,"
kata Rio tegas.

Melihat bahwa leher Leo sudah terbalut dengan benar Vanessa pun mendekatkan
dirinya ke api unggun. Bajunya yang sudah compang-camping dan lebih terbuka
membuatnya lebih kedinginan dari malam sebelumnya dimana bajunya masih utuh.
Dengan sedikit mengigil ia mendekatkan tangannya pada api, sekilas terlihat banyak
bekas luka kecil pada tangan dan lengannya. Sudah mulai merasa hangat ia mengambil
sedikit daun-daun obat yang tadi diberikan kepada Leo dan menggunakannya sendiri
pada bekas lelehan di kaki kirinya.

Mulut Jake masih mengunyah berinya sampai halus. Sesudah selesai makan, Jake
mengambil botolnya dan meminum air cukup banyak sampai setengah botol. Dia
jarang minum karena masalah yang dihadapi hari ini cukup banyak. Bosan, Jake
memandang sekelilingnya untuk memeriksa apa yang dilakukan oleh teman-temannya.
Rio sedang menjaga kakaknya Leo sehabis kejadian tadi. Yera sedang bersantai di
dekatnya seakan tidak ada apa-apa. Yang terakhir, Vanessa berada di dekat Rio sedang
menghangatkan diri. Jake bisa melihat bahwa baju yang dipakai wanita itu sudah
compang-camping dan tubuhnya masih bergetar walaupun sudah dekat dengan api
unggun. Pria Noble itu berdiri dan menghampiri Vanessa tanpa peduli ia sedang
berbicara dengan Rio. Ia berlutut sambil memberikan jubah merahnya, "Pakai ini.
Badanmu menggigil kedinginan."

Merasa sedikit terkejut dan canggung Vanessa hanya menatap Jake untuk beberapa
detik, kemudian ia berkata, "Simpanlah, aku tidak apa-apa."

Jake mendesah, "Kita masih ada satu hari lagi besok. Kau tidak ingin menambah jumlah
orang sakit bukan?" Tanpa basa-basi, Jake langsung mengalungkan jubah merahnya
yang sudah kotor menutup badan kecil Vanessa, "Pakailah sebelum kau merepotkan
kami." Setelah merapikan sedikit bagian jubah yang terlipat di pundak dan leher
Vanessa, pria pirang itu berdiri dan melenggang ke tempat semula menikmati
hangatnya api unggun.

Vanessa merasa masih sedikit canggung dan sebenarnya tidak terlalu mau menerima
bantuan seorang Noble. Namun memang benar jubah tersebut membuat merasa lebih
hangat. Setelah selesai dengan daun-daun obat tersebut ia menarik jubah Jake
menutupi dirinya dan sedikit meringkuk. Masih merasa malu untuk menatap Jake
karena dirinya tadi bersikap dingin tapi sekarang malah membutuhkan bantuannya.
Vanessa memutuskan untuk melihat ke arah api dan dengan suara pelan di balik kain
jubah dan lipatan lengannya mengucapkan terima kasih.

Setelah berhasil memaksa Leo untuk berbaring dengan menggunakan pahanya sebagai
pengganti bantal, Rio melihat Eliza dan ingat kalau wanita itu memiliki sejarah dengan
Vanessa. Rasa penasarannya tidak bisa ia padamkan, "Vanessa, apa hubunganmu
dengan wanita rubah itu?" tanyanya.

Mendengar pertanyaan Rio Vanessa pun mengangkat kepalanya dari posis meringkuk
di depan api dengan jubah menutupi dirinya. Ia mulai bercerita, "Ah itu. Jadi -
***flashback malam ke dua ujian***

Salah satu kalajengking itu melompat ke arah mereka dari depan yang menyebabkan
mereka berdua melompat ke arah yang berlawanan. Vanessa ke kiri dan mendarat ke
posisi setengah berdiri dan Eliza ke kanan terjatuh ke tanah. Sayang sekali kalajengking
kedua melompat ke arah kiri mereka dengan mulut yang berada tepat di depan
Vanessa. Vanessa terkepung antara kedua capit kalajengking tersebut di kanan dan
kirinya mencoba untuk mencapitnya. Karena postur tubuhnya yang kecil Vanessa
menyelip ke bawah tubuh kalajengking tersebut dan menusuk kalajengking tersebut
dari bawah di antara persendian kulit kalajengking yang keras. Ia menusukkannya
beberapa kali dan kalajengking itu mulai tampak kesakitan. Namun beberapa kalipun
Vanessa tusukkan tombaknya ke kalajengking tersebut, monster buatan L’escollit
Escola tidak akan dengan mudah mati dengan tombak ikan dari kayu. Kalajengking ini
beberapa kali mengangkat badannya dan berjalan mundur karena kesakitan. Suara
yang dikeluarkan monster ini melengking memenuhi seluruh area sekitar mereka.

Tampaknya kalajengking tersebut sudah mulai marah. Ketika kalajengking kedua


tersebut mundur dan posisinya sudah berada di depan Vanessa, kalajengking tersebut
terus berusaha mencapit Vanessa namun tidak seganas seakan-akan sedang
mengumpulkan tenaga. Vanessa yang berjalan mundur menghindari capitan
kalajengking tersebut berpikir, ‘Ini dia! Dia mengumpulkan tenaga untuk menggunakan
sengatannya! Sengatan kalajengking merupakan senjatanya yang mematikan namun hanya bisa
digunakan sekali-sekali karena memerlukan banyak tenaga. Untuk waktu yang singkat ia tidak
akan bisa menggerakkan ekornya sama sekali. Itu kesempatanku!’ Inilah rencana yang ada di
otak Vanessa dari awal ia mengamati kedua monster tersebut. Dengan salah satu
capitnya berada sangat dekat dengan Vanessa langsung kalajengking tersebut
mendorong ekornya ke depan berusaha untuk menusukkan sengatnya. Dengan cepat
Vanessa langsung menghindar dengan melompat dan berguling ke belakang. Dan
ketika kalajengking tersebut tidak dapat bergerak untuk beberapa saat karena
menggunakan seluruh tenaganya, Vanessa dari posisi mendaratnya lansung melompat
ke atas kalajengking tersebut dan menusukkan tombaknya tepat di mata kalajengking
tersebut kanan lalu kiri dengan cepat. Darah bewarna hijau terciprat dari kedua
matanya ke wajah kalajengking tersebut dan tombak milik Vanessa. Kalajengking
tersebut mengangkat badannya dan berteriak sangat kencang. Vanessa langsung
melompat ke arah samping kalajengking tersebut untuk menghindari monster yang
sekarang sudah sangat marah dan ekornya menusuk ke segala arah. Capitnya di
arahkan ke segala arah berusaha mendapatkan musuhnya. Darah hijau yang tadi
terciprat tersebut terlihat memiliki kemampuan untuk melelehkan benda yang
disentuhnya terbukti dari tombak Vanessa yang sudah mulai meleleh sehingga
ujungnya dan beberapa area terlihat seperti bekas terbakar dan mengeluarkan asap.
‘Bagus sekali! Baru saja tombak ini baru kubuat. Tapi setidaknya aku masih mempunyai sesuatu
untuk melindungi diriku.’ pikir Vanessa sambil melihat tombaknya sambil terus waspada
terhadap kalajengking yang mengamuk di depannya.
Di tengah-tengah kejadian tersebut Eliza yang masih terjatuh ke tanah hanya melihat
dari jauh. Saat itu monster kalajengking tersebut sedang sibuk mencoba membunuh
Vanessa. ‘Monster itu sedang sibuk dengan Vanessa. Orang ini merupakan umpan yang bagus
untuk aku bisa kabur dari tempat ini! Masa bodo orang ini mati. Yang penting aku selamat. ’
pikir Eliza yang sudah bersiap-siap untuk ia kabur. Eliza pun langsung berdiri dan
berlari ke belakang pergi meninggalkan Vanessa. Namun mendadak ia menabrak
sesuatu dan terjatuh lagi. Ternyata yang ia tabrak adalah kalajengking pertama yang
sekarang menutupi jalan kabur Eliza dan mengincarnya. Kalajengking tersebut
mencoba mencapit Eliza yang sekarang sekali lagi di tanah. Eliza hanya bisa berteriak
sambil merangkak mundur mencoba untuk menghindari serangan kalajengking
tersebut.

Vanessa yang baru saja membuat kalajengking kedua tersebut buta tidak melepaskan
pandangannya dari kalajengking tersebut. Namun sebuah teriakkan mengalihkan
perhatiannya dan ditemukannya bahwa Eliza sedang diterkam oleh kalajengking
tersebut. Langsung dengan cepat Vanessa menusuk leher kalajengking tersebut.
Tampaknya kalajengking tersebut tidak sadar ada seseorang yang mendekat dari
samping dengan cepat karena sedang sibuk dengan mangsanya yang panik dan
berteriak kencang di depannya. Kali ini tombak itu mengenai salah satu pembuluh
darahnya di leher dan membuat kalajengking tersebut berteriak. Melihat banyak darah
bewarna hijau yang keluar dari leher kalajengking tersebut lansung Vanessa menarik
tombaknya untuk supaya tidak rusak tambah parah lagi. Langsung ia tancapkan lagi
tombak itu di antara kulitnya di bagian punggung sedikit kebelakang. ‘Jantungnya!
Semoga sama dengan kalajengking biasa yang jantungnya berada di punggung bagian
abdomen.’ pikir Vanessa sambil terus menancapkan tombaknya yang sudah sedikit
tumpul lebih dalam. Tepat sekali setelah menarik tombaknya keluar, kalajengking
tersebut terjatuh dan mati.

Dengan cepat ia membantu Eliza untuk berdiri dan mengecek apakah ia terluka atau
tidak. Tidak ada noda darah sedikitpun pada Eliza yang berarti hal bagus. Untuk
sementara mereka berdua hanya diam dan berusaha mengumpulkan nafas mereka
Vanessa tahu bahwa kalajengking bukan mahluk sosial sehingga jarang ada
gerombolan mereka dalam jumlah besar ditemukan dalam satu tempat. ‘Seandainya
kucing liar balik di peternakan ada di sini. Ia pasti senang menemukan kalajengking sebesar ini.’
pikir Vanessa sambil mengingat kucing liar abu-abu dengan bulu tebal di area
peternakannya yang nantinya ia ketahui memiliki jenis Maine Coon. Terkadang kucing
liar itu akan berkeliaran di dekat peternakan atau mengikuti Vanessa ke hutan.
Hubungan antara keduanya baik dalam arti mereka berdua tidak bertengkar. Beberapa
kali ia melihat kucing tersebut sedang berburu dan mendapatkan kalajengking di
mulutnya. Hal ini membuat Vanessa sadar bahwa baik di peternakan ataupun di hutan
ada kalajengking sehingga ia mencoba untuk mempelajarinya di buku di perpustakaan
sehingga ia dapat menghindari masalah dengan kalajengking tersebut.
Memang mereka bukan mahluk sosial, namun tampaknya mereka memiliki jumlah
yang banyak karena terdengar bunyi semak-semak segerombolan kalajengking datang
ke arah mereka. Langsung Vanessa menarik tangan Eliza dan mereka berdua lari ke
dalam hutan. Setelah berjalan beberapa lama mereka mendengar suara gerombolan
kalajengking tersebut berlari ke arah lain seperti mereka pergi ke tempat lain atau
kabur. Sedikit mencurigakan namun kesempatan ini mereka gunakan untuk
beristirahat yang berlangsung tidak lama. Terdengar rintihan seseorang seperti sedang
kesakitan dan menangis. Tampaknya tepat tidak jauh dari mereka terdapat
kalajengking yang ukurannya dua kali dari yang lainnya sedang memakan setengah
badan peserta calon TCO. Kaki dan pinggang peserta calon TCO tersebut tampak
sudah berada di dalam mulut kalajengking raksasa tersebut dengan satu capit
kalajengking tersebut mencapit leher dan tangan yang terjulur ke depan berharap dapat
menggenggam tangan seseorang yang akan menyelamatkannya. “Tolong… Seseorang
tolong aku… Sakit… Tolong aku tidak mau mati…” rintih orang tersebut dengan
pasrah sambil menangis. Darah bercucuran dari pinggang orang itu dan tenaga orang
itu sudah hampir tidak ada. Lalu kalajengking tersebut mengencangkan cengkraman
capitnya dan terdengar suara tulang leher peserta TCO itu patah dan membunuhnya.
Kalajengking raksasa inilah penyebab kalajengking yang lainnya kabur. Selanjutnya
kalajengking tersebut mulai menelan sisa peserta calon TCO tersebut dan berkali-kali
terdengar bunyi tulang-tulangnya dipatahkan mulut kalajengking tersebut sehingga
bisa ditelan. Darah merah segar memenuhi mulut kalajengking tersebut dan mengalir
ke rerumputan di sekitarnya.

Vanessa dan Eliza melihat kejadian itu di balik pepohonan dan semak-semak. Vanessa
melihat kejadian itu dengan wajah kaget dan tegang sedangkan Eliza menontonnya
dengan ekspresi jengkel dan jijik entah kepada kejadian ini, darah merah yang
bececeran di mana-mana, kalajengking rakasasa tersebut, atau kepada peserta calon
TCO yang lemah. ‘Tenang Vanessa. Semakin besar ukurannya semakin lambat mereka
bergerak. Apalagi ia baru makan.’ pikir Vanessa kepada dirinya sambil perlahan-lahan
dengan Eliza berjalan mundur tanpa membuat suara sedikitpun. Ketika Eliza berjalan
mundur ia menginjak dahan pohon yang menimbulkan suara yang menarik perhatian
kalajengking raksasa tersebut. Tampaknya makanan satu orang peserta calon TCO
tidak cukup bagi kalajengking raksasa tersebut. Perlahan-lahan kalajengking tersebut
mulai mendekati mereka. Vanessa dan Eliza mempercepat langkah mereka dan mereka
pun mulai berlari ketika kalajengking raksasa di belakang mereka memutuskan untuk
mengejar mereka dengan cepat. Sekali lagi mereka berlari di dalam hutan dan kali ini
dengan tebing tidak jauh di samping mereka.

Selagi berlari Vanessa melihat ke area di bawah tebing tersebut melewati pepohonan
yang ada di sampingnya. Banyak sekali pilar es dengan ujungnya yang runcing
mencuat lebih tinggi dari pohon-pohon sekitarnya. Di beberapa ujung pilar es tersebut
terlihat kalajengking yang tertusuk mati namun sudah tidak mengeluarkan asap lagi.
‘Ini pasti perbuatan salah satu peserta calon TCO. Siapapun dia pasti sudah lama berlalu. Aku
bisa menggunakan tempat itu bersembunyi.’ pikir Vanessa dan langsung ia berkata kepada
Eliza, “Eliza! Kita harus berlari ke tempat itu! Pasti gampang bersembunyi di situ!”
Walaupun jalannya sedikit jauh tapi menurutnya tempat itulah yang paling baik untuk
bersembunyi. Eliza langsung melihat ke arah pilar-pilar es tersebut dan mata langsung
terbelak. ‘Pasti akan aman di tempat itu. Tapi tidak dengan kalajengking raksasa ini yang terus
mendekat.’ pikir Eliza sambil memindahkan pandangannya dari pilar-pilar es ke
Vanessa yang berlari tidak jauh di depannya.

Eliza pun mempercepat larinya sedikit sehingga ia berada di samping Vanessa. Ketika
tepat berada di samping Vanessa, Eliza menabrak Vanessa dengan tubuhnya sekuat
tenaga. Vanessa langsung terjatuh ke samping dekat tebing dan tombak yang
dipegangganya menggelinding. Eliza segera memungut tombak tersebut dan
mengarahkannya kepada Vanessa. Masih sedikit kaget akan hal yang baru saja terjadi,
ia mulai berdiri dengan tatapan tercengang melihat kepada Eliza.

“Apa yang kau lakukan Eliza!? Kita harus ke pilar es itu dengan cepat! Kalajengking
raksasa itu sudah semakin dekat!” teriak Vanessa kepada Eliza.

Eliza mulai memainkan tombak di tangannya memutarnya beberapa kali untuk


membiasakan dirinya dengan berat tombak itu. Setelahnya ia kembali ke posisi siap
menyerang ke arah Vanessa. Posisi kuda-kuda yang tidak akan disangka dapat
dilakukan seorang Eliza yang tadinya ceroboh dan manja.

“Maaf sekali Vanessa. Tapi hanya bisa ada satu orang yang selamat dan sekarang aku
sudah tidak membutuhkanmu lagi.” jawab Eliza sambil tersenyum sinis dan
mengarahkan tombaknya terus ke arah Vanessa. Vanessa sekarang sudah mulai berdiri
sambil terus menatap Eliza.

‘Sudah kuduga! Vanderbilt. Mereka adalah orang-orang licik yang sering menipu orang demi
keuntungan mereka sendiri. Untung aku masih menyimpan pisau batu ini di pinggangku.’ pikir
Vanessa sambil meraba pisau batu yang terselip di pinggangnya. Mereka berdua tidak
melepaskan pandangan dan bersiap untuk bertarung satu dengan yang lain. ‘Lebih baik
aku tidak menggunakan pisau batu ini dulu. Postur Eliza memang terlihat seperti seorang yang
terlatih. Namun dengan kaki sekurus itu kelihatannya dia tipe orang yang tidak banyak melatih
dirinya.’ pikir Vanessa.

Memang benar Eliza Vanderbilt sebagai seorang anak keluarga Noble diwajibkan
untuk berlatih cara bertarung untuk berjaga-jaga. Namun jenis latihan yang
dilakukannya lebih banyak mempelajari berbagai macam teknik tanpa
memperdalamnya dan latihan yang dilakukan Eliza juga tidaklah intensif ataupun
keras. Hal ini membuatnya mudah dikalahkan namun bagus bila untuk mengintimidasi
lawan pada kesan pertama. Setelah beberapa saat mereka saling menatap dan berjalan
ke samping membuat lingkaran Eliza pun mulai menyerang. Dengan cepat ia
menusukkan tombaknya ke arah Vanessa beberapa kali. Vanessa dengan cepat
menghindari setiap tusukkan tombak tersebut dan menangkis tombak tersebut dengan
samping tangan kanannya. Dengan sedikit putaran pergelangan tangan Vanessa
menggenggam tombak tersebut dan menariknya. Eliza pun sedikit terdorong dan
kehilangan kendali akan tombaknya. Vanessa menjegal kaki Eliza sehingga ia terjatuh
ke depan dan menonjok rahang Eliza dengan tangan kirinya sampai ia terhempas.

Eliza terkapar di tanah dengan sedikit merintih berusaha untuk mencoba berdiri.
Vanessa berhasil mendapatkan tombak tersebut di tangannya malah melempar tombak
itu. Ia pun mulai berjalan mendekati Eliza yang sekarang sudah mulai memohon,
“Vanessa, aku hanya bercanda. Aku tidak bermaksud apa-apa. Kamu orang baik kan?
Ayolah, jangan terlalu serius.” Tampang Vanessa saat ini sudah gelap dan kesal.
Ketegangan terasa sangat tebal di antara mereka berdua.

Mendadak kalajengking raksasa melompat ke dekat mereka dari pepohonan dan


memekik ke arah mereka berdua menciptakan ketegangan baru. Vanessa lansung
mengalihkan pandangannya ke arah kalajengking tersebut dan bersiap-siap
menghadapi pertempuran baru. Namun Eliza yang melihat hal ini sebagai kesempatan
baginya untuk kabur langsung meraih tombak yang tadinya dilempar Vanessa. Ia
lansung memukulkan tombak tersebut ke belakang lutut Vanessa sehingga ia terjatuh.
Ujung tombak tersebut sekarang ujungnya sudah tidak terlalu berbentuk namun
memiliki banyak serpihan kayu tajam mencuat dan masih lembab berlumuran darah
hijau tersebut. Dengan tombak itu ia menusuk belakang kaki kiri Vanessa dan
menyebabkan luka panjang di kakinya dan luka bakar pada kulitnya yang untungnya
tidak terlalu dalam. Luka panjang tersebut menimbulkan sakit yang menyebabkan
kakinya tidak kuat lagi digerakkan dan kontak dengan darah hijau monster tersebut
menimbulkan rasa terbakar yang sangat hebat pada kakinya hingga ia berteriak karena
sakit tersebut. Ia lansung melihat dengan tampang marah dan kesal ke arah Eliza yang
dengan senyum psikopatnya karena tidak menyangka ia baru saja berhasil menaruh
Vanessa ke dalam kondisi tidak berdaya.

“Terima kasih atas petunjuk pilar esnya. Dengan begini aku bisa selamat dan bertemu
dengan peserta lain. Kamu mati saja di sini.” Eliza berkata kepada Vanessa dengan
tampang merendahkan. Ia pun langsung berjalan kabur ke hutan hendak pergi menuju
pilar-pilar es tersebut.

Vanessa saat ini sudah tidak memiliki banyak kekuatan lagi untuk berdiri. Tetapi
setelah ditinggal oleh Eliza entah kenapa ia menjadi sedikit lebih lega. Ia merasa bisa
bergerak dengan lebih bebas dan bertindak semaunya. Kehadiran Noble terutama
keluarga Vanderbilt membuatnya lebih harus berjaga-jaga akan tindakannya. Dengan
hal ini sekarang ia bisa menggunakan seluruh kemampuannya untuk bertarung.
Tampaknya monster kalajengking raksasa sudah mendekat ke depannya dan sangat
ingin sekali memakan peserta calon TCO berambut silver di depannya. Di situasi
seperti ini lari dengan kakinya yang terluka hanya akan membuat kemungkinan
terbunuh lebih besar sehingga melawan monster ini merupakan pilihan yang terbaik.

Di pertarungan ini dia mempunyai dua tugas, yang pertama adalah menghindari
capitannya dan yang kedua adalah menghindari sengatannya. Kalajengking memang
dapat bergerak dengan cepat, tapi dengan ukuran tubuh yang besar seperti ini pastinya
akan lebih lambat dari kalajengking lainnya. Kebiasaannya bermain di hutan membuat
Vanessa gesit dalam gerakan berlari, melompat, atau pun yang lainnya. Memang
kakinya saat ini terluka, tapi beberapa hal yang ia dapat karena kekuatannya adalah
kebiasaan toleransi yang tinggi terhadap rasa sakit dan tubuhnya yang dapat sembuh
sedikit lebih cepat dari manusia biasa. Vanessa mengeluarkan pisau batu yang berada
di pinggangnya dan menggenggamnya erat di tangan kirinya. Ia tidak mau mengambil
resiko tangan kanannya terluka. Monster tersebut mulai mencoba untuk menangkap
Vanessa dengan salah satu capitnya. Dengan gesit ia menghindari capitan-capitan
tersebut dan melompat ke atas kalajengking tersebut dengan menggunakan capit
kanannya sebagai pijakan. Kalajengking raksasa ini sudah mulai kesal dan mulai
menggunakan sengatnya ke arah capit kirinya yang Vanessa gunakan sebagai pijakan.
Ia menghindari sengatan tersebut dengan melanjutkan lompatannya ke bagian kanan
abdomen kalajengking tersebut dan menggunakan salah satu kaki kalajengking
tersebut untuk berayun ke bawah badan kalajengking tersebut sambil menyayat bagian
samping dari abdomen kalajengking tersebut di antara kulitnya yang keras. Vanessa
berhati-hati untuk tidak mengeluarkan darah terlalu banyak yang dapat berbahaya bagi
tangannya sendiri dengan membuat sayatan ke arah bawah atau menjauhi dirinya.
Kalajengking raksasa tersebut kesakitan dan berjalan kanan dan kiri mencari
keberadaan mangsanya. Vanessa terus mengikuti gerakan si monster dan beberapa kali
mengiris bagian samping abdomen kalajengking raksasa ini. Hilang kesabaran
kalajengking ini tidak hanya menggunanak capitnya tapi juga menggunakan
sengatannya di arahkan ke berbagai arah sekeliling abdomennya.

Terakhir ketika kalajengking tersebut sudah mulai sedikit lelah karena menggunakan
sengatnya berkali-kali yang membutuhkan tenaga banyak, Vanessa membuat sayatan
dalam dekat dengan leher sehingga sengatan meluncur dengan sangat cepat hingga
menancap ke tanah. Kesempatan ini Vanessa gunakan dengan cepat memanjat tubuh
kalajengking tersebut dan menusuk ke jantungnya yang berada di abdomen dekat
ekornya. Hanya dengan satu kesempatan ia yakin akan posisi jantung ini karena sudah
ia lakukan pada kalajengking yang sebelumnya. Pertama ia menusukkan pisau batunya
tidak terlalu dalam, namun ia menginjakkan kakinya hingga pisau batu tersebut
tertancap dalam dan darah terciprat keluar mengenai sepatu boots Vanessa dan
melelehkannya sedikit. Setelah cipratan mulai berkurang, ia menginjakkan tumit dari
sepatu bootsnya lumayan dalam sehingga pisau batu tersebut masuk makin dalam.
Kalajengking raksasa ini yang awalnya sudah berteriak, berteriak semakin kencang dan
terjatuh tidak bergerak. Kalajengking raksasa ini sudah mati.
Vanessa turun dan duduk di rerumputan samping bangkai kalajengking raksasa ini.
Kehadiran kalajengking raksasa ini akan membuat kalajengking lainnya yang lebih
kecil kabur sehingga Vanessa dapat beristirahat. Untuk beberapa saat ia hanya berdiam
saja, merasakan rasa sakit di kakinya dan tangannya yang terkena cipratan darah hijau
yang tadinya tidak terlalu ia sadari. Lalu ia melihat ke arah bangkai kalajengking
raksasa ini dan sedikit merefleksikan diri akan kejadian apa saja yang terjadi semejak ia
mulai menunggu ujian L’escolit Escolla. Vanessa memejamkan matanya dan menarik
nafas dalam-dalam. Ketika ia membuka matanya tatapan baru dapat terlihat. Tatapan
mata yang lebih kuat dan ganas. Tidak ada gunanya bermain aman di ujian ini. Selama
ini ia masih bermain aman dengan memerhatikan orang sekitar dan bertindak sesuai
kemauan orang tersebut. Namun sekarang ia berubah, dirinya sekarang lebih
mengoriantasikan pada kekuat dan bermain lebih dekat dengan api. Ia menyadari
bahwa dirinya sendiri sudah lama hidup bersama dengan api, diterpa api dan masih
hidup, bersahabat dengan api, dan tidak ada gunanya menyembunyikan identitasnya
yang jugalah sebuah api.

Setelah tenaganya sudah terkumpul dan darah kalajengking tersebut sudah menguap
dan mengering, ia menarik kembali pisau batunya. Ia mematahkan beberapa bagian
kalajengking raksasa ini seperti ujung kakinya, sengatnya, dan taring di mulutnya. Lalu
ia mengulitinya sehingga ia mendapatkan cangkang yang kuat dan mengeringkannya
dari darah hijau. Dari taring di mulutnya ia membuat dua buah pisau. Dari kakinya ia
mendapatkan pelindung lengan dengan ujung siku yang tajam karena bentuk dari hasil
mutasi monster ini dan diikat dengan kain roknya yang dirobek memanjang. Tidak
seperti kalajengking normal pula ujung kakinya berbentuk sangat tajam sehingga
digunakan untuk membuat tombak baru yang lebih kuat. Jarum sengatnya ia simpan
sebagai senjata untuk menusuk pula. Ketika jarum sengatnya dipatahkan keluarlah
racun kalajengking tersebut berwarna putih. Ia kemudian melumuri semua senjatanya
termasuk bagian pelindung lengannya yang tajam dengan racun tersebut. Tampaknya
matahari akan mulai terbit. Vanessa pun melanjutkan perjalanannya menuju pilar es
dan mengikuti bangkai kalajengking sepanjang perjalanannya untuk menemukan
peserta calon TCO lainnya ataupun mencari pintu keluar.

***end flashback malam ke dua ujian***

Vanessa mengakhiri ceritanya dengan kembali sedikit meringkuk dan menaruh


kepalanya di atas lipatan tangannya. Ia baru sadar betapa lelah dirinya karena tidak
tidur dan hampir semalaman ia berlari tidak berhenti. Sedikit-sedikit ia mulai menutup
matanya sambil menikmati kehangatan.

"Kalian berada di tempat kami sebelumnya? Wah.. Pantas kita bisa bertemu dengan
cepat!!!" kata Rio semangat. Namun, ekspresinya perlahan menjadi gelap dan ia
menyengir, "Wanita rubah itu tertarik dengan pilar es ku? Bagaimana kalau kubuatkan
untuknya sekarang? Bagus kalau ia tidak mati kedinginan."

Tanpa sadar, cerita Vanessa membuat mulutnya sedikit melongo. 'Aku tidak heran,
wanita itu memang jahat.' pikir Yera mengingat kembali tindakan wanita itu pada Jake
tadi. Ia melirik Eliza dan ingin menguburnya dalam-dalam. 'Atau kugunakan saja untuk
umpan jebakanku... Hm...' Yera masih heran, bagaimana bisa ada orang bermoral
serendah itu. 'Sepertinya semua sudah lelah sekarang. Karena sepertinya aku yang paling
banyak istirahat, aku tidak akan tidur hingga monster berikutnya selesai dibereskan.' katanya
dalam hati.

Jake mengeratkan genggaman jarinya saat mendengar cerita Vanessa. 'Tambah lagi
alasan mengapa aku tidak suka wanita Noble,' komentar pria ini dalam hati.

***
Day 2
19.25
Forest Of Punishment pt. 6

Para tentara berlari dengan rusuh masuk ke dalam ruang kerja Aron. Pria yang sedang
duduk di dekat meja kerjanya menatap bingung tentaranya yang ketakutan. "Kalian
kenapa tiba-tiba masuk ke dalam ruanganku?"

Tentara yang satu memberi hormat dan dengan cepat memberikan laporan mereka,
"Pak Aron, entah mengapa monster tingkat 3 terlepas dari kandangnya."

Aron membelalakkan matanya, "Apa? Kan sudah kubilang, monster yang dikeluarkan
adalah tingkat 1. Kita sudah mengeluarkan yang tingkat 5, kau tahu peraturannya
bukan? Kita tidak boleh melepas monster diatas tingkat 2 jika sudah mengeluarkan
yang paling tinggi!"

Tentara berambut hitam jabrik maju kedepan sambil membawa kaset, "Kami membawa
rekaman ini di dekat area kandang. Bapak mungkin perlu melihat ini."

Dengan cepat, Aron mengambil kaset tersebut dan dibawanya ke dekat monitor. Saat
kaset dimasukkan, rekaman mulai terlihat dimulai pada jam 18.50. Awalnya, semua
terlihat normal. Terdapat dua tentara sedang menjaga penjara besar yang berisikan
monster besar disana. Selama beberapa menit, tidak ada tanda-tanda penyerangan.
Sampai akhirnya, para tentara itu tiba-tiba diserang namun tidak ada orang yang
menyerangnya. Mereka terlihat seperti dipukul, dilempar dan dijatuhkan ke tanah.
Setelah semua tentara pingsan, kunci dari celana tentara tiba-tiba melayang dan masuk
ke dalam gembok besar. Dan seketika itu juga pintu terbuka pelan dan... rekaman
terhenti karena ekor monster tersebut tidak sengaja merusak kamera pengaman.

Aron memukul keras layar monitor, "Sial, siapa yang berani melakukan ini!" Dengan
kesal, pria berkumis ini mengeluarkan kaset dan bersiap untuk berjalan keluar, "Kau
rambut hitam ikutlah denganku! Dan kau satu lagi, tolong siapkan tentara untuk
melindungi peserta jika keadaan makin parah. Kita harus beritahukan ini segera!"

Leo membuka matanya. Ia mendengar desisan ular masuk kedalam areanya. Selain itu,
jumlah mereka terhitung banyak dan ia tidak bisa mengetahui keberadaan pasti
sumbernya. Yang bisa ia ketahui hanyalah pemilik suara tersebut pastilah ular yang
berukuran sangat besar. Leo menulis di tanah, "Monsternya sudah datang. Mereka
mulai mendekat ke sekeliling kita. Musuh kita kali ini terdengar seperti ular."

Rio melihat Leo menulis di tanah dengan cepat. Setelah Leo selesai, ia langsung
memberitahukan informasi tersebut kepada teman-temannya. Rio sendiri mengambil
cincin dari kantong celananya kemudian menggunakannya.

Mendengar itu, Yera memakai kembali googlenya dan mengaturnya menjadi thermo-
sensitive. 'Oh tidak, ular tidak memiliki suhu.' suara hatinya mengurungkan niatnya
memakai google tersebut dan mengembalikannya ke dahinya. Ia naik ke atas pohon,
melihat keadaan lebih luas. Perlahan-lahan ia mengobservasi sekelilingnya, mencari-
cari ular yang dimaksud. Sebentar kemudian cahaya bulan yang meneranginya
meredup, ia menoleh ke atas untuk melihat hal apa yang menghalangi cahaya. Namun
sebelum ia sempat melihat sesuatu itu, mendadak sekelilingnya menjadi gelap total dan
ia merasakan cairan lengket di sekujur tubuhnya. 'Aku belum melakukan apapun dan aku
dimakan!?' ia menggeliat di dalam kerongkongan monster itu, berusaha membuatnya
kesakitan.

Vanessa yang setengah tidur karena kenyamanan kondisi mendadak tersadar ketika
mendengar suara aneh. Belum membuka matanya ia mendengar suara tersebut.
Getaran dari desisan suara ini merambat ke seluruh tubuh Vanessa. Tak disangka suara
desisisan tersebut merupakan suara ular yang jumlahnya sangat banyak semakin lama
semakin mendekat. Ia dengan perlahan membuka matanya dan memaksakan ototnya
untuk menopang ia berdiri. Dengan jubah jake yang masih terikat di lehernya ia mulai
melihat ke sekeliling. Bila memang benar monster kali ini adalah ular maka mereka
dalam bahaya yang jauh lebih besar lagi. Ular bisa merasakan getaran dari mahluk
hidup sekitar yang dapat menentukan lokasi dan ukuran mangsanya. Lidahnya dapat
digunakan untuk mencium udara disekitar mendeteksi jejak mahluk hidup sekitar. Dan
paling utama kemampuan utama mereka dalam mendeteksi inframerah untuk melihat
mangsanya bahkan dalam gelap. Akan sulit untuk kabur dari monster ular ini. Sekali
lagi hal terakhir yang diharapkan Vanessa untuk dengar, semak-semak bergoyang,
semakin besar di anatar mereka dan sangat cepat sampai mengelilingi mereka. Fokus
utama Vanessa kali ini adalah melindungi Leo yang masih susah bergerak. Vanesssa
pun langsung berdiri di samping Leo sehingga Rio dan dirinya mengelilingi Leo.
Mendadak beberapa ular raksasa berwarna (s/c) melompat ke arah mereka. Vanessa
langsung melompat sambil menaruh lengan Leo di pundaknya sehingga Leo juga
terhindar dan menjauh dari ular tersebut.

Mulai memerhatikan sekitarnya ia melihat salah satu ular langsung melompat dari
semak-semak dan menelan Yera dengan utuh. Ia langsung melihat ke arah Rio dan
berteriak, "Jaga Leo! Aku akan menyelamatkan Yera!" Ia pun langsung berlari ke arah
ular yang baru saja menelan Yera. Ia sangat yakin bahwa Yera masih hidup karena Yera
tidak tergigit taring ular tersebut dan satu-satunya hal yang dapat membunuh Yera saat
ini adalah otot leher ular tersebut yang sangat kuat atau zat asam dari pencernaan ular
tersebut. Langsung ia mendekat ke ular tersebut. Ular tersebut berdiri dengan
mulutnya yang terbuka memamerkan taringnya ke arah Vanessa seakan-akan
menantangnya. Ketinggian ular tersebut membuatnya terintimidasi, namun hal yang
akan dia lakukan hanya bisa dilakuakn sekali atau bila tidak dia dapat mati.

Ular itupun menyergap Vanessa dengan mulut ternganga lebar. Tombak Vanessa yang
ia olesi dengan racun kalajengking di tusukkan jauh ke depan menusuk bagian dalam
pipi dari ular itu membuatnya kesakitan dan terjatuh ke tanah. Beberapa lama
kemudian mulut ular tersebut mulai terasa kaku dan tidak dapat digerakkan. Dengan
memaksakan mulut ular tersebut terbuka, ia melihat apakan Yera masih belum jauh
tertelan. Untungnya sepatu boots yera masih dapat terlihat dan tampaknya ia terus
bergerak berusaha mengganggu ular tersebut. Menggunakan tombaknya ia mendorong
rahang atas ular tersebut terbuka dan menahannya agar ia tidak terkena tusukkan
taringnya. Sekuat tenaga ia menarik Boots yera dan mendorong dirinya keluar mulut
ular dengan memegang kaki Yera. Dirinya dan Yera berhasil terlempar keluar mulut
ular dan terjatuh di tanah, tapi sayang tidak tombak Vanessa. Tombak tersebut
tersangkut di mulut ular tersebut. Ular itu sudah mulai meronta-ronta dan
memaksakan mulutnya untuk tertutup karena tombak Vanessa tersangkut di mulut
ular tersebut dan menahannya.

Jake masih berisitirahat dengan tenang saat ia selesai menghangatkan diri dari api
unggun. Saat yang lain sudah tersadar dan bertarung dengan monster, pria Noble ini
masih tertidur pulas. Entah apa yang membuatnya tidak bangun, padahal jelas sekali
terdengar suara bising pertarungan di tempatnya. Pria ini tetap setia bersandar di
pohon sambil memejamkan matanya sampai akhirnya dia merasakan getaran luar biasa
di seluruh tubuhnya. "Wogh, gempa!" teriak Jake cepat-cepat berdiri menggosok
kelopak matanya. Saat ia memandang ke depan, terlihat ular besar sedang berdesis
kesakitan karena tertusuk tombak. Mulutnya dibuka paksa oleh Vanessa dan berusaha
untuk mengeluarkan sesuatu dari dalamnya.
Mendapati keadaan seperti ini, Jake memakai stopwatch dan sarung tangannya. Ia
memutar waktu selama 20 menit lalu mengambil cepat pedang kalajengkingnya. Ia
berlari dengan gesit, mengaktifkan kekuatannya sehingga irisnya berubah menjadi
kuning. 'Aku harap aku tidak mengaktifkan kekuatanku lebih dari waktu ini karena aku tidak
akan bertarung setengah-setengah.' pikir Jake. Sebelum dirinya sampai ke arah Vanessa,
ekor dari ular itu berkibas ke arahnya. Jake melompat untuk melewati bagian tubuh
hewan itu dan berlari kembali. Namun, setelah sedikit lagi sampai, badan ular itu mulai
menggeliat dan menghalangi jalur pria ini. Ia kemudian menghindari setiap hentakan
tubuh monster itu sambil melihat keadaan di atas, mendapati tombak menyangkut di
mulutnya dan Vanessa terjatuh bersama Yera di tanah. Jake bergerak cepat
menghampiri mereka berdua dan berkata, "Kalian tidak apa-apa?" Sebelum mereka
menjawab pertanyaan Jake, kepala ular itu melesat turun seakan tidak rela mereka
selamat. Dengan fokus yang tinggi, iris jake sedikit bergerak membuat kepala ular itu
jatuh ke arah berlawanan. Saking kerasnya tenaga Jake, badan ular itu pun ikut tertarik
sampai terbentur reruntuhan dinding dengan jarak lumayan jauh.

Leo melihat teman-teman barunya bertarung dan melindunginya. Hal tersebut


membuatnya kesal karena ia terkesan seperti orang yang lemah. Ia mendengar desisan
ular lain masuk kedalam areanya, lalu menutup matanya. Ia membuat pisau-pisau
angin untuk membunuh ular-ular yang baru saja masuk ke areanya. Paling tidak, ia
bisa membantu untuk mengurangi jumlah ular yang harus mereka hadapi sekarang ini.
Namun, ada yang janggal dari monster kali ini. Beberapa dari mereka tetap dapat
menghindar dari pisau-pisau angin buatan Leo dan bergerak ke arah mereka dengan
cepat. Leo membuka matanya. Ia ingin memberitahukan hal tersebut kepada teman-
temannya. Namun, semuanya sedang sibuk bertarung. Bahkan Rio yang berada di
dekatnya pun sedang tidak memperhatikan dirinya. Leo menghela nafas pasrah. Ia
menutup kembali matanya dan membentuk pisau-pisau angin. Kali ini ia
menggunakannya untuk menyerang monster-monster yang memasuki areanya dan
yang bergerak menuju mereka.

'Monster-monster ini tampak aneh. Mereka terlihat lebih pintar dari monster sebelumnya. Apa
karena mereka ular?' Rio melirik ke arah Eliza yang sedang tertidur pulas dan
menggelengkan kepalanya. Saat ini yang terpenting baginya adalah untuk melindungi
Leo dan teman-temannya. Rio membentuk pisau-pisau es di udara lalu
menjatuhkannya ke tubuh ular yang baru saja keluar dari semak-semak. Ia
melemparkan pisau es ke ular yang menelan Yera segera setelah Vanessa berhasil
mengeluarkan wanita berambut hijau-hitam tersebut dari mulut ular. Ia tidak ingin
mengambil resiko ular tersebut bangkit lagi. "Yera! Cepatlah kesini! Beristirahatlah
bersama Leo!" sahutnya. Lebih baik wanita itu berada di dekat Leo dan dirinya. Rio
dapat dengan jelas melihat bahwa Yera tidak memiliki kekuatan yang dapat
digunakannya untuk melindungi dirinya di arena ini.
'Lendir ini menjijikkan.' Yera mengusap-usap tangannya yang basah oleh cairan lengket
dari ular tadi. Fisiknya yang tidak terlatih hampir sampai pada batasnya. Ia melangkah
pelan ke arah Leo, kepalanya pusing dan pandangan matanya mulai kabur. Ia merasa
tidak dapat berpikir jernih untuk sementara.

Beberapa langkah di depan Leo, Yera mendongak ke atas, mencari-cari sesuatu. Setelah
menemukan yang dicarinya, ia tersenyum kecil, lalu menengok ke belakang. Tanpa
sadar, ia menahan nafas dan matanya melebar, diperhatikannya Jake, Vanessa, dan pria
bersweater baik-baik. Cairan lengket dari ular masih menetes di kedua lengannya, yang
sekarang ia angkat ke sebuah potongan kayu yang diikat di sebuah sulur. Tanpa
tenaga, ia menggantungkan dirinya ke kayu tersebut. "BRAK, BRAK, BRAK, BRAK,
BRAK!" serentetan pohon di belakangnya membantingkan dahan ke tanah dengan
sangat keras dan menghancurkan tengkorak beberapa ular di bawah dahan tersebut.
Tentu saja ia sudah memperhitungkan agar Jake dan Vanessa terluput. Senyum Yera
melebar, cukup puas dengan hasil karyanya, 'Kurasa aku tidak seburuk yang aku kira.' hati
kecilnya berkata. Tepat setelah sampai di sebelah Leo, Yera langsung tertelungkup
merebahkan dirinya dan mengatur nafasnya.

Leo dapat mendengar suara langkah kaki Yera yang berlari ke arahnya dan Rio.
Tampaknya Rio menghalangi ular-ular yang mengejar Yera, terdengar dari suara
tusukan benda tajam ke daging yang mengikuti langkah kaki Yera. Setelah Yera berada
di sampingnya, Leo menggunakan jarinya untuk mengetuk bagian tubuh Yera, entah
apa yang ia sentuh, ia pun tidak tahu karena ia sedang menggunakan kekuatannya
untuk menyerang ular yang bergerak dengan cepat ke arah mereka. "Monster kali ini
bisa menghindari kekuatanku," tulisnya di tanah. Tetapi, Yera tidak memberi respon
apapun terhadap apa yang ia tulis lalu ia membuka matanya setelah monster yang ia
kejar sudah terjatuh di tanah dan mati. 'Ternyata menulis tanpa melihat itu susah..
tulisanku jadi menimpa satu dengan yang lainnya,' Leo pun menulis ulang apa yang ia
ingin beritahukan dan menengok ke arah Yera. Ia memutar matanya ketika melihat
Yera yang sedang berbaring dan mencoba unutk mengatur nafasnya. 'Kurasa mereka
mengetahui ini pun tidak berguna. Hal ini hanya penting untuk diketahui olehku.'

Vanessa melihat ular yang tadinya menelan Yera mati dan tidak bergerak lagi. Dengan
cepat ia mengambil tombaknya dari mulut ular tersebut. Setelahnya ia kembali
berkumpul dengan yang lain. Berlari dengan menggunakan jubah yang terlalu besar
membuatnya sulit untuk bergerak cepat dan beberapa kali hampir jatuh. 'Jubah ini terasa
seperti parasut berkibar dibelakangku. Kok, Jake bisa tahan ya menggunakan benda ini?'
pikirnya sambil terus berjalan menghindari para ular yang mencoba menyerang.
Mendadak banyak ular yang lehernya tertebas dan seketika itu juga ia tahu bahwa ini
perbuatan dari pisau angin Leo. Melihat kesempatan ini Vanessa langsung berteriak
kepada yang lain, "Semuanya! Kurasa kita tidak bisa berlama-lama di sini. Lebih baik
kita sekarang berlari ke arah pintu keluar sebelum ular yang datang makin banyak!"
Vanessa pun mencoba menarik perhatian yang lainnya dengan memimpin jalan ke
pintu keluar tersebut.

Leo mendengar teriakan Vanessa dan membuka matanya. Dinding angin yang ia buat
pun langsung menghilang. Ia bergegas untuk berdiri setelah itu membantu Yera untuk
berdiri. Dengan cepat, Rio menghampiri mereka dan berlutut di hadapannya. 'Apa yang
kau lakukan idiot?'Leo memiringkan kepalanya dengan tatapan kebingungan terhadap
Rio yang masih tidak bergeming dari tempatnya.

Yera masih belum merasa baikan ketika Leo menarik tangannya. Badannya lemas dan
pandangannya masih kabur. 'Aku tidak diciptakan untuk ini.' hanya itu yang terlintas di
pikirannya. Setelah berdiri, karena masih tidak kuat ia bertopang lutut dan menutup
matanya sejenak. Lendir ular raksasa membuat celananya bertambah berat, untunglah
bajunya tidak menyerap air. Ia merasakan wujud lengketnya mengalir turun dari
tubuhnya dan keningnya menjadi berkerut karena jijik. Pikirannya tidak sinkron, ia
tahu ia harus melakukan sesuatu tetapi sebagian besar otaknya memerintahnya untuk
tidur.

"Aku setuju!!! Mereka tidak ada habisnya!" Rio melemparkan pedang es nya sehingga
menancap pada monster ular yang berada di belakang Jake. Ular tersebut membeku
seketika dan terjatuh ke tanah. Ia berlari menuju Leo yang sedang membantu Yera
untuk berdiri dan berlutut di hadapannya. "Naiklah ke punggungku! Kalau kau terlalu
banyak bergerak, lukamu bisa terbuka!" kata Rio setelah melihat tatapan yang
diberikan Leo kepadanya. 'Semoga ia tidak keras kepala dan cepat bertindak.' Melihat
ekspresi Leo yang masih ragu-ragu dan teman-teman mereka yang sudah berlari masuk
ke hutan, Rio menaikkan volume suaranya, "Cepatlah! Kita tidak punya banyak waktu!
Kau juga masih belum kuat untuk berlari!"

Teriakan pria bersweater merah mendenging di kepala Yera, sakit sekali. Walaupun
begitu, sepertinya teriakan itu membangunkan bagian lain otaknya. Matanya menjadi
sedikit lebih terang dan pusingnya hilang. Ia bangkit dari posisi bertopang lututnya
lalu mulai menyadari kericuhan teman-temannya yang sedang berperang dengan ular
raksasa berperut ungu dan bersisik merah. 'Lagi-lagi monster aneh, aku mulai terbiasa
dengan semua ini.' Perlahan, Yera mengusap wajahnya yang tertutupi lendir, lalu
berjalan cepat ke arah Vanessa yang terlihat memiliki ide untuk kabur karena ia
menjauhi pusat pertempuran. Lagipula pria bersweater tadi dan Leo terlihat akan ke
sana juga.

Setelah sukses membuat satu ular mati, dari kejauhan Jake mulai mendengar suara
desisan ular. Pria Noble ini menghadap ke samping dan mendapati tiga -tidak- lima
ular besar mulai menerkamnya. Satu dari ular tersebut ada yang melewati Jake dan
pergi ke arah Leo membuatnya mendecih kesal. Dengan cepat, ia melempar ular-ular
itu kencang menggunakan kekuatannya lalu segera berlari sebelum ia memakan pria
cantik itu hidup-hidup. Jake mengeluarkan pedang kalajengkingnya, melompat ke atas
kepala ular dan menusuknya. Ia juga menambahkan tekanan dari pedang dengan
menggunakan bakatnya. Ia membuat arah pedang semakin kebawah sehingga tusukan
semakin tajam dan dalam. Ular tersebut langsung meronta kesakitan, berusaha
membuat Jake terjatuh. Namun, Jake tetap bisa menjaga keseimbangannya sambil
mencengkeram pedangnya erat dan berlutut. "Leo, pergi bersama Rio sekarang!" teriak
Jake dari atas.

Ekspresi Leo berubah dari bingung menjadi mengalah. 'Aku tahu aku sedang lemah, tapi
tidak perlu dikatakan sekeras itu. Aku malu, bodoh!' Leo bergegas ke punggung Rio dan
melingkarkan tangannya ke leher adiknya. Dengan sigap, Rio menahan kedua kakinya
dan berdiri. Mereka pun melesat masuk kedalam hutan, mengikuti teman-teman
mereka yang sudah duluan. Leo menunjukkan arah kemana teman mereka berlari
untuk Rio dengan jarinya. Rio memang memiliki stamina dan tenaga yang lebih kuat
dari Leo, namun tetap saja, berlari sambil menggendong Leo di punggungnya
membuat Rio menjadi lebih lambat dari yang lain dan lama kelamaan mereka
tertinggal. Leo menutup matanya dan menggunakan kekuatannya untuk membunuh
monster-monster ular yang mengikuti mereka dari belakang.

Vanessa mengintip ke belakang dan menemukan teman-temannya sudah saling


membantu dan mereka siap untuk berlari. Ia sendiri bingung sejak kapan orang-orang
yang dibelakangnya ini menjadi temannya dan kenapa mereka mau saja mempercayai
dirinya untuk memimpin mereka. Mengembalikan perhatiannya kepada jalan yang
harus diambilnya, Vanessa sedikit-sedikit melihat ke arah sekitar untuk memastikan
mereka masih berada di jalan yang tepat. Namun di tengah-tengah perjalanannya
mendadak ular besar menyergap Vanessa dari samping. Ia pun berteriak kepada orang-
orang dibelakangnya, "STOP! Mundur!" Sambil mendorong mereka, ia belum sempat
menghindar terlalu jauh. Jubah Jake yang dipakai Vanessa ditarik oleh ular tersebut
sehingga dirinya terseret. Ketika ular tersebut membuka mulutnya Vanessa terlempar
ke pohon terdekat dan terjatuh tergeletak di kaki pohon. Merasa punggungnya sangat
sakit, ia merasa belum kuat untuk bangun. 'Haruskah aku menggunakannya?' pikirnya
sambil terus memandang ular tersebut dari posisinya tidak bergerak. Vanessa tidak
begitu mau menggunakan kekuatannya karena itu akan mengekspos dirinya. Ia pun
hanya diam saja menunggu ular itu mendekat.

Jake yang masih sibuk dengan urusannya melihat Vanessa ditarik tak berdaya.
"Vanessa!" panggil Jake menahan keseimbangannya. Kemudian, ia memutuskan untuk
melepas pedangnya dari kepala ular dan segera turun. Setelah mendarat di tanah, iris
Jake bergerak kembali untuk melempar ular yang ditusuknya jauh dari tempat mereka.
Tanpa membuang waktu, pria ini berlari ke arah Vanessa dengan kecepatan penuh.
Namun, di tengah-tengah ia berlari, mendadak ada ekor ular lain yang menghantam
Jake sehingga ia terdorong jauh dan menabrak pohon hingga tumbang. Jake merintih
kesakitan sambil memegangi perutnya, 'Sial, aku terluka!' Ia berusaha untuk bangun,
tetapi tidak bisa karena badannya terasa remuk. Ditambah lagi, Jake mulai merasa
pusing dan dari mulutnya sudah mengalir banyak darah segar.

'Di saat seperti ini!' Yera menghela nafas cepat dan terdiam sejenak melihat Jake yang
menumbangkan pohon di belakangnya. Jake terlihat bergerak sedikit -tidak jelas apa
yang ia lakukan- dan mengeluarkan banyak darah. ia berbalik dan mencoba untuk
membantu Jake. Mata Jake terlihat kosong, ia tidak bergerak lagi. "Jake? Kau
mendengarku?" tanya Yera, yang tidak direspons oleh pria berambut pirang itu. 'Sia-sia,
dia sudah hampir tidak sadar.' Yera merangkulkan tangan kanan Jake ke bahunya dan
dengan sekuat tenaga berdiri, lalu membantunya berjalan mengikuti Vanessa. Yera
berjalan sedikit lebih cepat dari sebelumnya tanpa mempedulikan Jake yang agak
kesulitan berjalan. Tatapan matanya berubah menjadi lebih tajam, ia juga bernafas lebih
cepat, berusaha mendapat energi lebih banyak.

Mata Jake sudah berkunang-kunang. Selama berjalan dibantu Yera, Jake terus saja
memuntahkan darahnya sehingga tetesan-tetesannya tercetak di jalur yang mereka
lewati. Wajahnya makin pucat, ia sudah tidak bisa berpikir. Bahkan, pria Noble
ini tidak bisa mendengar setiapperkataan Yera dengan jelas. Ia bisa merasakan keadaan
semakin kacau, tapi sayangnya dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang yang bisa
dilakukan hanyalah berjalan dan mengikuti apapun yang dilakukan wanita robot ini.
Seketika itu juga, di penglihatannya, mendadak muncul sosok teman lamanya yang
sedang berlari menjauhi dia. Saat berpaling, terlihat wajahnya sedang memendam
amarah. 'Tidak... aku harus cegah ia pergi' bisik pria ini dalam hati. Jake membuka
mulutnya susah payah dan bergumam, "Fedrick... Jangan pergi ke sana... tolong...
dengarkan... uhuk-uhuk... Chloe... "

Mendadak semua berjalan menjadi lambat. Ia melihat Jake yang terlempar dan
sekarang mulutnya penuh darah. Yera yang membantu Jake berjalan mendekati
dirinya. Ia melihat dari kirinya ular yang tadi menyeretnya datang ke arahnya dengan
cepat dan di kanannya Yera bersama Jake yang datang mendekat. 'Jangan. Mendekat.'
pikir Vanessa pasrah bahwa dengan mendekatnya Yera dan Jake kearahnya dapat
membuat mereka mati bersama dirinya. Tanpa pikir panjang Vanessa menggunakan
kekuatannya dan memaksakan dirinya melakukan sesutu yang belum pernah ia
lakukan. Ia meletakkan tangannya di tanah dan seketika itu juga beberapa ular yang
berada di sekitar mereka berlima berhenti bergerak, bertampang kaget, dan mati.
Setelah melakukan hal itu Vanessa langsung mendorong dirinya untuk berdiri. Hampir
dirinya jatuh kembali karena pandangannya kabur dan pikirannya seperti melayang.
Memaksakan dirinya untuk berdiri dan berlari ke arah Yera dan Jake ia tidak
menyadari akan sakit yang ada di tangannya yang sekarang sudah penuh darah.
Sesampainya ia di depan Yera dan Jake, ia sempat mendengar Jake menggumamkan
beberapa nama. Namun tidak mempedulikan maksud dari perkataan Jake, dirinya
membimbing mereka berdua untuk berkumpul dengan Rio dan Leo.
Setelah merasa bahwa mereka aman karena beberapa ular di dekat mereka sudah
dibunuhnya, Vanessa pun mulai melihat ke sekeliling lagi. Kali ini ular yang datang
sudah bertambah banyak dan mereka terkepung oleh segerombolan ular raksasa yang
siap menyerang. Ada beberapa ular memanjat pohon-pohon di dekat mereka dan
beberapa ular berdiri selayaknya membentuk pagar yang ketat sehingga mereka tidak
bisa kabur. Langit malam yang penuh bintang sudah setengah tertutup oleh kepala-
kepala ular mengincar mereka dan lidah mereka yang menjulur-julur seakan ingin
merasakan rasa daging mereka. Mengingat bahwa ular merupakan makhluk yang suhu
tubuhnya selalu mengikuti suhu sekitarnya di tambah malam itu yang lumayan dingin,
ia berkata kepada Rio, "Rio, aku tidak tahu kau masih kuat atau tidak. Tapi cobalah
bekukan ular-ular ini, tidak perlu seluruh tubuhnya. Mereka tidak mempunyai sistem
di tubuhnya untuk menghangatkan diri. Kalau kau bisa membuat suhu di sekitar
mereka dingin maka gerakan dan respon mereka dapat melambat."

'Hmm.. bekukan bagian tubuh mereka, ya?' Rio mengamati ular-ular yang berada di
sekeliling mereka. Ia baru saja bergabung kembali dengan mereka dan sudah diminta
untuk menggunakan kekuatannya dalam skala besar. Kakaknya juga sudah mulai
kelelahan dalam membantu menyerang monster-monster itu karena keadaannya
sekarang. Terlebih lagi Jake terlihat hampir tidak sadarkan diri. "Aku tidak bisa untuk
saat ini. Namun, aku bisa membekukan area mereka," jawab Rio. Ia menarik nafas
dalam-dalam dan menghembuskannya. "Kalian, merapatlah padaku," setelah teman-
temannya berada dekat dengannya, Rio menjentikkan jarinya dan perlahan tanah di
sekeliling mereka mulai membeku. Seperti kata Vanessa, walaupun ia tidak
membekukan bagian tubuh mereka, tampak bahwa gerakan ular-ular tampak mulai
tidak terkoordinasi karena suhu tanah yang dipijaknya menjadi sangat dingin. Seperti
dapat berpikir, ular-ular yang berada di bagian tanah yang tidak membeku tersebut
tampak ingin menyerang mereka namun ragu karena tanah yang harus mereka pijak
membeku dan menyebabkan udara sekitarnya menjadi dingin.

Jake berusaha untuk tetap sadar sambil melihat Rio membekukan tanah di
sekelilingnya. Ia ingin sekali membantu mereka, namun tubuhnya sudah terlalu
lemas. Ia bisa merasakan suhu tubuhnya yang menurun, keringat dingin bercucuran
dengan detak jantung yang cepat. Nafasnya mulai tersengal-sengal membuat Jake tidak
kuat berdiri hingga terjatuh. "Uhuk.. Uhuk.." batuk Jake menutup mulutnya. Ia
mengintip stopwatchnya, tinggal 5 menit lagi ia harus me-nonaktifkan kekuatannya.
Secara samar, ia melihat ular-ular yang berada diatas es Rio bersikeras mendekati
mereka. Jake mengedarkan pandangan kepada teman-temannya. Kebanyakan dari
mereka sudah banyak yang terluka. Ia tiba-tiba teringat akan kejadian dahulu.. Dengan
timnya terdahulu... Namun, pria ini langsung menggelengkan kepalanya dan berpikir,
'Tidak... Mereka tidak boleh mati.' Kemudian, Jake memejamkan matanya dan
memaksa dirinya untuk fokus. Ia menggunakan kekuatan terakhirnya dengan
maksimal. Mendadak, seluruh ular yang berada di atas es terlempar kencang ke
belakang dan menabrak ular-ular yang ada di bagian tanah. Mereka semua sudah
berada jauh, badan besar mereka cukup merusak pepohonan di hutan itu. Jake
mendesah lega saat monster itu sudah tidak di sekitar mereka. Ia mengelap darah yang
keluar dari mulutnya lalu berkata, "Yera, tolong bantu aku ber-"

Jake terjatuh sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya. Pria yang sedari tadi meracau
hal-hal yang tidak dimengerti oleh Yera sekarang tiba-tiba tidak menyelesaikan kalimat
yang sepertinya diucapkan untuknya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan, ia diam
saja. 'Mengangkatnya aku tidak kuat, mengobatinya aku tidak bisa...' ekspresi datar
memenuhi wajahnya. Meskipun bingung, paling tidak ia merasa lebih tenang sekarang,
Jake sepertinya menyingkirkan ular-ular menyebalkan itu. Walau sekarang Jake
membuatnya kerepotan sekarang.

Rio mengedipkan matanya saat melihat ular-ular di atas esnya terlempar jauh. 'Ini pasti
perbuatan Jake!,' pikirnya. "Jake! Kau heb- JAKE!!!!" Rio melihat Jake yang terjatuh ke
tanah tidak sadarkan diri. Ia melihat bekas darah di mulutnya ketika Yera sedang
mencoba untuk mengangkat tubuh Jake, "Apakah ini yang ia maksud?" Rio mengingat
jawaban Jake tentang bayaran kekuatannya saat ia tanyakan sebelumnya. Ia menengok
ke arah Leo di punggungnya yang juga menatap Jake dengan ekspresi kaget. "Leo..
kamu.." Rio berbisik kepada Leo yang kembali melihat kearahnya. "Tidak apa-apa" Rio
menggigit bibir bawahnya dan melepas cincin yang ia pakai. Batas waktunya sudah
habis. Ia harus mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk menggunakannya lagi.
"Kau jangan coba-coba untuk turun," katanya kepada Leo yang sudah mulai meronta
untuk melepaskan dirinya dari punggung Rio.

Melihat ular-ular tersebut terlempar dan membuka jalan bagi mereka Vanessa lansung
berpikir inilah kesepatan bagi mereka. Dirinya melihat ke arah Rio yang menggendong
kakanya, Leo, masih dapat berjalan yang merupakan hal bagus. Namun mendengar
perkataan Rio ia lansung melihat ke arah Jake dan melihat pria ini sudah pingsan
dengan mulut dan bajunya berlumuran darah. Vanessa pun lansung melihat ke arah
Yera yang menopang Jake dan berkata, "Yera! Kita harus berjalan cepat! Ikuti aku!"
Dirinya membantu Yera menopang Jake yang memiliki tubuh besar dan mulai berjalan
cepat. "Rio! Ikuti aku! Cepat!" teriaknya dengan menatap Rio yang menggendong
kakaknya tanpa berhenti berlari. Dirinya sudah terasa mual dan ingin terjatuh, namun
ia terus memaksakan dirinya untuk berlari. Beban Jake membuat dirinya beberapa kali
hampir terjatuh, tetapi ia terus berlari dan berlari. Tahu bahwa bila serangan ular lain
datang mereka tidak akan selamat, Vanessa memfokuskan dirinya berlari ke arah pintu
keluar dan tidak menyadari sakit yang ada di seluruh tubuhnya. Beberapa kali Jake
tersangkut dan menyebabkan mereka bertiga hilang keseimbangan atau dirinya
merasakan bahwa Yera hampir tersandung atau tertinggal. Namun Vanessa tidak
memperdulikan hal itu dan terus berlari, beberapa kali ia harus memaksa menarik
mereka berdua dengan kasar untuk berlari cepat. Beberapa kali juga ia melihat Rio
tertinggal di belakangnya, namun Vanessa hanya berteriak ke arahnya, "Rio! Cepat!"
"Aku tahu!! Tenang saja! Aku pasti di belakangmu!" balas Rio. Tubuhnya terasa lebih
ringan sekarang. Sebelumnya ia sedikit mengalami kesulitan untuk mengikuti mereka,
namun karena ia sedang tidak menggunakan kekuatannya dan hanya fokus untuk
berlari, hal ini terasa lebih mudah. Ia melihat teman-temannya yang berlari di depan. Ia
merasa bersalah terhadap Jake. Jake merupakan teman pertamanya, namun ia tidak
menyadari kalau Jake sudah di batas akhir untuk menggunakan kekuatannya.

Leo menutup kembali matanya dan menggunakan kekuatannya untuk membuat


dinding angin di sekeliling mereka yang ia gerakkan sesuai dengan gerakan mereka,
kalau-kalau ada monster yang menyerang. Jake sudah tidak sadarkan diri dan Rio
sudah mencapai batas waktu pemakaian kekuatannya, ((Yera tidak bisa menggunakan
kekuatannya saat ini)) dan Vanessa tampak tidak berada di keadaan fisik yang aman
untuk menggunakan kekuatannya, apapun itu. Leo berkesimpulan bahwa hanya ialah
yang saat ini dapat menggunakan kekuatannya untuk melindungi mereka semua. Ia
sudah tidak peduli untuk menghabiskan seluruh kekuatannya, yang penting mereka
semua bisa keluar dengan selamat. Sepanjang ini situasi terdengar baik karena tidak
ada monster ular yang memasuki area pendengarannya. Namun, untuk jaga-jaga, ia
tetap mempertahankan dinding angin di sekeliling mereka. Di hutan ini tidak ada yang
tahu apa yang akan terjadi.

Sepanjang malam ia terus berlari tanpa memedulikan sakit yang ada di tubuhnya atau
beban yang ada di pundaknya. Memang sepintas Vanessa terlihat memaksakan teman-
teman untuk berlari terus, namun dirinya memaksakan hal ini supaya mereka tidak
mendapatkan serangan ular lagi dan beberapa dari mereka yang sudah mencapai batas
kekuatannya dapat dengan cepat mendapatkan pertolongan. Dari jauh dirinya sudah
dapat melihat pintu dan dirinya langsung mempercepat langkahnya membuat
kecepatan mereka gerombolan mereka bertambah.

"Pintunya!!!" bisik Rio. Ia mempercepat langkahnya untuk menyusul teman-temannya


yang sudah sampai di pintu. Yera membukakan pintu tersebut untuk mereka dan Rio
tiba-tiba mendapat ide setelah melihat lubang pintu yang hanya dapat dilalui oleh satu
orang dan berbentuk tangga yang cukup sulit dilalui jika ingin menopang orang lain.
"Leo, sekarang kau kuijinkan untuk berjalan," Rio menurunkan Leo sambil nyengir.
"Vanessa, bantu aku untuk memposisikan Jake di punggungku," Rio berjongkok di
tanah agar Vanessa dapat meletakkan Jake dengan mudah. Setelah Jake sudah di
punggungnya, ia menggunakan kedua tangannya untuk menopang kaki Jake dan
memasuki pintu dan menuruni tangga didalamnya terlebih dahulu.

Ketika mereka sudah dekat dengan pintu keluar Yera langsung melepaskan
topangannya pada Jake. Beban tubuh Jake yang mendadak diterima Vanessa
membuatnya hampir terjatuh dan berdiri pada posisi yang aneh. Melihat Leo sudah
bisa jalan sendiri dan Rio yang mau menggotong Jake, dirinya pun memindahkan Jake
ke punggung Rio dan membiarkannya menuruni tangga duluan memasuki pintu
keluar. Setelahnya dirinya pun mengikuti kedua orang ini dibelakang. Tangan
kanannya yang tadi ia gunakan sudah mulai terasa sakit sehingga ia menyimpan
tangan kanannya di dadanya. Berjalan menuruni tangganya tersebut Vanessa sudah
merasa sedikit lebih lega dan badannya sudah tidak merasakan apapun, tidak sakit
namun juga tidak sehat. Jalanan yang gelap membuatnya perlu sedikit menyandarkan
tubuhnya pada dinding di kirinya. Setelah semua orang masuk dan Leo menutup pintu
tersebut, lampu-lampu kecil di dinding menyala dan menerangi perjalanan mereka.

'Sampai!' Yera Lograr menurunkan Jake lalu menarik gagang pintu perak yang
berlumpur di depannya. Dibukanya lebar-lebar, lalu ia masuk perlahan, menuruni
tangga. Di dalam pintu itu gelap, hanya terlihat secercah cahaya beberapa meter di
belokan terowongan di depan mereka.

Leo menghela nafas lega setelah Rio memutuskan untuk menurunkannya. Ia membuka
matanya dan melihat keadaan teman-temannya sekarang ini. Semuanya terlihat sangat
lelah. Ditambah lagi keadaan Jake yang buruk. Leo meregangkan tubuhnya dan
berjalan memasuki pintu tersebut setelah Rio, Jake, Yera, dan Vanessa. 'Orang-orang
disini.. Kenapa mereka suka sekali dengan terowongan yang gelap?' Setelah menuruni
beberapa anak tangga, Leo menghadap ke belakang dan menutup pintu yang terbuka.
Seketika itu juga, lampu di tembok menyala dan menerangi jalan mereka.

Selama berjalan menuruni tangga dan menyusuri terowongan dirinya tidak


mengatakan apapun. Ia memfokuskan dirinya untuk berjalan sampai akhir dari
terowongan tersebut. Sambil terus mengawasi Rio yang menggendong Jake karena
takut bila Rio tidak kuat, dirinya melihat cahaya terang di ujung dari terowongan.
Tampaklah aula tersebut namun tidak ada orang sedikit pun. Aula tersebut memiliki
warna gabungan antara krem dan coklat. Sepanjang malam ini adalah pertama kalinya
ia mendapati cahaya terang. Terlihatlah wajah dan bibir Vanessa yang sedikit pucat.
Bibirnya kering karena kurang minum dan baru saja menggunakan kekuatannya lebih
dari batasnya. Sekeliling matanya sudah hitam karena sudah 2 malam tidak
mendapatkan tidur yang cukup.

Selama perjalanan menuju aula, dada Leo terasa sesak dan otot-otot tubuhnya berteriak
untuk istirahat. Namun, ia tetap harus memaksakan dirinya untuk berjalan keluar. Ia
tidak mau merepotkan Rio ataupun yang lainnya karena Leo sudah merepotkan
mereka semua dengan keadaanya di hutan tadi. 'Akhirnya..' Leo melindungi matanya
dari cahaya aula yang terang. Kali ini dapat terlihat jelas kalau wajahnya pucat dan
keringat bercucuran dari tubuhnya. Ia sudah tidak bisa mendengar dengan jelas apa
yang dikatakan orang-orang disekitarnya dan pandangannya mulai kabur. Kondisi
tubuhnya sekarang lebih buruk dari yang ia kira. Baru kali ini Leo menggunakan
kekuatannya sampai habis walaupun ia tahu kalau hal tersebut dikatakan berbahaya.
Leo melihat wajah Jake yang sudah sangat pucat dan tampak dalam kondisi yang
kritis. 'Paling tidak kita semua sudah keluar dari tempat itu...' pikirnya sebelum
pandangannya menjadi gelap. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah tim medis yang
berlarian dan Rio yang memanggilnya.

"Kita sampai!" sahut Rio sesaat ia memasuki aula kosong yang memiliki cahaya yang
sangat terang. Mungkin karena ia sudah terlalu lama di hutan dan bertarung
semalaman, Rio tidak terlalu terbiasa dengan cahaya yang terang secara mendadak. Ia
segera menurunkan Jake dari punggungnya dan memindahkannya ke tandu yang
dibawa oleh beberapa tim medis. Wajah Jake sangat pucat dan tampak sulit untuk
bernafas. "Kalian akan menyelamatkannya, bukan?" tanya Rio. "Tentu saja," jawab salah
satu dari mereka singkat sambil berlari membawa Jake. "Cepat! 1 tandu lagi!"
mendengar teriakan salah satu tim medis, Rio memutar tubuhnya ke belakang untuk
melihat wajah Leo yang pucat dan mulai terjatuh. "LEO!!!!" ia berlari untuk
menghampiri Leo yang terjatuh ke lantai tidak sadarkan diri. 3 orang tim medis lebih
cepat dalam mendahuluinya dengan sebuah tandu. Dengan sigap Rio pun membantu
salah satu dari mereka untuk menempatkan Leo ke atas tandu dan mengikuti mereka
untuk lari. Sebelum ia dapat mengikuti mereka masuk ke dalam sebuah ruangan, "kau
hanya boleh sampai disini. Ini ruang intensif" salah satu dari mereka
memberhentikannya sebelum menutup pintu di depan wajahnya. Rio menghela nafas
dan duduk di salah satu kursi yang disediakan di depan ruangan tersebut. Ia dapat
melihat Vanessa yang dituntun oleh seorang tim medis wanita berkulit gelap untuk
masuk ke ruang intensif tersebut.

Setelah mereka semua masuk ke aula keluarlah beberapa tim medis yang lansung
menyambut mereka. Setiap dari mereka didatangi oleh seorang tim medis. Dua orang
tim medis membantu Rio menurunkan Jake dan memindahkan Jake ke tandu yang
sudah disiapkan. Dibawalah dengan segera Jake oleh tim medis lain melewati sebuah
pintu kaca. Kemudian Rio dan Yera yang tampaknya masih kuat berdiri dan berbicara
langsung ditanya-tanyai. Leo yang tidak bisa berbicara mendadak pingsan dan
langsung digotong dengan tandu juga mengikuti Jake melewati pintu kaca tersebut.
Setelah mengamati keadaan teman-temannya Vanessa mendapati dirinya juga didekati
oleh seorang tim medis wanita berkulit gelap dan berambut oranye gelap keriting yang
disanggul. "Nona, bagaimana kondisimu? Apa ada keluhan yang kau rasai sekarang?"
tanya tim medis ini dengan nada datar sambil terus menatap Vanessa. Dirinya sudah
tidak kuat untuk berbicara sehingga ia hanya menunjukkan tangan kanannya yang
tadinya ia simpan di depan dadanya kepada tim medis tersebut. Wajahnya Vanessa
sekarang tampak kosong, campuran antara lelah dan lega. Dirinya tidak yakin
menginginkan apa sekarang, air untuk diminum, tempat untuk tidur, kursi untuk
duduk, atau apapun itu. Tim medis tersebut tampaknya mengerti kondisi Vanessa
sekarang dan memnuntun ia melewati pintu kaca di mengikuti Jake dan Leo.

Di balik pintu kaca ia dibawa ke suatu ruangan untuk diperiksa. Vanessa diminta
untuk duduk di ranjang pasien dan Beberaoa tim medis lantas lansung memeriksa
dirinya dari atas kebawah. Semuanya tampak tak jelas bagi Vanessa. Ia hanya ingat tirai
dari dua ranjang di sampingnya sudah ditutup, jam di dinding mengatakan sekarang
sudah jam 3 pagi, kedua sepatu bootsnya dilepas dan mereka merawat luka lelehan di
kakinya, dan jubah merah Jake di lepas dan ditaruh dengan terlipat di rak pada ujung
kasur Vanessa. Dirinya pun merasa ada seseorang menyuruhnya untuk berbaring.
Mendapatkan dirinya terbaring di kasur yang sangat empuk jauh lebih enak dari yang
ia miliki di Lamia, dirinya langsung tertidur. Setelah perawatan pada Vanessa selesai,
para perawat meninggalkan Vanessa untuk tidur dan menutup tirai sepenuhnya
mengelilingi kasur Vanessa. Dirinya, yang sekarang sudah memakai baju pasien,
tertidur lelap dengan selimut menutupi dirinya dan matanya yang sudah hitam
tertutup rapat. Terlihat perban terbalut di kaki kiri dan tangan kanannya, beberapa luka
sudah dibersihkan dan juga diperban, dan infus terpasang pada tangan kirinya. Semua
persenjataan Vannesa sudah disimpan oleh tim medis demi mencegah adanya
perkelahian atau pembunuhan di ruang medis. Bajunya terlipat di atas jubah merah
Jake yang sangat besar.

"Kuharap mereka bertiga baik-baik saja. Terutama Jake dan Leo," katanya setelah
mendapati Yera duduk di sampingnya. 4 orang tim medis datang menghampiri mereka
berdua dan menuntun mereka untuk memasuki sebuah ruangan lainnya dimana
terdapat 10 kasur pasien yang terbagi atas 5 dan 5 yang disusun berhadapan dengan
sebuah jalan yang kira-kira selebar 3 meter diantara kedua susunan tersebut. Terdapat
tirai yang membatasi antara kasur dan jarak antara kedua kasur sekitar 1 meter.
Terdapat seorang laki-laki muda berambut hijau pucat dan bermata biru tersenyum
ramah dibalik mejanya. Terdapat rak besar berisi botol-botol obat di belakang kursinya.
Dari pakaian yang ia kenakan, terlihat jelas bahwa statusnya lebih tinggi dari tim medis
yang ia temui sebelumnya. "Kalian duduklah di atas ranjang itu, aku akan memeriksa
kalian," katanya dengan ramah. Ia dan Yera pun duduk di salah satu ranjang yang
terletak paling dekat dengan meja pria tersebut. 2 dari tim medis yang menjemput
mereka datang dan memeriksa keadaan masing-masing darinya dan Yera sedangkan 2
orang lainnya membawa masing-masing kotak yang berbeda sambil berjalan mengikuti
pria berambut hijau tersebut menghampiri mereka.

"Mereka pasti baik-baik saja." kata Yera kepada Rio dengan mulut penuh kue. Yera
memakan kue kacang hazel yang diberikan padanya dari salah seorang tim medis, ia
sedang menepuk-nepuk bekas lumpur yang mengering. Walau kotor oleh bekas
lumpur, wajah Yera terlihat cerah karena senang dengan berakhirnya ujian kedua.
Tangan kanannya sedang dipasang sphygmomanometer sementara tangan kirinya
terus memasukkan kue kacang ke mulutnya. 'Akhirnya ada makanan lain selain
apel.' hatinya berkata. Ia sudah merasa membaik, peralatannya sudah dikembalikan
oleh petugas dan ia menjadi lebih tenang karena itu. Di atas ranjang, sementara duduk
kakinya mengayun-ayun, dan ia melanjutkan pengamatannya di L'escollit escola ini.
'Lampu itu sepertinya buatan tetangga sebelah.' Sambil terus mengunyah, ia memandang
sebuah lampu ultraviolet di atas meja. Yera mengenali lampu bercorak bintang yang
bersandar pada penyangganya di meja kayu itu. Peralatan di tempat yang menyerupai
klinik itu sebagian besar dikenali Yera sebagai produk Kerajaan Ozark.'Menarik.'
akhirnya ia menghabiskan potongan terakhirnya, dan sementara itu petugas medis
sedang mengobati sedikit lecet di punggungnya. Baju dan bootnya yang seperti pelat
yang keras tidak rusak, hanya saja celananya kotor dan sedikit robek.

Aron berjalan mondar-mandir, khawatir dengan apa yang terjadi. Karena ular itu
dilepaskan, tersisa 87 peserta yang selamat. Ada beberapa yang terluka karena racun
kalajengking ditambah dengan monster level 3 saat malam hari membuat keadaan
menjadi kritis. Sebelumnya, tidak pernah sekalipun ujian L'escollit escola mengalami
hal seperti ini. Biasanya, ujian berlangsung tanpa adanya ancaman. Tapi, semenjak
rekaman itu, Aron beserta seluruh dewan institusi menanggapinya dengan serius.
Mereka tidak tahu apa maksud dari perlakuan dan perbuatan orang itu. Namun yang
pasti, siapapun itu, ia berusaha untuk menghancurkan L'escollit escola. Bahkan ingin
membuat calon TCO gagal atau bahkan sampai meninggal. Untungnya sejauh ini, tidak
ada kabar kematian dari peserta dan itu kabar baik yang harus disyukuri.

"Aku harus memperketat pengamanan di hutan. Lalu, aku harus mencari siapa pelaku
dari semua ini, " gumam Aron sambil menggaruk dagunya.

***

Day 3
06.00
Forest Of Punishment pt. 7

Kondisi Aron makin memburuk, namun ia tetap saja tidak peduli. Ia mengelap lendir
yang keluar dengan tisu kesayangannya sambil memeriksa data-data mantan murid
TCO. Dari rekaman tersebut, ia bisa menyimpulkan bahwa orang ini mempunyai
kekuatan yang tidak biasa. Ia tidak tahu apa secara spesifik, tapi setidaknya di otaknya
sudah ada beberapa tipe kekuatan yang mungkin sesuai dengan bukti. Khusus hari
ketiga, Aron dan dewan departemen penguji sengaja untuk tidak memberikan sirine
ataupun monster untuk keluar. Keputusan ini diambil demi keselamatan calon TCO.
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------
Last Test
Wawancara

Para TCO sudah berkumpul di aula yang merupakan destinasi terakhir setelah berhasil
keluar dari hutan tersebut. Dari sini, bisa terlihat bahwa hanya 85 TCO yang selamat,
dan beberapa dari mereka terdapat luka-luka yang cukup besar. Beberapa TCO sudah
ada yang ingin menyerah dan sudah ada yang mengundurkan diri saat hari pertama di
hutan. Tidak disangka bahwa inilah ujian yang harus mereka terima untuk menjadi
seorang TCO pilihan Red Orbs.

'AKU TIDAK PERCAYA INI! BERANI-BERANINYA MEREKA MENINGGALKANKU!


Sudahlah! Yang penting aku sudah selamat. Aku sudah lulus.' pikir Eliza dengan kesal. Ia
sangat malu dan kesal karena dirinya ditinggalkan begitu saja oleh Vanessa, Jake, Leo,
Yera, dan Rio. Vanesa, orang desa yang sudah ia coba bunuh namun masih tetap saja
hidup dan berani-beraninya memukul ia. Leo, orang sombong yang hampir saja
berhasil ia bunuh namun sekali lagi masih saja tetap hidup. Adiknya, Rio, orang tidak
tahu diri yang hanya bisa mengamuk-ngamuk dan menempel pada kakaknya seperti
seekor anjing. Yera, bocah lemah yang tidak jelas. Dan terakhir Jake yang sudah ia coba
untuk rayu namun ditolak mentah-mentah begitu saja dan meninggalkannya sendirian
entah kemana. 'KURANG AJAR! Mereka kira mereka dapat melakukan halini seenak mereka!
Memang mereka pikir mereka siapa! Aku seorang Noble Vanderbilt! Tidak pernah ada yang
menolak Eliza Vanderbilt! Tidak pernah ada yang menolak kecantikanku begitu saja!' pikir
Eliza dengan sangat kesal. Pagi ini, dirinya terbangun pada pagi hari dan mendapati
dirinya hanya sendirian. Pohon-pohon disekelilingnya berantakan dan beberapa
tumbang seperti baru saja terjadi perkelahian besar. Di sekitarnya tidak ada tanda-
tanda seorang pun. Ia tidak tahu sekarang jam berapa dan ke arah mana dia harus
pergi.

'Untung aku bertemu dengan orang ini. Walaupun tampak sedikit aneh tapi lebih baik dari pada
aku hanya sendiri.' pikirnya sambil melihat ke arah pria yang membantunya untuk
mencari pintu keluar. Eliza baru saja bertemu dengan pria ini tadi pagi. Saat itu dirinya
sedang sangat kesal dan menendang segala sesuatu yang ia temui, batu, ranting, tanah,
daun, dan lain-lainnya sambil mengutuk orang-orang yang telah meninggalkan
dirinya. Setelah meneriakkan kefrustasiannya mendadak dari semak-
semak muncul seorang pria.

-insert npc psycho


"Baiklah, sepertinya peserta sudah makin berkurang saja," teriak seorang lelaki sambil
menghempaskan jubahnya putihnya dengan gagah. Kulitnya yang berwarna
kecoklatan dengan postur tubuh tegap membuat dirinya terlihat seperti seorang atasan,
"Perkenalkan namaku adalah Jansen Morgen. Aku merupakan wakil kepala sekolah
dari institusi L'escollit escola. Senang bertemu kalian semua!"

Para TCO hanya saling memandang satu dengan yang lain. Mereka sudah merasa lelah
dan ingin cepat selesai dari semua ini. Jansen mengedarkan pandangannya ke seluruh
ruangan dan tersenyum, "Aku mengerti kalian pasti ingin pulang. Jadi, aku akan
menawarkan beberapa pilihan untuk kalian."

Eiza sudah dapat membayangkan dirinya kembali ke mansion keluarganya di Central


City. Hal pertama yang ia lakukan adalah mandi dan spa untuk membersihkan dirinya.
Rambut dan kukunya butuh perawatan intensif setelah apa yang ia lalui di hutan
tersebut. lalu ia akan menlanjutkan dengan menyantap hidangan istimewa dari chef
pribadinya dan terutama makanan penutup kue sifon putih dengan krim
kejumascarpone dan beri segar eksklusif spesialitas chef keluarganya. Terakhir dia akan
mengakhirinya dengan tidur cantik di kamarnya sambil mengenakan masker alpukat
dan madu untuk menyegarkan wajahnya. Di tengah-tengah pikirannya ini mendadak
Jansen berbicara lagi.

"Aku tawarkan kalian mundur sekarang sebelum masuk ke ruang wawancara jika
kalian tidak ingin masuk L'escollit escola. Kami tidak menerima mental busuk untuk
TCO. Aku sarankan bagi kalian yang sudah lelah, mundurlah sekarang. Karena
wawancara ini akan menguras seluruh tenaga dan energi kalian," kata Jansen dengan
tegas, "Hanya TCO sejatilah yang bisa masuk ke dalam institusi ini untuk dilatih dan
menggenapi panggilannya sebagai pilihan Red Orbs."

Para TCO terdiam, lalu setelah beberapa menit mulailah beberapa orang
mengundurkan diri sehingga tersisa 57 orang di dalam ruangan, "Apakah kalian masih
tetap tinggal?"

'Huh! Cepatlah dengan pengumumanmu! Aku tidak suka menunggu!' pikirnya sambil tidak
sabar menunggu pengumuman dari Jansen untuk selesai. Eliza pun melihat ke sekelilig
dan melihat beberapa orang pergi. 'Tendang saja para pencundang ini. Manusia-manusia
gagal ini bukan hal yang penting. Mereka tidak pantas untuk berada di sekolah L'escollit Escola
bersamaku.' pikir Eliza sambil dengan tidak sabar menilhat orang-orang berjalan keluar.

"Baiklah, kalian semua yang disini akan melewati tes terakhir wawancara denganku
dan Alexander Aceline, yaitu kepala sekolah dari institusi L'escollit escola," umum
Jansen, "Kalian akan dibagi menjadi dua kloter, dimana kloter pertama akan masuk ke
ruangan besok pada pagi hari sedangkan kloter kedua pada siang hari. Bagi kalian
semua yang tinggal, kami memberikan kalian kesempatan untuk beristirahat di tempat
ini sampai besok. Mohon istirahatlah dengan tenang."

'Hhh! Inilah kekuatan dari Eliza Vanderbilt! Jangan remehkan aku yah lain kali! Lihat saja
akibat yang akan kalian terima bila merendah diriku. Seperti orang-orang tersebut...' pikir Eliza
dengan sombong membanggakan dirinya yang sudah sampai di posisi ini dan
membayangkan Jake dan kelompoknya masih tersesat di dalam hutan karena mereka
tidak ada di aula ini. 'Heuh... Aku sudah lelah dan ingin pulang sekarang. Aku malas
mengikuti wawancara tidak jelas ini.' pikir Eliza sambil berjalan keluar dengan santai
tanpa melihat papan pengumuman jadwal wawancara seperti peserta lainnya.
Sesampainya ia diluar sudah ada kereta kuda yang menunggunya dengan dua orang
pelayan wanita dan seorang pelayan pria senior berambut hitam dan wajah ramah.

"Nona Eliza -" sambut pelayan pria tersebut sambil sedikit membungkuk namun
lansung dipotong oleh Eliza.

"Aku ingin kembali sekarang. Tolong bilang pada orang L'escollit Escola itu bahwa aku
tidak akan mengikuti uji wawancara. Dan pastikan aku diterima ke sekolah ini." Eliza
berkata tanpa memandang pelayan pria tersebut dan terus berjalan ke masuk kereta
kuda tersebut. Keluarganya yang mempunyai banyak koneksi dalam tentu punya
kenalan yang dapat membantunya diterima sekolah L'escollit Escola dengan mudah.
Dan kenalan mereka ini dapat memastikan hal tersebut terwujud dengan mudah tanpa
beritanya bocor ke publik

Pelayan pria tersebut hanya membungkuk sambik berkata, "Baik Nona Eliza." Ia pun
pergi dalam kereta kuda tersebut dengan pelayan-pelayannya ke mansionnya.

***

Setelah diobati oleh dokter tadi dan beristirahat di ruang kesehatan selama beberapa
jam, Rio berjalan bersama dengan Yera keluar dari gedung perawatan L’escollit escola
menuju aula dimana mereka masuk pertama kali. Tim medis yang membawa mereka
subuh tadi memberitahu bahwa pengumuman mengenai ujian selanjutnya akan
ditempelkan disana. Mereka berjalan tanpa mengatakan sepatah kata apapun. Rio
terlalu khawatir dengan keadaan ketiga temannya yang kritis untuk dapat mengatakan
sebuah lelucon demi mencairkan suasana. Ia dapat melihat kekhawatiran dibalik
tatapan Yera walaupun wanita tersebut terlihat seperti biasa-biasa saja.

'Kenapa mereka memasang pengumuman? Bukankah asal melakukan "menemukan pintu keluar
dalam tiga hari" kita pasti lulus?' Yera berjalan dengan sedikit perasaan was-was,
memikirkan kemungkinan dirinya tidak lulus. Segera setelah itu ia mendecakkan
lidahnya dan sedikit tersenyum. 'Setelah ujian kemarin, aku rasa tidak lulus juga tidak
masalah. Aku akan kembali ke Ozark.' pikirnya. 'Seharusnya mereka bersyukur masih ada
peserta yang hidup... Oh iya, bagaimana kabar anak itu ya?' di pikiran Yera sekarang berjajar
hal-hal yang disukainya. Sambil berjalan, ia mengunyah kue kacang makadamia yang
lagi-lagi diberikan oleh petugas medis.

Sesampainya mereka di aula tersebut, sudah tidak banyak peserta peserta yang berada
disana. Rio dapat melihat beberapa orang bercakap-cakap dan ada juga yang
berkumpul untuk melihat sebuah papan pengumuman. Ia tidak sengaja menangkap
keberadaan Eliza yang sedang masuk ke dalam kereta kudanya, “Wanita rubah itu
selamat juga rupanya. Siapa lagi yang ia manfaatkan untuk sampai kesini?” Rio
bergumam kesal dan dengan cepat berjalan kearah pengumuman tersebut.

'Baguslah, kami semua lulus...' dengan pipi yang menggembung penuh kue, Yera
mendesak-desak orang-orang di sampingnya untuk dapat keluar dari papan
pengumuman. 'Setelah ini, kira-kira ada kejutan apa lagi? ia menggigit bibirnya, ia merasa
butuh jeda yang lama sebelum mengikuti permainan L'escollit escola yang berikutnya.

"Yera, kau mendapat giliran ke berapa? Aku mendapat giliran paling akhir," tanya Rio
kepada Yera yang akhirnya berhasil melewati kerumunan peserta ujian. Ia tertawa geli
melihat pipi Yera yang menggembung karena kue. Ini pertama kalinya ia melihat
seorang wanita makan dengan beringas seperti ini. Yera pasti masih sangat lapar
walaupun beberapa jam lalu ia telah menghabiskan sendiri 2 kaleng kue kacang yang
diberikan tim medis kepadanya.

***Sementara itu di ruang perawatan***

Pagi itu di ruang perawatan semua tampak sunyi, Hampir seluruh kasur pasien
tirainya ditutup menandakan bahwa di dalamnya ada peserta calon TCO terluka yang
sedang tidur. Semejak kejadian semalam ada beberapa peserta calon TCO yang berhasil
keluar di malam hari. Kebanyakan peserta calon TCO yang berhasil keluar malam hari
juga mengalami luka-luka berat karena serangan ular pada malam hari. Semuanya
hening dan yang terdengar hanyalah suara monitor detak jantung dari salah satu calon
peserta TCO yang terluka.

Di pagi yang hening ini Vanessa masih tertidur lelap. Tubuhnya yang sudah
dipaksakan untuk terus berlari dan bertarung selama dua hari dan dua malam tanpa
istirahat ataupun tidur terlihat sangat damai dan nyaman di atas ranjang pasien ini.

Setelah tidur lumayan lama akhirnya Vanessa memutuskan bahwa dirinya sudah
mendapatkan istirahat yang cukup. Ia pun mulai bangun dan berdiri. Saat itu ruangan
tempatnya tampak redup seperti pada kondisi malam hari yang mempermudah para
calon TCO terluka untuk tidur. Perlahan-lahan ia mencoba untuk membuat dirinya
tidak merasa asing di tempatnya. Ia memerhatikan dengan perlahan situasi
disekitarnya. Infus yang terpasang, bajunya yang sudah diganti, dan perban-perban
yang ada di tubuhnya. Setelah beberapa lama seorang dokter dan perawat datang.
Mereka mengecek kondisinya dan mengganti perbanny. Setelah memutuskan bahwa
Vanessa cukup sehat untuk keluar dari ruang perawatan mereka pun mencabut infus
dan memberikan dirinya sarapan untuk disantap sebelum ia keluar dari ruang
perawatan. Sarapan yang ia terima berupa oatmeal, beberapa potong buah dan beri,
bersama dengan bacon dan telur acak. Sarapan mewah ini sedikit mengejutkan
Vanessa. Ia tidak pernah mendapatkan sarapan sebanyak ini dengan makanan lezat
seperti ini. Mengingat dirinya yang belum makan selama 2 hari maka dirinya lansung
menyantap sarapan ini dengan lahap dan cepat. Setelah dirinya selesai makan, ia
lansung mengganti bajunya. Mengingat hari ini ia harus melakukan wawancara,
dirinya berusaha memberikan penampilan terbaiknya dengan sedikit menyisir
rambutnya dengan sisir yang dipinjam dari salah seorang perawat dan mencuci
mukanya. Namun masih ada satu masalah yang belum dapat ia selesaikan, bajunya
yang sudah rombeng. Ia berdiri di depan salah satu kaca yang ada di ujung ruangan
besar itu. Tampak di kaca rok Vanessa yang awalnya di bawah lutut sudah rombeng
hingga setengah pahanya, kerah kemejanya sudah robek besar dan memperlihatkan
bagian tengah dadanya. Terlihat lekuk rusuk-rusuk Vanessa karena kekurusan dirinya.
Sambil sedikit mengangkat tangannya dan mencoba melihat dirinya dari beberapa sisi
ia mengambil keputusan bahwa baju ini sudah tidak terselamatkan dan sangat tidak
sopan bila dipakai ke wawanc
ara. Dari ujung matanya ia melihat jubah merah jake terlipat di ujung kaki ranjangnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk meminjam jubah tersebut sekali lagi untuk menutupi
dirinya.

Ia pun berjalan keluar dengan memberikan senyum kepada perawat yang menjaga di
dekat pintu keluar. Beberapa lorong ia susuri dan kembalilah dirinya ke aula coklat
malam sebelumnya. Tampak hari itu sudah mulai siang dan beberapa anak sudah
mulai kembali pulang selesai dari wawancara. Sebuah papan pengumuman disamping
beberapa calon TCO duduk menarik perhatian Vanessa. Di dekatinya papan itu dan
dibacalah pengumuman jadwal wawancara tersebut. Tampaknya dirinya mendapat
kloter pertama dan tepat tidak lama setelah itu adalah gilirannya.

Setelah peserta calon TCO sebelumnya keluar, Vanessa berjalan ke depan pintu ruang
wawancara. Ia mengambil nafas dalam-dalam dan kemudian mengetuk pintu ruang
wawancara tersebut.

“Silahkan masuk,” panggil suara berat dari dalam.


Vanessa mendorong pintu tersebut dan masuk ke dalam ruang tersebut. Jubah merah
yang digunakan untuk menutupi dirinya terseret di lantai.

Terlihat seorang pria berdiri sedang memilah-milah amplop coklat di lemari dekat meja
kerjanya. Ia sedikit memincingkan mata ke peserta yang masuk dan berkata, “Duduk di
kursi ini.”

Vanessa pun berjalan mendekati meja kerja tersebut ke arah kursi yang ada di
depannya. Berjalan ke dalam ruang kerja ini sedikit membuatnya terpesona dengan
berbagai benda-benda mewah yang ada. Banyak dari benda mewah ini memiliki
bentuk unik dan ukiran-ukiran cantik. Namun sekali lagi inilah kehidupan orang-orang
yang memiliki status tinggi di kota-kota besar. Orang di balik meja tersebut yang
merupakan penguji wawancaranya memakai seragam dan jubah putih L’escollit Escola
sambil membawa pedang di sampingnya. Vanessa pun duduk secara hari-hati agar
jubah merahnya tetap menutupi bajunya yang sudah rombeng.

Setelah selesai dengan urusannya, ia memegang satu amplop cokelat dan menaruhnya
asal di atas meja. Lalu, ia menatap peserta di depannya yaitu seorang perempuan muda
dengan jubah merah yang ia sangat kenali. ‘Itu… jubah adikku? Bagaimana bisa ia
memilikinya?’gusar pria ini membenarkan kacamatanya. Tidak mungkin adiknya tewas
di ujian kedua. Ia tahu betul kekuatan saudara kandungnya cukup menghadapi ujian.
Apalagi, dia sudah dilatih sedemikian rupa untuk ini. Namun, ia berusaha untuk tidak
menghiraukannya dan berbicara “Ehm, perkenalkan namaku adalah Alexander Aceline
dan aku adalah kepala sekolah di L’escollit Escola.” Pria ini kemudian duduk
berhadapan sambil mengambil amplop cokelat dan mengeluarkan isinya, “Hari ini aku
akan mewawancaraimu dan kalo mau jujur ini akan selesai dalam waktu… mungkin…
satu jam…. Jika jawabanmu tidak menimbulkan banyak pertanyaan bagiku.”

Vanessa tidak menyangka dirinya akan diwawancara hanya berdua dengan kepala
sekolah dari L’escollit Escola langsung. Kepala sekolah dengan marga Aceline ini
mengingatkan dirinya kepada Jake dan menduka ia merupakan salah satu kerabat Jake
dari keluarga besar Noble Aceline. “Baiklah.” jawab Vanessa singkat sambil
membenarkan posisi duduknya menjadi lebih tegak dan nyaman. Walau ia tahu
dihadapannya berupa salah satu orang berkuasa di Central City, Vanessa memutuskan
jalani saja yang ada di hadapannya seperti biasa dia menangani orang-orang berstatus
tinggi.

“Jelaskan padaku tentang dirimu. Aku ingin mengenalmu,” Alexander berkata singkat.
Ketika mendengar pertanyaan ini berbagai hal muncul di kepalanya. Vanessa pun
mulai berbicara, “Namaku Vanessa Cortaz berasal dari kota Lamia, Kerajaan
Luxemberg. Aku berusia 17 tahun. Keluargaku merupakan keluarga petani yang…
berkecukupan. Keluargaku tidak mampu mendanai pendidikan sehingga aku tidak
pernah mendapatkan pendidikan formal sebelumnya. Namun aku sering membaca
banyak buku di perpustakaan pusat kota dan dengan beberapa bantuan dari temanku,
aku memiliki pengetahuan dasar. Tidak banyak hal kulakukan di rumah selain
kegiatan-kegiatan sehari-hari biasa seperti merawat pertanian keluargaku. Namun aku
pernah berlatih cara berburu secara otodidak. Aku dapat menggunakan tombak dan
panah dengan baik. Semejak kecil keluarga ku sudah mencoba untuk menjodohkanku
pada keluarga petani yang lebih kaya demi memperbaiki ekonomi keluargaku. Namun
aku lebih memilih untuk melakukan hal lain dan aku percaya hidupku ini tidaklah
hanya sekedar menikah ke sebuah keluarga pertanian, melahirkan anak, dan menjadi
ibu rumah tangga. Masih banyak hal besar dan hebat diluar sana yang dapat aku
lakukan.” Vanessa mengakhiri kisahnya dengan menatap Alexander tepat ke matanya
dengan tatapan penuh kekuatan dan keseriusan.

Alexander diam menuliskan jawaban Vanessa dalam sebuah kertas. Lalu ia menatap
calon peserta di depannya tajam, “Memang semiskin itu keluargamu?”

“Ya, begitulah. Keluargaku juga terdiri dari 5 orang. Aku bersama orangtuaku dan 2
saudaraku. Jumlah kami yang banyak lumayan membantu dalam bekerja setiap hari.”
jawab Vanessa.

Pria Noble itu mengangguk dan masih sibuk menuliskan apa yang didengarnya.
Beberapa kali matanya melirik ke jubah merah punya adiknya yang dipakai gadis ini.
Ia sebenarnya ingin sekali menanyakan bagaimana bisa jubah itu dimiliki oleh calon
peserta yang bahkan dari faksi Normal. Tapi, Alexander mengurungkan rasa
penasarannya demi integritas seorang pewawancara. “Lalu karena kau memilih untuk
tidak menikah, kau pergi ke institusi ini?”

Vanessa sedikit bingung bagaimana ia akan menjawab pertanyaan ini karena penyebab
ia dapat diundang untuk mengikuti ujian sekolah ini sedikit kontroversial. Namun ia
memutuskan untuk menjawab, “Tidak pernah terpikirkan olehku untuk menikah
muda. Masih banyak hal lain yang ingin aku lakukan dan ingin aku capai. Namun aku
bisa mendapat undangan untuk mengikuti ujian sekolah ini karena hal lain. Beberapa
petugas resmi sekolah ini mendengar kabar mengenaiku dan mereka datang untuk
memberikan aku surat undangan dan menjemputku untuk ke Central City.”

“Siapa yang memberimu undangan?” tanya Alexander tegas.

“2 orang petugas resmi dari sekolah L’escollit Escola. Mereka datang ke rumahki
memberi kabar bahwa aku salah satu yang terpilih untuk mengikuti ujian ini.” jawab
Vanessa dengan sedikit bingung. Ia mengira bahwa Alexander sebagai kepala sekolah
L’escollit Escola tahu mengenai hal ini.

“Hm, masalahnya di datamu tidak ada tanda bintang, kira-kira kau mengingat siapa
yang memberimu undangan?” Alexander mengerutkan dahinya kebingungan. Semua
kertas peserta sudah ditandai olehnya untuk membedakan jalur undangan dan tidak.
Dia ingat betul di list nama tidak dituliskan nama Vanessa Cortaz.

“Petugas yang bernama Hugh Collen and Calvin Asterev.” jawab Vanessa singkat. Hal
ini sedikit membuatnya terkejut dan gugup. ‘Apa-apaan ini. Apa mereka mencoba untuk
mempermainkanku.’ pikir Vanessa sedikit kesal.

“Oh mereka berdua ternyata,” gumam Alexander sambil menandai bintang di kertas
amplop tanpa mempedulikan pikiran Vanessa. Kemudian ia memandang calon TCO ini
dengan seksama, “Aku akan mengecek ulang datanya kepada mereka, maafkan aku.”
Pria Noble ini menggenggam bolpen dan menyiapkan dirinya untuk bertanya kembali,
“Baiklah, mari kita lanjutkan. Mengapa kau memakai tombak dan panah saat di hutan?
Apa kau pernah memakai senjata lain?”

Vanessa merasa lega atas keputusan Alexander dan yakin bahwa ia di sini sebagai
orang yang serius. Lalu ia melanjutkan wawancara dengan menjawab, “Terkadang aku
pergi ke hutan untuk berburu. Di keluargaku kami jarang bisa memakan daging karena
harganya mahal. Jadi bila ada waktu aku pergi sendirian ke hutan untuk menangkap
beberapa buruan. Selain itu aku juga bisa menggunakan senar untuk membuat jebakan
dan berburu ikan. Aku juga terkadang menggunakan pisau bila dibutuhkan.”

“Menarik, bisa aku asumsikan kau pssti pernah mengalami keadaan kritis saat berburu
bukan?” komentar Alexander. “Mengapa kau tidak memakai kekuatanmu?”
“Ya…” Vanessa menjawab dengan suara kecil dan canggung mengingat beberapa
“keadaan kritis” yang pernah ia hadapi. Lalu Vanessa kembali menjawab pertanyaan
dengan suara pasti, “Aku tidak ingin bergantung terlalu banyak pafa kekuatanku.
Bagiku kemampuan bertarung dasar juga penting. Dan aku tidak ingin kekuatanku
terekspos terlalu banyak.”

Alexander mengangguk, “Bisa kau deskripsikan kekuatanmu?”

Vanessa pun sedikit memajukan badannya agar lebih dekat pada Alexander karena
dirinya tidak ingin suaranua memenuhi satu ruangan ini. “Aku memiliki kekuatab
untuk mengendalikan darahku. Aku dapat mengubahnya menjadi berbagai macam
bentuk dan berbagai macan ukuran.” jawab Vanessa dengan suara datar dan sedikit
kecil yang hanya ditijukan pada Alexander.

Alexander terdiam sejenak saat Vanessa menjelaskan kekuatannya lalu menaikkan


kedua alisnya, “Pengendali darah ya… Jarang sekali aku bisa menemukan kekuatan
yang bisa mengontrol bagian dalam dari tubuh manusia. Bersyukurlah Red Orbs
memberikanmu talenta itu.” Kepala sekolah dari L’escollit escola ini menaikkan
pedangnya dari pinggang ke meja kerjanya kepada Vanessa, “Kau bisa memakai
pedang?”

Mendengar bahwa kekuatan yang dimilikinya tergolong kekuatan yang unik ia


menjadi bsngga dan takjub. Tak di sangka bahwa dirinya unik. Ia pun kembali
menyandarkan punggungnya pada kursi dan duduk dengan lebih nyaman. Ia mencoba
mengingat pengalamannya menggunakan pedang yang pernah hanya terjadi sekali
ketika ia dalam “keadaan kritis” dan berakhir tidak terlalu baik namun berkat
keberuntungannya ia selamat. Ia pun menjawab, “Aku pernah mencobanya. Namun
hasilnya tidak terlalu bagus.”

Pria berambut pirang ini menyunggingkan bibirnya dan berbicara, “Aku percaya kau
tidak begitu bisa memakai pedang karena senjata ini jauh lebih berat walaupun
ukurannya lebih kecil dibanding tombak atau panah.” Ia kemudian mengambil
pedangnya dan melepaskannya dari sarung, “Namun sekarang, aku tidak ingin kau
memakainya. Aku ingin kau mengangkatnya tanpa tangan. Tunjukkan kekuatanmu
kepadaku.”
Mendengar peraturan tanpa tangan Vanessa menjadi sedikit pasrah dan kesal. ‘Sekolah
ini tidak begitu kreatif dalam perintah-perintah ujian mereka. Mungkin tema tahun depan
jangan berjalan tanpa kaki.’ pikir Vanessa sambil menghela nafas kecil. Ia pun
mengeluarkan tangan kirinya karena tangan kanannya baru saja terluka bekas kejadian
semalam dan masih di perban. Perlahan-lahan ia mengeluarkan tangannya dari balik
jubah dan terlihat lengan kemeja kotornya yang sudah ia gulung untuk
menyembunyikan robekan yang ada di ujungnya. Terlihat tangan dan lengannya yang
kurus dan berkulit putih. Namun bila diamati maka akan terlihat beberapa bekas luka
kecil di tangan dan lengannya hasil dari menggunakan kekuatan dengan gegabah atau
terlalu ekstrim. Ia pun membuka jari-jarinya dengan tangan terlungkup seperti akan
menjangkau pedang tersebut. Tidak jauh tangannnya berhenti maju dan 3 buah
tentakel darah keluar. Satu dari samping jari manisnya, satu dari ujung bawah
jempolnya, dan satu lagi dari samping luar tangannya. Ketiga tentakel ini keluar dan
secara perlahan mendekati gagang dan crossguard pedang tersebut. Tentakel tersebut
kemudian melilit pedang tersebut dan mencengkramnya dengan kuat. Dengan
berkonsentrasi dan tidak mengalihkan pandangannya, Vanessa perlahan mengangkat
dan membawa pedang tersebut ke tangannya. Ia kemudian menggenggam pedang
tersebut dengan tentakel darahnya masih melilit pedang untuk memperkuat
genggamannya. Setelah ia mengangkat pedang tersebut berdiri tegak. Vanessa untuk
sesaat menatap pedang tersebut dari ujung bawah ke ujung atas mengaguminya.
Namun ia lansung mengembalikannya dengan menyodorkan bagian genggamannya
pada Alexander dengan bagian bladenya ke arah bawah.

Alexander sedikit menahan emosi tanpa alasan sembari melihat Vanessa menggunakan
kekuatannya. Namun, ia berusaha untuk menggelengkan kepala berusaha
menghilangkan apa yang ia dengar di kepalanya, “Kerja bagus, mungkin lain kali aku
harus membuatmu lebih susah lagi daripada ini. Aku sudah mendapat bukti asli kalau
kau mempunyai kekuatan, jadi aku akan melanjutkan pertanyaan. Mengapa kau
memilih L’escollit escola? Walaupun sudah mendapat undangan, kau bisa saja
menolaknya. Dan jangan beri aku alasan karena kau tidak ingin menikah atau ingin
mencoba sesuatu yang baru.”

“Aku ingin belajar lebih banyak lagi dan mengembangkan potensiku. Aku mendengar
banyak orang hebat dilatih di tempat ini. Namun sayangnya banyak dari mereka
menyalahgunakan kekuatan dan posisi yang mereka dapatkan. Mereka seharusnya
bersyukur atas apa yang mereka dapatkan dan menggunakannya untuk hal lain yang
lebih baik.” Vanessa menjawab sambil mengingat apa saja kelakuan orang-orang
berstatus tinggi yang pernah ia hadapi.
Alexander terdiam kembali. Ia menghela nafasnya masih memandang gadis ini, “Jika
L’escollit escola menerimamu dan kau belajar disini. Apa yang akan kau lakukan
setelah lulus? Apa kau punya gambaran rencana saat keluar dari sini?”

“Entahlah, aku belum tahu. Mungkin nanti aku di sini akan menemukan tujuan atau
apapun itu yang ingin aku lakukan untuk nantinya.” Vanessa menjawab dengan sedikit
kaku. Satu hal yang pasti akan dilakukan adalah bekerja sama dengan para orang-
orang Noble atau mereka yang menyalahgunakan kekuatan mereka. Ia hanya berharap
dapat mencapai posisi yang lebih kuat dan hebat dari pada orang-orang kotor tersebut.
Posisi di mana ia tidak bisa lagi disuruh untuk mengotori tangannya demi orang-orang
seperti itu untuk dapat bertahan hidup.

“Kau tidak punya tujuan? Alexander menyipitkan matanya yang perlahan


meninggikan suaranya, “Apa kau yakin kami bisa menerima TCO tanpa tujuan?
Sampai kapan kau akan menemukannya?” Pria ini membenarkan kerah jubahnya dan
memberikan ekspresi datar, “Dengar Nona Vanessa, aku tidak tahu apa yang terjadi
dengan dirimu selama kau hidup tapi dunia TCO itu keras. Dan kami tidak mau
menghasilkan murid tanpa visi saat penerimaan bidang kerja. Lagipula, apa kau cukup
baik untuk menunjukkan mereka yang salah? Jika iya, tanpa tujuan jelas usahamu
disini sia-sia.”

Sekali lagi Vanessa memandang rendah Noble yang berada di depannya ini. Ia
menganggap bahwa orang-orang ini belum melihat apa yang ada di dunia ini
sebenarnya, sisi gelap dari dunia ini. Namun ia menyesal karena sedikit menantang
orang yang ada di hadapannya ini. Seharusnya ia hanya mengatakan hal baik dan
menjilat para Noble seperti yang biasa ia lakukan. Namun memutuskan untuk tidak
lagi menahan dirinya ia berkata, “Tentu saja kalian bisa menerimaku. Dan mungkin
kalianlah yang akan memberikan aku sebuah tujuan. Aku tahu hidup TCO itu keras.
Namun semua hidup itu keras. Dengan sendok emas di mulutmu atau dengan melihat
punggung orang pergi meninggalkan mu. Tergantung dalam situasi apa kau
dilahirkan. Namun satu hal yang pasti pak Alexander. Aku sudah melihat dunia ini
dari sisi bawah dan sisi gelap. Apakah aku orang yang baik? Mungkin bukan, tapi aku
adalah orang yang tepat “ Vanessa sedikit menggunakan sarkasme ketika berbicara
mengenai kehidupan TCO yang keras. Namun ia memutuskan untuk menggunakan
nada serius dan santai karena ia tidak ingin membahayakan dirinya lebih banyak lagi.
‘Aku membuat dia emosi, dari ekspresinya terlihat jelas, seperti anak labil. Dasar remaja sama
seperti Jake dulu,’ pikir Alexander mengingat kejadian dahulu. “Wow, sangat percaya
diri. Aku salut padamu. Tapi aku harap kau bisa tunjukkan bahwa kau memang orang
tepat. Dan tambahan, kau sepertinya tipe yang pendendam. Aku harap kau bisa
perbaiki sifatmu itu. Percayalah… itu akan merugikanmu di masa depan.”

“Baiklah, terima kasih atas sarannya pak Alexander. Ada lagi yang harus kulakukan?”
tanya Vanessa. Saat ini Vanessa sudah menyimpan tangannya kembali ke dalam
jubahnya dan menekan luka-luka yang oada di tangannya untuk menghentikan darah
yang ada di lukanya.

“Tidak ada, tapi… “ Alexander melirik Vanessa menyimpan tangannya ke dalam jubah,
“Apa yang kau lakukan di balik jubah itu?”

Vanessa kaget dan sedikit bingung apa yang dilakukannya. Apakah ada hal salah yang
dilakukannya. Baginya menekan luka di tangannya merupakan hal normal. Dengan
ekspresi polos dan bingung ia mengeluarkan tangannya dan memperlihatkannya.
Bekas luka di tangannya sudah hampir kering dan sudah terlihat serupa dengan luka
kecil lain yang ada di tangannya.

Alexander melihat tangan Vanessa penuh bekas luka. Ia hanya diam sambil berpikir,
‘Apa yang telah dilakukan anak ini?’ Kemudian, Alexander menghela nafas dan
berkata, “Aku akan meminta perawat untuk menangani lukamu. Sekarang pertanyaan
terakhir, yakinkanlah kami bahwa kau layak diterima.”

“Oh, um… baiklah.” Vanessa berkata sambil memandang tangannya dan Alexander
secara bergantian. Jarang luka di tangannya ini butuh perawatan khusus karena dalam
beberapa jam ia akan sembuh kembali seperti tidak terjadi apa-apa. Lalu Vanessa
menjawab pertanyaan terakhir ini, “Aku orang yang senang belajar hal baru dan
menurutku hanya karena aku memiliki kekuatan ini -Vanessa memandang luka-luka
yang ada di tangannya- bukan berarti aku lebih dari orang lain. Tidak ada gunanya
menjadi sombong hanya karena kau memiliki sebuah kekuatan, karena di luar sana
pasti ada yang lebih kuat lagi atau lebih pintar lagi. Maka dengan itu, apapun yang
diajarkan kepadaku akan aku dalami dengan baik dan aku akan serius belajar di tempat
ini. Di sisi lain aku tahu bahwa dengan kekuatan yang besar maka bertambah besar
pula tanggung jawab yang ada. Aku di sini tidak untuk bermain-main dan aku sudah
tahu betul akan jalan hidup apa yang ingin aku tempuh, yaitu bersekolah di L’escollit
Escola. Jadi apapun itu tantangan atau kesulitan yang akan aku hadapi di tempat ini.
Aku siap menempuhnya.” Vanessa mengakhiri jawabannya dengan nada yang pasti
dan tenang.

Alexander menuliskan jawaban Vanessa di kertasnya. Lalu, ia membuka lacinya untuk


mengambil kontrak yang sudah dipersiapkan, “Karena kita sudah selesai wawancara,
aku akan memberikanmu kontrak.” Pria ini menaruh bolpennya di dekat gadis itu
sambil berkata, “Kontrak ini menyatakan bahwa kau bersedia bahwa kau akan
menempuh pendidikan di L’escollit escola selama 4 tahun penuh ditambah 1 tahun
untuk pengalaman misi tingkat A dan S dengan kriteria tertentu. Setelah itu, kau
dinyatakan lulus dan bisa bekerja dimanapun kau mau.”

“Baiklah, aku mengerti” Vanessa berkata singkat. Ia lalu mengangkat bolpen itu dan
membaca sekilas kontrak itu. Lalu ia menandatangani kertas kontrak itu dan
memberikannya kepada Alexander.

Selama Vanessa menandatangani kontrak, ia terus memandangi gadis itu dan jubah
Jake secara bergantian. Saat Vanessa memberikan kertas kontraknya kembali, ia tidak
bisa menahan dirinya untuk bertanya, “Dari mana kau mendapat jubah itu?”

Vanessa terdiam untuk beberapa saat. Lalu ia melihat ke arah jubah merah yang
dipakainya dan menjawab, “Seseorang meminjamkannya kepadaku.”

Alexander menganggukk sambil membenarkan posisi kacamatanya, “Biar kutebak,


seorang lelaki berambut pirang maniak rubik meminjamkannya kepadamu?”

Ekspresi Vanessa sekarang datar. Ia tidak yakin apakah kepala sekolah L’escollit Escola
baru saja menjelek-jelekkan Jake atau baru saja mendeskripsikan Jake dengan tepat. Ia
menjawab singkat dengan nada bertanya, “Iya…”

Tanpa sadar, Alexander tersenyum geli yang tidak pernah ditunjukkannya kepada
siapapun sambil berkomentar dalam hati, ‘Tidak kusangka Jake masih sama seperti
dulu.’ Setelah ia tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan peserta calon TCO,
ekspresinya berubah menjadi datar kembali. “Kau hati-hati dengan anak itu secara kau
tidak suka orang seperti ‘kami’ bukan?” kata Alexander menegaskan kata ‘kami’. “Aku
rasa kita akhiri pertemuan ini. Pengumuman penerimaan akan diberitahukan seminggu
sesudah interview kloter kedua. Terima kasih atas kerja samamu.”
Vanessa hanya memandang Alexander untuk beberapa detik. Kemudian ia berdiri dan
berkata, “... -Mulutnya terbuka tapi tidak mengeluarkan suara- Sama-sama pak
Alexander.” Ia pun berjalan keluar dan menutup pintu. Vanessa tidak memikirkan
apapun, hanya terkejut. Setelahnya ia bersandar di dinding samping pintu dan
menghela nafas. Ia merasa sedikit ngeri dan ketakutan akan apa yang baru saja terjadi.
Mulai dari dirinya yang menantang kepala sekolah sampai bahwa kepala sekolah yang
bisa mengetahui makna di balik dirinya. Selama ini ia pintar untuk menutup mulutnya
dan tidak mengatakan apapun. Kelakuanny kali ini dapat membuatnya bermasalahan
dengan orang Noble, di tambah lagi lawan bicaranya kali ini dapat memgetahui pikiran
hatinya. Untuk menenangkan dirinya ia memeluk dirinya berikut dengan jubahnya dan
meringkukkan badannya. Lalu setelah ia merasa tenang ia memutuskan untuk pergi
mencari minum karena ia baru saja menggunakan kekuatannya dan lalu baru ke ruang
perawatan karena lukanya sudah mulai sembuh dan tidak perlu terlalu banyak
perawatan.

Jesslyn baru saja selesai dalam tugasnya membantu wawancara seleksi calon TCO. Tadi
ia menghadapi bocah ingusan yang merasa dirinya paling hebat dari antara semua
peserta dari monitor. “Anak itu benar-benar tidak layak. Walaupun, aku seorang
penjahat tapi setidaknya aku masih lebih rendah hati dibandingkan dirinya.” Wanita
itu melenggang layaknya model dengan boots tinggi sambil menikmati setiap detail
gedung tersebut. Ia teringat masa dia kecil dimana ayahnya ingin sekali dirinya masuk
ke institusi ini. Tetapi dirinya terus menolak karena ia tidak mau dilatih di sekolah
bersama dengan faksi-faksi lain. Ia lebih memilih untuk diajari secara privat agar ia bisa
membagi waktunya membuat boneka dari bekas mayat dari rumah sakit. “Hm habis ini
aku mau kemana ya?” gumamnya memandangi seluruh bagian dari koridor. Mata
cantiknya masih terpesona sampai akhirnya dia berhenti pada satu titik dimana ada
seorang gadis sedang meringkuk dengan jubah yang ia kenal. ‘Itu… punya Jake.
Bagaimana ia bisa memilikinya?’ Hatinya menjadi gusar menemukan jubah Jake di tubuh
wanita asing.

***

Gerakan Yera membuka pintu terhenti mendadak saat seseorang di belakangnya


berteriak-teriak tidak jelas. Sepertinya ia marah karena privasinya dibongkar paksa oleh
pewawancara. Setelah menengok sedikit ia lalu masuk ke ruang ujian.
"Permisi." setelah mengetuk pintu, Yera melihat seorang wanita berambut pink yang
diikat dua. Ia menutup pintu lalu tersenyum sedikit padanya dan duduk di depannya.

Wanita yang sedang membenarkan lipsticknya langsung menengok saat calon peserta
duduk di kursinya. "Oh, selamat datang! Apakah kau Yera Lograr?"

"Iya." Yera membenarkan.

"Baiklah, perkenalkan namaku adalah Ashley Somerset. Aku salah satu pengajar disini
yang diminta untuk membantu proses wawancara. Seharusnya Jansen yang
mewawancaraimu, namun ia sedang mempersiapkan dirinya untuk kloter kedua di
rumah sakit." Wanita itu melihat kaca sejenak merapikan lipstick pinknya lalu
membuka amplop berisikan kertas data Yera. Ia mempersiapkan bolpen dan mulai
bertanya, "Deskripsikan dirimu Yera"

"Saya anak satu-satunya dari Frankfort Lograr dan Santalia Guillio. Kami berasal dari
Light Tower City, sebuah pulau di sebelah utara Valkyrie. Saya rasa saya tidak
memiliki kekuatan yang spesial. Saya bisa mengikuti ujian masuk L'escollit escola
karena ketidaksengajaan saya meluncurkan roket percobaan ke sini." Yera mengambil
nafas sedikit, lalu melanjutkan, "Setelah seorang Noble mendengar misil saya yang bisa
meluncur dari Ozark hingga Central city itu, ia malah mengundang saya ke sini.
Menurutnya saya bisa diterima."

"Hmm, misil?" tanya Ashley, "Bisa kau jelaskan secara spesifik tentang roket ini?"

"Hm... Itu misil permintaan Valkyrie." Yera mengingat-ingat. "Mereka memesan misil
yang lebih jauh dan kuat, jadi saya menerapkan prinsip roket dan menambah tekanan
untuk meningkatkan akselerasi. Tapi saya tidak hati-hati sehingga tidak sengaja
mengaktifkannya saat masih di Ozark, untunglah misil itu dilumpuhkan di L'escollit
escola."

'Valkyrie?' pikir Ashley memainkan ujung rambutnya, "Mengapa kau disewa oleh
Valkyrie? Setauku, mereka hanya ingin memesan misil dari pembuat terkenal."

"Entahlah, saya hanya menerima pesanan."

"Nona Yera, aku sangat kenal Noble Valkyrie dan tidak mungkin mereka menerima
pesanan dari seorang anak kecil sepertimu," jawabnya sarkastik.

Yera hanya mengangguk., bersikap seadanya, ia sudah jujur.


"Jawablah sesuatu. Jelaskan kepadaku mengapa kau bisa mendapat pemesanan itu?
Kau harus promosikan dirimu nona untuk diterima," komentarnya tidak puas dengan
nada pedas.

"Saya pernah bekerja di bengkel motor dan mobil di Walee's di Antiope sebelum saya
ke Orestes. Walee yang mengenalkan saya pada mereka."

"Oke, itu baru masuk akal," balasnya sambil menuliskan jawaban Yera di kertas,
"Bagaimana cerita kamu dari Light Tower City berpindah ke Ozark dan bekerja di
Walee's?"

"Um, orang tua saya sudah meninggal, jadi saya pergi dari Light Tower City ke Antiope
karena saya dengar di sana banyak tempat pembuatan mesin. Saya bisa membuat
mesin, jadi saya ingin mencari pekerjaan di sana."

"Oh begitu," sahut Ashley lalu menuliskan jawaban Yera, "Pertanyaan kedua, mengapa
kau masuk ke L'escollit escola?

"Awalnya seorang Noble yang membela saya dari percobaan kriminal menghancurkan
L'escollit escola menawarkan saya untuk mencoba ujian masuk di sini. Sejujurnya saya
kurang tahu apa yang diajarkan sekolah ini, tapi saya percaya akan ada banyak hal
yang saya pelajari di sini." jawab Yera seadanya, dalam hati sebenarnya ia penasaran
dengan infrastruktur canggih L'escollit escola, tapi tidak mungkin ia menjawab seperti
itu.

"Kira-kira, pelajaran apa yang akan kau dapat?" Tanya Ashley.

"Banyak." Yera memunculkan senyum tipis. "Misalnya cara bertarung yang baik, itu
akan berguna untuk mengatur strategi, yang akan saya terapkan pada konsep mesin
buatan saya."

"Konsep mesin apa yang kemungkinan akan kau buat" Ashley bertanya yang tiba-tiba
penasaran.

"Tentu saja belum bisa saya ceritakan, saya kan belum mendapat pelajaran di sini."
jawab Yera agak bingung.

"Setidaknya kau punya gambaran kan?" Wanita berambut pirang itu kembali
menunjukkan sisi sarkastiknya. "Kau bisa membuat robot, berarti kau seharusnya
sudah mengerti apa yang ingin kau buat?"

"Iya, kalau aku mendapat gambaran." jawabnya bingung. "Sekarang kan saya tidak
punya gambaran."
"Bukan begitu maksudku!" kesal Aslhey menepuk meja keras. "Kau harus tahu robot
apa yang mau kau buat sebelum menerima pelajaran dari kamu. Ayolah, gunakan
imajinasimu anak bodoh!"

Yera sedikit terkejut, dengan mata melebar ia mengangguk, tetap tidak tahu harus
menjawab apa dan menunggu pertanyaan selanjutnya.

Ashley menggeram lalu melanjutkan perkataannya dengan nada tinggi, "Kau tidak
pernah membuat rencana untuk membentuk model robot baru? Kau harus punya
sketsa dahulu baru kau bisa menerapkan apa yang kau pelajari di sekolah."

Yera menunjukkan ekspresi lega, "Oh tentu saja saya selalu memiliki ide, tapi kalau
yang dari sekolah ini saya belum punya ide." jeda sebentar. "Kau melihat taman di luar
sana?" Yera menunjuk keluar jendela dan mengeluarkan beberapa peralatannya.
"Menurutku bisa diperbagus sedikit." ia mengeluarkan beberapa lempengan tembaga,
per, dan lain-lain. Yera merakit sebuah robot kupu-kupu kecil yang beberapa saat
kemudian terbang keluar jendela, berputar-putar di taman. Kupu-kupu berwarna
tembaga itu memantulkan cahaya matahari kekuningan sehingga terlihat bercahaya.
Setelah mengelilingi taman, benda itu lalu kembali lagi ke meja di depannya. "Kurasa
lebih baik lagi kalau kalian memelihara kupu-kupu." lanjutnya, lalu memasukkan
kupu-kupu itu ke kantungnya.

Ashley mendecih, "Terserah." Wanita berambut pink ini melanjutkan wawancara, "Apa
yang menjadi visi misimu sesudah lulus dari L'escollit escola?"

"Misi, tentu saja saya akan membuat mesin-mesin yang berguna, dan visi: mengelilingi
dunia dan membantu apapun yang bisa dibantu dengan mesin."

"Definiskan apa maksudmu 'mesin-mesin yang berguna'" Ashley meminta penjelasan


lebih dari Yera

"Apapun, jika mereka butuh penggembur tanah, saya akan membuatkannya. Pencari
sumber air, penjaga kebun... tentu saja saya tidak akan membuatnya sembarangan.
Hanya jika mereka benar-benar butuh." ia mulai lelah dengan pertanyaan tanpa arah
dari pewawancaranya ini.

"Apakah itu akan berguna untuk kerajaan apalagi untuk L'escollit escola?" Ashley
menekankan nama institusi ini sambil memandang rendah Yera. "Kau ini akan menjadi
TCO dan mimpimu hanya sebatas penggembur tanah? Lebih baik kau keluar saja dari
sini karena ini sangat membuang waktuku."
"Saya rasa Anda terlalu cepat menghakimi, Nona Ashley." jawab Yera berusaha tenang.
"Mimpiku adalah meringankan kesulitan orang sebijak mungkin, mohon tenang."

Ashley mendengus dan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, "Kalau begitu


jelaskan lagi sedetail mungkin. Dan beritahu aku dampak yang akan diberikan dari
perbuatanmu itu TERUTAMA bagi L'escollit escola dan TCO."

"Secara garis besar, saya bisa membuat banyak senjata, juga memperlengkapi TCO lain.
Saya yakin itu bisa mengurangi kelemahan mereka." Yera berpikir sebentar, "Termasuk
memperkuat pertahanan L'escollit escola."

Ashley mulai sedikit santai saat mendengar jawaban Yera. Ia menetralkan nada
suaranya saat bertanya kembali, walaupun sebenarnya dalam hati ia masih kesal,
"Senjata apa yang ingin kau buat?"

"Senjata untuk apa?"

"Kau tahu, TCO sangat membutuhkan senjata untuk melawan Erebus," jawab Ashley
sambil membenarkan kedua kuncirnya. "Kau tadi bilang ingin membuat banyak senjata
untuk memperlengkapi TCO lain kan?"

Benar." Yera melihat ke atas, berpikir. "Hmm, misalnya saja, perisai atom. Dengan
memadatkan partikel di sekitarnya, alat ini dapat menangkis serangan fisik."

"Baiklah," balas wanita Somerset ini. "Aku penasaran, apakah kau tidak ada kekuatan
supranatural?"

Ashley diam dan menuliskan sesuatu di kertas, "Pertanyaan terakhir, yakinkan kami
bahwa kau pantas di terima di L'escollit escola."

Yera menekan dagu dengan jempol kanannya, menatap mata Ashley Somerset lurus-
lurus, "Karena walaupun saya agak lambat, saya memiliki kendali emosi yang baik..."
jawabnya sedikit menyindir Ashley, "...Lalu, saya juga memiliki kemampuan bertahan
hidup yang tinggi."

"Apa maksudmu kemampuan bertahan?" tanya Ashley Somerset melipat tangannya.

"Saya sering terdesak karena kecerobohan saya, tetapi saya selalu menemukan jalan
keluar."

"Hm, bisa kau berikan contohnya?" Ashley melanjutkan.


"Misalnya, saya pernah terjebak dalam sumur saat ingin memetik bunga di pinggirnya,
namun dengan peralatan Ayah saya yang selalu saya bawa, saya membuat robot kecil
yang menyampaikan pesan SOS ke rumah."

Ashley sedikit tidak puas, "Lalu hanya itu saja? Coba kau beritahukan hal bagus
lainnya tentangmu untuk meyakinkanku"

"Keunikan saya maksud Anda? Mungkin, yang menarik dari saya adalah tempat
tinggal saya. Tempat itu sangat berbahaya, dan saya yakin Anda pun belum tentu
bertahan di sana lebih dari 12 jam. Kami memiliki ketahanan yang kuat." Yera
berdeham, "Sumber energi di sana sangatlah besar, kami terlatih untuk melindunginya
dari orang luar, dan memakainya untuk melindungi diri. Saya bukan orang yang
mudah dikalahkan." Yera kembali menatap tajam Ashley Somerset.

"Energi seperti apa?" Tanya Ashley sedikit mendengus. Ia merasa pembicaraan ini
seperti berputar-putar karena Yera tidak menjawab sesuai keinginannya.

"Sulit menjelaskannya, tapi Anda akan mengetahuinya begitu mendekati Light Tower
City."

Ashley mendecih, "Jelaskan anak bodoh, aku tidak ada waktu untuk pergi kesana!"

"Sulit menjelaskannya." Yera mengeluarkan shock gunnya, lalu mengeluarkan sebuah


batu sebesar beras yang bersinar merah. Batu itu mengeluarkan suara mendenging
yang kencang, lalu Yera segera memasukkannya lagi. "Tadi adalah piedra stone, salah
satu hasil bumi di sana. Energi di batu ini sangat reaktif, jika disimpan dengan baik
atau tidak digunakan ia akan segera berubah menjadi energi lain."

Ashley menutup kedua telinga karena suara mendenging yang dihasilkan batu itu.
Setelah, Yera menyimpannya lagi, ia langsung berbicara sarkastik, "Baiklah aku
mengerti. Aku harap kau bisa menyingkirkan batu itu dari sini karena kemungkinan
besar hasil alammu hanya akan membawa malapetaka."

Yera mengangguk sambil menahan senyumnya, dalam hati ia senang melihat Ashley
kesal.

Ashley mendengus sambil mengeluarkan kontrak yang sudah dipersiapkannya. Ia


langsung memberikan bolpen ke arah Yera sambil berkata, "Ini adalah kontrak yang
harus kau tandatangani. Disini tertulis bahwa kau harus menempuh pendidikan di
L'escollit escola selama 4 tahun di L’escolit Escolla dan akan dilanjutkan dengan 1
tahun untuk mengikuti misi tingkat A dan S. Setelah semua syarat terpenuhi maka kau
baru dinyatakan lulus dan dapat bekerja di institusi manapun."
Yera mengambil pulpen itu lalu menandatangani kontrak tersebut. 'Kurasa sekolah ini
tidak akan menjebak calon murid.'

Ashley mengambil pulpen serta kertas kontrak dimasukkan ke dalam amplop besar,
"Sepertinya percakapan kita sampai disini saja. Pengumuman akan diadakan seminggu
sesudah interview. Aku harap kau diterima anak bodoh."

***

Rio duduk di kursi yang terdapat di lobi gedung dimana dilaksanakannya wawancara.
Ia dapat melihat peserta yang keluar masuk ruangan yang akan ia masuki juga
nantinya. Ada yang tampak murung, berwajah merah, terlihat malu, ketakutan, dan
marah. Ia dapat melihat banyak sekali ekspresi yang beragam keluar dari ruangan
tersebut dan merinding. Ia tidak berani membayangkan bagaimana penguji yang
duduk di dalam sana dan apa saja yang peserta lain alami untuk dapat memberikan
ekspresi yang bermacam-macam. Setelah beberapa jam menunggu, akhirnya Rio hanya
sendirian di ruang tunggu tersebut. Peserta terakhir sebelum gilirannya masih belum
keluar dari ruangan tersebut. Karena kebosanannya, Ia berdiri dan mengelilingi
ruangan besar tersebut. Berharap menemukan sesuatu yang menarik. Yera sudah
wawancara duluan di ruangan lain dan pasti sudah lama selesai dari sekarang. Tiba-
tiba pintu ruangan dibuka dan seorang wanita lari keluar dengan air mata membasahi
kedua pipinya. Mulutnya menganga melihat kejadian tersebut. Rio memastikan bahwa
tidak ada lagi orang di lobi tersebut dan menghampiri ruangan yang pintunya masih
terbuka dan mengetuk pintu tersebut. “Selamat siang, namaku Rio. Apakah benar
kalau sekarang giliranku?” tanyanya memastikan lagi. Ia tiak berani memasukkan
anggota tubuhnya ke dalam ruangan tersebut setelah melihat seorang pria yang
pastinya akan mewawancarainya sedang memasang ekspresi kesal bercampur lelah.

Pria Noble berambut pirang itu mendengar suara dari pintu, namun tetap sibuk dengan
aktivitasnya. Ia masih merapikan beberapa amplop yang berantakan di meja tanpa
peduli peserta yang sudah menunggu. Setelah selesai, barulah ia bertanya kepada anak
muda itu, “Apa kau Rio Achashverosh?”

Rio tersenyum lega. Ia tidak akan tahan jika disuruh untuk menunggu beberapa jam
lagi untuk orang yang belum datang. Itupun kalau memang masih ada peserta sebelum
dirinya. “Benar, tuan,” jawab Rio. Ia tidak ingin seenaknya langsung masuk sebelum
diberitahu oleh pria tersebut, takut kalau ia bersikap seenaknya akan menambah
kekesalan yang dialami oleh pria tersebut.

“Kalau begitu, silahkan masuk dan duduk tuan Achashverosh,” sahutnya singkat.

Rio dengan tidak membuang waktu lagi segera masuk kedalam ruangan dan menutup
pintu di belakangnya. Ia duduk di hadapan pria pirang yang entah kenapa sangat
mirip dengan Jake, namun lebih serius dan berkharisma. Pria inilah yang membuat
peserta-peserta sebelumnya keluar dengan ekspresi yang aneh. Terutama wanita yang
keluar baru-baru ini. ‘Apakah wawancara ini akan sangat menyeramkan? Wanita saja bisa
dibuatnya menangis seperti tadi. Ah, tapi mungkin saja wanita tadi satu spesies dengan wanita
rubah menyebalkan itu. Aku tidak boleh berprasangka buruk terlebih dahulu.’

Pria Noble ini mendengar sesuatu dari Rio, namun ia lebih memilih untuk diam. Ia
tetap berusaha untuk terlihat profesional, “Perkenalkan namaku Alexander Aceline.
Aku menjabat sebagai kepala sekolah disini dan akan memberikan beberapa
pertanyaan kepadamu.” Ia mengeluarkan kertas dari amplop tertuliskan Rio
Achashverosh dan menyiapkan bolpen, “Deskripsilan dirimu Rio.”

“Namaku Rio Achashverosh, aku 18 tahun dan aku berasal dari keluarga peternak.
Kami tinggal di kota Lamia bagian Selatan. Aku sangat suka tempat tinggalku,
terutama rumah kami dan hutan di samping rumah kami. Aku sangat suka bermain
disana. Aku tidak suka bersikap terlalu serius kecuali untuk beberapa hal. Oh, aku juga
sangat dekat dengan kakakku. Dia sangat percaya diri dan mungkin akan terkesan
sombong, tapi ia bukan orang seperti itu. Kekuatanku adalah es. Aku bisa
mengendalikan es bagaimanapun aku mau. Namun, untuk saat ini limit ku hanya 1 jam
dan harus berhenti dahulu untuk 15 menit. Lalu, untuk imbalannya, keadaanku yang
sekarang. Aku memiliki temperatur tubuh normal, namun aku selalu merasa
kedinginan. Bahkan saat kecil aku hampir meninggal karena hipotermia,” jawab
Rio, ‘itu juga kenapa kakakku selalu menjagaku dan kami selalu dekat. Ngomong-ngomong, aku
harus menjenguknya nanti.’

Alexander terdiam sejenak dan bertanya, "Siapa kakakmu?"

"Namanya Leo Achashverosh, tuan," jawab Rio singkat.

Alex yang tadi mendengar suara dari Rio bertanya sambil berhati-hati, "Kakakmu tidak
datang wawancara?"

"Sekarang ini kakakku sedang dirawat di ruang kesehatan bersama dua orang temanku.
Saat aku kesana tadi, ia belum sadar. Tapi aku punya perasaan kalau ia akan mencoba
untuk kabur saat ia sadar untuk mengikuti wawancara," Rio tersenyum kepada
Alexander yang menatapnya dengan ekspresi datar.

Alexander menatap Rio tidak berekspresi memberikan komentar, "Aku harap kakakmu
tidak apa-apa." Alexander kembali melihat kertas, "Baiklah, aku belum puas dengan
pembicaraanmu tentang dirimu. Kau lebih menjelaskan tentang kakakmu. Jadi, bisakah
kau lebih detail lagi menjelaskannya? Seperti bagaimana keluargamu atau kehidupan
sosialmu?"
"Maafkan aku mengenai hal itu, tuan. Baik. Keluargaku merupakan keluarga peternak.
Kami sedikit lebih beruntung dari peternak lainnya yang tinggal di Lamian bagian
Utara. Karena orang tua kami merupakan mantan TCO, mereka memiliki simpanan
lebih dari orang lainnya. Karena itu keluarga kami bisa dibilang berada pada ekonomi
menengah. Aku tidak pernah sekolah. Karena keadaan tubuhku, keluargaku khawatir
untuk meninggalkanku pergi keluar sendirian. Tentang masalah pendidikan, aku
diajari oleh kakakku dan terkadang orang tuaku. Setelah aku sudah mulai remaja,
keluargaku mulai mengijinkanku untuk pergi bermain keluar. Karena aku sangat
terlambat untuk bergaul dengan orang lain, aku tidak terlalu bisa menempatkan diriku
dan selalu bersikap kekanakan. Aku juga suka berolahraga. Karena setelah berolahraga,
aku tidak merasa kedinginan seperti biasanya," jawab Rio.

"Kau tidak punya teman di lingkungan sekitarmu?" tanya Alexander datar.

"Tidak ada. Kalaupun ada, mereka adalah hewan ternak di rumahku. Aku hampir lupa.
Aku memiliki kemampuan lain, yaitu berbicara dengan hewan. Mungkin terdengar
aneh, tapi percayalah kalau aku bisa berbicara dengan mereka setelah bersama-sama
dengan mereka selama 30 menit," jawab Rio. 'Aku sendiri juga bingung kenapa aku
mendapat kemampuan itu.. Apa mungkin karena aku sangat menginginkan teman?'
pikirnya.

"Kau memang sendirian rupanya," balas Alexander memandang fokus Rio. "Apa yang
kau bicarakan bersama hewan?"

"Begitukah?" cengir Rio. "Kami hanya membicarakan hal sepele, seperti apa yang
mereka sukai rumput dan bagaimana sebenarnya rasa makanan mereka. Atau, apa
perasaan mereka pada hari itu dan bagaimana dunia diluar lingkungan peternakan,"
jawab Rio.

Alexander menaikkan alisnya karena ini hal teraneh yang ia pernah temui,"Mereka
tidak pernah bertanya tentang dirimu? Kau tahu kan dalam komunikasi harus terdiri
dari dua arah?"

"Hewan di peternakan kami, kecuali kuda yang kami pelihara untuk pribadi, pernah
mengajariku sesuatu tentang diri mereka. Mereka sangat senang ada manusia yang bisa
berkomunikasi dengan mereka. Namun, mereka tidak mau terlalu dekat denganku
karena mereka tahu kalau mereka suatu saat akan dijual dan dibunuh. Tapi biasanya
kuda kami selalu menanyakan keadaan tubuhku dan menanyakan tentang apa yang
aku pelajari pada hari itu," Rio tersenyum. Ia mengingat 4 ekor kuda tersebut. Mereka
sangat gagah dan baik hati. Chris milik ayahnya yang berbulu hitam mengkilap selalu
mengganggunya dengan menggigit rambutnya. Ellen milik ibunya dan merupakan istri
Chris, ia berwarna putih dengan kaki dan ekor berwarna coklat, selalu memarahi Chris
dan menganggapnya sebagai salah satu dari anak mereka. Ran dan Ren, kuda kembar
yang merupakan anak dari Chris dan Ellen. Ran berwarna hitam dengan moncong,
ekor, dan kaki putih yang menjadi milik kakaknya. Ren yang berwarna putih dengan
tanda berbentuk belah ketupat berwarna hitam di dahinya yang menjadi miliknya.
Kedua anak kembar tersebut selalu berbicara dengannya dan mengajaknya berkeliling
peternakan secara diam-diam walaupun pada akhirnya tertangkap oleh ibu dari Rio.

Pria Noble menganggukkan kepalanya, "Hm, lebih baik kau simpan baik-baik
keahlianmu itu. Karena jika banyak orang yang tahu, kau akan diburu oleh musuh."
Alexander menuliskan seluruh jawaban Rio dan melanjutkan, "Tadi juga kau bilang
kekuatanmu es. Bentuk apa saja yang bisa kau buat dari es?"

"Hmm.. Aku bisa membuat pisau-pisau es, pedang, memunculkan pilar es dari tanah,
dinding es, aku juga bisa membekukan targetku secara langsung. Tapi, melakukan
yang terakhir membutuhkan tenaga yang cukup besar. Dinding es juga memiliki
kelemahan, ruangan di dalamnya menjadi dingin karena suhu es," jawab
Rio. 'Sebenarnya aku juga bisa membentuk berbagai benda lain dari es, seperti mangkuk, gelas,
kursi, meja, botol. Tapi apakah hal tersebut harus diberitahu juga?'

Alexander lebih mengfokuskan dirinya mendengar perkataan yang diucapkan Rio,


"Apa efek sampingnya jika tenagamu habis?"

"Aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sampai tenagaku kembali. Aku memiliki
batas waktu 1 jam setiap kali aku menggunakan kekuatan dan harus berhenti selama 15
menit. Selama ini, akus elalu berhati-hati agar tenagaku tidak habis. Namun, saat
latihan dulu, ayahku memaksaku untuk menghabiskan kekuatanku. Untuk saat ini
tenagaku dapat pulih kembali dalam waktu 50 menit," jawab Rio.

Alexander menganggukkan kepala, "Baiklah, bisakah kau tunjukkan kekuatanmu di


depanku sekarang? Aku perlu bukti kalau kau memang mempunyai kekuatan itu."

Rio mengambil cincin dari kantung celananya dan menggunakannya. "Untuk saat ini,
lebih baik aku mengeluarkan mereka.." gumamnya. Pisau-pisau es bermunculan di
udara dan mengelilingi Rio dan Alexander. Rio membuka telapak tangannya dan
dengan cepat sebuah pedang dari es terbentuk di atasnya. Rio juga membentuk dinding
es yang berbentuk bola yang mengurung mereka di dalam. "Aku tidak akan
menunjukkan pilar es kepadamu sekarang. Ruangan ini bisa hancur jika itu
kulakukan," kata Rio.

Alexander menyunggingkan bibirnya sedikit, "Keluarkan saja dalam ukuran kecil."

Rio memberinya ekspresi kaget.l, "Eeh??" sadar dengan apa yang baru saja ia katakan,
Rio menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan berdeham, "Maafkan aku. Akan
kucoba." ujung telinga Rio memerah karena malu telah menunjukkan rasa kagetnya
secara spontan. Ia menjentikkan jarinya dan pilar-pilar es bermunculan dari lantai yang
mereka pijak. Pecahan batu dan keramik beterbangan karena dihantam oleh pilar es
tajam dari bawah tanah. 'Aaah!! Stop stop stop! Terlalu jauh!!' teriaknya dalam hati. Pilar-
pilar es tersebut akhirnya berhenti bermunculan 10 sentimeter dari pintu masuk
ruangan tersebut. Rio menghela nafasnya lega dan memberi cengiran canggung kepada
Alexander.

Alexander menatap seluruh pilar yang dibuat Rio. Ia menganggukkan kepalanya


sambil berkata, "Sepertinya kau belum bisa mengontrolnya. Kau akan dilatih lebih
nanti." Alexander menuliskan sesuatu di lembar penilaian, "Pertanyaan selanjutnya,
apa yang membuatmu masuk ke L'escollit escola? Dan oh ya, tolong hilangkan semua
pilar itu jika kau bisa."

"Kalau masalah menghilangkannya..." Rio bergumam dan seluruh pilar es beserta


dinding, pisau, dan pedang es yang dibuatnya hancur menjadi serpihan kecil dan
terevaporasi di udara yang menyebabkan suhu ruangan tersebut menjadi dingin
seketika. "Aku khawatir dengan kakakku dan menyusulnya untuk masuk ke sekolah
ini. Namun, aku punya alasan lain. Aku juga ingin memberikan kedamaian kepada
orang lain, terutama kepada orang yang tidak memiliki kekuatan. Aku ingin
melindungi semua orang dan meneruskan pekerjaan orang tuaku yang belum selesai
dalam memusnahkan Erebus. Aku juga punya alasan tersembunyi, aku ingin melihat
dunia lebih luas dan bertemu dengan orang lebih banyak lagi."

Alexander mendesah, "Kau tidak bisa menghilangkannya ya. Sudahlah aku akan
memanggil staff lain untuk melelehkannya," Dengan cepat, ia mengambil telepon di
ujung meja dan memanggil beberapa staff untuk membersihkannya. Setelah selesai, ia
kembali ke wawancaranya, "Manakah yang lebih utama, kakakmu atau Erebus? Kau
masuk kesini seakan lebih mementingkan kakakmu dibanding menjadi TCO"

"Tentu saja keduanya penting. Kakakku itu keluargaku, aku ingin selalu
melindunginya dan aku ingin melindungi orang tuaku juga. Erebus juga sama
pentingnya. Dan karena aku ingin melindungi semuanya, aku mengutamakan untuk
mengalahkan Erebus. Kalau kau bertanya siapa yang lebih utama... Kalau mau jujur itu
pertanyaan sulit. Dalam satu sisi Erebus sangatlah penting. Namun dalam sisi lain,
keluargaku juga penting. Tapi, kalau kau menyuruhku memilih salah satu,
mengalahkan Erebus menjadi prioritas utama. Karena dengan begitu aku bisa
melindungi keluargaku," jawab Rio pasti.

"Kau yakin?" Alexander menaikkan alisnya. Ia tiba-tiba teringat akan misinya dahulu
tentang Erebus. Teman semisinya mempunyai sifat yang persis seperti Rio dan prinsip
yang mereka miliki hampir mirip. Alexander ingin mengetes peserta ini karena hal ini
sangat berbahaya dalam pemilihan keputusan saat di medan perang. Ia tidak ingin
kejadian itu terulang di masa depan, "Bagaimana kalau misalnya kakakmu terkena aura
Erebus dan satu-satunya jalan adalah membunuh dia. Apa yang kau lakukan?"

Karena pertanyaan Alexander, Rio langsung teringat dengan kakaknya yang sejak kecil
selalu bersama dengannya dan melindunginya. Ia mengingat sifatnya dan sudah dapat
menebak apa yang akan ia katakan ataupun pikirkan jika mendapat situasi yang sama,
"aku akan mencoba untuk mencari jalan lain. Jika tidak berhasil, aku akan
membunuhnya. Karena aku tahu, kakakku tidak akan berbuat ceroboh sampai terkena
aura Erebus. Jika ia terpengaruh, aku yakin kalau ia akan memintaku untuk
membunuhnya. Walaupun mungkin aku tidak bisa melakukannya secara langsung
begitu saja. Tapi, tidak boleh ada orang lain yang melakukannya. Tapi karena hal
tersebut akan terasa sangat menyakitkan, aku tidak akan membiarkan hal tersebut
terjadi," jawab Rio dengan senyum kecil

"Benarkah?" tanya Alexander. 'Kita lihat saja nanti, aku tidak ingin anak ini mengacaukan
misi hanya karena urusan keluarga,' pikir pria Noble ini sambil menuliskan jawaban.
Alexander kemudian menuliskan jawaban Rio dan berkata, "Pertanyaan selanjutnya,
apa kau punya gambaran visi misi sesudah lulus?"

"Aku akan meneruskan keinginan orang tuaku bersama-sama dengan kakakku!


Mengerahkan semua kemampuanku untuk mengalahkan Erebus. Well.. Itupun jika aku
tidak mati dalam misi. Jika aku berhasil keluar hidup-hidup, aku ingin kembali ke
Lamia dan meneruskan peternakan keluarga kami setelah seluruh situasi diputuskan
aman. Aku tidak akan meneruskan peternakan keluargaku jika situasi belum
sepenuhnya aman," jawab Rio. 'Semoga saja pertanyaannya sebelumnya tidak terjadi. Aku
tidak akan bisa berhenti bersedih jika kakakku gugur. Tapi, ia pasti bahagia. Selain itu, aku yakin
ia pasti bangga karena meninggal sebelum dapat berbuat hal buruk kepada teman-
temannya,' pikirnya sedih.

Alexander terdiam saat Rio menjelaskan. Ia hanya mendesah dan berpikir 'Anak ini,
tidak punya pandangan sama sekali.' Alexander menatap tajam Rio berkata, "Aku butuh
jawaban jelas, seperti kau ingin bekerja dimana, kau mau menjadi pribadi seperti apa.
Memang Erebus juga penting, tapi kau tidak tahu dia akan bangkit kapan. Aku butuh
rencana yang jelas."

"Aku ingin menjadi tentara. Menjalankan misi, mengatur strategi. Semua itu terdengar
sangat menyenangkan saat ayahku menceritakannya. Aku ingin mengabdikan diriku
untuk masyarakat," jawab Rio. 'Jawabanku tidak bagus? Mungkin aku kurang banyak belajar
mengenai visi dan lainnya. Aku akan minta Leo untuk mengajariku lagi nanti' lanjutnya
dalam hati.

Alexander sedikit menahan kesal karena jawaban Rio. Baginya, anak ini tidak bisa
menjadi tentara. Apalagi dengan jawaban yang seperti ini di Valkyrie pasti akan
menghapus namanya dari list. Alexander bersarkastik menjelaskan, "Jangan samakan
tentara dengan cerita dongeng ayahmu. Pada kenyataannya, hidup sebagai tentara
tidak seenak yang kau bayangkan. Mengabdi masyarakat? Entahlah. Kau akan lebih
peduli 'keluargamu' dibanding masyarakat."

Rio mengedipkan matanya mendengar sarkasme dari Alexander. Pria ini memang
sangat mirip dengan Jake walaupun jauh lebih serius dari pria pirang tersebut. "Aku
tahu mengenai hal itu, tuan Aceline. Ayahku tidak pernah berdongeng ataupun
memperhalus ceritanya. Ia selalu menceritakan semua pertarungan yang ia lalui secara
detail serta betapa menakutkannya medan perang. Apalagi saat pertarungannya
melawan Erebus dan seluruh detai tentang bagaimana anggota timnya dibunuh. Orang
tuaku tidak pernah menyembunyikan setitikpun tentang apa yang mereka alami saat
perang. Aku juga tidak main-main saat aku berkata kalau aku ingin jadi tentara.
Memang aku terdengar seperti main-main saat menjawabmu. Aku juga akui kalau aku
memiliki pikiran yang santai. Dan tentu saja aku mementingkan keluargaku. Tapi,
seluruh keluarga Achashverosh memiliki sebuah prinsip. Nyawa seorang keluarga
tidak berarti jika dibandingkan dengan nyawa beberapa orang lain. Dan jika ada suatu
keadaan dimana anggota keluarga harus dibunuh, anggota keluarga lainnya lah yang
akan membunuh orang tersebut. Hal itu karena kami menyayangi keluarga kami. Kau
tidak perlu takut aku mengabaikan misi atau apapun hanya demi keluarga. Hal
tersebut sudah dijalankan secara turun temurun dan kami dengan rela untuk
menjalankannya," jawab Rio. Ia menatap tajam Alexander. Sebenarnya ia tidak suka
berbicara dengan sikap seperti ini kepada orang lain karena dulu ada orang yang
menjadi sangat ketakutan saat melihatnya melakukan hal ini. Tapi, ia merasa perlu
untuk menggunakannya untuk meluruskan pendapat dari pria yang mirip dengan
temannya tersebut, 'Aku tidak suka mengumbar prinsip keluargaku. Tapi mau bagaimana
lagi?' "sejak kecil aku dan kakakku sudah mendapat gambaran betapa mengerikannya
perang dan betapa banyak masyarakat tidak berdosa yang terbunuh karenanya. Aku
ingin jadi tentara karena aku ingin melindungi masyarakan sebaik mungkin. Aku tidak
bisa bilang dengan menjadi tentara aku bisa mencegah jatuhnya korban. Tapi kalau
dengan menjadi tentara aku bisa melindungi paling tidak satu nyawa, aku ingin
melakukannya."

Alexander masih memandang Rio sarkastik. Ia menuliskan jawaban anak ini berbicara,
"Aku harap kau bisa memegang prinsipmu saat di medan perang karena kebanyakan
dari tentara kami berkata seperti itu di awal, tapi saat menghadapi di situasi seperti itu
mereka langsung kacau."

"Tsk. Ayah dan ibuku pasti akan membunuhku dengan tangannya sendiri jika ia
mengetahui hal tersebut. Kami tidak pernah menarik kembali apa yang kami ucapkan.
Jangan pernah samakan kami dengan tentara lain. Maaf jika ini terkesan tidak sopan
kepadamu. Tapi jika kau menyamakan kami dengan tentaramu yang bersikap
setengah-setengah dalam perkataan maupun prinsip mereka, kau merendahkan
keluargaku," jawab Rio yang juga sudah mulai merasa kesal.

"Sekarang kau kesal, lihat saja nanti di depan. Aku 10 tahun lebih berpengalaman
dibanding dirimu," balas Alexander tegas tidak peduli ekspresi Rio.

"Akan kutunjukkan kepadamu kalau kami selalu memegang perkataan kami, tuan
Aceline" Rio menghela nafasnya. 'Tidak baik. Ini tidak baik. Aku tidak boleh kehilangan
kontrol terhadap emosiku. Tenanglah, Rio atau Kyle dan Corrie akan menyeretmu pulang ke
Lamia,' pikirnya.

Alexander kembali menulis sambil melanjutkan wawancaranya, "Pertanyaan terakhir,


yakinkanlah kami bahwa kau pantas diterima disini."

"Aku selalu memegang perkataanku dan prinsipku. Terutama, jika aku sudah berjanji,
aku pasti akan menepatinya. Begitu pula seluruh anggota keluarga kami. Aku juga
pintar dalam menganalisa situasi dan orang lain. Selain itu aku orang yang dapat
belajar dengan cepat. Jika ada hal yang tidak kumengerti, aku akan mencari tahu. Aku
juga merasa kalau kekuatanku maupun kemampuanku spesial. Aku tidak tahu
bagaimana menurutmu, namun aku merasa spesial," jawab Rio semangat. 'Tunggu,
orang ini.. tadi dia membacaku. Apa karena ia pintar membaca orang lain atau ia memiliki
kekuatan yang dapat membaca orang lain? Fokusnya seperti terbagi dengan sesuatu beberapa
waktu lalu dan ia tampak lelah.'

"Baiklah, kita sampai disini" balas Alexander datar, ia menutup amplopnya dan
mengeluarkan kertas kontrak, "Ini adalah kontrak yang menyatakan bahwa kau akan
mengikuti pembelajaran di L'escollit escola selama 4 tahun dengan perpanjangan 1
tahun untuk misi tingkat A dan B. Setelah itu kau bisa bekerja dimanapun," Alexander
menyerahkan kontrak dan bolpen ke arah Rio

"Aku sangat ingin bertanya, apa kau saudara dari Jake? Kalian sangat mirip!" tanya Rio
sambil membaca isi kontrak tersebut dan menandatanganinya dengan bolpen yang
diberikan Alexander.

Alexander merasa bingung saat nama adiknya disebut, "Iya, aku kakaknya. Bagaimana
kau tahu?"

"Ah.. Kau kakaknya.. Pantas kalian sangat mirip! Walaupun Jake memiliki sifat 180
derajat berbeda denganmu. Tapi, kau sangat mirip dengan Jake saat dia kesal
semalam," Rio menyerahkan kontrak dan bolpen kembali kepada Alexander yang
menatapnya kebingungan. 'Lihat? Wajah bingun mereka juga mirip' senyumnya.
"Hmph, memang apa yang terjadi dengan Jake semalam?" Alexander mulai penasaran
walaupun sebenarnya ia tidak suka dibilang mirip dengan adiknya.

"Ekspresimu berubah lagi.. Semalam ia berteriak kepada kakakku yang keras kepala
karena kami harus lari dari monster ular dan ia tidak mau naik ke punggungku.
Ekspresinya saat kesal terhadap kakakku mirip dengan ekspresi datarmu, tuan
Aceline," cengir Rio.

Alexander mengangguk lalu mengambil kertas kontrak dan bolpen, "Jake paling tidak
suka orang keras kepala" '-sepertiku' lanjutnya dalam hati. Alexander kemudian
merapikan kontraknya dan memasukkannya ke dalam laci, "Kita selesai sampai disini.
Kau boleh keluar dan terima kasih atas kerjasamanya." Sebelum Rio keluar, tiba-tiba
seorang staff datang mempunyai kekuatan api datang bersama pembersih ruangan
untuk melelehkan serta membersihkan es yang ada di ruangan itu. Alexander menatap
pria yang masuk dan protes, "Kau ini, lama sekali datangnya. Aku sudah minta dari
lima menit yang lalu!" Kemudian pria Noble ini mengalihkan matanya ke Rio,
"Maafkan kami, tunggulah sebentar disini sampai semua kering baru kau keluar."

Baru saja Rio berdiri dan beberapa staff masuk ke dalam ruangan. Ia kembali duduk
karena diminta oleh Alexander. Sebenarnya ia tidak keberatan kalau keluar sekarang.
Tapi, mungkin Alexander memiliki alasan lain untuk memintanya menunggu sampai
kering. 'Aku ingin membekukannya lagi...' ide jahil Rio mulai muncul saat ia melihat
seorang staff melelehkan sisa pilar es nya dan ia harus menahan dirinya untuk tidak
berbuat jahil saat ini. "Apa Jake memberitahumu mengenai hal itu, tuan Aceline?
Mengenai ia tidak menyukai orang keras kepala," tanya Rio.

"Adikku itu adalah orang yang mudah dibaca," Alexander teringat Jake pernah
memarahi dia dan mengatainya 'kakak keras kepala' dipikirannya. Kemudian, ia
melihat staff melelehkan es sedangkan yang lain membersihkan cairan es yang
menggengang di lantai.

Tangannya mulai terasa gatal. Ia sangat ingin membekukan air yang sedang
dibersihkan oleh staff tersebut. "Hmm.. Apakah kau tidak berpikir kalau itu hanyalah
kekesalan sementara saja? Karena aku sangat percaya diri kalau kakakku sudah keras
kepala sejak pertama kali bertemu dengan Jake. Dan Jake tidak terlihat membencinya,"
Rio menatap mata Alexander yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin
tentang adiknya.

"Entahlah, mungkin ia lebih sabar dengan kakakmu dibandingkan kakaknya sendiri,"


keluh Alexander yang memberi anggukkan pada para staff yang sudah selesai
membersihkan ruangan. "Baiklah kau boleh keluar sekarang. Dan ada satu hal yang
ingin kuperingatkan kepadamu."
"Apa itu?" tanya Rio penasaran.

"Jangan membuat onar ataupun masalah disini karena kau akan berurusan denganku
anak es," jawab Alexander singkatm

"eh? Sudah kuduga. Entah kau bisa membaca orang dengan sangat baik atau kau
memiliki kekuatan seperti itu!" tawa Rio. "Aku mengerti, tuan Aceline! Akan kuingat
baik-baik. Aku sudah mengontrol niat jahilku dengan sangat baik barusan. Oh.. Aku
harus memberitahumu sesuatu!" Rio berhenti sebelum ia membuka pintu.

"Apa?" tanya Alexander datar

"Ia tidak mungkin bisa lebih sabar dengan orang lain dibandingkan denganmu kalau
dari awal ia membenci orang keras kepala. Kau harus menanyakan hal seperti itu
secara langsung kepadanya. Karena kakakku sendiri tidak pernah membenciku. Aku
juga keras kepala dan selalu menjahili dan mengganggunya. Seberapa banyakpun ia
memarahiku, ia tidak pernah membenciku. Oops.. Aku terlalu memasang hidungku di
tempat yang tidak seharusnya. Kau memilki pengalaman hidup yang lebih banyak
dariku. Maafkan aku, tuan Aceline," Rio membungkuk kepada Alexander dan dengan
cepat membuka pintu tersebut. "Tapi aku serius. Kau harus menanyakan hal seperti itu
langsung jika tidak mau ada kesalahpahaman. Permisi, terima kasih, dan maafkan aku!"
Rio keluar dari ruangan tersebut lalu menutup pintunya dengan cepat. Ia berlari keluar
dari gedung tersebut.

Alexander diam melihat Rio keluar dari pintu. Ia lalu memikirkan apa yang dikatakan
anak itu kepadanya, 'Ia tidak mengerti sistem di Noble seperti apa. Tapi... tidak ada salahnya
aku mencoba.'

***

Vanessa sedikit berkeliling menikmati kemegahan sekolah L'escolit Escolla ini.


Sebelumnya jarang ia dapat masuk ke gedung mewah semacam ini. Dirinya semangat
dan tidak sabar untuk memulai hidupnya yang baru ditempat ini. Namun sebelumnya
tentu Vanessa harus menemukan dahulu namanya di pengumuman daftar nama yang
diterima 1 minggu lagi. Setelah mengikuti beberapa arahan dan bertanya kepada orang
akhirnya Vanessa menemukan kantin sekolah ini. (deskripsiin kantin). Saat ini suasana
sepi tidak terlalu banyak orang. Di ujung aula Vanessa melihat sebuah counter yang
menjual minuman. Memang harganya barang-barang di Central City tidak tergolong
murah, namun demi melegakan hausnya hasil dari menggunakan kekuatannya tadi
Vanessa memutuskan untuk membeli saja air itu.

Dengan duduk di kursi terdekat ia meminum airnya dan menghitung jumlah uang
yang ia punya. Hanya tinggal beberapa (insert mata uang). Tampaknya ia perlu
mencari pekerjaan kecil selama 1 minggu kedepan demi bisa bertahan hidup. Tidak
hanya untuk membayar penginapan tempat dirinya tinggal sekarang tapi juga untuk
kebutuhan lainnya seperti makanan sehari-hari, barang-barang keperluan untuk nanti
disekolah, baju baru untuk menggantikan baju rombengnya ini, dan masih banyak lagi.
Vanessa menghela nafasnya kecewa karena ia tidak bisa menggunakan waktu 1
minggunya untuk melihat-lihat sekeliling Central City. Berpikir tentang baju ia teringat
akan jubah Jake yang masih tergantung dipundaknya. 'Aku harus mengebalikan jubah ini.
Tapi kapan aku dapat bertemunya lagi ya?' pikir Vanessa mengingat watak Jake yang suka
sendirian dan statusnya yang Noble. 'Apa mungkin mereka punya tempat khusus untuk para
Noble tinggal di sekolah ini... Heuh... Pasti akan susah untuk dapat bertemu dengannya.' pikir
Vanessa sambil meletakkan kepalanya di atas meja dengan jubah Jake terjuntai dari
pundaknya ke lantai.

Rio terus berlari tanpa memperhatikan lingkungan sekitarnya. Satu-satunya hal yang ia
pikirkan hanyalah pergi dari jangkauan Alexander sejauh mungkin. "Maafkan aku!!"
sahutnya setelah menabrak seseorang hingga terjatuh. Ia membantu wanita berambut
magenta berdiri dari lantai. "Sekali lagi, tolong maafkan aku. Dan... Apa kau tahu aku
dimana sekarang?" tanyanya masih sambil membungkuk. Wanita tersebut
membersihkan pakaiannya dan tersenyum ke arah Rio. "Ini di pintu masuk kantin. Aku
harus pergi sekarang. Berhati-hatilah," katanya ramah. Rio melewati pintu masuk yang
terbuka lebar dan bertemu dengan pemandangan yang baru pertama kalinya ia lihat.
"Ah.. Apakah tempat ini menjual buah..?" gumamnya sambil melihat counter yang
tersebar di ruangan tersebut. "Tapi sepertinya dengan kondisi leher seperti itu Leo
belum bisa memakan hal yang padat.." Rio membeli sebotol air mineral dan langsung
membukanya. Ia merasa sangat haus setelah berlari dari gedung wawancara sampai ke
tempat ini. Saat ia melihat ke seluruh sudut ruangan tersebut untuk mempelajarinya, ia
melihat seseorang dengan rambut silver panjang dan mengenakan jubah merah yang
sangat ia kenali. "Vanessa! Kau Vanessa, bukan?" Panggilnya sambil berlari
menghampiri wanita tersebut dengan senyum lebar.

Mendengar namanya dipanggil Vanessa menaikkan kepalanya dan melihat ke


sekeliling. Ditemukannya Rio berlari ke arahnya. Dengan wajah melongo ia bertanya,
"Rio!? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku.. Baru selesai wawancara dan aku sampai disino setelah berlari tanpa melihat
lingkungan sekitar," Rio menjulurkan lidahnya dengan senyum malu. "kau sendiri?"
tanyanya.

"Um... Aku di sini untuk membeli minum." balas Vanessa sambil mengangkat botol
airnya.

"Boleh aku duduk disini? Aku bosan. Yera sudah wawancara terlebih dahulu dan tiba-
tiba menghilang begitu saja," Rio menunjuk kursi kosong di hadapan Vanessa.
"Ow, silahkan." balas Vanessa sambil menegakkan badannya dan kembali menyimpan
uang recehnya.

Rio dengan cepat duduk di kursi tersebut dan merebahkan tubuh bagian atasnya ke
meja. "Aku baru tahu kalau sesama saudara bisa memiliki sifat jauh berbeda," katanya.
"Jangan salah paham dulu. Saat kecil Leo tidak bersikap seperti sekarang. Dulu ia
sangat baik hati dan mudah didekati," sambungnya.

"Dan... sesama saudara yang kau maksud?" tanya Vanessa.

"Kakaknya Jake. Aku diwawancarai olehnya," Rio menghela nafasnya dan merinding
saat teringat ekspresi Alexander yang datar dan wajah kesalnya yang sempat
ditunjukkan seketika.

'Kakaknya Jake? Aceline? Alexander Aceline?' pikir Vanessa sambil memikirkan orang
yang juga baru saja mewawancarainya. "Apa yang kamu maksud Alexander Aceline?"
tanya Vanessa.

"Yep. Ia orang yang mengerikan" '- dalam banyak arti,' lanjutnya dalam hati.

"Ah... tadi aku juga diwawancarainya." balas Vanessa dengan nada melepas lelah. "Oh
ya! Kau tahu dimana Jake sekarang?" tanya Vanessa teringat bahwa ia harus
mengembalikan jubah Jake.

"Entahlah. Aku hanya mengetahui ruang perawatan kakakku. Saat kutanya dimana
Jake kepada seorang tim medis, ia hanya menggeleng dan kabur," jawab Rio.

"Ah..." gerutu Vanessa dengan sedikit pasrah. "Kalau begitu bolehkah aku meminta
tolong padamu? Aku yakin karena ia seorang Noble pasti ruang perawatannya dijaga
ketat dan nanti bila kau keterima di sekolah ini pasti akan tinggal di asrama yang sama
dengannya. Aku ingin meminta tolong padamu untuk mencarinya. Aku ingin
mengembalikan jubah ini." Vanessa berkata kepada Rio sambil memegang jubah merah
Jake.

"Serahkan saja padaku. Sementara itu, kusarankan kau menyimpan jubah itu," jawab
Rio. Ia tidak mau menyimpan barang orang lain untuk sementara waktu, Hasil
wawancara baru keluar seminggu lagi. Tidak ada yang tahu apakah ia akan lulus atau
tidak. Ia tidak seperti Leo yang percaya diri akan hasilnya.

"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi dulu. Sampaikan salamku kepada kakak mu.
Sampai bertemu lagi" balas Vanessa kepada Rio sambil beranjak berdiri. Ia kemudian
pergi kembali ke ruang tempat ia dirawat pagi ini dan meminta kembali barang-barang
miliknya kepada perawat yang bekerja di sana. Tak disangka mereka tidak hanya
mengembalikan tas milik Vanessa yang diambil sebelum ujian kedua bersama dengan
pelindung yang ia dapatkan pada ujian kedua namun tidak senjatanya. Berpikir apa
yang akan ia lakukan kepada pelindung ini akhirnya ia memutuskan untuk
merapikannya agar dapat digunakan lebih baik. Setelahnya ia pergi ke luar untuk
kembali pulang ke tempat penginapan sementaranya. Vanessa berniat akan mencari
pekerjaan apapun selama 1 minggu kedepan. Ia tidak peduli pekerjaan pada pagi hari
atau malam hari karena ini adalah satu-satunya kesempatan untuk dirinya membangun
koneksi untuknya dapat bekerja. Namun tentunya di sela-sela pekerjaannya ia harus
ingat untuk mencucui jubah merah Jake ini.

Setelah Vanessa pergi dari kantin, Rio menghela nafasnya. Ia merasa malas untuk
melakukan apapun untuk pertama kalinya. Ia kembali mengingat perkataan Alexander
dan kembali menghela nafasnya. 'AAAH!!!!! Aku akan kembali ke kamar sewaanku
dan tidur disana!!! Menyebalkaaaaan!!!!' teriaknya dalam hati. Rio beranjak berdiri dari
tempad duduknya dan berlari keluar dari kantin menuju gerbang L'escollit Escola.

***

Leo membuka matanya dan langsung bertemu dengan lampu yang terang. Ia menutup
matanya secara spontan lalu membukanya secara perlahan. 'Aku dimana..? Apa yang
sudah terjadi?' Ia pun mengingat saat-saat dimana ia melaksanakan ujian kedua sampai
berhasil memasuki aula dan pandangannya menjadi gelap. 'Ini pasti di rumah sakit' Ia
mendengar suara nafas beberapa orang di sekitarnya dan juga monitor denyut jantung
milik pasien lain di sebelah kanannya. Ia tidak dapat melihat siapa pasien tersebut
karena tertutup dengan tirai dan ia juga tidak mempedulikan hal tersebut. Leo
menyentuh lehernya yang tidak terdapat perban, namun terasa bekas luka yang sangat
tipis di atas kulitnya dan tersenyum kecil. "Aaaa~" Ia mencoba pita suaranya dan
berhasil walaupun suaranya masih terdengar sedikit serak. Ia menginspeksi beberapa
bagian tubuhnya yang dapat ia lihat, seperti tangan, badan dan kakinya, dan ia
menemukan beberapa memar masih tersisa. Para tim medis memang lebih
memfokuskan pekerjaan mereka terhadap leher Leo yang terluka walaupun masih
terlihat bekas luka yang tipis.'Wawancaranya! Aku harus pergi sekarang!' Leo bergegas
turun dari ranjangnya dan meregangkan tubuhnya. Ia berjalan secara perlahan menuju
tirai yang menutupi kaki ranjangnya lalu membukanya. Ia langsung bertemu wajah
dengan perawat yang tersenyum dengan ramah ke arahnya. Perawat tersebut berambut
hitam kecoklatan yang diikat kuncir kuda rendah. Wajahnya tampak seperti wanita
yang baru berumur 20 tahun, tapi Leo tidak mau menebak usia wanita tersebut yang
sebenarnya. "Tuan Achashverosh, anda mau pergi kemana?" tanya perawat itu ramah,
namun Leo dapat mendengar sedikit ancaman di suaranya. "Ada wawancara yang
harus kuikuti. Terima kasih atas perawatannya," Leo membungkuk lalu dengan cekatan
ia berlari melewati perawat tersebut. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu,
Sebuah tangan menggenggam bahunya dengan erat, "tuan, sebaiknya anda kembali ke
tempat tidur. Sekarang juga," katanya dengan nada mengancam. "Ak
u akan kembali setelah wawancara," Jawab Leo singkat dan membuka pintunya.

"BRAK-" pintu tersebut tertutup dengan suara keras. Leo mengalihkan pandangannya
ke samping kirinya. Tangan perawat tersebut berada sangat dekat dengan wajahnya.
Lokasi dimana kepalan tangan perawat tersebut mendarat di pintu saat menutupnya
terdapat bekas cekungan yang masih sedikit berasap. Leo menelan ludahnya. "Tuan,
sekarang juga sebelum tanganku meleset. Kau belum pulih seutuhnya dan sebaiknya
kau dengarkan aku baik-baik. Itu kalau kau masih sayang dengan nyawamu," Leo
berlari kembali menuju ranjangnya dan naik keatasnya. 'Wanita itu sama
menyeramkannya dengan ibuku saat marah. Seperti seekor singa yang kelaparan,' Ia merinding
saat perawat tersebut menaruh nampan berisi piring dengan beberapa pil, segelas air,
dan sebuah kendi kaca berisi air.

Setelah beberapa menit dari kejadian itu, ada sesosok lelaki dengan postur badan cukup
tinggi sudah berdiri lalu mengetuk pintu sambil berdeham, “Ehm, permisi. Tolong
buka pintunya, aku ingin masuk.”

Leo menghela nafas lega dan berterima kasih kepada siapapun itu yang mengetuk
pintu. Perawat menyeramkan yang memutuskan untuk duduk di kursi disebelah
ranjangnya setelah usaha Leo untuk kabur akhirnya berdiri dan berjalan pergi, yang
pasti untuk membukakan pintunya.

Pintu terbuka dan terlihat seorang figur laki-laki dengan rambut biru panjang menatap
lurus ke depan. Di dalam ruangan itu, terdapat 5 kasur berjejer rapi. Tirai berwarna
coklat menutupi setiap kasur membuat pria ini tidak bisa mengetahui siapa saja yang
terluka. Namun, ia tidak peduli dengan hal itu. Disini dia mempunyai tugas khusus
untuk mewawancarai seseorang. Tanpa membuang waktu, ia spontan menoleh ke
perawat, “Apakah disini ada yang bernama Leo Achashverosh?”

“Ada, tuan. Tuan Achashverosh berada di kasur nomor 4,” Leo mendengar interaksi
perawat tersebut dengan pria asing yang memilki nada suara dengan otoritas tinggi. Ia
dapat mendengar langkah kaki mereka dengan cepat menghampiri ranjangnya. Leo
yang dari tadi hanya dapat berbaring di atas kasur, mengambil kesempatan ini untuk
turun dari ranjangnya dan meregangkan seluruh anggota gerak badannya. Ia tidak bisa
bergerak sedikitpun dengan tatapan tajam yang diberikan perawat tersebut sepanjang
waktu.

Pria bermata ruby melangkahkan kakinya dengan tegas menuju ke kasur yang ditunjuk
oleh perawat tersebut. Setelah sampai, didapatinya seorang anak laki-laki yang
umurnya terpaut cukup jauh dibandingnya. Wajahnya bisa dibilang cantik dan
menawan. Mungkin jika dia mempunyai lekukan di pinggang, pria ini akan
mengiranya seorang wanita. Ia tidak menyangka bahwa dia akan mewawancarai anak
ini. Sebenarnya, ia tidak ingin melakukan proses tanya jawab ini, apalagi dengan
peserta seperti dia. Namun, entah mengapa, ia juga cukup penasaran mengapa dia
yang mempunyai bakat luar biasa dan mau masuk ke L’escollit escola. Entah apa
tujuannya, tapi ia tetap harus berhati-hati. Sesudah berusaha mengingat bentuk anak
itu, ia melihat bekas luka lehernya dengan beberapa memar di bagian badannya. Hal
ini membuat pria ini sedikit iba. ‘Ini ulah Alexander. Tapi ya sudahlah, toh dia selamat,’
pikirnya sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Ia membetulkan jasnya
dan berkata, “Selamat pagi, Leo Achashverosh. Bagaimana kabarmu hari ini?”

Leo menatap pria berambut biru dan bermata ruby yang berdiri di hadapannya. Ia
dapat melihat tatapan tajam dan aura membunuh yang dipancarkan perawat tadi dari
belakang pria tersebut. Leo merasa pernah bertemu dengan pria ini, tapi ia tidak bisa
mengingat dimana secara pasti. Namun, dari aura yang ia pancarkan, Leo dapat
berkesimpulan kalau orang ini memiliki posisi yang cukup tinggi dan orang yang
cukup berbahaya. Entah karena ia memiliki kekuatan yang hebat atau ia memiliki
sesuatu yang lain. “Selamat pagi. Aku merasa lebih baik dari kemarin,” Leo
membungkukkan badannya.

Pria ini menyunggingkan bibirnya lalu menarik kursi yang berada tidak jauh dari
kasur, “Perkenalkan namaku Jansen Callaghan.” Lelaki yang bernama Jansen itu tetap
tesenyum penuh arti, “Aku adalah salah satu staff dari L’escollit Escola. Posisiku
disini…. tidak terlalu penting, jadi tidak usah kau tahu.”

“Salam kenal, tuan Callaghan. Namaku Leo Achashverosh,” Leo mengernyitkan


dahinya setelah mendengar nama Jansen. Perawat menyeramkan tadi masih
mengawasinya dan berdehem, membuat Leo dengan cepat kembali naik ke tempat
tidur. Namun, melainkan kembali berbaring, ia memilih untuk duduk di tepi kasur
menghadap Jansen.

Jansen tertawa mendapati tingkah laku anak ini. Tidak tahu apa yang terjadi, pria itu
langsung bertanya, “Mengapa kau mengawasi perawat itu? Kau takut dengannya?”

Leo menatap Jansen aneh. “Tuan Callaghan, apakah anda tidak merasakan aura
membunuh darinya terhadapku? Selain itu, jika anda melihat bekas kepalan tangan di
pintu ruangan ini, itu perbuatannya,” jawab Leo sambil mengawasi gerak-gerik
perawat tersebut. Tampak bahwa wanita tersebut menyengir ke arahnya. Leo
membalas cengiran tersebut dengan muka masam. Leo kembali menatap Jansen yang
mulai tertawa. Ia tidak menyangka seseorang dari keluarga Callaghan dapat memiliki
kepribadian seperti Jansen. Terakhir kali keluarganya bertemu dengan keluarga
Callaghan, seluruh anggota keluarga tersebut memiliki sifat yang dingin dan tidak
pernah tertawa walaupun mendengar lelucon yang paling lucu.
Jansen baru menyadari bahwa pintu di ruangan itu mempunyai bekas tinjuan dari
perawat. ‘Mengerikan, aku harap bukan dokter Kenneth yang mengajari mereka,’ bisik Jansen
dalam hati. “Maaf sekali anak muda, di rumah sakit kami memang… seperti itu. Aku
bahkan tidak bisa mendeskripsikannya.” Tangan lelaki ini kemudian dimasukkan ke
dalam jas dan mengeluarkan sebuah amplop coklat besar. Dengan tegas, ia
mengeluarkan lembaran tebal dengan kertas berisi pertanyaan di atasnya. Ia
mengambil bolpen dari saku atasnya dan mempersiapkan diri untuk menulis,
“Berhubung kau sedang dalam kondisi tidak sehat dan butuh beberapa hari rawat inap.
Kami dari pewawancara memutuskan untuk datang ke tempat kalian. Jadi aku harap
kau siap Leo, karena ini tidaklah mudah.”

Leo menaikkan alis kanannya setelah mendengar perkataan Jansen “uh.. Tuan
Callaghan, apa anda yakin ingin mewawancaraiku disini?” Leo melihat ke
sekelilingnya dimana terdapat perawat yang cantik namun mengerikan mengawasinya
dan bunyi mesin serta nafas pasien lain yang berada di sekitarnya. “Kalau mau jujur,
terkesan sangat terbuka,” lanjutnya canggung.

‘Cerdas, ia lulus dari cobaan pertama,’ pikir Jansen. Pria ini berdiri sambil menggaruk
kepalanya berpura-pura tertawa, “Kau benar, Leo. Ayo kita pergi dari ruangan ini!”
Jansen melangkahkan kakinya ke pintu, menginstruksikan anak itu untuk
mengikutinya. Ia meminta ijin dari perawat dahulu untuk membawa peserta keluar
dan menuju satu ruangan yang sudah dipersiapkan dari tadi. Jansen mengeluarkan
kunci dari kantongnya dan membuka pintu cokelat yang tidak jauh dari ruangan rawat
inap Leo. Setelah terbuka, terlihat ruangan sepi berbentuk kubus, dua kursi dengan
meja di tengah serta lampu putih terang. Dindingnya sangat bersih, terawat dan tertata.
Di sana, terdapat beberapa alat-alat medis yang tidak terpakai. Jansen mempersilahkan
Leo masuk, “Silahkan, duduk di kursi manapun. Aku akan mengikutimu.”

Leo tidak membuang waktu untuk melompat turun dari ranjang tersebut. Ia
menganggukkan kepalanya kepada perawat tersebut dan dengan cepat berjalan
mengikuti Jansen keluar dari ruang perawatannya menuju sebuah ruangan lain dengan
pintu berwarna cokelat. “Sebaiknya anda duluan, tuan Callaghan. Di keluargaku, kami
memiliki tradisi untuk mempersilahkan yang lebih tua untuk masuk dan duduk
terlebih dahulu,” kata Leo tetap berdiam di depan pintu ruangan tersebut. Ruangan itu,
walaupun tampak bersih dan tidak sering dipakai, tetap tercium bau obat-obatan yang
cukup kuat. Setelah Jansen masuk terlebih dahulu dan memilih tempat duduknya, Leo
dengan segera duduk di kursi di hadapan Jansen.

Jansen duduk di hadapan Leo lalu mengeluarkan kertasnya kembali. Tangannya sudah
memegang bolpen dan bersiap untuk menulis, “Mari kita lanjutkan yang tadi tertunda.
Pertanyaan pertama, deskripsikan siapa dirimu kepadaku.”
“Namaku Leo Achashverosh. Aku berasal dari Lamia dan umurku 20 tahun.
Keluargaku terdiri dari orangtuaku dengan adik laki-laki. Aku berasal dari faksi
normal. Keluargaku tinggal tepatnya di bagian Selatan dari Lamia. Kekuatanku adalah
angin dan aku memiliki kemampuan untuk mendengar sejauh 500 meter di
sekelilingku. Kekuatanku akan aktif kalau aku menutup mata dan penglihatanku akan
semakin berkurang setelah aku menggunakan kekuatanku. Saat ini, penglihatan di
mata kiriku buruk namun mata kananku normal. Jadi aku menyimpulkan kalau
penglihatanku akan berkurang di salah satu mata dan kemudian ke mata yang satunya.
Aku tidak suka dengan hal yang merepotkan dan tidak terlalu suka untuk
berhubungan dengan orang asing. Alasannya, dulu aku pernah di khianati oleh teman
baikku sendiri. Aku tidak tahu bisa mempercayai teman yang kudapatkan sekarang ini
atau tidak. Namun, mereka sudah menjadi temanku. Mungkin aku bisa mempercayai
mereka lebih dari sekarang,” suara Leo kembali serak pada saat ia mengatakan kalimat
yang terakhir. Ia mendeham untuk melegakan tenggorokannya. Ia merasa kalau ia
sudah tidak berbicara selama bertahun-tahun.

Jansen mendengarkan Leo dengan seksama. Perhatiannya benar-benar fokus tertuju


padanya tanpa peduli suara derapan kaki diluar. “Kau menarik sekali. Satu hal yang
membuatku penasaran, dari mana asal nama belakangmu? Orang tuamu sangat
kreatif.”

‘Orang ini benar-benar unik. Baru kali ini ada orang yang menanyakan tentang nama
belakangku ini,’ pikirnya. “Seluruh keluargaku memiliki nama ini. Achashverosh
memiliki arti kesatria yang hebat. Nama ini berasal dari keluarga ayahku dan
diturunkan kepada ibuku dan kami. Aku pernah bertanya kepada ayahku mengenai
hal yang sama. Katanya, kakek buyutnya merupakan seorang prajurit yang berasal dari
Valkyrie dan saat beliau berpergian ke negara lain, ada orang yang memberinya
julukan tersebut. Karena beliau merupakan orang yang sangat tertarik dengan nama-
nama yang unik, ia memberikan nama tersebut kepada keturunannya dan sekarang
sampai kepada kami,” jawab Leo. Ia tidak percaya kalau ia baru saja menceritakan
kisah kakek moyangnya kepada orang ini.

Jansen mengerutkan dahinya. Sejauh ini, ia tidak pernah mendengar kisah seperti ini
dari peserta lainnya. “Benarkah? Siapa nama ayah dan ibumu?”

“Ayahku bernama Kyle Achashverosh dan ibuku bernama Corrie Gall sebelum ia
menikah dengan ayahku dan menjadi Corrie Achashverosh,” jawab Leo singkat.

‘Hmm...Mengapa aku pernah mendengar nama itu? Apakah ini suatu kebetulan?’ pikir pria ini
masih menatap Leo dalam. Ia kemudian berkata, “Benarkah? Nama yang unik. Kau
mempunyai satu keturunan berisi nama Achashverosh dari dahulu. Baiklah.. Aku akan
bertanya hal yang lain, kekuatan angin itu sangatlah langka. Dari kapan kau
mengetahui kekuatanmu?”
Leo mengernyitkan dahinya. Pertanyaan Jansen yang satu ini tentu akan membuka
pengalaman buruknya yang ia coba untuk kubur dalam-dalam. Kalau bisa memilih, ia
tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut. Namun, jika tidak ia bisa tidak lulus dalam
ujian ini. “Saat umurku 8 tahun, teman baikku mengkhianatiku dan mereka
bekerjasama dengan kakak kelas di sekolahku dahulu untuk memukuliku saat aku
menangkap basah mereka. Pada awalnya aku tidak tahu mengapa, namun saat aku
sadar mereka sudah babak belur dengan luka-luka. Kemudian aku tidak sengaja
mendengar kepala sekolah yang menceritakan tentang kejadian tersebut kepada orang
tuaku. Salah satu dari mereka bilang kepadanya kalau tiba-tiba terdapat angin yang
sangat kencang yang mendorong mereka dan melukai mereka. Setelah itu aku mulai
melatih kekuatanku diam-diam karena orang tuaku tidak tahu kalau aku mendengar
pembicaraan mereka.”

“Kau membenci temanmu sampai sekarang?” tanya Jansen. “Dari ekspresimu,


sepertinya kenangan itu sangat pahit dan membuatmu terluka secara mental.”

“Aku tidak tahu. Tapi aku tidak suka membicarakan kejadian tersebut. Satu hal yang
pasti, sejak saat itu aku tidak ingin percaya dengan orang lain. Dan tidak ada yang
berhasil mendapat kepercayaanku kecuali orang idiot dan keras kepala yang kutemui
saat ujian sebelumnya,” jawab Leo

“Oh ya? Siapakah itu?” tanya Jansen penasaran.

“Seorang wanita dengan robot besarnya dan memiliki keberuntungan yang melebihi
manusia normal, Yera. Seorang lelaki yang dengan semangat menjelaskan tentang
rubik dan ternyata seorang Noble dan berteman dengan adikku, Jake. Dan seorang
wanita yang sebelumnya sangat menyebalkan namun telah menyelamatkan nyawaku
walaupun pertemuan pertama kami sangatlah buruk, Vanessa,” Leo tersenyum kecil
mengingat orang-orang yang ia sebutkan tersebut. Walaupun sangat singkat waktu
pertemuan mereka, mereka dapat membuatnya mempercayai mereka cukup untuk
menjadi temannya.

Jansen membelalakkan matanya, “Pria Noble itu... Jake Aceline?”

Leo mengangguk, “Aku tidak terlalu ingat nama keluarganya. Tapi sepertinya aku
mendengar wanita ular itu memanggil nama Aceline.”

Lelaki berambut biru itu mengibaskan rambutnya, “Sudah kuduga. Anak itu pasti
lulus!” Entah mengapa, Jansen tersenyum mendengarnya karena itu adalah adik dari
sahabatnya. Ia cukup mengenal Jake dari dia remaja karena anak itu sangat hebat,
apalagi jika memakai kekuatan penuh. “Baiklah, kembali ke dirimu. Aku ingin kau
memakai kekuatanmu di ruangan ini. Aku perlu melihatnya untuk nilai interview.”
Leo menghela nafasnya, "benar benar..." 'menyebalkan,' lanjutnya dalam hati. Ia hanya
bisa meratapi nasib penglihatan mata kanannya yang akan semakin memburuk setelah
ini. Leo menutup matanya dan mengontrol udara yang terdapat di dalam ruangan
tersebut. "Untuk informasimu, kekuatanku tidak dapat dilihat oleh mata biasanya.
Apakah aku harus merusak sesuatu untuk menunjukkan pisau anginku?" tsnyanya. Di
sekeliling Leo dan Jansen sudah terbentuk dinding angin. Orang yang peka pasti akan
menyadarinya karena pergerakan udara dan suara di sekitar mereka menjadi berbeda
karena gelombang suara yang dihasilkan membentuk dinding angin yang dibuat oleh
Leo.

Jansen terkagum saat mendapati sekelilingnya ditutupi oleh angin dengan rambutnya
yang sedikit melambai. Jansen berusaha untuk menyentuh dinding angin itu karena
rasa ingin tahunya. Namun sebelum sampai, ujung jari telunjuk sarung tangannya
terkikis hingga robek. “Wow, sekuat ini kah? Sekarang kau bisa menghentikannya
sekarang lalu aku akan melanjutkan pertanyaanku.”

“Sesungguhnya aku bisa melakukan hal lainnya. Tapi, aku benar-benar tidak ingin
merusak properti rumah sakit. Aku berterima kasih padamu,” Leo membuka kedua
matanya. Mata kirinya terasa lebih berat dari sebelumnya dan ia kembali menutup
mata kirinya tersebut untuk.beberapa detik sebelum membukanya kembali. Ia biasanya
melakukan hal ini untuk mengurangi rasa nyeri yang ia rasakan.

Jansen memperhatikan Leo saat ia menutup lama mata kirinya, “Aku tidak butuh lebih,
terima kasih. Ini bukan ajang unjuk kekuatan, aku hanya perlu bukti asli di depan
mataku bahwa kau memang memilikinya.” Pria ini melepas sarung tangannya yang
robek dan menuliskan sesuatu di kertasnya, “Pertanyaan selanjutnya, mengapa kau
masuk L’escollit escola?”

"Secara pribadi, aku tidak menyukai tipe seseorang seperti Erebus yang
menghancurkan hidup orang lain. Selain itu, seluruh anggota keluargaku membenci
Erebus. Kami hanya ingin hidup dengan tenang tanpa adanya pertumpahan darah
maupun rasa takut. Itulah mengapa kami membenci Erebus. Karena aku dan adikku
memiliki kekuatan, kami memutuskan untuk bergabung ke sekolah ini agar kami dapat
membunuh Erebus," jawab Leo.

“Hmm benarkah?” Jansen mulai sedikit curiga. Orang awam jarang sekali
mempedulikan hal-hal tentang Erebus. Biasanya hanya di beberapa kalangan
masyarakat yang ada sangkut paut dengan TCO atau keluarga yang berikut serta
dalam pemerintahan yang mengerti soal ini, “Mengapa keluargamu membenci
Erebus?”
"Orang tuaku merupakan TCO," jawab Leo singkat. "Seperti yang kukatakan
sebelumnya, keluargaku hanya ingin hidup dengan tenang. Jika Erebus hidup,
keinginan kami tidak akan dapat terwujud."

Pria putih itu mengerutkan dahinya, “Kalau orang tuamu mantan TCO, maka mereka
masuk pada tahun-tahun awal dimana institusi ini belum terbuka untuk umum.
Bagaimana faksi normal sepertimu bisa masuk?”

“Kami diberitahu oleh mereka kalau mereka sama seperti kami, memiliki kekuatan
yang unik. Selain itu, ayahku berasal dari keturunan yang mengabdi menjadi prajurit,
sedangkan ibuku berasal dari keluarga yang melayani sebuah keluarga Noble di
Valkyrie secara turun-temurun sebagai pengawal,” Leo mengetuk jari telunjuk
kanannya ke atas meja. Hal tersebut pula lah yang menimbulkan pertanyaan tetangga
mereka di Lamia. Mereka selalu bertanya kepada orang tuanya mengenai perubahan
pekerjaan mereka menjadi peternak.

“Begitu ya…,” jawab Jansen masih mencurigai Leo. “Baiklah, aku tidak akan bertanya
lagi. Sebutkan visimu saat kau lulus dari institusi ini?”

“Aku ingin dunia tanpa Erebus. Dengan begitu semua orang, dan yang lebih penting
keinginan keluargaku untuk memiliki hidup tenang dan damai dapat terwujud. Selain
dari itu, aku belum memiliki visi yang lain,” jawab Leo.

Jansen memberikan ekspresi datar ke arah Leo. Dalam hatinya, dia sedikit kesal dengan
pernyataan anak ini, “Kau hanya mengulang perkataanmu yang tadi. Ayolah, masa
kamu tidak punya visi? Sebagai TCO, kau harus punya rencana jelas dalam hidupmu.”

“Aku ingin mengabdi dan tidak akan berhenti sampai aku berhasil membunuh erebus
atau mati dalam prosesnya. Seandainya aku berhasil, aku ingin bergabung menjadi
staff pengajar di l'escollit escola dan melatih generasi mendatang,” jawab Leo
tenang, ‘Lagipula aku juga sudah bersumpah kepada Anderson Flinch saat ujian pertama.’

“Kau yakin?” Jansen masih merasa kesal. Panas hatinya memang tidak bisa dihentikan.
Pria ini masih menahan emosinya untuk tidak melonjak dan melanjutkan perkataanya,
“Aku akan tunggu janjimu untuk menjadi staff. Jika tidak, siap-siap berhadapan
denganku.”

“Aku sangat yakin, tuan Callaghan,” jawab Leo dengan ekspresi serius. Ia sudah dapat
melihat kalau Jansen merasa kesal terhadapnya.‘Seperti apapun dia dalam kesan pertama,
dia tetaplah seorang Callaghan,’ Leo hanya berharap kalau ia tidak diminta untuk
bersumpah lagi.
Entah mengapa, Jansen menghembuskan nafasnya keras sambil menaruh tangannya di
dada. Jantungnya berdetak lebih cepat dibanding biasanya karena kekesalannya tadi.
Kelemahan Jansen sekarang tidak bisa mengontrol emosinya sehingga berpengaruh
terhadap keadaan tubuhnya. “Mari kita percepat wawancaranya. Pertanyaan terakhir,
yakinkan kami apakah kamu pantas diterima di L’escollit escola?”

'Ada apa dengannya?' Leo menatap mata Jansen. Dilihatnya emosi yang berbeda dari
yang ia lihat sebelumnya. 'Akan kupikirkan nanti.' "Aku merupakan orang yang pasti
memenuhi seluruh janjiku dan kau bisa menyimpan kata-kataku. Selain itu aku masih
bisa berkembang dari sekarang ini. Kekuatanku juga bisa dibilang unik karena orang
tuaku belum pernah menemukan TCO yang memiliki kekuatan angin."

‘Sial, aku seperti ini lagi. Anak ini…,’ teriak Jansen dalam hati. Dengan cepat, pria
cantik ini menuliskan jawabannya di kertas. Setelah selesai, ia mengeluarkan kontrak
dari amplop dan mulai menjelaskan, “Ini adalah kontrak yang harus kau tanda tangani.
Isinya menyatakan bahwa kau akan menempuh pendidikan di L’escollit escola selama
4 tahun dengan perpanjangan 1 tahun untuk melakukan misi A dan B. Setelah itu, kau
akan lulus lalu melanjutkan pekerjaan di sembarang tempat.” Jansen menyerahkan
bolpen ke Leo dan berharap ia bisa melesat keluar ruangan.

Leo melihat gerak gerik Jansen yang tampak ingin keluar dengan cepat. Ia mengambil
bolpen dari tangan Jansen lalu menggunakannya untuk menandatangani kontrak
tersebut. “Terima kasih, tuan Callaghan,” Leo menyerahkan kembali kontrak dan
bolpen kepada Jansen. Ia mengamati pria beambut biru tersebut dengan cekatan
memasukkan kontrak tersebut kedalam amplop.

Sesudah Jansen menaruh semua data dengan rapi, ia langsung berdiri sambil berkata,
“Pengumuman penerimaan murid akan diberitahukan seminggu dihitung sesudah
kloter. Kembalilah ke ruang perawat itu dan semoga sembuh.” Ia melesat keluar dari
ruangan itu tanpa mempedulikan Leo yang kebingungan.

Setelah Jansen keluar dari ruangan, Leo masih duduk di tempat yang sama untuk
mengingat kemali apa yang baru saja ia alami. Jansen terlihat sangat aneh setelah
mendengar jawabannya mengenai visinya pertama kali. ‘Seperti ada sesuatu yang dia
tahan tadi. Matanya juga tampak sangat berbeda dari pertama kali kami bertemu. Ada
sesuatu yang aneh darinya.’ Leo berdiri dari kursinya dan berjalan keluar dari ruangan
tersebut dan kembali menuju ruang perawatannya dengan harapan perawat tadi sudah
pergi. “Untung saja kau kembali, tuan Achashverosh. Tadinya jika kau belum kembali
dalam 1 menit aku berpikir untuk menjemputmu dimanapun kau berada.” Leo
membelalakkan matanya terhadap perawat yang sedang berdiri dibalik pintu ruang
perawatannya. “Aku keras kepala, namun aku belajar dari kesalahanku,” jawab Leo
sambil berjalan cepat menuju ranjangnya.
Jansen dengan cepat menggunakan kekuatannya untuk menghilang di koridor rumah
sakit. Dengan cepat, tanpa bisa dilihat oleh orang-orang yang berlalu-lalang dan
menemukan satu ruangan yang merupakan tempat peralatan untuk tukang bersih-
bersih. Ia masuk kesana dan menutup pintu dengan kencang yang cukup membuat
orang disekitarnya kaget. Di mata mereka, pintu itu tertutup dengan sendirinya lalu
beberapa dari mereka ada yang merinding mengira ada hantu yang lewat. Jansen
menunjukkan dirinya kembali yang tiba-tiba menonjok dirinya sendiri di bagian dada.
“Sial! Sial! Sial! Jantungku cepatlah berhenti! Aku tidak suka kau berdetak seperti ini!”
teriaknya di dalam. Kemudian ia berlari mengambil batang pel dan kembali
memukulkannya di dada, “Mengapa aku harus kesal disaat bertemu anak itu!
KENAPA! Aku benci padamu Jansen!” Ia membuka jas putihnya sampai terekspos
tubuhnya yang penuh memar dan beberapa bekas luka di perut yang ia tikam dua
bulan yang lalu. “Jansen, jadilah anak yang baik terus hukum dirimu disini!
Hahahahaha!” tawanya di dalam.

Sampai akhirnya, saat Jansen ingin memukul dirinya lagi datanglah seorang TCO
menggunakan kekuatan teleportnya masuk berdiri di sebelahnya. Wanita berambut
pink dengan kuncir dua memandang Jansen yang masih tertawa dan tidak peduli akan
kehadirannya, “Jansen Callaghan, tolong berhenti.”

Jansen melirik wanita itu, “Apa maumu nona muda Somerset! Berhentilah
menggangguku, Jansen sedang menerima hukumannya sekarang!”

Wanita itu mendesah kesal dan mengambil tongkat panjangnya dan mengayunkannya
tepat di bagian bawah kepalanya. Sesudah itu, Jansen pingsan seketika. Wanita itu
memegang kerahnya dan melakukan teleport ke tempat rehabilitasi lagi.

***

"Permisi, apa aku boleh tahu dimana pasien bernama Leo Achashverosh dirawat?"
tanya Rio. Saat ia menjenguknya kemarin, Leo dirawat di ruang intensif dan kali ini ia
berharap kalau Leo sudah tidak di ruangan itu lagi. "Leo Achashverosh dirawat di
lantai 2 kamar 210," jawabnya. Rio berjalan menuju tangga dan naik ke lantai 2. Ia
melihat banyak perawat dan dokter yang berkeliaran di lorong serta pintu yang
berjejer. Dengan cepat, Rio mencari pintu nomor 210. Setelah menemukannya, ia segera
mengetuk pintu yang dibukakan oleh seorang perawat cantik yang tersenyum
padanya. "Apa benar Leo Achashverosh dirawat disini?" tanya Rio. "Betul. Ia dirawat di
kasur nomor 4," jawab perawat tersebut.

Leo mengamati perawat menyeramkan yang tidak berhenti mengawasinya dan


mondar-mandir di ruangan tersebut untuk mengecek pasien lainnya agar tidak bosan.
"Nona, jika kau bosan, mengapa kau tidak berhenti mengawasiku?" tanyanya. "Aku
diajari untuk terus mengawasi pasien yang mencoba untuk kabur oleh dokter
Kenneth," jawab perawat tersebut sambil duduk di kursi yang sebelumya ditempati
oleh Jansen. Leo mengernyitkan dahinya dan mulai berkonsentrasi. Langkah kaki yang
sangat ia kenal mendekati ruangan yang ditempatinya ini. Ia pun tersenyum kepada
perawat tersebut, "nona, kusarankan kau bersiap di pintu karena akan ada yang datang
kemari dalam hitungan detik," perawat tersebut mengernyitkan dahinya tapi tetap
mengikuti perkataan Leo. Benar saja, salam hitungan 38 detik, ada yang mengetuk
pintu. "Sudah kubilang, kan nona," Leo membenarkan posisi duduknya di atas kasur.

Rio tertawa geli setelah mendengar perkataan Leo dan tidak membuang waktu untuk
berlari masuk menghampiri Leo yang duduk di atas kasurnya. "Kau sudah cukup sehat
untuk merayu perawat cantik itu? Sebaiknya kau keluar dari tempat ini dan bermain
denganku!!" Rio memeluk Leo erat lalu melepaskannya setelah merasakan aura tidak
enak dari arah punggungnya. Ia menengok dan mendapati perawat tersebut tersenyum
ke arahnya. "Tuan Achashverosh tidak boleh keluar dari tempat ini sampai seluruh
luka dan memarnya sembuh," katanya. Rio mengamati leher Leo yang masih terdapat
goresan tipis serta lengannya yang masih terdapat memar dan mengangguk.
"Kuserahkan kakakku padamu, nona!!" Rio menyengir.

Bulu kuduk Leo berdiri setelah melihat perawat yang tersenyum manis kepada
adiknya. "Aku tidak masalah walaupun tidak dengan nona ini, Rio.." Leo melirik
perawat tersebut dengan tatapan waspada. "Tapi mau bagaimana lagi? Ia sudah
mengawasiku selama beberapa jam ini," kata Leo pasrah.

"Woah... kau sangat sabar, nona! Aku jamin Leo mencoba untuk kabur sebelumnya?
Tapi tidak perlu khawatir! Ia tidak akan mencoba untuk kabur lagi. Aku bisa jamin itu,"
kata Rio. Perawat itu menatapnya dengan tatapan curiga. "Tenang saja! Aku bisa
meyakinkannya. Kau istirahat saja, nona," Rio duduk di kursi yang sebelumnya
diduduki perawat tersebut. "Baiklah kalau begitu. Aku akan kembali membawa obat
dan makan malam. Selamat siang, tuan Achashverosh," perawat itu membungkuk dan
berjalan keluar ruangan. "Leo, kau mendapatkan perawat yang... membuatmu takut"
Rio tertawa setelah melihat muka masam yang diberikan Leo kepadanya.

Leo menghela nafasnya. Adiknya benar-benar suka untuk menjahilinya dan


menertawai setiap tindakannya. "Bagaimana denganmu? Yang lain?" tanyanya.

"Aku sangat sehat! Kapan kau bangun? Kemarin kau masih di ruang intensif," tanya
Rio. "Oh. Kemarin aku berpisah dari Yera sesaat ia mulai wawancara. Setelah itu aku
bertemu dengan Vanessa sebentar. Kalau mengenai Jake, tidak ada yang mau
memberitahuku dimana ia dirawat, tapi pasti ia baik-baik saja karena kakaknya tampak
biasa saja kemarin," lanjutnya.

"Aku baru bangun pagi ini. Bagaimana kau tahu tentang kakak Jake?" tanya
Leo. 'Kemarin? Jangan bilang kalau aku tidak sadar selama 2 hari?? Yang benar saja? Aku
tidak akan pernah menggunakan kekuatanku sampai habis untuk kedua kalinya!' teriaknya
dalam hati.

"Aku diwawancarai olehnya. Bagaimana denganmu? Kau sudah wawancara?" tanya


Rio. Ia dapat melihat kakaknya sedikit terguncang. Sepertinya Leo baru menyadari
kalau ia sudah tertidur selama 2 hari. "Leo?" Rio menaikkan alis kirinya karena Leo
belum juga menjawab. Entah apa yang kakaknya pikirkan dan ia yakin hal tersebut
bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

"Aku baru saja wawancara sekitar 45 menit yang lalu," Leo menghela nafasnya. Ia tidak
tahu bagaimana ia harus memberitahu Rio mengenai wawancara yang baru dialaminya
dengan Jansen. "Yang mewawancaraiku adalah seorang dari keluarga Callaghan-"

"Kau tidak apa-apa, kan? Ia tidak mencoba untuk melamarmu, kan?" Rio berdiri dari
kursinya dan menatap lurus mata Leo.

"Itu cerita lama! Jangan ungkit hal itu lagi! Callaghan yang ini... bisa dibilang sangat
cantik unutk seorang laki-laki? Aku benci mengatakan diriku cantik, tapi orang ini jauh
lebih cantik dariku," jawab Leo canggung.

Rio menghela nafas lega. Setelah mencerna perkataan Leo, Rio tertawa terbahak-bahak.
Ia tidak sabar untuk dapat melihat rupa Callaghan yang membuat Leo mengakui kalau
ia memiliki wajah cantik. "Kau bisa menceritakan detailnya saat kau keluar dari sini
nanti," Rio menghapus air matanya yang keluar karena terlalu banyak tertawa.

"Terserah kau saja.. Kau juga harus menceritakan wawancaramu nanti," Leo tersenyum
melihat tingkah adiknya tersebut. Ia sudah dapat membayangkan adiknya membuat
kakak dari Jake pusing.

***

Entah sudah berapa hari, Jake sudah tersadar kembali. Matanya sedikit berat seperti ia
tidak ingin dirinya bangun. Ia tidak bisa menggerakkan tangan dan kakinya, terasa ada
beban berat ditaruh di atasnya. Tidak hanya itu saja, ia merasa badannya jauh lebih
ringan dibanding kemarin. Ia bisa menghirup bau obat-obatan yang tajam membuatnya
tidak nyaman. ‘Aku di rumah sakit…. Lagi…,’ keluh Jake dalam hatinya. Setelah
beberapa menit, pria Noble ini memutuskan untuk bangun. Ia mengerjapkan matanya
berkali-kali karena cahaya putih di ruangan sangat mengganggu. Jake melihat keadaan
sekelilingnya yang penuh dengan alat medis. Ia juga melihat infus di tangan kirinya,
‘Aku benci tempat ini, mengingatkanku pada mimpi buruk.’

Dari kejauhan, terdengar suara pintu terbuka. Jake tidak bisa menggerakkan kepalanya
karena terlalu lemas. Ia memincingkan matanya ke kanan dan mendapati seorang
perawat baju putih mendekati ranjangnya dan menyapa, “Selamat pagi tuan Jake. Kau
memang selalu cepat pulih walaupun dalam keadaan kritis.”

Jake tersenyum, “Halo, Margareth.”

Margareth membalas senyuman dengan menepuk pundak Jake, “Kau memaksakan


dirimu lagi nak.”

Ia bisa melihat wajah cerah Margareth dari atas. Kerutannya makin bertambah seiring
usianya yang hampir 50 tahun, “Kau harus hati-hati dalam memakai kekuatanmu.”

“Tenang saja, hanya luka kecil,” Jake menggangguk pelan dan menengok ke jendela
besar di sampingnya.

Pikirannya melayang ke masa lalunya dimana dia masuk ke rumah sakit berkali-kali
karena ‘hal’ itu. Sampai akhirnya, dia bisa mendengar ketukan pintu yang keras yang
membuatnya kembali ke alamnya.

“Jack Aceline, bagaimana keadaanmu?” tanya seorang pria perambut putih yang
membuka pintu tersebut setelah melihat bahwa Jake sudah bangun. Ia mendapat kabar
dari salah satu perawat bahwa Jake sudah bangun.

Jake yang masih tidur membelalakkan matanya saat melihat lelaki itu masuk ke dalam
ruangan. Ia tahu orang ini merupakan salah satu petinggi dari L’escollit escola.
Awalnya, dia berpikir kakaknya atau temannya Jansen yang akan mewawancarai dia.
Namun sepertinya keberuntungan tidak berada di pihak Jake. “Sudah lebih baik.
Terima kasih sudah menanyakan,” kata Jake berusaha menahan rasa takutnya.

Pria ini kemudian berjalan masuk mendekati Jake. “Perkenalkan, namaku Vaden Hyde.
Salah satu pendiri sekolah ini.” Ketika sampai di samping kasur Jake dan duduk di
kursi samping kasur Jake, ia hanya menatap Jake dengan pandangan fokus mengamati
Jake.

Jake hanya mengikuti gerak-gerik pria itu sambil menetralkan detak jantungnya.
Setelah berhasil tenang, Jake menoleh ke Margareth, “Lebih baik kau pergi. Aku yakin
ini adalah wawancara yang bersifat personal.” Margerth mengerti dan segera pergi dari
kamar meninggalkan dua lelaki Noble ini di dalam. “Jadi, senang bertemu denganmu
tuan Vaden,” balas Jake membalas tatapan Vaden yang beralih kemudian ke luka-luka
panjang di wajahnya.

Matanya melirik perawat tua keluarga Aceline itu keluar. Setelahnya ia kembali
menatap Jake dan berkata dengan nada datar dan tegas, “Jake Aceline. Aku ingat
kamu.”
Jake mengerutkan dahinya, “Benarkah? Maafkan jika salah, aku sepertinya tidak
pernah bertemu denganmu.” Ia berusaha memutar otaknya sambil menunggu jawaban
Vaden, namun tetap saja ia tidak bisa menemukan ingatannya tentang lelaki ini. Dia
hanya pernah melihatnya berbicara kepada Alexander dari kejauhan saat ia sedang
bersembunyi di gudang memainkan rubik kesayangannya.

“Kau sering menyelinap masuk ke sekolah ini dan mengikuti beberapa kelas tanpa
ijin.” balas Vaden singkat.

Jake langsung memasang ekspresi yang tidak bisa dideskripsikan. Ternyata, ada juga
yang memperhatikan dia diam-diam saat menyelinap masuk kelas L’escollit escola.
Padahal ia melakukan hal itu hanya untuk menghabiskan waktunya. Ia tidak begitu
suka berada di kantor kakaknya waktu kecil karena banyak staff yang berusaha untuk
mencubit pipinya hingga merah. Jadi, demi keselamatannya ia harus pergi keluar dan
membuat dirimya menghilang sejenak. Salah satu tempat pelariannya adalah kelas
strategi yang diberikan Harold Averdin, salah satu TCO ternama dari faksi normal.
“Hahahaha.. Ternyata kau menangkapku basah menyelinap setelah beberapa tahun
kemudian.”

Vaden tidak menunjukkan ekspresi apapun dan masih terus memandang Jake.

Jake berhenti tertawa saat Vaden tidak membalasnya. Kemudian, ia berdeham untuk
membersihkan tenggorokkannya dan melanjutkan perkatannya, “Mungkin lebih baik
kita mulai wawancaranya.”

Vaden berhenti menatap Jake dengan fokus dan menatapnya dengan biasa. Ia berkata,
“Baiklah…” Vaden mengambil sebuah papan jalan dengan kertas dari mapnya dan
pena dari kantung jasnya. “Deskripsikan dirimu Jake Aceline.” ia berkata sambil
bersiap menulis di kertasnya.

“Perkenalkan namaku Jake Aceline. Aku lahir di Athena seperti para Noble Valkyrie
lainnya. Umurku sekarang 20 tahun, namun dalam delapan bulan lagi akan beranjak 21
tahun. Aku dibesarkan disana bersama dengan kakakku bernama Alexander Aceline
yang sekarang menjabat sebagai kepala sekolah di L’escollit escola oleh kedua orang
tua kami yaitu Myles Aceline dan Carol Keppel sekarang tinggal di rumah
pemerintahan. Saat kecil, aku diajari teknik perang, hukum, politik, matematika dan
sedikit medis tentang pertolongan pertama oleh pamanku Andrew Keppel yang
menjadi panglima tertinggi di Valkyrie. Aku mempunyai dua benda favorit yaitu rubik
dan pedang. Di waktu senggang, saat tidak ada pelajaran aku sering memainkannya.
Untuk pedang, aku selalu berlatih memakainya setiap hari. Bahkan aku sekarang sudah
memiliki 2 pedang yang tidak kubawa sekarang. Dan satu hal, aku tipe orang yang
diam-diam mengobservasi orang lain dan lebih menekankan strategi saat bertarung.
Walaupun sifatku berbeda dibandingkan kakakku, namun di medan perang aku bisa
lebih mengerikan.”

“Bisa tolong deskripsikan apa yang akan kau lakukan di medan perang sehingga bisa
tergolong mengerikan?” tanya Vaden dengan nada datar.

Jake yang masih berbaring menekankan kepalanya ke bantal sambil mengingat-ngingat


apa yang sudah dilakukannya. Dulu Andrew pernah meminta Jake untuk
menemaninya dalam misi dan membawanya ke medan perang. Pria Keppel memang
terkenal lihai berbicara sehingga atasannya membiarkan Jake untuk ikut dibawah
pengawasan Andrew. Namun, ekspresi Jake berubah menjadi sedikit murung saat
terlintas di otaknya tentang misi terakhirnya. Teringat setiap wajah dari timnya yang
penuh dengan darah bercucuran, “Aku.. tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya.
Tapi, aku tipe orang yang lebih senang bekerja sendiri dibandingkan bersama orang
lain karena aku bisa mengaktifkan kekuatanku tanpa… melukai timku. Dan dalam
pertarungan, aku selalu melakukan kalkulasi strategi pada lawan. Aku juga
menghitung probabilitas aku menang dan kalah. Secara aku mempunyai batas dalam
kekuatanku, aku bisa mengestimasi berapa waktu dan besar kekuatan yang kuperlukan
dalam satu pertarungan,” perkataan Jake meluncur begitu saja seakan dia sedang
memberikan curahan hatinya kepada Vaden. Kemudian bayang-bayang masa gelap
dan berdarah Jake muncul membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia
melanjutkan perkataannya, “Hal yang mengerikan dariku adalah saat aku sudah
memandang lawanku sebagai musuh, aku akan membuatnya terjatuh sampai ia mati.
Makanya itu… aku selalu berusaha untuk belajar mengendalikan diri. Karena jika
emosi sudah bermain dalam perang…. Kau merugikan dirimu sendiri…” Suara Jake
makin mengecil sampai ia berhenti mengatupkan mulutnya.

Vaden merasakan dari jawaban yang Jake berikan tampak terjadi sesuatu yang salah.
Memang banyak anak faksi Noble di Valkyrie dari kecil sudah diminta untuk
menemani misi untuk melatih apa yang mereka lakukan. Menurut Vaden hal ini
merupakan hal yang bagus karena dapat mempersiapkan anak itu. Namun di lain sisi,
mereka bukanlah tenaga yang dipersiapkan secara profesional sehingga mereka belum
sepenuhnya siap dan matang dalam menghadapi terror yang dapat terjadi dalam
semua misi. Vaden dapat mengerti hal tersebut karena dirinya pun juga sewaktu muda
pernah diminta untuk mengikuti sebuah misi. Bila misi tersebut berjalan lancar tanpa
harus ada nyawa yang dikorbankan maka itu merupakan hal bagus. Namun salah satu
hal yang paling tragis adalah dimana misi merengut sebuah nyawa dan semoga nyawa
yang terengut itu bukanlah dari timnya sendiri. Banyak dari mereka yang sebelum
melakukan misi pertama mereka semangat bila harus melakukan pembunuhan. Tetapi
bagi Vaden, pembunuhan bukanlah hal yang menyenangkan. Keadaan dimana kau
mempunyai hak untuk mengakhiri hidup seseorang atau membiarkan nyawa
seseorang untuk berlanjut dan wajah dari korban bunuhan pertamamu sangat berbeda
ketika kau menghadapinya lansung secara nyata. Vaden melipat tangannya dan
bersandar kepada kursi. ia pun lanjut bertanya dengan nada yang lebih pelan dari yang
sebelumnya, “Tampaknya pengalaman misi pertamamu tidak berjalan lancar. Bisa
tolong ceritakan apa yang terjadi?”

Jake menghela nafasnya lebih kencang dibandingkan biasanya, “Bukan misi pertama…
Tapi misi terakhir.” Jake menatap langit-langit ruangannya tanpa mempedulikan
gerakan kecil Vaden. “Sejauh ini misi yang kujalani sangatlah sukses. Tidak ada korban,
kami menang melawan mata-mata, pencuri dan bahkan pembunuh terhebat. Sampai
akhirnya, pada misi keempatku, entah mengapa pamanku mengundang temanku yang
lain bernama Fedrick Somerset dan Chloe Wood yang berasal dari Luxenberg. Misi
kami waktu itu adalah masuk ke dalam markas musuh yang diduga adalah markas
tentara Erebus. Jujur, aku sangat kebingungan karena Erebus sudah tertidur lama dan
tentara-tentara tersebut haruslah sudah tidak dipengaruhi auranya.” Jake menutup
matanya memutar kembali memorinya, “Pamanku Andrew masuk ke dalam markas
sebagai pemimpin grup kami yang bukan TCO sama sekali. Ia menyerahkan tentara
TCO lain kepada Tom Vanderbilt untuk mengitari pinggiran markas dan memasang
bom. Bisa dibilang kami adalah tim Andrew yang menjadi ‘pencuri baik’ mengambil
benda-benda yang diduga untuk memperlemah segel Erebus walaupun aku tidak
mengerti apa itu. Dan disanalah semuanya menjadi kacau…..” Terpancar kesedihan
dari raut muka Jake karena hal ini benar-benar membuatnya trauma.

Vaden sudah berhenti menulis hasil wawancara untuk waktu yang lama. Awalnya ia
sempat terpukau bahwa Jake sudah melakukan beberapa misi lain yang sukses tidak
seperti anak Noble manja lainnya. ‘Tentara Erebus?! Ini misi tingkat A! Tidak seharusnya
anak ini yang belum TCO ikut dalam misi ini. Apa yang hendak kau lakukan Andrew?’ pikir
Vaden sambil terus mendengarkan perkataan Jake. Setelah Jake selesai bicara ia tidak
berkata apa-apa dan membiarkan suasana hening memberikan Jake kesempatan untuk
beristirahat dari ceritanya. Setelah beberapa detik ia bertanya dengan nada pelan
namun tegas, “Apa yang terjadi?”

“Chloe mengambil benda itu dan tidak sengaja menginjak jebakan sehingga alarm
berbunyi membuat penyamaran kami ketahuan. Fedrick kemudian menggunakan
kekuatan penglihatan X-ray-nya untuk mencari rute keluar, namun semuanya
terlambat.” Jake membuka matanya kemudian dan melihat Vaden seperti tanpa jiwa,
“Kami dikepung dari seluruh sisi, salah satu tentara Erebus yang aku tidak tahu
wajahnya karena ditutupi topeng menarik paksa Chloe dan tentara lainnya langsung
menyergapku dari belakang, begitupun juga Fedrick dan pamanku.”

“Lalu?” tanya Vaden sambil memandang Jake. Ia sudah tidak lagi mencatat hasil
wawancara saat ini.

“Kami dibawa ke suatu tempat dan kami tidak tahu cara menuju kesana karena mata
kami ditutup oleh kain hitam. Setelah sampai, mereka membuka penutup mata dan aku
mendapati ruangan utama berbentuk kubah, seperti tempat pertemuan mereka. Di sana
berdiri tegap seorang lelaki berotot besar dengan topeng putih polos yang dipenuhi
baret cokelat tanah.” Jake merasa enggan menceritakannya, namun entah mengapa ia
ingin tetap memaksa dirinya untuk membagi kisahnya kepada Vaden. “Pria itu
menahan Chloe, Fedrick dan paman Andrew diikat rantai dan ditaruh dalam satu
kerangkeng besar menggantung di atas cairan berwarna kuning kehijauan dalam bak
besar. Aku berani jamin cairan itu berbahaya. Pria itu mengancamku untuk ikut bersatu
dengan mereka atau mereka akan menjatuhkan teman-temanku disana dan
dibiarkannya tenggelam sampai kulitnya mengelupas. Waktu itu, aku masih berumur
15 tahun. Aku benar-benar ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa. Aku juga tidak
mengerti mengapa pria itu membuatku harus memilih, bukannya yang lain saja.” Jake
mengeratkan tangan kirinya tanpa infus keras ingin bercerita kembali. Namun,
suaranya tidak bisa keluar seperti tertahan di leher. Lalu ia menelan ludahnya sendiri
sambil berusaha mengembalikan pembicaraan. “Maafkan aku.. suaraku tidak bisa
keluar sementara,” serak Jake pelan.

Vaden memberinya sedikit waktu. Lalu ia berbicara lagi, “Maafkan aku, namun aku
harus memaksamu untuk menceritakan apa yang terjadi ketika kau menggunakan
kekuatanmu. Ini demi keselamatan dirimu dan teman-temanmu nantinya di L’escollit
Escola.” Vaden berkata dengan halus namun tegas. Ia hanya menatap Jake dan
membebaskannya untuk mulai berbicara kapanpun dia mau.

“Tidak apa-apa tuan,” suara Jake makin membaik, “Aku tahu prosedur di sini.” Pria
pencinta rubik ini mengambil nafas dan mengeluarkannya pelan, “Akhirnya aku
memutuskan untuk berpura-pura bergabung dengan mereka saat mereka memintaku
bersujud di depannya sebagai tanda setia. Rencanaku adalah mengambil pedangku
yang sudah dilucuti dan ditaruh di belakang, lalu menggunakan kekuatanku dalam
memanipulasi vektor akselerasi untuk mendorong arah kerangkeng itu menjauh kolam
itu. Awalnya, semua berjalan lancar. Chloe menggunakan anti-gravitasinya di sekitar
kerangkeng agar tidak terjatuh kencang serta membahayakan nyawa. Aku kesal sekali
dengan mereka yang mempermainkan kami. Aku benar-benar kehilangan kendali
menumpas semua tentara tanpa peduli temanku dan paman.” Jake merasakan
gemuruh di dadanya semakin kencang seakan dia sekarang sedang berada di tempat
itu, “Lalu, di tengah pertarungan aku melihat pria bertubuh besar tadi berlari keluar
tempat itu. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari mengejar pria itu. Paman
Andrew sudah berteriak memanggilku untuk tidak mengejarnya. Tapi aku
mengacuhkan perintahnya dan tetap mengejarnya. Singkat cerita, aku yang masih labil
menggunakan kekuatanku bertarung dengannya. Namun alhasil.. aku hampir kalah
dengannya serta tubuhku sudah terluka parah. Aku pikir aku akan mati waktu itu
juga.”

“Dan teman-temanmu?” tanya Vaden singkat.


“Aku tidak tahu apa yang dilakukan oleh teman-temanku saat aku berlari mengejar
pria itu. Tetapi saat detik terakhir aku hampir pingsan, ruangan tersebut mulai
berguncang. Pria bertopeng itu melihat keatas sambil berkata, ‘Sudah dimulai…. Kau
harusnya berpartisipasi anak kecil. Potensimu itu bisa kami berikan untuk kejayaan
Erebus.’ Lalu, saat ia ingin memukulku terakhir kalinya, tombak pamanku menusuk
lengan kanannya. Fedrick dan Chloe menggotongku ke jalan keluar meninggalkan
pamanku.” Jake menggigit bibirnya sedikit karena disinilah kejadian yang selalu
menghantuinya. “Saat kamu berjalan, bangunan itu sudah hampir runtuh. Aku tahu
teman-temanku melindungiku sampai jalan keluar. Namun, saat aku melihat cahaya
keluar… Tiba-tiba, pandanganku menjadi gelap dan hilang kesadaran.”

‘Erebus? Sudah dimulai?’ pikir Vaden bingung, tak disangka anak yang di hadapannya
ini telah menyaksikan salah satu kejadian besar yang membuat seluruh sistem
pertahanan menaikkan status mereka menjadi lebih waspada hasil dari perintah The
Great One. “Jake Aceline, aku bertanya apa yang terjadi pada teman-temanmu.” Vaden
mengingatkan Jake dengan tegas. Tadinya Vaden tidak memotong perkataan Jake
sedikitpun karena ia tahu mengulang kembali kejadian tersebut merupakan hal yang
berat bagi anak ini. Namun menurutnya penting bagi Jake untuk menghadapi masa
lalunya.

Jake mendesah, “Aku tidak tahu berapa lama aku pingsan. Sesaat aku bangun, aku
menyadari diriku sudah berbaring di tanah luar markas musuh. Mataku tertuju melihat
Fedrick tergesa-gesa berlari ke markas. Namun sebelum Fedrick masuk, tiba-tiba
bangunan itu meledak hebat. Aku bisa mendengar pamanku Andrew berteriak
memanggil Chloe berkali-kali. Saat itu aku tahu… Chloe meninggal disana.” Jake
menatap Vaden sendu, “Sesudah misi, Fedrick menyalahkan diriku karena aku tidak
mengikuti perintah. Karena diriku yang lalai, Chloe meninggal di dalam sana. Lelaki
itu sangat membenciku hingga sekarang dan aku bisa menerimanya.”

Vaden hanya mendengarkan cerita Jake sambil terus menatapnya. Kemudian ia


menutup matanya sejenak dan menghembuskan nafasnya memaklumi kisah Jake. Ia
pun menatap Jake dengan serius dan berkata, “Jangan salahkan dirimu Jake Aceline.
Tidak semua peperangan dapat kita menangkan dan tidak semua nyawa dapat
terselamatkan. Nantinya ketika kau masuk di sekolah ini mau tidak mau kau harus
bekerja dalam sebuah tim dan nantinya ketika kau lulus kau juga akan mengerjakan
tugas sebagai sebuah tim. Jangan tenggelam pada kekecewaan terhadap dirimu di masa
lalu. Gunakan apa kau pelajari di masa lalu untuk menghindari kesalahan di masa
depan. Untuk melindungi tim mu nantinya... Tidak banyak TCO yang berhasil selamat
dari misi seperti yang telah kau jalani. Berikanlah dirimu sedikit kebanggaan dan demi
temanmu yang telah menyelamatkanmu.”

Jake terdiam sejenak dan mengangguk pelan “Aku mengerti… Tapi, entah mengapa,
bayang-bayang itu selalu mengganggu pikiranku.” Ia kembali terdiam, berusaha
menghapus beberapa memori suram itu. Suasana makin hening di dalam ruangan
membuat pria Noble ini tertawa canggung lalu membuka pembicaraan, “Hanya itu saja
yang kau tanya?”

‘Sama seperti tentara lainnya. Jake Aceline, apakah kau akan berakhir seperti tentara lainnya
atau kau dapat bangkit?’ pikir Vaden sambil memandang Jake. “Jelaskan kenapa kamu
memilih untuk masuk ke sekolah L’escollit Escola?” Vaden berkata sambil menyiapkan
penanya untuk menulis lagi.

‘Pertanyaan ini lagi..’ keluh Jake mengingat ia pernah mendengar Alexander


menanyakan itu ke peserta lain waktu kecil. “Kalau mau jujur, awalnya aku tidak
berniat untuk masuk L’escollit escola dan menjadi TCO. Kau bisa mencercaku
sekarang, aku bisa memahaminya. Tapi, kakakku memintaku untuk masuk agar aku
belajar lebih lagi mengenai kekuatanku. Dan alasan dari dirimu sendiri, aku tidak ingin
kekuatanku sia-sia. Aku tahu institusi ini sedang butuh TCO yang bertalenta dan
kekuatanku tergolong unik, jadi aku berpikir untuk masuk dan memberikan yang aku
punya.”

“Banyak pihak lain yang juga membutuhkan seseorang dengan kekuatan unik. Apa
yang akan kau lakukan bila kau menemukan institusi lain yang memberikanmu
penawaran yang lebih baik?” tanya Vaden dengan muka yang sudah sudah kembali
serius.

Jake menjawab, “Aku akan menolaknya. Lagipula, aku tidak pernah berpikir institusi
lain kecuali L’escollit escola. Kebanyakan institusi lain jadi bermunculan karena
L’escollit escola yang memulainya. Untuk apa aku pergi hanya karena penawaran
menarik. Ditambah institusi ini muncul berdasarkan pemerintahan dari tiga kerajaan,
hal ini menambahkan poin plus dibandingkan institusi lain.”

“Apa yang bisa kau dapatkan dari kelebihan nama baik sekolah ini dalam hidupmu,
Jake Aceline?” tanya Vaden. Ia sempat berpikir bahwa anak yang ia wawancarai
ternyata mengejar hal yang sama dengan para noble lain, yaitu memiliki biografi
bersekolah di suatu tempat bergengsi yang memiliki hubungan dengan tiga kerajaan
secara langsung.

“Apa yang kudapatkan? Hmm… Pertama, aku bisa mendapat pendidikan yang baik
dan berkualitas disini sehingga aku lebih bisa meningkatkan keahlianku dalam
bertarung baik saat mengaktifkan kekuatanku maupun tidak. Kedua, aku bisa lebih
banyak belajar lagi tentang hubungan 3 kerajaan karena aku seorang Noble dan mau
tidak mau aku termasuk orang yang bertanggung jawab menjaga keharmonisan. Dan
yang terakhir, aku tidak ingin membuang waktuku selama hidup. Aku bosan dengan
rutinitasku dirumah yang hanya tidur, makan, dipaksa ikut berpesta lalu wanita Noble
yang tidak jelas mendekatiku tanpa alasan. Bahkan berlatih dan belajar dengan paman
Andrew pun aku sering merasa bosan dan aku butuh dilatih secara institusi untuk
mendapatkan ilmu lebih banyak,” Jake berbicara panjang lebar tanpa berhenti
sedetikpun.

“Baiklah” balas Vaden setelah Jake berhenti berbicara dan menuliskan jawaban Jake.
“Sekarang tolong sebutkan visi misi mu.” Vaden berkata singkat.

“Aku berencana untuk menjadi tentara TCO di Valkyrie dan tertarik untuk belajar
sistem pemerintahan di sana. Jika aku sudah mulai mendapat pengalaman disana,
rencana besarku adalah menjadi anggota Twelve Councils. Aku tahu untuk masuk
kesana sangatlah sulit sehingga jika aku tidak diterima, kemungkinan besar aku akan
menetap di Valkyrie dan berusaha sebaik mungkin untuk mendapat posisi terbaik
secara adil," jawab Jake.

“Kenapa memilih untuk menjadi Twelve Council, Jake Aceline?”tanya Vaden singkat.

“Dari dulu, aku penasaran dengan mereka. Maksudku, cara bekerja mereka sangat
rahasia dalam membuat kebijakan. Aku tidak bisa memberikanmu alasan lain lagi,”
jawab Jake.

“Twelve Council adalah salah satu kumpulan orang yang sangat berkuasa dan dapat
menentukan masa depan dari tiga kerajaan kita. Bagaimana kami dapat
mempercayakan kamu yang ingin menjadi salah satu dari Twelve Council hanya
karena rasa penasaranmu?” tanya Vaden dengan nada yang serius.

“Benar, aku pun berpikir hal yang sama sepertimu. Maka dari itu, aku sempat berpikir
untuk mencari alasanku dari sekarang sampai nanti bekerja di Valkyrie nanti.” Jake
berbicara dengan suara tegas, “Lagipula jika suatu saat aku diterima di Twelve
Councils, itu berarti memang aku pantas untuk menjadi bagian dari mereka dan kau
tidak bisa berbuat apa-apa karena itu. Tapi ya, jika aku tidak menemukan alasan untuk
berada di Twelve Councils, aku tidak akan mendaftarkan diri. Lebih baik kuberikan
kesempatan kepada orang yang punya tujuan lebih baik dibandingku,” lanjutnya.

Vaden melihat ke arah Jake dengan tatapan serius sesaat dan kemudian kembali
menulis jawaban Jake sampai selesai. Terlintas di pikirannya akan kenyataan pahit
politik kerajaan. Namun dengan cepat ia melupakannya dan kembali menjadi dirinya
yang seorang jendral Valkyrie. Sambil menatap Jake ia berkata, ”Aku harap kau bisa
menemukan alasan yang tepat untuk berjuang, Jake Aceline.” Ketika mengatakan hal
ini Vaden merasa dirinya hampa. Seakan-akan perkatan ini tidak memiliki arti baginya.
Sesaat tatapan matanya terlihat hampa ketika mengatakan kalimat tersebut

Jake memandang Vaden yang berekspresi hampa, “Mudah-mudahan tuan Vaden.”


“Jake Aceline. Aku harus melihatmu mempraktekkan kekuatanmu sebagai bagian dari
wawancara. Tapi melihat kondisimu yang masih terbaring di atas ranjang aku akan
menundanya di akhir wawancara. Sekarang tolong yakinkan kami untuk menerimamu
di L’escolit Escola.” Vaden berkata kepada Jake.

“Tidak apa-apa, aku tetap akan menunjukkannya sedikit saja. Kau tidak bisa menilai
secara objektif jika aku tidak menggunakan kekuatanku,” Jake menutup matanya
sejenak lalu membuka matanya dengan iris kuning. Lalu, ia mengfokuskan dirinya
pada nampan di depan meja yang kosong dan ia melemparkannya jauh sampai
menabrak keras dinding dekat pintu. Sesudah selesai, ia kembali memejamkan mata
dan memandang Vaden dengan iris coklat normal, “Maaf, hanya itu yang bisa
kulakukan sekarang. Dan untuk pertanyaan terakhir, untuk meyakinkan kalian. Aku
tipe orang yang suka belajar baik dalam hal teori maupun praktek. Aku tidak seperti
Noble lain yang masuk kesini untuk mencari status karena menurutku itu tidak
berguna. Kalau mau jujur, aku sudah mendapat status Noble saja cukup membuatku
terkenal. Jadi mencari nama di L’escollit escola itu tidak penting bagiku. Aku juga
mengetahui reputasi guru-guru disini, saat aku menyelinap masuk kelas aku sudah
yakin bahwa mereka orang yang tepat untuk mengajarku banyak hal. Dan satu lagi,
aku mempunyai pengalaman banyak dalam pertarungan dan misi sehingga aku yakin
pasti diterima.”

Vaden mengamati Jake melempar nampan tersebut dengan kekuatannya. Ia berpikir


bahwa memang benar kekuatannya lumayan unik dan bila dilatih dengan cara yang
tepat maka bisa jadi mematikan. Namun baginya tidak ada artinya kekuatan ini bila
nantinya anak yang ada di hadapannya lalai dalam berlatih ataupun digunakan untuk
hal yang salah. Vaden bertekad akan terus mengawasi anak ini dan melihat apakah ia
dapat membuktikan segala yang ia katakan tentang dirinya. Ia pun mengembalikan
perhatiannya ketika Jake mulai menjawab pertanyaannya lagi. Ia pun bertanya,
“Kekuatan mu Jake Aceline. Seberapa jauh kau pernah menggunakannya?”

Jake berkata, “Selama ini aku bisa memakainya maksimal 50 menit. Jika aku sudah
memakainya dalam 60 menit maka aku tidak bisa menggunakan kekuatanku selama 3
bulan. Maka dari itu, aku selalu membawa timer untuk menghitung waktu yang
kupakai.” Pria Noble ini mengingat kembali latihan yang diberikan paman Andrew,
“Dulu, aku bisa melempar benda hanya sekitar 100 meter. Namun, pamanku
mengajarkan tentang “fokus”. Jadi, pada saat kekuatanku aktif dan ingin
menghempaskan musuh lebih dari 100 meter. Aku butuh waktu lebih untuk
mengumpulkan tenaga dalam mengubah vektor dan akselerasi benda agar ia bisa
terlempar jauh dan sampai sekarang aku hanya bisa menghempaskannya tidak lebih
dari 1 km. Dan itupun hanya sekali saat misi terakhirku melawan pria bertopeng itu,
dan aku… kalah.”

“Dan imbalan dari kekuatanmu itu?” tanya Vaden sambil terus menulis jawaban Jake.
“Hitunganku adalah waktu menit, hari dan bulan. Jika aku memakai kekuatanku 10
menit, maka aku tidak bisa memakai kekuatanku selama 10 menit ke depan. Begitulah
imbalan seterusnya sampai 50 menit. Lalu jika aku memakai sampai 60 menit, maka
aku tidak bisa menggunakan kekuatanku sampai 3 bulan. Jangan tanya aku mengapa
bisa seperti itu. Namun yang pasti, jika aku memakai lebih dari satu jam, misalkan dua
jam maka aku tidak bisa memakainya selama 6 bulan aku tidak bisa menggunakan
kekuatanku dan begitu seterusnya dalam hitungan jam.” Jake mengambil nafas sejenak
lalu kembali menjelaskan, “Pada saat hitungan jam, biasanya kondisi tubuhku biasanya
akan melemah dan biasanya aku butuh waktu hibernasi selama 1 minggu jika dalam
pemakaian 1 jam atau 2 minggu jika pemakaian 2 jam.”

Setelah selesai menuliskan jawban Jake ia pun mulai merapikan kertas-kertasnya.


“Wawancara sudah selesai, Jake Aceline” Vaden berkata kepada Jake. Kemudian ia
mengambil selembar kertas dari mapnya dan memberikannya kepada Jake bersama
dengan penanya. “Ini adalah sebuah kontrak dengan sekolah L’escolit Escolla yang
wajib kau tanda tangani. Di kontrak ini tertulis bahwa kau akan harus menempuh
pendidikan selama 4 tahun di L’escolit Escolla dan akan dilanjutkan dengan 1 tahun
untuk mengikuti misi tingkat A dan S. Setelah semua syarat terpenuhi maka kau baru
dinyatakan lulus dan dapat bekerja di institusi lain yang kau mau.” Vaden menjelaskan
kepada Jake.

“Baiklah,” Jake berusaha meraih bolpen dari Vaden. Ia hanya bisa mendongakkan
kepalanya sedikit untuk membaca sekilas kontrak tersebut. Lalu setelah selesai, ia
menandatangani kertas itu tidak begitu rapi karena posisinya yang berbaring ditambah
peralatan infus yang membuatnya susah untuk menggerakkan pergelangan tangannya.

Vaden hanya memerhatikan Jake yang berjuang keras menandatangani kertas tersebut.
Kemudian ia bertanya, “Pada ujian terakhir, berapa lama kau menggunakan kekuatan
mu?”

Jake menggelengkan kepalanya, “Aku tidak tahu karena waktu itu aku tidak
memperhatikan timerku sama sekali. Tapi yang pasti, aku mengaktifkan kekuatanku
kurang dari 50 menit karena buktinya sekarang aku bisa melempar nampan itu.”

“Jake Aceline, kau terus berkata bahwa kau tidak mau bekerja dalam sebuah tim. Aku
sempat mengawasimu saat ujian kedua berlangsung. Kau sedang berada di punggung
monster kedua bersama dua temanmu. Kenapa akhirnya kau bekerja dalam sebuah
tim?” tanya Vaden sambil mengingat rekaman ujian kedua tersebut.

Jake hanya terdiam sambil berpikir mengapa ia menolong mereka. Saat kejadian itu,
tubuhnya bergerak di bawah alam sadarnya melindungi mereka semua, “Mungkin,
karena aku tidak ingin mereka meninggal. Entahlah… Instingku mengatakan harus
melindungi mereka.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan bila kau pingsan? Kau tidak akan bisa melindungi
mereka. Aku melihat mereka bergantian menggotongmu untuk menyelamatkamu. Jake
Aceline, aku tidak ingin murid yang tidak mampu bekerja dalam sebuah tim. Mereka
hanya akan mempersulit pekerjaan orang lain.” Vaden berkata kepada Jake sambil
mengambil kertas kontrak yang sudah ditandatangani Jake itu dan menyimpannya.
Sepintas ia teringat akan tugas yang diberikannya kepada Aron mengenai laporan
lengkap akan Jake dan kedua temannya, Rio dan Vanessa. Ia tidak sabar ingin melihat
laporan tersebut dan membaca hasil ujian-ujian mereka. Bila laporan tersebut tidak ada
di meja kerjanya sekembalinya ia dari sini maka seseorang akan dapat masalah besar.

Jake tetap diam memalingkan wajahnya dari Vaden, “Baik Tuan Vaden. Akan kuingat
perkataanmu.”

Tidak terlalu memerhatikan jawaban Jake, Vaden mulai berdiri sambil membawa
amplop kertasnya. Penanya sudah kembali tersimpan dengan rapi di kantong jasnya.
“Pengumuman hasil penerimaan ujian akan diberitahukan 1 minggu lagi. Selama 1
minggu tersebut kau bebas pergi ke mana pun. Terima kasih atas kerja samanya Jake
Aceline.” Vaden berkata. Ia pun berjalan keluar ruangan.

-------sementara di ruangan lain--------

Aron sedang mengetik di ruangannya dengan mesin ketik lamanya. Ia sudah


mengambil tissue berkali-kali karena cairan dari hidungnya terus keluar tanpa berhenti.
Belum lagi, ketuanya Vaden meminta dia untuk membuat laporan lengkap tentang tiga
anak bernama Jake, Rio dan Vanessa. Ia menggosok hidungnya berkali-kali sambil
menekan jari di setiap tombol keypad. “Sial bos itu. Mengapa dia harus
menyebalkan?!” keluh Aron sambil membuang ingusnya kencang.

Dari tadi, ia sudah berhasil membuat dua laporan lengkap dari Vanessa dan Rio. Jake
yang terakhir karena Aron lagi agak sensitif dengan Noble yang mengingatkannya
pada bosnya Vaden. Ia mengetik ulang data Jake sambil berkomentar, “Semua Noble
menyebalkan. Suka menyuruh-nyuruh orang tidak jelas! Memang aku ini pembantu
kalian? Aku seorang TCO dengan pangkat jendral! Bahkan kumisku saja bisa dihargai
mahal jika dilelang.” Tiba-tiba saat ia lagi memandang kertas Jake, hidungnya terasa
gatal hingga bersin, “HAAACHIIIUUUU!” Liur dan lendir Aron membasahi seluruh
meja serta kertas data Jake. “Hmph, sepertinya ada yang membicarakanku. Ah
sudahlah aku tidak peduli,” gumamnya membersihkan ‘sampahnya’ tanpa merasa
bersalah.

------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
---------------------------------------------------------------------------------

"Sangat menyenangkan berinteraksi dengan mereka," Alexander merapikan kertas-


kertas penilaian yang bertumpuk di mejanya, "Aku harap mereka semua tidak takut
denganku."

Lelaki berambut brunette menghela nafasnya dan mengingat setiap wawancara yang
telah ia lakukan. Tanpa sadar, Alexander menyunggingkan bibirnya sedikit mengingat

Terdengar suara pintu terbuka dan masuklah Vaden membawa file kertas berisikan
hasil-hasil wawancara yang telah ia lakuakan. "Maaf aku sedikit terlambat terlambat.
Aku harap aku tidak mengganggu apapun." salam Vaden kepada mereka dengan nada
formal. Ia pun duduk di salah satu kursi terdekat.