Sei sulla pagina 1di 18

TUGAS BESAR

PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Defenisi Air Buangan


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, yang dimaksud dengan air limbah
adalah sisa dari suatu hasil usaha dan/atau kegiatan yang berwujud cair.
Menurut Sugiharto (2008), air limbah (wastewater) adalah kotoran dari
masyarakat dan rumah tangga dan juga yang berasal dari industri, air tanah, air
permukaan serta buangan lainnya. Dengan demikian air buangan ini merupakan hal
yang bersifat kotoran umum.

2.2. Standard Air Buangan


Berdasarkan PP 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan
pengendalian pencemaran, baku mutu perairan (stream standard) didefinisikan sebagai
batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi atau komponen lainnya yang ada atau harus
ada dan atau unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam air pada sumber air
tertentu sesuai peruntukannya. Effluent standard (baku mutu limbah cair) adalah batas
kadar dan jumlah unsur pencemar yang ditenggang adanya dalam limbah cair untuk
dibuang dari suatu jenis kegiatan tertentu. Effluent Standard untuk limbah domestik
mengacu pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 Tentang
Baku Mutu Air Limbah Domestik dimana berdasarkan KepMen LH tersebut baku mutu
air limbah domestik (effluent standard) untuk limbah domestik adalah ukuran batas atau
kadar unsur pencemar dan atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya
dalam air limbah domestik yang akan dibuang atau dilepas ke air permukaan.

2.3. Karakteristik Air Buangan


Menurut Sugiharto (1987), air buangan dikelompokan menjadi 3 komposisi
yaitu fisik, kimia dan biologi. Kualitas air buangan dapat diketahui melalui beberapa
sifat dan karakteristiknya dapat diketahui sebagai berikut.
2.3.1. Parameter Fisik

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Penentuan derajat kekotoran air limbah sangat dipengaruhi oleh adanya sifat
fisik yang mudah terlihat yaitu kandungan zat padat sebagai efek estetika dan kejernihan
serta bau dan warna juga temperatur. Hal yang terpenting untuk karakteristik fisik air
buangan adalah sebagai berikut :
a. Total Solid
Total Solid merupakan residu atau sisa dari penguapan pada suhu 103 sampai
105 oC. Settleable solid adalah partikel padat yang dapat mengendap selama lebih
kurang 60 menit di dalam Imhoff-cone. Settleable solid (ml/L) berbentuk lumpur
yang dapat dibuang dengan pengolahan primary sedimentation. Sementara total
solid atau residu dari penguapan lebih jauh diklasifikasikan sebagai nonfilterable
(suspended) atau filterable.
b. Bau
Bahan buangan industri yang bersifat organik dan air limbah dari kegiatan
industri pengolahan bahan makanan seringkali menimbulkan bau yang sangat
menyengat hidung. Mikroba di dalam air akan mengubah bahan buangan organik,
terutama gugus protein, secara degradasi menjadi bahan yang mudah menguap dan
berbau. Bau dalam air buangan domestik sering disebabkan oleh produksi gas dari
dekomposisi organik. Yang menjadi penghasil utama bau dari air buangan adalah
H2S., yang merupakan produksi mikroorganisme anaerobik yang mereduksi sulfat
menjadi sulfit.
c. Suhu
Dalam kegiatan industri seringkali suatu proses disertai dengan timbulnya panas
reaksi atau panas dari suatu gerakan mesin. Penghilangan panas dilakukan dengan
proses pendinginan oleh air. Air pendingin yang meningkat suhunya tersebut
kemudian dibuang ke lingkungan. Apabila air tersebut dibuang ke sungai maka air
sungai secara otomatis akan meningkat pula suhunya. Air sungai yang suhunya naik
akan mengganggu kehidupan hewan air dan organisme air lainnya karena kadar
oksigen yang terlarut dalam air akan turun bersamaan dengan kenaikan suhu.
Sedangkan di pihak lain setiap kehidupan memerlukan oksigen untuk bernafas.
Proses turunnya kadar oksigen yang terlarut dalam air berasal dari udara yang
lambat berdifusi ke dalam air. Penyebab utama kejadian ini adalah tingginya

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

kenaikan suhu air yang mengakibatkan semakin sedikit oksigen yang terlarut di
dalamnya.
d. Berat jenis
Berat jenis yaitu massa per volume (kg/m3). Berat jenis penting sebagai
karakteristk fisik karena akan mempengaruhi struktur/lapisan dari air buangan
tersebut (komposisi). Jika perbedaannya hanya sedikit dengan berat jenis air maka
secara esensial tidak terlalu berpengaruh.
e. Warna
Degradasi bahan buangan industri dapat pula menyebabkan terjadinya
perubahan warna air. Tingkat pencemaran air tidak mutlak harus tergantung pada
warna air, karena bahan buangan industri yang memberikan warna belum tentu lebih
berbahaya dari bahan buangan industri yang tidak memberikan warna. Seringkali
zat-zat yang beracun justru terdapat di dalam bahan buangan industri yang tidak
mengakibatkan perubahan warna pada air sehingga air tetap tampak jernih. makin
hitam warna air buangan mengindikasikan kualitas air buangan tersebut rendah.
f. Kekeruhan
Kekeruhan merupakan ukuran dengan menggunakan cahaya untuk
mengindikasikan kualitas air terutama pada kandungan materi tersuspensi atau
koloid. Kekeruhan di dalam air disebabkan oleh adanya zat tersuspensi, seperti
lempung, lumpur, zat organik, plankton dan zat-zat halus lainnya. kekeruhan
merupakan sifat optis dari suatu larutan, yaitu hamburan dan absorpsi cahaya yang
melaluinya. Hal ini tidak dapat dihubungkan secara langsung antara kekeruhan
dengan kadar semua jenis zat suspensi, karena tergantung juga kepada ukuran dan
bentuk butir. Secara umum tidak ada hubungan mendasar antara kekeruhan dengan
konsentrasi suspended solid dalam air buangan yang tidak diolah (Metcalf & Eddy,
2003 ).
2.3.2. Parameter Kimia
Menurut Metcalf & Eddy (2003), parameter kimia terdiri dari komponen organik
dan anorganik.
a. Organik
Terdiri dari zat organik, protein, karbohidrat, lemak dan minyak, surfaktan,
komponen volatil organik, dan pestisida.

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

b. Anorganik
Terdiri dari pH, klor, alkalinitas, nitrogen, fosfat, komponen inorganik toksik,
dan gas.
2.3.3. Parameter Biologi
Menurut Metcalf & Eddy (2003), mikroorganisme utama yang dijumpai pada
pengolahan air buangan adalah bakteri, jamur, algae, protozoa, dan virus.
Tabel 2.1 Karakteristik Air Buangan Domestik
Konsentrasi
Kontaminan Satuan
Maksimum Rata-Rata Minimum
Padatan total
mg/l 1200 720 350
(TS)
Padatan terlarut
mg/l 850 500 250
total (TDS)
Padatan
tersuspensi total mg/l 350 220 100
(TSS)
BOD mg/l 400 220 110
COD mg/l 1000 500 250
Nitrogen mg/l 85 40 20
Fosfor mg/l 15 8 4
Klorida mg/l 100 50 30
Sulfat mg/l 50 30 20
Lemak mg/l 150 100 50
Total Coliform 107 - 109 107 – 109 106 – 107
Sumber : Metcalf & Eddy, 2003

Tabel 2.2 Karakteristik Kimiawi Air Buangan Domestik


Konsentrasi
Kontaminan Satuan
Maksimum Rata-Rata Minimum
Total zat padat (TS) mg/l 1200 720 350
Zat padat terlarut
mg/l 850 500 250
(TDS)
Zat padat
mg/l 350 220 100
tersuspensi (TSS)
BOD5 mg/l 400 220 110

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

TOC mg/l 290 160 80


COD mg/l 1000 500 250
N total mg/l 85 40 20
P total mg/l 15 8 4
Cl- mg/l 100 50 30
Alkalinity (CaCO3) mg/l 200 100 50
Lemak mg/l 150 100 50
Sumber : LPM ITB, 1994

Dari tabel tersebut, nilai yang paling sering digunakan yaitu 220 mg/l untuk
BOD, 500 mg/l untuk COD dan 220 mg/l untuk TSS. Analisis yang dilakukan terhadap
air buangan menggunakan dasar 2 peraturan baku mutu air buangan golongan B, yaitu:
1. Perda Jateng No. 10 Tahun 2004 Tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi
Kegiatan Industri.
2. Keputusan MenLH no. 51 Tahun 1995 Tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi
Kegiatan Industri.
3. Peraturan Pemerintah no. 82 tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air.

2.4. Pengolahan Air Buangan


2.4.1 Pengolahan Menurut Tingkat Perlakuan
Berdasarkan tingkat pengolahannya, pengolahan air buangan dibedakan atas :
1. Pengolahan awal ( Primary treatment )
Merupakan proses pendahuluan, dimana proses pengolahan berlangsung secara
fisik. Pada umumnya mampu mereduksi 25 – 30% BOD dan 50 – 60% kadar
suspended solid. Unit pengolahan yang termasuk di dalamnya, antara lain adalah :
a. Screening
Berbentuk seperti penyaring yang terdiri dari bilah-bilah besi yang disusun
secara horizontal dengan sudut tertentu terhadap arah aliran untuk mencegah
masuknya sampah berukuran besar yang dapat menyumbat dalam unit
pengolahan berikutnya.
b. Grit Chamber

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Merupakan suatu bak yang dapat mengendapkan butiran kasar berukuran


kecil seperti pasir, gravel, dan benda berat lainnya.
c. Flow Equalization Tank ( Tangki Ekualisasi )
Dimaksudkan untuk mengendalikan fluktuasi air buangan sebelum masuk ke
unit proses biologis, sehingga tidak menyebabkan shock loading pada
pengolahan biologis.
d. Mixing
Merupakan suatu unit operasi yang dapat mencampurkan secara sempurna
antara substansi yang satu dengan yang lainnya serta mencampurkan
suspensi yang telah ada. Umumnya mixing dilakukan dengan bentuk
flokulasi atau heat transfer.
e. Sedimentasi
Suatu proses pemisahan substansi dari air buangan dengan menggunakan
prinsip gravitasi atau dapat juga dengan membuat suspensi menjadi lebih
berat dari air sehingga dapat mengendap.
(Sugiharto, 1987)

2. Pengolahan Kedua ( Secondary Treatment )


Pada pengolahan ini, terjadi proses biologis dimana pengolahan ini mampu
untuk mereduksi 80 – 95 % dan 90 % kadar suspended solid. Proses pengolahan
biologis merupakan unit proses yang melibatkan mikroorganisme yang
dikembangbiakkan dalam suatu media untuk melakukan transformasi senyawa
kimia yang ada dalam air buangan. Tujuan dari pengolahan tahap kedua ini adalah
untuk menghilangkan bahan-bahan koloid yang tidak dapat mengendap dan
mengurangi bahan organik.
Secara prinsip ada empat kelompok utama proses pengolahan secara
biologis, yaitu :
- Proses aerobik
- Proses anaerobik
- Proses anoksik
- Kombinasi proses aerobik, anoksik, dan anaerobik
Jenis-jenis pengolahan secara biologis yang sering digunakan ialah :

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

a. Rotating Biological Contactor


Prinsipnya hampir sama dengan trickling filter hanya saja media yang digunakan
untuk pertumbuhan bakteri pada proses ini adalah piringan plastik yang diputar pada
poros horizontal dimana sekitar 40 % dari piringan terendam dalam air buangan.
b. UASB
UASB adalah singkatan dari Upflow Anaerobik Sludge Blanket yaitu suatu
reaktor pengolahan limbah sistem biologi menggunakan lumpur mikroba yang
membentuk blanket. Mikroba tersebut bersifat anaerobik yaitu tidak memerlukan
udara ataupun oksigen dalam menguraikan limbah.
UASB banyak digunakan untuk mengolah air limbah industri dan air limbah
domestik dengan presentasi BOD/COD tinggi dalam bentuk terlarut. UASB terdiri
dari selimut lumpur kental yang terflokulasi atau berbutir (slude banket) yang
dikembangkan di dalam suatu reaktor dimana air limbah dialirkan dengan pola up-
flow. Butiran Lumpur (diameter 1-2 mm) tersebut tertahan dalam suspensi dengan
ketebalan tertentu sebagai pertumbuhan biologi aktif sehingga di dalam reaktor
terbentuk tiga lapisan cair terdiri dari : (Anonim, 1998)
a. Bed Lumpur (lapisan terbawah) dengan konsentrasi (40-100) kg VSS/m3
b. Selimut lumpur (lapisan aktif) dengan konsentrasi (15-30) kg VSS/m3
c. Cairan bening (lapisan teratas)
Pada prinsipnya reaktor UASB terdiri dair suatu lumpur yang padat yang
berbentuk butiran. Lumpur atau sludge tersebut harus ditempatkan dalam suatu
reaktor yang didesain dengan aliran ke atas. Air limbah akan masuk melalui dasar
bak secara merata dan mengalir secara vertikal, sedangkan butiran lumpur akan
tetap berada atau tertahan dalam reaktor. Kecepatan upflow harus dipertahankan
sedemikian rupa sehinggga dapat menciptakan pembentukan sludge blanket yang
memberikan area yang luas untuk kontak antara lumpur dan air limbah.
c. Wetland
Constructed wetland adalah wetland buatan yang dikelola dan dikontrol oleh
manusia untuk keperluan filtrasi air buangan dengan penggunaan tanaman, aktifitas

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

mikroba dan prose salami lainnya (Hesket dan Bartholomew, 2001 dalam
Herumurti, 2005). Constructed wetland adalah pengolahan limbah secara alami yang
terdiri atas tiga faktor utama:
a. Area yang digenangi air dan mendukung hidupnya aquatic plant jenis
hydrophyta
b. Media tumbuh berupa tanah yang selalu digenangi air
c. Media jenuh air
(Sugiharto, 1987).
3. Pengolahan Ketiga ( Tertiary Treatment )
Pengolahan ketiga adalah proses pengolahan yang digunakan untuk memproses
sludge yang dihasilkan pada pengolahan kedua. Pengolahan ketiga diperlukan
karena sludge terjadi tidak dapat dibuang begitu saja tanpa dilakukan pengolahan
karena masih mengandung kontaminan yang merugikan. Proses pengolahan
terhadap sludge tersebut antara lain:
a. Sludge Thickening, berfungsi untuk meningkatkan kandungan solid dalam
lumpur dengan cara memisahkan sebagian cairan yang terdapat dalam lumpur.
Akibat gravitasi, solid yang terkandung dalam lumpur akan masuk ke dalam bak
thickener akan mengendap dan melekat serta membentuk zona pengendapan dan
zona pemekat atau pengental ( thickening ). Supernatant hasil pengolahan ini
dikembalikan ke reaktor untuk diproses kembali.
b. Sludge Digestion, dilakukan untuk menstabilkan lumpur dengan proses
anaerobik.
c. Sludge Drying Bed, berfungsi untuk mengeringkan lumpur dari digester, paling
banyak diterapkan karena investasinya murah dan tidak menuntut pengontrolan
ekstra.
d. Conditioning, merupakan proses untuk mempertinggi penghilangan air dari
lumpur dan juga berguna untuk menghilangkan bau, mengubah sifat lumpur.
e. Incineration dan Wet Oxidation, digunakan untuk mengurangi kandungan
organik dan mengurangi volume lumpur, cara ini mampu mengurangi lumpur
sehingga menjadi sangat sedikit dan mudah membuangnya.

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

f. Final Sludge dan Ash Disposal, hasil akhir dari pengolahan lumpur dapat berupa
lumpur kering, tanah atau bau. Hasil tersebut diharapkan sudah aman untuk
dibuang dan dimanfaatkan.
4. Pengolahan lanjutan (Advanced Treatment)
Kadangkala konsentrasi efluen yang dihasilkan dari proses secondary treatment
masih belum dapat memenuhi yang diharapkan. Hal ini sering terjadi bila efluen
yang dibuang debitnya lebih besar dari badan air penerima, oleh karena itu
dilakukan perlakuan tambahan. Perlakuan tambahan merupakan pengolahan lebih
lanjut yang dimaksudkan untuk menghilangkan kadar zat tertentu seperti nitrogen
dan fosfor serta senyawa lainnya.
(Sugiharto, 1987)
2.4.2 Pengolahan menurut sifatnya
1. Pengolahan Fisik
Merupakan operasi yang digunakan dalam pengolahan air buangan,
dimana perubahan dilakukan melalui penggunaan gaya fisika atau mekanisme
fisis. Metode ini digunakan untuk menghilangkan zat padat kasar dan terapung
di dalam limbah. Unit-unit pengolahannya, meliputi :
- Screening Chamber
- Grit Chamber
- Sedimentasi
- Comminutor
2. Pengolahan Kimia
Merupakan operasi yang digunakan dalam pengolahan air buangan untuk
menghilangkan atau mengubah kontaminan dengan penambahan bahan kimia.
Metode ini digunakan untuk menghilangkan partikel tersuspensi dan koloidal.
Unit-unit pengolahannya, meliputi :
- Chemical precipitation
- Gas transfer
- Absorbsi
- Ion exchange
- Desinfeksi, dll
3. Pengolahan Biologis

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Merupakan operasi yang digunakan dalam pengolahan air buangan untuk


menghilangkan kontaminan dengan memanfaatkan aktifitas biologis. Metode ini
digunakan untuk menyisihkan kandungan organik yang dapat terurai menjadi
lumpur biologis dan gas.Unit pengolahan biologis meliputi :
a. Pengolahan Aerobik :
- Stabilization pond
- Activated sludge
- Trickling filter
b. Pengolahan Anaerobik :
- Digestion dari sewage sludge
- Anaerobic pond, dll
c. Pengolahan Fakultatif :
- Kolam aerasi fakultatif
Sebelum menentukan alternatif sistem pengolahan air buangan maka perlu
dilakukan inventarisir rencana bangunan pengolah air buangan. Tujuan
inventarisasi bangunan pengolah air buangan ini adalah untuk menjelaskan jenis
unit-unit pengolah air buangan secara kuantitatif maupun kualitatif yang mungkin
disertai pula dengan kriteria disain masing-masing unit.
Unit-unit tersebut terdiri dari unit operasi dan unit proses yang masing-
masing berdiri sendiri tetapi mempunyai hubungan yang erat. Unit operasi
dimaksudkan untuk mengolah air buangan secara fisik, sedangan unit proses
merupakan unit-unit yang mengolah air buangan secara biologi atau secara
kimiawi.
Pengolahan air buangan di daerah perkotaan ditujukan untuk mengolah air
yang telah dikumpulkan oleh jaringan saluran (sewer) sebelum dibuang ke badan
air penerima. Secara umum unit pengolahan yang digunakan untuk air buangan
baku adalah seperti pada Tabel 2.4.

Tabel 2.3 Unit Pengolahan Air Buangan Baku


No. Kontaminan Unit Pengolahan
- Sedimentasi - Filtrasi
1 Zat padat tersuspensi
- Koagulasi/sedimentasi

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

No. Kontaminan Unit Pengolahan


- Penambahan polimer kimia - Floatasi
- Screening, comminution - Land tratment
- Intermitten
sand filtrasi
- Activated sludge
- Rotating
2 Organik yang terurai - Trickling filter
biological
- Aerated lagon
- Land
treatment
-
- Chlorinasi Hipochlorinasi
3 Pathogen
- Ozonisasi - Land
treatment

- Ammonia
Nutrien: - Nitrifikasi, denitrifikasi
stripping
a. Nitrogen - Land treatment
4 - Suspended-growth
- Khlorinasi
- Fixed film
- Ion exchange
b. Phosphor - Penambahan garam
-Koagulasi,
- Pemisahan biokimia
sedimentasi
Organik yang sukar - Carbon adsorbsi - Land
5
diuraikan - Tertiery ozonisasi treatment
6 Logam berat - Presipitasi kimia - Ion exchange
- Ion exchange -
7 Zat organic terlarut
- Reverse osmosis Elektrodialisis
Sumber : Metcalf & Eddy, Inc., 2003

2.5. Pengolahan Tingkat Pertama


Pengolahan tingkat pertama ditujukan untuk menghilangkan atau menyisihkan
bahan-bahan yang dapat mengganggu atau merusak peralatan/unit pengolahan maupun
proses pengolahan selanjutnya dan mengurangi beban pengolahan pada unit berikutnya.
2.5.1 Sumur Pengumpul (Sump Well)
Sumur Pengumpul berfungsi untuk menampung air buangan dari ujung pipa
induk air buangan sebelum dialirkan ke sistem pengolahan. Perencanaan sumur
pengumpul tergantung pada sistem pemompaan, yang berkaitan dengan fluktuasi air
buangan dan waktu detensi atau lamanya air buangan berada dalam sumur pengumpul.

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

2.5.2 Saluran Pembawa


Saluran pembawa berfungsi untuk menyalurkan air buangan dari satu unit
pengolahan ke unit pengolahan berikutnya.
2.5.3 Bar Screen
Berfungsi untuk memisahkan atau menyaring benda-benda kasar dari air
buangan baik yang mengapung maupun yang melayang. Benda-benda kasar tersebut
harus disingkirkan karena dapat mengganggu proses pengolahan dan dapat merusak alat
mekanis.
Bar screen umumnya dibuat dari batangan besi atau baja yang
dipasang sejajar membentuk kerangka yang kuat.
Kisi-kisi tersebut dipasang melintang pada saluran sebelum unit
pengolahan selanjutnya membentuk sudut 300 sampai 450 terhadap bidang datar
saluran. Kisi yang umum dipakai adalah fixed bar dan movable racks.
Kehilangan tekanan pada batang dapat dihitung berdasarkan persamaan :
W 4/3
hL= ( ) hvsin(2.5)
d
Di mana :
hL = kehilangan tekanan pada kisi-kisi (m)
 = faktor bentuk batang “faktor Kirschmer”
W = lebar atau diameter batang (m)
d = jarak bukaan antar batang (m)
hv = velocity head (m)
Tabel 2.4 Kriteria Desain Bar Screen
No Parameter Simbol Satuan Besaran
1 Jarak bukaan antar batang D mm 25 – 50
2 Lebar penampangbatang W mm < 25,4
3 Panjang penampang batang P mm 25 – 50
4 Sudut kemiringan batang Θ derajat 30 – 45
5 Kecepatan aliran Vs m/det 0.3 – 0.9
6 Volume material V m3/106m3 3.5 – 8
7 Maksimum head loss hL mm 150
Sumber : E. Seely, 2000
Tabel 2.5 Faktor Krischmer
No Bentuk Penampang Batang Β

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

No Bentuk Penampang Batang Β


1 Persegi 2.42
2 Persegi, sisi depang ½ lingkaran 2.83
3 Lingkaran 1.79
4 Persegi, sisi belakang ½ lingkaran 1.67
5 Bulat telur 0.76
Sumber : Metcalf & Eddy, Inc., 2003 .
2.5.4 Grit Chamber
Grit Chamber berfungsi untuk memisahkan grit, pasir, biji-bijian, organik yang
sudah memadat, kerikil, dan partikel padat lainnya, yang mempunyai specific gravity
dan kecepatan mengendap jauh lebih besar dibandingkan Ss organik biodegradable.
Pemisahan dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terbawanya pasir ke
bak pra sedimentasi, sehingga mengganggu penanganan endapandan untuk mencegah
timbulnya gangguan pada pengolahan selanjutnya, seperti melindungi gerakan alat
mekanis seperti pompa, mencegah penyumbatan pipa dan saluran serta mengurangi
akumulasi materi lainnya.
Hal terpenting dalam disain grit chamber adalah kecepatan aliran (horizontal
flow) harus konstan, sehingga dibutuhkan suatu alat ukur pengontrol flow, yaitu
proportional weir atau parshall flume. Kecepatan horisantal jika lebih besar dari 0.75
ft/detik maka sebagian pasir atau kerikil akan terbawa aliran. Sebaliknya jika
kecepatannya kurang dari 0.75 ft/detik bahan-bahan organik turut terendapkan sehingga
menyebabkan dekomposisi.
Volume pasir yang terakumulasi di bawah/dasar bak secara rata-rata berdasarkan
besarnya volume air buangan rata-rata yang melalui unit (m3 pasir/m3 air buangan).
Pasir dan partikel yang terendapkan secara periodik dipisahkan dari dalam bak. Untuk
mempermudahkannya digunakaN pompa penguras pasir movable.

Tabel 2.6 Kriteria Desain Grit Chamber


No Parameter Simbol Satuan Besaran
1 Diameter pasir Φ mm > 0.2
2 Kecepatan horisantal Vh m/det 0.26-0.44
3 Waktu detensi Td detik 20-60

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

4 Kecepatan mengendap pasir Vs m/menit 1.0-1.3


5 Volume pasir Vol m3/103m3 0.025-0.1
Sumber : Parker,1978
2.5.6 Tangki Aliran Rata-rata (TAR)
Tangki aliran rata-rata bertujuan untuk membuat aliran menjadi konstan (rata-
rata). Fungsi tangki ini adalah untuk menghindari masalah-masalah operasi yang
mungkin timbul akibat fluktuasi aliran dan konsentrasi selama 24 jam pengaliran.
Keuntungan yang didapat dengan menggunakan TAR adalah konsentrasi air
terolah akan lebih baik dan menghindari terjadinya shock loading.
TAR dapat diletakkan secara in-line (langsung sebagai bagian dari flow
diagram) dan off-line (tidak langsung berada pada sistem pengolahan).
TAR in-line :

Fluktuasi TAR Rata-rata


pomp
Gambar 2.1 TARaIn-Line
TAR off-line :
debit
Fluktuasi Rata-rata
minimum

TAR
pomp
a
Gambar 2.2 TAR Off-Line
2.5.7 Bak Pengendap Pertama
Bak pengendap pertama berfungsi untuk mengurangi partikel padat
dalam air buangan dengan cara mengendapkan pada suatu tangki selama waktu
tertentu sehingga terendapkan sekaligus mengurangi kekeruhan dan beban
organik.
Lumpur yang dihasilkan dari bak pengendap I akan diolah lebih lanjut pada
proses penanganan lumpur, sehingga volume lumpur dapat diperkecil. Sedang fluida
atau supernatannya keluar melalui sistem pelimpah yang ditampung pada saluran
penampung/gullet menuju ke unit pengolahan biologi.
Faktor penentu untuk mendesain Bak Pengendap Pertama adalah:
1. overflow rate

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

2. kedalaman tangki
3. waktu detensi
Kriteria desain untuk bak pengendap I terlihat pada Tabel 2.8
Tabel 2.7 Kriteria Desain Bak Pengendap I
No Parameter Simbol Satuan Besaran
1 Waktu detensi Td Jam 1–2
2 Overflow rate Vo m3/m2 hari 30 – 50
3 Beban pelimpah m3/m2 hari 124 – 370
4 Kedalamam D M 3–6
Sumber : Syed R. Qasim, 1999

2.6. Pengolahan Tingkat Dua


Pengolahan tingkat dua ditujukan untuk penyisihan substansi organik
biodegradable, baik yang berada dalam bentuk koloid maupun terlarut.
Pemilihan pengolahan yang digunakan didasarkan pada :
1. Efisiensi pengolahan yang diinginkan
2. Karakteristik operasional yang dikehendaki
3. Ketersediaan lahan
4. Evaluasi ekonomi untuk keseluruhan biaya operasi

2.6.1 Kolam Stabilisasi atau Waste Stabilization Ponds (WSPs)


Kolam Stabilisasi atau Waste Stabilization Ponds (WSPs) merupakan cara
pengolahan biologis dengan memanfaatkan media kolam / saluran sebagai media
perkembangbiakan mikroorganismenya. . Kolam stabilisasi dibentuk pada tanah
cekungan, yang terdiri pada satu lokasi dengan satu atau lebih secara seri antara anaerob
dan fakultatif. Namun, hal ini tergantung pada kualitas dan kuantitas limbah diperlukan
yang akan berdampak pada ukuran kolam pematangan. Kolam stabilisasi sangat cocok
untuk negara tropis dan subtropis karena sinar matahari dan suhu lingkungan
merupakan faktor utama dalam proses kinerja mikroorganisme. Sebelum dilakukan
pengolahan pada kolam stabilisasi, air limbah pertama kali mengalami perlakuan
awal, penyaringan, dan pemindahan pasir lumpur–untuk membuang padatan besar dan
berat.

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Pada dasarnya, pengolahan primer dilakukan di kolam anaerobik, sekunder pada


kolam fakultatif, dan pengolahan tersier di kolam pematangan. Anaerobik dan kolam
fakultatif bertujuan untuk menghilangkan bahan organik. adalah kolam aerobik atau
kolam maturasi (pematangan).kolam ini terjadi proses pematangan atau pembersihan
terakhir air limbah dari pencemar berupa padatan tersuspensi, zat organik terlarut dan
yang utama adalah reduksi bakteri. (Metcalf & Eddy, Inc., 2003)
Tabel 2.8 Kriteria Desain Kolam Stabilisasi
No Parameter Satuan Besaran
1 Konsentrasi SS efluen Mg/l 40-100
2 Kedalaman M 1,2-2,5
3 Waktu detensi Hari 5-30
4 Efisiensi Penyisihan BOD % 80-95%
Temperature air pada periode 0
5 C 10C
critical
0C
6. Temperatur 200C
(ha)
7. Ukuran 1-4
kg/ha.hari
8. Beban BOD 15-18
Sumber : shun dar lin,2001
Skemagambar :
Secondary Clarifier
Influent
Kolam Kontak Effluent

Kolam Reaerasi
(Stabilisasi) Lumpur Buangan
Lumpur
Titik Alternatif Kembali
Buangan Lumpur

Gambar 2.3 Kolam Stabilisasi


(Sumber: Metcalf & Eddy, 1991)
2.6.2 Bak Pengendap II (Clarifier)
Bak pengendap II berfungsi untuk mengendapkan zat padat yang terdapat dalam
air buangan setelah melalui pengolahan biologis. Pada unit clarifier ini terjadi
pengendapan padatan hasil dari proses biologi pada unit aerasi yaitu berupa flok – flok.
Bak pengendap ini dilengkapi dengan pengeruk lumpur mekanis. Lumpur yang

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

terkumpul dipompakan ke unit pengolahan lumpur, sedang supernatannya dialirkan


menuju bak desinfeksi sebelum dibuang ke dalam air penerima.

2.7. Pengolahan Tingkat Tiga


Pengolahan ini ditujukan untuk menyempurnakan efluen hasil pengolahan untuk
suatu tujuan tertentu, dalam hal ini ditujukan untuk penyempurnaan kualitas, misalnya
ditujukan untuk menghilangkan kandungan nitrat-nitrit dan fosfat dalam air buangan.
2.7.1 Pengolahan Lumpur
Lumpur yang dihasilkan dari pengolahan tingkat satu, dua dan tiga diolah dalam
unit pengolahan lumpur, dengan tujuan untuk :
1. Mereduksi volume lumpur
2. Mengontrol proses pembusukan
3. Menstabilkan kondisi Lumpur
4. Memanfaatkan lumpur untuk keperluan lain
Pengolahan lumpur yang dpat dilakukan antara lain:
1. Sludge Drying Bed
Sludge drying bed berfungsi untuk mengurangi kadar air dalam lumpur atau
sebagai alat pengering lumpur yang dihasilkan dari sludge digester. Setelah
dikeringkan, lumpur padatan akan dihilangkan dan dibuang ke landfill atau untuk
pelembab tanah. Keuntungan dari SDB adalah biaya rendah, menghasilkan produk
dengan kualitas tinggi, memerlukan perhatian yang lebih. Untuk SDB, terdapat lima tipe
yang digunakan, yaitu conventional sand ; paved; artificial media; vacuum-assisted;
solar ( Metcalf & Eddy, 2003 ).

Tabel 2.9 Kriteria Desain Sludge Drying Bed


No Parameter Satuan Besaran
1 Tebal Lapisan Lumpur Mm 200-300
2 Kedalaman bed Cm 30-60
3 Waktu pengeringan Hari 7

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza
TUGAS BESAR
PERENCANAAN BANGUNAN PENGOLAHAN AIR BUANGAN

Kadar air lumpur hasil


4 % 60%
pengeringan
Sumber : Metcalf & Eddy, 2003

Rosalia Amara Puspita I-


Fitri Mairiza