Sei sulla pagina 1di 60

MODUL PENGADAAN TANAH

PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

MATERI POKOK 1

PERENCANAAN PENGADAAN TANAH

Mampu memahami mekanisme perencanaan dalam tahapan pengadaan tanah


(land acquisition).

A. Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah

1. Maksud dan Tujuan

Dokumen perencanaan pengadaan tanah ini mencakup ketentuan administratif, ketentuan


teknis, dan tahapan penyusunan dokumen perencanaan pengadaan tanah yang
diperuntukkan bagi tim yang dibentuk/ditunjuk oleh instansi yang memerlukan tanah untuk
keperluan infrastruktur PUPR.

Sebagai acuan bagi pejabat yang ditunjuk untuk melaksanakan pengadaan tanah dan
merupakan prasyarat untuk mengajukan permohonan penetapan lokasi pada tahap persiapan
pengadaan tanah oleh Gubernur.

2. Acuan Normatif
a. Undang-Undang No.02 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum.
b. Undang-Undang No.26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.
c. Undang-Undang No.02 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang No.02 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-
Undang No. 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintahan Daerah Menjadi Undang-
Undang.
d. Peraturan Pemerintah No.104 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Perubahan
Peruntukan dan Fungsi Kawasan Hutan.
e. Peraturan Pemerintah No.105 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas
Peraturan Pemerintah No.24 Tahun 2010 Tentang Penggunaan Kawasan Hutan.
f. Peraturan Pemerintah No.108 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan
No.28 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan
Pelestarian Alam.
g. Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2012 Tentang Izin Lingkungan.
h. Peaturan Presiden No.71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah
Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Beserta Perubahannya.
i. Peraturan Presiden No.15 Tahun 2015 Tentang Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat.
j. Peraturan Menteri No.15 Tahun 2015 Tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
k. Peraturan Kepala BPN No.05 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 1


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

l. Peraturan Kepala Agraria dan Tata Ruang No.06 Tahun 2015 Tentang Perubahan
Atas Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum.
m. Peraturan Menteri Keuangan No.10/PMK.No.02/2016 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 13/PMK.02/2013 Tentang Biaya Operasional
dan Biaya Pendukung Penyelenggaraan Pegadaan Tanah Bagi Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara.

3. Ketentuan-Ketentuan
a. Kewenangan Penyusunan Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah; Oleh Pejabat
Pimpinan Tinggi Pratama atau Kepala UPT yang Berwenang dalam Pengadaan
Tanah dalam Setiap Unit Oranisasi.

b. Persyaratan Dokumen Perencana Pengadaan Tanah memuat;


 Makud dan tujuan rencana pembangunan;

Dimaksudkan untuk menguraikan gambaran secara umum yang ingin dicapai dari
rencana pembangunan untuk kepentingan umum, dan memiliki tujuan untuk
menguraikan hal – hal spesifik yang akan dicapai untuk dapat mewujudkan maksud
rencana pembangunan untuk kepentingan umum.

Manfaatnnya ialah dapat menguraikan kegunaan yang akan diperoleh oleh


masyarakat umum dari rencana pembangunan untuk kepentingan umum, dan
memiliki dasar uraian maksud, tujuan, dan manfaat yang berdasarkan pada analisa;
rencana pembangunan jangka menengah nasional, provinsi, dan kabupaten/kota;
rencana strategis kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat; dan
rencana kerja kementerian pekerjaan umum dan perumahan rakyat.

 Keseusaian dengan RT RW dan rencana pembangunan nasional atau daerah;

Lokasi rencana pembangunan yang berdasarkan pada rencana tata ruang wilayah
nsional, provinsi, dan/atau kabupaten kota, dan prioritas pembangunan (RPJM,
rencana kerja kementerian PUPR, dan rencana strategis kementerian PUPR).

Kesesuaian lokasi rencana pembangunan dengan RT RW dan prioritas


pembangunan dapat diperoleh dari; Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan
instansi terkait lainnya; Untuk rencana pembangunan yg belum ditetapkan dalam
RTRW dan/atau prioritas pembangunan, maka Kementerian PUPR segera
berkoordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Daerah dan Instansi terkait lainnya
untuk menyelesaikan permasalahan tsb; dan Dokumen perencanaan pengadaan
tanah yang dilampiri dengan peraturan RTRW dan prioritas lokasi rencana
pembangunan yang telah ditetapkan lengkap dengan peta.

 Letak tanah;

Menggunkan wilayah administrasi negara pengadaan tanah berada (Provinsi,


Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Desa atau Kelurahan); dituangkan dalam peta
rencana lokasi pembangunan dengan menggunakan skala 1:50.000; dan peta
rencana lokasi merupakan peta rupa bumi yang memuat batas wilayah administrasi
dari provinsi, kabupaten/kota, dan desa/kelurahan.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 2


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

 Luas tanah yang dibutuhkan;

Perkiraan luas tanah yang dibutuhkan dalam pengadaan tanah dalam satuan m2;
dan perkiraan luas tanah diuraikan berdasarkan perkiraan luas tanah yang
dibutuhkan per wilayah administrasi rencana pengadaan tanah berada, terdiri dari:
Desa/keluarahan, Kecamatan, Kabupaten/Kota, dan Provinsi.

 Gambar umum status tanah;

Menguraikan data awal mengenai penguasaan dan pemilikan atas tanah; data
pemilik yang berhak (bidang tanah, nama pemilik, status kepemilikan, peruntukan
tanah, dan objek pengadaan lahan lainnya); pengumpulan data dilaksanakan
melalui survei lapangan & wawancara langsung dgn masyarakat yang terindikasi
terkena pengadaan tanah; dan data pemilik yang berhak dituangkan dalam bentuk
tabel & peta data awal yg memuat informasi bidang tanah, nama pemilik & objek
pengadaan tanah lainnya.

 Perkiraan waktu pelaksanaan pengadaan tanah;


o Jangka waktu tahap persiapan: sejak pembuatan dokumen perencanaan
pengadaan tanah sampai penetapan dokumen perencanaan;
o Jangka waktu tahap perencanaan menguraikan jangka waktu
pelaksanaan: sejak diterimanya dokumen perencanaan pengadaan tanah
oleh gubernur sampai pengumuman penetapan lokasi.
o Jangka waktu tahap pelaksanaan menguraikan perkiraan jangka waktu
pelaksanaan kegiatan: sejak diterimanya permohonan pelaksanaan
pengadaan tanah oleh kepala kanwil bpn sampai penyerahan dokumen
pengadaan tanah ke kementerian PUPR.
o Jangka waktu tahap penyerahan hasil menguraikan perkiraan jangka
waktu pelaksanaan kegiatan: sejak pengajuan pensertipikatan oleh
kementerian PUPR sampai dikeluarkannya sertifikat.

 Perkiraan jangka waktu pelaksanaan pembangunan;

Menguraikan perkiraan waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pembangunan;


waktu pelaksanaan adalah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap
tahapan pekerjaan pembangunan.

 Rencana penganggaran;
o Biaya operasional dan biaya pendukung ialah biaya yang diperlukan untuk
penyelengaraan pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan
umum (PMK No.13/PMK.02/2013 dan PMK No.10/PMK.02/2016).
o Besaran satuan biaya yang digunakan untuk biaya operasional dan biaya
pendukung dalam rangka kegiatan pada tahapan perencanaan, persiapan,
pelaksanaan & penyerahan hasil.
o Menguraikan besaran dana, sumber dana, dan rincian alokasi dana untuk
perencanaan, persiapan, pelaksanaan, penyerahan hasil, administrasi dan
pengelolaan, serta sosialisasi.

 Perkiraan nilai tanah.

Menguraikan perkiraan nilai ganti kerugian obyek pengadaan meliputi tanah, ruang
atas tanah dan bawah tanah, bangunan, tanaman, benda yang berkaitan dengan
tanah, dan/atau kerugian lain yang dapat dinilai; dihitung berdasarkan standar
penilaian nilai ganti kerugian pengadaan tanah bagi pembangunan untuk

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 3


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

kepentingan umum (SPI 306) atau standar penilaian tanah lainnya; dan penilaian
dapat melibatkan penilai publik, instansi terkait, atau lembaga lainnya yang
berkompeten dalam penilaian tanah.

4. Pembiayaan Penyusunan Dokumen

Sumber dana pembiayaan dan mekanismenya dalam pengadaan tanah bagi pembangunan
untuk kepentingan umum ialah;

a. Biaya operasional dan biaya pendukung yang berasal dari APBN diatur dengan
Peraturan Menteri Keuangan.
b. Biaya operasional dan biaya pendukung yang berasal dari APBD diatur dengan
Peraturan Menteri Dalam Negeri.
c. Biaya operasional dan biaya pendukung pengadaan tanah bagi pembangunan untuk
kepentingan umum yang dilaksanakan oleh Badan Hukum Milik Negara/Badan
Usaha Milik Negara yang mendapatkan penugasan khusus, mengacu pada
Peraturan Menteri Keuangan.
d. Biaya operasional dan biaya pendukung pengadaan tanah yang berasal dari BLU
(Badan Layanan Umum) diatur dengan Peraturan Presiden No.30 Tahun 2012
e. Biaya operasional dan biaya pendukung pengadaan tanah yang berasal dari LMAN
(Lembaga Manajemen Aset Negara) diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan
No.54/PMK.01/2017 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga, Manajemen Aset
Negara, memiliki peranan untuk melaksanakan perencanaan dan pelaksanaan
pengadaan lahan/tanah untuk proyek strategis nasional sebagaimana diatur dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan, monitoring dan evaluasi pendanaan
pengadaan lahan/tanah, sertifikasi pengadministrasian tanah, serta penanganan
perkara dan litigasi.

Mekanisme pembiayaan dapat dilakukan secara swakelola (pejabat pimpinan tinggi pratama
atau kepala upt, membentuk tim penyusun dengan surat keputusan), dan kontraktual (ditunjuk
konsultan sesuai ketentuan peraturan pengadaan barang/jasa).

5. Peta Rencana Lokasi Pembangunan dan Skala Peta


a. Peta; suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia, yang berada
di atas /di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar
dengan skala tertentu.
b. Peta lokasi rencana pembangunan; dibuat pada peta rupa bumi yang minimal
memuat batas wilayah administrasi dari provinsi, kab/kota, & desa/kelurahan.
c. Skala suatu peta; angka perbandingan antara jarak dua titik diatas peta dengan jarak
tersebut diatas permukaan bumi. skala peta lokasi rencana pembangunan minimal
menggunakan skala 1 : 50.000 (sni 6502.3:2010).

6. Feasibility Studi
a. Bendungan; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Nomor
27/PRT/M/2015 tentang Bendungan.
b. Saluran Irigasi; Aturan teknis yang mengatur tentang Saluran Irigasi.
c. Bendungan Air; Aturan teknis yang mengatur tentang Bangunan Air.
d. Jalan, Jembatan, dan Terowongan; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum tentang
Persyaratan Teknis Jalan dan Kriteria Perencanaan Teknis Jalan, yaitu Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum Nomor 19/PRT/M/2011.
e. Instalasi Air Minum dan Tempat Pembuangan Akhir; Peraturan Menteri Pekerjaan
Umum Nomor: 18/PRT/M/2007 tentang Penyelenggaraan Pengembangan Sistem
Penyediaan Air Minum.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 4


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

f. Tempat Pembuangan Akhir; Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:


03/PRT/M/2013 tentang Penyelenggaraan Prasarana dan Sarana Persampahan
Dalam Penanganan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah
Tangga.
g. Rumah Susun Umum Sewa; Aturan teknis yang mengatur tentang Rumah Susun
Umum Sewa.
h. Perkantoran dan Fasilitas Umum PUPR Lainnya; Aturan Teknis Yang Mengatur
Tentang Perkantoran Dan Fasilitas Umum PUPR.

7. Dokumen AMDAL

AMDAL merupakan kajian mengenai dampak penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang
direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Ketentuan dokumen amdal terdapat pada
Undang-Undang No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup dan Peraturan Pemerintah No.27 Tahun 2012 Tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.

8. Izin Lingkungan

Izin Lingkungan merupakan izin yang diberikan kepada setiap orang yang melakukan usaha
dan/atau kegiatan yang wajib amdal atau ukl-upl dalam rangka perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup sebagai prasyarat untuk memperoleh izin usaha dan atau kegiatan.
Ketentuan izin lingkungan terdapat pada Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 2012 Tentang
Izin Lingkungan.

9. Prosedur Penyusunan

a. Tahap Persiapan
 Pemahaman KAK (Kerangka Acuan Kerja): latar belakang, maksud dan tujuan
pekerjaan, standar dokumen, metodologi pelaksanaan pekerjaan, pelaporan,
hasil pekerjaan.
 Pengumpulan Dokumen pendukung:
o Dokumen pendukung; peraturan, kebijakan, studi-studi, atau kajian yang
terkait dengan rencana pembangunan infrastruktur terkait.
o Digunakan sebagai data awal dalam melaksanakan persiapan,
pengumpulan data, survey lapangan, dan analisa data penyusunan
dokumen perencanaan pengadaan tanah.
o Pengumpulan dokumen rapat melalui permintaan dokumen secara
resmi/tertulis atau melalui koordinasi langsung dengan pihak tertentu.
o Penerimaan dokumen disertai bukti penerimaan dari pihak yang
menyerahkan.
 Survey pendahuluan:
o Pengumpulan data premier; wawancara tatap muka (recalling) terhadap
target dengan menggunakan daftar isian atau question, wawancara/diskusi
(deep interview) dengan beberapa informan kunci guna melengkapi dan
melakukan pendalaman informasi yang telah diperoleh sebelumnya, data
premier berupa nama pihak yang berhak/pemilik, status kepemilikan, letak
tanah, luas tanah, bangunan/tanaman serta benda lain yang terkena lokasi
pembangunan.
o Pengumpulan data sekunder; dengan cara mengumpulkan dokumen-
dokumen terkait dengan rencana pembangunan.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 5


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

 Verifikasi kesesuaian dengan RT/RW:


o Pengecekkan lokasi rencana pengadaan tanah (sampai tingkat administrasi
desa/kelurahan) dengan rencana tata ruang wilayah nasional, provinsi,
dan/atau kab/kota.
o Koordinasi dengan badan perencanaan pembangunan daerah, dinas tata
ruang, atau instansi terkait lainnya.
o Hasil verifikasi dituangkan dalam surat keterangan atau berita acara
kesesuaian lokasi rencana pembangunan dengan RT/RW
 Penyusunan RMP/RMK; berpedoman pada peraturan Menteri Pekerjaan Umum
nomor 04/PRT/M/2009 Tentang Sistem Manajemen Mutu Departemen
Pekerjaan Umum.
b. Tahap Pengumpulan Data, Pengelolaan, dan Analisis Penyusunan Instrumen Survei
memiliki tahapan dalam penyusunan instrument, pengambilan dokumentasi, dan
pendataan kepemilikan tanah (objek dan subjek tanah);
o Mekanisme penentuan sasaran survey; responden individual (pihak yang
berhak), obyek/subyek fasilitas umum
o Instrument survei:
1) Daftar isian pihak yang berhak; identitas pemilik lahan (nama, alamat,
pekerjaan, dll)
2) Daftar isian data obyek pengadaan tanah; luas lahan yang dimiliki dan
yang terkena dampak pembangunan, lokasi lahan, batas-batas
bidang tanah, aksesibilitas lokasi lahan, kondisi lahan, peruntukan/
penggunaan lahan, status dan sistem pengelolaan, lahan, status
kepemilikan, harga tanah, bangunan (luas bangunan, tipe bangunan,
lantai bangunan), jenis tanaman, jenis obyek lain.
 Metode Prakiraan Besaran Dampak:
1) Dampak kecil; tidak berpotensi mengganggu/menghambat proses
pembebasan tanah yang terkena dampak.
2) Dampak sedang; berpotensi mengganggu/menghambat proses
pembebasan tanah yang terkena dampak namun mempunyai potensi
untuk diselesaikan.
3) Dampak besar; berpotensi mengganggu/menghambat secara
signifikan proses pembebasan tanah yang terkena dampak.
 Daftar Isian Fasos/Fasum:

Data fasos/fasum, prediksi/potensi dampak, Aspirasi, dan prediksi besaran


dampak dari rencana pembangunan terhadap lingkungan dan masyarakat
sekitar.

Data fasos/fasum berisikan nama fasos/fasum, ukuran, lokasi fasos/fasum,


fungsi utama, fungsi lain (sekunder), identitas pemilik/penanggung jawab
(intansi, penanggungjawab, jabatan, telp); prediksi/potensi dampak berisikan
fisik/lingkungan dan sosial.

c. Tahap Penyusunan Draft memuat;


 Pengumpulan dokumen, data sekunder dan peta terkait;
 Pengumpulan dan pembuatan peta;
 Pelaksanaan survey subjek dan objek pengadaan tanah yang terkena rencana
pembangunan;
 Pengolahan dan analisis data.

d. Tahap Finalisasi memuat;


 Konsultasi dengan tim teknis;
 Pembahasan dengan pemberi tugas dan instansi terkait;

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 6


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

 Perbaikan laporan, verifikasi, dan serah terima (dari tim penyusun ke Satker);
 Pengesahan dokumen perencanaan pengadaan tanah.

B. Latihan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1. Apa yang dimaksud dengan Pra Feasibility Study dan Feasibility Study?
2. Apa saja tinjauan teknis yang diperlukan dalam Pra Feasibility Study?
3. Apa fungsi dari Pra Feasibility Study?
4. Apa maksud dan tujuan dari Studi AMDAL?

C. Rangkuman

Kegiatan perencanaan merupakan tahap awal dalam penyelenggaraan Pengadaan


Tanah Untuk Pembangunan Jalan, oleh karena itu perlu disiapkan dokumen
perencanaan yang dilengkapi dengan dokumen Pra Studi Kelayakan, Studi Kelayakan,
Studi Lingkungan dan Studi Tambahan lainnya yang diperlukan. Pada tahap
perencanaan terdapat titik kritis yang perlu dicermati yaitu bagaimana menyiapkan
dokumen perencanaan pengadaan tanah yang dilengkapi data teknis calon lokasi, data
administrasi dan rencana anggaran yang jelas, akurat dan terkini.

Pendanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum bersumber dari Anggaran


Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dalam hal instansi yang memerlukan tanah
Badan Hukum Milik Negara/Badan Usaha Milik Negera (BHMN/BUMN) yang
mendapatkan penugasan khusus, pendanaan bersumber dari internal perusahaan atau
sumber lain sesuai dengan ketentuan peraturan Perundang-undangan

Pendanaan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum dilakukan


oleh Instansi yang memerlukan tanah, dituangkan dalam dokumen penganggaran,
sesuai peraturan perundang-undangan. Alokasi dana untuk penyelenggaraan
Pengadaan Tanah, terdiri dari biaya Ganti Kerugian, biaya operasional dan biaya
pendukung untuk kegiatan: (a) perencanaan, (b) persiapan, (c) pelaksanaan, (d)
penyerahan hasil, (e) administrasi dan pengelolaan serta (f) sosialisasi.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 7


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

MATERI POKOK 2

PERSIAPAN PENGADAAN TANAH

Mampu memahami mekanisme persiapan dalam tahapan pengadaan tanah


(land acquisition).

A. Kegatan Persiapan Tanpa Keberatan Pihak yang Berhak dan Masyarakat

Persiapan Pengadaan Tanah untuk Pembangunan jalan apabila penyelenggaraannya


berlangsung tanpa ada keberatan dan penolakan Pihak yang Berhak, mencakup 11 kegiatan,
yaitu:

1. Membentuk Tim Persiapan

Tim Persiapan Pengadaan Tanah, beranggotakan:

a. Bupati/Walikota;
b. SKPD Provinsi terkait;
c. Instansi yang memerlukan tanah; dan
d. Instansi terkait lainnya.

Tugas Tim Persiapan meliputi:

1. Melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan.


2. Melakukan pendataan awal lokasi rencana pembangunan.
3. Melaksanakan Konsultasi Publik rencana pembangunan.
4. Menyiapkanpenetapanlokasipembangunan.
5. Mengumumkan penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan 
umum.
6. Melaksanakan tugas lain yang terkait persiapan Pengadaan Tanah 
bagi
pembangunan untuk kepentingan umum yang ditugaskan Gubernur. 


2. Membentuk Sekretariat Tim Persiapan

Untuk kelancaran tugas Tim Persiapan, Gubernur membentuk Sekretariat Persiapan


Pengadaan Tanah, yang berkedudukan di Sekretariat Daerah Provinsi.

Tugas Sekretariat adalah menyiapkan:

a. Pemberitahuan awal.
b. Sosialisasi rencana pembangunan kepada masyarakat pada lokasi rencana
pembangunan.
c. Menyiapkan penandatangan Berita Acara Pelaksanaan Sosialisasi.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 8


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

3. Menyiapkan Pemberitahuan Awal

Pemberitahuan rencana pembangunan ditandatangani Ketua Tim Persiapan dan


diberitahukan kepada masyarakat pada lokasi rencana pembangunan paling lama 20
hari kerja setelah Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah diterima Gubernur. 


4. Melaksanakan Pemberitahuan Rencana Pembangunan

Pemberitahuan dapat dilakukan secara langsung, melalui sosialisasi, tatap muka,


surat pemberitahuan atau secara tidak langsung melalui media cetak maupun media
elektronik.
Pemberitahuan memuat informasi mengenai:

 Maksud dan tujuan rencana pembangunan;


 Letak tanah dan luas yang dibutuhkan;
 Tahapan rencana Pengadaan Tanah;
 Perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah;
 Perkiraan jangka waktu pelaksanaan, dan
 Informasi lain yang dianggap perlu.

Hasil pelaksanaan sosialisasi atau tatap muka dituangkan dalam bentuk “notulen”
pertemuan yang ditandatangani Ketua Tim Persiapan atau pejabat yang ditunjuk.

5. Melakukan Pendataan Awal Lokasi Rencana Pembangunan

Pendataan awal lokasi rencana pengadaan tanah meliputi kegiatan pengumpulan data
awal Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah bersama aparat
kelurahan/desa dalam waktu paling lama 30 hari kerja sejak pemberitahuan rencana
pembangunan. 


Hasil pendataan dituangkan dalam bentuk daftar sementara lokasi rencana


pembangunan yang ditandatangani Ketua Tim Persiapan sebagai bahan untuk
pelaksanaan Konsultasi Publik rencana Pembangunan. 


6. Menyiapkan Rencana Konsultasi Publik

Hal-hal yang disiapkan dalam rencana Konsultasi Publik adalah:

a. Pemahaman bersama Tim Persiapan bahwa maksud Konsultasi Publik yaitu


memperoleh kesepahaman dan kesepakatan dalam perencanaan pengadaan
tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum dari Pihak Yang Berhak, yang
diadakan di Kantor
Kelurahan/Desa setempat.
b. Menyiapkan pelaksana Konsultasi Publik adalah Tim Persiapan yang 
dibentuk
Gubernur dengan melibatkan Camat dan Lurah/Kepala Desa setempat. Apabila
pembangunan yang direncanakan akan mempunyai dampak khusus, Konsultasi
Publik dapat melibatkan masyarakat yang akan terkena dampak secara langsung
dari pembangunan. 


7. Melaksanakan Konsultasi Publik Rencana Publik

Konsultasi Publik rencana pembangunan dilaksanakan untuk mendapatkan


kesepakatan lokasi rencana pembangunan dari Pihak yang Berhak dan masyarakat
yang terkena dampak, yang dilaksanakan di tempat rencana pembangunan

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 9


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Kepentingan Umum atau di tempat yang disepakati. Dilaksanakan paling lama 60 hari
kerja sejak tanggal ditandatangani daftar sementara lokasi rencana pembangunan.
Hasil kesepakatan dituangkan dalam bentuk berita acara kesepakatan.

Hal-hal yang disampaikan Tim Persiapan dalam Konsultasi Publik adalah: 


 Maksud dan tujuan rencana pembangunan;


 Tahapan dan waktu proses penyelenggaraan pengadaan tanah;
 Peran Penilai dalam menentukan Ganti Kerugian;
 Insentif yang akan diberikan kepada pemegang hak;
 Obyek yang dinilai Ganti Kerugian;
 Bentuk Ganti Kerugian dan hak dan kewajiban Pihak yang 
Berhak.



Proses Konsultasi Publik dilakukan secara dialogis antara Tim Persiapan dengan
Pihak yang Berhak dan Masyarakat terkena dampak. Pelaksanaan dapat dilakukan
melalui perwakilan dengan Surat Kuasa dari Pihak yang Berhak. Pihak yang Berhak
dan masyarakat terkena dampak atau Kuasanya diberi kesempatan untuk
memberikan pandangan/tanggapan terhadap lokasi rencana pembangunan tersebut.
Kehadiran Pihak yang Berhak dan masyarakat terkena dampak atau Kuasanya
dibuktikan dengan daftar hadir. 


8. Menandatangani Berita Acara Kesepakatan Lokasi

Hasil kesepakatan atas lokasi rencana pembangunan dituangkan dalam Berita Acara
kesepakatan. Namun jika dalam Konsultasi Publik masih ada masyarakat terkena
dampak yang keberatan maka dilakukan Konsultasi Publik Ulang dalam waktu paling
lama 30 hari kerja. 


9. Menetapkan Lokasi Pembangunan

Penetapam lokasi pembangunan dibuat berdasarkan kesepakatan yang telah


dituangkan dalam Berita Acara kesepakatan Tim Persiapanan dengan Pihak yang
Berhak Penetapan lokasi disiapkan Instansi yang memerlukan tanah, dilampiri peta
lokasi pembangunan. 
Penetapan lokasi pembangunan berlaku untuk jangka waktu
dua tahun dan dapat diajukan perpanjangan 1 kali dalam jangka waktu satu
tahun.Pengajuan perpanjangan kepada Gubernur paling lambat 2 bulan sebelum
berakhirnya jangka waktu Penetapan Lokasi Pembangunan. Pengajuan perpanjangan
dilampiri:

a. Keputusan Penetapan Lokasi; dan


b. Alasan pengajuan perpanjangan dilampiri data sisa tanah yang belum
dilaksanakan Pengadaan Tanahnya.

Jika jangka waktu proses penetapan lokasi tidak terpenuhi, dilakukan proses ulang
terhadap sisa tanah yang belum selesai pengadaannya, mulai dari tahap
perencanaan.

10. Mengumumkan Penetapan Lokasi Pembangunan

Pengumuman Penetapan Lokasi pembangunan untuk Kepentingan Umum oleh


Gubernur bersama Instansi yang memerlukan tanah dengan maksud pemberitahuan
kepada masyarakat bahwa di lokasi tersebut akan dilaksanakan pembangunan untuk
Kepentingan Umum. Pengumuman memuat:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 10


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

a. Nomor dan tanggal Penetapan Lokasi;


b. Peta lokasi pembangunan;
c. Maksud dan tujuan pembangunan;
d. Letak dan luas tanah yang dibutuhkan;
e. Perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengadaan Tanah; dan
f. Perkiraan jangka waktu pembangunan. 


Jangka waktu pengumuman Penetapan Lokasi pembangunan untuk Kepentingan


Umum dilaksanakan paling lambat 3 hari sejak diterbitkan Penetapan Lokasi
pembangunan.
Pengumuman dilaksanakan dengan cara:

a. Ditempelkan di kantor Kelurahan/Desa dan atau kantor Kabupaten/Kota dan di


lokasi pembangunan, berlangsung paling kurang 14 hari kerja berturut-turut. 

b. Diumumkan melalui media cetak/surat kabar local/nasional paling sedikit 1 (satu)
kali penerbitan pada hari kerja.
c. Diumumkan melalui media elektronik, pada laman/website pemerintah provinsi
atau pemerintah kabupaten. 


11. Melaksanakan Tugas Lain yang Terkait

Gubernur dapat mendelegasikan kewenangan pelaksanaan tahapan persiapan


Pengadaan Tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum kepada
Bupati/Walikota berdasarkan pertimbangan efisiensi, efektivitas, kondsi geografis,
sumberdaya manusia dan pertimbangan lain.

Permohonan perpanjangan waktu Penetapan Lokasi diajukan oleh Instansi yang


memerlukan tanah kepada Bupati/Walikota atas pertimbangan Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten/Kota. Permohonan perpanjangan diajukan paling lambat 2
(dua) bulan sebelum berakhirnya waktu Penetapan Lokasi Pembangunan.

B. Kegiatan Persiapan Jika Ada Penolakan/Keberatan Rencana Lokasi dari Pihak yang
Berhak Tanpa Mengajukan Gugatan Ke Pengadilan

Jika ada penolakan/keberatan rencana lokasi dari Pihak yang Berhak, tanpa mengajukan
gugatan ke pengadilan, proses persiapan mencakup 20 tahapan kegiatan, yaitu dengan
penambahan kegiatan:

1. Menolak/keberatan lokasi oleh masyarakat 


Apabila ada penolakan/keberatan lokasi oleh masyarakat, maka perwakilan


masyarakat yang diberi Kuasa segera membuat Surat keberatan kepada Instansi yang
memerlukan tanah. Selanjutnya Instansi yang memerlukan tanah.melaporkan
keberatan kepada Gubernur melalui Tim Persiapan. Gubernur memerintahkan Tim
Persiapan untuk melakkukan Konsultasi Publik Ulang.

2. Melaksanakan Konsultasi Publik Ulang

Tim Persiapan melakukan Konsultasi Publik Ulang dalam jangka waktu maksimal 30
hari kerja. Hasil kesepakatan atas lokasi rencana pembangunan dituangkan dalam
Berita Acara kesepakatan Konsultasi Publik Ulang.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 11


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

3. Menolak/keberatan hasil Publikasi Ulang 


Apabila masih ada penolakan/keberatan hasil Konsultasi Publik Ulang, maka


perwakilan masyarakat yang diberi Kuasa segera membuat Surat keberatan kepada
Instansi yang memerlukan tanah. Yang selanjutnya melaporkan keberatan kepada
Gubernur melalui Tim Persiapan. Gubernur segera membentuk Tim Kajian.

4. Instansi melapor - Gubernur Membentuk Tim Kajian 


Tim Kajian dibentuk oleh Gubernur jika ada keberatan terhadap hasil Konsultasi Publik
mengenai rencana pengadaan tanah untuk pembangunan bagi kepentingan umum di
lokasi tertentu
Susunan Tim Kajian adalah sebagai berikut:

a. Sekretaris Daerah Provinsi atau pejabat yang ditunjuk sebagai ketua merangkap
anggota;
b. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional sebagai sekretaris
merangkap anggota;
c. Instansi yang menangani urusan di bidang perencanaan pembangunan daerah
sebagai anggota.
d. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia sebagai
anggota; 

e. Bupati/wali kota atau pejabat yang ditunjuk sebagai anggota; dan
f. Akademisi sebagai anggota.

5. Membentuk Sekretariat Tim Kajian

Untuk kelancaran tugasnya, Ketua Tim Kajian dapat membentuk Sekretariat. 


6. Menginventaris dan Mengkaji Penolakan Masyarakat

Tim Kajian menginventaris masalah yang menjadi alasan keberatan, yang mencakup:
(1) klasifikasi jenis dan alas an keberatan (2) klasifikasi pihak yang keberatan dan (3)
klasifikasi usulan pihak yang keberatan. 


7. Melakukan Klarifikasi dengan Masyarakat

Berdasarkan hasil klasifikasi, Tim Kajian melakukan pertemuan atau klarifikasi dengan
pihak yang keberatan untuk Menyamakan persepsi tentang materi/alasan keberatan
pihak yang 
keberatan; dan Menjelaskan kembali maksud dan tujuan rencana
pembangunan

8. Menyusun Rekomndasi ke Gubernur

Berdasarkan hasil klarifikasi dengan masyarakat, Tim Kajian membuat rekomendasi


diterima atau ditolak keberatan, yang didasarkan atas hasil kajian dokumen keberatan
yang diajukan oleh pihak yang keberatan terhadap: RTRW dan Prioritas
pembangunan yang tercantum dalam RPJM, Renstra dan 
RKP Instansi yang
bersangkutan. 


Rekomendasi dilaksanakan paling lama 14 hari kerja sejak diterima permohonan oleh
Gubernur yang selanjutnya sebagai dasar Surat Keputusan Gubernur menerima atau
menolak keberatan masyarakat. 


PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 12


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

9. Menetapkan Lokasi Pembangunan atau Pindah Lokasi

Jika keberatan masyarakat ditolak, Gubernur menetapkan lokasi pembangunan,


Sebaliknya jika keberatan masyarakat diterima Gubernur memberitahukan kepada
Instansi yang memerlukan tanah untuk mengajukan rencana lokasi pembangunan di
tempat lain. 


C. Kegiatan Persiapan Jika Ada Penolakan/Keberatan Rencana Lokasi dari Pihak yang
Berhak Dengan Mengakukan Gugatan Ke Pengadilan

Apabila penyelenggaraannya berlangsung ada penolakan/keberatan rencana lokasi dari


Pihak yang Berhak, dengan mengajukan gugatan ke pengadilan TUN dan kasasi ke
Mahkamah Agung, maka akan mencakup 27 kegiatan, yaitu dengan penambahan kegiatan:

1. Masyarakat mengajukan gugatan ke Pengadilan TUN

Jika ada keberatan/penolakan hasil Tim Kajian, dalam waktu paling lama 30 hari kerja,
masyarakat mengajukan gugatan ke Pengadilan TUN.

2. Proses di peradilan Tara Usaha Negara/TUN

Keberatan/penolakan hasil Tim Kajian akan diproses di pengadilan Tara Usaha


Negara/TUN dalam waktu paling lama 30 hari kerja akan diputuskan oleh pengadilan
TUN.

3. Gugatan ditolak diajukan Kasasi ke Mahkamah Agung

Apabila putusan Pengadilan TUN menolak gugatan masyarakat, dalam jangka waktu
paling lama 14 hari masyarakat dapat mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung.

4. Proses gugatan di Mahkamah Agung 


Proses di Mahkamah Agung berlangsung dalam waktu paling lama 30 
hari, Putusan
hukum tetap (inkracht), diterima atau ditolak.

5. Putusan hukum tetap (inkracht), diterima atau ditolak 


Berdasarkan berbagai pertimbangn hukum, Mahkamah Agung akan menetapkan


Putusan Hukum Tetap (inkracht), diterima atau ditolaknya gugatan masyarakat.

6. Gugatan ditolak, menetapkan lokasi pembangunan 


Apabila gugatan keberatan masyarakat ditolak, maka Gubernur 
menetapkan SK


Lokasi Pembangunan.

7. Menetapkan lokasi pembangunan atau Pindah lokasi. 


Apabila Putusan Hakim menetapkan gugatan masyarakat diterima, maka Gubernur


menerbitkan SK Pindah lokasi. 


PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 13


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

D. Pihak-Pihak yang Bertanggung Jawab

Penanggung jawab kegiatan pada tahap ini adalah Pemerintah Daerah yaitu Gubernur dan
Bupati/Walikota letak tanah calon lokasi jalan yang dalam pelaksanaannya adalah Ketua Tim
Persiapan yang didukung Sekretariat Tim. Pihak yang terlibat adalah:

1. Pihak yang memerlukan tanah, yaitu PPK pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Bina
Marga 

2. Pihak yang Berhak, 

3. Masyarakat terkena dampak. 


Instansi lain yang terkait adalah:

1. Kantor Wilayah BPN Provinsi dan Kantor Pertanahan, 



2. Camat 

3. Lurah/kepala Desa. 


Apabila ada gugatan terkait pula:

1. Pengadilan TUN dan 



2. Mahkamah Agung. 


Hasil akhir kegiatan yang diharapkan adalah pengumuman penetapan lokasi pembangunan
sesuai dengan materi pada Surat Persetujuan Penunjukan Lokasi untuk Pembangunan Jalan
(SP2LP-Jalan).

E. Jangka Waktu Kegiatan Persiapan

Jangka waktu tahapan persiapan dengan output pengumuman penetapan lokasi, apabila
tidak ada keberatan adalah 160 hari kerja setelah Pihak yang memerlukan tanah
menyerahkan dokumen permohonan penetapan lokasi kepada Gubernur.

Apabila ada keberatan sehingga dilakukan Konsultasi Publik ulang, jangka waktu maksimal
adalah 187 hari kerja.
Apabila keberatan Pihak yang Berhak dan masyarakat diajukan ke
pengadilan TUN dan kasasi ke Mahkamah Agung, jangka waktu persiapan paling lama adalah
291 hari kerja.

F. Mekanisme Persiapan

Kerangka mekanisme persiapan pengadaan tanah untuk jalan disajikan pada Tabel sebagai
berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 14


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Tabel 2.1 Mekanisme Persiapan Pengadaan TanahBagi Pembangunan untuk Jalan

Mengacu tabel diatas, Instansi yang memerlukan tanah mengajukan permohonan penetapan
lokasi pembangunan kepada Gubernur dan Bupati/Walikota lokasi tanah yang diperlukan
dalam kegiatan pembangunan infrastruktur jalan. Dalam proses penetapan lokasi
pembangunan jalan tersebut akan diperoleh kepastian lokasi apabila disetujui Pihak yang
Berhak dan masyarakat terkena dampak atau melalui penetapan lembaga peradilan. Apabila
lembaga peradilan menerima keberatan Pihak yang Berhak dan masyarakat terkena dampak
maka lokasi pembangunan jalan akan dipindah ke tempat lain, atau digeser dan proses
penetapan lokasi akan dimulai lagi dari tahap perencanaan dan persiapan pengadaan tanah
untuk pembangunan jalan.

Titik kritis yang perlu dicermati pada tahapan ini adalah dalam proses sosialisasi dan
konsultasi publik untuk mendapatkan kesepakatan lokasi pembangunan jalan dari Pihak yang
Berhak dan masyarakat terkena dampak. Proses sosialisasi dan konsultasi publik itu dapat
berlangsung lebih dari dua kali yang hasilnya belum tentu terjadi kesepakatan. Hal itulah yang
menyebabkan perlu dibentuk Tim Kajian untuk meneliti faktor penyebab adanya penolakan

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 15


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

masyarakat. Tim tersebut melibatkan berbagai unsur pemerintah, akademis maupun


komponen masyarakat.

G. Latihan

Jawablah Pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1. Sebutkan tugas-tugas dari Tim Persiapan Pengadaan Tanah!


2. Sebutkan tugas-tugas dari Sekretariat Tim Persiapan Pengadaan Tanah!
3. Sebutkan hal-hal yang harus disampaikan Tim Persiapan dalam konsultasi public!
4. Apa yang harus dilakukan apabila terjadi penolakan/keberatan lokasi oleh
masyarakat?
5. Siapa saja pihak-pihak yang bertanggung jawab dan terlibat dalam kegiatan
persiapan pengadaan tanah?

H. Rangkuman

Pada tahap persiapan terdapat tiga mekanisme yang akan menentukan keberhasilan
Konsultasi Publik dalam proses penetapan lokasi pembangunan dan jangka waktu
persiapan.

Pertama, apabila masyarakat menrima Konsultasi Publik tanpa ada keberatan, maka
proses kegiatan akan berlangsung dalam 11 tahap dengan jangka waktu paling lama
160 hari kerja.

Kedua, apabila masyarakat keberatan hasil Konsultasi Publik tetapi tidak mengajukan
gugatan ke pengadilan, maka proses kegiatan akan berlangsung dalam 20 tahap dengan
jangka waktu paling lama 187 hari kerja.

Ketiga, apabila masyarakat keberatan hasil Konsultasi Publik dan mengajukan gugatan
ke pengadilan, maka proses kegiatan akan berlangsung dalam 27 tahap dengan jangka
waktu paling lama 291 hari kerja

Titik kritis yang perlu dicermati yaitu bagaimana Pihak yang Berhak dan masyarakat
dapat menerima hasil Konsultasi Publik, yang menyetujui pembangunan jalan di
wilayahnya.
Dalam proses pengadaan tanah, instansi yang memerlukan tanah harus
mengajukan Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah kepada Gubernur. Dokumen
Perencanaan Pengadaan Tanah disusun berdasarkan studi kelayakan dan studi lain
yang terkait. Ketentuan mengenai Dokumen Perencanaan Pengadaan Tanah, diatur
pada Bab II mengenai Dasar Perencanaan, Pasal 3 Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun
2012 tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum yang menyebutkan bahwa setiap instansi yang memerlukan tanah
bagi pembangunan untuk kepentingan umum, diwajibkan menyusun Dokumen
Perencanaan Pengadaan Tanah.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 16


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

MATERI POKOK 3

PELAKSANAAN PENGADAAN TANAH

Mampu memahami mekanisme pelaksanaan dalam tahapan pengadaan tanah


(land acquisition).

A. Persiapan Pelaksanaan Pengadaan Tanah


1. Pembentukan P2T

Untuk keperluan Pengadaan Tanah oleh Pemerintah/ Pemda bagi Pelaksanaan


Pembangunan untuk Kepentingan Umum, dibentuk Panitia Pengadaan. Pembentukan dan
susunan keanggotaannya harus sesuai dengan:

 Ketentuan pasal 49 s/d 51 Perpres No.71 Tahun 2012.


 Pasal 6 s/d 8 Peraturan Kepala BPN no.5 tahun 2012 tentang 
Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Pengadaan Tanah.

2. Membentuk Satgas A dan Satgas B

Dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tersebut Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten/Kota segera membentuk Satgas. Satgas A untuk pelaksanaan
pengukuran bidang tanah dan pengukuran batas keliling dan Satgas B untuk pelaksanaan
inventarisasi dan identifikasi Obyek Pengadaan Tanah dan Pihak yang Berhak. Adapun tugas
satgas tersebut adalah sebagai berikut:

 Satgas A

Satgas A bertugas menginventarisasi dan mengidentifikasi data fisik penguasaan, pemilikan,


penggunaan dan pemanfaatan tanah. Anggotanya terdiri dari 1 (satu) orang Ketua dan paling
kurang 2 (dua) orang anggota. Terdiri dari Pegawai Badan Pertanahan Nasional yang
mempunyai kompetensi di bidang survei, pengukuran dan pemetaan, dan ditetapkan dengan
Keputusan Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Jika diperlukan untuk membantu Satgas A,
Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah dapat menggunakan surveyor berlisensi untuk
pelaksanaan pengukuran dan pemetaan. 


 Satgas B

Satgas B bertugas menginventarisasi dan mengidentifikasi data Pihak yang Berhak dan
Obyek Pengadaan Tanah Anggota 1 (satu) orang Ketua dan paling kurang 2 (dua) orang
anggota. Terdiri dari Pegawai Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kompetensi di
bidang pertanahan, hukum, manajemen dan pemetaan, dan ditetapkan dengan Keputusan
Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Jika diperlukan untuk membantu Satgas B, Ketua

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 17


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Pelaksana Pengadaan Tanah dapat menambah keanggotaan yang berasal dari instansi
teknis terkait. 


Susunan keanggotaan Tim Pelaksana Pengadaan Tanah ditetapkan melalui keputusan


Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi sebagaimana format yang telah ditetapkan. Selanjutnya
susunan keanggotaan Tim pelaksana Pengadaan Tanah Kabupaten/Kota ditetapkan melalui
keputusan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagaimana format yang telah
ditetapkan.

3. Menyusun Rencana Kerja/Kegiatan

a. Agenda rapat pelaksanaan; 



b. Rencana kegiatan teknis pelaksanaan; 

c. Kendala-kendala teknis yang terjadi dalam pelaksanaan; 

d. Merumuskan strategi dan solusi terhadap hambatan dan 
kendala dalam
pelaksanaan; 

e. Menyiapkan langkah koordinasi ke dalam maupun ke luar di 
dalam pelaksanaan; 

f. Menyiapkan sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan 
pelaksanaan 

g. Menyiapkan administrasi yang diperlukan; 

h. Rencana waktu dan penjadwalan pelaksanaan; 

i. Rencana kebutuhan tenaga pelaksana pengukuran bidang tanah 
dan tenaga
identifikasi hak atas tanah 

j. Rencana kebutuhan bahan, daftar isian, logistik dan peralatan 
pelaksanaan; 

k. Mengajukan kebutuhan anggaran operasional pelaksanaan 
pengadaan tanah. 


B. Inventarisasi dan Identifikasi

Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah bersama Satgas melakukan pemberitahuan kepada


Pihak yang Berhak melalui lurah/kepala desa atau nama lain tentang sosialisasi bahwa
Satgas akan melakukan inventarisasi dan identifikasi. Hasil inventarisasi dan identifikasi yang
berisi daftar nominatif Obyek Pengadaan Tanah dan Pihak yang Berhak dilengkapi dengan
Peta Bidang Tanah, diumumkan di Kantor Desa/Kelurahan, Kantor Camat dan Kantor Proyek
Pembangunan Jalan.

1. Menyiapkan Pelaksanaan Kerja Satgas A dan Satgas B

a. Penyusunan rencana jadwal kegiatan, penyiapan bahan dan peralatan teknis;


b. Koordinasi dengan perangkat kecamatan dan lurah/kepala desa atau nama lain;
c. Pemberitahuan rencana dan jadwal pelaksanaan pengumpulan data Pihak yang
Berhak dan Objek Pengadaan Tanah;
d. Pelaksana Pengadaan Tanah bersama Satgas melakukan pemberitahuan kepada
Pihak yang Berhak melalui lurah/kepala desa atau nama lain, untuk disampaikan
secara langsung dengan cara sosialisasi, tatap muka, atau surat pemberitahuan.
Setelah sosialisasi, tatap muka, atau surat pemberitahuan selanjutnya Satgas
melakukan inventarisasi dan identifikasi.

2. Mengukur dan Memetakan Batas Keliling Bidang Tanah

Satgas A melaksanakan pengukuran dan pemetaan bidang per bidang tanah meliputi:

a. Pengukuran batas keliling lokasi pengadaan tanah;

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 18


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

b. Pengukuran bidang per bidang dilakukan dengan cara mengukur 
dan memetakan
tanah Pihak yang Berhak di dalam keliling bidang 
tanah atau trase;
c. Hasil pengukuran dan pemetaan bidang per bidang tanah 
dituangkan dalam Peta
Bidang Tanah yang ditandatangani oleh Ketua Satgas A. 


3. Membuat Peta Batas Keliling dan Bidang Tanah

a. Menghitung, menggambar bidang per bidang dan batas keliling;


b. Membuat peta bidang per bidang dan batas keliling bidang tanah.

4. Mengumpulkan Data Pihak yang Berhak dan Objek Tanah

Satgas B melaksanakan pengumpulan data paling kurang mengenai:

a. Nama, pekerjaan, dan alamat Pihak yang Berhak; 



b. Nomor Induk Kependudukan atau identitas diri lainnya Pihak 
yang Berhak; 

c. Bukti penguasaan dan/atau kepemilikan tanah, bangunan, 
tanaman, dan/atau
benda yang berkaitan dengan tanah; 

d. Letak tanah,luas tanah dan nomor identifikasi bidang; 

e. Status tanah dan dokumennya; 

f. Jenis penggunaan dan pemanfaatan tanah; 

g. Penguasaan dan/atau kepemilikan tanah, bangunan, dan/atau 
benda lain yang
berkaitan dengan tanah; 

h. Pembebanan hak atas tanah; 

i. Ruang atas dan ruang bawah tanah. 


5. Menyusun Daftar Nominatif Berdasarkan Peta Bidang Tanah

Dalam rangka menyusun daftar nominatif, dokumen yang diperlukan sebagai bukti
penguasaan dan/atau kepemilikan untuk tanah yang belum terdaftar, dalam rangka
inventarisasi dan identifikasi data Pihak yang Berhak dan Objek Pengadaan Tanah
didasarkan pada:

1. Penguasaan/bukti kepemilikan atas tanah;


2. Jika tidak terdapat dasar penguasaan dan/atau bukti 
kepemilikan dibuktikan dengan
surat pernyataan tertulis tentang penguasaan fisik bidang tanah dari yang
bersangkutan dan disaksikan paling sedikit 2 (dua) orang saksi dari lingkungan
setempat yang tidak mempunyai hubungan keluarga dengan yang bersangkutan
sampai derajat kedua, baik dalam kekerabatan vertikal maupun horizontal yang
menyatakan bahwa yang bersangkutan adalah benar sebagai pemilik atau menguasai
sebidang tanah;
3. Pengumpulan data lainnya, meliputi data bidang tanah:
o Sedang menjadi objek perkara di pengadilan;
o Masih dipersengketakan kepemilikannya;
o Diletakkan sita oleh pejabat yang berwenang;
o Menjadi jaminan di bank;
o Pihak yang Berhak tidak diketahui keberadaannya; dan
o Lain-lain yang dianggap perlu. 

4. Hasil inventarisasi dan identifikasi Satgas B, dibuat dalam bentuk Daftar Nominatif.
paling kurang memuat:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 19


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

o Identitas Pihak yang Berhak;


o Letak, luas, dan status/jenis hak;
o Luas dan jenis bangunan;
o Jenis penggunaan;
o Tanam tumbuh dan benda-benda lain yang berkaitan dengan 
tanah; dan
o Pembebanan hak atas tanah atau fiducia. 


Hasil inventarisasi dan identifikasi dibuat dalam Berita Acara sebagaimana format yang telah
ditetapkan.

6. Mengumumkan Daftar Nominatif dan Peta Bidang Tanah

Daftar nominatif ditandatangani oleh Ketua Satgas A dan Satgas B. Hasil inventarisasi dan
identifikasi diserahkan oleh Ketua Satgas kepada Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
dengan Berita Acara Hasil Inventarisasi dan Identifikasi. Hasil Inventarisasi dan Identifikasi
diumumkan di kantor kelurahan/desa atau nama lain, kantor kecamatan atau nama lain, dan
lokasi pembangunan dalam waktu paling kurang 14 (empat belas) hari kerja. Pengumuman
dilakukan oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah.

7. Masyarakat Menolak/Keberatan Hasil Inventarisasi dan Identifikasi

Jika Pihak yang Berhak keberatan atas Hasil Inventarisasi dan Identifikasi, dapat mengajukan
keberatan kepada Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah dalam tenggang waktu pengumuman
14 HK (empat belas) hari kerja terhitung sejak diumumkan hasil inventarisasi dan identifikasi
dengan menggunakan format, sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 20


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.1 Berita Acara Penolakan Keberatan Hasil Investigasi dan Identifikasi

8. Keberatan Masyarakat Diterima, Dilakukan Verifikasi Hasil Inventarisasi

Apabila keberatan atas Hasil Inventarisasi dan Identifikasi diterima, Ketua Pelaksana
Pengadaan Tanah melakukan verifikasi dan perbaikan terhadap Peta Bidang Tanah dan/ atau
Daftar Nominatif. Dalam melaksanakan verifikasi dan perbaikan, Ketua Pelaksana
menugaskan Satgas terkait. Hasil Verifikasi dan perbaikan terhadap Peta Bidang Tanah
dan/atau Daftar Nominatif dibuat Berita Acara Verifikasi dan Perbaikan Hasil Inventarisasi dan
Identifikasi, yang ditandatangani oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Jika terjadi
perbedaan luas tanah yang tercantum dalam bukti penguasaan dan/atau kepemilikan tanah
dengan luas tanah hasil verifikasi dan perbaikan, maka hasil verifikasi dan perbaikan menjadi
dasar pemberian ganti kerugian. Hasil verifikasi ulang Inventarisasi dan Identifikasi dibuat
dalam suatu Berita Acara dengan menggunakan format, sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 21


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.2 Berita Acara Verifikasi dan Perbaikan Hasil Inventarisasi dan Identifikasi

9. Keberatan Masyarakat Ditolak, Dibuat Berita Acara Hasil Inventarisasi

Jika keberatan atas Hasil Inventarisasi dan Identifikasi ditolak, Ketua Pelaksana Pengadaan
Tanah menjelaskan alasan penolakan yang dituangkan dalam Berita Acara Penolakan
Keberatan, untuk selanjutnya disampaikan kepada Pihak yang Berhak yang mengajukan
keberatan. Berita Acara Penolakan bersifat final. 


10. Mengumumkan Perbaikan Hasil Invetarisasi

Hasil perbaikan Inventarisasi dan Identifikasi diumumkan di kantor kelurahan/desa atau nama
lain, kantor kecamatan atau nama lain, dan lokasi pembangunan. Pengumuman dilakukan
oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Hasil Inventarisasi dan Identifikasi yang telah
diumumkan dan tidak ada keberatan dari Pihak yang Berhak atau hasil verifikasi dan
perbaikan inventarisasi dan identifikasi, menjadi dasar penentuan Pihak yang Berhak dalam
pemberian Ganti Kerugian.

C. Penilaian Ganti Kerugian

Kegiatan berikutnya adalah Penilaian Ganti Kerugian. Sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan, tim pelaksana melakukan pengadaan jasa penilai objek pengadaan
tanah melalui seleksi sederhana atau seleksi umum. Berikut adalah dua macam Tahapan
Pelaksanaan Pengadaan Jasa Penilai dan Alokasi Waktu Seleksi.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 22


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Tabel 3.1 Tahapan Pelaksanaan Pengadaan Jasa Penilaian dan Alokasi Waktu Seleksi
Sederhana

Tabel 3.2 Tahapan Pengadaan Pelaksanaan Jasa Penilaian dan Alokasi Waktu Seleksi
Umum

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 23


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Tahapan penilaian ganti kerugian meliputi 2 aktivitas, yaitu sebagai berikut:

1. Menetapkan Penilaian Ganti Kerugian/Penilaian Publik

Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah (Berdasarkan Perpres No 99/2014 diadakan oleh


Instansi yang memerlukan tanah) menetapkan Penilai sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang- undangan di bidang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Pelaksanaan
pengadaan jasa Penilai dilakukan dengan seleksi sederhana atau seleksi umum dengan
jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja dengan Metoda Paskakualifikasi.

Apabila pengadaan jasa Penilai gagal atau tidak dapat dilaksanakan dalam jangka waktu 30
(tiga puluh) hari kerja, Instansi yang memerlukan tanah menunjuk Penilai Publik yang
merupakan penilai pemerintah yang sudah ditetapkan/memperoleh izin dari Menteri
Keuangan untuk memberikan jasa penilaian.

Penunjukan Penilai Publik dilakukan oleh Instansi yang membawahi penilai pemerintah
setelah berkoordinasi dengan Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah.
Apabila telah diperoleh
Penilai, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyerahkan hasil inventarisasi dan
identifikasi/hasil verifikasi ulang kepada Penilai dengan menggunakan Berita Acara, sebagai
berikut:

Gambar 3.3 Contoh Format Berita Acara Penyerahan Hasil Inventarisasi dan Identifikasi

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 24


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

2. Melaksanakan Penilaian Ganti Kerugian

Dalam melakukan tugasnya, Penilai atau Penilai Publik meminta: Peta bidang tanah; Daftar
nominatif; dan Data yang diperlukan. 


Sebagai bahan penilaian dari Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Atas permintaan
dimaksud, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyerahkan data yang diminta.
Selanjutnya
berdasarkan peta bidang tanah, daftar nominatif dan data yang diperlukan untuk bahan
penilaian, Penilai bertugas melakukan penilaian besarnya ganti kerugian bidang per bidang
tanah yang meliputi:

 Tanah;
 Ruang atas tanah dan bawah tanah;
 Bangunan;
 Tanaman;
 Benda yang berkaitan dengan tanah; dan/atau
 Kerugian lain yang dapat dinilai.
Besarnya nilai Ganti Kerugian berdasarkan hasil
penilaian oleh Penilai disampaikan kepada Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah untuk
bahan musyawarah penetapan Ganti Kerugian yang dilakukan selambat-lambatnya
30 (tiga puluh) hari kerja,dengan menggunakan Berita Acara Penyerahan Hasil
Penilaian Pengadaan Tanah, sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 25


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.4 Contoh Format Berita Acara Penyerahan Hasil Penilaian Pengadaan Tanah

Bila terdapat Perbaikan terhadap Peta Bidang dan Daftar Nomonatip oleh adanya keberatan
Pemilik yang berhak atau kusanya terhadap Pengumumunan Hasil Inventarisasi dan
identifikasi,maka hasil perbaikan tersebut diserahkan kembali oleh Ketua Pelaksana
Pengadaan Tamah kepada Penilai untuk dilakukan perbaikan Hasil Penilaian Ganti Rugi.

Sedangkan terhadap sisa dari bidang tanah tertentu dari Pengadaan Tanah yang tidak dapat
difungsikan lagi sesuai peruntukkan dan penggunaannya semula, Pihak yang Berhak dapat
meminta penggantian secara utuh atas bidang tanahnya. Untuk itu Pelaksana Pengadaan
Tanah membentuk Tim untuk menilai apakah sisa bidang tanah tersebut masih dapat atau
tidak difungsikan lagi sesuai peruntukkan dan penggunaannya semula.

D. Musyawarah Besaran dan Bentuk Ganti Kerugian


1. Mengundang Pihak yang Berhak dan Instansi Perlu Tanah

Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyampaikan undangan kepada Pihak yang Berhak
dan Instansi yang perlu tanah untuk pelaksanaan musyawarah besaran dan bentuk Ganti
Kerugian. Surat undangan disampaikan 5 (lima) hari sebelum pelaksanaan musyawarah.
Ketua Pelaksana juga mengundang Camat dan Kepala Desa/Lurah untuk menyaksikan

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 26


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

pelaksanaan musyawarah. Apabila ada yang tidak dapat hadir, Pihak yang Berhak dapat
memberi kuasa kepada orang lain dengan bentuk Surat, sebagai berikut:

Gambar 3.5 Contoh Format Surat Kuasa Musyawarah Penetapan Ganti Kerugian

2. Melaksanakan Musyawarah Ganti Kerugian

Musyawarah untuk penetapan Ganti Kerugian dilakukan secara langsung untuk menetapkan
bentuk Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian Ganti Kerugian. Bentuk Ganti Kerugian,
dapat berupa:

 Tanah;
 Tanah pengganti;
 Pemukiman kembali;
 Kepemilikan saham; atau
 Bentuk lain yang disetujui oleh kedua belah pihak.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 27


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

3. Proses Kesepakatan Besaran dan Bentuk Ganti Kerugian

a. Musyawarah dipimpin oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah atau pejabat yang
ditunjuk dilakukan secara langsung untuk menetapkan bentuk Ganti Kerugian
berdasarkan hasil penilaian Ganti Kerugian.
b. Pelaksanaan musyawarah dapat dibagi dalam beberapa kelompok dengan
mempertimbangkan jumlah Pihak yang Berhak, waktu dan tempat pelaksanaan
musyawarah penetapan Ganti Kerugian. Jika belum tercapai kesepakatan,
musyawarah dapat dilaksanakan lebih dari 1 (satu) kali.
c. Jika Pihak yang Berhak berhalangan hadir dalam musyawarah dapat memberikan
kuasa kepada:

Seorang dalam hubungan darah ke atas, ke bawah atau ke 
samping sampai


derajat kedua atau suami/istri bagi Pihak 
yang Berhak berstatus perorangan;
 Seorang yang ditunjuk sesuai dengan ketentuan anggaran 
dasar bagi Pihak
yang Berhak berstatus badan hukum; atau
 Pihak yang Berhak lainnya.
d. Pihak yang Berhak hanya dapat memberikan kuasa kepada 1 (satu) orang penerima
kuasa atas 1 (satu) atau beberapa bidang tanah yang terletak pada 1 (satu) lokasi
pengadaan tanah.
e. Dalam pelaksanaan musyawarah dibuat Berita Acara kesepakatan yang memuat: 

 Pihak yang Berhak yang hadir atau kuasanya, yang setuju 
beserta bentuk ganti
kerugian yang disepakati;
 Pihak yang Berhak yang hadir atau kuasanya, yang tidak
setuju; dan
 Pihak yang Berhak yang tidak hadir dan tidak memberikan kuasa. 


Berita Acara ditandatangani Pelaksana Pengadaan Tanah dan Pihak yang Berhak yang hadir
atau kuasanya. Terhadap Ganti kerugian berupa tanah atau permukiman kembali, dalam
Berita Acara dicantumkan rencana lokasinya.

Sesuai Pasal 71 Perpres 71 Tahun 2012, Pihak yang berhak dapat memberikan kuasa
kepada:

a. Seorang dalam hubungan darah keatas, kebawah,kesamping sampai derajat kedua


atau suami/isteri untuk berstatus perorangan;
b. Seorang yang ditunjuk sesuai dengan anggaran dasar bagi pihak yang berhak
berstatus badan hukum;
c. Pihak yang berhak lainnya.

Hasil kesepakatan dituangkan dalam Berita Acara Kesepakatan Kuasa. Berikut contoh format
Berita Acara Kesepakatan.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 28


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.6 Contoh Format Berita Acara Kesepakatan Musyawarah

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 29


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Daftar besaran dan bentuk Ganti Kerugian divalidasi oleh Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
dan selanjutnya disampaikan kepada Instansi yang memerlukan tanah untuk disiapkan
pelaksanaan pemberian Ganti Kerugian kepada Pihak yang Berhak. Berikut format validasi:

Gambar 3.7 Contoh Format Validasi Pemberian Ganti Rugi

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 30


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

E. Penolakan/Keberatan Atas Besarnya Ganti Kerugian


1. Jika Pihak yang Berhak Tidak Sepakat Ganti Kerugian, tidak 
mengajukan
keberatan ke pengadilan

Apabila Pihak yang Berhak menolak bentuk/atau besarnya Ganti Kerugian berdasarkan
hasil musyawarah dan tidak mengajukan keberatan ke pengadilan, dibuat Berita Acara
Pihak Yang Berhak Menolak Bentuk dan/atau Besarnya Ganti Kerugian Berdasarkan
Hasil Musyawarah dan Tidak Mengajukan Keberatan Ke Pengadilan. 


2. Jika Pihak yang Berhak tidak sepakat Ganti Kerugian, pengajuan keberatan ke
Pengadilan Negeri


Jika tidak terjadi kesepakatan mengenai bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian, Pihak
yang Berhak dapat mengajukan keberatan kepada Pengadilan Negeri setempat dalam
waktu paling lama 14 HK (empat belas ) hari kerja setelah ditandatangani Berita Acara
hasil musyawarah. 


3. Proses Gugatan di Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung

Pengadilan Negeri memutus bentuk dan/atau besarnya Ganti Kerugian dalam waktu
paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diterima keberatan. Jika pihak yang keberatan
terhadap putusan Pengadilan Negeri maka dalam waktu paling lama 14 (empat belas)
hari kerja dapat mengajukan kasasi kepada Mahkamah Agung.

Apabila setelah dilakukan musyawarah terdapat Pihak yang Berhak, tidak setuju dengan
besaran Ganti Kerugian sebagaimana hasil pengadilan negeri/ Mahkamah Agung, dibuat
Berita Acara Pihak Yang Berhak Menolak Bentuk dan/atau Besarnya Ganti Kerugian
Berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri/Mahkamah Agung Yang Telah Memperoleh
Kekuatan Hukum Tetap. 


4. Putusan hukum tetap (inkracht), diterima atau ditolak


Mahkamah Agung wajib memutus dalam waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja
sejak permohonan kasasi diterima. Putusan Hakim Mahkamah Agung diterima atau
ditolaknya gugatan Pihak yang Berhak bersifat final sebagai Putusan hukum yang
mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht). 


5. Gugatan ditolak, Ketua Pelaksana menetapkan Ganti Kerugian

Apabila gugatan Pihak yang Berhak ditolak oleh Hakim Mahkamah Agung, maka Ketua
Pelaksana meneruskan langkah pemberian Ganti Kerugian kepada Pihak yang Berhak.

F. Pemberian Ganti Kerugian

Jika Pihak yang Berhak sepakat Ganti Kerugian dan menyetujui besaran dan bentuk Ganti
Kerugian, maka Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah dapat melakukan proses Pelepasan Hak
sekaligus dengan pemberian Ganti Kerugian. 


G. Penitipan Ganti Kerugian (Konsinyasi)

Apabila Pihak yang Berhak mengajukan gugatan di Pengadilan Negeri dan Kasasi ke
Mahkamah Agung, selama proses di lembaga peradilan tersebut, dana Ganti Kerugian

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 31


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

dititipkan oleh Instansi yang memerlukan tanah di pengadilan negeri setempat dan dibuat
Berita Acara Penitipan Ganti Kerugian. 


Setelah ada putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap maka Ketua Pelaksana
Pengadaan Tanah dapat melanjutkan proses pelepasan hak sekaligus dengan pengambilan
dana pemberian Ganti Kerugian yang dititipkan di pengadilan negeri. Untuk pengambilan
Ganti Kerugian terhadap Obyek Pengadaan Tanah yang menjadi jaminan di Bank, ganti
kerugian dapat di ambil di pengadilan negeri setelah adanya surat pengantar dari Ketua
Pelaksana Pengadaan setelah Pihak yang berhak menyerahkan bukti - bukti kepemilikan
tanah, menandatangani surat-surat pernyataan yang diperlukan dan menandatangani surat
Pelepasan hak/Berita Acara Pelepasan Hak. 


H. Pelepasan Objek Pengadaan Tanah


1. Menyiapkan Surat Pernyataan Pelepasan/Penyerahan Objek

Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 96 s/d Pasal 99
Perpres No 71 Tahun 2012 , dilakukan dihadapan Kepala Kantor Pertanahan setempat, dan
dilaksanakan bersamaan pada saat pemberian Ganti Kerugian. Pelepasan Hak Objek
Pengadaan Tanah dibuat sesuai hak yang dilepaskan, disertai dengan penyerahan bukti-bukti
penguasaan atau kepemilikan objek pengadaan tanah. Selanjutnya dibuat Berita Acara Daftar
Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah yang ditandatangani oleh Pihak yang Berhak
dihadapan Kepala Kantor Pertanahan setempat, Kepala Kantor Pertanahan tersebut dan
Pelaksana Pengadaan Tanah.

Jika Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah merupakan milik atau dikuasai /Badan Usaha
Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat
Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah sesuai hak yang dilepaskannya.

Apabila mekanisme saat pemberian Ganti Kerugian dan pelepasan hak telah dilaksanakan di
hadapan Kepala Kantor Pertanahan setempat, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat
Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah Yang Merupakan Milik Atau
Dikuasai Pemerintah/Badan Usaha Milik Daerah. Berikut contoh format Berita Acara Daftar
Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 32


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.8 Contoh Format Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah

Sementara itu, untuk Objek Pengadaan Tanah yang dititipkan di pengadilan, dibuat Berita
Acara Daftar Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah, sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 33


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.9 Contoh Format Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah
yang Dititipkan di Pengadilan

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 34


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Untuk Objek Pengadaan Tanah yang merupakan Milik atau dikuasai


Pemerintah/BUMN/BUMD, dibuat Berita Acara Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah,
sebagai berikut:

Gambar 3.10 Contoh Format Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Obek Pengadaan Tanah
yang Merupakan Milik atau Dikuasai Pemerintah/BUMN/BUMD

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 35


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Selanjutnya terhadap Objek Pengadaan Tanah yang merupakan Milik atau dikuasai
Pemerintah/BUMN/BUMD, dibuat Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Objek Pengadaan
Tanah, sebagai berikut:

Gambar 3.11 Contoh Format Berita Acara Daftar Pelepasan Hak Obek Pengadaan Tanah
yang Merupakan Milik atau Dikuasai Pemerintah/BUMN/BUMD.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 36


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

2. Menarik Tanda Bukti Penguasaan Pemilihan Tanah

Dalam pelaksanaan pelepasan hak Objek Pengadaan Tanah, Pelaksana Pengadaan Tanah:

a. Menyiapkan surat pernyataan pelepasan/penyerahan hak atas 
tanah atau


penyerahan tanah dan/atau bangunan dan/atau tanaman dan/atau benda-benda lain
yang berkaitan dengan tanah;
b. Menarik bukti penguasaan atau kepemilikan Objek Pengadaan Tanah dari Pihak
yang Berhak;
c. Memberikan tanda terima pelepasan; dan
d. Membubuhi tanggal, paraf dan cap pada sertipikat dan buku 
tanah bukti kepemilikan
yang sudah dilepaskan kepada Negara.

I. Pemutusan Hubungan Hukum Pihak yang Berhak dengan Objek Pengadaan Tanah

Apabila mekanisme pemberian Ganti Kerugian dan pelepasan hak telah dilaksanakan di
hadapan Kepala Kantor Pertanahan setempat, kepemilikan atau hak atas tanah dari Pihak
yang Berhak menjadi hapus dan alat bukti haknya dinyatakan tidak berlaku dan tanahnya
menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara. Terhadap hapusnya hubungan hukum
antara Pihak yang Berhak dengan tanahnya, Ketua Tim Pelaksana memberitahu kepada
Pihak yang Berhak dengan format sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 37


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.12 Contoh Format Pemberitahuan Pemutusan Hubungan Hukum

1. Mencoret dan Menghapus Bukti Kepemilikan di Buku Tanah

Pada saat pemberian Ganti Kerugian dan pelepasan hak telah dilaksanakan di hadapan
Kepala Kantor Pertanahan setempat, kepemilikan atau hak atas tanah dari Pihak yang Berhak
menjadi hapus dan alat bukti haknya dinyatakan tidak berlaku dan tanahnya menjadi tanah
yang dikuasai langsung oleh Negara.

Pemutusan hubungan Hukum antara Pihak yang Berhak dengan Objek Pengadaan Tanah
yang ganti kerugiannya sudah dititipkan di pengadilan negeri, kepemilikan atau hak atas tanah
dari Pihak yang berhak menjadi hapus dan alat bukti haknya dinyatakan tidak berlaku dan
tanahnya menjadi tanah yang dikuasai langsung oleh Negara sejak keluarnya penetapan
pengadilan mengenai penitipan Ganti Kerugian. Kemudian Kepala Kantor Pertanahan
memberitahukan Pemutusan hubungan Hukum kepada para pihak terkait.

Pemutusan hubungan Hukum antara Pihak yang Berhak dengan Objek Pengadaan Tanah
terhadap aset Pemerintah/Pemerintah Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik
Daerah/Kas Desa berlaku sejak dilepaskannya hak sesuai dengan peraturan yang mengatur
Barang Milik Negara/ Barang Milik Daerah, atau paling lama 60 (enam puluh) hari kerja sejak
ditetapkannya penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan umum. Kepala Kantor
Pertanahan memberitahukan Pemutusan hubungan Hukum kepada Pemerintah /Pemerintah
Daerah/Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah/ Kepala Desa.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 38


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Hapusnya hubungan hukum antara Pihak yang Berhak dengan tanahnya, terhadap tanah
yang sudah terdaftar Kepala Kantor Pertanahan selanjutnya melakukan pencatatan hapusnya
hak dalam Buku Tanah dan daftar umum lainnya.

Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah disampaikan kepada Ketua Pelaksana Pengadaan
Tanah paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak ditetapkan berita acara pelepasan Hak Objek
Pengadaan Tanah tersebut.

2. Memberitahukan Ke Camat dan Kades/Lurah Terhadap Bidang Tanah yang Belum


Bersertifikat

Hapusnya hubungan hukum antara Pihak yang Berhak dengan tanahnya terhadap tanah yang
belum terdaftar, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyampaikan pemberitahuan tentang
hapusnya hubungan hukum dan disampaikan kepada Lurah/Kepala Desa atau nama lain,
camat atau nama lain dan pejabat yang berwenang yang mengeluarkan surat, untuk
selanjutnya dicatat pada alas hak/bukti perolehan hak dan dalam buku administrasi kantor
kelurahan/desa atau nama lain atau kecamatan.

3. Memberitahukan Ke Pengadilan Negeri Apabila Menjadi Objek Perkara

Apabila Objek Pengadaan Tanah sedang menjadi Objek perkara di pengadilan dan Ganti
Kerugian telah dititipkan di pengadilan negeri, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
menyampaikan pemberitahuan kepada ketua pengadilan dan pihak-pihak yang berperkara
tentang hapusnya hak dan tidak berlakunya alat bukti penguasaan/pemilikan serta hapusnya
hubungan hukum antara Pihak yang Berhak dengan tanahnya.

Alat bukti penguasaan/pemilikan tetap berlaku sebagai pembuktian di pengadilan sampai


memperoleh putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Pihak yang Berhak
mengambil Ganti Kerugian yang dititipkan di pengadilan negeri adalah pihak yang
dimenangkan berdasarkan keputusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum yang
tetap. Selanjutnya Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Pelepasan Hak
Objek Pengadaan Tanah yang sedang menjadi Objek perkara di pengadilan dengan format
sebagai berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 39


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.13 Contoh Format Berita Acara Objek Pengadaan Tanah yang Sedang Menjadi
Obej Perkara di Pengadilan

4. Memberitahukan Kepada Para Pihak Apabila Terdapat Sengketa

Apabila Objek Pengadaan Tanah masih dipersengketakan kepemilikannya dan Ganti


Kerugian dititipkan di pengadilan negeri, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah menyampaikan
pemberitahuan kepada pihak-pihak yang bersengketa tentang hapusnya alat bukti
kepemilikan dan putusnya hubungan hukum. Selanjutnya Ketua Pelaksana Pengadaan
Tanah membuat Berita Acara Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah yang masih
dipersengketakan.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 40


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Apabila Objek Pengadaan Tanah yang akan diberi Ganti Kerugian masih dipersengketakan
kepemilikannya di pengadilan, dibuat Berita Acara Pelepasan Hak Objek Pengadaan Tanah
yang Masih Dipersengketakan sebagai berikut:

Gambar 3.14 Contoh Format Berita Acara Objek Pengadaan Tanah yang Masih
Dipersengketakan Kepemilikannya

5. Memberitahukan Kepada Para Pihak Apabila Diletakan Sita Jaminan

Apabila Objek Pengadaan Tanah diletakkan sita jaminan oleh pejabat berwenang dan Ganti
Kerugian telah dititipkan di pengadilan negeri, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
menyampaikan pemberitahuan kepada pejabat yang meletakkan sita jaminan tentang

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 41


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

hapusnya alat bukti kepemilikan dan putusnya hubungan hukum. Selanjutnya Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Pelepasan Hak Objek Pengadaan
Tanah Yang Diletakkan Sita Jaminan Oleh Pejabat Berwenang.

Apabila terhadap Objek Pengadaan Tanah yang akan diberi Ganti Kerugian diletakkan Sita
oleh Pejabat yang berwenang, dibuat Berita Acara seperti berikut:

Gambar 3.15 Contoh Format Berita Acara Objek Pengadaan Tanah yang diletakan Sita oleh
Pejabat yang Berwenang

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 42


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

6. Memberitahukan Kepada Para Pihak Apabila Dijadikan Jaminan di Bank

Apabila Objek Pengadaan Tanah menjadi jaminan di bank, Ganti Kerugian telah dititipkan di
pengadilan negeri. Terhadap tanah belum bersertipikat yang dijadikan jaminan di bank, Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah menyampaikan pemberitahuan kepada lurah/kepala desa atau
nama lain atau camat tentang putusnya hubungan hukum dan alat bukti kepemilikan.

Selanjutnya Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat Berita Acara Pelepasan Hak
Objek Pengadaan Tanah yang dijadikan jaminan di bank atau pemegang Hak Tanggungan
lainnya serta pemberitahuan tentang hapusnya hak yang disampaikan kepada pimpinan bank
atau pimpinan pemegang Hak Tanggungan lainnya dan yang bersangkutan, dibuat Berita
Acara seperti berikut:

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 43


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 3.16 Contoh Format Berita Acara Objek Pengadaan Tanah yang Menjadi Jaminan di
Bank atau Jaminan Hutang

J. Pendokumentasian Data Pengadaan Tanah


1. Mengumpulkan, Mengolah, Mengelompokan, Menyimpan Data

Pelaksana Pengadaan Tanah melakukan pengumpulan, pengelompokan, pengolahan dan


penyimpanan data Pengadaan tanah yang meliputi: Peta bidang tanah; Daftar nominative;
dan Data administrasi.

Data Pengadaan Tanah tersebut berupa:

1) Dokumen perencanaan Pengadaan Tanah;


2) Surat pemberitahuan rencana pembangunan;
3) Data Subjek dan Objek;
4) Undangan dan daftar hadir Konsultasi Publik;
5) Berita Acara kesepakatan Konsultasi Publik;
6) Surat keberatan;
7) Rekomendasi Tim kajian;
8) Surat Gubernur (hasil rekomendasi);
9) Surat Keputusan Penetapan Lokasi pembangunan;
10) Pengumuman Penetapan Lokasi pembangunan;
11) Surat pengajuan Pelaksanaan Pengadaan Tanah;
12) Berita Acara inventarisasi dan identifikasi;
13) Peta bidang Objek Pengadaan tanah dan daftar nominative;
14) Pengumuman daftar nominative;
15) Berita Acara Perbaikan dan Verifikasi;
16) Daftar nominatif yang sudah disahkan;
17) Dokumen Pengadaan Penilaian;
18) Dokumen hasil penilaian Pengadaan Penilaian;

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 44


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

19) Berita Acara penyerahan hasil penilaian;


20) Undangan dan daftar hadir musyawarah penetapan Ganti Kerugian;
21) Berita Acara kesepakatan musyawarah penetapan Ganti Kerugian;
22) Putusan pengadilan negeri/mahkamah Agung;
23) Berita Acara pemberian Ganti Kerugian dan pelepasan hak;
24) Alat Bukti penguasaan dan pemilikan Objek Pengadaan Tanah;
25) Surat permohonan penitipan Ganti Kerugian;
26) Penetapan pengadilan negeri penitipan Ganti Kerugian;
27) Berita Acara penitipan Ganti Kerugian;
28) Berita Acara penyerahan hasil Pengadaan Tanah;
29) Dokumentasi dan rekaman

2. Menyimpan, Mendokumentasi dan Mengarsipkan Data

Data Pengadaan Tanah dimaksud disimpan, didokumentasikan dan diarsipkan oleh Kepala
Kantor Pertanahan setempat yang dapat disimpan dalam bentuk data elektronik. Data
Pengadaan Tanah dimaksud dibuat salinan rangkap 2 (dua), Asli dan 1 (satu) salinan data
dimaksud diserahkan kepada Instansi yang memerlukan tanah, sedangkan 1 (satu) salinan
menjadi dokumen di Kantor Wilayah BPN atau Kantor Pertanahan setempat.

Bentuk, cara penyimpanan, penyajian dan penghapusan data Pengadaan Tanah


dilaksananakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

K. Latihan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1. Apa saja tugas dari Satgas A dan Satgas B?


2. Apa saja yang harus disiapkan dalam penyusunan rencana kerja/kegiatan
pelaksanaan pengadaan tanah?
3. Dalam kegiatan Inventarisasi dan Indentifikasi apa saja hal yang dilakukan oleh
Satgas A?
4. Dalam kegiatan Inventarisasi dan Identifikasi apa saja hal yang dilakukan oleh
Satgas B?

L. Rangkuman

Tahap Pelaksanaan pengadaan Tanah merupakan tahap ketiga dalam penyelenggaraan


Pengadaan tanah Untuk pembangunan Jalan, setelah tahap perencanaan dan tahap
persiapan. Penanggung jawab tahap pelaksanaan adalah Kepala Kantor BPN Provinsi
dengan membentuk Tim Pelaksana yang dapat didelegasikan kepada Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah
Kabupaten/Kota. Pada tahap pelaksanaan, terdapat tiga titik kritis, yaitu:

Pertama, adalah bagaimana Pihak yang Berhak menerima dan menyetujui hasil
inventarisasi dan identifikas subjek dan objek pengadaan tanah yang dilaksanakan
Satgas A dan Satgas B;

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 45


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Kedua adalah bagaimana Pihak yang Berhak menerima dan menyetujui hasil
musyawaran Ganti Kerugian oleh Tim Pelaksana Pengadaan Tanah berdasarkan nilai
Objek Pengadaan Tanah yang ditentukan oleh Penilai;

Ketiga, adalah bagaimana semua Pihak yang Berhak menerima pemberian Ganti
Kerugian bersamaan dengan pelepasan hak atas tanah tanpa ada yang dititipkan di
Pengadilan.

Untuk standarisasi pelaksanaan, pada setiap kegiatan telah disiapkan format standar
yang berfungsi pula untuk kegiatan monitoring dan evaluasi serta pelaporan yang
terstruktur dalam jenjang kewenangan organisasi BPN RI ke Kanwil BPN Provinsi ke
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota dan sebaliknya. Tahap keempat kegiatan
Pengadaan Tanah adalah Penyerahan hasil Pengadaan Tanah, yang menjadi tanggung
jawab Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Kegiatan pokoknya adalah menyerahkan
secara fisik hasil Pengadaan Tanah disertai dokumen alas hak atas tanah kepada
Instansi yang memerlukan tanah, yaitu Satker di lingkungan Ditjen Bina Marga c/q PPK.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 22/PRT/M/2006 tentang
Pengamanan dan Perkuatan Hak Atas Tanah, maka seluruh tanah dan bangunan
Departemen Pekerjaan Umum termasuk hasil Pengadaan Tanah, perlu dilakukan
pengamanan fisik, administrasi dan haknya. Pengamanan tanah ditujukan untuk
mencipatakan tertib hukum, tertib administrasi, tertib penggunaan, tertib pemeliharaan
tanah Departemen/Kementrian PU.

Kondisi tanah yang diamankan antara lain mencakup tanah yang


diperuntukkan/berfungsi sebagai ruang manfaat jalan, ruang milik jalan dan ruang
pengawasan jalan. Tanah yang perolehannya berasal dari pengadaan tanah,
merupakan tanah Negara yang telah dilepaskan oleh Pihak yang Berhak, dengan
dokumen yang lengkap yang selanjutnya diamankan dan diproses sertifikasi Hak Pakai
nya.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 46


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

MATERI POKOK 4

PENYERAHAN HASIL PENGADAAN TANAH

Mampu memahami mekanisme penyerahan hasil dalam tahapan pengadaan tanah


(land acquisition).

A. Penyerahan Hasil Pengadaan Tanah


1. Menyerahkan Berkas Hasil Pengadaan Tanah

Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat dokumen dalam rangkap 2 (dua), yaitu 1 (satu)
asli dan 1 (satu) fotokopi yang dilegalisir oleh Pelaksana Pengadaan Tanah.

Selanjutnya 1 (satu) rangkap fotokopi yang dilegalisir diserahkan kepada Instansi yang
memerlukan tanah, sedangkan 1 (satu) rangkap yang merupakan asli untuk kelengkapan
permohonan sertipikat hak atas tanah. Penyerahkan dokumen Pengadaan Tanah kepada
Instansi yang memerlukan tanah paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pelaksanaan
pengadaan tanah selesai. Penyerahan hasil pengadaan tanah kepada Instansi yang
memerlukan tanah dilaksanakan dengan membuat Berita Acara Penyerahan Hasil
Pengadaan Tanah.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 47


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Gambar 4.1 Contoh Format Berita Acara Penyerahan Hasil Pengadaan Tanah

2. Menyiapkan Dokumen untuk Pendaftaran dan Sertifikasi Tanah

Instansi yang memerlukan tanah, paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak menerima
penyerahan hasil Pengadaan Tanah, mengajukan permohonan sertipikat hak atas tanah
kepada kantor pertanahan setempat. Kantor Pertanahan menerbitkan Surat Ukur yang
didasarkan atas peta bidang tanah hasil inventarisasi dan identifikasi satgas A.

Selanjutnya Kantor Pertanahan menyelesaikan permohonan sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan. Setelah menerima hasil pengadaan tanah Instansi yang
memerlukan tanah dapat mulai melaksanakan kegiatan pembangunan.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 48


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

B. Penanggung Jawab Kegiatan dan Pihak Terlibat


1. Penanggung Jawab Kegiatan

Penanggung jawab kegiatan pada tahap pelaksanaan pengadaan tanah adalah Kepala
Kantor Wilayah BPN Provinsi yang dapat didelegasikan kepada Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten/Kota letak tanah calon lokasi pembangunan jalan, yang dalam pelaksanaannya
adalah Ketua Tim Pelaksanaan Pengadaan Tanah didukung Sekretariat Tim. Penunjukan
Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai Ketua Tim Pelaksana Pengadaan Tanah
ditetapkan melalui keputusan Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi.

2. Pihak yang Terlibat

Pihak yang terlibat ialah; Pihak yang memerlukan tanah yaitu PPK pada Satuan Kerja,
Direktorat Jenderal Bina Marga, Pihak yang Berhak, dan Masyarakat terkena dampak. 


3. Instansi/Lembaga Lain yang Terlibat

Instansi/lembaga lain yang terkait adalah:

a. Dinas PU, menyangkut bangunan;


b. Dinas Pertanian, menyangkut tanam tumbuhan;
c. Kantor Pelayanan Pajak, menyangkut NJOP;
d. Camat;
e. Lurah/Kepala Desa; dan
f. Penilai, menyangkut besaran Ganti Kerugian.

Apabila ada gugatan, terkait pula (1) Pengadilan TUN dan (2) Mahkamah Agung.

Hasil akhir kegiatan yang diharapkan adalah tersedianya tanah secara fisik untuk
pembangunan jalan yang dilengkapi dengan Dokumen untuk permohonan hak atas tanah dan
sertifikasi Hak Pakai. Fisik tanah beserta dokumen atas hak tersebut diserahkan oleh Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah kepada Instansi yang memerlukan tanah, dalam suatu Berita
Acara Penyerahan Hasil pengadaan Tanah untuk Pembangunan Jalan.

C. Jangka Waktu Tahap Pelaksanaan Pengadaan Tanah

Jangka waktu tahapan pelaksanaan dengan output penyerahan fisik dan dokumen alas hak
atas tanah, apabila tidak ada keberatan dan gugatan dari Pihak yang Berhak adalah 158 hari
kerja setelah Pihak yang memerlukan tanah mengajukan dokumen permohonan pelaksanaan
pengadaan tanah kepada Kepala kantor Wilayah BPN Provinsi c/q Kepala Kantor Pertanahan
Kabupaten/Kota untuk satu lokasi wilayah kabupaten/kota. Apabila ada gugatan Pihak yang
Berhak yang diajukan ke pengadilan negeri dan kasasi ke Mahkamah Agung, jangka waktu
pelaksanaan pengadaan tanah paling lama adalah 246 hari kerja.

Jangka waktu lama persiapan tersebut adalah untuk pemberian Ganti Kerugian yang
diperhitungkan berupa uang tunai dengan jangka waktu paling lama 7 hari kerja. Apabila Ganti
Kerugian berupa tanah pengganti jangka waktunya adalah 180 hari hari kerja, dan apabila
berupa rumah, jangka waktunya adalah 365 hari kerja. Jadi jangka waktu proses pelaksanaan
pengadaan tanah oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota, yang digugat ke pengadilan
dengan pemberian Ganti Kerugian berupa tanah adalah (246-7)+ 180 hari kerja = 419 hari
kerja. Sedangkan untuk Ganti Kerugian berupa rumah adalah (246-7)+ 365 hari kerja = 603
hari kerja.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 49


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Titik kritis yang perlu dicermati adalah dalam proses musyawarah untuk mendapatkan
kesepakatan mengenai penetapan Ganti Kerugian berdasarkan hasil penilaian harga tanah,
bangunan dan tanam tumbuhan oleh Penilai. Penetapan Ganti Kerugian tersebut adalah
berdasarkan penilaian bidang demi bidang objek pengadaan tanah. Oleh karena itu,
pelaksanaan musyawarah adalah bertahap sesuai dengan kemampuan tim
pelaksana,kesepakatan waktu dan tempat dengan Pihak yang Berhak.

Instansi yang memerlukan tanah mengajukan permohonan pengadaan tanah kepada Kepala
Kantor Wilayah BPN provinsi c/q Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota lokasi tanah
yang diperlukan dalam kegiatan pembangunan infrastruktur jalan.

D. Pelaporan

Paling lama 6 (enam) bulan sejak diterbitkan Peraturan Menteri, Kuasa pengguna Barang
pada satuan kerja wajib menyampaikan laporan menyeluruh tentang keberadaan aset tanah
yang dikuasai oleh satuan kerja bersangkutan kepada Unor (Unit Organisasi) yang menjadi
atasannya. Berdasarkan laporan tersebut, Pimpinan Unor (Unit Organisasi) membuat peta
informasi penguasaan tanah di lingkungan Unor (Unit Organisasi)nya dan melaporkannya
kepada Pengguna Barang. Selanjutnya Pengguna Barang membuat peta informasi
penguasaan tanah di lingkungan Departemen.

E. Pengendalian dan Pengawasan

Kuasa Pengguna barang, Pembantu Pengguna Barang Eselon I dan Pengguna Barang wajib
melakukan pengendalian atas data base pertanahan yang ada di lingkungan masing-masing
agar sesuai kondisi yang mutakhir. Pengendalian barang dilakukan dengan:

1. Pemutakhiran data tanah sesuai dengan laporan yang terbaru.


2. Pemeliharaan berkas laporan dan arsip data computer (ADK) pertanahan.
3. Pengawasan dilakukan secara berjenjang. Pengguna barang mengawasi 
pelaksanaan
pengamanan oleh pembantu pengguna barang eselon I. Pembantu pengguna barang
eselon I mengawasi pelaksanaan pengamanan oleh Kuasa Pengguna Barang. Kuasa
Pengguna Barang mengawasi pelaksanaan pengamanan oleh petugas administrasi dan
petugas verifikasi di unit akutansi Kuasa Pengguna Barang.

F. Latihan

Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1. Dalam penyerahan hasil pengadaan tanah apasaja berkas yang harus disiapkan
dan bagaimana mekanismenya?
2. Siapakah penanggung jawab kegiatan dalam penyerahan hasil pengadaan tanah?
3. Siapa saja pihak instansi/lembaga yang terlibat dalam kegiatan penyerahan hasil
pengadaan tanah?

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 50


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

G. Rangkuman

Dalam mekanisme penyerahan hasil pengadaan tanah, ketua Pelaksana Pengadaan


Tanah membuat dokumen dalam rangkap 2 (dua), yaitu 1 (satu) asli dan 1 (satu) fotokopi
yang dilegalisir oleh Pelaksana Pengadaan Tanah. Selanjutnya 1 (satu) rangkap fotokopi
yang dilegalisir diserahkan kepada Instansi yang memerlukan tanah, sedangkan 1 (satu)
rangkap yang merupakan asli untuk kelengkapan permohonan sertipikat hak atas tanah.
Penyerahkan dokumen Pengadaan Tanah kepada Instansi yang memerlukan tanah
paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pelaksanaan pengadaan tanah selesai.
Penyerahan hasil pengadaan tanah kepada Instansi yang memerlukan tanah
dilaksanakan dengan membuat Berita Acara Penyerahan Hasil Pengadaan Tanah.

Penanggung jawab kegiatan pada tahap pelaksanaan pengadaan tanah adalah Kepala
Kantor Wilayah BPN Provinsi yang dapat didelegasikan kepada Kepala Kantor
Pertanahan Kabupaten/Kota letak tanah calon lokasi pembangunan jalan, yang dalam
pelaksanaannya adalah Ketua Tim Pelaksanaan Pengadaan Tanah didukung
Sekretariat Tim. Penunjukan Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sebagai Ketua
Tim Pelaksana Pengadaan Tanah ditetapkan melalui keputusan Kepala Kantor Wilayah
BPN Provinsi.

Jangka waktu tahapan pelaksanaan dengan output penyerahan fisik dan dokumen alas
hak atas tanah, apabila tidak ada keberatan dan gugatan dari Pihak yang Berhak adalah
158 hari kerja setelah Pihak yang memerlukan tanah mengajukan dokumen permohonan
pelaksanaan pengadaan tanah kepada Kepala kantor Wilayah BPN Provinsi c/q Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota untuk satu lokasi wilayah kabupaten/kota. Apabila
ada gugatan Pihak yang Berhak yang diajukan ke pengadilan negeri dan kasasi ke
Mahkamah Agung, jangka waktu pelaksanaan pengadaan tanah paling lama adalah 246
hari kerja.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 51


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

PENUTUP

A. Evaluasi Kegiatan Belajar

Jawablah Pertanyaan dibawah ini dengan baik dan benar!

1. Proyek jalan dan jembatan yang memerlukan studi kelayakan harus


memenuhi kriteria, kecuali…
a. Mempunyai sifat ketidakpastian dan resiko cukup tinggi.
b. Proyek memerlukan penajaman dalam rencana, melalui
pembandingan dua atau lebih 
alternatif solusi yang unggul.
c. Menggunakan dana publik yang cukup besar dan atau proyek yang
penting dan strategis berdasarkan kebijakan publik.
d. Menjelaskan penting dan manfaatnya pengadaan tanah.
2. Secara umum Feasibility Study berisi, kecuali…
a. Hasil survey sosial ekonomi.
b. Analisis biaya dan manfaat pembangunan bagi wilayah dan
masyarakat.
c. Gambar detail bangunan/gambar bestek.
d. Perkiraan harga tanah, untuk menghasilkan perkiraan besarnya nilai
Ganti Kerugian Objek Pengadaan Tanah.
3. Yang termasuk tahap kegiatan Persiapan Tanpa Keberatan Pihak yang
Berhak dan Masyarakat adalah…
a. Menyiapkan Rencana Konsultasi Publik.
b. Masyarakat mengajukan gugatan ke Pengadilan TUN jika ada
keberatan/penolakan hasil Tim Kajian.
c. Menolak/keberatan lokasi oleh masyarakat.
d. Menginventaris dan Mengkaji Penolakan Masyarakat.
4. Dibawah ini yang termasuk tugas Tim Persiapan Pengadaan Tanah adalah…
a. Melakukan pendataan awal lokasi rencana pembangunan.
b. Membangun Indonesia dari Pinggiran dengan Memperkuat Daerah-
daerah dan Desa dalam Kerangka Negara Kesatuan Pembangunan.
c. Modernisasi pembangunan jalan untuk mengefisienkan prasarana
jalan.
d. Meningkatkan Produktivitas Rakyat dan Daya Saing di Pasar
Internasional.
5. Tim Persiapan Pengadaan Tanah beranggotakan, kecuali…
a. Bupati/Walikota.
b. SKPD Provinsi terkait.
c. Instansi yang memerlukan tanah.
d. Pengadilan Tata Usaha Negara.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 52


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

6. Penilaian untuk keperluan ganti kerugian meliputi…


a. Ganti kerugian biaya dan ganti kerugian non biaya.
b. Ganti kerugian fisik (material) dan Ganti kerugian non fisik
(immaterial).
c. Ganti kerugian fisik (material) dan ganti kerugian waktu (time).
d. Ganti kerugian jangka panjang dan ganti kerugian jangka pendek.
7. Verifikasi kesesuaian lokasi rencana pembangunan dengan RTRW dilakukan
dengan, kecuali…
a. Pengumpulan data sekunder dilaksanakan dengan cara
mengumpulkan dokumen-dokumen terkait dengan rencana
pembangunan.
b. Pengecekan lokasi rencana pengadaan tanah (sampai tingkat
administrasi Desa/Kelurahan) dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional, Provinsi, dan/atau Kabupaten/Kota.
c. Hasil verifikasi dituangkan dalam Surat Keterangan atau Berita Acara
Kesesuaian Lokasi Rencana Pembangunan dengan RTRW
d. Integrasi dengan sistem jaringan jalan yang direncanakan. Koordinasi
dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Dinas Tata
Ruang, atau instansi terkait lainnya.
8. Dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tersebut Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota segera membentuk Satgas A untuk:
a. Pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi Obyek Pengadaan Tanah
dan Pihak yang Berhak.
b. Mengajukan kebutuhan anggaran operasional pelaksanaan
pengadaan tanah.
c. Pelaksanaan pengukuran bidang tanah dan pengukuran batas
keliling.
d. Menyiapkan administrasi yang diperlukan.
9. Dalam proses pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tersebut Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota segera membentuk Satgas B untuk:
a. Pelaksanaan inventarisasi dan identifikasi Obyek Pengadaan Tanah
dan Pihak yang Berhak.
b. Merumuskan strategi dan solusi terhadap hambatan dan kendala
dalam pelaksanaan.
c. Pelaksanaan pengukuran bidang tanah dan pengukuran batas
keliling.
d. Menyiapkan langkah koordinasi ke dalam maupun ke luar di dalam
pelaksanaan.
10. Berikut ini adalah mekanisme yang dilakukan setelah Pemberian ganti rugi
dan pelepasan hak telah dilakukan, kecuali…
a. Hak atas tanah dari Pihak yang Berhak telah hapus.
b. Alat bukti hak pemilikan tanah menjadi tidak berlaku.
c. Tanah pengadaan disita oleh pengadilan negeri.
d. Tanah dikuasai oleh negara.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 53


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

B. Umpan Balik

Cocokan jawaban anda dengan Kunci Jawaban, untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Modul. Hitunglah jawaban anda yang benar, kemudian gunakan
rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan anda terhadap materi pada
Modul ini.

Tingkat Jumlah Jawaban yang Benar


penguasaan Jumlah Soal X 100%
=

Untuk latihan soal, setiap soal memiliki bobot nilai yang sama, yaitu 20/soal. Arti tingkat
penguasaan yang Anda capai:

90 – 100 % = Baik Sekali

80 – 89 % = Baik

70 – 79 % = Cukup

< 70 % = Kurang

Bila anda dapat menjawab salah dua dari pertanyaan diatas, Anda dapat meneruskan ke
materi selanjutnya. Tetapi apabila belum bisa menjawab soal diatas, Anda harus
mengulangi materi modul, terutama bagian yang belum anda kuasai.

C. Tindak Lanjut

Tujuan dari Pelatihan Manajemen Konstruksi (SIDLACOM) ialah agar para CPNS
memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai SIDLACOM (Survey, Investigation,
Design, Land Acquisition, Construction, Operation and Maintenance) dalam manajemen
konstruksi.

Pentingnya kompetensi ini dimiliki agar para CPNS memiliki kualitas dan komitmen yang
tinggi dalam bekerja sesuai dengan bidang dan unit organisasiya. Uraian dari materi
pokok 1 sampai dengan materi pokok 4, baru menjelaskan mengenai mekanisme dari
perencanaan, persiapan, pelaksanaan, dan penyerahan hasil dalam pengadaan tanah
(Land Acquisition) dalam manajemen konstruksi.

Masih banyak hal-hal yang tidak disampaikan dalam modul ini, diantara dari mata
pelatihan dalam pelatihan ini, ada pula yang menjadi mata pelatihan pada program
pelatihan jenjang yang lebih tinggi. Oleh karena itu untuk lebih memahami mengenai
Pengadaan Tanah, peserta dianjurkan untuk mempelajari, antara lain:

1. Bahan bacaan yang telah digunakan untuk menulis modul ini, sebagaimana
tersebut dalam daftar pustaka.
2. Modul mata pelajaran lain seperti Manajemen Penyelenggaraan Konstruksi dan
Modul terkait lainnya.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 54


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

D. Kunci Jawaban Soal

Latihan Materi Pokok 1

1. Pra studi kelayakan/ Pra Feasibility Study (Pra FS) merupakan salah satu bagian
dari kegiatan perencanaan secara keseluruhan yang dimulai dari identifikasi
masalah, perencanaan umum, kelayakan, dan survey pendahuluan. Kegiatan
Studi Kelayakan (Feasibility Study/FS) merupakan bagian akhir dari tahapan
evaluasi kelayakan proyek, untuk menindaklanjuti hasil proses seleksi proyek
dengan indikasi kelayakan yang tinggi, yang telah dihasilkan dalam pra studi
kelayakan.

2. Tinjauan teknis terhadap lalulintas, topografi, geometri, geologi dan geoteknik,
perkerasan jalan, hidrologi dan drainase dan struktur jembatan.
3. Fungsi kegiatan pra studi kelayakan adalah mengindentifikasi alternatif solusi
untuk menilai tingkat kelayakan dengan membandingkan kinerja ekonomis suatu
alternatif terhadap alternatif yang lain. Apabila pra studi kelayakan digabung
dengan studi kelayakan, maka fungsi kegiatan ini tetap dilakukan dalam kegiatan
studi kelayakan.
4. Studi AMDAL dimaksudkan untuk mengatasi dan mengeliminir dampak-dampak
lingkungan yang terjadi dalam setiap tahapan kegiatan pembangunan dengan
tujuan menganalisis dampak- dampak yang terjadi dan solusi penanganannya
(ekosistem, social ekonomi penduduk, budaya, dll) dalam setiap kegiatan
pekerjaan pembangunan. 


Latihan Materi Pokok 2

1. Tugas dari Tim Persiapan Pengadaan Tanah meliputi:


a. Melaksanakan pemberitahuan rencana pembangunan.
b. Melakukan pendataan awal lokasi rencana pembangunan.
c. Melaksanakan Konsultasi Publik rencana pembangunan.
d. Menyiapkan penetapan lokasi pembangunan.
e. Mengumumkan penetapan lokasi pembangunan untuk kepentingan 

umum.
f. Melaksanakan tugas lain yang terkait persiapan Pengadaan Tanah 
bagi
pembangunan untuk kepentingan umum yang ditugaskan Gubernur. 

2. Tugas dari Sekretariat Tim Persiapan Pengadaan Tanah meliputi:
a. Pemberitahuan awal.
b. Sosialisasi rencana pembangunan kepada masyarakat pada lokasi
rencana pembangunan.
c. Menyiapkan penandatangan Berita Acara Pelaksanaan Sosialisasi.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 55


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

3. Hal-hal yang disampaikan Tim Persiapan dalam Konsultasi Publik adalah: 



a. Maksud dan tujuan rencana pembangunan;
b. Tahapan dan waktu proses penyelenggaraan pengadaan tanah;
c. Peran Penilai dalam menentukan Ganti Kerugian;
d. Insentif yang akan diberikan kepada pemegang hak;
e. Obyek yang dinilai Ganti Kerugian;
f. Bentuk Ganti Kerugian dan hak dan kewajiban Pihak yang 
Berhak.


4. Apabila ada penolakan/keberatan lokasi oleh masyarakat, maka perwakilan
masyarakat yang diberi Kuasa segera membuat Surat keberatan kepada Instansi
yang memerlukan tanah. Selanjutnya Instansi yang memerlukan
tanah.melaporkan keberatan kepada Gubernur melalui Tim Persiapan. Gubernur
memerintahkan Tim Persiapan untuk melakkukan Konsultasi Publik Ulang.
5. Penanggung jawab kegiatan pada tahap ini adalah Pemerintah Daerah yaitu
Gubernur dan Bupati/Walikota letak tanah calon lokasi jalan yang dalam
pelaksanaannya adalah Ketua Tim Persiapan yang didukung Sekretariat Tim.
Pihak yang terlibat adalah: Pihak yang memerlukan tanah, yaitu PPK pada
Satuan Kerja Direktorat Jenderal Bina Marga, Pihak yang Berhak, dan
Masyarakat terkena dampak. Instansi lain yang terkait adalah: Kantor Wilayah
BPN Provinsi dan Kantor Pertanahan, Camat, Lurah/kepala Desa. Apabila ada
gugatan terkait pula: Pengadilan TUN dan Mahkamah Agung. 


Latihan Materi Pokok 3

1. Satgas A bertugas menginventarisasi dan mengidentifikasi data fisik


penguasaan, pemilikan, penggunaan dan pemanfaatan tanah. Anggotanya terdiri
dari 1 (satu) orang Ketua dan paling kurang 2 (dua) orang anggota. Terdiri dari
Pegawai Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kompetensi di bidang
survei, pengukuran dan pemetaan, dan ditetapkan dengan Keputusan Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah. Jika diperlukan untuk membantu Satgas A, Ketua
Pelaksana Pengadaan Tanah dapat menggunakan surveyor berlisensi untuk
pelaksanaan pengukuran dan pemetaan. 
Satgas B bertugas menginventarisasi
dan mengidentifikasi data Pihak yang Berhak dan Obyek Pengadaan Tanah
Anggota 1 (satu) orang Ketua dan paling kurang 2 (dua) orang anggota. Terdiri
dari Pegawai Badan Pertanahan Nasional yang mempunyai kompetensi di bidang
pertanahan, hukum, manajemen dan pemetaan, dan ditetapkan dengan
Keputusan Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah. Jika diperlukan untuk membantu
Satgas B, Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah dapat menambah keanggotaan
yang berasal dari instansi teknis terkait. 


PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 56


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

2. Dalam Penyusunan Rencana Kerja/Kegiatan Pelaksanaan Pengadaan Tanah


maka harus disiapkan:
a. Agenda rapat pelaksanaan; 

b. Rencana kegiatan teknis pelaksanaan; 

c. Kendala-kendala teknis yang terjadi dalam pelaksanaan; 

d. Merumuskan strategi dan solusi terhadap hambatan dan 
kendala dalam
pelaksanaan; 

e. Menyiapkan langkah koordinasi ke dalam maupun ke luar di 
dalam
pelaksanaan; 

f. Menyiapkan sistem monitoring, evaluasi dan pelaporan 
pelaksanaan 

g. Menyiapkan administrasi yang diperlukan; 

h. Rencana waktu dan penjadwalan pelaksanaan; 

i. Rencana kebutuhan tenaga pelaksana pengukuran bidang tanah 
dan
tenaga identifikasi hak atas tanah 

j. Rencana kebutuhan bahan, daftar isian, logistik dan peralatan 

pelaksanaan; 

k. Mengajukan kebutuhan anggaran operasional pelaksanaan 
pengadaan
tanah. 

3. Satgas A melaksanakan pengukuran dan pemetaan bidang per bidang tanah
meliputi:
a. Pengukuran batas keliling lokasi pengadaan tanah;
b. Pengukuran bidang per bidang dilakukan dengan cara mengukur 
dan
memetakan tanah Pihak yang Berhak di dalam keliling bidang 
tanah
atau trase;
c. Hasil pengukuran dan pemetaan bidang per bidang tanah 
dituangkan
dalam Peta Bidang Tanah yang ditandatangani oleh Ketua Satgas A. 

4. Satgas B melaksanakan pengumpulan data paling kurang mengenai:
a. Nama, pekerjaan, dan alamat Pihak yang Berhak; 

b. Nomor Induk Kependudukan atau identitas diri lainnya Pihak 
yang
Berhak; 

c. Bukti penguasaan dan/atau kepemilikan tanah, bangunan, 
tanaman,
dan/atau benda yang berkaitan dengan tanah; 

d. Letak tanah,luas tanah dan nomor identifikasi bidang; 

e. Status tanah dan dokumennya; 

f. Jenis penggunaan dan pemanfaatan tanah; 

g. Penguasaan dan/atau kepemilikan tanah, bangunan, dan/atau 
benda
lain yang berkaitan dengan tanah; 

h. Pembebanan hak atas tanah; 

i. Ruang atas dan ruang bawah tanah.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 57


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

Latihan Materi Pokok 4

1. Ketua Pelaksana Pengadaan Tanah membuat dokumen dalam rangkap 2 (dua),


yaitu 1 (satu) asli dan 1 (satu) fotokopi yang dilegalisir oleh Pelaksana
Pengadaan Tanah. Selanjutnya 1 (satu) rangkap fotokopi yang dilegalisir
diserahkan kepada Instansi yang memerlukan tanah, sedangkan 1 (satu)
rangkap yang merupakan asli untuk kelengkapan permohonan sertipikat hak
atas tanah. Penyerahkan dokumen Pengadaan Tanah kepada Instansi yang
memerlukan tanah paling lama 7 (tujuh) hari kerja setelah pelaksanaan
pengadaan tanah selesai. Penyerahan hasil pengadaan tanah kepada Instansi
yang memerlukan tanah dilaksanakan dengan membuat Berita Acara
Penyerahan Hasil Pengadaan Tanah.
2. Penanggung jawab kegiatan pada tahap pelaksanaan pengadaan tanah adalah
Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi yang dapat didelegasikan kepada Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota letak tanah calon lokasi pembangunan jalan,
yang dalam pelaksanaannya adalah Ketua Tim Pelaksanaan Pengadaan Tanah
didukung Sekretariat Tim.
3. Instansi/lembaga lain yang terkait adalah:
a. Dinas PU, menyangkut bangunan;
b. Dinas Pertanian, menyangkut tanam tumbuhan;
c. Kantor Pelayanan Pajak, menyangkut NJOP;
d. Camat;
e. Lurah/Kepala Desa; dan
f. Penilai, menyangkut besaran Ganti Kerugian.

Apabila ada gugatan, terkait pula (1) Pengadilan TUN dan (2) Mahkamah Agung.

Evaluasi Kegiatan Belajar

1. (D)
2. (C)
3. (A)
4. (A)
5. (D)
6. (B)
7. (A)
8. (C)
9. (A)
10. (D)

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 58


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang No.2 Tahun 2017 Tentang Jasa Konstruksi.

Undang-Undang No.2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan


Untuk Kepentingan Umum

Peraturan Presiden RI No.71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan pengadaan Tanah


Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Peraturan Presiden RI No.40 Tahun 2014 Perubahan atas Perpres No.71 tahun 2012
Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Peraturan Presiden RI No.30 Tahun 2015 Perubahan ketiga atas Perpres No.71 tahun
2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Peraturan Presiden RI No.148 Tahun 2015 Perubahan keempat atas Perpres No.71
tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional RI No.5 Tahun 2012 Tentang Petunjuk
Tehnis Pelaksanaan Pengadaan Tanah

Pedoman Studi Kelayakan Proyek jalan dan Jembatan No.19 tahun 2005

Modul Dasar-dasar Pelaksanaan Pengadaan Tanah, Pelatihan Pelaksanaan


Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan Jalan

Modul Persiapan dan Perencanaan Pengadaan Tanah, Pelatihan Perencanaan dan


Persiapan Pengadaan Tanah Untuk Pembagunan Jalan

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 59


MODUL PENGADAAN TANAH
PELATIHAN MANAJEMEN KONSTRUKSI

GLOSSARIUM

DED (Detailed Engineering Design) adalah perencanaan fisik; proyek untuk membuat
sebuah perencanaan detail bangunan sipil (gedung, jalan, jembatan, bendungan, dll.
Digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembangunan.

Fasos (fasilitas umum) adalah fasilitas yang disediakan oleh pemerintah atau swasta
untuk masyarakat, seperti sekolah, klinik, dan tempat ibadah.

Fasum (fasilitas umum) adalah fasilitas yang disediakan untuk kepentingan umum,
seperti jalan dan alat penerangan umum.

Feasibility Study adalah suatu penelitian tentang layak tidaknya suatu proyek bisnis yang
biasanya merupakan proyek yang dilakukan perusahaan.

Geoteknik adalah penerapan asas teknik secara ilmiah dalam memperoleh,


menafsirkan, dan menggunakan pengetahuan tentang kerak bumi untuk penyelesaian
permasalahan teknik sipil.

Hidrologi adalah ilmu tentang air di bawah tanah, keterdapatannya, peredaran dan
sebarannya, persifatan kimia dan fisikanya, reaksi dengan lingkungan, termasuk
hubungannya dengan makhluk hidup.

HGB (Hak Guna Bangunan) adalah jenis sertifikat dimana pemegang sertifikat berhak
memiliki dan mendirikan bangunan diatas tanah yang bukan kepemilikan dari pemilik
bangunan.

HGU (Hak Guna Usaha) adalah hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan
miliknya sendiri atas tanah yang yang dikuasai langsung oleh negara untuk pertanian
dan peternakan.

Pemetaan adalah pengelompokkan suatu kumpulan wilayah yang meliputi pegunungan,


dataran tinggi, sumber daya dan potensi penduduk yang berpengaruh terhadap sosial
kultural yang memiliki ciri khas khusus dalam penggunaan skala yang tepat.

Sengketa adalah pertentangan antara dua pihak atau lebih yang berawal dari persepsi
yang berbeda tentang suatu kepentngan atau hak milik yang dapat menimbulkan akibat
hukum bagi keduanya.

Sita jaminan adalah penyitaan yang dilakukan oleh pengadilan atas brang bergerak atau
tidak bergerak.

PUSDIKLAT SDA DAN KONSTRUKSI 60