Sei sulla pagina 1di 8

PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET RENDAH GULA TERHADAP

INTERDIALYTIC WEIGHT GAIN (IDWG) PADA PASIEN GAGAL GINJAL


KRONIK (GGK) DENGAN HEMODIALISIS YANG DIRAWAT
DI RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
1Henni Afriani, 2Bayhakki, 3Yulia Irvani Dewi
Program Studi Ilmu Keperawatan
Universitas Riau
Email: Mamasyifabiana@gmail.com
Abstract
Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible kidney damage that causes impaired function of
kidney in removing toxic and metabolic waste products characterized by the presence of protein in the urine. This
research aimed to determine the effect of chewing low-sugar gum on Interdialytic Weight Gain (IDWG). This research
method used Quasy Experiment with non-equivalent control group design divided into experiment group and control
group. The research was conducted in Arifin Achmad General Hospital Riau Province to 32 respondents taken using
purposive sampling technique divided into 16 respondents for the control group and 16 respondents for experimental
group. The instrument using scale. The analysis used univariate analysis to see frequency and bivariate with
Independent sample t test and Dependent sample t test. The results showed that the average IDWG experimental group
before chewing low-sugar gum was 2.4 kg. While IDWG after chewing gum low sugar was 1.9. The result of bivariate
test showed p value = 0.005 <α (0.05) which meant there was difference IDWG after given intervention. It is expected
to nurse can provide non-pharmacological therapy like chewing low-sugar gums to manage the body fluid of patient
with CKD.

Key words : Chewing gum , Chronic Kidney Disease, IDWG

PENDAHULUAN tinggi dari perempuan (0,2%) (Riskesdas,


Gagal Ginjal Kronik (GGK) merupakan 2013). Berdasarkan data Rekam Medik di
suatu kerusakan ginjal progresif dan RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau,
irreversibel yang menyebabkan ginjal tidak didapatkan jumlah penderita GGK juga
dapat berfungsi optimal dalam membuang mengalami peningkatan setiap tahunnya yaitu
racun dan produk sisa metabolisme yang pada tahun 2015 sekitar 350 orang dan pada
ditandai dengan adanya protein dalam urin tahun 2016 sebanyak 381 orang (Rekam
dan penurunan laju filtrasi glomerulus Medik RSUD Arifin Achmad, 2017).
(Smeltzer & Bare, 2009). Tarwoto & Smeltzer dan Bare (2009), GGK dibagi
Watonah (2011) GGK adalah ginjal menjadi 5 stage. Secara perlahan-lahan GGK
kehilangan kemampuannya untuk akan berlanjut sampai stage akhir (stage V)
mempertahankan volume dan komposisi jika tidak ditangani dengan baik. GGK stage
cairan tubuh dalam keadaan normal dengan V merupakan suatu keadaan dimana GFR <
oliguria (penurunan jumlah berkemih) 15 mL/menit/1.73 m2 dengan disertai
<400cc/24 jam. kerusakan ginjal dan penatalaksanaannya
World Health Organization (WHO) tahun adalah menjalani hemodialisis. Kebanyakan
2015 menyebutkan pertumbuhan jumlah pasien dengan GGK stage V yang menjalani
penderita GGK pada tahun 2014 telah hemodialisis harus menjaga diet cairan untuk
meningkat 50% dari tahun sebelumnya. mencegah overload cairan. Overload cairan
Angka kejadian GGK di dunia secara global yang terjadi dapat dilihat dari terjadinya
lebih dari 500 juta orang dan yang harus penambahan berat badan secara cepat.
menjalani hidup dengan bergantung pada Apabila cairan tidak dibatasi akan
hemodialisis 1,5 juta orang. Di Indonesia, menyebabkan komplikasi, seperti hipertensi,
prevalensi penyakit GGK pada kelompok edema paru akut, gagal jantung kongestif, dan
umur 35-44 tahun (0,3%), diikuti umur 45-54 juga berhubungan dengan lama hidup pasien.
tahun (0,4%), dan umur 55-74 tahun (0,5%), Asupan cairan harian yang dianjurkan pada
tertinggi pada kelompok umur ≥75 tahun pasien dibatasi hanya sebanyak Insensible
(0,6%). Prevalensi pada laki-laki (0,3%) lebih Water Losses (IWL) ditambah jumlah urin

179
(Smeltzer & Bare, 2009). Guyton (2007) setelah mengunyah permen karet kelompok
pemasukan cairan dalam 24 jam yang intervensi dengan p= 0,000 <α= 0,05.
dianjurkan untuk pasien yang menjalani Permen xylitol merupakan permen yang
hemodialisa adalah 500cc (IWL) + produksi mengandung pemanis buatan yang digunakan
urin/24 jam. Sebagai contoh seseorang yang sebagai bahan pengganti gula yang sama
mengeluarkan urin 300 cc/24 jam, maka manisnya dengan sukrosa. Kegiatan
cairan yang boleh dikonsumsi adalah 500 mengunyah permen karet rendah gula akan
cc+300 cc = 800 cc/ 24 jam. menimbulkan rangsangan mekanis dan
Lindberg (2010), pembatasan cairan kimiawi yang dapat menggerakkan reflek
mempunyai tujuan untuk mengurangi saliva dengan menstimulasi reseptor yang
kelebihan cairan pada periode interdialitik. dipantau oleh nervus trigeminal (V) dan
Interdialytic Weight Gain (IDWG) merupakan nervus fasial (VII) sebagai pengecap.
peningkatan volume cairan yang Stimulasi saraf simpatis akan mempercepat
dimanifestasikan dengan peningkatan berat sekresi pada semua kelenjar saliva dalam
badan sebagai dasar untuk mengetahui jumlah jumlah banyak (Ganong, 2008). Saliva yang
cairan yang masuk selama periode terakumulasi di mulut akan membasahi mulut,
interdialitik. Kenaikan berat badan 1 kilogram sehingga merupakan keuntungan tersendiri
sama dengan satu liter air yang dikonsumsi mengunyah permen karet dalam usaha
pasien. Kenaikan berat badan antar sesi menurunkan rasa haus yang muncul sehingga
hemodialisis yang dianjurkan yaitu antara akan mendukung pada program pembatasan
2,5% sampai 3,5% dari berat badan kering cairan (Arfany, Armiyati & Kusuma, 2015).
untuk mencegah resiko terjadinya masalah Xylitol juga merupakan pemanis yang
kardiovaskuler. Moissl et al (2013), aman bagi penderita diabetes dan
Pertambahan berat badan di antara dua sesi hiperglikemia yang diabsorsi lebih lambat
hemodialisa yang dapat ditoleransi oleh tubuh daripada gula biasa karena memiliki indeks
adalah 1,0-1,5 Kg. IDWG melebihi 4,8% akan glikemik yang sangat rendah yaitu 7,
meningkatkan mortalitas meskipun tidak sedangkan gula biasa memiliki indeks
dinyatakan besarannya. Penambahan nilai glikemik sampai 90 dan dilepaskan ke dalam
IDWG yang terlalu tinggi dapat menimbulkan darah 13 kali lebih cepat dibanding xylitol.
efek negatif terhadap tubuh diantaranya Hal ini menyebabkan xylitol tidak memberi
terjadi hipotensi, kram otot, sesak nafas, mual efek hiperglikemik yang disebabkan respon
dan muntah. insulin yang tidak cukup (Rachima, 2008).
Pembatasan asupan cairan pada pasien Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
GGK dengan hemodialisis merupakan hal pengaruh mengunyah permen karet rendah
yang penting untuk diperhatikan. Salah satu gula terhadap IDWG pada pasien GGK
caranya adalah mengunyah permen karet dengan Hemodialisis yang dirawat di RSUD
rendah gula yakni permen xylitol untuk Arifin Achmad Provinsi Riau.
memproduksi kelenjar saliva sehingga
mengurangi rasa haus (Arfany, Armiyati dan METODE PENELITIAN
Kusuma, 2015). Berdasarkan penelitian Penelitian ini menggunakan desain
Lastriyanti (2016) yang berjudul “Pengaruh penelitian Quasy Experiment dengan
aktivitas mengunyah permen karet rendah pendekatan Non-Equivalent Control Group.
gula terhadap rasa haus dan implikasinya Kelompok eksperimental diberi perlakuan
selama interdialisis pada pasien yang sedangkan kelompok kontrol tidak. Pada
menjalankan hemodialisa di RSPAD Gatot kedua kelompok diawali dengan pengukuran
Soebroto Jakarta” bahwa mengunyah permen sebelum pemberian perlakuan (pre test), dan
karet rendah gula berpengaruh terhadap rasa setelah pemberian perlakuan diadakan
haus sebanyak 0,212 kali dibandingkan pengukuran kembali (post test)
dengan tidak mengunyah permen karet, Sampel pada penelitian ini
dengan mengunyah permen karet terbukti menggunakan teknik purposive sampling
menurunkan IDWG yaitu ada perbedaan yaitu teknik pengambilan sampel dari
IDWG pada pasien hemodialisa sebelum dan populasi yang sesuai dengan kehendak
180
peneliti berdasarkan tujuan ataupun masalah (28-40 tahun)
penelitian serta karakteristik subjek yang Dewasa 12 75 12 75 24 75
pertengahan
diinginkan yang berada di RSUD Arifin (41-60 tahun)
Achmad Pekanbaru. Adapun kriteria insklusi Total 16 100 17 100 33 100
penelitian ini adalah Bersedia menjadi Jenis Kelamin
responden, Pasien yang dirawat dan menjalani Laki-laki 6 37,5 6 37,5 12 37,5
hemodialisis 2 kali dalam seminggu, Dapat Perempuan 10 62,5 10 62,5 20 62,5
ditimbang berat badannya dengan berdiri,
Total 16 100 17 100 33 100
Belum pernah mendapatkan perlakuan
mengunyah permen karet rendah gula, Pasien
dengan usia dewasa ke atas (>26 tahun) dan Berdasarkan tabel 1, karakteristik
pasien tidak sedang mendapat terapi alternatif responden berdasarkan umur pada kelompok
lain seperti mengulum es batu dan eksperimen dan kontrol berada pada rentang
sebagainya. usia 41-60 atau dewasa pertengahan sebanyak
Pengumpulan data pada penelitian ini 24 responden (75%). Karakteristik responden
menggunakan alat ukur secara langsung berdasarkan jenis kelamin mayoritas
kepada responden penelitian untuk mencari perempuan sebanyak 20 responden (62,5%).
perubahan atau hal-hal yang akan diteliti. Alat
ukur yang digunakan pada penelitian ini Tabel 2
berupa timbangan untuk mengukur berat Rata-rata lama menderita GGK dan lama
badan. menjalani HD
Responden dibagi menjadi dua
kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan Variabel N Mean SD Min Max
Lama 16 1,16 1,2 0.30 5,50
kelompok kontrol. Berat badan responden Eksperi GGK
pada kelompok eksperimen di ukur sebelum men Lama 16 0,85 1,2 0.08 5.50
dan setelah diberikan mengunyah permen HD
Kontrol Lama 16 1,54 1,1 0,17 4,16
karet rendah gula, sedangkan berat badan GGK
responden pada kelompok kontrol diukur Lama 16 1,23 1,2 0,16 4,16
tanpa pemberian perlakuan kemudian hasilnya HD
dicatat pada lembar observasi. Pemberian
terapi berupa mengunyah permen karet Berdasarkan tabel 2 diketahui bahwa
rendah gula selama 3 hari dengan 6 biji rata-rata lama menderita GGK yaitu 1 tahun 2
perhari dalam selang waktu 2 jam. bulan untuk kelompok eksperimen dan 1
tahun 6 bulan pada kelompok kontrol. Rata-
HASIL rata lama menjalani HD yaitu 10 bulan untuk
Hasil penelitian yang telah dilakukan kelompok eksperimen dan 1 tahun 2 bulan
tentang “Pengaruh mengunyah permen karet untuk kelompok eksperimen.
rendah gula terhadap Interdialytic Weight
Gain (IDWG) pada pasien gagal ginjal kronik Tabel 3
(GGK) dengan hemodialisis yang dirawat di Rata-rata IDWG responden sebelum
RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau” yang intervensi pada kelompok eksperimen dan
melibatkan 32 orang subjek penelitian. kontrol
A. Analisa Univariat Kelompok Mean SD min max
Tabel 1 Eksperimen 2.474 0.460 1,6 3,2
Distribusi frekuensi karakteristik responden
pada kelompok eksperimen dan kelompok Kontrol 2.575 0.786 1,3 3,7
kontrol
Karakteristik Eksperime Kontrol Jumlah Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa
responden n (N=16) (N=32)
(N=16)
mean IDWG responden sebelum intervensi
N % N % N % pada kelompok ekperimen adalah 2.474 Kg
Umur dengan standar deviasi 0,460. Sedangkan
Dewasa awal 4 25 4 25 8 25
181
mean pre test IDWG pada kelompok kontrol Tabel 6
yaitu 2.575 Kg dengan standar deviasi 0,786. Rata-rata IDWG pada kelompok eksperimen
sebelum dan setelah perlakuan mengunyah
Tabel 4 permen rendah gula
Rata-rata IDWG pasien setelah mengunyah
Selisih p
permen rendah gula dan tanpa mengunyah Eksperimen N Mean
mean
SD
value
permen rendah gula pada kelompok kontrol Pre test 16 2.474 0,46
-
IDWG Mean SD Min max 0,000
Post test 16 1.922 0,552 0,55
responden
Eksperimen 1.922 0,576 0,89 3,00
Kontrol 2.676 0,817 1,35 4,05 Berdasarkan tabel 6 diatas, dari hasil uji
statistik didapatkan mean IDWG sebelum
Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa mengunyah permen karet rendah gula terjadi
mean IDWG pada kelompok eksperimen penurunan dimana hasil pre test 2.474 dengan
setelah dilakukan intervensi adalah 1,922 standar deviasi 0,463 menurun menjadi saat
dengan standar deviasi 0,576. Mean IDWG post test menjadi 1.922 dengan standar
tanpa intervensi pada kelompok kontrol deviasi 0,559. Perbedaan mean antara
adalah 2,676 dengan standar deviasi 0,817. sebelum dan susudah intervensi yaitu sebesar
0,552. Berdasarkan uji statistik diperoleh
B. Analisa Bivariat nilai p value (0,000) < α (0,05) sehingga H0
Tabel 5 ditolak. Dengan demikian dapat disimpulkan
Uji normalitas data dengan uji shapiro-wilk bahwa terdapat perbedaan signifikan antara
p nilai IDWG pada pasien GGK antara sebelum
Kelompok intervensi N dan setelah mengunyah permen karet rendah
value
Pre test 16 0.716 gula.
Eksperimen
Post test 16 0.519
Tabel 7
Pre test 16 0.283
Kontrol Rata-rata IDWG pada kelompok kontrol
Post test 16 0.650 sebelum dan Sesudah tanpa mengunyah
permen rendah gula
Berdasarkan tabel 5, dari uji normalitas
data dengan uji shapiro-wilk didapatkan hasil Selisih p
pada kelompok eksperimen pre test dan post Kontrol N Mean SD
Mean value
test adalah data terdistribusi secara normal Pre test 16 2.535 0.786 0,002
0.141
dengan p value (0,716-0,519) > α (0,05). Pada Post test 16 2.676 0.817
kelompok pre test dan post test adalah data
terdistribusi secara normal dengan p value
(0,283-0,650) > α (0,05). Hal ini Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa
menerangkan bahwa penelitian ini memenuhi dari hasil uji statistik didapatkan mean nilai
syarat uji t karena variabel yang di ujikan IDWG mengalami peningkatan dimana pre
terdistribusi normal. test adalah 2.535 dengan standar deviasi
Analisa data yang digunakan untuk 0.786 dan mean IDWG post test adalah 2.676
membandingkan hasil observasi sebelum dan dengan standar deviasi 0.817. Perbedaan
sesudah pemberian intervensi pada kelompok mean antara sebelum dan sesudah yaitu
eksperimen dan kontrol dengan menggunakan sebesar 0,141. Berdasarkan uji statistik
uji dependent t test, sedangkan untuk didapatkan nilai p value (0,002) < α (0,05)
membandingkan hasil observasi sesudah sehingga H0 ditolak. Dengan demikian dapat
intervensi pada kelompok eksperimen dan disimpulkan bahwa terdapat perbedaan nilai
kelompok kontrol menggunakan independent IDWG antara sebelum dan setelah tanpa
t test. Pengolahan data dengan menggunakan perlakuan mengunyah permen karet.
metode statistik didapatkan hasil sebagai
berikut:

182
Tabel 8 pada usia dewasa karena proses perjalanan
Perbedaan rata-rata IDWG setelah diberikan penyakitnya yang bersifat kronis dan
intervensi pada kelompok eksperimen dan progresif (Smeltzer et al, 2008).
kelompok kontrol yang tidak diberikan Hasil analisis berdasarkan jenis kelamin
intervensi menunjukkan jumlah responden perempuan
lebih besar (62,5%) dari pada laki-laki
IDWG Selisih p
responden
Mean
mean
SD
value
(37,5%). Hal ini disebabkan karena pada saat
Post test 1.922 0,576 penelitian perempuan yang lebih banyak
eksperimen dirawat dan menjalani hemodialisa.
0,754 0,005
Post test 2.676 0,817 Prinsipnya, setiap orang baik perempuan
kontrol maupun laki-laki mempunyai resiko yang
sama untuk menderita GGK, namun dalam
hal ini kecenderungan perempuan yang lebih
Tabel 8 menunjukkan bahwa hasil uji t dominan yang menjalani HD dan sedang
independent didapatkan mean post test dirawat.
IDWG pada kelompok eksperimen adalah Berdasarkan lama mengalami GGK
1,922 dengan standar deviasi 0,576. Mean bahwa pasien yang sedang menjalani
post test skor IDWG kelompok kontrol adalah hemodialisa dan dirawat di RSUD Arifin
2,676 dengan standar deviasi 0,817. Hasil uji Achmad rata-rata 1 tahun. Dengan nilai
statistik diperoleh p value (0,005) < α (0,05).
minimun yaitu 3 bulan dan maksimum 4
Maka dapat disimpulkan ada perbedaan
tahun 9 bulan. Terapi hemodialisa akan sangat
IDWG setelah mengunyah permen karet
dirasakan manfaatnya bagi mereka yang dari
rendah gula pada kelompok eksperimen
awal sudah diketahui, ada indikasi dan
dengan skor IDWG tanpa mengunyah permen
langsung dirujuk untuk menjalani terapi
karet rendah gula pada kelompok kontrol
hemodialisa. Hal ini tentu saja sangat
dengan perbedaan mean sebanyak 0,754.
memotivasi penderita GGK terutama masih
PEMBAHASAN muda utuk berusaha patuh menjalankan terapi
Bab ini menguraikan pembahasan tentang sehingga didapatkan hasil yang optimal.
hasil penelitian pengaruh mengunyah permen Semakin terlambat perlakuan yang diberikan
karet rendah gula berpengaruh terhadap semakin memperburuk fungsi ginjal. Apalagi
IDWG pada pasien GGK dengan bila tidak ada motivasi dan dukungan
hemodialisis yang dirawat di RSUD Arifin keluarga, maka keberhasilan terapi
Achmad Provinsi Riau yang telah dilakukan hemodialisa melalui ketaatan pasien untuk
pada tanggal 18 Desember 2017 sampai 06 menjalaninya secara teratur sulit diupayakan
Januari 2018 selama 3 minggu dengan (Welas, 2011).
melibatkan 32 responden. Berdasarkan lama menjalani hemodialisa
Hasil penelitian berdasarkan usia bahwa pasien yang sedang menjalani
menunjukkan sebagian besar berada pada usia hemodialisa dan dirawat di RSUD Arifin
dewasa pertengahan 75%. GGK merupakan Achmad rata-rata 1 tahun 4 bulan. Penelitian
penyakit yang dapat dialami oleh semua umur Sapri (2012) menyatakan bahwa lamanya
sesuai dengan etiologinya, akan tetapi tidak menjalani hemodialisa (> 1 tahun)
semua pasien GGK menjalani hemodialisis. mempunyai pengaruh terhadap pengetahuan,
Usia dewasa pertengahan merupakan umur sikap dan kepatuhan pembatasan asupan
produktif sehingga dengan melakukan cairan. Setiap pasien memerlukan waktu yang
hemodialisis diharapkan pasien dapat berbeda-beda dalam meningkatkan
beraktifitas dengan baik dan dapat pengetahuan dan sikapnya. Semakin lama
meningkatkan kualitas hidupnya. Hasil pasien menjalani terapi hemodialisa makan
penelitian Fefendi (2008) menjelaskan bahwa akan banyak pengetahuan yang diperoleh dan
pasien dengan umur produktif merasa terpacu bisa bersikap positif terhadap kepatuhan diet
untuk sembuh, mempunyai harapan hidup cairan.
yang tinggi, dan sebagai tulang punggung Pengukuran IDWG pada pasien GGK
keluarga. Kasus GGK cenderung meningkat didapatkan hasil rata-rata IDWG sebelum
183
diberikan mengunyah permen karet rendah bagi setiap pasien tergantung fungsi ginjal,
gula yaitu 2,474 pada kelompok eksperimen adanya edema dan haluaran urine pasien.
dan 2,535 pada kelompok kontrol. Sedangkan Ketidakpatuhan dalam pengaturan cairan akan
rata-rata IDWG setelah mengunyah permen mengakibatkan IDWG yang berlebihan antara
karet rendah gula yaitu 1,922 pada kelompok 10% sampai dengan 60%, dengan prevalensi
eksperimen dan 2,676 pada kelompok kontrol. kejadian berada pada rentang 30% sampai
Perbedaan mean pada kelompok eksperimen dengan 74% (Denhaerynck,et al, 2007).
yaitu sebesar -0,552 sedangkan pada Pengaturan masukan cairan yang baik
kelompok kontrol yaitu 0.141. Berdasarkan dapat mencegah IDWG yang berlebihan.
hasil dari uji t dependent didapatkan adanya Masukan cairan ideal yang dikonsumsi pasien
perubahan IDWG yang signifikan antara mean setiap harinya adalah 600 mL + urine
IDWG pasien GGK sebelum dan sesudah output+extrarenal waterlosses, dimana 600
diberikan mengunyah permen karet rendah mL merupakan cairan yang hilang setiap
gula pada kelompok eksperimen dimana p harinya. Sedangkan extrarenal waterlosses
value 0,000 > α 0,005. Dapat disimpulkan meliputi diare, muntah dan sekresi
bahwa permen karet rendah gula berpengaruh nasogastrik. Maka berdasarkan teori tersebut
dalam menurunkan IDWG pada pasien GGK. dapat dikatakan bahwa rata-rata masukan
Permen karet rendah gula merupakan cairan harian responden mempunyai
permen yang mengandung pemanis buatan kecenderungan melebihi masukan cairan yang
yang digunakan sebagai bahan pengganti gula telah direkomendasikan. Terdapat beberapa
yang sama manisnya dengan sukrosa. alasan pasien untuk minum, yaitu karena haus
Molekul permen karet rendah gula dan karena keinginan minum bukan karena
mengandung lima rantai atom karbon atau haus misalnya karena hubungan sosial.
lima golongan hidroxil. Permen karet rendah Beberapa responden mengaku dapat
gula memiliki atom karbon yang lebih pendek mematuhi aturan masukan cairan karena
dibandingkan pemanis yang lainnya. Proses akibatnya sangat fatal yaitu sesak dan edema.
mastiktasi dan rasa permen karet rendah gula Tetapi sebagian besar responden mengatakan
ini dapat merangsang sekresi saliva. Kelenjar tidak bisa menahan rasa haus sehingga tidak
saliva yang dirangsang akan menghasilkan mempedulikan aturan masukan cairan yang
saliva sebanyak 0.4 ml/menit. Adanya proses harus diminum setiap harinya (Kapple &
mengunyah dapat meningkatkan sekresi Massry, 2004 dalam Istanti 2014).
saliva sebanyak 10-12 kali lipat, sehingga Hasil uji t independent didapatkan p value
merupakan keuntungan tersendiri mengunyah (0,005) < α (0,05) berarti Ho ditolak. Hal ini
permen karet dalam usaha menurunkan rasa menunjukkan adanya perbedaan yang
haus yang muncul akibat program pembatasan signifikan rata-rata IDWG pasien GGK
cairan (Arfany, Armiyati & Kusuma, 2015). sesudah mengunyah permen karet rendah gula
Sementara itu, hasil uji t dependent pada antara kelompok ekperimen dan kelompok
kelompok kontrol yang tidak diberikan kontrol yang tidak diberikan mengunyah
intervensi diperoleh hasil p value 0,002 < α permen karet rendah gula.
(0,05) berarti Ho ditolak. Hal ini Pada penelitian ini dapat disimpulkan
menunjukkan adanya perbedaan IDWG pada bahwa mengunyah permen karet rendah gula
kelompok kontrol. Jika dilihat dari kelompok terbukti dapat menurunkan IDWG pada pasien
kontrol didapatkan adanya peningkatan GGK. Hal ini sesuai dengan penelitian
IDWG pada pasien GGK. Hal ini dikarenakan Lastriyanti (2016), yaitu ada perbedaan rasa
tidak diberikannya perlakukan pada kelompok haus pada pasien hemodialisa sebelum dan
kontrol. IDWG sangat erat kaitannya dengan setelah mengunyah permen karet kelompok
masukan cairan pasien. Pembatasan cairan intervensi P Value = 0,000 < 0,05 dan ada
merupakan salah satu terapi yang diberikan perbedaan IDWG pada pasien hemodialisa
bagi pasien penyakit ginjal tahap akhir untuk sebelum dan setelah mengunyah permen karet
pencegahan dan terapi agar tidak kelompok intervensi P Value = 0,000 < 0,05.
memperburuk keadaan pasien. Jumlah cairan Mengunyah permen karet rendah gula
yang ditentukan untuk setiap harinya berbeda berpengaruh terhadap rasa haus sebanyak
184
0,212 kali dibandingkan dengan tidak mengulum es batu terhadap penurunan
mengunyah permen karet, dengan mengunyah rasa haus pada pasien Penyakit Ginjal
permen karet terbukti menurunkan IDWG. Kronis yang menjalani hemodialisis di
RSUD Tugurejo Semarang. Diperoleh
SIMPULAN tanggal 12 September 2017 dari
Pelaksanan mengunyah permen karet http://download.portalgaruda.org/article
rendah gula pada kelompok eksperimen ...
menurunkan IDWG pada pasien GGK dengan
selisih nilai rata-rata IDWG sebesar -0,552 Denheirynck, K., Gees, S. D., Manhaeve, D.,
dan berdasarkan hasil uji t dependent pada Dobbels, S., Garzoni, D, dan Nolte, C.
kelompok eksperimen menunjukkan (2007). Prevalence and consecuences
signifikansi dengan nilai p (0,000) < α (0,05). of non adherence to hemodialysis
Pada kelompok kontrol terjadi kenaikan regiment. Diperoleh tanggal 9 Januari
IDWG dengan selisih rata-rata skor IDWG 2018 dari
sebesar 0.141 dan berdasarkan hasil uji t http://ajcc.aacnjournals.org/cgi/content
dependent pada kelompok kontrol /full/16/3/222.
menunjukkan ada perbedaan dengan nilai p
Fefendi. (2008). Faktor-Faktor Yang
(0,001) < α (0,05). Hasil uji t independent
Mempengaruhi Ketidakpatuhan
dimana diperoleh p value (0,005) < α (0,05).
Perawatan Hemodialisis. Diperoleh
Hal ini berarti terdapat perbedaan yang
tanggal 3 November 2017 dari
signifikan antara rata-rata IDWG pada pasien
http://indonesianursing.com/2008/07/30
GGK pada kelompok eksperimen dan
/faktor-faktor.
kelompok kontrol sesudah dilakukan
mengunyah permen karet rendah gula. Ganong, W. F. (2008). Buku ajar fisiologi
Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kedokteran Edisi 22. Jakarta: EGC.
penurunan yang signifikan antara mean
IDWG sebelum dan sesudah diberikan Guyton, A.C & Hall, J. E. (2007). Buku ajar
intervensi mengunyah permen karet rendah fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC
gula berpengaruh terhadap IDWG pasien
GGK setelah dilakukan uji t dependent Istanti, Permatasari Yuni. (2014). Hubungan
dimana p value 0,000 < α (0,05). Dapat antara masukan cairan dengan
disimpulkan bahwa mengunyah permen karet Interdialytic Weight Gains (IDWG)
rendah gula berpengaruh dalam menurunkan pada pasien chronic kidney disease di
IDWG pasien GGK. unit hemodiaalisa RS PKU
Muhammadyah Yogyakarta. Diperoleh
1Henni Afriani:Mahasiswa Program tanggal 2 Oktober 2017 dari
Studi Ilmu Keperawatan Universitas https://ejournal.stikespku.ac.id/index.p
Riau, Indonesia hp/mpp/article/view/60
2 Bayhakki: Departemen Keperawatan

Medikal Bedah Program Studi Ilmu Lastriyanti. (2016). Pengaruh aktivitas


Keperawatan Universitas Riau, Indonesia mengunyah permen karet rendah gula
3Yulia Irvani Dewi: Departemen terhadap rasa haus dan implikasinya
Keperawatan Maternitas Program Studi selama interdialisis pada pasien yang
Ilmu Keperawatan Universitas Riau, menjalankan hemodialisa di RSPAD
Indonesia Gatot Soebroto Jakarta. Diperoleh
tanggal 12 Desember 2017 dari jurnal.
Keperawatan STIKES Hang Tuah
DAFTAR PUSTAKA Surabaya Vol. 10 No.1 / Maret
2016.ac.id/wpcontent/uploads/.../19-
Arfany, N. W., Armiyati, Y., & Kusuma, M. Jurnal-Lastriyanti.pdf.
A. B. (2015). Efektifitas mengunyah
permen karet rendah gula dan
185
Linberg, M. (2010). Excessive Fluid Overload Sapri, A. (2012). Faktor-faktor yang
Among Hemodialysis Patients : mempengaruhi kepatuhan dalam
Prevalence, Individual Characteristic mengurangi asupan cairan pada
and Self Regulation of Fluid Intake. penderita GGK yang menjalani
Disertasi. Faculty of Medicine hemodialisa di RSUD dr. H. Abdul
Uppsala Universitet. Diperoleh Moeloek Bandar Lampung. Diperoleh
tanggal 10 November 2017 dari tanggal 12 Desember 2017 dari
http://www.diva- http://www.indonesiannursing.com.
portal.org/smash/get/diva2:308451/FU
LLTEXT01.pdf. Smeltzer, S. C., & Bare B. G. (2009). Buku
ajar keperawatan medikal bedah
Moissl, U., Guillen, M.A., Wabel, P., Brunner & Suddarth. Jakarta:
Fontsere, N., Carrera, M., Campistol,
J.M, Maduell, F. (2013). Tarwoto & Wartonah. (2011). Kebutuhan
Bioimpedance Guided Fluid dasar manusia dan proses
Management in Hemodialysis keperawatannya. Edisi III. Jakarta:
Patients. Clin J Am Soc Nephrol. Salemba Medika.
Diperoleh tanggal 28 Oktober 2017
Welas, Riyanto. (2011). Hubungan antara
dari
penambahan berat badan diantara
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/arti
dua waktu hemodialisa (IDWG)
cles/PMC3805085/.
terhadap kualitas hidup pasien
Rekam Medik RSUD Arifin Achmad tahun penyakit ginjal kronik yang menjalani
2017. Data kejadian CKD. Pekanbaru terapi hemodialisa di unit hemodialisa
Riau. IP2K RSUP Fatmawati Jakarta.
Diperoleh tanggal 2 Januari 2018 dari
lontar.ui.ac.id/file?file=digital/202827
18-T%20Welas%20Riyanto.pdf.

186