Sei sulla pagina 1di 12

KAJIAN KETERLIBATAN MULTIPIHAK DALAM

PELAKSANAAN PERATURAN PERUNDANGAN MENGENAI


HUTAN LINDUNG DI KABUPATEN PANGKEP
(Study of Multi-stakeholders Involvement in the Implementation of
Protection Forest Regulations in Pangkep Regency)

Oleh / By :
Indah Novita Dewi , Achmad Rizal HB2, dan Priyo Kusumedi3
1

1,2
Balai Penelitian Kehutanan Makassar, Jl. Perintis Kemerdekaan Km 16,5 Makassar,
e-mail: indahnovitadewi@yahoo.com
3
Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, Jl. Dharma Bhakti No 7, Desa Langko,
Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat

Diterima sekretariat : Desember 2011, siap cetak : 30 Maret 2012

ABSTRACT
Many regulations had been issued by government cq. Ministry of Forestry, but some of them have not been
implemented properly. One of the causes is lacks of stakeholders's involvement and commitment in the
implementation. The aim of this research is to find out stakeholders and their roles in the implementation of
regulations on protection forest, so that the regulations implementation can be improved. This research focussed
on regulations of protection forest due to its important function in preventing protection forest from
degradation. This research was conducted by dividing stakeholders based on its power, interest and legitimacy,
interviews and discussion. The result showed that many institutions and personals have to be involved in the
implementation of regulations. A strong leadership needed in the implementation process, especially in
preparing and monitoring processes. It is recommended that leadership be taken by Provincial Forest Service.

Keywords: Regulations of protection forest, forest governance, stakeholders

ABSTRAK
Berbagai peraturan perundangan mengenai hutan lindung telah diterbitkan oleh pemerintah cq.
Kementerian Kehutanan, namun pada prakteknya sebagian dari peraturan tersebut tidak mudah
dilaksanakan di lapangan. Salah satu hambatan dari pelaksanaan peraturan perundangan tersebut adalah
belum jelasnya pihak yang terlibat dan peran yang dijalankannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
pihak yang harus dilibatkan dalam pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai hutan lindung,
agar pelaksanaannya berjalan dengan baik dan sesuai dengan maksud dan tujuan peraturan perundang-
undangan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan dengan membagi para pihak berdasarkan kekuatan,
kepentingan dan legitimasinya, wawancara dan diskusi para pihak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
selama ini tidak banyak pihak yang terlibat dalam pelaksanaan peraturan perundangan mengenai hutan
lindung. Perlu keterlibatan lebih banyak pihak terkait dengan satu leader atau koordinator. Leader yang
direkomendasikan dalam proses pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai hutan lindung
adalah Dinas Kehutanan Provinsi, khususnya dalam hal perencanaan dan monitor evaluasi.

Kata kunci: Peraturan perundangan, hutan lindung, tata kelola hutan, para pihak

11
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

I. PENDAHULUAN pemanfaatan hutan. Pemerintah seharusnya


mempunyai motif yang sejalan dengan azas-
Kerusakan hutan terjadi pada semua azas pelestarian lingkungan; pengusaha pada
kawasan hutan baik hutan produksi, hutan umumnya mempunyai motif untuk mem-
lindung dan kawasan konservasi. Ginoga, dkk. peroleh keuntungan komersial; sedangkan
(2005b) menyatakan bahwa pada era reformasi masyarakat khususnya masyarakat sekitar
dan otonomi daerah, hutan lindung dan hutan hutan mempunyai motif untuk memenuhi
konservasi mengalami tekanan yang sangat kebutuhan konsumsi keluarganya (Tadjudin,
kuat dari dalam (penebangan liar, kebakaran) 2000). Pada hutan lindung, pemanfaatan dapat
maupun luar untuk kepentingan berbagai dilakukan oleh masyarakat secara terbatas
alternatif penggunaan lain (misal, konversi ke sesuai peraturan perundangan (PP 6/2007).
tambang), sehingga fungsi lindungnya banyak Keterlibatan multipihak dalam suatu
yang terganggu dan tidak optimal. kegiatan yang terkait dengan pengelolaan alam
Provinsi Sulawesi Selatan mempunyai luas dan lingkungan telah dirasakan manfaatnya di
hutan lindung yang ketiga terbesar di berbagai daerah (Innes and Booher, 2003)
Indonesia (Ginoga, dkk., 2005a). Luas hutan terutama terkait dengan implementasi kebi-
lindung yang terbesar terletak di Kabupaten jakan. Berbagai forum, konsorsium, dan
Luwu Timur yaitu 233.163,75 ha dan yang kelompok kerja dibentuk guna lebih meng-
terkecil adalah di Kabupaten Takalar seluas 86 optimalkan tujuan kegiatan yang hendak
ha (Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi dicapai. Pembentukan lembaga di luar lembaga
Selatan, 2007). Secara umum kondisi kawasan formal yang terlibat ini, akan lebih meng-
hutan di provinsi ini mengalami berbagai efektifkan proses diskusi dan koordinasi antar
tekanan (Syukur, 2007). Kasus illegal logging instansi formal, karena dalam sebuah forum,
rata-rata mencapai 60 kasus per tahun dalam konsorsium maupun kelompok kerja, semua
satu dekade terakhir; perambahan dan pihak setara. Semua pihak duduk bersama
perladangan berpindah belum dapat diatasi; melakukan dialog dalam memecahkan per-
banyak terjadi konversi kawasan hutan soalan secara win-win solution. Kesepakatan
menjadi areal non-kehutanan dan kejadian yang dicapai diterima oleh semua pihak karena
kebakaran hutan rata-rata 8.000 hektar per tidak ada pihak yang dirugikan di dalamnya.
tahun dalam lima tahun terakhir. Khusus Tulisan ini menyajikan keterlibatan
hutan lindung, kerusakan yang terjadi sebagian multipihak dalam pelaksanaan peraturan
besar dikarenakan tekanan penduduk dan perundangan mengenai hutan lindung di
kegiatan pertambangan (Suryandari dan Kabupaten Pangkep dan rumusan hubungan
Sylviani, 2006). Kerusakan kondisi kawasan koordinasi yang sebaiknya terjadi di antara
hutan antara lain disebabkan oleh rendahnya pihak yang terlibat.
keterlibatan para pihak yang lemah serta carut-
marutnya sistem pengelolaan hutan.
Hutan merupakan public goods atau barang II. METODE PENELITIAN
publik yang pemanfaatannya mau tidak mau
melibatkan banyak pihak. Secara umum ter- A. Lokasi, Waktu, Bahan dan Alat
dapat tiga pihak yang terlibat dalam peman- Penelitian
faatan hutan yaitu pemerintah, pengusaha dan
Penelitian dilaksanakan di Kabupaten
masyarakat. Ketiga pihak tersebut mempunyai
Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, mulai
kepentingan dan motif yang berbeda dalam
bulan Maret hingga Desember 2008. Bahan

12
Kajian Keterlibatan Multipihak dalam . . .
Indah Novita Dewi, Achmad Rizal HB & Priyo Kusumedi

yang digunakan adalah daftar pertanyaan 2. Kategori PI (bertenaga); power sangat kuat,
sebagai panduan wawancara kepada informan. interest terpengaruh, klaim tidak diakui/
Adapun alat yang digunakan adalah alat tulis, legitimasi lemah
alat perekam, kamera dan perlengkapan 3. Kategori PL (berpengaruh); power sangat
lapangan lainnya. kuat, klaim diakui atau legitimasi kuat,
interest tidak terpengaruh
B. Metode Pengumpulan Data 4. Kategori IL (rentan); interest terpengaruh,
klaim diakui atau legitimasi bagus, tetapi
Tahapan pelaksanaan penelitian diawali
tanpa kekuatan
dengan studi literatur, mengumpulkan bahan-
5. Kategori P (dorman); power sangat kuat,
bahan penelitian yang diperlukan seperti
interest tidak terpengaruh, dan klaim tidak
peraturan perundang-undangan dan tulisan
diakui
lain yang mendukung, baik dari internet
6. Kategori L (berperhatian); klaim diakui,
maupun perpustakaan. Selanjutnya dilakukan
tetapi tidak terpengaruh dan tidak kuat
pengumpulan data sekunder berupa kondisi
7. Kategori I (marginal); terpengaruh, tetapi
umum lokasi penelitian, data statistik wilayah
klaim tidak diakui dan tidak kuat
penelitian, peta, dan lain-lain. Berikutnya
8. Peringkat lain-lain; para pihak yang tidak
dilaksanakan pengumpulan data primer
mempunyai ketiganya
melalui wawancara dengan para pihak seperti
Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Untuk melihat hubungan koordinasi para
Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten pihak dilakukan analisis koordinasi dengan
Pangkep, Dinas Pertambangan dan Energi, bantuan metode diskusi terfokus dimana para
Biro Hukum, Badan Pengendalian Dampak pihak mengemukakan hambatan dalam
Lingkungan, dan lain-lain. Terakhir dilaksana- pelaksanaan koordinasi dan juga solusi yang
kan pertemuan multipihak dalam rangka dapat dilakukan untuk mengatasinya,
menyatukan persepsi semua pihak terkait kemudian diambil suatu kesimpulan yang
mengenai keterlibatan multipihak dalam dijelaskan secara deskriptif kualitatif.
pelaksanaan peraturan perundang-undangan
mengenai hutan lindung. Pertemuan multi-
pihak dilaksanakan dengan menggunakan III. HASIL DAN PEMBAHASAN
metode FGD (Focussed Group Discussion).
A. Para Pihak yang Terlibat dalam Pelak-
C. Analisis Data sanaan Peraturan Perundang-undangan
Mengenai Hutan Lindung
Data dianalisis dengan menggunakan anali-
sis deskriptif kualitatif. Untuk mengidentifi- Sesuai dengan fungsinya yang teramat
kasi para pihak, selain dilakukan pengelom- penting bagi kelangsungan generasi yang akan
pokan antara pihak yang terkait langsung datang, keberadaan hutan lindung tidak hanya
maupun yang tidak langsung, juga digunakan menjadi perhatian pihak kehutanan saja. Oleh
analisis para pihak PIL (Power, Interest, sebab itu kegiatan pelaksanaan peraturan
Legitimacy) yang diperkenalkan oleh Grimble perundang-undangan hutan lindung harus
and Wellard (1997). Analisis ini membagi para dicermati oleh semua pihak terkait.
pihak menjadi delapan kategori, yaitu: Hutan lindung dengan fungsinya antara
1. Kategori PIL (dominan); power sangat lain sebagai pengatur tata air daerah bawahan-
kuat, interest terpengaruh, legitimasi tinggi nya, telah dilindungi keberadaannya dengan

13
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

diterbitkannya berbagai peraturan perundang- lingkup Pemerintah Pusat, Pemerintah


undangan. Menurut peraturan perundang- Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah
undangan (UU 41/1999; PP 6/2007 jo PP 3/ Daerah Kabupaten Pangkep.
2008), pemanfaatan hutan lindung dilakukan Tabel 1, menunjukkan pihak pusat dan
dengan tidak mengubah bentang alam dan provinsi yang terlibat langsung maupun tidak
hanya terbatas pada tiga jenis pemanfaatan langsung dalam pelaksanaan peraturan per-
yaitu pemanfaatan jasa lingkungan, peman- undangan mengenai hutan lindung. Pihak
faatan/pemungutan hasil hutan bukan kayu yang terlibat secara langsung adalah Dinas
dan pemanfaatan kawasan. Tiga jenis peman- Kehutanan, Dinas Pertambangan, Bapedalda,
faatan tersebut juga dilengkapi dengan syarat Balai Pemanfaatan Kawasan Hutan (BPKH),
pengajuan ijin yang ketat. Kenyataannya Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH)
beberapa lokasi hutan lindung termasuk di dan Asosiasi Pertambangan Marmer (APM)
Kabupaten Pangkep, tidak lepas dari pemu- Sulawesi Selatan. Para pihak ini masih dapat
kiman penduduk, mengandung bahan tam- dikelompokkan menjadi dua yaitu pihak
bang berharga dan potensi kayu yang cukup pertama mereka yang mempunyai kepen-
besar. Kenyataan ini membuat hutan lindung tingan mempertahankan luas areal hutan
yang di atas kertas 'untouchable', kemungkinan lindung adalah Dinas Kehutanan, Bapedalda,
akan jauh lebih hebat dirambah daripada hutan BPKH, PPLH. Adapun pihak kedua adalah
produksi. Data kerusakan hutan lindung yang pihak yang masih mempertanyakan luasan
lebih tinggi dibandingkan dengan hutan hutan lindung karena keinginan memanfaat-
produksi antara lain dikemukakan oleh kan sebagian areal untuk peruntukan lain yaitu
Ginoga, dkk. (2005a). Kondisi ini sangat Dinas Pertambangan dan APM Sulawesi
memprihatinkan sehingga perlu dikaji pihak Selatan. Hal ini disebabkan adanya potensi
mana saja yang berkepentingan terhadap marmer dalam tanah pada areal hutan lindung
keberadaan hutan lindung dan harus dilibatkan yang sebagian sudah ditambang sebelumnya,
dalam alur proses pelaksanaan peraturan namun kemudian terhenti karena peraturan
perundangan mengenai hutan lindung, agar perundangan yang melarang kegiatan
pelaksanaan perundangan tersebut tidak pertambangan terbuka di kawasan hutan
bertentangan dengan peraturan perundangan lindung. Pihak swasta dalam hal ini APM
yang disusun dengan tujuan mempertahankan Sulawesi Selatan masih melakukan berbagai
fungsi hutan lindung. upaya antara lain usulan alih fungsi lahan
Pihak yang terlibat baik langsung maupun hutan lindung menjadi peruntukan lain, agar
tidak langsung, dan peran masing-masing kegiatan pertambangan marmer yang telah
dalam pelaksanaan peraturan perundangan mati dapat dihidupkan kembali mengingat
mengenai hutan lindung di Kabupaten masih melimpahnya deposit marmer di
Pangkep disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2. wilayah tersebut.
Pihak yang terlibat terdiri dari instansi di

14
Kajian Keterlibatan Multipihak dalam . . .
Indah Novita Dewi, Achmad Rizal HB & Priyo Kusumedi

Tabel 1. Pihak pusat dan provinsi yang terlibat dalam pelaksanaan peraturan perundang-
undangan mengenai hutan lindung di Kabupaten Pangkep.
Table 1. Central and provincial institutions involved in the implementation of protection forest
regulations in Pangkep Regency
Tidak
Para pihak Langsung Kepentingan
No. langsung
(Stakeholders) (Primary) (Interest)
(Secondary)
1. Dinas Kehutanan Ö - Pihak yang paling berkepentingan
terhadap pelaksanaan peraturan perundang-
undangan bidang kehutanan
- Pertimbangan teknis pengesahan rencana
pengelolaaan dan pemanfaatan hutan
lindung (sesuai dengan PP 38/2007 ttg
pembagian urusan pemerintahan)
- Pemberian perizinan pemanfaatan
kawasan hutan dan pemungutan hasil
hutan bukan kayu yang tidak dilindungi
dan tidak termasuk ke dalam appendix
CITES, dan pemanfaatan jasa lingkungan
skala Provinsi dan Kab/Kota
2. Dinas Pertambangan Ö Terkait dengankeberadaan areal
pertambangan di dalam HL
3. Badan Pengendalian Ö Terkait dengan kelestarian lingkungan
Dampak Lingkungan secara umum
Daerah (Bapedalda)
4. Badan Perencanaan dan Ö Terkait dengan perencanaan regional suatu
Pembangunan Daerah wilayah/koordinasi
(Bappeda)
5. Balai Penelitian dan Ö Terkait dengan adanya penelitian dalam
Pengembangan Daerah ranah yang sama
(Balitbangda)
6. Balai Pemantapan Ö Terkait dengan wewenang penetapan tata
Kawasan Hutan (BPKH) batas kawasan hutan
7. Balai Pengelolaan Daerah Ö Terkait dengan proyek rehabilitasi kawasan
Aliran Sungai (BPDAS) hutan (gerhan) yang dilaksanakan di dalam
HL
8. Pusat Pengelolaan Ö Terkait dengan kelestarian lingkungan
Lingkungan Hidup secara umum
(PPLH)
9. Balai Taman Nasional Ö Terkait dengan adanya kawasan HL yang
(BTN) diubah menjadi TN dan menjadi unit
pengelolaan TN Bantimurung Bukusaraung
10. Pakar Ö Terkait dengan adanya penelitian dalam
akademisi/Perguruan ranah yang sama
Tinggi
11. Asosiasi Pertambangan Ö Terkait dengan keberadaan eks
Marmer Sulsel (APM tambang/potensi marmer dalam kawasan
Sulsel) dan ijin konsesi pertambangan di kawsan
hutan

15
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

Tabel 2. Pihak Kabupaten Pangkep yang terlibat dalam pelaksanaan peraturan perundang-
undangan mengenai hutan lindung
Table 2. Pangkep Regency institutions involved in the implementation of protection forest regulations
Tidak
Para pihak Langsung Kepentingan
No. langsung
(Stakeholders) (Primary) (Interest)
(Secondary)
1. Dinas Kehutanan Ö - Pihak yang paling berkepentingan
terhadap pelaksanaan peraturan perundang-
undangan bidang kehutanan.
- Pertimbangan teknis pengesahan rencana
pengelolaaan dan pemanfaatan hutan
lindung (sesuai dengan PP 38/2007 ttg
pembagian urusan pemerintahan)
- Pemberian perizinan pemanfaatan
kawasan hutan dan pemungutan hasil
hutan bukan kayu yang tidak dilindungi
dan tidak termasuk ke dalam appendix
CITES, dan pemanfaatan jasa lingkungan
skala Provinsi dan Kab/Kota
2. Dinas Pertambangan Ö Terkait dengan keberadaan areal
pertambangan di dalam HL
3. Badan Pengendalian Ö Terkait dengan kelestarian lingkungan
Dampak Lingkungan secara umum
Daerah (Bapedalda/LH)
4. Badan Perencanaan dan Ö Terkait dengan perencanaan regional secara
Pembangunan Daerah umum/koordinasi
(Bappeda)
5. Dinas Tata Ruang Ö Terkait perubahan tata ruang akibat
perubahan status kawasan
6. Biro Hukum Ö Terkait hirarkhi peraturan perundang-
undangan
7. Lembaga Swadaya Ö Terkait permasalahan lingkungan secara
Masyarakat umum
8. Tokoh masyarakat Ö Terkait dengan permasalahan yang timbul
akibat pelaksanaan peraturan yang tidak
sesuai
9. Dewan Perwakilan Ö Terkait dengan permasalahan yang timbul
Rakyat Daerah akibat pelaksanaan peraturan yang tidak
sesuai
10. Masyarakat sekitar hutan Ö Terkait dengan lahan tempat bekerja dan
lindung meneruskan kehidupan (pemberian akses
untuk ikut mengelola hutan)

Tabel 2, menunjukkan pihak yang terlibat terhimpit dalam dilema karena pada umumnya
dalam pelaksanaan peraturan perundangan di Kabupaten Pangkep, masyarakat hidup di
mengenai hutan lindung lingkup Kabupaten dalam kawasan hutan lindung sejak bertahun-
Pangkep. Pihak yang terkait langsung dan tahun yang yang lampau. Adapun peraturan
perlu diperhatikan adalah masyarakat sekitar perundangan tidak memperbolehkan adanya
hutan lindung. Posisi masyarakat dalam bangunan/pemukiman dalam kawasan hutan
pelaksanaan peraturan perundangan terkadang lindung.

16
Kajian Keterlibatan Multipihak dalam . . .
Indah Novita Dewi, Achmad Rizal HB & Priyo Kusumedi

Konstruksi hubungan para pihak dalam dan kategori lain-lain. Untuk kategori
pelaksanaan peraturan perundangan mengenai dominan (PIL), antara lain: Dinas Kehutanan
hutan lindung, dilakukan melalui tingkat Provinsi, Dinas Pertambangan Propinsi,
kekhasan utama para pihak. Tingkat kekhasan Bapedalda Propinsi, BPKH, PPLH, Dinas
utama para pihak merupakan tingkat keter- Kehutanan Kabupaten Pangkep, Dinas

Tabel 3. Analisis para pihak dengan kriteria kekhasan power-interest-legitimacy dalam


pelaksanaan perundang-undangan mengenai hutan lindung di Kabupaten Pangkep .
Table 3. Stakeholders analysis with specific characters of Power-Interest-Legitimacy in the
implementation of protection forest regulations in Pangkep Regency
Kekuatan Kepentingan Legitimasi
Para Pihak KATEGORI
No. (Power) (Interest ) (Legitimacy)
(Stakeholders) (Category)
Besar Kecil Besar Kecil Besar Kecil
Instansi Pusat/Provinsi
1. Dinas Kehutanan Ö Ö Ö PIL
2. Dinas Pertambangan Ö Ö Ö PIL
3. Bapedalda Ö Ö Ö PIL
4. Bappeda Ö Ö Ö PL
5. Balitbangda Ö Ö Ö -
6. BPKH Ö Ö Ö PIL
7. BPDAS Ö Ö Ö L
8. PPLH Ö Ö Ö PIL
9. BTN Babul Ö Ö Ö L
10. Perguruan Tinggi Ö Ö Ö L
11. APM sulsel Ö Ö Ö I
Instansi Kabupaten
1. Dinas Kehutanan Ö Ö Ö PIL
2. Dinas Pertambangan Ö Ö Ö PIL
3. Bapedalda/LH Ö Ö Ö PIL
4. Bappeda Ö Ö Ö PIL
5. Dinas Tata Ruang Ö Ö Ö PIL
6. Biro Hukum Ö Ö Ö PIL
7. LSM Ö Ö Ö -
8. Tokoh masyarakat Ö Ö Ö -
9. DPRD Ö Ö Ö PL
10. Masy.di dlm/sekitar Ö Ö Ö I
kawasan

pengaruhan suatu pihak oleh situasi atau ren- Pertambangan Kabupaten Pangkep, Bapedalda
cana tertentu dengan kriteria kekhasan yang Pangkep, Bappeda Pangkep, Dinas Tata Ruang
digunakan adalah Kekuatan (Power), Kepen- Pangkep dan Biro Hukum; kategori ber-
tingan (Interest) dan Legitimasi (Legitimacy). pengaruh (PL) antara lain Bappeda Provinsi
Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 3. dan DPRD Pangkep; kategori berperhatian (L)
adalah BPDAS, BTN Bantimurung Bulusa-
Tabel 3, menunjukkan bahwa kategori
raung, dan pihak akademisi; kategori marginal
para pihak dalam pelaksanaan peraturan
(I) adalah APM Sulawesi Selatan dan
perundangan mengenai hutan lindung ada lima
masyarakat sekitar hutan; sedangkan kategori
kategori yaitu: kategori PIL (dominan), PL
lain-lain adalah Balitbangda, LSM dan tokoh
(berpengaruh), L (berperhatian), I (marginal)
masyarakat.

17
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

Berdasarkan hasil tersebut maka para Dinas Kehutanan Provinsi. Terlebih di era
pihak yang harus dilibatkan dalam pelaksa- otonomi daerah, pihak Dinas Kehutanan
naan/implementasi peraturan perundangan Kabupaten terkadang hanya memberikan
mengenai hutan lindung di Kabupaten laporan kepada bupati tanpa tembusan kepada
Pangkep adalah kategori dominan, karena para Dinas Kehutanan Provinsi.
pihak tersebut mempunyai kekuatan, Disamping sosialisasi yang diselenggara-
kepentingan dan legitimasi yang besar diban- kan oleh Dinas Kehutanan Provinsi, selama ini
dingkan pihak lainnya. Di samping itu, para Dinas Kehutanan Kabupaten Pangkep juga
pihak dominan harus saling berkoordinasi melaksanakan sendiri kegiatan sosialisasi
dalam pelaksanaan peraturan perundangan di peraturan perundangan di lingkup kabupaten,
daerah sehingga tidak terjadi konflik kepen- dengan mengundang narasumber dari
tingan mengenai pemanfaatan dan penggunaan Pemerintah Pusat ataupun pihak akademisi
kawasan hutan lindung di daerah dengan yang dianggap mempunyai pengetahuan
adanya PP 6/2007 jo PP 3/2008 dan PP 38/ mendalam pada peraturan perundangan
2007. Pelibatan para pihak dominan ini tersebut. Hal ini merupakan salah satu contoh
diharapkan akan menimbulkan dampak antara dari duplikasi kewenangan dalam pengelolaan
lain: 1) peningkatan efektivitas dan efisiensi, hutan lindung antara pemerintah provinsi dan
2) peningkatan kelestarian, 3) peningkatan pemerintah kabupaten seperti dijelaskan oleh
transparansi dan pertanggung jawaban dan 4) Ekawati (2010).
peningkatan kesetaraan dalam konteks imple- Hasil analisis para pihak menghasilkan
mentasi peraturan perundangan mengenai beberapa pihak dominan yaitu pihak dengan
hutan lindung. kekuatan, kepentingan dan legitimasi yang
besar. Hal ini dapat berdampak positif
B. Hubungan Koordinasi Multipihak maupun negatif. Adanya banyak pihak dapat
dalam Pelaksanaan Peraturan Perun- ikut membantu menyelesaikan persoalan atau
dang-undangan Mengenai Hutan sebaliknya menambah keruh permasalahan
Lindung yang sudah ada. Untuk itu diperlukan satu
Hal yang paling penting dalam pelaksa- pihak/instansi yang berperan sebagai leader
naan peraturan perundangan mengenai hutan yang dapat menjadi penengah dan meng-
lindung, yang pertama adalah pemahaman ikutsertakan semua pihak yang terlibat baik
terhadap peraturan perundangan itu sendiri. pihak dominan lainnya, pihak berpengaruh,
Pemahaman peraturan perundangan dilaku- pihak berperhatian dan terutama pihak
kan melalui proses sosialisasi peraturan marginal. Berdasarkan pertimbangan tugas
perundangan. Selama ini, pihak Dinas pokok dan fungsinya yang terkait langsung
Kehutanan Provinsi telah berperan dalam dengan pengelolaan hutan lindung, maka
menyelenggarakan sosialisasi peraturan Dinas Kehutanan Provinsi direkomendasikan
perundangan tentang kehutanan secara rutin untuk dapat berperan sebagai leader.
dengan mengundang Dinas Kehutanan Koordinasi antar instansi pemerintah di
Kabupaten dan instansi terkait lainnya. Indonesia, pada umumnya belum berjalan
Kelemahannya adalah setelah pelaksanaan dengan baik (Ekawati, 2010; Elvida dan
sosialisasi, tidak ada lagi tindak lanjut Sylviani, 2010; Kusumedi dan Rizal, 2010).
pengawasan dari pelaksanaan peraturan Demikian juga hasil penelitian menunjukkan
perundangan tersebut, sehingga apabila ada bahwa masalah koordinasi menurut pihak
penyimpangan, tidak dapat dipantau oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Pangkep

18
Kajian Keterlibatan Multipihak dalam . . .
Indah Novita Dewi, Achmad Rizal HB & Priyo Kusumedi

merupakan masalah yang rumit. Koordinasi Provinsi maupun Kepala Daerah. Sebagai
dengan instansi propinsi dan instansi lain pihak yang berhubungan langsung dengan
tingkat kabupaten lebih sulit dilakukan jika masyarakat, instansi ini juga diharapkan
dibandingkan dengan koordinasi bersama melakukan kegiatan sosialisasi kepada
masyarakat sekitar hutan. Hal ini dapat masyarakat serta mendorong partisipasi
dipahami karena pada umumnya kegiatan masyarakat.
koordinasi antar instansi selalu terbentur Apabila mekanisme ini dapat dilakukan,
masalah pengalokasian waktu dan pem- maka pengelolaan hutan lindung dapat
biayaan. Hal ini semakin menguatkan berjalan dengan lebih baik karena ada sistem
perlunya Dinas Kehutanan Provinsi berperan pengawasan ganda yaitu dari pihak Kabupaten
sebagai leader atau koordinator, tentunya Pangkep sendiri (instansi terkait dan DPRD)
dengan konsekuensi penambahan dana dan dan dari pihak Dinas Kehutanan Provinsi.
sumber daya manusia pada instansi ini. Untuk mengakomodir pihak lainnya yang
Berdasarkan diskusi para pihak yang mempunyai kepentingan dalam implementasi
telah dilaksanakan, maka hubungan koor- peraturan perundangan mengenai hutan
dinasi multipihak yang seharusnya terjalin lindung namun tidak mempunyai jalur
adalah sebagai berikut: 1) Dinas Kehutanan koordinasi langsung dengan pihak kehutanan,
Provinsi dapat tetap berperan dalam kegiatan dapat dipikirkan solusi yang paling memung-
sosialisasi, ditambah memonitor dan evaluasi. kinkan, salah satunya adalah pembentukan
Selain itu juga berperan sebagai koordinator forum, kelompok kerja atau konsorsium
yang berinisiatif melakukan pertemuan multi- pengelolaan hutan lindung. Melalui forum,
pihak apabila diperlukan dalam memecahkan kelompok kerja atau konsorsium, para pihak
masalah yang terkait dengan pelaksanaan duduk bersama, membicarakan permasalahan
peraturan perundangan mengenai hutan tanpa menonjolkan kepentingan instansinya
lindung; dan 2) Dinas Kehutanan Kabupaten sendiri, melainkan mencari solusi yang dapat
Pangkep mengimplementasikan peraturan diterima semua pihak tanpa mengalahkan
perundangan di kawasan hutan lindung kepentingan pihak tertentu. Hubungan
wilayah Pangkep dan berkewajiban melapor- koordinasi multipihak dalam pelaksanaan
kan hasil pengelolaan hutan lindung yang telah peraturan perundangan mengenai hutan
dilaksanakan baik kepada Dinas Kehutanan lindung dapat dilihat pada Gambar 1.

19
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

Dinas Kehutanan
Propinsi (sosialisasi,
perencanaan,
pengawasan)

Instansi Terkait Dinas Kehutanan Kepala Daerah


(PIL, PL, L dan I) Kabupaten (sosialisasi, Kabupaten
pengawasan dan Perencanaan, pelaksana- (pengawasan)
sharing informasi an)

Masyarakat dan Hutan


Lindung (perencanaan
dan pelaksanaan)

Keterangan (Remarks) :

= hubungan koordinasi dalam konteks kedinasan (official coordination);


= hubungan koordinasi yang terjalin dalam bentuk forum, kelompok kerja atau konsorsium
(other coordination)

Gambar 1. Hubungan koordinasi multipihak dalam pelaksanaan peraturan perundangan


mengenai hutan lindung
Figure 1. Lines of coordination among stakeholders is the implementation of protection forest
regulations

Pihak Dinas Kehutanan Pangkep mau- juga adalah masyarakat sekitar hutan lindung.
pun Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Walaupun masuk dalam kategori marginal,
Selatan telah memiliki pengalaman dalam masyarakat perlu dilibatkan karena adanya
melakukan koordinasi antar instansi melalui kepentingan yang besar dan ketergantungan
jalur forum, kelompok kerja atau konsorsium. masyarakat terhadap hutan guna peningkatan
Salah satunya wujudnya adalah ketika meren- pendapatan. Hal ini sesuai dengan program
canakan pengelolaan Taman Nasional Banti- pemerintah dalam pemanfaatan hutan lindung
murung-Bulusaraung (Dewi, 2007) dalam walaupun hanya terbatas pada pemanfaatan
Konsorsium Pengelolaan Taman Nasional. jasa lingkungan dan HHBK saja, misalnya
Pengalaman bekerja sama dengan instansi lain dengan pemberian akses kepada masyarakat
dalam konsorsium ini, dapat dijadikan untuk ikut serta dalam pengelolaan hutan
masukan dalam membentuk suatu institusi lindung. Disamping itu pemerintah juga
yang memungkinkan para pihak untuk berkewajiban untuk dapat meningkatkan
berdialog dan berkoordinasi terkait dengan kapasitas sumber daya manusia di sekitar
pengelolaan hutan lindung secara umum, dan kawasan hutan lindung sehingga sadar akan
khususnya mengenai implementasi peraturan pentingnya keberadaan hutan lindung di
perundangan hutan lindung di lapangan. sekitarnya. Hal tersebut bisa dilakukan dengan
Salah satu pihak yang harus diperhatikan sekolah lapang, pelatihan dan studi banding ke

20
Kajian Keterlibatan Multipihak dalam . . .
Indah Novita Dewi, Achmad Rizal HB & Priyo Kusumedi

daerah lain yang berhasil dalam pengelolaan B. Saran


hutan bersama masyarakat.
Perlu dibentuk institusi semi formal
dalam bentuk forum, kelompok kerja atau
konsorsium sehingga semua pihak yang terkait
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
dengan pelaksanaan peraturan perundangan
mengenai hutan lindung dapat duduk bersama
A. Kesimpulan
membicarakan permasalahan yang ada.
Kesimpulan yang didapatkan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Pihak yang terlibat dalam pelaksanaan DAFTAR PUSTAKA
peraturan perundang-undangan mengenai
hutan lindung di Kabupaten Pangkep Dewi, IN. 2007. Keterlibatan multipihak
adalah sebagai berikut: dalam perencanaan pembangunan
- Pihak dominan: Dinas Kehutanan Taman Nasional (Studi kasus pada
Provinsi Sulsel, Dinas Pertambangan Taman Nasional Bantimurung-Bulu-
Provinsi Sulsel, Bapedalda Propinsi saraung di Sulawesi Selatan). Tesis
Sulsel, BPKH, PPLH, Dinas Kehutanan Program Pasca Sarjana. Universitas
dan Perkebunan Kab. Pangkep, Dinas Hasanuddin. Makassar. Tidak diterbit-
Pertambangan Kab. Pangkep, Bapedalda kan.
Kab. Pangkep, Bappeda Kab. Pangkep,
Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Selatan.
Dinas Tata Ruang Kab. Pangkep, Biro
2007. Perkembangan Luas Kawasan
Hukum Kab. Pangkep.
Hutan Kabupa-ten/Kota dalam Statistik
- Pihak berpengaruh: Bappeda Provinsi
2007 Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi
Sulsel, DPRD Kab. Pangkep.
Selatan.
- Pihak berperhatian: BP DAS, BTN
Bantimurung-Bulusaraung, Perguruan Ekawati, S. 2010. Kajian tata hubungan kerja
Tinggi/akademisi. antar institusi kehutanan dalam penge-
- Pihak marginal: Asosiasi Pertambangan lolaan hutan lindung di era otonomi
Marmer, Masyarakat sekitar hutan. daerah. Jurnal Analisis Kebijakan
2. Hubungan koordinasi antar pihak yang Kehutanan. Vol. 7 No. 3, Desember
terlibat dalam pelaksanaan peraturan 2010. Pusat Penelitian dan Pengem-
perundang-undangan mengenai hutan bangan Perubahan Iklim dan Kebijakan.
lindung di Kabupaten Pangkep selama ini Bogor.
belum berjalan secara optimal karena tidak
Elvida, YS., dan Sylviani. 2010. Analisis peran
ada inisiatif untuk memulainya. Masing-
dan koordinasi para pihak dalam penge-
masing pihak yang mempunyai kepen-
lolaan KPH. Jurnal Analisis Kebijakan
tingan terhadap permasalahan ini berjalan
Kehutanan. Vol. 7 No. 3, Desember
sendiri-sendiri karena tidak ada jalur
2010. Pusat Penelitian dan Pengem-
koordinasi yang telah disepakati. Dengan
bangan Perubahan Iklim dan Kebijakan.
adanya leader atau koordinator dalam
Bogor.
proses pelaksanaan peraturan perundangan
mengenai hutan lindung, diharapkan Ginoga, K., M Lugina, D Djaenudin. 2005a.
terjalin hubungan koordinasi yang baik di Kajian kebijakan pengelolaan hutan
antara para pihak yang terlibat. lindung. Jurnal Penelitian Sosial dan

21
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan
Vol. 9 No. 1, April 2012 : 11 - 22

Ekonomi Kehutanan. Pusat Penelitian Kusumedi, P dan A. Rizal HB. 2010. Analisis
dan Pengembangan Sosial Budaya dan stakeholder dan kebijakan pembangunan
Ekonomi Kehutanan. Bogor. KPH model Maros di Propinsi Sulawesi
Selatan. Jurnal Analisis Kebijakan
Ginoga, KL., YC Wulan, F. Nurfitriani, G.
Kehutanan. Vol. 7 No.3, Desember
Irianto, M. Lutful, D. Djaenudin, M.
2010. Pusat Penelitian dan Pengem-
Lugina, O.K. Karyono, dan L.B. Darmi.
bangan Perubahan Iklim dan Kebijakan.
2005b. Peran hutan lindung sebagai
Bogor.
pengatur air dan nilai ekonomi manfaat
hidrologisnya di Sub DAS Brantas dan Suryandari, E.Y dan Sylviani. 2006. Kajian
Sub DAS Cirasea: Suatu kajian awal. kebijakan pengelolaan hutan lindung
Laporan Hasil Penelitian. Pusat pada era otonomi daerah. Jurnal Analisis
Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan Volume 3 No.1.
Kebijakan Kehutanan. Bogor. Tidak Badan Penelitian dan Pengembangan
diterbitkan. Kehutanan. Jakarta.
Grimble, R. And K. Wellard. 1997. Syukur, A.I. 2007. Kebijakan pemerintah
Stakeholders Methodologies in Natural propinsi dalam kolaborasi bidang
Resources Manage-ment: A Review of PHKA di Sulawesi Selatan. Makalah
Principles, Context, Experiences. disajikan dalam Workshop Pengem-
bangan Kerjasama dan Kemitraan/
Innes, JE and DE. Booher. 2003. Collaborative
Kolaborasi, BKSDA Sulawesi Selatan,
Policymaking: Governance Through
Makassar, 18 Januari.
Dialogue in Hajer M and H Wagenaar.
2003. Deliberative Policy Analysis, Tadjudin, Dj. 2000. Manajemen Kolaborasi.
Understanding Governance in the Pustaka Latin. Bogor.
Network Society. Cambridge Univer-
Undang-Undang Republik Indonesia No.41
sity Press.
Tahun 1999 tentang Kehutanan.
Peraturan Pemerintah No.6 tahun 2007
YS Elvida dan D.S. Sukadri. 2002. Reformulasi
tentang Tata Hutan dan Penyusunan
kebijakan otonomi daerah bidang
Rencana Pengelolaan Hutan serta
kehutanan. Buletin Penelitian dan
Pemanfaatan Hutan.
Pengembangan Kehutanan. Badan
Peraturan Pemerintah No.38 tahun 2007 Litbang Kehutanan. Jakarta.
tentang Pembagian Urusan Pemerin-
tahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah Propinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota.

22