Sei sulla pagina 1di 35

POSISI DAYA SAING PERTANIAN INDONESIA DAN UPAYA PENINGKATANNYA

Arief Daryanto

Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis-Institut Pertanian Bogor (MB-IPB) dan Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen-Institut Pertanian Bogor

ABSTRACT

Agriculture has a very strategic role in economic development as a whole. The agricultural sector of the national GDP (13-14%) and provide employment for 42,61-43,03 million people (2008-2009). New role of agriculture today can be placed within the framework of "3 M contribution in the economy", namely food, feed and fuel. The World Economic Forum (WEF) ranked Indonesia at number 54 of 131 countries (2007-2008), declined to order 55 of the 134 countries (1008-2009) which surveyed. In 2009-2010, Indonesia occupies the 54th position of 133 countries surveyed. In general, the status of the competitiveness of agricultural commodities in terms of comparative advantage (DRCR) and competitive advantage (PCR) showed lower for several commodities, especially rice, soybeans, and sugar cane in which the value of DRCR and PCR (0 .80 to 1, 00), some cases> 1. For commodity corn and peanuts, and livestock have a moderate competitiveness coefficient value between DRCR and PCR 0,50-70. Meanwhile, for horticultural products (vegetables) and tobacco competitive high enough value coefficient far DRCR and PCR (0,30-0,60). Based on the RCA index, Indonesia still relies on abundance resources and dependence on natural resources. Agro industry which has RCA> 1, such as fishery products, coffee products, tea and spices, tobacco and products of vegetable and animal oils. Increasing agricultural competitiveness of the micro perspective can be done with increased efficiency and productivity, encourage investment, encourage the transformation of agriculture and through policies conducive to the development of agricultural commodities. Meanwhile, referring to the macro perspective of improving the competitiveness of agriculture can be done through several strategies that focuses on five factors: (1) factor (input) conditions; (2) demand conditions; (3) related and supporting industries; (4) firm strategy, structure and Rivalry; (5) regional-governance.

Key words : competitiveness, comparative advantage, competitive advantage, micro perspective, macro perspective, agriculture

ABSTRAK

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam pembangunan perekonomian secara keseluruhan. Kontribusi sektor pertanian terhadap PDB nasional sebesar (13–14 %) dan menyerap tenaga kerja sebesar 42,61-43,03 juta orang (2008- 2009). Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ”3 F contribution in the economy”, yaitu food (pangan), feed (pakan) dan fuel (bahan bakar). Forum Ekonomi Dunia atau World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia di

Arief Daryanto

urutan 54 dari 131 negara (2007-2008), menurun menjadi urutan 55 dari 134 negara (2008- 2009) yang disurvei. Pada tahun 2009-2010, Indonesia menempati posisi yang ke 54 dari 133 negara yang disurvei. Secara umum status daya saing komoditas pertanian ditinjau dari keunggulan komparatif (DRCR) maupun keunggulan kompetitif (PCR) menunjukkan kondisi yang cukup mengkawatirkan terutama untuk komoditas padi (beras), kedelai, dan tebu (gula) di mana nilai DRCR dan PCR mendekati satu (0,80-1,00), beberapa kasus > 1. Untuk komoditas jagung dan kacang tanah, serta peternakan memiliki daya saing yang moderat dengan nilai koefisien DRCR dan PCR antara 0,50-70. Sementara itu, untuk produk-produk hortikultura (sayuran) dan tembakau memiliki daya saing yang cukup tinggi dengan nilai koefisien DRCR dan PCR jauh (0,30-0,60). Berdasarkan indeks RCA, Indonesia masih mengandalkan resource abundance dan ketergantungan pada sumber daya alam. Industri agro yang memiliki RCA > 1, antara lain produk perikanan, produk kopi, teh dan rempah- rempah, tembakau dan produk minyak nabati dan hewani. Peningkatkan daya saing pertanian dari perspektif mikro dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas, mendorong investasi, mendorong transformasi pertanian serta melalui kebijakan kondusif bagi pengembangan komoditas pertanian. Sementara itu, mengacu pada perspektif makro peningkatan daya saing pertanian dapat dilakukan melalui beberapa strategi yang mengfokuskan pada lima faktor, yaitu : (1) factor (input) conditions; (2) demand conditions; (3) related and supporting industries; (4) firm strategy, structure and rivalry; (5) regional governance.

Kata kunci :

dayasaing, keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, perspektif mikro, perspektif makro, pertanian

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian memiliki peranan yang sangat strategis dalam kehidupan kita. Xenophon, filsuf dan sejarawan Yunani yang hidup 425-355 SM mengatakan bahwa “Agriculture is the mother and nourishes of all other arts. When it is well conducted, all other arts prosper. When it is neglected, all other arts decline”. Pertanian adalah ibu dari segala budaya. Jika pertanian berjalan dengan baik, maka budaya-budaya lainnya akan tumbuh dengan baik pula, tetapi manakala sektor ini diterlantarkan, maka semua budaya lainnya akan rusak. Pentingnya pertanian juga dinyatakan oleh filsuf terkenal Lao Tze, yang hidup sekitar 600 tahun SM. Ia mengatakan bahwa “There is nothing more important than agriculture in governing people and serving the Heaven”, Tidak ada suatu pun yang lebih penting di dunia ini selain pertanian, jika ingin masuk surga.

Sektor pertanian telah terbukti memiliki peranan penting bagi pembangunan perekonomian suatu bangsa. Hal ini didasarkan pada kontribusi sektor pertanian yang tidak hanya berperan dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, dan perolehan devisa. Peranan sektor pertanian juga dapat dilihat secara lebih komperhensif, antara lain :

(a) sebagai penyediaan pangan masyarakat sehingga mampu berperan secara strategis dalam penciptaan ketahanan pangan nasional (food security) yang sangat erat kaitannya dengan ketahanan sosial (socio security), stabilitas ekonomi,

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

stabilitas politik, dan keamanan atau ketahanan nasional (national security); (b) sektor pertanian menghasilkan bahan baku untuk peningkatan sektor industri dan jasa, (c) sektor pertanian dapat menghasilkan atau menghemat devisa yang berasal dari ekspor atau produk subtitusi impor, (d) sektor pertanian merupakan pasar yang potensial bagi produk-produk sektor industri, (e) transfer surplus tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor industri merupakan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi, dan (f) sektor pertanian mampu menyediakan modal bagi pengembangan sektor-sektor lain (a net outflow of capital for invesment in other sectors); serta (g) peran pertanian dalam penyediaan jasa-jasa lingkungan.

Pertanian juga dipandang sebagai suatu sektor yang memiliki kemampuan khusus dalam memadukan pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan yang berkualitas (Daryanto, 2009). Semakin besarnya perhatian terhadap melebarnya perbedaan pendapatan memberikan stimulan yang lebih besar untuk lebih baik memanfaatkan kekuatan pertanian bagi pembangunan. Terlebih sekitar 45 persen tenaga kerja bergantung pada sektor pertanian primer maka tidak heran sektor pertanian menjadi basis pertumbuhan di perdesaan. Pertanian sudah lama disadari sebagai instrumen untuk mengurangi kemiskinan. Pertumbuhan sektor pertanian memiliki kemampuan khusus untuk mengurangi kemiskinan. Estimasi lintas negara menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB (Produk Domestik Bruto) yang dipicu oleh pertanian paling tidak dua kali lebih efektif dalam mengurangi kemiskinan daripada pertumbuhan yang disebabkan oleh sektor di luar pertanian. Kontribusi besar yang dimiliki sektor pertanian tersebut memberikan sinyal bahwa pentingnya membangun pertanian yang berkelanjutan secara konsisten untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus kesejahteraan rakyat.

Kondisi di atas menunjukkan sektor pertanian sudah selayaknya dijadikan sebagai suatu sektor ekonomi yang sejajar dengan sektor lainnya. Sektor ini tidak lagi hanya berperan sebagai aktor pembantu apalagi figuran bagi pembangunan nasional, tetapi harus menjadi pemeran utama yang sejajar dengan sektor industri. Tidak dapat dipungkiri, keberhasilan sektor industri sangat tergantung dari pembangunan sektor pertanian yang dapat menjadi landasan pertumbuhan ekonomi. Dua alasan penting sektor pertanian harus dibangun terlebih dahulu, jika industrialisasi akan dilakukan pada suatu negara, yakni alasan : pertama, barang- barang hasil industri memerlukan dukungan daya beli masyarakat petani yang merupakan mayoritas penduduk Indonesia, maka pendapatan petani sudah semestinya ditingkatkan melalui pembangunan pertanian dan alasan kedua, sektor industri membutuhkan bahan mentah yang berasal dari sektor pertanian sehingga produksi hasil pertanian ini menjadi basis bagi pertumbuhan sektor industri itu sendiri. Oleh karena itu, pertumbuhan di sektor pertanian diyakini memiliki efek pengganda (multiplier effects) yang tinggi karena pertumbuhan di sektor ini mendorong pertumbuhan yang pesat di sektor-sektor perekonomian lain, misalnya di sektor pengolahan (agro-industry) dan jasa pertanian (agro-services).

Dari uraian sebelumnya terlihat bahwa sektor pertanian atau agribisnis mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis dalam perekonomian Indonesia. Namun demikian, pembangunan sektor pertanian masih mengalami permasalahan-permasalahan pokok yang menghambat pengembangannya, baik

Arief Daryanto

permasalahan makro maupun mikro. Peningkatan daya saing sektor pertanian dengan pendekatan agribisnis mutlak harus terus dilakukan agar dapat berperan lebih baik dalam perekonomian Indonesia, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

Tujuan Penulisan

Secara umum makalah ini bertujuan untuk melihat posisi daya saing agribisnis Indonesia. Secara terperinci makalah ini ditujukan untuk : (1) melihat kinerja sektor pertanian dan peranannya dalam pembangunan ekonomi; (2) menempatkan peranan baru sektor pertanian dalam menjawab tantangan masa depan; (3) tinjauan konseptual terhadap daya saing dan pengukurannya; (4) mengkaji posisi peringkat daya saing Indonesia; (5) mengkaji status dan kinerja daya saing beberapa komoditas pertanian; dan (6) strategi peningkatan daya saing pertanian yang berorientasi peningkatan kesejahteraan petani.

KINERJA SEKTOR PERTANIAN DAN PERANANNYA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Sektor pertanian merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. Hal ini terlihat dari peran sektor pertanian dalam struktur perekonomian nasional sebagaimana tercemin dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), penyerapan tenaga kerja, dan kontribusinya terhadap perolehan devisa.

Kontribusi Sektor Pertanian terhadap Pembentukan PDB

Sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, yang ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap PDB nasional. Nilai PDB dan Kontribusi PDB setiap sektor perekonomian disajikan pada Tabel 1. Kontribusi PDB sektor pertanian termasuk perikanan dan kehutanan dalam lima tahun terakhir adalah sebesar (13–14%) dari nilai total PDB Nasional. Angka tersebut relatif besar, karena kontribusi sektor pertanian tersebut menempati urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan (27–28%) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (14–16%). Bahkan pada tahun 2008 menempati urutan kedua setelah sektor industri pengolahan.

Pada tahun 2007 kontribusi sektor pertanian terhadap PDB sebesar (13,7%) dan meningkat menjadi (14,4%) pada tahun 2008. Begitupun kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB mengalami peningkatan yaitu (27,1%) pada tahun 2007 menjadi (27,8%) pada tahun 2008. Apabila dilihat laju pertumbuhannya, dalam empat tahun terakhir PDB sektor pertanian selalu mengalami peningkatan dan tumbuh sebesar (4,77%) pada tahun 2008 (Tabel 2). Laju pertumbuhan tersebut berada di bawah sektor-sektor lainnya kecuali sektor pertambangan dan penggalian yang hanya tumbuh sebesar (0,51%) dan industri pengolahan yang tumbuh (3.66%) di tahun 2008.

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Tabel 1.

Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Milyar Rupiah)

Lapangan Usaha

2004

2005

2006

2007*

2008**

Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan

329.124,6

364.169,3

433.223,4

541.592,6

713.291,4

(14,3)

(13,1)

(13,0)

(13,7)

(14.4)

Pertambangan & Penggalian

205.252

309.014,1

366.520,8

441.006,6

543.363,8

(8,9)

(11,1)

(11,0)

(11,2)

(10,9)

Industri Pengolahan

644.342,6

760.361,3

919.539,3

1.068.653,9

1.380.731,5

(28,1)

(27,4)

(27,5)

(27,1)

(27,8)

Listrik, Gas & Air Bersih

23.730,3

26.693,8

30.354,8

34.724,6

40.846,7

(1,0)

(1,0)

(0.9)

(0,9)

(0,8)

Konstruksi

151.247,6

195.110,6

251.132,3

305.215,6

419.321,6

(6,6)

(7,0)

(7,5)

(7,7)

8,5)

Perdagangan, Hotel & Restoran

368.555,9

431.620,2

501.542,4

589.351,8

692.118,8

(16,1)

(15,6)

(15,0)

(14,9)

(14,0)

Pengangkutan dan Komunikasi

142.292

180.584,9

231.523,5

264.264,2

312.454,1

(6,2)

(6,5)

(6,9)

(6,7)

(6,3)

Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan

194.410,9

230.522,7

269.121,4

305.213,5

368.129,7

(8,5)

(8,3)

(8,1)

(7,7)

(7,4)

Jasa-jasa

236.870,3

276.204,2

336.258,9

399.298,6

483.771,3

(10,3)

(10,0)

(10,1)

(10,1)

(9,8)

Produk Domestik Bruto

2.295.826,2

2.774.281,1

3.339.216,8

3.949.321,4

4.954.028,9

Produk Domestik Bruto Tanpa Migas

2.083.077,9

2.458.234,3

2.967.040,3

3.532.807,7

4.426.384,7

Sumber : BPS, 2009 (diolah) Keterangan : Angka ( ) adalah persentase terhadap Total PDB *Angka sementara ** Angka sangat sementaea

Tabel 2.

Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Persen)

Lapangan Usaha

2004

2005

2006

2007*

2008**

Pertanian, Peternakan, Kehutanan & Perikanan

2,82

2,72

3,36

3,43

4,77

Pertambangan dan Penggalian

-4,48

3,20

1,70

2,02

0,51

Industri Pengolahan

6,38

4,60

4,59

4,67

3,66

LIstrik, Gas, dan Air Bersih

5,30

6,30

5,76

10,33

10,92

Konstruksi

7,49

7,54

8,34

8,61

7,31

Perdagangan, Hotel & Restoran

5,70

8,30

6,42

8,41

7,23

Pengangkutan dan Komunikasi

13,38

12,76

14,23

14,04

16,69

Keuangan, Real Estat dan Jasa Perusahaan

7,66

6,70

5,47

7,99

8,24

Jasa-jasa

5,38

5,16

6,16

6,60

6,45

Produk Domestik Bruto

5,03

5,69

5,50

6,28

6,06

Produk Domestik Bruto Tanpa Migas

5,97

6,57

6,11

6,87

6,52

Sumber: BPS, 2009 Keterangan : * Angka sementara ** Angka sangat sementara

Arief Daryanto

Peranan besar yang dimiliki sektor pertanian dalam pertumbuhan PDB memberikan sinyal positif bagi Indonesia untuk lebih serius dan secara konsisten menerapkan revitalisasi pembangunan pertanian terutama dalam memecahkan masalah kemiskinan dan pengangguran. Revitalisasi pertanian memiliki tiga pilar pengertian, yaitu (Krisnamurthi, 2006): (a) sebagai kesadaran akan pentingnya pertanian; (b) bentuk rumusan harapan masa depan akan kondisi pertanian; serta (c) sebagai kebijakan dan strategi besar melakukan proses “revitalisasi pertanian” itu sendiri. Peran revitalisasi pertanian tidak hanya sebatas membangun kesadaran pentingnya pertanian semata, tetapi juga terkait dengan adanya perubahan paradigma pola pikir masyarakat yang memandang pertanian tidak hanya sekedar bercocok tanam menghasilkan komoditas untuk dikonsumsi. Sektor pertanian mempunyai efek pengganda (multiplier efect) yang besar terkait dengan adanya keterkaitan ke depan dan ke belakang (forward and backward linkages) dengan sektor-sektor lainnya, terutama industri pengolahan dan jasa. Disamping itu, kontribusi sektor pertanian harus diartikan secara lebih luas, sebagai suatu kegiatan penciptaan nilai tambah mulai dari usahatani (kandang) hingga makanan yang tersaji di atas meja kita, from farm to table business.

Kontribusi Sektor Pertanian dalam Penyerapan Tenaga Kerja

Pembangunan ekonomi yang dipilih saat ini adalah dengan menerapkan “Strategi Tiga Jalur (Triple Tracks Strategy), yakni : stabilitas ekonomi makro; pengembangan sektor riil, utamanya melalui pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan usaha mikro dan kecil; serta revitalisasi pertanian dan perdesaan (Krisnamurthi, 2009). Strategi tersebut telah dijadikan panduan dalam menggerakkan ekonomi melalui berbagai kebijakan pemerintah. Tiga jalur ini berasaskan pro-growth, pro-employment, dan pro-poor dalam setiap program pembangunan ekonomi. Sektor pertanian telah mampu memberikan kontribusi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja. Dalam hal ini sektor pertanian melalui pendekatan agribisnis menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah pengangguran yang kian tahun kian meningkat. Masalah pengangguran merupakan masalah yang secara makro menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengatasinya.

Data BPS menunjukkan pada bulan Februari 2008, sektor pertanian telah menyerap tenaga kerja sebesar 42,61 juta orang dan mengalami peningkatan menjadi 43,03 juta orang pada bulan Februari tahun 2009. Penyerapan tenaga kerja ini menempati urutan pertama dibandingkan sektor-sektor lainnya. Besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap penyerapan tenaga kerja tersebut mengindikasikan bahwa sektor pertanian masih bersifat padat karya (labor intensive) dibandingkan padat modal (capital intensive).

Apabila ditinjau dari tahun 2005 sampai 2009, persentase tenaga kerja pertanian terhadap jumlah angkatan kerja berkisar antara 41-44 persen. Angka ini masih menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian masih dominan dibandingkan sektor lainnya. Pada Tabel 4 diperlihatkan bahwa pada tahun 2009 dibandingkan dengan kontribusi sektor industri pengolahan, yang menyumbang PDB hampir 30 persen, sektor industri hanya menyerap 12,1 persen

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

tenaga kerja. Sektor perdagangan-rumah makan-hotel dengan kontribusi sekitar 14 persen hanya mampu menyerap 20,9 persen tenaga kerja. Sektor pertambangan dan penggalian dengan kontribusi terhadap PDB sekitar 11 persen hanya menyerap 1,1 persen tenaga kerja. Ini berarti bahwa sektor pertanian menjadi tumpuan penyerapan tenaga kerja, terutama di perdesaan.

Tabel 3. Perkembangan Tenaga Kerja Menurut Lapangan Pekerjaan Tahun 2005-2009

Lapangan pekerjaan utama

2005 (Feb)

2006 (Feb)

2007 (Feb)

2008 (Feb)

2009 (Feb)

Pertanian, Kehutanan, Perburuan dan Perikanan

41.814.197

42.323.190

42.608.760

42.689.635

43.029.493

Pertambangan dan

808.842

947.097

1.020.807

1.062.309

1.139.495

Penggalian

Industri Pengolahan

11.652.406

11.578.141

12.094.067

12.440.141

12.615.440

Listrik, Gas, dan Air

186.801

207.102

247.059

207.909

209.441

Bangunan

4.417.087

4.373.950

4.397.132

4.733.679 4.610.695

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan, dan Hotel

18.896.902

18.555.057

19.425.270

20.684.041

21.836.768

Angkutan, Pergudangan dan Komunikasi

5.552.525

5.467.308

5.575.499

6.013.947

5.947.673

Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah, dan Jasa Perusahaan

1.042.786

1.153.292

1.252.195

1.440.042

1.484.598

Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan Perorangan

10.576.572

10.571.965

10.962.352

12.778.154

13.611.841

Total

94.948.110

95.177.102

97.583.141

102.049.857

104.485.444

Sumber : BPS, 2009

Tabel 4. Tenaga Kerja (TK) menurut Sektor Tahun 2009*

Sektor

Rata-rata TK

Prosentase TK

(juta orang)

(sektor/nasional)

Pertanian, Kehutanan, Perburuan & Perikanan

43,0

41,2

Pertambangan & penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bangunan

1,1

1,1

12,6

12,1

0,2

0,2

4,6

4,4

Perdagangan Besar, Eceran, Rumah Makan & Hotel Angkutan, Pergudangan & Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan, Tanah & Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan, Sosial dan perorangan

21,8

20,9

5,9

5,7

1,4

1,4

13,6

13,0

Total

95,2

100,0

Keterangan: * sampai dengan Februari 2009; Sumber : BPS, 2009 (diolah)

Arief Daryanto

Namun demikian bila dilihat dari aspek produktivitas, rendahnya kontribusi sektor pertanian dalam PDB yang hanya sebesar (13,4%) dibandingkan sektor industri yang mencapai (27,8%) yang menyebabkan tidak seimbangnya kontribusi PDB dan jumlah tenaga kerja yang diserap, maka tingkat produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian dapat dikatakan yang terendah. Bandingkan dengan sektor industri yang menyumbang (27,8%) terhadap PDB nasional, namun hanya menyerap tenaga kerja sebesar (12,1%). Sebagai akibatnya, kesejahteraan rumah tangga yang bekerja di sektor pertanian akan lebih rendah dibanding yang bekerja di sektor industri.

Kontribusi Sektor Pertanian dalam Pembentukan Devisa Negara

Kontribusi sektor pertanian dalam pembentukan devisa negara dapat dilihat dari kontribusi sektor tersebut dalam perdagangan internasional, dapat ditunjukkan oleh posisi beberapa komoditas pertanian di pasar dunia. Berdasarkan data dari Departemen Pertanian, pada kurun waktu tiga tahun terakhir nilai dan volume ekspor komoditas pertanian yang terbagi dalam empat subsektor yaitu subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan mengalami kecenderungan meningkat (Tabel 5). Dari keempat subsektor, subsektor perkebunan memberikan kontribusi terbesar dalam ekspor komoditas pertanian.

Tabel 5. Neraca Ekspor-Impor Indonesia, 2006-2008

2006

2007

2008

Subsektor

Volume

Nilai

Volume

Nilai

Volume

Nilai

(kg)

(USD)

(kg)

(USD)

(kg)

(USD)

Tanaman Pangan

- Ekspor

861.218

264.154

999.460

289.049

550.624

231.690

- Impor

11.456.511

2.568.454

9.398.521

2.729.147

5.197.866

2.455.225

- Neraca

-10.595.293

-2.304.300

-8.399.061

-2.440.098

-4.647.242

-2.223.535

Hortikultura

- Ekspor

456.890

238.064

393.863

254.765

356.518

294.134

- Impor

923.867

527.414

1.293.411

795.121

11.111.931

693.792

- Neraca

-466.977

-289.350

-899.548

-540.356

-755.413

-399.658

Perkebunan

- Ekspor

21.378.189

13.972.064

22.089.288

19.964.870

15.692.949

18.968.369

- Impor

1.776.174

1.675.067

4.268.424

2.731.627

1.934.635

3.113.710

- Neraca

19.602.015

12.296.997

17.821.045

17.233.243

13.758.314

15.854.659

Peternakan

- Ekspor

198.407

388.939

458.900

748.531

413.770

782.992

- Impor

880.430

1.190.396

950.518

1.695.459

733.951

1.653.914

- Neraca

-682.023

-801.457

-491.618

-947.928

-320.181

-870.922

Pertanian

- Ekspor

22.894.704

14.863.221

23.941.511

21.257.215

17.013.861

20.277.185

- Impor

15.036.982

5.961.331

15.910.692

7.952.354

8.978.383

7.916.641

- Neraca

7.857.722

8.901.890

8.030.819

13.304.861

8.035.478

12.360.544

Sumber: BPS, 2009

Dilihat dari neraca perdagangan, pada kurun waktu tiga tahun terakhir sektor pertanian mengalami surplus neraca perdagangan, hal ini mengindikasikan bahwa kinerja sektor pertanian telah benar-benar tumbuh dan mampu memberikan kontribusi dalam perbaikan neraca perdagangan nonmigas. Diharapkan kinerja sektor pertanian pada tahun-tahun ke depan dapat dipertahankan dan ditingkatkan

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

sehingga tidak hanya ketergantungan terhadap impor yang dapat ditekan tetapi juga kinerja ekspor produk pertanian baik segar maupun olahan dapat semakin ditingkatkan. Beberapa komoditas unggulan Indonesia di pasar dunia adalah kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Berdasarkan data nilai ekspor beberapa komoditas pertanian, dapat terlihat bahwa kelapa sawit, kakao, dan kelapa menunjukkan nilai ekspor yang meningkat dari tahun 2006 sampai 2008 (Tabel 6).

Tabel 6. Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Komoditas Unggulan Pertanian

Nilai Ekspor (000 US$)

Komoditas

2006

2007

2008

Kelapa Sawit Kakao Kelapa Kopi Tembakau Gandum/ Meslim Olahan Lada Susu dan Produk Susu Teh Pinang Tebu Ubi Kayu Segar Gandum/ Meslim Jagung Segar Kubis/ Kol Segar atau dingin Kacang Tanah Segar Kedelai Olahan Ubi Jalar Segar Kacang Tanah Olahan Manggis Kentang Segar Kedelai Segar Jamur Bawang Merah Segar Beras

5.551.160

9.078.283

9.652.908

855.047

924.237

829.908

363.081

695.921

707.932

588.502

636.417

658.284

102.549

424.721

341.636

184.468

190.227

153.712

77.258

132.497

147.623

71.542

4.075

113.707

134.515

126.615

108.145

79.017

94.598

75.996

48.521

29.726

43.060

14.836

6.197

21.938

3.315

13.730

17.671

4.306

18.503

16.503

7.903

9.242

6.865

2.579

4.569

6.624

5.515

6.147

4.338

6.259

6.197

4.151

8.164

4.957

3.084

3.612

4.951

3.044

5.917

2.855

1.513

2.891

2.466

1.416

1.322

2.322

1.314

6.366

3.492

996

531

466

454

Sumber: BPS, 2009

Produksi dan Produktivitas Komoditas Pertanian

Nilai produksi beberapa komoditas pertanian diperlihatkan pada Tabel 7. Untuk subsektor tanaman pangan selain komoditas padi, ubi kayu merupakan komoditas yang mempunyai nilai produksi yang cukup tinggi. Sedangkan pisang, kelapa sawit, dan daging broiler merupakan komoditas pertanian yang memiliki nilai produksi terbesar dimasing-masing subsektor tersebut. Produktivitas beberapa komoditas pertanian penting juga cenderung mengalami peningkatan (Tabel 8). Hal ini tentunya tidak terlepas dari peran empat faktor penggerak pembangunan, yaitu sumber daya alam (pertanian), sumber daya manusia (SDM),

Arief Daryanto

teknologi, serta kelembagaan yang senantiasa ditingkatkan. Namun demikian upaya peningkatan produksi dan produktivitas harus senantiasa dilakukan sehingga sektor pertanian akan lebih berperan dalam perekonomian nasional.

Tabel 7.

Produksi Beberapa komoditas dan Hasil Pertanian, 2002-2007 (000 Ton)

Komoditas

2004

2005

2006

2007

Tanaman Pangan Padi Jagung Ubi Kayu Kedelai Hortikultura Jeruk Pisang Alpukat Perkebunan Karet Kelapa sawit Kopi Tebu Peternakan Daging Sapi Daging Ayam Buras Daging Ayam Ras Pedaging Daging Domba Telur Susu

54.088,00

54.151,00

54.455,00

57.157,00

11.225,00

12.524,00

11.609,00

13.287,00

19.425,00

19.321,00

19.987,00

19.988,00

723,00

808,00

748,00

592,00

2.071,00

2.214,00

2.565,00

2.625,00

4.874,00

5.178,00

5.037,00

5.454,00

222,00

226,00

239,00

201,00

2.066,00

2.271,00

2.637,00

2.755,00

10.830,00

11.862,00

17.351,00

17.644,00

647,00

640,00

683,00

676,00

2.052,00

2.242,00

2.307,00

2.623,00

447,57

358,70

395,84

339,47

296,42

301,42

341,25

294,88

846,09

779,10

861,26

942,78

66,10

47,30

75,18

56,85

1.107,41

1.051,50

1.204,42

1.366,20

549,90

535,96

616,55

567,68

Sumber : Departemen Pertanian (diolah), 2009

 

Tabel 8. Produktivitas Beberapa Komoditas Pertanian, 2003-2007

 
 

2004

2005

2006

2007

Tanaman Pangan (Ku/Ha) Padi Jagung Ubi Kayu Kedelai Hortikultura (Ku/Ha) Jeruk Pisang Alpukat Perkebunan (Kg/Ha) Karet Kelapa sawit Kopi Tebu

45,36

45,74

46,20

47,05

33,44

34,54

34,70

36,60

155,00

159,00

163,00

166,36

12,80

13,01

12,88

12,91

286,40

326,20

354,40

388,50

510,80

510,30

535,10

555,70

142,70

132,80

153,20

117,10

839,00

862,00

967,00

993,00

2.833,00

2.925,00

3.498,00

2.994,00

665,80

683,13

695,00

673,00

5.950,36

5.871,89

5.961,00

6.133,00

Keterangan : *) angka Sementara Sumber : Departemen Pertanian (diolah), 2009

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

PERANAN BARU DAN TANTANGAN SEKTOR PERTANIAN

Peranan Baru Sektor Pertanian

Pertanian dijadikan sebagai way of life dan sumber kehidupan sebagian besar masyarakat pertanian di perdesaan. Sekitar 45 persen tenaga kerja kita tergantung dari sektor pertanian primer. Peranan sektor pertanian selama ini dalam perekonomian nasional secara tradisional kerap hanya dilihat melalui sejauh mana kontribusinya dalam pembentukan PDB, penciptaan kesempatan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat dan perolehan devisa. Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ”3 F contribution in the economy”, yaitu food (pangan), feed (pakan), dan fuel (bahan bakar). Namun, apabila kita tidak mampu mengelola pertanian dengan baik, maka akan dapat menciptakan Jebakan Sindrom 3 F, yaitu Food, Feed, and Fuel, seperti yang diungkapkan oleh (Putri, 2009).

Peranan pertanian kaitannya dengan ”food” adalah sektor pertanian menjadi leading sector dalam pembangunan ketahanan pangan. Artinya, peranan sektor pertanian sangat menentukan terwujudnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas melalui ketersediaan dan kecukupan pangan baik nabati maupun hewani. Hal ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak lagi diartikan sebagai ketersediaan dan kecukupan pangan tetapi juga disertai dengan kecukupan protein hewani dan pangan lainnya sesuai dengan Pola Pangan Harapan (PPH). Sektor peternakan dalam kerangka pembangunan pertanian dalam arti luas memiliki peranan yang besar dalam menciptakan pangan hewani bermutu tinggi.

Kaitannya dengan “feed”, sektor pertanian memiliki peranan sebagai pemasok terbesar bahan baku utama pakan ternak. Jagung merupakan komoditas pertanian terbesar yang digunakan untuk pakan ternak unggas. Pakan ternak unggas menggunakan bahan baku yang berasal dari jagung sebesar ± 60 persen. Selama beberapa tahun terakhir ini, jagung digunakan sebagai penghasil sumber energi terbarukan (renewable) untuk keperluan bahan bakar (fuel). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian telah berperan sebagai penghasil energi, biofuel. Industri etanol (biofuel) di Amerika Serikat (AS) meningkat tajam, dari 166 pabrik pada tahun 2006, sekarang meningkat tajam menjadi 429 pabrik biofuel. Tidak heran, apabila permintaan sumber energi terbarukan ke depan dari biomassa seperti jagung akan semakin meningkat. Presiden Bush mentargetkan 20 persen konsumsi bahan bakar akan berganti dengan biofuel pada 2017. Naiknya harga minyak dunia mendorong riset dan pembangunan pabirk biofuel menjadi feasible.

Pasar jagung dunia telah mengindikasikan bahwa alokasi jagung bagi kebutuhan pakan ternak akan berkurang karena tersedotnya jagung untuk keperluan bahan baku etanol (biofuel). Konsumsi jagung yang meningkat untuk pengembangan biofuel sebagai salah satu alternatif bahan bakar di negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS) akan mengurangi pasokan jagung untuk pakan ternak. AS telah mengalokasikan 55 juta ton jagung untuk industri etanol (biofuel) dalam negeri pada tahun 2006 dan diperkirakan tahun 2008 meningkat

Arief Daryanto

menjadi 82 juta ton. Perkembangan industri biofuel akan diikuti oleh Cina yang memasok 20 persen jagung dunia. Kecenderungan penggunaan jagung sebagai sumber energi oleh AS dan negara-negara lain akan terus meningkat di masa mendatang, sehingga harga jagung akan tetap bertahan dengan harga relatif tinggi. Oleh karena itu, kecenderungan permintaan jagung yang meningkat baik untuk pemenuhan industri pakan ternak maupun pengembangan energi alternatif bahan bakar (biofuel) akan diikuti oleh naiknya harga jagung di pasar dunia. Dalam jangka panjang, kenaikan harga jagung yang tinggi mendorong re-alokasi penggunaan lahan untuk memproduksi jagung sehingga produksi bahan makanan lainnya menurun. Akibatnya, harga bahan pokok akan meningkat. Pada saat ini negara-negara yang makanannya jagung, seperti Meksiko, harga tortillas telah meningkat sampai 60 persen.

Besarnya peranan sektor pertanian termasuk di dalamnya aspek food (pangan), feed (pakan) dan fuel (bahan bakar) menunjukkan bahwa eksistensi sektor pertanian telah mampu menciptakan rantai nilai tambah bisnis yang berasal dari lahan usaha hingga makanan yang siap saji (from farm to table business). Sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan on-farm saja. Namun, lingkup sektor pertanian juga berkaitan dengan off-farm, baik hulu hingga hilir. Hal ini memperlihatkan bahwa sektor pertanian memiliki peran yang strategis untuk mewujudkan pembangunan secara komperehensif sehingga pada akhirnya dapat mengurangi tingkat kemiskinan, sekaligus menciptakan pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan.

Tantangan Sektor Pertanian

Tidak dapat dielakan sektor pertanian juga mengalami berbagai permasalahan dan tantangan yang dihadapi. Hal ini tidak terlepas dari beberapa hambatan dalam pengembangan pertanian di negara-negara berkembang antara lain adalah : pertama, belum terciptanya efisiensi teknis dan ekonomis usaha pada sektor pertanian sehingga rendahnya daya saing komoditas pertanian. Kedua, Kondisi politik, ekonomi, dan keamanan yang masih tidak menentu sehingga tidak kondusif bagi para investor untuk menanamkan modal pada sektor pertanian. Ketiga, kondisi infrastruktur yang buruk karena pada dasarnya pembangunan tingkat output sektor pertanian sangat tergantung pada infrastruktur yang baik. Keempat, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang relatif rendah. Kelima, kebijakan pemerintah belum berpihak pada sektor pertanian. Walaupun Revitalisasi Pertanian sudah dicanangkan, tetapi di lapangan masih terlihat adanya inkonsistensi kebijakan (policy inconsistency).

Gejolak kenaikan harga barang-barang pertanian yang tidak menentu, dapat saja memiliki dampak pengganda (multiplier effects) yang sangat tinggi, maka dikhawatirkan dalam waktu dekat akan menimbulkan gejolak sosial dan politik yang tidak remeh. Pemerintah dinilai gagal melakukan langkah antisipatif. Walaupun Indonesia memiliki potensi sumber daya pertanian, tetapi hingga saat ini kita masih mengimpor kedelai sebesar 70 persen, daging sapi 25 persen, jagung 10 persen, kacang tanah 15 persen, susu 90 persen, dan gula 30 persen dari kebutuhan nasional.

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Sayangnya, peranan sektor pertanian yang besar belum dapat dimanfaatkan secara optimal oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Padahal, potensi besar pertanian berada di negara-negara berkembang sekaligus tingkat kemiskinan terbesar juga berada di LDC.

Disamping itu, permasalahan sektor pertanian di Indonesia tidak terlepas dari beragam isu dan tantangan yang dihadapi dalam pengembangan pertanian global meliputi isu dan tantangan dalam perdagangan internasional (peningkatan biaya dan pajak impor, AFTA/WTO dan globalisasi), investasi sektor swasta asing, permasalahan teknologi (biaya inovasi teknologi baru mahal dan di Indonesia penerapan teknologi sebagian besar masih berupa teknologi yang rendah), biaya tidak efisien dan permasalahan rantai pasok pangan, prasyarat kesehatan pangan, referensi untuk produk impor dan keterkaitan struktur antardepartemen (Gambar

1).

impor dan keterkaitan struktur antardepartemen (Gambar 1). Gambar 1. Isu-isu dan Tantangan yang Dihadapi dalam

Gambar 1. Isu-isu dan Tantangan yang Dihadapi dalam Pengembangan Agribisnis Global

Sumber : Gumbira-Said, 2007

TINJAUAN KONSEPTUAL TENTANG DAYA SAING DAN PENGUKURANNYA

Sebagian pakar mengemukakan bahwa konsep daya saing (competitivness) berpijak dari konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) dari Ricardo yang merupakan konsep ekonomi. Namun, sebagian pakar lain mengemukakan bahwa konsep daya saing (competitiveness) atau keunggulan kompetitif (competitive advangtage) bukan merupakan konsep ekonomi, melainkan konsep politik dan atau konsep bisnis yang digunakan

Arief Daryanto

sebagai dasar bagi banyak analisis strategis untuk meningkatkan kinerja perusahaan.

Menurut Simatupang (1991) serta Sudaryanto dan Simatupang (1993) konsep keunggulan komparatif merupakan ukuran daya saing (keunggulan) potensial dalam artian daya saing yang akan dicapai apabila perekonomian tidak mengalami distorsi sama sekali. Komoditas yang memiliki keunggulan komparatif dikatakan juga memiliki efisiensi secara ekonomi. Keunggulan kompetitif atau (revealed competitive advantage/RCA) merupakan pengukur daya saing suatu kegiatan pada kondisi perekonomian aktual. Terkait dengan konsep keunggulan komparatif adalah kelayakan ekonomi, dan terkait dengan keunggulan kompetitif adalah kelayakan finansial dari suatu aktivitas. Sumber distorsi yang dapat mengganggu tingkat daya saing antara lain adalah (1) kebijakan pemerintah (governmet policy), baik yang bersifat langsung (seperti tarif) maupun tak langsung (seperti regulasi); dan (2) distorsi pasar, karena adanya ketaksempurnaan pasar (market imperfection), misalnya adanya monopoli/ monopsoni domestik.

Esterhuizen et al. (2008) mendefinisikan daya saing (competitivness) “as the ability of a sector, industry or firm to compete successfully in order to achieve sustainable growth within the global environment while earning at least the opportunity cost of return on resources employed”. Daya saing didefinisikan sebagai kemampuan suatu sektor, industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan didalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah dari penerimaan sumber daya yang digunakan.

Dapat terjadi bahwa di tingkat produsen suatu komoditas memiliki keunggulan komparatif, memiliki biaya oportunitas (opportunity cost) yang relatif rendah, namun ditingkat konsumen ia tidak memiliki daya saing (keunggulan kompetitif) karena adanya distorsi pasar dan/atau biaya transaksi yang tinggi. Atau hal sebaliknya juga dapat terjadi: karena adanya dukungan (campur tangan) kebijakan pemerintah, suatu komoditas memiliki daya saing di tingkat konsumen padahal ia tidak memiliki keunggulan komparatif di tingkat produsen.

Pengukuran status daya saing sektor agribisnis/industri/komoditas dapat menggunakan Relative Trade Advantage/RTA (Balasa, 1989; Volrath, 1991). Sedangkan analisis status daya saing terutama dari executive opinion dapat dilakukan dengan Agibusiness Executive Survey (AES). Sementara itu, untuk analisis kualitatif dan kuantitatif pada level kelembagaan agribisnis dapat menggunakan Agribusiness Confodence Index (ACI). Alat ukur daya saing yang juga banyak digunakan adalah Revealed Competitive Advantage (RCA). Belakangan ini, dengan menggunakan Policy Analysis Matrix (PAM) akan dihasilkan dua indikator pengukur daya saing, yaitu Private Cost Ratio (PCR) yang merupakan indikator keunggulan kompetitif yang menunjukkan kemampuan sistem untuk membayar biaya sumber daya domestik dan tetap kompetitif pada harga privat dan Domestic Resource Cost Ratio (DRCR) merupakan indikator keunggulan komparatif, yang menunjukkan jumlah sumber daya domestik yang dapat dihemat untuk menghasilkan satu unit devisa (Monke and Pearson, 1995).

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Michael Porter, Profesor Ilmu Ekonomi dan ahli manajemen strategi dari Harvard University (1990; 1998), melakukan studi kasus yang sukses di sepuluh negara maju atau negara industri (Jerman, Itali, Jepang, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Inggris, Denmark, USA) dengan melakukan studi pada 100 perusahaan. Porter mengemukakan bahwa : “we need a new perspective and new tools-an approach to competitivness that grows directly out of an analysis of internatioanally succesful industries, without regard to traditional ideology or current intellectual fashion. We need to know, very simple, what work and why.” Secara ringkas Porter mendefiniskan daya saing (competitiveness) sebagai suatu kemampuan negara untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan melalui kegiatan perusahaan-perusahaannya dan untuk mempertahankan tingkat kualitas kehidupan yang tinggi bagi warga negaranya.

Porter berusaha untuk mengkaji daya saing (competitiveness) dari perspektif mikro (perusahaan) ke perspektif daya saing bangsa/negara (national competitive advantage), yang bukunya dipublikaskan dengan judul “The Competitive Advantage of Nations”. Intinya adalah pentingnya inovasi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Konsep Porter ini dikenal sebagai Diamond of Competitive Advantage (Gambar 2):

Chance
Chance

Firm strategy, structure and rivalry

Goverment
Goverment

Demand conditions

Chance
Chance
structure and rivalry Goverment Demand conditions Chance Related and supporting industries Factor conditions

Related and supporting industries

Factor conditions

Goverment
Goverment
and supporting industries Factor conditions Goverment Gambar 2. Porter’s Diamond Sumber : Porter, 1990 1.

Gambar 2. Porter’s Diamond

Sumber : Porter, 1990

1. Faktor conditions, yaitu posisi negara dalam hal penguasaan faktor produksi, seperti tenaga kerja terampil atau infrastruktur, merupakan syarat kecukupan untuk bersaing dimana industri sudah given.

2. Demand conditions, secara alamiah besarnya permintaan pasar domestik (home-market) untuk produk-produk dan jasa-jasa industri.

Arief Daryanto

3. Relating and supporting industries, kehadiran industri pemasok (pendukung) dan lain-lain dalam suatu negara sangat berkaitan dengan kemampuan daya saing industri-industri di pasar internasional.

4. Firms strategy, structure and rivalry, kondisi pemerintahan di dalam suatu negara bagaimana perusahaan-perusahaan diciptakan, diorganisasi dan di kelola, sebaik persaingan domestik secara alamiah.

Di samping itu, Porter (1990) juga memasukkan dua variabel di luar model, yaitu peranan kesempatan dan peranan pemerintah yang turut akan mempengaruhi model. Dimana peran pemerintah menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing.

Peringkat Daya Saing

World Economic Forum (WEF), sebuah lembaga pemeringkatan daya saing ternama, mendefinisikan daya saing sebagai himpunan kelembagaan, kebijakan dan faktor-faktor yang menentukan tingkat produktivitas suatu negara. WEF menggunakan 12 pilar utama yang mempengaruhi daya saing (Gambar 3). Kedua belas pilar tersebut digolongkan menjadi tiga kelompok besar penentu daya saing, yakni kelompok persyaratan dasar (basic requirements) yang terdiri dari pilar kelembagaan (institutions), pilar infrastruktur (infrastructure), pilar stabilitas makroekonomi (macroeconomic stability), dan pilar kesehatan dan pendidikan dasar (health dan primary education). Kelompok kedua disebut sebagai kelompok penambah/peningkat efisiensi (efficiency enhancers) yang terdiri dari pilar pendidikan tinggi dan pelatihan (higher education and training), pilar efisiensi pasar barang (goods market efficiency), pilar efisiensi pasar tenaga kerja (labour market efficiency), pilar efisiensi pasar keuangan (financial market efficiency), pilar kesiapan teknologi (technological readiness) dan pilar ukuran pasar (market size). Kelompok ketiga merupakan kelompok inovasi dan kecanggihan (innovation and sophistication) yang terdiri dari pilar kecanggihan bisnis (business sophistication) dan pilar inovasi (innovation).

WEF menempatkan Indonesia di urutan 54 dari 131 negara pada tahun 2007-2008 dan menurun pada tahun 2008-2009 menjadi urutan 55 dari 133 negara yang disurvei. Pada tahun 2009-2010, Indonesia berada dalam peringkat 51 dari 133 negara. Walaupun Indonesia lebih baik dari Filipina, tetapi peringkatnya kalah jauh dengan negara-negara seperti Singapura, Cina, Malaysia, Thailand dan India (lihat Tabel 9). Lembaga pemerintah lain, International Institute for Management Development (IMD), menempatkan Indonesia pada urutan ke-54 dari 55 negara di dunia yang disurvei pada tahun 2007. Tetapi pada tahun 2009, Indonesia digolongkan sebagai negara yang memiliki prestasi yang sangat baik (the most spectacular movement). Posisi Indonesia yang pada tahun 2008 menempati ranking 51 dari 55 negara, naik pesat ke posisi 42 dari 57 negara yang disurvei. IMD menggunakan 4 faktor utama dalam mengukur daya saing, yaitu kinerja ekonomi, efisiensi birokrasi, efisiensi bisnis, dan ketersediaan infrastruktur.

Sementara itu, menurut laporan hasil penelitian yang dikeluarkan oleh International Finance Corporation (IFC) dan Bank Dunia mengenai “Doing Business Index 2010″, Indonesia menduduki peringkat 122 dari 183 negara dalam

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

hal kemudahan berbisnis. Peringkat ini naik dari posisi 129 dari 181 negara pada tahun 2009.

ini naik dari posisi 129 dari 181 negara pada tahun 2009. Gambar 3. World Economic Forum:

Gambar 3. World Economic Forum: 12 Pillars of Competitiveness

Tabel 9.

Rangking Global Competitiveness Indeks (GCI) Tahun 2009 dan Perbandingan dengan Tahun-Tahun Sebelumnya

 

GCI 2007-

No

Negara

GCI 2009-2010 Rank

GCI 2008-2009 Rank

2008 Rank

1

Indonesia

54

55

54

2

Thailand

36

34

28

3

Singapore

3

5

7

4

Vietnam

75

70

68

5

Malaysia

24

21

21

6

India

49

50

48

7

Cina

29

30

34

8

Philippines

87

71

71

Source : World Economic Forum, 2009

Pada tahun 2009, Indonesia menduduki peringkat ke 129 dalam kemudahan berbisnis. Peringkat ini lebih baik dari Kamboja (135), Filipina (140) dan Laos (165). Sementara negara-negara ASEAN lainnya memiliki peringkat yang lebih baik dari Indonesia. Singapura di peringkat 1, Thailand di peringkat 13, Malaysia di peringkat 20, Brunei Darussalam di peringkat 88, dan Vietnam di peringkat 92.

Arief Daryanto

Gambar 4 menunjukkan penilaian daya saing Indonesia berdasarkan 12 pilar. Indonesia termasuk katagori negara transisi menuju negara “Efficiency Driven”. Peringkat daya saing menunjukkan sejauh mana iklim investasi di suatu negara menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya. Semua pilar yang menentukan daya saing perlu kita perbaiki secara serempak, holistik, komprehensif dan teritegrasi, tidak parsial, dan tidak egosektoral.

dan teritegrasi, tidak parsial, dan tidak egosektoral. Sumber: WEF, 2009 Gambar 4. Daya Saing Indonesia Berdasarkan

Sumber: WEF, 2009

Gambar 4. Daya Saing Indonesia Berdasarkan 12 Pilar

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Laporan WEF (2009) juga mengemukakan persoalan-persoalan utama yang dihadapi oleh Indonesia dalam peningkatan daya saing nasional. Persoalan- persoalan utama tersebut yang memerlukan prioritas penanganan dalam rangka peningkatan daya saing antara lain adalah (a) kualitas birokrasi yang tidak efisien, (b) ketersediaan infrastruktur yang tidak memadai, (c) kebijakan pemerintah yang tidak konsisten, (d) tingginya tingkat korupsi, dan (e) kesulitan dalam akses permodalan/pembiayaan.

dan (e) kesulitan dalam akses permodalan/pembiayaan. Sumber: WEF (2009) Gambar 5. Persoalan-Persoalan Utama Dalam

Sumber: WEF (2009)

Gambar 5. Persoalan-Persoalan Utama Dalam Peningkatan Daya Saing di Indonesia

Daya saing Indonesia juga dapat digambarkan melalui pendekatan indeks RCA (revealed comparative advantage). Indeks RCA menunjukkan rasio perbandingan antara pangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor komoditas tersebut di dunia. Hal ini mengindikasikan bahwa dari indeks RCA menggambarkan arah konsentrasi diversifikasi produk ekspor suatu negara. Berdasarkan indeks RCA, Indonesia masih mengandalkan resource abundance dan ketergantungan pada sumber daya alam (Tabel 10). Produk-produk yang termasuk dalam kategori ”food, beverage, and tobacco” yang memiliki daya saing tinggi dengan RCA > 1, antara lain produk perikanan, produk kopi, teh dan rempah-rempah dan tembakau. Produk-produk yang tergolong dalam ”agricultural raw materials” yang memiliki daya saing tinggi antara lain crude rubber, cork and woods, pulp and waste paper, coal, coke and briquette, fixed vegetable fats and oils, animal and vegetable fats and oils dan crude fertlizer. Produk-produk yang tergolong dalam kategori ”manufacturing” yang memiliki daya saing tinggi adalah fertilizer, cork and wood manufactures, rubber manufacturing, textiles, furniture, clothing dan footwear. Dari gambaran di atas terlihat bahwa keunggulan daya saing ekspor Indonesia masih berbasis kepada produk-produk berbasis sumber daya alam dan tenaga kerja, belum didasarkan kepada produk-produk industri yang knowledge-based.

Arief Daryanto

Tabel 10. Indeks Revealed Comparative Advantage (RCA) Indonesia

Indonesia

Kode SITC dan deskripsi komoditas

Bagian dari

total ekspor

(%)

Bagian dari

Ekspor dunia

(%)

Indeks RCA

 

90-94

00-04

90-94

00-04

90-94

00-04

PRODUK PRIMER Pangan, minuman dan tembakau

31,7

30,6

1,4

1,9

1,9

2,2

12,9

8,2

1,0

0,9

1,3

1,3

00

Ternak hidup

0,1

0,1

0,2

0,4

0,3

0,4

01

Daging dan olahannya

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

0,1

02

Produk sapi perah dan telur

0,0

0,2

0,0

0,3

0,1

0,3

03

Ikan, kepiting dan kerang-kerangan

5,6

3,3

4,2

3,3

5,4

3,0

04

Biji-bjian dan olahannya

0,2

0,2

0,1

0,2

0,2

0,2

05

Sayuran dan buah

1,3

0,7

0,6

0,4

0,8

0,5

06

Gula dan olahannya

0,2

0,2

0,5

0,5

0,6

0,5

07

Kopi, teh, coklat dan bumbu

4,0

2,3

5,4

4,2

7,0

5,0

08

Pakan ternak

0,5

0,2

0,8

0,5

1,0

0,6

09

Serbaneka produk yang dapat dimakan

0,1

0,4

0,3

0,9

0,3

1,0

10

Minuman

0,1

0,0

0,1

0,0

0,1

0,1

12

Tembakau dn pabrik tembakau

0,7

0,5

0,9

1,2

1,1

1,4

Bahan Kasar Pertanian

12,8

15,1

2,4

4,2

3,1

4,9

22

Bibit minyak dan buahnya

0,1

0,0

0,1

0,1

0,2

0,1

23

Karet kasar

4,6

2,7

14,8

14,5

19,2

17,0

24

Gabus dan kayu

1,6

0,9

1,4

1,2

1,8

1,5

25

Bubur kayu dan kertas sampah

0,3

1,4

0,5

3,4

0,7

4,0

26

Serat tekstil

0,2

0,3

0,2

0,8

0,3

1,0

29

Bahan ternak dan sayuran

0,3

0,2

0,6

0,5

0,7

0,6

32

Batubara, kokas dan briket

2,2

4,0

3,4

7,9

4,4

9,2

41

Minyak hewan dan lemak

0,0

0,0

0,5

0,1

0,6

0,1

42

Lemak dan minyak sayuran

2,9

5,3

6,8

15,3

8,8

17,0

43

Lemak dan minya hewan dan sayuran

1,7

0,3

5,5

4,1

7,1

4,5

Mineral

6,0

7,3

1,4

1,9

1,8

2,3

27

Pupuk, mineral

0,4

0,2

0,8

0,7

1,0

0,9

28

Logam, sisa

3,9

4,6

3,1

4,1

4,0

4,8

68

Logam bon besi

1,7

2,5

0,7

1,0

0,9

1,2

PABRIK

66,2

69,4

0,6

0,7

0,8

0,8

51

Bahan kimia organik

0,9

2,6

0,3

0,9

0,4

1,0

52

Bahan kimia non organik

0,2

0,5

0,2

0,8

0,3

0,7

53

Bahan celupan dan pewarna

0,2

0,3

0,2

0,4

0,3

0,4

54

Produk obat dan farmasi

0,1

0,2

0,1

0,1

0,1

0,1

55

Minyak esensial, parfum dan sebagainya

0,7

0,8

0,7

0,7

0,9

0,8

56

Pupuk

0,9

0,3

2,0

1,0

2,6

1,1

57

Plastik dalam bentuk primer

0,3

1,2

0,1

0,6

0,2

0,7

58

Plastik dalam bentuk non primer

0,2

0,6

0,2

0,6

0,2

0,7

59

Bahan kimia

0,2

0,5

0,1

0,3

0,2

0,4

61

Kulit dan barang dari kulit

0,2

0,2

0,5

0,4

0,6

0,5

62

Pabrik karet

0,4

1,0

0,4

1,0

0,5

1,2

63

Pabrik gabus dan kayu

17,9

6,1

27,2

8,9

35,2

10,5

64

Kertas, papan kertas, dsb.

1,6

4,4

0,6

2,1

0,8

2,5

65

Benang tekstil dan pabrik

9,7

6,6

2,2

2,1

2,9

2,4

66

Pabrik mineral non besi

1,3

1,6

0,4

0,7

0,6

0,8

67

Besi dan baja

1,3

1,1

0,3

0,4

0,4

0,4

69

Pabrik besi

1,0

1,1

0,3

0,4

0,4

0,5

71

Pabrik tenaga listrik

0,1

1,0

0,0

0,3

0,0

0,3

72

Mesin industri spesial

0,1

0,4

0,0

0,1

0,0

0,1

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Tabel 10. Lanjutan

Indonesia

Kode SITC dan deskripsi komoditas

Bagian dari

total ekspor

(%)

Bagian dari

Ekspor dunia

(%)

Indeks RCA

 

90-94

00-04

90-94

00-04

90-94

00-04

73

Mesin pekerjaan besi

0,0

0,0

0,0

0,0

0,0

0,1

74

Mesin industri umum

0,3

1,0

0,1

0,2

0,1

0,2

75

Mesin kantor

0,6

5,0

0,1

0,7

0,1

0,8

76

Telkom dan peralatan suara

3,0

6,8

0,6

1,1

0,8

1,3

77

Perlengkapan mesin listrik dan bagiannya

1,5

5,6

0,2

0,5

0,2

0,5

78

Kendaraan

0,8

1,3

0,1

0,1

0,1

0,1

79

Peralatan transport lainnya

0,5

0,2

0,1

0,1

0,1

0,1

81

Bahan bangunan pabrik

0,1

0,2

0,3

0,3

0,3

0,4

82

Meja kursi, alas, dsb.

2,3

3,2

1,9

2,4

2,4

2,8

83

Bhn perjalanan, tas tgn % kotak sejenisnya

0,2

0,3

0,7

0,8

0,8

0,9

84

Pakaian dan perhiasan

12,2

9,2

2,6

2,2

3,4

2,5

85

Alas kaki

5,7

2,9

4,4

3,0

5,6

3,5

87

Perlengkapan ilmiah

0,1

0,1

0,0

0,1

0,0

0,1

88

Perlengkapan fotografi dan jam

0,5

0,4

0,3

0,3

0,4

0,3

89

Pabrik serbaneka

3,1

2,7

0,5

0,5

0,7

0,6

TOTAL

100

100

100

100

100

100

Sumber : Athukorala, 2006

KINERJA DAYA SAING KOMODITAS PERTANIAN

Kinerja Daya Saing Komoditas Pertanian Utama

Untuk melihat keragaan daya saing beberapa komoditas pertanian seperti padi, palawija, hortikultura, dan perkebunan, serta peternakan akan dilakukan review, yang telah dilakukan beberapa peneliti di PSE-KP. Dalam melihat status komoditas pertanian kebanyakan peneliti menggunakan analisis keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif, dengan menggunakan indikator domestic resource cost ratio (DRCR) dan private cost ratio (PCR). Suatu komoditas dikatakan memiliki keunggulan komparatif apabila memiliki koefisien DRCR < 1, artinya untuk menghasilkan nilai tambah keluaran pada harga sosial diperlukan tambahan biaya lebih kecil dari satu. Demikian juga, suatu komoditas dikatakan memiliki keunggulan kompetitif apabila memiliki koefisien PCR < 1, artinya untuk menghasilkan nilai tambah keluaran pada harga privat diperlukan tambahan biaya lebih kecil dari satu.

Komoditas Padi

Hasil analisis keunggulan komparatif dan kompetitif beberapa komoditas pertanian memberikan beberapa gambaran sebagai berikut. Untuk komoditas padi, meskipun hingga saat ini tetap memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif, namun keunggulan yang dimiliki semakin rendah dan rentan terhadap perubahan eksternal. Sebagai ilustrasi nilai koefisien DRCR (Domestic Resource Cost Ratio) dan PCR (Private Cost Ratio) untuk komoditas padi pada berbagai tipe irigasi

Arief Daryanto

dibeberapa wilayah memberikan gambaran sebagai berikut (Rachman, dkk, 2004):

(1) nilai koefisen DRCR padi daerah sentra produksi di Pulau Jawa dengan mengambil kasus di Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Jawa Barat, diperoleh nilai kisaran antara 0,78-0,99; sedangkan di Klaten, Jawa tengah, berkisar antara 0,74-0,96; sementara di Kediri dan Ngawi Jawa Timur berkisar antara 0,70-1,00; (2) nilai koefisen PCR padi wilayah sentra produksi di Pulau Jawa, untuk Kabupaten Indramayu dan Majalengka, Jawa Barat, diperoleh nilai kisaran antara 0,70-0,88; sedangkan di Klaten, Jawa Tengah, berkisar antara 0,76-0,94; sementara itu di Kediri dan Ngawi Jawa Timur, berkisar antara 0,69-94; (3) nilai koefisien DRCR padi beberapa wilayah sentra produksi Luar Jawa, untuk Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berkisar antara 0,56-0,88, sedangkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkisar antara 0,70-0,98; dan (4) nilai koefisien PCR padi beberapa wilayah sentra produksi Luar Jawa, untuk Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, berkisar antara 0,55-0,87; sedangkan di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, berkisar antara 0,68-0,79.

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dan kompetitif padi atau beras relatif rendah, keunggulan komparatif tersebut masih dapat diwujudkan menjadi keunggulan kompetitif karena masih adanya proteksi pemerintah baik berupa subsidi input maupun melalui kebijakan tarif impor beras.

Kelompok Komoditas Palawija

Untuk komoditas kedelai tidak memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif. Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas kedelai di lahan sawah pada berbagai tipe irigasi mefefleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut (Rusastra et al., 2004) : (1) nilai koefisen DRCR kedelai di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diperoleh nilai kisaran antara 0,92-0,99; (2) nilai koefisen PCR kedelai di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berkisar antara 0,94-1,04; (3) nilai koefisien DRCR kedelai di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, berkisar antara 0,75-1,15; dan (4) nilai koefisien PCR kedelai di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, berkisar antara 1,00-1,05.

Artinya, untuk komoditas kedelai tidak atau kurang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif lagi. Hal inilah yang menjadi penjelas begitu kran impor dibuka secara luas dan perlindungan kepada petani dilonggarkan, maka petani banyak meninggalkan komoditas kedelai dan melakukan substitusi ke komoditas lain yang dipandang lebih menguntungkan, serta meningkatnya volume impor kedelai baik dari Amerika maupun RRC.

Untuk komoditas jagung memiliki status keunggulan komparatif dan kompetitif yang relatif baik. Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas jagung pada berbagai tipe lahan sawah mefefleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut (Rusastra et al., 2004) : (1) nilai koefisen DRCR jagung di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diperoleh nilai kisaran antara 0,30-0,50, sedangkan di Kediri, Jawa Timur, berkisar antara 0,37-0,56; (2) nilai koefisen PCR jagung di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berkisar antara 0,52- 0,84; sedangkan Kediri, Jawa Timur, diperoleh nilai kisaran antara 0,65-0,80; (3) nilai koefisien DRCR jagung di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, berkisar

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

antara 0,56-0,65; dan (4) nilai koefisien PCR jagung di lahan sawah untuk Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan berkisar antara 0,80-0,85.

Untuk komoditas kacang tanah status keunggulan komparatif dan kompetitif yang cukup baik. Hasil kajian analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas Kacang tanah pada berbagai jenis lahan sawah adalah sebagai berikut (Rusastra et al., 2004) : (1) nilai koefisen DRCR kacang tanah di lahan sawah pada berbagai tipe irigasi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, diperoleh nilai kisaran antara 0,59-60; (2) nilai koefisen PCR kacang tanah di lahan sawah pada berbagai jenis irigasi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sebesar 0,61; (3) nilai koefisien DRCR kacang tanah di lahan sawah pada berbagai tipe irigasi di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, berkisar antara 0,57-0,63; dan (4) nilai koefisien PCR kacang tanah di lahan sawah pada berbagai tipe irigasi di Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, berkisar antara 0,57-0,65.

Artinya, untuk komoditas jagung dan kacang tanah cukup memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif meskipun perlindungan terhadap komoditas ini hampir dilepas. Salah satu faktor penting yang menentukan adalah penanaman jagung benih bermutu baik jenis hibrida dan komposit yang meluas disertai intensifikasi usahatani. Adanya tarikan permintaan jagung dan kacang tanah oleh industri pakan ternak dan industri makanan juga memberikan andil besar.

Kelompok Komoditas Sayuran

Hasil kajian Saptana et al., (2001) tentang keunggulan kelompok komoditas sayuran seperti kentang, kubis, bawang merah dan cabai merah, memberikan beberapa gambaran sebagai berikut: (1) di Wonosobo (Jawa Tengah) maupun Tanah Karo (Sumatera Utara) komoditas kentang memiliki keunggulan komparatif yang cukup tinggi, masing-masing dengan nilai koefisien DRCR 0,31- 0,48 dan 0,55-0,64, sedangkan keunggulan kompetitifnya berbeda di dua lokasi tersebut, untuk Kabupaten Wonosobo, komoditas kentang masih memiliki keunggulan kompetitif yang tinggi (koefisien PCR 0,31), sedang di Tanah Karo tidak mempunyai keunggulan kompetitif lagi (nilai PCR 1,09); (2) komoditas kubis, baik di Wonosobo maupun di Tanah Karo, masih memiliki keunggulan komparatif masing-masing dengan nilai koefisien DRCR 0,62-0,66 dan 0,62-0,68, namun keunggulan kompetitifnya relatif rendah, masing-masing dengan nilai koefifisen PCR 0,85-0,88 di Wonosobo dan 0,70-0,97 di tanah Karo; (3) komoditas bawang merah, baik di Brebes (Jawa Tengah) maupun Simalungun (Sumatera Utara) memiliki keunggulan komparatif yang cukup tinggi, masing-masing dengan nilai koefisien DRCR 0,49-0,51, dan juga memiliki keunggulan kompetitif dengan nilai koefisien PCR 0,40-0,50; dan (4) cabai merah memberikan gambaran yang sama, usahatani cabai merah di Brebes, dan di Simalungun memiliki keunggulan komparatif yang sangat tinggi, masing-masing dengan nilai koefisien DRCR 0,28- 0,31 dan memiliki keunggulan kompetitif yang juga tinggi dengan nilai koefisien PCR 0,31-0,47.

Secara umum hasil analisis keunggulan komparatif dan kompetitif untuk komoditas hortikultura sayuran memiliki keunggulan yang baik, namun faktanya masih sulit bersaing untuk memasuki pasar ekspor Singapura karena masalah

Arief Daryanto

kualitas dan kontinuitas pasokan. Hal ini sangat terkait dengan belum adanya perencanaan pengaturan produksi yang disesuaikan dengan permintaan pasar, sistem panen dan penanganan pascapanen yang prima, serta sistem distribusi yang menimbulkan risiko kerusakan fisik yang tinggi.

Komoditas Perkebunan

Komoditas perkebunan yang akan dikemukakan terbatas pada komoditas tebu dan tembakau di lahan sawah yang keduanya merupakan tanaman perkebunan rakyat. Hasil kajian Saptana et al. (2004) tentang keunggulan komoditas tebu dan tembakau merefleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut :

(1) Di Kabupaten Kediri dan Ngawi, Jawa Timur, maupun Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa komoditas tebu tidak memiliki keunggulan komparatif dengan nilai koefisien DRCR masing-masing 1,38-1,57; 1,50-1,68; dan 1,42. Sementara keunggulan kompetitif yang dimilki juga rendah (mendekati angka satu) masing-masing nilai koefisien PCR sebesar 0,78-0,86; 0,84-0,91; dan 0,82; (2) Komoditas tembakau asepan dan rajangan di Kabupaten Klaten memiliki keunggulan komparatif yang cukup tinggi dengan nilai koefisien DRCR masing- masing 0,42-0,45 dan 0,65. Sementara komoditas tembakau juga masih memiliki keunggulan kompetitif masing-masing dengan nilai PCR 0,62-0,65; dan 0,55.

Hasil analisis tersebut menunjukkan pada komoditas tebu atau gula tidak memiliki keunggulan komparatif, namun masih memiliki keunggulan kompetitif karena adanya proteksi pemerintah melalui kebijakan tarif impor dan pembatasan impor. Kondisi inilah yang menyebabkan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Jawa Timur selalu menyuarakan pentingnya perlindungan dari anjloknya harga gula. Sementara itu, komoditas tembakau masih memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif dalam menghasilkan komoditas tembakau baik asepan maupun rajangan, meskipun petani mendapatkan kebijakan disinsentif dengan kebijakan bia cukai yang sangat memberatkan petani tembakau dalam persaingan yang makin tajam ini.

Kelompok Komoditas Peternakan

Komoditas peternakan yang akan dikemukakan terbatas pada komoditas ayam ras petelur (layer) dan pedaging (broiler). Hasil kajian Saptana et al. (1999) tentang keunggulan usahaternak ayam ras petelur dan pedaging di Jawa Barat merefleksikan beberapa hal pokok sebagai berikut : (1) usahaternak ayam ras petelur di Kabupaten Bogor dan Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki keunggulan komparatif, namun keunggulan yang dimiliki relatif rendah dengan nilai koefisien DRCR 0,72-0,82 dan 0,72-0,78, namun kurang atau tidak memilki keunggulan kompetitif lagi masing-masing dengan nilai PCR 0,85-1,14; dan (2) usahaternak ayam ras pedaging di Kabupaten Bogor dan Tasikmalaya, Jawa Barat, memiliki keunggulan komparatif yang rendah dan atau tidak memiliki keunggulan komparatif lagi dengan nilai koefisien DRCR 0,83-1,92 dan 0,79-0,88 dan juga kurang atau hampir tidak memilki keunggulan kompetitif lagi masing-masing dengan nilai PCR

0,92-0,99.

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa keunggulan komparatif dan kompetitif komoditas peternakan ayam ras relatif rendah dan kurang atau tidak memiliki keunggulan kompetitif, terutama semenjak krisis ekonomi, karena sebagian besar bahan baku pakan adalah impor. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penjelas kenapa berbagai pola kemitraan seperti KINAK SUPER yang ditujukan untuk segmen pasar ekspor sulit diwujudkan.

STRATEGI PENINGKATAN DAYA SAING PERTANIAN

Peningkatan Efisiensi dan Produktivitas

Esensi dari daya saing suatu industri, perusahaan, atau komoditas adalah efisiensi dan produktivitas. Sumber pertumbuhan produksi pertanian berasal dari pengembangan luas areal tanam dan peningkatan produktivitas. Pertumbuhan produksi pertanian melalui perluasan areal semakin terbatas untuk di Pulau Jawa, namun masih terbuka secara luas untuk Luar Pulau Jawa. Sementara itu, sumber pertumbuhan produktivitas berbagai komoditas pertanian masih ada ruang yang cukup luas baik di Jawa maupun Luar Pulau Jawa. Hal tersebut dapat ditunjukkan masih tingginya kesenjangan produktivitas potensial dan produktivitas aktualnya serta kesenjangan produktivitas antar lokasi atau wilayah dalam agroekologi yang sama.

Sumber pertumbuhan produktivitas, antara lain adalah (Coelli et al., 1998):

perubahan teknologi (tehnical change, TC) dan efisiensi teknis (tehnical efficiency, TE), dan skala usaha (economic of scale). Hampir pada semua komoditas pertanian sumber pertumbuhan produktivitas dari ke tiga aspek tersebut masih terbuka secara luas dan realisasinya melalui revitalisasi pertanian sangat relefan.

Investasi Faktor Penting dalam Meningkatkan Daya Saing Pertanian

Iklim investasi mencerminkan sejumlah faktor yang berkaitan dengan lokasi tertentu yang membentuk kesempatan dan insentif bagi pemilik modal untuk melakukan usaha atau investasi secara produktif dan berkembang. Beberapa faktor yang sangat berpengaruh pada baik-tidaknya iklim berinvestasi di Indonesia adalah tidak hanya menyangkut stabilitas politik dan sosial, tetapi juga stabilitas ekonomi, kondisi infrastruktur dasar (listrik, telekomunikasi, dan prasarana jalan dan pelabuhan), berfungsinya sektor pembiayaan dan pasar tenaga kerja (termasuk isu-isu ketenagakerjaan), regulasi, perpajakan, birokrasi (dalam waktu dan biaya yang diciptakan), masalah good governance termasuk korupsi, konsistensi dan kepastian dalam kebijakan pemerintah yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi keuntungan kegiatan investasi, hak milik (property rights) mulai dari tanah sampai kontrak dan penegakan hukum (law enforcement).

Investasi di Indonesia selama ini dinilai tidak efisien karena tingkat incremental capital output ratio (ICOR) atau perbandingan antara kebutuhan investasi dan pertumbuhan output sangat tinggi. Akibatnya investasi yang

Arief Daryanto

ditanamkan tidak sebanding dengan hasil yang dicapai. Salah satu penyebab ICOR kita yang cukup tinggi adalah besarnya tingkat kebocoran dalam investasi akibat korupsi atau ekonomi biaya tinggi.

Menurut WDR (World Development Report), Indonesia dikelompokkan sebagai transforming countries. Semakin tinggi pendapatan per kapita, kontribusi relatif sektor pertanian terhadap GDP dan juga sumbangan relatif pertumbuhan sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan semakin rendah. Sebagai contoh di kelompok negara ABC, TC dan dan UC, rata- rata sumbangan sektor pertanian berturut-turut sebesar 31 persen, 15 persen, dan 6 persen. Sumbangan pertumbuhan sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan di masing-masing kelompok negara adalah 27 persen (ABC), 8 persen (TC), dan 4 persen (UC). Fenomena ini disebut sebagai paradoks investasi di bidang pertanian untuk mempercepat terjadinya transformasi struktural (Paradox of investing in agriculture to foster structural transformation).

Indonesia, sebagai negara transforming countries dicirikan bahwa sebagian besar petani menggarap kurang dari setengah hektar lahan dan hasil panen tradisional hanya menyediakan sedikit peluang penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan pendapatan. Strategi baru yang seyogyanya diadopsi oleh Pemerintah kita adalah perubahan orientasi pembangunan pertanian yang selama ini terfokus pada tanaman bernilai rendah (low-value commodities) ke yang bernilai tinggi (high-value commodities), dari orientasi pasar domestik ke pasar internasional, dari pertanian on farm ke agribisnis dan agroindustri di perdesaan yang menciptakan nilai tambah (value added) yang lebih tinggi. Kehidupan para petani tradisional dapat ditingkatkan dengan meningkatkan produktivitas yang membutuhkan investasi besar dalam perbaikan infrastruktur pertanian, pengelolaan lahan dan air, serta penelitian dan pengembangan pertanian. Hal ini juga membutuhkan peningkatan iklim investasi untuk sektor pertanian dan agribisnis.

Menarik pula untuk dikemukakan di sini bahwa semakin maju suatu negara (semakin tinggi pendapatan per kapita-nya), maka sumbangan relatif sektor agribisnis (agro-manufacturing dan agro-services) terhadap GDP juga semakin besar, sementara sumbangan relatif sektor pertanian terhadap GDP semakin kecil. Ke depan, Indonesia perlu meningkatkan nilai tambah komoditas ekspor, dengan lebih banyak mengekspor produk-produk pertanian olahannya, dan ekspor komoditas pertanian tidak lagi didominasi bahan baku. Gambar 1 memperlihatkan arah perkembangan agribisnis yang harus diikuti Indonesia. Gambar 5, juga memperlihatkan potensi dan arah investasi pertanian ke depan. Indonesia memiliki peluang yang sangat besar (room for improvement) untuk meningkatkan kinerja agribisnisnya.

Laporan Bank Dunia tersebut sebenarnya mempertegas kesadaran kita bahwa sektor pertanian dapat dijadikan sektor andalan perekonomian bagi Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam. Rekomendasi Bank Dunia juga sejalan dengan keyakinan kita selama ini bahwa Indonesia perlu merevitalisasi pertanian untuk menciptakan pembangunan yang menciptakan pertumbuhan sekaligus pemerataan (growth with equity). Pertumbuhan pertanian yang

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

berkelanjutan membutuhkan dukungan investasi yang lebih baik dan lebih besar. Selama ini pembangunan pertanian kita tidak ditopang dengan tingkat investasi yang memadai (under investment). Bahkan investasi di bidang pertanian yang sangat terbatas tersebut dialokasikan secara tidak benar pula (mis-investment).

dialokasikan secara tidak benar pula (mis-investment) . Gambar 5. Kontribusi Relatif Pertanian dan Agribisnis (

Gambar 5.

Kontribusi Relatif Pertanian dan Agribisnis (agro-industry dan agro-services) seiring dengan Peningkatan Pendapatan

Transformasi Pertanian

Pembangunan pertanian yang berkelanjutan dapat diwujudkan melalui peningkatan daya saing sektor pertanian, baik on-farm maupun off-farm. Tentunya peningkatan daya saing sektor pertanian harus dapat menyentuh hingga ke tingkat petani. Pembangunan pertanian yang berdaya saing dapat dilakukan dengan menerapkan transformasi pertanian itu sendiri. Hal ini disebabkan karena pembangunan pertanian pada dasarnya adalah sebuah proses transformasi pertanian, yaitu suatu proses perubahan, bukan hanya pergeseran sektoral (primer-sekunder-tersier atau pertanian-industri-jasa), namun juga perubahan dinamika sosial ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Sebagai negara agraris, sebagian besar penduduk perdesaan di Indonesia menggantungkan hidupnya dari bidang pertanian. Sekitar 71 persen tenaga kerja di Indonesia berada di sektor pertanian. Secara bertahap tekanan yang berat di sektor pertanian harus dikurangi melalui transformasi yang benar.

Kata transformasi diambil dari terjemahan kata transformation yang dapat diartikan sebagai proses perubahan. Dalam arti yang lebih luas, transformasi mencakup bukan saja perubahan pada bentuk luar, namun juga pada hakikat atau

Arief Daryanto

sifat dasar, fungsi, dan struktur atau karakteristik perekonomian suatu masyarakat. Transformasi pertanian atau agribisnis di perdesaan, dapat diartikan sebagai perubahan bentuk, ciri, struktur, dan kemampuan sistem pertanian yang dapat menggairahkan, menumbuhkan, mengembangkan, dan menyehatkan perekonomian masyarakat perdesaan.

Transformasi masyarakat perdesaan dapat dipandang sebagai proses modernisasi atau pembangunan. Dalam pembangunan, sektor pertanian atau kegiatan agribisnis dapat dipandang sebagai leading sector-nya. Pranadji (1995), menjelaskan tentang transformasi ekonomi pertanian yang berciri budaya tradisional/subsisten ke yang berciri budaya modern/komersial. Transformasi pertanian di perdesaan merupakan respons dan antisipasi terhadap tuntutan kemajuan untuk hidup lebih baik, dan globalisasi pasar.

Penerapan transformasi pola pertanian tradisional harus menyadari bahwa upaya menyesuaikan struktur pertanian dalam rangka memenuhi tuntutan atau permintaan bahan pangan yang semakin meningkat harus meliputi perubahan- perubahan yang mempengaruhi seluruh struktur sosial, politik dan kelembagaan masyarakat perdesaan. Maka dari itu, faktor-faktor yang dibutuhkan “to get agriculture moving” antara lain adalah kombinasi antara teknologi yang tepat, kelembagaan perdesaan yang fleksibel, dan orientasi pasar yang memungkinkan petani memperoleh imbalan yang memadai dari upaya yang telah dikeluarkannya.

Transformasi pertanian tentunya berkaitan dengan peningkatkan produktivitas pertanian, penggunaan sumber daya yang dihasilkan untuk pembangunan di luar sektor pertanian, serta integrasi pertanian dengan ekonomi nasional melalui pengembangan infrastruktur dan akses pasar. Transformasi pertanian diterapkan tidak lain untuk mewujudkan sektor pertanian dan perdesaan yang maju, modern, dan mampu memberi kesejahteraan bagi para pelakunya. Tentunya penerapan transformasi pertanian diperlukan upaya-upaya yang terstruktur dan terukur. Berbagai upaya tersebut tentunya perlu dipetakan dalam dimensi waktu menurut prioritas dan kepentingannya. Ada upaya-upaya yang memang perlu dilakukan secara terus-menerus (rutin), dan ada upaya yang harus selesai pada kurun waktu tertentu. Upaya-upaya jangka pendek perlu diidentifikasi untuk diletakkan secara harmonis menjadi kesatuan dengan upaya-upaya yang bersifat jangka menengah dan jangka panjang, sehingga terlihat kesinambungan antara masa kini dan masa depan.

Upaya peningkatan kesejahteraan petani melalui transformasi pertanian dapat diringkaskan ke dalam dua kelompok agenda besar, yaitu: (a) perbaikan dan peningkatan penguasaan petani terhadap aset atau tanah pertanian, dan (b) peningkatan nilai produk yang dihasilkan per satuan aset yang dikuasai.

aset

pertanian, maka agenda ke depan yang dapat dilakukan antara lain adalah:

1. Secara konsisten melaksanakan reforma agraria yang memungkinkan petani dapat memperoleh akses yang lebih luas terhadap sumber daya lahan dan pertanian.

Untuk

perbaikan

dan

penigkatan

penguasaan

petani

terhadap

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

2. Memperluas kesempatan kerja di luar usahatani, melalui pengembangan agroindustri di perdesaan yang berbasiskan sumber daya lokal serta pengembangan industri yang bersifat padat tenaga kerja (labor intensive) yang mampu menyerap kelebihan tenaga kerja sektor pertanian.

3. Memperbaiki akses petani terhadap sumber-sumber pembiayaan baik untuk investasi maupun modal kerja.

4. Memperbaiki prasarana dan sarana pertanian dan perdesaan yang memungkinkan lahan-lahan yang selama ini tidak produktif (terbengkalai) dapat diusahakan oleh petani.

5. Meningkatkan pendidikan dan kesehatan anggota rumah-tangga petani, sehingga keluarga tani mampu mengadopsi teknologi yang lebih menguntungkan, dan mampu memperoleh kesempatan yang lebih luas untuk berkompetisi dan memperoleh pendapatan dari luar usahatani ataupun luar pertanian.

Sedangkan peningkatan nilai produk dari setiap satuan aset yang digunakan dapat ditempuh dengan perbaikan produktivitas, perbaikan kualitas, dan peningkatan harga per satuan produk yang diterima petani. Agenda yang dapat dilakukan antara lain adalah:

1. Memperbaiki dan meningkatkan teknologi di setiap tahapan produksi, yang memungkinkan peningkatan kuantitas dan kualitas produksi per satuan asset ataupun per satuan tenaga kerja.

2. Memperkuat kelembagaan yang memungkinkan terjadinya transfer teknologi dengan benar dan cepat.

3. Memperbaiki kualitas dan meningkatkan kuantitas ketersediaan sarana produksi pertanian.

4. Memperbaiki dan meningkatkan akses petani terhadap sarana produksi pertanian dan akses pada pembiayaan untuk modal kerja.

dan kuantitas infrastruktur pertanian dan

5. Meningkatkan

kualitas

perdesaan.

6. Mengurangi risiko harga yang dihadapi petani, baik harga output maupun input pertanian melalui kebijakan yang tepat.

7. Meningkatkan pendidikan dan kesehatan bagi petani sehingga petani mampu memanfaatkan peluang-peluang yang memungkinkan untuk meningkatkan nilai produksi per satuan aset yang diusahakannya.

8. Menghapuskan berbagai pungutan yang membebani produk pertanian, terutama pungutan liar ataupun yang menurunkan daya saing.

9. Meningkatkan kerja sama antar daerah otonom dalam mengelola sumber daya alam.

10. Melindungi petani dari persaingan yang tidak sehat dan tidak adil. Berbagai program dan kebijakan tersebut akan sulit memperoleh hasil

Arief Daryanto

yang memuaskan apabila lingkungan ekonomi yang bersifat makro tidak mendukung. Kebijakan moneter (nilai tukar, suku bunga, maupun inflasi) dan kebijakan fiskal (pajak, tarif, maupun subsidi) perlu memperhitungkan dampaknya bagi pembangunan pertanian dan perdesaan.

Pentingnya Kebijakan yang Kondusif dalam Meningkatkan Daya Saing Pertanian

Berdasarkan masalah dan penyebab masalah yang dihadapi dalam pengembangan usaha agribisnis (mencakup pertanian skala kecil) yang berdaya saing, maka disusun pokok-pokok kebijakan sebagai berikut:

1. Kebijakan-kebijakan yang ditujukan untuk mengurangi distorsi pasar, baik distorsi karena ketidak sempurnaan pasar maupun distorsi kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi.

2. Kebijakan-kebijakan yang berpihak pada petani baik kebijakan bersifat insentif (perlindungan melalui kebijakan tarif) maupun domestic support berupa subsidi input, pengembangan infrastruktur pertanian di perdesaan, infrastruktur pemasaran, penelitian dan pengembangan, serta kemudahan ekspor.

3. Peningkatan akses pelaku agribisnis terhadap pembiayaan usaha agribisnis. Salah satu hambatan pokok petani Indonesia dalam mengembangkan usaha pertanian yang berdaya saing adalah terbatasnya modal dan lemahnya akses terhadap sumber permodalan. Dalam upaya mengatasi permodalan petani, perlu dikembangkan Penguatan Modal Usaha Kelompok (PMUK), serta mewujudkan lembaga keuangan mikro di perdesaan yang tidak mensyaratkan adanya collateral, dengan memanfaatkan sumber dana yang berasal dari program-program pemerintah. Hal ini juga harus disertai dengan kegiatan pengembangan kelembagaan petani, dan peningkatan kualitas SDM petani/kelompok usaha.

4. Peningkatan akses terhadap informasi pasar. Pemasaran produk pertanian merupakan aspek penting dalam pengembangan agribisnis yang berdaya saing. Dengan demikian, guna mengembangkan usaha agribisnis perlu ditempuh kegiatan-kegiatan yang mampu mendorong peningkatan pemasaran produk-produk pertanian baik dalam bentuk bahan mentah/segar maupun dalam bentuk hasil olahan.

5. Mempercepat penyampaian inovasi teknologi pertanian ke pelaku agribisnis. Pengembangan agribisnis perlu didukung oleh teknologi, sehingga diseminasi inovasi teknologi harus dipercepat agar dapat memberikan hasil yang optimal.

6. Peningkatan kapasitas usaha pelaku agribisnis dan mutu produk. Untuk mengurangi kehilangan, meningkatkan mutu hasil dan nilai tambah produk pertanian serta penanganan pemasaran perlu dikembangkan sarana

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

penanganan pascapanen dan pengolahan hasil, pembinaan-pembinaan dan pelatihan-pelatihan bagi pelaku usaha agribisnis/kelompok usaha.

7. Penguatan lembaga penyuluh pertanian. Dalam rangka revitaslisasi penyuluhan, kegiatan diarahkan pada pengembangan dan pemantaan Lembaga Penyuluhan, pelatihan dan pendampingan, penumbuhan tenaga penyuluh kontrak/swakarsa, serta perbaikan metodologi penyuluhan di era otonomi daerah. Di tingkat perdesaan perlu dikembangkan “village centre for agribussines” yang merupakan pusat pelayanan informasi dan teknologi.

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Sektor pertanian masih menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, yang ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap PDB nasional, dimana pada lima tahun terakhir memberikan kontribusi sebesar (13–14 %) dari nilai total PDB Nasional. Angka tersebut relatif besar, karena kontribusi sektor pertanian tersebut menempati urutan ketiga setelah sektor industri pengolahan (27–28 %) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (14–16 %). Bahkan pada tahun 2008 menempati urutan kedua setelah sektor industri pengolahan. Sementara itu, peran sektor pertanian dalam penyerapan tenaga kerja sebesar 42,61 juta orang dan mengalami peningkatan menjadi 43,03 juta orang pada bulan Februari tahun 2009. Penyerapan tenaga kerja ini memempati urutan pertama dibandingkan sektor-sektor lainnya. Besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap penyerapan tenaga kerja tersebut mengindikasikan bahwa sektor pertanian masih bersifat padat karya (labor intensive) dan berimplikasi pada rendahnya produktivitas sektor pertanian.

Peranan baru sektor pertanian sekarang ini dapat diletakkan dalam kerangka ”3 F contribution in the economy”, yaitu food (pangan), feed (pakan) dan fuel (bahan bakar). Peranan pertanian kaitannya dengan ”food” adalah sektor pertanian menjadi leading sector dalam pembangunan ketahanan pangan. Artinya peranan sektor pertanian sangat menentukan terwujudnya sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Kaitannya dengan “feed”, sektor pertanian memiliki peranan sebagai pemasok terbesar bahan baku utama pakan ternak. Selama beberapa tahun terakhir ini, jagung digunakan sebagai penghasil sumber energi terbarukan (renewable) untuk keperluan bahan bakar (fuel). Hal ini menunjukkan bahwa sektor pertanian telah berperan sebagai penghasil energi, biofuel.

Daya saing (competitiveness) dapat ditinjau dari banyak perspektif. Daya saing dapat diartikan dalam perspektif konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) dari Ricardo yang merupakan konsep ekonomi. Sementara itu, daya saing juga dapat diartikan dalam perspektif keunggulan kompetitif (competitive advangtage). Konsep keunggulan kompetitif ini bukan merupakan konsep ekonomi semata, tetapi juga merupakan konsep politik dan atau konsep bisnis yang digunakan sebagai dasar bagi banyak analisis srategis untuk meningkatkan kinerja industri. Perkembangan selanjutnya,

Arief Daryanto

para ekonom mengartikan keunggulan kompetitif sebagai hasil kombinasi dari adanya distorsi pasar dan keunggulan komparatif (comparartive advangtage). Daya saing didefinisikan sebagai kemampuan suatu sektor, industri, atau perusahaan untuk bersaing dengan sukses untuk mencapai pertumbuhan yang berkelanjutan didalam lingkungan global selama biaya imbangannya lebih rendah dari penerimaan sumber daya yang digunakan.

Hasil kajian empiris Michael Porter melalui studi di sepuluh negara industri pada 100 perusahaan menyimpulkan daya saing (competitiveness) didefinisikan sebagai suatu kemampuan negara untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan melalui kegiatan perusahaan-perusahaannya dan untuk mempertahankan tingkat kualitas kehidupan yang tinggi bagi warga negaranya. Daya saing industri, perusahaan, atau bangsa ditentukan oleh empat faktor utama, yang mencakup : (a) factor conditions; (b) demand conditions; (c) relating and supporting industries; dan (d) firms strategy, structure and rivalry. Intinya adalah pentingnya inovasi dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam mendukung industri-industri yang memiliki keunggulan kompetitif.

WEF mengukur daya saing berdasarkan dua belas pilar, yang terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, yang merupakan persyaratan dasar (basic requirements) terdiri dari pilar kelembagaan (institutions), pilar infrastruktur (infrastructure), pilar stabilitas makroekonomi (macroeconomic stability), dan pilar kesehatan dan pendidikan dasar (health dan primary education). Kelompok kedua disebut sebagai kelompok penambah/peningkat efisiensi (efficiency enhancers) terdiri dari pilar pendidikan tinggi dan pelatihan (higher education and training), pilar efisiensi pasar barang (goods market efficiency), pilar efisiensi pasar tenaga kerja (labour market efficiency), pilar efisiensi pasar keuangan (financial market efficiency), pilar kesiapan teknologi (technological readiness), dan pilar ukuran pasar (market size). Kelompok ketiga merupakan kelompok inovasi dan kecanggihan (innovation and sophistication) yang terdiri dari pilar kecanggihan bisnis (business sophistication) dan pilar inovasi (innovation). WEF menempatkan Indonesia di urutan 54 dari 131 negara pada tahun 2007-2008 menurun pada tahun 2008-2009 menjadi urutan 55 dari 134 negara yang disurvei. Pada tahun 2009-2010, Indonesia menempati posisi yang ke 54 dari 133 negara yang disurvei. Walaupun Indonesia lebih baik dari Filipina, tetapi peringkatnya kalah jauh dengan negara-negara seperti Singapura, China, Malaysia, Thailand dan India.

Secara umum status daya saing komoditas pertanian ditinjau dari keunggulan komparatif (DRCR) maupun keunggulan kompetitif (PCR) menunjukkan kondisi yang cukup mengkawatirkan terutama untuk komoditas padi (beras), kedelai, dan tebu (gula) di mana nilai DRCR dan PCR mendekati satu (0,80-1,00), beberapa kasus > 1. Sedangkan untuk komoditas jagung dan kacang tanah, serta peternakan memiliki daya saing yang moderat di mana nilai koefisien DRCR dan PCR antara 0,50-70. Sementara itu, untuk produk-produk hortikultura (sayuran) dan tembakau memiliki daya saing yang cukup tinggi dengan DRCR dan PCR jauh (0,30-0,60).

Berdasarkan indeks RCA, Indonesia masih mengandalkan resource abundance dan ketergantungan pada sumber daya alam. Industri agro yang

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

memiliki RCA > 1, antara lain produk perikanan, produk kopi, teh dan rempah- rempah, tembakau dan produk minyak nabati dan hewani. Sedangkan, komoditas industri manufaktur Indonesia yang meningkat pangsa pasarnya di dunia masih didominasi produk berteknologi sederhana seperti karet, plastik, tekstil, kulit, kayu dan gabus. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keunggulan daya saing ekspor Indonesia belum didasarkan kepada produk-produk industri yang knowledge- based.

Hasil analisis keunggulan komparatif tersebut merupakan bahan yang diperlukan dalam penyusunan peta pewilayahan komoditas. Peta tersebut berisikan informasi tentang informasi potensi wilayah, jenis dan jumlah komoditas yang perlu diproduksi, peta pemasaran, dan neraca keseimbangan komoditas. Untuk menyusun peta seperti itu dan mendukung perencanaan pengembangan komoditas secara umum, diperlukan kajian terus menerus tentang dinamika dari pasar suatu komoditas. Fungsi ini perlu dikembangkan di tiap Direktorat Jenderal Teknis terkait, kerja sama dengan pihak pengusaha yang berkepentingan dengan pengembangan komoditas tertentu.

Peningkatkan daya saing pertanian dari perspektif mikro dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi dan produktivitas, mendorong investasi, mendorong transformasi pertanian serta melalui kebijakan kondusif bagi pengembangan komoditas pertanian. Sementara itu, mengacu pada perspektif makro Porter peningkatan daya saing pertanian dapat dilakukan melalui beberapa strategi yang mengfokuskan pada lima faktor, yaitu pertama, factor (input) conditions, yang mengacu pada input yang digunakan sebagai faktor produksi, seperti tenaga kerja, sumber daya alam, modal dan infrastruktur; kedua, demand conditions, mengacu pada tersedianya pasar domestik yang siap berperan menjadi elemen penting dalam menghasilkan daya saing. Pasar seperti ini ditandai dengan kemampuan untuk menjual produk-produk superior, hal ini didorong oeh adanya permintaan barang dan jasa berkualitas serta adanya kedekatan hubungan antara perusahan dan pelanggan; ketiga, related and supporting industries, mengacu pada tersedianya serangkaian dan adanya keterkaitan kuat antara industri pendukung dan perusahaan, hubungan dan dukungan ini bersifat positif yang berujung pada peningkatan daya saing; keempat, firm strategy, structure and rivalry, mengacu pada strategi dan struktur yang ada pada sebagian besar perusahaan dan intensitas persaingan pada industri tertentu; dan kelima, regional governance, dimana peran pemerintah menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing. Peran pemerintah bukan sebagai pemain di industri, namun melalui kewenangan yang dimiliki memberikan fasilitasi, katalis, dan tatanan bagi sektor pertanian.

Peran pemerintah dalam meningkatkan daya saing pertanian harus mengarah pada penciptaan iklim usaha yang kondusif sehingga mampu merangsang investor baik domestik maupun asing. Hal ini dapat dilakukan dengan menjamin keamanan dan dukungan infrastruktur penunjang lainnya seperti infrastuktur publik (jalan, sarana dan prasarana produksi lainnya, air, listrik, dan infrastruktur penelitian (R&D)) yang mendukung investasi. Pembangunan infrastruktur dapat dianggap sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru. Oleh karena itu, summit pembangunan

Arief Daryanto

infrastruktur jangan hanya terbatas membangun jalan bebas hambatan atau pelabuhan, tetapi harus difokuskan kepada pembangunan infrastruktur pertanian.

Iklim yang kondusif di bidang pertanian juga tidak terlepas dari sisi pemerintahan (birokrasi) dengan mencanangkan program reformasi birokrasi agar birokrasi dapat melayani kepentingan bisnis dengan biaya yang tidak berlebihan dan mengedepankan prinsip-prinsip Good Governance (transparancy, accountability, fairness and responsibility). Kebijakan-kebijakan pelayanan, seperti prosedur perizinan, prosedur investasi, prosedur ekspor, dilakukan dengan tiga prinsip dasar cepat, mudah, dan murah.

DAFTAR PUSTAKA

BPS. 2004-2009. Statistik Indonesia. Badan Pusat Statistis Indonesia. Jakarta.

BPS. 2009. Neraca Ekspor-Impor. Badan Pusat Statistis Indonesia. Jakarta.

Coelli, T.J., D.S.P. Rao and G.E. Battese. 1998. Productivity Analysis, Kluwer-Nijhoff, Boston.

Daryanto, A. 2009. Dinamika Daya Saing Industri Peternakan. IPB Press. Bogor.

Departemen Pertanian. 2004-2007. Statistik Pertanian 2004-2008. Departemen Pertanian. Jakarta.

Esterhuizen, Dirk, J. V. Royen and Luc D’Haese. 2008. An Evaluation of The Competitivness Sector in South Africa. Advanced in Competitiveness Research 16(1-2), 31-46.

Krisnamurthi, Bayu. 2006. Revitalisasi Pertanian : Sebuah Konsekuensi Sejarah dan Tuntutan Masa Depan. Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Krisnamurthi, Bayu. 2009. Pengembangan Agribisnis Buah Indonesia. Bunga Rampai Agribisnis Seri Pemasaran. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Monke, Eric A. and Scott R. Pearson.

The Policy Analysis Matrix for Agricultural

An Introduction to Efficiency and

1995.

Development. Cornel University Press. Ithaca and London.

Pranadji,, T. 1999. Perekayaan Sosio – Budaya Dalam Percepatan Tranformasi Masyarakat Perdesaan Secara Berkelanjutan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Porter, M.E. (1990, 1998). The Competitive Advantage of Nations. London. Macmillan.

Putri, E. I. K. 2009. Ancaman dan Solusi atas Krisis Pangan, Energi, dan Air serta Peran Keilmuan Ekonomi Sumber daya dan Lingkungan dalam Mengatasi Krisis Tersebut. Orange Book. Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Global. Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor. IPB Press.

Efisiensi dan Daya saing

Rachman, B., P. Simatupang dan T. Sudaryanto.

Usahatani Padi dalam Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Beberapa

Pusat Penelitian dan Pengembangan

2004.

Komoditas Pertanian di Lahan Sawah.

Posisi Daya Saing Pertanian Indonesia dan Upaya Peningkatannya

Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Rusastra I.W. B. Rachman, dan S. Friyatno.

Palawija dalam Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Beberapa Komoditas

Pertanian di Lahan Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Gumbira-Said, E. 2007. Prospek dan Tantangan Agribisnis dalam Pasar Global. Makalah disampaikan pada Manager Conference Minamas Plantation. Hotel Ritz Carlton, Jakarta. 27 Oktober 2007.

Saptana, Sumaryanto, M. Siregar, H. Mayrowani, I. Sadikin, dan S. Friyatno. 2001. Analisis Keunggulan Kompetitif Komoditas Unggulan Hortikultura. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.

Saptana. 1999. Dampak Krisis Moneter dan Kebijaksanaan Pemerintah Terhadap Profitabilitas dan Daya saing Sistem Komoditas Ayam Ras di Jawa Barat. Tesis S2. Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, Program Pasca Sarjana, Institut Pertanian. Bogor.

Saptana, S. Friyatno dan T. B. H. Purwantini. 2004. Efisisen dan Daya saing Usahatani Tebu dan Tembakau dalam Efisiensi dan Daya Saing Sistem Usahatani Beberapa Komoditas Pertanian di Lahan Sawah. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Simatupang, P. 1991. The Conception of Domestic Resource Cost and Net Economic Benefit for Comparative Advantage Analysis, Agribusiness Division Working Paper No. 2/91, Centre for Agro-Socioeconomic Research. Bogor.

Sudaryanto, T dan P. Simatupang. 1993. Arah Pengembangan Agribisnis: Suatu Catatan Kerangka Analisis dalam Prosiding Perspektif Pengembangan Agribisnis di Indonesia. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

World Economic Forum. 2009. The Global Competitiveness Report 2009-2010. World Economic Forum. Geneve.

Efisiensi dan Daya saing Usahatani

2004.