Sei sulla pagina 1di 10

Adolf Hitler

Adolf Hitler ; lahir di Braunau am Inn, Austria-Hongaria, 20 April 1889 meninggal


di Berlin, Jerman, 30 April 1945 pada umur 56 tahun) adalah seorang politisi Jerman dan
ketua Partai Nazi (bahasa Jerman: Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP);
Partai Pekerja Jerman Sosialis Nasional) kelahiran Austria. Ia menjabat sebagai Kanselir
Jerman sejak 1933 sampai 1945 dan diktator Jerman Nazi (bergelar Fhrer und
Reichskanzler) mulai tahun 1934 sampai 1945. Hitler menjadi tokoh utama Jerman
Nazi, Perang Dunia II di Eropa, dan Holocaust.
Hitler adalah veteran Perang Dunia I dengan banyak gelar. Ia bergabung
dengan Partai Pekerja Jerman (pendahulu NSDAP) pada tahun 1919, dan menjadi ketua
NSDAP tahun 1921. Tahun 1923, ia melancarkan kudeta di Munich yang dikenal dengan
peristiwa Beer Hall Putsch. Kudeta yang gagal tersebut berujung dengan ditahannya Hitler.
Di penjara, Hitler menulis memoarnya, Mein Kampf(Perjuanganku). Setelah bebas tahun
1924, Hitler mendapat dukungan rakyat dengan mengecam Perjanjian Versailles dan
menjunjung Pan-Jermanisme, antisemitisme, dan anti-komunisme melalui pidatonya yang
karismatik dan propaganda Nazi. Setelah ditunjuk sebagai kanselir pada tahun 1933, ia
mengubah Republik Weimar menjadi Reich Ketiga, sebuah kediktatoran satu partai yang
didasarkan pada ideologi Nazisme yang totalitarian dan otokratik.
Tujuan Hitler adalah mendirikan Orde Baru hegemoni Jerman Nazi yang absolut di
daratan Eropa. Sampai saat itu, kebijakan luar dan dalam negerinya bertujuan
mencapai Lebensraum ("ruang hidup") bagi kaum Jermanik. Ia memerintahkan Jerman
dipersenjatai kembali dan Wehrmacht menginvasi Polandia pada bulan September 1939,
menyebabkan pecahnya Perang Dunia II di Eropa. Di bawah pemerintahan Hitler, pada tahun
1941 pasukan Jerman dan sekutu Eropanya menduduki sebagian besar Eropa dan Afrika
Utara. Tahun 1943, Jerman harus mempertahankan wilayahnya dan mengalami serangkaian
kekalahan dalam pertempuran. Pada hari-hari terakhir perang, saat Pertempuran
Berlin berlangsung tahun 1945, Hitler menikahi kekasih lamanya, Eva Braun. Tanggal 30
April 1945, kurang dari dua hari kemudian, keduanya bunuh diri agar tidak
ditangkap Angkatan Darat Merah, lalu mayat mereka dibakar.
Kebijakan Hitler yang supremasis dan termotivasi oleh ras mengakibatkan kematian
sekitar 50 juta orang selama Perang Dunia II, termasuk 6 juta kaum Yahudi dan 5 juta etnis
"non-Arya" yang pemusnahan sistematisnya diperintahkan oleh Hitler dan rekan-rekan
terdekatnya.
Ayah Hitler, Alois Hitler (18371903), adalah anak tidak sah dari Maria Anna
Schicklgruber. Catatan baptis tidak menyebutkan nama ayah Alois, sehingga Alois memakai
nama belakang ibunya. Pada tahun 1842, Johann Georg Hiedler menikahi Anna. Setelah
Anna meninggal dunia tahun 1847 dan Johann tahun 1856, Alois dibesarkan di keluarga adik
Hiedler, Johann Nepomuk Hiedler.[2] Pada tahun 1876, Alois disahkan dan catatan baptisnya
diubah oleh seorang pendeta di hadapan tiga saksi mata.[3] Saat diadili di Nuremberg tahun
1945, pejabat Nazi Hans Frank menyebut keberadaan surat-surat yang mengklaim bahwa ibu
Alois bekerja sebagai pembantu rumah tanga untuk sebuah keluarga Yahudi di Graz dan
bahwa putra keluarga tersebut yang berusia 19 tahun, Leopold Frankenberger, merupakan
ayah Alois. Akan tetapi, tidak ada nama Frankenberger yang tercatat di Graz pada masa itu
dan catatan keluarga Leopold Frankenberger tidak pernah dibuat. Para sejarawan meragukan
klaim bahwa ayah Alois adalah seorang Yahudi.
Pada usia 39 tahun, Alois memilih nama belakang "Hitler", bisa dieja "Hiedler",
"Httler", atau "Huettler". Asal kata namanya adalah "seseorang yang tinggal di rumah"
(Jerman Standar Htte), "penggembala" (Jerman Standar hten "menjaga", Inggris "heed"),
atau dari bahasa Slavik Hidlar dan Hidlarcek.[8]
Perang Dunia II
Kesuksesan diplomatik pertama Aliansi dengan Jepang bulan Maret 1941. Di
belakangnya adalah Joachim von Ribbentrop.
Pada Februari 1938, atas nasihat Menteri Luar Negeri yang baru ditunjuk, Joachim
von Ribbentrop yang sangat pro-Jepang, Hitler mengakhiri aliansi Cina-
Jerman dengan Republik Tiongkok demi membentuk aliansi dengan Jepang yang lebih
modern dan kuat. Hitler mengumumkan pemerintahannya mengakui Manchukuo, negara
dudukan Jepang di Manchuria, dan menarik klaim Jerman terhadap bekas koloni mereka di
Pasifik yang dimiliki Jepang. Hitler menyatakan berakhirnya pengiriman senjata ke Cina dan
memulangkan semua pejabat Jerman yang bekerja di Angkatan Darat Cina. Sebagai tindak
balasan, Jenderal Cina Chiang Kai-shek membatalkan semua perjanjian ekonomi Cina-
Jerman, sehingga bahan mentah Cina tidak lagi masuk ke Jerman.
Austria dan Cekoslowakia
Pada tanggal 12 Maret 1938, Hitler mengumumkan penyatuan Austria dengan Jerman
Nazi dalam program Anschluss. Hitler kemudian mengalihkan perhatiannya ke populasi etnis
Jerman di distrik Sudetenland di Cekoslowakia.
Tanggal 2829 Maret 1938, Hitler mengadakan serangkaian pertemuan rahasia di
Berlin bersama Konrad Henlein dari Heimfront (Front Dalam Negeri) Sudeten, partai etnis
Jerman di Sudetenland. Mereka setuju agar Henlein meminta otonomi yang lebih besar bagi
penduduk Jerman Sudeten ke pemerintah Cekoslowakia, sehingga memberi legitimasi atas
aksi militer Jerman ke Cekoslowakia. Pada April 1938, Henlein memberitahu menteri luar
negeri Hongaria bahwa "apapun yang ditawarkan pemerintah Ceko, ia akan selalu meminta
lebih tinggi lagi ... ia ingin menyabotase pemahaman dengan artian apapun karena inilah satu-
satunya cara memecah Cekoslowakia dengan cepat".[200] Secara pribadi, Hitler menganggap
masalah Sudeten tidak penting; keinginan sebenarnya adalah melancarkan perang penaklukan
terhadap Cekoslowakia.
Oktober 1938: Hitler (berdiri di Mercedes) berkendara melalui kerumunan
di Cheb(bahasa Jerman: Eger), bagian dari wilayah berpenduduk
Jerman Sudetenland di Cekoslowakia, yang dianeksasi ke Jerman Nazi akibat Perjanjian
Munich
Pada bulan April, Hitler meminta OKW bersiap-siap untuk Fall Grn ("Kasus
Hijau"), kode invasi ke Cekoslowakia. Karena tekanan diplomatik bertubi-tubi dari Perancis
dan Britania, pada tanggal 5 September Presiden Cekoslowakia Edvard Bene meluncurkan
"Rencana Keempat" untuk reorganisasi konstitusional negaranya yang menyetujui sebagian
besar permintaan Henlein untuk otonomi Sudeten. Heimfront Henlein menanggapi tawaran
Bene dengan serangkaian kerusuhan melawan polisi Cekoslowakia dan berujung pada
penerapan darurat militer di sejumlah distrik di Sudeten.
Jerman bergantung pada minyak impor; konfrontasi dengan Britania atas sengketa
Cekoslowakia akan mengurangi suplai minyak Jerman. Hitler membatalkan Fall Grn yang
awalnya direncanakan dilaksanakan tanggal 1 Oktober 1938.[206] Pada 29 September,
Hitler, Neville Chamberlain, douard Daladier, dan Benito Mussolini mengadakan
konferensi satu hari di Munich dan menghasilkan Perjanjian Munich yang berisi penyerahan
distrik Sudetenland ke Jerman.
Toko-toko Yahudi hancur di Magdeburgpasca-Kristallnacht (November 1938)
Chamberlain puas dengan konferensi Munich dan menyebutnya "perdamaian untuk
masa kini", sementara Hitler marah karena kehilangan kesempatan berperang pada tahun
1938; ia menyatakan ketidakpuasannya dalam sebuah pidato tanggal 9 Oktober
di Saarbrcken. Dalam pandangan Hitler, perdamaian yang dibantu Britania ini, meski
memenuhi permintaan Jerman, adalah kekalahan diplomatik yang menggagalkan
keinginannya membatasi kekuasaan Britania untuk membuka jalan ekspansi Jerman ke
timur. Karena pertemuan itu pula Hitler terpilih sebagai Man of the Year versi
majalah Time tahun 1938.
Pada akhir 1938 dan awal 1939, krisis ekonomi yang berlanjut akibat persenjataan
kembali memaksa Hitler memotong anggaran besar-besaran.[215] Dalam pidato "Ekspor atau
mati" tanggal 30 JAnuari 1939, ia meminta serangan ekonomi demi meningkatkan
kepemilikan valuta asing Jerman untuk membeli bahan mentah seperti besi berkualitas tinggi
untuk senjata-senjata militernya.
Pada tanggal 15 Maret 1939, melanggar Perjanjian Munich dan mungkin akibat krisis
ekonomi yang menekankan perlunya aset tambahan, Hitler memerintahkan Wehrmacht
menyerbu Praha dan memproklamasikan Bohemia dan Moravia sebagai protektoratJerman
dari Kastil Praha.
Pecahnya Perang Dunia II
Dalam diskusi pribadi tahun 1939, Hitler menyatakan Britania sebagai musuh utama
yang perlu dikalahkan dan pemusnahan Polandia adalah prasyarat yang diperlukan demi
mencapai tujuan tersebut. Sisi timur akan diamankan dan daratannya dimasukkan
dalam Lebensraum Jerman. Tersinggung oleh "jaminan" kemerdekaan Polandia oleh Britania
pada 31 Maret 1939, Hitler berkata, "Aku harus membuatkan minuman iblis untuk
mereka." Dalam sebuah pidato di Wilhelmshaven pada acara peluncuran kapal
perang Tirpitztanggal 1 April, ia mengancam akan membatalkan Perjanjian Laut Inggris-
Jerman jika Britania terus menjamin kemerdekaan Polandia, yang ia pandang sebagai
kebijakan "pengepungan". Polandia akan menjadi negara satelit Jerman atau dinetralisasi
untuk mengamankan sisi timur Reich dan mencegah kemungkinan blokade Britania. Hitler
awalnya memilih ide negara satelit, tetapi karena ditolak pemerintah Polandia, ia
memutuskan menginvasi Polandia dan menjadikannya tujuan utama kebijakan luar negerinya
tahun 1939. Pada tanggal 3 April, Hitler memerintahkan pihak militer bersiap untuk Fall
Weiss ("Kasus Putih"), yaitu rencana penyerbuan ke Polandia tanggal 25 Agustus. Dalam
pidato di Reichstag tanggal 28 April, Hitler membatalkan Perjanjian Laut Inggris-Jerman
dan Pakta Non-Agresi JermanPolandia. Pada bulan Agustus, Hitler memberitahu jenderal-
jenderalnya bahwa rencana awalnya untuk tahun 1939 adalah "...membentuk hubungan baik
dengan Polandia demi memerangi Barat." Sejumlah sejarawan seperti William Carr, Gerhard
Weinberg, dan Ian Kershaw berpendapat bahwa alasan ketergesaan Hitler melancarkan
perang adalah ia takut keburu meninggal duluan.
Hitler di prangko 42 pfennig tahun 1944. Istilah Grossdeutsches Reich (Reich Jerman
Raya) pertama dipakai tahun 1943 untuk menyebut wilayah ekspansi Jerman di bawah
kekuasaannya.
Hitler khawatir serangan militernya ke Polandia akan menciptakan perang lebih awal
terhadap Britania. Akan tetapi, menteri luar negeri Hitlerdan mantan Duta Besar untuk
LondonJoachim von Ribbentrop menjamin bahwa baik Britania maupun Perancis tidak
akan menghormati komitmen mereka ke Polandia. Karena dijamin seperti itu, pada tanggal
22 Agustus 1939 Hitler memerintahkan mobilisasi militer ke Polandia.
Rencana ini memerlukan bantuan rahasia dari Soviet dan pakta non-agresi (Pakta
Molotov-Ribbentrop) antara Jerman dan Uni Soviet, dipimpin Joseph Stalin, termasuk
perjanjian rahasia pembelahan Polandia untuk kedua negara tersebut. Menanggapi pakta yang
baru terbentuk inidan berbeda dengan prediksi Ribbentrop bahwa aksi ini akan
memperburuk hubungan Inggris-PolandiaBritania dan Polandia membentuk aliansi
Inggris-Polandia pada 25 Agustus 1939. Manuver ini, bersamaan dengan berita dari Italia
bahwa Mussolini tidak akan menghormati Pakta Baja, memaksa Hitler menunda serbuan ke
Polandia dari 25 Agustus menjadi 1 September. Hitler gagal mengalihkan Britania ke posisi
netral dengan menawarkan jaminan non-agresi ke Imperium Britania tanggal 25 Agustus; ia
kemudian menginstruksikan Ribbentrop agar mengungkapkan rencana perdamaian menit-
menit terakhir dengan batasan waktu yang sangat pendek agar bisa menyalahkan perang yang
akan terjadi pada ketidaksigapan Britania dan Polandia.
Meski gelisah akan intevensi Britania, Hitler melanjutkan rencana invasi Polandia.
Pada tanggal 1 September 1939, Jerman menyerbu Polandia barat dengan alasan klaimnya
terhadap Kota Bebas Danzig dan haknya atas jalan ekstrateritorial melintasi Koridor
Polandia ditolak, yang telah diserahkan Jerman sesuai Perjanjian Versailles. Merespon
tindakan ini, Britania Raya dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman pada tanggal 3
September, mengejutkan Hitler dan memaksanya bertanya dengan nada marah kepada
Ribbentrop, "Sekarang apa lagi?" Perancis dan Britania segera bertindak sesuai pernyataan
mereka, dan pada 17 September, pasukan Soviet menyerbu Polandia timur.
Polandia takkan pernah bangkit lagi dalam bentuk Perjanjian Versailles. Ini dijamin
tidak hanya oleh Jerman, tetapi juga ... Rusia.
Anggota Reichstag menghormati Hitler di Kroll Opera House tanggal 6 Oktober
1939, pada akhir Invasi Polandia
Jatuhnya Polandia diikuti oleh apa yang disebut sejumlah wartawan sebagai "Perang
Palsu" atau Sitzkrieg ("perang duduk"). Hitler menginstruksikan dua Gauletier Polandia barat
laut yang baru ditunjuk, Albert Forster dari Reichsgau Danzig-Prusia Barat dan Arthur
Greiser dari Reichsgau Wartheland, untuk "menjermanisasikan" daerah mereka "tanpa
pertanyaan" tentang bagaimana caranya.[240]Ketika penduduk Polandia di daerah Forster
harus menandatangani pernyataan bahwa mereka memiliki darah Jerman,[241] Greiser
melakukan kampanye pembersihan etnis brutal terhadap penduduk Polandia di
daerahnya.[240] Greiser mengeluh Forster mengizinkan ribuan orang Polandia diterima sebagai
"ras" Jerman sehingga mengancam "kemurnian ras" Jerman. Hitler menolak
terlibat,[240] karena ingin menjadikannya contoh dari teori "bekerja untuk Fhrer": Hitler
mengeluarkan instruksi yang tidak jelas dan mengharapkan semua bawahannya menjalankan
kebijakan mereka sendiri.
Sengketa lain muncul tentang metode Himmler dan Greiser, yang memilih
pembersihan etnis di Polandia, melawan metode Gring dan Hans Frank, Gubernur Jenderal
teritori Pemerintah Umum Polandia, yang ingin mengubah Polandia menjadi "lumbung padi"
Reich.[242]Pada tanggal 12 Februari 1940, sengketa ini awalnya selesai melalui pelaksanaan
metode GringFrank, yang mengakhiri pengusiran massal yang mengganggu arus
ekonomi.[242] Akan tetapi, pada 15 Mei 1940, Himmler menulis memo berjudul "Pemikiran
tentang Penanganan Penduduk Asing di Timur" yang mengusulkan pengusiran seluruh
penduduk Yahudi di Eropa ke Afrika dan mengucilkan penduduk Polandia menjadi "kelas
buruh tanpa pemimpin."[242] Hitler menyebut memo Himmler "bagus dan tepat,"[242] lalu
menerapkan kebijakan HimmlerGreiser di Polandia, sambil mengabaikan Gring dan Frank.
Hitler mulai memusatkan militernya di perbatasan barat Jerman, dan pada April 1940,
pasukan Jerman menyerbu Denmark dan Norwegia. Tanggal 9 April, Hitler mengumumkan
kelahiran "Reich Jerman Raya", yaitu visinya akan sebuah imperium bangsa-bangsa Jermanik
di Eropa yang bersatu, tempat orang Belanda, Flandria, dan Skandinavia bergabung dalam
pemerintahan "ras murni" di bawah kepemimpinan Jerman.[243] Bulan Mei 1940,
Jerman menyerang Perancis, dan menduduki Luksemburg, Belanda, dan Belgia. Kemenangan
tersebut memaksa Mussolini membawa Italia bergabung dengan Hitler pada 10 Juni. Perancis
menyerah tanggal 22 Juni.
Britania, yang tentaranya dipaksa meninggalkan Perancis melalui laut
dari Dunkirk, terus berperang bersama jajahan Britania yang lain pada Pertempuran Atlantik.
Hitler menawarkan perdamaian kepada pemimpin Britania Raya yang baru, Winston
Churchill, dan setelah ditolak ia memerintahkan serangan pengeboman ke Britania Raya.
Rencana invasi Hitler ke Britania Raya dimulai dengan serangkaian serangan udara
pada Pertempuran Britania terhadap sejumlah pangkalan udara dan stasiun radar Angkatan
Udara Kerajaan (RAF) di Inggris Tenggara. Sayangnya, Luftwaffe Jerman tidak mampu
mengalahkan Angkatan Udara Kerajaan.[246] Pada akhir Oktober, Hitler menyadari bahwa
superioritas udara untuk invasi BritaniaOperasi Sea Liontidak dapat diraih, lalu ia
melancarkan serangan udara malam terhadap kota-kota di Britania, termasuk
London, Plymouth, dan Coventry. Pada tanggal 27 September 1940, Pakta Tiga
Pihak ditandatangani di Berlin oleh Sabur Kurusu dari Kekaisaran Jepang, Hitler, dan
menteri luar negeri Italia Ciano, kemudian meluas hingga Hongaria, Rumania, dan Bulgaria,
sehingga memperkuat kekuatan Poros. Upaya Hitler dalam mengintegrasikan Uni Soviet
dengan blok anti-Britania gagal pasca pertemuan buntu antara Hitler dan Molotov di Berlin
pada bulan November, kemudian ia meminta semua pihak bersiap untuk invasi besar-besaran
ke Uni Soviet. Pada musim semi 1941, aktivitas militer di Afrika Utara, Balkan, dan Timur
Tengah mengalihkan Hitler dari rencananya di kawasan timur. Bulan Februari, pasukan
Jerman tiba di Libya untuk memperkuat keberadaan pasukan Italia di sana. Bulan April,
Hitler melancarkan invasi Yugoslavia, yang tidak lama kemudian diikuti dengan invasi
Yunani.[250] Bulan Mei, pasukan Jerman dikirim untuk membantu pasukan pemberontak Irak
memerangi Britania dan menyerbu Kreta. Pada tanggal 23 Mei, Hitler mengeluarkan Surat
Perintah Fhrer No. 30.
Menjelang kekalahan
Tanggal 22 Juni 1941, melawan pakta non-agresi HitlerStalin tahun 1939, 5,5 juta
tentara Poros menyerbu Uni Soviet. Tujuan dari serangan berskala besar ini (Operasi
Barbarossa) adalah penghancuran total Uni Soviet dan perebutan semua sumber daya
alamnya untuk upaya agresi masa depan terhadap negara-negara Barat.[252][253] Dalam invasi
ini, Jerman berhasil mencaplok wilayah yang sangat luas, termasuk beberapa
republik Baltik, Belarus, dan Ukraina Barat. Setelah keberhasilan Pertempuran Smolensk,
Hitler memerintahkan Grup Angkatan Darat Tengah menghentikan lajunya ke Moskwa dan
sementara mengalihkan grup Panzernya ke utara dan selatan untuk membantu
pengepungan Leningrad dan Kiev. Keputusan Hitler ini menciptakan krisis besar di kalangan
petinggi militer, karena para jenderal tidak setuju dengan perubahan target tersebut. Jeda
yang diambil Hitler pada akhir musim panas memberikan Angkatan Darat Merah
kesempatam memobilisasi cadangan-cadangan baru; sejarawan Russel Stolfi menganggap hal
ini sebagai salah satu faktor utama yang menyebabkan kegagalan serangan Moskwa, yang
baru dilanjutkan bulan Oktober 1941 dan berakhir dengan kegagalan besar pada bulan
Desember.
Tanggal 18 Desember 1941, Himmler menanyai Hitler, "Apa yang perlu dilakukan
terhadap kaum Yahudi Rusia?" Hitler menjawab, "als Partisanen auszurotten" ("musnahkan
mereka sebagai partisan"). Sejarawan Israel Yehuda Bauer berkomentar bahwa pernyataan
tersebut bisa jadi tanda-tanda yang hampir bisa dikatakan para sejarawan sebagai perintah
langsung dari Hitler untuk melaksanakan genosida saat Holocaust.
Pada akhir 1942, pasukan Jerman kalah dalam pertempuran El Alamein kedua,
menggagalkan rencana Hitler merebut Terusan Suez dan Timur Tengah. Kelewat yakin atas
kemampuan militernya sendiri pasca kemenangan awal tahun 1940, Hitler menjadi tidak
percaya terhadap Komando Tinggi Angkatan Darat dan mulai ikut campur dalam militer dan
perencanaan taktis dengan akibat yang menghancurkan. Pada bulan Februari 1943, penolakan
Hitler yang berulang-ulang terhadap penarikan mereka dari Pertempuran
Stalingrad mengakibatkan kehancuran total Angkatan Darat ke-6. Lebih dari 200.000 tentara
Poros gugur dan 235.000 lainnya ditawan, hanya 6.000 di antaranya yang pulang ke Jerman
setelah perang. Setelah itu, terjadi kekalahan mutlak pada Pertempuran Kursk. Pendapat
militer Hitler mulai tidak jelas, dan posisi militer dan ekonomi Jerman ikut jatuh seiring
memburuknya kesehatan Hitler. Kershaw dan sejarawan lain percaya Hitler
mengalami penyakit Parkinson.
Pasca invasi Sekutu ke Sisilia tahun 1943, Mussolini digulingkan oleh Pietro
Badoglio, yang menyerah kepada Sekutu. Sepanjang tahun 1943 dan 1944, Uni Soviet pelan-
pelan memaksa pasukan Hitler mundur di sepanjang Front Timur. Tanggal 6 Juni 1944,
pasukan Sekutu Barat mendarat di Perancis utara dalam salah satu operasi amfibi terbesar
sepanjang sejarah, Operasi Overlord. Akibat serangkaian kemunduran besar yang dialami
Angkatan Darat Jerman, banyak petingginya berkesimpulan bahwa kekalahan tak dapat
dielakkan dan kesalahan perhitungan atau penolakan Hitler akan membawa perang ke dalam
negeri dan menyebabkan Jerman hancur total.
Antara 1939 dan 1945, ada banyak rencana untuk membunuh Hitler, beberapa di
antaranya berlanjut sampai tingkatan tertentu.[267]Upaya paling terkenal justru berasal dari
Jerman sendiri dan didorong oleh kemungkinan bahwa Jerman akan kalah perang.[268] Pada
Juli 1944, rencana 20 Juli, bagian dari Operasi Valkyrie, dijalankan. Claus von
Stauffenberg meletakkan sebuah bom di salah satu bangunan markas Hitler, Wolf's
Lair di Rastenburg. Hitler nyaris terbunuh karena seseorang tidak sengaja mendorong kopor
bom tersebut ke belakang kaki meja konferensi yang tebal. Saat bom meledak, meja itu
memantulkan ledakan menjauhi Hitler. Setelah itu, Hitler memerintahkan balas dendam yang
kejam yang berujung pada eksekusi lebih dari 4.900 orang.
Kekalahan dan kematian
Pada akhir 1944, baik Angkatan Darat Merah dan Sekutu Barat sedang menyerbu
masuk Jerman. Mengetahui kekuatan dan kegigihan Angkatan Darat Merah, Hitler
memutuskan memakai sisa tentara cadangannya untuk melawan tentara Amerika Serikat dan
Britania yang ia anggap lebih lemah.[270] Pada 16 December, ia melancarkan serangan di
Ardennes untuk memecah belah Sekutu Barat dan mungkin meyakinkan mereka ikut
berpeang melawan Soviet.[271] Setelah serangan tersebut gagal, Hitler sadar bahwa Jerman
akan kalah perang. Harapan terakhirnya untuk menegosiasikan damai dengan Amerika
Serikat dan Britania dibantu oleh kematian Franklin D. Roosevelt tanggal 12 April 1945;
namun, berbeda dengan harapannya, Sekutu tetap tidak gentar. Bertindak dengan
pandangannya bahwa kegagalan militer Jerman turut menghilangkan haknya untuk berdiri
sebagai suatu bangsa, Hitler memerintahkan penghancuran semua infrastruktur industri
Jerman sebelum jatuh ke tangan Sekutu. Menteri Persenjataan Albert Speer dipercaya untuk
mengeksekusi rencana bumi hangusini, namun diam-diam ia tolak.
Pada tanggal 20 April, ulang tahun Hitler ke-56, Hitler melakukan perjalanan terakhir
dari Fhrerbunker ("perlindungan Fhrer") ke permukaan. Di kebun Reichskanzlei yang
hancur, ia menyematkan Iron Cross kepada sejumlah tentara Pemuda Hitler. Pada 21
April, Front Belorusia ke-1 pimpinan Georgy Zhukov berhasil menembus pertahanan Grup
Angkatan Darat Vistula Jerman pimpinan Jenderal Gotthard Heinrici pada Pertempuran
Dataran Tinggi Seelow dan melaju hingga pinggiran kota Berlin.[275] Menolak situasi
tersebut, Hitler menggantungkan harapannya pada pasukan Waffen SS pimpinan
Jenderal Felix Steiner, Armeeabteilung Steiner("Detasemen Angkatan Darat Steiner"). Hitler
meminta Steiner menyerang sisi utara bukit dan Angkatan Darat Kesembilan Jerman
diperintahkan menyerang ke utara dalam bentuk serangan jepit.
Pada konferensi militer tanggal 22 April, Hitler mempertanyakan serangan Steiner. Ia
diberitahu bahwa serangan tersebut tak pernah dilancarkan dan pasukan Rusia sudah
memasuki Berlin. Jawaban tersebut memaksa Hitler meminta semua orang selain Wilhelm
Keitel, Alfred Jodl, Hans Krebs, dan Wilhelm Burgdorf keluar ruangan. Hitler kemudian
marah besar-besaran atas pengkhianatan dan ketidakmampuan para komandannya yang
diakhiri dengan pernyataannyauntuk pertama kalibahwa Jerman kalah perang. Hitler
mengumumkan bahwa ia akan tetap berada di Berlin sampai perang berakhir, lalu bunuh diri.
Pada 23 April, Angkatan Darat Merah mengepung seluruh Berlin dan Goebbels
membuat pernyataan yang meminta warga kota ikut mempertahankan Berlin. Pada hari itu
pula, Gring mengirim telegram dari Berchtesgaden yang berisi pendapat bahwa karena
Hitler terisolasi di Berlin, ia, Gring, harus mengambil alih pemerintahan Jerman. Gring
menetapkan batas waktu, lewat dari itu ia menganggap Hitler tidak berkuasa lagi. Hitler
menanggapinya dengan menahan Gring dan dalam surat wasiatnya yang ditulis 29 April,
Hitler menyatakan Gring dipecat dari semua jabatan pemerintahan yang
dipegangnya. Tanggal 28 April, Hitler mengetahui bahwa Himmler, yang meninggalkan
Berlin tanggal 20 April, sedang mencoba membahas penyerahan diri dengan Sekutu Barat. Ia
memerintahkan Himmler ditahan dan Hermann Fegelein (perwakilan SS Himmler di kantor
pusat Hitler di Berlin) dieksekusi.
Setelah tengah malam 29 April, Hitler menikahi Eva Braun dalam sebuah upacara
pernikahan kecil di ruang peta di Fhrerbunker. Setelah sarapan sederhana bersama istri
barunya, ia membawa sekretaris Traudl Junge ke ruangan lain dan mendiktekan wasiat dan
kata-kata terakhir. Peristiwa ini disaksikan dan dokumennya ditandatangani oleh Hans Krebs,
Wilhelm Burgdorf, Joseph Goebbels, dan Martin Bormann. Sore itu, Hitler diberitahu tentang
pembunuhan diktator Italia Benito Mussolini, yang mungkin mempertegas keinginannya
untuk menolak ditangkap.
Tanggal 30 April 1945, setelah pertempuran jalanan yang sengit, ketika tentara Soviet
berada satu atau dua blok dari Reichskanzlei, Hitler dan Braun bunuh diri; Braun menggigit
kapsul sianida dan Hitler menembak dirinya. Jasad mereka dibawa naik melalui pintu keluar
darurat bunker ke kebun belakang Reichskanzlei yang sudah hancur, kemudian ditempatkan
di sebuah kawah bom dan disiram bensin. Kedua jasad kemudian dibakar diiringi suasana
pengeboman oleh Angkatan Darat Merah. Berlin menyerah pada tanggal 2 Mei. Catatan arsip
Sovietdirilis setelah jatuhnya Uni Sovietmemperlihatkan bahwa sisa-sisa jenazah Hitler,
Braun, Joseph dan Magda Goebbels, enam anak Goebbels, Jenderal Hans Krebs, dan anjing-
anjing Hitler berkali-kali dikubur dan diangkat. Pada tanggal 4 April 1970, sebuah
tim KGB Soviet memakai peta pemakaman terperinci untuk mengangkat lima kotak kayu di
fasilitas SMERSH di Magdeburg. Sisa-sisa jenazah dari kotak tersebut dibakar, dihancurkan,
dan disebarkan di sungai Biederitz, anak sungai Elbe.
Pandangan agama
Hitler melihat gereja penting secara politik, sebagai suatu pengaruh konservatif
terhadap masyarakat. Ia merasa jika gereja dihancurkan, umat beragama akan beralih ke
mistisisme, yang ia anggap sebagai kemunduran politik dan budaya. Meski ia tidak pernah
meninggalkan Gereja Katolik secara resmi, ia tidak punya kedekatan sejati dengan
gereja.[340]Setelah meninggalkan kampung halaman, ia tidak pernah lagi
menghadiri misa atau menerima sakramen. Ia lebih menyukai aspek Protestantisme yang pas
dengan pandangan-pandangannya dan mengadopsi sebagian elemen organisasi
hierarkis, liturgi, dan fraseologi Gereja Katolik dalam politiknya.
Secara publik, Hitler sering memuji warisan Kristen dan budaya Kristen Jerman, dan
memilih kepercayaan terhadap Yesus Kristus "Arya"seorang Yesus yang memerangi umat
Yahudi.[344] Ia berbicara tentang interpretasinya terhadap Kristen sebagai motivasi utama
antisemitismenya, sambil berkata, "Sebagai seorang Kristen aku tidak berhak mengizinkan
diriku dibohongi, namun aku berhak menjadi seorang pejuang kebenaran dan
keadilan." Secara pribadi, ia lebih kritis terhadap Kristen tradisional, menganggapnya sebuah
agama yang pas dianut para budak; ia menyukai kekuatan Roma, tetapi kasar terhadap
ajarannya. Sejarawan John S. Conway menyebutkan bahwa Hitler memiliki "antagonisme
mendasar" terhadap gereja-gereja Kristen. Dalam hubungan politik dengan gereja, Hitler
mengambil strategi "yang pas dengan tujuan-tujuan politiknya".[348] Menurut laporan
US Office of Strategic Services, Hitler memiliki sebuah rencana umum, bahkan sebelum
berkuasa, untuk menghancurkan pengaruh gereja Kristen di dalam Reich.[349][350] Laporan
berjudul "The Nazi Master Plan" itu menyatakan bahwa penghancuran gereja adalah tujuan
gerakan tersebut sejak awal, namun tidak cukup untuk mengekspresikan posisinya yang
ekstrem secara publik.[351] Tujuannya, menurut Bullock, adalah menunggu sampai perang
berakhir, lalu menghancurkan pengaruh Kristen.[347]
Hitler menyukai tradisi militer Muslim, namun tetap menganggap bangsa Arab
sebagai "ras inferior". Ia percaya bahwa bangsa Jerman, seperti umat Islam, bisa menguasai
sebagian besar dunia pada Abad Pertengahan. Meski Hitler tertarik pada hal-hal gaib,
penerjemahan sajak, dan melacak akar prasejarah bangsa Jermanik, Hitler justru lebih
pragmatis dan ideologinya terpusat pada hal-hal yang lebih praktis.
Kesehatan
Banyak peneliti berpendapat bahwa Hitler menderita sindrom usus mudah iritasi, luka
kulit, detak jantung tidak tetap, penyakit Parkinson, sifilis, dan tinnitus. Dalam sebuah
laporan untuk Office of Strategic Services tahun 1943, Walter C. Langer dari Universitas
Harvard menyebut Hitler sebagai seorang "psikopat neurotik." Sejumlah teori seputar kondisi
medis Hitler sulit dibuktikan, dan menurut mereka terlalu banyak bebannya jika mengaitkan
sejumlah peristiwa dan akibat Reich Ketiga dengan kesehatan fisik seseorang yang mungkin
buruk. Kershaw merasa lebih baik mengambil pandangan yang lebih luas terhadap sejarah
Jerman dengan menilai dorongan sosial apa yang menciptakan Reich Ketiga dan kebijakan-
kebijakannya, alih-alih mencari penjelasan sempit tentang Holocaust dan Perang Dunia II
dari satu orang saja. Hitler mengikuti pola makan vegetarian.[361] Pada acara-acara sosial ia
kadang mengutarakan pernyataan menjijikkan tentang penyembelihan hewan agar tamu-
tamunya menghindari daging. Ketakutan terserang kanker (penyebab ibunya meninggal
dunia) adalah alasan pola makan Hitler yang paling terkenal.
Selaku seorang antipembedahan, Hitler mungkin memilih pola makan selektif karena
masih menghargai hewan. Bormann memiliki sebuah rumah kaca di dekat Berghof
(dekat Berchtesgaden) untuk menjamin suplai stabil buah-buahan dan sayuran segar untuk
Hitler sepanjang perang. Hitler menjauhi alkohol dan bukan perokok.
Ia mempromosikan kampanye anti-merokok yang agresif di seluruh Jerman. Hitler
mulai sering memakai amfetamin setelah 1937 dan menjadi pecandu pada musim gugur
1942. Albert Speer mengaitkan pemakaian amfetamin ini dengan keputusan Hitler yang
semakin tidak fleksibel (misalnya, tidak pernah mengizinkan militer mundur dari medan
perang).
Dengan 90 jenis obat-obatan sepanjang perang, Hitler mengonsumsi banyak pil setiap
hari karena masalah lambung kronis dan penyakit lain. Ia menderita kerusakan gendang
telinga akibat ledakan bom 20 Juli 1944 dan 200 serpihan kayu harus diangkat dari
kakinya. Rekaman berita Hitler memperlihatkan getaran pada tangannya dan gaya jalannya
yang pincang, yang sudah ada sejak sebelum perang dan memburuk sampai akhir hayatnya.
Dokter pribadi Hitler, Theodor Morell, merawat Hitler dengan sebuah obat yang
sering dipakai untuk menangani penyakit Parkinson pada tahun 1945. Ernst-Gnther
Schenck dan beberapa dokter lain yang bertemu Hitler pada minggu-minggu terakhir
hidupnya juga menyimpulkan Hitler menderita penyakit Parkinson.