Sei sulla pagina 1di 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap individu berhak atas taraf hidup yang memadai bagi kesejahteraan
dirinya maupun keluarganya, termasuk diantaranya sandang pangan, perumahan dan
perawatan kesehatan. Pelayanan dirumah sakit diupayakan menuju standar mutu yang
telah ditetapkan. Demakian halnya untuk masing masing bidang pelayanan, salah
satunya adalah bagian bedah, sehingga komplikasi pasca pembedahan dapat dihindari.
Kondisi kesehatan masyarakat saat ini memungkinkan terjadinya perubahan pada pola
penyakit. Salah satunya adalah penyakit yang menyerang telinga atau bisa disebut
mastoiditis kronis.
Di negara indonesia belum diketahui secara jelas persentasi kejadian dari pada
mastoiditis ini, tetapi negara kita merupakan negara berkembang menuju negara yang
maju yang masih rentan dan beresiko tinggi terhadap penyakit ini. Pengobatan
biasanya diawali dengan pemberian suntikan antibiotik lalu disambung dengan
antibiotic per oral minimal selama 2 minggu. Jika pemberian antibiotic tidak
memberikan hasil untuk mengatasi masalah ini, dilakukan mastoidiktomi
(pengangkatan sebagian tulang dan pembuangan nanah).
Walaupun angka kejadian dari penyakit mastoiditis di Indonesia ini mulai
berkurang dari tahun ketahunnya namun hal ini merupakan sesuatu yang tidak bisa
disepelekan karena apabila tidak ditangani dengan tepat maka klien akan mengalami
gangguan pendengaran yang bersifat kronis dan sangat mengganggu kenyamanan, hal
inilah yang menjadi dasar kenapa kelompok mengangkat makalah ini. Kelompok
mencoba memaparkan tentang konsep mastoiditis beserta asuhan keperawatannya
dengan harapan dapat berguna bagi mahasiswa maupun praktisi kesehatan sebagai
salah satu sumber referensi.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa dapat memahami
gambaran umum tentang Mastoiditis dan mampu menerapkan asuhan
keperawatan pada klien dengan Mastoiditis.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khususnya adalah:
a. Mengetahui tentang pengertian Mastoiditis
b. Mengetahui tentang etiologi dari Mastoiditis
c. Mengetahui tentang patofisiologi dan pathwey dari Mastoiditis
d. Mengetahui tentang manifestasi klinis Mastoiditis
e. Mengetahui tentang komplikasi Mastoiditis
f. Mengetahui tentang penatalaksanaan baik penatalaksanaan medis maupun
penatalaksanaan keperawatan dari mastoiditis
g. Mengetahui tentang pemeriksaan penunjang Mastoiditis
h. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Mastoiditis
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Mastoiditis merupakan peradangan tulang mastoid, biasanya berasal dari
kavum timpani. Perluasan infeksi telinga bagian tengah yang berulang ulang dapat
menyebabkan timbulnya perubahan pada mastoid berupa penebalan mukosa dan
terkumpulnya eksudat. Lama kelamaan terjadi peradangan tulang (osteitis) dan
pengumpulan eksudat/nanah yang makin banyak,yang akhirnya mencari jalan keluar.
Daerah yang lemah biasanya terletak di belakang telinga, menyebabkan abses
superiosteum (Rikayuhelmi, 2012).
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada
telinga tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis. Mastoiditis adalah segala
proses peradangan pada sel- selmastoid yang terletak pada tulang temporal.
Mastoiditis adalah inflamasi mastoid yang diakibatkan oleh suatu infeksi pada telinga
tengah, jika tak diobati dapat terjadi osteomielitis.( Brunner dan Suddarth, 2000).

B. Etiologi
Mastoiditis terjadi karena Streptococcus hemoliticus / pneumococcus. Selain
itu kurang dalam menjaga kebersihan pada telinga seperti masuknya air ke dalam
telinga serta bakteri yang masuk dan bersarang yang dapat menyebabkan infeksi .
Menyebarnya infeksi dari telinga bagian tengah, infeksi dan nanah mengumpul di sel-
sel udara mastoid
Penyebab lain dari Mastoiditis antara lain:
1. Terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut
2. Klien imunosupresi atau orang yang menelantarkan otitis media akut yang
dideritanya. Berkaitan dengan virulensi dari organisme penyebab otitis media
akut yaitu streptococcus pnemonieae.
3. Bakteri lain yang sering ditemukan adalah adalah branhamella catarrhalis,
streptococcus group-A dan staphylococcus aureus ,streptococcus aureus. Bakteri
yang biasanya muncul pada penderita mastoiditis anak-anak adalah streptococcus
pnemonieae.
C. Patofisiologi dan Pathway
Penyakit mastoiditis pada umumnya diawali dengan otitis media yang tidak
ditangani dengan baik. Biasanya otitis terjadi 2-3 minggu setelah otitis media akut
infeksi dan nanah menggumpal disel-sel udara mastoid
Mastoiditis kronik dapat mengakibatkan pembentukan kolesteatoma yang
merupakan pertumbuhan kulit ke dalam (epitelskuamosa) dari lapisan luar membran
timpani ke tengah. Kulit dari membran timpani lateral membentuk kantung luar yang
akan berisi kulit yang telah rusak dan baha sebaseur. Kantung dapat melekat
kestruktur telinga tengah dan mastoid. Bila tidak ditangani, kolesteatoma dapat
tumbuh terus dan menyebabkan paralisisnervus fasialis. Kehilangan
pendengaran sensori neural dan atau gangguan k eseimbangan (akibat erusi
telinga dalam) dan absesotak .
Mastoiditis terjadi sebagai lanjutan dari otitis media supuratik kronik,
peradangan dari rongga telinga tengah menjalar ke tulang mastoid melalui saluran
aditus adantrum. Mastoiditis dibagi menjadi 2 macam, yaitu bentuk jinak (benigna)
dan bentuk ganas (maligna). Pada bentuk maligna peradangan berlanjut ke dalam
tulang tengkorak (intrakranial) sehingga dapat terjadi meningitis,
absissubdural, abses otak, tromboflebitis sinus, lateralis, serta mungkin juga terjadi
hidrosefalus
Mastoiditis dapat terjadi pada pasien-pasien imunosupresi atau mereka
yang menelantarkan otitis media akut yang dideritanya. Penyakit ini berkaitan
dengan virulensi dari organisme penyebab. Organisme penyebab yang lazim
adalah sama dengan penyebab otitis media akut yaitu streptococcus hemlytiens,
pneumococcus, sthapilococcus aureus lalbus, streptococcusviridans.

D. Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi dari penyakit mastoiditis antara lain:
1. Rasa nyeri biasanya dirasakan dibagian belakang telinga dan dirasakan lebih parah
pada malam hari, tetapi hal ini sulit didapatkan pada pasien-pasien yang masih
bayi dan belum dapat berkomunikasi. Hilangnya pendengaran dapat timbul atau
tidak bergantung pada besarnya kompleks mastoid akibat infeksi.
2. Gejala dari keluhan penyakit didapatkan keluarnya cairan dari dalam telinga yang
selama lebih dari tiga minggu, hal ini menandakan bahwa pada infeksi telinga
tengah sudah melibatkan organ mastoid.
3. Demam biasanya hilang dan timbul, hal ini disebabkan infeksi telinga tengah
sebelumnya dan pemberian antibiotik pada awal-awal perjalanan penyakit. Jika
demam tetap dirasakan setelah pemberian antibiotik maka kecurigaan pada infeksi
mastoid lebih besar.

Menurut George (1997: 106) manifestasi klinis pada penderita mastoiditis antara lain:
1. Demam biasanya hilang dan timbul.
2. Nyeri cenderung menetap dan berdenyut, terletak di sekitar dan di dalam telinga,
dan mengalami nyeri tekan pada mastoid.
3. Gangguan pendengaran sampai dengan kehilangan pendengaran.
4. Membran timpani menonjol berisi kulit yang telah rusak dan bahas sebaseus
(lemak).
5. Dinding posterior kanalis menggantung.
6. Pembengkakan postaurikula.
7. Temuan radiologis yaitu adanya apasifikasi pada sel-sel udara mastoid oleh cairan
dan hilangnya trabukulasi normal sel-sel tersebut.
8. Keluarnya cairan yang melimpah melalui liang telinga dan berbau.

E. Komplikasi
1. Komplikasi yang terjadi bila mastoiditis tidak ditangani dengan baik adalah
2. Petrositis yaitu infeksi pada tulang disekitar tulang telinga tengah peforasi
gendang telinga dengan cairan yang terus menerus keluar.
3. Labyrintitis yaitu peradangan labyrint ini dapat disertai dengan kehilangan
pendengaran atau vertigo disebut juga otitis imtema.
4. Meningitis yaitu peradangan meningen (ragdang membran pelindung sistem saraf)
biasanya penyakit ini dapat disebabkan oleh mikroorganisme.
5. Abses otak yaitu kumpulan nanah setempat yang terkumpul dalam jaringan otak
F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan medis klien dengan mastoiditis antara lain:
a. Pemberian antibiotik sistemik
Diberikan beberapa minggu sebelum operasi dapat mengurangi atau
menghentikan supurasi aktif dan memperbaiki hasil pembedahan.
b. Pembedahan
1) Timponoplasti
Adalah rekonstruksi bedah pada mekanisme pendengaran ditelinga
tengah, dengan memperbaiki membrana tympanica melindungi finestra
cochlease dari tekanan suara. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk
menyelamatkan dan memulihkan pendengaran, dengan congkok membran
timpani dengan rekonstruksi telinga tengah. Sedangkan tujuan skundernya
adalah untuk mempertahankan atau memperbaiki pendengaran
(timpanoplasti) bilamana mungkin. Terdapat berbagai teknik
timpanoplasti yang berbeda yaitu pencangkokan (kulit, fasia, membran
timpani homolog) dan rekonstruksi (osikula homolog, kartilago dan
aloplastik).
2) Mastoidektomi
Adalah pembedahan pada tulang mastoid. Tujuan dilakukan
mastoidektomi adalah untuk menghilangkan jaringan infeksi, menciptakan
telinga yang kering dan aman.

2. Penatalaksanaan keparawatan
Penatalaksanaan keperawatan pada klien dengan mastoiditis antara lain:
a. Perawatan Pre-operasi
Perawat mengajarkan secara khusus pada klien yang dijatwalkan untuk
menjalani tympanoplasty.
b. Perawat post operasi
Rendaman antiseptik gauze (an antiseptic-soaked gauze) seperti lodoform
gauze (nauga-uze) dimalut dalam kanal audiotori.
c. Terapi konservatif
Yaitu menasehati unuk menjaga telinga agar tetap kering serta membersihkan
telinga dengan penghisap secara berhati-hati ditempat praktek.
d. Pemberian bubuk atau obat tetes yang biasanya mengandung antibiotik dan
steroid.

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Darah
2. Foto Mastoid
3. Kultur Bakteri TelingaMRI
4. CT Scan
5. Radiologi
6. Tympanocintesis & myringotomi
BAB III
KONSEP ASKEP

A. Pengkajian
1. Identitas Klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, status perkawinan, pekerjaan,
pendidikan, tanggal masuk rumah sakit, diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Klien mengatakan nyeri pada telinga bagian belakang engan sekala nyeri 6
3. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya diawali adanya otitis media akut setelah 2-3 minggu tanpa penanganan
yang baik nanah dan infeksi menyebar ke sel udara mastoid. Dapat muncul atau
keluar cairan yang berbau dari telinga, timbul nyeri di telinga dan demam hilang
timbul.
4. Riwayat kesehatan dahulu
Adanya otitis media kronik karena adanya episode berulang.
5. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang didapat:
a. Suhu tubuh meningkat, denyut nadi meningkat (takikardi)
b. Kemerahan pada kompleks mastoid
c. Keluarnya cairan baik bening maupun berupa lendir
d. Matinya jaringan keras (tulang, tulang rawan)
e. Adanya abses (kumpulan jaringan mati dan nanah).
f. Proses peradangan yang tetap melebar ke bagian dan organ lain
g. Riwayat infeksi pada telinga tengah sebelumnya
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium
Spesimen dari sel mastoid diperoleh selama operasi dan myringotomy cairan.
Specimen tersebut harus dikirim untuk kultur kedua bakteri aerobik dan
anaerobic, Gram staining, dan asam-cepat staining.
b. CT Scan dan MRI
Untuk mengetahui perubahan pada sel udara mastoid
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tulang mastoid akibat infeksi
2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
3. Perubahan persepsi/ sensori auditoris berhubungan dengan kerusakan
pendengaran.
4. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan.
5. Resiko cedera berhubungan dengan bahaya lingkungan infeksi
6. Ansietas berhubungan dengan menghadapi prosedur bedah.

C. Intervensi
1. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada tulang mastoid akibat infeksi
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam nyeri teratasi
Kriteria Hasil
a. Pasien mengatakan nyeri berkurang
b. Skala nyeri turun
c. Wajah pasien tampak rileks

No Intervensi Rasional
1. Kaji ulang skala nyeri, lokasi, Mengetahui ketidakefektifan intervensi
intensitas
2. Berikan posisi yang nyaman Mengurangi nyeri
3. Ajarkan teknik relaksasi dan Mengalihkan perhatian pasien terhadap
ciptakan lingkungan yang tenang nyeri dan mengurangi nyeri
4. Kolaborasi pemberian analgesik, Dapat mengurangi nyeri, membunuh
antibiotika, dan anti inflamasi kuman dan mengurangi peradangan
sesuai indikasi sehingga mempercepat penyembuhan

2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam suhu tubuh dapat
normal (360-370C)
Kriteria Hasil
a. Suhu tubuh dalam rentang normal (360-370C)
b. Kulit tidak teraba hangat
c. Wajah tidak tampak merah
d. Tidak terjadi dehidrasi

No Intervensi Rasional
1. Pantau input dan output Untuk mengetahui balance cairan
pasien
2. Ukur suhu tiap 4-8 jam Untuk mengetahui perkembangan klien
3. Ajarkan kompres hangat dan Untuk menurunkan panas tubuh dan
banyak minum mengganti cairan tubuh yang hilang
4. Kolaborasi dengan pemberian Untuk menurunkan panas
antipiretik

3. Perubahan sensori/ persepsi (auditoris) berhubungan dengan kerusakan


pendengaran
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam pasien mampu
mendengar dengan baik
Kriteria Hasil
a. Pasien mengalami potensial pendengaran maksimum
b. Pasien menggunakan alat bantu dengar dengan tepat

No Intervensi Rasional
1. Kaji tentang ketajaman Menentukan seberapa baik tingkat
pendengaran pendengaran klien
2. Diskusikan tipe alat bantu dengar Untuk menjamin keuntungan maksimal
dan perawatannya yang tepat
3. Bantu pasien berfokus pada Untuk memaksimalkan pendengaran
semua bunyi di lingkungan dan
membicarakannya hal tersebut
4. Risiko infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan.
Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam risiko infeksi dapat
hilang atau teratasi
Kriteria Hasil : Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi

No Intervensi Rasional
1. Observasi keadaan umum pasien Mengetahui keadaan umum pasien
selama 24 jam
2. Anjurkan pentingnya cuci tangan Mencegah penularan penyakit
3. Ajarkan prosedur mencuci Mencegah infeksi berlanjut
telinga luar
4. Kolaborasi pemberian antibiotik Agar dapat membunuh kuman, sehingga
profilaksis tidak menularkan penyakit terus-
menerus

5. Resiko cedera berhubungan dengan bahaya lingkungan infeksi


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam diharapkan tidak terjadi
cidera
Kriteria Hasil : pasien tidak mengalami cidera fisik

No Intervensi Rasional
1. Cegah infeksi telinga berlebih Agar kerusakan penedengaran tidak
meluas
2. Meminimalkan tingkat Berhubungan dengan kehilangan
kebisingan di unit perawatan pendengaran
3.
intensif
Untuk mencegah pasien jatuh akibat
4.
Lakukan upaya keamanan seperti gangguan keseimbangan
ambulasi terbimbing Mengurangi nyeri kepala sehingga
terhindar dari jatuh
Kolaborasi dengan pemberian
obat antiemetika

6. Ansietas berhubungan dengan menghadapi prosedur bedah.


Tujuan
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 324 jam ansietas berkurang
Kriteria Hasil
a. Menunjukkan kontrol agresi, kontrol ansietas, koping, kontra impuls,
penahanan mutilasi diri secara konsisten dan substansial
b. Menunjukkan ketrampilan interaksi sosial yang efektif

No Intervensi Rasional
1. Informasikan pasien tentang Kembangkan rasa percaya/ hubungan,
peran advokat perawat intra turunkan rasa takut akan kehilangan
operasi kontrol pada lingkungan yang asing
2. Identifikasi tingkat rasa takut Rasa takut yang berlebihan/ terus-
yang mengharuskan dilakukan menerus akan mengakibatkan reaksi
penundaan prosedur pembedahan stress yang berlebihan, risiko potensial
dari pembalikan reaksi terhadap
prosedur/ zat-zat anestesi
3. Cegah pemajan tubuh yang tidak Pasien akan memperhatikan masalah
diperlukan selama pemindahan kehilangan harga diri dan
ataupun pada tulang operasi ketidakmampuan untuk melatih kontrol
4. Berikan petunjuk/ penjelasan Ketidakseimbangan dari proses
yang sederhana pada pasien yang pemikiran akan membuat pasien
tenang menemui kesulitan untuk memahami
petunjuk-petunjuk yang panjang dan
berbelit-belit
5. Kontrol stimulasi eksternal Suara gaduh dan keributan akan
meningkatkan ansietas
6. Berikan obat sesuai petunjuk, Untuk meningkatkan tidur malam hari
misal; zat-zat sedatif, hipnotis sebelum pembedahan; meningkatkan
kemampuan koping

D. Implementasi
Tindakan keperawatan yang dilakukan adalah yang sesuai dengan intervensi yang
telah dibuat sebelumnya.

E. Evaluasi
Hasil yang mungkin di dapat saat pelaksaan tindakan kkeperawatan adalah
1. Tujuan tercapai sebagian, yaitu jika pasien menunjukkan sebagian dari kriteria
hasil yang sudah ditetapkan.
2. Tujuan tercapai seluruhnya, yaitu jika pasien menunjukkan tanda- tanda atau
gejala sesuai dengan hasil yang ditetapkan.
3. Tujuan tidak tercapai, yaitu jika pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala
sesuai dengan kriteria yang sudah ditetapkan.