Sei sulla pagina 1di 20
PANDUAN KESELAMATAN KESEHATAN KERJA GIZI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2015 RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA JI. KH. Ahmad Dahlan No. 20 Yogyakarta 55122 Top, (0274) 512653 Fax. (0274) 566129, 1GD ; (0274) 370262, E-mail: phujogja@yahoo.co.id UNIT: Jl Wates Km. §.5 Gamping, Sleman, Yogyakarta 55254 KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA NOMOR 24224 /SK.3.2/111/2015 TENTANG PANDUAN KESELAMATAN KESEHATAN KERJA DI UNIT GIZI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA. DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH, Menimbang a. bahwa Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta perlu untuk selalu meningkatkan pelayanan kepada pelanggan melalui peningkatan mutu—_secara berkesinambungan b. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di rumah sakit perlu adanya buku Panduan Keselamatan Kesehatan Kerja di Unit Gizi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta ¢. bahwa sesuai butir a dan b diatas perlu ditetapkan dalam suatu Surat Keputusan Direktu Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Mengingat : 1. SK PP Muhammadiyah Nomor;233/KEP/1.0/D/2013 tanggal 9 shafar 1435/12 Desember 2013 tentang Penetapan Direktur Utama dan Direktur Bidang RS PKU Muhammadiyah YogyakartaMasaJabatan 2013 — 2017 Memperhatikan ‘Undang-Undang RepublikIndonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit; 3. PP MenKes RI No 269/Menkes/PER/III/2008 Tentang Gizi 4, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 417/MENKES/PER/I/2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit, 5. Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit_ (PGRS) Cepat - Mutu - Nyaman - Ringan - Islami RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA JI. KH. Ahmad Dahlan No. 20 Yogyakarta 55122 Telp. 0274) $12653 Fax. 0274) 866128, IGD: (0274) 370262, E-mal:pkujogia@yahoo.co id UNIT: JI Wates Km. 5.5 Gamping, Sleman, Yogyakarta 55294 Top (0274) 6499704, Fax: (0274) 6499727 IGD : 0274) 6499118 E-mail: phulogla@yahoo.co.d RAN TMi Kementrian Kesehatan RI. 2013 6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 417/MENKES/PERV/II/2011 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit. MEMUTUSKAN Menetapkan =: KEPUTUSAN DIREKTUR UTAMA RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH — YOGYAKARTA —_TENTANG PANDUAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA RUMAH — SAKIT = PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA Pertama : Memberlakukan Buku Panduan Kesehatan dan keselamatan Kerja di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta sebagaimana terlampir bersama Surat Keputusan ini sebagai Panduan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Kedua Surat keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat hal-hal yang perlu penyempurnaan akan diadakan perbaikan dan penyesuaian sebagaimana mestinya. Ditetapkan di —: Yogyakarta PadaTanggal = 30 Maret 2015 Direktur Utama, Rorwunle dr. H. Joko Murdiyanto, Sp.An NBM : 867.919 Cepat - Mutu - Nyaman - Ringan - Islami KATA PENGANTAR Assalamu alaikum Wr. Wo. Dengan mengueapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Buku Panduan Keselamatan Kesehatan Kerja di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta ini berhasil disusun. Panduan Keselamatan Kesehatan Kerja di RS PKU Muhammadiyah ini RS PKU merupakan panduan bagi semua pihak yang berkaitan dengan Gizi Muhammadiyah Yogyakarta dalam tata cara pelaksanaan Kesehatan Keselamatan Kerja di RS PKU Muhammadiyah Yogykarta. Dalam panduan ini diuraikan tentang tatalaksana, penjelasan tentang syarat-syarat keselamatan kerja, petunjuk pencegahan infeksi untuk petugas kesehatan, prosedur keselamatan kerja sampai dengan penjelasan alat pelindung, Terima kasih yang sebesar besarnya, kami haturkan kepada Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang telah memberikan dukungan moril dan materiil dalam pembuatan panduan ini, para pejabat struktural dan tenaga fungsional di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang telah memberikan masukan dalam proses penyusunan panduan ini, serta seluruh staf di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta yang telah dan akan berpartisipasi aktif mulai dari proses penyusunan, pelaksanaan sampai pada proses monitoring dan evaluasi pedoman ini. Wassalamu'alaikum Wr Wo Yogyakarta, Maret 2015 Tim Gizi DAFTAR ISI Halaman Judul Kata Pengantar Daftar Isi BABI BABII BAB III BABIV Daftar Pustaka, Lampiran BAB I DEFINISI Keselamatan Keschatan Kerja adalah segala upaya atau tindakan yang harus diterapkan dalam rangka menghindari kecelakaan yang terjadi akibat kesalahan Kerja petugas ataupun kelalaian/ kesengajaan. Upaya keschatan kerja ditujukan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan Kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan sesui yang tertuang dalam Undang-Undang No 36 tahun 2009 pasal 164 ayat 1. Rumah Sakit adalah tempat kerja yang termasuk dalam kategori seperti disebut di atas, berarti ‘wajib menerapkan upaya keselamatan dan keschatan kerja. Program keselamatan dan kesehatan kerja di tim pendidikan pasien dan keluarga bertujuan melindungi karyawan dari kemungkinan terjadinya kecelakaan di dalam dan di luar rumah sakit. Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja dalam hal ini Instalasi Gizi dan perlindungan terhadap Rumah Sakit. Pegawai adalah bagian integral dari rumah sakit, Jaminan keselamatan dan keschatan kerja akan meningkatkan produktivitas pegawai dan meningkatkan produktivitas rumah sakit, Undang-Undang No.1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dimaksudkan untuk menjamin: 1. Agar pegawai dan setiap orang yang berada di tempat kerja selalu berada dalam keadaan sehat dan selamat. 2. Agar faktor-faktor produksi dapat dipakai dan digunakan secara efisien, 3. Agar proses produksi dapat berjalan secara lancar tanpa hambatan. BAB IL RUANG LINGKUP Keselamatan dan kesehatan Kerja ( K3) mencakup semua proses dalam rangka menjaga keselamtan kerja dari seleuruh aspek pekerjaan yang bisa menimbulkan bahaya bagi pekerja itu sendiri, Ruang lingkup dalam Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua titik kegiatan dalam proses penyelenggaraan makanan yaitu : 1. Kondisi dan lingkungan kerja 2. Kesadaran dan kualitas pekerja 3. Peranan dan kualitas manajemen BAB IIL TATA LAKSANA Syarat-syarat keselamtan kerja meliputi seluruh aspek pekerjaan yang berbahaya, dengan tujuan: 1. Mencegah, dan mengurangi kecelakaan 2, Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran 3. Mencegah, mengurangi bahaya ledakan 4, Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian lain yang berbahaya ‘Memberi pertolongan pada kecelakaan 6. Memberi perlindungan pada pekerja 7. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu, kelembaban, debu, otoran, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara dan getaran. 8. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja, baik fisik/ psikis, keracunan, infeksi dan penularan. 9, Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup 10, Memelihara kebersihan, kesehatan, dan ketertiban 11. Memperoleh kebersihan antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses kerja 12, Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, binatang, tanaman atau barang 13.Mengamankan dan memelihara pekerjaan bongkar muat, perlakuan, dan penyimpanan barang 14, Mencegah terkena aliran listrik 15. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi. Dalam kaitannya dengan kondisi dan lingkungan kerja, kecelakaan dan penyakit akibat kerja dapat terjadi bila : 1. Peralatan tidak memenuhi standar kualitas atau bila sudah aus 2. Alatalat produksi tidak disusun secara teratur menurut tahapan proses produksi 3. Ruang kerja terlalu sempit, ventilasi udara kurang memadai, ruangan terlalu panas atau terlalu dingin, idak tersedia alat-alat pengaman 5. Kurang memperhatikan persyaratan penanggulangan bahaya kebakaran dan Jain-lain. Perlindungan Keselamatan Kerja Dan Kesehatan Petugas Kesehatan 1. Petugas Kesehatan yang merawat pasien menular harus mendapatkan pelatihan mengenai cara penularan dan penyebaran penyakit, tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang sesuai dengan protokol jika terpajan. 2, Petugas yang tidak terlibat langsung dengan pasien harus diberikan penjelasan umum mengenai penyakit tersebut. 3, Petugas kesehatan yang Kontak dengan pasien penyakit menular melalui udara harus menjaga fungsi saluran pernapasan (tidak merokok, tidak minum dingin) dengan baik dan menjaga kebersihan tangan, Petunjuk Pencegahan Infeksi Untuk Petugas Kesehatan 1. Untuk mencegah transmisi penyakit menular dalam tatanan pelayanan keschatan, petugas harus menggunakan APD yang sesuai untuk kewaspadaan Standar dan Kewaspadaan Isolasi (berdasarkan penularan secara kontak, droplet, atau udara) sesuai dengan penyebaran penyakit. 2. Semua petugas keschatan harus mendapatkan pelatihan tentang gejala penyakit menular yang sedang dihadapi, 3, Semua petugas kesehatan dengan penyakit seperti flu harus dievaluasi untuk ‘memastikan agen penyebab. Dan ditentukan apakah perlu dipindah tugaskan dari kontak langsung dengan pasien, terutama mereka yang bertugas di Intensif Care Unit (ICU), ruang rawat anak, ruang bayi 4, Semua petugas di Instalasi Gizi harus menggunakan apron, penutup kepala dan pelindung kaki (sandal/ sepatu boot) sebelum masuk ke dapur. Selain petugas instalasi gizi yang masuk ke dapur harus menggunakan APD tersebut. hal ini bertujuan untuk mengurangi kontaminasi yang dapat mencemari makanan, sehingga makanan aman untuk dikonsumsi oleh pasien, Petugas dalam mengolah makanan harus menggunakan masker atau tidak diperkenankan untuk berbicara dengan petugas pengolah yang lain. Prinsip keselamatan kerja karyawan dalam proses penyelenggaraan makanan, 1, Pengendalian teknis mencakup : a. Letak, bentuk dan konstruksi alat sesuai dengan kegiatan dan ‘memenuhi syarat yang telah ditentukan ( Argonomis) b. Ruang dapur cukup Iuas, denah sesuai dengan arus kerja dan dapur dibuat dari bahan-bahan atau konstruksi yang memenubi syarat ¢. Perlengkapan lat kecil yang cukup disertai tempat penyimpanan yang praktis. d. Penerapan dan ventilasi yang cukup memenuhi syarat. ¢. Tersedianya ruang istirahat untuk karyawan 2. Adanya pengawasan kerja yang dilakukan oleh penanggung jawab dan terciptanya kebiasaan kerja yang baik oleh karyawan. 3. Pekarjaan yang ditugaskan hendaknya sesuai dengan kemampuan kerja dari karyawan. 4. Volume kerja yang dibebankan disesuaikan dengan jam kerja yang telah ditetapkan 5. Maintenance (perawatan) alat dilakukan secara rutin oleh petugas Unit Pemeliharaan Sarana sesuai jadwal . ‘Adanya pendidikan mengenai keselamatan kerja bagi karyawan. 7. Adanya fasilitas atau peralatan pelindung dan peralatan pertolongan pertama yang cukup. Prosedur keselamatan kerja 1. Ruang penerimaan dan penyimpanan bahan makanan Keamanan kerja di ruang ini meliputi = a, Menggunakan alat pembuka peti atau bungkus bahan makanan menurut cara yang tepat. b. Barang yang berat selalu ditempatkan di bagian bawah dan angkatlah dengan alat pengangkut yang tersedia untuk barang. 2. 3. c. Pergunakan Kotak atau tutup panei yang sesuai dan hindari tumpahan bahan. d. Tidak diperkenankan merokok diruang —penerimaan dan penyimpanan bahan makanan, . Lampu harus dimatikan bila tidak dipergunakan atau diperlukan. f Tidak mengangkat barang berat, bila tidak sesuai dengan kemampuan. 2. Tidak mengangkat barang dalam jumlah yang besar, yang dapat membahayakan badan dan kualitas barang. h. Membersihkan bahan yang tumpah atau keadaan licin di ruang penerimaan dan penyimpanan, Di ruang persiapan dan pengolahan makanan a, Menggunakan peralatan yang sesuai dengan cara yang baik. b. Tidak menggaruk, batuk, selama mengerjakan atau mengolah bahan makanan, c. Menggunakan berbagai alat yang tersedia sesuai dengan petunjuk pemakaian. 4. Bersihkan mesin menurut petunjuk dan matikan mesin sebelumnya. ¢. Menggunakan serbet sesuai macam dan peralatan yang dibersihkan. f Berhati-hatilah bila membuka dan menutup, menyalakan atau mematikan mesin, lampu, gas atau listrik dan lain-lain. 2. Meneliti dulu semua peralatan sebelum digunakan. h, Pada saat selesai menggunakan, teliti kembali apakah semua peralatan sudah dimatikan mesinnya. i, Mengisi panci-panci menurut ukuran semestinya, dan jangan melebihi porsi yang ditetapkan. j. Tidak memuat kereta makan melebihi kapasitasnya. k. Meletakkan alat menurut menurut tempatnya dan diatur rapi. Di ruang distribusi instalasi gizi a. Tidak mengisi panci atau piring terlalu penuh. b. Tidak mengisi kereta makan melebihi kapasitas kereta makan, c. Bila membawa air panas, tutuplah dengan rapat atau tidak mengisi ‘tempat tersebut sampai penuh. Alat pelindung kerja 1 Baju kerja, celemek dan topi terbuat dari bahan yang tidak panas, tidak licin dan enak dipakai, sehingga tidak mengganggu gerak pegawai sewaktu kerja, Menggunakan sandal yang tidak licin bila berada di ingkungan dapur. Menggunakan cempal atau serbet pada tempatnya. Tersedia alat sanitasi yang sesuai, misalnya air dalam keadaan bersih dan jumlah yang cukup, sabun, alat pengering dan sebagainya. ‘Tersedia alat pemadam kebakaran yang berfungsi baik ditempat yang mudah dijangkau, Tersedia alat alat obat P3K. BAB IV. DOKUMENTASI Dokumentasi yang mendukung dalam pelaksanaan Keselamatan, Kesehatan Kerja diantaranya adalah hasil pemeriksaan keschatan petugas gizi (dokumen tersimpan dalam team K3 RS) Standar Operasional Prosedur Penggunaan APAR, dan Standar Operasional Prosedur lainnya . LAMPIRAN RS PKU PENGGUNAAN APAR MUHAMMADIYAH, YOGYAKARTA 4g} No Dokumen : ~~ No Revisi : Halaman = WWPS.1.2./VII1/2015 0 i” STANDAR PROSEDUR, OPERASIONAL Ditetapkan Direktur Utama lee rtcnrohen” dr. H. Joko Murdiyanto, Sp. An. MPH NBM: 867.919 Pengertian Suatu kegiatan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogayakarta. Tujuan Sebagai acuan penerapan langkah-langkah dalam Kegiatan penggunaan alat pemadam kebakaran Kebijakan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja di Instalasi_ Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pekerjaan yang bersifat manusiawi yaitu pekerjaan yang memungkinkan pekerja berada dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. (Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RS PKU Muhammadiyah ‘Yogyakarta tentang Penetapan Pedoman Pelayanan Gizi) Prosedur [Unit Terkait ‘A. Pelaksanaan 1. Lepaskan tabung dari pengait yang adadi dinding, 2. Kunci pengaman dilepas, Pegang corong penyemprot pada bagian leher ujungnya 3. Arahkan pada titik api kebakaran kurang lebih | meter 4. Semprotkan gas pada titik api, usahakan mengiku angin sehingga api tidak mengarah pada tubuh kita Semprotkan sampai padam Kembalikan corong penyemprot pada tabung, kunci pengaman dipasang kembali Pasang kembali tabung gas di dinding pada pengaitnya fal yang perlu diperhatikan Kondisi fisik APAR pada selang nosel tidak bocor Tabung APAR harus mulus tidak retak Pressuru indikator harus sesuai pada warna hijau Pin Kunci pada APAR harus kondisi tersege! Jenis APAR yang digunakan, tanggal px kan serta prosedur penggunaannya, T Semua petugas Insta 2. K3RS. arah ae SeNrEy ge RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA “er 1PS.1.2/VIM/2015 0 1/2 PENGGUNAAN KOMPOR GAS. SENTRAL No Dokumen : ‘No Revisi Halaman : STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL, — - Ditetapkan Direktur Utama dr. H. Joko Murdiyanto, Sp. An. MPH NBM: 867.919 ‘Tanggal Terbit Pengertian Kompor gas sentral adalah alat yang berbahan bakar gas yang disentralkan dan berfungsi untuk mematangkan makanan dan minuman menjadi lebih mudah dicerna Tujuan ‘Memberikan petunjuk penggunaan kompor gas sentral dengan benar Kebijakan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Pekerjaan yang bersifat manusiawi yaitu pekerjaan yang memungkinkan pekerja berada dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, (Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tentang Penetapan Pedoman Pelayanan Gizi) Prosedur ‘A.Persiapan 1. Kompor gas sentral B. Pelaksanaan 1, Menyalakan kran gas sentral 2.Menekan dan memutar tombol kompor gas sentral sampai tanda putih 3.Menyalakan kompor dengan menggunakan pemantik api dan menekan tombol terus sampai dengan 10 detik baru lepaskan 4, Untuk membesarkan api dengan memutar tombol kompor kekanan dan mengecilkan api dengan memutar tombol kompor ke kiri kompor ¢ menekan tombol terlebih dahutu nkan dan percikan minyak/ kuah dan 8. Kompo RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 94] PENGGUNAAN KOMPOR GAS SENTRAL No Dokumen : ‘No Revisi : Halaman = 10 /PS.1.2./VIL/2015 0 2/2 is ‘tumpahan air sampai mongering dengan menggunakan kain lap basah dan terakhir dengan kain lap kering C. Hal yang harus diperhatikan, = _Perubahan bau pada gas kompor Unit Terkait Unit ProduksiGizi RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA BAYPS.1.2/VIM/2015 PENGGUNAAN ALMARI PENDINGIN Halaman’ Ww No Dokumen : STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL, Ditetapkan Direktur Utama Tanggal Terbit to, S| ‘NBM: 867.919 Pengertian ‘Almari pendingin adalah suatu tempat penyimpanan baharl ‘makanan basah (sayur,buah) dengan suhu 5° — 10°C Tujuan J. Memberikan petunjuk penggunaan almari pendingin dengan benar 2. Menyimpan bahan makanan basah (sayur,buah) supaya dalam kondisi yang baik Kebjjakan Sanitasi makanan merupakan salah satu upaya pencegahan menitik beratkan pada kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat mengganggu atau merusak kesehatan mulai dari Sebelum makanan diproduksi, selama proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat makanan dan minuman siap untuk dikonsumsi kepada pasien. (Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tentang Penetapan Pedoman Pelayanan Gizi) Prosedur_ T. Menyiapkan bahan makanan (ayur, buah) yang akan disimpan, 2. Memisahkan antara kelompok sayur dan buah 3. Membersihkan bagian sayur yang masih berakar, kemudian memasukan dalam kemasan. 4, Menyimpan bahan makanan (sayur,buah) dalam rak yang tersedia 5. Membuka almari pendingin tidak lebih dari 3 menit & segera menutup_almari pendingin dengan hati-hati. Unit Terkait Unit Produksi Gizi RS PKU, MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA teeta 5 PENGGUNAAN RICE COOKER LISTRIK No Dokumen : ‘No Revisi = Halaman’ 0 it STANDAR PROSEDUR, OPERASIONAL Ditetapkan Direktur Utama Frome dr. H. Joko Murdiyanto, Sp. An. MPH NBM: 867.919 ‘Tanggal Terbit Pengertian Rice Cooker adafah alat yang digunakan untuk memasak nasi Tujuan Sebagai acuan penerapan langkab-langkah dalam pelaksanaan penggunaan Rice Cooker | Kebijakan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pekerjaan yang bersifat manusiawi yaitu pekerjaan yang ‘memungkinkan pekerja berada dalam kondisi sehat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja, (Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta tentang Penetapan Pedoman Pelayanan Gizi) Prosedur JT. Masukkan mangkok penanak nasi yang sudah bersih ke dalam rice cooker. 2. Tuang beras yang sudah dicuci bersih ke dalam mangkok penanak nasi kemudian tambahkan air sesuai takaran, 3. Pasangkan tutup rice cooker ‘Tekan tombol ON ditunggu sampai tombol . 5. Masak beras sampai matang, kemudian matikan api dengan menekan tombol off Angkat nasi dari rice cooker. Rendam mangkok penanak nasi untuk memudahkan proses pencucian. 8. Bersihkan rice cooker dari sisa nasi kering dan cuci mangkok penanak nasi ry Unit Terkait Unit Produksi Gizi PENGGUNAAN BLENDER RS PKU MUHAMMADIYAH |” No Dokumen : No Revisi : Halaman : YOGYAKARTA MS JV TLU2015 0 Wi Ditetapkan Direktur Utama STANDAR Tanggal Terbit co OPERASIONAL dr. H. Joko Murdiyanto, Sp. An. MPH NBM: 867.919 Pengertian Blender adalah alat yang digunakan untuk menghaluskan makanan sehingga mencapai tekstur yang diinginkan. Tujuan Memberikan petunjuk penggunaan blender yang benar Kebijakan Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan bagian integral dari perlindungan terhadap pekerja di Instalasi Gizi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Pekerjaan yang bersifat manusiawi yaitu pekerjaan yang memungkinkan pekerja berada dalam kondisi schat dan selamat, bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja. (Sesuai dengan Surat Keputusan Direktur RS PKU ‘Muhammadiyah Yogyakarta tentang Penetapan Pedoman Pelayanan Gizi) Prosedur T. Blender dibedakan untuk blender jus dan bumbu 2. Masukkan steker ke stop kontak 3. Masukkan makanan yang akan dihaluskan ke dalam gelas blender kemudian ditutup. (Makanan tidak boleh terlalu penuh ) 14. Letakkan gelas blender di atas mesin blender ( posisi harus pas, tidak boleh miring , karena blender tidak akan berjalan ) Is. Tekan tombol on / start untuk menghidupkan mesin blender. 6. Tekan tombol off untuk mematikan mesin blender Unit Terkait Unit Produksi Gizi