Sei sulla pagina 1di 6

Jurnql MKMI, Vol 5 No.4. Oktober 2009, hal 89-94

Artikel \'

STUDI KASUS KEBIASAAN PERNIKAHAN USIA DINI PADA

MASYARAKAT KECAMATAN SANGGALANGI

KABUPATEN TANA TORAJA

Juspin Landung t, Ridwan Thaha', A. Zulkifli abdullah2

Akper Toraja Rantepao Kab.

Toraja Utara

' Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar

ABSTRACT

Nuptials of age early is marriage which still often happened in Indonesia public and

doesn't escape also at public Kecamatan Sanggalangi as culture clump Toraja influenced by

knowledge about reproduction health, the role of family, and situation of cultural social is

including local trust. This research aim to study behavior of nuptials of age early at public District Sanggalangi Kabupaten Tana Toraja. Research type applied is qualitative case study

method with planning histografi. Research informan is public, prominent custom

and religion

and elite figure of Kecamatan Sanggalangi at 13 person. Data collecting through in-depth interview applies guidance of interview as instrument of research. To determine level of truth of

research qualitative data is executed by inspection of authenticity of data using triangulation technique of source data, method and theory. Data is analysed descriptively. Result of research

indicates that old fellow is determinant the happening of nuptials of age early supported with the

low of knowledge about health of reproduction in the form of understanding about pregnancy

and copies with healthy, assumption of old fellow to chlid which have been can construct life is

having family and situation of connubial culture social with parampo kampong that is is not

given constrain about execution age of marriage. On that account, to the Government of District

suggested to socialize equaly to public about Marriage Law, together with elite figure gives

suppoft from to family and public for the agenda of postponement of marriage age and forms

and emboldens adolescent learning batches in scope Kecamatan Sanggalangi; for Pelayanan Kesehatan Tingkat Kecamatan to optimal of execution of family program plans and gives construction to adolescent about reproduction health; for Elite figure for active does commu-

nications with public about family concept plans and supports improvement effort of knowledge of public especially adolescent about reproduction health.

Key Words : Nuptials Habit of Age Early, Culturalo Health Reproduction, Adolescent

PENDAHULUAN

Studi yang dilakukan United Nations Children's Fund (UNICEF), fenomena kawin di usia dini (early

marriage) masih sering dijumpai pada masyarakat di

Timur Tengah dan Asia Selatan dan pada beberapa kelompok masyarakat di Sub Sahara Afrika. Di Asia

Selatan terdapat 9,7 juta anak perempuan atau 48o%

menikah pada umur dibawah usia 18 tahun, Afrika

sebesar 42Yo dan Amerika Latin sebesar 29%ot .

Di Indonesia, angka statistik pernikahan usia di- ni dengan pengantin berumur di bawah usia 16 tahun secara nasional mencapai lebih dari seperempat, bah- kan di beberapa daerah, sepertiga dari pernikahan

yang terjadi tepatnya di Jawa Timur 39,43Yo, Kali- mantan Selatan 35,480 , Jambi 30,63yo dan Jawa

Barat 36Yo (Singgih B, Setyawan, 2007). Di masyarakat pedesaan, perkawinan usia dini

terjadi terutama pada golongan ekonomi menengah kebawah yang lebih merupakan bentuk sosial pada

pembagian peran dan tanggung jawab dari keluarga

perempuan pada suami. Di masyarakat perkotaar'- pernikahan usia dini umumnya terjadi karena kece- lakaan (maruied by accident) akibat salah pergaula-.-

oleh remaja.

Pernikahan usia dini memberi risiko yang le-

bih besar pada remaja perempuan khususnya pade

aspek kesehatan reproduksinya. Pernikahan usia

dini juga akan berimplikasi pada keterbelakangar pengetahuan akibat terhambatnya proses pendidi-

kan disebabkan pernikahan tersebut. Aspek sosia-

budaya masyarakat memberi pengaruh terhadap pe- laksanaan pernikahan dan tidak terlepas pula pada

pernikahan usia dini. Di masyarakat Kecamatan Sanggalangi, pernika han dini yang terjadi disebabkan karena adanya ika-

tan kekeluargaan dalam budaya mereka dimana o- rang tua melangsungkan pernikahan anak secara ce-

pat dalam usia dini hanya ditujukan untuk tetar

mempertahankan tingkat sosial keluarga dalam mr

syarakat. Selain itu, ikatan kekeluargaan dari per-

89

nikahan tersebut sering terjadi pada pasangan satll

rur-npLut dengan silsilah kelLrarga yang berdekatan

seperli sepupu sekali. Pengetahuan kaum perempuan khususnya re_

maja yang rendah tentaug kesehatan reproduksi, du_

kungan keluarga sehubungan dengan peran sosial bLrdaya dan kebijakan pemerintah dalam perpanja_ ngan usia perkawinan merupakan faktor perilaku

yang berhubungan dengan perilaku pernikahan usia

dirri. Berdasarkan hal tersebut, penelitian tentang pe-

rilaku pernikahan usia dirri dengan rneninjau tingkat

pengetalruan masyarakat dalam hal ini remaja pe_

rempuan yang menjadi pelaku pernikalran usia dini, dukungan keluarga dengan adanya pengaruh sosial

bLrdaya masyarakat perlLr dilaksanakan.

BAHAN DAN METODE

Lokasi Penelitian Penelitian irri rnenggurrakan metode studi kasus

kualitatif dengan rancangan histografi dengan alasan

bahwa yang akan diteliti adalah fenomena sosial yang terjadi saat irri tentang pernikahan dini pacla

rernzr.ia. Penelitian dilaksarrakan di Kecanratan San,e,-

galangi Kabupateu Tana 1'ora.ja. Alasan pemilihan lokasi penelitian karena kasus pernikahan usia dini

rrerupakan terlinggi pada tingkat kecamatan berda_

sarkan data kependudukan dan adanya pemahaman sosial budaya masyarakat terhadap pernikahan dini

sehubungan dengan penerapan nilai strata dalant ma-

syarakat.

Populasi dan Sampel

Informau penelitian terdiri dari rernaja perern_

plran yang telah rnerrikah pada usia dini, keluarga, suarni. tokoh masyarakat dan pernerintah setempat.

Karakteristik informan penelitian perlu dirumuskan

untuk ntengurangi darnpak rendahuva nruatan infor- masi yang dibutuhkan pada saat penelitian berlang- sung. Karakteristik infbrman dibatasi sarnpai pada u-

rnur 55 tahun dengan alasan untuk ntemndahkan da-

larn proses penggalian infonnasi yang lebih terarah.

Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dilakukan dengan ob-

servasi parlisipatif dan r.vawancara rnendalarn (ll-

depth interulerr,) kepada masing-masing inforrnan

dengan mengajukan peftanyaan dalant bentLrk pedo-

Illan Wa\valtcara_

Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakarr dalam pe-

rrelitian ini adalah mengikuti petunjuk Milles dan

l-luberman (1984) yakni dengan menyajikan dan Me-

redLrksi Data sefta menarik kesimpulan untLrk dija-

dikarr proposisi.

90

Jurnal lllKi\{I. Oktober 2009. hal 89-t)4

HASIL DAN PBMBAHASAN

Pernikahan llsia Dini

Pernikahan Lrsia dini adalah pernikahan yang di_ laksanakan pada usia yang melanggar aturan i,nclang_

undang perkawinan yaitu perernpuan kurang dari i6 tahun darr laki-laki kurang dari l9 tahun. pernikahan pada usia dini merupakarr bentuk kegiatan yang su_

dah dilaksanakan oleh masyarakat. dipengarLrlri oleh banyak faktor dan melibatkan berbagai faitor perila_

kr-r.

Pernikahan usia dini sebagai berrtr-rk perilaku yang sudah dapat dikatakan membudaya dalam ma_

syarakat. Maksudnya bahwa batasan inclividu dengan meninjau kesiapan dan kematarrgan usia individLr bLr_

kau rnenjadi penglralang ba_ei seseorallg untuk tetap

melangsungkan pernikaharr.

Pada masyarakat Kecamatan Sanggalangi. perni_ kahan yang terjadi pada Lrsia dini lebih dikarenakan

adarrya dorongan rasa kernandirian dari perelnpuan

dan untuk rnelepaskan diri dari pengaruh orang tua. Sebagainrana hasil wawancara dengan infbrman se _

bagai berikut;

"Sebenurn),cr, nikqh itu supcry-u Iitltk lergunlurtg

pacla orung tua lagi,

.jacli kalcttr .sucltth nikuh ,t.t.rclcih

-I'ahun. pere rrr-puan, URT').

bi,su nrqnclirl " (Yl'i.r-. 22

Selain alasan kernandirian.

pernikahan juga

jadi karena mengandung unsur perbaikarr sosial

tcr_

ekonomi keluarga karena dengan menikah. seorang

perempuan akarr nrenrperoleh perbaikzrn ekonorri

keluargan5,'a. Sebasaimana hasil wa\\'ancara clengarr

infbnnan penelitian

sebagai berikLrt :

",Suytt nikah ktu.enu sltpo.yu hi.su ntnntlir.i clcut

bisu bunlu-banlu keluurga, op(t lugi su.tu mcr,silt ptt-

nya udik vang mo.sih kecil-kecil" (DSy, 24 th. pe-

rempuan. Petani Sarvah).

Pernikahan usia muda yang discbabkan karena alasan rnernbantu pernenultarr kebutuharr ekonol.ni

keluarga. berlrubungan dengan renclahnr,a tinekat

ekonorni keluarga dinrana orang tua ticlak rnemiliki

kemarrpuarr ur.rtuk me rlenuhi ke butuhan kcluarga

sehinq-qa orang tua lnemililr urrtuk menrpercepat per-

nikahan auaknva terlebih lagi bagi anak perentpuan

sehintga dapat rnentbantu pentenuhan kebutuhan ke-

luarsa seperti rncrnbantu adik-adiknya r,,ang rnasilr

mernbutuhkan.

Perkau,inan usia dini bcrhubLrngan cicnsan ke-

iskinan. pertukaran ekonomi saat perkavr.irran dan

pendidikan rendah. Perkar.r,inan ini berclarnpak pada

kehidupan sosial gadis rernaja. kcrnarnpuan nrerlbuat keputusan, kesehatan darr perilaku seksual dan repro-

dLrksi. sefta kemarrpuan bernegosisasi derrgan pa-

sangan dan keluarga mengenai perilaku sehatr.

Perkar,r'inan usia lnuda yang terdorong oleh ala-

san kernandirian dan terbebas dari perrgar.uh clari

orallg tua berhubungan dengan sikap yang terbangun antara anak dan oraug tlla. Hal ini berlrubungan de-

ngan cara orang tua menerapkan pola pengasuhan

kepada anak. Pola pengasuhan orang tua yang tidak

demokratis kepada anak menyebabkan anak tidak

memiliki keleluasaan untuk dapat rnenentukan pili- han yang terbaik bagi dirinya. Ditunjang dengan pen-

didikan dan pemahaman orallg tua yang rendah ter- utama adanya pemahaman di tingkat keluarga yang tidak baik kepada anak remaja perempuan seperti pe-

rempuan yang sudah dewasa tetapi belum berkelu-

arga dipandang sebagai aib keh"rarga sehingga orang

tua lebih memilih nntuk mempercepat perikahan a-

nak perempuannya.

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan perkawinan remaja disebabkan karena ingin rnele- paskan diri dari pengaruh lingkungan orang tua3.

Faktor Penentu Pernikahan Usia Dini

Pada masyarakat Sanggalangi, pernikahan seca- ra urnllm tidak terlepas dari budaya Toraja termasuk

pula perrrikahan yang dilaksanakan pada usia yang

pernikahan di-

awali dengan pernikahan secara adat Toraja yang di-

kenal dengan "Parampo Kampung" dan secara buda- ya masyarakat ikatan perkawinan tersebut sudah di-

anggap syah. Sebagaimana hasil lvawancara dengan

lebih muda dimana dilangsungkannya

infonnan sebagai berikut :

"(Jmtrnnya di Toraja crda pertemuan ke-lutrrga

istilahnya diparampo dan secara adal itu sudah syah." (MTN, 52 tahun, Laki-laki, Ka. Camat Sang-

galangi).

Berdasarkan remuan peneliti dilapangan, maka konstruksi konsep yang ditemr-rkan dilapangan seba- gai konsep emik adalall penentu utama terjadinya

pernikahan adalah orang tua berdasarkan kesepakatan diantara kedua keluarga baik pihak laki-laki maupun

perempuan yaltg umumnya masih memiliki hubu-

ngan keluarga dekat. Pernikahan usia dini yang terjadi pada masaya- rakat diawali dengan adanya persetujuan antara orang

tua baik laki-laki maupul-l perempuan. Kesepakatan

ini bagi orang tua lebih didasarkan atas pemahaman orang tua kepada menantunya akan dapat rnembantn pelaksanaan segala aktivitas keluarga termasuk da- lam upaya perbaikan ekonomi keluarga. Khusus bagi

orang tua perempuan, adanya dorongan ketidak- mampuan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan ke-

lr-rarga sehingga lebih rnempercepat pernikahan anak-

nya terutama jika calon mempelai laki-laki yang te-

lah rnemiliki pekerjaan sehinga dapat membantu pe- menuhan kebutuhan keluarganya. Pada masyarakat Toraja sendiri, adanya penga- ruh budaya yang mensyaratkan penyediaan persem-

bahan berupa birratang peliharaan pada berbagai

perayaan keluarga selringga setelah adanya pertalian

antara kedua keluarga dapat saling membantu. Se-

perti halnya pada upacara kematian yang dikenal

9l

dengan Rambu Solo' yang mensyaratkan sejumla:-

binatang peliharaan seperti kerbau dengan hargajue-

yang sangat mahal sehingga setelah adanya hubu". ngan yang terjalin melalui pernikahan diantara du;

keluarga dapat saling memberi bantuan dalam pen\e- diaan persyaratan tersebut. Berdasarkan keadaan ini-

orang tua memilih untuk mempercepat pernikahar

anaknya terlebih bagi anak perempuan.

Pengetahuan tentang Kesehatan Reproduli-si

Sehubungan Dengan Pernikahan Usia Dini

Pada rnasyarakat Sanggalangi terlebih pada p'"-

rempuan yang telah melakukan pernikahan usia din,i pengetahuan mereka tentang kesehatan reproduks.

adalah sehubungan dengan kemampuan yang dimili- ki oleh individu perempuan dalam proses kehamila:

dan melakukan berbagai upaya untuk mempertahan- kan keharnilan yang sehat. Sebagaimana hasil ua- wancara dengan informan sebagai berikut :

"Kesehatan reproduksi itu yang penting bis;

hamil dan melahirkan anok, dan anak yang dilahi"- kan itu sehqt jadi pada saat homil harus banyak nr* kan, jangan berbuat yang tidak-tidak. Kalau keseh* tan reproduksi itu tidak main ganti pasangan begii; saja" (ETR, 35 tahun, Perempuan, URT). Berdasarkan temuan peneliti dilapangan, makr konstruksi konsep yang ditemukan dilapangan seb:-

gai konsep emik adalah pengetahuan masyarakat ter:- tang kesehatan reproduksi berhubungarr dengan ke- hamilan dan persalinan yang sehat.

Pada masyarakat Sanggalarrgi khususnya van*

telah rnelaksanakan pernikahan usia dini, berdasa:,

kan penggalian informasi secara mendalam, penge- tahuan mereka tentang kesehatan reproduksi berhu-

bungan dengan kemampuan seorang wanita menEi-

lami kehamilan dan melahirkan bayi yang seha:.

menghindari terjadinya keguguran, menghindari pe- nyakit yang berlrubungan dengan kandungan, de:

harus terjaga melalui upaya perbaikan gizi selam:

keharnilan serta tidak memiliki perilakr.r ber_eon-o

ganti pasangan.

Pemahaman kaum perempuan sehubungan de-

ngan kehamilan dan persalinan yang sehat ini leL'ii mengaralrkan pemahantan perempuan setelah pe:-

kawinan. Berdasarkan pemahaman ini, kaum perem- puan untuk dapat rnernalrami kesehatarr reproduh-

sinya maka ia harus melakukan pernikahan terleL'j:

dahulu. Sehingga adanya pernahaman ini dapat mer-

dorong kaum perempuan untuk lebih cepat melan:-

sungkan pemikahannya. Pemahaman ini sejalan dengan pendapat 1a;:g

rnenyatakan bahwa pengetahuarr kesehatan rep!-r-- duksi rnerupakan pengetahuan yang menyangkut ca-rr

seseorang bersikap atau bertingkah laku yang seha:

bertanggung jawab serta tahu apa yang dilakukar-

nya dan apa akibat bagi dirinya, pasangannya d:r

Jurnal ItKltI. Oktobcr 2009. hal 89_9.1

masyarakat

sehingga.

dapat mernbahagiakan dirinya

kehidupan sefsualnya. Dan

pengetahLran yang diba_

setelah n,"nikit., ,.

gambaran bahrva

reproduksi

juga dapat memenuhi

konsep ernik adalalr keluarga memiliki

sebagai penentu pelaksarraan pernikahan

\ufn_u

dah

kelLrarga.

Terhadap

yang lebih besar baik

ataupun pada Lrpaya

peran utama

pada anak

pengetahuan ini merupakan

ngun oleh individu pada konsep

adanya pemahamarr orairg tua bahwa anak

dewasa dan laki-laki sLrdah' mampu rnenafkahi

su_

Keadaan tersebut memberi

pengetahuan rentaja tentang kesehatan

rnasih

pemikahan

dampak dari

dilruburrgkan dengan

upaya pernberian informasi

pernikahan, orang tua rnemiliki arrdil

untuk dilatsanakan terlalu clini

kurang dimana ibu yang telalr rnelangsungkan

usia dini sebelumnya kurang memalrami pernikahan yang berlangsung cepat. Jika

keadaan sos*ial masyarakat,

tentang kesehatan rep_

terdapatnya

penundaan usia perkawinan

keterbatasan pentaha_

reproduksi clan hak

pacla keluarga

1,u,,g

i_

berdarnpat paAa*pe_

berujLrng

pada per_

anak. Orang tua yang rnerniliki

man khususnya tentang kesehatan

anak. kecendenrngan yang terjadi adalah merrikahkan

anaknya pada r-rsia remaja Begitupula

vang tidak rnerniliki hubungan keharmonison

roduksi kurang terlaksana dimana ldak

ke lornpok-kelompok pernb inaan pada kaurn remaj a.

Pada penelitian hatan reproduksi oleh

ini, pengetahuau terhadap kese_

indiviJu pada dasarnya ditun_ pencegahan dilaksanakannya

dak baik dalam keluarga akan

rilaku seks bebas anak darr dapat

jukkan kepada upaya

kawinan vang berlangsung cepat/pada irsia clini.

Peran orang tua

.

pernikahan yang terlalLr

maupun perempllan. pengetahuan

duksi dapat menjadikan irrdividu memiliki

tingkah laku seksual yang sehat dan bertanggLrng

wab.

akan dampak

sendirinya akan

cepat

baik oleh laki_laii

kesehatan repro_

sikap dan

ja_

dalam rlenentukan perkarvinan

faktor sosiar eko'omi keruar-

keluarga. kepercavaan dan

kefL,arga dan ke_

rnenglradapi

anak dipengarLrhi oreh

ga, tingkat pendidikan

adat istiadat yang berlakLr dalam

mampuan yang-dirniliki keluarga dalarn

Maksudnya bahrva seorang individu yang sadar

terhadap pernikahan usia dini i"r,gun

berupaya untuk

lnenurrda dan me]l_

masalah rernajas. Sehubungan d"engan sosial ekouomi

kelLrarga yaitLr akibat beban

ekono]ni sehingea orang

tua rlempurryai keingirran untuk llenlpercepat perka_

winan arraknya terLltalra ba_qi anak perernpuarr sclain

tuntuk menrindahkan tang-qurrg

da suami dan adanya tambahan

jaruaL orari,rl tua kepa_

tena-qa kerla di kelu_

arga yaitu rneuantu dengan sLrkarela I

Adanya dukungan

kelLrarga terhadap kelanqsu_

tersebut pada dasainya

pengetahLran oran-q tua

dengan tingkat pendi_

ngan pernikalran usia dini

tidak terlepas clari tingkat

pan

man ren-dah

memandang bahwa

hubungan silatLrrahirn yang

yang dapat dihLrbungkan pula

dikan kelLrarga. Tingkat penclidikan"keluarga ini akan

mentpengaruhi pentahaman keluarga tentang kehidu-

berkeluarga. Orang tua yang memiliki pemalra_

terhadap kehidLrpan berkeluarga dengan

kehidupan keluarga akan tercipta

lebih baiI dalam ratanarl

yanr semakin cepat

keluarga sehingga pernikihan

menjadi solusi utama bagi orang tLra. Begitr-rpun pada tingkat kemampLran orang tlla

dalarn rnenghadapi ,l-,uruluh rema-|a. FIal

ini. berhubungan

yang rendah

denganlinglet konrunikasi yang di_

anaknya. Kurangny,a ko_

jalin oleh orang tua kepada

munikasi aktif antara orang tua hingga anak terutama padi usia

kepada unuknyo ,"_

rernaja y,ang lebih

sek_

rnembutuhkan perhatian terlradap perkelnbangan

sualitasnya akarr lebilr nr.,rgu.uil pada perilaku seks

bebas yang berr-rjung pada pernikahan usla dini.

Oleh sebab itu, dalam

rangka peningkatarr taraf

denganlnak

harus

hidup anak, hubungan orang tua

terjalin dengan baik terutama adanya"perhatian lebih

yang diberikan orang tua

orang tua kepada anak dapat

kepada anak. Kasih sayang

menglrilangkan kese_

,r",r"yenangkan

dihan dan rasa takut anak, dan duput

perpanjang usia perkawinarrnya i.

Namun berdasarkan

" diperoleh peneliti bahrva p",rg"iuirr.,u,r

yang dimiliki oleh setiap individu masih

hasil telaalr infornrasi yang

reproduksi

rendah se_

hingga pernikahan usia clini masih dilaksanakan

seperli

tersebut. perrgetahLiarl yang rendah ini

halnya pada mereka yang telah rnelaksanakan

dilangsungkannya peinikahan ter_

pengetahuan ,ne_

aclanya

me_

perrrikahan

terutalna sebelum

sebut. Sedangkan setelah rnenikah,

reka

kehamilan.

Dukungan

nikahan Usia Dini

Perkawinan usia

langi berdasarkan hasil

tukan oleh adarrya kesepakatan

membina hubungan kekeluargaan

reka tentang kespro sudah baik disebJbkan

akses ke pelayanan kesehatan yang rnembantu

memperoleh informasi tentarr! keselratan dan

Keluarga Sehubungan Dengan per_

dini pacla rnasyarakat Sangga_

temuan p"n"titi lebih diten_

dari orang tua untuk

dengan anggota

keluarga yang lain dan anak sendiri terd"oktrin untuk

turut serta

kepada perintah orang tua tersebut. Seba_

wawancara dengan informan pene_

gaimana hasil

Iitiarr sebagai berikLrt :

"lMqktu

menikah kemarin, saya

sebenarnya ti_

dak tahu siaptt calon suanti saya" (ETR, j5 th,

Perempuan, URT).

"Jadi kqlau keluarga sudah

setuju, biasanya ke-

dingan mentbawa

Iuarga laki-laki datang ke rumah

persiapannya" (ABL. 32 tahun, perempuan, Wiras_

wasta).

Berdasarkan temuan

peneliti dilapangan, kons_

truksi konsep yang ditemukan dilapangan sebagai

anak pada saat ia sakit hati. Orang tua beikewallban
q)

Jurnal MKlll. Vol 5 No.4.2009

memberikan pelajaran dan keteladanan moral kepada

anak-anaknya, termasuk dalam masalah seksualitas

dan kesehatan reproduksi.

Komunikasi efektif antara orang tua dengan

anak akan membentuk pola dasar kepribadian anak secara normal dan perkembangan psikologis yang sehat bagi anak, karena merupakan hakekat seorang

anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya membLrtulikan uluran tangan dari orang tua, orang

tualalr yang berlanggung jawab dalam mengem-

bangkan keseluruhan eksistensi anak tennasuk ke- butuhan-kebutuhan fisik dan psikis sehingga anak

dapat turnbuh dan berkernbang ke arah kepribadian

yang matang dan harmorris.

Selain itu dengan meningkatkan kualitas komu-

nikasi antara orang tua dan anak yaitu menjalin ko-

munikasi secara terbuka serta menunjukkan cinta dan perhatian pada anak juga dapat menghindarkan re- rnaja dari perilaku seksual pranikah, karena remaja

memerlukan seseorang yang dapat dipercaya dan

dapat diajak mernbicarakan masalah-rnasalah yang menekan mereka. Sehubungan dengan pemahaman orang tlla yang

rendalr terhadap kesehatan remaja termasuk kese- hatan reproduksi berdasarkan pemehaman penulis disebabkan rendahnya pemberian mnatan infonnasi kepada masya-rakat khususnya keluarga. Pelayanan

keluarga berencana dengan muatan pemberian infor- masi kesehatan kehamilan dan keselratan reproduksi

tidak terlaksana dengan baik. Keadaan ketenagaan

yang rendah dirnana berdasarkan temuan peneliti

untuk Kecamatan Sanggalangi hanya memiliki seo- rang petugas penyuluh KB tentunya menjadi peng- harnbat sehingga tidak rnaksimalnya distribusi in-

formasi tentang keluarga berencana dan kesehatan

reproduksi. Sehingga dalam upaya ini, penambahan

jumlah petugas harus menjadi perhatian khususnya pada tingkat Dinas Kesehatan dan Pemerintah Dae-

rah.

Keadaan Sosial Budaya Sehubungan Dengan Per- nikahan Usia Dini

Pada masyarakat Sanggalangi yang menganut

pemahaman budaya Toraja memiliki perbedaan de-

ngan budaya lainnya dalam prosesi pernikahan, Per-

nikahan pada masyarakat Toraja dikenal dengan

istilah Parampo Kampung yaitu prosesi pelamaran

sekaligus pengukuhan pasangan perempuan dan Iaki-

laki untuk disatukan dalam hubungan keluarga men- jadi suami-istri. Pernikahan dengan nama Parampo Kampung yang bagi masyarakat merupakan istilah dengan pernikahan adat yang ditaati oleh seluruh masyarakat dan merupakan simbol sudah diterima- nya atau sahnya suatu ikatan pernikahan. Sebagai- mana hasil wawancara dengan informan penelitian sebagai berikut :

"Secara ntasyarakat yang penting adat, karena tidak ada larangan lagi karena sudah melaksanakan

Parantpo kampung" (RPN, 35 tahun, laki-laki, Ka.

Sie Pemerintahan Kecamatan Sangga langi, petugas pencatatan sipil Kec. Sanggalangi).

Berdasarkan temuan peneliti dilapangan, maka konstruksi konsep yang ditemukan dilapangan seba- gai konsep emik adalah ikatan pernikahan buday'a Toraja dikenal dengan istilah Parampo Karnpung ti- dak rnengatur secara jelas batasan usia pernikahan

baik bagi laki-laki maupun perempuan, batasan yane diatur adalah dewasa dan laki-laki sudah malnpu me- nafkahi keluarga.

Batasan perkawinan menurut Rarnpanan Kapa

pada dasarnya tidak memuat batasan yang jelas ter- hadap kelangsungan pernikahan seperti yang termuar menurut UU Perkawinan No I tahun 1974 yaitu usia 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki Hal ini yang menyebabkan kaum pemuka adat tidak

merniliki kemampuan Lrntuk dapat mengatur sistem

budaya yang mengikat bagi warganya dalam melan_s-

sungkan perkawinan karena batasan tentang sese-

orang yang dikatakan dewasa masih belum jelas. Se-

hingga dengan keterbatasan ini, pernikahan pada usia dini rnasih sering terjadi dalam masyarakat.

Adanya aturan sehubungan dengan Rampanm Kapa dengan Parampo Kantpung tersebut membe:--

pengaruh sehingga masyarakat tidak memberikar

pandangan negatif terhadap pasangan yang melang-

sungkan pernikahan meskipun pada usia yang masiL

remaja. Pemahaman masyarakat bahwa pasangan

yang baru menikah dianggap syah jika telah melaku- kan Parantpo Kampung.

Pemikahan usia dini banyak terjadi di Jawa Ba. rat, salah satunya adalah di daerah Cicurug. Para o- rang tua di Cicurug berpandangan bahwa wanita ber- tugas melayani suami dan anak-anak, serta mensha.

biskan banyak waktu di dapur, dikatakan rnelanjur-

kan pendidikan tidak bermanfaat. Selain itu wanita *1:

Cicurug berpendapat bahwa laki-laki di sana lebii

suka menikahi wanita yang umurnya 15 tahun 6.

Jika dihubungkan pada masyarakat Sanggalan5 yang memegang aturan adat Toraja, pemahaman bah*

wa wanita bertugas melayani suami dan anak-anal

serta menghabiskan banyak waktu didapur masih dr- anut pada sebagian besar masyarakat. Hal ini tenru-

nya akan menjadi penyebab sehingga anak perer*.

puan lebih cepat untuk dinikahkan oleh orang tua

93

Sehubungan dengan hal tersebut, pernikahan

)ang

terjadi pada usia dini pada rnasyarakat Sanggalangr tidak terlepas dengan aturan budaya yang tidak nra.

ngikat terhadap warganya untuk melangsungkan per,* nikahan.

Selanjutnya, pada masyarakat Sanggalangi sem- diri, pemahaman tentang pernikahan secara adat b*' nyalah memuat tentang aturan proses pelaksanannla

dan tidak memuat aturan tentang batasan

tentang usia

perkawinan. Hal ini tentunya akan mengukulrkan

terjadinya pernikahan pada usia dini di masyarakat. Pengaruh sosial budaya dalam hal ini adat istia-

dat terhadap pernikahan usia dini adalah disebabkan

karena adanya pandangan masyarakat bahwa anak

gadis yang telah dewasa tetapi belum berkeluarga

akan dipandang aib bagi keluarga. Sehingga orang

tua menikahkan anak gadisnya secepat mungkin yang rnendorong perkawinan usia muda 3.

Perkawinan dalam adat Toraja yang juga dipe_ gang teguh masyarakat Sanggalangi merniliki bebe_

rapa tingkatan yaitu Tana' Bulaan bagi kaurn bang_

sawan, Tana' Bassi bagi masyarakat golongan mene_ ngah, Tana' Karurung bagi rnasyarakat merdeka dan

Tana' Kua-kua urftuk kaum hamba atau kaunan.

Berdasarkan tingkatan tersebut, dikenal aturan bahwa

bagi laki-laki keturunan bangsawan boleh menikahi

perempuan dari rnasyarakat biasa atau kaunan se_

dangkan perempuan dari keturunan bangsawan tidak

diperbolehkan menikah dengan laki-laki dengan

strata sosial yang lebih rendah dan jika terjadi perce_

raian,. pilrak yang bersalah harus rnembayar sangsi sesuai aturan yaitu 24 ekor kerbau untuk kaum bang_

sawan, 6 ekor kerbau untuk kaum menengah dan I

ekor kerbau untuk kaum kaunan.

dikenal derrgan nanta o'sulelang Ngan Banua,', arti-

nya kembali ke dalam

tuk rnempeftahankan strata dan

rnuncullah ide "Pa'pasiala tonlatuct'

Kepercayaan ini

tongkonan, dengan tujuan un_

kekayaan sehingga

yang artinya

jodoh yang diatur orang tua atau keluarga. Sehingga

orang tua merupakan penentu utama terhadap pelak_

sanaan perkawinan terutama datam penentllan jodoh terlebih terhadap pernikahan yang terjadi pada usia dini.

Selanjutnya, sepefti yang telah dijelaskan sebe_

lumnya, pernikahan yang terjadi berhubungan de_ ngan budaya Toraja yang menganut upacara kema_

tiarr yang dikenal dengan Rombu So/o;terlebih

pada keluarga yang telah meninggal sehinggu p"rlr., diupacarakan dengan ketentuan lradirnya persemba_

lagi

han berupa binatang peliharaan khususnya kerbaLr ya_

DAFTAR PUSTAKA

l.

2.

3.

UNICEF. 2005. Earlv Marriage A

Harn{ul Tra_

ditional Practice A Statistical Erplorcttion. The

United Nations Chidren,s

Fund (UNICEF).

Bruce, J. 2007. Child Marricrge In The C,on_

text Of The HIL' Epidemic. Brief Journal. I l,

Septernber

2007 . pp.1 -4.

Noorkasiarri dkk. 2009. Sosiologi Keperctvtcttan. Penerbit Buku Kedokteran E