Sei sulla pagina 1di 6

SIKAP REALISTIS KUNCI KONTRIBUSI GENERASI MUDA

INDONESIA GUNA MEMAJUKAN PERTANIAN DAN KETAHANAN


PANGAN INDONESIA
Indonesia sejatinya merupakan negara agraris, maka sudah selayaknya Indonesia mampu
berdiri di atas kaki sendiri dalam bidang pertanian dan pengadaan bahan pangan kepada
masyarakatnya. Dewasa ini, di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia ke-7, Ir. H. Joko
Widodo menetapkan program kerja yakni yang kita kenal sebagai nawa cita. Program kerja nawa
cita ini sendiri juga mencangkup sektor pertanian dan ketahanan pangan. Pada era demokrasi saat
ini, kebebasan berpendapat juga semakin dijunjung oleh masyarakat dalam hal memberikan
kritik dan apresiasi kepada kinerja pemerintah, namun yang membuat penulis merasa prihatin
adalah masih adanya masyarakat yang berpikiran sempit dan mudah terprovokasi oleh
pemberitaan yang tidak dapat dipastikan keaslian datanya mengenai kondisi Indonesia, terkhusus
dalam hal pertanian dewasa ini, dan pada akhirnya melakukan kegiatan yang tidak bermanfaat
seperti melakukan aksi demonstrasi dan anarki. Sebagai warga negara yang baik dan cerdas
sudah selayaknya kita melakukan analisis terlebih dahulu sebelum berpendapat dan melakukan
aksi mengkritisasi pemerintah. Nyatanya apabila kita tinjau lebih dalam dan berdasarkan data, di
era pemerintahan Jokowi kemajuan pertanian Indonesia bahkan meningkat pesat. Kemajuan
bidang pertanian dapat dilihat dari infrastruktur, kebijakan, dan ketanggapan yang diambil saat
terjadi masalah.
Prestasi Jokowi dan KEMENTAN dalam bidang kebijakan yang dilihat sangat
berpengaruh yakni adanya asuransi pertanian di Indonesia. Dengan adanya asuransi pertanian di
Indonesia, petani tidak perlu merasa khawatir merugi karena gagal panen yang disebabkan oleh
serangan hama, bencana alam, dan lain sebagainya, karena petani akan mendapatkan uang ganti
rugi dan juga penggantian bibit serta pupuk. Pemerintah sendiri mengalokasikan dana Rp150
miliar untuk membantu petani Indonesia dalam hal asuransi pertanian, dengan membayar premi
sisanya, petani akan mendapatkan biaya pertanggungan Rp6 juta per hektarnya. Dengan
terjaminnya petani, diharapkan produksi padi Indonesia terus meningkat dan mencapai
swasembada pangan secara penuh. Kondisi di lapangan mengenai realisasi asuransi pertanian
sedikit melenceng dari harapan, banyak petani yang enggan mengikuti program asuransi
pertanian tersebut, maka menurut penulis seharusnya pemerintah juga menerjunkan tim ahlinya

untuk melakukan penyuluhan terkait asuransi pertanian ini kepada petani secara meluas, apabila
tidak terjadi perubahan perlu adanya analisis yang mendalam mengapa banyak petani tidak
mengikuti asuransi pertanian yang diprogramkan pemerintah.
Kebijakan kedua yakni adanya program pembangunan agribisnis kerakyatan. Program
agribisnis kerakyatan ini difokuskan pada pembangunan fasilitas bisnis bagi sektor pertanian.
Fasilitas bisnis tersebut direalisasikan dengan pembentukan bank tani, koperasi, dan UKM.
Program kerja ini direalisasikan Jokowi agar petani memiliki dana yang cukup dalam hal
perkembangan pertanian. Selain dari program-program persiapan (pra) panen, pemerintah
bersama Kementrian Pertanian (KEMENTAN) juga melakukan persipan yang bersifat tindak
nyata pada saat ada tantangan dan juga tentunya adalah pemanfaatan pasca panen yang lebih
terorganisasi secara baik. Beberapa bukti kenerja yang baik adalah pemerintah bersama
KEMENTAN dan tentu dibantu dengan instansi terkait mampu memprediksi secara dini akan
adanya kekeringan atau el nino pada 2014 lalu dan bentuk kerjanya adalah dengan
mendistribusikan 21.953 unit pompa air, rehabilitasi irigasi tersier, membangun 2.000 sumur
dangkal di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Grobogan, membangun 100 unit
embung dan dam-parit, bekerjasama dengan BNPB melakukan hujan buatan, dan memberikan
asuransi usaha tani untuk 1,0 juta hektar. Hasil positif dari tanggapnya pemerintah dan
KEMENTAN berimplikasi kepada berhentinya Indonesia melakukan impor beras dan ini tentu
merupakan prestasi besar bagi pemerintah. Penulis menyayangkan perihal adanya beberapa data
yang keluar dan terbaca oleh beberapa kelompok yang merupakan oposisi pemerintahan dan
kemudian memprovokasi masyarakat Indonesia dengan data yang ditampilkan sebagian tanpa
menggabungkan data lainnya, yakni mengenai impor beras dari Vietnam sebanyak 1 juta ton
pada akhir tahun. Sangat disayangkan, data tersebut justru membuat kepercayaan masyarakat
Indonesia menjadi menurun, padahal masih terdapat data yang perlu ditampilkan lagi, yakni
Indonesia pada tahun yang sama juga mengekspor 134 ton beras organik ke Italia dan menurut
Menteri Pertanian ekspor beras organik tersebut baru pemanasan. Melakukan penghematan
impor dan melakukan ekspor tentu dapat meghemat devisa negara yang tentunya dapat
dimanfaatkan atau disalurkan ke sektor-sektor lain yang membutuhkan.

Penulis banyak menemukan prestasi-prestasi lainnya yang bersangkutan dengan kinerja


pemerintahan Presiden Indonesia Joko Widodo bersama dengan KEMENTAN, hal itu tentu
menjawab pertanyaan yang lalu-lalang dalam pikiran kita selama ini yakni apakah program
kerja nawa cita yang diajukan Jokowi pada masa pemilihan presiden dilaksanakan atau tidak dan
adakah bukti nyatanya? dengan tegas sebagai generasi muda Indonesia saya katakana sudah
dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan hasilnya dapat dilihat dari beberapa contoh yang
penulis cantumkan di atas. Penulis menganalisis bahwa pemerintah dalam rentang waktu 2-3
tahun sudah mampu sedikit-banyak melaksanakan program kerjanya, namun titik berat penulis
pada esai ini adalah mengenai sikap generasi produktif Indonesia dalam hal pertanian. Seperti
yang penulis ulas di atas, sikap generasi produktif Indonesia dewasa ini hanya mampu
mengomentari dan hanya sedikit yang mau bergerak dalam hal memajukan pertanian Indonesia.
Jumlah sarjana pertanian di Indonesia sangat banyak, namun kinerja yang dihasilkan minim.
Minimnya kontribusi lulusan ini tentu menjadi permasalahan yang harus diselesaikan bersama.
Memiliki pengetahuan mengenai ilmu pertanian seharusnya mampu mengoptimalkan produksi
hasil pertanian Indonesia melalui aksi nyata dan bukan hanya sebagai pengamat. IPB sebagai
selah satu perguruan tinggi yang memiliki keunggulan dalam bidang pertanian,diharapkan
mampu mencetak lulusan yang mampu mengatasi dinamika pertanian dan ketahanan pangan di
Indonesia. Penulis merumuskan beberapa hal yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa sebagai
generasi muda dari negara agraris ini sebagai bentuk peran nyata mengembangkan pertanian dan
ketahanan pangan, menjadi 4 hal.
Pertama, sebagai seorang generasi muda sudah menjadi hal wajib untuk peka terhadap
persoalan sekitar. Dewasa ini kepekaan mahasiswa semakin berkurang, mahasiswa hanya fokus
kepada nilai-nilai perkuliahan saja tanpa ambil bagian dalam penyelesaian permasalahan
masyarakat. Hal yang paling utama dalam memulai perubahan adalah dengan menjadi peka
dalam melihat permasalahan di masyarakat, dengan menjadi peka kita diharapkan mampu dan
mau bergerak bersama dan bersinergis dalam menyelesaikannya. Menumbuhkan kepekaan dalam
diri, dapat direalisasikan dengan membaca, mengikuti kegiatan kemasyarakatan, dan melakukan
penelitian.

Kedua, mengubah pandangan mengenai pertanian. Beberapa pandangan mendasar


mengenai pertanian di masyarakat dan mahasiswa secara umu perlu diubah dari pertanian yang
merupakan bidang pekerjaan kelas bawah menjadi pekerjaan menjanjikan. Pandangan klasik
mengenai pertanian perlu diubah sehingga semakin banyak orang yang bergerak dalam bisnis
atau usaha pertanian, dan harapan kedepannya mampu mendongkrak secara signifikan
ketersediaan pangan di Indonesia. Pertanian dalam arti luas juga perlu ditanamkan ke setiap
pribadi masyarakat, yakni agar masyarakat paham bahwa pertanian tidak hanya melulu soal padi
atau tanaman, namun bisa juga perikanan, dan peternakan. Penulis berharap dengan adanya
perubahan pola pikir sedemikian rupa, mampu membuka pandangan masyarakat luas mengenai
sektor pekerjaan kreatif yang ada dan sekali lagi penulis tekankan, hal ini mampu
mengembangkan pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia. Melakukan perubahan pola pikir
dapat dilakukan dengan dicapai dengan sosialisasi baik lisan maupun tulisan.
Ketiga, berani memulai. Sebagai generasi muda selayaknya kita mampu berinisiatif untuk
memulai kebaikan dan membantu negara dalam menyelesaikan permasalahannya. Sekecil
ataupun sesederhana apapun idenya, selagi hal itu baik harusnya kita laksanakan, karena hal
besar berasal dari hal kecil yang dilakukan dengan kesungguhan.
Keempat, berani menerima hasilnya dan berani mengevaluasi. Melakukan hal atau
kegiatan tentu akan dihadapkan dengan berbagai hal dan berimplikasi pada hasil yang didapat.
Sebagai generasi muda dan mahasiswa, dengan bijak kita harus bisa menerima apapun hasilnya
dan jangan pernah menyerah. Evaluasi perlu juga dilakukan dengan harapan mendapatkan hasil
yang lebih baik di kemudian hari.
Berbicara mengenai pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia tidak akan pernah ada
habisnya, karena seperti sebuah konsep ekonomi yakni mencukupi kebutuhan manusia yang
tidak terbatas dengan sumber daya yang terbatas. Melalui hal tersebut, sudah seharusnya kita
sebagai mahasiswa dan generasi muda bangsa Indonesia tidak hanya mengkritik namun juga
berani mengambil peran, menjadi pengamat memanglah mudah dibandingkan menjalaninya.
Sebagai masyarakat di negara agraris, kita harus menjadi tuan di rumah sendiri. Mengenai
pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia, penulis ingin mengutip kata-kata dari John
F.Kennedy dan kemudian ditambahkan dengan motto hidup penulis, yakni Jangan tanyakan apa
yang negara berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu. Motto

hidup penulis adalah Melakukan segala hal yang terbaik pada titik dimana aku berdiri, itulah
sikap yang realistis. Pesan yang ingin penulis sampaikan adalah sebagai warga negara yang
cerdas kita harus memiliki sikap patriotisme kepada negara kita tercinta, jadi mulai sekarang
berhentilah menanyakan kontribusi negara pada kita, tetapi mulai memberikan kontribusi terbaik
kita kepada negara dan itu sesungguhnya merupakan sikap yang paling realistis. Mulai saat ini,
lakukanlah hal-hal yang realistis demi memajukan pertanian dan meningkatkan ketahanan
pangan Indonesia, majulah pertanian Indonesia.

DATA DIRI PENULIS

NAMA

: ADRIAN TRIANDI

TEMPAT,TANGGAL LAHIR: SUNGAILIAT, 14 OKTOBER 1998


ASAL DAERAH

: BANGKA BELITUNG

FAKULTAS

: PPKU 53 (FAPERTA/PTN)

PENGALAMAN KEPENULISAN : JUARA 2 LKTI BPCB JAMBI 2014


JUARA 4 PROVINSI ESAI PARLEMEN REMAJA
2015
PESERTA TERBAIK KE-4 PARLEMEN REMAJA 2015
UNDANGAN TELADAN BALKON PIDATO
KENEGARAAN PRESIDEN RI DALAM RANGKA
HUT KE-71 RI
NO.HP / EMAIL / LINE

: 0822-8077-4389 / adrian_triandi@yahoo.com /
adrian141098