Sei sulla pagina 1di 38

MAKALAH

KETERAMPILAN KEPERAWATAN ANAK II


ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. U DENGAN

BBLR
RUANG NAKULA IV RSUD KOTA SEMARANG

Disusun oleh:
AHLUL HAQ NANDA PAMBAYUN
ARIFAH WAHYU NUR SEPTI
DEVI SELVIA FATMALA
YUKE DESSY ARLIYANA WANTI
TEGUH BUDI SAPUTRO

AKADEMI KEPERAWATAN WIDYA HUSADA


SEMARANG
2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
Keperawatan Anak II yang berjudul BBLR . Dalam penyusunan makalah ini penulis
banyak mengalami kesulitan dan hambatan, akan tetapi berkat bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak, penulis dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
Dalam kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu, memberi pengarahan, bimbingan, semangat
serta doa untuk keberhasilan penulis, antara lain :
1.

Ibu Dyah Restuning P, S.Kep, Ns. M.Kep, selaku dosen pengampu mata kuliah
Keperawatan Anak II, yang telah membimbing dan memberi masukan kepada
penulis.

2.

Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
membantu menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak

kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para
pembaca.
Semarang,

Oktober 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Bayi lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) merupakan masalah
kesehatan yang sering dialami pada sebahagian masyarakat yang ditandai
dengan berat lahir kurang dari 2500 gram. Kejadian BBLR pada dasarnya
berhubungan dengan kurangnya pemenuhan nutrisi pada masa kehamilan ibu
dan hal ini berhubungan dengan banyak faktor dan lebih utama pada masalah
perekonomian keluarga sehingga pemenuhan kebutuhan konsumsi makanan
pun kurang. Namun kejadian BBLR juga dapat terjadi tidak hanya karena
aspek perekonomian, dimana kejadian BBLR dapat saja tejadi pada mereka
dengan status perekonomian yang cukup. Hal ini dapat berkaitan dengan
paritas, jarak kelahiran, kadar hemoglobin dan pemanfaatan pelayanan
antenatal. BBLR termasuk faktor utama dalam peningkatan mortalitas,
morbiditas dan diabilitas neonatus, bayi dan anak serta memberikan dampak
jangka panjang terhadap kehidupannya di masadepan.
BBLR yang tidak ditangani dengan baik dapat mengakibatkan
timbulnya masalah pada semua sistem organ tubuh meliputi gangguan pada
pernafasan (aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum), gangguan pada sistem
pencernaan (lambung kecil), gangguan sistem perkemihan (ginjal belum
sempurna), gangguan sistem persyarafan (respon rangsangan lambat). Selain
itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik serta
tumbuh kembang. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi
dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang,
yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkembangan anak, serta
berpengaruh pada penurunan kecerdasan.
Bayi yang lahir dengan berat lahir rendah (BBLR) memerlukan
perawatan yang tepat agar tidak terjadi hal-hal yang membahayakan bayi
seperti yang telah disebutkan diatas. Bidan dan perawat adalah bagian dari
pemberi pelayanan yang ikut berperan penting dalam memberikan perawatan

pada bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Perkembangan bayi dengan
BBLR yang dirawat di RS ini sangat tergantung pada ketepatan tindakan yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan.Oleh karena itu penulis tertarik membahas
tentang kasus BBLR pada bayi NY. U yang akan penulis bahas pada BAB
berikutnya.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan mampu menerapkan Asuhan
keperawatan melalui pendekatan proses keperawatan pada masalah bayi
berat lahir rendah.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian keperawatan secara tepat pada bayi
dengan berat badan lahir rendah
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas
masalah pada bayi dengan berat badan lahir rendah
c. Mampu merumuskan perencanaan asuhan secara tepat pada bayi
dengan berat badan lahir rendah sesuai dengan hasil pengkajian
prioritas masalah keperawatan dan mampu melaksanakan asuhan
keperawatan sehingga dapat mengatasi masalah yang dihadapi pada
bayi dengan berat badan lahir rendah
d. Mampu melakukan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan pemberian
asuhan keperawatan pada bayi dengan bayi berat badan lahir rendah
e. Mampu mendokumentasikan asuhan keperawatan pada bayi dengan
berat badan lahir rendah.

C. Sistematika Pembuatan Makalah


Untuk lebih sistematis dan terarah maka sistematika penulisan
makalah ini terdiri dari enam bab yaitu
1. BAB I

: PENDAHULUAN, yang meliputi latar belakang masalah,

tujuan penulisan, dan sistematika penulisan makalah.


2. BAB II

: KONSEP DASAR, meliputi konsep dasar teoritis yang

terdiri dari pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, tanda /


gejala-gejala, komplikasi, penatalaksanaan dan pemeriksaan diagnostik
serta konsep dasar asuhan keperawatan yang meliputi : pengkajian,
diagnosa, intervensi, implementasi dan evaluasi.
3. BAB III

: TINJAUAN KASUS, yang meliputi pengkajian, diagnosa

keperawatan, pelaksanaan dan evaluasi asuhan keperawatan.


4. BAB IV

: PEMBAHASAN, menguraikan tentang permasalahan dan

kesenjangan antara tinjauan teoritis pada bab II dan tinjauan kasus


pada bab III.
5. BAB V

: PENUTUP, meliputi kesimpulan dan saran-saran yang

berhubungan dengan asuhan keperawatan pada bayi dengan masalah


Bayi Berat Lahir Rendah .
6. DAFTAR PUSTAKA, meliputi literatur buku yang menjadi landasan
teori dan terdiri dari beberapa literature yang mutakhir dalam 10 tahun
terakhir

BAB II
KONSEP TEORI
A. Definisi
Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang BB <
2.500 gram (sampai dengan 2.499 gram). BBLR dapt dibagi menjadi 2
golongan :
1. Prematur murni
Masa gestasi kurang dari 37 minggu dan BB sesuai dengan berat badan
untuk masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai
untuk masa kehamilan.
2. Dismaturitas
Bayi lahir dengan BB kurang dari BB seharusnya untuk masa gestasi itu,
berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan
bayi yang kecil untuk masa kehamilannya.
(Indrasanto, 2008)
B. Etiologi
1. Faktor Ibu
a. Penyakit, penyakit yang berhubungan langsung dengan pasien
misalnya perdarahan antepartum, trauma fisik dan psikologis, DM,
toksemia gravidarum, dan nefritis akut.
b. Usia ibu, angka kejadian prematuritas tertinggi ialah pada usia < 20
tahun, dan multi gravida yang jarak kelahiran terlalu dekat. Kejadian
terendah ialah pada usia antara 26-35 tahun.
c. Keadaan sosial ekonomi, keadaan ini sangat berperan terhadap
timbulnya prematuritas. Kejadian tertinggi teradapat pada golongan
social ekonomi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang
kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Demikian pula
kejadian prematuritas pada bayi yang lahir dari perkawinan yang tidak

sah, ternyata lebih tinggi bila dibandingakan dengan bayi yang lahir
perkawinan yang sah.
d. Sebab lain, karena ibu merokok, ibu peminum alkohol dan pecandu
obat narkotik.
2. Faktor Janin
Faktor janin diantaranya hidramnion, kehamilan ganda dan kelainan
kromosom
3. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan di antaranya tempat tinggal di dataran tinggi radiasi dan
zat-zat tertentu.
(Suryadi dan Yuliani, 2006 )
C. Patofisiologi
SecaraumumbayiBBLRiniberhubungandenganusiakehamilan
yang belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan
dismaturitas.Artinyabayilahircukupbulan(usiakehamilan38minggu),
tapiberatbadan(BB)lahirnyalebihkecilketimbangmasakehamilannya,
yaitutidakmencapai2.500gram.Biasanyahaliniterjadikarenaadanya
gangguanpertumbuhanbayisewaktudalamkandunganyangdisebabkan
olehpenyakitibusepertiadanyakelainanplasenta,infeksi,hipertensidan
keadaankeadaan lain yang menyebabkan suplai makanan ke bayi jadi
berkurang.
Giziyangbaikdiperlukan seorangibuhamilagarpertumbuhan
janintidakmengalamihambatan,danselanjutnyaakanmelahirkanbayi
dengan berat normal. Dengan kondisi kesehatan yang baik, sistem
reproduksi normal, tidak menderita sakit, dan tidak ada gangguan gizi

padamasaprahamilmaupunsaathamil,ibuakanmelahirkanbayilebih
besar dan lebih sehat daripada ibu dengan kondisi kehamilan yang
sebaliknya.Ibudengankondisikuranggizikronispadamasahamilsering
melahirkanbayiBBLR,vitalitasyangrendahdankematianyangtinggi,
terlebihlagibilaibumenderitaanemia.
Sistem pernapasan pada dasarnya cenderung kurang berkembang
pada bayi prematur. Kapasitas vital dan kapasitas residual fungsional paruparu pada dasarnyakecil berkaitan dengan ukuran bayi. Sebagai akibatnya
sindrom gawat napas sering merupakan penyebab umum kematian.
Masalah besar lainnya pada bayi premature adalah pencernaan dan
absorpsi makanan yang inadekuat. Bila prematuritas bayilebih dari dua
bulan, system pencernaan dan absorpsi hampir selalu inadekuat. Absorpsi
lemak juga sangat buruk sehingga bayi premature harus menjalani diet
rendah lemak. Lebih jauh lagi, bayi premature memiliki kesulitan dalam
absorpsi kalsium yang tidak lazim dan oleh karena itu dapat mengalami
rikets yang berat sebelum kesulitan tersebut dikenali. Imaturitas organ lain
yang sering menyebabkan kesulitan yang berat pada bayi premature
meliputi system imun yang menyebabkan daya tahan tubuh terhadap
infeksi berkurang karena rendahnya kadar IgG gamma globulin, serta bayi
premature relatif belum sanggup membentuk antibody dan daya
fagositosis serta reaksi terhadap peradangan masih belum baik sehingga
bayi premature beresiko mengalami infeksi, system integumen dimana
jaringan kulit masih tipis dan rawan terjadinya lecet, system termoregulasi

dimana bayi premature belum mampu mempertahankan suhu tubuh yang


normal akibat penguapan yang bertambah karena kurangnya jaringan
lemak di bawah kulit dan pusat pengaturan suhu yang belum berfungsi
sebagaimana mestinya sehingga beresiko mengalami hipotermi atau
kehilangan panas dalam tubuh
(Ngastiyah, 2005)

D. Pathways
Faktor
Pencetus
Faktor Ibu
1. Faktor penyakit
(toksemia
gravidarum,
trauma fisik, dll)
2. Faktor usia

Faktor Janin
1. Hydroamnion
2. Kehamilan
multiple/gand
a
3. Kelainan
kromosom

Faktor
Lingkungan
1. Tempat
tinggal di
dataran tinggi
2. Radiasi
3. Zat-zat
beracun

BBLR

Kulit tipis dan

Imaturitas system

Reflek menelan dan

lemak subcutan

pernafasan

menghisap blm
sempurna

Tidak dapat

Pernafasan belum

Intake nutrisi tidak

menyimpan panas

sempurna

adekuat
Asupan gizi kurang

Mudah kehilangan

O2 dalam darah

panas

CO2

kedinginan

O2 dalam sel darah


rendah Co2 tinggi

hipotermi

Sel-sel kekurangan
nutrisi

Kerusakan sel
Asidosis
respiratoris
Gangguan

Penurunan
BB/kematian

pertukaran gas
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

E. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
1.

Berat kurang dari 2500 gram

2.

Panjang kurang dari 45 cm

3.

Lingkar dada kurang dari 30 cm

4.

Lingkar kepala kurang dari 33 cm

5.

Umur kehamilan kurang dari 37 minggu

6.

Kepala lebih besar

7.

Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang

8.

Otot hipotonik lemah

9.

Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea

10. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus


11. Kepala tidak mampu tegak
12. Pernapasan 40 50 kali / menit
13. Nadi 100 140 kali / menit
(Prawirohardjo. 2005)
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan glucose darah terhadap hipoglikemia
2. Pemantauan gas darah sesuai kebutuhan
3. Titer Torch sesuai indikasi
4. Pemeriksaan kromosom sesuai indikasi
5. Pemantauan elektrolit
6. Pemeriksaan sinar X sesuai kebutuhan ( missal : foto thorax )
(Ngastiyah, 2005)
G. Komplikasi
Menurut (Potter, 2005) komplikasi pada masa awal bayi berat lahir
rendah antara lain yaitu :
1.

Hipotermia.

2.

Hipoglikemia.

3.

Gangguan cairan dan elektrolit.

4.

Hiperbilirubinemia.

5.

Sindroma gawat nafas (asfiksia).

6.

Paten suktus arteriosus.

7.

Infeksi.

8.

Perdarahan intraventrikuler.

9.

Apnea of prematuruty.

10. Anemia
Komplikasi pada masa berikutnya yaitu :
1.

Gangguan perkembangan.

2.

Gangguan pertumbuhan.

3.

Gangguan penglihatan (retionopati).

4.

Gangguan pendengaran.

5.

Penyakit paru kronis.

6.

Kenaikan angka kesakitan dan sering masuk rumah sakit.

7.

Kenaikan frekuensi kelainan bawaan.

H. Penatalaksanaan
Menurut Prawirohardjo (2005), penanganan bayi dengan berat badan
lahir rendah adalah sebagai berikut :
1. Penanganan bayi
Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka semakin besar
perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi serangan sianosis
lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam incubator
2. Pelestarian suhu tubuh
Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam
mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan,
asal suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.
Bayi berat rendah harus diasuh dalam suatu suhu lingkungan
dimana suhu normal tubuhnya dipertahankan dengan usaha metabolic

yang minimal. Bayi berat rendah yang dirawat dalam suatu tempat tidur
terbuka, juga memerlukan pengendalian lingkungan secara seksama. Suhu
perawatan harus diatas 25 0 C, bagi bayi yang berat sekitar 2000 gram, dan
sampai 300 C untuk bayi dengan berat kurang dari 2000 gram
3. Inkubator
Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat didalam incubator.
Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui jendela atau lengan baju.
Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator terlebih dahulu
dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat 1,7 kg dan
32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan telanjang,
hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat bergerak tanpa
dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.
4. Pemberian oksigen
Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi
preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi
O2yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box,
konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan
kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan
5. Pencegahan infeksi
Bayi preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi
yang kurang berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki
ketahanan terhadap infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus
menggunakan gaun khusus, cuci tangan sebelum dan sesudah merawat
bayi, memakai masker, gunakan gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan
tidak boleh masuk kekamar bayi dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.
6. Pemberian makanan
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu
mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan
pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada
bayi yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah

secara relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi


preterm.
7. Petunjuk untuk volume susu yang diperlukan
Umur/hari
1
2
3
4
5
6
7
14
21
28

Jmlh ml/kg BB
50- 65
100
125
150
160
175
200
225
175
150

I. Pengkajian Fokus
1. Sirkulasi :
Nadi apikal mungkin cepat dan atau tidak teratur dalam batas normal
(120-160 dpm). Mur-mur jantung yang dapat didengar dapat menandakan
duktusarteriosus paten (PDA).
2. Makanan/cairan
Berat badan kurang 2500 (5lb 8 oz).
3. Neuroensori
Tubuh panjang, kurus, lemas dengan perut agak gendut. Ukuran kepala
besar dalam hubungannya dengan tubuh, sutura mungkin mudah
digerakan, fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. Edema kelopak
mata umum terjadi, mata mungkin merapat(tergantung usia gestasi).
Refleks tergantung pada usia gestasi ; rooting terjadi dengan baik pada

gestasi minggu 32; koordinasi refleks untuk menghisap, menelan, dan


bernafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32; komponen
pertama dari refleks Moro(ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan
membuka tangan)tampak pada gestasi minggu ke 28; komponen
keduaa(fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar) tampak pada
gestasi minggu ke 32.Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi
antara minggu 24 dan 37.
4. Pernafasan
Skor apgar mungkin rendah. Pernafasan mungkin dangkal, tidak teratur;
pernafasan diafragmatik intermiten atau periodik(40-60x/mt). Mengorok,
pernafasan cuping hidung, retraksi suprasternal dan substernal, atau
berbagai derajat sianosis mungkin ada. Adanya bunyi ampelas pada
auskultasi, menandakan adaya sindrom distress pernafasan (RDS).
5. Keamanan
Suhu berfluktuasi dengan mudah. Menangis mungkin lemah. Wajah
mungkin memar, mungkin ada kaput suksedoneum. Kulit kemerahan atau
tembus pandang, warna mungkin merah. muda/kebiruan, akrosianosis,
atau sianosis/pucat. Lanugo terdistribusi secara luas diseluruh tubuh.
Ekstremitas mungkin tampak edema. Garis telapak kaki mungkin tidak
ada pada semua atau sebagian telapak. Kuku mungkin pendek.
6. Seksualita
Genetalia : Labia minora wanita mungkin lebih besar dari labia mayora,
dengan klitoris menonjol ; testis pria mungkin tidak turun, rugae
mungkin banyak atau tidak ada pada skrotum.
(IDAI, 2004)
J. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan jalan napas berhubungan dengan penumpukan cairan di
rongga paru
2. Resiko hipotermi berhubungan dengan jaringan lemak subkotis tipis

3. Resiko tinggi infeksi sekunder berhubungan dengan immaturitas fungsi


imunologik.
4. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan lemahnya daya cerna dan absorbsi makanan.
(Ngastiyah, 2005)
K. Intervensi Keperawatan
NO
1.
Setelah

TUJUAN
mendapat

INTERVENSI
tindakan 1.1. Monitor pernafasan (kedalaman,

keparawatan 3x24 jam tidak terjadi

irama, frekuensi )

gangguan jalan nafas(nafas efektif)

1.2. Atur posisi kepala lebih tinggi

Kriteria Hasil :

1.3. Monitor keefektifan jalan nafas,

Akral hangat

Tidak ada

kalau kerlu lakukan suction.


1.4. Lakukan auskultasi bunyi nafas tiap
4 jam

sianosis
Tangisan aktif

1.5. Perthankan pemberian O2


1.6. Pertahankan bayi pada inkubator

dan kuat

RR : 30-40x/mt

Tidak ada

dengan penghangat
1.7. Kolaborasii untuk X foto thorax

retraksi otot pernafasan


2.

2.1. Pertahankan bayi pada inkubator


dengan kehangatan 37oC
2.2. Beri popok dan selimut sesuai
Setelah

mendapatkan

tindakan

keperawatan 3x24 jam tidak terjadi


gangguan hipotermi

kondisi
2.3. Ganti segera popok yang basah
oleh urine atau faeces
2.4. Hindarkan untuk sering membuka

Kriteria Hasil :

Badan hangat

Suhu : 36,5-37oC

penutup karena akan menyebabkan


fluktuasi suhu dan peningkatan laju
metabolisme
2.5. Atur suhu ruangan dengan panas
yang stabil

3.

3.1. Monitor tanda-tanda


infeksi(tumor,dolor,rubor,calor,fung

siolaesa)
3.2. Lakukan cuci tangan sebelum dan
Setelah

mendapat

tindakan

sesudah kontak dengan bayi

keperawatan 3x24 jam tidak terjadi 3.3. Anjurkan kepada ibu bayi untuk
infeksi

memakai jas saat masuk ruang bayi

Kriteria Hasil :

dan sebelum dan/sesudah kontak


Tidak ada tanda-

3.4. Barikan gizi (ASI/PASI) secara

tanda
infeksi(tumor,dolor,rubor,calor,fu

adekuat
3.5. Pastikan alat yang kontak dengan

ngsiolaesa)
Suhu tubuh normal

cuci tangan

bayi bersih/steril
3.6. Berikan antibiotika sesuai program

(36,5-37oC)

3.7. Lakukan perawatan tali pusat setiap


hari
4.

4.1. Kaji refleks menghisap dan


menelan
4.2. Monitor input dan output
4.3. Berikan minum sesuai program
lewat sonde/spin
4.4. Sendawakan bayi sehabis minum
Setelah tindakan keperawatan 3x24 4.5. Timbang BB tiap hari.
jam tidak terjadi gangguan nutrisi
Kriteria Hasil :
Diet yang diberikan

habis tidak ada residu


Reflek menghisap

dan menelan kuat


BB meningkat 100

gr/3hr.

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2014 jam 08.00 WIB
1. Identitas Data
a. Nama

: By. Ny. U

b. Alamat

: Jembangan Kec. Sukolilo Kab. Pati

c. Tanggal Lahir/ Umur

: 16 Oktober 2014/ 1 Hari

d. Jenis Kelamin

: Perempuan

e. Agama

: Islam

f. No. Register

: 302468

g. Tanggal Masuk/ Jam

: 16 Oktober 2014 jam 15.00

h. Diagnosa Medis

: Neonatus Preterm, BBLSR, Asfiksia Berat,


Neonatus Infeksius

Nama Penanggung Jawab


a. Nama Ayah

: Tn. W

b. Pendidikan

: SMA

c. Pekerjaan

: Wiraswasta

d. Nama Ibu

: Ny. U

e. Pendidikan

: SMA

f. Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

2. Keluhan Utama
Bayi menangis lemah, reflek hisap belum ada, berat bayi lahir
sangat rendah yaitu 1060 gram.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Bayi lahir pada tanggal 16 oktober 2014 di RSUD Kota Semarang
secara spontan diusia kehamilan 30 minggu dengan berat bayi lahir yaitu
1060 gram. Selain itu setelah lahir bayi tidak langsung menangis dengan

nilai apgar score yaitu 4-5-6 (asfiksia sedang), oleh karena itu bayi
sekarang dipindah keruang Perinatologi untuk mendapat tindakan lebih
lanjut.
4. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran
a. Pre Natal
Ibu klien mengatakan selama hamil memeriksakan kehamilannya
di bidan tiap 2 bulan sekali. Selama kehamilan ditemukan riwayat
penyakit kehamilan TORCH. G : 3 P : 1 A : 2.
b. Intra Natal
Bayi lahir secara spontan di usia kehamilan 30 minggu, ditandai
dengan ketuban pecah sebelum persalinan, lama persalinan 1 jam dan
bayi lahir pada jam 14.45 WIB. Panjang lahir 34 cm dan berat lahir
1060 gram.
c. Post Natal
Setelah kelahiran bayi sempat tidak menangis dan langsung
dipasang kanul O2 dengan resusitasi selama 3 menit dengan nilai
apgar score 4-5-6, keadaan lemah, nafas tidak teratur.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
a. Genogram

Keterangan
= Laki-laki

= Pasien

= Perempuan

= Tinggal serumah

6. Riwayat Sosial

a. Yang Merawat
Saat ini klien diwarat diruang perinatologi dan dirawat oleh perawat
dan sesekali ibu klien menjenguk saat jam kunjung rumah sakit.
b. Hubungan dengan Keluarga
Ibu klien bisa mengunjungi, melihat, dan menyentuh bayinya saat
berkunjung mskipun bayi dalam incubator, sedangkan ayahnya tidak
boleh melihat bayinya karena sudah aturan dari pihak rumah sakit.
7. Pola Sehari-hari
a. Nutrisi dan Metabolisme
Saat ini pasien mendapat diit susu formula khusus BBLR 3 jam sekali
sekitar 30 cc melalui selang OGT
b. Eliminasi Urine dan Feses
Klien BAB 3-5x sehari dengan konsistensi warna hitam, lembek
cair, bau khas feses bayi. BAK menggunakan pempers dan diganti
setian 6 jam sekali dan terisi 100 cc
c. Istirahat dan Tidur
Klien terlihat sering tidur dan bangun jika lapar dan merasa kotor
setelah BAB dan BAK, rata-rata tidur per hari yaitu 20-22 jam
d. Peran dan Hubungan
Keluarga mengatakan anak akan diasuh oleh orang tuanya sendiri, dan
selama ini ibu bayi menengok keruang perinatologi
e. Toleransi Stress dan Koping
Klien menangis saat merasa lapar, tidak nyaman, dan saat kotor
8. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum

: Lemas, kurang aktif, menangis lemah,


perawatan dalam inkubator

b. Tanda-tanda Vital
-

Nadi

: 132 x per menit

Pernafasan

: 40 x per menit

Suhu

: 36,2C

c. Antropometri
-

Panjang Badan

: 34 cm

Berat Lahir

: 1060 gram

Lingkar Dada

: 26 cm

Lingkar Kepala

: 23 cm

d. Kepala

: Fontanel anterior lunak, wajah simetris,


rambut hitam

e. Mata

: Simetris antara kanan dan kiri, sclera tidak


ikterik

f. Hidung

: Terpasang C-PAP Ventilator 2 lt/menit

g. Mulut

: Reflek hisap belum ada, terpasang selang


OGT, mukosa kering

h. Telinga

: Simetris kanan dan kiri, tidak ada luka

i. Dada

: Tidak ada luka, warna kecoklatan

j. Jantung
-

Inspeksi

: Tampak ictus cordis

Palpasi

Perkusi

: Tak terkaji

Auskultasi

: BJ I & II regular, tidak terdengar gallop

: Ictus cordis teraba dengan getaran

k. Paru
-

Inspeksi

: Gerakan pernafasan kanan-kiri simetris,


RR : 40 x per menit

Palpasi

: Rabaan gerak pernafasan simetris

Perkusi

: Redup/ Dullness

Auskultasi

: Ronchi

l. Abdomen
-

Inspeksi

: Pusar insersi ditengah, buncit, terpasang


infus umbilical

Auskultasi

: Peristaltik usus 18 x per memit

Palpasi

: Lunak, tidak ada pembesaran

hati/limfa
-

Perkusi

: Tympani

m. Punggung

: Bentuk tulang belakang semi fleksi

n. Genetalia

: Jenis kelamin perempuan, labia mayora


belum menutupi labia minora, anus paten

o. Ekstremitas
-

Atas

Bawah

: Lengkap, tidak ada kelainan


: Lengkap, tidak ada kelainan, kaki

kanan
terpasang SPO2, akral sedikit dingin
p. Kulit

: Warna kulit coklat gelap, tidak ikterik,


turgor kulit cukup

9. Therapi
-

PO Ferlin drop 1x0.3cc

O2 nasal kanul 0.5 liter/menit

Susu formula BBLR 8x30cc/hari melalaui selang OGT

Termoregulasi incubator suhu 34C

Infuse umbilical 5%

10. Data Penunjang


Laboratorium tanggal 16-10-2014
Pemeriksaan
Hematologi
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah Eritrosit
Jumlah Lekosit
Jumlah Trombosit
Kimia Klinik
Natrium
Kalium
Calsium

Hasil

Satuan

Nilai Normal

15.9
49.50
4.14
24.7
249

g/Dl
%
/Ul
/Ul
10^3/ul

12.0-16.0
37-47
4.2-5.4
4.8-10.8
150-400

137.0
5.30
1.20

mmol/L
mmol/L
mmol/L

134.0-147.0
3.50-5.20
1.12-1.32

B. ANALISA DATA
NO
1

DATA
DS : DO :
- Akral sedikit dingin
- Lahir premature 30 minggu
- BBLRS 1060 gram
- Suhu tubuh 36,2C

DS : DO :
- Keadaan umum lemah
- Lahir premature 30 minggu
- BB 1060 gram
- Suhu tubuh 36,2C

PROBLEM
Resiko hipotermi

ETIOLOGI
Jaringan
lemak
subkotis tipis

Resiko Infeksi

Prematuritas
dan
system imun yang
tidak adekuat

- Perawatan dalam inkubator

- Lekosit 24.7/uL
DS : DO :
- Terpasang selang OGT
- Reflek hisap lemah
- BB 1060 gram
- Terpasang infus umbilical
D5%
DS : DO :
- Terpasang ventilator 2lt/menit
- RR 40x/menit
- Perkusi paru dullness
- Auskultsi paru ronkhi

Ketidakseimbangan Prematuritas,
nutrisi : kurang dari ketidakmampuan
kebutuhan tubuh
mengabsorbsi nutrisi

Ketidakefektifan
jalan nafas

Penumpukan cairan
di rongga paru

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO
1

TANGGAL
17/10/2014

17/10/2014

17/10/2014

17/10/2014

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan
penumpukan cairan dirongga paru
Resiko hipotermi berhubungan dengan jaringan
subkotis tipis
Ketidakefektifan nutrisi : kurang darin kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan
prematuritas,
ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi
Resiko infeksi berhubungan dengan Prematuritas
dan system imun yang tidak adekuat

PARAF

D. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Ketidakefektifan
pola nafas
berhubungan
dengan
penumpukan cairan
dirongga paru,
penurunan ekspansi
paru

INTERVENSI KEPERAWATAN
TUJUAN
TINDAKAN
RASIONAL
Setelah dilakukan - Observasi
- Sebagai
tindakan
TTV, cuping
acuan
keperawatan
hidung,
penatalaksa
selama 3x24 jam
retraksi dada
naan
jalan
nafas - Berikan
tindakan
adekuat, dengan
terapi
O2 - Mensuplai
kriteria hasil :
2lt/menit
O2 dalam
- Pernafasan
tubuh
- Posisikan
adekuat 16-30
klien semi - Memberikan
x/menit
fowler
rasa nyaman
- Perkusi paru - Jaga
klien
sonor
- Jalan nafas
kepatenan
- Auskultasi
jalan nafas :
tidak
ada
vesikuler
suction
sumbatan
- Tidak
ada
penumpukan
cairan di paru
Resiko hipotermi Setelah dilakukan -Pantau suhu - Sebagai
berhubungan
tindakan
setiap 3 jam
acuan
dengan
jaringan keperawatan
sekali
penatalaksa
subkotis tipis
selama 3x24 jam
naan
hipotermi tubuh
tindakan
stabil , dengan
-Atur
suhu - Mengikuti
kriteria hasil :
incubator
program
- Suhu tubuh
normal
36- sesuai indikasi
yang
37,5C
-Hindarkan
dianjurkan
- Akral hangat
bayi
kontak
- Bayi
tidak langsung
menggigil
dengan
sumber
dingin/panas
-Ganti popok - Menjaga
bila basah
kenyamanan
klien

Ketidakefektifan
nutrisi : kurang dari
kebutuhan
tubuh
berhubungan
dengan
prematuritas,

Setelah dilakukan - Monitor BB - mengetahui


tindakan
klien
perkembang
keperawatan
an
nutrisi
selama
3x24
bayi
kebutuhan nutrisi
terpenuhi
,

TT

ketidakmampuan
mengabsorbsi
nutrisi

dengan
kriteria - Pasang
hasil :
selang OGT
- BB seimbang
2500-3500
gram
- Kaji
- Reflek hisap
kemampuan
kuat
reflek hisap
- Intake
ASI
- Monitor
adekuat
asupan
intake dan
output
cairan
- Kolaborasi
dengan ahli
gizi untuk
pemberian
nutrisi
Resiko
infeksi Setelah dilakukan - Pantau tanda
berhubungan
tindakan
gejala
dengan
keperawatan
infeksi
:
Prematuritas
dan selama 3x24 tidak
suhu,
system imun yang terjadi
infeksi,
lekosit,
tidak adekuat
dengan
kriteria
penurunan
hasil :
BB
- Tidak
ada - Batasi
tanda tanda
jumlah
infeksi
pengunjung
- Jumlah
lekosit dalam
batas normal - Gunakan
5000-10000
teknik
aseptic
selama
berinteraksi
dengan klien
- Bersihkan
incubator
secara
berkala

- membantu
suplai
nutrisi untuk
tubuh
- indikasi bayi
mampu
menyerap
nutrisi
- mengatur
keseimbang
an
cairan
pada klien

- asupan
nutrisi bayi
bisa
tercukupi

- Sebagai
acuan
penatalaksa
naan
tindakan

- Memberi
kenyamanan
pada klien

- Agar

tidak
terjadinya
infeksi pada
klien

- Menjaga

incubator
tetap terjaga
kebersihann
ya
- Berikan anti - Mencegah
biotik sesuai
penyebaran
advis dokter
infeksi

E. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO
DX
1,2,
3,4

TANGGAL
JAM
17 Okt 2014
08.00

TINDAKAN

RESPON KLIEN

- Mengobservasi ttv,cuping
hidung retraksi dada

S:O : Nadi : 132x/mnt ,


RR : 40x/mnt , S : 36,2

09.00

-Memberikan terapi O2 2ltr/menit

S:O : klien tampak


terpasang ventilator O2
2ltr/mnt dengan SPO2
98%

10.00

-Memposisikan semi fowler


S:O:
klien
tampak
nyaman dengan posisi
semi fowler

10.30

-Memantau suhu klien


-Memonitor BB klien

S:O : Suhu klien 36,2

11.00

12.00

-Membersihkan incubator secara


berkala

14.00

-mengkaji reflek hisap

15.00

-memasang selang OGT

18.00

-mengkolaborasi dengan ahli gizi


untuk pemberian nutrisi

18 oktober - memberikan terapi O2 2lt/menit


2014
03.00

S:O : BB : 1060 gram ,


LD : 26 cm , PB :
34cm , LK : 23cm
S:O : Incubator tampak
bersih
S:O : Reflek hisap klien
tampak lemah
S:O : Terpasang selang
OGT pada klien
S:O : klien mendapat diit
susu 30cc/OGT
S:O : klien tampak
terpasang ventilator O2
2ltr/mnt dengan SPO2
88%

TT

05.00

- menjaga kepatenan jalan nafas :


suction

1,2,
3,4

10.00

- mengobservasi ttv,cuping hidung


retraksi dada

10.15

- memberikan anti biotik sesuai


advis dokter

12.00

- mengkaji kemampuan reflek


hisap

13.00

- mengatur suhu incubator sesuai


indikasi

17.00

- membatasi jumlah pengunjung

17.30

- Memonitor asupan intake dan


output cairan

20.00

- mengkolaborasi dengan ahli gizi


untuk pemberian nutrisi

1,2,
3,4

19 oktober - mengobservasi ttv,cuping hidung


2014
retraksi dada
10.00

10.20

- Memberikan terapi O2 2ltr/menit

12.00

- Mengganti popok bila basah

12.15

- menggunakan teknik aseptic


selama
klien

12.40

berinteraksi

dengan

- memberikan anti biotik sesuai


advis dokter

S:O : Cairan dalam


tabung suction tampak
jernih
S:O : Suhu : 36C Nadi :
100x/menit,
RR
:
48/menit
S:O : klien mendapat
terapi PO Ferlin drop
1x0,3cc
S:O : reflek hisapklien
masih tampak lemah
S:O : Terlihat suhu
incubator klien 34oC
S :O : tampak hanya ada
satu pengunjung di
ruangan
S:O : terlihat diit yang
diberikan habis, tidak
ada residu
S:O : klien mendapat diit
susu BBLR 30cc/OGT
S:O : suhu : 36,4oC ,
nadi : 100x/menit RR :
45x/menit
S:O : klien masih tampak
terpasang ventilator O2
2ltr/mnt dengan SPO2
90%
S : ( klien menangis)
O : klien tampak
menangis
saat
popoknya diganti

S:O : klien terpasang


infus umbilical 5%
dengan teraphi PO

Ferlin drop 1x0,3cc


3

14.00

- mengkolaborasi dengan ahli gizi


untuk pemberian nutrisi

S:O : klien masih


terpasang OGT dengan
diit 30cc

F. EVALUASI
NO
DX
1

TANGGAL
JAM
17-10-2014
14.00

14.00

EVALUASI
S:O : Klien tampak terpasang ventilator O2 2ltr/mnt dengan
SPO2 98% , auskultasi paru : ronchi
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Berikan terapi O2 2lt/m
- Jaga kepatenan jalan napas (suction)
- Observasi ttv,cuping hidung,retraksi dada
- Posisikan klien semi fowler

14.00

S:O : Suhu : 36,2


A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Atur suhu incubator sesuai indikasi
- Pantau suhu setiap 3 jam sekali
- Ganti popok bila basah
- Hindarkan bayi kontak langsung dengan
sumber dingin/panas

14.00

S:O : BB : 1060gram
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor BB klien
- Monitor asupan intake dan output cairan
- Kaji kemampuan reflek hisap
- Pasang selang OGT
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian nutrisi
S:-

TT

18-10-2014
14.00

14.00

14.00

14.00

19-10-2014

O : Hasil leukosit klien 24.7


A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- pantau tanda gejala infeksi suhu , lekosit,
penurunan BB
- berikan antibiotic sesuai advis dokter
- batasi jumlah pengunjung
- gunakan tekhnik aseptic selama
berinteraksi dengan klien
S:O : Cairan dalam tabung suction tampak jernih
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Berikan terapi O2 2lt/m
- Jaga kepatenan jalan napas (suction)
- Observasi ttv,cuping hidung,retraksi dada
- Posisikan klien semi fowler
S:O : Suhu : 36oC
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Atur suhu incubator sesuai indikasi
- Pantau suhu setiap 3 jam sekali
- Ganti popok bila basah
- Hindarkan bayi kontak langsung dengan
sumber dingin/panas
S:O : Klien tampak masih terpasang OGT dengan diit 30cc
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor BB klien
- Monitor asupan intake dan output cairan
- Kaji kemampuan reflek hisap
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian nutrisi
S:O : Leukosit 24.7
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- pantau tanda gejala infeksi suhu , lekosit,
penurunan BB
- berikan antibiotic sesuai advis dokter
- gunakan teknik aseptic selama berinteraksi
dengan klien

14.00

14.00

14.00

14.00

bersihkan incubator secara berkala

S:O : Klien tampak terpasang ventilator O2 2ltr/mnt dengan


SPO2 90% , auskultasi : ronchi
A : Masalah teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Berikan terapi O2 2lt/
- Jaga kepatenan jalan napas (suction)
- Observasi ttv,cuping hidung,retraksi dada
- Posisikan klien semi fowler
S :O : Suhu 36,4oC
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
- Atur suhu incubator sesuai indikasi
- Pantau suhu setiap 3 jam sekali
- Hindarkan bayi kontak langsung dengan
sumber dingin/panas
- Ganti popok bila basah
S :O : Klien tampak masih terpasang infus umbilikel 5%
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- Monitor BB klien
- Monitor asupan intake dan output cairan
- Kaji kemampuan reflek hisap
- Pasang selang OGT
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian nutrisi
S:
O : Hasil leukosit 24,7
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan intervensi
- pantau tanda gejala infeksi suhu , lekosit,
penurunan BB
- berikan antibiotic sesuai advis dokter
- batasi jumlah pengunjung
- gunakan teknik aseptic selama berinteraksi
dengan klien
- bersihkan incubator secara berkala

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada bab ini kelompok akan melakukan pembahasan tentang
kesenjangan antara tinjauan teori dan praktik pada kasus Asuhan
Keperawatan pada By. Ny. U dengan BBLR, Asfiksia di Ruang Nakula IV
RSUD Kota Semarang. Pembahasan ini terdiri dari pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi dan evaluasi. kelompok akan membahas secara
lengkap dari pengkajian sampai evaluasi yang dilakukan pada tanggal 17
Oktober - 19 Oktober 2014.
Diagnosa yang muncul
Penulis melakukan pengkajian pada hari selasa tanggal 17 Oktober
2014 pada pukul 08.00 WIB diruang Nakula IV RSUD Kota Semarang.
Pada bab pembahasan ini kelompok akan melakukan penjelasan tentang
Asuhan Keperawatan Pada By. Ny. U dengan Diagnosa BBLR, Asfiksia.
kelompok akan menjelaskan tentang perbandingan hasil penatalaksanaan
dengan teori serta dilakukan penekanan mekanisme apa yang sama dan
apa yang berbeda.
Dari teori diatas,terdapat kesesuaian antara teori dan praktek. Ini
didukung oleh data pasien yang menunjukkan pada Riwayat Penyakit
Sekarang Bayi menangis lemah, reflek hisap belum ada, berat bayi lahir
sangat rendah yaitu 1060 gram.
Dari masalah yang dialami klien, kelompok menetapkan 4
diagnosa untuk mengatasi masalah yang klien rasakan yaitu yang pertama
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penumpukan cairan

dirongga paru, penurunan ekspansi paru, yang kedua Resiko hipotermi


berhubungan dengan jaringan subkotis tipis, yang ketiga Ketidakefektifan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan prematuritas,
ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi, dan yang ke empat Resiko infeksi
berhubungan dengan Prematuritas dan system imun yang tidak adekuat
Diagnosa

Prioritas

utama

yang

kelompok

ambil

adalah

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan penumpukan cairan


dirongga paru, penurunan ekspansi paru
1. Ketidakefektifan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan cairan
dirongga paru.

Menurut buku diagnosa Nanda tahun 2012, Ketidakefektifan


jalan nafas berhubungan dengan penumpukan cairan di rongga paru adalah

ketidakmampuan untuk membersihkan secret atau obstruksi saluran


nafas guna mempertahankan jalan nafas yang bersih. Pada bayi
prematur dan bblr biasanya sistem pernafasan belum matang sehingga
pernafasan belum sempurna ditambah ketuban pecah sebelum
kelahiran beresiko masuk kedalam paru bayi yang berakibat pada saat
pemeriksaan fisik paru akan didapatkan suara ronchi.
Batasan karakteristik : dispnea, suara nafas tambahan (ronchi
atau weezing), perubahan pada irama dan frekuensi pernafasan
sianosis, penurunan suara nafas, sputum berlebih, gelisah serta mata
terbelalak.
Intervensi yang kelompok ambil yaitu: Observasi TTV : cuping
hidung, retraksi dada, Berikan terapi O2 2lt/menit, Posisikan klien semi
fowler, Jaga kepatenan jalan nafas : suction Kemudian implementasi yang

kelompok lakukan sesuai dengan intervensi selama 3 hari 3x24 jam


adalah: mengobservasi TTV : cuping hidung, retraksi dada, memberikan
terapi O2 2lt/menit, memposisikan klien semi fowler, menjaga kepatenan
jalan nafas : suction Dari intervensi dan implementasi yang telah

dilakukan, kelompok mendapatkan evaluasi pada hari ke 3 tanggal 19


oktober 2014 pukul 14.00 yaitu: dari data objektif klien masih
menangis lemah, RR 44x/ menit, SPO2 98%.

2. Resiko hipotermi berhubungan dengan jaringan lemak subkotis tipis

Menurut buku diagnosa Nanda tahun 2012, hipotermi


berhubungan dengan jaringan lemak subkotis tipis adalah suhu tubuh
dibawah rentang normal akibat jaringan lemak dibawah subkutis
sangat tipis. Karena cadangan lemak di subkutis pada bayi prematur
dan bblr kurang, maka tubuh tidak dapat menyimpan panas yang
berakibat mudah kehilangan panas sehingga menyebabkan hipotermi.
Batasan karakteristik : kulit dingin, bantalan kuku sianosis, hipertensi,
pucat, merinding, penurunan suhu dibawah rentang normal, menggigil,
pengisian ulang kapiler lambat, takikardia.
Intervensi yang kelompok ambil yaitu : Pantau suhu setiap 3 jam
sekali, Atur suhu incubator sesuai indikasi, Hindarkan bayi kontak langsung
dengan sumber dingin/panas, Ganti popok bila basah. Kemudian
implementasi yang kelompok lakukan, sudah sesuai dengan intervensi dan
dilaksanakan selama 3x24 jam.
Dari intervensi dan implementasi yang telah dilakukan,
kelompok mendapatkan evaluasi pada hari ke 3 tanggal 19 oktober
2014 pukul 14.00 yaitu : dari data subjektif ditemukan data Suhu
36,4Oc

3. Ketidakefektifan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan prematuritas, ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi


Menurut buku diagnosa Nanda tahun 2012, Ketidakefektifan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
prematuritas, ketidakmampuan mengabsorbsi nutrisi adalah Asupan
nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolic. Pada
bayi prematur dan bblr biasanya ditemukan reflek menelan dan hisap

yang belum sempurna sehingga intake nutrisi yang dibutuhkan tubuh


menjadi terganggu, maka terjadilah ketidakseimbangan nutrisi kurang
dari kebutuhan tubuh.
Batasan

karakteristik

menolak

makan,

kurangnya

makanan, diare, bising usus hiperaktif, kurangnya minat terhadap


makanan,membrane mukosa pucat. Intake tidak adekuat menyebabkan
nutrisi kurang karena apabila masukan makanan klien tidak adekuat
maka nutrisi yang masuk tidak mencukupi untuk kebutuhan
metabolismenya sehingga terjadi kekurangan nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh. Data yang terdapat dalam teori dan data yang
diperoleh dari klien

terdapat kesesuain atau tidak ditemukan

kesenjangan, hal ini dibuktikan dengan data refles hisap pada klien
belum ada, dank lien hanya bisa mengabsorbsi nutrisi melalui selang
OGT. Diagnosa tersebut menjadi prioritas ketiga karena Apabila
kebutuhan nutrisi kurang terus menerus dan tidak segera ditangani
pasien akan menimbulkan penurunan penyaluran oksigen ke jaringan
karena Hb terus menurun.
Intervensi yang kelompok ambil yaitu : Monitor BB klien, Pasang
selang OGT, Kaji kemampuan reflek hisap, Monitor asupan intake dan output
cairan, Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi dan kelompok
sudah melakukan implementasi sesuai dengan intervensi selama 3x24 jam.

Dari intervensi dan implementasi yang telah dilakukan,


kelompok mendapatkan evaluasi pada hari ke 3 tanggal 19 oktober
2014 pukul 14.00 yaitu: reflek hisap bayi masih lemah, selang OGT
masih terpasang
4. Resiko infeksi berhubungan dengan Prematuritas dan system imun

yang tidak adekuat


Menurut buku diagnose NANDA 2012, Resiko infeksi
berhubungan dengan Prematuritas dan system imun yang tidak adekuat
adalah beresiko terhadap invasi organisme pathogen. Karena pada bayi

prematur dan bblr sistem imun sebagai pertahanan atau kekebalan


tubuh yang belum adekuat akan menyebabkan mudahnya virus/bakteri
akan masuk kedalam tubuh dan terjadilah infeksi. Pada data
pengkajian ditemukan tanda-tanda resiko infeksi pada klien meliputi :
kadar leukosit diatas normal yaitu 24,7/uL.
Batasan Kharakteristik : penekanan system imun, pertahanan
sekunder yang tidak memadai (HB turun Leukositopenia, dan supresi
respon

inflamasi),

malnutrisi,

ketuban

pecah,

kerusakan

jaringan,trauma.
Intervensi yang kelompok ambil yaitu : Pantau tanda gejala
infeksi : suhu, lekosit, penurunan BB, Batasi jumlah pengunjung, Gunakan
teknik aseptic selama berinteraksi dengan klien , Bersihkan incubator secara
berkala, Berikan anti biotik sesuai advis dokter dan kelompok sudah
melakukan implementasi sesuai intervensi selama 3x24 jam.

Dari intervensi dan implementasi yang telah dilakukan,


kelompok mendapatkan evaluasi pada hari ke 3 tanggal 19 oktober
2014 pukul 14.00 yaitu: dari data subyektif kadar lekosit 24.7

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penulis menguraikan beberapa kesimpulan pada pada bayi dengan
berat lahir yaitu : bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat
lahir kurang dari 2500 gram, tanpa memandang masa gestasi, berat lahir
rendah adalah yang ditimbang dalam 1 (satu) jam setelah bayi lahir
Penanganan bayi dengan berat badan lahir rendah bergantung pada
besara kecilnya bayi. Semakin kecil bayi dan semakin premature bayi, maka
semakin besar perawatan yang diperlukan, karena kemungkinan terjadi
serangan sianosis lebih besar. Semua perawatan bayi harus dilakukan didalam
incubator. Bayi dengan berat lahir rendah, mempunyai kesulitan dalam
mempertahankan suhu tubuh. Bayi akan berkembang secara memuaskan, asal
suhu rectal dipertahankan antara 35,50 C s/d 370 C.. Bayi berat rendah harus
diasuh dalam suatu suhu lingkungan dimana suhu normal tubuhnya
dipertahankan dengan usaha metabolic yang minimal. Bayi berat rendah yang
dirawat dalam suatu tempat tidur terbuka, juga memerlukan pengendalian
lingkungan secara seksama. Suhu perawatan harus diatas 25

C, bagi bayi

yang berat sekitar 2000 gram, dan sampai 300 C untuk bayi dengan berat
kurang dari 2000 gram. Bayi dengan berat badan lahir rendah, dirawat
didalam incubator. Prosedur perawatan dapat dilakukan melalui jendela
atau lengan baju. Sebelum memasukkan bayi kedalam incubator, incubator
terlebih dahulu dihangatkan, sampai sekitar 29,4 0 C, untuk bayi dengan berat
1,7 kg dan 32,20C untuk bayi yang lebih kecil. Bayi dirawat dalam keadaan
telanjang, hal ini memungkinkan pernafasan yang adekuat, bayi dapat
bergerak tanpa dibatasi pakaian, observasi terhadap pernafasan lebih mudah.

Ekspansi paru yang buruk merupakan masalah serius bagi bayi


preterm BBLR, akibat tidak adanya alveoli dan surfaktan. Konsentrasi
O2yang diberikan sekitar 30- 35 % dengan menggunakan head box,
konsentrasi o2 yang tinggi dalam masa yang panjang akan menyebabkan
kerusakan pada jaringan retina bayi yang dapat menimbulkan kebutaan. Bayi
preterm dengan berat rendah, mempunyai system imunologi yang kurang
berkembang, ia mempunyai sedikit atau tidak memiliki ketahanan terhadap
infeksi. Untuk mencegah infeksi, perawat harus menggunakan gaun khusus,
cuci tangan sebelum dan sesudah merawat bayi, memakai masker, gunakan
gaun/jas, lepaskan semua asessoris dan tidak boleh masuk kekamar bayi
dalam keadaan infeksi dan sakit kulit.
Pemberian makanan secara dini dianjurkan untuk membantu
mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperbillirubin. ASI merupakan
pilihan pertama, dapat diberikan melalui kateter ( sonde ), terutama pada bayi
yang reflek hisap dan menelannya lemah. Bayi berat lahir rendah secara
relative memerlukan lebih banyak kalori, dibandingkan dengan bayi preterm.

B. Saran
-

Diharapkan kepada mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan


agar dapat mengerti, memahami dan dapat menjelaskan tentang BBLR
baik dari pengertian, patofisiologi, etiologi, manifestasi klinis maupun
pencegahan serta penerapan asuhan keperawatannya.

Mahasiswa diharapkan lebih banyak menggali kembali tentang BBLR.


Ilmu yang didapatkan dapat diterapkan dalam kehidupan masyarakat.

Diharapkan kepada tim kesehatan maupun mahasiswa keperawatan


untuk lebih meningkatkan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat
mengenai pencegahan bayi BBLR.

DAFTAR PUSTAKA
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Prawirohardjo, Sarwono. 2005. ILMU KEBIDANAN. Jakarta : YBP-SP.
Indrasanto Eriyati. Dkk. 2008. Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal
Emergency Komprehensif (PONEK) : Asuhan Neonatal Esensial. Jakarta :
JNPK, KR, IDAI, POGI.
Judith M. Wilkinson & Nancy R. Ahern. 2012. Buku Saku Diagnosis
Keperawatan. Edisi 9. Jakarta : EGC.
Suriyadi, Yuliani. 2006. Buku Pegangan Praktik Asuhan Keperawatan Pada
Anak. Ed.2. Jakarta : CV. Agung Seto.
Potter, P. A, Perry, A. G. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik. Ed.4 Vol.2. Jakarta : EGC.