Sei sulla pagina 1di 124

MODUL 1 STUDI TENTANG

PEMERINTAHAN KHUSUSNYA

ETIKA

UMUMNYA

DAN

ETIKA

ADMINISTRASI

KEGIATAN BELAJAR 1
ETIKA SEBAGAI SALAH SATU CABANG DARI RINCIAN FILSAFAT SISTEMATIS
Sebelum Anda mempelajari etika umum dan etika administrasi pemerintahan, sebaiknya Anda mengetahui
lebih dahulu filsafat sistematis dan persoalan-persoalannya sebab etika merupakan cabang dari filsafat
sistematis.
Filsafat dan Persoalan-persoalan Filsafati
Filsafat lahir dan mulai berkembang ketika manusia merasa kagum terhadap dunia sekelilingnya. Filsafat
sebagai suatu rangkaian kegiatan budi manusia pada dasarnya adalah pemikiran reflektif. Pemikiran itu
senantiasa bersifat memantul dalam arti menengok diri sendiri. Pemantulan diri itu dilakukan dengan
senantiasa bertanya dan mencari jawaban terhadap berbagai masalah yang sangat mencengangkan manusia
sejak dahulu sampai sekarang. Budi pikiran itu dicengangkan oleh aneka masalah dan manusia melakukan
perenungan untuk menenangkannya agar bebas dari ketidaktahuan. Kini masalah-masalah yang
mencengangkan itu oleh para filsuf disebut persoalan filsafati.
Segenap persoalan filsafati secara sistematis dapat dibedakan menjadi 6 jenis persoalan yang berikut.
1. Persoalan metafisis.
2. Persoalan epistemologis.
3. Persoalan metodologis.
4. Persoalan logis.
5. Persoalan etis.
6. Persoalan estetis.
Marilah kita pelajari apa yang dimaksud dengan masing-masing jenis persoalan tersebut pada uraian berikut
ini.
1. Persoalan metafisis yang paling pokok menyangkut keberadaan dan segala sesuatu di alam semesta ini.
Pokok pertikaian yang diperbincangkan oleh para filsuf, misalnya apakah alam semesta ini suatu hal yang
nyata ataukah hanya ide saja?
2. Persoalan epistemologis yang paling pokok menyangkut asal mula pengetahuan. Pokok pertikaian di
kalangan filsuf, misalnya apakah asal mula pengetahuan itu akal ataukah indra manusia?
3. Persoalan metodologis berpusat pada metode memperoleh pengetahuan. Salah satu pokok pertikaiannya
ialah metode manakah yang paling tepat untuk mencapai pengetahuan yang benar?
4. Persoalan logis bertalian dengan penalaran yang betul. Pokok pertikaian yang ingin diselesaikan,
misalnya asas atau aturan apakah yang menjamin bahwa suatu penyimpulan yang dibuat manusia sudah
tepat?
5. Persoalan etis menyangkut moralitas manusia. Moralitas adalah suatu himpunan ide mengenai apa yang
baik atau buruk pada perilaku dan apa yang benar dan salah pada tindakan manusia.

6. Persoalan estetis berpusat pada keindahan dan hal-hal, lainnya yang bertalian dengan itu. Suatu pokok
pertikaian yang sampai sekarang masih diperbincangkan, misalnya apakah keindahan itu bersifat objektif
ataukah bersifat subjektif?
Selanjutnya berdasarkan 6 jenis persoalan filsafati tersebut di atas, bidang pengetahuan filsafat dapat dibagi
secara sistematis dalam 6 cabang yang berikut.
a. Metafisika.
b. Epistemologi.
c. Metodologi.
d. Logika.
e. Etika.
f. Estetika.
Namun, sebuah cabang yang ke-7 harus ditambahkan, yaitu g. segi sejarah dan filsafat yang memotong
secara melintang 6 cabang itu maupun sejarah menurut urutan waktu dan berdasarkan pembagian negara. Ke7 cabang filsafat sistematis itu membentuk seluruh bidang pengetahuan filsafat sistematis yang dibedakan
dengan filsafat khusus dan keilmuan. Bagai para mahasiswa yang berminat mempelajari segenap bidang
pengetahuan filsafat dipersilakan membaca buku kami yang terdahulu berjudul Suatu Konsepsi ke Arah
Penertiban Bidang Filsafat, cetakan ke-3, 1979 (Terjemahan Drs. Au Mudhofir) atau naskah aslinya yang
terbit kemudian dengan judul Philosophy as an Element of Human Existence: A Systematic Clarification,
1998.
Untuk lebih memperdalam pemahaman Anda tentang tujuh cabang filsafati tersebut marilah kita masuki
penjelasan berikut.
A. METAFISIKA
Istilah metafisika merupakan suatu ciptaan yang belakangan. Sesungguhnya istilah itu menunjuk pada 13
buku-buku Aristoteles sesudah buku-buku yang membahas fisika. Dalam istilah Aristoteles, ilmu yang
mempelajari hal ada sebagai hal ada dinamakan prote philosophia (artinya filsafat pertama), sedangkan fisika
oleh Aristoteles disebut filsafat kedua.
Metafisika yang asal mulanya dalam konsepsi Aristoteles adalah studi tentang hal ada sebagai hal ada (hal
ada sebagai demikian) mengalami perubahan yang luas sehubungan dengan objeknya, tekanan maupun
peristilahannya. Filsafat ini membahas semua hal ada yang nyata.
Sebagian filsuf kemudian mempertahankan bahwa objek metafisika yang setepatnya ialah kenyataan,
keberadaan, dan alam semesta. Dengan demikian, konsep-konsep yang paling pusat dan metafisika di
samping hal ada ialah kenyataan, keberadaan, dan alam semesta. Secara tradisional metafisika dicirikan
sebagai studi yang paling fundamental, paling komprehensif, dan sepenuhnya kritis terhadap diri sendiri
dibandingkan dengan semua studi lainnya. Metafisika bersifat fundamental karena pertanyaan-pertanyaannya
mengenai apakah yang ada atau sifat dasar yang sedalam-dalamnya dari hal- hal mendasani semua
penyelidikan khusus. Metafisika bersifat komprehensif karena generalitasnya yang sangat umum dan
sangkutannya dengan dunia sebagai suatu kenyataan. Metafisika kritis terhadap diri sendiri karena metafisika
berlangsung tanpa asumsi-asumsi.
Dalam perkembangannya yang terakhir ada filsuf yang berpendapat bahwa metafisika harus membahas
manusia dalam kaitannya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai hakikat manusia dan pentingnya dalam
alam semesta. Contohnya adalah J. Donald Butler menekankan pentingnya studi tentang manusia sebagai

suatu segi lain dari metafisika dengan menyatakan demikian (dalarn bukunya Four Philosophies and
TheirPractice in Education and Religion, 1951, p. 17):
Man is an important object of study in metaphysics because he has the unique position of being subject as
well as object. For when we philosophize about man we are talking about ourselves. And thinking man is in
the singular position of examining his own nature. This becomes significant in view of the possibility that
ultimate reality, for which we are looking in metaphysical investigation, is not all on the outside of Nature to
be viewed by the naked eye, but instead is behind visible and evident things.
(Manusia merupakan sebuah objek studi yang penting datam metafisika karena ia mempunyal kedudukan
khas sebagai subjek maupun objek. Sebab ketika kita berfilsafat tentang manusia, kita sedang membicarakan
diri kita sendiri. Dan manusia yang berpikir berada dalam kedudukan tunggat memeriksa sifat dasarnya
sendiri. Ini menjadi penting dari pandangan kemungkinan bahwa kenyataan penghabisan, untuk itu kita
mencarinya dalam penyetidikan metafisis, tidak semuanya berada di luar alam untuk dipandang dengan mata
telanjang, melainkan sebaliknya berada di balik benda-benda yang dapat ditihat dan nyata).
Sebagai suatu catatan terakhir perlulah ditegaskan bahwa metafisika adalah salah satu cabang dan filsafat
sistematis yang membahas jenis-jenis persoalan filsafati tentang hal ada, kenyataan, keberadaan, alam
semesta, dan manusia sendiri.
B. EPISTEMOLOGI
Hampir semua filsuf berpendapat bahwa epistemologi merupakan studi filsafati terhadap pengetahuan,
khususnya tentang kemungkinan, asal-mula, validitas, batas, sifat dasar, dan segi-segi pengetahuan lainnya
yang berkaitan. Karangan tentang sejarah epistemologi dalam The Encyclopedia of Philosophy, Volume 3
(1967) mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan sifat dasar dan ruang
lingkup dari pengetahuan, praanggapan-praanggapan dan dasar-dasarnya, serta reliabilitas umum dari
tuntutan akan pengetahuan.
Epistemologi adalah setua filsafat itu sendiri. Plato dapat dikatakan merupakan pencipta yang sesungguhnya
dan epistemologi karena ia berusaha membahas pertanyaan dasar, seperti Apakah pengetahuan itu? Di mana
pengetahuan pada umumnya diperoleh? Apakah pancaindra memberikan pengetahuan? Dapatkah akal
menyediakan pengetahuan?
C. METODOLOGI
Filsafat modem telah dipenuhi dengan persoalan-persoalan tentang metode. Ini melahirkan suatu cabang baru
dalam bidang pengetahuan filsafat sistematis yang dikenal secara luas dewasa ini sebagai metodologi.
Cabang filsafat ini menunjuk pada studi filsafat tentang metode pada umumnya. Maksud dari metode ialah
suatu tata cara yang telah dirancang dan dipakai dalam proses memperoleh pengetahuan jenis apa pun,
apakah pengetahuan akal sehat, pengetahuan humanistik dan historis, atau pengetahuan filsafati dan ilmiah.
Persoalan-persoalan metodologis dapat timbul tidak hanya dalam filsafat, melainkan juga dalam bidang
berbagai ilmu. Oleh karena itu, kini metodologi cukup tepat dibedakan menjadi metodologi filsafati dan
metodologi ilmiah.
Metodologi filsafati membahas semua persoalan tentang metode-metode filsafat. Hal ini bukan suatu usaha
yang mudah dan sederhana karena banyak metode dipakai, dapat dipakai, dan perlu dipakai. Banyak filsuf
dewasa ini menyadari bahwa tidak ada metode yang khas bagi filsafat. William James mengatakan bahwa
para filsuf dapat mempergunakan sesuatu metode apa pun secara bebas. Karl Popper berpendapat bahwa
filsuf-filsuf adalah sebebas yang lainnya untuk mempergunakan metode apa saja dalam mencari kebenaran.
Jadi, ada banyak macam metode dalam filsafat dan salah satu di antaranya ialah metode logika. Salah satu
segi dan metode logika ialah dedukasi. Pada kelanjutannya deduksi adalah salah satu dari berbagai ragam
penyimpulan. Ini membawa penjelasan selanjutnya dan metodologi pada logika.

D. LOGIKA
Bilamana satu pernyataan atau lebih membawa kepada suatu pernyataan baru yang harus diterima apabila
pernyataan yang semula diterima, hanya semata-mata karena bentuknya dan bukan isi dari pernyataan semula
itu, proses memperoleh pernyataan yang baru itu disebut penyimpulan deduktif. Logika dapat dicirikan
sebagai suatu teori tentang penyimpulan deduktif atau suatu cabang filsafat yang bersangkutan dengan
aturan-aturan penyimpulan yang sah.
Berhubung dengan perkembangan logika yang luar biasa pada waktu akhir-akhir ini logika dapat dipelajari
demi kepentingan intrinsiknya sendiri atau untuk penerapannya, dalam berbagai bidang intelektual. Logika
mempunyai banyak penerapan yang jauh melampaui batas dan sesuatu cabang ilmu tunggal. Patokan-patokan
kritisnya mempunyai penerapan dalam sesuatu ilmu yang memakai penyimpulan dan dalam sesuatu bidang
yang kesimpulan-kesimpulannya harus didukung dengan bukti. Hubungannya dengan cabang-cabang lain
dari filsafat sistematis telah menjadi semakin dekat.
E. ETIKA
Cabang dari filsafat sistematis yang bersangkutan dengan persoalanp ersoalan moralitas pada umumnya
dinamakan etika. Dua istilah lain yang diterima ialah filsafat moral dan filsafat etis. Etika merupakan salah
satu cabang dari filsafat sistematis yang uraiannya secara terinci akan dipaparkan dalam Kegiatan Belajar 2.
F. ESTETIKA
Ada banyak definisi tentang estetika. Pada ujung yang satu estetika secara tradisional dinyatakan sebagai
cabang filsafat yang bersangkutan dengan keindahan dan hal yang indah pada alam dan seni, pada ujung
yang lain estetika didefinisikan sebagai cabang filsafat yang bersangkutan dengan analisis konsep-konsep
dan pemecahan persoalan-persoalan yang timbul bilamana seseorang merenungkan benda-benda estetis.
Selanjutnya, benda benda estetis mencakup semua benda dan pengalaman estetis. Dari definisi
yang banyak itu dapatlah diringkaskan bahwa estetik adalah mata pelajaran filsafati atau malahan studi
ilmiah yang bersangkutan dengan salah satu dari hal-hal yang berikut.
1. Keindahan.
2. Keindahan dan kejelekan.
3. Hal yang indah pada alam dan seni.
4. Hal yang estetis.
5. Seni.
6. Cita rasa.
7. Patokan-patokan seni.
8. Nilai estetis.
9. Benda estetis.
10. Pengalaman estetis.
Pada permulaannya satu-satunya konsep kunci dari estetika adalah keindahan. Tetapi, dewasa ini konsep itu
melahirkan banyak konsep yang berkaitan seperti tercantum di atas. Para filsuf akhir-akhir ini tidak lagi
membicarakan keindahan semata-mata, melainkan juga membahas seni dengan semua seginya (seperti

penciptaan, penghargaan, peranan sosial, dan unsur-unsur seni) dan pengalaman estetis dengan semua
implikasinya (seperti sikap estetis, kesadaran estetis, kenikmatan estetis, dan tanggapan estetis). Jadi, filsuffilsuf dewasa ini tidak hanya sibuk dengan estetika filsafati (khususnya filsafat keindahan), tetapi juga
dengan apa yang dinamakan oleh George Dickie dan Monroe Beardsley sebagai estetika ilmiah. Di samping
estetika tradisional yang bersangkutan dengan keindahan dan perwujudannya dalam alam dan seni, dewasa
ini berkembang apa yang oleh Thomas Munro dinamakan estetika modern. Estetika ilmiah atau estetika
modern sebagai sinonimnya adalah penelaahan intelektual sangat berjenis-jenis yang memanfaatkan semua
ilmu yang relevan dari sesuatu sumber lain untuk membahas seni dan peranannya yang berubah-ubah dalam
peradaban. Para mahasiswa yang berminat mempelajari estetika filsafati dan estetika ilmiah dipersilakan baca
2 buku kami yang baru terbit, yaitu sebagai berikut.
1. Filsafat Keindahan, Edisi Kedua, 2004.
2. Filsafat Seni: Suatu Pengantar, Edisi Kedua, 2004.
Sdr. Mahasiswa, Anda telah mempelajari 6 cabang filsafat Sehubungan dengan kondisi masyarakat
kita dewasa ini boleh dikatakan sedang menderita penyakit keburukan, cabang filsafat mana yang
sesuai untuk membahas masalah ini? Jelaskan!
Cabang dan filsafat sistematis yang bersangkutan dengan persoalan persoalan moralitas pada
umumnya yang dinamakan etika sesuai untuk membahas masalah penyakit keburukan, sebab
filsafat ini membahas tentang moralitas. Moralitas adalah suatu himpunan ide mengenai apa yang
baik atau buruk pada perilaku dan apa yang benar dan salah pada tindakan manusia
Mari kita lanjutkan dengan cabang yang ke-7, yaitu:
G. SEJARAH FILSAFAT
Cabang terakhir yang ke-7 dan filsafat sistematis dapat dianggap sebagai pembahasan yang harus menjawab
pertanyaan besar Apa yang telah diyakini orang arif dan masa lampau? Sejarah filsafat adalah pemeriksaan
yang teliti terhadap sistem-sistem filsafat, penafsiran yang kritis dan pemikiran para filsuf terhadap
persoalan-persoalan filsafati, dan cerita yang benar mengenai perkembangan filsafat dari masa yang paling
awal sampai sekarang.
Sejarah filsafat terdiri dari 3 bagian, yaitu sejarah filsafat menurut pembagian masa, sejarab filsafat dari
sesuatu negara (misalnya sejarah filsafat India atau Inggris), dan sejarah cabang-cabang filsafat.
Sejarah filsafat menurut pembagian masa dapat mengikuti beberapa ukuran pembagian. Sebuah pembagian
yang terinci dari sejarah filsafat Barat menurut masa adalah sebagai berikut.
1. Masa dan pemikiran reflektif permulaan.
2. Masa pra-Sokrates.
3. Masa Klasik.
4. Zaman Hellenistik Permulaan.
5. Abad Kristen Permulaan.
6. Abad Pertengahan (Zaman Kepercayaan).
7. Masa Renaisans (Zaman Petualangan).
8. Abad ke- 17 (Zaman Akal).

9. Abad ke- 18 (Zaman Pencerahan).


10. Abad ke- 19 (Zaman Ideologi).
11. Abad ke-20 (Zaman Analisis).
Sejarah filsafat menurut cabang-cabang filsafat menunjuk pada uraian sejarah tentang 6 cabang filsafat
sistematis, yaitu sejarah metafisika, sejarah epistemologi, sejarah metodologi, sejarah logika, sejarah etika,
dan sejarah estetika.
Sejarah filsafat sebagai cabang yang ke-7 dan filsafat sistematis mempunyai kedudukan yang khas dalam hal
bahwa ini secara serentak berhubungan dengan semua 6 cabang filsafat sistematis. Saling kaitan yang
menyeluruh dan 7 cabang ini dapat dipandang sebagai struktur filsafat sistematis. Struktur ini dapat
digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut.
KEGIATAN BELAJAR 2
STUDI TENTANG ETIKA UMUMNYA DAN ETIKA ADMINISTRASI PEMERINTAHAN
KHUSUSNYA
Pada Kegiatan Belajar 1 telah kita pelajari tentang filsafat sistematis dan Anda pun telah mengerjakan tugas
dan tes formatifnya. Mari kita lanjutkan dengan bahasan tentang studi tentang etika umumnya dan etika
administrasi pemerintahan khususnya.
Etika sebagai suatu studi yang bersifat umum adalah salah satu cabang dari rincian filsafat sistematis. Untuk
menegaskan kedudukannya sebagai cabang filsafat, etika dapat juga disebut filsafat moral dan filsafat etis.
Dari 2 penyebutan nama yang merupakan sinonim itu kata moral dan kata etis dianggap mempunyai
pengertian yang sama.
Dalam bahasa Inggns istilah ethics (etika) dan morality (moralitas) merupakan 2 kata sepadan yang sama
artinya. Istilah ethics berasal dan kata Yunani ethikos dan istilah morality berasal dan kata Latin mnoralis.
Berdasarkan asal mula katanya, kedua istilah itu mempunyai kadar arti yang sama.
Seorang ahli bidang itu Dennis Thompson dalam karangannya berjudul The Possibility of Administrative
Ethics (1985) menegaskan lebih lanjut pengertian kedua istilah itu demikian:
It may be assumed that there is no important philosophical distinction between ethics and morality. Both
terms denote the principles of right and wrong in conduct (or the study of such principles). When we refer to
the principles of particular professions (e.g., legal ethics or political ethics), ethics is the more natural
terms; and when we refer to personal conduct (e.g., sexual morality), morality seems more appropriate. But
in their general sense, the terms are fundamentally equivalent.
(Dapat kiranya dianggap bahwa tidak ada perbedaan filsafati yang penting di antara etika dan moratitas.
Kedua istitah itu menunjuk pada asas-asas benar dan salah dalam kelakuan (atau studi tentang asas-asas
demikian itu). Bilamana kita mengacu pada asas-asas dari bidang- bidang kerja khusus (misalnya, etika
hukum atau etika poLitik), etika merupakan istiLah yang Lebih wajar; dan biLamana kita mengacu pada
keLakuan perorangan (misaLnya, moraLitas seksuaL), moraLitas tampaknya Lebih tepat. Tetapi, datam
maknanya yang umum, istiLahi stiLah itu pada dasarnya sepadan.)
Etika sebagai suatu bidang studi berusaha memperoleh jawaban yang tepat atau memberikan pembenaran
yang rasional terhadap persoalanp ersoalan etis yang berikut.
1. Apakah kebaikan itu?
2. Adakah ukuran-ukuran yang pasti bagi perbuatan-perbuatan etis manusia?

3. Apakah masalah baik dan buruk hanya penting bagi manusia ataukah juga untuk alam semesta mi?
4. Berbagai persoalan tentang sifat dasar tindakan manusia, pertentangan moral, pertimbangan moral,
kewajiban moral, pertanggungjawaban moral, dan kelakuan moral.
5. Apakah yang merupakan patokan-patokan untuk membuat suatu pertimbangan moral?
6. Bagaimana pertimbangan moral berbeda dan dan bergantung pada sesuatu pertimbangan yang nonmoral?
Konsep yang paling pokok dalam etika ialah moralitas. Maksud dan moralitas ialah suatu himpunan norma
dan ide-ide tentang apa yang merupakan perilaku yang benar dan salah yang mengatur kelakuan orang dalam
kehidupan sosial. Konsep ini melahirkan serangkaian gagasan lain yang sejenis, seperti ide-ide tentang benar
atau salah dan baik atau buruk, nilai moral, asas moral, aturan moral, pertimbangan moral, patokan moral,
keharusan moral, tanggung jawab moral, dan summum bonum (kebaikan tertinggi).
Berbagai konsep tersebut di atas, khususnya tentang benar atau salah dan baik atau buruk berlaku dalam
kehidupan manusia sehari-hari di masyarakat umum. Oleh karena itu, studi etika itu biasanya dikenal sebagai
etika umum. Semua warga masyarakat dalam kehidupannya pada umumnya diharapkan melakukan perbuatan
yang benar atau menghindarkan perbuatan yang salah dan sebagai pribadi menunjukkan sikap yang baik atau
meniadakan sikap yang buruk. Dengan demikian, dapatlah tercipta suatu kehidupan masyarakat yang aman,
damai, dan tenteram.
Etika umum berusaha memberikan berbagai pedoman mengenai konsep benar atau salah bagi perbuatan
manusia dan konsep baik atau buruk dalam sikap pribadi manusia. Setiap warga masyarakat perlu sekali
mempelajari berbagai pedoman itu, memahaminya secara baik, dan terakhir menerapkannya dalam semua
perbuatannya dan sikapnya dalam hidup bermasyarakat.
Anda telah mempelajari Kegiatan Belajar 2 ini dengan cermat. Permintaan kami adalah Anda menjelaskan
mengapa studi etika ini di kenal sebagai etika umum ?
Sebab etika umum ini mempelajari ide benar atau salah dalam perbuatan manusia dan ide baik atau buruk
pada sikap pribadi manusia pada kehidupan sehari-hari pada umumnya dalam masyarakat.
Di muka telah dipaparkan etika umum yang mempelajari ide benar atau salah dalam perbuatan manusia dan
ide baik atau buruk pada sikap pribadi manusia pada kehidupan sehari-hari pada umumnya dalam
masyarakat. Akan tetapi, berbagai konsep itu dapat juga hanya tertuju pada sesuatu segi dari kehidupan yang
lebih khusus, seperti segi pemerintahan. Bilamana etika dibatasi pada sesuatu segi khusus dalam kehidupan
manusia, studi terhadap hal itu melahirkan suatu etika khusus. Dengan demikian, kini cabang etika dapat
dibedakan menjadi 2 ragam, yaitu etika umum dan etika khusus.
Etika Administrasi bagi Administrator Pemerintahan
Salah satu etika khusus yang kini telah berkembang ialah etika pemerintahan. Etika ini sebagai suatu bidang
studi membahas pokok-pokok soal yang menyangkut tujuan pemerintah, pembatasan terhadap pemerintah,
pemerintahan oleh hukum atau pemerintahan oleh orang-orang, perbandingan bentuk-bentuk pemerintahan
yang baik dan yang buruk, pengaruh dan bentuk-bentuk pemerintahan yang berlainan pada pembentukan
watak manusia, dan tentang bentuk pemerintahan yang ideal.
Seorang filsuf Amerika Serikat Mortimer J. Adler (sebagai editor dari buku The Great Ideas. A Syntopicon of
Great Books of the Western World, Volume I, 1980, Chapter 31: Government) telah mengemukakan sejumlah
persoalan etis yang dibahas dalam etika pemerintahan, yaitu sebagai berikut.
1. What are the criteria or marks of good government?

2. Is the goodness of government determined by the end it serves, by the way in which it is instituted, by its
efficiency in processing whatever end it serves?
3. What is the nature of bad government?
4. Are there several forms of good government? Of bad government?
5. Are all good forms equally good, all had forms equally bad?
6. If not, what is the principle in terms of which some order of desirability or undesirability is established?
Artinya:
1. Apakah ukuran-ukuran atau tanda-tanda dari pemerintah yang baik?
2. Apakah kebaikan dan pemerintah ditentukan oleh tujuannya yang ingin dicapai, caranya pemerintah
dibentuk ataukah oleh efisiensinya dalam pelaksanaan tugas?
3. Apakah sifat dasar dari pemerintah yang buruk?
4. Apakah ada beberapa bentuk dan pemerintah yang baik atau pemerintah yang buruk?
5. Apakah semua bentuk pemerintah yang baik sama baiknya dan semua bentuk pemerintah yang buruk
sama buruknya?
6. Kalau tidak, apakah ada asas yang menurutnya sesuatu tata tertib dan sifat disenangi atau sifat tidak
disenangi dapat ditentukan?
Berbagai persoalan etis itu selain ditujukan pada bidang pemerintah sebagai suatu kebulatan dapat pula
dibatasi pada salah satu fungsi dan aparaturnya. Misalnya, pembahasan persoalan-persoalan etis hanya dalam
hubungannya dengan fungsi administrasi dan kelompok administrator bidang studi yang dikenal sebagai
etika administrasi pemerintahan.
Mengenai pengertian administrasi mungkin Anda sudah mempelajarinya di Buku Materi Pokok lain seperti di
BMP Administrasi Perkantoran, Manajemen, Administrasi Pemerintahan, dan lain-lain. Marilah kita lihat
pengertian administrasi di sini agar Anda lebih mudah memahami bahasanb ahasan yang berkaitan dengan
administrasi.
Dalam setiap bentuk kehidupan perserikatan manusia untuk mencapai tujuan apa pun tentu berlangsung suatu
proses yang kini telah amat terkenal sebagai administrasi. Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan
penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh sekelompok orang dalam kerja sama mencapai
tujuan tertentu.
Setiap kerja sama manusia apa pun dan rangkaian kegiatan penataan bagaimanapun perlu sekali berpegang
pada asas-asas moral dan ajaran-ajaran moral. Tanpa berbagai asas dan ajaran moral dari etika dalam sesuatu
perserikatan manusia mungkin hanya terjadi kezaliman pada pihak pimpinan, kesewenang-wenangan pada
pemegang wewenang, dan penindasan pada para anggota bawahan. Berkaitan dengan pengertian administrasi
ini, apabila Anda para mahasiswa tertarik pada pemaparan lebih mendalam dipersilakan membaca buku kami
Pengertian, Kedudukan, dan Perincian Ilmu Administrasi, Edisi Ketiga, cetakan ke- 11, 1998 (Diperlengkap
oleh Sutarto).
Administrasi yang bertalian dengan penyelenggaraan pemerintahan dari sesuatu negara di dunia ini
tampaknya merupakan bidang kegiatan yang paling rawan terhadap berbagai penyalahgunaan kekuasaan,
penyelewengan keuangan, dan pemanfaatan jabatan. Dengan banyaknya terjadi skandal dan penyelewengan
dalam administrasi pemerintahan pada negara-negara yang maju, negara-negara yang sedang berkembang

maupun negara-negara terbelakang selama beberapa dasawarsa terakhir ini, perhatian para ahli di luar negeri
terhadap etika bagi administrator pemerintahan berkembang sangat luas. Misalnya saja, menurut John Rohr
dalam karangannya berjudul The Study of Ethics in the P.A. Curriculum, 1976, skandal Watergate di
Amerika Serikat (yakni penyadapan pembicaraan-pembicaraan lawan politik oleh Presiden dengan para
pembantunya) telah berhasil meningkatkan etika menjadi suatu industri yang tumbuh luas, artinya menjadi
sebuah bidang kegiatan yang melahirkan banyak perbincangan dan penulisan.
Etika administrasi pemerintahan merupakan penerapan studi filsafat dalam penyelenggaraan administrasi
pemerintahan. Etika ini merupakan bidang pengetahuan tentang ajaran-ajaran moral dan asas-asas kelakuan
yang baik bagi para administrator pemerintahan dalam menjalankan tindakan jabatannya. Bidang
pengetahuan ini diharapkan memberikan berbagai asas etis, ukuran baku, pedoman perilaku, dan kebajikan
moral yang dapat diterapkan oleh setiap petugas guna terselenggaranya pemerintahan yang baik bagi
kepentingan rakyat.
Sebagai suatu bidang studi, kedudukan etika administrasi pemerintahan untuk sebagian termasuk dalam ilmu
administrasi publik dan sebagian yang lain tercakup dalam ruang lingkup studi filsafat. Dengan demikian,
etika administrasi pemerintahan sifatnya tidak lagi sepenuhnya empiris seperti halnya ilmu administrasi
publik, melainkan terutama bersifat normatif. Ini berarti etika administrasi pemerintahan berusaha
menentukan norma-norma mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap administrator dalam
melaksanakan fungsinya dan menjalankan jabatannya.
Etika administrasi pemerintahan sebagai suatu ragam etika khusus dalam ruang lingkup etika yang
membahas kebaikan, tindakan etis, dan kelakuan moral dari manusia harus menjadi obat mujarab terhadap
penyakit keburukan yang melanda suatu masyarakat. Tidak ada bidang pengetahuan lain yang dapat
memerangi setiap kejahatan, kekejaman, kebohongan, pengrusakan, dan penyelewengan yang sedang
menghinggapi suatu masyarakat. Oleh karena itu, kedua etika umumnya dan etika administrasi pemerintahan
khususnya harus makin digalakkan studinya dan lebih disebarluaskan pemahamannya pada setiap warga
masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat sembuh dari penyakit keburukan dan semua wanganya akan
menikmati kehidupan yang aman, damai, dan tenteram.
Bidang studi etika administrasi pemerintahan karena menyangkut kehidupan suatu bangsa, kesejahteraan
seluruh rakyat, kepentingan sebuah masyarakat, dan kesentosaan setiap warga negara yang sangat penting
harus berlandaskan asasasas yang luhur dalam kehidupan manusia dan nilai-nilai yang utama dalam
kehidupan masyarakat.
Setelah Anda mempelajari Etika, Etika Administrasi Pemerintahan dan Etika Administrasi bagi
Administrator Pemerintahan, coba jelaskan perbedaan antara etika pemerintahan dengan etika administrasi
pemerintahan.
Etika pemerintahan lebih luas ketimbang etika administrasi pemerintahan karena pembahasan berbagai
persoalan etis hanya ditujukan pada suatu fungsi dari pemerintahan, yaitu fungsi administrasi berikut
kelompoknya para administrator. Sejauh mana pentingnya etika administrasi bagi para administrator
pemerintahan?
Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilakukan oleh
sekelompok orang dalam kerja sama mencapai tujuan tertentu. Setiap kerja sama manusia apa pun dan
rangkaian kegiatan penataan bagaimanapun perlu sekali berpegang pada asas asas moral dan ajaran-ajaran
moral. Tanpa berbagai asas dan ajaran moral dari etika dalam sesuatu perserikatan manusia mungkin hanya
terjadi kezaliman pada pihak pimpinan, kesewenang-wenangan pada pemegang wewenang, dan penindasan
pada para anggota bawahan.

MODUL 2 TIGA ASAS LUHUR DALAM KEHIDUPAN MANUSIA


KEGIATAN BELAJAR 1
ASAS KEUTUHAN WATAK DAN ASAS KESUSILAAN
Untuk mencapai ketahanan hidup yang teguh dan mengembangkan potensi diri seluasnya setiap orang perlu
mempunyai dan berpegang pada asas tertentu. The Liang Gie (1972) menjelaskan tentang principle atau asas
adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dengan istilah-istilah umum dengan tanpa menyarankan cara-cara
khusus mengenai pelaksanaannya yang dapat diterapkan pada sesuatu rangkaian perbuatan untuk menjadi
petunjuk yang tepat bagi perbuatan-perbuatan itu. Jadi, sesuatu asas adalah sebuah ide umum dalam bentuk
dalil yang berguna dalam memberi petunjuk bagi seseorang untuk melakukan perbuatan-perbuatan.
Misalnya, untuk perbuatan berhubungan dengan orang lain secara baik, seseorang dapat menerapkan asas
perikemanusiaan.
Dalam kehidupan manusia yang sebaik-baiknya ada 3 asas luhur yang wajib dianut dan dilaksanakan oleh
setiap orang. Ketiga asas hidup yang luhur itu adalah sebagai berikut.
1. Keutuhan watak.
2. Keadilan.
3. Kesusilaan.
Semua asas hidup tersebut harus dianut dan dilaksanakan oleh setiap orang dalam menjalani hidupnya
sehingga merasa aman, damai, dan tenteram Pada Kegiatan Belajar 1 ini akan dijelaskan terlebih dahulu asas
keutuhan watak dan asas kesusilaan.
1. Asas Keutuhan Watak
Pertama-tama mari kita bahas apa yang dimaksud dengan asas keutuhan watak.
Apa yang dimaksud dengan keutuhan watak?
Mungkin Anda telah mengenal istilah integritas yang berasal dari bahasa Latin. Istilah inilah yang dalam
bahasa Indonesia dan selanjutnya digunakan dalam modul ini yaitu keutuhan watak. Keutuhan watak pada
dasarnya adalah ciri kualitas dari watak seseorang yang bersifat utuh, lengkap atau sempurna.
The Liang Gie (2003), memberikan batasan bahwa keutuhan watak adalah kesempurnaan akhlak pribadi dari
seseorang dalam menjalani hidupnya dan melaksanakan pekerjaannya. Keutuhan watak ini mencakup 3
kebajikan utama dalam kehidupan manusia berupa 1) kejujuran; 2) kesetiaan, dan 3) pengabdian.
Berikut penjelasan tentang 3 kebajikan utama dalam kehidupan manusia, secara lebih rinci.
a. Kejujuran
Kejujuran berarti hasrat untuk bertindak lurus tanpa menyimpang dari norma kebenaran. Hasrat ini meliputi
berbagai sifat dan watak baik pada seseorang yang tidak membohongi, menipu, mencuri, menggelapkan,
mencurangi atau mengakali orang lain untuk mendapat keuntungan yang tidak sah. Kejujuran juga
mengandung kecenderungan menghargai kebenaran serta adanya kesatuan antara ucapan dengan apa yang
ada di dalam batin dan pikiran.
b. Kesetiaan
Kesetiaan adalah kesadaran untuk setulusnya patuh pada tujuan bangsa, konstitusi negara, peraturan
perundangan, badan instansi, tugas jabatan, dan pihak atasan demi tercapainya cita-cita bersama yang

ditetapkan. Kesetiaan juga merupakan kebajikan seseorang yang patuh pada cita-cita yang diyakini
kebenarannya atau cita-cita menjunjung tinggi suatu paham yang ideal. Pelaksanaan tugas dengan ukuran
ganda, pertimbangan untung-rugi atau kebiasaan main sabotase tidak dikenal dalam watak seseorang yang
setia.
c. Pengabdian
Pengabdian adalah hasrat untuk menjalankan tugas dengan sepenuh tenaga, semangat, dan perhatian tanpa
pamrih pribadi. Wujudnya adalah bekerja keras, menjalankan tugas pekerjaan dengan sepenuh tenaga,
seluruh semangat kegairahan, dan segenap perhatian tanpa pamrih apa-apa yang bersifat pribadi atau
menguntungkan diri sendiri.
Pengabdian mengandung arti bahwa seseorang yang bekerja pada suatu organisasi wajib mencurahkan
perhatian, tenaga, dan waktunya seluruhnya bagi organisasi yang membayar gajinya secara tetap setiap bulan.
Ia tidak dibenarkan melakukan perangkapan bekerja pada sesuatu organisasi lain. Kecenderungan bekerja
setengah hati atau asal jadi saja juga tidak dikenal dalam watak seorang petugas yang mempunyai
pengabdian.
Pengabdian mempunyai banyak persamaan dengan kesetiaan. Seseorang yang mempunyai kesetiaan terhadap
suatu organisasi tentu menunjukkan pengabdiannya bekerja sepenuh kemampuannya bagi organisasinya.
Sebaliknya, seseorang yang bekerja dengan sepenuh pengabdian dalam suatu organisasi tentu mempunyai
kesetiaan terhadap organisasi itu.
Apabila di atas dijelaskan bahwa pengabdian mempunyai banyak persamaan dengan kesetiaan, lalu di mana
perbedaannya? Perbedaannya adalah pengabdian terfokus pada bidang kerja, sedangkan kesetiaan lebih
ditujukan pada cita-cita. Dengan kata lain pengabdian itu terfokus pada jabatan, keahlian, dan bidang profesi
dari seseorang. Sebagai contoh, seorang pengajar universitas yang penuh pengabdian akan melaksanakan
tugasnya mengajar di ruang kuliah secara penuh demi tujuan jabatannya (yaitu mencerdaskan mahasiswa),
kemajuan keahliannya (yaitu ilmu yang diasuhnya), dan peningkatan profesinya (yaitu bidang pendidikan).
Kembali pada arti keutuhan watak, berikut adalah perilaku kerja yang mencerminkan keutuhan watak dan
pengabdian dari hasil pengamatan seorang ahli ekonomi Jepang Harry Oshima terhadap tenaga kerja yang
berkualitas tinggi di negara-negara Asia Timur (dari karyawan terendah, tenaga terlatih, teknisi mahir sampai
manajer atas). Hasilnya menunjukkan terdapat 10 ciri perilaku kerja dari tenaga kerja yang baik, yaitu
sebagai berikut.
a. Kerajinan (diligence).
b. Pengabdian (dedication).
c. Keutuhan watak (integrity).
d. Rasa tanggung jawab (responsibility).
e. Kehati-hatian (carefulness).
f. Keserbabisaan (versatility).
g. Daya pembaruan (innovativeness).
h. Semangat kerja sama (cooperativeness).
i. Kemahiran (skillfulness).
j. Hasrat besar untuk belajar (eagerness to learn).

Dari 10 ciri kualitas itu ternyata terdapat keutuhan watak dan pengabdian. Stanley Benn dalam karangannya
berjudul Justice (dalam Paul Edwards, ed., The Encyclopedia of Philosophy), Volume V, 1967)
menghubungkan keutuhan watak dengan sifat adil pada seseorang yang adil. Ahli ini memberikan definisi
orang yang adil sebagai berikut: One who possesses integrity, who lives according to consistent principle
and is not to be diverted from them by consideration of gain, desire, or passion. (Seseorang yang memiliki
keutuhan watak, yang hidup sesuai dengan asasa sas yang ajek dan tidak bisa diselewengkan dari asas-asas
itu oleh pertimbangan keuntungan, keinginan atau perasaan hati).
Jadi, seorang yang adil adalah seseorang yang mempunyai keutuhan watak dan asas-asas hidup konsisten
yang tidak dikuasai oleh pertimbangan keuntungan, hasrat pribadi, dan perasaan hati.
Integrity atau keutuhan watak pada dasarnya berarti ciri kualitas dan watak yang utuh dan yang kuat.
C.S.Chopra dalam bukunya berjudul How to Achieve Total Success in Life (tanpa tahun) menegaskan
demikian:
Integrity implies wholeness and soundness of Living. It means that we Live in a manner that protects and
furthers the interests of ourseLves and our fellow human being. (Keutuhan watak mengandung pengertian
keseluruhan dan kekuatan dan kehidupan. Ini berarti bahwa kita hidup dalam suatu cara yang metindungi dan
memajukan kepentingan-kepentingan kita sendiri dan sesama manusia).
Kita sedang membahas asas keutuhan watak dan asas kesusilaan. Pertanyaannya adalah apa yang dimaksud
dengan asas?
Asas adalah suatu dalil umum yang dinyatakan dengan istilahi stilah umum dengan tanpa menyarankan caracara khusus mengenai pelaksanaannya yang dapat diterapkan pada sesuatu rangkaian perbuatan untuk
menjadi petunjuk yang tepat bagi perbuatan-perbuatan itu.
Selanjutnya, diberikan contoh-contoh dan tidak dimilikinya keutuhan watak oleh seseorang, yaitu sebagai
berikut.
a. Tindakannya merugikan kesejahteraan hak-hak dan tetangganya.
b. Tindakannya melanggar kaidah moral sebagaimana ditentukan oleh Tuhan sebagai suatu cara hidup yang
menjamin kesejahteraan dan pengembangan tertinggi yang dimungkinkan bagi semua umat manusia.
c. Tindakannya mengambil atau mengingkari sesuatu yang secara sah merupakan milik orang lain.
d. Tindakannya mengganggu pelaksanaan hak-hak alamiah orang lain untuk hidup, mengembangkan diri,
dan mencapai kebahagiaan dan sukses.
e. Tindakannya menjanjikan nilai-nilai tertentu yang ternyata tidak terdapat dalam barang atau pelayanan
yang dijualnya.
f. Tindakannya tidak membayar upah yang layak atau memberikan kenaikan pangkat yang semestinya
diberikan kepada seseorang.
g. Tindakannya tidak mewujudkan kerja sama dengan orang-orang atau bagian-bagian ke arah tercapainya
tujuan bersama dan suatu organisasi.
h. Tindakannya menyebarkan kabar angin atau sindiran mengenai orang lain.
Dari contoh-contoh yang dikemukakan oleh Chopra tersebut di atas, ternyata seseorang yang tidak memiliki
keutuhan watak dapat berbuat apa saja yang merugikan orang lain. Untuk tercapainya sebuah kehidupan
masyarakat yang aman, damai, dan tenteram, para anggota masyarakat harus sungguh-sungguh berusaha agar

memiliki watak yang utuh, lengkap, dan sempurna. Dengan masing-masing memiliki keutuhan watak maka
tentu tidak akan terjadi pergesekan-pergesekan kepentingan yang saling merugikan.
Apabila Anda berminat mempelajari lebih dalam mengenai apa yang kita bahas ini, Anda dapat membaca
buku Renungan Liku-liku Kehidupan, karangan The Liang Gie, cetakan ke5.
2. Asas Kesusilaan
Asas luhur ke-3 dalam kehidupan manusia yang harus dianut dan dijalankan oleh setiap orang dalam
hidupnya maupun pekerjaannya ialah kesusilaan. Kesusilaan adalah kebajikan pribadi dalam diri seseorang
yang senantiasa berusaha mempunyai akhlak yang baik dan menunjukkan kelakuan yang benar.
Agar pemahaman Anda mengenai asas kesusilaan ini lebih dalam, mari kita bahas terlebih dahulu arti
kesusilaan
Arti kesusilaan
Istilah kesusilaan merupakan terjemahan dalam bahasa Inggris dari kata morality. Dalam Webster s New
Twentieth century Dictionary of the English Language Unabridged, Second Edition (1979), morality diberi
arti sebagai the character of being in accord with the principles or standards of right conduct; right
conduct; often, specifIcally, virtue in sexual conduct (sifat yang cocok dengan asas-asas atau ukuran-ukuran
baku tentang kelakuan yang benar; kelakuan benar; sering kali, secara khusus, kebajikan dalam kelakuan
seksual). Jadi, secara singkat morality dalam bahasa Inggris berarti kelakuan yang benar.
Setiap anggota masyarakat harus sungguh-.sungguh berusaha menipunyai kesusilaan dalam dirinya dan
melaksanakannya dalam hidupnya. Ia sehari hari di masyarakat wajib berusaha menampilkan kelakuan yang
benar. Dengan demikian, masyarakat itu menjadi ajang hidup yang aman, damai, dan tenteram.
Setiap anggota masyarakat sedapat-dapatnya harus melakukan kebaikan bagi masyarakatnya. Akan tetapi,
memang karena keterbatasan kemampuan, kesulitan hidup, kehidupan rumah tangga yang serba minus, tidak
setiap anggota masyarakat bisa melakukan kebaikan bagi masyarakatnya. Namun, kendala-kendala itu sama
sekali tidak berarti bahwa ia boleh melakukan sesuatu perbuatan jahat yang mengganggu keamanan,
kedamaian, dan ketenteraman masyarakatnya.
Kehidupan setiap orang memang bagaikan sebuah garis lurus yang ujung-ujungnya mengarah pada ide
kebaikan dan ide kejahatan. Kalau seseorang karena keadaannya yang terpuruk tidak mampu berbuat
kebaikan untuk masyarakatnya maka hendaknya ia pantang melakukan kejahatan dan berdiri di tengah garis
secara netral.
Keadaan yang tergambar seperti gambar di atas dapat disebut Teori Berdiri Netral di Tengah-tengah
Kehidupan. Setiap warga masyarakat apabila perlu harus berdin di tengah-tengah antara kecenderungan
kebaikan dan kemungkinan kejahatan. Hal ini berarti ia tidak berbuat kebaikan untuk masyarakatnya, tetapi
juga tidak berbuat kejahatan yang mengacau masyarakatnya. Walaupun terhimpit oleh kesulitan hidup yang
berat, setiap warga masyarakat perlu tetap tegar mempertahankan asas kesusilaan dan tidak misalnya
melakukan perampokan atau pencurian terhadap harta benda orang lain. Ia memang tidak melakukan
kelakuan yang benar, tetapi setidakt idaknya ia juga tidak melakukan kelakuan yang tidak benar bagi
masyarakatnya.
Anda telah mempelajari arti kesusilaan sebagai salah satu dari 3 asas luhur. Pertanyaannya adalah
apa yang dimaksud dengan kesusilaan, dan seberapa pentingnya 3 Asas Luhur dalam kehidupan
manusia bagi sebuah masyarakat?
Kesusilaan adalah kebajikan pribadi dalam diri seseorang yang senantiasa berusaha mempunyai
akhlak yang baik dan menunjukkan kelakuan yang benar.
3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia penting bagi perkembangan masyarakat dan kemajuannya
menjadi sebuah masyarakat yang aman, damai, dan tenteram.

Teori 3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia dan Administrator Pemerintahan


Asas keutuhan watak, asas keadilan, dan asas kesusilaan sebagai suatu kesatuan dapat dianggap merupakan
sebuah Teori 3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia. Teori ini sangat penting bagi perkembangan
masyarakat dan kemajuannya menjadi sebuah masyarakat yang aman, damai, dan tenteram.
Setiap warga masyarakat wajib menganut 3 asas luhur itu dalam dirinya dan melaksanakannya dalam
kehidupan sehari-hari. Mengapa?
Kalau ia menganut dan melaksanakan asas keutuhan watak maka ia tentu memiliki kejujuran, kesetiaan, dan
pengabdian. Kalau ia menganut dan melaksanakan asas keadilan maka ia tentu tidak melanggar hak-hak
orang lain dan memberikan perlakuan yang lama terhadap setiap orang sesuai dengan kemampuan atau
jasanya. Kalau ia menganut dan melaksanakan asas kesusilaan maka ia tentu mempunyai akhlak yang baik
dan menunjukkan kelakuan yang benar.
Teori 3 Asas Luhur dalam Kehidupan Manusia terasa lebih penting lagi bagi seseorang kalau ia menjadi
seorang administrator pemerintahan. Setiap administrator pemerintahan dalam melaksanakan fungsinya dan
menjalankan tugasnya sehari-hari kalau ia menganut dan melaksanakan ketiga asas luhur itu maka ia tentu
memiliki kejujuran, kesetian, pengabdian, tidak melanggar hak-hak orang lain, memberikan perlakuan yang
sama terhadap setiap orang sesuai dengan kemampuan atau jasanya, dan selalu menampilkan akhlak yang
baik maupun kelakuan yang benar. Sebuah administrasi pemerintahan yang dijalankan oleh para petugas
dengan berbagai ciri kebaikan demikian itu tentulah akan memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh
rakyat. Oleh karena itu, etika administrasi pemerintahan perlu sekali berlandaskan pada Teori 3 Asas Luhur
dalam Kehidupan Manusia.
Terangkan secara singkat apa yang disebut Teori Berdiri Netral di Tengah-tengah Kehidupan!
Teori Berdiri Netral di Tengah-tengah Kehidupan menggambarkan kehidupan orang bagaikan sebuah
garis lurus yang ujung-ujungnya mengarah pada ide kebaikan dan ide kejahatan. Kalau seseorang
karena keadaannya yang terpuruk tidak mampu berbuat kebaikan untuk masyarakatnya maka
hendaknya ia pantang melakukan kejahatan dan berdiri di tengah garis secara netral.
Anda pun telah mempelajari tiga asas luhur yang dapat menjadi landasan dalam kehidupan manusia.
Bagi para administrator pemerintahan, mengapa Teori 3 Asas Luhur harus melandasi etika
administrasi pemeri ntahan?
Etika administrasi pemerintahan perlu sekali berlandaskan pada Teori 3 Asas Luhur dalam
Kehidupan Manusia agar para administrator pemerintahan yang melaksanakan fungsinya dan
menjalankan tugasnya sehari-hari menganut dan melaksanakan asas keutuhan watak, asas keadilan,
dan asas kesusilaan.
KEGIATAN BELAJAR 2
ASAS KEADILAN
Asas luhur ke-2 dalam kehidupan manusia yang harus dianut dan dijalankan oleh setiap orang dalam
hidupnya maupun pekerjaannya ialah keadilan. Keadilan mempunyai suatu kedudukan yang istimewa dalam
peradaban manusia karena menjadi salah satu dan ide agung dalam perkembangan pemilciran manusia.
Dalam sejarah peradaban manusia sejak zaman kuno sampai abad modern dan waktu ke waktu orang
melakukan perbincangan mengenai sejumlah ide agung. Ide-ide agung itu direnungkan, dibicarakan, dan
ditulis oleh para cendekiawan pemikir yang terdiri dan filsuf, budayawan, ahli sosial-politik, dan pemikir
dalam berbagai bidang keahlian.
Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan asas keadilan, marilah kita pelajari lebih dahulu ide, ide
agung, dan kaitannya dengan etika administrasi pemerintahan.

Pengertian Ide dan Ide Agung


Menurut Plato filsuf Yunani Kuno, pengertian ide ialah objek yang budi pikiran manusia dapat
merenungkannya. Secara sangat singkat ide adalah suatu objek pemikiran. Secara lebih terinci dapatlah
dikatakan bahwa sesuatu ide adalah isi dan pikiran manusia yang bisa diperbincangkan dan dialihkan di
antara orang yang satu dengan orang yang lain.
Sesuatu ide bercorak agung kalau ide itu bersifat pokok dan sangat perlu bagi pemahaman terhadap manusia
itu sendiri, masyarakatnya, dan dunianya. Jadi, suatu ide agung menjadi dasar bagi penelitian, pengetahuan
sampai pemahaman dari segenap hati yang berkisar pada diri manusia. Berhubung dengan sifatnya yang
mendasar itu, sesuatu ide agung senantiasa merupakan titik pusat dan berbagai pertanyaan yang penting atau
bahkan menimbulkan serangkaian pokok pembahasan yang menank di antara para cendekiawan pemikir.
Sebuah lembaga penelitian Institute for Philosophical Research dengan diprakarsai oleh Mortimer Jerome
Adler telah melakukan penelitian yang memakan waktu selama 8 tahun untuk mendaftar semua ide agung
yang lahir, tumbuh, dan melembaga di dunia Barat. Penelitian itu yang dilakukan dengan sejumlah besar staf
peneliti menelaah segenap karya tulis besar dari para pemikir Barat sejak zaman dahulu sampai sekarang.
Pada taraf permulaan dapat dihimpun sekitar 1800 istilah yang mewakili ide-ide yang telah berkembang di
dunia Barat. Setelah diteliti lebih lanjut ternyata tidak semuanya merupakan ide agung. Setelah pemilahmilahan lebih lanjut yang makin cermat, ternyata 1800 istilah itu dapat disusutkan menjadi sekitar 700 istilah
yang mencerminkan ide-ide yang tampaknya agung. Tetapi, ternyata sekitar 700 ide yang diperkirakan
merupakan ide agung itu tidak sama lingkupan, pentingnya maupun daya kekuatannya. Sebagian istilah lagi
ternyata merupakan kata padanan rangkap untuk 1 ide yang sama, contohnya kemerdekaan dan kebebasan.
Berdasarkan penelaahan yang makin mendalam dengan ukuran-ukuran yang lebih teliti dan cukup rumit
akhirnya dapat ditentukan 102 ide agung yang menguasai pemikiran dunia Barat sepanjang masa. Segenap
ide agung itu dengan dilengkapi uraian pengantar, garis besar topik-topiknya, seluruh sumber berupa karya
tulis yang utama maupun yang tambahan pelengkap, dan aneka penjelasan lainnya dibukukan oleh Mortimer
Adler selaku pimpinan editornya dalam buku berjudul The Great Ideas: A Syntopicon of Great Books of the
Western World, 2 jilid, terbit 1952.
Dalam tahun 1981 setelah hampir 30 sejak penyusunan 102 ide agung, Mortimer Adler mengarang buku
baru berjudul Six Great Ideas. Dalam buku ini dengan berbagai pertimbangan 102 ide agung itu disusutkan
menjadi 64 ide agung yang benar-benar sangat luas cakupannya. Daftar terbaru yang disusun oleh Adler itu
adalah sebagai berikut:
1. animal Binatang
2. art kesenian
3. beauty keindahan
4. being peradaan
5. cause sebab
6. chance kebetulan
7. change perubahan
8. citizen warga negara
9. constitution konstitusi

10. democracy demokrasi


11. desire hasrat
12. duty kewajiban
13. education pendidikan
14. emotion emosi
15. equality persamaan
16. evolution evolusi
17. experience pengalaman
18. family keluarga
19. God Tuhan
20. good and evil baik dan jahat
21. government pemerintahan
22. habit kebiasaan
23. happiness kebahagiaan
24. honor kehormatan
25. imagination khayalan
26. judgment pertimbangan
27. justice keadilan
28. knowledge pengetahuan
29. labor kerja
30. language bahasa
31. law hukum
32. liberty kebebasan
33. life and death kehidupan dan kematian
34. love cinta
35. man manusia
36. matter materi
37. memory ingatan
38. mind budi pikiran

39. nature alam


40. opinion pendapat
41. pleasure and pain kesenangan dan kesakitan
42. poetry sajak
43. progress kemajuan
44. punishment hukuman
45. reasoning penalaran
46. relation hubungan
47. religion agama
48. revolution revolusi
49. sense indra
50. sin dosa
51. slavery perbudakan
52. soul jiwa
53. space ruang
54. ctate negara
55. time waktu
56. truth kebenaran
57. tyranny kezaliman
58. violence kekerasan
59. virtue and vice kebajikan dan keburukan
60. war and peace peperangan dan perdamaian
61. wealth kekayaan
62. will kemauan
63. wisdom kearifan
64. world dunia
Dari 64 ide agung tersebut di atas, keadilan merupakan salah satunya.
Ide Agung kaitannya dengan Etika Administrasi Pemerintahan

Bagaimana kaitan ide agung dengan etika administrasi pemerintahan? Etika administrasi pemerintahan
karena menyangkut kehidupan masyarakat, kesejahteraan rakyat, dan kemajuan bangsa yang demikian
penting harus berlandaskan suatu ide agung yang luhur sifatnya. Dengan demikian, etika itu dapat
melahirkan asas, standar, pedoman, dan kebajikan moral yang luhur pula.
Ide agung dalam peradaban manusia sejak dahulu sampai sekarang yang sangat tepat untuk menjadi landasan
ideal bagi etika administrasi pemerintahan ialah keadilan. Hal ini telah kami tulis dalam buku Keadilan
Sebagai Landasan bagi Etika Administrasi Pemerintah dalam Negara Indonesia (1993).
Dalam sebuah negara yang baik pada umumnya dituntut adanya pemerintahan yang adil, hukum yang adil,
pajak yang adil, kehidupan sosial yang adil, pemerataan sumber kemakmuran yang adil, dan berbagai tata
tertib lainnya yang serba adil semuanya.
Apakah yang dimaksud dengan ide agung?
Ide agung adalah objek dan budi pikiran manusia yang bersifat pokok dan sangat perlu bagi
pemahaman terhadap manusia itu sendiri, masyarakatnya, dan dunianya.
1. Keadilan sebagai kebijakan moral
Dalam kehidupan masyarakat sejak zaman kuno sampai abad modern keadilan pada umumnya dipandang
sebagai sebuah kebajikan moral yang utama. Setiap orang sebagai perorangan pribadi dan warga masyarakat
diharapkan dapat menumbuhkan, memiliki, dan memelihara dalam dirinya kebajikan moral berupa keadilan.
Dengan demikian, ia sebagai insan di dunia ini dapat menunjukkan watak yang unggul, budi yang luhur, dan
perilaku yang mulia.
Menurut pendapat Plato, keadilan dalam budi pikiran adalah bagaikan kesehatan dalam tubuh jasmani pada
seseorang.
Asas keadilan sebagai sebuah kebajikan moral dan suatu hal yang baik merupakan sebuah unsur pokok dalam
etika. Dari asas keadilan itu dapat diperkembangkan berbagai asas dan ajaran tentang kelakuan yang baik
bagi para administrator pemerintahan yang fungsinya mengabdi kepada rakyat. Dengan demikian, keadilan
tepat sekali dijadikan suatu landasan dari etika administrasi pemerintahan.
Hal ihwal keadilan dalam beberapa seginya perlu dipahami seluas dan sedalam perlu. Pemaparan selanjutnya
perlu dipusatkan pada pengertian keadilan untuk memperoleh kejelasan tentang makna keadilan, mengetahui
definisi-definisi keadilan yang telah dirumuskan oleh para ahli, dan meninjau jenis serta ragam keadilan.
2. Keanekaragaman makna keadilan
Dalam sejarah perkembangannya makna yang terkandung dalam ide keadilan ternyata cukup beraneka
ragam. Keanekaragaman makna itu perlu sekali diketahui sehingga seseorang memiliki pengertian yang luas
mengenai keadilan. Sekadar sebagai contoh dan berbagai makna yang beraneka ragam itu dapatlah
dikutipkan 2 sumber rujukan yang berikut.
a. Dalam karangan Justice pada The Encyclopedia Americana, Volume 16, 1973 terdapat keterangan
demikian:
The term has no fixed meaning, but is substantially equivalent to equity, fairness, or equality of
treatment.
(Istilah itu tidak memiliki makna yang pasti, tetapi pada pokoknya sepadan dengan kepantasan, kelayakan
atau persamaan perlakuan.)
b. Peter Angeles dalam bukunya Dictionary of Philosophy, 1981, memberikan rincian demikian:

1) Fairness. Equitableness.
2) Correct treatment. Merited reward or punishment.
3) Rectitude. Correctness and impartiality in the application of principles of rightness and of sound
judgment.
4) The embodiment of the virtues (ideals, values, principles) of a society.
5)

The establishment of harmony between ones rights and the rights of others (society, the public,
government, or individuals).

Artinya:
1) Kelayakan. Kepantasan.
2) Perlakuan tepat. Ganjaran atau hukuman yang patut.
3) Kelurusan. Ketepatan dan sikap tidak memihak dalam penerapan asas-asas dan kebenaran dan dari
pertimbangan yang sehat.
4) Perwujudan kebajikan-kebajikan (cita-cita, nilai-nilai, asas-asas.) dari suatu masyarakat.
5) Penciptaan suatu keselarasan di antara hak-hak seseorang dengan hak-hak pihak lain (masyarakat,
publik, pemerintah atau perseorangan-perseorangan).
Macam-macam makna yang melekat pada ide keadilan dapat kiranya ditengok pula dari asal-usul perkataan
Inggris Justice. Perkataan Latin justitia mempunyai akar kata jus yang berarti hukum atas hak. Dengan
demikian, salah satu makna yang sangat tua dari perkataan justice ialah hukum (law). Kedua kata itu
dianggap sepadan artinya seperti yang sampai sekarang masih terdengar, misalnya pada sebutan court of
justice (mahkamah keadilan) dan court of law (mahkamah hukum). Kedua sebutan itu memiliki makna yang
sama untuk menunjuk pada badan peradilan di negara Inggris.
Dari makna keadilan sebagai hukum dalam perkembangan selanjutnya timbul makna kesahan menurut
hukum (lawfulness). Hal ini dapat terjadi karena hukum yang berlaku dalam kehidupan masyarakat tentunya
haruslah hukum yang sah. Dengan demikian, segala hal yang sah menurut hukum yang berlaku sah dapat
dianggap merupakan justice.
Justice selanjutnya dianggap menjadi tujuan dari semua hukum dalam kehidupan masyarakat. Tujuan itu
harus dicapai dalam setiap keputusan pengadilan atau pertimbangan hakim yang memutuskan persoalan
hukum. Keadilan sebagai tujuan hukum itu hanya dapat tercapai kalau sesuatu keputusan pengadilan atau
pertimbangan hakim tidak memihak (impartial) kepada salah satu pihak dalam persoalan hukum yang
bersangkutan. Dengan ini lahirlah makna keadilan dalam arti sikap tak memihak (impartiality).
Sikap tak memihak dan badan peradilan atau hakim akan terwujud kalau semua pihak dalam persoalan
hukum diperlakukan secara sama. Jadi, keadilan sebagai tujuan hukum akan tercapai kalau ada persamaan
dalam perlakuan (equality of treatment) terhadap semua pihak oleh sesuatu badan peradilan atau seorang
hakim. Setiap orang atau golongan dalam persoalan hukum dan proses peradilan harus memperoleh
perlakuan yang sama seperti pihak lainnya, perlakuan yang tidak memihak salah seorang atau sesuatu
golongan.
Persamaan dalam perlakuan itu tidak hanya dalam bidang hukum saja, tetapi selanjutnya juga meluas dalam
halhal lainnya, seperti pelayanan jasa, pemberian izin, dan penyediaan fasilitas. Dengan demikian, ide
keadilan secara umum juga mempunyai makna sebagai persamaan (equality). Persamaan itu menyangkut

semua hal dalam kehidupan masyarakat sehingga berkembanglah ajaran bahwa halhal (apa saja) yang sama
harus diperlakukan sama dan kebalikannya hal-hal yang tidak sama harus diperlakukan tidak sama.
Sebuah makna lain yang dilekatkan pada ide keadilan ialah kelayakan (fairness). Kelayakan berarti ciri atau
sifat yang sepantasnya pada sesuatu hal berdasarkan pertimbangan akal sehat atau penilaian para anggota
masyarakat pada umumnya. Makna ini terutama mempunyai penerapan dalam bidang ekonomi. Dalam
kaitannya dengan proses produksi dalam pabrik, misalnya pemberian upah yang terlampau rendah kepada
para karyawan dianggap tidak adil menurut pertimbangan akal sehat orang-orang pada umumnya.
Dalam proses pemasaran barang-barang, misalnya penjualan sesuatu barang dengan harga yang sangat tinggi
apalagi sampai berlipat-lipat sekian kali dianggap tidak adil pula. Dengan ini berkembanglah pengertianpengertian, seperti upah yang layak (fair wage), harga yang layak fair price), dan pertukaran yang layak (fair
exchange) yang semuanya mengacu pada keadilan sebagai kelayakan.
Bilamana pertimbangan kelayakan dan sesuatu hal berpegang pada sesuatu nilai moral, istilah yang telah
lazim diterima dalam kepustakaan ialah kepantasan (equity). Ketika unsur moralitas atau pertimbangan moral
lebih ditekankan pada pengertian keadilan dan dipandang lebih unggul ketimbang keadilan hukum sematamata maka tumbuhlah makna kepantasan bagi keadilan. Dengan demikian, ide keadilan mempunyai makna
sebagai kepantasan yang berarti sesuatu hal yang sepatutnya menurut pertimbangan moral atau nilai moral
yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Apabila seluruh cita moralitas atau segenap kebajikan sebagai suatu keseluruhan tunggal dianggap tercakup
dalam ide keadilan maka keadilan lalu mempunyai makna sebagai kebenaran (righteousness). Keadilan
merupakan sesuatu hal yang benar karena pertimbangan-pertimbangan kebajikan atau ide kebaikan, bukan
kebenaran menurut sesuatu ilmu atau pertimbangan logika. Misalnya, menolong penduduk yang tertimpa
bencana alam merupakan hal yang benar tidak karena sesuai dengan kesimpulan pengetahuan ilmiah atau
logika, melainkan berdasarkan ukuran moral berupa kebaikan yang mengandung seluruh kebajikan manusia.
Demikianlah, dari uraian penjelasan di muka ternyata bahwa ide keadilan mengandung berbagai makna yang
sesuai dengan rincian dari 2 buku rujukan The Encyclopedia Americana dan Dictionary of Philosophy yang
telah dikutip di muka.
Dari pemaparan tersebut di atas ternyata pula bahwa ide keadilan dan ciri adil memiliki makna ganda yang
perbedaannya satu sama lain kecil sekali atau cukup lembut. Nuansa arti itu perlu sungguh-sungguh dipahami
dalam penyebutan, misalnya hukum yang adil, masyarakat yang adil (dan makmur), petugas yang adil atau
tindakan yang adil.
Setelah berbagai makna keadilan dipahami, perlulah dilanjutkan dengan pemaparan terhadap definisi
keadilan yang berusaha merumuskan secara lebih terinci sehingga jelas apa yang disebut keadilan satu.
3. Definisi Keadilan
Definisi keadilan yang tertua telah dirumuskan oleh para ahli hukum pada Zaman Romawi dalam bahasa
Latin; yang berbunyi demikian: Justitia est constans et perpetua voluntas jus suum cuique tribuendi.
Terjemahan dalam bahasa Inggris adalah Justice is the constant and perpetual will to render to each man
what is his due (Keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa
yang semestinya).
Bangsa Romawi pada masa lampau menganut pendapat yang membedakan secara tegas hukum alamiah
dengan hukum buatan manusia. Hukum alamiah itu kemudian berkembang menjadi ide keadilan alamiah
yang kedudukannya dianggap lebih tinggi ketimbang hukum buatan manusia. Bahkan hukum buatan manusia
itu harus sesuai dengan keadilan alamiah. Keadilan menurut perumusan tersebut di atas dianggap sebagai
suatu kecenderungan batin yang langgeng untuk memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya ia
terima. Konsep keadilan yang demikian itu dianggap sebagai sifat kodrat yang dengan sendirinya melekat

pada setiap hukum. Jadi, dalam pemahaman bangsa Romawi bertindak adil adalah memberikan kepada setiap
orang apa yang semestinya.
Dalam perkembangan selanjutnya keadilan dianggap sebagai suatu tujuan dan hukum di samping tujuantujuan hukum lainnya, seperti perdamaian dan ketertiban. Oleh karena merupakan suatu tujuan maka
keadilan sekaligus juga menjadi cita-cita yang harus dicapai dalam hukum. Hal ini ditegaskan dalam definisi
keadilan yang dirumuskan oleh Nels Anderson dalam karangannya berjudul Justice. Ia memberikan definisi
keadilan sebagai The ideal in law by which Judges are expected to be guided (Cita dalam hukum yang
dengan itu hakim-hakim diharapkan akan dibi mbi ng).
Masih berkaitan dengan bidang hukum, Rudolph Heimanson menegaskan bahwa keadilan memberikan nilai
dan tujuan pada hukum dan kini secara luas diakui sebagai suatu tambahan yang erat dan hukum. Definisi
keadilan yang dirumuskannya berbunyi: Concept of achieving of rightful result, or satisfying a proper
claim, redressing a wrong, finding a balance between legitimate but conflicting interest (Konsep untuk
mencapai suatu hasil yang sah atau memuaskan suatu tuntutan yang tepat, memperbaiki suatu kesalahan,
menemukan suatu keseimbangan di antara kepentingan kepentingan yang sah, tetapi saling bertentangan).
Juga masih berkaitan dengan bidang hukum, khususnya prosedur pelaksanaan hukum, Glenn Negley dalam
karangannya berjudul Justice memberikan definisi dan keadilan sebagai the logical, almost mechanical,
assessment of an act or acts according to the criteria of an accepted and mandatory value structure
represented by the law (penilaian yang logis, bahkan hampir mekanis, terhadap suatu tindakan atau tindakantindakan sesuai dengan ukuran-ukuran dan sebuah struktur nilai yang ditenma dan bersifat wajib
sebagaimana diwakili oleh hukum).
Dengan meninggalkan bidang hukum, Thomas Ford Hoult dalam Dictionary of Modern Sociology
merumuskan definisi yang luas dan keadilan sebagai berikut.
In the most general sense (and relative to a given sociocultural system) the principle -and the associated
practices and consequences- of equitable treatment; more specifically, as suggested by M. Ginsberg, social
practices or conditions characterized by A) elimination of arbitrariness, especially arbitrary inequality and
arbitrary power, B) equitable distribution of the means to that which is associated with well-being, and C)
adequate provision for the rectification or that which is defined as wrong; in some works, distributive justice
is distinguished from retributive justice, the former denoting equity in the distribution of goods and services,
the latter pertaining to the fair treatment of lawbreakers and of the victims of lawbreakers. (DaLam arti
yang paLing umum (dan bertaLian dengan suatu sistem sosiobudaya tertentu) asas dan praktek-praktek dan
akibat-akibat yang berhubungan- perLakuan yang pantas; secara Lebih spesifik sebagaimana disarankan oleh
M. Ginsberg, praktek-praktek atau kondisi-kondisi kemasyarakatan yang ditandai dengan ciri-ciri A)
penghapusan kesewenang-wenangan, khususnya ketidaksamaan sewenang-wenang; dan kekuasaan
sewenang-wenang, B) pembagian yang pantas dari sarana-sarana yang berhubungan dengan kesejahteraan,
dan C) pengaturan yang memadai bagi perbaikan terhadap apa yang dirumuskan sebagai kesaLahan; datam
beberapa karya tuLis, keadiLan pembagian dibedakan dan keadiLan penggantian, yang terdahuLu menunjuk
pada kepantasan daLam pembagian barang-barang dan jasaj asa, yang beLakangan mengenai penanganan
yang adil kepada para peLanggar hukum dan kepada korban-korban dan para peLanggar hukum.)
Pendapat M. Ginsberg yang disebut-sebut dalam definisi Thomas Hoult di muka tertulis dalam bukunya
berjudul On Justice in Society (1965). Menurut Ginsberg keadilan terutama bersangkutan dengan
pengendalian terhadap agresi dan dominasi yang dimungkinkan oleh ketidaksamaan alamiah atau oleh
ketidaksamaan yang ditimbulkan oleh berbagai pranata.
Masih ada banyak definisi tentang keadilan, terutama yang dirumuskan oleh badan-badan pengadilan di
Amerika Serikat dalam berbagai keputusan yang dibuat. The Encyclopedia Americana (1973) mencatat 6
definisi yang merumuskan justice sebagai berikut:
a. the constant and perpetual disposition to render every man his due. (kecenderungan yang tetap dan
kekal untuk memberikan setiap orang apa yang semestinya).

b. the end of civil society. (tujuan dan masyarakat manusia).


c. the right to obtain a hearing and decision by a court which is free of prejudice and imp roper
influence. (hak memperoleh suatu pemeriksaan dan keputusan oleh badan pengadilan yang bebas dan
prasangka dan pengaruh yang tidak selayaknya).
d. all recognized equitable rights as well as technical legal rights. (semua hak-hak sepantasnya yang
diakui maupun hak-hak teknis menurut hukum).
e. the dictate of right according to the consent of mankind generally. (suara kebenaran menurut
persetujuan dari umat manusia pada umumnya).
f. conformity with the principles of integrity, rectitude, and just dealing. (kesesuaian dengan asas-asas
keutuhan watak, kelurusan, dan perlakuan yang adil).
Menurut Mortimer Adler konsep pemberian kepada setiap orang apa yang sernestinya sesungguhnya
mengandung 2 segi penting yang berbeda dan masing-masing tidak dapat diturunkan dan atau dikembalikan
pada yang lainnya. Apakah yang merupakan apa yang semestinya bagi setiap orang dapat ditentukan
dengan:
a. Ukuran hak dari seseorang, baik itu hak alamiah maupun hak yang bersumber pada hukum yang berlaku.
b. Perbandingan kemampuan atau jasa dan orang yang satu dengan seseorang yang lain.
4. Konsepsi Keadilan
Berdasarkan 2 segi hak dan perbandingan itu, pengertian apa yang semestinya bagi setiap orang
mempunyai 2 bentuk sebagai berikut.
a. Jaminan hak-hak agar bebas dari pelanggaran.
b. Perlakuan yang layak, yaitu memperlakukan hal-hal yang sama secara sama dan hal-hal yang tidak sama
secara tidak sama seimbang dengan ketidaksamaan itu.
Dengan demikian, ide keadilan sebagaimana diungkapkan dengan konsep pemberian kepada setiap orang
apa yang semestinya mempunyai 2 bentuk penerapan umum berupa jaminan agar hak-hak setiap orang tidak
dilanggar oleh siapa pun dan perlakuan yang sama terhadap setiap orang sesuai dengan kemampuan atau
jasanya. Keadilan terlaksana kalau tidak terjadi pelanggaran hak seseorang dan ada perlakuan yang sama
kepada semua orang. Sedangkan kebalikannya, ketidakadilan terdiri dari pelanggaran terhadap hak seseorang
dan perlakuan yang tidak sama kepada semua orang.
Akhirnya, sebuah ciri khusus pada keadilan yang perlu dipahami ialah bahwa keadilan itu merupakan
kebaikan yang tidak memiliki batas. Kalau hal-hal lainnya, seperti kekuasaan atau kekayaan perlu
mempunyai batas agar tidak sampai terlampau banyak sehingga pemegangnya menjadi mabuk kekuasaan
atau gila kekayaan, tidaklah demikian dengan keadilan. Keadilan tidak akan pernah terlampau banyak
sehingga orang dapat mengatakan tentang petugas yang terlampau adil atau suatu masyarakat yang ke lewat
adil. Demikian pula, keadilan tidak mempunyai derajat perbandingan karena merupakan suatu kebaikan yang
bulat utuh. Seperti halnya bentuk lingkaran yang tidak dapat dikatakan Iingkaran ini lebih bulat atau
lingkaran yang paling bulat maka orang juga tidak dapat mengatakan, misalnya hakim ini lebih adil atau
penguasa itu paling adil di antara sejumlah hakim atau penguasa. Orang hanya dapat mengatakan bahwa
seorang pejabat, sebuah pemerintah atau suatu penguasa adalah adil.
Dalam pembahasan tentang keadilan perlu sekali dibedakan secara jelas dan dipahami secara jelas 3 hal
berupa konsepsi, makna, dan definisi dari keadilan.

a. Konsepsi keadilan menunjuk pada sesuatu kategoni pengertian tertentu dalam pemikiran manusia dan
kedudukan entitas keadilan dalam kehidupan masyarakat. Sebagai kategori maupun entitas itu keadilan
dianggap merupakan sebuah ide, bahkan sebuah ide yang agung dalam pemikiran manusia dan kehidupan
masyarakatnya. Selanjutnya, oleh karena keadilan didambakan sebagai tujuan dalam kehidupan
masyarakat, ide keadilan dapat dikategorikan sebagai suatu nilai. Dengan demikian, terdapatlah konsepsi
tentang keadilan sebagai nilai. Sebuah konsepsi lainnya tentang keadilan yang banyak dibahas oleh para
pemikir ialah sebagai salah satu kebajikan. Dalam pembahasan mengenai keadilan kalau ditegaskan
konsepsi mana yang menjadi pokok pembicaraan maka kekaburan dapat dihindarkan dan kejelasan
tercapai.
b. Makna keadilan berhubungan dengan arti atau maksud yang melekat pada istilah keadilan. Makna itu
dapat mempersamakan atau membedakan keadilan dengan hal-hal lainnya. Dalam perkembangannya
pada berbagai bidang kehidupan manusia, seperti bidang hukum, ekonomi, dan sosial-politik lahirlah
berbagai makna keadilan antara lain ialah sikap tidak memihak, kelayakan, kepantasan atau persamaan
perlakuan. Jadi, dalam pandangan masyarakat atau pendapat umum, lazimnya sesuatu tindakan,
keputusan atau hukuman dikatakan adil kalau bersifat tidak memihak, layak, pantas atau sama dalam
memperlakukan setiap orang (suatu ketidakadilan dianggap terjadi bilamana terdapat sikap yang
memihak pada penyelesaian sesuatu perselisihan, tindakan yang tidak layak, keputusan yang tidak pantas
atau perlakuan yang membeda-bedakan).
c. Definisi keadilan merupakan sebuah perumusan yang cukup terinci untuk menerangkan sehingga orang
dapat mengetahui apa yang disebut keadilan. Definisi keadilan seolah-olah menjadi tanda pengenal atau
memberi tahu orang agar dapat mengenali sesuatu hal sebagai keadilan. Sebuah definisi keadilan seperti
definisi klasik dari zaman Romawi bahwa keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk
memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya pada dasarnya bermaksud menerangkan apa yang
dimaksud dengan keadilan sehingga seseorang dapat mengetahuinya. Apa segi-segi dan bagaimana ciriciri sesuatu gejala sehingga seolah-olah menjadi tanda pengenal bagi gejala itu untuk diketahui sebagai
keadilan diberikan oleh sebuah definisi.
Asas keadilan tepat sekali dijadikan suatu landasan dan etika administrasi pemerintahan karena dalam suatu
negara yang baik pada umumnya dituntut adanya pemerintahan yang adil, hukum yang adil, pajak yang adil,
kehidupan masyarakat yang adil, pemerataan sumber kemakmuran yang adil, dan berbagai tata tertib lainnya
yang serba adil semuanya. Dari asas keadilan itu dapat diperkembangkan berbagai asas dan ajaran tentang
kelakuan yang baik bagi para administrator pemerintahan yang fungsinya mengabdi kepada rakyat.

MODUL 3 EMPAT NILAI UTAMA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT


KEGIATAN BELAJAR 1
ASAL MULA EMPAT NILAI UTAMA
Bilamana sesuatu ide apa pun sebagai suatu objek pemikiran diterima pula sebagai suatu objek keinginan
yang senantiasa didambakan dan diusahakan agar terwujud maka ide itu lalu merupakan sebuah nilai. Secara
singkat nilai pada pokoknya adalah sesuatu objek dan keinginan manusia.
Pengertian keinginan bilamana ditafsirkan secara cukup luas dapat mencakup kebutuhan karena manusia
menginginkan sesuatu hal tentunya yang memang dibutuhkannya. Selanjutnya, kebutuhan itu agar terpenuhi
tentu harus menjadi minat dan sesuatu tindakan manusia. Minat itu bilamana terus-menerus terpelihara pada
kelanjutannya tentu menimbulkan suatu keterkaitan emosional yang kuat dalam diri seseorang terhadap hal
yang bersangkutan. Dengan demikian, keinginan manusia secara lengkap mencakup unsur-unsur kebutuhan,
minat, dan keterikatan emosional. Sesuatu apa saja yang dapat memuaskan keinginan manusia dengan 3
unsurnya itu merupakan suatu nilai.
Bagaimana peranan nilai dalam kehidupan manusia, marilah kita bahas dalam subpokok bahasan berikut ini.
1. Nilai dalam Kehidupan Manusia
Dalam kehidupan manusia sejak dahulu sampai sekarang nilai mempunyai peranan yang amat penting.
Bahkan dapat dikatakan bahwa pada dasarnya seluruh kehidupan manusia itu berkisar pada usaha-usaha
menciptakan, memperjuangkan, dan mempertahankan suatu atau berbagai nilai, dari nilai biasa dalam urusan
sehari-hari sampai nilai yang bersifat luhur dan hal-hal yang dianggap sangat penting. Sebagai contoh,
bilamana seseorang sebagai pribadi bekerja keras setiap hari menabung untuk kesejahteraan hidupnya agar
supaya kelak pada hari tuanya tetap sejahtera, usaha itu pada dasarnya ialah memperjuangkan nilai yang
tergolong sebagai nilai ekonomik. Demikian pula, bilamana sekelompok orang bersatu untuk mendinikan
satu negara dan mengatur sendiri kehidupan politiknya betapa pun besarnya nintangan, usaha itu pada
dasarnya adalah memperjuangkan nilai yang bercorak politik. Sebuah contoh yang lain lagi; bilamana para
anggota suatu masyarakat secara khusus berdoa, bersembahyang, dan menunaikan semua kebaktian kepada
Tuhannya maka usaha itu pada dasarnya adalah mengembangkan berbagai nilai yang termasuk nilai
keagamaan.
Demikianlah, dan contoh-contoh di atas ternyata bahwa nilai mempunyai berbagai perwujudan dan terdapat
dalam berbagai segi kehidupan manusia. Dalam studi tentang nilai yang disebut filsafat nilai atau aksiologi,
nilai memang sangat bermakna ganda dan mempunyai berbagai dimensi. Misalnya saja, menurut H. Osborne
dalam bukunya berjudul Foundations of the Philosophy of Value: An Examination of Value and Value
Theories (1933), nilai mempunyai bermacam-macam makna dan yang bercorak etis, psikologis, sosial
sampai metafisis dan religius.
Dalam bidang etika yang tradisional, nilai mempunyai makna yang sepadan dengan pengertian baik dan
buruk. Secara psikologis nilai, antara lain dapat berarti kepuasan atau kenikmatan. Dan konsepsi sosial nilai
merupakan objek dan cita atau tujuan yang disepakati masyarakat bersama. Menurut konsepsi yang bercorak
metafisis, nilai terdapat dalam kekonkretan keberadaan yang nyata. Konsepsi religius mengaitkan nilai
dengan kepercayaan pada keselamatan.
2. Pengertian Nilai
Kita sudah membahas peranan nilai bagi kehidupan manusia. Namun apa nilai itu? Berikut penjelasan
tentang nilai dan bagaimana terciptanya.

Dari berbagai definisi nilai yang dikemukakan oleh para ahli, setelah diperbandingkan satu sama lain dan
dianalisis lebih mendalam ternyata mengandung persamaan pengertian, yaitu nilai pada pokoknya adalah
suatu objek dan keinginan manusia.
Nilai merupakan suatu kenyataan objektif dan hal-hal di luar diri manusia maupun suatu kesadaran subjektif
berupa sikap dalam din manusia. Sesuatu nilai tercipta bilamana ada hubungan interaksi antara kenyataan
objektif dengan kesadaran subjektif itu. Jadi, suatu nilai tertentu lahir bilamana pada suatu ketika ada sikap
manusia yang menginginkan sesuatu hal dan pada saat yang bersamaan terdapat sesuatu objek di luar dirinya
yang memenuhi keinginan manusia itu. Hubungan itu berlaku timbal-balik dan saling mempengaruhi.
Dengan demikian, suatu nilai tertentu juga dapat tercipta apabila ada suatu objek di dunia ini merangsang
keinginan manusia dan serta-merta terdapat suatu sikap dalam diri seseorang yang menginginkan objek yang
bersangkutan.
Segi kesadaran subjektif dalam din seseorang dapat menjelaskan sebabnya mengapa ada perbedaan penilaian
di antara orang dan kelompok orang yang satu dengan yang lainnya karena keinginan (dengan 3 unsurnya
berupa kebutuhan, minat, dan keterikatan emosional) dari masing-masing orang yang harus dipuaskan
memang berbeda.
Kesadaran subjektif dalam bentuk sikap seseorang tidak semata-mata ditentukan dan diperkembangkan oleh
kebutuhan biologis saja, melainkan juga dibentuk oleh struktur sosial dari susunan psikologis dan individu
masing-masing. Lebih-lebih keseluruhan budi rohani manusia, termasuk pikiran, kemauan, dan perasaannya,
mempunyai peranan penting dalam pengembangan nilai. Berhubung dengan adanya berbagai faktor itu, nilai
mempunyai derajat-derajat perbandingan dalam skala yang ditentukan oleh budi rohani manusia. Misalnya,
ada nilai biasa, nilai yang dianggap luhur, dan bahkan nilai penghabisan. Selanjutnya nilai juga memiliki
tingkatant ingkatan abstraksi dalam pemahaman manusia, seperti nilai konkret dan nilai abstrak. Terakhir
nilai perlu dibedakan dalam aneka ragam dan jenis nilai sejalan dengan pencirian dan perwujudannya dalam
berbagai segi kehidupan manusia. Pembagian ragam nilai, misalnya ialah nilai instrumental dan nilai
intrinsik, sedangkan jenis-jenis nilai, misalnya ialah nilai kepercayaan dan nilai intelektual.
Sebelum kita lanjutkan dengan berbagai situasi yang melahirkan nilai, ada baiknya kita pahami
kembali apa yang dimaksud dengan nilai.
Nilai adalah semua ide sebagai objek pemikiran, kemudian diterima pula sebagai suatu objek
keinginan yang diusahakan agar terwujud. Secara singkat nilai adalah objek dan keinginan manusia
yang terdiri dari unsur-unsur kebutuhan, minat, dan keterikatan emosional.
3. Empat Dimensi Situasi yang Melahirkan Nilai
Seorang ahli filsafat Philip Wheelwright dalam bukunya berjudul The Way of Philosophy (1960) menyatakan
bahwa orang mempunyai 4 dimensi situasi dalam kehidupan masyarakat, yaitu sebagai berikut.
a. To have (memiliki).
b. To do (berbuat).
c. To know (mengetahui).
d. Tobe(ada).
Keempat dimensi situasi itu dapat melahirkan bermacam-macam nilai dalam kehidupan masyarakat, di
antaranya 2 dimensi mempunyai peranan yang penting sekali dalam menumbuhkan 4 nilai utama dalam
kehidupan masyarakat.
Dimensi yang pertama ialah to do, yaitu berbuat dan prosesnya perbuatan yang tentu dilakukan oleh semua
orang dalam kehidupan masyarakat. Perbuatan seseorang dapat bercorak semesta dalam pengertian mengejar

sesuatu cita luhur yang menyangkut seluruh umat manusia. Akan tetapi, perbuatan itu juga dapat bercorak
individual dalam arti hanya ditunjukkan pada orang tertentu satu-satu dalam rangka suatu tujuan khusus.
Dengan demikian, kedua perbuatan orang dalam kehidupan masyarakat itu dapat dibedakan demikian:
perbuatan orang : 1. Perbuatan semesta, 2. Perbuatan individual.
Dimensi yang kedua ialah to know, yaitu mengetahui atau produknya pengetahuan yang juga tentu dilakukan
oleh setiap orang dalam kehidupan masyarakatnya. Pengetahuan manusia itu dapat bercorak intelektual
dalam pengertian memerlukan akal budinya. Akan tetapi, pengetahuan itu juga dapat bercorak indrawi dalam
arti memerlukan penyerapan indra manusia. Dengan demikian, kedua pengetahuan setiap orang dalam
kehidupan masyarakatnya dapat dibagi menjadi 2 demikian: pengetahuan orang : 1. Pengetahuan intelektual,
2. Pengetahuan indrawi.
Kedua hal berupa perbuatandan pengetahuan itu merupakan ciri- ciri khas dari manusia yang membedakan
dengan organism hidup lainnya di dunia ini (hewan dan tumbuhan). Hanya manusialah di dunia ini atau
orang dalam kehidupan masyarakatnya yang melakukan berbagai perbuatan yang teleologis (sadar bertujuan)
dan memiliki berbagai pengetahuan yang komprehensif (lengkap menyeluruh).
Kedua perbuatan dan pengetahuan dan orang-orang dalam kehidupan masyarakat itu selanjutnya perlu
dipersatukan sehingga menjadi bagan berikut:
1. perbuatan semesta
2. Perbuatan individual
3. Pengetahuan intelektual
4. Pengetahuan indrawi
Perbuatan semesta, perbuatan individual, pengetahuan intelektual, dan pengetahuan indrawi sebagai
unsurunsur dari realita kehidupan orang dalam masyarakat mempunyai kualitas-kualitas tertentu yang
mewujudkan 4 nilai manusiawi yang utama. Keempat hal itu dapat memuaskan keinginan orango rang dalam
hidup bermasyarakat.
Keempat nilai utama yang lahir dari perbuatan dan pengetahuan orang dalam masyarakat itu dapat
dinyatakan dalam bagan sebagai berikut:
1. perbuatan semesta Nilai kepercayaan
2. Perbuatan individual Nilai etis
3. Pengetahuan intelektual Nilai ilmiah
4. Pengetahuan indrawi Nilai estetis
Jadi, dalam kehidupan suatu masyarakat yang telah cukup maju terjadilah proses yang berikut.
a. Perbuatan semesta yang dilakukan orang-orang menumbuhkan nilai kepercayaan.
b. Perbuatan individual yang dilakukan orang-orang menumbuhkan nilai etis.
c. Pengetahuan intelektual yang dimiliki orang-orang menumbuhkan nilai ilmiah.
d. Pengetahuan indrawi yang dimiliki orang-orang menumbuhkan nilai estetis.

Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini ke-4 macam nilai itu bersifat pokok dan secara konkret masingmasing mempunyai sebutan tersendiri. Ke 4 nilai utama dari manusia kehidupan masyarakat dalam zaman
modern ini sebutannya adalah demikian :
1. nilai kepercayaan keluhuran
2. nilai ilmiah kebenaran
3. nilai etis kebaikan
4. nilai estetis keindahan
Demikianlah dalam masyarakat modern dewasa ini terdapat 4 nilai utama dan manusia dalam kehidupan
masyarakat. Ke 4 nilai utama itu menjadi ciri ciri khas dari manusia yang menyebabkannya berbeda dengan
segenap makhluk hidup dan jasad lainnya di dunia ini. Ke-4 nilai utama itu adalah sebagai benkut.
a. Keluhuran.
b. Kebaikan.
c. Kebenaran.
d. Keindahan.
KEGIATAN BELAJAR 2
KAITAN SATU SAMA LAIN EMPAT NILAI UTAMA
Pada Kegiatan Belajar 1 sudah dijelaskan dan sama-sama kita pelajari empat nilai utama yang lahir dari
perbuatan dan pengetahuan orang dalam masyarakat khususnya masyarakat yang telah cukup maju yaitu nilai
kepercayaan, nilai etis. nilai ilmiah, nilai estetis.
Dalam kehidupan masyarakat dewasa ini ke-4 macam nilai itu bersifat pokok dan secara konkret masingmasing mempunyai sebutan tersendiri. Ke 4 nilai utama dari manusia dalam kehidupan masyarakat dalam
zaman modern ini sebutannya adalah demikian:
1. Nilai kepercayaan keluhuran
2. Nilai ilmiah kebenaran
3. Nilai etis kebaikan
4. Nilai estetis keindahan
Demikianlah dalam masyarakat modern dewasa ini terdapat 4 nilai utama dari manusia dalam kehidupan
masyarakat. Ke-4 nilai utama itu menjadi ciri-ciri khas dari manusia yang menyebabkannya berbeda dengan
segenap makhluk hidup dan jasad lainnya di dunia ini. Ke-4 nilai utama itu adalah sebagai berikut.
1. Keluhuran.
2. Kebaikan.
3. Kebenaran.
4. Keindahan.
Ke4 nilai utama keluhuran, kebaikan, kebenaran, dan keindahan sama arti pentingnya. Urutan penyebutan
nomor 1, 2, 3, dan 4 sama sekali tidak mengandung pengutamaan, melainkan boleh dimulai dan nilai yang
mana saja. Ke-4 nilai utama itu mempunyai arti penting yang sama, kedudukan yang sederajat, dan peranan
yang sebanding dalam kehidupan semua orang di masyarakat.

Bilamana masing-masing nilai keluhuran, kebaikan, kebenaran, dan keindahan perlu dirumuskan batasannya,
ternyata hal itu dapat dilakukan dengan menggunakan 2 nilai lainnya. Hal ini dapat dilakukan karena
masingm asing nilai mengandaikan adanya nilai-nilai yang lainnya. Batasan masingm asing nilai itu dapat
dirumuskan demikian:
1.
2.
3.
4.

keluhuran adalah kebaikan yang sekaligus merupakan kebenaran.


kebaikan adalah keluhuran yang sekaligus merupakan keindahan.
kebenaran adalah keindahan yang sekaligus merupakan keluhuran
keindahan adalah kebenaran yang sekaligus merupakan kebaikan.

Perumusan tersebut dapat dijelaskan selanjutnya sebagai berikut.


1. Keluhuran
Keluhuran merupakan perwujudan dan nilai kepercayaan. Bagi seseorang yang memiliki suatu kepercayaan
maka sesuatu yang dianggap luhur pastilah merupakan kebaikan yang dikejar dan sekaligus diyakini sebagai
suatu kebenaran.
Dilihat dari segi seseorang yang melakukan perbuatan dan memiliki pengetahuan dalam kehidupan
masyarakat maka perbuatan semesta yang melahirkan nilai kepercayaan adalah perbuatan individual yang
ditunjukkan pada setiap orang lain dengan tujuan menjadi pengetahuan intelektual yang berlandaskan akal.
2. Kebaikan
Kebaikan merupakan perwujudan dari nilai etis. Kebaikan berupa perbuatan individual yang ditunjukkan
pada setiap orang lain merupakan suatu hal yang dianggap luhur dan sekaligus dianggap indah sehingga
diulang-ulang melakukannya untuk melangsungkan terus rasa senang yang diperoleh.
Dilihat dari segi seseorang yang berbuat baik dalam masyarakat maka perbuatan individual yang melahirkan
nilai etis adalah perbuatan yang ingin diulang-ulang sehingga menjadi perbuatan semesta bagi semua orang
dengan menimbulkan rasa keindahan seperti halnya pengetahuan indrawi.
3. Kebenaran
Kebenaran merupakan perwujudan dan nilai ilmiah. Kebenaran yang berasal dari pengetahuan intelektual
merupakan keindahan yang menyenangkan dan dengan demikian perlu ditingkatkan menjadi suatu hal yang
luhur dan palm dimiliki oleh semua orang.
Dilihat dari segi seseorang yang memiliki pengetahuan dalam kehidupan masyarakat maka pengetahuan
intelektual sesungguhnya pada tahap awalnya bermula dari indra manusia untuk selanjutnya dikembangkan
dengan perbuatan semesta agar bersifat langgeng.
4. Keindahan
Keindahan merupakan perwujudan dari nilai estetis. Keindahan yang bermula pada pengetahuan indrawi
merupakan suatu kebenaran bagi yang dapat menikmatinya dan sekaligus juga suatu hal yang baik sehingga
ingin dinikmati terus.
Dilihat dari segi seseorang yang memiliki pengetahuan dalam kehidupan masyarakat maka pengetahuan
indrawi diharapkan dapat dipahami oleh pengetahuan intelektual untuk menjadi perbuatan individual yang
melahirkan kebaikan.
Seorang ahli filsafat William Sahakian yang mengarang buku berjudul Systems of Ethics and Value Theory
(1968) mempersembahkan bukunya kepada: The aesthetic soul, who loves truth and pursues the good (Orang
berjiwa estetis, yang mencintai kebenaran dan mengejar hal yang baik). Jadi, menurut pendapatnya seseorang

yang memiliki jiwa estetis dan dengan demikian menghargai keindahan adalah orang yang rinciu pada
kebenaran dan secara bersamaan mendambakan kebaikan.
Selain saling mengandaikan seperti telah dirumuskan dan dijelaskan di atas, ke-4 nilai utama itu juga saling
berhubungan dari saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada perwujudannya dalam kehidupan
manusia. Saling hubungan yang kokoh dan sejumlah komponen akan membentuk suatu struktur dan
komponen-komponen itu sebagai suatu kebulatan. Dengan demikian, ke-4 nilai utama dari manusia dalam
kehidupan masyarakat sebagai suatu kebulatan juga mempunyai sebuah struktur. Struktur itu adalah
demikian:
Dari struktur di muka ternyata ke-4 nilai utama dari manusia dalam kehidupan masyarakatnya mempunyai 4
macam interaksi yang berikut:
1. Keluhuran dengan kebaikan
2. Kebenaran dengan keindahan
3. Keluhuran dengan keindahan
4. Kebenaran dengan kebaikan
Interaksi antara keluhuran dengan kebaikan dan antara kebenaran dengan keindahan merupakan hubungan
sejenis. Keluhuran dan kebaikan merupakan gejala yang sejenis, yaitu sama-sama berasal dari perbuatan.
Demikian pula kebenaran dan keindahan adalah gejala yang sejenis, yaitu sama-sama berasal dan
pengetahuan.
Interaksi antara keluhuran dengan keindahan dan antara kebenaran dengan kebaikan merupakan hubungan
pelengkap. Dalam kehidupan manusia di masyarakat nilai keluhuran dengan keindahan dan nilai kebenaran
dengan kebaikan saling memerlukan dan melengkapi.
Bahkan hubungan saling memerlukan dan melengkapi ternyata dalam sejarah peradaban manusia menjadi
kaitan yang sangat erat. Kaitan erat itu dapat menjelaskan mengapa keluhuran dan keindahan bersatu padu
sehingga melahirkan seni keramat. Demikian pula kaitan erat antara kebenaran dengan kebaikan menjadi
suatu landasan dan ide yang sering didengung-dengungkan bahwa seorang yang berilmu harus pula
merupakan orang yang bermoral.
Struktur ke-4 nilai utama itu juga dapat dipergunakan untuk membenarkan batasan masing-masing nilai yang
telah dirumuskan di depan. Dengan mengamati struktur itu temyata masing-masing nilai keluhuran,
kebaikan, kebenaran, dan keindahan mencakup 1 hubungan sejenis dan 1 hubungan pelengkap dalam suatu
pola yang identik. Hal ini dapat dilihat dan 4 bagan yang berikut:
1. keluhuran : a + d (kebaikan dan sekaligus kebenaran)
2. kebaikan : a + c (keluhuran dan sekaligus keindahan)
3. kebenaran : b + c (keindahan dan sekaligus keluhuran)
4. keindahan : b + d (kebenaran dan sekaligus kebaikan)
Demikianlah saling kaitan di antara 4 nilai utama dan manusia. Nilain ilai keluhuran, kebaikan, kebenaran,
dan keindahan itu karena saling interaksinya yang demikian erat merupakan sebuah kebulatan. Oleh
karenanya dapat dianggap sebagai sebuah Teori 4 Nilai Utama dalam Kehidupan Masyarakat.
Setiap warga masyarakat wajib menjunjung tinggi nilai-nilai keluhuran, kebaikan, kebenaran, dan keindahan
dalam melakukan berbagai pertimbangan dalam kehidupannya. Orang dalam mempertimbangkan sesuatu
pengetahuan biasanya mempertanyakan apakah hal itu benar atau mengandung kebenaran. Dalam mengukur
sesuatu tindakan, orang biasanya mempertanyakan apakah hal itu baik atau mempunyai kebaikan. Dalam
menilai sesuatu serapan, orang biasanya mempertanyakan apakah hal itu indah atau mewujudkan keindahan.

Pertimbangan-pertimbangan manusia tertuju pada segala hal yang ada di dunia ini. Dengan demikian,
kebaikan, kebenaran, dan keindahan mempunyai ruang lingkup yang amat luas dan medan cakupan yang
sangat beragam.
Terutama orang-orang dalam hidup bermasyarakat dan berinteraksi satu sama lain akan banyak sekali
berbenturan dengan nilai kebaikan dan nilai kebenaran. Kebaikan pada umumnya dikaitkan dengan hasrat
manusia atau perwujudannya dalam tindakan. Kebaikan (goodness) atau hal yang baik (the good) atau pun
suatu sifat baik (good) boleh dikatakan dapat dikaitkan dengan apa saja di dunia ini.
Menurut A. R. Lacey dalam bukunya berjudul A Dictionary of Philosophy (1976) secara umum dan
sederhana kata good (baik) berarti sifat atau pencirian dari sesuatu hal yang menimbulkan pujian. Peter
Angeles dalam bukunya berjudul Dictionary of Philosophy menegaskan bahwa kata good (baik) mengandung
sifat-sifat, seperti persetujuan, pujian, keunggulan, kekaguman atau ketepatan.
Setiap orang senantiasa mendambakan hal-hal yang baik, bagi pribadinya, keluarganya, dan kehidupannya.
Dengan demikian, kebaikan berkaitan erat dengan hasrat manusia. Hal-hal yang diinginkan manusia adalah
hal-hal yang baik meliputi berbagai kebutuhan pokok, seperti pengetahuan, kehormatan, kesenangan sampai
kekayaan. Untuk mencapai hal-hal yang baik itu manusia memerlukan kehidupan bersama yang bersifat adil,
bercorak bebas, dan berkedudukan sama. Bilamana seseorang dalam kehidupan masyarakat membina
kebiasaan-kebiasaan yang baik maka kebiasaan-kebiasaan itu dapat menjadi sesuatu kebajikan
tertentu.Dalam rangka ini berbagai kebajikan berjalan pula seiring dengan kebaikan.
Pokok-pokok soal yang dipertanyakan dan diperbincangkan oleh para cendekiawan pemikir sepanjang masa
dalam karya-karya tulis yang menyangkut kebaikan, antara lain berikut ini.
1. Teori umum tentang baik dan jahat. Ini misalnya mempersoalkan ide kebaikan dan asal mula kejahatan.
2. Teori moral tentang hal yang baik. Ini misalnya mempersoalkan perbedaan antara kebaikan moral dan
kebaikan metafisis, masalah sifat dasar manusia dan penentuan hal yang baik bagi manusia atau persoalan
benar dan salah.
3. Pembagian macam-macam hal-hal baik bagi manusia, misalnya hal-hal baik untuk badan dan untuk jiwa,
hal-hal baik yang intrinsik dan yang ekstrinsik, serta hal-hal baik yang bersifat individual dan bersifat
umum.
4. Hubungan kebaikan dengan pengetahuan, antara lain diperbincangkan mengenai kebaikan dari
pengetahuan atau kearifan, kemungkinan tentang pengetahuan moral.
Kebenaran pada umumnya dikaitkan dengan pemikiran manusia atau perwujudannya dalam pengetahuan.
Perbincangan-perbincangan dalam bidang pengetahuan, khususnya pengetahuan ilmiah, dipengaruhi oleh
nilai kebenaran.
Sejak zaman Yunani Kuno para filsuf dan cendekiawan memperbincangkan kebenaran. Hal-hal yang
dipertanyakan dan menjadi pokok-pokok soal perbincangan, antara lain berikut ini.
1. Ukuran-ukuran kebenaran.
2. Hubungan kebenaran dengan kenyataan.
3. Macam-macam kebenaran, misalnya kebenaran teoretis dan kebenaran praktis, kebenaran ilahi dan
kebenaran manusiawi atau kebenaran makna dan kebenaran kata.
4. Cara-cara berlakunya kebenaran, misalnya pembedaan antara kebenaran dalam budi pikiran dan
kebenaran dalam berbagai hal.

5. Landasan kebenaran dalam pertimbangan dan penalaran, seperti umpamanya asas pertentangan atau
kesahan logis.
6. Segi-segi moral dari kebenaran, misalnya persyaratan untuk menemukan kebenaran, di antaranya
kemerdekaan berpikir dan kebebasan berdiskusi.
Setiap administrator pemerintahan seperti halnya setiap warga masyarakat wajib pula menjunjung tinggi nilai
kebaikan dan nilai kebenaran dalam melakukan berbagai pertimbangan pada pelaksanaan tugas jabatannya.
Nilai kebaikan dan nilai kebenaran harus dijadikan pegangan dalam melaksanakan fungsinya dan
menjalankan jabatannya. Hal ini berarti Teori 4 Nilai Utama dalam Kehidupan Masyarakat perlu sekali
dijadikan pegangan dalam etika administrasi pemerintahan.
Etika administrasi pemerintahan perlu sekali berlandaskan pada Teori 3 Asas Luhur yang dipaparkan dalam
Modul 2 di depan dan berpegang pada Teori 4 Nilai Utama yang dipaparkan dalam Modul 3 ini. Dengan
demikian, semua konsep yang dimuat dalam kedua Modul itu merupakan suatu kebulatan yang utuh.
KEGIATAN BELAJAR 3
SEBUAH TEORI KEBERUNTUNGAN KEBAIKAN
Kaitan yang sangat erat ternyata juga dianggap ada antara kebaikan dengan keberuntungan. Keberuntungan
dapat terjadi pada seseorang yang memiliki kebaikan. Orang yang baik tentu beruntung dan orang beruntung
harus baik. Hal itu dikemukakan oleh The Liang Gie dalam buku autobiografinya yang berjudul Riwayat
Hidup Sendiri dan Seorang Ayah yang Selalu Beruntung: Sebuah Autobiografi Intelektual, Edisi Kedua
(2003). Dalam buku ini ia mengajukan sebuah Teori Keberuntungan-Kebaikan. Teori itu bertumpu pada
sebuah dalil bahwa keberuntungan berjalan seiring dengan kebaikan. Kalau kebaikan ada pada seseorang
maka keberuntungan akan menghampirinya. Kalau kebaikan lenyap dari orang itu maka keberuntungan juga
akan pergi menjauhinya.
Arti Keberuntungan dan Arti Kebaikan
Keberuntungan adalah sesuatu hal yang membuat seseorang merasa lebih baik ketimbang keadaan
sebelumnya. Kebaikan (dan sifat baik) adalah sesuatu hal di alam semesta ini yang membuat seseorang lahir
batin merasa beruntung. Jadi, keberuntungan dan kebaikan saling mengandaikan. Keduanya timbul secara
bersamaan, tumbuh secara bersamaan, dan akhirnya berjalan seiring.
Pengertian kebaikan atau sifat baik mempunyai ruang lingkup yang amat luas dan dapat dikaitkan dengan
segala sesuatu di alam semesta ini. Sebagai contoh, dapat dikatakan tentang berikut ini.
1. Seorang yang baik, misalnya bilamana ia sering menolong orang lain.
2. Suatu kemauan baik, misalnya itikad yang tulus tanpa pamrih.
3. Suatu kehidupan yang baik, yakni hidup seseorang yang bahagia, serba kecukupan, dan dihargai orang
lain.
4. Sebuah masyarakat yang baik, yakni hidup bersama dari sekelompok orang yang suasananya aman,
damai, dan tenteram serta hubungannya satu sama lain serba adil dan penuh tenggang rasa.
5. Sebuah lukisan yang baik, yaitu lukisan indah yang menimbulkan perasaan kagum atau senang pada
orang yang melihatnya.
6. Sebuah pisau yang baik, yaitu pisau yang tajam, enak dipakai atau mutunya tinggi.
7. Makanan yang baik, yakni makanan penuh gizi yang menyehatkan badan.

8. Obat yang baik, yakni obat yang manjur untuk mengobati sesuatu penyakit.
9. Kebaikan dan pengetahuan, kearifan dan persahabatan.
10. Seorang ahli pemikir bahkan menyebut tentang kebaikan Tuhan.
Jadi, ruang lingkup dan luas penerapan dari kebaikan tidak terbatas dan dapat diperlakukan pada apa saja.
Pelaksanaan kebaikan dapat dibedakan menjadi 3 tingkatan, yaitu sebagai berikut.
1. Memiliki kebaikan.
2. Melakukan kebaikan.
3. Meningkatkan kebaikan.
Seseorang yang memiliki kebaikan berarti bahwa ia pada dirinya dan dalam batinnya mempunyai sifat-sifat
yang baik, misalnya jujur, setia giat bekerja, tekun berjuang atau ulet berusaha. Seorang mahasiswa yang
setiap hari rajin melakukan studi untuk senantiasa menambah ilmunya berarti memiliki kebaikan. Seorang
administrator pemerintahan yang setiap hari melaksanakan tugasnya secara sungguh-sungguh dan penuh
tanggung jawab juga berarti memiliki kebaikan. Seorang pedagang yang menjalankan usaha secara wajar,
mengambil keuntungan secara layak, dan selalu menempati janjinya kepada pemasok dan pelanggan berarti
pula memiliki kebaikan.
Seseorang melakukan kebaikan kalau ia berbuat sesuatu hal yang baik bagi orang lain sehingga membuat
orang lain itu lahir batin merasa beruntung. Misalnya, ia menolong tetangganya yang sedang ditimpa
musibah atau membantu menjaga keamanan dari lingkungan wilayahnya (ini berarti berbuat baik bagi
kepentingan orang-orang lain sekampungnya).
Seseorang yang meningkatkan kebaikan mengandung anti bahwa ia terus-menerus dan waktu ke waktu
berusaha memiliki kebaikan yang lebih banyak dan melakukan kebaikan yang lebih sering. Misalnya,
seorang administrator pemerintahan yang senantiasa secara teratur menambah pengetahuannya dengan
membaca buku-buku, terus-menerus memberi perhatian yang lebih besar pada kesusahan rakyat, dan dari
waktu ke waktu meningkatkan pengabdiannya untuk membangun daerahnya. Ia berusaha meningkatkan
kebaikannya sepanjang masa dinasnya sampai berhenti pensiun dengan menambah sifat-sifat baik pada
dirinya dari adil, bijak, cerdas, dinamis, efisien, demikian terus sampai akhir hayatnya.
Dalam mitologi Yunani Kuno, Romawi, dan Hindu Kuno keberuntungan diwujudkan sebagai seorang dewi,
yaitu Dewi Keberuntungan.
Dalam bahasa Latin dikenal sebuah dalil yang menyatakan Audentes Fortuna Juvat, terjemahan bahasa
Inggrisnya Fortune favors the bold (artinya Dewi Fortuna menyukai orang pemberani). Dalil itu perlu
kiranya diubah menjadi Fortune favors the good, artinya Dewi Fortuna menyukai orang yang baik. Dewi
Keberuntungan tentu menghampiri seseorang yang memiliki kebaikan, melakukan kebaikan, dan
meningkatkan kebaikan. Dewi itu enggan mendekati orang yang melupakan kebaikan.
Lawan arti dari kebaikan adalah kejahatan, sedangkan lawan arti dari keberuntungan adalah kemalangan.
Dewi Fortuna akan meninggalkan seseorang yang memiliki sifat jahat, melakukan kejahatan, apalagi yang
meningkatkan kejahatan.
Seseorang pejabat negara yang telah beruntung dipilih menjadi presiden harus memiliki, melakukan, dan
meningkatkan kebaikan. Dengan demikian, ia akan selalu beruntung dan namanya harum sepanjang masa.
Akan tetapi, kebalikannya kalau ia memiliki, melakukan, dan meningkatkan kejahatan, Dewi Keberuntungan
pada suatu waktu pasti meninggalkannya.

Dalam sejarah dunia dewasa ini banyak contoh-contoh yang membuktikan kebenaran hal itu. Oleh karena
menggelapkan uang negara, menangkapi lawan-lawan politiknya, dan mengangkati kerabatnya dalam
berbagai jabatan, seseorang presiden yang semula disanjung-sanjung rakyat akhirnya terjungkal dan
kedudukannya yang tertinggi itu. Ada presiden yang diseret ke muka pengadilan, yang dicaci maid orang
banyak, yang lan ke luar negeri, yang tidak berani kembali ke tanah airnya, yang meninggal dunia di
perantauan atau mengalami berbagai kemalangan. Contoh-contoh itu membuktikan kebenaran dalil bahwa
keberuntungan berjalan seiring dengan kebaikan. Kalau kebaikan pada seseorang pudar maka keberuntungan
pun akhirnya lari menjauhinya. Kebalikannya tokoh-tokoh ternama, seperti Mahatma Gandhi dan Albert
Schweitzer yang tidak melakukan sesuatu kejahatan, namanya tetap harum sepanjang masa.
Penerapan Teori Keberuntungan-Kebaikan pada Administrasi Pemerintahan
Teori Keberuntungan-Kebaikan itu selain berlaku untuk orang perseorangan kiranya juga berlaku bagi
sesuatu bangsa. Bangsa itu akan memperoleh keberuntungan kalau memiliki, melakukan, dan meningkatkan
kebaikan dalam perjalanan hidupnya. Kebalikannya kalau rakyatnya pada umumnya memiliki, melakukan,
dan meningkatkan kejahatan. Dewi Keberuntungan tentu enggan menghampirinya, misalnya:
1. Para pejabat pimpinan pada pucuk pemerintahan hanya sibuk mengeruk kekayaan negara untuk kantong
sendiri, bukannya secara jujur dan sepenuh kemampuan berusaha memajukan negara.
2. Para petugas pemerintahan di lapisan bawahnya menyalahgunakan jabatannya untuk keuntungan pribadi,
bukannya sungguh-sungguh mengabdi pada kepentingan rakyat.
3. Golongan masyarakat atasan yang dekat dengan pucuk pimpinan menggunakan kesempatan untuk
memperkaya diri secara tidak wajar.
4. Golongan masyarakat menengah saling bunuh, saling bakar rumah, dan saling menghancurkan harta
benda, bukannya sibuk bekerja secara rajin dan tekun meningkatkan produksi masyarakat.
5. Kaum muda suka main tawuran dan gemar narkoba, bukannya mengerahkan seluruh pikiran dan waktu
untuk belajar menimba ilmu agar kelak menjadi warga negara atau bahkan pemimpin yang
berpengetahuan, pandai, dan berguna.
6. Lapisan rakyat bawahan sering melakukan, pencurian dan penjarahan.
Untuk menghapus semua kemalangan, keterpurukan, dan krisis yang menimpanya, sesuatu bangsa harus
menanamkan kebaikan pada diri dan dalam batin dari setiap warganya sebagai sebuah nilai utama. Tidak ada
langkah lain yang lebih tepat. Dewi Keberuntungan harus dibujuk dengan berbagai perbuatan baik agar mau
datang menghampini untuk menganugerahi keberuntungan, bukannya malah ditakut-takuti dengan berbagai
kekejaman, kekerasan, kelahiran, dan macam-macam perbuatan jahat lainnya sehingga makin menjauh.
Hanya menjulurkan kedua telapak tangan ke depan minta-minta bantuan dan pinjaman dan negara-negara
lain dan badan-badan intemasional tidak akan dapat menghapus knisis itu. Bahkan knisis menjadi makin
parah karena utang negara dari tahun ke tahun makin membengkak.
Sungguh benar-benar memalukan jika suatu bangsa dengan tanah air yang memiliki berbagai sumber daya
alam melimpah, lingkungan laut yang kaya raya, tanah yang subur, iklim yang menguntungkan, dan sumber
daya manusia yang besar dan tahun ke tahun selalu menjulurkan kedua telapak tangan minta-minta pinjaman
dan negara-negara maju, negara-negara kaya, dan negara-negara dermawan yang beberapa di antaranya
negara-negara yang amat kecil.
Sebuah saran baik yang berikut dan seorang sarjana kelahiran Pakistan, Ziauddin Saidar perlu sekali di hayati
dan diusahakan:
Stable countries make better trading partners and whereas trade benefits all, aid becomes a burden and
embarrassment to all. Aid indeed is to be depreciated, as its history indicates that the position of aid donor is

all too often culturally subversive. A developing country should thus be encouraged to trade rather than hold
out the bowl and become a nation of beggars.
(Negara-negara yang kokoh membentuk mitra-mitra dagang yang lebih baik dan sementara perdagangan
menguntungkan semua pihak, bantuan menjadi suatu beban dan keadaan yang memalukan bagi semua pihak.
Bantuan sesungguhnya harus dicela, sebagaimana sejarahnya menunjukkan bahwa kedudukan pemberi
bantuan semuanya terlalu sering bersifat merusak secara budaya. Suatu negara sedang berkembang
karenanya harus dianjurkan untuk berdagang ketimbang menyodorkan mangkuk dan menjadi suatu bangsa
para pengemis.)
Negara sedang berkembang tidak dianjurkan untuk melakukan pinjaman kepada negara kaya atau badan
internasional.
Karena pinjaman itu menjadi beban yang berat dan bahkan sering kali dari tahun ke tahun menjadi makin
besar.

MODUL 4 NILAI, JENIS, DAN RAGAM DARI KEADILAN


KEGIATAN BELAJAR 1
KEADILAN SEBAGAI SUATU NILAI SANGAT LUHUR DALAM PEMERINTAH
Nilai sebagai suatu objek dari keinginan manusia perlu digolongkan macam-macamnya karena keinginan
manusia yang menuntut pemuasan dari nilai memang beraneka ragam. Dalam filsafat nilai dewasa ini
penggolongan nilai itu pada pokoknya dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu penggolongan jenis nilai dan
penggolongan ragam nilai.
Pada modul sebelumnya kita telah membahas tiga asas luhur mencakup asas keadilan. Untuk mengingatkan
kembali, keadilan adalah kemauan yang tetap dan kekal untuk memberikan kepada setiap orang apa yang
semestinya. Telah dijelaskan pula tentang konsepsi keadilan sebagai kategori pemikiran dan entitas yaitu ide,
nilai, atau kebajikan. Dalam suatu kehidupan negara, keadilan merupakan nilai sangat luhur bagi
terwujudnya ketertiban, bangsa yang bersatu, dan kehidupan yang aman, damai, dan tenteram. Oleh
karenanya pemerintah wajib menyelenggarakan pengaturan dan pengurusan kehidupan masyarakat secara
adil sehingga terselenggara pemerintahan yang adil.
Marilah kita mulai dengan membahas tentang jenis dan ragam nilai.
1. Jenis dan Ragam Nilai
Nilai dapat dibedakan dalam berbagai jenis sesuai dengan penggolongan objek, pembagian situasi atau segisegi kehidupan manusia yang menjadi ruang lingkup perwujudan sesuatu nilai. Jenis nilai menunjuk pada:
a. isi substantif yang berkaitan dengan sesuatu segi kehidupan manusia pada objek yang bersangkutan;
b. nilai dapat pula dibedakan dalam berbagai ragam menurut sifat penciriannya.
Ragam nilai mengacu pada sesuatu ciri fungsional dari objek yang dapat memuaskan sesuatu keinginan
manusia.
Salah satu penggolongan jenis nilai yang sudah tua, tetapi masih berpengaruh dewasa ini dikemukakan oleh
Walter Everett dalam bukunya berjudul Moral Values (terbit dalam tahun 1918). Filsuf ini menggolongkan
segenap nilai manusiawi menjadi 8 kelompok sebagai berikut.
a. Nilai-nilai ekonomik
ini mencakup semua benda yang dapat diperjualbelikan dan nilainya ditunjukkan oleh harga pasar dari
sesuatu benda. Nilai ekonomik hanyalah merupakan sarana untuk mencapai berbagai nilai lainnya.
b. Nilai-nilai badaniah
ini meliputi berbagai benda yang membantu tercapainya kesehatan, efisiensi, dan keindahan dari
kehidupan jasmani manusia.
c. Nilai-nilai rekreasi
Kelompok ini terdiri atas nilai-nilai dari permainan dan waktu luang yang dapat menyumbang pada
pengayaan kehidupan.
d. Nilai-nilai perserikatan
ini menyangkut aneka bentuk persenikatan manusia, seperti persahabatan, kehidupan keluarga sampai
hubungan-hubungan sejagat. Kelompok nilai ini dapat juga disebut nilai sosial.

e. Nilai-nilai perwatakan
Kelompok nilai ini meliputi seluruh kebajikan perseorangan maupun kemasyarakatan yang diinginkan,
termasuk keadilan, kedermawanan, pengendalian diri, dan kejujuran.
f. Nilai nilai estetis
ini adalah nilai-nilai keindahan sebagaimana terdapat pada alam dan karya seni.
g. Nilai-nilai intelektual
Kelompok nilai ini mencakup nilai-nilai dari pengetahuan dan kebenaran.
h. Nilai-nilai keagamaan
Jenis nilai ini bersangkut paut dengan agama. Agama adalah suatu pencarlan terhadap kehidupan yang
baik dengan bantuan tertib kosmik. Ruang lingkupnya meliputi pemujaan, kebaktian, dan keterikatan
pada nilai yang dianggap nilai terluhur.
2. Nilai Ekstrinsik dan Nilai Intrinsik
Mengenai pembedaan ragamragam nilai, pada umumnya para filsuf menerima pembedaan ragam-ragam nilai
dalam dwi pembagian yang sudah sangat terkenal, yaitu nilai ekstrinsik dan nilai intrinsik.
Nilai ekstrinsik adalah sesuatu nilai yang berfungsi sebagai sarana atau alat untuk mencapai sesuatu hal lain,
termasuk pula sesuatu nilai apa pun yang lain. Ragam nilai ini pada umumnya terdapat pada benda-benda.
Misalnya, uang mempunyai nilai ekstrinsik karena dapat menjadi alat pembayaran untuk membeli
umpamanya vitamin. Vitamin ini memiliki, misalnya nilai badaniah menurut penggolongan Walter Everett
karena dapat membantu tercapainya kesehatan jasmani seseorang.
Nilai intrinsik adalah sesuatu nilai dari ide atau pengalaman yang bersifat baik atau patut dimiliki sebagai
suatu tujuan tersendiri, bukan sebagai sarana atau alat untuk mencapai sesuatu nilai lain. William Frankena
dalam karangannya berjudul Value dalam Dictionary of Philosophy (1975) merumuskan sifat intrinsik itu
sebagai the character of being good or valuable in itself or as an end or for its own sake (sifat baik atau
bernilai dalam dirinya sendiri atau sebagai suatu tujuan atau demi kepentingannya sendiri). Sebagai contoh
dan sebuah nilai intrinsik yang sudah terkenal ialah kebenaran. Kebenaran mengandung nilai intrinsik
merupakan hal yang baik, sesuatu yang bernilai karena ide kebenaran itu sendiri atau merupakan suatu tujuan
tersendiri ataupun demi kepentingan kebenaran itu. Dengan demikian, dalam pengembangan ilmu, misalnya
tidak perlu dipertanyakan untuk tujuan apa seseorang ilmuwan mencari kebenaran. Pengetahuan ilmiah dan
kebenaran ilmiah mengandung nilai intelektual (menurut jenisnya) dan sekaligus merupakan suatu nilai
intrinsik (menurut ragamnya).
Setelah kita pelajari jenis nilai dan ragam nilai, dapatkah Anda menjelaskan segi pokok yang membedakan
jenis nilai dari ragam nilai? Segi pokok yang membedakan jenis nilai dari ragam nilai adalah sebagai berikut.
a) Jenis nilai menyangkut isi substantif dari objek yang berkaitan dengan segi-segi kehidupan manusia.
b) Ragam nilai menyangkut sifat pencirian dari objek yang berkaitan dengan fungsinya.
3. Konsep Nilai yang Penghabisan (summum bonum)
Selain pembagian jenis-jenis nilai dan ragam-ragam nilai tersebut di muka, dalam perkembangan filsafat nilai
selama ini dikenal pula sebuah konsep nilai yang penghabisan. Menurut George Theodorson dan Achilles
Theodorson dalam A Modern Dictionary of Sociology (1970) nilai yang penghabisan adalah suatu nilai atau
cita yang suatu masyarakat menganggapnya sebagai bersifat pokok, tak dapat dibantah, dan tak berubah.

Nilai yang penghabisan berhubungan erat dengan konsep summum bonum dalam etika. Istilah Latin summum
bonum berarti hal baik yang terluhur. Summum bonum merupakan suatu tujuan (atau nilai) yang tertinggi dari
kehidupan manusia yang demi itu semua hal lain dilakukan. Hal itu juga dianggap sebagai suatu tujuan yang
penghabisan dari kelakuan manusia yang secara intrinsik dan substantif adalah baik sehingga tidak di bawah
suatu tujuan lainnya apa pun.
Dalam sejarah perkembangan etika sejak dahulu hal-hal yang dianggap sebagai summum bonum, misalnya
kebahagiaan, kebajikan, cinta kasih pada sesama manusia atau kepatuhan pada kehendak Tuhan.
Contoh nilai intrinsik dan contoh nilai ekstrinsik.
Untuk lebih memahami anti nilai intrinsik dan nilai ekstrinsik, silakan Anda cari contoh-contoh lain
dan kedua nilai tersebut.
4. Keadilan sebagal Suatu Nilai
Keadilan dalam kenyataannya menjadi suatu objek dari keinginan yang didambakan dalam kehidupan
masyarakat dan diusahakan terwujud pada perilaku para anggota masyarakat yang bersangkutan. Dengan
demikian, tidak dapat disangsikan lagi bahwa keadilan merupakan sebuah nilai.
Nilai merupakan suatu objek dan keinginan kelompok orang dengan segenap kebutuhan, minat, dan
keterikatan emosional dalam kehidupan bersama. Kehidupan bersama yang merupakan suatu perserikatan
dengan tujuan-tujuan spesifik apa pun dan dalam bentuk-bentuk konkret bagaimanapun memerlukan suatu
landasan ideal yang luhur. Salah satu landasan ideal yang sangat tepat bagi setiap perserikatan ialah nilai
keadilan, karena sifatnya yang sangat luhur, layak dijunjung tinggi, dan patut sebagai tali keterikatan yang
baik dalam suatu kehidupan bersama yang cukup luas.
Lebih-lebih pada perserikatan manusia yang berbentuk suatu negara dengan tujuan yang demikian luas,
kelompok-kelompok warga yang berbedab eda, kepentingan-kepentingan yang berlainan, kemampuankemampuan dalam berbagai segi yang tidak merata, dan mekanisme pengaturan yang amat rumit, landasan
keadilan yang ideal tampaknya merupakan suatu keharusan. Dalam suatu kehidupan negara, nyata sekali
keadilan merupakan sebuah nilai sangat luhur bagi terwujudnya perserikatan yang tertib, bangsa yang
bersatu, dan kehidupan yang aman, damai, dan tenteram. Dalam setiap negara yang baik senantiasa dituntut
adanya pemerintahan yang adil, hukum yang adil, pajak yang adil, kehidupan sosial yang adil, pemerataan
sumber daya yang adil, dan berbagai tata tertib lainnya yang serba adil.
Dalam rangka pembedaan jenis nilai dan ragam nilai, keadilan tergolong dalam jenis nilai perserikatan dan
termasuk ragam nilai intrinsik. Keadilan sebagai nilai perserikatan yang luhur dapat kiranya dianggap
merupakan summum bonum atau hal baik yang terluhur dari kehidupan negara. Keadilan tepat bilamana
dianggap sebagai suatu tujuan yang tertinggi dan perserikatan manusia yang berbentuk negara. Keadilan
yang secara intrinsik adalah baik, dapat menjadi suatu tujuan akhir dari sesuatu negara yang tidak tunduk
pada sesuatu tujuan lainnya. Dalam hubungan ini dapatlah dikemukakan pendapat James Wilson
sebagaimana dikutip dalam buku Rudolph Heimanson berjudul Dictionary of Political Science and Law
(1967) bahwa the state was formed for the purpose of achieving justice (Negara dibentuk untuk tujuan
mencapai keadilan).
Oleh karena keadilan sebagai nilai perserikatan bercorak intrinsik maka keadilan bersifat baik atau bemilai
dalam dirinya sendiri atau sebagai suatu tujuan ataupun demi kepentingannya sendiri. Bahkan keadilan dapat
menjadi suatu tujuan yang tertinggi dan yang penghabisan dari kehidupan negara sehingga bersifat pokok,
tak dapat dibantah, dan tak berubah. Dengan demikian, keadilan selain merupakan suatu nilai sangat luhur
dalam pemerintahan kiranya juga menjadi nilai yang penghabisan dalam kehidupan negara. Hal itu rupanya
suatu kenyataan yang didukung pendapat para ahli pemikir. Misalnya, Archie Bahm dalam karangannya
berjudul Is a Universal Science of Aesthetics Possible? dalam membeberkan berbagai makna nilai

menyatakan bahwa para sarjana ilmu politik sering menganggap beberapa cita, seperti kesetiaan, keadilan,
dan kebebasan sebagai nilai-nilai yang penghabisan.
Selain merupakan suatu nilai perserikatan yang intrinsik, keadilan ternyata diterima sebagai suatu asas
perilaku yang para anggota suatu perserikatan merasakannya sebagai suatu perikatan positif dan yang
menjadi suatu ukuran baku bagi penilaian tindakan-tindakan konkret dari setiap anggota perserikatan itu.
Para anggota dan sesuatu perserikatan dalam melakukan tindakan perseorangan dan berhubungan satu sama
lain berpegang pada keadilan sebagai pedoman umum dan tolok ukur yang dianggap baik.
Bilamana hal yang demikian itu menjadi suatu keterikatan yang kuat sehingga terbiasakan secara spontan di
antara semua anggota perserikatan maka keadilan lalu menjadi kebajikan perseorangan dan kemasyarakatan
yang disetujui bersama. Dengan demikian, keadilan merupakan pula suatu nilai perwatakan bagi masingmasing anggota. Seseorang anggota yang dalam berbagai tindakannya terhadap orang lain menerapkan
kebajikan yang disepakati bersama itu mencerminkan watak luhur yang terdapat dalam dirinya.
Demikianlah, keadilan sebagai suatu nilai yang sangat luhur merupakan nilai perserikatan dan sekaligus juga
nilai perwatakan. Sebagai suatu nilai perserikatan keadilan merupakan faktor yang sangat penting dalam
setiap kehidupan negara dan penyelenggaraan pemerintahan bagi tercapainya sesuatu masyarakat bangsa
yang aman, damai, dan tenteram. Sebagai suatu nilai perwatakan, keadilan menjadi pedoman utama bagi
penerapan kebajikan perseorangan dan perwujudan watak luhur dari masing-masing anggota masyarakat.
Selanjutnya, keadilan merupakan pula sekaligus nilai yang intrinsik dan nilai yang penghabisan. Keadilan
sebagai suatu nilai yang sangat luhur merupakan tujuan tersendiri dan bersifat pokok yang tidak di bawah
sesuatu kepentingan apa pun. Akhirnya, keadilan bahkan dapat dipandang sebagai suatu hal baik yang
terluhur dari kehidupan negara maupun kehidupan perseorangan.
Dalam kedudukan sebagai hal baik yang terluhur itu, keadilan tidak di bawah sesuatu tujuan lain apa pun dan
demi itu semua hal lain dilakukan oleh sesuatu negara dengan aparatur pemerintahannya. Dalam rangka ini
harus terbentuk suatu pemerintah yang adil berdasarkan ukuran dan prosedur yang adil pula. Pemerintah itu
wajib menyelenggarakan pengaturan dan pengurusan kehidupan masyarakat secara adil sehingga
terselenggara pemerintahan yang adil.
Terangkan secara singkat pentingnya keadilan bagi kehidupan sesuatu negara!
Keadilan penting bagi kehidupan sesuatu negara karena merupakan suatu nilai sangat luhur bagi
terwujudnya perserikatan yang tertib, bangsa yang bersatu, serta kehidupan yang aman, damai, dan
tenteram. Keadilan tepat dianggap sebagai suatu tujuan yang tertinggi dan tujuan akhir dari sesuatu
negara.
KEGIATAN BELAJAR 2
BERBAGAI JENIS DAN RAGAM KEADILAN
Pemaparan tentang berbagai jenis keadilan perlu dilengkapi dengan uraian mengenai berbagai jenis dan
ragam keadilan. Kalau jenis keadilan menyangkut sesuatu ruang lingkup dalam kehidupan manusia, ragam
keadilan menunjuk pada salah satu segi, ciri atau tata cara pelaksanaan keadilan.
A. JENIS KEADILAN
Mortimer Adler dalam buku yang ia menjadi editornya The Great Ideas: A Syntopicon of Great Books of the
Western World (1980) telah mencatat garis besar yang lengkap dan seluruh topik tentang keadilan yang
diperbincangkan oleh para cendekiawan pemikir Barat selama berabad-abad yang lalu sampai sekarang.
Garis besar itu meliputi 11 topik dan lebih daripada 25 subtopik. Untuk memberikan gambaran lengkap
mengenai pentingnya dan luasnya keadilan yang perlu dijadikan landasan dan etika administrasi
pemerintahan, garis besar itu dapat dikutipkan di bawah ini demikian:

1. Diverse conception of justice


1a. Justice as the interest of the stronger or conformity to the will of the sovereign.
1b. Justice as harmony or right order in the soul: original justice.
1c. Justice as moral virtue directing activity in relation to others and to community: the distinction
between the just man and the just act.
1d. Justice as the whole of virtue and as a particular virtue: the distinction between the lawful and the fair.
1e. Justice as an act of will or duty fulfilling obligations to the common good: the harmonious action of
individual wills under a universal Law of freedom.
1f. Justice as a custom or moral sentiment based on considerations of utility.
2. The precepts of justice: doing good, harming no one, rendering to each his own, treating equals equally.
3. The duties of justice compared with the generosity of love and friendship.
4. The comparison of justice and expediency: the choice between doing and suffering injustice; the reLation
of justice to happiness.
5. Justice and equaLity: the kind of justice in reLation to the measure and modes of equaLity and
inequaLity.
6. Justice and Liberty: the theory of human rights.
6a. The relation of naturaL rights to naturaL Law and naturaL justice.
6b. The reLation between naturaL and positive rights, innate and acquired rights, private and public
rights: their correLative duties.
6c. The inalienabiLity of naturaL rights: their vioLation by tyranny and despotism.
6d. Justice as the basis for the distinction between Liberty and License.
6e. Justice and natural rights as the source of civil Liberty.
7. Domestic justice: the problem of right and duty in the famiLy.
8. Economic justice: justice in production, distribution, and exchange.
8a. Private and pubLic property: the just distribution of economic goods.
8b. Fair wages and prices: the just exchange of goods and services.
8c. Justice in the organization of production:
1) Economic expLoitation: chattel sLavery and wage slavery.
2) Profit and unearned increment.
8d. Justice and the use of money: usury and interest rates.
9. PoLiticaL justice: justice in government:

9a. The naturaL and the conventionaL in politicaL justice: natural Law and the generaL will.
9b. Justice as the moraL principle of poLiticaL organization: the bond of men in states.
9c. The criteria of justice in various forms of government and diverse constitutions.
9d. The reLation of ruLer and ruled: the justice of the prince or statesman and of the subject or citizen.
9e. The just distribution of honors, ranks, offices, suffrage. \
9f. Justice between states: the problem of right and might in the making of war and peace.
9g. The tempering of political justice by clemency: amnesty, asylum, and pardon.
10. Justice and law:
10a. The measure of justice in Laws made by the state: natural and constitutional standards.
10b. The LegaLity of unjust Laws: the extent of obedience required of the just man in the unjust society.
10c. The justice of punishment for unjust acts: the distinction between retribution and vengeance.
10d. The correction of LegaL justice: equity in the appLication of human Law.
11. Divine justice: the reLation of God or the gods to man.
11 a. The divine government of man: the justice and mercy of God or the gods.
11 b. Mans debt to God or the gods: the reLigious acts of piety and worship.
Terjemahan dalam bahasa Indonesia dan garis besar tersebut di atas adalah sebagai berikut.
1. Bermacam-macam konsepsi tentang keadilan
1a. Keadilan sebagai kepentingan dari pihak yang lebih kuat atau kesesuaian dengan kemauan pihak yang
berkuasa.
lb. Keadilan sebagai keselarasan atau tertib yang benar dalam jiwa: keadilan asli.
1c. Keadilan sebagai suatu kebajikan moral yang mengarahkan aktivitas dalam hubungan dengan orangorang lain dan dengan masyarakat: perbedaan antara orang adil dan tindakan adil.
1d. Keadilan sebagai keseluruhan kebajikan dan sebagai suatu kebajikan khusus: perbedaan antara hal
yang sah dan hal yang layak.
1e. Keadilan sebagai suatu tindakan dari kemauan atau tugas yang memenuhi kewajiban-kewajiban untuk
kebaikan umum: tindakan yang selaras dari kemauan-kemauan individual di bawah suatu hukum semesta
tentang kebebasan.
1f. Keadilan sebagai suatu adat kebiasaan atau perasaan moral yang berdasarkan pertimbanganpertimbangan kegunaan
2. Ajaran-ajaran keadilan: berbuat baik, tidak merugikan siapa pun, memberikan kepada setiap orang
miliknya, memperlakukan hal-hal yang sama secara sama.
3. Tugas-tugas keadilan dibandingkan dengan kemurahan hati cinta dan persahabatan.

4. Perbandingan antara keadilan dan kebijaksanaan: pilihan antara melakukan dan mendenita ketidakadilan;
hubungan keadilan dengan kebahagiaan.
5. Keadilan dan persamaan: jenis keadilan dalam hubungan dengan ukuran dan cara-cara berlakunya
persamaan dan ketidaksamaan.
6. Keadilan dan kebebasan: teori hak-hak asasi manusia
6a. Hubungan hak-hak alamiah dengan hukum alamiah dan keadilan alamiah.
6b. Hubungan antara hak-hak alamiah dengan hak-hak positif, hak-hak pembawaan lahir dan hak-hak
perolehan, hak-hak privat dan hak hak publik: tugas-tugas mereka yang bertalian.
6c. Ketidakterhapusan dari hak-hak alamiah: pelanggaran terhadap hakh ak itu oleh kezaliman dan
despotisme.
6d. Keadilan sebagai dasar bagi pembedaan antara kebebasan dan kesemauan diri.
6e. Keadilan dan hak-hak alamiah sebagai sumber dari kebebasan penduduk.
7. Keadilan rumah tangga: masalah-masalah hak dan kewajiban dalam keluarga
8. Keadilan ekonomi: keadilan dalam produksi, distnibusi, dan pertukaran
8a. Milik privat dan milik publik: pembagian yang adil dari benda benda ekonomi.
8b. Upah-upah dan harga-harga yang layak: pertukaran yang adil dari barang-barang dan jasa-jasa
8c. Keadilan dalam organisasi produksi
1) Eksploitasi ekonomi: perbudakan milik dan perbudakan upah.
2) Laba dan tambahan penghasilan yang tidak diperoleh.
8d. Keadilan dan penggunaan uang: nba dan suku bunga.
9. Keadilan politik: keadilan dalam pemerintahan
9a. Hal yang alamiah dan hal yang lazim dalam keadilan politik: hukum-hukum alamiah dan kemauan
umum.
9b. Keadilan sebagai asas moral dari organisasi politik: ikatan orango rang dalam negara.
9c. Ukuran-ukuran keadilan dalam berbagai bentuk pemerintahan dan bermacam-macam konstitusi.
9d. Hubungan penguasa dan pihak yang dikuasai: keadilan dari pangeran atau negarawan dan dan kawula
negara atau warga negara.
9e. Pembagian yang adil dari kehormatan, pangkat, jabatan, hak pilih.
9f. Keadilan antarnegara: masalah hak dan kekuatan dalam membuat perang dan damai.
9g. Pelembutan keadilan politik dengan pengampunan: amnesti, suaka, dan pemanfaatan.
10. Keadilan dan hukum

10a. Ukuran keadilan dalam hukum yang dibuat oleh negara: ukuranu kuran baku yang alamiah dan yang
konstitusional.
10b. Kesahan dan hukum yang tidak adil: luasnya ketundukan yang dipersyaratkan pada orang yang adil
dalam masyarakat yang tidak adil.
l0c. Keadilan hukuman bagi tindakan-tindakan yang tidak adil: perbedaan antara ganti rugi dan balas
dendam.
10d. Pembetulan keadilan hukum: keadilan dalam penerapan hukum manusia.
11. Keadilan ilahi: hubungan Tuhan atau dewa-dewa dengan manusia
11a. Pemerintahan ilahi atas manusia: keadilan dan rahmat dan Tuhan atau dewa-dewa.
11b. Utang manusia kepada Tuhan atau dewa-dewa: perbuatan perbuatan keagamaan tentang kesalehan
dan pemujaan.
Dari garis besar tentang topik-topik keadilan tersebut di atas ternyata 5 topik terakhir membicarakan jenisjenis keadilan. Jenis keadilan menunjuk pada sesuatu ruang lingkup pada kehidupan manusia dalam
masyarakat.
1. Keadilan Rumah Tangga
Jenis keadilan ini tampaknya merupakan keadilan tertua yang menyangkut masalah-masalah hak dan
kewajiban dalam keluarga, misalnya :
a. kekuasaan kepala keluarga;
b. pembagian hak dan kewajiban dalam keluarga;
c. hubungan di antara unsur-unsur keluarga (suami, istri, dan anak);
d. pewarisan harta benda yang diperoleh bersama.
2. Keadilan Ekonomi
Jenis keadilan ini meliputi keadilan dalam produksi, distribusi, dan pertukaran antara barang-barang dan jasajasa. Persoalan-persoalan yang dibahas, antara lain tentang:
a. upah pekerja yang layak;
b. harga barang yang layak;
c. pertukaran barang dan jasa yang adil.
3. Keadilan Politik
Jenis keadilan ini menyangkut, antara lain:
a. keadilan dalam pemerintahan;
b. keadilan di antara negara-negara;
c. keadilan pada organisasi politik;

d. ukuran keadilan dalam berbagai bentuk pemerintahan dan konstitusi


e. hubungan penguasa dengan rakyat;
f. pelembutan terhadap keadilan politik, misalnya dengan amnesti dan suaka.
4. Keadilan Hukum
Jenis keadilan ini menyangkut, antara lain:
a. keadilan sebagai tujuan dan cita dalam hukum
b. ukuran keadilan dalam hukum;
c. kesahan menurut hukum;
d. sikap tidak memihak badan peradilan;
e. keadilan hukuman bagi pelanggar hukum;
f. pembetulan terhadap keadilan hukum, misalnya dengan pemberian ampun atau penerapan kepantasan.
5. Keadilan Ilahi
Jenis keadilan ini menyangkut segenap hubungan Tuhan (atau dewad ewa) dengan manusia, misalnya:
a. rahmat Tuhan;
b. pengampunan dosa;
c. kesalehan;
d. pemujaan dan persembahan kepada Tuhan.
Demikianlah 5 jenis keadilan sebagai ruang lingkup tempat berlangsungn ya keadilan pada kehidupan
manusia dalam masyarakat.
B. BERBAGAI RAGAM KEADILAN
Dari pembagian beberapa filsuf dan pemikir lainnya yang dimulai dari Aristoteles dikenal ragam-ragam
keadilan sebagai berikut.
1. Keadilan Pembagian
Ragam keadilan ini yang terkenal pula sebagai keadilan distributif menunjuk pada kepantasan dalam
pembagian berbagai barang dan jasa kepada para anggota masyarakat.
2. Keadilan Penggantian
Ragam keadilan ini menyangkut penanganan yang adil terhadap pelaku kesalahan maupun pihak korban dan
kesalahan itu dengan memberikan hukuman yang setimpal dan ganti mgi yang layak. Aristoteles menyebut
ragam ini keadilan perbaikan yang bertujuan memelihara ketertiban masyarakat.
3. Keadilan Timbal Balik

Ragam keadilan ini menyangkut pertukaran benda atau jasa di antara para anggota masyarakat yang harus
timbal balik secara proporsional. Setiap pertukaran barang atau jasa yang adil harus mewujudkan persamaan
yang seimbang di antara barang atau jasa dari kedua belah pihak. Aristoteles menyebut ragam ini keadilan
komutatif yang bertujuan memelihara kesejahteraan umum.
4. Keadilan Prosedural
Ragam keadilan ini menunjuk pada keadilan sebagai tujuan yang harus dicapai dalam hukum berupa sesuatu
keputusan yang ditetapkan berdasarkan pelaksanaan secara selayaknya pranata hukum yang berlaku.
Lambang keadilan dalam hukum berupa dewi keadilan dengan pedang, timbangan, dan penutup mata
mencerminkan keadilan prosedural itu.
5. Keadilan Kontributif
Ragam keadilan ini yang dikemukakan oleh Mortimer Adler menyangkut kewajiban moral dari setiap
anggota masyarakat untuk melakukan tindakan yang menunjang kebaikan bersama dan kesejahteraan umum
dari masyarakatnya. Bilamana seseorang tidak bertindak untuk kesejahteraan masyarakatnya, ia sebagai
anggota masyarakat itu mengingkari keadilan kontributif.
Coba Anda jelaskan apa yang dimaksud ragam keadilan.
Ragam keadilan adalah salah satu pembagian dan keadilan yang menunjuk pada suatu segi, ciri atau
tata cara pelaksanaan keadilan.
Ide keadilan dengan segenap seginya termasuk dalam bidang kebaikan, karena itu termasuk pula dalam
bidang etika. Keadilan merupakan kebaikan dari perbuatan. Bertindak adil dalam segala hal berarti berbuat
baik. Membenikan kepada setiap orang apa yang semestinya, berarti juga melakukan perbuatan baik atau
mewujudkan ide kebaikan secara konkret.
Kebaikan dalam masyarakat manusia dapat diwujudkan dengan keadilan dalam perbuatan atau dilaksanakan
melalui perbuatan yang adil.
Setiap orang dalam kehidupan masyarakatnya harus melaksanakan kebaikan bilamana Ia menerima ide
kebaikan sebagai nilai yang luhur. Nilai itu bersifat intrinsik. Kebaikan adalah baik karena merupakan suatu
tujuan tersendiri dalam kehidupan manusia atau demi kebaikan itu sendiri dan bukan karena atau demi
sesuatu hal lain. Setiap orang perlu melaksanakan kebaikan untuk membuat hidupnya baik sebagai suatu
tujuan tersendiri di samping (atau sebaiknya di atas) tujuan-tujuan hidup lain yang didambakannya.
Melaksanakan kebaikan itu dapat dilakukan dengan jalan berbuat adil. Berbuat adil itu terlaksana dengan
tidak melanggar hak-hak orang lain dan dengan memperlakukan orang lain secara layak dalam semua
pembagian dan pertukaran barang atau jasa. Berbuat adil juga terlaksana dengan melakukan perbuatanperbuatan yang menyumbang kebaikan bersama atau kesejahteraan umum dan masyarakat. Ini mewujudkan
keadilan kontnibutif.
Demikianlah, dan seluruh pemaparan tentang keadilan di muka yang dimulai dan Modul 2 Kegiatan Belajar 2
yang membahas Asas Keadilan sampai Modul 4 ini yang merinci nilai, jenis, dan ragam keadilan telah
diuraikan secara luas konsepsi, makna, definisi, jenis, dan ragam dari pengertian keadilan. Dalam pemaparan
tentang konsepsi keadilan telah dibicarakan tentang keadilan sebagai asas, ide agung, jenis dan ragam nilai
(sebagai nilai perserikatan, nilai perwatakan, dan nilai intrinsik), dan sebagai ide kebaikan. Juga telah
dipaparkan berbagai makna, definisi, jenis, dan ragam dan keadilan. Masih ada satu lagi konsepsi keadilan
sebagai sebuah kebajikan moral yang akan dipaparkan secara luas dalam Modul 5.
KEGIATAN BELAJAR 3
KEADILAN SEBAGAI KEBAJIKAN MORAL BAGI ADMINISTRATOR PEMERINTAHAN

Selain penggolongan berbagai kebajikan dalam kebaikan utama, kebajikan moral, kebajikan intelektual,
kebajikan alamiah, dan kebajikan teologis, masih ada satu jenis kebajikan lagi yang oleh sebagian pemikir
politik disebut kebajikan politik. Ini adalah kebajikan dalam filsafat politik yang menyangkut kehidupan
politik, tujuan negara, dan bentuk pemerintahan. Termasuk dalam kebajikan politik ialah kebajikan
kewarganegaraan yang bertalian dengan ciri kualitas seorang warga negara yang baik.
1. Berbagai Pemikiran tentang Kebajikan
Pemikir politik Perancis bemama Montesquieu menetapkan kebajikan sebagai asas dalam bentuk
pemerintahan republik. Pada pemerintahan demokrasi asas termaksud ialah kebebasan. Menurut
Montesquieu kebajikan pada sebuah negara republik yang perlu dimiliki warga negaranya ialah cinta kepada
negaranya. Ini selanjutnya menjadi cinta kepada persamaan.
Filsuf politik Inggris bernama John Stuart Mill menetapkan kebajikan sebagai tujuan dari suatu pemerintahan
yang baik. Dinyatakannya: The most important point of excellence which any form of government can
possess is to promote the virtue and intelligence of the people themselves (Pokok keunggulan terpenting
yang sesuatu bentuk pemerintahan apa pun dapat memilikinya ialah memajukan kebajikan dan kecerdasan
dari rakyat itu sendiri). Jadi, pengembangan kebajikan di kalangan rakyat perlu sekali menjadi suatu tujuan
dari sesuatu negara dan pemerintahnya.
Pengembangan kebajikan itu tidak hanya tertuju pada rakyat saja, melainkan terasa lebih besar
kepentingannya bagi aparatur pemerintah sendiri, khususnya para administrator pemerintahan yang sehanihari menjalankan roda pemerintahan. Roda pemerintahan itu hanya dapat berjalan sebaik-baiknya bilamana
digerakkan oleh para petugas yang penuh kebajikan.
Dalam negara yang sempurna ciptaan Plato, kebajikan-kebajikan utama yang harus diperkembangkan ialah
keanifan, ketabahan, disiplin, dan keadilan. Macam-macam kebajikan menurut Anistoteles yang kemudian
dipandang sebagai 4 kebaikan utama bagi kebaikan dan kesejahteraan manusia ialah pembatasan, ketabahan,
keadilan, dan kebijaksanaan. Menurut rincian Thomas Hobbes kebajikan-kebajikan berdasarkan hukum
alamiah yang menjadi sarana untuk memperkembangkan kehidupan manusia yang damai, ramah, dan
nyaman ialah keadilan, rasa terima kasih, kerendahan hati, kepantasan, dan belas kasihan. Sedangkan 13
macam kebajikan moral yang dikemukakan oleh Benjamin Franklin agar seseorang mencapai kesempurnaan
moral, salah satu di antaranya ialah keadilan.
Termasuk dalam kebajikan politik ialah kebajikan kewarganegaraan yang bertalian dengan ciri kualitas
seorang warga negara yang baik. Apakah yang dimaksud dengan kebajikan politik?
Kebajikan politik adalah istilah yang digunakan oleh sebagian pemikir politik untuk menyebut kebajikan
yang menyangkut kehidupan politik, tujuan negara, dan bentuk pemerintahan.
2. Keadilan sebagai Kebajikan Moral
Dari berbagai rincian tersebut di atas, tak dapat diragukan lagi keadilan merupakan sebuah kebajikan yang
pokok, yang utama kalau tidak dapat dikatakan yang terpenting. Pemikir Romawi bernama Marcus Aurelius
menyatakan bahwa keadilan lebih utama ketimbang macam-macam kebajikan lainnya karena berbagai
kebajikan itu berlandaskan pada keadilan.
Aristoteles yang mengelompokkan beberapa kebajikan dalam kebajikan moral juga melihat adanya kesatuan
di antara kebajikan-kebajikan moral itu dalam rangka suatu keadilan umum. Filsuf Yunani Kuno itu
berpendapat bahwa keadilan umum itu terdiri dari semua kebajikan moral, termasuk keadilan khusus sebagai
salah satu kebajikan moral, sepanjang kebajikan kebajikan itu diarahkan pada kesejahteraan masyarakat dan
kebaikan dan orang-orang lain. Keadilan dalam makna ini bukanlah sebagian dan kebajikan, melainkan
kebajikan seluruhnya. Ini merupakan kebajikan lengkap karena tidak hanya tertuju pada diri sendiri dalam
diri seseorang melainkan juga pada orang-orang lain.

Dengan demikian, keadilan sebagai kecenderungan batin yang tetap untuk membenikan kepada setiap orang
apa yang semestinya, berbuat baik, memperbaiki kesalahan dengan jalan memberikan hukuman kepada
pelaku kesalahan dan membenikan ganti rugi kepada korban kesalahan, memperlakukan hal-hal yang sama
secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama, menghargai kebebasan-kebebasan dasar dari
semua orang serta itikad baik untuk tidak merugikan orang lain dan tidak mengingkari keuntungan orang lain
yang menjadi kewajiban diri sendiri untuk memenuhinya bisa dipandang sebagai suatu kebajikan moral
utama yang perlu sekali diperkembangkan pada para administrator pemerintahan.
Sebuah negara yang baik dengan pemerintahnya yang bijak tidak hanya memiliki tujuan mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengusahakan kemakmuran rakyatnya, melainkan juga tidak kalah pentingnya
memperkembangkan kebajikan moral pada seluruh warga negaranya. Dengan sendirinya
memperkembangkan segenap kebajikan moral pada para administrator pemerintahan juga merupakan suatu
tujuan luhur yang harus dicapai oleh sebuah negara dan pemerintah yang baik.
Apakah kebajikan yang terpenting bagi administrator pemerintahan?
Sebuah kebajikan moral yang utama, yang pokok, atau yang terpenting untuk diperkembangkan pada para
administrator pemerintahan tidak lain tentulah keadilan. Para administrator pemerintahan perlu sedini
mungkin diperkenalkan, diajarkan, ditanamkan, dan dibiasakan pada kebajikan moral yang utama itu. Tahap
terakhir yang harus dicapai ialah bahwa pada setiap administrator pemerintahan dari kedudukan yang
terendah sampai jabatan yang tertinggi dapat terbina jiwa keadilan dalam budi pikiran, hasrat kemauan, dan
hati sanubaninya secara kokoh.
Hanya dengan memiliki berbagai kebajikan moral yang relevan dengan pelaksanaan tugasnya, para
administrator pemerintahan dapat menjalankan sebaik-baiknya roda pemerintahan untuk kepentingan
masyarakat dan kesejahteraan rakyat. Khususnya hanya dengan berpegang pada keadilan, para administrator
pemerintahan dalam melaksanakan tugasnya dapat melakukan kebaikan, memperbaiki kesalahan,
menjunjung persamaan, menghargai kebebasan, tidak merugikan rakyat, tidak mengingkari hak warga negara
atau pendeknya memberikan kepada setiap orang apa yang semestinya. Tanpa jiwa keadilan sebagai
landasannya dan berbagai kebajikan moral lainnya sebagai pedoman, seseorang administrator pemerintahan
mudah sekali tergoda oleh kekuasaan jabatannya dan terjerumus dalam berbagai keburukan yang merupakan
kebalikan dari kebajikan.
Persoalan terakhir yang kiranya perlu diberi jawaban yang tegas ialah apakah gunanya semua kebajikan
moral itu bagi diri pribadi seseorang administrator pemerintahan? Marcus Aurelius memberikan jawaban
yang paling sederhana dan terkenal bahwa kebajikan merupakan ganjarannya itu sendiri. Kebajikan itu
sendiri bilamana diperoleh dan dimiliki seseorang bukan saja merupakan sebuah pahala sendiri bagi diri
pribadinya, melainkan juga merupakan suatu kesenangan sejati.

MODUL 5 BERBAGAI AJARAN KEADILAN BAGI ADMINISTRATOR PEMERINTAHAN


KEGIATAN BELAJAR 1
PENGEMBANGAN DIRI MENJADI ORANG YANG ADIL
Salah satu tujuan utama yang harus dilaksanakan oleh sebuah negara yang baik dengan pemerintahnya yang
bijak ialah memajukan berbagai kebajikan moral berlandaskan keadilan pada para administrator. Demikian
pula sejalan dengan itu, salah satu upaya pokok yang perlu sekali dilakukan oleh setiap administrator
pemerintahan yang baik ialah mengembangkan diri sehingga menjadi orang yang memiliki berbagai
kebajikan moral, terutama sekali keadilan.
A. SEGI-SEGI PENGEMBANGAN DIRI
Pengembangan diri merupakan suatu proses pendidikan diri sendiri yang dilakukan seseorang secara mandiri
sehingga dapat tercapai peningkatan diri dalam berbagai segi. Sebuah pengembangan diri yang lengkap dan
penuh meliputi segenap sumber daya pribadi dalam diri seseorang.
Menurut pendapat David Cherrington dalam bukunya berjudul The Work Ethic : Working Values and Values
That Work (1980), pengembangan diri mencakup 6 segi yang berikut.
1. Latihan fisik - untuk meningkatkan kesehatan.
2. Pengembangan sosial - untuk meningkatkan berbagai keterampilan hubungan antarperorangan.
3. Pengembangan emosional - untuk membina kesadaran diri yang lebih besar dan kekokohan emosional.
4. Pengembangan intelektual - untuk memiliki pengetahuan, kearifan, dan berbagai keterampilan praktis.
5. Pengembangan watak - untuk memajukan perilaku moral.
6. Pengembangan spiritual - untuk memupuk suatu kesadaran yang lebih besar terhadap makna kehidupan.
Pengembangan diri setiap administrator pemerintahan agar memiliki berbagai kebajikan moral dan menjadi
orang yang adil tergolong dalam pengembangan watak. Keadilan sebagai sebuah ide agung dalam peradaban
manusia, nilai luhur dalam pemerintahan negara, dan kebajikan moral dalam kehidupan perorangan harus
diperkembangkan dalam diri setiap administrator pemerintahan sehingga ia menjadi seseorang dengan watak
yang adil. Jiwa keadilan harus tertanam kuat dalam budi pikiran, hasrat kemauan, dan hati sanubari setiap
administrator pemerintahan sehingga ia secara serta-merta selalu melakukan tindakan yang adil.
Dikatakan bahwa bagi setiap administrator pemerintahan harus melakukan pengembangan diri
khususnya pengembangan watak. Dapatkah Anda menjelaskan sejauh mana pentingnya
pengembangan watak bagi administrator pemerintahan?
B. PENGERTIAN ADIL DAN PENGEMBANGAN DIRI MENJADI ORANG YANG ADIL
Empat kebajikan utama berupa kearifan, ketabahan, disiplin, dan keadilan yang terdapat pada suatu negara
yang sempurna menurut Plato juga melekat pada orang perseorangan. Dalam diri seseorang terdapat 3 bagian
yang mendukung kebajikan utama, yaitu sebagai berikut.
1. Akal - mendukung kearifan.
2. Emosi - bertalian dengan ketabahan.
3. Hasrat - bersangkutan dengan disiplin.

Menurut Plato seseorang adalah arif kalau ia memiliki kearifan dalam akalnya. Orang itu adalah tabah kalau
Ia memiliki ketabahan pada bagian emosinya. Seseorang dikatakan berdisiplin atau dapat mengendalikan
dirinya bilamana akalnya memegang kendali dan emosi maupun hasratnya tunduk tidak menentang akal itu.
Kalau suatu negara dikatakan adil menurut teori Plato bilamana semua bagiannya menjalankan fungsinya
masing-masing yang paling cocok tanpa mencampuri pekerjaan dan pihak lain maka demikian juga secara
analogis seseorang adalah adil bilamana masing-masing dan 3 bagian budi rohaninya itu (akal, emosi, dan
hasrat) melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya tanpa mencampuri tugas bagian yang lain. Keadilan
dalam budi rohani seseorang adalah seperti kesehatan pada tubuhnya. Seorang yang adil adalah seseorang
yang budi rohaninya dalam keadaan tertib sebagaimana halnya seorang sehat yang tubuhnya berada dalam
keadaan tertib. Definisi orang yang adil dari Plato merumuskannya sebagai seseorang yang dalam dirinya
bagian-bagian dari jiwa diperintah secara selaras oleh akal.
Sebuah definisi lain yang pernah dikutip di muka tentang orang yang adil dari Stanley Benn memberikan
perumusan sebagai seseorang yang memiliki keutuhan watak yang hidup sesuai dengan asas-asas yang ajek
dan tidak bisa diselewengkan dan asas-asas itu oleh pertimbangan keuntungan, keinginan, atau perasaan hail
Jadi, seorang yang adil adalah seseorang yang mempunyai intensitas dan mempunyai prinsip-pninsip hidup
konsisten yang tidak dikuasai oleh pertimbangan keuntungan, hasrat pribadi, atau perasaan hail
Coba Anda jelaskan lagi teori Plato tentang Negara yang adil!
Menurut Plato suatu Negara dikatakan adil apabila semua bagiannya menjalankan tugas sesuai
dengan fungsinya masing-masing tanpa mencampuni pekerjaan pihak lain. Secara analogis seseorang
dikatakan adil apabila masing-masing dari 3 bagian budi rohaninya itu (akal, emosi, dan hasrat)
melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya tanpa mencampuri tugas bagian yang lain.
Pencinan orang yang adil dari Philemon sebagaimana dikutip oleh pemikir bernama Samuel Pufendorf juga
mengacu pada watak dan dirumuskan secara tajam sekali demikian:
He is a just man, not the one who does no wrong but he who, when he may do wrong, is unwiLLing to do
so; not the one who refrains from taking LittLe things, but he who is strong to refuse to take great things,
aLthough he might seize and possess them without risk of harm; no, not even the one who observes aLL
these requirements, but he who has a sincere and genuine character and wishes to be, and not to seem, just.
(Seorang yang merupakan orang yang adiL, bukanLah orang yang tidak meLakukan kesaLahan, meLainkan
seseorang yang waLaupun boLeh meLakukan kesaLahan tidak mau berbuat demikian; bukanLah seseorang
yang menahan diri dari perbuatan mengambiL benda-benda sepele, metainkan seseorang yang kuat menotak
untuk mengambiL benda-benda besar meskipun a dapat mengambiL dan memilikinya tanpa risiko kerugian;
tidak, bahkan bukantah seseorang yang mengindahkan semua persyaratan ini, meLainkan seseorang yang
mempunyai suatu watak yang tuLus dan tuLen serta berkeinginan menjadi adiL dan bukannya sekedar
tampak adiL.)
Jadi, secara tajam dan tegas dikatakan bahwa orang yang adil tidak mau berbuat salah (walaupun ia boleh
melakukannya); orang yang adil secara keras menolak mengambil barang yang berharga (walaupun tidak ada
risikonya ketahuan); orang yang adil tidak bersifat munafik agar kelihatan adil, melainkan secara tulus dan
tulen ingin mempunyai watak yang adil.
Menurut pendapat Plato keadilan adalah suatu kalau tidak satu-satunya kebajikan bagi manusia. Fungsi
manusia ialah untuk hidup. Tanpa keadilan seseorang tidak dapat hidup dengan baik. Kalau seseorang tidak
dapat hidup dengan baik, ia tidak dapat merasa bahagia. Keadilan merupakan kebajikan yang terpenting
karena ini memungkinkan adanya berbagai kebajikan lainnya. Demikian pula, Marcus Aurelius berpendapat
bahwa kebajikank ebajikan yang lain mempunyai landasannya pada keadilan. Aristoteles juga mempunyai
pendapat bahwa semua kebajikan moral membentuk keadilan umum yang merupakan kebajikan seluruhnya.
Dengan demikian, pengembangan diri menjadi orang yang adil dapat berarti juga membina berbagai
kebajikan moral lainnya dalam diri sendiri. Setiap administrator pemerintahan yang dapat

memperkembangkan wataknya sehingga menjadi orang yang adil dengan mudah akan menumbuhkan
kebajikan-kebajikan moral lainnya pada pribadinya. Pengembangan diri menjadi seorang yang adil memang
bukan usaha yang mudah dalam masyarakat modern dewasa ini karena banyak sekali godaan dan gangguan
dari kekuasaan jabatan, kedudukan tinggi, kehidupan mewah, lingkungan sekeliling dan juga dan kelemahan
manusia sendiri. Bilamana seseorang administrator pemerintahan berhasil menjadi orang yang adil dan
memiliki jiwa keadilan, kebajikan itu merupakan sebuah ganjaran sendiri yang memberikan kesenangan
sejati atau kebahagiaan diri.
KEGIATAN BELAJAR 2
ORANG YANG ADIL DAN TINDAKAN YANG ADIL
ada kegiatan Belajar 1 telah dijelaskan pengertian orang yang adil dan perbedaan antara orang yang adil dan
tindakan yang adil. Pada Kegiatan Belajar 2 ini kita akan membahas apa yang dimaksud dengan orang yang
adil dan tindakan yang adil, Untuk lebih memperjelas pemahaman Anda, mari kita pahami ilustrasi kasus
berikut ini.
Suatu tindakan yang tabah, misalnya menolong orang yang terperangkap dalam sebuah gedung yang terbakar
hanyalah dilakukan oleh seorang yang tabah pula. Demikian pula, suatu perbuatan yang berdisiplin
umpamanya menaati peraturan lalu lintas hanyalah dijalankan oleh seorang yang memiliki kebajikan disiplin
pula. Namun, tidaklah demikian halnya dengan kebajikan utama yang dianggap terpenting atau menjadi
landasan dari berbagai kebajikan lainnya, yaitu keadilan. Suatu tindakan yang adil dapat dilakukan oleh
seorang yang tidak adil. Kebalikannya, seorang yang adil dapat melakukan suatu tindakan yang tidak adil.
A. POLA-POLA TINDAKAN YANG ADIL DAN YANG TIDAK ADIL
Sebagian cendekiawan pemikir sejak lama telah memperbincangkan perbedaan antara orang yang adil dan
tindakan yang adil. Pada hubungan di antara kedua hal itu terdapatlah 4 pola kemungkinan yang berikut.
1. Orang yang adil dengan tindakan yang adil.
2. Orang yang adil dengan tindakan yang tidak adil.
3. Orang yang tidak adil dengan tindakan yang adil.
4. Orang yang tidak adil dengan tindakan yang tidak adil.
Sebagai contoh, orang yang adil dengan tindakan yang adil kiranya ialah Raja Sulaeman yang memiliki jiwa
keadilan dan keputusan-keputusannya adalah adil pula.
Pola kedua berupa orang yang adil dengan tindakan yang tidak adil, misalnya seorang pemimpin perusahaan
yang wataknya sehari-hari terkenal adil dan semua pegawai perusahaan tidak menyangsikan hal itu. Akan
tetapi, kalau pada akhir tahun pimpinan itu membagikan hadiah laba perusahaan yang sama rata kepada
semua pegawainya tanpa mempertimbangkan manam ana yang rajin dan yang malas atau siapa-siapa yang
bekerja baik dan yang bekerja jelek maka tindakan itu adalah tidak adil. Para pegawai yang malas (sering
terlambat masuk kerja atau mangkir) dan yang bekerja jelek (sering melakukan kesalahan atau ceroboh)
sesungguhnya tidak banyak mendatangk an keuntungan pada perusahaan. Jadi, memberikan kepada mereka
hadiah laba yang sama besamya, seperti para pegawai yang rajin dan yang bekerja baik adalah tidak layak.
Contoh untuk pola yang ketiga mengenai orang yang tidak adil dengan tindakan yang adil, misalnya seorang
kepala gerombolan penjahat yang sering merampok harta benda orang lain. Kepala gerombolan penjahat itu
jelas bukan orang yang adil dan bahkan tergolong orang yang jahat. Akan tetapi, dalam hal terjadi
perselisihan di antara anggota-anggota gerombolannya ia melakukan suatu tindakan yang adil dengan
membenarkan anggota yang benar dan menghukum anggota yang salah.

Akhirnya, sebagai contoh orang yang tidak adil dengan tindakan yang tidak adil dapat kiranya dikemukakan
Raja Rahwana dalam cerita Ramayana. Raja itu bukan seorang dengan watak yang adil dan melakukan
tindakan yang tidak adil dengan menculik istri orang lain.
B. KEADILAN ORANG DAN KEADILAN TINDAKAN
Cendekiawan pemikir yang mempersoalkan adanya perbedaan keadilan antara orangnya dengan tindakannya
ialah Samuel Pufendorf dalam bukunya berjudul De jure naturae et gentiurn. Cendekiawan ini secara tegas
membedakan keadilan orang dengan keadilan tindakan. Pengertian keadilan orang dirumuskannya sesuai
dengan definisi keadilan dari zaman kuno, yaitu constant and abiding desire to give every one his due (hasrat
yang tetap dan tidak kunjung hilang untuk membenikan kepada setiap orang apa yang semestinya),
sedangkan keadilan tindakan didefinisikan sebagai the right application of actions to a person (penerapan
yang benar dari tindakan tindakan pada seseorang). Menurut Pufendorf kedua macam keadilan itu sangat
berlainan.
Pendapat Pufendorf yang menganut aliran liberalisme menekankan sifat dasar manusia sebagai makhluk
moral dan pelaku moral. Menurutnya pengertian adil dalam keadilan orang berarti bahwa seseorang merasa
senang dalam bertindak secara adil bahwa orang itu menerapkan dirinya pada keadilan, atau bahwa ia
berusaha dalam segala hal untuk melakukan apa yang adil (to be just means that one delights in acting justly,
that he applies himself to justice, or that he tries in everything to do what is just). Suatu tindakan dikatakan
adil bilamana hal itu diterapkan dan pilihan yang terdahulu pada seseorang yang kepadanya hal itu
semestinya diberikan (an action is called just which is applied from previous choice to the person to whom it
is
owed).
Pengertian makhluk moral dan berbagai liku-likunya menjadi pula pokok pembahasan dan para cendekiawan
pemikir sampai dewasa in Misalnya, Charles Keibley dalam karangannya berjudul Justice and Goodness
(1979) mengenai konsepsi tentang makhluk moral menghubungkan keadilan dengan kebaikan. Menurut
pendapatnya keadilan dan kebaikan merupakan unsuru nsur yang penting dan sama derajatnya dari
kesempurnaan moral pada manusia. Pengertian makhluk moral diartikannya sebagai:
a being which is constituted in essence by the capacities or deveLoped abiLities to have a sense of justice
(i.e. a sense for what is right and wrong) and a sense of goodness (i.e. the abiLity to Live for the achievement
of some good) (suatu makhLuk yang terbentuk pada pokoknya dan kesanggupan-kesanggupan atau
kemampuan-kemampuan terkemba n untuk memitiki suatu rasa keadiLan, yakni suatu pengertian mengenal
apa yang benar dan saLah, dan suatu rasa kebaikan, yakni kemampuan hidup untuk pencapaian sesuatu yang
baik).
Dalam konsepsi makhluk moral yang demikian itu keadilan tidak berkedudukan di bawah kebaikan.
Berdasarkan pangkal pendirian bahwa setiap orang merupakan makhluk moral, setiap administrator
pemerintahan wajib memperkembangkan dirinya sebaik-baiknya sehingga menjadi orang yang adil. Berbagai
ciri dari orang yang adil telah dipaparkan dalam Kegiatan Belajar 1 di depan, antara lain memiliki keutuhan
watak, hidup menurut asas asas yang ajek, dan berkemauan secara tulus untuk menjadi adil. Seseorang
administrator pemerintahan yang tidak memiliki rasa keadilan kiranya sulit sekali untuk membangun
kehidupan rakyat yang sejahtera dan membangun masyarakat yang adil dan makmur lahir batin.
Sebelum kita bicara tentang ciri-ciri tindakan administrator pemerintahan yang adil, coba Anda jelaskan
kemungkinan pola-pola hubungan antara orang yang adil dan tindakan yang adil!
Ada 4 kemungkinan pola-pola hubungan:
a) Orang yang adil dengan tindakan yang adil.
b) Orang yang adil dengan tindakan yang tidak adil.
c) Orang yang tidak adil dengan tindakan yang adil.

d) Orang yang tidak adil dengan tindakan yang tidak adil.


C. CIRI-CIRI TINDAKAN ADMINISTRATOR PEMERINTAHAN YANG ADIL
Selain menjadi seorang administrator pemerintahan yang adil, setiap petugas wajib pula senantiasa
melakukan tindakan-tindakan yang adil. Ciri- ciri suatu tindakan yang adil mencakup berikut ini.
1. Tindakan konkret yang memberikan kepada setiap orang apa yang semesti nya.
2. Penerapan yang benar dari tindakan-tindakan pada seseorang.
3. Memperlakukan semua orang secara sama.
4. Memperlakukan hal-hal yang sama secara sama dan hal-hal yang tidak sama secara tidak sama.
5. Memberikan perlakuan yang layak terhadap orang lain dalam pembagian dan pertukaran barang atau jasa.
6. Memperbaiki kesalahan dengan memberikan hukuman kepada pihak yang melakukan kesalahan itu.
7. Memperbaiki kesalahan dengan jalan memberi ganti rugi kepada pihak korban dan kesalahan itu.
8. Melakukan tindakan yang tidak memihak.
9. Melakukan tindakan yang sah menurut hukum.
10. Melakukan tindakan yang pantas.
11. Melakukan tindakan untuk kebaikan bersama dan kesejahteraan masyarakat.
12. Menghargai berbagai kebebasan dasar dari setiap orang.
13. Menerapkan ajaran-ajaran keadilan yang ada.
Dalam sejarah peradaban manusia selama ini telah berkembang ajarana jaran keadilan yang dapat diterima
dalam kehidupan masyarakat. Tindakan- tindakan yang adil adalah juga berbagai tindakan yang menerapkan
ajaran- ajaran keadilan itu.
KEGIATAN BELAJAR 3
AJARAN- AJARAN KEADILAN DALAM BIDANG- BIDANG ETIKA, HUKUM, EKONOMI DAN
POLITIK
Ide keadilan sejak zaman kuno sampai dewasa ini telah berkembang dalam berbagai bidang kehidupan
manusia sehingga menumbuhkan ajaran-ajaran tentang keadilan. Sekurang-kurangnya 4 bidang yang luas
telah menjadi ajaran perkembangan dari berbagai ajaran keadilan, yaitu bidang-bidang etika, hukum,
ekonomi, dan politik. Berbagai ajaran itu telah mempunyai penerapan dalam perilaku manusia dan kehidupan
masyarakat.
A. AJARAN KEADILAN DALAM BIDANG ETIKA
Etika sebagai salah satu cabang dan penelaahan filsafat dan khusus mempelajari asas-asas baik dan buruk
dalam perilaku manusia maupun asas asas benar dan salah dalam perbuatan manusia menyangkut moralitas
manusia. Segenap kebajikan moral yang tumbuh dalam peradaban manusia boleh dikatakan menjadi isi
substantif dan ruang lingkup dari etika. Dan oleh karena keadilan merupakan sebuah kebajikan utama kalau
tidak dianggap sebagai kebajikan seluruhnya maka keadilan menjadi salah satu unsur yang pokok dalam
bidang etika. Keadilan ini dapat disebut keadilan moral.

Beberapa ajaran keadilan yang telah berkembang dalam bidang etika ialah sebagai berikut.
1. Ajaran berbuat baik
Dalam rangka ini bertindak adil berarti berbuat baik. Sebuah tindakan yang adil dalam hubungannya
dengan orang lain adalah hal yang baik dan perbuatan. Keadilan merupakan suatu hal baik yang tidak
terbatas. Oleh karena itu, terhadap keadilan atau tindakan yang adil tidak perlu dikenakan pembatasan
seperti halnya terhadap makan dan minum yang bisa menimbulkan kemuakan.
2. Ajaran tidak berbuat salah dengan menimbulkan kerugian pada orang lain.
3. Tidak berbuat salah dengan mengingkari keuntungan orang lain yang menjadi kewajiban seseorang untuk
memenuhinya. Misalnya, seorang pemimpin perusahaan yang tidak mau memberikan kenaikan
kedudukan kepada seorang pegawai bawahannya karena dendam pribadi walaupun pegawai itu telah
berjasa besar mengembangkan perusahaan.
4. Pepatah yang berbunyi Janganlah berbuat kepada orang lain apa yang kamu tidak mau orang lain
berbuat terhadap dirimu.
5. Beberapa pihak membalik pepatah tersebut di atas sehingga berbunyi:
Berbuatlah kepada orang lain apa yang kamu mau orang lain berbuat terhadap dirimu.
Pembalikan itu kiranya tidak begitu cocok karena keinginan masingm asing orang dapat sangat berlainan
atau bahkan bertentangan. Misalnya, seseorang senang dipuji-puji atas seseorang maunya diberi hadiah
saja maka slogan baru itu menganjurkan orang itu menyanjung nyanjung pihak lain atau selalu membagibagikan hadiah. Namun, untuk hal-hal tertentu pembalikan pepatah itu dapat tetap menjadi suatu ajaran
keadilan. Umpamanya, bilamana seseorang ingin orang lain memperlakukannya secara adil maka ia harus
memperlakukan orang lain secara adil pula.
6. Kaidah moral yang memerintahkan setiap orang tidak melanggar hakh ak orang lain sehingga orang lain
dapat mengejar kebahagiaannya sendiri. Ini merupakan suatu tindakan yang adil.
7. Kaidah moral yang memerintahkan setiap orang memberikan perlakuan yang layak kepada semua orang.
Ini merupakan suatu tindakan yang adil atau bertindak adil kepada semua orang.
8. Sebuah ajaran bertindak adil lainnya ialah bertindak untuk kebaikan bersama atau kesejahteraan umum
dari masyarakat. Tindakan ini mewujudkan keadilan kontributif. Misalnya, berbagai usaha yang
mencerdaskan warga masyarakat atau menyebarluaskan kebajikan moral dalam masyarakat.
B. AJARAN KEADILAN DALAM BIDANG HUKUM
Dalam bidang hukum boleh dikatakan keadilan menjadi sebuah cita maupun tujuan yang diharapkan tercapai
sehingga menumbuhkan pengertian keadilan hukum. Berbagai ajaran keadilan yang telah berkembang
menyangkut pembuatan peraturan dan proses pengadilan, yaitu sebagai berikut.
1. Larangan ex post facto law
ini ialah larangan terhadap peraturan hukum yang menjatuhkan pidana terhadap perbuatan yang
dilakukan sebelumnya ditetapkan peraturan itu. Keadilan hukum tidak dapat menerima peraturan yang
demikian itu karena orang-orang yang semula tidak bersalah sebelumnya ada peraturan itu lalu dianggap
bersalah dan dijatuhi pidana. Dalam hal ini, jaminan ketenteraman hidup orang-orang lalu tidak ada.
2. Larangan bill of attainder

ini ialah larangan terhadap undang-undang yang menghapuskan hak-hak dan harta benda seseorang.
Keadilan hukum juga tidak dapat menerima status seseorang yang tidak memiliki lagi hak dan kekayaan
apa-apa.
3. Hak memperoleh suatu pemeriksaan dan keputusan oleh suatu badan peradilan yang bebas dari prasangka
dan pengaruh yang tidak layak. Ini mewujudkan keadilan prosedural.
4. Ajaran tentang keputusan hakim yang tidak memihak, yang tidak memandang orang, yang konsisten
sepanjang waktu, yang mengandung persamaan dalam perlakuan, yang sah menurut hukum atau
pendeknya suatu pertimbangan dan keputusan yang adil bagi setiap orang dalam sidang pengadilan.
5. Ajaran tindakan yang adil berupa pembetulan kesalahan dengan jalan menghukum pihak yang melakukan
kesalahan itu.
6. Ajaran tindakan yang adil berupa pembetulan kesalahan dengan jalan memberi ganti rugi kepada pihak
korban dan kesalahan itu.
7. Ajaran keadilan hukum yang melarang double jeopardy, yaitu penghukuman terhadap seseorang untuk
kedua kalinya bagi kesalahan yang sama.
8. Ajaran keadilan hukum yang melarang hukuman yang kejam dan luar biasa.
C. AJARAN KEADILAN DALAM BIDANG EKONOMI
Dalam bidang ekonomi telah berkembang keadilan ekonomi yang bertalian dengan proses produksi,
distribusi, dan pertukaran mengenai barang atau jasa di antara para anggota masyarakat. Ajaran-ajaran yang
telah berkembang ialah:
1. Ajaran pokok yang umumnya diterima ialah asas kelayakan sehingga timbullah ide-ide tentang upah yang
layak, harga yang layak, dan pertukaran yang layak. Pada pokoknya keadilan ekonomi tidak
membenarkan penghisapan dan pencatutan.
2. Ajaran keadilan timbal-balik (keadilan komutatif) dari Aristoteles yang menetapkan suatu perimbangan
yang bercorak timbal balik dalam usaha pertukaran barang atau jasa di antara para anggota masyarakat.
Pertukaran itu harus seimbang memberikan pengembalian yang sama bagi kemanfaatan-kemanfaatan
yang diterima agar tercapai keadilan.
3. Ajaran tentang perlakuan terhadap orang lain secara layak dalam semua pembagian dan pertukaran
barang atau jasa.
4. Asas tentang pembagian yang pantas dari sarana-sarana yang berhubungan dengan kesejahteraan.
5. Dalil gaji yang sama untuk pekerjaan yang sama bagi para karyawan produksi tanpa memandang
perbedaan keturunan, kesukuan, jenis kelamin, dan agama.
6. Dalil persamaan gaji itu sering kali juga diperluas sehingga meliputi persamaan fasilitas kerja dan
berbagai tunjangan jabatan, khususnya bagi jabatan pimpinan yang dipegang oleh kaum pria maupun
kaum wanita.
D. AJARAN KEADILAN DALAM BIDANG POLITIK
Ajaran-ajaran keadilan politik telah berkembang luas karena boleh dikatakan semua segi kehidupan warga
negara dewasa ini tersentuh oleh kekuasaan negara dan fungsi pernerintahan. Berbagai ajaran yang dikenal
ialah:

1. Cita kebebasan bagi setiap orang


Kebebasan adalah hak setiap orang untuk hidup sebagaimana yang tampak baik baginya, asalkan ia
menghormati hak yang sama pada orang-orang lain. Keadilan politik membenarkan dijaminnya
kebebasan-kebebasan dasar bagi warga negara, yaitu:
a. kebebasan memilih penguasa/wakil rakyat dan memegang jabatan negara;
b. kebebasan berbicara dan berkumpul;
c. kebebasan hati nurani;
d. kebebasan berpikir;
e. kebebasan diri pribadi;
f. kebebasan dari penahanan dan penangkapan yang sewenangw enang;
g. hak memiliki harta benda pribadi.
2. Asas persamaan bagi semua orang
ini mengandung ajaran bahwa setiap orang memiliki suatu hak yang sama terhadap berbagai kebebasan
dasar tersebut di atas.
3. Ajaran tentang kehendak rakyat sebagai sumber kekuasaan yang tertinggi dalam negara.
4. Ajaran keadilan yang tidak membenarkan penguasa negara mengg unakan kekuasaan secara sewenangwenang.
5. Ajaran tentang kepentingan umum yang berada di atas kepentingan perorangan atau kepentingan
golongan.
6. Ajaran tentang keseimbangan dan kepentingan-kepentingan golongan atau warga masyarakat yang sah,
namun saling bertentangan yang harus diusahakan sebaik-baiknya oleh pemerintah.
7. Asas mengenai pemerintahan yang bersih, terbuka, dan bertanggung jawab.
8. Kaidah moral mengenai tujuan negara dan pemerintahnya untuk memajukan kemakmuran, kecerdasan,
perdamaian, keamanan, dan kebajikan pada rakyat. Pokok pikiran yang menjadi dasar akidah ini ialah
bahwa negara diciptakan untuk kepentingan rakyat dan bukan kebalikannya rakyat diadakan untuk
kepentingan negara.
9. Kaidah moral mengenai pelunakan terhadap keadilan politik dengan pemberian pengampunan kepada
seseorang warga negara, seperti grasi, amnesti, atau suaka.
Demikianlah ajaran-ajaran keadilan yang telah berkembang selama ini dan pada umumnya diterima oleh
masyarakat sebagai hal-hal yang baik untuk dilaksanakan dalam masyarakat yang adil.
Setiap administrator pemerintahan yang adil dalam pelaksanaan tugasnya wajib melakukan berbagai tindakan
yang adil dan membuat keputusan yang adil pula. Suatu tindakan yang adil dapat merupakan penerapan dari
berbagai ajaran keadilan tersebut di atas. Kalau belum terdapat sesuatu ajaran keadilan yang dapat diterapkan
pada kasus yang akan diputuskan maka suatu tindakan dapat merupakan tindakan yang adil bilamana
mengandung sesuatu ide yang selaras atau tidak menyimpang jauh dan berbagai ajaran keadilan yang telah
ada itu.

MODUL 6 ASAS- ASAS ETIS DALAM ADMINISTRASI PEMERINTAHAN


KEGIATAN BELAJAR 1
ENAM ASAS ETIS
Tokoh ilmu administrasi publik bernama Dwight Waldo dalam bukunya berjudul The Enterprise of Public
Administration (1980) menyatakan bahwa petugas negara memiliki kewajiban-kewajiban etis yang lebih
banyak dalam kaitan dengan kelakuannya ketimbang orang swasta. Demikian pula, para petugas dengan
jabatan tinggi dalam badan-badan pemerintah mempunyai lebih banyak kewajiban-kewajiban etis daripada
siapa saja.
Pemikiran lebih lanjut dan pernyataan tersebut di atas ialah setiap administrator pemerintahan wajib memiliki
sikap mental dan perilaku yang mencerminkan keunggulan watak, keluhuran budi, dan berbagai asas etis
yang bersumber pada kebajikan moral, khususnya keadilan. Tanpa asas-asas etis itu, seseorang administrator
pemerintahan tidak mungkin membina suatu kehidupan bangsa yang aman, damai, dan tenteram, serta
masyarakat yang adil dan makmur lahir batin.
Oleh karena itu, setiap administrator pemerintahan wajib memahami asas-asas etis yang bersumber pada
berbagai kebajikan moral, kemudian membina diri sehingga sungguh-sungguh menghayati asas-asas etis itu,
dan terakhir menerapkan sebanyak mungkin dalam tindakan jabatannya.
Asas-asas Etis bagi Administrator Pemerintahan
Berbagai asas etis yang pokok dalam administrasi pemerintahan ialah sebagai berikut.
1. Pertanggungjawaban
Asas etis ini menyangkut hasrat seseorang petugas untuk merasa memikul kewajiban penuh dan ikatan kuat
dalam pelaksanaan semua tugas pekerjaan secara memuaskan. Setiap administrator pemerintahan harus
mempunyai hasrat besar untuk melaksanakan fungsi-fungsinya secara efektif, sepenuh kemampuan, dan
dengan cara yang paling memuaskan pihak yang menenma pertanggungjawaban.
Pertanggungan jawab itu tertuju kepada rakyat seumumnya, instansi pemerintahnya maupun pihak atasannya
langsung. Kecenderungan untuk melepaskan tanggung jawab atau keinginan untuk melemparkan tanggung
jawab kepada sesuatu pihak lain ataupun kebiasaan mengajukan dalih hanya melaksanakan perintah harus
dilenyapkan dari diri setiap petugas yang baik. Setiap administrator pemerintahan harus slap untuk memikul
pertanggungjawaban mengenai apa saja yang dilakukannya. Ia tidak boleh terjebak pada alasan bahwa ia
hanya menjalankan petunjuk atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah.
2. Pengabdian
Berkaitan sangat erat dan kadang-kadang berbaur dengan asas etis pertanggungjawaban tersebut di atas ialah
pengabdian. Ini adalah hasrat keras untuk menjalankan tugas-tugas pekerjaan dengan semua tenaga fisik dan
pikirannya, seluruh semangat kegairahan, dan sepenuh perhatian tanpa pamrih apa-apa yang bersifat pribadi.
Setiap administrator pemerintahan dalam pelaksanaan tugasnya harus selalu dan terus-menerus menunjukkan
keterlibatan dari dan penuh entusiasme. Kecenderungan bekerja dengan setengah hati atau asal jadi tidak
boleh terdapat dalam din setiap petugas yang baik. Pengabdian diri itu terarah pada jabatannya, keahliannya,
dan bidang profesinya.
3. Kesetiaan
Bertalian pula secara erat dengan asas-asas etis pertanggungjawaban dan pengabdian tersebut di atas ialah
kesetiaan yang dalam kehidupan masyarakat merupakan suatu kebajikan moral. Asas etis ini adalah
kesadaran seseorang petugas untuk setulusnya patuh pada tujuan bangsa, konstitusi negara, peraturan

perundangan, badan instansi, tugas jabatan maupun pihak atasan demi tercapainya cita-cita bersama yang
ditetapkan. Pelaksanaan tugas pekerjaan dengan ukuran rangkap, pertimbangan untung rugi atau bahkan
dengan kebiasaan sabotase harus tidak dikenal dalam diri setiap petugas yang baik. Kalau seseorang petugas
tidak dapat menjalankan tugas jabatannya dengan sepenuh kemampuan, tidak bersedia terikat patuh pada
badan instansinya, atau tidak merasa cocok dengan kebijaksanaan pihak pimpinannya maka tindakan yang
etis ialah mengundurkan diri dari jabatannya.
4. Kepekaan
Asas etis ini mencerminkan kemauan dan kemampuan seseorang petugas untuk memperhatikan serta siaga
terhadap berbagai perkembangan yang baru, situasi yang berubah, dan kebutuhan yang timbul dalam
kehidupan masyarakat dan waktu ke waktu dengan disertai usaha-usaha untuk menanggapi secara sebaikbaiknya. Sikap tidak peduli asalkan tugas rutin sudah selesai atau tidak mau susah payah melakukan
pembaharuan harus pula disingkirkan dari diri setiap petugas administrasi pemerintahan yang baik.
5. Persamaan
Salah satu kebajikan yang pokok dari badan pemerintahan yang bertujuan mengabdi seluruh rakyat dan
melayani kepentingan umum ialah perlakuan yang adil. Perlakuan yang adil itu biasanya dapat diwujudkan
dengan memberikan perlakuan yang sama tanpa membeda-bedakan atau pilih kasih kepada semua pihak.
Jadi, persamaan dalam perlakuan, pelayanan, dan pengabdian harus diberikan oleh setiap administrator
pemerintahan kepada publik tanpa memandang hubungan kerabat, ikatan politik, asal-usul keturunan, atau
kedudukan sosial. Pembedaan perlakuan secara semena-mena atau berdasarkan kepentingan pribadi tidak
boleh dilakukan oleh setiap administrator pemerintahan yang adil.
6. Kepantasan
Persamaan perlakuan terhadap semua pihak sebagai suatu asas etis tidak selalu mencapai keadilan dan
kelayakan. Persoalan dan kebutuhan dalam masyarakat sangat beraneka ragam sehingga memerlukan
perbedaan perlakuan asalkan berdasarkan pertimbangan yang adil atau alasan yang benar. Demikian pula,
sesuatu faktor khusus atau situasi tertentu dapat membuat persamaan yang ketat menjadi suatu perlakuan
yang tidak adil. Dengan demikian, terhadap suatu kelompok tertentu dan untuk suatu keadaan tertentu perlu
diberikan perlakuan yang sama. Akan tetapi, terhadap suatu golongan lain dan berdasarkan kondisi khusus
yang berlainan mungkin perlu ada perlakuan yang tidak sama. Untuk itu asas yang harus diindahkan ialah
kepantasan yang merupakan salah satu makna dari keadilan. Asas kepantasan mengacu pada suatu hal yang
sepatutnya menurut pertimbangan moral atau nilai etis yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.
Berdasarkan asas kepantasan itu pula keadilan politik yang ketat kadang-kadang perlu diperlembut dengan
tindakan pengampunan. Setiap administrator pemerintahan yang adil perlu menanamkan dalam dirinya asas
kepantasan di sampingnya asas persamaan.
Demikianlah 6 asas-asas etis yang pokok dalam administrasi pemerintahan yang wajib diindahkan oleh setiap
administrator pemerintahan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
KEGIATAN BELAJAR 2
KODE ETIKA BAGI ADMINISTRATOR PEMERINTAHAN
American Society for Public Administration dalam rangka tanggung jawabnya untuk mengembangkan
semangat profesionalisme pada para anggotanya dan meningkatkan kesadaran publik mengenai berbagai
ukuran baku moral dalam dinas pemerintahan dalam tahun 1981 menetapkan 9 asas berikut.
1. Service to the public is beyond service to oneself (Pelayanan kepada rakyat adalah di atas pelayanan
terhadap diri sendiri).

2. The people are sovereign and those in public service are ultimately responsible to them (Rakyat adalah
berdaulat dan mereka dalam dinas pemerintahan pada akhirnya bertanggung jawab kepada rakyat)
3. Laws govern all actions of the public service. Where laws or regulations are ambiguous, leave discretion,
or require change, we will seek to serve the best interests of the public (Hukum mengatur semua tindakan
dan dinas pemerintahan. Dalam hal berbagai hukum atau peraturan bermakna ganda, memberikan
peluang kebijaksanaan, atau memerlukan perubahan, kita akan berupaya untuk mengabdi kepada
kepentingan-kepentingan yang terbaik dan rakyat).
4. Efficient and effective management is basic to public administ ration. Subversion through misuse of
influence, fraud, waste, or abuse is intolerable. Employees who responsibly call attention to wrong doing
will be encouraged (Manajemen yang efisien dan efektif adalah pokok bagi administrasi publik.
Rongrongan melalui penyalahgunaan pengaruh, penipuan, pemborosan, atau salah pakai tidak dapat
dibenarkan. Petugasp etugas yang secara bertanggung jawab menggugah perhatian terhadap perbuatan
salah akan dianjurkan).
5. The merit system, equal opportunity, and affirmative action principles will be supported, implemented,
and promoted (Sistem penilaian kecakapan, kesempatan yang sama, dan asas-asas tindakan yang positif
akan didukung, dijalankan, dan dimajukan).
6. Safeguarding the public trust is paramount. Conflicts of interest, bribes; gifts, or favors which
subordinate public position to private gains are unacceptable (Perlindungan terhadap kepercayaan rakyat
adalah yang paling penting. Berbagai pertentangan kepentingan, suapan, hadiah, atau pengistimewaan
yang membawahkan jabatan publik pada keuntungank euntungan pribadi tidak dapat diterima).
7. Service to the public creates demands for special sensitivity to the qualities of justice, courage, honesty,
equity, competence, and compassion. We esteem these qualities, and we will actively promote them
(Pelayanan kepada rakyat memerlukan tuntutan-tuntutan kepekaan khusus terhadap kualitas keadilan,
ketabahan, kejujuran, kepantasan, kecakapan, dan welas asih. Kita menghargai ciri-ciri kualitas ini dan
kita ingin secara aktif memajukannya).
8. Conscience peiforms a critical role in choosing among courses of action. It takes into account the moral
ambiguities of life, and the necessity to examine value priorities. good ends never justify itninoral
means. (Hati nurani menjalankan suatu peranan yang genting dalam memilih di antara langkah-langkah
tindakan. Ini memperhitungkan berbagai makna ganda moral dan kehidupan dan perlunya mengkaji
berbagai prioritas nilai: hasil akhir yang baik tidak pernah membenarkan dilakukan dengan cara yang
tidak bermoral).
9. Public administrators are not engaged in preventing wrong, but in pursuing right through timely and
energetic execution of their responsibilities (Para administrator publik tidak semata-mata melakukan
pencegahan untuk bertindak salah, melainkan dalam mengusahakan hal yang benar melalui pelaksanaan
tanggung jawab mereka yang penuh semangat dan tepat waktunya).
Sembilan asas etis bagi para administrator pemerintahan tersebut di atas diterima oleh sidang dewan nasional
perhimpunan Amerika untuk Administrasi Publik pada akhir tahun 1981.
Berbagai asas etis dalam administrasi pemerintahan untuk kemudahan penerapannya perlu sekali dijabarkan
secara lebih terinci dalam suatu kode etika. Sebuah kode etika merumuskan tindakan-tindakan apa,
kelakuank elakuan mana, dan sikap-sikap bagaimana yang wajib dilakukan atau dihindari oleh para
administrator pemerintahan.
Perhimpunan-perhimpunan para petugas administrasi pemerintahan di luar negeri pada umumnya
menetapkan sesuatu kode etika untuk dijadikan pegangan oleh para anggota perhimpunan dalam memegang
jabatannya dan menjalankan tugasnya. Demikian pula American Society for Public Admninist ration yang

dalam tahun 1981 menetapkan 9 asas-asas etis kemudian dalam tahun 1984 menyetujui sebuah Code of
Ethics of the American Society for Public Administration. Kode etika itu memuat asas-asas dan ukuranukuran baku moral yang menjadi petunjuk bagi para anggotanya untuk tidak hanya mencegah hal yang salah,
melainkan untuk mengusahakan hal yang benar dengan melaksanakan tanggung jawab secara penuh
semangat dan tepat waktunya. Kode etika dari perhimpunan Amerika untuk Administrasi Publik itu telah
disusun secara lengkap dan dipertimbangkan secara masak sehingga kiranya dapat dijadikan suatu contoh
yang baik.
Dalam perumusan selengkapnya dinyatakan bahwa para anggota perhimpunan (yang kebanyakan adalah para
petugas administrasi pemerintahan) mengikatkan diri untuk melakukan hal-hal yang berikut.
1. Demonstrate the highest standards of personal integrity, truthfulness, honesty and fortitude in all our
public activities in order to inspire public confidence amid trust in public institutions (Menunjukkan
ukuranu kuran baku yang tertinggi mengenal keutuhan watak perseorangan, kebenaran, kejujuran, dan
ketabahan dalam semua kegiatan publik kita agar supaya membangkitkan keyakinan dan kepercayaan
rakyat pada pranata-pranata publik).
2. Serve the public with respect, concern, courtesy, and responsiveness, recognizing that service to the
public is beyond service to oneself (Melayani rakyat secara hormat, perhatian, sopan, dan tanggap dengan
mengakui bahwa pelayanan kepada rakyat adalah di atas pelayanan terhadap diri sendiri).
3. Strive for personal professional excellence and encourage the professional development of our associates
and those seeking to enter the field of public administration (Berjuang ke arah keunggulan profesional
perseorangan dan menganjurkan pengembangan profesional dari rekan rekan kita dan mereka yang
berusaha memasuki bidang administrasi publik).
4. Approach our organization and operational duties with a positive attitude and constructively) support
open communication, creativity, dedication and compassion) (Melakukan kewajibankewajiban pekerjaan
dan organisasi kita dengan suatu sikap positif dan secara konstruktif mendukung komunikasi yang
terbuka, kreativitas, pengabdian, dan welas asih).
5. Serve in such a way that we do not realize undue personal gain from the peiforinance of our official
duties (Melayani dalam suatu cara sedemikian hingga kita tidak mewujudkan keuntungan pribadi yang
tidak semestinya dari pelaksanaan kewajiban-kewajiban resmi kita).
6. Avoid any interest or activity which is in conflict with the conduct of our official duties Menghindari
sesuatu kepentingan atau kegiatan yang berada dalam pertentangan dengan penunaian dan kewajibankewajiban resmi kita).
7. Respect and protect the privileged information to which we have access in the course of official duties
(Menghormati dan melindungi keterangan berdasarkan hak-hak istimewa yang kita dapat memperolehnya
dalam pelaksanaan kewajiban-kewajiban resmi).
8. Exercise whatever discretionary authority we have under law to promote the public interest (Menjalankan
wewenang kebijaksanaan apa pun yang kita miliki menurut hukum untuk memajukan kepentingan
umum).
9. Accept as a personal duty the responsibility to keep up to date on emerging issues amid to administer the
publics business with professional competence, fairness, impartiality, efficiency and effect iveness
(Menerima sebagai suatu kewajiban pribadi tanggung jawab untuk mengikuti perkembangan baru
terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dan menangani urusan rakyat dengan kecakapan
profesional, kelayakan, sikap tidak memihak, efisiensi, dan efektivitas).
10. Support, implement, and promote merit employment and programs of affirmative action to assure equal
opportunity by our recruitment, selection, and advancement of qualified persons from all elements of

society (Mendukung, menjalankan, dan memajukan penempatan tenaga kerja menurut penilaian
kecakapan dan program-program tindakan yang tidak membeda-bedakan guna menjamin kesempatan
yang sama pada penerimaan, pemilihan, dan peningkatan kita terhadap orang-orang yang memenuhi
persyaratan dan segenap unsur masyarakat).
11. Eliminate all forms of illegal discrimination, fraud, and mismanagement of public funds, and support
colleagues if they are in difficulty because of responsible effort to correct such discrimination, fraud,
mismanagement or abuse (Melenyapkan semua bentuk pembedaan yang tidak sah, kecurangan, dan salah
urus keuangan negara serta mendukung rekan-rekan kalau mereka berada dalam kesulitan karena usaha
yang bertanggung jawab untuk memperbaiki pembedaan, kecurangan, salah urus atau salah pakai).
12. Respect, support, study, and when necessary, work to improve federal and state constitutions, and other
laws which define relationships among public agencies, employees, clients and all citizens Menghormati,
mendukung, menelaah, dan bilamana perlu berusaha untuk menyempurnakan konstitusi-konstitusi negara
federal dan negara bagian serta hukum-hukum lainnya yang mengatur hubungan-hubungan di antara
instansi-instansi pemerintah, pegawai-pegawai, nasabah-nasabah, dan semua warga negara).
Demikianlah kode etika dan American Society for Public Administration yang disetujui dalam tahun 1984.

MODUL 7 ETIKA JABATAN


KEGIATAN BELAJAR 1
DILEMA ETIKA JABATAN
Selama dekade reformasi, peningkatan dramatis dalam perilaku tidak etis pejabat-pejabat pemerintahan dapat
disaksikan pada semua tingkat, mulai dari pejabat-pejabat pusat hingga pejabat-pejabat daerah baik yang
diangkat maupun yang dipilih. Bahkan, skandal demi skandal terbuka di hadapan publik, disusul oleh
dakwaan-dakwaan dan berbagai penghukuman yang dipublikasikan dalam judul utama berbagai surat kabar
dan diberitakan dalam tayangan media elektronik. Periode ini, era 1999 hingga saat ini, merupakan saksi
hidup kebobrokan perilaku atau ketidaketisan pejabatp ejabat selama periode-periode sebelumnya. Ironis
memang, di mana setiap hari para pegawai atau pejabat negara menghadapi beragam situasi yang menguji
kejujuran dan etika pribadi dalam profesi mereka. Namun, sampai saat ini penerapan sanksi terhadap
pelanggaran etika jabatan tidak tegas sehingga ikut andil menyebabkan munculnya banyak sekali praktik
penyelewengan dan korupsi yang meliputi hampir semua segi praktik pemerintahan antara lain terjadi di
lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
Namun, hal yang sangat memprihatinkan kita, yaitu minimnya dukungan terhadap komitmen pemberantasan
korupsi yang sudah digulirkan oleh presiden saat ini, tidak saja berasal dari jajaran eksekutif. Pihak yudikatif
atau institusi-institusi pengadilan atau kehakiman ternyata juga memberikan kontribusi besar terhadap belum
maksimalnya agenda antikorupsi yang sudah diperjuangkan oleh presiden. Baik Mahkamah Agung (MA)
maupun pengadilan di bawahnya (Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri) nyatanya masih menjadi
lembaga yang memihak para pelaku korupsi. Hal ini bisa dilihat dari kasus korupsi yang diperiksa dan
diputus pengadilan sepanjang tahun 2005.
A. BERBAGAI KASUS PELANGGARAN ETIKA JABATAN
Berdasarkan catatan Indonesia Corruption Watch (ICW) selama tahun 2005 sebanyak 69 Kasus korupsi
dengan 239 orang terdakwa yang diperiksa dan diputus oleh pengadilan di seluruh Indonesia mulai dari
tingkat pertama (pengadilan negeri), banding (pengadilan tinggi), kasasi hingga peninjauan kembali (MA).
Dari segi aktor, jumlah kasus yang menimpa terdakwa yang berasal dan eksekutif dan yudikatif hampir
berimbang. Selama tahun 2005, jumlah kasus yang melibatkan para terdakwa dari lingkungan eksekutif
(kepala daerah, mantan kepala daerah, dinas, sekda) adalah sebanyak 27 kasus. Para anggota atau mantan
anggota dewan (legislatif) sedikit lebih unggul, sebanyak 28 kasus korupsi yang telah diproses di pengadilan.
Sedangkan kasus korupsi yang melibatkan pihak swasta hanya sebanyak 14 kasus.
Dari 69 kasus sebanyak 27 kasus yang divonis bebas oleh pengadilan, dan hanya 42 kasus yang akhirnya
divonis bersalah. Namun, dari kasus korupsi yang akhirnya diputuskan bersalah oleh pengadilan, dapat
dikatakan belum membenikan efek jera bagi para pelaku korupsi karena hampir separuhnya (23 kasus)
diputus di bawah 2 tahun penjara.
Dari beberapa kasus korupsi yang akhirnya divonis bebas, barangkali NH bisa dikatakan orang paling
beruntung di tahun 2005. Dari tiga kasus korupsi (Bulog, beras ilegal, gula ilegal) yang menimpa dirinya
dan diadili di pengadilan, dua kasus akhirnya divonis bebas pada tahun 2005. Dalam kasus korupsi
penyalahgunaan dana Bulog sebesar Rp169 miliar meskipun oleh jaksa dituntut 20 tahun penjara, majelis
hakim PN Jakarta Selatan yang dipimpin oleh I Wayan Rena menjatuhkan vonis bebas. Pertimbangannya
bahwa kasus ini merupakan kasus perdata. Begitu pula terhadap kasus korupsi gula ilegal yang diadili di PN
Jakarta Utara. Dengan pertimbangan bahwa BAP NH cacat hukum, majelis hakim yang dipimpin Hamuntal
Pane menyatakan NH dinyatakan tidak bersalah. Padahal jaksa menuntut NH dinyatakan bersalah dan
dituntut selama 7 tahun penjara. Meskipun dikecam banyak pihak dan dikabarkan para hakim dalam dua
kasus NH tersebut diperiksa oleh MA, namun tidak jelas basil dan pemeriksaan tersebut.

Harus diakui tidak semua terdakwa kasus korupsi beruntung dengan vonis bebas ataupun hanya divonis di
bawah 5 tahun penjara, namun secara umum tidak semuanya langsung di bui. Setidaknya ada tiga orang
paling tidak beruntung di tahun 2005. Mereka adalah AHW terdakwa kasus korupsi pembobolan BNI 46
Kebayoran Baru senilai Rpl,214 Triliun yang divonis seumur hidup oleh majelis hakim PN Jakarta Selatan
yang dipimpin oleh Roki Panjaitan. Walikota Blitar non-aktif IM adalah satu-satunya pejabat negara saat ini
yang dijatuhi vonis penjara paling berat. PN Blitar secara mengejutkan menjatuhkan vonis 15 tahun penjara
terhadap IM yang didakwa melakukan korupsi dana APBD tahun 2002 - 2004 sebesar Rp 97 miliar. Terakhir
PN Pekanbaru telah menjatuhkan vonis 14 tahun penjara bagi NT yang didakwa melakukan penyelewengan
kredit dan Bank Mandiri sebesar Rp 35,9 miliar. Secara umum apa yang telah ditunjukkan oleh institusi
pengadilan selama tahun 2005 sangat memilukan dan jauh dari harapan semua orang yang menghendaki para
koruptor dihukum seberat-beratnya. Di saat pemerintah bersemangat dalam memberantas korupsi, apa yang
dilakukan oleh pengadilan justru sebaliknya, bersemangat membebaskan terdakwa korupsi. Jika tidak ada
sinkronisasi antara eksekutif dan yudikatif seperti ini, sampai kapan pun usaha pemberantasan korupsi di
Indonesia tetap akan berjalan di tempat bahkan bisa jadi mundur ke belakang.
Dari kasus-kasus koruptor atau pelanggaran etika jabatan yang sudah Anda baca di atas, terlihat bahwa
penanganan oleh pihak yudikatif belum maksimal. Komitmen pemberantasan korupsi sangat lemah. Apa
sebenarnya yang menjadi kendala?
B. BERBAGAI KENDALA DALAM PENANGANAN PELANGGARAN ETIKA JABATAN
Mekanisme izin pemeriksaan terhadap pejabat negara yang sedang menghadapi masalah hukum merupakan
kendala tersendiri bagi percepatan pemberantasan korupsi. Dalam pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono
proses pengurusan izin pemeriksaan boleh dibilang tidak mengalami hambatan berarti. Ratusan orang
anggota DPR/DPRD, bupati, walikota, dan gubernur sudah diterbitkan izin pemeriksaannya.
Namun demikian, ratusan izin pemeriksaan yang telah dikeluarkan oleh Presiden Yudhoyono tidak sertamerta membuat persoalan ini menjadi selesai. Kemauan Presiden untuk secara objektif menyetujui
pemeriksaan terhadap siapa pun pejabat negara yang diduga terlibat korupsi sangat mengesankan, setidaknya
jika dibandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya. Angka hingga ratusan izin pemeriksaan pejabat
yang telah ditandatangani Yudhoyono merupakan jumlah yang fantastis.
Namun, kebijakan untuk secara mudah memberikan izin pemeriksaan belum bisa dijadikan ukuran untuk
mengatakan program pemberantasan korupsi dianggap berhasil. Sebab, dalam din aturan izin pemeriksaan
terdapat diskresi bagi seorang presiden. Pasalnya, presiden memiliki hak untuk tidak atau memberikan izin
pemeriksaan bagi pejabat negara yang hendak diperiksa aparat penegak hukum. Dengan tidak memberikan
izin, presiden tidak dianggap bersalah atau tak dapat dikenai sanksi. Hanya, pada masa ini kebetulan Presiden
Yudhoyono tidak memiliki kepentingan subjektif untuk tidak memberikan persetujuan izin pemeriksaan.
Akan tetapi, hal ini tidak dapat dijamin ketika presiden sudah berganti, ketika kekuasaan sudah mengalami
rotasi.
Pendek kata, program pemberantasan korupsi sebagai bagian dari upaya untuk mendorong proses
demokratisasi masih sangat bertumpu pada kemauan politik seorang pemimpin. Selain itu, program
pemberantasan korupsi masih berada pada format politik lama yang sewaktu-waktu dapat mengancam
momentum pemberantasan korupsi, terutama jika kemauan politik pemimpin bergeser sesuai dengan
kepentingan politiknya. Tentu saja hal ini juga ikut andil mengakibatkan kinerja pemberantasan korupsi
justru berjalan di tempat bahkan mundur. Catatan Akhir Tahun Masyarakat Transparansi Internasional (MTI)
2005 menyebutkan bahwa mantan menteri, gubernur, bupati, jenderal, pengusaha dan ketua lembaga negara
menjadi pelaku utama korupsi di Indonesia. Kinerja lembaga pemberantas korupsi, seperti Komisi
Pemberantas Korupsi (KPK), Tim Pemberantas Tindak Pidana Korupsi (Timtas Tipikor) juga berjalan di
tempat karena birokrasi yang masih mendewakan ketertutupan atas nama rahasia negara.
Pemberantasan korupsi di Negara kita masih banyak mengalami kendala.
Coba Anda sebutkan apa yang menjadi kendala dalam pemberantasan korupsi tersebut !

Oleh karena itu, satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari program pemberantasan korupsi yang sangat
diskresional, perlu diupayakan beberapa perbaikan dalam ranah kebijakan publik. Dengan kata lain, izin
pemeriksaan sebagai prasyarat untuk memeriksa pejabat negara harus dieliminasi dan berbagai peraturan
perundang-undangan yang ada. Menurut Adnan Topan Husodo (2006), setidaknya, ada beberapa argumentasi
yang mendasari penghapusan itu.
Pertama, mekanisme izin pemeriksaan yang hanya dikhususkan bagi pejabat negara telah mendistorsi pnnsip
nondiskriminasi dalam pelaksanaan hukum. Jika kita sepakat untuk menjunjung tinggi sistem negara hukum,
regulasi seharusnya tidak diciptakan untuk menguntungkan salah satu pihak, apalagi melindungi kepentingan
kekuasaan tertentu. Pejabat negara yang sedang berperkara tidak ada bedanya dengan rakyat jelata yang
menghadapi kasus kriminal. Mereka bukanlah kelompok istimewa yang ketika berurusan dengan hukum
harus melalui proses yang rumit dan berbelit-belit sehingga sulit disentuh. Justru sebaliknya, mereka adalah
pelaksana mandat kekuasaan dan rakyat, pejabat negara yang diduga melanggar hukum harus menjadi
prioritas untuk diperiksa. Bukan justru proses pemeriksaan itu dihalangh alangi dengan memberikan
persyaratan adanya izin pemeriksaan.
Kedua, sampai saat ini tidak pernah mencuat sebuah argumentasi yang sangat kuat untuk tetap
mempertahankan adanya mekanisme izin pemeriksaan bagi pejabat negara yang akan diperiksa. Baik DPR
maupun pihak eksekutif yang telah membuat beberapa kebijakan menyangkut keharusan adanya izin
pemeriksaan dan pejabat tertentu tidak pernah bisa menjelaskan urgensi dan persyaratan itu. Dengan
demikian, patut ditengarai bahwa latar belakang dibuatnya kebijakan tersebut semata-mata hanya untuk
melindungi kepentingan kelompok yang sedang berkuasa. Di sinilah sebenarnya pertanyaan apakah sistem
demokratis yang tengah kita kembangkan sudah menyentuh isu yang sensitif, khususnya pada warisan politik
lama yang terkesan memberikan banyak kekebalan hukum bagi pejabat negara.
Ketiga, adanya izin pemeriksaan kerap disalahgunakan oleh aparat penegak hukum untuk tidak memproses
perkara korupsi yang melibatkan pejabat negara. Tameng yang paling mudah digunakan aparat penegak
hukum ketika masyarakat menagih kinerja penanganan perkara korupsi, khususnya kasus korupsi yang
melibatkan pejabat negara adalah izin pemeriksaan belum keluar. Di satu sisi, masyarakat sulit melacak
kebenaran alasan tersebut karena mekanisme permohonan izin sangat tertutup, hanya diketahui oleh aparat
penegak hukum dan pihak yang memiliki otoritas untuk memberikan izin.
Keempat, izin pemeriksaan menciptakan kontradiksi dengan kebijakan percepatan pemberantasan korupsi
yang dicanangkan Yudhoyono. Tidak dapat dimungkiri bahwa mekanisme izin pemeriksaan telah
menghambat upaya aparat penegak hukum untuk melanjutkan proses pemeriksaan. Hal ini terjadi di banyak
daerah tempat kepala daerah atau DPRD-nya tengah berurusan dengan hukum dalam kasus korupsi,
kemacetan menjadi fenomena jamak. Oleh karena alasan belum keluarnya izin pemeriksaan dari otoritas
terkait.
Sesungguhnya, apabila percepatan pemberantasan korupsi dimaknai sebagai usaha untuk mempermudah dan
mempersingkat proses penanganan kasus korupsi, khususnya yang melibatkan pejabat negara, mekanisme
izin pemeriksaan adalah penghambat yang utama.
Apalagi dalam pertemuan semua kepala kejaksaan tinggi se-Indonesia di Ciloto pada Desember silam, telah
disepakati bahwa salah satu indikator kinerja kejaksaan dalam memberantas korupsi adalah penanganan
perkara korupsi yang berbobot dan menjadi perhatian masyarakat luas. Dengan demikian, mekanisme izin
pemeriksaan tetap dipertahankan sebagai sebuah kebijakan, sebenarnya pemerintah sedang menerapkan
standar ganda dalam pemberantasan korupsi.
Padahal tidak ada alasan untuk menghalalkan perilaku tidak etis dalam pelaksanaan pemerintahan.
Kecurangan, pemborosan, dan penyalahgunaan (korupsi) tidak mempunyai tempat dalam pemerintahan.
Bahkan, harga dan kualitas pelayanan yang rendah mengharuskan kita untuk menolak tingkah laku tidak etis
dalam berbagai tingkatan pejabat pemerintahan. Imbalan yang harus dibayar akibat kemerosotan kepercayaan

pada budaya hidup demokratis mengharuskan masing-masing kita untuk menuntut tingkah laku etis di
kalangan pejabat-pejabat, baik para pejabat yang dipilih maupun yang diangkat.
KEGIATAN BELAJAR 2
MOTIVASI PELANGGARAN ETIKA JABATAN
Banyak pejabat penyelenggara negara melakukan perbuatan tidak etis dengan banyak alasan, antara lain
alasan yang sama versinya dengan ke serakahan atau ideologi. Pembelaan -pembelaan berkisar pada ketidakt
ahuan hukum, alasan pribadi, atau berbagai alasan lainnya. Alasan-alasan tersebut serupa dengan alasan yang
diberikan oleh kalangan pegawai nonpemerintah atas tindakan tidak etis yang mereka lakukan atau dalam
menjalankan berbagai urusan sehari-hari mereka. Namun, pegawai pemerintah mencerminkan lintas bagian
masyarakat umum. Kita dapat menganggap bahwa mereka memiliki standar yang sama dan mudah terkena
godaan. Akan tetapi, tuntutan moral yang diemban oleh pegawai negeri terfokus pada kepercayaan akan
kejujuran pemerintah dan wibawa pejabatp ejabat yang dipilih, diangkat, dan meniti karier. Oleh sebab itu,
tidak ada orang yang memaksa para pejabat untuk menyandang jabatan dan memaksa mereka bekerja dalam
jabatan-jabatan itu. Suka atau tidak suka, pegawai negeri harus menerima Undang-undang No. 28 Tahun
1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Bentuk Perbuatan Tidak Etis Penyelenggara Negara
Menurut Nigro dan Nigro (dalain Joko Widodo, 2001) terdapat 8 bentuk penyimpangan/perbuatan tidak etis
yang sering dilakukan oleh para penyelenggara negara. Kedelapan bentuk penyimpangan yang dimaksud
dapat dijelaskan berikut ini.
1. Ketidakjujuran (Dishonesty)
Ketidakjujuran merupakan suatu tindakan yang tidak jujur. Banyak contoh ketidakjujuran yang dilakukan
oleh para penyelenggara negara, misalnya:
a. Mencantumkan hari bertugas di luar lebih banyak dan yang senyatanya dalam Surat Perintah Perjalanan
Dinas/SPPD (lebih parah lagi tanpa pergi, titip SPPD kepada teman yang sedang tugas luar).
b. Bentuk lain ketidakjujuran yang tidak secara langsung berhubungan dengan uang, misalnya memalsu
tanda tangan atau cap (stempel) kantor, mengisi presensi secara tidak benar, melaporkan yang baik-baik
saja dan menyembunyikan yang jelek-jelek.
Ketidakjujuran merupakan tindakan penyimpangan yang berbahaya karena dapat menimbulkan
ketidakpercayaan (distrust) dan dalam beberapa kasus sangat merugikan kepentingan masyarakat dan
institusi.
2. Perilaku yang Buruk (Unethical Behaviour)
Pegawai mungkin saja melakukan tindakan dalam batas-batas yang diperkenankan hukum, tetapi tindakan
tersebut dapat digolongkan sebagai tidak etis, namun secara hukum tidak dapat dituntut. Misalnya, Seorang
pejabat yang berpengaruh meminta kepada kepala personalia supaya familinya diluluskan dalam seleksi
pegawai. Di sini semua calon pegawai diseleksi secara sama melalui prosedur formal tertentu. Akan tetapi,
dalam melakukan penilaian dan pengambilan keputusan, bagian personalia meloloskan calon bosnya
meskipun secara objektif nilai tesnya tidak memenuhi syarat kelulusan. Walaupun dalam kasus ini bos atau
bagian personalia tidak mungkin dituntut karena permintaan bos diajukan secara lisan (tidak ada bukti
tertulis), tetapi juga tidak ada unsur penyogokan, mungkin pula kalimat yang digunakan bos sangat tersamar
(misalnya, aku titip keponakanku), tetapi tindakan demikian jelas tidak etis karena mengorbankan
objektivitas penilaian dalam seleksi pegawai.
3. Mengabaikan Hukum (Disregard of The Law)

Pegawai dapat mengabaikan hukum atau membuat tafsiran hukum yang menguntungkan kepentingannya.
Misalnya, Pegawai A menggunakan mobil dinas untuk mengantar sekolah anaknya, meskipun ia tahu bahwa
keluarga pegawai tidak berhak menggunakan fasilitas kantor yang secara hukum hanya diperuntukkan
pegawai negeri dan hanya untuk kepentingan dinas.
4. Favoritisme dalam Menafsirkan Hukum
Pejabat atau pegawai suatu instansi tetap mengikuti hukum yang berlaku, tetapi hukum tersebut ditafsirkan
untuk menguntungkan kepentingan tertentu. Misalnya, Seorang pejabat menyatakan bahwa gubernur harus
bersikap netral dalam pemilu, tetapi sebagai kader partai A maka yang bersangkutan harus merasa terpanggil
untuk memenangkan partai tersebut.
5. Perlakuan yang Tidak Adil terhadap Pegawai
Tindakan tidak etis lainnya adalah memperlakukan pegawai secara tidak adil. Contohnya, Pemimpin suatu
instansi menghambat karier bawahannya yang berprestasi karena merasa disaingi. Sebaliknya, ia
memperlakukan seorang pegawai lainnya secara istimewa karena bawahan tersebut pandai melayani
kemauan pemimpin tersebut.
6. Inefisiensi Bruto (Gross Inefficiency)
Kadang-kadang para pegawai suatu instansi dengan menggunakan celah-celah kelemahan Pejabat melakukan
pemborosan dana secara melanggar peraturan perundang-undangan yang melakukan inefisiensi bruto suatu
peraturan, misalnya berlebihan meskipun tidak berlaku.
7. Menutupi Kesalahan
Pimpinan atau pegawai negeri kadang-kadang menutupi kesalahan sendiri atau kesalahan bawahannya atau
melarang pers meliput kesalahannya atau instansinya. Contohnya Sikap para pejabat dalam kasus Marsinah.
8. Gagal Menunjukkan Inisiatif
Sebagian pegawai kadangkadang gagal membuat keputusan yang positif atau menggunakan diskresi
(keleluasaan) yang diberikan hukum kepadanya. Contohnya, setelah keluarnya suatu peraturan, beberapa
pejabat tidak berani mengambil inisiatif dalam mengatasi suatu permasalahan menurut peraturan tersebut dan
cenderung menunggu jukiak atau juknis dari instansi induknya.
Setelah kita pelajari delapan bentuk penyimpangan/perbuatan tidak etis para penyelenggara negara,
dapatkah Anda mencari contoh perilaku tidak etis yang secara hukum tidak bisa dituntut yang Anda
temui di sekeliling Anda?
Mari kita memperhatikan alasan-alasan besar yang melatar belakangi/ memotivasi tindakan tidak etis yang
terjadi selama beberapa tahun terakhir ini, di mana tindakan tersebut kebanyakan menunjuk pejabat-pejabat
yang dipilih, diangkat, dan meniti karier di semua tingkat pemerintahan.
1. Itikad Baik
Pegawai-pegawai pemerintah sering merasa kesal karena lambatnya proses pekerjaan di instansi mereka.
Mereka ingin mempercepat sesuatu yang berharga demi kepentingan masyarakat. Apa salahnya memotong
sedikit proses birokrasi? Tidak ada pengaruhnya untuk saya dan pekerjaan pun perlu dikerjakan. Jadi, kita
langgar saja sedikit aturannya. Bukankah pemerintah diharapkan untuk membantu? Salah. Mungkin salah.
Benar. Demikian urutannya. Memang, pemerintah diharapkan membantu dan pekerjaan itu perlu dikerjakan.
Mungkin memang tidak ada pengaruhnya untuk Anda atau memang birokrasinya terlalu berbelit-belit. Akan
tetapi, tidak ada seorang pun yang berwenang untuk mengabaikan undang-undang atau mengesampingkan
kebijakan dan prosedur yang ada. Rasanya tindakan tersebut dianggap benar.

Banyak pegawai pemerintah merasa lesu karena birokrasi yang tampak berat dan berjalan lambat. Peraturanperaturannya ternyata menimbulkan terlalu banyak hambatan untuk penyelesaian sesuatu dalam kurun waktu
yang layak. Mereka berpendapat, Segala tekanan dan kekangan yang melekat pada birokrasi-birokrasi besar
makin dirumitkan oleh terbatasnya kesempatan untuk maju, tindakan menjengkelkan yang tidak perlu dan
kondisi-kondisi kerja yang buruk. Bagi sebagian orang, memotong kompas atau mengabaikan prosedurprosedur wajib memang diperkenankan karena hal itu berarti menolong orang lain. Melakukan atau tidak
melakukan sesuatu perbuatan demi kebaikan meliputi banyak tindakan tidak etis, tindakan yang tidak layak
atau tidak sah, termasuk kekurangcermatan dalam meninjau data atau referensi untuk kontrak-kontrak,
ketidaktelitian dalam peninjauan latar belakang referensi penerimaan tenaga baru, dan ketidakwajaran dalam
membuat keputusan mengenai pemberian hibah atau kontrak karena kelompok atau orang yang
bersangkutanpatut menerimanya.
Terkuaknya skandal penyalahgunaan Dana Non-budgeter Bulog senilai Rp 54,6 miliar dengan tersangka
Rahardi Ramelan dan Deputi Keuangan Bulog Achmad Ruskandar. Kasus Penyelewengan dana abadi umat
(DAU) pada Departemen Agama tahun 2002-2004 senilai lebih dan Rp 700 miliar dengan tersangka mantan
Menteri Agama (Menag) Said Agil Husin Al Munawar dan mantan Dirjen Bimas Islam dan Haji Taufik
Kamil, melukiskan penggunaan kreatif itikad baik sebagai alasan untuk melakukan suatu tindakan tidak etis.
Cara etis untuk menangani birokrasi yang dianggap atau memang sudah usang adalah mengadakan
perubahan dengan jalan menganjurkan perbaikan proses kerja. Cara ini memang sulit dan memakan waktu.
Akan tetapi, menempuh jalan pintas membuat Anda menjadi bagian dan masalahnya. Sebaliknya, berusaha
memperbaiki proses dan prosedur pemerintahan membuat Anda menjadi bagian dan pemecahannya.
2. Ketidaktahuan akan Hukum, Kode Etik, dan Kebijakan Prosedur
Saya tidak tahu atau saya tidak tahu bahwa saya tidak boleh berbuat demikian merupakan alasan-alasan
yang digunakan oleh para pegawai negeri bila mereka dihadapkan pada pelanggaran ketentuan hukum, kode
etik atau kebijakan prosedur instansi. Dalih ini sering digunakan untuk menerangkan kerahasiaan suatu
instansi yang mungkin atau memang mempengaruhi keputusan suatu instansi. Dengan kata lain, situasi
mungkin tidak mempunyai dampak pada suatu keputusan.
Pelanggaran tersebut, meliputi sejumlah pertemuan tertutup dengan relasi-relasi mengenai kontrak atau
penyelidikan. Meskipun ada peraturan tertentu yang mengatur tentang hal-hal yang dapat diperoleh sebagai
kemudahan transportasi perjalanan atau pemberian hiburan tambahan, pegawai-pegawai pemerintah tetap
menerima baik tawaran-tawaran sampingan. Sering kali, apabila ditegur, si pegawai akan menjawab, Saya
tidak dapat disuap dengan cara apa pun apalagi bila saya ditawari undangan gratis. Agaknya, jawaban
tersebut sangat klise kedengarannya, bahkan jawaban tersebut melukiskan lebih dari sekadar undangan
makan atau hiburan gratis.
Salah satu alasan yang didiskusikan dalam sebuah seminar tentang praktik pemerintahan yang etis ialah
ketidakmampuan untuk mengingat memo, peraturan, dan tetek bengek birokrasi lainnya. Seorang pegawai
instansi mendengarkan penjelasan orang lain kepada orang ketiga mengenai suatu prosedur yang telah
direvisi untuk melaporkan kemungkinan bentrokan kepentingan. Bagaimana kau tahu akan hal itu? tanya
orang yang mendengarkan. Ketika dibenitahu bahwa informasi itu telah disebarluaskan minggu sebelumnya
dalam sebuah memo kepada semua pegawai, orang yang menjelaskan menjawab, Itulah kalau kau membaca
tetek bengek.
3. Egoisme
Egoisme pribadi atau kelompok telah berkembang menjadi virus ganas yang menumbuhkan anarki dan
melahirkan sosok kepemimpinan yang bercorak premanisme dan pameran adu kekuatan. Kekuasaan tidak
berakar lagi kepada kepentingan rakyat, kekuasaan hanya untuk dinikmati, dimanfaatkan, dan
disalahgunakan. Persoalan-persoalan bangsa yang strategis, serius dan luas sekalipun, tidak lagi

dipersepsikan sebagai kepentingan nasional. Oleh karena semakin terbiasa mementingkan kelompok, partai,
daerah dan hal lain-lain yang sangat parsial (Edi Sudradjat, 2003)
Rangkap jabatan para penyelenggara negara di kepengurusan partai mempertajam benturan kepentingan
antara bersikap dan berbuat untuk partai dan bersikap dan berbuat untuk bangsa dan negara. Hal ini berakibat
pada bentuk perilaku yang berwajah ganda (tidak etis). Pagi tampil di depan publik sebagai pejabat negara,
sore hari tampil sebagai ketua partai. Akibatnya kebersamaan yang selaras antarsesama komponen bangsa
untuk bersama-sama memikirkan dan memecahkan persoalan dan nasib masa depan bangsa terbengkalai.
Misalnya, Amendemen UUD 1945, bermuatan begitu banyak kepentingan. Konstitusi yang menjadi dasar
dan patokan dalam menuntut perjalanan bangsa, digadaikan dalam tawar-menawar antarfraksi yang
memprosesnya di lembaga permusyawaratan. Rakyat yang sesungguhnya sebagai pemilik negara ini hanya
menjadi penonton, tidak diajak serta, kecuali sejumlah kecil pakar yang dilibatkan secara pasif.
Rangkap jabatan para penyelenggara negara di kepengurusan partai mempertajam benturan kepentingan
antara bersikap dan berbuat untuk partai dan bersikap dan berbuat untuk bangsa dan negara.
Setujukah Anda dengan pernyataan ini? Kalau Anda setuju jelaskan, kalau tidak setuju juga Anda jelaskan!
4. Keserakahan
Menurut Lopa (1998), salah satu hal yang mendorong terjadinya pelanggaran hukum atau perbuatan yang
tidak etis oleh pejabat negara ini adalah tabiat mereka yang serakah. Mungkin juga sikap itu dilandasi rasa
takut bercampur malu yang pada oknum pejabat tinggi dan pengusaha kuat yang berkolusi sudah jarang
ditemukan. Rasa berkuasa itulah yang sering membuat seseorang memandang remeh orang lain dan berani
bertindak apa saja (harlan Bisnis Indonesia edisi 21 November 1998). Lebih lanjut Lopa menegaskan
keserakahan ini tumbuh subur karena lemahnya penegakan hukum, serta manajemen yang tidak rapi
sehingga kebocoran tidak bisa segera diketahui dan dikendali kan.
Keserakahan materi bagi para pejabat negara menurut Kwik Kian Gie (2003) dapat menjadi sumber awal
terjadinya tindakan tidak etis, yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme/KKN. Kemudian, keserakahan materi
tersebut dapat berkembang menjadi kelainan-kelainan yang sifatnya bukan kebendaan. Pikiran menjadi
jungkir balik walaupun pendidikannya tinggi. Itulah sebabnya ada istilah corrupted mind. KKN yang sudah
merasuk ke dalam jiwa, mental, moral, akhlak menjelma menjadi kebijakan pemerintah yang sangat tidak
masuk akal. Dalam merumuskan kebijakan itu, terkadang perumusnya tidak menikmati uang, tetapi
kebijakan yang tidak waras itu disebabkan karena keseluruhan jiwanya, cita rasanya, pikirannya sudah sakit.
Kesemuanya ini sudah terlepas dan tingkat pendidlkannya. Maka, orango rang yang masih waras, yang jiwa
dan mindset-nya masih belum terjangkit KKN, tidak bisa mengerti bagaimana mungkin orang-orang yang
pendidikannya begitu tinggi memakai pengetahuannya untuk merumuskan kebijakan yang sangat merugikan
orang banyak dan sangat tidak adil. Dalam membela kebijakannya, ilmu pengetahuan dipakai untuk
berargumentasi, seperti pokrol tanpa alur pikir yang jernih dan tanpa argumentasi, tetapi mengemukakan
dalil-dalil yang digebrak-gebrakkan di atas meja diskusi. Gambaran yang terdistorsi ini dimuat di media
massa sehingga mayoritas masyarakat ikut bengkok persepsi dan pengetahuannya tentang hal ihwal
masyarakat, negara dan bangsa yang begitu besar pengaruhnya terhadap kehidupannya sehari-hari.
5. Kewenangan dan Kekuasaan
Kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki oleh para pejabat negara dalam penyelenggaraan negara sering
disalahgunakan. Misalnya, pada masa pemerintahan Soeharto banyak tindakan yang dilakukannya dapat
dikategorikan penyalahgunaan kewenangan dan kekuasaan, antara lain (1) Pada 1970 Soeharto melarang
protes pelajar setelah demonstrasi yang meluas melawan korupsi; (2) Pada 1995, Soeharto mengeluarkan
Keputusan Presiden Nomor 90 Tahun 1995. Keppres ini menghimbau para pengusaha untuk menyumbang
2% dan keuntungannya untuk Yayasan Dana Mandiri; (3) Tindakan pembersihan dan unsur-unsur komunis
(PKI) membawa tindakan penghukuman mati anggota Partai Komunis di Indonesia yang menyebabkan
pembunuhan sistematis sekitar 500 ribu tersangka komunis, kebanyakan warga sipil, dan kekerasan
terhadap minoritas Tionghoa Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Soeharto).

Apabila kita ingin memberantas penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan para penyelenggara negara maka
perlu ketentuan pidana yang jelas bagi pejabat yang menyalahgunakan kewenangan. Selama ini
penyalahgunaan kewenangan pejabat eksekutif diselesaikan melalui forum pengadilan tata usaha negara atau
pengadilan khusus korupsi apabila ada unsur korupsi, tetapi penyalahgunaan wewenang oleh para penegak
hukum seperti hakim, jaksa dan polisi tidak pernah dipermasalahkan. Hal ini dikarenakan tidak ada ketentuan
pidana khusus bagi penegak hukum yang menyalahgunakan kewenangannya. UU No. 31 Tahun 1999 Junto
UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi tidak cukup diandalkan untuk
memberantas penyalahgunaan wewenang karena adanya unsur merugikan keuangan Negara. Pada
kenyataannya, banyak sekali penyalahgunaan wewenang pejabat yang tidak ada kaitannya dengan kerugian
keuangan Negara sehingga dapat dimaklumi bila pejabat yang melakukan penyalahgunaan wewenang lobs
dan jerat hukum.
Pemerintah sendiri melalui Keppres No. 44/2000-nya telah turut mempertimbangkan upaya peningkatan dan
penegakan implementasi prinsip prinsip good governance, yaitu dengan pemberdayaan masyarakat melalui
peran serta mereka untuk melakukan pengawasan akan lebih menjamin penyelenggaraan negara yang jujur,
bersih, transparan, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme; dan upaya pemberdayaan pengawasan oleh
masyarakat ini merupakan implementasi demokratisasi yang perlu dikembangkan dan diaplikasikan agar
penyalahgunaan kekuasaan, wewenang ataupun jabatan oleh aparatur dapat diminimalisasi.
6. Persahabatan
Bukankah hal itu tidak ada salahnya? Saya hanya menolong seorang teman dan saya tidak mendapat
keuntungan apa pun. Ungkapan ini biasa atau dapat dijadikan alasan bagi pejabat penyelenggara negara
untuk melakukan pembelaan diri ketika ia melakukan perbuatan tidak etis. Misalnya, ketika yang
bersangkutan meminjamkan kendaraan dinasnya atau alat-alat kantor kepada seorang teman untuk
kepentingan pribadi.
Contoh lain: karena ingin mendapatkan keuntungan pribadi atau ingin menyelamatkan diri, beberapa orang
pejabat rela mencelakakan/mengkhianati sahabatnya sendiri atau melakukan perbuatan tidak etis. Hal ini
tenjadi pada kasus jatuhnya Suharto dan jabatan presiden. Di mana ia harus meletakkan jabatan secara tragis,
bukan semata-mata karena desakan demonstrasi mahasiswa (1998), melainkan lebih akibat pengkhianatan
para pembantu dekatnya. Sejumlah menteri yang sebelumnya asal bapak senang (ABS), tiba-tiba pada saat
kritis menanik diri dari kabinet. Akibatnya, Suharto kehilangan dukungan, dan terpaksa mengundurkan diri.
7. Keuntungan Pribadi dan Keluarga
Untuk mendapatkan keuntungan pribadi dan keluarga, seorang pejabat negara mungkin dapat melakukan
perbuatan tidak etis, misalnya kasus korupsi di KPU. Kasus korupsi KPU menarik karena indikasi korupsi
dilakukan oleh oknum yang berasal dari berbagai latar belakang seperti dari perguruan tinggi, aktivis
lembaga swadaya masyarakat, dan birokrat. Dengan perbedaan latar belakang itu, kasus korupsi KPU
memperlihatkan bagaimana kolaborasi antara cendekiawan, aktivis, dan birokrat dalam korupsi. Kolaborasi
itu semakin luas karena uang panas KPU juga mengalir sampai ke anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)
dan Badan Pemeriksa Keuangan (Saldi Isra, 2005).
Contoh lain adalah kasus penggunaan dana abadi umat (DAU) di Departemen Agama. Kasus DAU
memperlihatkan betapa bobroknya mentalitas pejabat di negeri ini. Pejabat dengan begitu
gampangnya menggunakan dana umat untuk kepentingan pribadi. Selain karena aji mumpung, tidak
ada alasan yang dapat membenarkan pejabat menggunakan DAU untuk menunaikan ibadah haji.
Sama dengan kasus korupsi KPU, berdasarkan hasil penyidikan Tim Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, dana haji ini juga mengalir sampai ke DPR (Koran Tempo, 22/06).
8. Kebodohan

Orang tentu mengira bahwa ketika seorang pegawai negeri atau pejabat negara mencapai jabatan tingkat
tinggi, ia akan mempunyai pengertian yang jelas mengenai perbedaan antara perilaku yang etis dan perilaku
yang tidak etis. Apabila kita beranggapan bahwa perbedaan tersebut sangat jelas, kita harus berkesimpulan
bahwa tindakan tidak etis (penyelewengan) tertentu disebabkan oleh kebodohan. Contoh perilaku bodoh,
antara lain berikut ini.
a. Menggunakan alat-alat tulis, telepon, mesin fotokopi, dan kendaraan kantor untuk kepentingan pribadi.
b. Menggunakan jasa sopir pemerintah/kantor secara tidak sah untuk bepergian menuju dan pulang dari
tempat kerja.
c. Memanfaatkan pegawai-pegawai pemerintah pada jam-jam kerja resmi untuk mengerjakan sesuatu dalam
rangka kampanye memperoleh suatu jabatan.
d. Seorang kepala negara/presiden menyebut anggota-anggota DPR sebagai taman kanak-kanak.
9. Ikut Arus
Lemahnya perlindungan atau jaminan hukum terhadap abdi-abdi negara (pelapor) yang mencoba memprotes
penilaku tidak etis atau membeberkan penyimpangan yang dilakukan oleh penyelenggara negara kepada
wartawan/media, mengakibatkan si pelapor sering menghadapi ancamana ncaman. Sesudah itu, mereka pun
akan diselidiki karena dianggap melakukan pembocoran-pembocoran tanpa izin. Tentu saja hal ini dapat
mempengaruhi kesetiaan kaum birokrat (abdi negara). Dengan kata lain, dalam waktu yang singkat jelaslah
bahwa sebaiknya orang mengambil sikap ikut arus saja atau melindungi diri sendiri secara mental. Sebagai
pemecahannya, pejabat-pejabat abdi negara melakukan pekerjaan mereka meskipun tidak terlalu
bersemangat, bahkan mereka pun berhati-hati untuk tidak membuat kehebohan.
10. Saya Hanya Mengikuti Perintah
Setiap bawahan berkewajiban untuk patuh dan taat pada perintah atasan kalimat ini sering dijadikan
pembelaan utama dalam proses pengadilan jika seorang oknum pejabat dinyatakan bersalah atau melakukan
perbuatan tidak etis. Misalnya, pada kasus Trisakti, Semanggi I dan II merupakan pelanggaran HAM berat,
karena dalam peristiwa itu terjadi penembakan oleh militer terus-menerus dan berlangsung sampai 10 jam,
sehingga banyak sekali jatuh korban. Adapun alasan anggota milker yang melakukan penembakan tersebut
adalah mengikuti perintah atasan.

MODUL 8 KODE ETIK PENYELENGGARA NEGARA DAN KODE ETIK PNS


KEGIATAN BELAJAR 1
ETIKA PENYELENGGARA NEGARA DAN KODE ETIK PNS
Etika adalah nilai-nilai moral yang mengikat seseorang atau sekelompok orang dalam mengatur sikap,
tindakan ataupun ucapannya. Sedangkan pengertian penyelenggara negara adalah pejabat negara (eksekutif,
legislatif, yudikatif, dan auditif, serta pejabat lain; Kepala perwakilan RI di luar negeri, Pejabat/Pimpinan
Bank Indonesia, Pejabat Penyelenggara Pemda) pegawai negeri, pejabat atau pegawai pada lembaga negara
lainnya yang dibiayai dari dana APBN/APBD, Pejabat BUMN/BHMN/BUMD.
Dengan demikian, etika penyelenggara negara adalah nilai-nilai moral yang menjadi pedoman bagi
penyelenggara negara dalam menunaikan tugas dan kewajibannya.
Norma-norma Etika Penyelenggara Negara
Berikut akan dijelaskan 11 norma-norma etika yang harus diterapkan penyelenggara negara di Indonesia.
Setiap penyelenggara negara berdasarkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Etika Penyelenggara Negara
berkewajiban untuk menjalankan norma-norma etika sebagai berikut:
a. Berakhlak Mulia. Maksud dan Berakhlak mulia adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara
negara untuk memiliki sifat-sifat terpuji, rendah hati, menghargai sesama dan tidak semena-mena serta
takwa kepada Tuhan.
b. Tepat Janji. Maksud dan Tepat Janji adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara untuk
menepati janji, sumpah, dan ikrar (seperti sumpah jabatan, komitmen dan pakta integnitas) dan janjinya
kepada anggota masyarakat yang harus dilayani.
c. Jujur. Maksud dan Jujur adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara menyatakan yang
sebenarnya, tidak berbohong, tidak menipu, tidak curang, tidak manipulatif, bertindak secara konsisten,
memiliki kelurusan hati dan keikhlasan dalam melaksanakan tugas dengan mengutamakan hati nurani.
d. Adil. Maksud dari Adil adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara dalam setiap
tindakan dan ucapan tidak memihak, seimbang, tidak diskriminatif (membeda-bedakan), seperti bias
gender, tingkatan dan status sosial, etnis, agama, ras dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat
serta menghormati hak asasi manusia.
e. Arif. Maksud dari Arif adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara dalam setiap tindakan
dan ucapan bersikap bijak. Menuntut untuk menggunakan akal dan pikiran sehat (dengan
mempertimbangkan pengalaman dan pengetahuan), cermat dan teliti dengan senantiasa
mempertimbangkan akibat sikap, tindakan atau ucapan yang akan diambilnya atau akan dikatakan
sebelumnya.
f. Disiplin. Maksud dari Disiplin adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara patuh dan
taat pada aturan, tata tertib dan prosedur dalam melaksanakan tugas, kewenangan dan kewaj iban secara
profesional.
g. Taat Hukum. Maksud dari Taat hukum adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara
untuk mematuhi peraturan hukum dan perundang-undangan.
h. Tanggung jawab dan Akuntabel. Maksud dari Tanggung jawab adalah norma yang menuntut
kesediaan moral setiap penyelenggara negara untuk:

1) niat dan tekad untuk melaksanakan tugas, wewenang dan kewajibannya secara profesional dan tekad
untuk terus-menerus meningkatkan mutu profesionalitasnya;
2) kehati-hatian dan kecermatan dalam setiap sikap, perilaku, tindakan maupun ucapannya, baik di
dalam lingkungan kerjanya maupun di luar lingkungan kerjanya;
3) memikul akibat risiko dan tanggung jawab yang terpaut pada kedudukan, kewenangan dan tugas yang
harus dilaksanakannya;
4) kewajiban untuk mengakui kesalahannya, kesediaan untuk memperbaiki kesalahannya secepat
mungkin, dan memikul akibat dan perilaku, tindakan, keputusan dan ucapannya yang salah itu.
Maksud dari Akuntabel adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara
mempertanggungjawabkan setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan kepada masyarakat sesuai dengan
cara dan prosedur yang ditentukan oleh ketentuan hukum, prosedur dan kebiasaan yang berlaku di dalam
lingkungan dan bidang/sektor kerja yang bersangkutan.
i. Sopan Santun. Maksud dan Sopan santun adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara negara
dalam bersikap, berperilaku, bertindak dan berucap secara etis, menjaga tata krama, saling hormatm
enghormati, memperhatikan protokol kedinasan, beradab, berbudi pekerti, dalam berhubungan dengan
masyarakat yang perlu dilayani, antar sesama manusia maupun dalam hubungan kerja dan tugas.
j. Kehati-hatian. Maksud dan Kehati-hatian adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara dalam
setiap sikap, perilaku, tindakan dan ucapannya agar memperhatikan hukum dan perundang-undangan,
kebutuhan masyarakat maupun pemerintah dan menjaga suasana yang harmonis, mencegah timbulnya
keresahan atau kerugian pada masyarakat atau pihak lain, agar tercipta kehidupan masyarakat yang
damai, tenteram, selaras, serasi dan seimbang.
k. Kesetaraan. Maksud dan Kesetaraan adalah norma yang menuntut setiap penyelenggara dalam
bersikap, berperilaku, bertindak dan berucap selalu beronientasi pada pninsip kesamaan dan persamaan
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan hak-haknya sebagai manusia, dan warga negara untuk
berperan dan benpartisipasi dalam berbagai kegiatan serta kesamaan dalam penyelenggaraan negara.
Setelah Anda memahami 11 norma etika bagi penyelenggara negara, sikap, tindakan, perilaku seperti apa
yang dianggap melanggar etika penyelenggara negara?
Setiap sikap, tindakan, perilaku ataupun ucapan penyelenggara negara yang dapat dianggap melanggar
etika penyelenggara negara, antara lain berikut ini.
a) Sikap, perilaku, tindakan kelalaian dan ucapan penyelenggara negara yang:
1) tidak sesuai dengan akhlak mulia, berpacaran atau memerkosa bawahan, melakukan perbuatan tercela
(asusila, seperti berzina, bermaksiat dan berselingkuh; berjudi, bermabuk, bernapza), melakukan lainlain hal yang tidak terpuji;
2) tidak tepat janji, meliputi melanggar kesepakatan, tidak konsisten antara kata dan perbuatan, tidak
melaksanakan/melanggar sumpah/janji jabatan, tidak menjalankan komitmen dan kewajiban, tidak
memberi contoh yang baik kepada bawahan;
3) tidak jujur, meliputi berkata dan bertindak buruk dan bertentangan dengan kebenaran, hati nurani dan
kalbu, tidak berterus terang, berbohong, manipulatif, tidak menegakkan kebenaran, tidak transparan
dan tidak memberikan informasi dan pelayanan publik sebagaimana mestinya;

4) tidak adil, meliputi perilaku memihak, pilih kasih, bertindak diskriminatif terhadap gender, status,
tingkat sosial, etnis, agama dan ras dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, serta memihak
pada kepentingan pribadi, kroni atau kelompok;
5) tidak arif, meliputi perbuatan atau perilaku yang tidak bijak termasuk dalam menggunakan akal dan
pikiran, bertindak tidak sabar, emosional yang berlebihan, berburuk sangka, arogan, menyinggung
harga diri, harkat dan martabat anggota masyarakat, kelompok tertentu, bangsa dan negara;
6) tidak disiplin, meliputi tidak melakukan kewajiban, tidak taat dan patuh pada peraturan, tidak tepat
waktu, tidak mengutamakan kepentingan tugas, melanggar aturan dan tata tertib;
7) tidak taat hukum, meliputi tidak mematuhi norma hukum dan peraturan perundang-undangan, secara
langsung atau tidak langsung mempengaruhi proses peradilan, proses pelaksanaan kebijakan publik
yang bukan lingkup tugas dan kewenangannya, menyalahgunakan dan mengomersialkan jabatan;
ingkar terhadap sumpah dan janji, melakukan kolusi, korupsi, dan nepotisme dan memihak pada
kepentingan pribadi, kroni atau kelompok;
8) tidak bertanggung jawab, meliputi perilaku yang tidak bersedia menanggung akibat dan suatu ucapan,
perbuatan atau penlaku yang merupakan tugas, kewajiban dan kewenangan, meninggalkan tugas,
mengabaikan kewajiban, menyalahgunakan kewenangan, tidak mengakui kesalahan, lalai, tidak teliti,
bergaya hidup berlebihan, tidak cermat dan tidak konsisten dalam melaksanakan tugas dan merugikan
pihak lain;
9) melanggar sopan santun, meliputi perbuatan yang tidak sesuai dengan tata krama, sinis, acuh tak acuh
dan tidak ramah dalam memberikan pelayanan masyarakat, tindakan dan ucapan yang tidak terpuji,
tidak beradab dan tidak berbudi pekerti;
10) tidak atau kurang hati-hati, meliputi tindakan atau perilaku yang dapat merugikan orang lain, pihak
lain dan lingkungan, bertindak ceroboh, gegabah, tidak atau kurang memperhatikan akibat perbuatan
atau perilaku, termasuk kelalaian terhadap kewajiban dan tidak peduli akan kepentingan umum.
b. Tidak memperhatikan kesetaraan, meliputi tindakan diskriminatif terhadap ras, suku, agama, etnis,
gender, umur dan status sosial.
c. Tidak melaksanakan kewajiban sebagai penyelenggara negara, yaitu:
1) tidak melaksanakan norma etika penyelenggara negara (berakhlak mulia, tepat janji, jujur, adil, arif,
disiplin, taat hukum, tanggung jawab dan akuntabel, sopan santun, kehati-hatian, dan kesetaraan);
2) tidak menjaga citra lembaga penyelenggara negara;
3) tidak melaksanakan kode etik pada masing-masing lembaga penyelenggara negara;
4) tidak menjaga hubungan dan fungsi masing-masing unsur penyelenggara negara;
5) tidak menaati dan melaksanakan keputusan lembaga penegakan etika;
6) tidak menghindarkan din dan tindakan korupsi, kolusi, dan nepotisme;
7) tidak menaati dan melaksanakan sumpah dan janji sebagai penyelenggara Negara;
8) tidak mengutamakan kepentingan umum dan atau kepentingan negara daripada kepentingan pribadi,
kelompok atau golongan;

9) tidak mengembangkan budaya organisasi (sikap dan perilaku individu dan kelompok penyelenggara
negara yang didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dalam organisasi dan telah
menjadi sifat serta kebiasaan dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan sehari-hari dalam rangka
pencapaian tujuan organisasi) yang berlandaskan pada norma etika penyelenggara negara.
d. Melanggar larangan bagi penyelenggara negara, yaitu:
1) menerima hadiah dan cinderamata dalam bentuk apa pun yang terkait dengan atau yang patut dapat
diduga berkaitan dengan jabatannya, kecuali cinderamata yang diterima dalam rangka tukar menukar
cinderamata pada kegiatan diplomatik atau acara protokoler kenegaraan yang menjadi milik negara;
2) merangkap jabatan dalam berbagai kepengurusan organisasi masyarakat yang dapat menimbulkan
konflik kepentingan;
3) ikut serta danlatau terlibat dalam perusahaanlkegiatan bisnis yang dapat menimbulkan konflik
kepentingan;
4) secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi proses peradilan;
5) mengalihkan tanggung jawab kepada atasan maupun bawahan akibat kelalaian dan kesalahan yang
secara yuridis formal maupun material menjadi tanggung jawabnya;
6) merencanakan dan atau menggunakan anggaran negara yang berakibat penghamburan keuangan
negara, dan tindakan koruptif;
7) membuat kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang secara langsung atau tidak langsung
dapat menguntungkan pribadi, keluarga, kroni atau pihak tertentu;
8) melaksanakan proses administrasi yang melanggar prosedur yang diatur dalam peraturan
perundangundangan maupun secara intern organisasi;
9) menggunakan gelar akademik yang tidak sah atau yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak wajar;
10) menyalahgunakan kewenangan dan atau fasilitas negara untuk kepentingan pribadi, keluarga, kroni,
golongan atau pihak tertentu;
11) menyalahgunakan dokumen kedinasan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, keluarga, kroni
atau pihak tertentu baik dalam negeri maupun luar negeri;
12) membuat pernyataan menyesatkan atau meresahkan masyarakat;
13) memberikan atau membuka informasi yang menimbulkan keresahan masyarakat;
14) mempekerjakan bawahan di luar lingkup tugas atau dalam lingkup tugas, namun melampaui batas
waktu semestinya;
15) mengangkat seseorang yang tidak memiliki kompetensi dalam jabatan;
16) melakukan tindakan, perbuatan atau menggunakan kata-kata yang melampaui batas lingkup tugas dan
kewenangannya.
Tujuan RUU Etika Penyelenggara Negara
Etika penyelenggara negara bertujuan untuk menjadi:

a. pedoman bersikap, berperilaku, bertindak dan berucap bagi penyelenggara negara dalam melaksanakan
tugas, kewajiban, wewenang dan tanggung jawab;
b. sarana dan tolok ukur bagi penyelenggaraan negara yang baik dan bersih dan sebagai instrumen untuk
mencegah perilaku koruptif, kolutif, dan nepotis dalam penyelenggaraan negara;
c. sarana pemahaman dan pembelajaran untuk mewujudkan penyelenggara negara yang berakhlak mulia
(menuntut setiap penyelenggara negara untuk menjaga dan menegakkan akhlak dan budi pekerti
luhur/integritas moral), amanah (cerminan dari sikap, perbuatan tindakan dan ucapan yang dalam
melaksanakan tugas harus dapat dipercaya, dapat memegang teguh rahasia negara dan konsisten dalam
jabatan), disiplin dan menjadi teladan dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat (setiap
sikap perbuatan tindakan dan ucapan penyelenggara negara harus dapat memberikan contoh perbuatan
yang baik dan menghindarkan kebiasaan yang buruk);
d. sarana pembentukan kode etik dan pengembangan budaya organisasi kenegaraan khususnya dalam
lingkungan lembaga penyelenggara negara.
Di atas telah dijelaskan bahwa norma-norma etika pada penyelenggara negara telah dituangkan dalam RUU
Etika Penyelenggara Negara. Berikut akan dijelaskan ruang lingkup RUU tersebut dan penerapannya.
Ruang Lingkup RUU Etika Penyelenggara Negara
Ruang lingkup RUU etika penyelenggara negara, meliputi pengaturan sikap, perilaku, tindakan dan ucapan
baik tertulis maupun tidak tertulis bagi seluruh penyelenggara negara pada lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, auditif, dan lembaga negara lainnya.
Penerapan Norma-norma Etika Penyelenggara Negara
Tujuan yang ingin dicapai dan pokok bahasan ini adalah agar Anda mampu mengevaluasi penerapan masingmasing norma etika penyelenggara negara dalam penyelenggaraan pemerintahan baik di tingkat pusat
maupun daerah.
a. Penerapan norma berakhlak mulia
Di Indonesia, sumpah jabatan sudah menjadi bagian wajib dalam acara sebuah seremoni pelantikan para
pejabat pemerintah negara, pejabat (eksekutif, legislatif, yudikatif), pegawai negeri sipil (PNS), para
profesional. Kehadirannya pun sakral karena di dalamnya mengandung unsur religiusitas.
Hal ini dapat dilihat dan teks yang harus dilafalkan, yaitu diawali dengan berjanji kepada Tuhan Yang Maha
Esa, Demi Allah, saya bersumpah/berjanji bahwa saya, Di sinilah sumpah menjadi raison detre
pewahyuan jabatan yang menuntut agar dijalankan secara benar dan penuh tanggung jawab. Oleh sebab itu,
penting--sebelum pelantikan dilaksanakan-t erlebih dahulu dihadirkan para rohaniwan masing-masing agama
guna menjelaskan arti, makna, dan konsekuensi sumpah jabatan itu sendiri. Dengan demikian, pengambilan
dan ucapan sumpah bukan hanya merupakan janji dalam lingkungan administrasi negara, tetapi sekaligus
telah menjadi janji religius kepada Tuhan/Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Oleh sebab itu,
pelanggaran sumpah jabatan sekaligus juga merupakan sumpah palsu menurut agama masing-masing.
Melalui sumpah jabatan diharapkan potensi penyimpangan dan penyelewengan jabatan dapat dikontrol,
bahkan ditekan, dari dalam karena ikatan sumpah yang pernah diucapkannya. Di mana pelanggaran sumpah
jabatan tidak hanya merupakan pelanggaran janji administratif, tetapi sekaligus juga merupakan tindak
pidana dan sumpah palsu menurut agama.
Pengambilan sumpah jabatan/janji tersebut adalah merupakan wujud implementasi dari norma berakhlak
mulia dalam penyelenggaraan negara.
Adapun susunan kata-kata sumpab/janji adalah sebagai berikut:

Demi AlLah, saya bersumpah/berjanji: Bahwa saya, untuk diangkat menjadi pejabat negara (eksekutif,
Legistatif, yudikatif, auditif) akan setia dan taat sepenuhnya kepada PancasiLa, Undang-Undang Dasar 1945,
Negara, dan Pemerintah; bahwa saya, akan mentaati segata peraturan perundang-undangan yang bertaku dan
meLaksanakan tugas jabatan yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian, kesadaran, dan
tanggung jawab; bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan Negara, Pemerintah, dan
martabat Pejabat Negara, serta akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara daripada kepentingan
saya sendiri, seseorang atau golongan; bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut sifatnya
atau menurut perintah harus saya rahasiakan;bahwa saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan
bersemangat untuk kepentingan Negara.
Oleh karena itu, apabila seseorang pejabat negara, pejabat pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif,
auditif), pegawai negeri sipil (PNS), para profesional, setelah menduduki jabatan ternyata melanggar
sumpah/janji jabatan maka yang bersangkutan dapat dikategorikan tidak hanya telah melanggar norma etika
penyelenggara negara, antara lain yaitu norma berakhlak mulia, tetapi sekaligus melanggar norma hukum
pidana, norma administrasi negara dan norma keagamaan yang dianutnya.
Contoh Kasus:
Perstiwa korupsi mantan Gubernur Aceh, hiruk-pikuk tentang penggunaan Dana Abadi Umat di Departemen
Agama, pembongkaran korupsi berjemaah di kalangan KPU, tersangkutnya tokoh-tokoh penting Badan
Pemeriksa Keuangan dalam soal-soal suap, penyelewengan dana di Jamsostek, diperiksanya sejumlah besar
bupati dan walikota serta anggota DPRD di berbagai daerah, itu semua menunjukkan dengan jelas bahwa
kerusakan akhlak di kalangan atasan masyarakat kita sudah mencapai tingkat yang menyedihkan sekali.
b. Penerapan norma tepat janji
Setiap penyelenggara negara dituntut untuk menepati janji dan tidak melanggar kesepakatan, konsisten antara
kata dan perbuatan, menepati sumpah dan ikrar, menjalankan komitmen dan kewajiban. Norma etika tepat
janji ini telah dirinci dalam asas-asas pemerintahan yang baik, yaitu asas akuntabilitas, asas keterbukaan, dan
asas tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan.
Tuntutan untuk tepat janji ini sebenarnya juga sudah tercermin dalam ucapan sumpah/janji (Demi Allah,
saya bersumpah/berjanji Bahwa saya, untuk diangkat menjadi pejabat negara (eksekutif, legislatif, yudikatif,
auditif) akan ...) dalam setiap pelantikan para pejabat negara, pejabat pemerintah (eksekutif, legislatif,
yudikatif, auditif), pegawai negeri sipil (PNS), para profesional.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma tepat janji ini sering sekali dilanggar oleh oknum
pejabat tertentu.
Contoh kasus:
Sering dijumpai adanya oknum pejabat yang terlambat atau tidak tepat waktu dalam menghadiri acara rapatrapat dengan berbagai alasan.
Contoh lain:
Ribuan masyarakat korban gempa bumi di DI. Yogyakarta yang tergabung dalam berbagai kelompok,
menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Agung Yogyakarta, Rabu (19/7). Aksi ini dilakukan sebagai
bentuk protes sekaligus menagih janji kepada pemerintah terkait belum dikucurkannya berbagai jenis
bantuan yang pernah dijanjikan. Para pengunjuk rasa selain berorasi juga mengeluarkan kecaman yang ditulis
dalam poster maupun spanduk. Di antaranya bertuliskan, Wapres Stop Omong Kosong dan Jangan Bikin
Trauma karena Ingkar Janji.
Menurut Koordinator Umum Gerakan Aksi Tagih Janji (GANTI) Tri Wahyu KH, masyarakat sangat terpukul
dengan rencana pemerintah yang hanya akan memberikan uang ganti bagi rumah yang roboh akibat gempa

sebesar Rp 4 juta/rumah. Hal itu dinilai mengingkari janji. Oleh karena sebelumnya Wapres pernah
mengatakan akan memberikan bantuan untuk rumah roboh sebesar Rp 30 juta.
Dengan bantuan uang sekecil itu, jelas merupakan pengingkaran terberat bagi rakyat. Pengingkaran itu juga
memupuskan harapan masyarakat untuk membangun rumah baru yang layak huni. Mimpi yang sempat
membumbung tinggi itu kini musnah dalam sekejap, ungkap Tri Wahyu (Kedaulatan Rakyat, 20 Juli 2006).
c. Penerapan norma jujur
Setiap penyelenggara negara harus memiliki kelurusan hati dalam menjalankan tugasnya, tidak bohong, tidak
curang dan ikhlas serta mengutamakan hati nurani. Norma etika jujur ini telah dirinci dalam asasa sas
pemerintahan yang baik, yaitu asas keseimbangan, asas kesamaan, asas kecermatan, asas motivasi, asas tidak
melampaui dan atau mencampura dukkan kewenangan, dan asas bertindak yang wajar.
Tuntutan untuk berlaku jujur ini sebenamya juga sudah tercermin dalam ucapan sumpah/janji (.....bahwa
saya, akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara) dalam setiap
pelantikan para pejabat negara, pejabat pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), pegawai negeri sipil
(PNS), para profesional.
Pengungkapan data kekayaan pribadi pejabat negara oleh Komisi Penyelidik Kekayaan Pejabat Negara
(KPKPN) memberikan pencerahan kepada publik tentang pentingnya transparansi. Harapannya bisa terjadi
transformasi perilaku pejabat negara. Hal yang paling substansial, tumbuhnya sikap jujur para pemangku
negara.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma kejujuran ini sering sekali dilanggar oleh oknum
pejabat tertentu.
Contoh Kasus:
Oknum pejabat Telkom dan rekanannya disinyalir telah melakukan manipulasi pulsa melalui
penyelenggaraan VoiP/ Voice over IP (istilah populer dari penggunaan Internet untuk bercakap-cakap dengan
menggunakan suara). Modus operandinya adalah sebagai berikut: perusahaan Mobisel diduga telah
melakukan rekayasa atau memanipulasi trafik dengan cara menjual dan menyalurkan terminasi grafik dengan
tujuan Telkom, kepada operator VoIP ilegal.
Pada saat operator VoIP ilegal menyalurkan trafik dari luar kota/luar negeri tujuan Telkom melalui
perusahaan Mobisel maka yang muncul di daftar tagihan Telkom (call data record) adalah nomor dummy
lokal sehingga yang ditagih oleh Telkom hanya trafik lokal. Padahal, sebenarnya penelepon berasal dari luar
kota atau luar negeri.
Sedangkan perusahaan GlobalCom juga diduga melakukan rekayasa trafik seperti yang dilakukan perusahaan
Mobisel sehingga trafik SLJJ dan SLI diubah menjadi lokal. Dengan menggunakan alat canggih,
pembicaraan seseorang antara Kota Bandung dan Surabaya (interlokal) oleh perusahaan Mobisel dan
GlobalCom dimasukkan ke PT Telkom sebagai pulsa pembicaraan Bandung dengan Bandung/lokal. (sumber:
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasionaL/2006/O1/02/brk,20060102-1606 id.htm[).
d. Penerapan norma adil
Setiap penyelenggara negara dalam setiap tindakan maupun ucapannya dituntut tidak berat sebelah, tidak
memihak (baik terhadap dirinya sendiri, orang lain maupun terhadap masyarakat), hanya berpegang pada
kebenaran, bertindak tidak diskriminatif/membeda-bedakan terhadap masyarakat, seperti bias gender,
tingkatan dan status sosial, etnis, agama, ras, dan kemampuan ekonomi. Norma etika adil dapat kita temukan
kembali dalam asas-asas pemerintahan yang baik, yaitu asas keadilan, asas kewajaran dan kepatutan, asas
menanggapi pengharapan yang wajar, asas meniadakan akibat-akibat suatu keputusan yang batal, dan asas
perlindungan atas pandangan hidup pribadi.

Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, ternyata norma adil ini juga sering sekali dilanggar oleh
oknum pejabat tertentu yang sedang berkuasa.
Contoh Kasus:
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai telah
menyalahgunakan kewenangannya untuk menentukan anggaran bagi anggota dewan. Wujudnya adalah
pemberian anggaran untuk asuransi risiko kerja bagi seluruh anggota dewan. Kejadian ini berjalan pada tahun
anggaran 2002. Padahal menurut ketentuan yang ada, termasuk di dalam PP 110 Tahun 2000, tidak mengatur
mengenai asuransi risiko kerja bagi anggota dewan. Meski PP tersebut sudah dicabut berdasarkan Putusan
Mahkamah Agung No. 04.G/HUM/2001 tentang Gugatan Hak Uji Materiil terhadap PP No. 110 Tahun 2000
tentang Kedudukan Keuangan Dewan, namun pada tahun tersebut belum ada peraturan penggantinya
sehingga keberadaan dana asuransi risiko kerja bagi anggota dewan tetap menjadi kontroversial.
Lebih kontroversial lagi karena penempatan dana asuransi risiko kerja tersebut diletakkan pada anggaran
Sekretariat Daerah pada pos anggaran biro keuangan pada belanja rutin Kode 2.2.3.3 Pasal 1008
Kesejahteraan Pegawai. Padahal berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 903/2477/SJ tanggal 5
Desember 2002 perihal Pedoman Umum Penyusunan dan Pelaksanaan APBD tahun 2002 disebutkan bahwa
Belanja DPRD dan Sekretariat DPRD dianggarkan dalam sam pos tersendiri, yaitu Pos DPRD dan
Sekretariat DPRD. Adapun besaran angka yang digunakan untuk dana asuransi ini adalah berjumlah Rp
1.100.000.000,00.
Kasus tersebut telah dibawa ke pengadilan, tepatnya Pengadilan Negeri (PN) Yogyakarta. Ada 3 anggota
DPRD yang dianggap bertanggung jawab oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ketiga terdakwa tersebut, oleh
JPU didakwa secara primer melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun 1999 dan UU No. 20
Tahun 2001 jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP dan subsider melanggar Pasal 3 jo Pasal 18 UU No. 31 Tahun
1999 dan UU No. 20 Tahun 2001 jo Pasal
55 ayat (1) ke- 1 KUHP
(http://www.pemantauperadilan.com/detil/detil.php?id=244&tipe=eksaminasi).
Penyebutan terdakwa oleh JPU yang hanya 3 orang di atas, terkesan diskriminatif mengingat Anggota Dewan
yang lain juga turut membuat atau mengambil kebijakan mengenai anggaran asuransi ini. Selain itu hampir
semua anggota dewan juga menerima dan memanfaatkan anggaran asuransi ini untuk kepentingan pribadi.
Dalam hal ini JPU tidak menampilkan terdakwa lain yang terlibat, yaitu semua Anggota DPRD. Dengan kata
lain terkesan JPU seolah-olah malah menyembunyikan keterlibatan Anggota Dewan lainnya.
e. Penerapan norma arif
Setiap penyelenggara negara dalam setiap tindakan maupun ucapannya dituntut bersikap bijak, yaitu selalu
menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuannya), cermat dan teliti. Norma Arif telab dirinci
lebih konkret dalam asas-asas pemerintahan yang baik, yaitu asas bertindaic yang wajar, asas kewajaran dan
kepatutan, asas kepentingan umum (atau orang banyak), asas efisiensi, dan asas efektivitas.
Tuntutan norma etika arif sebenarnya juga sudah tercermin dalam ucapan sumpah/janji (.....bahwa saya, akan
bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan bersemangat untuk kepentingan Negara) dalam setiap pelantikan
para pejabat negara, pejabat pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif, auditif), pegawai negeri sipil (PNS),
para profesional.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma etika arif ini sering sekali dilanggar oleh oknum
pejabat tertentu.
Contoh Kasus:
Komisi VII DPR RI (yang membidangi Energi Sumber Daya Mineral dan Lingkungan Hidup) dan Panitia
Kerja (Panja) A Panitia Anggaran DPR RI menemukan adanya selisih hingga Rp 25 triliun dalam penentuan
alokasi subsidi BBM tahun 2005 oleh pejabat Pertamina dan Menteri Keuangan (pemerintah). Di mana

pemerintah pertama kali menetapkan subsidi BBM untuk tahun 2005 bisa sebesar Rp 138 triliun. Jumlah ini
didapatkan dan selisih dan harga pokok pengadaan sebesar Rp 237 triliun dikurangi dengan jumlah penjualan
sebesar Rp 98,4 triliun. Namun, setelah tiga hari kerja DPR, ditemukan bahwa harga pokok pengadaan bisa
ditekan hingga Rp 218,7 triliun. Sedangkan jumlah pembelian bisa meningkat menjadi Rp 105 triliun (Riau
Pos OnLine, SeLasa, 11 Oktober 2005/http://www. riaupos.com/web/content/view/31 6/23/).
Penetapan subsidi BBM tahun 2005 sebesar Rp 138 triliun oleh pemerintah di atas, merupakan contoh
ketidakhati-hatian dan ketidakcermatan yang dilakukan oleh pejabat pemerintah.
f. Penerapan norma disiplin
Setiap penyelenggara negara dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya harus selalu patuh pada tata tertib,
taat terhadap peraturan, efisien, dan tidak boros waktu. Norma etika disiplin juga sudah dikonkretkan dalam
asasasas pemerintahan yang baik, yaitu asas kepastian hukum, asas tidak melampaui dan atau
mencampuradukkan kewenangan, asas menanggapi pcngharapan yang wajar, asas meniadakan akibat-akibat
suatu keputusan yang batal, asas tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma disiplin ini sering sekali dilanggar oleh oknum
pejabat tertentu.
Contoh Kasus:
Rapat Badan Musyawarah (Bamus) Dewan Perwakilan Rakyat yang mestinya menyusun jadwal kegiatan
DPR, pada hari Kamis 21 Agustus 2003, gagal dilaksanakan karena hanya dihadiri 18 orang dan 76 anggota
Bamus DPR. Rapat Bamus itu sedianya membahas kapan Megawati (Presiden memberi penjelasan atas
interpelasi DPR mengenai lepasnya Pulau Sipadan dan Pulau Ligitan. Rapat sedianya juga membahas jadwal
pandangan fraksi DPR atas usul hak angket terhadap kasus PT Indosat. Rapat Bamus ini akhirnya ditunda
dan diganti dengan rapat konsultasi pimpinan fraksi pada hari Kamis 28 Agustus 2003 (Kompas, Jumat, 22
Agustus 2003).
Banyaknya anggota Bamus DPR yang mangkir di atas, telah melanggar norma disiplin dalam etika
penyelenggara negara dan telah melakukan pengkhianatan atas aspirasi rakyat yang sebenarnya harus
diperjuangkan di DPR.
g. Penerapan norma taat hukum
Setiap penyelenggara negara wajib mematuhi aturan yang sudah ditetapkan dan tidak berupaya untuk
melanggarnya. Bertindak sesuai, dan patuh pada hukum. Norma etika taat hukum telah dirinci dan
dikonkretkan dalam asas-asas pemerintahan yang baik, yaitu asas kepastian hukum, asas tidak melampaui
dan atau mencampuradukkan kewenangan dan asas tertib penyelenggaraan administrasi pemerintahan.
Tuntutan untuk taat hukum sebenarnya juga sudah tercermin dalam ucapan sumpah/janji (......bahwa saya,
akan mentaati segaLa peraturan perundang-undangan yang berlaku dan ...) dalam setiap pelantikan para
pejabat negara, pejabat pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif, auditif), pegawai negeri sipil (PNS), para
profesional, dan lain sebagainya.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma taat terhadap aturan ini sering sekali dilanggar
oleh oknum pejabat tertentu.
Contoh Kasus:
Wali Kota Cirebon, dituntut oleh jaksa penuntut umum Pengadilan Negeri Kota Cirebon telah melanggar
Pasal 89 Ayat (4) juncto Pasal 40, Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Presiden
dan Wakil Presiden. Pasal 40 UU Nomor 23 Tahun 2003, berbunyi Pejabat negara, pejabat struktural dan

fungsional dalam jabatan negeri, dan kepala desa atau sebutan lain dilarang membuat keputusan dan/atau
tindakan yang menguntungkan atau merugikan salah satu Pasangan Calon selama masa waktu kampanye.
Sebagai pejabat negara, Wali Kota Cirebon telah terbukti berkampanye untuk salah satu pasangan calon
presiden-calon wakil presiden, yaitu mempromosikan capres-cawapres Mega-Hasyim, tanggal 16 September
2004, di Gedung Wanita, Cirebon, dalam pendekiarasian Forum Pemenangan Pemilu Presiden Mega-Hasyim
Kota Cirebon atau disingkat Forum Presiden Mega-Hasyim, tanpa mengambil cuti dan mendapat izin dari
atasan langsungnya lebih dahulu (http: / / www. kompas. corn / kompas etak/041 0/28 / Jabar/ 1353180. htm).
h. Penerapan norma tanggung jawab dan akuntabel
Dalam penyelenggaraan negara/pemerintahan setiap penyelenggara negara harus mempertanggungjawabkan
setiap perbuatan dalam menjalankan tugasnya, dan wajib menanggung kalau ia dipersalahkan atau
diperkarakan. Norma etika bertanggung jawab dan akuntabel dinyatakan secara lebih konkret dalam asasasas pemerintahan yang baik, yaitu asas kecermatan, asas motivasi, asas keterbukaan, asas proporsionalitas,
asas profesionalitas, dan asas akuntabilitas.
Tuntutan untuk bertanggung jawab dan akuntabel sebenarnya juga sudah tercermin dalam ucapan
sumpah/janji (.....bahwa saya, akan . melaksanakan tugas jabatan yang dipercayakan kepada saya dengan
penuh pengabdian, kesadaran, dan tanggung jawab) dalam setiap pelantikan para pejabat negara, pejabat
pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif, auditif), pegawai negeri sipil (PNS), para profesional.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, norma tanggung jawab dan akuntabel ini sering sekali
dilanggar oleh oknum pejabat tertentu.
Contoh kasus:
Kasus Tri Sakti, semanggi 1 dan II merupakan pelanggaran HAM berat, karena dalam peristiwa itu terjadi
penembakan oleh militer terus-menerus dan berlangsung sampai 10 jam sehingga banyak sekali jatuh korban.
Namun, pejabat-pejabat militer yang berkuasa saat itu dan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap
peristiwa tersebut justru mengatakan tidak bersalah.
i. Penerapan norma sopan-santun
Setiap penyelenggara negara dalam segenap tindakan dan ucapannya harus dilakukan secara hormat,
beradab, baik budi pekerti dan kelakuannya, serta memiliki tata krama dalam bekerja atau dalam kehidupan
bermasyarakat. Norma etika (berperilaku) sopan dan santun juga dapat kita temukan kembali dalam asas-asas
pemerintahan yang baik, yaitu asas kewajaran dan kepatutan, asas perlindungan atas hidup pribadi, asas
keterbukaan, dan asas proporsionalitas.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, ternyata norma sopan santun ini juga sering sekali
dilanggar oleh oknum pejabat tertentu yang sedang berkuasa.
Contoh kasus:
Pada saat masih menjabat, salah satu mantan presiden RI pernah mengucapkan kata-kata :Sulit
membedakan antara DPR dan Taman Kanakk anak. di forum sidang pleno DPR pada 18 November 1999.
Reaksi para anggota DPR yang sangat terhormat ketika itu adalah marah besar dan menuntut presiden untuk
menarik kembali ucapannya itu.
Ucapan mantan presiden di atas, telah melanggar norma sopan santun atau menyinggung harga diri, martabat
orang lain (para anggota DPR) dalam etika penyelenggara negara.
j. Penerapan norma etika kehati-hatian

Setiap penyelenggara negara dalam segenap sikap, perilaku, tindakan dan ucapannya harus menjaga suasana
yang harmonis, tidak merugikan orang lain, pihak lain dan lingkungan, tidak bertindak ceroboh, gegabah dan
tidak peduli kepentingan umum.
Norma etika kehati-hatian juga dapat kita temukan kembali dalam asasa sas pemerintahan yang baik, yaitu
asas profesionalitas, asas efektif, asas efisiensi, asas kepentingan umum, asas kewajaran dan kepatutan, asas
bertindak yang wajar, asas tidak melampaui batas, asas keseimbangan dan kecermatan.
Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, ternyata norma etika kehati-hatian ini juga sering sekali
dilanggar oleh oknum pejabat tertentu yang sedang berkuasa.
Contoh kasus :
Pada tanggal 23 Oktober 2004, Sdr. N mengajukan lamaran untuk formasi guru matematika di Kabupaten
Lampung Barat. Setelah itu mengikuti seleksi penyaringan. Pada tanggal 30 Desember 2004 hasil
penyaringan diumumkan melalui Pengumuman Bersama No. 800/1988/ IV.07/2004 Sdr. N lulus dan tanggal
12 Januari 2005 melakukan daftar ulang, panitia seleksi menyatakan lengkap. Namun, yang bersangkutan
tidak dipanggil secara resmi untuk menerima pengarahan di Kantor BKD setempat.
Atas inisiatif sendiri Sdr. N tetap datang ke kantor BKD. Pada waktu dilakukan absen, nama Sdr. N bersama
tiga orang lagi tidak disebut dan baru diketahui bahwa Sdr. N digugurkan sebagai CPNSD karena tidak
memenuhi persyaratan.
Sdr. N berusaha meminta salman Surat Keputusan pengguguran tersebut, namun tidak diberikan oleh Ketua
Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Lampung Barat dengan alasan rahasia dan hanya diperbolehkan
membaca saja.
Pada tanggal 21 Maret 2005 suami Sdr. N menghadap Ketua BKD untuk menerima penjelasan lebih lanjut,
akhirnya setelah melalui perdebatan. Ketua BKD memberikan Surat Keputusan Bupati Lampung Barat No.
800/101111.04/2005 Tentang Peserta Seleksi CPNSD Kab. Lampung Barat TA 2004 yang Dinyatakan Gugur
tanggal 15 Februari 2005. Dan SK tersebut diketahui ada tiga CPNSD yang telah diterima digugurkan
dengan alasan yang sama, yakni Sdr. N, Sdr. T, dan Sdr. S. Sdr. N merasa keberatan dengan pengguguran ini
karena pada pengumuman untuk formasi guru di Kab. Lampung Barat hanya disebutkan jenis pendidikan
adalah S 1 berbeda dengan kabupaten lain yang secara khusus untuk formasi yang sama disebutkan syarat
pendidikannya S 1/Akta 4.
Apabila tidak memenuhi syarat seharusnya Sdr. N diberitahukan secara resmi sejak awal, namun dalam hal
ini tidak ada pemberitahuan bahkan sampai daftar ulang tidak dipermasalahkan, apalagi SK pengguguran,
tersebut tidak diberikan/diberitahukan kepada Sdr. N secara resmi.
Akibat kelalaian (ketidakhati-hatian) panitia penerimaan seleksi CPNS di Lampung Barat di atas, telah
mengakibatkan hilangnya kesempatan Sdr. N menjadi PNS. Di samping itu, Sdr. N. juga mengalami kerugian
moril (psikologis) dan material berupa biaya yang telah dikeluarkan untuk pengurusan masalah tersebut. Sdr.
N telah berupaya menemui Wakil Bupati Lampung Barat, namun tidak memperoleh penyelesaian dan
disarankan menemui Ketua DPRD Kab. Lampung Barat (Komisi Ombudsman Nasional, 2006).
k. Penerapan norma etika kesetaraan
Setiap penyelenggara negara dalam segenap sikap, perilaku, tindakan dan ucapannya dituntut tidak boleh
diskriminatif baik dalam hal ras, suku, agama, etnis, gender dan status sosial.
Norma etika kesetaraan juga dapat kita temukan kembali dalam asas-asas pemerintahan yang baik yaitu asas
keadilan, asas kesamaan, asas motivasi, asas keseimbangan, asas keterbukaan, asas proporsionalitas, dan asas
kepentingan umum.

Namun, dalam pelaksanaan penyelenggaraan negara, ternyata norma etika kesetaraan ini juga sering sekali
dilanggar oleh oknum pejabat tertentu yang sedang berkuasa.
Contoh kasus.
Pencoretan calon anggota legislatif (Caleg) oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) karena mereka pernah
terlibat dalam organisasi terlarang merupakan tindakan yang diskriminatif. Meskipun tindakan KPU itu
sejalan dengan UU tentang Pemilihan Umum, langkah itu menunjukkan para elite politik masih setengah hati
membangun
kehidupan
yang
demokratis
di
Indonesia
(http://www.suarapembaruan.com/News/2004/01/24/Utama/ut01. htm).
Sanksi terhadap Pelanggaran Etika Penyelenggaraan Negara
Sikap, perilaku, tindakan, dan ucapan penyelenggara negara yang dianggap melanggar norma etika
penyelenggara negara dapat dikenakan sanksi moral dan sanksi administratif.
Sanksi moral merupakan pemberian hukuman yang ditekankan pada tindakan yang menyentuh tanggung
jawab moral. Sanksi moral dapat terdiri atas:
a. pengumuman melalui media massa;
b. kewajiban permintaan maaf kepada publik secara terbuka;
c. pengunduran din dan jabatan atau berhenti sementara dan jabatan struktural, fungsional, atau jabatan
lainnya. Penyelenggara negara dituntut mengundurkan diri dari jabatan apabila yang bersangkutan:
1) berstatus sebagai terdakwa untuk satu perkara yang ancaman hukumannya 5 tahun atau lebih sesuai
keputusan pengadilan
2) terbukti melalui keputusan pengadilan, terlibat secara langsung dalam kegiatan perjudian,
perdagangan atau penggunaan narkoba, pelacuran, pemerkosaan dan pelecehan seksual,
penganiayaan, penipuan, penggelapan harta milik negara atau milik masyarakat;
3) tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab sehingga menimbulkan kerugian atau korban bagi
seseorang atau masyarakat baik berupa jiwa maupun harta benda;
4) menderita gangguan penyakit kejiwaan sehingga tidak dapat melaksanakan tugas untuk waktu lebih
dari 6 bulan secara berturutt urut;
5) didapati menggunakan atau memiliki narkoba dan sejenisnya, dalam keadaan mabuk atau bermabukmabukan di tempat umum secara sendiri atau bersama-sama;
6) melakukan perbuatan yang dikategorikan sebagai korupsi, kolusi dan nepotisme;
7) sanksi Administratif terhadap penyelenggara negara yang melanggar norma etika terdiri atas:
a) teguran lisan atau tulisan;
b) pemberhentian sementara (skorsing);
c) pemberhentian tidak dengan hormat;
d) sanksi administratif lainnya sesuai ketentuan perundangu ndangan yang berlaku.
Apabila tindak pelanggaran etika penyelenggara negara terkait dengan pelanggaran terhadap ketentuan
perundang-undangan yang lain, tindakannya dikenakan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang

berlaku, misalnya pelanggaran yang mengandung unsur tindak pelanggaran pidana atau perdata maka kepada
yang bersangkutan dapat diajukan untuk dikenakan tuntutan tindak pidana atau gugatan perdata sesuai
ketentuan perundangu ndangan yang berlaku.
Kode Etik PNS
Kelancaran tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional sangat dipengaruhi oleh kesempurnaan
pengabdian aparatur negara. Pegawai Negeri Sipil adalah merupakan unsur aparatur negara yang bertugas
memberikan pelayanan yang terbaik, adil dan merata kepada masyarakat. Untuk menjamin tercapainya
tujuan pembangunan nasional, diperlukan Pegawai Negeri Sipil yang netral, mampu menjaga persatuan dan
kesatuan bangsa, profesional dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas, serta penuh kesetiaan dan
ketaatan kepada Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara dan Pemerintah Republik Indonesia. Agar
Pegawai Negeri Sipil mampu melaksanakan tugasnya sebagaimana tersebut di atas secara berdaya guna dan
berhasil guna, diperlukan pembinaan secara terus-menerus dan berkesinambungan.
Pembinaan jiwa korps akan berhasil dengan baik apabila diikuti dengan pelaksanaan dan penerapan kode etik
dalam kehidupan sehari-hari Pegawai Negeri Sipil. Dengan adanya kode etik bagi Pegawai Negeri Sipil
dimaksudkan sebagai bagian dan upaya meningkatkan kualitas Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan
tugas-tugasnya.
Kode Etik Pegawai Negeri Sipil adalah pedoman sikap, tingkah laku, dan perbuatan Pegawai Negeri Sipil di
dalam melaksanakan tugasnya dan pergaulan hidup sehari-hari (Pasal 1 ayat (2) PP No. 42 Tahun 2004).
Dalam pelaksanaan tugas kedinasan dan kehidupan sehari-hari setiap Pegawai Negeri Sipil wajib bersikap
dan berpedoman pada etika dalam bernegara, dalam penyelenggaraan Pemerintahan, dalam berorganisasi,
dalam bermasyarakat, serta terhadap diri sendiri dan sesama Pegawai Negeri Sipil/pejabat negara yang diatur
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 (Pasal 7 PP No. 42 Tahun 2004).
Etika PNS dalam bernegara (Pasal 8 PP No. 42 Tahun 2004), meliputi:
a. melaksanakan sepenuhnya Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945;
b. mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara;
c. menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia;
d. menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas;
e. akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa;
f. tanggap, terbuka, jujur, dan akurat, serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program
Pemerintah;
g. menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya Negara secara efisien dan efektif;
h. tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar.
Etika PNS dalam berorganisasi (Pasal 9 PP No. 42 Tahun 2004) terdiri atas:
a. melaksanakan tugas dan wewenang sesuai ketentuan yang berlaku;
b. menjaga informasi yang bersifat rahasia;
c. melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang;
d. membangun etos kerja untuk meningkatkan kinerja organisasi;

e. menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian
tujuan;
f. memiliki kompetensi dalam pelaksanaan tugas;
g. patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja;
h. mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inovatif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi;
berorientasi pada upaya peningkatan kualitas kerja.
Etika PNS dalam bermasyarakat (Pasal 10 PP No. 42 Tahun 2004), meliputi:
a. mewujudkan pola hidup sederhana;
b. memberikan pelayanan dengan empati hormat dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan;
c. memberikan pelayanan secara cepat, tepat, terbuka, dan adil serta tidak diskri minatif;
d. tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat;
e. berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas.
Etika PNS terhadap diri sendiri (Pasal 11 PP No. 42 Tahun 2004), meliputi:
a. jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar;
b. bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan;
c. menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan;
d. berinisiatif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap;
e. memiliki daya juang yang tinggi;
f. memelihara kesehatan jasmani dan rohani;
g. menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga;
h. berpenampilan sederhana, rapi, dan sopan.
Etika PNS terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil (Pasal 11 PP No. 42 Tahun 2004), meliputi:
a. saling menghormati sesama warga negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan;
b. memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil;
c. saling menghormati antara teman sejawat, baik secara vertikal maupun horizontal dalam suatu unit kerja,
instansi, maupun antar-instansi;
d. menghargai perbedaan pendapat;
e. menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil;
f. menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil;

g. berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya solidaritas
dan soliditas semua Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak-haknya.
Kode Etik Instansi dan Kode Etik Profesi
Setiap instansi dan organisasi profesi di lingkungan PNS di ben kebebasan untuk menetapkan kode etik
masing-masing. Kode etik instansi ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian masing-masing instansi
(Pasal 13 PP No. 42 Tahun 2004). Sedangkan kode etik profesi ditetapkan oleh pembina aparat negara atau
pimpinan instansi atau pimpinan kolektif lembaga aparat negara yang bersangkutan.
Kode etik instansi dan organisasi profesi (misalnya kode etik Jaksa, kode etik Pemeriksa Bea dan Cukai,
kode etik Dokter dan sebagainya) ditetapkan berdasarkan karakteristik masing-masing instansi dan organisasi
profesi serta tidak boleh bertentangan dengan kode etik yang diatur dalam PP No. 42 Tahun 2004.
Namun, materi muatan kode etik instansi dan kode etik profesi sekurang-. kurangnya mengandung ketentuan
nilai dasar, norma etika penyelenggara negara dan tata laksana penerapannya mengenai:
a. etika penyelenggara negara dalam hubungan dengan kepentingan negara;
b. etika penyelenggara negara dalam jabatan tugasnya dan organisasi lembaganya;
c. etika penyelenggara negara dalam hubungan dengan lembaga atau instansi lainnya;
d. etika penyelenggara negara dalam hubungan dengan masyarakat;
e. etika penyelenggara negara dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungannya.
Di samping mengandung materi muatan seperti di atas, dalam kode etik instansi dan kode etik profesi
dilengkapi dengan ketentuan mengenai:
a. bentuk dan jenis pelanggaran etika serta sanksi atas pelanggarannya;
b. tata cara menangani pelanggaran etika dan penetapan bentuk sanksinya;
c. pembentukan lembaga penegak etika yang berwenang menegakkan nilai, norma etika melalui
penanganan pelanggaran etika dan mempertimbangkan penetapan sanksi atas pelanggarannya;
d. struktur organisasi dan tata hubungan kerja lembaga penegakan etika dalam melaksanakan tugas,
wewenang dan tanggung jawab secara jelas;
e. tata laksana tindak lanjut pelaksanaan penetapan keputusan lembaga penegak etika;
f. tata cara pengangkatan anggota dan masa jabatan keanggotaan lembaga penegakan etika;
Hal-hal lain yang secara spesifik diperlukan dalam pelaksanaan kode etik instansi/profesi (pasal 7 RUU
Penegakan Etika Aparat Negara).
KEGIATAN BELAJAR 2
PENEGAKAN ETIKA PENYELENGGARA NEGARA DAN KODE ETIK PNS
Pada pendahuluan telah dikemukakan bahwa alam perkembangan dan dinamika kehidupan penyelenggaraan
negara dewasa ini, dirasakan telah terjadi degradasi nilai moral dan norma etika, serta ditandai telah banyak
terjadi praktik sikap, perilaku, tindakan maupun pernyataan pejabat penyelenggara negara dalam
menjalankan aktivitas profesi bidang tugasnya, yang kurang serasi dengan norma etika yang seyogianya
dihormati dalam masyarakat.

Oleh karena itu, peran penyelenggara negara sebagai pejabat publik, dalam mewujudkan penyelenggaraan
kepemerintahan negara yang baik, bersih dan bertanggung jawab dituntut untuk menjaga keseimbangan,
menghormati dan menegakkan pengamalan nilai-nilai etika profesi dalam tugasnya. Hal ini dapat diwujudkan
dengan sikap, tindakan, perilaku atau ucapan guna menjamin harmonisasi dalam tata kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang tertib, adil, tenteram, dan memelihara hubungan yang serasi
antarsesama unsur penyelenggara negara atau dengan masyarakat berlandaskan penerapan norma kesusilaan,
nilai etika, dan norma hukum secara konsisten.
Penyelenggaraan kepemerintahan negara yang baik dan akuntabel dapat diwujudkan melalui mekanisme
kontrol terhadap sikap, tindakan, perilaku penyelenggara negara, dengan penerapan kode etik profesi
penyelenggara negara pada masing-masing lembaga negara.
Untuk mewujudkan hal-hal tersebut di atas maka setiap lembaga penyelenggara negara yang dibentuk
berdasarkan undang-undang atau atas perintah undang-undang atau berdasarkan ketentuan peraturan presiden
atau keputusan presiden, agar membentuk dan menerapkan kode etik profesi penyelenggara negara sesuai
karakteristik korps bidang tugasnya masingm asing.
Pembentukan kode etik profesi pada masing-masing lembaga penyelenggara negara, yang di dalamnya
memuat rambu-rambu berupa nilain ilai dan norma etika serta mekanisme penerapannya merupakan bentuk
operasionalisasi dan etika penyelenggara negara dalam rangka kegiatan penyelenggaraan negara.
Pembentukan dan penerapan kode etik penyelenggara negara dimaksudkan sebagai wujud penegakan dan
pembinaan nilai moral dan norma etika dalam bersikap tindak, berperilaku ataupun berucap bagi
penyelenggara negara, sesuai profesi bidang tugasnya dan diberlakukan bagi anggota organisasi pada
masing-masing lembaga negara.
Dalam Kegiatan Belajar 1 telah dibahas norma-norma etika penyelenggaran negara, tujuan, ruang lingkup,
RUU Etika Penyelenggara negara, selanjutnya akan dibahas bagaimana penegakan etika penyelenggara
negara, dan lembaga penegaknya.
1. Asas, Tujuan, dan Fungsi Penegakan Etika Penyelenggara Negara
Adapun asas, tujuan, dan fungsi penegakan etika penyelenggara negara dapat dijelaskan berikut ini. Asas
penegakan etika penyelenggara negara berasaskan:
a. kepastian hukum adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan profesi tugas dan wewenangnya
agar selalu konsisten memperhatikan dan mengutamakan landasan peraturan perundang-undangan,
kepatutan, ketaatan dan keadilan;
b. tertib penyelenggaraan negara adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan
wewenang dalam rangka menjalankan kegiatan penyelenggaraan negara agar berlandaskan pada
keteraturan, keserasian dan keseimbangan;
c. kepentingan umum adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan wewenangnya agar
memperhatikan dan mendahulukan kepentingan kesejahteraan umum dengan cara yang aspiratif,
akomodatif dan selektif sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
d. keterbukaan adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan wewenangnya agar
membuka din terhadap hak dan kepentingan masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar, jujur,
dan tidak diskriminatif dan harus bertindak adil mengenai kegiatan penyelenggaraan negara dan tetap
memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan dan rahasia negara;
e. proporsional adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dalam
bersikap tindak berperilaku, mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajibannya dalam aktivitas
penyelenggaraan negara;

f. akuntabilitas adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan wewenangnya dalam
kegiatan penyelenggaraan negara, agar dapat mempertanggungjawabkan secara moral maupun material
kepada masyarakat dan negara sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku;
g. profesionalitas, setiap penyelenggara negara dalam menjalankan tugas dan wewenangnya agar didasarkan
pada kompetensi, keahlian, keterampilan di bidangnya dan berakhlak moral dengan etika yang baik,
konsisten dengan kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku;
h. keteladanan adalah setiap penyelenggara negara dalam menjalankan profesi tugas dan wewenangnya agar
mencerminkan sikap tindak, perilaku yang patut menjadi panutan bagi anggota organisasinya ataupun
masyarakat, yang konsisten menghargai dan menerapkan nilai-nilai moral kesopanan dan norma etika
(Pasal 2 RUU penegakan Etika Penyelenggara Negara).
Anda telah mempelajari delapan asas penegakan etika penyelenggara negara, selanjutnya adalah apakah
tujuan dan fungsi dari penegakan etika penyelenggara Negara yang telah diuraikan di atas?
Tujuan penegakan etika penyelenggara negara, yaitu untuk mewujudkan kehidupan penyelenggaraan negara
yang harmonis, terjaganya keseimbangan hak dan kewajiban dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat,
menumbuhkan suasana yang menghargai keterbukaan, ketaatan, disiplin, rasa tanggung jawab, menjunjung
tinggi kejujuran, kesopanan dan kepedulian dalam pelayanan publik (Pasal 3 RUU penegakan Etika
Penyelenggara Negara).
Adapun fungsi penegakan etika penyelenggara negara, yaitu sebagai landasan keseriusan pemerintah untuk
menegakkan tatanan nilai, norma etika yang mendasari dan mengendalikan etika sikap tindak, perilaku, dan
ucapan penyelenggara negara dalam menjalankan profesi korps bidang tugasnya dalam kegiatan
penyelenggaraan negara (Pasal 4 RUU penegakan Etika Penyelenggara Negara).
Oleh karena itu, setiap penyelenggara negara dalam melaksanakan tugas, fungsi dan wewenangnya dalam
rangka menjalankan kegiatan penyelenggaraan negara berkewajiban menaati, mematuhi, dan melaksanakan
ketentuan atau nilai dasar, norma etika dalam kode etik profesi yang berlaku pada masing-masing lembaga
penyelenggara negara.
Demikian baiknya, kode etik profesi yang disusun bagi penyelenggara negara tersebut, semuanya
mengandung nilai dan norma yang disebut sebagai nilai-nilai luhur. Kita semua tentu mengharapkan para
penyelenggara Negara atau administrator pemerintahan mampu berperilaku, bertindak dan bersikap sesuai
dengan kode etik tersebut. Namun sayang sekali sebagaimana disebut di atas dan pengamatan kita sehari-hari
terjadinya degradasi nilai moral dan norma etika; yang ditandai telah banyak terjadi praktik sikap, perilaku,
tindakan maupun pernyataan pejabat penyelenggara negara dalam menjalankan aktivitas profesi bidang
tugasnya, yang kurang serasi dengan norma etika tersebut.
Adapun sikap tindak, penlaku ataupun ucapan penyelenggara negara yang dapat dianggap melanggar etika
atau mengandung unsur-unsur kriteria pelanggaran etika penyelenggara negara, antara lain:
a. melakukan perbuatan tercela, seperti tidak patut, tidak santun, bertindak arogan, bertindak emosional
yang berlebihan, yang dianggap tidak lazim menurut nilai agama dan nilai sosial;
b. bertindak menyinggung harga diri, martabat seseorang, masyarakat, bangsa ataupun negara;
c. lalai, bohong, atau mengabaikan kewajiban dalam tugas dan kewenangannya, berbuat atau berucap
sesuatu yang seharusnya menurut ketentuan/prosedur tidak boleh dilakukan (misalnya menyampaikan
informasi yang masih dalam kategori rahasia kepada pihak lain yang tidak berwenang untuk itu) sehingga
berakibat merugikan pihak lain, masyarakat, lembaga atau negara;
d. tidak konsisten terhadap sumpah, janji, akta atau perangkat ketentuan pengikatan moral - semangat kerja
(seperti dalam bentuk ketentuan tata tertib, standar operasional prosedur kerja dan lainnya);

e. tidak bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas, kebijakan atau program kerja;
f. bermaksud mempengaruhi langsung atau tidak langsung terhadap proses perkara hukum atau
peradilannya, atau terhadap proses pelaksanaan kebijakan publik yang bukan dalam lingkup kewenangan
tugasnya;
g. diskriminatif, tidak transparan dalam memberikan informasi dan pelayanan publik;
h. tidak bertindak efisien dalam memanfaatkan anggaran ataupun fasilitas negara;
i. menyalahgunakan, mengomersialkan jabatan;
j. cenderung memihak pada kepentingan pribadi, kroni atau kelompoknya;
k. tidak terampil dalam menjalankan tugasnya;
l. tidak profesional dalam menjalankan tugasnya (RUU Etika Penyelenggara Negara).
Apabila terdapat sikap tindak, perilaku, ataupun ucapan penyelenggara negara yang dianggap melanggar
etika penyelenggara negara seperti yang disebutkan di atas dan atau secara spesifik melanggar ketentuan
dalam kode etik profesi maka yang bersangkutan dikenakan sanksi sesuai bentuk dan jenis pelanggarannya.
Apakah sanksi yang dapat dikenakan? Sanksi etika penyelenggara negara ialah penindakan dengan
memberikan hukuman dalam bentuk penekanan tanggung jawab moral, misalnya dalam bentuk sanksi
teguran, peringatan, tindakan publikasi yang berakibat malu, pengunduran diri dari jabatan atau
diberhentikan sementara dan jabatan, sebagai bentuk tanggung jawab akibat pelanggaran etika. Bentuk dan
jenis pemberian sanksi atas pelanggaran etika penyelenggara negara diatur lebih lanjut dalam ketentuan kode
etik profesi masing-masing korps tugasnya. Penetapan pemberian sanksi pelanggaran etika ini
dipertimbangkan dalam keputusan lembaga penegak etika, yang didasarkan pada sikap tindak, perilaku,
ataupun ucapan penyelenggara negara yang dapat dianggap melanggar etika penyelenggara negara.
Di samping sanksi diberikan dalam bentuk penekanan pemberian sanksi moral, dan apabila tindak
pelanggaran etika terkait dengan pelanggaran atas ketentuan perundang-undangan yang lain, tindakannya
dapat dikenakan sanksi sesuai ketentuan perundang-undangan yang dilanggarnya.
Namun, apabila tindak pelanggaran etika terdapat unsur-unsur tindak pidana atau gugatan perdata maka dapat
dilakukan penuntutan atau gugatan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku untuk itu dengan
tanpa melalui penetapan atau dengan ada atau tidak ada rekomendasi lembaga penegak etika.
Bagi penyelenggara negara yang diduga terlibat melakukan tindak pidana dan telah ditetapkan statusnya
sebagai terdakwa dalam perkara tindak pidana dengan ancaman hukuman sekurang-kurangnya 4 tahun
penjara maka kepada yang bersangkutan wajib mendapat sanksi moral untuk mengundurkan diri sementara
dari jabatannya atau harus diberhentikan sementara dan jabatannya. Tata cara pengunduran diri atau
pemberhentian sementara dari jabatan bagi penenima sanksi moral tersebut diatur lebih lanjut dalam
ketentuan kode etik profesi masing-masing korps tugasnya.
2. Lembaga Penegak Etika Penyelenggara Negara
Untuk menjaga kelangsungan pelaksanaan kode etik profesi dan guna menegakkan nilai-nilai dan norma
etika dalam kegiatan penyelenggaraan negara, perlu didukung dengan pembentukan lembaga penegak etika
pada masing-masing lembaga penyelenggara negara. Lembaga penegak etika adalah lembaga yang dibentuk
dengan tugas bertanggung jawab menangani permasalahan mengenai pelanggaran etika dan sanksinya yang
dilakukan oleh penyelenggara negara.

Lembaga penegak etika menjadi satu kesatuan dalam sistem dan tata laksana penegakan ketentuan kode etik
profesi korps bidang tugas sehingga harus dibentuk dengan nama apa pun yang sesuai dengan profesi tugas,
bersifat independen, pada lembaga penyelenggara negara yang bersangkutan. Tata cara pelaksanaan
pembentukan lembaga penegak etika ditetapkan lebih lanjut dalam ketentuan kode etik profesi masingmasing korps tugasnya.
Tugas pokok lembaga penegak etika adalah meneliti, mempertimbangkan dan menetapkan pelanggaran etika
beserta sanksinya serta menangani permasalahan lain yang berkaitan dengan pelanggaran etika. Dalam
melaksanakan tugas pokok tersebut, lembaga penegak etika harus memperhatikan dan menindaklanjuti
pengaduan, informasi dan masyarakat di samping temuan yang membuktikan adanya perkara pelanggaran
etika. Adapun tugas, fungsi dan kewenangan serta tata kerja lembaga penegak etika selengkapnya harus
diatur lebih lanjut dalam ketentuan kode etik profesi masing-masing korps tugasnya.
Keanggotaan lembaga penegak etika harus memenuhi syarat sekurangk urangnya adalah:
a. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa;
b. setia kepada Pancasila, UUD Negara RI 1945, dan pemerintah;
c. memiliki integritas pribadi yang baik;
d. tidak pernah terlibat dalam tindakan pelanggaran hukum atau tidak pernah dijatuhi hukuman pidana
penjara berdasarkan putusan pengadilan;
e. tidak pernah melakukan tindakan tercela, melanggar norma, etika sosial atau kepatutan dalam
masyarakat;
f. memiliki pengalaman sesuai profesi bidang tugas di lingkungan lembaga penyelenggara negara yang
bersangkutan;
g. memenuhi persyaratan administrasi lainnya yang ditentukan pada lembaga penyelenggara negara yang
bersangkutan;
h. persyaratan lain yang spesifik diperlukan dan ditentukan lebih lanjut sesuai karaktenstik profesi korps
bidang tugas penyelenggara negara.
Komposisi unsur keanggotaan lembaga penegak etika ditentukan secara proporsional antara jumlah anggota
yang berasal dari komponen dalam dan luar dan lembaga penyelenggara negara yang bersangkutan. Namun,
agar peran lembaga penegak etika dalam menjalankan misinya tetap konsisten dengan sifat yang independen
dan objektif maka komposisi keanggotaannya tidak seluruhnya merupakan pejabat aktif berasal dari lembaga
penyelenggara negara yang bersangkutan, tetapi agar bersikap netral dan objektif harus diatur secara
proporsional, yaitu 60% dan seluruh jumlah anggotanya berasal dari dua atau lebih komponen luar lembaga
yang bersangkutan, misalnya dari unsur pakar perguruan tinggi dan pengamat yang kompetensinya
bersesuaian dengan profesi bidang tugasnya.
3. Penegakan Kode Etik PNS
Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran Kode Etik dikenakan sanksi Moral yang dibuat secara
tertulis dan dinyatakan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian. Sanksi moral dapat berupa
(a) pernyataan secara tertutup yang disampaikan oleh pejabat yang berwenang atau pejabat lain yang
ditunjuk dalam ruang tertutup. Pengertian dalam ruang tertutup, yaitu bahwa penyampaian pernyataan
tersebut hanya diketahui oleh Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan dan pejabat yang menyampaikan
pernyataan serta pejabat lain yang terkait dengan Catatan pejabat terkait dimaksud tidak boleh berpangkat
lebih rendah dari Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan,

(b) pernyataan secara terbuka; Pernyataan secara terbuka dapat disampaikan melalui forum-forum pertemuan
resmi Pegawai Negeri Sipil, upacara bendera, media massa dan forum lainnya yang dipandang sesuai
untuk itu. Dalam Pemberian sanksi moral tersebut harus disebutkan jenis pelanggaran kode etik yang
dilakukan oleh Pegawai Negeri Sipil.
Pejabat Pembina Kepegawaian yang bertugas menyatakan pelanggaran kode etik yang dilakukan PNS dapat
mendelegasikan wewenangnya kepada pejabat lain di lingkungannya sekurang-kurangnya pejabat struktural
eselon IV.
Pegawai Negeri Sipil yang melakukan pelanggaran kode etik selain dikenakan sanksi moral, tidak tertutup
kemungkinan yang bersangkutan dijatuhi hukuman disiplin PNS atau tindakan administratif lainnya oleh
Pejabat yang berwenang menghukum berdasarkan rekomendasi dan Majelis Kode Etik. Penjatuhan hukuman
disiplin bagi PNS, harus berdasarkan ketentuan yang diatur di dalam Peraturan Disiplin PNS.
4. Majelis Kode Etik
Untuk memperoleh objektivitas dalam menentukan seorang Pegawai Negeri Sipil melanggar kode etik maka
pada setiap instansi dibentuk Majelis Kode Etik. Majelis Kode Etik bersifat temporer, yaitu hanya dibentuk
apabila ada Pegawai Negeri Sipil yang disangka melakukan pelanggaran terhadap kode etik.
Pembentukan Majelis Kode Etik ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian yang bersangkutan. Dalam
hal instansi Pemerintah mempunyai instansi vertikal di daerah maka Pejabat Pembina Kepegawaian dapat
mendelegasikan wewenangnya kepada pejabat lain di daerah untuk menetapkan pembentukan Majelis Kode
Etik.
Keanggotaan Majelis Kode Etik, terdiri atas :
a. satu orang Ketua merangkap Anggota;
b. satu orang Sekretaris merangkap Anggota; dan
c. sekurang-kurangnya 3 orang Anggota.
Dalam hal Anggota Majelis Kode Etik lebih dan 5 orang maka jumlahnya harus ganjil. Jabatan dan pangkat
Anggota Majelis Kode Etik tidak boleh lebih rendah dan jabatan dan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang
diperiksa karena disangka melanggar kode etik.
Bagaimana agar sanksi yang diberikan obyektif?
Untuk mendapatkan objektivitas atas sangkaan pelanggaran kode etik, Majelis Kode Etik sebelum
mengambil keputusan terlebih dahulu dapat memanggil dan memeriksa serta memberi kesempatan membela
diri bagi Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan, juga dapat mendengar pejabat lain atau pihak lain yang
dipandang perlu. Keputusan Majelis Kode Etik diambil secara musyawarah mufakat dan bersifat final
(keputusan Majelis Kode Etik tidak dapat diajukan keberatan). Apabila musyawarah mufakat tidak tercapai
maka keputusan diambil dengan suara terbanyak. Majelis Kode Etik wajib menyampaikan keputusan hasil
sidang majelis kepada Pejabat yang berwenang sebagai bahan dalam memberikan sanksi moral dan/atau
sanksi lainnya kepada Pegawai Negeri Sipil yang bersangkutan.
Kode etik profesi di lingkungan Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan sebelum berlakunya Peraturan
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004, dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diubah
berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

MODUL 9 MASALAH PENGEMBANGAN ETIKA ADMINISTRASI PEMERINTAHAN


KEGIATAN BELAJAR 1
TRANSPARANSI, LAPORAN
PEMERINTAHAN

KEKAYAAN,

DAN

PENGAWASAN

PENYELENGGARAAN

A. TRANSPARANSI
Untuk terwujudnya good governance atau Kepemerintahan yang baik maka setiap badan publik dalam
penyelenggaraan tugas dan fungsinya wajib menerapkan asas transparansi kepada masyarakat. Asas
transparansi yang dimaksud mencakup aspek transparansi informasi, transparansi prosedur, dan transparansi
proses pengambilan kebijakan dan pelaksanaannya.
Penerapan asas transparansi tersebut dilaksanakan melalui penyebarl uasan informasi kepada masyarakat
melalui berbagai media baik secara aktif maupun pasif serta disediakan setiap saat atau disampaikan segera.
Penyelenggaraan transparansi dan kebebasan memperoleh informasi harus diarahkan guna mendorong
partisipasi akiif masyarakat baik terhadap proses pengambilan kebijakan maupun terhadap pengawasan
publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan yang bermuara kepada percepatan pembangunan.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, setiap daerah kabupaten, kota, dan provinsi perlu membentuk
Peraturan Daerah tentang Transparansi Penyelenggaraan Pemerintahan masing-masing. Namun, yang
menjadi pertanyaan adalah sudah berapa banyak pemerintah daerah saat ini yang telah memiliki Perda
transparansi dan telah secara konsisten mengi mplementasikannya?
Apabila masih sedikit Pemda yang memiliki dan memberlakukan Perda transparansi dalam penyelenggaraan
pemerintahan, berarti pengembangan etika administrasi pemerintahan kita masih bermasalah.
Tujuan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan adalah untuk memberikan dan menjamin hak
masyarakat pengguna/subjek hukum untuk mendapatkan informasi publik dalam rangka:
1. akuntabilitas publik yang menjamin hak setiap orang untuk mengetahui rencana dan proses pengambilan
keputusan publik serta alasan pengambilan kebijakan publik;
2. mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik;
3. mendorong peningkatan kualitas aspirasi masyarakat dalam memberikan masukan bagi pengambilan
kebijakan publik;
4. memastikan bahwa setiap orang atau subjek hukum mengetahui alasan dibuatnya kebijakan publik yang
mempengaruhi hajat hidup orang banyak;
5. meningkatkan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan pemerintahan.
Adapun informasi yang wajib diumumkan secara aktif oleh badan publik atau pemerintah daerah, meliputi
berikut ini.
1. Proses perencanaan pembangunan pemerintahan daerah.
2. APBD mulai dari tahap perencanaan, pembahasan sampai penetapan.
3. Rencana tata ruang mulai dari tahap perencanaan sampai penetapan.
4. Pelaksanaan kegiatan pembangunan baik fisik maupun nonfisik.
5. Nama, struktur, tugas, dan fungsi badan publik terkait.

6. Prosedur dan tata cara untuk mendapatkan informasi publik di badan publik yang bersangkutan.
7. Jadwal kegiatan Badan Publik sesuai fungsi dan misi masing-masing.
8. Proses pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah.
Informasi publik yang wajib tersedia setiap saat di Badan Publik, meliputi berikut ini.
1. Daftar seluruh informasi publik yang berada di bawah penguasaannya, kecuali yang berada dalam
kategori pengecualian.
2. Hasil keputusan dan kebijakan Badan Publik.
3. Realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran.
4. Perjanjian, kesepakatan dengan pihak lain.
5. Prosedur pelayanan publik.
6. Laporan akuntabilitas kinerja Badan Publik.
7. Informasi Daftar Aset Pemerintah Daerah.
8. Laporan hasil studi banding dan sejenisnya.
9. Proses pengawasan dimulai dari rencana objek yang diawasi, pengawasan serta hasil audit. \
10. Informasi lain yang perlu diketahui publik, yang tidak termasuk dikategorikan pengecualian.
Informasi yang wajib diumumkan secepatnya oleh badan publik/pemerintah daerah tanpa penundaan adalah:
suatu informasi yang dapat mengancam hajat hidup orang banyak, dan dilakukan dengan bahasa yang mudah
dipahami oleh masyarakat dan dengan cara-cara yang dapat menjamin masyarakat luas menjangkau dan
mendapatkannya secara merata.
Sedangkan informasi yang dikecualikan untuk diumumkan oleh badan publik atau Pemda adalah sebagai
berikut.
1. Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada orang dapat menghambat proses penegakan
hukum, yaitu informasi publik yang dapat:
a. mengungkapkan identitas informan, pelapor, pengadu, saksi, dan atau korban yang mengetahui
adanya kejahatan;
b. mengungkapkan data intelijen kriminal, dan rencana-rencana yang berhubungan dengan pencegahan
dan penanganan kegiatan kriminal dan terorisme;
c. membahayakan keselamatan dan kehidupan petugas penegak hukum dan atau keluarganya;
d. membahayakan keamanan peralatan, sarana/prasarana penegak hukum.
2. Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada orang yang dapat mengganggu kepentingan
perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dan persaingan usaha tidak sehat.
3. Informasi publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada orang yang dapat melanggar kerahasiaan
pribadi dan menimbulkan kerugian, yaitu:

a. mengungkapkan riwayat, kondisi, dan perawatan kesehatan fisik, psikiatrik, psikologi seseorang;
b. mengungkapkan kondisi keuangan, aset pendapatan, rekening bank seseorang.
4. Data/informasi hasil pengawasan yang dilakukan oleh lembaga pengawasan fungsional yang belum final.
5. Data/informasi yang menurut ketentuan yang berlaku dan sifatnya dirahasiakan.
1. Hak dan Kewajiban Pengguna Informasi Publik
a. Hak masyarakat pengguna (Subyek hukum) informasi publik, meliputi: melihat informasi;
b. menghadiri pertemuan publik yang dinyatakan terbuka untuk umum oleh pimpinan pertemuan;
c. mengetahui informasi;
d. mendapatkan salman informasi;
e. diberitahu dan diinformasikan mengenai suatu hal;
f. menyebarluaskan informasi.
Kewajiban masyarakat pengguna (subyek hukum) informasi publik di dalam mengajukan permintaan
informasi publik (informasi yang wajib diumumkan secara aktif oleh badan publik, informasi publik yang
wajib tersedia setiap saat di Badan Publik dan informasi yang wajib diumumkan secepatnya oleh badan
publik/pemerintah daerah tanpa penundaan) wajib berlaku tertib dan mematuhi segala ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2. Prosedur Memperoleh Informasi
Prosedur untuk memperoleh informasi adalah sebagai berikut.
a. Permintaan informasi dari masyarakat tidak perlu mencantumkan kepentingan mendapatkan informasi.
b. Dalam hal permintaan informasi dan masyarakat kurang jelas maka untuk dapat memberikan informasi
yang sesuai, pemohon perlu menyampaikan kepentingan penggunaan informasi tersebut.
c. Pemenuhan permintaan informasi oleh masyarakat harus dapat diberikan waktu selambatiambatnya 1
minggu setelah permintaan.
d. Apabila dalam 1 minggu belum dapat dipenuhi maka dapat dipenuhi paling lambat satu minggu setelah
itu dengan ketentuan bahwa pejabat badan publik yang bersangkutan harus memberitahukan terhadap
belum dapat dipenuhinya permohonan dalam tenggang waktu 1 minggu.
3. Komisi Transparansi
Untuk menangani masalah sengketa antara pengguna informasi dengan Badan Publik dibentuk Komisi
Transparansi. Komisi Transparansi berkedudukan di daerah. Komisi Transparansi terdiri atas 5 orang
anggota. Komisi Transparansi dipimpin oleh seorang ketua merangkap anggota dan didampingi oleh seorang
sekretaris merangkap anggota. Ketua dan sekretaris dipilih dari dan anggota Komisi Transparansi yang
dilakukan dengan musyawarah oleh anggota Komisi Transparansi, apabila tidak tercapai kesepakatan
dilakukan pemungutan suara. Dalam menjalankan tugasnya Komisi Transparansi didukung oleh staf
sekretariat.
Untuk dapat diangkat sebagai anggota Komisi Transparansi, seorang calon harus memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut.

a. Warga Negara Indonesia berusia minimal 25 tahun.


b. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
c. Sehat jasmani dan rohani.
d. Pendidikan minimal SLTA atau sederajat.
e. Memiliki integritas dan tidak sedang terpidana.
f. Tidak sedang menjadi anggota/pengurus partai politik.
g. Bukan Anggota TNI/POLRI atau PNS aktif.
h. Tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan hukuman 5 tahun atau
lebih, kecuali dengan pidana dengan alasan pertentangan ideologis dan politik.
i. Memiliki pemahaman di bidang Hak Asasi Manusia dan kebijakan publik.
Untuk menetapkan calon anggota Komisi Transparansi dibentuk Panitia Seleksi Calon yang ditetapkan
dengan Keputusan Gubernur. Jumlah Panitia Seleksi Calon Komisi Transparansi 7 orang terdiri dan unsur
legislatif 2 orang, eksekutif 2 orang, unsur masyarakat 2 orang, dan perguruan tinggi 1 orang. Calon Anggota
Komisi Transparansi yang diajukan berdasarkan hasil seleksi maksimal 10 orang yang disertai dengan
keterangan dan penjelasan tertulis.
Anggota Komisi Transparansi dipilih oleh DPRD dan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. DPRD
memilih calon anggota Komisi Transparansi yang diusulkan setelah melakukan konsultasi publik yang
diawali dengan uji kelayakan dan kepatutan. Pilihan DPRD wajib disertai penjelasan. Pemilihan anggota
Komisi Transparansi dilakukan secara transparan. Anggota Komisi Transparansi diangkat setiap 3 tahun
sekali dan tidak dapat diangkat kembali untuk penode berikutnya.
Anggota Komisi Transparansi berhenti dan jabatannya karena:
a. telah habis masa jabatannya;
b. mengundurkan diri;
c. meninggal dunia.
Anggota Komisi Transparansi diberhentikan sebelum habis masa jabatannya oleh Gubernur atas persetujuan
DPRD apabila:
a. terbukti telah melakukan tindak pidana, yang mempunyai kekuatan hukum tetap;
b. sakit jasmani atau rohani atau sebab lain yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan tugas selama 6
bulan;
c. tidak mengikuti rapat penyelesaian sengketa berturut-turut sebanyak 6 kali rapat atau sidang. Anggota
Komisi Transparansi dapat diberhentikan sementara apabila sedang berada dalam proses penyidikan
pidana yang ancaman hukumannya 5 tahun atau lebih.
Kondisi anggota komisi yang sakit jasmani/rohani dan berturut-turut sebanyak 6 kali tidak menghadin
rapat/sidang dilaporkan oleh Komisi Transparansi kepada Gubernur secara tertulis dengan tembusan kepada
Ketua DPRD.

Anggota Komisi Transparansi yang berhenti karena mengundurkan diri dan meninggal dunia dilakukan
penggantian antarwaktu berdasarkan hasil musyawarah Anggota Komisi Transparansi dengan berpedoman
kepada rangking hasil seleksi DPRD.
Tugas, Fungsi, dan Wewenang Komisi Transparansi
Komisi Transparansi mempunyai tugas:
a. mengawasi dan memfasilitasi proses transparansi;
b. memfasilitasi proses penyelesaian sengketa/masalah yang berkaitan dengan transparansi penyelenggaraan
pemerintahan yang dilakukan melalui proses mediasi dan ajudikasi;
c. Setiap penyelesaian sengketal masalah Komisi Transparansi dan Partisipasi wajib membuat Berita Acara,
memublikasikan dan menyediakan informasi tentang kegiatan yang berhubungan dengan transparansi
dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam melaksanakan tugas tersebut di atas, Komisi Transparansi mempunyai fungsi:
a. melakukan pengawasan terhadap kewajiban badan publik;
b. mengkaji, mendorong dan mengembangkan kapasitas badan publik untuk melaksanakan transparansi;
Komisi Transparansi dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab dan wajib menyampaikan laporan
penyelesaian kasus dan laporan tahunan yang memuat kinerja komisi dan lembaga-lembaga publik lainnya
yang berhubungan dengan transparansi.
B. LAPORAN KEKAYAAN PENYELENGGARA NEGARA (LKPN)
Terdapat cukup banyak bukti dan realita bahwa praktik KKN yang dilakukan oleh Penyelenggara Negara
atau oleh Penyelenggara Negara dengan pihak lain telah mengakibatkan rusaknya sendi-sendi kehidupan
dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Praktik KKN ini lebih lanjut dapat membahayakan
eksistensi Negara. Untuk menghindarkan berlangsungnya praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme,
seseorang yang dipercaya menjabat suatu jabatan dalam penyelenggaraan negara, harus bersumpah sesuai
dengan agamanya dan harus mengumumkan serta bersedia diperiksa kekayaannya baik sebelum, selama dan
setelah menjabat.
LKPN adalah salah satu di antara langkah-langkah permulaan penting yang harus dilakukan dalam
mencegah, mengurangi dan akhirnya memerangi KKN. Pelaporan dan Pemeriksaan Harta Kekayaan
Penyelenggara Negara merupakan upaya pencegahan terjadinya praktik korupsi yang diatur dalam Undangundang No. 28 Tahun 1999, tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme dan juga Undangu ndang No. 30 Tahun 2002, tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi.
Isi laporan harta kekayaan penyelenggara negara (LHKPN) adalah sebagai berikut.
1. Data Pribadi.
2. Data Keluarga.
3. Harta Tidak Bergerak.
4. Harta Bergerak.
5. Surat Berharga.

6. Uang Tunai, giro, deposito, dan sejenisnya.


7. Piutang.
8. Utang.
9. PenghasilanPN.
10. Penghasilan Istri/Suami PN.
11. Pengeluaran.
12. Surat
PernyataanlKuasa
Hibah/Warisan/Hadiah.

Mengumumkan/Kuasa

Minta

R/K

Bank/Surat

Pernyataan

Adapun penyelenggara negara yang wajib mengisi LKPN adalah sebagai berikut.
1. Pejabat Negara pada Lembaga Tinggi Negara.
2. Menteri.
3. Gubernur.
4. Hakim (Hakim di semua tingkatan Peradilan).
5. Pejabat negara yang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundangu ndangan yang berlaku (misalnya
Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri yang berkedudukan sebagai Duta Besar Luar Biasa
dan Berkuasa Penuh, Wakil Gubernur, dan Bupati/Walikota).
6. Pejabat lain yang memiliki fungsi strategis dalam kaitannya dengan penyelenggaraan negara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundangu ndangan yang berlaku, yaitu pejabat yang tugas dan
wewenangnya di dalam melakukan penyelenggaraan negara rawan terhadap praktik korupsi, kolusi, dan
nepotisme, meliputi berikut ini.
a. Direksi, Komisaris, dan pejabat struktural lainnya pada Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha
Milik Daerah;
b. Pimpinan Bank Indonesia dan Pimpinan Badan Penyehatan Perbankan Nasional;
c. Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri;
d. Pejabat Eselon I dan Pejabat lain yang disamakan di lingkungan sipil, militer, dan Kepolisian Negara
Republik Indonesia;
e. Jaksa;
f. Penyidik;
g. Panitera Pengadilan; dan
h. Pemimpin dan bendaharawan proyek.
7. Pejabat eselon II dan pejabat lain yang disamakan di lingkungan instansi pemerintah dan atau lembaga
negara.
8. Semua Kepala Kantor di lingkungan Departemen Keuangan.

9. Pemeriksa Bea dan Cukai.


10. PemeriksaPajak.
11. Auditor.
12. Pejabat yang mengeluarkan perizinan.
13. Pejabat/kepala unit pelayanan masyarakat.
14. Pejabat pembuat regulasi.
Pada awalnya, pemeriksaan atas kekayaan penyelenggara negara dilakukan oleh suatu lembaga yang
dibentuk oleh Kepala Negara yang keanggotaannya terdiri atas unsur pemerintah dan masyarakat. Sejak
dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka tugas ini menjadi salah satu tugas bidang
pencegahan pada KPK.
KPK adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya bersifat independen dan
bebas dan pengaruh kekuasaan mana pun. KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil
guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
1. Tugas, Wewenang, dan Kewajiban KPK
Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai tugas:
a. koordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
b. supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi;
c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi;
e. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan
Dalam melaksanakan tugas koordinasi KPK berwenang:
a. mengoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi;
b. menetapkan sistem pelaporan dalam kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi;
c. meminta informasi tentang kegiatan pemberantasan tindak pidana korupsi kepada instansi yang terkait;
d. melaksanakan dengar pendapat atau pertemuan dengan instansi yang berwenang melakukan
pemberantasan tindak pidana korupsi; dan meminta laporan instansi terkait mengenai pencegahan tindak
pidana korupsi.
Dalam melaksanakan tugas supervisi KPK berwenang melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan
terhadap instansi yang menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak
pidana korupsi, dan instansi yang dalam melaksanakan pelayanan publik. Dalam melaksanakan
wewenangnya KPK berwenang juga mengambil alih penyidikan atau penuntutan terhadap pelaku tindak
pidana korupsi yang sedang dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan. Di mana dalam hal ini kepolisian atau
kejaksaan wajib menyerahkan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen lain yang
diperlukan dalam waktu paling lama 14 hari kerja, terhitung sejak tanggal diterimanya permintaan
KPK.

Penyerahan tersangka dan seluruh berkas perkara beserta alat bukti dan dokumen lain yang diperlukan
dilakukan oleh kepolisian atau kejaksaan dengan membuat dan menandatangani berita acara penyerahan
sehingga segala tugas dan kewenangan kepolisian atau kejaksaan pada saat penyerahan tersebut beralih
kepada KPK.
Pengambilalihan penyidikan dan penuntutan terhadap pelaku tindak pidana korupsi yang sedang dilakukan
oleh kepolisian atau kejaksaan, dilakukan oleh KPK dengan alasan:
a. laporan masyarakat mengenai tindak pidana korupsi tidak ditindaklanjuti;
b. proses penanganan tindak pidana korupsi secara berlarut-larut atau tertunda-tunda tanpa alasan yang
dapat dipertanggungjawabkan;
c. penanganan tindak pidana korupsi ditujukan untuk melindungi pelaku tindak pidana korupsi yang
sesungguhnya;
d. penanganan tindak pidana korupsi mengandung unsur korupsi;
e. hambatan penanganan tindak pidana korupsi karena campur tangan dari eksekutif, yudikatif, atau
legislatif;
f. keadaan lain yang menurut pertimbangan kepolisian atau kejaksaan, penanganan tindak pidana korupsi
sulit dilaksanakan secara baik dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam melaksanakan tugas penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi, KPK
berwenang:
a. melakukan penyadapan dan merekam pembicaraan;
b. memerintahkan kepada instansi yang terkait untuk melarang seseorang bepergian ke luar negeri;
c. meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya tentang keadaan keuangan tersangka
atau terdakwa yang sedang diperiksa;
d. memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga
hasil dari korupsi milik tersangka, terdakwa, atau pihak lain yang terkait;
e. memerintahkan kepada pimpinan atau atasan tersangka untuk memberhentikan sementara tersangka dari
jabatannya;
f. meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka atau terdakwa kepada instansi yang terkait;
g. menghentikan sementara suatu transaksi keuangan, transaksi perdagangan, dan perjanjian lainnya atau
pencabutan sementara perizinan, lisensi serta konsesi yang dilakukan atau dimiliki oleh tersangka atau
terdakwa yang diduga berdasarkan bukti awal yang cukup ada hubungannya dengan tindak pidana
korupsi yang sedang diperiksa;
h. meminta bantuan Interpol Indonesia atau instansi penegak hukum negara lain untuk melakukan
pencarian, penangkapan, dan penyitaan barang bukti di luar negeri;
i. meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait untuk melakukan penangkapan, penahanan,
penggeledahan, dan penyitaan dalam perkara tindak pidana korupsi yang sedang ditangani.
Penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi menjadi wewenang KPK apabila:

a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan
tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;
b. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Dalam melaksanakan tugas pencegahan tindak pidana korupsi, KPK berwenang melaksanakan langkah atau
upaya pencegahan sebagai berikut:
a. melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara negara;
b. menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi (pembenan dalam arti luas, yakni meliputi
pemberian uang, barang, rabat (discount), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas
penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya);
c. menyelenggarakan program pendidikan anti korupsi pada setiap jenjang pendidikan;
d. merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi pemberantasan tindak pidana korupsi;
e. melakukan kampanye anti korupsi kepada masyarakat umum;
f. melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.
Dalam melaksanakan tugas monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan Negara, KPK berwenang:
a. melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga negara dan
pemerintah;
b. memberi saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk melakukan perubahan jika
berdasarkan hasil pengkajian, sistem pengelolaan administrasi tersebut berpotensi korupsi;
c. melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan
Badan Pemeriksa Keuangan, jika saran Komisi Pemberantasan Korupsi mengenai usulan perubahan
tersebut tidak diindahkan.
Komisi Pemberantasan Korupsi berkewajiban:
a. memberikan perlindungan terhadap saksi atau pelapor yang menyampaikan laporan ataupun memberikan
keterangan mengenai terjadinya tindak pidana korupsi;
b. memberikan informasi kepada masyarakat yang memerlukan atau memberikan bantuan untuk
memperoleh data lain yang berkaitan dengan hasil penuntutan tindak pidana korupsi yang ditanganinya;
c. menyusun laporan tahunan dan menyampaikannya kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan Badan Pemeriksa Keuangan;
d. menegakkan sumpah jabatan;
e. menjalankan tugas, tanggung jawab, dan wewenangnya berdasarkan asas-asas:
1) kepastian hukum adalah asas dalam negara hukum yang mengutamakan landasan peraturan
perundang-undangan, kepatutan, dan keadilan dalam setiap kebijakan menjalankan tugas dan
wewenang KPK;

2) keterbukaan adalah asas yang membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi
yang benar, jujur, dan tidak diskriminatif tentang kinerja KPK dalam menjalankan tugas dan
fungsinya;
3) akuntabilitas adalah asas yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan Komisi
Pemberantasan Korupsi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat atau rakyat sebagai
pemegang kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
4) kepentingan umum adalah asas yang mendahulukan kesejahteraan umum dengan cara yang
aspiratif, akomodatif, dan selektif;
5) proporsionalitas adalah asas yang mengutamakan keseimbangan antara tugas, wewenang, tanggung
jawab, dan kewajiban KPK.
Dari pengamatan Anda terhadap kasus-kasus korupsi yang ditangani KPK apakah KPK sudah
bekerja optimal sesuai dengan tugas, wewenang dan tanggung jawabnya? Jelaskan alasannya!
2. Susunan Organisasi KPK
Susunan Komisi Pemberantasan Korupsi terdiri atas Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi dan 4 orang
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. Di dalam KPK ada 4 bidang, yaitu:
a. Bidang Pencegahan;
b. Bidang Penindakan;
c. Bidang Informasi dan Data;
d. Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat.
a. Bidang Pencegahan KPK membawahi:
1) Subbidang Pendaftaran dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara.
2) Subbidang Gratifikasi.
3) Subbidang Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat.
4) Subbidang Penelitian dan Pengembangan.
b. Bidang Penindakan KPK membawahi:
1) Subbidang Penyelidikan.
2) Subbidang Penyidikan.
3) Subbidang Penuntutan.
c. Bidang informasi dan Data KPK inernbawahi.
1) Subbidang Pengolahan Informasi dan Data;
2) Subbidang Pembinaan Jaringan Kerja Antarkomisi dan Instansi;
3) Subbidang Monitor.

d. Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat pada KPK membawahi.


1) Subbidang Pengawasan Internal;
2) Subbidang Pengaduan Masyarakat.
Subbidang Penyelidikan, Subbidang Penyidikan, dan Subbidang Penuntutan, masing-masing membawahi
beberapa Satuan Tugas sesuai dengan kebutuhan subbidangnya. Ketentuan mengenai tugas bidang-bidang
dan masing-masing Subbidang dalam KPK diatur lebih lanjut dengan Keputusan Komisi Pemberantasan
Korupsi.
Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, Komisi Pemberantasan Korupsi dibantu oleh Sekretariat
Jenderal yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal yang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden
Republik Indonesia serta bertanggung jawab kepada Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Ketentuan mengenai tugas dan fungsi Sekretariat Jenderal ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Komisi
Pemberantasan Korupsi. Di samping itu, Komisi Pemberantasan Korupsi dapat melakukan kerja sama
dengan pihak lain dalam rangka pengembangan dan pembinaan organisasi Komisi Pemberantasan Korupsi.
C. PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN
Pengawasan merupakan salah satu fungsi manajemen. Pengawasan harus dilakukan untuk menjaga agar
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dalam rangka pencapaian tujuan. Melalui
pengawasan dapat dilakukan penilaian apakah suatu entitas telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan tugas
dan fungsinya secara hemat, efisien, dan efektif, serta sesuai dengan rencana, kebijakan yang telah
ditetapkan, dan ketentuan yang berlaku. Dengan demikian, melalui pengawasan dapat diperoleh informasi
mengenai kehematan, efisiensi, dan efektivitas pelaksanaan kegiatan. Informasi tersebut dapat digunakan
untuk penyempurnaan kegiatan dan pengambilan keputusan oleh pimpinan.
Pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan diperlukan untuk menjamin agar pelaksanaan kegiatan
pemerintahan berjalan sesuai dengan rencana dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Selain itu, dalam rangka mewujudkan good governance and clean government, pengawasan
juga diperlukan untuk mendukung penyelenggaraan pemerintahan yang efektif dan efisien, transparan,
akuntabel, serta bersih dan bebas dan praktik-praktik KKN.
Pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan tersebut dapat dilakukan melalui berikut ini.
1. Pengawasan melekat.
2. Pengawasan masyarakat.
3. Pengawasan fungsional.
1. Pengawasan Melekat
Pengawasan melekat atau built in control merupakan pengawasan yang diwujudkan dalam berbagai upaya
yang terjalin dalam tata laksana kegiatan yang dilakukan organisasi. Pengawasan ini secara keseluruhan
menyatu dengan sistem manajemen dalam suatu organisasi. Pengawasan melekat telah diatur secara khusus
dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1989 tentang Pedoman Pelaksanaan Sistem Pengawasan Melekat.
Pengawasan melekat dapat dilakukan antara lain melalui pengawasan atasan langsung terhadap kegiatan
yang dilaksanakan oleh unit kerja yang berada di bawahnya.
Contoh dan pengawasan melekat yang dilakukan atasan langsung adalah seperti yang diamanatkan dalam
Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Pasal 68 dan Pasal 69 yang berbunyi sebagai berikut:

Atasan kepaLa kantor/satuan kerja menyetenggarakan pengawasan terhadap petaksanaan anggaran yang
dftakukan oLeh kepaLa kantor satuan kerja daLam Lingkungannya. Atasan Langsung bendaharawan
meLakukan pemeriksaan kas bendaharawan sekurang-kurangnya 3 (tiga) buLan sekaLi.
KepaLa biro keuangan departemen/Lembaga mengadakan verifikasi terhadap Surat Penntah Membayar
(SPM) pada kantor/satuan kerja daLam Lingkungan departemen/Lembaga bersangkutan.
KepaLa biro keuangan departemen/Lembaga meLakukan verifikasi Surat Perintah Membayar (SPM) pada
proyek datam Lingkungan departemen/Lembaga bersangkutan.
2. Pengawasan Masyarakat
Pengawasan masyarakat merupakan pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat yang dilakukan antara lain
dalam bentuk pemantauan dan evaluasi yang dilakukan oleh lembaga perwakilan rakyat, lembaga swadaya
masyarakat, dan organisasi nonpemerintah, serta pengaduan dan pemberian informasi baik secara langsung
maupun melalui media masa atau opini publik mengenai pelayanan terhadap masyarakat dan
penyelenggaraan pemerintahan. Pengaduan atau pemberian informasi oleh masyarakat secara langsung telah
diakomodir melalui Kotak Pos 5000 serta kotak-kotak pengaduan dan saran yang disediakan oleh instansi
pemerintah. Bahkan Presiden sendiri telah menyediakan Kotak Pos dan sarana SMS untuk menampung
pengaduan/pemberian informasi dan masyarakat.
Contoh dan pengawasan masyarakat adalah seperti yang tertuang dalam Keppres Nomor 80 Tahun 2003
tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 48 Ayat (7) yang berbunyi sebagai
berikut:
Masyarakat yang tidak puas terhadap tanggapan atau informasi yang disampaikan oteh pengguna
barang/jasa dapat mengadukan kepada Menteri / Pangtima TNI/ KapoLri / Pemimpin Lembaga/Gubernur/
Bupati / Walikota/Dewan Gubernur BI/Pemimpin BHMN/Direksi BUMN/BUMD.
3. Pengawasan Fungsional
Pengawasan fungsional adalah pengawasan yang dilakukan oleh lembaga/aparat pengawasan yang dibentuk
atau ditunjuk khusus untuk melaksanakan fungsi pengawasan secara independen terhadap objek yang
diawasi.
Pengawasan fungsional tersebut dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan fungsi
melakukan pengawasan fungsional melalui audit, investigasi, dan penilaian untuk menjamin agar
penyelenggaraan pemerintahan sesuai dengan rencana dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
Pengawasan fungsional dilakukan baik oleh pengawas ekstern pemerintah maupun pengawas intern
pemerintah. Pengawasan ekstern pemerintah dilakukan oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), sedangkan
pengawasan intern pemerintah dilakukan oleh Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sesuai ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
BPK melakukan pengawasan fungsional dengan menguji kesepadanan laporan pertanggungjawaban
keuangan negara dan memberikan pendapat terhadap kelayakan pertanggungjawaban keuangan negara
tersebut (fungsi attestation). Dalam hal ini BPK melakukan pengawasan terhadap pertanggungjawaban
pemerintah secara keseluruhan atas pengelolaan keuangan negara. Pengawasan yang dilaksanakan BPK
diharapkan dapat memberikan masukan kepada DPR mengenai kewajaran pertanggungjawaban keuangan
negara oleh pemerintah.
APIP melakukan pengawasan fungsional terhadap pengelolaan keuangan negara agar berdaya guna dan
berhasil guna untuk membantu manajemen pemerintahan dalam rangka pengendalian terhadap kegiatan unit
kerja yang dipimpinnya (fungsi quality assurance). Pengawasan yang dilaksanakan APIP diharapkan dapat
memberikan masukan kepada pimpinan penyelenggara pemerintahan mengenai hasil, hambatan, dan

penyimpangan yang terjadi atas jalannya pemerintahan dan pembangunan yang menjadi tanggung jawab para
pimpinan penyelenggara pemerintahan tersebut.
Lembaga/badan/unit yang ada di dalam tubuh pemerintah (pengawas intern pemerintah), yang mempunyai
tugas dan fungsi melakukan pengawasan fungsional adalah Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP),
yang terdiri atas berikut ini.
a. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
b. Inspektorat Jenderal Departemen.
c. Inspektorat Utama/lnspektorat Lembaga Pemerintah Non-Departemen.
d. Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) /Kementerian.
e. Lembaga Pengawasan Daerah atau Bawasda (Inspektorat) Provinsi/ Kabupaten/Kota.
BPKP sebagai aparat pengawasan penyelenggaraan pemerintahan yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Presiden bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan Pemerintah/
Presiden. Itjen Departemen/lnspektorat Utama/lnspektorat LPND/ Kementerian sebagai aparat pengawasan
penyelenggaraan pemerintahan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri atau Kepala
LPND bertugas untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan Menteri atjpau Kepala LPND.
Sedangkan Lembaga Pengawasan Daerah sebagai aparat pengawasan penyelenggaraan pemerintahan yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada GubernurfBupatilWalikota bertugas untuk melakukan
pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan Gubernur/Bupati/Walikota. Laporan hasil pengawasan oleh
masing-masing APIP disampaikan kepada pihak yang menjadi atasan dan kepada siapa APIP tersebut
bertanggung jawab. Dengan demikian BPKP melaporkan hasil pengawasannya kepada Presiden, Itjen
Departemen/lnspektorat Utama/ Inspektorat LPND/Kementerian melaporkan hasil pengawasannya kepada
Menteri atau Kepala LPND, dan Lembaga Pengawasan Daerah melaporkan hasil pengawasannya kepada
Gubernur/Bupati/Walikota. Pelaporan hasil pengawasan juga dapat dilaporkan kepada pihak-pihak terkait
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Contoh dari pelaksanaan pengawasan fungsional yang dilaksanakan oleh APIP adalah seperti yang
diamanatkan dalam Keppres Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Pasal 48 Ayat (5) yang berbunyi sebagai berikut:
Unit pengawasan intern pada instansi pemerintah meLakukan pengawasan kegiatan I proyek, menampung
dan menindakLanjuti pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan masaLah atau penyimpangan daLam
peLaksanaan pengadaan barang/jasa, kemudian meLaporkan hasiL pemeriksaannya kepada
menteri/pimpinan instansi yang bersangkutan dengan tembusan kepada KepaLa Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP).
Contoh lain dan pelaksanaan pengawasan fungsional yang dilaksanakan oleh APIP adalah seperti yang
diamanatkan dalam Keppres Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara Pasal 70 dan 71 yang berbunyi sebagai berikut:
Inspektur JenderaL departemen/pimpinan unit pengawasan pada Lembaga meLakukan pengawasan atas
peLaksanaan anggaran negara yang ditakukan oteh kantor/satuan kerja/proyek/bagian proyek datam
Lingkungan departemen/Lembaga bersangkutan sesuai ketentuan yang bertaku.
HasiL pemeriksaan inspektur JenderaL departemen/pimpinan unit pengawasan pada Lembaga tersebut
disampaikan kepada menteri/pimpinan Lembaga yang membawahkan proyek yang bersangkutan dengan
tembusan disampaikan kepada Kepata BPKP.

BPKP meLakukan pengawasan terhadap petaksanaan anggaran negara sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berLaku. Inspektur Jenderat departemen/pimpinan unit pengawasan tembaga,
Kepata BPKP, dan unit pengawasan daerah wajib menindaktanjuti pengaduan masyarakat mengenal
peLaksanaan anggaran pendapatan dan beLanja negara.
Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
Pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah terdiri atas pengawasan fungsional, pengawasan
legislatif dan pengawasan masyarakat (Pasal 2 4 Keppres No. 74 Tahun 2001). Pengawasan ini dilakukan
terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Provinsi, Pemerintahan Kabupaten dan Pemerintahan Kota yang
meliputi seluruh kewenangan Daerah berdasarkan asas desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas pembantuan.
a. Pelaksanaan Pengawasan Penyelenggaraan Pemda
Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen melakukan pengawasan fungsional terhadap:
(1) pelaksanaan wgas dekonsentrasi dan tugas pembantuan di bidangnya;
(2) efektivitas pelaksanaan pembinaan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah sesuai bidang tugasnya.
Misalnya, Menteri Dalam Negeri selain melakukan pengawasan fungsional juga melakukan pengawasan
represif terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah dan kinerja Daerah Otonom.
Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom melakukan pengawasan fungsional terhadap kinerja Aparatur
Pemerintah Daerah Provinsi. Dan Gubernur selaku wakil Pemerintah melakukan pengawasan fungsional
penyelenggaraan Pemerintahan Kabupaten dan Kota yang dilimpahkan pada Badan/Lembaga Pengawasan
Daerah Provinsi.
Bupati dan Walikota melakukan pengawasan fungsional atas kegiatan Pemerintah (kinerja) Aparatur
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang dilimpahkan pada Badan/Lembaga Pengawas Daerah
Kabupaten/Kota.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi melakukan pengawasan legislatif atas pelaksanaan kebijakan
Daerah Provinsi dan pelaksanaan kerja sama internasional Daerah Provinsi yang bersangkutan. Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota melakukan pengawasan legislatif atas pelaksanaan kebijakan
Daerah Kabupaten/Kota dan pelaksanaan kerja sama internasional Daerah Kabupaten/Kota, yang dilakukan
oleh Fraksi-fraksi, Komisi-komisi dan alat kelengkapan lain yang dibentuk sesuai dengan peraturan tata tertib
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.
Masyarakat dapat melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi dan
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Pengawasan ini dapat dilakukan secara perorangan, kelompok
maupun organisasi masyarakat.
Pelimpahan pelaksanaan kewenangan pengawasan fungsional oleh Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah
NonDepartemen kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah dilakukan setelah berkoordinasi dengan Menteri
Dalam Negeri. Pelimpahan pelaksanaan kewenangan pengawasan fungsional ini harus disertai dengan tata
cara, standar dan kriteria pengawasan.
b. Cara Pengawasan
Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah
pengawasan fungsional melalui kegiatan:

NonDepartemen,

Gubernur,

Bupati/Walikota

1) pemeriksaan berkala, pemeriksaan insidental maupun pemenksaan terpadu;


2) pengujian terhadap laporan berkala dan atau sewaktu-waktu dari unit/satuan kerja;

melakukan

3) pengusutan atas kebenaran laporan mengenai adanya indikasi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme;
4) penilaian atas manfaat dan keberhasilan kebijakan, pelaksanaan program, proyek serta kegiatan.
Dalam melaksanakan pengawasan fungsional tersebut, Menteri/ Pimpinan Lembaga Pemerintah
NonDepartemen, Gubernur, Bupati/Walikota dapat:
1) meminta, menerima dan mengusahakan memperoleh bahan-bahan dan atau keterangan dan pihak yang
dipandang perlu;
2) melakukan atau menyuruh melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan di tempat-tempat pekerjaan;
3) menerima, mempelajari dan melakukan pemeriksaan atas kebenaran pengaduan;
4) memanggil pejabat-pejabat yang diperlukan untuk diminta keterangan dengan memperhatikan jenjang
jabatan yang berlaku;
5) menyarankan kepada pejabat yang berwenang mengenai langkah langkah yang bersifat preventif maupun
represif terhadap segala bentuk pelanggaran.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota
melakukan pengawasan legislatif melalui:
1) pemandangan umum Fraksi-fraksi dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
2) rapat pembahasan dalam sidang komisi;
3) rapat pembahasan dalam Panitia-panitia yang dibentuk berdasarkan tata tertib Dewan Perwakilan Rakyat
Daerah;
4) rapat dengar pendapat dengan Pemerintah Daerah dan pihak-pihak lain yang diperlukan;
5) kunjungan kerja.
Dalam melaksanakan pengawasan legislatif, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dapat:
1) mengundang pejabat-pejabat di lingkungan Pemerintah Daerah untuk diminta keterangan, pendapat dan
saran;
2) menerima, meminta dan mengusahakan untuk memperoleh keterangan dan pejabat/pihak-pihak yang
terkait;
3) meminta kepada pihak-pihak tertentu melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan;
4) memberi saran mengenai langkah-langkah preventif dan represif kepada pejabat yang berwenang.
Masyarakat melakukan pengawasan atas penyelenggara Pemerintahan Daerah melalui :
1) pemberian informasi adanya indikasi terjadinya korupsi, kolusi dan nepotisme di lingkungan Pemerintah
Daerah maupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah;
2) penyampaian pendapat dan saran mengenai perbaikan, penyempurnaan baik preventif maupun represif
atas masalah yang disampaikan.

Pengawasan masyarakat tersebut, disampaikan kepada pejabat yang berwenang dan atau instansi yang
terkait. Masyarakat berhak memperoleh informasi perkembangan penyelesaian masalah yang diadukan
kepada pejabat yang berwenang tersebut.
c. Koordinasi Pengawasan Fungsional
Kebijakan pengawasan fungsional penyelenggaraan Pemerintahan Daerah ditetapkan setiap tahun oleh
Menteri Dalam Negeri berdasarkan masukan dari Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen.
Untuk memperoleh masukan tersebut Menteri Dalam Negeri menyelenggarakan rapat koordinasi
pengawasan fungsional.
Menteri/Pimpinan Lembaga NonDepartemen berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri dalam menyusun
perencanaan dan pelaksanaan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Provinsi. Sedangkan
perencanaan dan pelaksanaan pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota
dikoordinasikan oleh Gubernur.
d. Pelaporan
Pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah oleh Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah
NonDepartemen dilaporkan kepada Presiden dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.
Pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah oleh Gubemur dilaporkan kepada Presiden melalui
Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada instansi terkait.
Bupati/Walikota melaporkan hasil pengawasan kinerja Aparatur Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota kepada
Gubernur dengan tembusan kepada Menteri Dalam Negeri.
e. Tindak Lanjut Hasil Pengawasan
Pimpinan Unit Kerja Pemerintah Daerah Provinsi, Kabupaten, dan Kota, mengambil langkah-langkah tindak
lanjut hasil pengawasan penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah. Tindak lanjut hasil pengawasan tersebut
terdiri atas:
1) tindakan administratif sesuai dengan peraturan perundang -undangan;
2) tindakan tuntutan perbendaharaan atau tuntutan ganti rugi;
3) tindakan tuntutan/gugatan perdata;
4) tindakan pengaduan perbuatan pidana;
5) tindakan penyempurnaan kelembagaan, kepegawaian dan ketatalaksanaan.
Menteri/Pimpinan Lembaga Pemerintah NonDepartemen,
pemantauan atas pelaksanaan tindak lanjut hasil pengawasan.

Gubernur,

Bupati/Walikota

melakukan

f. Sanksi
Gubernur, Bupati/Walikota dan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang menolak pengawasan dan
tidak melaksanakan tindak lanjut hasil pelaksanaan pengawasan dikenakan sanksi administratif dan atau
sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
KEGIATAN BELAJAR 2
PEMBERLAKUAN PERATURAN DALAM PENGENDALIAN ETIKA
A. PENIUP PELUIT (WHISTLE BLOWERS)

Whistleblowing (peniup peluit atau pengadu masalah/saksi pelapor) adalah tindakan pegawai pemerintah
yang melaporkan perbuatan tidak etis yang dilakukan oleh pegawai pemerintah lainnya, sering kali laporan
tersebut dianjurkan adanya undang-undang yang melindungi si peluit. Akan tetapi, tidak jarang anjuran ini
terhapus oleh pemecatan yang biasa dilakukan terhadap mereka yang meniup peluit itu. Misalnya, di
Amerika Serikat, Presiden Ronald Reagan adalah salah seorang penganjur tegas pemberantas kecurangan,
pemborosan, dan penyalahgunaan di tingkat pemerintahan federal, selama tahun 1988, justru menjatuhkan
pocet veto (veto saku) terhadap perundang-undangan yang memperkuat hak-hak pegawai pemerintahan
federal yang menjadi peniup peluit. Di Indonesia, misalnya kasus Khairiansyah Salman mantan auditor
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang menjadi saksi pelapor dalam kasus suap yang melibatkan anggota
Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mulyana Wira Kusuma. Khairiansyah menerima penghargaan Integrity
Award dari lembaga Transparancy International atas beberapa pertimbangan antara lain tindakannya itu
menjadi contoh untuk mendorong pemberantasan korupsi dan peran Khairiansyah sebagai Whistle Blower
dalam kasus suap di KPU membuat mekanisme pemberantasan korupsi dengan jalan seperti itu mulai dapat
diadopsi di Indonesia. Namun, malang bagi nasib Khairiansyah karena sikapnya tersebut dianggap tidak etis
oleh atasannya karena ia dianggap tidak mempunyai wewenang untuk menyampaikan hasil temuan tersebut
kepada publik. Di samping itu, karena kasus tersebut Khairiansyah juga mengundurkan diri sebagai auditor
BPK. Kemudian, lebih jauh lagi, Khairiansyah sempat dijadikan sebagai tersangka gara-gara pernah
menerima honor Rp 10.000.000,00 sebagai imbalan karena memberikan ceramah yang diadakan oleh suatu
instansi pemerintahan.
Meskipun peniup-peniup peluit hanya melaporkan informasi yang menurut anggapan hampir semua orang
harus dilaporkan, mereka dapat menjadi sasaran pembalasan dendam pihak pimpinan (pelaku perbuatan tidak
etis). Oleh karena itu, pelapor, saksi, dan korban harus dilindungi dengan peraturan perundang-undangan.
Pengalaman empirik di Indonesia menjelaskan bahwa perlindungan pelapor, saksi dan korban adalah penting.
Persoalan yang utama adalah banyaknya pelapor atau saksi yang tidak bersedia menjadi saksi ataupun tidak
berani mengungkapkan kesaksian yang sebenarnya karena tidak ada jaminan yang memadai. Terutama
jaminan atas hak-hak tertentu ataupun mekanisme tertentu untuk bersaksi. Ketiadaan jaminan ini
mengakibatkan saksi enggan untuk memberi keterangan di pengadilan, terutama dalam kasus-kasus, seperti
kekerasan terhadap perempuan, kekerasan dalam rumah tangga, korupsi, narkotika dan pelanggaran Hak
Asasi Manusia yang berat.
Oleh karena itu, perlu adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perlindungan saksi dan
korban. Di mana dengan peraturan tersebut diharapkan agar setiap orang yang mendengar sendiri, melihat
sendiri, dan/atau mengalami sendiri suatu perkara pidana merasa aman dan berbagai ancaman saat ia
memberikan keterangan guna kepentingan penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan pemeniksaan di sidang
pengadilan.
Dengan demikian, peraturan perundang-undangan tentang perlindungan saksi dan korban sekurangkurangnya harus memuat hak saksi dan korban, yaitu memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi,
keluarga, dan harta benda, serta bebas dan ancaman yang berkenaan dengan kesaksiannya. Saksi dan korban
juga berhak mendapatkan bantuan medis dan rehabilitasi psikos osial; dan berhak atas kompensasi dalam
kasus pelanggaran hak asasi manusia berat serta mendapatkan restitusi atau ganti kerugian yang menjadi
tanggung jawab pelaku tindak pidana. Semua hak-hak saksi dan korban itu harus diberikan setelah sernua
persyaratan yang diperlukan terpenuhi.
1. Ancaman terhadap Pelapor dan Saksi
Menurut Supriyadi Wibowo E., dkk. ada 4 pola umum ancarnan yang biasanya dilakukan terhadap para saksi
atau pelapor yang mencoba membantu aparat untuk membongkar sebuah tindak pidana. Pola tersebut ialah
pertama, para pelaku melakukan kriminalisasi terhadap para pelapor tindak pidana yang dilakukannya (bisa
juga gugatan balik). Kedua, para pelaku melakukan upaya kekerasan fisik, misalnya percobaan pembunuhan,
mernasang born, penganiayaan sampai kepada pembunuhan. Ketiga, pelaku melakukan upaya pemberhentian
secara sepihak hubungan kerja yang ada (ancaman pemecatan) jika pelaku dan saksi dalam hubungan ikatan

kerja. Keempat, pelaku melakukan teror dan intimidasi secara psikologis. Dalam kasus-kasus tertentu polapola di atas sering juga digunakan secara bersamaan.
2. Kriminalisasi Saksi dan Pelapor
Kriminalisasi saksi dan atau pelapor adalah pola pertama yang paling sering ditemukan, khususnya terhadap
kasus-kasus mengenai kejahatan korupsi, kasus perkosaan dan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).
Para pelaku biasanya melakukan upaya dengan cara melaporkan para saksi atau pelapor ke pihak Kepolisian.
Pasal-pasal KUHP yang sering digunakan adalah pencemaran nama baik, memfitnah, perbuatan tidak
menyenangkan atau, dalam kasus tertentu, para pelapor dijadikan sebagai pihak yang membantu perbuatan
tindak pidana pelaku. Fenomena yang sering terjadi adalah justru laporan pelaku inilah yang lebih dulu
ditingdaklanjuti Kepolisian, bahkan pengadilan.
Sementara itu, kasus yang dilaporkan saksi atau pelapor terus tertunda bahkan terlenyapkan oleh perkara baru
tersebut.
ISI PASAL KUHP
Pasal 311 ayat(1) : Jika yang melakukan kejahatan pencemaran atau pencemaran tertulis dibolehkan untuk
membuktikan apa yang dituduhkan itu benar, tidak membuktikannya, dan tuduhan dilakukan bertentangan
dengan apa yang diketahui maka dia diancam melakukan fitnah dengan pidana penjara paling lama empat
tahun.
Pasal 310 ayat (1) : Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan
menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena
pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu
lima ratus rupiah.
Pasal 310 ayat (2) : Jika hal itu dilakukan dengan tulisan atau gambaran yang disiarkan, dipertunjukkan atau
ditempelkan di muka umum maka diancam karena pencemaran tertulis dengan pidana penjara paling lama
satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 317 ayat (1) : Barang siapa dengan sengaja mengajukan pengaduan atau pemberitahuan palsu kepada
penguasa, baik secara tertulis maupun untuk dituliskan, tentang seseorang sehingga kehormatan atau nama
baiknya terserang, diancam karena melakukan pengaduan fitnah, dengan pidana penjara paling ama empat
tahun.
Ancaman terhadap saksi dengan pola ini biasanya cukup berhasil untuk membungkam atau membuat laporan
saksi atas tindak pidana menjadi mentah dan para saksi menjadi bungkam. Penting untuk diperhatikan (harus
diberi catatan khusus) bahwa Kepolisian dan juga Kejaksaan sering kali digunakan sebagai alat untuk
membungkam para pelapor atau saksi yang justru ingin membantu Polisi (sebagai penyelidik) dan Kejaksaan
(sebagai Penuntut) untuk mengungkap berbagai kejahatan. Pihak Kepolisian dan Kejaksaan sendiri dalam
beberapa kasus seakan-akan tidak peduli dan tutup mata (perlu ada penelitian yang mendalam).
3. Ancaman Penganiayaan Fisik Hingga Pembunuhan
Para saksi atau pelapor yang diancam secara fisik dapat ditemukan dalam kasus-kasus pelanggaran HAM
berat atau kasus yang indikasinya dilakukan dalam konteks kejahatan berlatar belakang politik maupun
dalam kasus lingkungan (illegal logging), dan kasus korupsi.
Contoh kasus:
Kalep Situmorang yang merupakan saksi kunci dalam kasus pengeboman Gereja GKII di Medan ditembak
hingga tewas di bagian kepala oleh orang tak dikenal. Sementara dalam Kasus Abi Kusno, seorang pelapor
kasus illegal logging hampir tewas ketika diserang 4 orang bersenjata tajam (mengalami putus 4 jari tangan

kanan). Dalam kasus korupsi, wartawan Udin tewas ketika kepalanya dipukul orang tak dikenal.
Hidayatullah, seorang pelapor dugaan korupsi, rumahnya dibom orang tak dikenal. Kasus-kasus kekerasan
terhadap para saksi tersebut di atas jarang pula bisa diungkap oleh pihak Kepolisian. Dalam kasus Abi
Kusno, para pelaku justru dibebaskan. Demikian juga dalam peristiwa yang menimpa Kalep Situmorang,
Hidayatullah dan Udin, siapa pelaku peristiwa sampai sekarang masih dalam tanda tanya.
Kasus Kalep Situmorang
16 September 2000 - Medan
KaLep Situmorang dildentifikasikan sebagai satu-satunya saksi kasus pemboman di Gereja Kemenangan
Iman Indonesia (GKII), Padang Butan tanggaL 24 Desember tahun 2004 di Medan. Sayangnya, KaLep tidak
mendapatkan pengamanan yang cukup. Pada tanggaL 16 September 2000, Katep ditembak oLeh dua
penembak misterius saat sedang mengantarkan Pendeta Benyamin Munthe ke gereja untuk memimpin
ibadah. Pendeta Benyamin Munthe sendiri tidak mengaLami cidera datam insiden tersebut. HaL ini
menguatkan dugaan bahwa memang KaLep SitumorangLah yang diincar oLeh para penembak tersebut. Dan
cara para petaku menggunakan senjata api dan metakukan penghadangan, mempertihatkan bahwa mereka
seperti orang profesionaL dengan menggunakan penutup wajah dan pakaian serba hitam. Akhirnya KaLep
Situmorang meninggaL dunia pada hari Senin, 18 September 2000 sekitar pukut 23.00 WIB. Kematian Katep
menyebabkan pengusutan terhadap insiden pemboman di beberapa gereja di Medan menjadi terhambat.
4. Ancaman Intimidasi dan Teror
Intimidasi dan teror adalah hal yang dominan terjadi pada saksi, baik itu saksi korban maupun saksi pelapor.
Tujuannya sangat jelas, yaitu mengharapkan saksi tidak mengungkap fakta-fakta yang diketahui saksi.
Bentuk intimidasi dan teror ini lebih pada serangan psikologis saksi sehingga ketakutan-ketakutan terhadap
intimidasi dan teror ini menghantui saksi dalam memberikan keterangan. Tidak jarang pula, akibat intimidasi
dan teror, saksi urung mengungkapkan fakta bahkan mencabut laporan yang ia berikan.
Intimidasi dan teror ini bisa dilakukan langsung oleh tersangka atau melalui orang suruhannya. Biasanya
melalui telepon, bahkan menggedorg edor pintu rumah seperti yang terjadi pada kasus Dukuh Salam.
Parahnya lagi, intimidasi dan teror dapat pula terjadi di muka persidangan, seperti pada Pengadilan HAM ad
hoc Timor-Timur. Kehadiran aparat militer yang dimobilisasi dan memenuhi ruang sidang mengakibatkan
saksi tidak merasa bebas menguraikan fakta-fakta yang diketahuinya. Keselamatan saksi merasa terancam.
Dalam persidangan itu, terkadang intimidasi juga dilakukan oleh Penasihat Hukum melalui pertanyaanpertanyaan yang diajukannya. Intimidasi juga bisa dilakukan dalam bentuk pemecatan atau PHK
sepihak.Kasus-kasus seperti ini sering terjadi jika ada hubungan kerja antara pelaku dengan saksi atau
pelapor yang kebetulan memiliki hubungan atasan bawahan. Kasus Bupati dari Temanggung dan kasus
karyawati KR bisa menjadi contoh yang relevan bagaimana perjuangan saksi dan pelapor untuk mengungkap
tindak pidana yang dilakukan oleh atasan mereka. Melalui kasus-kasus yang disajikan ini, dapat ditunjukkan
bahwa sedikit sekali ruang yang aman bagi saksi untuk mengungkapkan kebenaran secara gamblang.
Kasus 61 Pejabat Di Temanggung
8 Januari 2005 - Temanggung
Pada hari Sabtu, 08 Januari 2005, 61 (enam puLuh satu) pejabat di Lingkungan Pemerintah Daerah (Pemda)
Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah menyatakan mundur karena berseberangan dengan Bupatinya. Surat
pengunduran din te[ah diajukan secara massat kepada Bupati Temanggung, Totok Ary Wibowo. JumLah
pejabat
Pemda
Temanggung
yang mundur, diperkirakan akan semakin bertambah. Menurut Camat Tembarak Kabupaten Temanggung,
Agus Widodo, dirinya bersama 12 pejabat Lain terpaksa mundur karena merasa tidak mampu meLaksanakan
tugas dan tanggung jawab yang diberikan Bupati.

Kami para camat merasa diintimidasi oleh Bupati menyangkut kasus korupsi, katanya. Latar beLakang
kasus ini bermuLa dan unjuk rasa yang dilakukan sejumlah katangan LSM dan masyarakat Temanggung
yang mempertanyakan korupsi yang diLakukan oLeh KPU dan Bupati Temanggung. Mereka mendesak agar
Kejaksaan dan PoLisi mengusut kasus korupsi tersebut. Pada pertengahan Desember 2004, PoLisi
meLayangkan surat panggitan kepada sejumtah Camat di Temanggung untuk diperiksa sebagai saksi berkait
korupsi tersebut. Sebelum memenuhi panggilan Polisi, para Camat, termasuk saya, dikumpulkan oleh
Bupati. Intinya, dilarang memenuhi panggilan Polisi, katanya.
Tetapi, ada empat camat tersebut. Buntutnya, mereka pan ggilan kedua dan Polisi, memenuhi panggilan
dengan banding ke Jakarta selama 10 yang menyatakan mundur.
yang nekad datang memenuhi panggitan diancam oteh Bupati. Menyusul, ada surat kami sekali lagi
dilarang untuk datang cara kami diberi surat tugas untuk studi hari, kata Agus didampingi 12 Camat Lain
Surat tugas studi banding itu harus diLaksanakan para Camat muLai 28 Desember 2004 hingga 07 Januari
2005. Para Camat berangkat menuju Jakarta pada 28 Desember 2004 pagi dan menginap di HoteL Karya II
Jatan Raden SaLeh Cikini. Sebelum sampai di Jakarta, ada beberapa camat yang ditelpon keluarganya
yang menyatakan didatangi polisi dengan membawa surat panggilan ketiga. Kami jelas sangat khawatir
karena sesuai undang-undang, jika warga negara tidak memenuhi pan ggilan maka bisa dilakukan secara
paksa, kata Agus.
Menurut Agus, karena khawatir dengan kondisi itu, akhirnya sebagian Camat memitih puLang sebetum
waktu untuk memenuhi panggitan potisi. Di tengah kebimbangan itu, karena di satu 5151 kami adalah
bawahan Bupati, semen tara di sisi lain kami in gin menjadi warga negara yang baik, maka kami
memutuskan untuk mundur. Apalagi kami juga sempat mendapat kabar Bupati akan memecat para Camat
yang datang ke kantor polisi. Daripada kami dipecat, lebih baik mundur itukan lebih terhormat, ujar Agus.
Mendapat surat pengunduran diri secara massaL dan anak buahnya, Bupati Totok Ary Wibowo Langsung
menutis surat panggiLan kepada mereka. Surat tertangga( 09 Januari 2005 isinya mengundang mereka yang
mundur untuk menemui Bupati di rumah dinasnya.
Kasus Karyawati PT. Kedaulatan Rakyat
Mei 2002 - Yogyakarta
Menur (bukan nama sebenarnya), menjadi karyawan PT. BP Kedautatan Rakyat (KR) sejak bulan Mei tahun
1991, ditempatkan di Semarang, Jawa Tengah. Pada tahun 1993 sampal 1997 Ia dipindah ke bagian IkLan
pada Kantor Pusat KR di Yogyakarta.
Di kantornya di Yogyakarta, Ia sering dipanggil Smw -- seLaku pimpinannya - untuk menghadap ke ruang
kerjanya dengan aLasan pekerjaan. Biasanya Ia dipanggiL meLaLui Sw (karyawati kepercayaan Smw)atau
melalui Dt (Koordinator sekretaris Kantor Pusat KR). Di sofa tamu, biasanya Menur ditemani Sw atau Dt
untuk diajak Smw bicara masaLah pekerjaan. SambiL membicarakan pekerjaan, tangan smw merangkut
pundak Menur, diteruskan dengan meraba-raba bagian tubuh korban. Bahkan smw akan meneruskan
perbuatannya dengan hubungan badan, namun Menur seLatu menghindar.
Sementara itu, Sw atau Dt sengaja disuruh metihat atau menonton aksi tersebut. Perbuatan ini sebenarnya
sudah berLangsung Lama, hingga pada tanggat 03 Mel 2002, Menur meLaporkan perbuatan tersebut ke
PoLtabes Yogyakarta dengan Laporan PoLisi No. PoL: LP/05-B/V/2002/Pamapta. Akhirnya kasus tersebut
muLai disidik dan Menur, Sw dan Dt pun dimintal keterangan resmi.
Mendengar dirinya diLaporkan polisi, 5mw mencoba mendekati Sw dan Dt, Smw secara Langsung maupun
dengan mengutus seorang kepercayaannya untuk mengintimidasi saksi meLaLui teLepon. Sw mengaku
bahwa pada hari Jumat di minggu pertama butan Mei tahun 2002, Smw disertai beberapa orang mendatangi

rumah Sw dengan membawa setumpuk uang dan janji-janji dan Smw apabiLa Sw menarik kesaksian akan
diberi jaminan hidup oLeh Smw.
Beberapa hari kemudian, saksi Sw (seteLah diberi dana proyek puLuhan juta rupiah) mendatangi PoLtabes
dengan tujuan untuk meminta agar diperkenankan mencabut kesaksiannya. Sementara menurut Dt, ia
beruLang kaLi diteror dan diintimidasi o[eh seorang kepercayaan smw dengan maksud agar Dt mencabut
kesaksiannya.
Dt ditahan pengadilan karena Laporan Smw dengan tuduhan penggetapan. Sementara Menur juga diajukan
ke Kejaksaan Tinggi Jakarta Pusat atas tuduhan penggeLapan pajak oteh 5mw.
5. UU Perlindungan dan Hak Saksi/Korban Tindak Pidana
Untuk memberikan jaminan perlindungan terhadap saksi dan pelapor dan berbagai macam ancaman dan
kriminalisasi seperti tersebut di atas, maka saat ini telah disahkan UU No. 13 Tahun 2006, yaitu tentang
perlindungan saksi dan korban. Di mana seorang saksi danlatau korban tindak pidana sesuai dengan
keputusan lembaga perlindungan saksi dan korban (LPSK) berhak:
a. memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya, serta bebas dan ancaman
yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya. Perlindungan semacam ini
merupakan perlindungan utama yang diperlukan saksi dan korban. Apabila perlu, saksi dan korban harus
ditempatkan dalam suatu lokasi yang dirahasiakan dari siapa pun untuk menjamin agar saksi dan korban
aman;
b. ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk perlindungan dan dukungan keamanan;
c. memberikan keterangan tanpa tekanan;
d. mendapat penerjemah; Hak ini diberikan kepada saksi dan korban yang tidak lancar berbahasa Indonesia
untuk memperlancar persidangan;
e. bebas dari pertanyaan yang menjerat;
f. mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus. Sering kali saksi dan korban hanya berperan
dalam pemberian kesaksian di pengadilan, tetapi saksi dan korban tidak mengetahui perkembangan kasus
yang bersangkutan. Oleh karena itu, sudah seharusnya informasi mengenai perkembangan kasus
diberikan kepada saksi dan korban;
g. mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan; Informasi ini penting untuk diketahui saksi dan
korban sebagai tanda penghargaan atas kesediaan saksi dan korban dalam proses peradilan tersebut;
h. mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan; Ketakutan saksi dan korban akan adanya balas dendam dari
terdakwa cukup beralasan dan ia berhak diberi tahu apabila seorang terpidana yang dihukum penjara akan
dibebaskan;
i. mendapat identitas baru; Dalam berbagai kasus, terutama yang menyangkut kejahatan terorganisasi, saksi
dan korban dapat terancam walaupun terdakwa sudah dihukum. Dalam kasus-kasus tertentu, saksi dan
korban dapat diberi identitas baru;
j. mendapatkan tempat kediaman baru (tempat tertentu yang bersifat sementara dan dianggap aman);
Apabila keamanan saksi dan korban sudah sangat mengkhawatirkan, pemberian tempat baru pada saksi
dan korban harus dipertimbangkan agar saksi dan korban dapat meneruskan kehidupannya tanpa
ketakutan;
k. memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan; Saksi dan korban yang tidak
mampu membiayai dirinya untuk mendatangi lokasi, perlu mendapat bantuan biaya dan negara;

l. mendapat nasihat hukum (nasihat hukum yang dibutuhkan oleh saksi dan korban apabila diperlukan);
dan/atau
m. memperoleh bantuan biaya hidup sementara (biaya hidup yang sesuai dengan situasi yang dihadapi pada
waktu itu, misalnya biaya untuk makan sehari-hari) sampai batas waktu perlindungan berakhir (Pasal 5,
UU NO. 13/2006).
Ketiga belas hak yang disebutkan di atas, diberikan kepada saksi dan korban tindak pidana dalam kasuskasus tertentu, misalnya tindak pidana korupsi, tindak pidana narkotika/psikotropika, tindak pidana
terorisme, dan tindak pidana lain yang mengakibatkan posisi saksi dan korban dihadapkan pada situasi yang
sangat membahayakan jiwanya. Di samping hak-hak di atas, saksi, korban, dan pelapor yang memberikan
keterangan dengan itikad baik tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas laporan,
kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya. Namun, seorang saksi yang juga tersangka dalam
kasus yang sama tidak dapat dibebaskan dan tuntutan pidana apabila ia ternyata terbukti secara sah dan
meyakinkan bersalah, tetapi kesaksiannya dapat dijadikan pertimbangan hakim dalam meringankan pidana
yang akan dijatuhkan (Pasal 10, UU No. 13/2006).
Dalam hal memberikan kesaksiannya, saksi danlatau korban yang merasa dirinya berada dalam ancaman
yang menyebabkannya tidak dapat memberikan kesaksian (ancaman yang sangat besar), atas persetujuan
hakim dapat memberikan kesaksian tanpa hadir langsung di pengadilan tempat perkara tersebut sedang
diperiksa. Di mana kesaksian yang bersangkutan dapat diberikan (1) secara tertulis yang disampaikan di
hadapan pejabat yang berwenang (penyidik) dan membubuhkan tanda tangannya pada berita acara yang
memuat tentang kesaksian tersebut, dan (2) dapat pula didengar kesaksiannya secara langsung melalui sarana
elektronik dengan didampingi oleh pejabat yang berwenang (Pasal 9, UU No. 13/2006).
6. Syarat dan Tata Cara Pemberian Perlindungan Saksi
Perjanjian perlindungan LPSK terhadap saksi dan/atau korban tindak pidana diberikan dengan
mempertimbangkan syarat sebagai berikut.
a. Sifat pentingnya keterangan saksi danlatau korban.
b. Tingkat ancaman yang membahayakan saksi dan/atau korban.
c. Hasil analisis tim medis atau psikolog terhadap saksi dan/atau korban.
d. Rekam jejak kejahatan yang pernah dilakukan oleh saksi dan/atau korban (Pasal 28, UU No. 13/2006).
Tata cara memperoleh perlindungan terhadap saksi dan/atau korban adalah sebagai berikut.
a. Saksi dan/atau korban yang bersangkutan, baik atas inisiatif sendiri maupun atas permintaan pejabat yang
berwenang, mengajukan permohonan secara tertulis kepada LPSK.
b. LPSK segera melakukan pemeriksaan terhadap permohonan dan saksi dan/atau korban.
c. Keputusan LPSK diberikan secara tertulis paling lambat 7 hari sejak permohonan perlindungan diajukan
(Pasal 29 UU No. 13/2006).
Dalam hal LPSK menerima permohonan saksi dan/atau korban, saksi dan/atau korban menandatangani
pernyataan kesediaan mengikuti syarat dan ketentuan perlindungan saksi dan korban, yaitu:
a. kesediaan saksi dan/atau korban untuk memberikan kesaksian dalam proses peradilan;
b. kesediaan saksi dan/atau korban untuk menaati aturan yang berkenaan dengan keselamatannya;

c. kesediaan saksi dan/atau korban untuk tidak berhubungan dengan cara apa pun dengan orang lain selain
atas persetujuan LPSK, selama ia berada dalam perlindungan LPSK;
d. kewajiban saksi dan/atau korban untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun mengenai keberadaannya
di bawah perlindungan LPSK; dan
e. hal-hal lain yang dianggap perlu oleh LPSK (Pasal 30, UU No. 13/2006).
7. Penghentian Perlindungan Keamanan Saksi dan/atau Korban
Perlindungan atas keamanan saksi dan/atau korban hanya dapat dihentikan (harus secara tertulis) berdasarkan
alasan:
a. saksi dan/atau korban meminta agar perlindungan terhadapnya dihentikan dalam hal permohonan
diajukan atas inisiatif sendiri;
b. atas permintaan pejabat yang berwenang dalam hal permintaan perlindungan terhadap saksi dan/atau
korban berdasarkan atas permintaan pejabat yang bersangkutan;
c. saksi dan/atau korban melanggar ketentuan sebagaimana tertulis dalam perjanjian;
d. LPSK berpendapat bahwa saksi dan/atau korban tidak lagi memerlukan perlindungan berdasarkan buktibukti yang meyakinkan (Pasal 32, UU No. 13/2006).
8. Catatan terhadap UU Perlindungan Saksi dan Korban
Menurut Agung Hendarto (2006), masih banyaknya kelemahan yang dapat ditemukan di dalam UU
perlindungan saksi dan korban (UU No. 13/2006). Kelemahan tersebut, pertama, konsep dasar penyusunan
UU yang lemah. Hal itu dapat dilihat dan isi bab dan pasal yang kurang dapat menjelaskan agenda besar
perlunya UU Perlindungan Saksi. Di mana tujuan dan undang-undang hanya sebatas melindungi saksi
dengan memberikan rasa aman saat saksi dan korban memberikan keterangan di peradilan pidana. Apabila
hal itu yang hendak dicapai, lebih baik mendorong kepolisian atau kejaksaan untuk meningkatkan kinerjanya
karena tugas seperti di atas adalah tugas lembaga tersebut.
Suatu materi atau persoalan tertentu yang diatur dalam suatu peraturan perundang-undangan mengidentifikasi
masalah tertentu. Dalam hal ini, masalah yang dihadapi adalah efektivitas dalam penegakan hukum, terutama
dalam hal penyelesaian kasus pelanggaran hak asasi manusia berat dan penyelesaian kasus korupsi.
Hambatan utama dalam penyelesaian kasusk asus tersebut adalah minimnya partisipasi masyarakat untuk
berperan sebagai pelapor dan saksi. Oleh karena itu, seharusnya tujuan keberadaan UU Perlindungan Saksi
bukan sebatas untuk melindungi saksi, melainkan lebih untuk meningkatkan efektivitas dalam penegakan
hukum, terutama penyelesaian kasus pelanggaran HAM dan kasus korupsi.
Kedua, tidak berperspektif pemberantasan korupsi. Melihat modus korupsi yang tersistematis dengan baik,
disertai adanya keterlibatan para pejabat negara ataupun orang-orang yang cukup berpengaruh, ketakutan
para saksi atau pelapor adanya indikasi korupsi perlu dihilangkan dengan kepastian hukum dan pemenuhan
akan rasa keadilan yang hendak dicapainya. Dalam hal in UU Perlindungan Saksi jelas diperlukan untuk
memberikan jaminan dan kepastian hukum bagi para saksi yang memiliki keberanian untuk mengungkapkan
kasus korupsi. Undang-undang ini nantinya diharapkan mampu memotivasi orang yang mengetahui
terjadinya tindak pidana korupsi untuk berani menguak kebenaran yang selama ini sengaja ditutupi oleh
konspirasi dan para koruptor.
Namun, dalam UU No. 13/2006, perspektif tersebut tidak ditemukan. Hal itu dapat terlihat dengan tidak
dimasukkannya UU Anti korupsi dalam pertimbangannya, padahal saksi kasus korupsi termasuk yang harus
dilindungi.

Ketiga, terdapat kerancuan dalam menempatkan hak-hak saksi dan perlakuan terhadap saksi. Seharusnya
hak-hak saksi dan perlindungan saksi dipisahkan demi kepastian hukumnya. Konsekuensi dari kerancuan
tersebut, hak-hak saksi menjadi sangat umum dan tidak mempertimbangkan cakupan saksi yang harus
mendapatkan perlindungan atau perlakuan khusus. Banyaknya jenis saksi seharusnya menuntut pemisahan
hak-hak dan perlakuannya. Sedangkan menyangkut perlindungan saksi, UU Perlindungan Saksi tidak secara
terperinci mendefinisikan jenis dan bentuk perlindungan, walaupun tata cara perlindungan sudah sedikit
banyak disinggung.
Di sisi lain, UU Perlindungan Saksi dan Korban cenderung menyamakan hak-hak dan perlakuan saksi dan
korban. Dalam kasus pelanggaran HAM, hal itu dimungkinkan mengingat posisi saksi yang hampir pasti
sebagai korban. Akan tetapi, dalam kasus korupsi, hampir bisa dipastikan tidak ada korban, atau korbannya
adalah negara. Selain itu, perlakuan terhadap korban pasca putusan pengadilan, terutama korban pelanggaran
HAM berat, belum diperhatikan.
Keempat, belum ada ketentuan tentang peran serta masyarakat dan penghargaan terhadap orang yang
membenikan kesaksian atau melaporkan tindak pidana. Untuk mengungkap kasus tindak pidana, terutama
pelanggaran HAM dan korupsi, peran serta masyarakat sangat menentukan. Beberapa kasus pelanggaran
HAM dapat terungkap karena adanya kesaksian dan korban, tapi masih lebih banyak yang tidak terungkap
karena korban tidak mau bersaksi mengingat besarnya risiko yang harus dihadapi. Sedangkan dalam kasus
korupsi, peran whistleblower sangat menentukan. Kasus korupsi di tubuh Komisi Pemilihan Umum dapat
terungkap tidak lain karena peran wishstleblower.
Mengingat besarnya risiko yang harus dihadapi oleh masyarakat dalam berperan melaporkan atau menjadi
saksi tindak pidana, sudah sewajarnya apabila mereka diberi penghargaan sesuai dengan perannya. Selain itu,
memasukkan unsur penghargaan bagi peran serta masyarakat penting dilakukan untuk meningkatkan
partisipasi masyarakat dalam melaporkan tindak pidana.
Contoh Negara Amerika Serikat (AS) memiliki aturan yang menarik soal perlindungan saksi pelapor kasus
tindak KKN. Pemerintah AS tidak hanya menjamin keamanan saksi pelapor kasus KKN. Mereka juga
menyediakan hadiah cukup besar bagi pelapor sebuah tindak kejahatan KKN, yang terbukti merugikan
negara. Kasus KKN itu termasuk tindakan penggelapan pajak penghasilan yang dilakukan baik oleh pribadi
maupun pejabat perusahaan, terlebih pejabat negara. Yang lebih menarik, pihak yang berambisi memburu
para saksi pelapor ini adalah pengacara profesional. Tentu saja para pengacara ini tidak berniat untuk
mengancam keselamatan saksi pelapor. Melainkan berupaya merayu untuk diangkat sebagai penasihat
hukum si saksi pelapor. Sebab mereka akan mendapatkan hadiah cukup besar dan upayanya itu, yaitu
berupa komisi atas keberhasilannya dalam membuktikan tindak kejahatan KKN sebagaimana dilaporkan
saksi. Makanya, jangan heran bila para advokad AS sangat getol memburu kasus-kasus KKN di sana.
Dampaknya, negeri itu dikenal rendah tingkat korupsinya (Harkristuti dalam Agus Joehari, 2006).
Kelima, pembentukan lembaga yang tidak realistis, yaitu akan dibentuk lembaga perlindungan saksi yang
bersifat independen, bukan memanfaatkan lembaga-lembaga yang sudah ada (kepolisian, kejaksaan, atau
Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia) yang memang diamanatkan oleh undangu ndang. Selain itu,
lembaga ini akan dibentuk sekurang-kurangnya di setiap ibu kota provinsi.
Dari pengalaman beberapa negara, terdapat hal penting yang perlu dipertimbangkan dalam pembentukan
lembaga perlindungan saksi, yaitu pengelolaan, pendanaan, dan kerahasiaan. Itu artinya, kalau lembaga
seperti yang dimaksud di dalam UU No. 13/2006 yang akan direalisasi, apabila menggunakan tiga ukuran di
atas, sungguh tidak realistis.
Di dalam UU No. 13/2006, ketentuan mengenai anggota lembaga perlindungan saksi terdin atas banyak
unsur; Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, kepolisian, kejaksaan, Departemen Hukum dan Hak Asasi
Manusia, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat. Sedangkan bentuk organisasinya cenderung seperti
komisi. Konsekuensi dan bentuk organisasi dan keanggotaan seperti itu akan melahirkan resistensi dan
ancaman keamanan terhadap saksi. Padahal lembaga perlindungan saksi seharusnya merupakan organisasi

yang profesional dan sangat eksklusif, mengingat tugas dan tanggung jawabnya yang begitu besar dan
bersifat rahasia.
B. PEMBERLAKUAN PERATURAN DALAM PENGENDALIAN ETIKA
Masyarakat sungguh sangat mendambakan adanya keadilan dalam penerapan hukum di masyarakat.
Sebaliknya, Pemerintah dengan aparat pelaksananya mengaku telah bekerja keras dalam membuat peraturan
perundang-undangan dan penerapannya. Pada setiap kampanye Pemilu, semua kontestan pemilu dari partaipartai politik selalu mengangkat program hukum kepada pendukungnya dengan janji-janji untuk menerapkan
hukum yang seadil-adilnya jika partainya menang. Namun, kenyataan yang ada, pada setiap selesai pemilu
para pendukung dan masyarakat pada umumnya selalu merasa kecewa dengan semakin bertambahnya kasuskasus pelanggaran KKN di masyarakat. Masyarakat semakin kecewa lagi dengan penerapan hukum yang
dinilai olehnya.
Akhir-akhir ini proses penegakan hukum sebagai suatu wacana dalam masyarakat kembali menjadi topik
yang sangat hangat dibicarakan. Berbagai komentar dan pendapat baik yang berbentuk pandangan ataupun
penilaian dan berbagai kalangan masyarakat selalu menghiasi media massa yang ada di negeri in Beberapa
hal yang selalu menjadi topik utama sehubungan dengan proses penegakan hukum tersebut adalah masalah
tidak memuaskan atau bahkan bisa dikatakan buruknya kinerja sistem dan pelayanan peradilan yang
dilakukan oleh aparat penegak hukum (Suara Pembaharuan, 31 Maret 2002), yang disebabkan oleh karena
kurangnya pengetahuan dan kemampuan, atau bahkan kurangnya ketulusan dari mereka yang terlibat dalam
sistem peradilan, baik hakim, pengacara, maupun masyarakat pencari keadilan, selain tentunya disebabkan
karena adanya korupsi, kolusi dan nepotisme dalam proses beracara di lembaga peradilan.
Semua hal tersebut akhirnya melahirkan pesimisme masyarakat untuk tetap menyelesaikan sengketa melalui
lembaga peradilan sehingga yang terjadi adalah main hakim sendiri (Suara Pembaharuan, 23 September
2001).
Sebagai suatu sistem, kinerja peradilan sekarang ini berada pada titik nadir yang sangat ekstrem. Berbagai
keluhan baik dari masyarakat dan para pencari keadilan seolah-olah sudah tidak dapat lagi menjadi media
kontrol bagi lembaga tersebut untuk selanjutnya melakukan berbagai perbaikan yang signifikan bagi
terciptanya suatu sistem peradilan yang ideal dan sesuai dengan harapan masyarakat. Secara praktik, teori
peradilan yang mempunyai asas sederhana, cepat, dan biaya ringan terlihat sudah sangat sulit untuk
ditemukan dan diterapkan oleh lembaga dan aparat peradilan yang ada saat ini. Keadaan tersebut diperparah
oleh lemahnya manajemen perkara di pengadilan, yang salah satunya dapat dilihat dan permohonan kasasi
kasus praperadilan Ginandjar Kartasamita. Permohonan kasasi tersebut sempat tertunda selama lebih kurang
enam bulan karena berkas perkara yang ada di dalam disket milik panitera terkena virus sehingga
membutuhkan waktu enam bulan untuk mendapatkannya kembali (Kompas, 15 Januari 2002).
Oleh karena itu, pemberlakuan perundang-undangan, kode etik atau ketentuan-ketentuan untuk
meningkatkan kepekaan para penyelenggara negara terhadap hal-hal yang berkaitan dengan etika haruslah
sepadan dengan kemampuan pemerintah untuk berfungsi dengan tertib dan wajar. Hukum atau peraturan
meningkatkan kepekaan terhadap etika, tetapi mengabaikan dampaknya pada pola kerja pemerintahan hampir
selalu memberi hasil yang berlawanan dengan tujuannya. Oleh karena itu, pemberlakuan perundangu
ndangan atau peraturan tentang etika penyelenggara negara harus memperhatikan faktor-faktor yang dapat
menjadi penghambat penegakan peraturan/hukum tersebut.
Adapun faktor yang dapat menjadi penghambat dalam pemberlakuan peraturan etika penyelenggara negara,
antara lain (1) ketepatan bahasa suatu undang-undang atau peraturan etika, di mana kejelasan dan
pengetahuan tentang ketepatan bahasa suatu undang-undang atau peraturan bukanlah suatu hal yang dapat
disepelekan. Sebab hal tersebut dapat menyebabkan pemahaman yang berbeda-beda antara satu orang dengan
orang lainnya yang membaca peraturan yang bersangkutan, (2) keringkasan dan kemampuan perundangundangan dan peraturan etika untuk berdampingan dengan pekerjaan pemerintah. Di mana faktor ini
dimaksudkan untuk mendorong perilaku etis, (3) ketidakpastian hukum dalam penegakan etika; tidak adanya
kepastian hukum, ketidakjelasan aturan atau kebijakan etika yang saling bertentangan satu sama lain dapat

menjadi sumber ketidakpatuhan/penolakan penyelenggara negara pada peraturan yang bersangkutan.


Peraturan yang tidak jelas/tegas isinya, atau isinya bertentangan satu sama lain, bisa menimbulkan salah
pengertian sehingga penyelenggara negara cenderung tidak mau melaksanakan peraturan tersebut.
Untuk lebih lengkap dan jelas lagi, Mastra Liba (2002) mengemukakan 14 faktor penghambat atau kendala
yang dapat mempengaruhi kinerja penyelenggara penegakan hukum di Indonesia. Keempat belas faktor
tersebut berikut penjelasannya diketengahkan sebagai berikut.
Faktor pertama, Sistem ketatanegaraan yang menempatkan Jaksa Agung Sejajar Menteri. Dengan
keputusan Presiden, seorang Jaksa Agung diangkat sebagai Jaksa Agung setingkat dengan Menteri sehingga
dengan demikian, Jaksa Agung sebagai pembantu Presiden dalam kedudukan dan jabatan yang diemban
olehnya, merupakan pembantu Presiden yang setingkat dengan menteri. Hal ini akan mengikat baginya
dalam melaksanakan tugasnya untuk wajib setiap saat melaporkan kepada Presiden segala sesuatu yang telah
dilaksanakan khususnya dalam penanganan perkara-perkara penting. Selain itu wajib pula baginya untuk
menerima/melaksanakan semua perintah sesuai kebijakan Presiden. Mencoba untuk tidak melaksanakan,
apalagi membantah instruksi-instruksi sesuai jadwal waktu yang diberikan oleh Presiden, akan merupakan
bumerang karena yang bersangkutan itu dapat dipecat/diganti setiap saat. Jiwa seorang Jaksa Agung itu
sepenuhnya ada pada Presiden dengan hak prerogatifnya.
Tentu saja, Sang Presiden dalam menerima laporan-laporan dan pemberian perintah/instruksi kepada Jaksa
Agung, selalu disesuaikan dengan kepentingan yang melekat pada diri sang Presiden itu. Kepentingan
kepentingan itu dapat saja untuk mendukung kepentingan dinas kenegaraan yang menjadi tanggung
jawabnya selaku Presiden ataupun bahkan kepentingan yang ke luar dan perintah Presiden itu semata-mata
hanya untuk kepentingan pribadinya, kepentingan golongannya/organisasi pendukungnya.
Dalam sistem ketatanegaraan kita saat ini, seorang Jaksa Agung itu berada dalam koordinasi Menko
Poihukam sehingga rapat/pertemuan kenegaraan meliputi politik, sosial, dan keamanan wajib untuk
selamanya dihadiri. Hukum tidak mempunyai wadah tersendiri, dan merupakan bagian dari kemauan atau
mungkin juga merupakan bagian dari politik atau sosial dalam wadah Menko Polhukam. Hal ini rancu karena
hukum itu dapat ditafsir ke mana-mana sesuai kepentingan, hukum menjadi tidak tegas, hukum tidak menjadi
pegangan untuk semua pihak/golongan masyarakat. Menko Poihukam mempunyai hak untuk memberi
tafsiran hukum dan sekaligus petunjuk kepada Jaksa Agung sehingga tentu saja tafsiran dan petunjuk darinya
itu akan lebih banyak bernuansa Politik.
Dikaitkan dengan UUD 1945 dan perubahannya yang menetapkan hukum sebagai dasar negara, hal di atas
cukup tidak mendasar. Seyogianya hukumlah yang menjadi ujung tombak dalam berbagai penyelesaian,
hukum harus menjadi Panglima, dan hukum harus di atas dari masalah politik, sosial/keamanan.
Ada 2 kepentingan yang kadang-kadang merupakan beban dalam pelaksanaan tugas seorang Presiden kepada
Jaksa Agung, yaitu kepentingan dinas dan kepentingan pribadi atau golongan.
Kepentingan Dinas, dikaitkan dengan tugas-tugas kenegaraan, misalnya, agar Jaksa Agung tidak
menuntut/tidak memperkarakan tindakan kriminal yang dilakukan oleh oknum pejabat teras atau
wiraswastawan terpandang dari pemerintah atau dari suatu negara sahabat yang sedang dibutuhkan
bantuannya oleh negara. Jadi, titik beratnya adalah untuk kepentingan bangsa. Langkah Jaksa Agung dalam
hal ini selalu harus bertumpu pada kepentingan bangsa meskipun barang kali langkah itu disadari melanggar
hukum.
Kepentingan pribadi atau golongan, misalnya agar Penuntut Umum tidak menuntut/tak memperkarakan
kasus-kasus yang terkait dengan pribadi atau keluarga sang Presiden. Titik beratnya kepada kepentingan
pribadi bukan untuk negara. Presiden memerintahkan Jaksa Agung untuk segera membuat surat Penghentian
Penyidikan/SP3 dalam suatu kasus yang berkaitan dengan pribadi/golongan. Jaksa Agung sebagai pembantu
Presiden terkait pula untuk selalu melaksanakan meskipun kepada masyarakat luar kadang-kadang mungkin
membuat argumentasi lain atas pelaksanaan tugas itu.

Faktor kedua, Sistem Perundangan Belum Memadai. Pengertian belum memadai di sini dapat berarti belum
memadai dalam hal kualitas dan kuantitas, maksudnya, suatu peraturan perundang-undangan yang berhasil
dibuat oleh badan legislatif meskipun telah dirancang dan dipersiapkan begitu lama dengan dialog-dialog
yang menurutnya sudah memadai karena sudah melewati beberapa kali seminar di masyarakat. Namun,
dalam penerapan undang-undang tersebut, temyata masih didapatkan berbagai macam kendala dan segi
penerapan hukum. Kendala dan kekosongan hukum serta penafsiran yang menimbulkan silang pendapat
semacam ini sering kali didapati oleh aparat penegak hukum di lapangan sehingga sangat mempengaruhi
upaya-upaya penegakan hukum, khususnya terhadap perkarap erkara penting yang menarik perhatian
masyarakat. Tidak sedikit perkara yang harus kandas di tengah jalan hanya karena kualitas perundangundangan yang menimbulkan berbagai penafsiran, serta terkesan tidak tegas sebagai instrumen penegak
hukum. Untuk lebih memahaminya, manilah kita simak contoh-contoh kasus berikut.
Contoh pertama: Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi dibuat oleh Badan
Legislatif sebagai Undang-undang Pengganti UU No. 3 Tahun 1971 yang dinilai tidak memadai lagi untuk
memberantas terjadinya tindak pidana korupsi di Indonesia. Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tersebut saat
dibuat tidak dilengkapi dengan peraturan peralihan sebagaimana lazimnya setiap undang-undang. Hanya
dikatakan bahwa undang-undang ini mulai berlaku tanggal 31 Agustus 2000, dan pada saat berlakunya
undang-undang tersebut maka undang-undang sebelumnya (UU No. 3 Tahun 1971) dinyatakan tidak berlaku
lagi.
Hal inilah yang membuat berbagai perdebatan dan pertentangan dalam penerapan hukumnya di masyarakat.
Oleh karena timbul pendapat bahwa terhadap kasus-kasus tindak pidana korupsi yang terjadi sebelum
berlakunya Undang-undang No. 31 Tahun 1999 tidak dapat ditangani oleh aparat penegak hukum. Hal
semacam ini jelas sangat mempengaruhi kinerja penegak hukum secara baik di masyarakat. Karena dengan
pandangan/pendapat hukum semacam itu akan berarti sama saja dengan membiarkan perkara-perkara KKN
tanpa dapat disentuh oleh aturan-aturan penegakan hukum.
Contoh kedua: Keppres tertanggal 2 Juni 2001 dari Presiden Abdurahman Wahid, masing-masing Keppres
No. 40 tentang penonaktifan Kapoini Jenderal Bimantoro dan Keppres No. 41 tentang Pengangkatan
Komisaris Jenderal Chaeruddin Ismail sebagai Wakil Kapolri untuk melaksanakan tugas-tugas Kapolri.
Tindakan Presiden Wahid ini segera menimbulkan reaksi negatif, bahkan kecaman dan berbagai kalangan,
khususnya DPR dan jajaran Poini sendiri. Keppres No. 40/2001 dinilai bertentangan dengan isi dan jiwa Tap
MPR No. VIIIMPR/2001 yang mengharuskan Presiden mendapat persetujuan terlebih dahulu dan DPR
dalam mengangkat dan memberhentikan Panglima TNI dan Kapolri. Namun, Presiden berkelit bahwa UU
Pelaksana TAP MPR ini sebagaimana diatur dalam Pasal 11 belum ada sehingga TAP MPR No.
VILIMPR/2001 belum bisa dilaksanakan.
Pihak DPR berpegang pada bunyi Pasal 12 TAP MPR tersebut yang menyatakan TAP MPR No.
VII/MPR/2001 berlaku sejak tanggal ditetapkan. Dengan demikian, penonaktifan Bimantoro sebagai Kapolri
dinyatakan cacat hukum. Konsekuensinya, DPR tetap mengakui Jenderal Bimantoro sebagai Kapolri.
Dalam hal kuantitas, erat kaitannya dengan perkembangan masyarakat yang sangat cepat, terutama sekali
dengan pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang tentu saja akan sangat
mempengaruhi dalam hal kebutuhan aturan-aturan hukum sebagai alat penunjang ke arah ketertiban
masyarakat tadi. Masalah-masalah baru dalam masyarakat dari hari ke hari semakin banyak bermunculan
sehingga nampak beberapa permasalahan belum terjamah oleh aturan-aturan hukum yang mampu menyertai
dengan cepat kemajuan-kemajuan yang timbul dalam masyarakat dengan cepatnya sehingga dengan
demikian, tidak mustahil timbul kekosongan aturan-aturan hukum yang dibuat jauh sebelumnya. Misalnya,
pada zaman penjajahan Hindia Belanda dulu sudah tidak dapat menjangkau permasalahan-permasalahan
yang ada saat sekarang ini sehingga menyebabkan terjadinya kekosongan hukum. Kekosongan hukum
merupakan kendala/beban penegakan hukum dalam masyarakat sehingga diperlukan pemikiran-pemikiran
baru untuk membuat atau menciptakan aturan-aturan hukum baru untuk menangani masalah tadi. Jadi, secara
kuantitas, diperlukan aturan-aturan hukum baru yang memang belum pernah ada sejalan dengan kemajuan
dalam masyarakat.

Faktor ketiga, Faktor SDM. Sumber Daya Manusia yang tersedia pada tiap-tiap unit kerja yang ada satu
dengan yang lainnya memang berbeda. Ada manusia yang cepat sekali menangkap dan melaksanakan dengan
baik apa yang telah diprogramkan oleh Pimpinan Unit. Ada pula manusia dalam suatu unit kerja yang sama
sekali tidak mampu memahami instruksilperintah atasannya. Terhadap yang kedua ini, yakni mereka yang
tidak mampu melaksanakanlmenjabarkan perintah Pimpinan jelas akan merupakan kendala besar bagi unit
kerja. Demikian dalam hal usaha penegakan hukum oleh Kejaksaan, Kepolisian, Mahkamah Agung bilamana
SDM yang ada dalam unit-unit itu sudah terampil dan terdidik secara profesional serta telah menghayati betul
tugas-tugasnya maka tentu saja unit kerja tadi akan dapat mencapai kesuksesan dalam pelaksanaan tugastugasnya.
Sebaliknya, manusia-manusia yang ada dalam unit kerja tadi tingkat pengetahuannya sangat rendah sehingga
tidak mampu menghayati beban tugas yang diberikan kepadanya oleh Pimpinan Unit, maka ini akan
merupakan kendala besar bagi unit tersebut. Dan jika hal semacam ini terjadi pada unit-unit kerja aparat
penegak hukum (Kejaksaan, Kepolisian, Mahkamah Agung) maka akan menipakan kendala dalam upaya
penegakan hukum. SDM yang dibutuhkan bagi aparat penegak hukum baik di Kepolisian, Kejaksaan dan
Mahkamah Agung adalah SDM yang sudah terampil secara profesional dalam bidang penegakan hukum.
Penguasaan teoretis di bidang hukum dan teknik di lapangan harus dua-duanya dimiliki. Bagi seorang Jaksa
Agung, misalnya di samping pengetahuan hukum yang luas, haruslah pula mempunyai pengalaman segudang
menyangkut tugas utama seorang Jaksa di bidang penyidikan, penuntutan dan eksekusi.
Tiga tugas utama Jaksa tersebut tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya, dan pengetahuan tersebut hanya
mampu didapatkan dalam pelaksanaan tugas di lapangan oleh jaksa-jaksa karier di berbagai tempat
persidangan. Kegagalan mengeksekusi perkara korupsi Tommy Soeharto dan kegagalan menuntut beberapa
perkara penting yang dituntut masyarakat membuktikan ketidakmampuan seorang Jaksa Agung, seperti
Marzuki Darusman untuk bertindak secara profesional dalam bidang penuntutan dan eksekusi yang
merupakan tugas utama jaksa. Hal ini rupanya terjadi karena yang bersangkutan bukan berasal dan jaksa
karier tetapi dan kelompok organisasi politik.
Faktor keempat, Faktor Kepentingan yang Melekat pada Aparat Pelaksana. Kepentingan yang melekat pada
aparat pelaksana ini dapat dibagi atas untuk kepentingan pribadi; untuk kepentingan golongan; untuk
kepentingan politik kenegaraan.
a. Kepentingan Pribadi
Kata nurani dari seorang aparat penegak hukum sungguh sangat dibutuhkan dan didambakan oleh
masyarakat dalam hal penegakan hukum. Kata nurani seseorang itu tidak akan dapat dibohongi oleh karena
hal itu terucap dengan jujur dalam hati yang dalam dan seseorang dan hanya dapat diketahui isinya oleh
orang itu sendiri.
Kata hati itu tidak mungkin dibohongi dan hal ini baru dapat berubah lewat ucapan dan tingkah laku
seseorang jika ada sesuatu kepentingan yang ingin dicapai oleh orang itu. Kepentingan itu kita sebutkan saja
Kepentingan Pribadi sehingga dengan kepentingan pribadi ini mencoba/berusaha untuk mengalahkan apa
kata hati tadi dan orang itu. Di sinilah seseorang akan mengalami kebimbangan apalagi jika kepentingan
pribadi yang akan dicapai termasuk sesuatu yang dilarang atau haram baginya menurut agama yang
dianutnya. Pergolakan akan terjadi secara serius dalam jiwanya antara yang melakukan sesuatu atau tidak
melakukan sesuatu. Nah, dalam hal kata hati itu tadi dikalahkan maka yang menjadi dominan adalah
perbuatan untuk merealisir kepentingan pribadi tadi. Dan jika hal ini terjadi bagi aparat penegak hukum
dalam penanganan kasus perkara jelas akan merupakan hambatan besar dalam upaya penegakan hukum
untuk mencapai rasa keadilan yang didambakan oleh masyarakat.
b. Kepentingan Golongan
Kepentingan golongan ini sangat didominasi oleh kepentingan dari luar di mana seseorang itu hidup
berkelompok atau bermasyarakat. Kelompok masyarakat ini dapat berupa kelompok keluarga atau

paguyuban biasa yang sifatnya sosial dan kekeluargaan semata ataukah kelompok atas dasar agama/paham
yang sama atau dapat pula berupa kelompok karena adanya sesuatu kepentingan politik tertentu yang
merupakan kepentingan bersama.
Seseorang anggota kelompok tadi terikat dengan kepentingan kepentingan kelompok, dan terasa harus/wajib
baginya untuk memperjuangkan kepentingan kelompok itu. Dia sebagai pribadi yang hidup dalam kelompok
akan merasa ditekan terus untuk membela dan memperjuangkan kelompoknya. Nah, di sinilah akan
merupakan batu ujian yang berat jika seorang yang hidup dalam kelompok tadi secara kebetulan menangani
kasus perkara, terutama sekali jika tuntutan dan kelompok berseberangan dengan isi kata hati dan aparat
penegak hukum yang harus diambil sebagai sikap keputusan dalam suatu perkara.
c. Kepentingan Politik Kenegaraan
Kepentingan yang tergambar di sini adalah kepentingan politik kenegaraan sehingga seluruh aparat negara
yang ada mulai dari aparat paling bawah di desa-desa sampai kepada pejabat tinggi negara, yaitu Presiden,
Ketua MPR, Ketua DPR dan seterusnya terpusat pemikirannya ke arah kesatuan bangsa dan kesejahteraan
rakyatnya.
Seluruh aparat dan pejabat yang ada telah diikat dengan suatu janji dan sumpah setia untuk selalu berjuang
membela kepentingan negaranya, kepentingan negara di atas kepentingan segala-galanya. Nah, di sinilah
letak beban berat lagi bagi seorang aparat penegak hukum khususnya bagi Kejaksaan sebagai Penuntut
Umum tertinggi dalam suatu Negara Kesatuan. Sebagai aparat penegak hukum wajib baginya untuk
membuat suatu keputusan sesuai kata hatinya demi tegaknya hukum secara murni tanpa pengaruh dan
intimidasi dan pihak mana pun juga. Namun demikian, dia dituntut karena sumpah dan janjinya untuk
memperjuangkan kepentingan negara dan bangsanya. Perasaan keadilan yang tumbuh dalam hati kecil dan
seorang aparat penegak hukum tidak selamanya sama dengan tuntutan keadilan yang dituntut/diharapkan
oleh negara dan bangsa.
Faktor kelima, Corpsgeist dalam Intitusi. Corpsgeist yang tumbuh dan sengaja dipupuk secara terusmenerus dalam suatu kelompok dan institusi kenegaraan memang diakui sangat penting dipertahankan untuk
tetap merapatkan dan mempersatukan anggota kelompok yang ada sehingga dengan demikian akan tumbuh
rasa kebersamaan dan rasa senasib/ sepenanggungan bagi semua anggota dalam kelompok/institusi itu.
Terjalinnya kerja sama yang akrab dan komunikasi yang baik antar sesama anggota kelompok akan membuat
rasa kenyamanan bekerja yang pada akhirnya akan membuat kesuksesan/keharuman nama bagi
kelompok/institusi itu. Hal mana berarti pula bahwa kelompok/institusi tersebut telah berhasil dengan baik
membina anggotanya dan mengharumkan nama korpsnya dengan corpsgeist yang tinggi.
Corspsgeist yang tinggi dalam suatu kelompok/institusi kenegaraan sesuai pengalaman para penegak hukum
di lapangan tidaklah selamanya membuahkan hasil yang baik, bahkan terkadang merupakan sesuatu
kendala/hambatan dalam usaha pencapaian tujuan khususnya upaya penegakan hukum.
Tujuan penegakan hukum secara baik yang dapat menyentuh rasa keadilan di masyarakat, justru kadangkadang terabaikan dan tidak dapat dicapai karena pengaruh corspsgeist yang terlalu tinggi dalam suatu
institusi kenegaraan. Pandangan yang kedua ini yang merupakan pengalaman para penegak hukum di
lapangan sangat kontradiktif dengan pandangan pertama yang telah melekat secara teoretis bahwa
pembinaan corspsgeist yang tinggi dalam suatu kelompok/institusi akan selalu menghasilkan hal yang positif.
Dalam upaya penegakan hukum oleh aparat Kepolisian, Kejaksaan, dan Pihak Pengadilan terutama dengan
lahirnya UU No. 8 Tahun 1981 tentang KUHAP terlihat banyak kasus perkara yang tidak dapat dituntaskan
secara yuridis di Pengadilan sesuai rasa keadilan masyarakat hanya karena tankm enanik dan saling
mempertahankan keutuhan korps masing-masing institusi penegak hukum itu. Penegakan hukum dan rasa
keadilan masyarakat justru terabaikan dengan bolak-baliknya berkas perkara dari penyidik Kepolisian ke
Kejaksaan, apa lagi jika berkas perkara itu tidak sampai di sidang dengan tuntas.

Faktor keenam, Tekanan yang Kuat kepada Aparat Penegak Hukum. Penegakan hukum yang murni dalam
penanganan sesuatu perkara hanya dapat terjadi jika para aparat penegak hukum itu diberi kebebasan seluasluasnya untuk menentukan pilihan sesuai kata hatinya dengan menggunakan tata cara yunidis sesuai
prosesnya. Justru itulah salah satu teori kuno yang pernah berkembang dalam upaya penegakan hukum agar
aparat penegak hukum itu selalu jauh dan pergaulan kemasyarakatan untuk menghindani adanya pengaruh
lain yang bertentangan dengan etika penegakan hukum.
Ketua Mahkamah Agung Prof. Bagir Manan, S.H., saat baru dilantik Presiden dalam suatu wawancara beliau
lewat media massa menjelaskan rencana, kebijaksanaannya dalam upaya penegakan hukum oleh para Hakim,
menyatakan ada 3 macam tekanan yang dirasakan oleh para hakim selaku penegak hukum dalam penanganan
perkara selama ini khususnya dalam alam reformasi, yaitu tekanan terhadap aparat oleh gerakan massa
demonstran; tekanan karena surat sakti dan atas dan samping; tekanan karena suap berupa uang pelicin dari
pihak-pihak berperkara.
Faktor ketujuh, Faktor Budaya. Pakar hukum tata negara Prof. Dr. Jimly Ash-Shiddiqie, S.H., berpendapat,
dukungan sosial budaya masyarakat sangat diperlukan dan bahkan dapat menentukan keberhasilan
penegakan supremasi hukum melalui proses reformasi yang sedang dilaksanakan di tanah air saat ini.
Ketika tampil sebagai pembicara pada Musyawarah Besar (Mubes) VII Tenaga Pembangunan (TP) Snwijaya
di Jakarta, awal Juni 2001, Jimly mengatakan bahwa dukungan sosial budaya masyarakat merupakan faktor
penting yang tak boleh diabaikan dalam melaksanakan agenda reformasi di Indonesia.
Baik reformasi politik maupun ekonomi dan reformasi hukum menuju masyarakat madani, pada pokoknya
membutuhkan dukungan sosial budaya tersebut, katanya, sambil menjelaskan bahwa reformasi politik
arahnya menuju demokrasi yang sejati, sementara reformasi ekonomi menuju penguatan sistem ekonomi
pasar yang memberdayakan rakyat, dan reformasi hukum menuju supremasi hukum.
Ketiganya membutuhkan dukungan sosial budaya, ekonomi maupun bidang hukum. Reformasi politik,
ekonomi dan hukum memerlukan dukungan pembaruan dan transformasi budaya politik, budaya, ekonomi,
dan budaya hukum menuju cita-cita masyarakat madani. Khusus pelaksanaan agenda reformasi hukum
nasional, menurut Jimly, memerlukan dukungan pembaruan budaya hukum masyarakat sendiri. Pentingnya
peranan dan prinsip supremasi hukum di mata masyarakat, belumlah menjadi bagian kesadaran sehari-hari
saat ini.
Setiap kali timbul sengketa atau masalah dalam hubungan antarmanusia dalam masyarakat, selalu saja timbul
kecenderungan untuk menyelesaikannya sendiri tanpa harus direpotkan oleh tetek-bengek aturan yang
melibatkan lembaga-lembaga resmi, seperti kepolisian dan kejaksaan.
Mentalitas dan kebiasaan main hakim sendiri terus terjadi di mana saja di seluruh tanah air. Semua ini
menunjukkan masih lemahnya budaya beperkara dalam masyarakat kita. Sebagian di antara kasus seperti itu
disebabkan oleh tingkat kepercayaan masyarakat yang masih rendah kepada institusi hukum yang resmi.
Faktor kedelapan, Faktor Agama. Seperti halnya dengan faktor sosial budaya maka faktor agama ini pun
sangat besar pengaruhnya terhadap penegakan hukum di suatu masyarakat. Nilai-nilai ajaran agama yang
mengisi batin setiap insan dalam hidup bermasyarakat akan tercermin dalam hidup berkomunikasi
antarwarga masyarakat itu sendiri. Makin tinggi dan baik pula tingkat kesadaran beragama dan warga itu
maka akan semakin tinggi dan baik pula tingkat kesadaran warga itu kepada hukum Nasional yang ada. Tidak
jarang terjadi di pedesaan, misalnya yang jauh dan kehidupan kota di mana warganya hidup dalam suasana
agamais mereka itu pada umumnya tunduk dan taat pada aturan-aturan hukum nasional yang ada seperti
halnya mereka merasa berdosa jika melakukan pelanggaran terhadap kaidah-kaidah agama yang dianutnya.
Kaidah agama bagi mereka adalah merupakan barometer dan segalanya yang selalu harus ditaati sehingga
pelanggaran terhadap kaidah hukum nasional lebih-lebih yang erat persamaannya dengan kaidah agama,
misalnya larangan mencuri/korupsi, larangan membunuh orang lain, dan larangan menipu, baginya wajib
selalu ditaati seperti kaidah agama. Hal ini menandakan bahwa semakin tinggi kesadaran beragama dan suatu

masyarakat maka akan semakin baik dan tertib pula masyarakat itu. Aparat penegak hukum akan kurang
menghadapi kendala karena masyarakatnya masyarakat agamais.
Faktor kesembilan, Legislatif sebagai Lembaga Legislasi Perlu Secara Maksimal Mendorong dan
Memberi Contoh Teladan yang Baik dalam Penegakan Hukum. Sesuai ajaran Trias Politica, pembagian
kewenangan kenegaraan dibagi atas 3 bagian, yaitu legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Legislatif diberi tugas
untuk membuat peraturan/perundangan yang dapat berlaku umum untuk semua warga negara. Semua warga
negara sama kedudukannya di depan hukum dan terikat dengan aturan-aturan hukum yang telah dibuat oleh
badan legislatif.
Legislatif membuat aturan-aturan hukum tadi akan berarti juga bahwa legislatif harus
mendorong/memelopori secara maksimal diberlakukannya aturan-aturan hukum tersebut di masyarakat tanpa
kecuali karena sesuai ketentuan hukum yang ada semua Warga negara mempunyai kedudukan yang sama di
depan hukum .
Secara logika, mereka yang membuat aturan hukum tersebut harus pula baginya lebih banyak menghayati
dan mendorong ditaatinya aturan hukum tadi, bukan justru sebaliknya. UU No. 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang bersih dan bebas dari KKN mengamanatkan perlu dilaksanakan pemeriksaan
atas harta kekayaan Penyelenggara Negara oleh Lembaga Independen yang dibentuk oleh Presiden selaku
Kepala Negara; undang-undang ini dibuat oleh badan legislatif dan berlaku umum sehingga perlu
didorong/dipelopori pelaksanaannya. Semua anggota badan legislatif harus memelopori pelaporan harta
kekayaannya kepada Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN), kemudian baru
mendorong pula pejabat-pejabat lainnya.
Harus dihindari adanya oknum anggota DPR yang tidak mau mengisi formulir laporan kekayaan
penyelenggara negara termasuk anggota DPR untuk disampaikan ke KPKPN dengan berbagai argumentasi.
Undangu ndang tersebut jelas berlaku umum dan semua pejabat negara diwajibkan mengisi formulir untuk
disampaikan kepada KPKPN dengan Kepres No. 127 Tahun 1999 telah dibentuk KPKPN dan Sekjen
KPKPN dengan 4 Sub Komisi yaitu Sub Komisi Legislatif, Sub Komisi Eksekutif, Sub Komisi
Yudikatif dan Sub Komisi Badan Usaha Milik Negara/Milik Daerah.
Faktor kesepuluh, Kemauan Politik Pemerintah. Dunia Intemasional melalui berbagai pengamatan pakar
dan pemberitaan media massa menyebutkan bahwa korupsi di Indonesia termasuk peringkat yang paling
tinggi di dunia. Dr. Jeifry Winters (Indonesia Selayang Pandang, 15 Juni 1999) mengatakan bahwa Indonesia
telah menjadi juara dunia dalam hal korupsi. Demikian pula Pelopor Khusus PBB Dato Param
Comaraswarny menyimpulkan bahwa Korupsi di Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia yang
mungkin hanya bisa disamai Meksiko (Harian Kompas Hal 4 tanggal 30 Juli 2002).
Kemauan politik dan pemerintah Indonesia untuk memberantas korupsi itu memang sudah nampak, misalnya
aparat pengawas sudah berlapis-lapis diciptakan yaitu Badan Pemeriksa Keuangan, Badan Pengawas dan
Pembangunan, Inspektorat Jenderal Departemen; Itwilprop, Itwilkab/Kot, Satuan Pengawas Intern,
Ombudsman Nasional, BPPN/BI, Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Komisi Pemeriksa
Kekayaan Penyelenggara Negara. Bahkan jauh sebelumnya oleh Pemerintah RI telah
memelopori pemberantasan itu dengan keluarnya sejumlah Keppres dan Peraturan Pemerintah, yaitu Kepres
228/1967 diketu ai Jaksa Agung Sugiarto, Kepres 12/1970 diketuai Wilopo, I.J. Kasimo, Anwar
Cokroaminoto, Komisi Anti Korupsi Angkatan 66 oleh Akbar Tanjung, Thoby Mutis, Anwar
Jababan, Inpres 9/1977 Operasi Pemerintah oleh Menpen, Pangkokamtib, MA, Menkeh, Kapoini, UU 31
Tahun 1999 pembentukan Tim Gabungan Anti Korupsi di ketuai Adi Andoyo Sitjipto dengan anggota Jaksa
dan masyarakat. Berbagai peraturan perundang-undangan telah dikeluarkan untuk menyeret koruptor dan
mendukung kemauan politik pemerintah tersebut, namun sampai saat ini bahkan terlihat oleh masyarakat
pelaku korupsi semakin berani dan bertambah. Kemauan politik pemerintah semakin diuji terutama di dalam
reformasi dengan pertumbuhan demokrasinya yang masih mencari bentuk, dan penegakan hukumnya
masih di persimpangan jalan.

Ada 3 pilar utama yang perlu mendapatkan perhatian pemerintah dalam upaya pemberantasan KKN, yaitu:
a. rekrutmen personil untuk mendapatkan sumber daya manusia dengan kualitas moral dan profesional yang
diharapkan, dan hal ini hendaknya merupakan modal awal yang perlu pembenahan (clean government);
b. pemberdayaan personil di atas secara baik dan berkesinambungan untuk mendorong kinerja seefisien
mungkin, untuk itu perlu ditetapkan sekumpulan hukum/aturan-aturan yang wajib dipatuhi semua pihak
tanpa pengecualian (good corporate government);
c. langkah preventif terhadap semua sumber/lubang-lubang terjadinya tindak pidana KKN utamanya yang
ada di lingkungan pemerintahan kemudian yang ada di masyarakat. Selama ini pemerintah memfokuskan
pemberantasan KKN dengan langkah represif dan nyaris mengalami kegagalan karena peluang-peluang
terjadinya KKN kurang mendapatkan perhatian menyebabkan kasus KKN bertambah terus karena yang
lama belum diselesaikan muncul kasus-kasus baru dengan lubang-lubang atau motif-motif yang baru
pula.
Faktor kesebelas, Faktor Kepemimpinan. Faktor kepemimpinan dalam suatu organisasi sangat menentukan.
Berhasil tidaknya suatu organisasi sangat erat kaitannya dengan kepemimpinan dalam organisasi itu.
Fungsi-fungsi manajemen meliputi planning, organizing, actualizing dan controlling haruslah mampu dapat
dijabarkan oleh pimpinan, jika tidak mau mengalami hambatan/kendala dalam organisasi yang dipimpinnya.
Demikian pula kepemimpinan yang ada pada tiap struktur Pemerintahan yang menangani masalah penegakan
hukum ini, yaitu Kejaksaan, Kepolisian, Mahkamah Agung maka fungsi manajemen harus mampu
terjabarkan.
Kejaksaan Agung, misalnya sebagai salah satu institusi penegak hukum yang diberi tugas utama selaku
Penuntut Umum dalam negara R.I. haruslah mampu melaksanakan tugasnya dan menjadi penuntut umum
yang selalu menyuarakan kepentingan umum dalam bidang hukum. Tugas selaku penuntut umum ini
dalam bidang peradilan sangat strategis dan sangat menentukan, oleh karena seorang penunrut umum di
depan pengadilan diuji kemampuannya untuk mempertahankan semua masalah/tindakan hukum yang telah
dilakukan oleh aparat penegak hukum sejak penanganan awal suatu perkara. Sayangnya, tanggung jawab
dalam penanganan suatu kasus perkara itu dikotak-kotakkan sehingga terjadilah pembagian tugas yang
berakibat pembagian tanggung jawab aparat dan cukup memusingkan korban pencari keadilan. Jaksa
Penuntut Umum yang dituntut harus mampu mempertanggungjawabkan semua masalah yuridis yang timbul
di persidangan akibat penanganan suatu kasus perkara maka seyogianya kepadanya diben pula wewenang
penuh untuk mengoordinir penyidikan perkara-perkara yang ditangani aparat penyidik. Tugas penyidikan dan
tugas penuntutan tidak bisa dipisahkan atau dikotak-kotakkan.
Penunjukan Jaksa Agung seyogianya pula selalu diambil dari Jaksa karier yang telah tahu betul seluk-beluk
kepemimpinan dalam tubuh kejaksaan, dan jangan terulang lagi penunjukan terhadap seseorang politikus
untuk menjadi Jaksa Agung karena jelas kepentingan umum sesuai rasa keadilan masyarakat tidak akan
menjadi titik perhatian.
Sebagai penuntut umum tertinggi dalam negara RI, Kejaksaan Agung dalam menangani kasus-kasus KKN
yang menjadi tuntutan masyarakat perlu menciptakan langkah-langkah kepemimpinan sebagai berikut.
a. Langkah-langkah ke arah kekompakan Korps, kebersamaan dan keterbukaan, serta pemanfaatan secara
maksimal semua personil yang ada khususnya tenaga Jaksa perlu segera dilaksanakan di semua
tingkat/unit. Perlu secepatnya meninggalkan pikiran/cara lama yang ada, yaitu bahwa perkara Pidsus
hanya boleh ditangani oleh jaksa-jaksa di pidsus, perkara Pidum hanya oleh Jaksa di Pidum, dan perkara
Datun oleh Jaksa di Datun. Laksana suatu perang yang akan dimenangkan, maka semua tenaga jaksa
perlu terus-menerus dibekali dan dimanfaatkan secara serentak, pengotak-kotakkan Jaksa perlu dijauhi.
Kejaksaan adalah satu dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Jangan ada Jaksa yang menganggur tidak
digunakan karena ini dapat merupakan bumerang ke dalam.

b. Metode keterbukaan (transparan) untuk semua jaksa, misalnya lewat ekspos perkara atau diskusi
kelompok; penanganan perkara oleh sekelompok kecil jaksa (sistem bisik-bisik) terutama yang berakhir
dengan SP3, sungguh-sungguh sangat merugikan korps Kejaksaan di mata masyarakat dan juga
merugikan pembinaan ke dalam karena akan menjadi pergunjingan. SP3 yang keluar di Kejaksaan Agung
akan diikuti pula oleh Kejati/Kajari di daerah dan akan terus jadi pergunjingan sehingga perlu
mendapatkan perhatian Pimpinan Kejaksaan karena sangat merugikan korps dan kendala dalam
penegakan hukum.
c. Sesuai Kepja No. KEP-087/JAI8/1995, Intelijen Kejaksaan saat sekarang ini adalah Intelijen Yustisial
bukan lagi Law Intelijen dan bukan pula Intelijen Umum seperti yang telah dianut sebelumnya
sehingga semua kegiatan Intelijen baik ke dalam Korps, lebih-lebih ke luar, perlu lebih di arahkan untuk
menghadapi dan merespons tuntutan masyarakat luas kepada Kejaksaan. Fungsi Intelijen (Lit. Pam, Gal)
hendaknya harus di arahkan demi suksesnya penanganan semua perkara, khususnya perkara KKN untuk
menghindari kandasnya perkara-perkara yang ada.
d. Tim Gabungan Perkara Korupsi (TGPK) yang telah dibentuk dengan SK Jaksa Agung disarankan untuk
menangani semua perkara-perkara yang telah kandas di tangan Jaksa-Jaksa dan aparat penegak hukum
lainnya termasuk perkara yang di-SP3-kan mulai dari Kejaksaan Agung RI dan Kepolisian RI sampai ke
daerah-daerah. Tim pakar dan kelompok independen perlu dibentuk untuk mendukung kebijakan
seperti itu.
Untuk jangka panjang SDM Jaksa-jaksa dan aparat penegak hukum lainnya perlu ditingkatkan dan diasuh
lebih profesional lagi lewat Pusdikiat Kejaksaan dan pembinaan lainnya untuk menghindani kendala jangka
panjang.
Faktor kedua belas, Kuatnya Jaringan Kerja sama Pelaku Kejahatan (organized crime). Suatu kejahatan
memang hanya dapat dilakukan oleh seorang saja tanpa bantuan atau tanpa kerja sama dengan orang lain
sehingga pelaku kejahatan itu betul-betul berdiri sendiri dan bertanggung jawab sendiri atas semua yang
dilakukannya. Hasil kejahatan terutama jika itu merupakan kejahatan ekonomi, seperti pencurian barang,
penipuan orang, kejahatan perbankan atau bahkan korupsi terhadap uang negara atau perusahaan maka dari
hasil kejahatan tersebut yang bernilai ekonomi, itu sepenuhnya hanya dinikmati atau dimiliki sendiri oleh
pelaku sebatang kara tanpa beban untuk harus memberi kepada orang lain. Tanggung jawab terhadap
kejahatan tersebut juga merupakan risiko sendiri yang hanya dapat diatasi/dilawan sendiri oleh pelaku
kejahatan itu tanpa perlu bantuan orang lain.
Lain halnya dengan organized crime, yaitu semua bentuk kejahatan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih
ataupun beberapa orang dengan cara melakukan kerja sama secara rapi dan terorganisir untuk suatu tujuan
tertentu dalam melakukan kejahatan tersebut. Hasil yang bakal diperoleh dari organize crime tersebut dengan
sendirinya sudah menjadi hak bersama untuk bersama-sama menikmati/memanfaatkannya. Keberhasilan
untuk melakukan suatu kejahatan yang menghasilkan nilai ekonomi yang besar serta memberi manfaat dan
kepuasan kepada masing-masing anggota kelompok akan membuat organisasi/kelompok itu semakin puas,
kompak dan solid terhadap sesama anggotanya; pimpinan kelompok akan semakin dihargai dan disegani baik
dalam cara menggerakkan kegiatan operasional kejahatan itu maupun dalam metode pembagian hasil
kejahatan yang dihasilkan bersama. Dan jika hal ini terjadi semua anggota akan semakin bergairah dan
bertambah keberaniannya untuk mencari sasaran-sasaran baru dengan bentuk dan jenis kejahatan yang lain
pula. Jelasnya, masing-masing anggota akan berusaha keras untuk memberi kepuasan kepada pimpinan
kelompok dan kepuasan kepada semua anggota kelompok, masing-masing anggota kelompok termasuk
pimpinan kelompok akan berusaha untuk menciptakan langkahl angkah baru dalam kegiatannya itu untuk
memberi yang terbaik bagi kelompoknya. Misalnya, gerakan tutup mulut jika ada seorang anggota
tertangkap, gerakan untuk menghilangkan jejak, gerakan pengelabuan, dan bahkan sampai kepada gerakan
untuk mempengaruhi petugas-petugas yang punya wewenang untuk menindak/memberantas kejahatan itu
dengan sistem jatah atau pengaruh lainnya.

Gerakan yang paling terakhir ini yang sangat berbahaya karena sudah kolusi antara pejabat dengan pelaku
kejahatan apalagi jika kejahatan itu adalah kejahatan ekonomi dengan sasaran keuangan dan kekayaan
negara.
Timbulnya modus-modus baru di Indonesia dalam kegiatan KKN saat sekarang ini lebih banyak disinyalir
terjadi karena gerakan kelompok yang terakhir ini semakin hari semakin canggih dan semakin bersemangat
mempengaruhi aparat negara yang bertugas. Aparat pelaksana terkesan tidak mampu dan tidak sanggup lagi
membendung kegiatan kelompok penjahat itu; dan jadilah sejumlah kasus menjadi perbincangan/perdebatan
yang seakan tidak ada akhir dan tidak jelas seharusnya dimulai dan mana untuk memberantas nya.
Contoh-contoh kasus yang masih jadi perdebatan masyarakat adalah sebagai berikut.
a. Kasus penyelundupan BBM (Bahan Bakar Minyak) ke luar negeri.
b. Kasus penyelundupan barang lainnya ke dalam dan ke luar negeri di wilayah RI.
c. Kasus-kasus korupsi dengan nilai triliun, seperti kasus BLBI, kasus perbankan, kasus korupsi di
Pertamina, dan kasus korupsi di Kehutanan.
Faktor ketiga belas, Kuatnya Pengaruh Kolusi dalam Jiwa Pensiunan. Aparat Penegak Hukum.
Berakhirnya masa tugas seorang aparat atau abdi negara di negara mana pun juga di dunia ini pasti akan tiba,
demikian pun halnya abdi negara di Indonesia.
Di Indonesia seorang abdi negara itu mengakhiri masa tugasnya bervariasi dalam hal kedinasan dan fungsi
pengabdiannya, tingkat kepangkatan/eselon yang diembannya. Khususnya pada abdi negara penegak hukum
itu pun terlihat sangat bervariasi, yaitu untuk kepolisian disesuaikan dengan jabatan/kepangkatan. Untuk
jabatan Hakim bervariasi pula antara 60 dan 70 tahun, untuk Jaksa bervariasi, yaitu 58 tahun bagi eselon III
dan 60 tahun eselon II. Timbulnya variasi terhadap akhir masa tugas itu lebih banyak disebabkan karena
pengaruh tingkat kepangkatan akhir masa tugas itu pada jabatan struktural dan seorang aparat.
Itulah sebabnya para aparat tadi akan berlomba untuk mencapai tingkat kepangkatan dan eselon struktural
yang ada pada organisasi kedinasannya. Perlombaan dan persaingan oleh aparat untuk mencapai tingkat
kepangkatan dan eselon yang lebih tinggi memang dapat merupakan hal yang baik dan bahkan dapat
merupakan sumbangsih yang positif bagi korps dalam hal penyaringan untuk mendapatkan bibit-bibit aparat
yang berkualitas dan lebih profesional sebagai calon pimpinan masa depan. Hal ini hanya terjadi jika
penyaringan tadi dilakukan secara objektif dan penuh kejujuran oleh instansi/korps dengan rambu-rambu
yang jelas mutlak harus dilalui aparat untuk kenaikan tingkat kepangkatan/eselon.
Namun sebaliknya, rambu-rambu tadi sudah mulai dilanggar dengan berbagai argumentasi, apalagi jika
pelanggaran rambu-rambu itu sudah memasuki wilayah KKN maka objektivitas penyaringan tidak dapat
diharapkan lagi sehingga yang terjadi adalah persaingan tidak sehat antarpara aparat untuk dapat mencapai
tingkat kepangkatan/eselon yang lebih tinggi. Jika hal yang terakhir ini terjadi maka jangan diharapkan akan
ada bibit-bibit unggul dan kader-kader pelanjut kepemimpinan yang profesional, justru yang didapatkan
adalah kader-kader yang berkolusi tinggi yang tetap patuh kepada pendahulunya yang telah berhasil
mendobrak dan menempatkannya pada tingkat jabatan struktural yang lebih tinggi.
Bagi seorang pensiunan aparat penegak hukum yang telah berhasil mendobrak dan menempatkan kadernya
pada posisi strategis dalam jabatan struktural tanpa lewat rambu-rambu yang jelas di atas maka hal ini
merupakan modal besar baginya dengan harapan akan tetap menuai hasilnya terutama di masa tuanya. Dan
jika pensiunan tersebut beralih fungsi menjadi seorang pengacara hukum di masyarakat yang secara langsung
aktif membela perkara-perkara besar dan berbobot tinggi seperti kasus-kasus korupsi triliunan rupiah maka
ini akan menjadi masalah khusus dalam penegakan hukum. Apalagi, jika aparat pensiunan tersebut kurang
menghayati naluri nasionalisme yang pernah mengalir dalam tubuhnya di saat masih dalam jabatan struktural
yang tinggi dalam negara.

Aliran darah nasionalisme sudah tidak ada lagi dan digantikan dengan watak pengaruh materialisme yang
mengalir deras dalam tubuhnya akan mempengaruhi sifatnya untuk dapat memanfaatkan semua peluang
sebagai seorang pengacara demi kepentingan orang yang dibelanya dan kepentingan pribadinya untuk
mencapai tujuan. Kepentingan negara dengan jiwa nasionalisme yang tinggi yang pernah diembannya dulu
bukan menjadi tujuan lagi dan bahkan sebaliknya, kepentingan negara akan mampu untuk dilawan dengan
modal dasar yang telah dimilikinya sebagai seorang pengacara. Pengaruh kuat untuk berkolusi terhadap
bekas anak buahnya yang masih aktif dalam institusi penegak hukum merupakan modal besar baginya untuk
selalu memenangkan perkara-perkara yang dibelanya dengan tanpa menghiraukan kepentingan negara lagi
dalam upaya penegakan hukumnya. Bekas anak buah akan selalu dibayangi dengan berbagai kepentingan
kedua pihak maka akan terjadilah bentuk kolusi baru yang dapat menghambat penegakan hukum secara
murni dan objektif di masyarakat hanya karena pengacara mantan penegak hukum yang aktif memainkan
kepala dua dalam suatu perkara dengan mengikutsertakan bekas anak buah yang masih aktif.
Faktor keempat belas, Pemanfaatan Kelemahan Peraturan perundang undangan. Suatu peraturan
perundang-undangan dibuat oleh Pemerintah selalu disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang selalu
berkembang maju. Peraturan itu dibuat diupayakan semaksimal mungkin agar dapat mengatur dan
menerbitkan masalah-masalah yang bakal timbul dalam hubungan individu atau kelompok agar tidak terjadi
gesekan yang berakibat hambatan untuk pencapaian suatu tujuan yang diharapkan oleh Pemerintah. Peraturan
perundangan ini dapat dipersiapkan oleh pemerintah ataupun atas inisiatif DPR.
Dalam praktik ketatanegaraan di Indonesia saat ini, suatu peraturan perundangan yang direncanakan akan
dibuat oleh Pemerintah dimulai konsep pembuatannya oleh Instansi/Departemen yang akan
mengoperasionalkan di masyarakat. Lalu kemudian oleh pemerintah diserahkan kepada DPR untuk dibahas
kembali lewat fraksi-fraksi yang ada di MPR, dan setelah diplenokan baru diserahkan kembali ke Pemerintah
untuk diundangkan dalam suatu Lembaga Negara.
DPR sebagai badan legislatif terkadang karena berbagai alasan tugast ugas di DPR maka waktu diserahkan
rancangan undang-undang tersebut oleh Pemerintah mereka kurang mendalami lagi sehingga terkesan rapat
di DPR hanyalah untuk formalitas belaka. DPR hanya tukang stempel. Lain halnya lagi jika DPR tersebut
diperalat oleh suatu golongan/kelompok untuk tujuan-tujuan tertentu sehingga tidak tertutup kemungkinan
adanya money politics dalam pembuatan undang-undang itu.
Kelemahan-kelemahan yang melekat pada undang-undang tadi baik yang sengaja dibuat maupun yang hanya
terjadi karena kurang cermat dalam pembahasan, biasanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk
berlindung dibalik kelemahan undang-undang itu agar tidak dapat dijerat dalam kesalahan-kesalahan yang
dilakukan.
Keempat belas faktor yang dikemukakan oleh Mastra Liba di atas, menunjukkan sangat kompleks dan
peliknya untuk melakukan penegakan hukum, peraturan perundang-undangan dan etika bagi penyelenggara
negara di negeri ini Untuk itu, faktor-faktor yang menjadi penghambat ini seyogianya disingkirkan melalui
komitmen yang kuat untuk menegakkan rule of law dan code of conduct dari para pemimpin pemerintahan.