P. 1
Tibet Dan Permasalahan HAM Di Cina

Tibet Dan Permasalahan HAM Di Cina

|Views: 247|Likes:
Published by hendrorizki1

More info:

Published by: hendrorizki1 on Nov 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2013

pdf

text

original

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

v

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina Citra Hennida dan Nurul Ratna Sari'

Abstract. China has to deal with a fact that Tibet still becomes a problem of human rights. Especially when China is going to host Olympic Games of 2008. China got negative international public opinion when she dealt with the demonstrations in Lhasa and other places in Tibet last March. China was and is defensive upon the international public opinion calling for Tibetan freedom and independence. However, since 1971, China has been signing some important international instruments of human rights, and has ratified some important conventions. This paper argues that China has specific view of of human rights different from the West. China has her own cultural background, idea of communitarism, notion of public interets, and form of state.

Keywords: Tibet, human rights, China, Olympics.

Pendahul uan

Dalam laporan Human Rights Watch 2008 disebutkan terpilihnya Cina sebagai tuan rumah Olimpiade 2008 di satu sisi akan memperkuat penegakan hak-hak asasi manusia CHAM) di Cina, tapi di lain sisi juga akan memperlemah. Alasan keamanan, misalnya, akan sangat membatasi akses-akses publik. Disebutkan, pemerintah Cina membatasi hak-hak dasar warga negaranya seperti kebebasan berekspresi, berserikat, dan kebebasan beragama. Hal tersebut diperkuat dengan tindakan aparat keamanan dengan meningkatkan kontrol atas aktivitas warga negaranya dalam hal kritik ataupun protes. Pengontrolan tersebut dilakukan pada level profesional dan administratif, seperti misalnya pembatasan perjalanan baik di

dalam Iebih-Iebih ke luar negeri, monitoring terhadap penggunaan internet dan saluran kornunikasi lainnya, at au penerapan kebijakan tidak resmi tahanan rumah.

Tidak hanya itu, penerapan larangan terhadap bentuk-bentuk pelanggaran yang secara konsep masih kabur seperti inciting subversion, leaking state secrets, at au juga disrupting social order. Kaburnya konsep akan jenis pelanggaran tersebut pada akhirnya menimbulkan banyak misintepretasi dalam penerapan di lapangan. Pernbatasan dan sifat represif pemerintah terhadap HAM menimbulkan banyak perlawanan. Aksi protes damai yang kemudian berubah menjadi kerusuhan di Lhasa, Tibet pada tanggal ia Maret 2008 adalah salah satunya.

I Citra Hennida dan Nurul Ratna Sari adalah dosen FISP Unair. Citra Hennida adalah sarjana Ilmu Hubungan Internasional, sedangkan Nurul Ratna Sari adalah sarjana Ilrnu Komunikasi.

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I NO.1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

Pandangan Cina atas HAM

Permasalahan HAM pada awal pembentukan Deklarasi Umum Hak-hak Asasi Manusia (DUHAM) 1948 sudah menjadi perdebatan dalam implementasinya. Perdebatan tersebut berada pada konsep universalitas HAM itu sendiri. Universalitas dianggap sebagai produk dari nilai-nilai Eropa (bar at) sehingga terjadi pertentangan penerimaan baik secara keseluruhan atau sebagian dari isi DUHAM tersebut di negara-negara non-barat,

Alasan yang dikedepankan adalah adanya pengaruh budaya setempat (masing-masing negara) yang perlu dipertimbangkan. Sedangkan di satu sisi, kelompok pendukung universalisme memandang keengganan negara-negara non-barat untuk tidak menerapkan universalisme lebih kepada niatan untuk menyembunyikan legitimasi politik supresif dengan bungkus budaya.

Selanjutnya, Jacobsen dan Bruun (2000) menekankan untuk dapat memahami HAM di Asia maka ada empat faktor kunci yang perlu diketahui, yaitu pengaruh budaya terhadap HAM, komunitarianisme, peran kebaikan umum, dan bentuk asal negara.

(1) HAM bersifat kontekstual dan secara spesifik ditentukan oleh latar belakang budaya, sejarah, politik, dan ekonomi tertentu. Diakui bahwa HAM adalah

universal, tapi interpretasi terhadap arti dan metode implementasinya dipengaruhi oleh budaya. Seperti ditulis Christie dan Denny (2001: 10):

"While human rights are universal in nature they must be considered in the context of a dynamic and evolving process of international norm-setting, bearing in mind the significance of national and regional particularities and various historical, cultural, and religious background ... "

(2)Budaya Asia menekankan pada komunitarianisme, di mana individu berkewajiban atau bertanggung jawab kepada keluarga dan komunitasnya. Budaya Asia menampik individualitas. Hak-hak individu dapat mengancam ketertiban sosial dan dapat menjauhkan individu untuk memenuhi peran-peran sosialnya. Perspektif komunitarian memandang bahwa ketertiban so sial dibangun atas dasar nilai-nilai bersama. Dalam pandangan komunitarian, komunitas dipandang sebagai sesuatu di atas individu dan individu sang at bergantung padanya. Hal ini berbeda dengan perspektif liberal di mana kedudukan

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA _

Tibet dan Pennasalahan HAM di Cina

individu di atas masyarakat dan sejak lahir sudah memiliki hakhak asasi yang melekat di dirinya.

(3)Untuk menciptakan masyarakat yang tertib, maka individu harus didisiplinkan. Pemenuhan hakhak politik individu adalah persoalan kedua setelah hak-hak komunitas dan negara terpenuhi. Pembangunan akan menimbulkan kesej ah teraan, dan dipandang sebagai sesuatu yang nyata dibanding kepatuhan terhadap hak-hak individu yang sifatnya abstrak.

(4)Negara mampu memerintah untuk kebaikan bersama. Negara dan masyarakat adalah satu kesatuan. Negara berfungsi untuk memajukan masyarakat. Diasumsikan bahwa elit negara mampu membuat kebijakan tanpa adanya proses kebijakan publik dan kelompok kepentingan. Legitimasi pemerintah datang bukan dari konsen masyarakat, tapi datang dari pemerintahan

yang efektif dan pembangunan ekonomi. Selanjutnya, daripada menekankan pada hak, kewajiban warga negara terhadap negara lebih diutamakan.

Melihat karakteristik di atas, maka dapat dipahami sikap Cina terhadap HAM yang berbeda. Budaya Cina, dalam hal ini konfusianisme," mengkritik konsep individualisme dalam pengertian HAM barat. Konsep tersebut bertentanganjika dihadapkan pada nilainilai keluarga atau kelompok kekerabatan yang merupakan ruh dari konfusianisme itu sendiri. Adanya pengaruh konfusianisme tersebut maka secara umum pemerintah Cina melihat HAM tidak sebagai penghormatan at as individu, tetapi lebih kepada pendekatan-pendekatan kelompok atau komunitarian (Seymour, 1994:257).

Perbedaan pandangan terhadap HAM berlanjut. Misalnya pada tahun 1986 ketika Majelis Umum PBB melakukan voting atas Kovenan Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Kovenan ini memaknai hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya baik secara individu maupun

2 Konfusianisrne merupakan nilai-nilai utama yang ada pada 3 rnasyarakat Asia Tirnur yaitu Cina, Jepang, dan Korea. Berakar dari ajaran Kung Fu Tzu, konfusianisrne bermula dad serangkaian prinsip dan ritual yang ditujukan untuk keselarasan hubungan antar manusia yang kernudian berubah menjadi tuntunan tingkah laku sosial. Selanjutnya konfusiani'sme berkembang menjadi dua hal yaitu (1) konfusianisme sebagai ideologi dan sistem nilai (konfusianisme politik) yang melihat pada sis tern kerajaan dan struktur hirarki sosial, serta (2) konfusianisme sebagai agama dan kepercayaan (konfusianisrne etika personal) yang menekankan pada nilai-nilai keluarga dan sistern etika personal yang di lih at sebagai budaya konfusian sebenarnya yaitu pengormatan kepada keluarga dan leluhur, kelornpok, menghormati yang lebih tua dan yang lebih terpelajar, dengan begitu harrnonisasi dan kearnanan sosial terjamin

(Fukuyama, 1995).

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

kelompok. Cina sangat mendukung kovenan ini tapi dalam melihat pemenuhan hak, pemerintah Cina cenderung ke arah pemenuhan hak-hak kelompoknya dibanding individu. Hakhak ekonomi, sosial, dan budaya diIihat sebagai hak positif dan merupakan hak warga negara. Sebagai hak positif maka konsekuensi mengikatnya ada pada level warga negara, dan bukan individu. Artinya, hak tersebut ada dan dimiliki karena kedudukan sebagai warga negara tersebut merupakan bagian dalam sistem politik tertentu, bukan sebagai bagian dari manusia.

Mengenai hak dan kewajiban, Cina memegang prinsip hukum bahwa antara hak dan kewajiban adalah satu kesatuan. Berdasar pada prinsip tersebut, Cina lantas meintepretasikan bahwa hak asasi individu bisa disubordinasikan ketika berhadapan dengan kewajiban untuk mendukung kepemimpinan nasional (Seymour, 1994).

Sedangkan dalam DUHAM, ada pembatasan hak individu ketika dihadapkan dengan kewajiban sebagai warga negara. Tertulis: "... such limitations are determined by law solely for the purpose of securing due

and freedoms of others and of meeting the just requirements of morality, public order and the general welfare in a democratic society."

Penentangan para pemimpin Cina terhadap standar universalitas HAM berlanjut. Para pemimpin Cina

memaknai bahwa penentangan

kebijakan-kebijakan Cina oleh

masyarakat internasional didasarkan oleh ketidakpahaman akan situasi dalam negeri Cina. Misalnya, kebijakan pengontrolan kehamilan, satu bayi dalam satu keluarga, diambil untuk membatasi laju pertumbuhan penduduk Cina.

Mengenai rnekanisme pengaturan kelahiran. Yang terjadi di Cina adalah lebih kepada kewajiban untuk rnelakukan aborsis dibanding aborsi yang dilakukan secara sukarela. Hukuman mati juga banyak dilakukan di Cina meskipun itu terkait dengan kejahatan yang sifatnya kecil atau bahkan ketika bukti menunjukkan bahwa tidak ada kejahatan sarna sekali. Hal ini terjadi karena peradilan yang dilakukan dengan seenaknya sehingga banyak menimbulkan putusan yang asal-asalan.

Dalam melihat hak sipil dan politik,s

recognition and respect for the rights Cina menggunakan pendekatan-

3 Banyak pengamat HAM melihat kebijakan pengontrolan kehamilan tersebut sebagai 'forced abortion yang dilegalkan'. Dinilai bahwa negara tidak hanya gagal dalam tataran to protect, tapi juga pada tataran to fulfill dan to promote HAM itu sendiri.

4 Ada dua konvenan HAM penting yaitu Konvenan Hak-hak Sipil dan Politik serta Konvenan Hak-hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya. Cina belum meratifikasi keduanya, tapi kornitrnen atas dua konvenan tersebut telah dilakukan dengan menandatanganinya tahun 1997 dan 1998.

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA

-

Tibet dan Pennasalahan HAM di Cina

pendekatan relativisme budaya. Menurutnya, dalam menerapkan standar internasional harus diperhatikan pula adanya nilai dan norma yang berlaku di masyarakat, Dalam penerapannya, perlu diperhatikan sejarah suatu bangs a, kehidupan sosial, budaya, dan bahkan realitas politik yang ada pada negara tersebut (Seymour, 1994).

Relativisme budaya merupakan pemahaman yang ada pada level idiosinkretik individu yang merupakan hasil pengalaman dalam memahami dunia. Inti dari relativisme budaya adalah ketika apa yang dikatakan dan dikerjakan dilakukan atas nama budaya. Ide dan konsepsi adalah benar ketika beriringan dengan peradaban itu sendiri Ada tiga asumsi dasar mengenai relativisme budaya, yaitu:

(rj Relativisme, seperti halnya absolutisme, menjadi penting dalam keberlangsungan pikiran. Komitmen dan pendapat yang ada sekarang merupakan hasil dari relativisme budaya dan merupakan perwakilan dari dunia saat ini.

(2)Oleh karenanya mereka akan menjadi tidak mampu atau secara intelektual akan menjadi cacat jika tidak memilikinya.

(3)Jika ternyata orang kemudian keberatan dengannya maka hal tersebut bukan pada tataran

-

relativisme budayanya tetapi lebih kepada bagaimana mengartikulasikan dan mengkomunikasikan relativisme budaya tersebut (Perusek, 2007).

Kerangka relativisme budaya dipakai Cina dalam memandang HAM. HAM bukan sesuatu yang sifatnya universal tapi terkait dengan normanorma budaya (Moore, 2001). Selain itu muneul juga anggapan bahwa pemahaman Cina atas nilai-nilai HAM lebih kearah developmentalis. Seperti yang dikatakan oleh Michael Sullivan (1995), bahwa negara-negara yang masih berada dalam tingkat pembangunan yang masih rendah belum mampu untuk mengimplementasikan HAM yang universal. Kemampuan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang 'mewah'. Peter Van Ness (1996) berpendapat:

China's declaratory position on international human rights, importantly, is neither Marxist nor cultural-relativist. Rather, Beijing takes 'developmentalist' exception to the immediate implementation of UN standards for less industrialized countries, and emphasizes the economic agenda over civil and political rights and group rights, especially self-determination,

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I NO.1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

over individual rights.

Selanjutnya bagaimana Cina menerapkan pandangan tersebut dalam rezim HAM internasional di mana dia terlibat.

Perwakilan Cina di PBB setelah tahun 1971 kemudian menerima kewajibankewajiban atas Piagam PBB dan DUHAM.

Dalam rezim HAM, Cina telah meratifikasi Convention on the Elimination of All Forms of Racial

Cina

Rezim

Discrimination; the Convention Against HAM Torture and Other Cruel, Inhuman or

dan

Internasional

Tantangan penegakan HAM di Cina adalah tragedi Tiananmen tahun 1989 di mana terjadi bentrokan antara kelompok buruh dan mahasiswa dengan pemerintah. Jika ditarik lebih kebelakang maka program lompatan besar Mao Ze Dong bisa dianggap sebagai rapor buruk penegakan HAM di Cina.

Keterlibatan Cina dalam rezim HAM internasional tidak terlepas dari keanggotaannya di PBB. Dalam sejarahnya keanggotaan Cina dalam PBB mengalami dua kali transformasi.

Pertama sebagai Republic of China dan kedua sebagai People's Republic of China. Sebagai Republic of China, Cina merupakan penandatangan Piagam PBB dan DUHAM. Setelah perang sipil, ditandai dengan kemenangan komunis di daratan Cina dan menyingkirnya kaum nasionalis ke Taiwan, keterwakilan Cina yang semula oleh Taiwan di PBB kemudian digantikan oleh People's Republic of China tahun 1971.

Degrading Treatment or Punishment, the Convention on the Elimination of Discrimination Against Women, dan the Convention on the Rights of the Child. Sedangkan the International Covenant on Economic, Social and Culture Rights. Sedangkan the International Covenant on Civil and Political Rights meskipun telah ditandatangani di tahun 1997 dan 1998, tapi masih belum diratifikasi.

Cina dan Komisi HAM PBB

Pandangan Cina atas HAM yang didasarkan pada relativisme budaya dan developmentalis menjadikan analisis terhadap tindakan Cina dalam kerangka HAM yang terkadang menentang implementasi universalnya agaknya memberikan jawaban. Di tahun 1990, Cina merupakan chair dari UN Commision on Human Rights- dan merupakan anggota komisi tersebut sejak 1981. Hal ini tidak lantas menghindarkan Cina dari pelanggaran HAM seperti, misalnya, Tiannamen

5 Komisi ini merniliki sub komisi the Prevention of Discrimination and the Protection of Minorities yang bertujuan untuk menyelidiki permasalahan-perrnasalahan HAM dan berkewajiban untuk melaporkannya ke Komisi.

I OITERBITKAN OLEH PU5AT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA _:

Tibet dan Pennasalahan HAM di Cina

1989, ataujuga perlakuan Cina atas Tibet. Dalam sejarahnya, hanya ada dua resolusi yang dikeluarkan terhadap Cina atas permasalahan HAM, yaitu tahun 1989 atas peristiwa Tiananmen dan 1991 atas perlakuan Cina terhadap warga Tibet.

Minimnya resol usi yang

dikeluarkan baik oleh Komisi maupun Sub Komisi nya merupakan bentuk berhasilnya proses lobbying, pembangunan koalisi, dan manipulasi yang dilakukan oleh Cina sebagai sebuah negara yang besar (Kent, 1999:79). Cina

kerap melakukan

pendekatan bilateral

pendekatandibanding

multilateral, misalnya dengan cara ancaman atas bantuan ekonomi atau menarik kerjasama perdagangan dengan negara bersangkutan jika dianggap negara tersebut akan mengeluarkan suara yang merugikan Cina. Selanjutnya Kent menambahkan bahwa seiring dengan pertumbuhan Cina dan kemampuan diplomasi HAM nya akan banyak menghindarkan Cina dari pemberian resolusi terkait dengan pelanggaran HAM di negaranya," Hal ini

semakin membuktikan bahwa melakukan pengawasan terhadap pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara besar akan sulit.?

Cina dan CAT

Convention Against Torture (CAT) bertujuan untuk menetapkan dan menegakkan standar perlindungan atas penyiksaan, kekejaman, perlakuan yang tidak manusiawi, atau hukuman yang merendahkan martabat. Cina meratifikasi CAT pada tahun 1988. Permasalahan yang muneul adalah meskipun seeara hukum Cina telah melakukan pelaporan sebagai kewajiban negara anggota, tapi seeara operasional Cina menolak kedatangan special rapporteur untuk penyelidikan fakta di lapangan sebagai bahan akuntabilitas laporan yang telah dibuat dengan alasan kedaulatan nasional.

Permasalahan yang muneul antara Cina dan CAT adalah pengertian mengenai penyiksaaan itu sendiri yang berbeda di antara keduanya. Hukum Kriminal Cina mendefinisikan penyiksaaan tidak melingkupi

6 Pendapat yang sama dikemukan oleh Kurlantzick (2003) bahwa seirrng dengan pertumbuhan ekonomi Cina akhir 1990-an, Cina dapat mengarahkan opini dunia at as permasalahan HAM di Cina. Tahun 2001, James Murdoch, pemilik News Cooperation menyangkal adanya tindakan represif Cina terhadap pengikut Falun Gong yang diindikasikan melanggar HAM. Kemudian Star Group (kelompok media milik Murdoch yang berbasis di Hongkong) memenangkan kontrak jaringan televisi di sebagian besar provinsi wilayah timur Cina. Mekanisme yang sarna dilakukan juga terhadap Yahoo dan AOL misalnya.

7 Ketidakmampuan ini disebabkan oleh adanya pengaruh power politic dalam hukumhukum HAM internasional baik dalam tataran pernbuatan maupun implernentasinya (Hermida, 2008).

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

penyiksaan secara mental at au intimidasi. Sedangkan CAT mendefinisikannya sebagai "any act by which severe pain or suffering, whether physical or mental, is intentionally inflicted by or at the instigation of a public official on a person for such purposes as obtaining from him or a third person information or confession, punishing him for an act he has committed or is suspected of having committed, or intimidating him or other persons."

Amnesty International mengindikasikan ada tiga hal yang menyebabkan masih banyaknya kasus-kasus yang terkait dengan penyiksaan di Cina, yaitu (1) tidak mencukupinya legislasi, (2) tidak mencukupinya investigasi, dan (3) sering terjadinya impunitas.

China dan ILO

Keterkaitan Cina dengan ILO merupakan permasalahan yang sensitif mengingat komunis Cina dibangun atas dasar buruh dan petani. Cina menjadi anggota ILO pada tahun 1971 tapi tidak secara penuh dengan alasan bahwa Cina pada masa itu adalah negara miskin, negara berkembang yang baru lepas dari kerusuhan akibat revolusi budaya. Pecahnya tragedi Tiananmen pada J uni 1989 membuat ILO kemudian memutuskan bahwa status keanggotaan Cina adalah sama tingkatannya dengan anggota-angota lainnya. Kemudian, ILO

bersama-sama dengan International Confederation of Free Trade Unions (ICFTU) menekan Cina atas tindakan tersebut yang mengakibatkan jatuh banyak korban di kalangan buruh dan banyaknya buruh yang harus dipenjara. ICFTU kemudian memutus semua hubungannya dengan All-China Federation of Trade Unions (ACFTU) dan tidak mengikutsertakan Cina pada lLO session tahun 1990.

Sepanjang 1990-an, Cina menolak standarisasi buruh di Cina dengan alasan bahwa buruh di Cina adalah unik, dipengaruhi oleh sejarahnya, kondisi sosial, budaya, dan ekonorninya. Serta kebutuhan untuk memelihara otoritas partai atau negara atas buruh.

Selama tahun 1990-an dengan usaha pernerintah untuk mereformasi perusahaan-perusahaan milik negara, hal ini menimbulkan banyak protes di kalangan pekerja, Beberapa membentuk sarikat pekerja yang kemudian banyak ditutup oleh pemerintah, pernimpin organisasi-organisasi buruh tersebut kemudian ditangkap dan dipenjara. Sampai saat ini, serikat pekerja at au organisasi buruh lainnya di luar ACFTU adalah dilarang dan sifatnya ilegal.

UU Buruh 1994, merupakan bentuk kepatuhan secara prosedural saja sedangkan secara substansi masih banyak hal-hal di Iuar standar ILO. Kent (1999:143) menyatakan: "It was clear that, despite the role of ILO standards in

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA _

Tibet dan Pcrmasalahan HAM di Cina

providing models for Chinese labor legislation, the actual challenge to the leaders' authority implicit in the existence of genuinely free trade unions in China, independent of both Party and state, would not be tolerated by them." Meskipun Cina kemudian tumbuh sebagai kekuatan ekonomi besar, namun keadaan buruh dan petani masih jauh dari harapan.

HAM di Cina Tak Lebih Baik

Cina terlibat dalam sembilan rezim HAM internasional. Namun kondisi tersebut tidak menjadikan kon disi penghormatan HAM di Cina menjadi lebih baik. Andrew J. Nathan (2000) mengindikasikan ada beberapa pelanggaran HAM di Cina yang dapat dikategorisasikan sebagai berikut:

1. Tindakan imprisonment,

arbitary detention, dan

pengasingan yang diberlakukan kepada orang-orang yang memiliki pandangan politik yang berseberangan dengan pemerintah. Kelompok sasarannya adalah para aktivis demokrasi, pendukung kemerdekaan Tibet, pendukung kebebasan budaya di Mongol, kelompok orang yang dituduh membocorkan rahasia negara.

2. Tindakan represif terhadap kelompok-kelompok agama. Termasuk di dalamnya

-

penahanan dan pemukulan orang-orang yang tergabung dalam gerakan Katholik dan Protestan; Tibet. Korban-korban kekerasan terhadap penganut agama ini kerap dipandang sebagai gerakan counter revolutioner, meskipun pada kenyataannya mereka tidak melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya politis.

3. Tindakan kekerasan yang terkait dengan prosedur criminal, seperti misalnya prosedur

perlindungan pada saat

penangkapan dan proses

interogasi; pemberlakuan

hukuman tanpa pengadilan; kegagalan dalam penyelenggaraan pengadilan yang adil; pengadilan yang tidak independent; kerja paksa sebagai bentuk pengganti hukuman penjara.

4. Pe nyiksaan dan tindakan kekerasan di kamp-kamp kerja dan terhadap para narapidana.

5. Upaya pemindahan periduduk secara paksa, tindakan-tindakan represif terhadap para dissent, pelanggaran hak-hak pekerja.

6. Sebagai bagian dari program keluarga berencana, pemerintah Cina memberlakukan tindakan aborsi dan sterilisasi paksa,

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

""'-,",

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

7. Beberapa pelanggaran terhadap hak-hak sipil dan politik seperti kebebasan media asing, perlakuan yang tidak wajar terhadap homoseksual, dan campur tangan pemerintah pada praktek-praktek keagamaan seperti Islam dan Budha.

8. Kekerasan terhadap martabat manusia, misalnya dengan memberlakukan pelaksanaan hukuman di hadapan publik.

9. Transplantasi dan perdagangan organ manusia.

1O.Penculikan, trafficking, dan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak

i i .Ekspor terhadap produkproduk yang dihasilkan oleh para narapidana baik di penjara maupun di kamp-kamp kerja ke Amerika Serikat. Hal ini selain ilegal di mata hukum AS juga dilarang dalam Konvensi 1LO.

Tibet dalarn Tataran HAM

Ada banyak perspektif dalam melihat permasalahan Tibet. Cina dan Tibet berbeda secara ideologi, sistem sosial, budaya atau tradisi. Perbedaan tersebut kemudian dipandang sebagai akar munculnya permasalahan dalam tiga wilayah tersebut (Gyatso, 1999). Perspektif lain melihat dalam kacamata

pelanggaran HAM. Kurang atau hampir tidak adanya kebebasan pengembangan identitas dan budaya; diskriminasi ekonomi dan politik menjadi tuntutan diberlakukannya otonomi khusus di Tibet.

Tibet secara historis merupakan wilayah yang terpisah dad Cina. Tahun 1949, tentara pembebasan Cin a ' (People's Liberation Army) kemudian mengintegrasi secara paksa wilayah tersebut ke dalam Republik Cina. Prates dan perlawanan penduduk Tibet kemudian membuat disetujuinya perlakuan Tibet sebagai suatu wilayah otonomi khusus oleh pemerintah Cina.

Tahun 1951 disetujui 17 Point Agreement yang mengakui bahwa Tibet akan memiliki suatu bentuk pemerintahan sendiri dan diterapkannya wilayah otonomi khusus atas Tibet. Hal ini tidak berlangsung lama, pemerintah Cina melanggar ketentuan tersebut, Tibet kemudian berada sepenuhnya dalam kontrol Partai Komunis Cina. Di bawah kontrol tersebut, pemerintah Cina kemudian banyak melakukan tindakantindakan represif. Puncaknya tahun 1959, Dalai Lama, pemimpin spiritual Tibet, bersama warga Tibet melakukan aksi damai sebagai bentuk tuntutan dihentikannya sikap-sikap represif Cina terhadap Tibet. Usaha ini tidak berhasil, Dalai Lama dan 80.000 pengikutnya kemudian mengungsi ke wilayah

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA _,

Tibet dan Pennasalahan HAM di Cina

Dharmasala, India," dan sejak tahun 1960 membentuk pemerintahan pengasingan di Dharmasala.

Tindakan represif pemerintah Cina terus berlangsung. Tindakan pelarangan masyarakat Tibet untuk melakukan ibadah dan pengembangan budaya berlanjut. Pemerintah menerapkan program migrasi masyarakat Cina, suku Han, ke wilayah-wilayah Tibet. Kedatangan masyarakat Cina lee Tibet sernakin meminggirkan budaya asli Tibet. Dalai Lama menyebutnya sebagai genosida budaya (Lama, 2008).

Pembangunan yang dilakukan pemerintah di Tibet dengan pertumbuhan sebesar 12 persen per tahun, di-setting hanya untuk menyejahterakan rnasyarakat Cina di Tibet. Diskriminasi budaya berlanjut pada ranah ekonomi dan pendidikan. Tibet rnerupakan wilayah dengan jumlah masyarakat buta huruf tertinggi dibanding wilayah lainnya di Cina. Glenn Maguire dan Patrick Bennet (Kompas, 25/3/2008) melaporkan bahwa hanya 15 persen warga Tibet yang berpendidikan dibandingkan dengan 60

• _ .• ~t;.

Dharmasala atau wilayah-wilayah lainnya di sekitar perbatasan.

Tahun 1987, Dalai Lama

rnengajukan proposal "Five-Point Peace Plan" kepada Cina, meminta untuk penarikan mundur semua tentara Cina dad wilayah Tibet. Proposal tersebut tidak rriendapat respons dari pemerintah Cina. Tahun 1988, Dalai Lama mengajukan "Strasbourg Proposal" yang menawarkan korisesi bahwa Cina yang akan bertanggung jawab atas politik luar negeri Tibet (Dihr, 1999). Namun hasilnya adalah sarna, Cina tidak memberikan respons. Keadaan ini kemudian memunculkan beberapa aksi protes, tuntutan pemberlakuan otonomi khusus. Tahun 1987 dan 1989 dilakukan protes di Lhasa, ibukota Tibet dengan melibatkan biksu, intelektual, dan pelajar. Alesi bulan Maret 2008 lalu, dilihat sebagai bentuk aksi terbesar masyarakat Tibet, melibatkan juga kelornpok petani dan buruh. Aksi tersebut tidak hanya terjadi di Lhasa, tapi juga menyebar ke seluruh wilayah Tibet dan wilayah-wilayah lainnya di dunia di mana terdapat masyarakat

persen rata-rata di seluruh Cina. .Iumlah Tibet at au m asyarakat pendukurig buta huruh di Tibet adalah yang tertinggi Tibet .

di Cina, yaitu sekitar 40 persen. Situasi ini mengakibatkan sekitar 2.500 warga Tibet nielarikan diri setiap tahunnya lee

. ,: ... ' Cina memandang setiap aksi protes ~~b'~gai bentuk usaha separatisme.? Dehgan framing tersebut, maka target

8 Kedatangan rnercka disambut PM India Jawaharlal Nehru yang kemudian memberikan tempat bagi Dalai Lama untuk mendirikan pemerintahan. Pemerintahan Tibet di pengasingan tcrdir i atas departemen-departemen dan kornisi yang bekerja untuk perwujudan perjuangan masyarakat Tibet (www.tibet.corn).

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Pennasalahan HAM di Cina

tiridakan-tindakan represif ada pada penduduk sipil. Setiap penduduk sipil dianggap memiliki potensi. Biksu, biksuni, bahkan anak-anak menjadi korban tindakan represif pemerintah Cina.

Peristiwa Maret 2008 bermula dari protes-protes damai di ibu kota Tibet, Lhasa, 10 Maret, 2008 untuk memperingati usaha pemberontakan Tibet yang gagal tahun 1959 Demonstrasi-demonstrasi itu kemudian berkembang menjadi kerusuhan tanggal 14 Maret 2008. Cina kemudian melakukan tindakan keras dengan meningkatkan aktivitas militer secara besar-besaran, melarang masuknya wartawan asing dan pemantau independen ke wilayah-wilayah chaos (Kompas, 17/3/2008).

Peristiwa tersebut kemudian banyak memieu reaksi komunitas internasional. Seruan pemboikotan Olimpiade Beijing rnengernuka khususnya dad para pejuang HAM. Sedangkan pada level negara, rneskipun ada kecaman atas tindakan represif Cina, tidak lantas muneul tindakan pernboikctan Olirnpiade." Tony Kevin, analis kebijakan luar negeri dad

Australian National University mengatakan bahwa reaksi bisu komunitas internasional telah diperkirakan mengingat kepentingan strategis mereka terhadap ekonomi Cina (Ko'W,lpas, 19/3/2008). Bahkan dalam sejarahnya Cina tunduk pada standar HAM yang berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain, lebih-lebih ketika Cina kemudian muneul sebagai salah satu kekuatan utama dunia.

Olimpiade dan Penegakan HAM

Tanggal 13 Juli 2001, Cina terpilih menjadi tuan rumah penyelenggaraan Olimpiade tahun 2008. Pemerintah Cina pada saat itu berjanji akan memperbaiki kualitas penegakan HAM di negaranya. Pada bulan Juni 2004, pemerintah Cina mengumumkan slogan Olimpiade 2008 sebagai "One World, One Dream", bahwa Olimpiade 2008 akan membawa misi awalnya (tahun 1896) sebagai media untuk mempromosikan martabat kemanusian dan perdamaian dunia (Biao dan Jia, 2007). Jaminan tersebut dikernukan juga oleh Liu Jingmin, official Olimpiade Beijing dengan mengatakan bahwa Olimpiade Beijing

merupakan

kesernpatan

untuk

9 Simon Saragih (Kompas, 26/3/2008) mengatakan bahwa tidak ada yang istirnewa dari Tibet, kecuali ikon internasional Dalai Lama, Protes-protes di Tibet ditanggapi secara berlebihan disebabkan oleh ketakutan berkembang menjadi usaha separatisme, Selain Tibet, Cina mem iliki wilayah-wilayah yang rawan memisahkan diri yaitu Xinjiang, Yunan, Makao, Hongkong, Taiwan, dan Mongolia Dalarn. Apabila Tibet berhasil maka akan memicu usaha-usaha sejenis dari wilayah-wilayah tersebut.

,0 Menurut Presi den Komite Olirnpiade Internasional Jacques Rogge, sarnpai Senin 17 Maret 2008 belum ada seruan dari negara-negara untuk mernboikot Olimpiade Beijing (Kompas, 19/3/2008).

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

pengembangan demokrasi, peningkatan HAM, dan peningkatan integrasi Cina pada dunia (Mooney, 2008). Untuk menjaga komitmen Cina tersebut, Parlemen Eropa pada bulan Januari 2008 mengeluarkan resolusi kepada pemerintah Hu Jintao (Mooney, 2008) : ... not to use the Olympic Games as a pretext to arrest and illegally detain and imprison dissidents, journalists, and human-rights activists.

Faktanya,persiapan penyelenggaraan Olimpiade 2008 menimbulkan paradoks akan perlindungan HAM di Cina. Di satu pihak, melalui slogan dan semangat

Olimpiade, pemerintah Cina berjanji untuk memperbaiki kondisi HAM di dalam negeri. Di lain pihak, banyak temuan di lapangan yang menunjukkan banyaknya pelanggaran HAM yang dilakukan dalam kerangka persiapan Olimpiade .

Olimpiade malah menjadi alas an kuat pemerintah Cina untuk melakukan pembatasan kebebasan sipil dan melakukan supresi terhadap HAM. Berikut Tabel 1 yang menunjukkan temuan pelanggaran HAM di Cina terkait dengan persiapan Olimpiade yang ditulis dalam surat terbuka oleh Teng Biao dan Hu Jia, aktivis HAM di Cina."

Tabel 1. Pelanggaran HAM di Cina Terkait dengan Persiapan Olimpiade 2008

Keterkaitan Pelanggaran Korban Kerangka
Waktu
Partisipasi dalam Pengeluaran dokumen 43 jenis orang yang April 2007
Olimpiade internal oleh Kementrian dibedakan dalam
Keamanan Publik yang berisi II kategori.
tentang larangan Termasuk di
keikutsertaan kelompok dalamnya orang
tertentu dalam Olimpiade yang tidak sepaham
dengan pemerintah,
pejuang HAM,
pekerja media,
agamawan.
Dana proyek Tidak transparan dalam Para pem bayar
investasi penggunaan dana yang pajak
Olirnpiade jurnlahnya rnencapai US$40
rnilyar. Pelaksanaannya
dicurigai rawan korupsi dan
kolusi 1\ Tiga bulan, tang gal 27 Desernber 2007, setelah surat terbuka dipublikasikan (tertanggal 10 September 2007), Hu Jia ditangkap di rurnahnya dan dikenakan tahanan rurnah sarnpai dua tahun dengan tuduhan rnelakukan usaha subversi terhadap pernerintah.

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

Pembangunan Pengggusuran paksa; tidak 1,5 juta penduduk di Data sampai
konstruksi proyek adanya resettlement bagi Qingdao, Shenyang, akhir 2007
Olimpiade korban penggusuran; Shanghai, dan
pemberian kompensasi yang Qinhuangdao.
tidak memadai terhadap
korban penggusuran.
Pembangunan Mengeluarkan larangan, Pengemis,
image sebagai kota detensi, atau memulangkan gelandangan,
beradab pengemis, gelandangan, dan pedagang kaki lima.
pedagang kaki lima. Tindakan
detensi berupa pengiriman ke
shelter atau ke labor camp.
Kebebasan Menutup website; menghapus
berpendapat dan blog; melakukan filter
berserikat terhadap kata-kata yang
dianggap sensitif; melakukan
blok terhadap beberapa
website luar negeri; melarang
penyiaran radio dan program
televisi asing,
Secara konsisten melakukan para aktivis HAM, Sejak 1989
penahanan; melarang political dissident,
bepergian keluar negeri atau jurnalis dan penulis
melarang untuk kembali ke lepas.
Cina
Melarang pengumpulan petisi, Petisioner,
demonstrasi demonstran
Menjanjikan kebebasan Selama 22 bulan
peliputan bagi jurnalis asing. sampai dengan
Hasil survey dari FCCC 17 Oktober 2008
(Foreign Correspondents Club
in China) menunjukkan bahwa
40 persen koresponden asing
mengalami kekerasan,
pelecehan, detensi, atau
peringatan resmi selama
melakukan peliputan. Polisi
kerap turut cam pur pada saat
melakukan wawancara. I DITI;:RBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA ii;,,~,;r '~ ,

.\ ~;.rJj:,i. .

~ .. ~~. ",'.,.;;

..

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

Warga negara tidak memiliki
hak untuk memilih pemimpin
negara, pemerintah local atau
perwakilannya.
Kebebasan Pemerintah Cina Mendeportasi 100 April- Juni 2007
beragama memberlakukan kampanye orang misionari dari
"Typhoon 5" yang ditujukan AS, Korea Selatan,
untuk mengawasi kegiatan- Kanada, dan
kegiatan misionari. Australia. Termasuk
di dalamnya para
pekerja kemanusian
dan guru bahasa.
Tentara Cina melakukan Warga Tibet 30 November
penembakan terhadap 71 warga 2006
Tibet yang melarikan diri ke
Nepal
Memperketat kontrol terhadap Warga Tibet 1 September
warga Tibet; turut cam pur 2007
dalam kehidupan beragama
dengan mengeluarkan aturan
bahwa keberadaan reinkarnasi
lama harus disetujui oleh
otoritas Cina; melarang
kembalinya Dalai Lama ke
Tibet.
Melarang hadirnya kelornpok- Pengikut kelompok- Sejak 1999
kelompok kepercayaan seperti kelompok
Fulungong; melakukan bentuk- kepercayaan
bentuk persekusi yang
mengakibatkan kematian,
cacat, cuci otak, penahanaan,
kerja paksa
Penyiksaan Pemberlakuan hukuman mati Sejumlah 8-10 ribu
orang tiap tahunnya,
yang terdiri at as
pelaku tindak
criminal, terpidana
ekonomi, sering
orang yang tidak
bersalah tapi dipaksa
untuk memberikan
pengakuan -

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No.1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Pcnnasalahan HAM di Cina

Penyiksaan di pusat-pusat Tiap tahunnya
detensi, labor camp, dan penjara. dilaporkan kasus-
Penyiksaan dengan kasus tewasnya
menggunakan kejut Iistrik, warga Cina akibat
pembakaran, penggunaan jarum penyiksaan oleh
yang dialiri listrik, pemukulan, polisi.
penggantungan, penyuntikan
. bahan kimia yang
mengakibatkan kerusakan
syaraf.
Penerapan sistem penahanan Dissident dan aktivis
lewat Labor Camp, pusat-pusat HAM merupakan
detensi, at au rumah sakitjiwa. sasaran yang paling
Sistem memberikan otoritas bagi rawan
polisi untuk menahan warga
tanpa melalui peradilan, dengan
masa tahanan sampai 4 tahun.
Pemerintah memiliki polisi
rahasia yang memiliki kekuasaan
di atas hukum. Mereka dapat
melakukan penyadapan telepon,
mengikuti aktivitas warga,
memberlakukan tahanan rumah,
melakukan detensi, atau
penyiksaan terhadap mereka. Data diolah dari Teng Biao dan Hu Jia (2007). The Real China and the Olympic. Diakses tanggal 20 Maret 2008 melalui http://www.ciaonet.orgljoumal

Kesimpulan

Tindakan represif pemerintah Cina terhadap demonstran Tibet pada peringatan 49 tahun pengasingan Dalai Lama ke India bukan merupakan tindakan represif yang pertama. Sejak awal masuknya Tibet dalam wilayah Cina banyak diwarnai tindak kekerasan yang mengacu pada praktik pelanggaran HAM.

Permasalahan penegakan HAM di Cina kemudian tidak terbatas pada perlakuannya terhadap masyarakat

Tibet saja. Lompatan besar Mao Zedong dan Tragedi Tiananmen, Juni 1989 merupakan bentuk tragedi kemanusian terbesar di Cina yang pernah didokumentasikan.

Dalam kerangka HAM, Cina telah terikat pada rezim-rezim internasional HAM seperti Duham, Konvensi Penghapusan Diskriminasi Rasial, Konvensi Anti Penyiksaan, Konvensi Anti Diskriminasi terhadap Perempuan, Konvensi Hak-hak Anak. Meskipun masih dalam tahap negara penanda

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUDI HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA

..

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

tangan, Cina juga terikat pada kerangka Kovenan Perlindungan Hak-hak Ekonorni, Sosial, dan Budaya; dan Kovenan Perlindungan Hak Sipil dan Politik.

Keterikatan tersebut tidak lantas melepaskan praktek pelanggaran HAM di Cina. Pemahaman HAM yang lebih didasarkan pada pendekatan relativisme budaya dibanding pendekatan universalitas kernudian menjadi alasan pembenar bahwa praktik HAM di Cina adalah berbeda dan bukan merupakan

bentuk pelanggaran.

Usaha untuk memperbaiki citra penegakan HAM di Cina mendapatkan turning point ketika Cina terpilih menjadi tuan rumah pelaksanaan Olimpiade 2008. Dengan slogan One World, One Dream pemerintah Cina berjanji untuk memperbaiki HAM di negaranya. Faktanya, persiapan pelaksanaan Olimpiade 2008 malah semakin menumbuhkan sikap represif pemerintah dan semakin menekan HAM di Cina.

Daftar Pustaka

Biao, Teng dan Hu Jia, The Real China and the Olympic. 2007, available online: httpr//www.ciaonet.org/jcurnal (akses 20 Maret 2008)

Christie, K. dan Denny, R., Politics of Human Rights in East Asia (London: Pluto Press, 2001). Dikutip oleh Michael K. Connors (2004). "Culture and Politics in the Asia Pacific: Asian Values and Human Rights" dalam Michael K. Connors, Remy Davidson, Jorn Dosch (ed.), The New Global Politics of the Asia Pacific (Oxfordshire: Routledge Curzon, 2004).

Dhir, Aaron. "Tibetan Self-determination and Human Rights: A Conversation with Eva Herzer, President of the International Committee of Lawyers for Tibet". Social Justice (San Francisco: Spring 1999. Vol 26, Iss 1; 1999, pp 72-78) available online:http://proquest.umi.com/pqdweb?did=43597662 &sid=l &Fmt=3&clientId=72459 &RQT=309 &VName=PQD (akses 20 Maret 2008).

Fukuyama, Francis, "Confucianism and Democracy," in Journal of Democracy, Vol. 6. No.2, 1995, pp. 20-33. Dikutip oleh Yu-Tzung Chang, Yun-Han Chu, dan Frank Tsai, "Confucianism and Democratic Values in Three Chinese Societies". Issues and Studies, Taipei: December 2005, Vol 41, No 4, pp. 1-

33·

Gyatso, Tenzin, "China and human rights: The struggle for Freedom". Vital Speeches

of the Day. New York: May 1, 1999, Vol 65, Iss 14; pp. 423-426. Available online: http://proquest .umi .com/pgdweb ?did=72970474 &sid=l &Fmt=3 &clientId=72459 &RQT=309 &VName=PQD (akses 20 Maret 2008).

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No. 1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

Hermida, Citra, "Perlindungan Anak dalam Hukum Humaniter Internasional," Makalah tidak dipublikasikan, 2008.

Human Rights Watch Report 200B. Available online: http://hrw.org!wr2k8/ china.htm (akses 20 Maret 2008).

Jacobsen, M. dan 0 Bruun, Human Rights and Asian Values: Contesting National Identities and Cultural Representations in Asia (Richmond: Curzon, 2000). Dikutip oleh Michael K. Connors, "Culture and Politics in the Asia Pacific:

Asian Values and Human Rights" dalam Michael K Connors, Remy Davidson, Jorn Dosch (ed.), The New Global Politics of the Asia Pacific. (Oxfordshire:

RoutledgeCurzon, 2004).

Kent, Ann, China, the United Nations, and Human Rights: The Limits of Compliance

(Philadelphia: Pennsylvania Press, 1999).

Kompas, 17 Maret 2008. -----, 19 Maret 2008.

-----, 25 Maret 2008.

Kurlantzick, Joshua,"The Dragon Still Has Teeth: How the West Winks at Chinesse Repression," World Policy Journal, Vol XX, No 1, Spring 2003. Available online: http://www.ciaonet.org/frame/oljourfrm.html (akses 20 Maret 2008).

Lama, Dalai, Press Release, 1B March 200B. Available online: http:// www.dalailama.com/news.218.htm (akses 1 April 2008).

Mooney, Paul, "Olympic Crackdown; Preparing for the Beijing Games, China's Authorities Go After Human-rights Activists" U.S. News & World Report. Washington: Feb 25, 2008. Vol 144, Iss 6; p. 28. Available online: hup:/! proquest .umi .com/pgdweb ?did=1352024741 &sid=1 &Fmt=3 &clientId=72459 &RQT=309 &VName=PQD (akses 20 Maret 2008).

Moore, Greg, "China's Cautious Participation in the UN Human Rights Regime," Human Rights and Human Welfare. Vol 1, NOI, 2001, pp. 23-29. Available online: http://www.ciaonet.org/journal (akses 22 Maret 2008).

Nathan, Andrew J., Human Rights and American China Policy (Washington DC:

Columbia University Press, 2000). Available online: http:// www.ciaonet.org/book/nathan/Nathan16.html (akses 20 Maret 2008)

Ness, Peter Van, "Addressing the Human Rights Issue in Sino-American Relations," dalamJournal of International Affairs, 49/2 (Winter, 1996): 309-32. Dikutip oleh Moore, Greg, "China's Cautious Participation in the UN Human Rights Regime," dalam Human Rights and Human Welfare, Vol 1, No 1, 2001, pp.

I DITERBITKAN OLEH PUSAT STUD! HAK ASASI MANUSIA UNIVERSITAS SURABAYA _

Tibet dan Permasalahan HAM di Cina

23-29. Available online: http://www.ciaonet.org/journal (akses 22 Maret 2008).

Perusek, David, "Grounding Cultural Relativism," dalam Anthropological Quarterly.

Washington: Summer 2007, Vol 80, Iss 3, pp. 821-837. Available online: http://proquest.umi.com/podweb ?did=1352024741 &sid=1 &Fmt=3 &clientId=72459 &ROT=309 &VName=PQD (akses 20 Maret 2008).

Saragih, Simon, "Semakin Susah untuk Memaksa Cina," Kompas, 26 Maret 2008. Seymour, James D., "Human Rights in China," Current History, Sep 1994; 93, 584; Academic Research Library, p. 256.

Sullivan, Michael, "Developmentalism and China's Human Rights Policy: Should June 4th be Forgotten?" Paper presented at the 47th Annual Meeting of the Association of Asian Studies (Washington, DC, April 6-9, 1995). Available online: http://www.ciaonet.org/iournal (akses 22 Maret 2008).

Ulin, Robert C., "Revisiting Cultural Relativism: Old Prospects for a New Cultural Critique," dalam Anthropological Quarterly, Washington: Summer 2007, Vol 80, Iss 3, pp 803-821. Available online: http://proquest.umi.com/ pqdweb ?did=1352024721 &sid=1 &Fmt=3 &clientId=72459 &ROT""309 &VName::::POD (akses 20 Maret 2008).

-

JURNAL DINAMIKA HAM I VOL 8 I No.1 I JANUARI - APRIL 2008 I

I

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->