P. 1
Draft-RPJP Aceh versi 5 Oktober 2010

Draft-RPJP Aceh versi 5 Oktober 2010

|Views: 1,336|Likes:
Published by Teuku Ardiansyah

More info:

Published by: Teuku Ardiansyah on Oct 26, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/20/2012

pdf

text

original

'';;i

FOCUS QROUP DISCUSSI N (FQD) RANCANQAN RENCANA PEMBANQUNAN JANQKA PANJANQ .ACEH (RPJPA)

2005-2025

BAPPEDA ACEH

Banda Aceh, 5 Obtober 2010

BAB

I

PENDAH ULUAN 111""........................................... I - 1

DAFTAR lSI

1.1 Pengantar I - 1

1.2 Maksud dan Tujuan ••.••••.•••..•••..••.•••••.•••.•... IIIII II ••• I1" ••• ;jIII •••••••••••••••••••• I 3

1.3 Landasan Penyusunan •••••••••••••••••••••••••••••••••••••• l1li111...................... I 3

1.4 Sistematika Penyusunan .•.......•......••.........•••.•..•.•••..••.•.•..•....•.... I - 5

BAB

II KONDISI UMUM DAERAH •.•.•......••...••..•••.........•.••..•..•..••..••.•....•....••• 11. 11-1

2.1 Kondisi Saat In; l1li.l1li 11 .. 1

2.1.1 Sosial Budaya dan Syari'at Islam •••••••••••••••••••••••••••••••••... 11-2

2.1.2 Ekonomi 11-17

2.1.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) ••••••••••.....••... 11-25

2.1.4 Infrastruktur Wilayah 11-26

2.1.5 Lingkungan Hidup dan Kebencanaan 11-34

2.1.6 Politik dan Perdamaian 11-38

2.1.7 Hukum dan HAM ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••..•... 11-40

2.1.8 Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat 11-40

2.1.9 Aparatur .•••...........•••...••...••...••...••••••..•..•..•...••....••.....•..... 11-42

2.1.10 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah 11-44

2.2 Analisa Isu-isu Strategis .•••....... 111''''II1II " •• '' 11 l1li.111 11 .. " .. 111l1li II-45

BAS III VISI DAN MISI PEMSANGUNAN ACEH TAHUN 2005-2025............... 111-1

BAB IV ARAH KEBI1AKAN DAN KAIDAH PELAKSANAAN PEMBANGUNAN

JANGKA PANJANG TAHUN 2005-2025 IV-1

4.1 Arah Kebijakan Pembangunan Jangka Panjang Aceh

Tahun 2005-2025 IIIIIII." " •• II." ••• IIII IIII."';jIII." """II .. l1li ••••••••••••••• IV-S

4.1.1
4.1.2
<v 4.1.3
4.1.4
.-;
4.1.5
4.1.6 Mewujudkan Masyarakat Aceh Yang Berakhlak Mulia

Sesuai Dengan Nilai-nilai Islami IV-S

Mewujudkan Masyarakat Yang Mampu Memenuhi Kehidupan Secara Ekonomi, Sosial dan Spiritual •....••••. IV-8 Mewujudkan Aceh Yang Demokratis Berlandaskan

Hukum ••.••..•••••••.••••.......••••....••.•.••••...••..•.•...•.•................ IV-14

Mewujudkan Aceh Yang Aman, Damai dan Bersatu

Hukum .. l1li l1li l1li .. IV-17

Terwujudnya Pembangunan Yang Berkualitas, Adil

dan Merata ................•••.......••••••••••.......•...... l1li; l1li 11 l1li.l1lil1li IV-iS

Terwujudnya Aceh Yang Lestari dan Tangguh

Terhadap Bencana .••....•.•••••..•..•••..••••.••.•.•••..••..••••••••..•••• IV-23

4 .. 2 Kaidah Pelaksanaan II III11I11.~ 1II IV~26

4.2.1 Tahapan Pembangunan Ke-l (2005-2012) •.••••••••••••••••• IV-27 4.2.2 Tahapan Pembangunan Ke-2 (2013-2017) .•.........•.....•. IV-31 4.2.3 Tahapan Pembangunan Ke-3 (2018-2022) •...••••••.....•..• IV-35 4.2.4 Tahapan Pembangunan Ke-4 (2023-2025) .•••.............•• IV-38

BAB V PENUTUP V-1

BABI PENDAHULUAN

1.1. Pengantar

Perjalanan sejarah Aceh menggambarkan sebuah mosaik tersendiri. Pada abad ke 17, Aceh merupakan kawasan yang maju dan menjadi pusat perdagangan regional. Aceh pada saat itu bercirikan perkotaan dimana kekuatan ekonominya dikuasai oleh saudagar setempat dan ditopang oleh kepemimpinan yang kuat dan efektif.

Setelah mencapai masa keemasannya, Aceh kemudian memasuki perlode konflik dimana negara-negara imperialis dan kolonialis berkeinqlnan menjajah Aceh. Periode ini membawa Aceh dalam posisi defensif sehingga selama periode in! kemegahan atau keunggulan budaya, ekonomi perdagangan menjadi suram karena semua energi difokuskan pada perlawanan. Lepas dari perang kemerdekaan, Rakyat Aceh kembali mengalami konflik berkepanjangan dengan Pemerintah Pusat di Jakarta akibat inkonsitensi pemerintah pusat terhadap Aceh.

Kondisi konfJik tersebut diatas dirasakan seperti tidak akan berhenti dan bersifat lingkaran setan (vicious circle) sampai terjadinya Bencana Gempa dan Tsunami pada 24 Desember 2004 di Samudera Hindia 150 Km dari pesisir barat Aceh. Bencana ini yang rneluluh-lantakkan negara-negara yang berbatasan dengan Samudera Hindia dan menelan korban jiwa sebesar 170.000 ribu hanya di Aceh. Dibalik masifnya kerusakan akibat bencana ini terbit sebuah harapan baru untuk membangun kembali Aceh yang lebih balk, Hal ini dikarenakan dengan simpati dunia yang luar biasa dalam membangun Aceh dan yang lebih penting adaJah berakhirnya konflik berdarah dan terwujudnya perdamaian Aceh melalui sebuah penandatangan MOU Helsinki pada tanggal 15 Agustus 2005.

Berangkat dari kenyataan diatas, Aceh tampaknya mengalami sebuah mosaik sikHs dimana diawali dengan masa kejayaan kemudian diikuti masa kesuraman dan sekarang ini mulai lagi menapaki mula! merada pada posisi atas dar! mosaik siklis dan memulai perjalanan menuju masa depan yang lebih cerah. Saat in!, Aceh ibarat ground zero atau kertas putih dimana seharusnya seluruh komponen rakyat Aceh

1-1

menulis keinginannya tentanq baqalmana Aceh di masa yang akan datang dan arah mana yang kita tempuh.

Atas pemahaman inilah, Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aceh disusun. Dalam penyusunannya, serangkaian firman Allah SWT dalam Surat Ibrahim Ayat 24-25, \\ Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon Itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya ", menjadi filosofi dasar. RPJPA diharapkan menjadi dokumen perencanaan yang berdasarkan realita atau membumi, mempunyai arah yang jelas dan vlsloner, dan bertahap dalam pelaksanaannya serta mempunyai target hasll pada setiap tahapan.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aceh Tahun 2005-2025 adalah dokumen perencanaan makro dan berwawasan dua puluh tahun yang memuat Visi, Misi, dan Arah Kebijakan Pembangunan Daerah jangka panjang Pemerintah Provinsi Aceh, yang selanjutnya akan digunakan sebagai acuan penyusunan dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah Aceh untuk setiap jangka waktu lima tahunan.

Dokumen RPJP Aceh Tahun 2005-2025 ini merupakan lanjutan dari rangkaian dokumen-dokumen perencanaan pembangunan yang telah disusun sebelumnya selama hampir tiga dekade proses pembangunan daerah. Selama kurun waktu tersebut, Pemerintah Daerah Aceh (sebelumnya disebut Daerah Istimewa Aceh dan Nanggroe Aceh Darussalam), telah memiliki dokumen-dokumen perencanaan pembangunan daerah, baik untuk jangka menengah (5 tahunan) maupun jangka pendek (tahunan).

Keseluruhan dokumen perencanaan tersebut memuat tahapan-tahapan dan sekaligus dasar-dasar bagi proses pembangunan melalui implementasi program dan proyek/kegiatan secara berkelanjutan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan rakyat di Provinsi Aceh. Kendati demikian, proses pembangunan daerah berlangsung dalam situasi dan kondisi yang terus berubah secara dinamis.

1-2

..

RPJP Tahun 2005-2025 ini rnerupakan peletakan dasar-dasar pembangunan dan juga lanjutan dari upaya pembaharuan untuk mewujudkan Visi Pembangunan Provinsi Aceh menuju masyarakat Aceh yang madani berdasarkan Islam, sekaligus bagian dari upaya untuk mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain di Indonesia, melalui pemanfaatan seluruh potensi sumberdaya yang ada, pengelolaan pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa, serta didasari oleh kerjasema yang sinergis dan harmon is dari seluruh komponen yang ada di Provinsi Aceh .

1.2. Maksud dan Tujuan

RPJP Provinsi Aceh Tahun 2005-2025 ini disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut :

1. Menjadi acuan resmi bagi seluruh jajaran Pemerintah Aceh, DPR Aceh, dunia usaha, dan masyarakat dalam menentukan prioritas program dan kegiatan tahunan yang akan dituangkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi Aceh; dan

2. Menjadi pedoman berwawasan jangka panjang bagi seluruh jajaran Pemerintah Aceh, DPRD Aceh, dunia usaha dan masyarakat dalam menentukan arah pembangunan daerah sesuai dengan potensi dan kondisi riel serta proyeksinya pada masa mendatang.

1.3. Landasan Penyusunan

Penyusunan RPJP Provinsi Aceh Tahun 2005-2025 ini dilandaskan pada beberapa Ketentuan Perundang-undangan, yaitu antara lain:

1. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang Pe-nyelenggaraan

Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh;

2. Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 tahun 2000 tentang Kawasan Perdaqanqan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang;

3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor

VIIjMPR/2001 tentang Visi Indonesia Masa Depan;

4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara;

1-3

5. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 2004 tentang Perbendaharaan Anggaran;

6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

7. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah;

8. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 32 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang;

9. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah;

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh;

11. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) Tahun 2005-2025.

12. Peraturan Pemerintah NO. 20 tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah;

13. Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2001 tentang Pelaporan Penyelenggaran Pemerintahan Daerah.

14. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penyusunan Rencana Pembangunan Nasional Tahun 2005 -2025;

15. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan a nta ra Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota;

16. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan, Tata

Cara Penyusunan, Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah;

17., Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional;

1-4

18. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tugas dan Wewenang serta Kedudukan Keuangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah di Wilayah Provinsi;

19. Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2010 tentang Kerjasama Pemerintah Aceh dengan Lembaga atau Badan di Luar Negeri;

20. Qanun Aceh Nomor 1 Tahun 2008 tentang Pengelolan Keuangan Aceh;

21. Qanun Aceh Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pengalokasian Tambahan Dana 8agi Hasil Minyak dan Gas Bumi dan Penggunaan Dana Otonomi Khusus.

"

1.4. Sistematika Penyusunan

RPJP Provinsi Aceh Tahun 2005-2025 disusun dengan sistematika sebagai berikut:

BABI

BABII

BAB III BABIV

._

BABV

PENDAHULUAN 1.1. Pengantar

1.2. Maksud dan Tujuan

1.3. Landasan Penyusunan 1.4. Sistematika Penyusunan

GAMBARAN UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Umum Daerah 2.2. Analisis Isu-isu Strategis

VISI DAN MISI PEMBANGUNAN ACEH TAHUN 2005-2025 ARAH KEBIJAKAN DAN KAIDAH PELAKSANAAN

4.1. Arah Kebijakan

4.2. Kaidah Pelaksanaan

PENUTUP

1-5

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH

Pembangunan Aceh merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Pembangunan Aceh yang telah maupun yang akan dilaksanakan harus mengacu kepada arah dan kebijakan pembangunan nasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, pembangunan Aceh harus dilakukan secara holistik dan terintegrasi yang meliputi bidang sosial budaya dan kehidupan beragama, ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi, sarana dan prasarana, politik, ketentraman dan ketertiban masyarakat, hukurn, aparatur, tata ruang dan pengembangan wilayah serta sumberdaya alam dan lingkungan hid up.

Pembangunan Aceh telah menunjukkan kemajuan di berbagai bidang, setelah melalui masa sulit akibat bencana gempa dan tsunami serta konflik yang berkepanjangan. Namun demikian, di samping kemajuan yang telah dicapai tersebut, masih ditemui tantangan dan masalah yang perlu diselesaikan dalam pembangunan Aceh untuk 20 tahun ke depan dengan mempertimbangkan seluruh patensi atau modal dasar yang dimiliki oleh provinsi Aceh.

'-

2.1 Kondisi Umum Daerah

Bencana gempa dan tsunami serta konflik berkepanjangan telah menyebabkan hancurnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, khususnya di wilayah yang terdampak gempa, tsunami dan konflik. Bencana gempa dan tsunami telah menelan korban 127.720 orang meninggal dan hilang, 635.384 jiwa kehilangan tempat tingggal. Disamping kehilangan harta benda, masyarakat juga kehilangan mata pencaharlannya karena rusaknya faktor produksi seperti: lahan pertanian 73.869 ha dan kapal nelayan 13.828 buah serta UKM 104.500 unit. Sarana dan prasarana publik juga hancur seperti jalan 2.618 km, jembatan 119 unit, pelabuhan 8 buah, sarana kesehatan 517 buah, sekolah 3.415 unit, bandara atau airstrip rusak 8 buah.

Kerugian akibat konflik bersenjata di Aceh melebihi kerugian akibat tsunami. Data dari Multi Stakeholder Review 2009 menyebutkan bahwa

II-l

,i

kerugian akibat konflik menembus angka Rp. 231,045 trilyun, dibandingkan kerugian tsunami yang diperkirakan oleh Bappenas dan Internasional Donor Community sebesar Rp. 44,516 trilyun. Kerugian terbesar akibat konflik adalah di sektor produksi yang disebabkan oleh kerusakan kapasitas produksi dan kerugian kumulasi dari potensi pemasaran dan penerimaan. Secara per sektor, kerugian akibat konflik dapat dijelaskan sebagai berikut ; sektor produktif mengalami kerugian sebesar Rp. 144,865 trilyun, sektor pemerintahan menderita kerugioan sebesar Rp. 41,622 Trilyun. Sedangkan sektor sosial dan infrastruktur /pemukiman masing-masing mencapai Rp. 32,431 trilyun dan Rp. 12,127 trilyun.

Berakhirnya konflik dan tercapainya perdamaian di Aceh telah mengembalikan Aceh pada kondisi normal yang ditandai dengan membaiknya indikator-indikator pembangunan. Program rekonstruksi dan rehabilitasi pasca tsunami telah banyak memperbaiki kerusakan-kerusakan akibat tsunami dan konflik. Sebagian besar pengungsi akibat konflik dan tsunami telah kembali ke rumah masing-masing atau pindah ke tempat yang baru. Proses reintegrasi pun secara umum beljalan cukup balk, Kondisi sosial yang positif dan kondusif ini memberikan basis atau landasan yang kuat dalam membangun Aceh yang lebih baik.

2.1.1. Sosial Budaya dan Syariat Islam

Pembangunan Aceh di bidang ?osial Budaya dan Syariat Islam berkaitan dengan penciptaan kualitas kehidupan yang lebih baik di beberapa bidang seperti syariat Islam, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.

"-

Sejak tahun 2001, Provinsi Aceh telah memberlakukan pelaksanaan Syariat Islam. Pemberlakuan ini berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia No 44 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2001. Sejak Pemberlakuan syariat Islam secara legal formal, beberapa instrumen pelaksanaan telah dilengkapi seperti pendirian beberapa lembaqa/dlnas/badan dan peraturan daerah atau qanun. Lembaga

pemerintahan Aceh terkait dengan penyelenggaraan Syariat Aceh yang telah dibentuk antara lain Majelis Permusyawaratan Ulama, Mahkamah Syar'iyah, Ba itu I Mal, Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah. Dari slsi peraturan daerahjqanun, pada tahun 2003 Pemerintah Aceh telah mengeluarkan Qanun No 12/ 13 dan 14 terkait larangan khamar (minuman keras), maisir (judi) dan khalwat. Narnun : dalam implementasi syariat Islam masih dltemukan beberapa hambatan seperti belum tersosialisasinya qanun-qanun syariah dan belum ada standar pemberlakuan syariat Islam di semua kabupaten/kota. Menurut laporan Mahkamah Syar'iyah bahwa jumlah pelanggaran syariat yang tinggi dl sebagian kabupatenjkota lebih disebabkan oleh peningkatan perhatian pemerintah setempat dalam penegakan syariat seperti razia rniras, judi dan khalwat. Pelanggaran syariat Islam yang masih terjadi di Aceh adalah sebagai berikut; penyalahgunaan narkoba, pornografi dan pornoaksi, KKN dan aktivitas kriminallainnya masih terjadi di Aeeh.

Dalam pengelolaan zakat, harta waqaf dan harta agama di Aceh, Pemerintah Aeeh telah membentuk Baitul Mal Aceh melalui Qanun Aceh No. 10 Tahun 2007 Tentang Baitul Mal. Sejak pendiriannya, jumlah penerimaan zakat mengalami peningkatan tiap tahunnya. Selama 3 tahun terakhir, peningkatan penerimaan zakat rata-rata adalah 11,87 %. Walaupun terjadi peningkatan, namun nominal zakat yang diterima atau dipereayakan kepada Baitul Mal Aceh masih relatif keeil dari potensi zakat di Aceh. Hal ini disebabkan karena hanya segmen pegawai negeri sipil (zakat profesi) yang tergarap, sedanqkan dari jenis zakat dan sumber profesi lainnya belum optimal penerimaannya.

Kedudukan Ulama dalam Pemerintahan Aceh menempati posisi yang penting. Majelis Permusyawaratan Ulama yang merupakan representasi dari alim ulama dan cendikiawan muslim Aceh disejajarkan kedudukannya sebagai mitra Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA). Fatwa yang ditetapkan oleh lembaga ulama ini menjadi rujukan pengambilan kebijakan Pemerintah Aceh.

II-3

Pendidikan

Di bidang pendidikan, berdasarkan data statistik kependudukan (BPS, 2009), komposisi penduduk Aceh berdasarkan tingkat pendidikan dapat dijelaskan sebagai berikut; 29.54% sudah menamatkan SO/MI, 23.71% tidak/belum tamat SD/MI, 6.07% tldak/belurn pernah sekolah (namun angka ini belum termasuk jumlah penduduk yang berada di dayah/pesantren), 19.12% tamat Sekolah Lanjutan Pertama, 17.29% telah menamatkan Sekolah Menengah Atas, dan hanya 3.59% saja yang telah menamatkan Perguruan Tinggi. Saat ini, Rata-rata Lama Belajar orang Aceh hanya 8,9 tahun. Angka buta aksara latin penduduk 15 tahun ke atas mencapai 4,51%.

Namun _ demikian pembangunan pendidikan Aceh telah rnenqhasllkan beberapa indikator-indikator pendidikan yang positif terutama dalam hal pemerataan akses terhadap pendidikan dasar, melampaui kinerja nasional. Pada tahun 2009, angka partisipasi murni sekolah dasar (APM SD/MI) Aceh mencapai 97,15 %. APM Sekolah dasar didefinisikan sebagai jumlah anak usia sekolah dasar yang bersekolah di sekolah dasar dibanding dengan jumlah penduduk kelompok usia tersebut. Sedangkan indikator lainnya yaitu angka partisipasi kasar (APK) didefinisikan sebagai jumlah seluruh murid SO/MI dibandingkan jumlah penduduk kelompok usia 7-12. Untuk Aceh nilai APK sekolah dasar adalah 113,91 %, artinya masih banyak anak dibawah umur 7 tahun sudah bersekolah dasar.

Kinerja pendidikan dasar Aceh seperti tersebut diatas berbeda dengan kinerja pendidikan anak usia dini (PAUD). Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk usia 4-6 tahun pada lembaga PAUO formal (TK/RA) baru mencapai 23%, sementara pada lembaga PAUD non formal (diantaranya; kelompok bermain, Posyandu Plus, dan TPA) mencapai 53%. Sebaran lembaga yang kurang merata masih menjadi kendala utama dalam upaya peningkatan akses masyarakat terhadap layanan pendidikan dini. Jumlah lembaga TK/RA di seluruh wilayah Aceh hanya mencapai 908 buah, dimana; 12 buah diantaranya adalah TK Negeri sebagai TK Pembina dan 10 buah TK Negeri di kecamatan, selebihnya berupa lembaga swasta yang dikelola dengan swadaya masyarakat.

II-4

Untuk Pendidikan menengah pertama, angka partisipasi kasar siswa di sektor formal (SMP/MTs) adalah 87,67 %. Angka ini belum mencakup siswa yang belajar pada sektor non-formal seperti siswa Paket 8 dan siswa Wustha yang diselenggarakan dayah. Jika kedua siswa ini digabungkan maka nilai APK sekolah menengah pertama Aceh menjadi 94,7 %. Sedangkan untuk angka partisipasi kasar menengah atas yang meliputi siswa pendidikan formal (SMA/MA/SMK) maupun non-formal mencapai 72,3 %.

Dari sisi kesetaraan akses pendidikan di Aceh, rasio siswa perempuan terhadap siswa laki-Iaki di tingkat sekalah dasar adalah 94,3 %. Namun apabila kita melihat rasio tersebut pada tingkat sekalah menengah pertama dan atas, maka rasio akan terbalik yaitu 100,2 % dan 107,5 %. Ini menunjukkan lebih banyak siswa laki-laki tidak meneruskan ke jenjang pendidikan selanjutnya dan lebih banyak siswa laki-lakl yang putus sekolah (drop ouf) di tingkat sekolah menengah.

Rasia guru-siswa saat ini di Aceh lebih tinggi dari tingkat nasional. Dl Aceh, rata-rata satu orang guru melayani 11 orang siswa sedangkan ditingkan nasional 1 orang guru melayani 20 orang siswa. Terindikasikan dari rasio ini bahwa di Aceh terlalu banyak guru dari yang dibutuhkan untuk rnelakukan proses pendidikan yang berkualitas dan efisien. Total presentase guru yang berkualifikasi Sl/O.IV di SO/MI, SMP/MTs dan SMU/MA/SMK adalah 43,4 %. Sedangkan presentasi guru terakreditasi atau guru dengan sertifikasi pendidik untuk semua tingkat sekolah hanya 8,2 %.

Oari sisi kualitas pendidikan, tingkat kelulusan ujian nasional menurun sejalan dengan makin tingginya tingkat pendidikan. SD/MI di Aceh mempunyai tingkat kelulusan 97%. Sedangkan SMP/MTs dan SMA/MA/SMK masing-masing mempunyai tingkat kelulusan 91,1 % dan 82,4 %. Secara umum tingkat pencapaian nilai matematika dalam ujian nasional lebih rendah dari pada mata pelajaran lainnya. Indikasi lainnya tentang masih rendahnya kualitas pendidikan di Aceh dapat dilihat dari tingginya angka mengulang kelas di kelas-kelas awaJ jenjang pendidikan dasar, rendahnya nilai ujian akhir, persentase lulusan yang melanjutkan atau diterima pada jenjang yang

II-S

lebih tinggi, serta minimnya lulusan yang mendapat pekerjaan yang layak maupun yang mampu berwirausaha dan/atau membuka lapangan kerja.

Kualitas pendidikan juga sangat dipengaruhi oleh tata kelola pendidikan, Pelaksanaan manajemen berbasis sekolah (MBS) masih terfokus pada pelaporan penggunaan dana BOS (bantuan operasional sekolah). Aspek lainnya seperti perencanaan dan penganggaran yang transparans, partisipasi masyarakat dan keaktifan komite sekolah, sistem monitoring pelaksanaan MBS dan basis data hingga saat ini belum terlaksanakan secara optimal.

Qanun Aceh No. 5 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan Pendidikan mengamanatkan bahwa Pendidikan Aceh dilaksanakan berdasarkan nilai islami sesuai dengan kebudayaan Aceh. Namun dalam implementasinya masih terdapat kendala terutama disebabkan oleh lemahnya penguasaan ilmu guru dan kepala sekolah tentang agama Islam.

Kesehatan

Kualitas sumberdaya manusia sangat menentukan kemajuan dari sebuah bangsa atau negara. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia harus dimulai secara dini yaitu sejak calon manusia masih berada dalam kandungan sampai berusia lima tahun. Untuk menjaga kualitas SDM 1 syarat utama adalah ibu dan anak yang sehat sejak hamil sampai masa persalinan dan anak tetap sehat sampai usia 5 tahun. Apabila seorang anak mengalami hambatan kesehatan sejak dalam kandungan maka proses pendidikan tidak mencapai tujuan yang optima1. Akhirnya, anak tersebut tidak memiliki daya saing yang handal ketika ia memasuki bursa tenaga kerja pada 15-20 tahun mendatang.

Salah satu indikator utama untuk menunjukkan keberhasilan pembangunan kesehatan adalah usia harapan hidup (UHH) yang juga merupakan salah satu komponen dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2008 angka harapan hidup rakyat Aceh adalah 68,5 tahun. Secara nasional, UHH Aceh menempati urutan ke-19 (RP]P Kesehatan 2005-2025, 2009). Sedangkan secara internal Provinsi Aceh, masih terdapat disparitas pencapaian UHH yaitu Kabupaten Bireuen mencapai 72/28 tahun adalah

11-6

angka yang tertinggi dan Kabupaten Sirneulue hanya 62,84 tahun angka terendah (Profil Kesehatan Aceh, 2009). Oisparitas UHH antara kabupaten tertinggi dan terendah yang sekitar 9,4 tahun ini mencerrninkan pembangunan kesehatan bel urn berjalan dengan merata di seluruh Aceh.

Pada tahun 2008, Angka kernatian bayi (AKB) Aceh sebesar 37/1000 lahir hidup (LH). Sernentara AKB nasional sebesar 35/1000 LH (Profile Kesehatan Provinsi Aceh, 2009). Penyebab utarna kernatian bayi adalah asfiksia, be rat badan lahir rendah, infeksi dan lainnya. Kematian bayi diduga lebih banyak terjadi di pedesaan, ibu yang pendidikan rendah, dan rnasyarakat miskin. Tantangan utarna dalarn penurunan kematian bayi adalah akses penduduk miskin, ketersediaan sumber daya kesehatan yang mernadai dan kualitas pelayanan.

Secara urnum, persentase cakupan pelayanan neonatal di Provinsi Aceh menurut Riskesdas 2007 pada kunjungan pertarna (KN-1:0-7 hari) sebesar 56,5% dan KN-2 (8-28 hari) sebesar 36,0%. Menurut karakteristik rumah tangga terlihat bahwa cakupan pelayanan neonatal baik pada neonatus urnur 0-7 hari rnaupun neonatus umur 8-28 hari lebih tinggi di perkotaan, dan pendidikan Kepala Keluarga Perguruan llnggi (Riskesdas, 2007).

Kematian bayi ini berhubungan juga dengan cakupan imunisasi. Secara umum cakupan imunisasi yang telah dicapai provinsi Aceh rnenurut riskesdas untuk BCG 75,2%, Polio 66,2%, OPT 58,3%, HB 3 54,3 % dan campak 71,4%. Cakupan irnunisasi BCG, Polio 3, OPT 3, Hepatitis B 3 dan Campak pada anak urnLir 12-59 bulan lebih tinggi di perkotaan dibandingkan perdesaan, antara lakl-lakl dan perernpuan tidak ada perbedaan yang rnenyolok walaupun sedikit lebih tinggi pada perempuan.

Secara umurn persentase cakupan irnunisasi dasar yang telah dicapai secara lengkap di Provinsi Aceh sebesar 32,9%, tidak lengkap 53,2% dan tidak sarna sekali 13,9%. Cakupan imunisasi lengkap di perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan, dan antara laki-Iaki dan perempuan mempunyai persentase yang hampir sarna. Perbedaan cakupan imunisasi antara kabupaten/kota dikarenakan perbedaan kernampuan dari tiap daerah seperti

II-7

SDM kesehatan, lemahnya kegiatan menjangkau masya ra kat karena rendahnya anggaran operasional, persediaan vaksin yang kurang tepat waktu, keterbatasan vaksin tiap daerah, cold chain yang sudah tua, dan peran serta masyarakat yang masih rendah.

Gizi balita terutama sejak lahir sampai masa usia balita merupakan faktor determinan dalam pertumbuhan otak anak. Apabila pada masa ini anak mengalami gangguan gizi, maka anak tersebut akan menurun kapabilitas otaknya yang permanen. Beberapa indikator gizi yang menentukan status gizi anak adalah tinggi badan per umur (TBjU) dan berat badanjumur (BBjU).

Angka prevalensi balita menurut status gizi yang dldasarkan pada indikator TBjU. Indikator TBjU menggambarkan status gizi yang sifatnya kronis, artinya muncul sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung lama seperti kemiskinan, perllaku pola asuh yang tidak tepat, sering menderita penyakit secara berulang karena higiene dan sanitasi yang kurang baik. Status pendek dan sangat pendek dalam diskusi selanjutnya digabung menjadi satu kategori dan disebut masalah kependekan. Prevalensi masalah kependekan pada balita secara provinsi masih tinggi yaitu sebesar 44,6%. Sepuluh kabupaten memiliki prevalensi masalah kependekan di atas angka provinsi.

Indikator BBjTS menggambarkan status gizi yang sifatnya akut sebagai akibat dari keadaan yang berlangsung dalam waktu yang pendek, seperti menurunnya nafsu makan akibat sakit atau karena menderita dlare, Dalam keadaan demikian berat badan anak akan cepat turun sehingga tidak proporsional lagi dengan tinggi badannya dan anak menjadi kurus. Di samping mengindikasikan masalah gizi yang bersifat akut, indikator BBjTB juga dapat digunakan sebagai indikator kegemukan. Dalam hal ini be rat badan anak melebihi proporsi normal terhadap tinggi badannya. Kegemukan ini dapat terjadi sebagai akibat dari pola makan yang kurang balk atau karena keturunan. Masalah kekurusan dan kegemukan pada usia dini dapat berakibat pada rentannya terhadap berbagai penyakit degeneratif pada usia dewasa (Teori Barker).

II-a

Salah satu indikator untuk menentukan anak yang harus dirawat dalam manajemen gizi buruk adalah indikator sangat kurus. Prevalensi balita sangat kurus menurut provinsi masih cukup tinggi yaitu 9,2%. Besarnya masalah kekurusan pada balita yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat adalah jika prevalensi kekurusan > 5%. Masalah kesehatan masyarakat sudah dianggap serius bila prevalensi kekurusan antara 10,1%-15,0%, dan dianggap kritis bila prevalensi kekurusan sudah di atas 15,0% (UNHCR).

Secara umurn, prevalensi balita kurus+sangat kurus di propinsi Aceh adalah 18[3%[ dan sudah berada di bawah batas kondisi yang dianggap serlus menurut indikator status gizi BBITB (10%). Berdasarkan indikator BBITB juga dapat dilihat prevalensi kegemukan di kalangan balita. Menurut provlnsl, prevalensi kegemukan menurut indikator SBITS adalah sebesar 15[2 %.

Status gizi SSjU balita menurut karakteristik responden, ditinjau dari kelompok umur, maka terlihat bahwa prevalensi balita gizi kurang+buruk di provinsi Aceh sudah tinggi pada semua kelompok umur dan meningkat menjadi lebih tinggi mulai umur 24 bulan, kemudian menurun kembali pada kelompok umur di atas 36 bulan. Menurut jenis kelamin tidak terlihat perbedaan berarti antara masalah gizi kurang+buruk pada balita laki-laki dan balita perempuan. Sedangkan masalah balita yang memiliki status gizi lebih cenderung lebih tinggi pada laki-Iaki.

Berdasarkan pendidikan kepala keluarga (KK) terlihat bahwa semakin rendah pendidikan KK maka semakin besar prevalensi balita gizi kurang+buruk. sebahknye, semakin tinggi pendidikan KK maka semakin tinggi prevalensi balita gizi lebih. Pada keluarga dengan KK sebagai Petani/Nelayan ditemukan semakin banyak prevalensi baJita yang memiliki status gizi kurang+buruk dibanding dengan jenis pekerjaan lainnya. Menurut tempat tinggal[ di perdesaan jumlah baJita yang gizi kurang+buruk lebih banyak daripada di perkotaan, sedangkan prevalensi gizi lebih di perkotaan dan di perdesaan hampir seimbang.

Prevalensi balita kekurusan cenderung ditemukan pada kelompok umur 6-11 bulan, dan di atas 24 bulan, kemudian menurun kembali pada balita usia

II-9

48-60 bulan. Sedangkan prevalensi balita gemuk cenderung semakin menurun seiring sampai dengan usia di atas 24 bulan dan prevalensinya tidak berbeda jauh sampai usia di atas 35 bulan. Tidak terlihat perbedaan prevalensi balita kekurusan yang berarti antara balita lakHaki dan balita perempuan, demikian juga pada balita gemuk. Tidak ditemukan pola hubungan yang jelas antara Tingkat Pendidikan KK dengan prevalensi balita kekurusan. Menurut pekerjaan utama KK, terlihat bahwa KK sebagai Petani/Nelayan dan KK sebagai Wiraswasta/Dagang/Jasa ditemukan semakin banyak prevalensi balita yang memiliki status gizi kekurusan dibanding dengan jenis pekerjaan lainnya. Menurut tempat tinggal bahwa di perdesaan mempunyai prevalensi yang lebih tinggi dibandingkan di perkotaan.

Pemberian ASI eksklusif juga memberikan pengaruh bagi tumbuh kembang anak. Sebesar 35/7% bayi baru lahir diberikan Inisiasi Menyusu Dini setelah melahirkan dan 28,3% diberikan ASI dalam jam pertama kelahiran (DHS,2008). Namun, terdapat 60/4% bayi baru lahir yang diberikan selain ASI seperti susu formula dengan cairan lain atau susu lain (DHS1 2008). Perilaku pemberian susu formula ini sungguh membahayakan kondisi bayi. Bayi yang mendapatkan air susu ibu eklusif (hanya air susu ibu sebagai makanan bayi sejak lahir sampai usia 6 bulan) sebesar 10.39% (Profil kesehatan Aceh, 2009) atau 13,4% (DHS, 2008) .

Angka kematian ibu (AKI) merupakan ibu yang meninggal akibat kehamilan, persalinan dan nifas. AKI di Provinsi Aceh pada tahun 2008 sebesar 238/100.000 kelahiran hidup berdasarkan SDKI 2008 (Profil Kesehatan Aceh, 2009) dan pada tahun 2009, AKI sebesar 191/100.000 kelahiran hidup menurut profil Kesehatan Aceh 2009. Penyebab utama kematian ibu pada tahun 2009 adalah perdarahan, eklamsia, infeksi, abortus, partus lama, dan lainnya. Kematian akibat lainnya mencapai 31% dari total kematian pada tahun 2009. Ini terlihat masih ada sistem pelaporan yang belum terkoordinasi dengan baik sehingga dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota belum dapat memperhitungkan jumlah kematian secara lebih tepat.

II-tO

Berdasarkan Riskesdas 2007, ibu periksa hamil di provinsi Aceh secara umum adalah 72,0%. Sementara indikator berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) adalah 90%. Cakupan tersebut juga bervariasi antar kota dan desa yaitu periksa kehamilan lebih banyak dilakukan di daerah perkotaan dibandingkan di perdesaan. Menurut tingkat pendidikan kepala keluarga (KK), pendidikan KK tidak sekolah mempunyai persentase yang sedikit dalam memeriksakan kehamilan. Ada kecenderungan makin tinggi tingkat pendidikan kepala keluarga dan makin tinggi status sosial ekonomi keluarga, makin tinggi persentase pemeriksaan kehamilan kepada tenaga kesehatan.

Kegiatan Ante Natal Care (Perawatan masa kehamilan) belum dilakukan menurut 8 jenis pemeriksaan kehamilan. Pemeriksaan kadar hemoglobin baru mencapai 38,5%. Jenis pemeriksaan tertinggi pad a ANC adalah pemeriksaan tekanan darah (97,1%). Pemberian tablet besi merupakan bagian dari ANC dan cakupan tablet besi baru rnencapai 59,5% pada tahun 2008 (Profil Kesehatan Aceh, 2009). Cakupan tablet besl ini relative sarna denan Survey DHS (2008) yaitu 56-60% ibu yang menerima tablet besi. Namun, 25% dari yang menerima tablet besi yang minum 100 tablet. Perawatan masa kehamilan yang dilakukan belurn optimal karena belum semua pemeriksaan dan pernberian tablet besl mencapai cakupan yang sesuai dari setiap kunjungan.

Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih sudah relatif cukup tinggi yaitu 88,83% pada tahun 2008 (Profil Kesehatan Aceh, 2009). Sementara target nasional (SPM) adalah 90%. Contraceptive prevalence rate (CPR) atau peserta KB Aktif baru tercapai sebesar 52,71%. Kota Sabang yang tertinggi (82%) dan Kabupaten Nagan Raya dan Simuelue yang terendah yaitu 3,4% dan 8%. Jenis kontrasepsi yang tertinggi dipilih oleh peserta adalah suntik (48%) dan pil (46%). Jenls kontrasepsi yang dipilih masyarakat belum jenis kontrasepsi jangka panjang yang tingkat pencegahan kehamilan tinggi dan efek samping relatif rendah dibandingkan dengan kontrasepsi hormonal.

Di sisi status kesakitan di Provinsi Aceh, penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare merupakan penyebab kesakitan tertinggi

11-11

anak balita di Aceh. Sekitar 35,4% anak menderita batuk dalam dua minggu terkahir dan 39,1% tersebut mengalami demam (OHS, 2008). Estimasi OHS (2008) terhadap anak pneumonia ada sekitar 40-43%. Namun, kebanyakan orang tua tidak memperhatikan anak yang pernapasan cepat sebagai pneumonia. Penumonia biasanya aklbat pengobatan ISPA yang kurang adekuat.

Profil Kesehatan Aceh 2009 melaporkan kasus HIV-AIDs di Aceh ada sekitar 29 orang yang tersebar di 13 kabupatenjkota dan 13 diantaranya sudah meninggal dunia. Kasus tersebut umumnya didapat dari luar provinsi Aceh. Pengobatan OOHA dengan anti retroviral dilakukan sebanyak 9 penderita (75%) dari 12 kasus yang ditemukan. Namun, keterbukaan Aceh memudahkan penyebaran HIV-AIOs jika masyarakat tidak diedukasi terhadap penyakit tersebut.

Serdasarkan survei Demographic Health Survey-DHS (2008) tentang pengetahuan masyarakat terhadap HIV-AIDs masih rendah. Sebesar 66% pria dan 49,5% wanita yang pernah mendengar AIDs. Sebesar 28% pria yang menikah mengetahui AIDs sebagai penyakit menular seksual dan 32,4% mengetahui bahwa infeksi dapat dikurangi kalau memiliki satu partner yang tidak terinfeksi. Tetapi hanya 27,9% yang mengetahui kondom dapat mengurangi penularan AIDs pada partner lain. Pengetahuan kaum wanita terhadap penularan AIDs kepada anak mereka melalui ASI, Persalinan dan kehamilan sekitar 26%. BAru sekitar 5% penduduk yang mengerti tentang voluntary counce/ling and testing (vcr).

Penyakit menular seksual lainnva seperi Sifilis, Gonorhoe, dan lainnya merupakan risiko tinggi memdahkan penularan HIV kepada penderita tersebut. Tidak ada data yang menunjukkan jumlah penderita penyakit menular seksual tersebut. Masyarakat yang menderita penyakit tersebut umumnya mengunjungi praktek pribadi dokter sehingga kasus tersebut belum terlaporka n.

Penderita baru TS positif yang ditemukan pada periode Januari - Desember 2008 berjumlah 2.793 kasus dengan Case Detection Rate 40 %, meningkat bila dibandingkan pencapaian tahun 2007 dimana CDR yang

II-12

dicapai adalah 38 %. Pencapaian ini masih jauh dari target nasional sekurang-kurangnya 70 %.

Sedangkan hasil akhir pengobatan terhadap perderita yang terdaftar pada tahun 2007 menunjukkan sebanyak 2,057 dari 2,552 penderita baru BTA positif yang diobati dinyatakan sukses dengan angka kesuksesan mencapai 90,6 %. Sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 89,6 %. Angka lnl sudah mencapai target nasional, yaitu minimal 85 % (Profil Kesehatan Aceh, 2009).

Malaria masih merupakan penyakit endemis hampir seluruh Kabupaten di Provinsi Aceh. Pada tahun 2008 Malaria Klinis 23.303 kasus klinis dan yg positif 3.528 kasus. Jumlah anak yang menggunakan kelambu yang mengandung insektisida (Insecticide treated net) ketlka tidur masih rendah yaitu sekitar 35%. Kepatuhan rumah tangga menggunakan kelambu terutama di daerah endemis masih menjadi hambatan utama. Selain itu masih banyaknya terdapat masyarakat yang minum obat malaria yang tidak standarisasi dan membeli obat di warung. Tingkat pendidikan tidak berpengaruh terhadap prevalensi malaria, namun penyakit inl lebih banyak ditemukan pada kelompok menengah ke bawah (berdasarkan tingkat pengeluaran Rumah Tangga) dan banyak dijumpai di pedesaan.

Penyakit demam berdarah dengue (DSO) sudah menjadi permasalahan kesehatan utama di Aceh. Hampir seluruh kabupaten kota dilporkan sudah menemukan DBD kecuali daerah pegunungan seperti kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Gayo Lues. Kota Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe merupakan daerah DBD tertinggi di Aceh. Kasus DBD terjadi peningkatan sampai deJapan kali setelah tsunami sampai tahun 2008 (Profil Kesehatan Aceh 2009). Peningkatan ini kemungkinan besar karena mobilitas penduduk yang sangat cepat antar daerah terutama dari luar Aceh yang endemis DSD seperti DKI Jakarta dan lainnya. Penanganan kasus DBD ini harus mendapat kerjasama lintas sektor dan masyarakat dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk. DSD lebih banyak dijumpai pada di wilayah perkotaan.

II-13

Penyakit kusta masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Aceh. Setiap tahun ditemukan penderita baru. Pada tahun 2008, penderita baru ditemukan sejumlah 437 kasus dengan tipe PB sejumlah 111 kasus dan tipe MB sebanyak 326 kasus. Tingkat kecacatan penderita baru sebesar 10,8%. Ini menunjukkan penemuan kasus baru yang terlambat baik karena ketidakmampuan petugas kesehatan mendeteksi kusta dan masyarakat sendiri belum mengenai tanda-tanda kusta sejak awal. Faktor lain adalah penderita merasa malu terhadap penyakitnya diketahui orang karena masyarakat akan mengisolasi secara social terhadap penderita tersebut. Penanggulangan penyakit kusta harus mendapat dukungan lintas sektor dan seluruh masyarakat terhadap penularan penyakit kusta yang tidak semudah mereka bayangkan.

Riskesdas 2007 menjumpai beberapa penyakit infeksi lain yang menjadi masalah kesehatan masyarakat adalah Tifoid, hepatitis dan diare. Ini merupakan penyakit-penyakit yang dapat ditularkan melalui rnakanan dan minuman. Dalam 12 bulan terakhir, tifoid klinis dapat dideteksi di Provinsi Aceh dengan prevalensi 3,0%, dan tersebar di seluruh kabupatenjkota dengan rentang 0,6-7,0%.

Tifoid, hepatitis dan diare ditemukan pada semua kelompok umur.

Tifoid terutama ditemukan pada kelompok umur usla-sekolah, sedangkan diare pada kelompok balita. Jenis kelamin tidak mempengaruhi prevalensi ke tiga penyakit ini. Namun pendidikan rendah umumnya cenderung memiliki prevalensi lebih tinggi. Dilihat dari aspek pekerjaan, prevalensi tertinggi tifoid dijumpai pada kelompok =seko[ah', konsisten dengan data pada kelompok umur. Prevalensi diare tertinggi diidentifikasi pada kelompok buruhjnelayanjpetani (20,7%). Dari sudut tempat tinggal, tifoid dan diare

, terutama dijumpai di daerah perdesaan, sedangkan untuk hepatitis hampir seimbang antara perkotaan dan perdesaan. Hal ini konsisten dengan temuan berdasarkan tingkat pengeluaran per kapita, tifoid dan diare cenderung lebih tinggi pada Rumah Tangga dengan status ekonomi rendah walaupun perbedaannya tidak menyolok, sedangkan hepatitis tersebar di semua strata status ekonomi masyarakat.

11-14

Pembangunan kesehatan di Indonesia termasuk Aceh sudah menghadapi beban ganda. Menurut hasil riskesdas 2007 menunjukkan penyebab kematian utama di Indonesia termasuk Aceh adalah penyakti tidak menular sepertl stroke, hipertensi, dan Diabetes Mellitus (OM).

Prevalensi hipertensi di Aceh berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah adalah 30,2%, dan tertinggi di Indonesia. Berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan atau gejala yang menyerupai stroke, prevalensi stroke di Aceh adalah 1,7 per 1000 penduduk. Menurut KabupatenjKota prevalensi stroke berkisar antara 0,5 %0-4,9 %0, dan dengan Nagan Raya mempunyai prevalensi lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya, baik berdasarkan diagnosis maupun gejala.

Penyakit jantung di Aceh merupakan penyakit tertinggi di Indonesia Prevalensi penyakit jantung cenderung pada perempuan Jebih tinggi dari lakiJaki. Sedangkan diabetes mempunyai nilai yang seimbang. Prevalensi penyakit jantung cenderung tinggi pada pendidikan KK yang tidak sekolah. Tingginya penyakit jantung pada yang tidak sekolah, kiranya perlu dilakukan penyuluhan pada kelompok yang tidak sekolah untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut maupun memperiambat kompJikasi. Prevalensi hantung jantung lebih tinggi pada petani/nelayanjburuh, kelompok ibu rumah tangga. Prevalensi jantung dan diabetes cenderung lebih tinggi di perdesaan dari perkotaan.

Terkait dengan kesehatan jiwa, prevalensi Gangguan Mental Emosional di Aceh 14,1%, dengan prevalensi berkisar antara 4[8-32,1%, lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional (12.36%). Gangguan Mental emosional meningkat sejalan dengan pertambahan umur. Kelompok yang rentan mengalami gangguan mental emosional antara lain perempuan, pendidikan rendah, tidak bekerja, tinggal di desa (Menurut Riskesdas 2007).

Profil Kesehatan Aceh 2009 melaporkan jenis gangguan mental tertinggi adalah Skizoprenia dan gangguan psikotik lainnya, gangguan depresi, gangguan neurotik dan gangguan psikotik akut. Penanganan kasus gangguan jiwa ini sudah dibuat suatu pola penanganan kesehatan jiwa masyarakat. Provinsi Aceh sudah melatih dan menyediakan obat-obat

II-iS

ganguan jiwa seluruh puskesmas dengan pemantauan oleh kader jiwa. Namun, implementasi ini mulai menurun sejak donor selesai bertugas di Aceh. Padahal, efektifitas dari program kesehatan jiwa masyarakat memiliki daya ungkit yang tinggi terhadap kesembuhan penderita dan sosialisasi mereka di tengah masyarakat.

Masyarakat masih saja melakukan pemasungan terhadap penderita karena rnereka belum akses terhadap program kesehatan jiwa masyarakat baik ke rumah sakit jiwa maupun ke petugas kesehatan jiwa masyarakat. Kasus pemasungan dilaporkan terdapat sejumlah 74 orang. Mungkin ditengah masyarakat masih banyak kasus-kasus yang belum terlaporkan.

Kesejahteraan Sosial

Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan hal-hal yang berkaitan dengan keterlantaran baik anak maupun lanjut usia, kecacatan, ketunasosialan, bencana alarn, serta bencana sosial. Penanganan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) khususnya fakir miskin apabila tidak dilakukan secara tepat akan berakibat pada kesenjangan sosial yang semakin rneluas, dan berdampak pada melemahnya ketahanan sosial masyarakat, serta dapat mendorong terjadinya konflik sosial, terutama bagi kelompok masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan perbatasan.

Permasalahan kesejahteraan sosial merupakan permasalahan yang sangat kompleks, yang diakibatkan oleh berbagai faktor penyebab. Masalah kemiskinan dewasa ini bukan saja menjadi persoalan yang dihadapi Pemerintah Aceh, akan tetapi sudah menjadi persoalan Bangsa Indonesia dan negara-negara lain. Permasalahan kemiskinan yang dihadapi oleh masyarakat Aceh, selain disebabkan oleh ekses negatif pembangunan dan konflik sosial yang berkepanjangan, juga disebabkan oleh faktor bencana alam yang sering terjadi di Provinsi Aceh.

Masalah kesejahteraan sosial juga meliputi Populasi Komunitas Adat Terpencil. Di Provinsi Aceh, populasi komunitas adat terpencil yang belum ditangani berjumlah + 9.705 KK, yang sedang diberdayakan 254 KK dan yang sudah diberdayakan sebanyak 2.493 KK. Lokasi populasi KAT tersebar di 14

II-16

kabupaten, yaitu: Aceh Utara, Aceh Tlmur, Aceh Tamlanq, Sener Meriahl Aceh Tengah, Aceh Tenqqara, Gayo tues, Aceh Java, Aceh Sa rat, Nagan Raya, Aceh Sarat Daya, Aceh Selatan, Singkil dan Simelue. Populasi terbesar terdapat di Singkil (2.818 KK), Aceh Selatan (1.263 KK) dan Simelue (1.044 KK).

Selain itu, populasi wanita rawan sosial ekonomi (WRSE) di Provinsi Aceh berjumlah + 42.767 jiwa dan yang telah ditangani sejak tahun 2006 berjumlah 7.200 jiwa.

Populasi penyandang cacat di Provinsi Aceh mencapai + 27.710 jiwa, dan diantaranya sebanyak 4.289 jiwa adalah para penyandang cacat eks kusta. Penyebaran populasi penyandang cacat terdapat diseluruh wilayah kabupatenj kota, baik cacat tubuh, cacat netra, cacat mental, cacat runguwicara dan cacat ganda.

Populasi penyandang masalah ketunaan (tuna sosial) yang meliputi: gelandangan, pengemis, tuna susila, bekas narapidana dan penderita HIVjAIDS di Provinsi Aceh. Menurut data populasi PMKS yang terdapat pada Dinas Sosial Aceh sampai dengan akhir tahun 2009, terdapat + 1.884 jiwa gepeng, + 1.156 jiwa bekas narapidana dan + 320 jiwa tuna susila.

Serdasarkan data Oinas Sosial Aceh, sampai akhir tahun 2009 tercatat lebih darl 100 ribu jiwa anak di Aceh mengalami permasalahan sosial, diantaranya terdapat + 83.114 jiwa anak terlantar, + 1.823 jiwa anak nakai, anak jalanan sebanyak + 590 jiwa dan selebihnya mengalami kekerasan, exploitasi dan trafficking. Segitu juga dengan populasi para lanjut usia terlantar yang mencapai + 13.649 jiwa dan kondisi ini mengalami kecenderungan meningkat setiap tahunnya.

2.1.2 Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi

Kemajuan pembangunan Aceh di bidang ekonomi dilihat berdasarkan beberapa indikator ekonomi makro seperti Produk Domestik Regional Bruto (PORB), pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan dan pengangguran, serta

II-17

..

beberapa sektor utama di bidang ekonomi yang menentukan kondisi ekonomi makro tersebut.

Selama lima tahun terakhir (2005-2009), nilai PDRB Aceh yang dihitung atas harga konstan mengalami perkembangan yang kurang menggembirakan. Pasca tsunami ekonomi Aceh terpuruk sampai ke tingkat yang sangat memprihatinkan. PDRB Aceh pada tahun 2005 hanya mencapai Rp 36,29 T atau turun 10.12% dari tahun sebelumnya. Lima sektor ekonomi mengalami mengalami kontraksi yang besar yaitu Pertanian turun 3.89%, Pertambangan dan penggalian turun tajam sampai 22,62%, demikian juga industri pengolahan jatuh 22.30%, kontruksi turun 16.14%, serta sektor Jasa turun 9.53% Perkembangan PDRB Aceh dalam lima tahun terakhir secara berturutturut adalah sebesar Rp 36,29 T (2005), Rp 36,85 T (2006), Rp 35,98 T (2007), 34,68 T (2008) dan Rp 32,18 T (2009). Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh menurunnya sumbangan sub sektor migas terhadap pembentukan PDRB, karena selama hampir 30 tahun terakhir struktur ekonomi Aceh didominasi oleh sub sektor migas. Pada tahun 2000 kontribusi sub sektor migas adalah sebesar 50,30 persen dan terus mengalami penurunan hingga tahun 2009 sumbangannya hanya sebesar 13,42 persen. Sedangkan sektor dlluar migas terus mengalami peningkatan terutama di sektor pertanian, dimana pada tahun 2000 sektor ini hanya memberikan sumbangan sebesar 17,67 persen dan terus meningkat menjadi 26,65 persen di tahun 2009. Disamping sector Pertanian, Sektor Perdagangan, Hotel, Restoran dan Sektor Pengangkutan dan Komunikasi juga memberikan kontribusi penting terhadap pembentukan PDRB.

Bila kita lihat secara regional Sumatera pada tahun 2008 posisi PDRB Aceh berada pada peringkat ke 7 setelah Lampung yang mempunyai PDRBnya 34.4T. Sementara Sumatera Utara tetangga terdekat Aceh menduduki peringkat 1 dengan nilal PDRB 106.1 T. Akan tetapi bila dilihat dar; sisi PDRB perkapita Aceh mencapai Rp 7.9 juta, sedikit selisih dengan Sumatera Utara dengan PDRB perkapita Rp 8.1 juta. Tapi Aceh mempunyai gap yang sangat besar bila dibandingkan Riau dan Kepulauan Riau yang masing-maslng mempunyai PDRB perkapita Rp 17.5 juta dan Rp 25.4 juta.

II-1S

Perekonomian Aceh selama beberapa tahun terakhir (2006-2009) secara umum mengalami penurunan yang relative besar dimana secara berturut - turut pertumbuhannya adalah: 1,56 persen (2006), -2,36 persen (2007), -5,27 persen (2008) dan -5.58 persen pada tahun 2009. Penurunan tersebut terutama dlsebabkan oleh semakin menurunnya secara signifikan sumbangan sector migas terhadap perekonomian Aceh. Akan tetapi hal ini akan berbeda bila perhitungannya tidak termasuk sub sektor migas maka pertumbuhan ekonomi Aceh menunjukkan trend yang menggembirakan. Tahun 2006 sektor non migas tumbuh sampai 7.7% dan pada tahun 2007 turun sedikit menjadi 7.23%. Akan tetapi pada tahun 2008 pertemumbuhan sektor non migas mengalami pelemahan dan hanya mampu tumbuh 1.8%.

Setelah tiga puluh tahun lebih PDRB dan pertumbuhan ekonomi Aceh sangat ditentukan oleh sub sektor migas, sekarang kembali kepada pertanian. Sejak tahun 2000 kontribusi sub sektor migas mulai menunjukkan trend menurun. Pada tahun 2000 kontribusi sub sektor migas masih berada pada tingkat 50,30 persen. Angka tersebut terus mengalami penurunan seiring dengan menurunnya cadangan migas dan pada tahun 2009 sumbangannya hanya mencapai 13,42 persen. Semenara itu sektor diluar migas terus mengalami peningkatan terutama di sektor pertanian. Perkenomian Non Migas Aceh, tumbuh sebesar 7,4 persen pada tahun 2007. Pertumbuhan ini sedikit lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 6,9 persen. Sektor Pertanian menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan. Pada tahun 2000 sektor Pertanian memberikan sumbangan sebesar 17,67" persen, kemudian terus meningkat dan menjadi 26,65 persen di tahun 2009. Pertumbuhan utama terjadi pada sub sektor perkebunan yang di ikuti oleh tanaman pangan dan perikanan. Hal ini disebabkan oleh kondusifnya iklim usaha di Aceh. Saat ini Sektor Pertanian menjadi andalan dan ujung tombak kebangkitan ekonomi Aceh.

Secara umum bidang pertanian dalam arti luas masih banyak permasalahan dan kendala yang dihadapi pada saat ini , antara lain sebagai berikut : 1) Masih kurang memadainya infrastruktur pertanian, terutama jaringan irigasi, jalan usaha tani, sarana dan prasarana perikanan sehingga

11-19

menurunkan produktivitas pertanian secara keseluruhan; 2) Lemahnya diseminasi teknologi pertanian dan pemanfaatan teknologi tersebut kepada petani secara luas; 3) Lemahnya akses petani terhadap sumber informasi, permodalan dan akses pasar; 4) Belum optimalnya kelembagaan pertanian, khususnya kelembagaan pemerintah, di dalam mendukung sektor pertanian; 5) Masih rendahnya tingkat pendidikan petani nelayan dan pembudidaya ikan serta kurang optimal peran tenaga penyuluh di daerah;

Pertumbuhan juga terjadi terhadap sektorsektor lain yang tidak terkait

dengan Migas.

Sektor Perdagangan, Hotel, Restoran dan Sektor

Pengangkutan dan Komunikasi juga memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhun yang signifikan tersebut terlihat sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2009. Pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh aktifitas rehabilitasi dan rekonstruksi karena periode tersebut merupakan periode pelaksanaan kegiatan rehabllltasi dan rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Selama periode tersebut anggaran pembangunan di Aceh darl berbagai sumber baik dari permerintah maupun dari non pemerintah meningkat tajam. Akan tetapi sektor-sektor tersebut kontribusinya masih relatif kecll terhadap PDRB yaitu masih dibawah 15%.·

Sektor industri pengolahan yang menyumbangkan lebih dari satu pertiga terhadap perekonomian Aceh terus menurun, meskipun harga migas di pasar internasional semakin meningkat. Dleh karena itu, perekonomian Aceh secara keseluruhan menurun. Sementara itu kontribusi industri keeil· dan menengah belum menunjukkan angka yang signifikan. Kualitas SDM dan daya saing yang rendah menyebabkan kontribusi industri kecil menengah belum menggembirakan.

Dari sisi inflasi, perekonomian Aceh menunjukkan semakin sehat.

Setelah mengalami lonjakan inflasi yang tinggi pasca tsunami, sejak 2007 jarak inflasi antara Aceh dan nasional semakin mengecil. Akan tetapi inflasi di Aceh masih tercatat hampir sebesar 2 kali lipat dari tingkat nasional. Inflasi yang tercatat sebesar 11 persen pada tahun 2007 disebabkan oleh tidak terpenuhinya kebutuhan di pasar lokal juga meningkatnya harga-harga komoditas internasional. Akan tetapi, inflasi yang terjadi pada tahun 2007

11·20

masih lebih baik dibandingkan dengan tingkat rata-rata inflasi yang tercatat hampir sebesar 25 persen pada tahun 2005 dan 2006. llngkat inflasi terus membaik sampai tahun 2009 yang mencapai tingkat 3.5% persen di Banda Aceh dan 3.9% di Lhokseumawe.

Kinetja ekspor non migas terus meningkat. Setelah meningkat 5 kall lipat pada tahun 2007,ekspor non migas meningkat tajam sampai 80% pada tahun 2008, meski pada .saat itu sedang tetjadi krisis finansial global. Ekspor pupuk merupakan komoditi ekspor terbesar. Ekspor komoditas pertanian juga meningkat. Akan tetapi pada tahun 2009 ekspor kopl mengalami sediklt peiambatan, turun 25% dari tahun sebelumnya. Dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki, peningkatan ekspor Aeeh yang berkelanjutan seharusnya terfokus pada peningkatan produktivitas pertanian, yang merupakan keunggulan komparatif Aceh. Rantai pemasaran yang panjang dan keterbatasan akses langsung pasar maneanegara merupakan tantangan lain dari ekspor komoditas Aceh. Dilain pihak, impor Aceh juga meningkat. Peningkatan impor terutama disebabkan oleh barang-barang konsumsi, bahan makanan dan industri. Barang impor ini mendominasi perdagangan domestik Aceh. Hal ini merupakan gejala yang tidak sehat karena seharusnya pendorong impor berupa barang modal seperti mesin dan peralatan industri.

Investasi yang diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi belum menjukkan tanda-tanda yang menggemberikan. Arus investasi yang masuk relatif rnaslh kecll, Dari reneana investasi USD 143.32 juta yang dapat terealisasi 143.32 122.3 juta. Belum memadainya infrastruktur khususnya keeukupan enegri listrik dan masalah pertanahan masih menjadi kendala untuk para investor masuk.

Ketenagakerjaan dan Investasi

Perkembangan tingkat penganguran di Aceh selama periode 2006- 2009 (media Agustus) menunjukkan tren yang terus menurun, dimana pada tahun 2006 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Aceh adalah sebesar 10,43%, tahun 2007 turun menjadi 9,84%, tahun 2008 turun lagi menjadi 9,56%, dan pada tahun 2009 kembali menjadi 8,71 persen. Bila diamati

II-21

perkembangan jumlah angkatan kerja di Aceh yang setiap tahun terus bertambah, dimana pada tahun 2006 adalah sebanyak 1.813.000 orang dan pada tahun 2009 menjadi 1.898.000 orang atau mengalami kenaikan sebesar 4,67%. Sebaliknya jumlah pengangguran di Aceh justru mengalami penurunan yang signifikan yaitu 189.000 orang pada tahun 2006 dan menjadi 165.000 orang pada tahun 2009, atau mengalami penurunan sebesar 12/70% atau rata-rata turun 4.2% per tahun.

Lebih besarnya persentase penurunan jumlah orang yang menganggur jika dibandingkan dengan persentase kenaikan jumlah angkatan kerja mengakibatkan TPT terus dapat ditekan setiap tahunnya. Hal ini diperkirakan sebagai dampak dari semakin luasnya lapangan kerja yang tercipta dan semakin meningkatnya peluang kesempatan berusaha bagi masyarakat. Sektor pertanian masih menjadi andalan penyerapan tenaga kerja. Disamping itu dengan semakin membaiknya iklim usaha di masyarakat sehingga tumbuh suburnya usaha-usaha rakyat di sektor informal yang ikut menyumbang untuk penyerapan tenaga kerja.

Angkatan kerja Aceh pada tahun 2009 mencapai 1.9 juta orang.

Angkatan kerja tersebut didonominasi oleh angkatan kerja muda yang berumur antara 20-39 tahun. Sampai 20 tahun kedepan angkatan kerja ini masih berada dalam umur produktif. Ini merupakan aset Aceh mengejar pertumbuhan ekonominya.

Meskipun demikian, tingkat pengangguran di Aceh masih berada di atas rata-rata nasional. Mendorong investasi swasta merupakan salah satu prioritas utama dalam penciptaan lapangan pekerjaan. Dimana melalui investasi swasta lapangan pekerjaan baru dapat tercipta, demikian juga peningkatan produktivitas serta terjadinya proses "transfer of knowledge". Penanganan yang menyeluruh terhadap issue keamanan dan solusi yang kreatif terhadap keterbatasan terhadap pasokan sumber daya llstrlk di Aceh adalah faktor penting yang dapat mendorong investasi. Akan tetapi rendahnya produktivitas tenaga kerja, minim tenaga kerja terampil dan relatif tingginya UMR masih menjadi masalah yang harus segera diatasi. Penetapan

II-22

UMR Aceh Rp 1,2 juta per bulan lebih tinggi dari nasional berdampak terhadap tingkat daya saing Aceh dalam menarik investasi di sektor formal.

Investasi yang diharapkan menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi belum menjukkan tanda-tanda yang menggemberikan. Arus investasi yang masuk relatif masih kedl, Dari reneana investasi USD 143.32 juta yang dapat terealisasi 143.32 122.3 juta. Belum memadainya infrastruktur khususnya keeukupan enegri listrik dan masalah pertanahan masih menjadi kendala untuk para investor masuk.

a

Kemiskinan

Kemiskinan masih menjadi persoalan utama di Aceh. Hasll Sensus Penduduk 2010 angka kemiskinan Aceh masih berada pada angka 20.8% masih jauh di atas rata-rata nasional. Angka tersebut menempatkan Aceh pada posisi ke 7 provinsi termiskin tingkat nasional. Akan tetapl Tingkat kemiskinan di Aceh selama periode 2005 -2009 terus menunjukkan penurunan 1 dimana secara berurutan adalah sebesar 28,69 persen (2005)1 28,28 persen (2006), 26,65 persen (2007), 23,53 persen (2008) dan 21,80 persen (2009).

Angka kemiskinan di Aceh cenderung semakin membaik sampai saat ini. Angka kemiskinan Aceh sempat mencapai angka 32.60 pada tahun 2005 akibat konflik yang panjang dan bencana tsunami pada tahun 2004. Akan tetapi selama masa rehabilitasi dan rekonstruksi angka kemiskinan terus menurun. Pada tahun 2005, bahwa 32,60 persen jumlah penduduk desa dikategorikan miskin, sedangkan di kota hanya 19,04 persen. Sedangkan di tahun 2009 komposisi penduduk miskin di pedesaan adalah sebesar 24/37 persen sedangkan diperkotaan adalah 15,44 persen. Pada tahun 2010 berdasarkan data BPS1 angka kemiskinan Aceh sudah menurun sampai 20.78%. Akan tetapi bila dicermati perkembangan komposisi penduduk miskin baik di kota maupun di desa, persentase penduduk miskin di pedesaan justru mengalami penurunan yang sangat drastis yaitu sebesar 8,23 persen (2005-2009) sedangkan perkotaan hanya mengalami penurunan sebesar 3/60 persen. Kondisi tersebut dapat mencerminkan bahwa aktivitas pembangunan

11-23

di pedesaan lebih cepat dibandingkan dengan perkotaan selama lima tahun terakhir dan hal ini identik dengan pelaksanaan damai di Aceh sejak tahun 2005.

Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi rnlskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masa kini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Hal ini harus menjadi perhatian serlus oleh pemerintah Aceh dalam rangka penanggulangan kemiskinan.

Sektor Koperasi dan UMKM sebagai salah satu sektor strategis daJam menyerap tenaqa, hal ini juga tidak terlepas dari beberapa permasalahan dan tantangan. Koperasi dan UMKM masih akan menghadapi permasalahan mendasar dan tantangan yang cukup berat akibat krisis ekonomi global. Masalah-masalah yang terkalt dengan ikllrn usaha yang kurang kondusif rnasih akan dihadapi UMKM, seperti besarnya biaya transaksi akibat masih adanya ketidakpastian dan persainagan yang pasar tinggi. Terkait dengan permasalahan-permasalahan tersebut, tantangan utama ke depan adalah masih rendahnya produktivitas UMKM dapat mengakibatkan produk yang dihasilkan kurang memlllki daya saing dan kualitas yang baik dalam memenuhi permintaan pasar domestik dan pasar dan regional bahkan internasional. Masalah daya saing dan produktivitas ini disebabkan antara lain oleh rendahnya kualltas dan kompetensi kewirausahaan sumber daya manusia. Dengan dermktan, tantangan ke depan adalah bagaimana menumbuhkan wirausaha yang berbasis agro industry r industri kreattt, dan inovasi.

Masalah dan tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh sektor perdagangan adalah semakin melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia sebagai dampak lanjutan dari krisis global/ yang akan berakibat pada melemahnya permintaan dunia dan aktivitas produksi global. Akibatnva, tingkat persaingan prod uk ekspor di pasar global akan semakin ketat dan harga komoditas belum menggembirakan. Tantangan lain adalah adanya

11-24

kemungkinan serbuan produk irnpor dari negara lain seperti pernberlakuan ACFTA. Negara-negara ASEAN telah setuju mewujudkan kawasan perdagangan be bas dimana akan membuat pasar kita jadi sasaran empuk bagi Negara lain. Disisi lain, keperkasaan daya saing produk China amat mendominasi beberapa tahun ini. Akibatnya, kita pun mengkhawatirkan dominasi produk China di pasar domestic termasuk Aceh. Tingginya daya saing produk China memang patut diwaspadai karena hal tersebut akan mempersulit peluang produk domestik.

Namun demikian keadaan tersebut dalam jangka panjang dapat di manfaatkan oleh Aceh menjadi sebuah peluang, dim ana Aceh harus dapat membuktikan bahwa adalah daerah yang kondusif dan strategis untuk penanaman modal Asing (Investor).

Sejak tahun 1999 sumber daya fiskal Aceh mengalami peningkatan yang signifikan. Aceh merupakan salah satu daerah penerima manfaat desentralisasi. Selama beberapa tahun terakhir Aceh telah menerima arus masuk pendapatan yang belum pernah terjadi sebelunya. Tingkat sumber daya keuangan Aceh diperkirakan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang. Pendapatan terebut teruma karena adanya UU no 11 tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh yang mulai diimplementasikan sejak tahun 2008. Melalui UU tersebut Aceh mendapat hak berupa dana tambahan bagi hasil Migas dan dana otonomi khusus. Akan tetapi hak tersebut terbatas pada masa waktu 20 tahun. Penerimaan Aceh dari dana otonomi khusus yang dimulai sejak tahun 2008 terus meningkat.

2.1.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)

Secara umum, kemampuan nasional dalam penguasaan dan pemanfaatan iptek dinilal masih belum memadai untuk meningkatkan daya saing. Hal itu ditunjukkan, antara lain, oleh masih rendahnya sumbangan iptek di sektor produksi dan nilai tambah, belum efektifnya mekanisme intermediasi, lemahnya sinergi kebijakan, belum berkembangnya budaya iptek di masyarakat, dan terbatasnya sumber daya iptek (RPJMN, 2007).

II-25

Pengembangan iptek sangat erat kaitannya dengan peran Perguruan Tinggi (PT) dan Lembaga Riset dalam menghasilkan iptek yang bermanfaat dan memiliki daya saing. Provinsi Aceh mempunyai 10 PT, yang terdiri dari 3 (tiga) PT negeri dan 7 (tujuh) PT swasta, 23 Sekolah Tinggi dan 11 Akademi, yang tersebar di kabupaten/kota se Aceh.

Berbagai hasil penelitian, pengembangan, dan rekayasa teknologi belum dapat dimanfaatkan oleh pihak industri dan masyarakat. Jumlah publikasi ilmiah tergolong masih sangat rendah, khususnya publikasi llmlah di tingkat internasional.

Ristek (2009) melaporkan bahwa kolaborasi riset universitas dengan perusahaan di Indonesia masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, Singapura, dan Thailand. Demikian juga halnya dengan Aceh, koJaborasi riset antara universitas dengan perusahaan masih beJum berjalan. Secara umum dapat dikatakan bahwa pengembangan I1mu dan Teknologi di Aceh masih belum dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas maupun oleh perusahaan-perusahaan.

Paten yang dihasilkan oleh intelektual Aceh masih terbatas. Hal ini juga terjadl secara nasional, dimana Indonesia menduduki ranking terendah dalam menghasilkan paten dibandingkan dengan negara Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand.

Untuk mengatasi permasalahan masih terbelakangnya pengembangan iptek ini maka beberapa pusat riset telah dibangun di Aceh diantaranya: (1) Tsunami and Disaster Mitigation Risk Center (TDMRC), yang dikhususkan untuk menjadi Pusat Penelitian Tsunami dan Mitigasi Bencana di Aceh, (2) University Farm Bener Meriah, khusus untuk pengembangan komoditas kopi, (3) Research Station Ie Seum, khusus untuk pengembangan peternakan, dan (4) Pusat Penelitian Orang Hutan, khusus untuk penelitian orang hutan di Ketambe Aceh Tenggara.

2.1.4 . Infrastruktur Wilayah

Sistem jaringan jalan yang tersedia di Provinsi Aceh adalah sepanjang 17.066/91 km. Jumlah tersebut terdiri dari [alan Nasional sepanjang 1.782,78

II-2.6

krn, jalan Provinsi sepanjang 1.701,82 km, dan jalan KabupatenjKota sepanjang 13.581,59 km.

Kondisinya saat ini, jalan Nasional dalam keadaan baik sepanjang 1.311,19 km (73,5%), rusak ringan/sedang sepanjang 461,59 km (25,9%), dan belum tembus sepanjang 10 km (0,6%). Kondisi jalan Provinsi, dalam keadaan baik sepanjang 637,39 km (37,45%), rusak ringan/sedang sepanjang 484,13 km (28,54 km), rusak berat sepanjang 560,30 km (32,92%), dan belum tembus sepanjang 20 km (1,18%). Selanjutnya untuk jalan Kabupaten/Kota, dalam kondisi baik sepanjang 2.408,60 km (17,73%), kondisi rusak ringan/sedang sepanjang 7.043,28 km (51,86%), dan rusak berat sepanjang 4.129,71 km (30,41%).

Jumlah jembatan pada lintasan jalan Nasional sebanyak 660 buah dengan total panjang 15.500 m. Kondisi jembatan nasional pada saat lni adalah kondisi sangat baik (jembatan baru) sebanyak 170 unit (2.635 m), kondisi baik sebanyak 195 unit (3.014 rn), kondisi rusak rlngan 195 unit (5.407,8 m), kondisi rusak sedang sebanyak 100 unit (4.443,2 rn), sementara jembatan yang masih rusak beratjputus adalah jembatan Lambesoi di kabupaten Aceh Jaya.

Perhubungan darat di Provinsi Aceh dibagi atas beberapa bagian jaringan transportasi seperti jaringan angkutan jalan raya, jaringan jalan kereta apl, jaringan angkutan sungai dan danau, dan jaringan angkutan penyeberangan.

Kondisi moda transportasi jalan yang sa at ini beroperasi di Provinsi Aceh sampai dengan akhir tahun 2009 berjumlah 528 armada, melayani Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) sebanyak 41 trayek dan 3.115 armada melayani Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) sebanyak 233 trayek. Terminal di Provinsi Aceh terdiri dari terminal tipe A (melayani angkutan antar provinsi) sebanyak 5 buah, terminal tipe B (melayani angkutan antar kabupaten) sebanyak 6 buah, dan tipe C (melayani angkutan antar kecamatan) sebanyak 32 buah.

Jaringan jalan kereta api Aceh merupakan bagian dari rencana pembangunan kereta api Sumatera lintas Timur (Sumatera Railways) yang menghubungi mulai dad Banda Aceh sampai dengan tarnpunq. Untuk Provinsi

II-27

Aceh, jaringan kereta api ini menghubungkan antara Banda Aceh dan Satas Sumatera Utara yang direncanakan sepanjang 486 km. Hingga tahun 2009, pembangunan jaringan kereta api Aceh baru mencapai 14,7 km atau tiga persen dari total yang direncanakan yang menghubungkan Krueng maneBungkah-Krueng Geukuh.

Angkutan perairan darat telah difungsikan oleh masyarakat pada aliran sungai Tamiang, sungai Simpang Kiri dan Simpang Kanan di Singkil/ Krueng Meureubo dan Suak Seumaseh di Aceh Barat. Prasarana pelabuhan pada sungai-sungai tersebut belum dibangun. Saat ini hanya ditangani oleh fasilitas yang dibangun masyarakat dengan alat angkut yang tidak memadai. Demikian juga dengan angkutan danau di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah.

Jaringan angkutan penyeberangan yang saat ini beroperasi di Provinsi Aceh terdlri dari 4 rute lintas penyeberangan, yaitu: Lintasan Balohan (Kota Sabang) - Ulee Lheue (Kota Sanda Aceh), Untasan Lamteng (Aceh Sesar) - Ulee Lheue (Kota Banda Aceh), Lintasan Labuhan Haji (Aceh Selatan) - Sinabang (Simeulue), Lintasan Singkil (Kabupaten Aceh Singkil) - Pulo Banyak (Kabupaten Aceh Singkil) - Sinabang (Kabupaten Simeulue).

Beberapa prasarana penyeberangan pernah hancur oleh bencana alam gempa bumi dan gelombang tsunami pada tahun 2004, sebagian telah diperbaiki dan pada saat ini telah berfungsi dengan balk, Namun masih diperlukan pembangunan terhadap dermaga penyeberangan di Aceh Sa rat, Aceh Sesar, Aceh Singkil, dan Pulau Sanyak.

Pelabuhan yang tersedia dl Provinsi Aceh terdiri dari pelabuhan yang diusahakan dan dikelola oleh PT Pelindo (SUMN) dan pelabuhan yang tidak diusahakan dan dikelola oleh Kantor Pelabuhan (Kanpel) UPT Kementrian Perhubungan.

Pelabuhan yang dikelola PT. Pelabuhan Indonesia (Persero) di Provinsi Aceh antara lain: Pelabuhan Laut Malahayati di Krueng Raya Kabupaten Aceh Besar, Pelabuhan Meulaboh di Kabupaten Aceh Sarat;, Pelabuhan Kuala Langsa di Kota Langsa, Pelabuhan Sabang dan Pelabuhan Balohan di Kota Sabang dan Pelabuhan Krueng Geukeuh di Kota Lhokseumawe.

II-28

Pelabuhan yang dikelola oleh Kantor Pelabuhan (Kanpel) adalah :

Pelabuhan Singkil di Pulo Sarok, Kabupaten AcehSingkil, Pelabuhan Susoh di Kabupaten Aceh Selatan, Pelabuhan Sinabang di Kabupaten Simeulue, Pelabuhan Calang di Kabupaten Aceh Jaya, Pelabuhan Idi di Kabupaten Aceh Timur, Pelabuhan Tapak Tuan di Kabupaten Aceh SeJatan.

Hampir seluruh pelabuhan laut tersebut belum berfungsi secara optimal. Ini terkait dengan kelengkapan sarana dan prasarana. Beberapa pelabuhan yang telah memiliki fasilitas kren adalah Pelabuhan Malahayati, Pelabuhan Krueng Geukuh dan Pelabuhan Sabang untuk mendukung kegiatan ekspor-irnpor. Namun kegiatan ekspor-impor ini tldak didukung oleh ketersediaan komoditas ekspor dengan skala ekonomi yang memadai

~

sehingga terjadi trade imbalance di provinsi ini.

Sementara itu, untuk pelabuhan Sabang, Ma[ahayati, Krueng Geukuh, dan Kuala Langsa dibutuhkan pengerukan sedimentasi yang berkelanjutan, fasilitas laut seperti : perpanjangan dermaga, dolphin dan berthing dolphin untuk kebutuhan tangker, peralatan keselamatan, dan peralatan navigasi, sedangkan fasilitas darat seperti : lapangan penumpukan, tangki penyimpanan, gudang, dan perkantoran.

Untuk transportasi udara, terdapat dua jenis fasilitas pelayanan di Provinsi Aceh, yaitu Bandar Udara Umum dan Bandar Udara Khusus. Bandar Udara Umum seperti Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh, Lasikin di Sinabang, Cut Nyak Dhien di Meulaboh, T. Cut Ali di Tapaktuan, Maimun Saleh di Sabang, Rembele di Takengon, Hamzah Fasyuri Singkil, Kuala Batee di Aceh Jaya dan beberapa Kota lain. Bandar Udara Khusus adalah di Lhoksukon Bandar Udara Point "A".

Bandar Udara Sultan Iskandar Muda dengan panjang landasan 3.000 m sudah dapat didarati oleh pesawat ·sejenis Airbus seri 340 dan dapat melayani rute penerbangan haji dan penerbangan ke luar negeri lainnya. Sementara itu, bandara lain umumnya hanya mampu melayani pesawat udara jenis CN-212.

Pelayanan pos sudah sampai ke pelosok dan daerah terpencil, walaupun lokasi kantor yang ada baru mencapai 75% ibu kota kecamatan.

Sedangkan jasa telekomunikasi telah meneapai 82,4% yang dilayani oleh 44 unit Sentral Otomat dengan kapasitas 83,112 SST dengan ratio pemakaian 1,70 SST perseratus penduduk.

Kondisi Jaringan Koneksi di Aeeh dan 23 KabupatenjKota yaitu setiap SKPA sudah terkoneksi dengan menggunakan teknologi Wireless 5,8 Ghz, dan terdapat VSAT di 23 Kabupatenjkota. Disetiap kabupatenjkota tersedia 1 Noe kabupaten, 2 remote client, 3 bts yang memiliki Wireless Akses Point yang bisa di gunakan oleh masyarakat seeara gratis, 8 unit personal kornputer untuk teleeenter bagi masyarakat, 8 unit telpon analog berbasis Voip. Selain itu, khusus untuk Kota Banda Aeeh tersedia 10 titik Wireless Akses Point.

Perumahan dan Permukiman.

Mulai pesatnya perkembangan di wilayah perkotaan atau permukiman di Provinsi Aeeh eenderung menyebabkan tumbuhnya kawasan-kawasan kumuh, . menjadi salah satu faktor yang mengakibatkan lingkungan permukiman menjadi tidak sehat. Keadaan ini semakin diperburuk bila belum tersedianya sarana dan prasarana dasar yang memadai sesuai dengan standar yang diharapkan untuk melayani kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder. Kondisi sanitasi saat ini sebagian besar tidak memenuhi syarat dengan utilitas yang buruk sehingga mengakibatkan tata kehidupan kurang sehat dan tidak nyaman.

Sumber air rumah tangga terdiri dari dua kelompok yaitu air terlindung (air kemasan, ledeng, pompa dan sumur terlindung) dan tidak terlindung (sumur tidak terlindung, mata air tak terlindung, air sungai). Rumah tangga yang akses terhadap sumber air terlindungi sebesar 66,6% dari total rumah tangga (Profil Kesehatan Aeeh 2009). Penggunaan sumur gali merupakan sumber air terbesar (60%) yang digunakan oleh rumah tangga di Aceh yang akses terhadap sumber air terlindungi. Sisanya menggunakan sumber air dari Ledeng (23,6%), pompa (4%), peAeehah air hujan (3,35%), air kemasan (3,2%), dan lainnya.

Sampai saat ini, pembangunan prasarana dan sarana air bersih telah ada di 23 KotajKabupaten, dengan kapasitas 3.406 Ijdtk, yaitu : Sarana

11-30

prasarana air bersih Perkotaan dengan kapasitas 1.927 Ijdtk; Ibu Kota Keeamatan (63 IKK) dengan kapasitas 757 Ijdtk; dan, Perdesaan (135 Desa) dengan kapasitas 722 L/dtk. Sedangkan prasarana dan sarana air bersih yang beroperasi 2.037 l/dtk, yaitu : air bersih perkotaan 1.507 l/dtk, air bersih IKK 450,5 I/dtk, dan air bersih perdesaan 79.5 Ijdtk. Selanjutnya, instalasi yang tidak beroperasi berkapasitas 676 I/dtk, yaitu : 476 I/dtk rusak, 200 I/dtk dalam tahap pembangunan, dan 693 I/dtk tidak diketahui operasionalnya.

Penanganan persampahan masih terbatas dalam kawasan komersil, tingkat pelayanan di tempat fasilitas umum di perkotaan masih 25%. Kondisi fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) di Provinsi Aceh adalah milik sendiri 48,41%, milik bersama 12,55%, umum 14,12%, dan lainnya 24,93%.

Jumlah rumah dhuafa diperkirakan sebanyak 234.550 unit, dan sampai dengan saat ini telah dibangun sebanyak 11.205 unit. Sedangkan untuk pembangunan rumah korban konflik sampai dengan akhir tahun 2009 telah dibangun sebanyak 15.670 unit. Permasalahan lainnya masih banyak rumahrumah nelayan yang ada di tepi pantai tetapi belum diinventarisasi secara detail.

Energi dan Sumber Oaya Mineral

Sebagian besar pelayanan listrik Aeeh dilakukan oleh PT. PLN.

Pemerintah Aeeh hanya memfokuskan melakukan usaha pelayanan pada daerah-daerah terpeneil yang belum terjangkau oleh PT PLN. Sistem distribusi saat ini, telah mampu mendistribusikan energi listrik sampai pelosok Provinsi Aceh dengan raslo elektrifikasi sampai Desember 2008 sebesar 87,21 %.

Kebutuhan energi Iistrik Provinsi Aceh saat ini di suplai dari beberapa sistem dengan porsl, yaitu: Sistem Transmisi 150 kV Sumut-Aceh sebesar 70,12 %, PLTD Isolated sebesar 26,62 %, Sistem Distribusi 20 kV dari wi/ayah Sumut sebesar 3,26 %, PLTMH Isolated sebesar 0,75 %.

Kondisi kelistrikan yang tersambung dalam sistem 150 kV Sumut-Aceh masih mengalami defisit. Untuk mengatasi defisit tersebut sering harus dilakukan penurunan tegangan (brown ouf) dan dalam kondisi tertentu terpaksa dilakukan pemadaman bergilir.

II-31

Daerah isolated yang masih mengalami defisit adalah daerah Aceh Tengah, dan Aceh Singkil. Untuk mengatasi defisit pada kedua daerah tersebut ditempuh kebijakan dengan memanfaatkan suplai 20 kV dan Gardu Induk yang terdekat jaraknya jauh dari pusat beban. Hal ini menyebabkan tegangan yang diterima pada kedua daerah tersebut pada sa at beban puncak drop menjadi 16,5-8 kV.

Kapasitas terpasang, pembangkit di Provinsi Aceh sa at ini sebesar 146,5 MW dengan daya mampu rata-rata 98 MW. Sebagian dari pembangkit tersebut merupakan isolated murni dan sebagian lagi tersambung ke sistem transmisi 150 kV melalui jaringan distribusi 20 kV. Pembangkit tersebut, sebagian besar (99%) adalah jenis PLTD dengan menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Adapun kualitas tegangan jaringan distribusi untuk beberapa lokasi masih di bawah standar akibat jaringan tegangan menengah (JTM) yang terlalu panjang sampai 165 km dari Pusat PembangkitjGardu Induk sehingga tegangan pada sisi SUTM mencapai 16,5 kV dan pada sisl pelanggan mencapai 170 volt.

Gardu Induk yang telah beroperasi sebanyak 7 (tujuh) buah Gardu Induk yang berada di sepanjang pantai timur yang disuplai dart system Transmisi 150/20 kV Sumut-Aceh. Namun pada kenyataannya adalah sebesar 130/19,5 kV s.d. 125/19 kV. Beban puncak total PLN wilayah Aceh pada tahun 2008 sebesar 255 MW dengan produksi sebesar 1.365 GWh, dimana 70% dari

. produksi tersebut diterima dari system intekoneksi 150 KVa Sumut-Aceh.

Penyaluran energi listrik dalam wi/ayah Provinsi Aceh juga mengalami susut distribusi, yaitu kehilangan energi llstrik pada saat penyaluran dari pembangkit ke pelanggan yang diakibatkan oleh berbagai factor. Faktor penyebab susut distribusi adalah faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis adalah kehilangan energi listrik yang diakibatkan oleh kondisi peralatan yang digunakan sedangkan Faktor' non teknis adalah akibat dari kesalahan administrasi dan pemakaian listrik secara illegal.

Pelayanan Iistrik pada daerah terpencil yang belum terjangkau oleh PT.PLN dalam jangka pendek telah dilakukan beberapa upaya antara lain

II-32

pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Jumlah PL TS yang telah disebar pada 11 KabupatenjKota sampai akhir tahun 2004 berjumlah 880 buah (50-120 WP). Ditinjau dari kondisinya, lebih dari 80 % diantaranya telah mengalami kerusakan. PLTMH yang telah dibangun dibeberapa Kabupaten seperti Aeeh Tengah, Aeeh Tenggara, Aeeh Barat, Aeeh Utara dan Aceh Timur hampir seluruhnya telah mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi lagi. Hal ini disebabkan oleh keadaan konflik sehingga lokasi di pedalaman tidak mungkin dijangkau untuk pemantauan.

Penggunaan energi untuk pembangkitan tenaga listrik saat ini masih bertumpu pada Bahan Bakar Minyak, kecuali sebagian keeil saja yang memanfaatkan energi alternatif. Usaha pemanfatan sumber energi Non BBM dalam skala besar seperti Power Plant Nagan Raya 2 x 100 MW sedang dalam proses tender, PLTA Peusangan 2 x 43 MW dilanjutkan kembali pembangunannya setelah beberapa tahun terhenti. PLTP Jaboi 1 x 50 MW, PLTP Seulawah Agam 1 x 180 MW dan PLTU Krueng Raya 1 x 100 MW sedang dalam tahap pembuatan Feasibility Study.

Sampai saat ini kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan antara lain Inventarisasi Lokasi Pengembangan Energi, Survey Pendahuluan Geothermal Seulawah Agam, Penyusunan Raneangan Qanun Kelistrikan, Pembangunan PLTMH untuk Pengembangan Listrik Pedesaan.

Berdasarkan data-data rekapitulasi jumlah usaha pertambangan pada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Aceh tahun 2006 menunjukkan bahwa jumlah Kuasa Pertambangan (KP) sebanyak 25 terdiri atas 11 Pertambangan Batubara, 8 Pertambangan Emas, 2 Pertambangan Timah Hitam, 2 Pertambangan Bijih Besi, 1 Pertambangan Pasir Besi dan 1 Kontrak Karya Pertambangan Emas dan Mineral pengikutnya.

II-33

2.1.5 Lingkungan Hidup dan Kebericanaan

Lingkungan Hidup.

Provinsi Aceh terletak pada koordinat 2° - 6° Lintang Utara dan 95° - 98° Bujur Timur dengan batas-batasnya sebagai berikut : Sebelah Utara dengan Selat Malaka, Sebelah Selatan dengan Samudera Indonesia, Sebelah Barat dengan Samudera Indonesia, dan Sebelah Timur dengan Provinsi Sumatera Utara.

Provinsi Aceh memiliki 408 (empat ratus delapan) daerah aliran sungai (DAS). DAS adalah kesatuan wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, rnenyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisahan topografi dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.

Kondisi topografis daratan Provinsi Aceh yang di bagian tengahnya membentang pegunungan bukit barisan, rnenvebabkan panjang sungai yang ada rata-rata relatif pendek sehingga ketika terjadi hujan lebat sering menyebabkan banjir dengan kecepatan aliran yang tinggi. Kecepatan aliran yang tinggi lnl menyebabkan tingginya angkutan sedimen yang selanjutnya diendapkan di muara sungai rnembentuk delta dan menyebabkan penutupan

muara.

Provinsi Aceh mempunyai panjang garis pantai sebesar 2.422 km yang terdiri dari: garis pantai di Aceh daratan sepanjang 1.660 km, Sabang 62 km, dan Simeulue 700 km. Dari total panjang garis pantai tersebut yang rawan mengalami kerusakan akibat abrasi sekitar 400 km. Hingga saat ini telah dibangun prasarana pengaman pantai sepanjang 30,797 km dan tanggul pengaman air pasang yang membatasi daerah tambak dan permukiman sepanjang 24,625 km.

Saat ini isu perubahan iklim menjadi sang at populer dan dibicarakan di berbagai forum dunia. Secara urn urn perubahan iklirn akan membawa perubahan kepada parameter-parameter cuaca yaitu temperatur, curah

II-34

hujan, tekanan, kelembaban udara, laju serta arah angin, kondisi awan dan radiasi matahari. Perubahan pada curah hujan akan berdampak pada sektorsektor yang terkait dengan air, yaitu sumber daya air, pertanian, infrastuktur termasuk pemukiman, transportasi, pembangkit listrik tenaga air, penataan ruang, perikanan, rawa dan lahan gam but serta laut. Dampak perubahan iklim terhadap sektor-sektor terkait sumber daya air antara lain meningkatnya kejadian cuaca dan iklim ekstrim yang berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor dan kekeringan dan meningkatnya ancaman intrusi air laut serta berubah panjangnya pantai yang terkena erosi.

8erbagai masalah dan isu strategis muncul dalam pengelolaan lingkungan hidup antara lain : perubahan iklim, perambahan kawasan hutan, iIlIegal logging, illegal mining, kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS), pencemaran air dan udara, kerusakan kawasan pesisir.

Pada saat lnl, terdapat 1.626.800 ha lahan kritis dimana 788.600 ha berada di dalam kawasan hutan (14.7 % dari total wilayah hutan) dan 738.200 ha berada di luar kawasan hutan (13.7 % total wilayah hutan). Jika menurut peruntukan lahan maka seluas 232.902/35 ha (4,24%)lahan diklasifikasikan sebagai lahan kritis. Lahan kritis tersebut terdiri dari padang rumputjilalang seluas 223.985 ha (3,91%), tanah terbuka (tandus, rusak, pembukaan lahan) seluas 18.574,35 ha dan lahan pertambangan 443 ha (0,01 %). Lahan kritis terse but berpotensi mengakibatkan erosi dan sedimentasi di sekitar DAS

Kebencanaan

Potensi ancaman di Aceh tidak akan berkurang secara siqniflkan dalam tahun-tahun ke depan. Mengingat kondisi qeoqrafis, geologis, hidrologis dan demografis Aceh maka diperlukan suatu upaya menyeluruh dalam upaya penanggulangan bencana, baik ketika bencana itu terjadi, sudah terjadi, maupun bencana yang berpotensi di masa yang akan datang. Konsekuensi dari kondisi geomoITologis dan klimatologis serta demografis, maka ancaman bahaya (hazard) di Aceh rnencakup ancaman geologis, hidro-meteorologis, serta sosial dan kesehatan.

11-35

c

Secara geologis, Aceh berada di jalur penunjaman dari pertemuan lempeng Asia dan Australia, serta berada di bagian ujung patahan besar Sumatera yang membelah pulau Sumatra dari Aceh sampai Selat Sunda. Hal ini menyebabkan Aceh mengalami bencana geologis yang cukup panjang.

Berdasarkan catatan bencana qeoloqis, tsunami pernah terjadi pada tahun 1797, 1891, 1907 dan tanggal 26 Desember tahun 2004 adalah catatan kejadian ekstrim terakhir yang menimbulkan beqitu banyak korban jiwa dan harta.

Gempa bumi yang terjadi selama kurun waktu 2005-2009 di Aceh sebanyak 27 kali. Kejadian diprediksi akan berulang karena Aceh berada diatas tumbukan lempeng dan patahan. Dampak yang ditimbulkan selama kurun waktu tersebut yaitu korban jiwa sebanyak 62 orang, kerusakan harta benda diperkirakan mencapai 25 - 50 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 - 40 %, sedangkan cakupan wiJayah yang terkena gempa sekitar 60 - 80 %1 dan 5 % berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencaharian). Kabupaten/Kota yang diperkirakan akan terkena dampak adalah: Kota Banda Aceh, Kab. Aceh Jaya, Kab. Aceh Barat, Kab. Nagan Raya, Kab. Simeleu, Kab. Aceh Barat Daya, Kab. Singkil, Kab. Aceh Selatan, Kota Subulussalarn, Kota Sabang, Kab. Aceh Besar, Kab. Pldle, Kab. Aceh Tengah, Kab. Gayo Luwes dan Kabupaten Aceh Tenggara.

Disamping persoalan pergerakan lempeng tektonik, Aceh juga memiliki sejumlah gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan bencana. Khususnya gunung api yang tergolong tipe A (yang pernah mengalami erupsi magmatik sesudah tahun 1600). Di Aceh terdapat 3 gunung api tipe AI yaitu gunung Peut Sagoe di Kabupaten Pldle, Gunung Bur Ni Telong di Kabupaten Bener Meriah dan gunung Seulawah Agam di Kabupaten Aceh Besar.

Tanah longsor yang terjadi selama kurun waktu 2007-2009 di Aceh sebanyak 26 kali. Dampak kerusakan harta benda yang ditimbulkan diperkirakan mencapai 50 - 100 Miliar rupiah, kerusakan sarana dan prasarana 20 - 40 %, sedangkan cakupan wiJayah yang terkena longsor

II-36

sangat luas 20 - 40 %r serta berpengaruh terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat (terganggunya mata pencarian) sebesar 5 - 10 %.

Longsor biasa terjadi di sekitar kawasan pegunungan atau bukit dimana dipengaruhi oleh kemiringan lereng yang curam pada tanah yang basah dan bebatuan yang lapuk, curah hujan yang tinggi, gempa bumi atau· letusan gunung berapi yang menyebabkan lapisan bumi paling atas dan bebatuan berlapis terlepas dari bagian utama gunung atau bukit.

Tanda tanda terjadinya longsor dapat ditandai dengan beberapa parameter antara lain keretakan pada tanah, runtuhnya bagian bagian tanah dalam jumlah besar, perubahan cuaca secara ekstrim dan adanya penurunan kualitas landskap dan ekosistem.

Aceh memiliki tingkat kompleksitas hidro-meteorologis yang cukup tinggi. Dimensi alam menyebabkan Aceh mengalami hampir semua jenis bencana hidro-meteorologis seperti puting beJiung, banjir, abrasi dan sedimentasi, badai siklon tropis serta kekeringan. Puting beliung terjadi di Aceh hampir merata di berbagai daerah. Namun, dari data kejadian 3 tahun terakhir (dari tahun 2006-2009) terjadi 30 kali bencana puting beliung di 14 Kabupaten Kota. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota lainnya.

Banjir hampir merata terjadi di berbagai wilayah Aceh. Namun, dari data kejadian 3 tahun banjir (dari tahun 2006-2009) terjadi 106 kali bencana banjir di 22 dari 23 Kabupaten Kota. Elemen berisiko yang rentan ketika terjadi banjir adalah lahan pertanian, peternakan, perdagangan dan jasa di 22 kabupaten/kota di Ateh, kecuali Kabupaten Simeulu.

Sumber kerentanan bencana banjir ini berasal dari pembalakan liar (illegal logging) di kawasan daerah aliran sungai (OAS) r pendangkalan sungai, rusak atau tersumbatnya saluran drainase, dan terjadinya perubahan fungsi lahan tanpa sistem tatakelola yang baik yang memperhatikan kapasitas DAS dalam menampung air. Kabupaten Aceh Utara mencatat kejadian tertinggi dibandingkan Kabupaten Kota lainnya.

Selain bencana yang disebabkan oleh fenomena alam, bencana juga dapat disebabkan oleh ulah manusia antara lain karena kelalaian,

11-37

ketidaktahuan, maupun sempitnya wawasan dari sekelompok masyarakat atau disebut bencana sosial. Bencana soslal dapat terjadi dalam bentuk kebakaran, pencemaran lingkungan (polusi udara dan limbah industri) dan kerusuhan/konflik sosial. Tetapi bencana sosial dapat muncul sebagai akibat bencana alam, baik yang dlsebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia dalam memandang dan memanfaatkan sumberdaya alam (faktor antropogenik). Kejadian bencana sosial yang menonjol di Aceh adalah kontlik yang berlatar belakang ideologi dan ekonomi, serta Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti penyakit menular dan atau tidak menular yang dipicu oleh perilaku manusia itu sendiri.

2.1.6 Politik dan Perdamaian

Sejak invasi Belanda pertama terhadap Kesultanan Aceh pada tahun 1873 hingga tahun 2005, rakyat Aceh menghabiskan 86 dari 132 tahun terakhir dalam perlawanan bersenjata dengan angka korban yang sangat banyak. Periode terbaru konflik di Aceh dimulai pada 1976 yang ditandai dengan pendeklarasian gerakan kemerdekaan Aceh yang baru yang disebut Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Diantara sebab dari timbulnya gerakan ini adalah bahwa Jakarta belum memenuhi janjinya pada 1959 untuk memberikan 'otonornl khusus' bagi Aceh selain isu ketimpangan ekonomi.

Setelah konflik berkepanjangan lebih dari 30 tahun terakhir, situasi di Aceh terlihat mulai mengalami perubahan. Pada tahun 2004, pemerintahan baru yang terpilih secara demokratis dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pada saat yang bersamaan, pendekatan yang berbeda untuk menyelesaikan konflik lebih digalakan, termasuk melaksanakan pertemuan terbatas dan memperkuat koneksi lain antara Jakarta dan GAM sehingga lahirlah sebuah kesepahaman bersama yang disebut dengan Memorandum of Understanding (MOU) Helsinki pada tanggal15 Agustus 2005.

Nota Kesepahaman ini memberikan Aceh nuansa polltik baru dan berbeda dengan perpolitikan daerah lainnya di Indonesia karena nota ini mengamanatkan pendekatan-pendekatan baru dalam relasl Indonesia dan

11-38

..

Aceh seperti DDR (Demobillsasl - Pemulangan pasukan TNI non-organik, Disarmament - pelucutan senjata, dan Reintegrasi), amnesti baql para pejuang GAM; pembebasan tahanan-tahanan po Iitik; mengizinkan partaipartai polltlk berbasis Aceh untuk mengikuti pemilu; dan proposal kesetaraan hubungan ekonomi yang dramatis antara Aceh dan pemerintah pusat, yang memungkinkan provlsl itu membangun kembali ekonominya setelah hampir selama 30 tahun mengalami pertumbuhan negatif dan kehancuran.

Proses reintegrasi politik pasca konflik di Aceh sang at tinggi. Angka partisipasi pada pemilu baik tingkat lokal maupun nasional membukukan tingkat yang lebih tinggi dari rata-rata nasional. Pemilu legislatif tahun 2009 dan pemilihan gubernur tahun 2006 mencatat angka partisipasi pemilih hingga 75 % dan 80 %. Hal ini berarti lebih tinggi dari rata-rata nasionat yaitu 60,8 % untuk pemilu tegislatif dan 65 % untuk pemilihan gubernur. Selain politik, reintegrasi sosial juga sangat penting untuk menjamin kelestarian perdamaian. Mantan kombatan dan pengungsi konflik telah kernball ke rumah dan diterima kembali dalam masyarakat. Walaupun begitu beberapa indikator menunjukkan bahwa reintegrasi sosial masih belum sepenuhnya terimplementasikan. Masih terdapat perbedaan tingkat partisipasi antara masyarakat dan mantan kombatan dalam beberapa kegiatan ekonomi maupun dalam berbagai organisasi masyarakat.

Perdamaian yang berkelanjutan di Aceh membutuhkan pengembangan lembaga-Iembaga serta tata kelola yang kuat. Ini dibutuhkan untuk dapat mendorong pertumbuhan, pembangunan dan pengentasan kemiskinan, maupun untuk mengatasi ketegangan-ketegangan dan masalah-masalah serta untuk petaksanaan proses perdamaian yang masih berlangsung hingga kini. Yang sangat penting untuk keberhasilan lembaga adalah kapasitasnya dan kemauan untuk rnellbatkan masyarakat dari spektrum yang luas.

Pasca MOU Helsinki dan diterbitkannya Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh, masih terdapat beberapa turunan produk hukum setingkat peraturan pemerintah, peraturan presiden dan qanun yang masih dalam perdebatan baik di tingkat nasional maupun lokal. Keberadaan peraturan-peraturan tersebut sangat dibutuhkan

1I-39

dalam rangka implementasi kesepakatan damai seperti diamanahkan dalam MOU Helsinki dan undang-undang tersebut diatas.

2.1.7 Hukum dan HAM

Setelah seklan lama provinsi Aceh menjadi korban dari tidak hadirnya hukum dan tidak terjaminnya hak-hak asasi manusia (HAM) bagi masyarakat Aceh, Permasalahan hukum dan HAM adalah hal yang sangat penting dalam pembangunan Aceh. Bahkan penegakan Hukum dan HAM ini menjadi salah satu prasyarat bagi perdamaian yang berkelanjutan di Aceh.

Nota Kesepahaman Helsinki menyebutkan bahwa sebagai bagian dari penataan hukum dan HAM di Aceh perlu dibentuk Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi guna memperkuat perdamaian di Aceh. Selain itu, praktek-praktek pelanggaran hak-hak sipil yang dilakukan personel rnlllter akan diadili di pengadilan sipil (pengadilan negeri dan pengadilian tin~J9i) di Aceh. Namun hingga saat ini, amanat tersebut diatas belum sepenuhnya terlaksanakan seperti belum terbentuknya Pengadilan HAM dan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) di Aceh.

Penegakan hukum dan HAM di Aceh diarahkan untuk menciptakan kepastian dan perlindungan hukum daJam rangka mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan, mengatur permasalahan yang berkaitan dengan ekonomi terutama dunia usaha dan industri, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi.

2.1.8 Ketentraman dan Ketertiban Masyarakat

Setelah notakesepahaman atau Memorandum of Understanding Helsinki yang menyepakati perdamaian antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka, tingkat ketentraman dan ketertiban di Aceh jauh lebih baik dirasakan. Meskipun kekerasan di Aceh meningkat pada awal tahun 2006 sampai akhir tahun 2008, separuh pertama tahun 2009 ditandai dengan penurunan tajam dalam jumlah insiden kekerasan. Tingkat kekerasan kini sudah lebih rendah daripada daerah-daerah 'pasca-konflik' lain di Indonesia.

11-40

Dari karakteristik kekerasan pun mengalami perubahan dimana insiden-insiden antara GAM dan Pemerintah menjadi nol. Terdapat empat jenis permasalahan ketentraman dan ketertiban yang sering terjadi di Aceh setelah nota kesepahaman, yaitu konflik mengenai sumber daya, perselisihan administratif, perselisihan politik dan vigilantisme, aksi gerombolan serta balas dendam.

Permasalahan di seputar sumber daya merupakan perselisihan mengenai kepemilikan, akses ke dan penggunaann tanah umum, pribadi, adat, sumber daya alam atau kekayaan alam, rebutan pasar, rute dan pelanggan. Perselisihan administratif sering kali dipicu oleh pengelolaan dana pemerintah, program bantuan (pemerintah dan LSM), pelayanan publlk, perselisihan mengenai batas-batas administratif (termasuk pemekaran daerah), pembuatan kontrak, dan perselisihan buruh. Selanjutnya perselisihan politik adalah perselisihan mengenai kedudukan, pengaruh dan kekuasaan dalam pemerintah, dalam partai politik, pemberian poslsi/pekerjaan oleh pemerintah, dan perselisihan terkait dengan Nota Kesepahaman atau proses perdamaian. Sedangkan ketidaktentraman akibat aksl-aksl vigilantisme, aksi gerombolan dan balas tentang biasanya terkait dengan isu-isu moral (mis. main hakim sendiri, mempermalukan di depan umum), masalah identitas kelompok (mis., perkelahian antar gang)t masalah pribadi seperti pembalasan dendam atau merasa tersinggung, dan kekerasan dalam rumah tangga

Dalam periode setelah MoU Helsinki, sifat kekerasan di Aceh rnenqalami suatu perubahan. Insiden-insiden antara GAM dan pemerintah menurun tajam hingga hampir mencapai nol setelah MoU ditandatangani dalam bulan Agustus 2005 dan masih tetap rendah. Hanya ada lima insiden yang dilaporkan antara awal tahun 2006 sampai akhir 2008. Namun terjadi kekerasan-kekerasan dalam bentuk baru - yang meningkat cepat pada separuh kedua tahun 2008, tetapi kemudian menurun perlahan-Iahan dalam separuh pertama tahun 2009. Lebih dari 100 orang terbunuh dalam insiden kekerasan (tidak termasuk tindak kriminal dengan kekerasan) di Aceh dalam empat tahun terakhir, rata-rata kurang darl tiga orang per bulan. Sebagian

II-41

besar kematian tersebut berkaitan dengan vigilantisme, masalah pribadi atau masalah gerombolan, atau tidak ada motivasi yang jelas.

2.1.9 Aparatur

Pemerintah Aceh mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pemberdayaan, pembangunan, monitoring evaluasi serta pelayanan publik secara professional. Untuk terlaksananya tata kelola pemerintahan yang balk (good governance), Pimpinan Aceh akan menggunakan seluruh tenaga dan kemampuan Sumber Daya Aparatur yang handal dan potensial dibidangnya sesuai dengan kompetensi yang ada. Jumlah Sumber Daya Aparatur Daerah/Pegawai Negeri Sipil dilingkungan Pemerintah Aceh pada tahun 2009 adalah 8.723 orang yang terdiri dari Pria sebanyak 5.606 Orang dan Wanita sebanyak 3.117 orang. Bila dilihat darl tingkat kepangkatan/golongan Aparatur pad a Pemerintah Aceh adalah Golongan IV sebanyak 707 orang, Golongan III sebanyak 5.039 orang, Golongan II sebanyak 2.822 orang dan Golongan I sebanyak 155 orang.

Pembinaan, Pengembangan dan Peningkatan Kesejahteraan Aparatur dilakukan melalui proses manajemen kepegawaian yaitu mulai dari proses rekruitmen, mutasi dan penslun, Kondisi ini dapat digambarkan seperti tahun-tahun sebelumnya bahwa pada tahun 2009 yaitu rekruitmen CPNSD termasuk Honorer sebanyak 571 orang. Penerimaan CPNSD ini didasarkan penetapan Formasi oJeh Menpan dan jumJah PNS yang memasuki masa pensiun sebanyak 503 orang serta PNS yang Pindah Tugas dari Provinsi Aceh ke Provinsi Lain atau Kabupaten/Kota. Sedangkan proses mutasi pada tahun 2009 meliputi mutasi kenaikan pangkat sebanyak 5.521 Orang, mutasi pindah antar Kabupaten/Kota sebanyak 1752 orang, mutasi Jabatan Struktural/Fungsional sebanyak 327 orang. Disamping itu untuk peningkatan prestasi kerja bagi Aparatur diberikan Pembinaan Displin dan pemberian kesejahteraan berupa Gaji, Tunjangan Prestasi Kerja dan fasilitas pendukung berupa Karis/Karsu, Askes, Taspen, Kerpeg/KPE, pendataan PNS dan lain sebagainya.

II-42

Dalam rangka mendukung pelaksanaan Pemerintah Aceh ke depan, maka perlu ditunjang oleh tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur yang professional agar mutu pelayanan public dapat ditingkatkan. Untuk pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Daerah dan Peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) Aparatur dilingkungan Pemerintah Aceh dilakukan melalui Pendidikan dan Pelatihan (DIKLAT). Diklat sebagai salah satu instrument pembinaan penyelenggaraan Pemerintah Daerah, diarahkan untuk meningkatkan kinerja organisasi, untuk itu diklat diselenggarakan berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah. Diklat sebagai bagian dari peningkatan kompetensi SDM Aparatur, antara lain diarahkan untuk meningkatkan karier. Penyelenggaraan diklat dilingkungan Pemerintah Aceh diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kompetensi melalui Diklat Prajabatan, Diklat Teknis, Diklat Fungsional, Diklat Kepemimpinan (Diklatpim), Peningkatan Ketrampilan Profesional dan Pemberian Tugas Belajar dan Ikatan Dinas.

Untuk Peningkatan Kapasitas Sumber Oaya Aparatur melalui data pada tahun 2009 dapat digambarkan sbb :

• PN5 yang menduduki eselon I sebanyak 1 Orang, eselon II sebanyak 53 Orang, eselon III sebanyak 234 orang, eselon IV sebanyak 604 Orang, sehingga dari keseluruhan pejabat struktural yang telah menduduki Jabatan tersebut sebanyak 892 orang diharuskan mengikuti Diklatpim, ditambah dengan PNS yang telah lulus Diklatpim dan memenuhi syarat serta peluang untuk mengikuti Diklatpim.

• PN5 yang menduduki jabatan fungsional dilingkungan Pemerintah Aceh sebanyak 734 orang, sehingga dari keseluruhan pejabat tersebut harus mernlllkl Diklat Jabatan Fungsional yang di persyaratkan.

• PN5 yang memiliki pendidikan formal terdiri dari 5-3 sebanyak 4 Orang, 5-2 sebanyak 667 Orang, 5-1 sebanyak 3.869 Orang, DIV sebanyak 17 orang, DIIl sebanyak 1.097 orang, SLTA sederajat sebanyak 2.801 Orang, 5LTP sebanyak 177 Orang, SD sebanyak 60 Orang, sehingga dari 5LTA sId 5-2 memiliki peluang untuk mengikuti Pendidikan Kader atau tugas belajar dan ikatan din as.

11-43

• CPNSD yang dlrekruit tahun 2009 termasuk tenaga formasi honorer sebanyak 571 orang dan tahun-tahun sebelumnya diwajibkan dalam jangka waktu 1 (satu) tahun mengikuti Diklat Prajabatan.

2.1.10 Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah

Pengembangan wilayah Provinsi Aceh masih mengalami ketimpangan.

Beberapa indikator pembangunan di wilayah pesisir timur Aceh membukukan nilai yang lebih tinggi dibanding wilayah tengah dan pesisir barat. Pusat-pusat perkotaan juga lebih banyak terdapat di pesisir timur. KabupatenjKota di kawasan pesisir timur terletak di sepanjang jalan nasional dengan kualttas relatif baik yang menghubungkan dua kota besar yaitu Banda Aceh dan Medan dan mempunyai jumlah penduduk setara dua pertiga populasi Aceh. Keuntungan lokasi dengan akses yang lebih baik terhadap pasar dan fasilitas publik membuat kawasan pesisir timur memiliki biaya transportasi lebih rendah sehingga kesempatan ekonomi lebih besar di kawasan tersebut.

Pengurangan kesenjangan pembangunan antar wilayah perlu dilakukan bukan hanya untuk meningkatkan kesejahteraan di Provinsi Aceh tetapi juga untuk menciptakan regional coherence atau kesetaraan antar wilayah sehingga terjadi integrasi yang kuat antar wilayah. Integrasi ini akan menyebabkan optimalisasi pemanfaatan potensi daerah akibat terjadi interdepensi antar wilayah yang bersifat saling menguatkan baik secara ekonomi maupun sosial budaya.

Secara geomorphologi, Aceh didominasi oleh kawasan hutan dan berlereng curam (> 40 %). Kawasan hutan Aceh mencapai 60,37 % dari total luas daratan. Sedangkan dan kemiringan lereng yang curam (> 40 %) merepresentasikan 55,83 % dari total daratan. Selain itu Aceh berada dalam kawasan rawan bencana seperti bencana geologi dan hydrometeorologi. Karena itu penataan ruang Aceh selain ditujukan untuk meningkat pertumbuhan ekonomi namun juga untuk mengurangi resiko kerugian akibat bencana.

U-44

2.2. Analisa Isu-Isu Strategis

Kondisi Aceh yang baru /epas dari bencana tsunami dan konflik memberikan sebuah peluang sekaligus tantangan yang sangat besar bagi pembangunan Aceh.

1. Proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang mendapat komitmen pendanaan yang sangat besar dari Pemerintah Indonesia dan Lembaga Donor Internasional diharapkan dapat membangun kembali Aceh secara lebih balk. Kucuran dana dan kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam jumlah yang besar akan menyebabkan pergerakan ekonomi yang lebih balk. Namun booming ekonomi akibat kucuran dana rehabilitasi dan rekonstruksi hanya akan berlangsung sernentara. Karena itu proses rehabilitasi dan rekontruksi harus menitikberatkan pada pembangunan kem ba Ii kapasitas produksi dan daya beli masyarakat sehingga masyarakat dapat menjalani kehidupannya secara lebih sejahtera dan berkela njuta n.

2. Perdamaian di Aceh memberikan ruang ideal bagi tumbuhnya kesejahteraan. Proses reintegrasi pihak-pihak yang bertikai harus berjalan secara hatl-hatl dan sempurna. Pengalaman internasional menunjukkan bahwa banyak masyarakat yang baru selesai dari konflik kernbali terjebak kembali kepada kekerasan karena proses reintegrasi berjalan timpanq, sektoral dan tidak adiJ. Pelestarian perdamaian yang merupakan prasyarat bagi efektifitas pembangunan di Aceh harus dipastikan dengan program pembangunan yang terpadu dan menyentuh segala /apisan dan golongan masyarakat.

3. Makin terbukanya Aceh pasca tsunami dan konflik serta derasnya arus globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi menjadi tantangan Aceh untuk dapat mempertahankan jati diri sebagai masyarakat yang is/ami. Selama ini pemanfaatan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi cenderung merusak jati diri Aceh. Jika hal ini dibiarkan jati diri tersebut akan terus tergerus . dan dapat tercerabut dari keseharian masyarakat Aceh. Karenanya perlu dilakukan peningkatan ketahanan (resilience) dan kecerdasan masyarakat Aceh

II-45

terhadap infiltrasi budaya asing termasuk gerakan pendangkalan akidah. Ketahanan dan kecerdasan ini harus terus ditingkatkan karena perkembangan teknologi dan keterbukaan Aceh merupakan sebuah kemestian apablla ingin melihat dapat berkiprah dalam pergaulan nasional dan global.

4. Aceh selama 20 tahun ke depan menerima dana transfer dari pemerintah pusat sebesar dua persen dari dana alokasi umum (DAU) nasional selama kurun waktu 2008 dan 2002 dan satu persen dari DAU selama kurun waktu 2023 hingga 2027 sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintah Aceh. Selain itu, Aceh juga mendapat dana tambahan bagi hasll minyak dan gas (TDBH Migas) sebesar 55 % untuk komoditas minyak dan 70% untuk komoditas gas alam. Mengingat ketersediaan modal keuangan tahunan ini yang berjangka, Kemandirian Aceh harus menjadi semangat dalam menggunakan dana transfer tersebut yang lebih sering dikenal dengan nama dana otonomi khusus (otsus). Kegagalan membangun kemandirian Aceh selama kurun waktu 2008-2027 dapat membuka skenario gelap pembangunan Aceh.

5. Era hidrokarbon di Aceh mulai meredup yang ditandai dengan terus berkurangnya produksi minyak dan gas dari provinsi ini. Sedangkan sumber-sumber minyak dan gas baru belum ditemukan. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir, kontribusi sektor minyak dan gas kepada ekonomi Aceh telah dikalahkan oleh kontribusi sektor pertanian. Kondisi ini mengharuskan perubahan fokus pemerintah untuk mengoptimal sumber penerimaan Aceh selain dari dana perimbangan dengan.

6. Kontribusi sektor pertanian terhadap ekonomi Aceh menempati urutan teratas. Sektor ini juga menyerap hampir setengah dari tenaga kerja. Hal ini menunjukkan pentingnya sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi Aceh. Namun sektor ini belum mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh. Kesejahteraan petani juga belum begitu terasa peningkatannya yang dilihat dari indikator-indikator kesejahteraan petani yang masih belurn menggembirakan. Kegagalan pembangunan pertanian

II-46

akan menyebabkan kegagalan penyejahteraan sebagian besar masyarakat Aeeh dan membahayakan kemajuan Aeeh karena sebagian besar generasi tidak dapat mendapatkan akses pendidikan dan kesehatan seeara layak.

7. Tingkat pertambahan nilai dari komoditas pertanian di Aeeh masih rendah. Sebagian besar ekspor yang dilakukan berupa bahan mentah. Hal ini menimbulkan kerentanan jika terjadi gejolak harga komoditas lokal dan global. Pengolahan komoditas pertanian menjadi penting untuk memberi nilai tambah, membuka peluang tenaga kerja dan memperluas serapan komoditas. Karena itu, perubahan paradigma pembangunan sektor pertanian mutlak diperlukan dengan prioritas peningkatan nilai manfaat dari produk-produk pertanian Aeeh.

8. Sebagian besar dari wilayah Aeeh adalah laut. Pemanfaatan sumber daya kelautan masih tidak optimal. Sebagian besar nelayan Aeeh merupakan nelayan tradisional yang mempunyai kapal lebih keeil dari 5 GT dan berarti praktek penangkapan ikan dilakukan di perairan pantai (coastal fisheries). Kondisi ini tidak ideal karena wilayah laut teritorital dan ZEE tidak optimal termanfaatkan dan perairan pantai mengalami tekanan berlebihan padahal perairan pesisir merupakan kawasan yang paling produktif seperti terumbu karanq, padang lamun dan mangrove; dan berfungsi sebagai habitat dalam siklus hidup ikan. Apabila kondisi ini dipertahankan keberlanjutan dari pemanfaatan sumberdaya hayati dan jasa lingkungan kelautan akan dipertaruhkan.

9. Masih rendahnya kualitas sumber daya manusia Aeeh yang ditandai dari peneapaian indeks pembangunan manusia Aeeh masih dibawah rata-rata nasional menyebabkan produktivitas dan daya saing ekonomi daerah juga rendah. Pembangunan kesehatan dan pendidikan memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

10. Aeeh memasuki fase transisi kependudukan dimana terdapat peningkatan rasio ketergantungan hidup. Apabila kondisi ini terus dibiarkan akan menurunkan tingkat kesejahteraan akibat beban tanggungan hidup yang meningkat. Ini juga berarti penurunan tabungan dan investasi yang dapat

11-47

...

dilakukan guna peningkatan kesejahteraan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu dilakukan pengelolaan pertumbuhan penduduk untuk menjaga terjadinya bonus demografi dimana kelompok usia produktif dominan ketimbang usia tidak produktif; dan peningkatan produktifitas angkatan kerja dalam hal keluaran (output) maupun usia produktif.

11. Secara geografis, wilayah Aceh yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka akan lebih mudah untuk tumbuh. ApabiJa faktor penghambat kemajuan ekonomi di Aceh telah dapat diselesaikan dan terjadi perkembangan ekonomi yang menggembirakan maka akan terjadi urbanisasi/migrasi dari kawasan pedalaman Aceh. Untuk menghindarkan efek negatif dari urbanisasi, diperlukan pengembangan konsep pembangunan wiJayah yang terintegrasi dan saling mendukung guna menjamin inklusifitas pembangunan dan pemerataan kesejahteraan.

12. Tumbuhnya raksasa ekonoml global di masa depan, seperti Cina dan India; dan peran strategis Selat Malaka sebagai jalur perdagangan dunia merupakan fokus utama yang perlu dipertimbangkan secara cermat di dalam menyusun pengembangan perekonomian Aceh. Daya saing menjadi kata kunci jika ingin Aceh dapat mengambil manfaat dari integrasi ekonomi global. Ketersediaan infrastruktur dan sumber daya manusia yang mempunyai produktifitas tinggi serta sistem hukum yang berkepastian harus menjadi daya saing ekonomi Aceh di masa depan.

13. Globalisasi dan perdagangan bebas yang ditandai dengan bergerak bebasnya sumberdaya dan komoditas karena hambatan tarif yang diminimalisir memberikan tantangan bagi perekenonomian Aceh. Serbuan prod uk dan komoditas dari negara luar dapat membahayakan keberlangsungan usaha rnlkro, keeil dan menengah (UMKM) di Aeeh. Jika pemerintah tidak rnenaikkan efesiensi dan daya saing UMKM, Globalisasi hanya akan menempatkan rakyat Aceh sebagai penonton dan pembeJi dari produk global tanpa ada pertambahan nilai dan investasi yang nikmati.

14. Kebutuhan pembangunan infrastruktur dalam rangka integrasi ekonomi Aceh membutuhkan dana yang sangat besar. ApabiJa kebutuhan tersebut

11-48

didanai dari dengan anggaran pemerintah maka tidak ada yang tersisa bagi pembangunan sektor lainnya. Kebijakan pembiayaan pembangunan infrastruktur perlu difokuskan pada dana-dana masyarakat dan membuka peluang kerja sama dengan badan usaha, terutama swasta dalam rangka

penyelenggaraan pembangunan

merupakan tantangan yang

sarana dan prasarana. menuntut dilakukannya

Hal ini, berbagai

penyempurnaan aturan main, terutama yang berkaitan dengan struktur industri penyediaan sarana dan prasarana serta pentingnya reformasi di sektor keuangan guna memfasilitasi kebutuhan akan dana-dana jangka panjang masyarakat yang tersimpan di berbagai lembaga keuangan.

15. Pola ruang Aceh yang didominasi oleh hutan dan kelerengan yang curam mengakibatkan terbatasnya pili han penggunaan ekonomis ruang tersebut. Pilihan yang paling mudah dan ekonomis adalah dengan mengekploitasi sumber daya hutan berupa kayu (logging). Apabila cara ekploitasi ruang seperti diatas terus dilakukan, maka akan menyebabkan bencana yang biaya pemulihannya akan jauh lebih tinggi dari hasil eksploitasi. Karena itu perlu usaha untuk memberi nilai tambah ekonomis atas keberadaan ruang hutan di Aceh seperti perdagangan karbon, pemanfaatan sumber daya hutan non-kayu dan lain-lain

16. Perubahan Iklim pemanasan global yang berdampak pada aktivitas dan kehidupan manusia. Perubahan pola hujan, sirkulasi angin, kenaikan muka air laut, pemutihan terumbu karang merupakan sebagian dampak perubahan iklim yang akan mempengaruhi kehidupan masyarakat Aceh. Karena itu perlu dilakukan upaya-upaya mitigasi dan adaptasi dari perubahan iklim ini sehingga masyarakat dapat terus menerus memperoleh kesejahteraan.

17. Provinsi Aceh terletak pada lintasan pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia serta berada dalan rezim iklim tropis. Kenyataan ini membuat bencana menjadi bagian intriksik dalan kehidupan masyarakat Aceh. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana menjadi hal yang sangat krusial guna melanjutkan pembangunan kesejahteraan.

II-49

BAB III

VISI DAN MISI PEMBANGUNAN ACEH TAHUN 2005-2025

Berdasarkan kondisi Aceh sa at ini dan skenarlo yang dihadapi dalam 20 tahun mendatang dengan memperhitungkan modal dasar yang dimiliki oleh masyarakat Aceh, visi pembangunan Aceh tahun 2005-2025 adalah:

ACEH YANG SEJAHTERA, DAMAI, DAN ISLAMI

Visi pembangunan Aceh tahun 2005-2025 itu mengarah pada pencapaian tujuan pembentukan Provinsi Aceh dalam kerangka pencapaian tujuan nasional, seperti tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Visi pembangunan Aceh harus dapat diukur untuk dapat mengetahui tingkat kesejahteraan, kedamaian, dan kualitas kelslaman yang ingin dicapai.

Sejahtera adalah sebuah kondisi dimana setiap masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya dalam aspek ekonomi, sosial dan spiritual. Masyarakat Aceh yang sejahtera merupakan masyarakat yang makmur, berpenghasilan yang cukup, memiliki pendidikan, lapangan usaha dan lapangan kerja yang layak, terbebas dari kemiskinan, memiliki rasa kepedulian yang tinggi, memiliki kualitas kesehatan dan didukung oleh kondisi lingkungan dan perumahan yang baik.

Selain memiliki berbagai indikator ekonomi, social dan spritual yang lebih baik, masyarakat yang sejahtera juga harus memiliki sistem dan kelembagaan politik, termasuk hukum yang mantap. Lembaga politik dan kemasyarakatan berfungsi berdasarkan aturan dasar, yaitu konstitusi yang ditetapkan oleh rakyatnya. Masyarakat yang sejahtera juga ditandai oleh adanya peran serta secara nyata dan efektif dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, sosial, politik, maupun pertahanan dan keamanan. Kesejahteraan masyarakat tidak hanya dicerminkan oleh perkembangan ekonomi semata, tetapi mencakup aspek yang lebih luas. Kesejahteraan tercermin

III-l

dalam keseluruhan aspek kehidupan, dalam kelembagaan, pranata-pranata, dan nilainilai yang mendasari kehidupan politik dan soslal.

Damai adalah sebuah kondisi dimana hak dasar setiap manusia dalam rangka memenuhi kebutuhan sosial, politik, dan ekonominya dengan baik serta memiliki rasa aman. Kata "damar' juga mengandung arti yang kontekstual jika diletakkan dalam situasi tertentu, dimana damai merupakan kondisi dalam masyarakat yang tidak mengalami konflik pada komunitasnya, mereka hidup secara selaras serasi seimbang. Oleh karena itu, upaya restrukturisasi hubungan-hubungan sosial yang telah rusak; dan, lebih jauh lagi, menghasilkan sebuah mekanisme penanganan konflik yang adil dan damai, dengan memperhatikan aspek-aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya yang meliputi lokus konfHk bagi Aceh pasca konflik.

Kondisi damai dapat diukur dari situasi politik, soslal dan ekonomi yang kondusif, yang ditandai dengan menurunnya angka krirninalitas dan jumlah korban akibat kekerasan; meningkatnya derajat kepercayaan antar masyarakat dan antar masyarakat dan pemerintah; meningkatnya modal sosial masyarakat; serta terpeliharanya hak asasi manusla di Aceh.

Islami adalah kondisi dimana masyarakat Aceh mempunyai karakter dan akhlak mulia yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Karakter dan akhlak mulla yang dimaksud adalah toleran, santun, taat beribadah, memiliki etika, mencintai perdamaian, memiliki ketahanan dan daya juang tinggi, cerdas, taat aturan, kooperatif dan inovatif serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia.

..

Masyarakat Aceh yang Islami dicirikan dengan meningkatnya kualitas kerukunan hidup beragama baik lintas agama maupun lintas organisasi masa Islam; menurunnya jumlah pelanggaran syariat Islam; membudayanya perilaku atau akhlak mulia di segala lapisan masyarakat.

III-2

Dalam hubungannya dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh, diharapkan di masa yang akan datang semua aspek kehidupan, terutama penegakan hukum, kegiatan ekonomi, sosial kemasyarakatan, pelaksanaan pendidikan dan pengelolaan pemerintahan harus sesuai dengan tuntunan Islam.

Dalam mewujudkan visi pembangunan Aceh tersebut ditempuh melalui 6 (enam) misi pembangunan Aceh sebagai berikut :

1. Mewujudkan masyarakat berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Islami adalah membangun sumberdaya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWf, memiliki landasan spiritual, moral, dan etika, berpendidikan, memiliki daya saing, memelihara kerukunan antar umat beragama, serta menjunjung tinggi nilai luhur agama dan budaya.

2. Mewujudkan masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan hidup dalam aspek ekonomi, sosial dan spiritual adalah meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara optimal dalam rangka membangun masyarakat mandiri; menanggulangi kemiskinan dan pengangguran; menyediakan infrastruktur yang memadai, tenaga kerja yang berkualitas dan produktif serta regulasi yang mendukung penciptaan iklim investasi yang kondusif; membangun, memelihara dan mengembangkan aneka ragam kekayaan budaya dalam masya ra kat; memiliki hubungan yang selaras dan seimbang antar individu, keluarga, masyarakat serta lingkungan.

3. Mewujudkan masyarakat demokratis berlandaskan hukum adalah memantapkan budaya demokrasi dalam masyarakat; memperkuat peran masyarakat sipil; menjamin kebebasan media secara bertanggung jawab dalam mengkomunikasikan kepentingan masyarakat; dan meningkatkan budaya hukum dan menegakkan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif dan memihak pada rakyat keeil.

III-3

4. Mewujudkan Aceh yang aman, damai, dan bersatu adalah melestarikan perdamaian secara sungguh-sungguh dan. berkelanjutan; menghilangkan diskriminasi dalam berbagai aspek; dan melaksanakan pembangunan yang berbasis peka konflik; serta menjaga keutuhan wilayah Aceh.

5. Mewujudkan pembangunan yang berkualitas, adil dan merata adalah mengedepankan pembangunan sumber daya manusia berkualitas dan berdaya saing; meningkatkan penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui penelitian dan pengembangan, penerapan menuju inovasi secara berkelanjutan; memperkuat perekonomian domestik berbasis keunggulan wilayah menuju keunggulan kompetitif dengan membangun keterkaitan sistem produksi, distribusi dan pelayanan dalam skala lokal, regional dan internasional; mengurangi kesenjangan (disparitas) sosial ekonomi secara menyeluruh, keberpihakan kepada masyarakat kelompok dan kabupaten/kota yang masih lemah; dan menyediakan akses yang sama bagi masyarakat terhadap berbagai pelayanan sosial serta sarana dan prasarana ekonomi.

6. Mewujudkan Aceh yang lestari dan tangguh terhadap bencana adalah melaksanakan pembangunan Aceh dengan prinsip berkelanjutan dan keseimbangan dalam memanfaatkan sumber daya alam dan lingkungan hidup; mengelola dan memanfaatkan ruang yang serasi antara kawasan lindung dan budidaya; melakukan upaya perlindungan dan pemulihan kawasan kritis untuk memperbaiki kualitas daya dukung lingkungan; dan meningkatkan upaya pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya a/am dan lingkungan sebagai modal dasar pembangunan; serta mengubah paradigma penanganan terhadap bencana yang cenderung masih bersifat tanggap darurat menjadi kesiapsiagaan.

III-4

BABIV

ARAH KEBIJAKAN DAN KAIDAH PELAKSANAAN

Tujuan pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025 adalah mewujudkan Aceh yang sejahtera, damai dan Islami. Sebagai ukuran tercapainya Aceh yang sejahtera, damai, dan Islami dalam 20 tahun mendatang diarahkan pada pencapaian sasaran-sasaran pokok sebagai berikut :

A. Terwujudnya masyarakat Aceh yang berakhlak mulia sesuai dengan nilainilai Islami ditandai oleh hal-hal berikut :

1. Terwujudnya masyarakat Aceh berkualitas, memiliki karakter IsJami yang dicirikan dengan sehat jasmani, rohani dan sosial, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, memiliki moral dan etika yang baik, rajin, tangguh, cerdas dan memiJiki kompetensi dan daya saing, toleransi tinggi, berbudi luhur, peduli lingkunganr patuh pada hukum, serta mencintai perdamaian.

2. Meningkatnya kerukunan hidup antar individu, antar kelompok masyarakat, dan antar umat beragama;

3. Terwujudnya tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance)

4. Meningkatnya kualitas pelaksanaan syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan terutama di bidang hukum, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan.

B. Terwujudnya masyarakat yang mampu memenuhi kebutuhan hidup dalam aspek ekonomi, sosial dan spiritual ditunjukkan oleh hal-hal berikut :

1. Terpenuhinya kebutuhan dan terjaminnya ketersediaan pangan masyarakat Aceh.

2. Tersedianya penunjang pertumbuhan ekonomi dalam bentuk regulasi yang efektif, pembiayaan yang berkelanjutan, sumber daya manusia yang berkualltas, teknologi tinggi dan tepat guna, jaringan distribusi yang efektif dan efisien serta sistem informasi yang handal.

IV-l

3. Meningkatnya daya tahan dan daya saing dunia usaha di Aeeh, terutama koperasi dan usaha mikro kecll menengah serta tumbuhnya wirausaha baru.

4. Tereapainya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan sehingga pendapatan per kapita pada tahun 2025 meneapai tingkat kesejahteraan setara atau lebih dari provinsi lain yang berpenghasilan menengah dengan tingkat pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin tidak lebih dari 5 persen.

5. Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan, yang ditandai dengan peningkatan kualitas kesehatan, akses, mutu dan relevansi pendidikan formal/informal melalui peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indek Pembangunan Gender (IPG).

6. Meningkatnya kualitas lingkungan hidup yang bersih dan sehat dalam masyarakat.

7~ Terwujudnya masyarakat yang berperllaku eerdas dan berbudi pekerti luhur, yang dieirikan dengan meningkatnya pemahaman dan implementasi nilai-nilai islami dan nilai luhur budaya Aeeh dalam kehidupan bermasyarakat.

c. Terwujudnya Aceh yang demokratis dan berlandaskan hukum ditunjukkan oleh hal-hal berikut:

1. Tereiptanya supremasi hukum dan penegakan hak asasi manusia seeara nondiskriminatif.

2. Tersedianya ruang dialog publik yang bebas dan bertanggung jawab sesuai dengan nllal-nllal Islam, nilai kearifan lokal, adat istiadat dan budaya Aceh.

3. Meningkatnya peran dan partisipasi masyarakat sipil dalam kehidupan politik dan kegiatan pembangunan.

4. Menguatnya sistem kelembagaan yang memiliki nilai-nilai demokrasi dengan menitikberatkan pad a prinsip-prinsip toleransi, transparansi, akuntabilitas{ nondiskriminasi, dan kemitraan.

5. Terwujudnya konsolidasi demokrasi pada berbagai aspek kehidupan politik yang dapat diukur dengan adanya pemerintahan yang berdasarkan hukum, birokrasi

IV-2

yang professional dan netral, masyarakat sipil, masyarakat politik dan masyarakat ekonomi yang mandiri, serta adanya kemandirian daerah.

D. Terwujudnya rasa aman dan damai bagi seluruh rakyat serta terjaganya keutuhan wilayah Aceh ditandai oleh hal-hal berikut:

1. Terjaminnya rasa aman dan damai masyarakat dalam menjalani kehidupan ekanomi, sosial, polltik, budaya dan agama.

2. Terwujudnya keadilan dan pemerataan pembangunan di seluruh kabupatenjkota berdasarkan patensi dan keunggulan wilayah.

3. Terwujudnya keutuhan wilayah Aceh sebagai satu kesatuan masyarakat yang tidak terpisahkan dalam satu bingkai Provinsi Aceh.

"

E. Terwujudnya pembangunan yang berkualitas, adil dan merata, ditandai oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Meningkatnya pelayanan dasar yang berkualitas secara adil dan merata serta mengurangi kesenjangan antar wilayah, kelompok masyarakat, status ekonomi, sosial dan gender.

2. Meningkatnya Jaju pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, investasi di daerah, nilai ekspor produk serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

3. Terbangunnya struktur perekonomian yang kokoh berlandaskan keunggulan kompetitif di setiap wilayah. Sektor pertanian dan industri menjadi basis aktivitas ekonomi yang dikelola secara efisien sehingga menghasilkan komoditas unggulan yang berkualitas; industri manufaktur yang mendukung sektor pertanian berdaya saing global merupakan motor penggerak perekonomian. Sektor jasa dengan kualitas pelayanan lebih bermutu dapat meningkatkan daya saing sehingga dapat menjadi daya tarik investasi dan menciptakan lapangan kerja.

IV-3

4. Meningkatnya optimasi pemanfaatan ruang untuk aktivitas ekonomi didukung dengan meningkatnya pelayanan infrastruktur transportasi yang handal dan terintegrasi, infrastruktur pengelolaan sumberdaya air yang berkelanjutan, infrastruktur telekomunikasi yang efisien dan modern, pasokan energi yang andal dan efisien, serta sarana dan prasarana dasar perrnuklrnan yang berkualitas.

5. Terwujudnya pengembangan kawasan tertinggal dan terpencil sehingga dapat tumbuh, berkembang dan mengejar ketertlnqqalan pembangunan dengan daerah lain. Terciptanya sinergisitas kegiatan ekonomi antara kawasan terpencil dan tertinggal dengan kawasan cepat tumbuh dan strategis dalam satu sistem wilayah pengembangan ekonomi;

6. Meningkatnya sinergisitas kegiatan ekonomi dari tahap awal produksi sampai tahap konsumsi serta meningkatnya aksesibilitas dan mobilitas orang, barang dan jasa antar wilayah Aceh dengan dukungan regulasi yang efektif.

F. Terwujudnya Aceh yang lestari dan tangguh terhadap bencana yang ditunjukkan oleh unsur-unsur sebagai berikut:

1. Terciptanya kondisi sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang seimbang dan berdaya guna sesuai dengan fungsi dan daya dukung wilayah Aceh dengan mempertimbangkan aspek ekologis.

2. Meningkatnya perlindungan, pemulihan kawasan kritis, pemeliharaan dan pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan sebagai modal dasar pembangunan dalam rangka memperbaiki kualitas kehidupan di masa mendatang dengan memperhatikan prinsip keselarasan dan perubahan global melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan kearifan lokal,

3. Terciptanya komitmen bersama yang kuat untuk menjadikan Aceh tanggap dan siap menghadapi bencana serta adanya perubahan paradigma masyarakat dan

pemerintah dalam

pengurangan risiko bencana yang lebih bersifat

kesiapsiagaan kepada seluruh komponen masyarakat, khususnya kelompok rentan, dengan memperhatikan aspek gender (gender mainstreaming).

IV-4

4.1 ARAH KEBI1AKAN

4.1.1 Mewujudkan masyarakat Aceh yang berakhlak mulia sesuai dengan nllal-nllal Islami

Pembangunan masyarakat Aceh yang berakhlak mulia sesuai dengan nilai-nilai Islami diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran masyarakat dalam pembangunan dengan landasan moral dan etika sehingga menjadi kekuatan pendorong utama untuk terciptanya masyarakat yang sejahtera, aman dan damai.

Sistem Pendidikan Islami merupakan sistem pendidikan yang didasarkan pada nllal-nllal Islam (Islamic value-based education), yang di dalamnya juga mengandung komponen-komponen pendidikan umum lainnya, seperti kurikulum, pengajaran, guru, siswa, manajemen, dan fasilitas.

Tujuan dari pendidikan Islami adalah untuk pembinaan iman dan taqwa kepada Allah swr serta pembentukan akhlak rnulla, penyadaran manusia akan pentingnya ilmu pengetahuan, penyadaran manusia akan perannya sebagai khalifah di bumi, penyiapan manusia untuk kehidupan dunia dan akhirat, serta pengembangan manusia sebagai individu dan makhluk sosial.

A. Membangun sumberdaya manusia yang Islami

1. Pembangunan dan pemantapan karakter Islami dilakukan dengan

pengembangan konsep pendidikan Islami melalui institusi pendidikan formal dan non formal, dengan tujuan membentuk generasi penerus yang memiliki akhlak mulia, cerdas dan memiliki daya saing.

2. Pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan standar pendidikan yang berbasis nilai Islami harus sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan lokal, nasional dan global. Upaya percepatan implementasi sistem pendidikan Islami juga dikuatkan dengan tersedianya landasan hukum dan Prosedur Operasi Standar yang dapat menjadi pedoman dalam sistem pendidikan.

IV-S

3. Peningkatan kualitas pendidikan agama dan keagamaan dilakukan melalui peningkatan jumlah dan kualitas guru mata pelajaran yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam mata pelajaran kellrnuan lainnya, peningkatan kapasitas penyelenggara pendidikan serta memfasilitasi penyelenggaraan pendidikan keagamaan.

4. Penguatan dan pemantapan peran keluarga, masyarakat, lingkungan sosial kemasyarakatan, ulama dan umara dalam membentuk karakter Islami masyarakat.

B. Meningkatkan kualitas kerukunan hidup dalam masyarakat

1. Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat perlu dikembangkan secara berkelanjutan sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat yang damai dan harmoni dengan memelihara kerukunan antar individu, kelompok, dan umat beragama; interaksi antar budaya serta nilai-nilai luhur budaya dalam kehidupan.

2. Pemantapan kapasitas dan kredibilitas pemerintah, lembaga-Iembaga politik dan demokrasi, pranata-pranata lokaljadat serta media massa, dalam melaksanakan tugasnya sebagai fasilitator atau mediator untuk menanggulangi dan mencegah konflik.

3. Pembentukan dan peningkatan efektivitas forum kerukunan umat beragama, peningkatan kualitas kerukunan antar umat beragama diarahkan pada penguatan kapasitas masyarakat dalam menyampaikan aspirasi melalui caracara damai, peningkatan dialog dan koordinasi antar umat beragama dan antar instansijlembaga pemerintah, melakukan penyempurnaan dan penegakan hukum serta peraturan perundangan.

C. Pembangunan Pemerintahan yang baik dan bersih (clean and good governance)

1. Peningkatan kapasitas dan profesionalisme aparatur, efisiensi birokrasi dan akuntabilitas pemerintah berdasarkan nilai-nilai Islami, penegakan hukum dan

IV-6

tertib sosiai yang konsisten melalui tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih dengan peningkatan pelayanan publik yang berbasis teknologi informasi.

2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan, balk secara langsung atau melalui lembaga perwakilan. Selain itu adanya rule of law yaitu kerangka aturan hukum dan perundang-undangan yang harus dipatuhi secara utuh yang menjamin keadilan untuk semua warga masyarakat.

D. Peningkatan kualitas pelaksanaan syariat Islam

1. Peningkatan kualitas kehidupan beragama diarahkan pada peningkatan dan pengelolaan fungsi sarana ibadah, peningkatan mutu pengelolaan dan pelayanan dana sosial keagamaan (zakat, infaq, dan sedekah), serta peningkatan kapasitas lembaga-Iembaga sosial keagamaan.

2. Penguatan dan pengembangan kapasitas sumberdaya manusia dibidang keagamaan, davah, pesantren, balee seumeubeut dan lembaga pendidikan Islam lainnya.

3. Meningkatkan pelaksanaan syariat Islam di Aceh sesuai qanun yang telah ada secara konsisten dan tersedianya peraturan perundangan (qanun) baru sesuai dengan kebutuhan.

4. Pengembangan dan pemantapan peran Mahkamah Syariah sebagai lembaga peradilan hukum Islam di Aceh untuk menciptakan pelayanan hukum sesuai azas peradilan yang tepat, cepat, sederhana dan biaya ringan.

5. Meningkatkan pelaksanaan syariat Islam dalam segala aspek kehidupan terutama dalam pelaksanaan hukum, pendidikan, kegiatan ekonomi, sosial kemasyarakatan, tatanan politik, pengelolaan pemerintahan, pelayanan publik dan informasi media massa harus sesuai dengan tuntunan Islam .

..

IV-7

4.1.2. Mewujudkan masyarakat yang mampu memenuhi kehidupan secara ekonomi, sosial dan spiritual

Masyarakat yang mampu memenuhi kehidupan secara ekonomi, sosial dan spiritual adalah merupakan kunci kesejahteraan Aceh. Kesejahteraan harus tercermin pada setiap aspek kehidupan masyarakat Aceh, artinya semua masyarakat mempunyai kesempatan yang sarna untuk meningkatkan taraf hid up, memperoleh lapangan pekerjaan, mendapat pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, menunaikan ibadah, dan mendapat perlindungan secara hukum.

A. Terpenuhinya kebutuhan dan terjaminnya ketersediaan pangan masyarakat Aceh meJalui:

1. Pemantapan ketahanan pangan yang menjamin ketersediaan pangan, terutama dari produksi dalam daerah, dalam jumlah dan keragaman untuk mendukung konsumsl pangan sesuai kaedah kesehatan dan gizi seimbang serta mengembangkan kemampuan dalam pemupukan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat.

2. Peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan melalui

peningkatan daya bell, produktifitas pangan dan menghilangkan hambatan distribusi antar daerah.

3. Pengembangan teknologi pengolahan, pemasaran dan kelembagaan pangan untuk menjaga kualitas produk dan mendorong peningkatan nilai tambah.

4. Peningkatan infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan dalam rangka mengembangkan skema distribusi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu yang rnengalami kerawanan pangan.

5. Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang yang menjamin pemenuhan asupan pangan bagi setiap anggota rumah tangga dalam jumlah dan mutu yang memadai, aman dan halal dikonsumsi dan bergizi seimbang; mendorong, mengembangkan dan membangun serta memfasilitasi peran serta masyarakat dalam pemenuhan pangan; mengembangkan program perbaikan gizi yang efisien, diantaranya melalui peningkatan dan penguatan

IV-8

program diversifikasi pangan dan program suplementasi gizi; mengembangkan jaringan antar lembaga masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan dan gizi; dan meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan kepada masyarakat golongan miskin terutama anak-anak dan ibu hamil yang bergizi kurang.

6. Peningkatan status gizl masyarakat melalui upaya preventif, promotif dan pelayanan gizi kesehatan kepada masyarakat miskin dalam rangka mengurangi jumlah penderita gizi kurang yang diprioritaskan pada kelompok penentu masa depan anak yaitu ibu hamil dan calon ibu hamil/remaja putrl, ibu nifas dan menyusui, bayi sampai usia dua tahun tanpa mengabaikan kelompok usia lainnya; meningkatkan upaya preventif, promotif dan pelayanan gizi dan kesehatan pada kelompok masyarakat dewasa dan usia lanjut dalam rangka mengurangi laju peningkatan prevalensi penyakit bukan infeksi yang terkait dengan gizi; meningkatkan kemampuan riset di bidang pangan dan gizi untuk menunjang upaya penyusunan kebijakan dan program, monitoring dan evaluasi kegiatan pangan dan gizi; meningkatkan profesionalisme tenaga gizi dari berbagai tingkatan melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur dan berkelanjutan; meningkatkan efektivitas fungsi koordinasi lembaga-Iembaga pemerintah dan swasta di bidang pangan dan qlzl sehingga terjaminnya keterpaduan kebijakan.

7. Peningkatan mutu dan keamanan pangan dengan meningkatkan pengawasan keamanan pangan; meningkatkan kesadaran produsen, lrnportir, distributor dan ritel terhadap keamanan pangan; meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan dan mengembangkan teknologi bahan makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen.

S. Perbaikan pola hidup sehat untuk mendukung akses dan pelayanan yang seluas-Iuasnya pada masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat; meningkatkan komitmen dan peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung program pola hidup sehat; meningkatkan fungsi dan kapasitas

N-9

sektor-sektor terkait dalam pengembangan pola hidup sehat; melibatkan semua lapisan masyarakat dalam pelaksanaan program pola hidup sehat; mengembangkan progam Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

B. Meningkatnya daya tahan dan daya saing dunia usaha di Aceh, terutama

koperasi dan usaha mikro kecil menengah serta tumbuhnya wirausaha baru.

1. Pengembangan koperasi secara luas sesuai kebutuhan sehingga menjadi wahana yang efektif dan efisien secara kolektif untuk para anggotanya, baik produsen maupun konsumen di berbagai sektor kegiatan ekonomi sehingga menjadi gerakan ekonomi yang berperan nyata dalam upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat.

2. Pemberdayaan usaha mikro yang strategis untuk meningkatkan pendapatan kelompok masya ra kat berpendapatan rendah dalam rangka mengurangi kesenjangan pendapatan dan kemiskinan melalui peningkatan kapasitas usaha dan keterampilan pengelolaan usaha serta sekaligus mendorong adanya kepastian, perlindungan dan pembinaan usaha di Aceh.

3. Pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi pelaku ekonomi yang berbasls ilmu pengetahuan dan teknologi yang berdaya saing dengan produk impor, khususnya dalam penyediaan barang dan jasa sehingga mampu memberikan kontribusi nyata dalam perubahan struktur untuk memperkuat perekonomian regional; pengembangan UKM dilakukan melalui peningkatan kompetensi kewirausahaan dan produktivitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar, penerapan hasf inovasi dan teknologi dalam iklim usaha yang sehat; pengembangan UKM yang terintegrasi dalam bentuk agribisnis untuk mendukung ketahanan pangan serta penguatan basis produksi dan daya saing industri.

:.'

C. Tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan sehingga pendapatan per kapita pada tahun 2025 mencapai tingkat kesejahteraan

IV-iO

setara atau lebih dari provinsl Jain yang berpenghasilan menengah dengan tingkat pengangguran terbuka dan jumlah penduduk miskin tidak lebih dari 5 persen.

1. Menjamin kondisi keamanan yang kondusif untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan ekonomi.

2. Menjamin peluang yang seluas-Iuasnya kepada investor untuk berivestasi dengan regulasi yang efektif.

3. Menjamin kesempatan berusaha yang seluas-Juasnya bagi masyarakat ekonomi lemah dengan penyediaan sumber pembiayaan lunak.

4. Menjamin peluang dan kesempatan kelja bagi masyarakat Aceh untuk meningkatkan kesejahteraan.

5. Menetapkan zakat, infaq dan shadaqah sebagai sumber alternatif pendanaan pembangunan.

D. Meningkatnya kualltas sumber daya manusia dalam pembangunan, yang ditandai dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Pembangunan Gender (IPG) melalui :

1. Pemerataan dan peningkatan pelayanan pendidikan yang bermutu dan berkeadilan untuk seluruh masyarakat di jalur formal, informal, dan non formal dengan memperhatikan kondlsl wilayah;

2. Pengembangan tata kelola pendidikan yang efektif dan efisien dengan pencitraan publik yang akuntabel dan profesional;

3. Pemenuhan standar nasional pendidikan (SNP) yang meJiputi standar kompetensi lulusan, standar lsl, standar proses, standar pendidik dan tenaqa kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan

4. Penyediaan data dan informasi pendidikan yang akurat, tepat waktu dan transparan bagi pengelola dan pengguna jasa pendidikan untuk dijadikan bahan bagi peningkatan pelayanan dan mutu pendidikan.

5. Pembangunan pemberdayaan perempuan dan anak diarahkan pada: peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan agar mampu berperan

rv-u

seimbang dengan laki-laki dalam berbagai aspek kehidupan yang relevan; penurunan jumlah tindak kekerasan, penelantaran, eksploitasi, dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak; peningkatan partisipasi perempuan dalam proses pembangunan; pemberian jaminan kepada perempuan untuk dapat memenuhi hak-haknya sebagai manusia dalam segala aspek kehidupan; penguatan kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender dan anak, termasuk ketersediaan data dan statistik gender; dan peningkatan upaya perlindungan anak dari berbagai tindak perlakuan yang tidak patut, termasuk tindak dlskrlmlnasl, kekerasan, penelantaran, dan eksploitasi.

6. Peningkatan pemerataan pembangunan kesehatan dalam rangka meniadakan kesenjangan antar wilayah, genderr status sosial dan kelompok masyarakat;

7. Peningkatan peJayanan kesehatan yang berkesinambungan dan berkualitas bagi masyarakat, terutama bagi masyarakat kurang mampu;

8. Peningkatan peran serta swasta dan masyarakat dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pengembangan pelayanan medik;

9. Peningkatan gizi masyarakat melalui peningkatan produksi pangan, pengolahan, distribusi hingga konsumsi pangan tingkat rumah tangga dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang serta terjamin keamanan gizi yang baik.

10~ Peningkatan produksl, distribusi dan pemanfaatan obat yang bermutu, efektif dan aman bagi penduduk dengan harga yang terjangkau.

11. Pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan peranserta masyarakat dalam setiap program kesehatan sebagai upaya memberdayakan lndivldu, keluarga dan masyarakat agar mampu rnemellhara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya. Masyarakat juga terlibat aktif dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dan pembiayaan pelayanan kesehatan; peningkatan pelayanan prornotlt, preventif, kuratif dan rehabilitatif secara seimbang; peningkatan kualitas sumberdaya manusia sejak dini melalui peningkatan pelayanan kesehatan dan gizi terhadap ibu hamil, ibu menyusui, bayi dan anak dibawah dua tahun (baduta) diantaranya dengan promosi dan intervensi paket gizi sejak remaja (untuk pencegahan anemia dan

IV-12

infeksi pad a masa keharnuan): peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, advokasi inisiasi menyusu dini, rawat gabung, pemberian ASI eksklusif dan ASI lanjutan hingga usia dua tahun dan pemberian makanan pendamping AS! lokal yang sesuai jumlah dan kualitasnya dari usia enam bulan sampai usia dua puluh em pat bulan; peningkatan peran dan kerjasama lintas sektor yang mendukung pembangunan kesehatan dan gizi (sarana prasarana jalan, air bersih, pangan, perilaku hid up bersih dan sehat, serta lingkungan); reformasi pelayanan kesehatan menjadi pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui akreditasi dan standarisasi; penyediaan sumber daya kesehatan baik kuantitas maupun kualitas meliputi sumber daya manusia, pembiayaan kesehatan, fasilitas kesehatan, obat dan alat kesehatan serta ilmu pengetahuan dan penelitian; pembangunan yang berwawasan kesehatan; dan penanggulangan bencana serta kedaruratan kesehatan

12. Pembangunan kesejahteraan sosial diarahkan untuk : menciptakan aksesibilitas Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) terhadap pelayanan sosial dasar, fasilitas pelayanan publik, dan jaminan kesejahteraan sosial; menciptakan kualitas hid up PMKS sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan; membentuk kemampuan dan kepedulian sosial masya ra kat dalam pelavanan kesejahteraan sosial secara melernbaqa dan berkelanjutan; menciptakan ketahanan sosial individu, keluarga dan. komunitas masyarakat dalam mencegah dan menangani permasalahan kesejahteraan sosial; menjamin bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial.

E. Meningkatnya kualitas lingkungan hid up masyarakat yang bersih dan sehat melalui:

1. Peningkatan pemahaman tentang nllal dan etika lingkungan bagi kehidupan masyarakat termasuk proses pembelajaran sosial serta pendidikan formal pada semua lapisan masyarakat.

2. Pelaksanaan pernbanqunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat dengan bersendikan pada pembangunan ekonomi, sosial, budaya lokal, jumlah penduduk dan Iingkungan hidup secara berimbang dan terpadu.

IV-13

F. Terwujudnya masyarakat yang berperilaku cerdas:

1. Peningkatan pendidikan keagamaan diarahkan untuk memantapkan fungsi dan peran agama sebagai landasan moral dan etika, membina akhlak mulia, memupuk etos kerja, menghargai prestasl, kerukunan hidup umat beragama, rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat sehingga tercipta suasana kehidupan masyarakat islami yang menjadi kekuatan untuk mencapai kemajuan pembangunan.

2. Peningkatan pembangunan keagamaan diarahkan untuk menciptakan kondisi terbaik bagi kelangsungan kehidupan masya ra kat melalui pengkajian dan apllkasl ajaran keaqarnaan, secara fungsional dan proporsional sehingga mampu memfilter arus informasi dan pengaruh budaya asing yang masuk melalui berbagai media massa.

3. Pemantapan ketahanan budaya yang islami masyarakat Aceh diarahkan untuk mendorong pelestarian, pengembangan nllal-nllal budaya daerah dan kearifan lokal sehingga terwujud masya ra kat islami yang memiliki jatidiri dan berketahanan budaya yang mampu mendorong pelaksanaan dan pencapaian target pembangunan.

4.1.3 Mewujudkan Aceh yang demokratis berlandaskan hukum

. Demokrasi yang berlandaskan hukum merupakan landasan penting untuk mewujudkan pembangunan Aceh yang sejahtera, damai dan islami. Demokrasi dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan pembangunan guna menjamin akuntabilitas dan transparansi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Namun demikian, demokrasi yang dikembangkan di Aceh harus berlandaskan hukum agar demokratisasi Aceh dapat memunculkan aspek-aspek positif dan menghambat aspek negatif kemanusiaan serta memastikan terlaksananya keadilan untuk semua rakyat secara non-diskriminatif.

Mewujudkan Aceh yang demokratis dan adll dilakukan dengan memantapkan pelembagaan nilai-nilai demokrasi yang lebih kokoh; memperkuat peran masyarakat

N-14

sipil sehingga proses pembangunan partisipatoris yang bersifat bottom up bisa berjalan dan menumbuhkan masyarakat aktif (adive community) serta mendorong pemerintah responsif (responsive government) yang sejalan dengan prinsip tata kelola pemerintah yang baik (good governance); menjamin kebebasan media yang bertanggung jawab dalam mengomunlkasikan kepentingan rna sya ra kat; rnengernbangkan hukum dan meningkatkan budaya hukum serta menegakkan hukum secara adil, konsekuen, tidak diskriminatif, dan memihak pada rakyat keci/.

1. Pemantapan peJembagaan nilai-nilai demokrasi dilakukan dengan: mempromosikan dan menyosialisasikan pentingnya keberadaan sebuah regulasi yang kuat dan memiliki kredibilitas tinggi sebagai pedoman dasar bagi sebuah proses demokratisasi berkelanjutan; menata hubungan antara kelembagaan politik dan kelembaqaan masyarakat sipil dalam kegiatan pembangunan; menginternalisasikan nilai-nilai demokrasi dalam masyarakat secara formal dan informal; meningkatkan kinerja lembaga-Iembaga penyelenggara pemerlntahan dalam melaksanakan prinsip-prinsip tata kelola yang balk; dan menciptakan pelembagaan demokrasi lebih lanjut untuk mendukung berlangsungnya konsolidasi demokrasi secara berkelanjutan.

2. Penguatan peran masyarakat slpll dititikberatkan pada pembentukan kemandirian dan kedewasaan masyarakat menuju masyarakat madani yang kuat. Oi samping itu, penataan peran masyarakat diarahkan pada penataan fungsi-fungsi yang positif dari pranata-pranata sosial kemasyarakatan, kearifan lokal, dan lembaga adat untuk membangun kemandirian masyarakat dalam mengelola berbagai potensi konflik sosial yang dapat merusak serta memberdayakan berbagai potensi positif rnasyarakat bagi pembangunan. Oalam ranah polltlk, penguatan peran rnasyarakat diwujudkan dengan meningkatkan secara terus rnenerus kualitas proses dan mekanisme seleksi publik yang lebih terbuka bagi para pejabat politik dan publik serta mewujudkan komitmen politik.

IV-iS

3. Peningkatan kualitas peran dan kebebasan media yang bertanggung jawab diarah untuk: mencerdaskan masyarakat dalam pembangunan dengan mewujudkan kebebasan pers yang lebih mapan, terlembaga serta menjamin hak masyarakat luas untuk berpendapat dan mengontrol penyelenggaraan pemerintahan secara demokratis dan berlandaskan hukum; meningkatkan jangkauan dan pemerataan informasi dengan mendorong munculnya media massa daerah yang independen; menciptakan jaringan dan teknologi informasi yang bersifat interaktif antara masyarakat dan kalangan pengambil keputusan politik dalam menciptakan dan mensosialisasi kebijakan kepada masyarakat luas; meningkatkan peran lembaga independen di bidang komunikasi dan informasi untuk lebih mendukung proses pencerdasan masyarakat dan perwujudan kebebasan pers yang lebih mapan.

4. Pembangunan hukum diarahkan pada terwujudnya sistem hukum yang berkeadilan yang bersumber pada AI-Quran dan Hadits serta sumber-sumber hukum nasional dan daerah yang mencakup pembangunan materi hukum, struktur hukum termasuk aparat hukum, sarana dan prasarana hukum. Pembangunan materi hukum dilaksanakan melalui proses penelitian dan penqernbanqan guna menjamin bahwa produk hukum beserta peraturan pelaksanaannya mengikuti perkembangan dan dinamika serta aspirasi masyarakat sehingga dapat diaplikasikan secara efektif. Selanjutnya pembangunan struktur hukum ditujukan untuk memaksimalkan berbagai organisasi dan lembaga hukum, profesi hukum dan badan peradilan sehingga aparatur hukum dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya secara profesional, jujur dan adil.

5. Perwujudan masyarakat yang berbudaya hukum dilaksanakan melalui pendidikan secara formal dan informal; pengkondisian Iingkungan yang inspiratif dan apresiatif terhadap ketaatan hukum; dan pemberian akses kepada masyarakat terhadap segala informasi yang dibutuhkan dan akses terhadap proses pengambilan keputusan sehingga setiap anggota masyarakat mengetahui dan menghayati hak dan kewajibannya.

IV-16

6. Penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) dilaksanakan dengan tidak memandang suku, agama, ras dan antar golongan berdasarkan hak asasi manusia (HAM), keadilan, dan kebenaran. Dalam rangka menjaga perdamaian, tindak kekerasan terhadap kemanusiaan pada masa konflik harus dapat diselesaikan secara tuntas baik melalui cara yang berkeadilan dan bermartabat. Penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) secara konsisten dan non-diskriminatif juga ditujukan agar terdapat kepastian hukum di Aceh untuk menjamin kedudukan yang sama dihadapan hukum dan memberikan iklim yang kondusif bagi investasi.

4.1.4 Mewujudkan aceh yang aman, damai dan bersatu

Umur perdamaian di Aceh yang masih seumur jagung memberikan potensi ancaman baru bagi Aceh aman, damai dan bersatu. Contoh empiris dari negara yang baru selesai dari konflik kembali terjebak dalam kondisi yang menyebabkan konflik baru. Terjaminnya keamanan dan adanya rasa aman bag; masyarakat merupakan syarat penting bagi terlaksananya pembangunan di berbagai bidang.

1. Keamanan dan perdamaian di Aceh diwujudkan rnelalul keterpaduan penegakan hukum yang adil, tegas dan bijaksana dengan mempertimbangkan kearifan lokal dan budaya lokalita.

2. Pembangunan perdamaian yang berkelanjutan dilaksanakan dengan merekatkan kembali struktur masyarakat sehingga kohesi sosial, ekonomi dan politik terjadi secara baik. Proses reintegrasi harus didukung dan menjadi tanggung jawab oleh semua pihak agar warisan perpecahan selama konflik berkepanjangan tidak menjadi penghalang bagi terwujudnya perdamaian yang abadi di Aceh.

3. Peningkatan kapasitas dalam pembangunan perdamaian di Aceh diarahkan pada pemahaman dan pelaksanaan pendekatan peka konflik (conflict sensitiviy approach) dalam perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi proses pembangunan. Selain itu, institusi non-pemerintah yang berada dalam masyarakat harus didorong

IV-17

untuk mengelola potensi konflik yang timbul melalui pendeteksian dini dan proses resolusi sehingga potensi tersebut tidak menjadi ancaman terhadap perdamaian.

4. Persatuan Aceh diwujudkan melalui sinergisitas pembangunan yang saling mendukung berdasarkan potensi wllayah, pengurangan disparitas serta peningkatan k'ualitas hidup masyarakat secara merata.

4.1.5. Terwujudnya pembangunan yang berkualitas, adil dan merata

Pembangunan yang berkualitas, adil dan merata merupakan perwujudan bagi kemakmuran dan kesejahteraan rakyat. Keberhasilan pembangunan sangat tergantung atas partisipasi seluruh rakyat, yang berarti pembangunan harus dilaksanakan dengan melibatkan segenap laplsan m asyara kat. Hasll-hasll pembangunan harus dapat dinikmati oleh seluruh merata sehingga akan mengurangi gangguan .keamanan dan konflik sosial untuk mencapai Aceh yang sejabtera, Damai dan Islami.

1. Pembangunan sumberdaya manusia harus mengarah pada peningkatan kualitas manusia sebagai subjek pembangunan bukan objek pembangunan, sehingga dapat dibangun kualitas kehidupan yang makin baik. Untuk itu, peningkatan kualitas sumberdaya manusla difokuskan kepada peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, pendapatan dan lingkungan serta didukung kondisi soslal, politik dan keamanan yang tertib, aman, nyaman dan demokratis.

2. Peningkatan kualitas pendidikan diarahkan agar sumberdaya manusia menguasai lhnu pengetahuan dan tekonologi yang tinggi serta berakhlak mulia berdasar

. nilai-nilai islami yang kaffah dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berharkat, bermartabat dan mampu bersaing di era global. Oleh karena itu perlu dilaksanakan pemerataan akses pendidikan, penambahan jumlah dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan, penyediaan sarana dan prasarana sesuai standar nasional dan lnternaslonel, serta peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan baik pada jalur pendidikan formal, informal maupun non

IV-18

formal di berbagai tingkatan hingga menjangkau semua laplsan masyarakat terutama dari kelompok masyarakat dengan kemampuan ekonomi yang rendah, terkena dampak konflik dan bencana, masyarakat di daerah pedesaan yang tertinggal dan terpencil, serta anak-anak dengan bakat istimewa dan anak-anak yang berkebutuhan khusus dapat mengakses layanan pendidikan tanpa terkecua ll,

3. Pembangunan kesehatan harus dapat membangun sistem kesehatan daerah yang berfungsi secara efektif dan efisien baik dalam kondisi normal atapun darurat, dengan meningkatkan peran dan kewajiban pemerintah daerah dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan pad a seluruh masyarakat Aceh dengan memperhatikan kelompok miskin, kelompok rentan seperti wanita, janda dan anak-anak termasuk anak yatim, korban tsunami, dan konflik; melibatkan peran serta masyarakat dalam setiap program kesehatan sebagai upaya memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat agar mampu memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya; mengurangi disparitas pelayanan kesehatan antar daerah dengan mencukupi sumberdaya kesehatan, melakukan revitalisasi/reformasi dan peningkatan fasilitas layanan kesehatan dasar dan tertier pada seluruh fasilitas kesehatan sesuai karakteristik tiap daerah.

4. Pembangunan pemuda diarahkan kepada peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan kepemimpinan sehingga dapat berpattipasi diberbagai bidang pembangunan terutama bidang ekonomi, sosial politik, budaya, olahraga secara adil dan merata sesuai dengan tingkatan dan kemampuan yang dimiliki tanpa diskriminasi. Sedangkan pemberdayaan perempuan ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak dengan mengurangi tindak kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi terhadap perempuan dan mendorong keterlibatan perempuan dalam berbagai bidang pembangunan baik tingkat lokal, nasional dan internasional.

IV-19

5. Pembangunan ekonomi Aceh diarahkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi (pro-growth)/ menciptakan lapangan kerja (pro-job) dan mengurangi tingkat kemiskinan (pro-pool) secara adil dan merata dengan paradigma "Pembangunan untuk Semua" sehingga memperkecil ketimpangan pembangunan antara kawasan timur, barat-selatan, tengah dan kepulauan. Pembangunan ekonomi dilakukan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui peningkatan investasi dan perdagangan regional, nasional dan internasional. Pembangunan ekonomi juga ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dengan menggerakan sektor riil yang difokuskan untuk mengurangi kemiskinan melalui kebijakan revitalisasi pertanian dan perdesaan,

6. Pernbanqunan ekonomi harus diarahkan kepada peningkatan akses informasi dan pernasaran, lembaga keuangan, kesempatan kerja dan teknologi; pengembangan modal soslal (social capital) dan modal manusian (human capital) yang belurn tergali potensi khususnya di kawasan perdesaan, sehingga tidak semata-mata mengandalkan sumber daya alamnya saja; dan intervensi harga dan kebijakan perdagangan yang berpihak ke produk pertanian.

7. Pembangunan ekonomi diarahkan untuk penguatan struktur perekonomian dengan menernpatkan sektor industri sebagai penggerak utama untuk menciptakan nilai tarn bah sektor pertanian dalam arti luas; penguatan ekonomi

. lokal melalui peningkatan daya saing usaha kecil dan menengah (UKM) yang berbasis IPTEK; pembangunan sarana dan prasarana transportasi, energi listrik, air dan telekomunikasi untuk mendukung kegiatan ekonomi, sosial dan budaya; menumbuhkembangkan agroindustri untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan menyerap tenaga kerja terutama di wilayah perdesaan; Pengembangan industri berbasis sumber daya lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, menurunkan pengangguran, dan mendorong pertumbuhan ekonorni.

IV-20

8. Pembangunan ekonomi yang berdasarkan pendekatan kebutuhan (demand driven) dengan penekanan pada keunggulan' komparatif Aceh serta ekspor ke pasar di luar Aceh. Hal ini merupakan kunci bagi peningkatan penjualan, pendapatan serta penyerapan tenaga kerja; membuat kebijakan untuk menghilangkan berbagai hambatan yang ada dan memperbaiki lingkungan usaha (bussines environment) untuk memfasilitasi kegiatan investasi, produksi dan perdagangan dalam dan di luar Aceh,

9. Mengembangkan sektor keuangan agar mampu memberikan kontribusi melalui lembaga jasa keuangan bank dan non bank serta swasta dalam pendanaan . pembangunan secara adil dan merata bagi seluruh wi/ayah di Aceh; mendukung peningkatan kelembagaan jasa non perbankan sebagai alternatif sumber pembiayaan usaha bagi seluruh lapisan masyarakat.

10. Pengembangan kepariwisataan dikembangkan agar mampu mendorong pembangunan ekonomi melalui pencitraan Aceh yang bernuansa islami dengan memanfaatkan keragaman pesona keindahan alam, adat, budaya lokalita,situs islami, situs tsunami dan nuansa kehidupan Aceh yang bersyariat islam dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan sehingga membuka lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.

11. Pengembangan infrastruktur harus mendukung pengembangan ekonomi Aceh secara keseluruhan. Setiap pembangunan infrastruktur yang ingin dikembangkan

. harus membuka isolasi wilayah, meningkatkan indeks pelayanan transportasi khususnya di wilayah tertinggal dan terpencil, dan menghubungkan kawasankawasan produksi pertanian dan industri dengan kawasan koleksi dan distribusi serta meningkatkan aksebilitas informasi, aktifitas perdagangan barang maupun jasa secara lokal, regional dan internasional.

12. Pembangunan Rencana Tata Ruang Aceh diarahkan untuk menjadi acuan kebijakan pembangunan spasial untuk lintas sektor dan wi/ayah sehingga meningkatnya fungsi-fungsi pelayanan pada pusat-pusat keglatan daJam wilayah

IV-21

Aceh sesuai dengan hierarki dan fungsi ; meningkatnya akses pelayanan secara merata dan berhierarki dalam dan luar wilayah Aceh baik dalam lingkup nasional maupun internasional.

13. Meningkatkan dan mempercepat pembangunan daerah perbatasan, pulau-pulau kecil dan terluar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktifitas ekonomi dan perdagangan dengan provinsi tetangga serta luar negeri

14. Meningkatkan pembangunan di perdesaan terutama daerah-daerah kantong kemiskinan dengan mengembangkan agroindustri dan jasa sesuai dengan potensi sumberdaya yang berbasis pertanian, perikanan dan jasa lainnya. Pembangunan daerah perdesaan diarahkan agar dapat memenuhi kebutuhan perkotaan sehingga menjadi satu kesatuan wilayah ekonomi yang saling mendukung dan berkaitan.

15. Pemenuhan perumahan dan prasarana pendukung bagi masyarakat kurang mampu dengan memperhatikan prinsip keadilan dan pemerataan bagi semua wilayah Aceh. Pembangunan perumahan bagi masya ra kat k~rang mampu dilakukan secara memadai, berkualitas, berkelanjutan dan tepat sasaran; dan mampu membangkitkan potensi pembiayaan dari masyarakat serta membuka lapangan pekerjaan yang memperhatikan kearifan local, fungsi dan keseimbangan lingkungan hid up.

16. Pembangunan investasi diarahkan dengan memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan daya saing daerah Aceh untuk mendorong tumbuhnya ekonomi secara tinggi yang berkualitas dan berkelanjutan dengan membangun infrastruktur yang handal dan regulasi yang mendukung sehingga dapat menarik penanaman modal dalam negeri dan asing. Investasi yang akan di kembangkan harus berpihak sebesar-besarnya bagi kepentingan dan kemakmuran rakyat Aceh.

17. Pengembangan kerjasama ekonomi antar wilayah di Aceh dengan wilayah-wilayah provinsi lain dalam kawasan pertumbuhan ekonomi di sekitarnya dan

IV-22

Perdagangan luar negeri harus lebih memaksimalkan manfaat bagi perekonomian Aceh secara keseluruhan dengan mengurangi efek negatif dari proses perdagangan internasional; Pengembangan investasi dan aktivitas perdagangan harus mampu mendorong distribusi barang dan jasa serta memberikan insentif bagi pengembangan produk-produk unggulan lokal yang berpihak kepada petani, pedagang/wirausahawan Iokal,

18. Peningkatan kapasitas pemerintahan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan aparatur, kelembagaan pemerintah, kelembagaan /egeslatif daerah dan kelembagaan keuangan pemerintah melalui peningkatan ilmu pengetahuan, keterampilan sehingga professional dalam melaksanakan pelayan publik.

4.1.6 Terwujudnya Aceh yang lestari dan tangguh terhadap bencana

Ketersediaan sumber daya alam dan lingkungan hidup yang lestari memegang peranan penting dalam proses pembangunan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan Aceh yang sejahtera, damai dan islami diperlukan pembangunan berkelanjutan, berwawasan lingkungan dan tangguh terhadap bencana di masa mendatang yang diarahkan kepada hal-hal berikut:

1. Pengelolaan sumberdaya alam diarahkan pada pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya a/am yang terbarukan dan tidak terbarukan.

Sumberdaya a/am yang terbarukan meliputi air, udara, tanah, tumbuhan dan hewan harus dijaga kelestariannya agar tidak merusak ekosistem dan dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Pemanfaatan sumber daya alam terbarukan lebih difokuskan kepada penyedlaan jasa lingkungan dan energi alternatif; Pemenuhan kebutuhan energi diarahkan dengan memanfaatkan energi yang terbarukan seperti panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran sungai, panas surya, angin, biomassa, bloqas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut yang didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga memberikan nilai tam bah dan nilai jualnya untuk kesejahteraan rakyat Aceh.

Sedangkan untuk sumberdaya alam yang tidak terbarukan yang meliputi aneka

N-23

hasil tam bang dan bahan galian diarahkan pemanfaatannya seefisien mungkin dan dikendalikan dengan penerapan sistem regulasi yang menjamin kelestariannya. Pemanfaatan sumber daya energi yang tidak terbarukan, seperti minyak dan gas bumi, terutama diarahkan untuk memenuhi kebutuhan energi yang terjangkau masyarakat dan mendukung industri berbasis hid roka rbon, seperti industri petrokimia, industri pupuk dalam mendukung sektor pertanian, serta mencari lokasi sumber-sumber energi yang baru.

2. Mengelola dan melakukan konservasi potensi sumber daya air.

Pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan mempertahankan ketersediaan air secara berkelanjutan. Pemanfaatan sumberdaya air harus dilakukan secara optimal untuk menjamin ketersediaan air melalui pengelolaan secara holistik dan terintegrasi antar sektor dan wilayah serta memperhatikan prinsip hidro-orologi daerah aliran sungai (DAS); memperkuat struktur kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya air; melibatkan semua pihak dalam setiap tahap pengambilan keputusan dalam pengelolaan sumber daya air dari tahap perencanaan sampai dengan operasi dan pemeliharaan; Penerapan konsep imbal jasa lingkungan terhadap air baku juga dapat dikembangkan dalam rangka menjaga potensi sumberdaya air; dan memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat dan fungsi sumber daya air agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi kebutuhan.

3. Memanfaatkan dan mengelola struktur dan pola ruang yang serasi .

. Mengatur peruntukan, penggunaan, persediaan dan pemeliharaan ruang; menentukan dan mengatur hubungan yang serasi dan seimbang antara orang dan ruang; menyusun, menetapkan dan mensahkan rencana tata ruang dengan mempertimbangkan aspek waktu, modal, dan optimasi terhadap penggunaan bumi, air, angkasa dan keseimbangan serta daya dukung lingkungan; membuat rencana pemanfaatan ruang agar dapat berfungsi sesuai dengan rencana tata ruang; mengendalikan pelaksanaan rencana tata ruang meJiputi pengaturan,

IV-24

pengawasan dan penertiban dalam pemanfaatan ruang, untuk mencapai tujuan penataan ruang yang berbasis pada ekosistem.

4. Pelestarian fungsi dan potensl keanekaragaman hayati sebagai pendukung pembangunan berkelanjutan dilaksanakan dengan mengintegrasikan aktivitas pembangunan, konservasi keanekaragaman hayati dan pengeloJaan sumberdaya alam; meningkatkan nilai dan fungsi keanekaragaman hayati melalui upaya konservasi guna memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap jasa lingkungan; meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat seperti pang/ima /aot, pawang uteuen, petua seuneubok dan budaya lokalita dalam pelestarian keanekaragaman hayati.

5. Penurunan tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup dilakukan dengan menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan dalam penge/olaan sumber daya alam terbarukan dan tidak terbarukan; menegakkan hukum secara adil dan konsisten bagj pelaku pelanggaran yang menimbulkan pencemaran dan kerusakan lingkungan hid up; memberikan kewenangan dan tanggung jawab kepada masyarakat secara bertahap terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup melalui pendekatan budaya, ekonomi dan lingkungan secara terintegrasi; dan menetapkan kawasan konservasi yang baru dengan tetap memelihara kawasan konservasi yang sudah ada.

6. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga dan melestarikan lingkungan hidup dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat dalam penanggulangan permasalahan lingkungan; dan peningkatan kapasitas masyarakat terutama generasi muda agar tanggap terhadap lsu-lsu lingkungan yang sedang berkembang sebagai bekal menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan di masa mendatang.

7. Penerapan konsep mitigasi dalam manajemen penanganan bencana dilaksanakan dengan menata pola dan struktur ruang yang tepat dengan memperhatikan

IV-2S

kawasan rawan bencana; rnenerapkan sistem peringatan dini melalui penyebaran informasi yang efektif kepada masyarakat; meminimalkan resiko bencana yang dilakukan melalui pembangunan berbagai prasarana fisik dan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan; menciptakan dan memperkuat sistem kebijakan dan regulasi yang mendukung penanganan bencana di Aceh; dan mengintegrasikan mitigasi bencana dalam proses pembangunan melalui sinkronisasi kondisi soslal, budaya, serta ekonomi wilayah Aceh.

8. Peningkatan kesadaran dan kapasitas masyarakat bersama pemerintah untuk siap dan tanggap menghadapi bencana yang berbasls pada pengurangan risiko bencana dengan memberdayakan masyarakat dalam upaya pengurangan risiko bencana yang berbasis masyarakat; meningkatkan peran dan kapasitas aparatur pemerintah sebagai pengayom masyarakat untuk lebih giat dan aktif dalam menyosialisasikan upaya pengurangan risiko bencana; dan meningkatkan kewaspadaan masyarakat (public awareness) dalam menghadapi serta mengurangi darnpak/rlslko bencana sehingga masyarakat dapat hidup dan bekerja dengan aman.

4.2. KAIDAH PELAKSANAAN

Untuk mencapai visit misi dan sasaran sebagaimana dimaksud sebelumnya, pemb"angunan jangka panjang membutuhkan tahapan dan skala prioritas yang akan menjadi agenda dalam rencana pembangunan jangka menengah. Tahapan dan skala prioritas yang ditetapkan mencerminkan urgensi permasalahan yang hendak diselesaikan, tanpa mengabaikan permasalahan lainnya. Oleh karena itu, penekanan skala prlorltas dalam setiap tahapan berbeda-beda, tetapi semua itu harus berkesinambungan dari periode ke periode berikutnya dalam rangka mewujudkan sasaran pembangunan jangka panjang.

Setiap sasaran dalam enam misi pembangunan jangka panjang dapat ditetapkan prioritasnya dalam masing-masing tahapan. Prioritas masing-masing misi dapat diperas kembali menjadi prioritas utama. Prioritas utama menggambarkan makna strategis dan

IV-26

urgensi permasalahan. Atas dasar tersebut, tahapan dan skala prioritas utama dapat disusun sebagai berikut.

4.2.1 Tahapan Pembangunan ke-l (2005 - 2012)

KonfJik dan bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Aceh telah menghancurkan semua sendi kehidupan masyarakat Aceh. Bencana ini tidak hanya menghancurkan fisik bangunan, tetapi juga menelan ratusan ribu nyawa serta lumpuhnya pemerintahan Aceh. Oleh karena itu, pada tahap ini penekanan adaJah merehabilitasi dan merekonstruksi kehidupan masyarakat Aceh untuk semua bidang yakni infrastruktur, ekonomi, sosial, agama dan kelembagaan.

Pembangunan infrastruktur dititikberatkan pada upaya pemulihan sarana dan prasarana publik seperti jalan, jembatan, perumahan, sistem jaringan air bersih dan sanitasi, sistem transportasi, infrastruktur sumber daya air dan sistem komunikasi serta sarana pos dan telekomunikasl. Dalam rangka mendukung seluruh aktifitas tersebut maka perlu dilakukan pencadangan sumber energi yang cukup serta mulai memikirkan pemanfaatan sumber energi terbarukan yang dapat menjadi alternatif pengganti minyak dan gas, seperti panas bumi (geothermal), tenaga air, angin, uap, dan gelombang laut.

Pada tahapan pembangunan ke satu, pembangunan ekonomi difokuskan untuk mengembalikan kapasitas dan produktifitas perekonomian Aceh yang lumpuh akibat konfJik dan tsunami. Untuk mengembalikan kapasitas perekonomian Aceh dilaksanakan melalui rehabilitasi lahan yang terkena dampak tsunami, pemanfaatan kembali lahan terlantar selama konflik, penyediaan sarana penangkapan ikan bagi nelayan, penyediaan modal keuangan, pelatihan keterampilan serta sarana dan prasarana produksi lainnya.

Pada akhir tahapan ini, kemajuan pembangunan ekonomi dapat dilihat dari indikatorindikator seperti pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), tingkat

IV-27

kemiskinan dan pengangguran. Selama periode rehabilitasi dan rekonstruksi, perekonomian Aceh mengalami pertumbuhan secara signifikan pada tahun 2007, sebesar 7,4 persen. Tingkat kemiskinan dan pengangguran juga menunjukkan penurunan secara konsisten pada tahun 2005 hingga 2009. Diharapkan pada tahun 2012 pertumbuhan ekonomi Aceh tetap konsisten pada angka 7 persen.

Pertumbuhan ekonomi selama kurun waktu 2005 hingga 2009 didukung oleh sektor infrastruktur yang menunjang proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh, sedangkan sektor industri pengolahan mengalami penurunan termasuk industri kecil dan menengah akibat kurangnya kualitas sumberdaya manusia dan daya saing rendah. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia merupakan modal utama yang didukung oleh pengembangan i1mu pengetahuan, teknologi, iklim usaha yang kondusif, serta membaiknya upaya pengelolaan sumberdaya alam dan Iingkungan hidup. Selain ltu, percepatan pembangunan infrastruktur juga didorong dengan regulasi serta reformasi, terutama pada sektor transportasi, energi listrik, air dan telekomunikasi untuk mendukung kegiatan ekonomi sekaligus mendukung kemajuan sosial dan budaya.

Perbaikan dan peningkatan fungsi, patensi, dan daya dukung lingkungan dan sumber daya a/am juga dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan pasca bencana dan penataan kembali agar kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat dapat berjalan normal. Untuk pemulihan kawasan peslslr yang hancur akibat bencana tsunami, telah dilakukan berbagai upaya pemulihan melalui restorasi kawasan ekosistem pesisir, melalui penanaman kembali ekasistem mangrove, hutan pantai, dan pelestarian kawasan budidaya perikanan, dan terumbu karang. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan fungsi kawasan penyangga (buffer zone) dan keanekaragaman hayati yang .dimiliki sebagai salah satu sumber kekayaan laut tropls di Aceh; meningkatkan upaya konservasi dan rehabilitasi ekosistem yang rusak; mengendalikan pencemaran dan perusakan lingkungan wilayah pesisir, laut, dan perairan tawar: dan mengembangkan upaya mitigasi lingkungan laut dan peslslr untuk meminimalkan reslko terhadap bencana alam laut bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulaupulau kecil.

IV-28

Konsep "Aceh Green Vision" diwujudkan dalam rencana pembangunan Aceh melalui upaya pemanfaatan dan pengelolaan energi terbarukan, tata guna lahan (land use managemenf), pemberdayaan masyarakat (community developmenf), komersial dan konservasi secara berkelanjutan dengan melibatkan partisipasi masyarakat lokal secara aktif. Selain itu, upaya mitigasi bencana dilakukan secara simultan dan berkelanjutan untuk mendukung kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Menyusun dan menetapkan peraturan dan regulasi menyangkut dengan upaya penanggulangan bencana merupakan poin utama perencanaan pada tahapan lnl, disamping melahirkan beberapa rencana aksi daerah terkait dengan pengurangan risiko bencana dan upaya penanggulangan bencana termasuk prosedur operasi standar. Pengurangan rlslko bencana berbasis masyarakat juga rnerupakan salah satu upaya pendekatan agar masyarakat lebih slap menghadapi bencana. Kebijakan menetapkan pola dan struktur ruang yang tepat untuk menghindari timbulnya kerusakan Iingkungan dan bencana merupakan langkah penting yang perlu diambil untuk mewujudkan Aceh yang lestari dan tangguh terhadap bencana.

Tercapainya kesepakatan damai antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka pada tanggal 15 Agustus 2005 di Helsinki telah memberikan kondisi ideal bagi pembangunan Aceh. Tahapan ini memprioritaskan pada proses reintegrasi dan konsolidasi perdamaian yang diwujudkan melalui pelaksanaan hasil nota kesepahaman Helsinki. Diharapkan pada akhir periode tahapan pembangunan kesatu, faktor kerentanan (vulnerabilitas) terhadap konflik dapat diminimalkan yang ditandai dengan terwujudnya kohesl (rekatan) ekonomi, sosial, dan politik dalam masyarakat.

Selanjutnya, penegakan hukum dan hak asasi manusia di Aceh pada tahap pembangunan lnl dititikberatkan pada penginternalisasian dan pelembagaan nilai-nilai islami, demokrasi dan hak asasi manusia guna mendorong proses pembangunan yang berkeadilan dan berkepastian hukum, dan menjadikan perdamaian Aceh sebagai pembelajaran (lesson learned) bagi masyarakat di tingkat lokal, nasional maupun internasional melalui memorisasi dan catatan sejarah.

IV-29

Pembangunan sektor pendidikan difokuskan pada peningkatan mutu pendidikan dan pemerataan kesempatan belajar untuk pendidikan dasar dan menengah (12 tahun) yang didukung oleh sarana dan prasarana pendidikan yang memenuhi standar nasional. Selanjutnya, implementasi sistem pendidikan Islami dilakukan dengan menyediakan landasan hukum dan prosedur operasi standar dalam rangka pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan standar pendidikan yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Prioritas pembangunan bidang kesehatan adalah penyediaan sarana dan prasarana kesehatan yang berkualitas sehingga pelayanan dasar dan rujukan dapat diakses seluruh masyarakat. Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan yang memadai akan meningkatkan angka indeks pembangunan manusia (IPM) Aceh yang ditunjukkan dengan meningkatnya usia harapan hidup (UHH), menurunnya angka kematian bayi (AKB) dan angka kematian Ibu (AKI). Dalam periode ini pembangunan kesehatan juga ditujukan untuk mencapai tujuan pembangunan milenium (Millenium Development Goals-MDGs) yaitu yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak; pencegahan penyakit menular, khususnya HIV-AIDS dan malaria; serta mewujudkan lingkLingan yang bersih dansehat.

Pembangunan dalam bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak diprioritaskan pada penyelenggaraan advokasi yang berhubungan dengan pengarusutamaan gender dalam pembangunan, peningkatan pemahamanan semua pihak tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan dan anak, serta penyediaan data terpilah yang mendukung.

Pembangunan di bidang kesejahteraan sosial diprioritaskan pada identifikasi dan inventarisasi permasalahan kesejahteraan sosial, pengembangan data base yang handal, peningkatan dan pemerataan pelayanan sosial yang lebih ad ll, peningkatan profesionalisme pelayanan sosial baik yang dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat, serta peningkatan koordinasi dan kemitraan lintas sektor dan lintas wilayah. Sedangkan pembangunan budaya ditekankan pada upaya untuk

menumbuhkan kembali khazanah budaya, adat-istiadat, kearifan lokal dan nilai-nilai tradisional Aceh sebagai sebuah warisan luhur yang harus dilestarikan.

Prioritas pembangunan bidang keagamaan adalah penguatan sumber daya manusia yang berakhlak mulia dan pengembangan kelembagaan untuk mendukung pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Sejak pemberlakuan syariat Islam secara legal formal, beberapa instrumen peiaksanaan telah dilengkapi seperti pendirian beberapa lembagajdinasjbadan dan penetapan peraturan daerah atau qanun. Lembaga pemerintahan Aceh terkait dengan penyelenggaraan Syariat Islam di Aceh dibentuk antara lain Majelis Permusyawaratan Ulama, Mahkamah Syar'iyah, Baitul Mal, Dinas Syariat Islam dan Wilayatul Hisbah. Pembentukan lembaga-Iembaga ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan Syariat Islam di Aceh dan mempercepat pencapaian vlsl menuju Aceh yang Islami.

4.2.2 Tahapan Pembangunan ke-z (2013 - 2017)

Sebagai keberlanjutan tahapan pertama pembangunan Aceh, periode kedua pembangunan ini difokuskan untuk mencapai target-target tujuan pembangunan millenium dan mendukung pengembangan agroindustri di Aceh. Berkembangnya industri berbasis pertanian memberikan nilai tambah produk pertanian, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, mengurangi kemiskinan, dan rnendoronq pertumbuhan ekonomi dalam upaya pencapaian tujuan pembangunan millenium (MOGs).

Penekanan pembangunan infrastruktur dalam periode kedua adalah peningkatan sistem transportasi dari sentra-sentra produksi ke pusat-pusat pemasaran, pembangunari dan pemeliharaan jaringan irigasi, peningkatan kualitas pelayanan kelistrikan, peningkatan akses jaringan air bersih dan sanitasi, dan pemantapan di sektor perumahan yang mengedepankan pada penyediaan rumah layak huni yang memenuhi standar kesehatan secara bertahap.

IV-31

Pembangunan di bidang transportasi darat, udara, dan laut yang didukung oleh sistem dan jaringan komunikasi dan informasi diarahkan untuk memperlancar pergerakan barang, penumpang dan jasa yang lancar dan merata antar daerah serta dapat mendorong transaksi perdagangan yang saling menguntungkan dengan membangun jaringan pelayanan yang menerus antar moda angkutan. OJ bidang sumber daya air, pengembangan infrastruktur diarahkan pada pelaksanaan konservasi sebagai upaya mempertahankan ketersediaan air secara berkelanjutan, pendayagunaan sumberdaya air secara terpadu dan berkesinambungan untuk keperluan pertanian, industri, konsumsi rumah tangga, pembangkit listrik, dan pengendalian daya rusak air sebagai upaya untuk menangani bencana yang disebabkan oleh air melalui pengelolaan Oaerah Aliran Sungai (OAS).

Peningkatan kualitas lingkungan dititik-beratkan pada penyediaan informasi sumberdaya alam dan lingkungan, soslallsasl mengenai pentingnya menjaga lingkungan serta sumberdaya alam dengan tetap rnernperhatjkan dan menjalankan rencana penataan ruang sebagai suatu keinginan dan harapan dalam penggunaan ruang dengan ekosistem sebagai pola dan struktur ruang yang diarahkan sesuai dengan konteks lingkungan, ekonomi dan sosial budaya sebagai suatu kesatuan unit ekosistem.

Pembangunan Aceh di bidang kebencanaan difokuskan pada peningkatan peran, kapasitas dan kelembagaan masyarakat dan pemerintah guna memaksimalkan upaya pengurangan rlslko bencana dalam hal kemampuan penilaian bahaya, peringatan dini, dan persiapan menghadapi bencana.

Pengelolaan sumber daya hutan diarahkan pada pengembangan wana tani (agroforesttiJ dan pemanfaatan jasa lingkungan seperti pariwisata alam (eco-tourism), hasil hutan non-kayu dan perdagangan karbon. Penyusunan sejumlah aturan dan regulasi pengelolaan hutan yang berkelanjutan dilakukan dalam rangka menjamin kelestarian hutan.

Strategi pengembangan sumberdaya kelautan pada tahap pembangunan kedua diarahkan pada pengembangan industri perikanan yang didukung oleh fasilitas

IV-32

pelabuhan perikanan samudera dan nusantara; pengaturan administrasi dan perizinan penangkapan dan/atau pembudidayaan ikan yang efisien; pengaturan tata ruang wilayah laut, peslslr dan pulau-pulau kedl yang dipaduserasikan dengan reneana tata ruang wilayah provinsi; penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan atas wilayah laut yang menjadi kewenangannya; pemeliharaan hukum adat laut dan memaksimalkan peran panglima laot untuk ikut membantu keamanan dan memelihara lingkungan laut.

Pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak difokuskan pada peneapaian tujuan pembanguan millenium yaitumeneapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan kematian anak, meningkatkan kesehatan lbu, dan pengendalian penyakit menular.

Penuntasan wajib belajar 9 tahun menjadi prioritas dimana pada tahun 2015 semua anak Aeeh baik lakHaki dan perempuan harus dapat menempuh jenjang pendidikan dasar. Peningkatan mutu dan daya saing pendidikan pada berbagai jenjang juga dllakukan dengan mengupayakan penyempurnaan kurikulum pendidikan, sarana dan prasarana pendukung pendidikan (pustaka, laboratorium, dan mushalla), peningkatan kornpetensl/profeslonallsme dan kesejahteraan tenaga pendidik, meningkatkan kerjasama dengan berbagai stake holders pendidikan serta upaya pemenuhan standar nasional pendidikan (SNP). Prioritas pendidikan menengah melalui pengembangan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dapat menghasilkan lulusan yang siap bekerja dan sesuai dengan kebutuhan dan realltas dunia kerja, Pengembangan Lembaga PAUD pada periode ini diprioritaskan pada target tertampungnya semua anak usia 0-6 tahun pada lembaga-Iembaga PAUD baik yang bersifat formal maupun nonformal. Pelaksanaan konsep pendidikan Islami di seluruh institusi pendidikan dengan pengembangan kurikulum, metode pembelajaran, dan standar pendidikan yang berbasis nilai Islami serta disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan lokal, nasional dan global. Upaya

IV-33

percepatan implementasi sistem pendidikan Islami juga telah dikuatkan dengan tersedianya landasan hukum yang dapat menjadi pedoman bagi sekolah dan institusi terkait serta peningkatan kuantitas dan kualitas guru yang dapat mengimpelementasikan nilai Islami dalam mata pelajaran.

Prioritas kesehatan ditujukan pada peningkatan kualitas pelayanan kesehatan yang didukung oleh SDM dan fasilitas kesehatan yang berkualitas dan tersebar secara merata. Selain itu, upaya pencapaian tujuan MDGs yang terkait dengan kesehatan ibu dan anak; pencegahan penyakit menular; serta masalah kesehatan Iingkungan tetap menjadi prioritas. Upaya yang dilakukan melalui peningkatan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang bersih dan sehat,· pengembangan sistem kesehatan, peningkatan upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan, serta peningkatan pelayanan kesehatan terutama untuk ibu dan anak.

Pembangunan bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak diarahkan untuk peningkatan upaya pemberdayaan perempuan berbasis kemandirian ekonomi, pendidikan dan kesehatan, peningkatan upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak melalui pencegahan kekerasan dalam rumah tangga, pengembangan partisipasi lembaga sosial masyarakat dalam penanganan perrnasalahan perempuan dan anak dan peningkatan peran serta dan kesetaraan gender dalam pembangunan.

Pembangunan di bidang sosial dan budaya ditujukan untuk meningkatkan modal sosial (social capital) dalam masyarakat untuk mendukung industrialiasi pertanian berbasis perdesaan. Rasa saling percaya dalam masyarakat harus dibangun dengan merevitalisasi kearifan budaya Aceh melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat komunitas (community-based) sehingga proses industrialisasi mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Modal sosial yang kuat dalam masyarakat juga membentuk iklim investasi yang balk.

IV-34

Pembangunan perdamaian ditekankan pada penguatan institusi dan tata kelola pemerintahan untuk melanjutkan perdamaian yang sudah mulai terkonsolidasi para tahapan pertama. Hal ini ditandai dengan pendekatan sensitif konflik yang mulai dielaborasikan dalam kegiatan pembangunan. Kondisi ini sejalan dengan meningkatnya kesadaran dan penegakan hukum sehingga terciptanya konsolidasi penegakan supremasi hukum.

Dalam bidang syariat Islam, semakin menguatnya iembaga-Iembaga pelaksana Syariat Islam di Aceh seperti Mahkamah Syarlah, Baitul Maal, dan Wilayatul Hisbah serta makin baiknya pengintegrasian Syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan terutama dalam bidang hukum, ekonomi, dan soslal, Pembangunan menuju masyarakat Aceh yang Islami juga ditandai dengan tercapainya tertib sosial, kerukunan dan harmonisasi dalam rnasyarakat, penegakan hukum yang konsisten, meningkatnya profesionalisme aparatur, serta peningkatan pelayanan publik untuk terwujudnya pemerintahan yang baik dan bersih (good and clean governmenf).

4.2.3 Tahapan Pembangunan ke-3 (2018 - 2022)

. Sebagai kelanjutan dari pembangunan periode kedua, tahapan ini memfokuskan pada pemantapan basis pengembangan industri manufaktur. Prioritas pendidikan kejuruan pada tahap sebelumnya menyediakan sumber daya manusia terampil yang mendukung berkembagnya industri manufaktur.

Sejalan dengan kondisi perdamaian yang makin mantap dan supremasi hukum yang berjalan secara non-diskriminatif dan adil, tindak kekerasan dan kriminalitas semakin menurun. Konflik sosial yang terjadi dapat diselesaikan melalui institusiinstitusi yang berjalan secara efektif di kalangan masyarakat. Kondisi ini memberikan stabilitas dan kepastian hukum bagi berlanjutnya proses pembangunan sehingga proses industrialisasi Aceh dapat berjalan sempurna.

Pemantapan infrastruktur jalan, jembatan, perumahan dan permukiman, sistem transportasi darat, laut, dan udara yang semakin baik mendukung aktifitas ekonomi

IV-35

Aceh semakin kompetitif dengan semakin terpadunya antara industri manufaktur dengan agro industri yang didukung oleh infrastruktur yang handal.

Industri manufaktur yang dikembangkan harus diikuti dengan pemantapan mutu untuk merespons setlap tuntutan konsumen, pada tahap ini diperlukan: pengelolaan kualitas rantai produksi (supply chain management) yang efektif dan efisien; budaya mutu dan merk; sertifikasi dan standisasi produk; respons terhadap upaya mencapai kepuasan konsumen; kelembagaan penunjang yang efisien; membangun kemitraan untuk membuka jejaring perdagangan nasional dan internasional.

Pembangunan bidang pendidikan telah semakin balk yang antara lain ditandai oleh peningkatan kualitas sumber daya manusia yang berakhlak mulia, cerdas dan berdaya saing, meningkat dan meratanya akses, tingkat kualitas, dan relevansi pendidikan seiring dengan makin efisien dan efektifnya manajemen pelayanan pendidikan; serta meningkatnya kemampuan Iptek, Pada periode ini diprioritaskan pengembangan institusi pendidikan yang memiliki standar internasional sehingga dapat bersaing secara global.

Adapun pengembangan pendidikan menengah kejuruan dan pendidikan tinggi juga ·diupayakan melalui pengembangan sekolah kejuruan berbasis industri jasa berskala nasional dan internasional, yang memiliki keunggulan komparatif dalam era persaingan global. Upaya tersebut dapat didukung melalui pengembangan kurikulum berbasis kompetensi yang dipadukan dengan muatan kurikulum internasional.

Prioritas kesehatan ditujukan pada reformasi pelayanan kesehatan menjadi pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui akreditasi dan standarisasi sehingga memiliki daya saing di tingkat nasional dan internasional.

Dalam bidang pelaksanaan syariat Islam, seluruh komponen masyarakat telah mampu mengimplementasikan syariat Islam dalam setiap aspek kehidupan sehingga menciptakan kerukunan dan harmonisasi dalam kehidupan yang berlandaskan nllal-nllal Islam.

N-37

c-

4.2.4 Tahapan Pembangunan ke-4 (2023 - 2025)

Tahapan pembangunan ke empat merupakan rangkaian akhir tahapan pembangunan jangka panjang Aceh yang diharapkan pada akhir periode ini akan terwujudnya masyarakat Aceh yang sejahtera, damai, dan islami.

Prioritas Pembangunan pada periode ke-empat difokuskan pada peletakan dasar-dasar pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economy) yang merupakan kelanjutan dari penqernbanqan agroindustri dan industri manufaktur/pengolahan pada tahap sebelumnya.

Pembangunan infrastruktur difokuskan untuk membangun dan mengembangkan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang menjangkau seluruh wilayah Aceh, membangun kolaborasi regional menuju ekonomi berbasis infrastruktur dan jasa teknologi informasi dan komunikasi (TIK), dan memantapkan infrastruktur yang mendukung kelancaran transportasi produk melalui darat, laut dan udara dari dan ke wllayah Aceh.

Pembangunan ekonomi dllaksanakan dengan mengembangkan pusat informasi dan pemasaran tentang komoditas unggulan yang telah mempunyai nilai tam bah (added values) yang berbasis teknologi dan lntormasl, mendukung kemitraan UKM dan Swasta Nasional dan Asing dalam pemasaran produk unggulan di level nasional dan internasional dan mengembangkan cluster agro industri dan industri manufaktur.

Pembangunan sumber daya manusia difokuskan untuk meningkatkan jumlah dan kualitas SDM yang mempunyai daya saing, rnenquasal teknologi informasi dan komunikasi dan mampu ber-inovasi serta tetap memegang teguh nilai-nilai islami dalam rangka mendukung penggembangan industri kreatif. Pembangunan sumber daya manusia akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualltas, berdaya saing dan menguasai kemampuan Ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga mewujudkan generasi penerus Aceh yang memiliki akhlak mulia, cerdas dan mampu bersaing di dunia internasional.

IV-38

Di bidang pemerintahan, prioritas pembangunan pada tahap ini difokuskan pada pembuatan kebijakan dan regulasi yang efektif yang dapat menstimulasi investasi dan Menciptakan dan mengembangkan e-government sebagai sarana peningkatan layanan publik.

Pembangunan perdamaian, hukum dan HAM diarahkan pada terciptanya kelembagaan politik dan hukum yang kuat, terwujudnya konsolidasi demokrasi yang kokoh dalam berbagai aspek kehidupan politik serta supremasi hukum dan penegakan hak-hak asasi manusia; dan terwujudnya rasa aman dan damai bagi seluruh rakyat Aceh. Di bidang keagamaan, pembangunan diprioritaskan pada upaya-upaya untuk mewujudkan semakin mantapnya sikap rukun dan harmonis antar individu, dan antar kelompok masyarakat serta upaya untuk memantapkan implementasi dan aktualisasi pemahaman dan pengamalan syariat Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

Pada periode ini, derajat kesehatan dan status gizi masyarakat sudah semakin meningkat. Pembangunan kesehatan ditekankan pad a peningkatan kapasitas sumberdaya kesehatan dan peJayanan yang handal sehingga dapat bersaing di tingkat nasional dan internasional.

Langkah dan upaya yang di tempuh diarahkan pada peningkatan kualitas dan kuantitas kesejahteraan sosial baik perseorangan, keluarga, kelompok ataupun komunitas masyarakat. Pada tahap ini kelompok penyandang masalah sosial yang rentan karena keterbatasan fisik dan mental harus menjadi tanggungjawab Pemerintah Aceh untuk membina dan memberikan kehidupan layak sesuai dengan azas kemanuslaan yang dijaminundang-undang dan Qanun di Aceh.

Pembangunan budaya dilakukan melalui aktualisasi nilai-nilai tradisional dan kearifan lokal masyarakat Aceh sebagai bagian unsur utama pembentuk identitas dan jati diri yang menjadi karakter yang tangguh. Keberhasilan dalam membentuk karakter budaya ke-Acehan lnl ditandai dengan semakin meningkatnya budaya santun, jujur, ramah, memiliki rasa malu, sadar lingkungan dan budaya menjaga kebersihan sebagai bagian yang terintegrasi dari budaya Aceh.

IV-39

BABV PENUTUP

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Aceh Tahun 2005-2025 yang berisi vlsl, misi, dan arah pembangunan Aceh merupakan pedoman bagi pemerintah dan masyarakat di dalam penyelenggaraan pembangunan Aceh 20 tahun ke depan.

RPJPA ini juga menjadi acuan di dalam penyusunan RPJP KabupatenjKota dan menjadi pedoman bagi calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dalam menyusun vlsl, mist, dan program prioritas yang akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) lima tahunan dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Keberhasilan pembangunan Aceh dalam mewujudkan visi Aceh yang Sejahtera, Damai, dan Is/ami perlu didukung oleh (1) komitmen dari kepemimpinan Aceh yang kuat dan demokratis; (2) konsistensi kebijakan pernerlntah; (3) keberpihakan kepada rakyat; dan (4) peran serta masyarakat dan dunia usaha secara aktif.

V-1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->