P. 1
Permenkes 085 Thn 1989 Kewajiban Penullisan Resep Obat Generik Di Yankes Pemerintah

Permenkes 085 Thn 1989 Kewajiban Penullisan Resep Obat Generik Di Yankes Pemerintah

|Views: 1,203|Likes:
Published by Didi Diah Agustina

More info:

Published by: Didi Diah Agustina on Oct 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2013

pdf

text

original

PERATURA NTERI KESEBAT N REPUBLIK INDONESIA

NOMOR: 08SrMENKES/pER/I! '989

TENTANG

KEWAJffiAN MENULISKAN RESEP DANJATAU MENGGUNAKAN OBAT GENERIK OI F ASILITAS PELA YANAN KESEHATANPEMERlNTAH

IENTERI KESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA

Menimbang

(a). bahwa obat yang digunakan secara rasional merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalarn rnenentukan keberhasilan upaya pelayanan kesehatan;

(b).bahwa harga obat generik lebih rendah daripada harga obat paten yang mernpunyai efek terapetik yang, sama;

(c)" bahwa dengan menuliskan resep dan/atau menggunakan obat generik di fasilitas pelayanan ke ... sehatan Pernerintah tujuan perluasan cakupan kesehatan kepada rnasyarakat d apat lebih 01 udah dicapai;

(d). bahwa sehubungan dengan huruf a, b dan c maka perlu ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang Kewajiban Ienuliskan Resep dan/atau Menggunakan Obat Generik eli Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pernerintah.

Men.gingat

1. Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 17.

2. Ketentuan MPR RJ Nornor II/MPR/1988tentang Garis-Garis Besar Haluan egara,

3, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan (Lernbaran Negara Tahun 1960 Nomor 131, Tambahan Lernbaran Negara Nomor 2068).

4" Undang-Undang Nomor 7 Tahun ] 963 tentang Farmasi (Lembaran Negara Tahun 1963 Nornor 81, Tambahan Lembaran Negara Nornor 2580).

5. Peraturan Pernerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil,

59

6. Peraturan Pernerintah Nomor 25 Tahun 1980 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1965 ten tang Apotik.

7. Peraturan Pernerintah Nornor 7 TahuJil' 1987 tentang Penyerahan Sebagian U rusan Pcmerintahan Dalam Bidang Kesehatan Kepada Daerah.

8. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 159b/Menkes/Per/II/1988 tentang Rumah Sakit.

9. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomar 47/Menkes ,ISK/1/1983 tentang Kebijaksan aan Obat Naslonal,

10. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 477 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Daftar Obat Esensial Nasional,

11. SKB Menteri Kes-ehatan dan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia NomOI 394/MenKes/ SK/VII/1981 dan N om or 196 Tahun 1981 ten tang Pengadaan Obat untuk unit-unit Pelayanan Kesehatan Pemerintah Pusat dan Daerah.

Menetapkan

1vIEMUTUSKAN:

PERATURAN MENTERIKESEHAT AN REPUBLIK INDONESIA TENTANG kEWAJIBAN MENULISKAN RESEP DAN/ATAU MENGGUNAKANOBAT GENERlK D1 FASIL1TAS PELAY AN AN KESEHAT A PEMERlNT AH.

BAB I KE'TENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Keputusan ini yang dimawsud dengan :

a. Obat Generik adalah obat dengan nama resmi yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang dikandungnva,

b. Obat Paten adalah obat dengan nama dagang dan menggunakan nama yang merupakan rnilik produsen ohat yang bersangkutan.

c, Obat Esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untnk pelayanan

60

kesehatan bagl masyarakat terbanyak dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.

d. Fasilitas pelayanan kesehatan Pernerintah adalah Rurnah Sakit Pemerintah, Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya.

e. InstaIasi farmasi rumah sakit adalah instalasi rumah sakit yang rnernpunyai tugas menyediakan, mengelola, memberi penerangan dan rnelaksanakan penelitian tentang obat-obatan,

f. Dokter adalah dokter umum dokter spesialis dan dotter gigi di rumah sakit, Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainny a.

g. Komite Farmasi dan Terapi adalah suatu Tim yang beranggotakan para dokter dan sarjana farmasi yang berfungsi dalam membantu pirnpinan rumah sakit untuk menentukan kebijaksanaan penggunaan obat dan pengobatan,

h. Apotik adalah suatu ternpat tertentu dimana dilakukan pekeriaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat.

r. Formularium rurnah sakit adalah daftar obat baku yang dipakai oleh rurnah sakit yang dipilih secara rasional dan dilengkapi penjelasan sehingga merupakan inforrnasi obat yang lengkap untuk pelayanan m edik rumah sakit.

BAB IT

TUGAS DAN KEW AlIBAN

PasaJl 2

(1) Rumah Sakit diwaiibkan menyediakan obat e ensial dengan nama generik untuk kebu tuhan pasien berobat [alan dan rawat hidup.

(2) Rumah Sakit kelas A BlJ dan BI diharuskan memiliki formulariurn. (3 onnularium yang dimaksud dalam ayat (2) meliputi Daftar Obat Esensial - asional (DOEN) dan obat lain yang sangat diperlukan rumah sakit,

(4) Rurnah Sakit diwajibkan merniliki Pedornan Terapi dan Komite armasi dan Terapi.

(5) Direktur Rumah Sakit bertanggungiawab atas elaksanaan ketentuan pasal ini.

Pasal 3

(1) Dinas Kesehatan Daerah Tingkat II diwajibkan rnenyedi akan obat esensial dengan namagenerik untuk kebutuhan Puskesrnas dan Unit Pelaksanaan Teknis lain di wilayahnya

61

2) Din as Kesehatan Daerah Tingkat Il diwajibkan menyediakan Pedoman Terapi untuk dipergunakan oleh Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya di wilayahnya,

(3) Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat IT bertanggungjawab atas pelaksanaan peraturan yang tercanturn dalam pasal ini.

Pasal 4-

(/C 1) Dokter yang bertugas di Rumah Sakit liharuskan rnenulis resep obat esensial dengan nama generik bagi semua pasien,

(2) Dokter dapat menulis resep untul diambil di apotik luar rumah sakit d alam hal obat esensial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak tersedia di rumah sakit,

(3) Setiap dokter bertanggungiawab kepada Direktur Ruman Sakit dalam pelaksanaan peraturan Ini.

Pasal 5

(1) Dokter yang bertugas d.i Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya diwaiibkan menulis resep obat esensial dengan nama generik b agi sernua pasien.

(2) Dokter dibenarkan membuat resep untuk dibeli di Apotik luar dalarn hal obat yang diperlukan tidak tersedia di Puskesmas atau Unit Pela.ksana Teknis tempat ia bekeria,

(3) Setiap dokter Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis Iainnya bertanggungjawab kepada Kepala Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten/Kotarnadya yang bersangkutan dalam pelaksanaan ketentuan p asal ini,

Pasal 6

(1) lnstalasi farmasi rumah sakit diwaiibkan mengelola obat rumah sakit secara berdaya guna dan berhasil guna,

(2) Instalasi farmasi rumah sakit diharuskan membuat prosedur perencanaan, pengadaan, penyirnpanan, pendistribusian dan pemantauan obat yang digunakan rumah saki t

(3) Instalasi farmasi rumah sakit berkewajiban rnelaporkan kepada Direktur Rumah Saki! atas penyimpanan penulisan resep yang dilakukan oleh dokter

Pasal 7

(1) Apotik berkewajib an menyediakan obat esensial dengan nama generik.

62

(2) Tata cara pengadaan obat esensial dengan nama generik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh Direktur Jendersl Pengawasan Obat dan Makanan,

(3) Apotik 'berkewajiban melayani resep dokter dan dilarang mengganti obat yang tertulis dalam resep,

BAB ill P,EMBINAAN DAN PENGAW ASAN

Pasal 8

(1) Pengawasan atas penulisan resep obat oleh dokter rumah sakit dilaksanakan oleh Direktur Rurnah Sakit dibantu Komite Farrnasi dan Terapi.

(2) Pengawa:san a as penulisan resep obat di Puskesmas dan Unit PeIaksana Tehnis lainnya dilaksanakan oJeb Kepala Kantor Departemen Kesehatan Kabupaten/Kotamadya bersama dengan Kepala Dinas Kesehatan Daerah Tingkat 11 seternpat.

(3) Pernbinaan dan pengawasan penggunaan obat di rurnah sakit menjadi tanggungjawab Direktur J enderal Pelayanan Medik.

(4) Pernbinaan dan pengawasan penggunaan otat di Puskesmas dan Unit Pelaksanaan Teknis lainnya menjadi tanggungjawab Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat,

(5) Pembinaan dan pengawasan pemberian obat di fasilitas pelayanan kesehatan oleh apotik meniadi tanggungjawab Direktur J enderal Pengawasan Obat dan Makanan.

(6) Pelaksanaan pengawasan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (3), (4) dan (5) dapat dilimpahkah pada Kepala Kantor Wilayah Kesehatan setempat.

BAB IV S.ANKSI

Pasal 9

Pelanggaran atas ketentuan yang terdapat pada pasal 2, 3, 4, 5, 6. dan 7 dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini dapat dikenakan sanksi administrasi dan atau hukuman disiplin.

BAD V KETENTUAN LAIN

Pasal 10

(1) Direktur Rumah Sakit atau Dokter Kepala Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya dapat rnenyetuiui penggantian resep obat

63

(2) Ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini diatur lebih lanjut dengan Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk, Teknis oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik, Direktur Jenderal Pembinaan .eseha an Masyarakat dan Direktur J nderaJ Pengawasan Obat dan Makanan se uai bidangnya rnasing-masing,

BAB VI KETENTUAN PERALIHAN

P; 'sal 11

Dalam jangka 6 (enam) bulan sesudah ber akunya Peraturan Menteri K sehatan ini, sernua rumah sakit, semua uskesrnas dan Unit Pelaksana Teknis lainnya para dokter dian apotik hams sudah rnelaksanakan kewaiiban rnenuliskan .sep dan/atau m nggunakan obat: es nsial dengan nama generik.

,AD VII KETENTUAN' PENUT P

Pasal 12

Peraturan ini mulai berlaku pada tanggal d . tetapk an,

Agar supaya setiap orangmengetahuinya, mernerintahkan pengundangan kepu tusan ini dalarn Berita Negara Re publik Indonesia.

Ditetapkan d,i :

Pada tanggal

JAKARTA 28 J anuari 1989

MENTE· I KESEHATAN R.I.

ttd .

. Dr. ADHY ATMA, MPH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->