P. 1
1435

1435

|Views: 112|Likes:
Published by Agus Suprianto

More info:

Published by: Agus Suprianto on Sep 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2012

pdf

text

original

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTlM

107

PEMASYARAKATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH PEDESAAN-PEDALAMAN DAERAH KOTA BANGUN, KALIMANTAN TIMUR

( Rangkuman Kegiatan Pelita V)

Oleh :

Agusto W.M. oJ. Ismu Tribowo OJ dan MH Siagian '.J

INTISARI

Pengembangan Wilayah pedesaan di Kecamatan Kota Bangun Kalimantan Timur diawali dengan survai potensi dan status teknologi terhadap desa-desa yang termasuk dalam kategori tertinggal, di wilayah pedalaman DAS Mahakam,

Desa Kedang [pi! dan Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun, dipilih sebagai Desa-Contoh untuk pemasyarakatan teknologi tepat guna, yang meliputi teknologi penyediaan air bersih, industri rumah tangga, dan pengolahan pasca panen, dengan metoda pelatihan.

Pemasyarakatan usaha pertanian menetap (lahan basah/sawah) dilakukan melalui aktivasi kader tani menetap (Kanitap) dengan pelatihan bersistern dan dilakukan secara bergantian antara kerja berpandu (guided work) dan kerja mandiri.

Berbagai rekayasa . implemen teknologi terutama yang berkenaan dengan pemasyarakatan usaha tani dan proses/pengo laban pasca panen telah dilaksanakan di 2 (dua) lokasi pengembangan.

*) Puslitbang Fisika Terapan- LlPI, Subang **} Puslitbang Biologi - LIPI, Bogor

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN UTBANG LIP! Dr KALIMANTAN TlMUR PELITA V

108

PEMASYARAKATAN 'ITG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POI'ENSI Wu.AYAH KALTIM

Dalam jangka waktu tiga tahun anggaran, terbadap Desa-Contoh tersebut telah dilaksanakan berbagai pemasyarakatan teknologi tepat guna. Pengembangan mengikuti Trilogi Pengerobangan: Pengembangan Usaha Tani, Pengembangan Lingkungan Hidup, dan Pengembangan Sarana Berhimpun dan Pelatihan. Thhap awal tabun pertama pengembangan didahului dengan program aksi kegiatan pemenuhan kebutuhan dasar, dilanjutkan dengan pengembangan usaha pertanian menetap serta proses pengolahan dan penanganan lanjut dari potensi sumberdaya alam setempat melalui proses pelatihan. Pada tahap akhir tahun ketiga dapat dihasilkan kader-kader berjenjang di setiap desa-contoh.

Dengan pola paket pengembangan daerah belakang, telah mendorong fungsi Kecamatan sebagai pusat pertumbuhan menjadi kunci keberhasilan selanjutnya.

1.. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan Pengembangan Masyarakat Pedesaan DAS Mahakam merupakan bagian dari realisasi "Piagam Kerjasama antara LIP! dengan Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Kaltim", yang telah ditandatangani pada tanggal 28 Juli 1990 oleh Ketua LIP! dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I kalimantan Timur, !

, .

Tujuan dari kerjasama tersebut adalah untuk meningkatkan pemanfaatan

• I

secara optimal potensi daerah melalui pengalihan dan pemasyarakatan ilmu

,

pengetahuan dan teknologi untuk menunjang pelaksanaan pembangunan nasional

.'

pada wnumnya dan pe~bangunan daerah Kalimantan pada khususnya. Seluruh

Iokasi kegiatan pengernbangan ditekankan di wilayah Kota Bangun, Kabupaten Kutai.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN UTBANG LIPI DI KALIMANTAN TIMUR PEUTA V

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WlLAYAH KALTIM

109

Dalam Pelita V, sejak tahun anggaran 1991/1992, Balai Pengembangan Telrnologi Tepat Guna, Puslitbang Fisika Terapan-LIPI memberikan kontribusi melalui pemasyarakatan teknologi tepat guna, khususnya dalam bidang pemenuban kebutuhan dasar dan pengembangan kegiatan usaha pertanian menetap, serta industri kecil yang bennuara pada upaya peningkatan pendapatan.

1.2. Tujuan

Melalui serangkaian program-rogram peningkatan kemampuan masyarakat pedesaan di Propinsi Kalimantan Timur, khususnya di wilayah DAS Mahakam. Kabupaten Kutai, dilakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut ;

a) Inventarisasi tingkat teknologi tepat guna serta kebutuhan telrnologi tepat guna, khususnya di bidang kebutuhan dasar, usaha pertanian dan industri skala pedesaan di wilayah DAS Mahakam. Kota Bangun yang dapat mendukung proses pengembangan masyarakat, serta peningkatan secara optimal potensi daerah melalui pemasyarakatan teknologi tepat guna, dilengkapi dengan survai limbah kayu pada industri pengolahan kayu di Kalimantan Timur.

b) Studi pola pengembangan wilayah dan masyarakat yang tepat untuk daerah pedalaman.

c) Peningkatan mutu produksi, penganekaan proses dan pengoJahan pasca panen, 'dan peningkatan kemampuan dan mutu berproduksi dengan penggunaan teknologi tepat guna serta peningkatan kemampuan pemasaran.

d) Sistem pelatihan berjenjang untuk memperoleh kader masyarakat di Desa Kedang Ipil dan Sebelimbingan (desa-contoh), dikembangkan agar dapat memacu desa-desa di sekitarnya untuk berkembang.

e) Pemasyarakatan implemen teknologi tepat guna,

PROSIDING SEMlNAREVALUASI HASIL KEGlATAN LITBANG LlPl DI KALIMANTAN TIMUR PELlTA V

llO

PEMASYARAKATAN ITG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WlLAYAH KALTIM

1.3. Lingkup Kegiatan

a) Survai secara langsung untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada dan kebutuhan yang diperlukan di WUayah Kota Bangun terutama di bidang teknologi tepat guna, dan survai limbah kayu di Kalimantan Timur.

b) Pengembangan sistem penyediaan air bersih seperti bak penampung, unit penjernih air, sistem distribusi air bersih, pengembangan sumur pantek dengan pompa.

c) Pengembangan peralataniimplemen teknologi,

d) PengenaJan beberapa proses penanganan pasca panen,

e) Survai penanganan Ian jut dari proses pengolahan kayu dan limbah kayu, serta altematif pemanfaatannya,

f) Pelatihan yang berkaitan dengan pertukangan logam/kayu, penyediaan air bersih, serta penanganan pasca panen,

g) Percontohan penanganan agroforestry termasuk upaya pembuatan demplot dan iri~asi skala pedesaan sebagai replika tataruang desa di pedalaman.

Berbagai hal yang ditekankan dalam kegiatan Tim Teknologi Tepat Guna, antara lain :

- kegiatan yang secara nyata dapat bennanfaat bagi masyarakat serta pemerintah daerah setempat,

kegiatan yang menghasilkan bahan kajian multidisiplin bagi Puslitbang di Iingkungan UPI,

- Pembuatan pola desa-contoh sebagai maket (termasuk konsep/tata-ruang), dari wilayah pedalaman Kalimantan Timur, yang dapat diterjemalIlC'an menjadi petunjuk operasional, se~agai bahan masukan bagi Pemda Kaliniantan Timur dalam upaya pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah,

PROSIDINGSEMl,NAR.EVALUASI HASIL KEGIATAN L1TBANG L1PI DI KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN TOO DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI W1LAYAH KALTIM

III

1.4. Instansi Terkait

Kegiatan pelaksanaan Kerjasama antara UP! dengan Pemerintah Daerah Tingkat I Kalimantan Timur dalam pelaksanaannya Bappeda Tingkat I Kalimantan Timur dan Bappeda Tingkat II Kutai merupakan instansi yang bertindak sebagai pendamping selama pelaksanaan kegiatan, berperan aktif dalam pengarahan, nara sumber, serta kontribusi personal, serta fasilitator sehingga seluruh program dapat dilaksanakan dengan baik.

Berbagai instansi lainnya yang juga berperan serta dihubungi, antara lain:

a) Biro Hubungan Masyarakat Pemda Tingkat I Kaltim, Samarinda

b) Kanwil Perindustrian, Samarinda,

c) Kanwil Kehutanan, Samarinda,

d) Dinas Kehutanan, Samarinda,

e) Kecamatan Kota Bangun, Kota Bangun,

f) Puskesmas Kota Bangun, Kota Bangun,

2. PERMASALAHAN

Secara menyeluruh, pennasalaban umum yang dibadapi· dalam pengembangan wiIayah pedesaan telah tersirat dalam Pola Dasar Pembangunan Daerah [I] dan dapat dirumuskan menjadi materi kerjasama antara UPI dengan Pemda Tingkat I Propinsi Kalimantan Timur!21.

2.1. Potensi Sumber Daya Alam

Dalam kaitannya dengan pengamatan yang telah dilakukan 'sebelumnya, pemanfaatan hasil potensi sumber daya alam[3] untuk diupayakan melalui proses- . proses pengolahan lanjut sehingga dapat dikenali produk yang bernilai lebih dari sebeJumnya.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG LIPI DI KALIMANTAN T1MUR PELlTA V

112

PEMAS¥ARAKATAN TTG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTeNS] Wll.AYAH KALTlM

Dengan mempertimbangkan kelestarian yang berwawasan iingkungan perlu dilakukan transformasi teknologi tepat guna sehingga niIai tambah dapat dinikmati secara optimal. Sementara itu, peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam mendayaguoakan potensi alam dapat dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan, sehingga dapat diarahkan pada upaya peningkatan penghasilan masyarakat secara langsung.

2.2. Usaha Pertanian Menetap

Usaha tani yang telah berlangsung secara turun-temurun, merupakan usaha tani yang masih bersifat berpindah, menggunakan peralatan sederhana, serta penggunaan waktu yang tidak efisien karena lokasi laban berpindah setiap tahun, sementara itu dad berbagai kegiatan pelatihan terhadap kader pertanian menetap (Kanitap) yang telah dilakukan, masih belum terlihat hasil yang nyata.

. Hal ini mengingat bidang usaha pertanian menetap serta pelaksanaannya, sangat dipengaruhi oleh :

a) sistem usaha tani berpindah-pindah, sub-sisten,

b) tradisi adat yang masih berlangsung dan mempengaruhi pandangan, khususnya dalam tatanan "pemilikan lahan", secara turun-temurun,

c) i~lasi wilayah pedesaan, khususnya pedesaan di dalam hutanlHPH.

Di samping itu, basil inventarisasi'" menunjukkan indikasi bahwa tingkat teknologi yang dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat belummemadai.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN UTBANG LIPI DI KALIMANTAN TIMUR PEUTA V

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

113

3. METODA PELAKSANAAN

3.1. Pengembangan Wilayab

Dalam strategi peJaksanaan pengembangan wilayab, masyarakat pedesaan sebagai sasaran program secara lang sung dibina dengan lebih menekankan pendekatan partisipatif, sehingga dapat diperoleh masukan-masukan yang mendasari aktivitas yang terprogram. Dengan dasar kebijakan, dilaksanakan pelatihan-pelatiban terhadap kelompok-kelornpok binaan,

Pentahapan dilaksanakan untuk memperoleh respons dengan memberikan waktu inkubasi dati sejak paket kegiatan diselesaikan, sehingga tahap berikutnya mempunyai unsur evaluatif.

Dengan demikian, selama waktu 3 (tiga) tahun anggaran, dapat dilaksanaican program-program pengembangan yang dapat diikktisarkan dalam Jampiran 1.

3.2. Pelatihan

Pembinaan terhadap kelompok sasaran dilakukan melalui kegiatan pelatihan berjenjang. yaitu dengan melatih sejumlah masyarakat, yang dikembangkarr menjadi kader-kader dengan kualifikasi :

a) Tingkat I : kader yang mampu memanfaatkan hasillatihan

b) Tingkat II : kader yang mampu melatih kelompok di desa

c) Tingkat III : kader yang mampu melatih kelompok di Inar desa

Pelatihan dilaksanakan: dengan menggunakan dan mengembangkan fungsi institusi yang telah ada/dibakukan di dalam lingkup desa/dusun, .seperti :

- Kader Tani Menetap (Kanitap) basil pelatihan Dinas Pertanian,

- Karang Thruna sebagai wadah pemuda,

- KeJompok PKK sebagai wadah Ibu-Ibu.

Mengingat keadaan masyarakat yang masih tradisional, dengan asumsi bahwa bila komunikan dan komnnikator sejenis dapat diraih hasil lebih banyak,

PROSlDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG LIP! OJ KALIMANTAN TIMUR PEurA V

112

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN Pm'BNSI WILAYAH KALTIM

Dengan mempertimbangkan kelestarian yang berwawasan lingkungan perlu dilakukan transfonnasi teknologi tepat guna sehingga nilai tambah dapat dinikmati secara optimal. Sementara itu, peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam mendayagunakanpotensi alam dapat dilaksanakan secara bertahap danberkelanjutan, sehingga dapat diarahkan pada upaya peningkatan penghasilan masyarakat secara langsung.

2,2. Usaba Pertanian Menetap

Usaha tani yang telah berlangsung secara mrun-temurun, merupakan usaha tani yang masih bersifat berpindah, menggunakan peralatan sederhana, serta penggunaan waktu yang tidak efisien karena lokasi laban berpindah setiap tahun, sementara itu dari berbagai kegiatan pelatihan terhadap kader pertanian menetap (Kanitap) yang telah dilakukan, masih belum terlihat basil yang nyata.

Hal ini mengingat bidang usaha pertanian menetap serta pelaksanaannya, sangat dipengaruhi oIeh :

a) sistem usaha tani berpindah-pindah, sub-sisten,

b) tradisi adat yang masih berlangsung dan mempengaruhi pandangan, khususnya dalam tatanan "pemilikan laban", secara turun-temurun,

c) isolasi wilayah pedesaan, khususnya pedesaan di dalam hutanlHPH.

Di samping itu, basil mventarisasllf menunjukkan indikasi bahwa tingkat teknologi yang dimiliki dan dilaksanakan oleh masyarakat belummemadai.,

'":

PROSIDING SEMINAR EVALVASI fIASIL KEGIATAN L1TBANG LIPI Dl KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN TfG DALI\M UPAYA PENGEMBANGAN Pm'ENSI WILAYAH KALTIM

113

3. METODA PELAKSANAAN

3.1. Pengembangan Wilayah

Dalam strategi pelaksanaan pengembangan wilayah, masyarakat pedesaan sebagai sasaran program secara lang sung dibina dengan lebih menekankan pendekatan partisipatif, sehingga dapat diperoJeh masukan-masukan yang mendasari aktivitas yang terprogram. Dengan dasar kebijakan, dilaksanakan pelatihan-pelatihan terhadap keJompok-kelompok binaan.

Pentahapan dilaksanakan untuk. memperoleh respons dengan memberikan ' waktu inkubasi dari sejak paket kegiatan diselesaikan, sehingga tahap berikutnya mempunyai unsur evaluatif.

Dengan demikian, selama waktu 3 (tiga) tahun anggaran, dapat dilaksanakan program-program pengembangan yang dapat diikktisarkan dalam lampiran 1.

3.2. Pelatlhan

Pembinaan terhadap kelompok sasaran dilakukan melalui kegiatan pelatihan berjenjang,. yaitu dengan melatih sejumlah masyarakat, yang dikembangkarr menjadi kader-kader dengan kualifikasi :

a) Tingkat I : kader yang mampu memanfaatkan hasil latihan

b) Tingkat II : kader yang mampu melatih kelompok di desa

c) Tingkat III : kader yang mampu melatih kelompok di luar desa

Pelatihan dilaksanakan dengan menggunakan dan mengembangkan fungsi institusi yang telah ada/dibakukan di dalam lingkup desaldusun,seperti :

- Kader Tani Menetap (Kanitap) basil pelatihan Dinas Pertanian,

- Karang 'Iaruna sebagai wadah pemuda,

- Kelompok PKK sebagai wadah Ibu-Ibu.

Mengingat keadaan masyarakat yang masih tradisional, dengan asumsi bahwa bila komunikan dan komunikator sejenis dapat diraih hasil lebih banyak,

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN UTBANO LIPJ 01 KALIMANTAN T1MUR PELITA V

114

PEMASYARAKATAN TI'G DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSr WILAYAH KALTlM

maka dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat dibedakan berdasarkan Kelompok Pria dan Kelompok Wanita.

Pengelompokan ini dilakukan dalam upaya menggali informasi dan pengumpulan data yang menyangkut peri kehidupan, sistem kelompok (tani/ladang) serta berbagai hambatan-hambatan yang sedang dialami, yang masing-masing ditangani oleh tim secaraserentak.

Suatu hal yang perlu dilakukan dengan sangat hati-hati adalah mencari bentuk dari kelompok masyarakat, utamanya mengetahui kelompok peladang. Hal ini mengingat sudah menjadi trauma masyarakat pedalaman untuk menunjukkan hal-hal yang berkaitan dengan usaha tani berladang yang berpindah-pindah.

3.3. Materi Kegiatan

3.3.1. Survai Status Teknologi

Survai lapangan dilaksanakan sejak awal kegiatan pengembangan wilayah Kalimantan Timur, dengan kunjungan langsung untuk memperoleh data primer, yang selanjutnya dipergunakan sebagai dasar pemilihan lokasi pengembangan yang berkaitan dengan kegiatan sebelumnya.

Survai dilakukan untuk menginventarisasi tingkat teknologi tepat guna dan kebutuhan teknologi, khususnya dalam bidang kebutuhan dasar, pola usaha pertanian dan industri skala pedesaan dengan penekanan pada pedesaan daerah pedalaman.

Pelaksanaan survai dilakukan di 6 (enam) wilayah pedesaan, yaitu : - Kedang Ipil (Pedalaman)

- Muhuran (desa DAS Mahakam)

- Sebelimbingan (dusun PAS Mahakam)

- Melintang (desa "Mar~im", DAS Danau)

- l.oleng (desa pengembangan dad HPH-Bina Desa)

- Rimbayu-l (desa pengembangan transmigrasi sebagai pembanding)

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN UTBANG LIPI Dl KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN TIO DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POfENSl WlLAYAH KALTIM

lIS

3.3.2. Pelatihan Kerja

Melalui kegiatan yang berkenaan dengan proses-proses kontruktif, berbagai pelatihan kerja dapat diselenggarakan. Pada umumnya beberapa kemampuan kerja belum dimiliki karena pada umumnya belum terdapat di lokasi pengembangan. Dalam kasus ini, pendalaman barn dilaksanakan setelah masa inkubasi terjadi, sehingga kemampuan "bam" dapat dievaluasi pada tahap berikutnya.

3.3.3. Pelatihan Pengolahan Pasca Panen

Dikenalkan terhadap berbagai proses-proses pengolahan yang belum dilakukan terhadap hasil-hasil yang dimiliki, sehingga dapat meningkatkan nilai tukar dari hasil panen sebelumnya.

3.3.4. Kegiatan Usaha Dagang

Sebagai tahap akhir dari proses pelatihan kerja dan proses pengolaban dapat menghasilkan peluang kegiatan usaha dagang. Meskipun demikian, berbagai kendala yang muneul dian-taranya adalah sarana-prasarana serta mata rantaiperniagaan perlu dilakukan ditindaklanjuti.

3.3.5. Usaba Tani

Pengenalan-pengenalan teknik usaha tani yang dapat menuju usahatani menetap, serta dilakukan introduksi secara bertahap, seperti penggunaan cangkul, alat pengolah dan pemeliharaan tanaman termasuk pengenaJan penggunaan pupuk dasar, pengenalan irigasi sederhana,

3.3.6. Pemasyarakatan Implemen Teknologi Tepat Guna .

Upaya pemasyarakatan dan proses membuat berbagai implemen teknologi tepat guna.

Sasaran kegiatan utama (operasional) dengan cara pelatihan langsung,.adalah :

a) Pengadaan Air Bersih

b) Pengembangan peralataniimplemen teknologi,

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LiTBANG LIPI Dl KALiMANTAN TIMUR PBLITA V

116

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POfENSI WlLAYAH KALTIM

c) Pengenalan beberapa proses penanganan pasca panen,

d) Pengenalan kemampuan berproduksi dengan menggunakan teknologi tepat guna dan kemampuan pemasaran.

Hasil-hasil pelaksanaan selama 3 tahun anggaran dapat di lihat dalam lampiran 1.

4. LOKASI PENGEMBANGAN

Dalam pelaksanaan kegiatan, dipilih dua desa, terdiri :

1) Desa Kedang Ipll,

Mewakili daerah pedalaman (dalam kawasan HPH) terletak kuranglebib 24 ~ dati ibukota kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai.

Meskipun desa ini terletak di daJam kawasan hutan yang dikelola HPH PT. ITCI, dapat dijangkau dengan kendaraan darat di kala musim kemarau, yaitu menggunakan jaJan HPH/log selama 2 jam, ataupun dengan jalan air sekitar 3-4 jam.

2) Dusun Sebelimbingan,

Mewakili daerah DAS Mahakam, Dusun Sebelimbingan ~'erupakan anak desa Muhuran, terletak di ftPi Sungai Belayan yang bermuara di Sungai Mahakam. Mata pencaharian penduduk adalahbertani dan menangkap ikan sungai. Semula dusun ini merupakan b~an TAD, yang di wilayahnya terdapat laban bukaan seluas 100 Hektar yang diperuntukkan sebagai pusat pembibitan tanaman. Namun, semenjak Proyek TAD selesai, lahan ditinggalkan dan membelukar kembaIi.

Dusun ini dipilih menjadi lokasi pengembangan kedua setelah melalui survai potensi.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASlL KEGlATAN LITBANG LlPI Dl KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN ITG DALAM UPATh PENGEMBANGAN ParENS! WILAYAH KALTIM

117

Dari data Kecamatan Kota Bangun, Kedang Ipi1 dan Sebelimbingan termasuk (dari sepuluh) kategori desa terisolir, dan dalam Daftar Situasi Kemiskinan di kalimantan Timur juga dikategorikan desa tertinggal,

Kehidupan sehari-hari masih dapat dikatakan alami, sutisisten, dengan mudah dapat memperoleh hasil-hasil hutan yang tersedia di sekitar maupun di temp at lain. Darihasil eksploitasi alam inilah kebutuhan hidup dapat tercukupi.

5. HASIL-HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Survai Status Teknologi

Dari hasil survai potensi, - diperoJeh hasil yang penting adalah sebagai berikut:

1) Kebutuhan dasar (air) seJuruhnya masih menggunakan langsung air sungai yang ada.

2) Dengan perkecualian di Rimbayu-l, pengolahan lahan usaha tani pada laban yang dibuka masih "belum beranjak" dari pola tradisional, meskipun demildan pemakaian herbisida dan pupuk buatan sudah mulai dipergunakan,

3) Pola Usaha Pertanian Menetap belum dapat dijalankan, secara utuh karena berbagai alasan, khususnya ketidakmampuan masyarakat untuk memulai karena keterbatasan keterampilan yang memadai, khususnya implemen-implemen pendukung serta tahapan-tahapan yang semestinya dilaksanakan. Sementara dalam upaya diversifikasi kegiatan perikanan darat, mengalami kendala dalam upaya mengatasi penyakit dan kurang memenuhnya kualitas air sungai. Selain itu, pemecahan masalah pakan ikan untuk 'penggand ikan-ikan keeil untuk makanan ikan di keramba belum mernasyarakat.

4) Telah dirasakan ikan kecil sudah semakin menyusut karena ditangkap dengan alat yang efektif-tepat guna, dan diproses langsung untuk 'pakan, .

5) Peluang integrasi kegiatan dengan HPH BinaDesa cukup besar, terutama dalah hal penyusunan konsep pengembangan wilayah desa datam hutan.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG UPl or KALIMANTAN TIMUR pELITA V

U8

PEMASYARAKATAN 'ITO DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI wtLAYAH KALTIM

5.2. Pengembangan Dcsa Contoh I : KEDANG IPIL

5.2.1. Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Pengembangan Instalasi Air Bersih menggunakan s~stem gravitasi, diturap dari sumber dengan ketinggian + 30 meter di atas permukaan desa. Jarak sumber ke desa adalah 500 meter.

Air dari sumber ditampung ke dalam sebuah bak yang dibangun dengan sistem bambu semen. Pekerjaan pembuatan bak bambu semen dilaksanakan secara serentak bersarnaan dengan pembuatan saluran perpipaan, . sehingga kelompok pria dibagi lagi menjadi dua sub kelompok.

Dengan demikian dua pelatihan sekaligus dapat diselenggarakan secara simultan,

5.2.2. PeJatihan Pertukangan

Metoda dan mated pelatihan pertukangan ini ditempuh sebagai upaya pengayaan penguasaan terhadap alat-alat "bam" serta produksi yang mengarah pada alat (implemen teknologi) sebagai faktor produksi, mulai dari membuat hingga mengoperasikan sampai berhasil.

Materi Pelatihan Utama, meliputi :

1) Kerja Batu/Bangunan,

2) Kerja Kayu,

sebagai materi tambahan adalah :

3) Kerja Perpipaan,

4) kerja Logam

Dengan meaentukan produk tertentu sebagai hasil akhir yang bermanfaat serta belum dikenal sebeluml!-ya, pesertadapat:

a) mengenal jenis alat-alat.serta cara penggunaannya, dari set peralatan bengkel yang diserahkan sebagai aset desa,

b) mengoperasikan alat sebagai faktor produksi,

c) membuat ulang dengan mengembangkan kreativitas lebih lanjut.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LlTBANO LlPI DI KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN TI'G DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

119

Beberapa produksi hasil peJatihan ini diantaranya adalah ; 'label 1 : Pelatihan Kerja

KEIIJA BATU/BANGUNAN

KERJA KAYU

ICERJA PEllPIPAAN (PVC)

!CEIIJA lOGAll/PELAT

- PDIItW;i Batu (Ouk lrDIk)

- a.bu Semen 1,11,111

- Ponti Mundi IJRun Hulu

- Pant i Nandi I.hlUn Hit i r 1

- Pant! Nandi Unun Hit i r II

- Pemipil Jagung

- Perajang Singkong

- Sl icer Pisang

- Pelecet Kedele (T ....... >

- Jeatan (Ultuk Pipa)

- Kotek Peneta$ Telur

I, II, III

- Gal ian Sa luran Pipa

- Instalasi Pip"

- Sadulgan Pip"

- Bengkokan Pip"

- Pellel iharlllWl Pipa

- Salurlll1· P!!IIIIIMS Alat Penetas Telur I, 11, III - Penjemih Air

SUMBER : LAPORAN TOLOK UKUR KALTIM 199111992, PROYEK SSP 'ITO LIPIlS)

5.2.3. Pelatihan Pengolahan/Proses Penanganan Pasca Panen

Merupakan kegiatan langsung bagi Kelompok Wanita yang terdiri dad IbuIbu dan Wanita Remaja, dan merupakan upaya untuk lebih mengenal langsung terhadap cara tradisi dalam memanfaatkan hasil-hasil potensi alam setempat.

Selanjutnya dengan konsep kaderisasi melalui pelatihan langsung kepada kelompok ini, diharapkan bahwa penghasilan keluarga di luar usaha tani, yakni melalui industri rumah tangga.

Berbagai penanganan pasca panen serta proses-proses yang dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas dikenalkan, sehinggga dapat menghasilkan nilai tambah yang berarti,

Dalam pelaksanaan pelatihan ketrampilan wanita dikelompokkan dalam 2 (dua) program yaitu program utama dan program tambahan.

Program Utama :

- Pendayagunaan Ubi Kayu

- Pendayagunaan Hasil Kelapa

- Pendayagunaan Hasil Aren

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG LIP! DI KALIMANTAN T1MUR PEurA v

IW

PEMASYARAKATAN TfG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POI'ENSI WlLAYAH KALTIM

Program Thmbahan :

- Peningkatan Gizi Keluarga

- Kesehatan Lingkungan

- Usaha Dagang

Setiap peserta (kader) tidak selalu mengikuti seluruh materi program kelompok di atas, namun tidak tertutup kemungkinan untuk dapat mengikuti secara sukarela, sesuai dengan keinginan kader. Berbagai pelatihan sejak 199111992 di Desa Kedang IpH seperti dalamtabel berikut ..

'label 2 : Pelatihan Penanganan Pasca panen

PELAT I HAN

IlIPlEIIEN TEICNOLOGI

PENGAWETAN/PENGQLAHAN

IlASIL

Ubi Kaytl

Kelapa

Aren

Kadelai

Usaha Dagang

.. - PerajDng s,ngkang

- Gaplek K..a.us

- Gupla!; Isrud (chips)

- T epu1S Gaplek

- Nasi Gapll!k

- Makanan ..,1 Kayu

(Lentok. l_t) - Opak ubi lCayu

.. " Kripilt (tawar dan Pecias) . - K~ (Keciapring)

- Tiwut (olallan ·gaplek)

- Minyale Kelapa I (tradisional)

- Minyak Kelapu II (Perbeikan lradisional) - M;nyak Kelapa til (Fermentasi-Ragi Rot!)

- Kue Gula-Kelapa

- serar SaOOt Kelapa

- Tal i Sabut Kelspo·

- Keo;ed sabut Kelapo

- ISM Kelapa

- Sisi r Sabut

- Cetakan Kesed

- Gula SenJ.Jt (Nira Aren)

- Serat Ijule

- sapu Ijuk

" Sikat Ijuk

- Penyisir Ijuk

- SllSU Kedelai

- Krj pile leap;

peleeet Kadeta;

- T"""",

- Kelapa

- Ph;ang

- Aren CI j lilt;)

- lCue liuIa-lel apa

- Keripik Pisang

- Sapu Ijuk

- Sikat ljuk

- leap

- Anak 8)'lW

- Kedeiai

- Penetas lelur

SUMBER: LAPORAN TOLOK UKUR KALTIM 1991/1992, PROYEK SSP TTG LIPlf~J

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HAS!L KEGlATAN LlTBANG LIP! Dl KALIMANTAN TIMUR PELlTA V

PBMASYARAKATAN ITG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTlM

121

Dari tabel 2, beberapa kegiatan yang masih berlangsung meliputi :

a) Gula Semut (dijuaI dalam kemasan plastik di Kota Bangun)

b) Ijuk (produk sapu dan sikat)

c) Keiapa (Manis an Kelapa) .

d) Pisang (keripik)

e) Ubi Kayu (keripik)

f) Kedelai (tempe dan Susu Kedelai)

g) Penetas 'Ielur Ayam lokal

Catatan :

Susu kedelai merupakan produk yang dikaitkan dengan kegiatan Posyandu, yang dilaksanakan satu bulan sekali.

Hambatan yang dihadapi adalah :

- Kegiatan kesibukan perladanganlbertani tradisi yang berlangsung dan melibatkan setiap individu dalam keluarga,

- Daya beli konsumen lokal untuk membeli tempe tidak memungkinkan produksi yang kontinyu.

- Sarana transportasi ke Iuar desa belum memungkinkan usaha ke Iuar desa, sehingga pemahaman masyarakat terhadap rantai pema saran, serta komoditi dari hasil sumber daya alam setempat yang mampu diunggulkan, belum membuka wawasan.

Thrdapat masyarakat yang beralih profesi menjadi pengrajin rotan, dengan produk utama adalahkursi rotan (set).

Dengan demikian telah terjadi alih profesi pada warga yang memang tidak berkemampuan sebagai peladang, telah beralih profesi menjadi pengrajin.

DaJam upaya pemantapan telah dilaksanakan kegiatan pengujian kader untuk melaksanakan kegiatan aIih keterampilan di luar desanya, yaitu di dusun Sebelimbingan.

PROSlDING SEMINAR EVALUASI HASlL KEGlATAN UmANG UPI or KALIMANTAN TIMUR PELITA V

122

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WlLAYAH KALTIM

5.2.4. Pelatihan Usaha Pertanian Menetap

Bagi masyarakat tradisi di dalam lokasi pengembangan, . kegiatan yang berkaitan dengan usaha tani, masalah utama adalah tradisi berladang berpindahpindah, Sementara ini dari siklus berpindah 25 tahunan, telah berubah menjadi siklus 5 tahunan. Dari berbagai kajian yang telah dilakukan serta hasil survai, ditemukan bahwa terjadi ketidaktahuan masyarakat terhadap usaha tani menetap. Hal ini terutama disebabkan karena tidak adanya pembinaan/asistensi dari instansi yang terkait dengan masalah usaha tani, khususnya di pedesaan'pedalaman,

Menurut Mubyarto[~l (1991), pengembangan usaha pertanian menetap di Kalimantan Timur, disimpulkan bahwa :

. .. . Proses perubahan sistem pertanian berpindah menuju pertanian menetap horus diikuti dengan tersedianya teknologi, pelatihan Iangsung terhadap pembukaan (pengolahan) lahan, sarano-pmsarana; yang dapoi mendorong percepatan proses perubahan olen masyarakat sendiri, yang selanjutnya diikuti dengan pettyuluhan yang dapat mengantisipasi kemajuan pertanian itu sendiri.

Dengan metoda pelatihan berjenjang, langsung di lokasi, terhadap 8 (delapan) kader Kanitap bersama-sama dengan ariggota masyarakat yang mewakili daerah hulu dan daerah hilir melalui pelatihan berpandu menghasilkan satu petakconto. Selanjutnya dengan kerja mandiri IahanJpetakan diperluas. /

Telmik penyampaian paket-paket materi kegiatanusah~;' tani kepada kader, dilaksanakan secara. terputus; agar proses pendewasaan menuju pola pendampingan dapat segera dilakukjID.

PROSJDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGJATAN LlTBANG LIPI DI KALIMANTAN TIMUR PEurA V

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PQTENSI Wll.AYAH KALTIM

·123

5.2.4.1. Kelompok Binaan

Setelab melalui pelatihan dasar penggunaan eangkul, dengan mengaktitkan kader Kanitap, dibentuk 2 (dua) kelompok binaan, terdiri :

a) Kelompok Tani Hilir

Lokasi ini merupakan lahan yang rawan terhadap banjir Juapan dari Sungai Kedang Ipil. Lokasi dikembangkan dengan penataan lahan yang dapat menjinakkan banjiran sungai dengan membangun saluran-saluran drainase,

b) Kelompok Tani llulu

Pada areal Hulu terdapat laban yang memiliki potensi surnber air yang mengalir sepanjang tahun. Lokasi dikembangkan menjadi petak-conto yang dapat diairi dengan air sumber tersebut.

Pelatihan Pertanian Menetap, meliputi : - Pelatihan Penyiapan Laban

- Pengenalan pembuatan parit/saluran irigasi

- Pelatihan Pengolahan Lahan

- Pelatihan Pemeliharaan 'Ianaman

- Pemanenan

Darihasil pemantauan yang dilaksanakan pada waktu panen, menunjukkan sawah yang tercetak di kedua lokasi eukup rnemuaskan dilihat dari butir-burir padi yang padat dan ratanya anakan dan pembuahan.

Dati hasil terse but. sistem olah tanah yang dimasyarakatkan dapat diterima dan memperlihatkan perbedaan dibandingkan dengan eara tradisi (tebang-bakar-tanam tugal-panen).

Dad basil pemanenan, gabah yang berhasil dipanen dilahan bilir (2 borong dari 8 borong) tercatat 15 kaleng/borongan.

(Cara tradisi hasil berkisar antara 5 - 9 kaleng/borongan) Catatan:

1 kaleng = 20 kilogram gabah 1 Ha = 35 borongan

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGlATAN LITBANO LIPI DI KALIMANTAN T1MUR PEUTA V

124

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

5.2.4.2. Pelatihan Tambahan

Sebagai materi seJa sambil menunggu waktu pertumbuhan tanaman padi, beberapa kader yang ada diberikan materi pelatihan sebagai materi tambahan, meliputi :

a) Pelarihan Perbanyakan Tanaman (generatif),

b) Pelatihan Pembuatan Mesin Bubut (kayu),

c) Pelatihan Pembuatan Peralatan Usaha .Iani,

d) Pelatihan jahit menjahit.

5.3. Pengembangan Desa Contob n : SEBELIMBlNGAN

5.3.1. Pemenuban Kebutuhrut Dasar

Masyarakat dusun SebeIimbingan dalam pemenuhan kebutuhan air seharihari seluruhnya diarnbil lang sung dari Sungai Belayan.

5.3.1.1. Alat Penyaring Air

Dengan menggunakan alat penyaring air. tipe. saringan: pasirlambat, masyarakat rnemalui kegiatan Posyandu dikenalkan air jernih uotuk keperluan seharibari. Peralatan ini merupakan hasil introduksi yang dibuat. oleh Puslitbang Geoteknologi-LIPI, kemudian dan dimasyarakatkan sebagai bahan-kontak dengan masyarakat Sebelimbingan,

5.3.1.2. Sumur Dangkal

Pembuatan sumur air dangkal dengan menggunakan pembuatan sumur pantek[7] dengan spesifikasi :<

,.

- air berasal dari rembesan sungai Belayan

- jarak sumur terhadap bantaran sungai : lk. 31.5 meter

- kedalaman sumur : H 7 meter sd. (-) 11 meter

PROSIDINGSEM!NAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LlTBANG UPI Dl KALIMANTAN TIMUR PELlTA V

PEMASYARAKATAN TI'G DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSr WUAYAH KALTlM

115

5.3.2. Pelatiban Pertukangan

Metoda dan materi pelatihan pertukangan 'ini ditempuh sebagai upaya pengayaan penguasaan terhadap alat-alat "bam" serta produk yang mengarahpada alat (implemen teknologi) . sebagai faktor produksi,· mulai dati membuat hingga mengoperasikan sampai berhasil.

Materi Pelatihan Utama, meliputi :

1) Kerja Batu/Bangunan,

2) Kerja Kayu,

3) Kerja pembuatan Sumur Bor/Pantek

Dengan menentukan produk tertentu sebagai hasil akhir yang bermanfaat serta belum dikenal sebelumnya, peserta dapat:

a) mengenal jenis alat-alat serta cara penggunaannya, . dari set peralatan bengkel yang diserahkansebagai aset desa,

b) mengoperasikan alat sebagai faktor produksi,

c) membuat u1ang dengan mengembangkan kreativitas Iebih lanjut.

S.3.3. Pelatiban Agroforestry

Pengenalan agroforestry merupakan upaya pembuatan replika dari penanganan tataruang suatu wilayah pedesaan, dimana pembagian niang disesuaikan dengan kondisi setempat. Dengan perhitungan rancangan irigasi skala desa, lebih meJengkapi usaha ICe arah usahatani menetap.

5.3.3.1. Mali~emen Air

Dalam upaya penataan laban pangan di Sebelimbingan telahdilaksanakan pemetaan serta perhitungan bagi upaya pengairan laban. sehingga kemungkinan pengembangan sistem irigasi dapat dilanjutkan.

Studi Manajemen Air untuk sistem usaha tani sebagai pijakan dalam pengembangan konsep tata-ruang desa/dusun yang secara kbusus untuk mendapatkan laban pangan yang menetap di dalam wilayah desa dimaksud pedesaan,

". .

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG L1PI 01 KALIMANTAN TIMUR PELlTA V

126

PEMASYARAKATAN 'ITG DALAM UPAYA PBNGEMBANGAN POfENSI WD..AYAH KALTIM

Dalam upaya penataan lahan pangan di Sebelimbingan telah dilaksanakan pemetaan serta perhitungan bagi upaya pengairan laban. sehingga kemungkinan pengembangan sistem irigasi dapat dilanjutkan.

Menurut Ismu Tribowo [81(1993), manajemen air 'untuk usaha pertanian Iebih dikenal dengan llama irigasi dan drainase. Kelebihan dan kekurangan air bagi tanaman sangat berdampak negatif bahkan dapat mcnggagalkan usaha mi. Dengan demikian air yang dibutuhkan tanaman untuk kelangsungan hidupnya hams diatur agar supaya mendapatkan hasil yang optimal.

Untuk mendapatkan besaran air yang perlu untuk irigasi air maupun yang harus dialirkan ke luar laban pertanian (drainage) memerlukan beberapa data antara lain:

- curahhujan dan yang berkorelasi dengannya seperti periode ulangnya, intensitas hujan, kemudian jenis tanah, evapotranspirasi,

- pola tanam termasuk jenis tanaman yang biasa ditanam, topografitanah,

- pengguna air selain untuk tanaman (misalnya untuk kebutuhan rumah tangga,

industri dll).

Dari data-data iOO kemudian dihitung besaran air yang diperlukan maupun yang surplus yang harus dikeluarkan (drainase).

5.3.3.2. Perikanan Darat

Budidaya .ikan di wilayah DAS Mahakam, menurut Agus Tjakrawidjaja[91, masih terbatas pada pemeliharaan ikan dengan membuat haba, }nipup masih dalam teknologi yang sederhana, yaitu dengan peti-peti kayu yang' di"*~nggetamkann. Selanjutnya dari aspek ~padatan penebaran dan pemberian p~ belum sesuai dengan anjuran Dinas Perikana se~empat. Pengembangan perikanan darat dalam kolam air diam (stagnajit) .masih semi intensif .. Oleh karena itu, sistem budidaya yang layak dikembangkan adalah dengan sistem kolam. Hal tersebut mengingat bahwa:

(a) daya dukungnya memenuhi persyaratan, (b) kualitas dan kuantitas air yang memadai,

PROSIDING SEMINAR, EVALUASI HASIL KEGIATAN L1TllANG UPI DI KALIMANTAN T1MUR PEUTAV .

PEMASYARAKATAN 'fI(l DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

127

(e) elevasi kemiringan tanah cukup baik (d) dapatterbindar dari luapan/banjiran air.

Pada tahun kedua (1992/1993) melalui berbagai pelatihan yang didukung dengan percontohan telah dilakukan secara langsung terhadap kader meliputi :

a) pembuatan kolam perikanan darat (kolam tetap)

Spesifikasi :

Luas Kolam 'Ke<Ialarilan

: lOxlO m2

: 150 em

Jenis Bibit ' .

: Ikan Emas

Dari bibit ikan Emas yang didatangkan dari Sebulu, bibit ditanam pada kolarn demplot kemudian dibandingkan dengan sistem keramba.

5.3.3.3. Pakan Ikan

Dengan memanfaatkan potensi Iokal, dikenaJkan teknik pembuatan pakan ikan yang menggunakan formula seperti dalam Tabe13.

Tabel 3 : Formula Pakan lkanlPelet

No. Bahan Baku Formula (') Keterangan
1.) Ikan sepat Siam SO Rasil tangkapan sungai
2) Daun Gelllbor 10 Dari sekitar sungai
3} Dedak 40
4) Tepung kanji secukupnya
5} Air Panas secukupnya Sumber : Cucu Hindasah, Laporan Detasering Kaltim, 1993[10J

Dengan peralatan penggiling daging, pelet telah dapat dibuat sendiri oleh kader yang melaksanakan program bududaya ikan.

PROSlOlNG SEMINAR EVALUASI HASIL KEGlATAN LITBANG UPI DI KALIMANTAN l1MUR PELITA V

128

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPA'L<\ PENGEMBANGAN POfENSI WILAYAH KALUM

Menurut Cueu Hindasah=" (1993). pakan ikan diberikan. sebanyak 3 . (tiga) kali dalam satu hari, yaitu pada pagi - siang - sore. Tabel 4. menunjukkan pertumbuhan ikan dalam waktu pengamatan selama 43 hari.

'Iabel 4 : Pertumbuhan (berat) Ikan dalam selang waktu 10 Hari

Umur Ikan/Hari (gram) . Ukuran Keraillba.
Nama Pemilik 0 23 33 43
Saharudin 4.1 5 7.5 10 4.0x2.0x1.0 meter
Uley 4.1 5 6.5 8 3.5x1.7Sxl..O meter
Iyua 4.1 5. 6.5 8' 3.0xl.1Sxl.0 meter
IlllUX' 4.1 5 6.2 6.5 1. 7x2 .Sx1. 0 meter
Kadri 4.1 4.5 6.04 6.1 1.75x 2.0xl.0 meter Sumber: Cueu Hindasah, Laporan Detasering KaltirnflO] , 1993

Dari hasil pengamatan, ada satu peternak yang antusias untuk melakukan erluasan dengan membeli sendiri ke Sebulu. Meskipun demikian ada hambatan karena Iokasi Balai Benih yang jauh dari Iokasi serta teknik transportasi, agak mengecewakan karena banyaknya bibit ikan yang mati. Hal tersebut lebih diakibatkan karena belum dikuasainya cara transportasi, serta bibit yang relatifterlalu kecil.

5.3.3.4. Demplot Agrofo'restry f

Dalam upaya penataan lingkungan desa, dikembangkan sistem agroforestry yang lengkap dalam petakan-petakan di halaman permukiman, meliputi : "

- pengenalan penanamari pohon tahUnan (durian, jeruk, mangga)

- tumbuhan semusirn (~~mangka, kacang-kacangan, serta cabai besar),

- menjadikan sistem agroforestry dapat diwujudkan.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGlATAN LITBANG LlPI Dr KALIMANTAN T1MUR PELITA V

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENS! W1LAYAH KALTIM

129

Tanaman Tahunan :

Tanaman tahunan lokal umumnya berasal dari hutan, sehingga seeara hasil tidak dapat kompetitif karena jenis tidak dikenal dan berkonotasi "hutan". Untuk memperbaiki jenis tanaman yang memiliki potensi diambil dati Penangkar Bibit yang mempunyai sertifikat galumya. Dengan demikian tanaman keras yang ditanam didatangkan dari luar diharapkan akan dapat berfungsi sebagai upaya perbaikan bibit unggul dan memiliki prospek menjadi pelayanan bibit.

Tanaman dimaksud, meliputi : Jeruk Keprok, Durian, Mangga, Petai, Durian

Thoaman Semusim :

Dalam upaya meningkatkan produksi serta pengenalan bibit-bibit hasil penangkaran untuk. Iebih mengenal variasi tanaman semusim, setelah melalui tahap perkecambahan ditanam dari bib it kaleng . hasil dari penangkar bibit,

'Ianaman dimaksud antara lain meliputi : semangka, kacang-kacangan (Kacang Hijau, Kacang Tanah), cabai besar.

Dengan demikian, melalui pengenalan ini, petani dapat mengetahui adanya bibit-bibit unggul.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LITBANG LlPl DI KALIMANTAN TIMUR PELITA v

130 PEMASYARAKATAN TI'G DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

6. KESIMPULAN

Darl kegiatan program pengembangan wilayah pedesaan DAS Mahakam, sejak tahun anggaran 1991/1992 hingga akhir kegiatan tahun anggaran 199311994 dapat dicapai hasil, sebagai berikut,

a) Conto laban pertanian menetap (laban basah/sawah); demplot Agroforestry dan pelatihan menyeluruh yang berkaitan denganmata-rantai usaha tani,

b) Kader terlatih-berjeniang, yang berpotensi sebagai kader terlatih untuk menjadi pelatih lanjutan, di bidang usaha tani menetap, dan industri kecil/rumahtangga,

c) Pemasyarakatan implemen teknologi tepat guna yang berkaitan dengan bidang usaha tani menetap, dan industri kecil/rumahtangga,

Dan serangkaian kegiatan yang dilaksanakan, dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut.

1) . Pemahaman terhadap masalah yang ada di desa dapat didekati dengan melihat langsung potensi sumber daya a1am,. yang se1anjutnya diselaraskan dengan berbagai faktor kebutuhan manusianya. Selanjutnya dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan dan daya serap masyarakat dapat mempercepat proses pengembangan lebih baik.

2) Dari berbagai introduksi teknoiogi tepat guna, ueugan sangat

mempertimbangkan kemampuan lokal (muatan lokal) pada porsi yang wajar, terbukti bahwa daya serap warga masyarakat berhasil dic:ptma~ikan, sehingga dapat disimpulkan bahwa masyarakat dapat menyerap qan tanggap terhadap perubahan (ke arab maju), serta masuknya teknologi dapat menimbulkan motivasi positif, terutama pada alternatif yang segera dapat dirasakan nilai-nilai ekonomis.

3) Metoda pelatihan i~situ memberikan dampak yang cepat karena segala hal yang berkait dengan lokasional segera dapat dipecahkan, sementara sosok agen pembaharuan perlu diciptakan dengan kemampuan sebagai motor penggerak di lingkungannya.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI BASIL KEGIATAN LITBANG LIP! Dl KALIMANTAN TIMUR PELITA V

PEMASYARAKATAN ITO DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POfENSI.WILAYAH KALTIM

131

4) Faktor pendekatan secara tradisi masyarakat sangat bermanfaat bagi perkembangan selanjutnya, terutama untuk dibawa ke arah yang lebih maju, sistematis dan akhirnya akan membawa perubahan persepsi, dan kebiasaan yang Iebih baik.

5) Keterisolasian suatu lokasi tidak selalu karena hambatan jangkauan fisik, tetapi Iebih dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (masyarakat,dan potensi alam dan status tekno-logi), Semakin potensial, semakin mudah untuk digerakkan.

6) Kebijaksanaan untuk pembangunan sarana-prasarana lebih diutamakan dengan mempertimbangkan faktor internal dimaksud, dan bukan karena faktor-faktor kecenderungan pertumbuhan pasar.

7) Upaya menuju pola usaha tani yang menetap dapat segera tercapai apabila alih ilmu dapat diselenggarakan secara runtut dan sangat memperhatikan kondisi setempat, dengan pembinaan yang langsung diharapkan dapat membuahkan hasil yang optimal.

8) Dengan pengembangan lebih awal terhadap potensi pedesaan pedalaman sebagai daerah belakang, dapat mempercepat pengembangan Kecamatan sebagai pusat pertumbuhan.

PROSIDING SEMmAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LlTBANG UP! Dl KAUMANTAN TIMUR PELlTA V

132

PEMASYARAKATAN T1G DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PCtl'ENSI WILAYAH KALTIM

UCAPAN TERIMAKASm

Dengan selesainya makalah rangkuman ini, penulis perkenankan mengucapkan terimakasih kepada Pemimpin Proyek LitbangSwa Sembada Pangan dan 'Ieknologi, Kepala Puslitbang Fisika 'Ierapan- LlPI yang telah memberikan kepercayaan dan

. kesempatan kepada penulis dalam melaksanakan kegiatan pengembangan.di Wilayah Kalimantan Timur. Juga kepada para Pimpinan dan Staf Bappeda Tingkat I Kalimantan Timur dan Bappeda Tingkat II Kutai serta jajaran Pemda, kali ucapkan terimakasih atas bantuan, . saran, dan kerjasamanya sehingga kegiatan ini dapat berlangsung dengan baik,

Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada rekan-rekan Sdr.: Cucu Hindasah, Maman Saifullah, Suhaya, Sudiono, Winaryo, Trikanti Nyoto, Edi Junaedi, Chahyana, Nandang Jaenudin, serta Iman Rusimdalam peransertapelaksanaan kegiatan di Japangan.

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASlL KEGIATAN L1TBANG LIP! DI KALIMANTAN TlMUR PELrrA v

PEMASYARAKATAN' ITG.DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

133

DAFrAR PVSTAKA·

L Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat [ Kalimantan Timur 1989, Pola Dasar Pembangunan Daerah dan Repelita Kelima Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Timur Tahun 198911990 - 199311994, Samarinda.

2. Ibid 1990, Rancangan Materi Kerjasama Pemerintah Propinsi Daerah Tingkat I Kalimantan Timur dengan Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia, Samarinda, Juni,

3. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 1992, Rencana Pelaksanaan Kegtatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) untuk: Wi/ayah Kalimantan Timur, Hasil Pertemuan Koordinasi Untuk Pelaksanaan Proyek 1992i1993, Cibodas, April.

4. Agusto WM, Takiyah Salim 1992, Introduksi Teknologi Tepat Guna Melalui Implementasi Penyediaan Air Bersih, Industri Rumah Tangga dan Pasca Panen di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun, Proceedings Seminar Evaluasi Kegiatan Litbang LIP! di kalimantan Timur 199111992. BPTTG P3FT-LIPI, Samarinda 28 Januari 1992.

5. Tim 'ITG P3FT-LIPI, 1992, Pengembangan Masyarakat Pedesaan Lembah Mahakaml Kalimantan Timur, Laporan Pelaksanaan Kegiatan T.V. 01.05.,Proyek SSP TIG-LIPI, Bandung.

6. Mubyarto, dkk., 1991. Kajian Sosial-Ekonomi Desa Desa Perbatasan di Kalimantan Timur, Penerbit P3PK-UGM, Yogyakarta, Cetakan Pertama, MeL

7. Suhaya,!man Rusim, 1993, Pengenalan Pompa Pralon di Dusun Sebelimbingan Desa Muhuran, Kecamatan Kotabangun, Laporan Detasering Kaltim 1993

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEG!ATAN UTBANG LlPI Dr KALIMANTAN TIMUR parrA v

134

PEMASYARAKATAN 'ITG DALAM UPAYA PENOEMBANGAN PqI'ENSI WlLAYAHKALTIM

8. Ismu Tribowo,R, 1993, Introduksi Teknik Manajemen Air dalam Sistem Usaha Tani, Studi Kasus di Dusun Sebelimbingan Desa Muhuran _ Kecamatan kotabangun Kalimantan Timur, Laporan Detasering Kaltim, 1993/1994.

9. Agus H. Tjakrawidjaja, 1992, Studi Potensi PerikananAir Tawar di Mahakam _ Tengah Kalimantan Timur, Prosiding Seminar hasilLitbang Sumber Daya hayati 199111992, Puslitbang Biologi-UPI, Boger 6 Mei 1992,'-' ";.,,

.'". ., , ...

" • ,',,- L

10. Cucu Hindasah, 1993. Laporan Kegiatan Detasering Kalimantan Timur 199311994

PROSIDlNG SElvlINAR EVALUASI HASIL KEOIATAN UTBANO LIPI Dl KALIMANTAN TlMUR PELrrA v

PEMASYARAKATAN TIG DALAM UPAYA PENGEMBANGAN POTENSI WILAYAH KALTIM

135

Lampiran I

Ikhtisar hasil kegiatan Tim Teknologi Tepat Guna 199111992, 1992/1993, 1993/1994 di Wilayah DAS Mahakam

A. JENIS PELATIHAN KERJA

- Kerja Instalasi Air Bersih (Gravitasi)

- Pembuatan Bak Penurap Sumber Air, Bak penampung Air

- Pertukangan batu, (mencapur matriks semen), Plesteran dinding dasar dan

atap.

- Kerja Pipa PVC (menyambung, rnembengkok, menanam, memperbaiki)

- Pembuatan Bak Bambu Semen

- Membuat Matriks/Mortar Semen

- Kerja Bubut Kayu

B. PENGOLAHAN PASCA PANEN

a) pengolahan ubi kayu (kripik rnanis/pedas, getuk, gaplek, )

b) pengolahan pisang (keripik manis/Asin)

c) pengolahan labu manis (dodol)

d) pengolahan kedelai (tempe, susu kedelai)

e) pengolahan jagung (Beras jagung)

f) pengolahan sabut kelapa dan ijuk

g) pengolahan kelapa (minyak, kue)

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LlTBANG UPI DI KALIMANTAN T1MUR PELrrA v

136 PEMASYARAKATAN ITO DALAM UPAYA PENGEMBA.'lGAN POfENSI Wll.AYAH KALTIM

C. KEGIATAN USAHA DAGANG

a) Gula Semut (dijual dalam kemasan plastik di Kota Bangun)

b) Pisang (keripik)

c) Ubi Kayu (keripik)

d) Kedelai (tempe)

D. PEMASYARAKATAN PERALATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA

- Mesin Bubut Kayu (manual)

- Perajang Singkong,

- Perajang sederhana

- Pelecet Kedelai

- Pernberasjagung

- Penjernihan Air

- Caplak, garu, gelebek

- Penetas Telor (lampu minyaktanah, lampu listrik)

- Bambu Semen

E. KERJA USAHA TANI

. !

.. kerja cangkul / ,

. . " '. . . t

- kerja mengolah lahan(cangkul, caplak), memupuk, membuat kompos

- kerja membuat irigast .. . .

- kerja perbanyakan ~getatif

PROSIDING SEMINAR EVALUASI HASIL KEGIATAN LlTBANG LlPI 01 KALIMANTAN TIMUk PELITA V

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->