P. 1
0103422

0103422

|Views: 200|Likes:
Published by Dachlan Darugutni

More info:

Published by: Dachlan Darugutni on Aug 22, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/25/2014

pdf

text

original

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEPENDENSI AKUNTAN PUBLIK

[Studi Survei Pada Kantor Akuntan Publik Di Bandung)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Mernenuhi Dan Melengkapi Salah Satu Syarat Dalarn Menernpuh Ujian Sarjana Ekonorni Program Studi Akuntansi pada Fakultas Ekonorni Universitas Widyatarna

Disusun oleh:

NAMA

: AGUSTIN SURYANINGTIAS

NRP

: 01.03.422

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYATAMA

Terakreditasi (accredited)

SK. Ketua Badan Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Nomor: 039/BAN-PT/Ak-VIIIS1IXII2003 Tanggal6 November 2003

2007

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, Nama: Agustin Suryaningtias NRP : 0l.03.422

Menyatakan bahwa skripsi berjudul:

"FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI INDEPENDENSI AKUNT AN PUBLIK"

Merupakan hasil pekerjaan saya sendiri. Apabila skripsi tersebut bukan hasil pekerjaan sendiri, saya bersedia menerima segala sanksi yang telah ditetapkan. Demikian skripsi ini dibuat sebagaimana mestinya dan benar adanya.

Bandung, April 2007

Penulis

ABSTRAK

Dalam pelaksanaan audit atas laporan keuangan oleh akuntan publik, hasilnya bukan hanya untuk kepentingan klien tapi juga untuk pihak ketiga meliputi para investor, kreditor, lembaga keuangan, pemerintah, masyarakat dan pihak-pihak lain yang mempunyai kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang telah diaudit oleh akuntan publik.

Independensi akuntan publik menyangkut dua aspek yaitu independensi sikap mental (independence in fact) dan independensi penampilan (independence appearance).

Berdasarkan pemikiran di atas, penulis mencoba melakukan penelitian pada Kantor Akuntan Publik di kota Bandung dan hasilnya dituangkan dalam skripsi berjudul Faktor-faktor yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik.

Dalam penelitian ini dibahas mengenai faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi independensi akuntan publik dan faktor apa saja yang paling dominan mempengaruhi independensi akuntan publik.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi independensi akuntan publik dan faktor apa saja yang tidak mempengaruhi independensi akuntan publik.

Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif analitis, sedangkan pada pengujian hipotesis digunakan metode analitis statistik Chi Kuadrat.

Berdasarkan analitis yang penulis lakukan, penulis dapat menyimpulkan bahwa dari keenam faktor yang diduga mempengaruhi independesi akuntan publik temyata ada tiga faktor yang paling dominan mempengaruhi independensi akuntan publik adalah faktor hubungan keluarga berupa suamiJistri, saudara sedarah semenda dengan klien, faktor hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian terkait us aha dengan klien dan faktor keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai.

Sedangkan ketiga faktor lain yang diduga mempengaruhi, namun dari hasil penelitian faktor ini tidak selalu mempengaruhi independensi yaitu faktor besar audit fee yang dibayarkan oleh klien, karena besar audit fee ditentukan berdasarkan banyaknya jam yang dikeluarkan untuk mengaudit perusahaan klien. Faktor pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien karena pemberian fasilitas dan bingkisan tidak mempengaruhi independensi akuntan publik selama dalam tahap kewajaran. Faktor pelaksanaan jasa lain tidak mempengaruhi independensi akuntan publik karena auditor hanya membantu perusahaan dalam menyelesaikan permasalahannya dan tidak memberikan opini atau pendapat hasil kerjanya.

BABI PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Kemajuan usaha suatu perusahaan menuntun kinerja perusahaan yang terus menerus ditingkatkan. Peningkatan kinerja tersebut dapat dilihat dari pertanggung jawaban keuangan perusahaan yang bersangkutan. Pertanggung jawaban keuangan perusahaan yang bersangkutan harus didasarkan pada catatancatatan yang dibuat oleh perusahan itu sendiri. Dalam hal ini tidak tertutup kemungkinan bahwa hasil pencatatan dipengaruhi oleh hal-hal yang dapat menyebabkan diragukannya laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan. Dalam keadaan ini para pemakai laporan keuangan dapat beranggapan bahwa laporan keuangan yang disajikan dibuat "lebih bagus" dari yang sebenamya.

Berdasarkan hal di atas, laporan keuangan perlu diaudit oleh akuntan publik yang berwenang dan independen, yang dari hasil auditnya dapat memberikan pemyataan mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalam pelaksaan audit atas laporan keuangan oleh akuntan publik, hasilnya bukan hanya untuk kepentingan klien tetapi juga untuk pihak ketiga meliputi investor, kreditor, lembaga keuangan, pernerintah, masyarakat dan lain-lain yang memiliki kepentingan terhadap laporan keuangan klien yang telah diaudit oleh akuntan publik karena hasil ini menyangkut kepentingan banyak pihak dan sangat tergantung pada mutu hasil audit, akuntan publik haruslah independen, artinya bahwa ia tidak boleh memihak baik terhadap klien yang membayamya maupun kepada pihak ketiga. Independensi akuntan publik merupakan dasar utama kepercayaan masyarakat dalam menilai mutu jasa audit, independensi akuntan publik menjadi suatu hal yang sangat penting.

Independensi akuntan publik memiliki dua aspek yaitu: 1). Independensi sikap mental (independence infact)

2). Independensi penampilan (independence in appearance)

Independensi sikap mental akan ada apabila dalam kenyataannya akuntan publik sebagai auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya.

1

2

Sedangkan sikap independensi akuntan publik dalam melaksanakan tugas harus menghindari keadaan yang membuat orang lain meragukan kebebasan.

Berdasarkan hal tersebut di atas, penulis berminat meneliti mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi independensi khususnya independensi penampilan akuntan publik yang dituangkan dalam judul penelitian :

" Faktor-faktor yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik."(Studi Survei pada Kantor Akuntan Publik di Bandung.)

Dalam penelitian ini akan diteliti faktor-faktor yang mempengaruhi independensi menurut Kantor Akuntan Publik yang berada di Bandung. Faktorfaktor tersebut antara lain:

1. Hubungan keluarga akuntan berupa suamiiistri, saudara sedarah semenda dengan klien ;

2. Besar audit fee yang dibayar klien tertentu.

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian

yang terkait dengan usaha klien.

4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien.

5. Keterlibatan dalam us aha yang tidak sesuai.

6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit.

1.2. IdentifIkasi Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang penelitian, penulis mengidentifikasikan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Apakah faktor-faktor seperti hubungan keluarga,besar audit fee yang dibayarkan oleh klien, hubungan us aha dan keuangan dengan klien, pemberian fasilitas dan bingkisan, ketrlibatan usaha yang tidak sesuai dan pelaksanaan jasa lain dapat mempengaruhi independensi Akuntan Publik.

2. Apakah faktor-faktor seperti hubungan keluarga,besar audit fee yang dibayarkan oleh klien, hubungan us aha dan keuangan dengan klien, pemberian fasilitas dan bingkisan, ketrlibatan usaha yang tidak sesuai dan pelaksanaan jasa lain tidak dapat mempengaruhi independensi Akuntan Publik.

3

1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian

Maksud penelitian adalah untuk mengetahui tingkat independensi Akuntan Publik di dalam melaksanakan tugasnya.

Tujuan penelitian adalah:

l. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi independensi Akuntan Publik.

2. Untuk mengetahui faktor- faktor yang tidak mempengaruhi independensi Akuntan Publik.

l.4.Kegunaan Penelitian

Dari pembahasan pokok masalah serta dari informasi yang berhasilkan dikumpulkan, diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

1.4.1. Kegunaan Praktis

1. Bagi Akuntan Publik

Penulis berharap hasil karya ini dapat digunakan sebagai sumber saransaran yang dapat dijadikan sebagai pertimbangan dalam praktik Akuntan Publik.

2. Bagi Penulis

Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dalam praktik yang terjadi serta mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi independensi Akuntan Publik.

1.4.2. Kegunaan Teoritis

Dapat menunjang dan memperkuat teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli dalam bidang akuntansi, khususnya mengenai teori independensi Akuntan Publik.

4

1.5. Kerangka Pemikiran

IAI (SP AP; 11 0.1) menyatakan bahwa, tujuan audit umum atas laporan keuangan yang dilakukan oleh auditor yang independen adalah untuk menyatakan pendapat atas kewaj aran, dalam semua hal yang materiil, posisi keuangan dan usaha serta arus kas sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum. Dengan demikian tujuan audit umum akan tercapai jika auditor yang memeriksa adalah seorang auditor yang independen.

Independensi merupakan tujuan yang harus diupayakan dan itu dapat dicapai sampai tingkat tertentu. Sekalipun auditor dibayar oleh klien, ia tetap memiliki kebebasan yang cukup untuk melakukan audit yang handal.

Menurut visi profesi abad 21 yang diterbitkan IAI (1997) telah menetapkan Kode Etik Akuntansi Indonesia agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi. Pandangan masyarakat terhadap independensi penampilan Akuntan Publik ditetapkan karena sikap independensi merupakan masalah mutu pribadi, bukan merupakan suatu aturan yang dirumuskan.

Independensi akuntan publik ini sangat penting terutama dalam memberikan kepastian bahwa laporan keuangan yang diterbitkan suatu perusahaan tidak mengandung infonnasi men yes atkan pemakainya. Dengan demikian pemakai laporan keuangan sangat tergantung pada pendapat Akuntan Publik sebelum memberikan kepercayaan pada laporan keuangan.

Apabila suatu laporan audit akuntan publik sudah diwamai oleh sikap keberpihakan dan kapabilitas, akuntan publik tersebut tennasuk yang diragukan, infonnasi yang terkandung didalamnya bukan saja tidak bennanfaat untuk kepentingan umum bahkan justru sangat menyesatkan.

Independensi dalam penampilan merupakan pandangan dari pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Meskipun auditor independen telah menjalankan audit secara independen dan objektif, pendapatnya yang dinyatakan melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa.

5

Faktor-faktor yang rnernpengaruhi independensi akuntan publik rnenurut Mulyadi dan Kannaka Puradiredja (1998:50-52) antara lain:

1. Hubungan keluarga berupa suarniiistri, saudara sedarah sernenda dengan klien;

2. Besar audit fee yang dibayar oleh klien tertentu

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian

yang terkait dengan usaha klien

4. Pernberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

5. Keterlibatan dalarn usaha yang tidak sesuai

6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien tertentu.

Penelitian yang akan dilakukan ini, berdasarkan referensi penelitian yang dilakukan sebelurnnya dilakukan oleh Siauw Ling (01.00.126) pada tahun 2004 dengan judul: " Faktor-Faktor Yang Mernpengaruhi Independensi Akuntan Publik. "(Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Di Bandung).

Perbedaan penelitian yang terdahulu dengan yang akan penulis lakukan sekarang terIetak pada tahun penelitian dan data yang akan diarnbil.

Berdasarkan kerangka pernikiran tersebut penulis rnenarik hipotesis sebagai berikut: "Faktor hubungan keluarga; besar audit fee yang dibayarkan klien; hubungan usaha dan keuangan dengan klien; pemberian fasilitas dan gifts; keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai dan pelaksanaan jasa lain untuk klien audit mempengaruhi independensi akuntan publik."

1.6. Metodologi Penelitian

Metodologi penelitian yang digunakan penulis dalarn penyusunan skripsi ini adalah rnetode deskriptif, yaitu suatu rnetode yang rnernfokuskan penelitian pada rnasalah yang aktual atau rnasalah yang ada pada rnasa kini dengan rnengurnpulkan data yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, rnenyajikan serta rnenganalisis data tersebut untuk rnernperoleh inforrnasi yang diperIukan sehingga dapat ditarik kesirnpulan dan dibuatkan suatu rekornendasi bilarnana dirasa perIu.

6

Teknik pengumpulan data yang dipergunakan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian Lapangan (field research)

Teknik penelitian ini dilaksanakan untuk memperoleh data primer dengan

cara:

a. Kuesioner, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang disebarkan kepada akuntan publik.

b. Observasi, yaitu mengadakan kegiatan pengamatan langsung terhadap objek penelitian untuk lebih memahami kondisi akuntan publik.

2. Penelitian kepustakaan (lt brary research)

Yaitu penelitian yang dilakukan untuk memperoleh data sekunder yang berhubungan dengan masalah yang diteliti dengan cara mempelajari, meneliti, mengkaji serta menelaah literature perpustakaan yang terkait dengan penelitian.

1.7. Lokasi dan Waktu Penelitian

Untuk memperoleh data guna mendukung penulisan skripsi ini, penulis melakukan survei penelitian pada Akuntan Publik yang berada di Bandung. Lama penelitian yang penulis lakukan adalah Desember 2006 hingga Maret 2007.

BABII TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Profesi Akuntan Publik

Sebagai bagian dari profesi akuntan, akuntan publik seringkali dinyatakan merupakan ujung tombak profesi akuntan. Profesi akuntan publik menonjol terutama dari kegiatan audit yang dilakukan oleh akuntan publik yang bertujuan untuk memberikan pendapat terhadap laporan keuangan terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen.

Dalam menilai keuangan suatu laporan keuangan seorang akuntan publik bisa memberikan jaminan bahwa pendapat yang dikeluarkannya dapat dipercaya dan tidak menyesatkan pemakainya. Pemakai laporan keuangan sangat tergantung pada pendapat akuntan publik. Sebelum memberikan kepercayaan kepada laporan keuangan, akuntan publik juga membantu manajemen dalam hal pemyataan pendapat yang digunakan oleh manajemen untuk mendukung pertanggung jawaban seperti yang dilaporkan dalam laporan keuangan.

Akuntan publik adalah suatu profesi yang saat ini dihadapkan pada suatu lingkungan yang benar-benar baru. Kondisi lingkungan ini sudah dan terus berubah, yang mau tidak mau harus dihadapi. Dengan kenyataan ini, profesi akuntan publik akan hidup sesuai dengan seleksi alam yaitu bila profesi ini dapat mengimbangi perubahan keadaan yang sangat drastis, profesi ini akan survive.

Karena begitu pentingnya fungsi akuntan publik, perlu ditempuh berbagai usaha untuk menjaga kredibilitas akuntan publik agar kepercayaan masyarakat terhadap profesi ini tidak berkurang. Standard Profesi Akuntan Publik dan kode etik akuntan yang dikeluarkan IAI merupakan sebagian dari hasil usaha untuk menjaga kredibilitas akuntan publik. Berbagai perkembangan yang terjadi belakangan ini mengakibatkan semakin tinggi profesi akuntan publik ini sehingga perlu dikembangkan menjadi us aha termasuk program pendidikan akuntan untuk meningkatkan citra dan kemampuan profesi akuntan publik.

Menurut IAI (SP AP 2002:2) arti akuntan publik yang professional adalah akuntan publik yang menjunjung tinggi integritas, objektivitas dan independensi.

7

8

Independensi artinya dalam menjalankan tugas kantor akuntan publik hams selalu mempertahankan sikap mental independen di dalarn memberikan jasa profesional sebagaimana diatur dalam SP AP yang dikeluarkan oleh IAI.

Sikap mental independen tersebut hams meliputi independen dalam fakta (in fact) maupun penampilan (in appereance), integritas dan objektivitas. Artinya dalam menjalankan tugasnya, anggota kantor akuntan publik hams mempertahankan integritas dan objektivitas, hams bebas dari benturan kepentingan (conflict of interest) dan tidak boleh membiarkan faktor salah saji materiil (material misstatement) yang diketahuinya atau mengalihkan (mensubordinasikan) perkembangan kepada pihak lain.

2.1.1. Akuntan Publik Sebagai Suatu Profesi

Pengertian profesi akuntan publik menurut Mulyadi (2002: 4):

"Profesi akuntan publik merupakan profesi kepercayaan masyarakat, dari profesi inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan."

Terlepas dari definisi di atas, suatu profesi dikatakan menjadi suatu profesi yang sudah mapan bila memiliki enam ciri yaitu:

1. Memberikan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat

2. Terikat oleh prinsip-prinsip etik dengan tekanannya kepada kebijakan berupa pelayanan, kejujuran, integritas serta pengabdian kepada kesejahteraan yang dilayani

3. Mempunyai persyaratan yang hams dipenuhi untuk dapat menjadi anggota yang diatur dengan undang-undang

4. Mempunyai prosedur dalam menegakkan disiplin anggota yang melanggar kode etik

5. Mempunyai pengetahuan minimal dalam bidang keahlian yang diperoleh melalui pendidikan formal

9

6. Mempunyai bahasa sendiri, dan mengenai hal-hal yang sangat teknis hanya dimengerti oleh mereka yang menjadi anggota

Adapun prinsip-prinsip dasar profesi yaitu:

1. Integritas, dalam arti terus terang, jujur dan bersungguh-sungguh.

2. Independen, dalam arti mampu membebaskan diri dari semua kepentingan yang dapat mengganggu integritas dan objektivitas serta tampak oleh semua pihak anggota profesi mampu membebaskan diri dari dugaan bahwa anggota profesi tidak independen.

3. Objektif, artinya tidak memihak, tidak bias dalam mengemukakan pendapat, tidak berprasangka dan adil bagi semua pihak.

4. Dapat memegang rahasia, akuntan publik dalam melaksanakan tugasnya harus dapat memegang rahasia.

5. Kompeten, dalam arti mampu memenuhi standard tehnis profesi dan terus menjaga tingkat kemampuan selama kader profesinya.

Seperti halnya profesi-profesi yang lain, profesi akuntan publik terikat dengan aturan-aturan (regulasi) yang mengatur setiap anggota profesi dalam menjalankan pekerjaannya. Aturan-aturan pokok yang berkaitan dengan profesi akuntan publik ialah:

1. Undang-Undang No.34 Tahun 1954.

Undang-undang inilah yang mengatur syarat-syarat kecakapan dan kewenangan dari setiap orang yang terjun dalam profesi akuntan publik.

Ada tiga hal yang perlu dicatat dari UU No.34 Tahun 1954 antara lain:

l. Akuntan hams sarjana Fakultas Ekonomi Perguruan Tinggi Negeri atau mempunyai ijazah yang disamakan. Pertimbangan ini berada di tangan Panitia Ahli Pertimbangan Ijazah.

2. Akuntan tersebut hams terdaftar dalam registrasi negara yang

diselenggarakan Departemen Keuangan dan memperoleh IJlll

menggunakan gelar akuntansi dari department tersebut.

3. Menjalankan pekerjaan auditor dengan memakai nama kantor akuntan, biro akuntan atau nama lain yang memuat nama akuntan atau akuntansi

10

hanya dijalankan jika pemimpin kantor atau biro tersebut dipegang oleh seorang atau beberapa orang akuntan.

Disamping akuntan telah menjalankan pendidikan formal sebagai akuntan seperti diatur dalam UU No.34 Tahun 1954 tersebut, standard yang pertama mensyaratkan akuntan publik hams menjalani pelatihan tehnis yang cukup dalam praktik akuntansi dan prosedur audit. Pendidikan formal akuntan publik, pengalaman kerja dan profesinya merupakan hal yang sangat melengkapi. Disamping itu pelatihan tehnis yang cukup mempunyai arti pula bahwa akuntan hams mengikuti perkembangan yang termasuk dalam dunia usaha dan profesinya

Karena dunia usaha selalu mengalami perubahan dan perkembangan, akuntansi yang merupakan penyedia informasi keuangan bagi masyarakat. Dunia bisnis hams selalu mengikuti perkembangan bidang akuntansi agar tetap dapat menyediakan jasa yang bermanfaat bagi kliennya dan lingkungan masyarakat.

Ada beberapa kriteria akuntan publik sebagai suatu profesi, seperti dikemukakan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan No. 43/KMK/017/1997 tentang jasa akuntan publik.yaitu:

1. Akuntan publik adalah akuntan yang memiliki ijin dari Menteri Keuangan untuk menjalankan pekerjaan akuntan publik.

2. Kantor Akuntan Publik adalah lembaga yang memiliki ijin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik untuk menjalankan pekerjaannya, Kantor akuntan publik dapat berbentuk usaha sendiri atau kerjasama.

3. Akuntan publik menjalankan pekerjaan bebas dalam bidang jasa audit umum, audit khusus, ate stasi dan review.

4. Akuntan publik dapat pula menjalankan pekerjaan bebas dalam bidang jasa konsultasi, perpajakan dan jasa-jasa lainnya yang ada hubungannya dengan akuntansi.

5. Untuk memperoleh ijin sebagaimana dimaksud dalam point (1), akuntan yang bersangkutan wajib mengajukan permohonan tertulis kepada Dirjen Lembaga Keuangan Up. Direktur

11

Pembinaan Akuntan dan jasa penilaian dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Berdomisili di wilayah Indonesia.

b. Memiliki register akuntan.

c. Menjadi anggota IAI.

d. Lulus ujian sertifikasi akuntan publik yang diselenggarakan oleh IAI.

e. Telah memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun sebagai akuntan dan pengalaman audit umum sekurang-kurangnya 3000 jam dengan reputasi baik.

f. Menduduki jabatan manajemen atau ketua tim dalam audit umum sekurang-kurangnya 1 tahun.

g. Wajib mempunyai Kantor Akuntan Publik.

2. Standard Akuntansi Keuangan (SAK)

Standard Akuntansi Keuangan (SAK) merupakan pengumuman atau ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (sebagai badan yang berwenang) mengenai konsep, standard, dan metode yang dinyatakan sebagai pedoman utama dalam praktik akuntansi perusahaan atau unit-unit organisasi lainnya yang dilingkungan Republik Indonesia sepanjang ketentuan tersebut relevan dengan keadaan perusahaan atau unit usaha bersangkutan. Standard Akuntansi Keuangan dilengkapi dengan Pernyataan Standard Akuntansi Keuangan (PSAK) dan interpretasi Perntyataan Standard Akuntansi Keuangan (IPSAK).

3. Standard Profesional Akuntan Publik

Merupakan kodifikasi berbagai standard bagi akuntan public dalam menyediakan berbagai jenis jasa profesionalnya kepada masyarakat. SP AP disusun oleh Dewan Standard Profesional Akuntan Publik Ikatan Akuntan Indonesia.

12

Terdapat lima macam standard professional yang terdapat dalam SPAP yaitu:

1. Standard Auditing

2. Standard Atestasi

3. Standard Jasa Akuntansi dan review

4. Standard Jasa Konsultasi

5. Standard Pengendalian Mutu

4. Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia

Sebagai suatu profesi Akuntansi sangat membutuhkan aturan etika professional. Di Indonesia Aturan Etika Profesional ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia sebagai organisasi yang mewadahi para akuntan di Indonesia. Aturan Etika Profesional Akuntansi disebut Kode Etik Akuntan Indonesia.

2.1.2. Timbul dan Berkembangnya Profesi Akuntan Publik

Profesi akuntan publik dikenal oleh masyarakat dari jasa audit yang disediakan bagi pemakai inforrnasi keuangan. Timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik di suatu negara adalah sejalan dengan berkembangnya perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan di negara tersebut.

Pihak-pihak diluar perusahaan memerlukan informasi mengenai perusahaan untuk pengambilan keputusan tentang hubungan mereka dengan perusahaan. Umumnya mereka mendasarkan keputusan mereka berdasarkan inforrnasi yang disajikan oleh manajemen dalam laporan keuangan perusahaan. Dengan demikian, terdapat dua kepentingan yang berlawanan dalarn situasi seperti yang diuraikan di atas. Disatu pihak, manajemen perusahaan ingin menyampaikan inforrnasi mengenai pertanggungjawaban pengelolaan dana yang berasal dari pihak luar; dipihak lain, pihak luar perusahaan ingin memperoleh inforrnasi yang andal dari manajemen perusahaan mengenai pertanggungjawaban dana yang mereka investasikan. Adanya dua kepentingan yang berlawanan inilah yang menyebabkan timbul dan berkembangnya profesi akuntan publik.

13

Manajemen perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga agar pertanggungjawaban keuangan yang disajikan kepada pihak luar dapat dipercaya, sedangkan pihak luar perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga untuk memperoleh keyakinan bahwa laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen perusahaan dapat dipercaya sebagai dasar keputusan-keputusan yang diambil oleh mereka. Baik manajemen perusahaan maupun pihak luar perusahaan yang berkepentingan terhadap perusahaan memerlukan jasa pihak ketiga yang dapat dipercaya. Tanpa menggunakan jasa auditor independen, manajemen perusahaan tidak akan dapat meyakinkan pihak luar perusahaan bahwa laporan keuangan yang disaj ikan berisi informasi yang dapat dipercaya, karena dari sudut pandang pihak luar, manajemen perusahaan mempunyai kepentingan, baik kepentingan keuangan maupun kepentingan yang lainnya.

Profesi ini merupakan profesi kepercayaan masyarakat. Dari profesi akuntan publik inilah masyarakat mengharapkan penilaian yang bebas tidak memihak terhadap informasi yang disajikan oleh manajemen perusahaan dalam laporan keuangan.

Perkembangan profesi akuntan publik pemah mendapat dorongan dari pemerintah dalam tahun 1979 sampai dengan 1983, dengan dikeluarkannya Keputusan Menteri Keuangan Nomor 108/KMK 0711979 tentang Penggunaan Laporan Pemeriksaan Akuntan Publik untuk memperoleh keringanan dalam Pajak perseroan. Dalam peraturan ini, instansi pajak menetapkan pajak pendapatan atau pajak perseroan atas dasar laporan keuangan yang telah diaudit oleh akuntan publik. Keputusan Menteri Keuangan tersebut menjadi tidak berlaku pada awal tahun 1984, dengan berlakunya Undang-Undang Pajak Penghasilan 1984. Pada awal tahun 1992, kembali profesi akuntan publik diberi kepercayaan dari pemerintah (dalam hal ini Direktorat lendral Pajak) untuk melakukan verifikasi pembayaran pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPn BM) yang dilakukan oleh para pengusaha kena pajak (PKP).

14

Perkembangan pasar modal Indonesia diwamai dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual sahamnya di pasar modal. Perkembangan pasar modal Indonesia merupakan pendorong berkembangnya profesi akuntan publik Indonesia.

2.1.3. Pengertian Akuntan Publik

Akuntan publik adalah profesi yang mempunyai posisi unik. Pada satu sisi mendapat honor dari klien, tetapi dalam menjalankan praktik publik (public practice) ia harus dapat bersifat independen, yaitu tidak memihak pada salah satu pihak, baik klien maupun pihak lainnya.

Kode etik Akuntan Indonesia dalam pembukaanya mendefinisikan akuntan publik sebagai berikut:

"Akuntan adalah profesi yang terdiri dari landasan kepercayan masyarakat. Dengan demikian, dalam melaksanakan tugasnya akuntan hams mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia

usaha."

Keputusan Menteri Keuangan RI No. 423/KMK 06/2002, mendefinisikan akuntan publik sebagai berikut:

"Akuntan publik adalah akuntan yang telah memperoleh ijin Menteri untuk memberikan jasa sebagaimana diatur didalam Keputusan Menteri

Keuangan."

Arens (2003: 17) memberikan definisi tentang akuntan publik sebagai berikut:

"CPA (Certified Public Accountant): A person who has met state regulatory requirements including passing the uniform CPA exam and has thus been certified. CPA may have as his or her primary responsibility the performance of the audit function on published historicalfinancial statement of commercial and non commercial financial entities. "

15

Mulyadi dan Puradiredja (2002: 52) memberikan perbedaan definisi antara pengertian akuntan publik dengan pengertian auditor independen sebagai berikut:

"Akuntan publik adalah akuntan yang berpraktik dalam kantor akuntan publik yang menyediakan jasa yang diatur dalam Standard Profesi Akuntan Publik (auditing, atestasi, review dan jasa akuntansi lainnya)."

Adapun auditor independen didefinisikan oleh Mulyadi dan Puradiredja (2002: 52) sebagai berikut:

"Auditor independen adalah akuntan publik yang melaksanakan penyusunan audit atas laporan keuangan historis yang menyediakan jasa audit atas dasar standard auditing yang tercantum dalam Standard Profesi Akuntan Publik."

Berdasarkan definisi -definisi di atas dapat disimpulkan bahwa akuntan yang memperoleh ijin dari Menteri Keuangan dan merupakan profesi yang berdiri atas landasan kepercayaan masyarakat yang dibayar oleh klien, tetapi dalam melaksanakan praktiknya hams profesional dan bertanggung jawab serta harus mengutamakan kepentingan masyarakat, pemerintah dan dunia usaha.

2.2. Definisi Auditing

Definisi audit yang dikemukakan Arens, Elder and Beasley (2003: 11)

yaitu:

"Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent and independent person. "

Dari definisi audit di atas meliputi beberapa konsep penting yang memiliki pengertian sebagai berikut:

1. Informasi dan kriteria yang ditetapkan

2. Pengumpulan dan evaluasi bukti

16

3. Orang yang kompeten dan independen

4. Pelaporan

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Informasi dan kriteria yang ditetapkan

Dalam pelaksanaan audit terkandung informasi-informasi yang berupa buktibukti (verifiable form) dan berupa standard (criteria). Melalui kedua hal tersebut auditor dapat mengevaluasi informasi kuantitatif, termasuk laporan keuangan perusahaan dan laporan pajak penghasilan individu. Kriteria untuk mengevaluasi informasi tersebut bervariasi tergantung pada informasi yang akan diaudit.

2. Pengumpulan dan evaluasi bukti-bukti

Bukti-bukti adalah informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang sedang diaudit sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bukti-bukti dapat berupa pemyataan lisan pada auditan (klien), komunikasi tertulis dari pihak luas dan hasil pengamatan yang dilakukan auditor.

3. Orang yang kompeten dan independen

Kompeten adalah mampu mematuhi standard teknis profesi serta memiliki kemampuan profesi yaitu dengan memiliki pengetahuan (pengetahuan umum, pengetahuan organisasi dan bisnis, dan pengetahuan dibidang akuntansi), kemampuan (skill) dan profesionalisme.

Independen adalah mampu membebaskan diri dari semua kepentingan yang dapat menganggu integritas dan objektivitas.

Auditor hams dapat memahami kriteria yang digunakan dan hams kompeten dalam mengetahui tipe-tipe dan jumlah bukti yang harus dikumpulkan untuk menghasilkan kesimpulan yang tepat setelah bukti-bukti tersebut diperiksa. Auditor juga hams memiliki sikap mental yang independen (independent mental attitude) jika pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti dilakukan secara berat sebelah, maka pelaksanaan audit dikatakan tidak memadai.

Auditor yang melakukan audit atas laporan keuangan perusahaan disebut dengan auditor independen (independent auditor). Walaupun auditor independen dibayar oleh perusahaan yang mengauditnya (auditan atau klien), auditor dapat melakukan

17

audit secara independen dan kornpeten sehingga hasil auditnya dapat dipercaya oleh para pernakai laporan keuangan.

40 Pelaporan

Tahap terakhir dalarn proses auditing adalah penyiapan laporan audit (audit report) yang rnerupakan kornunikasi antara ternuan auditor kepada pernakai yang berkepentingan.

Mulyadi (2002: 9) rnendefinisikan auditing sebagai berikut:

" Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektifmengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan terse but dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan."

Dari definisi auditing secara urnurn tersebut rnerniliki unsur-unsur penting yang diuraikan sebagai berikut:

10 Suatu proses sistematik

Auditing rnerupakan suatu proses sisternatik, yaitu berupa suatu rangkaian langkah atau prosedur yang logis, bererangka dan berorganisasi. Auditing dilaksanakan dengan suatu urutan langkah yang direncanakan, terorganisasi dan bertujuan.

20 Untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif

Proses sisternatik tersebut ditujukan untuk rnernperoleh bukti yang rnendasari pemyataan yang dibuat oleh individu atau badan usaha, serta untuk rnengevaluasi tanpa rnernihak atau berprasangka terhadap buktibukti tersebut.

Dalarn auditnya, auditor tersebut rnelakukan proses sisternatik untuk rnernperoleh bukti-bukti yang rnenjadi dasar pemyataan yang disajikan oleh badan usaha tersebut dalarn laporan keuangannya, dan rnengevaluasinya secara objektif, tidak rnernihak, baik kepada pernberi kerja (rnanajernen) rnaupun kepada pihak ketiga (pernakai hasil audit).

18

3. Pernyataan mengenai kegiatan atau kejadian ekonomi

Pemyataan mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi disini adalah hasil proses akuntansi. Akuntansi merupakan proses pengidentifikasian, pengukuran dan penyampaian informasi ekonomi yang dinyatakan dalam satuan uang. Proses akuntansi ini menghasilkan suatu pemyataan yang disajikan dalam laporan keuangan, yang umunya terdiri dari empat laporan keuangan pokok: neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas. Laporan keuangan dapat pula berupa laporan biaya pusat pertanggungjawaban tertentu dalam perusahaan.

4. Menetapkan tingkat kesesuaian

Pengumpulan bukti mengenai pemyataan dan evaluasi terhadap hasil pengumpulan bukti tersebut dimaksudkan untuk menetapkan kesesuaian pemyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan. Tingkat kesesuaian antara pemyatan tersebut dengan kriteria tersebut kemungkinan dapat dikuantifikasikan, kemungkinan pula bersifat kualitatif.

5. Kriteria yang ditetapkan

Kriteria atau standard yang dipakai sebagai dasar untuk menilai pemyataan (yang berupa hasil proses akuntansi) dapat berupa:

a. Peraturan yang ditetapkan oleh suatu badan legislatif

b. Anggaran atau ukuran prestasi lain yang ditetapkan oleh manajemen

c. Prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia (Generally Accepted Accounting Principle).

6. Penyampaian hasil

Penyampaian hasil auditing disebut atestasi. Penyampaian hasil mi dilakukan secara tertulis dalam bentuk laporan audit (audit report). Atestasi dalam bentuk laporan ini dapat menaikkan atau menurunkan tingkat kepercayaan pemakai informasi keuangan atas asersi yang dibuat oleh pihak yang diaudit.

19

7. Pemakai yang berkepentingan

Pemakai yang berkepentingan terhadap laporan audit adalah para pemakai informasi keuangan seperti: pemegang saham, manajemen, kreditur, calon investor dan kreditur, organisasi buruh dan Kantor Pelayanan Pajak.

Auditing menurut Strawser and Strawser (2002: 1-2) auditing adalah:

" A systematic process of objectively obtaining ang evaluating evidence regarding assertions about economics actions and events to assertion the degree of correspondence between those assertions and established criteria and communicating the results to interested user".

Dapat disimpulkan bahwa auditing adalah:

1. Proses yang sistematik yang terdiri dari serangkaian langkah atau prosedur

2. Dilakukan oleh pihak yang independen dan kompeten

3. Auditing adalah proses membandingkan bukti dengan kriteria yang telah ditetapkan dengan cara mengumpulkan dan mengevaluasi secara objektif bukti-bukti yang ada untuk melihat tingkat kesesuaian informasi terukur dan kriteria yang telah ditetapkan.

2.2.1. Perbedaan Auditing dan Akuntansi

Banyak laporan keuangan dan anggota masyarakat yang menganggap bahwa auditing merupakan suatu cabang atau sub divisi akuntansi. Hal tersebut karena auditing biasanya diajarkan sebagai mata kuliah akuntansi, dan banyak auditor memiliki keahlian di bidang akuntansi.

Menurut Arens dkk (2003:13) akuntansi berfungsi untuk menyediakan beberapa tipe informasi kuantitatif yang dapat digunakan oleh manajemen dan pihak lain untuk pengambilan keputusan. Untuk menyediakan informasi yang relevan, para akuntan harus memiliki pemahaman mengenai prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang menjadi dasar untuk menyiapkan informasi akuntansi. Selain itu, para akuntan juga harus mengembangkan suatu sistem untuk meyakinkan

20

bahwa kejadian ekonorni suatu entitas telah dicatat secara tepat dan dalarn jurnlah yang waJar.

Dalarn auditing data akuntansi, perhatiannya adalah rnenentukan apakah inforrnasi yang telah dicatat sudah rnenggarnbarkan kejadian ekonorni yang rnuncul selarna peri ode akuntansi. Karena peraturan akuntansi adalah kriteria untuk rnengevaluasi apakah inforrnasi akuntansi telah dicatat dengan tepat, para auditor yang terlibat dengan data ini hams rnernaharni peraturan tersebut. Dalarn konteks audit atas laporan keuangan, peraturannya adalah Prinsip-Prinsip Akuntansi Berlaku Urnurn. Disarnping rnengerti akuntansi, auditor hams rnerniliki keahlian dalarn pengurnpulan dan interpretasi bukti-bukti audit. Keahlian ini yang rnernbedakan auditor dari akuntan. Masalah bagi auditor adalah rnenentukan prosedur audit yang tepat, rnernutuskan nornor dan tipe pos-pos yang diuji dan rnengevaluasi hasilnya.

Jadi dapat disirnpulkan bahwa akuntansi adalah proses yang rnenghasilkan inforrnasi dalarn bentuk laporan keuangan dan data lainnya. Auditing adalah proses rnengevaluasi inforrnasi-inforrnasi ini dan rnenghasilkan kesirnpulan atas inforrnasi tersebut berdasarkan kriteria yang digunakan untuk rnengevaluasinya.

2.2.2. Kebutuhan Terhadap Audit Laporan Keuangan

F ASB dalarn pemyataan Financial Accounting Concept No.2 seperti dikutip oleh Boyton, Johnson and Kell (2001: 46), rnenyatakan bahwa suatu inforrnasi keuangan berguna bagi pengarnbilan keputusan apabila rnernpunyai dua sifat utarna yaitu relevansi dan reliabilitas.

Boy ton, Johnson and Kell (2001: 46-47), ada ernpat kondisi yang

rnenyebabkan dibutuhkannya audit laporan keuangan, yaitu:

1. Conflict of interest

2. Consequence

3. Complexity

4. Remoteness

21

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Perbedaan kepentingan (conflict of interest)

Perbedaan kepentingan dapat terjadi antara pihak pemakai laporan keuangan dengan pihak yang menyajikan data atau antara pihak pemakai laporan itu sendiri. Perbedaan ini menyebabkan pihak pemakai laporan keuangan mencari pihak luar yang independen akan memberikan pertimbangan yang sarna bagi setiap kelompok yang mempunym kepentingan terhadap laporan keuangan.

2. Konsekuensi (consequence)

Laporan keuangan merupakan informasi yang sangat penting bagi pemakai laporan keuangan (kreditur, investor dan pembuatan keputusan ekonomi lainnya). Mereka menginginkan pengungkapan (disclosure) yang memadai. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan akuntan publik untuk memastikan bahawa laporan keuangan yang disusun sesuai dengan PABU, dan berisi pengungkapan yang diperlukan bagi para pemakai yang berpengetahuan dan mengerti tentang laporan keuangan.

3. Kompleksitas (complexity)

Transaksi-transaksi yang semakin kompleks dalam perusahaan menyebabkan bertambah besamya resiko salah interpretasi dan kesalahankesalahan yang tidak disengaj a. Para pemakai laporan keuangan semakin sulit mengevaluasi kualitas laporan keuangan sehingga membutuhkan auditor independen untuk menJamm secara memadai kualitas dari informasi terse but. Yang kompleks adalah cara penyusunan atau penyiapan laporan keuangan dan akuntansinya.

4. Jarak yang jauh (remoteness)

Para pemakai laporan keuangan yang Jarang sekali dapat menjangkau catatan-catatan akuntansi perusahaan yang menyajikan laporan keuangan yang bersangkutan. Karena jarak yang j auh terse but menghalangi pemakai untuk mengukur kualitas laporan keuangan, sehingga para pemakai laporan keuangan dihadapkan pada dua pilihan yaitu:

22

1. Para pemakai laporan keuangan menenma informasi terse but dengan keyakinan bahwa laporan keuangan tersebut berkualitas.

2. Para pemakai laporan keuangan mengandalkan diri pada pemeriksa pihak ketiga untuk meyakinkan mereka tentang kualitas dari informasi yang dapat diterima.

2.3. Penman Auditing

Guy dkk (2002: 3) kebutuhan akan audit diakibatkan oleh empat faktor

yang mendasarinya, yaitu:

1. Kompleksitas

2. Jarak

3. Bias dan motif penyaji

4. Konsekuensi

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Kompleksitas

Volume aktivitas ekonomi dalam dunia bisnis dan entitas lainnya bersamaan dengan kompleksitas pertukaran ekonomi tersebut, seringkali mempersulit pengambilan keputusan yang berkaitan dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapannya membutuhkan j asa akuntan professional.

2. Jarak

Dalam lingkungan saat ini, pengambilan keputusan biasanya terpisah dari organisasi. Jarak dapat meningkatkan salah saji, baik yang disengaja maupun tidak disengaja, sehingga meningkatkan permintaan akan pihak independen untuk memeriksa catatan keuangan.

3. Bias dan motif penyaji

Apabila informasi keuangan disajikan dari sumber yang kurang independen, maka pengguna informasi keuangan ungkin menyangsikan bias dan motif penyaji. Penyaji informasi keuangan mungkin menghadapi pertentangan kepentingan (conflict of interest)

23

baik disengaja rnaupun tidak disengaja dengan pengguna infonnasi keuangan terse but. Bias dan potensi pertentangan dapat rnenciptakan kebutuhan akan pihak independen untuk rnenigkatkan kredibilitas infonnasi keuangan entitas dengan rnengaudit laporan keuangan. Jadi independent seorang auditor rnerupakan suatu keharusan bagi para pengguna untuk rnernpercayai bahwa audit adalah berbobot dan bemilai.

4. Konsekuensi

Salah satu karakteristik dari rnasyarakat kita adalah partisipasi investor, perusahaan dan entitas lain yangrneluas dan rnendalarn dari pasar. Dalarn lingkungan ekonorni saat ini, keputusan ekonorni seringkali rnelibatkan pengeluaran yang sangat besar dan rnernpengaruhi banyak orang. Keputusan penting ini rnernbutuhkan infonnasi keuangan yang relevan dan handal.

2.4. Tipe- Tipe Audit

Mulyadi (2002: 30-32) tipe-tipe audit terdiri dari:

1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit) 3. Audit Operasional (Operational Audit)

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit)

Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor independen terhadap laporan keuangan yang disajikan oleh kliennya untuk rnenyatakan pendapat rnengenai kewajaran laporan keuangan tersebut. Dalarn audit laporan keuangan ini, auditor independen rnenilai kewajaran laporan keuangan atas dasar kesesuaiannya dengan Prinsip-Prinsip Akuntansi Berterirna Urnurn. Hasil auditing terhadap laporan keuangan tersebut disajikan dalarn bentuk tertulis berupa laporan audit. Laporan audit ini dibagikan kepada kepada para

24

pemakai infonnasi keuangan seperti pemegang saham, kreditur dan Kantor Pelayanan Pajak.

2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)

Audit kepatuhan adalah audit yang tujuannya untuk menentukan apakah yang diaudit sesuai dengan kondisi atau peraturan tertentu. Hasil audit kepatuhan umumnya dilaporkan kepada pihak yang berwenang membuat kriteria. Audit kepatuhan banyak dijumpai dalam pemerintahan.

3. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional merupakan review secara sistematik kegiatan organisasi, atau bagian daripadanya, dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Tujuan audit operasional adalah untuk:

l. Mengevaluasi kinerja

2. Mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan

3. Membuat rekomendasi untuk perbaikan atau tidakan lebih

lanjut

Pihak yang memerlukan audit operasional adalah manajemen atau pihak ketiga. Hasil audit operasional diserahkan kepada pihak yang meminta dilaksanakannya audit tersebut.

2.5. Tipe- Tipe Auditor

Mulyadi (2002: 28-29) tipe-tipe auditor terdiri dari:

1. Auditor Independen

2. Auditor Pemerintah

3. Auditor intern

Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Auditor Independen

Auditor independen disebut juga auditor ekstemal.

Auditor independen adalah auditor professional yang menyediakan jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang audit atas

25

laporan keuangan yang dibuat oleh kliennya. Audit tersebut terutarna ditujukan untuk rnernenuhi kebutuhan para parnakai inforrnasi keuangan seperti: kreditur, investor, calon kreditur, calon investor dan instansi pernerintah (terutarna instansi pajak).

Dalarn rnenjalankan profesinya auditor haruslah independen tidak rnernihak kepada klien yang rnernbayar j asanya.

2. Auditor Pemerintah

Auditor pernerintah adalah auditor professional yang bekerja di instansi pernerintah yang tugas pokoknya rnelakukan audit atas pertanggungjawaban keuangan yang disajikan oleh unit-unit organisasi atau entitas pernerintahan atau pertanggungjawaban keuangan yang ditujukan kepada pernerintah. Meskipun terdapat banyak auditor yang bekerja di instansi pernerintah, narnun urnunya yang disebut auditor pernerintah adalah auditor yang bekerja di Badan Pengawasan Keuangan dan Pernbangunan (BPKP) dan Badn Perneriksaan Keuangan (BPK), serta instansi pajak.

3. Auditor intern

Auditor intern adalah auditor yang bekerja dalarn perusahaan (perusahaan negara rnaupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah rnenentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh rnanajernen puncak telah dipatuhi, rnenetukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, rnenentukan efisiensi dan efektivitas prosedur kegiatan organisasi, serta rnenentukan keandalan inforrnasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi.

2.6. Prosedur Audit

Pengertian prosedur audit rnenurut Mulyadi (2002: 87-88) adalah instruksi rinci untuk rnengurnpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalarn audit.

26

Prosedur audit yang biasa dilakukan auditor rneliputi:

1. Inspeksi.

2. Pengamatan (observation).

3. Konfinnasi

4. Pennintaan keterangan (enquiry)

5. Penelusuran (tracing).

6. Pemeriksaan bukti pendukung (vouching).

7. Perhitungan (counting).

8. Scanning.

9. Pelaksanaan ulang (reperforming).

10. Tehnik audit berbantuan komputer (computer-assisted audit techniques).

Dari uraian di atas rnaka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Inspeksi

Inspeksi rnerupakan perneriksaan secara rinci terhadap dokurnen atau kondisi fisik sesuatu. Prosedur audit ini banyak dilakukan oleh auditor. Dengan rnelakukan inspeksi terhadap sebuah dokurnen, auditor akan dapat rnenentukan keaslian dokurnen tersebut.

2. Pengamatan (observation)

Pengarnatan atau observasi rnerupakan prosedur audit yang digunakan oleh auditor untuk rnelihat atau rnenyaksikan suatu kegiatan. Dengan pengarnatan ini auditor akan dapat rnernperoleh bukti secara visual rnengenai pelaksanaan suatu kegiatan. Objek yang diarnati auditor adalah karyawan, prosedur dan proses.

3. Konfinnasi

Konfirrnasi rnerupakan bentuk penyelidikan yang rnernungkinkan auditor rnernperoleh inforrnasi secara langsung dari pihak ketiga yang bebas. Prosedur yang biasa diternpuh oleh auditor dalarn konfirrnasi ini adalah sebagai berikut:

27

1. Auditor meminta dari klien untuk menanyakan informasi tertentu kepada pihak luar.

2. Klien meminta kepada pihak luar yang ditunjuk auditor untuk memberikanjawaban langsung kepada auditor mengenai informasi yang ditanyakan oleh auditor tersebut.

3. Auditor menerima jawaban langsung dari pihak ketiga tersebut.

4. Pennintaan keterangan (enquiry)

Permintaan keterangan merupakan prosedur audit yang dilakukan dengan meminta keterangan secara lisan. Bukti audit yang dihasilkan dari prosedur ini adalah bukti lisan dan bukti dokumenter.

5. Penulusuran (tracing)

Auditor melakukan penelusuran informasi sejak mula-mula data tersebut direkam pertama kali dalam dokumen, dilanjutkan dengan pelacakan pengolahan data tersebut dalam proses akuntansi. Prosedur ini terutama diterapkan terhadap bukti dokumenter.

6. Pemeriksaan dokumen pendukung (vouching)

Pemeriksaan dokumen pendukung merupakan prosedur audit yang meliputi:

1. Inspeksi terhadap dokumen-dokumen yang mendukung suatu transaksi atau data keuangan untuk menentukan kewajaran dan kebenarannya.

2. Pembanding dokumen tersebut dengan catatan akuntansi yang berkaitan.

7. Perhitungan (counting) Prosedur audit ini meliputi:

1. Penghitungan fisik terhadap sumber daya berwujud seperti kas atau sediaan ditangan.

2. Pertan

3. Pertanggungjawaban semua formulir bemomor urut tercetak.

28

8. Scanning

Scanning merupakan review secara tepat terhadap dokumen, catatan dan daftar untuk mendeteksi unsur-unsur yang tampak tidak biasa yang memerlukan penyelidikan lebih mendalam.

9. Pelaksanaan ulang (reperforming)

Prosedur ini merupakan pengulangan aktivitas yang dilaksanakan oleh klien. Umumnya pelaksanaan ulang diterapkan pada penghitungan dan rekonsiliasi yang telah dilakukan oleh klien.

10. Teknik berbantuan komputer (computer assisted audit techniques) Bilamana catatan akuntansi klien diselenggarakan dalam media elektronik, auditor perlu menggunakan computer assisted audit techniques dalam menggunakan berbagai prosedur audit diatas.

2.7. Jasa Yang Diberikan oleh Kantor Akuntan Publik

Profesi akuntan publik menghasilkan berbagai macam Jasa bagi masyarakat, yang dapat digolongkan ke dalam kedua kelompok yaitu:

1. Jasa assurance (jasa atestasi)

2. Jasa nonassurance

Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Jasa Assurance

Jasa assurance adalah Jasa professional independen yang meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan. Jasa assurance ini dikenal denganjasa audit.

Tipe dari jasa assurance adalah j asa atestasi. Jasa atestasi adalah suatu pemyataan pendapat atau pertimbangan orang yang independen dan kompeten tentang apakah asersi suatu entitas sesuai.

Asersi adalah pemyataan yang dibuat oleh suatu pihak yang secara implisit dimaksudkan untuk digunakan oleh pihak lain (pihak ketiga). Untuk laporan keuangan historis, asersi merupakan pemyataan manajemen bahwa laporan keuangan sesuai dengan P ABU.

29

Jasa atestasi profesi akuntan publik dapat dibagi lebih lanjut menjadi empat jenis:

1. Audit

2. Pemeriksaan (examination)

3. Review

4. Prosedur yang disepakati (agreed-upon procedures)

Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. Audit

Jasa audit mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Akuntan publik yang memberikan jasa audit disebut dengan istilah auditor. Atas dasar audit yang dilaksanakan terhadap laporan keuangan histories suatu entitas, auditor menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan Prinsip-prinsip Akuntansi yang Belaku umum.

2. Pemeriksaan

Pemeriksaan adalah berupa pemyataan suatu pendapat atas kesesuaian asersi yang dibuat oleh pihak lain dengan kriteria yang telah ditetapkan.

3. Review

Jasa review berupa permintaan keterangan atau prosedur analitik terhadap informasi keuangan suatu entitas dengan tujuan untuk memberikan keyakinan negatif atas asersi yang terkandung dalam informasi keuangan tersebut.

Keyakinan negatif lebih rendah tingkatnya dibandingkan dengan keyakinan positif yang diberikan oleh akuntan publik dalam jasa audit dan jasa pemeriksaan, karena lingkup prosedur yang

30

digunakan oleh akuntan publik dalarn pengurnpulan bukti lebih sernpit dalarn jasa review bandingkan dengan yang digunakan dalarn jasa audit dan jasa perneriksaaan.

Dalarn rnenghasilkan jasa audit dan perneriksaan, akuntan publik rnelaksanakan berbagai prosedur berikut ini: inspeksi, observasi, konfirrnasi, perrnintaan keterangan, pengusutan, perneriksaan bukti pendukung, pelaksanaan ulang dan analisis. Dengan hanya dua prosedur (perrnintaan keterangan dan prosedur analitik) yang dilakukan dalarn jasa review, akuntan publik rnernberikan keyakinan negatif atas asersi yang dibuat rnanajernen, sehingga tingkat keyakinan yang diberikan oleh akuntan dalarn laporan hasil review lebih rendah dibandingkan dengan tingkat yang diberikan dalarn jasa audit dan perneriksaan.

4. Prosedur yang disepakati

Jasa ate stas i atas asersi rnanajernen dapat dilaksanakan oleh akuntan publik berdasarkan prosedur yang disepakati antara klien dengan akuntan publik. Lingkup pekerjaan yang dilaksanakan oleh akuntan publik dalarn rnenghasilkan jasa ate stasi dengan prosedur yang disepakati lebih sernpit dibandingkan dengan audit dan perneriksaan.

Untuk tipe jasa ini, akuntan publik dapat rnenerbitkan suatu "ringkasan ternuan" atau suatu keyakinan negatif seperti yang dihasilkan dalarn jasa review.

2. Jasa nonassurance

Jasa nonassurance adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang didalarnnya ia tidak rnernberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan ternuan atau bentuk lainnya keyakinan.

Jenis jasa nonasurance yang dihasilkan akuntan publik adalah:

31

1. Jasa kompilasi

Kantor Akuntan Publik juga menawarkan Jasa akuntansi dan pembukuan kepada para kliennya. Dalam situasi ini, Kantor Akuntan Publik dapat melaksanakan berbagai tugas, dari pencatatan transaksi ke dalam jumal dan membuat posting ke buku besar sampai membuat draft laporan keuangan dari buku besar klienyang sudah disiapkan. Pada saat melaksanakan jasa lainnya ini, Kantor Akuntan Publik mengeluarkan laporan kompilasi. Dalam laporan kompilasi Kantor Akuntan Publik tidak memberikan keyakinan atas kewajaran laporan keuangan apakah sesuai dengan PABU.

2. Jasa perpajakan

Jasa perpajakan merupakan komponen penting dari keseluruhan jasa yang diberikan Kantor Akuntan Publik dan merupakan jasa utama yang ditawarkan oleh beberapa Kantor Akuntan Publik. Kantor Akuntan Publik melaksanakan tugas perpajakan dalam dua kategori umum: ketaatan pelaksanaan dan perencanaan pajak.

3. Jasa konsultasi.

Jasa konsultasi disebut juga penasihat manajemen atau jasa administratif yang diberikan kepada klien audit atau klien perpajakan yang ada atau kepada klien khusus yang menerimajasa konsultasi tersebut. Jasa konsultasi termasuk analisis system komputer, instalasi proses penganggaran, sistem informasi akuntansi, sistem manajemen just in time dan persediaan dan lainnya.

32

2.8. Independensi Akuntan Publik

Selain dituntut memiliki kompetensi yang memadai, auditor juga dituntut untuk senantiasa mempertahankan sikap mental independen. Artinya, auditor harus senantiasa membebaskan diri dari pengaruh atau kepentingan pihakpihak tertentu baik dalam pelaksanaan auditing maupun dalam pelaporan temuantemuan serta dalam pemberian pendapat.

Selain seorang auditor berkewajiban senantiasa mempertahankan sikap independensinya (independence in fact), mereka juga berkewajiban pula untuk menghindari keadaan-keadaan yang mengakibatkan auditor tampak tidak independent sehingga masyarakat meragukan independensinya (independence in appearance). Bila independence in fact dan independence in appearance dapat dipertahankan, masyarakat akan berpersepsi bahwa auditor telah benar-benar independen.

Penetapan independensi akuntan publik ditetapkan oleh IAI pertama kali dalam kongresnya tahun 1973, yang kemudian mengalami beberapa perubahan. Ada beberapa kondisi di Indonesia yang menyebabkan terjadinya perubahan tersebut antara lain karena pemerintah belum mengatur adanya kewajiban audit yang berlaku umum untuk us aha swasta di Indonesia.

2.8.1 Pengertian Independensi Akuntan Publik

Independensi berarti sikap mental yang bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada pihak lain. Independensi juga berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan adanya pertimbangan yang objektif, tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya.

Arens (2003: 83) mendefinisikan independensi sebagai berikut:

"A member in public practice shall be independendence in the performance a professional service as require by standards promulgated by bodies designated by a council"

33

Mulyadi (2002: 26) mendefinisikan sebagai berikut:

"Keadaan bebas dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang lain. Akuntan publik yang independent haruslah akuntan publik yang tidak terpengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan."

Dewan Standard Profesi Akuntan Publik (SPAP) IAI melalui SPAP (2001: 220.1) menyatakan bahwa :

"Standard ini mengharuskan auditor bersikap independen, artinya tidak mudah dip en garuhi, karena ia melaksanakan pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan didalam hal ia berpraktik sebagai auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada kepentingan siapapun sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis yang ia miliki, ia akan kehilangan sikap tidak memihak, yang justru sangat penting untuk mempertahankan kebebasan pendapatnya."

Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur yang tercakup dalam independensi adalah sebagai berikut:

l. Suatu sikap mental yang terdapat pada akuntan publik yang jujur, tidak memihak pada suatu kepentingan tertentu dengan keahlian mengenai objek yang diperiksanya, yang memungkinkan ia bersikap jujur dan ia memihak.

2. Suatu tindakan yang bebas dari pengaruh, bujukan, pengendalian pihak lain dalam melakukan perencanaan, pemeriksaan dan pelaporannya.

2.8.2 Pentingnya Independensi Akuntan Publik

Auditor mengakui kewajiban untuk jujur tidak hanya kepada manajemen dan pemilik perusahaan, namun juga kepada kreditur dan pihak lain yang meletakkan kepercayaan atas laporan auditor independen, seperti caloncalon pemilik dan kreditur.

Kepercayaan masyarakat umum atas independensi sikap auditor sangat penting bagi perkembangan profesi akuntan publik. Kepercayaan masyarakat akan menurun jika terdapat bukti bahwa sikap independensi auditor

34

temyata berkurang. Untuk diakui oleh pihak lain sebagai orang yang independen, ia harus bebas dari setiap kewajiban terhadap kliennya dan tidak mempunyai suatu kepentingan dengan kliennya, apakah itu manajemen perusahaan atau pemilik perusahaan. Sebagai contoh, seorang auditor yang mengaudit perusahaan dan ia juga menjabat sebagai direktur perusahaan terse but, meskipun ia telah melakukan keahliannya dengan jujur, namun sulit untuk mengharapkan masyarakat mempercayainya sebagai orang yang independen. Masyarakat akan menduga bahwa kesimpulan dan langkah yang diambil oleh auditor independen selama auditnya dipengaruhi oleh kedudukannya sebagai anggota direksi. Demikian juga halnya, seorang auditor yang mempunyai kepentingan keuangan yang cukup besar dalam perusahaan yang diauditnya, mungkin ia benar-benar tidak memihak dalam menyatakan pendapatnya atas laporan keuangan tersebut. Namun, bagaimanapun juga masyarakat tidak akan percaya, bahwa ia bersikap jujur dan tidak memihak. Auditor independen tidak hanya berkewajiban mempertahankan fakta bahwa ia independen, namun ia harus pula menghindari keadaan yang dapat menyebabkan pihak luar meragukan sikap independennya.

Profesi akuntan publik telah menetapkan dalam kode etik akuntan Indonesia, agar anggota profesi menjaga dirinya dari kehilangan persepsi independensi dari masyarakat. Sepanj ang persepsi independensi ini dimasukkan ke dalam aturan etika, hal ini akan mengikat auditor independen menurut kepada ketentuan profesi.

Independensi merupakan salah satu ciri paling penting yang dimiliki oleh profesi akuntan publik, karena banyak pihak yang menggantungkan kepercayaannya kepada kebenaran laporan keuangan berdasarkan laporan auditor yang dibuat oleh akuntan publik. Sekalipun akuntan publik ahli, apabila tidak mempunyai sikap independensi dalam mengumpulkan informasi akan tidak berguna, sebab informasi yang digunakan untuk mengambil keputusan haruslah tidak bias. Akuntan publik harus bersikap independen jika melaksanakan praktik publik (public practice). Praktik publik adalah aktivitas profesi akuntan publik yang mempengaruhi publik.

35

Independensi akuntan rnerupakan persoa1an sentra1 da1arn pernenuhan kriteria objektivitas dan keterbukaan. Dalarn peraturan 101 Kode Perilaku Professional American Institute of Certified Public Accountant (AICPA) tentang independensi rnengatakan bahwa:

"Anggota dalam praktik pubJik harus bersikap independent dalam melaksanakan jasa profesionalnya seperti yang disyaratkan menurut standard yang disusun oleh lembaga-lembaga yang dibentuk oleh dew an."

Kode Etik Akuntan Indonesia BAB IV pasal 13 ayat 1 dinyatakan bahwa:

"Setiap anggota profesi harus mempertahankan sikap independent. Ia harus bebas dari semua kepentingan yang bias dipandang tidak sesuai dengan integritas dan objektivitasnya. Tanpa tergantung efek kebenaranya dari kepentingan itu."

Standard Profesi Akuntan Publik rnengatur secara khusus rnengenai independensi akuntan publik dalarn standard urnurn kedua (SA.220) yang berbunyi:

"Dalam semua hal yang berhubungan dengan penugasan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor."

Dari uraian di atas dapat disirnpulkan bahwa independensi sangat penting bagi profesi akuntan publik:

1. Merupakan dasar bagi akuntan publik untuk rnerurnuskan dan rnenyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa. Apabila akuntan publik tetap rnernelihara independensi selarna rnelaksanakan perneriksaan, rnaka laporan keuangan yang telah diperiksa tersebut akan rnenarnbah kredibilitasnya dan dapat dianda1kan bagi pihak yang berkepentingan.

2. Karena profesi akuntan publik rnerupakan profesi yang rnernegang kepercayaan rnasyarakat. Kepercayaan rnasyarakat akan rnenurun jika

36

terdapat bukti bahwa independensi sikap auditor temyata berkurang dalarn rnenilai kewajaran laporan keuangan yang disajikan rnanajernen.

2.8.3 Klasifikasi Independensi Akuntan Publik

Arens (2003: 83) rnengkategorikan independensi kedalarn dua aspek, yaitu:

1. Independence in/act

2. Independence in appearance

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Independence in/act (independensi dalarn fakta)

Akan ada apabila pada kenyataannya auditor rnarnpu rnernpertahankan sikap yang tidak rnernihak sepanjang pelaksanaan auditnya.

2. Independence in appearance (independensi dalarn penarnpilan) Merupakan pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Meskipun auditor independen telah rnenjalankan audit secara independen dan objektif, pendapatnya yang dinyatakan rnelalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pernakai jasa auditor independen bila tidak rnarnpu rnernpertahankan independensi dalarn penarnpilan.

Abdul Halim (2001: 21) dan Mulyadi (2002:129) rnernbagi independensi akuntan publik dalarn tiga aspek, yaitu:

1. Independence in/act (independensi dalam fakta)

2. Independence in appearance (independensi dalam penampilan)

3. Independence tn competence (independensi dari sudut keahliannya atau kompetensinya)

Berdasarkan definisi di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Independence in fact (independensi dalarn fakta), artinya auditor harus rnernpunyai kejujuran yang tinggi, keterkaitan yang erat dengan objektivitas.

37

2. Independence in appearance (independensi dalam penampilan ), artinya pandanagn pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan pelaksanaan audit. Auditor harus menjaga kedudukannya sedemikian rupa sehingga pihak lain akan mempercayai sikap independensi dan objektivitasnya.

Meskipun auditor telah menjalankan audit dengan baik secara independen dan objektif, pendapat yang dinyatakan melulai laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa auditor independent bila ia tidak mampu mempertahankan independensi dalam penampilan. Oleh karena itu, independensi dalam penampilan sangat penting bagi perkembangan profesi auditor.

3. Independence tn competence (independensi dari sudut keahliannya)

Artinya auditor yang awam dalam electronic data processing system tidak memenuhi independensi keahlian bila ia mengaudit perusahaan yang pengolahan datanya menggunakan sistem informasi terkomputerisasi. Independensi dari sudut pandang keahlian terkait erat dengan kecakapan professional auditor.

Dunn (1996: 20-21) membagi independensi akuntan publik kedalam tiga aspek yaitu:

1. Program independence

2. Investigative independence

3. Reporting independence

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Program independen (program independence)

Laporan audit akan mempunyai sedikit nilai jika tidak didukung oleh suatu penyelidikan secara seksama. Suatu penyelidikan sesame mungkin tidak akan diminati oleh direktur. Sekalipun mereka tidak mempunyai apapun untuk disembunyikan, para direktur dapat

38

mengurangi fee audit atau menerbitkan laporan keuangan dengan cepat setelah tahun berakhir dan hal seperti itu mungkin saja terjadi.

2. Investigasi independen (investigative independence)

Program independen melindungi kamampuan auditor untuk memilih strategi yang paling sesuai untuk hasil audit mereka dalam bekerja. Sedangkan investigasi independen melindungi cara dimana mereka menerapkan strategi ini. Auditor mempunyai kebebasan mengakses dokumen dan arsip perusahaan. Apapun pertanyaan tentang bisnis perusahaan atau perlakuan akuntansi, transaksinya harus dijawab.

3. Laporan independen (reporting independence)

Jika para direktur berusaha untuk menyesatkan pemegang saham dengan memberitahukan inforrnasi akuntansi yang salah atau tidak sempurna, mereka pasti mencegah auditor dari perbuatannya terhadap publik. Ketika Independen auditor menjadi rumit, tentu banyak kesalahpahaman terjadi dalam hubungan seperti penafsiran suatu standard akuntansi atau suatu perkiraan atau seperti suatu ketetapan untuk hutang yang tidak terbayar.

2.9.Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik

Independensi ini merupakan hal yang unik di dalam profesi akuntan publik. Auditor dituntut untuk memenuhi keinginan kliennya, karena klienlah yang membayar fee jasa yang disediakan oleh auditor tersebut. Dilain pihak, auditor harus independen dari kliennya. Petunjuk pelaksanaan mengenai independensi ini telah dikeluarkan oleh IAI dalam Pernyataan Etika Profesi No.1 Integritas, Objektivitas, dan Independensi. Menurut Mulyadi dan Kannaka Puradiredja (2002 :52) contoh-contoh penerapan yang berlaku untuk akuntan publik diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah semenda dengan klien

2. Besar aUditfee yang dibayar oleh klien tertentu

39

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan

kerugian yang terkait dengan usaha klien

4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai

6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit

Dari uraian di atas dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Hubungan keluarga akuntan berupa suami/istri, saudara sedarah semenda dengan klien.

Hubungan keluarga akuntan ini akan membuat seorang auditor diragukan independensinya.

a. Hubungan keluarga dan pribadi dapat mempengaruhi objektivitas. Oleh karena itu, auditor harus menghindari penugasan audit atas laporan keuangan kliennya jika ia memiliki hubungan keluarga atau hubungan pribadi

b. Hubungan keluarga yang pasti akan mengancam independensi adalah seperti akuntan publik yang bersangkutan, atau staf yang terlibat dalam penugasan itu, merupakan suami atau istri, keluarga sedarah-semenda klien sampai dengan gans kedua. Termasuk dalam pengertian klien disini adalah pemilik perusahaan, pemegang saham utama, direksi dan eksekutif lainnya.

2. Besar audit jee yang dibayar oleh klien tertentu

Besar audit fee dapat berbeda-beda tergantung pada resiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, tingkat keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan jasa tersebut, struktur biaya Kantor Akuntan Publik (KAP) yang bersangkutan dan pertimbangan professional lainnya.

a. Fee jasa professional tidak boleh tergantung pada hasil atau temuan pelaksanaanjasa tersebut.

40

b. Akuntan publik tidak boleh rnendapatkan klien yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik lain dengan cara rnenawarkan atau rnenjanjikan fee jauh lebih rendah daripada fee yang diterirna oleh kantor akuntan publik yang sebelurnnya.

c. Seorang akuntan publik tidak boleh rnernberikan jasa profesionalnya tanpa rnenerirna fee, kecuali untuk yayasan (non-profit organization).

d. Jika klien belurn rnernbayar fee jasa seorang akuntan publik sejak beberapa tahun yang lalu (lebih dari stau tahun), rnaka dapat dianggap bahwa akuntan publik tersebut rnernberikan pinjarnan kepada kliennya. Hal tersebut dianggap rnelanggar independensi.

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien.

Dengan adanya hubungan usaha dan keuangan dengan klien dapat rnenirnbulkan keraguan terhadap independensi seorang auditor.

a. Hubungan keuangan dengan klien dapat rnernpengaruhi objektivitas dan dapat rnengakibatkan pihak ketiga berkesirnpulan bahwa objektivitas auditor tidak dapat di pertahankan.

Contoh hubungan keuangan antara lain:

1. Kepentingan keuangan langsung atau tidak langsung dengan klien

11. Pinjarnan dari atau kepada klien, karyawan,direktur atau pernegang saharn utarna dalarn perusahaan klien.

b. Dengan adanya kepentingan keuangan, seorang auditor jelas berkepentingan dengan laporan audit yang akan diterbitkan. Hubungan keuangan tidak langsung rnencakup

41

kepentingan keuangan oleh suami,istri, keluarga sedarah semenda, sampai garis kedua auditor yang bersangkutan.

c. Jika saham yang dimiliki merupakan bagian yang material dari:

1. Modal saham perusahaan klien,atau

11. Aktiva yang dimiliki pimpinan atau rekan pimpinan atau kantor akuntan publik suami atau istri, keluarga sedarah semenda sampai dengan garis kedua.

d. Pemilik saham di perusahaan klien secara langsung atau tidak langsung, mungkin diperoleh melalui warisan, perkawinan dengan pemegang saham atau pengambilalihan. Dalam tersebut diatas, sebaiknya pemilikan saham harus dihilangkan atau secepat mungkin auditor yang bersangkutan harus menolak penugasan audit atas laporan keuangan perusahaan tersebut.

4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

Akuntan publik, suami atau istrinya, dan keluarga sedarahsemendanya sampai dengan garis kedua tidak boleh memberikan barang atau jasa kapada klien, dengan syarat pemberian yang tidak wajar, yang tidak lazim dalam kehidupan sesuai.

Seorang klien yang memberikan fasilitas dari gifts kepada auditor yang melakukan audit di perusahaannya bisa mempengaruhi independensi, jika dilihat oleh pihak-pihak yang berkepentingan misalnya para investor, pemerintah. Mereka akan menganggap bahwa akuntan publik tersebut berada dibawah pengaruh kliennya sehingga independensi akuntan publik terse but diragukan.

5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai

a. Seorang auditor tidak boleh terlibat dalam usaha atau pekerjaan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan

42

kepentingan atau mempengaruhi independensi dalam pelaksanaan jasa professional.

b. Seorang auditor tidak dapat melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan kliennya atau dengan salah satu eksekutif atau pemegang saharn utama.

6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit

Jika seorang auditor disamping melakukan audit, Juga melaksanakan jasa lain untuk klien yang sarna, maka ia hams menghindari jasa yang menuntut dirinya melaksanakan fungsi manajemen atau melakukan keputusan manajemen. Contoh berikut ini menyebabkan auditor tidak independen:

a. Auditor memperoleh kontrak untuk mengawasi kantor klien, menandatangani bukti kas keluar untuk pembayaran dan menyusun laporan operasional berkala, sedangkan pada saat yang bersarnaan dia juga melakukan penugasan audit atas laporan keuangan klien tersebut.

b. Jika perusahaan klien akan go public, suatu kantor akuntan publik tidak dapat menjadi konsultan keuangan (financial consultant) sekaligus auditor bagi klien tersebut, walaupun partner yang ditugasi untuk melakukan audit yang berbeda dengan partner yang melaksanakan penugasan konsultasi.

BABIII

OBJEK DAN METODE PENELITIAN

3.1. Objek Penelitian

Objek penelitian skripsi ini adalah faktor apa saja yang akan memepengaruhi independensi di Kantor Akuntan Publik yang berkedudukan di kota Bandung. Responden yang menjawab instrumen kuesioner yang diajukan adalah para akuntan publik yang menjadi tim audit pada Kantor Akuntan Publik yang berada di Bandung pada tahun 2007.

Harapan penelitian ini, dengan memilih akuntan publik sebagai responden, akan menghasilkan suatu jawaban kuesioner yang riil, sesuai pengalaman dan pengetahuan akuntan publik dalam praktik audit.

3.2. Metode Penelitian

3.2.1. Tipologi Penelitian

Penelitian ini dirancang dengan tingkat kristalisasi yang terformulasi (formulized), artinya bahwa desain penelitian telah terstruktur dengan baik dan hipotesis, prosedur maupun sumber-sumber data penelitian telah ditetapkan dengan jelas.

Sifat penelitian yang akan dilakukan adalah bersifat survei. Metode survei menurut Nur Indriantoro dan Bambang S. (2002: 152) merupakan metode pengumpulan data primer yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Adanya data pokok kumpulan sample suatu populasi dengan menggunakan instrument kuesioner. Modus komunikasi yang akan digunakan adalah kuesioner dibagikan sendiri oleh penulis dan diisi sendiri oleh responden.

Karena bersifat survei, lingkungan penelitian ini adalah lingkungan yang sebenamya (lapangan). Dimensi waktu dalam penelitian ini adalah cross sectional, artinya dilaksanakan hanya sekali. Kemampuan peneliti mempengaruhi variable dalam penelitian ini adalah ex post facto yang berarti peneliti tidak dapat mengendalikan variable, disebabkan variable itu sendiri sudah ada atau karena

43

44

mereka tidak dapat dikendalikan atau dimanipulasi. Adapun sifat hubungan variable dalam penelitian ini adalah deskriptif.

Tabel 3.1. di bawah ini menyajikan ringkasan tipologi yang digunakan dalam penelitian ini.

TabeI3.1.

Tipologi Penelitian

No Dimensi Keterangan
1 Kristalisasi masalah Terformalisasi
2 Sifat penelitian Survei
3 Lingkungan penelitian Lapangan
4 Dimensi waktu Cross sectional
5 Modus komunikasi Kuesioner dibagikan sendiri oleh
penulis dan diisi sendiri oleh responden
6 Kemampuan penelitian Ex post facto
mempengaruhi variabel
7 Sifat hubungan variabel Deskriptif 3.2.2. Kriteria Responden Penemuan Populasi

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah para akuntan publik yang melakukan tugas audit. Alasan dipilihnya akuntan publik sebagai responden adalah untuk mengetahui pendapat akuntan publik yang hampir seluruhnya dapat dikaitkan mengerti mengenai apa sesungguhnya independen dan bagaimana di dalam menjalankan pemeriksaan, sehingga dapat diperoleh fakta empiris mengenai faktor-faktor yang sesungguhnya mengenai independensi akuntan publik dalam menjalankan tugas pemeriksaannya.

45

Adapun penentuan populasinya sebagai berikut:

1. Universe: Akuntan publik di Indonesia

2. Populasi: Akuntan publik di Bandung yang berpraktik pada tahun 2007

3. Sampling unit: Akuntan publik yang melaksanakan tugas audit pada Kantor Akuntan Publik di Bandung

3.2.2.1. Penentuan Sample

Penyebaran kuesioner dilakukan pada kantor yang terdapat di kota Bandung dan terdaftar di IAr. Kuesioner yang dijawab dianggap sample untuk mewakili seluruh anggota populasi.

3.2.3. Metode Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data diperlukan dalam penyusunan skripsi dilakukan dengan cara:

1. Penelitian lapangan

Merupakan pengumpulan data pnmer melalui penelitian langsung terhadap Kantor Akuntan Publik yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada akuntan publik yang bertindak sebagai tim audit.

2. Studi literature atau studi kepustakaan

Merupakan penelitian yang diajukan dengan cara mempelaj ari, meneliti, mengkaji serta menelaah literature atau buku-buku perpustakaan yang berkaitan dengan penelitian.

Studi ini dimaksudkan untuk memperoleh data sekunder yang berguna sebagai landasan teori analisis hasil penelitian untuk mengeksplorasi variabel yang ada.

46

3.2.4. Operasionalisasi Varia bel

Nur Indriantoro dan Bambans S. (2002: 61), variabel adalah segala sesuatu yang dapat diberi berbagai macam nilai sesuai dengan hipotesis yang peneliti ajukan, yaitu meneliti faktor- faktor yang mempengaruhi independensi akuntan publik dan hanya terdapat satu variabel yang digunakan dalam penelitian Illl.

Pengujian hipotesis yang telah dirumuskan, dilakukan melalui pengukuran variabel dengan mengajukan pertanyaan kepada responden yaitu akuntan publik tentang pendapatnya mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi independensinya. Dalam penelitian ini ada enam faktor yang bisa berpengaruh terhadap independensi akuntan publik diantaranya: hubungan keluarga akuntan publik berupa suami istri, saudara sedarah semenda dengan klien; besar audit fee yang dibayar klien tertentu; hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan us aha klien; pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien; keterlibatan usaha yang tidak sesuai; dan pelaksanaan jasa lain untuk klien audit.

Jenis skala yang digunakan dalam menjawab pertanyaan adalah skala ordinal. Skala yang digunakan terdiri dari lima bagian yaitu sangat setuju, setuju, netral, tidak setuju dan sangat tidak setuju.

Tabel 3.2 dibawah ini adalah ikhtisar variabel besrta indikator yang digunakan dalam penelitian.

Adapun indikator variabel yang digunakan mengacu pada teori yang dikemukakan dalam BAB II.

Variabel beserta indikator dan skala pengukuran yang digunakan diikhtisarkan pada tabel 3.2. sebagai berikut:

47

TabeI3.2.

Varia bel, Indikator Varia bel, Skala Pengukuran dan Instrumen yang Digunakan

Variabel Indikator Skala Instrumen
Pengukuran
Faktor-faktor Hubungan keluarga akuntan Ordinal Kuesioner
yang berupa suamilistri, saudara
mempengaruhi sedarah semenda dengan klien
Independensi Besar audit fee yang dibayar klien Ordinal Kuesioner
akuntan publik tertentu
Hubungan usaha dan keuangan Ordinal Kuesioner
dengan klien, keuntungan dan
kerugian yang terkait dengan
usaha klien
Pembelian fasilitas dan bingkisan Ordinal Kuesioner
(gifts) oleh klien
Keterlibatan dalam usaha yang Ordinal Kuesioner
tidak sesuai
Pelaksanaan jasa lain untuk klien Ordinal Kuesioner
audit 3.2.5. Teknik Pengembangan Instrumen

Yang dimaksud dengan instrumen dalam penelitian ini adalah alat yang dipakai untuk menghimpun data instrumen. Alat yang digunakan adalah faktor pertanyaan yang sering disebutkan secara umum dengan nama kuesioner.

Nazir (1999 : 246), kuesioner adalah pertanyaan tentang fakta-fakta yang dianggap dikuasai oleh responden. Fakta-fakta tersebut berhubungan dengan responden, dengan suatu keadaan atau dengan orang-orang yang dikenal oleh responden. Kuesioner adalah mekanisme pengumpulan data yang efisien karena

48

peneliti mengetahui dengan benar segala persyaratan yang harus dipenuhi dan bagaimana cara mengukur variabel-variabelnya.

Alasan menggunakan kuesioner dalam penelitian llll adalah sebagai berikut:

1. Subjek sendiri adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri

2. Apa yang dinyatakan oleh subjek tentang pemyatan adalah benar

3. Interpretasi subjek tentang pemyataan-pemyataan yang diajukan kepadanya adalah sarna dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.

Dalam penelitian ini jenis daftar pertanyaan adalah pemyataan berstruktur, yaitu pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberi jawaban dengan beberapa altematif jawaban saja. Adakalanya pertanyaan sudah berstruktur secara sendirinya karena jawaban yang dapat diberikan pada pertanyaan terse but hanya satu.

Pertanyaan terstruktur memiliki beberapa keuntungan antara lain:

1. Mudah dianalisis

2. Jawaban yang diberikan terjamin berada dalam kerangka yang revan dengan tujuan penelitian

3. Altematif jawaban akan lebih menjelaskan arti pertanyaan-pertanyaan kepada responden

4. Responden akan memberikan jawaban sendiri terhadap jawaban sehingga yang menganalisis tidak perlu lagi memberikan penelitian.

Kuesioner yang diajukan kepada responden terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama berisi pertanyaan yang bersifat umum, bagian kedua berhubungan dengan fakta yang dapat mempengaruhi independensi penampilan akuntan publik dan bagian ketiga merupakan pertanyaan pelengkap. Dalam penelitian ini, jenis pertanyaan berstruktur yaitu pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa sehingga responden dibatasi dalam memberikan jawaban kepada beberapa altematif. Metode yang digunakan dalam penelitian lapangan yang digunakan adalah survei langsung ke lapangan. Dalam metode ini peneliti mendatangi secara langsung kepada responden untuk pengisian kuesioner, dengan cara peneliti membagikan

49

sendiri kepada responden. Metode ini diplih karena lokasi responden tersebar, sehingga metode ini diharapkan dapat menghemat waktu.

3.2.6. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang paling mudah dibaca dan diinterpretasikan. Untuk lebih menyederhanakan penelitian menjadi informasi yang lebih sederhana dan mudah dipahami, peneliti menggunakan statistik untuk memproses data yang diperoleh.

Analisis akan dilakukan untuk masing-masing indikator untuk dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi independensi akuntan publik. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini menggunakan Chi Kuadrat (X2).

Uji hipotesis dengan menggunakan Chi Kuadrat untuk mengetahui signifikan perbedaan frekuensi jawaban responden yang menjawab sangat signifikan dan dengan responden yang menjawab tidak signifikan dan dengan responden yang menjawab dengan sangat signifikan.

1. Rumuskan hipotesis Hipotesis utama:

H, = Faktor tidak signifikan pengaruhi independensi akuntan publik HI = Faktor signifikan pengaruhi independensi akuntan publik Tentukanjumlah observasi danjumlah kategori:

1. Hubungan keluarga akuntan berupa suamilistri, saudara sedarah semenda dengan klien ;

2. Besar audit fee yang dibayar klien tertentu.

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan

kerugian yang terkait dengan usaha klien.

4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien.

5. Keterlibatan dalam us aha yang tidak sesuai.

6. Pelaksanaanjasa lain untuk klien audit

2. Tentukan tingkatan signifikasi (a) = 0,05

50

3. Menentukan kriteria pengujian, dalam penelitian mi digunakan pengujian satu sisi:

H, diterima, HI ditolakjika X2 hitung ::; tabel a = 0,05 , df = k-l

Hn ditolak, HI diterimajika X2 hitung I> tabel a = 0,05, df = k-l

4. Tentukan nilai X2 dengan rumus:

Rumus X2 didistribusikan dengan degree offreedom = k-l

Keterangan:

OJ = frekuensi yang diobservasi ej = frekuensi yang diharapkan k = jumlah kategori

df = degree of freedom X2 = chi kuadrat

\ Menguji hipotesis yang dominan dengan menggunakan perhitungan mean

atas rata-rata dan menganalisis dengan mean adalah sebagai berikut:

1. Pemberian bobot nilai:
Nilai SS =5
S =4
N =3
TS =2 STS = 1

2. Menjumlahkan bobot nilai masing-masing hipotesis yang dominan.

3. Mean (rata-rata) dapat diketahui dengan rumus:

" x .

X= L.. J

n

Keterangan:

X = mean

N = jumlah sample yang diteliti

Xi = nilai data kuantitatif (bobot nilai)

51

49

4.1. Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian tentang independensi akuntan public dengan judul factor-faktor yang rnernpengaruhi independensi akuntan public, diperoleh data dan inforrnasi sebagai berikut:

4.1.1. Hasil Pengumpulan Data

Data yang diperoleh untuk penelitian ini diarnbil dengan cara penyebaran kuesioner pada Kantor Akuntan Publik di kota Bandung.

BABIV HASIL PENELITIAN

4.1. HasH Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian tentang independensi akuntan publik dengan judul Faktor-faktor yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik maka diperoleh data dan informasi sebagai berikut:

4.1.1. Hasil Pengumpulan Data

Data yang diperoleh untuk penelitian ini diambil dengan cara penyebaran kuesioner kepada kantor akuntan publik yang berada di kota Bandung. Dalam melaksanakan pengumpulan data sesuai dengan tipe penilaian pada BAB III yaitu melalui survei, penulis mendatangi secara langsung kant or akuntan publik untuk meminta bantuan mengisi kuesioner yang dibagikan oleh penulis. Dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang dirancang dalam kuesioner (lampiran 1) diharapkan penulis dapat memperoleh masukan data untuk menguji setiap hipotesis yang dirumuskan.

Penyebaran kuesioner ini dimulai pada tanggal 9 Maret 2007 sampai dengan 21 Maret 2007. Total kuesioner yang dibagikan adalah 24 eksemplar dan kuesioner yang dapat dikumpulkan kembali sebanyak 16 eksemplar. Hal ini berarti tingkat pengembaliannya adalah 67,77 %. Ikhtisar data jawaban responden dapat di lihat pada tabel 4.1.

4.1.2. Analisis Pengujian Hipotesis

Hipotesis penelitian dirumuskan untuk mengetahui faktor-faktor mana saja yang mempengaruhi independensi akuntan publik. Faktor-faktor tersebut mempengaruhi independensi akuntan publik atau tidak mempengaruhi independensi akuntan publik.

Berikut ini dapat dilihat data dari hasil j awaban responden yang berhasil dikumpulkan terdapat pada tabel 4.1 dan tabel 4.2.

52

53

TabeI4.1.

Frekuensi Jawaban Responden Faktor-faktor yang mempengaruhi independensi Akuntan Publik

No Faktor-faktor yang mempengaruhi Frekuensi Jawaban
independensi akuntan publik SS S N TS STS
1 Hubungan keluarga akuntan berupa suamiiistri, 12 17 13 20 18
saudara sedarah semenda dengan klien
2 Besar audit fee yang dibayar klien tertentu 13 19 12 19 17
3 Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, 12 18 12 20 18
keuntungan dan kerugian yang terkait dengan
usaha klien
4 Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh 13 20 12 19 16
klien
5 Keterlibatan dalam us aha yang tidak sesuai. 12 19 12 20 17
6 Pelaksanaan j asa lain untuk klien audit 14 21 11 18 16 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

54

TabeI4.2.

Frekuensi Tiap Kelompok Jawaban Responden Faktor-faktor yang mempengaruhi independensi Akuntan Publik

No Faktor-faktor yang rnernpengaruhi Frekuensi Jawaban
independensi akuntan publik SS dan S N, TS dan STS
1 Hubungan keluarga akuntan berupa 29 51
suami/istri, saudara sedarah sernenda dengan
klien
2 Besar audit fee yang dibayar klien tertentu 32 48
3 Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, 30 50
keuntungan dan kerugian yang terkait dengan
us aha klien
4 Pernberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh 33 47
klien
5 Keterlibatan dalarn usaha yang tidak sesuai. 31 49
6 Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit 35 45 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

Berdasarkan frekuensi jawaban tiap kelornpok responden untuk setiap hipotesisnya dapat dibuat rangkurnan analisis X2. Analisis ini bertujuan untuk rnengetahui signifikasi perbedaan frekuensi antara kelornpok pertarna dan kelornpok kedua. Perbedaan ini dapat diketahui dari nilai X2 hitung untuk setiap hipotesisnya.

55

1. Hubungan keluarga berupa suami atau istri, saudara sedarah

semenda dengan klien.

Faktor hubungan keluarga berupa suami atau istri, saudara sedarah semenda antara auditor dengan klien mempengaruhi atau tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

Tabe14.3-1

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban OJ e, (OJ- e.) (OJ- et/' (OJ- e.]": e,
1 Setuju 29 40 -11 121 3,02
2 Tidak Setuju 51 40 11 121 3,02
TOTAL 6,04 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

2. Besar audit fee yang dibayar klien tertentu

Faktor besar audit fee yang dibayar klien tertentu mempengaruhi atau tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

Tabe14.3-2

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban (Oi- e.) 2 (OJ- ejl: e,
OJ e, (OJ- e.)
1 Setuju 32 40 -8 64 1,6
2 Tidak Setuju 48 40 8 64 1,6
TOTAL 3,2 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

56

3. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien

Faktor hubungan us aha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien rnernpengaruhi atau tidak rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

TabeI4.3-3

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban (OJ- e.) 2 (OJ- ejl: e,
OJ e, (OJ- e.)
1 Setuju 30 40 -10 100 2,5
2 Tidak Setuju 50 40 10 100 2,5
TOTAL 5 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

4. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

Faktor pernberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien rnernpengaruhi atau tidak rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

TabeI4.3-4

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban (OJ- e.) 2 (OJ- ejl: e,
OJ e, (OJ- e.)
1 Setuju 33 40 -7 49 1,22
2 Tidak Setuju 47 40 7 49 1,22
TOTAL 2,44 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

57

5. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai.

Faktor keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai mempengaruhi atau tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

TabeI4.3-5

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban OJ e, (OJ- e.) (oj-eJ' (OJ- e.)": e,
1 Setuju 31 40 -9 81 2,02
2 Tidak Setuju 49 40 9 81 2,02
TOTAL 4,04 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

6. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit

Faktor pelaksanaan jasa lain untuk klien audit mempengaruhi atau tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Berdasarkan hasil jawaban responden dapat diperoleh sebagai berikut:

TabeI4.3-6

Pengolahan Data lawaban Responden

No lawaban (OJ- e.) 2 (OJ- ejl: e,
OJ e, (OJ- e.)
1 Setuju 35 40 -5 25 0,64
2 Tidak Setuju 45 40 5 25 0,64
TOTAL 1,24 Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

58

TabeI4.4.

Ikhtisar Rangkuman Analisis Chi Kuadrat

No Faktor-faktor yang mempengaruhi X2 hitung X2tabel Hipotesis
independensi akuntan publik
1 Hubungan keluarga akuntan 6,04 3,84 HI diterima
berupa suami/istri, saudara
sedarah semenda dengan klien
2 Besar audit fee yang dibayar klien 3,2 3,84 HI ditolak
tertentu
3 Hubungan usaha dan keuangan 5 3,84 HI diterima
dengan klien, keuntungan dan
kerugian yang terkait dengan
us aha klien
4 Pemberian fasilitas dan bingkisan 2,44 3,84 HI ditolak
(gifts) oleh klien
5 Keterlibatan dalam us aha yang 4,04 3,84 HI diterima
tidak sesuai.
6 Pelaksanaan jasa lain untuk klien 1,24 3,84 HI ditolak Sumber: Hasil Pengolahan Data Jawaban Responden

4.2. Pembahasan

Dari berbagai jawaban yang diberikan oleh responden dan perhitungan penulis melakukan pembahasan sebagai berikut:

59

4.2.1. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik

1. Hubungan keluarga berupa suami atau istri, saudara semenda dengan klien.

Hubungan keluarga berupa suarni atau istri, saudara sedarah sernenda antara auditor dengan klien bisa rnernbuat seorang auditor diragukan independensinya. Hubungan keluarga dan pribadi dapat rnernpengaruhi objektivitas. Auditor harus rnenghindari penugasan audit atas laporan keuangan kliennya jika ia rnerniliki hubungan keluarga atau hubungan pribadi. Jika auditor rnenerirna penugasan audit karena keluarga rnaka objektivitasnya akan diragukan. Hubungan keluarga yang pasti akan rnengancarn independensi adalah akuntan publik yang bersangkutan terlibat dalarn penugasan itu rnerupakan suarni atau istri, keluarga sedarah sernenda dengan klien sarnpai dengan garis keturunan kedua. Terrnasuk dalarn klien disini adalah pernilik perusahaan, pernegang saharn utarna, direksi dan eksekutif lainnya.

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 6,04, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, berarti Hn ditolak dan HI diterirna, faktor ini rnernpengaruhi independensi akuntan publik.

Hal tersebut dapat dilihat dari:

1. Istri atau anak akuntan publik rnerniliki saharn pada perusahaan klien

2. Orang tua, rnertua, saudara sekandung dari akuntan publik rnerniliki saharn kepada klien

3. Anak akuntan publik rnenjadi direktur atau anggota dewan kornisaris pada perusahaan klien.

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung rnenyatakan bahwa hubungan keluarga akan rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih besar dari X2 tabel yaitu 6,04lebih besar dari 3,84.

60

2. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien, keuntungan dan kerugian terkait klien tertentu.

Hubungan usaha dan keuangan klien dan auditor dapat membuat seorang auditor kehilangan independensinya dan mempengaruhi objektivitas.

Dengan adanya kepentingan keuangan, seorang auditor j elas berkepentingan dengan laporan audit yang akan diterbitkannya dan jika saham yang dimiliki merupakan bagian yang materiil dari modal saham perusahaan klien tersebut.

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 5, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, berarti Hn ditolak dan HI diterima, faktor ini mempengaruhi independensi akuntan publik.

Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan:

1. Akuntan publik memilki hubungan usaha dengan klien

2. Akuntan publik memiliki hubungan keuangan dengan klien

3. Akuntan publik memiliki hutang piutang dengan klien

4. Akuntan publik memiliki saham bersama dengan perusahaan klien

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung menyatakan bahwa hubungan usaha dan keuangan dengan klien akan mempengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih besar dari X2 tabel yaitu 5 lebih besar dari 3,84.

3. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai.

Keterlibatan dalam us aha yang tidak sesuai antara klien dan seorang auditor jelas akan mempengaruhi independensi didalam tubuh auditor tersebut dan objektivitas pun tidak dapat dipertahankan.

Seorang auditor tidak boleh terlibat dalam usaha atau pekerjaan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan atau mempengaruhi independensi pelaksanaan jasa professional.

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 4,04, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih

61

besar dari X2 tabel, berarti Hn ditolak dan HI diterima, faktor ini mempengaruhi independensi akuntan publik.

Hal ini dapat mempengaruhi independensinya jika:

1. Seorang auditor melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan kliennya atau dengan salah satu eksekutif atau pemegang saham lainnya.

2. Seorang auditor terlibat dalam usaha atau pekerjaan lainnya yang dapat menimbulkan pertentangan kepentingan.

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung menyatakan bahwa keterlibatan usaha yang tidak sesuai mempengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih besar dari X2 tabel yaitu 4,04 lebih besar dari 3,84.

4.2.2. Faktor-Faktor Yang Tidak Mempengaruhi Independensi Akuntan Publik.

1. Besar audit fee yang dibayar klien tertentu

Dalam menetapkan audit fee terdapat hal-hal yang hams dijaga agar tidak merusak independensi antara lain:

a. Fee jasa professional tidak tergantung pada hasil atau temuan pelaksanaan jasa tersebut.

b. Akuntan publik tidak boleh mendapatkan klien yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik lain dengan cara menawarkan atau menjanjikan fee jauh lebih rendah daripada fee yang diterima oleh kantor akuntan publik yang sebelumnya.

c. Seorang akuntan publik tidak boleh memberikan jasa profesionalnya tanpa menerima fee, kecuali untuk yayasan (non-profit organization).

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 3,2, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih

62

besar dari X2 tabel, berarti Hn diterima dan HI ditolak, faktor uu tidak mempengaruhi independensi akuntan publik.

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung menyatakan bahwa besar audit fee yang dibayarkan oleh klien tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih kecil dari X2 tabel yaitu 3,2 lebih kecil dari 3,84.

2. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

Seorang klien yang memberikan fasilitas dan gifts kepada auditor yang melakukan audit di perusahaannya bisa mempengaruhi independensi, jika dilihat oleh pihak-pihak yang berkepentingan misalnya para investor, pemerintah. Mereka akan menganggap bahwa akuntan publik tersebut berada dibawah pengaruh kliennya sehingga independensi akuntan publik tersebut diragukan

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 3,2, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, berarti H, diterima dan HI ditolak, faktor ini tidak mempengaruhi independensi akuntan publik.

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung menyatakan bahwa pemberian fasilitas dan bingkisan tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih kecil dari X2 tabel yaitu 2,44 lebih kecil dari 3,84.

3. Pelaksanaan jasa lain untuk klien tertentu

Dalam melaksanakan jasa lain untuk klien terdapat hal-hal yang harus dijaga agar tidak merusak independensi antara lain:

1. Auditor tidak memperoleh kontrak untuk mengawasi kantor klien, menandatangani bukti kas keluar untuk pembayaran dan menyusun laporan operasional berkala, sedangkan pada saat yang bersamaan dia juga tidak

63

rnelakukan penugasan audit atas laporan keuangan klien tersebut.

2. Jika perusahaan klien akan go public, suatu kantor akuntan publik tidak dapat rnenjadi konsultan keuangan (financial consultant) sekaligus auditor bagi klien tersebut, walaupun partner yang ditugasi untuk rnelakukan audit yang berbeda dengan partner yang rnelaksanakan penugasan konsultasi.

Berdasarkan hasil perhitungan Chi Kuadrat diketahui nilai X2 hitung diperoleh sebesar 1,22, adapun X2 tabel dengan df = 1 dan tingkat signifikan yang ditetapkan a = 0,05 dapat diketahui sebesar 3,84. Oleh karena X2 hitung lebih besar dari X2 tabel, berarti Hn diterirna dan HI ditolak, faktor ini tidak rnernpengaruhi independensi akuntan publik.

Sebagian besar yaitu KAP di kota Bandung rnenyatakan bahwa pernberian fasilitas dan bingkisan tidak rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Hal ini ditunjukan dengan hasil perhitungan X2 hitung lebih kecil dari X2 tabel yaitu 1,22 lebih kecil dari 3,84.

65

2. Faktor lain yang diduga berpengaruh, namun dari hasil penelitian temyata tidak mempengaruhi independensi akuntan publik di kota Bandung menurut signifikansinya yaitu:

a. Besar audltj'ee yang dibayarkan oleh klien

Besarnya audit fee tidak mempengaruhi independensi akuntan publik. Karena dalam menentukan besamya audit fee tidak berdasarkan atas opini yang diberikan oleh auditor tapi berdasarkan banyaknya jam yang dikeluarkan untuk mengaudit perusahaan klien tersebut.

b. Pemberian fasilitas dan bingkisan (gifts) oleh klien

Perusahaan klien memberikan fasilitas dan bingkisan kepada auditor tidak akan mempengaruhi independensi akuntan publik selama masih dalam tahap kewaj aran.

c. Pelaksanaan jasa lain untuk klien audit

Pelaksanaan jasa lain tidak mempengaruhi independensi seorang akuntan publik selama pelaksanaan jasa lain tersebut tidak memberikan pendapat atau keyakinan apapun.

5.2. Saran

1. Dari hasil penelitian ini diketahui dari keenam faktor yang diduga mempengaruhi independensi akuntan publik, temyata ada tiga faktor yang mempengaruhi yaitu: hubungan keluarga berupa suami atau istri, saudara sedarah semenda antara akuntan publik dan klien; hubungan us aha dan keuangan dengan klien serta keuntungan dan kerugian yang terkait dengan us aha klien dan keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai,

2. Dengan diketahuinya faktor-faktor yang mempengaruhi independensi akuntan publik, maka akuntan publik harus menghindari faktor-faktor tersebut agar independensi tidak terganggu dan pihak ketiga seperti pengguna jasa tidak meragukan independensi akuntan publik tersebut.

BABV KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pernbahasan yang telah dilakukan dapat disirnpulkan beberapa hal yaitu:

1. Secara keseluruhan faktor- faktor yang rnernpengaruhi independensi akuntan publik di kota Bandung berdasarkan tingkat signifikansinya:

a. Hubungan keluarga berupa suami atau istri, saudara sedarah semenda antara akuntan publik dan klien

Sejauh ini faktor hubungan keluarga antara auditor dan klien dapat rnernpengaruhi seorang auditor dalarn rnerurnuskan hasil kerj anya. Karena adanya hubungan istirnewa ini, auditor tidak independen dalarn rnernberikan hasil audit.

b. Hubungan usaha dan keuangan dengan klien serta keuntungan dan kerugian yang terkait dengan usaha klien

Seorang auditor yang rnernpunyai hubungan us aha dengan kliennya, dirnana auditor rnenjadi salah satu pernegang saharn di perusahaan yang diauditnya, akan rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Karena adanya hubungan istirnewa ini, auditor tidak independen dalarn rnernberikan hasil audit.

c. Keterlibatan dalam usaha yang tidak sesuai

Seorang yang terlibat dalarn usaha/ pekerjaan lain atau rnengadakan kerjasarna dengan perusahaan klien akan rnernpengaruhi independensi akuntan publik. Karena adanya keterlibatan seorang auditor dalarn suatu us aha dengan kliennya rnaka auditor tidak independen dalarn rnernberikan hasil auditnya.

64

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Halim , 2001 , Auditing I (Dasar-Dasar Audit Laporan Keuangan) , Edisi Kedua (revisi), Yogyakarta: UPP.AMP YKPN.

Arens.Alvin A. .Randal 1. Elder and Mark Beasley, 2003,

Auditing and Assurance Service, Edisi Sembilan, New Jersey: Prentice Hall.Inc.

Dewan SPAP IAI Kompartemen Akuntan Publik , 2001,

Standard Profesi Akuntan Publik , per 1 januari 2001, Jakarta: Salemba Empat.

Dunn, John, 1996, Auditing Theory and Practise, Edisi Kedua, Prentice Hall. Guy, Dan M., C. Wayne Elderrnan and Alan 1. Winter, 2002, Auditing,

Edisi Kelima, Jakarta: Erlangga.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo, 2002,

Metode Penelitian Bisnis Untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Pertama, Jakarta: BPFE Y ogyakarta.

Kell, Water G. and William G. Boynton, 2001, Modem Auditing, Seventh Edition, USA: John Willey and Sons.Inc, Mulyadi dan Kannaka Puradiredja, 1998, Auditing, Edisi Kelima,

Jakarta: Salemba Empat.

Mulyadi, 2002, Auditing, Edisi Keenam, Jakarta: Salemba Empat. Nazir.Moh, 1999, Metode Penelitian, Cetakan Keempat, Jakarta: Ghalia. Strawser and Strawser, 2002, Auditing Theory and Practise,

Edisi Sembilan, UAS:DAME

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->