P. 1
Peran Ruang Terbuka Hijau Pada Bangunan Dalam Mengurangi Peningkatan Temperatur Di Perkotaan Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Malang

Peran Ruang Terbuka Hijau Pada Bangunan Dalam Mengurangi Peningkatan Temperatur Di Perkotaan Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Malang

|Views: 492|Likes:
Published by herry potter
disajikan pada : SEMINAR NASIONAL Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan FTSP - ITN MALANG,15 JULI 2010
disajikan pada : SEMINAR NASIONAL Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan FTSP - ITN MALANG,15 JULI 2010

More info:

Published by: herry potter on Jul 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/25/2012

pdf

text

original

SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010 Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

PERAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA BANGUNAN DALAM MENGURANGI PENINGKATAN TEMPERATUR DI PERKOTAAN Studi Kasus Kawasan Pusat Kota Malang

Oleh : Bambang Joko Wiji Utomo bambangjwu71@yahoo.co.id Program Studi Arsitektur, FTSP-ITN Malang

Abstrak
Menurut Lippsmeier dalam bukunya Tropebou in the Tropic (bangunan tropis), bahwa pada setiap kota terjadi adanya gejala yang disebut “heat island”, terjadinya pemanasan-pemanasan lokal / setempat di kawasan pusat kota yang terjadi akibat terjadinya peningkatan aktifitas dan pembangunan di kawasan tersebut. Peningkatan temperature dikawasan pusat kota, banyak faktor yang mempengaruhi yaitu antara lain adalah berkurangnya ruang-ruang terbuka hijau di kawasan pusat kota, akibat dari peningkatan jumlah penduduk serta peningkatan pembangunan dikawasan tersebut. Dari hasil pengukuran peningkatan temperature di kawasan pusat kota Malang antara tahun 2000 dengan tahun 2010 temperature rata-rata pada bulan yang sama (Juni) memiliki perbedaan (meningkat) hampir mencapai 2 oC, suatu perbedaan yang cukup significan, yang sudah cukup untuk dirarasan oleh kulit manusia. Sedangkan dari hasil pengukuran dengan membandingkan pada 2 kawasan yang berbeda yaitu pada kawasan kota peninggalan Kolonial (kawasan Tugu) yang memiliki ruang terbuka hijau relatip luas (50%) dengan kawasan Pasar besar, yang minim ruang terbuka hijaunya (0 – 30%), pada tahun serta bulan yang sama di didapatkan perbedaan temperature rata-rata 0,72 oC, perbedaan yang sangat mencolok pada kawasan yang berjarak kurang dari 5 Km, pada satu kota yang sama. Dari kondisi tersebut peran ruang terbuka hijau dikawasan pusat kota sangatlah penting, untuk mengurangi peningkatan temperature di kawasan Pusat Kota.

LATAR BELAKANG Peningkatan temperature dikawasan pusat Kota tidaklah dapat dihindari, seperti yang ditulis oleh Lippsmeier dalam bukunya Tropebou in the Tropic bahwa pada setiap kota terjadi adanya gejala yang disebut “heat island”, terjadinya pemanasan-pemanasan local / setempat di kawasan pusat kota yang terjadi akibat terjadinya peningkatan aktifitas dan pembangunan di kawasan tersebut. Peningkatan temperature di kawasan pusat kota banyak faktor yang mempengaruhi antara lain meningkatnya jumlah penduduk serta peningkatan aktifitas masyarakatnya, peningkatan polusi udara, serta paningkatan pembangunan dikawasan pusat kota yang mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka hijau yang berubah menjadi elemen-elemen keras yang dapat meningkatan pantulan panas matahari dalam lingkungannya, serta banyak faktor lain. MAKSUD DAN TUJUAN Sebagai wacana dalam perancangan kota dan bangunan di kawasan pusat kota, serta dalam penyusunan kebijakan pembangunan kota, mengingat peraturan / kebijakan dalam penentuan Ruang Terbuka Hijau yang diterapkan pada kawasan pusat kota sangat kecil, kurang memperhatikan aspek lingkungan, dan lebih menekankan pada aspek ekonomi, sehingga mengakibatkan pembangunan yang kurang ramah lingkungan.

1

SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010 Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

PERMASALAHAN Ketidak nyamanan lingkungan kota, kurangnya tempat-tempat (ruang-ruang) terbuka untuk kegiatan penduduknya, Ketidak nyamanan lingkungan ini mengakibatkan masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan bermotor yang ber AC dari pada berjalan kaki atau berkendaraan tidak bermotor, akibat selanjutnya adalah terjadinya peningkatan polusi, serta rusaknya lapisan ozon, peristiwa ini merupakan peristiwa berantai serta semakin memperburuk kondisi lingkungan perkotaan, yang akibat selanjutnya system kota menjadi tidak effisien lagi, sehingga faktor ekonomi yang diharapkan sebagai tempat kehidupan yang ekonomis menjadi tidak tercapai atau dapat dikatakan rancangan kota menjadi gagal. TINJAUAN TEORI Radiasi Matahari Radiasi Matahari dalam prosesnya sampai dibumi mengalami banyak peristiwa yaitu antara lain terjadinya pemantulan oleh atmosfir, terjadi penyerapan panas, serta diffuse, sehingga sampai di bumi radiasi matahari kurang dari 60 %, sedangkan sampai di bumi Radiasi Matahari akan mengalami proses penyerapan oleh bumi, konduksi, konveksi, serta re-radiasi, serta pantulan panas oleh elemen-elemen permukaan bumi yang ada .

Radiasi Matahari yang mengenai pohon akan terjadi antara lain penyerapan oleh tanaman untuk proses fotosintesis, terjadi pemantulan oleh permukaan daun atau pohon, konduksi oleh elemen pohon konveksi maupun re-radiasi, radiasi matahari yang diteruskan oleh tanaman menjadi kecil karena proses penyerapan panas cukup besar

2

SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010 Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Perbandingan antara kawasan Tugu dengan Kawasan Pasar Besar Kota Malang. Dari Hasil Pengukuran elemen-elemen iklim di dua tempat tersebut, pada hari, jam dan bulan yang sama menunjukan hasil sebagai berikut : No 1 2 3 Sumber Elemen yang di ukur Temperature (rata-rata) Kecepatan angin (rata-rata) Kelembaban (rata-rata) : Hasil Survai Kawasan Tugu 30 oC 0.2 m/dt 50 % Kawasan Pasar Besar 31 oC 0.2 m/dt 70 %

Dari hasil pengukuran tersebut menunjukan perbedaan yang cukup significan adalah pada temperature dan kelembaban udara, sehingga di kawasan tugu dirasakan lebih nyaman di bandingkan dengan di kawasan Pasar Besar Kota Malang.

3

SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010 Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

Peta Lokasi Pengukuran

Kesimpulan Kesimpulan dari hasil pengukuran adalah sebagai berikut : 1. Ruang terbuka hijau merupakan faktor yang significan guna mengurangi peningkatan temperature dikawasan pusat kota Malang. 2. Pada Kawasan Tugu Kota Malang terbukti memiliki kondisi temperature yang lebih rendah dan lebih nyaman bila di bandingkan dengan kondisi dikawasan Pasar besar Kota Malang. 3. Tata bangunan dan lingkungan dikawasan pasar besar kota Malang relatip kurang memiliki peran dalam mengurangi peningkatan Temperatur di kawasan pusat kota, bahkan cenderung menjadi salah satu faktor penyebab peningkatan temperature kawasan Pusat Kota Malang. 4. Kawasan Tugu Kota Malang terbukti memiliki usia yang lebih pangjang dalam hal kenyamanan lingkungan. Maksudnya adalah Kawasan Tugu telah dibangun sejak jaman kolonial, namun sampai saat ini kawasan tersebut masih tetap memiliki kondisi iklim mikro yang nyaman, namun sebaliknya kawasan pasar besar yang dibangun

4

SEMINAR NASIONAL FTSP-ITN MALANG, 15 JULI 2010 Teknologi Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Berkelanjutan

5.

6. 7. 8.

setelah jaman kemerdekaan namun telah berubah menjadi kawasan yang kurang nyaman (memiliki temperature yang lebih tinggi) Perancangan kawasan Tugu telah dipertimbangkan dari aspek lingkungan dan iklim setempat, sedangkan kawasan pasar besar lebih banyak dipengaruhi oleh aspek ekonomi. Pembangunan Kawasan perkotaan masih berorientasi horizontal. Tata ruang kota Malang masih tidak effisien Adanya kecenderungan pembangunan dikawasan perkotaan untuk menghabiskan memanfaatkan secara total untuk bangunan (elemen keras).

Saran 1. Dalam perancangan lingkungan ataupun kawasan sebaiknya faktor lingkungan maupun iklim sudah selayaknya menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. 2. Dalam penyusunan kebijakan perencanaan kota maupun bangunan, agar aspek ruang terbuka hijau menjadi muatan yang harus terpenuhi. 3. Penentu kebijakan kota sebaiknya meninjau kembali (mengevaluasi) kebijakan tentang penentuan ruang terbuka hijau pada setiap bangunan. 4. Perencanaan kota ataupun kawasan pada daerah yang belum terbangun (kawasan Kedungkandang), perencanaannya sebaiknya mempertimbangkan aspek Lingkungan dan Iklim setempat, agar tidak mengulangi hal-hal yang telah terjadi. 5. Pembangunan Kawasan perkotaan sebaiknya berorientasi vertikal sehingga didapatkan ruang terbuka hijau yang cukup. 6. Setiap bangunan di kawasan perkotaan sebaiknya diwajibkan untuk menyediakan lahan sebagai RTH. Daftar Pustaka
Lippmeier, 1994, “ Tropenbou in the tropic” Puslitbangkim, 2005 “Perencanaan grdung dengan aspek kenyamanan” Jimmy Priatman, Ir, 2005, “Arsitektur hemat energi” Yeang, Ken, 2001, “Green Skyscraper”

5

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->