P. 1
-Beta- Konsep Pendidikan Islam Yang Ideal Di Indonesia

-Beta- Konsep Pendidikan Islam Yang Ideal Di Indonesia

|Views: 951|Likes:
Published by gueyea

More info:

Published by: gueyea on May 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

MENGGAGAS PENDIDIKAN ISLAM IDEAL DI INDONESIA

1

I.

PENDAHULUAN
Pendidikan telah menempati kedudukan yang amat tinggi dalam Islam dan pemeluknya, dahulu dan sekarang. Hal ini dapatlah dipahami ketika Islam mendudukkan ilmu sebagai landasan dalam beragama , baik ibadah, muamalah (interaksi sosial), dan dakwah. Di samping itu Islam juga menjunjung tinggi kedudukan orang yang berilmu. Tulisan ini hendak memaparkan konsep pendidikan Islam yang ideal untuk merefresh pendidikan Islam di Indonesia agar tercapai pembentukan insan kamil berkepribadian Islam dan siap menghadapi persaingan di era globalisasi saat ini tanpa harus menjual keyakinan. Pembahasan ini begitu penting setelah melihat begitu kacaunya sistem pendidikan nasional yang sekuler-materialistik, yang “gagal” mengantarkan masyarakat Indonesia menuju kemapanan di segala dimensi kehidupan. Tulisan ini juga sebagai upaya penyusun untuk berperan serta memberikan sumbangsih pemikiran untuk menyelesaikan permasalahan

pendidikan di Indonesia khususnya, dan yang akan berdampak -insya Allah- pada perbaikan secara menyeluruh di segala dimensi kehidupan di negeri ini umumnya.

II.

Pengertian
Konsep menurut KBBI adalah rancangan atau buram surat dan sebagainya; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa konkret.1 Rakhmat mendefinisikan, konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasikan hal-hal khusus. 2 Sehingga konsep merupakan ide, gambaran atau rancangan bersifat umum atas hal-hal khusus. Adapun pengertian pendidikan menurut KBBI adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan

1 2

Anonem, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dalam http://pusatbahasa.diknas.go.id/, (06/05/2010).

Anonem, “Definisi Konseptual” dalam http://digilib.petra.ac.id/viewer.php?page=1&submit.x=0&submit.y=0&qual=high&fname=/jiunk pe/s1/ikom/2008/jiunkpe-ns-s1-2008-51403089-8729-pasar_subuh-chapter3.pdf, (09/05/2010).

1

manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. 3 Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.4 Langeveld, seorang ahli pendidikan bangsa Belanda Ahli, merumuskan, pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain. 5 Ki Hajar Dewantara, merumuskan pengertian pendidikan, pendidikan umumnya berarti daya upaya untuk memajukan budi pekerti (karakter, kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak-anak selaras dengan alam dan masyarakatnya. 6 Dari pengertian pendidikan tersebut dapatlah dirumuskan, pendidikan Islam adalah upaya terencana dan berkelanjutan, berupa proses pengarahan, pembimbingan, dan pelatihan, demi mewujudkan pendewasaan pada anak atau peserta didik secara inteligensi, psikis, dan sosial dalam lingkup pengertian Islam, sehingga menumbuhkan generasi yang memiliki kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan, kepekaan sosial, dan berpegang-teguh dengan ajaran Islam di segala aspek kehidupan, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat.
3 4

Anonem, “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dalam http://pusatbahasa.diknas.go.id/, (06/05/2010).

Anonem, “Pengertian Pendidikan” dalam http://www.anneahira.com/artikelpendidikan/pengertian-pendidikan.htm, (06/05/2010). 5 Fatoer's, “Pengertian Pendidikan” dalam http://the-fatoer.blogspot.com/2009/02/pengertianpendidikan.html, (06/05/2010). 6 Fatoer's, “Pengertian Pendidikan” dalam http://the-fatoer.blogspot.com/2009/02/pengertianpendidikan.html, (06/05/2010).

2

Dengan demikian konsep pendidikan Islam merupakan suatu gambaran atau ide terhadap suatu model atau bentuk upaya terencana dan berkelanjutan untuk menyelenggarakan pengajaran dan pengarahan berdasarkan ajaran-ajaran Islam demi mewujudkan tujuan pendidikan Islam itu sendiri.

III.

Kondisi Pendidikan di Indonesia Secara Umum
Untuk menguraikan konsep pendidikan Islam yang ideal untuk diterapkan di Indonesia diperlukan pengetahuan akan kondisi pendidikan secara umum di Indonesia. Karena kondisi pendidikan Islam di Indonesia tidaklah jauh dari kondisi pendidikan pada umumnya. Dengan mengetengahkan gambaran umum kondisi pendidikan secara umum maka perumusan konsep selanjutnya sekaligus merupakan solusi dari problem-problem yang ada. Menurut Prof Dr HAR Tilaar, ada delapan masalah pendidikan yang harus menjadi perhatian. Kedelapan masalah itu menyangkut kebijakan pendidikan, perkembangan anak Indonesia, guru, relevansi pendidikan, mutu pendidikan, pemerataan, manajemen pendidikan, dan pembiayaan pendidikan. 7 A. Kebijakan Pendidikan Kebijakan pendidikan yang sesuai amanah para pendiri bangsa, yaitu kebijakan yang mencerdaskan bangsa belum dapat dipenuhi oleh pemerintah saat ini. Pada asalnya kebijakan-kebijakan tersebut adalah bagus. Hanya saja terkesan normatif dan kurang aplikatif, atau pada tahap implementasi tidak jarang terjadi penyimpangan yang berujung kekecewaan masyarakat. Sebagaimana program penyediaan internet massal di 17.500 sekolah, hal ini akan sia-sia jika tidak disertai kesiapan guru dalam penguasaan teknologi internet atau bahkan tidak memiliki pengetahuan akan komputer sama sekali. Juga seperti pendidikan kewirausahaan yang kini digalakkan pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran hanya menyelesaikan persoalan dipermukaan.
7

Anonem, “Permasalahan Pendidikan Indonesia Perlu Dipetakan http://www.atmajaya.ac.id/content.asp?f=0&id=690, (06/05/2010).

Kembali”

dalam

3

Tidak ada blue print (cetak biru) yang mengemuka antara pendidikan kewirausahaan dengan lapangan kerja yang ada saat ini. 8 Keterbatasan masyarakat di beberapa daerah seperti NTT untuk

mengakses program-program pendidikan yang dicanangkan oleh Depdiknas menjadikan mereka semakin tertinggal. Program Depdiknas seperti tivi edukasi, jardiknas kerja sama televisi lokal, book e-library, apalagi internet, hanya menambah deret masyarakat tertindas oleh pendidikan.9 Seharusnya Depdiknas mengembangkan pendidikan keunggulan lokal. Kemudian kebijakan terhadap kurikulum yang selalu berubah. Dan tidak ada perencanaan strategis dan riset untuk merumuskan kurikulum yang ideal bagi pendidikan di Indonesia di era modernisasi saat ini. Sehingga yang terjadi adalah pergantian kurikulum setiap terjadi pergantian pemerintah atau menteri. Terkesan pergantian kurikulum mulai dari kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994, KBK dan KTSP yang terkini, adalah sekedar tindakan trial-error. Sehingga dapat dimafhumi jika pendidikan yang dihasilkan juga setengah-setengah. B. Mengenai Perkembangan Anak Indonesia Mengenai perkembangan anak Indonesia, dapat disaksikan bahwa dewasa ini anak-anak Indonesia cenderung terbuai untuk bermain-main; main game di game-game center, main cinta-cintaan dengan menghabiskan waktu dengan bersms-an ria menghabiskan rupiah atau facebook-an, hingga menjurus pada pergaulan bebas yang berakibat hamil di luar nikah di saat ia tengah mengenyam pendidikan. Juga mereka cenderung menyukai dugem, chatting-an atau berselancar di dunia maya pada tengah malam, trek-trekan liar sepeda motor, narkoba, dan tawuran, semuanya ini menghambatnya untuk meraih kemajuan dan
8

Sidik Pramono, “Arah Kebijakan Pendidikan Nasional Belum Jelas” dalam http://beritapendidikan.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=12&artid=2010, (07/05/2010). Anonem, “UN, Pemiskinan, dan Transformasi Pendidikan” http://www.mediaindonesia.com/read/2010/05/04/140162/68/11/UN-Pemiskinan-danTransformasi-Pendidikan, (12/05/2010). dalam

9

4

mengambil bagian yang besar untuk turut berperan dalam agama, masyarakat, bangsa, dan negaranya. C. Masalah Guru Untuk mengetahui kelayakan guru sebgai tenaga profesional pendidikan, pemertintah mengadakan sertifikasi kepada seluruh guru pada setiap tingkatan satuan pendidikan. Sertifikasi ini dilakukan dengan berbagai cara, yaitu portofolio dan pendidikan dan pelatihan (diklat). Proses sertifikasi ini selain untuk meningkatkan kualitas kompetensi guru, juga diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan guru. Karena selama proses, guru akan menerima kompensasi kelayakan sebesar gaji bulanannya. Guru yang dinyatakan lulus proses sertifikasi akan menerima gaji tambahan yang menggiurkan. Oleh karena itulah banyak guru yang berusaha untuk dapat mengikuti proses sertifikasi. Berbagai upaya dilakukan agar proses sertifikasi yang diikutinya dapat lulus, terutama lulus secara portofolio. Portofolio artinya berkas-berkas yang disusun dan dibuat sebagai wujud kegiatan yang sudah dilakukan selama menjalankan tugas profesinya. Berkas ini mulai dari kelengkapan pembelajaran, berbagai sertifikat kegiatan ilmiah, berbagai karya tulis pengembangan profesi, kemampuan sosial, berbagai penghargaan yang didapat dari kegiatan ilmiah selama kurun waktu pelaksanaan kegiatan pendidikan. Berdasarkan data dari Direktorat Profesi Pendidik pada tahun 2008, jumlah guru Indonesia baik yang sudah pegawai negeri sipil atau yang belum, dari jenjang TK/MI sampai SMA dan yang sederajad berjumlah 2.783.321 orang. Dilihat dari latar belakang pendidikan terdapat 722.293 guru lulusan kurang atau sama dengan SLTA, 96.416 lulusan D1, 731.371 orang lulusan D2, 189.404 orang lulusan D3, 1.032.349 orang lulusan S1, 11.428 orang lulusan S2, dan 60 orang lulusan S3. Berdasarkan data tersebut baru 37,5% yang sudah berpendidikan S1 ke atas. Artinya bahwa guru di Indonesia yang berhak memiliki sertifikat baru 37,5%, dimana sertifikat diberikan kepada guru yang sudah lulus S1. Itupun masih

5

dengan catatan khusus, karena mereka harus menunjukkan kinerjanya untuk dinilai oleh asesor.10 D. Efektifitas, Efisiensi, dan Relevansi Pendidikan Masalah ini berkenaan dengan rasio antara tamatan yang dihasilkan satuan pendidikan dengan yang diharapkan satuan pendidikan di atasnya atau institusi yang membutuhkan tenaga kerja, baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Masalah relevansi terlihat dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu yang tidak siap secara kemampuan kognitif dan teknikal untuk melanjutkan ke satuan pendidikan di atasnya. Masalah relevansi juga dapat diketahui dari banyaknya lulusan dari satuan pendidikan tertentu, yaitu sekolah kejuruan dan pendidikan tinggi yang belum atau bahkan tidak siap untuk bekerja. 11 Tercatat sampai dengan Agustus 2009 jumlah pengangguran terbuka di Indonesia sebanyak 9,25 juta orang dan setengah pengangguran (terselubung) lebih kurang 30 juta orang, dan sungguh sangat memprihatinkan bahwa terdapat penganggur berstatus sarjana sejumlah 1,13 juta orang terdiri dari lulusan sarjana 630 ribu orang dan lulusan diploma 500 ribu orang, belum termasuk sarjana setengah penganggur yang jumlahnya lebih besar lagi yaitu yang bekerja di bawah jam kerja normal dan masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain. 12 Prof. Dorodjatun Kuntjoro Jakti, dalam salah satu seminar menyatakan bahwa pendidikan di Indonesia tidak menghasilkan lulusan yang siap kerja atau menciptakan lapangan pekerjaan. Juga ada yang perlu dipertanyakan mengenai

Anonem, “Abad 21, Guru Indonesia Harus Tersertifikasi” http://blog.unila.ac.id/herpratiwi/2010/04/30/abad-21-guru-indonesia-harus-tersertifikasi/, (12/05/2010).
11

10

dalam

Kuntjojo, “Masalah Efisiensi, Efektivitas, Dan Relevansi Pendidikan Dalam Perspektif Manajemen Pendidikan” dalam http://ebekunt.wordpress.com/2009/04/14/masalah-efisiensiefektivitas-dan-relevansi-pendidikan-dalam-perspektif-manajemen-pendidikan/, (08/05/2010). 12 Thoga M Sitorus, “Penganggur Sarjana dan Kesempatan Kerja” dalam http://hariansib.com/?p=113543, (10/05/2010).

6

materi pendidikan dengan relevansinya terhadap kehidupan.13 Sehingga dipandang perlu untuk memberi porsi besar untuk materi kewirausahaan dan keterampilan-keterampilan yang sesuai dengan ketersediaan dunia kerja. E. Mutu Pendidikan Masalah mutu pendidikan Indonesia adalah cerita lama yang kian waktu kian memprihatinkan. Hasil ujian nasional 2010 dapatlah menjadi cerminan betapa mengenaskan mutu pendidikan di negeri ini. Tingkat kelulusan ujian

secara nasional untuk tingkat sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliyah (MA), mengalami penurunan sebesar empat persen. Pada 2009, tingkat kelulusan 93,74 persen. Pada 2010 turun menjadi 89,88 persen. Yang memprihatinkan lagi, sebanyak 267 sekolah memperoleh kelulusan 0 % .14 Untuk hasil Ujian Nasional untuk tingkat menengah pertama tahun 2010, angka kelulusan lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Hasil UN tahun 2009 yang lulus 95,09% sedang tahun ini 90,27%. Dan sekolah yang angka kelulusannya 0 persen sebanyak 561 sekolah. Motto yang digulirkan pada Ujian Nasional (UN) 2010, prestasi dan jujur, juga harus ternodai dengan adanya beberapa pelanggaran. Kementerian Pendidikan Nasional pun menerima sembilan ratus masukan penemuan pelanggaran serta kecurangan Ujian Nasional 2010 dari berbagai daerah di Indonesia. Keterpurukan ini semakin nyata ketika mutu pendidikan Indonesia disandingkan dengan mutu pendidikan di negara-negara lain. UNDP (United Nation Development Program) atau Badan PBB yang menangani masalah pendidikan mengeluarkan data tentang peringkat Negara-negara dunia

berdasarkan daya saing kualitas sumber daya manusia tahun 2007 atau Human

13

Jon Kartago Lamida, “Holistikasi Pendidikan Indonesia di Masa Depan” dalam http://lamida.wordpress.com/2007/11/30/holistikasi-pendidikan-indonesia-di-masa-depan/, (08/05/2010). 14 Anonem, “Kualitas Pendidikan” dalam http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/43457/kualitas-pendidikan, (10/05/2010).

7

Development Index 2007. Dari 177 negara yang diteliti, Indonesia menduduki peringkat hampir terakhir yaitu di posisi 107. F. Pemerataan Wilayah Indonesia yang memanjang berpulau-pulau, dengan pegunungan dan hutannya membuat beberapa daerah seakan terisolir. Pembangunan pendidikan pun seakan sulit menjangkau daerah perbatasan, daerah terpencil, dan pulau terluar. Permasalahan seperti kekurangan guru, pengadaan fasilitas seperti perpustakaan, penambahan, dan perbaikan ruang kelas atau gedung sekolah, dan sebagainya. Hal ini merupakan persoalan lama semenjak penanganan ditangani pusat hingga kini telah menjadi otonomi daerah, sebagaimana yang dinyatakan oleh wakil Menteri Pendidikan RI, Fasli Djalal. Hal ini sebagaimana data yang diterbitkan Ditjen PMPTK, menunjukkan jumlah guru secara nasional sebanyak 2.607.311 yang terdiri atas guru PNS 1.579.381 dan nonPNS 1.027.930. Berdasar persebaran data per kabupaten/kota, jumlah guru terpadat, baik PNS maupun non-PNS-sudah pasti-pada kota/kabupaten yang termasuk metropolitan, antara lain: 15 Kota/Kabupaten Kota Jakarta Timur Kota Surabaya Kota Medan Kota Bandung PNS 13.870 11.487 10.541 13.953 Non PNS 16.460 17.793 16.268 12.042 Jumlah 30.330 29.280 26.809 25.995

Kabupaten/kota yang jumlah guru minim antara lain: Kota/Kabupaten PNS NonPNS Jumlah

Ichsan, “ Data Nasional 2009: Jumlah Guru Menurut Golongan” dalam http://tunas63.wordpress.com/2010/01/30/data-nasional-2009-jumlah-guru-menurut-golongan/, (11/05/2010).

15

8

Kota Subulussalam (NAD) 7 Kota Bolaang Mongondow Selatan (Sulut) Kota Bolaang Mongondow Timur (Sulut) 39 Kab. Memberamo Tengah (Papua) 55 Kab. Kep. Anambas (Kepri) 77 101 178 37 92 24 63 12 10 9 17 21

G. Manajemen Pendidikan16 Manajemen pendidikan merupakan hal yang harus diprioritaskan untuk kelangsungan pendidikan, sehingga menghasilkan keluaran yang diinginkan. Berbagai upaya inovasi dan perbaikan sistem serta manajemen pendidikan mulai dari desentralisasi pendidikan, otonomi sekolah, hingga manajemen berbasis sekolah (MBS) yang telah digagas pemerintah sampai saat ini ternyata tidak mampu mendongkrak mutu pendidikan nasional. Akhirnya yang terjadi daya saing output pendidikan kita tergolong lemah dibandingkan dengan negara-negara lain. Kualitas pendidikan di Indonesia menempati urutan ke 33 dalam daftar kualifikasi pendidikan di dunia. Permasalahan ini timbul akibat lemahnya sistem manajemen yang ada. Ada tiga hal yang dirumuskan para pemerhati pendidikan di Indonesia, yaitu pertama, kebijakan dan manajemen pendidikan nasional yang masih berorientasi kepada analisa input-output pendidikan dan kurang memperhatikan proses pendidikan. Kedua, manajemen pendidikan nasional masih cenderung dikelola dengan pendekatan biroktratik-sentralistik sehingga kebebasan pelaksana atau manajer pendidikan sangat bergantung pada keputusan birokrasi yang sangat berbelit-belit dan sarat hegemoni.
16

Anonem, “Mencermati Manajemen Pendidikan http://www.dutamasyarakat.com/artikel-1242-.html, (08/05/2010).

Nasional”

dalam

9

Ketiga, peran serta orang tua/wali siswa atau masyarakat dalam manajemen pendidikan selama ini sangat minim. Akuntabilitas sekolah terhadap masyarakat sangat lemah. H. Pembiayaan Pendidikan Mengenai pembiayaan pendidikan, perlu untuk membicarakannya dari dua sisi; sisi pemerintah sebagai pemegang struktural pendidikan tertinggi dan dari sisi para orang tua peserta didik. Adapun pembiayaan pendidikan oleh pemerintah, maka berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, anggaran pendidikan minimal sebesar 20% dari total anggaran belanja negara, pemerintah kini telah menganggarkan dana pendidikan dalam APBN-P 2010 sebesar Rp 221,4 triliun dari anggaran semula Rp. 209,53 triliun. Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan, Anny Ratnawati, memaparkan bahwa anggaran tersebut terbagi dalam tiga bagian. Pertama tambahan anggaran pendidikan bagi kementerian dan lembaga nondepartemen sebesar Rp 9,35 triliun dari sebelumnya Rp 83,17 triliun. Kedua, transfer ke daerah naik Rp 119 miliar dari sebelumnya Rp 126,36 triliun. Dan ketiga, dana abadi pendidikan Rp 2,4 triliun yang sebelumnya tak dianggarkan.17 Pemerintah juga mengalokasikan dana percepatan pembangunan

infrastruktur pendidikan sebesar Rp 1,2 triliun dengan proporsi alokasi untuk SD sebesar 60 % dan SMP 40 %. Juga dana penyesuaian sebesar Rp 21,15 triliun. Dana penyesuaian ini terdiri dari dana tambahan penghasilan untuk guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) sebesar Rp 5,8 triliun, yang akan diberikan kepada guru PNSD yang belum mendapatkan tunjangan profesi guru, serta bagi guru PNSD yang pada tahun ajaran 2009 berhak mendapatkan dana tambahan penghasilan namun belum menerimanya.

17

Anonem, “Pemerintah Sisihkan Rp 2,4 Triliun untuk Dana Abadi Pendidikan” dalam http://www.tempointeraktif.com/hg/perbankan_keuangan/2010/03/09/brk,20100309231124,id.html, (12/05/2010).

10

Permasalahan yang tersisa adalah bagaimana dana itu dapat digunakan secara efektif, efisien, serta merata. Sehingga kesenjangan pembangunan pendidikan antar daerah tidak lagi ada.

IV.

Pendidikan Islam di Indonesia
Pendidikan Islam di Indonesia saat ini adalah terdiri dari pendidikan formal yang proses pembelajarannya secara klasikal yang diselenggarakan oleh negara atau swasta, dan pendidikan non-formal dengan pembelajaran bersifat tradisional seperti pondok pesantren dan semisalnya. Akibat sistem pendidikan nasional yang sekuler-materialistik, maka terjadi dikotomi pendidikan yang sudah berjalan puluhan tahun, yaitu pendidikan agama di satu sisi dan pendidikan umum di sisi lain. Pada akhirnya pengelolaan pendidikan secara kelembagaan terjadi pemisahan. Pendidikan agama melalui madrasah, institut agama dan pesantren dikelola oleh Departemen Agama, sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar, sekolah menengah dan kejuruan serta perguruan tinggi umum dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional. 18 Hal ini ditambah adanya sinyalemen akan upaya sekularisasi terhadap pendidikan Islam secara sistematis di negeri ini. Waktu yang diberikan untuk materi agama begitu minim yaitu 2 jam belajar seminggu Sekularisasi pendidikan saat ini telah menyebabkan dimensi moral menjadi tercerabut dan merusak pendidikan Islam agar tidak lagi memproduksi insan kamil (manusia sempurna). 19

V.

Pandangan Islam Terhadap Pendidikan
Islam dalam sejarah umat manusia telah menorehkan tinta emas perjalanan panjang dan berliku-liku dalam mencetak generasi terbaik umat manusia setelah para Nabi dan Rasul. Bertolak dari perintah membaca “ iqro’ bismirobbikalladzi
18

Anonem, “Menggagas Kembali Konsep Sistem Pendidikan Islam” dalam http://femaleofhati.blogspot.com/2008/09/diary-hati-9.html, (08/05/2010). 19 Anonem, “Ilmu integratif dan interkonektif tangkal sekularisasi pendidikan” dalam http://www2.umy.ac.id/2009/09/ilmu-integratif-dan-interkonektif-tangkal-sekularisasipendidikan.umy, (08/05/2010).

11

kholaq…” (bacalah dengan nama Rabbmu yang menciptakan …) dan perintah berdakwah, menyebarkan ajaran Islam “ yaa ayyuhal muddatstsir * qum fa andzir …” (wahai orang yang berselimut * bangkitlah dan berilah peringatan …), cahaya ajaran Islam mulai menerangi relung kegelapan jahiliyyah Arab dan membuat pihak-pihak tertentu yang terbuai dengan kejahiliyyahan menggeliat kegerahan. Hingga akhirnya mampu menerangi dunia dari timur hingga ke barat. Kegemilangan generasi pertama Islam dalam pendidikan tersebut tidak lepas dari bagaimana Islam memandang pendidikan sebagai faktor utama untuk menuju peradaban madani. Karena Islam meninggikan kedudukan ilmu dan orang-orang yang berilmu (ulama). Di antara pandangan-pandangan itu secara implisit tertuang dalam wahyu pertama yaitu lima ayat pertama dari surat al-Alaq; A. Membaca Membaca adalah salah satu unsur penting dalam proses pendidikan. Karena dengan membaca seorang dapat menggali lebih dalam pengetahuan dari masa lampau hingga kekinian. Pengulangan perintah “bacalah”, pada ayat pertama dan ketiga dari lima ayat pertama surat al-Alaq tersebut, menunjukkan bahwa membaca adalah hal seharusnya menjadi budaya dalam pendidikan. Dan hal ini telah teraktualisasikan pada tiga generasi awal Islam yang gemilang. B. Menulis Disebutkan secara implisit dengan penyebutan al-qolam (pena) pada ayat keempat dari surat al-Alaq. Hal ini juga diperkuat dengan adanya perintah dari Sang Pendidik, Rasulullah, “Ikatlah ilmu dengan menulis !”, yakni tulislah ilmu ! Mengingat bahwa menulis memiliki peranan penting dalam mentransfer ilmu dari generasi ke generasi dan menumbuhkan budaya ilmiah. Para Imam, pendahulu kita telah merealisasikan hal ini pada pencapaian yang tidak didapatkan pada generasi selain mereka. Karya-karya tulis mereka yang berjilid-jilid, dalam berbagai cabang ilmu, berupa manuskrip di perpustakaan-perpustakaan di berbagai belahan dunia, ditambah karya-karya mereka yang tidak diketahui rimbanya dan yang raib akibat peperangan, menjadi bukti akan budaya tulismenulis yang mengagumkan.

12

C. Mengajar (Ta'lim) Sebuah proses transfer ilmu dari satu orang ke orang lain, dari satu generasi ke generasi yang lain, ini disebut dua kali pada ayat keempat dan kelima. Pada ayat keempat disebutkan bersamaan dengan al-qolam pada ayat kelima disebutkan bahwa pengajaran itu adalah kepada manusia pada hal-hal yang ia belum ketahui. Juga disebutkan dalam hadits dari Rasulullah, beliau bersabda, “Sampaikan dariku meskipun -hanya- satu ayat.”20 D. Orang yang Berilmu Tidaklah Sama dengan Orang yang Tak Berilmu Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah, yang artinya, “Tidaklah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui…”21 E. Orang yang Berilmu Ditinggikan Kedudukannya Sebagaimana terkandung dalam firman Allah, yang artinya, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang diberi pengetahuan (setinggi) beberapa derajat.”22 F. Penguasaan terhadap Ilmu Agama Adalah Tanda Kebaikan Ini terkandung dalam sabda Rasulullah, “Barangsiapa yang dikehendaki padanya kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam (perkaraperkara) agamanya.”23 G. Menuntut Ilmu Merupakan Jalan Menuju Surga Mungkin inilah pendorong mengapa tiga generasi awal Islam begitu getol untuk menuntut ilmu. Mereka memandang bahwa tujuan akhir dari lelahnya melewati proses pendidikan adalah surga yang dipenuhi segala kenikmatan yang

20 21 22 23

13

tiada pernah dilihat oleh mata, tiada pernah didengar oleh telinga, dan tiada terlintas di benak siapapun, surga yang tiada kepenatan dan kematian di dalamnya. Motto mereka adalah firman Allah, yang artinya, “Dan Akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”24 dan sabda Nabi, “Barangsiapa menempuh suatu perjalanan demi mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalannya menuju surga.”25 H. Long Live Education Pendidikan merupakan proses yang berkesinambungan. Tidaklah seorang pun menghabiskan seluruh umurnya melainkan masih banyak ilmu yang belum ia ketahui. Allah berfirman, yang artinya, “Tidaklah aku diberi ilmu melainkan hanya sedikit.” Imam Ahmad bin Hanbal berkata, “Menuntut ilmu itu dari timangan hingga kuburan.”26 yakni dari bayi hingga mati. I. Peran Wanita Muslimah dalam Pendidikan Umat Gerakan feminisme dan kesetaraan gender seakan menafikan perhatian Islam terhadap kaum wanita atas dasar pembedaan perlakuan antara kaum adam dan hawa. Islam tidaklah membedakan dua jenis tersebut, namun Islam memberikan perhatian sangat khusus kepada kaum wanita karena keunikan dan keistimewaannya. Mungkin mereka belum dapat menangkap sisi hikmah dari perlakuan khusus tersebut. Sebagaimana Islam telah membuka kesempatan seluas-luasnya bagi wanita untuk mengecap pendidikan dan berperan serta dalam memajukan pendidikan. Pandangan kaum feminis yang selalu menuntut bukti empiris dan fakta, dapat mereka ketemukan di kitab-kitab tarikh di masa-masa keemasan Islam. Sebagaimana diceritakan oleh Abu Sa’id Al-Khudri bahwa para wanita berkata kepada Nabi, “Kaum lelaki lebih banyak bersamamu dari pada kami maka jadikan sehari bersamamu untuk kami,” maka Rasulullah menjanjikan kepada
24 25 26

14

mereka sehari untuk bertemu mereka, maka Rasulullah pun memberikan mau’idzoh -nasehat- dan perintah kepada mereka. 27 Para shohabiyat juga memberikan pengajaran kepada umat. Di antaranya adalah para istri Nabi semisal Aisyah yang meriwayatkan hadits sebanyak ???? hadits. Dan di antara yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah ????.

VI.

Refreshing Pendidikan Islam Sebagai Solusi
Mengetahui problem-problem yang dihadapi dunia pendidikan Islam di Indonesia sebagai imbas dari problematika pendidikan dalam cakupan luas dan adanya masalah-masalah khusus pada pendidikan Islam tersebut, maka diperlukan “penyegaran” dan pembenahan dengan konsep sebagai berikut : A. Hukum Menuntut ilmu adalah menjadi kewajiban bagi seluruh kaum muslimin. Dalam artian setiap muslim yang hendak melakukan tindakan (amal), wajib untuk mengetahui hukum dan segala hal mengenai tindakannya tersebut, sehingga ia benar-benar yakin bahwa tindakannya itu telah berdasarkan syariat Islam atau tidak terdapat hal-hal yang melanggar etika, hak orang lain, atau menimbulkan kerusakan di muka bumi. Landasan hukum akan status hukum pendidikan di antaranya adalah : • Firman Allah (yang artinya), “Ketahuilah bahwasanya tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan Allah...” • • Sabda Rasulullah : “Menuntut ilmu adalah kewajiban atas setiap muslim.” Penjelasan : mengingat bahwa tujuan penciptaan manusia (dan jin) adalah penghambaan dan peribadahan hanya kepada Allah, maka untuk menjalankan segala konsekuensi kalimat tauhid, kalimat pertama dari dua kalimat syahadat, setiap muslim diwajibkan untuk mengetahui hak Allah, bahwa hanya Allahlah yang berhak untuk disembah, diibadahi, dan dijalankan syariat-Nya.

27

15

Adapun sabda Rasulullah, maka Imam Malik memberikan penjelasan bahwa jika seorang muslim jika mendapati suatu perkara yang berhubungan dengan diin (agama)-nya, maka hendaklah ia menanyakan perkara itu hingga ia mengetahui segala hal tentangnya. Nash perkataan imam Malik ? Jadi tidak semua hal wajib dipelajari. Yang diwajibkan adalah hal-hal yang ditemui oleh seorang muslim, mengenai agamanya begitu juga tentang kehidupan dunia dikarenakan sifat ajaran Islam yang universal, sedangkan ia dituntut untuk melakukan suatu tindakan atau bersikap. Ketika menemui kondisi yang demikian itu maka ia wajib menuntut ilmu mengenai perihal tersebut. Dan inilah yang dimaksud dengan relevansi pendidikan dalam Islam. Mengenai relevansi pendidikan, maka Islam telah menerangkan bahwa seorang hendaknya melakukan sesuatu yang bermanfaat baginya dan

meninggalkan hal-hal yang sia-sia, sebagaimana dalam sabda Nabi : “Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah ia meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat baginya.” B. Tujuan Pendidikan Pendidikan dalam Islam bertujuan membentuk pribadi muslim yang takut kepada Allah, taat kepada syariat Rasulullah, berakhlak mulia, memiliki dedikasi untuk meninggikan dan memperjuangkan agama Islam dan syariatnya kepada seluruh manusia, dan memberi kemanfaatan bagi kemanusiaan. C. Teknik Pelaksanaan 1. Ketentuan-Ketentuan Umum • Hendaklah pendidik memiliki setidaknya tiga kompetensi : Penguasaan terhadap materi, sebagaimana diisyaratkan dalam firman Allah, yang artinya, “Katakanlah –wahai Muhammad- ini adalah jalanku,

16

aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak manusia menuju jalan Allah berdasarkan Ilmu.”28 Penguasaan terhadap keadaan anak didik, sebagaimana diisyaratkan dalam sabda Nabi kepada Muadz ketika beliau mengutusnya berdakwah ke Yaman, “Wahai Muadz, sesungguhnya engkau akan mendatangi sebuah kaum ahlul kitab...”29 Penguasaan terhadap metode pembelajaran, seperti yang diisyaratkan dalam firman Allah, yang artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan mau’idzah hasanah dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”30 Secara tersirat, dalam ayat tersebut terkandung tiga metode pembelajaran, hikmah (kebijaksanaan), mau’idzah hasanah (nasehat yang baik), dan mujadalah (dialog atau debat). • Hendaknya pendidik menunjukkan rasa kasih-sayang dan persahabatan kepada anak-anak didiknya sehingga tercipta kedekatan dan penghormatan dari mereka, seperti tersirat dalam hadits, “Barangsiapa yang tidak menyayangi (mengasihi) maka ia tidak akan disayangi.” • Hendaknya pendidik mengklasifikasikan materi yang hendak diajarkan dan memprioritaskan materi yang lebih penting. Dalam Islam, materi yang paling penting adalah penanaman akidah yang benar kepada anak sejak dini dan sepanjang jenjang pendidikannya, terutama adalah materi tentang tauhid. Prinsip ini terkandung pada sabda Nabi kepada Muadz ketika mengutusnya ke Yaman, “... maka hendaklah pertama kali yang harus kamu sampaikan kepada mereka adalah syahadat laa ilaha illa Allah wa anna Muhammad Rasulullah, jika mereka mematuhi apa yang kamu dakwahkan, maka

28 29 30

17

sampaikan kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, ...”31 • Hendaknya pendidik memberikan materi dengan bobot yang sesuai dengan jenjang pendidikan atau daya tangkap anak didik, seperti tersirat dalam hadits, “Sampaikanlah kepada manusia apa-apa yang bisa mereka pahami ! Apakah kalian suka jika Alloh dan Rosulnya didustakan ? ”32, yakni karena mereka salah paham disebabkan materi yang disampaikan belum dapat dijangkau oleh akal mereka. • Hendaknya pendidik senantiasa memberikan motivasi kepada anak didik, memberikan 2. Sumber-sumber Materi • • Al-Quran dan Al-Hadits ash-Shahih Buku-buku yang mengacu kepada pemahaman Tiga Generasi Awal setelah Kenabian; para sahabat Rasulullah, tabi’in, dan tabiut- tabi’in, serta para imam yang mengikuti manhaj/metode pemahaman mereka dengan baik. Allah berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang mengikuti selain jalannya kaum mukminin maka akan Kami palingkan dirinya kearah ia berpaling dan Kami masukkan ke Jahannam, dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.” Dan firman-Nya, yang artinya, “---mereka beriman sebagaimana iman kalian (para sahabat) maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” • Referensi-referensi yang relevan dengan keilmuan duniawi yang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat Islam.

31 32

18

3. Materi • Materi Ulumuddin Akidah, Manhaj, Fiqh Ibadah dan Muamalah, al-

Quran, al-Hadits, Adab dan Akhlaq, Bahasa Arab, Kaidah-Kaidah Ilmu Islam, Tarikh Islam, Ilmu Tafsir, dan sebagainya. • Materi Sains, seperti Matematika, Kelompok IPA, Kelompok IPS, Bahasa Inggris, Teknologi Informasi, dan sebagainya. • Materi Kejuruan, disesuaikan dengan kebutuhan lokal, seperti

Holtikultura, Pengolahan Hasil Pertanian dan Peternakan, Pariwisata, dan lain-lain. • Materi Umum, diberikan kepada semua jenis sekolah, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Jasmani, Keterampilan Berbasis Kewirausahaan, Jurnalistik dan Penulisan. • Masing-masing jenis sekolah (pada jenjang menengah atas) mendapat sebagian porsi dari materi inti dari jenis sekolah lainnya. Materi Bahasa Inggris mendapat porsi yang banyak pada Sekolah Sains dan Sekolah Kejuruan Pariwisata atau semisalnya. 4. Jenjang Pendidikan33 Pra sekolah untuk usia 3-5 tahun, model yang sesuai adalah homescholling dengan melibat peran orang tua sebagai pendidik dan tauladan. Pendidikan ditekankan kepada penanaman dan pembiasaan nilai-nilai Islam berupa adab, doadoa sederhana, pengenalan bahasa Arab, dan pendewasaan anak secara psikososial. Sekolah Dasar untuk usia 6-11 tahun, terdiri dari dua jenjang, fase dasar dan fase orientasi. Fase Dasar selama 4 tahun. Pendidikan menekankan kepada pemahaman terhadap akidah dasar, penguasaan bahasa Indonesia dan Arab
Mengacu pada jenjang pendidikan di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Filipina dengan penyesuaian. Lihat Hery Witanto, “Sistem Pendidikan di Negara-Negara ASEAN : Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina” dalam //www.scribd.com/document_downloads/direct/24330187?extension=pdf&ft=1273290158&lt=12 73293768&uahk=obwDaUiF3leZFLK8JRlhNTj2Ss8, (08/05/2010).
33

19

sederhana, hafalan al-Quran, doa dan adab sehari-hari, matematika. Fase Orientasi selama 2 tahun, terbagi menjadi 3 kategori kelas, kelas A untuk anak dengan kemampuan Bahasa Indonesia dan Arab, Matematika, pemahaman, dan hafalan yang bagus. Kemudian kelas B untuk anak berkemampuan sedang. Dan kelas C untuk anak berkemampuan rendah. Masing-masing kelas akan mendapatkan bobot pelajaran yang berbeda pada Fase Orientasi ini. Ujian diadakan untuk mengetahui perkembangan pembelajaran dan penentuan arah minat anak pada jenjang berikutnya. Anak didik yang tidak dapat memenuhi standar nilai tetap dinyatakan lulus dan diarahkan kepada jenjang berikut yang sesuai dengan kemampuan. Pendidikan Menengah Pertama selama 4 tahun, terdiri dari Fase Dasar (2 tahun), menekankan kepada pendasaran kaidah-kaidah ilmu keislaman, seperti Akidah, Manhaj, Kaidah Bahasa Arab, Ulumul-Quran, Musthalah Hadits, Ushul Fiqh, Fiqh Lanjutan 1, hafalan al-Quran dan Hadits, dan Tarikh Islam serta Matematika Lanjutan. Pada Fase Orientasi (2 tahun), terbagi menjadi 2 kategori kelas, Kelas Ulumuddin, orientasinya kepada pendalaman ilmu-ilmu keislaman, dan Kelas Sains, berorientasi pada pendasaran ilmu-ilmu sains, meliputi Bahasa Inggris 1, Matematika 1, IPA 1, IPS 1, dan IT 1. Kelas Ulumuddin juga mendapatkan materi ekstra berupa Bahasa Inggris Dasar, IPA Dasar, IPS Dasar, dan IT Dasar. Kelas Sains juga mendapat materi ekstra berupa Akidah Lanjutan, Manhaj Lanjutan, Bahasa Arab Muhadatsah (percakapan) dan Fiqh Lanjutan 2. Pada jenjang ini semua peserta didik mendapatkan pelajaran olahraga, keterampilan, dan wirausaha. Pada tingkat Menengah Atas terdiri dari 3 jenis Sekolah, Sekolah Ulumuddin, Sekolah Sains, dan Sekolah Kejuruan, dengan masa belajar 3 tahun. Sekolah-sekolah ini merupakan pendalaman dari jenjang menengah pertama. Pembelajaran dibagi menjadi 3 fase, Sanah Ula, Sanah Mutawassithah, dan Sanah Tsanawiyyah. Masing-masing fase memfokuskan pendalaman pada beberapa materi tertentu, misalkan Sanah Ula pada Sekolah Ulumuddin adalah Akidah dan Manhaj Lanjutan, Adab dan Balaghah (Sastra Arab), dan Tarikh Islam Lanjutan. Sedangkan pada Sekolah Sains materi untuk Sanah Ula adalah

20

Bahasa Inggris 2, Matematika materi kelompok IPA 2, dan IT 2. Demikian pada Sekolah Kejuruan dan fase-fase selanjutnya pembelajaran difokuskan pada materi-materi tertentu. Pada masing-masing jenis sekolah peserta didik akan menerima setidaknya 20 % dari materi inti dari jenis sekolah lain. 5. Metode Pengajaran Ceramah, Diskusi (Problem Solving), Tanya-Jawab, Demonstrasi, Penugasan, Bercerita, Tamtsil (memberikan permisalan-permisalan), dan metodemetode lainnya, yang diterapkan sesuai dengan kapasitas kemampuan anak didik, situasi, dan kondisi pembelajaran. Metode yang utama adalah uswah (keteladanan) dan tashfiyyah wa tarbiyyah (pemberian nasehat dan peringatan), terutama dalam menanamkan kebiasaan dalam adab-adab Islam dan mu’amalah (hubungan sosial) dengan lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. D. Manajemen Pendidikan Manajemen pendidikan hendaknya lebih mengedepankan proses

pembelajaran meskipun juga tidak berarti mengabaikan input berupa peningkatan sarana dan prasarana. Sehingga diadakannya ujian adalah hanya untuk mengetahui tingkat penyerapan peserta didik terhadap materi yang diberikan untuk kemudian menjadi catatan guru dalam mempersiapkan pembelajaran di kelas atau jenjang pendidikan selanjutnya. Untuk itu diberikan kebijakan bagi peserta didik yang gagal atau tidak memenuhi standar penilaian, untuk melakukan ujian ulangan. Peserta didik yang lulus dan yang gagal dalam ujian ulangan ini diberi kesempatan untuk memasuki kelas khusus pada jenjang berikutnya denga materi dan pembelajaran yang disesuaikan dengan kapasitas kemampuan mereka. Manajemen juga hendaknya dikelola oleh semacam dewan sekolah yang terdiri dari para guru, orang tua peserta didik, perwakilan dari Depdiknas, Depag, dan Depnaker -bila diperlukan-, serta pakar pendidikan. Sehingga terjadi komunikasi bersama antar semua unsur demi meningkatkan kualitas, efektifitas, efisiensi, dan relevansi pendidikan di sekolah yang bersangkutan dan dapat

21

menjadi

pertimbangan

pemerintah

dalam

menentukan

kebijakan

dalam

pembangunan pendidikan nasional. E. Pendanaan Pendidikan Bantuan Pemerintah, dengan adanya anggaran dana sebesar 20 % dari APBN yang termasuk di dalamnya adalah dana abadi pendidikan. Dana Swadaya, dengan membangun kesadaran masyarakat terutama para pengusaha muslim untuk ikut berperan dalam meningkatkan mutu pendidikan Islam di suatu lembaga sekolah khususnya dan di Indonesia umumnya. Dana bantuan luar negeri yang tidak mengikat, dengan melakukan lobilobi terhadap beberapa yayasan-yayasan pendanaan dari Timur-Tengah. F. Output yang diharapkan Dengan konsep pendidikan yang demikian, diharapkan akan menghasilkan insan kamil (manusia sempurna) yang memiliki akidah benar, manhaj yang lurus, akhlak yang mulia, menguasai ilmu sains dan teknologi, serta memiliki jiwa wirausaha.

22

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->