P. 1
Kuliah Masalah Dan Isu Kebijakan

Kuliah Masalah Dan Isu Kebijakan

|Views: 3,505|Likes:
Published by allfredoem

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: allfredoem on Apr 24, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

MATERI KULIAH MASALAH dan ISU KEBIJAKAN

MASALAH KEBIJAKAN • Substansi atau salah satu unsur kebijakan publik adalah masalah yang harus dipecahkan melalui tindakan yang dilakukan pemerintah. • Masalah merupakan fokus yang penting dalam proses kebijakan publik, karena kebijakan publik sebagai serangkaian tindakan yang mempunyai tujuan tertentu yang diikuti dan dilaksanakan oleh pelaku atau sekelompok pelaku guna memecahkan masalah tertentu PENGERTIAN MASALAH  Masalah dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi atau situasi yang menimbulkan kebutuhan atau ketidakpuasan pada sebagian orang yang membutuhkan petolongan atau perbaikan. Dalam pandangan lain, masalah dapat dinyatakan sebagai suatu kondisi yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, sehingga perlu dicari upaya pemecahannya yang dapat menjadikan kondisi tersebut sesuai dengan rencana  Masalah : adanya kesenjangan antara das sollen / teori dengan das sein / fakta empiris ; antara yang ditetapkan sebagai kebijakan dengan kenyataan implementasi kebijakan (Tri W. Utomo)  Masalah kebijakan : unrealized needs, values, opportunities, however we identified, the solution require public actions (tidak terwujudnya kebutuhan, nilai, dan peluang, yang bagaimanapun kita sudah bisa mengidentifikasikannya, tetapi pemecahannya mengharuskan adanya tindakan-tindakan publik / negara / pemerintah  Charles O. Jones menyatakan bahwa masalah adalah kebutuhan manusia yang perlu diatasi atau dipecahkan (human needs, however identified, for which relief is sought). Sedangkan Anderson (1984) menyatakan bahwa untuk kepentingan kebijakan, secara formal masalah dapat diartikan sebagai kondisi dan atau situasi yang menghasilkan kebutuhan-kebutuhan atau ketidakpuasanketidakpuasan pada rakyat untuk mana perlu dicari cara-cara penanggulangannya.  William Dunn mengartikan masalah kebijaksanaan sebagai nilai, kebutuhan, kesempatan yang belum terpenuhi tetapi yang dapat diidentifikasikan dan dicapai dengan melakukan tindakan publik. Hal ini menunjukkan bahwa suatu masalah yang berhubungan dengan kebijakan publik adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan orang banyak, dan masalah ini dikategorikan masalah publik karena tindakan (action) yang diambil adalah tindakan kebijakan (policy action).  Samudra yang menyatakan bahwa pada dasarnya sumber pokok timbulnya masalah adalah pada nilai, dalam artian bahwa ketidaktepatan atau ketidaksesuaian suatu kondisi dengan sebuah nilai akan dianggap oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai suatu masalah. Dan yang terpenting
1

menurut Patton (1986) adalah bahwa ketika mendefinisikan masalah berarti mengimplikasikan bahwa ada nilai-nilai tertentu yang tidak terpuaskan atau terpenuhi MASALAH PRIVAT vs MASALAH PUBLIK  Hal yang penting diperhatikan dalam mengkaji masalah-masalah publik maupun masalah-masalah secara umum adalah bahwa suatu masalah tidak dapat semata-mata dipandang sebagai masalah begitu saja tanpa melibatkan cara pandang orang terhadap masalah tersebut.  Pendapat Mark Rushefky yang dikutip Winarno bahwa ada dua proses penting dalam mengidentifikasi masalah, yaitu persepsi dan definisi. Persepsi merupakan penerimaan (receiving) dari suatu peristiwa yang mempunyai konsekuensi terhadap orang atau kelompok, sedangkan defenisi merupakan interpretasi dari peristiwa-peristiwa tersebut, memberinya makna dan membuatnya jelas. Suatu masalah tidak dapat mendefenisikan dirinya sendiri melainkan harus didefenisikan, sehingga hal ini menunjukkan bahwa suatu masalah juga melibatkan pandangan-pandangan subyektif seseorang. Dalam artian bahwa, seseorang atau lembaga dapat memandang sesuatu sebagai masalah tetapi tidak merupakan masalah bagi individu atau lembaga lain.  Banyak sekali kebutuhan-kebutuhan atau ketidakpuasan yang dimiliki masyarakat, tetapi tidak selalu hal ini dapat menjadi masalah umum atau masalah publik.  Apa yang membedakan antara masalah privat dan masalah publik? Masalah publik adalah sesuatu yang memiliki dapak yang luas, termasuk konsekuensi bagi orang-orang yang tidak terlibat secara langsung. Karena itu, masalah publik dipengaruhi oleh konsekuensi-konsekuensi tak langsung dari berbagai transaksi hingga pada semacam tingkatan dianggap perlu untuk memiliki konsekuensikonsekuensi yang terpelihara secara sistematis. Sedangkan masalah privat merupakan masalah yang hanya memiliki dampak terbatas, hanya menjadi perhatian pada satu atau beberapa orang yang langsung terlibat. CONTOH  Robert Seidman, Ann Seidman, dan Nalin Abeysekere (2005) menyatakan bahwa masalah dapat terjadi oleh karena satu atau gabungan dari beberapa hal yang dithesiskan mereka tidak berjalan dengan baik. Hal-hal tersebut, ialah: Rule (peraturan), Opportunity (peluang/kesempatan), Capacity (kemampuan), Communication (Komunikasi), Interest (kepentingan), Process (proses), dan Ideology (nilai dan/atau sikap), yang disingkat ROCCIPI 1. Peraturan yang dapat mengatur perilaku manusia kea rah yang diharapkan melalui kebijakan yang dibuat, alih-alih dapat juga sebaliknya. Masalah public dalam konteksi dapat muncul karena: a) bahasa yang digunakan dalam peraturan rancu atau membingungkan, atau peraturan tersebut tidak menjelaskan apa yang harus dan apa yang dilarang dilakukan oleh warga bersifat mensua atau menyesatkan; b) beberapa peraturan mungkin malah member peluang bagi terjadinya perilaku bermasalah; c) peraturan tidak menghilangkan penyebagianpenyebagian perilaku bermasalah justru memperluasnya; d) peraturan membuka peluang bagi perilaku yang tidak transparan; dan e) peraturan berkemungkinan juga untuk memberikan wewenang yang berlebih kepada pelaksana peraturan untuk bertindak represif.
2

2. Kesempatan atau peluang; mungkin suatu peraturan secara tegas melarang perilaku tertentu, namun jika terbuka kesempatan untuk tidak mematuhinya, para individu bisa dengan mudah untuk melakukan perilaku yang bermasalah 3. Kemampuan; pertukaran tidak dapat memerintah para individu untuk melakukan hal-hal diluar kemampuannya. Oleh karena itu perlu diketahui kondisi-kondisi internal individu 4. Komunikasi; perilaku bermasalah dapat terjadi karena ketidaktahuan individu. Biasanya miss-komunikasi menjadi kendala masyarakat yang multikultur, berklas, dan plural 5. Kepentingan; kategori ini berguna untuk menjelaskan pandangan individu tentang akibat dan manfaat dari setiap perilakunya. Proses, yang merupakan instrumen untuk menemukan penyebagian perilaku bermasalah yang dilakukan dalam atau oleh organisasi, dengan mengacu pada masukan (input), proses pengelolaan input, proses output dan umpan balik.
6.

Nilai dan sikap merupakan sekumpulan nilai yang dianut oleh suatu masyarakat untuk merasa, berpikir, dan bertindak. Dalam masyarakat yang multikultur dan plural seringkali setiap kelompok memiliki pandangan yang berbeda mengenai nilai dan sikap yang dianut, sehingga tidak menutup kemungkinan bagi terjadinya benturan atau masalah.
7.

MASALAH PUBLIK → MASALAH KEBIJAKAN • Tidak semua masalah mempunyai substansi atau kadar yang sama. Ada masalah yang menyangkut orang perorang atau kelompok tertentu, dan ada juga masalah yang menyangkut kepentingan banyak orang. Diantara masalah yang menyangkut orang banyak, ada yang dapat diselesaikan oleh masyarakat itu sendiri, dan ada masalah yang membutuhkan campur tangan pemerintah karena tidak mungkin diselesaikan sendiri oleh anggota masyarakat. Hal ini disebut sebagai masalah publik. • Di antara masalah publik, juga terdapat perbedaan dalam kualitas, wawasan dan keterkaitan. Oleh karena itu, menurut Abidin (106-107) masalah publik dapat dikelompokkan ke dalam masalah strategis dan masalah yang tidak strategis. • Suatu masalah publik dikatakan masalah strategis apabila memenuhi beberapa persyaratan berikut ini: a. Luas cakupannya, artinya, wawasan cakupannya tidak hanya meliputi satu sektor atau wilayah saja, tetapi meliputi beberapa sektor atau wilayah. b. Jangka waktunya panjang. Hal ini dapat ditafsirkan bahwa penyelesaian masalah memerlukan waktu yang panjang, dan dampak yang ditimbulkan bisa jadi mempunyai akibat yang jauh ke depan. c. Mempunyai keterkaitan yang luas, artinya, substansi permasalahan dan cara-cara penyelesaiannya menyangkut banyak pihak dalam masyarakat; d. Mengandung resiko dan kemungkinan keuntungan yang besar
3

Jika masalah dikatakan tidak strategis apabila tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut, misalnya jangka waktunya panjang tetapi wawasan atau cakupannya sempit. Begitupula sebaliknya, sekalipun liputan masalahnya luas dan jangka waktunya panjang, tetapi konsekuensi dari kegagalan dan keberhasilannya kecil, tidak dapat dianggap strategis. Begitu juga jika keterkaitannya terbatas, baik dalam jumlah ataupun bobotnya  Suatu masalah umum dapat menjadi masalah kebijakan (policy problems) apabila masalah tersebut dapat membangkitkan orang banyak untuk melakukan tindakan terhadap masalah-masalah itu (only those that move people to action become policy problems). Bila sekelompok karyawan atau buruh mendapatkan penghasilan dibawah upah minimum regional (UMR) tetapi menerima begitu saja kondisi tersebut tanpa melakukan sesuatu, maka masalah tersebut dianggap tidak ada. Oleh karena itu masyarakat atau kelompok orang harus mempunyai “political will” untuk memperjuangkan masalah itu menjadi masalah kebijakan. Hal ini dapat dilakukan dengan upaya menyampaikan pendapat atau tuntutan melalui demonstrasi atau tindakan lainnya (sebagai upaya bersama) sehingga masalah tersebut bisa muncul sebagai suatu kebutuhan yang harus dipecahkan. Selain itu, masalah tersebut ditanggapi positif oleh pengambil kebijakan, dan mereka bersedia memperjuangkan problema itu menjadi problema kebijakan, dan memasukkan dalam agenda pemerintah, serta mengusahakan menjadi kebijakan negara.  Pada prinsipnya, sekalipun suatu peristiwa, keadaan, dan situasi tertentu mungkin dapat menimbulkan satu atau beberapa masalah, tetapi agar dapat menjadi masalah umum ataupun masalah kebijakan tidak hanya tergantung dari dimensi obyektifnya saja, tetapi juga secara subyektif, baik oleh masyarakat maupun pembuat keputusan dipandang sebagai suatu masalah yang patut dipecahkan atau dicari jalan keluarnya.  Perlu diperhatikan adalah pada seberapa jauh atau seberapa besar tingkat kesadaran dan kepekaan masyarakat melihat masalahnya sendiri dan sampai seberapa besar tingkat kesadaran , kepekaan, dan kemampuan pembuat keputusan melihat masalah-masalah yang dihadapi masyarakat itu sebagai sesuatu yang menjadi tanggungjawabnya untuk diatasi.  Hal yang perlu menjadi perhatian dalam melakukan kajian terhadap masalahmasalah publik adalah bahwa tidak semua masalah mendapat tanggapan yang memadai oleh para pembuat kebijakan. Sehingga timbul pertanyaan bagi kita, mengapa hal tersebut terhadi?; atau mengapa hanya masalah-masalah tertentu yang dianggap sebagai masalah publik sedangkan masalah-masalah lain tidak?  Untuk menyikapi hal itu, maka akan dikemukakan pendapat Charles O. Jones, bahwa masalah-masalah publik (public problems) mempunyai dua tipe, yaitu: pertama, masalah-masalah tersebut dikarakteristikkan oleh adanya perhatian kelompok dan warga kota yang terorganisasi yang bertujuan untuk melakukan tindakan (action). Kedua, masalah-masalah tersebut tidak dapat dipecahkan secara individual/pribadi (sehingga hal itu menjadi masalah publik), tetapi kurang terorganisasi dan kurang mendapat dukungan. Pembedaan seperti ini, merupakan sesuatu yang kritis dalam memahami kompleksitas proses yang berlangsung dimana beberapa masalah bisa sampai kepada pemerintah, sedangkan beberapa masalah yang lain tidak.

4

KAPAN PROBLEMA UMUM MENJADI POLICY PROBLEMS ?  Bila problema baru dapat membangkitkan orang banyak untuk melakukan tindakan terhadap problema-problema itu (only those that move people to action become policy problems).  Masyarakat mempunyai “political will” untuk memperjuangkan problema itu menjadi problema kebijakan.  Problema itu ditanggapi positif oleh pengambil kebijakan, dan mereka bersedia memperjuangkan problema itu menjadi problema kebijakan, dan memasukkan dalam agenda pemerintah, serta mengusahakan menjadi kebijakan negara. • William Dunn mengelompokkan masalah kebijakan dalam 3 (tiga) kelas, yaitu masalah yang sederhana (well-structured), masalah yang agak sederhana (moderately-structured) dan masalah yang rumit. Struktur dari setiap kelas maslah kebijakan ini ditentukan oleh kompleksitasya, yaitu derajat seberapa jauh suatu masalah merupakan sistem permasalahan yang saling tergantung. Perbedaan di antara masalah-masalah yang sederhana, agak sederhana dan rumit digambarkan dengan variasi di dalam elemen-elemen mereka. (kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: STRUKTUR MASALAH ELEMEN Agak Sederhana Rumit Sederhana Pengambil Satu atau Satu atau Banyak keputusan beberapa beberapa Alternatif Terbatas Terbatas Tak terbatas Kegunaan Konsensus Konsensus Konflik (nilai) Hasil Pasti atau Tidak pasti Tidak diketahui beresiko Probabilitas Dapat dihitung Tak dapat Tak dapat dihitung dihitung Sumber: William N. Dunn (2003) • Masalah yang sederhana adalah masalah yang melibatkan satu atau beberapa pembuat keputusan dan seperangkat kecil alternatif-alternatif kebijakan. Kegunaan (nilai) mencerminkan konsensus pada tujuan-tujuan jangka pendek yang secara jelas diuraikan dalam tatanan pembuat keputusan. Hasil dari masing-masing alternatif diketahui dengan keyakinan tinggi atau di dalam batas kesalahan masih dapat diterima. Gambaran mengenai masalah yang sederhana dapat dilihat dari masalah-masalah operasional yang secara relatif lebih rendah di dalam instansi pemerintah. Masalah yang agak sederhana adalah masalah-masalah yang melibatkan satu atau beberapa pembuat keputusan dan sejumlah alternatif yang secara relatif terbatas. Kegunaan (nilai) juga mencerminkan konsensus pada tujuantujuan jangka pendek yang diurutkan secar jelas. Namun, hasil-hasil dari alternatif tersebut belum tentu meyakinkan ataupun diperhitungkan dalam batasan kesalahan yang bisa diterima. Masalah yang rumit adalah masalah-masalah yang mengikutsertakan banyak pembuat keputusan yang utilitasnya (nilainya) tidak diketahui atau tidak mungkin diurutkan secara konsisten. Jika masalah-masalah sederhana dan
5

agak sederhana mencerminkan konsensus, maka masalah yang rumit dicirikan dengan konflik di antara tujuan-tujuan yang saling bersaing. Alternatif-alternatif kebijakan dan hasilnya dapat juga tidak dapat diketahui, karena tidak mungkin memperkirakan resiko dan ketidakpastian. Masalah pilihan tidak untuk menentukan hubungan-hubungan deterministik yang diketahui, tetapi lebih untuk mendefenisikan sifat masalah • Dengan demikian, untuk melihat seberapa rumitnya suatu masalah kebijakan didefinisikan, dapat dilihat dari jumlah pembuat keputusan yang terlibat dalam menyelesaikan masalah tersebut, jumlah alternatif yang dapat diambil untuk menyelesaikan masalah, serta utilitas (nilai) yang diharapkan dari alternatif pemecahan masalah tersebut.

ISU KEBIJAKAN Isu kebijakan publik sangat penting dibahas untuk membedakan istilah yang dipahami awam dalam perbincangan sehari-hari yang sering diartika sebagai ”kabar burung”. Isu dalam sebuah kebijakan sarat memiliki lingkup yang luas yang meliputi berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat. Oleh karenanya memahami konsep isu sangat akan sangat membantu para analis dalam menganalisis kebijakan publik. PENGERTIAN: • Isu kebijakan (policy issues) lazimnya muncul karena telah terjadi silang pendapat di antara para aktor mengenai arah tindakan yang telah atau akan ditempuh, atau pertentangan pandangan mengenai karakter permasalahan itu sendiri. • • Isu (issues) dapat diartikan sebagai problema public yang saling bertentangan (konflik) satu sama lain (controversial public problem). Isu kebijakan dengan begitu lazimnya merupakan produk atau fungsi dari adanya perdebatan baik tentang rumusan rincian, penjelasan, maupun penilaian atas suatu masalah tertentu. Karena itu Dunn (1995) menyatakan bahwa Isu kebijakan tidak hanya mengandung ketidaksepakatan mengenai arah tindakan yang aktual dan potensial, tetapi juga mencerminkan pertentangan dan pandangan mengenai sifat masalah itu sendiri. Dengan demikian, maka isu kebijakan merupakan hasil perdebatan tentang definisi, klasifikasi, eksplanasi, dan evaluasi masalah. Pada sisi lain, isu bukan hanya mengandung makna adanya masalah atau ancaman, tetapi juga peluang-peluang bagi tindakan positif tertentu dan kecenderungan-kecenderungan yang dipersepsikan sebagai memiliki nilai potensial yang signifikan (Hogwood dan Gunn). Isu bisa jadi merupakan kebijakan-kebijakan alternatif (alternative policies). atau suatu proses yang dimaksudkan untuk menciptakan kebijakan baru, atau kesadaran suatu kelompok mengenai kebijakan tertentu yang dianggap bermanfaat bagi mereka (Alford dan Friedland).

6

Singkatnya, timbulnya isu kebijakan publik terutama karena telah terjadi konflik atau "perbedaan persepsional" di antara para aktor atas suatu situasi problematik yang dihadapi oleh masyarakat pada suatu waktu tertentu. Issue kebijakan bersifat subyektif, karena dipengaruhi persepsi. Dan adanya persepsi mempengaruhi status peringkat dari suatu issue kebijakan. Dilihat dari peringkatnya, maka isu kebijakan publik itu, secara berurutan dapat dibagi menjadi empat kategori besar, yaitu isu utama, isu sekunder, isu fungsional, dan isu minor (Dunn, 1990). Kategorisasi ini menjelaskan bahwa makna penting yang melekat pada suatu isu akan ditentukan oleh peringkat yang dimilikinya. Artinya, makin tinggi status peringkat yang diberikan atas sesuatu isu, maka biasanya makin strategis pula posisinya secara politis. Sebagai kasus yang agak ekstrem, dan perspektif politik bandingkan misalnya antara status peringkat masalah kemiskinan vs masalah pergantian pengurus organisasi politik di tingkat kecamatan. Namun. perlu kiranya dicatat bahwa kategorisasi isu di atas hendaknya tidak dipahami secara kaku. Sebab, dalam praktek, masing-masing peringkat isu tadi bisa jadi tumpang tindih, atau suatu isu yang tadinya hanya merupakan isu sekunder, kemudian berubah menjadi isu utama.

• •

Mengapa Isu Kebijakan Penting Untuk Dicermati • Pertama, sebagai telah disinggung di muka, proses pembuatan kebijakan publik di sistem politik mana pun lazimnya berangkat dari adanya tingkat kesadaran tertentu atas suatu masalah atau isu tertentu. • Kedua, derajat keterbukaan, yakni tingkat relatif demokratis atau tidaknya suatu sistem politik, di antaranya dapat diukur dari cara bagaimana mekanisme mengalirnya isu menjadi agenda kebijakan pemerintah, dan pada akhirnya menjadi kebijakan publik.(Wahab:2001)

Bagaimana Kriteria Isu Dapat Menjadi Agenda Kebijakan • Isu-isu akan menjadi awal dari munculnya maslah-maslah publik dan bila msalah tersebut mendapat perhatian yang memadai, maka ia akan masuk dalam agenda kebijakan. • Suatu isu tidak serta merta masuk menjadi agenda kebijakan, karena pada dasarnya masalah kebijakan mencakup dimensi yang luas. Isu-isu yang beredar dalam masyarakat akat bersaing satu dengan yang lain untuk mendapatkan perhatian para elit politik sehingga isu yang diperjuangkan dapat masuk ke agenda kebijakan. • Wahab (2005) mengutip pendapat Kimber, 1974; Salesbury, 1976; Sandbach, 1980; Hogwood dan Gunn, 1986) menyatakan bahwa secara teoritis, suatu isu akan cenderung memperoleh respon dari pembuat kebijakan, untuk dijadikan agenda kebijakan publik, kalau memenuhi beberapa kriteria tertentu. Diantara sejumlah kriteria itu yang penting ialah: 1. Isu tersebut telah mencapai suatu titik kritis tertentu, sehingga ia praktis tidak lagi bisa diabaikan begitu saja; atau ia telah dipersepsikan sebagai suatu ancaman serius yang jika tak segera diatasi justru akan menimbulkan luapan krisis baru yang jauh lebih hebat di masa datang.

7

2. Isu tersebut telah mencapai tingkat partikularitas tertentu yang dapat menimbulkan dampak (impact) yang bersifat dramatik. 3. Isu tersebut menyangkut emosi tertentu dilihat dan sudut kepentingan orang banyak bahkan umat manusia pada umumnya, dan mendapat dukungan berupa liputan media massa yang luas. 4. Isu tersebut menjangkau dampak yang amat luas. kekuasaan dan keabsahan 5. Isu tersebut mempermasalahkan (legitimasi) dalam masyarakat.

6. Isu tersebut menyangkut suatu persediaan yang fasionable, di mana posisinya sulit untuk dijelaskan tapi mudah dirasakan kehadirannya. • Jack L. Walker (1982), menyatakan bahwa suatu masalah bisa tampil menjadi masalah publik, apabila: 1. issues tersebut mempunyai dampak yang besar pada banyak orang. mau 2. ada bukti yang meyakinkan, agar lembaga legislatif memperhatikan masalah tersebut sebagai masalah yang serius.

3. ada pemecahan yang mudah dipahami terhadap masalah yang sedang diperhatikan. • Isu dapat tampil ke agenda menurut Charles O. Jones: 1. scope dan kemungkinan dukungan terhadap masalah public (issues) tersebut dapat dikumpulkan. 2. 3. terpecahkan. problem atau isues tersebut dinilai penting. ada kemungkinan masalah (issues) tersebut dapat

• Sehingga dapat dinyatakan bahwa masalah public (isu) bisa tampil menjadi agenda dan menjadi kebijakan publik apabila: a) issues itu dinilai penting dan membawa dampak yang besar pada banyak orang; dan b) issues tersebut mendapatkan perhatian • Lester dan Steward menyatakan bahwa isu akan mendapat perhatian bila memenuhi beberapa kriteria, yaitu: a. bila suatu isu telah melampaui proporsi suatu krisis dan tidak dapat terlalu lama didiamkan; b. mempunyai sifat partikularis, dimana isu tersebut menunjukkan dan mendramatisir isu yang lebih besar; c. mempunyai aspek emosional dan mendapat perhatian media massa karena faktor human interest; d. mendorong munculnya pertanyaan menyangkut kekuasaan dan legitimasi, dan masyarakat; e. isu tersebut sedang menjadi trend atau sedang diminati banyak orang.

8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->